Pedoman Untuk Penulis P-ISSN 2527-5615 E-ISSN 2527-5607 KALAMATIKA Jurnal Pendidikan Matematika Volume 2, No. 2, November 2017, hal. 117-130 117 MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN E- LEARNING TERHADAP KEMANDIRIAN BELAJAR MAHASISWA PADA DIMENSI TIGA Jusep Saputra Universitas Pasundan jusepsaputrapmat@unpas.ac.id ABSTRAK Kemandirian belajar peserta didik bisa dicapai jika dalam proses pembelajaran matematika memberi kesempatan terbuka bagi mahasiswa untuk belajar secara mandiri. Penelitian ini merupakan metode campuran (Mixed Method) tipe Embedded Desain, yang bertujuan untuk melakukan studi yang berfokus pada penggunaan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan e-learning terhadap kemandirian belajar mahasiswa. Pemilihan sampel dilakukan dari populasinya secara purposif (purposive sampling), kemudian diambil 2 kelas yang mengontrak mata kuliah matematika sekolah III. Kelas A berjumlah 50 orang yaitu 24 orang kelompok unggul dan 26 orang kelompok asor, diberikan perlakuan dengan model PBL berbantuan e-learning dan kelas B berjumlah 50 orang, 27 orang kelompok unggul dan 23 orang kelompok asor, dengan pembelajaran ekspositori. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket kemandirian belajar dengan skala likert. Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa Kemandirian belajar mahasiswa unggul dan asor yang memperoleh model PBL berbantuan e- learning lebih baik daripada kemandirian belajar mahasiswa unggul dan asor yang memperoleh pembelajaran ekspositori. Kata kunci: Problem Based Learning (PBL), E-learning, Kemandirian Belajar Mahasiswa. ABSTRACT Self-regulated learning of learners can be achieved, if in the process of learning mathematics provides an open opportunity for students to learn independently. This research is a mixed method type embedded design, which aims to do studies focused on the use of the Problem Based Learning (PBL) model assisted e-learning to student self-regulated learning. Sample selection is done on the purposive sampling and was taken 2 class contracting courses of school math III. Class A numbered 50 members, 24 the superior group and 26 the low group, given the treatment with PBL models assisted e-learning and class B numbered 50, 27 the superior group and 23 the low group, with expository. Instruments used in this research is self-regulated learning questionnaire with Likert scale. Based on data analysis we concluded that (1) Self-regulated learning of superior and low student who obtains aided PBL models assisted e-learning is better than self-regulated learning of superior and low superior students who obtain expository. Keywords: Problem Based Learning, E-learning, Self-Regulated learning. Format Sitasi: Saputra, J. (2017). Penggunaan Model Problem Based Learning Berbantuan E- Learning Terhadap Kemandirian Belajar Mahasiswa pada Dimensi Tiga. KALAMATIKA Jurnal Pendidikan Matematika, 2(2), 117-130. Penyerahan Naskah: 14 Maret 2017 || Revisi: 3 September 2017 || Diterima: 4 September 2017 Saputra 118 PENDAHULUAN Model Problem Based Learning (PBL) berlandaskan pada psikologi untuk kognitif, sehingga fokus pada pengajaran bukan yang sedang dilakukan mahasiswa, melainkan apa yang sedang mereka pikirkan dalam melakukan kegiatan itu. Dewey (Ibrahim 2000) menganjurkan dosen untuk mendorong mahasiswa terlibat dalam proyek atau tugas yang berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalahnya. Pemanfaatan e-learning, selain sebagai upaya mengatasi permasalahan teknis pembelajaran (media pembelajaran), juga sebagai upaya menjawab masalah substansial pembelajaran (sumber ajar). Dalam proses pembelajarannya, dimungkinkan adanya pengembangan diri mahasiswa untuk bisa belajar mandiri tanpa adanya batasan jarak dan waktu sehingga bisa menumbuhkan kemandirian setelah belajar berkali-kali melalui e-learning, baik kompetensi kognitif maupun afektif dan tumbuhnya kreativitas para stakeholder pendidikan (Yaniawati 2010). Self-Regulated Learning (SRL) atau dikenal dengan kemandirian belajar, mencakup kemampuan seseorang memilih strategi kognitif, belajar teknik pembelajaran dan belajar sepanjang masa sehingga dapat mengatur dirinya dalam belajar. Hargis (Sumarmo 2011) mendefinisikan kemandirian belajar adalah proses perancangan dan pemantauan diri yang seksama terhadap proses kognitif dan afektif dalam menyelesaikan suatu tugas akademik. Temuan dari Darr dan Fisher, dan Pintrich dan Groot (Izzati 2012), menunjukkan bahwa kemandirian belajar berkorelasi kuat dengan kesuksesan seorang peserta didik. Kemandirian belajar merupakan salah satu faktor yang meningkatkan prestasi akademik peserta didik. Wang et al. (Abdullah dan Iannone 2010) menunjukkan bahwa yang terlibat pada prestasi tinggi siswa adalah aktivitas kemandirian belajarnya, seperti penentuan tujuan, perencanaan, pemantauan, penyesuaian kembali strategi yang digunakan, evaluasi dan refleksi. Selain itu, hasil penelitian menurut Fitrah (2017), PBL memberikan hasil yang sangat positif untuk peningkatan pemahaman konsep matematika. Knain & Turmo (Gumiarti 2014) mendefinisikan kemandirian belajar sebagai suatu proses dinamis, yaitu siswa membangun pengetahuan, keterampilan, dan sikap pada saat mempelajari konteks yang spesifik. Menurut Schunk dan Zimmerman (Supianti 2013), terdapat tiga tahap siklus kemandirian belajar yaitu perencanaan belajar seseorang, monitoring kemajuan saat menerapkan rencana, dan mengevaluasi hasil. 119 KALAMATIKA, Volume 2, No. 2, November 2017, hal. 117-130 Gambar 1. Siklus Kemandirian Belajar Kemandirian belajar mahasiswa dalam matematika memuat 9 komponen kemandirian belajar yaitu: 1) Inisiatif dan motivasi belajar intrinsik, 2) Kebiasaan mendiagnosa kebutuhan belajar, 3) Menetapkan tujuan atau target belajar, 4) Memonitor, mengatur, dan mengontrol belajar, 5) Memandang kesulitan sebagai tantangan, 6) Memanfaatkan dan mencari sumber yang relevan, 7) Memilih, menerapkan strategi belajar, 8) Mengevaluasi proses dan hasil belajar, 9) Self efficacy atau konsep diri atau kemampuan diri, Sumarmo (2011). Hasil Penelitian yang dilakukan Shen, Lee, dan Tsai (2007) yang diambil dari jurnal berjudul Applying Web-Enabled Problem-Based Learning and Self-Regulated Learning to Enhance Computing Skills of Taiwan’s Vocational Students: a Quasi- Experimental Study of a Short-Term Module. Dalam penelitiannya metode PBL dan SRL merupakan pembelajaran yang bisa memberikan kontribusi lebih lanjut untuk siswa melalui internet (online learning/ e-learning). Hasil penelitian lainnya dari Saputra (2015) mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa unggul dan asor yang memperoleh model PBL berbantuan e-learning lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa unggul dan asor yang memperoleh pembelajaran ekspositori. Oleh karena itu, model PBL berbantuan e-learning merupakan model baik yang perlu diberikan untuk megukur afektifnya yaitu kemandirian belajar mahasiswa. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, penulis tertarik untuk mengetahui sejauh mana penggunaan model PBL berbantuan e-learning dalam proses perkuliahan khususnya terhadap kemandirian belajar belajar mahasiswa berdasarkan kemampuan awal matematika (KAM). Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis kemandirian belajar mahasiswa yang memperoleh model PBL berbantuan e-learning dengan kemandirian belajar mahasiswa Perencanaan Evaluasi Monitoring Saputra 120 yang memperoleh pembelajaran ekspositori dari kategori KAM mahasiswa (unggul dan asor). Pada dasarnya model PBL berbantuan e-learning diasumsikan berdampak terhadap kemandirian belajar mahasiswa berdasarkan KAM. KAM disini sebagai controling pada saat diberikan nontes kemandirian belajar. Kaitan antara komponen pembelajaran tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Gambar 2. Bagan Alur Kerangka Pemikiran Keterangan: Variabel bebas : Model PBL berbantuan e-learning. Variabel terikat : Kemandirian belajar mahasiswa. Variabel kontrol : Kemampuan Awal Matematika (KAM). METODE Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini merupakan Metode Campuran (Mixed Method) tipe Embedded Desain dengan jenis Embedded experimental model. Berikut adalah desain Embedded desain menurut Creswell dan Clark (2007): Gambar 3. Prosedur Penelitian Embedded Experimental Model Pada kelas eksperimen diberikan bahan ajar e-learning yang dapat mereka lihat pada website address http://jsp-elearning.com/moodle28/. Desain bahan ajar e-learning memiliki beberapa komponen pembelajaran yang terangkum pada Tabel 1 berikut: Program maple Kemandirian belajar Tes KAM • Quantitative (or Qualitative) Design • Quantitative (or Qualitative) Data Collection and Analysis Qualitative (or Quantitative) Data Collection and Analysis (before, during, or after Interpretation http://jsp-elearning.com/moodle28 121 KALAMATIKA, Volume 2, No. 2, November 2017, hal. 117-130 Tabel 1. Desain Bahan Ajar E-learning Komponen Pembelajaran Fasilitas e-learning Materi bahan ajar Berupa: - Teks - Gambar - Menu pilihan untuk memilih materi mana yang akan dipelajari - Flash Macromedia Metode pembelajaran Menggunakan fasilitas: - Forum diskusi - Email Lembar kerja mahasiswa Dikirim melalui fasilitas: - Menu - Email Rangkaian kegiatan penelitian ini secara beruntun dibagi menjadi tiga tahap yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap pengolahana data, tahap analisis data dan penulisan laporan. Gambaran umum dari prosedur penelitian ini dilihat dari Gambar 4. Adapun fishbone dalam penelitian ini dibuat sebagai berikut: Gambar 5. Fishbone Research Diagram Gambar 4. Prosedur Penelitian Pengisian skala sikap kemandirian belajar Seminar Proposal & Revisi Studi Pendahuluan Penyusunan Proposal Penyusunan Instrumen dan Bahan Ajar Kelas Kontrol : Pembelajaran Ekspositori Revisi Instrumen Uji Instrumen Kelas Eksperimen : Model PBL berbantuan e-learning Pengumpulan Data Penarikan Kesimpulan Analisis Data Pengolahan Data Pengisian skala sikap kemandirian belajar Tes KAM K e m a n d iria n B e la ja r Model PBL berbantuan e- learning Pelatihan PBL berbantuan e-learning Panduan Pelatihan e-learning Proses PBL berbantuan e-learning Implementasi PBL berbantuan e-learning Mengukur kemandirian belajar Membuat draft Validasi ahli Uji coba terbatas Membuat draft Validasi ahli Uji coba terbatas Sosilaisasi model pembelajaran Calon guru uji coba model pembelajaran Menggunakan panduan bahan ajar Pembelajaran interaktif e-learning Quiz online Tugas online Pembelajaran face to face Presentasi Angket Pemberian tugas dengan e-learning Pembelajaran e-learning Tugas online Saputra 122 HASIL DAN PEMBAHASAN Ketika dilakukan uji normalitas, data angket tidak normal sehingga langkah selanjutnya yang dilakukan adalah menganalisis perbedaan rerata kedua kelas menggunakan statistika non parametrik dengan uji mann-whitney. Tabel 2. Hasil Uji Mann-Whitney Data Kemandirian Belajar Mahasiswa Test Statisticsa nilai kemandirian Mann-Whitney U 1001.000 Wilcoxon W 2276.000 Z -1.719 Asymp. Sig. (2-tailed) .086 a. Grouping Variable: kelas Dari Tabel 2 terlihat bahwa nilai sig (2-tailed) adalah 0,086, sehingga nilai 0,043 < 0,05, maka Ho ditolak, maka Ho ditolak, sehingga H1 diterima. Artinya rerata data kemandirian belajar mahasiswa kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada α = 0,05, kemandirian belajar mahasiswa yang memperoleh model PBL berbantuan e-learning lebih baik daripada kemandirian belajar mahasiswa yang memperoleh pembelajaran ekspositori. Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata dua kelompok data siswa (unggul dan asor), dihitung dengan ANOVA dua jalur. Dengan menggunakan SPSS 17.0 yaitu General Linear Mode (GLM)-Univariate, hasil perhitungannya tersaji pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil Uji Anova Dua Jalur Data Kemandirian Belajar Mahasiswa Berdasarkan Kelompok Unggul-Asor dan Model Pembelajaran Multiple Comparisons nilai kemandirian Tukey HSD (I) KAM (J) KAM Mean Difference (I-J) Std. Error Sig. 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound Unggul eksperimen Asor eksperimen 12.11* 1.750 .000 7.53 16.68 Unggul kontrol 5.13* 1.734 .020 .60 9.67 Asor kontrol 14.92* 1.804 .000 10.20 19.64 Asor eksperimen Unggul eksperimen -12.11* 1.750 .000 -16.68 -7.53 Unggul kontrol -6.97* 1.699 .000 -11.41 -2.53 Asor kontrol 2.81 1.770 .390 -1.81 7.44 Unggul kontrol Unggul eksperimen -5.13* 1.734 .020 -9.67 -.60 Asor eksperimen 6.97* 1.699 .000 2.53 11.41 Asor kontrol 9.78* 1.754 .000 5.20 14.37 Asor kontrol Unggul eksperimen -14.92* 1.804 .000 -19.64 -10.20 Asor eksperimen -2.81 1.770 .390 -7.44 1.81 Unggul kontrol -9.78* 1.754 .000 -14.37 -5.20 Based on observed means. The error term is Mean Square(Error) = 38.223. *. The mean difference is significant at the .05 level. Baris pertama (Kelompok Unggul Eksperimen-Asor Eksperimen) 123 KALAMATIKA, Volume 2, No. 2, November 2017, hal. 117-130 Nilai sig = 0,000 kurang dari 0,05. Berarti Ho ditolak dan H1 diterima, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai kemandirian belajar mahasiswa kelas unggul eksperimen dan kelas asor eksperimen. Baris kedua (Kelompok Unggul Eksperimen-Unggul Kontrol) Nilai sig = 0,020 kurang dari 0,05. Berarti Ho ditolak dan H1 diterima, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai kemandirian belajar mahasiswa kelas unggul eksperimen dan kelas unggul kontrol. Baris ketiga (Kelompok Unggul Eksperimen-Asor Kontrol) Nilai sig = 0,000 kurang dari 0,05. Berarti Ho ditolak dan H1 diterima, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai kemandirian belajar mahasiswa kelas unggul eksperimen dan kelas asor kontrol. Baris kelima (Kelompok Asor Eksperimen-Unggul Kontrol) Nilai sig = 0,000 kurang dari 0,05. Berarti Ho ditolak dan H1 diterima, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai kemandirian belajar mahasiswa kelas asor eksperimen dan kelas unggul kontrol. Baris keenam (Kelompok Asor Eksperimen-Asor Kontrol) Nilai sig = 0,390 lebih dari 0,05. Berarti Ho diterima dan H1 ditolak, maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai kemandirian belajar mahasiswa kelas asor eksperimen dan kelas asor kontrol. Baris kesembilan (Kelompok Unggul Kontrol -Asor Kontrol) Nilai sig = 0,000 kurang dari 0,05. Berarti Ho ditolak dan H1 diterima, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai kemandirian belajar mahasiswa kelas unggul kontrol dan asor kontrol. Penelitian lainnya yang dilakukan Supianti (2013) yang berjudul “Implementasi E- Learning dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis dan Dampaknya terhadap Kemandirian Belajar Mahasiswa”. Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Matematika Universitas Pasundan, adapun sampelnya berjumlah 98 orang yaitu mahasiswa semester II kelas A sebagai kelas kontrol dan kelas B sebagai kelas eksperimen. Kesimpulan penelitiannya adalah terjadi peningkatan kemandirian belajar mahasiswa setelah mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan e-learning, peningkatannya berada pada kategori rendah dan sikap mahasiswa positif terhadap pembelajaran matematika menggunakan e-learning. Hasil penelitian tersebut sesuai Munir (2008) yang menyatakan bahwa dalam pembelajaran e-learning peserta didik tidak bergantung sepenuhnya kepada pengajar, Saputra 124 peserta didik belajar dengan mandiri dalam menggali ilmu pengetahuan melalui internet atau media teknologi informasi lainnya. Kemandirian belajar menurut Sumarmo (2011) merupakan proses perancangan dan pemantauan diri yang seksama terhadap proses kognitif dan afektif dalam menyelesaikan tugas akademik, kemandirian belajar juga merupakan kesadaran individu untuk berpikir, menggunakan strategi dan motivasi yang berkelanjutan, serta mengevaluasi hasil belajarnya. Ditinjau dari pengertian tersebut kemandirian belajar merupakan suatu proses yang memerlukan pembiasaan, kemauan yang kuat karena banyak didasari oleh faktor internal setiap individu, sehingga tidak mudah untuk dapat merubahnya. Berikut ini sampel jawaban permasalahan tiga dimensi yang dieroleh dari jawaban mahasiswa unggul dan asor dari kedua kelas. Gambar 6. Jawaban postes mahasiswa kelas unggul yang memperoleh model PBL berbantuan e-learning 125 KALAMATIKA, Volume 2, No. 2, November 2017, hal. 117-130 Gambar 6 memperlihatkan salah satu contoh jawaban postes mahasiswa kelas unggul dengan pembelajaran PBL berbantuan e-learning. Pada gambar tersebut, terlihat mahasiswa sudah memahami masalah yang dihadapinya dengan memodelkan isi soal cerita ke dalam bentuk gambar bangun ruang yaitu kubus dan membuat gambar secara frontal dari bangun ruang itu ke dalam bentuk bidang datar yaitu segitiga siku-siku agar terlihat jarak titik ke bidang dalam bangun ruang itu berupa jarak titik ke ruas garis ketika dibuat segitiga, mahasiswa bisa merencanakan strategi dengan merumuskan enam langkah yang harus dikerjakan sampai permasalahan itu dapat dicari solusinya, dan terakhir mahasiswa bisa menyelasaikan masalah dari rencana yang telah dia buat. Akan tetapi terdapat penemuan disini, karena mahasiswa tersebut entah disengaja maupun tidak, dia menuliskan rencana permasalahannya itu setelah menyelesaikan solusinya. Pada dasarnya mahasiswa yang mandiri mempunyai strategi pembelajara yang unik. Gambar 7. Jawaban postes mahasiswa kelas asor yang memperoleh model PBL berbantuan e-learning Gambar 7 memperlihatkan salah satu contoh jawaban postes mahasiswa kelas asor dengan pembelajaran PBL berbantuan e-learning. Pada gambar tersebut, mahasiswa sudah memahami masalah yang sedang dihadapi dengan menulisakan masalah yang diketahui dan ditanyakan, akan tetapi tidak menyusun perencanaan sehingga jawaban yang dibuatnya salah. Hal tersebut terlihat dari gambar frontal yang dia buat salah, dia mengambil segitiga Saputra 126 BCG, padahal terdapat beberapa langkah yang harus digambar sebelum mengambil gambar segitiga secara frontal yang benar. Hal tersebut menyebabkan jawaban yang dia kerjakan salah. Mahasiswa asor perkembangan kemandirian belajarnya lebih lambat dibandingkan mahasiswa unggul. Gambar 8. Jawaban postes mahasiswa kelas unggul yang memperoleh model pembelajaran ekspositori Gambar 8 memperlihatkan salah satu contoh jawaban postes mahasiswa kelas unggul dengan pembelajaran ekspositori. Pada gambar tersebut, terlihat mahasiswa sudah memahami masalah yang dihadapinya, merencanakan strategi, dan menyelesaikan masalah. Walaupun dia tidak mendapatkan pembelajaran PBL berbantuan e-learning, akan tetapi karena dia sudah mempunyai kemandirian belajar yang baik sehingga bisa menyelesaikan masalah tersebut. Namun tidak semua mahasiswa mempunyai kemandirian belajar yang baik yang sudah ditanamkan sejak kecil. Oleh karena itu, peneliti masih perlu 127 KALAMATIKA, Volume 2, No. 2, November 2017, hal. 117-130 meneliti lebih lanjut perbandingan mahasiswa yang kemandirian belajarnya baik dengan perlakuan dan mahasiswa yang sudah mandiri dari awal. Gambar 9. Jawaban postes mahasiswa kelas asor yang memperoleh model pembelajaran ekspositori Gambar 9 memperlihatkan salah satu contoh jawaban postes mahasiswa kelas asor dengan pembelajaran ekspositori. Pada gambar tersebut, terlihat mahasiswa bisa mengerjakan langkah pertama yaitu memahami masalah seperti jawaban mahasiswa kelas eksperimen, artinya mahasiswa tersebut sudah memahami masalah yang dihadapinya dengan memodelkan isi soal cerita ke dalam bentuk gambar bangun ruang. Mahasiswa tersebut melewati langkah kedua yaitu merencanakan strategi, akan tetapi mahasiswa tersebut bisa menyelesaikan masalah tanpa adanya perencanaan. Secara keseluruhan banyak mahasiswa kelas ini yang tidak merencanakan strategi sebelum menyelesaikan masalah, sehingga banyak mahasiswa yang memperoleh langkah yang keliru ketika memberikan jawabannya. Beberapa bahkan diantaranya ada yang belum memahami isi soal cerita, sehingga mereka tidak bisa memodelkan soal cerita ke dalam bangun ruang sesuai permasalahan yang dihadapinya. Mahasiswa yang kemandirian belajarnya kurang akan mempunyai strategi pembelajaran yang kurang baik dalam menyelesaikan masalah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengolahan data dan temuan yang diperoleh dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar mahasiswa unggul dan asor yang memperoleh model PBL berbantuan e-learning lebih baik daripada kemandirian belajar mahasiswa unggul dan asor yang memperoleh pembelajaran ekspositori. Saputra 128 REKOMENDASI Berdasarkan hasil temuan dan kesimpulan pada penelitian ini, maka diperoleh beberapa rekomendasi yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak yang berkepentingan terhadap penggunaan model PBL berbantuan e-learning pada mahasiswa pendidikan matematika di perguruan tinggi swasta untuk melakukan penelitian ini lebih lanjut. Penulis mengajukan beberapa saran yaitu model PBL berbantuan e-learning mengharuskan pendidik harus memiliki kemampuan penggunaan IT dalam membuat e- learning secara mandiri, karena diupayakan admin dari e-learning itu sendiri adalah pendidik yang bersangkutan. Oleh karena itu kendala yang dihadapi oleh pendidik dan peserta didik dalam penggunaan e-learning bisa langsung diatasi oleh pendidik yang sekaligus sebagai admin. Fasilitas komputer dan internet harus ada agar semua mahasiswa bisa merasakan penggunaan e-learning, pembelajaran dengan menggunakan model PBL berbantuan e-learning pendidik berfungsi sebagai fasilitator yang terkadang harus melayani perserta didik secara individual, jika penggunaan waktu yang kurang maka dapat dioptimalkan melalui tugas terstruktur agar tujuan pembelajaran dapat dicapai setiap pertemuannya. REFERENSI Abdullah, M.F.N.L. dan Iannone, P. (2010). Analysis of Classroom Interaction From The Combined View of Self-regulating Strategies and Discourse Analysis: What Can We Do?. Proceedings of The British Congress for Mathematics Education. 30(1). 1-8. Creswell, J.W. dan Clark, V.L.P. (2007). Designing and Conducting Mixed Methods Research. Thousand Oaks, CA: Sage Publications, Inc. Fitrah, M. (2017). Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika Pada Materi Segiempat Siswa SMP. KALAMATIKA Jurnal Pendidikan Matematika, 2(1), 51-70. Gumiarti. (2014). Penerapan Asesmen Kinerja untuk Mengukur Kemampuan Komunikasi Matematis dan Kemandirian Belajar Siswa di Sekolah Menengah Kejuruan. Unpublished Thesis. Bandung: UNPAS Ibrahim. (2000). Pembelajaran Berbasis Masalah. Surabaya: UNESA University Press. 129 KALAMATIKA, Volume 2, No. 2, November 2017, hal. 117-130 Izzati, N. (2012). Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis dan Kemandirian Belajar Peserta didik SMP melalui Pendekatan Pendidikan Matematika. Unpublished Dissertation. Bandung: UPI. Munir. (2008). Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta. Saputra, J. (2015). Penggunaan Model Problem Based Learning Berbantuan E-Learning Dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. Mahasiswa. SYMMETRY Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1), 501-510. Shen P. D., Lee T. H., and Tsai C. W. (2007). Applying Web-Enabled Problem-Based Learning and Self-Regulated Learning to Enhance Computing Skills of Taiwan’s Vocational Students: a Quasi-Experimental Study of a Short-Term Module. The Electronic Journal of e-Learning, 5(2), 147–156. Sumarmo, U. (2011). Kemandirian Belajar: Apa, Mengapa dan Bagaimana Dikembangkan pada Peserta Didik. Makalah FPMIPA UPI. Supianti, I. (2013). Implementasi E-Learning dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis dan Dampaknya Terhadap Kemandirian Belajar Mahasiswa. Unpublished Thesis. Bandung: UPI. Yaniawati, P. (2010). E-learning: Alternatif Pembelajaran Kontemporer. Bandung: Arfino Raya. Saputra 130