15 BENTUK TUTURAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN PADA KIDUNGAN JULA-JULI (STUDI ETNOGRAFI KOMUNIKASI) Meka Nitrit Kawasari 1 ABSTRACT The differences between men and women don’t only deal with physical aspects but also the use of language. As for the latter, the differences appear in word choices, as well as speech tones and styles. The research aimed at describing the differences between men’s and women’s speeches in kidungan jula-juli. Method used in the research was descriptive qualitative and ethnography of communication. The collected data were described and analysed using theory of speech components of Hymes’ SPEAKING. Language used was spoken language with the setting located in entertainment stage. Results showed that women tended to use the standard form to show politeness and friendliness; meanwhile, men chose to use the vernacular form in order to show familiarity and masculinity as well as express their world. The vernacular form used in kidungan could create some humorous impressions without any exaggeration in comparison to the standard one. Keywords: kidungan, speech components, spoken language, standar, vernacular INTRODUCTION Manusia dan bahasa merupakan satu kesatuan utuh yang saling melengkapi. Manusia membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi dalam kehidupan sosial. Beitu pula bahasa yang membutuhkan manusia untuk tetap hidup dan berkembang. Untuk berinterkasi, manusia memilih berbagai bentuk dan jenis bahasa guna mengungkapkan ide, emosi, dan perasaan. Banyak pendapat bahwa bentuk bahasa yang digunakan laki-laki dan perempuan berbeda. Di Indonesia, laki-laki menggunakan bentuk nonstandar untuk berbicara dengan teman-temannya sebagai gambaran maskulinitas dan keakraban. Sedangkan perempuan, sebagai ‘kanca wingking’ laki-laki, dalam mine set masyarakat Indonesia, terutama Jawa, merupakan sosok yang harus berperilaku halus dan santun untuk menjaga wibawa diri di masyarakat serta sebagai sosok teladan untuk anak- anaknya. Sama seperti di Jepang, bahwa perempuan harus menggunakan bentuk bahasa yang santun dan laki-laki menggunakan bentuk yang kurang santun. Pada dunia hiburan, laki-laki dan perempuan biasanya menggunakan bentuk bahasa yang berbeda-beda. Bentuk standar dan nonstandar ini akan terlihat jelas penggunaannya pada dunia hiburan yang mengandung humor. Sebut saja kidungan 1 Universitas Diponegoro 16 jula-juli dengan parikan dan pantun, yang penuh dengan muatan nasihat untuk kehidupan sehari-hari. Jula-juli kidungan adalah jenis musik khas Surabaya lengkap dengan dagelan atau guyonan. Kidungan ini dapat berdiri sendiri, namun sering juga digunakan pada cerita ludruk. Kidungan merupakan bentuk verbal selain dialog yang digunakan pada ludruk. Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, penelitian ini mengkaji tuturan yang diucapkan oleh laki-laki dan perempuan dalam kidungan jula-juli dengan menggunakan metode etnografi komunikasi. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui komponen tutur yang melatarbelakangi ujaran penutur. Selain itu, untuk mengetahui bentuk bahasa yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan dalam menyampaikan pesan, namun tetap dapat menghibur dengan kelucuan. Elemen-elemen inti dari penelitian etnografi menurut Creswell (dalam. Engkus, 2008: 34) adalah penggunaan penjelasan yang detail; gaya laporan bersifat cerita (story telling); menggali tema-tema kultural, seperi tema-tema tentang peran dan perilaku masyarakat; menjelaskan kehidupan keseharian orang-orang (everyday life of persons) yang mana bukan termasuk ke dalam peristiwa khusus yang menjadi pusat perhatian; laporan keseluruhan perpaduan antara deskriptif, analitis, dan interpretatif; hasil penelitian memfokuskan bukan pada apa yang menjadi agen perubahan, tetapi pada pelopor untuk berubah yang bersifat terpaksa. Etnografi komunikasi merupakan suatu metode untuk menganalisis pola-pola pemakaian bahasa dan dialek dalam budaya tertentu yang berhubungan dengan bentuk-bentuk peristiwa ujaran (speech event), pilihan-pilihan yang dilakukan penutur, topik pembicaraan dan setting pembicaraan (Adistry:2009). Etnografi bertutur menguraikan mode-mode tuturan menurut cara-cara yang dengannya mode-mode tersebut mengonstruksikan dan merefleksikan mode kehidupan sosial dalam masyarakat tutur tertentu (Fitch & Philipsen, 1955: 236) dalam Ibrahim, ed (2009: 150). Hymes (1972) dalam Aslinda & Syafyahya (2007: 33) berpendapat bahwa peristiwa tutur harus memenuhi delapan komponen tutur yang berakronim SPEAKING, yaitu sebagai berikut: S = Setting & Scene, berhubungan dengan waktu, tempat, situasi terjadinya tuturan P = Partisipants, merupakan peserta tutur atau pihak-pihak yang terlibat dalam tuturan E = Ends, merupakan maksud dan tujuan dari peristiwa tutur A = Act Sequences, merupakan bentuk dan isi ujaran K = Key, merupakan nada, penjiwaan dan sikap dalam bertutur 17 I = Instrumentalities, merupakan saluran dan bentuk bahasa yang digunakan pada peristiwa tutur N = Norms, merupakan norma-norma yang digunakan dalam berinteraksi G = Genre Holmes (1992: 71 – 75) membagi penyebab fenomena perbedaan tuturan pada laki-laki dan perempuan ke dalam empat jenis, yaitu: 1) Status sosial Perempuan lebih peduli terhadap status sosial daripada laki-laki, oleh karena itu perempuan lebih memilih menggunakan bahasa standar. 2) Peranan perempuan sebagai penjaga nilai-nilai dalam masyarakat Di mata masyarakat, perempuan diharapkan dapat berperilaku sopan dan baik dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu, perempuan harus menggunakan bahasa standar untuk menjaga kesopanan. 3) Keharusan kaum subordinat untuk berlaku sopan Di beberapa kebudayaan, perempuan berada pada satu tingkat di bawah laki-laki. Sebagai kelompok subordinat, perempuan harus sopan. Oleh karena itu, perempuan menggunakan bahasa standar agar terkesan sopan dan dihargai masyarakat. 4) Bentuk vernacular menunjukkan maskulinitas Bentuk vernacular lebih dapat mengekspresikan dunia kaum laki-laki. Mereka pun beranggapan bahwa bahasa standar merupakan bahasa milik kaum perempuan. METODE PENELITIAN Penggunaan metode penelitan yang tepat sangatlah penting dalam suatu penelitian. Berhasil atau tidaknya penelitian tergantung pada metode yang digunakan. Metode adalah cara yang harus dilaksanakan. Teknik adalah cara melaksanakan metode dan ditentukan oleh alat yang dipakai (Sudaryanto, 1993:9). Penelitian dilakukan melalui tiga tahap, yaitu tahap penyediaan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data (Sudaryanto, 1993: 5 – 8). Pada tahap penyediaan data, penulis menggunakan metode simak dengan teknik lanjutan simak bebas libat cakap. Penulis menyimak tuturan pada video 18 rekaman Supali Karya Buana Kidungan Joss, kemudian mencatat semua tuturan yang dikeluarkan. Pada tahap analisis data, metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskripsi dan etnografi untuk menganalisis komponen tutur yang terdapat pada data. Tahap terakhir adalah tahap penyajian analisis data, digunakan metode informal dengan merumuskan hasil penelitian menggunakan kata-kata biasa. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis akan dilakukan menggunakan komponen komunikasi untuk mengetahui varietas bahasa, pesan yang ingin disampaikan, dan jenis tindak tutur yang menimbulkan humor. Komponen komunikasi tersebut berakronim SPEAKING, yaitu setting & scene, participation, ends, act sequence, key, instrumentalities, dan norms. Berikut adalah analisis dengan menggunakan teori SPEAKING: Setting & Scene Tuturan pada data jula-juli bertempat di panggung hiburan, pada tahun 2006, dan dengan ruang dan waktu terjadinya beberapa bencana pada tahun 2005 dan 2006. Participation Partisipan pada data jula-juli adalah sembilan laki-laki dan dua perempuan dewasa yang termasuk ke dalam tim penyanyi di Supali Karya Buana Kidungan Joss. Partisipan ini beretnis Jawa yang tinggal di Surabaya dengan usia rata-rata setengah baya. End Secara umum tujuan dan maksud tuturan yang tertuang dalam data kidungan adalah untuk menghibur dengan memuat humor, nasihat, pengungkapan perasaan, informasi, ejekan, ajakan, gambaran, dan sindiran. Berikut data yang relevan dengan tujuan tuturan kidungan. 1. Humor Data 1 Wedang kopi gulo sak kintal gak payu rabi nek turu mancal-mancal Slamet : setan-setan gondul Trubus : nek gak gondul ojok dadi setan 19 Data 2 Kopi susu enak wedange Aku kadhung napsu Ndadak kliru podho lanange Data 3 Ono tekek buntute ireng Cah gung tak demek lha kok wis meteng Data 6 Tung tung keripik, he tulang bawang, wak men lak jeret-jeret, mergo anune kecepet lawang 2. Memberi nasihat Data 1 Slamet : buto buto galak Trubus : solahe lonjak-lonjak Slamet : ojok enak-enak wus diceluk bapak Trubus : nek gak isok nyekolahno anak Data 2 Onok dongengan dolur, tinggalane wong tuwo, Sing becik ketetek, sing olo ketoro Pinongko babaran urip ana alam donya Sopo sing eling bakale bejo Merga wong urip dolur mesti kanggonan lali 20 Sipat nggendong welek ayok disigeri Sipat andhap asor, hormat menghormati Nek Ajine diri iku soko lati Dadi wong tuwo neng pancen abot sanggane Momong anak wedok kathek wis gedhe Ibarat diculno ndase ayok digecoki buntute Supoyo slamet momong ragane Data 3 Mbiyen tau lali neng saiki ayo dilakoni Jarene wis kroso nek awakmu cak kakeyan doso Mbiyen tak elengno poro gage dhek ndang tobato Ing dunyo ojo sira podho sembrono Yen leno mesti bakale ciloko Sokur bisa sholat limang wektu cak ojo nganti telat Dimen dingapuro Gusti kang kuwoso Data 4 Wati : penako po wong urip ono alam donyo, nek wegah rekoso urip ra biso mulyo, kudangane bapak lan ibune, sregepo nyambut gawe ojo lali gustine Data 6 ono kodok, kodok lan bakmi, nek betindhang sing mikul alate Peno dadi wong wedok yu, kudu sing gemi, sebab wong lanang sing nyambut gawe 3. Mengungkapkan perasaan Data 3 21 Sayang sayang bojoku sing tak sayang sayang Aku tresno padamu hanya seorang Satu hari tak jumpa koyo sak wulan Hati rindu rasanya tidak karuan Sayang sayang sayang, pacarku sing tak sayang sayang, sayang Engkau manja membuat aku terbayang Engkau marah tambah cantik nan rupawan Kau menangis membuat aku terkenang Sayang sayang sayang jangan ragu alias bimbang Percayalah cintaku tak kan berkurang Tidak makan ingat kamu rasanya jadi kenyang Mau tidur kusebut namamu sayang Data 5 Lintaaaang lintang ngiwir iwir kangmas tresnaku sunduling ati Ndek semono janjimu disekseniiii migolaken tigo ra eling rasa tresno asih yen neng tawang ono lintang wong bagus rungokno tangiseng ati pinarun swarane ratri kangmas enteni bulan ndadari 4. Menginformasikan Data 5 Probolinggo nyoto kondang tekan bongso monco Gunung Bromo klebu tlatah Probolinggo 22 Dasar nyoto endah ing swasono Tuwo mudo podho anyatakno Gunung Bromo kwi sumedong tepung hasil kela Yen sinawang ambyak endahe samudro Kinubengan kabut dadi mendho Kawah bromo kinujung projalmo 5. Mengejek Data 1 Kenalan lanang arane cowok, mula akeh cowok sing lholhak lholhok Nek gak duwe duwek mripate mlorok Bareng ono arek wedok, irunge mekrok Data 2 Ngombe jamu puthu laos Nek numpak motor uline drodos Rupane wis gak ayu ndadak plentas plentos Bareng noleh ndadak untune mrongos Data 6 B : Lak yo ngene lho cak layangan mono dasaran telo Cak Supali bolahe ijo Lak yo ngene lho cak Trubus wong lanang mono dasare ngganteng gurung duwe bojo 6. Mengajak Data 1 Slamet : setan setan gondul Trubus : temokno yo duwikku 23 Slamet : dadi wong urip ojok ngombal ngambul Trubus : sing penting ayok bersatu Data 2 onok sing ngarani dolur iku murkaseng teko mahakuasa mulane ayok seng ati-ati klawan was wahargiyan Data 3 Mulo ayuk padha nyumbang cak klawan dedongo Ayok podho memuji nyenyuwun marang gusti Alloh Data 6 Kenthut : Manuk emprit budhal begadang onok yuyu dadi penyanyi Mumpung jek urip ayo padha sembahyang kanggo sangu besok nek mati 7. Memberi gambaran Data 1 Jaman, jaman sakniki, akeh wong wedok sing pinter berai Alise dikerik, lambe dibengesi, rambut disemir, mripat dicelaki Data 2 Kejadian alam dolor taun duaribu lima ndadekna peristiwa terjadi beehehehencanaaiaaa gempa melanda, angin kencang menerpa mulane akeh perkampungan tergenang banjir poraaaaaaaaakpooooooraaahaaahaaaanda tanpo disadari dolur tekane musibah sing jiwane gak tertolong 24 kehilangan keeeluuuhuuuwaaahahargiaaaaiaaa Data 3 Ayok podho eling dolur Nasipe rakyat Aceh Kenek bencana alam sing mati wis akeh Korbane jiwo lan donya bondho dadekno rakyat Aceh atine nelongso Gelombang sunami dolur pancen bebayani Dadekno rakyat Aceh kelangan sanak pamili Data 4 Pendik : eeeenake jangan aseeeem keecut sambelee kemangi maangane bubar nyambut gawe, nadyan lawuh tempe neng sehat awake Wati : segere ngombe banyu keendi , ngrokok nglinting dewe, nadyan mung manggon ono ndeso nyatane ayem tentrem, ngempal sakkluwargo 8. Menyindir Data 2 Pancen wis dadi hobine arek nom-noman Nek onok orkes kaya kepethuk panganan Sing nyanyi ayu-ayu mengundang gaya merangsang Sing nontok cengingar-cengingir mergo nguwasno goyangan Data 3 Opo bener dolor sak iki jaman wis tuwo Buktine akeh dulur kok dadi wong liyo Wis akeh wong sugueh kok padha mentolo Uga akeh anak sing wani karo wong tuwo 25 Uga akeh penjahat sing ngilangno nyowo Kok tego mentolo karo sak podho-podho Sing tujuane dolor cumak pamrih donya bondho Sampek gak wedi doso, gak wedi sing kuwoso Uga akeh menungsa dolor sipate angkoro Dumeh awake saiki duwe panguwoso Kendel tumindak murko klawan cendolo gak perduli rugekno bongso lan negoro Data 6 Supali : gethuk babat wong babat kecemplung jodho Aku mbiyen tau sekolah Lulus SMP terus nang SMA Eling-eling aku anake wong kaya tapi uripku gak tau foya-foya Mari nang SMA nerusno kuliah Akeh cewek-cewek ngirim surat cinta Tapi ngono aku gak gelem nggaya Sebab bojoku ayune koyok Kasandra Act Sequence Tahap ini merupakan tahap pengungkapan bentuk dan isi tuturan yang terdapat pada data tuturan kidungan, yaitu sebagai berikut. Data 1 Menggunakan bentuk parikan yang terlihat pada penggunaan kalimat langsung dengan rima. Isi tuturan berupa humor, nasihat, ejekan, gambaran, dan ajakan. Berikut data mengenai bentuk. Wedang kopi gulo sak kintal, gak payu rabi nek turu mancal-mancal 26 Rima pada data tersebut adalah ab ab yang terlihat pada kesamaan vokal dan konsonan yang terletak di tengah dengan tengah dan di akhir dengan akhir, yaitu: Kopi – rabi  /i/ Kintal – mancal  /l/ Data 2 Menggunakan bentuk pantun dengan didukung oleh rima dan menggunakan kalimat langsung, terdapat pula bentuk ucapan biasa. Isi tuturan berupa sindiran, ajakan, ejekan, humor, nasihat, dan gambaran. Berikut data dari bentuk. Ngombe jamu puthu laos Nek numpak motor uline drodos Rupane wis gak ayu ndadak plentas plentos Bareng noleh ndadak untune mrongos Rima pada tuturan di atas adalah aa aa, yang terlihat pada kesamaan akhir fonem pada setiap kalimat, yaitu /s/. Data 3 Menggunakan bentuk pantun dengan didukung oleh rima dan menggunakan kalimat langsung. Isi tuturan berupa humor, nasihat, ungkapan, gambaran, dan sindiran. Berikut data dari bentuk. Sayang sayang bojoku sing tak sayang sayang Aku tresno padamu hanya seorang Satu hari tak jumpa koyo sak wulan Hati rindu rasanya tidak karuan Rima : aa bb  /ng/ dan /n/ Data 4 Menggunakan bentuk kalimat langsung. Isi tuturan berupa nasihat dan gambaran. Data 5 27 Menggunakan bentuk kalimat langsung. Isi tuturan berupa ungkapan dan informasi. Data 6 Menggunakan bentuk pantun dengan didukung oleh rima dan menggunakan kalimat langsung. Isi tuturan berupa sindiran, ejekan, humor, dan ajakan. Berikut data dari bentuk. Nek nang Jombang kampunge sengon, lemah Keneng akeh wedhine Nek peno gak sambang cak kirimo ingon, nek gak seneng opo mestine Rima: ab ab  /n/ dan /e/ Key Key menunjukkan sikap, cara, nada suara, serta penjiwaan saat tuturan berlangsung. Pada keseluruhan data, sikap para penutur adalah akrab dengan cara yang santun pada data 4 dan 5, kemudian tidak santun dan santun pada data 1, 2, 3, 6. Nada suara cenderung tinggi dengan penjiwaan yang gembira. Instrumentalities Instrumentalities merupakan saluran, bentuk bahasa dan variasi dalam peristiwa tutur. Saluran yang digunakan adalah saluran oral, karena semua melalui pengucapan. Bentuk bahasa yang digunakan oleh penutur adalah bahasa ibu mereka, yaitu bahasa Jawa. Data 1, 2, 3, 6 menggunakan ragam dialek Surabaya, sedangkan 4 dan 5 menggunakan bahasa Jawa standar. Selain itu, terdapat variasi bahasa yang bermacam-macam, seperti pada data 1 yang mengalami alih kode dari bahasa Jawa, Indonesia kemudian Jawa lagi. Bahasa Indonesia digunakan untuk menyanyikan lagu ‘Semanggi Surabaya’. Lalu data 3 mengalami peristiwa alih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Spanyol, kemudian Jawa lagi. Bahasa Spanyol digunakan untuk menyanyikan lagu ‘Asereje’. Kemudian, data 3 mengalami gejala alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa. Data 6 menunjukkan gejala alih kode antardialek, berawal dari dialek Surabaya ke dialek ‘walikan’ Malang, kemudian kembali ke dialek Surabaya. Selain itu, tampak pula peristiwa campur kode yang terdapat pada data 1, 2, dan 3. Berikut tuturan tersebut. Data 1 Trubus : sing penting ayok bersatu 28 Data 2 Man taman ayok muleh nang Mojokerto Kejadian alam dolor taun duaribu lima ndadekna peristiwa terjadi beehehehencanaaiaaa gempa melanda, angin kencang menerpa mulane akeh perkampungan tergenang banjir Data 3 Padahal bencana alam wis sering terjadi Dimana-mana dolur silih berganti N = Norms Norms di sini mencakup norma interaksi dan norma interpretasi dalam peristiwa tutur. Penutur pada data 1, 2, 3, dan 6 berjenis kelamin laki-laki, sehingga banyak tuturan yang vernacular. Tuturan vernacular ini terlihat pada tuturan yang terkesan ceplas-ceplos, gampang mengejek dan berbau porno. Sedangkan tuturan pada data 4 dengan partisipan laki-laki dan perempuan menggunakan bahasa yang standar dan sederhana. Meskipun terdapat laki-laki, si laki-laki menyesuaikan diri dengan perempuan untuk menggunakan bahasa yang halus dan sopan, namun demikian tetap terkesan akrab. Tuturan pada data 5 mempunyai partisipan dua perempuan yang jelas-jelas meskipun akrab tetap menggunakan bahasa standar di depan umum serta menggunakan bahasa yang sederhana dan tidak berbelit-belit. Genre Memperhatikan data tuturan yang telah di tuliskan di atas, genre peristiwa tutur pada data yang telah dianalisis adalah disampaikan secara dialog dan monolog. Data 1 menggunakan monolog dan dialog, data 2 menggunakan monolog, data 3 menggunakan monolog, data 4 menggunakan dialog, data 5 meskipun memiliki dua partisipan, tetap menggunakan monolog, data 6 meskipun mempunyai partisipan yang berjumlah tujuh, tetap menggunakan monolog. Jadi, mayorias genre yang digunakan adalah monolog. Bentuk genre ini adalah lagu yang diiringi dengan musik. Dari analisis SPEAKING di atas, dapat dilihat adanya perbedaan antara bahasa yang digunakan oleh laki-laki dan perempuan. Ini sejalan dengan budaya Indonesia yang menempatkan perempuan sebagai sosok yang lebih santun daripada laki-laki. 29 Perbedaan ini terletak pada penggunaan kalimat, pemilihan kata, dan penyampaian pesan. Penutur perempuan ketika berada di depan umum dalam bertutur lebih mengungkapkan perasaan dan menyelipkan nasihat. Selain itu, bahasa yang digunakan ialah standar, sopan, halus, tidak aneh-aneh, dan tidak menggunakan campur kode maupun alih kode sebagai lelucon. Penutur laki-laki untuk menunjukkan keakraban menggunakan bentuk vernacular/ nonstandar. Bahasa ini digunakan untuk humor, sindiran, dan ejekan. Sedangkan ketika mengajak, menasihati atau memberi gambaran, laki-laki menggunakan campuran bahasa standar dan vernacular yang terkesan lebih kasar namun akrab. Ketika mengungkapkan perasaan kepada lawan jenis, laki-laki lebih memilih kata-kata dan kalimat yang terkesan halus dan merayu. Laki-laki juga menggunakan cerita yang mengarah ke cerita porno dan plesetan untuk menimbulkan humor. Gaya tuturan laki-laki pun lebih beranekaragam, dengan menggunakan rima atau nada yang naik turun. Selain kebiasaan laki-laki dalam menggunakan bentuk vernacular, pemilihan bentuk tuturan vernacular pada tuturan kidungan, berdasarkan analisis di atas dapat memunculkan humor yang tidak terlihat dibuat-buat. Berbeda dengan bentuk standar yang digunakan perempuan, pada kidungan tidak menimbulkan kesan lucu. KESIMPULAN Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan bentuk bahasa yang dipilih dalam melakukan tuturan. Laki-laki lebih memilih bentuk vernacular untuk berinterkasi dengan sesamanya, sedangkan perempuan menggunakan bentuk standar untuk menjaga kesopanan dan kelembutan di mata masyarakat umum. Laki-laki akan berubah menggunakan bentuk standar ketika mitra tuturnya adalah perempuan. Selain itu, laki-laki juga akan menggunakan bentuk standar untuk mengungkapkan perasaannya kepada lawan jenis serta untuk merayu. Bentuk vernacular digunakan dalam rangka pengakraban dan kemaskulinan dengan bahasa yang lugas, kasar, plesetan, dan terkadang berbau tabu, termasuk ke dalamnya mengenai hal-hal porno. Bentuk standar digunakan perempuan baik untuk pengakraban maupun tidak, untuk kesopan, kelemahlembutan, dan kesederhanaan, namun tegas. Pada kidungan, bentuk vernacular dapat menimbulkan kesan humor, sedangkan bentuk standar tidak karena akan mengakibatkan kesan kaku. DAFTAR PUSTAKA Adristy, Charisma. 2009. Etnografi Komunikasi Bahasa Pergaulan Studi Kasus Speech Community Mahasiswa STIKOM Interstudi Wijaya dalam http:www.digilib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=1233948 Aslinda & Syafyahya, Leni. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika Aditama. Holmes, Janet. 1992. In Introduction to Sociolinguistics. UK: Longman. 30 Kuswarno, Engkus. 2008. Etnografi Komunikasi Suatu Pengantar dan Contoh Penelitiannya. Bandung: Widya Padjadjaran. Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Titscher, Stefan dkk. 2009. Metode Analisis Teks & Wacana. Ibrahim, Abdul Syukur (ed). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.