Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 187 Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia The Illocutionary Speech Acts of Ridwan Kamil in The Insight Talkshow at CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita1*, Teguh Setiawan2 1,2Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta *veranita.ragil2016@student.uny.ac.id Riwayat Artikel: Dikirim 23 Oktober 2019; Diterima 27 Desember 2019; Diterbitkan 31 Desember 2019 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) bentuk tindak tutur ilokusi, dan (2) jenis tindak tutur ilokusi di CNN Indonesia. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskripsi kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan yang diucapkan oleh Ridwan Kamil pada acara talkshow insight di CNN Indonesia periode 2017-2018. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrument). Instrumen penelitian kemudian divalidasi oleh expert judgment. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan pragmatis dan metode agih. Berdasarkan analisis data dapat ditarik dua simpulan. Pertama, bentuk tindak tutur ilokusi yang ditemukan berupa deklaratif, imperatif, dan interogatif. Kedua, jenis tindak tutur ilokusi yang ditemukan berupa asertif, direktif, komisif, dan ekspresif. Kata kunci: pragmatik, tindak tutur, ilokusi, dan talkshow. ABSTRACT This study aims to describe (1) the form of illocutionary speech acts, and (2) the types of illocutionary speech acts on CNN Indonesia. This research is a type of qualitative description research. The data source in this study is the utterances uttered by Ridwan Kamil on talkshow insights on CNN Indonesia for the 2017-2018 period. The data collection technique in this study is the skillful free listening technique (SBLC) and note taking technique. The research instrument used in this study was the researcher himself (human instrument). The research instrument was then validated by expert judgment. The data analysis technique in this study uses the pragmatic equivalent method and the agih http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 mailto:veranita.ragil2016@student.uny.ac.id Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 188 method. Based on data analysis, two conclusions can be drawn. First, the forms of illocutionary speech acts found are declarative, imperative, and interrogative. Second, the types of illocutionary speech acts found were assertive, directive, commissive, and expressive. Keywords: pragmatics, speech act, illocutionary, talkshow PENDAHULUAN Komunikasi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya komunikasi manusia akan menerima suatu informasi baik lisan maupun tulis. Komunikasi lisan merupakan komunikasi yang berupa tuturan langsung dari penutur terhadap mitra tutur. Sementara, komunikasi tulis berupa penyampaian informasi dalam media tulisan. Alat utama dalam berkomunikasi adalah bahasa, jadi dapat dikatakan bahwa fungsi bahasa yang paling utama ialah sebagai alat komunikasi. Bahasa sebagai alat komunikasi memiliki fungsi sebagai alat untuk menyampaikan maksud yang ingin disampaikan penutur terhadap mitra tutur. Ilmu bahasa yang mengkaji mengenai maksud penutur adalah pragmatik. Seperti dikatakan Koutchade (2017) bahwa kajian pragmatik bahasa adalah penyelidikan terhadap aspek makna ada bukan berasal dari sifat formal kata dan konstruksi, tetapi dari cara ujaran digunakan dan bagaimana mereka berhubungan dengan konteks tertentu yang berada dalam domain pragmatik. Sejalan dengan Parker (1986:11) bahwa pragmatik merupakan studi mengenai bagaimana suatu bahasa digunakan dalam berkomunikasi. Sementara itu, Levinson (1983:9) mengatakan bahwa Pragmatics is the study of those relations between language and context that are grammaticalized, or encoded in the structure of a language. Levinson disini mendefinisikan pragmatik sebagai suatu kajian antara bahasa dan konteks dalam struktur bahasa. Fokus kajian pragmatik adalah maksud penutur yang tersurat ataupun bisa juga tersirat dalam suatu tuturan. Agar dapat memahami maksud penutur dengan baik dan benar diperlukan pemahaman mengenai konteks tuturan. Seperti yang dikatakan Mey (1993:42) bahwa pragmatics is the study of conditions of human language uses as these are determined by the context of society. Pendapat Mey disini menjelaskan bahwa pragmatik merupakan ilmu bahasa yang mempelajari kondisi dalam penggunaan bahasa manusia yang ditentukan oleh konteks yang melatarbelakangi bahasa tersebut. Pragmatik juga dapat dikatakan ilmu bahasa yang mengkaji mengenai maksud yang ingin disampaikan penutur terhadap lawan tutur. Ilmu bahasa ini berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya. Menurut Yule (2006:5) pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakai bentuk-bentuk itu. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 188 Pragmatik juga banyak kita temukan dalam setiap percakapan. Nadar (2009:2) juga mengungkapkan bahwa pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajari bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dalam situasi tertentu. Jadi dapat dikatakan bahwa pragmatik adalah suatu kajian ilmu linguistik yang membahas mengenai pemakainya dalam percakapan yang memiliki tujuan menyampaikan maksud tertentu dan melibatkan situasi/konteks tertentu. Kajian pragmatik sendiri memiliki peran yang penting dalam pembelajaran bahasa, karena dipandang sebagai studi penggunaan bahasa dalam konteks komunikatif seperti mengenali pesan yang dikomunkasikan atau tindak ucapan yang sedang dituturkan. Salah satu topik utama dalam kajian pragmatik adalah tindak tutur. Ilmu pragmatik sendiri merupakan bidang di dalam linguistik yang mengkaji maksud ujaran, bukan makna kalimat yang diujarkan. Selain maksud ujaran, pragmatik juga mempelajari fungsi ujaran: untuk apa ujaran suatu ujaran dibuat atau dilakukan. Jadi dapat dikatakan bahwa satuan analisisnya bukanlah kalimat (kalimat adalah satuan tata bahasa), melainkan tindak ujaran atau tindak tutur (Purwo, 1994:84). Dengan satu ujaran “Saya haus” misalnya, sebenarnya kita melakukan dua tindak ujaran, yaitu memberitahu dan meminta. Seperti dikatakan oleh Bayat (2012:214) saat menggunakan bahasa orang tidak hanya menghasilkan serangkaian kalimat yang terisolasi, tetapi juga melakukan tindakan. Dengan kata lain, dengan menggunakan bahasa mereka melakukan sesuatu atau membuat orang lain melakukan sesuatu. Melalui tindak tutur dapat dikaji mengenai maksud dari suatu ujaran. Selain itu, teori tindak tutur mencoba menjelaskan bagaimana penutur menggunakan bahasa untuk mencapai tujuan tindakan dan bagaimana mitra tutur menyimpulkan makna yang dimaksudkan sehingga membentuk apa yang dikatakan (Altikriti, 2011). Teori tindak tutur merupakan aspek fungsi pragmatik yang dikembangkan oleh J.L. Austin pada tahun 1962. Austin menekankan lebih jauh bahwa ketika kita berbicara, kita melakukan tindakan tertentu (Olagunju, 2016). Pada bukunya yang berjudul “How To Do Things With World”, Austin menganut teori dengan berkonsentrasi pada tiga komponen yaitu, lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Ketiga tindakan tersebut merupakan tindakan untuk menyatakan sesuatu, tindakan untuk melakukan sesuatu, dan tindakan untuk mempengaruhi. Di lain pihak, Searle (1974) yang berangkat dari gagasan dan ide Austin, mengembangkan pemikirannya ke dalam buku yang berjudul “Specch Act, and Eassy in the Philosophy of Language” yang membagi tindak tutur menjadi tiga macam tindakan yaitu tindakan lokusioner (utterance act atau locutionary act) merupakan tindakan dalam mengatakan suatu ujaran atau menyatakan sesuatu (the act of saying something), tuturan ini dituturkan oleh penutur untuk menginformasikan suatu hal tanpa adanya maksud tertentu., tindak http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 189 ilokusioner (illocutionary act) suatu tindakan yang terkandung dalam suatu tuturan atau memiliki maksud tertentu, atau dapat juga dikatakan mengharapkan reaksi dari mitra tutur (the act of doing something), dan tindak perlokusioner (perlocutionary act) tuturan yang dituturkan untuk mempengaruhi lawan tutur untuk melakukan apa yang diinginkan oleh penutur (an act of effecting someone). Dari ketiga tindakan tersebut, tindakan ilokusi merupakan tindakan utama atau sumber makna yang ada di dalam ketiganya. Untuk itu, Searle mengembangkannya ke dalam lima tindak tutur ilokusi. Kelima teori tindak tutur ilokusi tersebut diantaranya: asertif, komisif, direktif, ekspresif, dan dekrlarasi. Seiring perkembangannya, tindak tutur ilokusi dapat ditemukan dalam berbagai macam tuturan, entah itu tuturan lisan maupun tuturan tulis. Dalam tuturan lisan salah satunya terdapat pada media elektronik. Salah satu media massa yang paling banyak dan sering digunakan adalah televisi. Untuk itu berbagai stasiun televisi khususnya di Indonesia semakin bersaing dalam membuat tayangan yang menarik bagi pemirsanya. Salah satunya adalah program talkshow insight di CNN Indonesia. Program talkshow yang dipandu oleh Desi Anwar ini, menghadirkan narasumber dengan tema yang berbeda setiap episodenya seperti sosial, politik, dan budaya. Salah satu narasumber dalam acara tersebut yaitu Ridwan Kamil, yang saat itu menjabat sebagai walikota Bandung. Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam tuturan antara pembawa acara dan narasumber terdapat tuturan tindak ilokusi. Dalam penelitian ini, tuturan lebih difokuskan pada tuturan Ridwan Kamil yang mengandung tuturan ilokusi yang dapat dilihat dari bentuk dan jenisnya. Keduanya dapat membantu mitra tutur dalam memahami maksud tuturan penutur pada saat berkomunikasi. Konsep Tindak Tutur Ilokusi Sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu, dapat juga digunakan untuk melakukan sesuatu. Kejadian seperti ini dapat membentuk tindak tutur yang biasanya diesbut tindak ilokusi. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something. Tindak ilokusi merupakan apa yang ingin dicapai oleh penuturnya pada saat meunuturkan sesuatu dan dapat merupakan tindakan menyatakan, berjanji, minta maaf, mengancam, meramalkan, memerintah, meminta, dan lain sebagainya (Putrayasa, 2014:87). Dalam menuturkan sesuatu, penutur harus menggunakan kekuatan dalam bertutur, seperti yang dikatakan oleh Alston bahwa an illocutionary act is the act of issuing a locution with a certain “force”, for example, the force of question or a warning or a promise. Sejalan dengan Kaswanti Purwo (1994) bahwa tindak ilokusi lebih berbicara mengenai maksud, fungsi http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 190 atau daya ujaran yang bersangkutan, dan bertanya untuk apa ujaran itu dilakukan. Seperti dalam contoh tindak ilokusi “Saya haus” yang dimaksudkan dalam tuturan tersebut adalah untuk meminta minuman. Jadi dapat dikatakan bahwa pada dasarnya tindak ilokusi ini lebih pada maksud dari tuturan untuk melakukan sesuatu atau tindakan. Dalam bukunya, Cutting (2003:16) juga mengutarakan bahwa illocutionary force, ‘what is done in uttering the words’, the function of the words, the specific the purpose that the speakers have in mind. Jadi pada dasarnya kekuatan dari ilokusi sendiri tergantung pada apa yang diucapkan dengan melihat fungsi kata dan tujuan yang ada dalam benak penutur. Hal ini sejalan dengan pendapat Parker (1946:15) bahwa this is what the speaker intends to do by utterancing a sentence, illocutionary acts would include stating, promising, apologizing, threatening, predicting, ordering, and requesting. Seperti pada contoh berikut “letakan sepatumu diatas meja”. Maksud yang terkait dengan tindakan ilokusi biasanya dapat dikatakan bahwa kekuatan ilokusi ibu merupakan ucapan yang berupa perintah, karena tindakan ilokusi tidak seperti tindakan lokusi. Sementara itu menurut Horn and Ward (2007:55) bahwa illocutionary acts are acts done is speaking, including and especially that sort of act that is the apparent purpose for using a performative sentence. Hal ini sejalan dengan pendapat Yule (1996:48) bahwa the illocutionary acts is performed via the communicative force of an utterance. Seperti pada contoh “I have just made some coffe” pada tuturan tersebut diucapkan untuk membuat pernyataan, tawaran, penjelasan, atau untuk beberapa tujuan komunikatif lainnya. Levinson (1983:236) juga sependapat bahwa the making of statement, offer, promise, in uttering a sentence, by virtue of the conventional force associated with it. Dalam pengembangan atas teori tindak tutur Austin, dapat diklasifikasikan tindak tutur ilokusi menurut Searle secara umum yang dikelompokan atas lima bentuk yang didasari oleh empat dimensi, yakni titik ilokusi atau bentuk tindak tutur, arah kecocokan atau hubungan antara kata- kata dengan dunia, keadaan psikologis yang diungkapkan, dan muatan proporsional. Kelima jenis tindak tutur ilokusi menurut Searle dijelaskan lebih jauh sebagai berikut. 1. Representatif atau asertif (representatives or assertives), merupakan tindak tutur yang memberikan dorongan terhadap penutur ke arah kebenaran proporsi yang ditunjukan, sehingga membawanya pada suatu nilai kebenaran. Pada dasarnya tindak tutur jenis ini mengungkapkan kepercayaan penutur. Sementara itu, dalam menampilkan bentuk tindak tutur ini, penutur sendiri mewakili dunia yang dipercayainya apa adanya, sehingga membuat kata-kata yang dituturkannya cocok dengan dunia yang diyakini dan dipercayainya. Contoh kata-kata tersebut antara lain menyatakan, menyimpulkan, melaporkan, mengklaim, menuntut, http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 191 mengeluh, dan mengemukakan pendapat. Misalnya, tuturan She will come in a few minutes ‘Dia akan datang sebentar lagi’, merupakan tuturan yang bertujuan untuk memberitahu bahwa orang yang dimaksud penutur akan kembali sebentar lagi. 2. Direktif (directives) merupakan bentuk tindak tutur yang membuat mitra tutur melakukan sesuatu atas apa yang dituturkan oleh penutur. Menurut Arani (2012:163) arahan adalah ucapan yang ditujukan kepada lawan bicara untuk membuat dia melakukan sesuatu. Tindak tutur jenis ini menunjukan harapan atau keinginan penutur terhadap mitra tutur untuk melakukan sesuatu. Dalam penggunaannya, penutur bermaksud memperoleh beberapa tujuan tindakan mengenai masa depan, sehingga menjadikan dunia sesuai dengan kata-kata melalui mitra tuturnya. Contohnya seperti nasehat, perintah, pertanyaan, permintaan, penawaran, dan pemesanan. Misalnya pada tuturan Come here, please ‘tolong kemari’, pada tuturan tersebut penutur bertujuan untuk menyuruh mitra tuturnya agar mendekatinya. 3. Komisif (commissives) merupakan bentuk tindak tutur yang memberikan dorongan penutur kepada beberapa tindakan yang akan datang. Tindak tutur jenis ini mengungkapkan maksud dari penutur untuk melakukan sesuatu. Contohnya termasuk janji, penolakan, ancaman, sumpah, dan tawaran. Misalnya pada tuturan if you keep working like this, I will fire you ‘jika kamu tetap bekerja seperti ini, saya akan memecatmu. Pada tuturan tersebut penutur berusaha mengancam mitra tuturnya bahwa dia akan memecat seandainya mitra tuturnya tetap bekerja yang tidak sesuai dengannya. 4. Ekspresif (expressive) merupakan bentuk tindak tutur yang mengungkapkan suatu tindakan atau pernyataan psikologis penutur berupa kegembiraan, rasa suka atau tidak suka, dan kesedihan. Tindak tutur jenis ini, tidak ada hubungan antara kata-kata yang dituturkan dengan dunia pada area penutur. Contohnya berupa menyalahkan, memberi selamat, meminta maf, berterima kasih, dan memuji. Misalnya pada tuturan Congratulations on your graduation ‘selamat atas wisudamu’, dituturkan penutur terhadap mitra tutur untuk mengucapkan selamat atas wisudanya. 5. Deklaratif (declaratives) merupakan bentuk tindak tutur yang mempengaruhi dan mengubah keadaan peristiwa tertentu yang terjadi pada saat itu. Tindak tutur jenis ini biasanya diutarakan oleh suatu pihak tertentu, seperti suatu pihak yang mewakili suatu lembaga. Oleh karena itu, tindak tutur jenis ini dapat dikatak sebagai tindak tutur performatif terlembaga. Hal ini dikarenakan pada saat menampilkan tindak tutur ini, penutur sendiri menghasilkan adanya suatu perubahan dunia. Contohnya http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 192 seperti membaptis, memecat, menjatuhkan hukuman, dan menominasikan calon. Misalnya pada tuturan For the mistakes you have made, I suspend you for three days ‘atas kesalahan yang telah kamu perbuat, saya skors kamu selama tiga hari’, tuturan tersebut bermaksud menjatuhkan hukuman atas dari penutur kepada mitra tutur atas kesalahan yang telah diperbuat mitra tutur. Bentuk Tindak Tutur Ilokusi Seperti kita ketahui, dalam uraian mengenai tindak tutur, bentuk tindak tutur ilokusi dapat dilihat melalui kalimat yang diutarakan. Kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Ketiga kalimat tersebut dalam Nadar (2009:71) akan diulas sebagai berikut: 1. Kalimat Deklaratif Kalimat deklaratif atau biasa disebut kalimat berita adalah kalimat yang isinya memberitakan sesuatu kepada pembaca atau pendengar. Kalimat berita dapat berbentuk aktif, pasif, dan lain sebagainya, akan tetapi semuanya bermaksud memberitakan sesuatu. Sesuatu yang diberitakan kepada mitra tutur itu, merupakan pengungkapan suatu peristiwa atau suatu kejadian (Rahardi, 2005:75). Dalam bahasa Indonesia, kalimat deklaratif dapat merupakan tuturan langsung dan dapat pula merupakan tuturan tidak langsung. 2. Kalimat Interogatif Kalimat tanya yang juga biasanya disebut kalimat interogatif merupakan kalimat yang isinya menanyakan sesuatu. Sejalan dengan Rahardi (2005:76) kalimat tanya mengandung maksud menanyakan sesuatu kepada si mitra tutur. Dengan kata lain, apabila sesorang penutur bermaksud mengetahui jawaban terhadap suatu hal atau suatu keadaan, penutur akan bertutur dengan menggunakan kalimat interogatif kepada si mitra tutur. 3. Kalimat Imperatif Kalimat perintah atau kalimat imperatif merupakan kalimat yang maknanya memberikan perintah untuk melakukan sesuatu. Kalimat imperatif mengandung maksud memerintah atau meminta agar si mitra tutur melakukan suatu seperti yang diinginkan penutur. Rahardi (2005:77) juga http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 193 menambahkan bahwa dalam bahasa Indonesia, kalimat imperatif dapat berkisar antara suruhan yang sangat keras atau kasar sampai dengan permohonan yang sangat halus dan santun. METODE Penelitian ini berjenis kualitatif dengan metode deksriptif. Penelitian deskriptif kualitatif ini digunakan untuk menggambarkan fenomena yang ada, baik secara alamiah maupun rekaan, yang dialami oleh subjek penelitian seperti persepsi, motivasi, perilaku, dan dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata dan bahasa. Objek penelitian ini adalah tuturan yang dituturkan oleh narasumber yaitu Ridwan Kamil dalam acara talkshow insight di CNN Indonesia. Acara tersebut ditayangkan pada tanggal 31 Maret 2017 dengan tema “Wajah Kota Paris Van Java”. Penulis akan meneliti tentang bentuk dan jenis tindak tutur ilokusi yang diututurkan oleh Ridwan Kamil dalam talkshow insight di CNN Indonesia periode 2017-2018. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat. Sementara itu, instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrument), karena kedudukan peneliti sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, pelaksana analisis data, penafsiran, dan menjadi pelapor hasil temuannya (Sugiyono, 2014:59). Keabsahan data penelitian ini diperoleh dengan cara memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu sendiri, untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Keabsahan data ini dimaksudkan lebih sebagai perangkat heuristik (pembantu) bagi seorang peneliti (Denzin, 2009:271). Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik padan dan teknik agih. Teknik padan digunakan untuk menganalisis jenis, sedangkan teknik agih digunakan untuk menganalisis bentuk tindak tutur ilokusi. Teknik padan merupakan teknik analisis yang alat penentunya berada di luar bahasa dan tidak menjadi bagian dari bahasa itu sendiri (Sudaryanto, 2001: 13). Selanjutnya teknik padan yang digunakan adalah teknik padan pragmatik yang alat penentunya merupakan penutur dan mitra tutur. Sementara itu teknik agih menggunakan bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri sebagai alat penentunya. Alat penentunya berupa bagian atau unsur dari bahasa objek sasaran penelitian itu sendiri, seperti kata, klausa, dan fungsi sintaksis. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukan adanya bentuk dan jenis tindak tutur ilokusi dalam talkshow insight di CNN Indonesia yang terdapat 90 tuturan yang meliputi: pertama, bentuk tindak tutur ilokusi terdapat tiga bentuk yaitu http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 194 deklaratif, interogatif, dan imperatif. Kedua, jenis tindak tutur ilokusi terdapat empat jenis yaitu asertif, diretif, komisif, dan ekspresif. Bentuk deklaratif terdapat 68 tuturan, sedangkan bentuk interogatif terdapat 14 tuturan, dan imperatif terdapat 8 tuturan. Sementara itu, dari jenisnya terdapat 54 tuturan berjenis asertif, 18 tuturan berjenis direktif, 7 tuturan berjenis komisif, dan 11 tuturan berjenis ekspresif. Berikut disajikan deskripsi hasil penelitian. Berdasarkan fokus kajian tersebut secara keseluruhan hasil penelitian menunjukan adanya bentuk dan jenis tindak tutur ilokusi yang terlihat dalam tuturan yang dituturkan oleh Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia periode 2017-2018. Komunikasi yang tercipta antara penutur dan mitra tutur mengandung bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan jenis tuturannya. Tuturan penutur itulah yang memperlihatkan maksud tuturannya yang diucapkan kepada mitra tutur. Dengan begitu mitra tutur dapat menangkap maksud atau fungsi tuturan penutur saat berkomunikasi. Tindak tutur sendiri merupakan suatu pengujaran kalimat untuk menyatakan agar mitra tutur dapat menerima maksud dari penutur (Kridalaksana, 2009:191- 192). Dengan begitu dapat dikatakan bahwa dalam suatu kalimat, tindak tutur dapat lihat bentuknya dan dapat dipahami oleh pendengarnya atau mitra tuturnya. Tabel 1: Bentuk dan Jenis Tindak Tutur Ilokusi No. Bentuk Jenis ∑ Asertif Direktif Komisif Ekspresif 1. Deklaratif 43 11 5 9 68 2. Interogatif 11 1 1 1 14 3. Imperatif - 6 1 1 8 ∑ 54 18 7 11 90 Bentuk Tindak Tutur Ilokusi Ditinjau dari bentuknya tindak tutur ilokusi terdiri dari atas tiga bentuk yaitu, deklaratif, interogatif, dan imperatif. 1. Bentuk deklaratif (1) “Terima kasih, ini kayaknya udah mau ujan tapi kita ingin sekali diluar untuk menunjukan keasrian dari pendopo ini.” (TTI/01/01) http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 195 (Konteks : Tuturan diucapkan oleh Ridwan Kamil kepada Desi Anwar saat melihat cuaca yang sudah mendung di sekitar pendopo walikota Bandung.) Tuturan (1) tergolong dalam bentuk tuturan deklaratif, karena tuturan tersebut dapat memberikan informasi kepada mitra tutur. Tuturan berbentuk deklaratif tersebut termasuk dalam jenis direktif, karena penutur mengajak mitra tutur masuk ke dalam pendopo. Dari data di atas, informasi yang dimaksud yakni mengenai cuaca yang mendung disekitar pendopo dan menunjukan akan turun hujan. Tuturan tersebut dapat dilihat dari beberapa segi aspek, seperti dilihat dari segi fakta yang menginformasikan bahwa memang cuaca pada saat komunikasi terjadi sudah mendung. Dari segi bentuknya tuturan tersebut ditandai dengan adanya intonasi nada yang cenderung netral dan tanda titik di akhir kalimat. Sementara itu dilihat dari segi isi, tuturan tersebut mengandung informasi yang dituturkan oleh penutur terhadap mitra tutur bahwa pada saat itu mendung dan diperkirakan akan turun hujan sehingga penutur mengajak mitra tutur untuk masuk ke dalam pendopo. Dari beberapa aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut merupakan tuturan deklaratif. 2. Bentuk interogatif (2) “Ibu mau saya denda, tilang, atau saya masukin facebook?” (TTI/01/53) (Konteks : Tuturan diucapkan oleh Ridwan Kamil kepada Desi Anwar mengenai salah satu warga yang melanggar peraturan lalu lintas dengan mengendarai sepeda motor di atas trotoar.) Tuturan (2) tersebut berbentuk interogatif dengan jenis komisif. Dalam tuturan tersebut, tindak tutur komisif terlihat pada saat penutur mengancam mitra tutur dengan berbagai pilihan sanksi yang diberikannya. Tuturan tersebut dapat dilihat dari beberapa segi aspek, seperti dilihat dari segi fakta bahwa mitra tutur telah melanggar aturan lalu lintas dengan mengendarai sepeda motor di area trotoar. Selain itu dilihat dari bentuknya, tuturan tersebut ditandai adanya tanda tanya (?) di akhir kalimat dan adanya intonasi yang cenderung turun di akhir kalimat. Sementara itu dari segi isi, tuturan tersebut mengandung pertanyaan yang diberikan kepada mitra tutur berupa pilihan sanksi seperti di denda, tilang, atau di posting di facebook. Penutur mengajukan pertanyaan karena mitra tutur yang telah melanggar aturan lalu lintas dengan mengendarai kendaraan di area trotoar. Dari beberapa aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut merupakan tuturan interogatif karena tuturan tersebut membutuhkan jawaban dari mitra tutur atas pertanyaan yang telah diucapkannya. 3. Bentuk imperatif http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 196 (3) “Jangan buang sampah sembarangan!” (TTI/01/06) (Konteks: Tuturan diucapkan oleh Ridwan Kamil kepada Desi Anwar saat menceritakan kejadian salah satu warga Bandung yang membuang sampah sembarangan.) Tuturan (3) tergolong dalam bentuk tuturan imperatif atau perintah karena tuturan tersebut mengandung perintah penutur kepada pembaca sebagai mitra tutur. Dari data di atas perintah yang dimaksud adalah untuk membuang sampah pada tempatnya, khususnya masyarakat Bandung. Tuturan berbentuk imperatif tersebut termasuk dalam jenis direktif, karena penutur meminta masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Tuturan tersebut dapat dilihat dari beberapa segi aspek, seperti dilihat dari segi bentuknya yang ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat, dan ketika dituturkan oleh penutur mengandung intonasi naik di awal kalimat dan berintonasi rendah di akhir kalimat. Selain itu dari segi isi yang mengandung perintah atau himbauan dari Ridwan Kamil sebagai penutur kepada pendengar khususnya masyarakat Bandung, agar membuang sampah pada tempatnya, sehingga kebersihan dan keindahan di kota Bandung tetap terjaga. Dari beberapa aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut merupakan tuturan imperatif. Jenis Tindak Tutur Ilokusi Ditinjau dari jenisnya tindak tutur ilokusi terdiri dari atas empat jenis yaitu, asertif, direktif, komisif, dan ekspresif. 1. Asertif (4) “Karena orang Indonesia lebih takut dipermalukan dibanding hukuman badan atau denda.” (TTI/01/20) (Konteks : Tuturan ini di tuturkan oleh Ridwan Kamil kepada Desy Anwar saat menjawab pertanyaan mitra tutur terkait sanksi yang diterima atas pelanggaran yang dilakukan.) Tuturan (4) tergolong dalam jenis tuturan asertif karena tuturan tersebut dituturkan oleh Ridwan Kamil sebagai penutur kepada Desy Anwar sebagai mitra tutur. Dari data di atas, tuturan tersebut ditentukan oleh keyakinan penutur bahwa setiap orang lebih takut dipermalukan di tempat umum salah satunya di media sosial dibandingkan hukuman badan atau denda. Tuturan asertif tersebut berbentuk deklaratif karena berisi informasi mengenai orang Indonesia yang lebih takut dipermalukan dibanding hukuman denda. Tuturan tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek, seperti http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 197 dilihat dari segi fakta bahwa masih banyak orang yang melanggar peraturan seperti aturan lalu lintas, bahkan dengan berkembangnya media sosial orang semakin takut viral dikarenakan terkena suatu hukuman. Dilihat dari isinya tuturan tersebut mengandung keyakinan penutur bahwa kebanyakan orang Indonesia lebih takut viral atau dipermalukan dibanding hukuman badan atau denda. Hal ini dikarenakan dengan berkembangnya media sosial tentu akan membantu menyebarkan informasi dalam waktu yang singkat, sehingga membuat orang tidak terlalu suka dipermalukan apalagi di media sosial. Dari beberapa aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut merupakan tuturan ilokusi jenis asertif karena tuturan tersebut mengandung keyakinan penutur atas tuturan yang diucapkan. 2. Direktif (5) “Saya hanya punya prinsip “Ayo only post positive news, only post postive mood!” (TTI/01/14) (Konteks: Tuturan diucapkan oleh Ridwan Kamil kepada Desi Anwar terkait penggunaan media sosial dalam menjalin kedekatan dengan masyarakat.) Tuturan (5) tergolong dalam tuturan ilokusi jenis direktif, karena tuturan tersebut mengungkapkan keinginan penutur kepada mitra tutur. Dari data di atas, tuturan tersebut berupa ajakan kepada masyarakat untuk memposting berita yang positif dan hal-hal yang baik di sosial media. Tuturan direktif tersebut berbentuk imperatif karena berisi ajakan atau permintaan penutur kepada mitra tutur untuk memposting hal-hal yang bersifat positif di sosial media. Tuturan tersebut dapat dilihat dari beberapa segi aspek, salah satunya dari segi fakta. Dari segi fakta dapat dilihat bahwa selama ini Ridwan Kamil selaku penutur selalu memposting hal-hal yang positif dan baik di sosial medianya seperti instagram, twitter, dan facebook. Hal ini tentu dapat memberikan efek yang positif terhadap kehidupan serta terhindar dari hoax atau isu. Dari segi bentuknya, tuturan tersebut dapat dilihat wujudnya dengan adanya kata “ayo” yang berarti ajakan atau permintaan penutur terhadap mitra tuturnya untuk melakukan sesuatu seperti dirinya. Selain itu dari segi isi, tuturan tersebut berisi ajakan penutur untuk selalu memberikan informasi dan postingan yang positif di sosial media agar hidup menjadi damai dan tidak memacing keributan dengan berita-berita hoax. Dari beberapa aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut merupakan tuturan ilokusi jenis dirketif karena tuturan tersebut mengandung ajakan atau permintaan penutur agar mitra tutur melakukan sesuatu. 3. Komisif http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 198 (6) “Lestoran ini belum bayar pajak!” oh panik tuh, karena saya posting di 9 juta followers saya, 24 jam kemudian akhirnya dia bayar.” (TTI/01/47) (Konteks: Tuturan diucapkan oleh Ridwan Kamil kepada Desi Anwar saat menceritakan mengenai warganya yang belum bayar pajak.) Tuturan (6) keenam tergolong dalam bentuk imperatif dengan jenis komisif. Dalam tuturan tersebut, tindak tutur komisif terlihat pada saat penutur mengancam mitra tutur agar membayar pajak. Tuturan tersebut dapat dilihat dari beberapa segi aspek, seperti dilihat dari segi bentuknya yang ditandai dengan adanya tanda seru (!) pada akhir kalimat, dan ketika dituturkan oleh penutur mengandung intonasi naik di awal kalimat dan berintonasi rendah di akhir kalimat. Selain itu dari segi isi yang mengandung perintah atau ancaman apabila tidak membayar pajak akan di posting disosial media milik Ridwan Kamil. Dari beberapa aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut merupakan tuturan imperatif. 4. Ekspresif (7) “Kadang-kadang saya berubah pikiran juga jadi istri saya selain penyemangat, partener juga dalam mengambil keputusan. Dia juga cerdas, jadi kadang-kadang mengkritisi, ngomentarin postingan saya semua demi kebaikan kan tentunya.” (TTI/01/27) (Konteks: Tuturan ducapkan oleh Ridwan Kamil kepada Desi Anwar mengenai sosok istrinya.) Tuturan (7) tergolong dalam bentuk deklaratif dengan jenis ekspreisif. Dalam tuturan tersebut, tindak tutur ekspresif terlihat pada saat penutur memuji sosok istrinya yang cerdas dan pengertia terhadap dirinya. Tuturan tersebut dapat dilihat dari beberapa segi aspek, seperti dilihat dari segi bentuknya yang ditandai dengan adanya nada yang cenderung netral dan adanya tanda titik di akhir kalimat. Sementara itu dilihat dari segi isi, tuturan tersebut mengandung informasi yang dituturkan oleh penutur kepada mitra tutur mengenai sosok istrinya yang cerdas dan pengertian seperti menjadi penyemangat dan memberikan hal positif baginya. Dari beberapa aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa tuturan tersebut merupakan tuturan ilokusi berjenis ekspresif. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini ditemukan adanya bentuk dan jenis tindak tutur ilokusi dalam talkshow insight di CNN Indonesia. Keduanya ditemukan dalam tuturan yang dituturkan oleh Ridwan Kamil sebagai penutur yang terdapat 90 tuturan. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 199 Pertama, bentuk tindak tutur ilokusi terdapat tiga bentuk yaitu deklaratif, interogatif, dan imperatif. Masing-masing bentuk memiliki penanda atau karakteristik pada saat dituturkan seperti ditandai dengan intonasi dalam kalimat dan adanya tanda baca. Kedua, jenis tindak tutur ilokusi terdapat empat jenis yaitu asertif, diretif, komisif, dan ekspresif. Masing-masing jenis juga memiliki penanda dan karakteristiknya, seperti asertif yang merujuk pada fakta atau keyakinan penutur. Direktif, yang mengarahkan mitra tutur untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh penutur. Dengan kata lain, terdapat suatu unsur paksaan atau keharusan yang terkandung dalam tuturan direktif.. Tuturan komisif yang merujuk pada tindakan yang mengikat penutur pada beberapa tindakan yang akan datang seperti, menolak, mengancam, dan menjanjikan. Jenis tuturan ekspresif yang ditemukan merujuk pada rasa suka atau tidak suka penutur terhadap suatu hal. Tuturan jenis ekspresif ini tergolong dalam beberapa rujukan seperti memuji, menyindir, dan mengeluh. Implikasi dari hasil penelitian mengenai tindak tutur ilokusi Ridwan Kamil dalam talkshow Insight di CNN Indonesia periode 2017-2018 ini, khususnya dalam bidang pembelajaran dapat dijadikan sebagai sumber belajar atau referensi bagi pembelajar maupun pengajar. Selain itu dalam kehidupan sehari-hari, pembaca diharapkan dapat memahami bahwa dalam setiap tuturan hampir dapat ditemukan adanya maksud lain yang dikehendaki oleh penutur terhadap mitra tuturnya. Pembaca juga diharapkan mampu mencerna dengan baik maksud-maksud tertentu atau maksud ilokusi dari tuturan- tuturan yang diujarkan oleh orang lain. Untuk menyampaikan maksud dengan baik, penutur memilih kata-kata yang seharusnya digunakan serta dapat dimanfaatkan untuk melatih kepekaan siswa terhadap lingkungan yang ada disekitar. Selain itu dapat digunakan sebagai referensi bagi guru dalam memberikan pelajaran pada materi negosiasi. DAFTAR PUSTAKA Altikriti, S. F. (2011). Speech Act Analysis to Short Stories. Finland: Academy Publisher, 2(6), 1374-1375. Austin, J. L. (1962). How to do things with words. Oxford: Oxford University Press. Cutting, J. (2003). Pragmatics and Discourse. London: Routledge. Denzin, N. K. (2009). Handbook of Qlitative Research. Yogyakarta: Pustakan Pelajar. Horn, L. (2007). The Handbook of Pragmatics. Australia: Blackwell. Koutchade, I. S. (2017). Analysing Speech Acts in Buhari’s Address at the 71st Session of the UN General Assembly. Australia: Australian International Academic Centre. 6(3), 226. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya p-ISSN: 2086-6100 Vol. 9 No. 2 http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa e-ISSN: 2503-328X Tindak Tutur Ilokusi Ridwan Kamil dalam Talkshow Insight di CNN Indonesia Veranita Ragil Sagita, Teguh Setiawan DOI: https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200 200 Levinson, S. C. (1983). Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press. Mey, L. J. (1993). Pragmatics: an Intoduction. Oxford: Blackwell Publisher Ltd. Nadar, F.X. (2009). Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu. Olagunju, S. (2016). Pragmatic Functions in 2010 World Cup Football Matches in Selected Print Media in Nigeria. Nigeria: An International Peer-review Journal. 23, 52-53. Parker, F. (1946). Linguistics for Non Linguist. London: Tylor and Francis, Ltd. Purwo, B. K. (1994). Pelba 7: Analisis Klausa, Pragamatik Wacana, Pengkomputeran Bahasa. Yogyakarta:Kanisius. Putrayasa, I. B. (2014). Pragmatik. Yogyakarta:Graha Ilmu. Rahardi, K. (2005). Pragmatik : Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. Searle, J. R. (1974). Studies in the Theory of Speech Act: expression and meaning. Cambridge: Cambridge University Press. Sudaryanto. (2001). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Pers. Sudaryanto. (2014). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung:Alfabeta. Yule, G. (2006). Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Yule, G. (1996). Pragmatics. Oxford: Oxford University Press. http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/lensa https://doi.org/10.26714/lensa.9.2.2019.187-200