89 JPJO3 (1) (2018) 89-94 Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Pengaruh Pembelajaran Bola Tangan Terhadap Perilaku Sosial Siswa Anang Setiawan 1 , Yunyun Yudiana 2 , Alit Rahmat 2 1 STKIP Nahdlatul Ulama Indramayu, Indonesia 2 Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Info Artikel Abstrak SejarahArtikel: Diterima Januari 2018 Disetujui Maret 2018 Dipublikasikan April 2018 Keywords: Bola Tangan, Perilaku Sosial Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran bola tangan terhadap perilaku sosial siswa pada ekstrakurikuler bola tangan di SMA Negeri 1 Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif ex-postfacto. Hasil penelitian: (1) Pembelajaran bola tangan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku sosial siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bola tangan di SMA Negeri 1 Lembang Kabupaten Bandung Barat. (2) Perilaku sosial siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bola tangan termasuk dalam kategori baik, yaitu sebesar 79,65%. (3) Hasil observasi juga menunjukkan bahwa perilaku sosial siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bola tangan termasuk dalam kategori baik, yaitu sebesar 72,91%. Kesimpulan, pembelajaran bola tangan mem- berikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap perilaku sosial siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bola tangan di SMA Negeri 1 Lembang Kabu- paten Bandung Barat. Abstract The purpose of this study is to determine the effect of learning handball on the social behavior of students on the extracurricular handball in SMA Negeri 1 Lembang, West Bandung Regency. The method used in this research is de- scriptive (ex-postfacto). Result: (1) Learning handball gives significant influ- ence to social behavior of students who follow extracurricular handball in SMA Negeri 1 Lembang, West Bandung Regency. (2) Social behavior of stu- dents who follow extracurricular handball belong to good category, that is equal to 79,65%. (3) The result of observation also shows that social behav- ior of students who follow extracurricular handball belong to good category, that is equal to 72,91%. Conclusion: learning handball gives a positive and significant influence on social behavior of students who follow extracurricu- lar handball in SMA Negeri 1 Lembang West Bandung Regency. * Alamat korespondensi : Indramayu, Indonesia E-mail : anangsetiawan@stkipnu.ac.id ISSN 2580-071X (online) ISSN 2085-6180 (print) DOI: 10.17509/jpjo.v3i1.10188 © 2018 Universitas Pendidikan Indonesia 90 PENDAHULUAN Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu se- bagai pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup (ÇUbukÇU, 2012; Dewey, 1938). Pendidikan adalah usaha sadar dan ter- encana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pen- gendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Bell, 2010; Guney & Al, 2012; Mehdipour & Zere- hkafi, 2013). sederhananya bahwa pendidikan adalah usaha manusia (pendidik) dengan penuh tanggung jawab untuk membimbing anak-anak didik menjadi kedewasaan. Pendidikan formal di sekolah tidak hanya mengajarkan mata pelajaran mengenai teori atau konsep saja, artinya yang hanya menggunakan kemampuan kognitif saja secara dominan, akan tetapi ada juga mata pelajaran praktik yang mengharuskan siswa untuk menggunakan fisiknya atau domain psikomotor dalam proses pembelajaran yaitu pembelajaran pendidikan jasmani (Light, 2008). Pendidikan jasmani adalah proses pen- didikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emo- sional dalam kerangka sistem pendidikan jas- mani (Kirk, Macdonald, & O???Sullivan, 2006; Le Masurier & Corbin, 2006; Todd, 2013) Dalam pembelajaran pendidikan jasmani ada tiga aspek yang menjadi bahan penilaian, yaitu: aspek kognitif (pengetahuan intelektual), afektif (sikap sosial) dan psikomotor (keterampilan gerak). Ketiga aspek tersebutlah yang menjadi bahan kajian dalam kegiatan belajar mengajar pendidikan jasmani yang se- lanjutnya akan digabungkan dan diberi penilaian sebagai hasil dari proses belajar siswa di sekolah (Drost & Todorovich, 2013; Rochmawati & Wahyuni, 2017; Sitzmann, Ely, Brown, & Bauer, 2010). Pembelajaran aktivitas jasmani merupa- kan salah satu proses yang lebih spesifik dari pendidikan yang dilakukan dengan terencana, sistematis dan menggunakan pendekatan- pendekatan yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Dalam pelaksanaannya, proses belajar di sekolah harus sesuai dengan kuriku- lum yang ada, agar bisa mencapai tujuan pem- belajaran. Kurikulum merupakan salah satu indi- kator yang menentukan berhasil tidaknya suatu pendidikan (Alsubaie, 2015; Kelly, 2009; Zhu, Ennis, & Chen, 2011). Oleh karena itu kuriku- lum harus dikelola secara baik dan profesional. Secara langsung maupun tidak, penyampaian kurikulum dalam program pendidikan menuntut adanya tanggung jawab guru sebagai pelaksana proses belajar mengajar di sekolah. Materi pembelajaran pendidikan jasmani yang dikembangkan dalam kurikulum pembela- jaran di sekolah antara lain adalah atletik, ke- bugaran jasmani, kesehatan dan olahraga per- mainan. Salah satu contoh pembelajaran olahraga permainan yang sedang populer di Anang Setiawan dkk. / Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (1) (2018) http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v3i1.10188 91 lingkungan SMA adalah pembelajaran bola tan- gan. Bola tangan bisa diartikan sebagai per- mainan beregu yang menggunakan bola sebagai alatnya, yang dimainkan dengan menggunakan satu atau kedua tangan (Manchado, Tortosa- Martínez, Vila, Ferragut, & Platen, 2013). Bola tersebut boleh dilempar, dipantulkan, atau ditembakan. Tujuan dari permainan ini adalah memasukan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan, dan mencegah agar tim lawan tidak dapat memasukan bola ke gawang kita (Mahendra, 2000:6). Dalam pembelajaran permainan bola tangan, selain aspek kognitif dan psikomotor, siswa juga belajar mengenai aspek afektif, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan perilaku dan si- kap. Dari segi afektif ini banyak tujuan dan manfaat yang diharapkan dapat tercapai oleh siswa dalam mengikuti pembelajaran bola tan- gan, diantaranya sikap sportif, memiliki rasa tanggung jawab, adanya keinginan bekerja sa- ma, cepat mengambil keputusan, menghargai lawan bermain dan lain sebagainya. Di dalam pembelajaran pendidikan jas- mani, sering ditemui permasalahan dalam per- ilaku sosial siswa (Langthorne & McGill, 2011). Masalah yang sering timbul dalam segi perilaku sosial yaitu siswa sering kali melakukan perilaku atau perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan (Wiley, Siperstein, Forness, & Brigham, 2010), seperti berkata-kata kotor atau kasar, kurang sopan kepada teman atau guru, tidak mentaati perintah guru, melawan guru, individualis, saling ber- musuhan antar teman, bahkan sampai ada yang berkelahi dengan temannya sendiri. Sama hal- nya dalam olahraga bola tangan yang merupa- kan olahraga permainan dan melibatkan orang lain, yang akan terlaksana jika didalamnya ter- dapat hal-hal yang menjadi kesepakatan bersa- ma, baik yang berkaitan dengan peraturan, maupun yang berkaitan dengan perilaku sosial seperti kejujuran, kerjasama, saling mem- percayai sesama teman dan saling menghargai. Dalam melakukan kegiatan olahraga, setiap siswa biasanya memiliki karakteristik perilaku yang berbeda-beda (Engels et al., 2016), perilaku itu dapat terwujud apabila seseorang melakukan suatu aktivitas. Perilaku sosial siswa selalu bervariasi baik di sekolah, keluarga ataupun masyarakat. Terlebih lagi di sekolah, terkadang mereka berperilaku baik, terkadang juga berubah menjadi jelek. Peru- bahan perilaku ini disebabkan karena adanya unsur yang mempengaruhi kepribadian individu (Caldarella, Shatzer, Gray, Young, & Young, 2011). Pergaulan siswa merupakan hal yang dapat mempengaruhi kepribadian individu, jika individu atau siswa bergaul dengan teman yang baik, maka siswa tersebut akan memiliki kepribadian yang baik pula, bahkan bisa jadi lebih baik dari sebelumnya, baik itu kepada te- man sebaya, guru ataupun orang lain. Tetapi jika individu atau siswa bergaul dengan teman yang salah atau tidak memiliki sopan santun dan tatakrama, baik ucapan maupun perbuatan maka tidak menutup kemungkinan siswa terse- but akan menjadi pribadi yang tidak baik. METODE Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif (ex-postfacto). Metode ini digunakan atas dasar pertimbangan bahwa sifat penelitian ini adalah meneliti http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Anang Setiawan dkk. / Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (1) (2018) DOI : 10.17509/jpjo.v3i1.10188 92 tentang variabel yang kejadiannya sudah terjadi sebelum penelitian dilaksanakan. Penelitian Ex- postfacto adalah penyelidikan secara empiris yang sistematik, dimana peneliti tidak mempu- nyai kontrol langsung terhadap variabel- variabel bebas (Independent Variables) karena manifestasi fenomena telah terjadi atau karena fenomena sukar dimanipulasikan (Nazir, 2005:73). Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bola tan- gan di SMA Negeri 1 Lembang Kabupaten Bandung Barat. Sedangkan teknik sampling yang digunakan yaitu total sampling (Sugiyono, 2010). Jadi, sampel yang digunakan adalah se- luruh siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bo- la tangan di SMA Negeri 1 Lembang Kabupat- en Bandung Barat. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesion- er dan observasi. Kuesioner digunakan untuk mengungkap data pribadi siswa tentang per- ilaku – perilaku atau sikap siswa di sekolah. Sedangkan observasi dilakukan untuk menam- bah dan mendukung data hasil dari pengisian kuesioner. Analisa data Analisis data yang diperoleh dengan cara menghitung nilai rata – rata dari setip butir pertanyaan atau pernyataan pada kuesioner kemudian dilakukan prosentase untuk menarik hasil dan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengolahan data, perilaku sosial siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bola tangan di SMA Negeri 1 Lembang Kabu- paten Bandung Barat termasuk dalam kategori baik, yaitu sebesar 79,65%. Hal tersebut juga didukung dengan data dari hasil penskoran dan pengelompokan tiap komponen perilaku sosial siswa melalui teknik observasi. Observasi dilakukan oleh peneliti dengan tujuan untuk memperoleh data tamba- han yang bisa mendukung data yang sudah dihasilkan dengan menggunakan angket. Ob- servasi yang dilakukan yaitu dengan cara mengamati semua perilaku siswa pada saat melakukan kegiatan ekstrakurikuler bola tangan selama 16 kali pengamatan. Data hasil ob- servasi memperlihatkan bahwa perilaku sosial siswa yang mengikuti ekstrakurikuler bola tan- gan di SMA Negeri 1 Lembang termasuk dalam kategori baik, yaitu sebesar 72,91%. KESIMPULAN Kesimpulan, pembelajaran bola tangan memberikan pengaruh yang positif dan signif- ikan terhadap perilaku sosial siswa yang mengi- kuti ekstrakurikuler bola tangan di SMA Negeri 1 Lembang Kabupaten Bandung Barat. http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Anang Setiawan dkk. / Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (1) (2018) DOI : 10.17509/jpjo.v3i1.10188 93 DAFTAR PUSTAKA Alsubaie, M. A. (2015). Hidden Curriculum as One of Current Issue of Curriculum. Jour- nal of Education and Practice, 6(33), 125 –128. Bell, S. (2010). Project-Based Learning for the 21st Century: Skills for the Future. The Clearing House, 83, 39–43. https:// doi.org/10.1080/00098650903505415 Caldarella, P., Shatzer, R. H., Gray, K. M., Young, K. R., & Young, E. L. (2011). The Effects of School-Wide Positive Behavior Support on Middle School Climate and Student Outcomes. RMLE Online: Re- search in Middle Level Education, 35(4), 1–14. ÇUbukÇU, Züh. (2012). Teachers’ Evaluation of Student-Centered Learning Environ- ments. Education, 133(1), 49–66. https:// doi.org/10.1007/978-1-4419-1428-6_173 Dewey, J. (1938). Experience and Education. Education, 50(3), 96. https:// doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004 Drost, D. K., & Todorovich, J. R. (2013). En- hancing Cognitive Understanding to Im- prove Fundamental Movement Skills. Journal of Physical Education, Recreation & Dance, 84(4), 54–59. https:// doi.org/10.1080/07303084.2013.773838 Engels, M. C., Colpin, H., Van Leeuwen, K., Bijttebier, P., Van Den Noortgate, W., Claes, S., … Verschueren, K. (2016). Be- havioral Engagement, Peer Status, and Teacher–Student Relationships in Adoles- cence: A Longitudinal Study on Recipro- cal Influences. Journal of Youth and Ado- lescence, 45(6), 1192–1207. https:// doi.org/10.1007/s10964-016-0414-5 Guney, A., & Al, S. (2012). Effective Learning Environments in Relation to Different Learning Theories. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 46, 2334–2338. https://doi.org/10.1016/ j.sbspro.2012.05.480 Kelly, A. V. (2009). The Curriculum: Theory and Practice. SAGE Publications Ltd; Sixth Edition Edition, 336. https:// doi.org/10.1080/02615470802681344 Kirk, D., Macdonald, D., & O???Sullivan, M. (2006). Handbook of physical education. Handbook of Physical Education. https:// doi.org/10.4135/9781848608009 Langthorne, P., & McGill, P. (2011). AS- SESSING THE SOCIAL ACCEPTABIL- ITY OF THE FUNCTIONAL ANALY- SIS OF PROBLEM BEHAVIOR. Journal of Applied Behavior Analysis, 44(2), 403– 407. https://doi.org/10.1901/jaba.2011.44- 403 Le Masurier, G., & Corbin, C. B. (2006). Top 10 Reasons for Quality Physical Educa- tion. JOPERD: The Journal of Physical Education, Recreation & Dance, 77(6), 44 –53. https:// doi.org/10.1080/07303084.2006.1059789 4 Light, R. (2008). Complex Learning Theory— Its Epistemology and Its Assumptions about Learning: Implications for Physical Education. Journal of Teaching in Physi- cal Education, 27(1), 21–37. https:// doi.org/10.1123/jtpe.27.1.21 Mahendra, A. (2000). Bola Tangan. DEPDIKNAS Manchado, C., Tortosa-Martínez, J., Vila, H., Ferragut, C., & Platen, P. (2013). Perfor- mance factors in women’s team handball: Physical and physiological aspects-a re- view. Journal of Strength and Condition- ing Research. https://doi.org/10.1519/ JSC.0b013e3182891535 Mehdipour, Y., & Zerehkafi, H. (2013). Mobile Learning for Education: Benefits and Challenges. International Journal of Com- putational …, 3(6), 93–101 (251–259). https:// doi.org/10.1080/87567555.2011.604802 Nazir, M. (2005). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia Rochmawati, Y., & Wahyuni, S. (2017). Au- thentic Assessment in Physics Learning Using Physics Chess Game for Senior High School. International Journal of Learning and Teaching, 15–18. https:// doi.org/10.18178/ijlt.3.1.15-18 Sitzmann, T., Ely, K., Brown, K. G., & Bauer, K. N. (2010). Self-assessment of knowledge: A cognitive learning or affec- tive measure? Academy of Management Learning and Education, 9(2), 169–191. https://doi.org/10.5465/ AMLE.2010.51428542 http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Anang Setiawan dkk. / Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (1) (2018) DOI : 10.17509/jpjo.v3i1.10188 94 Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidi- kan. Bandung: ALFABETA Todd, T. (2013). Journal of Physical Education, Recreation & Dance. Journal of Physical Education, Recreation & Dance, 83(8), 32 –48. https:// doi.org/10.1080/07303084.2012.1059882 7 Wiley, A. L., Siperstein, G. N., Forness, S. R., & Brigham, F. J. (2010). School context and the problem behavior and social skills of students with emotional disturbance. Journal of Child and Family Studies, 19 (4), 451–461. https://doi.org/10.1007/ s10826-009-9316-4 Zhu, X., Ennis, C. D., & Chen, A. (2011). Im- plementation challenges for a constructiv- ist physical education curriculum. Physi- cal Education & Sport Pedagogy, 16 (December), 83–99. https:// doi.org/10.1080/17408981003712802 http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Anang Setiawan dkk. / Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (1) (2018) DOI : 10.17509/jpjo.v3i1.10188