Microsoft Word - 02_Harjum Muharam_OK.doc 112 Journal The WINNERS, Vol. 9 No. 2, September 2008: 112-123 MULTIFRAKTALITAS DAN STUDI KOMPARATIF PREDIKSI INDEKS DENGAN METODE ARIMA DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK (ANN) Harjum Muharam1; Muhammad Panji2 1, 2 Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro, Jln. Prof. Sudharto SH, Tembalang, Semarang 50147 Jawa Tengah ABSTRACT This paper discusses technical analysis widely used by investors. There are many methods that exist and used by investor to predict the future value of a stock. In this paper we start from finding the value of Hurst (H) exponent of LQ 45 Index to know the form of the Index. From H value, we could determinate that the time series data is purely random, or ergodic and ant persistent, or persistent to a certain trend. Two prediction tools were chosen, ARIMA (Auto Regressive Integrated Moving Average) which is the de facto standard for univariate prediction model in econometrics and Artificial Neural Network (ANN) Back Propagation. Data left from ARIMA is used as an input for both methods. We compared prediction error from each method to determine which method is better. The result shows that LQ45 Index is persistent to a certain trend therefore predictable and for outputted sample data ARIMA outperforms ANN. Keywords: LQ45, multifraktality, ARIMA, artificial neural network ABSTRAK Makalah ini membahas analisis teknis yang banyak digunakan oleh investor. Banyak metode yang ada dan digunakan oleh investor untuk memprediksi nilai saham masa depan. Dalam tulisan ini kita mulai dari mencari nilai Hurst (H) eksponen dari Indeks LQ 45 untuk mengetahui bentuk Indeks. Dari nilai H, kita bisa tahu adalah data time series murni acak, atau ergodic dan semut terus- menerus, atau gigih untuk sebuah tren tertentu. Dua alat untuk prediksi dipilih, ARIMA (Auto Regresif Integrated Moving Average) yang merupakan standar de facto untuk model prediksi univariat dalam ekonometri dan Jaringan Syaraf Tiruan (JST) Back Propagation. Yang tertinggal dari ARIMA digunakan sebagai masukan untuk dua metode. Kami membandingkan kesalahan prediksi dari setiap metode untuk mengetahui metode mana yang lebih baik. Hasil investigasi menunjukkan bahwa Indeks LQ45 yang gigih untuk sebuah tren tertentu yang berarti dapat diprediksi dan untuk sampel data yang keluar ARIMA lebih baik dr JST. Kata kunci: LQ45, multifraktalitas, ARIMA, jaringan syaraf tiruan Multifraktalitas …...(Harjum Muharam; Muhammad Panji) 113 PENDAHULUAN Telah banyak diyakini bahwa data return akan memiliki sifat multifraktal (Turiel, 2002). Sifat multifraktal ini penting untuk memperlihatkan pola self-similarity dalam data deret waktu. Hal ini semakin menegaskan bahwa perubahan nilai data dengan volatilitas tinggi tidaklah sepenuhnya acak. Beberapa perangkat statistik telah dikembangkan untuk mengukur tingkat pengaruh di antara data. Salah satu perangkat yang telah berkembang cukup lama adalah model otokorelasi. Dalam perkembangan lebih lanjut, model dasar ini dikembangkan dengan memperhatikan selang waktu. Data tidak lagi dianggap sebagai satu kelompok yang utuh, tetapi dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Keuntungan dalam model ini adalah terhindar prasangka awal bahwa seperangkat data dalam satu selang waktu memiliki karakteristik yang sama, misalnya nilai rata-rata. Dengan dipecahnya data menjadi beberapa kelompok data, memungkinkan untuk memperlakukan data secara lebih baik (Hariadi dan Surya, 2003). Analisis R/S (Rescaled Range Analysis) mampu membedakan data runtun waktu acak dengan runtun waktu tidak acak, tanpa memperhatikan distribusi data runtun waktu tersebut.( Yao dkk, 1999). Analisis R/S digunakan untuk mendeteksi efek memori jangka panjang (long memory effects) pada data runtun waktu yang digunakan selama periode penelitian. Jaringan Syaraf Tiruan (Jaringan Syaraf Tiruan) atau dikenal dengan Artificial Neural Network (ANN) atau disebut juga Simulated Neural Network (SNN) adalah jaringan dari sekelompok unit pemroses kecil yang dimodelkan berdasarkan jaringan syaraf manusia. JST merupakan sistem adaptif yang dapat merubah strukturnya untuk memecahkan masalah berdasarkan informasi eksternal maupun internal, yang mengalir melalui jaringan tersebut. Secara sederhana, JST merupakan salah satu alat permodelan data statistik non-linier. JST dapat digunakan untuk memodelkan hubungan yang kompleks antara masukan (input) dan keluaran (output) untuk menemukan pola-pola data. Beberapa penelitian yang telah dilakukan di pasar modal Indonesia, sebagian besar hanya melakukan kajian yang berkaitan dengan analisis fundamental saja; misalnya penelitian Mas'ud Machfoed (1994), Mamduh Hanafi (1997), Parawiyati dan Zaki Baridwan (1998), Wiwik Utami dan Suharmadi (1998), Triyono dan Jogiyanto Hartono (1999), Syahib Natarsyah (2000), dan Nur Fadjrih Asyik (2000), tetapi sangat sedikit sekali yang melakukan kajian terhadap analisis teknikal. Salah satunya adalah penelitian Dedhy Sulistiawan (2001), tetapi penelitian ini hanya bersifat suatu tinjuan teori saja. Penelitian Taylor dan Aller (1992) dan Fernandez-Rodriguez et al. (1999) menyatakan bahwa lebih dari 90% investor memberikan bobot yang lebih tinggi pada penggunaan analisis teknikal dibandingkan analisis fundamental dalam membeli dan menjual saham. Hal ini dapat terjadi karena investor cenderung berorientasi jangka pendek dalam membeli atau menjual saham. Penelitian ini diawali dengan mencari sifat multifraktal pada return saham objek penelitian dengan analisis rescaled range (untuk mendapatkan eksponen Hurst) untuk mengetahui apakah data return tersebut bersifat acak atau terdapat pengulangan trend sehingga dapat dilakukan analisis teknikal. Selanjutnya akan dilakukan prediksi terhadap return saham tersebut dengan metode ARIMA (Auto Regressive Integrated Moving Average) dan Jaringan Syaraf Tiruan (Artificial Neural Network) untuk kemudian akan dilakukan komparasi metode mana yang memiliki kesalahan lebih kecil dalam memprediksi Indeks LQ 45. Pemilihan Indeks LQ45 dilakukan karena LQ 45 lebih mampu menjelaskan pergerakan harga saham daripada IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) (Agus Sartono dan Sri Zulaihati, 1998), bahkan secara empiris telah dibuktikan oleh Bima Putra (2001) bahwa Indeks LQ 45 lebih baik digunakan sebagai proxy pasar saham dibandingkan IHSG. 114 Journal The WINNERS, Vol. 9 No. 2, September 2008: 112-123 Pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah (1) Apakah terdapat sifat multifraktal pada data deret waktu Indeks LQ 45; dan (2) Metode mana yang memiliki performa lebih baik dalam memprediksi Indeks LQ 45. Razdan (2002) meneliti multifraktalitas pada Indeks Bombay Stock Exchange (BSE) dan mengambil kesimpulan bahwa data deret waktu Indeks BSE berifat monofraktal dan dapat direpresentasikan oleh gerak brown sebagian. Yoon dan Choi (2005) melakukan penelitian pada pasar nilai tukar won terhadap dolar dan KOSPI (Korean Stock Price Index) dengan menggunakan analisis R/S dan mengambil kesimpulan bahwa data tersebut memiliki kecenderungan efek trend yang bertahan dalam jangka panjang. Hariadi dan Surya (2003) melakukan penelitian pada 3 saham BEJ, yaitu Telkom, Indosat, dan HM Sampoerna serta mendapatkan hasil bahwa saham-saham tersebut memiliki kecenderungan trend jangka pendek, yang artinya perubahan nilai saham tidak dipengaruhi oleh perubahan nilai saham yang terpisah dalam selang waktu lama. Nilai dimensi fraktal yang lebih dari 1,5 mendukung pernyataan pertama bahwa ketiga saham tidak memiliki kecenderungan untuk bertahan pada trend tertentu. Fernandez-Rodriguez et al. (1999) melakukan penelitian mengenai teknikal analisis pada Madrid Stock Exchange dengan menggunakan moving average dengan periode yang berbeda-beda. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kelemahan yang ada pada penelitian Brock et al. (1999). Hasil pada penelitian tersebut bahwa technical trading rules memiliki kemampuan untuk mempredisi return saham. Pada penelitian Fernandez-Rodriguez et al. (1999) ini juga digunakan metode ARIMA, menggabungkan metode rata-rata bergerak dan autoregresi. Hasilnya adalah bahwa metode ARIMA dapat meningkatkan akurasi dalam memprediksi harga saham. Fernandez-Rodriguez (2001) melakukan penelitian lagi mengenai penerapan analisis teknikal di pasar saham Madrid Stock Exchange. Penelitian ini dilakukan dengan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya kebanyakan masih menggunakan satu indikator saja yaitu moving average, untuk memperbaiki penelitian yang telah ada tersebut maka juga dipergunakan indikator moving average yang lain, yaitu Generalized Moving Average seperti double moving average. ARIMA akan bekerja dengan baik apabila data runut waktu yang digunakan bersifat dependen atau berhubungan satu sama lain secara statistik (Sugiarto dan Harijono, 2000). Suhartono (2005) melakukan studi pada tingkat inflasi di Indonesia. Studi ini melakukan pembandingan terhadap metode Jaringan Syaraf Tiruan, ARIMA, dan ARIMAX (ARIMA dengan analisis intervensi dan variasi kalender). Hasil studi ini menunjukkan bahwa FFNN (Feed Forward Neural Network) dengan input model ARIMAX memberikan hasil terbaik untuk melakukan peramalan inflasi di Indonesia. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa akurasi peramalan dengan model ARIMAX mirip dengan hasil FFNN dengan input yang berasal dari ARIMAX. Nachrowi dan Usman (2007) melakukan studi pada IHSG dengan menggunakan model GARCH dan ARIMA. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa model ARIMA (1,1,0) mempunyai kesalahan lebih kecil dalam memprediksi gerakan IHSG bila dibandingkan dengan model GARCH (2,2). Hal ini disebabkan karena sulitnya mengidentifikasi variabel dominan yang dapat menjelaskan IHSG. Model ARIMA cenderung lebih unggul karena metode ini hanya memerlukan variabel penjelas yang merupakan variabel itu sendiri di masa lalu. Bila pergerakan variabel masa lalu sudah dapat mencerminkan semua informasi yang dapat mempengaruhi variabel itu, variabel penjelas lain peranannya menjadi sangat kecil. Chiang et al. (1996) menggunakan FFNN dengan Backpropagation (BP) untuk melakukan peramalan nilai aset bersih/Net Asset Value (NAV) mutual funds. Prediksi dilakukan dengan menggunakan informasi ekonomi historis. Mereka membandingkan dengan hasil yang didapatkan dari Multifraktalitas …...(Harjum Muharam; Muhammad Panji) 115 peramalan dengan teknik ekonometrika tradisional dan menyimpulkan bahwa NN “melampaui model regresi secara signifikan” ketika tersedia data dalam jumlah terbatas. Trafalis (1999) menggunakan FFNN dengan BP dan perubahan mingguan pada 14 indikator untuk meramal perubahan pada indeks saham S&P 500 selama beberapa pekan. Di samping itu, sebuah metode untuk melakukan pre-processing digunakan, yang mengikutsertakan diferensiasi dan normalisasi data, berhasil diimplementasikan. Tulisan tersebut mengajak pembaca melalui proses NN. Garliauskas (1999) melakukan penelitian pada peramalan data runtun waktu pasar saham menggunakan algoritma komputasional NN, dihubungkan dengan pendekatan fungsi kernel dan metode prediksi error rekursif. Ide utama pembelajaran NN dengan fungsi kernel adalah bahwa fungsi tersebut menstimulasi perubahan bobot, dalam kaitannya untuk mencapai konvergensi target dan fungsi keluaran peramalan. Dia menyimpulkan bahwa peramalan data keuangan runtun waktu dengan Jaringan Syaraf Tiruan lebih baik daripada statistika klasik dan metode lainnya. Chan et al. (2000) meneliti peramalan data keuangan runtun waktu menggunakan FFNN dan data perdagangan harian dari Bursa Efek Shanghai (Shanghai Stock Exhange). Untuk memperbaiki kecepatan dan konvergensi, mereka menggunakan algoritma pembelajaran gradien konjugasi dan regresi linear berganda/Multiple Linear Regression (MLR) untuk inisialisasi bobot. Mereka menyimpulkan bahwa NN dapat memodelkan runtun waktu secara memuaskan dan pendekatan pembelajaran serta inisialisasi mengarah pada perbaikan pembelajaran dan penurunan biaya komputasi. Surya dan Situngkir (2003a) menggunakan permodelan Jaringan Syaraf Tiruan untuk tujuan peramalan (forecasting) data keuangan deret waktu PT Telkom Indonesia selama tahun 2000 dan menghasilkan analisis regresi (kecocokan linier) dari data yang di-training keakuratan data yang diaproksimasi dan diprediksi telah sangat baik (garis kecocokan linier berimpit dengan garis yang memetakan hasil aproksimasi dan target data yang diaproksimasi), tetapi perlu ditambahkan data untuk training jaring syaraf untuk memperkuat hasil analisis. Surya dan Situngkir (2003b) melakukan prediksi pada fluktuasi harga saham (closing) PT Telkom untuk data deret waktu dari tahun awal 1993 hingga pertengahan 2003 dengan menggunakan metode Jaringan Syaraf Tiruan, yang dilengkapi dengan peta Poincaré dalam persepsi model jaring syaraf yang dibuat untuk tujuan prediksi, menghasilkan hasil aproksimasi dan prediksi sangat baik dengan gradient mendekati 1 (~0,966). Populasi objek penelitian adalah nilai harian seluruh Indeks yang ada di BEJ. Nilai Indeks yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah nilai Indeks LQ 45 periode Januari 1997 hingga April 2007. Data tersebut dibagi menjadi 2 bagian, yaitu periode model dan estimasi. Periode model ditetapkan selama 2016 hari perdagangan (80% sampel), sedangkan periode estimasi ditetapkan selama 504 hari (20% sampel). Pada metode JST, data pada periode model dibagi menjadi 2, yaitu periode training (60% dari total sampel) dan evaluasi (20% dari total sampel). Data pada periode model digunakan untuk menghasilkan model yang digunakan untuk melakukan peramalan, sedangkan data pada periode estimasi digunakan untuk melihat tingkat kesalahan (error) yang dihasilkan oleh metode-metode yang digunakan. Semakin kecil error yang dimiliki sebuah model, semakin baik model tersebut digunakan dalam melakukan peramalan dalam analisis teknikal. Ide dasar pengembangan eksponen Hurst adalah model otokorelasi. Pada otokorelasi biasa menggunakan data sebagai satu kesatuan deret waktu, sedangkan pada analisis R/S (Rescaled range 116 Journal The WINNERS, Vol. 9 No. 2, September 2008: 112-123 Analysis, sebutan untuk mendapatkan eksponen Hurst) data dipecah menjadi beberapa bagian, dan analisis R/S dilakukan terhadap masing-masing data yang terpecah. Misalkan kita memiliki data deret waktu Y1, ... , YN, data ini kemudian dipecah menjadi beberapa bagian dengan panjang yang sama, dengan masing-masing terdiri atas y1,...,yt. Nilai R diperoleh dari persamaan: RN = MaksX(t,N) – minX(t,N) Nilai X diperoleh dari persamaan: ∑ = −= t u NuNt xX 1 , )( μ Di mana μN adalah rata-rata deret waktu selama periode N. Nilai S merupakan deviasi standar data deret waktu yang kita miliki. Dapat diperoleh dengan persamaan: ( ) 2 1 1 2ˆ1 ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ −= ∑ = N i NiN yyN S Rasio R/S dari R dan Deviasi Standard S dari deret waktu utama dapat dihitung dengan hukum empiris sebagai berikut (Yao dkk, 1999) : R/S = NH . Nilai Eksponen Hurst dapat dihitung sebagai berikut : H = log(R/S)/log(N) Di mana nilai H berada di antara 0 dan 1 (0