ORIENTASI DAN PENDEKATAN BELAJAR BERBAHASA INGGRIS 8 PENERJEMAHAN KOSA KATA BUDAYA INDONESIA DALAM RUBRIK LIFE LINES DI HARIAN THE JAKARTA POST Diana Hardiyanti2 Yesika Maya Ocktarani3 ABSTRACT This study attempts to figure out the existing and interesting relationship between translation and culture, how the Indonesian cultural words were translated and explained to the reader of the English newspaper. The aims of this study are to define the cultural words in Life Lines rubric from The Jakarta Post Newspaper, how they were explained to the target language reader using translation method, what strategies being used and whether the results in the target language are considered equivalent. This study uses a qualitative descriptive method. The data for this study are Indonesian cultural words found in article. The data were taken from the Life Lines rubric published from March until May 2014. The Rubric is about the social life of the society, sometimes it writes about society, culture and life. The data consists of Indonesian cultural words as the source language and their explanation in English as the target language. The finding shows that from 58 articles of the rubric published within 3 months, there are 76 cultural words found in the articles. From 76 data, 36 words are categorized into material culture, 13 words into social culture, 2 words into ecology, 25 words into organization etc. The translation strategies are loan words, loan words plus explanation, paraphrase, and illustration. The translation in the target language shows that 72 data are equivalent to the source language, 3 data are less equivalent, and 1 data is not equivalent to the source language. Keywords: cultural word, translation, translation strategies, equivalent. 1. Pendahuluan Informasi menjadi isu yang mengemuka di era globalisasi ini. Keberadaan informasi yang tepat dan akurat dibutuhkan oleh semua kalangan masyarakat. Salah satu dampak perkembangan informasi adalah pertumbuhan media informasi. Pertumbuhan media ini diapresiasi menjadi sarana untuk menyebarkan realita sosial yang terjadi di masyarakat, opini seseorang, motivasi serta informasi terkini di suatu wilayah. Contoh media informasi adalah media cetak seperti harian, tabloid, dan majalah dan media elektronik seperti radio, televisi, serta media online. Informasi menjadi bagian penting bagi seluruh elemen masyarakat. Sebagai salah satu negara berkembang, banyak warga negara asing yang tinggal di Indonesia. Keterbatasan bahasa menjadi kendala bagi para penutur asing ini untuk mendapatkan informasi tentang Indonesia dan sekitarnya. Hal ini menjadi 2 Penulis adalah staf pengajar di Program Studi S1 Sastra Inggris, Universitas Muhammadiyah Semarang. 3 Penulis adalah staf pengajar di Program Studi S1 Sastra Inggris, Universitas Muhammadiyah Semarang. 9 peluang bagi tumbuhnya media informasi terutama media cetak dengan pengantar berbahasa Inggris. Harian The Jakarta Post adalah salah satu harian berbahasa Inggris yang terbit di Indonesia. Sasaran khalayak pembacanya adalah penutur asing yang tinggal di Indonesia. Harian ini mengulas banyak hal seperti politik, ekonomi, sosial budaya serta isu terkini yang hangat dibicarakan di Indonesia. Life Lines adalah salah satu rubrik yang terdapat dalam harian The Jakarta Post. Rubrik ini banyak menulis tentang sosial budaya masyarakat Indonesia seperti batik dan wayang di Jawa atau tradisi melasti bagi masyarakat Bali. Yang menarik adalah, banyak kosa kata budaya Indonesia yang tidak mempunyai padan kata dalam bahasa Inggris karena konsep tersebut tidak ada dalam budaya pembacanya. Bagaimana penulis menjelaskan konsep budaya seperti dalang, pecalang atau bahkan jenis hantu seperti leak kepada penutur asing yang menjadi khalayak pembaca harian tersebut menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini merupakan penelitian penerjemahan, bagaimana kosa kata budaya Indonesia dijelaskan dalam bahasa Inggris. Kosa kata budaya Indonesia seperti kata dalang akan dianggap sebagai teks sumber (TSu) dan penjelasannya dalam bahasa Inggris akan dianggap sebagai teks sasaran (TSa). Teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teori kosa kata budaya atau cultural words yang dikemukakan oleh Newmark (1988: 95-102) dan strategi penerjemahan yang dikemukakan oleh Mona Baker (1992). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kosakata budaya Indonesia yang tidak memiliki padan kata dalam bahasa sasaran di rubrik Life Lines pada harian The Jakarta Post, mendeskripsikan strategi penerjemahan apa yang dipergunakan dalam menjelaskan kosakata tersebut, dan kemudian menentukan kesepadanan makna antara TSu dan TSa. 2. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Deskriptif karena penelitian ini bertujuan memberikan gambaran secara sistematis dan faktual berkaitan dengan data dan hubungannya dengan fenomena yang diteliti (Djajasudarma 1993: 9). Penelitian ini bersifat kualitatif karena data yang dikaji berupa data kualitatif, yang berwujud kata, frasa atau ungkapan yang berasal dari sumber data dokumen. Data yang dianalisis berupa kosakata budaya Indonesia pada rubrik Life Lines harian The Jakarta Pos sebagai TSu dan penjelasanya dalam bahasa Inggris sebagai TSa. Data diambil dari rubrik Life Lines, harian The Jakarta Post yang terbit selama 3 bulan berturut-turut (Maret- Mei 2014). Metode dan teknik analisis data difokuskan pada penerjemahan kosa kata budaya Indonesia dengan menggunakan metode kualitatif. Kosa kata budaya Indonesia dikategorikan dalam kategori budaya (Newmark, 1988: 95-102) sebagai berikut: (1) Ekologi (ecology); (2) Kebudayaan material (Artefacts); (3) Kebudayaan sosial (Social culture); (4) Organisasi (organization); (5) Gerak-gerik tubuh dan kebiasaan (gestures and habits). Selanjutnya untuk menentukan strategi penerjemahan yang digunakan oleh penulis dalam menjelaskan kosa kata budaya Indonesia digunakan teori yang dikemukakan oleh Baker (1992: 26). Setelah itu, analisis dilanjutkan untuk menentukan kesepadanan antara makna TSu dan TSa. 10 3. Hasil dan Pembahasan Hasil analisis dan pembahasan pada penelitian ini meliputi kategori kosakata budaya yang tidak mempunyai padan kata pada bahasa Inggris, strategi penerjemahan yang digunakan dan kesepadanan antara makna TSu dan TSa. 3.1. Kategori Kosakata Budaya yang Tidak Memiliki Padan Kata Dari 58 artikel diperoleh 76 kosa kata budaya Indonesia yang tidak mempunyai padan kata dalam bahasa Inggris sebagai data. Data kemudian dipilah berdasarkan kategori budaya dan diperoleh hasil sebagai berikut : Tabel 1.Kategori Kosa kata Budaya Indonesia Yang Tidak memiliki padan kata No. Kategori kosa-kata budaya Jumlah % 1 Ekologi (Ecology) 2 2,6 2 Budaya Material (Artefact) 36 47,4 3 Budaya Sosial (Sosial Culture) 13 17,2 4 Organisasi (Organization) 25 32,8 5 Gestur dan Kebiasaan (Gesture and Habits) 0 - Total 76 100 % 3.1.1 Analisis kosa kata budaya Indonesia yang tidak memiliki padan kata dalam bahasa sasaran Pada data penelitian, hanya ditemukan 4 dari 5 kategori budaya yang ada. Tidak ditemukan data untuk kategori gestur dan kebudayaan. 3.1.1.1 Kategori Ekologi Berdasarkan identifikasi data, pada kategori ekologi terdapat kosakata budaya yang tidak berpadan kata sebanyak 2 kosakata, yaitu: luweng dan jalak bali. Luweng dimasukan dalam kategori kosa kata budaya yang tidak mempunyai padan kata dalam bahasa Inggris karena perbedaan karakteristik dari jenis gua biasa (cave), luweng cenderung menyerupai sumur yang sangat dalam di perut bumi (KBBI, 2011:558). Sedangkan jalak bali, adalah spesies burung tertentu yang banyak terdapat di Bali. Bulunya yang berwarna putih membedakan jalak jenis ini dari jenis jalak lain. 3.1.1.2 Kategori Budaya Material Kosakata budaya Indonesia pada kategori budaya material ada 36 kosakata. Kategori ini terbagi menjadi sub kategori makanan, pakaian, alat musik, alat transportasi, rumah dan perabot rumah tangga. Kategori makanan adalah babae, sup kacang khas dari daerah Nias dan pepes, lauk yang terbuat dari ikan yang dirempahi dan dibungkus duan pisang, kemudian dikukus atau dipanggang (KBBI, 2011:1049). Untuk pakaian, kosa kata seperti batik, ulos, tapis, songket tidak mempunyai padan kata dalam bahasa Inggris karena merupakan sebutan untuk kain tradisional khas di daerah yang berbeda. Untuk sub kategori alat musik terdapat kata gong dan gambelan, keduanya adalah alat musik tradisional Indonesia yang tidak dikenal konsepnya di bahasa Inggris. Pada sub kategori alat transportasi, kosa kata bemo, sepeda onthel, becak, bajaj, metro mini tidak mempunyai padan kata yang sepadan di bahasa sasaran. Untuk 11 sub katgori rumah, terdapat kosa kata ruma , dan sopo yang merupakan budaya spesifik dari masyarakat batak. Dan sub kategori perkakas adalah hombung yang merupakan kosa kata budaya spesifik masyarakat batak, untuk perabot tempat menyimpan harta berharga seprti emas, perak, uang, benda pusaka dan lain-lain (http://kebudayaanindonesia.net/id/culture/1323/makna-hombung-bagi-suku- batak) 3.1.1.3 Kategori Budaya Sosial Terdapat 13 kosa kata budaya Indonesia dengan kategori budaya sosial pada data. Kategori ini terbagi menjadi sub kategori pekerjaan dan kegiatan di waktu luang. Pada sub kategori pekerjaan terdapat kosa kata penggrawit, empu, dalang. Kata- kata ini tidak mempunyai padan kata dalam bahasa Inggris. Penggrawit adalah orang yang memainkan alat musik khusus, gamelan. Pada sub kategori kegiatan di waktu luang terdapat kata karawitan, ansambel musik dari daerah Jawa, jenis-jenis tarian daerah seperti legong, Rejang, kecak, dan barong. 3.1.1.4 Kategori Organisasi Terdapat 25 kosa kata budaya dalam kategori organisasi. Kategori ini terbagi menjadi sub kategori, yaitu : adat, kegiatan, konsep, keagamaan. Kosa kata seperti melasti, tawur kesanga, banten, paku pipit, canang sari, pecalang, odalan adalah kosa kata yang erat kaitannya dengan upacara keagamaan Hindu Bali, dan tentunya tidak mempunyai padan kata dalam bahasa Inggris. Kata punakawan (Jawa) masuk ke dalam sub kategori konsep. Punakawan menurut KBBI (2011:1116) adalah abdi dalem atau pengiring setia para bangsawan yang terdiri dari empat orang yaitu Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. 3.2 Strategi Penerjemahan Yang Digunakan Terdapat lima strategi penerjemahan dari delapan strategi yang ditawarkan olen Baker (1992) yang dipergunakan oleh penulis dalam menjelaskan 76 kosakata budaya yang tidak mempunyai padan kata dalam bahasa Inggris. Tabel 2. Strategi Penerjemahan Kosakata Budaya yang Tidak Mempunyai Padan Kata Dalam Bahasa Sasaran No Strategi Penerjemahan Ekologi Budaya Material Budaya Sosial Organisasi Gesture dan Kebiasaan Total 1 Menggunakan kata yang lebih umum 1 - 1 2 Kata serapan tanpa penjelasan 6 8 1 - 15 3 Kata serapan dengan penjelasan 2 17 4 22 - 45 4 Parafrasa dengan kata terkait 13 1 2 - 16 5 Dengan Ilustrasi 3 1 2 - 6 Total 2 40* 13* 25* 0 83 12 *beberapa kosa kata dijelaskan menggunakan lebih dari satu strategi. Seperti telah disebutkan di atas bahwa kosa kata budaya Indonesia akan dianggap sebagai TSu dan penjelasannya dalam bahasa Inggris akan dianggap sebagai TSa. 3.2.1 Strategi penerjemahan dengan menggunakan kata yang lebih umum. Peneliti hanya menemukan satu data yaitu data no 31 untuk penggunaan strategi ini. Data no 31 :„Apart from the boiled pig as the main specialty of Nias festivities, there was also Babae , soup prepared from nuts known in Nias as fakhe harita.‟(TJP: Wed, 26 th March 2014) TSu : „fakhe harita.‟----------------TSa : „nuts known in Nias as fakhe harita‟ Penulis menggunakan strategi menggunakan kata yang lebih umum yaitu „nuts‟ (kacang) untuk menjelaskan konsep fakhe harita, varietas kacang yang tumbuh di daerah tersebut dan diolah dengan cara tertentu untuk masakan Nias, babae. 3.2.2 Strategi penerjemahan dengan menggunakan kata serapan tanpa penjelasan. Kata serapan dari bahasa Indonesia tersebut dicetak miring dalam teks tanpa diberikan penjelasan. Kosa kata budaya Indonesia yang dianggap sudah sangat familiar dengan pembaca asing tidak diberikan penjelasan lagi, seperti kata batik, dalang , wayang. Data 74 : „Recognizing younger dalang and contemporary artists, the festival will also present performances of Wayang Urban Revolusi (Urban Revolution)…‟ (TJP: Friday, 23rd May 2014) TSu : „dalang‟ ; „wayang‟------------TSa : „dalang‟ ; „wayang‟ (dicetak miring ) Kata dalang dan wayang tidak diberikan penjelasan dalam teks, kendatipun kata tersebut tidak mempunyai padan kata dalam bahasa Inggris. Hal ini disebabkan karena penulis merasa bahwa pembaca pada bahasa sasaran sudah familiar dengan kata tersebut sehingga tidak perlu memberikan penjelasan, cukup hanya dengan dicetak miring. Selain itu pada artikel ini juga disertai dengan foto wayang kulit sebagai ilustrasi. 3.2.3 Strategi penerjemahan dengan menggunakan kata serapan dengan penjelasan Kata yang dimaksud dicetak miring kemudian diberikan penjelasan. Ada tiga teknik yang banyak digunakan penulis untuk menjelaskan. Pertama, dengan cara dijelaskan dengan penjelasan di dalam kurung. Kedua, kata dijelaskan dengan menggunakan strategi gramatikal, inverted comas atau extra information clauses, dengan kata lain penjelasan suatu kata ditulis diantara dua koma dibelakang kata yang dimaksud. Ketiga, dengan memberikan alternatif kata lain dalam bahasa Inggris menggunakan kata sambung „or‟. 13 Dibawah ini adalah contoh penerjemahan menggunakan strategi gramatikal, inverted comas : Data 34 : „For his pieces, he transformed batik cloths with motifs of Punakawan, the four comical characters in Javanese shadow puppet play, into stylish.‟ TSu : Punakawan TSa : „the four comical characters in Javanese shadow puppet play‟ Kata punakawan dicetak miring sebagai tanda bahwa kata tersebut adalah kata serapan. Penjelasannya berupa klausa yang diletakkan diantara dua koma, dibelakang kata yang dimaksud. Secara gramatikal dalam bahasa Inggris, cara tersebut digunakan untuk memberikan informasi lebih pada kata yang diikutinya (Murphy: 1998). 3.2.4 Strategi penerjemahan dengan menggunakan parafrasa kata terkait. Penjelasan kosa kata budaya dilakukan dengan memparafrasakan kata tersebut ke dalam teks, agar pembaca bahasa sasaran paham dengan arti kata yang dimaksud. Data no 3 : Dian exposed her Palembang background by using the region‟s unique songket woven fabric for a long dress with a dramatic red robe. (TJP: Sat, 1 st March ‟14) TSu : songket ----------- TSa : songket woven fabric Pada data di atas, penulis menambahkan frasa „woven fabric‟ (kain tenun) dibelakang kata „songket‟, penambahan ini menjelaskan pada khalayak pembaca bahwa „songket‟ adalah sejenis kain tenunan (woven) dari Palembang (Palembang background). 3.2.5 Strategi penerjemahan dengan menggunakan ilustrasi Pemberian gambar atau ilustrasi menjadikan pembaca bahasa sasaran mendapat gambaran atas konsep yang dimaksud. Data no 30 : Apart from the boiled pig as the main specialty of Nias festivities, there was also babae , soup prepared from nuts known in Nias as fakhe harita. Gambar1. Ilustrasi (The Jakarta Post, 26 th March 2014) 3.3 Kesepadanan Makna antara TSu dan TSa Inti dari kesepadanan adalah makna. Larson (1984:153) menyatakan bahwa penerjemah harus mencari cara yang paling alamiah dan akurat dalam mengespresikan makna TSu dan kesepadanan bukanlah kesamaan ( Machali, 2000: 106). Dari 76 data, makna yang dihasilkan pada TSa : 72 data sepadan dengan TSu (95%), 3 kurang sepadan (4%) dan hanya 1 (1%) yang tidak sepadan dengan TSu. 14 3.3.1 Terjemahan sepadan Data 1 : „Known for her sophisticated and trendsetting drawings on kebaya blouses and dresses, Anne created 24 looks in classic colors such as black, red and gold… (TJP: Sat, 1 st March ‟14) TSu : kebaya------------------------------- TSa : kebaya blouses Penerjemahan menggunakan kata serapan „kebaya‟ dengan menambahkan kata „blouses‟ pada TSa menjadikan hasil penerjemahan dianggap sepadan. Kebaya adalah baju perempuan bagian atas yang biasa digunakan dengan kain panjang (KBBI, 2011:642), penambahan kata „blouses‟ memperjelas maksud „kebaya‟ bagi pembaca TSa yang mungkin belum familiar dengan kata tersebut, bahwa yang dimaksud adalah sejenis baju atasan bagi perempuan. 3.3.2 Terjemahan kurang sepadan Data 24 : Since then, every odalan (six month), we perform the kecak with 150 dancers. We believe if we dance the Kecak it can cure people. (TJP: Thurs, 20 th March ‟14) TSu : „odalan‟ ---------------------- TSa : „odalan (six month)‟ Makna penerjemahan di dalam kurung untuk menjelaskan arti „odalan‟ dianggap kurang sepadan. „Odalan‟ adalah perayaan keagamaan bagi penganut hindu Bali yang jangka waktunya beragam, bisa setiap 1 tahun, 6 bulan , atau setiap 4 bulan. Jika hanya dijelaskan dengan „six month‟ saja akan merubah makna. Penjelasan dengan „hindu‟s festival held every six month‟ akan dianggap lebih sepadan. 3.3.3 Terjemahan tidak sepadan Data 20 : One motif in the semen category, babon angrem ( a hatching chicken ), symbolizes a good luck in business (TJP: Sat, 8 th March ‟14). TSu : „babon angrem‟------------------------- TSa : babon angrem (a hatching chicken) Penggunaan kata „hatch‟ sebagai padan kata „angrem‟ tidak sepadan. Secara keseluruhan, frasa dalam bahasa Jawa „babon angrem‟ berarti ayam betina yang sedang mengerami telurnya, sedangkan „hatching chicken‟ berarti anak ayam yang baru saja menetas dari dari telurnya. Hal ini menyebabkan makna penerjemahan antara TSu dan TSa berbeda. 4. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dari data yang ada, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. Pada harian The Jakarta Post, penulis menggunakan strategi penerjemahan untuk menjelaskan konsep kosa kata budaya Indonesia yang tidak mempunyai padan kata dalam bahasa Inggris. 2. Strategi penerjemahan yang banyak digunakan adalah menggunakan kata yang lebih umum, menggunakan kata serapan baik dengan penjelasan atau tanpa penjelasan, menggunakan parafrasa dengan kata yang terkait dan menggunakan ilustrasi 3. Tingkat kesepadanan makna antara TSu dan TSa cukup tinggi dimana 95% data dinyatakan sepadan antara makna TSu dan TSa. 15 5. Daftar Pustaka Baker, Mona. 1992. In Other Word.A Course Book on Translation,Oxford University Press.London.. Catford, John C. 1965. A Linguistic Theory of Translation: an Essay on Applied Linguistics. Routledge. London and New York Djajasudarma, T. Fatimah. 1993. Meode Linguistik :Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Eresco. Bandung Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia. http://kebudayaanindonesia.net/id .Diakses tanggal 14 Juli 2014. Pusat Bahasa.2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi IV. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Larson, L. Mildred. 1984. Meaning-based translation, a guide to cross-language equivalence. University Press of America. Lanham. Muhammad. 2011.Metode Penelitian Bahasa. Ar-Ruzz Media Machali, Rochayah. 2000. Pedoman Bagi Penerjamah. Grasindo. Jakarta. Murphy, Raymond. 1985. English Grammar in Use. Cambridge University Press.London. Newmark, Peter. 1988. A Textbook of Translation. Prentice Hall : London Nida,EA. 1969. The Theory and Practice of Translation.EJ.Brill ___ __________. 1981. Approaches to Translation. Oxford: Pergamon Press Simatupang, Maurits D.S. 2000. Pengantar Teori Penerjemahan. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. http://kebudayaanindonesia.net/id%20.Diakses Page 1 Page 2 Page 1 Page 2