86 JPJO 4 (1) (2019) 86-91 Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Aquatic Learning Approach for Improving Early Childhood Basic Attitude Anne Hafina, Lutfi Nur, Nandang Rusmana 1 Universitas Pendidikan Indonesia Article Info Article History : Received September 2018 Revised October2018 Accepted March 2019 Available online April 2019 Keywords : Aquatic Learning Approach, Basic Atti- tude, Early Childhood Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kontribusi pendekatan pembelajaran aquatik terhadap pengembangan kemampuan sikap dasar anak usia dini. Penelitian ini menggunakan one group pretest-posttest design dengan subyek penelitian adalah siswa taman kanak-kanak berusia 5-6 tahun sebanyak 8 siswa. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan observasi terstruktur dan catatan lapangan mengenai sikap dasar anak yang meliputi menghormati aturan, berbagi perlengkapan, tanpa rasa takut, mendengarkan intruksi dan keinginan untuk berpartisipasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bah- wa kemampuan sikap dasar anak usia dini mengalami peningkatan yang signifikan dengan nilai t sebesar 7,514. Penelitian dengan jumlah partisipan yang lebih besar perlu dilakukan untuk mengetahui dampaknya secara umum. Abstract This study was conducted to determine the contribution of the aquatic learning ap- proach to the development of the basic attitude ability in early childhood. This study used one group pretest-posttest design with 8 students aged 5-6 years as partici- pants. The instruments used in this study were structured observations and field notes reflecting the children’ basic attitudes, including respecting rules, sharing equipment, fearless, listening to instructions, and the desire to participate. The data analysis technique used was paired sample t-test. The results showed that the chil- dren basic attitude ability increased significantly with t-value 7.514. However, the research with a larger number of participants is needed to find out the impact in general.  Correspondence Address : Jl. Dr, Setiabudhi No. 229, Kota Bandung, Indonesia E-mail : annehafina@upi.edu ISSN 2580-071X (online) ISSN 2085-6180 (print) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.15014 87 Anne Hafina dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) PENDAHULUAN Pendidikan anak usia dini adalah upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 (enam) tahun yang dilakukan melalui pemberian rancangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak mem- iliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Permendikbud, 2014). Pendidikan anak usia dini meru- pakan hal penting dan dipandang perlu untuk diketahui oleh setiap guru maupun orang tua yang mendidik anak. Secara tidak langsung dalam konteks ini tersirat tanggung jawab moral bagi guru di sekolah maupun orang tua di rumah untuk memahami nilai-nilai pen- didikan yang harus dikembangkan oleh orang tua, guru dan lingkungan sekitarnya. Untuk memahami karakter- istik anak, guru dan orang tua harus melakukan peman- tauan secara khusus dan intensif terhadap segala bentuk perilaku anak yang muncul saat melakukan aktivitas di sekolah maupun di rumah. Anak usia dini merupakan masa keemasan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Perkembangan setiap karakteristik anak usia dini cenderung di- pengaruhi oleh sentuhan-sentuhan secara fisik maupun psikis dari lingkungan hidupnya. Konteks itu dikuatkan oleh sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa ling- kungan merupakan bagian terbesar dalam mempengaruhi perubahan perilaku setiap anak (Geldard, K. & Geldard, G., 2012). Pada usia ini per- tumbuhan dan perkembangan intelegensi dan motorik anak juga berkembang secara cepat. Oleh karena itu, anak harus diberikan pengalaman sebanyak-banyaknya dalam konteks bermain, salah satunya mengenalkan anak pada aktivitas air (Susanto, 2014). Akuatik (aktivitas air) merupakan sebuah aktivitas dengan menggunakan media air berupa kolam renang, pantai, sungai, danau atau simulator lainnya seperti em- ber atau bahan yang terbuat dari balon plastik yang dapat digunakan untuk kegiatan aktivitas fisik. Bentuk kegiatan dalam aktivitas air dapat berupa renang, polo air, menyelam, dayung, dan beragam bentuk lainnya (Ishak, 2016). Tujuan program aktivitas akuatik bagi anak usia dini adalah memperkenalkan mereka pada rasa senang terhadap aktivitas air, berani mengambil resiko dalam aktivitas air, dan mengajarkan keahlian dasar berenang (Susanto, 2014). Penelitian tentang akuatik telah banyak dilakukan terutama penerapannya dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan motorik dan kemam- puan sosial anak (Langendorfer, 1986, 1990, 2009, 2015). Lebih lanjut, pembelajaran akuatik ini sangat penting untuk dapat dilakukan sejak usia dini karena pada masa tersebut pertumbuhan dan perkembangan motorik dan intelegensi anak berkembang dengan cepat (Sujiono, 2013). Anak usia dini merupakan masa yang dianggap tepat untuk memulai memperkenalkan kegiatan air dan dasar berenang. Pada usia 3-7 tahun, anak dapat dikenalkan olahraga ideal, pada usia 10-12 tahun untuk spesialisasi, sedangkan usia antara 16-18 tahun merupa- kan usia prestasi (Susanto, 2009). Sayangnya, pembela- jaran renang di sekolah secara langsung kurang begitu dapat dilaksanakan secara berkesinambungan karena berbagai pertimbangan tertentu seperti kurikulum, pro- gram, materi, sarana dan prasarana, fasilitas, serta metode dan penilaian. Padahal, proses pembelajaran merupakan sebuah upaya untuk mencapai tujuan yang diharapkan terutama mengembangkan karakteristik dan kemampuan sikap dasar pada anak. Kemampuan sikap dasar anak meliputi rasa takut, sikap berbagi perlengkapan renang dengan teman, men- taati aturan, mendengarkan instruksi, keinginan untuk berpartisipasi menjadi fokus kajian dalam penelitian ini. Sikap dasar tersebut merupakan komponen afeksi siswa prasekolah dalam pembelajaran akuatik yang perlu un- tuk didorong kearah positif (Langendorfer dan Law- rence, 1995; Susanto, 2012). Komponen tersebut meru- pakan salah satu indikator dalam mengukur keberhasi- lan pembelajaran akuatik prasekolah (Susanto, 2012). Kemampuan sikap dasar sangat berkaitan dengan aspek afektif atau bagian penting dari kecerdasan emo- sional dan merupakan bagian dari perkembangan indi- vidu (Nur, 2018; Sato, Ellison, & Eckert, 2018). Pem- belajaran akuatik harus dapat memberikan stimulus ke- mampuan sikap dasar anak, bukan hanya pada keterampilan motorik dalam pembelajaran. Penelitian sebelumnya banyak yang membahas tentang pemanfaa- tan pembelajaran akuatik dan aktivitas renang untuk meningkatkan kemampuan motorik siswa (Rocha, dkk., 2018; Sato dkk., 2018; Susanto, 2009), namun masih sedikit penelitian yang berfokus pada pengembangan kemampuan sikap dasar anak. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pem- belajaran akuatik terhadap kemampuan sikap dasar anak usia dini. http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.15014 88 METODE Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan metode one group pretest- posttest design. Subjek yang dilibatkan adalah siswa dengan usia 5-6 tahun. Penelitian dilaksanakan di TK Laboratorium Percontohan UPI Kampus Tasikmalaya dengan jumlah sampel sebanyak 8 siswa (laki-laki 5 dan perempuan 3). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi terstruktur, catatan lapan- gan, dan dokumentasi mengenai sikap dasar anak dalam pembelajaran akuatik yang meliputi menghormati aturan, berbagi perlengkapan, tanpa rasa takut, mendengarkan intruksi dan keinginan untuk ber- partisipasi (Susanto, 2014). Proses pembelajaran dilakukan selama 8 per- temuan dengan frekuensi seminggu 2 kali dan durasi selama 60 menit setiap pembelajaran. Proses pembela- jaran akuatik pada setiap pertemuan meliputi kegiatan pendahuluan selama 15 menit (berbaris, berdoa, aper- sepsi, memberikan motivasi dan tujuan pembelajaran serta pemanasan), kegiatan inti 30 menit (aktivitas re- nang dasar meliputi pengenalan air, masuk ke dalam kolam, control pernapasan, mengapung, posisi tubuh, gerakan lengan, recovery gerakan lengan, gerakan tungkai, gerakan kombinasi) dan kegiatan penutup 15 menit (evaluasi dan pendinginan). Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan paired sam ple t-test. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pada tabel 1 disajikan data ringkasan kemampuan sikap da- sar anak usia dini sebagai berikut: Tabel 1 menunjukkan ringkasan data hasil penelitian kemampuan sikap dasar anak usia dini. Pada pretest jumlah skor yang diperoleh adalah sebesar 17, sedangkan pada posttest sebesar 28, dengan selisih sebesar 11. Rata-rata pada pretest sebesar 2,13 dan posttest sebesar 3,5 dengan selisih antara keduanya sebesar 1,38. Skor minimal pada pretest adalah 1, pada posttest sebesar 2. Sedangkan skor maksimal pada pre- test adalah 4 dan posttest 5. Untuk memberikan gambaran lebih lanjut peneliti juga menampilkan data hasil penelitian berdasarkan aspek penilaian masing-masing variabel penelitian yang akan ditampilkan pada tabel di bawah ini: Keterangan: A-1 = Tanpa rasa takut A-2 = Berbagi perlengkapan renang dengan teman A-3 = Mentaati aturan A-4 = Mendengarkan instruksi A-5 = Keinginan untuk berpartisipasi Data pada Tabel 2. menunjukan persentase skor yang diperoleh sampel berdasarkan aspek penilaian ke- mampuan sikap dasar pada anak usia dini. Berdasarkan data tersebut menunjukkan pada pretest aspek penilaian yang memperoleh persentase terendah adalah aspek penilaian “Berbagi perlengkapan renang dengan teman” dengan persentase 0%, artinya pada tahap ini belum ada satupun sampel yang menunjukkan sikap saling berbagi dengan temannya. Sedangkan aspek penilaian yang memperoleh persentase tertinggi adalah “Keinginan untuk berpartisipasi” dengan presentase 88%. Hal terse- but mengartikan bahwa hampir seluruh sampel penelitian menunjukkan partisipasi yang baik saat mengikuti pembelajaran. Pada posttest terlihat beberapa aspek mencapai presentase 100%, yakni aspek penilaian “Tanpa rasa takut” dan aspek “Keinginan un- tuk berpartisipasi.” Gambaran kemampuan sikap dasar anak berdasar- kan aspek penilaian juga peneliti tampilkan melalui grafik persentase dalam Tabel 3. Grafik tersebut http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Anne Hafina dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.15014 Pretest Posttest Gain Jumlah 17 28 11 Rata-rata 2,13 3,5 1,38 Standar Deviasi 1,13 1,07 0,52 Skor Minimal 1 2 1 Skor Maksimal 4 5 2 Tabel 1. Ringkasan Data K emampuan Sikap Dasar Anak Usia Dini Tabel 2. Per sentase Skor K emampuan Sikap Dasar Anak Usia Dini A-1 A-2 A-3 A-4 A-5 Pretest 63% 0% 13% 50% 88% Posttest 100% 25% 38% 88% 100% 89 menunjukkan peningkatan skor kemampuan sikap dasar anak usia dini dari pretest ke posttest berdasarkan per- sentase perolehan skor. Berdasarkan grafik tersebut ter- lihat bahwa aspek penilaian yang menunjukkan pening- katan tertinggi dengan persentase peningkatan sebesar 37,5% adalah aspek tanpa rasa takut (A1) dan aspek mendengarkan instruksi (A4). Sedangkan aspek teren- dah adalah aspek keinginan untuk berpartisipasi (A5) dengan peningkatan sebesar 12,5%. Pada aspek lainya hanya terjadi peningkatan sebesar 25%, yaitu aspek berbagi perlengkapan renang dengan teman (A2) dan mentaati peraturan (A3). Tabel 4 menunjukkan persentase perkembangan kemampuan sikap dasar anak berdasarkan sampel penelitian. Dari tabel 4 terlihat bahwa terdapat dua sampel yang berhasil memperoleh skor optimal 100% pada posttest, yaitu sampel 2 dan sampel 4 dengan pen- ingkatan masing-masing sampel tersebut sebesar 40% dan 20%. Pada penghitungan, uji normalitas dan ho- mogenitas data dilakukan sebagai uji prasyarat sebelum melakukan uji-t. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa data terdistribusi normal dan data homogen. Se- lanjutnya, untuk mengetahui pengaruh pembelajaran akuatik terhadap kemampuan sikap dasar anak dil- akukan analisis dengan menggunakan uji paired sample t-test. Tabel 5. menunjukkan nilai t = 7,514 dan nilai sig- nifkansi = 0,000 < 0,05 maka dapat diputuskan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan kemampuan sikap dasar anak usia dini melalui penerapan pendekatan pembelajaran aquatik pada anak usia dini. Hasil pen- golahan data statistik menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran akuatik memberikan kontribusi terhadap perkembangan kemampuan sikap dasar secara signif- ikan. Pembelajaran akuatik merupakan pendekatan ber- main yang memanfaatkan air untuk mempromosikan perkembangan anak. Sejalan dengan pernyataan bahwa pembelajaran akuatik adalah segala aktivitas yang dil- akukan di dalam air yang bertujuan untuk melatih anak memperoleh kemajuan potensi motorik, kognisi, afeksi dan sosial (Susanto, 2012). Temuan dilapangan terlihat secara keseluruhan anak memiliki ketertarikan pada pembelajaran akuatik, walaupun di awal beberapa anak menunjukkan keragu- an atau ketakutan ketika akan memasuki kolam air. Me- lalui upaya yang dilakukan oleh guru akhirnya semua anak dapat mengikuti aktivitas pembelajaran akuatik. Pembelajaran akuatik yang terencana dan berbasis kepada perkembangan masing-masing anak dapat ber- kontribusi positif pada perkembangan emosional anak, mereka dapat merasakan air, interaksi dengan anak yang lain, dan lingkungan belajar yang memberikan pengaruh besar kepada setiap anak dalam proses pem- belajarannya. Sejalan yang diungkapkan oleh beberapa pakar bahwa faktor lingkungan merupakan salah satu yang berpengaruh terhadap perkembangan anak (Masdudi, 2016; Prezza dkk., 2001; Rahman, 2009). Hal menarik lainnya ditunjukkan oleh beberapa anak setelah melihat anak yang lain dapat melakukan intruksi tugas yang diberikan oleh guru, seperti me- masukkan muka ke dalam air, loncat ke kolam air, ber- http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Anne Hafina dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.15014 Tabel 3. Persentase Perkembangan Kemampuan Sikap Dasar Anak Berdasarkan Aspek Penilaian Aspek Penilaian Perkembangan Kemampuan A-1 37,5% A-2 25% A-3 25% A-4 37,5% A-5 12,5% Tabel 4. Persentase Kemampuan Sikap Dasar Anak Ber dasarkan Sampel Penelitian Sampel Penelitian Pretes Posttest S-1 20% 60% S-2 60% 100% S-3 60% 80% S-4 80% 100% S-5 40% 60% S-6 40% 60% S-7 20% 40% S-8 20% 60% Tabel 5. Ringkasan Hasil Uji paired sample t-test t Signifikansi Keputusan Kesimpulan 7,514 0,000 Ho Ditolak Terdapat Peningkatan Signifikan 90 jalan mengelilingi kolam, dan melakukan seluncur pada tempat seluncuran, beberapa anak yang masih ragu atau belum berani akhirnya mau melakukan dan terlihat adanya kesenangan serta kepuasan dalam dirinya. Hal itu dibuktikan dengan permintaan anak untuk melakukannya kembali dalam aktivitas tersebut. Ke- jadian tersebut merupakan fenomena bahwa terjadinya perubahan perilaku anak kearah yang lebih baik, dalam hal ini kemampuan sikap dasar anak. Pembelajaran aku- atik khususnya berenang mampu meningkatkan keterampilan interpersonal anak, dan kepercayaan diri mereka (Sari, 2014; Susanto, 2009). Lebih lanjut, pem- belajaran yang menarik dan menyenangkan dapat mem- batu siswa meningkatkan antusiasme dan partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran (Malik, 2013; Sli- wa dkk., 2017). Pada prinsipnya bahwa perilaku belajar dan sikap dasar siswa dalam mengikuti pembelajaran dapat di- pengaruhi oleh faktor motivasi intrinsik, motivasi ekstrinsik, dan amotivated (Granero-gallegos, et. all., 2014). Faktor motivasi intrinsik biasanya terjadi karena siswa merasa nyaman mengikuti pembelajaran dan memperoleh pengalaman baru dalam pembelajaran (González-Cutre, D., Sicilia, & Moreno, 2011). Faktor ekstrinsik karena adanya dorongan dari luar (Deci and Ryan, 1985, 2000). Sedangkan, faktor amotivated kare- na siswa tidak memiliki motivasi untuk belajar baik secara intrinsik maupun ekstrinsik. Dengan pemahaman akan karakter masing-masing jenis motivasi tersebut, pembelajaran akuatik yang diterapkan berguna untuk memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Na- mun, dalam penelitian ini hanya menunjukkan persen- tase peningkatan sebesar 12,5% dikarenakan hasil pre- test a wal siswa menunjukkan skor yang sudah tinggi. Pada penelitian selanjutnya pembelajaran akuatik dapat diterapkan pada siswa yang memiliki motivasi rendah dalam mengikuti pembelajaran sehingga hasilnya akan lebih terlihat jelas. Pendekatan pembelajaran akuatik merupakan pen- dekatan pembelajaran yang cocok bagi anak usia dini dalam menstimulasi perkembangan potensi anak agar optimal. Pembelajaran ini telah banyak diterapkan di berbagai negara maju untuk melatih kemampuan sosial anak dan sebagai media pembelajaran keamanan dida- lam air (Alaniz, dkk., 2017) serta membantu melatih mental dan meningkatkan kemampuan motorik dasar anak (Langendorfer, 2009). Namun, dalam aktivitas pembelajaran akuatik memerlukan pengawasan yang baik dari para guru pendamping juga orang tua siswa. Berdasarkan konsep, teori dan temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran akuatik dapat mengembangkan kemampuan sikap dasar anak secara baik. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran akuatik dapat meningkatkan kemampuan sikap dasar anak usia dini di TK Laboratorium Percontohan UPI Kampus Tasikmalaya. Pembelajran akuatik dapat men- jadi alternatif pilihan dalam mengembangkan perkem- bangan anak. Penelitian lebih lanjut diperlukan dengan jumlah partisipan penelitian yang lebih besar untuk mengetahui dampaknya secara umum. DAFTAR PUSTAKA Alaniz, M. L., Rosenberg, S. S., Beard, N. R., & Ro- sario, E. R. (2017). The Effectiveness of Aquatic Group Therapy for Improving Water Safety and So- cial Interactions in Children with Autism Spectrum Disorder: A Pilot Program. Journal of Autism and Developmental Disorders, 47(12), 4006–4017. Deci, E. L., & Ryan, R. M. (1985). Intrinsic motivation and self-determination in human behaviour. New York: Plenum. Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self- determination of behavior. Psychological Inquiry, 11, 227–268. Geldard, K. & Geldard, D. (2012). Konseling Anak- Anak. Jakarta: Indeks. González-Cutre, D., Sicilia, A., & Moreno, J. A. (2011). Un estudio cuasi-experimental de los efectos del clima motivacional tarea en las clases de edu- cación física. Revista de Educación, 365, 677–700. Granero-gallegosa, A., Baena-extremera, A., Gómez- lópez, M., & Abraldes, A. (2014). Importance of Physical Education : motivation and motivational climate. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 132, 364–370. Ishak, M. (2016). Pengaruh pembelajaran aquatik me- lalui pendekatan bermain terhadap keterampilan re- nang gaya bebas. Jurnal Educatio, 1(2), 1–9. Langendorfer, S. J. (1986). Aquatics for the Young Child. Journal of Physical Education, Recreation & Dance, 57(6), 61–66. Langendorfer, S. J. (1990). Contemporary Trends in Infant/Preschool Aquatics—Into the 1990s and Be- yond. Journal of Physical Education, Recreation & Dance, 61(5), 36–39. Langendorfer, S. J. (2009). Water Learning: Improving Mental, Physical, and Social Skills through Water Activities. International Journal of Aquatic Research & Education, 3(1), http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Anne Hafina dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.15014 91 Langendorfer, S. J. (2015). Changing Learn-to-Swim and Drowning Prevention Using Aquatic Readiness and Water Competence. International Journal of Aquatic Research and Langendorfer, S. J., & Lawrence, B. D. (1995). Aquatic Readinesss. Developing Water Competence in Young Children. Canada: Human Kinetics Publisher Inc. Malik, A. A. (2013). “Ular Tangga Olahraga” Media Permainan Edukatif untuk Olahraga dengan Menggunakan Sistem Sirkuit Training bagi Siswa Kelas X SMA Negeri Ajibarang Tahun 2013. AC- TIVE: Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreations, 2(10), 630–636. Masdudi, M. (2016). Karakteristik Perkembangan Pen- didikan Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak, 1 (2), 1–26. Nur, L. (2018). Nilai Karakter, Berpikir Kritis dan Psikomotorik Anak Usia Dini. Jurnal Ilmiah VISI PGTK PAUD Dan DIKMAS, 13(1), 29–35. Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini. Prezza, M., Pilloni, S., Morabito, C., Sersante, C., Al- parone, F. R., & Giuliani, M. V. (2001). The Influ- ence of Psychosocial and Environmental Factors on Children’s Independent Mobility and Relationship to Peer Frequentation. Journal of Community & Ap- plied Social Psychology, 11(6), 435–450. Rahman, U. (2009). Karakteristik perkembangan anak usia dini. Lentera Pendidikan, 12(1), 46–57. Rocha, H. A., Marinho, D. A., Garrido, N. D., Mor- gado, L. S., & Costa, A. M. (2018). The acquisition of aquatic skills in preschool children: Deep versus shallow water swimming lessons. Motricidade, 14 (1), 66–72. Sari, M. (2014). Peningkatan Kecerdasan Kinestetik Melaluikegiatan Bermain Air. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 8(1), 373–382. Sato, T., Ellison, D. W., & Eckert, K. (2018). African American pre-service physical education teachers’ learning about aquatic courses. European Physical Education Review, XX(X), 1–18. Sliwa, S., Nihiser, A., Lee, S., McCaughtry, N., Culp, B., & Michael, S. (2017). Engaging Students in Physical Education. J Phys Educ Recreat Dance, 88 (8), 43–48. Sujiono, Y. (2013). Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT Indeks. Susanto, E. (2009). Pembelajaran Akuatik Bagi Siswa Prasekolah. Cakrawala Pendidikan, XXVIII(3), 282– 295. Susanto, E. (2012). Model pembelajaran akuatik siswa prasekolah. Journal of Physical Education and Sports, 1(1), 36–47. Susanto, E. (2014). Pembelajaran Akuatik Prasekolah: Mengenalkan Olahraga Air Sejak Dini. Yogyakarta: UNY Press. http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Anne Hafina dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.15014