Microsoft Word - 09-wahyu Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 1, April 2014, hlm.78-96 PERAMALAN PENJUALAN AIR BERSIH DAN FORMULASI STRATEGI PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM Wahyu Abdullah Magister Ekonomika Pembangunan, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Jalan Teknika Utara, Barek Yogyakarta 55281 Indonesia, Phone: +62 274 555917 E-mail korespondensi: smartyou.abdullah@gmail.com Naskah diterima: November 2013; disetujui: Maret 2014 Abstract: The study aims to analyze the rate of the water selling in approximately one year ahead with the best method analysis, by identifying the internal environment factor and the external firm factor, then formulates the strategy that is used by PDAM Sleman. The method uses in this research is the time series, the matrix Internal Factor Evaluation (IFE), External Factor Evaluation (EFE), and also the matrix Strength, Opportunity, and Threat (SWOT). The data is the actual selling of water from PDAM Kabupaten Sleman approximately 4 years since January 2010 to November 2013, known has the trend period (prone to increase). Then based on the matrix of IFE shows that the PDAM Sleman has the highest score of 0,444. The EFE matrix shows the highest possibility of PDAM Sleman is the huge market with the renewal water source, with the score of 0,511. Based on total score of IFE and EFE, it places PDAM Sleman in the V on the matrix of IE. Keywords: forecasting of selling water; internal environment factor; external environment factor JEL Classification: R58, P48, Q56 Abstrak: Tujuan dari studi ini adalah menganalisis tingkat peramalan penjualan air bersih selama kurang lebih satu tahun ke depan dengan metode analisis terbaik, serta mengidentifi- kasi faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal perusahaan, dan kemudian memfor- mulasikan strategi yang dapat diterapkan oleh PDAM Kabupaten Sleman. Metode studi yang digunakan dalam studi ini adalah metode analisis time series, yaitu metode tren musiman, kemudian matriks Internal Factor Evaluation (IFE), External Factor Evaluation (EFE), dan juga menggunakan matriks Strenght, Weakness, Opportunity, and Threat (SWOT). Data yang digunakan adalah penjualan aktual air bersih PDAM Kabupaten Sleman selama kurang lebih 4 tahun periode Januari 2010 sampai November 2013, diketahui memiliki unsure tren (cenderung meningkat) dan unsure musiman. Kemudian, berdasarkan matriks IFE menun- jukkan bahwa faktor kekuatan PDAM Kabupaten Sleman yang memiliki skor tertinggi adalah unit produksi yang cukup memadai dengan skor sebesar 0,444. Sedangkan matriks EFE menunjukkan peluang terbesar bagi PDAM Kabupaten Sleman adalah adanya potensi pangsa pasar yang cukup besar dan sumber air baku yang cukup banyak, dengan skor sebesar 0,511. Berdasarkan total nilai skor terbobot dari matriks IFE dan EFE tersebut menempatkan PDAM Kabupaten Sleman pada sel nomor V dalam matriks IE. Kata kunci: peramalan penjualan air bersih; faktor lingkungan internal; faktor lingkungan eksternal Klasifikasi JEL: R58, P48, Q56 Peramalan Penjualan Air Bersih ... (Wahyu Abdullah) 79 PENDAHULUAN PAM atau PDAM adalah salah satu bentuk sektor publik yang merupakan bagian dari perekonomian nasional yang dikendalikan oleh pemerintah, berkaitan dengan pemberian atau penyerahan jasa-jasa pemerintah kepada publik. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabu- paten Sleman merupakan sebuah perusahaan daerah yang memiliki wewenang dalam penye- diaan kebutuhan konsumsi air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Sleman. Saat ini, sampai dengan Oktober 2013, total pelanggan yang terlayani oleh PDAM berjumlah 24.194 pelanggan dengan kapasitas produksi sebesar 271,00 liter per detik. Perinciannya disajikan dalam tabel 1. Adapun jumlah pelanggan dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir mengalami pening- katan setiap tahunnya, kecuali pada tahun 2008 yang mengalami penurunan. Perinciannya adalah sebagai berikut: Berdasarkan data yang telah diuraikan di atas, terlihat bahwa jumlah pelanggan mengalami tren meningkat, hal ini menunjukkan bahwa setiap tahun, kebutuhan masyarakat akan air bersih sebagai kebutuhan pokok semakin tinggi. Dalam upaya meningkatkan pelayanan kebu- tuhan air bersih masyarakat Kabupaten Sleman, perlu adanya proyeksi sejauh mana pencapaian penyediaan air di tahun-tahun yang akan datang dengan menggunakan metode peramalan atau estimasi. Selain itu, sebagai sebuah badan usaha, PDAM harus mampu menganalisis lingkungan usaha dan memprediksi berbagai kemungkinan yang terjadi di masa depan. Kegiatan forecast atau meramal merupakan salah satu usaha sebuah perusahaan sebagai dasar pengambilan kepu- tusan strategis kelangsungan usaha. Memprediksi penjualan yang terlalu besar dan kurang akurat mengakibatkan biaya produksi akan meningkat sehingga seluruh investasi yang ditanamkan menjadi kurang efisien (Kotler, 2007). Oleh karena itu, untuk mengantisipasi permasalahan tersebut dilakukan prediksi kemungkinan terjadinya penurunan atau kenaikan penjualan pada periode yang akan datang dengan diperolehnya informasi yang akurat sehingga perusahaan dapat memper- siapkan strategi-strategi yang harus ditempuh untuk menghadapi suatu kondisi tertentu (Rangkuti, 2005). Strategi pengelolaan yang tepat menjadi hal yang sangat penting untuk meman- faatkan peluang dan menghindari atau mencegah ancaman dari luar dengan memberdayakan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh penge- lola secara efektif dan efisien. Oleh karena itu, pengelola PDAM di Kabupaten Sleman perlu menerapkan strategi yang tepat untuk mening- katkan kinerja pelayanannya. Berikut beberapa studi yang serupa dengan studi ini, yaitu studi yang dilakukan oleh Dian Suminar (2007) yang meneliti tentang Analisis Formulasi Strategi Pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Kota Bogor. Berdasarkan hasil dan pembahasan dari studi tersebut, disimpulkan bahwa berdasarkan iden- tifikasi lingkungan internal diperoleh beberapa kekuatan dan kelemahan perusahaan, serta identifikasi lingkungan eksternal juga meng- hasilkan beberapa peluang dan ancaman. Setelah diuji dengan matriks IFE dan EFE, serta matriks IE, diketahui bahwa perusahaan dalam keadaan hold and maintain, atau pertahankan dan dikembangkan. Dalam studi lain, Akhmat Thohir melaku- kan studi tentang “Analisis peramalan penjual- an minyak sawit kasar atau crude palm oil (CPO) pada PT. Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) Tabel 1. Jumlah langganan PDAM Kabupaten Sleman No Jenis Langganan Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 1 Rumah Tangga 18.961 18.958 18.359 18.405 18.661 20.579 22.012 2 Sosial 160 165 156 158 178 179 194 3 Niaga 44 46 44 46 47 48 53 4 Instansi 158 153 153 160 160 163 166 5 Kran Umum 148 130 120 112 107 105 103 6 Industri 1 0 0 0 1 1 2 Jumlah 19.472 19.452 18.832 18.881 20.154 21.075 22.530 Sumber: PDAM Kabupaten Sleman, 2013 Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 1, April 2014: 78-96 80 Nusantara di Jakarta”. Berdasarkan hasil studi disimpulkan bahwa pola data penjualan oleh perusahaan selama 7 tahun periode Januari 2004 sampai Desember 2010, memiliki unsure tren (cenderung meningkat) dan unsure musiman. Berdasarkan perhitungan metode peramalan menggunakan metode tren kuadratik, diketahui bahwa jumlah total nilai peramalan untuk satu tahun mendatang (tahun 2011) yaitu periode 85 sampai periode 96 adalah adalah sebesar 2.607.985 ton CPO. Selain itu perlu juga adanya antisipasi terhadap unsure musiman yang terjadi berda- sarkan data yang terbentuk yaitu pada bulan- bulan tertentu seperti awal dan akhir tahun, pengaruh iklim serta hari raya pada bulan- bulan tertentu. Peningkatan PTPN diperlukan seperti kegiatan ekstensifikasi, intensifikasi, dan penanganan pascapanen atau pengolahan Tandan Buah Segar (TBS), agar produksi CPO berlangsung optimal yang berakibat mening- katnya penjualan CPO perusahaan. METODE PENELITIAN Data yang digunakan dalam studi ini adalah data primer dan data sekunder. Data-data yang diperoleh digunakan untuk melakukan analisis terhadap strategi pengelolaan PDAM. Data yang diperlukan untuk menganalisis lingkung- an perusahaan meliputi tiga data yaitu; 1) Data untuk melakukan peramalan atau estimasi di masa yang akan datang, dengan menggunakan data penjualan air bersih selama 47 bulan yaitu dari Januari 2010 hingga November 2013; 2) Data untuk analisis lingkungan internal yaitu data lapangan yang diperoleh dari lokasi survey yang terpilih seperti unit air baku, unit pengelolaan, dan unit distribusi; 3) Data untuk analisis lingkungan eksternal yaitu data ling- kungan mikro dan makro. Pengolahan dan analisis data mengguna- kan dua metode, yaitu metode kuantitatif, dan metode kualitatif. Kegiatan menganalisis data kuantitatif peramalan penjualan air bersih dila- kukan dengan menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 16. Sedangkan metode kuali- tatif, alat analisis yang digunakan dalam tahap masukan yaitu matriks IFE (Sisi Kekuatan dan Kelemahan) dan matriks EFE (sisi peluang dan ancaman). Studi ini menggunakan metode peramalan time series atau deret berkala. Deret berkala mempunyai empat komponen yaitu tren (ke- cenderungan), variasi musim, variasi siklus, dan variasi yang tidak tetap (irregular variation). Berdasarkan semua metode yang digunakan tersebut akan dipilih metode yang paling sesuai dengan pola data yang terdapat pada perusaha- an. Analisis musiman berhubungan dengan perubahan atau fluktuasi dalam satuan bulanan atau triwulan atau kuartal atau semester dalam setahun. Beberapa metode tersebut adalah: a. Metode rata-rata sederhana Indeks musiman dirumuskan sebagai berikut: Indeks Musim = 1) b. Metode rata-rata dengan tren Indeks musiman metode rata-rata dengan tren dirumuskan sebagai berikut: Indeks Musim = 100 2) c. Metode rasio rata rata bergerak Indeks musiman metode rasio rata-rata berge- rak dirumuskan sebagai berikut: Indeks Musim = Nilai Rasio x Faktor Koreksi 3) di mana: Nilai rasio: Data asli/data rata-rata bergerak Faktor Koreksi: (100 x n)/Jumlah rata-rata rasio selama n Metode Analisis Tren Linear dan Non Linear a. Metode Tren Linear. Metode utama yang dikenal dan digunakan secara luas dalam metode ini adalah regresi. Berikut ini adalah rumus- rumus regresi linear sederhana , dengan: ∑ ∑ ∑ ∑ ∑ 4) 5) Peramalan Penjualan Air Bersih ... (Wahyu Abdullah) 81 di mana: y adalah nilai peramalan; a adalah konstanta y; b adalah nilai kemiringan; n adalah jumlah data b. Metode Tren Non Linear (Kuadratik). Persa- maan trend Kuadratik dirumuskan sebagai berikut: Y’= a + bX + cX² 6) Koefisien a, b, dan c, dicari dengan rumus seba- gai berikut: a = ∑ ∑ ∑ ∑ ∑ ∑ ² b = ∑ /∑ c = ∑ ∑ ∑ ∑ ∑ ² Ukuran Akurasi Hasil Peramalan Nilai residual atau error (et) adalah perbedaan antara nilai actual dan nilai hasil peramalan, yaitu: et = yt – ŷt 7) di mana: et adalah residual (error)/ nilai kesa- lahan peramalan pada periode ke – t; yt adalah nilai aktual ŷt adalah nilai hasil peramalan; sedangkan nilai residual tersebut diperoleh beberapa ukuran hasil peramalan sebagai ber- ikut: 1. Nilai tengah galat kuadrat (mean squared deviation) MSD = ∑ 8) 2. Nilai tengah deviasi absolut (mean absolute deviation) MAD = ∑| | 9) 3. Nilai tengah galat persentase (mean absolute percentage error) MAPE = ∑ | | 10) Secara umum, bila residual besarnya merata sepanjang pengamatan, maka MSD yang sebaik- nya digunakan. Tetapi bila satu atau dua resi- dual yang besar, maka MAD yang sebaiknya digunakan. Untuk melihat bias tidaknya pera- malan maka digunakan MAPE, peramalan di- katakan tidak bias bila MPE = 0. Matriks IFE dan EFE Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membentuk matriks IFE dan EFE adalah: a) Menyusun daftar faktor-faktor utama yang mempunyai dampak penting (Critical Success Factors atau CSF) untuk aspek internal dan eksternal perusahaan yang ditempatkan pada kolom pertama. b) Penilaian bobot (weight) setiap factor stra- tegis internal dan eksternal. Dalam menentukan bobot setiap variabel digunakan skala 1,2 dan 3 dengan keterangan sebagai berikut: 1 = Jika indikator horizontal kurang penting daripada indikator vertikal. 2 = Jika indikator horizontal sama penting dari- pada indikator vertikal. 3 = Jika indikator horizontal lebih penting daripada indikator vertikal. c) Penentuan bobot setiap variabel diperoleh dengan menggunakan proporsi nilai setiap variabel dari jumlah nilai keseluruhan variabel dengan menggunakan rumus: ∑ 11) Keterangan: ai adalah Bobot variabel ke-i ; xi adalah nilai variabel ke-i; i = 1,2,3,…..,n; N adalah Jumlah variabel; Total bobot yang diberikan harus sama dengan 1,0. Pembobotan ini kemudian ditempatkan pada kolom kedua matriks IFE dan EFE. Matriks IE Matriks IE didasarkan pada dua dimensi kunci, yaitu matriks IFE yang diberi bobot pada sumbu x dan matriks EFE yang diberikan bobot pada sumbu y. Pada sumbu x, skor antara 1,00-1,99 menunjukkan posisi internal yang lemah, skor antara 2,00-2,99 menunjukkan rata-rata dan 3,00-4,00 kuat. Pada sumbu y, skor antara 1,00- 1,99 menunjukkan posisi eksternal yang ren- dah, skor antara 2,00-2,99 menunjukkan posisi Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 1, April 2014: 78-96 82 eksternal yang sedang dan 3,00-4,00 posisi eksternal yang tinggi. Pembagian sel-sel dalam matriks IE dapat dilihat pada; Matriks SWOT Gambar 1. Matriks SWOT Unsur-unsur SWOT meliputi: S (Strength): Mengacu kepada keunggulan kompetitif dan kompetisi lainnya yang dapat mempengaruhi perusahaan pada pasar. W (Weakness): Hambatan yang membatasi pilih- an-pilihan pada pengembangan strategi per- usahaan. O (Opportunity): menyediakan kondisi yang menguntungkan yang membatasi peng- halang. T (Threat): berhubungan dengan peng- halang atau kondisi yang dapat menghalangi organisasi dalam mencapai tujuannya. Analisis SWOT akan memberikan arah, pilihan dan perkembangan perusahaan sehingga diperoleh strategi yang tepat bagi perusahaan. Gambar 2. Analisis SWOT Keterangan: Kuadran 1 pada Kuadran 1 merupakan situasi yang sangat menguntungkan bagi perusahaan karena perusahaan memiliki peluang dan kekuatan yang dapat dimanfaatkan sekaligus. Dalam kondisi ini, strategi yang harus diterap- kan adalah mendukung kebijakan pertumbuh- an yang agresif. Kuadran 2 pada kuadran 2, perusahaan meng- hadapi berbagai ancaman namun masih memi- liki kekuatan dari segi internal. Strategi yang harus dilakukan adalah menggunakan kekuat- an untuk memanfaatkan peluang jangka pan- jang dengan cara strategi diversifikasi (produk atau pasar). Kuadran 3 perusahaan menghadapi peluang pasar yang sangat besar, tetapi perusahaan pun menghadapi beberapa kendala atau kelemahan internal. Fokus strategi perusahaan pada kua- dran ini adalah meminimalkan masalah-masalah internal perusahaan sehingga dapat merebut peluang pasar yang baik. Kuadran 4 pada kuadran 4, perusahaan meng- alami situasi yang sangat tidak menguntung- kan karena perusahaan menghadapi berbagai ancaman dan kelemahan internal. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Time Series Penjualan air yang dilakukan oleh PDAM Kabupaten Sleman sejak Januari 2010 hingga November 2013 mengalami pergerakan yang fluktuatif namun cenderung menunjukkan peningkatan. Penurunan yang terjadi pada bulan-bulan tertentu diakibatkan oleh pema- kaian air yang tidak merata dan penyegelan dari pihak PDAM Kabupaten Sleman. Kemu- dian faktor lain yang juga berpengaruh adalah musim, pemakaian air dari pelanggan akan meningkat saat musim kemarau karena kebu- tuhan air sangat tinggi. Kenaikan dan penu- runan pemakaian air inilah yang berpengaruh pada naik turunnya penjualan air tiap bulan- nya. Letusan Gunung Merapi juga mengakibat- kan dampak yang cukup signifikan, hal ini terlihat pada pola data yang cenderung menu- run mulai dari akhir tahun 2010 (November) sampai awal tahun 2011, erupsi telah mengaki- batkan kehilangan air sampai 50 liter per detik Peramalan Penjualan Air Bersih ... (Wahyu Abdullah) 83 sehingga debit air berkurang dan kualitas air juga tercemar, hal ini mengakibatkan penurun- an pemakaian air oleh konsumen dan mengu- rangi angka penjualan air. Metode Peramalan Kuantitatif Terbaik Penjualan air oleh PDAM Kabupaten Sleman. PDAM Kabupaten Sleman mema- sarkan produk berupa air bersih yang diha- silkan dari beberapa sumber yang dimiliki, yaitu Mata Air Umbul Wadon, Mata Air Tuk Dandang, Deep Well, Sallow Well dan IPA (Gamping). Penjualan air selama empat tahun terakhir sejak Januari 2010 sampai dengan November 2013 menunjukkan pergerakan naik turun, namun cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data penjualan air pada PDAM Kabupaten Sleman, diketahui bahwa pada tahun 2010, perusahaan dapat menjual air bersih untuk pelanggan di Kabupaten Sleman sebesar 3.708.630m³. Pada tahun 2011 terjadi penurunan penjualan air sebesar 201.603m³, menjadi 3.507.027m³, hal ini dikarenakan letusan Gunung Merapi yang memberikan dampak yang cukup signifikan, karena erupsi telah mengakibatkan kehilangan air sampai 50 liter per detik sehingga debit air berkurang dan kualitas air juga tercemar, sehingga penurunan pema- kaian air oleh konsumen dan mengurangi angka penjualan air. Kenaikan kembali terjadi pada tahun 2012 sebesar 365.029m³ menjadi 3.872.056 m³. Identifikasi Pola Data Penjualan Air Bersih. Peramalan penjualan air bersih yang dilakukan oleh PDAM Kabupaten Sleman diawali dengan mengambil data dalam rentang waktu kurang lebih empat tahun. Data series yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk meramalkan pen- jualan di masa mendatang yang mendekati data aktualnya. Data penjualan yang digunakan ada- lah data time series dalam kurun waktu kurang lebih empat tahun terakhir yang dimulai dari Januari 2010 sampai November 2013. Data yang digunakan merupakan data penjualan air bersih dalam satuan m³ dan merupakan data bulanan perusahaan. Berdasarkan pada data deret waktu penjualan air bersih tersebut akan menggam- barkan pola data yang terbentuk dari data penjualan air bersih PDAM Kabupaten Sleman. Penentuan pola data yang terbentuk tersebut akan membantu menentukan metode pera- malan yang tepat. Sedangkan panjang deret waktu yang digunakan sebanyak 47 bulan atau kurang lebih 4 tahun, yang digunakan untuk meramalkan penjualan jangka panjang, hal ini sesuai dengan pendapat Render dan Heizer (2001) peramalan jangka panjang yaitu pera- malan yang memiliki rentang waktu biasanya tiga tahun atau lebih. Pola data penjualan yang diperoleh kemu- dian diolah menggunakan program Microsoft Excel dan Minitab 16, untuk mengetahui Auto- correlation Function (ACF) dan plot data pen- jualan air bersih. Grafik Plot time series perge- rakan volume penjualan air bersih PDAM Kabupaten Sleman disajikan pada gambar 3. Gambar 3. Grafik pergerakan volume penjualan air bersih PDAM Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 1, April 2014: 78-96 84 Berdasarkan grafik 3, pergerakan indeks volume penjualan sebanyak 47 periode data (periode Januari 2010 sampai November 2013) menunjukkan tidak ada unsure stasioner. Hal ini dapat dilihat dari pergerakan data yang tidak berada di antara garis rata-rata atau konstan, namun lebih cenderung lebih menunjukkan unsure trend. Volume penjualan tertinggi terjadi pada data period ke 47 yaitu sebesar 401.551 m³, yaitu pada bulan November, hal ini dikare- nakan kebutuhan masyarakat akan konsumsi air bersih yang merupakan kebutuhan hidup pokok sangat besar dan jumlah penduduk yang semakin meningkat sehingga memungkinkan potensi peningkatan jumlah pelanggan. Volume penjualan terendah terjadi pada data ke 15 sebesar 262.119m³, yaitu pada bulan Maret 2011, hal ini dikarenakan pemakaian air yang tidak merata dan penyegelan dari pihak PDAM Kabupaten Sleman. Berdasarkan perhitungan rata-rata indeks musiman, diketahui persamaan rata-rata peri- laku musiman per bulan pada setiap tahunnya dalam penjualan air bersih, yaitu terlihat pada pertengahan tahun awal yaitu Februari (0,99112), Maret (0,90798), April (0,96495), Mei (0,98134), Juni (0,99903), dan Juli (0,98829) berada di bawah nilai normal trend yaitu 1,00. Sedangkan pada pertengahan tahun akhir sampai awal tahun, kecuali Desember (0,98786) yang meru- pakan akhir tahun, yaitu bulan Agustus (1,01995), September (1,03404), Oktober (1,05877), November (1,06116), Desember (0,98786), dan Januari (1,00550) secara normal berada di atas nilai tren (1,00). Hal ini merupakan bukti bahwa musim mempengaruhi penjualan air bersih PDAM Kabupaten Sleman. Tren pening- katan penjualan yang terus terjadi juga meru- pakan bukti keberhasilan perusahaan dalam mengelola dan memasarkan produksi air bersih untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Kabupaten Sleman. Selain melihat grafik pergerakan plot data volume penjualan dan uji statistik, dapat juga dilakukan dengan mengamati plot Autocorre- lation Function (ACF) dari deret penjualan air bersih periode Januari 2010–November 2013. Plot autokorelasi menunjukkan keeratan hu- bungan nilai variabel yang sama, namun varia- bel pada waktu yang berbeda. Gambar 4 me- nunjukkan plot ACF actual volume penjualan air bersih. Berdasarkan plot autokorelasi (ACF), per- gerakan yang terbentuk cenderung secara ber- angsur mendekati nol yang mengandung un- sure trend sesuai dengan pendapat Firdaus (2006) yaitu unsure trend diketahui dengan ada- nya beda kala pertama tinggi dan berbeda dengan nol secara signifikan, lalu turun mende- kati nol saat series meningkat. Sedangkan untuk mengetahui ada tidaknya distribusi yang sesuai dengan distribusi data yang ada digunakan grafik Distributional Analy- sis Probability Plot, yaitu berdasarkan diagram plot penjualan air bersih periode Januari 2010 sampai November 2013. Berdasarkan diagram yang terbentuk dapat diketahui bahwa data time series penjualan air bersih PDAM Kabu- paten Sleman menunjukkan data yang berada di sekitar garis lurus, hal ini berarti data pen- Tabel 2. Rata-rata indeks musiman setiap bulan penjualan air bersih periode Januari 2010 sampai dengan November 2013 Bulan/Tahun 2010 2011 2012 2013 Rata-rata Januari 1,00550 1,00550 1,00550 1,00550 1,00550 Februari 0,99112 0,99112 0,99112 0,99112 0,99112 Maret 0,90798 0,90798 0,90798 0,90798 0,90798 April 0,96495 0,96495 0,96495 0,96495 0,96495 Mei 0,98134 0,98134 0,98134 0,98134 0,98134 Juni 0,99903 0,99903 0,99903 0,99903 0,99903 Juli 0,98829 0,98829 0,98829 0,98829 0,98829 Agustus 1,01995 1,01995 1,01995 1,01995 1,01995 September 1,03404 1,03404 1,03404 1,03404 1,03404 Oktober 1,05877 1,05877 1,05877 1,05877 1,05877 November 1,06116 1,06116 1,06116 1,06116 1,06116 Desember 0,98786 0,98786 0,98786 - 0,98786 Peramalan Penjualan Air Bersih ... (Wahyu Abdullah) 85 jualan air bersih PDAM Kabupaten Sleman Januari 2010 sampai November 2013 bersifat normal. Grafik normal probability plot penjualan air bersih PDAM Kabupaten Sleman dapat dilihat pada gambar 5 (Lampiran). Metode Peramalan Kuantitatif Penjualan Air Bersih Metode peramalan lainnya yang tetap digunakan, yaitu Metode Trend Linear dan Trend Non Linear. Setelah diketahui nilai kesalahan (error) terkecil dengan melihat nilai MSD (mean squared deviation) maka akan diketahui metode peramalan yang terbaik untuk meramalkan volume penjualan air bersih pada PDAM Kabupaten Sleman satu tahun mendatang yaitu tahun 2014. Berikut merupakan metode peramalan time series yang digunakan dalam studi ini. Metode Indeks Musiman Perhitungan menggunakan metode indeks musiman ini dilakukan pada bulan yang sama namun pada tahun yang berbeda yaitu selama kurun waktu + 4 tahun (2010-2013). Namun, dalam studi, cara yang diterapkan hampir sama dengan metode Analisis Rata-rata Bergerak (Moving Average), yaitu menetapkan bahwa ramalan periode mendatang merupakan nilai rataan data penjualan air bersih dengan menge- luarkan nilai dari periode yang terlama dan memasukkan nilai dari periode terbaru dari sekelompok data yang jumlahnya konstan. Banyaknya data disebut ordo (Seasonal Length), sedangkan penentuan ordo dapat dilakukan dengan cara coba-coba (trial and error), hal ini dimaksudkan untuk menentukan nilai kesalahan yang terkecil. Dalam studi ini menggunakan ordo 12 (MA= 12) hal ini dikarenakan ordo 12 memiliki nilai kesalahan (error) terkecil. Perbandingan hasil perhitungan menggunakan metode Indeks Musiman dengan berbagai macam ordo ditam- pilkan pada tabel 3. Tabel 3. Perbandingan hasil perhitungan metode Moving Average (MA) dengan berbagai macam ordo Seasonal Length Nilai MSD MAD MAPE 2 467143807 18276 6 3 448478811 18263 6 4 447423575 17609 6 6 440877399 18559 6 12 336634442 16203 5 Berdasarkan hasil metode Indeks Musiman berordo 12, diketahui nilai kesalahan di antara- nya adalah nilai MSD sebesar 336634442, yang menunjukkan bahwa metode penyimpangan yang terjadi dalam metode ini adalah sebesar Gambar 4. Plot ACF dari Data Penjualan Air Per. Januari 2010- November 2013 Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 1, April 2014: 78-96 86 336634442, nilai MAD sebesar 16203 yang berarti penyimpangan absolut yang terjadi sebesar 16203, dan nilai MAPE sebesar 6 yang menun- jukkan besarnya persentase penyimpangan sebesar 6%. Pergerakan grafik peramalan mengguna- kan metode Indeks Musiman disajikan pada gambar 6. Metode Analisis Tren Penggunaan metode tren dalam studi ini adalah dengan metode trend analysis yang terdapat pada program minitab 16, sehingga mudah untuk menganalisis dan menampilkan data yang mengandung unsur tren. Berdasarkan pola hubungan linear antara penjualan air sebagai variabel dependen dan periode waktu sebagai variabel independen, terlihat bahwa hubungan variabel tersebut ber- ada di antara garis lurus, berarti residual ber- distribusi normal dengan rata-rata mendekati nol (0). Berdasarkan perhitungan model regresi linear sederhana menggunakan metode trend analysis menghasilkan persamaan Yt = 281898 + 1490t; dengan nilai MSD sebesar 464765613, nilai MAD sebesar 18281, dan nilai MAPE sebesar 6. Hal ini menunjukkan bahwa nilai penyimpangan pada metode ini sebesar 464765613, nilai penyimpangan absolut sebesar 18281, dan besarnya persentase penyimpangan sebesar 6%. Pergerakan grafik peramalan menggunakan metode trend analysis dengan model regresi linear sederhana dengan volume penjualan air bersih sebagai dependent variable dan periode waktu sebagai independent variable disajikan pada gambar 7 (Lampiran). Garis tidak lurus tersebut merupakan garis yang mendekati titik-titik pergerakan dari data historis jumlah penjualan air bersih. Berdasar- kan perhitungan trend analysis menggunakan model nonlinear sederhana diketahui persama- an yaitu: Yt = 314010 + 2442 t + 81,9 t² 12) Sedangkan nilai kesalahan dari perhitung- an trend analysis menggunakan model nonlinear (kuadratik) yaitu nilai MSD sebesar 282257693, nilai MAD sebesar 13141 dan nilai MAPE sebe- sar 4. Hal ini menunjukkan adanya penyim- pangan menggunakan metode ini sebesar 282257693, besarnya penyimpangan absolut 13141 dan besarnya persentase penyimpangan sebesar 4%. Pergerakan grafik peramalan meng- gunakan metode trend analysis dengan model regresi nonlinear sederhana (kuadratik) dengan volume penjualan air bersih sebagai dependent variable dan periode waktu sebagai independent variable disajikan pada gambar 8 (Lampiran). Pemilihan Metode Peramalan Kuantitatif Terbaik Pemilihan metode peramalan terhadap penjualan air bersih PDAM Kabupaten Sleman yaitu dengan melakukan perhitungan dan pengamatan terhadap perilaku data series Gambar 6. Grafik analisis model indeks musiman Gambar 6. Grafik analisis model indeks musiman Peramalan Penjualan Air Bersih ... (Wahyu Abdullah) 87 penjualan air bersih selama + 4 tahun selama periode Januari 2010 sampai November 2013. Berdasarkan hasil penerapan metode pera- malan kuantitatif, peramalan yang terbaik menunjukkan bahwa metode Tren Nonlinear (kuadratik), karena metode tersebut memiliki nilai MSD yang kecil dibandingkan dengan metode lainnya. Hal ini dikarenakan semakin kecil nilai MSD suatu peramalan maka semakin mendekati nilai aktualnya. Tetapi, karena data penjualan air bersih PDAM Kabupaten Sleman mengandung unsure musiman, maka metode yang akan dipakai adalah metode analisis musiman, hal ini dikarenakan grafik penjualan air bersih tidak bergerak secara linear mening- kat, akan tetapi sangat dipengaruhi oleh musim (musim kemarau dan musim penghujan). Tabel 4 menunjukkan hasil perhitungan beberapa metode paramalan penjualan air bersih PDAM Kabupaten Sleman. Penggunaan metode tersebut sudah meng- ikuti prosedur yang berlaku, deret waktu yang digunakan dalam peramalan penjualan air ber- sih selama + 4 tahun yaitu dari Januari 2010 sampai November 2013 dengan jumlah obser- vasi sebanyak 47 data, studi dilakukan dengan mengambil data bulanan perusahaan. Pengam- bilan data bulanan dimaksudkan untuk meng- amati perilaku penjualan air bersih yang terjadi selama satu bulan kegiatan usaha. Berdasarkan uji statistik metode tren kua- dratik (lampiran) menunjukkan bahwa nilai R- Squared sebesar 67,6 persen yang menunjukkan bahwa pengaruh periode waktu terhadap pen- jualan air bersih sebesar 67,6 persen, sedangkan 32,4 persen dipengaruhi faktor lain. Level tole- ransi yang digunakan adalah 5 persen berda- sarkan perhitungan tren kuadratik diketahui nilai dari F uji yaitu 46,01. Sedangkan besarnya uji p-value menunjukkan angka 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa semua parameter model regresi statistik bernilai 0. Berdasarkan grafik fited line plot, model kuadratik menunjukkan bahwa distribusi data menyebar merata sepan- jang garis rata-rata. Artinya model regresi kua- dratik ini dapat digunakan dan mewakili data peramalan. Analisis Tingkat Peramalan Penjualan Air Bersih Satu Tahun Mendatang Setelah melakukan perhitungan menggunakan metode-metode peramalan time series (deret waktu berkala) untuk melakukan peramalan penjualan air bersih pada PDAM Kabupaten Sleman diketahui bahwa metode analisis musiman (seasonal) adalah metode terbaik yang dapat digunakan karena data yang diolah mengandung unsur musiman. Kemudian meto- de tersebut dapat dijadikan perencanaan atau acuan perusahaan dalam meramalkan penjual- an air bersih 13 bulan mendatang yaitu Desem- ber 2013 sampai Desember 2014, lihat tabel 5 (Lampiran). Berdasarkan hasil perhitungan metode musiman, diketahui terjadi penurunan penjual- an air bersih pada Desember 2013, dari bulan sebelumnya yaitu November dengan nilai 401551m³ menjadi 345055m³ hal ini dikarena- kan pada bulan November, perusahaan meng- adakan promosi dengan memberikan diskon bagi pelanggan, maka hal tersebut berdampak pada tingginya angka penjualan pada bulan tersebut, lalu pada bulan selanjutnya akan kembali menurun, tetapi terjadi peningkatan kembali yakni dimulai pada awal awal Januari 2014 yaitu pada periode 49 menjadi sebesar 352546 m3 lalu kemudian turun kembali pada bulan Februari dan Maret, kemudian naik kembali pada bulan Mei dan April. Hal ini dikarenakan faktor musim mempengaruhi pen- jualan air bersih PDAM Kabupaten Sleman. Sehingga perusahaan perlu melakukan peramalan Tabel 4. Nilai perhitungan beberapa metode peramalan penjualan air bersih No Metode Peramalan Nilai MSD Nilai MAD Nilai MAPE Ket. 1 Metode Tren Linear Metode Tren Nonlinear (Kuadratik) 464765613 282257693 18281 13141 6 4 2 Metode Analisis Musiman 336634442 16203 5 T= 12 Keterangan: T= Ordo Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 1, April 2014: 78-96 88 agar memiliki acuan atau gambaran besarnya persediaan air bersih sebagai perencanaan mengantisipasi besarnya permintaan pada bulan-bulan tersebut di tahun 2014. Melalui kegiatan peramalan penjualan air bersih pada PDAM Kabupaten Sleman dapat dijadikan rekomendasi kepada Departemen ter- kait seperti PEMDA dan DPRD Kabupaten Sleman sebagai pihak yang membawahi PDAM Kabupaten Sleman selaku BUMD, dengan kegiatan seperti pengoptimalisasian produksi air bersih. Kegiatan tersebut dimulai dari industri hulu seperti kegiatan produksi dan pengolahan, sampai hilir seperti pemasaran dan pendistribusian hasil air bersih dari sumber air. Dengan mengetahui peramalan penjualan ini juga dapat dijadikan langkah untuk meningkat- kan produksi dengan cara ekstensifikasi, inten- sifikasi, serta penanganan dan pengolahan yang optimal, sehingga hasil produksi air bersih dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Melalui pe- rencanaan penjualan dapat diketahui kebutuh- an perusahaan terhadap bahan baku, tenaga kerja, keuangan, peralatan pendukung dan sumber daya lainnya yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan air bersih (Ahmad Tohir, 2011), sesuai dengan jumlah peramalan penjualan yang dilakukan untuk periode Januari 2014 sampai Desember 2014 yaitu sebe- sar 4.296.015m³ menggunakan metode musim- an. Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman 1. Aspek Teknis dan Operasional Berdasarkan seluruh sistem yang ada saat ini, jumlah rata-rata kapasitas terpasang adalah 353,83 L/dt, sedangkan kapasitas yang diopera- sikan 295,27 L/dt, sehingga masih ada idle capa- city sebesar 58,56 L/dt. Jam produksi air minum berjalan antara 17-24 jam/hari, sedangkan ope- rasi distribusi berjalan 24 jam/hari. System distribusi yang digunakan oleh PDAM Kabu- paten Sleman adalah menggunakan gravitasi 72 L/dt dan pompa 171 L/dt. Berdasarkan sumber air yang digunakan, maka pemanfaatan mata air 86,7 L/dt, sumur bor 143 L/dt dan Sallow Well sebanyak 180,7 L/dt, dan IPA sebanyak 20 L/dt. Kapasitas sumber PDAM Kabupaten Sleman saat ini mencapai rata-rata 417 L/dt dengan dua sumber air baku, yakni air permukaan yang berasal dari mata air, IPA, sumur dangkal, dan sumur dalam dari beberapa sumur eksplo- rasi PDAM Kabupaten Sleman, lihat tabel 6. Tabel 6. Kapasitas produksi PDAM Kabupaten Sleman Tahun 2013 sampai Bulan November No Uraian Kapasitas L/detik M3/tahun 1. Kapasitas Sumber Air Baku 353,83 2. Kapasitas produksi 295,27 3. Produksi 6.380.675 4. Distribusi 6.105.746 5. Air Terjual 3.875.357 6. Kehilangan Air 1.829.621 Tabel 7 berikut adalah tabel SWOT dari PDAM Kabupaten Sleman mengenai hal-hal Tabel 7. Matriks SWOT Produksi PDAM Kabupaten Sleman Kekuatan Kelemahan Internal 1. Sumur Bor ada 18 buah, shallow well 23 unit, mata air 2 buah (dg kapasitas produksi 385 lit/dt), IPA, dan mobil tanki 1 buah (kap. 5000 lt) 1. Tingginya angka kehilangan air 2. Pelayanan yang belum mencapai 24 jam merata 3. Rasio cakupan pelayanan masih rendah Peluang Ancaman Eksternal 1. Tersedianya pangsa pasar potensial yakni kawasan perkotaan yang tumbuh cukup pesat 2. Tersedianya sumber air permukaan yang cukup banyak 3. Ketersediaan lahan kas desa yang dapat disewa untuk pembangunan prasarana IPA 1. Letusan G. Merapi merusak sumber air PDAM 2. Konflik pengelolaan sumber-sumber air antara masyarakat dan pemerintah 3. Perubahan musim yang mempengaruhi kualitas air Peramalan Penjualan Air Bersih ... (Wahyu Abdullah) 89 yang berkaitan dengan teknis dan operasional. 2. Aspek Administrasi dan Keuangan Tabel 8 (Lampiran) adalah tabel SWOT dari PDAM Kabupaten Sleman mengenai hal-hal yang berkaitan dengan administrasi dan keuangan. 3. Aspek Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia merupakan aspek yang sangat penting dalam suatu perusahaan, karena sumber daya manusia adalah salah satu faktor internal yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan perusahaan. Tabel 9 adalah tabel SWOT dari PDAM Kabupaten Sleman mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sum- ber daya manusia. Tabel 9. Matriks SWOT SDM PDAM Kabupaten Sleman Kekuatan Kelemahan Internal 1. Strata pendi- dikan SDM cukup mema- dai. 1. Profesionalisme karyawan yang kurang memadai. Peluang Ancaman Eksternal 1. Adanya dukungan dari masyarakat berupa Swadaya masyarakat 2. Peraturan perundangan yang mengatur kerjasama antar daerah dan kerjasama swasta- pemerintah masih rumit a. Matriks IFE Kekuatan yang dimiliki oleh PDAM Kabupaten Sleman, adalah perda tentang pendirian PDAM, ketentuan-ketentuan pokok Badan Pengawas, Direksi dan Pegawai PDAM Kabupaten Sleman, dan pengelolaan PDAM, pendapatan retribusi yang semakin mendekati BEP (impas), kemu- dian sumur Bor ada 18 buah, shallow well 23 unit, mata air 2 buah (dengan kapasitas pro- duksi 385 lit/dt), IPA, dan mobil tanki 1 buah (kap. 5000 lt), lalu dukungan PEMDA & DPRD dalam kebijakan cukup baik, serta strata pendidikan SDM cukup memadai. Sedangkan kelemahan yang ada pada perusahaan adalah tingginya angka kehilangan air. Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata, kemudian tarif yang belum cost recovery, rasio cakupan layanan yang rendah serta akuisisi pelanggan yang dilayani oleh PDAM Kota Yogyakarta terlalu lama penyelesaiannya. Berdasarkan tabel 10 (Lampiran) matriks IFE menunjukkan bahwa faktor kekuatan PDAM Kabupaten Sleman yang memiliki skor tertinggi adalah unit produksi yang cukup memadai dengan skor sebesar 0,444. Skor tertinggi menunjukkan faktor kekuatan tersebut mempunyai pengaruh yang besar bagi pengem- bangan pelayanan PDAM Kabupaten Sleman. Pendapatan retribusi yang semakin mendekati BEP mendapatkan skor terbesar kedua, yaitu 0,383, dimana hal ini sangat berpengaruh dalam pengembangan usaha perusahaan. Strata pendidikan SDM cukup memadai mendapat- kan skor sebesar 0,211, sedangkan dukungan PEMDA & DPRD dalam kebijakan cukup baik mendpatkan skor 0,183. Adapun skor untuk adanya Perda tentang pendirian PDAM adalah sebesar 0,267. Tarif yang belum cost recovery, mendapat- kan skor 0,278. Kemudian kelemahan lainnya Akuisisi pelanggan yang dilayani oleh PDAM Kota Yogyakarta terlalu lama penyelesaiannya dengan skor 0,217. Rasio cakupan layanan yang rendah dan penyaluran air yang belum menca- pai rata-rata 24 jam mendapatkan skor 0,283, sementara tingginya angka kehilangan air, yang menjadi masalah umum bagi seluruh PDAM di Indonesia mendapatkan skor 0,128. Secara keseluruhan, total nilai skor terbo- bot dari enam kekuatan dan enam kelemahan dalam matriks IFE adalah sebesar 2,678. Dengan demikian, kondisi internal perusahaan berada di atas rata-rata yaitu 2,50. Berdasarkan total nilai terbobot tersebut, dapat disimpulkan bahwa PDAM Kabupaten Sleman berada pada posisi yang cukup kuat dalam memanfaatkan kekuatan yang dimiliki dan cukup mampu untuk meng- atasi kelemahan. b. Matriks EFE Matriks EFE digunakan untuk mengetahui seberapa besar peranan faktor-faktor eksternal Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 1, April 2014: 78-96 90 yang terdapat pada perusahaan. Matriks EFE disusun berdasarkan hasil identifikasi dari kon- disi lingkungan eksternal perusahaan berupa peluang dan ancaman yang dihadapi oleh PDAM Kabupaten Sleman. Hasil identifikasi dari kondisi lingkungan eksternal diperoleh sebanyak lima peluang dan tiga ancaman. Berdasarkan tabel 11 (Lampiran) matriks EFE, peluang terbesar bagi PDAM Kabupaten Sleman adalah adanya potensi pangsa pasar yang cukup besar dan sumber air baku yang cukup banyak, dengan skor sebesar 0,511. Skor tetinggi ini mengindikasikan bahwa proyeksi jumlah penduduk Kabupaten Sleman yang terus meningkat memberikan peluang berupa adanya pangsa pasar yang cukup potensial untuk meningkatkan jumlah pelanggan bagi PDAM Kabupaten Sleman, karena peningkatan jumlah pelanggan akan berdampak besar pada pemasukan pendapatan perusahaan dan dae- rah. Peluang terbesar kedua yang dimiliki oleh PDAM Kabupaten Sleman adalah adanya investor dan mitra usaha untuk pengembangan perusahaan, yang mana mempunyai besar skor sebanyak 0,383. Adanya lahan kas desa juga cukup membantu pengembangan PDAM dengan skor sebesar 0,317. Sedangkan peluang terkecil adalah adanya tarif premium dari pembangun- an ZAMP dengan skor sebesar 0,122. Ancaman cukup besar yang harus diha- dapi oleh PDAM Kabupaten Sleman adalah letusan Gunung Merapi yang dapat terjadi sewaktu-waktu, letusan ini dapat menyebabkan rusaknya beberapa unit instalasi produksi air baku seperti yang sudah pernah terjadi pada tahun 2010 lalu, skor yang didapat adalah 0,156. Ancaman lainnya yang juga cukup menyulit- kan adalah faktor perubahan musim dimana skornya adalah 0,217, skor ini adalah yang ter- tinggi di antara ancaman-ancaman lainnya. Ancaman lain yang juga tak kalah besar adalah konflik pengelolaan sumber air baku dengan skor sebesar 0,244, serta adanya ekspansi indus- tri air minum kemasan dengan skor 0,061. Secara keseluruhan, total nilai skor terbo- bot dari lima peluang dan lima ancaman adalah sebesar 2,639 atau berada di atas nilai rata-rata yaitu 2,50. Berdasarkan total nilai terbobot tersebut, dapat disimpulkan bahwa PDAM Kabupaten Sleman cukup mampu merespon dan memanfaatkan peluang yang dimiliki dengan sebaik-baiknya untuk menghadapi ancaman yang ada. c. Matriks IE Matriks IE disusun berdasarkan hasil analisis faktor internal dan factor eksternal yang digabungkan dari matriks IFE dan matriks EFE. Matriks IE PDAM Kabupaten Sleman dapat dilihat pada tabel 12. Hasil analisis faktor internal menggunakan matriks IFE diperoleh total nilai skor terbobot sebesar 2,272. Sedangkan hasil analisis faktor eksternal menggunakan matriks EFE diperoleh total nilai skor sebesar 2,794. Berdasarkan total nilai skor terbobot dari matriks IFE dan EFE tersebut menempatkan PDAM Kabupaten Sleman pada sel nomor V dalam matriks IE. Strategi yang dapat diambil pada posisi sel tersebut adalah adalah strategi Hold and Maintain (Pertahankan dan Pelihara). Tabel 12. Skor total IFE & EFE d. Menentukan Strategi dengan Matriks SWOT Matriks SWOT disusun berdasarkan hasil iden- tifikasi faktor internal dan faktor eksternal perusahaan meliputi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan serta peluang dan ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. Penentuan Matriks SWOT diterapkan untuk beberapa aspek yang sangat berpengaruh terhadap perusahaan, yaitu aspek teknis dan operasional, aspek administrasi dan keuangan, serta aspek SDM. Pemaduan faktor internal dan eksternal perusahaan dari beberapa variabel Peramalan Penjualan Air Bersih ... (Wahyu Abdullah) 91 tersebut dalam matriks SWOT dapat mengha- silkan empat set kemungkinan alternative stra- tegy, yaitu strategi S-O, strategi S-T, strategi W- O dan strategi W-T. Adapun rincian mengenai strategi yang dihasilkan dari matriks SWOT akan dijelaskan setelah mengetahui tabel SWOT dari PDAM Kabupaten Sleman. Berikut ini adalah tabel SWOT dari PDAM Kabupaten Sleman dari beberapa aspek yang telah diurai- kan sebelumnya. 1. Strategi S-O (Strength-Opportunity) Strategi S-O adalah strategi yang meng- gunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Strategi yang dihasilkan adalah meningkatkan cakupan dan kualitas layanan khususnya pada kawasan perkotaan yang tumbuh pesat dan rawan pencemaran serta mewujudkan layanan air minum perpipaan premium pada kawasan kota khusus. Strategi ini dilakukan dengan mengguna- kan kekuatan dan peluang yang dimiliki PDAM Kabupaten Sleman. Kekuatan dan peluang itu adalah perda tentang pendirian PDAM, unit instalasi yang lengkap, tersedianya pangsa pasar potensial yakni kawasan perkotaan yang tumbuh cukup pesat, serta tersedianya sumber air permukaan yang cukup banyak. 2. Strategi W-O (Weakness-Opportunities) Strategi W-O adalah strategi untuk meng- atasi atau meminimalkan kelemahan yang dimiliki perusahaan untuk memanfaatkan peluang yang ada di luar perusahaan. Strategi W-O yang dihasilkan adalah penggantian water meter yang rusak dan berumur > 4 th, meng- identifikasi faktor-faktor yang mengakibatkan kehilangan air, dan peningkatan kapasitas SDM guna meningkatkan layanan prima dan perluasan cakupan layanan. Strategi ini dilakukan dengan mengguna- kan peluang yang dimiliki PDAM Kabupaten Sleman untuk mengatasi kelemahan. Peluang tersebut adalah ketersediaan lahan kas desa yang dapat disewa untuk pembangunan pra- sarana IPA dan banyak investor yang mengajak kerjasama pengembangan. Sedangkan kele- mahannya adalah tingginya angka kehilangan air, pelayanan yang belum mencapai 24 jam secara merata, serta rasio cakupan pelayanan masih rendah. 3. Strategi S-T Strategi S-T adalah strategi yang meng- gunakan kekuatan perusahaan untuk mengatasi ancaman yang dihadapi oleh perusahaan. Strategi S-T yang dihasilkan adalah memak- simalkan pemanfaatan sumber air baku yang berasal dari sallow well dan sungai, kemudian meningkatkan pengamanan sumber-sumber air PDAM, baik dari ancaman pencemaran maupun bencana alam (letusan merapi), serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya konsumsi air bersih. Strategi ini dilakukan dengan mengguna- kan kekuatan yang dimiliki PDAM Kabupaten Sleman untuk menghadapi ancaman. Kekuatan tersebut adalah pendapatan retribusi mendekati BEP (impas) dan dukungan PEMDA & DPRD dalam kebijakan cukup baik, dan strata pendi- dikan SDM cukup memadai, yang kemudian digunakan untuk menghadapi beberapa an- caman antara lain resistensi terhadap kenaikan tarif berkala oleh legislative/masyarakat, per- ubahan musim yang mempengaruhi kualitas air, letusan G. Merapi merusak sumber air PDAM, ekspansi industri air minum kemasan pada ladang-ladang sumber PDAM, serta konflik pengelolaan sumber-sumber air antara masyarakat dan pemerintah. 4. Strategi W-T Strategi W-T adalah strategi yang memi- nimalkan kelemahan internal perusahaan dan menghindari ancaman. Strategi W-T yang diha- silkan adalah segera menyelesaikan masalah (administrasi) akuisisi pelanggan di wilayah PDAM Kabupaten Sleman yang dilayani oleh PDAM Kota Yogyakarta, serta Dukungan atau bimbingan teknis kepada air perpipaan air bersih di pedesaan di luar sistem PDAM. Strategi ini dilakukan dengan meminimali- sir beberapa kekurangan PDAM Kabupaten Sleman yaitu rasio cakupan pelayanan masih rendah, dan akuisisi pelanggan yang dilayani oleh PDAM Kota Yogyakarta terlalu lama penyelesaiannya. Kemudian strategi ini juga digunakan untuk menghadapi ancaman-ancaman yang dimiliki oleh PDAM Kabupaten Sleman, Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 1, April 2014: 78-96 92 yaitu ekspansi industri air minum kemasan pada ladang-ladang sumber PDAM, dan konflik pengelolaan sumber-sumber air antara masya- rakat dan pemerintah. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pemba- hasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa data aktual penjual- an air bersih PDAM Kabupaten Sleman selama kurang lebih 4 tahun periode Januari 2010 sampai November 2013, diketahui memiliki unsure trend (cenderung meningkat) dan unsure musiman. Unsure trend yang berangsur-angsur meningkat terjadi karena permintaan masya- rakat terhadap air bersih selalu meningkat, hal ini dikarenakan air bersih merupakan konsumsi pokok harian bagi masyarakat khususnya rumah tangga. Unsur musiman diakibatkan oleh per- ubahan cuaca yang mempengaruhi ketersedia- an debit air baku yang dapat diproduksi, dan juga sekaligus mempengaruhi kualitas air yang tersedia di beberapa sumber air baku. Karena pola data lebih cenderung mengalami unsure musiman, maka metode analisis time series yang digunakan adalah metode Indeks Musiman, tetapi untuk perbandingan, maka analisis tren linear dan nonlinear juga digunakan dalam studi ini, karena pola data penjualan air bersih PDAM Kabupaten Sleman juga mengandung unsure trend (secara berangsur mengalami peningkatan). Berdasarkan perhitungan metode peramalan menggunakan metode indeks musiman, diketahui bahwa jumlah total pen- jualan air bersih di tahun 2014 adalah sebesar 4.296.015m3, atau meningkat sebesar 75603 m3 dari tahun 2013 yang berjumlah total 4.220.412 m3. Dengan mengetahui peramalan penjualan ini juga dapat dijadikan langkah untuk mening- katkan produksi dengan cara ekstensifikasi, intensifikasi, serta penanganan dan pengolahan yang optimal, sehingga hasil produksi air ber- sih dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Hasil identifikasi lingkungan PDAM Kabu- paten Sleman, yaitu: Pertama, hasil identifikasi lingkungan internal, yang merupakan kekuatan PDAM Kabupaten Sleman adalah Perda ten- tang pendirian PDAM, pendapatan retribusi yang semakin mendekati BEP, unit produksi yang cukup memadai, dukungan PEMDA & DPRD dalam kebijakan cukup baik, dan strata pendidikan SDM cukup memadai. Sedangkan kelemahan yang dimiliki oleh perusahaan adalah tingginya angka kehilangan air, pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata, Tarif yang belum cost recovery, Rasio cakupan layanan yang rendah, dan Akuisisi pelanggan yang dilayani oleh PDAM Kota Yogyakarta terlalu lama penyelesaiannya; Kedua, hasil iden- tifikasi lingkungan eksternal, yang merupakan peluang yang dimiliki oleh PDAM Kabupaten Sleman adalah pangsa pasar yang potensial, sumber air baku yang cukup banyak, tersedia- nya lahan kas desa, adanya investor dan mitra usaha, dan tarif premium dari layanan ZAMP. Adapun ancaman yang harus dihadapi oleh PDAM Kabupaten Sleman adalah resistensi terhadap kenaikan tariff, perubahan musim, ekspansi industri air minum kemasan, letusan G. Merapi, serta konflik pengelolaan sumber air baku. Berdasarkan hasil analisis matriks IE, dike- tahui bahwa PDAM Kabupaten Sleman berada dalam posisi Hold & Mentain, artinya pertahan- kan dan kembangkan, strategi terbaik yang harus dilakukan adalah inovasi produk dan penetrasi pasar. Saran-saran yang dapat diberi- kan kepada PDAM Kabupaten Sleman untuk meningkatkan pelayanan air bersih kepada masyarakat adalah: 1) Perencanaan penjualan air bersih menggunakan metode kuantitatif time series dengan metode indeks musiman dapat digunakan oleh pihak perusahaan karena dapat membantu perusahaan dalam merencanakan kegiatan penjualan air bersih; 2) PDAM Kabu- paten Sleman perlu menganalisis setiap kekuat- an, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dimiliki oleh perusahaan karena dapat mem- bantu dalam penetapan kebijakan strategis untuk perkembangan perusahaan; 3) PDAM Kabupaten Sleman diharapkan dapat mening- katkan cakupan dan kualitas layanan khusus- nya pada kawasan perkotaan yang tumbuh pesat dan rawan pencemaran serta mewujud- kan layanan air minum perpipaan premium pada kawasan kota khusus, mengganti water meter yang rusak dan berumur > 4 th, meng- identifikasi faktor-faktor yang mengaikbatkan kehilangan air, meningkatkan kapasitas SDM guna meningkatkan layanan prima dan per- luasan cakupan layanan, memaksimalkan Peramalan Penjualan Air Bersih ... (Wahyu Abdullah) 93 pemanfaatan sumber air baku yang berasal dari sallow well dan sungai, meningkatkan peng- amanan sumber-sumber air PDAM, baik dari ancaman pencemaran maupun bencana alam (letusan merapi), melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya konsumsi air bersih menyelesaikan masalah (administrasi) akuisisi pelanggan di wilayah PDAM Kabupaten Sleman yang dilayani oleh PDAM Kota Yogyakarta, serta memberikan dukungan atau bimbingan teknis kepada air perpipaan air bersih di pede- saan di luar sistem PDAM; 4) Hasil dari pera- malan dalam studi ini dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan strategis sebagai dasar perencanaan penjualan air bersih untuk tahun 2014 dan tahun-tahun berikutnya. Sedangkan untuk melengkapi studi ini ada baiknya dilakukan studi lanjutan. DAFTAR PUSTAKA Akhmat, T. (2011). Analisis peramalan penjualan minyak sawit kasar atau Crude Palm Oil (CPO) pada PT. Khasrisma Pemasaran Bersama (KPB) Nusantara. Skripsi. UIN Jakarta. Bappeda Kabupaten Sleman. (2010). Buku Putih Sanitasi Kawasan Perkotaan Kabupaten Sle- man. Yogyakarta: Bappeda. Bappeda Kabupaten Sleman. (2010). Buku Putih Sanitasi Kawasan Perkotaan Kabupaten Sleman. Yogyakarta: Bappeda. Dian Suminnar. (2007). Analisis formulasi stra- tegi pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan Bogor. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya. (2007). Petunjuk teknis pengembangan SPAM Seder- hana. Jakarta: Dinas PU. Gujarati, D.N. dan Dawn C.P. (2012). Dasar- dasar Ekonometrika. Buku 2, Edisi 5, Terje- mahan Raden Carlos Mangunsong. Jakarta: Salemba Empat Gujarati, D.N. (2012). Dasar-dasar Ekonometrika, Buku 1, Edisi 5, Terjemahan Eugenia Mar- danugraha, dkk. Jakarta: Salemba Empat Hermanto dan Saptutyningsih, E. (2002). Elec- tronic Data Processing (EDP), Yogyakarta: UPFE UMY. Junaidi Chaniago. (2013). http:// junaidi chaniago. wordpress.com/tag/minitab/. Diakses Tanggal 7 Desember 2013. LAMPIRAN Gambar 5. Probability plot Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 1, April 2014: 78-96 94 454035302520151051 400000 375000 350000 325000 300000 275000 250000 Index p e n ju a la n MA PE 6 MA D 18281 MSD 463765613 A ccuracy Measures A ctual Fits Variable Trend Analysis Plot for penjualan Linear Trend Model Yt = 281898 + 1490*t Gambar 7. Grafik trend analysis model regresi linear Gambar 8. Grafik Trend Analysis Model Regresi Nonlinear Tabel 5. Peramalan Penjualan Air Bersih Desember 2013–Desember 2014, Menggunakan Metode Musiman Periode Tahun Bulan Peramalan (m³) 48 2013 Desember 345055 49 2014 Januari 352546 50 2014 February 348816 51 2014 Maret 320757 52 2014 April 342159 53 2014 Mei 349269 54 2014 Juni 356886 55 2014 Juli 354357 56 2014 Agustus 367059 57 2014 September 373497 58 2014 Oktober 383831 59 2014 November 386101 60 2014 Desember 360738 Peramalan Penjualan Air Bersih ... (Wahyu Abdullah) 95 Tabel 8. Matriks SWOT Administrasi PDAM Kabupaten Sleman Kekuatan Kelemahan Internal 1. Perda tentang: pendirian PDAM, ketentuan- ketentuan pokok Badan Pengawas, Direksi & Pegawai PDAM Kab. Sleman, dan Pengelolaan PDAM 2. Pendapatan retribusi mendekati BEP (impas) 3. Dukungan PEMDA & DPRD dalam kebijakan cukup baik. 1. Tariff belum cost recovery 2. Akuisisi pelanggan yang dilayani oleh PDAM Kota Yogyakarta terlalu lama penyelesaiannya Peluang Ancaman Eksternal 1. Banyak investor yang mengajak kerjasama pengembangan 2. Tarif premium dari layanan ZAMP (siap minum) 1. Resistensi terhadap kenaikan tariff berkala oleh legislatif/ masyarakat 2. Ekspansi industry air minum kemasan pada ladang-ladang sumber PDAM Tabel 10. IFE PDAM Kabupaten Sleman Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor Terbobot Kekuatan Perda tentang pendirian PDAM 0,067 4,00 0,267 Pendapatan retribusi yang semakin mendekati BEP 0,128 3,00 0,383 Unit produksi yang cukup memadai 0,111 4,00 0,444 Dukungan PEMDA & DPRD dalam kebijakan cukup baik 0,061 3,00 0,183 Strata pendidikan SDM cukup memadai 0,106 2,00 0,211 Kelemahan Tingginya angka kehilangan air 0,128 1,00 0,128 Pelayanan air yang belum mencapai 24 jam secara merata 0,094 3,00 0,283 Tarif yang belum cost recovery 0,139 2,00 0,278 Rasio cakupan layanan yang rendah 0,094 3,00 0,283 Akuisisi pelanggan yang dilayani oleh PDAM Kota Yogyakarta terlalu lama penyelesaiannya 0,072 3,00 0,217 Jumlah 1,000 2,678 Tabel 11. EFE PDAM Kabupaten Sleman Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor Terbobot Peluang Tersedianya pangsa pasar potensial 0,128 4,00 0,511 Sumber air baku yang cukup banyak 0,128 4,00 0,511 Tersedianya lahan kas desa 0,106 3,00 0,317 Adanya investor dan mitra usaha 0,128 3,00 0,383 Tariff premium dari layanan ZAMP 0,061 2,00 0,122 Ancaman Resistensi terhadap kenaikan tarif 0,117 1,00 0,117 Perubahan musim 0,072 3,00 0,217 Ekspansi industry air minum kemasan 0,061 1,00 0,061 Letusan G. Merapi 0,078 2,00 0,156 Konflik pengelolaan sumber air baku 0,122 2,00 0,244 Jumlah 1,000 2,794 Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 15, Nomor 1, April 2014: 78-96 96 Tabel 13. Matriks SWOT PDAM Kabupaten Sleman Faktor Internal Faktor Eksternal Kekuatan: 1. Perda tentang: pendirian PDAM, ketentuan-ketentuan pokok Badan Pengawas, Direksi & Pegawai PDAM Kab. Sleman, dan Pengelolaan PDAM 2. Pendapatan retribusi mendekati BEP (impas) 3. Sumur Bor ada 18 buah, shallow well 23 unit, mata air 2 buah (dg kapasitas produksi 385 lit/dt), IPA, dan mobil tanki 1 buah (kap. 5000 lt) 4. Dukungan PEMDA & DPRD dalam kebijakan cukup baik. 5. Strata pendidikan SDM cukup memadai. Kelemahan: 1. Tingginya angka kehilangan air 2. Pelayanan yang belum mencapai 24 jam secara merata 3. Tariff belum cost recovery 4. Rasio cakupan pelayanan masih rendah 5. Akuisisi pelanggan yang dilayani oleh PDAM Kota Yogyakarta terlalu lama penyelesaiannya Peluang: 1. Tersedianya pangsa pasar potensial yakni kawasan perkotaan yang tumbuh cukup pesat 2. Tersedianya sumber air permukaan yang cukup banyak 3. Ketersediaan lahan kas desa yang dapat disewa untuk pembangunan prasarana IPA 4. Banyak investor yang mengajak kerjasama pengembangan 5. Tariff premium dari layanan ZAMP (siap minum) STRATEGI S-O 1. Meningkatkan cakupan dan kualitas layanan khususnya pada kawasan perkotaan yang tumbuh pesat dan rawan pencemaran. 2. Mewujudkan layanan air minum perpipaan premium pada kawasan kota khusus STRATEGI W-O 1. Penggantian water meter yang rusak dan berumur > 4 th 2. Identifikasi kehilangan air 3. Peningkatan kapasitas SDM guna meningkatkan layanan prima dan perluasan cakupan layanan. Ancaman: 1. Resistensi terhadap kenaikan tarif berkala oleh legislatif/ masyarakat 2. Perubahan musim yang mempengaruhi kualitas air 3. Letusan Gunung Merapi merusak sumber air PDAM 4. Ekspansi industri air minum kemasan pada ladang-ladang sumber PDAM 5. Konflik pengelolaan sumber- sumber air antara masyarakat dan pemerintah STRATEGI S-T 1. Memaksimalkan pemanfaatan sumber air baku yang berasal dari sallow well dan sungai 2. Meningkatkan pengamanan sumber-sumber air PDAM, baik dari ancaman pencemaran maupun bencana alam (letusan merapi) 3. Melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya konsumsi air bersih STRATEGI W-T 1. Segera menyelesaikan masalah (administrasi) akuisisi pelanggan di wilayah PDAM Kabupaten Sleman yang dilayani oleh PDAM Kota Yogyakarta 2. Dukungan atau bimbingan teknis kepada air perpipaan air bersih di pedesaan di luar sistem PDAM.