Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 124 Perbandingan Gramatikal Kata Benda Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang Diana Kartika diana.kartika67@gmail.com Universitas Bung Hatta, Padang ABSTRAK Bahasa merupakan bagian terpenting dalam kehidupan bermasyarakat serta bersosialisasi, kapanpun dan di manapun seseorang berada, bahasa menjadi sesuatu yang sangat penting karena tanpa bahasa manusia tidak dapat saling berinteraksi dan mengerti budaya satu sama lain, selain itu suatu hubungan juga tidak akan tercipta diantara manusia bila tidak adanya suatu bahasa. Dewasa ini bahasa Jepang menjadi bahasa asing yang banyak diminati oleh orang Indonesia, baik pelajar, mahasiswa atau siapa saja yang memang tertarik dengan bahasa Jepang. Dalam kepentingan selanjutnya, bahasa Jepang dipelajari sebagai ilmu bahasa yang digunakan untuk studi di Jepang atau sebagai bahasa pengantar pada perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di luar negara Jepang. Jadi untuk memahami jalan pikiran orang Jepang salah satunya adalah dengan cara berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang. Konsep ketatabahasaan bahasa Jepang berbeda jauh dengan bahasa Indonesia, misalnya bentuk struktur kalimat bahasa Jepang menggunakan pola Subjek (S) Objek (O) Predikat (P) disingkat menjadi SOP, sedangkan struktur kalimat bahasa Indonesia menggunakan pola Subjek (S) Predikat (P) Objek (O) disingkat menjadi SPO. Penelitian ini berfokus terhadap kata benda bahasa Indonesia dan bahasa Jepang yang dianalisis dengan cara membandingkan dari segi bentuk kata benda kedua bahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kontrastif dimana unsur lingual dari kedua bahasa yang diteliti dikontraskan dan ditarik kesimpulan sebagai hasil akhir dari penelitian ini. Hasil penelitian adalah bahwa unsur kata benda dalam bahasa Jepang (subjek, objek) ditentukan oleh partikel seperti WA, O, dan lainnya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada sistem gramatikal pengikut kata benda tersebut. Unsur kata benda dalam bahasa Indonesia ditentukan oleh urutan kata dalam kalimat. Persamaan kata benda bahasa Indonesia dan bahasa Jepang adalah sama-sama menduduki fungsi subjek, objek yang mengacu nama orang, tempat dan sebagainya. Kata kunci: kata benda bahasa Indonesia, kata benda bahasa Jepang, kontrastif ABSTRACT Language is an important part in social life and socializing, whenever and wherever a person is, the language is very important because without language human cannot interact and understand each other, a relationship is not going to exist between human beings if there is no language. Today, Japanese as a foreign language is in great demand by the people of Indonesia, whether students or anyone who is interested in Japanese. In a further interest, the Japanese language is studied as a https://bocahsastra.wordpress.com/2012/04/14/perbandingan-bahasa-arab-dan-bahasa-inggris/ Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 125 science language used to study in Japan or as an introduction to the language of the Japanese companies that are outside of Japan. So, one way to understand the Japanese way of thinking is to communicate using Japanese. The concept of grammatical Japanese is much different from the Indonesian, for example, the structure of Japanese sentence using the pattern of subject (S) the object (O) predicate (P) shortened to SOP, while the Indonesian sentence structure uses the pattern of subject (S) predicate (P) objects (O) shortened to SPO, Japanese is also familiar with change of verbs that is not familiar in Indonesian. This study focuses on analyzing Indonesian and Japanese nouns by comparing the terms of the noun form of both languages. This study uses lingual contrastive analysis in which the elements of the two languages studied and were drawn conclusions as the final outcome of this study. The research result is that elements in Japanese noun (subject, object) are determined by particles such as WA, O, and more. While in the Indonesian language there is no word following grammatical system of the object. Elements of noun in Indonesian are determined by the order of words in a sentence. Indonesian and Japanese nouns are equally occupying the function of the subject and the object, which refer to names of people, places, etc. Keywords: Indonesian nouns, Japanese nouns, contrastive PENDAHULUAN Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan alat untuk berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, bahasa adalah alat yang digunakan sebagai sarana interaksi dalam terjalinnya sebuah komunikasi. Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa lisan maupun bahasa tulis yang tujuannya untuk menyampaikan ide, pikiran, hasrat ataupun keinginan kepada orang lain. Dalam bahasa lisan, suatu ide, pikiran atau keinginan disampaikan secara langsung dengan cara diucapkan dan dengan bantuan udara pernapasan. Menurut Cahyono (1995: 6) pada teori „ta- ta‟dituliskan bahwa bahasa lisan bermula dari peniruan gerakan dan isyarat tubuh secara verbal, berhubungan dengan mulut dan lidah sehingga mendorong orang untuk berbicara. Sedangkan bahasa tulis, ditulis dengan menggunakan sistem tulisan. Bahasa merupakan bagian terpenting dalam kehidupan bermasyarakat serta bersosialisasi, kapanpun dan dimanapun seseorang berada, bahasa menjadi sesuatu yang sangat penting karena tanpa bahasa manusia tidak dapat saling berinteraksi dan mengerti budaya satu sama lain, selain itu suatu hubungan juga tidak akan tercipta diantara manusia bila tidak adanya suatu bahasa. Bahasa juga dapat diartikan sebagai sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama,berinteraksi dan mengidentifikasikan diri (KBBI, 2008: 88). Dewasa ini bahasa Jepang menjadi bahasa asing yang banyak diminati oleh orang Indonesia, baik pelajar, mahasiswa atau siapa saja yang memang tertarik dengan bahasa Jepang. Dalam kepentingan selanjutnya, bahasa Jepang dipelajari sebagai ilmu bahasa yang digunakan untuk studi di Jepang atau sebagai pengantar bahasa pada perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di luar negara Jepang. Jadi untuk memahami jalan pikiran orang Jepang salah satunya adalah dengan cara berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang. Tetapi ternyata memang tidak mudah memahami Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 126 tataran bahasa Jepang karena banyak sekali ungkapan – ungkapan untuk menyatakan suatu kondisi yang sama. Konsep ketatabahasaan bahasa Jepang berbeda jauh dengan bahasa Indonesia, misalnya bentuk struktur kalimat bahasa Jepang menggunakan pola Subjek (S) Objek (O) Predikat (P) disingkat menjadi SOP, sedangkan struktur kalimat bahasa Indonesia menggunakan pola Subjek (S) Predikat (P) Objek (O) disingkat menjadi SPO, bahasa Jepang juga mengenal pola perubahan kata benda yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman tentang aturan atau kaidah – kaidah yang terdapat pada bahasa tersebut dan kesabaran dalam mempelajarinya. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan suatu bahasa yang komunikatif. Penulis sebagai pengajar bahasa Jepang ingin lebih mendalami bahasa Jepang dan merasa tertarik untuk membahas salah satu sub bagian dari kelas kata antara bahasa Indonesia dengan bahasa Jepang serta mencoba untuk membandingkannya. Adapun bagian yang ingin penulis bandingkan adalah kata benda bahasa Indonesia dengan kata benda bahasa Jepang atau yang sering disebut meishi dan mencoba membahas perbedaan antara keduanya. Keraf menjelaskan bahwa kata benda adalah segala kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan yang + kata sifat; contoh: Ibu yang baik. Di samping itu kata benda juga berarti segala kata yang mengandung morfem terikat ke- an, pe-an, pe-, -en, ke-; contoh: ke-budayaan, pelaku, makanan, peraturan. Sedangkan kata benda dalam bahasa Jepang atau yang biasa disebut meishi adalah kelas kata dari segala benda dan segala hal yang telah dibendakan, seperti nama binatang, nama tempat, nama waktu, hal abstrak, dan sebagainya (Saputra, 2015: 101). Meishi dalam bahasa Jepang dibagi kedalam 5 kelompok, yaitu koyuu meishi, daimeishi, futsuumeishi, keishikimeishi dan suushi, yang masing-masing jenis kata tersebut terdapat kosakata (nomina) yang sudah dikelompokkan berdasarkan fungsinya (Sudjianto, 2010: 14-15). Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas maka ada beberapa persoalan pokok yang dapat dijadikan rumusan masalah yaitu: 1. Bagaimana bentuk kata benda dalam bahasa Indonesia? 2. Bagaimana bentuk kata benda dalam bahasa Jepang? 3. Apa saja perbedaan dan persamaan diantara bentuk kata benda dalam bahasa Indonesia dan Jepang? TINJAUAN PUSTAKA Konsep ketatabahasaan bahasa Jepang berbeda jauh dengan bahasa Indonesia, misalnya bentuk struktur kalimat bahasa Jepang menggunakan pola Subjek (S) Objek (O) Predikat (P) disingkat menjadi SOP, sedangkan struktur kalimat bahasa Indonesia menggunakan pola Subjek (S) Predikat (P) Objek (O) disingkat menjadi SPO, bahasa Jepang juga mengenal pola perubahan kata benda yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman tentang aturan atau kaidah – Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 127 kaidah yang terdapat pada bahasa tersebut dan kesabaran dalam mempelajarinya. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan suatu bahasa yang komunikatif. Penulis sebagai pengajar bahasa Jepang ingin lebih mendalami bahasa Jepang dan merasa tertarik untuk membahas salah satu sub bagian dari kelas kata antara bahasa Indonesia dengan bahasa Jepang serta mencoba untuk membandingkannya. Adapun bagian yang ingin penulis bandingkan adalah kata benda bahasa Indonesia dengan kata benda bahasa Jepang atau yang sering disebut meishi dan mencoba membahas perbedaan antara keduanya. Kata benda adalah segala kata yang dapat diterangkan atau diperluas dengan yang+kata sifat contah Ibu yang baik. Di samping itu segala kata yang mengandung morfem terikat ke-an, pe-an, pe-, -en, ke-. Contoh: ke-budayaan, pelaku, makanan, peraturan. Sedangkan kata benda dalam bahasa Jepang atau yang biasa disebut meishi adalah kelas kata dari segala benda dan segala hal yang telah dibendakan, seperti nama binatang, nama tempat, nama waktu, hal abstrak, dan sebagainya (Saputra, 2015: 101). Meishi dalam bahasa Jepang dibagi kedalam 5 kelompok, yaitu koyuu meishi, daimeishi, futsuumeishi, keishikimeishi dan suushi, yang masing-masing jenis kata tersebut terdapat kosakata (nomina) yang sudah dikelompokkan berdasarkan fungsinya (Sudjianto, 2010: 14-15). METODE Penelitian ini dilakukan dengan mencari sumber teori mengenai kata benda bahasa Indonesia maupun dalam Bahasa Jepang. Metode penelitian yang akan digunakan oleh penulis adalah metode deskriptif analisis. Penulis menggunakan sumber penelitian yang berasal dari karya tulisan seperti buku, skripsi, jurnal dan internet. Pertama-tama penulis mengumpulkan teori dan menyeleksinya sesuai dengan tingkat relevansinya dengan topik yang diteliti. Selanjutnya penulis akan mendeskripsikan dan menganalisa kata benda yang terdapat dalam kalimat bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Data dari hasil penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis konstratif yang berguna untukmenemukan persamaan dan perbedaan antara dua bahasa tersebut dalam kaitan dengan bentuk dan fungsi. Menurut Tarigan (2009:7) analisis kontrastif memiliki lima langkah, yaitu: 1) mengumpulkan data, yaitu dua bahasa yang akan dianalisis, 2) mengidentifikasi dan mengklasifikasi perbedaan dan persamaan dua bahasa tersebut, 3) memprediksi kesalahan dan kesulitan belajar, 4) mengevaluasi kesalahan, dan 5) menyiapkan bahan pengajaran. HASIL DAN PEMBAHASAN Kata Benda Bahasa Indonesia Kata benda disebut juga denga nomina seperti kata bintang, perbintangan, amal, amalan, raja, kerajaan, catur, dan pecaturan, yakni kata yang umumnya Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 128 menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap dalam klausa, fungsi induk, pewatas, atau poros dalam frasa, berpenanda bentuk –an, ke-…-an, per-…-an, dan mengungkap makna „kesatuan bernyawa‟, „kesatuan tak bernyawa, „konkret‟ atau „abstrak‟. 1. Kata Benda dan Fungsinya Kata benda menduduki fungsi dalam klausa, kalimat atau frasa. Dalam kalimat atau klausa fungsi umum yang biasa diduduki kata benda adalah fungsi subjek (S) dan fungsi (O). a. Kata Benda sebagai Subjek Berikut ini contoh dari kata benda sebagai subjek. Kata yang berfungsi subjek dicetak miring. - Pemain sepak bola itu sudah kelelahan. - Tebakannya benar. - Ibunya sudah bekerja seharian. Pada umumnya subjek berada di depan meskipun kadang-kadang didahului oleh keterangan. - Tiba-tiba Adik jatuh ke kali. - Pada suatu hari seekor harimau memangsa Sang Kancil. - Barangkali tebakannya benar. b. Kata Benda sebagai Objek Berikut ini contoh dari kata benda sebagai objek. Kata yang berfungsi subjek dicetak miring. - Maria menulis puisi. - Sang Kancil mengelabui Sang Buaya. - Mahasiswa mengibarkan Sang Saka. Kata benda sebagai objek terdapat di belakang kata kerja tertentu yang disebit kata kerja transitif seperti membuat, melemparkan, melakukan, menyanyikan. c. Kata Benda sebagai Pelengkap Kata benda yang berada di belakang kata intransitif seperti bertemu, bernama, merupakan, menjadikan, dan terkena tidak menduduki fungsi objek tetapi berfungsi pelengkap. Dalam contoh-contoh berikut kata yang berfungsi sebagai pelengkap dicetak miring. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 129 - Perusahaan itu berganti nama. - Banyak wilayah terkena musibah. - Indonesia berlandaskan hukum. d. Kata Benda sebagai Predikat Dalam bahasa Indonesia fungsi predikat tidak hanya dinyatakan dengan kata kerja. Kata benda dan kata sifat pun dapat menduduki fungsi predikat. Berikut ini beberap contoh kata benda yang menduduki fungsi predikat. Dalam contoh-contoh berikut kata yang berfungsi sebagai predikat dicetak miring. - Nama saya Udin. - Yang diincar Indonesia. - Tempat lahir saya Padang. e. Kata Benda sebagai Induk Frasa Kata benda dapat berfungsi sebagai induk sebuah frasa. Artinya, kata benda tersebut merupakan bagian inti yang menandai frasa yang bersangkutan. Dalam contoh-contoh berikut kata yang berfungsi sebagai induk frasa dicetak miring. - daftar minuman - surat edaran - hidangan lezat 2. Kata Benda dan Bentuknya Berdasarkan bentuknya kata benda dibagi menjadi dua kelompok: kata benda yang tidak berpenanda bentuk, misalnya awan, bumi, daun, gunung, adalah kata benda yang tidak berimbuhan. Kata benda yang berpenanda bentuk, misalnya aturan, peraturan, dan keamanan dikenal senagai kata benda dari imbuhan yang ada pada kata itu. a. Kata Benda Tidak berpenanda Kata seperti awan kita ketahui sebagai kata benda antara lain karena posisinya dalam kalimat, misalnya Awan berarak di langit, Matahari tertutup awan, Awan itu menyerupai raksasa. Pada kalimat pertama awan berfungsi sebagai subjek (S). pada kalimat kedua awan berfungsi sebagai pelengkap. Pada kalimat ketiga awan berfungsi sebagai awan diikuti kata tunjuk itu. b. Kata Benda Tidak berpenanda Ada sejumlah imbuhan yang jika dibubuhkan atau ditambahkan pada kata dasar akan menyebabkan bentukan yang terjadi berjenis kata benda. Imbuhan itu adalah per-, pe-, ke-, -an, ter-, ke-…-an, per-…-an, dan pe-…-an. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 130 i. Awalan pe(r)- sebagai Penanda Kata Benda Penambahan awalan pe(r)- kepada kata dasar membentuk kata benda. Kebanyakan kata benda bentukan seperti ini (dalam maknanya) berkaitan dengan kata kerja berawalan ber- (pedagang- berdagang, petinju – bertinju, pemain- bermain, pelari-berlari, dan seterusnya). Contoh sebagai berikut. 1) Kata dasar berupa kata kerja - Ini pesuruh kantor kami. - Ramang adalah pemain bola. - Serengat adalah mantan pelari 100m. 2) Kata dasar berupa kata sifat - Para petinggi di departemen itu sangat memperhatikan karyawannya. - Hama perusak tanaman padi itu sukar dibasmi. - Adikku seorang periang. 3) Kata dasar kata benda - Suku-suku itu hidup sebagai peladang berpindah. - Ayahku seorang petani kecil. - Beberapa orang petinju Indonesia pernah menjadi juara dunia. ii. Awalan pe- sebagai Penanda Kata Benda Awalan ini bergabung dengan kata dasar dari beberapa jenis kata membentuk kata benda. Umumnya kata benda yang dihasil dala pembentukan itu berkaitan (maknanya) dengan kata berawal me-, me-…-kan, me-…-i, penyejuk-menyejukan. 1) Kata dasar berupa kata kerja - Stadion Utama menggunakan mesin pemotong rumput yang canggih. - Pengurus harian perkumpulan itu berkantordi sebelah kantor Camat. - Para penanam tebu mengharap panen yang bagus tahun ini. 2) Kata dasar berupa kata sifat - Pendingin udara tidak boleh menggunakan gas Freon. - Pemanas air ini menggunakan tenaga panas matahari. - Campuran penguat semen itu dijual dalam kemasan plastik. 3) Kata dasar berupa kata benda - Profesor Watuseke menjadi pengarah seminar. - Para pengguna barang terlarang perlu mendapat perhatian lebih serius. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 131 - Pemilik hak cipta buku ini Pusat Bahasa iii. Akhiran –an sebagai Penanda Kata Benda Penambahan akhiran –an pada kata dasar atur, turun, buat, pukul, pilih membentuk kata benda aturan, turunan, buatan, pukulan, dan pilihan. Penambahan akhiran –an pada kata dasar bulat, lapang, santu, tegang, dan unggul membentuk kata benda bulatan, lapangan, santunan, teganggan, dan unggulan. Penambahan akhiran –an pada kata dasar kata jaring, batua, alun, laut, darat membentuk kata benda baru jaringan, batuan, alunan, lautan dan daratan. iv. Awalan ter- sebagai Penanda Kata Benda Dalam bahasa Indonesia terdapat kata benda yang bertanda ter- jumlah kata benda seperti itu terbatas. Seperti contoh berikut ini. - Terdakwa dalam perkara penipuan itu mengaku bersalah. - Seorang pejabat dijadikan tertuduh dalam perkara penyuapan. - Para tersangka didampingi lima orang pengacara. v. Apitan ke-…-an sebagai Penanda Kata Benda Apitan adalah imbuhan yang dibubuhkan secara serentak di depan dan di belakang kata dasar. Penanda kata benda ke-…-an dapat dibubuhkan kepada kata dasar yang jenis katanya berbeda-beda seperti contoh berikut ini. 1) Kata dasar berupa kata kerja - Keadaan cuaca akhir-akhir ini memerlukan kewaspadaan. - Kami sedang menunggu kedatangan Pak Camat. - Kedudukan Ansar dalam organinisasi itu cukup tinggi. 2) Kata dasar berupa kata sifat - Keelokan putrid itu membuat Markus Antonius mabuk kepayang. - Sesudah kemalasan datanglah kemiskinan. - Narkoba hanya memberikan kesenangan sesaat. 3) Kata dasar berupa kata benda - Istilah kekerabatan berbeda menurut bahasa penuturnya. - Anggota keluarga kerajaan termasuk golongan bangsawan. 4) Kata dasar berupa kata keterangan - Anak-anak itu memperagakan kebolehan mereka masing-masing. - Ada kemungkinan bahwa subsidi pemerintah akan dikurangi. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 132 3. Beberapa Kata Penanda Kata Benda Kata benda juga dikenal melalui beberapa kata di depan atau di belakangnya. Misalnya, kata para dalam rangkaian para sahabat, para santri, para nelayan, para guru. Kata para menunjukan jumlah yang lebih dari satu. Kata para hanya diiukuti kata benda yang mempunyai makna manusi atau makhluk halus. Tidak dapat diikuti kata yang melambangkan binatang atau benda yang tidak melambangkan manusia maupun binatang. a. Bukan sebagai Pengingkar Kata Benda Kata bukan umumnya diikuti kata benda, jadi kehadiran kata pengingkar ini dapat dipakai sebagai pengenal kata benda juga. Contoh sebagai berikut. - Namanya Wilson, tetapi dia bukan orang asing. - Martina yang ini bukan petenis. - Kami memerlukan solusi, bukan kolusi. b. Kata Bilangan sebagai Penanda Kata Benda Kata bilangan bilangan juga dapat menjadi penanda kehadiran kata benda. Contoh sebagai berikut. - Harga cabai merah pernah mencapai dua puluh ribu rupiah sekilo. - Pertemuan itu tidak berhasil membuat satu keputusan pun. - Waktunya tinggal beberapa menit lagi 4. Kata Benda dan Maknanya Penggolongan kata benda berdasarkan maknanya merupakan sesuatu yang rumit. Kelas kata benda adalah kelas terbuka. Artinya jumlah kata benda dapat bertambah terus. Setiap ada penemuan, benda, produk, gagasan, dan tempat baru biasanya ada kata baru yang melambangkannya. Menurut ranah yang menggambarkan kesatuan, kata benda dapat dibedakan menjadi dua kesatuan berdasarkan penggambaran kepemilikan nyawa: kata benda bernyawa dan kata benda tidak bernyawa. Kata benda dapat juga dibagi berdasarkan pengindraan menjadi kata benda konkret seperti rumah, sungai, bulan, mawar, yang menggambarkan kesatuan yang dapat ditangkap dengan pengindraan dan kata benda abstrak seperti, pendapat, keinginan, kepuasan, tugas, yang menggambarkan kesatuan yang tidak dapat ditangkap dengan pancaindra. Kata Benda Bahasa Jepang Kata benda adalah kelas kata dari segala benda dan segalah hal yang telah dibendakan ( Saputra, 2015:101). Tanimori (2012: 82) Noun is refer to people, things, and concept, and can be place in the subject or object position of a sentence or can be followed by particles. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 133 Berikut ini adalah contoh kata benda, antara lain 1) Watashi, 2) Yamamoto, 3) Neko, 4) Oosaka, 5) Toire, 6) Ai, dan 7) Houhou. 1. Jenis-jenis Kata benda Bahasa Jepang Tanimori (2012: 82) menjelaskan kata benda dalam bahasa Jepang dapat menjadi sebuah kalimat yang utuh jika dilengkapi menjadi sebuah kalimat yang utuh jika dilengkapi dengan kata-kata lainnya, seperti kata kerja, kata sifat, keterangan, dan partikel. Tidak hanya itu, kata benda dapat digunakan dalam kalimat bentuk positif, negative dan interogatif. Adapun jenis-jenis kata benda yaitu: a. Futshuu Meishi Futshuu meishi adalah kata benda umum. Seperti menyebutkan barang, peristiwa, dll.Contoh: Boushi (topi), Yama (gunung), Jitensha (sepeda), Matsuri (festival), dll. b. Koyuu Meishi Koyuu Meishi adalah kata benda khusus. Seperti nama orang, nama daerah, dll.Contoh: Yamada san (sdr.Yamada), Furansu (Perancis), Asahi (nama sebuah koran), dll. - Watashi wa Yamada desu. Kochira wa Tanaka san desu. - Shanhai to Nyunyoku ni ikimasu. c. Keishiki Meishi Adalah kata benda yang tidak memiliki arti yang sebenarnya.Contoh: koto, mono, hazu, hodo, wake, bakari, mama, kurai, dll. d. Suushi Suushi adalah kata benda sistem perhitungan. Contoh: Hachi (delapan), Hitotsu (satu buah), Sannin (tiga orang), Gomai (lima lembar), Ichiban (nomor satu), Rokudai (enam buah benda bermesin), dll. e. Daimeishi Daimeishi adalah kata benda sebagai kata ganti. Contoh: Watashi (saya), Kanojo (dia pr.), Kore (ini), Sochira (sebelah situ), dll. - Kono neko wa kawaii desu ne. - Gakusei ga futari kimashita - Soto o sokoshi kudasai. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 134 2. Kata Benda yang Berasal Dari Kata Kerja Beberapa kata kerja berfungsi sebagai kata benda. Contoh, kata kerja hajimeru menjadi hajime, nomi-sugiru menjadi nomi-sugi yang berfungsi sebagai kata benda. Contoh dalam kalimat sebagai berikut. - Iki wa basu de kaeri wa takushi desu - Umare wa doko desu ka - Tasuke wa irimasen 3. Kata Benda yang Berasal Dari Kata Sifat Beberapa kata sifat diikuti oleh kata sifat –sa atau – mi dapat menjadi sebagai kata benda. Berikut contoh perubahan kata sifat menjadi kata benda. Kata sifat Kata benda akai aka fukai fukasa shiroi shiro takai takasa tanoshii tanoshimi 4. Kalimat Positif Kalimat positif dibagi menjadi dua bagian,yaitu positif sekarang dan positif lampau.Contoh kalimat positif sekarang (+) - Watasiwa wa Mira desu. - Joko-san wa gakusei desu. - Asoko wa uketsuke desu. Selanjutnya contoh kalimat positif lampau (+) - Watashi wa koukousei deshita. - Sengetsu wa natsuyasumi deshita. - Asoko wa uketsuke deshita. 5. Kalimat Negatif Kalimat negatif dibagi menjadi dua bagian ,yaitu negatif sekarang dan negatif lampau. Contoh kalimat negatif sekarang (-) - Watashi wa Mira dewa arimasen. - Joko- san wa gakusei ja arimasen - Asoko wa uketsuke dewa arimasen. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 135 Selanjutnya contoh kalimat negatif lampau (-) - Watashi wa koukousei dewa arimasen deshita. - Sengetsu wa natsuyasumi ja arimasen deshita. - Asoko wa uketsuke dewa arimasen deshita. 6. Kalimat Integrogatif Kalimat Interogratif dibagi menjadi dua bagian,yaitu interogratif sekarang dan interogratif lampau. Contoh kalimat Interogratif sekarang (+) - Anata wa Mira-san desuka ? - Joko-san wa gakusei desuka ? - Asoko wa uketsuke desuka ? Selanjutnya contoh kalimat interogratif lampau (-) - Anata wa koukousei deshitaka ? - Sengetsu wa natsuyasumi deshitaka ? - Asoko wa uketsuke deshitaka ? Perbandingan Kata Benda dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Jepang Dalam bahasa Jepang kata kerja dibagi kedalam 4 bagian: 1) daimeishi, 2) futsuumeishi, 3) keishikimeishi, 4) koyuu meishi, 5) dan suushi. Koyuu meishi adalah kata benda nama orang atau tempat yang selalu diikuti dengan –san atau –sama. Unsur kata benda dalam bahasa Jepang (subjek, obejek) ditentukan oleh partikel seperti WA, O, dan lainnya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada sistem gramatikal pengikut kata benda tersebut. Unsur kata benda dalam bahasa Indonesia ditentukan oleh urutan kata dalam kalimat.Pola kalimat dalam bahasa Jepang SPO sedangkan dalam kalimat bahasa Indonesia SOP. Persamaan kata benda bahasaIndonesia dan bahasa Jepang adalah sama-sama menduduki fungsi subjek, objek yang mengacu nama orang, tempat dan sebagainya. Kata benda bahasa Indonesia dan bahasa Jepang dapat menjadi sebuah kalimat yang utuh apabila dilengkapi dengan kata yang lainnya seperti kata sifat, kata keterangan, dan partikel. KESIMPULAN Dari analisis kontrastif antara kata benda bahasa Jepang dengan kata benda bahasa Indonesia diatas dapat diambil kesimpulan kata benda dalam bahasa Indonesia disebut juga denga nomina seperti kata bintang, perbintangan, amal, amalan, raja, kerajaan, catur, dan pecaturan, yakni kata yang umumnya menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap dalam klausa, fungsi induk, pewatas, atau poros dalam frasa, berpenanda bentuk –an, ke-…-an, per-…-an, dan mengungkap makna „kesatuan bernyawa‟, „kesatuan tak bernyawa, „konkret‟ atau „abstrak‟. Sedangkan Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 136 dalam bahasa Jepang noun is refer to people, things, and concept, and can be place in the subject or object position of a sentence or can be followed by particles. Struktur kalimat dalam kalimat bahasa Indonesia dan bahasa Jepang berlawanan, yaitu bahasa Jepang berpola S O P dan bahasa Indonesia berpola S P O. Dalam bahasa Indonesia kata benda dibagi ke dalam 2 bagian; 1) kata benda dan fungsinya yaitu berupa kata benda yang menyebutkan fungsi dari masing-masing kata seperti S (subjek), P (predikat), O (objek), dan Pel (pelengkap), 2) kata benda dan bentuknya yaitu kata benda yang yang tidak berpenanda dan kata benda berpenanda. Dalam bahasa Jepang kata kerja dibagi kedalam 4 bagian: 1) daimeishi, 2) futsuumeishi, 3) keishikimeishi, 4) koyuu meishi, 5) dan suushi. Unsur kata benda dalam bahasa Jepang (subjek, objek) ditentukan oleh partikel seperti wa, o, dan lainnya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada sistem gramatikal pengikut kata benda tersebut. Unsur kata benda dalam bahasa Indonesia ditentukan oleh urutan kata dalam kalimat. Pola kalimat dalam bahasa Jepang SPO sedangkan dalam kalimat bahasa Indonesia SOP. Persamaan kata benda bahasa Indonesia dan bahasa Jepang adalah sama-sama menduduki fungsi subjek, objek yang mengacu nama orang, tempat dan sebagainya. Kata benda bahasa Indonesia dan bahasa Jepang dapat menjadi sebuah kalimat yang utuh apabila dilengkapi dengan kata yang lainnya seperti kata sifat, kata keterangan, dan partikel. DAFTAR PUSTAKA Alwi, Hasan, dkk. (2003). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Arifin, Zaenal dan Junaiyah. (2007). Morfologi Bentuk, Makna, dan Fungsi. Jakarta: PT Grasindo. Badudu, J.S. (1992). Cakrawala Bahasa Indonesia II. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Bleiler. Everett F. (1993). Basic Japanese Grammar. Tokyo: Tutle Publishing. Cahyono, Bambang Yudi. (1995). Kristal-kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga University Press. Dahidi, Ahmad. “Kelas Kata dalam Bahasa Jepang,” diunduh 11 Februari 2017 dari Direktori. http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_JEP ANG/195802281983031- AHMAD_DAHIDI/Artikel2/KELAS_KATA_DALAM_BAHASA_JEPAN G.tugas_cece.pdf. Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Efendi, dkk. (2015). Tata Bahasa Dasar Bahasa Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya. Keraf, Gorys. (1997). Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende, Flores: Penerbit Nusa Indah. Kusdiyana, Eman. (2002). “Kontrastif antara Bahasa Jepang dengan Bahasa Indonesia Ditinjau dari Segi Preposisi”. Jurnal USU. Masuoka, Takubo (1992). Kiso Nihongo Bunpou – kaiteiban. Kuroshio. Saputra, Aditya dan Wipriyanto. (2016). Jago Kuasai Bahasa Jepang. Yogyakarta: Pustaka Baru Press Sudjianto. (2010). Metode Pembelajaran Bahasa Jepang. Bekasi: Kesaint Blanc. http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_JEPANG/195802281983031-AHMAD_DAHIDI/Artikel2/KELAS_KATA_DALAM_BAHASA_JEPANG.tugas_cece.pdf http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_JEPANG/195802281983031-AHMAD_DAHIDI/Artikel2/KELAS_KATA_DALAM_BAHASA_JEPANG.tugas_cece.pdf http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_JEPANG/195802281983031-AHMAD_DAHIDI/Artikel2/KELAS_KATA_DALAM_BAHASA_JEPANG.tugas_cece.pdf http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_JEPANG/195802281983031-AHMAD_DAHIDI/Artikel2/KELAS_KATA_DALAM_BAHASA_JEPANG.tugas_cece.pdf http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_JEPANG/195802281983031-AHMAD_DAHIDI/Artikel2/KELAS_KATA_DALAM_BAHASA_JEPANG.tugas_cece.pdf Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Volume 7 Nomor 2 e-ISSN: 2503-328X 137 Sukini. (2010). Sintaksis sebuah Panduan Praktis. Surakarta: Yuma Pustaka. Sutrisno, Hadi. (1993). Metodologi Research. Yogyakarta: Andi. Tanimori, Masahiro. (2012). Essential Japanese Grammar. Tokyo: Tutle Publishing. Tarigan, Henri Guntur. (1990). Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa. Tarigan, Henry Guntur dan Djago Tarigan. (2009). Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.