56 ABSTRACT Subject matter with sociological approach in a literary study is very well-connected to the theme and social message. Meanwhile, when discussing about character with the same approach it usually talks about studies on race, class or gender. Social theories that can be used include feminism, Marxism, postcolonialism and some others. In connection to that, postcolonial theory is used in this study in order to analyse the subject matter and characters in „Waiting for the Barbarians‟, the object of this study. Waiting for the Barbarians is a novel written by John Maxwell Coetzee, a South American author. Keywords: subject matter, characters, postcolonial PENDAHULUAN Berdasarkan sejarahnya, teori post-kolonial lahir bermula sebagai reaksi dan resistensi kolonialisme Barat terhadap dunia Timur. Pada perkembangannya, studi postkolonial melebar luar mengembangkan model relasi kuasa antara dominan dan subordinat; penjajah dan terjajah; atau di dalam konsepsi orientalisme, relasi antara occident dan orient. Ashcroft dan Ahluwalia (2001: 14-15) menguraikan bahwa pokok pembahasan dalam teori postkolonial berkembang sangat luas diantaranya meliputi investigasi dan pengembangan proporsi mengenai dampak- dampak kultural dan politis sebagai akibat dari penaklukan bangsa Eropa terhadap masyarakat - masyarakat yang didudukinya sekaligus juga penelitian terhadap respon-respon yang muncul dari yang terjajah. Istilah “post” dalam konteks ini berarti “setelah kolonialisasi dimulai”, bukan “setelah kolonisasi berakhir. Ini karena berjuangan kultural antara imperium dan masyarakat yang didominasi berlangsung dan berlanjut hingga saat ini. Ranah studi postkolonial tidak bisa lepas dari persoalan relasi kuasa antara pihak dominan dan pihak subordinat. Di dalam konteks postkolonialisme, pihak dominan adalah Barat, kolonialis, imperialis, dan occident; sedangkan pihak subordinat diposisikan sebagai pihak non-Barat, bangsa pribumi,bangsa dunia ke-3, dan dalam pengertian yang lebih luas yaitu semua pihak yang tidak sejalan dengan ideologi dari Barat atau ideologi dominan. Heri Dwi Santoso1 1 Pengajar di Akademi Bahasa Asing Harapan Bangsa Surakarta backup.plan Typewritten text KAJIAN POKOK DAN TOKOH DALAM NOVEL WAITING FOR THE BARBARIANS KARYA JOHN MAXWELL COETZEE 57 Persoalan relasi kuasa secara sistematis berdampak pada dominasi, penguasaan, pendudukan, penghegemonian ideologi, dalam taraf selanjutnya, penindasan baik yang bersifat ideologis maupun fisik. Salah satu efek yang tidak bisa dihindari dari proses ini adalah terciptanya marjinalitas sebagai hasil dari alienasi oleh kubu-kubu dominan, dalam hal ini imperial Barat, sebagai reaksi atas upaya- upaya pendobrakan ideologi yang sudah menjadi “master-discourse” di dalam sebuah masyarakat kolonial. Novel Waiting for the Barbarians merupakan penggambaran tentang tokoh Aku, seorang hakim di frontier, kota perbatasan di sebuah wilayah koloni tak bernama dari sebuah Empire, kerajaan kolonial yang merasa terusik dan terganggu sikap paranoia berlebihan dari yang ditunjukkan oleh kerajaan atas berkembangnya isu-isu mengenai rencana serangan besar-besaran bangsa barbar ke wilayah frontier yang tidak pernah bisa dibuktikan kebenarannya. Paranoia yang direpresentasikan dalam bentuk kebijakan investigasi represif, penyiksaan, dan pembunuhan orang- orang barbar menyiksa hati nurani tokoh Aku. Pada saat yang beriringan, hubungan yang berawal dari rasa iba tokoh Aku, meski posisinya sebagai aparat kolonial, terhadap seorang gadis barbar korban penyiksaan sadis pasukan kerajaan dianggap sebagai bentuk persekongkolan terhadap bangsa barbar sehingga tokoh Aku teralienasi dari lingkungannya, di siksa dan diabaikan menjadikannya sosok marjinal yang tidak memiliki tempat di dalam masyarakatnya. Dalam penelitian ini, penulis akan meneliti permasalahan yang penulis temukan setelah membaca karya ini yaitu marjianalisasi tokoh Aku oleh kolonial sebagai dampak akhir dari perbenturan ideologi tokoh Aku dengan ideologi represif pemerintahan represif Empire dalam cerminan tokoh Kolonel Joll. POKOK PERMASALAHAN DAN TEMA Dari perspektif postkolonial, pokok permasalahan dalam novel Waiting for the Barbarians karya John Maxwell Coetzee adalah kritik terhadap kebijakan represi pemerintahan kolonial. Tema dari novel ini adalah bahwa kritik yang dilakukan terhadap sistem represif berdampak nyata pada penindasan dan marjinalisasi pihak- pihak yang melakukan perlawanan. Pokok permasalahan dapat dilihat dari latar dan konflik sebagai dua unsur penting di dalam novel. LATAR Analisis latar sangat penting dalam penelitian postkolonial. Latar memiliki peran yang vital untuk menunjukkan relasi sosial di dalam masyarakat postkolonial. Latar juga berpengaruh besar dalam melihat kondisi sosial masyarakat yang digambarkan di dalam sebuah kisahan. Latar tempat di dalam novel Waiting for the Barbarians adalah frontier. 58 Frontier sebagai Elemen Penting bagi Kedaulatan Kolonial Frontier adalah wilayah perbatasan yang merupakan bagian penting bagi Empire atau Kerajaan, sebuah wilayah koloni dari kerajaan kolonial Barat / kulit putih yang tidak dijelaskan dengan nama. Frontier merupakan simbol kedaulatan kerajaan kolonial sehingga setiap persoalan sekecil apapun yang melibatkan kawasan ini menjadi sebuah isu penting yang haruse segera ditangani. Frontier berwujud sebuah kota kecil yang dihuni oleh warga koloni kulit putih—sebuah kota dalam salah satu provinsi dari Kerajaan yang berbatasan langsung dengan daerah pedalaman di luar kekuasaan Kerajaan yang dihuni oleh suku-suku asli— dan ada beberapa bagian dalam porsi yang kecil dan terpotong-potong, cerita berlatar di luar kawasan perbatasan. Karakteristik Afrika di Era-Pra Modern sebagai Latar Kolonial Bagian awal cerita berlatar di kantor tokoh Aku di kota perbatasan dimana tokoh Aku kedatangan Kolonel Joll beserta staf Biro Ketiga lainnya sebagai kekuatan darurat. Latar berpindah di daerah di luar kekuasaan koloni dari satu pemukiman suku ke pemukiman suku lainnya ketika Biro Ketiga melakukan ekspedisi untuk menangkap para penduduk barbar yang dicurigai. Setelah ekspedisi yang diikuti oleh tokoh Aku latar hampir sepenuhnya berada di kota perbatasan. Pada ketiga, setting tempat didominasi oleh wilayah-wilayah di luar perbatasan dengan diawali dengan perjalanan keluar menuju batas luar wilayah Kerajaan melewati lahan-lahan pertanian dan gurun pasir yang sangat luas dengan alam yang sangat berat: “Two miles due to south of the town a cluster of dunes stands out from the flat sandy landscape”. Saat itu tokoh Aku dengan beberapa pasukan mengantarkan si gadis barbar kembali ke suku asalnya. Setelah itu keseluruhan latar bertempat di kota perbatasan, terutama di lokasi barak. Secara umum tidak ada penyebutan nama tempat yang pasti sebagai identitas tempat tempat yang digambarkan. Namun karakteristik wilayah yang digambarkan sangat menyerupai daerah Afrika bagian selatan. Daerah yang digambarkan merupakan daerah dengan empat musim yang merupakan ciri wilayah sub tropis. Hal ini ditunjukkan pada kalimat “The winter has settled in” (Coetzee, 1980: 37). Waktu dalam novel Waiting for the Barbarians tidak digambarkan dengan pasti. Namun, rezim kolonial dan cerita-cerita yang menggambarkan perlakuan- perlakuan kolonial untuk menerapkan hukum yang berlaku di Kerajaan menggambarkan bahwa cerita dalam novel Waiting for the Barbarians berada dalam rentang waktu di era penjajahan yaitu sekitar abad ke-18, yaitu ketika bubuk mesiu telah ditemukan karena telah ada penggunaan senjata api dalam di cerita. Hal ini diperkuat dengan salah satu bagian cerita tepat di bagian permulaan ketika tokoh Aku mendeskripsikan sebuah kacamata hitam (sun-glasess) yang dikenakan oleh Kolonel Joll 2 . 2 Menurut sumber sejarah, sun-glasses ditemukan pada pertengahan abad ke-18. 59 I have never seen anything like it: two little discs of glass suspended in front of his eyes in loops of wire. Is he blind? I could understand it if he wanted to hide his blind eyes. But he is not blind. The discs are dark, they look opaque from the outside, but he can see through them. He tells me thay are a new invention. “They protect one‟s eyes against the glare of the sun. He says.... (Coetzee, 1980: 1) Karakteristik Latar Sosial Masyarakat Kolonial Pelukisan latar sosial bertolak dari deskripsi tokoh Aku merupakan pria dari kalangan menengah yang bertugas sebagai hakim di kota perbatasan. Kehidupan di sekitarnya adalah kehidupan yang dilandasi dengan nilai-nilai keberadaban ala Barat dengan segala kemudahan hidup yang tersedia. Rutinitasnya adalah menarik pajak, tanah-tanah masyarakat, memastikan persediaan pangan garnisun, mengawasi petugas-petugas junior, staf yang hanya dimiliki kota tersebut, mengawasi perdagangan, serta memimpin persidangan dua kali seminggu. Oleh karena itu ia juga terbiasa berinteraksi dengan penduduk suku pribumi yang menjalankan rutinitas berdagang dengan penduduk koloni sehingga tokoh Aku juga menguasai bahasa kaum pribumi. Keadaan sosial pada masa-masa sebelumnya sangat damai sebelum adanya isu penyerangan bangsa barbar yang mengakibatkan Biro Ketiga datang dan menetapkan kota perbatasan tempat tokoh Aku bekerja dalam keadaan darurat. Kerajaan menerapkan sistem represif untuk menggantikan pemerintahan sipil di frontier. Latar sosial ini merupakan penggambaran kondisi masyarakat di dalam novel. Kondisi sosial di dalam novel mengindikasi sebuah dominasi kekuasaan kolonial di dalam wilayah koloni dan sekitarnya. Latar sosial ini memperlihatkan relasi yang hirarkis antara pribumi dan koloni. Dominasi kolonial di dalam relasi yang tidak seimbang dan disertai represi pihak dominan menjadi pokok permasalahan yang dikembangkan di dalam cerita. KONFLIK SEBAGAI KONSEKUENSI PERLAWANAN TOKOH AKU Ambivalensi Sikap dan Pemikiran Tokoh Aku Tokoh Aku berada pada posisi yang paradoks karena sebagai hakim (magistrate) di frontier, tokoh yang merupakan bagian dari sistem kolonial Empire, ia harus taat pada sistem kolonial, namun di sisi lain, hati nurani menolak sistem baru yang represif yang diterapkan Empire di kota perbatasan tempat dia berada melalui Biro Ketiga yang dipimpin oleh Kolonel Joll. Hal tersebut terjadi sejak Biro ketiga datang pertama kali ke frontier dan langsung mengambil alih kekuasaan di kota perbatasan dan menempatkan tokoh Aku sebagai bawahannya dan harus tunduk dengan peraturan dan kebijakan baru yang diterapkan Biro Ketiga sebagai utusan dari Empire. Kebijakan baru yang diterapkan sangat erat dengan 60 kekerasan dan penindasan yang sebagian besar dialamatkan kepada para penduduk pribumi yang dianggap bersalah. Akibatnya adalah sempat muncul ambivalensi pemikiran atau pemikiran yang mendua dalam diri tokoh Aku. Dalam novel Waiting for the Barbarians, ambivalensi pemikiran dalam diri dang Hakim timbul dalam kaitan dengan kewajibannya dalam mematuhi peraturan dan menjalankan tugas bagian dari aparatus negara dalam sistem pemerintahan ko lonial yang dikuasai oleh Empire dengan mengikuti perkataan hati nuraninya yang pada dasarnya tidak sesuai dengan apa yang harus dan telah ia kerjakan untuk mendukung praktik-praktik kolonialisme dan imperialisme yang kejam dan munculnya keinginan untuk memberontak terhadap kekuasaan kolonial yang ada pada saat itu. Status kepemerintahan tokoh Aku di kota perbatasan (frontier) membuatnya harus terbentur antara ketaatan dan pelanggaran melawan hukum : dia mempraktikkan peradilan praktis (practical justice). Ketika Biro Ketiga datang, perannya menjadi ambigu dan kemudian menjadi tidak relevan dengan “status darurat” yang diterapkan mengantisipasi ancaman suku barbar. Tetapi seketika setelah kepergian pertama Kolonel Joll dari kota persebut, the rule of the law berada di bawah yuridiksi tokoh Aku. Pada konteks ini, hal tersebut menjadi berguna untuk menerapkan dan menguji pandangan-pandangan tokoh Aku terhadap segala seuatu yang menyusun sebuah “cerita lama”. Cerita adalah penggambaran tokoh Aku terhadap pola hidup dan praktik-praktik ada di masyarakat pada suatu masa. Cerita lama sendiri merupakan istilah yang digunakan tokoh Aku untuk menggambarkan pola dan praktik kolonial yang sudah berlangsung begitu lama. Yuridiksi tokoh Aku ia gunakan pula sebagai bentuk klaim terhadap tekanan hidup di dalam sebuah tanah yang terbagi- bagi. Pada bagian awal cerita, tokoh Aku berusaha untuk membedakan dirinya dari metode-metode dan teknik-teknik Kerajaan dengan berbagai hal yang memalukan dirinya. Perpisahan pertama dengan Kolonel Joll mengingatkan dirinya bahwa: Throughout a trying period he and I have managed to behave towards each other like civilized people. All my life I have believed in civilized behaviour: on this occasion, however, I cannot deny it, the memory leaves me sick with myself (Coetzee, 1980: 24) Horor atau kengerian atas operasi kilat (magic operation) yang dilakukan Kolonel Joll dan pasukannya melahirkan pemikiran dalam diri tokoh Aku bahwa ia berusaha terlepas turut campur atau terlibat dalam setiap praktik-praktik Kerajaan. But that will not be my way...I struggle on with the old story, hoping that before it is finished it will reveal to me why it was that I thought it worth the trouble. (Coetzee, 1980: 24-25) Ada banyak benturan ideologi antara dirinya dengan Kerajaan. Ketika tokoh Aku hendak mengantarkan si gadis barbar kembali ke sukunya, tokoh Aku menulis dua surat untuk dikirimkan ke pemerintah provinsi. Surat pertama yang berhasil dengan mudah ia tuliskan yang berisi laporan : “to repair some of the 61 damage wrought by the forays of the Third Bureau...and to restore some of the goodwill that previously excited”, namun ia memikirkan apakah yang harus ia tuliskan pada surat kedua mengenai laporan yang ia kumpulkan bertahun-tahun. “A testament?A memoir? A confession? A history of thirty years on the frontier? All that day I sit in a trance at my desk staring at the empty white paper, waiting for words to come. A second day passes in the same way. On the third day I surrender, put the paper back in the drawer, and make preparations to leave. (Coetzee, 1980: 57-58) Tokoh Aku bingung untuk membuat laporan mengenai keadaan pada saat itu yang jelas sangat kontras dengan keadaan terdahulu yang ia laporkan. Sebagai seorang yang bekerja di bawah sistem hukum dan pemerintahan kolonial, ia seharusnya patuh dan melaksanakan semua peraturan kerajaan. Namun hatin nuraninya mengakibatkan tokoh Aku memutuskan untuk membebaskan tahanan Kolonel Joll,“...a hopeless little knot in the corner of the yard, nomads and fisherfolk together, sick, famished, damaged, terrified. Kemudian tokoh Aku mengatakan: It would be best if this obscure chapter of history of the world were terminated at once, if these ugly people were terminated at once, if these ugly people were obliterated from the face of the earth and ww swore to make a new start, to run an empire in which there would be no more injustice, no more pain. It would cost little to march them out into the desert (having put a meal in them first, perhaps, to make them to lie in (or even to dig it for them!), and, leaving the buried there forever and forever, to come back to the walled town full of new intentions, new resolutions. (Coetzee, 1980: 24-25) Pemberontakan Visi Tokoh Aku menolak untuk melakukan metode-metode represif seperti yang dipraktikkan Biro Ketiga. Ketidakberdayaan tokoh Aku dialihkan kepada usaha- usaha lain yaitu dalam kaitannya dengan seorang gadis barbar yang luka parah dan tertinggal oleh kelompoknya setelah penyiksaan dalam interogasi yang dipimpin oleh Kolonel Joll. Motif-motifnya cenderung merupakan pembalikan dari tindakan- tindakan represi yang dilakukan Empire. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh tokoh Aku diantaranya sebagai berikut: 1. Pemulihan si Gadis Barbar Bagian pertama dari novel Waiting for The Barbarians berfokus pada hubungan antara tokoh Aku dengan si gadis barbar; seorang gadis dari suku barbar yang engkel kaki kirinya patah dan pandangannya terbatas pada titik dimana ia hanya bisa melihat bentuk tanpa rupa dan hanya garis-garis tepi dari bentuk tersebut yang bisa dilihat akibat dari interogasi yang dilakukan Biro Ketiga. Tokoh Aku terlihat kabur di mata si gadis. Usaha tokoh Aku dengan menggunakan si media tubuh si gadis adalah untuk menunjukkan kekejian dan kebrutalan Kolonel Joll. Dengan menggunakan si gadis sebagai dalam ritual penyembuhan, tokoh Aku mengeksplorasi bagian-bagian yang terluka dan cacat akibat dari penyiksaan yang 62 kejam yang dilakukan Biro Ketiga. ritual penyembuhan juga dilakukan sebagai simbol penebusan dosa atas apa yang telah disiksakan Kolonel Joll kepada si gadis. Tokoh Aku memandikan dan meminyaki kaki dan paha si gadis,memeluki bagian- bagian tubuh yang patah dan bergerak di balik tulang-tulang yang patah dengan keintiman yang tidak bisa ditolak oleh si gadis barbar. Meski begitu, pada awalnya keintiman tersebut tidak ditujukan untuk menggauli. Ritual tersebut bertujuan sebagai media pelarian atas ketidakmampuan tokoh Aku melakukan perlawanan terhadap Kerajaan. Tokoh Aku menyadari bahwa di balik ritual penyembuhan dan penebusan dosa, ritual-ritual tadi menciptakan sebuah hasrat untuk memiliki dan tidak ingin melepaskan si gadis. “It has been growing more and more clear to me that until the marks on this girl‟s body are dechipered and understood I cannot let go of her. (Coetzee, 1980: 31) Tokoh Aku juga menyadari bahwa seiring dengan interogasi Biro Ketiga, ritual penyembuhan oleh tokoh Aku akan terus-menerus berlanjut dan tidak akan berhenti sebagai perlawanan terhadap penyiksaan yang dilakukan oleh pemerintah Kerajaan. Sesuai dengan pandangan tokoh Aku bahwa bantuan rohani (ministration) yang diberikan terhadap si gadis barbar adalah sebanding dengan interogasi imperial dan penyiksaan adalah sebanding dengan ritual penyembuhan, tokoh Aku juga mencoba memulihkan sebelum ia disiksa. Hasrat untuk melihat si gadis barbar seperti keadaan sebelum penyiksaan diperkuat dengan refleksi atau bayangan-bayangan tokoh Aku bukan pada kematian ayah dari si gadis barbar namun refleksi lenyapnya figur dirinya sebagai seorang ayah: All I see is a figure named‟ father‟ that could be the figure of any father who knows a child is being beaten whom he cannot protect. To someone he loves he cannot fulfil his duty. For this he knows he is never forgiven. This knowledge of fathers, this knowledge of condemnation, is more than he can bear. No wonder he wanted to day. I gave the girl my protection, offering in my equivocal way to be her father. But I came too late, after she had ceased to believed in fathers...Thereafter she was no longer fully human, sister to all of us. Certain sympathies died, certain movements of the heart became no longer contagion and turned into a creature that believes in nothing. So I continue to swoop and circle around the irreducible figure of the girl, casting one net of meaning after another over her. (Coetzee, 1980: 80-81) 2. Ritual Penyucian si Gadis Barbar saat Menstruasi Berdasarkan pembacaan penulis terhadap novel Waiting for the Barbarians, ada ritual lain yang dilakukan tokoh Aku terhadap si gadis barbar selain ritual penyembuhan luka yaitu ritual penyucian haid. Dalam analisis penulis, ritual penyucian adalah media simbolis yang dipakai oleh tokoh Aku sebagai wujud ketidakberdayaannya menentang praktik kolonialisme yang ada di dalam masyarakat. 63 Tubuh sang gadis barbar diibaratkan sebagai sebuah tanah dengan darah kotor sebagai simbol praktik-praktik yang dilakukan oleh Biro Ketiga. Metode pembersihan menjadi simbol pembersihan terhadap seluruh kekotoran praktik yang dilakukan Biro Ketiga sebagai representasi dari kekuasaan pemerintah kolonial yang disatukan dalam sebuah sistem pemerintahan yang disebut Empire. Dengan menggunakan media tubuh si gadis, tokoh Aku memimpikan sebuah era yang bisa diperbaiki dan diatur. Sebagaimana tokoh Aku berjuang untuk membedakan diri atau memisahkan diri dari Kerajaan (Empire), ritual penyembuhan dan penyucian haid menjadi hal terpenting di dalam kesadaran dan suara hati tokoh Aku. Ritual yang ia lakukan menjadi sebuah alternatif bagi mimpi tokoh Aku untuk membentuk sebuah awal yang baru. 3. Marjinalisasi Tokoh Aku Persepsi-persepsi tokoh aku yang berlawanan dengan Empire beresiko sangat besar bagi perkembangan statusnya dalam masyarakat yang akhirnya menyebabkan dirinya teralienasi dan terbuang ke dalam golongan kaum marginal. Penolakan- penolakan yang bersifat ideologis terhadap praktik-praktik kekejaman kolonialisme sejak kedatangan Biro Ketiga dalam diri tokoh Aku dan kemudian berubah menjadi tindakan-tindakan melawan arus kolonial sebagai bentuk dari kritik yang bersifat praktis dianggap sebagai sebuah usaha dan tindakan yang melanggar tatanan sistem aparatus negara kolonial. Sikap tersebut berdampak besar bagi eksistensi status tokoh Aku dalam rezim kolonial. Semenjak menyaksikan praktik-praktik kejam yang dilakukan oleh Biro Ketiga, tokoh Aku berusaha mencari identitasnya sendiri dengan lepas dari pemerintah kolonial. Hal ini dapat ditemukan dari kalimat “I wanted to live outside history.” (Coetzee, 1980: 154). Kutipan di atas menunjukkan ketidakterimaan tokoh Aku dengan realitas yang terjadi di sekitarnya. Ia mengalihkan sikapnya dengan tindakan- tindakan nyata. Ia memulangkan si gadis barbar ke sukunya. Hal tersebut kemudian dianggap oleh pemerintah kolonial sebagai penghianatan terhadap kerajaan (Empire). Pemerintah kolonial melalui Biro Ketiga secara tidak langsung mengubah status tokoh Aku seorang pemimpin dalam rezim kolonial menjadi seorang yang dianggap sebagai penghianat negara. Tokoh Aku masuk dalam golongan orang-orang marjinal yang kehilangan hak bersuara, memerintah, dan memiliki hak atas tanah dan harta milik seperti halnya dengan kaum kolonial. Sebagai orang yang dianggap pemerintah kolonial yang disimbolkan dengan Kerajaan (Empire), tokoh Aku menerima perlakuan buruk sama dengan apa yang diberikan kepada kaum pribumi barbar. The wound on my cheek, never washed or dressed, is swollen and inflamed. A crust like a fat caterpillar has formed on it. My left eye is a mere slit, my nose a shapeless throbbing lump. I must breathe through my mouth....I have had nothing to drink for two days...In my suffering there is nothing ennobling. Little of what I call suffering is even pain. (Coetzee, 1980: 115) 64 Perlakuan-perlakuan terhadap tokoh Aku yang setara dengan perlakuan terhadap kaum pribumi barbar membuat keterikatan tokoh Aku dengan pemerintah kolonial terputus dan secara langsung menempatkan status tokoh Aku berada di posisi yang berseberangan dengan Kerajaan. Dituliskan dalam petikan sebagai berikut: I am aware of the source of my elation: my alliance with the guardians of the Empire is over, I have set myself in opposition, the bond is broken, I am a free man. Who would not smile? But what a dangerous joy! Is should not be so easy to attain salvation. And is there any principle behind my opposition? Have I not simply been provoked into a reaction by the sight of one of the new barbarians usurping my desk and pawing my papers? As for this liberty which I am in the process of throwing away, what value does it have to me? Have I truly enjoyed the unbounded freedom for the past in which more than ever before my life has been mine to make up as I go along? (Coetzee, 1980: 78). Status tokoh Aku berubah sangat drastis dari seseorang yang menjadi bagian dari pemerintah kolonial menjadi seseorang yang dianggap sebagai musuh pemerintah kerajaan kolonial. TOKOH DALAM NOVEL WAITING FOR THE BARBARIANS Analisis tokoh dan penokohan dalam novel Waiting for the Barbarians karya J.M. Coetzee di dalam makalah ini dikaikan dengan perspektif postkolonial. tokoh yang penting untuk dianalisis dengan perspektif ini adalah tokoh yang memiliki posisi dan peran berpengaruh di dalam menjalankan cerita yang persoalan- persoalan terkait dengan kolonialisme dan imperialisme terutama praktik-praktik dan dampak- dampak dari kolonialisme dan imperialisme yang diuraikan di dalam karya. Tokoh yang menyiratkan kritik postkolonial adalah tokoh utama yaitu tokoh Aku. Berikut adalah uraiannya: Tokoh dan Penokohan “Tokoh Aku” Tokoh ini adalah tokoh yang memiliki peranan paling besar dalam keseluruhan novel. Tokoh Aku muncul pada keseluruhan novel karena penceritaan novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama (1st person point of view) yang dinarasikan oleh si Aku. Tokoh Aku berperan sebagai protagonis. Ia adalah tokoh fokal sepanjang cerita. Apa yang diucapkan dan dilakukannya menggerakkan perjalanan cerita novel ini. Tokoh Aku pada dasarnya merupakan tokoh yang baik hati. Watak dasar tokoh Aku adalah adil terhadap sesama, anti kekerasan dan sadar hukum. Hal yang membuat tokoh Aku terkesan memiliki perawatakan yang kompleks adalah kedudukannya di dalam pemerintahan kolonial yang bertentangan dengan hati nuraninya yang tidak suka melihat praktik kekejaman yang dilakukan oleh Biro ketiga sebagai biro kolonial terhadap para pribumi dan perlakuan yang sangat 65 tidak manusiawi. Pengalaman menjadi saksi praktik kekerasan kolonial yang tidak pernah tokoh Aku lihat sebelumnya sempat membuat perasaan tokoh Aku mendua. Muncul ambivalensi pemikiran dalam diri tokoh Aku untuk memilih menjadi seorang pejabat negara yang harus selalu patuh dan mendukung sepak terjang pemerintah kolonial atau bertahan dengan hati nuraninya yang menentang praktik kolonial. Tokoh Aku menganggap tindakan-tindakan yang dilakukan Biro Ketiga menyimpang dengan hukum yang berlaku sehingga ia harus menentangnya. Penokohan si Aku banyak tampilkan dengan stream of conscoiusness. Salah satunya ketika ia menarasikan dirinya, pekerjaannya, dan pandangan hidupnya seperti pada kutipan di bawah ini: I am a country magistrate, a responsible official in the service of the empire serving out my days on this lazy frontier, waiting to retire. I collect the tithes and taxes, administer the communal lands, see that the garrison is provided for, supervise the junior officers who are the only officers we have here, keep an eye on trade, preside over the law-court twice a week. For the rest i watch the sun rise and set, eat and sleep and am content. When I pass away I hope to merit three lines of small print in the Imperial gazette. I have not asked for more than a quiet life in quiet times. (Coetzee, 1980: 8) Tokoh aku seperti bermonolog kepada pembaca untuk menguraikan pemikiran dan cara pandang dia mengenai kehidupannya. Gambaran tentang kedamaian, ketentraman, dan ketenangan selama berpuluh-puluh tahun yang ia nikmati di dalam koloni terlihat jelas dalam narasinya. Kutipan di atas juga menjelaskan kontradiksi antara pemikiran tokoh Aku dengan sistem yang ada di masyarakat setelah intervensi Kerajaan. Pernyataan pada kutipan di atas menjadi sebuah sindiran terhadap kebrutalan dan kekejaman dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Biro Ketiga. Tokoh Aku aku berkebalikan dengan kolonel Joll, tokoh antagonis di dalam novel ini yang berkedudukan sebagai pimpinan dari Biro Ketiga. Pemikiran tokoh Aku selalu berseberangan dengan kolonel Joll. Kolonel Joll merepresentasikan sistem represif kolonial. Hal ini terlihat pada kutipan pernyataan Joll berikut ini: “...I am speaking of a situation in which I am probing for the truth, in which I have to exert pressure to find it. First I get lies, you see – this is what happens – first lies, then pressure, the more lies, the more pressure, then the break, the more pressure, the the truth. That is how you get the truth.” (Coetzee, 1980: 5) Sifat represif terlihat dari pernyataan kolonel Joll. Ideologi ini terus ditolak oleh tokoh Aku. Tokoh aku menjalankan hidup sesuai dengan hati nuraninya yang diliputi rasa keadilan dan kedamaian sehingga benturan ideologi pada akhirnya membuatnya sengsara. 66 KESIMPULAN Kajian pokok dan tokoh terhadap novel Waiting for the Barbarians karya John Maxwell Coetzee menemukan beberapa gambaran cerita mengenai permasalahan- permasalahan yang muncul sebagai konsekuensi dari penjajahan. Represifitas kolonial adalah karakteristik pokok yang ditampilkan oleh pengarang di dalam karya ini. Pengarang menampilkan tokoh Aku sebagai seorang tokoh yang ambivalen sehingga membuat cerita semakin kompleks. Tokoh Aku menjadi media untuk menyampaikan kritik dan penolakan terhadap kolonialisme, imperialisme, serta konsekuensi logis yaitu penindasan dan pemaksaan terhadap masyarakat yang terkuasai. Dari sisi penokohan, pengarang banyak menggambarkan pemikiran tokoh utama, si Aku, menggunakan stream of consciusness. Kesimpulan yang diperoleh dalam analisis ini adalah bahwa novel Waiting for the Barbarians karya John Maxwell Coetzee adalah novel yang mengkritisi pengalaman kolonialisme di Afrika Selatan. Pengarang menggunakan latar yang identik dengan karakteristik wilayah asalnya, Afrika Selatan, yang memiliki kedekatan fisik dan emosional dengannya. DAFTAR PUSTAKA Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths and Helen Tiffin. 1989. The Empire Writes Back: Theory and Practice in Post-colonial Literatures. London and New York: Routledge Ashcroft, Bill & Pal Ahluwalia, 2001. Edward Said. New york: Routledge Boehmer, Elleke. 2002. Empire, the National and the Postcolonial. Oxford University Press: New York Coetzee, John Maxwell. 1980. Waiting for the Barbarians. London: Penguin Books Loomba, Ania. 1998. Colonialism / Postcolonialism. London: Routledge McLeod, John. 2000. Beginning Postcolonialism. United Kingdom: Manchester University Press Morner, Kathleen dan Ralph Rausch. 1998. NTC’s Dictionary of Literary Terms. Illinois: NTC Publishing Group Inc. Said, Edward W. 1978. Orientalism. New York: Vintage Books . 1993. Culture and Imperialism. New York: Vintage Books www.inventors.com, 9 Mei 2010, 10:11 http://www.inventors.com/ http://www.inventors.com/ http://www.inventors.com/