Microsoft Word - 04-Jamzani _117-129_.doc Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 117-129 AGLOMERASI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI: PERAN KARAKTERISTIK REGIONAL DI INDONESIA Jamzani Sodik 1 Dedi Iskandar 1 1 Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Jalan SWK 104 (Lingkar Utara) Condongcatur 55283 Telp: 0274-486733, 0274-486402, 0274-486188 E-mail: jamzanis_edu@yahoo.com Abstract The aim of this study is to examine the effect of agglomeration of regional economic growth across 26 provinces in Indonesia. The provincial pooling data for the period of 1994-2003 are regressed using generalized least square (GLS) method. Factors affecting the economic growth are considered such as agglomeration, labor force, inflation rates, openness rate of the provinces, and human capital. The study suggests the influence of three variables on the regional economic growth: labor force, inflation rates and the openness rate of the provinces; whereas the remaining two (agglomeration and human capital) are likely to have no effect. Keywords: agglomeration, regional characteristic, panel data PENDAHULUAN Selama seratus tahun lebih, para pakar geografi, pakar ekonomi, perencana kota, para ahli strate- gi bisnis, ilmuwan regional, dan para ilmuwan sosial lainnya telah mencoba memberikan pen- jelasan tentang “mengapa” dan “di mana” aktivitas ekonomi berlokasi. Ketimpangan dis- tribusi kegiatan ekonomi secara regional dalam satu negara telah menjadi perhatian utama. Inilah yang mendorong dilakukannya banyak penelitian dalam bidang ini (Kuncoro, 2002). Industrialisasi telah menjadi kekuatan utama (driving force) di balik urbanisasi yang cepat di kawasan Asia sejak dasawarsa 1980- an. Berbeda dalam kasus industri berbasis sum- ber daya (resource-based industries), industri manufaktur cenderung berlokasi di dalam dan di sekitar kota. Pertanian dan industri berdam- pingan, bahkan kadang berebut lahan di seputar pusat-pusat kota yang pada gilirannya semakin mengaburkan perbedaan baku antara desa dan kota (McGee, 1991). Industri cenderung beraglomerasi di daerah-daerah dimana potensi dan kemampuan daerah tersebut memenuhi kebutuhan mereka, dan mereka mendapat man- faat akibat lokasi perusahaan yang saling berdekatan. Kota umumnya menawarkan berbagai kelebihan dalam bentuk produktifitas dan pendapatan yang lebih tinggi, menarik investasi baru, teknologi baru, pekerja terdidik dan terampil dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibanding perdesaan (Malecki, 1991). Oleh karena itu, dapat dimengerti apabila Aglomerasi (agglomeration), baik aktivitas ekonomi dan penduduk di perkotaan, menjadi isu sentral dalam literatur geografi ekonomi, strategi bisnis dan peningkatan daya saing Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 117 - 129 118 nasional dan studi-studi regional. (Krugman, 1998). Persebaran sumberdaya yang tidak merata menimbulkan disparitas dalam laju pertumbu- han ekonomi antardaerah. Ketidakmerataan sumber daya ini tercermin pada konsentrasi kegiatan ekonomi yang terjadi pada daerah tertentu saja. Daerah-daerah dimana konsentrasi kegiatan ekonomi terjadi memperoleh manfaat yang disebut dengan ekonomi aglomerasi (agglomeration economies). Seperti yang dika- takan oleh Bradley and Gans (1996), bahwa ekonomi aglomerasi adalah eksternalitas yang dihasilkan dari kedekatan geografis dari kegiatan ekonomi. Selanjutnya adanya ekonomi aglomerasi dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Sebagai akibatnya daerah-daerah yang termasuk dalam aglomerasi pada umumnya mempunyai laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding- kan dengan daerah yang bukan aglomerasi. Hubungan positif antara aglomerasi geo- grafis dari kegiatan-kegiatan ekonomi dan per- tumbuhan ekonomi telah banyak dibuktikan (Martin dan Octavianno, 2001). Aglomerasi menghasilkan perbedaan spasial dalam tingkat pendapatan. Semakin teraglomerasi secara spasial suatu perekonomian maka akan semakin meningkat pertumbuhannya. Daerah-daerah yang banyak industri pengolahan tumbuh lebih cepat dibandingkan daerah-daerah yang hanya mempunyai sedikit industri pengolahan. Ala- sannya adalah daerah-daerah yang mempunyai industri pengolahan lebih banyak mempunyai akumulasi modal. Dengan kata lain, daerah- daerah dengan konsentrasi industri pengolahan tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan daerah yang tidak punya konsentrasi industri pengolahan. Dengan adanya kenyataan seperti di atas maka penelitian ini akan menganalisis dampak aglomerasi terhadap pertumbuhan ekonomi regional (26 provinsi). Dalam rangka analisis, ada beberapa tinjauan pustaka yang berkaitan erat dengan penelitian ini. 1. Konsep Ekonomi Aglomerasi (Agglomera- tion Economies) Dalam konteks ekonomi geografi, konsep aglomerasi berkaitan dengan konsentrasi spasial dari penduduk dan kegiatan-kegiatan ekonomi (Malmberg dan Maskell, 2001). Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Montgome- ry dalam Kuncoro (2002) bahwa aglomerasi adalah konsentrasi spasial dari aktivitas ekono- mi di kawasan perkotaan karena penghematan akibat lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosiasikan dengan kluster spasial dari perusahaan, para pekerja dan kon- sumen. Keuntungan-keuntungan dari konsentrasi spasial sebagai akibat dari ekonomi skala (scale economies) disebut dengan ekonomi aglomerasi (agglomeration economies). (Mills dan Hamilt- on, 1989). Pengertian ekonomi aglomerasi juga berkaitan dengan eksternalitas kedekatan geo- grafis dari kegiatan-kegiatan ekonomi, bahwa ekonomi aglomerasi merupakan suatu bentuk dari eksternalitas positif dalam produksi yang merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan kota. (Bradley and Gans, 1996). Ekonomi aglomerasi diartikan sebagai penurunan biaya produksi karena kegiatan-kegiatan ekonomi berlokasi pada tempat yang sama. Gagasan ini merupakan sumbangan pemikiran Alfred Marshall yang menggunakan istilah localized industry sebagai pengganti dari istilah ekonomi aglomerasi. Ahli ekonomi Hoover juga membuat klasi- fikasi ekonomi aglomerasi menjadi 3 jenis yaitu large scale economies merupakan keuntungan Aglomerasi dan Pertumbuhan Ekonomi (Jamzani Sodik dan Dedi Iskandar) 119 yang diperoleh perusahaan karena membe- sarnya skala produksi perusahaan tersebut pada suatu lokasi, localization economies merupakan keuntungan yang diperoleh bagi semua perusa- haan dalam industri yang sama dalam suatu lokasi dan urbanization economies merupakan keuntungan bagi semua industri pada suatu lokasi yang sama sebagai konsekuensi membe- sarnya skala ekonomi (penduduk, pendapatan, output atau kemakmuran) dari lokasi tersebut. Berbeda dengan pendapat para ahli ekonomi yang lain, O’Sullivan (1996) membagi ekonomi aglomerasi menjadi dua jenis yaitu ekonomi lokalisasi dan ekonomi urbanisasi. Dalam hal ini yang dimaksud dengan ekonomi aglomerasi adalah eksternalitas positif dalam produksi yaitu menurunnya biaya produksi sebagian besar perusahaan sebagai akibat dari produksi perusahaan lain meningkat. 2. Teori Aglomerasi a. Teori Neo Klasik Sumbangan terbesar teori neo klasik adalah pengenalan terhadap ekonomi aglomerasi dengan argumentasi bahwa aglomerasi muncul dari prilaku para pelaku ekonomi dalam mencari keuntungan aglomerasi berupa ekonomi lokalisasi dan ekonomi urbanisasi. (Kuncoro, 2002). Asumsi yang digunakan oleh teori neo-klasik adalah con- stant return to scale dan persaingan sempurna. Alfred Weber dikenal sebagai pendiri teori lokasi modern yang berkenaan dengan tempat, lokasi dan geografi dari kegiatan ekonomi. Minimisasi biaya yang dikombi- nasikan dengan bobot input-input yang ber- beda dari perusahaan dan industri menentu- kan lokasi optimal bagi suatu perusahaan. Weber secara eksplisit memperkenalkan konsep ekonomi aglomerasi, skala efisien minimum, dan keterkaitan ke depan dan ke belakang. Konsep ini menjadi dasar berkembangnya teori perdagangan regional baru. Dalam sistem perkotaan teori neo klasik, mengasumsikan adanya persaingan sempurna sehingga kekuatan sentripetal aglomerasi disebut sebagai ekonomi ekster- nal murni. (Krugman, 1998). Kekuatan sentripetal muncul dari kebutuhan untuk pulang-pergi (commute) ke pusat bisnis utama dalam masing-masing kota yang menyebabkan suatu gradien sewa tanah dalam masing-masing kota. Menurut Krugman (1998), keterbatasan teori neo klasik di antaranya adalah melihat bahwa ekonomi eksternal yang mendorong adanya aglomerasi masih dianggap sebagi misteri (blackbox). Di samping itu sistem perkota- an neo klasik adalah non spasial yang hanya menggambarkan jumlah dan tipe kota tetapi tidak menunjukkan lokasinya. b. Teori Eksternalitas Dinamis Teori-teori eksternalitas dinamis percaya bahwa kedekatan geografis memudahkan transmisi ide, maka transfer teknologi merupakan hal penting bagi kota (Glaeser, et.al. 1992). Teori eksternalitas dinamis didasarkan pada teori yang dikemukakan oleh Marshall-Arrow-Romer (MAR), Porter dan Jacob. Teori-teori ini mencoba menje- laskan secara simultan bagaimana memben- tuk kota dan mengapa kota tumbuh. Eksternalitas MAR menekankan pada transfer pengetahuan antarperusahaan dalam suatu industri. Menurut MAR mono- poli lokal merupakan hal yang lebih baik dibandingkan dengan kompetisi lokal sebab lokal monopoli menghambat aliran ide dari industri lain dan eksternalitas diinternalisasi oleh inovator. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 117 - 129 120 Seperti halnya MAR, Porter mengata- kan bahwa dengan transfer pengetahuan tertentu, konsentrasi industri secara geogra- fis akan mendorong pertumbuhan. Berbeda dengan MAR, Porter menyatakan bahwa kompetisi lokal lebih penting untuk mem- percepat adopsi inovasi. Tidak seperti MAR dan Porter, Jacob percaya bahwa transfer pengetahuan paling penting adalah berasal datang dari industri- industri inti. Variasi dan keberagaman industri yang berdekatan secara geografis akan mendukung inovasi dan pertumbuhan dibandingkan dengan spesialisasi secara geografis. c. Teori Ekonomi Geografi Baru (The New Economic Geography) Teori ekonomi geografi baru berupaya untuk menurunkan efek-efek aglomerasi dari interaksi antara besarnya pasar, biaya transportasi dan increasing return dari perusahaan. Dalam hal ini ekonomi aglo- merasi tidak diasumsikan tetapi diturunkan dari interaksi ekonomi skala pada tingkat perusahaan, biaya transportasi dan mobili- tas faktor produksi. Teori ekonomi geografi baru mene- kankan pada adanya mekanisme kausalitas sirkular untuk menjelaskan konsentrasi spasial dari kegiatan ekonomi (Krugman dan Venables dalam Martin & Ottavianno, 2001). Dalam model tersebut kekuatan sentripetal berasal dari adanya variasi konsumsi atau beragamnya intermediate good pada sisi produksi. Kekuatan sentrifu- gal berasal dari tekanan yang dimiliki oleh konsentrasi geografis dari pasar input lokal yang menawarkan harga lebih tinggi dan menyebarnya permintaan. Jika biaya transportasi cukup rendah maka akan terjadi aglomerasi. Dalam model eksternalitas teknologi, transfer pengetahuan antarperusahaan mem- berikan insentif bagi aglomerasi kegiatan ekonomi. Informasi diperlakukan sebagai barang publik dengan kata lain tidak ada persaingan dalam memperolehnya. Difusi informasi ini kemudian menghasilkan manfaat bagi masing-masing perusahaan. Dengan mengasumsikan bahwa masing- masing perusahaan menghasilkan informasi yang berbeda-beda, manfaat interaksi meningkat seiring dengan jumlah perusaha- an. Karena interaksi ini informal, perluasan pertukaran informasi menurun dengan meningkatnya jarak. Hal ini memberikan insentif bagi pengusaha untuk berlokasi dekat dengan perusahaan lain sehingga menghasilkan aglomerasi. 3. Tinjauan Empiris Studi empiris tentang aglomerasi dan ekonomi aglomerasi telah banyak menarik perhatian peneliti. Pada umumnya berbagai studi meng- kaitkan aglomerasi dan pertumbuhan ekonomi dalam pengertian pertumbuhan nilai tambah industri, pertumbuhan kesempatan kerja, per- tumbuhan produktivitas tenaga kerja. Adanya berbagai konsep tentang ekonomi aglomerasi dan teori yang mendasari berdampak terhadap perbedaan ukuran aglomerasi dan ekonomi aglomerasi yang digunakan dengan asumsi yang berbeda-beda. Konsep ekonomi aglomerasi statis menje- laskan hubungan antara ekonomi aglomerasi dengan pertumbuhan nilai tambah industri pengolahan di 13 wilayah perkotaan selama tahun 1957-1977. Studi dari Hanson (1997), menguji hubu- ngan antara upah dan kedekatan menuju pusat industri. Hanson mengestimasi upah relatif industri manufaktur terhadap upah industri manufaktur nasional yang merupakan fungsi Aglomerasi dan Pertumbuhan Ekonomi (Jamzani Sodik dan Dedi Iskandar) 121 jarak menuju Mexico City dan jarak menuju United States. Upah relatif regional berkorelasi negatif sangat kuat dengan jarak menuju Mexico City dan jarak dari Mexico city menuju Perbatasan United States. Kenaikan 10 persen di dalam jarak dari Mexico City berhubungan dengan 1,9 persen penurunan di dalam upah nominal relatif, dan 10 persen kenaikan di dalam jarak dari Mexico ke perbatasan United States berhubungan dengan 1,3 persen penu- runan dalam upah nominal relatif. Hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan untuk mengak- ses menuju pusat industri akan membuat perbe- daan upah regional. Kekuatan hubungan antara perbedaan upah regional dan kedekatannya menuju pusat industri menggambarkan kebija- kan perdagangan bermain sangat penting di dalam pembangunan ekonomi regional. Juoro (1989), menganalisis faktor-faktor penentu bagi konsentrasi di Indonesia (sekali- gus ia juga menganalisis konsentrasi industri di Filipina). Dengan mempergunakan fungsi seru- pa CES yang dikembangkan oleh Dhrymes (1965), ia melakukan regresi upah (wages) sebagai fungsi dari output dan tenaga kerja. Dari parameter-parameter estimasi tingkat homogenitas (degree of homogeneity) yang merepresentasikan skala ekonomi atau ekonomi lokalisasi untuk tingkat industri. Hasilnya memperlihatkan bahwa hampir semua industri tiga dijit di Indonesia mempunyai tingkat homogenitas lebih besar daripada satu. Keadaan ini merupakan pertanda pentingnya ekonomi lokalisasi bagi terkonsentrasinya industri di daerah perkotaan besar (large urban areas). Selanjutnya Juoro melakukan regresi ting- kat homogenitas sebagai fungsi dari peubah- peubah ekonomi aglomerasi: penduduk perko- taan dan jumlah jasa produsen (dalam hal ini banyaknya lembaga keuangan). Hasilnya menunjukkan bahwa peubah penduduk perko- taan signifikan dan berpengaruh positif terha- dap tingkat homogenitas. Ini berarti semakin besar penduduk perkotaan semakin produktif industri yang berlokasi di daerah perkotaan. Dengan kata lain penduduk perkotaan merupa- kan penentu bagi keberadaan ekonomi urbani- sasi. Namun peubah kuadrat penduduk menun- jukkan tanda negatif dan signifikan. Ini berarti penduduk tidak lagi berpengaruh positif terha- dap produktifitas pada saat jumlahnya melebihi batas optimum, tetapi malah sebaliknya berpengaruh negatif (disekonomi urbanisasi). Sjoholm (1999) melakukan studi tentang peran karateristik regional dan investasi lang- sung terhadap pertumbuhan produktivitas industri manufaktur di Indonesia. Studi tersebut menyimpulkan bahwa karateristik pada tingkat kabupaten tampaknya lebih mampu menjelas- kan pertumbuhan produktifitas ketimbang ting- kat provinsi. Pada tingkat kabupaten struktur industri yang terdiversifikasi lebih dapat meningkatkan pertumbuhan produktifitas secara berarti. Studi ini tidak menemukan perusahaan atau industri di tingkat kabupaten yang terspe- sialisasi atau yang kompetisinya tinggi mewu- judkan pertumbuhan produktifitas yang tinggi. Penelitian yang sama pernah dilakukan oleh Fujita (1988) dan Krugman (1991) yang menyimpulkan bahwa: teori perdagangan dasar untuk increasing return mempunyai dua pre- diksi untuk ekonomi regional: pekerja terkon- sentrasi di pusat industri, dan upah nominal regional mengalami penurunan (decreasing) dalam ongkos transport menuju pusat industri. Kim (1995) menguji sejauh mana lokali- sasi industri terkonsentrasi, dapat dijelaskan melalui regresi lokalisasi yang diukur dengan skala ekonomi dan faktor-faktor produksi (regression of localization of scale economies and resources). Intensitas bahan baku (raw material intensity) yang merupakan biaya bahan baku dibagi dengan nilai tambah pada industri Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 117 - 129 122 manufaktur, digunakan untuk mengukur pentingnya faktor-faktor produksi. Sedangkan ukuran pabrik rata-rata (average plant size) atas dasar pekerja produksi (production work- ers), digunakan sebagai pengukur skala seba- gaimana model Heckscher Ohlin. Teori H-O muncul berkat karya Heckscher yang berjudul “Foreign Trade and the Distribution of Income” (1919) dan buku Ohlin yang berjudul “International and Interregional Trade” (1933). Analisis H-O mengemukakan bahwa “keung- gulan komparatif ditentukan oleh distribusi sumber daya absolut antar negara, khususnya oleh rasio faktor endowment relatif antarne- gara” (Deardorff, 1996: 478-481 & 492-493; John, 1985: 178-81). Teori keunggulan kompa- ratif mengajukan dalil bahwa: (1) negara berda- gang untuk memperoleh keuntungan dari perbedaan sumber daya alam yang mereka miliki; (2) daerah akan berspesialisasi berdasar- kan keunggulan komparatif yang mereka miliki. Hasil analisis menunjukkan dukungan terhadap model empiris dimana spesialisasi regional dapat dijelaskan oleh skala ekonomi (plant size), resource yang digunakan (raw material intensity), industry dummy, dan time dummy. Hanson (1998) yang menguji dampak liberalisasi perdagangan, terfokus pada ongkos transpor, yang mana perusahaan berpindah ke wilayah yang relatif baik untuk mengakses pasar luar negeri. Hubungan kedepan dan ke belakang (backward-forward linkages), men- dorong perusahaan untuk berlokasi dekat dengan pembeli (buyers) dan penyalur (suppli- ers), dan aglomerasi ekonomi, yang mendorong pertumbuhan sebelum adanya pusat industri. Khususnya fakta di sini mempertimbangkan pertumbuhan pekerja industri regional di Mexico sebelum dan setelah reformasi perda- gangan. Konsisten dengan hipotesis dari trans- port cost bahwa pertumbuhan pekerja setelah reformasi perdagangan adalah lebih tinggi di wilayah yang relatif tertutup terhadap United States. Konsisten dengan backward-forward linkage hypothesis, pertumbuhan pekerja lebih tinggi di wilayah yang berlokasi dekat dengan perusahaan hulu dan hilir (upstream and down- stream industries). Tidak ditemukan bukti aglomerasi ekonomi berkorelasi positif dengan pertumbuhan pekerja. Secara bersama-sama hasilnya menggambarkan decomposition sabuk manufaktur di Mexico City (manufacturing belt) dan spesialisasi pusat industri yang lebih luas terdapat di Mexico Utara. Smith dan Florida (1994) menguji peran khusus dari tipe aglomerasi, hubungan ke depan dan kebelakang (backward-forward linkage) perusahaan manufaktur di dalam proses penen- tuan lokasi industri. Dengan menggunakan analisis ekonometrik dari Japanese-affiliated manufacturing establishment in automotive- related industries. Dimulai dari konsep model proses penentuan lokasi Japanese automotive- related manufacturing establishment dengan menekankan pada peran aglomerasi didalam lokasi industri. Mengikuti Krugman (1991), Arthur (1990), dan yang lain David dan Rose- bloom (1990), Walker (1989), mereka menganjurkan bahwa aglomerasi mempunyai pengaruh yang kuat atas lokasi industri. Hipo- tesis lanjutan bahwa aglomerasi merupakan faktor yang signifikan di dalam lokasi industri Japanese-affiliated manufacturing establish- ment. Hasil empirik dari model memperkuat hipotesis ini. Hasilnya konsisten lintas geografi, yang sesuai dengan persamaan yang mengguna- kan perbedaan proxy pengukuran, dan penemu- an yang sama dengan menggunakan Tobit, Poisson, atau bentuk fungsi dari Binomial yang negatif. Penemuan empirik ini berkenaan dengan hipotesis utama yang kuat. Sebagai pili- han tambahan di dalam area yang relatif tertu- tup dengan Japanese automotive assembly establisment, Japanese automotive-related Aglomerasi dan Pertumbuhan Ekonomi (Jamzani Sodik dan Dedi Iskandar) 123 manufacturing memilih lokasi dengan populasi yang besar, kepadatan industri manufaktur yang tinggi, dan upah yang tinggi. Temuan ini men- dukung kepercayaan, tetapi berlawanan dengan muatan catatan kebijaksanaan yang lazim dalam literatur lokasi industri. Signifikan yang besar ditemukan pada peran upah, serikat pekerja dan konsentrasi minoritas di dalam pilihan lokasi Japanese-affiliated manufacturing. Penemuan empirik unambiguously mengindikasikan Japa- nese-affiliated manufacturing establishment cenderung untuk berlokasi di tempat di mana upah tinggi. Pilihan lokasi ini sangat kontras dengan hipotesis upah rendah yang ada di dalam literatur. Mereka percaya bahwa orientasi upah yang tinggi dari Japanese manufacturing establishment mencerminkan trade-off di dalam modal manusia yang besar dan stabilitas kekuatan pekerja yang lebih baik. Kuncoro (2002), melakukan studi tentang dinamika spasial industri manufaktur di Indone- sia dengan tahun pengamatan 1976 sampai 1999. Studi ini menegaskan bahwa aglomerasi industri besar dan sedang sangat berhubungan dengan konsentrasi perkotaan di Jawa. Aglomerasi industri manufaktur dan populasi yang besar telah berkembang di Jabotabek dan Greater Bandung di bagian barat, dan Greater Surabaya di bagian timur pulau Jawa. Daerah- daerah tersebut menawarkan daya aglomerasi yang kuat, yang pada akhirnya akan menarik baik orang maupun perusahaan-perusahaan METODE PENELITIAN Keseluruhan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari hasil pencatatan yang sistematis berupa data runtut waktu (time series) dan data (cross-section) dari tahun 1994-2003. Sumber data yang diperoleh dari hasil publikasi BPS. Definisi Operasional Variabel 1. Variabel Dependen Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependen adalah laju pertumbuhan produk domestik regional bruto per provinsi seluruh Indonesia. Data laju pertumbuhan PDRB yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan 1993 menurut provinsi. 2. Variabel Independen a. Aglomerasi Aglomerasi adalah konsentrasi spasial dari aktivitas ekonomi dikawasan perkotaan karena penghematan akibat lokasi yang berdekatan (economies of proximity) yang diasosiasikan dengan kluster spasial dari perusahaan, para pekerja dan konsumen. Untuk mencari aglomerasi, disini kita menggunakan indeks Balassa: ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ = ∑∑ ∑ ∑ ijji iji j ij ij ij E E E E Balassa / dimana: i = Sektor j = Wilayah E = Tenaga Kerja Pembilang dari indeks ini menyajikan bagian wilayah j dari total tenaga kerja di sektor industri manufaktur i . Semakin ter- pusat suatu industri, semakin besar Indeks Balassanya. (Sbergami, 2002) b. Laju Angkatan Kerja Laju angkatan kerja adalah persentase perubahan jumlah angkatan kerja suatu provinsi dari tahun ke tahun. Angkatan kerja adalah jumlah penduduk yang bekerja dan penduduk yang belum bekerja atau Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 117 - 129 124 sedang mencari pekerjaan pada suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu. c. Laju Inflasi Laju inflasi adalah kenaikan harga secara umum dan terus-menerus. Selain itu laju inflasi merupakan merupakan salah satu indikator dan menjadi barometer untuk menilai stabilitas dan pertumbuhan ekono- mi suatu wilayah. d. Laju Openness (laju keterbukaan ekonomi) Laju openness adalah persentase laju peru- bahan ekspor netto pada suatu provinsi dari tahun ke tahun. e. Human Capital Dalam penelitian ini human capital diproxy dengan tingkat pendidikan, yaitu persentase laju perubahan jumlah penduduk (siswa) baik laki-laki maupun perempuan yang masih duduk atau belajar di tingkat SLTA pada suatu daerah dari tahun ke tahun. Alat Analisis Data Untuk mencapai hasil penelitian dan pengujian hipotesis dalam penelitian ini maka digunakan analisis regresi dengan metode GLS (Gener- alized Least Squares) atau metode kuadrat terkecil yang menghasilkan penaksiran linier dan tidak bias (Gujarati, 1995:52). Model ini, secara umum dapat ditunjukkan dengan formulasi sebagai berikut: Yit = αoi + β1X1it + β2X2it + β3X3it + β4X4it + β5X5it + εit dimana: Y = Laju Pertumbuhan PDRB i = Provinsi (1,…,26) t = Waktu (tahun 1994,…,2003) α = Konstanta X1 = Aglomerasi X2 = Laju Angkatan Kerja X3 = Laju Inflasi X4 = Laju Openness (Laju Keterbukaan Eko- nomi) X5 = Human capital εit = Variabel Pengganggu β1, β2, β3, β4, β5 = koefisien regresi dari masing-masing variabel yang mem- pengaruhi. Metode analisis yang dilakukan menggu- nakan data runtut waktu (times series) dari tahun 1994-2003 dan data Cross section dari Provinsi-provinsi di Indonesia (26 provinsi). Teknik Analisis Data Secara teoritis, ada beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan data yang digabungkan tersebut. Pertama, semakin banyak jumlah observasi yang dimiliki bagi kepentingan estimasi parameter populasi yang membawa akibat positif dengan memperbesar derajat kebebasan (degree of freedom) dan menurunkan kemungkinan kolinearitas antar variabel bebas. Kedua, dimungkinkannya esti- masi masing-masing karakteristik individu maupun karakteristik menurut waktu secara terpisah. Dengan demikian, analisis hasil esti- masi akan lebih komprehensif dan mencakup hal-hal yang lebih mendekati realita. (lihat, Hsio,1995). Di dalam model persamaan regresi linear klasik (classical linear regression model), gangguan (error terms) selalu dinyatakan ber- sifat homoscedastic dan serially uncorrelated. Dengan begitu, penggunaan metode ordinary least square akan menghasilkan penduga yang bersifat best linear unbiased. Namun demikian, asumsi mengenai gangguan tersebut tidak dapat diterapkan pada data panel. Data panel yang tersusun atas beberapa individu untuk beberapa Aglomerasi dan Pertumbuhan Ekonomi (Jamzani Sodik dan Dedi Iskandar) 125 periode, membawa masalah baru dalam sifat gangguan tersebut. Masalah tersebut adalah karena gangguan (disturbances atau error term) yang ada kini menjadi tiga macam, yaitu gang- guan antarwaktu (time-series related distur- bances), gangguan antarindividu (cross-section disturbances) dan gangguan yang berasal dari keduanya. (lihat, Gujarati, 2003). Jika seluruh gangguan individu (μi), gang- guan waktu (λt) dan random noise digabungkan menjadi satu dan mengikuti seluruh asumsi awal random noise yang terdistribusikan secara normal-bebas-identik, maka penggunaan meto- de generalized least square akan menghasilkan penduga yang memenuhi sifat best linear unbi- ased. Metode ini, dengan kata lain, menyatakan bahwa seluruh gangguan yang terjadi mengikuti distribusi normal, dengan rata-rata (expected value) sebesar nol, sebagaimana asumsi yang dipegang dalam model persamaan regresi linear klasik. Cara ini dikenal dengan nama Random Effect Model, atau juga disebut Error Compo- nents Model. Namun demikian, bila asumsi bahwa selu- ruh gangguan tersebut tidak dapat dinyatakan mengikuti seluruh asumsi random noise seperti dalam model persamaan regresi linear klasik, maka baik penggunaan ordinary least square maupun generalized least square tidak akan memberikan hasil yang memenuhi sifat best linier unbiased. Dengan cara ini, maka kompo- nen gangguan antar waktu dan komponen gangguan antarindividu akan tergabung di dalam konstanta intercept model. Cara ini dike- nal dengan nama Fixed Effect Model atau juga disebut Dummy Variable Model. Metode esti- masi ini mendapatkan penduga yang efisien dengan menerapkan proses estimasi terhadap data simpangan (deviation) dari rata-rata menu- rut waktu, rata-rata menurut individu, dan rata- rata menurut keduanya. Sehingga untuk memilih antara penggunaan dummy variable model atau error components model, penelitian ini akan menggunakan statistik Hausman (Sitanggang dan Nachrowi, 2004). Spesifikasi Hausman Test Asumsi utama dalam model regresi adalah bahwa error komponen atau E(μit/Xit) = 0. Hal ini penting karena faktor penggangggu (distur- bance) mengandung efek individual invariant (μi) yang bersifat unobserved dan mungkin saja berkorelasi dengan Xit. Sebagai contoh, dalam persamaan bahwa μi mungkin dinotasikan seba- gai unobservable secara individual dan mung- kin saja berkorelasi dengan sejumlah variabel pada sisi kanan persamaan. Dalam kasus ini, E(uit/Xit) ≠ 0 dan estimator GLS ( β̂ GLS) akan bias dan tidak konsisten dengan β. Namun demikian, dengan melakukan transformasi μi dan mengabaikannya maka within estimator ( β̂ within) akan unbiased dan konsisten dengan β. Hausman (1978) menyarankan untuk mem- bandingkan ( β̂ GLS) dengan β̂ within, di mana keduanya konsisten dengan null hypothesis H0: E(μit/Xit) = 0, tetapi tentunya dengan perbedaan limit probabilitas. Pada kenyataannya, β̂ within akan konsisten bahkan ketika H0 benar atau tidak benar, sedangkan β̂ GLS akan BLUE, kon- sisten dan asymtotic pada H0, tetapi akan tidak konsisten ketika H0 tidak benar. Uji statistik akan mendasarkan pada 1 ~q = β̂ GLS - β̂ within, dengan H0, plim 1 ~q = 0, dan cov( 1 ~q , β̂ GLS ) = 0. Dengan menggunakan kenyataan bahwa uXXXGLS 111 ^ ')'( −−− ΩΩ=− ββ dan QuXQXXWithin ')'( 1 ~ −=− ββ , akan diperoleh 0)( 1 ^ =qE , dan ),cov()var(),cov( ~^^ 1 ^^ WithinGLSGLSGLS q ββββ −= Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 117 - 129 126 −Ω= −− 11 )'( XX 1111 )'()'()'( −−−− ΩΩ QXXQXuuEXXX 0)'()'( 1111 =Ω−Ω= −−−− XXXX (1) Selanjutnya jika 1 ^^~ qGLSWithin −= ββ , akan diperoleh )var()var()var( 1 ^^~ qGLSWithin += ββ Sejak 0),cov( 1 ^^ =qGLSβ , maka; =−= )var()var()1var( ^~^ GLSWithinq ββ 1112 )'()'( −−− Ω− XXQXXvσ (2) Dengan demikian Hausman test statistik adalah sebagai berikut: 1 ^1 1 ^' 1 ^ 1 var( qqqm − ⎥⎦ ⎤ ⎢⎣ ⎡= (3) dimana H0 asymtotic berdistribusi sebagai 2 Kχ di mana K adalah dimensi vektor slope β . Selanjutnya guna memenuhi aspek teknis operasional, Ω akan digantikan oleh konsis- tensi estimator Ω̂ , sehingga GLS akan memungkinkan untuk diakukan. Penolakan ter- hadap statistik Hausman tersebut berarti penolakan terhadap fixed effect model atau dummy variable model. Sehingga semakin besar nilai statistik Hausman tersebut, semakin mengarah kepada penerimaan dugaan error components model (Baltagi, 2003). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Hausman Test Berdasarkan hasil uji Hausman test diperoleh hasil seperti tersaji pada Tabel 1. Tabel 1. Uji Hausman test Periode Pengamatan χ Hitung χ Tabel 1994-2003 19,5963* 11,0705 Sumber : data diolah Keterangan : signifikan pada α 5persen Berdasarkan Tabel 1 hasil uji Hausman menunjukkan bahwa untuk periode pengamatan 1994-2003 chi square hitung lebih besar dari- pada chi square table sehingga Ho ditolak. Dengan demikian estimasi menunjukkan bahwa pendekatan fixed effects lebih baik dibanding- kan dengan pendekatan random effect. Berarti terdapat perbedaan antar unit yang dapat dilihat melalui perbedaan dalam constants term. Dalam fixed effects model diasumsikan bahwa tidak terdapat time-specific effect dan hanya memfo- kuskan pada individual-specific-effects. Hasil Estimasi Fixed Effect Berdasarkan hasil Hausman test menunjukkan nilai Whitung > 2χ , ini menunjukkan analisis dalam penelitian ini lebih lanjut digunakan Fixed Effect. Adapun untuk membahas dari penelitian ini diperoleh hasil estimasi seperti nampak dalam Tabel 2. Dari hasil analisis regresi diketahui bahwa laju angkatan kerja, laju inflasi, laju Openness, memberikan pengaruh nyata terhadap laju per- tumbuhan ekonomi regional, sedangkan varia- bel aglomerasi dan human capital tidak mem- pengaruhi pertumbuhan ekonomi regional (laju PDRB riil). Aglomerasi dan Pertumbuhan Ekonomi (Jamzani Sodik dan Dedi Iskandar) 127 Tabel 2. Hasil Estimasi Regresi dengan Metode Fixed Effect Variabel Periode 1994- 2003 Aglomerasi (X1) Laju Angkatan Kerja (X2) Laju Inflasi (X3) Ekspor Netto (X4) Human Capital (X5) 1.0779898 (2.185111) 0.134042*** (0.041088) -0.157417*** (0.010719) 0.007190*** (0.001867) -0.050949 (0.051314) F hitung 80.52415 R2 hitung 0.584465 Sumber: data diolah Keterangan : *** sig pada α = 0,01; ** sig pada α = 0,05; * sig pada α = 0,10 Pembahasan Variabel aglomerasi tidak berpengaruh signifi- kan terhadap laju pertumbuhan ekonomi regio- nal (PDRB riil). Dengan kenyataan seperti itu maka diketahui bahwa untuk Indonesia yang bukan merupakan negara industri maju, aglo- merasi bukan menjadi ukuran yang baik untuk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Ini dikarenakan aglomerasi yang ada di Indonesia itu tidaklah banyak dan tidak merata. Hal ini sesuai dengan studi dari Kuncoro (2002), bahwa perkembangan industri manufaktur yang pesat di Indonesia ternyata bias ke pulau Jawa dan Sumatera, ini jelas terlihat mencolok untuk industri besar dan menengah (IBM), yang sering diasosiasikan dengan industri manufak- tur yang modern. Provinsi-provinsi di pulau Jawa dan provinsi-provinsi di pulau-pulau lain di Indonesia secara jelas menggambarkan ketimpangan distribusi aktivitas industri. Daerah industri yang paling menonjol di pulau Jawa adalah Jabotabek Extended Industrial Area (EIA). Jabotabek boleh dikatakan merupa- kan daerah aglomerasi industri terbesar di Indo- nesia. Surabaya dan Bandung sebagai perban- dingan ternyata masih kurang dari separuh skala Jabotabek yang mampu menyerap tenaga kerja yang banyak, sedangkan nilai tambah yang diciptakan Jabotabek mencapai separuh dari seluruh daerah industri utama di Indonesia. Variabel laju angkatan kerja berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dengan kenyataan seperti itu, maka pemerintah di Indonesia harus terus meningkatkan kualitas angkatan kerjanya agar nantinya menjadi tenaga kerja yang unggul, terampil dan dapat diandal- kan dalam mempengaruhi pertumbuhan eko- nomi. Variabel laju inflasi berpengaruh signifi- kan terhadap laju pertumbuhan PDRB riil dengan tanda negatif, hal ini menunjukkan bahwa tingkat inflasi yang menjadi indikator kestabilan suatu perekonomian sangat berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional. Variabel laju openness memiliki arah yang konsisten dengan teori meskipun dengan koefi- sien (signifikan secara statistik) yang relatif kecil. Sehingga bisa dikatakan bahwa tingkat keterbukaan perekonomian suatu daerah belum begitu besar berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional. Tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap laju pertumbuhan PDRB riil. Ini bisa berarti bahwa, siswa yang ada di sekolah menengah umum (SLTA) tidaklah menjadi suatu ukuran yang baik untuk mem- pengaruhi pertumbuhan ekonomi regional di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 117 - 129 128 KESIMPULAN Dari hasil penelitian selama periode 1994-2003 diketahui bahwa variabel aglomerasi mempu- nyai nilai koefisien yang paling tinggi dibandingkan dengan variabel independen yang lain, yaitu laju angkatan kerja, tingkat inflasi, laju openness, dan tingkat pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa aglomerasi (pengelom- pokan industri) jika lebih dikembangkan lagi bisa memberikan kontribusi yang cukup besar dalam mendukung meningkatnya laju pertum- buhan ekonomi daerah. Variabel laju openness memiliki arah yang konsisten dengan teori meskipun dengan koefi- sien (signifikan secara statistik) yang relatif kecil. Hal ini menunjukkan bahwa variabel ekspor netto bisa lebih berperan dalam mening- katkan pertumbuhan ekonomi regional jika daerah bisa lebih meningkatkan ekspornya. Variabel laju inflasi yang merupakan indi- kator kestabilan perekonomian suatu daerah sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dengan arah yang negatif. Untuk itu daerah perlu menjaga agar inflasi bisa terkendali. Lebih lanjut dalam studi ini, pendekatan fixed effect lebih baik dibanding random effect dalam menjelaskan perilaku pertumbuhan ekonomi regional di Indonesia. Dari penelitian ini saran yang diajukan penulis sebagai berikut; Aglomerasi (penge- lompokan industri) sebaiknya dapat ditingkat- kan dengan cara membangun sentra-sentra atau kawasan yang dikhususkan untuk industri. Dengan dibangunnya kawasan industri yang dilengkapi dengan fasilitas infrastruktur yang memadai serta berbagai kemudahan-kemuda- han. Di sini dibutuhkan kerjasama yang baik antara provinsi dan kabupaten/kota mengenai koordinasi peraturan perundang-undangan baik tingkat vertikal (antara pemerintah pusat- provinsi-kabupaten/kota) dan pada tingkat hori- sontal (antardepartemen dan badan-badan lain- nya yang terkait), sehingga diperlukan refor- masi mendasar berkaitan dengan perbaikan iklim bisnis, ekspor dan investasi di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Adisasmita, Raharjo H. 2005. Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah. Yogyakarta: Graha Ilmu. Ardani, Amiruddin. 1992. Analysis of Regional Growth and Disparity: the Impact Analy- sis of the Project on Indonesian Develop- ment. Ph.D. Dissertation City and Regio- nal Planning. University of Pensylvania Philadelphia. USA (tidak dipublikasikan). Arsyad, Lincolin. 1988. Ekonomi Pemba- ngunan. Cetakan Pertama. Yogyakarta: STIE YKPN Badan Pusat Statistik. tt. Statistik Indonesia: Berbagai edisi. Jakarta: BPS. Baldwin, Richard E., and Toshihiro Okubo, 2006, Heterogeneous firms, Agglomera- tion and Economic Geography: Spatial Selection and Sorting, Journal of Eco- nomic Geography 6(3):323-346 Baltagi, B. H. 2003. Econometric Analysis of Panel Data. Second Edition. England: John Wiley & Sons. Bradley, Rebecca & Gans, Joshua S. 1996. Growth in Australian Cities. The Econo- mic Record. The Economic Society of Australia, Vol. 74 (226). Duranton, Gilles and Diego Puga. 2004. Microfoundations of urban agglomeration economies. In Vernon Henderson and JacquesFrançois Thisse (eds.) Handbook of Regional and Urban Economics, Volume 4. Amsterdam: NorthHolland, 2063–2117. Aglomerasi dan Pertumbuhan Ekonomi (Jamzani Sodik dan Dedi Iskandar) 129 Glaeser, Kallal H.D, Scheinkman J.A, & Shleifer A. 1992. Growth in Cities. Jour- nal of Political Economy. 100 (6). 1126- 1152. Gujarati, Damodar N, 1995. Basic Econometric, third edition, Singapore: Mc.Graw Hill, Hanson Gordon. 1998. North American Eco- nomic Integration and Industry Location. NBER Working Paper Series. Working Paper No. 6587. Hayter, Roger. 1997. The Dynamics of Indus- trial Location, the Factory, the Firm and the Production System. Chichester: John Wiley. Hidayati, Amini, dan Mudrajad Kuncoro, 2004, Konsentrasi Geografis Industri Manufak- tur di Greater Jakarta dan Bandung Periode 1980-2000: Menuju Satu Daerah Aglomerasi? Jurnal Empirika, Vol 17, No.2, Desember 2004 Hsiao C. 1995. Analysis of Panel Data. New York: Cambridge University Press. Juoro, Umar. 1989. Perkembangan Studi Eko- nomi Aglomerasi dan Implikasi bagi Per- kembangan Perkotaan di Indonesia. Jurnal Ekonomi dan Keuangan Indone- sia, Vol. 37, No. 2. Krugman. 1998. Space: the Final Frontier. Journal of Economic Perspectives, 12(2), 161-174. Kuncoro, Mudrajad, 2000, Beyond Agglomera- tion and Urbanization, Gadjah Mada International Journal of Business: Vol 2, No. 3, September. Kuncoro, Mudrajad, 2002. Analisis Spasial dan Regional, Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. Malecki. 1991. Technology and Economic De- velopment: the Dynamics of Local, Regional, and National Change. New York: John Wiley & Sonc, Inc. Malmberg A. and Maskell P. 1997. Towards and Explanation of Industry Agglomera- tion and Regional Spezialitation. Euro- pean Planning Studies, Vol. 5, No. 1, pp 25-41. Martin P. and Ottavianno. 2001. Growth and Agglomeration. International Economic Review 42, No. 4, pp. 947-968. McGee T.G. 1991. The Emergence of Desa- Kota Regions in Asia. Expanding a Hypothesis. Honolulu: University of Hawai Press. Mills, Edwin S. and Hamilton, Bruce W. 1989. Urban Economic. fourth edition. London: Harper Collin O’Sullivan, Arthur, 1996. Urban Economic. third Edition. United States of America: Irwin Press. Sbergami, Frederica. 2002. Agglomeration and Economic Growth: Some Puzzles. Geneva: Graduate Institute of Internatio- nal Studies. Sitanggang, Ignatia, R dan Nachrowi, Djalal, N, (2004), Pengaruh Struktur Ekonomi Pada Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral: Analisis Model Demometrik di 30 Provinsi pada 9 Sektor di Indonesia, Seminar Akademik Tahunan Ekonomi I, “Perubahan Struktural dalam rangka Penyehatan Ekonomi”, Penguatan Kebi- jakan Publik dalam Perspektif Nasional dan Global. Program Studi Ilmu Ekonomi Pascasarjana FEUI dan ISEI, 8-9 Desem- ber. Takuma, Fumio and Komei Sasaki, 2000, Spatial Structure of a Metropolitan Area with an Agricultural Hinterland, Journal of Urban Economics, Vol. 48, No. 2, September, pp. 307-320