Medical and Health Science Journal, Vol.4., No.1, February 2020 GAMBARAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP TERJADINYA DIARE PADA BALITA DI WILAYAH LINGKUNGAN I,II,III,IV, DAERAH ALIRAN SUNGAI , KELURAHAN AUR, KECAMATAN MEDAN MAIMUN, MEDAN Dicca Brentazzoly br. Tarigan*1, Chardito Renaldi Siburian2, Dhea Sandhes Barus3, Angelina4, Masdalena5 1,2,3,4,5 Fakultas Kedokteran Universitas Prima Indonesia *Corresponndent author: diccatarigan98@gmail.com Correspondence: Dicca Brentazzoly br. Tarigan @2020 Medical and Health Science Journal. 10.33086/mhsj.v4i1.1451 Available at http://journal2.unusa.ac.id/index.php/MHSJ 39 ORIGINAL ARTICLE ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Received January,31 2020 Received in revised form February Accepted February 26 2020 Background Diarrhea is a condition in which a person experiences defecation with a frequency of 3 times or more per day with the consistency of feces in liquid form. This is usually a symptom of a digestive tract infection. Diarrhea is a common cause of death rates that occur in developing countries, the rate of the first cause of death under five (under dive years) throughout the world and where the second cause of infant mortality worldwide. This disease can be caused by various bacteria, viruses, and parasites. The infection spreads through contaminated food or drinking water. Beside, it can occur from person to person as a result of poor personal and environmental hygiene. The environment constantly interacts with humans throughout time and time and plays an important role in the process of diseases in society, especially diarrhea in toddlers. Objective This study was conducted to find out the description of community behavior towards the occurrence of diarrhea in toddlers. In this environment, environmental sanitation is inadequate, if the rainy season the location is prone to flooding because it is near a river basin. Method A descriptive study with a cross- sectional design, which was conducted in the Environmental Areas I,II,III,IV,Watershed Aur Village, Medan Maimun District, Medan in January 2020 with a sample of 60 people, namely mothers who have children under five by using a proportional sampling method. The measuring scale used in this study used a questionnaire. Result The results of the research conducted obtained the level of knowledge, attitude, and action on community behavior is considered in the good category. It is said because the results of all the frequencies of the level of knowledge, attitude, action obtained are much higher than the percentage that is not good. Conclusion From the results, it was found that although the behavior of this community was categorized well, there were still some people who had not implemented goog and correct behavior so that there were still those who got diarrhea, especially in toddlers. Keywords: Diarrhea, Bacteria, Viruses, Parasites, Environment, Toddler Kata Kunci: Diare, Bakteri, Virus, Parasit, Lingkungan, Balita ABSTRAK Latar Belakang: Diare merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami buang air besar dengan frekuensi sebanyak 3 atau lebih per hari dengan konsistensi tinja dalam bentuk cair. Ini biasanya merupakan gejala infeksi saluran pencernaan. Diare adalah penyebab umum pada tingkat kematian yang terjadi di negara berkembang, tingkat penyebab pertama kematian balita (di bawah lima tahun) di seluruh dunia dan dimana tingkat penyebab kedua kematian bayi di seluruh dunia. Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai bakteri, virus dan parasit. Infeksi menyebar melalui makanan atau air minum yang terkontaminasi. Selain itu, dapat terjadi dari orang ke orang sebagai akibat buruknya kebersihan diri dan mailto:diccatarigan98@gmail.com http://journal2.unusa.ac.id/index.php/MHSJ Medical and Health Science Journal, Vol.4., No.1, February 2020 lingkungan. Lingkungan sangat berinteraksi secara konstan dengan manusia sepanjang waktu dan masa serta memegang peranan penting dalam proses terjadinya penyakit pada masyarakat terutama diare pada balita. Tujuan: Penelitian ini dilakukan yang bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku masyarakat terhadap terjadinya diare pada balita. Di lingkungan ini sanitasi lingkungan belum memadai, apabila musim hujan lokasi ini rawan banjir karena berdekatan daerah aliran sungai. Metode: Penelitian bersifat deskriptif dengan rancangan cross-sectional, yang dilakukan di wilayah Lingkungan I,II,III,IV, Daerah Aliran Sungai Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Medan pada bulan Januari tahun 2020 dengan jumlah sampel 60 orang yaitu ibu yang mempunyai balita dengan menggunakan metode proportional sampling. Skala ukur yang digunakan dalam penelitian ini mengunakan kuesioner. Hasil: Hasil penelitian yang dilakukan didapatkan tingkat pengetahuan, tingkat sikap dan tingkat tindakan pada perilaku masyarakat ini masuk kategori baik, dikarenakan berdasarkan hasil semua frekuensi dari tingkat pengetahuan, tingkat sikap, tingkat tindakan yang didapatkan jauh lebih tinggi persentasenya dibandingkan dengan yang tidak baik. Kesimpulan: Dari hasil ditemukan walaupun perilaku masyarakat ini masuk kategori baik namun masih ada beberapa masyarakat yang belum menerapkan perilaku yang baik dan benar sehingga masih ditemukan ada yang mengalami diare terutama pada balita. @2020 Medical and Health Science Journal. 10.33086/mhsj.v4i1.1451 PENDAHULUAN Diare adalah penyebab umum pada tingkat kematian di negara berkembang, tingkat penyebab pertama kematian balita (bawah lima tahun) di seluruh dunia dan dimana tingkat penyebab kedua kematian bayi di seluruh dunia. Kehilangan cairan pada tubuh karena diare dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi dengan gangguan elektrolit seperti kurangnya kalium atau ketidak seimbangan garam lainnya pada tubuh. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2009, diare sudah diperkirakan telah menyebabkan 1,1 juta kematian pada orang dewasa dan 1,5 juta kematian pada anak bawah lima tahun (balita).1 Berdasarkan Data yang dikeluarkan dari The United Nations Children’s Fund (UNICEF) tercatat setiap 30 detik ada satu balita meninggal dunia karena diare.2 Diare sudah menghilangkan nyawa 1,8 juta anak balita di negara berkembang. Jumlahnya telah mengalami peningkatan dari 1,5 juta kematian dalam 20 tahun terakhir ini. Kejadian per tahun kasus penyakit kejadian diare pada anak-anak berusia kurang dari lima tahun di negara berkembang diperoleh sebesar 2 miliar kasus dengan tingkat kejadian rata- rata 3,2 kasus penyakit diare per anak. Dalam bidang studi berbasis masyarakat, rasio antara anak laki-laki dan anak perempuan balita yang mengalami penyakit diare akut yaitu sebesar 1,2 : 1,4. Hal itu penting dikarenakan pada beberapa negara (misalnya, di Asia Selatan) ditemukan jumlah penderita lebih besar pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.2 Diare adalah masalah tingkat kesehatan masyarakat pada negara berkembang seperti di negara Indonesia karena ditemukan angka morbiditas dan mortalitas yang masih tinggi pada penyakit ini. Survei morbiditas yang telah dilakukan oleh Sub Direktorat (Subdit) Diare Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) Sejak tahun 2000-2010 terlihat kecenderungan naik dan tingginya insidens. Pada tahun 2000, incidence rate (IR) (angka kejadian kasus baru) penyakit diare sebesar 301/1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374/1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423/1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk.3,4 Kejadian luar biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi dengan Crude Fatality Rate (CFR) (angka kematian kasar) yang masih tinggi. Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia (2016), terjadinya KLB 40 Medical and Health Science Journal, Vol.4., No.1, February 2020 diare tiap tahun dari tahun 2013 sampai 2016 dengan disertai peningkatan CFR (Case Fatality Rate). Data Kementrian Kesehatan Indonesia (2016) menyatakan, jumlah kasus diare yang ditangani instansi di Indonesia menurun tiap tahunnya. Pada tahun 2016 penderita diare di Indonesia yang ditangani sebanyak 46,4% dari jumlah penderita diare keseluruhan yang tercatat berjumlah 6.897.463 orang.5 Berbagai jenis penyakit, diare masih dominan di Kota Medan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara 2017, didapatkan kasus diare lebih tinggi dengan 10.225 kasus dibandingkan dengan penyakit lainnya.5 Dari sekitar 2.229.408 total penduduk Kota Medan, diperkirakan bahwa 26.025 diantaranya telah menderita diare, hal perkiraan ini dihitung dengan berdasarkan angka morbiditas (kesakitan) diare nasional tahun 2016, yaitu 270/1000 jumlah penduduk. Angka perkiraan jumlah kasus dapat dijadikan sebagai target cakupan layanan kasus diare.6 Diare pada balita berkaitan dengan faktor perilaku yang menyebabkan penyebaran kuman, terutama yang berhubungan dengan interaksi perilaku ibu dalam mengasuh anak dan faktor lingkungan dimana anak tinggal. Pertama, faktor perilaku sebagai tingkat pertama yang sering terjadi sebagai penyebabnya yaitu terjadinya penyebaran kuman dan terjadinya peningkatan kejadian diare pada balita dan bayi yaitu tidak melakukan pemberian ASI ekslusif secara teratur pada bulan pertama kehidupan balita, botol susu tidak dibersihkan dengan bersih, makanan disimpan disembarangan tempat, air minum yang digunakan tidak steril, tidak melakukan cuci tangan saat memasak, makan, menyuapi balita, sesudah buang tinja, sesudah membuang tinja balita dan bayi, serta sering membuang tinja disembarangan tempat. Kedua, faktor lingkungan sebagai tingkat kedua yaitu pengunaan sarana air bersih dalam kehidupan sehari-hari dan kebiasan melakukan pembuangan tinja. Lingkungan sangat berinteraksi secara konstan dengan manusia sepanjang waktu dan masa serta memegang peranan penting dalam proses terjadinya penyakit pada masyarakat terutama diare. Contoh, kekurangan persediaan air bersih terutama dalam musim kemarau dapat menimbulkan penyakit diare dimana-mana.7 Faktor pertama dan Kedua akan selalu berinteraksi dengan perilaku manusia. Diare pada anak menjadi sebuah masalah yang seharusnya dapat dicegah dan ditangani secara cepat dan benar. Peran masyarakat sangat penting dan akan berkaitan pada pencegahan kejadian penyakit diare ini. Peran masyarakat terutama sebagai pengasuh dengan balita sangat memiliki peran yang sangat penting dalam melakukan pencegahan penyakit diare ini. Persepsi masyarakat yang salah akan pandangan penyakit yang telah diderita oleh sang anak akan bisa berdampak dan berpengaruh pada tindakan masyarakat dalam melakukan pencegahan terhadap kejadian penyakit diare tersebut.8 Salah satu pencegahan diare secara sederhana pada balita yang dapat dipraktekkan dan dilakukan masyarakat yaitu menggunakan sabun saat mencuci tangan agar tangan tetap steril.9 Dalam tindakan pencegahan yang dilakukan oleh beberapa ibu sangat kurang terutama kurang peduli dalam memperhatikan saat melakukan pemberian ASI pada balita, air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari serta kurangnya kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, dan juga terutama ketika tangan yang masih kotor saat memberikan makan anaknya, sesudah buang air besar dan buang air kecil tidak mencuci tangan, membuang sampah sembarangan.9 Kebiasaan berhubungan berat dengan perilaku. Perilaku manusia pada akhirnya merupakan suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Perilaku merupakan apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik yang dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung.9 Sehingga situasi seperti ini masih tergolong tinggi terutama di Kota Medan terhadap terjadinya diare yang masih 41 Medical and Health Science Journal, Vol.4., No.1, February 2020 merupakan ancaman kesehatan akibat faktor perilaku dan faktor lingkungan, apalagi di tempat ini sama sekali belum pernah dilakukan penelitian terutama pada masyarakat yang bertempat tinggal di daerah aliran sungai, di lingkungan ini sanitasi lingkungan belum memadai, apabila musim hujan lokasi ini rawan banjir karena berdekatan daerah aliran sungai. Sebab karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Gambaran Perilaku Masyarakat terhadap terjadinya Diare pada Balita di Lingkungan I,II,III,IV, Daerah Aliran Sungai, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Medan.” METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di wilayah Lingkungan I,II,III,IV, Daerah Aliran Sungai, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun,Medan pada bulan januari 2020. Penelitian ini mengunakan metode decriptive dengan menggunakan rancangan penelitian cross sectional, yaitu dengan dilakukan satu kali saja pengumpulan data untuk bisa melihat Gambaran Perilaku Masyarakat terhadap terjadinya Diare di wilayah lingkungan tersebut. Populasi dan Sampel yang dilakukan penelitian ini adalah Ibu yang mempunyai balita. Sampel yang dilakukan dalam penelitian ini dipilih melalui teknik proportional sampling. Data yang digunakan yaitu data Primer dimana data yang diambil oleh peneliti yang mengenai gambaran perilaku masyarakat terhadap terjadinya diare pada balita. Data dikumpulkan dengan membagikan kuesioner pada responden ibu yang sesuai kriteria yaitu ibu yang mempunyai anak balita dengan cara Home Visite. Penelitian ini dilakukan pada 60 ibu balita yang sudah ditentukan dan dihitung berdasarkan rumus proportional sampling. Cara Pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah dengan menggunakan kuesioner dan dilakukan untuk memperoleh data pada variabel perilaku ibu yang mempunyai balita yang terdiri dari Pengetahuan, Sikap dan Tindakan. Skala ukur yang digunakan menggunakan skala Ordinal dan Hasil Ukur yang digunakan adalah Pengetahuan, Sikap dan Tindakan didasarkan dan dinilai jika responden menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sesuai maka diberikan dengan nilai 1 (Baik), dan jika tidak sesuai dengan jawaban maka diberikan dengan nilai 0 (Tidak Baik). HASIL PENELITIAN Pengisian kuesioner dilaksakan pada bulan januari 2020 yang dilakukan di wilayah lingkungan I,II,III,IV, Daerah Aliran Sungai, Kecamatan Medan Maimun, Medan. Jumlah sampel yang ditentukan adalah sebanyak 60 responden yang sesuai dengan kriteria yaitu ibu yang mempunyai balita. Data yang sudah dikumpulkan serta diolah dan dianalisa dalam bentuk hasil tabel sebagai berikut: Hasil penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan distribusi frekuensi jawaban responden berdasarkan pertanyaan yang sudah ditentukan per variabel agar dapat mengetahui setiap frekuensi jawaban yang didapatkan. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Masyarakat terhadap terjadinya Diare pada Balita di wilayah lingkungan I,II,III,IV, Daerah Aliran Sungai, Kecamatan Medan Maimun, Medan. PENGE TAHUAN Tidak Baik Baik Freku ensi Percent (%) Freku ensi Percent (%) Penyakit diare 27 45.0 33 55.0 Penyebab diare 13 21.7 47 78.3 Penularan daire 17 28.3 43 71.7 Penderita diare 16 26.7 44 73.3 Pencegahan diare 16 26.7 44 73.3 Air sungai 9 15.0 51 85.0 Dari hasil tabel 1 diatas diperoleh dan dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan Masyarakat terhadap terjadinya diare pada balita di wilayah lingkungan I,II,III,IV, 42 Medical and Health Science Journal, Vol.4., No.1, February 2020 Kelurahan Aur,Kecamatan Medan Maimun, Medan yang memiliki pengetahuan baik frekuensinya jauh lebih tinggi dan masuk golongan kategori baik dibandingkan dengan pengetahuan yang tidak baik dimana frekuensinya jauh lebih rendah dan masuk golongan kategori tidak baik. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Sikap Masyarakat terhadap terjadinya Diare pada Balita di wilayah lingkungan I,II,III,IV, Daerah Aliran Sungai, Kecamatan Medan Maimun, Medan. SIKAP Baik Tidak Baik Frek uensi Percent (%) Frek uensi Percent (%) Pemberian Oralite 43 71,7 17 28.3 Penanganan Diare 41 68.3 19 31.7 Mencuci Tangan 56 93.3 4 6.7 Penyuluhan Diare 51 85.0 9 15.0 Kerja Bakti 57 95.0 5.0 Dari hasil tabel 2 diatas diperoleh dan dapat dilihat bahwa tingkat sikap Masyarakat terhadap terjadinya diare pada balita di wilayah lingkungan I,II,III,IV,Kelurahan Aur,Kecamatan Medan Maimun, Medan yang memiliki sikap baik frekuensinya jauh lebih tinggi dan masuk golongan kategori baik dibandingkan dengan sikap yang kategori tidak baik dimana frekuensinya jauh lebih rendah dan masuk golongan kategori tidak baik. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Tingkat Tindakan Masyarakat terhadap terjadinya Diare pada Balita di wilayah lingkungan I,II,III,IV, Daerah Aliran Sungai, Kecamatan Medan Maimun, Medan. Dari hasil tabel 3 diatas diperoleh dan dapat dilihat bahwa tingkat tindakan Masyarakat terhadap terjadinya diare pada balita di wilayah lingkungan I,II,III,IV,Kelurahan Aur,Kecamatan Medan Maimun, Medan yang memiliki tingkat tindakan frekuensinya jauh lebih tinggi dan masuk golongan kategori baik dibandingkan dengan tindakan yang kategori tidak baik dimana frekuensinya jauh lebih rendah dan masuk golongan kategori tidak baik. PEMBAHASAN Pengetahuan Berdasarkan Tabel 1, distribusi pengetahuan masyarakat diketahui bahwa pengetahuan yang didapatkan sudah sesuai dalam perilaku masyarakat karena hasil yang didapatkan mendapatkan kategori baik dengan frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak baik. Berdasarkan pendapat Notoatmodjo (2011) menyimpulkan pengetahuan adalah faktor pendukung dalam perilaku seseorang dalam melakukan sesuatu. Saat orang tersebut membentuk perilaku yang baru, maka orang tersebut harus tahu apa manfaat maupun arti perilaku bagi dirinya sendiri. Setiap masyarakat terutama pada ibu balita yang ingin memiliki perilaku yang sehat apabila diri sendiri tahu tingkat kerugian dan kebahayaan yang dapat terjadi bila tidak melakukan hal yang sudah ditentukan.10 Tingkat pengetahuan masyarakat terutama pada ibu balita mengenai penyakit diare sudah masuk kategori baik, hal ini dikarenakan bahwa sudah tingginya informasi 43 TINDAKAN Baik Tidak baik Freku ensi Percen t (%) Frek uensi Percen t (%) Memasak Air Minum 60 100 0 0.0 Sarana Air 60 100 0 0.0 Yang Dilakukan Penderita Diare 54 90.0 6 10.0 Penyuluhan 58 96.7 3.3 Medical and Health Science Journal, Vol.4., No.1, February 2020 dan penyuluhan yang didapatkan di lingkungan tersebut. Sehingga informasi maupun pengetahuan yang sudah didapatkan dapat diketahui dari mana asal dan sumbernya. Walaupun sudah masuk kategori baik tetap diharapkan upaya peningkatan pengetahuan dengan lebih meningkatkan kegiatan penyuluhan terutama diare dan perilaku hidup bersih dan sehat yang dapat dilakukan bersama-sama serta didampingi oleh petugas kesehatan agar dapat menambah wawasan yang lebih luas dan mudah memahami serta melakukan setiap tindakan dengan baik dan benar untuk menghindari terjadinya penyakit terutama diare pada balita. Sikap Berdasarkan Tabel 2, distribusi sikap masyarakat diketahui bahwa sikap yang didapatkan sudah sesuai dalam perilaku masyarakat karena hasil yang didapatkan mendapatkan kategori baik dengan frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak baik. Sikap masyarakat terutama ibu balita merupakan tingkat kesatuan yang dapat menurunkan frekuensi angka kesakitan diare terutama pada balita. Jika terjadi diare pada balita tetapi sikap terhadap skill ibu mendukung, jadi balita yang mengalami diare tidak mengalami dehidrasi baik ringan,sedang maupun berat dan angka kesakitan maupun kematian pada diare dapat menurun dan berkurang. Menurut Notoatmodjo (2011) perilaku baru yang diterima melalui proses (awareness,interest, evaluation, trial dan adoption) didasarkan oleh tingkat pengetahuan, tingkat kesadaran dan tingkat sikap yang positif, maka perilaku itu akan terjaga bertahan. Hasil penelitian yang didapatkan memang sikap masyarkat terutama pada ibu balita ini sudah masuk kategori baik tetapi masih ada didapatkan balita yang mengalami diare.10 Sikap yang sudah baik saja belum tentu dapat dan cukup untuk mengubah perilaku diri sendiri apalagi seseorang dan sebuah sikap belum bisa terwujud secara otomatis dalam melakukan suatu tindakan. Supaya terwujudnya sikap tersebut menjadi hal nyata diperlukan faktor pendukung atau hal yang memungkinkan, yaitu fasilitas. Setelah seseorang sudah dapat mengetahui suatu rangsangan yaitu objek kesehatan, lalu selanjutnya dilakukan pengadaan penilaian maupun pendapat pada apa yang sudah dilihat dan diketahui, dan proses yang dapat diharapkan maka seseorang tersebut akan dapat melaksakan dan melakukan apa yang disikapinya maupun yang diketahui ( yang dinilai baik).10 Tindakan Berdasarkan Tabel 3, distribusi tindakan masyarakat diketahui bahwa tindakan yang didapatkan sudah sesuai dalam perilaku masyarakat karena hasil yang didapatkan mendapatkan kategori baik dengan frekuensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak baik. Menurut Notoatmodjo (2011) tindakan seseorang terutama ibu balita yang dapat bertindak maupun melakukan perilaku baik tanpa terlebih dahulu mengetahui apa makna rangsangan yang sudah diterima, dengan sebutan lain tindakan seseorang tidak selamanya harus didasarkan oleh pengetahuan maupun sikap.10 Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan di wilayah lingkungan I,II,III,IV,Kelurahan Aur,Kecamatan Medan Maimun,Medan, menunjukkan bahwa perilaku ibu yang mempunyai balita dalam tingkat pengetahuan, tingkat sikap maupun tingkat tindakan sangat berpengaruh dan berdampak bagi balita yang mengalami diare. Perilaku ini sangat memicu akan terjadinya diare jika tidak memahami dan menerapkan sebelum dan sesudah makan lupa mencuci tangan, kebersihan lingkungan yang tidak terjaga terutama dibagian kondisi kamar mandi dan jamban, tempat bermain anak yang kurang steril, air bersih yang dikelola tidak steril, makanan yang diolah tidak dimasak sempurna, sampah dan tinja dibuang di sembarangan 44 Medical and Health Science Journal, Vol.4., No.1, February 2020 tempat. Berdasarkan hasil yang sudah didapatkan bahwa diperoleh perilaku masyarakat terutama ibu yang mempunyai balita dalam penelitian ini masuk dalam kategori golongan baik karena lebih tinggi frekuensinya dibandingkan dengan kategori yang tidak baik, namun saat penelitian masih dijumpai beberapa ibu balita dimana balitanya didapatkan mengalami diare karena tidak tahu apakah ibu balita tersebut benar-benar menerapkan perilaku tersebut dengan baik dan benar atau mengabaikan semua ini seakan- akan semuanya baik-baik saja. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti mengenai Gambaran Perilaku Masyarakat terhadap terjadinya Diare pada Balita di wilayah Lingkungan I,II,III,IV, Daerah Aliran Sungai, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Medan : a) Persensi tingkat pengetahuan masyarakat terutama pada ibu balita tentang perilaku terhadap terjadinya diare pada balita adalah didapatkan dengan tingkat pengetahuan kategori baik dengan frekuensi didapatkan lebih tinggi. b) Persensi tingkat sikap masyarakat terutama pada ibu balita tentang perilaku terhadap terjadinya diare pada balita adalah didapatkan dengan tingkat sikap kategori baik dengan frekuensi didapatkan lebih tinggi. c) Persensi tingkat tindakan masyarakat terutama pada ibu balita tentang perilaku terhadap terjadinya diare pada balita adalah didapatkan dengan tingkat tindakan kategori baik dengan frekuensi didapatkan lebih tinggi. d) Kepedulian Pengetahuan,Sikap, Tindakan Masyarakat yaitu Ibu Balita berdasarkan frekuensi tergolong baik, sudah tahu mana yang lebih baik dilakukan dan yang tidak baik dilakukan tapi tidak tahu apakah benar-benar diterapkan atau tidak. Dari hasil yang sudah dilakukan peneliti wilayah Lingkungan I,II,III,IV, Daerah Aliran Sungai, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Medan, maka peneliti akan menyampaikan hal-hal sebagai berikut : 1. Pada masyarakat , hasil penelitian ini akan dapat bermanfaat dan serta meningkatkan perilaku masyarakat terutama pada Ibu yang mempunyai balita dan dapat memahami serta membuka diri untuk menerima dan menerapkan informasi yang diberikan tentang pencegahan diare pada balita. 2. Terkhusus bagi tenaga kesehatan, dari hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi untuk program-program penyuluhan untuk wilayah-wilayah berikutnya. 3. Bagi Institusi Pendidikan dari hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber referensi maupun bacaan untuk penelitian selanjutnya terkhususnya mengenai tentang diare pada balita. 4. Bagi peneliti selanjutnya dapat mengembangkan dan menggunakan lebih banyak sampel serta kuesioner dan variabel untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat sesuai harapan. DAFTAR PUSTAKA 1. World Health Organization. Country Office for Indonesia Pedoman pelayanan kesehatan anak di rumah sakit rujukan tingkat pertama di kabupaten/ WHO ; alihbahasa, Tim Adaptasi Indonesia.- Jakarta : WHO Indonesia,2008. 2. Diare Balita: Suatu Tinjauan dari Bidang Kesehatan Masyarakat / oleh Oksfriani Jufri Sumampouw, dkk..—Ed.1, Cet. 2-- Yogyakarta: Deepublish, Agustus 2017. 3. Katalog Dalam Terbitan Kementerian Kesehatan RI Indonesia. Kementerian Kesehatan. Pusat Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2011,-- Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2012 4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Situasi Diare di Indonesia. Jakarta: Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. 5. Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. 2017. Jumlah Kasus HIV/AIDS, IMS, 45 Medical and Health Science Journal, Vol.4., No.1, February 2020 DBD, Diare, TB, dan Malaria. Medan : Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. 6. Katalog Dalam Terbitan Kementerian Kesehatan RI Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Sekretariat Jenderal Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2017. -- Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2018 7. Sucipto. 2019. KESEHATAN LINGKUNGAN. Yogyakarta: Gosyen Publishing. 8. Muswita. 2016. Penyakit Anak Sehari-hari Menangani Anak Sebelum Ke Dokter. Jakarta: Sagung Seto. 9. Nagiga & Arty, N. W. 2009. Penyakit anak sehari-hari. Jakarta: Gramedia 10. Notoatmodjo, S. 2011. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni: Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta. 46