Microsoft Word - 03-Agus TB _17 hlm_.doc Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan  Volume 10, Nomor 1, April 2009: 34 ‐ 50  PENENTU SEKTOR UNGGULAN DALAM   PEMBANGUNAN DAERAH:  Studi Kasus di Kabupaten Ogan Komering Ilir  Agus Tri Basuki 1 dan Utari Gayatri 1  1 Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  Jalan Lingkar Selatan, Kasihan Bantul DIY 55183 Telepon +62 274 387656  E‐mail: agustribasuki@yahoo.com  Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor dominan di kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Dengan menggunakan pendekatan analisis MRP, Shift Share, LQ, dan tipologi Overlay dan Klassen dapat disimpulkan bahwa potensi ekonomi yang dimiliki kabu- paten Ogan Komering Ilir adalah sektor pertanian dan industri manufaktur yang merupakan pertumbuhan sektor dominan. Selain itu, sektor ini juga menunjukkan peningkatan struktur pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengingat sebagian besar penduduk di wilayah kabupaten OKI masih terlibat dalam pertanian, sehingga pertanian memiliki pertumbuhan yang luar biasa daripada sektor ekonomi lainnya. Selain itu, industri manufaktur juga merupakan sektor ekonomi dengan pertumbuhan yang luar biasa. Industri manufaktur ini di antaranya industri Kemplang dan Pempek yang banyak berkembang di provinsi Sumatera Selatan dan kabupaten OKI. Kata kunci: potensi ekonomi, sektor unggulan, pembangunan ekonomi, struktur ekonomi Abstract: This study aims to identify the dominant sector in Komering Ogan Ilir. By using the analytical approach of MRP, Shift Share, LQ, Overlay and Klassen typology can be con- cluded that the economic potential held Komering Ogan Ilir is the agricultural sector and the manufacturing industry which is the dominant sector growth. In addition, the sector also showed an increase of the structure of economic growth. It is given that most residents in the area of OKI regency is still engaged in agriculture, so agriculture has an outstanding growth of other sectors. In addition, the manufacturing industry has also an outstanding growth among manufacturing Kemplang and Pempek industries that thriving in South Sumatra Province and District OKI. Keywords: economic potential, the leading sectors, economic development, economic struc- ture PENDAHULUAN  Pembangunan daerah sebagai bagian integral  dari pembangunan nasional yang dilaksana‐ kan berdasarkan prinsip otonomi daerah dan  pengaturan  sumber  daya  nasional  yang  memberikan  kesempatan  bagi  peningkatan  demokrasi dan kinerja daerah untuk mening‐ katkan kesejahteraan masyarakat. Oleh kare‐ na itu, pembangunan ekonomi daerah meru‐ pakan  bagian  dari  pembangunan  daerah  secara menyeluruh.  Dalam  upaya  mencapai  tujuan  pemba‐ ngunan  ekonomi  daerah,  kebijakan  utama  yang perlu dilakukan adalah mengusahakan  semaksimal  mungkin  agar  prioritas  pemba‐ Penentu Sektor Unggulan  ... (Agus TB. dan Utari G.)  35 ngunan  daerah  sesuai  dengan  potensi  pem‐ bangunan yang dimiliki oleh daerah. Hal ini  terkait  dengan  potensi  pembangunan  yang  dimiliki  setiap  daerah  sangat  bervariasi,  maka setiap daerah harus menentukan kegia‐ tan sektor ekonomi yang dominan (Syafrizal,  1999).  Kebijakan  pembangunan  ekonomi  dae‐ rah  yang  ditetapkan  di  suatu  daerah  harus  disesuaikan dengan kondisi  (masalah, kebu‐ tuhan, dan potensi) daerah yang bersangku‐ tan. Oleh karena itu, penelitian yang menda‐ lam tentang keadaan tiap daerah harus dila‐ kukan untuk mendapatkan data dan informa‐ si yang berguna bagi penentuan perencanaan  pembangunan  daerah  yang  bersangkutan  (Arsyad,  1999).  Perencanaan  pembangunan  ekonomi yang baik membutuhkan suatu pe‐ rencanaan  yang  teliti  dalam  menggunakan  sumber‐sumber daya publik dan swasta serta  sektor‐sektor  yang  berperan  dalam  proses  perencanaan.  Melalui  perencanaan  pemba‐ ngunan ekonomi daerah yang  terarah, pem‐ bayar  pajak,  dan  penanaman  modal  serta  penciptaan iklim dari kegiatan ekonomi yang  baik maka pembangunan suatu daerah dapat  dikatakan  sebagai  satu  unit  kesatuan  yang  memiliki keterkaitan antara satu sama lain.  Berkaitan dengan hal tersebut, pemerin‐ tah  daerah  dalam  pembangunan  ekonomi  dan  pelaksanaan  otonomi  daerah  mengacu  pada UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 25  Tahun  1999  yang  kemudian  diganti  dengan  UU  No.  32  Tahun  2004  tentang  Pemerintah  Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004  tentang  Perimbangan  Keuangan  antara  Pemerintah  Pusat dan Pemerintah Daerah.   Daerah yang otonom mempunyai kewe‐ nangan  untuk  mengatur  dan  melayani  kepentingan masyarakat berdasarkan aspirasi  masyarakat  serta  merencanakan  pembangu‐ nan  yang  sesuai  dengan  peraturan  perun‐ dang‐undangan.  Berdasarkan  hal  tersebut,  daerah perlu memiliki konsep utama dalam  perencanaan  pembangunan  daerah  yang  memuat  dasar  filosofi,  visi,  misi,  arah  kebi‐ jakan,  dan  strategi  pembangunan  sebagai  pedoman  bagi  penyelenggaraan  pemerin‐ tahan  dan  pengelolaan  pembangunan  di  daerah. Oleh karena  itu, disadari bahwa pe‐ laksanaan  pembangunan  daerah  bukan  me‐ rupakan  tanggung  jawab  pemerintah  secara  kesuluruhan  tetapi  merupakan  tanggung  jawab  semua  pihak  dan  masyarakat  kabu‐ paten  Ogan  Komering  Ilir,  sehingga  hasil  yang diperoleh dapat bermanfaat bagi semua  pihak.  Perkembangan  pendapatan  riil  yang  diterima  oleh  penduduk  ditunjukkan  oleh  Pendapatan Regional per kapita. Pendapatan  per  kapita  merupakan  salah  satu  indikator  ekonomi  yang  biasa  digunakan  untuk  me‐ ngukur  tingkat  kemakmuran  di  suatu  wila‐ yah.  Dalam  hal  ini,  PDRB  per  kapita  juga  meruakan gambaran nilai tambah penduduk  karena aktivitas antara PDRB per kapita dan  pendapatan  per  kapita  dari  tahun  ke  tahun  yang  mengalami  peningkatan.  Pendapatan  Domestik  Regional  Bruto  (PDRB),  dihitung  atas dasar harga berlaku dan harga konstan.  PDRB  atas  harga  berlaku  mengambarkan  nilai  tambah barang dan  jasa yang dihitung  setiap  tahun,  sedangkan  PDRB  atas  harga  konstan  menunjukkan  nilai  tambah  barang  dan  jasa yang dihitung pada satu tahun ter‐ tentu  sebagai  dasar.  Dalam  hal  ini,  perhi‐ tungan menggunakan tahun 2000. Kegunaan  PDRB  atas  harga  konstan  untuk  menunjuk‐ kan  laju  pertumbuhan  ekonomi  secara  keseluruhan atau setiap sektor dari tahun ke  tahun, sedangkan kegunaan PDRB atas harga  berlaku  untuk  melihat  besarnya  struktur  perekonomian  dalam  satu  daerah  atau  wilayah.  Dilihat  dari  pendapatan  per  kapita  atas  harga konstan kabupaten Ogan Komering Ilir  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 34 ‐ 50 36  dengan migas dan tanpa migas selama kurun  waktu  2003‐2007  mengalami  peningkatan  dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 sebesar  Rp3.208.988 menjadi Rp3.322.864 pada tahun  2004 atau meningkat 3,55 persen, sedangkan  pada tahun 2005 pendapatan per kapita sebe‐ sar  Rp3.472.639  meningkat  4,51  persen.  Peningkatan  yang  sama  juga  terjadi  pada  tahun  2007  sebesar  Rp3.800.831  meningkat  meningkat 4,51 persen dibandingkan dengan  tahun 2006 sebesar Rp3.636.894.   Pembangunan di kabupaten Ogan Kome‐ ring  Ilir  mengalami  perkembangan  yang  semakin  baik,  hal  ini  ditunjukkan  dengan  terus  meningkatnya  angka  pertumbuhan  ekonomi kabupaten Ogan Komering Ilir dari  tahun  ke  tahun,  khususnya  di  tahun  2007  peningkatan  perekonomian  tidak  hanya  dirasakan di tingkat regional tetapi juga pada  tingkat  nasional.  Adanya  peningkatan  ini  ditunjukkan dengan kenaikan angka pertum‐ buhan ekonomi yang terjadi di seluruh lapa‐ ngan  usaha  atau  sektor  ekonomi.  Pertum‐ buhan  ekonomi  kabupaten  Ogan  Komering  Ilir yang diukur dengan PDRB menunjukkan  bahwa perkembangannya cukup stabil.   Dari uraian latar belakang di atas, penu‐ lis terdorong untuk menganalisis dan meng‐ kaji  lebih  lanjut mengenai sektor‐sektor eko‐ nomi  di kabupaten Ogan Komering Ilir, Pro‐ vinsi Sumatera Selatan.  Mengingat ruang lingkup pembangunan  ekonomi  daerah  sangat  luas  maka  penulis  membatasi  pembahasan  masalah  pada  sek‐ tor‐sektor  ekonomi  yang  ada  di  kabupaten  Ogan Komering Ilir dan data yang digunakan  adalah data tahunan dari tahun 2003 sampai  dengan tahun 2007.  Tujuan penelitian ini untuk menganalisis  dan mengetahui sektor‐sektor ekonomi yang  menjadi  sektor  unggulan  dalam  pembangu‐ nan daerah di kabupaten Ogan Komering Ilir  dengan menggunakan beberapa alat analisis  alternatif, dan untuk mengetahui pertumbu‐ han sektor‐sektor ekonomi berdasarkan kon‐ disi PDRB di kabupaten Ogan Komering Ilir  menggunakan analisis Model Rasio Pertum‐ buhan (MRP).  Perencanaan  Pembangunan  Ekonomi  Daerah.  Perencanaan  adalah  suatu  proses  yang bersinambung yang mencakup keputu‐ san‐keputusan  atau  pilihan‐pilihan  berbagai  alternatif  penggunaan  sumber  daya  untuk  mencapai  tujuan  tertentu  pada  masa  yang  akan datang (Conyers & Hill, 1994).   Tujuan perencanaan menurut Hatta ada‐ lah mengadakan suatu perekonomian nasio‐ nal  yang  diatur,  yang  direncanakan  tujuan‐ nya  dan  jalannya.  Sedangkan  menurut  Widjojo Nitisastro, perencanaan pada dasar‐ nya berkaitan dengan dua hal yaitu pertama  adalah penentuan pilihan yang hendak dica‐ pai  dalam  jangka  waktu  tertentu  atas  dasar  nilai yang dimiliki masyarakat yang bersang‐ kutan. Kedua,  pilihan‐pilihan  di  antara  cara‐ cara  alternatif  yang  efisien  guna  mencapai  tujuan tertentu. Dalam hal ini, untuk penen‐ tuan  tujuan  yang  meliputi  jangka  waktu  tertentu  maupun  bagi  pemilihan  cara‐cara  tersebut  diperlukan  kriteria  tertentu  yang  sebelumnya harus dipilih terlebih dahulu.   Perencanaan ekonomi terdiri atas sedere‐ tan  fungsi  kewenangan  masyarakat  dalam  menggunakan  sumber  daya  ekonomi  secara  optimal untuk mencapai suatu tatanan yang  lebih  baik.  Dengan  demikian,  perencanaan  ekonomi merupakan pengaturan dan penga‐ rahan  atas  suatu  kegiatan  ekonomi  melalui  tindakan yang terkoordinasi secara sistematis  oleh badan perencanaan pusat dengan tujuan  tertentu dalam periode waktu tertentu.  Perencanaan  pembangunan  ekonomi  daerah  bukanlah  perencanaan  dari  suatu  daerah. Perencanaan pembangunan ekonomi  daerah  bisa  dianggap    sebagai  perencanaan  untuk  memperbaiki  kapasitas  sektor  swasta  Penentu Sektor Unggulan  ... (Agus TB. dan Utari G.)  37 dalam  menciptakan  nilai  sumber‐sumber  daya swasta secara bertanggung jawab (Kun‐ coro, 2004).   Dari sudut pandang ekonomi, perlu ada‐ nya  perencanaan  pembangunan  ekonomi  adalah agar alokasi sumberdaya‐sumberdaya  pembangunan yang  lebih efisien dan efektif  sehingga  pemborosan  dapat  dihindari,  per‐ kembangan ekonomi atau pertumbuhan eko‐ nomi  yang  mantap  dan  berkesinambungan,  dan  tercapainya  stabilitas  ekonomi  dalam  menghadapi globalisasi.  Sumber Daya Perencanaan untuk Pem‐ bangunan  Daerah.  Kebanyakan  orang  me‐ ngetahui  bahwa  hasil  dari  suatu  pertumbu‐ han  ekonomi  adalah  pekerjaan  yang  lebih  banyak dan lebih baik, peningkatan kekayaan  dan pendapatan, dan sebagainya akan mem‐ perbaiki  tingkat  kehidupan  masyarakat.  Namun  demikian,  disadari  bahwa  pemba‐ ngunan  ekonomi  adalah  suatu  proses  di  mana suatu masyarakat menciptakan lingku‐ ngan  fisik  atau  peraturan  yang  mempenga‐ ruhi  hasil‐hasil  pembangunan  ekonomi  seperti  kenaikan  kesempatan  kerja  dan  pertumbuhan ekonomi (Arsyad, 1999). Maka  pemerintah  daerah  menggunakan  berbagai  sumber daya yang utama dalam pembangu‐ nan daerahnya: 1) Lingkungan Fisik sebagai  Sumber  Daya  Perencanaan,  2)  Lingkungan  Regulasi sebagai Sumber Daya Perencanaan,  3)  Lingkungan  Attitudinal  sebagai  Sumber  Daya Perencanaan.  Keputusan  yang  diambil  sektor  swasta  mengenai investasi atau relokasi tidak hanya  didasarkan pada perkataan kasar para inves‐ tor  yang  tidak  dimengerti  oleh  masyarakat  atau penduduk suatu daerah. Dalam kenya‐ taannya,  keputusan  akhir  akan sangat dipe‐ ngaruhi juga oleh semacam feeling atau judg‐ ment para investor mengenai reaksi masyara‐ kat  daerah  sebagai  calon  lokasi  investasi  karena dunia usaha tidak akan memilih suatu  daerah tertentu karena penduduknya.  Pembangunan  Daerah  di  Era  Otonomi.  Ditetapkannya  Undang‐Undang  No.  32  Ta‐ hun  2004  tentang  Pemerintah  Daerah  dan  Undang‐Undang No. 33 Tahun 2004 tentang  Perimbangan  Keuangan  antara  Pemerintah  Pusat dan Pemerintah Daerah, telah membe‐ rikan  kewenangan  bagi  pemerintah  daerah  untuk  menyelenggarakan  pemerintahannya  sendiri untuk lebih memajukan dan melaku‐ kan pembangunan di daerah masing‐masing.  Menurut Undang‐Undang No. 32 Tahun  2004  “Daerah  Otonom  adalah  kesatuan  ma‐ syarakat  hukum  yang mempunyai  batas‐ba‐ tas yang berwenang mengatur dan mengurus  urusan  pemerintahan  dan  kepentingan  masyarakat setempat menurut prakarsa sen‐ diri  berdasarkan  aspirasi  masyarakat  dalam  sistem  Negara  Kesatuan  Republik  Indone‐ sia”.   Menurut Undang‐Undang No. 32 Tahun  2004  “Otonomi  Daerah  adalah  hak,  wewe‐ nang,  dan  kewajiban  daerah  otonom  untuk  mengatur  dan  mengurus  sendiri  urusan  pemerintahan  dan  kepentingan  masyarakat  setempat  sesuai  dengan  peraturan  perun‐ dang‐undangan”.   Berdasarkan  Undang‐Undang  tersebut,  maka masing‐masing daerah dituntut untuk  lebih  mandiri  dalam  menjalankan  proses  pembangunan daerahnya. Antara lain dalam  perencanaan,  pelaksanaan,  pengawasan,  pengendalian dan evaluasi kebijakan pemba‐ ngunan.  Maka  setiap  daerah  harus  mampu  berkreasi  dan  mengoptimalkan  outputnya  guna  meningkatkan  kemajuan  dan  keman‐ dirian daerah serta meningkatkan kesejahte‐ raan masyarakat di daerahnya.  Aparatur  pemerintah  yang  berkemam‐ puan,  sehingga  masyarakat  secara  nyata  memperoleh  manfaat  dari  adanya  otonomi.  Agar tujuan dan usaha pembangunan daerah  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 34 ‐ 50 38  dapat berhasil dengan baik maka pemerintah  daerah  perlu  berfungsi  dengan  baik.  Oleh  karena itu, pembangunan daerah juga meru‐ pakan usaha mengembangkan dan memper‐ kuat  pemerintahan  daerah  dalam  rangka  penyelenggaraan otonomi daerah.   Otonomi Daerah. Istilah otonomi (auto‐ nomy) berasal dari bahasa yunani, yaitu auto  berarti  sendiri  dan  nomous  berarti  hukum.  Otonomi itu sendiri mengandung arti pembe‐ rian wewenang dalam mengambil keputusan  dan  pengelolaan  berdasarkan  peraturan  pe‐ rundang‐undangan  yang  berlaku.  Jadi,  oto‐ nomi  daerah  adalah  penataan  penyelengga‐ raan  pemerintahan  daerah  untuk  melaksa‐ nakan  dan  mengelola  daerahnya  masing‐ masing sesuai dengan peraturan yang berla‐ ku.  Pengertian otonomi daerah adalah kewe‐ nangan daerah otonom untuk mengatur dan  mengurus rumah  tangga daerah yang mele‐ kat pada negara kesatuan maupun kesatuan  maupun  negara  federal.  Sedangkan  daerah  otonomi adalah kesatuan masyarakat hukum  yang mempunyai batas daerah  tertentu ber‐ wenang  mengatur  dan  mengurus  kepenti‐ ngan masyarakat setempat menurut prakarsa  sendiri  berdasarkan  aspirasi  masyarakat  dalam  ikatan  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia.   Otonomi daerah pada hakekatnya berke‐ naan  dengan  pelimpahan  wewenang  pe‐ ngambilan  keputusan  strategis,  serta  penga‐ turan  kegiatan  dalam  rangka  penyelengga‐ raan pemerintah dan pelayanan masyarakat.  Peranan pemerintah daerah dalam menggali  dan  mengembangkan  berbagai  potensi  dae‐ rah sebagai sumber penerimaan daerah akan  sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan  tugas  pemerintah  dalam  pembangunan  dan  pelayanan masyarakat. Keberhasilan otonomi  daerah  memerlukan  kesiapan  pemerintah  daerah  di  segala  bidang,  terutama  kesiapan  sumber  daya  manusia  yang  mampu  menja‐ wab  tantangan  dalam  pelaksanaan  otonomi  daerah, guna memberdayakan potensi daerah  yang ada (Suwandi, 2000).  Otonomi daerah sesuai dengan Undang‐ Undang No.32 Tahun 2004 yang didasarkan  pada prinsip‐prinsip: Pertama, negara Indone‐ sia adalah negara kesatuan, dan oleh karena‐ nya hubungan antara pemerintah pusat dan  pemerintah  daerah  sudah  tentu  dalam  kerangka negara kesatuan,   Kedua,  di  dalam  negara  kesatuan  tidak  dibenarkan adanya negara di dalam negara,   Ketiga,  mengingat  adanya  perbedaan  dalam  tingkat  perkembangan  antardaerah,  maka pengaturan hubungan antara pemerin‐ tah pusat dan pemerintah daerah dilaksana‐ kan melalui desentralisasi, dekonsentrasi dan  tugas  pembantuan,  sedangkan  pelaksanaan‐ nya  disesuaikan  dengan  permasalahan  atau  urusan  yang  dihadapi  serta  tingkatan  per‐ kembangan daerah.  Keempat, Otonomi daerah itu bukan me‐ rupakan  tujuan  akhir  karena  adanya  tujuan  adanya daerah otonomi adalah sama dengan  tujuan negara, dan otonomi merupakan cara  untuk mencapai tujuan itu. Dalam rangka itu  otonomi daerah harus  menguntungkan bagi  masyarakat di daerah yang bersangkutan dan  bagi  bangsa  dan  negara  kesatuan  secara  keseluruhan.  Dalam  rangka  otonomi  daerah  sangat  jelas  bahwa  kepemimpinan  dari  pemerintah  pusat memerlukan visi untuk lebih memaju‐ kan  perekonomian  suatu  daerah.  Visi  oto‐ nomi  daerah  dapat  dirumuskan  dalam  tiga  ruang lingkup, yaitu:  Di bidang politik, otonomi daerah merupakan  hasil  dari  kebijakan  desentralisasi  dan  de‐ mokratisasi,  sehingga  dapat  dipahami  seba‐ gai  sebuah  proses  mekanisme  pengambilan   keputusan yang taat pada asas pertanggung‐ jawaban publik.  Penentu Sektor Unggulan  ... (Agus TB. dan Utari G.)  39 Di  bidang  ekonomi,  terbukanya  peluang  bagi  pemerintah  daerah  dalam  mengembangkan  kebijakan regional dan lokal untuk mengop‐ timalkan  pendayagunaan  potensi  ekonomi  daerah.  Di  bidang  sosial  dan  budaya,  otonomi  harus  dapat  dikelola  sebaik  mungkin  demi  men‐ ciptakan  dan  memelihara  dinamika  kehi‐ dupan di sekitarnya.  Otonomi  daerah  bukan  diartikan  hanya  sebagai  proses  administrasi  politik  yang  berupa  pelimpahan  wewenang  pembangu‐ nan  dan  pemerintahan  kepada  pemerintah  daerah,  melainkan  lebih  merupakan  suatu  proses pembangunan daerah sendiri dengan  segala  rangkaian  komitmen  dan  tanggung  jawab mengiringnya, yang menuntut kemam‐ puan  seluruh  apartur  pemerintah  daerah  di  dalam penguasaan substansi dan manajemen  pembangunan.  Dalam  hal  ini,  perlu  diper‐ hatikan  unsur  yang  amat  penting  dalam  upaya  meningkatkan  otonomi  daerah,  yaitu  kemantapan  kelembagaan  dan  ketersediaan  sumber  daya  manusia  yang  memadai,  khu‐ susnya  aparatur  pemerintah,  serta  kemam‐ puan keuangan daerah untuk menggali sum‐ ber  pendapatannya  sendiri  (Kartasasmita,  1996).   Manfaat  otonomi  daerah  itu  sendiri  menurut Machfud Siddik adalah sebagai beri‐ kut:  1.  Menyebarkan  pusat  pengambilan  keputusan  (decongestion).  Apabila  semua  masalah  dile‐ takkan di tangan seseorang atau sekelompok  pengambilan  keputusan  saja,  maka  dapat  dipahami  akan  terjadi  pengumpulan  wewe‐ nang  pada  satu  pusat  pengambilan  kepu‐ tusan.  2.  Kecepatan  dalam  pengambilan  keputusan  (speed). Suatu masalah tidak perlu diputuskan  oleh  satu  pusat  pengambil  keputusan  saja,  tetapi  pengambilan  keputusan  ini  dapat  di‐ laksanakan  dengan  lebih  cepat.  Apalagi  di  negara  sedang  berkembang,  dimana  trans‐ portasi  dan  komunikasi  tidak  selalu  lancar  maka  penyebaran  wewenang  kepada  lebih  sari satu pusat pengambilan keputusan akan  mempercepat pengambilan keputusan.  3. Pengambilan keputusan yang realistis (econo‐ mic and social realism). Dikarenakan pengam‐ bilan keputusan dibuat oleh pemerintah dae‐ rah  masing‐masing,  maka  keputusan  dapat  disesuaikan dengan kebutuhan daerah terse‐ but. Hal ini dapat memperlancar pembangu‐ nan  di  daerah‐daerah  dan  kebutuhan  di  daerah tersebut dapat segera terpenuhi.  METODE  Analisis  Model  Rasio  Pertumbuhan  (MRP)  Analisis MRP merupakan alat analisis untuk  melihat  deskripsi  kegiatan  atau  sektor  eko‐ nomi yang potensial berdasarkan pada krite‐ ria  pertumbuhan  struktur  ekonomi  wilayah  baik eksternal maupun internal (Yusuf, 1999).   Model  analisis  ini  diturunkan  dari  per‐ samaan awal komponen utama dalam anali‐ sis Shift and Share yaitu Differential Shift dan  Proportionality  Shift.  Secara  matematis  Diffe‐ rential Shift dapat ditulis sebagai berikut:  (t) ij (t) IR IR (t) ij ij ij E E E E ΔE D            (1)  dan  Propotionality  Shift  dapat  ditulis  secara  matematis sebagai berikut:  (t) ij (t) R R (t) IR IR ij E E E E ΔE P             (2)  Sehingga dari persamaan di atas dipero‐ leh  rumus‐rumus  perhitungan  sebagai  beri‐ kut:  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 34 ‐ 50 40  ∆EIR = EIR (t+n) – EIR (t)   (3)  ∆ER = ER (t+n) – ER (t)  (4)  Keterangan;  ∆Eij  adalah  perubahan  pendapa‐ tan kegiatan i di wilayah studi pada periode  waktu  t  dan  t+n;  ∆EIR  adalah  perubahan  pendapatan  kegiatan  i  di  wilayah  referensi;  ∆ER  adalah  perubahan  PDRB  di  wilayah  referensi; Eij adalah pendapatan kegiatan i di  wilayah studi; EIR adalah pendapatan kegia‐ tan i di wilayah referensi; ER adalah PDRB di  wilayah  referensi,  t+n  adalah  tahun  antara  dua periode.  Pendekatan analisis MRP ini dibagi men‐ jadi dua rasio, yaitu:  (1) rasio pertumbuhan  wilayah referensi (RPR) dan (2) rasio pertum‐ buhan wilayah studi (RPS).  (1)  Rasio  Pertumbuhan  Wilayah Refe- rensi (RPR). RPR  adalah perbandingan antara  laju  pertumbuhan  pendapatan  kegiatan  i  di  wilayah  referensi  dengan  laju  pertumbuhan  total kegiatan (PDRB) wilayah referensi.  )( )( tEE tEE RP RR iRiR R       (5)  Keterangan; ∆EiR adalah perubahan pendapa‐ tan kegiatan i di wilayah referensi, EiR(t) ada‐ lah pendapatan kegiatan i awal periode pene‐ litian di wilayah referensi, ∆ER adalah peru‐ bahan PDRB di wilayah referensi; ER(t) adalah  PDRB pada awal penelitian wilayah referensi.  Jika nilai RPR>1 Þ positif (+), artinya me‐ nunjukkan bahwa pertumbuhan suatu sektor  tertentu dalam wilayah referensi lebih tinggi  dari  pertumbuhan  PDRB  total  wilayah  refe‐ rensi.  Jika nilai RPR<1 Þ negatif (‐), artinya me‐ nunjukkan bahwa pertumbuhan suatu sektor  tertentu  dalam  wilayah  referensi  lebih  kecil  dari  pertumbuhan  PDRB  total  wilayah  refe‐ rensi.  (2)  Rasio  Pertumbuhan  Wilayah  Studi  (RPS).  RPS  adalah  perbandingan  antara  laju  pertumbuhan  kegiatan  i  wilayah  studi  de‐ ngan  laju  pertumbuhan  kegiatan  i  wilayah  referensi.  )( )( tEiREiR tEijEij RPS       (6)          Keterangan; ∆Eij adalah perubahan pendapa‐ tan kegiatan  i di wilayah studi, Eij(t) adalah  pendapatan  kegiatan  i  pada  awal  periode  penelitian wilayah studi, ∆EiR adalah peruba‐ han  pendapatan  kegiatan  i  di  wilayah  refe‐ rensi,  EiR(t)  adalah  pendapatan  kegiatan  i  awal periode penelitian di wilayah referensi.  Jika nilai RPs>1 Þ positif (+), artinya me‐ nunjukkan bahwa pertumbuhan sektor pada  tingkat wilayah studi lebih tinggi dibanding‐ kan dengan pertumbuhan sektor pada wila‐ yah referensi.  Jika nilai RPs<1 Þ negatif (‐), artinya per‐ tumbuhan suatu sektor pada tingkat wilayah  studi lebih rendah dibandingkan dengan per‐ tumbuhan sektor tersebut pada wilayah refe‐ rensi.  Hasil dari analisis MRP  ini dapat dikla‐ sifikasikan sebagai berikut:  Klasifikasi 1, yaitu nilai RPR (+) dan RPS (+)  berarti  kegiatan  tersebut  pada  tingkat  pro‐ vinsi mempunyai pertumbuhan yang menon‐ jol dan demikian pula pada tingkat kabupa‐ ten.  Kegiatan  ini  selanjutnya  disebut  domi‐ nan pertumbuhan.  Klasifikasi 2, yaitu nilai RPR (+) dan RPS (‐)  berarti  kegiatan  tersebut  pada  tingkat  pro‐ vinsi  mempunyai  pertumbuhan  menonjol,  namun  pada  tingkat  kabupaten  belum  me‐ nonjol.  Klasifikasi 3, yaitu nilai RPR (‐) dan RPS (+)  berarti  kegiatan  tersebut  pada  tingkat  pro‐ vinsi mempunyai pertumbuhan tidak menon‐ Penentu Sektor Unggulan  ... (Agus TB. dan Utari G.)  41 jol sementara pada tingkat kabupaten terma‐ suk menonjol.  Klasifikasi 4, yaitu nilai RPR (‐) dan RPS (‐)  berarti kegiatan tersebut pada tingkat provin‐ si dan pada  tingkat kabupaten   mempunyai  pertumbuhan rendah.  Analisis Shift Share  Analisis Shift share merupakan teknik dalam  menganalisis  pertumbuhan  ekonomi  suatu  daerah sebagai perubahan atau peningkatan  suatu  indikator pertumbuhan perekonomian  suatu  wilayah  dalam  kurun  waktu  tertentu.  Tujuan analisis ini adalah untuk menentukan  kinerja atau produktifitas kerja perekonomi‐ an  daerah  dibandingkan  dengan  perekono‐ mian di tingkat regional atau nasional.   Analisis Shift share ini membagi pertum‐ buhan sebagai perubahan (D) suatu variabel  daerah,  seperti  jumlah  tenaga  kerja,  nilai  tambah,  pendapatan  atau  output  selama  waktu  tertentu  menjadi  pengaruh‐pengaruh  pertumbuhan  nasional  (N),  bauran  industri/  industry mix (M) dan keunggulan kompetitif  (C). Pengaruh pertumbuhan nasional disebut  proposional  shift  atau  bauran  komposisi,  dan  pengaruh keunggulan kompetitif dinamakan  differential  shift  atau  regional  share  (Soepono,  1993).  Persamaan dan komponen‐komponen  dalam analisis shift share sebagai berikut:  Dij = Nij + Mij + Cij   (7)  Dalam  penelitian  ini  variabel‐variabel  yang digunakan adalah:  Dij = E*ij – Eij  (8)  Nij = Eij . rn  (9)  Mij = Eij (rin – rn)  (10)  Cij = Eij (rij – rn)  (11)  dimana: rij, rin, dan rn mewakili laju pertum‐ buhan  wilayah  kabupaten  dan  laju  pertum‐ buhan wilayah provinsi yang masing‐masing  didefinisikan sebagai berikut:  Eij EijijE rij )*(     (12)  Ein EininE rin )*(     (13)  En EnnE rn )*(     (14)  Keterangan; Eij adalah pendapatan sektor i di  wilayah  j  (kabupaten),  Ein  adalah  pendapa‐ tan sektor i di wilayah n (provinsi), En adalah  pendapatan wilayah n (provinsi), E*ij adalah  pendapatan  tahun  terakhir,  rij  adalah  laju  pertumbuhan sektor  i di wilayah  j  (kabupa‐ ten), rin adalah laju pertumbuhan sektor i di  wilayah n (provinsi), rn adalah  laju pertum‐ buhan pendapatan di wilayah n (provinsi)  Sehingga  didapat  persamaan  Shift  share  untuk  sektor  i  di  wilayah  j  (Soepono,  1993)  sebagai berikut:  Dij=Eij.rn+Eij(rin‐rn)+Eij(rij‐rin)  (15)  Keterangan;  Dij  adalah  perubahan  variabel  output sektor  i di wilayah  j, Nij adalah per‐ tumbuhan ekonomi nasional, Mij adalah bau‐ ran  industri sektor  i di wilayah  j, Cij adalah  keunggulan kompetitif sektor  i di wilayah  j,  Eij adalah pendapatan sektor i di wilayah j,   Adapun dari rumus di atas diketahui ada  2 indikator dari hasil perhitungan Shift share  dalam perekonomian suatu daerah, yaitu:  Jika nilai dari komponen pergeseran pro‐ porsional  dari  sektor>0,  maka  sektor  yang  bersangkutan mengalami pertumbuhan yang  cepat dan memberikan pengaruh yang positif  kepada  perekonomian  daerah,  begitu  juga  sebaliknya.  Jika nilai komponen pergeseran diferen‐ Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 34 ‐ 50 42  sial  suatu  sektor<0,  maka  keunggulan  kom‐ paratif dari sektor tersebut meningkat dalam  perekonomian yang lebih tinggi, begitu  juga  sebaliknya.  Analisis  Location Quotient (LQ)  Analisis  LQ  merupakan  suatu  alat  analisis  untuk  menunjukkan  basis  ekonomi  suatu  wilayah  terutama  dari  kriteria  kontribusi.  Alat analisis  ini  juga dipakai untuk mengu‐ kur konsentrasi dari suatu kegiatan (industri)  dalam  suatu  daerah  itu  dengan  peranan  kegiatan atau  industri sejenis dalam pereko‐ nomian  regional  atau  nasional.  Perhitungan  basis  tersebut  menggunakan  variabel  PDRB  wilayah  atas  suatu  kegiatan  dalam  struktur  ekonomi  wilayah.  Rumus  menghitung  LQ  (Arsyad, 1999) adalah:  VtVi vtvi LQ      (16)  Keterangan:  LQ  adalah  koefisien  Location  Quotient,  vi  adalah  pendapatan  sektor  i  di  suatu  daerah,  vt  adalah  pendapatan  total  daerah tersebut, Vi adalah pendapatan sektor  i  secara  regional/nasional,  Vt  adalah  penda‐ patan total regional/nasional  Dari rumus di atas ada 3 kategori hasil  perhitungan  Location  Quotient  (LQ)  dalam  perekonomian daerah, yaitu:  Jika  nilai  LQ>1,  maka  sektor  yang  ber‐ sangkutan  di  wilayah  studi  lebih  berspesia‐ lisasi dibandingkan dengan wilayah referen‐ si. Artinya, sektor  tersebut dalam perekono‐ mian  daerah  di  wilayah  studi  memiliki  keunggulan  komparatif  dan  dikategorikan  sebagai sektor basis.  Jika  nilai  LQ<1,  maka  sektor  yang  ber‐ sangkutan di wilayah studi kurang berspesia‐ lisasi dibandingkan dengan wilayah referen‐ si.  Sektor  tersebut  dikategorikan  sebagai  sektor nonbasis.  Jika  nilai  LQ=1,  maka  sektor  yang  ber‐ sangkutan baik di wilayah studi maupun di  wilayah referensi memiliki peningkatan.  Analisis  Overlay  Analisis  Overlay  ini  dimaksudkan  untuk  menentukan  sektor  atau  kegiatan  ekonomi  yang potensial berdasarkan kriteria pertum‐ buhan dan kriteria kontribusi dengan meng‐ abungkan  hasil  dari  Metode  Rasio  Pertum‐ uhan  (MRP)  dan  metode  Location  Quotient  (LQ). Metode ini  mempunyai 4 (empat) peni‐ aian atau kemungkinan, yaitu:  Pertumbuhan (+) dan kontribusi (+), me‐ unjukkan suatu kegiatan yang sangat domian  baik dari pertumbuhan maupun dari kontri‐ busi.  Pertumbuhan  (+) dan kontribusi  (‐) me‐ nunjukkan  suatu  kegiatan  yang  pertumbu‐ hannya  dominan  tetapi  kontribusinya  kecil.  Kegiatan ini perlu  lebih ditingkatkan kontri‐ businya untuk menjadi kegiatan yang domi‐ nan.  Pertumbuhan  (‐) dan kontribusi  (+) me‐ nunjukkan  suatu  kegiatan  yang  pertumbu‐ hannya  kecil  tetapi  kontribusinya  besar.  Kegiatan  ini  sangat  memungkinkan  bahwa  kegiatan sedang mengalami penurunan.  Pertumbuhan  (‐)  dan  kontribusi  (‐)  me‐ nunjukkan suatu kegiatan yang tidak poten‐ sial baik dari kriteria pertumbuhan maupun  dari kontribusi.  Analisis Klassen Typology  Analisis  Klassen  Typology  digunakan  untuk  melihat gambaran tentang pola dan struktur  pertumbuhan  masing‐masing  sektor  ekono‐ mi.  Gambaran  tentang  pola  dan  struktur  pertumbuhan  daerah  ini,  dapat  diperguna‐ kan untuk memperkirakan prospek pertum‐ Penentu Sektor Unggulan  ... (Agus TB. dan Utari G.)  43 buhan  ekonomi  daerah  pada  masa  menda‐ tang.  Selain  itu,  hal  tersebut  juga  dapat  dipergunakan  sebagai  bahan  pertimbangan  dalam  menentukan  kebijaksanaan  pemba‐ ngunan daerah.   Menurut Tipologi daerah, daerah dibagi  menjadi 4 klasifikasi, yaitu:  Daerah  cepat  maju  dan  cepat  tumbuh  adalah daerah yang memiliki laju pertumbu‐ han ekonomi dan pendapatan perkapita yang  lebih tinggi dari rata‐rata wilayah.  Daerah maju tapi tertekan adalah daerah  yang  memiliki  pendapatan  perkapita  yang  lebih tinggi, tetapi tingkat pertumbuhan eko‐ nominya lebih rendah dari rata‐rata.  Daerah berkembang cepat adalah daerah  yang  memiliki  tingkat  pertumbuhan,  tetapi  tingkat perkapita lebih rendah dari rata‐rata.  Daerah Relatif tertinggal adalah daerah  yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi  dan pendapatan perkapita yang rendah.  Dalam analisis terdapat empat klasifikasi  sektor‐sektor  ekonomi  yang  mempunyai  karakteristik yang berbeda yaitu, sektor tum‐ buh cepat (rapid growth sector), sektor tertekan  (retarded  sector),  sektor  sedang  tumbuh  (growing sector), sektor relatif tertinggal (rela‐ tively backward sector) yang dapat dilihat pada  Tabel 1.  HASIL DAN PEMBAHASAN  Analisis Model Rasio Pertumbuhan  (MRP)  Analisis MRP merupakan alat analisis untuk  melihat deskripsi kegiatan atau sektor ekono‐ mi yang potensial berdasarkan pada kriteria  pertumbuhan struktur ekonomi wilayah baik  eksternal maupun internal. Model analisis ini  diturunkan dari persamaan awal komponen  utama dalam analisis Shift Share yaitu Diffe‐ rential  Shift  dan  Proportionality  Shift.  Dalam  analisis  ini  terdapat dua  jenis rasio pertum‐ buhan yaitu Rasio Pertumbuhan Wilayah Re‐ ferensi (RPR) yaitu Provinsi Sumatera Selatan  dan Rasio Pertumbuhan Wilayah Studi (RPS)  yaitu kabupaten Ogan Komering Ilir.  Tabel 2 menyajikan hasil perhitungan dan  analisis MRP kabupaten Ogan Komering Ilir  untuk melihat deskripsi kegiatan atau sektor  ekonomi  terutama  struktur  ekonomi  di  wilayah ini.  Hasil perhitungan tersebut menunjukkan  bahwa sektor ekonomi yang mempunyai nilai  RPR positif (+) dan nilai RPS positif (+) yaitu  sektor pertanian dan sektor industri pengolahan.  Hal ini berarti pada periode tahun 2003‐2007,  sektor pertanian dan sektor industri pengola‐ han merupakan sektor yang potensial baik di  tingkat  provinsi  maupun  di  tingkat  kabu‐ Tabel 1. Klasifikasi Sektor Ekonomi menurut Klassen Typology                y  r  yi > y  yi < y  ri > r  Sektor maju dan tumbuh cepat  Sektor berkembang cepat  ri < r  Sektor maju tetapi tertekan  Sektor relatif tertinggal    Sumber: Syafrizal (1997)  Keterangan:  ri  adalah  laju  pertumbuhan  sektor  i,  r  adalah  laju  pertumbuhan  PDRB,  yi  adalah  kontribusi sektor i terhadap PDRB, y adalah kontribusi rata‐rata sektor terhadap PDRB  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 34 ‐ 50 44  paten karena mempunyai pertumbuhan yang  menonjol dari sektor ekonomi yang lain.  Sedangkan hanya sektor pertambangan dan  penggalian  yang  mempunyai  pertumbuhan  rendah baik di tingkat provinsi dan di tingkat  kabupaten. Sektor‐sektor  lainnya seperti sek‐ tor  listrik, gas dan air bersih;  sektor bangunan;  sektor  perdagangan,  restoran  dan  hotel,  Sektor  pengangkutan dan komunikasi, serta sektor keua‐ ngan, persewaan dan  jasa perusahaan, mempu‐ nyai  nilai  RPR  positif  dan  nilai  RPS  negatif  berarti  sektor‐sektor  tersebut  pada  tingkat  provinsi mempunyai pertumbuhan yang me‐ nonjol  tetapi pada  tingkat kabupaten belum  menonjol.  Dari  hasil  analisis  MRP  dalam  konteks  kabupaten  Ogan  Komering  Ilir  tersebut,  menunjukkan bahwa sektor pertanian dan sek‐ tor industri pengolahan merupakan sektor yang  dominan pertumbuhannya. Selain itu, sektor  tersebut  juga menunjukkan peningkatan ter‐ hadap  struktur  pertumbuhan  ekonomi.  Hal  ini  mengingat  sebagian  besar  penduduk  di  wilayah  kabupaten  OKI  masih  bergerak  di  bidang  agraris,  sehingga  sektor  pertanian  mempunyai  pertumbuhan  yang  menonjol  dari sektor lainnya. Selain itu, sektor industri  pengolahan  juga  mempunyai  pertumbuhan  yang  menonjol  yaitu  salah  satunya  industri  pengolahan seperti industri pembuatan pem‐ pek  dan  kerupuk  kemplang  yang  berkem‐ bang pesat di provinsi Sumatera Selatan dan  kabupaten  OKI.  Sehingga  pembangunan  di  kedua  sektor  tersebut  harus  lebih  ditingkat‐ kan dan diperhatikan.  Analisis Shift Share Analisis shift share mempunyai tujuan untuk  menentukan  kinerja  atau  produktifitas  kerja  perekonomian daerah dibandingkan dengan  perekonomian nasional. Analisis juga diguna‐ kan untuk menganalisis pertumbuhan ekono‐ mi  suatu  daerah  sebagai  perubahan  atau  peningkatan  suatu  indikator  pertumbuhan  perekonomian  suatu  wilayah  dalam  kurun  waktu tertentu. Jika pertumbuhan di tingkat  daerah  atau  regional  menunjukkan  perbe‐ daan  dengan  pertumbuhan  nasional  yang  dapat  dilihat  dari  positif  dan  negatif  dalam  pergeseran PDRB dan secara total pergeseran  terdiri dari pergeseran struktural serta perge‐ seran terhadap pembagian proporsional.  PDRB  merupakan  salah  satu  indikator  ekonomi  yang  menunjukkan  upaya  dalam  mengamati perubahan struktur ekonomi dae‐ rah atau regional.     Tabel 2. Hasil Perhitungan MRP Kabupaten Ogan Komering Ilir Tahun 2003‐2007  RPR  RPS Sektor  Riil  Nominal  Riil  Nominal  1. Pertanian  1,236  +  1,015  +  2. Pertambangan & Penggalian  0,056  _  0,225  _  3. Industri Pengolahan  1,091  +  1,132  +  4. Listrik, Gas & Air Bersih  1,261  +  0,615  _  5. Bangunan  1,562  +  0,72  _  6. Perdagangan, Restoran & Hotel  1,46  +  0,794  _  7. Pengangkutan & Komunikasi  2,253  +  0,474  _  8. Keu. Persewaan & Jasa Perusahaan  1,492  +  0,481  _  9. Jasa‐jasa  1,28  +  0,825  _  Sumber:BPS Kabupaten OKI (data diolah)  Penentu Sektor Unggulan  ... (Agus TB. dan Utari G.)  45           S e k to r     2 0 0 5            2 0 0 6            2 0 0 7            N ij   M ij   C ij   D ij   N ij   M ij   C ij   D ij   N ij   M ij   C ij   D ij   1   1 2 1 3 1 5 1   1 2 6 2 0 8 9   1 4 2 3 9 2 1   3 8 9 9 1 6 2   1 2 9 3 9 8 4   1 6 0 5 8 4 7   1 8 9 2 2 0 4   4 7 9 2 0 3 5   1 3 7 7 1 8 9   8 9 7 7 9 3   8 1 5 6 2 6   3 0 9 0 6 0 8   2   4 2 2 4 1 .1 7   ‐1 8 6 5 3 2   ‐2 4 4 1 0 .2   ‐1 6 8 7 0 1   4 3 9 1 5 .8   ‐2 1 2 6 7 3   ‐5 4 2 8 0 .2   ‐2 2 3 0 3 8   4 7 1 7 8 .2   ‐2 6 3 5 5 5   7 5 0 8 3 .5   ‐1 4 1 2 9 4   3   2 1 4 5 9 4 .2   ‐1 8 9 6 7 .4   8 6 2 4 5 .9   2 8 1 8 7 3   2 2 7 0 3 3   2 1 6 1 0 .8 3   ‐6 6 7 2 0 .9   1 8 1 9 2 3   2 4 1 0 0 9   ‐3 4 3 2 4   ‐1 5 0 6 0 2   5 6 0 8 3 .2   4   1 4 7 4 .1 6 5   2 6 9 2 .8 3 1   ‐1 8 6 8 .6 2   2 2 9 8 .3 8   1 5 2 7 .8   3 4 8 9 .2 1 5   ‐2 3 7 5 .5 6   2 6 4 1 .4 5   1 6 0 1 .1 6   2 5 0 9 .9 2   ‐1 6 2 4 .4   2 4 8 6 .7   5   3 3 3 7 5 9 .2   9 2 6 2 4 4   1 3 7 8 3 1   1 3 9 7 8 3 5   3 5 4 0 6 9   7 2 5 5 9 6 .6   3 1 3 1 4 5 .3   1 3 9 2 8 1 1   3 7 4 8 8 5   8 5 0 6 3 2   1 5 4 9 1 .5   1 2 4 1 0 0 9   6   4 1 6 0 2 8 .2   1 2 0 5 8 2 4   2 2 6 2 5 5   1 8 4 8 1 0 6   4 3 9 1 0 0   1 2 0 0 0 9 0   1 5 1 4 8 3 .5   1 7 9 0 6 7 3   4 6 8 9 2 3   1 5 0 2 8 9 1   4 4 7 3 7 7   2 4 1 9 1 9 1   7   3 1 2 0 5 .1 7   2 0 9 7 9 1 .2   1 7 1 9 4 .3   2 5 8 1 9 1   3 2 8 5 4 .8   1 7 6 0 8 2 .6   2 8 2 7 .1 2 5   2 1 1 7 6 5   3 5 1 8 9 .2   2 9 8 5 1 5   4 4 6 2 5 .4   3 7 8 3 3 0   8   6 3 3 0 6 .1 7   1 6 0 3 2 5 .6   ‐1 0 3 8 3 8   1 1 9 7 9 4   6 5 7 3 6 .8   2 0 0 8 9 6 .6   ‐8 9 4 7 2   1 7 7 1 6 1   6 9 4 8 0 .2   2 2 9 1 2 3   ‐9 9 3 4 .2   2 8 8 6 6 9   9   1 8 6 4 9 3 .2   3 5 1 5 7 6 .2   1 2 9 6 9 .4   5 5 1 0 3 9   1 9 5 5 5 9   5 2 8 1 2 5 .8   ‐6 6 4 0 4 .4   6 5 7 2 8 0   2 1 2 0 0 8   6 8 3 2 3 8   5 4 5 6 4 2   1 4 4 0 8 8 8   P D R B   2 5 0 2 2 5 2   3 9 1 3 0 4 3   1 7 7 4 3 0 0   8 1 8 9 5 9 5   2 6 5 3 7 7 9   4 2 4 9 0 6 5   2 0 8 0 4 0 6   8 9 8 3 2 5 1   2 8 2 7 4 6 3   4 1 6 6 8 2 4   1 7 8 1 6 8 5   8 7 7 5 9 7 2   T a b e l  3 .  P e rh it u n g a n  S h if t  S h a re  k a b u p a te n  O g a n  K o m e ri n g  I li r  T a h u n  2 0 0 3 ‐2 0 0 7  ( Ju ta  R u p ia h )  S u m b er :  B ad an  P u sa t  S ta ti st ik  k ab u p at en  O K I  (d at a  d io la h )  K e te ra n g a n :  N ij   a d a la h   K o m p o n e n   P e rt u m b u h a n   N a si o n a l,   M ij   a d a la h   K o m p o n e n   B a u ra n   In d u st ri ,  C ij   a d a la h   K o m p o n e n   K e u n g g u la n   K o m p e ti ti f,    D ij  a d a la h    K o m p o n e n  P e rt u m b u h a n  D a e ra h   Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 34 ‐ 50 46  Dampak  dari  perubahan  PDRB  tersebut  yang  dalam  perhitungannya  berubah  sesuai  dengan  tipe  dari  PDRB  dalam  subsektor  tertentu termasuk laju pertumbuhan nasional  yang  cepat  atau  lambat.  Oleh  karena  itu,  dengan  tujuan untuk mengamati pertumbu‐ han ekonomi dan perkembangan pergeseran  perekonomian  dalam  hal  ini  perkembangan  sektor‐sektor  ekonomi  kabupaten  Ogan  Ko‐ mering Ilir dalam kurun waktu antara tahun  2003‐2007, maka digunakan analisis shift share  ini.  Tabel  3  menyajikan  hasil  perhitungan  dengan    menggunakan analisis  shift‐share  di  atas,  terlihat  bahwa  pada  tahun  2007 sektor  yang memiliki pengaruh keunggulan kompe‐ titif (Cij) adalah sektor pertanian, sektor perda‐ gangan, restoran dan hotel, dan sektor jasa‐jasa.  Selain  itu,  sektor  yang  juga  mengalami  peningkatan pengaruh keunggulan kompeti‐ tif adalah sektor pertambangan dan penggalian.  Berdasarkan  hasil  analisis  shift‐share  pada  tahun 2007 secara keseluruhan dengan meli‐ hat  pengaruh  keunggulan  kompetitif  pada  PDRB  menunjukkan  penurunan  bila  diban‐ dingkan  tahun  2006,  tetapi  secara  keseluru‐ han semua sektor ekonomi mengalami peru‐ bahan  yang  positif  pada  PDRB  di  wilayah  kabupaten OKI.    Analisis Location Quotient (LQ)  Analisis  LQ  digunakan  untuk  mengetahui  seberapa  besar  tingkat  spesialisasi  sektor  basis atau unggulan. Metode analisis ini juga  dipakai  untuk  mengukur  konsentrasi  dari  suatu kegiatan (industri) dalam suatu daerah  itu  dengan  peranan  kegiatan  atau  industri  sejenis  dalam  perekonomian  regional  atau  nasional. Perhitungan basis tersebut menggu‐ nakan  variabel  PDRB  wilayah  atas  suatu  kegiatan dalam struktur ekonomi wilayah.   Apabila  sektor  yang  memiliki  nilai  LQ  lebih dari satu menunjukkan bahwa peranan  sektor  ekonomi  cukup  menonjol  di  daerah  tersebut dan sektor tersebut mampu mengek‐ spor sebagian dari nilai tambah yang dihasil‐ kannya.  Sebaliknya,  apabila  sektor  yang  memiliki nilai LQ lebih dari satu hanya mam‐ pu memenuhi pasar dalam negeri atau lokal  daerah  dan  cenderung  mengimpor  dari  wilayah lain.  Berdasarkan  Tabel  4  yang  menyajikan  hasil  perhitungan  LQ,  dapat  diketahui  ada  sektor yang memiliki nilai LQ>1 yaitu Sektor  Pertanian, Sektor Bangunan Sektor Perdaga‐ ngan, Hotel dan Restoran, serta Sektor  Jasa‐ jasa. Sektor‐sektor tersebut merupakan sektor  basis yang memiliki peranan penting dalam  perekonomian  kabupaten  OKI  yang  ditun‐ Tabel 4. Koefisien Locationt Quoient (LQ) Kabupaten Ogan Komering Ilir Tahun 2003‐2007 Sektor  2003  2004  2005  2006  2007  Rerata LQ  1. Pertanian  2.4935  2.4692  2.454  2.4393  2.42174  2.4555  2. Pertambangan & Penggalian  0.0593  0.0610  0.0629  0.0646  0.06876  0.0633  3. Industri Pengolahan  0.4831  0.4807  0.4833  0.4817  0.48058  0.4819  4. Listrik, Gas & Air Bersih  0.1352  0.1315  0.1268  0.1213  0.1176  0.1265  5. Bangunan  1.9739  1.9017  1.8462  1.8114  1.76233  1.8591  6. Perdagangan, Restoran & Hotel  1.3417  1.3219  1.2835  1.245  1.21117  1.2806  7. Pengangkutan & Komunikasi  0.3542  0.3293  0.3088  0.2917  0.27144  0.3111  8. Keu. Persewaan & Jasa Perusahaan  0.7401  0.7078  0.6752  0.6425  0.618070  0.6767  9. Jasa‐jasa  1.0743  1.0593  1.0336  0.9964  0.9839  1.0295  Sumber: BPS Kabupaten OKI (data diolah)  Penentu Sektor Unggulan  ... (Agus TB. dan Utari G.)  47 jukkan  dengan  nilai  koefisien  LQ  lebih  dari  satu.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  sektor‐ sektor tersebut mampu memenuhi kebutuhan  di  wilayah  kabupaten  OKI  dan  cenderung  mampu untuk mengekspor ke wilayah lain.  Pada sektor Pertambangan & Penggalian,  sektor  Industri  Pengolahan,  sektor  Listrik,  Gas  &  Air  Bersih,  sektor  Pengangkutan  &  Komunikasi,  serta  sektor  Keu.  Persewaan  &  Jasa  Perusahaan  memiliki  nilai  koefisien  LQ<1, hal ini menunjukkan bahwa sektor ter‐ sebut merupakan sektor non basis dan cende‐ rung akan mengimpor dari wilayah lain.  Hasil perhitungan analisis tersebut mem‐ perlihatkan bahwa sektor yang memiliki nilai  LQ  lebih  dari  satu  adalah  Sektor  Pertanian  (rerata  LQ=2,4555),  Sektor  Bangunan  (rerata  LQ=1,8591),  Sektor  Perdagangan,  Hotel  dan  Restoran  (rerata  LQ=1,2806),  serta  Sektor  Jasa‐jasa  (rerata  LQ=1,0295)  sebagai  sektor  unggulan dan memiliki keunggulan kompa‐ ratif.  Oleh  karena  itu,  sektor  tersebut  perlu  diupayakan baik oleh pemerintah dan sektor  swasta  untuk  lebih  dikembangkan  sebagai  sektor unggulan dalam perekonomian daerah  di wilayah kabupaten OKI.  Analisis Overlay  Metode overlay dalam penelitian  ini diguna‐ kan untuk menentukan dan mengetahui sek‐ tor‐sektor unggulan di kabupaten Ogan Ko‐ mering  Ilir  dengan  menggabungkan  hasil  dari  metode  Model  Rasio  Pertumbuhan  (MRP)  dan  metode  analisis  LQ.  Metode  ini  mempunyai penilaian terhadap sektor‐sektor  ekonomi yang potensial berdasarkan kriteria  pertumbuhan dan kriteria kontribusi.  Jika nilai RPs>1 yaitu positif (+), artinya  menunjukkan  bahwa  pertumbuhan  sektor  pada tingkat wilayah studi lebih tinggi diban‐ dingkan  dengan  pertumbuhan  sektor  pada  wilayah referensi. Jika nilai RPs<1 yaitu nega‐ tif (‐), artinya pertumbuhan suatu sektor pada  tingkat  wilayah  studi  lebih  rendah  diban‐ dingkan  dengan  pertumbuhan  sektor  terse‐ but pada wilayah referensi.  Sedangkan  dari  analisis  LQ,  jika  nilai  LQ>1  yaitu  positif  (+)  artinya  menunjukkan  sektor tersebut mempunyai kontribusi besar.  Jika nilai LQ<1 yaitu negatif (‐) artinya sektor  tersebut mempunyai kontribusi yang kecil.  Dari  hasil  perhitungan  analisis  overlay  pada tahun 2003‐2007 (Tabel 5) sektor ekono‐ mi  di  kabupaten  Ogan  Komering  Ilir  baik  Tabel 5. Perhitungan Overlay Kabupaten Ogan Komering Ilir Tahun 2003‐2007  MRP (RPS)  LQ  Sektor  Riil  Nominal  Riil  Nominal  1. Pertanian  1,015  +  2.4555  +  2. Pertambangan & Penggalian  0,225  _  0.0633  _  3. Industri Pengolahan  1,132  +  0.4819  _  4. Listrik, Gas & Air Bersih  0,615  _  0.1265  _  5. Bangunan  0,72  _  1.8591  +  6. Perdagangan, Restoran & Hotel  0,794  _  1.2806  +  7. Pengangkutan & Komunikasi  0,474  _  0.3111  _  8. Keu. Persewaan & Jasa Perusahaan  0,481  _  0.6767  _  9. Jasa‐jasa  0,825  _  1.0295  +  Sumber: BPS Kabupaten OKI (data diolah)  Keterangan: MRP adalah Model Rasio Pertumbuhan, RPS  adalah Nilai Rasio Pertumbuhan wilayah Studi,   LQ adalah Nilai koefisien Location Quotient  Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 34 ‐ 50 48  dari  pertumbuhan  maupun  dari  kontribusi  yang diklasifikasikan sebagai berikut:  Sektor pertanian merupakan sektor unggulan  atau  sangat  dominan  karena  menunjukkan  pertumbuhan  dan  kontribusi  yang  sangat  besar  terhadap  pembentukan  PDRB  dan  pembangunan di kabupaten OKI.  Sektor  industri  pengolahan  menunjukkan  sektor yang pertumbuhannya dominan tetapi  kontribusinya kecil. Artinya, sektor ini perlu  lebih ditingkatkan dan dikembangkan untuk  menjadi sektor yang dominan.  Sektor bangunan; sektor perdagangan, resto‐ ran dan hotel dan sektor  jasa‐jasa  menun‐ jukkan  sektor  yang  pertumbuhannya  kecil  tetapi  kontribusinya  besar.  Hal  ini  sangat  memunginkan  sektor  tersebut  merupakan  sektor  yang  sedang  mengalami  penurunan  yang  salah satunya  disebabkan  oleh  kurang  tersedianya lapangan kerja.  Sedangkan  keempat  sektor  lainnya,  antara  lain  sektor  pertambangan  dan  penggalian;  sektor  listrik,  gas  dan  air  bersih;  sektor  pengangkutan  dan  komunikasi  serta  sektor  keuangan,  persewaan  dan  jasa  perusahaan  merupakan sektor yang  tidak potensial baik  dari segi pertumbuhan maupun dari kontri‐ busi.  Analisis Klassen Typology  Analisis ini digunakan untuk melihat gamba‐ an  tentang  pola  dan  struktur  pertumbuhan  masing‐masing sektor ekonomi. Dalam anali‐ is ini terdapat empat klasifikasi sektor‐sektor  ekonomi yang mempunyai karakteristik yang  berbeda  yaitu,  sektor  maju  atau  tumbuh  cepat  (rapid  growth  sector),  sektor  potensial  atau tertekan tapi maju (retarded sector), sektor  berkembang  atau  sedang  tumbuh  (growing  sector), sektor relatif tertinggal (relatively back‐ ard sector).   Adanya  analisis  Klassen  Typology  ini  maka  sektor‐sektor  yang  termasuk  dalam  kelompok tersebut dapat dilihat dari Tabel 6.  Dari hasil perhitungan pada Tabel 6 tam‐ pak terlihat subsektor maju adalah sektor per‐ Tabel 6. Klasifikasi Sektor Ekonomi menurut Klassen Tyopology Kabupaten     Ogan Komering Ilir, Tahun 2003‐2007                Proporsi    Pertumbuhan  1 X Xi   1 X Xi   1   X Xi   Subsektor Maju:  Pertanian   (1,06 dan 2,45)  Subsektor Berkembang:  Industri Pengolahan  (1,04 dan 0,48)  1   X Xi   Subsektor Potensial:  Bangunan  (0,94 dan 1,85)  Perdagangan, Hotel dan  Restoran  (0,98 dan 1,28)  Jasa‐jasa   (0,9 dan 1,02 )  Subsektor Tertinggal:  Pertambangan dan Penggalian  (0,81 dan 0,06)  Listrik, Gas dan Air Bersih  (0,64 dan 0,12)  Pengangkutan dan Komunikasi  (0,91 dan 0,31)  Keuang, Persewaan dan Jasa  Perusahaan  (0,62 dan 0,67)    Sumber: Syafrizal (1997)  Penentu Sektor Unggulan  ... (Agus TB. dan Utari G.)  49 tanian  (1,06 dan 2,45) yang di masa menda‐ tang  akan menjadi sektor yang terus berkem‐ bang.  Subsektor  berkembang  yaitu  sektor  industri  pengolahan  (1,04  dan  0,48)  yang  menunjukkan  bahwa  sektor  ini  memiliki  potensi  pengembangan  yang  besar  tetapi  belum diolah sepenuhnya dengan baik.   Subsektor  potensial  terdiri  dari  sektor  bangunan  (0,94  dan  1,85);  perdagangan,  hotel  dan restoran (0,98 dan 1,28) dan sektor jasa‐jasa  (0,9 dan 1,02). Sedangkan subsektor tertinggal  adalah  sektor  pertambangan  dan  penggalian  (0,81 dan 0,06);  listrik, gas dan air bersih (0,64  dan 0,12);   pengangkutan dan komunikasi (0,91  dan 0,31); serta sektor keuangan, persewaan dan  jasa perusahaan (0,62 dan 0,67).   KESIMPULAN Dari hasil perhitungan analisis  di atas, dapat  dilihat  sektor  ekonomi  di  kabupaten  Ogan  Komering  Ilir dapat diklasifikasikan sebagai  berikut:   Sektor  pertanian  merupakan  sektor  ung‐ gulan  atau  sangat  dominan  karena  menun‐ jukkan  pertumbuhan  dan  kontribusi  yang  sangat  besar  terhadap  pembentukan  PDRB  dan pembangunan di kabupaten OKI.  Sektor  industri pengolahan menunjukkan sektor yang  pertumbuhannya dominan tetapi kontribusi‐ nya kecil. Artinya, sektor  ini perlu  lebih di‐ tingkatkan dan dikembangkan untuk menja‐ di  sektor  yang  dominan.  Sektor  bangunan;  sektor perdagangan, restoran dan hotel dan sektor  jasa‐jasa  menunjukkan  sektor  yang  pertum‐ buhannya  kecil  tetapi  kontribusinya  besar.  Hal ini sangat memungkinkan sektor tersebut  merupakan  sektor  yang  sedang  mengalami  penurunan  yang  salah  satunya  disebabkan  oleh  kurang  tersedianya  lapangan  kerja.  Empat  sektor  lainnya,  antara  lain  sektor per‐ tambangan dan penggalian; sektor listrik, gas dan  air bersih;  sektor pengangkutan dan komunikasi  serta sektor keuangan, persewaan dan jasa peru‐ sahaan  merupakan  sektor  yang  tidak  poten‐ sial baik dari segi pertumbuhan maupun dari  kontribusi.  Saran penulis dari penelitian  ini adalah:  diharapkan  pemerintah  daerah  dapat  me‐ manfaatkan  dan  mengembangkan  sumber  daya  atau  potensi  daerah  terutama  dalam  bidang  pengembangan  UKM  untuk  lebih  meningkatkan  penciptaan  kesempatan  kerja  di  masing‐masing  sektor  ekonomi  yang  ada  untuk  menunjang  pertumbuhan  ekonomi  daerah.  Penerapan kebijakan pembangunan dae‐ rah  yang  diambil  oleh  pemerintah  daerah  dan  lembaga  pemerintahan  di  lingkungan  daerah  harus  lebih  mengutamakan  kepenti‐ ngan masyarakat dalam mencapai pemerata‐ an  hasil‐hasil  pembangunan  ke  arah  yang  lebih baik di masa mendatang.  DAFTAR PUSTAKA  Arsyad, Lincolin, 1999, Ekonomi Pembangunan,  Edisi  4,  Cetakan  Pertama,  Yogyakarta:  STIE YKPN.   Arsyad, Lincolin, 1999, Pengantar Perencanaan  Pembangunan  Ekonomi  Daerah,  Edisi  Pertama, Yogyakarta: BPFE.   Badan  Pusat  Statistik,  2007, Produk Domestik  Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha,  kabupaten Ogan Komering Ilir.  Boediono,  1992,  Teori  Pertumbuhan  Ekonomi,  Edisi Pertama, Yogyakarta: BPFE.   Bulletin Statistik, 2008, Laporan Produk Domes‐ tik  Regional  Bruto  Menurut  Lapangan  Usaha,  Kabupaten  Ogan  Komering  Ilir:  BPS.  Conyers,  Diana  and  Peter  Hills,  1994,  An  Introduction  to  Development  Planning  in  the Third World, New York: John Wiley  & Son.   Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 10, Nomor 1, April 2009: 34 ‐ 50 50  Emilia,  dan  Imelia.,  2006,  Ekonomi  Regional,  Modul  Ilmu  Ekonomi,  Jambi:  SP4  FE  UNJ.   Jhingan,  M.L.,  1996,  Ekonomi  Pembangunan  dan  Perencanaan,  Edisi  Keenam,  Jakarta:  Raja Grafindo Persada.  Kartasasmita, Ginandjar., 1996, Pembangunan  untuk Rakyat,  Jakarta:  Pustaka  Cidesin‐ do.   Kuncoro, Mudrajad., 2004, Otonomi dan Pem‐ bangunan  Daerah,  Jakarta:  Penerbit  Er‐ langga.  Ma’ruf,  Ahmad.,  2003,  “Penentuan  Sektor  Unggulan di Provinsi Daerah Istimewa  Yogyakarta”,  Jurnal  Ekonomi  &  Studi  Pembangunan, Volume 4, No.1.  Soepono,  Prasetyo,  1993,  ”Analisis  Shift‐ Share,  Perkembangan dan  Penerapan”,  Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume VIII,  No.1.  Suharsih, S., dan Akhmad Syarifuddin., 2003,  “Analisis  dalam  Perencanaan  Pemba‐ ngunan  Daerah  dengan  Menggunakan  Beberapa Alat Analisis Alternatif: Studi  Kasus Provinsi Daerah Istimewa Yogya‐ karta,  pada  PELITA  VI”,  Jurnal  KOM‐ PAK, No.9, September, Hal. 445‐458.  Suparmoko,  1990,  Keuangan  Negara,  Yogya‐ karta: BPFE.   Suprapto,  Liling  Joko,  2007,  “Analisis  Peru‐ bahan Struktur Ekonomi dan Basis Eko‐ nomi  Provinsi  DI  Yogyakarta  Tahun  1998‐2004  (Implementasi  Pelaksanaan  Otonomi  Daerah)”,  Jurnal  Elektronik  UNS.  Suryana,  2000, Ekonomi Pembangunan Proble‐ matika dan Pendekatan,  Jakarta: Salemba  Empat.   Suwandi, I Made, 2000, Agenda Strategis Pena‐ taan Otonomi Daerah, Jakarta.  Syafrizal,  1997,  Pertumbuhan  Ekonomi  dan  Ketimpangan  Regional  Wilayah  Indonesia  Bagian Barat, Jakarta: Prisma.  Tarigan, R., 2007, Ekonomi Regional Teori dan  Aplikasi, Edisi Revisi, Cetakan Keempat,  Jakarta: Bumi Aksara.  www.bappenass.go.id  diakses  tanggal  10  Oktober 2009.  www.bps.go.id  diakses  tanggal  12  Oktober  2009  www.bps‐sumsel.go.id  diakses  tanggal  12  Oktober 2009  www.kaboki.go.id  diakses  tanggal  10  Okto‐ ber 2009  Yusuf,  Maulana.,  1999,  “Model  Rasio  Per‐ tumbuhan  (MRP)  Sebagai  Salah  Satu  Alat Analisis Alternatif dalam Perenca‐ naan Wilayah dan Kota”, Jurnal Ekono‐ mi  dan  Keuangan  Indonesia,  Volume  XLVII, No.2.