JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 71-77) Citra Marina dkk, Peningkatan Hasil Belajar Materi Penyesuaian 71 PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATERI PENYESUAIAN MAKHLUK HIDUP DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE THINK-PAIR-SHARE DIPADU DENGAN METODE PICTURE AND PICTURE PADA SISWA KELAS V-A SD MUHAMMADIYAH 8 DAU MALANG Citra Marina 1 , Ainur Rofieq 1 , Sri Wahyuni 1 , 1 Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Muhammadiyah Malang email: biologi.umm@gmail.com ABSTRACT From interviews result, we can say 45% of the number of students has a low learning outcomes. The research purposes are: To determine the increase in the learning material adjustment Beings through cooperative learning combined the TPS method with P & P method at the VA graders SD Muhammadiyah 8 Dau Malang. Implementation of TPS learning combined with P & P already performing optimally. Based on the results of correcting data analysis sheet formative test on cycle-3 students who scored> SKM as many as 27 people (90%),whereas the received value 85% 16 36% Pada siklus II dilakukan penyempurnaan sintaks pada siklus II untuk pengutan kembali penerapan pembelajaran metode TPS yang dipadukan dengan P&P yang kurang optimal pada saat pelaksanaan siklus-1. Materi yang disampaikan untuk pertemuan kali ini adalah penyesuaian diri hewan untuk melindungi diri dari musuhnya. Berdasarkan hasil pengoreksian lembar jawaban soal tes formatif untuk hasil belajar (Gambar 1) dapat diketahui bahwa masing-masing siswa memiliki pemahaman konsep yang berbeda-beda. Gambar 1. Ketuntasan Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus-2 Berdasarkan data pada Gambar 1 dapat diketahui bahwa dari 31 siswa yang mengikuti tes, ada 23 siswa yang memperoleh nilai tes formatif di atas SKM β‰₯ 70, sementara ada 8 siswa yang memperoleh nilai tes formatif di bawah SKM yaitu < 70, sementara ketuntasan klasikal di siklus-2 sebesar 74,19% < 85%, 𝑲𝒆𝒕𝒖𝒏𝒕𝒂𝒔𝒂𝒏 π’Œπ’π’‚π’”π’Šπ’Œπ’‚π’ = π’Ž 𝑴 𝒙 𝟏𝟎𝟎% 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 Tuntas (74,19%) Tidak Tuntas (25,80%) JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 71-77) Citra Marina dkk, Peningkatan Hasil Belajar Materi Penyesuaian 74 maka siswa dinyatakan belum tuntas secara klasikal. Tabel 2. Nilai Ketuntasan Klasikal Siklus-2 Ketuntasan Kriteri a Jumlah siswa Presentase (%) Ketuntasan Individu < 70 8 25,80% β‰₯ 70 23 74,19% Ketuntasan Klasikal > 85% 23 74,19% Persentase aktivitas guru selama proses pembelajaran = 82,6% berada pada kategori baik. Rata-rata persentase aktivitas siswa dari lima indikator penilaian selama proses pembelajaran = 75,36% berada pada kategori baik. Untuk keterlaksanaan sintaks pembelajaran sudah dapat dikatakan optimal karena dari 9 sintaks pembelajaran 8 sintaks sudah terlaksana dengan baik. Aktivitas siswa sudah meningkat dibandingkan pada pelaksanaan siklus-1. Hasil refleksi untuk upaya optimalisasi kegiatan pembelajaran selanjutnya Pada siklus III ini dilakukan untuk memperbaiki dan menyempurnakan tindakan-tindakan yang kurang optimal pada saat pelaksanaan siklus-2. Materi yang disampaikan untuk pertemuan kali ini adalah penyesuaian diri tumbuhan untuk kelangungan hidupnya dan melindungi diri dari musuhnya. Berdasarkan hasil test formatif hasil belajar disusun Gambar 2 sebagai berikut. Gambar 2. Ketuntasan Nilai Hasil Belajar Siswa Siklus-3 Berdasarkan data pada Gambar 2 dapat diketahui bahwa dari 30 siswa, ada 27 siswa yang memperoleh nilai tes formatif diatas SKM > 70, sementara ada 3 siswa yang memperoleh nilai tes formatif dibawah SKM yaitu < 70. Ketuntasan klasikal 85% dari 30 siswa adalah > 25 siswa, sementara ketuntasan individu sebesar 90% > 85%, maka siswa dinyatakan sudah tuntas belajar secara klasikal. Persentase aktivitas guru selama proses pembelajaran = 82,85% berada pada kategori baik. Rata-rata persentase aktivitas siswa dari lima indikator penilaian selama proses pembelajaran = 82,4% berada pada kategori baik. Tabel 3. Nilai Ketuntasan Klasikal Siklus-3 Ketuntasan Kriteria Jumlah siswa Presentase (%) Ketuntasan Individu < 70 3 10% β‰₯ 70 27 90% Ketuntasan Klasikal > 85% 25 90% PEMBAHASAN Penerapan pembelajaran metode TPS yang dipadukan dengan P&P pada kelas VA SD Muhammadiyah 8 DAU diawali dengan memberikan pertanyaan yang dituliskan dipapan tulis terkait materi penyesuaian diri tumbuhan dan merupakan tahap Think. Pembelajaran yang diawali dengan pertanyaan menuntut siswa untuk berpikir berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari tidak hanya dari buku pelajaran. Pembelajaran ini juga memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain (Isjoni, 2010). Perpaduan metode TPS dengan metode P&P sangat mendukung khususnya untuk pembelajaran di Sekolah Dasar. Untuk seusia anak SD sangat menggemari gambar-gambar yang full colour, dan itu akan berdampak positif bagi proses pembelajaran mereka dalam memahami suatu konsep. Media gambar memiliki peranan penting dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini mengacu pada pernyataan Winataputra (2005) dalam Hamdani (2010), yang menyatakan bahwa penglihatan (visual) memiliki komposisi yang paling besar 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 Tuntas (90%) Tidak Tuntas (10%) JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 71-77) Citra Marina dkk, Peningkatan Hasil Belajar Materi Penyesuaian 75 (75%) dalam hal rata-rata jumlah informasi yang dapat diperoleh seseorang. Informasi yang diperoleh melalui penglihatan juga lebih mudah ditangkap dan diingat oleh memori seseorang. Penerapan pembelajaran seperti ini memberikan pengalaman belajar kepada siswa untuk berpikir berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari, berdiskusi, serta mempresentasikan hasil karya mereka dalam menempelkan gambar dan mengisi tabel penyesuaian makhluk hidup. Dengan demikian, pembelajaran seperti ini bersifat sangat berpusat pada siswa dan hal ini menyebabkan siswa menjadi sangat aktif dalam dan memberikan suasana yang tidak membosankan pada kegiatan pembelajaran. Menurut Arends (1997) dalam Triyanto, menyatakan bahwa Think- Pair-Share merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pada diskusi kelas. Berdasarkan rekapitulasi keterlaksanaan tahapan-tahapan pembelajaran metode TPS dipadukan dengan metode P&P yang berlangsung dalam pelaksanaan siklus-1, siklus-2 dan siklus-3 diketahui bahwa tahapan-tahapan dalam pelaksanaan metode pembelajaran TPS yang dipadukan dengan metode P&P telah terlaksana dengan baik serta sesuai dengan sintaks pembelajaran yang diaplikasikan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan keterlaksanaan tiap-tiap tahapan pembelajaran. Pada siklus-1, keterlaksanaan sintaks pembelajaran belum optimal, ada 2 sintaks terlaksana kurang baik. Berdasarkan kriteria yang ditentukan bahwa pembelajaran dikatakan optimal apabila dari 8 sintaks perpaduan minimal 7 sintaks terlaksana dengan baik. Pada siklus-2, ada sedikit perubahan sintaks dari sintaks sebelumnya. Keterlaksanaan sintaks pembelajaran pada siklus-2 sudah optimal karena pada pelaksanaan siklus-2 merupakan perbaikan dari upaya optimalisasi pelaksanaan siklus-1. Dari 9 sintaks pada pembelajaran siklus-2, 8 sintaks sudah terlaksana dengan baik. Tetapi tetap harus dilakukan upaya optimalisasi sintaks yang terlaksana kurang baik tersebut pada tahap tindakan siklus-3, sehingga pada pelaksanaan tindakan diharapkan semua sintaks terlaksana dengan baik. Hal tersebut terbukti bahwa pada pelaksanaan tindakan siklus-3, semua sintaks terlaksana dengan baik. Persentase aktivitas guru selama proses pembelajaran pada siklus-3 = 82,85% berada pada kategori baik. Hal ini dikarenakan guru sudah terbiasa melaksanakan sintaks pembelajaran metode TPS yang dipadukan dengan metode P&P sehingga guru tidak mengalamai kesulitan seperti halnya pada pelaksanaan pada siklus-1. Untuk perbandingan persentase aktivitas guru dari pelaksanaan siklus-1, siklus-2 hingga pelaksanaan siklus-3 dapat dilihat pada Gambar 3. Gambar 3. Perbandingan Persentase Aktivitas Guru pada siklus-1, Siklus-2 dan siklus-3 Penerapan pembelajaran kooperatif metode TPS yang dipadukan dengan metode P&P berorientasi pada peningkatan hasil belajar siswa, ternyata juga sangat efektif untuk meningkatkan aktivitas siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil 75.00% 76.00% 77.00% 78.00% 79.00% 80.00% 81.00% 82.00% 83.00% LS Pertama LS Kedua PTK 78.15% 82.60% 82.85% Siklus-1 Siklus-2 Siklus-3 JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 71-77) Citra Marina dkk, Peningkatan Hasil Belajar Materi Penyesuaian 76 penempelan gambar dan pengisian tabel penyesuaian makhluk hidup berdasarkan hasil diskusi kelompok dan dipresentasikan di depan kelas. Rata-rata persentase aktivitas siswa dari lima indikator penilaian selama proses pembelajaran tahap tindakan = 82,4% berada pada kategori baik. Lima indikator tersebut adalah: siswa aktif mengikuti pembelajaran sampai selesai, interaksi antar siswa dalam berpasangan, interaksi siswa-siswa antar pasangan, interaksi siswa dengan guru, dan interaksi siswa dengan media pembelajaran. Persentase aktivitas siswa berada pada kategori baik ini disebabkan karena siswa sudah memiliki pengalaman sebelumnya pada pelaksanaan siklus-1 dan siklus-2 dalam mengikuti tahapan-tahapan pembelajaran TPS yang dipadukan dengan P&P. Untuk perbandingan persentase aktivitas siswa pada siklus-1, siklus-2 hingga pada pelaksanaan siklus-3 dapat dilihat pada grafik 4.5. Gambar 4,. Perbandingan Persentase Aktivitas Siswa pada Siklus-1, Siklus-2 dan Siklus-3 Berdasarkan (Gambar 1, 2 dan 3), hasil belajar siswa terus meningkat hingga pada siklus-3 dapat diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai > 70 sebanyak 27 orang (90%), sedangkan yang mendapat nilai < 70 sebanyak 3 orang (10%) dari 30 siswa. Menurut Ayi (2010), hasil belajar merupakan hasil yang dicapai oleh siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002) hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Dari kedua pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan input yang didapatkan siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Siswa akan mendapatkan hasil belajar yang baik jika siswa melakukan proses pembelajaran dengan baik. Sebaliknya, jika siswa tidak sungguh-sungguh dalam proses pembelajaran, siswa akan mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan tujuan awal pembelajaran. Perbandingan hasil belajar siswa pada siklus-1, siklus-2, dan siklus-3 dapat dilihat pada Grafik 5 berikut. Gambar 5. Perbandingan Hasil Belajar Siswa Siklus-1, Siklus-2 dan Siklus-3 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Peningkatan dan hasil belajar melalui penerapan pembelajaran kooperatif metode TPS yang dipadukan dengan metode P&P dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Pada siklus-1 siswa yang memperoleh nilai > SKM sebanyak 9 siswa (36%), 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 Siklus-1 Siklus-2 Siklus-3 70.00% 72.00% 74.00% 76.00% 78.00% 80.00% 82.00% 84.00% LS Pertama LS Kedua PTK 75% 75.36% 82.4% Siklus-1 Siklus-2 Siklus-3 JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 71-77) Citra Marina dkk, Peningkatan Hasil Belajar Materi Penyesuaian 77 sedangkan yang memperoleh nilai < SKM sebanyak 16 siswa (64%) dari 25 siswa yang mengikuti tes. (2) Pada siklus-2 siswa yang memperoleh nilai > SKM sebanyak 23 siswa (74,19%), sedangkan yang mendapat nilai < nilai SKM sebanyak 8 orang (25,80%) dari 31 siswa yang mengikuti tes. (3) Pada siklus-3 siswa yang memperoleh nilai > SKM sebanyak 27 orang (90%), sedangkan yang mendapat nilai < nilai SKM sebanyak 3 orang (10%) dari 30 siswa. Saran Penerapan pembelajaran kooperatif metode TPS yang dipadukan dengan metode P&P sebaiknya sesuai dengan materi yang memiliki konsep-konsep terkait lingkungan sehari-hari dan materi yang membutuhkan media gambar sebagai media pembelajaran. Membuat soal untuk tes formatif yang terkait kehidupan sehari- hari agar siswa dapat berpikir lebih kritis dan dikaitkan dengan gambar-gambar sehingga menarik bagi siswa. Soal tes formatif yang dibuat dapat mencakup tingkatan C1-C6 sesuai dengan KD dan Indikator Pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Akbar, Ayi. 2010. Pengertian prestasi belajar, (Online), http://ayiakbar. com/ebook /artikel/ pengertian- prestasi-belajar/, diakses 29 Oktober 2010) Arisandi, 2011. Model Pembelajaran Picture and Picture. http:// arisandi .com /?p =786 Bambang Aryawan, 2009. Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Untuk Membangun Pengetahuan Siswa. http://riyadi.purworejo.asia /2009/07/pembelajaran-kooperatif- cooperative .html Diakses 24 Juni 2011 Depdiknas. 2007. Materi Soialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Dimyati., dan Mudjiono.2002.Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:Dirjen Pendidikan Tinggi DEPDIKBUD Hamdani, 2010. Efektifitas Pemanfaatan Media Gambar dalam Peningkatan Hasil Belajar pada Pembelajaran Sholat (Skripsi). Sekolah Tinggi Agama Islam DR. Khez Muttaqien Purwakarta Isjoni.2010. Cooperative Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta. Mulyasa. 2009. Praktik Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning Teori Aplikasi & Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Triyanto, Model – Model Pembelaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik; Konsep Landasan Teoritis – Praktis dan Implementasinya, Jakarta:Prestasi Pustaka Publisher, 2007