Microsoft Word - 04_Hartiwi_Pemetaan Budaya.doc Journal The WINNERS, Vol. 9 No. 1, Maret 2008: 48-61 48 ANALISIS PENGARUH HASIL PEMETAAN BUDAYA MAHASISWA BINUS TERHADAP JIWA KEWIRAUSAHAAN: STUDI KASUS TAHUN AJARAN 2006-2007 Synthia Atas Sari1; Hartiwi Prabowo2 ABSTRACT Those culture factor than reliabled by people in did interaction with circles, language, think, etc. Article will map out Ubinus reguler student culture using 6 pole culture dimencion by Schwartz and will see the influence than entrepreneurship spirit that should be possessed by leaders in the future. Article used descriptive research method and the data were collected by using questioner. The analysis method was quantitative and qualitative method. The result indicates that conspicuous culture was the embeddedness between individual and group, egaliter (trust, responsibility, loyal with friends or group), and harmonious culture. There are positive influences between the three of dimension culture than entrepreneurship spirit and more influence was embedded ness culture. Keywords: culture dimension, entrepreneurship spirit, student ABSTRAK Artikel memetakan budaya yang dimiliki oleh mahasiswa S-1 regular UBINUS berdasarkan teori 6 kutub dimensi budaya dari Schwartz dan akan dilihat pengaruhnya terhadap jiwa kewirausahaan yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin masa depan. Metode penelitian deskriptif dan jenis studi kasus digunakan dalam penelitian ini, pengumpulan data dengan kuesioner dan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan hasil pemetaan budaya pada mahasiswa Ubinus, khususnya mahasiswa semester 5 ke atas dalam mata kuliah Entrepreneurship, maka budaya yang lebih menonjol adalah keterikatan antar individu dan kelompok, egaliter (dapat dipercaya, bertanggung jawab,setia pada sahabat atau kelompok), dan budaya harmoni. Terdapat pengaruh positif antara ketiga dimensi tersebut terhadap jiwa wirausaha dan yang paling berpengaruh adalah budaya keterikatan. Kata kunci: dimensi budaya, jiwa entrepreneurship, mahasiswa 1, 2 Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Bina Nusantara, Jl. K.H. Syahdan No. 9, Palmerah, Jakarta Barat 11480, synthia@binus.edu, Hartiwi2200@yahoo.com Analisis Pengaruh Hasil... (Synthia Atas Sari; Hartiwi Prabowo) 49 PENDAHULUAN Kita semua menyadari mengenai bagaimana budaya yang dianut oleh manusia berbeda satu sama lainnya. Menurut Schwartz, budaya adalah keanekaragaman makna, kepercayaan, praktek, simbol, norma, dan nilai yang diyakini oleh seseorang dalam masyarakat. Nilai yang diyakini dalam masyarakat itulah yang menjadi pusat ciri utama budaya (Hofstede, 1980, Schwartz, 1990). Penekanan nilai itu menunjukkan konsepsi bersama apa yang baik dan diinginkan di budaya tersebut yang disebut sebagai budaya yang ideal. Nilai budaya yang menekankan pada bentuk dan pembenaran nilai kelompok dan individu, kepercayaan, tindakan, dan tujuan, kebijakan dan peraturan institusi, norma dan tindakan sehari-hari itulah yang melandasi nilai budaya dalam masyarakat. Misalnya, nilai budaya yang menekankan pada kesuksesan dan ambisi merefleksikan suatu sistem ekonomi yang sangat kompetitif. Selain itu, budaya itu juga merefleksikan simbol status (misal: Mobil Mercy) dan norma yang mengaktifkan asertiveness. Schwartz membangun dimensi nilai untuk membandingkan budaya dengan melihat tiga hal penting yang merangkum seluruh masyarakat. Hal yang pertama adalah hubungan natural atau keterikatan antara individu dan kelompok yang dibagi menjadi dimensi budaya otonomi versus keterikatan. Kedua adalah menjamin perilaku tanggung jawab sosial, yaitu egaliter versus hierakhi. Ketiga adalah peraturan bagaimana orang mengatur hubungan mereka dengan dunia alami dan sosial, yang dibagi menjadi dimensi Keselarasan versus Penguasaan. Seperti yang diketahui bahwa tidak semua manusia memiliki jiwa wirausaha. Jiwa yang dimiliki oleh usahawan itu dibentuk berdasarkan budaya yang mereka percaya. Wirausahawan adalah seseorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dengan mengambil risiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mendirikannya. Namun karena perkembangan dan pengaruh globalisasi, yaitu kompetitif sangat tinggi sehingga setiap manajer perusahaan dituntut untuk mempunyai jiwa wirausaha. Perubahan lingkungan dinamis yang terus terjadi, kerap kali menjadi masalah perusahaan yang sukar ditangani sedangkan perubahan itu harus diikuti. Perubahan itu tidak hanya menutup persaingan dari suatu perusahaan tetapi juga membuka peluang namun peluang itu harus cepat diketahui, diambil, dan dikelola secara efisien dan efektif sehingga dapat menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Untuk menangani hal itu, memang diperlukan manusia yang mempunyai jiwa wirauasaha. Jiwa wirausaha (intra- entreupreunership) adalah suatu jiwa dari seseorang yang berani mengambil risiko dan ketidakpastian dari sebuah peluang untuk menciptakan keuntungan dan pertumbuhan bagi perusahaan. Journal The WINNERS, Vol. 9 No. 1, Maret 2008: 48-61 50 Jiwa wirausaha itulah yang dipengaruhi oleh budaya. Dari enam dimensi budaya yang dibagi oleh Schwartz dapat dilihat bahwa seharusnya jiwa tersebut hanya pada dimensi Intelektual Otonomi, Penguasaan, dan Hierarkhi. Berdasarkan hal itu, ingin diketahui peta budaya mahasiswa S-1 reguler Universitas Bina Nusantara dan apakah dimensi budaya memang mempunyai pengaruh terhadap jiwa wirausaha dari seseorang serta dimensi budaya mana yang memberikan kontribusi besar pada pengembangan jiwa wirausaha. Tujuan Penelitian untuk mengetahui pola budaya mahasiswa Universitas Bina Nusantara, mengetahui pengaruh budaya mahasiswa terhadap jiwa wirausaha mereka, dan mengetahui dimensi budaya mana yang memiliki kontribusi besar dalam jiwa wirausaha. Manfaat Penelitian adalah Universitas Bina Nusantara dapat mengetahui dimensi budaya yang lebih dominan yang dimiliki oleh Mahasiswa, mengoptimalkan dimensi budaya yang ada untuk mendukung jiwa wirausaha, mendorong prestasi mahasiswa binus dengan mengenal budaya mereka, menciptakan lingkungan pembelajaran yang sesuai dengan budaya mahasiswa, dan mengetahui apakah budaya Universitas Bina Nusantara sudah selaras dengan budaya mahasiwa. PEMBAHASAN Budaya Hal pertama adalah hubungan alami atau ikatan diantara individu dan kelompok. Sampai sebatas mana manusia itu mandiri atau terikat pada kelompoknya. Schwartz membagi dimensi budaya menjadi dua kutub, yaitu Mandiri (otonomi) versus Keterikatan. Dalam kultur otonomi, orang dipandang sebagai orang yang mandiri. Mereka harus mengembangkan dan menyatakan pilihan mereka sendiri, perasaan, gagasan, dan kemampuan, dan menemukan arti dari keunikan mereka sendiri. Ada dua jenis budaya otonomi. Pertama, otonomi intelektual, yaitu mendorong individu untuk mengejar gagasan mereka sendiri dan arah intelektual dengan bebas. Contoh nilai penting dalam kultur itu meliputi pemikiran yang luas, rasa ingin tahu, dan kreativitas. Kedua, otonomi afektif (sikap kemandirian). Budaya itu mendorong individu untuk mengejar pengalaman yang sifatnya positif untuk mereka sendiri. Nilai penting budaya itu meliputi kesenangan, menggairahkan hidup, dan variasi hidup. Di budaya keterikatan, manusia dilihat sebagai kesatuan yang terikat dalam suatu kebersamaan/kelompok. Arti kehidupan datang dari hubungan sosial, melalui pengidentifikasian dengan kelompok, partisipasi dalam membagi jalan hidup bersama, dan berjuang untuk mencapai sasaran bersama. Budaya keterikatan itu menekankan pada mempertahankan status quo dan mengambil tindakan pengendalian yang mungkin mengganggu kesetiakawanan kelompok atau tatanan tradisional. Contoh nilai penting dalam budaya tersebut adalah tatanan sosial, menghormati tradisi, keamanan, ketaatan, dan kebijaksanaan. Analisis Pengaruh Hasil... (Synthia Atas Sari; Hartiwi Prabowo) 51 Faktor yang kedua dalam hubungan bermasyarakat adalah menjamin perilaku bertanggung jawab dalam tatanan sosial. Manusia harus dibujuk untuk mempertimbangkan kesejahteraan orang lain, untuk berkoordinasi dengan mereka, dan dengan demikian mereka saling bergantung. Budaya itu diberikan label budaya egaliter (perasaan senasib dan sederajat) yang membujuk orang untuk mengenali satu sama lain yang memiliki moral yang sama untuk berbagi minat dasar sebagai manusia. Seseorang disosialisasikan ke dalam suatu komitmen untuk bekerja sama dan untuk merasakan perhatian untuk kesejahteraan orang lain. Mereka diharapkan bertindak untuk memberikan manfaat kepada yang lain sebagai suatu pilihan. Contoh nilai penting dalam budaya itu adalah persamaan, keadilan, tanggung jawab, bantuan, dan kejujuran. Kutub budaya lain adalah budaya hierarki yang bergantung pada sistem hierarkhi, warisan untuk menghasilkan perilaku yang bertanggungjawab. Hal itu digambarkan pada pembagian kekuasaan yang berbeda, peran, dan sumber yang resmi. Orang disosialisasikan untuk mendistribusikan secara hierarkhis dari sebuah peran untuk memenuhi ketentuan aturan dan kewajiban yang berkait dengan peran mereka. Nilai, seperti kekuasaan sosial, otoritas, kerendahan hati, dan kekayaan adalah yang sangat penting di dalam budaya hierarkhi. Faktor hubungan masyarakat ketiga adalah mengatur bagaimana orang mengelola hubungan mereka dengan dunia sosial dan alam. Kutub pertama dari budaya pada masalah ini adalah keselarasan yang menekankan kecocokan dengan dunia apa adanya, berusaha untuk memahami, dan menghargainya dibandingkan berusaha untuk mengubah, atau untuk memanfaatkannya. Nilai penting dalam budaya keselarasan itu, meliputi kedamaian dunia, menyatu dengan alam, dan melindungi lingkungan. Kutub lawannya adalah budaya penguasaan. Budaya ini mendorong secara aktif pernyataan diri dalam rangka menguasai, dan merubah lingkungan sosial dan alam secara langsung untuk mencapai tujuan kelompok atau pribadi. Nilai seperti ambisi, sukses, keberanian, dan kompetensi adalah hal yang penting dalam budaya penguasaan. Jika suatu orientasi nilai budaya ditekankan secara ekstrim, akan membuka sisi gelap dari manusia. Permasalahan yang muncul adalah yang berkaitan dengan tidak adanya penekanan nilai yang berlawanan. Penekanan ekstrim keterikatan pada suatu kelompok, misalnya menghancurkan individualitas dan penekanan ekstrim pada otonomi akan merusak ikatan sosial yang penting. Penekanan yang berlebihan pada penguasaan akan menghasilkan ekploitasi terhadap manusia dan alam sedangkan penekanan yang berlebihan pada keselarasan akan melemahkan inisiatif dan produktivitas. Stres yang terlalu kuat dalam hierarki akan mendorong perbedaan besar dalam konsumsi dan stres yang berlebihan pada budaya egaliter akan mengikis penerimaan peran kewajiban yang tidak seimbang dan penghargaan yang tidak dapat dipisahkan pada institusi sosial. Journal The WINNERS, Vol. 9 No. 1, Maret 2008: 48-61 52 Simpulannya, teori menetapkan tiga dimensi budaya yang saling berlawanan (2 kutub berlawanan) yang menghadirkan resolusi alternatif dari setiap tiga permasalahan yang dihadapi semua masyarakat, yaitu Kebersamaan versus Otonomi, Hierarki versus Egaliterisme, dan Penguasaan versus Keselarasan. Suatu penekanan bermasyarakat pada jenis kutub yang satu dari dimensi tersebut akan memberikan penekanan terbalik bagi kutub lainnya yang akan menjurus ke arah konflik. Contohnya, budaya Amerika cenderung menekankan pada penguasaan dan otonomi afektif dan hanya sedikit menekankan pada keselarasan kemudian Singapura menekankan pada hierarki tetapi tidak pada egaliterisme dan otonomi intelektual. Jika dimensi itu diterapkan dalam jiwa individu manusia maka apabila seorang individu cenderung berada pada kutub yang satu, tidak mungkin juga pada kutub yang berlawanan. Misalnya si Amir cenderung kepada dimensi hierarkhi, tentu saja dia tidak mungkin berada di dimensi egaliter. Dapat dilihat jelas bahwa bila seseorang yang memiliki jiwa kewirausahaan, yaitu kerja keras, keyakinan diri, optimisme, keteguhan hati dan tingkat energi yang tinggi keberanian, ambisi, dan sukses itu akan cenderung pada dimensi kutub budaya otonomi, hierarkhi, dan egaliter. Tentu saja berlawanan dengan kutub dimensi lainnya. Kewirausahaan Menurut Amin Widjaja Tunggal (2004), wirausahawan adalah seseorang yang bertanggung jawab untuk mengorganisasi, mengelola, dan menanggung risiko usaha. Seorang wirausaha dapat menciptakan usaha baru dengan menghadapi risiko dan ketidakpastian dengan tujuan untuk mendapatkan laba dan pertumbuhan dengan mengidentifikasi peluang dan merakit sumber daya yang diperlukan untuk mengkapitalisasi sumber daya tersebut. Menurut Stephen Robbins dan Mary Coulter (2005), wirausaha condong memantau lingkungan dengan seksama untuk mencari peluang dan sumber daya yang ada untuk menjadi pendukung dalam mengidentifikasi peluang. Penekanan strategis wirausaha didorong oleh persepsi pada peluang, bukan pada tersedianya sumber daya. Menurut Stephen Robbins dan Mary Coulter (2005), ciri-ciri kepribadian seorang wiraswasta itu mencakup kerja keras, keyakinan diri, optimisme, keteguhan hati, dan tingkat energi yang tinggi, wirausaha tersebut yakin bahwa peluang itu dapat dimanfaatkan. Menurut Justin G. Longenecker (2001), akhir rangkaian kesatuan pada manajemen kurang profesional adalah para wirausaha dan manajer lain yang sangat bergantung pada pengalaman masa lalu serta petunjuk praktis dan tingkah pribadi dalam memberikan petunjuk pada bisnis mereka. Dalam banyak kasus, ide motivasi mereka didasarkan pada cara mereka diperlakukan dalam bisnis sebelumnya atau hubungan keluarga. Analisis Pengaruh Hasil... (Synthia Atas Sari; Hartiwi Prabowo) 53 Menurut McBer (1986), kompetensi yang merupakan karakteristik wirausahawan yang berhasil adalah sebagai berikut. Pertama, proaktif, yaitu insiatif dan asertif. Kedua, berorientasi prestasi, yaitu melihat dan bertindak berdasarkan peluang, orientasi efesiensi, perhatian pada pekerjaan dengan mutu tinggi, perencanaan yang sistematis, dan pemantauan. Kedua, komitmen pada orang lain, yaitu komitmen terhadap pekerjaan dan enyadari pentingnya dasar hubungan bisnis. Faktor Penyebab Kegagalan dan Keberhasilan Wirausaha Menurut www.puskur.net yang mengutip pendapat dari A. Kuriloff, John M. Memphil, Jr., dan Douglas Cloud, disebutkan bahwa faktor penyebab kegagalan dan keberhasilan wirausaha adalah sebagai berikut. Pertama, technical competence, yaitu memiliki kompetensi dalam bidang rancang bangunan sesuai dengan bentuk usaha yang dipilih. Kedua, marketing competence, yaitu memiliki kompetensi dalam menemukan pasar yang cocok, mengidentifikasi pelanggan, dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Ketiga, financial competence, yaitu memiliki kompetensi dalam bidang keuangan, mengatur pembelian, penjualan, pembukuan, dan perhitungan laba/rugi. Keempat, human relations competence, yaitu kompetensi dalam mengembangkan hubungan personal, seperti kemampuan berelasi dan menjalin kemitraan antar perusahaan. Faktor kegagalan, pertama, memperoleh pendapatan yang tidak pasti dan memikul berbagai risiko. Jika risiko itu telah diantisipasi secara baik maka wirausaha telah menggeser risiko tersebut. Kedua, bekerja keras dan waktu/jam kerjanya panjang. Ketiga, kualitas kehidupannya masih rendah sampai usahanya berhasil karena harus berhemat. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan jenis penelitian studi kasus. Unit analisis dalam penelitian ini adalah mahasiswa/mahasiswi S-1 reguler Universitas Bina Nusantara mata kuliah Entrepreneurship pada semester 5 dan 7 tahun 2007. Dari popolusi itu, untuk menentukan ukuran sampel, peneliti menggunakan rumus Slovin (Umar, 2005:146) dan diperoleh sampel sebanyak 319 mahasiswa. Tabel 1 Sampel Berdasarkan Proportionate Stratified Random Sampling Jurusan Anggota Sampel(orang) Sistem Informasi 491 99 Komputerisasi Akuntansi 823 167 Teknik Informasi dan Statistik 70 14 Bahasa Inggris 127 26 Bahasa Mandarin 63 13 TOTAL 1574 319 Sumber: Data Jurusan Journal The WINNERS, Vol. 9 No. 1, Maret 2008: 48-61 54 Dalam mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan kuesioner dengan skala likert, untuk mengukur variabel budaya dengan diberikan bobot sebagai berikut: a. nilai -1 artinya bertentangan dengan prinsip hidup seseorang b. nilai 0, artinya tidak penting (tidak berkaitan) c. nilai 1, artinya tidak penting, namun masih berkaitan d. nilai 2 - 4, artinya penting dalam prinsip hidup e. nilai 5-6, artinya sangat penting dalam prinsip hidup f. nilai 7, artinya nilai yang terpenting (sangat prinsip) Variabel budaya dikelompokkan dalam indeks penilaian untuk memetakan dalam tiga kategori dimensi budaya sebagai berikut. Tabel 2 Pemetaan Budaya Dimensi Budaya No. Kuesioner Embeddedness/Keterikatan 8,11,13,15,18,20,26,32, 40, 46,47,51,54,56 Hierarchy 3,12,27,36 Mastery/Penguasaan 23,31, 34,37,39, 41,43,55, Affective Autonomy 4,9,25,50,57 Intellectual Autonomy 5,16,35,53 Egalitarianism 1,30,33,45,49,52 Harmony 17,24,29,38 Sumber: Schwartz Untuk variabel karakteristik jiwa kewirausahaan digunakan skala semantik, dengan nilai 1 sampai dengan 7 yang menunjukkan indikator yang nilainya saling dipertentangkan (dua kutub yang berbeda). Setelah memetakan dimensi budaya kemudian dengan dimensi yang mendukung jiwa kewirausahaan, dilakukan analisis dengan model ekonomi. Untuk memetakan budaya, peneliti menggunakan metode deskriptif dan analisis silang (cross section analysis). Setalah itu, dalam menganalisis data lebih lanjut akan dilakukan multiple regression. Variabel yang diikutsertakan dalam analisis ini adalah dimensi budaya otonomi vs kebersamanaan, harmoni vs penguasaan, dan hierarkhi vs egaliter. Langkah regresi adalah sebagai berikut. Pertama, menentukan variabel terikat (dependent variables). Dependen variabelnya adalah jiwa kewirausahaan. Kedua, menentukan variabel bebas (independent variables). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah dimensi budaya otonomi vs keterikatan; Dimensi budaya harmoni vs penguasaan; Dimensi budaya hierarkhi vs egaliter. Ketiga, model ekonomi. Model yang digunakan merupakan persamaan linear sebagai berikut: Y = a + βx1 + γ x2 + ρ x3 Y = Variabel Terikat ( Jiwa Kewirausahaan) X 1 = Dimensi budaya Otonomi Vs Keterikatan X 2 = Dimensi budaya hirarkhi Vs Egaliter X 3 = Dimensi budaya Keselarasan (harmony) Vs Penguasaan Analisis Pengaruh Hasil... (Synthia Atas Sari; Hartiwi Prabowo) 55 Keempat, jenis regresi. Pada model tersebut, dilakukan regresi linear. Regresi yang dilakukan dengan pendugaan kuardat terkecil/OLS (Ordinary Least Square). Apabila di dalam model tersebut terjadi heteroskedastisitas maka akan dilakukan pembobotan menggunakan cara Weighted Least Square (WLS). Persamaan regresi tersebut harus terbebas dari otokorelasi, kolinearitas berganda, dan heteroskedastisitas. Kelima, melakukan analisis hasil. Dari hasil analisis silang kemudian menggunakan Pearson Correlation Test, melihat besarnya hubungan variabel independen menggunakan koefisien Beta dan kemudian dilakukan uji signifikansi dengan uji t. Koefisien Beta menandakan reaksi positif atau negatif dari masing-masing variabel. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. H1 : β > 0 Ada hubungan positif antara dimensi budaya otonomi vs kebersamaan dengan jiwa kewirausahaan H2 : γ > 0 Ada hubungan positif antara dimensi budaya harmoni vs penguasaan dengan jiwa kewirausahaan H3 : ρ > 0 Ada hubungan positif antara dimensi budaya hirarkhi vs egaliter dengan jiwa kewirausahaan Hasil Penelitian Uji Validitas dan Realibilitas Uji validitas dilakukan 30 responden dengan tingkat interval kepercayaan 95%. Menghitung korelasi antara masing-masing pertanyaan dengan skor total memakai teknik korelasi product moment kemudian nilai korelasi tersebut dibandingkan dengan nilai kritis untuk korelasi r product moment (r-tab) 0,361 (Umar, 2005:190). Hasilnya 57 pertanyaan budaya valid dan 15 pertanyaan jiwa wirausaha juga valid. Untuk uji realibilitas juga dilakukan 30 responden, nilai koefisien realibilitas diperoleh dengan rumus alpha kemudian dibandingkan dengan alpha crocbach 0,6 (Rangkuti, 2004:77). Dari perhitungan korelasi product moment bahwa semua item pertanyaan memiliki nilai korelasi ||r|rtab|>(0,361) maka semua item pertanyaan dinyatakan valid dan memiliki nilai realibilitas alpha |r11| sebesar 0,863 > 0,6 maka dapat dinyatakan reliabel. Journal The WINNERS, Vol. 9 No. 1, Maret 2008: 48-61 56 Analisis Pola Budaya Mahasiswa Universitas Bina Nusantara Tabel 3 Budaya Otonomi vs Keterikatan Pemetaan Budaya Indikator Rata-rata Otonomi afektif Kehidupan yang penuh Kegairahan 4,63 Kenikmatan (memuaskan keinginan sendiri) 4,66 Gaya hidup yang bervariasi (penuh dengan tantangan, pembaharuan, dan perubahan) 5,15 Menikmati kehidupan 5,46 Menuruti diri sendiri (melakukan sesuatu yang mendatangkan kenikmatan sendiri) 4,15 Rata-rata keseluruhan 4,81 Otonomi intelektual Toleransi (tenggang rasa/toleran terhadap perbedaan ide dan kepercayaan) 5,71 Kebebasan (kebebasan dalam tindakan dan pemikiran) 5,76 Kreativitas (menjadi unik dengan imajinasi) 5,75 Ingin tahu (berminat dalam segala hal dan senantiasa menyelusuri) 5,33 Rata-rata keseluruhan 5,18 Keterikatan Keteraturan sosial 5,16 Kesopanan 5,93 Keamanan nasional 5,57 Membalas budi (menghindar berutang baik pada orang lain) 5,57 Kehormatan terhadap tradisi (memelihara adat istiadat) 4,55 Disiplin diri 5,75 Kebijaksanaan (pemahaman terhadap kehidupan) 5,48 Moderat 4,52 Menghormati orang tua dan lanjut usia 6,2 Memelihara reputasi 5,79 Patuh (menjalankan kewajiban, tanggung jawab) 5,49 Taat agama 6,04 Pemaaf 5,44 Bersih ( teratur, rapi) 5,54 Rata-rata Keseluruhan 5,503 Sumber: Data Diolah Pemetaan budaya mahasiswa Universitas Bina Nusantara dilihat dari faktor hubungan alami atau ikatan diantara individu dan kelompok, lebih mengarah pada pola budaya keterikatan, diperoleh hasil 5,503 dibandingkan dengan pola budaya otonomi, yaitu 5,18. Keterikatan yang menonjol adalah mahasiswa Universitas Bina Nusantara lebih menekankan pada menhormati orang tua atau lanjut usia, ketaatan pada agama, dan kesopanan. Namun mahasiswa Universitas Bina Nusantara tetap menghendaki otonomi pada kebebasan dalam pikiran dan tindakan serta kebebasan untuk berkreatifitas. Analisis Pengaruh Hasil... (Synthia Atas Sari; Hartiwi Prabowo) 57 Tabel 4 Budaya Hierarhi vs Egaliterisme Pemetaan Budaya Indikator Rata-rata Hierarkhi Kekuasaan sosial (mengawasi orang lain) 4,39 Kekayaan ( kepemilikan materi, uang) 3,46 Kekuasaan (hak untuk memimpin atau memerintah) 3,97 Rendah hati, sederhana, tidak menyolok 3,46 Rata-rata keseluruhan 3,81 Egaliterisme Kesamaan (kesempatan yang sama untuk semua) 4,94 Keadilan sosial (pertolongan kepada yang lemah) 5,60 Setia pada sahabat atau kelompok. 5,90 Jujur (dapat dipercaya) 6,24 Suka menolong 5,68 Bertanggung jawab 6,12 Rata-rata keseluruhan 5,75 Sumber: Data Diolah Faktor pemetaan budaya yang kedua dalam hubungan bermasyarakat adalah menjamin perilaku bertanggung jawab dalam tatanan sosial. Diperoleh hasil mahasiswa Universitas Bina Nusantara lebih menekankan pada pola budaya egaliterisme, yaitu perasaan senasib dan sederajat yang membujuk orang untuk mengenali satu sama lain yang memiliki moral yang sama untuk berbagi minat dasar sebagai manusia. Seseorang disosialisasikan ke dalam suatu komitmen untuk bekerja sama dan merasakan perhatian untuk kesejahteraan orang lain. Mereka diharapkan bertindak untuk memberikan manfaat kepada lainnya sebagai suatu pilihan. Tabel 5 Budaya Penguasaan vs Harmoni Pemetaan Budaya indikator Rata-rata Penguasaan Pengakuan sosial (penghormatan, pangakuan orang lain) 5,13 Berdikari (mencukupi diri sendiri) 5,48 Berambisi (bekerja keras dengan hasrat tinggi) 5,39 Berani (menanggung risiko) 5,20 Berpengaruh (mempunyai pangaruh terhadap orang lain) 4,45 Memilih tujuan hidup sendiri. 5,93 Cakap (berkompeten, efektif, dan efisien) 5,88 Berhasil mencapai tujuan. 5,82 Rata-rata keseluruhan 4,684 Harmoni Suatu dunia yang damai (bebas dari konflik) 6,09 Kesatuan dengan alam semesta 4,84 Dunia yang penuh keindahan (seni dan alam) 5,53 Pelindung lingkungan (memelihara alam semesta) 4,91 Rata-rata keseluruhan 5,34 Sumber: Data Diolah Journal The WINNERS, Vol. 9 No. 1, Maret 2008: 48-61 58 Pemetaan budaya yang ketiga dalam faktor hubungan masyarakat adalah mengatur bagaimana orang mengelola hubungan mereka dengan dunia sosial dan alam. Diperoleh hasil mahasiswa Universitas Bina Nusantara lebih menekankan pola budaya harmoni, yaitu menghendaki dunia yang damai (bebas dari perang dan konflik, perhatian dengan keindahan alam dan seni dengan pemeliharaan kelestarian lingkungan serta hidup yang menekankan kecocokan dengan dunia apa adanya, berusaha untuk memahami dan menghargainya dibandingkan berusaha untuk mengubah, atau untuk memanfaatkannya). Analisis Pengaruh Hasil Pemetaan Budaya terhadap Jiwa Wirausaha Berdasarkan hasil pemetaan budaya pada mahasiswa Universitas Bina Nusantara, khusunya mahasiswa semester 5 ke atas dalam mata kuliah Entrepreneurship maka budaya yang lebih menonjol adalah keterikatan antarindividu dan kelompok, egaliter (dapat dipercaya, bertanggung jawab, setia pada sahabat atau kelompok) dan budaya harmoni. Apakah budaya tersebut berpengaruh terhadap jiwa wirausaha yang merupakan sasaran mutu Universitas Bina Nusantara? Dengan model seperti berikut: Y = a + βx1 + γ x2 + ρ x3 Y = Jiwa wirausaha X1 = Budaya keterikatan X2 = Budaya egaliter X3 = Budaya harmoni Dapat diperoleh hasil berikut. Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .609(a) .371 .365 .56465 a Predictors: (Constant), X3, X2, X1 ANOVA(b) Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 59.343 3 19.781 62.041 .000(a) Residual 100.433 315 .319 Total 159.776 318 a. Predictors: (Constant), X3, X2, X1 b. Dependent Variable: Y Analisis Pengaruh Hasil... (Synthia Atas Sari; Hartiwi Prabowo) 59 Coefficients(a) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 2.830 .213 13.263 .000 X1 .393 .069 .486 5.706 .000 X2 .093 .063 .117 1.469 .143 X3 .020 .038 .033 .530 .596 a. Dependent Variable: Y Dari hasil tersebut, model ekonomi yang digunakan dapat menerangkan secara signifikan (dengan nilai F = 62,41) pengaruh budaya keterikatan, egaliter, dan harmoni sebesar 36,5%. Dari hasil SPSS maka persamaan model dapat dibuat seperti berikut: Y = 2,830 + 0,486X1 + 0,117 X2 + 0,033 X3. Dari semua variabel tersebut yang tidak signifikan adalah variabel X2 dan X3 karena budaya egaliter dan budaya harmoni tidak mendukung jiwa wirausaha. X3 adalah budaya harmoni berkaitan dengan alam semesta dan X2 adalah budaya egaliter, budaya yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial. Untuk variabel X1 = budaya keterikatan, dapat menjelaskan pengaruhnya secara signifikan (nilai t = 5,706) terhadap jiwa wirausaha sebesar 48,6%. Analisis Kontribusi terbesar terhadap Jiwa Wirausaha Seperti disebutkan sebelumnya, pola budaya yang sangat mendukung jiwa wirausaha adalah budaya keterikatan yang memiliki nilai lebih besar dibandingkan dengan pola budaya lainnya (X2 atau X3) dan sangat signifikan. Hal itu sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa manusia dilihat sebagai kesatuan yang terikat dalam suatu kebersamaan/kelompok. Arti dari kehidupan datang dari hubungan sosial, melalui pengidentifikasian dengan kelompok, partisipasi dalam membagi jalan hidup bersama, dan berjuang untuk mencapai sasaran bersamanya. Budaya keterikatan itu menekankan pada mempertahankan status quo dan mengambil tindakan pengendalian yang mungkin mengganggu kesetiakawanan kelompok atau tatanan tradisional. Contoh nilai penting dalam budaya tersebut adalah tatanan sosial, menghormati tradisi, keamanan, ketaatan, dan kebijaksanaan. Hasil itu mendukung pendapat Justin G. Longenecker (2001), ide motivasi para enterpreuner didasarkan pada cara mereka diperlakukan dalam bisnis sebelumnya atau hubungan keluarga disebabkan keterikatan yang menonjol pada mahasiswa Universitas Bina Nusantara lebih menekankan pada menhormati orang tua atau lanjut usia, ketaatan pada agama, dan kesopanan. Jiwa Wirausaha mahasiswa Universitas Bina Nusantara biasanya memang diturunkan dari keluarga mereka yang rata-rata merupakan keluarga Journal The WINNERS, Vol. 9 No. 1, Maret 2008: 48-61 60 pengusaha. Namun, mahasiswa Universitas Bina Nusantara tetap menghendaki otonomi pada kebebasan dalam pikiran dan tindakan serta kebebasan untuk berkreativitas yang membuat mereka makin yakin untuk meneruskan atau membuat usaha seperti yang dilakukan oleh keluarga mereka sebelumnya. PENUTUP Simpulan yang dapat diambil berdasarkan pembahasan, yaitu pertama, berdasarkan hasil pemetaan budaya pada mahasiswa Universitas Bina Nusantara, khususnya mahasiswa semester 5 ke atas dalam mata kuliah Entrepreneurship maka budaya yang lebih menonjol adalah keterikatan antarindividu dan kelompok, juga budaya egaliter (dapat dipercaya, bertanggung jawab, setia pada sahabat atau kelompok, dan budaya harmoni). Kedua, terdapat pengaruh positif antara budaya keterikatan, budaya egaliter, dan budaya harmoni terhadap jiwa wirausaha. Pengaruh tersebut signifikan pada budaya keterikatan, namun tidak signifikan pada budaya harmoni dan egaliter terhadap jiwa wirausaha. Pola Budaya yang sangat mendukung jiwa wirausaha adalah budaya keterikatan yang dimungkinkan diturunkan dari keluarga mereka yang rata-rata merupakan keluarga pengusaha. Saran untuk penelitian selanjutnya, yaitu pertama, dari hasil pemetaan budaya tersebut diketahui bahwa mahasiswa Universitas Bina Nusantara bercondong pada budaya keterikatan, egaliter, dan harmoni maka disarankan untuk melakukan pengembangan diri mahasiswa berdasarkan budaya yang dianut. Kedua, dalam penelitian ini, dipilih sampel dari semester 5 ke atas dari beberapa jurusan sehingga dimungkinkan apabila diambil seluruh populasi mahasiswa Universitas Bina Nusantara maka akan menghasilkan peta budaya yang berbeda. Ketiga, dalam mengambil data jiwa kewirausahaan, peneliti hanya menggunakan kuesioner maka apabila menggunakan metode pengambilan data yang berbeda, seperti simulasi game maka memungkinkan diperoleh hasil yang berbeda. Analisis Pengaruh Hasil... (Synthia Atas Sari; Hartiwi Prabowo) 61 DAFTAR PUSTAKA Hofstede, G. 2001. Culture’s Consequences: Comparing Values, Behaviors, Institutions, and Organizations Across Nations. 2nd Edition. Beverly Hills CA: Sage Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akutansi dan Manajemen. Yogyakarta: BPFE. McBer and Co. March 25, 1986. “Entrepreneurship and Small Enterprise Development,” Second Annual Report. USA: Agency for International Development. Robbins, Stephen dan Mary Coulter. 2005. Management. Edisi 8. USA: Prentice Hall. Santoso, Singgih. 2005. SPSS Versi 14. Jakarta: PT Elex Media Computindo. Schwartz, Shalom H. 2003. “Mapping and Interpreitng Cultural Differences around the World,” Journal Social Issue. Sekaran, Uma. 2001. Research Methods for Business. USA: Edison Wiley & Sons. Sugiono. 2002. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV Alfabeta. Supranto, J. 2001. Statistik: Teori dan Aplikasi. Edisi ke-6. Jakarta: Erlangga. Umar, Husein. 2005. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. www.puskur.net Zimmerer, Thomas W. dan Norman M. Scarborough. 2004. Pengantar Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Kecil. Jakarta: PT Indeks, kelompok Gramedia.