Microsoft Word - 7122-8990-15f3-4dbb PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK USIA 3 TAHUN DITINJAU DARI SUDUT PANDANG MORFOSINTAKSIS -Adiprana Yogatama- Fakultas Bahasa dan Budaya Asing Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) adiprana.linguist@gmail.com Abstract There is a close relationship between the structure of words and the structure of sentences. In some languages it is even difficult to tell whether a particular word formation is a word or a sentence. Language acquisition theory has advanced in many ways since Brown (1973), but we are still dealing with many of the same basic methodological issues he confronted. Elaborating on Brown’s approach, researchers have formulated increasingly reliable methods for measuring the growth of grammar, or morphosyntax, in child. In this paper, the writer tries to study the morphosyntax acquisition in Indonesian children age 3 years. This is a basic research before continuing the next study in children’s second language acquisition. Kata Kunci: morfosintaksis, pemerolehan bahasa, pembelajaran bahasa. I. Pendahuluan Telah dikukuhkan oleh para ahli bahasa bahwa bahasa sebagai alat komunikasi secara genetis hanya ada pada manusia; tidak terdapat pada makhluk hidup lainnya. Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan, dan tanda atau simbol. Berbahasa itu sendiri merupakan proses kompleks yang tidak terjadi begitu saja. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bagaimana manusia bisa menggunakan bahasa sebagai cara berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori tentang pemerolehan bahasa. Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan manusia dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk betukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal. Selain itu bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk meneknkan makna wicara. Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda-beda. 67 Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak dini, pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya karena lapar, popok basah atau saat bangun tidur. Dari sini bayi akan belajar bahwa ia akan mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu untuknya. Usia 3 minggu bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar, misalnya wajah seseorang, tatapan mata, suara dan gelitikan. Ini disebut senyum sosial. Usia 12 minggu mulai dengan pola dialog sederhana berupa suara balasan bila ibunya memberi tanggapan; Pada usia 2 bulan bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi ibunya. Usia 5 bulan bayi mulai meniru gerak gerik orang, mempelajari bentuk ekspresi wajah; Pada usia 6 bulan bayi mulai tertarik dengan benda-benda sehingga komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi dan benda-benda. Usia 7-12 bulan anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai dengan bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai sekitar 18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan penggunaan satu suku kata. Usia 2 tahun anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan mampu merangkai kalimat 2 kata, bereaksi terhadap pasangan bicaranya dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah topik dan mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar. Perilaku ibu yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik baru. Lewat umur 3 tahun anak mulai berdialog lebih lama sampai beberapa kali giliran. Lewat umur ini, anak mulai mampu mempertahankan topik yang selanjutnya mulai membuat topik baru. Hampir 50 persen anak 5 tahun dapat mempertahankan topik melalui 12 kali giliran. Sekitar 36 bulan, terjadi peningkatan dalam keaktifan berbicara dan anak memperoleh kesadaran sosial dalam percakapan. Ucapan yang ditujukan pada pasangan bicara menjadi jelas, tersusun baik dan teradaptasi baik untuk pendengar 2. Sebagian besar pasangan berkomunikasi anak adalah orang dewasa, biasanya orang tua. Lingkungan linguistik memiliki pengaruh besar pada proses belajar berbahasa. Ibu memegang kontrol dalam membangun dan mempertahankan dialog yang benar. Ini berlangsung ssepanjang usia pra sekolah. Anak berada pada fase mono dialog, percakapan sendiri dengan kemauan untuk melibatkan orang lain. Anak dengan mobilitas yang mulai meningkat memiliki akses ke jaringan sosial yang lebih luas dan perkembangan kognitif menjadi semakin dalam. Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka penulis melakukan penelitian mengenai pemerolehan bahasa anak usia 3 tahun, karena menurut Lundsteen pada usia tersebut anak belum memasuki tahap linguistik, sehingga sangatlah menarik untuk mengkaji pemerolehan bahasanya. Penelitian akan ditekankan pada pemerolehan morphosintaksis anak pada ujaran- ujaran yang dikuasainya. H. Landasan Teoritis Bahasa anak adalah bahasa yang telah berkembang. Anak telah banyak belajar dari lingkungan, dengan demikian bahasa anak terbentuk oleh kondisi lingkungan. Lingkungan anak mencakup lingkungan keluarga, masyarakat dan khususnya lingkungan pergaulan teman sebaya yang berkembang di dalam keluarga atau bahasa ibu. Perkembangan bahasa anak dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal. Hal ini berarti bahwa proses pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan dengan masyarakat skitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku berbahasa. Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga, masyarakat, dan sekolah, dalam perkembangan bahasa akan menyebabkan perbedaan antara anak yang saatu dengan yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh pemilihan dan penggunaan kosakata sesuai dengan tingkat sosial 68 keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan berpendidikan rendah atau buta huruf akan banyak menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan istilah-istilah yang kasar. Sedangkan anak dalam masyarakat terdidik yang pada umumnya memiliki status sosial yang lebih untung, mereka menggunakan istilah-istilah yang lebih selektif dan umumnya anak-anak tersebut juga berbahasa secara lebih baik. Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh sebab itu perkembangannya dipengaruhi pula oleh berbagai faktor diantaranya : - Usia anak - Kondisi lingkungan - Kecerdasan anak - Status sosial ekonomi keluarga - Kondisi fisik Perbedaan Perkembangan Bahasa Menurut Chomsky (Woolfol dkk, 1984) anak yang dilahirkan ke dunia telah memiliki kapasitas berbahasa. Akan tetapi seperti dalam bidang lain, faktor yang mengambil peranan yang cukup menonjol, mempengaruhi perkembangan anak tersebut. Mereka belajar makna kata dan bahasa sesuai dengan apa yang mereka dengar, lihat dan hayati dalam kehidupan sehari- hari. Perkembangan bahasa anak terbentuk oleh lingkungan yang berbeda-beda. Berfikir dan berbahasa mempunyai korelasi yang tinggi. Anak dengan IQ tinggi akan berkemampuan bahasa yang tinggi. Variasi nilai IQ menggambarkan adanya perbedaan individual anak, dan dengan demikian kemampuan mereka dalam berbahasa juga bervariasi sesuai dengan keragaman kemampuan mereka dalam berpikir. Perkembangan bahasa pada anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan, karena kekayaan lingkungan akan menjadi pendukung bagi perkembangan peristilahan yang sebagian besar dicapai dengan proses meniru. Dengan demikian, anak yang berasal dari lingkungan yang berbeda juga akan berbeda-beda pula kemampuan dan perkembangan bahasanya. Pemerolehan Bahasa Proses anak mulai mengal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama (BI) anak terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Maksudnya adalah bahwa mereka dalam mengutarakan sesuatu berfungsi untuk menyampaikan maksud atau keinginan tertentu. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit. Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak, tiba-tiba. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang mencul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik. 69 Penelitian mengenai bahasa manusia telah menunjukkan banyak hal mengenai pemerolehan bahasa, mengenai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh bahasa (Fromkin dan Rodman, 1998:318). 1. Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam sebuah kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu terbatas, tetapi tidak ada kamus yang bisa mencakup semua kalimat yang tidak terbatas jumlahnya. 2. Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang belum pernah mereka hasilkan sebelumnya. 3. Anak-anak belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka tidak dapat melakukannya dengan menyesuaikan tuturan yang dengan beberapa kalimat yang ada dalam pikiran mereka. Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Bahasa memudahkan anak mengekspresikan gagasan, kemauannya dengan cara yang benar-benar dapat diterima secara sosial. Bahasa merupakan media yang dapat digunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lain dalam masyarakat. Perkembangan Bahasa Bahasa adalah segala komunikasi dimana pikiran dan perasaan seseorang disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti kepada orang lain. Oleh karena itu, perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata. Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-4 tahun) dan Linguistik (4-5 tahun). Periode Linguistik terbagi dalam tiga fase besar, yaitu: 1. Fase satu kata atau Holofrase Pada fase ini anak menggunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kompleks, baik yang berupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa perbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bagi anak dapat berupa usaha mau duduk atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti mama sedang duduk. 2. Fase lebih dari satu kata Fase dua kata muncul pada anak berusia sekitar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan kata bahasa yang tidak benar. 3. Fase ketiga adalah fase diferensiasi Periode trakhir dari masa balita yang berlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosa katanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. 70 Morphosyntax Ada hubungan yang sangat erat antara struktur kata dan struktur kalimat. Dalam beberapa bahasa bahkan sangatlah sulit untuk menyebutkan apakah suatu formasi kata disebut kata atau kalimat. Perhatikan contoh kata dalam bahasa Swahili (salah satu bahasa di Afrika Timur) sebagai berikut: Ni- na- ku – penda I Tense you love Contoh di atas adalah sebuah kata dalam bahasa Swahili yang apabila dianalisis secara morphologi mempunyai beberapa morphem yaitu: ni (I = aku), na (tense present), ku (you = kamu), penda (love = cinta), Selain itu, dalam bahasa Swahili, kata tersebut ternyata juga bisa berfungsi sebagai kalimat. Karena apabila dianalisis secara sintaksis, susunan katanya menjadi “Ninakupenda” (aku cinta kamu) dalam bentuk Present Simple. Dari data tersebut, analisis yang digunakan adalah analisis morphologis dan sintaksis (keduanya), atau disebut juga dengan morphosintaksis. Berikut beberapa definisi para linguis mengenai morphosintaksis: a. Trask (1999:176): “Morphosyntax is the area between morphology and syntax.” b. Crystal (1997: 250-251): - grammatical categories or properties for whose definition criteria of morphology and syntax both apply, as in describing the characteristics of words’ Bisa disimpulkan bahwa morphosintaksis pada dasarnya merupakan ilmu yang mengkaji hubungan antara struktur kata (morphologi) dan struktur kalimat (sintaksis). Sehubungan dengan pemerolehan bahasa pada anak, pemerolehan morphosintaksis anak juga melalui beberapa tahap:  Pada usia 12 bulan, anak-anak mulai memproduksi kosakata secara konsisten.  Tahap satu kata (kata tunggal): - Nama orang, objek, tempat, dll - Mulai menggabungkan frase-frase tuturan orang dewasa menjadi satu kata  Tahap dua kata: - Kira-kira pada usia 18-24 bulan - Menggunakan aturan susunan kata secara konsisten, dengan tata bahasa yang ditentukan oleh hubungan semantis  Agent + action (ade’ bobo’)  Possessor + possession (buku ibu)  Tahap-tahap lanjutan: - Saat anak-anak mampu mengkombinasikan 2 kata, mereka mulai menggunakan tiga hingga empat rangkaian kata atau lebih. - Masih bersifat ujaran-ujaran “telegrafis” yaitu ujaran yang hanya terdiri dari morpheme dan kata-kata yang mengandung makna semantis. 71 III. Metode dan Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik rekam (recording) dan catat. Data yang diperoleh oleh penulis dalam penelitian kali ini adalah dengan merekam ujaran-ujaran yang diucapkan Huda. Hal ini dimaksudkan agar keaslian data lebih terjaga dengan adanya ujaran-ujaran yang tanpa dibuat-buat atau dilatih terlebih dahulu. Beberapa ujaran memang sengaja dipancing oleh lawan tuturnya agar diperoleh data ujaran-ujaran yang berupa kalimat yang lebih panjang (> 4 kata) maupun kata-kata dengan pelafalan yang sulit. Namun tetap jawaban atau ujarannya tanpa latihan maupun skenario terlebih dahulu. Data pada penelitian ini hanya ada 3 (tiga) percakapan, namun menurut penulis cukup untuk memperoleh data ujaran yang diperlukan untuk diteliti. Hal ini dikarenakan ada beberapa rekaman yang kurang jelas. Dari data yang diperoleh dari proses perekaman kemudian dicatat dan dianalisis berdasarkan teori morphosintaksis yang telah diutarakan penulis di depan. Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. IV. Hasil dan Pembahasan a. Profil Objek Penelitian Objek penelitian pemerolehan morphosintaksis anak kali ini adalah seorang anak laki- laki bernama Akhsana Huda (Huda). Huda lahir di Semarang, 6 Maret 2005, Dia adalah sepupu penulis yang merupakan anak pertama dari paman penulis, seorang PNS pada Dinkes Jateng dan ibunya, adalah seorang mantan guru SMP di Wonosobo yang sekarang hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Dalam kesehariannya, Huda adalah seorang bilingualis. Karena tinggal di Semarang yang mayoritas orang jawa, maka ia memperoleh dan mengucapkan Bahasa Jawa. Selain itu, karena ibunya pernah menjadi guru maka bahasa yang digunakan di rumah seringkali adalah Bahasa Indonesia, selain bahasa yang digunakan di rumah seringkali adalah Bahasa Indonesia, selain Bahasa Jawa. Mengenai alasan dipilihnya Huda sebagai objek penelitian penulis kali ini adalah karena Huda, menurut penulis, merupakan satu diantara balita yang dikenal penulis yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi. Selain itu Huda termasuk bukan anak pendiam ketika bertemu dengan orang lain maupun saudaranya, sehingga hal ini tentunya akan mempermudah penulis dalam memperoleh data yang akan dianalisis. b. Analisis Pemerolehan Morphosintaksis Bahasa Huda Seperti yang telah disampaikan dalam teori, bahwa setelah mampu mengucapkan dua kata, anak akan berusaha memperoduksi dua-tiga kata atau lebih. Pada usia 3 tahun ini, Huda sudah mampu memproduksi 3-4 kata atau lebih dalam sekali ujar. Data 1 Berikut ini adalah percakapan singkat yang terekam antara Huda dengan Yobi (adik kandung penulis). Pada suatu Minggu siang Huda (H) berkunjung ke rumah penulis )kebetulan rumah kami satu kompleks namun beda RT). Saat itu Yobi (Y) tengah bersih-bersih membereskan buku-buku lamanya yang hendak dibuang. Kemudian dengan semangat rasa ingin tahunya, Huda menghampirinya dan mengambil satu buku kecil tipis yang menarik perhatiannya, yang ternyata adalah buku mewarnai gambar. Sehingga terjadilah percakapan berikut: H: Ini apa? (sambil menunjuk buku tersebut) 72 Y: Buku. H: Buku apa? Y: Buku gambar. H: Ini gambal apa? (menunuk salah satu gambar) (maksudnya: Ini gambar apa?) Y: Sekolah H: Huda...Huda, tulahna Huda ini. (maksudnya: Huda... Huda, sekolahnya Huda ini.) Y: Emang Huda udah sekolah? H: Huda beso mau olah ya. (maksudnya: Huda besok mau sekolah ya.) Y: Sekolahnya dimana? H: Tulahna... di TK Caya Ilmu (maksudnya: sekolahnya di TK Cahaya Ilmu) Dari data (1) di atas, interaksi yang dimulai oleh Huda yang menghampiri Yobi tersebut selain menunjukkan rasa ingin tahunya yang tinggi juga menunjukkan bahwa anak seusianya sudah mulai menunjukkan siap/peran komunikasi sosialnya. Huda saat ini berusia 3 tahun dan tahun depan sudah dijanjikan ayahnya untuk disekolahkan di TK Cahaya Ilmu di dekat kompleks perumahan penulis. Pada dialog di atas, beberapa kalimat yang hanya terdiri dari 2 kata sudah mampu diucapkan dengan lancar oleh Huda, baik secara morphologis maupun sintaksisnya. Pada beberapa pertanyaannya misalnya, “Ini apa?” dan “Buku apa”, secara morphologis ia sudah melafalkan morfem-morfem dalam frase-frase tersebut secara lengkap. Ketika menyebut “buku” sudah lengkap dan benar. Namun pada kalimat “Ini gambal apa?” nampak sekali dia masih kesulitan untuk melafalkan bunyi [r] pada kata “gambar”, meskipun secara sintaksis susunan pertanyaannya sudah benar. Kemudian pada beberapa kata yang memiliki tiga suku kata seperti kata “sekolah” dan “cahaya” Huda masih kesulitan untuk melafalkannya sekalipun kita bisa menangkap maksud yang diucapkannya dengan mengacu pada isi pembicaraan sebelumnya. Ketika melafalkan “ssekolah” pada awal kalimat dia melafalkan “tulahna Huda ni” (sekolahnya Huda ni). Pada tengah atau akhir kalimat, kata tersebut dilafalkan lebih simple “olah” seperti pada; “Huda beso mau olah ya”, Begitu juga pada kata “cahaya” yang diucapkannya “caya”. Pada kalimat yang terdiri dari 3 kata atau lebih, sepertinya ia cenderung masih kesulitan untuk menyusun kata-katanya. Beberapa kata masih salah susunan dan pelafalannya namun kemudian yang unik adalah kemudian ia meralat dan melanjutkannya sendiri. Tanda “...” (menurut penulis) adalah tanda jeda waktu yang ia butuhkan untuk memikirkan jawabannya selanjutnya. Hal ini terlihat pada 2 kalimatnya. a. “Huda ..... Huda, tulahna: Huda ni.” b. “Tulahna... di TK Caya Ilmu.” 73 Pada kalimat (a) maksudnya adalah dia hendak mengucapkan “Sekolahnya Huda ni”. Pada awalnya dia akan menyebutkan namanya dulu baru kemudian kata “sekolahnya”, namun entah apakah dia tahu kalau diteruskan salah, kemudian dia meralatnya sendiri dengan menyebutkan “tulahna” (sekolahnya) yang memiliki possesive pronoun “nya” terlebih dahulu baru kemudian menyebut namanya. Sehingga menurutnya susunannya yang benar adalah “Sekolahnya Huda ni” dan bukan “Huda sekolahnya ni”. Hal ini terlihat juga pada contoh pada data (2) berikut ini: Data 2 Pada percakapan singkat berikut merupakan lanjutan dari percakapan pada data (1) di atas, namun Y berusaha mengajak interaksi lebih dengan pertanyaan-pertanyaannya. Y: Kalo sekolah berangkat sendiri atau diantar? H: Olah’e ndili. (Sekolahnya sendiri) Y: Emang berani? H: Bani (Berani) Y: Kalo di sekolah ditanya “namanya siapa”? H: Nama taya Huda. (Nama saya Huda) Y: Lengkapnya siapa? H: Nama taya Akhsana Huda. (Nama saya Akhsana Huda/0 Y: Ade’nya berapa? H: Adek taya atu,..... satu (Adik saya satu). Y: Nama adiknya siapa? H: Adik’e Huda namane Adi. Seperti yang telah disebutkan di depan, kelancaran pelafalan kata pada anak balita dipengaruhi oleh seberapa sering ia menggunakan kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Semakin sering ia menggunakan kata-kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari semakin lancar pula kemampuan pelafalan katanya. Seperti pada kata “saya”, sekalipun relatif lebih mudah dibandingkan pelafalan kata-kata yang terdapat bunyi [r] di dalamnya, Huda cenderung menggunakan atau menyebut namanya untuk menggantikan kata “saya”. Sehingga ia cenderung kesulitan menyebutkan “saya” daripada kata “satu” yang sama-sama diawali dengan bunyi konsonan [s]. Karena ketika mengucapkan “atu” alih-alih “satu”, cepat-cepat ia meralat ucapannya sendiri dengan mengulangi jawabannya dengan jawaban yang benar. Namun tidak demikian dengan kata “taya” yang salah dilafalkannya untuk mengatakan “saya”, asumsi ini seperti ditunjukkan pada ujarannya “Adik’e Huda namane Adi”. Dia lebih memilih menyebut namanya daripada kata “saya” karena mungkin menurutnya itu lebih sulit dilafalkan. 74 Pada dialog di atas juga menunjukkan pengaruh atau karakteristik bilingualismenya yang ditunjukkan dengan penggunaan possesive pronoun “e/ne” dalam bahasa jawa seperti pada kata “adik’e” dan “namane” pada data (2). Data 3 Pada data (3) berikut ini, konteks tuturannya adalah Huda menghampiri Yogi (adik kandung penulis juga, kakak dari Yobi) karena melihatnya sedang memainkan rekaman pada telepon genggam yang baru saja dipakai untuk merekam percakapannya tadi. Yogi (S) membantu Yobi pada rekaman data penelitian ini agar mempermudah proses perekamannya. H: Ini apa? S: Ini Hape. H: Ini apa? S: Ini rekaman. H: Letam apa? S: Ini untuk rekam suara, lagu. H: Lagu apa letsm... letam agu apa? S: Ya lagu macem-macem. H: Pinjem mas. Karakteristik yang unik dari Huda adalah ketika ia menanyakan sesuatu maka ia akan terus menanyakannya sampai mendapat jawaban yang bisa membuatnya puas. Seperti pada data (3) di atas, ketika ia menanyakan “Ini apa?” kemudian dijawab “Ini hape” (telepon genggam) ternyata tidak memuaskannya sehingga menanyakannya kembali untuk yang kedua kalinya. Karena mengetahui sifat dan maksudnya, bahwa yang dimaksud dengan “Ini apa?” adalah mengacu pada rekaman yang sedang Yogi putar dan bukan mengacu pada telepon genggamnya. Maksudnya sebenarnya adalah, mungkin, “sedang apa?” atau “ini lagu apa” (karena tidak mengenal suaranya sendiri pada awalnya). Sehingga mungkin karena belum terbiasa menggunakan “sedang apa?” maka ia lebih memilih kalimat tanya lain yang biasa ia pakai dan mudah menurutnya. Kemudian, satu hal unik lainnya adalah pada ujarannya “lagu apa letam.... letam agu apa?. Pada ujaran tersebut, sama dengan analisis data (1) dan (2), ketika mengetahui susunan katanya salah ia meralatnya kembali. Namun kali ini yang ia ralat adalah keseluruhan frase atau kalimat. Kalimat “lagu apa letam” (lagu apa rekam?) yang menurutnya salah susunannya, ia ralat menjadi “letam agu apa?” (rekam lagu apa?) yang menurutnya lebih benar susunannya. Uniknya, pada “letam agu apa? Kata “rekam” yang tidak bisa ia ucapkan dengan sempurna karena ada bunyi [r] menjadi “letam” menyebabkan kata kedua “lagu” juga menjadi tidak sempurna pengucapannya. Hal ini mungkin karena kedua kata, yaitu “letam” dan “lagu” yang muncul berurutan tersebut sama-sama memiliki konsonan awal [l] sehingga menyebabkan dia kesulitan dalam pelafalannya. Hal ini juga dibuktikan dengan ujarannya pada data (2) “Adek 75 taya atu,.... satu”. Nampak sekali ia masih kesulitan melafalkan dua kata yang memiliki konsonan awal sama, dalam kasus ini [s] pada “saya” dan “satu”. V. Simpulan dan Saran Dari analisis data di atas, penulis mencoba menarik beberapa kesimpulan sebagai temuan, yaitu: 1. Bahwa anak seusia Huda sudah mulai menunjukkan sikap/peran komunikasi sosialnya yang ditunjukkannya dalam sebuah percakapan. Komunikasi yang terjalin dengan lawan tutur yang berusia jauh di atasnya (orang dewasa) sudah mulai lancar sekalipun dengan kalimat-kalimat atau jawaban yang singkat. 2. Beberapa kalimat yang hanya terdiri dari 2 kata sudah mampu diucapkan dengan lancar oleh Huda, baik secara morphologis maupun sintaksisnya. Pada beberapa pertanyaannya misalnya, “Ini apa?” dan “Buku apa”, secara morphologis ia sudah melafalkan morfem-morfem dalam frase atau kalimat tersebut secara lengkap. Ketika menyebut “buku” sudah lengkap dan benar. Namun pada kalimat “Ini gambal apa?” nampak sekali dia masih kesulitan untuk melafalkan bunyi [r] pada kata “gambar”, meskipun secara sintaksis susunan petanyaannya sudah benar. 3. Pada beberapa kata yang memiliki tiga suku kata seperti kata “sekolah” dan “cahaya” Huda masih kesulitan untuk melafalkannya sekalipun kita bisa menangkap maksud yang diucapkannya dengan mengacu pada isi pembicaraan sebelumnya. 4. Pada kalimat yang terdiri dari 3 kata atau lebih, sepertinya ia juga cenderung masih kesulitan untuk menyusun kata-katanya. Beberapa kata masih salah susunan dan pelafalannya namun kemudia yang unik adalah kemudian ia meralat dan melanjutkannya sendiri. Seperti ditunjukkan pada data, tanda “...” adalah tanda jeda waktu yang ia butuhkan untuk memikirkan jawaban selanjutnya atau meralat jawaban sebelumnya. Dari temuan ini bisa disimpulkan bahwa pada usia ini anak-anak sudah mulai mampu memahami tata bahasa kalimat sederhana. 5. Pelafalan kata pada anak balita dipengaruhi oleh seberapa sering ia menggunakan kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Semakin sering ia menggunakan kata-kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari semakin lancar pula kemampuan pelafalan katanya. 6. Pada analisis data ditunjukkan pengaruh bilingualisme yang ditunjukkan dengan penggunaan possesive pronoun yang masih bercampur antara bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia. 7. Huda masih kesulitan untuk melafalkan kata-kata yang sama-sama memiliki konsonan awal sama (dalam analisis data adalah bunyi [s] dan [l] yang muncul berurutan. 8. Secara morphologis, anak usia 3 tahun sudah mempunyai pelafalan kata dengan baik dan benar, hanya pada beberapa kata masih kesulitan, seperti bunyi [r], [µ] dan pada poin (7) di atas. Secara sintaksis, mereka sudah mulai dapat menyusun kalimat dengan susunan yang baik dan benar. Jika merasa kalimatnya salah, mereka sudah mampu meralatnya sendiri. Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna dikarenakan berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun penulis terima. Saran dapat dikirimkan ke alamat e-mail penulis. Terima kasih. 76 VI. Persantunan Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ahmad Sofwan yang telah membimbing penulis selama penelitian ini berlangsung. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh civitas akademika UNIMUS terutama pengelola jurnal LENSA FBBA UNIMUS yang telah memfasilitasi publikasi jurnal ini. Terimakasih tak terhingga kepada seluruh pihak penunjang penelitian terutama Huda sekeluarga sebagai obyek penelitian ini. Daftar Pustaka Brown, R. (1973). A first language: The early stages. Cambridge, MA: Harvard. Caroll, David W. 1999. Psychology of Language. California: Brooks/Cole Publishing Company. Crystal, David. 1997. A Dictionary of Linguistics and Phonetics. Blackwell Publishers. Dardjowidjojo, Soendjono. 2000. Echa, Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Fromkin, V.A. & Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language. Orlando, FL: Hartcourt Brace College Publishers. Katamba, Francis. 1993. Morphology. England: Macmilan Sudaryanto. 1993 Metode dan Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Trask, R. L. 1993. A Dictionary of Grammatical Terms in Linguistics. Routledge. Verhaar. 2008. Asas-asas Linguistik Umum. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press. 77