Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya bagi Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Conjuction Gramatical Cohesions in a Literary Work and Their Implications for Indonesian Language Learning in Senior High School Asep Muhyidin Universitas Sultan Ageng Tiryatasa, Kota Serang muhyidin21@untirta.ac.id Riwayat Artikel: Dikirim 18 Januari 2018; Diterima 13 November 2018; Diterbitkan 10 Desember 2018 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis aspek kohesi gramatikal konjungsi dalan cerita pendek Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif -deskriptif. Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa wacana cerpen berjudul Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa ini memiliki tingkat kohesi yang cukup baik ditinjau dari aspek gramatikal konjungsi. Dalam wacana cerpen ini ditemukan piranti kohesi gramatikal konjungsi sebanyak 158 buah yang terdiri atas: 1) hubungan penambahan; 2) hubungan peningkatan; 3) hubungan pertentangan; 4) hubungan waktu; 5) hubungan syarat; 6)hubungan tujuan; 7) hubungan kausal atau sebab akibat; 8) hubungan pemilihan; dan 9) hubungan memperlihatkan cara. Kata Kunci: kohesi gramatika, konjungsi, analisis wacana, cerita pendek ABSTRACT The purpose of this study is to describe and analyze the aspects of conjunction grammatical cohesions in the short story of “Titian Pelangi” by Helvy Tiana Rosa. The research method is qualitative analysis technique to characterize descriptive presentation of data obtained by the research. The result showed short story “Titian Pelangi” has a fairly good degree of cohesions in terms of grammatical conjunction cohesion. In this short story discourse, the number of conjection grammatical cohesions is as many as 158 pairs of sentences. Grammatical cohesions in the aspect of conjunctions include: 1) conjunction relation additions; 2) conjunction enchancement relationship; 3) conjunction relationship contradictions ; 4) time relationship conjunction; 5) terms relationship conjunction relationship terms ; 6) conjunction relationship goals; 7) conjunction of causality; 8) conjunction of election relations ;and 9) conjunctionrelationship way. Keywords: Grammatical cohesion, conjunctions, discourse analysis, short story Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 161 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa mailto:muhyidin21@untirta.ac.id Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X PENDAHULUAN Wacana merupakan bentuk komunikasi antara penulis dan pembaca (Hoey dalam Haris dan Yunus, 2014: 848). Wacana yang baik adalah wacana yang harus memperhatikan hubungan antarkalimat. Hal ini harus selalu diperhatikan untuk memelihara keterkaitan dan keruntutan antarkalimat dalam sebuah paragraf. Pandangan selama ini menyatakan bahwa bahasa itu terdiri atas bentuk (form) dan makna (meaning). Hubungan dalam wacana dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu hubungan bentuk yang disebut kohesi, dan hubungan makna atau hubungan semantis yang disebut koherensi. Dalam komunikasi tulis, proses komunikasi penyapa dan pesapa tidak berhadapan langsung. Penyapa menuangkan ide dan gagasannya dalam kode-kode kebahasaan yang biasanya berupa rangkaian kalimat. Rangkaian kalimat tersebut nantinya ditafsirkan maknanya oleh pembaca (pesapa). Di sini pembaca mencari makna berdasarkan untaian kata yang tercetak dalamteks. Sebagai tataran terbesar dalam hierarki kebahasaan, wacana tidak merupakan susunan kalimat secara acak, tetapi merupakan satuan bahasa, baik lisan, maupun tulis. Berdasarkan media penyampaiannya wacana dapat dibagi menjadi dua, yaitu wacana tulis dan wacana lisan. Wacana tulis adalah wacana yang disampaikan dengan menggunakan bahasa tulis atau melalui media tulis, dan dalam wacana tulis tersebut terjadi komunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembaca. Wacana lisan adalah wacana yang disampaikan melalui lisan atau langsung dengan bahasa verbal, dan dalam wacana lisan terjadi komunikasi secara langsung antara pembicara dengan pendengar. Kohesi memegang peranan yang sangat penting dalam pemahaman sebuah wacana. Berkaitan dengan hal tersebut, kohesi dibedakan menjadi dua, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Untuk menciptakan kohesi baik kohesi gramatikal maupun kohesi leksikal, maka digunakan sebuah alat yang disebut penanda kohesi. Dengan menggunakan penanda-penanda kohesi tersebut, baik leksikal maupun gramatikal, maka penutur atau penulis akan lebih mudah menyampaikan ide atau amanat yang ingin disampaikan melalui sebuah wacana yang kohesif dan koheren. Selain itu, ide atau amanat yang hendak disampaikan tersebut akan mudah diterima atau dipahami oleh mitra tutur atau pembaca. Wacana berdasarkan sifatnya digolongkan menjadi dua, yaitu wacana fiksi dan wacana nonfiksi. Salah satu bentuk wacana fiksi adalah wacana prosa yang berupa cerita pendek. Wacana cerita pendek ini dapat dikaji, baik dari segi gramatikalnya maupun dari segi konteksnya. Cerita pendek merupakan wacana fiksi yang ditulis dalam bentuk naratif yang isinya lebih ringkas dari novel dan sifatnya fiksi yang penulisannya menuntut tingkat Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 162 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X kohesi dan koherensi yang tinggi agar menjadi sebuah wacana yang utuh dan padu. Pemilihan wacana cerita pendek Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa dalam penelitian ini mempertimbangkan beberapa aspek. Cerita pendek sebagai sebuah realisasi wacana tulis menuntut agar meniliki tingkat kohesi dan koherensi yang tinggi agar tetap berupa satu kesatuan wacana yang utuh. Penggunaan aspek gramatikal berupa konjungsi dalam cerita pendek ini cukup banyak ditemukan. Hal ini menjadikan cerita pendek ini terasa lebih mudah dibaca dan dimengerti alur ceritanya. Dipilihnya cerita pendek karya Helvy Tiana Rosa dikarenakan beliau merupakan tokoh sastra angkatan 2000-an yang sangat produktif dalam menghasilkan karya-karya sastra baik novel maupun cerita pendek. Karya sastra adalah gambaran kehidupan yang dituangkan dalan berbagai bentuk wacana fiksi. Karya sastra dalam hal ini cerita pendek merupakan hasil pemikiran tentang kehidupan yang berbentuk fiksi dan diciptakan pengarang untuk memperluas, memperdalam, dan menjernihkan penghayatan pembaca terhadap sisi kehidupan yang disajikan. Karya sastra merupakan cermin dari sebuah realitas kehidupan masyarakat. Karya sastra yang baik memiliki sifat-sifat yang abadi dengan tentunya memuat kebenaran-kebenaran yang hakiki. Karya sastra termasuk cerita pendek memiliki sifat dulce et utile yang berarti menyenangkan dan bermanfaat bagi pembaca melalui penggambaran kehidupan nyata. Kurikulum meliputi sejumlah pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan bahan belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) ditegaskan bahwa kedalaman muatan kurikulum pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi pada setiap tingkat sesuai dengan standar nasional pendidikan. Kompetensi yang dimaksud terdiri atas kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD). Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan budaya Indonesia yang beragam, diarahkan untuk membangun kehidupan masa kini, dan untuk membangun dasar bagi kehidupan bangsa yang lebih baik di masa depan. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis serta menumbuhkan apresiasi terhadap karya kesastraan manusia Indonesia. Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 163 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Bahasa Indonesia tidak semata diajarkan sebagai ilmu pengetahuan tetapi dipraktikkan sebagai penghela ilmu pengetahuan. Hal ini dilakukan karena Kurikulum 2013 dirancang untuk menyongsong model pembelajaran abad 21, yang di dalamnya terdapat pergeseran dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu dari berbagai sumber belajar melampaui batas pendidik dan satuan pendidikan. Karenanya peran bahasa menjadi sangat sentral. Menurut Mahsun (2014: 94) penempatan bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan disamping memberi penegasan akan pentingnya kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang mempersatukan berbagai etnis yang berbeda latar belakang bahasa lokal dan kedudukannya sebagai bahasa resmi negara, juga menjadi langkah awal dalam mewujudkan hajat para pendiri bangsa yang mengumandangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Karenanya bahasa Indonesia harus berada di depan semua mata pelajaran lain. Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki peranan yang sangat penting bukan hanya untuk membina keterampilan komunikasi melainkan juga untuk kepentingan penguasaan ilmu pengetahuan. Mengingat fungsi penting pembelajaran bahasa Indonesia sudah selayaknya pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Pembelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 meliputi prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) materi yang diajarkan ditekankan pada kompetensi berbahasa sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan gagasan dan pengetahuan; 2) siswa dibiasakan membaca dan memahami makna teks serta meringkas dan menyajikan ulang dengan bahasa sendiri; 3) siswa dibiasakan menyusun teks yang sesuai sehingga sistematis, logis, dan efektif melalui latihan-latihan penyusunan teks; 4) siswa dikenalkan dengan aturan-aturan teks yang sesuai sehingga tidak rancu dalam proses penyusunan teks (sesuai dengan situasi dan kondisi: apa, siapa, dimana); dan 5) siswa dibiasakan untuk dapat mengekspresikan dirinya dan pengetahuannya dengan bahasa yang menyakinkan secara spontan. Aspek kohesi gramatikal dalam analisis wacana terdapat beberapa jenis, diantaranya aspek referensi, subtitusi, ellipsis, dan konjungsi. Wiyanti (2015) dalam penelitiannya tentang analisis kohesi gramatikal subtitusi dan elipsis pada novel Laskar Penangi karya Andrea Hitara menemukan beberapa faktor yang mempengaruhi karya sastra disukai pembacanya. Disamping isi ceritanya juga adalah teknik penulisannya. Hal ini berkaitan dengan penggunaan piranti kohesi, baik gramatikal maupun leksikal. Hasil penelitian menunjukkan pemakaian unsur bahasa berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat sebagai bagian perujuk dua kalimat berpasangan untuk mengetahui hubungan kohesif belum merata.Dalam penelitian ini dikhususkan kepada aspek kohesi gramatikal konjungsi. Kegiatan analisis aspek kohesi gramatikal lebih mudah dilakukan terhadap wacana nondialog (Achmad H.P., 2006: 12). Cerita pendek merupakan salah satu jenis wacana Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 164 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X nondialog, yaitu wacana monolog. Wacana monolog tidak menghendaki dan tidak menyediakan alokasi waktu terhadap respon pendengar atau pembacanya. Bertolak dari apa yang telah dikemukakan terdahulu, peneliti akan menganalisis aspek kohesi gramatikal konjungsi dalan cerita pendek Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimanakah penggunaan penanda kohesi gramatikal konjungsi dalam cerita pendek Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa dan implikasinya bagi pembelajaran bahasa Indonesia di SMA?” Kohesi Gramatikal Menurut Halliday dan Hasan (Zaimar dan Harahap, 2011:115) kohesi adalah suatu konsep semantik yang menampilkan hubungan makna antar unsur teks, dan menyebabkannya dapat disebut sebagai teks. Kohesi terjadi apabila interpretasi salah satu unsur teks tergantung dari unsur lainnya. Unsur yang satu berkaitan dengan unsur Iainnya, sehingga unsur tersebut tidak dapat benar-benar dipahami tanpa yang lain. Kaitan makna ini disebut kohesi. Maka, kohesi adalah keterkaitan semantis antar unsur pembentuk wacana Halliday dan Hasan (Zaimar dan Harahap, 2011:115). Selanjutnya, Zaimar dan Harahap (2011:117) kohesi adalah konsep relasional (hubungan), bukan salah satu unsur saja yang menjadikan teks itu kohesif, melainkan relasi antara suatu unsur dengan yang lain. Kohesi menampilkan kontinuitas makna antara satu bagian teks dengan yang Iainnya. Kohesi merupakan kepaduan bentuk (bahasa) yang secara struktur membentuk ikatan sintasksis (Anfin dan Junaiyah, 2010:24). ltulah sebabnya kohesi memegang perananan yang sangat penting dalam pemahaman teks. Ada dua macam kohesi, yaitu: 1) kohesi gramatikal, dan 2) kohesi leksikal. Menurut Halliday dan Hasan (Zaimar dan Harahap, 2011:117) kohesi gramatikal dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori, yaitu: referensi (pengacuan); substitusi (penyulingan); elipsis (pelepasan); dan konjungsi (penyambungan). Sedangkan dalam kohesi leksikal dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori, yaitu: sinonim, antonim, hiponim, meronim,repetisi, kolokasi, dan ekuavalensi. Masirig-masing kategori inimempunyai dasar teoritis sebagai jenis-jenis hubungan kohesif, melainkan juga mempersiapkan suatu cara yang praktis untuk menggambarkan dan menganalisis teks. Cook (1989: 21) mengemukakan bahwa konjungsi adalah hubungan yang ekplisit antara satu kalimat atau satu klausa dengan yang lainnya. Sedangkan Kridalaksana (Arifin dan Junaiyah, 2010:36) berpendapat bahwa konjungsi atau kata sambung adalah bentuk atau satuan kebahasaan yang berfungsi untuk menyambung, merangkai ataumenghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat dan Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 165 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X seterusnya. Penyambungan (konjungsi) sebagai alat kohesi, juga berkaitan dengan aspek semantik. Menurut Zaimar dan Harahap (2011:132) dalam konjungsi memiliki 16 pemaknaan sifat kohesif penghubung (konjungsi) dalam wacana, antara lain: 1) hubungan penambahan (dan, juga, baik, maupun, lagipula, se!ain itu, tambahan pula); 2) hubungan peningkatan (bahkan, malahan, Iebih-lebih); 3) hubungan pertentangan (tetapi, padahal, meskipun, biarpun, sekalipun, namun, walaupun, sedangkan, sebaliknya, kendatipun,kendatipun demikian, biarpun demikian atau begitu, meskipun demikian atau begitu); 4) hubungan pemilihan (atau, entah... entah...); 5) hubungan waktu (sesudah,setelah, sebelum, sehabis, sejak,selesa ketika, tatkala, sewaktu, sementara, sambil, seraya, selagi, selama, hingga, sampai kemudian, sesudah itu, selanjutnya, sebelum itu, akhirnya); 6) hubungan syarat (jika, kalau, jikalau, asalkan, bila, manakala, seharusnya); 7) hubungan pengadaian (andaikan, seandainya, umpamanya, sekiranya); 8) hubungan tujuan (agar, supaya, untuk); 9) hubungan konsesif (biarpun, meskipun, sekalipun, walaupun, sungguhpun, kendatipun); 10) hubungan pemiripan (seakan-akan, seolah-olah, sebagaimana, seperti, sebagai, laksana).; 11) hubungan Kausal atau Sebab (karena, sebab, oleh sebab itu, oleh karena itu); 12) hubungan akibat (sehingga, maka, sampai-sampai); 13) hubungan penjelasan (bahwa). ; 14) ubungan yang Memperlihatkan Cara (dengan); 15) hubungan pengecualian (kecuali itu, kecuali, selain itu); dan 16) hubungan posisional (alkisah, sebermula, syahdan arkian, mulanya, sementara itu, mengenai, akan hal, apapun, mulanya, mengenai, akan hal itu, adapun, dalam pada itu, demikianlah) yang ditandaioleh sudut pandang penentuankelompok konjungsi yang berbeda, berdasarkan posisinya dalam teks. Pengertian Cerpen Menurut Abrams (1993: 193) cerita pendek merupakan wacana fiksi yang ditulis dalam bentuk naratif. Meskipun isinya lebih ringkas dari novel dan bersifat fiktif, namun penulisan cerita pendek tetap menuntut tingkat kohesi dan koherensi yang baik. Menurut S. Effendi (2015:18) cerita pendek merupakan cerita rekaan (fiksi) yang mengisahkan serangkaian peristiwa (event) atau suatu kejadian (insiden) yang melibatkan beberapa individu dalam aktivitas fisik dan mental. Dengan kata lain, cerita pendek memotret peristiwa atau kejadian dalam kehidupan, dan keberhasilan memotret itu bergantung pada mediasi antara pembaca dan objek yang dipotret seperti cermin menangkap suatu objek yang cepat dan lengkap. Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa cerita pendek merupakan wacana fiksi yang ditulis dalam bentuk naratif yang isinya lebih ringkas dari novel dan sifatnya fiksi yang penulisannya menuntut tingkat kohesi dan koherensi yang baik agar menjadi sebuah wacana yang utuh dan padu. Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 166 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X METODE Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif-deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Biklen (1982: 4-7), penelitian kualitatif merupakan suatu penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata- kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan kualitatif difokuskan pada latar tersebut secara holistik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fenomena konjungsi sebagai  peranti kohesi gramatikal dalam wacana berupa cerita pendek yang berjudul Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa. Data penelitian ini adalah penggunaan konjungsi dalam wacana cerita pendek Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa, sedangkan sumber datanya adalah cerita pendek yang berjudul Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa yang diambil dari buku kumpulan cerita pendek yang berjudul Ketika Mas Gagah Pergi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode simak. Menurut Sudaryanto (1993:133) metode simak atau penyimakan dapat disejajarkan dengan metode pengamatan atau observasi karena kegiatan yang dilakukan pada dasarnya adalah menyimak atau mengamati penggunaan bahasa. Selanjutnya yang diambil dalam penyediaan data yaitu teknik catat untuk mencatat data yang diperoleh dari hasil penyimakan dalam sebuah tabel data. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) menyimak adalah langkah awal yang dilakukan dengan memperlihatkan dan mempelajari dengan seksama objek yang diteliti yaitu wacanacerita pendek Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa. Setelah itu dipilih wacana-wacana yang dianggap menerapkan prinsip kesinambungan wacana berupa aspek kohesi gramatikal konjungsi, 2) pencatatan dilakukan setelah data yang berupa wacana-wacana tersebut dinilai cukup untuk dijadikan data penelitian, dan 3) data kemudian dicatat dalam kartu data untuk dianalisis mengenai aspek kohesi gramatikal konjungsi yang digunakan untuk menciptakan kesinambungan wacana. Analisis data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik segmentasi seperti yang digunakan oleh Suparno (2000) dan mengikuti alur analisis model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (Emzir, 2010). Kegiatan analisis tersebut meliputi (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan simpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Sesuai rumusan permasalahan yang telah dijabarkan di atas, cerpen Titian Pelangi ini mengandung banyak konjungsi. Konjungsi amat mudah Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 167 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X dikenalikarena menjadi pemarkah formal. Setelah penelitimenganalisis secara keseluruhan ternyata di dalam cerpen ini terdapat 158 penghubung (konjungsi). Penghubung (konjungsi) dalam cerpen ini terbagi menjadi 9 hubungan pemaknaan sifat kohesif penghubung (konjungsi) pada wacana yang terdiri dari: 1) hubungan penambahan; 2) hubungan peningkatan; 3) hubungan pertentangan; 4) hubungan waktu; 5) hubungan syarat; 6) hubungan tujuan; 7) hubungan kausal atau sebab akibat; 8) hubungan pemilihan; dan 9) hubungan memperlihatkan cara. Tabel 1: Bentuk Kohesi Gramatika Konjungsi No. Bentuk Kohesi Gramatikal Konjungsi Jumlah 1. Hubungan Penambahan 102 2. Hubungan Peningkatan 2 3. Hubungan Pertentangan 4 4. Hubungan Waktu 18 5. Hubungan Syarat 10 6. Hubungan Tujuan 10 7. Hubungan Kausal 1 8. Hubungan Pemilihan 1 9. Hubungan Memperlihatkan Cara 10 Jumlah Total 158 Hubungan penambahan pada data ini, ditemukan sejumlah 102 penghubung (konjungsi). Konjungsi yang terdapat pada hubungan penambahan “dan” sebanyak 67 buah, dan hubungan penambahan “juga” sebanyak 35 buah. Berikut adalah contoh konjungsi berupa hubungan penambahan yang ditemukan dalam cerpen Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa. 1) “Sopir metro mini P 11 juruan Senen-Kemayoran yang ramah, jujur, dan gemar menolong itu mendapatkan kecetakaan” (halaman 165). 2) ”Dia juga masih mikirin dana sumbangan buat kaum dhuafa disekitar rumahnya” (halaman 162). Kalimat di atas menunjukkan hubunganpenambahan sederhana yang merupakan konjungsi dan bersifat kohesif. Berdasarkan hasil analisis pada data dapat disimpulkan bahwa hubungan penambahan penghubung (konjungsi) dalam wacana cerpen Titian Pelangi ini paling mendominasi. Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 168 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Hubungan peningkatan pada data ini, ditemukan sejumlah 2 konjungsi. Penghubung yang terdapat pada hubungan peningkatan “bahkan” sebanyak 2 buah. Berikut adalah contoh konjungsi berupa hubungan peningkatan yang ditemukan dalam cerpen Titian Pelangi. 3) “la ... tidak terisak-isak...! senyum itu bahkan tak lepas darinya kala ia menatapku” (halaman 166). Contoh kalimat di atas menunjukkan hubungan peningkatan. Kehadiran penyambungan konjungsi “bahkan” menjadikan klausa dalam kalimat tersebut kohesif dalam wacana cerpen Titian Pelangi ini. Hubungan pertentangan pada data ini, ditemukan sejumlah 4 konjungsi. Penghubung yang terdapat pada hubungan pertentangan “tetapi” sebanyak 4 buah. Berikut adalah contoh hubungan penambahan pertentangan yang ditemukan dalam cerpen Titian Pelangi. 4) “Mas-ku yang satu ini memang suka nggak nyambung! Kesal! Aku tahu semua yang di katakannya, tetapi mbokya, bersimpati dikit kek, tolongin yang dekat ini, kek” (halaman 161). Kalimat di atas menunjukkan hubungan pertentangan sederhana yang disertai dengan penegasan. Kalimat di atas terdiri dan dua klausa yang mempunyai hubungan pertentangan. Berkat konjungsi ini wacana cerita pendek menjadi lebih kohesif. Hubungan waktu pada data ini, ditemukan sejumlah 18 konjungsi. Penghubung yang terdapat pada hubungan waktu “setelah” sebanyak 5 buah, hubungan waktu “sebelum” sebanyak 1 buah, hubungan waktu “ketika” sebanyak 7 buah, hubungan waktu “sementera” sebanyak 5 buah. Berikut ¡ni adalah contoh konjungsi hubungan waktu yang ditemukan dalam cerpen Titian Pelangi. 5) “Insya Allah, setelah lebaran ia resmi menjadi iparku” (halaman 173). 6) “Ketika aku mengunjunginnya ternyata ia belum ke dokter”(halaman 169). 7) “Mereka dibiarkan saja mengatakan kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? 8) Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang.... sebelum mereka” (halaman 166). 9) “Mas Irvan menyuruhku sabar dan berdoa, sementara ia mencari informasi” (halaman 165). Contoh kalimat di atas menunjukkan hubungan waktu ini ada yang menunjukkan satu peristiwa yang berlangsung lebih dahulu dan yang lain, ada yang menampilkan kedua peristiwa berlangsung bersamaan, ada Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 169 e-ISSN: 2503-328X https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X peristiwa yang terjadi selama peristiwa yang lain berlangsung, dan atau peristiwa yang satu terjadi setelah peristiwa yang lain sehingga kelima contoh di atas tampak lebih kohesif dengan kehadiran konjungsi yang menunjukkan waktu dalam wacana cerpen Titian Pelangi ini. Hubungan syarat pada data ini, ditemukan sejumlah 10 konjungsi. Penghubung yang terdapat pada hubungan syarat “kalau” sebanyak 10 buah. Berikut ini adalah contoh konjungsi hubungan syarat yang ditemukan dalam cerpen Titian Pelangi. 10) “Levernya kena! Harus istirahat penuh kalau tak mau dirawat di rumah sakit. Itu kata dokter (halaman 170). Contoh kalimat di atas tanpa konjungsi yang menunjukkan syarat sehingga kalimat tersebut kohesif dalam wacana cerpen Titian Pelangi. Hubungan tujuan pada data ini, ditemukan sejumlah 10 konjungsi. Penghubung yang terdapat pada hubungan tujuan “agar” sebanyak 1 buah, hubungan tujuan “untuk” sebanyak 9 buah. Berikut ini adalah contoh konjungsi hubungan tujuan yang ditemukan dalam cerpen Titian Pelangi. 11) “Sayang sama Bang Ical, juga pada kita semua. ini ujian dari Allah agar kita sabar” (halaman 160). 12) “Mereka kaum Iemah, papa, dan tak punya apa-apa.. yang bahkan seperti tahun-tahun kemarin, harus mengais-ngais sampah di hari fitri ini untuk sekadar bisa makan... dan Ita ... yang suasana idul Fitrinya tahun ini drastis berubah... ah...” (halaman 170). Kalimat di atas, hubungan antarklausa pada masing-masing kalimat, dijamin oleh adanya penghubung (konjungsi) tujuan yang menampilkan kohesi dalam wacana cerpen Titian Pelangi. Hubungan kausal (sebab akibat) pada data ini, ditemukan sejumlah 1 konjungsi. Penghubung yang terdapat pada hubungan kausal “karena” sebanyak 1 buah. Berikut ini adalah contoh konjungsi hubungan kausalyang ditemukan dalam cerpen Titian Pelangi. 13) “Coba bayangkan, Yah. Coba bayangin, Bu! Bulan puasa begini, bapaknya yang menjadi tulang punggung keluarga selama ini, meninggal karena kecelakaan” (halaman 161). Pada contoh kalimat di atas, klausa masing-masing kalimat mempunyai hubungan kausal dengan kausal pertamanya. Hubungan kausal tersebut dinyatakan dengan konjungsi kausal sehingga kedua klausa pada kalimat di atas kohesif dalam wacana cerpen Titian Pelangi. Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 170 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Hubungan pemilihan pada data ini, ditemukan sejumlah 1 konjungsi. Penghubung yang terdapat pada hubungan pemilihan “atau” sebanyak 1 buah. Berikut ini adalah contoh konjungsi hubungan pemilihan yang ditemukan dalam cerpen Titian Pelangi. 14) “Beberapa kali saat aku mengunjunginya di rumah tantenya, ia selalu terbatuk-batuk, atau merasakan sakit di ulu hatinya”(halaman 169). Pada contoh kalimat di atas, terlihat pemilihan yangsederhana. Kehadiran konjungsi yang menyatakan hubungan pemilihan menjadikan antarklausa dalam kalimat di atas menjadi kohesif. Hubungan memperlihatkan cara pada data ini, ditemukan sejumlah 10 konjungsi. Penghubung yang terdapat pada hubungan memperlihatkan cara “dengan” sebanyak 10 buah. Berikut ini adalah contoh konjungsi hubungan memperlihatkan cara yang ditemukan dalam cerpen Titian Pelangi. 15) “la terduduk lemas dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis sesegukan. Makin lama makin keras”(halaman 167). Pada kalimat di atas, konjungsi “dengan” merupakan konjungsi yang memperlihatkan hubungan cara. Hal ini menyebabkan kedua klausa menjadi kohesif. Wacana cerpen berjudul “Titian Pelangi” ini memiliki tingkat kohesi yang cukup baik ditinjau dan segi gramatikal konjungsi. Kohesi merupakan keterkaitan antarbagian dalam teks yang ditandai dengan penggunaan unsur bahasa baik berupa piranti gramatikal maupun piranti leksikal (Bex dalam Rostami dan Gholami, 2016:125). Cerpen merupakan sebuah wacana naratif yang pendek dengan alur yang singkat dan dominasi penggunaan- penggunaan dialog dalam setiap tokoh dan awal hingga akhir. Terutama aspek gramatikal dengan adanya penghubung (konjungsi) di dalamnya yang menyebabkan berbagai hubungan sifat kohesif penyambungan (konjungsi) dalam wacana. Pada cerpen ini di dominasi oleh penghubung (konjungsi) hubungan penambahan. Unsur-unsur tersebut membuat kohesifitas wacana tersebut terbangun dan merupakan salah satubahan dasar untuk membangun wacana yang utuh. Sehingga cerpen tersebut dapat dinikmati pembaca dengan keutuhannya. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa ada unsur-unsur lain yang membangun keutuhan suatu wacana seperti koherensi dan konteks. Karena wacana tidak hanya terbentuk dari diri sendiri berupa struktur pembentuk wacana yang utuh tetapi juga faktor-faktor yang lainnya. Jadi, kohesi penting untuk suatu wacana tetapi faktor yanglain juga perlu diperhatikan agar suatu wacana dapat terbentuk secara utuh baik teks maupun konteksnya. Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 171 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Kohesi gramatikal terjadi pada lapis luar sebuah teks (Bahaziq, 2016: 118). Salah satu bentuk kohesi gramatikal adalah konjungsi. Konjungsi (kata sambung) adalah bentuk atau satuan bahasa yang berfungsi sebagai penyambung, perangkai, atau penghubung kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, bahkan paragraf dengan paragraf (Tarigan,1987:101;Kridalaksana, 2008:105). Konjungsi disebut juga sarana perangkai unsur-unsur kewacanaan. Konjungsi atau penghubung dengan bantuan kata sambung ini besar perannya dalam mewujudkan kohesi gramatikal, perhatikan bahwa di sini kata konjungsi digunakan sebagai salah satu jenis kohesi gramatikal sekaligus sebagai alat gramatikalnya. Konjungsi sebagai piranti kohesi yang digunakan dalam wacana tulis cerita pendek dapat dibedakan atas konjungsi antarklausa, konjungsi antarkalimat, dan konjungsi antarparagraf. Sesuai dengan pendapat Rahardi (2010:105), yang menyebut konjungsi ini dengan kata penghubung dalam kalimat atau intrakalimat, konjungsi ini dapat berwujud kata penghubung koordinatif dan kata penghubung subordinatif. Menurut Rahardi (2010:109), dikatakan penghubung antarkalimat karena tugasnyamenghubungkan makna yang ada pada kalimat yang satu dengan makna yang ada pada kalimat yang lainnya. Kohesi yang dibangun dengan konjungsi ini adalah kohesi yang sifatnya proposisional. Maksudnya adalah keterpaduan dan kesatuan proposisi yang ada pada kalimat yang satu dengan kalimatyang lainnya. Aspek kohesi gramatikal konjungsi dalam cerita pendek memiliki peran dalam pembentukan sebuah teks dalam wacana sehingga wacana tersebut dapat tersusun menjadi wacana yang koheren. Wacana cerita pendek Titian Pelangi adalah sebuah wacana yang mempertimbangkan hal-hal tersebut sehingga meskipun cerita pendek bercirikan minimalis secara ortografis dibandingkan wacana berupa novel misalnya, tetapi maksud dan tujuan yang terkandung dalam cerita pendek tersebut dapat tersampaikan dengan jelas dan mudah dipahami oleh pembacanya. Hal ini membuktikan pendapat Halliday dan Hasan (1976:5) yang menyatakan bahwa kohesi merupakan satu set kemungkinan yang terdapat dalam bahasa untuk menjadikan suatu teks tersebut memiliki kesatuan dan kepaduan. Implikasi penelitian ini pada pembelajaran bahasa Indonesia siswa SMA khususnya kelas XI mengenai materi menginterpretasi teks cerita pendek. Kemudian setelah siswa mampu menginterpretasi teks cerita pendek diharapkan langkah selanjutnya adalah siswa mampu memproduksi teks cerita pendek yang kohesif dan koheren sesuai dengan karakteristik teks yang dibuat secara tertulis. Selain itu, berkaitan dengan materi kesastraan, siswa harus mampu mengapresiasi dan memahami isi cerita pendek yang dibaca. Aspek pembelajaran tersebut akan menuntut siswa untuk memahami penanda gramatikal yang berupa konjungsi yang merupakan penanda yang Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 172 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X dapat digunakan untuk menjadikan suatu teks menjadi padu. Sehubungan dengan hasil penelitian, uraian di atas dapat diintegrasikan terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di SMA kelas XI sesuai dengan pelaksanaan kurikulum 2013. Berdasarkan tujuan pembelajaran tersebut, guru harus mampu membuat skenario pembelajaran yang bisa membuat siswa menjadi mampu untuk menggunakan penanda kohesi gramatikal berupa konjungsi dengan tepat sehingga siswa mampu menciptakan suatu paragraf yang kohesif. Langkah-langkah pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut: 1) guru mermberikan materi mengenai syarat-syarat paragraf yang padu berkaitan dengan penggunaan penanda kohesi gramatikal berupa konjungsi; 2) tiap- tiap siswa ditugasi untuk membaca sebuah teks cerita pendek kemudian mengidentifikasi penggunaan penanda kohesi gramatikal berupa konjungsi; 3) guru menugasi siswa untuk menyunting kembali isi teks cerita pendek dengan menggunakan kalimat sendiri dan menandai bagian-bagian yang penting; 4) setelah siswa menyunting, guru menugasi siswa untuk mengabstraksi isi teks cerita pendek dengan menggunakan kalimat sendiri secara padu dengan menggunakan penanda kohesi gramatikal berupa konjungsi sebagai alat untuk menjaga kekohesifannya; 5) setelah tugas selesai, hasil tulisan ditukar dengan teman yang lain; dan 6) tiap-tiap siswa ditugasi untuk mengidentifikasi penggunaan penanda kohesi gramatikal berupa konjungsi yang ada pada tulisan temannya, lalu diidentifikasi pula apakah penanda kohesi gramatikal berupa konjungsi tersebut telah digunakan sebagai penjaga kepaduan teks atau tidak. Berdasarkan langkah- langkah tersebut, diharapkan tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan kebahasaan serta kesastraan dapat tercapai, yaitu siswa mampu menggunakan bahasa yang komunikatif dalam kegiatan komunikasi lisan maupun tulisan. Selain itu tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan sastra juga dapat tercapai, yaitu siswa mampu mengapresiasi dan memahami isi teks cerita pendek yang dibaca serta mampu mendapatkan amanat yang baik dari teks cerpen tersebut. KESIMPULAN Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa wacana cerpen berjudul Titian Pelangi karya Helvy Tiana Rosa ini memiliki tingkat kohesi yang cukup baik ditinjau dari aspek gramatikal konjungsi. Dalam wacana cerpen ini ditemukan piranti kohesi gramatikal konjungsi sebanyak 158 buah yang terdiri atas: 1) hubungan penambahan; 2) hubungan peningkatan; 3) hubunganpertentangan; 4) hubungan waktu; 5) hubungan syarat; 6) hubungan tujuan; 7) hubungan kausal atau sebab akibat; 8)hubungan pemilihan; dan 9) hubungan memperlihatkan cara. Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 173 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, peneliti memberikan saran kepada guru bahasa Indonesia, khususnya untuk pembelajaran kebahasaan dan kesastraan, agar dapat memaksimalkan penggunaan konjungsi sebagai penanda kohesi gramatikal dalam membentuk suatu wacana yang kohesif. Selain itu, guru bahasa Indonesia harus dapat memanfaatkan media teks cerita pendek sebagai suatu bahan pembelajaran untuk memperlihatkan kepaduan suatu wacana sekaligus sebagai media untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada siswa. DAFTAR PUSTAKA Abrams, M. H. (1993). A Glossary of Literary Terms. New York: Harcourt Brace Colege Publisher. Ahmad HP. (2006). Wacana dan Pengajaran Bahasa (orasi ilmiah). Jakarta: UNJ. Arifin, Zaenal dan Junaiyah. (2010). Keutuhan Wacana. Jakarta: GramediaWidiasarana Indonesia. Bahaziq, Afnan. (2016). Cohesive Devices in Written Discourse: A Discourse Analysis of a Student’s Essay Writing. Journal English Language Teaching, 9(7), 112-119. Bogdan, Robert C., & Biklen, S. K. (1982). Qualitative Research for Education: An Introduction to Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon, Inc. Cook, G. (1989). Discourse. Oxford: Oxford University Press. Emzir. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Halliday, M. A. K., & Hasan, R. (1976). Cohesion in English. London: Longman Group Ltd. Haris, Haris, S. N. F., & Yunus, M. M. (2014). The Use of Lexical Cohesion among TESL Post Graduate Students in Academic Writing. Journal of Education and Human Development, 3(2), 847-869. Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Mahsun. 2014. Teks dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Rahardi, K. (2010). Teknik-Teknik Pengembangan Paragraf Karya Tulis Ilmiah. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya. Rosa, T. H. (2015). Ketika Mas Gagah Pergi. Depok. Asma Nadia Publishing House. Rostami, G., & Gholami, H. (2016). A Contrastive Study of Lexical Cohesion Used in Sport Texts of Washington Times and Tehran Times Newspapers Written by English Native and Iranian Non-native Writers. Journal of Applied Linguistics and Language Research, 3(1), 121-132. Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 174 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 8 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Effendi, S. (2015). Bimbingan Apresiasi Piosa Naratif Cerita Pendek. Tangerang: Pustaka Mandiri. Sudaryanto. (1993). Metode dan Aneka teknik Pengumpulan Data. Yogyakarta: UGM Press. Tarigan, H. G. (1987). Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa. Wiyanti, E. (2016). Kajian Kohesi Gramatikal Substitusi Dan Elipsis Dalam Novel “Laskar Pelangi” Karya Andrea Hirata. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra UPI, 16(2), 188-202. Zaimar, O. S. K., & Ayu Basoeki Harahap. (2009). Telaah Wacana. Jakarta: The Intercultural Institute. Kohesi Gramatikal Konjungsi dalam Karya Sastra dan Implikasinya … Asep Muhyidin DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 175 https://doi.org/10.26714/lensa.8.2.2018.161-175 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa METODE Analisis puisi karya Tere Liye dengan model atau pendekatan sosiologi sastra memaknai puisi ini dengan mengaitkan kehidupan masyarakat dalam memahami cinta, perasaan, dan kasih sayang sehingga terdapat pembelajaran moral untuk kehidupan masyarakat. Sosiologi sastra lebih memperoleh tempat dalam penelitian sastra karena sumber-sumber yang dijadikan acuan mencari keterkaitan antara permasalahan dalam karya sastra dengan permasalahan dengan masyarakat lebih mudah diperoleh. Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa kumpulan puisi atau sajak tere liye memaknai tentang cinta, perasaan, rahasia, kebencian, jodoh, kesedihan dan sakit hati. Hal tersebut dapat disebut sebagai kesimpulan dari kumpulan puisi ini. Kemudian telah dijelaskan pula aktifitas benda mati, dalam puisi tersebut sajak remote sifat on dan off yaitu seperti perasaan manusia dapat tumbuh dapat mati, mungkin pembaca atau masyarakat terhibur dengan membaca puisi ini. DAFTAR PUSTAKA REFERENCES 17 59 8 3 4 1 1 2 3 98 DAFTAR PUSTAKA