JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 2 NOMOR 3 TAHUN 2016 (p-ISSN: 2442-3750; e-ISSN: 2527-6204) (Halaman 215-221) Disubmit: Oktober 2016 Direvisi: Oktober 2016 Disetujui: November 2016 Rudi Setiawan et. al., Penggunaan Chabi (Charming Dustbin) 215 PENGGUNAAN CHABI (CHARMING DUSTBIN) DAN KERANJANG TAKAKURA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN TERHADAP ANAK USIA SEKOLAH DASAR The Aplication of Chabi (Charming Dustbin) and Takakura Basket as Effort to Increase Environment Indefferent for Elementary School Children Rudy Setiawan 1 , Rio Febrianto Arifendi 2 1, 2 Universitas Tribhuwana Tunggadewi Jl. Telaga Warna, Tlogomas, Lowokwaru, Malang 65144, Telp. 0341-565500 e-mail korespondensi: rudiehabibi@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan (Action Research). Penelitian ini telah dilaksanakan melalui 2 siklus dengan masing-masing siklus memuat tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Data yang digunakan adalah data kualitatif di lapangan dan didukung beberapa data kuantitaif yang berupa lembar observasi dan angket. Hasil dari penelitian ini adalah 86% siswa tertarik membuang sampah pada tempatnya, 88% siswa telah terbiasa memisahkan sampah menurut jenisnya dan 92% siswa menunjukkan kepedulian lingkungan. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan berupa 1) Siswa tertarik untuk membuang sampah melalui chabi dan keranjang takakura. 2) Siswa terbiasa untuk memisahkan sampah organik dan non organik. 3) Siswa meningkat kepeduliannya terhadap kesehatan lingkungannya melalui penggunaan chabi dan keranjang takakura dalam membuang sampah. Kata kunci: Chabi, keranjang Takakura, lingkungan ABSTRACT This research was a action research. This research had conducted in two cycles, each cycle consists of planning, implementing, observing, and reflecting. The data used was qualitative data on field and supported by any quantitative data like observation sheet instruments and angket. The results of this research are 86% students excited to waste any garbage on its place, 88% students have common to separate any garbage based on its kind, and 92% students showed care on environment. This result of research have conclusion like 1) The students excited to waste any garbage by chabi and takakura basket.2)The students have common to separate organic and anorganic garbages. 3) The student have good care on environment health by using chabi and takakura basket on waste any garbage. Keywords: Chabi, environment, Takakura basket Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Segala sesuatu yang ada di sekitar kita yang terdiri atas lingkungan biotik dan lingkungan abiotik disebut lingkungan (Dwiyatmo, 2007). Dwiyatmo (2007) menyatakan bahwa bersih atau tidaknya lingkungan sangat dipengaruhi oleh keberadaan manusia yang di lingkungan tersebut. Manusia sebagai makhluk yang memiliki akal sempurna tidak hanya berkewajiban menjaga lingkungan tetapi juga memelihara kelestariannya. Saat ini telah muncul berbagai masalah yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan atau yang disebut dengan pencemaran lingkungan. Pencemaran terjadi murni aktivitas manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Sampah adalah sisa aktivitas manusia yang menjadi penyebab kotornya JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 2 NOMOR 3 TAHUN 2016 (p-ISSN: 2442-3750; e-ISSN: 2527-6204) (Halaman 215-221) Disubmit: Oktober 2016 Direvisi: Oktober 2016 Disetujui: November 2016 Rudi Setiawan et. al., Penggunaan Chabi (Charming Dustbin) 215 lingkungan. Berdasarkan mudah tidak teruarai sampah dikategorikan menjadi dua jenis yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Menurut UU nomor 18 tahun 2008 perlu adanya pengelolaan sampah agar tidak menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat di lingkungannya. Kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi bersih atau tidaknya lingkungan. Salah satu musuh yang harus diperangi masyarakat saat ini adalah keberadaan sampah yang makin hari makin bertambah. Berdasarkan hasil penelitian mengenai “Perbedaan Kepedulian Mahasiswa terhadap Lingkungan Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Daerah Asal”, ternyata 47% mahasiswa membuang sampah sembarangan, dan kebanyakan dari mahasiswa tersebut belum mampu memisahkan sampah organik dan anorganik. Padahal, sampah tersebut ada yang mampu diurai dan sulit terurai. Ini membuktikan bahwa kesadaran untuk membuang dan memisahkan sampah menurut jenisnya masih rendah. Hal tersebut sangat ironis, dikarenakan kesadaran mereka dalam membuang sampah sangat rendah pada usia yang relatif dewasa. Oleh karena kondisi itu, peneliti bermaksud mengatasi kesadaran dalam menanggulangi sampah sejak usia dini. Kepedulian terhadap lingkungan akan terjadi dengan baik jika dilaksanakan secara tepat dan terbiasa sejak usia belia (Budihardjo, 2004). Usia dini yang menjadi ketertarikan peneliti adalah usia anak sekolah dasar. Rifa’I & Anni (2009) menyebutan bahwa usai anak sekolah dasar merupakan masa yang diharapkan mampu memperoleh dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri di kehidupan dewasa dengan penyesuaian tertentu. Korelasi keberhasilan menanamkan sikap pada anak usia dini akan berpengaruh pada kehidupannya di usia dewasa. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti, SDN 01 Sidorejo yang terletak di Kecamatan Jabung Kabupaten Malang, hanya memiliki dua buah tempat sampah berukuran sedang yang diletakkan di halaman sekolah. Hal tersebut menyebabkan tempat sampah yang kelebihan sampah sehingga banyak yang berserakan di halaman sekolah maupun yang berserakan di ruang kelas karena siswa membuang sampah sembarangan. Berawal dari masalah tersebut, peneliti bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mengatasi hal tersebut dengan memberikan tempat sampah lukis dan keranjang takakura supaya siswa dapat tertarik membuang sampah pada tempat yang dibuatnya dan mampu memisahkan jenis sampah. Guna menarik perhatian siswa dengan harapan siswa terbiasa untuk membuang sampah pada tempat yang benar maka peneliti mengenalkan 2 jenis tempat sampah berdasarkan jenis sampah yang dibuangnya, yaitu Chabi (Charming Dustbin) untuk sampah anorganik dan Kerjang Takakura untuk sampah organik. Chabi adalah tempat pembuangan sampah yang dikemas dengan menarik disertai lukisan di bagian luarnya. Keranjang takakura adalah tempat sampah yang dilengkapi dengan bahan pengurai sampah organik. Peneliti memilih tempat sampah lukis karena masa anak usia sekolah dasar merupakan masa bermain, mereka senang mencoba hal- hal baru, dan anak dengan kemampuan mereka mampu mengimajinasi warna cat JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 2 NOMOR 3 TAHUN 2016 (p-ISSN: 2442-3750; e-ISSN: 2527-6204) (Halaman 215-221) Disubmit: Oktober 2016 Direvisi: Oktober 2016 Disetujui: November 2016 Rudi Setiawan et. al., Penggunaan Chabi (Charming Dustbin) 216 sehingga menjadi sesuatu yang menarik bagi mereka. Berdasarkan permasalahan dan peluang yang ada, peneliti bekerja sama dengan pihak sekolah mengadakan penelitian berjudul “Penggunaan Chabi (Charming Dustbin) dan Keranjang Takakura Sebagai Upaya Meningkatkan Kepedulian Lingkungan Terhadap Anak Usia Sekolah Dasar”. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan (Action Research) dengan 2 siklus. Masing-masing siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Penelitian ini dilakukan pada seluruh siswa kelas 4-6 SDN 01 Sidorejo Kecamatan Jabung Kabupaten Malang yang berjumlah 102 siswa (57 siswa laki- laki dan 45 siswa perempuan), dan didukung data penelitian kepada 10 guru, dan 2 karyawan, mulai bulan April sampai Juni 2016. Instrumen yang digunakan, yaitu lembar observasi dan angket. Penelitian ini adalah penelitian populasi, dengan populasinya seluruh siswa SDN 01 Sidorejo Jabung. Menurut Arikunto (2010), penelitian populasi adalah penelitian yang meneliti keseluruhan dalam populasi dengan subjek yang tidak terlalu banyak. Peneliti menetapkan penelitian populasi, karena dalam penelitian ini memiliki populasi tidak terlalu banyak hanya berjumlah 102 siswa. Peneliti ingin meneliti respon dari pemberian tindakan kepada siswa secara keseluruhan, serta peneliti ingin meneliti secara mendalam pengaruh dari tindakan yang peneliti berikan. Guru juga menjadi subjek penelitian selain ikut serta memberikan informasi kepada peneliti. Pra tindakan Menurut observasi awal pengamatan menunjukkan bahwa: 1) siswa kurang tertarik untuk membuang sampah pada tempatnya, 2) terbatasnya keberadaan tempat sampah yang ada di sekolah, dan 3) rendahnya kepedulian siswa untuk menjaga kebersihan lingkungannya. Berdasarkan kondisi diatas maka diperlukan suatu metode yang menarik yang dapat meningkatkan antusiame dan ketertarikan siswa guna peduli terhadap lingkungannya. Sehingga siswa tertarik untuk senantias menjaga kesehatan lingkungannya. Siklus I Perencanaan Peneliti mensosialisasikan penelitian kepada pihak sekolah. Peneliti menyiapkan segala instrumen penelitian, alat dan bahan membuat Chabi (Charming Dustbin). Peneliti, siswa, dan guru bekerja sama membuat Chabi (Charming Dustbin). Peneliti mensosialisasikan kepada siswa cara memisahkan jenis sampah. Tindakan atau acting Pelaksanaan tindakan merupakan penerapan atau pelaksanaan rancangan yang telah ditetapkan sebelumnya yakni dengan meletakkan Chabi (Charming Dustbin) di beberapa sudut sekolah. Pelaksanaan tindakan Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus pertama dengan tindakan Chabi (Charming Dustbin) dan sosialisasi yang pertama. JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 2 NOMOR 3 TAHUN 2016 (p-ISSN: 2442-3750; e-ISSN: 2527-6204) (Halaman 215-221) Disubmit: Oktober 2016 Direvisi: Oktober 2016 Disetujui: November 2016 Rudi Setiawan et. al., Penggunaan Chabi (Charming Dustbin) 217 Pengamatan atau observing Observasi merupakan kegiatan mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan atau dikenakan terhadap siswa. Kesulitan yang dihadapi siswa, keaktifan siswa, tanggapan siswa, diamati dan dicatat untuk pertimbangan dan perencanaan pada siklus berikutnya. Pengamatan dilakukan dengan bantuan guru. Refleksi atau reflecting Refleksi merupakan kegiatan mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan yang dicatat dalam observasi. Refleksi merupakan kegiatan mengkaji, melihat,dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan. Peneliti menetapkan keberhasilan siklus pertama sebesar 75% siswa mampu membuang dan memisahkan sampah sesuai jenisnya. Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan, peneliti melakukan evaluasi dan mengadakan tindak lanjut dengan pelaksanaan siklus ke-2 atau penelitian lanjutan untuk mengetahui kegiatan membuang dan memisahkan sampah telah menjadi kebiasaan atau belum. Siklus II Perencanaan Peneliti dan guru mensosialisasikan cara memisahkan sampah. Tindakan atau acting Tindakan yang dilakukan berupa memperbaiki kesulitan siswa dalam memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Pengamatan atau observing Pengamatan yang dilakukan berupa mengamati sikap dan perilaku siswa dalam membuang sampah dan kepedulian lingkungan lainnya. Refleksi atau reflecting Refleksi berupa mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tong sampah Chabi terhadap kepedulian lingkungan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Menarik Siswa Membuang Sampah pada Tempatnya Pelaksanaan siklus I dan siklus II, siswa tertarik untuk membuang sampah ada tempatnya. Adapun tindakan yang dilakukan oleh peneliti adalah menyiapkan alat berupa kuas, kapur. Bahan enam buah tong sampah, cat kayu warna primer, sekam, kardus, kain katun gelap, keranjang pakaian. Selanjutnya peneliti membuat gambar sketsa keenam tong sampah, dan menyiapkan kantong sekam. Setelah itu mengajak siswa kelas 4-6 sejumlah 25 siswa untuk mengecat tong sampah bersamasama. Siswa dibagi dalam 6 kelompok, dan tiap kelompok mendapat tugas mengecat 1 tong sampah. Antusiasme mereka sangat tinggi dan merasa senang dengan kegiatannya pagi itu. Peneliti dihadapan guru dan siswa merancang takakura dan menjelaskan kegunaan masing-masing jenis tong sampah. Siswa diminta secara langsung latihan membedakan sampah organik dan anorganik, serta menempatkan tempat sampah di depan ruang kelas masing- masing. Analisis angket diperoleh 99 % siswa menyatakan chabi sangat menarik. Dan sisanya ragu-ragu. Berdasarkan analisis angket 86% siswa menyatakan JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 2 NOMOR 3 TAHUN 2016 (p-ISSN: 2442-3750; e-ISSN: 2527-6204) (Halaman 215-221) Disubmit: Oktober 2016 Direvisi: Oktober 2016 Disetujui: November 2016 Rudi Setiawan et. al., Penggunaan Chabi (Charming Dustbin) 218 lebih tertarik membuang sampah pada tempatnya. 7,9% tidak setuju kalau chabi mendorong mereka untuk membuang sampah pada tempatnya, serta 5,9% siswa menyatakan sangat tidak setuju jika chabi mendorong mereka untuk membuang sampah. Ketertarikan siswa terhadap chabi yang mencapai 86% pada siklus I menunjukkan ketercapaian indikator yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan wawancara kepada siswa yang tertarik kepada chabi, mereka mengungkapkan ketertarikan membuang sampah pada chabi karena mereka telah mengecat bersama-sama. Jika tidak dimanfaatkan, sia-sia telah mengecat tong sampah, danperasaan mereka jika membuang sampah pada tempatnya itu puas. Sedangkan alasan siswa yang tidak setuju jika dengan chabi ia tertarik membuang sampah lebih disebabkan tidak tega jika ia membuang, di tempat sampah yang bagus. Melatih Siswa Memisahkan Sampah Menurut Jenisnya Sebanyak 88% siswa menyatakan lebih mudah memisahkan jenis sampah dengan Chabi karena selain bentuk tempat sampah Chabi yang berbeda juga karena telah mendapatkan informasi saat sosialisai Chabi. Informasi yang diberikan peneliti dan peran guru menjadikan siswa mengerti akan jenis sampah dan manfaat yang diperoleh dengan memisahkan jenis sampah. Meningkatkan Kepedulian Siswa terhadap Lingkungan Kepedulian lingkungan siswa juga tampak dari keinginan mereka untuk menegur temannya yang membuang sampah sembarangan sebanyak 88%. Sisanya siswa merasa masih takut untuk menegur temannya. Menurut konfirmasi guru, anak SD selain ada yang berani berbicara yang diinginkan, juga ada siswa yang malu untuk menegur orang lain. Kepedulian lain mereka juga tampak dari 92% siswa setuju untuk mengambil sampah yang berserakan dan membuangnya pada tong sampah yang ada khususnya di SDN 01 Sidorejo Jabung yaitu Chabi. Kondisi tersebut dapat diilustraskan pada Gambar 1. Gambar 1. Siswa gembira menggunakan Chabi PEMBAHASAN Chabi Peningkat Kepedulian Lingkungan Chabi (charming dustbin) merupakan tong sampah yang memesona karena manfaat serta tampilan tong sampah tersebut, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2. Dari analisis angket diperoleh bahwa 99 % siswa menyatakan chabi sangat menarik. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik anak-anak dalam membuat karya seni rupa. Menurut Kamaril (2005) guru hendaknya memberi kesempatan luas dan kemudahan kepada ekspresi anak, spontanitas anak, kreativitas anak, serta beri kesempatan bereksplorasi, belajar mencoba dan bermain. JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 2 NOMOR 3 TAHUN 2016 (p-ISSN: 2442-3750; e-ISSN: 2527-6204) (Halaman 215-221) Disubmit: Oktober 2016 Direvisi: Oktober 2016 Disetujui: November 2016 Rudi Setiawan et. al., Penggunaan Chabi (Charming Dustbin) 219 Gambar 2. Desain Chabi (Charming Dustbin) Chabi memberikan kesempatan untuk meningkatkan kreativitas mereka dalam mewarnai menggunakan cat kayu. Dari kegiatan tersebut muncul ketertarikan terhadap penggunaan chabi. Tong sampah chabi yang bagus mendorong mereka untuk membuang sampah pada tempatnya. 91% siswa menyatakan telah mengetahui manfaat yang diperoleh dengan aktivitas memisahkan jenis sampah. Hasil wawancara dengan salah satu siswa menunjukkan siswa mampu menyebutkan manfaat dari memisahkan jenis sampah. Menurut Rahayu (2010), sampah jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan menurunnya tingkat kesehatan masyarakat. Keranjang Takakura Jika Chabi (charming dustbin) sebagai tempat sampah memesona karena kelebihannya yang terdiri dari dua jenis tempat sampah, yaitu tempat sampah lukis sebagai tempat sampah anorganik dan keranjang takakura (Gambar 3) sebagai tempat sampah organik. Pemisahan jenis sampah menurut Nisandi (2007), berdasarkan asalnya sampah ada yang organik dan anorganik, sehingga perlu ada usaha untuk mengatas keberadaan sampah khususnya sampah organik, karena jika tidak sampah ini akan menjijikkan jika sudah membusuk apalagi bila terkena genangan air sehingga masyarakat enggan menanganinya. Penanganan sampah organik menurut Nisandi (2007) dapat berupa pengolahan dan pemanfaatannya menjadi briket arang dan asap cair. Selain itu, upaya 3R (reuse, reduce, dan recycle) dapat dilakukan melalui takakura. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi sampah dari sumbernya terutama sampah organik dan menghasilkan kompos yang bisa dimanfaatkan langsung oleh masing- masing. Konsep sederhana pengolahan sampah organik menjadi kompos peneliti terapkan dalam chabi sebagai solusi permasalahan kebersihan lingkungan di SDN 01 Sidorejo Jabung. Penelitian pada siklus I menunjukkan terjadi kurang pahamnya karyawan kebersihan di sekolah. Sampah dibiarkan kering dan tidak dicampur dengan cara mengaduk dengan kompos starter. Seharusnya cara pengomposan takakura adalah dengan mengaduk menggunakan cetok sampai rata, supaya sampah yang dimasukan sehari sebelumnya tercampur merata dengan media pengkomposan. Gambar 3. Desain Keranjang Takakura JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 2 NOMOR 3 TAHUN 2016 (p-ISSN: 2442-3750; e-ISSN: 2527-6204) (Halaman 215-221) Disubmit: Oktober 2016 Direvisi: Oktober 2016 Disetujui: November 2016 Rudi Setiawan et. al., Penggunaan Chabi (Charming Dustbin) 220 Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti segera menyelesaikannya pada siklus ke-II dengan mengadakan sosialisasi ke-II kepada karyawan dan siswa. Sehingga dalam siklus ke-II, siswa membantu karyawan kebersihan untuk ikut dalam upaya membuat kompos dari sampah organik. Peran guru dalam proses ini adalah ikut mengawasi dan memberikan pengarahan jika masih terdapat permasalahan. Selanjutnya pemanenan kompos dilakukan dengan cara mengambil 1/3-nya dan kita matangkan selama seminggu (lihat kondisi) di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sisanya yang 2/3 dalam keranjang bisa kita gunakan kembali sebagai starter untuk pengolahan berikutnya. Implikasi Hasil Penelitian Penelitian Chabi (charming dustbin) berdampak besar terhadap terwujudanya lingkungan SDN 01 Sidorejo Jabung yang bersih dari sampah berserakan. Dengan ketersedian tempat sampah yang memadai menjadikan siswa terbiasa untuk membuang sampah pada tempatnya. Apalagi terdapat hasil karya mereka berupa tempat sampah lukis. Hal penting yang ingin peneliti bagikan kepada siswa, guru, dan karyawan adalah pentingnya memisahkan jenis sampah. dengan adanya chabi siswa, guru, dan karyawan SDN 01 Sidorejo Jabung terlatih untuk memisahkan jenis sampah. Peneliti berharap supaya kebiasaan memisahkan jenis sampah dapat dilakukakan semua pihak tidak hanya di sekolah tetapi juga lingkungan rumah mereka bahkan mengajak tetangga mereka. Tujuan lain yang ingin peneliti bagi adalah perlunya pengolahan sampah organik menjadi barang yang bermanfaat yaitu kompos. Hasil kompos sekolah dapat dimanfaatkan sebagai penyubur dalam usaha penghijauan sekolah. Serta dalam jangka panjang dapat digunakan sebagai pelatihan kewirausahaan melalui usaha penjualan kompos. Penelitian chabi (charming dustbin) juga berimplikasi kepada guru sebagai kaum intelektual. Mereka tidak membiarkan informasi yang ia peroleh begitu saja. Tetapi, Bapak Ibu guru SDN 01 Sidorejo Jabung terus menggali informasi mengenai keranjang takakura dan tidak omong kosong mereka juga mempraktikkannya di rumah. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. 1) Penggunaan Chabi (charming dustbin) dan keranjang takakura mampu menarik 86% siswa membuang sampah pada tempatnya karena bentuk sampah organik dan anorganik yang mudah dibedakan dan sampah yang penuh warna. Chabi mampu melatih 88% siswa memisahkan sampah menurut jenisnya setelah 91% siswa memiliki pengetahuan pentingnya memisahkan jenis sampah. 2) Penggunaan Chabi dan keranjang takakura mampu meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan diketahui dari 88% siswa menyatakan keberanian menegur temannya dan 92% siswa setuju untuk mengambil sampah berserakan dan membuangnya pada tong sampah. 3) Mampu meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan diketahui dari 88% siswa menyatakan keberanian menegur temannya dan 92% JURNAL PENDIDIKAN BIOLOGI INDONESIA VOLUME 2 NOMOR 3 TAHUN 2016 (p-ISSN: 2442-3750; e-ISSN: 2527-6204) (Halaman 215-221) Disubmit: Oktober 2016 Direvisi: Oktober 2016 Disetujui: November 2016 Rudi Setiawan et. al., Penggunaan Chabi (Charming Dustbin) 221 siswa setuju untuk mengambil sampah yang berserakan dan membuangnya pada tong sampah. Saran Beberapa saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut. 1) Bagi sekolah: kepala sekolah dan guru hendaknya memperhatikan ketersediaan fasilitas penunjang seperti tong sampah, Kepala sekolah dan guru perlu mengajak siswa beraktivitas yang menunjang peningkatan kepedulian lingkungan serta kepala sekolah dan guru hendaknya mengawasi dan memberikan contoh kepada siswa untuk menjaga kebersihan lingkungan. 2) Bagi siswa: siswa harus berusaha keras membuang dan memisahkan jenis sampah pada tempatnya, menegur temannya yang tidak membuang dan memisahkan jenis sampah, serta menyebarluaskan pengolahan sampah menggunakan keranjang takakura minimal di rumah. DAFTAR RUJUKAN Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Budihardjo, E. (2004). Sejumlah masalah pemukiman kota. Bandung: Alumni. Dwiyatmo, K. (2007). Pencemaran lingkungan dan penangananya. Yogyakarta: Citra Aji Parama. Kamaril, C. (2005). Pendidikan seni rupa/kerajinan tangan. Jakarta: Universitas Terbuka. Nisandi. (2007). Pengolahan dan pemanfaatan sampah organik menjadi briket arang dan asap cair. Prosiding Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007). ISSN: 1978 – 9777. Rahayu, T. P. (2010). Enskilopedia seri desa-kota. Semarang: Aneka Ilmu. Rifa’i, A., & Anni, C. T. (2009). Psikologi pendidikan. Semarang: UNNES Press.