NERS Vol 5 No 1 April 2010_Akreditasi 2013.indd


55

ANALISIS FAKTOR TINGKAT KEBERHASILAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF 
PADA IBU MENYUSUI

(Factor Analysis about Exclusive Breastfeeding Achievement Level 
among Mothers who Provide Breastmilk to their Children)

Tiyas Kusumaningrum*, Catur Puji Lestari*, Agus Sulistyono**
* Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo Surabaya

Telp/Fax (031) 5913257. E-mail: tiyaskusumaningrum@gmail.com
** Lab/SMF/IRNA Obstetri dan Ginekologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya

ABSTRACT

Introduction: The number of mother who breastfeed their babies exclusively in Indonesia is low. 
It caused by many factors such as high intensity of formula milk advertisement, lack of awareness 
about the importance of breastfeeding, working mother, social culture, family support and the role of 
health care provider. The purpose of this research was to analyze factors related with successfulness 
level of exclusive breastfeeding. Method: Design used in this research was analytic retrospective. 
The population were all mothers at Pacarkeling Public Health Center area. Sample obtained through 
purposive sampling. Total sample was 61 respondents. Independent variables were knowledge, 
information and promotion, family support, social cultural, role of health provider, work/occupation, 
education and breast physiology anatomy. The dependent variable was exclusive breastfeeding. Result: 
The result indicated that exclusive breastfeeding achievement level was related with information and 
promotion (r = 0.271), family support (r = 373), health care provider role (r = 231), mother occupation 
(r = 251), anatomy and physiology of breast (r = 293), while the knowledge (r = 108), social cultural 
(r = 180) and education (r = 093) not signifi cantly related. Discussion: In conclusion, there was 
a positive correlation between information and promotion, family support, health care provider 
role, mother’s occupation, anatomy and physiology of breast with successfulness level of exclusive 
breastfeeding. While the knowledge, social cultural and education did not indicate signifi cant result. 
Therefore it is suggested to increase the quantity and quality of information and promotion about 
exclusive breastfeeding to the society, health care provider and pregnant and breastfeeding mother. 

Keywords: breasfeeding, knowledge, exclusive breastfeeding

PENDAHULUAN

Pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif 
sejak lahir hingga usia 6 bulan penting 
untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan 
optimal bayi (Lawrence, 2005). World Health 
Organization (WHO) merekomendasikan 
semua bayi harus mendapatkan ASI secara 
eksklusif sejak lahir sampai berusia 6 bulan. 
ASI eksklusif merupakan pemberian ASI saja 
sampai bayi berusia 6 bulan, tanpa tambahan 
cairan ataupun makanan lain selain ASI. 
Pemerintah Indonesia khususnya Departemen 
Kesehatan mengadopsi pola pemberian ASI 
eksklusif seperti rekomendasi WHO yang 
tertuang dalam SK MENKES 2004 sebagai 
salah satu program perbaikan gizi bayi. Program 

yang ingin dicapai dalam Indonesia sehat 2010 
adalah 80% ibu menyusui memberikan ASI 
eksklusif (Depkes RI, 2005). Hasil penelitian 
Amirudin dan Rosita (2006), pemberian ASI 
eksklusif di Jawa Timur hanya 9,3%, angka 
tersebut sangat jauh dengan standart nasional. 
Menurut Depkes RI pemberian ASI eksklusif 
di Indonesia belum dilaksanakan sepenuhnya 
karena faktor sosial budaya, kurangnya 
kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan 
kesehatan dan petugas kesehatan yang belum 
sepenuhnya mendukung peningkatan pemberian 
ASI, gencarnya promosi susu formula dan ibu 
bekerja. 

Hasil pengumpulan data awal pada 
2–6 Mei 2009 di Posyandu wilayah kerja 



Jurnal Ners Vol. 5 No. 1 April 2010: 55–61

56

Puskesmas Pacarkeling didapatkan dari 
36 ibu menyusui dengan rentang usia balita 
7 bulan–2 tahun, 10 ibu menyusui (27,7%) 
memberikan ASI eksklusif, 3 ibu menyusui 
(8,3%) memberikan pisang sebagai makanan 
tambahan dan 23 ibu menyusui (63,8%) 
memberikan susu formula, hal ini menunjukkan 
bahwa persentase pemberian ASI eksklusif di 
posyandu wilayah kerja puskesmas Pacarkeling 
masih jauh di bawah standart nasional ASI 
eksklusif. Oleh karena itu perlu analisis yang 
menunjukkan besar keterkaitan antara faktor 
sosial budaya, pengetahuan, informasi dan 
pelayanan dari petugas kesehatan, gencarnya 
promosi susu formula dan ibu bekerja dengan 
pemberian ASI eksklusif.

Praktek pemberian ASI eksklusif masih 
rendah. Survei Demografi dan Kesehatan 
Indonesia (SDKI) tahun 2002–2003, pemberian 
ASI eksklusif pada bayi di bawah usia dua 
bulan hanya mencakup 64% dari total bayi 
yang ada. Persentase tersebut menurun seiring 
dengan bertambahnya usia bayi yaitu, 46% 
pada bayi usia 2–3 bulan, 14% pada bayi usia 
4–5 bulan, dan 13% bayi di bawah dua bulan 
telah diberi susu formula dan satu dari tiga bayi 
usia 2–3 bulan telah diberi makanan tambahan. 
Survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 
oleh Nutrition & Health Surveillance System 
(NSS) kerja sama dengan Balitbangkes dan 
Helen Keller International di 4 perkotaan 
(Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 
perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, 
Jateng, Jatim, NTB, Sulsel) menunjukkan 
bahwa cakupan ASI eksklusif 4–6 bulan di 
perkotaan antara 4–12%, sedangkan di pedesaan 
4–25%. Studi di Jakarta menunjukkan bahwa 
praktek pemberian ASI eksklusif hingga usia 
4–6 bulan adalah 8,5%, hingga usia 6 bulan 
adalah 7,8%, dan 46% memilih memberikan 
susu formula (Dinas kesehatan Propinsi DKI 
Jakarta, 2005). 

Pemberian ASI eksklusif yang rendah 
merupakan salah satu pemicu rendahnya 
status gizi bayi dan balita. Data SUSENAS 
m e n u n j u k k a n  k a s u s  g i z i  b u r u k  t e r j a d i 
peningkatan 6,3% (tahun 1989) menjadi 
11,4% (tahun 1995). Pada tahun 1999 sekitar 
1,7 juta balita di Indonesia menderita gizi 
buruk berdasarkan indikator berat badan 

terhadap umur (BB/U). Sampai akhir tahun 
1999 terdapat sekitar 24.000 balita gizi buruk 
tingkat berat. Kasus gizi buruk yang meningkat, 
menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif 
sangat penting untuk pemenuhan gizi balita.

Pemberian ASI eksklusif yang rendah 
menunjukkan bahwa, untuk mempraktekkan 
pemberian ASI sesuai dengan anjuran, yaitu 
segera setelah melahirkan sampai pada periode 
6 bulan pertama, ibu menyusui menghadapi 
banyak hambatan yang berhubungan dengan 
pelayanan yang diperoleh di tempat persalinan 
(WHO, 1998; Taveras et al., 2003; BPS dan 
ORC Macro, 2003; Septiari et al., 2006) dan 
dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga 
di rumah (Lawrence, 2005). Praktek pemberian 
ASI eksklusif dipengaruhi oleh budaya, persepsi 
yang tidak benar tentang menyusui, dan 
promosi ASI eksklusif (Fenglian et al., 2007). 
Kekurangan gizi pada bayi disebabkan karena 
selain makanan yang kurang juga karena ASI 
banyak diganti dengan susu formula dengan 
cara dan jumlah yang tidak sesuai kebutuhan 
bayi (Siregar, 2005). Pemberian ASI eksklusif 
yang rendah meningkatkan kejadian penyakit 
infeksi seperti diare, otitis media, dan infeksi 
saluran pernafasan bagian atas pada anak di 
bawah usia 2 tahun (Suharyono, 1989).

Pemberian ASI eksklusif penting untuk 
tumbuh kembang bayi yang optimal baik 
fisik, mental dan kecerdasan, maka perlu 
perhatian agar dapat terlaksana dengan benar. 
Berbagai faktor yang memengaruhi pemberian 
ASI eksklusif perlu diketahui sehingga dapat 
terjalin suatu kerja sama yang baik antara ibu 
menyusui, lingkungan, dan petugas kesehatan 
agar mendukung keberhasilan pemberian ASI 
eksklusif.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilakukan dengan metode 
analitik dengan rancangan retrospektif. Pada 
penelitian ini dinilai faktor pengetahuan 
ibu, peran petugas kesehatan, pekerjaan ibu, 
sumber informasi, sosial budaya, pendidikan 
dan dukungan keluarga pada masa lalu 
terhadap tingkat keberhasilan pemberian ASI 
eksklusif di posyandu wilayah kerja puskesmas 
Pacarkeling Surabaya.



Tingkat Keberhasilan ASI Eksklusif (Tiyas Kusumaningrum)

57

Populasi dalam penelitian ini adalah ibu 
menyusui yang terdata di Posyandu wilayah 
kerja Puskesmas Pacarkeling Surabaya yang 
terdiri dari 26 posyandu. Pengambilan sampel 
61 ibu pada penelitian ini dilakukan dengan 
teknik purposive sampling berdasarkan 
kriteria inklusi ibu menyusui dengan usia bayi 
7 bulan sampai 1 tahun. Kriteria eksklusi yang 
dipakai antara lain ibu dengan kondisi yang 
tidak memungkinkan untuk menyusui seperti 
HIV/AIDS, Hepatitis B, Tb paru atau kondisi 
bayi yang tidak bisa menyusu seperti sumbing 
palatum, atresia koanal, deformitas fasial, dan 
kelainan gastrointestinal. Penelitian dilakukan 
selama 18 Juni sampai 14 Juli 2009.

Variabel independen dalam penelitian 
ini adalah faktor-faktor yang berhubungan 
dengan tingkat keberhasilan pemberian 
ASI eksklusif yaitu pengetahuan, dukungan 
keluarga, informasi dan promosi kesehatan, 
anatomi dan fisiologi payudara ibu, pendidikan, 
pekerjaan ibu, dan peran petugas kesehatan. 
Variabel dependen dalam penelitian ini tingkat 
keberhasilan pemberian ASI eksklusif.

Instrumen yang digunakan berupa 
kuesioner diambil dari instrumen penelitian 
Hany F (2007), Muhtar (2005) dengan 
modifikasi berdasarkan teori Akre (1994) dan 
Soetjiningsih (1997). Kuesioner tersebut terdiri 
dari 9 item pertanyaan tentang pengetahuan 
ibu (pengertian ASI, komposisi ASI, manfaat 
A S I  d a n  t e k n i k  m e n y u s u i ) ,  d u k u n g a n 
keluarga (dukungan emosional, penghargaan, 
informasi dan instrumental), informasi dan 
promosi (petugas kesehatan, media masa 
dan masyarakat), sosial budaya (adakah 
anjuran masyarakat tentang ASI, kolostrum 
dan penyapihan), peran petugas kesehatan 
(komunikasi, informasi dan edukasi), anatomi 
dan fisiologi payudara (adanya kelainan pada 
payudara ibu), serta tingkat keberhasilan 
ASI eksklusif (usia balita mulai diberikan 
makanan tambahan). Data yang diperoleh 
selanjutnya dianalisis dengan menggunakan 
teknik statistik korelasi Spearmen Rho dengan 
tingkat signifikasi α≤0,05.

HASIL

Distribusi data demografi responden 
didapatkan dari 61 responden sebagian besar 

ibu yang datang ke posyandu balita berumur 
20–35 tahun sebanyak 48 responden (79%), 
umur >35 tahun sebanyak 11 responden (18%) 
dan ibu umur <20 tahun sebesar 2 responden 
(3%). Tingkat pendidikan terakhir yang pernah 
di capai dengan persentase terbanyak pada 
tingkat SMA sebesar 30 responden (49%), 
kemudian SMP 16 responden (26%), SD 
8 responden (13%) dan persentase terkecil 
adalah tingkat perguruan tinggi 7 responden 
(12%). Pekerjaan ibu didapatkan 47 responden 
(77%) ibu tidak bekerja atau sebagai ibu 
rumah tangga, 11 responden (18%) sebagai 
pegawai dan 3 responden (5%) berwiraswasta 
sebagai pedagang. Pendapatan keluarga ibu 
terbanyak adalah sedang dengan jumlah 
Rp500.000–Rp1.000.000 per bulan mencapai 
29 responden (47%), kemudian pendapatan 
>Rp1.000.000 per bulan sebesar 18 responden 
(30%) dan keluarga yang berpendapatan rendah 
<Rp500.000 sebanyak 14 responden (23%).

Balita yang berusia 7 bulan sampai 1 
tahun pada posyandu balita wilayah puskesmas 
Pacarkeling terbanyak merupakan anak 
pertama yaitu 28 responden (46%), kemudian 
anak kedua mencapai 23 responden (38%), 
anak ketiga sebanyak 7 responden (11%), 
dan anak keempat sebesar 3 responden 
(5%). Kunjungan balita ke posyandu dengan 
persentase terbanyak selalu atau tiap bulan rutin 
melakukan kunjungan ke posyandu sebesar 38 
responden (62%), kemudian sering datang ke 
posyandu sebanyak 18 responden (30%) dan 5 
responden (8%) menyatakan jarang berkunjung 
ke posyandu.

Pengetahuan tentang ASI pada ibu yang 
berhasil memberikan ASI eksklusif adalah baik, 
sebanyak 33 responden (54,1%) pada ibu yang 
berhasil memberikan ASI eksklusif mempunyai 
pengetahuan yang baik dan 1 responden (1,7%) 
mempunyai pengetahuan yang cukup. Ibu 
yang tidak berhasil memberikan ASI eksklusif 
juga mempunyai pengetahuan yang baik yaitu 
mencapai 25 responden (40,9%) dan sebanyak 
2 responden (3,3%) mempunyai pengetahuan 
yang kurang.

Informasi tentang ASI eksklusif yang 
didapatkan dengan persentase terbanyak pada 
kategori cukup baik pada ibu yang berhasil 
memberikan ASI eksklusif maupun yang tidak 
berhasil memberikan ASI eksklusif. Pada 



Jurnal Ners Vol. 5 No. 1 April 2010: 55–61

58

ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif 
informasi yang baik mencapai 6 responden 
(9,8%), informasi cukup 26 responden (42,6%) 
dan 2 (3,3%) responden menyatakan informasi 
yang didapat kurang. Ibu yang tidak berhasil 
memberikan ASI eksklusif menyatakan 
informasi yang didapatkan baik sebanyak 
3 responden (4,9%), informasi cukup sebanyak 
16 responden (26,3%) dan 8 responden (13,1%) 
mendapatkan informasi yang kurang.

Dukungan keluarga yang baik pada 
ibu yang memberikan ASI eksklusif. Pada 
ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif 
dukungan keluarga yang baik diberikan 
pada 28 responden (45,9%) dan cukup pada 
6 responden (9,9%). Pada ibu yang tidak 
berhasil dukungan keluarga yang baik juga 
diberikan pada 13 responden (21,3%), cukup 
sebanyak 12 responden (19,6%), dan kurang 
pada 2 responden (3,3%).

Sosial budaya di sekitar ibu yang berhasil 
memberikan ASI eksklusif maupun yang tidak 
berhasil memberikan menyusui dikategorikan 
baik. Pada ibu yang berhasil memberikan ASI 
eksklusif menunjukkan sosial budaya yang 
baik dinyatakan oleh 25 responden (40,9%), 
sosial budaya cukup oleh 9 responden (14,8%), 
sedangkan pada ibu yang tidak berhasil 
memberikan ASI eksklusif sosial budaya yang 
baik diperoleh dari 16 responden (26,3%), 
cukup oleh 8 responden (13,1%) dan kurang 
baik diperoleh dari 3 responden (4,9%).

K e b e r h a s i l a n  A S I  e k s k l u s i f 
m e m b u t u h k a n  a d a n y a  p e r a n  p e t u g a s 
kesehatan yang baik, hal ini dapat dilihat dari 
20 responden (32,8%) menyatakan peran 
petugas kesehatan yang baik dan 14 responden 
(22,9%) menyatakan peran petugas cukup. 
Ibu yang tidak berhasil memberikan ASI 

eksklusif menunjukkan peran petugas kesehatan 
terbanyak adalah cukup, hal ini diketahui dari 
13 responden menyatakan peran petugas cukup, 
7 responden (11,5%) menyatakan baik dan 
7 responden (11,5%) menyatakan kurang.

Dari 34 responden yang berhasil 
memberikan ASI eksklusif 26 responden 
(42,6%) anatomi dan fisiologi payudara ibu 
positif atau mendukung pemberian ASI dan 
8 responden (13,1%) anatomi dan fisiologi 
payudara negatif atau tidak mendukung 
pemberian ASI. 27 responden yang tidak berhasil 
memberikan ASI eksklusif menunjukkan 
13 responden (21,3%) menyatakan anatomi 
dan fisiologi payudara positif dan 14 responden 
(23%) menyatakan anatomi dan fisiologi 
payudara negatif. Hasil uji korelasi Spearman 
Rho untuk mengetahui adanya hubungan antar 
variabel dapat dilihat pada tabel 1.

PEMBAHASAN

Perbandingan antara ibu yang berhasil 
memberikan ASI eksklusif lebih besar 
dibandingkan dengan yang tidak ASI eksklusif. 
Hal tersebut dikarenakan ada beberapa faktor 
yang mendukung ibu untuk memberikan ASI 
secara eksklusif. Faktor tersebut meliputi faktor 
dari bayi sendiri di mana tidak ada kelainan 
anatomis pada mulut bayi dan faktor dari 
ibu meliputi anatomi dan fisiologi payudara, 
makanan ibu dan pengetahuan ibu. Pengetahuan 
ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan ibu, 
pekerjaan ibu, dukungan keluarga selama 
ibu hamil sampai menyusui, sosial budaya 
setempat yang memberikan berbagai macam 
anjuran dalam menyusui, informasi dan 
promosi baik dari media koran, televisi, radio 
serta peran petugas kesehatan sendiri selama 

Tabel 1. Berbagai faktor yang memengaruhi tingkat keberhasilan ASI eksklusif

Faktor Uji Spearman Rho Keterangan
Pengetahuan ibu tentang ASI p = 0,0409 Tidak ada hubungan
Informasi dan promosi p = 0,035 ; r = 0,271 Ada hubungan, kekuatan rendah
Dukungan keluarga p = 0,003 ; r = 0,373 Ada hubungan, kekuatan rendah
Sosial budaya p  =0,164 Tidak ada hubungan
Peran petugas kesehatan p = 0,001 ; r = 0,413 Ada hubungan, kekuatan rendah
Anatomi fi siologi payudara p = 0,002 ; r = 0,293 Ada hubungan, kekuatan rendah

Keterangan: p = signifi kansi  r = koefi sien korelasi



Tingkat Keberhasilan ASI Eksklusif (Tiyas Kusumaningrum)

59

ibu melahirkan sampai menyusui. Salah satu 
peran petugas kesehatan yang nyata adalah 
pengelolaan laktasi di ruang bersalin untuk 
menunjang keberhasilan menyusui (Siregar, 
2004).

Keberhasilan ASI eksklusif dipengaruhi 
oleh informasi dan promosi sehingga perlu 
ditunjang dengan adanya sosialisasi. Hal ini 
membutuhkan kerja sama dari berbagai bidang 
seperti pemerintah dengan mencanangkan 
program menyusui secara eksklusif, peran 
petugas kesehatan dalam memberikan pendidikan 
kesehatan mengenai manajemen laktasi kepada 
ibu yang melahirkan. Pendidikan kesehatan 
dapat dilakukan oleh petugas kesehatan dengan 
menempelkan poster menyusui di rumah sakit 
dan Puskesmas dan membagikan selebaran 
bagi pasien agar membantu masyarakat untuk 
selalu ingat akan pesan yang benar tentang ASI 
eksklusif (Siregar, 2004). 

H a s i l  p e n e l i t i a n  i n i  d i d a p a t k a n 
pengetahuan tidak berhubungan dengan 
pemberian ASI eksklusif dikarenakan banyak 
faktor yang memengaruhi pemberian ASI 
eksklusif. Pengetahuan saja tanpa adanya 
kesadaran akan pentingnya ASI dan motivasi 
menjadikan ibu tidak memberikan ASI secara 
eksklusif. Selain itu pemberian ASI eksklusif 
membutuhkan waktu yang relatif lama yaitu 
6 bulan tanpa tambahan makanan atau minuman 
lain selain ASI, maka perlu ada faktor lain yang 
mendukung ibu dalam memberikan ASI saja 
sampai usia bayi 6 bulan. Faktor tersebut antara 
lain informasi dan promosi baik informasi 
tentang ASI eksklusif maupun susu formula 
atau bubur sebagai makanan tambahan bayi 
yang seharusnya diberikan pada bayi usia 
minimal 6 bulan, dukungan keluarga, peran 
petugas kesehatan dan anatomi fisiologi 
payudara ibu. 

Informasi dan promosi tentang ASI yang 
baik akan memberikan ibu rasa percaya diri dan 
nyaman dalam memberikan ASI eksklusif. Hasil 
penelitian Krystyra, (2004) didapatkan bahwa 
ada hubungan antara informasi dan promosi 
dengan tingkat keberhasilan pemberian ASI 
eksklusif di Polandia. Pada responden yang 
mendapatkan informasi dan promosi susu 
formula lebih sering persentase pemberian ASI 
akan semakin menurun. Kegagalan pemberian 

ASI karena peningkatan sarana komunikasi 
dan transportasi yang memudahkan periklanan 
distribusi susu buatan baik di desa dan 
perkotaan. Distribusi, iklan dan promosi susu 
buatan berlangsung terus dan bahkan meningkat 
tidak hanya di televisi, radio dan surat kabar 
melainkan juga ditempat-tempat praktek 
swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat 
di Indonesia (Siregar, 2004). Kurangnya 
sosialisasi petugas kesehatan khususnya pada 
rumah bersalin sehingga, beberapa rumah sakit 
memberikan susu formula pada bayi yang baru 
lahir (cairan prelaktal) sebelum ibu mampu 
memproduksi ASI hal ini menjadikan bayi 
tidak mau menghisap puting susu ibu karena 
perbedaan puting dot dan puting ibu atau lebih 
dikenal dengan binggung puting. 

Dukungan keluarga juga berperan 
penting dalam keberhasilan ASI eksklusif. 
Menurut Roesli Utami, (2000) suami merupakan 
bagian yang vital dalam keberhasilan atau 
kegagalan menyusui karena suami juga 
membantu dalam proses perawatan bayi. 
Dukungan keluarga berhubungan dengan 
keberhasilan pemberian ASI eksklusif karena 
keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat 
di mana ibu menghabiskan waktu terbanyak 
untuk merawat bayinya. Dukungan dari semua 
anggota keluarga yang berupa psikologis 
dan instrumental sangat dibutuhkan terlebih 
lagi dukungan dari suami atau ayah bayi. 
Suami menurut banyak studi, telah diketahui 
berperan dalam memengaruhi keputusan untuk 
menyusui, inisiasi praktek menyusui dan 
lamanya pemberian ASI, serta menjadi faktor 
risiko praktek pemberian susu formula.

Pada penelitian ini faktor sosial budaya 
tidak berhubungan dengan tingkat keberhasilan 
pemberian ASI eksklusif. Hal tersebut 
dikarenakan masih ada beberapa ibu yang 
menganut budaya yang masih berkembang 
di masyarakat tentang kebiasaan membuang 
kolostrum (susu pertama) karena anggapan 
kolostrum tersebut menyebabkan penyakit 
bagi si bayi. Budaya modern dan perilaku 
masyarakat mendesak para ibu untuk segera 
menyapih anaknya dan memilih air susu buatan 
sebagai jalan keluarnya. (Siregar, 2004). 

Hasil penelitian Amirudin dan Rosita, 
(2007) didapatkan bahwa faktor keluarga 



Jurnal Ners Vol. 5 No. 1 April 2010: 55–61

60

dan kebudayaan sangat memengaruhi ibu 
untuk menyusui bayinya secara eksklusif atau 
tidak. Ibu yang baru melahirkan lebih percaya 
kepada kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan 
orang tuanya yang dilakukan secara turun-
temurun daripada mengaplikasikan informasi 
dari petugas kesehatan, berbeda dengan hasil 
penelitian ini bahwa sosial budaya masyarakat 
tidak berhubungan hal ini disebabkan oleh 
adanya faktor anatomi fisiologi payudara yang 
tidak mendukung untuk menyusui, pekerjaan, 
promosi susu formula, serta adanya perbedaan 
daerah di mana penelitian Amirudin dilakukan 
di daerah desa di Makasar sedangkan pada 
penelitian ini dilakukan pada wilayah Surabaya 
yang sarana informasi, transportasi serta 
kemudahan dalam memperoleh susu formula 
dan makanan tambahan bayi yang lainnya. 

Peran petugas kesehatan berhubungan 
dengan tingkat keberhasilan pemberian ASI 
eksklusif. Peran petugas meliputi komunikasi, 
informasi dan edukasi yang cukup dan baik 
selama proses menyusui memberikan dampak 
yang baik terhadap keberhasilan pemberian 
ASI eksklusif. Peranan petugas kesehatan 
khususnya di rumah sakit di mana ibu ditolong 
dalam melahirkan sangat menentukan tentang 
cara pemberian ASI yang baik. Peranan 
petugas kesehatan sangat diperlukan dalam 
hal penyuluhan mengenai cara merawat dan 
membersihkan payudara dan agar ibu tetap 
terus menyusui anaknya agar ASI-nya keluar 
dan memberi penerangan agar ibu tidak 
memberi susu kaleng kepada bayi/anak serta 
nasihat tentang gizi, makanan yang bergizi 
untuk ibu menyusui. 

Hasil penelitian Nurcholish (2005) 
bersama Program Appropriate Technology 
in Health (PATH) di daerah Cirebon, Kediri, 
Cianjur, Blitar tahun 2003 diketahui promosi 
d a l a m  b e r b a g a i  b e n t u k  k e p a d a  s a r a n a 
kesehatan serta tenaga kesehatan, baik dokter 
maupun bidan untuk turut serta memasarkan 
produk susu formula sehingga pemberian ASI 
eksklusif rendah, lain halnya pada penelitian 
ini didapatkan peran petugas setempat yang 
baik untuk mendukung keberhasilan pemberian 
ASI eksklusif, hal ini dapat diketahui dengan 
diterapkannya konsep baru tentang pemberian 
ASI eksklusif dan mengenai hal-hal yang 

berhubungan dengan ibu hamil, ibu bersalin, 
ibu menyusui dan bayi baru lahir untuk tetap 
memberikan ASI, di samping itu juga sikap 
sementara penangung jawab ruang bersalin 
dan perawatan di rumah sakit, rumah bersalin 
yang berlangsung untuk mengusahakan agar 
ibu mampu memberikan ASI kepada bayinya, 
serta diterapkannya pelayanan rawat gabung 
disebahagian besar rumah sakit /klinik bersalin 
(Siregar, 2004). 

A n a t o m i  d a n  f i s i o l o g i  p a y u d a r a 
berhubungan dengan tingkat keberhasilan 
pemberian ASI eksklusif. Anatomi dan fisiologi 
payudara yang mendukung sangat berpengaruh 
terhadap keberhasilan menyusui hingga 6 
bulan. Pada proses penyusuan bayi, puting 
menonjol kedepan dan masuk dalam mulut 
bayi oleh tekanan bibir bayi pada aerolanya 
dan akan lebih masuk ke dalam mulut bayi 
oleh hisapannya. Jika puting ke dalam dan 
tidak tampak atau disebut inversi, keadaan ini 
dapat mengganggu keberhasilan ASI eksklusif 
karena bayi mengalami kesulitan meraih aerola 
dan mendapatkan susu dari duktus (Shelov, 
2004). Puting yang baik dan normal dapat 
digerakkan bebas. Pada puting yang terbenam 
oleh perlekatan atau puting masuk ke dalam 
akan menimbulkan kesukaran dalam menyusui 
sehingga untuk menyusui dibutuhkan alat 
hollow nipple shield yang ditempelkan pada 
aerola (Solihin, 2003). 

SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan

Faktor yang memengaruhi tingkat 
keberhasilan ASI eksklusif adalah informasi dan 
promosi yang didapatkan oleh ibu menyusui, 
dukungan keluarga, peran petugas kesehatan 
serta anatomi fisiologi payudara ibu menyusui.

Saran

Sehubungan dengan adanya faktor 
yang memengaruhi tingkat keberhasilan ASI 
eksklusif tersebut, maka disarankan agar 
melibatkan keluarga dalam upaya pencapaian 
ASI eksklusif. Meningkatkan peran petugas 
kesehatan dalam informasi dan promosi 
mengenai pentingnya ASI eksklusif.



Tingkat Keberhasilan ASI Eksklusif (Tiyas Kusumaningrum)

61

KEPUSTAKAAN

Akre, J., 1994. Pemberian Makan Tambahan 
untuk Bayi. Jakarta: Perinasia.

Amirudin R. dan Rosita, 2006. Promosi Susu 
Formula Menghambat Pemberian ASI 
Eksklusif pada Bayi Usia 6–11 Bulan. 
Artikel Epidemiologi.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 
2001. Buku Panduan Manajemen 
Laktasi: Dit Gizi Masyarakat-Depkes 
RI.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 
2006. Pedoman Penyelenggaraan 
Pelatihan Konseling Menyusui dan 
P e l a t i h a n  F a s i l i t a t o r  K o n s e l i n g 
M e n y u s u i .  J a k a r t a :  D e p a r t e m e n 
Kesehatan.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia,  
2005. Pedoman Umum Pemberian 
Makanan Pendamping ASI. Jakarta: 
Departemen Kesehatan Indonesia.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 
1994. Modul Manajemen Laktasi. 
Jakarta: Direktorat Jendral Departemen 
Kesehatan.

Heny, F., 2007. Hubungan Perilaku Ibu Pasca -
Salin dalam Manajemen Laktasi dengan 

Produk dan Pengeluaran ASI di Praktik 
Bidan Desa Ny. Hamilatul RU Desa 
Karangsambilagih Kecamatan Sugio 
Lamongan. Skripsi tidak dipublikasikan. 
Surabaya: Universitas Airlangga.

Krystyra, M., et al., 2004. Factors Affecting 
Exclusive Breastfeeding in Polan. Soz 
Praventivmed. 

Lawrence, 1991. Breast feeding: a Cause 
for Action. (Online), (http://www.
breastfeeding.com/all_about/ruth_
lawrence_bio.html., diakses tanggal 
13 April 2009, jam 9:49 WIB).

Roesli, U., 2001. Panduan Menyusui. Jakarta: 
Perinasia.

Shelov, S., 2004. Panduan Lengkap Perawatan 
U n t u k  B a y i  d a n  B a l i t a .  J a k a r t a : 
ARCAN.

S i r e g a r,  A . ,  2 0 0 4 .  F a k t o r- f a k t o r  y a n g 
Memengaruhi Pemberian ASI pada Ibu 
Melahirkan. (Online), (http://library.
usu.ac.id/download/fkm/fkm-arifin.
pdf., diakses tanggal 16 April 2009, jam 
10:11 WIB).

Soetjiningsih, 1997. ASI: Petunjuk untuk 
Tenaga Kesehatan. Jakarta: EGC.

Suharyono, dkk., 1989. Air Susu Ibu Tinjauan 
dari Berbagai Aspek. Jakarta: Balai 
Penerbit FKUI.