Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 77 Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Power Representation in the Grammatical Form of Teacher’s Speech Acts in Indonesian Language Learning Putri Meinita Triana1, Zamzani2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Yogyakarta 1putri.meinita2016@student.uny.ac.id 2zamzani@uny.ac.id Riwayat Artikel: Dikirim 28 Desember 2018; Diterima 27 Juni 2019; Diterbitkan 30 Juni 2019 ABSTRAK Penelitian ini termasuk penelitian pragmatis kritis yang bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana representasi kekuasaan pada bentuk gramatikal tindak tutur guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 4 Pandak. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode analisis isi. Sumber data penelitian ini berupa tuturan guru selama pembelajaran bahasa Indonesia, sedangkan data penelitian ini berupa representasi kekuasaan yang terdapat pada tindak tutur guru saat proses kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi kekuasaan guru ditunjukkan melalui penggunaan (1) kalimat positif-negatif, (2) modus kalimat, (3) modalitas, dan (4) pronomina persona. Kata kunci: representasi, kekuasaan, bentuk gramatikal, tindak tutur ABSTRACT This research includes critical pragmatic research, which aims to describe how the representation of power in the grammatical form of teacher speech acts in learning Indonesian in Pandak 4 Public Middle School. This type of research is qualitative research with content analysis methods. The source of this research data is in the form of teacher speech during Indonesian language learning, while the research data is in the form of representation of power contained in teacher speech acts during the process of learning Indonesian. The results of the study show that the representation of teacher power is shown through the use of (1) positive-negative sentences, (2) mode of sentences, (3) modalities, and (4) personal pronouns. Keywords: representation, power, grammatical form, speech act http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 mailto:putri.meinita2016@student.uny.ac.id Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 78 PENDAHULUAN Praktik kekuasaan yang terjadi di dalam ranah pendidikan dilakukan oleh guru terhadap siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Pembelajaran dapat dikatakan berhasil dan berkualitas apabila guru dan siswa terlibat secara aktif baik fisik, mental, maupun sosial. Lebih dari itu, pembelajaran dilaksanakan dengan memegang teguh prinsip demokratis, dialogis, kontekstual atau tidak terasing dari masyarakat. Pembelajaran juga dituntut peka dan kritis terhadap kebutuhan masyarakat. Ciri-ciri tersebut terprogram melalui proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 (Senduk, 2009; Sumarsih, 2009; Shafa, 2014). Namun, pada kenyataannya guru memiliki kekuatan dan kontrol yang lebih terhadap siswa. Guru melakukan praktik sosial yang menggambarkan kekuasaan terhadap siswa. Guru menjalankan praktik otoritas sebagai pengatur disiplin kelas maupun sebagai pemberi materi dalam pembelajaran. Guru menjadi orang yang serba tahu selama proses pembelajaran. Bahasa berfungsi dominan dalam sebuah proses komunikasi karena berbagai ide, gagasan, pendapat, dan perasaan diungkapkan melalui bahasa (Ilyas & Khushi, 2012; Hamdani, 2012; Setyowati & Faelani, 2018). Secara sederhana, bahasa yang digunakan dan disusun oleh manusia mampu merepresentasikan ide-ide manusia. Lebih dari itu, bahasa tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi antar manusia saja, tetapi bahasa bisa menjadi sarana untuk mempengaruhi, mengontrol, hingga menguasai orang lain. Bahasa dianggap sebagai alat yang efektif dalam praktik kekuasaan. Hal tersebut terjadi karena dalam sebuah proses komunikasi, seseorang tidak hanya menuntut untuk dipahami saja, tetapi juga ingin dipercaya, dipatuhi, dihormati, dan dibedakan (Yanto, 2014). Bahasa digunakan sebagai alat untuk menandai adanya dominasi kaum dominan dan kaum yang didominasi di dalam kehidupan sosial masyarakat. Selain itu, bahasa dianggap sebagai simbol mempertahankan kekuasaan dan digunakan sebagai modal sosial dalam menentukan kapasitas seseorang di dalam ranah kehidupan sosial (Sofyan, 2014). Oleh karena itu, melalui praktik penggunaan bahasa dapat dilihat mana orang atau kelompok dominan dan mana orang atau kelompok yang didominasi, mana orang atau kelompok berkuasa dan mana orang atau kelompok yang dikuasai. Bahasa sebagai perilaku sosial digunakan untuk mempengaruhi, mengontrol, hingga menguasai kondisi mental seseorang; seperti kepercayaan, sikap, dan pengetahuan (Fowler, 1986; Thomas dan Wareing, 2007; Mayr, 2008; Suharyo, 2012; Yanto, Rusminto, & Tarmini, 2013; Chaer, 2014; Castillo, 2015; Altikriti, 2016; Kustyarini, 2016). Seseorang dalam konteks penelitian ini adalah siswa. Bahasa dianggap sebagai alat dan simbol yang efektif dalam praktik mempertahankan kekuasaan. Pada dasarnya, bahasa bersifat netral dan baru akan bersifat baik atau tidak baik jika http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 79 digunakan oleh pihak dan tujuan tertentu (Amir, 2013). Oleh karena itu, melalui praktik penggunaan bahasa dapat dilihat mana orang atau kelompok dominan dan mana orang atau kelompok yang didominasi, mana orang atau kelompok berkuasa dan mana orang atau kelompok yang dikuasai. Representasi kekuasaan berkaitan dengan bagaimana seseorang atau kelompok orang menggambarkan, menampilkan, mewakilkan kekuasaan (mendominasi, mempengaruhi, memaksa aktivitas orang lain) melalui sesuatu yang lain dan dilakukan melalui tanda atau simbol, dalam hal ini adalah bahasa (Jorgensen dan Philips, 2010). Konteks "seseorang" pada penelitian ini adalah guru. Kekuasaan dimaknai sebagai kemampuan individu atau kelompok masyarakat untuk membatasi keinginan individu/kelompok masyarakat lainnya. Kekuasaan digunakan untuk melihat apa yang disebut kontrol. Satu orang atau kelompok mengontrol orang atau kelompok lain melalui tuturan. Tentu saja, kontrol dalam hal ini tidak dalam bentuk fisik, melainkan dalam bentuk mental dan psikis (Fairclough, 2001; Eriyanto, 2001; Suharyo, 2012). Kesimpulannya, representasi kekuasaan adalah bentuk perwujudan kekuasaan yang dimunculkan melalui bahasa sebagai media penyampaian. Representasi kekuasaan yang ditampilkan melalui bahasa dapat diwujudkan melalui kosakata, gramatika, dan struktur tekstual (Fairclough, 2001; Setiawan, 2014; Saharuna, 2016). Pada aspek gramatika, representasi kekuasaan dapat dilihat dari (1) nilai-nilai eksperiental, misalnya tipe-tipe proses dan partisipan apa yang lebih dominan, jelas dan tidaknya agen, kewajaran proses yang ada dalam aspek gramatikal, ada dan tidaknya pengangkaan, adanya kalimat aktif dan pasif, dan adanya kalimat positif dan negatif; (2) nilai-nilai relasional, seperti penggunaan modus kalimat, modalitas, dan pronomina persona; dan (3) nilai-nilai ekspresif yang diwujudkan melalui modalitas ekspresif. Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan kajian teori, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana bentuk gramatikal pada tindak tutur guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 4 Pandak yang digunakan untuk menggambarkan, menampilkan, dan mewakilkan kekuasaan. Kajian representasi kekuasaan ini memberikan informasi tentang bagaimana bentuk gramatika yang digunakan untuk mendominasi, mempengaruhi, mengatur, sekaligus memaksa aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung. METODE Penelitian representasi kekuasaan pada tindak tutur guru termasuk penelitian kualitatif dan merupakan kajian pragmatik kritis. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan guru selama proses pembelajaran bahasa Indonesia, sedangkan data dalam penelitian ini berupa representasi kekuasaan yang terdapat pada tindak tutur guru saat proses kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia. Data diperoleh dengan menggunakan teknik observasi dan http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 80 dokumentasi. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli-September 2018 di SMP Negeri 4 Pandak yang berada di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Penelitian mengambil setting di ruang kelas VII, VIII, dan XI ketika pembelajaran bahasa Indonesia sedang berlangsung. Pengumpulan data dilakukan dengan cara merekam semua tuturan guru dalam proses pembelajaran. Hasil rekaman kemudian ditranskripsikan secara tertulis. Setelah proses transkripsi, dilakukan proses pembacaan secara berulang terhadap data, lalu dilakukan identifikasi data wujud dan fungsi representasi kekuasaan pada tindak tutur guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Proses analisis data dilakukan dengan menggunakan metode analisis isi dan dilanjutkan dengan strategi analisis deskriptif kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi kekuasaan pada bentuk gramatikal tindak tutur guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 4 Pandak dapat dilihat dari penggunaan kalimat positif-negatif, modus kalimat, modalitas, dan pronomina persona. Modus kalimat terdiri atas kalimat deklaratif, interogatif, dan imperatif. Modalitas terdiri atas modalitas intensional (mohon, mari), modalitas epistemik (akan, harus, pasti), modalitas deontik (boleh), dan modalitas dinamik (bisa). Pronomina persona yang digunakan oleh guru selama pembelajaran yaitu saya, kamu, kita, mereka, kalian, bu guru, mas, mbak, dan nak. Kalimat Positif-Negatif Penggunaan kalimat positif dan kalimat negatif dapat merepresentasikan kekuasaan guru sebagai pihak yang berkuasa di dalam kelas selama pembelajaran. Berikut penjelasan dari masing-masing penggunaan kalimat tersebut. (1) Guru : “O dua orang. Nggih. Sakit ya?” 006/1/1/020/30072 018 (2) Guru : “Oke. Masih ingat kan dengan masing-masing anggota kelompoknya?” 053/1/7/062/06092018 (3) Guru : “Bukan. Karena ini masuk dalam body berita. Sudah paham? Jadi, kalau bisa hilang, itu namanya kaki atau ekor. Tapi, kalau tidak bisa dihilangkan, namanya body. Dan, paragraf 3 ini tidak bisa dihilangkan, kalau ini hilang berarti orang tidak akan tau bagaimana cara daftar, harganya berapa, dimulai tanggap berapa. Di situ ada ketentuan pendaftaran dibuka mulai 21 Mei dan akan http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 81 tutup jika peserta sudah mencapai 100 peserta. Berarti tutup kapan?” 130/3/3/056/03082018 (4) Guru : “Saya ada sesuatu untuk kalian. Jangan dinilai harganya. Jangan dibuka dulu!” 136/3/3/077/03082018 Kalimat negatif (1) berisi prediksi negatif terkait kondisi siswa yang tidak masuk karena sakit, padahal belum tentu ketidakhadiran siswa dikarenakan sakit, sedangkan kalimat positif (2) berisi prediksi positif guru terkait kemampuan siswa dalam mengingat anggota kelompok diskusi yang sudah dibagi pada pertemuan sebelumnya. Representasi kekuasaan guru dalam bentuk kalimat negatif ditandai dengan negasi bukan (3) dan jangan (4). Negasi negatif bukan (3) berfungsi sebagai penyangkalan dan pengingkaran atas pernyataan siswa yang dianggap keliru oleh guru, sedangkan negasi negatif jangan (4) berfungsi sebagai larangan. Negasi tersebut menjalankan fungsi sebagai negasi ideologis. Hasil penelitian tersebut relevan dengan penelitian Nur Indah Sholikhati dan Hari Bakti Mardikantoro (2017) dengan judul “Analisis Tekstual dalam Konstruksi Wacana Berita Korupsi di Metro TV dan NET dalam Perspektif Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough”. Namun, terdapat perbedaan konteks penggunaannya. Penelitian terdahulu mengupas penggunaan kalimat positif dan kalimat negatif pada media cetak, sedangkan penelitian ini mendeskripsikan penggunaan kalimat positif dan kalimat negatif dalam pembelajaran. Adapun persamaan dari kedua penelitian tersebut adalah keduanya menyimpulkan bahwa kalimat positif dan kalimat negatif bersifat tidak sahih karena berpotensi tidak sesuai dengan fakta dan memberikan kesan bahwa guru adalah pihak yang serba tahu tentang keadaan siswa. Penggunaan Modus Kalimat Representasi kekuasaan pada tindak tutur guru bahasa Indonesia SMP Negeri 4 Pandak juga diwujudkan melalui (a) kalimat deklaratif, (b) kalimat interogatif, dan (c) kalimat imperatif. Tuturan bermodus deklaratif adalah tuturan yang secara konvensional digunakan untuk menyampaikan informasi. Tuturan deklaratif hanya meminta lawan tutur untuk menaruh perhatian, sebab maksud penutur hanya memberitahukan sebuah informasi. Artinya, penutur tidak mengharapkan adanya komentar dan tidak ada pula kewajiban bagi lawan tutur untuk mengomentari pernyataan penutur. Tuturan bermodus interogatif adalah tuturan yang secara konvensional digunakan untuk bertanya, sedangkan tuturan bermodus imperatif adalah tuturan yang secara umum digunakan untuk memerintah atau digunakan untuk meminta. Pada kalimat deklaratif, guru berperan sebagai sumber informasi dan siswa sebagai penerima informasi. Pada kalimat interogatif, guru berperan sebagai http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 82 penanya dan siswa sebagai sumber informasi. Kemudian pada kalimat imperatif, guru berperan sebagai pemberi perintah dan siswa sebagai pelaksana perintah. Berikut penjelasan singkat mengenai ketiga kalimat tersebut. 1. Kalimat Deklaratif Kalimat bermodus deklaratif adalah kalimat yang secara konvensional digunakan untuk menyampaikan informasi. Tuturan bermodus deklaratif yang merepresentasikan kekuasaan guru selama pembelajaran bahasa Indonesia di dalam kelas berisi pernyataan atau penjelasan guru terkait materi pembelajaran. Tuturan deklaratif pada tuturan tidak mengharapkan tanggapan dari siswa. Siswa hanya dituntut untuk memperhatikan dan mengiyakan pernyataan guru tanpa menjawab atau mengomentari. Berikut beberapa contoh kalimat deklaratif yang digunakan guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 4 Pandak. (5) Guru : “Yang pertama, pernyataan posisi. Di dalam ini ada beberapa poin yang harus diperhatikan. Terutama, kepada siapa kita akan berpidato. Kemudian yang kedua, tentang apa to? Objek yang akan dibicarakan. Trus dimana, kemudian kapan. Ini nanti akan mempengaruhi pada bagian pembuka pidato, ada sapaan hormat dan lain-lain. Kemudian masuk kepada objek apa yang akan dibicarakan. Sebelum masuk ke objek, tentu saja kamu akan menemukan alasan atau gejala kenapa kamu mau membicarakan itu. Didasari dengan argumen yang kuat dan jelas. Seperti tadi, Tira mengangkat tentang literasi karena ada gejala kalau siswa sudah mulai malas ke perpustakaan. Itu alasan. Alasan mengapa memilih tema dalam pidato persuasif.” 050/1/7/041/06092018 Tuturan (5) termasuk bermodus deklaratif karena berisi pernyataan dan penjelasan tentang unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam membuat teks pidato persuasif. Tuturan bermodus deklaratif (5) tidak mengharapkan tanggapan dari siswa dan siswa hanya dituntut untuk memperhatikan tanpa merespon tuturan tersebut. Temuan tentang kalimat deklaratif dalam penelitian ini relevan dengan penelitian Ni Nyoman Ayu Ari Apriastuti (2017) dengan judul “Bentuk, Fungsi dan Jenis Tindak Tutur dalam Komunikasi Siswa di Kelas IX Unggulan SMP PGRI 3 Denpasar” yang menyatakan bahwa tuturan bermodus deklaratif menempatkan guru sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi yang tidak diberi kesempatan untuk berpikir kritis untuk merespon tuturan guru. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 83 b. Kalimat Interogatif Kalimat bermodus interogatif yang merepresentasikan kekuasaan guru disusun secara strategis untuk mengarahkan aktifitas siswa, baik aktifitas fisik maupun aktifitas berpikir selama pembelajaran. Melalui kalimat interogatif, guru berharap dapat mengetahui jawaban tentang sesuatu hal atau keadaan dari siswa. Kemudian, jawaban yang diberikan oleh siswa juga menuntut respon berupa tanggapan benar serta tanggapan salah dari guru sebagai pihak penanya. Berikut tuturan guru yang termasuk tuturan bermodus interogatif. (6) Guru : “Lima saja ya? Baiklah!” 058/1/7/076/06092018 Kalimat bermodus interogatif secara konvensional diartikan sebagai kalimat yang bertujuan untuk bertanya. Namun, pada tuturan (6) ditemukan tuturan yang secara sintaksis bermodus interogatif, tetapi secara semantis merupakan sebuah proposisi yang setara dengan kalimat imperatif. Tuturan (6) bermakna perintah untuk membagi kelompok sebanyak lima kelompok sesuai dengan keinginan guru. Kalimat bermodus interogatif tersebut merepresentasikan kekuasaan guru selama di kelas karena tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk merespon pertanyaan guru, baik respon yang menyatakan sepakat atau tidak sepakat dengan yang diucapkan guru. Pilihan dan penggunaan tuturan interogatif dalam sebuah komunikasi relevan dengan hasil temuan Mohamad Zubad Nurul Yaqin (2017) dalam bentuk jurnal yang berjudul “Representasi Ideologi dalam Struktur Wacana Kata Hari Ini” yang menyatakan bahwa kalimat interogatif yang merepresentasikan kekuasaan sesungguhnya sudah memiliki jawaban dan merupakan strategi untuk menjaga posisi penyampai wacana sebagai orang yang mendominasi komunikasi dalam menyampaikan pesan-pesan ideologisnya. c. Kalimat Imperatif Kalimat bermodus imperatif merupakan kalimat yang secara umum digunakan untuk memerintah dan mengharapkan respon baik berupa tindakan maupun sikap. Berikut tuturan guru yang termasuk tuturan bermodus imperatif. (7) Guru : “Sudah ya.. sekarang dilihat kegiatan siswa 3. Di buku paket ada kegiatan siswa 3. Sssst! Halaman 48.” 057/1/7/072/06092018 (8) Guru : “Dibaca yang keras halaman 9 struktur teks laporan percobaan oleh Erlinda. Oke, silakan. Dibaca yang keras. Sek seru!” 007/1/1/026/30072018 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 84 (9) Guru : “Oke terimakasih… kelimanya sudah menunjukkan kebolehannya menyajikan teks laporan percobaan masing- masing…mari kita aplous untuk kelima kelompok…” 042/1/5/100/14082018 (10) Guru : “Dilihat bareng-bareng yuh unsur kebahasaan yang harus diperhatikan sesuai kaidah! Unsur kebahasaan yang sesuai dengan kaidah adalah yang sesuai dengan apa?” 014/1/1/048/30072018 (11) Guru : “Nanti jam kedua ya, nanti kan kita dua jam lagi. Sekarang sejam ini, kita pake untuk membahas unsur kebahasaannya dulu. Nanti sisanya itu untuk peminjaman buku, supaya pertemuan berikutnya bisa menggunakan buku paket ya. Yuk, kembali dibuka! Udah siap? Kembali pada halaman 10!” 017/1/1/057/30072018 (12) Guru : “Ya, semua berpikir, nanti disimpulkan, bersama-sama dengan satu kelompok, terus hasilnya nanti ditulis yang rapi…satu untuk presentasi, yang lain menyalin nggih! Jadi, semua bekerja.” 028/1/5/029/14082018 Beberapa variasi tuturan bermodus imperatif, yaitu tuturan imperatif kategori memerintah (7), mempersilakan (8), mengajak (9, 10, 11), dan menginstruksikan (12). Tuturan imperatif kategori mempersilakan ditandai dengan kata silakan dan bertujuan untuk memberi tahu kapan siswa bisa mulai berbicara dan bertindak, sedangkan tuturan bermodus imperatif kategori menginstruksikan bermaksud memberi tahu bagaimana seharusnya siswa berpikir dan bertindak secara berurutan. Tuturan bermodus imperatif kategori memerintah sangat merepresentasikan kekuasaan guru karena menuntut siswa melakukan apa yang diucapkan dan diinginkan guru, sedangkan tuturan bermodus imperatif kategori mengajak terkesan lebih humanis karena mengaburkan jarak antara guru dan siswa sehingga keduanya terlibat bersama selama proses pembelajaran. Kalimat bermodus imperatif kategori ditandai dengan kata mari (9), yuh (10), dan yuk (11). Hasil penelitian tersebut relevan dengan hasil temuan Mohamad Zubad Nurul Yaqin (2017) dengan judul “Representasi Ideologi dalam Struktur Wacana Kata Hari Ini”yang menyatakan bahwa tuturan bermodus imperatif menimbulkan jarak dan perbedaan antara guru dan siswa. Melalui tuturan bermodus imperatif, guru menunjukkan posisi sebagai pihak dominan dalam proses pembelajaran. Penggunaan Modalitas Representasi kekuasaan guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 4 Pandak juga dapat dilihat dari penggunaan modalitas intensional (mohon, mari), modalitas epistemik (harus, rasa, akan, pasti), modalitas deontik (boleh), dan modalitas dinamik (bisa). Modalitas adalah keterangan dalam kalimat yang menyatakan sikap pembicara terhadap hal yang dibicarakan, yakni mengenai http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 85 perbuatan, keadaan, peristiwa, atau sikap terhadap lawan bicaranya. Sikap tersebut dapat berupa pernyataan, kemungkinan, keinginan, atau keizinan. Beberapa jenis modalitas yaitu modalitas intensional, modalitas epistemik, modalitas deontik, dan modalitas dinamik. Penggunaan keempat modalitas tersebut dalam proses komunikasi dapat merepresentasikan kekuasaan seseorang, termasuk merepresentasikan kekuasaan guru ketika berada di dalam kelas. Berikut kutipan tuturan yang mengandung modalitas tersebut. (13) Guru : “Mohon perhatian! Kalau kalian sudah menyusunnya dengan benar, sudah menemukan judul yang cocok dan gambar yang cocok, silakan dilem! Gambarnya dilem di bawah judul! Nanti kalau tidak cukup, dibaliknya!” 145/3/3/103/03082018 (14) Guru : “Oke terimakasih…kelimanya sudah menunjukkan kebolehannya menyajikan teks laporan percobaan masing- masing…mari kita aplous untuk kelima kelompok…” 042/1/5/100/14082018 (15) Guru : “Hak kamu beristirahat, silakan keluar ruangan dan kembali pukul 10 harus sudah di dalam ruangan. Silakan.” 016/1/1/054/30072018 (16) Guru : “Saya rasa sudah dikerjakan kemarin tugasnya, sudah dibuat, hasilnya sudah, sekarang tinggal presentasi saja. Semua siap ya?! Semua siap ya?!” 026/1/5//017/14082018 (17) Guru : “Besok akan saya cocokkan pekerjaan kalian yang dikerjakan di rumah. Sekian dari saya, wassalamualaikum www” 121/2/2/175/04092018 (18) Guru : “Ya.. Santika Dewi, dicoba silakan! Yang atas, atas, atas, ndongak! Sebatas tanganmu bisa meraih!” 021/1/1/076/30072018 (19) Guru : “Diskusi ya… Boleh sambil lihat LKS! Kalau kalian kemarin mendengarkan pasti bisa!” 086/2/2/025/09082018 Modalitas intensional adalah modalitas yang digunakan untuk menyatakan sikap yang berhubungan dengan peristiwa yang diungkapkan, seperti modalitas mohon (13) yang menyatakan keinginan dan harapan guru agar siswa mendengarkan ucapan guru dan modalitas mari (14) menyatakan ajakan guru agar siswa memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi kepada siswa lain karena sudah mempresentasikan hasil diskusi. Penggunaan modalitas intensional mohon dan mari menciptakan kesan sopan dan humanis antara guru dan siswa sehingga mengaburkan adanya praktik kekuasaan yang terjadi selama proses pembelajaran di kelas. Adapun modalitas yang paling dominan merepresentasikan kekuasaan guru ketika proses pembelajaran adalah modalitas epistemik. Modalitas epistemik yang ditemukan selama penelitian di SMP Negeri 4 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 86 Pandak yaitu harus, akan, dan pasti. Modalitas harus (15) bermaksud menuntut siswa agar mematuhi aturan guru, modalitas rasa (16) bertujuan untuk menyatakan prediksi guru terkait penyelesaian tugas yang sudah diberikan oleh guru pada pertemuan sebelumnya, modalitas akan (17) bertujuan untuk memberikan perkiraan situasi yang terjadi dan prediksi mengenai aktifitas apa yang akan dilakukan oleh guru, dan modalitas pasti (19) bertujuan untuk menyatakan kepastian, kepercayaan, dan keyakinan terhadap kemampuan siswa. Penggunaan modalitas epistemik menggambarkan sosok guru sebagai pihak yang serba tau dan berkuasa di dalam kelas. Ada juga modalitas deontik boleh (19) yang berkaitan dengan sikap guru yang berupa kewenangan pribadi, yaitu memberikan izin kepada siswa untuk membuka lembar kerja siswa (LKS) agar lebih mudah memahami materi dan modalitas dinamik bisa (18) yang menyatakan sikap dan keyakinan guru terhadap kemampuan siswa. Hasil penelitian yang terkait dengan penggunaan modalitas tersebut relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Diah Ikawati Ayuningtias dan Erika Citra Sari Hartanto (2014) dengan judul “Pidato Politik Di Indonesia: Sebuah Kajian Wacana Kritis”. Pronomina Persona Penggunaan berbagai macam pronomina persona dalam komunikasi selama proses pembelajaran merupakan strategi penyampaian pesan agar pesan dapat diterima, dapat dipercaya, dan akhirnya siswa mau mengubah sikap dan tindakan sesuai dengan harapan guru. Penggunaan pronomina persona juga merupakan salah satu strategi komunikasi yang bertujuan untuk menunjukkan posisi guru di hadapan siswa. Berikut kutipan tuturan yang mengandung pronomina persona. (20) Guru : “Buku dan LKS silakan ditutup! Saya akan panggil secara acak ya... kan saya belum hafal nama-nama kalian... Yang pertama, Adi Triawan...” 101/2/2/44/04092018 (21) Guru : “Makanya kamu jangan ramai. Kalau memang tidak bisa diam silakan tunggu di luar biar temennya tidak terganggu. Kamu pelajari yang ini, besok pagi kamu presentasi! Masih ada dua pertanyaan lagi!” 111/2/2/76/04092018 (22) Guru : “Terus kamu harus menyadari, maklum, karena ruangan kita dekat dengan ruangan gamelan, nanti sebentar lagi mereka akan latihan, mereka nabuh, kita mulai ya biar suara bu guru tidak sumbang. Kita gunakan kesempatan mumpung mereka belum nabuh.” 018/1/1/058/30072018 (23) Guru : “Setelah perincian, kesimpulan isinya apa? Ada yang tau? Isinya apa? Isinya penutup. Kalau masih bingung, coba kalian lihat teks yang ada pada halaman 7! Dibaca ya! Sekarang tanggal berapa?” http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 87 067/2/2/032/01082018 (24) Guru : “Hayo, mas Adidarma!” 015/1/1/052/30072018 (25) Guru : “Beri tepuk tangan…Nggih…Terimakasih untuk kelomponya Mas Erik…Selanjutnya kelompok selanjutnya…Mbak Asti dan kawan-kawan, monggo…” 034/1/5/045/14082018 (26) Guru : “Yak! kesimpulannya yang jam pertama kedua tadi masuk, di jam ketiga ini masuk lagi to? Belum ada yang lompat pagar? Kalau belum ada, kita lanjutkan buku dikeluarkan, LKS dikeluarkan, yang belum punya LKS, ya menyesuaikan. Kita akan lanjutkan materi kita yang kemarin, kemudian nanti kita tambahkan informasi yang ingin saya sampaikan pada kalian. Kemarin yang kita bahas apa, Nak?” 125/3/3/007/03082018 (27) Guru : “Absen 1 siapa? Ahmad Ramadhani, coba dibaca yang identifikasi halaman 7!” 069/2/2/036/01082018 Pemilihan dan penggunaan pronomina persona tertentu dimaksudkan untuk merepresentasikan kekuasaan guru, seperti pronomina persona saya (20), kamu (21), kita (22), mereka (22), kalian (23) yang digunakan selama proses pembelajaran. Selain itu, juga digunakan pronomina persona bu guru (22) sebagai variasi dari kata saya. Penggunaan pronomina persona saya (22) dan kamu (23) mempunyai makna untuk menonjolkan diri, menunjukkan eksistensi sebagai orang yang mempunyai kapasitas dalam menyampaikan sesuatu hal di depan kelas. Selain itu, guru memanggil siswa langsung dengan menyebut nama seperti pada tuturan (27) tanpa menggunakan kata ganti sapaan. Hal tersebut tentu saja menggambarkan kekuasaan guru di dalam kelas sebagai pihak yang memiliki posisi lebih tinggi daripada siswa. Guru juga menggunakan pronomina persona dari bahasa Jawa, seperti mas (24) dan mbak (25) untuk menggambarkan hubungan sosial antara guru dan siswa yang lebih humanis. Guru juga memanggil siswa dengan sebutan nak (26) dalam proses komunikasi sebagai tanda bahwa guru juga menyayangi dan mengayomi siswa. Penggunaan pronomina kita (22) menunjukkan bahwa guru melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Dampak yang diharapkan dari penggunaan pronomina kita adalah apa yang menjadi gagasan guru juga menjadi gagasan siswa. Hasil temuan tentang pronomina persona kita relevan dengan hasil temuan Mohamad Zubad Nurul Yaqin (2017) dalam jurnal “Representasi Ideologi dalam Struktur Wacana Kata Hari Ini” dan Ni Nyoman Ayu Ari Apriastuti (2017) yang berjudul “Bentuk, Fungsi dan Jenis Tindak Tutur dalam Komunikasi Siswa di Kelas IX Unggulan SMP PGRI 3 Denpasar”. Kedua jurnal tersebut menyatakan bahwa pronomina persona kita biasanya digunakan untuk menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan, rencana, suasana hati, sikap, harapan, ajakan, dan seruan. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 88 Selain itu, juga digunakan untuk memberikan informasi mengenai sesuatu yang sudah umum dan yang tidak diragukan lagi kebenarannya, memberi informasi sekaligus klarifikasi mengenai sesuatu, serta ketika ingin menasihati sekaligus ingin mempersuasi siswa tentang sesuatu yang berhubungan dengan sikap atau keyakinan. Penggunaan pronomina persona kita berakibat pada kaburnya dikotomis antara guru dengan siswa. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian dan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa representasi kekuasaan pada bentuk gramatikal tindak tutur guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 4 Pandak terwujud melalui (1) penggunaan kalimat positif-negatif yang bersifat tidak sahih sehingga berpotensi tidak sesuai fakta; (2) penggunaan modus kalimat yang meliputi kalimat deklaratif, kalimat interogatif, dan kalimat imperatif; (3) penggunaan modalitas intensional (mari, mohon), modalitas epistemik (akan, rasa, harus, pasti), modalitas deontik (boleh), dan modalitas dinamik (bisa); dan (4) penggunaan pronomina persona saya, kamu, kita, mereka, kalian, mas, mbak, dan nak. DAFTAR PUSTAKA Amir, J. (2013). Representasi Kekuasaan dalam Tuturan Elit Politik Pascareformasi: Pilihan Kata dan Bentuk Gramatikal. Linguistik Indonesia, 31(1), 43-64. Altikriti, S. (2016). Persuasive speech acts in Barack Obama’s inaugural speeches (2009, 2013) and the last state of the union address (2016). International Journal of Linguistics, 8(2), 47-66. Apriastuti, N. N. A. A. (2017). Bentuk, Fungsi dan Jenis Tindak Tutur dalam Komunikasi Siswa di Kelas IX Unggulan SMP PGRI 3 Denpasar. Jurnal Imiah Pendidikan dan Pembelajaran, 1(1), 38-47. Ayuningtias, D. I. (2014). Pidato politik di Indonesia: Sebuah kajian wacana kritis. Prosodi Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, 8(1), 25-38. Castillo JM. 2015. The Speech Act as an Act of Knowing. International Journal of Language and Linguistics. Special Issue: Linguistics of Saying 3, 31-38. Chaer A & Agustina L. (2014). Sosiolinguistik: Perkenalan awal. Jakarta: PT Rineka Cipta. Eriyanto. (2001). Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: PT. LKiS Printing Cemerlang. Fairclough N. (2001). Language and Power. New York: Routledge Taylor & Francis Group. Fowler R. (1986). Linguistic Criticism. Oxford: Oxford University Press. Jorgensen MW & Phillips LJ. (2002). Discourse Analysis: As Theory and Method. London: SAGE Publications Inc. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Representasi Kekuasaan pada Bentuk Gramatikal Tindak Tutur Guru … Putri Meinita Triana, Zamzani DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89 89 Hamdani, F. (2012). The influence of gender in determining the language choice of teenagers: Sudanese versus Bahasa. International Journal of Basic and Applied Science, 1(1), 40-43. Ilyas, S., & Khushi, Q. (2012). Facebook status updates: A speech act analysis. Academic research international, 3(2), 500-507. Kustyarini, K. (2016). Simbol-simbol Kekuasaan dalam Komunikasi Lisan. Jurnal Likhitaprajna, 18(2), 11-19. Mayr A. (2008). Language and Power: An Introduction to Institutional Discourse. New York: Continuum International Publishing Group. Saharuna, H. (2016). Analisis Bahasa Kekuasaan dalam Berita Politik di Harian Fajar Makassar (Analysis of Language of Power on Politics News in Fajar Daily Newspaper in Makassar) (Doctoral Dissertation, Universitas Negeri Makassar). Senduk, A. G. (2009). Pengembangan Pola Berpikir Kritis Siswa Melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia yang Konstruktivistik di SMP Kota Tondano. LITERA, 8(1), 93-102. Setiawan, T. (2014). Ancangan Awal Praktik Analisis Wacana Kritis. Diksi, 2(22), 111-120. Setyowati E & Faelani N. (2018). Tindak Tutur dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Pacitan Tahun Pelajaran 2016/2017. Prakerta 1, 54-61. Shafa. (2014). Karakteristik proses pembelajaran kurikulum 2013. Dinamika Ilmu 14. Sholikhati, N. I., & Mardikantoro, H. B. (2017). Analisis tekstual dalam konstruksi wacana berita korupsi di Metro TV dan NET dalam perspektif analisis wacana kritis Norman Fairclough. Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(2), 123-129. Suharyo. (2012). Kekerasan Simbolik dalam Pendidikan. Nusa, 2, 10-23. Sumarsih, S. (2009). Implementasi Teori Pembelajaran Konstruktivistik dalam Pembelajaran Mata Kuliah Dasar-Dasar Bisnis. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia, 8(1), 54-62. Thomas L & Wareing S. (2007). Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yanto, J. A., Rusminto, N. E., & Tarmini, W. (2013). Representasi Kekuasaan Pada Tindak Tutur Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. J- SIMBOL (Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya), 1(2), 1-10. Yaqin, Z. N. (2017). Representasi Ideologi dalam Struktur Wacana Kata Hari Ini. LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, 12(2), 99-109. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.77-89