JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 99-108) Diyah Ariska Fitari dkk, Penerapan Pembelajaran Kooperatif 99 PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN METODE PROBLEM SOLVING MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SMP Diyah Ariska Fitari 1 , Rr Eko Susetyarini 1 , Sukarsono 1 1 Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universtias Muhammadiyah Malang, e-mail: biologi.umm@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pelaksanaan model pembelajaran kooperatif dengan metode problem solving dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Suboh, serta meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Suboh dalam model pembelajaran kooperatif dengan metode problem solving. Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dengan menerapkankan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Problem Solving ini menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa pada setiap siklusnya. Pada siklus I terdapat 21 siswa yang tuntas hasil belajarnya dan 9 siswa tidak tuntas hasil belajarnya (ketuntasan mencapai 70%). Sedangkan pada siklus 2 terjadi peningkatan pada hasil belajar siswa yang mengalami ketuntasan sebanyak 28 siswa dan 2 siswa yang tidak tuntas (ketuntasan mencapai 93%). Oleh karena itu dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas dengan menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Problem Solving telah berhasil dengan melihat kenaikan hasil belajar siswa kelas VIIIB di SMP Negeri 1 Suboh Kabupaten Situbondo. Kata kunci: model pembelajaran kooperatif, metode problem solving, dan hasil belajar. Pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumberdaya manusia. Upaya peningkatan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif. Pembelajaran biologi merupakan kegiatan belajar, dimana siswa melakukan aktifitas berpikir, dengan penanaman konsep mengambil masalah yang berhubungan dengan materi yang diajarkan. Metode mengajar merupakan faktor yang berperan penting dalam meningkatkan prestasi dan hasil belajar siswa. Beberapa jenis metode mengajar diantaranya adalah ceramah, tanya jawab, diskusi, pemecahan masalah (problem solving), dan sebagainya (Mulyasa, 2008). Gambaran mengenai proses pembelajaran biologi seperti di atas dapat dilihat dikelas VIIIB SMP Negeri 1 Suboh Situbondo, dari hasil observasi dan wawancara kepada guru IPA biologi pada tanggal 6 oktober 2012 yang telah dilakukan diperoleh informasi bahwa proses pembelajaran biologi masih terkesan kaku dan pasif, jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan maupun pendapat masih sangat minim sehingga guru mendapatkan kesulitan tersendiri dalam mengukur tingkat pemahaman siswa. Hal ini secara tidak langsung menjadi penyebab kurang maksimalnya hasil belajar siswa dengan indicator belum tercapainya KKM yang ditetapkan yaitu 70. Ketuntasan belajar kelas masih rendah yaitu 38%, artinya dari jumlah 30 siswa dalam satu kelas, masih 11 siswa yang mendapatkan nilai di atas 70, sedangkan 19 siswa yang lain mendapatkan nilai di bawah 70. Rendahnya pemahaman siswa tentang pelajaran biologi khususnya pada materi sistem peredaran darah berakibat pada penurunan hasil belajar siswa di SMP Negeri 1 Suboh, hal ini dapat disebabkan JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 99-108) Diyah Ariska Fitari dkk, Penerapan Pembelajaran Kooperatif 100 oleh beberapa faktor, antara lain: a) dalam menyampaikan materi, guru menggunakan metode yang kurang menarik, b) kurangnya media yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran, c) guru hanya merespon siswa yang aktif di kelas, d) tidak adanya variasi mengajar. Model pembelajaran merupakan pola atau kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam merancanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial (Suprijono, 2009). Guru harus dapat memilih model pembelajaran yang cocok bagi siswa yang akan diajar untuk meningkatkan hasil belajar. Terdapat beberapa macam model pembelajaran antara lain: model penemuan terbimbing, model pembelajaran kooperatif dan model pembelajaran langsung. Model yang akan diterapkan dalam penelitian ini adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang membantu siswa untuk mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan bekerja secara bersama-sama di antara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi, produktifitas, dan perolehan belajar. Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar berupa prestasi akademik, toleransi, menerima keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Suprijono, 2009) Beberapa ciri dari pembelajaran kooperatif adalah: (a) setiap anggota memiliki peran, (b) terjadi hubungan interaksi langsung di antara siswa, (c) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman- teman kelompoknya, (d) guru membantu mengembangkan keterampilan- keterampilan interpersonal kelompok, dan (e) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan (Isjoni, 2009). Model pembelajaran kooperatif dipandang efektif menciptakan interaksi yang positif dalam menciptakan masyarakat belajar (Learning Community). Pembelajaran kooperatif adalah aktifitas belajar kelompok yang diatur sehingga terjadi pertukaran informasi antar anggota dalam kelompok. Tiap anggota bertanggung jawab untuk kelompok dan dan dirinya sendiri. Problem solving merupakan penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi maupun kelompok untuk dipecahkan sendiri atau bersama-sama. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas PTK atau Classroom Action Research (CAR). Desain penelitian yang digunakan adalah model spiral dari Kemmis dan Taggart (Wiriaatmadja, 2008) yang mencakup empat kegiatan yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting), seperti pada Gambar 1. R EFLEC T A C T OBSERVE PLAN R EFLEC T A C T OBSERVE PLAN Gambar 1. Siklus Penelitian Tindakan Kelas (Model Kemmis dan Taggart) (Sumber Wiriaatmadja, 2008) Penelitian tindakan kelas ini minimal dilakukan dalam dua siklus, jika dalam dua siklus belum berhasil maka akan dilanjutkan siklus ke III. Indikator terselesaikannya masalah tersebut adalah ketika terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada materi sistem peredaran darah. JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 99-108) Diyah Ariska Fitari dkk, Penerapan Pembelajaran Kooperatif 101 Penelitian ini akan dilanjutkan pada siklus II dan siklus berikutnya sampai indikator dalam penelitian ini tercapai. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Suboh Kabupaten Situbondo dalam waktu kurang lebih dua bulan (mulai persiapan kegiatan, hingga pelaksanaan tindakan). Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIIIB SMP Negeri 1 Suboh Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012-2013 berjumlah 30 siswa laki-laki 15 siswa dan perempuan 15 orang. Prosedur dan mekanisme kegiatan penelitian ini mengikuti beberapa langkah sebagaimana dilakukan dalam penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, yang terdiri dari atas beberapa tahap, yaitu perencanaan (planning), tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting), sesuai model yang dikembangkan Kemmis dan Taggart (Wiriaatmadja, 2011). Refleksi awal dilakukan sebelum melakukan tindakan. Peneliti terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan yang ada dalam proses belajar mengajar di kelas VIII SMP Negeri 1 Suboh, peneliti melakukan wawancara dengan guru bidang studi dan wali kelas serta mengamati hasil belajar siswa sebelumnya. Perencanaan tindakan meliputi: a) menyiapkan silabus materi sistem peredaran darah khusus pada kompetensi dasar mendeskripsikan sistem peredaran darah pada manusia dan hubungannya dengan kesehatan, b) menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan metode problem solving, c) menyiapkan hand-out materi sistem peredaran darah. Pelaksanaan tindakan berupa kegiatan pembelajaran seperti yang ditulis dalam RPP (Rencana Pelaksanan Pembelajaran) selama 2 pertemuan, tiap- tiap pertemuan memiliki alokasi waktu 40 menit. Peneliti bertindak sebagai guru sedangkan guru mata pelajaran bertindak sebagai observer bersama dengan seorang rekan peneliti yang diberi tugas mengamati dan dokumentasikan kegiatan pembelajaran berlangsung. Pada tahap ini peneliti yang bertindak sebagai guru mengambil dan mengumpulkan data hasil tes dan lembar kerja siswa. Observasi dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung oleh observer. Observer yang dimaksud adalah rekan peneliti dan seorang guru IPA biologi. Observer bertugas mengamati dan mengisi lembar observasi yang telah disediakan peneliti sesuai petunjuk yang ada. Data yang diamati yaitu keterlaksanaannya penerapan model pembelajaran kooperatif dengan metode problem solving yang meliputi aktivitas guru dalam mengajar dan aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Data-data ini dibuat untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Peneliti bersama guru bidang studi IPA biologi dan observer melakukan refleksi serta evaluasi dengan cara menganalisis kegiatan guru pada proses pembelajaran pada siklus I, apakah sesuai dengan rencana yang telah dibuat (RPP) atau masih perlu perbaikan dari permasalahan yang muncul dari pelaksanaan tindakan. Data hasil analisis dari siklus I digunakan sebagai acuan untuk merencanakan siklus berikutnya. Hasil yang diperoleh dari siklus I digunakan sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang pada siklus II, berikut seterusnya sesuai kebutuhan sampai siklus berhasil (Chotimah, 2009). Teknik pengumpulan data yang meliputi: wawancara, observasi, dokumentasi, dan tes. Wawancara digunakan untuk mengungkap minat belajar siswa, kemampuan siswa memahami materi, serta untuk memperoleh masukan dari siswa guna penyempurnaan proses pembelajaran (Muhson, 2005). Wawancara dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui secara lebih mendalam tentang pelaksanaan pembelajaran IPA Biologi materi sistem peredaran darah. JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 99-108) Diyah Ariska Fitari dkk, Penerapan Pembelajaran Kooperatif 102 Tabel 1. Materi Wawancara No Sumber Data Data yang diambil Teknik Pengumpulan Data 1. Informan a. Pendapat guru tentang metode yang sudah pernah diterapkan dalam pembelajaran. b. Pendapat guru dan siswa setelah diterapkannya model kooperatif dengan metode problem solving. Wawancara dan dokumentasi 2. Keterlaks anaan pembelaja ran dengan model pembelaja ran kooperatif dengan metode problem solving. a. Aktifitas guru dalam mengajar b. Aktifitas siswa dalam pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif dengan metode problem solving. 3. Data Dokument asi a. Nilai ulangan harian biologi siswa kelas VIII pada materi sistem peredaran darah 2011/2012 dan 2012/2013. b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). c. Foto aktivitas kegiatan guru dan siswa pada proses pembelajaran. 4. Nilai Tes a. Nilai hasil belajar setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif dengan metode problem solving Observasi dilakukan untuk mengamati proses pembelajaran siswa kelas VIIIB SMP Negeri 1 Suboh Kabupaten Situbondo pada materi sistem peredaran darah. Data hasil observasi dicatat oleh pengamat dalam lembar observasi yang berisi kolom-kolom mengenai aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran. Instrumen yang digunakan yaitu: 1) Lembar Wawancara yang berisi hasil wawancara antara peneliti dengan guru kelas VIIIB sebelum melaksanakan tindakan, 2) Lembar Kerja Peserta Didik digunakan untuk mengukur kemampuan siswa secara berkelompok, 3) Lembar kisi- kisi soal tes evaluasi, 4) tes evaluasi diberikan kepada masing-masing siswa pada akhir siklus untuk mengukur ketercapaiannya hasil belajar siswa, 5) Lembar observasi siswa dan guru diisi oleh guru pengamat dan rekan peneliti, lembar ini digunakan untuk menilai proses pembelajaran yang berlangsung dikelas, 6) Lembar dokumentasi digunakan untuk memperkuat data hasil penelitian dikelas, berupa rencana pelaksanaan pendidikan (RPP), hasil observasi, hasil evaluasi siswa dan foto-foto yang diambil selama proses penerapan model pembelajaran kooperatif dengan metode problem solving. Untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah siswa terhadap materi yang telah diberikan, maka dilakukan analisis kuantitatif dengan cara menganalisis lembar penilaian kemampuan pemecahan masalah pada LKPD. Sesuai dengan model pembelajaran yang digunakan, yaitu Kooperatif maka ketuntasan kemampuan pemacahan masalah siswa didasarkan pada penilaian kelompok dan indikator peningkatannya, setiap kelompok dikatakan memiliki nilai kemampuan pemecahan masalah yang baik atau meningkat apabila total nilai kemampuan pemecahan masalah yang diperoleh tiap-tiap kelompok ≥ 21. Proses penilaian kemampuan pemecahan masalah siswa diperoleh dari pemberian skor yang diberikan dari beberapa indikator yaitu: bersikap kritis dengan mampu bekerjasama, keberanian mengajukan pertanyaan, kesopanan menyanggah dan berargument, dan kejujuran perolehan data JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 99-108) Diyah Ariska Fitari dkk, Penerapan Pembelajaran Kooperatif 103 untuk menyelesaikan LKPD. Dari hasil skor tersebut diolah menjadi bentuk persentase, tujuan tersebut agar mudah untuk mencocokkan kriteria yang telah ditentukan. Perolehan skor didapatkan dari penilaian terhadap komponen-komponen indikator kemampuan pemecahan masalah. Berikut indikator kemampuan pemecahan masalah siswa dalam Depdiknas (2003): Skor maksimal ideal = 30 Skor hasil pengamatan = n + n + …………………… Rata-rata skor = skor hasil pengamatan / skor ideal Persentase kemampuan pemecahan masalah = rata-rata skor x 100% Jumlah skor yang diperoleh selanjutnya dikonversi menjadi nilai, untuk dapat menentukan kriteria kemampuan pemecahan masalah siswa dengan menggunakan rumus di atas. Tabel 2. Kriteria Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa Interval Nilai Kemampuan Kerja Ilmiah Siswa Kriteria Penilaian 85%-100% Sangat baik 70%-84% Baik 60%-69% Cukup baik 50%-59% Kurang baik <50% Tidak baik Data-data yang telah terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif . Analisis deskriptif kualitatif dilakukan dengan cara menganalisis lembar observasi aktivitas guru dan siswa terhadap keterlaksanaannya model kooperatif dengan metode problem solving. Menurut Nazir (2003), menyatakan bahwa Analisis deskriptif kualitatif merupakan suatu teknik yang menggambarkan data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran umum tentang keadaan sebenarnya. Tujuan deskriptif adalah untuk membuat gambaran secara sistematis dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diberi tindakan penerapan model kooperatif dengan metode problem solving maka dilakukan analisis kuantitatif dengan cara menganalisis hasil tes LKPD dan tes evaluasi. Nilai hasil tes akan diasumsikan dengan Kriteria ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan sekolah yaitu 70, jika nilai dibawah KKM maka siswa dikatakan belum tuntas. Ketuntasan hasil belajar siswa terbagi menjadi dua yaitu ketuntasan individu dan ketuntasan klasikal. Setiap siswa dianggap mencapai ketuntasan belajarnya jika telah mencapai ≥ 70. Rumus yang digunakan sebagai berikut : Nilai Hasil = 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒 ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑙 x 100% Hasil belajar siswa dikatakan tuntas secara klasikal jika mencapai persentase 75%. Rumus yang digunakan sebagai berikut : 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑇𝑒𝑠 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑢𝑛𝑡𝑎𝑠 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100 Tabel 3. Kriteria Ketuntasan Belajar Klasikal Interval Nilai Ketuntasan Belajar Kriteria 85 – 100 % 70 – 84% 55 – 69% 40 – 54% 0 – 39% Sangat Baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Proses penilaian hasil belajar siswa diperoleh dari kemampuan berpikir ilmiah yang terdiri dari beberapa indikator, diantaranya: bekerja sama antar kelompok, mengkomunikasikan hasil penyelidikan dengan media yang digunakan dalam menyajikan hasil diskusi serta kejujuran memperoleh informasi atau data untuk menyelesaikan LKPD dan tes evaluasi. JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 99-108) Diyah Ariska Fitari dkk, Penerapan Pembelajaran Kooperatif 104 Dalam penelitian ini dikatakan berhasil apabila minimal siswa yang mengikuti tes sebanyak 75%, kemampuan memecahkan masalah sudah memenuhi KKM yang ditentukan sekolah yaitu 70. Hasil belajar meningkat apabila rata-rata persentase tes yang dinilai dari siklus I dan siklus II ≥ 75%. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil a) Penilaian Proses Siswa dalam Kegiatan Pembelajaran Berdasarkan hasil pengoreksian lembar jawaban tes formatif menunjukkan bahwa masing-masing siswa memiliki hasil belajar yang berbeda-beda. Siswa dapat dikatakan tuntas atau memiliki nilai hasil belajar yang baik jika hasil tes formatif telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM), yaitu mencapai nilai > 70. Jumlah siswa secara keseluruhan 30 namun pada pertemuan pertama hanya dihadiri 27 siswa. hasil penilaian proses siswa dalam kegiatan pembelajaran pada siklus I adalah sebagai berikut. Tabel 4. Data Nilai Hasil Tes Evaluasi Siklus I Berdasarkan data di atas diketahui hasil penilaian proses secara keseluruhan baik, ada 21 siswa yang memperoleh nilai di atas KKM > 70, namun ada 9 siswa yang belum tuntas memperoleh nilai tes evaluasi di bawah KKM < 70 yaitu Dea, Diray, Firman, Imam, Mita Yuda, Sadli, Rike, dan Tutik. Belum mencapai ketuntasan hasil belajar, hal ini disebabkan karena mereka kurang aktif dikelas, mengantuk, bermain pensil, berbicara sendiri dengan temannya dan kurang berani mengajukan pendapat dalam Nomor Nama L/P Nilai Hasil Belajar Siklus I Keterangan 1 4722 Ahmad Febrianto L 79 Tuntas 2 4735 Ana Quratul Aini P 86,1 Tuntas 3 4737 Andriyono L 77 Tuntas 4 4738 Andy Sepri Susanto L 86,1 Tuntas 5 4752 Dea Arfila K. P 42,3 Tidak Tuntas 6 4757 Deskian Haris L 86,5 Tuntas 7 4761 Dewi Amelia P 83,1 Tidak Tuntas 8 4764 Dicky Eko Prasetyo L 83,1 Tidak Tuntas 9 4769 Diray Kusuma L 54,5 Tidak Tuntas 10 4772 Dwi Yuliana Riskiyah P 83,1 Tuntas 11 4781 Fajar Siddiqi P. S. L 80,6 Tuntas 12 4787 Fiki Ranjes Nuvio L 80,6 Tuntas 13 4788 Fira Yuslayli P 80,6 Tuntas 14 4789 Firman Anggi Wahyudi L 63,8 Tidak Tuntas 15 4799 Imam Baihaki L 61,1 Tidak Tuntas 16 4813 M. Roni Setiawan L 88,2 Tuntas 17 4820 Mita Dwi Pratiwi P 63,8 Tidak Tuntas 18 4831 Moh. Yuda Prasetyo L 63,8 Tidak Tuntas 19 4838 Muh. Sadli Hasan L 55,5 Tidak Tuntas 20 4856 Nur Aini P 75 Tuntas 21 4868 Priyanto L 86,1 Tuntas 22 4874 Rike Risma Safitri P 55,2 Tidak Tuntas 23 4875 Rima Ummal Khoiriyah P 86,1 Tuntas 24 4901 Siti Nur Aisyah P 86,5 Tuntas 25 4903 Siti Raudatul Q. P 86,5 Tuntas 26 4905 Siti Rofida P 83,1 Tuntas 27 4914 Tutik Kurnia Ningsih P 68,3 Tidak Tuntas 28 4915 Ulfiari Ninin Marsita P 83,1 Tuntas 29 4933 Zaenul Hasan L 83,1 Tuntas 30 4871 Putri Puji Astutik P 80,6 Tuntas Rata-rata nilai kelas 75,34 JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 99-108) Diyah Ariska Fitari dkk, Penerapan Pembelajaran Kooperatif 105 berkelompok. Dengan KKM 70 sesuai dengan ketetapan SMP Negeri 1 Suboh. Didapat juga nilai nilai terendah 42,3 dan tertinggi 88,2. Data pada Tabel 4 selanjutnya dianalisis dengan menggunakan rumus untuk mengetahui persentase ketuntasan belajar klasikal siswa (Tabel 5). Tabel 5. Persentase Ketuntasan Belajar Klasikal Siklus I Prestasi Siswa Siklus 1 Jumlah Siswa Persentase Nilai < 75 (Tidak tuntas belajar) Nilai > 75 (Tuntas belajar) 9 21 30% 70% Jumlah 30 100% Nilai rata-rata 75,34 Ketuntasan secara klasikal >20 75% (Sumber: data nilai belajar siswa pada siklus I) Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa jumlah siswa seluruhnya adalah 30 siswa. Ketuntasan klasikal siswa adalah 75%, sementara ketuntasan belajar siswa di siklus I sebesar 70% < 75% maka ketuntasan belajar siswa klasikal siswa dinyatakan belum tuntas dan tidak sesuai kriteria ketuntasan belajar, presentase 70 berada diantara persentase 55-69%, sehingga kreteria ketuntasan belajar klasikal siswa dinyatakan “Cukup” Tabel 6 Data Hasil Penskoran Aktivitas Guru Siklus I Tahap Aspek Deskriptor Skor 1 2 3 4 Tahap Awal Apresiasi a. Membuka pelajaran dengan salam, doa, dan memeriksa kehadiran. √ b. Menyampaikan tujuan pembelajaran. √ c. Pengkondisian siswa belajar √ d. Pemberian motivasi kepada siswa √ e. Menjelaskan langkah-langkah pembelajaran kooperatif. √ Tahap Inti (penera pan konsep ) Penyampai an informasi, pengamatan dan pembimbin gan f. Menyampaikan materi secara garis besar sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator yang akan dicapai. √ g. Guru menggali lebih dalam pengetahuan siswa √ h. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk berpikir dan bertanya √ i. Membagi siswa dalam kelompok belajar secara heterogen. √ j. Memberikan LKPD untuk dikerjakan/ didiskusikan dengan kelompok. √ k. Penyampaian informasi mengenai tugas yang akan dilakukan √ l. Memberikan bimbingan kepada siswa atau kelompok yang mengalami kesulitan √ m. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi.. √ n. Mengkondisikan siswa sehingga pembelajaran berjalan tertib dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. √ Tahap Akhir Pengevalua sian Hasil Belajar o. Membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. √ p. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi yang belum dipahami √ q. Melakukan evaluasi dengan memberikan soal evaluasi. √ Jumlah Skor 4 3 1 2 0 Data pada Tabel 6 menunjukkan bahwa pelaksanaan mengajar guru pada siklus I dalam melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan metode problem solving mendapat skor nilai 55 dengan presentase keberhasilan 80,8% dan dapat dikategorikan sangat baik. Pada pengamatan ini guru kelas yang bertindak sebagai observer mengamati kegiatan belajar mengajar guru (peneliti) dan mengamati keterlaksanaannya model pembelajaran kooperatif dengan metode JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 99-108) Diyah Ariska Fitari dkk, Penerapan Pembelajaran Kooperatif 106 problem solving. Sedangkan rekan peneliti sebagai observer untuk aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajarandan mendokumentasikan proses pembelajaran dalam bentuk foto. Hasil rangkuman data observasi dari guru bidang studi dan teman sejawat, antara lain: a) Pada kegiatan awal guru kurang memberikan motivasi dan tujuan pembelajaran pada siswa. b) Pada kegiatan inti, pembagian kelompok masih terjadi kegaduhan di kelas (karena siswa ingin satu kelompok dengan teman akrabnya). c) Pelaksanaan pembelajarannya sudah baik, hanya saja terdapat kekurangan seperti memberi motivasi dan mengkondisikan kelas. d) Aktivitas siswa sudah baik, namun terdapat beberapa siswa yang masih terlihat pasif dalam belajar dan juga terdapat siswa yang masih kurang teliti dalam membaca soal ketika mengerjakan tugas. Kegiatan pembelajaran melebihi waktu yang sudah ditetapkan, hal ini disebabkan karena kurang optimalnya waktu saat siswa presentasi dikelas. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian tindakan kelas yang dilakukan selama dua siklus, diketahui bahwa penggunaan Model Pembelajaran Koperatif dengan Metode Problem Solving pada pelajaran IPA biologi siswa kelas VIIIB SMP Negeri1 Suboh Situbondo Kabupaten Situbondo dengan standar kompetensi memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dari tes hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan setelah mengikuti proses pembelajaran dari siklus I dan siklus II. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dimyati dan Mudjiono (2006) bahwa hasil belajar dinyatakan dengan skor yang diperoleh dari tes hasil belajar dan pengamatan kegiatan siswa yang diadakan setelah mengikuti suatu proses pembelajaran. Selain itu, keberhasilan juga dibuktikan dari observasi siswa dan guru dalam penerapan Model Pembelajaran Koperatif dengan Metode Problem Solving serta ketercapaian pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dan siklus II. Penerapan Model Pembelajaran Koperatif dengan Metode Problem Solving dalam pembelajaran materi menyimpulkan hasil percobaan faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi denyut nadi dan penggolongan darah dapat meningkatkan hasil belajar siswa, karena dengan model dan metode ini siswa akan dengan mudah mengingat semua peristiwa mulai dari proses pembelajaran hingga hasil yang berupa temuan-temuan atau kesimpulan yang mereka temukan sendiri, sehingga diharapkan siswa mampu mendapatkan hasil belajar yang lebih baik. Berdasarkan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa dengan menggunaan Model Pembelajaran Koperatif dengan Metode Problem Solving, hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 70% pada siklus II menjadi 93%, sehingga pada siklus II sudah memenuhi ketuntasan klasikal yaitu lebih besar 75%. Meskipun 6% siswa masih belum memenuhi ketuntasan klasikal dikarenakan siswa masih kesulitan dalam mengerjakan soal dan tidak tertib pada saat proses pembelajaran, namun hal ini masih bisa diatasi dengan memberikan perhatian khusus pada siswa yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata. Kesimpulan Pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan metode problem solving dapat terlaksana dengan baik. Hal tersebut dilihat dari hasil pengamatan keterlaksanaan pembelajaran pada aktivitas guru maupun siswa yang menunjukkan JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 99-108) Diyah Ariska Fitari dkk, Penerapan Pembelajaran Kooperatif 107 semua kegiatan terlaksana. Penerapan model pembelajaran kooperatif dengan metode problem solving pada proses pembelajaran antara lain penyampaian materi, membentuk kelompok (5-6 siswa). Berdasarkan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa dengan menggunaan Model Pembelajaran Koperatif dengan Metode Problem Solving, hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 70% pada siklus II menjadi 93%, sehingga pada siklus II sudah memenuhi ketuntasan klasikal yaitu lebih besar 75%. Meskipun 6% masih belum memenuhi ketuntasan klasikal dikarenakan siswa masih kesulitan dalam mengerjakan soal dan tidak tertib pada saat proses pembelajaran, namun hal ini masih bisa diatasi dengan memberikan perhatian khusus pada siswa yang memiliki kemampuan dibawah rata-rata. Saran Pada saat menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Problem Solving dalam pembelajaran, sebaiknya guru harus pandai-pandai menetapkan materi pelajaran yang cocok dengan karakteristik pembelajaran pada Model Pembelajaran Kooperatif dengan Metode Problem Solving dan pada penetapan anggota setiap kelompok sebaiknya dicampur siswa yang lamban belajar dengan siswa yang cepat dalam menangkap materi pembelajaran. Selain itu, untuk mengantisipasi adanya siswa yang tidak tuntas sebaiknya diadakan remidial oleh guru kelasnya, sehingga siswa tersebut dapat mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan. DAFTAR RUJUKAN Arikunto, S. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara. Asmani, Jamal Ma’mur. 2012. 7 Tips Aplikasi Pakem. Yogyakarta: Diva Press. Bruce Joyce, Marsha Weil, and Emily Calhoun. 2009. Models of Teaching (Model-Model Pembelajaran). Yogyakarta: Pustaka Belajar. Chotimah, Husnul dan Dwitasari, Yuyun.2009. Strategi Pembelajaran untuk Penelitian Tindakan Kelas.Malang : Surya Pena Gemilang. Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Sekolah Menengah Pertama Mata Pelajaran Biologi. Jakarta : Depdiknas. Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta. Gusti, Rini Prisma. 2006. Upaya Peningkatan Pemahaman Konsep Biologi melalui Pendekatan Kontekstual dengan Model Pembelajaran Berbasis Gambar (Picture and Picture) Pada Siswa Kelas XI IPA SMA Muhammadiyah Kota Padang Panjang. Jurnal Guru, Vol 1 No. 3 Herwan Jaya. 2012. Pembelajaran Active Learning Berbasis Problem Solving Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 6 Kota Malang. Isjoni. 2009. Cooperatif Learning, Efektifitas pembelajaran kelompok. Bandung: Alfabeta. Kusumah, Wijaya dan Dwitagama, Dedi. 2010. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT Indeks. Mulyasa. 2008. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia: Jakarta. Sanjaya, Wina 2011. Strategi Pembelajaran. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 1 NOMOR 1 (ISSN: 2442-3750) (Halaman 99-108) Diyah Ariska Fitari dkk, Penerapan Pembelajaran Kooperatif 108 Sardiman, A.M. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Sudjana, Nana. 2008. Penilaian Hasil Proses belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Suyitno, Amin. 2004. Dasar-Dasar Proses Pembelajaran Matematika 1. Semarang: Jurusan Matematika FMIPA UNNES Suprijono, Agus. 2009.Cooperative Learning teori dan aplikasi. Yogjakarta: Pustaka Belajar. Subrata, Nyoman. 2006. Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif dan Strategi Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIIC SMP Negeri Sukasada. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha. Saktiyono. 2007. IPA BIOLOGI 2 SMP dan MTS untuk Kelas VIII. Jakarta: Esis Tim Dosen BIOLOGI FKIP UMM. 2009. Panduan Penulisan Skripsi Program Studi Pendidikan Biologi. Malang : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Taplin, Margaret. 2007. Mathematics Through Problem solving. Dalam http://www.mathgoodies.com/article s/ diakses Maret 2007. Wiriaatmadja, Rochiati. 2008. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Yukalina, dkk. 2009. Mandiri Mengasah Kemampuan Diri BIOLOGI untuk SMP/MTS Kelas VIII. Yogyakarta: Erlangga