Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya Terhadap Teks Berita Exploring Critical Roots in Critical Discourse Analysis and Its Implementation on News Text Aswadi STKIP Muhammadiyah Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang aswadi@stkipmsidrap.ac.id Riwayat Artikel: Dikirim 12 Desember 2017; Diterima 10 November 2018; Diterbitkan 10 Desember 2018 ABSTRAK Paradigma atau pemikiran kritis memandang bahwa individu tidaklah dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikirannya karena dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada di masyarakat. Bahasa/teks merupakan representasi yang berperan dalam membentuk subjek tertentu, tema wacana tertentu, maupun strategi di dalamnya. Reproduksi realitas dalam suatu teks pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh bahasa, simbolisasi pemaknaan dan politik penandaan. Praksis sosial memerlukan makna dan makna tidak bisa lepas dari bahasa. Makna mempertajam serta memengaruhi segala sesuatu yang dilakukan seseorang, maka semua praktik sosial tidak bisa lepas dari dimensi wacana.Analisis wacana termasuk dalam kategori paradigma kritis.Oleh karenanya, istilah analisis wacana kritis hadir untuk membedah kuasa-kuasa dalam teks. Analisis wacana kritis digunakan untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa, batasan yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang digunakan, dan topik yang dibicarakan, yang dalam berupa teks berita. Analisis wacana kritis yang digunakan mengacu pada model Van Dijk. Kata kunci: kritis, analisis wacana kritis, teks berita ABSTRACT Paradigm or critical view considers that an individual is not considered a neutral subject who can interpret freely according to his mind because it is influenced by the social forces that exist in society. Language/text is a representation that plays a role in shaping a particular subject, a particular theme of discourse, as well as a strategy in it. Reproduction of reality in a text is basically strongly influenced by language, meaning symbolization, and political tagging. Social praxis requires meaning and meaning cannot be separated from language. Meaning can strengthen and influence everything that a Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 176 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa mailto:aswadi@stkipmsidrap.ac.id Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X person does, all social practices cannot be separated from the dimensions of discourse. Discourse analysis belongs to the category of critical paradigms. Therefore, the term critical discourse analysis is present to analyze the powers in the text. Critical discourse analysis is used to uncover the power that exists in each language process, the boundaries that are allowed to become discourse, the perspectives used, and the topics discussed, which in this study are news texts. Critical discourse analysis used refers to the Van Dijk model. Keywords: Critical; critical discourse analysis; news text PENDAHULUAN Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya. Manusia membutuhkan bahasa untuk menyampaikan ide, perasaan, dan gagasannya sehingga mitra tutur dapat memahami maksud yang diinginkan. Pateda (2011:6) menyatakan bahwa bahasa merupakan alat yang ampuh untuk menghubungkan dunia seseorang dengan dunia yang ada di luar dirinya, dunia seseorang dengan lingkungannya, dunia seseorang dengan alamnya bahkan dunia seseorang dengan Tuhannya. Bahasa merupakan hal yang sangat kompleks. Bahasa meliputi tataran fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan wacana. Dari tingkat tataran bahasa tersebut, wacana menempati posisi yang paling tinggi. Berdasarkan hierarkinya, wacana merupakan tataran bahasa terlengkap, terbesar dan tertinggi. Wacana dikatakan terlengkap karena mencakup tataran di bawahnya yakni fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan ditunjang oleh unsur lainnya, yaitu situasi pemakaian dalam masyarakat. Di era sekarang ini, manusia dimanjakan dengan melimpahnya informasi yang tersedia. Hal tersebut terjadi karena semakin majunya industri media informasi dan komunikasi, baik berupa media cetak maupun media elektronik. Hal tersebut tentu sangat menggembirakan bagi seseorang yang mempunyai kebutuhan untuk mendapatkan informasi. Namun, informasi yang didapat terkadang seakan bersifat subjektif, memihak suatu kepentingan dan golongan tertentu. Bahkan, perang ideologi dan kepentingan tertentu terjadi antar satu media dengan media lain. Bagi penikmat/pembaca media awam tentu akan membuat bingung karena tidak bisa mengetahui secara pasti informasi yang dapat dipercaya. Dalam pandangan kritis, individu tidaklah dianggap sebagai subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara bebas sesuai dengan pikirannya karena dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang ada di masyarakat. Bahasa/teks merupakan representasi yang berperan dalam membentuk Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 177 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X subjek tertentu, tema wacana tertentu, maupun strategi di dalamnya. Media bukan hanya alat dari kelompok dominan, melainkan juga memproduksi ideologi dominan. Media membantu kelompok dominan menyebarkan gagasannya, mengontrol kelompok lain, dan membentuk konsensus antaranggota komunitas. Melalui media, ideologi dominan, segala yang baik dan yang buruk dimapankan (Barrat, 1994:51-52). Teks tidak bisa lepas dari wacana.Analisis wacana termasuk dalam kategori paradigma kritis. Oleh karenanya, analisis wacana kritis digunakan untuk membongkar kuasa yang ada dalam setiap proses bahasa, batasan yang diperkenankan menjadi wacana, perspektif yang digunakan, dan topik yang dibicarakan, yang dalam hal ini berupa teks berita. Analisis wacana kritis adalah sebuah upaya proses (penguraian) untuk memberikan penjelasan dari sebuah teks (realitas sosial) yang mau atau sedang dikaji oleh seseorang atau kelompok dominan yang kecenderungannya mempunyai tujuan tertentu untuk memperoleh segala sesuatu yang diinginkan (Darma, 2009:49). Salah satu analisis wacana kritis yang digunakan untuk menganalisis teks berita di media online adalah analisis wacana kritis model Van Dijk. Paradigma atau Pemikiran Kritis dalam Analisis Wacana Kritis Filsafat dan ilmu sosial abad XX diwarnai oleh empat pemikiran besar yaitu, fenomenologi-eksistensialisme, Neo-Thomisme, Filsafat Analitis dan aliran Neo Marxis (yang sering mengklaim dirinya sebagai pewaris tradisi Marxisme yang disesuaikan dengan keadaan jaman). Teori kritis, secara klasifikatif, dapat digolongkan pada kelompok yang terakhir. Meski dalam perdebatan filosofis, ada yang menganggap bahwa teori kritis adalah teori yang bukan marxis lagi. Neo Marxisme adalah aliran pemikiran Marx yang menolak penyempitan dan reduksi ajaran Karl Marx oleh Engels. Ajaran Marx yang dicoba diinterpretasikan oleh Engels ini adalah versi inferpretasi yang nantinya sebagai “Marxisme” resmi. Marxisme Engels ini adalah versi interpretasi yang dipakai oleh Lenin. Interpretasi Lenin nanti pada akhirnya berkembang menjadi Marxisme-Leninisme (atau yang lebih dikenal dengan Komunisme). Beberapa tokoh neomarxisme sebetulnya pada akhirnya menolak marxisme-leninisme. Mereka menolak interpretasi Engels dan Lenin karena interpretasi tersebut adalah interpretasi ajaran Marx yang menghilangkan dimensi dialektika ala Karl Marx yang dipercaya sebagai salah satu bagian inti dari pemikiran Karl Marx. Tokoh neomarxisme adalah Georg Lukacs dan Karl Korsch, Ernst Bloch, Leszek Kolakowski dan Adam Schaff. Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 178 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Salah satu aliran pemikiran Kiri Baru yang cukup ternama adalah pemikiran Sekolah Frankfurt. Institut penelitian sosial di Frankfurt (Institut für Sozialforschung) didirikan pada tahun 1923 oleh seorang kapitalis yang bernama Herman Weil, seorang pedagang grosir gandum, yang pada akhir hayat “mencoba untuk cuci dosa” mau melakukan sesuatu untuk mengurangi penderitaan di dunia (termasuk dalam skala mikro: penderitaan sosial dari kerakusan kapitalisme). Paradigma kritis terutama bersumber dari pemikiran sekolah Frankfrut. Ketika itu di Jerman tengah terjadi proses propaganda besar- besaran Hitler. Media dipenuhi prasangka, retorika dan propaganda. Media dijadikan alat dari pemerintah untuk mengontrol publik, menjadi saranan pemerintah mengobarkan semangat perang, berangkat dari sana ternyata media bukalah entitas yang netral, tetapi bisa dikuasai oleh kelompok yang dominan. Dari pemikiran sekolah Frankfrut inilah lahir pemikiran paradigma kritis. Pernyataan utama dari paradigma kritis adalah adanya kekuatan- kekuatan yang berbeda dalam masyarakat yang mengontrol proses komunikasi. Menurut Sindhunata (Eriyanto 2001:24), teori kritis lahir karena ada keprihatinan akumulasi dan kapitalisme lewat modal yang besar, yang mulai menentukan dan mempengaruhi kehidupan masyarakat. Individu tidak lagi mempunyai kontrol terhadap modal tersebut, malah secara alamiah pula jadi diluar kesadarannya ia harus menyesuaikan dengan masyarakat yang dikuasai modal. Paradigma kritis pada dasarnya adalah paradigma ilmu pengetahuan yang meletakkan epistemologi kritik Marxisme dalam seluruh metodologi penelitiannya. Fakta menyatakan bahwa paradigma kritis yang diinspirasikan dari teori kritis tidak bisa melepaskan diri dari warisan Marxisme dalam seluruh filosofi pengetahuannya. Teori kritis pada satu pihak merupakan salah satu aliran ilmu sosial yang berbasis pada ide-ide Karl Marx dan Engels (Denzin, 2000: 279-280). Pengaruh ide marxisme-neomarxisme dan teori kritis mempengaruhi filsafat pengetahuan dari paradigma kritis. Asumsi realitas yang dikemukakan oleh paradigma kritis adalah asumsi realitas yang tidak netral namun dipengaruhi oleh nilai dan kekuatan ekonomi, politik, serta sosial. Oleh sebab itu, proyek utama paradigma kritis adalah pembebasan nilai dominasi dari kelompok yang ditindas. Hal itu akan mempengaruhi usaha paradigma kritismembedah realitas dalam penelitian ilmiah, termasuk di dalamnya penelitian atau analisis kritis tentang teks media sebaga wacana. Terdapat beberapa karakteristik utama pada seluruh filsafat pengetahuan paradigma kritis. Ciri pertama adalah ciri pemahaman Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 179 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X paradigma kritis tentang realitas. Realitas dalam pandangan kritis sering disebut dengan realitas semu. Realitas ini tidak alami tapi lebih karena bangun konstruk kekuatan sosial, politik, dan ekonomi. Dalam pandangan paradigma kritis, realitas tidak berada dalam harmoni tapi lebih dalam situasi konflik dan pergulatan sosial (Eriyanto, 2001:3-46). Ciri kedua adalah ciri tujuan penelitian paradigma kritis. Tujuan penelitian paradigma kritis adalah mengubah dunia yang tidak seimbang. Dengan demikian, seorang peneliti dalam paradigma kritis akan mungkin terlibat dalam proses negasi relasi sosial yang nyata, membongkar mitos, menunjukkan bagaimana seharusnya dunia berada (Newman, 2000:75-87; Denzin, 2000:163-186). Ciri ketiga adalah ciri titik perhatian penelitian paradigma kritis. Titik perhatian penelitian paradigma kritis mengandaikan realitas yang dijembatani oleh nilai-nilai tertentu. Ini berarti bahwa ada hubungan yang erat antara peneliti dengan objek yang diteliti. Setidaknya peneliti ditempatkan dalam situasi bahwa ini menjadi aktivis, pembela atau aktor intelektual di balik proses transformasi sosial. Dari proses tersebut, dapat dikatakan bahwa etika dan pilihan moral bahkan suatu keberpihakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari analisis penelitian yang dibuat. Ciri keempat dari paradigma kritis adalah pendasaran diri paradigma kritis mengenai cara dan metodologi penelitiannya. Paradigma kritis menekankan penafsiran peneliti pada objek penelitiannya. Ada proses dialogal pada seluruh penelitian kritis. Dialog kritis itu digunakan untuk melihat secara lebih dalam kenyataan sosial yang telah, sedang, dan akan terjadi. Ciri keempat ini menempatkan penafsiran sosial peneliti untuk melihat bentuk representasi pada setiap gejala, dalam hal ini media massa sebagai wacana berikut teks yang diproduksinya. Pada paradigma kritis, penelitian yang bersangkutan tidak bisa menghindari unsur subjektivitas peneliti dan hal itu dapat menimbulkan perbedaan penafsiran gejala sosial dari peneliti lainnya (Newman, 2000:63-87). Reproduksi realitas dalam suatu teks/media pada dasarnya dan umumnya akan sangat dipengaruhi oleh bahasa (Littlejohn, 2002:210-211), simbolisasi pemaknaan dan politik penandaan. Bahasa di samping sebagai realitas sosial, juga bisa dilihat sebagai sebuah sistem penandaan. Sistem penandaan dalam arti bahwa bahasa atau suatu realitas ingin menandakan realitas lainnya (peristiwa atau pengalaman hidup manusia). Dengan demikian, sebuah realitas dapat ditandakan secara berbeda pada peristiwa yang sama, atau dapat dikatakan bahwa pemaknaan yang tidak sama bisa dilekatkan kepda peristiwa yang sama. Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 180 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Namun, suatu makna yang ditafsirkan dan dikonstruksi ulang oleh kelompok tertentu dari peristiwa yang sama tersebut cenderung mendominasi penafsiran. Ada kecenderungan suatu makna bisa lebih unggul dan bisa diterima dibandingkan pemaknaan yang lain yang terkesan termarginalkan. Oleh karenanya, melihat proses bahasa dan pemaknaan, sebetulnya juga melihat ranah atau wilayah pertarungan sosial (Hall, 1982:80). Pertarungan sosial tersebut lebih konkret terbentuk dalam sebuah wacana. Dari uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa praksis sosial memerlukan makna dan makna tidak bisa lepas dari bahasa. Makna mempertajam serta memengaruhi segala sesuatu yang dilakukan seseorang, maka semua praktik sosial tidak bisa lepas dari dimensi wacana. Menurut Santoso (2012:127-130) istilah “kritis” yang melekat pada “analisis wacana” mengandung pengertian sebagai berikut: (1) fitur wacana hanya sebagai gejala dari persoalan yang lebih besar; (2) dominasi satu formasi ideologis diskursif dalam setiap institusi; (3) hubungan dialektis antara struktur mikro dan makro; (4) tujuan kritis dan naturalisasi; (5) tiga kritikan terhadap analisis wacana deskriptif. Analisis wacana kritis bertujuan (1) menganalisis praktik wacana yang mencerminkan atau mengkonstruksi masalah sosial; (2) meneliti alasan ideologi dibekukan dalam bahasa dan menemukan cara mencairkan ideologi yang mengikat bahasa atau kata, (3) meningkatkan kepekaan akan ketidakadilan, diskriminasi, prasangka, dan bentuk penyalahgunaan kekuasaan (4) membantu memecahkan hambatan yang menghalangi perubahan sosial (Haryatmoko, 2017:14). METODE Penelitian ini tergolong jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis. Pendekatan analisis wacana kritis yang dipakai adalah analsis wacana model Van Djik. Analisis wacana model Van Djik merupakan model analisis wacana yang paling sering digunakan untuk menganalsis teks. Ada berbagai macam model analisis wacana yang telah dikembangkan oleh beberapa ahli, antara lain Roger Fowler dkk (1979), Norman Fairclough (1998), Sara Mills (1992), Theo van Leeuwen (1986). Dari banyaknya tokoh yang mengembangkan analisis wacana, model van Dijkyang paling sering dipakai dalam berbagai penelitian teks media (Eriyanto, 2001:221). Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 181 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Van Dijk berpandangan bahwa dalam menganalisis wacana tidak cukup hanya didasarkan pada teks sajakarena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi. Pemahaman produksi teks pada akhirnya akan memperoleh pengetahuan alasan suatuteks bisa demikian. Van Dijk juga melihat struktur sosial, dominasi, kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat, kognisi atau pikiran dan kesadaran yang membentuk berpengaruh terhadap teks-teks tertentu. Model Van Dijk (dalam Wetherell, et.al., 2001) berusaha mengungkap hubungan antara wacana, kekuasaan, dominasi, dan struktur sosial. Secara khusus, model Van Dijk mengkaji struktur, strategi atau properti teks, interaksi verbal atau peristiwa komunikasi berperan model reproduksi. Wacana digambarkan oleh Van Dijk (1994:96) mempunyai tiga dimensi atau bangunan yaitu, teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Inti analisis model Van Dijk adalah menggabungkan tiga dimensi wacana tersebut  dalam satu kesatuan analisis, yaitu: 1) dimensi teks yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana  yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu; 2) kognisi sosial dipelajari  proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan; 3) konteks  mempelajari bangunan wacana  yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Analisis Van Dijk menghubungkan analisis tekstual ke arah analisis yang komprehensif bagaimana teks diproduksi, baik dalam hubungannya  dengan individu wartawan dan masyarakat. Van Dijk membagi struktur teks ke dalam tiga tingkatan. Pertama, Struktur makro yang merupakan makna global dari suatu teks yang dapat diamati dari topik/tema yang dianggkat oleh suatu teks. Kedua, superstruktur yang merupakan kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup, dan kesimpulan. Ketiga, struktur mikro yang merupakan makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat dan gaya yang dipakai oleh suatu teks (dalam Eriyanto, 2001:227). Van Dijk (2009:67-83) juga memberikan langkah-langkah atau prosedur penerapan studi analisis kritis, yaitu: (1) analisis konteks, (2) menentukan topik atau semantik makrostruktur, (3) pemaknaan lokal, (4) relevansi struktur formal yang tersamar, (5) menghubungkan teks dan konteks dalam bentuk model-model konteks, (6) semantik wacana, yaitu model peristiwa, (7) kognisi sosial, (8) ideologi, (9) situasi masyarakat, (10) dimensi mikro dan makro masyarakat, (11) tindak diskursif sebagai tindakan sosio-politik, (12) pelaku sebagai partisipan yang memiliki berbagai peran, (13) analisis struktur masyarakat. Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 182 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Untuk menggambarkan modelnya, Van Dijk membuat banyak sekali studi analisis pemberitaan berita.Titik perhatiannya pada studi rasialisme.Dari berbagai kasus, dengan ribuan berita, Van Dijk menganalisis bahwa wacana media turut memperkuat rasialisme yang ada di masyarakat (dalam Eriyanto, 2001:222).Rasialisme diwujudkan dan diekspresikan melalui teks. Oleh karenanya, analisis wacana kritis model Van Dijk cocok diimplementasikan dalam menganalisis teks berita yang berjudul “Ini Imbauan Wapres kepada Peserta Demo 2 Desember” dalam paparan di bawah ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Analisis Wacana Kritis Model Van Djik Terhadap Teks Berita Berikut adalah teks berita yang dimuat di salah satu situs berita online yaitu kompas.com pada tanggal 28 November 2016. Berikut ini adalah himbauan Wakil Presiden kepada peserta demo pada tanggal 2 Desember 2016, JAKARTA, KOMPAS.com– Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, setiap orang memiliki hak untuk menyatakan pendapat di publik dalam bentuk apapun.Akan tetapi, cara menyampaikan pendapat itu jangan sampai menghalangi orang lain yang akan beraktivitas. Hal itu diungkapkan Kalla menanggapi rencana aksi damai Bela Islam jilid III yang akan digelar Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) pada 2 Desember mendatang.Rencananya, massa aksi akan melakukan shalat jumat berjamaah. Aksi ini merupakan aksi lanjutan atas dugaan penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama. "Mengimbau untuk tidak shalat Jumat di jalan. Karena shalat itu diutamakan di masjid,” kata Kalla di Kantor Wapres, Senin (28/11/2016).Ia mengatakan, pada umumnya, hanya shalat Idul Fitri atau Idul Adha, serta shalat istisqa yang dilakukan di lapangan atau di jalan.Selebihnya, dilangsungkan di masjid atau mushala.“Cuma itu saja, yang lainnya di masjid, bukan di jalan. Jadi silakan (shalat jumat). Kalau di masjid, banyak masjid di Jakarta. Jangan di jalan, menghalangi ekonomi masyarakat juga dan lalu lintas dan juga tentu tidak enak,” kata Kalla.Dalam rapat koordinasi antara MUI, Polri dan GNPF MUI, hari ini, disepakati bahwa aksi damai digelar di Lapangan Silang Monumen Nasional. Menurut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, kawasan Monas bisa menampung 600 ribu sampai 700 ribu orang.Jika ternyata pendemo lebih daripada kapasitas di Monas, Jalan Merdeka Selatan disiapkan sebagai tempat untuk menampung peserta aksi.Polisi, kata Tito, akan mengawal demonstrasi dibantu sejumlah pihak."Kami dibantu TNI, Satpol PP, laskar dari ormas-ormas yang ada, kita akan atur," kata Tito di Gedung Majelis Ulama Indonesia, Jakarta, Senin (28/11/2016).(Baca: Kembali Temui Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 183 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa http://nasional.kompas.com/tag/Jusuf%20Kalla http://nasional.kompas.com/tag/TNI http://nasional.kompas.com/tag/Tito%20Karnavian http://nasional.kompas.com/tag/Polri http://nasional.kompas.com/tag/Basuki%20Tjahaja%20Purnama http://nasional.kompas.com/tag/Basuki%20Tjahaja%20Purnama http://nasional.kompas.com/tag/2%20Desember Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X MUI, Kapolri Koordinasi soal Aksi 2 Desember)Tito mengimbau agar kegiatan lain di luar demonstrasi 2 Desember untuk ditunda.Mantan Kapolda Metro ini menuturkan, kegiatan lain jangan sampai mengganggu kesucian kegiatan demonstrasi 2 Desember. Analisis wacana kritis model Van Dijk dapat digunakan untuk menganalisis berita tersebut. Teks berita di atas memberitakan tentang imbauan Wakil Presiden Jusuf Kalla terhadap rencana aksi damai Bela Islam jilid III yang akan digelar oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) pada 2 Desember mendatang. Demo aksi damai bela Islam yang digelar oleh GNPF MUI tersebut sebagai aksi lanjutan atas dugaan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahja Purnama. Aksi tersebut rencananya juga diikuti dengan kegiatan salat jumat berjamaah. Waprestidak melarang para pendemo untuk menyuarakan aspirasinya dan mengimbau tidak mengganggu atau menghalangi aktivitas orang lain, namun tidak untuk kegiatan salat yang dilakukan di jalan. Wapres Jusuf Kalla kurang setuju bila kegiatan salat jumat berjamaah dilaksanakan di jalan karena idealnya salat tersebut dilakukan di masjid. Selain itu, kegiatan tersebut jugadapat mengganggu ekonomi masyarakat dan lalu lintas jalan. Kondisi ini mendapat tanggapan cepat dari pihak kepolisian. Polri, MUI, dan GNPF MUI telah melakukan rapat koordinasi dan menyepakati bahwa kegiatan demo dilaksanakan di lapangan Silang Monumen Nasional, dan menyiapkan jalan Merdeka Selatan untuk kegiatan pendemo bila tidak mencukupi. Polisi, dibantu TNI, satpol PP, dan laskar dari para ormas yang ada akan membantu pengamanan kegiatan demo tersebut. Bahkan, kapolri Jenderal Pol, Tito K. mengimbau agar kegiatan lain pada tanggal 2 Desember ditunda agar kesucian kegiatan demonstrasi tersebut tidak terganggu. Dilihat dari struktur makro (tematik), setidaknya ada dua tema yang diungkap dalam berita tersebut. Pertama, imbauan wapres kepada para pendemo 2 Desember. Kedua, dukungan Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian terhadap para pendemo 2 Desember. Tema utama ini mensugestikan bahwa demonstrasi yang dilakukan oleh GNPF MUI terhadap kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahja Purnama mendapat dukungan penuh baik dari wakil presiden maupun Kapolri Jenderal dan apparat pendukung lainnya. Kasus penistaan agama merupakan hal yang tidak bisa dianggap main-main. Dalam konteks Indonesia, terdapat dua undang-undang yang bisa dijadikan dasar untuk menyeret seseorang atau kelompok tertentu sebagai penoda/penista agama, yaitu UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Pasal 156a KUHP tentang penodaan agama. Tema wacana ini didukung dengan cara penceritaan (skematik) tertentu, yakni pertalian antara satu peristiwa dengan peristiwa laindalam Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 184 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa http://nasional.kompas.com/tag/2%20Desember http://nasional.kompas.com/tag/2%20Desember http://nasional.kompas.com/tag/2%20Desember http://nasional.kompas.com/tag/2%20Desember Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X satu teks berita. Cara penceritaan (skematik) ini terdiri atas bagian pendahuluan, isi, dan penutup. Pada bagian pendahuluan dijelaskan tentang pandangan wakil presiden yang menyatakan bahwa setiap orang memiliki hak untuk menyuarakan pendapat di depan publik dalam bentuk apapun dan setelah itu memberikan penekanan bahwa aksi menyampaikan pendapat jangan sampai menghalangi orang lain untuk beraktivitas. Pada bagian isi, diuraikan tentang (1) penekananwapres agar pendemo tidak mengganggu aktivitas orang lain; (2) shalat jumat dilakukan di masjidbukan di jalan karena bisa mengganggu lalu lintas dan kegiatan perekonomian masyarakat, (3) Kapasitas daya tampung monas untuk tempat demo, (4) Polisi dibantu TNI, Satpol PP, Laskar dari ormas-ormas yang ada akan mengawal aksi demo. Pada bagian penutup, diuraikan tentang himbauan kapolri agar kegiatan lain di luar demonstrasi 2 Desember untuk ditunda karena dikhawatirkan mengganggu kesucian kegiatan demonstrasi. Dari skematik tersebut tampak bahwa dukungan terhadap GNPF MUI sangat ditekankan. Kegiatan/aksi-aksi yang akan dilakukan oleh pendemo tidak diuraikan secara detail. Dukungan dari wapres dan kapolri jenderal mendapat porsi detail yang cukup panjang dan disampaikan secara eksplisit. Dalam teks berita ini, pembaca seolah diajak untuk berhati-hati dalam bersikap, khususnya dalam berbicara soal agama. Segala hal yang menyangkut agama tentu akan disikapi secara serius karena sudah masuk dalam ranah ideologi/kepercayaan yang dianut tiap orang. Dilihat dari struktur mikro, setidaknya ada tiga poin yang dapat dianalisis, yakni analisis semantik, analisis sintaksis, dan analisis stilistik. Analisis semantik meliputi latar, detail, dan maksud. Latar dalam berita di atas adalah jalan dan lapangan Monas. Wakil Presiden menghimbau untuk tidak shalat di jalan pada tanggal 2 Desember 2016 disebabkan karena beliau mengkhawatirkan adanya aksi yang berujung anarkis seperti yang terjadi pada aksi sebelumnya, yakni pada 4 November 2016. Detail dalam berita di atas adalah keterangan yang menunjukkan bahwa kawasan Monas bisa menampung 600 sampai 700 ribu orang seperti pada kutipan berikut. Menurut Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, kawasan Monas bisa menampung 600 ribu sampai 700 ribu orang.Jika ternyata pendemo lebih daripada kapasitas di Monas, Jalan Merdeka Selatan disiapkan sebagai tempat untuk menampung peserta aksi. Maksud dalam berita di atas adalah keterangan yang disampaikan oleh Kapori Jenderal menanggapi imbauan wakil presiden yang menjelaskan bahwa pelaksanaan shalat jumat hendaknya di masjid karena jumlah masjid Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 185 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa http://nasional.kompas.com/tag/Tito%20Karnavian Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X di Jakarta banyak. Hal tersebut bermaksud agar peserta aksi tidak berkumpul di satu titik karena dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Analisis sintaksis meliputi koherensi. Penanda koherensi dalam teks di atas adalah adanya penghubung intra kalimat ‘akan tetapi’. Ini tampak pada kutipan berikut: “Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, setiap orang memiliki hak untuk menyatakan pendapat di publik dalam bentuk apapun. Akan tetapi, cara menyampaikan pendapat itu jangan sampai menghalangi orang lain yang akan beraktivitas.” Kutipan koherensi di atas merupakan koherensi pembeda yang digunakan untuk membedakan atau membandingkan dua peristiwa atau elemen. Wacana tersebut dipakai untuk menggambarkan pembalikan bahkan ada kecenderungan ironi (Eriyanto, 2001). Analisis stilistik meliputi leksikon. Leksikon yang terdapat dalam berita di atas tampak dalam kutipan berikut. “Jika ternyata pendemo lebih daripada kapasitas di Monas, Jalan Merdeka Selatan disiapkan sebagai tempat untuk menampung peserta aksi.” Dalam teks berita tersebut, penulis berita lebih leksikon‘pendemo’ dibandingkan dengan kata lain yang memiliki makna yang sama, misalnya peserta aksi, pengunjuk rasa dan sebagainya. Walaupun memiliki makna yang sama, kesan yang ditimbulkan dari setiap kata tersebut berbeda. Kesan berbeda itulah yang ingin ditekankan oleh penulis berita. Selain kata ‘pendemo’, penggunaan leksikon pada berita di atas juga tampak pada kutipan pada akhir penutup berita berikut. “Mantan Kapolda Metro ini menuturkan, kegiatan lain jangan sampai mengganggukesucian kegiatan demonstrasi 2 Desember.” Penggunaan leksikon ‘kesucian’ pada berita di atas diasosiakan bahwa kegiatan aksi bela agama merupakan aksi yang benar. Penulis dalam alam pikirannya, atau secara kognisi dan kesadarannya seolah menegaskan bahwa kegiatan demo sebagai aksi bela agama merupakan kegiatan yang suci, sebagai gerakan moral indivisu akan yang mengekspresikan pandangan berdasarkan keyakinannya yang terusik. Pilihan kata ‘kesucian’ digunakan untuk mensakralkan peristiwa tersebut. Selain itu, aksi demo tersebut diikuti dengan kegiatan salat jumat berjamaah yang menambah khidmat aksi tersebut. Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 186 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa http://nasional.kompas.com/tag/Jusuf%20Kalla http://nasional.kompas.com/tag/2%20Desember Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X KESIMPULAN Asumsi dasar paradigma kritis adalah keyakinan bahwa ada kekuatan laten dalam masyarakat yang begitu berkuasa mengontrol proses komunikasi masyarakat. Ini berarti paradigma kritis melihat adanya “realitas” di balik kontrol komunikasi masyarakat. Teori kritis melihat adanya proses dominasi dan marginalisasi kelompok tertentu dalam seluruh proses komunikasi masyarakat. Reproduksi realitas dalam suatu teks/media pada dasarnya dan umumnya akan sangat dipengaruhi oleh bahasa, simbolisasi pemaknaan dan politik penandaan. melihat proses bahasa dan pemaknaan, sebetulnya juga melihat ranah atau wilayah pertarungan sosial. Pertarungan sosial tersebut lebih konkret terbentuk dalam sebuah wacana. Praksis sosial memerlukan makna dan makna tidak bisa lepas dari bahasa. Makna mempertajam serta memengaruhi segala sesuatu yang dilakukan seseorang, maka semua praktik sosial tidak bisa lepas dari dimensi wacana. Analisis wacana kritis hadir untuk mengurai kuasa-kuasa yang terdapat dalam teks. Salah satu model analisis wacana kritis yang digunakan adalah analisis wacana kritis model Van Dijk.Van Dijk berpandangan bahwa dalam menganalisis wacana tidak cukup hanya didasarkan pada teks sajakarena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi. Van Dijk juga melihat bahwa struktur sosial, dominasi, kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat, kognisi atau pikiran dan kesadaran yang membentuk berpengaruh terhadap teks-teks tertentu. Hal demikian yang tampak dalam situs berita online yaitu kompas.com pada 28 November 2016. DAFTAR PUSTAKA Denzin, Norman K dan Yvonna S. Lincoln. (2005), Handbook of QualitativeResearch, London: Sage Publication. Eriyanto, (2001). Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS. Gee, J. P. (2005).An Introduction to Discourse Discourse Analysis, Theory and Method, London and New York: Routledge. Hall, S. (1992). Culture, Media dan Language. London:Routledge. Haryatmoko. (2017). Critical Discourse Analysis: Landasan, Teori, Metodologi, dan Penerapan. Jakarta: Rajawali Press. Littlejohn, S. (2002).Theories of Human Communication. California:Wadsworth Publishing Company. Newman, L. W. (2000). Social Research Methods. London:Allyn and Bacon. Pateda, M. (2011). Linguistik Sebuah Pengantar. Bandung: Angkasa Rogers, R. (2011). An Introduction to Critical Discourse Analysis in Education. New York: Routledge. Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 187 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Santoso, A. (2012). Studi Bahasa Kritis, Menguak Bahasa Membongkar Kuasa. Bandung: CV Mandar Maju. Van Dijk, T. A. (1994). Discourse and Cognition Society. In David C. & David M. (Eds). Communication Theory Today. Cambridge: Polity Press. Wetherell, M., Taylor, S., Yates, S.J. (2001). Discourse Theory and Practice. London: Sage. Mengulik Akar Kritis dalam Analisis Wacana Kritis dan Implementasinya … Aswadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.176-188 188 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.187-198 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa METODE Analisis puisi karya Tere Liye dengan model atau pendekatan sosiologi sastra memaknai puisi ini dengan mengaitkan kehidupan masyarakat dalam memahami cinta, perasaan, dan kasih sayang sehingga terdapat pembelajaran moral untuk kehidupan masyarakat. Sosiologi sastra lebih memperoleh tempat dalam penelitian sastra karena sumber-sumber yang dijadikan acuan mencari keterkaitan antara permasalahan dalam karya sastra dengan permasalahan dengan masyarakat lebih mudah diperoleh. Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa kumpulan puisi atau sajak tere liye memaknai tentang cinta, perasaan, rahasia, kebencian, jodoh, kesedihan dan sakit hati. Hal tersebut dapat disebut sebagai kesimpulan dari kumpulan puisi ini. Kemudian telah dijelaskan pula aktifitas benda mati, dalam puisi tersebut sajak remote sifat on dan off yaitu seperti perasaan manusia dapat tumbuh dapat mati, mungkin pembaca atau masyarakat terhibur dengan membaca puisi ini. DAFTAR PUSTAKA REFERENCES 17 59 8 3 4 1 1 2 3 98 DAFTAR PUSTAKA