84 DAMPAK FILM SERIAL TERHADAP AKUISISI BAHASA ANAK Liya Umaroh12 Hetty Catur Ellyawati13 ABSTRACT The Effect of Serial Film in Children’s Language Acquisition. Children’s language skills already possessed since they were born in the world (nature). However, the development of language acquisition such as morphology, syntax, phonology, and pragmatics can be obtained from surrounding environment (nurture). Between heredity and environmental factors are closely related to the process of language acquisition. By now, many sources of children’s language acquisition demand all parents for accompanying their children's activities. One of the example is the accompaniment while they watched serial film. Various kinds of events can be enjoyed by children without considering the feasibility of the program. Therefore, this study focused on serial film entitled "Balveer". The reason for choosing "Balveer" is because the Indian Film still dominated until right now and most of children merely never missed in every episode. Qualitative research method and case study are used in this research. The result shows that in the age of five years old, children can produce language properly, in term of morphology, syntax, phonology, and pragmatics. On the other hand, a serial film also helps children in their language acquisition, many new words, clauses, and sentences automatically imitated and directly produced. Parents take important role to guide their children in their language acquisition. Keywords: Children, Language, Acquisition, Serial, Film PENDAHULUAN Latar Belakang Masa kanak-kanak atau lebih sering disebut dengan istilah prasekolah merupakan masa yang sangat menyenangkan, dikatakan demikian sebab kegiatan sehari hari mereka dipenuhi dengan bermain, meminta, dan mecoba melakukan kegiatan apapun sesuai dengan keinginan hati anak. Selain itu mereka juga sudah mulai merasakan indahnya dunia dan 12 Penulis adalah pengajar di Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Jl Nakula No 5-11 Semarang. 13 Penulis adalah pengajar di Universitas Semarang, Jl. Sukarno-Hatta Semarang. 85 bersinggungan secara langsung dengan lingkungan sekitar. Pada masa ini, mereka mulai berantusias mempersiapkan diri menghadapi masa sekolah. Sebagai orang tua tentunya dalam masa golden age tidak akan dilewatkan begitu saja, segala treatment dilakukan demi mewujudkan buah hatinya menjadi anak yang santun, cerdas dan membanggakan. Dimulai dari menentukan pola asuh, memilih sekolah, memilih pergaulan si anak, sampai menentukan jenis hiburan dapat berupa acara televisi atau film yang akan disajikan ketika anak sedang berada dirumah. Selepas kegiatan bermain, hal yang kebanyakan anak- anak lakukan ketika dirumah yaitu melihat tayangan program acara televisi. Pendampingan sangat penting dilakukan oleh orang tua karena berbagai macam acara tersedia dimulai dari musik, program acara untuk dewesa yang semestinya tidak tampil disaat jam anak-anak melihat tayangan televisi, film kartun, dan film khusus anak- anak. Sekali lagi, orang tua wajib mengarahkan tayangan apa saja yang diijinkan untuk dilihat bagi anak-anak mereka. Diawal tahun 2015 sampai menjelang akhir tahun ini, serial tayangan dari negara India masih mendominasi sebagai tayangan favorit keluarga. Dari kemunculan serial Mahabarata, Abad Kejayaan, Joda Akbar dan serial india yang konon dikhususkan untuk anak-anak yaitu Balveer. Dari plot, setting, nama tokoh, ungkapan, kata, istilah bahkan kalimat yang ducapkan oleh pemeran di serial tersebuh secara otomatis terekam dalam pikiran anak dan mungkin akan berpengaruh pada bahasa dan perilaku anak. Adapun beberapa penelitian sebelumnya yang membahas tentang pemerolehan bahasa anak diantaranya oleh Aulia, dkk (2011) berjudul “ Pemerolehan dan Perkembangan Anak”. Mereka menjelaskan bahwa pemerolehan dan perkembangan bahasa anak berawal dari lingkungan terutama dari keluarga. Pemerolehan bahasa diperoleh dari strategi imitasi, produktvitas, umpan balik, dan prinsip oprasi. Disamping itu setiap anak juga mempunyai LAD (Language Acquisition Device) atau sering disebut kemampuan bahasa yang diperoleh secara alamiah. Yogatama (2011) yang berjudul “Pemerolehan Bahasa Anak usia 3 Tahun Ditinjau Dari Sudut Pandang Morfosintaksis”. Hasilnya memaparkan bahwa anak usia 3 tahun bernama Huda sudah mampu bersosialisasi melalui komunikasi dengan lawan bicara yang memiliki rentang usia lebih dewasa. Tataran morfologi dan sintaksis sudah mampu digunakan. 86 Berdasarkan pemaparan latar belakang dan dua penelitian sebelumnya maka judul dalam penelitian ini adalah “ Akuisisi Bahasa Anak Terhadap Tayangan Serial Balveer” pembahasan akan dititik beratkan terhadap dampak tayangan Balveer terhadap Akuisisi Bahasa Anak. Perumusan Masalah Rumusan masalah yang akan dibahas adalah tentang “ Dampak dari serial Balveer terhadap akuisisi bahasa anak”. METODE PENELITIAN Metode Penelitian Jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode pendukung studi kasus. Dilanjutkan dengan mendeskripsikan hasil pemerolehan bahasa dari segi Phonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik dan Pragmatik. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian yang akan dilakukan antara lain untuk mengetahui sejauh mana pemerolehan bahasa terhadap tayangan serial “Balveer”, baik dari segi morfologi, sintaksis, dan pragmatik. Tujuan selanjutnya adalah mendeskripsikan hasil data analisis dalam bentuk analisa. Populasi dan Sampel Sampel yang akan diambil sejumlah 6 orang anak, bernama Syifa, Jihan, Anin, Ivana, Zaky, dan Jingga. Mereka semua adalah teman sepermainan. Usia mereka 5 tahun. Setiap hari hampir selalu berkumpul mulai jam 4 sore sampai menjelang magrib. Lokasi Penelitian Lokasi dari pelaksanaan penelitian bertempat di Jl.Kentangan Utara No.41 Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah. Tempat berkumpulnya anak-anak disore hari tepat didepan rumah No.41 atau rumah pribadi Syifa. 87 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Karena data dari penelitian ini berupa ujaran, maka akan dipaparkan cuplikan dialog antara 6 orang anak ( syifa, Anin, Jihan, Ivana, Zaky, Jingga). Dialog ini diambil di sore hari pada saat pengamatan pertama kali. Anin : Mbak sip, yuk maen ndek sana, tempate Zaky. Syifa : Gak usah nin, kita pergi kerumah Zaky trus diajak kesini, maennya didepan rumah aja, soalnya bundaku bilang kalau maen jangan jauh-jauh. Anin : Yowes yuk. Diparani aja Zaky karo Jihan. Syifa : Baiklah, kita ke sana (mereka berdua berjalan dan menghampiri Zaky dan Jihan yang kebetulan satu rumah. Lokasi rumah zaky dan Jihan hanya selisih satu rumah) Syifa : (memanggil dari depan rumah) Zaky.. Jihan... yuk dolanan bareng ke depan rumahku, kita maen balveer-balveeran (ajak syifa). Zaky : Mau awan apik ya mbak pilem balpil, kowe nonton yak mbak Sipa? Syifa : Iyolah, aku mesti nonton balveer terus soale apik ok. Jihan : Mb syifa, aku ikut main boleh nggak? Anin : Ayo, ikut wae Syifa : Baiklah.. (mereka berempat mulai main bersama, selang beberapa saat tiba-tiba Ivana dan Jingga datang dan bermain bersama) Jingga : Tadi pada nonton balveer nggak? Zaky : Heeh mbak jingga, apik yo? Duba-dubane diajar mbek bayengkel peyi tus jatuh. Anin : Iyo, soale gak iso ambil tongkat balveer, untuk memusnahkan dunia anak-anak. Jihan : Orak yo, meh iso diambil tapi duba-dubane jatuh trus tongkat balveer diambil meneh. (Zaky, Anin, dan Jihan saling adu argumen sampai mereka saling mendorong dan jatuh) Syifa : Sudah Cukup! Sebaiknya kalian jangan saling bertengkar, karena bertengkar akan membuat persahabatan menjadi kejahatan. Ingat kata balveer kan? Jihan : Baiklah, aku dan semua teman akan berhenti berantem, mari kita lanjutkan bermain kita. Syifa : Ayo, saling bersalaman dan memaafkan, cepatlah! Karena kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Anin : Iyo mb sip bener, balveer kan mesti ngomong koyo ngono (setelah mereka saling baikan, permainan dilanjutkan seperti biasanya.) 88 Cuplikan dialog antara ke 6 anak tersebut dianalisis setiap ujarannya sesuai pemerolehan data kebahasaan yaitu; dari segi fonologi, sintaksis, semantik dan pragmatik. 1. Fonologi Fonologi merupakan salah satu aspek linguistik yang mempelajari tentang fonem, yaitu bunyi yang berbeda dilingkungan yang sama berpengaruh terhadap kata-kata yang berlainan. Misal kata “serat” dan “serap”. Keduanya bisa diucapkan dengan jelas antara huruf vokal dan konsonannya. Berdasarkan cuplikan dialog diatas, ditemukan beberapa temuan pemerolehan bahasa dilihat dari segi fonologi antara lain sebagai berikut: Anin : Mbak sip, yuk maen ndek sana, tempate Zaky. Syifa : Gak usah nin, kita kerumah Zaky trus diajak kesini, maenya didepan rumah aja, soalnya bundaku bilang kalau maen jangan jauh-jauh. Pada saat Anin memanggil nama Syif menjadi “Sip”. Karena fonem /p/ lebih mudah diucapkan oleh anak. /p/ disebut dengan bilabial dengan cara pengucapan merapatkan bibir atas dan bawah. Berbeda ketika mengucapkan kata syif, terdapat huruf konsonan /f/ dengan pengucapanya terjadi pada gigi bawah dan bibir atas, bibir bawah merapat pada bibir atas. Bunyi semacam ini disebut dengan labiodental. Namun anak- anak terkadang masih mengalami kesulitan dalam pengucapan bunyi labiodental dibanding dengan bilabial sehingga pengucapan /f/ berubah menjadi /p/. Zaky : Mau awan apik ya mbak pilem balpil, kowe nonton yak mbak sipa? Syifa : iyolah, aku mesti nonton balveer terus soale apik ok. Hal yang sama terjadi ketika Zaky mengatakan “ pilm dan“sipa”. fonem /f/ labiodental susah diucapkan ketimbang bunyi bilabial /p/. Pengucapan dengan cara merapatkan gigi bawah dan bibir atas menghasilkan fonem /f/ lebih susah dibandingkan dengan mengucapkan fonem /p/ dengan cara merapatkan bibir atas dan bawah. Perubahan bunyi juga terjadi pada kata “balpil” yang seharusnya “balveer”. Pengucapan /r/ dihasilkan oleh gerakan cepat dari sejumlah organ elastis, sedangkan /l/ disebut dengan bunyi lateral lebih mudah diucapkan oleh anak sebab bunyi /l/ dihasilkan dari hambatan yang terletak ditengah-tengah mulut sehingga udara secara bebas bisa keluar. Perubahan Anak anak belum sepenuhnya mampu mengucapkan fonem /r/ dengan sempurna. 89 2. Sintaksis Secara sintaksis, anak-anak telah mampu membuat ujuran, sebuah frasa, ataupun kalimat yang berpola. Frasa merupakan kumpulan kata yang memiliki salah satu unsur dalam sebuah kalimat. Frasa yang ditemukan antara lain: (1) “ Heeh mba Jingga” (2) “Sudah cukup” (3) “Apik yo” Dari ketiga contoh frasa tersebut hanya memiliki satu fungsi dalam unsur kalimat saja. Pada frasa no (1) memiliki unsur nomina pada kata Jingga sebagai nama orang, (2) frasa kedua ditemukan unsur adjektiva/ kata sifat (3) frasa ketiga ditemukan hal yang sama, yaitu adjektiva. Berbeda lagi pada tataran akuisisi pada kalimat, pola kalimat yang dihasilkan anak-anak sudah memenuhi pola kalimat sederhana yakni minimal memiliki Subjek dan Predikat. Temuan kalimat yang diperoleh antara lain: (1)“Kita pergi kerumah Zaky” (2)“ Aku mesti nonton Balveer” (3)“Aku ikut main boleh?” (4)“Duba dubane diajar mbek bayangkel peyi tus jatuh” Pada kalimat pertama (1) Subjek: Kita Predikat: Pergi, telah memenuhi sebagai kalimat sederhana karena terdapat Subjek dan Predikat. Begitu pula pada no 2,3, dan 4. (2) Subjek: Aku, Predikat : nonton (3) Subjek: Aku, Predikat: Ikut (4) Subjek: Duba-duba, Predikat: diajar. 3. Semantik Akuisisi semantik anak- anak umur 5 -7 tahun berada pada tahap generalisasi. Fase ini sudah mengenal benda- benda yang sama dari sudut persepsi bahwa benda itu mempunyai fitur semantik yang sama. Misalnya “ hewan” berarti semua hewan seperti kambing, sapi, semut dan nama hewan lainya bisa dikatakan dengan “ hewan” bukan memaknai “hewan” sebagai salah satu jenis/ nama hewan. Kata “kejahatan” menurut pemahaman anak berarti sebuah kenakalan. Pada tahap generalisasi, “kejahatan” bisa dimaknai pencurian, pemukulan, kenakalan, mencubit, mengambil barang dengan paksa. Begitu pula memaknai kata “kebaikan” bukan hanya bermakna tidak nakal saja namun bisa dimaknai dengan saling menyayangi, memberi, tidak nangis, 90 tidak nakal, dan mau berbagi. Jadi pada fase ini, anak mampu menjeneralisasi sebuah makna kata. 4. Pragmatik Pada bidang pragmatik, akuisisi bahasa anak telah terlihat pemahaman tentang deikses personal. Kapan mereka menggunakan kata ganti orang pertama, kedua dan ketiga sesuai dengan konteks percakapan misalnya, aku, kamu, mereka, dan dia. Anak-anak mampu menerapkan penggunaan aku, kamu, mereka, dan dia sesuai dengan situasi dan pada siapa mereka berbicara. Dari sisi pragmatik, anak-anak telah mampu menggunakan tindak tutur langsung dan tak langsung dalam keseharianya. Pembahasan Berdasarkan data tersebut dapat dijelaskan bahwa akuisi bahasa anak umur 5 tahun secara keseluruhan telah berkembang sesuai dengan tahap perkembanganya, namun ternyata ada satu anak yang masih mengalami kesulitan dalam pelafalan /r/ yang biasa diucapkan dengan bunyi /l/ yang dilihat dari segi phonology. Hal tersebut bisa terjadi karena minimya keaktivan orang tua dalam berkomunikasi, keaktivan dalam pergaulan dengan teman, saudara dan guru. Pentingnya sebuah motivasi oleh seluruh keluaraga, teman, dan guru akan membuat anak menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Pemerolehan dibidang sintaksis dapat dinyatakan baik secara keseluruhan. Anak-anak telah mampu menghasilkan frasa adjekif, nomina dan adverbia. Dari jenis kalimat, mereka sudah bisa membuat kalimat sederhana bahkan kalimat majemuk. Beberapa anak telah mampu menggunakan fungsi subjek kalimat dan predikat secara tepat. Dari segi semantik, anak-anak sangat mampu membuat generalisasi dan memaknai sebuah kata dengan tepat, mereka tidak mengalami kesulitan dalm menggenarilasasi sebuah makna kata. Yang terakhir adalah pemerolehan bahasa dilihat dari bidang pragmatik. Anak-anak telah mampu menggunakan deikses dalam penggunaan percakapan sehari-hari. Mereka mampu menerapkan dalampercakapan formal dan non formal, percakapan dengan orang tua ataupun dengan teman sebaya. Berdasarkan hasil pengamatan pada waktu kegiatan prapenelitian, anak-anak tersebut aktif dan memiliki teman yang banyak. Mereka mampu berkomunikasi bersama temannya dengan baik. Sumber data yang memiliki 91 kompetensi berbahasa baik dibekali dari kebiasaan orang tua untuk memberikan contoh penggunaan bahasa secara tepat, tidak perlu dibuat cadel dan mengikuti bahasa anak, perhatian dariguru. Faktor yang mempengaruhi pemerolehan bahasa antara lain berupa faktor pribadi dan faktor umum. Peserta didik yang memiliki keaktifan dalam berbahasa, sering terlibatnya orang tua dapat dikategorikan sebagai faktor pribadi sedangkan faktor umum meliputi usia, minat, bakat, intelegensi, sikap, dan motivasi. KESIMPULAN Akuisi bahasa anak umur 5 tahun secara keseluruhan telah berkembang sesuai dengan tahap perkembanganya, namun ternyata ada satu anak yang masih mengalami kesulitan dalam pelafalan /r/ yang biasa diucapkan dengan bunyi /l/ yang dilihat dari segi phonology. Hal tersebut bisa terjadi karena minimya keaktifan orang tua dalam berkomunikasi, keaktivan dalam pergaulan dengan teman, saudara dan guru. Pentingnya sebuah motivasi oleh seluruh keluaraga, teman, dan guru akan membuat anak menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya Pemerolehan dibidang sintaksis dapat dinyatakan baik secara keseluruhan. Anak-anak telah mampu menghasilkan frasa adjektif, nomina dan adverbia. Dari jenis kalimat, mereka sudah bisa membuat kalimat sederhana bahkan kalimat majemuk. Beberapa anak telah mampu menggunakan fungsi subjek kalimat dan predikat secara tepat. Dari segi semantik, anak-anak sangat mampu membuat generalisasi dan memaknai sebuah kata dengan tepat, mereka tidak mengalami kesulitan dalm menggenarilasasi sebuah makna kata.Yang terakhir adalah pemerolehan bahasa dilihat dari bidang pragmatik. Anak-anak telah mampu menggunakan deikses dalam penggunaan percakapan sehari-hari. Mereka mampu menerapkan dalampercakapan formal dan non formal, percakapan dengan orang tua ataupun dengan teman sebaya. UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Dian Nuswantoro Semarang sebagai penyandang dana penelitian, dan semua rekan-rekan yang telah membantu dalam pelaksanaanya. 92 DAFTAR PUSTAKA Aulia, Nur, dkk. 2011. “Pemerolehan dan Perkembangan Bahasa Anak.” www.academia.edu. Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT Rineka Cipta. —. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: PT Rineka Cipta. Chaplin, J. P. 1997. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Grafindo Persada. Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hetherington, R. D., dan M. Parke. 1975. Child Psychology: A Contemporary Viewpoint. Fifth Edition. United States: McGraw-Hill. Jamaris, Martini. 2006. Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-kanak. Jakarta: Gramedia. Maksan, Marjusman. 1993. Psikolinguistik. Padang: IKIP Padang Press. Mansur. 2005. Pendidikan ANak Usia Dini dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sujiono, Yuliani Nurani. 2011. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: PT INDEKS. Suyanto, Slamet. 2005. Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Hikayat Publishing. Tedjasaputra, Mayke. S. 2011. Bermain, Mainan, dan Permainan untuk Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Grasindo. Yogatama, Adiprana. 2011. “Pemerolehan Bahasa Anak Umur 3 Tahun Ditinjau dari Segi Morfosintaksis.” LENSA (Fakultas Bahasa dan Budaya Asing - Universitas Muhammadiyah Semarang) Volume 1, Nomor 1: 66-77. Page 1 Page 2 Page 1 Page 2