122 JPJO 3 (2) (2018) 122-128 Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Hubungan Kebugaran Jasmani dengan Kemampuan Konsentrasi dan Respon Kortisol Nuryadi 1 , Jajat Darajat KN 1 , Tite Juliantine 1 , Didin Budiman 2 , Suherman Slamet 2 , Agus Gumilar 2 1 Universitas Pendidikan Indonesia, Prodi PJKR Departemen Pendidikan Olahraga 2 Universitas Pendidikan Indonesia, Prodi PGSD Departemen Pendidikan Olahraga Info Artikel Sejarah Artikel : Diterima Agustus 2018 Disetujui Agustus 2018 Dipublikasikan September 2018 Keywords : Kebugaran Jasmani, Kemampuan Konsen- trasi dan Respon Kortisol Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebugaran jasma- ni dengan kemampuan konsentrasi dan respon kortisol sebagai penanda bio- molekuler pada siswa apakah mengalami tekanan atau tidak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi expost facto, dengan rentang wak- tu ± 20 (duapuluh) bulan. Pengambilan data secara acak berdasarkan letak geo- grafis atau wilayah dataran tinggi dan dataran rendah berbagai wilayah kabu- paten kota yang berada di provinsi Jawa Barat. Subjek penelitian melibatkan siswa kelas 4, 5 dan 6 dengan total jumlah subjek penelitian sebanyak 339 siswa, laki-laki 151 orang dan perempuan 137 orang. Hasil penelitian menun- jukan terdapat korelasi positif dan kontribusi yang signifikan antara kebugaran jasmani dengan kemampuan konsentrasi di daerah dataran tinggi; tidak ter- dapat korelasi dan kontribusi antara kebugaran jasmani dengan kemampuan konsentrasi pada daerah dataran rendah; terdapat korelasi negatif dan kontri- busi yang signifikan antara kebugaran jasmani dengan respon kortisol di dae- rah dataran tinggi; terdapat korelasi negatif dan kontribusi yang signifikan an- tara kebugaran jasmani dengan respon kortisol di daerah dataran rendah. Abstract The aim of this research was to analyze the relationship between physical fit- ness, concentration ability, and cortisol response as biomolecular markers in students whether they were under pressure or not. The method used in this study is an ex-post facto study for about ± 20 (twenty) months. The respondents were collected randomly based on geographic location, highland and lowland areas of various city districts in West Java province. The research subjects were 339 students, 151 male and 137 female students from grades 4, 5, and 6. The results showed that there is a positive correlation and a significant contri- bution between physical fitness and concentration ability in students from the highlands area; there is no correlation and contribution between physical fit- ness with the ability to concentrate in students from the lowlands area; there is a negative correlation and a significant contribution between physical fitness and cortisol response in students from the highlands area; there is a negative correlation and a significant contribution between physical fitness and cortisol response in the students from he lowlands area.  Alamat korespondensi : Jl. Dr. Setiabui No.229 Bandung, Indonesia E-mail : nuryadi_71@upi.edu ISSN 2580-071X (online) ISSN 2085-6180 (print) DOI : 10.17509/jpjo.v3i2.12578 © 2018 JPJO 123 Nuryadi dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (2) (2018) PENDAHULUAN Rasa cemas bisa terjadi pada siapa saja, kapan dan dimana saja. Tidak melihat usia yang terjadi, dari mulai bayi sampai dengan umur tua pun, rasa cemas akan ter- jadi. Rasa cemas timbul dengan berbagai alasan dan ter- gantung dari individu masing-masing. Kecemasan yang timbul adalah reaksi alamiah individu terhadap masalah yang dihadapi, hal ini di khawatirkan akan berefek negatif baik untuk untuk dirinya sendiri maupun ling- kungan sekitarnya. Pergaulan remaja saat ini sungguh mengkhawatir- kan dan berbahaya bila dibiarkan tanpa bimbingan orang tua, guru dan lain-lain. Pergaluan remaja bisa disalurkan dengan kegiatan-kegiatan positif diantranya dengan kegiatan ekstrakurikuler olahraga, seni dan lain-lain. Kegiatan Ekstrakurikuler merupakan kegiatan diluar sekolah yang sangat bermanfaat untuk siswa. Kegiatan ekstrakurikuler yang bisa diikuti oleh siswa adalah olahraga beregu yakni basket, volley, sepak bola futsal dan sebagainya, sedangkan ekstrakurikuler individu yakni karate, bulu tangkis, taekwondo, atletik dan lain- lain. Dengan berpartisipasi pada kegiatan ekstrakuriku- ler diharapkan dapat mempengaruhi terhadap pening- katan konsentrasi, seperti yang dipaparkan oleh G.Trost dalam artikel yang berjudul Physical education, physical activity and academic performance, disebutkan bahwa pendidikan jasmani dan aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin akan mempengaruhi kebugaran jasmani dan prestasi belajar siswa. Penelitian lain mengatakan bahwa pengaruh pendidikan jasmani dan aktivitas fisik dapat mempengaruhi prestasi akademik pada anak, penelitian ini dilakukan pada 214 anak selama 2 semester oleh Dawn et al di Tarleton State University. Dampak aktivi- tas fisik dalam ektrakurikuler sebagaimana yang disam- paikan dalam hasil penelitian Niel Egelund yang dilansir oleh Medical Daily yang di dimuat dalam detik health mengatakan bahwa olahraga yang dilakukan saat berangkat ke sekolah lewat berjalan kaki atau bersepeda tercermin dalam tingkat konsentrasi yang tetap bertahan 4 jam kemudian. Dampak lain dari kebugaran jasmnai adalah meningkatkan kemampuan gerak dasar pada anak. Gerak dasar ini sangat dibutuhkan untuk tahap selanjutnya dalam mempelajari gerak, diantaranya gerak lokomotor, nirlokomotor, manipulasi. Kegiatan fisik menyebabkan perubahan signifikan pada sistem endokrin. Hal ini pada akhirnya berhub- ungan dengan metabolisme protein. Kelenjar endokrin mensekresikan hormon ke dalam sirkulasi, berikatan dengan reseptor spesifik di sel target, dan berefek ter hadap ekspresi gen yang spesifik. Pada tingkat selular, hormon dapat memodifikasi properti membran dan mengaktivasi second messenger yang menyebabkan ter- jadinya perubahan proses transkripsi dan translasi. Pada sel otot, kortisol merupakan satu-satunya hormon yang merangsang degradasi protein (Mooren & Volker, 2005). Kortisol tergolong hormon katabolik yang disekresikan pada keadaan stres fisik maupun psikis. Pada saat emosi seseorang berada dalam keadaan negatif seperti stres, cemas, takut, dan frustasi, tubuhnya akan mensekresi hormon kortisol. Pelepasan hormon kortisol dapat mengaktivasi sistem saraf simpatis yang salah satunya ditandai dengan peningkatan frekuensi nadi. Kadar hormon kortisol dalam darah yang tinggi juga dapat mengurangi kemampuan berpikir dan bereaksi seseorang. Hormon kortisol juga berperan dalam ter- jadinya penurunan mood dan kelelahan otot (fatique) (Wolfe 2001, Guyton & Hall, 2000). Selain itu manfaat beraktifitas fisik dikemukakan oleh Leslee J Scheuer dkk. bahwa dengan aktivitas fisik regular akan mening- katkan fungsi kognisi dan meningkatkan respon otak secara substansif dan bertanggung jawab memelihara kesehatan neuron. METODE Metode yang dilakukan adalah studi expost facto yaitu mendapatkan data dari siswa SD se-Jawa Barat yang diambil secara acak berdasarkan karakteristik geo- grafis lokasi sekolah yaitu: dataran tinggi pedalaman, pedesaan dan perkotaan; dataran rendah pedesaan, perkotaan dan pantai. Dataran tinggi mempunyai karak- teristik ketinggian 900m–1800m dpl dengan suhu rata- rata <180C–240C, sedangkan dataran rendah mempu- nyai karakteristik ketinggian 0m–1000m dpl dengan suhu rata-rata >250C–380C. Subjek Penelitian Populasi adalah subjek umum yang merupakan keseluruhan sumber data dan mempunyai sifat umum objek yang akan diteliti. Dengan demikian, populasi akan memberikan informasi tentang kebutuhan penelitian. Dalam penelitian ini peneliti mengambil populasi pada siswa SD kelas 4, kelas 5 dan kelas 6 se- Provinsi Jawa Barat. Sampel merupakan sebagian popu- lasi yang dianggap dapat mewakili dan memenuhi per- syaratan populasi penelitian, teknik pemilihan sampel http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v3i2.12578 124 dilakukan secara acak dan harus representatif. Untuk keperluan penelitian ini jumlah sampel yang disesuaikan dengan populasi siswa SD berdasarkan jenis kelamin, karakteristik geografis, jumlah subjek penelitian yang terlibat adalah 339 subjek dengan laki-laki 177 subjek dan perempuan 162 subjek. Waktu penelitian dilakukan selama ±20 bulan dari bulan Februari 2015 sampai dengan Oktober 2016. Pengambilan data dan sampel dilakukan secara acak yang mewakili daerah kabupaten dan kota di provinsi Jawa Barat yang berjumlah 20 wila- yah kabupaten dan kota, yaitu SDN Awilega Kabupaten Tasikmalaya, SDN Suntenjaya Kabupaten Bandung Barat, SDN Cisitu Kota Bandung, SDN Karang Pawitan Kabupaten Karawang, SDN 5 Kabupaten Pangandaran, SDN Girimukti Kabupaten Cianjur, SDN Padamakmur Kabupaten Cianjur, SDN Bunut Kota Sukabumi, SDN Dayeuhluhur Kabupaten Sukabumi, SDN Dadap 2 Ka- bupaten Indramayu, SDN Binangun Kota Banjar, SDN Galunggung Kota Tasikmalaya, SDN Bantarujeg Kabupaten Majalengka, SDN Krimun Kota Cirebon, SDN Sarireja Kabupaten Subang, SDN Me- karjaya Kota Depok, SDN Ciheuleut Kota Bogor, SDN Samarang Kabupaten Garut, SDN Arenjaya Kota Bekasi. Sampel yang tidak memenuhi persyara- tan teknis akan dieliminasi untuk kepentingan analisis data penelitian. Persyaratan tersebut adalah tidak bisa melakukan seluruh tes dan pengukuran kebugaran jasmani, kemampuan konsen- trasi dan penguluaran saliva yang tidak normal. Instrumen Instrumen penelitian yang digunakan adalah 1) Kebugaran jasmani menggunakan tes kebugaran jasmani Indonesia yang terdiri dari verti- cal jump, sit-up, pull-up, sprint 40m; 2) Pengukuran konsentrasi menggunakan grid exercise test yang sudah tervalidasi; 3) Pengukuran respon kortisol menggunakan teknik ELISA (enzyme linked immunosorbent assay) yang bersumber dari saliva (air liur) dari subjek penelitian. Prosedur Pengambilan Data Pada pagi hari, saliva siswa diambil dan dimasuk- kan kedalam tabung swab steril sebanyak ±10cc, tanpa buih. Kemudian dilanjutkan dengan pengukuran tes ke- mampuan konsentrasi (grid exercise test) dan yang tera- khir adalah pengukuran kebugaran jasmani Indonesia. HASIL Berikut ini adalah tabel rata-rata dan simpangan baku ringkasan hasil penghitungan pengukuran kebugar- an jasmani, kemampuan konsentrasi dan respon kortisol. Tabel 1. Ringkasan Hasil penghitungan Rerata dan Uji Normalitas Shapiro-Wilks Pengukuran Kebugaran Jasma- ni, Kemampuan Konsentrasi dan Respon Kortisol Ber- dasarkan Karakteristik daerah dan Jenis Kelamin Kriteria: jika p-value ≥ 0,05 data mempunyai penyebaran yang normal. jika p- value < 0,05 data mempunyai penyebaran yang tidak normal. Berdasarkan ringkasan hasil penghitungan pada tabel 1 diatas, hampir semua kelompok data mempunyai penyebaran yang tidak normal, maka dengan demikian uji analisis selanjutnya akan menggunakan uji analisis non parametrik yaitu uji korelasi spearman’s rho. http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Kel_Data Daerah avrg ± sd n Shapiro-Wilks Conclussion Stat. p- value Kebugaran Jasmani Dataran Tinggi 199,99 ± 24,68 151 0,988 0,211 normal Dataran Rendah 198,51 ± 25,01 188 0,978 0,005 tdk normal Kemampuan Konsentrasi Dataran Tinggi 81,34 ± 30,14 151 0,970 0,002 tdk normal Dataran Rendah 69,22 ± 27,09 188 0,903 0,000 tdk normal Kortisol Saliva Dataran Tinggi 0,145 ± 0,151 137 0,797 0,000 tdk normal Dataran Rendah 0,141 ± 0,103 164 0,765 0,000 tdk normal Kebugaran Jasmani Laki-laki 210,91 ± 21,99 177 0,971 0,000 tdk normal Perempuan 186,35 ± 21,20 162 0,972 0,000 tdk normal Kemampuan Konsentrasi Laki-laki 75,19 ± 29,95 177 0,946 0,000 tdk normal Perempuan 74,00 ± 28,19 162 0,939 0,000 tdk normal Kortisol Saliva Laki-laki 0,134 ± 0,095 160 0,845 0,000 tdk normal Perempuan 0,177 ± 0,154 141 0,762 0,000 tdk normal DOI : 10.17509/jpjo.v3i2.12578 Nuryadi dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (2) (2018) 125 Grafik 1. Rerata Kebugaran Jasmani Berdasarkan Karakteristik Daerah Grafik 2. Rerata Konsentrasi Berdasarkan Karakteristik Daerah Grafik 3. Rerata Respon Kortisol Berdasarkan Karakteristik Daerah Grafik 4. Rerata Kebugaran Jasmani Berdasarkan Jenis Kelamin Grafik 5. Rerata Kemampuan Konsentrasi Berdasarkan Jenis Kelamin Grafik 6. Rerata Respon Kortisol Berdasarkan Jenis Kelamin http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v3i2.12578 Nuryadi dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (2) (2018) 126 Ringkasan Hasil Penghitungan dan Analisis Statis- tik. Berikut ini adalah tabel ringkasan hasil penghi- tungan uji normalitas Shapiro-Wilks pada p-value > 0,05 dan uji homogenitas Levene’s pada p-value > 0,05. Uji analisis statistik digunakan software SPSS v.21 IOS. Tabel 2. Ringkasan Hasil Penghitungan Uji Korelasi Spearman’s rho pada p-value < 0,05 **.Terdapat Korelasi yang signifikan pada level 0,01 (2-tailed) *.Terdapat Korelasi yang signifikan pada level 0,05 (2-tailed) PEMBAHASAN Korelasi antara variabel kebugaran jasmani dengan kemampuan konsentrasi menunjukkan hubungan yang sangat berarti di daerah karakteristik pegunungan atau dataran tinggi, hal ini ditunjukkan dengan hasil uji ko- relasi sebesar r = 0,438 koefisien determinasi sebesar 19,18%. Hal ini berarti sesuai dengan dugaan bahwa kebugaran jasmani mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap kemampuan konsentrasi sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan pada 214 anak oleh (Dwan et al) selama 2 semester menghasilkan bahwa anak yang aktif melakukan olahraga dengan kata lain anak yang mempunyai kebugaran jasmani yang tinggi akan menghasilkan tingkat konsentrasi yang lebih lama dibandingan dengan anak yang mempunyai kebugaran yang rendah. Dampak lain dari kebugaran jasmani menyebabkan perubahan yang signifikan pada sistem endokrin. Hal ini pada akhirnya berhubungan dengan metabolisme pro- tein. Kelenjar endokrin mensekresikan hormon ke dalam sirkulasi, berikatan dengan reseptor spesifik di sel target, dan berefek terhadap ekspresi gen yang spesifik. Pada tingkat selular, hormon dapat memodifikasi properti membran dan mengaktivasi second messenger yang me- nyebabkan terjadinya perubahan proses transkripsi dan translasi. Pada sel otot, kortisol merupakan satu-satunya hormon yang merangsang degradasi protein. (Mooren & Volker, 2005). Kortisol tergolong hormon katabolik yang disekresikan pada keadaan stres fisik maupun psikis. Pada saat emosi seseorang berada dalam keadaan negatif seperti stres, ce- mas, takut, dan frustasi, tubuhnya akan men- sekresi hormon kortisol. Pelepasan hormon korti- sol dapat mengaktivasi sistem saraf simpatis yang salah satunya ditandai dengan peningkatan frekuensi nadi. Kadar hormon kortisol dalam darah yang tinggi juga dapat mengurangi ke- mampuan berpikir dan bereaksi seseorang. Hormon kor- tisol juga berperan dalam terjadinya penurunan mood dan kelelahan otot (fatique). (Wolfe 2001, Guyton & Hall, 2000). Selain itu manfaat beraktifitas fisik dikemukakan oleh Leslee J Scheuer et al bahwa dengan aktivitas fisik regular akan meningkatkan fungsi kognisi dan mening- katkan respon otak secara substansif dan bertanggung jawab memelihara kesehatan neuron. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi fungsional yang negatif yang sangat bermakna antara kebugaran jasmani dengan respon kortisol yakni -0,203 hal ini berarti se- makin tinggi kebugaran jasmani maka semakin rendah respon kortisol dengan nilai kontribusi sebesar 4,12%. Peneliti menduga bahwa daerah tempat tinggal akan memengaruhi terhadap kebugaran jasmani, kemampuan konsentrasi dan respon kortisol. Semua variabel terbukti bahwa di daerah dataran rendah kontribusi kebugaran jasmani terhadap kemam- puan konsentrasi hanya sebesar 0,30% hal ini jelas di daerah dengan karakter dengan suhu yang panas ke- bugaran jasmani terbukti tidak ada korelasi dengan ke- http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Daearah Daerah N Spearman’s rho P-value Coefficient R Kontribusi Dataran Tinggi Kebugaran Jasmani 151 0,438 19,18% 0,000** Kemampuan Konsentrasi Kebugaran Jasmani 137 -0,203 4,12% 0,017* Respon Kortisol Dataran Rendah Kebugaran Jasmani 188 0,055 0,30% 0,455 Kemampuan Konsentrasi Kebugaran Jasmani 164 -0,291 8,47% 0,000** Respon Kortisol DOI : 10.17509/jpjo.v3i2.12578 Nuryadi dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (2) (2018) 127 mampuan konsentrasi. Akan tetapi jika dilihat antara kebugaran jasmani dengan respon kortisol sangat jelas bahwa karateristik tempat terbukti bisa memengaruhi tingkat stres pada anak-anak. KESIMPULAN Terdapat korelasi positif dan kontribusi yang signifikan antara kebugaran jasmani dengan kemampuan konsen- trasi di daerah dataran tinggi. Namun tidak terdapat ko- relasi dan kontribusi antara kebugaran jasmani dengan kemampuan konsentrasi pada daerah dataran rendah. Sedangkan di daerah dataran tinggi, terdapat korelasi negatif dan kontribusi yang signifikan antara kebugaran jasmani dengan respon kortisol. Dan terdapat korelasi negatif dan kontribusi yang signifikan antara kebugaran jasmani dengan respon kortisol di daerah dataran ren- dah. REKOMENDASI Bagi para pendidik hendak untuk tetap mengaplikasi model-model pembelajaran yang bersifat membangun atau meningkatkan kebugaran anak. Dengan kebugaran yang baik maka akan memengaruhi kemampuan kon- sentrasi belajar dan menurunkan stres. REFERENCE Ajzen and Fishbein. (1980). Teori perilaku. Tersedia dari www.labkomfkmuvri.blogspot.com Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian (Suatu Pen- dekatan Praktek), Jakarta. Penerbit Rineka Cipta Aurelio, MMP and Helena, LSG., (2006). Physical ac- tivity and mental health the association between exer- cise and mood. Faculty of Medicine. Universit of Sao Paulo Brazil. Astrand, PO. dan Rodahl, K. 2003. Textbook of Work Physiology, Physiological Base of Exercise. New York : McGraw Hill Bayu Why., (2008). Bicycle for Fun: Langkah mudah memulai bersepeda gunung. Maximalis Bandung. Bike to Work. (2005). Kenapa kami bersepeda? tersedia dari www.b2w-indonesia.or.id Blair, S.N., & Church, T.S. (2004). The fitness, obesity, and health equation: is physical activity The common denominator? JAMA, 292(10): 1232-1234. Brownlee, KK., Moore, AW., Hackney, AC. 2005. Re- lationship Between Circulating Cortisol and Testos- terone : Influence of Physical Exercise. Journal of Sports Science and Medicine. Vol 2005 (4) : 76-83 Carpersen CJ., Powel KE Christensen GM (1985). Phys- ical Activity, Exercise and Physical Fitness: Defini- tion and Distinctions for Health Related Research. Public Health Report. Cavill N., Kahlmeier S., Racioppi F. (2006). Physical Activity and Health in Europe: evidence for action. Copenhage: WHO Regional Office for Europa. Daly, W., Seegers, C., Timmerman, S. and Hackney, A.C. 2004. Peak cortisol response to exhausting exer- cise: effect of blood sampling schedule. Medicina Sportiva 8 : 1-4 Djaja, Sarimawar et.al., (2003). Pola penyakit kematian di perkotaan dan pedesaan di Indonesia, Studi Mor- talitas Survei kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001. Jurnal Kedokteran Trisakti. Vol 22: 2. Dwiagus. (2008). Sepeda dan gaya hidup sehat. (artikel). Tersedia dari www.ozy1.multply.com Foss, MI. dan Kateyian, SJ. 1998. Physiological Basis for Exercise and Sport. New York : McGraw Hill Gill, T. (2007). Young people with diabetes and obesity in asia. Growing epidemic. Diabetes Voice. 52, 20- 22. Giriwijoyo HYS Santoso., (2007). Ilmu Kesehatan Olahraga. Universitas Pendidikan Indonesia. Ban- dung. Gunawan, Decky. 2012. Optimalisasi Daya Tahan Jan- tung Paru, Kekuatan Otot, Daya Tahan Otot dan Penurunan Kadar Kortisol Saliva Atlet Pelatda Pana- han PON XVIII Jabar dengan Pemberian Madu. Jurnal IPTEKOR Kemenegpora. Hackney, A.C. and Viru, A. 1999. Twenty-four-hour cortisol response to multiple daily exercise sessions of moderate and high intensity. Clinical Physiology 19 : 178-182. Kalman, Brian A; Ruth E, Grahn. (2004). Measuring Salivary Cortisol in the Behavior Neuroscience La- boratory. The Journal of Undergraduate Neurosci- ence Education (JUNE). Spring. 2(2): A41-A49. Kirschbaum, Clemens. Salivary Cortisol, technical is- sues. Available at www.uni-duesseldorf.de/-ck/ index.html. Kirschbaum, Clemens; Dirk H, Hellhammer. (2000). Salivary Cortisol. University of Trier, Germany. En- cyclopedia of Stress. Vol 3. Kusumah Negara, JD dan Abduljabar, Bambang. (2014). Aplikasi Statistika. CV Bintang Warli. Edisi 4. Live strong and 24hrfitness. (2011). Manfaat dan efek samping olahraga sepeda. Tersedia dari www.health.detik.com Lutan, Rusli., (1988). Belajar Keterampilan Motorik: Pengantar Teori dan Metode. Depdikbud Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Jakarta. McGuigan, MR., Egan, AD., Foster, C. 2004. Salivary Cortisol Response And Perceived Exertion During High Intensity and Low Intensity Bouts Of Re- http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v3i2.12578 Nuryadi dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (2) (2018) 128 sistance Exercise. Journal of Sports Science and Medicine. Vol 2004 (3) : 8-15 Mooren, FC. dan Volker K. 2005. Molecular and Cellu- lar Exercise Physiology. Champaign. IL : Human Kinetics Niels Egelund. Jalan kaki atau bersepeda ke sekolah tingkatkan konsentrasi selama 4 jam. Tersedia dari www.health.detik.com Nurhasan. (2007). Tes dan Pengukuran. Modul pem- belajaran. UPI. Profil kesehatan. (2008). Profil Kesehatan Kota Ban- dung. Tersedia dari www.bandung.go.id Rahmat, J. (2006). Belajar Cerdas Belajar Berbasis Otak. Mizan Media Utama. Bandung. Rashkova, M. Et al. (2010). Cortisol in Saliva - A Marker for Increased Anxiety in Children. Journal of IMAB. Vol 16. Stawski, Robert S; Cichy, Kelly E; Piazza, Jennifer R; Almeida, David M. (2013). Association among daily stressors and salivary cortisol: Findings from the Na- tional Study of Daily Experiences. Journal of Psy- choneuroendocrinology. Vol 38, 2654-2665. Availa- ble at www.sciencedirect.com Sujana, (1992), Metoda statistika. Bandung, Penerbit Tarsito. Suryanti., (2010). Anak-anak yang suka bersepeda kesekolah lebih cerdas. Tersedia dari www.ibudanbalita.com WHO. (1959). Mental Health. New Understanding. New York, Geneva. http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v3i2.12578 Nuryadi dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 3 (2) (2018)