31 PROSES FONOLOGI BAHASA BELANDA Sri Sulihingtyas 1 ABSTRACT Phonological process is a process of change in the sounds of language that occurs when a person speaks. This process occurs due to the adjustment of speech organs to sounds that will be generated by the speech organs. This process may occur directly and we do not realize, because this process happens automatically by every speech organs we have said. Even if we try to realize the phonological processes that occur, we may actually be difficult to produce these sounds. This paper deals with some phonological processes in Dutch language. The Dutch language has also some phonological processes that allow for some adjustments to the instrument of articulation he said so that it can produce the desired sounds of language. Keywords: phonological process, speech organs, assimilation, articulation, Dutch. PENDAHULUAN Proses fonologi adalah sebuah proses perubahan bunyi bahasa yang terjadi ketika seseorang berbicara. Proses ini terjadi karena adanya penyesuaian alat ucap terhadap bunyi yang akan dihasilkan oleh alat ucap tersebut. Proses ini terjadi secara langsung dan mungkin tidak kita sadari, karena proses ini terjadi secara otomatis oleh setiap alat ucap yang kita miliki. Bahkan jika kita mencoba untuk menyadari proses fonologi yang terjadi ini, mungkin kita justru akan kesulitan untuk memproduksi bunyi tersebut. (Neijt, 2007:59) Tetapi bukan berarti proses fonologi yang terjadi ini tidak dapat kita teliti. Beberapa peneliti yang meneliti hal ini, mengemukakan beberapa proses fonologi yang terjadi ketika sesorang berbicara. Proses fonologi ini terjadi di setiap bahasa yang ada di dunia dan karena setiap bahasa di dunia juga memiliki keistimewaan sistem bunyi yang berbeda maka proses fonologis yang terjadi pada setiap bahasa juga berbeda. Bahasa yang satu akan memiliki proses fonologis yang berbeda dengan bahasa yang lainnya. Manfaat dari mempelajari proses fonologi ini adalah agar kita bisa mengetahui bahwa ketika alat ucap kita memproduksi suatu bunyi bahasa, maka ada proses yang terjadi baik itu penggabungan, pelesapan, penambahan atau penyesuaian bunyi terhadap bunyi yang lain. Hal ini akan sangat membantu ketika misalnya kita belajar bahasa asing yang bukanlah bahasa ibu kita. Atau bila ada orang asing yang hendak mempelajari bahasa kita, maka kita akan dapat mengajari mereka bagaimana mengucapkan suatu bunyi bahasa itu dengan baik dan benar. 1 Pengajar pada Program Studi Bahasa Belanda Universitas 17 Agustus Semarang 32 Bahasa Belanda adalah bahasa yang sudah tidak asing lagi di Indonesia, karena banyaknya sumbangan kosa kata yang diberikan dalam bahasa Indonesia. Hanya saja kosa kata tersebut sudah mengalami begitu banyak penyesuaian dengan bentuk dan sistem bunyi bahasa Indonesia. Secara umum artikulasi bahasa Belanda tidak jauh berbeda jika dilihat dari tulisan maupun pengucapannya. Karena bahasa Belanda merupakan bahasa yang sistem penulisan atau ejaannya mirip dengan pengucapannya (Collier dan Droste, 1987). Dalam pengucapan bunyi yang terdapat dalam kata-kata bahasa Belanda ini juga terjadi beberapa proses fonologis yang memungkinkan terjadinya beberapa penyesuaian artikulasi pada alat ucapnya sehingga dapat menghasilkan bunyi bahasa yang diinginkan. Proses fonologis ini dapat terjadi dalam tingkatan kata, yang dalam bahasa Belanda biasanya terdapat dalam kata majemuk, tingkatan antar kata dan bahkan juga pada tingkatan antara kalimat. Penulis hanya akan membahas proses perubahan kata yang terdapat dalam tingkatan kata. Tulisan ini akan membahas beberapa perubahan atau proses fonologis yang terdapat dalam sistem bunyi bahasa Belanda. Teori yang akan digunakan untuk membahas proses fonologi bahasa Belanda ini adalah fonologi generatif. Menurut Harimurti Kridalaksana fonologi generatif merupakan bagian dari transformasi generatif yang menolak adanya konsep dari fonem dan memberlakukan ciri pembeda sebagai satuan terkecil dan menghubungkan ciri pembeda dan lesikon dengan kaidah- kaidah fonologis. Oleh karena itu diperlukan kaidah-kaidah untuk mengubah representasi dasar menjadi representasi turunan. (Schane, 1992:78) Adapun proses fonologis yang dimaksudkan antara lain adalah proses asimilasi bunyi konsonan dengan konsonan baik secara regresif mau pun progresif, penambahan bunyi dan pelesapan bunyi. Selain menerangkan proses fonologis yang terjadi dalam sistem bunyi bahasa Belanda ini, penulis juga akan menjelaskan kaidah- kaidah yang memungkinkan sehingga proses fonologis tersebut terjadi. PROSES TERJADINYA BUNYI Untuk menghasilkan bunyi bahasa ada syarat-syarat yang secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga (Muslich 2012:58). Syarat pertama adalah adanya udara yang mengalir dari paru-paru dan dihembuskan keluar. Udara yang ada di dalam paru-paru selanjutnya akan dihembuskan keluar melalui tenggorokan dan keluar melalui hidung atau mulut. Selanjutnya ada proses bekerjanya pita suara yang diikuti dengan proses artikulasi atau proses hambatan oleh alat-alat bicara dalam rongga mulut, tenggorokan dan kerongkongan. Udara yang keluar dari paru-paru akan melewati pita suara dan udara tersebut akan menggetarkan pita suara untuk menghasilkan bunyi bahasa. 33 Sedangkan syarat terakhir dalam menghasilkan bunyi bahasa adalah proses hambatan oleh alat-alat bicara dalam mulut dan hidung. Lidah merupakan satu alat ucap yang penting yang terdapat di dalam rongga mulut. Bagian mulut lainnya yang dianggap penting untuk membedakan bunyi bahasa adalah bibir. Di dalam bahasa Belanda bentuk bibir dan durasi memiliki peranan penting dalam proses terjadinya bunyi bahasa. Peranan penting yang dimaksud adalah karena baik bentuk mau pun durasi dalam pelafalan, dapat membedakan makna. Bentuk bibir yang dalam Booij disebut dengan roundness merupakan salah satu ciri yang membedakan bunyi vokal dalam BB. Ada empat kelompok roundness menurut Booij yaitu close, half close, half open dan open. Vokal terbuka dalam bahasa Belanda dihasilkan dengan membuka bibir lebih lebar dibandingkan dengan bunyi vokal tertutup. Misalnya pada kata baan dan band. Bunyi vokaal pada kata baan akan dilafalkan dengan posisi bibir lebih terbuka dibandingkan posisi bibir pada saat melafalkan bunyi vokal yang terdapat pada kata band. Sedangkan durasi merujuk pada panjang atau pendek sebuah bunyi tersebut dilafalkan. Misalnya pada kata maan dan man . Kata maan terdapat bunyi vokal panjang yang dilafalkan lebih lama dari pada bunyi vokal yang terdapat pada kata man. Baik bentuk bibir maupun durasi, keduanya memiliki peranan dalam membedakan makna kata dalam bahasa Belanda. Sehingga pada saat melafalkan suatu bunyi bentuk bibir dan surasi harus benar-benar diperhatikan. Misalnya pada pasangan kata baan dan band. Keduanya memilili makna yang berbeda, kata baan bermakna pekerjaan, sedangkan band bermakna roda. Hal yang sama terjadi pada kata maan dan man. Keduanya memiliki makna yang berbeda. Kata maan memiliki makna ’bulan’ sedangkan man bermakna ’laki-laki’. Dengan demikian baik bentuk bibir maupun durasi pelafalan sebuah bunyi mempunyai peranan yang penting dalam bahasa Belanda. KLASIFIKASI BUNYI BAHASA Pada umumnya bunyi bahasa dibedakan atas vokal, konsonan dan semi-vokal. Disebut vokal apabila terjadinya bunyi tersebut tanpa hambatan pada arus udara melalui alat-alat bicara, kecuali pada pita suara saja. Karena bunyi vokal itu dihasilkan dengan tanpa hambatan pita suara, maka pita suara bergetar, dengan demikian semua bunyi vokal adalah bunyi bersuara. Di dalam bahasa Belanda terdapat pula bunyi vokal panjang dan vokal pendek. Di sebut vokal panjang yaitu apabila dilafalkan dengan mulut yang lebih terbuka dan agak lebih lama. Sedangkan disebut vokal pendek yaitu apabila dilafalkan 34 dengan mulut yang tidak terlalu terbuka dan lebih singkat. Neijt menggambarkan setidaknya ada 16 bunyi vokal dalam bahasa Belanda dan 20 bunyi konsonan bahasa Belanda. Selain vokal terdapat pula diftong, yaitu bunyi bahasa yang dalam pengucapannya berubah dari bunyi vokal menjadi semi-vokal (ke arah bunyi [j] dan [w]). Diftong adalah satu fonem. Bahasa Belanda memiliki tiga buah fonem yaitu [ɛi], [œy], dan [ɑu]. Suatu bunyi disebut konsonan apabila terjadinya bunyi tersebut dibentuk dengan mengambat arus udara pada sebagian alat bicara, jadi ada proses artikulasi pada alat-alat ucapnya. Jika proses hambatan ini disertai dengan proses bergetarnya pita suara maka bunyi yang terbentuk adalah bunyi konsonan yang bersuara. Tetapi jika proses hambatan itu tidak disertai dengan proses bergetarnya pita suara, maka bunyi yang dihasilkan adalah bunyi konsonan tidak bersuara. Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis merupakan konsonan, tetapi pada saat diartikulasikan belum membentuk konsonan murni, maka bunyi- bunyi tersebut disebut bunyi semi-vokal. PROSES FONOLOGI Satuan bunyi-bunyi bahasa bila digabungkan akan menghasilkan kata-kata. Untuk menghasilkan sebuah kata yang baik, bunyi-bunyi tersebut melalui sebuah yang disebut dengan proses artikulasi. Proses tersebut merupakan sebuah proses yang terjadi pada alat-alat bicaranya. Bunyi-bunyi yang digabungkan tersebut akan saling mempengaruhi. Bunyi yang satu akan mempengaruhi bunyi yang lain, apakah terpengaruh bunyi di depannya atau bunyi di belakangnya. Hal ini terjadi karena proses artikulasi yang terjadi pada alat ucap kita. Bagaimana dan kapan terjadinya kita tidak menyadarinya, karena prosesnya cepat berlangsung secara otomatis tanpa kita sadari. Terjadinya proses artikulasi memudahkan kita untuk melafalkan rentetan bunyi-bunyi bahasa menjadi sebuah kata yang utuh. Beberapa bentuk proses fonologi yang terdapat dalam bahasa Belanda antara lain adalah proses asimilasi. Proses asimilasi adalah proses penyesuaian sebuah bunyi pada bunyi lain di dekatnya. Proses asimilasi ini dapat terjadi di dalam kata, biasanya terdapat dalam satu kata, misalnya kata majemuk yang merupakan gabungan dari dua kata atau lebih menjadi satu kata utuh. Proses asimilasi dapat juga terjadi di antara dua kata. Namun demikian, proses asimilasi ini dapat juga terjadi antar kata di dalam kalimat. Ada beberapa jenis asimilasi antara lain, asimilasi progresif dan asimilasi regresif. Asimilasi progresif terjadi jika bunyi yang mengalami perubahan terletak di belakang bunyi lingkungannya. Sedangkan asimilasi dikatakan regresif apabila bunyi yang mengalami perubahan atau penyerupaan terletak di depan bunyi lingkungannya. (Parera, 1988:43) 35 Selanjutnya proses fonologi lainnya adalah pelesapan bunyi karena pengaruh bunyi lainnya. Bunyi yang biasanya dilesapkan dalam bahasa Belanda adalah bunyi [t]. Tetapi bentuk pelesapan ini bisa juga terjadi bila terdapat dua bunyi obstruen serupa yang letaknya berdekatan. Proses fonologis lainnya adalah adanya penambahan bunyi karena pengaruh bunyi lainnya yang berada di dekatnya. (Neijt:2007) Berlawanan dengan pelesapan adalah penyisipan. Beberapa kata di dalam bahasa Belanda juga mengalami proses penyisipan bunyi, meskipun beberapa ahli mengatakan bahwa pelafalan ini tidak sesuai dengan pelafalan yang standar dalam bahasa Belanda, namun pelafalan dengan gejala penyisipan ini seringkali terdengar. Metatesis adalah sebuah proses perubahan bunyi yang ditandai dengan pertukaran tempat pada beberapa bunyi di dalam kata. Dalam bahasa Belanda proses ini tidak begitu produktif, maksudnya hanya ada pada bahasa Belanda di abad pertengahan sedangkan untuk bahasa Belanda modern tidak terlalu banyak dijumpai. Kita masih bisa menemukan bentuk-bentuk metatesis ini, terutama dalam dialek bahasa Belanda yang masih hidup dan digunakan oleh beberapa wilayah tertentu, misalnya di daerah West-Brabants atau Friesland. Perubahan bunyi secara metatesis ini tidak akan disertakan dalam pembahasan lebih lanjut dalam tulisan ini.Untuk lebih jelasnya, penulis akan membahas beberapa proses fonologis yang terdapat dalam bahasa Belanda ini dengan memberikan beberapa contoh data dan disertai dengan penjelasan tentang kaidah yang mengatur terjadinya proses fonologis tersebut.Data yang digunakan dalam tulisan ini diambil dari buku bahan ajar Bahasa Belanda Help! 1 Kunt u mij helpen? dan Verstaanbaar spreken. Melalui analisis yang dilakukan terhadap beberapa data yang ditemukan, penulis berharap akan dapat menemukan bentuk proses fonologis yang terjadi pada kata-kata dalam bahasa Belanda. Dengan demikian akan dapat dilihat proses fonologis apa sajakah yang dialami oleh kata-kata dalam bahasa Belanda, dan melalui beberapa kaidah-kaidah yang disajikan akan dapat terlihat dengan jelas bagaimana proses fonologis tersebut dapat terjadi. Asimilasi progresif Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa asimilasi progresif terjadi jika bunyi yang mengalami perubahan terletak di belakang bunyi lingkungannya. Data berikut ini mengalami asimilasi progresif. Dalam data ini bunyi yang mengalami perubahan adalah bunyi bersuara menjadi bunyi tidak bersuara karena mendapatkan pengaruh bunyi tidak bersuara yang mendahuluinya. Berikut ini adalah data dari kata- kata yang mengalami proses tersebut. hartziekte /hɑrtziktə/ [hɑrtsiktə] sakit jantung klapzoen /klɑpzun/ [klɑpsun] kecupan berbunyi 36 visvork /vɪsvɔrk/ [vɪsfɔrk] garpu ikan dansvloer /dɑnsvlu:r/ [dɑnsflu:r] lantai dansa luchtvaart /lœλtva:rt/ [lœλtfa:rt] bandar udara hulpzender /hœlpzɛndər/ [hœlpsɛndər] pengirim bantuan’ Bila kita perhatikan pada data-data di atas, kita bisa melihat adanya perubahan bunyi bersuara [z] dan [v] menjadi tidakbersuara masing-masing [s] dan [f] karena pengaruh bunyi tidak bersuara yang berada di depannya [t], [p] dan [s]. Kaidah fonologi pada proses tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut. Pada gambar kaidah tampak bahwa bunyi bersuara mengalami proses perubahan menjadi bunyi tidak bersuara. Bunyi bersuara tersebut mengalami perubahan karena bunyi tidak bersuara yang mengikutinya. Pada proses perubahan tersebut dapat dikatakan bahwa terjadi proses penyesuaian pada alat artikulasi yang terkait. Penyesuaian tersebut dilakukan oleh alat artikulasi di dalam mulut dengan tujuan untuk memudahkan kita untuk melafalkan suatu bunyi dalam sebuah kata. 37 Asimilasi Regresif Asimilasi regresif merupakan gejala asimilasi yang ditandai dengan perubahan atau penyerupaan bunyi yang terletak di depan bunyi lingkungannya. Di dalam data yang akan disajikan berikut ini terdapat perubahan bunyi tidak bersuara menjadi bunyi bersuara. Perubahan ini terjadi karena bunyi tidak bersuara tadi menyesuaikan diri dengan bunyi bersuara yang berada di belakangnya. voetbal /vutbɑl/ [vudbɑl] sepak bola kaakbeen /ka.kbe.n/ [ka.gbe.n] rahang zakdoek /zɑkduk/ [zɑgduk] sapu tangan hulpdienst /hœlpdinst [hœlbdinst] dinas bantuan huisdier /hœysdi:r/ [hœyzdi:r] binatang peliharaan slaapdoek /sla.pduk/ [sla.bduk] selimut Pada kelompok data di atas, perubahan bunyi yang terjadi adalah berubahnya bunyi tidak bersuara [t], [k], [p], [s] masing-masing menjadi bunyi bersuara [d], [g][b] dan [z]. Hal ini terjadi karena ada pengaruh bunyi bersuara [b] dan [d] yang mengikutinya. Dengan demikian bunyi tidak bersuara berubah bunyinya menjadi bunyi bersuara Kaidah yang berlaku pada data di atas adalah sebagai berikut: Melalui kaidah yang digambarkan dapat terlihat bahwa ada proses perubahan bunyi yang terjadi pada bunyi tidak bersuara menjadi bunyi bersuara. Proses perubahan bunyi ini terjadi karena bunyi tidak bersuara tersebut diikuti oleh bunyi bersuara. 1. Pelesapan Bunyi Bahasa Belanda juga memiliki gejala proses fonologis yang sifatnya adalah menghilangkan bunyi. Pelesapan bunyi dalam data yang ditemukan merupakan kata gabungan. Misalnya postkantoor yang merupakan penggabungan dua kata yaitu post dan kantoor. Bunyi  yang terdapat pada akhir kata postakan dilafalkan dengan jelas. 38 Tetapi ketika kata post digabungkan dengan kata kantoor, bunyi [t] pada kata post akan dilesapkan. Hal ini terjadi karena bunyi [t] berada di antara dua bunyi obstruen  dan . Dalam bahasa Belanda bunyi [t] akan hilang apabila berada di antara dua bunyi obstruen. Berikut ini adalah data-data yang mengalami gejala pelesapan tersebut. postkantoor /pɔstkɑnto:r/ [pɔskɑnto:r] kantor pos kerstboom /kɛrstbo.m/ [kɛrsbo.m] pohon natal mestkar /mɛstkɑr/ [mɛskɑr] gerobak pupuk kaftpapier /kɑftpa.pi:r/ [kɑfpa.pi:r] kertas tebal Dengan memperhatikan kelompok data tersebut, kita dapat menuliskan kaidahnya sebagai berikut: Proses pelesapan sebuah bunyi dalam bahawa terjadi pada bunyi . Bunyi tersebut tidak dilafalkan ketika berada di antara bunyi obstruent. Prinsip bahwa proses perubahan fonologis terjadi untuk memudahlan seseorang melafalkan sebuah bunyi dapat ditemukan juga pada proses pelesapan. Bunyi  di akhir kata dalam bahasa Belanda harus dilafalkan dengan jelas. Namun ketika bunyi  tersebut diikuti dengan bunyi ,  dan  maka bunyi  akan dilesapkan atau tidak dilafalkan. 2. Penyisipan Bentuk atau gejala lain yang dapat dijumpai dalam bahasa Belanda adalah penyisipan bunyi. Beberapa data yang dapat ditemukan untuk gejala ini adalah sebagai berikut: 39 organisatie /ɔrɣa.nisa.ti/ [ɔrɣa.nisa.tsi] organisasi politie /po.liti/ [po.litsi] polisi promotie /pro.mo.ti/ [pro.mo.tsi] promosi deletie /de.le.ti/ [de.le.tsi] penghilangan operatie /o.pəra.ti/ [o.pəra.tsi] operasi Dari data di atas dapat dilihat ada penyisipan bunyi /s/ di antara bunyi /t/ dan /i/. Berdasarkan data-data di atas, maka kaidah fonologis yang berlaku pada kelompok data ini adalah sebagai berikut Bentuk penyisipan lain di dalam bahasa Belanda terdapat di dalam bentuk diminutief. Diminutief adalah bentuk pengecil yang dialami oleh kata benda. Di dalam bahasa Belanda penggunaan bentuk ini sering kali digunakan oleh anak-anak, karena berhubungan dengan maknanya yang kecil, misalnya kata zus (saudara perempuan) menjadi zusje (saudara perempuan atau adik perempuan). Diminutief dibentuk dengan menambahkan akhiran –je di belakang kata benda tersebut. Ada beberapa variasi bunyi yang dapat terjadi dengan ditambahkannya akhiran –je ini dan yang akan disajikan dalam data berikut ini adalah salah satu dari variasi bunyi tersebut. /vle.s/ ‘daging’ /vle.s + -jə/  [vle.sjə] ‘daging kecil’ /blum/ ‘bunga’ /blum + -jə/  [blumpjə] ‘bunga kecil’ /ɑrm/ ‘lengan’ /ɑrm + -jə/  [ɑrmpjə] ‘lengan kecil’ /rɛim/ ‘bencana’ /rɛim + -jə/  [rɛimpjə] ‘rima kecil’ /dœym/ ‘jempol’ /dœym + -jə/  [duimpjə] ‘jempol kecil’ /hɛlm/ ‘helm’ /hɛlm + -jə/  [hɛlmpjə] ‘helm kecil’ 40 Dari data di atas didapatkan penjelasan sebagai berikut. Bentuk dasar dari kelompok data ini adalah /jə/, namun di dalam data terlihat bahwa bila kata tersebut diakhiri bunyi /m/, maka sebelum bunyi /jə/ akan mendapatkan penambahan bunyi /p/. Hal ini disebabkan adanya penyesuaian bunyi labial /m/ dengan /p/ sebelum bunyi palatal /j/. Bila digambarkan dalam kaidah fonologis akan tampak seperti demikian. KESIMPULAN Proses fonologis adalah sebuah proses yang terjadi ketika gugusan bunyi- bunyi bahasa bertemu dan membentuk satu morfem dengan disertai perubahan bunyi yang disebabkan oleh pengaruh bunyi yang berada di dekatnya. Perubahan bunyi ini biasanya dipengaruhi oleh lingkungan bunyi yang ciri-cirinya mirip dengan bunyi tersebut. Proses fonologis ini terjadi secara otomatis dan tidak kita sadari. Proses ini terjadi dengan begitu cepatnya, sehinga ketika kita ingin mencoba membuktikannya dengan mengucapkan satu kata yang terdapat proses fonologisnya itu, kita justru tidak dapat melafalkan kata tersebut dengan baik. Proses fonologis dapat kita jumpai di setiap bahasa yang ada di dunia. Hanya saja proses fonologis yang dimiliki oleh satu bahasa berbeda dengan bahasa yang lainnya. Misalnya perubahan asimilasi regresif yang ada di dalam bahasa Belanda mungkintidak dijumpai dalam bahasa lain. Begitu pula sebaliknya metathesis yang masih banyak dijumpai di bahasa yang lain, tidak banyak lagi di jumapi di dalam bahasa Belanda. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan sistem yang dimiliki oleh setiap bahasa tersebut. Perubahan bunyi ini tidak hanya terjadi di dalam satu kata, tetapi juga bisa terjadi antar kata, di dalam kalimat dan bahkan antar kalimat. Proses fonologis yang terjadi pada tingkatan antar kalimat menyebabkan kalimat yang diucapkan seseorang tersebut menjadi kalimat yang indah dan bukan kalimat yang terbata-bata, karena harus melafalkan kata-kata di dalam kalimat tersebut secara satu per satu. Ada beberapa jenis proses fonologis yang dapat kita temui dalam sistem bahasa di dunia. Proses fonologis tersebut antara lain adalah asimilasi regresif, asimilasi progresif, pelesapan, penambahan suara, penggabungan dan metatesis. 41 Bahasa Belanda merupakan bahasa yang tidak lagi asing bagi masyarakat Indonesia dan bahasa Indonesia. Karena baik bahasa Belanda mau pun bahasa Indonesia masing-masing saling memberikan pengaruh di dalam kosa katanya. Sebagian mengalami perubahan atau penyesuaian tulisan sebagian lagi tidak. Di dalam bahasa Belanda kita juga dapat menjumpai beberapa bentuk dari proses fonologis yang ada. Beberapa kata yang terdapat perubahan bunyi di dalamnya adalah termasuk ke dalam kelompok kata majemuk atau kata gabung yang penulisannya adalah satu kata. Proses asimilasi progresif dalam bahasa Belanda terjadi apabila bunyi bersuara [z] dan [v] berubah menjadi bunyi yang tidak bersuara [s] dan [f] karena pengaruh bunyi tidak bersuara [p], [t], [s] yang mendahuluinya. Asimilasi regresif yang terdapat di dalam bahasa Belanda adalah proses perubahan bunyi tidak bersuara [p], [t], [k], [s], menjadi bunyi bersuara [b], [d], [g] dan [z] karena pengaruh bunyi bersuara [b] dn [d] yang mengikutinya. Kemudian pada pelesapan bunyi [t] yang terletak di antara dua obstruent dan yang terakhir penyisipan bunyi [s] di antara bunyi [t] dan [i] sehingga menjadi [tsi] serta penyisipan bunyi labial [p] yang disisipkan di antara bunyi labial [m] dan bunyi palatal [j] pada bentuk kata diminutief. Sedangkan proses fonologis metathesis, yaitu perubahan bunyi yang terjadi akibat adanya perpindahan tempat bunyi di dalam kata, sudah jarang ditemui dalam bahasa Belanda. Metatesis sudah tidak lagi produktif. Metatheis ini biasanya dijumpai dalam bahasa Belanda kuno atau terdapat di dalam dialek wilayah di negara ini. Beberapa pelafalan yang terdapat di dalam bahasa tidak semuanya sesuai dengan pengucapan standar dalam bahasa Belanda. Hanya saja orang Belanda yang melafalkan dengan lafal tersebut menjadikan lafal tersbut menjadi lebih umum dan lebih sering terdengar dibandingkan dengan lafal yang sebenarnya. Hal ini mungkin juga dipengaruhi oleh dialek-dialek yang tersebar di wilayah Belanda. Dengan mempelajari berbagai perubahan atau penyesuaian bunyi yang terdapat dalam suatu bahasa, dalam hal ini bahasa Belanda, selain agar dapat mengetahui beberapa proses fonologis yang terjadi, diharapkan juga dapat digunakan untuk memudahkan orang-orang yang belajar bahasa tersebut untuk bisa melafalkan kata-kata dalam bahasa ini dengan baik. DAFTAR PUSTAKA Booij, Geert. 1995. The Phonology of Dutch. New York: Oxford University Press Inc Dharmowijono, Widjajanti. 2006. Fonetik Bahasa Belanda: Bahan Ajar.Akademi Bahasa 17 Agustus 1945 Semarang. Semarang Ham, E., W.H.T.M. Tersteeg dan L. Zijlmans. 2006. Help! Een cursus Nederlands voor anderstaligen. 1. Kunt u mij helpen? Utrecht: Nederlands Centrum Buitenlanders. Muslich, Masnur. 2012. Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. 42 Harimurti, Kridalaksana. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Neijt, Anneke. 2007. Universele Fonologie. Dordrecht: Foris Publication. Parera, Jos D., 1988. Proses Morfologi.Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Schane, Sanford A., 1992. Fonologi Generatif. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama. Thio, Karolien., en M. Verboog. 1993. Verstaanbaar spreken. Muiderberg: Coutinho Uitgeverij