Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 90 Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya Iwan Simatupang Analysis of Elements of Semiotics on Iwan Simatupang’s Drama Entitled “RT Nol RW Nol” Ardhian Nurhadi1, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd Universitas Sebelas Maret, Surakarta 1ardhianjb@gmail.com Riwayat Artikel: Dikirim 14 Januari 2019; Diterima 28 Juni 2019; Diterbitkan 30 Juni 2019 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menemukan unsur-unsur semiotika yang terdapat dalam naskah drama RT Nol Rw Nol karya Iwan Sipatupang. Data- data yang didapatkan berupa percakapan-percakapan dan juga tindakan yang dilakukan oleh tokoh. Keseluruhan unsur semiotika menjadi fakta bahwa bahasa tidak hanya bersifat lisan melainkan dapat diciptakan melalui penanda dan petanda. Naskah drama yang diteliti berjudul RT Nol Rw Nol karya Iwan Sipatupang yang memiliki pesan sosial begitu kental tentang kehidupan manusia di kolong jembatan. RT Nol Rw Nol memberikan gambaran suatu lokasi atau latar yang tidak memiliki suatu pengakuan dari kependudukan di negaranya sendiri. Data yang dihasilkan berupa kutipan-kutipan baik berupa perkataan atau tingkah laku yang memuat semiotika dalam berkomunikasi. Teknik pengumpulan data peneliti menggunakan teknik simak dan catat. Hasil analisis drama memuat unsur semiotika yang digunakan dalam menyampaikan suatu maksud tertentu oleh tokoh-tokohnya. Kata kunci: semiotika, naskah drama, RT Nol RW Nol, Iwan Simatupang ABSTRACT This research aims to find elements of semiotics that is contained in the script of the play Iwan Simatupang works RT Nol RW Nol. The data obtained in the form of dialogues and also the actions taken by the character. The overall elements of semiotics into the fact that language is not only verbal but can be created through the markers and alert. Researched screenplay titled Iwan Simatupang works RT Nol RW Nol which have a social message is so strong about human life in space under a bridge. RT Nol RW Nol gives an overview of a location or background that do not have a population of recognition in his own country. The resulting data in the form of quotations either words or behavior http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 mailto:ardhianjb@gmail.com Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 91 that includes semiotics in communicating. Data collection techniques researchers using the technique see and note. The results of the analysis of the play contain elements of semiotics that are used in a particular intent delivered a by his characters. Keywords: semiotics, drama, RT Nol RW Nol, Iwan Simatupang PENDAHULUAN Drama merupakan salah satu karya fiksi yang berisi cerita dengan dialog antartokoh. Drama seperti halnya dalam karya sastra pada umumnya dapat dianggap sebagai interpretasi penulis lakon tentang hidup. Unsur dasar drama yakni perasaan, hasrat, konflik, dan rekonsiliasi (Dejowati, 2010: 9). Kisah yang muncul merupakan cerita fiksi yang isinya berupa dialog antartokoh dan diceritakan secara runtut selama satu babak atau lebih. Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Drama adalah potret kehidupan manusia, potret suka duka, pahit manis, dan hitam putih kehidupan manusia. Istilah drama berkaitan dengan dua kemungkinan, yaitu drama naskah dan drama pentas. Keduanya bersumber dari drama naskah. Oleh karena itu, pembicaraan tentang drama naskah merupakan dasar dari telaah drama. Dalam arti sempit, drama dapat ditafsirkan sebagai gambaran kisah hidup manusia yang dituangkan dalam bentuk pementasan, disaksikan banyak orang yang didasarkan pada naskah, dengan media (dialog, gerak, laku, gesture, mimik), dengan musik atau tanpa alat musik pengiring (Harymawan, 1988). Maka, dapat disimpulkan bahwa drama merupakan ceirta yang dituliskan dengan dialog antartokoh yang berisi tentang kehidupan manusia dan bertujuan untuk dipentaskan dengan gerak, dialog, mimik, dan gestur yang dapat dinikmati dalam pementasan. Drama naskah disebut juga drama lakon. Drama naskah dibangun oleh sebuah struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin (semantik atau makna). Wujud fisik sebuah naskah adalah dialog atau ragam tutur. Ragam tutur itu adalah ragam sastra (Widyahening, 2012). Menurut Teeuw (dalam Widyahening, 2012) ragam sastra meliputi hal-hal berikut: 1) teks sastra memiliki unsur atau struktur batin atau intern structure relation yang bagian- bagiannya saling menentukan dan saling berkaitan; 2) naskah sastra juga memiliki struktur luar atau extern structure relation yang terkait oleh bahasa pengarangnya; 3) Sistem sastra juga merupakan model dunia sekunder yang sangat kompleks dan bersusun. Konflik manusia bioasanya terbangun oleh pertentangan antara tokoh-tokohnya. Dengan pertikaian itu muncullah dramatic action. Perkembangan dramatic action dari awal sampai akhir merupakan unsur penting http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 92 perkembangan cerita. Unsur kreativitas pengarang terlihat dari kemahiran pengarang menjalin konflik, menjawab konflik dengan surprise, dan memberikan kebaruan dalam jawaban itu (Widyahening, 2012). Menurut Stanton (melalui Wiyatmi, 2006), unsur-unsur pembangun fiksi sebagai berikut: (1) tokoh; (2) alur; (3) latar; (4) judul; (5) sudut pandang; (6) gaya dan nada; (7) tema. Artinya unsur pembangun dalam sebuah teks drama menurut pendapat Stanton tersebut menyeluruh pada aspek intrinsik cerita dan mengabaikan aspek ekstrinsiknya. Hal ini cukup masuk akal, mengingat penulisan naskah drama akan bertalian dengan aspek yang ada dalam cerita tersebut. Alasannya adalah, drama tidak hanya berupa teks yang selesai dibaca sebagai sastra kamar, melainkan harus dilanjutkan dalam penuangan pementasan di atas panggung sebagai sebuah sastra mimbar. Kajian terhadap sebuah karya sastra dapat menjadi acuan untuk melihat isi yang terkandung dalam karya tersebut baik secara tersirat maupun tersurat secara komprehensif. Sebuah teori mengarahkan karya pada tujuan- tujuan penulisannya. Dalam perkembangannya, mengaji karya sastra dapat dispesifikkan pada aspek terkecil dalam karya tersebut. Misalnya dari aspek kebahasaan sebuah karya sastra, akan memunculkan berbagai macam aspek kajian analisis yang dapat ditelaah dari sebuah karya. Melalui kajian-kajian ini, dapat dikupas secara tuntas hal-hal yang berkaitan dengan aspek bahasa dalam karya sastra. Salah satu kajian yang dapat digunakan untuk menelaah aspek kebahasaan secara komprehensif adalah semiotika. Dalam pandangan semiotik –yang berasal dari teori Sausurre– bahasa merupakan sebuah sistem tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili sesuatu yang lain disebut makna (Nurgiantoro, 2012). Semiotik lebih lanjut dianggap sebagai sebuah kajian karya sastra yang mendasari objek kajian pada sistem tanda. Teori semiotik muncul pertama kali dari Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce. Keduanya mengemukakan teori yang secara prinsip sama. Bedanya pada teori Pierce, semiotik dianggap bersifat analitis. Pada teori ini, tanda ditempatkan pada fungsi umumnya dengan menempatkan tanda-tanda linguistik pada tempat yang penting namun bukan yang utama. Nurgiantoro (2012) berpendapat bahwa teori Pierce ini mengatakan jika sesuaru itu dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang lain. Sebuah tanda harus mengacu pada suatu hal yang oleh Pierce disebut sebagai objek atau acuan. Objek ini menjadi kesepakatan yang sebelumnya disetujui oleh sistem dalam komunikasi. Sementara proses pembentukan tanda yang dilakukan oleh pengirim agar sampai ke pengirim sesuai maksudnya disebut dengan semiosis. Hoed dalam Nurgiantoro (2012) menyatakan bahwa semiosis adalah suatu proses di mana suatu tanda berfungsi sebagai tanda, yaitu mewakili sesuatu yang ditandainya.Sementara pada teori Saussure, semiotik lebih http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 93 ditekankan pada aspek strukturalnya. Semiotika adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubunan dengannya: cara berfungsinya, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya Zoest dalam Santosa (2015). Semiotik biasa juga disebut dengan semiologi. Keduanya merupakan istilah yang sama, meski dalam perkembangannya istilah yang sering digunakan adalah semiotik. Dalam studi semiotika secara khusus dibagi atas 3 bagian utama yaitu, (1) sintaksis semiotik, yaotu studi tentang yanda yang berpusat pada penggolongannya, pada hubungannya dengan tanda-tanda lain, dan pada caranya bekerja sama menjalankan fungsinya; (2) semantik semiotik, yakni studi yang menonjolkan hubungan tanda-tanda engan acuannya dan dengan interpretasi yang dihasilkannya; (3) pragmatik semiotik, yakni studi tentang tanda yang mementingkan hubungan antara tanda dengan pengirim dan penerima Zoest dalam Santosa (2015). Menurut Nurgiantoro (2012) semiotik dapat dibedakan dalam dua jenis semiotik, yaitu semiotik komunikasi dan semiotik signifikansi. Semiotik komunikasi menekankan pada teori produksi tanda, sedangkan semiotik signifikansi menekankan pada pemahaman dan atau pemberian makan, suatu tanda. Semiotik komunikasi lebih mengarah pada bagaimana tanda itu dihasilkan atau diciptakan dalam sebuah wacana, hingga dapat memunculkan interpretasi pada sebuah sistem atau pesan yang disampaikan. Sedangkan semiotik signifikansi mengarahkan pada pemahaman yang didapatkan pada tanda yang telah diciptakan itu agar segala hal yang dimaksudkan akan disampaikan oleh penulis dapat diambil oleh pembaca itu sendiri. Lebih lanjut semiotika signifikansi ini tidak mengindahkan adanya produksi dan tujuan komunikasi dan hanya berkutat pada pemahaman tanda serta interpretasinya. Teori Semiotik Saussure Teori Sausurre ini mengacu pada semiotik struktural yang pada mulanya banyak berkembang di Eropa. Dalam sejarah perkembangannya, istilah-istilah yang dipakai oleh para pemakainya dalam kajian semiotik ini banyak meminjam istilah dan model linguistik. Hal ini terjadi karena saat teori semiotik ini tengah dikembangkan, teori linguistik telah berkembang pesat sehingga menyebabkan terjadinya pertautan pada dua cabang ilmu yang tidak jauh berbeda. Gambar 1: Tanda, Penanda, dan Petanda Penanda Petanda Tanda Sumber: Pribadi http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 94 Menurut Nurgiantoro (2012) teori Saussure mengemukakan bahwa bahasa sebagai sebuah sistem tanda memiliki dua unsut yang tak terpisahkan; signifier dan signified, signifiant dan signifie, atau penanda dan petanda. Unsur tersebut yang kemudian disebut sebagai model dyadic. Penanda berwujud bunyi-bunyi yang dihasilkan melalui ujaran atau bisa berupa huruf-huruf yang dihasilkan dari tulisan-tulisan, sedangkan petanda adalah unsur konseptual. Dengan kata lain, penanda adalah symbol yang diekspresikan baik secara lisan maupun tertulis, dan pertanda adalah makna yang tersebunyi di dalam symbol. Kedua baik petanda maupun penanda memiliki sifat arbitrer dalam suatu masyarakat sebagai sebuah bahasa. Sehingga konsep yang muncul dari gagasan yang ada dalam pikiran kemudian mampu diinterpretasikan sebagai sesuatu yang bermakna oleh si penerima pesan. Hal ini dapat diartikan, tanda dianggap sebagai sesuatu yang penting dalam sistem bahasa. Tanda dapat ditangkap dan dipahami dengan maksud-maksud tertentu ketika pengirim tanda dan penerima tanda memiliki sifat bahasa yang arbitrer atau telah memiliki kesepakatan sosial. Bahasa dianggap sebagai sebuah sistem. Artinya berarti bahasa memiliki unit kesatuan yang terdiri dari unsur-unsur terpisah dan menjadi satu. Unsur-unsur tersebut yang kemudian dijadikan objek analisis dalam teori Saussure ini dalam kaitannya dengan sebuah karya sastra. Aspek yang berkaitan dengan unsur kebahasaan yang muncul pada perkembangan teori linguistik struktural ini kemudian dijadikan sebagai landasan dalam kajian sastra semiotik. Beberapa aspek memiliki unsur kesamaan antara aspek linguistik dan sastra seperti semantik, sintakasis, dan pragmatik. Menurut Todorov dalam Nurgiantoro (2012) kajian semiotik karya sastra dikelompokkan berdasarkan aspek verbal, aspek sintaksis, dan aspek semantik. Sedangkan menurut kaum Formalis Rusia dibedakan kedalam wilayah kajian stilistika, komposisi, dan tematik. Konsep teori yang banyak digunakan pada teori Saussure adalah hubungan paradigmatik dan sintagmatik. Ronald Barthes dan Tzvetan Tedorov mengelompokkan dua konsep tersebut dalam sintaksis dan semantik. Hubungan sintagmatik dipergunakan untuk menelaah struktur karya sastra dengan menekankan urutan satuan-satuan makna karya yan dianalisis, sementara hubungan paradigmatik merupakan hubunganmakna dan pelambangan, hubungan asosiatif, pertautan makna, antara unsur yang hadir dengan yang tidak hadir (Nurgiantoro, 2012). Lebih singktnya dapat dipahami bahwa hubungan sintagmatik merupakan hubungan yang bersifat linear pada satu aspek dengan aspek yang lainnya. Semisal antara tokoh dan latar yang muncul dalam cerita, memiliki dua kesatuan unsur yang sama dan dapat dianalisis hubungan keduanya melalui sistem tanda yang dibangun dalam dialog atau secara deskriptif. Sementara hubungan paradigmatig lebih condong pada asosiatif. Misalnya membahas tentang perwatakan tokoh dan gagasan yang dimunculkannya dalam cerita, atau bisa berupa hubungannya http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 95 dengan latar baik tempat, waktu maupun suasana. Cerita yang tidak disusun secara runtut namun berkesinambungan antara satu dan lainnya merupakan bagian dari sistem tanda. Dalam sebuah cerita atau karya fiksi, tidak perlu ada hal-hal yang berkaitan secara terstruktur meskipun dalam teori digambarkan tentang struktur cerita yang runtut. Namun, sebuah karya harus memiliki kauaslitas atau rasional jika dipikirkan atau dimainkan dengan logika dan akal sehat. Analsis sistem tanda atau semiotika dalam sebuah karya sastra bukan menjadi hal yang asing terlebih pada karya sastra surealis yang biasanya mengisahkan permasalahan tersirat berkaitan dengan kritik sosial, keadilan sosial, dan hal- hal yang bisa diselesaikan secara realistis untuk kehidupan banyak orang. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data pada penelitian ini adalah cerpen yang berjudul RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang. Data yang dihasilkan berupa kutipan-kutipan yang memuat semiotika pada percakapan dan tingkah lagu dalam naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang. Teknik pengumpulan data peneliti menggunakan teknik simak dan catat. Mahsun (2006: 90-91) menyatakan bahwa teknik simak adalah cara yang digunakan untuk memperoleh data dengan menyimak penggunaan bahasa, sedangkan teknik catat adalah teknik lanjutan yang dilakukan ketika menerapkan metode simak. Keabsahan data merupakan alat ukur yang mempersoalkan alat ukur tersebut benar dapat mengukur yang hendak diukur. Keabsahan data dapat dilakukan dengan beberapa cara dalam penelitian kualitatif untuk menjamin data yang diperoleh. Keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi teori. Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Ibrahim, 2015: 121). Trianggulasi teori digunakan untuk menguji keabsahan data yang ditemukan dengan berlandaskan pada teori yang ada. HASIL DAN PEMBAHASAN Semiotika memfokuskan kajian pada tanda yang dibentu dari petanda dan penanda. Jika mendasarkan pada teori Saussure ini, keberadaan semiotika menjadi hal pokok dalam sebuah karya sastra. Pasalnya, diksi yang digunakan sebagian besar penulis sastra atau bahkan sebagian besar karya sastra baik realis maupun surealis, akan melibatkan frasa dan kata yang konotatif. Konotasi merupakan makna yang ada dalam kata, namun bukan makna secara http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 96 langsung. Adapun kaitannya dengan epistemologi, karya sastra akan mengantarkan susunan kata-kata sebagai sistem tanda menjadi salah satu jenis metode memperoleh ilmu pengetahuan. Sistem tanda yang dibangun melalui diksi yang digunakan, dapat memberikan indikasi suasana, budaya dan bahkan kecirikhasan penulis dalam karya sastranya. Dalam drama RT Nol RW Nol, pemakaian sistem tanda memberikan gambaran keadaan sosial begitu kental terasa. Pada kalimat yang dipaparkan dalam prolog, penulis memaparkan deskripsi keadaan atau suasana yang dibentuk dalam ruangan yang dihuni oleh para tokoh di bawah jembatan terebut. Peralatan-peralatan yang ada dijelaskan dengan menguatkan sistem tanda yang berhubungan dengan kekurangan, kemiskinan dan keterbatasan. Kutipan di bawah ini. TIKAR-TIKAR ROBEK. PAPAN-PAPAN. PERABOT-PERABOT BEKAS RUSAK. KALENG-KALENG MENTEGA DAN SUSU KOSONG. LAMPU-LAMPU TOMPLOK. DUA TUNGKU, BERAPI. DI ATASNYA KALENG MENTEGA, DENGAN ISI BERASAP Kutipan tersebut mmberikan penjelasan sistem pengetahuan yang berkaitan dengan nalar atau reason. Penalaran tersebut diciptakan oleh penulis dalam mendeskripsikan suasana tempat tinggal tokoh dengan ciri khas dan penyesuaian pada status sosial yang terbentuk dari tokoh-tokoh cerita. Kemudian sistem tanda yang kedua ditemukan berkaitan dengan penginderaan yaitu indra penglihatan. Dalam sistem tanda ini, hal yang terjadi ketika tokoh kakek, melakukan sistem kode ketika berdialog dengan lawan bicaranya. KAKEK (Menggeleng-Gelengkan Kepalanya, Sambil Mengaduk Isi Kaleng Mentega Di Atas Tungku) Kata “menggeleng-gelengkan kepalanya” merupakan suatu sitem tanda yang memberikan penjelasan dengan indera penglihatan. Dalam kehidupan sehari-hari menggelengkan kepala dapat diartikan sebagai sebuah jawaban dari pertanyaan yang berupa penolakan atau bisa sebuah kekaguman atau kekagetan dalam menyikapi suatu hal yang terjadi. Dalam kutipan tersebut, menggelengkan kepala yang dilakukan oleh kakek lebih mengarah pada sebuah kekaguman atau ketidak percayaan pada suasana yang ada dalam cerita. Ini dibuktikan dengan sikap kakek yang menggelengkan kepala tanpa melihat lawan bicaranya. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 97 Selanjutnya, sistem tanda yang digunakan dalam bentuk nalar. Nalar yang digunakan dalam dialog berkatian dengan pola mata pencaharian yang ada dalam cerita. Pemakaian majas, atau gaya bahasa lebih mengarah pada istilah kasar yang diperhalus atau biasa disebut dengan ironi. Kutipan di bawah ini. ANI: Negara punya kesibukan. Kesibukan itu namanya: bernegara. Frasa yang dipilih (diksi) dalam kutipan di atas yaitu “negara punya kesibukan” dapat diartikan secara denoatif sebagai makna pemerintah malas mengurus negara atau biasanya merupakan tugas aparatur negara dan pemerintah sangat sibuk sehingga tidak mampu mengurusi hal-hal kecil. Namun dalam kutipan di atas jika disesuaikan dengan konteks kalimat dalam naskah drama, kata “negara punya kesibukan” dimaksudkan adalah kode bahwa pemerintah tidak akan mau mengurusi masalah-masalah rakyat kelas bawah dan rakyat kecil karena kesibukan pemerintah dalam mengurusi negara sendiri. Selanjutnya, sistem pengetahuan diperoleh dari tanda berupa intuisi. Intuisi merupaka proses kejiwaan dengan atau tanpa rangsangan dan stimulus. Dalam kutipan di bawah ini, tokoh Ani mengalami proses kejiwaan yang langsung berdampak pada pola tingkah lakunya. Kutipan berikut. ANI KESAL. IA PERGI KETEPI BAWAH JEMBATAN, MELIHAT KELANGIT. DIACUNG-ACUNGKAN TINJUNYA BERKALI-KALI KELANGIT. SUARA GELUDUK. Dalam kutipan di atas, digambarkan tingkah laku Ani yang melihat ke langit untuk memberi respon pada suatu kejadian dan kemudian mengacungkan tinjunya berkali-kali. Melihat ke langit merupakan efek dari sistem indera pendengaran yang difungsikan ketika mendengar suara kilat bergemuruh. Perkiraan akan datangnya hujan padahal Ani hendak pergi. Hal tersebut digabungkan dengan”diacung-acungkan tinjunya berkali-kali ke langit”. Memberikan gambaran bahwa tokoh Ani, mengalami intuisi dalam jiwanya ketika keinginan yang dimilikinya tidak didukung oleh keadaan yang ada di lingkungannya. Ketika diceritakan bahwa Ani akan pergi untuk mencari nafkah, langit justru tidak hentinya bergemuruh dan menandakan hujan akan datang. Sistem tanda yang muncul selanjutnya berkaitan dengan nalar sekaligus keyakinan. Dalam dialog diceritakan bahwa mereka adalah orang- orang yang serba kekurangan, namun masih memiliki usaha untuk bekerja dan bertahan hidup sekalipun hanya untuk makan. Dalam dialog digambarkan sebuah konteks keberhasilan dalam mencari nafkah adalah dengan memperoleh makanan dengan lauk enak dan serba kecukupan. Dalam kutipan berikut. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 98 Sepiring nasi putih panas, sepotong daging rendang dengan bumbunya kental berminyak-minyak, sebutir telur balado, dan segelas penuh teh manis panas. Dan sebagai penutup, sebuah pisang raja yang kuning emas… Kutipan di atas secara komprehensif menunjukkan sistem tanda yang berupa nalar. Artinya sekumpulan makanan-makanan yang disebutkan dalam dialog atau narasi dialog dalam naskah drama, memberikan gambaran sesuatu yang amat istimewa bagi lapisan masyarakat tertentu. Stigma ini berhasil ditanamkan dalam lingkungan sosial masyarakat tersebut bahwa yang berhasil adalah yang suatu hari bisa makan dengan nasi putih panas, daging rendang berbumbu kental berminyak, telur balado, dan teg manis panas. Pola pikir demikian juga merupakan rujukan dari keyakinan. Masyarakat daerah tersebut atau yang digambarkan dalam cerita memiliki keyakinan tentang makanan yang mereka konsumsi dengan seolah-olah seperti memberikan kasta pada hal-hal tertentu. Selanjutnya, sistem pengetahuan berkaitan dengan indera. Pada kutipan berikut. SELAMA ANI NGOCEH TENTANG MAKANAN ENAK ITU, YANG LAINNYA MENDENGARKAN DENGAN PENUH SAYU. BERKALI-KALI MEREKA MENELAN LIURNYA. SUARA GELUDUK. SEMUANYA MELIHAT SAYU PADA ANI. Kutipan di atas menggambarkan tokoh Ani dan tokoh yang lain dinarasikan dalam pola tingkah lakunya. Frasa “berkali-kali mereka menelan ludah” dilakukan ketika Ani menceritakan hal-hal berhubungan dengan makanan-makanan yang enak. Dalam kehidupan sehari hari, indera pengecap atau lidah memiliki fungsi merasakan makanan yang masuk ke mulut. Kutipan tersebut menunjukkan tokoh yang menelan liur, diartikan bahwa tokoh tersebut memiliki keinginan untuk memakan sesuatu yang mereka imajinasikan. Imajinasi yang tidak dapat direalisasikan tersebut akhirnya terwujud dalam pola tingkah laku menelan liur. Kutipan selanjutnya berkaitan dengan intuisi. Hal ini disebabkan oleh rangsangan atau stimulan yang muncul sebagai stimulan untu tokoh dalam mengambil tindakan yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku. Kutipan berikut. PINCANG TIBA-TIBA MENYEPAK KUAT-KUAT SEBUAH KALENG KOSONG DI TANAH. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 99 Kutipan tersebut berdasarkan teks diartikan sebagai sebuah respon pada rangsangan dengan ungkapan emosional tingkah laku. Sementara pada kutipan berikut. PINCANG DIAM, KEMUDIAN BERSUNGUT-SUNGUT. Sama halnya dengan kutipan pertama, kalimat yang dibangun memberikan indikasi keadaan seseorang dalam merespon rangsangan yang diberikan oleh orang lain atau tokoh lain. Pada kutipan pertama luapan emosi menjadi respon yang diwujudkan dalam tingkah laku, sementara pada kutipan kedua, respon yang terjadi berupa sikap dingin dan diam yang dapat diartikan sebagai sebuah kekecewaan. Kutipan selanjutnya berkaitan dengan intuisi dan juga indera yang dibangun dalam tingkah laku tokoh. Kutipan berikut. KAKEK MENGOREKI KALENG ITU, MAKIN, DAN MENJILATI JARI-JARINYA. Dalam kutipan di atas digambarkan tingkah laku kakek dalam mengoreki kaleng dan menjilati jari-jarinya. Sistem tanda yang dibangun dalam kalimat tersebut berkaitan dengan intuisi yang muncul atas pengaruh dari jiwa dan bukan dari rangsangan yang dimunculkan dalam kejadian atau keadaan di sekitarnya. Selain itu “menjilati jari-jarinya” merupakan kaitan dengan panca indera yaitu pengecap. Pola pikir masyarakat akan melihat bahwa tingkah laku menjilat jari berarti menikmati makanan yang telah selesai dimakan. Begitu nikmat, hingga tidak membiarkan makanan tersebut tersisa dijarinya. Selanjutnya kalimat dialog dalam kutipan di bawah ini memberikan sistem pengetahuan melalui sistem nalar dan juga keyakinan. PINCANG Tidak banyak, kecuali barangkali sekedar mempertahankan hidup taraf sekedar tidak mati saja, dengan batok kotor kita yang kita tengadahkan kepada siapa saja, kearah mana saja. Mereka anggap kita ini sebagai suatu kasta tersendiri, kasta paling hina, paling rendah. Kutipan tersebut menciptakan suatu nalar yang amat kental. Dapat dilihat dari kutipan “...dengan batok kotor kita yang kita tengadahkan kepada siapa saja”. Dalam kalimat tersebut muncul anggapan konotatif tentang sebuah usaha yang dilakukan oleh tokoh dalam mempertahankan hidup melalui kegiatan mengemis. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 100 Sementara itu, keyakinan dibangun dari unsur kejiwaan rasa. Dalam hal ini rasa yang muncul adalah merasa rendah digambarkan dalam kutipan “Mereka anggap kita ini sebagai suatu kasta tersendiri..”. kutipan tersebut merujuk pada anggapan oleh masyarakat secara umum yang kemudian memunculkan respon perasaan pada objek. Selanjutnya, kesamaan alat memperoleh pengetahuan dari nalar atau reason, dalam kedua kutipan berikut. Setengah modar aku tadi mengitari pelabuhan bersama dia, tapi suaminya tetap tak ketemu. Kutipan pertama, memberikan gambaran pilihan diksi konotatif dari frasa “setengah modar”. Meskipun kata “modar” sebenarnya diambil dari bahasa Jawa yang artinya mati. Ungkapan tersebut berarti si tokoh sudah melakukan sesuatu dengan usaha yang sangat keras. Setengah modar atau setengah mati artinya nyawanya sudah setengah hilang. Biasanya digunakan sebagai ungkapan kerasnya usaha yang telah dilakukan. PINCANG O, apa aku harus menutup mulutku terus? Mengapa setiap ucapanku kauanggap sebagai cari fasal saja? Sama halnya dengan kutipan sebelumnya, frasa “menutup mulut” dalam kalimat di atas memberikan gambaran sebuah pertanyaan dengan nada protes. Dalam konteks drama, hal tersebut dapat dianggap sebagai sebuah respon dari keadaan yang bertentangan. Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan menutup mulut berarti diam. Diam yang dapat diartikan dari segi mana pun bisa berupa, menjaga rahasia, diam karena takut, atau bahkan diam karena tak bisa melakukan perlawanan. Alat memperoleh pengetahuan selanjutnya dengan panca indera. Indera yang terlibat dalam tingkah laku yang dilakukan oleh dua orang tokoh tersebut adalah indera penglihatan. Berikut kutipan dalam teks. PINCANG TERDIAM. LAMA IA BERTUKAR PANDANGAN DENGAN BOPENG. Kutipan di atas memakai frasa “bertukar pandangan” setelah sebelumnya disebutkan dengan tingkah laku “terdiam lama”. Kedua pola tersebut sebenarnya tersistem dan saling bertautan satu dengan yang lainnya. Hal itu terjadi dalam keadaan saling bingung antara satu dengan yang lainnya sehingga tidak ada yang bisa dilakukan selain diam dan saling bertatapan. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 101 Selanjutnya, ketiga kutipan dalam cerita yang dipaparkan melalui dialog memiliki kesamaan alat dalam memperoleh pengetahuan. Kutipan berikut. PINCANG Apa kau tak tahu, bahwa mereka dengan bang becak itu selama ini membentuk suatu usaha, namanya “Becak Komplit”? KAKEK Seingatku, di restoran yang besaran dikit, kita bisa pesan apa yang disebut “Biefstuk Komplit”. BOPENG Baru-baru ini ada ditulis di koran tentang “Patriot Komplit”. Ketiga kutipan di atas memberikan sebuah ungkapan konotatif di mana keseluruhan menuju ke dalam suatu makna yang dapat diartikan sebagai ironi atau memperhalus ungkapan yang sebenarnya kasar. “Becak komplit” dalam konteks cerita diartikan sebagai becak yang juga berperan atau merangkap pekerjaan sebagai mucikari atau penyedia jasa pekerja seks untuk laki-laki hidung belang. Sementara “biefstuk komplit” mengarah pada sebuah nama makanan yang ada di restoran yang memberikan paparan bahwa makanan yang dimaksudkan adalah makanan mewah. Sementara “patriot komplit” memberikan pengertian masalah negara yang dianggap menyeluruh pada seluruh aspek kehidupan sosial dan masyarakat sehingga dianggap sebagai suatu hal kompleks yang disederhana menjadi aspek komplit. Kutipan berikut melibatkan alat pencarian pengetahuan yang berupa indera. Kaitan indera yang terlibat dalam tingkah laku berikut adalah indera peraba. Kutipan sebagai berikut. KAKEK (Setelah Menyenggol Pincang Keras-Keras Dengan Sikunya Di Samping) Kata “menyenggol pincang” memberikan indikasi ungkapan denotatif. Namun dalam kelanjutannya “dengan sikunya” menunjukkan bahwa senggolan yang dilakukan dengan siku merupakan sistem tanda yang dapat diartikan sebagai, ajakan untuk menyetujui permintaan. Dalam konteks cerita, senggolan yang dilakukan dengan siku tersebut meminta sebuah respon untuk memberikan persetujuan pada pernyataan yang telah dibuat oleh si Kakek. Dua kutipan terakhir memiliki kesamaan dalam hal alat memperoleh pengetahuan. Kedua kutipan ini melibatkan nalar/reason dan juga keyakinan dalam jiwa, akal, dan kehendak dalam meyakini suatu hal. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 102 Tapi, kemudian koran-koran bungkem saja mengenai penghinaan- penghinaan yang kita terima di sana. Kemudian kita dengan sendirinya berusaha dapat lari dari sana, untuk kemudian terdampar lagi di tempat- tempat seperti ini. Tidak, Bang! Mulai sekarang, aku mengharapkan tidurku bisa nyenyak, tak lagi sebentar-sebentar terkejut bangun, basah kuyup oleh keringat dingin. Kutipan di atas lebih menonjolkan alat nalar sebagai pencari pengetahuan. Nalar yang dimunculkan berupa kemampuan dalam budi manusia dalam menghubungkan situasi yang ada dalam kehiduan nyata yang disaksikan melalui media dalam kutipan “...koran-koran bungkem saja mengenai penghinaan-penghinaan yang kia terima...”. Masalah ini menggambarkan kehidupan nyata di mana, media mereka anggap tidak pernah berpihak pada mereka. Ini muncul dari nalar yang dihubungkan dari realitas yang ada dengan kondisi kehidupan para tokoh yang memiliki anggapan tersebut. Dalam kutipan berikutnya. Semakin tua kita, semakin lamban kita, semakin keluar kita dari rel… dan akhirnya: dari tuna karya, kita jadi tuna hidup. Selanjutnya, tinggallah lagi kita jadi beban bagi kuli-kuli kotapraja yang membawa mayat kita ke RSUP. Apabila kita mujur sedikit, maka pada saat terakhir mayat dan tulang-tulang kita masih dapat berjasa bagi ilmu urai kedokteran, menjadi pahlawan- pahlawan tak dikenal bagi kemanusiaan. Sebagai kalimat penutup, yang memuat amanat sangat dalam sekali mengenai hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan Tuhan- nya. Pada kalimat “Semakin tua kita, semakin lamban kita...” memberikan gambaran fase hidup manusia yang selanjutnya mengalami masa redup dan tidak akan berdaya melawan takdir yang ada. selanjutnya “...jadi beban bagi kuli-kuli kotapraja...” merupakan kaitan hubungan manusia dengan manusia yang kemudian dilanjutkan dengan, “...saat terakhir mayat dan tulang-tulang kita masih dapat berjasa bagi ilmu urai kedokteran...” mendukung gagasan sebelumnya berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia. Kaitan kedua aspek manusia dengan manusia dan juga manusia dengan Tuhan ini memunculkan gagasan bahwa alat keyakinan merupakan suatu sistem kesatuan yang menyeluruh dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya berjalan beriringan menjadi satu pola dalam menentukan suatu pengetahuan yang baru. Berdasarkan analisis di atas, keberadaan sistem tanda atau semiotika dalam naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupan memuat aspek panca indera, nalar, intuisi, dan keyakinan dalam mencari pengetahuan. Secara epistemologi, proses dalam mencari pengetahuan baru akan muncul melalui banyak hal, utamanya dari budaya dan peradaban baru yang dibentuk dalam suatu sistem sosial tertentu. Hal-hal tersebut, dalam epistemologi merujuk http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 103 pada sistem yang menyatu melalui struktur cerita yang disebut dengan unity. Melalui unity dalam sebuah karya sastra, sistem tanda atau semiotika ini terbentuk dan menjadi satu kesatuan sebagai sarana menyampaikan hal-hal tersirat maupun tersurat. KESIMPULAN Analisis unsur semiotika dalam naskah drama RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang memuat berbagai macam kode dan tanda yang menjadi ciri khas atau selingkung (slank) dalam suatu lingkaran komunikasi manusia. Di dalam drama ini, terdapat banyak sekali tanda-tanda bahasa baik yang diucapkan secara lisan maupun yang dipakai dengan tingkah laku tertentu. Hal ini tentu menarik karena pada dasarnya pola komunikasi dalam setiap lingkaran sosial masyarakat berbeda-beda. Dikaji dengan pendekatan teori semitoika dari Ferdinand De Saussure, konsep teori yang digunakan adalah hubungan paradigmatik dan sintagmatik. Ronald Barthes dan Tzvetan Tedorov mengelompokkan dua konsep tersebut dalam sintaksis dan semantik. Hubungan sintagmatik dipergunakan untuk menelaah struktur karya sastra dengan menekankan urutan satuan-satuan makna karya yan dianalisis, sementara hubungan paradigmatik merupakan hubunganmakna dan pelambangan, hubungan asosiatif, pertautan makna, antara unsur yang hadir dengan yang tidak hadir Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada karya Iwan Simatupang yang berjudul RT Nol RW Nol, peneliti menemukan berbagai macam unsur semiotika yang digunakan dalam percakapan maupun sebagai kode dalam menyampaikan sesuatu. Hal tersebut bisa dilakukan dan dimengerti oleh orang-orang tertentu dan tidak akan bisa dimengerti oleh orang yang tidak biasa. Gaya bahasa atau semiotika ini bisa berlaku karena adanya pembiasaan yang dilakukan dan menjadi tradisi bagi kehidupan sosial dan sehari-hari orang-orang di sana. DAFTAR PUSTAKA Dejowati, C. (2010). Drama Sejarah Teori dan Penerapannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Ediyono, S. (2015). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Kaliwangi. Endraswara, S. (2012). Filsafat Sastra: Hakikat, Metodologi, dan Teori. Yogyakarta: Layar Kata. Harymawan, R. M. A. (1988). Dramaturagi. Bandung: CV Rosda. Ibrahim. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. Mahsun. (2006). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Nurgiyantoro, B. (2012). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 1 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Analisis Unsur Semiotika dalam Naskah Drama “RT Nol RW Nol” Karya … Ardhian Nurhadi, Amila Hillan, Arfian Arrosid Nurd DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104 104 University Press. Nurgiyantoro, B. (2014). Stilistika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Nurhadi, B. W. (2012). Perkembangan Muthakir Teatre Indonesia (Analisis Rubrik Teater Majalah Tempo 2001 – 2005). Yogyakarta: Kanwa Publisher Pradopo, R. D. (2011). Prinsip-prinsip Kritik Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pramayoza, D. (2012). Dramaturgi Sandiwara. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Rahmanto, B & Haryanto, P. (2001). Cerita rekaan dan Drama. Jakarta: Universitas Terbuka. Tim Dosen Filsafat UGM. (2010). Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty Waluyo, Herman J. (2010). Pengantar Filsafat Ilmu. Salatiga: Widya Sari Press. Wellek & Warren. (2014). Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia. Wiyatmi. (2009). Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.90-104