92 JPJO 4 (1) (2019) 92-97 Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Differences between Teaching Personal Social Responsibility Model and Cooperative Learning Model in Improving Students Tolerance and Responsibility Dupri, Alfi Candra, Novia Nazirun 1 Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Riau Article Info Article History : Received January 2019 Revised February 2019 Accepted March 2019 Available online April 2019 Keywords : Cooperative Learning, Responsibility, Teaching Personal Social Responsibility, Tolerance Abstrak Penelitian ini dilatar belakangi atas dasar sudah menurunnya sikap tanggung jawab dan toleransi siswa disekolah, kondisi ini ditandai oleh tingginya angka kenakalan remaja, tawuran antar siswa dan lebih lagi pengaruh teknologi yang begitu kuat membuat siswa jarang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan sesama siswa disekolah. Penelitian ini mengungkapkan perbedaan Model TPSR dengan model kooperatif dalam meningkatkan sikap tanggung jawab dan toleransi siswa dalam pembelajaran penjas serta juga dibedakan antara siswa di daerah dengan siswa yang sekolah dikota. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan de- sain the pretest post-test two treatment design. Populasi penelitian ini berjumlah 192, untuk memperoleh sampel pada penelitian ini teknik pengambilan sampel mengunakan teknik Cluster Random Sampling sehingga diperolah sampel penelitian ini berjumlah 128. Perlakuannya pada dua model yang berbeda yaitu model TPSR dan model kooperatif. Instrument yang digunakan adalah angket tanggung jawab dan toleransi, analisis dengan multivarian (MANOVA). Hasil penlitian ini menemukan bahwa Model kooperatif lebih mampu mengembangkan tanggung jawab sedangkan model TPSR dalam sikap toleransi siswa pada pembelajaran pendidikan jasmani. Kedua model ini bisa dijadikan sebagai model pembelajaran pendidikan jasmani yang menanamkan karakter dan keaktifan dalam menjalankan proses belajar. Abstract This research was motivated by the decline of the students’ responsibility and toler- ance at school. This condition is characterized by the high rate of juvenile delinquen- cy, brawls among students, and the influence of technology that decreases the stu- dents’ interaction with their surroundings, community, and other students at school. This study revealed the differences between TPSR model and cooperative learning models in increasing students' responsibility and tolerance in physical education learning. The difference was found on students in the urban and rural area. The meth- od used in this study was Quasi Experimental study with the pretest post-test two treat- ment design. The population of this study were 192 students. The sampling technique used Cluster Random Sampling technique so that the sample of this study were 128 students. The two different treatment models namely the TPSR models and cooperative learning models were conducted. The instrument used was a responsibility and toler- ance questionnaire analyzed by multivariate analysis (Manova). The results of this study found that cooperative learning model is better in developing responsibilities, while the Teaching Personal Social Responsibility (TPSR) model is better for develop- ing students' tolerance in physical education learning. Both of these models can be used in physical education learning to build character and active learning process.  Correspondence Address : Jl. Kaharuddin Nasution 113 Pekanbaru Riau, Indonesia E-mail : dupri@edu.uir.ac.id ISSN 2580-071X (online) ISSN 2085-6180 (print) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.10576 93 Dupri dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) PENDAHULUAN Ditengah upaya mengimplementasikan pendidi- kan karakter di sekolah, terdapat beberapa persoalan mendasar. Pertama, kurangnya tanggung jawab sosial siswa untuk mau membantu siswa lain yang tidak mam- pu melakukan tugas. Kedua, kurangnya rasa saling menghargai antar sesama siswa. Ketiga, masih terdapat siswi perempuan yang malas untuk melakukan aktivitas fisik. Tanggung jawab dan toleransi antar sesama siswa dalam pembelajaran penjas dinilai masih kurang baik. Interaksi dalam belajar dan mengajar ini dapat kita manfaatkan sebagai wadah untuk pembembentukan nilai tanggung jawab dan toleransi antar sesama siswa. Nilai tanggung jawab dan toleransi ini tentu akan dapat membentuk karakter siswa dan tentu akan dapat men- dukung pembentukan karakter bangsa sesuai dengan kurikulum 2013. Tanggung jawab dan toleransi merupakan nilai budaya yang perlu terus dikem- bangkan sebagai nilai moral yang akan membentuk keberhasilan suatu bangsa. Betapa tidak, banyak per- istiwa kekerasan, kejahatan, korupsi, dan tindakan kriminal lainnya diawali dari sikap perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak toleran terhadap hak-hak orang lain. Data indeks perilaku anti korupsi pada tahun 2018 terjadi penurunan dari tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2017 berada pada angka 3,71 dan pada 2018 3,66 dan angka ini juga masih dibawah target dari RPJMN 2019 pada angka 4 (BPS, 2018). Dari data diatas se- makin meyakinkan kita bahwa rasa bertanggung jawab terhadap masyarakat dari tugas yang harus dilakukan juga sudah menurun. Selain itu berdasarkan data Podes periode tahun 2011-2018 jumlah desa/kelurahan yang menjadi ajang konflik masal cenderung meningkat, dari sekitar 2.500 desa pada tahun 2011 menjadi sekitar 2.800 desa/kelurahan pada tahun 2014, dan kembali meningkat menjadi sekitar 3.100 desa/kelurahan pada tahun 2018 BPS (2018). Dari data ini juga terlihat bah- wa konflik di masyarakat indonesia pada saat ini terjadi peningkatan yang disebabkan sudah mulai menurunnya rasa bertoleransi didalam hidup bermasyarakat. Tanggung jawab dan toleransi adalah nilai budaya yang teramat penting dalam upaya menghindari segala bentuk kejahatan dan perilaku negatif lainnya. Tanggung jawab berarti melaksanakan sebuah pekerjaan atau kewajiban dalam keluarga, di sekolah, maupun di tempat bekerja dengan sepenuh hati dan memberikan yang terbaik (Lickona, 2012). Dewasa ini dalam konteks pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes), berkembang begitu pesat berbagai model pembelajaran yang dapat mengembangkan ranah afektif (karakter). Sebut saja di antaranya model pembelajaran tanggung jawab pribadi dan sosial (TPSR) (Hellison, 2011), model pembelajaran kooperatif (Dyson, 2001), maupun model pembelajaran nilai karakter (Lumpkin, 2008). Model Teaching Per- sonal Social Responsibility ini ditemukan oleh Hellison pada tahun 1970, model ini di ciptakan untuk mengem- bangkan tanggung jawab sosial dan pribadi pada anak, baik dalam olahraga maupun pada kehidupan di masyarakat (Hellison, 2011). Berhubungan dengan keefektifan model TPSR dalam mengubah tanggung jawab pada anak, studi sebelumnya menemukan bahwa model ini mampu mengembangkan tanggung jawab, keterampilan sosial, pengembangan status sosial dan lain-lain (Caballero, et al., 2013). Dari kutipan diatas peneliti menduga model TPSR dan kooperatif dan belajar mengalami (experiential learning) akan mampu mengembangkan sikap tanggung jawab dan toleransi siswa. Pem- belajaran TPSR dan kooperatif dalam pendidikan jasmani dan olahraga berbasis nilai tersedia pen- galaman untuk mengembangkan nilai moral tanggung jawab dan toleransi yang dapat dicapai melalui ketergantungan positif dan interaksi dengan siswa lain. Perwujudan nilai inti dari pendidikan jasmani tersebut, tidak akan terlepas dari peran guru dalam mengelola pembelajaran, yaitu pembelajaran yang lebih dipusatkan pada siswa yang lebih aktif belajar dengan kontrak perilaku melalui model TPSR, situasi kebersamaan pembelajaran kooperatif dan perbanyak pengalaman akan nilai empati dan toleransi, dari pada sebaliknya berpusat pada materi dan guru lebih aktif dengan belajar secara individual. Melalui kedua model pembelajaran tersebut, akan memungkinkan tercip- tanya suasana pembelajaran yang menjadikan siswa bertanggung jawab dan bertoleransi di setiap pembela- jaran dengan adanya kontrak perilaku yang ditawarkan model TPSR, saling berinteraksi antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. Peningkatan jumlah penelitian yang dil- http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.10576 94 akukan di Amerika Serikat telah menunjukkan model yang efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif (Lee& Martinek, 2009; Schilling, Martinek, & Carson, 2007), meningkatkan perilaku yang bertanggung jawab di kalangan siswa (Cutforth & Puckett,1999; Debusk & Hellison, 1989; Hellison & Wright, 2003; Wright, Li, Ding, & Pickering, 2010), dan mendorong siswa untuk mengeksplorasi pen- erapan tujuan TPSR dan keterampilan hidup seperti usaha dan pengendalian diri di kelas lain (Martinek, Schilling,& Johnson, 2001; Walsh, Ozaeta, & Wright, 2010). METODE Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimen dengan desain pretest post-test two treatment design. Pelaksanaan penelitian ini dil- aksanakan selama 2 bulan. Populasi penelitian ini ber- jumlah 192 siswa. Untuk memperoleh sampel pada penelitian ini mengunakan teknik Cluster Random Sam- pling sehingga diperoleh sampel penelitian ini ber- jumlah 128 siswa di salah satu Sekolah SMA Riau. In- strument yang digunakan dalam penelitian ini ada- lah angket yang berbentuk pernyataan dengan skala likert yaitu angket tanggung jawab dan angket toleran- si. Analisis data menggunakan teknik analisis multi var- ians (MANOVA). HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan tabel 1 tersebut, terlihat bahwa nilai signifikansi yang diperoleh adalah 0.000, lebih kecil dari taraf signifikansi 0.05. Kesimpulan yang diperoleh adalah terdapat perbedaan model pembelajaran TPSR dan model pembelajaran kooperatif yang signifikan terhadap sikap tanggung jawab dan toleransi siswa me- lalui pembelajaran penjas. http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Dupri dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.10576 Tabel 1. Hasil Uji Multivariate Test Effect Value F Hypothesis df Sig. Intercept Pillai's Trace ,900 275,453 b 2,000 ,000 Wilks' Lambda ,100 275,453 b 2,000 ,000 Hotelling's Trace 9,031 275,453 b 2,000 ,000 Roy's Largest Root 9,031 275,453 b 2,000 ,000 Model Pillai's Trace ,020 ,614 b 2,000 , 000 Wilks' Lambda ,980 ,614 b 2,000 , 000 Hotelling's Trace ,020 ,614 b 2,000 , 000 Roy's Largest Root ,020 ,614 b 2,000 , 000 Tabel 2. Hasil Tests of Between-Subjects Effects Source Dependent Variable Type III Sum of Squares df Mean Square F Sig. Corrected Model Gain Tanggung Jawab 1,563 a 1 1,563 ,17 , 000 Gain Toleransi 4,516 b 1 4,516 1,07 , 000 Intercept Gain Tanggung Jawab 2070,2 1 2070,2 225,9 ,000 Gain Toleransi 1415,6 1 1415,6 336,48 ,000 Model Gain Tanggung Jawab 1,563 1 1,56 ,17 , 000 Gain Toleransi 4,516 1 4,51 1,07 , 000 Error Gain Tanggung Jawab 568,18 62 9,16 Gain Toleransi 260,8 62 4,2 Total Gain Tanggung Jawab 2640 64 Gain Toleransi 1681 64 Corrected Total Gain Tanggung Jawab 569,75 63 Gain Toleransi 265,359 63 Tabel 3. Hasil uji Pairwise Comparisons Dependent Variable (I) Model (J) Model Mean Difference (I-J) Sig. a Gain Tanggung TPSR Cooperative -3,13 ,020 Cooperative TPSR 3,13 ,020 Gain Toleransi TPSR Cooperative 5,31 ,012 Cooperative TPSR -5,31 ,012 95 Selanjutnya dari tabel Tests of Between Subjects Effects table 2, menunjukkan hubungan antara kedua model pembelajaran dan sikap tanggung jawab mem- iliki signifikansi sebesar 0.000, lebih kecil dari taraf signifikansi 0.05. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sikap tanggung jawab siswa setelah mendapatkan perlakuan model pembelajaran TPSR dan model pembelajaran kooperatif. Hubungan antara kedua model pembelajaran dan sikap tanggung jawab mem- iliki signifikansi sebesar 0.000, lebih kecil dari taraf signifikansi 0.05. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan sikap tanggung jawab siswa setelah mendapatkan perlakuan model pembelajaran TPSR dan model pembelajaran kooperatif. Dari tabel Pairwise Comparisons menunjukkan model pembelajaran TPSR dan model pemeblajaran kooperatif memiliki nilai Mean Difference 3,13. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran TPSR dalam hal mengembangkan sikap tanggung ja- wab siswa dalam pembelajarn penjas. Antara model pembelajaran TPSR dengan model pembelajaran kooperatif memiliki nilai Mean Difference 5,31. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran TPSR lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran kooperatif dalam hal mengembangkan sikap toleransi siswa dalam pembelajaran penjas Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa model pembelajaran TPSR dan model pembelajaran kooperatif mampu mengembangkan sikap tanggung jawab dan toleransi siswa dalam pembelajaran pendidikan jasma- ni. Dalam hal mengembangkan sikap tanggung jawab pada penelitian ini menemukan model pembelajaran kooperatif lebih baik dibandingkan model pembelajarn TPSR. Sejalan dengan itu model pembelajaran tipe jig- saw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pem- belajaran orang lain, tidak hanya itu siswa juga melakukan proses berlajar gerak yang telah diberikan tetapi mereka juga harus memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain (Jati, 2016). Dalam pembelajaran pendidikan jasmani dengan menggunakan model koopeatif siswa memiliki semangat yang baik dalam belajar, siswa juga mem- bangun kebersamaan dalam bermain, kekompakan dan saling peduli terhadap teman nya untuk memenangkan suatu permainan. Melalui hal tersebut semua siswa me- rasa punya tanggung jawab terhadap tim dan dirinya agar bisa memenangkan sebuah permainan. Terlihat dalam sebuah permainan siswa saling memberi seman- gat memberikan solusi dari kesulitan saat bermain kepada teman, siswa selalu berusaha memberikan pen- ampilan yang terbaik melalui sebuah permainan. Se- jalan dengan hasil penelitian, model TPSR mengajarkan anak untuk saling mendukung dalam melakukan usaha pembelajaran, sehingga dapat berkontribusi terhadap orang lain, terlibat dan berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang akan menjadi bagian integral dalam ke- hidupan mereka (Widiyatmoko, 2016). Dalam hal mengembangkan sikap toleransi pada penelitian ini peneliti menemukan model pembelajaran TPSR lebih baik dari pada model pembelajaran Kooperatif. Model pembelajaran TPSR menuntut siswa untuk sadar akan berkarakter baik dalam setiap momen atau aktivitas yang dilakukan. Disaat melakukan permainan siswa lebih cenderung salaing menghargai usulan teman-teman yang lain yang penting bisa me- menangkan perminan tersebut. Tidak hanya usulan tapi tindakan yang kurang tepat juga mereka sama-sama bisa menerima dengan senang hati, begitulah bentuk toleransi yang selalu tertanam melalui model pembela- jarn TPSR dalam pembelajaran penjas. Pada kesem- patan lain sikap toleransi ini juga terlihat ketika siswa melakukan group meeting. Sering terjadi perbedaaan pendapat tetapi mereka tidak ada yang bersikeras untuk mengedepankan pendapat masing-masing sehingga dengan adanya rasa bertoleransi antar sesama tadi ke- lompoknya mampu memenangkan permainan. Melalui group meeting inilah model pembelajaran TPSR mengembangkan toleransi. Sikap toleran juga diperlihatkan oleh seorang pemain ketika sedang berlagak tanding dengan orang atau kelompok orang lain (Winarni, 2012). Pandangan terhadap lawan yang bukan hanya lawan yang harus ditindak secara kasar atau dipercundangi dengan sikap tidak jujur adalah juga bentuk sikap toleransi yang dapat dibentuk melalui kegiatan olahraga pertandingan. Berbagai bentuk aktivitas permainan dan atau olahraga juga membina sikap toleransi. Sikap ini akan tumbuh ketika individu berperilaku jujur pada orang lain tetapi juga jujur pada suara hati yang tidak pamrih. Kemurni- an hati atau ketulusan hati dalam bentuk sikap tidak pamrih adalah kemampuan membebaskan diri dari pen- guasaan segala macam emosi dan dorongan irrasional http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Dupri dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.10576 96 yang terus menerus merongrong kesatuan tekad. Nafsu- nafsu condong untuk menguasai dan melakukan hal-hal yang kemudian disadari merendahkan dan atau diren- dahkan. Kelompok teori konstruktivist memiliki pan- dangan bahwa sikap moral terbentuk melalui proses interaksi antara kecenderungan diri individu men- gorganisasikan pengalamannya ke dalam pola inter- pretasi yang bermakna dan pengalaman lingkungan da- lam memberikan informasi mengenai realitas sosial. Pembentukan karakter dilihat sebagai sebuah proses reorganisasi dan transformasi struktur dasar penalaran individu (Maksum, 2007; Shields, & Bredemeier, 2006). Sebagaimana anak mendiskusikan tentang peristiwa, objek dan masalah dengan orang dewasa dan orang lain yang lebih berpengetahuan, maka secara ber- tahap hasil diskusi tersebut akan menjadi bagian dalam struktur berpikir anak. Dengan demikian nilai-nilai yang sudah tersimpan dalam proses kognitif anak akan menjadi budaya pada diri anak kedepannya atau dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan mampu mengerjakan tugas-tugas yang menantang jika diberi tugas yang lebih menantang dari individu yang kompeten. Pemberian tugas yang menantang men- dorong berkembangnya kemampuan kognitif secara optimal. Maka dari itu setiap proses pembelajaran yang dilakukan akan selalu meningkat tingkat kesulitan per- mainannya sehingga mampu mengembangkan sikap tanggung jawab dan toleransi anak dikedua model ter- sebut. Pada penelitian ini, anak sudah mampu me- nyelesaikan masalah bersama-sama dengan temannya, sering bertanya kepada guru bahkan banyak anak yang juga mampu menyelesaikan permasalahan yang ada pada temannya sendiri, siswa sudah tidak lagi mau mencemooh teman yang salah, ini bukti bahwa antara sesama siswa sudah mulai saling menghargai atau ben- tuk toleransi sesama. Hal seperti ini merupakan proses perkembangan moral pada anak. Kini anak dapat me- nangani situasi hipotesis dan proses berpikir mereka tidak lagi tergantung hanya pada hal-hal yang langsung dan nyata. Anak mulai bisa berpikir abstrak. (Hergenhahn & Matthew, 2008). KESIMPULAN Model kooperatif lebih baik dibandingkan dengan model Teaching Personal Social Responsibility (TPSR) dalam hal mengembangkan sikap tanggung jawab siswa pada pembelajaran pendidikan jasmani. Model Teaching Personal Social Responsibility (TPSR) lebih baik dibandingkan dengan model koopetif dalam mengembangkan sikap toleransi siswa pada pembelajaran pendidikan jasmani. Melalui model pembelajaran TPSR dalam pendidikan jasmani guru dapat mengajarkan nilai-nilai toleransi melalui aktivitas fisik yang diajarkan pada pendidikan jasmani, sehingga akan memberikan pengalaman dan dapat direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua model ini bisa di- jadikan sebagai model pembelajaran penjas yang ber- tujuan mengembangakan karakter siswa, tidak hanya itu kedua model ini juga mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar. DAFTAR PUSTAKA BPS. (2018). Badan Pusat Statistik. (https:// www.bps.go.id/menu/2/rencana-strategis-bps.html Caballero, et al. (2013). Analysis of Teaching Personal and Social Responsibility model-based programmes applied in USA and Spain. Journal of Human Sport & Exercise. Cutforth N, Puckett K. An investigation into the organi- zation, challenges, and impact of an urban appren- tice teacher program. The Urban Review. 1999; 31 (2):153-173. Debusk M, Hellison D. (1989). Implementing a physi- cal education self-responsibility model for delin- quency-prone youth. J teach phys educ.; 8(2):104- 112. Dyson, B. 2001. “Cooperative Learning in an Elemen- tary Physical Education Program” dalam Journal of Teaching Physical Education, 20, hlm. 264-281. Hergenhahn B. R & Matthew H. Olson. 2008. Theories of learning (teori belajar). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Hellison D. Teaching responsibility through physical activity (3er ed.). Champaign, IL: Human Kinetics. 2011. Hellison, D. 2003. Teaching Responsibility through Physical Activity. Champaign, IL: Human Kinetics. Jati, N. K. (2016). Meningkatkan tanggung jawab siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw II pada mata pelajaran matematika kelas IV SD. BASIC EDUCATION, 5(34), 3-196. Lee O, Martinek T. (2009) Navigating two cultures: an investigation of cultures of a responsibility-based physical activity program and school. Pedagogy Lickona, T. (2012). Educating For Character, How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York : Bantam Books. Lumpkin, A. 2008. “Teacher as Role Models Teaching Character and Moral Virtues” dalam Journal of http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Dupri dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.10576 97 Physical Education Recreation and Dance. 79, 2. hlm. 45. Maksum, A. (2007). Psikologi Olahraga: Teori dan ap- likasi. Surabaya: Fakultas Ilmu Keolahragaan – Uni- versitas Negeri Surabaya Winarni, Sri. 2012. Model Cooperative Learning Dan Individual Learning Dalam Pendidikan Jasmani Un- tuk Mengembangkan Empati Dan Toleransi: Studi Eksperimen pada Siswa SMP Bertaraf Internasional Universitas Pendidikan Indonesia | reposito- ry.upi.edu Ormrod, J. E. (2012). Human Learning. (6th ed.). Unit- ed State of America: Pearson Education, Inc. Schilling T, Martinek T, Carson S. (2007) Youth lead- er’s perceptions of commitment a responsibility- based physical activity program. Research Quaterly for Exercise and Sport. Shields, DLL. & Bredemeier, BJL. (2006). Sport and character development. Research Digest, Series 7, No. 1, Mardych 2006. Badan Pusat Statistik. 2018. Statisik Kriminal 2018. Badan Pusat Statistik Syafitri. (2017). Meningkatkan Tanggung Jawab Bela- jar Melalui Strategi Giving Questions and Getting Answers Pada Siswa. Jurnal Penelitian dan Pengem- bangan Pendidikan. Vol.1 (2) pp. 57-63 Walsh DS, Ozaeta J, Wright PM. Transference of re- sponsibility model goals to the school environment: exploring the impact of a coaching club program. Physical Education and Sport Pedagogy. 2010; 15 (1):15-28. Widiyatmoko, F. A. (2016). Meningkatkan Sikap Tanggung Jawab Mahasiswa Melalui Pembelajaran Bola Basket. Jendela Olahraga, 1(1), 18-28. Wright PM, li W, ding S, pickering M. Integrating a personal and social responsibility program into a Wellness course for urban high school students: as- sessing implementation and educational outcomes. Sport Educ Soc. 2010; 15(3):277-298. http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Dupri dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.10576