ORIENTASI DAN PENDEKATAN BELAJAR BERBAHASA INGGRIS 50 GAYA BAHASA PEPINDHAN DALAM CANDRA PAWIWAHAN JAWA PESISIRAN Widodo8 ABSTRACT “Pawiwahan” is a medium to conserve a cultural tradition, especially a Javanese cultural tradition. In practice, a cultural rite is guided by a “panatacara”. One of the media of understanding symbols in a cultural custom is by doing “chandra” on when such a procession that has been a tradition is held. “Panyandra” by a “panatacara” makes use of variative styles of language dealing with the capacity and trust of each individual. One of the styles of language used by a “panatacara” when “nyandra” is “pepindhan”, comprising of “sanepa”, “saloka” and “bebasan”. Pepindhan is used by a “panatacara” to disentangle the meaning and eyewitness report dealing with the beauty and grandeur of the ambience. Keywords: Javanese wedding, “panatacara”, style of language, “panyandra” 1. Latar Belakang Prosesi adat dalam pawiwahan Jawa diyakini bermanfaat positif bagi pengantin dan keluarga kedua belah pihak. Lebih dari hal tersebut juga sebagai sarana melestarikan nilai-nilai budaya metradisiyang disimbolkan dalam bentuk ritual. Secara tradisi, prosesi pawiwahan terus mengalami perubahan, akulturasi, dan perkembangan dengan berbagai gaya yang semakin menujukkan identitasnya. Secara adat Jawa, khususnya dalam pernikahan, dikategorikan menjadi dua gaya dasar. Gaya yang dianut dalam tatacara adat pernikahan adalah gaya Surakarta dan Yogyakarta. Wilayah pesisiran dalam menyelenggarakan tradisi budaya dalam prosesi pernikahan mengadopsi keduanya. Meskipun demikian pesisir lebih banyak condong ke gaya Surakarta. Masyarakat pesisir menurut (Thohir, 2006:39) adalah masyarakat yang tinggal disepanjang daerah pantai khususnya pantai utara Jawa dikenal dengan sebutan masyarakat pesisir atau orang pesisir. Pawiwahan gaya pesisiran diselenggarakan dengan mengadopsi kedua pakem gaya tersebut yang selanjutnya diakulturasikan sesuai dengan kaidah yang masih dibenarkan dalam pranata adat budaya. Panatacara atau bisa disebut Awicarita adalah seorang yang ahli di bidang mendongeng atau bercerita yang membuat pendengar merasa terharu (Prabowo, 2007:23). Istilah awicarita setara dengan beberapa istilah lain yaitu: (1) paramengsastra (ahli di bidang sastra dan bahasa), (2) paramengkawi (ahli di bidang karang mengarang), (3) mardawa lagu (ahli di bidang tembang dan lagu). Menurut Yatmana (2000:1) panatacara adalah orang yang mengatur jalannya acara dengan bahasa khas yang mengekpresikan gaya (style) individu. Lebih lanjut (Prabowo, 2007:24) juga menguraikan kompetensi menjadi seorang panatacarase tidaknya menguasai empat kemampuan dasar yang menjadi bekal mranatacara. Empat hal tersebut yaitu: (1) antawecana „monolog‟, seorang panatacara harus mampu 8 Penulis adalah staf pengajar di Fakultas Bahasa dan Sastra Jawa, Universitas Negeri Semarang 51 menguraikan makna terkait ubarampetataupacara dan simbol serta mampu nyandra acara dari awal hingga akhir, (2) renggep yaitu dalam mengatur jalannya acara harus bisa serasi tidak tumpangsuh dan tidak menjenuhkan para tamu yang hadir bahkan dituntut menciptakan suasana gayeng dan regenging pawiwahan, (3) pandai merangkai kata, yaitu seorang panatacara harus mampu dan dituntut dalam menggunakan kepandaiannya dalam memaduka ketepatan tata bahasa.Untuk mengurai makna dan simbol budaya dalam pawiwahan Jawa, panatacara secara lisan membangun suasana agung dengan gaya bahasa yang indah dan mantap. Gaya bahasa tidak hanya dalam arti keindahan, melainkan dalam arti kemantapan pengungkapan. Panatacara ada kalanya juga dengan memperlihatkan pertentangan dengan bahasa klise (Atmazaki, 1990:93). Bahasa panatacara dalam prosesi pawiwahan adat Jawa selalu mengedepankan komposisi yang tepat agar para tamu tidak merasa bosan walaupun sulit memahami maknanya. Panatacara menggunakan gaya khas dalam pilihan bahasa ketika memandu prosesi pawiwahan sebagai icon masing-masing daerah. Kata yang digunakan oleh panatacara untuk menguraikan filosofi dan makna dalam prosesi pawiwahan tidak sama antara panatacara satu dan lainnya. Rangkaian prosesi adat dalam pawiwahan yang dipandu oleh panatacara. Dengan menggunakan gaya (style) berbeda-beda. Gaya berhubungan dengan makna yang berkaitan erat dengan elemen bahasa. Konsep tersebut tidak bisa dilepaskan dari bahasa yang digunakan untuk menimbulkan keindahan tersendiri karena berhubungan dengan style secara khusus dalam bahasa panyandra. Panyandra secara etimologi berasal dari kata candra yang artinya menjelaskan tentang keadaan dengan sarana perumpamaan. Sedangkan menurut Prabowo (2007:38) nyandra adalah menggambarkan atau mendiskripsikan keindahan atau keadaan dengan carapepindhan „perumpamaan‟. Panyandra merupakan gaya bahasa khas yang digunakan panatacara pada prosesi adat pawiwahan Jawa. Panyandra lebih menekankan pada pengambaran suatu objek dengan objek lain yang lebih tinggi. Keindahan yang dirangkai dengan bahasa pepindhan lebih menekankan pada keindahan badan (kecantikan dan ketampanan), keindahan suasana, kerapian pakaian, makanan, dan ketepatan acara oleh panatacara dalam prosesi adat budaya dengan gaya bahasa masing-masing. Menurut Poerwadarminta (1939:354) nyandra adalah njlentrehake kaananing wewangunan kanti sarana pepindhan. Pepindhan (Gaya dalam Bahasa Jawa) adalah unen-unen kang ngemu surasa pepadhan, irib-iriban, emper-emperan. Dhapukaning ukarane nganggo tembung pindha utawa dasanamane Padmosoekatja tanpa tahun (... :93) “kalimat pendek yang memuat maksud persamaan. Penghubung kalimat menggunakan kata pindha atau kata lainnya yang sejenis. Unsur pepindhan antara lain terdapat dalam Sanepa, saloka, dan bebasan. Sanepa adalah unen-unen bangsane pepindhan, ngemu surasa mbangetake, nanging nganggo tembung sing tegese kosok balen karo karepe (Sukiyat, 1997:66) dalam Kawruh Sapala Basa (Edisi 1) sanepa adalah „kalimat pendek sejenis pepindhan‟, memuat maksud menyangatkan, tetapi memakai kata yang artinya berlawanan dengan maksudnya. Saloka iku unen-unen kang gumathok, ngemu surasa pepindhan, dene pepindhan mau tumrap uwong lan kaanane utawa pakartine (Sukiyat, 1997:65). “Saloka itu kalimat pendek yang menjadi pedoman, memuat maksud pepindhan, sedangkan pepindhan itu digunakan untuk manusia dan perbuatannya. 52 Bebasan iku unen-unen gumathok, ajeg panganggone, ngemu rasa pepindhan sing dipindhakake pakarti utawa kaanan uwong (Sukiyat, 1997:63) „bebasan itu kalimat pendek yang menjadi pedoman, penggunaannya tetap, mempunyai rasa menyamakan yang disamakan perbuatan atau keadaan manusia. Penelitian ini dibatasi pada unsur gaya bahasa pepindhan sebagai salah satu aspek panyandra pada ranah kepanatacaraan yang disampaikan oleh panatacara ketika memandu prosesi pawiwahan. Penelitian ini menganalisis pemakaian gaya bahasa pepindhan oleh panatacara dalam prosesi pawiwahan, kususnya di pesisir. 2. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Jenis penelitian yang dipilih sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas dengan berfikir fenomenologis yang lentur dan terbuka. Penelitian ini menekankan pada analisis data dasar untuk memahami fakta-fakta yang ada. Dalam penelitian ini penulis melakukan rekam dan simak data lapangan. Mengumpulkan data dalam teks yang berkaitan dengan candra panatacara pesisiran kemudian menginterpretasikannya berdasarkan teori pepindhan dan paribasan. 3. Hasil dan Pembahasan Panyandra merupakan keindahan yang dirangkai dengan bahasa pepindhan. Panyandra setipe dengan gaya bahasa simile (baca simile), tetapi Panyandra lebih menekankan pada pepindhan bukan unsur penyangatan. Hal yang dicandra antara lain terkait keindahan badan (kecantikan dan ketampanan), keindahan suasana, kerapian pakaian, makanan, dan ketepatan acara. Bentuk-bentuk pepindhan dalam candra panatacara dalam pawiwahan gaya pesisiran sebagai berikut. 1) …Mencorong pindha barlean, sumurup pindha srengenge, mrabu pindha raja sehari… „menyala seperti emas, bersinar seperti matahari, gagah seperti raja sehari‟ 2) …Meloking wadana sumunar agilar-gilar angelam-lami pindha kencana binabar…„keindahan raut wajah yang mengeluarkan sinar yang bersih (gilar- gilar)menyilaukan mata yang melihatbagai emas yang di pajang secara berderet‟. 3) …Ketingal pajar gumebyar pindha kartika sasra aliru pernah arebut praba kaya lintang sewu aliyan candrane.…„seperti sinar mentari di pagi yang cerah, bagai seribu bintang yang saling memancarkan sinar atau seperti bintang yang memancarkan sinar ketika berpindah tempat (lintang ngalih dalam istilah Jawa)‟. 4) …Gebyar-gebyar pating calorot busananing penganten sarimbit cinandra kadya daru lelana…„menyala-nyala menyinari semua penjuru, pakaian mempelai berdua jika diibaratkan seperti cahaya yang berjalan‟. 5) …lampahing pangombyong pindha widyatmala asesanderan kaya kumilating kilat asesautan…„seperti widyatmala yang saling berkejaran bagai kilat yang bersahutan‟. Bentuk candra pepindhan pada data pertama mengibaratkan mempelai berdua yang bersinar sangat terang seperti benda benda yang bersinar. Kata mencorong 53 pindha barlean merupakan tuturan yang mengibaratkan mempelai berdua seperti berlian yang bersinar menyala menerangi sekelilingnya. Hal tersebut diperkuat dengan tuturan selanjutnya yaitu sumurup pindha srengenge.Tuturan sumurup pindha srengenge merupakan tuturan candra pepindhan yang memperkuat candra pepindhan sebelumnya mengenai sumbaga yang bersinar keluar dari wajah kedua mempelai di pelaminan. Frasa terakhir adalah mrabu pindha raja sehari merupakan candra pepindhandampak dari kata sebelumnya. Mempelai yang mencorong, sumurup menjadikan mempelai mrabu „seperti raja.‟ Pada data kedua meloking wadana (raut wajah) yang bersinar diibaratkan menyenangkan yang melihat karena wajah yang bersih bersinar kekuning-kuningan yang diibaratkan seperti kencana (emas). Ketika midodareni adat tatacara Jawa mengenal sumbaga atau paes yang tidak hanya sekedar memakai bedak tetapi dijapani sehingga mempelai disaat pesta pernikahan mengeluarkan aura berwibawa yang membuat semua orang terpesona oleh kecantikan dan ketampanan mempelai berdua. Objek candra yang dipilih panatacara adalah wajah kedua mempelai yang digambarkan sangat sempurna tidak hanya cantik dan tampan tetapi juga memancarkan aura kewibawaan khas Jawa. Adat tatacara pawiwahan Jawa, seorang mempelai yang baru menikah dan melaksanakan upacara panggih serta kirap. Maka diijinkan memakai busana seperti raja. Dan posisi serta statusnya diangung-agungkankan sebagaimana raja yang sedang berkeliling negara. Kata pindha „seperti‟ yang dipilih oleh panatacara merupakan bentuk penyangatan yang melebihkan dari suasana dan kondisi asli mempelai berdua. Untuk mengagungkan suasana pembawa acara memilih kata tersebut untuk menambah wibawa kedua mempelai. Pada data tiga objek yang dicandra oleh panatacara bukan hal yang nampak tetapi suasana yang ada di dalam pawiwahan. Ketingal pajar gumebyar pindha kartika sasra aliru pernah arebut praba kaya lintang sewu aliyan candrane. Pilihan kalimat tersebut untuk menggambarkan suasana di dalam pawiwahan yang sugreng (lawan kata dari singup atau sepi). Pilihan perumpamaan suasana dengan kartika (bintang) bukan benda angkasa lain yang juga mengeluarkan sinar misal matahari. Panatacara ingin menggambarkan suasana indah yang menyenangkan banyak orang. Meskipun bintang bersinar terang tidak sampai menerangi bumi sebagaimana bulan dimalam hari tetapi keberadaannya bisa menjadi tanda-tanda ilmu titen dalam kepercayaan Jawa. Data keempat objek candra adalah busana yang dipakai oleh pengantin. Panatacara mengibaratkan busana seperti ndaru lelana. nDaru adalah sinar yang kelaur berkait dengan rejeki atau pulung dan berhenti menyatu di rumah atau orang yang menggayuh kaluhuran. Di kampung misalnya ada pencalonan lurah maka malam sebelum pilihan diyakini ada ndaru yang masuk kerumah salah satu calon lurah. Calon tersebut yang dipastikan besok akan menang oleh sebagian masyarakat yang melihatnya. Pepindhan busana dengan ndaru bukan asal pilih dalam kalimat candra tetapi berhubungan dengan busana (ageman).Barang siapa dalam pernikahannya ibarat berbusana ndaru (pulung) maka dia dikasihi banyak orang. Apa yang menjadi gegayuhan dalam berumah tangga lebih mudah tercapai. Data kelima objek candra adalah para tamu yang hadir memberi doa restu kepada mempelai berdua. Pangombyong (tamu yang hadir dari pihak sanak/keluarga) diibaratkan saling merebut mendekat memberi ucapan selamat kepada mempelai. 54 Para tamu diibaratkan seperti kilat yang menyambar dan saling menyinari. Satu sama lainnya saling memberi dukungan sehingga tercipta sinar terang di dalam suasana pawiwahan. Data candra pawiwahan di atas merupakan pepindhan yang menggunakan sinar atau cahaya dalam bentuk berbagai benda yang bercahaya. Benda benda yang dipilih sebagai pepindhan diantaranya adalah rembulan, lintang, srengenge, dan emas. Untuk kilat adalah sinar yang ditimbulkan oleh benda tetapi hasil dari gesekan kedua benda yang berbeda dengan udara sehingga memancarkan sinar sesaat. 6) …Canela awarna kresna rinenggeng sosotya pating galebyar kinarya lumaksana, tinon saking mandrawa pindha sirahing nagaraja…„sepatu(slop) yang berwarna hitam berhiaskan sinar memancarkan keindahan seperti kepala naga yang berjalan.‟ 7) …Mlathi rinonce munggwing pamidhangan kanan miwah kering ngalewer tumibeng jaja cinandrakadya taksaka ngulet rumambat…„bunga melati yang diuntai terlihat di kanan dan kiri pundak sampai di dada diibaratkan seperti ular yang merambat.‟ Candra pepindhan pada data enam merupakan bentuk tuturan yang digunakan untuk menggambarkan bentuk sepatu (slop dalam busana adat Jawa) pengantin yang berwarna hitam berhiaskansinar cahaya yang diibaratkan seperti kepala raja naga yang turun dari kayangankedunia penggambaran tersebut bertentangan dengan keadaan sebenarya. Hal tersebut dilebih-lebihkan oleh panatacara untuk menciptakan suasana greget. Selain pilihan bahasa ketika mempelai memasuki singgasana pelaminan dan panatacara nyandra maka semua yang sudah hadir diminta untuk menghormati masuknya mempelai dengan berdiki di samping kanan dan kiri jalannya mempelai berdua. Data ketuju, candra merupakan tuturan yang mengibaratkan dengan kata cinandra kadya. Panyandra tersebut mengibaratkan busana pengantin seperti sinar yang berjalan sedangkan pada data berikutnya mengibaratkan bunga melati seperti ular yang merambat. 8) …lamun cinandra pindha Ywang Batara Kamajaya myang Dewi Ratih … „kalau diibaratkan seperti Batara Kamajaya dan Dewi Ratih‟. Data delapan adalah tuturan panyandra dengan menggunakan kata pindha. Pada data mengibaratkan keindahan pakaian dengan emas yang diuntai dan dipakai oleh mempelai berdua. Data mengibaratkan keindahan suasana yang menakjubkan seperti dewa Kamajaya danDewi Ratih. Candra yang mengibaratkan mempelai berdua seperti dewa asmara Batara Kamajaya dan Dewi Ratih yaitu dewa yang paling cantik dan paling tampan di kayangan. Selain cantik dan tampan dewa tersebut adalah dewa asmara yang menitahkan rasa cinta dan kasih sayang kepada umat manusia. 9) …Ingkang busana ijo kumpul pada wilis, pindhaning ilat tandhuran kang lagi gumadhung…„yang berbusana hijau berkumpul sesama hijau, seperti lidah daun tanaman yang baru tumbuh‟. 55 10) …Ingakang ireng kumpul padha langking pindhaning dandang raton…„yang hitam kumpul dengan yang hitam seperti dandang raton‟. 11) …Ingkang jenar kumpul padha kuning pindhaning bang pinuryan…„yang kuning berkumpul dengan yang kuning seperti bang pinuryan‟. 12) …Ingkang pethak kumpul padha seta pindhaning kuntul neba sarawa…„yang putih kumpul dengan yang putih seperti kuntul yang berkumpul memenuhi rawa‟. 13) …Ingkang abrit kumpul padha rekta pindhane kaya giri kaloka ginuruk parata geni…„yang merah berkumpul dengan merah seperti gunung yang kebakaran‟. Panyandra pada data sembilan sampai tigabelas merupkan tuturan yang cara menggunakan pepindhan berbeda-beda. Data dan menggunakan pepindhan endahing, data dan menggunakan pepindhan pindhaning, data menggukanan pepindhan pindhane, datadan menggunakan pepindhan kaya. Pepindhan yang digunakan panatacara pada data tersebut berbeda dengan data candra sebelumnya. Candra warna yang dipilih oleh panatacara adalah bentuk penyangatan pada berbagai warna busana yang dipakai oleh keluarga dan among tamu yang berbeda-beda tetapi semua menjadi indah jika berkumpul dengan warna-warna yang sama sehingga diibaratkan sesuai dengan konotasi yang pas. 4. Kesimpulan Pepindhan yang dipilih oleh panatacara dalam pawiwahan pesisiran dapat dibedakan menjadi beberapa jenis pepindhan. Pepindhan yang pertama adalah pepindhan yang menyangatkan dengan perumpamaan hal yang bercahaya. Misalnya sinar, emas, matahari, bintang dan rembulan. Semua benda tersebut memancarkan sinar yang dibutuhkan dan disukai semua orang. Sinar sebagai pepindhan yang dibutuhkan antaranya sinar matahari, bulan, dan bintang. Sedangkan sinar yang disukai adalah berlian dan emas. Pepindhan yang kedua adalah perumpamaan yang disejajarkan dewa yang bertugas andum katresnan misalnya dewa Kama Jaya dan Dewi Ratih. Selain itu pepindhan diungkapkan oleh panatacara dalam panyandra rangkaian prosesi pawiwahan sebagai bentuk penyangatan atas warna tertentu. Misalnya warna hijau seperti tanaman yang baru tumbuh (gumadhung) warna busana hitam seperti dandang raton.dan makluk yang dianggap lebih daripada makluk sejenisnya.Misalnya menggambarkan slop seperti kepala naga. 5. Daftar Pustaka Alwi dkk. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Atmodjo S. Prawiro. 1996. Bausastra Jawa (Edisi 4). Surabaya: Yayasan Djoyo Boyo. Dwiraharjo, Maryono dkk.2006. Kamus Istilah Perkawinan Adat Jawa Gaya Surakarta. Surakarta: Jurusan Sastra Daerah UNS. Endraswara, Suwardi. 1998. Adat Tatacara Jawa.Sleman. Dinas Kebudayaan Prabowo, Dhanu Priyo. 2007. Glosarium Istilah Sastra Jawa. Yogyakarta: Narasi. Pringgawidagda, Suwarna 2001.Pengembangan Model Pelatihan Nyandra Penganten.Literatur. Yogyakarta: FBS, UNY. ---------. 2003a. Gita Wicara Jawi. Yogyakarta: Kanisius. 56 ---------. 2003b. Pawiwahan dan Pahargyan. Yogyakarta: Adicita. ---------.2006. Penganten Jawa Gaya Yogyakarta, Tataupacara dan Wicara. Yogyakarta: Kanisius. Poerwadarminta, W.J.S. 1959. Baoesastra Djawa. Batavia: J.B. Wolters Vitgevers Maatschappij Groningen. Sukiyat. B.R., dkk. 1997. Kawruh Sapala Basa (Edisi 1). Klaten: PT Intan Pariwara. Sutrisno, Verhaak. 1993. Estetika Filsafat Keindahan.Yogyakarta: Kanisius. S Padmosoekotjo..Ngrengrengan Kasusastran Djawa (Edisi 4). Yogyakarta: Hien Hoo Sing. Thohir, Mujahirin. 2006. Orang Islam Jawa Pesisiran. Semarang: Fasindo Widada, dkk. 2001. Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa). Yogyakarta: Kanisius Yatmana, Sudi. 1985. Pranatacara saha Pamedharsabda. Semarang: Aneka Ilmu. Page 1 Page 2 Page 1 Page 2