Microsoft Word - 07-Suryanto _11 hlm_ Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan  Volume 10, Nomor 1, April 2009: 99 ‐ 109  MAMPUKAH PDB HIJAU MENGAKOMODASI DEGRADASI  LINGKUNGAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT?  Suryanto  Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta   Jalan Ir. Sutami 36 A Surakarta 57126 Telp. (0271) 646994 Fax. (0271) 646655   E‐mail: yanto.rimsy@gmail.com  Abstrak: Teori ekonomi khususnya teori pembangunan dikembangkan dari Produk Domestik Bruto (PDB) untuk pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Skenario menuju ekonomi yang berkelanjutan masih ditandai berbagai pendapat mengenai implementasi PDB hijau. Ada gagasan bahwa dampak lingkungan secara otomatis akan berkurang jika tingkat kesejahteraan masyarakat telah dicapai. Sementara pendapat lain mengatakan bahwa tidak ada hubungan positif antara pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan kualitas lingkungan. Makalah ini menyajikan argumen kedua pendapat. Makalah ini diakhiri dengan ulasan konsep PDB hijau dikaitkan dengan kerusakan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Tingkat pertumbuhan PDB hijau memiliki konsekuensi ekonomi yang rendah sejak dikoreksi oleh ken- dala lingkungan. Namun, kualitas lingkungan yang meningkat akan memberi harapan bagi manusia untuk hidup berkelanjutan. Masalah yang harus diselesaikan dalam pelaksanaan PDB hijau adalah mendefinisikan kembali kesejahteraan. Kata kunci: PDB hijau, PDB coklat, kesejahteraan masyarakat, degradasi lingkungan Abstract: Economic theories, especially theories of development evolves from the Gross Do- mestic Product (GDP) to the sustainable economic development. But the scenario toward eco- nomic sustainability is still characterized various opinions on the implementation of green GDP. There is the notion that environmental impacts will be reduced automatically if the level of public welfare has been achieved. While other opinion says that there is no positive relation- ship between economic growth by improving environmental quality. This paper presents the arguments of these two opinions. This paper concludes with reviews of green GDP concept is associated with environmental degradation, and welfare of the community. Green GDP growth rates have economic consequences that low since corrected by environmental con- straints. However, improved environmental quality and provide hope for humans to live sus- tainable. Problem that must be addressed along with the implementation of green GDP is to do redefinition of welfare. Keywords: Green GDP, chocolate GDP, welfare society, environmental degradation PENDAHULUAN  Sebagian  besar  teori  ekonomi  terutama  per‐ tumbuhan ekonomi makro mengabaikan ma‐ salah‐masalah  lingkungan.  Biasanya  dalam  teori  ekonomi,  isu‐isu  lingkungan  dianggap  tidak  bermasalah.  Secara  implisit  sering  di‐ asumsikan bahwa konsekuensi masalah ling‐ kungan adalah masalah kecil atau akan sele‐ sai dengan sendirinya (Arrow et.al, 1995). Be‐ berapa ahli seperti Bhagwati (1993) justru ber‐ pendapat  bahwa  pertumbuhan  sebagai  pra  kondisi  bagi  perbaikan  lingkungan.  Sebagai  contoh  Beckerman  (1992)  berpendapat,  kore‐ lasi yang kuat antara pendapatan dan ukuran  perlindungan  lingkungan  menunjukkan  hu‐ Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 99 ‐ 109 100  bungan  yang  positif.  Bahkan  lebih  lanjut  di  negara‐negara  berkembang,  pertumbuhan  ekonomi akan menguatkan kemampuan per‐ baikan  terhadap  lingkungan  (Panayotou,  1993:14).  Di  lain  pihak  ada  juga  pendapat  yang  menyatakan  sebaliknya  seperti  Geor‐ gegescu‐Roegen  (1997)  menyebutkan  bahwa  pertumbuhan ekonomi  tidak selaras dengan  lingkungan  berkelanjutan.  Daly  (1977)  ber‐ argumentasi  bahwa  pertumbuhan  ekonomi  akan mendorong perekonomian dunia menu‐ ju  batasnya  atau  daya  dukung  lingkungan  semakin terbatas.  Dalam  istilah  ekonomi  “pembangunan”  biasanya  diartikan  sebagai  kapasitas  dari  suatu  perekonomian  nasional,  yang  kondisi  awalnya  lebih  kurang  statis  dalam  jangka  waktu  yang  cukup  lama,  untuk  berupaya  menghasilkan  dan  mempertahankan  kenai‐ kan  tahunan produk nasional bruto  (Todaro,  1994). Pembangunan pada tahun 1960‐an dan  tahun  1970‐an  secara  keseluruhan  hampir  selalu dilihat sebagai  fenomena ekonomi, di  mana pertumbuhan GNP per kapita yang ce‐ pat  akan  “menetes  ke  bawah”  (trickle down)  kepada masyarakat luas dalam bentuk peker‐ jaan  dan  kesempatan‐kesempatan  ekonomi  lainnya,  atau  terciptanya  syarat‐syarat  yang  diperlukan  bagi  distribusi  manfaat‐manfaat  ekonomi dan sosial yang lebih luas.  Masalah‐masalah  seperti  kemiskinan,  pengangguran,  distribusi  pendapatan  dan  pencemaran  lingkungan  dianggap  soal  kedua,  yang  penting  adalah  menyelesaikan  tugas‐tugas pertumbuhan dulu. Arsyad (1988)  menyatakan  pemikir‐pemikir  pembangunan  dari mazhab ekonomi neoklasik dan struktu‐ ralis  yang  dipelopori  oleh  Robert  Solow  (Massachussets  Institute  of  Technology)  dan  Trevor  Swan  (Australia  National  University)  mempunyai pemahaman yang serupa, bahwa  “capital accumulation, labor, and technology pro‐ gress are the very crucial components to accelerate  development.” Ketiga hal tersebut merupakan  kekuatan  pendorong  utama,  yang  dapat  menggerakkan  proses  transformasi  struktu‐ ral. Proses ini mengandaikan adanya lompa‐ tan pembangunan yang semula berbasis per‐ tanian ke pembangunan yang berbasis indus‐ tri.  Industrialisasi  akan  menyerap  tenaga  kerja  dalam  jumlah  banyak,  yang  menjadi  salah satu elemen vital dalam proses produk‐ si.  Bila  proses  produksi  berjalan  baik,  maka  pendapatan nasional pun akan meningkat.  Perdebatan  mengenai  teori  pembangu‐ nan ini telah dikritik  juga oleh para pemikir  ekonomi  lain  antara  lain  oleh   Dudley Seers  dalam  The  Meaning  of  Development  (1969)  mencoba  menggugat  apa  yang  disebut  “the  growth  fetishism  of  development  theory.”  Bagi  Dudley  Seers,  makna  paling  hakiki  pemba‐ ngunan  itu  bukan  semata  peningkatan  pen‐ dapatan  per  kapita,  melainkan  pemerataan  distribusi  pendapatan,  penurunan  pengang‐ guran,  pembebasan  kemiskinan,  dan  peng‐ hapusan ketidakadilan. Keempat isu ini jauh  lebih  mendasar  yang  harus  diselesaikan  dalam  proses  pembangunan,  sebab  semua‐ nya  itu  menjadi  masalah  kritikal  yang  me‐ nyangkut harkat dan martabat kemanusiaan.  Dengan  kata  lain,  peningkatan  pendapatan  yang  hanya  dinikmati  oleh  sekelompok  masyarakat tertentu tidak berarti sama sekali,  bila di sebagian masyarakat yang lain  justru  dijumpai  fakta  kemiskinan  dan  ketidakadi‐ lan.  Menurut  pengalaman  banyak  negara  berkembang,  kesenjangan  ekonomi  yang  ta‐ jam justru menjadi faktor pemicu munculnya  kekacauan sosial akibat gerakan protes, per‐ tikaian  etnis,  dan  konflik  kelas  yang  sulit  dikendalikan. Meksiko dan Brazil di Amerika  Latin, Rwanda dan Burundi di Afrika, serta  India, Sri Lanka, dan tentu saja Indonesia di  Asia  adalah  sebagian  dari  contoh  empirik  yang memberi pelajaran berharga.  Perkembangan  pemikiran  mengenai  Mampukah PDB Hijau ... (Suryanto)  101 pembangunan  pada  akhirnya  sampai  pada  konsep pembangunan berkelanjutan (sustain‐ able development). Konsep yang dikemukakan  dalam  Gambar  1  adalah  kelanjutan  dari  pe‐ mikiran‐pemikiran  pembangunan  ekonomi  yang  sudah  ada.  Banyak  pemikiran  yang  sepakat  bahwa  pembangunan  ekonomi  me‐ nimbulkan  trade off antara kepentingan eko‐ nomi dan ekologi.  Apabila para pemikir pembangunan eko‐ nomi  sudah  menempatkan  pembangunan  berkelanjutan  sebagai  tujuannya  maka  per‐ tanyaan yang muncul adalah model pemba‐ ngunan yang akan digunakan. Jika mengacu  pada  Meier  dan  Stiglitz  (2002)  berarti  pem‐ bangunan  berkelanjutan  adalah  akhir  dari  sebuah  proses  panjang.  Sementara  yang  ha‐ rus  diraih  dulu  adalah  pertumbuhan  eko‐ nomi yang  tinggi baru kemudian berpindah  pada  tahap‐tahap  berikutnya.  Bagaimana  dengan kondisi lingkungan itu sendiri? Sam‐ pai  kapankah    lingkungan  mampu  menjadi  supplier  untuk  memenuhi  permintaan  (de‐ mand) kebutuhan manusia?  Model  Pembangunan  yang  Mengejar  Pertumbuhan  Ekonomi.  Banyak  pendapat  yang menyatakan bahwa  jika pembangunan  didasarkan  pada  pertumbuhan  maka  pada  akhirnya  tujuan  akhir  pembangunan  tidak  akan  tercapai.  Pemenuhan  kebutuhan  bagi  manusia  ini  sebenarnya  juga  dalam  rangka  untuk  mencapai  kesejahteraan  manusia.  Dalam  ekonomi  dikenal  tiga  sistem  penca‐ paian  kesejahteraan  tersebut  yaitu  sistem  kapitalistik, sosialis‐komunis, dan tradisional.  Dari ketiga sistem tersebut hanya sistem ka‐ pitalistiklah yang dianut oleh sebagian besar  manusia selaku penduduk bumi.   Kapitalistik adalah sistem ekonomi yang  mengutamakan  kepemilikan  modal  sebagai   dasar  bergeraknya  roda  ekonomi.  Dengan  memiliki  modal  maka  individu  dapat  mela‐ kukan  apa  pun  untuk  mencapai  tujuan  hi‐ dupnya.  Bahkan,  manusia  dapat  memenuhi  kebutuhan  hidupnya  tidak  hanya  dalam  jangka  waktu  puluhan  tahun.  Modal  me‐ mungkinkan  individu  ini  dapat  menguasai  kegiatan‐kegiatan  ekonomi,  mulai  kegiatan  produksi, distribusi, atau bahkan konsumsi.   Dampak  bagi  ekonomi,  sistem  kapitalis  menyebabkan  manusia  untuk  berperilaku  efisien. Pengertian efisien ini adalah penggu‐ naan  sumber  daya  ekonomi  pada  tingkat  yang optimal untuk mencapai tujuan terten‐ tu.  Dengan  efisien  maka  individu  dapat  memaksimalkan  kepuasan  (utilitas)  jika  individu berperilaku sebagai konsumen dan  dapat  memaksimalkan  keuntungan  (profit)  jika individu berperilaku sebagai produsen.  Suhartono  (2005)  juga  menyebut  pada  masa  kini  sistem  kehidupan  sosial  didomi‐ nasi oleh paham ekonomi kapitalistik. Paham  kapitalistik mendorong sifat kompetitif prag‐ matis perilaku manusia. Sifat kompetitif  ini‐ lah  yang  mendorong  efisiensi  sebagai  dam‐ pak  positifnya  dan  melahirkan  sifat  kesera‐ kahan  manusia  sebagai  dampak  negatifnya,  sehingga  mendorong  pola  dan  sikap  dan  Sumber: Gerald Meier & Joseph Stiglitz, Frontiers of Development Economics (2002)   Gambar 1. Evolusi Pemikiran Pembangunan (Tujuan)  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 99 ‐ 109 102  perilaku hedonistik sekular. Persaingan yang  bersifat monopolistik terlegitimasi baik secara  formal  maupun  kultural.  Kini,  keserakahan  mendorong  terbentuknya  keserakahan  hu‐ kum, politik, dan keserakahan sosial lainnya,  khususnya  bidang  pendidikan,  kebudayaan,  dan spiritual keagamaan.   Paham egosentrisme sangat kental terasa  dalam  sistem  kapitalis  karena  sistem  ini  mengajarkan  individu  menjadi  individualis.  Sistem  kapitalis  menganggap  manusia  dan  sumber daya alam adalah alat untuk menca‐ pai  tujuan  hidupnya.  Ukuran  materialistik  menjadi kiblat utama bagi manusia kapitalis.  Paham  ini  telah menyebar ke seluruh dunia  termasuk  di  Indonesia.  Menurut  Suhartono  (2005)  dampak  kapitalisme  menyebabkan  dunia  seolah  terbagi  menjadi  dua,  yaitu  mereka  yang  berebut  kemewahan,  dan  mereka yang menahan  lapar dahaga. Kedua  kelompok  tersebut  sama‐sama  menggerus  lingkungan  hidup  menjadi  semakin  tidak  harmoni.  Tujuan mengejar pertumbuhan ekonomi  dengan  menciptakan  stabilitas  ekonomi  makro sering trade off dengan menjaga keles‐ tarian alam. Kondisi tersebut diperparah oleh  era  perdagangan  bebas  di  mana  Indonesia  adalah  salah  satu  bagiannya.  Tidak  mudah  melepaskan  pengaruh  dunia  internasional  terhadap  perekonomian  domestik.    Keseim‐ bangan ekonomi dan ekologi menjadi tujuan  ke dua setelah pertumbuhan ekonomi.  Kon‐ disi  seperti  inilah  yang  menurut  Djojohadi‐ kusumo  (1981:  60)  disebut  sebagai  “krisis  lingkungan”,  yakni  gejala  akibat  kesalahan  atau  kekurangan  dalam  pola  dan  cara  pengelolaan sumber kebutuhan hidup manu‐ sia.  Gejala‐gejala  tersebut  dianggap  sebagai  tekanan  krisis  yang  membahayakan  kelang‐ sungan hidup manusia, seperti ancaman ter‐ hadap kejernihan udara dan sumber air, ter‐ hadap  bahan‐bahan  makanan,  terhadap  ke‐ langsungan  produktivitas  kekayaan  alam  flora dan fauna, dan sebagainya.   Apabila  kekuatan  ekologis  ini  telah  sedemikian  melemah,  maka  kesejahteraan  yang  dicapai  manusia  menjadi  tidak  ber‐ Kemampuan daya  dukung lahan  Polusi Limits to growth Pertumbuhan Pembangunan 1900  2100 Sumber: D.H. Meadows, D.L. Meadows, J. Randers and W.W. Behrens, The Limits  to Growth  (dalam Brian  J.L. Berry, Edgar C. Conkling and D. Michael Ray, The  Global Economy  : Resource Use, Locational Choice and International Trade, New  Jersey : Prentice Hall, 1993) (dimodifikasi)    Gambar 2. Model Limits to Growth Dennis Meadows   Mampukah PDB Hijau ... (Suryanto)  103 makna.  Sebab,  kesejahteraan  tadi  harus  di‐ bayar  dengan  recovery  cost  untuk  memulih‐ kan  dan  menjaga  kelestarian  lingkungan  –  dan  bahkan  social  cost  yang  sulit  dihitung  tingkat kerugiannya. Dengan kata  lain, trade  off  yang  ditimbulkan  dari  proses  pemba‐ ngunan sangat  tidak seimbang dengan  ting‐ kat kemakmuran ekonomis yang diraihnya.  Kebijakan yang dijalankan tersebut tidak  hanya  terjadi  di  Pemerintah  Pusat  namun  juga  di  Pemerintahan  Daerah.  Era  otonomi  daerah  memungkinkan  daerah  memacu  peningkatan  PAD  daerahnya.  Peningkatan  PAD  ini  pun  sering  kali  trade  off  dengan  keseimbangan  ekonomi  dan  ekologinya,  sebagai contoh: kerusakan lingkungan akibat  penambangan  timah  di  Provinsi  Kepulauan  Bangka  Belitung,  penambangan  pasir  putih  di  Kepulauan  Riau,  penambangan  emas  di  Buyat, dan lain‐lain.  Dampak Pembangunan Ekonomi terha‐ dap Lingkungan. Pembangunan merupakan  upaya  sadar  untuk  mengelola  dan  meman‐ faatkan  sumber  daya  guna  meningkatkan  mutu  kehidupan  rakyat.  Pertumbuhan  eko‐ nomi yang merupakan indikator keberhasilan  suatu  pembangunan  seringkali  digunakan  untuk  mengukur  kualitas  hidup  manusia   sehingga  semakin  tinggi  nilai  pertumbuhan  ekonomi  maka  semakin  tinggi  pula  taraf  hidup manusia. Semakin cepat pertumbuhan  ekonomi akan semakin banyak barang sum‐ berdaya yang diperlukan dalam proses pro‐ duksi yang pada gilirannya akan mengurangi  ketersediaan sumberdaya alam sebagai bahan  baku yang tersimpan pada sumberdaya alam  yang  ada.  Jadi  semakin  menggebunya  pem‐ bangunan  ekonomi  dalam  rangka  mening‐ katkan  taraf  hidup  masyarakat  berarti  semakin  banyak  barang  sumberdaya  yang  diambil dari dalam bumi dan akan semakin  sedikitlah  jumlah  persediaan  sumberdaya  alam tersebut. Di samping itu pembangunan  ekonomi  yang  cepat  dibarengi  dengan  pembangunan  instalasi‐instalasi  pengolah  maka  akan  tercipta  pula  pencemaran  yang  merusak sumberdaya alam dan juga manusia  itu sendiri.  Pertanyaan yang hendak dijawab dengan  paper  ini  adalah  apakah  pembangunan  eko‐ nomi mempunyai manfaat positif atau justru  memberi  dampak  negatif  terhadap  lingku‐ ngan?  Beberapa  bukti  empirik  yang  telah  dilakukan  oleh  Stern  et  al  (1996)  dan  Ekins  (1997). Efek dari pertumbuhan ekonomi  ter‐ hadap kualitas lingkungan masih dalam kon‐ troversi. Satu sisi menempatkan dalam posisi  Sumber: Panayotou, (1993) dalam Stagl (1999)  Gambar 3. Kurva Lingkungan Kuznets (Environmental Kuznets Curve EKC)  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 99 ‐ 109 104  mendukung  hipotesis  bahwa  pertumbuhan  ekonomi  akan  menyebabkan  tekanan  terha‐ dap  lingkungan  berkurang  yang  didukung  oleh  ”Environmental  Kuznets  Curve”  (EKC),  pendapat yang lain adalah pertumbuhan eko‐ nomi  akan  menyebabkan  daya  lingkungan  menurun kualitasnya.  Pada pendapatan  level  rendah, dampak  lingkungan  masih  rendah  karena  aktifitas  ekonomi  masih  rendah  dan  juga  pembua‐ ngan  limbah  yang  merugikan  lingkungan  masih terbatas. Seiring dengan pertumbuhan  ekonomi  yang  terjadi  seperti  intensifikasi  pertanian  dan  take  off  nya  industrialisasi  menyebabkan deplesi lingkungan khususnya  pada sumber daya alam tidak terbarui. Pada  tingkat  pembangunan  yang  lebih  tinggi,  terjadi  perubahan  struktural  terhadap  infor‐ masi  baik  pada  industri  maupun  jasa  dan  juga  pada  perhatian  masalah  lingkungan,  penegakan aturan tentang lingkungan.  Namun  pendapat  tersebut  di  atas  men‐ dapat  kritik  baik  secara  konsep  antara  lain  oleh  Beghin  dan  Portier  (1997),  mereka  me‐ nyatakan  bahwa  reaksi  polutan  tersebut  hanya  dalam  jangka  pendek  tidak  dalam  akumulasi stok polusi seperti CO2. Pencema‐ ran di air juga tidak sesuai dengan teori EKC  ini (Hettige et. al).  Lebih lanjut EKC hanya cocok dan sesuai  sebagai  model  pencemaran  untuk  satu  jenis  polutan  dan  tidak  sesuai  kalau  diterapkan  pada beberapa jenis polutan. Hal ini dikemu‐ kakan oleh Mac‐Gillivary (1993) yang menges‐ timasi  dampak  lingkungan  termasuk  emisi‐ emisi  pencemarnya  seperti  CO2,  NOx,  SO2,  air,  limbah cair,  tanah,  intensitas energi dan  lain‐lain. Kesimpulannya adalah peningkatan  pendapatan di negara‐negara yang tergabung  dalam  OECD  tidak  secara  otomatis  terjadi  penurunan pencemaran.  Sedangkan  pendapat  yang  kedua  me‐ nyatakan  bahwa  lingkungan  akan  semakin  menurun  kualitasnya  karena  semakin  ting‐ ginya  jumlah  penduduk  yang  akan  menye‐ babkan  permintaan  akan  bahan  makanan,  lahan untuk tempat tinggal, dan tumpukkan  sampah  dan  polusi.  Meadows  et.  al  (2004)  mengemukakan  kembali  teori  batas‐batas  pertumbuhan  jika  pertumbuhan  ekonomi  yang  dijalankan  tidak  memperhatikan  ma‐ salah‐masalah lingkungan.  Gambar  4  menunjukkan  bahwa  sumber  daya  alam  yang  semakin  berkurang,  daya  dukung lingkungan semakin menurun kuali‐ tasnya, tingkat output industri pada awalnya  mencapai  tingkat maksimum pada akhirnya  akan mengalami penurunan. Sementara, ting‐ kat polusi meningkat tidak terkendali, mem‐ bumbung  tinggi  ke  atas.  Pada  akhirnya  jumlah  penduduk  akan  berkurang  secara  alamiah karena kekurangan makanan.    Sumber: Meadows et.al (2004)  Gambar 4. Dampak Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kesejahteraan  Mampukah PDB Hijau ... (Suryanto)  105 Dampak  Disharmoni  Lingkungan  ter‐ hadap  Kesejahteraan  Hidup.  Jika  tujuan  utama  manusia  adalah  mencapai  kesejahte‐ raan hidup maka apa sebenarnya kesejahte‐ raan yang diinginkan  tersebut semakin  jauh  dari  harapan.  Manusia  dengan  kapitalisme‐ nya berupaya mencapai tingkat pertumbuhan  ekonomi yang tinggi namun  jika lingkungan  hidup  dibiarkan  rusak  maka  pembangunan  yang  dilakukan  tersebut  menjadi  semakin  tidak bermakna.  Ilustrasi  sederhana,  pada  saat  lingku‐ ngan  hidup  masih  asri,  manusia  berniat  mengubah  lingkungan  sedemikian  rupa  untuk  memuaskan  kebutuhannya.  Mereka  mengeksploitasi  kekayaan  alam  dengan  mengesampingkan  keseimbangan  ekologi,  pada  akhirnya  pertumbuhan  ekonomi  cepat  melaju.  Mereka  berharap  dengan  ekonomi  yang  berkembang  cepat  memungkinkan  mereka  untuk  melakukan  peningkatan  kua‐ litas  hidupnya.  Namun  benarkah  kualitas  hidup bisa dipenuhi dengan kerusakan ling‐ kungan hidup dari akibat kebijakan pemba‐ ngunan tersebut. Contoh kasus yang dikemu‐ kakan oleh  Irianto (2008) dalam artikel yang  dimuat di Harian Kompas tanggal 2 Januari  2008 menyebutkan bencana banjir yang lebih  dashyat akan terjadi pada bulan Januari 2008.  Argumen  yang  dikemukakan  didasarkan  pada  prakiraan  BMG,  hujan  dengan  inten‐ sitas  lebih  tinggi disertai gelombang pasang  laut berpeluang terjadi. Kondisi  ini diperbu‐ ruk dengan degradasi kualitas daerah aliran  sungai yang bergeser dari kritis menjadi bere‐ siko tinggi.  Pendapatan  nasional  per  kapita  akan  meningkat  tidak  akan  menjamin  manusia  bisa  mencapai  kesejahteraan.  Pendapatan  individu yang tinggi tapi manusia tetap saja  tidak  bisa  menikmati  kualitas  hidup  yang  baik.  Pola  pikir  kapitalis  jika  digambarkan   tampak pada Gambar 5.  Peran  IPTEK  pada  awalnya  diciptakan  untuk  digunakan  untuk  mengeksploitasi  sumber  daya  alam  dan  lingkungan  sesuai  dengan  kebutuhan  manusia.  Namun  bagi  manusia  kapitalis,  IPTEK  dimanfaatkan  secara  objektif  apa  adanya,  dengan  tanpa  mempertimbangkan  hakikat  ontologis  dan  etis (Suhartono, 2005). Pada Gambar 5 di atas  terlihat  bahwa  para  pemilik  modal  mampu  membeli dan menggunakan teknologi untuk  semakin memperbesar kekayaannya, semen‐ tara  sisi yang lain kaum miskin/pekerja tetap  dengan keterbatasannya. Kondisi ini menga‐ kibatkan eksploitasi sumber daya alam oleh  para pemilik modal karena keserakahan dan  juga  oleh  para  kaum  miskin/pekerja  karena  keterbatasan  mereka.  Sekali  lagi  lingkungan  menjadi  pihak  yang  dirugikan  oleh  kedua  belah pihak.  Mengapa keserakahan dan  juga keterba‐ tasan  para  pekerja/kaum  miskin  menyebab‐ kan degradasi  lingkungan? Watak keseraka‐ han  adalah  watak  bawaan  dari  manusia,  dalam sistem kapitalis sifat bawaan tersebut  dibiarkan  berkembang  tanpa  ada  upaya  untuk  dikendalikan.  Peran  media  yang  menyajikan  kesombongan  dan  kemewahan  akhirnya membuat para kaum miskin/pekerja  merasa  termarginalisasi  dan  merasa  dirugi‐ kan tapi tidak berdaya.  Gaya  hidup  yang  terlanjur  hedonistik  inilah yang mempercepat kerusakan  lingku‐ ngan. Arti dan fungsi kebutuhan pokok ber‐ geser menjadi sekunder dan sebaliknya kebu‐ tuhan sekunder berfungsi sebagai kebutuhan  pokok. Suhartono  (2005)  memberikan  contoh  pengadaan  makanan  dan  minuman  dari  kesehatan menjadi kelezatan. Model pakaian,  model  perumahan,  model  peralatan  hidup  lainnya berubah menaidi kemewahan. Inilah  yang  menjadi  ukuran  harga  diri  seseorang  sebagai manusia.  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 99 ‐ 109 106  Produk  Domestik  Bruto  Hijau  (PDB  Hijau/Green  GDP).  Pembangunan  ekonomi  dalam arti sempit dapat diukur dari pertum‐ buhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diu‐ kur  dari  pertambahan  PDB.  Jika  PDB  me‐ ningkat maka dapat diartikan bahwa  terjadi  pertumbuhan ekonomi. Upaya meningkatkan  PDB  tanpa  memperhatikan  masalah  lingku‐ ngan sering disebut sebagai PDB coklat atau  (Brown GDP). Di sebagian besar negara‐nega‐ ra dunia ketiga pembangunan ekonomi ma‐ sih sering diukur dari PDB coklat ini.  Jika tujuan akhir dari pembangunan ada‐ lah kesejahteraan maka perlu dipertanyakan  kembali  apakah  tujuan  pembangunan  terse‐ but dapat dicapai dari peningkatan PDB saja.  Peningkatan PDB berarti kapasitas produksi  nasional meningkat secara agregatif. Perma‐ salahan  apakah  peningkatan  kapasitas  pro‐ duksi  tersebut  ternyata  menimbulkan  masa‐ lah‐masalah  degradasi  lingkungan  dalam  metode PDB coklat hal tersebut tidak diper‐ hitungkan.  PDB  hijau  adalah  pengembangan  lebih  Gambar 5. Hubungan antara Sistem Ekonomi Kapitalis dan Degradasi Lingkungan  Mampukah PDB Hijau ... (Suryanto)  107 lanjut dari PDB coklat, PDB hijau adalah ko‐ reksi  dari  konsep  PDB  coklat  yang  tidak  mengakomodasi  kegagalan  pasar.  Model  PDB  coklat  adalah  representasi  dari  teori  ekonomi  pasar,  menurut  Suparmoko  dan  Maria  (2000)  produsen  harus  membayar  se‐ mua biaya material dan jasa yang digunakan  untuk  memproduksi  output  termasuk  pem‐ buangan  limbah.  Secara  sama  konsumen  yang membeli barang  tersebut  juga memba‐ yar semua biaya tersebut termasuk pembua‐ ngan limbah. Dalam dunia nyata hal tersebut  tidak berlaku, pihak produsen maupun kon‐ sumen  sama‐sama  tidak  mau  menanggung  dampak  dari  tindakan  ekonominya.  Dalam  teori  ekonomi  inilah  yang  disebut  oleh  eks‐ ternalitas.   Beberapa  kelemahan  PDB  coklat  dalam  mengukur  kesejahteraan  (Suparmoko,  2006):  (1)  Mengukur  kegiatan  ekonomi  bukan  kesejahteraan ekonomi, (2) Biaya pencegahan  kerusakan  dan  perbaikan  lingkungan  dihi‐ tung  sebagai  pendapatan,  (3)  Berkurangnya  sumber daya alam dan rusaknya lingkungan  tidak tampak, dan (4) Struktur perekonomian  bersifat semu.  Berdasarkan hal  tersebut PBB dan world  bank telah membangun sebuah alternatif indi‐ kator  secara  makro  dari  perubahan  lingku‐ ngan  dan  pendapatan  dan  output.  Sebagai  hasil dari usaha tersebut Statistical Division of  the  United  Nations  (UNSTAT),  mempublika‐ sikan  handbook  System  of  national  account  (SNA)  pada  tahun  1993  yang  menyediakan  konsep  dasar  dalam  mengimplementasikan  System for Integrated Environmental and Econo‐ mic  Accounting  (SEEA)  dan  perubahan  ling‐ kungan pada GDP (Green GDP) yang mengi‐ lustrasikan hubungan antara lingkungan ala‐ miah  dan  perekonomian.  Menanggapi  reko‐ mendasi dari PBB, Economic Planning Agency  of  Japan  (EPA)  menerbitkan  untuk  pertama  kali  pada  tahun  1995  estimasi  SEEA  dan  Green GDP untuk tahun 1985 dan tahun 1990.   Dalam  definisi  tersebut  dapat  difahami  bahwa  konsep  pembangunan  berkelanjutan  didirikan  atau  didukung  oleh  3  pilar,  yaitu  ekonomi, sosial, dan lingkungan. ketiga pen‐ dekatan tersebut bukanlah pendekatan yang      Sumber: Askary, 2005  Gambar 6. Pilar Pembangunan Berkelanjutan  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 99 ‐ 109 108  berdiri  sendiri‐sendiri,  tetapi  saling  terkait  dan  mempengaruhi  satu  sama  lain.  Secara  skematis, keterkaitan antara 3 komponen di‐ maksud  dapat  digambarkan  pada  bagan  di  atas (Munasinghe‐Cruz, 1995).  KESIMPULAN  Keberadaan  PDB  hijau  setidaknya  menjadi  media  untuk  mengurangi  tekanan  terhadap  lingkungan.  Karakteristik  PDB  hijau  yang  mengakomodasi  degradasi  lingkungan  dan  deplesi Sumber Daya Alam akan mengoreksi  kelemahan‐kelemahan  dari  PDB  coklat.  Jika  PDB  hijau  diberlakukan  maka  apa  yang  dikhawatirkan Limits to Growth dan penuru‐ nan  indeks  kesejahteraan  bisa  ditunda.  Diskusi  mengenai  mode‐model  pembangu‐ nan ekonomi telah menempatkan pembangu‐ nan  berkelanjutan  sebagai  tujuan.  Namun  apakah skenario yang akan ditempuh memi‐ liki konsekuensi‐konsekuensi tersendiri.   Dua pilihan tersebut adalah sebagai beri‐ kut:  (1)  Pilihan  menggunakan  PDB  coklat.  Pilihan  menggunakan  PDB  coklat  bisa  juga  disebut  pilihan  kebijakan  ex  post,  kebijakan  mengutamakan  pertumbuhan  ekonomi  ke‐ mudian    menjadikan  masyarakat  sejahtera.  Sistem  ekonomi  yang  menerapkan  pilihan  kebijakan ini adalah sistem kapitalisme. Pili‐ han ini memungkinkan pertumbuhan ekono‐ mi  tumbuh  cepat  karena  mengesampingkan  konstrain lingkungan. Dampak‐dampak ling‐ kungan  yang  ditimbulkan  dapat  diatasi  dengan  tingginya pendapatan. Namun yang  perlu  dicatat  adalah  sering  kali  pilihan  kebijakan  ex  post  ini  menyebabkan  deplesi  SDA dan degradasi  lingkungan yang parah.  Biaya recovery jauh lebih besar daripada man‐ faat yang diperoleh dari mengejar pertumbu‐ han ekonomi. Kesejahteraan masyarakat pada  pilihan  ini  sering  diukur  dengan  ukuran  material kapitalistik.  (2)  Pilihan  menggunakan  PDB  hijau.  Pilihan  menerapkan  PDB  hijau  menyebabkan  per‐ tumbuhan  ekonomi  menjadi  melambat  di  banding jika menggunakan PDB coklat. PDB  hijau  memiliki  konstrain  daya  lingkungan  karena  tujuan  penerapan  PDB  hijau  adalah  pembangunan  yang  berkelanjutan.  Tingkat  degradasi  lingkungan akan menurun seiring  dengan peningkatan kesadaran akan  lingku‐ ngan. Biaya recovery yang dibutuhkan rendah  dan  bahkan  pada  tingkat  yang  nol  karena  biaya recovery sudah diperhitungkan sebagai  Gambar 7. Pilihan Menggunakan PDB Coklat    Gambar 8. Pilihan Menggunakan PDB hijau  Mampukah PDB Hijau ... (Suryanto)  109 biaya per tahun dalam PDB hijau. Kesejahte‐ raan masyarakat tercapai dengan melakukan  redefinisi mengenai kesejahteraan tersebut.  DAFTAR PUSTAKA  Arrow, K., Bolin, B., Costanza, R., Dasgupta, P., Folke, C., Holling, C. S., Jansson, B.-O., Levin, S., Mäler, K.-G., Perrings, C., & Pimentel, D. 1995. Economic Growth, Carrying Capacity, and the Environment. Science, 268, 520-521. Arsyad, Lincoln, 1988. Ekonomi Pembangunan,  Yogyakarta:  Bagian  Penerbitan  STIE  YKPN.  Askary, M. 2003. “Valuasi Ekonomi dalam Ke‐ bijakan Analisis Mengenai Dampak Ling- kungan Hidup”. Dipresentasikan pada Semi- nar Nasional III Neraca Sumber Daya Alam dan Lingkungan di Baturraden, Purwokerto pada 12-14 Desember 2003. Beckerman, W. 1992. Economic Growth and the Environment: Whose Growth! Whose Envi- ronment? World Development, 20, 481-496. Bhagwati, J. 1993. The Case for Free Trade, Scientific American (pp. 42-49). Daly, H. E. 1977. Steady-state Economics: the Economics of Biophysical Equilibrium and Moral Growth. San Francisco: W.H. Free- man. Djojohadikusumo, Sumitro, 1981. Indonesia dalam Perkembangan Dunia: Kini dan Masa Datang, Jakarta: LP3ES. Ekins, P. 1997. The Kuznets Curve for the Envi‐ ronment and Economic Growth: Examin- ing the Evidence. Environment and Plan- ning A, pp. 29. Georgescu-Roegen, N. 1971. The Entropy Law and the Economic Process. Cambridge, Mass: Harvard University Press. Hettige, H., Lucas, R. E. B., & Wheeler, D. 1992. The Toxic Intensity of Industrial Produc- tion: Global Patterns, Trends and Trade Policy. American Economic Review, 82, 478-481. Hettige, H., Mani, M., & Wheeler, D. 1997. In- dustrial Pollution in Economic Develop- ment: Kuznets revisited. Washington, D.C.: World Bank, Development Research Group. Munasinghe, M and Cruz, W. 1995. “Economy wide Policies and the Environment: Lesson from Experience”, World Bank Environ- ment Paper No 10. Panayotou, T. 1993. Empirical tests and policy Analysis of Environmental Degradation at Different Stages of Economic Development. Geneva: International Labor Office, Tech- nology and Employment Programme. Stagl, Sigrid, 1999. Delinking Economic Growth From Environmental Degradation? A Lit- erature Survey on the Environmental Kuznets Curve Hypothesis, Wirtschaftsuni- versität Wien (Vienna University of Econo- mics and Business Administration). Wiena. Stern, D. I., Common, M. S., & Barbier, E. B. 1996. Economic growth and Environmental Degradation: The environmental Kuznets Curve and Sustainable Development. World Development, 24, 1151-1160. Suhartono, Suparlan. 2005. Filsafat Ilmu Penge- tahuan, Jogjakarta: AR Ruzz. Suparmoko. 2006. PDRB Hijau (Konsep Dan Metodologi), Materi disampaikan pada Pe- latihan Penyusunan PDRB Hijau dan Peren- canaan Kehutanan Berbasis Penataan Ru- ang, Jakarta. Suparmoko dan Maria R Suparmoko, 2000. “Ekonomika Lingkungan”, Edisi pertama, Yogyakarta: BPFE. Todaro. M.P .1994. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.