120 Journal The WINNERS, Vol. 14 No. 2, September 2013: 120-126 STUDI PENINGKATAN KUALITAS BELAJAR MELALUI ANALISIS GAYA BELAJAR INDIVIDU DALAM MEMBENTUK KOMPETENSI ENTREPRENEURSHIP Jajat Sudrajat Management Department, School of Business Management, Binus University Jln. K.H. Syahdan No. 9, Palmerah Jakarta Barat 11480 jsudrajat@binus.edu ABSTRACT The purpose of this study is to analyze the influence of learning styles of individuals in shaping entrepreneurial competence as a study improvement of the quality of learning. Participants of this study were students at University Telkom Business Management, Department of Telecommunications and Informatics, Bandung. This study used descriptive analytical method. Results of this study found that the effect of simultaneous greatest between individual learning styles: concrete experient (X1), reflective observation (X2), abstract conseptualization (X3), and active experimentation (X4) on the competence entrepreneurship: thinking & problem solving (Y3) relatively strong at 93.4%. This research proves that learning styles of students have an influence on the formation of entrepreneurial competence. Greatest amount of influence an individual learning styles simultaneously to the competence of entrepreneurship is 93.4%. Based on these results, it is recommended as follows: (1) the curriculum is constantly made to improve and have confidence entrepreneurial competencies (personal maturity); (2) the quality of faculty members should be improved by improving education and training, especially the training of soft skills in order to familiarize themselves to the learning style of analytical thinking can be improved; (3) facilities and infrastructure to support teaching and learning process should continue to be evaluated in order to function properly. Keywords: learning styles, competence, entrepreneurship, personal maturity ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh gaya belajar individu dalam membentuk kompetensi entrepreneurship sebagai studi peningkatan kualitas belajar. Partisipan penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Telkom Jurusan Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pengaruh secara simultan yang paling besar antara gaya belajar individu: concrete experient (x1), reflective observation (x2), abstract conseptualization (x3), dan active experimentation (x4) terhadap kompetensi entrepreneurship: thinking & problem solving (Y3) sebesar 93,4% tergolong kuat. Penelitian membuktikan bahwa gaya belajar mahasiswa mempunyai pengaruh terhadap pembentukan kompetensi entrepreneurship. Besarnya pengaruh terbesar secara simultan gaya belajar individu terhadap kompetensi entrepreneurship adalah 93,4%. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan sebagai berikut: (1) kurikulum pembelajaran senantiasa dibuat untuk meningkatkan kemampuan dan memiliki kompetensi entrepreneurship percaya diri (Personal Maturity); (2) kualitas dosen harus terus ditingkatkan dengan meningkatkan pendidikan dan pelatihan, terutama pelatihan soft skill agar gaya belajar membiasakan diri untuk berpikir analitis dapat ditingkatkan; (3) sarana dan prasarana sebagai penunjang proses belajar mengajar harus terus dievaluasi agar dapat berfungsi dengan baik. Kata kunci: gaya belajar, kompetensi, entrepreneurship, personal maturity Studi Peningkatan Kualitas …… (Jajat Sudrajat) 121 PENDAHULUAN Data Badan Pusat Statistik tahun 2011 menyebutkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada 2011 mencapai 6,8% atau 8,1 juta dan persentase terbesar adalah lulusan perguruan tinggi yaitu 21,5% (9,9% Sarjana dan 11,6% Diploma) (Dikti, 2013). Saat ini berbagai lembaga pendidikan tinggi berkompetisi untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kualitas yang baik, dalam bentuk memiliki keterampilan yang memadai, kompetitif dalam dunia kerja, dan mampu bertahan dalam berbagai kesulitan. Berbagai metode serta fasilitas yang mendukung dalam pembelajaran disediakan guna mendukung proses belajar, sehingga mahasiswa memiliki kemampuan yang memadai saat lulus nanti. Tantangan terbesar bagi pengelola perguruan tinggi adalah mempersiapkan mahasiswa dengan kompetensi yang dibutuhkan agar mampu melakukan pembelajaran secara mandiri. (Arjanggi & Suprihatin, 2010). Pada dasarnya manusia memiliki kemampuan dalam dirinya yang dapat digali sehingga dapat diberdayakan dan dikembangkan. Spencer dan Spencer (1993) menggunakan istilah kompetensi untuk menggambarkan karakteristik dasar individu pekerja, yang merupakan bagian dari kepribadiannya yang paling dalam; dan hal ini akan dapat memengaruhi perilaku ketika ia menghadapi suatu situasi atau melakukan suatu pekerjaan, dan pada akhirnya akan berpengaruh pada kemampuan untuk menghasilkan prestasi kerjanya. Konsep pembelajaran individu berdasarkan pendapat Kolb dalam Kusumastuti (2005) bahwa model pembelajaran/problem solving merupakan proses menerjemahkan pengalaman menjadi suatu konsep. Aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang akan digunakan sebagai suatu petunjuk bagi individu untuk bertingkah laku dalam situasi yang baru dan juga merupakan proses modifikasi konsep yang diperoleh untuk meningkatkan efektivitas individu. Pembelajaran meliputi proses aktif dan pasif, atau concrete experience yang merupakan dasar bagi observasi dan refleksi, kemudian hasil observasi akan terasimilasi dalam “teori”, sehingga diperoleh pemahaman untuk dijadikan petunjuk dalam kegiatan di masa datang. Dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis global, perlu dikembangkan kompetensi kewirausahaan (entrepreneurial skill) serta ditambah dengan kompetensi berbahasa asing (transculture communications skill). Berdasarkan konsep teoretis yang berkembang, maka dapat diturunkan definisi-definisi yang erat kaitannya dengan belajar dan proses belajar individu. Dikutip dari Kusumastuti (2005), belajar adalah berusaha untuk memperoleh pengetahuan kontekstual. Pada penelitian ini, belajar dibatasi pada usaha penguasaan pengetahuan atas masalah-masalah kontekstual yang jika diaplikasikan/digunakan dapat menghasilkan kekayaan bagi perusahaan atau nilai tambah bagi konsumen atau kesejahteraan masyarakat luas (Sutalaksana, Anggawisastra, Tjakraatmadja, 1999). Institusi pendidikan harus dapat mengidentifikasi bentuk kegiatan pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang berlaku, misalnya mata kuliah manajemen diselenggarakan dengan kegiatan apa saja, apakah sesuai dengan gaya belajar individu (Sudrajat, 2010). METODE Jenis penelitian ini adalah survei dengan metode deskriptif analitis. Metode survei deskriptif adalah suatu metode penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data. Dalam penelitian ini data dan informasi dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesioner. Setelah data diperoleh kemudian hasilnya akan dipaparkan secara deskriptif dan pada akhir penelitian akan dianalisis untuk menguji hipotesis yang diajukan pada awal penelitian ini (Singarimbun & Effendi, 1989). Metode penelitian survei adalah 122 Journal The WINNERS, Vol. 14 No. 2, September 2013: 120-126 usaha pengamatan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang jelas terhadap suatu masalah tertentu dalam suatu penelitian. Penelitian dilakukan secara meluas dan berusaha mencari hasil yang segera dapat digunakan untuk suatu tindakan yang sifatnya deskriptif, yaitu melukiskan hal-hal yang mengandung fakta-fakta dan klasifikasi; dan pengukuran yang akan diukur adalah fakta yang fungsinya merumuskan dan melukiskan apa yang terjadi (Ali, 1997). Berdasarkan hal tersebut, metode survei deskriptif sesuai untuk digunakan dalam penelitian ini karena sesuai dengan maksud dari penelitian, yaitu untuk memperoleh studi peningkatan kualitas belajar melalui analisis gaya belajar individu dalam membentuk kompetensi entrepreneurship. Pengumpulan data dilakukan dengan mengambil sampel mahasiswa program studi Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika, Institut Manajemen Telkom yang berjumlah 40 secara acak sederhana. Setelah melakukan identifikasi variabel penelitian, maka langkah selanjutnya adalah menentukan alat ukur yang akan digunakan dan bagaimana data dapat diperoleh. Data empirik yang terkumpul dari hasil penyebaran kuesioner secara statistik digunakan untuk hasil pengolahan data dari unit yang dianalisis. Pengolahan data dilakukan dengan tahapan pengolahan statistik terhadap data yang diperoleh menggunakan perangkat lunak SPSS Version 1.1.5 yang meliputi analisis realibilitas dengan maksud digunakan telah valid dan dipahami oleh responden, sehingga konsistensi jawaban akan terjamin. Alat ukur yang digunakan berupa kuesioner atau pertanyaan, disusun dengan model. Hal ini untuk mendapatkan informasi mengenai gaya belajar yang biasa dilakukan mahasiswa Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika. Alat ukur dibagi menjadi tiga bagian: bagian pertama berisi identitas responden, bagian kedua berisi pertanyaan mengenai gaya belajar yang dimiliki responden, bagian ketiga berisi mengenai kemampuan atau kemauan responden/ kompetensi individu. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penyampaian informasi, pengetahuan, teori, dan fakta, pembelajaran di Institut Manajemen Telkom dilakukan dalam bentuk kegiatan perkuliahan tatap muka, demo, simulasi, kasus nyata, dan latihan. Dengan demikian mahasiswa dapat terlibat secara aktif dan berpraktik untuk menyelesaikan masalah secara bertanggung jawab, dapat membuat konsep, dan menganalisis sehingga memahami masalah. Pada setiap pemberian mata kuliah kepada mahasiswa dimulai dengan menerima, diberi latihan, diberikan praktik sampai mahasiswa yang terlibat bekerja aktif dan memiliki pengalaman pengetahuan, teori, fakta, dan informasi seperti yang disampaikan sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan. Pembahasan mengenai uraian dan analisis data diperoleh dari data primer dan sekunder penelitian. Data primer penelitian ini adalah hasil kuesioner yang disebarkan kepada 40 orang. Data tersebut merupakan data pokok dengan analisis yang ditunjang data sekunder. Analisis diperoleh dari hasil observasi di lapangan dan beberapa sumber pustaka untuk memperkuat dan memperdalam hasil analisis. Data yang diperoleh dari hasil kuesioner terdiri dari dua. Data penelitian merupakan sejumlah skor yang diperoleh dari jawaban responden atas pertanyaan atau pernyataan mengenai kedua variabel penelitian, yaitu variabel gaya belajar individu dan kompetensi enterpreneurship. Pengategorian Gaya Belajar Individu Untuk mengetahui tanggapan responden secara keseluruhan mengenai gaya belajar individu, maka dibuat pengkategorian terlebih dahulu. Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh skor total untuk variabel gaya belajar individu sebesar 3864. Berikut ini adalah pengkategorian skor gaya belajar individu. Studi Peningkatan Kualitas …… (Jajat Sudrajat) 123 Jarak interval untuk 34 pertanyaan dengan 40 responden: Nilai Indeks Minimum = Skor Minimum x Jumlah Pertanyaan x Responden (n) = 1 x 34 x 40 = 1360; Nilai Indeks Maksimum = Skor Maksimum x Jumlah Pertanyaan x Responden (n) = 4 x 34 x 40 = 5440; Interval = Nilai Indeks Maksimum - Nilai Indeks Minimum = 5440 - 1360 = 4080; Jarak Interval = Interval : Jenjang = 4080 : 4 = 1020. Berdasarkan perhitungan, untuk menunjukkan kategori sangat tidak baik (STB), tidak baik (TB), baik (B), dan sangat baik (SB) disajikan dalam interval untuk 34 pertanyaan tersebut. STB TB B SB Gambar 1 Interval untuk 34 Pertanyaan Berdasarkan hasil perhitungan dan garis interval, dapat diketahui bahwa tanggapan responden terhadap gaya belajar individu memperoleh nilai sebesar 3864 dan berada antara 3400 dan 4420 pada garis interval yang berkategori baik. Hal ini berarti responden menyatakan bahwa gaya belajar individu sudah berada pada kategori baik. Pengategorian Kompetensi Enterpreneurship Untuk mengetahui tanggapan responden secara keseluruhan untuk kompetensi enterpreneurship, maka dibuat pengategorian terlebih dahulu. Kompetensi entrepreneurship diidentifikasi meliputi kompetensi achievement, yaitu kemampuan dan kemauan untuk berinisiatif, melihat dan bertindak terhadap peluang, pencarian informasi serta keuletan dalam menyelesaikan masalah. Kompetensi thinking and problem solving terdiri dari pembuatan rencana secara sistematik dan mudah dikerjakan serta dapat menyelesaikan masalah dengan menyederhanakan masalah. Kompetensi influence terdiri dari kompetensi untuk bertindak secara persuasif. Kompetensi personal maturity terdiri dari kompetensi percaya diri dan keahlian. Berikut ini adalah tabel rekap skor untuk setiap subvariabel kompetensi enterpreneurship. 1360 238 3400 4420 5440 3864 124 Journal The WINNERS, Vol. 14 No. 2, September 2013: 120-126 Tabel 1 Akumulasi Jawaban Responden No Subvariabel Kompetensi Enterpreneurship (Y) Skor 1 Achievement 435 2 Persistence 346 3 Thinking and Problem Solving 469 4 Influence 266 5 Personal Maturity 227 Total 1743 Sumber: Hasil Pengolahan Data Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh skor total untuk variabel kompetensi enterpreneurship adalah sebesar 1743. Berikut ini adalah pengategorian skor kompetensi enterpreneurship. Jarak interval untuk 15 pertanyaan dengan 40 responden: Nilai Indeks Minimum = Skor Minimum x Jumlah Pertanyaan x Responden (n) = 1 x 15 x 40 = 600; Nilai Indeks Maksimum = Skor Maksimum x Jumlah Pertanyaan x Responden (n) = 4 x 15 x 40 = 2400; Interval = Nilai Indeks Maksimum - Nilai Indeks Minimum = 2400 - 600 = 1800; Jarak Interval = Interval : Jenjang = 1800 : 4 = 450. Berdasarkan perhitungan, untuk menunjukkan kategori sangat tidak baik (STB), tidak baik (TB), baik (B), dan sangat baik (SB), disajikan dalam interval untuk 15 pertanyaan tersebut. STB TB B SB Gambar 2 Interval untuk 15 Pertanyaan Berdasarkan hasil perhitungan dan garis interval, diketahui bahwa tanggapan responden terhadap kompetensi enterpreneurship memperoleh nilai sebesar 1743 dan berada antara 1500 dan 1950 pada garis interval yang berkategori baik. Hal ini berarti responden menyatakan bahwa 600 1050 1500 1950 2400 1743 Studi Peningkatan Kualitas …… (Jajat Sudrajat) 125 kompetensi enterpreneurship sudah berada pada kategori baik. Gaya belajar yang paling dominan membentuk dan berpengaruh yaitu gaya belajar yang membentuk kompetensi persistence (ulet), kompetensi thinking and problem solving, dan kompetensi influence. Sedangkan kompetensi achievement dan personal maturity masih dirasakan kurang. SIMPULAN Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan penelitian analisis hubungan dan pengaruh gaya belajar individu terhadap kompetensi entrepreneurship di Institut Manajemen Telkom, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar mahasiswa akan membentuk, mempunyai hubungan dan pengaruh terhadap pembentukan kompetensi entrepreneurship di Institut Manajemen Telkom. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang terjadi saat ini kurang berorientasi pada pembentukan kepercayaan diri dan kemandirian. Berdasarkan Spencer dan Spencer (1993), kompentensi entrepreneurship, yaitu kompentensi achievement dan kompetensi personal maturity, kemampuan dan kemauan berinisiatif untuk mencari peluang dan keuletan diperlukan personal yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Untuk itu, gaya belajar yang akan membentuk kompetensi achievement dan personal maturity perlu diimplementasikan lebih banyak agar dapat membentuk kompetensi entrepeneur tersebut. Hasil penelitian ini memberikan beberapa implikasi, antara lain sebagai berikut. Pertama, implikasi terhadap perencanaan dan pengembangan kurikulum pendidikan. Kedua, implikasi terhadap pengembangan dan penyusunan silabus pendidikan entrepreneurship. Ketiga, implikasi terhadap cara pandang dosen terhadap siswa. Keempat, implikasi terhadap pendidikan dan pelatihan dosen. Kelima, implikasi terhadap seperti apa metode evaluasinya. Keenam, implikasi mata kuliah apa saja yang saat ini dapat diperdalam untuk menumbuhkan kompetensi yang diperlukan, misalnya mata kuliah agama dan budi pekerti, sehingga dengan perubahan tersebut akan meningkatkan soft skill mahasiswa. Ketujuh, implikasi berapa biaya yang diperlukan untuk perubahan tersebut. Dari hasil penelitian, objek atau sampel penelitian adalah mahasiswa fakultas Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika yang sudah belajar di semester 4, agar lulusan memiliki nilai- nilai integrity, entrepreneurship, dan best for excellence, maka untuk mencapai maksud dan tujuan strategi model pembelajaran entrepreneur di Institut Manajemen Telkom, disarankan agar kurikulum pembelajaran senantiasa dibuat untuk meningkatkan kemampuan dan memiliki kompetensi entrepreneurship (berinisiatif, melihat dan memanfaatkan peluang, mencari informasi baru, percaya diri, mengembangkan hubungan baik, dan menjual ide). Selain itu, setiap mata kuliah diikuti tugas/praktik/latihan secara bertanggung jawab. Proses belajar mengajar diberi kasus-kasus nyata dalam bisnis dan manajemen agar mahasiswa dapat terlibat secara aktif. Institusi disarankan untuk sering mengundang dosen tamu dari praktisi, agar teori yang disampaikan akan mudah diserap mahasiswa, dengan cara mendengar langsung dari seorang praktisi. Karena pengaruh dari faktor lain cukup besar, kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti variabel selain variabel yang telah diteliti. Variabel lain yang dapat memengaruhi strategi model pembelajaran di Institut Manajemen Telkom, misalnya kurikulum, kualitas dosen, serta manfaat pembelajaran entrepreneur itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA Ali, M. (1997). Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Tarsito. Arjanggi, R. & Suprihatin, T. (2010). Metode pembelajaran tutor teman sebaya meningkatkan hasil belajar berdasarkan regulasi-diri. Mekara, Sosial Humaniora, 14(2), 91–97. Diakses dari http://journal.ui.ac.id/index.php/humanities/article/viewFile/666/635 126 Journal The WINNERS, Vol. 14 No. 2, September 2013: 120-126 Dikti. (2013). Pedoman Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Kusumastuti, D. (2005). Analisa hubungan & pengaruh gaya belajar individu terhadap kompetensi. Entrepreneurship. Bandung: Studi Lulusan Fakultas Bisnis & Manajemen di Universitas Widyatama. Singarimbun, M., & Effendi, S. Eds. (1989). Metode Penelitian Survai. Jakarta: Pustaka LP3ES. Spencer, L. M. & Spencer, S. M. (1993). Competence at Work, Models for Superior Performance. US: John Wiley & Sons. Sudrajat, J. (2010). Studi Peningkatan Kualitas Belajar Di Institut Manajemen Telkom Melalui Analisis Gaya Belajar Individu Dalam Membentuk Kompetensi Entreprenurship. Tesis tidak diterbitkan. Bandung: Program Magister Manajemen Universitas Widyatama Bandung. Sutalaksana, Anggawisastra, Tjakraatmadja. (1999). Teknik Tata Cara Kerja. Bandung: T. I.-ITB.