14 JPJO 4 (1) (2019) 14-20 Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index The Implementation of Tactical Approach on Students' Enjoyment in Playing Football in Junior High School Sucipto, Beltasar Tarigan, Amung Mamun, Yunyun Yudiana Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Article Info Article History : Received December 2018 Revised January 2019 Accepted March 2019 Available online April 2019 Keywords : Enjoyment, Football, Junior High School, Tactical Approach Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji penerapan pendekatan taktis dalam pengem- bangan kesenangan bermain sepak bola siswa SMP. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan rancangan posttest control group design. Dengan melibatkan dua kelompok, yaitu satu kelompok eksperimen dengan intervensi pendekatan taktis dan satu kelompok kontrol dengan intervensi pendekatan teknis ter- hadap pengembangan kesenangan. Instrument yang digunakan adalah instrument skala kesenangan. Penelitian dilakukan pada siswa-siswi SMP dilingkungan kota Bandung. Data yang diperoleh analisis dengan menggunakan teknik independent sampel t test yang bertujuan untuk melihat perbedaan pengaruh antar kelompok taktis dan teknis terhadap pengembangan kesenangan siswa. Hasil analisis terbukti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok taktis dan teknis terhadap kesenangan ber- maian sepakbola, dilihat dari mean difference diperoleh selisih sebesar 10,82, artinya bahwa kelompok taktis terbukti berpengaruh lebih tinggi dan signifikan dari pada ke- lompok teknis terhadap kesenangan siswa dalam pembelajaran sepak bola. Dengan kata lain penerapan pendekatan taktis memberikan pengaruh terhadap kesenangan siswa dalam pembalajaran sepak bola. Abstract The purpose of this study was to examine the implementation of a tactical approach in improving students’ enjoyment in playing football in junior high school. The method used in this study was an experimental study with a posttest control group design. The study involved two groups, one experimental group with a tactical approach interven- tion and one control group with a technical approach intervention to develop their enjoyment. The instrument used was an enjoyment scale. The study was conducted in a junior high school in Bandung. The obtained data were analyzed by the independent sample t test technique to see differences between the influence of tactical and tech- nical groups on developing students’ enjoyment. The results of the analysis proved that there was a significant difference between the tactical and technical groups on enjoy- ment in playing football that is seen from the mean difference (10.82). It shows that tactical approach was proved to have a higher and significant effect than the technical groups on student enjoyment in soccer learning. In other words, the implementation of tactical approach has an influence on the students' enjoyment in soccer learning.  Correspondence Address : Jl. Dr. Setiabudhi. No.229, Bandung., Indonesia E-mail : pjkr.sucipto@upi.edu ISSN 2580-071X (online) ISSN 2085-6180 (print) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16252 15 Sucipto dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) PENDAHULUAN Persoalan pokok yang menjadi tantangan bagi guru Pendidikan Jasmani (Penjas) adalah profesional- isme guru Penjas yang masih rendah, sehingga guru Penjas dipandang bukan sebagai suatu keahlian profesi. Penjas di sekolah belum membangkitkan proses pem- belajaran yang diharapkan sesuai dengan sasaran ku- rikulum, sehingga bidang studi Penjas masih dianggap kurang bermanfaat dibanding dengan bidang studi lainnya. Pertama, pada umumnya guru Penjas baru mampu menerapkan pembelajaran kebugaran jasmani pada siswa, akan tetapi yang masih menjadi kelemahan bagi para guru Penjas adalah bagaimana menerapkan kurikulum Penjas kedalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang dimaksud adalah proses pembelaja- ran yang membangkitkan minat siswa terhadap pem- belajaran pendidikan jasmani, sehingga dapat meya- kinkan pada diri siswa untuk selalu memelihara ke- bugaran jasmaninya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, guru Penjas masih dibayang bayangi dengan perolehan prestasi olahraga di sekolahnya. Sebagai tar- get bidang studi Penjas disekolah harus mampu mengangkat reputasi sekolah dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA). Atas dasar target itulah guru Penjas memfokuskan pembelajarannya hanya untuk pencapaian dari aspek keterampilan saja atau aspek prestasi didalam cabang olahraga, akibatnya aspek-aspek yang lain seperti kog- nitif dan afektif diabaikan. Dengan demikian target ku- rikulum yang seharusnya mengembangkan ketiga aspek dalam pembelajaran Penjas seperti kognitif, afektif, dan psikomotor tidak tercapai secara optimal. Hal ini akan berdampak dalam pembelajaran Penjas, siswa tidak me- rasa nyaman, membosankan, dan siswa merasa terpaksa untuk mengikutinya atau hanya sekedar untuk memen- uhi kehadiran saja dalam proses pembelajaran. Kadang kala siswa kesal dan jemu harus menunggu terlalu la- ma untuk mendapatkan giliran dalam melakukan aktivi- tas gerak yang diinstuksikan guru dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Fenomena dalam Penjas saat ini, banyak anak yang enggan mengikuti pelajaran Penjas karena terkesan membosankan dan menjemukan (Brown & Grineski, 1992). Masih banyak guru Penjas dalam proses pembelajaran Penjas mengundang kecemasan pada diri siswa, menakutkan, sampai- sampai nilai dijadikan salah satu bentuk ancamannya dalam upaya supaya mengikuti pembelajaran pendidi kan jasmani. Salah satu misi Penjas (PE) adalah pro- mosi partisipasi kegiatan fisik yang menyenangkan (Prochaska, Sallis, Slymen, & McKenzie, 2003). Salah satu materi yang tertuang dalam pembelaja- ran Penjas adalah pembelajaran sepak bola. Dari pem- belajaran permainan sepakbola, banyak nilai-nilai pen- didikan yang terkandung didalamnya. Dari aspek kok- nitif, sepakbola syarat dengan pengetahuan, pemaham- an, aplikasi peraturan dalam permainan. Dari aspek afektif, sepakbola menuntut setiap pemainnya bermain fair play. Sedangkan dari aspek psikomotor, keme- nangan bermain sepakbola syarat ditentukan keterampi- lan baik dari para pemainnya. Dari aspek sosial, per- mainan sepakbola adalah permainan beregu, jadi setiap pemain dari satu regu harus bekerjasama, saling be- rusaha membantu baik dalam pertahanan maupun da- lam penyerangan. Walaupun didalam permainan sepak- bola banyak mengandung nilai-nilai pendidikan, namun apabila pembelajaran tidak dirancang, diproses dan die- valuasi dengan baik, maka bisa saja pembelajaran sepakbola kurang bermakna bagi siswa. Untuk itu pem- belajaran sepakbola perlu dirancang dengan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak, hingga pembelajaran sepakbo- la bermanfaat dan dapat memberikan nilai-nilai pen- didikan bagi anak. Pendekatan pembelajaran yang sering diterapkan guru dalam pembelajaran Penjas, khususnya aktivitas permainan seperti sepakbola, pada umumnya adalah pendekatan teknis dan taktis. Hal ini terungkap dari pernyataan bahwa implementasi pembelajaran per- mainan dalam penjas di persekolahan terdapat dua model pendekatan yakni (1) pendekatan teknis, dan (2) pendekatan taktis (Grifin L. L., Mitchel, Stephen A., & Oslin, 1997). Pendekatan taktis tergolong suatu pendekatan al- ternatif dari pendekatan teknis yang diterapkan akhir- akhir ini oleh para guru penjas. Hal ini mengingat bah- wa kesadaran siswa untuk memahami konsep per- mainan itu sendiri lebih dahulu harus dipahami. Pen- dekatan taktis juga menerapkan tahapan-tahapan dalam pembelajaran permainan, mengenai tahapan pendekatan taktis, (1). Anak dilibatkan dalam permainan sederhana, (2).Penguasaan teknik dasar didasarkan kebutuhan, (3) Anak dilibatkan dalam permainan sebenarnya dan (4) Memecahkan masalah taktik dalam permainan (Grifin http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16252 16 L. L., Mitchel, Stephen A., & Oslin, 1997). Lebih lanjut penjelasan dalam pendekatan taktis menganaut starategi “Games–drill–games” dan “Pertanyaan-pertanyaan penting” (Grifin L. L., Mitchel, Stephen A., & Oslin, 1997). Keterkaitan langkah-langkah dengan strategi dalam pendekatan taktis dapat dijabarkan bahwa pada tahap pertama (games) anak disuguhkan bentuk per- mainan yang sederhana. Dari uraian tersebut di atas, pertanyaan-pertanyaan penting diberikan manakala ada hambatan bermain yang disebabkan karena kurang terkuasainya teknik didalam permainan dan juga untuk mendeteksi pema- haman siswa didalam mengikuti permainan. Setelah mengetahui tahapan dan strategi penerapan pendekatan taktis, selanjutnya bagaimana penerapannya pada anak usia sekolah menengah pertama (SMP). Hal ini dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan siswa dan jenis olahraga apa yang diminatinya. Sepakbola merupakan salah satu jenis olahraga yang didalamnya mengandung unsur bermain, bermain sesungguhnya merupakan kebutuhan manusia pada umumnya, tidak membedakan apakah itu untuk anank- anak, remaja ataupun orang tua (Lutan, 2001). Dari pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dari sisi minat ada kesamaan dan perbedaannya, selanjutnya bagaimana jika sepakbola diajarkan pada siswa SMP baik putera maupun puteri dengan menggunakan pen- dekatan taktis, serta bagaimana pengaruhnya terhadap kesenangan dalam mengikuti aktivitas bermain sepak- bola. Usia anak di SMP berkisar pada usia antara 13 sampai 15 tahun, pada usia tersebut tergolong usia remaja. Usia remaja merupakan masa perubahan dari masa anak-anak ke dewasa. Hal ini sesuai dengan pen- dapat bahwa masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa yakni antara usia 12 sampai 21 tahun (Gunarsah, 1989). Dari uraian para ahli tersebut, jelas bahwa usia 13 sampai 15 tahun adalah usia masa remaja. Pada usia peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja ditandai dengan adanya pe- rubahan-perubahan, baik secara fisik maupun psikis. Pada masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak, karena pada masa ini terjadi masa peralihan dari masa kanak-kanak, energinya lebih banyak dilibat- kan dalam aktivitas fisik (Hurlock, 1994). Masa remaja itu disebut juga masa pubertas, karena pada masa itu mengalami perubahan-perubahan yang cukup pesat da- lam berbagai kematangan, usia pada masa ini berkisar antara 12 – 18 tahun (Tanner dalam Good & Brophy, 1990). Menyimak dari pendapat dari beberapa ahli dari perkembangan masa remaja dapat disimpulkan bahwa perkembangan yang menonjol pada masa remaja cenderung pada perubahan besar dalam sikap dan pola perilaku dan juga memiliki energi besar yang dilibat- kan untuk aktivitas fisik. Untuk itu guru Penjas mengambil kesempatan yang baik untuk menyalurkan minat dan bakatnya kepada aktivitas-aktivitas fisik yang mengandung nilai-nilai pendidikan, baik dalam kegiatan intra kurikuler, kokurikuler, maupun ekstra kurikuler di sekolahnya. Sejalan dengan yang dikemukakan pilosof besar bahwa olahraga bagi remaja merupakan aktivitas yang dapat memberikan pengala- man yang positif bagi kehidupannya. Karena melalui olahraga, remaja diarahkan kepada sikap sportif dan belajar berjiwa pemimpin (Rocco, 2002). Begitupun terdapat pernyataan bahwa melalui olahraga akan mem- berikan peluang kepada remaja untuk mencoba mengangkat dirinya sebagai individu yang memiliki harga diri yang membanggakan (Hurlock, 1994). Ber- dasarkan dari penjelasan para ahli tersebut di atas, bah- wa olahraga bagi remaja dapat memberikan pengala- man yang positif bagi kehidupannya disamping untuk meningkatkan citra diri. Minat anak remaja terhadap cabang olahraga baik putera maupun putri, cabor sepakbola dapat dijadikan media untuk mengembangkan nilai-nilai pendidikan, hal ini mengingat bahwa olahraga sepakbola digemari baik anak-anak maupun orang tua, baik putera maupun puteri. Untuk itu perlu dikaji secara mendalam sejauh mana perbedaan tersebut akan mempengaruhi hasil pembelajaran Penjas khususnya permainan sepakbola. Hal ini untuk menolong anak dalam menerapkan khusnya pendekatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Sebetulnya banyak perbedaan pertumbuhan dan perkembangan yang akan mempengaruhi anak ter- hadap aktivitas pendidikan jasmani, namun dalam kai- tan dengan kajian ini akan dibatasi di wilayah afektif, yaitu kesenangan dalam mengikuti aktivitas pendidikan jasmani. Sejauh ini belum banyak studi tentang pendeka- tan pembelajaran Penjas yang berdampak pada kese- nangan yang akan membangkitkan motivasi instrinsik siswa dalam mengikuti aktivitas pembelajaran Penjas http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Sucipto dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16252 17 khususnya sepakbola. Peneliti dalam penelitian ini ingin terfokus pada pengembangan wilayah afektif yai- tu kesenangan, juga bagaimana pengaruhnya terhadap siswa putera dan putri, sedangkan aspek penting lainnya perlu dikaji lebih lanjut. Untuk itu penulis mencoba untuk mengangkat tema sentral dalam penelitian ini yaitu analisis penerapan pendekatan taktis dalam kese- nangan bermain sepakbola siswa SMP. METODE Jenis Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan design Posttest Control Group Design (Ali, 2011). Penggunaan metode eksperimen dalam penelitian ini diasumsikan karena tujuan utama dalam penelitian ini adalah ingin menguji pengaruh pendekatan taktis terhadap kesenangan dalam pembelajaran permainan sepakbola. Partisipan Partisipan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP kelas tujuh yang ada dilingkungan kota Bandung dengan teknik cluster random sampling yang mengacu pada dua pemilihan teknik sampling yaitu random selection dan random assignment (Ali, 2011). Secara implisit subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SMP di salah satu SMP di Kota Bandung. SMP yang dipilih tersebut terdapat beberapa guru yang terlibat langsung dengan penelitian yang sedang dilakukan. Teknik Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kesenangan. Instrumen mengadaptasi dari Kendzierski & DeCarlo (1991) Physical A ctivity En- joyment Scala (PACES) terdiri dari 18 item (Teques dkk, 2017). Instrumen tersebut diuji coba kembali dengan menggunakan teknik validasi isi yang dinilai oleh para pakar. Analisis validitas menggunakan con- tent validity rasio (CVR) dari lawshe. Hasil analisis diperoleh nilai rasio antara 0.71 sampai dengan 1.00 (Sucipto, 2018). Tes ini berupa kuesioner yang berisi- kan soal-soal tentang kesenangan dalam aktivitas fisik pembelajaran bermain sepakbola. Analisis Data Semua data dianalisis menggunakan teknik ana- lisis statistik yaitu statistik deskriptif (Mean, Standar Deviasi dan Prosentase) serta statistik inferensial (Uji Independent Sample T Test). HASIL Statistik Deskriptif Statistik deskriptif merupakan gambaran awal hasil analisis data yang disajikan dalam penelitian ini, parameter statistik yang disajikan dalam gambaran awal berupa Mean (rerata pada tiap kelompok) dan Standar Deviasi dari masing-masing kelompok. Berikut hasil analisis statistik deskriptif disajikan dalam tabel 1. Berdasarkan hasil statistik deskriptif yang disajikan dalam tabel diatas diperoleh nilai rerata antara 62,47 sampai dengan 73,30, dan simpangan baku 4,93 sampai dengan 9,22. Nilai rerata kelompok taktis sebe- sar 73, 30 dengan simpangan baku sebesar 4,93. Se- dangkan pada kelompok teknis diperoleh rerata sebesar 62,47 dan simpangan baku sebesar 9,22. Untuk lebih jelas gambaran umum perbandingan rerata antara ke- lompok taktis dan teknis disajikan dalam gambar 1. http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Sucipto dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16252 Tabel 1. Hasil Deskriptif Statistik Group N Mean SD SEM Taktis 23 73.3 4.93 1.03 Enjoyment Teknis 23 62.4 9.22 1.92 Gambar 1. Gambar Plot Pebandingan Rerata Kelompok Taktis dan Teknis 18 Uji Asumsi Berdasarkan hasil uji normalitas pada tabel 2 pada kolom kolmogrov smirnov diperoleh nilai signifikansi 0,20 untuk kelompok taktis dan 0,20 untuk kelompok teknis, hasil tersebut menunjukan bahwa nilai yang di- peroleh pada kelompok taktis dan teknis berada diatas nilai alpha 0,05 (0,200 > 0,05). Oleh sebab itu, ber- dasarkan kaidah pengujian normalitas data yang dihasilkan pada kelompok taktis dan teknis berdistris- busi normal. Sedangkan pada tabel 3 hasil uji homogenitas menunjukan based on mean dengan perolehan nilai sig- nifikansi sebesar 0,008, sesuai dengan kaidah pengujian homogentitas nilai yang kurang dari alpha 0,005 dinya- takan bahwa data tersebut tidak homogen. Oleh sebab itu, berdasarkan signifikansi yang diperoleh dalam table based on mean sebesar 0,008 maka dapat diasumsikan bahwa data berasal dari varian yang tidak homogen. Uji Perbandingan Dua Rata-Rata Uji hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini ada- lah pengujian perbandingan dua rata-rata antara ke- lompok taktis dan teknis terhadap kesenangan dalam bermain sepakbola, oleh sebab itu, uji independent sam- pel t-test dilakukan untuk menguji perbandingan antar kelompok tersebut. Hasil analisis Independent Sampel t-Test pada tabel 4 menunjukan bahwa pada kolom equal variances not assumed, hasil analisis diperoleh nilai t sebesar 4,9 dan signifikan pada 0,00 (0,00<0,05) dengan mean dif- ference sebesar 10,82. Hal tersebut menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok taktis dan teknis dalam kesenangan bermaian sepakbola siswa, dilihat dari mean difference diperoleh selisih sebesar 10,82, artinya bahwa kelompok taktis terbukti berpengaruh lebih tinggi dan signifikan dari pada ke- lompok teknis terhadap kesenangan siswa dalam pem- belajaran sepak bola. Dengan kata lain pendekatan tak- tis memberikan pengaruh terhadap kesenangan siswa dalam pembalajaran sepak bola. PEMBAHASAN Tujuan Penelitian ini adalah untuk menguji perbe- daan yang signifikan antara kelompok taktis dan teknis terhadap kesenangan bermaian sepakbola siswa, dilihat dari mean difference diperoleh selisih sebesar 10,8, artinya bahwa kelompok taktis terbukti berpengaruh lebih tinggi dan signifikan dari pada kelompok teknis terhadap kesenangan siswa dalam pembelajaran sepak bola. Dengan kata lain pendekatan tatis memberikan pengaruh terhadap kesenangan siswa dalam pembalaja- ran sepak bola. Adanya perbedaan yang signifikan anta- ra kelompok pendekatan taktis dan teknis dalam pengembangan tingkat kesenangan siswa mendukung pendapat bahwa implementasi pembelajaran permainan dalam penjas di persekolahan terdapat dua model pen- dekatan yakni (1) pendekatan taktik, dan (2) pendekatan teknik (Grifin L. L., Mitchel, Stephen A., and Oslin, http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Sucipto dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16252 Tabel 2. Test of Normality Variable Group Kolmogorov-Smirnov a Statistic df Sig. Enjoyment Taktis .126 23 .200 Teknis .134 23 .200 Tabel 3. Test of Homogenity of Variance Levene Statistic df1 df2 Sig. Enjoyment Based on Mean 7.67 1 44 .008 Based on Median 6.58 1 44 .014 Based on Median and with adjusted df 6.58 1 35 .015 Based on trimmed 7.71 1 44 .008 Levene's Test for Equality of Vari- ances t-test for Equality of Means F Sig. t df Sig. Enjoy- ment Equal variances assumed 7.6 .01 4.9 44 .00 Equal variances not as- sumed 4.9 33.6 .00 Tabel 4. Hasil Uji Independent Samples Tes 19 1997). Kedua pendekatan ini sama-sama bermuara kepada permainan. Perbedaan dari kedua pendekatan tersebut terletak pada tahapan pembelajarannya Pendekatan teknis mendahulukan keterampilan untuk menuju kepada suatu permainan. Pendekatan pembelajaran keterampilan yang lebih menekankan kepada penguasaan teknik dasar terlebih dahulu sebe- lum kepada teknik pola-pola bermain (Grifin L. L., Mitchel, Stephen A., & Oslin, 1997). Sedangkan pen- dekatan taktis lebih menekankan kepada pemahaman konsep bermain sebelum kepada permainan yang sebenarnya, adapun teknik diajarkan berdasarkan kebu- tuhan dalam permainan. Selain itu, terbuktinya model pendekatan taktis lebih signifikan pengaruhnya dari pada pendekatan tak- nis mendukung pendapat bahwa pendekatan taktis merupakan suatu model pembelajaran permainan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang konsep bermain melalui penerapan teknik yang tepat sesuai dengan masalah atau situasi dalam permainan (Grifin L. L., Mitchel, Stephen A., & Oslin, 1997). Da- lam kaitanya dengan kesenangan dalam mengikuti pem- belajaran permainan sepakbola, Grifin L. L., Mitchel, Stephen A., & Oslin (1997) menjelaskan manfaat penggunaan pendekatan taktis sebagai berikut; Men- guasai kemampuan bermain melalui keterkaitan antara taktis dengan perkembangan permainan; Memberikan kesenangan melalui berbagai aktivitas; Mampu memec- ahkan masalah dan membuat keputusan secara cepat dan tepat dalam bermain; Meningkatkan kesadaran tak- tis siswa tentang konsep bermain melalui penerapan teknik yang tepat sesuai dengan masalah atau situasi dalam permainan sesungguhnya. Pembelajaran permainan melalui pendekatan tak- tik akan memperoleh kegembiraan, kegairahan dan mo- tivasi (Grifin, Mitchel, & Oslin, 2006). Dalam perspek- tif pengajaran, pendekatan taktis memiliki dua asumsi pokok yaitu (1) dilakukan untuk meningkatkan minat dan kegembiraan yang lebih besar bagi siswa, (2) meningkatkan pengetahuan taktis dan kemahiran ber- main untuk semua siswa (Gubacs-Collins, 2007). Pen- dekatan teknik cenderung kepada pendekatan tradision- al dalam mengajarkan permainan, yang dalam ken- yataannya tidak merangsang minat siswa untuk belajar, bahkan tidak meningkatkan kemampuannya dalam ber- main (Grifin L. L., Mitchel, Stephen A., and Oslin, 1997). Salah satu misi pendidikan jasmani (PE) adalah promosi partisipasi kegiatan fisik yang menyenangkan (Prochaska et al., 2003). Dari uraian tersebut oleh para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan taktis lah yang akan memberikan kesenangan atau kegembiraan, dan kegairahan dalam melakukan aktivitas pembelajaran permainan, sedangkan pendekatan teknis tidak merang- sang minat siswa untuk belajar, bahkan tidak mening- katkan kemampuannya dalam bermain. Hasil analisis tersebut menguatkan teori dan hasil-hasil penelitian sebelumnya, penelitian terdahulu mengenai pengaruh penerapan Teaching Games for Understanding (TGFU) terhadap pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah, diantaranya David Hortigüela Alcalá dan Alejandra Hernando Garijo (2017) melakukan penelitian penera- pan model Teaching Games for Understanding (TGFU) terhadap motivasi siswa, penelitian tersebut menggunakan sampel sebanyak 237 orang siswa SMP di Burgos, Spain ( 58,3% laki-laki dan 41,7% per- empuan) dengan rata-rata usia mereka 13 tahun. Sam- pel dibagi menjadi dua grup dengan grup eksperiment dan control. Grup eksperimen (grup A) sebanyak 128 orang dengan menggunakan metode TGFU yang sebe- lumnya belum pernah diberikan metode TGFU itu, dan kelompok kontorl berjumlah 109 orang dengan diberi- kan metode pendekatan tradisional. Sampel dipilih dengan metode convenience. Hasilnya dari Penelitian ini sebagai berikut Kelompok eksperiment mengalami peningkatan dari segi motivasi dan persepsi siswa dilihat dari hasi pre test dan post test sedangkan ke- lompok control justru mengalami penurunan. Pening- katan terbesar dalam hal ini yaitu setelah diberikan metode pembelajaran TGfU, motivasi siswa untuk mengikuti aktifitas fisik meningkat. Selanjutnya penelitian mengenai hubungan antara TGFU dengan kesenangan, keyakinan diri, dan ingin berpartisipasi dalam kegiatan aktifitas fisik di sekolah menengah (Robertson, 2016). Sampel yang dipilih da- lam penelitian ini adalah siswa kelas 9 dengan dibagi kedalam 4 kelompok ( 2 kelompok putri, dan 2 ke- lompok putra dengan jumlah keseluruhannya 71 siswa. Instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan questioner. Demographics Questionnaire (DQ) digunakan untuk mengukur Intenstion enrollment, The Physical Activity Enjoyment Scale (PACES), yang dikembangkan Kendzierski and DeCarlo (1991) untuk mengukur enjoyment dan The Motivated Strategies for http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Sucipto dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16252 20 Learning Questionnaire (MSLQ) yang dikembangkan di USA tahun 1986 oleh Pintrich, Smith, Garcia, & McKeachie. Hasil dari ketiga variable terikat bahwa didapatkan bahwa sudah nampak pendekatan taktis berdampak terhadap perkembangan kesenangan. Begitu juga perbedaan hasil antara siswa putera dan puteri. Untuk itu perlu dikaji secara mendalam sejauh mana perbedaan tersebut akan mempengaruhi hasil pembela- jaran pendidikan jasmani khususnya permainan sepak- bola. Sebetulnya banyak perbedaan pertumbuhan dan perkembangan yang akan mempengaruhi anak terhadap aktivitas pendidikan jasmani, damun dalam kaitan dengan kajian ini akan dibatasi menjadi tiga domain, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Hasil ini sejalan dengan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan oleh Osman, A. (2017); Nathan, S. (2017). KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis yang disajikan pada pembahasan sebalumnya, penelitian ini dapat disimpul- kan bahwa terdapat perbedaan antara kelompok taktis dan kelompok teknis dalam kaitannya dengan pengem- bangan tingkat kesenangan siswa, pendekatan taktis memberikan pengaruh yang lebih tinggi dari pada pen- dekatan teknis. Hal tersebut berarti penerapan pendeka- tan taktis dalam pengembangan kesenangan bermain sepakbola terbukti efektif dan signifikan. DAFTAR PUSTAKA Ali, M. (2011). Memahami Riset dan Prilaku dan So- sial. Bandung : Pustaka Cendikia Utama, Brown, L., & Grineski, S. (1992). Competition in Phys- ical Education: An Educational Contradiction? Jour- nal of Physical Education, Recreation & Dance, 63 (1), 17–77. https:// doi.org/10.1080/07303084.1992.10604080. Good, T. L., & Brophy, J. E. (1990). Educational Psy- chology: Realistic Approach (fourth). Newyork: Longman. Grifin, L. L., Mitchel, S. A., & Oslin, J. L. (1997). Teaching Sport Concepts and Skills: A Tactical Games Approach (p. 8). USA: Human Kinetics Pub- lishers, Inc. Grifin, L. L., Mitchel, S. A., & Oslin, J. L. (2006). Teaching sport concepts and skills: A tactical games approach. Champaign IL: Human Kinetics. Gubacs-Collins, K. (2007). Implementing a tactical ap- proach through action research. Physical Education & Sport Pedagogy, 12(2), 105–126. https:// doi.org/10.1080/17408980701281987. Gunarsah, S. D. (1989). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hurlock, E. B. (1994). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga. Kendzierski, D., & DeCarlo, K. J. (1991). Physical Ac- tivity Enjoyment Scale: Two validation studies. Journal of Sport & Exercise Psychology1, 13(1), 50– 64. Lutan, R. (2001). Asas-Asas Pendidikan Jasmani Pen- dekatan Pendidikan Gerak di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas : Dirjen Dikdasmen bekerja sama dengan Dirjen Olahraga. Nathan, S. (2017). The Effect of Teaching Games of Understanding as a Coaching Instruction had on Ad- just, Cover and Heart Rate among Malaysian and Indian Junior Hockey Players. Sports, 5(2), 44. https://doi.org/10.3390/sports5020044 Osman, A. (2017). Effects of Teaching Games for Un- derstanding on Tactical Awareness and Decision Making in Soccer for College Students, XVII(2), 170–176. Prochaska, J. J., Sallis, J. F., Slymen, D. J., & McKen- zie, T. L. (2003). A longitudinal study of children’s enjoyment of physical education. Pediatric …, 15, 170. https://doi.org/10.1123/pes.15.2.170. Prochaska, J. J., Sallis, J. F., Slymen, D. J., & McKen- zie, T. L. (2003). A longitudinal study of children’s enjoyment of physical education. Pediatric …, 15, 170.https://doi.org/10.1123/pes.15.2.170. Robertson, S. (2016). Investigating the Relationship between Teaching Games for Understanding and High School Physical Education Student s’ Enjoy- ment, Self-Efficacy, and Intentions to Enroll, (July). Rocco, D. (2002). Adolescence: Change and Continuity Sports. Sucipto, B. Tarigan, A. Mamun, Y. Yudiana. (2018). Content Validity of the Enjoyment Instrument in Physical Education Learning: Field Research. Ab- stract Prosiding International Conference Sport Scince Healty and Physical Education3 (ICSSHPE3). Teques, P., Calmeiro, L., Silva, C., & Borrego, C. (2017). Validation and adaptation of the physical activity enjoyment scale (PACES) in fitness group exercisers. Journal of Sport and Health Science, (October). https://doi.org/10.1016/ j.jshs.2017.09.010. http://ejournal.upi.edu/index.php/penjas/index Sucipto dkk./ Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga 4 (1) (2019) DOI : 10.17509/jpjo.v4i1.16252