SERAT CENTHINI SERAT CENTHINI, SEBUAH KOMPLEKSITAS KESUSASTRAAN JAWA YANG MUMPUNI Anies Widiyarti 1 ABSTRACT „Serat Centhini‟, also known as „Suluk Tambanglaras‟ or „Suluk Tambangraras-Amongraga‟, is one of the greatest works in the New Javanese Literature, written in form of „tembang‟ (songs). The work contains various kinds of Javanese knowledge and culture. Using literary sociological approach, this article discusses about „Serat Centhini‟. As one of literary canons, „Serat Centhini‟ is said as a smart, innovative and very complete work. It is found that „Serat Centhini‟ successfully integrates three perpectives in literary sociology, such as a) seeing a literary work as a social document, b) seeing a literary work as the reflection of the author‟s social situation, and c) seeing a literary work as the manifestation of a certain historical event and cultural situation. Finally, the fact that this work has been one of the greatest works deals with Pakubuwono V‟s initial intention to make „Serat Centhini‟ be the encyclopaedia of the Javanese culture. Keywords: „Serat Centhini‟, New Javanese literature, sociological approach, canon. PENDAHULUAN Ketika belum lama ini kita ribut-ribut soal satu per satu warisan budaya Indonesia yang dicuri sekaligus diakui sebagai milik negara tetangga, Malaysia, seolah-olah serentak, semuanya merasa paling berhak dan dengan emosionalnya seakan-akan kita memang berhak untuk „mengganyang‟ sekaligus „menghabisi‟ Malaysia. Mulai dari masalah tempe, reog Ponorogo, wayang, tari pendet, sampai lagu kebangsaan Malaysia, Negaraku, yang konon sama persis dengan lagu Terang Bulan milik Indonesia. Hal-hal itulah di antaranya yang membuat kita sebagai bangsa Indonesia merasa dipecundangi, seperti ditusuk dari belakang, yang pada akhirnya memperuncing hubungan bilateral Indonesia – Malaysia menjadi semakin „panas‟. Akan tetapi, benarkah kemarahan kita sudah pas dan sepantasnya? Jika dilihat dari segi „pencuriannya‟, bolehlah kita marah, toh itu hak milik kita. Tetapi, jika dilihat dari segi penghargaan kita terhadap warisan budaya leluhur, sebaiknya pikir dua kali dahulu, sebelum marah kita layangkan. Bangsa Indonesia memang bangsa yang terlampau reaktif diantara kepasifan anak bangsanya sendiri. Mengaku bahwa itu memang budaya asli Indonesia, tetapi kemana perhatian ini selama ini ditujukan? Ternyata memang kita lebih menyukai musik R & B ala Amerika daripada sekedar gamelan atau angklung yang terlalu sederhana. Atau juga kita lebih mencermati perhelatan pagelaran busaa di Paris dan Milan, daripada hanya batik atau ulos yang rumit, tetapi tidak fashionable. 1 Universitas Diponegoro 67 Ironis memang, karena ternyata bangsa dan orang asing yang justru kepincut dengan budaya-budaya Indonesia. Tak berlebihan juga jika pada akhirnya secara diam-diam, pihak asing mengambil sekaligus mempatenkan yang sebenarnya milik kita. Giliran nanti sudah benar-benar kecolongan, baru kita merasa kebakaran jenggot, sibuk me-lobby sana sini, minta dukungan. Rupanya shock therapy itu berhasil, karena sedikit demi sedikit rasa nasionalisme dan kebanggaan itu kembali berkobar dan kembali mempertahankan hak miliknya. Tetapi apa iya akan terus seperti itu kejadiannya? Agaknya tak cukup hanya bertahan untuk membuat bangsa Indonesia menjadi lebih bijaksana. Bertahan juga harus disertai aksi dan tindak lanjut agar warisan budaya leluhur bisa terus eksis, menjadi kebanggaan, bahkan show up di dunia internasional. Kesusastraan Jawa; Kompleksitas Kebudayaan dan Pembabakannya Sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia, kesusastraan Jawa bisa dikatakan layaknya etalase kebudayaan Jawa yang kompleks dan menarik. Di dalam kesusastraan Jawa boleh jadi adalah gambaran serta rangkuman dari kebudayaan masyarakat yang melingkupinya. Dari periode satu ke periode berikutnya, dari mulai zaman kesusastraan Jawa Kuno sampai masuk Jawa Baru, masing-masing membawa cerita sendiri-sendiri. Kebudayaan Jawa khususnya kesusastraannya menjadi beragam karena menurut Purwadi, akulturasi dan asimilasi kebudayaan itu menjadikan masyarakat Jawa terbiasa dengan perubahan sehingga muncul sebuah jati diri yang terbuka dan akomodatif (2007: v). 1. Sastra Jawa Kuno (Awal Abad IX) Menurut Purwadi, kebudayaan asli Jawa yang bersifat transendental lebih cenderung pada paham animisme dan dinamisme. Perubahan besar pada kebudayaan Jawa terjadi setelah masuknya agama Hindu-Budha yang berasal dari India. Kebudayaan India secara riil mempengaruhi dan mewarnai kebudayaan Jawa, meliputi: sistem kepercayaan, kesenian, kesusastraan, astronomi, mitologi, dan pengetahuan umum (2007: 1). Zoetmulder menjelaskan, kebudayaan Hindu-Budha ini disebarkan melalui sarana bahasa yaitu bahasa Sanskerta. Bahasa Sansekerta yang merupakan bahasa ilmu pengetahuan, filsafat dan sastra yang dipakai oleh lapisan atas, khususnya di kalangan istana dan brahmana, sangat berpengaruh terhadap perkembangan sastra Jawa Kuno (melalui Purwadi, 2007:1). Pengaruh bahasa Sanskerta yang bercorak Hinduisme tampak sekali dalam sastra pewayangan, misalnya pada Kakawin Ramayana dan Mahabharata (Purwadi, 2007: 2). Utomo mengatakan, bahasa Sansekerta berpengaruh kuat pada bahasa Jawa. Hal ini terjadi karena kemampuannya berakulturasi untuk membentuk „lambang‟ bahasa pada manusia Jawa, maka Sanskerta hampir seluruhnya diserap ke dalam bahasa Jawa, sebagai ilustrasi dari 9.000 kata bahasa Jawa, terutama Jawa waktu itu, 7.500 kata merupakan serapan dari bahasa Sanskerta (melalui Prawoto, 1993: 2-3). 68 Masih menurut Utomo, sastra Jawa Kuno dinilai para peneliti mempunyai beberapa spesifikasi yang dapat diunggulkan, selain isinya yang khas, beberapa hal memperbincangkan keadaan manusia dan dewa, namun dalam isinya juga berupa nasihat-nasihat yang ternyata sampai sekarang masih ada relevansinya dengan kehidupan masyarakat Jawa masa kini. Salah satunya adalah naskah-naskah Uphanisat – sebuah karya sastra Jawa Kuno yang berisi nasehat dengan latar agama Hindu yang banyak diteladani sampai sekarang (melalui Prawoto, 1993: 3). 2. Sastra Jawa Pertengahan (Abad XII – XV) Utomo mengatakan, kerajaan Mahapahit merupakan tonggak dimulainya pergeseran sastra Jawa dengan munculnya karya-karya sastra yang berlawanan bahasa maupun cara pengungkapannya. Pergeseran sastra Jawa ini terjadi karena masyarakat Jawa mencoba mengembangkan identitas diri lebih lanjut (melalui Prawoto, 1993: 3). Akan tetapi, Utomo kembali menjelaskan, bahwasannya perkembangan sastra Jawa pertengahan sangat lamban. Selain itu, sastra Jawa pertengahan terlihat tidak memperhitungkan panjang pendek vokal dalam kata-katanya, maupun pengaruh Sanskerta makin tidak dirasakan (melalui Prawoto, 1993: 3). Gallenfels berpendapat, sastra Jawa pertengahan ini merupakan produk asli Jawa atau Indonesia, karena selain tatanan kata atau kalimat dalam bahasanya berbeda dengan bahasa Jawa kuno. Juga bentuk puisinya pun telah nampak perbedaan (melalui Prawoto, 1993: 3-4). Utomo menyebut, karya sastra Jawa pertengahan seperti Pararaton, Calon Arang, Sudamala dan Panji, isi dan ceritanya lebih banyak mengungkapkan tentang masalah manusia pada umumnya, baik itu di kalangan kerajaan atau kalangan masyarakat biasa (melalui Prawoto, 1993: 3). Utomo juga menambahkan, isi yang berbeda tersebut bisa terjadi mungkin disebabkan pergeseran persepsi masyarakat Jawa, di samping keinginan masyarakat jawa saat itu yang sudah menginginkan dan mencoba untuk lebih meng-Indonesia- kan diri dalam bentuk karya sastranya. Itulah sebabnya keaslian sastra Jawa semakin nampak dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru nusantara, seiring dengan kejayaan Majapahit (melalui Prawoto, 1993: 4). Utomo melanjutkan, akan tetapi setelah Majapahit runtuh kekuasaannya karena masuknya agama Islam di Jawa, pergeseran bahasa Jawa kuno dan pertengahan ke arah timur menjadi tak terelakkan lagi, yang akhirnya seperti diketahui sisa-sisa Majapahit ini masih hidup dan berkembang sampai sekarang di kawasan tersendiri, yaitu pulau Bali (melalui Prawoto, 1993: 4). 3. Sastra Jawa Baru Utomo menerangkan, setelah Majapahit runtuh, sastra Jawa terus bergerak mengikuti perjalanan kerajaan yang berkembang setelah Majapahit, yaitu kerajaan Demak. Karena kerajaan Demak di bawah pengaruh Islam, maka karya sastra pada 69 periode Jawa Baru ini cenderung bernapaskan keislaman (melalui Prawoto, 1993: 4- 5). A.H. Johns menjelaskan, bahwa pada periode Jawa baru sastra jawa bukan saja berisi tentang masalah kehidupan masyarakat dan masalah kerajaan, tetapi juga masalah keagamaan terutama keislaman dengan rukun islam dan sejarah nabi. Ini nampak sekali pada karya-karya sastra waktu awal masuknya islam seperti adanya Suluk, Primbon, dan Babad (melalui Prawoto, 1993: 5). Utomo mengungkap, karya sastra jawa yang menggunakan bahasa jawa baru ini mengalami masa puncaknya ketika kerajaan beralih ke Kartasura sampai pada zaman berikutnya di kerajaan Surakarta. Pada masa ini sastra Jawa memiliki pemikir dan penulis yang begitu terkenal baik di kalangan masyarakat dan kerajaan, seperti halnya Yasadipura dan Ranggawarsita. Karya sastra Jawa Baru yang berisi kemasyarakatan banyak yang disisipi dengan nasihat ajaran keagamaan, atau bahkan ramalan dan percintaan. Antara lain yang menjadi masterpiece adalah Serat Rama Jarwa, Jangka Jaya Baya, Centhini atau Pepali yang berisi ramalan dan nasib bangsa (Jawa) atau juga ensiklopedi segala sesuatu tentang manusia jawa (melalui Prawoto, 1993: 5). SERAT CENTHINI Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, masing-masing pembabakan dalam kesusastraan Jawa mempunyai corak dan keistimewaan sendiri-sendiri. Namun untuk kesempatan kali ini, penulis memilih Serat Centhini sebagai fokus pembicaraan dan pembahasan. Sebagai salah satu konon sastra di zamannya, Serat Centhini boleh dibilang sangat cerdas, inovatif, dan sangat lengkap. Penulis ingat, dulu ketika masih duduk di bangku SMU, gambaran tentang Serat Centhini adalah tak ubahnya Kitab Kamasutra versi Jawa. Bukannya apa-apa, pada awalnya mendengar tentang Serat Centhini, penulis menganggap isinya melulu tentang seksualitas yang dikupas tuntas. Setelah sekian lama berjalan, sedikit demi sedikit informasi mulai membuka jalan. Serat Centhini ternyata lebih dari sekedar kitab seks vulgar. Serat Centhini boleh dibilang adalah himpunan pengetahuan kebudayaan Jawa yang komplet dan seks ternyata hanya menjadi salah satu bagiannya saja. Ada begitu banyak bagian lain yang menjadi faktor penting dalam pola kehidupan khas budaya Jawa. Penulis sendiri, sampai saat ini belum pernah melihat naskah asli Serat Centhini yang konon tebalnya mencapai 4.200 halaman folio. Serat Centhini atau juga disebut Suluk Tambanglaras atau Suluk Tambangraras- Amongraga, merupakan salah satu karya terbesar dalam kesusastraan Jawa Baru. Serat Centhini menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa, agar tak punah dan tetap lestari sepanjang waktu. Serat Centhini disampaikan dalam bentuk tembang, dan penulisannya dikelompokkan menurut jenis lagunya (http://id.wikipedia.ord/wiki/Serat-Centhini). 70 http://id.wikipedia.ord/wiki/Serat-Centhini Menurut keterangan R.M.A Sumahatmaka, seorang kerabat istana Mangkunegaran, Serat Centhini digubah atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom di Surakarta, seorang putra Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, yaitu yang kemudian akan bertahta sebagai sunan Pakubuwono V (melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini). Sangkala Serat Centhini, berbunyi paksa suci sabda ji, atau tahun 1942 tahun jawa atau tahun 1814 Masehi, enam tahun menjelang dinobatkannya Sunan Pakubuwono V. Sunan Pakubuwono V akhirnya mulai bertahta pada tahun 1748 (Jawa) (http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini). Akan tetapi, ada sumber lain menyebutkan bahwasannya Serat Centhini ditulis tahun 1815 (Wirodono, 2009: 7). Serat Centhini ditulis bersumber pada kitab Jatiswara, yang bersangkala jati tunggal swara raja, yang menunjukkan angka 1711 (tahun Jawa, berarti masih di zamannya Sunan Pakubuwono III). Atas kehendak Sunan Pakubuwono V, gubahan Suluk Tambangraras atau Centhini ini dimanfaatkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir batin masyarakat jawa pada masa itu, yang termasuk di dalamnya keyakinan dan penghayatan mereka terhadap agama (http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini). Pengerjaan Serat Centhini dipimpin langsung oleh Pangeran Adipati Anom, yang mendapatkan tugas membantu mengerjakannya adalah tiga orang pujangga istana, yaitu: 1. Raden Ngabehi Ranggasutrasna 2. Raden Ngabehi Yasadipura II (sebelumnya bernama Raden Ngabehi Ranggawarsita I) 3. Raden Ngabehi Sastradipura Sebelum dilakukan penggubahan, ketiga pujangga istana mendapat tugas khusus untuk mengumpulkan bahan-bahan pembuatan kitab. Ranggasutrasna bertugas menjelajah pulau jawa bagian timur, Yasadipura bertugas menjelajah jawa bagian barat, serta Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang ajaran Islam (http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini). Pengerjaan Serat Centhini dimulai pada hari Sabtu Pahing, tanggal 26 Muharam tahun je, Mangsa VII, angka tahun jawa 1742 dengan sengkalan: paksa suci sabda aji (= bulan Januari 1814) (Purwadi, 2007: 320). Selanjutnya untuk pengerjaan isi, setiap masalah yang berhubungan dengan wilayah barat jawa, timur jawa, atau agama Islam, dikerjakan oleh ahlinya masing-masing. Terdiri dari 12 jilid dengan jumlah lagu keseluruhannya menjadi 725 lagu, Pangeran Adipati Anom mengerjakan sendiri jilid lima sampai sepuluh (http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini). Purwadi menjelaskan, Serat Centhini yang baku terdiri atas 12 jilid, rata-rata 350 halaman folio tulisan tangan huruf jawa. Seluruhnya memuat 12x350 halaman = 4.200 halaman folio (2007: 320). Secara garis besar, Serat Centhini disusun berdasarkan 71 http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga/ Jayengsari, dan seorang putri bernama Ken Rancangkapti (http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini). Dalam perjalanan ini, Jayengresmi mengalami „pendewasaan spiritual‟ karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos jawa kuno, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah jawa. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dan khazanah kebudayaan jawa, mulai dari candi, makna suara burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu berhubungan seksual, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syekh Siti Jenar. Pengalaman dan peningkatan kebijaksanaannya ini membuatnya kemudian dikenal dengan sebutan She (Syekh) Amongraga. Dalam perjalanan tersebut, Syekh Amongraga berjumpa dengan Ni Tambangraras yang menjadi istrinya, serta pembantunya Ni Centhini, yang juga turut serta mendengarkan wejangan-wejangannya (http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini). Singkat penjelasan, Serat Centhini berisi aneka ragam kawruh Jawa. Ki Sumidi Adisasmita dalam bukunya yang berjudul Pustaka Centhini Selayang Pandang, menyebutkan bahwa Serat Centhini kurang lebih memuat hal-hal sebagai berikut: Sejarah Tanah Jawa, Riwayat Hidup, Siasat Perang, Politik, Ramalan Tanah Jawa, Jangka Jayabaya, Ramalan Hari Kiamat Menurut Hadits Nabi, Pralambang Negara- negara di Jawa, berbentuk palupi, berbentuk papali, berbentuk dongeng, ceritera, berbentuk perlindungan Allah kepada orang-orang yang jujur, candi-candi, peninggalan kuno, benda-benda kuno misalnya : meriam, pusaka senjata, dan benda azimat, bekas-bekas yang bersejarah, makam-makam kuno, bangunan-bangunan kuno (melalui Purwadi, 2007: 325). Selain yang sudah disebutkan di atas, Ki Sumidi juga menambahkan bahwasannya masalah-masalah seperti halnya gotong-royong, keramahan menerima dhayoh, keakraban, suluk, ilmu kesempurnaan, asmara, kesenian, obat-obatan dan penyakit, primbon, kesenangan dan pertunjukan, ceritera, tata cara upacara, pendidikan, sampai tipe-tipe manusia, juga tak luput dari pembahasan Serat Centhini (melalui Purwadi, 2007: 325-329). Sampai saat ini, menurut Ki Sumidi, Serat Centhini telah ditulis ulang berkali- kali sehingga ada enam versi, yaitu: 1. Serat Centhini yang baku 2. Serat Centhini Pisungsung, Sri Sunan Pakubuwono VII Surakarta ke negeri Belanda Serat Centhini baru ini disalin dari Serat Centhini baku jilid V, VI, VII, VIII, IX. Memuat 280 pupuh dan berisikan semua ceritera-ceritera porno tulisan Sri Sunan Pakubuwono V, yang disisipkan sebagai selingan diantara wejangan-wejangan pembicaraan-pembicaraan suci yang diberikan oleh para ahli ilmu tarekat kepada para 72 http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini siswa-siswa atau tedhayohnya. Serat Centhini baru ini digubah pada hari Kamis pagi jam delapan bulan Ruwah, tanggal 23 tahun Dal, mangsa Kasa. Dengan sengkalan: Tata Resi Amulang Janma = 1775 Jawa = 1846 M. 3. Serat Centhini dalam bahasa Jawa Timur Ditulis pada tanggal 1 Ramadhan tahun Wawu, 1729 Jawa = 1802 M 4. Serat Centhini dalam bahasa Jawa Pegon Ditulis pada 1292 H = 1804 Jawa = 1875 M 5. Serat Centhini Jalalen Ditulis dengan sengkalan : Tri Guna Surananing Rat = 1733 = 1806 M, oleh Kyai Ngabehi Rangga Sutrasna 6. Serat Centhini Among Raga Ditulis dengan sengkalan : Tata Trus Wiku Tunggal = 1795 Jawa = 1866 M (melalui Purwadi, 2007: 330-333). Akibat dari tebalnya, menurut Purwadi jarang sekali di antara pembaca yang telah dapat membaca Serat Centhini seluruhnya. Serat Centhini yang baku itu mulai dengan Serat Sinom sebagai pupuh pertama pada (bait) pertama dalam jilid, (pertama) dan diakhiri dengan Tembang Sarkara. Adapun bunyi dari Sekar Sinom adalah sebagai berikut: “Sri Narpatmaja sudibya Talatahing Nuswa Jawi Surakarta Adiningrat Hagnya ring kang wadu carik Sutrasna kang kinanthi Mangun reh cariteng dangu Sanggyaning kawruh jawa Tinengran serat centhini Kang minangka dadya lajering caritra (Purwadi, 2007: 322) Di dalam satu pada ini tercantum beberapa keterangan tentang Serat Centhini, yakni : perkataan : Sri Narpatmaja, berarti Pangeran Adipati Anom, ini menunjukkan bahwa tembang pertama di dalam Serat Centhini ialah Sinom. Beliau adalah putra mahkota kerajaan Surakarta yang unggul. Beliau memberi perintah kepada carik bernama Sutrasna agar menyusun sebuah pustaka yang mencantumkan segala macam ilmu-ilmu pengetahuan di Jawa sejak dahulu hingga pada masa itu. Pustaka itu diberi nama : Serat Centhini (2007: 322-323). Adapun sebagai penutup, bunyi dari Tembang Sarkara pada angka 671 dan 672 adalah sebagai berikut: “Pan pinugut wedharing palupi, 73 Punang serat centhini karan-nya, Wawejangan pamungkase, Mamardi maring kawruh, Ing kajaten jatining urip, Wikan reh kahanan, Hananing Maha Gung, Sajati-jatining janma, Wus jinayah jejering janma majaji, Kang jinurang ing seya”. “Kaderpaning panggalih sang aji Kang umput wijanganing kata Tinaliti saturute Tetelane tinutur Tititatas tananing gati Sakwehning kang kinata Ulas samya ingimpun Hala hayuning pakaryan Kawruh miwah ngelmuning kang lahir batin Winedar mring pra mudha (Purwadi, 2007: 324-325) Ulasan Serat Centhini dan Lingkup Pengaruh Menurut Ulil Abshar Abdalla, karya yang boleh dikatakan sebagai ensiklopedi mengenai “dunia dalam” masyarakat Jawa ini, terdapat resistensi terselubung dari masyarakat elitis (priyayi) keraton Jawa di suatu pihak, terhadap pendekatan Islam yang menitikberatkan pada syariah sebagaimana yang dibawakan oleh pesantren dan walisongo. Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur Islam yang “ortodoks” bercampur baur dengan mitos-mitos tanah jawa. Ajaran Islam mengenai sifat Allah yang dua puluh misalnya, diterima begitu saja tanpa harus membebani para pengguh ini untuk mempertetangkannya dengan mitos-mitos khazanah kebudayaan jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara “sinkretik” seolah antara alam monoteisme – Islam dan paganisme/animisme Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan. Penolakan atau resistensi tampil dalam nada yang tidak menonjol dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme” dalam mempertahankan kebudayaan jawa dari penetrasi luar (melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini). Selanjutnya Dr. Badri Yatim MA mengatakan bahwa keraton-keraton Jawa Islam yang merupakan penerus dari keraton Majapahit menghadapi tidak saja legitimasi politik, melainkan juga panggilan kultural untuk kontinuitas. Tanpa hal-hal tersebut, keraton-keraton baru itu tidak akan dapat diakui sebagai keraton pusat. Dengan demikian konsep-konsep Wahyu Kedaton, Susuhunan, dan Panatagama terus berlanjut menjadi dinamika tersendiri antara tradisi keraton yang sinkretis dan 74 http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini tradisi pesantren yang ortodoks (melalui http://id.wikipedia.org/wiki/Serat- Centhini). Penulisan kembali Centhini dalam bentuk prosa liris dilakukan juga oleh Elizabeth Inandiak dalam bahasa Prancis berjudul Les Chants de I‟ile a dormir debout. Bentuk ini dapat dianggap sebagai interpretasi personal karena terdapat perbedaan dengan bentuk kitab aslinya. Hal yang agak berbeda, dilakukan oleh R.M.A Sumahatmaka yang menerbitkan ringkasan Serat Centhini berdasarkan naskah milik Reksapustaka Istana Mangkunegaran. Ringkasan tersebut telah dia laksanakan dan diterjemahkan secara bebas dalam bentuk cerita, yang diharapkan pembuatnya dapat mudah dipahami oleh masyarakat yang lebih luas. Sesuatu yang lain lagi, yang dilakukan berkaitan dengan Serat Centhini dikerjakan oleh Sunardian Wirodono. Dia mengubah Serat Centhini menjadi trilogi novel dalam bahasa Indonesia (Centhini, 40 Malam Mengintip Sang Pengantin; Centhini, Perjalanan Cinta; dan Cebolang, Petualang Jalang) (http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini). Penjelasan / Kajian Teoritis Pada prinsipnya, menurut Laurenson dan Swingewood, terdapat tiga perspektif berkaitan dengan sosiologi sastra, yaitu: (1) penelitian yang memandang karya sastra sebagai dokumen sosial yang di dalamnya merupakan refleksi situasi pada masa sastra tersebut diciptakan, (2) penelitian yang mengungkap sastra sebagai cermin situasi sosial penulisnya, dan (3) penelitian yang menangkap sastra sebagai manifestasi peristiwa sejarah dan keadaan budaya (melalui Endraswara, 2003: 79). Apabila bercermin dari perspektif tersebut, boleh dikatakan Serat Centhini mampu mengintegrasikan ketiga perspektif tersebut. Ketika Suluk Tambangraras ini menjadi salah satu masterpiece dan mampu menghimpun segala pengetahuan kebudayaan jawa secara lengkap pada masanya, karena pada awalnya Pakubuwono V memang berniat menjadikan Serat Centhini sebagai ensiklopedi budaya Jawa agar tetap lestari yang tentunya bisa juga dianggap sebagai dokumen sosial pada masa itu. Masa di mana budaya Islam mulai memasuki keraton-keraton di Jawa, selepas pengaruh Hindu Majapahit yang menguasai. Dalam kehidupan aristokrat Jawa masa itu, para pujangga keraton memang mempunyai peran yang terlampau penting. Para pujangga keraton dituntut tidak hanya pandai bercerita, tetapi mereka juga harus terjun langsung untuk melakukan observasi membuat catatan-catatan penting, berkaitan dengan tulisan yang akan mereka buat. Serat Centhini memang didokumentasikan tepat ketika peralihan dari tradisi Hindu-Majapahit menuju Islam-Demak. Besar kemungkinan, mulusnya ajaran-ajaran yang ditulis dalam Serat Centhini berbanding terbalik dengan realitas di lapangan. Seperti sebelumnya dikatakan oleh Ulil Abshar Abdalla, bahwa sangat mungkin terdapat resistensi terselubung, antara para priyayi dan pendekatan Islam pada umumnya. Para priyayi yang sudah terikat dengan sisten kejawen yang kolot, 75 http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini kemungkinan besar tidak bisa masuk sepenuhnya dalam ajaran Islam yang sesungguhnya. Karena itulah pada akhirnya muncul istilah Islam Kejawen dan Islam Puritan. Akan tetapi secara garis besar, Serat Centhini mampu untuk meng-ejawantah- kan segalanya satu demi satu, berimbang porsi dalam sudut pandang. DAFTAR PUSTAKA Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi Model dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyautama. Prawoto, Poer Adhie. 1993. Wawasan Sastra Jawa. Bandung: Penerbit Angkasa. Purwadi. 2007. Sejarah Sastra Jawa. Yogyakarta: Shaida. Wirodono, Sunardian. 2009. Centhini: Sebuah Novel Panjang (40 Malam Mengintip Sang Pengantin). Yogyakarta: Diva Press. http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini. 76 http://id.wikipedia.org/wiki/Serat-Centhini