43 Marlia Alief R achmawati, Handayani, Adyan Donastin, Hubungan Pola Makan dan Kebiasaan Olahraga yang Baik dengan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di RSI Jemursari HUBUNGAN POLA MAKAN DAN KEBIASAAN OLAHRAGA YANG BAIK DENGAN KADAR GULA DARAH PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II DI RSI JEMURSARI Marlia Alief Rachmawati, Handayani, Adyan Donastin Fakultas Kedokteran, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya e-mail: marlialief@gmail.com Abstrak: Diabetes Mellitus tipe II adalah penyakit kronis mengalami resistansi terhadap aksi insulin dan ketidakmampuan pankreas untuk menghasilkan cukup insulin. DM tipe II sendiri menduduki peringkat ke-2 di dunia dengan penderita terbanyak Pola makan yang buruk dan kurangnya olahraga dapat memengaruhi terjadinya DM tipe II. Perkembangan pola makan yang salah arah saat ini mempercepat peningkatan jumlah penderita DM di Indonesia. Pada saat tubuh melakukan gerakan, maka sejumlah gula akan dibakar untuk dijadikan tenaga gerak. Sehingga sejumlah gula dalam tubuh akan berkurang dan kebutuhan akan hormon insulin juga akan berkurang. Penelitian ini bertujuan adalah untuk mengetahui hubungan pola makan dan kebiasaan olahraga dengan kadar gula penderita Diabetes Mellitus II pada penderita Diabetes Mellitus II di RSI Jemursari Penelitian ini dilakukan dengan metode survey atau observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang diambil sebanyak 24 pasien. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 yang menjalani rawat jalan pada poli penyakit dalam, namun dibatasi dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang penulis buat. Dari 24 pasien, pada hubungan pola makan dengan kadar gula darah sebanyak 13 pasien (54,2%) mempunyai kadar gula tidak tinggi. 11 pasien (45,8%) mempunyai kadar gula tinggi. Dengan hasil uji statistik didapatkan nilai p=1,000 (p>0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara pola makan dan kadar gula. Serta hubungan olahraga dengan kadar gula darah sebanyak 13 pasien (54,2%) mempunyai kadar gula tidak tinggi. 11 pasien (45,8%) mempunyai kadar gula tinggi. Dengan hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,432 (p>0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara olahraga dan kadar gula. Kata Kunci: pola makan, olahraga,kadar gula darah, diabetes mellitus PENDAHULUAN Diabetes mellitus adalah gangguan meta- bolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Apabila sudah berkem- bang penuh secara klinis, maka diabetes melli- tus ditandai oleh hiperglikemia, arterosklerotik, mikroangiopati, dan neuropati.1 Prevalensi DM di Indonesia mencapai jumlah 8.426 juta pada Tahun 2000 yang diper- kirakan akan meningkat pada Tahun 2030 sebe- sar 21.257 juta, hal ini berarti terjadi kenaikan tiga kali lipat dalam waktu 30 Tahun. Oleh karena itu, menurut laporan World Health Or- ganization (WHO) bahwa pada Tahun 2000 terdapat 1,0 juta penduduk mengalami kematian akibat diabetes dengan prevalensi sekitar 2,0% dan pada Tahun 2012 dilaporkan bahwa terdapat 1,5 juta penduduk mengalami kematian akibat diabetes dengan prevalensi sekitar 2,7%. Dari seluruh kematian akibat DM di dunia,70% kematian terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.2 Dengan demikian, penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan dan 43 mailto:marlialief@gmail.com Medical and Health Science Journal, Vol. 2, No. 1, February 2018 kebiasaan olahraga dengan kadar gula penderita diabetes mellitus II pada penderita diabetes mellitus II di RSI Jemursari. Diharapkan penelitian ini dapat membe- rikan manfaat berupa memberikan informasi pola makan dan olahraga yang baik untuk penderita Diabetes Mellitus II di RSI Jemursari dan untuk mengetahui hubungan pola makan dan olahraga yang baik dengan kadar gula darah penderita diabetes mellitus II di RSI Jemursari serta untuk mengetahui perbandingan hubungan pola makan dengan olahraga terhadap kadar gula darah. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini menggunakan metode observasional bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross–sectional menggunakan data primer berupa quesioner yang diambil pada bulan September-Oktober 2017. Pada penelitian ini didapatkan beberapa kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi berupa pasien yang datang ke RSI Jemur- sari melalui IRJ (Poli Umum dan Poli Penyakit Dalam) pada bulan September-Oktober 2017 dan menderita diabetes mellitus, pasien dispeps dengan rentang usia 30–64 tahun, pasien diabe- tes mellitus yang berjenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan, pasien bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi berupa penderita tidak ada komplikasi berat penyakit lain dan tidak minum obat secara rutin. Penelitian ini menggunakan teknik pengam- bilan sampel dengan cress sectional mulai Sep- tember–November 2017. Data yang dijadikan sebagai sampel diambil dari quesioner yang di- bagikan kepada pasien yang berada di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya. Data-data yang telah diperoleh akan diolah menggunakan apli- kasi Microsoft Office Excel 2007. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan kadar gula, menunjukkan fre- kuensi kadar gula darah pasien diabetes melli- tus II di RSI jemursari adalah sebagian besar adalah rendah dengan frekuensi sebanyak 13 orang (54,2%) selanjutnya pada pasien kadar gula tinggi sebanyak 11 orang (45,8%). Berdasarkan pola makan, pola makan res- ponden setengah dari responden melakukan pola makan yang baik sebanyak 12 orang (50%) sedangkan yang mempunyai pola makan buruk sebanyak 12 orang (50%). Berdasarkan olahraga, responden pasien URJ jemursari sebanyak 9 orang jarang melakukan olahraga dengan persentase 37,5% dan sebanyak 15 orang (62,5%) selalu melakukan olahraga. Jadi hasil penelitian secara deskriptif sema- kin tinggi kadar gula makan responden selalu rajin olahraga. Hasil penelitian secara statistik menyatakan terdapat ada hubungan tidak signi- fikan. Jadi hasil penelitian secara deskriptif sema- kin tinggi kadar gulanya makan pola makan seseorang menjadi tidak baik. Sedangkan secara statistik menyatakan terdapat hubungan yang tidak signifikan antara faktor pola makan dengan kadar gula. Pola makan yang baik dengan kadar gula darah yang tinggi dan tidak tinggi. Pada gula darah yang tinggi didapatkan pasien sebanyak 5 orang dengan persentase 41,7% sedangkan yang tidak tinggi didapatkan pasien sebanyak 7 orang dengan persentase 58,3%. Pola makan yang tidak baik dengan kadar gula darah yang tinggi dan tidak tinggi. Pada gula darah yang tinggi didapatkan pasien seba- nyak 6 orang dengan persentase 50.0% sedang- kan yang tidak tinggi didapatkan pasien sebanyak 6 orang dengan persentase 50.0%. 44 Marlia Alief R achmawati, Handayani, Adyan Donastin, Hubungan Pola Makan dan Kebiasaan Olahraga yang Baik dengan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Mellitus Tipe II di RSI Jemursari Olahraga yang rutin dengan kadar gula darah yang tinggi dan tidak tinggi. Pada gula darah yang tinggi didapatkan pasien sebanyak 8 orang dengan persentase 53,3% sedangkan yang tidak tinggi didapatkan pasien sebanyak 7 orang dengan persentase 46,7%. Olahraga yang jarang dengan kadar gula darah yang tinggi dan tidak tinggi. Pada gula darah yang tinggi didapatkan pasien sebanyak 3 orang dengan persentase 33.3% sedangkan yang tidak tinggi didapatkan pasien sebanyak 6 dengan persentase 66.7%. Pola makan dan olahraga dengan baik mem- punyai kadar gula tidak tinggi 55% dan adalah yang selalu melakukan pola makan dan olahraga dengan baik mempunyai kadar gula 46%. Pola makan baik dengan jarang olahraga mempunyai kadar gula tinggi tidak didapatkan. Sedangkan yang mempunyai pola makan dengan jarang olahraga mempunyai kadar gula tidak tinggi 100%. Pola makan tidak baik dengan sering mela- kukan olahraga mempunyai kadar gula tinggi dengan persentase 50% melakukan pola makan tidak baik dengan sering melakukan olahraga mempunyai kadar gula tidak tinggi dengan per- sentase 50%. Pola makan dengan tidak baik jarang mela- kukan olahraga mempunyai kadar gula darah dengan persentase 50% sedangkan yang pola makan tidak baik dengan jarang melakukan olahraga sebanyak 50%. Pembahasan Pada DM tipe I terdapat kerusakan pada sel beta akibat reaksi autoimun, sedangkan pada DM tipe II kadar glukosa darah meningkat karena adanya resistensi insulin akibat gaya hidup yang salah. Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua- nya.3 Jenis makanan menentukan kecepatan naik- nya kadar gula darah. Kecepatan suatu makanan dalam menaikkan kadar gula darah disebut juga indeks glikemik. Makanan Indeks glikemik tinggi harusnya dihindari seperti sumber karbohidrat sederhana, gula, madu, sirup, roti, mie dan lain- lain. Makanan yang berindeks glikemik lebih rendah adalah makanan yang harus dikonsumsi dan kaya dengan serat, contohnya sayuran dan buah-buahan.4 Konsumsi makanan yang berlebihan teruta- ma mengandung karbohidrat dan lemak menye- babkan jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh tidak seimbang dengan kebutuhan energi. Kelebihan energi ini di dalam tubuh akan disim- pan dalam bentuk jaringan lemak yang lama- kelamaan akan mengakibatkan obesitas. Asupan serat yang cukup dapat mencegah kejadian obe- sitas. Serat mengabsorbsi air, memperluas penye- rapan di usus, dan memperlambat pergerakan makanan pada saluran pencernaan sehingga me- nimbulkan rasa kenyang lebih lama. Berdasarkan hasil food recall 24 jam dan food record yang diolah menggunakan nutrisurvey menunjukkan bahwa seluruh subjek belum dapat memenuhi anjuran asupan serat perhari.5 Olahraga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah olahraga yang dilakukan selama 3 kali dalam seminggu selama 30 menit secara rutin. Olah raga yang kurang menyebabkan makanan yang masuk ke tubuh tidak dibakar melainkan ditimbun sebagai lemak dalam tubuh. Penim- bunan lemak tubuh dalam waktu yang lama akan mengakibatkan obesitas. Orang dewasa dengan obesitas akan mempunyai risiko diabe- tes 24 kali lebih besar.6 45 Medical and Health Science Journal, Vol. 2, No. 1, February 2018 DM II menunjukkan transmisi vertikal sampai 3 generasi. Sedangkan DM I hanya 6%. Jika salah satu orang tuanya mengalami DM, makan probabilitas anaknya yang terkena 25% sedangkan kedua orangtuanya yang terkena DM maka 50% anaknya terkena DM. Apabila pada DM I, orang tuanya terkena DM maka anaknya mempunyai risiko 5–10% saja.7 KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disim- pulkan hasil yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara pola ma- kan dengan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus tipe II sedangkan terdapat hubungan yang tidak signifikan antara olahraga dengan kadar gula darah pada penderita diabe- tes mellitus II. Pengobatan akan dapat berjalan dengan baik jika diberikan bersama dengan peng- aturan makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Saran Saran penulis, perlu adanya penelitian menggunakan sampel dengan jumlah lebih ba- nyak didapatkan dengan sampel minimal pasien agar memudahkan hubungan antara pola makan dan kebiasaan olahraga dengan kadar gula pasien. DAFTAR RUJUKAN Fatimah R.N. 2015. Diabetes Mellitus Tipe 2. Journal Majority. Price, S.A. dan Wilson, L.M. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-. Proses Penyakit, Edisi 6, Volume 1. Jakarta: EGC Pyke, D.A., and P.G. Nelson. 1976. “Diabetes Mellitus in Identical Twins.” Pp. 194–202 in The Genetics of Diabetes Mellitus, ed- ited by W. Creutzfeldt, J. Kobberling, and J.F. Neel. New York. Rafanani, B. 2013. Buku Pintar Pola Makan Sehat dan Cerdas bagi Penderita Diabetes. Yogyakarta: Penerbit Araska. Sukardji, K. 2009. Penatalaksanaan Gizi pada Diabetes Mellitus. Dalam: Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Jakarta: Pusat Diabetes dan Lipid RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, FKUI. Suyono, S. 2006. Kecenderungan Peningkatan Jumlah Penyandang Diabetes, dalam Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. WHO. 2014. Diabetes Melitus. Diakses pada 21 Januari 2018. 46