LAPDOG DAYS Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 87 Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days” Karya Lana Citron Cultural, Social, Behavioural, and Psychological Systems in Lana Citron’s “Lapdog Days” Hadiyanto Universitas Diponegoro (Undip), Semarang hadiyanto_smg@yahoo.co.id Riwayat Artikel: Dikirim 9 November 2017; Diterima 14 Maret 2018; Diterbitkan 30 Maret 3018 ABSTRAK Paper ini membahas sistem budaya, sistem sosial, sistem perilaku, dan sistem kepribadian dalam cerita pendek yang berjudul Lapdog Days karya Lana Citron. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam paper ini adalah pendekatan ekletik dengan ciri khasnya yang menggabungkan lebih dari satu pendekatan penelitian. Paper ini memanfaatkan kajian teori tindakan yang diformulasikan oleh Talcott Parson untuk menganalisis fenomena- fenomena temuan dalam teks cerita pendek tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem budaya, sistem sosial, sistem perilaku, dan sistem kepribadian tercermin dalam kehidupan tokoh-tokoh remaja dalam cerita pendek tersebut yaitu, tokoh Saya, Sean, Niamh, Frederick, dan tokoh-tokoh lainnya dalam cerita pendek tersebut. Kata Kunci: sistem budaya, sistem sosial, sistem perilaku, sistem kepribadian ABSTRACT This paper discusses cultural, social, behavioral, and personality system in Lana Citron’s Lapdog Days. The approach used in this research is eclectic approach by combining more than one research approach and is endorsed with Talcott Parsons’s Action Theory to analyze phenomena in the short story. The result of this research indicates that cultural, social, behavioral, and personality system are reflected in teenagers’ life of the characters in the short story namely, I, Sean, Niamh, Frederick and other characters. Keywords: cultural system, social system, behavioral system, personality system mailto:hadiyanto_smg@yahoo.co.id Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 88 PENDAHULUAN Telaah karya sastra dari zaman ke zaman terus mengalami berbagai ragam perkembangan. Saat ini perkembangan telaah karya sastra telah mencapai titik analisis interdisiplin. Hal ini disebabkan sifat teks sastra yang cenderung semakin kompleks, sehingga karya sastra membutuhkan paduan kajian pendekatan penelitian teks yang lebih beragam. Sifat karya sastra yang fleksibel terhadap berbagai macam kajian memungkinkan berbagai teori dapat diterapkan dalam analisis teks seperti misalnya aplikasi Action Theory Talcott Parsons. Dalam teori tersebut, ia mensintesiskan beragam unsur teori budaya, teori sosial, serta teori kepribadian-psikoanalisis hingga terpadukan menjadi satu teori baru holistik yang diberi nama Action Theory. Action theory Parsons berpijak pada asumsi bahwa bahasa adalah lambang budaya pemiliknya. Teori tersebut mencakup pengelompokkan lambang– lambang budaya yang dibagi menjadi empat bagian yaitu; tata lambang konstitusi, tata lambang kognisi, tata lambang evaluasi, dan tata lambang ekspresi. Karya sastra bagaimanapun adalah buah gagasan, buah karya, serta buah ide–ide seni yang terwujud dalam bentuk lisan atau tulisan. Media bahasa, sebagai salah satu unsur kebudayaan universal manusia (cultural universals) yang digunakan dalam torehan karya sastra agar dapat dinikmati orang lain, adalah ―representasi budaya, zaman dan kepribadian pengarangnya‖ seperti tercermin dalam cerpen Lapdog Days karya Lana Citron. Cerpen Lapdog Days berkisah tentang seorang gadis remaja yang pada masa lalunya jatuh hati dan tergila-gila kepada seorang mahasiswa yang menurut dirinya revolusioner. Kerevolusioneran pemuda tersebut membuat si gadis tidak lagi merasa malu dan mempermalukan diri bahkan bersikap sangat konyol, melakukan apa saja untuk mendapat perhatian dan cinta lelaki idolanya. Perasaan tergila-gilanya membawa dirinya terombang- ambing dalam ―hempasan antara harapan dan kekecewaan‖ berulang kali. Di penghujung cerita akhirnya si gadis harus membayar mahal kekonyolan sikapnya dengan deraan perasaan terluka dan sakit hati. Sikap seorang remaja yang sedemikian tentu bukan sekedar fiktif imaginatif belaka, karena hal itu faktual yang dapat dijumpai dalam realitas sosial sehari-hari, sehingga cerita dalam cerpen dapat dikatakan sebagai refleksi kehidupan sosial budaya masyarakat dan gaya hidup remaja ketika cerpen tersebut ditulis oleh pengarangnya. Cerpen Lapdog Days akan dikaji dengan teori Parsons yang mencakup kajian sistem budaya, sistem sosial, sistem perilaku, dan sistem kepribadian. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 89 METODE Pendekatan Penelitian Berdasarkan tema cerpen Lapdog Days karya Lana Citron yang sarat dengan eksplorasi fenomena sistem budaya, sistem sosial, sistem kepribadian-psikoanalisis, dan sistem perilaku serta kehidupan remaja dan masyarakat dalam cerpen tersebut, penulis meneliti karya sastra tersebut dengan pendekatan eklektik yang menggabungkan pendekatan antropologi sastra, sosiologi sastra, psikologi sastra, dan pendekatan moral. Pendekatan eklektik adalah pendekatan penelitian teks sastra yang menggabungkan dua pendekatan atau lebih dengan maksud mengambil kekuatan masing-masing pendekatan setelah mempertimbangkan pendekatan tunggal tidak mampu memecahkan kompleksitas fenomena permasalahan dalam teks sastra (Semi, 1993: 92-93). Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan terhadap objek penelitian cerpen Lapdog Days karya Lana Citron dengan memanfaatkan penelitian kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang dilakukan di ruang kerja peneliti atau di perpustakaan tempat peneliti memperoleh data dan informasi tentang objek penelitiannya melalui buku-buku atau alat-alat audiovisual lainnya (Semi, 1993:8). Pemanfaatan metode kepustakaan ini dilakukan mengingat data–data yang digunakan dalam penelitian ini seluruhnya diperoleh dari cerpen tersebut, sedang sumber tertulis atau pustaka seperti; buku, ensiklopedia, esei, jurnal, artikel, dan sebagainya difungsikan sebagai referensi penunjang. HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Budaya 1. Tata Lambang Konstitusi Berangkat dari paradigma Action Theory Parsons tentang empat tata lambang budaya, maka dapat dianalisis bahwa tata lambang konstitusi yang merupakan unsur bahasa yang menjadi lambang konsep yang berhubungan dengan kepercayaan atau keagamaan dalam cerpen Lapdog Days karya Lana Citron tersebut, sangat jelas tersurat melalui ekspresi ucapan dan perkataan tokoh-tokohnya yang berulang kali menyebut kata God, Jesus, Jesus Christ, atau tersirat dalam penggalan rangkaian kata Trinity sebagai kompleks ide-ide atau gagasan tentang wujud kebudayaan manusia: Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 90 “God, this is so uncool,” she said,… Jesus, Niamh had been in there for ages and I guessed she wasn’t coming out. “Wanker, Jesus Christ, I’m not staying here a minute longer…” “How come you are always waiting at the gates of Trinity and no one ever arrives?” (Citron, 2002:420-427) Kata God yang dipilih pengarang di atas adalah representasi kepercayaan seseorang terhadap sesuatu yang bersifat supranatural transendental yang dijadikan sandaran hidup manusia, dalam hal ini tokoh- tokoh pelaku cerita seperti Aku, Niamh, Frederick, dan lainnya di kala mereka susah maupun senang. Adapun kata Jesus ataupun Jesus Christ yang dihadirkan pengarang dalam cerpen itu merepresentasikan konsepsi ketuhanan bagi pemeluk agama Kristen atau Katolik, karena kata Jesu berarti Tuhan Yesus, Jesus Christ berarti Yesus Kristus, istilah Tuhan yang hanya digunakan sebagai simbol keagamaan kaum Nasrani. Sedangkan kata Trinity dalam rangkaian kata the gates of Trinity, mempunyai arti konsepsi trinitas ketuhanan kaum Nasrani yang meliputi Father, Jesus, dan Holy Spirit, konsepsi 3 Tuhan yang menyatu dalam 1 wujud. Tidak ada kata dogmatis religius atau kalimat ekspresi religiusitas seseorang baik tersirat maupun tersurat dalam cerpen tersebut yang mengindikasikan keberadaan kepercayaan atau agama lain yang dipegang teguh atau dijadikan ideologi hidup tokoh–tokoh pelaku cerita itu, kecuali konsep kepercayaan kaum Nasrani. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepercayaan yang dijadikan pedoman hidup dan dianut oleh pengarang, Lana Citron, dan masyarakat tempat pengarang hidup dan berinteraksi sosial, secara umum adalah agama Nasrani. 2. Tata Lambang Kognisi Tata lambang kognisi berkaitan dengan unsur bahasa yang melambangi konsep ilmu pengetahuan dan teknologi. Para tokoh remaja yang berperan dalam cerpen tersebut seperti tokoh I (Aku) dan Niamh adalah pelajar setingkat sekolah menengah atas, tokoh Sean yang disebut sebagai The Revolutionary student bersama 5 orang teman kuliahnya --termasuk Frederick yang belajar hukum dan Acne Face yang belajar teknik-- adalah orang-orang terpelajar yang belajar pada Trinity College Dublin, sebuah sekolah setingkat universitas atau perguruan tinggi yang terletak di kota Dublin Irlandia sebelah barat Inggris tempat mereka tinggal. Trinity College adalah institusi pendidikan yang berfungsi memberikan kontribusi dan sumber pengetahuan kepada masyarakat khususnya para remajanya di berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kehidupan remaja di kota tersebut tidak terlepas dari Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 91 keberadaan serta peran institusi Trinity College sebagai identitas atau jati diri mereka dan zamannya. “The revolutionary student stood between the arch and the main gates of Trinity College, Dublin, selling his pamphlet…” (Citron, 2002:418) Konsep pengetahuan lain yang dominan tersurat dalam cerpen Lapdog Days Lana Citron adalah pengetahuan tentang poetry atau puisi yang menjadi simbol kebanggaan tokoh utama I (Aku) dan Niamh serta tokoh- tokoh perempuan pelaku cerita lainnya. Talenta dan kemahiran berpuisi tokoh Sean, sang the revolutionary student, yang spektakuler memberi dampak kekaguman berlebihan bagi tokoh-tokoh remaja putri dalam cerpen tersebut, sehingga mereka menjadi tergila-gila dan ingin menjadi kekasih Sean tanpa menghiraukan bagaimana karakter sebenarnya sang tokoh pujaan. Telah menjadi sesuatu yang umum di kalangan remaja putri dalam cerpen tersebut bahwa sang idola di samping mempunyai bakat besar berpuisi, ia adalah seorang yang berhobi berganti-ganti kekasih, pindah dari satu gadis ke gadis yang lain di lingkungan tempat remaja itu saling berinteraksi sosial. Selain mendapat pengetahuan puisi dari karya orang lain, tokoh I (Aku) dalam cerpen Lapdog Days banyak mendapat inspirasi pengetahuan tentang puisi dari karya-karya puisi pria pujaan hatinya yaitu, Sean the revolutionary student, sehingga sedikit banyak ia mampu mengekspresikan isi hati dan buah pikirannya melalui puisi dengan gaya sentuhan bersastranya seperti misalnya karya puisi yang ditulisnya setelah ia merasa terluka dan sakit hati melihat pujaan hatinya sedang akrab bermesraan berdua dengan gadis lain: Now and Forever If not Today Tomorrow If not Tomorrow No matter Time will tell You What I know Already (Citron, 2002:425) atau karya puisi lain yang ia tulis ketika dirinya merasa kecewa atas sikap kedua orang tuanya yang sering meninggalkannya di rumah sendiri, sedang ia berharap untuk dapat diajak bersama orang tuanya. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 92 Hurt My flower of hope is dying My eyes are wet from crying And my heart beats Still. (Citron, 2002:428) Konsep teknologi terefleksikan dari bahasa yang dimunculkan pengarang dalam cerpennya. Konsep Marlboro, Martini, McDonald adalah hasil cipta karya peradaban manusia yang telah maju/modern. Marlboro adalah produk rokok yang sangat populer, prestisius, dan relatif mahal harganya dibandingkan merek rokok lainnya. Rokok yang berasal dari Amerika dengan simbol kehidupan koboi berkuda itu diproduksi dengan mesin teknologi yang canggih, sehingga menghasilkan cita rasa tinggi bagi penggunanya. Martini adalah sejenis minuman cocktail yang telah dicampur dengan vodka beralkohol dan dedaunan yang beraroma. Minuman itu juga hanya dapat diracik dengan bantuan teknologi canggih agar dapat diminum dengan segar dan bercitra ekslusif oleh peminumnya. Sedang McDonald, jenis fast-food restaurant yang tentu begitu tenar dan tidak asing di telinga masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang tinggal di kota-kota besar, juga merupakan hasil produk teknologi dan kapitalisme global Amerika. Ketiga jenis simbol hasil karya teknologi tersebut dapat disimpulkan sebagai representasi kehidupan masyarakat elite-modern, bukan sebaliknya marjinal-primitif secara budaya. Produk simbol teknologi tersebut dapat dilihat dalam penggalan kutipan di bawah ini: “I ran across the road to the tobacconist’s and bought a pack of twenty of Marlboro’s.” “We met outside McDonald’s on Grafton Street.” “I poured half a bottle of Martini into an empty glass jar.” (Citron, 2002:419-422) Berdasarkan uraian di atas dapat dianalisis bahwa bahasa yang melambangi konsep pengetahuan dan teknologi dalam cerpen tersebut adalah representasi sumber pengetahuan sang pengarang dan juga masyarakat remaja pada umumnya yang hidup dekat dengan dunia pendidikan sekolah tinggi dan predikat zaman modern yang ditandai dengan simbol teknologinya. 3. Tata Lambang Evaluasi Tata lambang evaluasi berkaitan dengan unsur bahasa yang melambangi konsep etika, mengacu pada nilai baik atau buruk sesuatu. Perangkat teori Parsons yang satu ini erat berkorelasi dengan etika budaya suatu masyarakat yang muncul dalam bahasa dari sudut pandang orang luar Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 93 (etic perspective). Apa yang baik menurut seseorang dalam komunitas budaya tertentu, belum tentu baik pula menurut pandangan dan penilaian orang lain yang hidup di lingkungan budaya lain. Demikian halnya yang terjadi pada cerpen Lapdog Days yang sarat mengeksplorasi ekspresi perasaan cinta dan perilaku seksual remaja belasan tahun, sehingga untuk mendapatkan hati dari laki-laki pujaan seorang gadis rela tanpa rasa malu lagi, bahkan berbuat konyol apa saja demi tercapai tujuan mendapatkan perhatian sang idola. Tokoh I (Aku) dikarakterisasikan sebagai gadis yang terkesan lemah perasaannya sehingga dengan penuh kesadarannya rela berpura-pura menunggu lama, berdusta, membelikan sekaligus melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak ia lakukan seperti merokok misalnya. Cinta membutakan logika berpikir tokoh utama pelaku cerita untuk rela berbuat apa saja demi tujuannya. Dapat dikatakan bahwa cerpen tersebut sarat dengan ―ekspos sikap kekonyolan dan perasaan tidak tahu malu sebagai seorang perempuan‖ yang mendominasi hampir keseluruhan bagian alur cerita, karena memang tema yang diangkat ke permukaan oleh sang pengarang adalah kehidupan remaja dengan perasaan cinta dan pengesampingan perasaan malu yang akhirnya berakibat kecewa serta luka hati bagi pelakunya. Menurut penulis sikap berbuat apa saja dengan mengabaikan rasa malu secara berlebihan yang tercermin pada tokoh I (Aku) demi menjadi kekasih sang idola adalah cermin etika moral masyarakat yang tidak baik, karena seorang perempuan meskipun dirinya mempunyai hak untuk memperjuangkan perasaan dan cintanya sebagaimana dilakukan kaum laki- laki, adalah tidak etis berbuat sedemikian. Ketidaketisan itu erat kaitannya dengan asumsi dogmatis ideologis bahwa perempuan yang baik adalah perempuan yang ―terpilih dan dipilih‖ oleh laki-laki, bukan sebaliknya agresif dan tidak tahu malu yang image serta konotasinya terkesan tidak memiliki harga diri. Pandangan sebagian besar masyarakat, perempuan yang menerima pendekatan laki-laki adalah figur perempuan yang tinggi citranya. Sikap agresif berlebihan di luar batas kewajaran yang dilakukan tokoh I (Aku) dalam cerpen itu membawa resiko mahal yang harus ia tanggung sendiri sebagai pihak perempuan. Cuplikan kutipan tentang perilaku tokoh utama yang menunjukkan nilai yang tidak baik dan tidak etis antara lain sebagai berikut: I had been watching him for almost six months. I used to stand at the gates, pretending I was meeting someone else. “…No, I don’t smoke.” “Too bad…” and off he went. Damn, I should have said something else, something witty. Why didn’t I smoke? “I ran across the road to the tobacconist’s and bought a pack of twenty of Marlboro’s.” “Heaven…I’m in heaven and I took one and that was how I started smoking.” Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 94 “Do you like poetry?” he asked. “I love it,” I lied. “I’ve blown it, I know I’ve blown it. He probably thinks I’m really thick. Why do I say such stupid things?” (Citron, 2002:418-419) Berdasarkan kutipan di atas tampak jelas bagaimana ―perjuangan cinta‖ tokoh I (Aku) untuk menggapai hati pujaan hatinya, ia rela berbuat apa saja dari survei lapangan mengamati berbulan-bulan, berpura-pura menunggu seseorang, menjadi perokok, berbohong, dan sebagainya. Dalam perspektif orang dunia Timur, perempuan yang suka merokok dianggap berani melanggar nilai etika dan norma sosial yang telah dianggap sebagai pedoman konvensi masyarakat sejak dahulu dari nenek moyang, hal tersebut disebabkan perilaku dan kebiasaan merokok hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Asumsi lain, perempuan yang gemar merokok diidentikkan dengan stereotip perempuan nakal, perempuan penjaja seks komersial. Demikian jelas ―ekspresi perilaku dan perjuangan cinta‖ tokoh I (Aku) terhadap sang idola the revolutionary student dilukiskan pengarang, sehingga pembaca akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kondisi sosial kehidupan remaja ketika pengarang menuliskan karyanya memang sedemikian adanya dari perspektif moralitas dan etika budaya. Bahkan dengan perangkat teori analisis sosiologi bahasa dan orientasi ekspresif sastra yang mengkaji tentang diri sang pengarang, mungkin saja tokoh I (Aku) dalam cerpen Lapdog Days itu adalah representasi diri pengarang dan kehidupannya saat masih remaja. 4. Tata Lambang Ekspresi Tata lambang ekspresi berkaitan dengan unsur bahasa yang melambangi konsep estetika tentang nilai keindahan atau ketidakindahan sesuatu. Dalam cerpen Lapdog Days terdapat ekspresi bahasa --berdasarkan penilaian subjective aesthetics— yang indah dan yang tidak indah. Keindahan itu disebabkan pengarang pandai membuat metafora atau simile sebagai pengganti derivative kata semula. Sedangkan unsur bahasa yang mengindikasikan ketidakindahan adalah kata–kata vulgar, kasar, dan jorok yang memang sengaja diciptakan, dihidupkan dan tidak diganti oleh pengarang untuk memberi efek psikologis pada pembaca. Pengarang menyebut tokoh laki-laki (Sean), pujaan para gadis dalam cerpen itu the revolutionary student, frase yang digunakan pengarang untuk mengganti kata mahasiswa atau pelajar yang menyukai perubahan radikal. Pengarang menyebut demikian agar terkesan elite, elegan, dan indah bagi Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 95 yang membaca atau mendengarnya. Kata tampan atau cakep bagi laki–laki yang seharusnya dalam bahasa Inggris handsome oleh pengarang diganti dengan kata beautiful atau dalam bahasa Indonesia berarti cantik dan bukan juga dengan istilah good-looking. Keindahan ungkapan bahasa tersebut memberi kesan psikologis yang begitu ―beda‖ di telinga pembacanya. Frasa lain yang terdengar tidak kalah indahnya adalah writhing snake dalam bahasa Indonesia berarti ular yang sedang menggeliat, namun dalam hal konteks cerpen itu artinya merujuk pada kerumunan orang yang sedang enjoy berdansa atau menari disko dengan iringan house music di sebuah pub. Pengarang tidak menuliskan dengan frasa the dancing crowd atau the dancing girls, atau the dancing guys. Kata ataupun frasa tersebut tentu mempunyai nilai estetika lebih di hati pembaca karya sastra dibandingkan bila menggunakan kata dan frasa denotatif semata. “With the most sensitive, beautiful, most intelligent…” I told her about my revolutionary student. Then someone pushed me on and I disappeared back into the writhing snake. (Citron, 2002:420,428) Adapun kata–kata yang dianggap tidak indah karena kekasarannya antara lain adalah ekspresi bahasa yang diucapkan tokoh I (Aku) kepada tokoh lain: “For fuck sake man, I’m drenched,”. Kalimat itu adalah ekspresi bahasa kejengkelan yang digunakan seseorang di Barat untuk merujuk kepada sesuatu atau orang dengan konotasi yang sudah barang tentu negatif, bodoh, atau dungu, meskipun akar esensi kalimat tersebut pada dasarnya baik. Contoh ekspresi bahasa tidak indah lainnya terdapat dalam kalimat: “What the fuck…”, “fucking A1”. Kata fuck atau fucking yang difungsikan sebagai tekanan atau penyangat, sering terdengar dalam percakapan orang Barat ketika mereka merasa sangat marah, kesal, atau kecewa. Fuckin’ dapat juga diartikan ―brengsek‖, ―sialan‖, ―bajingan‖, dan seterusnya yang berkonotasi negatif. Dalam cerpen Lapdog Days itu terdapat pula kata shit, merupakan ekspresi kata yang artinya sangat jorok apabila diucapkan seseorang dengan lawan bicara. Shit adalah bahasa pasaran yang juga begitu populer diucapkan orang Barat, yang berarti kotoran manusia. Di samping itu terdapat ungkapan kata-kata yang lebih pedas dan tajam tentang citra wanita yang dipersamakan dengan pelacur atau wanita penjaja seks komersial seperti tercermin dalam ekspresi “Niamh can be such a bitch” atau “I’m not a bleeding slut.” Dengan demikian bahasa yang digunakan dalam cerpen tersebut menunjukkan kualitas estetika pengarang dalam memilih dan merajut bahasa sastra. “…all the shit I have to deal with at home, important stuff.” “Yeah, and don’t go fucking up, we’ve got to look cooler than cool, got it?” “You should just say fuck off.” (Citron, 2002:424,428,429) Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 96 Sistem Sosial Sistem sosial dalam paradigma teori Parsons mencakup status dan peranan. Terdapat sejumlah tokoh utama yang status dan peranannya mendominasi alur cerita Lapdog Days karya Lana Citron tersbut. Pertama, Status yang terlihat pada tokoh I (Aku) sebagai tokoh utama dalam cerpen Lapdog Days karya Lana Citron itu adalah seorang gadis remaja belia, berusia 16 tahun. Ia yang masih polos dan lugu dengan usia yang masih sangat muda mempunyai status sebagai seorang pelajar yang hidup bersama kedua orang tuanya di Dublin. Tokoh I (Aku) tersebut mempunyai nama panggilan “cigarette girl”, sebuah nickname yang diberikan oleh sang pujian hati the revolutionary student. Sedang peranan tokoh I (Aku) dalam cerpen adalah sebagai seorang gadis belia seperti layaknya para gadis muda lainnya yang sedang jatuh hati dan tergila-gila pada seorang pemuda yang pintar, tampan, dan revolusioner. Peranan tersebut sudah umum terjadi pada tiap gadis dari negara, ras, etnis apapun, di manapun, dan kapanpun selalu berkecenderungan mendambakan tipe seorang laki-laki yang ideal untuk dijadikan kekasih hati. Tokoh lain yang tidak kalah penting dalam Lapdog Days itu adalah tokoh Sean yang disebut sebagai the revolutionary student. Tokoh itu memiliki status sebagai seorang pemuda yang kuliah di Trinity College, Dublin tingkat pertama, tinggal bersama 5 orang teman kuliahnya di sebuah flat. Kepopuleran tokoh the revolutionary student itu tidak terlepas dari peranannya sebagai seorang mahasiswa yang pandai dan mahir menulis karya puisi spektakuler sehingga mampu ―menghipnotis‖ gadis-gadis remaja tersentuh hatinya, simpati, ingin berteman dekat atau jatuh cinta dengannya. Walupun tokoh the revolutionary student mempunyai perangai dan kebiasaan yang kurang baik, gemar berganti-ganti pacar atau kekasih, ketenaran dan aura kharismatiknya tidak memudar di mata tokoh I (Aku) dan gadis lainnya. Disebut sebagai “the revolutionary student”, karena menurut analisis penulis secara pribadi, tokoh Sean adalah representasi ―semangat zaman‖ (zeitgeist) ketika cerpen itu ditulis oleh Lana Citron, pengarang Lapdog Days tersebut. “The revolutionary student” sangat mungkin diidentikkan pengarang dengan semangat revolusi yang dimiliki figur Yasir Arafat sebagai tokoh terkemuka pembebasan bangsa Palestina yang diekspansi dan dikolonisasi bangsa Yahudi Israel. Hal itu dapat dianalisis dan ditelusuri dari deskripsi karakterisasi tokoh utama “the revolutionary student” yang mengenakan syal PLO. PLO itu sendiri kepanjangan dari Palestine Liberation Organization atau Organisasi Pembebasan Bangsa Palestina. Yasir Arafat, pemimpin utama PLO itu, bagaimanapun sangat dibanggakan dan diagungkan rakyatnya karena kepemimpinannya melakukan perjuangan melawan ekspansi Israel di tanah Palestina. Figur Yasir Arafat itulah yang ingin Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 97 dijadikan semangat inspirasi Lana Citron pengarang Lapdog Days melalui tokoh Sean “the revolutionary student”. There he stood in his black-coat and PLO scarf. (Citron, 2002:418) Tokoh lain yang muncul dalam cerpen Lapdog Days, yaitu tokoh Niamh yang mempunyai status sebagai teman sekolah dan sahabat tokoh I (Aku) . Ia juga seorang gadis remaja seusia tokoh I (Aku) yang menyukai “the revolutionary student”. Peranan tokoh Niamh adalah sebagai sahabat yang membantu tokoh utama Aku mengenal lebih dekat tokoh ―the revolutionary student”. Pengarang kembali menekankan aspek zeitgeist atau semangat zaman dalam cerpennya melalui tokoh Niamh, yang namanya mengandung cita rasa Timur Tengah atau Arabic-sounding name. Niamh dengan suffix huruf ―h‖ di belakangnya --menurut saya pribadi-- berasal dari akhiran bahasa Arab Ni’amah yang menunjukkan nama perempuan, dan artinya “wanita yang mendapat kenikmatan”. Sedang nama Arab itu sendiri mempunyai kaitan erat dengan nama orang Palestina yang mayoritas rakyatnya pemeluk agama Islam, sehingga nama orang Palestina seperti Yasir Arafat juga tidak jauh dari ruh ideologis komunitas masyarakat Islam Arab. Sistem Kepribadian Sistem kepribadian yang diadopsi sebagai pelengkap perangkat Action theory holistik oleh Talcott Parsons adalah berasal dari konsep sistem kepribadian Sigmund Freud, pakar dan pelopor utama teori psikoanalisis. Esensi teori psikoanalisis Freud adalah will to pleasure, yakni bahwa kekuatan motivasi manusia dalam menjalani hidupnya adalah untuk mencari kesenangan. Lingkup cakupan sistem kepribadian Freud yang diadopsi ke dalam Action theory Parsons tersebut mencakup unsur identitas, id, ego dan super ego. Identitas yang dimaksud tersebut berkaitan dengan jati diri ras, etnis, atau kebangsaan seseorang. Id adalah bagian primitif dalam sistem kepribadian manusia tempat penyimpanan kebutuhan–kebutuhan manusia yang mendasar seperti; makan, tidur, minum, seksual, dan agresivitas dengan prinsip kerja pleasure principle. Ego adalah sistem kepribadian manusia yang membantu manusia mengadakan kontak dengan realitas, sehingga prinsip kerjanya pun didasarkan reality principle. Superego adalah sistem kepribadian manusia yang bekerja berdasarkan internalisasi nilai–nilai moral masyarakat yang didapat dari orang tua seseorang. Identitas kultural dan ras Eropa dengan jiwa modernitas peradaban zamannya membawa konsekuensi terhadap pembentukan pola pikir, karakter, dan mental masyarakatnya. Wanita yang hidup di zaman pra modern dengan modern tentu lain mental dan konstruksi kognitifnya, karena wanita yang dibesarkan di zaman modern umumnya kukuh Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 98 menghendaki dan menuntut kesetaraan jender (feminisme) dalam berbagai hal; dari pendidikan, peran sosial, politik, hukum, pekerjaan, kesenian, dan sebagainya. Ideologi feminis terefleksikan dalam cerpen Lapdog Days melalui keberanian tokoh I (Aku) dalam mengekpresikan perasaan cintanya yang agresif kepada pemuda pujaan hatinya. Dia tidak pasif, defensif, dan menunggu, tapi dia aktif, reaktif, dan bertindak memperjuangkan perasaannya kepada orang yang dicintainya. Dalam perspektif feminisme, tokoh I (Aku) ingin memiliki hak yang sama dalam ―perjuangan‖ mendapatkan cinta dan perhatian dari lawan jenisnya. Identitas kultural lain yang terefleksikan dari cerpen Lapdog Days adalah sikap individualisme yang begitu tinggi dari tokoh-tokoh pelaku cerita. Individualisme berarti sikap mengutamakan kepentingan diri sendiri terlebih dahulu daripada kepentingan orang lain. Individualisme sangat erat arti dan korelasinya dengan sikap ―egoistis, acuh tak acuh, atau cuek‖. Sikap tersebut tercermin juga dari tokoh I (Aku) yang tidak peduli dengan apa kata orang untuk tetap rela berbuat apa saja tanpa rasa malu demi mendapatkan tujuan, meski harus menjadikan dirinya korban rasa malu, kecewa, dan sakit hati. Sikap individualistis juga tercermin dari tokoh Sean “the revolutionary student”, ia dengan sangat percaya diri, tanpa rasa malu dan tanpa rasa bersalah meminta rokok kepada tokoh I (Aku) . Dengan santai dan cueknya ia pergi meninggal gadis belia itu tanpa mengucapkan rasa terima kasih sedikitpun. Tokoh the revolutionary student itu pun tidak malu dan lagi-lagi acuh tak acuh tanpa rasa sensitif apapun berduan dan berjalan mesra di depan si gadis yang mendambakan cintanya. Namun demikian di sisi lain, dengan sikap individualistisnya pula ia mampu menjadi penulis puisi yang lihai dan cerdas, sehingga banyak diidolakan orang. Individualisme, yang dimiliki orang Barat Eropa dalam hal ini orang Inggris-Irlandia, dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan tujuan untuk kepentingan kemajuan, kepandaian, dan kebahagiaan diri mereka. Id dalam cerpen Lapdog Days tercermin melalui gejolak psikologis remaja–remaja, pemuda–pemudi khususnya tokoh I (Aku) yang terlihat begitu agresif tak terkendali memperturutkan id-nya. Id yang bersifat negatif, selalu bekerja sesuai dengan pemuasan libido seksual dan dorongan kesenangan secara maksimal (pleasure principle), cenderung mengabaikan konvensi norma masyarakat dan tanpa menghiraukan kemungkinan resiko– resiko psikologis, sosial, maupun agama. Tokoh I (Aku) dikarakterisasikan sebagai tokoh yang agresif memperjuangkan dan menuntut pemenuhan keinginan id agar dicintai dan dijadikan kekasih tokoh Sean “the revolutionary student”, tapi apa yang terjadi, sang pujaan hati yang telah dikejar-kejar, diperhatikan, dicintai, dan didambakan tidak terlalu memperhatikan apalagi mengerti perasaan dirinya. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 99 Sebaliknya, tokoh I (Aku) malahan merasa terombang-ambing dipermainkan oleh pemuda itu maupun perasaan dia sendiri sebagai konsekuensi perjuangan cinta yang berlebihan. Semakin besar perjuangan cinta seseorang dan apabila tujuan yang ingin ditargetkan gagal berantakan, maka semakin besar pula resiko kecewa, stress, dan sakit hati. Sifat id selalu menginginkan pemuasan kesenangan dari objek yang dituju, apabila hal itu tidak terpenuhi, id dalam diri seseorang menimbulkan dampak rasa sakit, ketegangan psikologis, kecemasan yang intense pada diri orang yang bersangkutan, demikian halnya id pada tokoh I (Aku) ketika tidak terpenuhi. Untuk meredakan ketegangan psikologis dan memenuhi keinginan, id dalam diri tokoh I (Aku) mencari kompensasi jalan keluarnya dengan membentuk gambaran objek dalam bentuk lamunan dan khayalan tentang pemuda idolanya. Ia sering melamun dan berkhayal tentang idolanya, Sean “the revolutionary student”, karena dengan cara itu ia dapat memuaskan serta memenuhi hasrat id-nya. I day-dreamed the week away. I kissed His lips a thousand times. I fell into his arms and he wrapped himself around me. I love you, I love you, I love you, written all over my folder with hearts and flowers, balloons and kisses. (Citron, 2002:425) Tokoh I (Aku) sebagaimana remaja umumnya yang normal secara psikologis juga membutuhkan cinta dan pemuasan libido seksual dari pemuda idolanya. Tanpa berpikir panjang terhadap kemungkinan resiko psikologis terburuk yang akan terjadi, tokoh I (Aku) begitu menikmati perjuangan cintanya sampai titik klimaks pejuangan. Ketika id dalam diri tokoh I (Aku) terpuaskan bersama Sean “the revolutionary student” --meskipun hanya sekedar saling sharing mencurahkan isi hati dan mengobrol ringan-- dia telah merasa senang dan bahagia saat itu. Namun demikian, harapan kebahagiaan itu tidak dapat berlangsung lama, sebelum dia benar-benar menjadi kekasih Sean “the revolutionary student”, karena dia terpaksa harus merasa kecewa, hancur hatinya dengan sangat menyakitkan melihat pemuda impiannya berkali-kali berasama gadis lain. Pada puncaknya ia yang telah tiga kali mencari pujian hatinya akhirnya melihat sang idola sedang asyik bermesraan bertiga di kamar sebuah pub dengan dua gadis. Konsekuensi pemuasan id yang tanpa dijembatani oleh ego dalam relitas eksternalnya berakibat kekecewaan, sakit hati dan penyesalan pada diri tokoh I (Aku). Sistem Perilaku Sistem perilaku dalam kerangka Action Theory Parsons menguraikan pola perilaku suatu masyarakat. Dengan melihat fenomena perilaku remaja yang dihadirkan pengarang dalam cerpen Lapdog Days, dapat dianalisis bahwa perilaku remaja Dublin dalam cerpen itu atau di zaman pengarang Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 100 hidup menunjukkan tendensi ―sikap hidup agresif dan individualistis‖ yang telah membudaya. Tendensi sekulerisme remaja juga tercermin dalam cerpen tersebut, di samping sikap hedonisme yang ditandai dengan kultur free sex-nya. Hedonisme berarti ideologi yang menganggap hidup tidak lain adalah pemenuhan kesenangan, hidup dijadikan sebagai tempat pemuasan kesenangan biologis semata tanpa mempertimbangkan apakah perilaku itu bertentangan dengan norma–norma atau tidak. Sekulerisme berarti ideologi pemisahan eksistensi Tuhan dari kehidupan manusia. Tokoh perempuan remaja di dalam cerpen itu dideskripsikan sebagai gadis yang agresif dan mengesampingkan rasa malu dan mempermalukan diri sendiri dalam memperjuangkan perasaan cintanya. Sedang tokoh “the revolutionary student”, dideskripsikan sebagai pemuda tampan, cerdas, dan lihai berkarya dengan puisinya, tapi sangat individualistis dan suka memanfaatkan perasaan simpati, kagum dan cinta para gadis belia, khususnya tokoh I (Aku). Gaya hidup mereka yang dekat dengan free sex, pub dan minuman kerasnya tercermin dalam cerpen itu, misalnya tokoh Sean yang sedang bercinta dengan seorang wanita di ruang dapur dan bercinta bertiga di salah satu kamar bar Keogh Dublin. Hal sedemikian menunjukkan indikasi gaya hidup hedonis-sekuler. Tokoh–tokoh dalam cerpen tersebut seakan tidak menghiraukan adanya norma sosial maupun agama yang harus dipatuhi. KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan cerpen Lapdog Days, perangkat paradigma Action Theory Talcott Parsons mampu menganalisis setiap aspek dan fenomena kultural, sosial, perilaku, kepribadian dalam cerpen sekaligus diri pengarang dan kehidupan masyarakatnya melalui unsur bahasa yang dimunculkan dalam karya sastra. Kehidupan remaja tokoh I (Aku), Niamh, dan “the revolutionary student” dengan perilaku hidup remaja metropolitan Dublin adalah simbol dan representasi gaya hidup remaja di zaman modern, yang meski setuju atau tidak setuju dampak modernitas berpengaruh pada pergeseran nilai moral manusia. Sebagai orang Timur yang membaca cerpen itu, dapat disimpulkan bahwa tidak selamanya perubahan zaman yang kian mendekati kesempurnaan modernitasnya dengan kecanggihan teknologi informasi yang dimilikinya, mampu menjamin kesempurnaan moralitas manusianya. Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Perilaku, dan Sistem Kepribadian dalam Cerpen “Lapdog Days”Karya Lana Citron Hadiyanto DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.1.2018.87-101 101 DAFTAR PUSTAKA Citron, Lana. 2001. Flash: International Short Story Magazine, London: Flash Publisher. Hall, Calvin, S. 2000. Libido Kekuasaan Sigmund Freud, Yogyakarta: Terawang Publisher. Harris, Marvin. 1991. Cultural Antrophology. Harper Collins Publishers, New York. Harsono, Siswo, 2000. Sosiologi & Psikologi Sastra, Semarang: Published by Yayasan Deaparamartha. Honigmann, JJ. 1959. The World of Man. New York: Harper & Bross Publishing, USA. Keesing, Roger M. 1989. Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. (dialihbahasakan Samuel Gunawan), Penerbit Erlangga, Jakarta. Koentjaraningrat, 2000. Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta. Poyatos, Fernando. 1998. Introduction: the Genesis of Literary Anthropology. John Benyamin Publishing Company, Amsterdam. Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Antropology Sastra: Peranan Unsur-Unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Angkasa Publishing, Bandung. Parsons, Talcott. 1937. The Structure of Social Action. New York: McGraw-Hill Book Co. Parsons, Talcott. 1951. The Social System. Glencoe, Illinois: The Free Press. Parsons, Talcott. 1951. Toward A General Theory of Action. New York: Harper & Row. Thohir, Mudjahirin. 2005. Teori–Teori Kebudayaan. Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang