37 JPJO 4 (1) (2019) 37-42 Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index The Effect of Learning Model and Intelligence Quotient on Critical Thinking and Handball Games Performance Tite Juliantine, Fitriane Arifin Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Article Info Article History : Received August 2018 Revised October2018 Accepted March 2019 Available online April 2019 Keywords : Critical Thinking, Handball, Intelligence Quotient, Learning Model Abstrak Pengajaran pendidikan jasmani di sekolah masih berlandaskan pada penyampaian in- formasi gerak permainan atau olahraga semata, sehingga kemampuan kognitif reflektif -kemampuan berpikir kritis dan penampilan bermain siswa belum berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelurusi kebenaran pengembangan kognitif re- flektif-kemampuan berpikir kritis dan penampilan bermain bola tangan dalam pem- belajaran pendidikan jasmani.Penelitian ini menggunakan desain faktorial 2x2 dil- akukan pada 74 orang siswa kelas SMA di Bandung. Instrument yang digunakan un- tuk mengukur kemampuan berpikir kritis yaitu dengan tes kemampuan berpikir kritis sedangkan GPAI untuk mengukur keterampilan bermain. Hasil penelitian menyimpul- kan bahwa terdapat pengaruh signifikan kemampuan berpikir kritis dari perlakuan model pembelajaran inkuiri, sedangkan pada perlakuan direct teaching menyatakan pula terdapat pengaruh signifikan penampilan bermain bola tangan. Hasil penelitian selanjutnya model pembelajaran dengan intelligence quotient terdapat interaksi dan kedua model tersebut mempengaruhi pada tingkat siswa yang memiliki intelligence tinggi daan rendah. Abstract Teaching physical education in schools today is still based on the delivery of the games movement and sports information, so that the cognitive ability, reflective- critical thinking skills, and students’ performance have not fully developed yet. The purpose of this study was to discover the reflective cognitive development of critical thinking abilities and the performance in playing handball in physical education clas- ses. Its used 2x2 factorial design conducted on 74 students of grade Sernior High School in Bandung. Instrument used to measure the ability of critical thinking was the test to measure the critical thinking ability, while GPAI was used to measure games performance. The study shows that there is a significant effect of the critical thinking skills inquiry learning model treatment, whereas the direct treatment shows that there is a significant influence on the performance in playing handball. The results also dis- cover the interaction in intelligence quotient and learning model and both of the mod- els have influence on the students who have high and low intelligence.  Correspondence Address : Jln. Dr. Setiabudhi No.229. Bandung, Indonesia E-mail : juliantinetite@gmail.com ISSN 2580-071X (online) ISSN 2085-6180 (print) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16100 38 Tite Juliantine & Fitriane Arifin/ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) PENDAHULUAN Peran penting pendidikan jasmani adalah untuk membantu mengembangkan kompetensi kognitif- reflektif melalui pembelajaran kognitif yang terkait gerak (Ostergaard, 2016), dengan istilah sistem tubuh- otak untuk menyampaikan bagaimana interaksi ber- pikir, perasaan, dan fisik dapat meningkatkan pengem- bangan pengetahuan dan keterampilan baru (Wilson & Conyers, dalam (Hannaford, 2015)). Berpikir kritis dalam pendidikan jasmani, yang utama dicirikan oleh siswa adalah memberikan tantangan untuk menghasilkan solusi unik untuk masalah gerak (McBride & Bonnette, dalam (Huang et al., 2017). Pemikiran kritis dalam pendidikan jasmani sebagai "pemikiran reflektif” yang digunakan untuk membuat keputusan dan menjunjung tinggi tanggung jawab dan tantangan gerakan. Pada dasarnya, ketika siswa berpikir dengan cara kritis, mereka berpikir tentang informasi gabungan yang dikumpulkan dari sumber dan persepsi yang ber- beda, untuk membuat keputusan yang masuk akal yang dapat dijelaskan dan dipertahankan. Pikiran diwakili secara internal oleh kegiatan mental dan eksternal da- lam bentuk tindakan dan keputusan (Abdullah, Badiei, Sulaiman, & Baki, 2014). Seyogyanya pikiran dan tubuh kita merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan, akan tetapi respon yang ditunjukan oleh penampilan gerak yang dilakukan oleh tubuh kita tidak selalu disadari oleh pikiran, untuk itu perlu adan- ya pengembangan antara kemampuan berpikir reflektif- kemampuan berpikir kritis dan performa bermain dalam lingkup yang sempit yaitu permainan bola tangan. Dalam penelitian ini menguji cobakan suatu strate- gi atau model pembelajaran, yaitu model pembelajaran inkuiri dengan model pembelajaran direct. Model pem- belajaran inkuiri sering disebut dengan model pembela- jaran yang berbasis pemecahan masalah Melalui model ini, guru dapat mempersiapkan pembelajaranya melalui pertanyaan yang akan memotivasi peserta didik untuk 'bertanya' dan 'mencari kebenaran'. Pembelajaran ber- basis pertanyaan memiliki pertanyaan, gagasan dan re- fleksi pembelajar di pusat pengalaman belajar peserta didik. (Taylor & Bilbrey, 2012 dalam (Alameddine & Ahwal, 2016). Sedangkan Direct Intruction atau In- struksi langsung tidak dilihat sebagai akhir dari proses pembelajaran tetapi satu cara di mana siswa dapat di- perlengkapi untuk terlibat dalam tugas belajar yang lebih kompleks yang menantang dan melibatkan mere- ka. Agar efektif secara pedagogis, instruksi langsung harus menjadi bagian dari strategi pengajaran yang lebih luas dan didasarkan pada sejumlah prinsip utama, seperti koherensi, pemberian isyarat dan pengakuan pembelajaran sebelumnya (Rymarz, 2013). Mengingat bahwa berhasilnya proses pembelaja- ran untuk mencapai orientasi serta capaian belajar perlu adanya sinergi yang berkesinambungan dari mulai ori- entasi guru, media pembelajaran, alat, strategi dan adanya kemampuan bawaan siswa itu sendiri. Kemam- puan siswa dalam pada penelitian ini dikaitkan dengan intelligence quotient yang sebenarnya memiliki hal yang sama dengan kemampuan kognitif. Pada faktanya di lapangan, guru masih menggunakan strategi pengajaran yang sama yaitu secara konvensional, dan untuk menuju ke pengem- bangan kemampuan kognitif-reflektif atau kemampuan berpikir kritis masih kurang optimal, kemudian untuk penampilan bermainpun masih dianggap sulit untuk dikembangkan. Dengan adanya upaya guru dan adanya kemampuan bawaan siswa berupa skor IQ, maka peneliti bermaksud untuk menelusuri pengaruh model pembelajaran dan IQ terhadap kemampuan berpikir kritis dan performa bermain bola tangan. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen. In- strumen test IQ bekerjasama dengan pihak sekolah yang datanya sudah ada pada data pribadi siswa di bimbingan konseling, untuk tes kemampuan berpikir kritis diajukan sebagai 40 pertanyaan yang terdiri dari beberapa indikator inferensi, asumsi, deduksi, inter- pretasi, dan argument. Populasi dan sampel penelitian yaitu siswa SMA Telkom Bandung kelas XI yang ber- jumlah 74 orang. Desain yang digunakan yaitu 2 kali 2 (2 x 2). Data yang telah didapat kemudian dianalisis melalui software SPSS versi 25, melalui uji normalitas, homogenitas, annova dan anova lanjutan yaitu tukey dan kemudian ditafsirkan HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan table berikut dapat dilihat bahwa perolehan gain antara kelompok model pembelajaran http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16100 39 inkuiri dan model pembelajaran direct menunjukan hasil yang berbeda, terlihat bahwa hasil rata-rata gain kelompok model pembelajaran inkuiri lebih besar dibanding dengan rata-rata gain kelompok model pem- belajaran direct. Secara umum tanpa melihat skor intel- ligence quotient setiap individu siswa menyatakan bah- wa model pembelajaran inkuiri lebih memfasilitasi pada kemampuan berpikir kritis siswa dan model pembelaja- ran direct lebih pada penampilan bermain bola tangan. Uji normalitas yang digunakan yaitu uji normalitas liliefors dengan hasil sebaran data model inquiri dan direct berdistibusi normal. Sedangkan homogenitas data kemampuan berpikir kritis *0.061 > 0,05) dan penampilan bermain bola tangan (0.101 > 0,05) menun- jukan bahwa data homogen. Dari table 2 dapat dilihat bahwa model pembelaja- ran, baik model pembelajaran inkuiri maupun direct memiliki perbedaan hasil skor rata-rata terhadap ke- mampuan berpikir kritis. Tanpa melihat variabel atribut (skor IQ) model pembelajaran inkuri lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ke- mampuan berpikir kritisnya, dibanding dengan ke- lompok model pembelajaran direct yang lebih memfa- silitasi pada penampilan bermain bola tangan. Dari table 7 maka hasil analisis dapat dilihat pada gambar di diatas model*IQ, nilai signifikansi diperoleh nilai 0,000 lebih kecil dari pada nilai alpha 0.05 artinya terdapat interaksi antara model pembelajaran dan IQ terhadap kemampuan berpikir kritis. Analisis dengan menggunakan SPSS kemudian disimpulan bahwa ada perbedaan pengaruh antara siswa yang memiliki IQ tinggi dan siswa yang memiliki IQ rendah baik pada model pembelajaran Inkuiri dan Di- rect terhadap kemampuan berpikir kritis.. Secara kese- luruhan siswa yang memiliki IQ tinggi lebih berkontri- busi dalam peningkatan kemampuan berpikir kritis, akan tetapi siswa dengan IQ tinggi yang diberikan per- http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16100 Tabel 1. Deskripsi Data Hasil Tes Gain Kemampuan Ber- pikir Kritis Model IQ Pre- test Post- test Gain Inkuiri Pre- test Post- test Gain Direct Tinggi 156.3 165.9 9.6 157 162 5 Rendah 144.4 147 2.6 152.5 156.9 4.3 Rata-Rata 6.1 Rata-Rata 4.7 Tabel 2. Deskripsi Data Hasil Tes Gain Penampilan Ber- main Bola Tangan Model IQ Pre- test Post- test Gain Inkuiri Pre- test Post- test Gain Direct Tinggi 0.58 0.78 0.20 0.57 0.95 0.36 Rendah 0.57 0.75 0.18 0.55 0.68 0.12 Rata-Rata 0.19 Rata-Rata 0.24 Tabel 3. Uji Hipotesis Model Pembelajaran Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Penampilan Bermain Bola Tangan Dependent Variable: Kemampuan Berpikir Kritis Model Pembeljaran Mean Std. Error Inkuiri 6.121 .394 Direct 4.694 .394 Dependent Variable: Penampilan Bermain Model Pembelajaran Mean Std. Error Inkuiri .195 .010 Direct .237 .010 Tabel 4. Data Pengaruh Model Pembelajaran dan IQ terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Dependent Variable: KBK Variabel Df Mean Square F Sig. MODEL * IQ 1 196.495 33.450 .000 a. R Square = .555 (Adjust R Square = .536) Gambar 1. Interaksi antara Model Pembelaja- ran dan Intelligence Quotient Tite Juliantine & Fitriane Arifin/ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) 40 lakuan model pembelajaran inkuiri hasilnya lebih meningkat dibanding dengan yang menggunakan direct, hal ini karena gugahan proses pembelajaran inkuiri memfasilitasi kemampuan bawaan (IQ) mereka untuk lebih menggunakan daya nalarnya, dan model pembela- jaran inkuiri di duga memiliki karakteristik yang men- dorong siswa kelompok IQ tinggi untuk terlibat aktif dalam proses belajar. Dari data hasil rata-rata siswa yang tergolong pada tingkat IQ rendah mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis, akan tetapi reratanya tidak mengalami peningkatan yang tinggi, mereka ada dalam angka yang stabil, berbeda dengan siswa yang tergolong dalam IQ tinggi. Meskipun dalam angka yang stabil, ternyata peneliti menemukan bahwa siswa yang kategori IQ ren- dah diberikan perlakuan model pembelajaran direct bisa meningkat dalam kemampuan berpikir kritis, hal ini diduga karena karakteristik bawaan siswa yang mem- iliki skor IQ rendah lebih berpartisipasi dalam kegiatan belajar seperti rancangan kegiatan direct. Berdasarkan hasil perhitungan data, secara kese- luruhan tanpa pengelompokan dengan skor intelligence quotient model pembelajaran inkuiri lebih membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Hal ini telah dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan Hemphill (Hemphill, R Richards, Gaudreault, & Templin, 2015) bahwa pembelajaran berbasis inkuiri merupakan peda- gogi konstruktivis di mana peserta didik dapat melakukan hipotesis di situasi belajar dan mempertim- bangkan bagaimana mereka akan menghadapi tan- tangan. Dalam pendidikan jasmani, penelitian telah menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri memiliki potensi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkontribusi pada pertumbuhan kognitif dan mempengaruhi orientasi nilai siswa. Fakta di lapangan dengan menerapkan model pem- belajaran inkuiri dengan pola pemecahan masalah yang dibagi menjadi beberapa kegiatan dalam satu lapang, yaitu menjadi empat pos, membuat siswa lebih efektif dalam hal proses belajar, mereka bisa berulang-ulang mengadaptasi setiap permainan atau menyadari bahwa proses mind / pikiran berhubungan erat dengan gerak tubuh kita, melangsungkan tanya-jawab, membuat hipotesis disetiap pos dan menguji hipotesisnya. Pada perancangan model pembelajaran inkuiri disengaja siswa masuk dalam pembelajaran cognitive learning, dengan kegiatan yang dimulai dari tingkatan yang mu- dah, sedang dan mudah, contohnya seperti ketika siswa ingin mencetak skor sebelum memasukan ke dalam gawang dia harus melempar tangkap sebanyak tujuh kali dengan satu regu namun dengan orang yang ber- beda, jika dirasa sulit bola dapat ditambahkan menjadi dua, sehingga dapat memudahkan mencetak skor. Hal ini sejalan dengan teori belajar konstruktivisme, bahwa siswa belajar karena mereka terlibat penuh dalam pros- esnya, menjadikan strategi pembelajaran yang lebih dan mereka berbagi pertanyaan, memberikan pengetahuan baru, menciptakan dan membangun belajar itu sendiri, dan yang paling utama dalam pembelajaran inkuiri ha- rus adanya pertanyaan yang diajukan oleh guru sebagai fasilitator maupun peserta didik, pemecahan masalah dalam situasi gerak, hipotesis serta adanya percobaan gerak. Proses pembelajaran ini semua berhubungan dengan kinerja kognitif, yang melibatkan sejumlah pemikiran atau proses berpikir. Akan tetapi selain kemampuan berpikir kritis yang diukur dalam penelitian ini ada penampilan bermain bola tangan yang diteliti peningkatannya, model pem- belajaran direct pada penelitian ini lebih berkontribusi pada penampilan bermain bola tangan, karena menekankan pada penguasaan konsep dan/atau peru- bahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif, dengan ciri-ciri yaitu transformasi dan ket- erampilan secara langsung, pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu, materi pembelajaran yang telah terstuktur, lingkungan belajar yang telah terstruktur, dan distruktur oleh guru. Fakta di lapangan setiap treat- ment yang diberikan pada awal pembelajaran peserta didik selalu dihadapkan pada situasi-situasi permainan bola tangan yang nyata, penguasaan gerak dasar yang http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16100 Tabel 5. Model Pembelajaran dan Intelligence Quotient Tinggi terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Model IQ Mean Std. Error Sig. Inkuiri Tinggi 9.632 .549 .000 Direct 5.000 .549 Model IQ Mean Std. Error Sig. Inkuiri Rendah 2.611 .564 .000 Direct 4.389 .564 Tite Juliantine & Fitriane Arifin/ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) 41 lebih lama, dan instruksi atau penjelasan peraturan per- mainan yang berbeda-beda dengan sangat jelas, sehing- ga tidak menimbulkan ketidakadilan macam kegiatan antara inkuiri dan direct, dalam permainan setelah mereka menerima beberapa gerakan dasar yang benar, yang secara langsung mereka harus melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang telah di demonstrasikan oleh guru atau pemeraga. Penelitian yang dilakukan oleh Jayantilal (Jayantilal & O’Leary, 2017) di Britania Raya yang mengatakan bahwa Direct Instruction Model bagaimanapun dibutuhkan oleh peserta didik sebagai model pembelajaran yang efektif untuk digunakan da- lam pengajaran dan mempelajari pengetahuan, konten yang mendalam tentang permainan. Direct Teaching Model didukung oleh teori belajar sosial dari Albert Bandura yaitu teori behavioristic yang menekankan komponen kognitif, pikiran dan pemahaman dan eval- uasi. Teori sosial ini memiliki konsep utama pembelaja- ran dengan metode pengamatan, perilaku individu bisa timbul karena proses modeling, atau tindakan peniruan. Dalam pelaksanaannya penggunaan model pem- belajaran inkuiri dan direct merupakan proses pembela- jaran yang berbeda, pembelajaran inkuiri lebih menekankan pada proses belajar kognitif, sedangkan model pembelajaran direct / langsung menekankan pada proses belajar stimulus dan respon. Jika dihubungkan dengan intelligence quotient yang telah dimiliki oleh siswa, pembelajaran inkuiri mendukung kinerja otak, namun bukan berarti pembelajaran yang menggunakan direct tidak menggunakan fungsi otak dan pikiran, na- mun antara pikiran dengan fisik selalu berhubungan. Karena sebenarnya menurut Sternberg (Sternberg, 2018) intelligence quotient akan selalu berhubungan dengan kegiatan manusia itu sendiri, perbedaannya ter- letak pada seberapa cepat seseorang yang memiliki skor IQ tinggi dan skor IQ rendah dapat menyelesaikan se- buah tugas. Siswa yang dihadapkan pada situasi belajar dengan permasalahan situasi gerak akan mengalami keadaan tidak sadar (unconsious) bahwa sebenarnya pemecahan masalah gerak yang mereka lakukan meru- pakan upaya tidak sadar menjadi sadar (conscious) akan keterkaitan antara pikiran dan tubuhnya. Antara aktivi- tas fisik dan fungsi kognitif memiliki keterhubungan satu sama lain (Sibley & Etnier, 2003). Kaitannya dengan penelitian ini adalah bahwa secara menyeluruh kemampuan berpikir kritis berkaitan dengan kapasitas otak yang dirancang kedalam pembelajaran berbasis inkuiri yang di dalamnya terdapat cognitive learn- ing .Yaitu adanya tingkatan mempermudah dan mem- persulit tantangan situasi gerak, siswa dapat mencari ruang yang kosong, siswa dapat memutuskan dimana dia harus berposisi dan memberikan bola pada teman seregu agar mendapatkan poin. Sedangkan gerak tubuh dirancang kedalam pembelajaran direct berkaitan dengan penampilan. KESIMPULAN Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan kemampuan berpikir kritis dari perlakuan model pembelajaran inkuiri, sedangkan pada perlakuan direct teaching terdapat pengaruh signifikan penampilan bermain bola tangan. Disamping itu, model pembelajaran dengan intelligence quotient terdapat in- teraksi dan kedua model tersebut mempengaruhi pada tingkat siswa yang memiliki intelligence tinggi daan rendah. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, B., Badiei, M., Sulaiman, T., & Baki, R. (2014). Enhance Critical Thinking in Physical Edu- cation among Malaysian University Students, 4(5), 198–203. https://doi.org/10.5923/ j.sports.20140405.07 Alameddine, M. M., & Ahwal, H. W. (2016). Inquiry Based Teaching in Literature Classrooms. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 232(April), 332– 337. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2016.10.031 Hannaford, C. (2015). Smart Moves. Learning, 25(3), 66–68. Retrieved from http://eric.ed.gov.sci- hub.org/?id=EJ536904 Hemphill, M. A., R Richards, K. A., Gaudreault, K. L., & Templin, T. J. (2015). Pre-service teacher per- spectives of case-based learning in physical educa- tion teacher education. European Physical Education Review, 21(4), 432–450. https:// doi.org/10.1177/1356336X15579402 Huang, M.-Y., Tu, H.-Y., Wang, W.-Y., Chen, J.-F., Yu, Y.-T., & Chou, C.-C. (2017). Effects of cooper- ative learning and concept mapping intervention on critical thinking and basketball skills in elementary school. Thinking Skills and Creativity, 23, 207–216. https://doi.org/10.1016/j.tsc.2017.01.002 Jayantilal, K., & O’Leary, N. (2017). (Reinforcing) fac- tors influencing a physical education teacher’s use of the direct instruction model teaching games. Europe- http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16100 Tite Juliantine & Fitriane Arifin/ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) 42 an Physical Education Review, 23(4), 392–411. https://doi.org/10.1177/1356336X16652081 Ostergaard, L. D. (2016). Inquiry-based Learning Ap- proach in Physical Education: Stimulating and En- gaging Students in Physical and Cognitive Learning. Journal of Physical Education, Recreation & Dance, 3084(March), 6–14. https:// doi.org/10.1080/07303084.2015.1119076 Rymarz, R. M. (2013). Direct instruction as a pedagogi- cal tool in religious education. British Journal of Re- ligious Education, 35(3), 326–341. https:// doi.org/10.1080/01416200.2013.781992 Sternberg, R. J. (2018). Intelligence in Humans. Refer- ence Module in Neuroscience and Biobehavioral Psychology. Elsevier. https://doi.org/10.1016/B978-0 -12-809324-5.21773-2 http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16100 Tite Juliantine & Fitriane Arifin/ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019)