STUDI EFEKTIVITAS PELAYANAN PUBLIK DI KECAMATAN KEJAKSAN KOTA CIREBON Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 9, Nomor 1, April 2008: 69 - 88 KAUSALITAS INVESTASI ASING TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI: Error Correction Model Eni Setyowati 1, Wuryaningsih DL 1, dan Rini Kuswati 1 1 Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta Jalan A. Yani Pabelan Tromol Pos I Kartasura Surakarta 57102 E-mail: nayla.azka@yahoo.com Abstrak: Investasi sebagai salah satu komponen yang diperlukan untuk melanjutkan proses pembangunan ekonomi. Tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah untuk memperkirakan pengaruh investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya. Manfaat yang dapat diperoleh adalah untuk meningkatkan keberadaan teori pertumbuhan ekonomi dapat diterapkan di Indonesia, memperkuat hasil penelitian sebelumnya dan menjelaskan pengertian dari teori pertumbuhan ekonomi. Salah satu cara untuk menganalisis pengaruh jangka pendek dan jangka panjang adalah dengan menggunakan model dinamis. Dalam studi ini, model yang digunakan adalah model koreksi kesalahan Engle Granger (EG-ECM), yang didasarkan pada teorema representasi Granger. Dari hasil penelitian diketahui bahwa variabel yang memiliki dampak signifikan dalam jangka pendek adalah investasi langsung asing terhadap PDB dan sebaliknya. hasil penelitian ini telah membuktikan adanya dua arah kausalitas. Kata kunci: investasi asing, GDP, EG-ECM, pertumbuhan ekonomi Abstract: Investment is one of the important components for the sustainability of economic development process. Research objectives to be achieved are to estimate the influence of foreign investment on economic growth, and vice versa. The benefits to be gained are to increase the existence of economic growth theory can be applied in Indonesia, strengthen the results of previous studies, and clarify the understanding of the theory of economic growth. One of the way to analyze the influence of short-run and long run is to use dynamic models. In this study, the model used is the Engle Granger's Error Correction Models (EG-ECM), based Granger representation theorem. From the results of the research note that the variables that have a significant impact in the short run is the Foreign Direct Investment to GDP and vice versa. These research results have proved the existence of two-way causality Keywords: foreign investment, GDP, EG-ECM, economic growth PENDAHULUAN Di negara-negara berkembang yang berpeng- hasilan rendah seringkali terjadi kesenjangan investasi dan tabungan serta kesenjangan devisa yang dicerminkan dalam defisit anggaran. Umumnya untuk menutup kesen- jangan tersebut kebanyakan negara berkem- bang mengundang investor asing. Harapan bagi negara berkembang atas peran modal asing yang masuk ke negaranya sebagaimana yang ditulis Mudrajad (1997) yaitu: pertama, sumber dana eksternal dapat dimanfaatkan oleh negara berkembang seba- gai dasar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, kedua, pertumbuhan ekonomi yang meningkat perlu diikuti dengan struktur ekonomi dan perdagangan; ketiga, modal asing dapat berperan penting dalam mobili- Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 9, Nomor 1, April 2008: 69 - 88 70 sasi dana maupun transformasi struktural; keempat, kebutuhan akan modal asing menjadi menurun setelah perubahan struk- tural benar-benar terjadi. Pemerintah telah mengeluarkan kebija- kan deregulasi melalui beberapa paket kebijakan di antaranya: paket Juli 1992 (dikeluarkan pada tanggal 7 Juli 1992). Paket Oktober (dikeluarkan pada tanggal 23 Oktober 1993), dan paket Desember 1994 (dikeluarkan pada tanggal 20 Desember 1994). Paket kebijakan yang baru tersebut dimaksudkan untuk mendorong terciptanya iklim investasi yang lebih menarik. Juga untuk meningkatkan efisiensi produksi yang diperlukan untuk mempertahankan daya saing. Dalam paket tersebut diberikan lebih banyak kemudahan dan peluang bagi peningkatan efisiensi melalui penyederha- naan prosedur investasi dan perijinan terutama sektor industri, perdagangan, dan jasa. Hal ini bisa dilihat dari besarnya jumlah investasi di sektor industri yang menempati urutan pertama dari sembilan sektor yang ada. Total industri asing menurut sektor yang besar adalah investasi di sektor industri pengolaan sebesar 16.818,21 juta dollar pada tahun 1995 dan 24.282,30 juta dollar pada tahun 1996. sektor industri pengolahan merupakan salah satu yang menggunakan teknologi tinggi untuk mengolah sumber daya yang ada. Sehingga sektor industri pegolahan membutuhkan modal yang besar untuk memenuhi sarana prasarana yang ada untuk mengoptimalkan fungsi dari faktor- faktor produksi yang ada. Jika para investor asing bersedia mengucurkan dana yang besar untuk membiayai kebuuhan modal sektor industri pengolahan dibandingkan sektor pertanian yang hanya menerima sektor pertanian yang hanya menerima investasi asing sebesar 1.425,36 juta dollar pada tahun 2000, 1036,85 juta dollar pada tahun 2001 dan 1.354,23 juta dollar pada tahun 2002. sektor pertanian memang memiliki beberpa kelema- han pada lingkungan, sehinga para investor asing kurang berminat pada sektor ini. Lain halnya dengan nvestasi dalam negeri, justru pada mengalami kenaikan dari 106.546,86 milyar rupiah pada tahun 2002. Bermula dari latar belakang di atas pene- litian ini membatasi pada permasalahan apakah investasi asing berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi ataukah pertumbu- han ekonomi berpengaruh terhadap investasi asing. Tinjauan pustaka dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Pengertian investasi Pengertian investasi (menurut Sukirno, 2000: 366) adalah pengeluaran untuk membeli barang-barang modal dan peralatan-pealatan produksi dengan tujuan untuk mengganti dan terutama untuk menambah barang- barang modal perekonomian yang akan digunakan untuk memproduksi barang dan jasa di masa depan. Investasi adalah penam- bahan barang modal secara netto positif (Mangkoesubroto, 1998: 81). Seseorang yang membeli barang modal tapi ditujukan untuk mengganti barang modal yang aus dalam proses produksi bukanlah merupakan investasi, tetapi disebut dengan pembelian barang modal untuk mengganti (replacement). Pembelian barang modal ini merupakan investasi pada waktu yang akan datang. Secara garis besar ada tiga sumber utama moal asing dalam suatu negara yang menga- nut sistem perekonomian terbuka, yaitu: pinjaman luar negeri (debt), penanaman modal asing langsung (Foreign Direct Invest- ment, FDI), dan investasi portofolio. Pinjaman luar negeri dilakukan oleh pemerintah secara bilateral maupun multilateral. Investasi Kausalitas Investasi Asing ... (Eni Setyowati dkk) 71 portofolio adalah investasi yang dilakukan melalui pasar modal. Penanaman modal asing langsung merupakan investasi yang dilakukan oleh swasata asing ke suatu negara tertentu. Bentuknya dapat berupa cabang perusahaan multinasional, anak perusahaan multinasio- nal (subsidiari), lisensi, joint venture, atau lainnya. Manfaat yang dapat diharapkan dari suatu paket modal asing (FDI) adalah berupa: (a) penyerapan tenaga kerja (employment), (b) alih teknologi, (c) pelatihan manajerial, dan (d) akses ke pasar internasional melalui ekspor. Dilihat dari sasaran penjualan outputnya, perusahaan multinasional dapat dibedakan ke dalam dua kelompok: (a) penanaman modal asing yang berorientasi ke pasar domestik yang biasanya cenderung menggunakan teknologi produksi yang padat modal, dan (b) penanaman modal asing yang berorientasi ke pasar luar negeri yang yang besarnya cenderung menggunakan produksi berteknologi padat karya karena lebih murah. 2. Teori pertumbuhan ekonomi Model pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar menjelaskan bahwa investasi di dalam proses pertumbuhan ekonomi memiliki peranan yang sangat menentukan, khususnya watak ganda yang dimiliki investasi yaitu (Jhingan, 1993): a. Menciptakan pendapatan yang sering disebut sebagai dampak permintaan. b. Memperbesar kapasitas produksi pereko- nomian dengan cara meningkatkan stok modal yang sering sebagai dampak penawaran investasi. Selama investasi netto tetap berlangsung pendapatan nyata dan output akan senantiasa membesar. Model yang dikembangkan oleh Harrod- Domar yaitu (Jhingan, 1993): a. Model Domar Domar mendasarkan modelnya pada pertanyaan bahwa investasi di satu pihak menghasilkan pendapatan dan di pihak lain menaikkan kapasitas produksi, maka investasi harus meningkat agar kenaikan pendapatan sama dengan kenaikan kapa- sitas produksi, supaya keadaan full employment dapat dipertahankan. Ia menjawab pertanyaan ini melalui pende- katan dengan mempererat kaitan antara penawaran agregat dengan permintaaan agregat melalui investasi. Domar menjelaskan kenaikan kapasi- tas produksi sisi penawaran dianggap sebagai laju pertumbuhan tahunan dari investasi. Kapasitas produksi yang baru diinvestasikan rata-rata sama dengan tabungan. Tetapi sebagian investasi baru akan menggambarkan investasi lama. Karena itu investasi baru akan bersaing dengan investasi lama di pasar tenaga kerja dan fakor-faktor produksi lain. Hasil output pabrik lama akan berkembang dan kenaikan output tahunan dari perekono- mian sedikit lebih kecil dari pada kapasitas produksi yang baru diinvesta- sikan. Kenaikan yang diperlukan dalam permintaan agregart disisi permintaan dalam model domar menjelaskan bahwa multiple Keynesian akan terjadi. Misalkan kenaikan rata-rata pendapatan (Y), sedang kenaikan investasi sama dengan multiplikator 1 kali kenaikan investasi. 1 IY . Untuk mendapatkan equilibrium penda- patan pada full employment, permintaan Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 9, Nomor 1, April 2008: 69 - 88 72 agregat harus sama dengan penawaran agregart. Dengan demikian persamaan akan berubah menjadi 1 . Persa- maan ini menunjukkan bahwa untuk mempertahankan full employment, laju pertumbuhan investasi autonomous netto harus sama dengan marginal propen- sity to saving kali produktifitas modal . Ini batas laju kecepatan investasi yang diperlukan untuk menjamin penggunaan kapasitas potensial dalam rangka mempertahankan laju pertumbu- han ekonomi yang mantap pada keadaan full employment. b. Model Harrod Model Harrod didasarkan pada tiga laju pertumbuhan yaitu: 1) Laju Pertumbuhan aktual (G) ditentu- kan ole ratio tabungan dalam ratio output. Laju pertumbuhan akan menunjukkan variasi klasik jangka pendek dalam laju pertumbuhan ekonomi. 2) Laju pertumbuhan terjamin (GW) merupakan laju pertumbuhan penda- patan kapasitas penuh suatu pereko- nomian. 3) Laju pertumbuhan alamiah (Gr) oleh Harrod dianggap sebagai “optimum kesejahteraan” dapat juga disebut sebagai laju pertumbuhan potensial. Prinsip akselerasi mengatakan bahwa tingkat/besarnya investasi proporsional terhadap perubahan dari output (GNP). Secara sederhana prinsip akselerasi ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Pengusaha menginginkan suatu hubungan tertentu (proporsi tertentu) dan modal yang diinginkan dengan hasil produksi (output). (Nopirin,1996) K1* = a Y1 .......(1) dimana: K1* = Jumlah modal yang diinginkan a = Perbandingan antara modal dengan output yang diinginkan Pengusaha melakukan investasi apabila jumlah modal yang diinginkan pada suatu saat lebih besar dari pada jumlah modal yang betul-betul dimiliki dikurangi dengan penyusutan. Investasi dalam arti ini dapat dituliskan sebagai berikut: I = K1* - Kt-1 (1-d) …….(2) Jumlah modal pada akhir suatu periode t = Kt-1 (1-d) ditambah dengan investasi netto Kt = Kt-1 (1-d) + 1t …….(3) Dengan asumsi bahwa penyusutan terhadap jumlah modal yang diinginkan dilakukan dalam periode (koefisien penyesuaian = 1). Implikasinya, jumlah modal periode t sama dengan jumlah modal yang diinginkan pada periode t, oleh karena itu diperoleh: Kt = Kt* Sehingga persamaan (1) menjadi Kt = a Yt …….(4) Kausalitas Investasi Asing ... (Eni Setyowati dkk) 73 Dengan memasukkan persamaan di atas diperoleh prinsip akselerasi sebagai berikut: 1t = K*1-Kt-1+ dKt-1 …….(5) 1t = a (Y1-Yt-1) + dKt-1 ……..(6) Persamaan (6) berarti bahwa inves- tasi bruto tergantung pada pertumbuhan output dan penyusutan. Bagian pertama disebut investasi netto. Dengan demikian investasi netto merupakan fungsi dan pertumbuhan output. Konsekuensinya suatu perekonomian yang tidak mengala- mi pertumbuhan output maka investasi juga akan sama dengan nol (Nopirin, 1996). Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tujuan penting dari kebijakan ekonomi makro. Perekonomian yang tumbuh akan mampu memberikan kesejahteraan ekonomi yang lebih baik bagi penduduk negara yang bersangkutan. Istilah pertumbuhan ekonomi harus dibedakan dengan istilah pemba- ngunan ekonomi, karena pertumbuhan ekonomi hanya menyangkut ukuran fisik yang berupa peningkatan produksi barang dan jasa, sedangkan pembangunan ekonomi menyangkut tidak hanya pertambahan dalam produksi fisik barang dan jasa melainkan juga kualitas barang dan jasa maupun kualitas faktor-faktor produksi yang terlibat dalam proses produksi barang dan jasa tersebut (Suparmoko, 1990). Pengertian pertumbuhan ekonomi menu- rut Boediono (1985) yaitu suatu proses kenaikan proses kenaikan output dalam jangka panjang. Sedangkan menurut Sukirno (1981) adalah kenaikan gross national product (GNP) atau gross domestic product (GDP) tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertum- buhan penduduk dan juga tidak memandang struktur ekonomi berubah atau tidak. Ada dua alasan mengapa angka-angka pendapatan nasional merupakan dasar yang diperlukan guna menghitung tingkat pertum- buhan ekonomi. Pertama, angka statistik tersebut diperoleh dengan jalan menjumlah- kan nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh aktifitas produksi di dalam perekonomian, yang berarti peningkatan angka-angka terse- but mencerminkan peningkatan balas jasa. Kedua, angka-angka pendapatan nasional hanya mencakup nilai produk yang dihasil- kan pada suatu periode tertentu dan tidak mencakup nilai produk yang dihasilkan pada periode tertentu dan tidak mencakup nilai produk yang dihasilkan pada periode- periode sebelumnya. Dengan demikian konsep aliran dalam perhitungan angka pendapatan nasional jumlah output yang dihasilkan dalam tiap-tiap periode dapat dibandingkan (Ikhsan, 1996). Perlu diperhatikan, untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi data penda- patan nasional yang digunakan adalah data pendapatan nasional atas dasar harga konstan. Dengan menggunakan data atas dasar harga konstan, maka pendapatan nasional semata-mata hanya mencerminkan pertumbuhan output yang dihasilkan pereko- nomian pada periode tertentu. Dengan meng- gunakan data pendapatan nasional atas dasar harga konstan pengaruh perubahan harga terhadap nilai pendapatan nasional (atas dasar harga berlaku), telah dihilangkan (Ikhsan, 1996). Tujuan perhitungan pertumbuhan eko- nomi adalah untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi seharusnya dihitung dengan data pendapatan nasional per kapita atas dasar harga konstan, pertumbuhan pendapatan nasional dapat saja terjadi tanpa Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 9, Nomor 1, April 2008: 69 - 88 74 memberi dampak positif pada tingkat kese- jahteraan masyarakat sebagai akibat dari tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi dari tingkat pertumbuhan pendapatan nasio- nal (Susanti, 1996). Pertumbuhan ekonomi yang lebih tepat diukur dengan menggunakan pertumbuhan pendapatan perkapita menurut adanya kenaikan produk domestik bruto atau pendapatan nasional. Agar kita dapat benar- benar memahami bagaimana caranya mendo- rong pertumbuhan ekonomi, maka kita harus memahami pula bagaimana proses pengaruh dari faktor yang mempengaruhinya. Faktor- faktor tersebut di antaranya: 1. Penanaman modal dalam negeri Investasi merupakan komponen yang mudah berubah. Jika pengeluaran terhadap barang dan jasa turun selama resesi maka penuru- nannya biasa berkenaan dengan jatuhnya dalam pengeluaran untuk investasi. Investasi dalam pendapatan nasional merupakan unsur yang sangat mudah mengalami keguncangan dan sangat tidak stabil. Karena investasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, disamping pertimbangan psikologis para pengusaha. Kaitan investasi dengan penda- patan nasional sedemikian penting, kegun- cangan yang terjadi pada investasi akan menyebabkan dampak rentetan atau susulan yang lebih hebat dalam pendapatan nasional. Penurunan investasi akan menyebabkan tingkat pendapatan nasional menurun di bawah kapasitas pendapatan nasional. Penurunan investasi terhadap kapasitas produksi nasional memang sangat besar, karena investasi merupakan penggerak perekonomian, baik untuk penambahan faktor produksi maupun berupa peningkatan kualitas faktor produksi (Jhingan, 1993). Modal dari dalam negeri berarti persediaan faktor produksi yang bersifat fisik yang dapat direproduksi dan berasal dari pihak swasta domestik. Apabila modal swasta dalam negeri naik dalam batas waktu tertentu akan mampu meningkatkan pertum- buhan ekonomi (Jhingan, 1993). 2. Penanaman modal asing Pembiayaan pembangunan tidak semuanya berasal dari pemerintah tetapi juga dari swasta, dikarenakan pemerintah mengalami defisit anggaran di samping itu untuk memberi kesempatan bagi swasta untuk turut membangun ekonomi Indonesia. Pem- biayaan pembangunan dari swasta khusus- nya penanaman modal asing diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekono- mi dan menyediakan lapangan pekerjaan serta mampu mempercepat proses pengen- tasan kemiskinan (Kuncoro, 2000). METODE Alat Analisis Alat analisis yang digunakan dalam pene- litian ini adalah Engle-Granger Error Correction Model (EG-ECM). Model koreksi kesalahan mampu meliputi banyak variabel dalam menganalisis fenomena ekonomi jangka panjang serta mengkaji konsistensi model empiris dengan teori ekonomi. Penurunan model dinamis Engle-Granger Error Correction Model (EG-ECM) dilakukan dengan metode Autoregressive Distributed Lags (ADL) dengan cara memasukkan variabel kelambanan dalam model. Secara umum dapat dituliskan sebagai berikut (Thomas, 1995, 431-434; Maddala, 2001, 565). yt=lagged (y, x)- ut-1+ t 0< < 1 Kausalitas Investasi Asing ... (Eni Setyowati dkk) 75 dimana Ut adalah residual regresi kointegrasi dan merupakan parameter penyesuaian jangka pendek. Pendekatan ini konsisten dengan Granger Representation Theorem yaitu jika xt dan yt berkointegrasi, maka residual regresi kointegrasi ut juga akan stasioner. Menurut Engle dan Granger (1987), estimasi model dinamis dengan pendekatan ini memerlukan dua tahapan (Two-stage Procedure Engle-Granger Error Correction Model). Jika dimisalkan persamaan regresi kointegrasi yang diestimasi adalah yt = 0 + 1xt dengan residual kointegrasinya ut = yt - 0 + 1xt, maka pengujian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut (Thomas, 1997, 432- 436; Harris, 1995) Tahap pertama, mengestimasi parameter jangka panjang. Hal ini dilakukan dengan melakukan regresi persamaan kointegrasi yt = 0 + 1xt, jika yt dan xt berkointegrasi, maka koefisien parameter jangka panjang 0 dan 1 akan konsisten. Tahap kedua adalah melakukan estimasi terhadap persamaan yt = lagged (y, x) - ut-1 + t. Banyaknya lag yang digunakan dalam estimasi jangka pendek ini dapat diketahui dengan metode general to specific yang dikembangkan oleh Hendry atau biasa disebut Hendry’s General to specific Modeling (HGSM). (Harris, 1995, 24, Thomas, 1997, 354- 359): Melalui two stage procedure EG-ECM tersebut, maka akan diperoleh nilai estimasi untuk jangka panjang maupun jangka pendeknya. Uji Akar Unit Uji akar unit (unit root test) merupakan bagian dari uji stasionaritas karena pada prinsipnya uji tersebut dimaksudkan untuk mengamati apakah koefisien tertentu dari model autoregresif yang ditaksir memiliki nilai satu atau tidak. Namun demikian model auto- regresif tidak memiliki distribusi yang baku, maka untuk menguji hipotesisnya digunakan metode pengujian yang dikembangkan oleh Dickey dan Fuller (1979) dengan penaksiran sebagai berikut (Gujarati, 1995, 720). 1. Dickey-Fuller (DF) test Yt = Yt-1 + ut Yt = 1 + Yt-1 + ut Yt = 1 + 2t + Yt-1 + ut dimana 1, 2, dan adalah parameter estimasi dan ut adalah white noise error. Pengujian dilakukan dengan hipotesis nol = 0. Pengu- jian dilakukan pada ketiga persamaan di atas dengan OLS untuk mendapatkan nilai estimasi dan standard error-nya. Perbedaan dari ketiga persamaan di atas adalah adanya komponen deterministik 1 dan 2t. Persamaan pertama adalah model random walk. Persamaan kedua diestimasi dengan menggunakan intersep, sedangkan persamaan ketiga mencakup intersep dan trend 2. Augmented Dickey-Fuller test Pengujian Dickey-Fuller hanya terbatas pada first-order autoregressive process atau AR(1). Jika data time series berkorelasi pada lag yang lebih tinggi, maka asumsi white noise error tidak berlaku lagi. Untuk pengujian akar unit (unit root test) dengan tingkat yang lebih tinggi, maka dilakukan pengujian ADF. Pengujian ADF melakukan koreksi terhadap terjadinya serial korelasi pada lag yang lebih tinggi, misal autoregresif pada order p atau AR(p). Dengan mengasumsikan bahwa y mengikuti proses AR(p), maka. p i tititt YYtY 1 121 Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan Volume 9, Nomor 1, April 2008: 69 - 88 76 Pengujian dilakukan dengan hipotesis nol = 0, jika 1 = 1 berarti = 0 dan di dalam sistem terdapat akar unit (unit root). Pengu- jian juga dapat dilakukan dengan memasuk- kan intersep dan atau trend, maupun tanpa keduanya. Nilai DF atau ADF yang dihasilkan dibandingkan dengan nilai kritisnya. Jika nilai DF atau ADF hitungnya lebih besar dibandingkan dengan nilai kritisnya, berarti Ho yang menyatakan bahwa tidak ada akar unit dapat ditolak. Dengan kata lain variabel yang diamati telah stasioner. Uji Derajat Integrasi Pada dasarnya uji derajat integrasi meru- pakan perluasan dari uji akar unit. Uji derajat integrasi dilakukan dengan menaksir model autoregresif berikut ini: 1. Dickey-Fuller (DF) Test 2 Yt = Yt-1 + ut 2 Yt = 1 + Yt-1 + ut 2 Yt = 1 + 2t + Yt-1 + ut 2. Augmented Dickey-Fuller Test p 1i tit 2 i1t21t 2 εYΔαδYtββYΔ Prosedur pengujian yang dilakukan sama dengan prosedur pengujian pada uji akar unit. Nilai statistik DF dan ADF untuk mengetahui pada derajat ke berapa suatu data akan stasioner dapat dilihat pada nilai t pada koefisien regresi Yt-1 persamaan di atas. Jika sama dengan satu, maka variabel Yt dikatakan berintegrasi pada derajat satu I(1), atau stasioner pada diferensiasi ke-satu. Jika sama dengan nol, maka variabel Yt belum stasioner pada differensiasi ke-satu. Bila hal tersebut terjadi, uji derajat integrasi perlu dilanjutkan dengan data diferensiasi kedua dan seterusnya, hingga diperoleh data yang stasioner. Dalam melakukan pengujian derajat integrasi, nilai DF atau ADF yang dihasilkan dibandingkan dengan nilai kritisnya, berarti Ho yang menyatakan bahwa variabel diamati tidak terintegrasi pada derajat ke-n dapat ditolak. Dengan kata lain variabel yang diamati stasioner pada derajat ke-n. Uji Kointegrasi Uji kointegrasi merupakan kelanjutan dari uji akar unit dan uji derajat integrasi. Tujuan dilakukannya uji kointegrasi adalah untuk mengkaji stasioneritas residual regresi kointe- grasi. 1. Cointegrating Regression Durbin-Watson (CRDW) Test: Mengestimasi model berikut: Yt = 0 + 1X1t+ 2 X2t +….+ n X nt + ut dimana: Yt = variabel dependen observasi t Xn = variabel independen observasi t ke-n dari langkah ini, akan diperoleh besarnya nilai CRDW yaitu berdasarkan nilai DW (Durbin-Watson) statistik/hitung. 2. Dickey-Fuller Test Mengestimasi nilai residu dari hasil regresi pada persamaan (3.11) untuk mendapatkan nilai DF uji kointegrasi, yang ditunjukkan oleh nilai t hitung koefisien ut-1 pada persamaan (3.12). ut = 1 ut-1 + t 3. Augmented Dickey-Fuller Test Mengestimasi nilai residu dari hasil regresi pada persamaan untuk mendapatkan nilai Kausalitas Investasi Asing ... (Eni Setyowati dkk) 77 ADF uji kointegrasi,yang ditunjukkan oleh nilai t hitung koefisien ut-1 pada persamaan di atas. Dari hasil estimasi nilai CRDW, DF, dan ADF statistik di atas,kemudian dibandingkan dengan nilai kritisnya untuk ketiga uji tersebut dalam tabel nilai CRDW, DF, dan ADF untuk uji kointegrasi (Engle dan Yoo, 1997, 157-158). Dimana jika CRDW, DF dan ADF statistik/hitung pada derajat keperca- yaan tertentu lebih besar dari nilai kritisnya berarti Ho yang menyatakan tidak ada kointegrasi antara variabel, dapat ditolak. Atau dengan kata lain variabel-variabel yang ada dalam persamaan tersebut saling berkointegrasi. Uji Ekonometri 1. Uji Non Autokorelasi Autokorelasi terjadi apabila nilai gangguan dalam suatu periode berhubungan dengan nilai gangguan periode sebelumnya. Asumsi non autokorelasi berimplikasi bahwa kovarians u i dan u j sama dengan nol. Cov(u i u j) = E{[(u i -E(u j)][u i -E(u j)]} = E(u i uj) = 0 untuk i j Cara mendeteksi autokorelasi dapat dilakukan dengan membandingkan nilai DW hitung dengan DW tabel. Mekanisme uji DW (DW Test) adalah sebagai berikut (Gujarati, 1995, 420-425). a. Lakukan regresi OLS dan dapatkan residunya b. Hitung nilai d (Durbin-Watson) c. Dapatkan nilai kritis dL dan du d. Bila H0 adalah tidak ada serial korelasi positif, maka jika: d