Microsoft Word - 06-Restiatun _22 hlm_ Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan  Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98  IDENTIFIKASI SEKTOR UNGGULAN DAN KETIMPANGAN   ANTARKABUPATEN/KOTA DI PROVINSI   DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA  Restiatun  1 Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat  Jalan Brigjen H. Hasan Basry, Banjarmasin  Telepon/Fax: (0511) 330 5116,   E‐mail: restiatun@yahoo.com  Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor unggulan di setiap kabupaten/kota di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, analisis disparitas antara kabupaten juga dibahas dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan Location Quotient, Tipologi Klassen, Indeks Williamson, dan Indeks Entropi Theil. Hasil penelitian menunjukkan kecenderungan disparitas ini meningkat dari waktu ke waktu, kota Yogyakarta dalam klasifikasi daerah cepat maju dan cepat tumbuh, sedangkan kabupaten Bantul dan Kulon Progo, termasuk dalam klasifikasi daerah yang relatif terpencil. Provinsi DIY terjadi ketidakseimbangan tren naik. Rasio dihitung dari pendapatan per kapita tertinggi dan terendah di wilayah Provinsi DIY menunjukkan tren perbaikan. Kata kunci: disparitas, Location Quotient, Tipologi Klassen, Indeks Wlliamson Abstract: This study aims to identify the leading sectors in each district/city in the province of Yogyakarta Special Region. In addition, analysis of the disparities between districts was also discussed in this study. This study using Location Quotient approach, Typology Klassen, Williamson index and Theil Entropy Index. The results showed that there is a tendency that this disparity increased over time, the city of Yogyakarta in the regional classification fast forward and fast growing, whereas the districts of Bantul and Kulon Progo, including in relatively remote areas classification. DIY Province rising trend imbalances occur. The calculated ratio of the highest per capita income and lowest regions in the Province of DIY shows the trend of improvement. Keywords: disparity, Location Quotient, Typologi Klassen, Williamson index PENDAHULUAN  Adanya  realitas  kesenjangan  regional  dan  distribusi spasial atas sumber daya merupa‐ kan dampak dari proses pembangunan yang  tidak merata. Pembangunan sarana dan pra‐ sarana  umumnya  lebih  diutamakan  untuk  daerah  dengan  kepadatan  penduduk  yang  tinggi. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa  ketimpangan antardaerah erat kaitannya de‐ ngan  ketimpangan  penyebaran  penduduk.  Daerah‐daerah  yang  padat  penduduk  dan  dengan  sarana/prasarana  yang  memadai  akan  menjadi  pusat  kegiatan  ekonomi,  aki‐ batnya  penyebaran  kegiatan  ekonomi  men‐ jadi  tidak  merata  dan  berdampak  pada  ke‐ senjangan  pertumbuhan  dan  peningkatan  kesejahteraan  antardaerah.  Perbedaan  laju  pertumbuhan  antardaerah  ini  akan  menye‐ babkan terjadinya kesenjangan kemakmuran  dan kemajuan antardaerah.  Premis dari agenda pertumbuhan adalah  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 78  bahwa  pertumbuhan  ekonomi  merupakan  kunci untuk mengatasi masalah kemiskinan,  menurunkan  tingkat  pertumbuhan  pendu‐ duk,  melindungi  lingkungan  dan  memper‐ kuat tatanan sipil. Premis ini menjadi sangat  ironis karena di banyak negara pertumbuhan  ekonomi  tetap  saja  menyimpan  persoalan  yang  krusial  yang  meliputi  kemiskinan,  pe‐ ngangguran  dan  ketimpangan  baik  secara  sosial maupun ekonomi. Ketimpangan yang  sering terjadi secara sosial ataupun ekonomi  ini  akan  menciptakan  kelompok‐kelompok  penduduk yang  tidak memiliki kemampuan  untuk  mengakses  sumberdaya‐sumberdaya  pembangunan.   Model pertumbuhan Harrod‐Domar yang  didasarkan  pada  prinsip‐prinsip  ekonomi  Neoklasik  berasumsi  bahwa  pertumbuhan  ekonomi  dari  kenaikan  output  nasional  me‐ rupakan  indikator  adanya  kenaikan  tingkat  kesejahteraan  masyarakat,  melalui  pencip‐ taan lapangan kerja baru karena adanya tam‐ bahan atau perluasan  investasi serta adanya  efek penetesan ke bawah  (trickle down). Wa‐ laupun  terdapat bukti empiris yang menun‐ jukkan  bahwa  terdapat  hubungan  positif  antara  pertumbuhan  ekonomi  dan  pengura‐ ngan  tingkat  kemiskinan,  namun  lebih  ba‐ nyak bukti yang menunjukkan bahwa faktor  utama  dalam  penentuan  distribusi  penda‐ patan  adalah  struktur  ekonomi  dan  bukan  tingkat atau laju pertumbuhan ekonomi.  Banyak  negara  sedang  berkembang  ter‐ masuk  Indonesia  mengalami  pertumbuhan  yang  cukup  tinggi  tetapi  kemiskinan  belum  bisa  dihilangkan,  ketimpangan  pendapatan  dan tingkat pengangguran masih relatif ting‐ gi. Hal ini disebabkan karena tingkat pertum‐ buhan ekonomi yang tinggi tersebut dicapai  dengan  penerapan  teknologi  padat  modal  atau  pertumbuhan  tersebut  dihasilkan  oleh  aktivitas  investasi  sejumlah  kecil  investor  atau pemilik modal atau konglomerat.  Terjadinya pola kemitraan antara peme‐ rintah daerah dan sektor swasta sangat diper‐ lukan  dalam  proses  pembangunan  daerah.  Kemitraan seperti ini akan berdampak positif  terhadap pengelolaan sumberdaya yang dila‐ kukan oleh pemerintah daerah dan masyara‐ kat  sehingga  akan  tercipta  lapangan  kerja  baru dan merangsang perkembangan kegia‐ tan ekonomi serta pada gilirannya akan terja‐ di pertumbuhan ekonomi dalam wilayah ter‐ sebut. Keberhasilan proses pembangunan da‐ pat  dilihat  dari  beberapa  tolok  ukur,  antara  lain  pertumbuhan  ekonomi,  struktur  ekono‐ mi serta semakin kecilnya ketimpangan pen‐ dapatan  antarpenduduk,  antardaerah  dan  antarsektor. Tetapi kenyataannya pertumbu‐ han  ekonomi  tidak  selalu  diikuti  dengan  pemerataan.   Pembangunan tidak selalu berjalan seca‐ ra sistemik. Beberapa daerah mengalami per‐ tumbuhan yang cepat, sedangkan daerah lain  mengalami pertumbuhan yang  lebih  lambat.  Pertumbuhan  yang  tidak  merata  dan  distri‐ busi  pendapatan  yang  tidak  berpihak  pada  kesejahteraan masyarakat merupakan kondisi  mayoritas pembangunan daerah di Indonesia  saat  ini.  Hal  ini  mungkin  disebabkan  oleh  adanya kecenderungan peranan modal yang  lebih memilih daerah perkotaan atau daerah  yang telah memiliki fasilitas seperti prasara‐ na  perhubungan  (transportasi),  telekomuni‐ kasi, jaringan listrik, dan lain‐lain.  Untuk dapat tumbuh dengan cepat, sua‐ tu  daerah  perlu  memiliki  satu  atau  lebih  pusat‐pusat  pertumbuhan  regional  yang  memiliki potensi paling kuat. Apabila daerah  ini  kuat  maka  akan  terjadi  perembetan  per‐ tumbuhan  bagi  daerah‐daerah  lemah.  Per‐ tumbuhan  ini  akan  berdampak  positif  bagi  daerah‐daerah di sekitarnya. Diharapkan per‐ tumbuhan yang cepat di pusat pertumbuhan  dapat menetes ke bawah (trickle down effect),  yaitu  adanya  pertumbuhan  di  daerah  yang  Identifikasi Sektor Unggulan... (Restiatun)  79 kuat  akan  menyerap  potensi  kerja  atau  mungkin daerah yang lemah dapat mengha‐ silkan  produk  yang  sifatnya  komplementer  dengan produk yang dihasilkan daerah kuat.  Selain  itu,  perlu  juga  ditentukan  hubungan  pusat  dan  daerah  yang  memiliki  potensi  paling kuat sehingga dapat memicu pertum‐ buhan  ekonomi  di  daerah  lain  yang  lemah  (Wiyadi, 2003).  Pertumbuhan  ekonomi  yang  ditandai  dengan  peningkatan  Produk  Domestik  Re‐ gional Bruto (PDRB) diperlukan guna mem‐ percepat struktur perekonomian yang berim‐ bang  dan  dinamis  bercirikan  industri  yang  kuat dan maju, pertanian yang tangguh serta  memiliki  basis  pertumbuhan  sektoral  yang  seimbang. Pertumbuhan ekonomi juga diper‐ lukan  untuk  menggerakkan  dan  memacu  pembangunan  dalam  rangka  meningkatkan  pendapatan  masyarakat  dan  mengatasi  ke‐ senjangan sosial ekonomi.   Provinsi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  terdiri  atas  empat  kabupaten,  yaitu  kabu‐ paten  Sleman,  kabupaten  Bantul,  kabupaten  Kulon  Progo  dan  kabupaten  Gunung  Kidul  serta satu kota, yakni kota Yogyakarta. Dari  kelima  kabupaten  kota  tersebut,  kabupaten  Kulon  Progo  merupakan  kabupaten  paling  miskin, karena memiliki pendapatan daerah  yang sangat kecil dibandingkan keempat ka‐ bupaten/kota lainnya.   Tabel 1, Tabel 2, Tabel 3, dan Tabel 4 me‐ nyajikan data seluruh kabupaten/kota di pro‐ vinsi  DIY  terkena  dampak  krisis  ekonomi,  tetapi dampak  terbesar dan  terlama dialami  oleh  kabupaten  Kulon  Progo,  karena  ketika  pertumbuhan seluruh kabupaten/kota negatif  pada  tahun  1998,  kabupaten  Kulon  progo  mengalami  pertumbuhan  negatif  terbesar.  Tahun  1999,  kota  Yogyakarta,  kabupaten  Sleman,  kabupaten  Bantul,  dan  kabupaten  Gunung  Kidul  mulai  terjadi  recovery  ekono‐ mi,  di  mana  pertumbuhan  ekonomi  mulai  positif,  kabupaten  Kulon  Progo  masih  me‐ ngalami  pertumbuhan  negatif  sebesar  ‐10%.  Hal ini mungkin disebabkan oleh rendahnya  tingkat  pembangunan  di  kabupaten  Kulon  Progo. Perbedaan tingkat pembangunan akan  membawa  dampak  pada  perbedaan  tingkat  kesejahteraan  antardaerah  yang  pada  akhir‐ Tabel 1. PDRB atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 Kabupaten/kota    di Provinsi DIY Tahun 1993‐2003 (Juta Rupiah)        kab/kota    tahun  Kota  Yogyakarta  Kabupaten  Sleman  Kabupaten  Bantul  Kabupaten  Kulon  Progo  Kabupaten  Gunung  Kidul  1993  1,138,284  1,139,135  701,852  399,454  750,904  1994  1,227,679  1,235,258  757,813  408,785  807,057  1995  1,358,904  1,336,030  812,682  415,042  865,434  1996  1,479,654  1,446,210  867,199  436,330  925,738  1997  1,550,159  1,497,330  893,352  447,571  960,495  1998  1,378,655  1,372,071  809,932  384,783  890,348  1999  1,393,312  1,398,538  820,611  346,061  905,619  2000  1,443,185  1,449,351  845,718  352,854  930,497  2001  1,489,258  1,507,369  871,970  360,577  950,887  2002  1,540,801  1,578,866  903,932  369,546  968,908  2003  1,602,184  1,654,682  943,757  381,842  989,017    Sumber: Produk Domestik Regional Bruto, BPS, beberapa edisi  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 80  nya  akan  menyebabkan  ketimpangan  regio‐ nal yang semakin besar.   Pola pembangunan suatu daerah sangat  ditentukan  oleh  visi  dan  misi  dari  masing‐ masing  daerah.  Adapun  visi  dan  misi  dari  provinsi DIY dan kelima kabupaten/kotanya  sebagai berikut:   Provinsi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta.  Visi  Pembangunan  Daerah:  “Terwujudnya  pembangunan  regional  sebagai  wahana  menuju pada kondisi Daerah Istimewa Yog‐ yakarta  pada  Tahun  2020  sebagai  pusat  pendidikan, budaya dan Daerah tujuan wisa‐ ta terkemuka, dalam lingkungan masyarakat  Tabel 2. Pertumbuhan PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi DIY (dalam %) Kab/kota  1994  1995  1996  1997  1998  1999  2000  2001  2002  2003  Yogyakarta  7.85  10.69  8.89  4.76  ‐11.06  1.06  3.58  3.19  3.46  3.98  Sleman  8.44  8.16  8.25  3.53  ‐8.37  1.93  3.63  4.00  4.74  4.80  Bantul  7.97  7.24  6.71  3.02  ‐9.34  1.32  3.06  3.10  3.67  4.41  Kulonprogo  2.34  1.53  5.13  2.58  ‐14.03  ‐10.06  1.96  2.19  2.49  3.33  Gunung Kidul  7.48  7.23  6.99  3.75  ‐7.30  1.72  2.75  2.19  1.90  2.08    Sumber: Produk Domestik Regional Bruto, BPS, beberapa edisi, diolah.    Tabel 3. PDRB Perkapita atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 Kabupaten/kota      di Provinsi DIY Tahun 1993‐2003        kab/kota  tahun  Kota  Yogyakarta  Kabupaten  Sleman  Kabupaten  Bantul  Kabupaten  Kulon Progo  Kabupaten  Gunung Kidul  1993  2787268  1402016  975433  1073464  1143545  1994  3017456  1497636  1040780  1098864  1225207  1995  3352703  1595721  1103023  1116067  1309777  1996  3664696  1701712  1163243  1173776  1396788  1997  3854305  1735830  1184360  1204550  1444903  1998  3441432  1567191  1061305  1036076  1335443  1999  3491939  1573971  1062872  932315  1354421  2000  3631586  1607291  1082784  951179  1387675  2001  3762891  1647252  1103600  972619  1414122  2002  3909273  1700303  1130995  997494  1436968  2003  4082081  1756132  1167405  1031442  1462837  Sumber: Produk Domestik Regional Bruto, BPS, beberapa edisi    Tabel 4. Pertumbuhan PDRB Perkapita Kabupaten/Kota di Provinsi DIY (dalam %)  Kab/kota  1994  1995  1996  1997  1998  1999  2000  2001  2002  2003  Yogyakarta  8.26  11.11  9.36  5.17  ‐10.71  1.47  4.00  3.62  3.89  4.42  Sleman  6.82  6.55  6.64  2.00  ‐9.72  0.43  2.12  2.49  3.22  3.28  Bantul  6.70  5.98  5.46  1.82  ‐10.39  0.15  1.87  1.92  2.48  3.22  Kulonprogo  2.37  1.57  5.17  2.62  ‐13.99  ‐10.01  2.02  2.25  2.56  3.40  Gunung Kidul    7.14  6.90  6.64  3.44  ‐7.58  1.42  2.46  1.91  1.62  1.80  Sumber: Produk Domestik Regional Bruto, BPS, beberapa edisi, diolah.   Identifikasi Sektor Unggulan... (Restiatun)  81 yang  maju,  mandiri,  sejahtera  lahir  batin  didukung  oleh  nilai‐nilai  kejuangan  dan  pemerintah yang bersih dalam pemerintahan  yang  baik  dengan  mengembangkan  Ketaha‐ nan Sosial Budaya dan sumberdaya berkelan‐ jutan.”  Kondisi yang secara bertahap ingin dica‐ pai dengan ditetapkannya visi tersebut, anta‐ ra  lain:  (1) Terbentuk citra Daerah  Istimewa  Yogyakarta  sebagai  wilayah  pengembangan  sosiokultural  dan  sosioekonomi  yang  dina‐ mis dan inovatif, berbasis pada ilmu pengeta‐ huan dan teknologi maju serta moral masya‐ rakat  yang  berlandaskan  iman  dan  taqwa  kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) Tersedia‐ nya  lapangan kerja yang memberikan peng‐ hasilan  yang  cukup  bagi  masyarakat  secara  adil dan merata, (3) Terciptanya tingkat kese‐ hatan dan gizi masyarakat yang cukup baik,  sehingga  sumber  daya  manusia  yang  maju,  mandiri  dan  sejahtera  dalam  lingkungan  yang sehat, sehingga dapat diandalkan dalam  persaingan  global,  (4)  Terciptanya  kondisi  yang  kondusif  bagi  partisipasi  masyarakat  secara luas dalam pembangunan daerah yang  bertumpu pada tata nilai budaya serta sum‐ berdaya  yang  berkelanjutan,  dengan  me‐ ngembangkan  kerukunan  hidup  antarkom‐ ponen masyarakat, baik antara agama, suku  dan budaya, (5) Terciptanya masyarakat yang  menghormati  dan  menegakkan  Hak  Azasi  Manusia (HAM) dalam segala aspek kehidu‐ pan,  dan  (6)  Terlaksananya  pelayanan  pe‐ merintah yang handal, efisien dan transparan  di dalam suasana kehidupan yang aman dan  tenteram dalam kerangka otonomi daerah.  Misi Pembangunan Daerah: Berdasarkan  visi pembangunan serta kondisi daerah yang  diharapkan  akan  terbentuk  secara  bertahap  sepeti tersebut di atas, maka ditetapkan misi  pembangunan  daerah  sebagai  berikut:  (1)  Menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta se‐ bagai Pusat Pendidikan Terkemuka di Indo‐ nesia  yang didukung  oleh  masyarakat  yang  berilmu pengetahuan dan  teknologi (IPTEK)  tinggi, (2) Menjadikan Daerah Istimewa Yog‐ yakarta sebagai Pusat Kebudayaan Terkemu‐ ka  di  Indonesia  dengan  Kraton  Ngayogya‐ karta Hadiningrat sebagai Pusat Budaya, dan  bertaqwa  (IMTAQ),  serta  mampu  memilih  dan  menyerap  Budaya  Modern  yang  positif  dan  tetap  melestarikan  Budaya  Daerah,  (3)  Menjadikan  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  sebagai  daerah  otonom  yang  maju  dan  didukung  oleh  aparatur  yang  terpercaya,  profesional,  transparan,  dan  akuntabel,  me‐ nuju penyelenggaraan kepemerintahan yang  baik, demokratis dan berlandaskan pada su‐ premasi  hukum  dalam  bingkai  Negara  Ke‐ satuan  Republik  Indonesia,  (4)  Menjadikan  Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai wilayah  pembangunan yang terpadu, komplementatif  dan  sinergi  antarwilayah  dan  antarsektor  yang efisien dan efektif serta didukung peli‐ batan secara langsung dan aktif peran masya‐ rakat  dalam  pembangunan  daerah,  melalui  ketahanan  sosial  budaya  dan  ketahanan  sumberdaya  yang  berwawasan  lingkungan,  untuk meningkatkan kesejahteraan masyara‐ kat, (5) Menjadikan Daerah Istimewa Yogya‐ karta  sebagai  Daerah  Tujuan  Wisata  MICE  (Meeting  Incentive,  Conference  and  exibition)  utama  di  Indonesia  dan  sekaligus  mengem‐ balikan  posisi  DIY  sebagai  Daerah  Tujuan  Wisata  kedua  setelah  Bali,  yang  didukung  posisi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  sebagai  simpul  strategis  dan  penting  dalam  perhu‐ bungan  dan  komunikasi  di  Pulau  Jawa.  (6)  Menjadikan  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  sebagai Wilayah pengembangan  Industri se‐ dang  dan  kecil  non‐polutan  serta  industri  rumah  tangga  modern  yang  didukung  oleh  pengembangan  teknologi  tepat  guna  dan  sepadan  seni  daerah  dalam  rangka  mendu‐ kung  pengembangan  pariwisata  daerah  dan  permintaan pasar global, (7) Menjadikan Dae‐ rah  Istimewa  Yogyakarta  sebagai  wilayah  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 82  pengembangan  pertanian  dalam  arti  luas  (Pertanian  tanaman  pangan,  perkebunan,  peternakan, perikanan dan kehutanan) yang  didukung  oleh  berkembangnya  perekono‐ mian  rakyat  yang  berkualitas  dalam  rangka  memenuhi tuntutan pasar lokal, regional dan  global dengan produk Agrobisnis dan Agro‐ industri yang kompetitif.   Kota  Yogyakarta.  Visi  Pembangunan  Daerah:  “Terwujudnya  Kota  Yogyakarta  sebagai  Kota  Pendidikan  yang  berkualitas,  Pariwisata  yang  berbudaya,  pertumbuhan  dan pelayanan  jasa yang prima, ramah  ling‐ kungan  serta  masyarakat  madani  yang  diji‐ wai semangat Mangayu Hayuning Bawana”  Misi  Kota  Yogyakarta:  (1)  Menjadikan  dan  mewujudkan  lembaga  pendidikan  for‐ mal,  non  formal  dan  sumber  daya  manusia  yang  mampu  menguasai  ilmu  pengetahuan  dan tehnologi serta kompetitif dalam rangka  mengembangkan  pendidikan  yang  berkuali‐ tas,  (2)  Menjadikan  dan  mewujudkan  pari‐ wisata,  seni  dan  budaya  sebagai  unggulan  daerah  dalam  rangka  mengembangkan  kota  sebagai kota pariwisata yang berbudaya,  (3)  Menjadikan  dan  mewujudkan  kota  Yogya‐ karta sebagai motor penggerak pertumbuhan  dan pelayanan  jasa yang prima untuk wila‐ yah  provinsi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  dengan  mengembangkan  sistem  ekonomi  kerakyatan, (4) Menjadikan dan mewujudkan  masyarakat yang menyadari arti pentingnya  kelestarian  lingkungan  yang  dijiwai  sema‐ ngat ikut memiliki/handarbeni, dan (5) Men‐ jadikan dan mewujudkan masyarakat demo‐ krasi  yang  dijiwai  oleh  sikap  kebangsaan  Indonesia yang berketuhanan, berkemanusia‐ an yang adil dan beradab, berkerakyatan dan  berkeadilan  sosial  dengan  semangat  persa‐ tuan dan kesatuan.  Kabupaten  Sleman.  Visi  Pembangunan  Daerah:  “Perwujudan  keadaan  masyarakat  yang maju dan tercukupi kebutuhan lahiriah  dan batiniah yang ditandai dengan mening‐ katnya kualitas hidup dan kehidupan masya‐ rakatnya.”  Misi Pembangunan Daerah: (1) Menjaga  terselenggaranya  tata  pemerintahan  yang  baik   Misi ini merupakan upaya Pemerintah  kabupaten Sleman dalam terus menjaga cita‐ cita mulia yang memerlukan dukungan dari  seluruh komponen masyarakat dalam pelak‐ sanaan  pemerintahan  dan  pembangunan  yang  mengedepankan  partisipasi,  transpa‐ ransi, responsibilitas, berorientasi pada kon‐ sensus  bersama,  adil,  efektif,  efisien,  akun‐ tabel, dan penegakan supremasi hukum seba‐ gai sarana untuk menciptakan keamanan dan  ketertiban  masyarakat  serta  kehidupan  ber‐ masyarakat yang demokratis. Penegakan su‐ premasi  hukum  dilakukan  untuk  menjaga  norma/kaidah  hukum  dalam  masyarakat  serta  mempertahankan  nilai‐nilai  sosial  dan  rasa keadilan masyarakat. Misi  ini menjiwai  implementasi misi‐misi yang lain.  (2) Menja‐ ga  keberlanjutan  kegiatan  perekonomian  masyarakat. Misi  ini merupakan upaya pen‐ capaian  tujuan  pembangunan  Kabupaten  Sleman  dalam  menciptakan  kesejahteraan  masyarakat terutama kesejahteraan di bidang  ekonomi yang dicapai melalui pertumbuhan  ekonomi  yang  stabil  dan  berkelanjutan  de‐ ngan  mekanisme  pasar  yang  berlandaskan  persaingan sehat serta memperhatikan nilai‐ nilai keadilan, kepentingan sosial, dan berwa‐ wasan lingkungan, (3) Meningkatkan kualitas  hidup  dan  kehidupan  masyarakat.  Misi  ini  merupakan upaya Kabupaten Sleman dalam  membangun  sumberdaya  manusia  yang  sehat, cerdas, produktif, kompetitif, dan ber‐ akhlak mulia sebagai kunci dari keberhasilan  pelaksanaan misi yang lainnya. Upaya terse‐ but  dilakukan  melalui  peningkatan  akses,  pemerataan,  dan  relevansi  mutu  pelayanan  dasar.  Kabupaten  Bantul.  Visi  Pembangunan  Daerah:  “Mewujudkan  Peningkatan  Pelaya‐ Identifikasi Sektor Unggulan... (Restiatun)  83 nan Masyarakat Melalui Pelaksanaan Pemba‐ ngunan  Prasarana  dan  Sarana  Bidang  Bina  Marga, Cipta Karya dan Daerah di kabupaten  Bantul.”  Visi  tersebut  mengandung  pengertian  bahwa  untuk  mewujudkan  peningkatan  pe‐ layanan  kepada  masyarakat  Bantul,  Dinas  Pekerjaan  Umum  harus  melaksanakan  pro‐ gram pembangunan Prasarana dan Sarana di  bidang  Bina  Marga  dan  Cipta  Karya  secara  berkesinambungan  sesuai  dengan  perenca‐ naan  strategis  selama  5  tahun  (Tahun  2006  s/d 2010).   Misi Pembangunan Daerah: (1) Mening‐ katkan pelayanan di sektor transportasi, sub  sektor  Prasarana  Jalan  di  kabupaten  Bantul,  (2) Meningkatkan pelayanan di sektor Peru‐ mahan  dan  Permukiman  serta  pengemba‐ ngan  wilayah  secara  terpadu  di  kabupaten  Bantul,  dan  (3)  Mendukung  peningkatan  pelayanan  masyarakat  pada  sektor  Keseha‐ tan, Pendidikan, Perdagangan dan Peningka‐ tan Kinerja Aparatur Pemerintah di kabupa‐ ten Bantul.  Kabupaten  Kulon  Progo.  Visi  Pemba‐ ngunan  Daerah:  “Membangun  Kulon  Progo  dalam kebersamaan menuju penguatan eko‐ nomi  lokal  berbasis  ekonomi  kerakyatan  demi mewujudkan masyarakat Kulon Progo  yang mandiri, aman, sejahtera, dinamis ber‐ landaskan iman dan taqwa.”  Misi Pembangunan Daerah: Berdasarkan  visi  tersebut  yang  didukung  dengan  keber‐ hasilan  etos  kerja  ”tirta  marga  saras”  pada  periode  pembangunan  lima  tahun  sebelum‐ nya  dan  dengan  semangat  etos  kerja  yang  baru  ”membangun  desa  menumbuhkan  kota” maka misi pembangunan jangka mene‐ ngah kabupaten Kulon Progo adalah sebagai  berikut:  (1) Meningkatkan kapasitas dan ke‐ berpihakan kelembagaan pemerintah kepada  rakyat/masyarakat  untuk  mencapai  tata  ke‐ lola  pemerintahan  yang  baik  (good  govern‐ ance), (2) Meningkatkan profesionalisme dan  jiwa entrepreneur aparatur, (3)  Meningkatkan  pemberdayaan  masyarakat  dan  desa,  (4)  Meningkatkan kesejahteraan sosial masyara‐ kat, (5) Mengembangkan perekonomian rak‐ yat  terutama  agribisnis  dan  pariwisata,  (6)  Memfasilitasi  pengembangan  dunia  usaha  dan  investasi  daerah,  (7)  Meningkatkan  ke‐ tentraman, ketertiban, keimanan, dan ketaq‐ waan,  dan  (8)  Melestarikan  budaya  dan  melestarikan fungsi lingkungan hidup.  Kabupaten Gunung Kidul. Visi Pemba‐ ngunan Daerah: “Menjadi Pemerintah Daerah  Yang Baik dan Bersih, Responsive, untuk Men‐ dukung  Terwujudnya  Masyarakat  Mandiri  dan Kompetitif.”  Misi  Pembangunan  Daerah:  (1)  Mewu‐ judkan  referensi  birokrasi:  Meningkatkan  kapasitas  perangkat  daerah,  Meningkatkan  kemampuan  pengelolaan  keuangan  daerah,  Meningkatkan  kapasitas  desa  dalam  melak‐ sanakan otonomi;  (2) Mewujudkan pengem‐ bangan SDM masyarakat: Meningkatkan kua‐ litas  SDM  masyarakat,  Meningkatkan  kese‐ jahteraan  rakyat;  (3)  Mewujudkan  pengem‐ bangan dan pemanfaatan sumber daya alam  wilayah  yang  berwawasan  lingkungan  de‐ ngan  pendekatan  kewilayahaan:  Meningkat‐ kan  pemanfaatan  dan  nilai  tambah  sumber  daya  alam,  Mewujudkan  keserasian  peman‐ faatan dan pengendalian ruang dalam suatu  sistem  wilayah  pembangunan  yang  berke‐ lanjutan;  (4)  Mewujudkan  pengembangan  dunia  usaha  dan  koperasi:  Meningkatkan  pertumbuhan  dan  ketahanan  ekonomi  dae‐ rah,  Meningkatkan  peran  serta  masyarakat  dan  swasta  dalam  pengembangan  dunia  usaha  dan  koperasi,  Meningkatkan  daya  saing produk barang dan jasa.  Dari  data‐data  pada  tabel  di  atas  juga  terlihat  bahwa  di  provinsi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  mengalami  ketimpangan  antar‐ kabupaten, dimana ada kabupaten yang me‐ Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 84  miliki pendapatan relatif sangat tinggi seperti  kota Yogyakarta dan kabupaten Sleman, serta  terdapat  kabupaten  yang  memiliki  penda‐ patan sangat rendah, yaitu kabupaten Kulon  Progo. Agar   daerah‐daerah yang  lemah da‐ pat mengejar ketertinggalannya, maka perlu  dianalisis  kabupaten  mana  di  provinsi  DIY  tersebut  yang  berpotensi  kuat  dalam  pe‐ ngembangannya sehingga akan ada rembetan  pertumbuhan  bagi  kabupaten‐kabupaten  di  sekitarnya serta perlu dianalisis potensi apa  yang  memungkinkan  untuk  dikembangkan  dalam  rangka  pengembangan  ekonomi  dae‐ rah.  Tujuan  dari  penelitian  ini  adalah  untuk  mengidentifikasi  pola  dan  struktur  pereko‐ nomian  kabupaten/kota  di  provinsi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta,  untuk  menganalisis  kesesuaian  antara  visi  dan  misi  kabupa‐ ten/kota di provinsi Daerah Istimewa Yogya‐ karta  dengan  potensi  masing‐masing,  untuk  menganalisis ketimpangan antarkabupaten di  provinsi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta,  dan  untuk  mengetahui  kabupaten‐kabupaten  mana saja di provinsi Daerah Istimewa Yog‐ yakarta  yang  berpotensi  kuat  untuk  dikem‐ bangkan.  Pertumbuhan  Ekonomi.  Pertumbuhan  ekonomi  dipandang  sebagai  suatu  proses  dimana  pendapatan  nasional  perkapita  riil  naik dibarengi dengan penurunan ketimpan‐ gan  pendapatan  dan  pemenuhan  keinginan  masyarakat  secara  terus  menerus  dan  ber‐ jangka waktu yang panjang dan dapat dilihat  dari lancarnya distribusi atas barang dan jasa  (Jhingan,  1999:  7).  Sedangkan  menurut  Boe‐ diono (1985: 1) pertumbuhan ekonomi adalah  proses kenaikan output perkapita dalam jang‐ ka  panjang.  Penekanan  pada  proses  karena  proses mengandung unsur dinamis.   Suatu  perekonomian  dikatakan  menga‐ lami pertumbuhan atau berkembang apabila  tingkat  kegiatan  ekonomi  lebih  tinggi  dari‐ pada  apa  yang  dicapai  sebelumnya.  Untuk  mempertahankan pertumbuhan ekonomi da‐ lam  jangka  panjang,  harus  memperhatikan  kebijakan penggunaan sumberdaya agar ter‐ hindar  dari  penggunaan  sumberdaya  yang  tidak tepat. Para teoritisi ilmu ekonomi pem‐ bangunan  masa  kini  masih  terus  menyem‐ purnakan  makna,  hakikat  dan  konsep  per‐ tumbuhan  ekonomi.  Para  teoritisi  tersebut  menyatakan  bahwa  pertumbuhan  ekonomi  tidak  hanya  diukur  dengan  pertambahan  PDB dan PDRB saja, tetapi juga diberi bobot  yang bersifat immaterial seperti kenikmatan,  kepuasan  dan  kebahagiaan  dengan  rasa  aman dan tenteram yang dirasakan masyara‐ kat (Arsyad, 1999: 1)  Menurut  pandangan  beberapa  Ekonom  Klasik,  yakni  Adam  Smith,  David  Ricardo,  Thomas  Robert  Malthus,  dan  Jhon  Stuart  Mill  serta  Ekonom  Neoklasik,  yaitu Robert Solow  dan  Trevor  Swan,  bahwa  terdapat  empat  faktor  yang  mempengaruhi  pertumbuhan  ekonomi  yaitu  (1)  jumlah  penduduk,  (2)  jumlah stok barang modal, (3) luas tanah dan  kekayaan alam dan (4) tingkat teknologi yang  digunakan (Sukirno, 1985: 275).   Menurut Kuznets,   pertumbuhan ekono‐ mi  adalah  kenaikan  kapasitas  dalam  jangka  panjang dari Negara yang bersangkutan un‐ tuk  menyediakan  berbagai  barang  ekonomi  kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu  sendiri  ditentukan  atau  dimungkinkan  oleh  adanya  kemajuan  atau  penyesuaian‐penye‐ suaian teknologi, institusional (kelembagaan)  dan  ideologis  terhadap  barbagai  tuntutan  yang  ada.  Terdapat  enam  karakteristik  per‐ tumbuhan  ekonomi  menurur Kuznets,  yaitu:  (Todaro, 2004: 99‐100): (1) Tingkat perkemba‐ ngan output perkapita dan pertumbuhan pen‐ duduk yang tinggi, (2) Tingkat pertumbuhan  produktivitas faktor yang tinggi, (3) Tingkat  transformasi  struktur  ekonomi  yang  tinggi,  (4)  Tingkat  transformasi  sosial  dan  ideologi  Identifikasi Sektor Unggulan... (Restiatun)  85 yang  tinggi,  (5) Adanya kecenderungan Ne‐ gara‐negara  yang  mulai  atau  yang  sudah  maju  perekonomiannya  untuk  merambah  bagian‐bagian dunia  lain sebagai daerah pe‐ masaran  dan  sumber  bahan  baku,  dan  (6)  Berkurangnya  kesenjangan  pertumbuhan  antara  negara  maju  dengan  negara‐negara  sedang berkembang.  Dari analisis pertumbuhan historis di ne‐ gara‐negara  maju,  Kuznets  mengemukakan  sebuah  hipotesis  bahwa  pada  tahap  awal  pertumbuhan,  distribusi  pendapatan  cende‐ rung memburuk,  tatapi pada  tahap berikut‐ nya  hal  itu  akan  membaik.  Observasi  ini  kemudian  dikenal  sebagai  konsep  kurva  U  terbalik Kuznets (Todaro, 2004: 207). Hipotesis  Kuznets  ini  sejalan  dengan  Teori  Kutub  Pertumbuhan yang dipopulerkan oleh Perrouk  (1970)  yang  menyatakan  bahwa  pertumbu‐ han tidak muncul di berbagai daerah dalam  waktu yang bersamaan. Pertumbuhan hanya  terjadi di beberapa  tempat yang merupakan  pusat  (kutub)  pertumbuhan  dengan  intensi‐ tas yang berbeda‐beda.   Menurut  Arsyad  (1999:  115‐118),  Teori  Pertumbuhan Wilayah meliputi:  Teori Ekonomi Neoklasik.  Teori  Ekono‐ mi Neoklasik memberikan dua konsep pokok  dalam  ekonomi  daerah  yaitu  keseimbangan  (equilibrium)  dan  mobilitas  faktor  produksi.  Artinya, sistem ekonomi akan mencapai ke‐ seimbangan  jika  modal  bisa  mengalir  tanpa  restriksi.  Oleh  karena  itu,  modal  akan  me‐ ngalir  dari  daerah  yang  berupah  tinggi  menuju daerah yang berupah rendah.  Teori Basis Ekonomi. Teori Basis Ekono‐ mi menyatakan bahwa faktor penentu utama  pertumbuhan  ekonomi  suatu  daerah  adalah  berhubungan  langsung  dengan  permintaan  akan barang dan  jasa dari  luar daerah. Per‐ tumbuhan industri‐industri yang mengguna‐ kan  sumberdaya  lokal,  termasuk  angkatan  kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan  menghasilkan  kekayaan  daerah  dan  pencip‐ taan peluang kerja.  Strategi  pembangunan  daerah  yang  muncul  yang  didasarkan  pada  teori  ini  adalah  penekanan  terhadap  arti  penting  bantuan kepada dunia usaha yang memiliki  pasar  baik  secara  nasional  maupun  interna‐ sional. Implementasi kebijakannya mencakup  pengurangan  hambatan/batasan  terhadap  perusahaan‐perusahaan  yang  berorientasi  ekspor yang ada dan akan didirikan di dae‐ rah tersebut.  Teori  Lokasi.  Teori  Lokasi  menyatakan  bahwa  faktor  lokasi mempengaruhi pertum‐ buhan  daerah.  Pernyataan  tersebut  sangat  masuk  akal  jika  dikaitkan  dengan  pengem‐ bangan kawasan industri. Perusahaan cende‐ rung  untuk  meminimumkan  biayanya  de‐ ngan  cara  memilih  lokasi  yang  memaksi‐ mumkan peluangnya untuk mendekati pasar.  Banyak  variabel  yang  mempengaruhi  kuali‐ tas suatu lokasi, misalnya upah tenaga kerja,  biaya energi, ketersediaan pemasok, komuni‐ kasi, fasilitas‐fasilitas pendidikan dan latihan,  kualitas  pemerintah  daerah  dan  tanggung  jawabnya  serta  sanitasi.  Perusahaan‐perusa‐ haan  yang  berbeda  membutuhkan  kombi‐ nasi‐kombinasi  yang  berbeda  pula  atas  fak‐ tor‐faktor tersebut.  Teori  Tempat  Sentral.  Teori  Tempat  Sentral menganggap bahwa  terdapat hirarki  tempat. Setiap tempat sentral didukung oleh  sejumlah  tempat yang menyediakan sumber  daya.  Tempat  sentral  tersebut  merupakan  suatu  pemukiman  yang  menyediakan  jasa‐ jasa  bagi  penduduk  daerah  yang  mendu‐ kungnya. Teori Tempat Sentral dapat diterap‐ kan  pada  pambangunan  ekonomi  daerah,  baik di daerah perkotaan maupun pedesaan.  Misalnya,  perlunya  melakukan  pembedaan  fungsi antara daerah‐daerah yang bertetang‐ ga (berbatasan). Beberapa daerah bisa menja‐ di wilayah penyedia jasa, sedangkan lainnya  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 86  sebagai daerah pemukiman.  Teori  Kausasi  Kumulatif.  Kondisi  dae‐ rah‐daerah sekitar kota yang semakin buruk  menunjukkan konsep dasar dari tesis kausasi  kumulatif  ini. Kekuatan‐kekuatan pasar cen‐ derung  memperparah  kesenjangan  antara  daerah‐daerah tersebut (maju versus terbela‐ kang). Daerah yang maju mengalami akumu‐ lasi  keunggulan  kompetitif  dibanding  dae‐ rah‐daerah lainnya.  Model Daya Tarik. Teori Daya Tarik In‐ dustri adalah model pembangunan ekonomi  yang paling banyak digunakan oleh masyara‐ kat. Teori ekonomi yang mendasarinya ada‐ lah bahwa suatu masyarakat dapat memper‐ baiki  posisi  pasarnya  terhadap  industrialis  melalui pemberian subsidi dan insentif.    Ketimpangan  Pembangunan  Antardae‐ rah.  Ketimpangan  pembangunan  daerah  se‐ lalu muncul dan cenderung semakin melebar.  Fenomena yang dijelaskan oleh Myrdal seba‐ gai  akibat  dari  proses  penyebab  akumulatif  (Cumulative Causation). Menurut Myrdal back‐ wash  effect  (dampak  yang  merugikan)  lebih  besar  dibanding  spread  effect  (dampak  yang  menguntungkan).  Oleh  karena  itu,  apabila  tingkat pembangunan di berbagai daerah di‐ bandingkan,  maka  pembangunan  yang  di‐ capai oleh daerah yang lebih maju selalu  le‐ bih cepat daripada yang terjadi pada daerah  lain.  Hal  ini  dalam  jangka  panjang    akan  menyebabkan tingkat ketimpangan yang cu‐ kup lebar (Sukirno, 1985 : 24).  Aliran Neoklasik menyatakan bahwa ke‐ senjangan  pertumbuhan  antardaerah  dapat  terjadi  karena  tiga  alasan,  yaitu  (Armstrong  and Taylor, 1993: 64): (1) Kemajuan teknologi  yang berbeda antardaerah,  (2) Pertumbuhan  persediaan modal (capital stock) yang berbeda  antardaerah, (3) Pertumbuhan angkatan kerja  (labor force) yang berbeda antardaerah.  Williamson  (1965)  meneliti  hubungan  antara  disparitas  regional  dengan  tingkat  pembangunan  ekonomi  dengan  mengguna‐ kan data perekonomi yang telah maju dengan  perekonomian  yang  belum  berkembang,  ditemukan  bahwa  selama  tahap  awal  pem‐ bangunan,  disparitas  regional  menjadi  lebih  besar  dan  pembangunan  terkonsentrasi  di  daerah‐daerah  tertentu. Pada  tahap yang  le‐ bih matang dari pertumbuhan ekonomi tam‐ pak  adanya  keseimbangan  antardaerah  dan  disparitas  berkurang  secara  signifikan  (Bro‐ jonegoro, 1999: 3).  Pengertian wilayah daerah lebih terbuka  dibanding dengan wilayah nasional, jika dili‐ hat  dari  pergerakan  sumberdaya  antardae‐ rah,  dibandingkan  dengan  pergerakan  sum‐ berdaya  antarnegara.  Proses  akumulasi  dan  mobilisasi sumber‐sumber, berupa akumulasi  modal,  keterampilan  tenaga  kerja  dan  sum‐ berdaya  alam  yang  dimiliki  oleh  suatu  daerah  merupakan  penentu  dalam  laju  per‐ tumbuhan ekonomi daerah yang bersangku‐ tan.  Adanya  heterogenitas  dan  beragam  karakteristik  suatu  wilayah  menyebabkan  kecenderungan  terjadinya  ketimpangan  an‐ tardaerah  dan  antarsektor  ekonomi  suatu  daerah. Bertolak dari kenyataan tersebut, Ar‐ dani  (1992: 3) mengemukakan bahwa kesen‐ jangan/ketimpangan antardaerah merupakan  konsekuensi  logis  pembangunan  dan  meru‐ pakan  suatu  tahap  dalam  pembangunan  itu  sendiri.  Menurut  Williamson  (1999:  5‐9),  kesen‐ jangan antardaerah yang semakin membesar  disebabkan  oleh  pertama,  adanya  migrasi  tenaga kerja antardaerah yang bersifat selek‐ tif, yang pada umumnya para migran  terse‐ but lebih terdidik dan memiliki keterampilan  yang  tinggi  dan  masih  produktif.  Kedua,  adanya  migrasi  kapital  antardaerah,  adanya  aglomerasi pada daerah yang relatif kaya me‐ rupakan  daya  tarik  tersendiri  bagi  investor.  Ketiga,  adanya  pembangunan  sarana  publik  Identifikasi Sektor Unggulan... (Restiatun)  87 pada daerah yang  lebih padat dan potensial  berakibat  mendorong  terjadinya  ketimpa‐ ngan  antardaerah  lebih  besar.  Keempat,  ku‐ rangnya keterkaitan antardaerah yang dapat  menyebabkan  terhambatnya  proses  efek  se‐ bar dari proses pembangunan yang berdam‐ pak  pada  semakin  besarnya  kesenjangan  yang terjadi.  Teori  Pusat  Pertumbuhan.  Teori  pusat  pertumbuhan menyatakan bahwa kumpulan  industri cenderung memilih lokasi yang me‐ musat  di  kota‐kota  besar  (aglomerasi  eko‐ nomi)  dan  didukung  oleh  sebuah  daerah  pedalaman  (hinterland  yang  kuat)  (Wiyadi,  2003).  Pendekatan  dengan  teori  pusat  per‐ tumbuhan  dengan  maksud  agar  pertumbu‐ han  suatu  daerah  dapat  menimbulkan  efek  pertumbuhan  bagi  daerah‐daerah  lainnya.  Dalam  perkembangan  berikutnya  pendeka‐ tan  ini  dapat  digunakan  untuk  mengkaji  hubungan  timbal  balik  desa‐kota.  Dengan  mengembangkan  kota  diharapkan  agar  per‐ kembangan  ini  dapat  menetes  ke  desa‐desa  melalui arus barang, bahan pangan, urbani‐ sasi dan bahkan modal.  Menurut Myrdal  (1999)  potensi  sumber‐ daya yang   dimiliki antara satu dan daerah  lainnya  tidak  merata.  Oleh  karena  itu  per‐ tumbuhan antar daerah juga berbeda. Untuk  dapat  tumbuh  secara  cepat,  suatu  daerah  perlu memilih satu atau lebih pusat pertum‐ buhan regional yang memiliki potensi paling  kuat. Apabila region ini kuat maka akan ter‐ jadi  perembetan  pertumbuhan  bagi  region‐ region lemah.  METODE  Alat Analisis  1. Analisis Indeks Williamson. Untuk menge‐ tahui ketimpangan pembangunan antarkabu‐ paten  yang  terjadi  di  provinsi  Daerah  Isti‐ mewa  Yogyakarta  tahun  1993‐2003  dapat  dianalisis  dengan  menggunakan  indeks  ketimpangan  regional  (regional  Inequality)  yang  disebut  sebagai  Indeks  Ketimpangan  Williamson. Indeks ketimpangan regional ini  semula  digunakan  oleh  Jeffrey G. Williamson  dengan  rumus  sebagai  berikut:  (Sjafrizal,  1997: 31)    y nfYY IW it     (1)  dimana;  yi  adalah  pendapatan  perkapita  di  kabupaten  i, y adalah pendapatan perkapita  rata‐rata  Provinsi  Daerah  Istimewa  Yogya‐ karta, fi adalah jumlah penduduk di kabupa‐ ten i, n adalah jumlah penduduk di Provinsi  Daerah Istimewa Yogyakarta.  2.  Analisis  Indeks  Entropi  Theil.  Dengan  menggunakan  alat  analisis  Indeks  enthropi  Theil  akan diketahui  ada  tidaknya  ketimpa‐ ngan yang terjadi di provinsi Daerah Istime‐ wa  Yogyakarta.  Konsep  Enthropi  Theil  dari  distribusi pada dasarnya merupakan aplikasi  teori  informasi  dalam  mengukur  ketimpa‐ ngan  ekonomi  dan  konsentrasi  industri  (Kuncoro,  2004:  133).  Adapun  rumus  dari  indeks enthropi Theil adalah sebagai berikut:  (Ying, 2000)        xxyyxyyI jjjy /log)(    (2)  dimana;  l(y) adalah Indeks Enthropi Theil, yj  adalah PDRB perkapita kabupaten j, y adalah  rata‐rata  PDRB  perkapita  provinsi  Daerah  Istimewa Yogyakarta, xj adalah  jumlah pen‐ duduk kabupaten  j, x adalah  jumlah pendu‐ duk provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta  3.  Analisis  Gravitasi  dan  Model  Interaksi  Ruang. Analisis ini digunakan untuk mencari  wilayah  mana  yang  berpotensi  kuat  dalam  pertumbuhannya.  Adanya  interaksi  antara  kota‐desa  menunjukkan  eratnya  hubungan  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 88  antara daerah 1 dan daerah 2 sebagai konse‐ kuensi  interaksi kota‐desa dalam teori pusat  pertumbuhan. Adapun rumus yang diguna‐ kan  untuk  menghitung  interaksi  dalam  hubungan kota‐desa adalah:  I1,2 = (W1P1)(W2P2)/J21,2   (3)   dimana; I1,2 adalah interaksi dalam wilayah 1  dan 2, W1 adalah pendapatan perkapita wila‐ yah 1, W2 adalah pendapatan perkapita wila‐ yah 2, P1 adalah jumlah penduduk wilayah 1,  P2  adalah  jumlah  penduduk  wilayah  2,  J1,2  adalah  jarak antara wilayah 1 dan wilayah 2  (dalam meter)   4.  Analisis  Location  Quotient  (LQ).  Pende‐ katan  LQ  merupakan  suatu  teknik  analisis  yang  dimaksudkan  untuk  menentukan  po‐ tensi  spesialisasi  suatu  daerah  terhadap  ak‐ tivitas ekonomi utama atau untuk menentu‐ kan sektor unggulan, yaitu sektor yang dapat  memenuhi  kebutuhan  daerah  sendiri  dan  daerah  lain. Formulasi dari LQ adalah seba‐ gai berikut.  VtVi vtvi LQ     (4)   dimana; v1 adalah pendapatan sektor tertentu  pada  suatu  daerah,  v2  adalah  total  penda‐ patan daerah tersebut, V1 adalah pendapatan  sektor  sejenis  secara  regional  atau  nasional,  V2  adalah  total  pendapatan  regional  atau  nasional  Berdasarkan formulasi di atas maka apa‐ bila  LQ>1  berarti  daerah  mempunyai  basis  pada sektor tersebut dan ada kelebihan hasil  yang dapat dipasarkan ke daerah lain; LQ=1  berarti daerah mempunyai hanya cukup un‐ tuk  memenuhi  kabutuhan  daerah  yang  ber‐ sangkutan tersebut; LQ<1 berarti hasil sektor  tersebut  tidak  cukup  untuk  memenuhi  ke‐ butuhan daerah yang bersangkutan sehingga  perlu didatangkan dari daerah lain.  5.  Analisis  Tipologi  Daerah.  Untuk  menge‐ tahui  posisi  perekonomian  masing‐masing  kabupaten/kota di provinsi Daerah Istimewa  Yogyakarta,  ditinjau  dari  tingkat  pertum‐ buhan dan pendapatan perkapita digunakan  analisis  Tipologi  Klassen.  Analisis  Tipologi  Klassen  pada  dasarnya  membagi  daerah  berdasarkan dua indikator utama, yaitu per‐ tumbuhan  ekonomi  daerah  dan  pertumbu‐ han  perkapita  daerah.  Dengan  menentukan  rata‐rata pendapatan perkapita sebagai sum‐ bu vertikal dan rata‐rata pendapatan perka‐ pita sebagai sumbu horizontal, daerah yang  diamati  dapat  dibagi  menjadi  empat  klasifi‐ kasi, yaitu: daerah cepat maju dan cepat tum‐ buh  (high  growth  and  high  income),  daerah  maju  tetapi  tertekan  (high  income  but  low  growth),  daerah  berkembang  cepat  (high  Tabel 5. Klasifikasi Kabupaten/Kota menurut Tipologi Klassen.                          PDRB Perkapita (y)    Laju Pertumbuhan (r)  yi > y  yi < y  ri > r  Daerah maju dan tumbuh cepat  Daerah berkembang Cepat  ri < r  Daerah maju tetapi tertekan  Daerah relatif tertinggal  Keterangan: yi adalah pendapatan perkapita rata‐rata wilayah kabupaten I, y adalah pendapatan perkapita  rata‐rata  provinsi,  rj  adalah  laju  pertumbuhan  PDRB  rata‐rata  wilayah  kabupaten  I,  r  adalah  laju  pertumbuhan PDRB rata‐rata provinsi  Identifikasi Sektor Unggulan... (Restiatun)  89 growth  but  low  income)  dan  daerah  relatif  tertinggal (low growth and low income) (Syafri‐ zal, 1997: 27‐38).  HASIL DAN PEMBAHASAN  Analisis LQ  Untuk  melihat  potensi‐potensi  ekonomi  di  masing‐masing  kabupaten/kota  di  Provinsi  DIY  dapat  dilakukan  dengan  analisis  LQ.  Meskipun dari hasil analisis ini dapat diketa‐ hui  sektor‐sektor  unggulan  daerah,  tetapi  dalam  inferensi  hasil  analisis  LQ  seringkali  terjadi  kesalahan.  Penyebab  terjadinya  kesa‐ lahan  tersebut  adalah:  (1)  Pola  selera  dan  pengeluaran  (MPC/Marginal  Propensity  to  Consume)  rumah  tangga  memiliki  tipe  yang  sama, sedangkan tingkat pendapatannya ber‐ beda antardaerah, (2) Tingkat pendapatan ru‐ mah  tangga  berbeda  antardaerah,  dan  (3)  Produktivitas  tenaga  kerja  dan  bauran  in‐ dustri.  Sebagai  contoh  adalah  sebagai  berikut:  (1)  Untuk  daerah‐daerah  yang  berhawa  di‐ ngin, meskipun LQ>1 untuk industri pertam‐ bangan  minyak  tetap  akan  mengimpor  mi‐ nyak  karena  kebutuhan  akan  bahan  bakar  untuk penghangat ruangan sangat tinggi, (2)  Untuk  daerah‐daerah  dengan  tingkat  upah  rendah, meskipun LQ<1 untuk sektor indus‐ tri  tetap  akan  mengekspor  karena  daya  beli  masyarakat  rendah,  (3)  Untuk  suatu  daerah  yang menjadi lokasi aglomerasi aktivitas eko‐ nomi dan memiliki  jumlah penduduk padat  bisa  jadi  akan  tetap  mengimpor  meskipun  LQ>1.  Adapun  hasil  perhitungan  LQ  kabu‐ paten/kota  di  provinsi  DIY  disajikan  dalam  Lampiran Tabel L 1.  Berdasarkan hasil analisis nilai LQ dapat  ditentukan sektor‐sektor apa saja yang meru‐ pakan  sektor  basis  dan  berpotensi  untuk  dikembangkan.  Adapun  secara  rinci  hasil  analisis masing‐masing sektor untuk masing‐ masing wilayah adalah sebagai berikut:  Kota  Yogyakarta.  Kota  Yogyakarta  me‐ miliki  empat  sektor  unggulan,  karena  ter‐ dapat  empat  sektor  yang  memiliki  nilai  LQ  lebih besar dari 1. Adapun sektor unggulan  tersebut  adalah  sektor  listrik,  gas  dan  air  minum,  sektor  pengangkutan  dan  komuni‐ kasi, sektor keuangan, sewa dan jasa perusa‐ haan serta sektor  jasa‐jasa. Artinya keempat  sektor  tersebut  memiliki  sumbangan  yang  lebih besar  terhadap PDRB kota Yogyakarta  dibandingkan sumbangan sektor yang sama  terhadap PDRB provinsi DIY. Hal ini menun‐ jukkan bahwa keempat sektor unggulan ter‐ sebut berpotensi untuk dikembangkan.  Kabupaten  Sleman.  Kabupaten  Sleman  memiliki  empat  sektor  unggulan,  karena  terdapat empat sektor yang memiliki nilai LQ  lebih besar dari 1. Adapun sektor unggulan  tersebut  adalah  sektor  industri  pengolahan,  sektor  bangunan,  sektor  pengangkutan  dan  komunikasi serta sektor keuangan, sewa dan  jasa perusahaan. Artinya keempat sektor ter‐ sebut memiliki sumbangan yang  lebih besar  terhadap  PDRB  kabupaten  Sleman  diban‐ dingkan sumbangan sektor yang sama terha‐ dap PDRB provinsi DIY. Hal  ini menunjuk‐ kan bahwa keempat sektor unggulan tersebut  berpotensi untuk dikembangkan.  Kabupaten  Bantul.  Kabupaten  Bantul  memiliki lima sektor unggulan, karena terda‐ pat lima sektor yang memiliki nilai LQ lebih  besar dari 1. Adapun sektor unggulan terse‐ but adalah sektor pertanian, sektor pertamba‐ ngan dan penggalian, sektor bangunan, sek‐ tor pengangkutan dan komunikasi serta sek‐ tor  jasa‐jasa.  Artinya  kelima  sektor  tersebut  memiliki sumbangan yang lebih besar terha‐ dap  PDRB  kabupaten  Bantul  dibandingkan  sumbangan sektor yang sama terhadap PDRB  provinsi  DIY.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 90  kelima  sektor  unggulan  tersebut  berpotensi  untuk dikembangkan.  Kabupaten  Kulon  Progo.  Kabupaten  Kulon Progo memiliki lima sektor unggulan,  karena  terdapat  lima  sektor  yang  memiliki  nilai  LQ  lebih  besar  dari  1.  Adapun  sektor  unggulan  tersebut  adalah  sektor  pertanian,  sektor pertambangan dan penggalian, sektor  bangunan,  sektor  pengangkutan  dan  komu‐ nikasi  serta  sektor  jasa‐jasa.  Artinya  kelima  sektor  tersebut  memiliki  sumbangan  yang  lebih besar terhadap PDRB kabupaten Kulon  Progo dibandingkan sumbangan sektor yang  sama  terhadap  PDRB  provinsi  DIY.  Hal  ini  menunjukkan bahwa kelima sektor unggulan  tersebut berpotensi untuk dikembangkan.  Kabupaten  Gunung  Kidul.  Kabupaten  Gunung Kidul memiliki empat sektor unggu‐ lan,  karena  terdapat  empat  sektor  yang  memiliki nilai LQ lebih besar dari 1. Adapun  sektor unggulan tersebut adalah sektor perta‐ nian,  sektor  pertambangan  dan  penggalian,  sektor bangunan, serta sektor pengangkutan  dan komunikasi. Artinya keempat sektor ter‐ sebut memiliki sumbangan yang  lebih besar  terhadap  PDRB  kabupaten  Gunung  Kidul  dibandingkan sumbangan sektor yang sama  terhadap PDRB provinsi DIY. Hal ini menun‐ jukkan  bahwa  keempat  sektor  unggulan  tersebut berpotensi untuk dikembangkan.  Dari  hasil  perhitungan  LQ  masing‐ma‐ sing  kabupaten/kota  (hasil  perhitungan  di  lampiran) terlihat bahwa di kota Yogyakarta  dan  kabupaten  Kulon  Progo  terjadi  peruba‐ han  Struktural.  Mulai  tahun  2000  lapangan  usaha perdagangan, hotel dan restoran men‐ jadi sektor unggulan. Hal  ini mungkin dise‐ babkan  oleh  semakin  berkembangnya  kota  Yogyakarta  sebagai  kota  pendidikan,  se‐ hingga  semakin  banyak  mahasiswa  pan‐ datang  ke  kota  Yogyakarta  yang  memiliki  kebutuhan akan barang dan  jasa, yang meli‐ puti kebutuhan sandang, pangan dan papan.  Untuk  memenuhi  kabutuhan  tersebut  maka  diperlukan  jalur  distribusi  barang  dan  jasa,  yaitu  melalui  lapangan  usaha  perdagangan,  hotel dan restoran, sehingga sektor ini cukup  berkembang  di  kota  Yogyakarta  dan  akhir‐ nya  sektor  yang  berpotensi  untuk  dikem‐ bangkan  karena  mulai  tahun  2000  memiliki  nilai LQ>1.   Untuk  kabupaten  Kulon  Progo  yang  terjadi justru sebaliknya. Sebelum tahun 1999  lapangan usaha bangunan merupakan sektor  unggulan,  tetapi  mulai  tahun  1999  nilai  LQ  lapangan  usaha  ini  mengalami  penurunan  menjadi  kurang  dari  1  sehingga  bukan  lagi  menjadi sektor unggulan di kabupaten Kulon  Progo.  Hal  ini  kemungkinan  merupakan  dampak dari krisis ekonomi sehingga mulai  tahun  1999,  aktivitas  pembangunan  fisik  menurun.  Kota  Yogyakarta  memiliki  visi  untuk  menjadikan  kota  Yogyakarta  sebagai  kota  pendidikan, pariwisata yang berbudaya, per‐ tumbuhan dan pelayanan  jasa prima, ramah  lingkungan  serta  masyarakat  madani  yang  dijiwai semangat Mangayu Hayuning Bawana.  Visi tersebut sesuai dengan potensi unggulan  yang  dimiliki  kota  Yogyakarta  yaitu  sektor  pengangkutan dan komunikasi, sektor keua‐ ngan, sewa dan  jasa perusahaan serta sektor  jasa‐jasa,  sehingga  besar  kemungkinan  kota  Yogyakarta  dapat  mencapai  visi  yang  telah  ditetapkannya.  Kabupaten  Sleman  memiliki  visi  untuk  mewujudkan masyarakat yang maju dan ter‐ cukupi kebutuhan lahiriah dan batiniah yang  ditandai  dengan  meningkatnya  kualitas  hi‐ dup dan kehidupan masyarakatnya, sedang‐ kan  potensi  unggulan  yang  dimiliki  adalah  sektor industri pengolahan, sektor bangunan,  sektor  pengangkutan  dan  komunikasi  serta  sektor keuangan, sewa dan  jasa perusahaan.  Terlihat  bahwa  tidak  ada  keterkaitan  antara  visi  dan  potensi,  karena  indikator  capaian  Identifikasi Sektor Unggulan... (Restiatun)  91 visi kabupaten Sleman tersebut tidak jelas.  Mewujudkan  peningkatan  pelayanan  masyarakat  melalui  pelaksanaan  pemba‐ ngunan  sarana  dan  prasarana  bidang  Bina  Marga, Cipta Karya, dan daerah adalah visi  kabupaten  Bantul,  sedangkan  salah  satu  misinya  adalah  mendukung  peningkatan  pelayanan masyarakat pada sektor kesehatan,  pendidikan,  perdagangan  dan  peningkatan  kinerja  aparatur  pemerintah  di  kabupaten  Bantul.  Terdapat  kesesuaian  antara  visi  dan  misi  kabupaten  Bantul  tersebut  dengan  po‐ tensi  unggulan  daerahnya,  yakni  sektor  ba‐ ngunan,  sektor  pengangkutan  dan  komuni‐ kasi  serta  sektor  jasa‐jasa,  sehingga  visi  ka‐ bupaten  Bantul  tersebut  kemungkinan  akan  dapat dicapai.  Beberapa  misi  kabupaten  Kulon  Progo  yang  ditetapkan  untuk  mencapai  visi  mem‐ bangun  Kulon  Progo  dalam  kebersamaan  menuju  penguatan  ekonomi  lokal  berbasis  ekonomi kerakyatan demi mewujudkan ma‐ syarakat  Kulon  Progo  yang  mandiri,  aman,  sejahtera,  dinamis  berlandaskan  iman  dan  taqwa adalah mengembangkan perekonomi‐ an rakyat terutama agribisnis dan pariwisata  serta  memfasilitasi  pengembangan  dunia  usaha  dan  investasi  daerah.  Karena  misi  tersebut  didukung  oleh  potensi  unggulan  daerah,  yakni    sektor  pertanian  dan  sektor  pengangkutan  dan  komunikasi,  maka  diha‐ rapkan pemerintah daerah kabupaten Kulon  Progo dapat mencapai visinya.  Kabupaten  Gunung  Kidul  memiliki  visi  menjadi  pemerintah  yang  baik,  bersih  dan  responsiv  untuk  mendukung  terwujudnya  masyarakat mandiri dan kompetitif. Terlihat  bahwa  visi  tersebut  dan  juga  misi  seperti  yang  tersebut  di  atas  tidak  jelas  serta  tidak  didukung dengan potensi unggulan daerah‐ nya, karena potensi unggulan Gunung Kidul  adalah  sektor  pertanian,  sektor  pertamba‐ ngan dan penggalian, sektor bangunan, serta  sektor pengangkutan dan komunikasi.  Analisis Tipologi Daerah  Analisis  Tipologi  Daerah  digunakan  untuk  mengetahui  posisi  perekonomian  masing‐ masing  kabupaten  di  provinsi  DIY,  ditinjau  dari  tingkat  pertumbuhan  dan  pendapatan  perkapitanya. Menurut Tipologi Daerah, dae‐ rah  dibagi  menjadi  empat  klasifikasi,  yaitu:  daerah cepat maju dan cepat  tumbuh  (high  growth and high  income), daerah maju  tetapi  tertekan (high income but low growth), daerah  berkembang cepat (high growth but  low  inco‐ me) dan daerah relatif tertinggal (low growth  and  low  income)(Syafrizal,  1997:  27‐38).  Ada‐ pun kriteria yang digunakan untuk mengkla‐ sifikasikannya  adalah  sebagai  berikut:  (1)  Daerah cepat maju dan cepat tumbuh adalah  daerah  yang  memiliki  tingkat  pertumbuhan  ekonomi  dan  pendapatan  perkapita  yang  lebih  tinggi  dibandingkan  dengan  provinsi  DIY,  (2) Daerah maju  tetapi  tertekan adalah  daerah yang memiliki pendapatan perkapita  lebih tinggi tetapi tingkat pertumbuhan eko‐ nominya lebih rendah dibandingkan dengan  provinsi  DIY,  (3)  Daerah  berkembang  cepat  adalah daerah yang memilki tingkat pertum‐ buhan  ekonomi  lebih  tinggi  tetapi  tingkat  pendapatan  perkapita  lebih  rendah  diban‐ dingkan  dengan  provinsi  DIY,  (4)  Daerah  relatif  tertinggal  adalah  daerah  yang  memi‐ liki  tingkat pertumbuhan ekonomi dan pen‐ dapatan perkapita leih rendah dibandingkan  dengan  provinsi  DIY.  Hasil  analisis  tipologi  daerah  kabupaten/  kota  di  provinsi  DIY  disajikan pada Lampiran Gambar L1.   Daerah Cepat Maju dan Cepat Tumbuh.  Kota Yogyakarta sebagai daerah yang berada  pada klasifikasi daerah cepat maju dan cepat  tumbuh memiliki rata‐rata pertumbuhan eko‐ nomi  dan  rata‐rata  pendapatan  perkapita  yang lebih tinggi dibandingkan dengan pro‐ vinsi  DIY.  Pada  periode  tahun  1993‐2003,  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 92  rata‐rata  tingkat  pertumbuhan  ekonominya  sebesar  4,05  persen  dan  tingkat  pendapatan  perkapita sebesar Rp.3.545.057,00. Sedangkan  rata‐rata tingkat pertumbuhan ekonomi pro‐ vinsi DIY adalah 2,15 persen sementara ting‐ kat pendapatan perkapita Rp.1.733.746,00.  Daerah Maju Tetapi Tertekan. Tidak ada  satu  kabupaten  pun  yang  termasuk  dalam  klasifikasi daerah maju tetapi tertekan ini.  Daerah  Berkembang  Cepat.  Kabupaten  Sleman  dan  Gunung  Kidul  sebagai  daerah  yang  berada  pada  klasifikasi  daerah  cepat  maju  dan  cepat  tumbuh  memiliki  rata‐rata  pertumbuhan  ekonomi  lebih  tinggi  tetapi  rata‐rata  pendapatan  perkapita  yang  lebih  rendah  dibandingkan  dengan  provinsi  DIY.  Pada periode tahun 1993‐2003, Sleman memi‐ liki  rata‐rata  tingkat  pertumbuhan  ekonomi  sebesar  2,38  persen  dan  tingkat  pendapatan  perkapita sebesar Rp.1.616.823,00. Sedangkan  tingkat pertumbuhan ekonomi Gunung Kidul  sebesar  2,56  persen  dan  tingkat  pendapatan  perkapita Rp.1.355.608,00.  Daerah  Relatif  Tertinggal.  Kabupaten  Bantul dan Kulon Progo sebagai daerah yang  berada pada klasifikasi daerah relatif memi‐ liki rata‐rata pertumbuhan ekonomi dan rata‐ rata pendapatan perkapita yang lebih rendah  dibandingkan dengan provinsi DIY. Pada pe‐ riode tahun 1993‐2003, Kulon Progo memiliki  rata‐rata tingkat pertumbuhan ekonomi sebe‐ sar ‐0,20 persen dan tingkat pendapatan per‐ kapita  sebesar  Rp.1.053.440,00.  Sedangkan  tingkat   pertumbuhan ekonomi Bantul sebe‐ sar  1,92  persen  dan  tingkat  pendapatan  perkapita Rp.1.097.800,00.  Indeks Gravitasi  Analisis Gravitasi dan model interaksi ruang  digunakan untuk mengetahui wilayah mana  yang berpotensi kuat dalam pengembangan‐ nya. Dengan penentuan pusat pertumbuhan  yang tepat, yakni wilayah dengan potensi pa‐ ling kuat, diharapkan akan  terjadi perembe‐ tan pertumbuhan bagi daerah‐daerah di seki‐ tarnya  serta  terjadi  percepatan  dan  pemera‐ taan hasil‐hasil pembangunan. Untuk provin‐ si DIY, pusat pertumbuhan adalah kota Yog‐ yakarta sebagai ibukota provinsi, di samping  karena  kota  Yogyakarta  termasuk  dalam  klasifikasi  daerah  cepat  tumbuh  dan  cepat  berkembang.  Agar  terjadi  percepatan  per‐ tumbuhan maka perlu dibangun suatu pusat  pertumbuhan  baru,  yaitu  wilayah  yang  me‐ miliki  potensi  paling  kuat.  Adapun  hasil  analisis  gravitasi  dan model  interaksi  ruang  untuk  provinsi  DIY  tampak  pada  Lampiran  Tabel L2.  Dari hasil perhitungan di atas dapat dili‐ hat bahwa interaksi paling kuat terjadi antara  kota  Yogyakarta  dan  kabupaten  Sleman,  karena  interaksi  kedua  wilayah  tersebut  memiliki  rata‐rata  nilai  indeks  gravitasi  ter‐ tinggi.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  daerah  yang  potensial  untuk  dikembangkan  adalah  kota Yogyakarta sebagai pusat kota dan Sle‐ man  sebagai  desa  atau  kota  Yogyakarta  sebagai pusat kegiatan ekonomi dan Sleman  sebagai  daerah  penyangga/daerah  pemuki‐ man.  Analisis Ketimpangan Antardaerah  Adanya  heterogenitas  dan  beragamnya  ka‐ rakteristik suatu wilayah menyebabkan ada‐ nya kecenderungan  terjadi ketimpangan an‐ tardaerah  dan  antarsektor  ekonomi  suatu  daerah.  Besar  kecilnya  ketimpangan  PDRB  perkapita  antarkabupaten/kota  memberikan  gambaran  tentang  kondisi  dan  perkemba‐ ngan pembangunan di provinsi Daerah  Isti‐ mewa Yogyakarta. Ketimpangan pembangu‐ nan antarkabupaten/kota yang terjadi di Pro‐ vinsi DIY selama  tahun 1993‐2003 dianalisis  dengan  Indeks  Williamson  dan  Indeks  En‐ thropi Theil. Angka, baik Indeks Williamson  Identifikasi Sektor Unggulan... (Restiatun)  93 dan  Indeks  Enthropi  Theil,  yang  semakin  kecil  atau  mendekati  nol  menunjukkan  ke‐ timpangan  yang  semakin  kecil  atau  dengan  kata  lain  makin  merata,  dan  bila  semakin  jauh  dari  nol  menunjukkan  ketimpangan  yang semakin lebar. Meskipun kedua indeks  sama‐sama mengukur masalah ketimpangan,  tetapi Indeks Enthropi Theil memiliki kelebi‐ han  dibanding  Indeks  Williamson  karena  indeks  ini  memungkinkan  kita  untuk  mem‐ buat perbandingan selama kurun waktu ter‐ tentu,  juga  menyediakan  ukuran  ketimpa‐ ngan  secara  rinci  dalam  sub‐unit  geografis  yang lebih kecil. Hal ini akan berguna untuk  menganalisis  kecenderungan  konsentrasi  geografis selama periode waktu tertentu dan  memberikan gambaran yang  lebih rinci me‐ ngenai  ketimpangan  spasial.  (Kuncoro,  2004:   134).  Hasil  perhitungan  Indeks  Williamson  dan  Grafiknya  disajikan  dalam  Lampiran  Tabel L3 dan Gambar L2.  Dilihat dari hasil perhitungan dan grafik  Indeks  Williamson  serta  Indeks  Enthropi  Theil menunjukkan bahwa ketimpangan an‐ tarkabupaten/kota  di  provinsi  DIY  selama  tahun 1993‐2003 cenderung meningkat. Nilai  Indeks Williamson pada  tahun 1993 sebesar  0,36 yang naik menjadi 0,57 pada tahun 2003  dengan  rata‐rata  selama  pengamatan  0,483.  Nilai  Indeks  Enthropi Theil  juga  menunjuk‐ kan  hal  yang  sama,  bahwa  terjadi  kenaikan  ketimpangan  di  provinsi  DIY  selama  tahun  1993‐2003 (Lampiran Tabel L4 dan Gambar L3).  Tahun  1993  nilai  indeks  Enthropi  Theil  adalah  0,027  sedangkan  tahun  2003  sebesar  0,172 dengan nilai rata‐rata 0,112. Pada tahun  1998,  indeks  ketimpangan  provinsi  DIY  cenderung  turun  dari  tahun  1997  yang  sebesar 0,53 menjadi 0,47, tetapi pada tahun  1999 meningkat lagi menjadi 0,48. Penurunan  ketimpangan pada tahun 1998 ini disebabkan  oleh krisis yang menimpa Indonesia, di mana  provinsi DIY juga merasakan imbasnya. Dae‐ rah  yang  terkena  dampak  krisis  umumnya  adalah  daerah  perkotaan  sedangkan  daerah  non  perkotaan  tidak  terkena  dampak  krisis  sebesar  daerah  perkotaan  sehingga  menye‐ babkan penurunan ketimpangan pada tahun  1998.  Kenaikan  ketimpangan  di  provinsi  DIY  selama  periode  tahun  1993‐2003  ini  juga  dapat dilihat dari rasio pendapatan perkapita  tertinggi dan pendapatan perkapita terendah  seperti tampak dalam Lampiran Tabel L5.  Jika dilihat dari tabel rasio tersebut, terli‐ hat  bahwa  kesenjangan  pendapatan  perka‐ pita di provinsi DIY pada periode 1993‐2003  selalu  meningkat,  bahkan  meskipun  berda‐ sarkan  nilai  indeks  Williamson  dan  Indeks  Theil  pada  tahun  1998  mengalami  penuru‐ nan,  tetapi rasio pendapatan  tertinggi‐teren‐ dah  tidak  menunjukkan  hal  serupa.  Hal  ini  disebabkan  kabupaten  Kulon  Progo  menga‐ lami keterpurukan ekonomi pascakrisis eko‐ nomi  dan  waktu  yang  dibutuhkan  dalam  proses recovery sangat lama.  KESIMPULAN  Dari  seluruh  hasil  analisis  di  atas  dapat  di‐ simpulkan  beberapa  hal  seperti  tersebut  di  bawah ini:  (1) Masalah fundamental yang dihadapi oleh  pemerintah provinsi DIY adalah kemiskinan  dan  ketimpangan,  di  mana  ada  kecen‐ derungan bahwa ketimpangan ini meningkat  sepanjang  waktu.  Ada  daerah  yang  relatif  sangat kaya (kota Yogyakarta) dan ada dae‐ rah  yang  relatif  miskin  (kabupaten  Kulon  Progo).  Peningkatan  ketimpangan  ini  dise‐ babkan  oleh  pola  pembangunan  yang  ber‐ beda  antardaerah.  Beberapa  daerah  di  pro‐ vinsi DIY memiliki visi yang tidak jelas, baik  indikator  maupun  waktu  pencapaianya,  di  samping seringkali visi daerah tersebut tidak  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 94  didukung  oleh  potensi  yang  dimiliki  oleh  daerah,   (2)  Untuk  melihat  potensi  unggulan  yang  dimiliki  masing‐masing  daerah  dilakukan  analisis  dengan  menggunakan  analisis  LQ  (Location Quotient).   (3)  Berdasarkan  tipologi  daerah,  kabupa‐ ten/kota di provinsi DIY dapat diklasifikasi‐ kan sebagai berikut. Kota Yogyakarta masuk  dalam  klasifikasi  daerah  cepat  maju  dan  cepat  tumbuh,  Sleman  dan  Gunung  Kidul  termasuk  dalam  klasifikasi  daerah  berkem‐ bang cepat sedangkan yang termasuk dalam  klasifikasi  daerah  relatif  tertinggal  adalah  Bantul dan Kulon Progo,   (4) Dari hasil analisis Indeks Williamson dan  Indeks Enthropi Theil, keduanya menunjuk‐ kan  trend  yang  sama,  yaitu  bahwa  di  pro‐ vinsi  DIY  terjadi  kecenderungan  kenaikan  ketimpangan,  meskipun  hasil  perhitungan  kedua  indeks  tersebut  juga  sama‐sama  me‐ nunjukkan  terjadinya  penurunan  ketimpa‐ ngan  pada  tahun  1998,  tetapi  mulai  tahun  1999  ketimpangan  ini  kemudian  meningkat  terus.  Penurunan  ketimpangan  pada  tahun  1998 ini diakibatkan oleh dampak krisis yang  lebih berimbas di daerah perkotaan sehingga  ketimpangan menurun,   (5)  Hasil  perhitungan  rasio  pendapatan  perkapita tertinggi dan terendah antardaerah  di  provinsi  DIY  menunjukkan  tren  pening‐ katan. Bahkan ketika pada tahun 1998, berda‐ sarkan hasil perhitungan  Indeks Williamson  dan Indeks Theil terjadi penurunan ketimpa‐ ngan,  rasio  pendapatan  perkapita  ini  terus  meningkat. Hal ini disebabkan karena adanya  beberapa  kelompok  masyarakat  yang  justru  diuntungkan dengan adanya krisis, misalnya  karena keuntungan dari  jual  beli  dolar atau  peningkatan ekspor akibat depresiasi rupiah,  sementara sebagian besar masyarakat menga‐ lami  penurunan  pendapatan  akibat  krisis  ekonomi  yang  terjadi.  Hal  inilah  yang  me‐ nyebabkan terjadinya peningkatan rasio pen‐ dapatan perkapita di provinsi DIY.  Dari kesimpulan di atas, maka beberapa  saran  yang  dapat  diajukan  adalah  sebagai  berikut:   (1) Dalam penyusunan visi dan misi daerah,  pemerintah  daerah  harus  memperhatikan  kesesuaian  antara  visi/misi  dengan  potensi  yang dimiliki oleh daerah,  juga harus terjadi  sinkronisasi  antara  pemerintah  kabupaten/  kota  dengan  pemerintah  provinsi.  Di  sam‐ ping itu, dalam penyusunan visi/misi, peme‐ rintah daerah harus  jelas dalam menetapkan  indikator dan waktu pencapaiannya. Hal  ini  sangat penting mengingat visi suatu daerah  merupakan  pedoman  implementasi  pemba‐ ngunan daerah.  (2)  Untuk  mengurangi  ketimpangan  yang  terjadi  beberapa  hal  yang  dapat  dilakukan  adalah:  Bagi pemerintah daerah provinsi DIY: mem‐ berikan bantuan bagi daerah termiskin beru‐ pa pembiayaan kegiatan‐kegiatan yang dapat  meningkatkan kualitas sumberdaya manusia  (menciptakan human capital), karena pening‐ katan kualitas sumberdaya manusia ini akan  berdampak positif bagi pertumbuhan melalui  peningkatan penyerapan ide dan inovasi tek‐ nologi serta kewirausahaan. Kegitan‐kegiatan  tersebut dapat berupa antara lain pendidikan  dan pelatihan serta peningkatan sarana pela‐ yanan kesehatan dan perbaikan gisi,   Bagi  pemerintah  daerah  kabupaten  Kulon  Progo  (daerah  termiskin):  dengan  mening‐ katkan  sarana  transportasi,  terutama  trans‐ portasi antarkabupaten/kota  lain di provinsi  DIY  untuk  memperlancar  arus  distribusi/  perdagangan barang dan jasa, karena dengan  perdagangan  perekonomian  daerah  terting‐ gal  dapat  “catch  up”  perekonomian  daerah  yang  relatif  lebih  maju/berkembang.  Selain  itu, pemerintah daerah juga harus lebih mem‐ Identifikasi Sektor Unggulan... (Restiatun)  95 buka  diri  terhadap  investor,  karena  hanya  dengan  investasi  kegiatan  pembangunan  dapat  berjalan,  di  samping  investasi  dapat  memberikan  efek  multiplier  bagi  perekono‐ mian  daerah  sehingga  akan  terjadi  pening‐ katan tingkat kemakmuran masyarakat. Oleh  sebab  itu  pemerintah  daerah  kabupaten  Kulon Progo harus dapat meningkatkan pro‐ mosi daerahnya untuk dapat menarik inves‐ tor  masuk.  Atau  dengan  kata  lain,  peme‐ rintah daerah kabupaten Kulon Progo harus  mampu  menyiapkan  daerahnya  sedemikian  rupa  sehingga  kondusif  bagi  pertumbuhan  bisnis, perkembangan  investasi dan berdaya  saing tinggi agar terjadi peningkatan kesejah‐ teraan masyarakat.  DAFTAR PUSTAKA  Ardani, Amirudin. 1992. “Analisis of Region  Growth  and  Disparity:  the  Impact  Analysis  of  the  Project  on  Indonesian  Development”,  Ph.D.  Dissertation  City  and Regional Planning, University of Penn‐ sylvania Philadelphia, USA (tidak dipubli‐ kasikan).  Armstrong, H and Jim Taylor. 1993. Regional  Economics  and  Policy.  2nd  Edition.  Lon‐ don: Harvester Wheatsheaf.  Arsyad, Lincolin. 1999. Pengantar Perencanaan  dan Pembangunan Ekonomi Daerah, Jogja‐ karta: BPFE.  Boediono.  1985.  Teori  Pertumbuhan  Ekonomi,  Yogyakarta: BPFE.  Brojonegoro, Bambang, P.S. 1999. The Impact  or  Current  Asean  Economic  Crisis  to  Regional Development Pattern in Indo‐ nesia, paper, Jakarta: LPKM‐ FEUI.  Hendriawan,  Basuki.  Dampak  Pemekaran  Wilayah  terhadap  Pertumbuhan  Eko‐ nomi  dan  Ketimpangan  Pendapatan  antar Kabupaten/Kota di Provinsi Lam‐ pung  tahun  1995‐2005.  Thesis,  UGM  Pascasarjana, tidak dipublikasikan.   Jhingan,  M.  L.  1999.  Ekonomi  Pembangunan  dan Perencanaan (terjemahan), Edisi Ketu‐ juh. Jakarta: PT. Raja Grafindo.   Kuncoro, Mudrajad. 2001. Analisis Spasial dan  Regional, Yogyakarta: UPP AMP YKPN.  Kuncoro, Mudrajad. 2004. Otonomi dan Pem‐ bangunan Daerah (Reformasi, Perencanaan,  Strategi  dan  Peluang),  Jakarta:  Penerbit  Airlangga..  Sjafrizal.  1997.  “Pertumbuhan  Ekonomi  dan  Ketimpangan Regional Wilayah Indone‐ sia Bagian Barat”, Prisma, LP3ES, Nomor  3, 27‐38.  Sukirno, Sadono. 1985. Ekonomi Pembangunan,  Jakarta: LPFE UI.  Todaro, Michael, P., 2000. Pembangunan Eko‐ nomi di Dunia Ketiga  (terjemahan),  Edisi  Ketujuh, Jakarta: Erlangga.  Wiyadi, dan Rina Trisnawati. Analisis Potensi  Daerah  untuk  Mengembangkan  Wila‐ yah  di  Eks‐Karesidenan  Surakarta  de‐ ngan  Menggunakan  Teori  Pusat  Per‐ tumbuhan.  Fokus  Ekonomi  Vol.1.  No.3  Desember 2003, 284‐292.  Ying, Long, G. 2000. “China’s Changing Re‐ gional  Disparities  during  the  reform  Period”, Economic Geography, Vol. XXIV  No. 7. 59‐70.    Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 96  LAMPIRAN  Tabel L1. Nilai Rata‐rata LQ Kabupaten/Kota di Provinsi DIY Tahun 1993‐2003  Lapangan Usaha  Kota  Yogyakarta  Kabupaten  Sleman  Kabupaten  Bantul  Kabupaten  Kulon  Progo  Kabupaten  Gunung  Kidul  Pertanian  0.048  0.727  1.094  1.470  1.821  Pertambangan dan  Penggalian  0.026  0.568  1.419  1.443  1.949  Industri Pengolahan  0.653  1.009  0.885  0.314  0.736  Listrik, gas dan air  minum  1.846  0.944  0.676  0.677  0.319  Bangunan  0.856  1.410  1.360  1.028  1.129  Perdagangan, Hotel dan  Restoran  0.966  0.895  0.832  0.735  0.541  Pengangkutan dan  Komunikasi  1.808  1.292  1.087  1.303  1.223  Keuangan, sewa dan  jasa perusahaan  1.836  1.357  0.720  0.769  0.469  Jasa‐jasa  1.709  0.952  1.117  1.317  0.897        Gambar L1. Tipologi Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi DIY tahun 1993‐2003    Identifikasi Sektor Unggulan... (Restiatun)  97 Tabel L2. Indeks Gravitasi dan Model Interaksi Ruang Provinsi DIY tahun 1993‐2003  Tahun  Yogya‐Sleman  Yogya‐Bantul  Yogya‐Kln Progo  Yogya‐Gn Kidul  1993  107.162  79.891  6.726  5.342  1994  125.331  93.035  7.424  6.193  1995  150.044  110.436  8.343  7.350  1996  176.850  128.315  9.551  8.561  1997  191.826  138.484  10.263  9.306  1998  156.332  111.662  7.847  7.672  1999  161.041  114.337  7.133  7.886  2000  172.866  122.053  7.533  8.393  2001  185.526  129.859  7.944  8.851  2002  201.051  139.278  8.423  9.331  2003  219.100  151.207  9.050  9.904  Rerata  167.921  119.869  8.203  8.072  Tabel L3. Indeks Williamson Provinsi DIY Tahun 1993‐2003  Tahun  1993  1994  1995  1996  1997  1998  1999  2000  2001  2002  2003  Rerata  IW  0,36  0,39  0,45  0,50  0,53  0,47  0,48  0,50  0,52  0,54  0,57  0,483    Gambar L2. Grafik Indeks Williamson Provinsi DIY tahun 1993‐2003  Tabel L4. Indeks Enthropi Theil Provinsi DIY Tahun 1993‐2003  Tahun  1993  1994  1995  1996  1997  1998  1999  2000  2001  2002  2003  rerata  Theil  0,027  0,055  0,095  0,138  0,162  0,096  0,096  0,113  0,130  0,149  0,172  0,112      Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 77 ‐ 98 98    Gambar L3. Grafik Indeks Theil Provinsi DIY tahun 1993‐2003  Tabel L5. Rasio Pendapatan Perkapita tertinggi‐terendah Provinsi DIY tahun 1993‐2003  Tahun  1993  1994  1995  1996  1997  1998  1999  2000  2001  2002  2003  Rasio  2,86  2,90  3,04  3,15  3,25  3,32  3,75  3,82  3,87  3,92  3,96    Tabel L6. Sektor Unggulan Masing‐masing Daerah  Kabupaten/Kota  Sektor Unggulan  Yogyakarta  Sektor listrik, gas dan air minum, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor  keuangan, sewa dan jasa perusahaan serta sektor jasa‐jasa  Sleman  Sektor industri pengolahan, sektor bangunan, sektor pengangkutan dan komunikasi  serta sektor keuangan, sewa dan jasa perusahaan.  Bantul  Sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor bangunan, sektor  pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa‐jasa.  Kulon Progo  Sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor bangunan, sektor  pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa‐jasa.  Gunung Kidul  Sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor bangunan, serta sektor  pengangkutan dan komunikasi