Microsoft Word - 08-Handry _162-170_.doc Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 162-170 KEBIJAKAN INFLATION TARGETING: ANTISIPASI KRISIS NILAI TUKAR Muhammad Handry Imansyah Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Jalan Brigjen H. Hasan Basri Banjarmasin 70123 Telp./Fax. (0511) 330 4933, 757 4881 E-mail: handry50@yahoo.com Abstract This paper examines workability of inflation targeting policy after one year and half of its application in Indonesia, based on a method of descriptive analysis using macro-prudential indicators. In addition, non-parametric approach to earlier warning system of monitoring Rupiah stability against the US Dollar is also employed as a comparison. These two macro-prudential and non-parametric approaches may predict the probability of weakening the Indonesian currency against USD. The results show unsatisfaction of the inflation targeting policy as a stabilizing instrument to control both inflation and rupiah movement against USD. This happens due to unsatisfaction of some prerequisites for conducting the policy, such as remaining weaknesses of financial institutions as indicated by the weakness of government regulation and control, significant off-shore loan or foreign debt and risky sudden stops from capital inflows (external domination). Keywords: inflation targeting, monetary policy, capital flow PENDAHULUAN Kebijakan inflation targeting menjadi demikian populer setelah New Zealand pertama kali mengadopsi kebijakan ini pada tahun 1989 dan berhasil menjaga tingkat inflasi yang rendah dan relatif stabil (Hu, 2003). Indonesia mulai menerapkan kebijakan inflation targeting sejak bulan Juli 2005 setelah sistem kurs mengam- bang bebas sejak krisis keuangan 1997. Namun, sejak tahun 2002 telah dilakukan wacana mengenai kebijakan ini sehingga publik dan kalangan akademis diharapkan sudah mema- hami bila sudah sampai saatnya untuk diterap- kan. Pada Juli 2005 Bank Indonesia telah mengimplementasikan kerangka kerja kebijak- an moneter yang baru dengan Inflation Target- ing Framework, yang mencakup empat elemen dasar (http://www.bi.go.id): 1. penggunaan suku bunga (disebut BI Rate) sebagai reference rate dalam pengendalian moneter, sebagai pengganti sasaran opera- sional uang primer, 2. proses perumusan kebijakan moneter yang antisipatif, 3. strategi komunikasi yang lebih transparan, dan 4. penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah. Melihat berbagai keberhasilan di berbagai negara baik negara maju maupun negara emerging market, maka Indonesia mengikuti pola tersebut. Apalagi Bank Indonesia telah independen berdasarkan UU No. 23 Bank Kebijakan Inflation Targeting (Muhammad Handry Imansyah) 163 Indonesia 1999 yang kemudian diamendemen dengan UU No. 3 pada tahun 2004. Tujuan tulisan ini mengkaji kebijakan moneter baru BI, inflation targeting, dalam masa transisi dan setahun setelah diterapkan apakah sudah mencapai sasaran seperti yang tercantum di dalam tujuan dan fungsi Bank Sentral. Kedua, di dalam hal ini, evaluasi akan dilihat secara deskriptif mengenai seberapa jauh inflasi dapat dikendalikan, dan seberapa jauh mata uang Rupiah stabil (tidak mengalami depresiasi yang besar) terhadap mata uang US dollar serta bagaimana stabilitas inflasi dan output. Tinjauan pustaka dalam penelitian ini sebagai berikut; menurut Hu (2003), manfaat inflation targeting dalam hal inflasi dan output ada 2: Pertama, kebijakan ini memperbaiki kinerja inflasi dan output. Kedua, kebijakan ini memperbaiki perkiraan inflasi dengan menu- runkan ekspektasi inflasi sehingga lebih dapat diperkirakan. Misalnya, Neumann dan von Hagen (2002) membandingkan negara-negara yang menggunakan inflation targeting dan yang non inflation targeting menemukan bahwa dengan inflation targeting akan menurunkan volatilitas inflasi, output dan tingkat bunga. Motivasi pendekatan inflation targeting sangat bervariasi (Bernanke and Mishkin, 1997). Beberapa negara seperti Inggris dan Swedia setelah runtuhnya sistem kurs tetap sehingga mencari sistem alternatif untuk kebijakan moneter mereka dengan kebijakan inflation targeting. Sementara, Kanada menggunakan inflation targeting karena kurang berhasilnya di dalam menggunakan pendekatan money targeting. Namun, berbagai studi juga menemukan bahwa masih terdapatnya variasi inflasi dan output di 7 negara industri yang memakai inflation targeting (Ball dan Sheridan 2003). Memang, dengan kebijakan inflation targeting ini, ada beberapa manfaat antara lain, kebijakan lebih transparan, kebijakan lebih koheren dan lebih akomodatif terhadap gejolak jangka pendek dan lebih luwes di dalam operasional (Bernanke and Mishkin, 1997). Kadioğlu, Özdemir dan Yilmaz (2000) juga menambah- kan bahwa kebijakan inflation targeting adalah instrumen yang lebih fleksibel untuk mencapai tujuan jangka menengah. Dalam jangka panjang diyakini oleh banyak ekonom bahwa akan ada trade-off antara inflasi dan pengangguran sebagaimana kita kenal dengan kurva Phillips (Phillips, 1958; Samuelson and Solow, 1960; dikutip dari Kadioğlu, Özdemir dan Yilmaz , 2000). Kadioğlu, Özdemir dan Yilmaz (2000) menyatakan bahwa ada tiga kebijakan moneter yaitu exhange rate targeting, monetary target- ing dan inflation targeting. Exchange rate targeting adalah kebijakan moneter yang telah lama digunakan terutama untuk negara kecil yaitu dengan menerapkan kurs tetap. Karena mudah dan sederhana maka kebijakan ini sangat populer. Inflasi rendah karena dapat menjaga kurs dari transmisi impor barang sehingga harga barang impor relatif terjaga. Sementara, monetary targeting adalah kebijakan moneter dengan menerapkan target agregat moneter atau jumlah uang beredar. Kebijakan ini dapat mengirimkan tanda mengenai kondisi kebijakan moneter dan konsistensi kebijakan serta tujuan dari pembuat kebijakan. Sedangkan inflation targeting adalah kebijakan moneter dengan tujuan untuk menjaga kestabilan harga. Namun, Goldstein (2002) menyatakan, di dalam pene- rapan inflation targeting ini akan menghasilkan kestabilan nilai tukar. Inflation targeting bukannya tanpa syarat bila menginginkan keberhasilan di dalam penerapan kebijakan. Mishkin (2004) menya- Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 162 - 170 164 takan bahwa negara emerging market masih menghadapi beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. Lemahnya institusi fiskal 2. Lemahnya institusi keuangan termasuk pengawasan dan peraturan kehati-hatian pemerintah 3. Rendahnya kredibilitas institusi moneter 4. Hutang dalam mata uang asing yang tinggi 5. Rentannya sudden stops dari capital inflows (external domination). Permasalahan tersebut di atas harus diatasi guna memberikan keberhasilan penerapan inflation targeting. Tanpa menyelesaikan keli- ma permasalahan tersebut, maka kesuksesan suatu negara untuk menerapkan inflation tar- geting menjadi hal yang sulit diwujudkan. Bank Indonesia (http://www.bi.go.id) men- jelaskan mengenai Inflation targeting meru- pakan kebijakan moneter yang mengumumkan secara eksplisit perkiraan tingkat inflasi pada kurun waktu tertentu (6 bulan, 1 tahun dll). Karakteristik lainnya adalah adanya komunikasi dengan publik sehingga publik mengetahui kebijakan apa saja untuk mencapai tujuan terse- but dan diharapkan terdapat akuntabilitas dan transparansi. Yang menjadi dasar perhitungan inflasi adalah inflasi inti, yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh faktor fundamental: 1. Interaksi permintaan-penawaran 2. Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang 3. Ekspektasi Inflasi dari pedagang dan kon- sumen Sementara itu, perhitungan dengan inflasi inti belum banyak dipahami oleh publik bahkan sebagian ekonom sendiri tidak dapat memahami perbedaan antara inflasi inti dan inflasi head- line. Hal ini, karena di negara sedang berkem- bang banyak sekali harga barang dan jasa yang masih diatur oleh pemerintah yang tidak melalui mekanisme pasar serta masih bergejo- laknya harga bahan makanan yang dipengaruhi oleh musim. Inflasi di dalam tulisan ini adalah mengacu pada inflasi headline, karena ketersediaan data inflasi inti hanya tersedia sejak diberlakukannya kebijakan inflation tar- geting. Mishkin (1997) menyatakan bahwa tujuan kebijakan moneter sebagai berikut: 1. Kesempatan Kerja yang Tinggi 2. Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi 3. Kestabilan Harga 4. Kestabilan Tingkat Bunga 5. Kestabilan Pasar Uang 6. Kestabilan Pasar Valuta Asing Setiap tujuan tersebut di atas dapat terjadi konflik, misalnya kestabilan harga yang diarti- kan sebagai inflasi yang rendah yang biasanya akan berakibat pada tingginya pengangguran. Jadi diantara berbagai tujuan tersebut di atas, tentu harus ada yang menjadi prioritas untuk didahulukan. Karena yang menjadi domain kebijakan moneter oleh Bank Sentral adalah tingkat bunga dan jumlah uang beredar atau sistem kurs. Sementara sistem kurs tidak mung- kin diubah terlalu sering dalam kurun waktu tertentu yang akan mengakibatkan tingginya ketidak pastian. Misalnya sekarang ini Indone- sia menggunakan sistem kurs mengambang bebas. Jadi yang paling mungkin dijadikan target adalah tingkat bunga atau agregat moneter, dan keduanya tidak dapat dilakukan secara bersama-sama, harus salah satu. Karena pilihan diantara keduanya harus dibuat, maka yang harus dilihat adalah kriteria yang diguna- kan untuk memilih target. Kriteria yang digunakan untuk memilih target adalah: Kebijakan Inflation Targeting (Muhammad Handry Imansyah) 165 1. Dapat diukur 2. Dapat dikontrol 3. Dapat diperkirakan Pengaruhnya terhadap Tujuan Mishkin (1998) menambahkan kebijakan tingkat bunga belum tentu lebih baik daripada kebijakan jumlah agregat moneter, karena sulit mengukur dan mengkontrol tingkat bunga riil. Di dalam tulisan ini, penulis menggunakan analisis deskriptif dan indikator macropruden- tial serta pendekatan sistem peringatan dini non parametrik. Sedangkan data yang digunakan adalah data publikasi dari situs Bank Indonesia (http://www.bi.go.id). Sementara untuk data yang berbasis triwulanan seperti Produk Domestik Bruto, dikonversikan ke dalam bulanan dengan membaginya secara rata-rata dari data triwulanan. Sedangkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (output) dari triwu- lanan menjadi bulanan dengan memakai angka pertumbuhan yang sama untuk bulan selama kurun waktu triwulan tersebut. PEMBAHASAN Pemerintah (http://www.bi.go.id) telah mene- tapkan target inflasi pada 2005 dan 2006 adalah sebesar 5,5 persen dengan ±1 persen dan 5,0 persen dengan ± 1 persen. Namun, kenyataan- nya pada tahun 2005, inflasi telah melampui target yaitu 17,11 persen (IHK). Dari data inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), Bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 1 bulan dan kurs Rupiah terhadap USD sejak tahun 2000 sampai dengan Juni 2005 yaitu kurun waktu sebelum digunakannya kebijakan inflation targeting oleh Bank Indonesia dan setelah penggunaan inflation targeting menun- jukkan bahwa inflasi cenderung meningkat dan volatilitas juga meningkat. Memang terlalu dini menganggap bahwa inflation targeting kurang berhasil. Ada beberapa negara emerging market juga mengalami kenaikan inflasi seperti Brazil, Afrika Selatan dan Thailand setelah menerap- kan inflation targeting. Namun umumnya, kecenderungannya adalah menurun. Namun, di sisi lain, terdapat peningkatan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara, kurs Rupiah terhadap USD juga secara rata-rata mengalami peningkatan walau- pun volatilitasnya menurun. Yang mengheran- kan adalah variabel tingkat bunga SBI 1 bulan, yaitu rata-ratanya relatif tidak banyak berubah, sementara volatilitasnya malah menurun. Hal ini memberikan indikasi pada periode pascaIT, Bank Indonesia relatif lambat bereaksi untuk menaikkan suku bunga BI rate sebagai patokan pelaku pasar di dalam mengikuti lelang SBI. Inilah mungkin yang menjadi salah satu pemicu meningkatnya inflasi selain memang berasal dari kenaikan barang dan jasa administered prices. Lambatnya reaksi Bank Indonesia ini dapat dilihat dengan terdepresiasinya Rupiah terhadap USD. Karena tingkat bunga Federal Fund justru terus meningkat. (Tabel 1) Gambar 1 menunjukkan bahwa spread SBI 1 bulan dan Federal Fund secara riil meningkat. Hal ini bila tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat akan berakibat terjadinya capital outflow. Dengan demikian, potensi terjadinya pelemahan Rupiah terhadap USD sangat besar. Ternyata memang pada akhir bulan Agustus 2005 terjadi pelemahan yang sangat besar dari Rupiah terhadap USD. Sementara itu, tingkat inflasi domestik juga memiliki kecenderungan meningkat (Gambar 2). Harga minyak dunia yang terus meningkat pada awal 2005 membuat ekspektasi publik akan meningkatkan ekspektasi inflasi. Hal ini tidak direspon secara tepat dan cepat oleh Bank Indonesia pada saat itu. Padahal di dalam kebijakan inflation targeting adalah Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 162 - 170 166 bersifat forward looking. Bila dikaitkan dengan kurs Rupiah dengan USD akibat inflasi yang terus meningkat ini, maka kurs riil dapat dilihat pada Gambar 3. Hal ini berarti bahwa kurs nominal pada saat itu dapat dikatakan overvalued. Inflasi sangat berperanan di dalam penen- tuan tingkat kurs riil. Studi empiris terbaru dari Taylor dan Taylor (2004) mengenai purchasing power parity (PPP) menunjukkan, dalam jangka panjang perbedaan antara nilai tukar nominal dengan dengan nilai tukar riil tidak akan akan terlalu jauh. Ini artinya, rupiah yang berada di kisaran 11 ribuan merupakan nilai yang memang pantas. Apalagi, PPP cukup baik untuk menjelaskan di negara yang mengalami inflasi kronis dan akut seperti Indonesia. Nilai Rupiah yang anjlok pada Selasa, 29 Agustus 2005 mencapai Rp11 ribuan bukan hal yang mengagetkan, karena berbagai indikator saling mendukung menunjukkan adanya potensi akan terjadi pelemahan. Yang menjadi pertanyaan adalah hanya: kapan waktunya dan apa pemicunya. Namun, sayangnya kebijakan yang dilakukan beberapa bulan menjelang jatuhnya rupiah sangat konservatif dan hampir dapat dikatakan BI tidak mengantisipasi potensi risiko ini. Padahal, salah satu tugas dan domain BI Tabel 1. Kinerja Beberapa Variabel Ekonomi Makro Pra IT Dan Pasca IT Inflasi (yoy)1 SBI-1M2 Pertumbuhan PDB3 Kurs Rp/USD4 Rata-rata pra IT 7.76 11.94 4.76 9152.98 Standard Deviasi pra IT 3.41 3.70 1.26 825.38 Rata-rata pasca IT* 13.65 11.62 5.16 9444.67 Standard Deviasi pasca IT* 4.39 1.34 0.28 473.68 Sumber: Bank Indonesia (http://www.bi.go.id) IT=inflation targeting 1M=1 bulan *Data pascaIT untuk indikator: 1 sampai bulan Nopember 2006 2 sampai bulan Oktober 2006 3 sampai bulan September 2006 4 sampai 28 Desember 2006 -10 -5 0 5 10 15 Ja n: 20 00 Ju n: 20 00 N ov :2 00 0 A pr :2 00 1 Se p: 20 01 Fe b: 20 02 Ju l: 20 02 D ec :2 00 2 M ay :2 00 3 O ct :2 00 3 M ar :2 00 4 A ug :2 00 4 Ja n: 20 05 Ju n: 20 05 N ov :2 00 5 Gambar 1. Spread SBI-Fed Fund Riil -10 -5 0 5 10 15 20 Ja n: 20 00 Ju n: 20 00 N ov :2 00 0 A pr :2 00 1 Se p: 20 01 Fe b: 20 02 Ju l: 20 02 D ec :2 00 2 M ay :2 00 3 O ct :2 00 3 M ar :2 00 4 A ug :2 00 4 Ja n: 20 05 Ju n: 20 05 N ov :2 00 5 YOY IND Inflat ion YOY US INFLAT ION Spread Indo-US Menjelang Krisis Mini Agustus 2005 Gambar 2. Inflasi (yoy) Indonesia dan AS Kebijakan Inflation Targeting (Muhammad Handry Imansyah) 167 adalah menjaga rupiah. Hal ini ditunjukkan dengan terlalu lambannya BI menaikkan suku bunga SBI, sementara suku bunga the Fed terus meningkat. Memang, di satu sisi bila tingkat bunga dinaikkan terlalu cepat akan mengham- bat sektor riil untuk berkembang. Namun kelebihan likuiditas di pasar memiliki potensi untuk terjadinya inflasi dan pelemahan rupiah. Hal ini ditunjukan oleh Gambar 4. Rasio M2 terhadap cadangan devisa meningkat dengan cepat pada awal tahun 2005. Hal ini menunjukkan kelebihan likuiditas di pasar sehingga para pelaku pasar yang mema- hami hal ini memanfaatkan dengan mengkon- versikannya ke dalam mata uang USD untuk menghindari turunnya aset mereka (flight to quality) Di sisi rasio penyaluran kredit terhadap PDB juga peningkatan yang cukup signifikan. Terjadi trend yang meningkat terhadap rasio ini. Hal ini memberikan indikasi pertumbuhan kredit mungkin tidak tersalur ke sektor riil sehingga tidak menyebabkan pertumbuhan ekonomi. Gambar 6 menunjukkan fenomena ini. Sedangkan, pertumbuhan kredit properti juga sangat tinggi di atas pertumbuhan total kredit (Gambar 7) Apalagi bila dilihat pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) Jakarta meningkat sangat fantastik. Menjelang terjadi- 7.000 8.000 9.000 10.000 11.000 12.000 13.000 Ja n: 20 00 Ju l:2 00 0 Ja n: 20 01 Ju l:2 00 1 Ja n: 20 02 Ju l:2 00 2 Ja n: 20 03 Ju l:2 00 3 Ja n: 20 04 Ju l:2 00 4 Ja n: 20 05 R p /U S D Riil Nominal Gambar 3. Nilai Tukar Riil dan Nominal Gambar 4 Rasio M2 -Cadangan Devisa 2 2.5 3 3.5 4 Ja n: 20 00 Ju l:2 00 0 Ja n: 20 01 Ju l:2 00 1 Ja n: 20 02 Ju l:2 00 2 Ja n: 20 03 Ju l:2 00 3 Ja n: 20 04 Ju l:2 00 4 Ja n: 20 05 Ju l:2 00 5 Ja n: 20 06 Menjelang Krisis Mini Agustus 2005 2 2,5 3 3,5 4 Ja n: 20 00 Ju l:2 00 0 Ja n: 20 01 Ju l:2 00 1 Ja n: 20 02 Ju l:2 00 2 Ja n: 20 03 Ju l:2 00 3 Ja n: 20 04 Ju l:2 00 4 Ja n: 20 05 Ju l:2 00 5 Ja n: 20 06 Menjelang Krisis Mini Agustus 2005 Gambar 4 Rasio M2 -Cadangan Devisa -5,00 0,00 5,00 10,00 15,00 Ja n Fe b M ar A pr M ay Ju n Ju l A ug Se p O ct N ov D ec Ja n Fe b M ar A pr M ay Ju n Ju l A ug Se p O ct N ov D ec Ja n Fe b M ar A pr M ay Ju n Ju l A ug Se p O ct N ov D ec Ja n Fe b M ar A pr M ay Ju n Ju l A ug Se p O ct N ov D ec Ja n Fe b M ar A pr M ay Ju n Ju l A ug Se p O ct N ov D ec Ja n Fe b M ar A pr M ay Ju n 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Gambar 5. Bunga Riil SBI-1M 0,15 0,16 0,17 0,18 0,19 0,20 0,21 Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 Q 1 Q 2 Q 3 Q 4 Q 1 Q 2 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Gambar 6. Rasio Kredit dan PDB Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 162 - 170 168 nya krisis mini 2005, pertumbuhan IHSG hampir mencapai 80 persen. Hal ini sering terjadi menjelang krisis keuangan (Gambar 8). Dari berbagai indikator macroprudential sederhana saja, sebenarnya dapat dilihat resiko pelemahan Rupiah terhadap USD, apalagi inflasi pada saat itu tidak dijaga dengan baik pada tahap dimulainya kebijakan inflation targeting. -10% 0% 10% 20% 30% 40% 50% Ja n Fe b M ar A pr M ay Ju n Ju l A ug Se p O ct N ov D ec Ja n Fe b M ar A pr M ay Ju n Ju l A ug Se p O ct N ov D ec Ja n Fe b M ar A pr M ay Ju n Ju l A ug Se p O ct N ov D ec Ja n Fe b M ar A pr 2002 2003 2004 2005 Property Total Credit Gambar 7. Pertumbuhan Kredit Properti dan Total -0,60 -0,40 -0,20 0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 20 00 :0 1 20 00 :0 6 20 00 :1 1 20 01 :0 4 20 01 :0 9 20 02 :0 2 20 02 :0 7 20 02 :1 2 20 03 :0 5 20 03 :1 0 20 04 :0 3 20 04 :0 8 20 05 :0 1 20 05 :0 6 Gambar 8. Pertumbuhan IHSG (y-o-y) 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% P ro ba bi lit as Periode PraKrisis Probabilitas Krisis 1978 Krisis 1983 Krisis 1986 Krisis 1997 Krisis Kecil Agustus 2005? Gambar 9. Probabilitas Krisis 1971-2004 Kebijakan Inflation Targeting (Muhammad Handry Imansyah) 169 Bila merujuk hasil pengembangan sistem peringatan dini yang salah satunya dengan pendekatan non parametrik oleh Imansyah dan Kusdarjito (2005)1, maka resiko pelemahan Rupiah terhadap USD sangatlah tinggi. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 9. Tampaklah bahwa probabilitas akan terjadinya krisis di dalam 24 bulan setelah awal tahun 2004 cukup tinggi, signal peringatan dini telah menyala yang memberikan tanda adanya gangguan terhadap perekonomian. Indikator-indikator dini yang memberikan tanda adalah harga minyak dunia, defisit fiskal, rasio tingkat bunga kredit dengan simpanan, rasio investasi terhadap PDB dan tingkat pertumbuhan riil PDB. Defisit berkaitan dengan harga minyak dunia yang semakin meningkat sehingga meningkatkan pengeluaran untuk subsidi (defisit fiskal). Selain itu, rasio investasi yang tak meningkat akibat masih kurang kondusifnya keamanan dan masalah perburuhan. Salah satu tujuan inflation targeting framework adalah pengendalian tingkat inflasi supaya lebih dapat ditekan sehingga pada gili- rannya akan memperkuat dan menstabilkan nilai tukar Rupiah terhadap USD. Karena salah satu domain kebijakan moneter adalah kesta- bilan harga dan nilai Rupiah. Namun, ada beberapa persyaratan belum dapat dipenuhi sepenuhnya untuk menerapkan inflation targeting. Yang paling dominan menghambat penerapan inflation targeting adalah mengenai lemahnya institusi keuangan termasuk pengawasan dan peraturan kehati- hatian pemerintah, hutang dalam mata uang asing yang masih relatif besar dan rentannya sudden stops dari capital inflows (dominasi external). Tingginya capital inflow dalam investasi portofolio saham dan surat utang 1 Untuk lebih detil mengenai metodologi dan hasil-hasilnya, lihat Imansyah dan Kusdajito (2005) negara memberikan resiko terjadinya sudden stops. Untuk itu, berbagai hambatan tersebut harus dibenahi untuk memungkinkan bekerja- nya kebijakan inflation targeting secara opti- mal. KESIMPULAN Setelah berjalan hampir setahun setengah, dari sisi kinerja inflasi masih belum memuaskan, karena justru rata-rata inflasi malah meningkat pada kurun waktu pascapenerapan kebijakan inflation targeting dibandingkan dengan kurun waktu pra penerapan inflation targeting. Demikian juga kurs nilai tukar Rupiah terhadap USD secara rata-rata melemah pascapenerapan inflation targeting. Penerapan sebuah kebijakan memerlukan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi supaya kebijakan tersebut dapat bekerja optimal. Kebijakan inflation targeting yang dijalankan oleh Bank Indonesia sejak Juli 2005 dengan masa transisi yang cukup ternyata belum dapat menghasilkan hasil optimal seba- gaimana yang diharapkan. Memang sangatlah prematur bila menyatakan kebijakan inflation targeting ini tidak tepat, sebab persyarat untuk bekerjanya kebijakan tersebut secara umum belum dapat dipenuhi. DAFTAR PUSTAKA Bank Indonesia. Paket B Inflation targeting. http://www.bi.go.id. Benigno, Pierpaolo and Michael, Woodford. 2006. Optimal Inflation targeting under Alternatif Regimes. NBER Working Pa- pers 12158. http://www.nber.org. Bernanke, Ben S and Frederic, S., Mishkin. 1997. Inflation targeting: A New Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 8, Nomor 2, Oktober 2007: 162 - 170 170 Framework for Monetary Policy?, NBER Working Papers 5893. http://www.nber. org. Fraga, Arminio., Ilan, Goldfajn and Andre, Minela. 2003. Inflation targeting in Emerging Market Economies. NBER Working Papers 10019. http://www. nber.org. Goldstein, Moris. 2002. Managed Float Plus. Peter G. Peterson Institute for Interna- tional Economics. http://www.petersoninstitute. org. Hu, Yian. 2003. Empirical Investigations of Inflation targeting. Working Paper WP- 03-6. Institute for Internattional Eco- nomics. http://www.iie.com. Imansyah, M. Handry dan C, Kusdarjito. 2005. Pengembangan Sistem Peringatan Dini bagi Krisis di Indonesia: Mencari Bentuk Pemodelan yang Tepat. Academic Seminar 2005 Jakarta: Bank Indonesia - Pascasarjana Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 16-17 November 2005. Kadioglu, Ferya., Nilufer, Ozddemir and Gokhan, Yilmaz. 2000. Inflation targeting in Developing Countries. Discussion Paper September. The Central Bank of the Republic of Turkey. Research Department. Mishkin, Frederic, S. 1998. The Economics of Money, Banking, and Financial Markets. International Student Edition. Fifth edition. London: Addison Wesley Long- man Inc. Mishkin, Frederic, S. 2004. Can Inflation Targeting Work in Emerging Markets Countries? NBER Working Papers 10646. http://www.nber.org. Petursson, Thorarrin, G. 2000. Exchange Rate or Inflation targeting in Monetary Policy? Monetary Bulletin no 1.