Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 46 Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Transitive Verb and Deletable Object in Karo Language Sura Isnainy br Sembiring1, Mulyadi Universitas Sumatera Utara 1suraisnainysembiring@students.usu.ac.id Riwayat Artikel: Dikirim 6 Oktober 2018; Diterima 27 Juni 2019; Diterbitkan 30 Juni 2019 ABSTRAK Penelitian ini berfokus kepada objek dapat lesap di dalam verba transitif bahasa Karo yang dianalisis dengan cara menganalisis kalimat atau klausa yang ber-objek dapat lesap yang terjadi dikarenakan objek sudah di tulis dalam konteks sebelumnya, dan verba transitif yang menyatakan perasaan yang berafiks me-ken dengan berbentuk dasar adjektiva/ keadaan, verba subtipe pertama memiliki ciri dapat disertai O dan dapat dipasifkan. Pengumpulan data melalui metode tahap pengumpulan data, analisis data, dan generalisasi secara induktif. Data yang didapat dianalisis menggunakan teknik lesap menurut Sudaryanto. Temuan menunjukkan verba transitif dalam bahasa karo berafiks er-, me-, er-ken, me-kan, memper-I, dan fungsi O dituntut hadir dalam klausa yang fungsi P-nya di isi oleh verba polimorfemik dan di bahasa Karo tidak semua verba berprefiks adanya suatu peluluhan, ataupun pelesapan morfemis. Kata kunci: verba transitif, objek dapat lesap, bahasa Karo ABSTRACT This research focuses on objects that can be absorbed in the transitive verbs of Karo language analyzed by analyzing sentences or clauses that have objects that can occur due to objects that have been written in the previous context, and transitive verbs that express feelings that are me-ken with form base of adjectives / states, the first subtype verb has a characteristic can be accompanied by O and can be passivated. Data collection through the method of data collection, data analysis, and inductive generalization. The data obtained were analyzed using removal techniques according to Sudaryanto. The findings show that the transitive verbs in karo language have er-, m, er-ken, me-me, make-I, and O functions are required to be present in clauses whose P functions are filled with polymorphic verbs and not all verbs in Karo reflex the presence of an elimination, or the morphemic removal. Keywords: transitive verbs, removable object, Karo language http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 mailto:suraisnainysembiring@students.usu.ac.id Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 47 PENDAHULUAN Verba adalah kategori yang dominan berfungsi sebagai Predikat (P) dalam klausa. Di dalam klausa, fungsi P itu merupakan pusat struktur fungsional klausa (Verhaar, 1981). Fungsi P itu mempunyai peranan atau kedudukan yang melebihi fungsi (-fungsi) sintaktis yang lain karena selalu hadir di dalam klausa dan keselaluhadirannya itu menentukan pemunculan fungsi(-fungsi) sintaktis yang lain. Misalnya, subjek (S) berhubungan langsung dengan P, tetapi dengan objek (O) atau keterangan (K) hanya tak langsung, yaitu melalui P klausa (lih. Verhaar, 1981).Verba dapat dipilah menjadi dua jenis, yaitu verba transitif dan verba intransitive. Perbedaan antar kedua jenis verba itu terletak pada fungsi Objek (O). Verba transitif adalah verba yang didampingi oleh fungsi O, sedangkan verba yang menghindari fungsi O disebut verba intransitive. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua verba transitif yang mengisi fungsi P didampingi oleh fungsi O secara wajib. Dalam klausa Aku sangana ngoge ‘Saya sedang membaca buku’ misalnya, fungsi O (ngoge) tidak harus hadir. Fungsi O itu dapat di lesapkan tanpa merusak keberterimaan klausa sisanya: Aku sangana ngoge. Persoalannya adalah verba transitif manakah yang fungsi O pendampingnya dapat lesap? Persoalan itulah yang dibahas dalam makalah ini. Bahasa Karo adalah bahasa yang digunakan oleh suku Karo yang mendiami Dataran Tinggi Karo (Kabupaten Karo), Langkat, Deli Serdang, Dairi, Medan, hingga ke Aceh Tenggara di Indonesia. Bahasa Karo secara historis ditulis menggunakan aksara Karo atau sering juga disebut Surat Aru/Haru yang merupakan turunan dari aksara Brahmi dari India kuno namun kini hanya sejumlah kecil orang Karo dapat menulis atau memahami aksara Karo, dan sebaliknya aksara Latin yang digunakan. Jumlah penutur Bahasa Karo sekitar 600.000 orang pada tahun 1991. Kategori dalam kalimat, kategori sintaksis adalah apa yang sering disebut “kelas kata”, seperti nomina, verba, adjektiva, adverbial, preposisi, dan lain sebagainya (Verhaar, 1995). Kategori sintaksis berkenaan dengan istilah nomina (N), verba (V), adjektifa (Adj), adverbial (Adv), numeralia (Num), preposisi (Prep), Konjungsi (Konj), dan pronominal (Pron). Peran dalam Kalimat, Alwi (2003) menyatakan bahwa pada dasarnya tiap kalimat memerikan suatu peristiwa atau keadaan yang melibatkan satu peserta atau lebih, dengan peran semantis yang berbeda-beda sehingga dikenal peran semantis pelaku, sasaran, peruntung, pengalam, dan atribut selain itu juga adanya peran keterangan. Ada dua hal yang dibahas, yaitu seluk-beluk verba yang bila mengisi fungsi P menuntut hadirnya fungsi O dan fungsi O dapat lesap (deletable object) dalam bahasa Karo. Kedua hal ini merupakan masalah sintaksis struktural, suatu kancah yang berabad-abad lamanya menjadi limpahan pengamatan di dalam dunia linguistic (Kaswati Purwo dan Anton, 1985). Dalam penelitian http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 48 ini penulis ingin lebih mendalami konstituen O yang melengkapi verba transitif dalam klausa bahasa Karo yang dapat lesap. Verba intransitif ini oleh Alwi dkk diperkenalkan dengan nama verba taktransitif. Verba ini oleh Alwi dkk didefinisikan sebagai verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Matthews. Menurutnya, intransitif merupakan satu kontruksi dimana verba hanya berhubungan dengan satu nomina atau yang setara dengannya. Jadi, lebih lanjut menurut Matthew, verba intrasitif adalah satu verba yang mengambil peran dalam kontruksi itu. Penelitian mengenai Verba transitif sendiri telah banyak digunakan, misalnya pada kasus perbandingan verba transitif dan intransitf bahasa Indonesia dan bahasa Jepang: Tinjauan analisis konstratif (Diana Kartika, 2010) yang menyatakan dalam bahasa Jepang verba transitif dan intransitif memiliki akhiran sebagai penanda masing-masing verba. Juga Verba transitif dan Objek dapat lesap dalam bahasa Indonesia (Tri Masyoto, 2010) yang menyatakan bahwa fungsi P menuntut hadirnya fungsi O dan fungsi O dapat lesap (deletable object) dalam bahasa Indonesia. Verba transitif dan intransitif dalam bahasa Arab yaitu kelas kata yang terbagi atas 3 yaitu: (1) ism ‘nomina’ yang terdiri atas ism nakirah ‘nomina tak takrif’ dan ism ma’rifat ‘nomina takrif’; (2) fi’il ‘verba’ yang terdiri atas: (a) fi’il madhi ‘verba bentuk lampau’, fi’il mudhari ‘verba bentuk kini dan mendatang’, fi’il amr (imperatif); (b) fi’il lazim (verba intransitif), fi’il muta’addi (verba transitif); (3) harf ‘partikel’ (Adas dan Al- Dawalk, 1984). Ratih Parananingsih (2009) dalam penelitiannya yang berjudul Verba Bervalensi Dua dalam kalimat Bahasa Jawa (Kajian Struktur dan Makna). Penelitian mengenai verba bervalensi dua dalam kalimat bahasa Jawa yang dengan tinjauan secara deskriptif. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Parananiningsih (2009). Pada penelitian tersebut membahas verba bervalensi dua merupakan jenis verba aktif transitif secara morfologi. Sedangkan dalam penelitian ini menfokuskan pada verba transitif secara sintaksis. Berdasarkan data dalam Novel Merah Putih: Novel Reportase Timnas U-19 karya Rudi Gunawan, bentuk-bentuk verba aktif transitif terdiri dari verba ekatransitif verba dwitransitif, dan verba semitransitif. Ermanto dan Emidar (2011) telah melakukan penelitian yang berjudul Afiks Derivasi Per-/-An dalam Bahasa Indonesia: Tinjauan dari Perspektif Morfologi Derivasi dan Infleksi. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa ditinjau dari perspektif morfologi derivasi dan infleksi, pengimbuhan afiks derivasi per-/-an pada verba (baik verba dasar maupun verba turunan) dan pada nomina dapat 4 menurunkan (1) nomina perbuatan seperti perjalanan, perbuatan, perkemahan, perlarian, (2) nomina tindakan seperti perlawanan, permintaan, percobaan, perkiraan, (3) nomina instrumen tindakan seperti peraturan, (4) nomina instrumen perbuatan seperti perhiasan, perusahaan, (5) nomina lokatif perbuatan seperti perguruan, pemandian, pelabuhan, (6) nomina proses seperti perkembangan, pertumbuhan, perpecahan, pertambahan, perubahan, (7) nomina kolektif http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 49 seperti pegunungan, pepohonan, perkebunan, perbatasan, perkampungan, (8) nomina abstrak seperti perbankan, perorangan, persoalan, percontohan, perekonomian. Bentuk – bentuk diatas cukup menarik untuk dikaji lebih mendalam. Karena sepengetahuan penulis, kajian tentang verba intransitif ber Objek dapat lesap di dalam bahasa Karo belum ada yang melakukannya secara mendalam. Dengan begitu, penulis memberanikan diri untuk mengkaji bentuk inkorporasi pelesapan verba didalam bahasa Karo. Verba Intransitif dan Verba Transitif Verba adalah kategori yang dominan berfungsi sebagai Predikat (P) dalam klausa. Di dalam klausa, fungsi P itu merupakan pusat struktur fungsional klausa (Verhaar, 1981). Fungsi P itu mempunyai peranan atau kedudukan yang melebihi fungsi-fungsi sintaksis yang lain karena selalu hadir di dalam klausa dan keselaluhadirannya itu menentukan pemunculan fungsi- fungsi sintaksis yang lain. Misalnya, Subjek (S) berhubungan langsung dengan P, tetapi dengan objek (O) atau keterangan (K) hanya tak langsung, yaitu melalui P klausa (lih. Verhaar, 1981). Kalimat verba transitif perlu dipahami unsur fungsional kalimat pada objek dan pelengkap. Ciri-ciri objek bersifat wajib dalam susunan kalimat yang berpredikat verba aktif transitif MeN baik dengan sufiks –kan atau –I maupun tidak yang dapat dipasifkan menjadi pasif di-. Misalnya pada kalimat Boby ningkih flashdisk Li-el ‘Boby meminjam flashdisk Li-el’ verba aktif transitif meminjam hadirnya (objek) O yaitu flashdisk Li-el. Selain itu, verba aktif transitif tersebut dapat dipasifkan menjadi pasif di-, kata ningkih ‘meminjam’ berubah menjadi iningkih ‘dipinjam’. Objek dalam kalimat yang predikatnya (P) berkategori verba aktif transitif akan berubah menjadi S dalam kalimat pasif, sehingga kalimat menjadi Flashdisk Li-el iningkihi ‘dipinjam’ Bobby. Oleh karena itu yang menjadi dasar pembentuk kalimat aktif adalah verba transitif (Siminto 2006). Verba bersifat sentral di dalam klausa, artinya semua konstituen ataupun semua partikel yang lain dianalisis dalam hubungannya dengan verba (Cook, 1989). Sentral yang dimaksudkan dalam arti verbalah yang pertama- tama menentukan adanya berbagai struktur konstruksi dalam bahasa yang bersangkutan beserta perubahannya (Sudaryanto, 1983). Selaras dengan Chafe (1970; Kaswanti Purwo, 1989; Cook, 1979), verba itu menentukan kategori nomina yaitu (1) apa yang mendampinginya, hubungan apa nomina itu dengannya, dan bagaimana nomina itu ditetapkan secara sintaksis. Verba itulah yang merupakan penentu adanya pendamping tertentu di dalam klausa dan bersama dengan verba itu membentuk klausa yang bersangkutan (lih. Sudaryanto dkk., 1991). http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 50 Greenbaum (2002) “if a mainverb requires a direct object to complete the sentence, it’s a transitive verb”. Jika sebuah verba membutuhkan objek untuk melengkapi kalimat maka verba itu adalah verba transitif. Contohnya seperti pada kalimat ini Helen menerima emailku verba pada kalimat diatas membutuhkan objek emailku sebagai pelengkap karena tanpa pelengkap tersebut kalimat akan menjadi tidak gramatikal. Bila dilihat dari banyaknya argument, yaitu konstituen yang bersama- sama verba membentuk klausa (bdk. Kridalaksana, 2008), verba dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu verba intransitif dan verba transitif. Verba intransitif adalah verba yang tidak membutuhkan fungsi O dan dalam bahasa Indonesia, verba intransitif itu, secara morfemis, berupa verba dasar di dalam bahasa karo (misalnya nangking ‘naik’, gedap ‘tenggelam’, mulgap ‘timbul’) verba berafiks ter- di dalam bahasa karo (misalnya cirem‘tersenyum’, kuinget ‘teringat’, tawa ‘tertawa) dan verba berafiks ke-an di dalam bahasa karo (misalnya lumben ‘kelaparan’, terteh ‘ketahuan’). Dalam membentuk klausa, meskipun tidak memerlukan O, diantara verba intransitif ada yang menghadirkan fungsi pelengkap (PI) secara wajib, ada yang tidak menghadirkan PI, dan ada yang menghadirkan PI secara manasuka. Berikut ini adalah contoh verba intransitif dalam Bahasa Karo dari ketiga subkategori itu menurut Alwi, dkk. 1. Verba intransitif yang ber-PI wajib di dalam Bahasa Karo a. Tertarumken ‘beratapkan’ Ngataken ‘berkata (bahwa)’ Idabuhi ‘kejatuhan’ b. Erdandan ‘berdasarkan’ Erkeniteken ‘berpandangan (bahwa)’ Kebenen ‘kehilangan c. Eralasken ‘berlandaskan’ Ertenah ‘berpesan (bahwa)’ 2. Verba Intransitif yang tak ber-PI di dalam Bahasa Karo a. Cinder ‘berdiri’ Eratahna ‘menghijau’ Kundul ‘duduk’ b. Kiam ‘berlari’ Gedap ‘tenggelam’ Lumben ‘kelaparan’ c. Madan ‘membaik’ Sengget ‘terkejut’ Terangen ‘kesiangan’ d. Erkelekna ‘memburuk’ Tertokoh ‘terkicuh’ Bergehen ‘kedinginan’ e. Macik ‘membusuk’ Mulgap ‘Timbul’ Keberngin ‘kemalaman’ Itulah beberapa contoh dari Verba intransitive yang ber-PI wajib dan yang tak ber-PI di dalam bahasa Karo. Verba transitif adalah verba yang memerlukan fungsi O (Kridalaksana, 1985). Berdasarkan jumlah argumen yang hadir dalam pembentukan klausa, verba transitif itu membentuk klausa, verba monostratif dan verba dwitransitif. Dalam membentuk klausa, verba monostratif menghadirkan dua argumen. Yang dimaksud verba monostratif adalah http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 51 transitive verb yang hanya diikuti oleh satu objek yaitu “direct object”. Contoh monotransitif verb di dalam bahasa Karo adalah inem ‘minum’, man ‘makan’, dengkeh ‘mendengar’, ngoge ‘membaca’, nin ‘melihat’, dan lain lain. Contoh kalimat monostratif verb di dalam bahasa Karo adalah: a. Nggo ku dengkeh beritana. ‘Sudah ku dengar beritanya.’ b. Uga maka tehndu nanem bunga mawar ndai? ‘Apakah kamu tahu bagaimana menanam bunga mawar?’ Verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat di ikuti oleh dua nomina sebagai objek, satu fungsi sebagai objek, satu fungsi sebagai pelengkap, Alwi (2003). Verba dwitransitif merupakan salah satu subjenis verba transitif. Verba ini dalam kalimat membutuhkan kehadiran tiga argumen. Satu argumen terletak di depan yang menduduki fungsi subjek. Kedua argumen lainnya terletak di belakangnya yang secara fungsional berupa objek dan pelengkap. Fungsi objek dapat berubah menjadi subjek dalam kalimat pasif, sedangkan pelengkap tidak dapat. Kategori pengisi fungsi objek berupa nomina, sedangkan pelengkap dapat berkategori selain nomina. Objek berada langsung di belakang verba dwitransitif tanpa preposisi. Akan tetapi, pelengkap yang berada di belakang verba semitransitif atau dwitransitif dapat didahului oleh preposisi. Contoh di dalam Bahasa Karo sebagai berikut: a. Bapaku erlanja galoh juma nari. ‘Ayahku memikul pisang dari ladang.’ b. Kakakku ermuat niniku kapur sirih. ‘Kakakku mengambilkan nenek kapur sirih.’ c. Mama erdarami kakak dahin. ‘Pamanku mencarikan kakak pekerjaan.’ d. Nande ernukur bapak inemen. ‘Ibu membelikan ayah minuman.’ Di dalam Bahasa karo tidak ditemukan yang namanya imbuhan “me- kan” namun di dalam Bahasa karo menggunakan imbuhan “er”. Di dalam Bahasa Karo ketika imbuhan er- berjumpa dengan kata verba berubah menjadi menyatakan hal melakukan sesuatu tetapi tidak semua bahasa karo adanya pelesapan atau pun perubahan dan peluluhan morfemis. Erlanja ‘memikul’, ernukur ‘membelikan’, ermuat ‘mengambilkan’, erdarami ‘mengambilkan’ diatas adalah verba dwitransitif, karena membutuhkan adanya objek yaitu ayah, kakak, paman, dan ibu pada kalimat terakhir serta membutuhkan pelengkap yaitu nari ‘ladang’, kapur sirih, dahin ‘pekerjaan’, inemen ‘minuman’. Dalam bahasa karo, kedua dari verba berjenis verba transitif itu secara morfemis berupa morfem yang berafiks er- ‘me-‘, (erlanja ‘memikul’, ermuat ‘mengambilkan’, erbahas ‘membahas’), berafiks er-ken ‘me-kan’ (misalnya http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 52 erkerjaken ‘mengerjakan’, erbanken ‘membuatkan’) berafiks memper-ken ‘memper-kan’ (misalnya mempersoalken ‘mempersoalkan’, memperebuten ‘memperebutkan’), berafiks er - I ‘me - I’ (misalnya erpengaruhi ‘mempengaruhi’, ergurui ‘mengajari), dan berafiks er – i ‘memper-i’ (misalnya erkenai ‘memperbaiki’, erpengarohi ‘mempengaruhi’). METODE Dalam mengkaji atau menulis data penulis menggunakan teknik lesap (Sudaryanto, 2018). Dalam hal ini, data yang terkumpul dihilangkan atau dilesapkan unsur satuan lingual dari data itu sendiri. Satu hal yang perlu diperhatikan: unsur mana pun yang dilesapkan, merupakan unsur yang menjadi pokok perhatian di dalam analisis ini. Setelah dilakukannya pelesapan terhadap unsur satuan linguistic kita dapat melihat kasus-kasus objek yang dapat lesap di dalam verba transitif. Sejumlah data yang terkumpul akan diklasifikasikan sesuai kategori yang telah ditentukan serta dilakukan analisis terhadap data tersebut. Kemudian akan diperoleh suatu generalisasi secara induktif dari hasil analisis data-data mengenai verba yang di dalam bahasa Karo. Selanjutnya, langkah konkret dalam melaksanakan penelitian ini, penulis akan menempuh langkah- langkah sebagai berikut: Tahap 1: Pengumpulan Data Tahap pertama merupakan tahap pengumpulan data yang bisa dijadikan sebagai bahan analisis peneliti serta representatif untuk dikaji dalam penelitian ini. Data tersebut diperoleh dari buku-buku tradisi karo, kamus Indonesia - Karo atau Karo - Indonesia, dan internet serta dari hasil penelitian sebelumnya yang masih bisa digunakan dan menunjang dalam penelitian ini. Tahap 2: Analisis Data Setelah data penelitian terhimpun, penulis melanjutkan langkah – langkah berikutnya, yaitu: pemilihan data yang terkumpul dari berbagai sumber data untuk verba transitif dalam bahasa Karo. Kemudian, hasil dari pemilahan, data yang dianggap bisa dijadikan bahan untuk penelitian akan dianalisis berdasarkan verba transitif dalam bahasa Karo. Tahap 3: Generalisasi Secara Induktif Tahap ketiga merupakan langkah terakhir dalam penelitian ini, sehingga hasil analisis akan diambil kesimpulan secara induktif mengenai verba transitif dalam bahasa Karo yang dilihat secara sintaksis. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 53 Penelitian ini menggunakan data yang bersifat kualitatif. Datanya berupa bentuk kata dan bukan data berupa angka-angka. Semua data dikelompokkan atas kesamaan bukti dan maknanya. Selanjutnya, ciri fonetis dan ciri sintaksis diidentifikasi. Konteks objek juga dicermati untuk menafsirkan manakah yang ber objek dapat lesap. Semua prosedur ini bertujuan untuk memperoleh gambaran, temuan, dan simpulan yang terperinci tentang objek dapat lesap. Hasil analisis data disajikan secara informal dan formal untuk menganalisis tipe-tipe objek dapat lesap dalam Bahasa Karo dilakukan langkah-langkah: mencari data dari penutur asli dan melihat data-data dari kamus karo, mengidentifikasi jenis verba yang terdapat dalam bahasa Karo. HASIL DAN PEMBAHASAN Verba Transitif Ber-O Dapat Lesap O termasuk ke dalam valensi verba transitif (bdk. Cook, 1979). Oleh karena itu, O merupakan fungsi inti (nuclear functions) dalam klausa aktif yang fungsi P-nya berupa verba transitif. O itu dituntut hadir dalam klausa aktif yang fungsi P nya berupa verba transitif (lih. Alwi dkk., 1993). O adalah konstituen yang melengkapi verba transitif dalam klausa (lih. Kridalaksana, 2008). O memiliki empat ciri, yaitu (a) berwujud nomina, frasa nominal, atau klausa; (b) berada langsung dibelakang P, (c) dapat menjadi fungsi S akibat pemasifan klausa, dan (d) dapat diganti pronominal terikat – nya (Alwi dkk., 1993; Sudaryanto, 1983). Contoh O itu adalah konstituen mbau khas silaterbeneken ibas waloh tahun ‘Bau khas yang barangkali tak terhapus dalam sewindu’ dan sada barang si itutupi denga alu dagangen ‘Sebuah benda yang masih tertutup oleh kain putih’ dalam klausa (1) dan (2) berikut: 1. Aku anggeh mbau khas silaterbeneken ibas waloh tahun. ‘Bau khas yang barangkali tak terhapus dalam sewindu’ 2. Bapa ngangsurken sada barang si itutupi denga alu dagangen. ‘Sebuah benda yang masih tertutup oleh kain putih’ O biasanya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu O langsung (OL) dan O tak langsung (OTL) (lih. Misalnya dalam Kaswanti Purwo dan Anton, 1985; dan Kridalaksana dkk). OL adalah nomina atau frasa nominal yang melengkapi verba transitif yang dikenai oleh perbuatan P verbal atau yang ditimbulkan sebagai hasil perbuatan yang terdapat dalam P verbal (Kridalaksana, 2002). OTL itu mengacu kepada entitas yang menderita aktivitas atau proses yang dinyatakan oleh verba pengisi fungsi P (Aarts, 1997). Contoh OL itu adalah konstituen anakna sintua ‘anaknya yang paling http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 54 tua’ di nomor 17 dan OL di dalam konstituen nomor 18 adalah nandena ‘ibunya’ dalam klausa berikut: 3. Tuan laem ngelebuh anakna sintua ‘tuan laem memanggil anak sulungnya’ 4. Bapana rubat ras nandena ‘Bapaknya berantam dengan ibunya’ Kridalaksana dkk. (1985; 2002), membedakan OL menjadi dua jenis yaitu OL afektif dan OL efektif. OL afektif adalah OL yang dikenai oleh perbuatan yang terdapat dalam P verbal, tetapi tidak merupakan hasil perbuatan itu. Contohnya adalah konstituen buku dan lau belin ‘sungai’ dalam klausa tersebut: 5. Kalakah ngoge buku ‘Mereka membaca buku’ 6. Nande nande ah mengoge lau ‘ibu-ibu menguras air’ 7. Anak-anak ngepari lau belin ‘Anak-anak menyebrangi sungai’. OL afektif adalah OL yang ditimbulkan sebagai hasil perbuatan yang terdapat dalam P verbal. Contoh OL efektif adalah konstituen rumah dan nakan ’nasi’ dalam klausa berikut: 8. Kalakah majekken rumah ‘mereka membangun rumah’ 9. Nande erdakan nakan ‘ibu memasak nasi’ OTL adalah nomina atau frasa nominal yang menyertai verba transitif dan menjadi penerima atau diuntungkan oleh perbuatan yang terdapat dalam P verbal (Kridalaksana dkk., 1985). Contoh OTL itu adalah konstituen baju dalam klausa b erikut: 10. Nande erban bajuku ‘ibu membuatkan bajuku’ Untuk menyebut OL dan OTL, Ramlan (1987) menggunakan istilah O1 dan O2 . Ciri fungsi O1 adalah (a) selalu terletak dibelakang P yang terdiri atas kata verbal transitif dan (b) menduduki fungsi S dalam klausa pasif. Sementara itu, O2 mempunyai persamaan dengan O1, yaitu terletak dibelakang P, tetapi kalau klausanya dirubah menjadi klausa pasif, O2 selalu terletak di belakang P sebagai pelengkap (PI). Contohnya di dalam bahasa Karo sebagai berikut: 11. Pak Sastronukuranak ahbaju mbaru ‘pak sastro membelikan anak itu baju baru’ S P O1 O2 23a. Anak ahitukurkenbaju mbaruras Pak Sastro ‘anak itu dibelikan baju baru oleh Pak Sastro’ S P PI K Dalam Alwi dkk. (1993), OTL atau O2 yaitu konstituen baju mbaru (dalam contoh 23) baik dalam klausa aktif maupun pasif, disebut PI karena http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 55 dalam kedua jenis klausa itu selalu berada langsung dibelakang fungsi P jika tidak ada fungsi O dan di belakang fungsi O kalau fungsi O itu hadir. Samsuri (1985) menggunakan istilah O dan bekas O (object chomeur) untuk menyebut OL dan OTL. Ihwal kedua O itu. Samsuri menyajikan contoh berikut: 12. A. Ahmad itukurken Dullah sada kambing ‘Ahmad membelikan Dullah seekor kambing’ B. Nande ngorengken bapa kerupuk udang ‘Ibu menggorengkan ayah kerupuk udang’ Menurut Samsuri, frasa nominal Dullah dan bapa tersebut merupakan fungsi O, sedangkan frasa nominal sada kambing dan kerupuk udang merupakan bekas O. Alasan Samsuri adalah kedua frasa nominal pertama dapat ditopikalisasikan (lihat 24A), sedangkan dua yang lain tidak dapat ditipikalisasikan (lihat 24B). Berikut contoh dari frasa nominal yang disebutkan diatas: 24a. A1. Dullah itukurken sada kambing ras Ahmad. ‘Dullah dibelikan seekor kambing oleh Ahmad’. A2. Dullah itukurken (ras) Ahmad sada kambing. ‘Dullah dibelikan (oleh) Ahmad seekor kambing’. B1. Bapa igorengken kerupuk udang ras nande. ‘Ayah digorengkan kerupuk udang oleh ibu’. B2. Bapa igorengken (ras) nande kerupuk udang. ‘Ayah digorengkan (oleh) ibu kerupuk udang’. 24b. A1. *Sada kambing itukurken Ahmad Dullah. ‘Seekor kambing dibelikan Ahmad Dullah’ A2. *Kerupuk udang igorengken (ras) Nande Bapa. ‘Kerupuk udang digoreng (oleh) ibu ayah’. Sudaryanto (1983) membelikan fungsi O dari semi O (SmO). O adalah fungsi sintaksis yang (a) kecuali diisi oleh nomina, juga oleh klitik -nya, (b) merupakan fungsi peserta bagi fungsi P yang diisi verba polimorfemis berafiks meN-, dan (c) pengisinya dapat mengisi fungsi S dalam parafrasa pasifnya (Sudaryanto, 1983). Fungsi O dituntut hadir dalam klausa yang fungsi P-nya diisii oleh verba polimorfemik meN-, memper-, meN-kan, meN-I, memper-kan, memper-i. Contohnya sebagai berikut: 13. P O (a) Nggunting ‘menggunting’ kertas (b) Iperalat ‘memperalat’ agi tirina ‘adik tirinya’ (c) engkanam-kanami ‘memperolok-olok’ kanduna ‘temannya’ (d) Nuriken ‘menggambarkan’ kejadian e ‘kejadian itu’ (e) Erdayan ukur ‘memperjual-belikan’ barang-barang si nggo pake ‘barang bekas’ http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 56 (f) Ndalani ‘menyusuri’ pante ‘pantai’ (g) Ngubah ‘memperbaiki’ perbahanen ‘kelakuan’ (h) perbiar-biar ‘mempertakut-takuti) saya SmO adalah fungsi peserta bagi P yang hanya memiliki salah satu ciri O (walaupun hanya dapat berupa morfem -nya yang anaforis, entah hanya dapat mengisi fungsi S dalam kalimat lain dengan informasi yang sama), padahal verba pengisi fungsi P-nya memiliki ciri yang sama pula (berafiks meN-) (Sudaryanto, 1983). Fungsi SmO merupakan fungsi pendamping P yang pengisinya berupa verba polimorfemis yang selalu menyertakan afiks -i atau -kan dengan akar atau dasar yang tidak direduplikasikan. Contohnya sebagai berikut: 14. P SmO (a) Seri ‘menyerupai’ bapa ‘ayah’ (b) Lebihen ‘melebihi’ Ali (c) Puas ‘memuaskan’ ukur ku ‘hati saya’ OL dan OTL hadir dalam klausa yang mengandung verba yang bervalensi tiga (Kaswanti Purwo, 1985). Klausa itu sering pula dilabeli klausa ganda (Suhandono, 1997; Kaswanti Purwo, 1985). Di dalam teori sintaksis Verhaar (1981), tidak ada pengertian “objek ganda”; hanya ada satu O saja: konstituen manakah di dalam klausa aktif yang dapat dijadikan S di dalam klausa pasif itulah yang menduduki fungsi O (lih. Kaswanti Purwo dan Anton, 1985). Selaras dengan pandangan verhaar itu, dalam tulisan ini pun hanya diakui adanya satu jenis fungsi O. Fungsi lain yang perilakunya mirip dengan fungsi O ini disebut pelengkap (PI) (lih. Alwi dkk., 1993). Telah disebutkan bahwa verba transitif adalah verba yang memerlukan O. Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua verba transitif memerlukan O dan dari hasil penelusuran diketahui bahwa dalam bahasa Karo terdapat sejumlah verba transitif yang jika dalam membentuk klausa tidak memerlukan O secara wajib. Hal terakhir itu terjadi karena dua alasan, alasan yang pertama adalah O sudah disebut konteks sebelumnya. Contohnya di dalam bahasa Karo sebagai berikut: 15. Bapa kubas ras nipak kursi ikunduli Roby. Roby sengget, medak, ras ndatken tan bapa si megegeh muter cuping kemuhenna. Alu kasar bapa ngerintak ia ku kempak sumur, ras suruhen bapa la perlu ikataken nari. Roby muat lau wudhu ras janah merudu sholat ashar. Kedung kenca sholat ashar, bapa nggo nimai  I meja man. ‘Bapak masuk dan menendang kursi yang diduduki Roby. Roby terkejut, terjaga, dan mendapati tangan kekar bapak memuntir daun telinga kanan nya. Dengan kasar bapak menyeretnya kea rah sumur, dan kemudian perintah bapak tidak perlu dikatakan lagi. Roby mengambil air wudhu dan bergegas sholat ashar. Sehabis sholat ashar, bapak sudah menunggu  di meja makan. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 57 16. Adi bapa si Egi mentas ara lebe rumah, nande mia nungkir  ibas pudi pintu nari. ‘Kalau bapaknya Egi lewat depan rumah, Ibu mia mengintip  dari belakang pintu. Dalam kedua kutipan tersebut O, yang seharusnya diisi Roby (dalam 27) dan bapana Egi (dalam 28) tidak hadir meskipun verba pengisi P, yaitu nimai (dalam 27) dan nungkir adalah verba transitif. Ketidakhadirannya O tersebut, yang dilambangkan zero (), terjadi karena kedua O tersebut telah disebut dalam kalimat atau klausa sebelumnya konstituen yang dimaksud tidak berfungsi sebagai O, tetapi S). Alasan kedua adalah verba transitif yang memerlukan kehadiran O bertipe tertentu. Dalam bahasa Inggris, menurut Lehrer (1970), ada empat tipe verba yang O-nya dapat dilesapkan (deletable objects) yaitu verba tipe 1 (misalnya drive ‘menyetir’, drink ‘minum’) tipe II (misalnya act ‘main’, compose ‘mengarang’), tipe III (misalnya call ‘memanggil’, refuse ‘menolak), dan tipe IV (misalnya attack ‘menyerang’, pull ‘menarik’) di dalam bahasa Karo juga terdapat verba transitif seperti yang ditunjukkan Lehrer oleh tetapi jenis dan cirinya berbeda. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa dalam bahasa Karo terdapat dua jenis verba transitif yang tak membutuhkan O secara wajib sehingga O itu dapat dilesapkan. Verba transitif tipe pertama, yang dalam Lehrer termasuk dalam verba transitif tipe I dan II adalah verba transitif yang menyatakan kekhasan O. O yang dituntut hadir dalam verba tipe ini khas sehingga tanpa dihadirkan pun sudah dapat dipahami. Verba transirif yang dimaksud adalah sebagai berikut: 17. Verba Transitif O dapat lesap a. Mupus ‘melahirkan’ Anak b. Nangkul ‘mencangkul’ Taneh ‘tanah’ c. Nangger ‘memasak’ Gulen ‘sayur’ d. Nupiri ‘menyopir’ Motor ‘mobil’ e. Jarumi ‘menjahit’ Naptopi ‘pakaian’ f. Ngoge ‘membaca’ Turin-turin ‘cerpen’ g. Erban turin-turin ‘mengarang’ Turin-turin ‘cerpen’ h. Ngosok ‘menggosok’ Naptopi ‘pakaian’ Verba transitif tipe kedua adalah verba transitif yang menyatakan perasaan (bdk Charlie, 2007). Verba transitif ini berafiks me-kan dengan bentuk dasar berbentuk adjectiva atau verba keadaan, verba transitif jenis ini terdiri atas dua subtype yaitu Verba subtype pertama memiliki ciri: dapat disertai O dan dapat dipasifkan. Berikut contohnya di dalam bahasa Karo: 18. Verba Transitif O dapat Lesap a. Erban tek ‘meyakinkan’ Jelma ‘orang b. Ndele ‘mengkhawatirkan’ Ita ‘kita’ c. Nenggeti ‘mengejutkan’ Aku ‘saya’ http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 58 d. Meriahken ukur ‘memuaskan’ Ukur sinterem ‘semua pihak’ e. Ercengkal ‘merepotkan’ Ita ‘kita’ http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 59 Ciri verba suptipe ketiga adalah dapat disertai O, tetapi tidak dapat dipastikan. Contohnya di dalam bahasa Karo sebagai berikut: 19. Verba transitif O dapat Lesap a. Erbanmenah ukur ‘membahagiakan’ Jelma ‘orang’ b. Mberat ‘membahayakan’ Ita ‘kita’ c. Idah ‘membingungkan’ Aku ‘saya’ d. Medu ‘membosankan’ Kami e. Latek ‘mencurigakan’ Ita ‘kita’ f. Megamang ‘menggelikan’ Aku ‘saya’ g. Meriah ‘menggembirakan’ Aku ‘saya’ h. Megogo ‘mengharukan’ Ita ‘kita’ i. Mamang ‘mengherankan’ Aku ‘saya’ j. Medu ‘menjemukan’ Aku ‘saya’ k. Segat ‘menjengkelkan’ Aku ‘saya’ l. Ciga ‘menjijikkan’ Aku ‘saya’ m. Megah ‘mengagumkan’ Aku ‘saya’ n. Salang ‘melegakan’ Ukur sinterem ‘semua pihak’ o. Latih ‘melelahkan’ Aku ‘saya’ p. Ilatihken ‘meletihkan’ Aku ‘saya’ q. Mela ‘memalukan’ Aku ‘saya’ r. Imbiaren ‘mengerikan’ Aku ‘saya’ s. Lesek ate ‘memprihatinkan’ Ita ‘kita’ t. Erban mesui ‘menyakitkan’ Pusuh ‘hati’ u. Ceda ‘menyedihkan’ Aku ‘saya’ v. Meriah ukur ‘menyenangkan’ Aku ‘saya’ w. Mesera ‘menyulitkan’ Ita ‘kita’ x. Erban berat ‘memberatkan’ Ukur sinterem ‘semua pihak’ KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis yang telah diteliti mengenai verba intransitif ber O dapat lesap dalam bahasa Karo, dapat disimpulkan bahwa verba transitif dalam bahasa karo berafiks er-, me-, er-ken, me-kan, memper-I, dan fungsi O dituntut hadir dalam klausa yang fungsi P-nya di isi oleh verba polimorfemik seperti yang telah di tulis kan diatas. Fungsi semi O (SmO) dalam bahasa Karo merupakan fungsi pendamping P yang dimana pengisinya berupa verba polimorfemis yang selalu menyertakan afiks –I atau –ken dengan akar atau dasar yang tidak di reduplikasikan S, di dalam bahasa Karo tidak semua verba berprefiks adanya suatu peluluhan, ataupun pelesapan morfemis. Dari hasil penelusuran diketahui bahwa dalam bahasa Karo terdapat sejumlah verba transitif yang dalam membentuk klausa tidak memerlukan O secara wajib. Hal terakhir itu terjadi karena 2 alasan, alasan pertama adalah O sudah disebut di konteks sebelumnya dan alasan kedua adalah verba transitif yang menyatakan perasaan yang berafiks me-ken dengan http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo Sura Isnainy br Sembiring, Mulyadi DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 60 bentuk dasar berbentuk adjektiva/verba keadaan. Verba subtype pertama memiliki ciri dapat disertai O dan dapat di pasifkan. DAFTAR PUSTAKA Chaer, A. (1994). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Foley dan Van Valin. (1984). Functional Syntax and Universal Grammar. Cambridge: Cambridge University Press. H, Matthews. (1957). The Concise Oxford Dictionary of Linguistics. Newyork: Oxford University Press. Hasan, A. e. (2003). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Hidayatullah, Syarif. (2013). Verba Transitif dan Intransitif dalam Bahasa Arab (Vols. 1 No.1 mei 2017 ISSN: 2339 - 2882). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. Kartika, Diana. (2017). Perbandingan Verba Transitif dan Intransitif dalam Bahasa Jepang: Tinjauan Analisis Konstratif (Vol. 1. No.1 mei 2017). Padang: Kopertis Wilayah X. Kesuma, Jati. (2010). Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Kridalaksana, Harimurti. (1985). Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia Sintaksis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Mulyadi. (1998). Frasa Nomina Bahasa Indonesia: Analisis Teori X-Bar. Medan: Komunikasi Penelitian USU, 10:218-234. Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press. Verhaar, J.W.M. (1981). Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Woollams, Geoff. (2004). Tata Bahasa Karo. Medan: Bina Media Perintis. http://sarudung.blogspot.com/2013/03/cerita-rakyat-karo-cincin-pinta- pinta.htmldimuat pada tanggal 8 Juli 2018 pukul 13:10 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60 http://sarudung.blogspot.com/2013/03/cerita-rakyat-karo-cincin-pinta-pinta.html http://sarudung.blogspot.com/2013/03/cerita-rakyat-karo-cincin-pinta-pinta.html