e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 122 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 122 126 korelasi motivasi belajar dan gaya belajar dengan prestasi belajar ilmu alamiah dasar mahasiswa prodi pgsd anggit grahito wicaksono pendidikan guru sekolah dasar universitas slamet riyadi surakarta gara_hito@yahoo.co.id abstract the purpose of this study was to determine: (1) the existence of positive and significant relationship between learning motivation and learning achievement in basic natural science subjects; (2) there is a positive and significant relationship between learning styles and academic achievement basic natural science subjects; and (3) there is a positive and significant relationship together between learning motivation and learning styles with learning achievement in basic natural science subjects. this study used correlational and ex-post facto methods with multiple correlation analysis technique. the first hypothesis test results concluded that there is a positive and significant relationship between learning motivation and learning achievement in basic natural science subjects. the second hypothesis test results concluded that there is a positive and significant relationship between learning styles and academic achievement basic natural science subjects. double correlation test results for the third hypothesis can be inferred learning motivation and learning styles together have a positive and significant relationship with achievement learn basic natural science subjects. the coefficient of determination of 0.398 indicates that 39.8% of the change in the learning achievement of the basic natural science subjects affected by learning motivation and learning styles, while 60.2% influenced by other variables not studied. keywords: learning motivation, learning styles, basic natural science achievement pendahuluan perkembangan zaman saat ini sangat cepat dari masa ke masa serta dipengaruhi oleh perkembangan sains dan teknologi. hanya generasi-generasi yang memiliki motivasi belajar tinggi dan gaya belajar yang sesuai yang dapat meraih kesuksesan dan keberhasilan. motivasi belajar dan gaya belajar ini tidak begitu saja muncul pada generasi muda saat ini, namun dapat dikembangkan melalui proses pendidikan. menjawab tantangan zaman, dunia pendidikan juga mulai mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. salah satunya adalah program studi pendidikan guru sekolah dasar yang merupakan lembaga yang menyiapkan calon guru sekolah dasar. lembaga ini berharap lulusan yang dihasilkan tidak hanya memiliki wawasan dan pengetahuan saja, namun juga memiliki motivasi belajar yang tinggi dan gaya belajar yang sesuai sehingga dapat menunjang profesinya kelak. motivasi belajar dan gaya belajar adalah faktor penting yang mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa. kedua hal tersebut dalam pendidikan telah banyak dikembangkan karena memiliki manfaat yang besar bagi mahasiswa. mahasiswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi dan gaya belajar sesuai akan dapat menunjang proses belajar mahasiswa. ilmu alamiah dasar adalah salah satu mata kuliah yang sangat relevan dan terkait dengan motivasi belajar dan gaya belajar mahasiswa. menurut jasin (2013: 1) “ilmu alamiah dasar adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang gejalagejala dalam alam semesta sehingga terbentuk suatu konsep dan mailto:gara_hito@yahoo.co.id p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 korelasi motivasi belajar.......(anggit grahito wicaksono) 123 prinsip”. pendapat tersebut menerangkan bahwa mata kuliah ilmu alamiah dasar mengarah pada kemampuan berpikir ilmiah yang mengajarkan kepada mahasiswa untuk selalu memiliki motivasi belajar yang tinggi dam gaya belajar yang sesuai guna mengaplikasikan fenomena sains dalam kehidupan sehari-hari. berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan peneliti di program studi pgsd fkip unisri, kegiatan pembelajaran ilmu alamiah dasar mahasiswa sudah mengarahkan pada konsep kemampuan ilmiah seperti sikap ilmiah dan sikap peduli lingkungan, namun belum mengungkap faktor dasar yang mempengaruhi prestasi belajar seperti motivasi belajar dan gaya belajar. uno (2008: 23) menyatakan bahwa “hakekat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswasiswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku”. sedangkan menurut yamin (2006: 173) mengemukakan bahwa “motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan, pengalaman”. dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada diri seseorang yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan. winkel (1998: 147) mengemukakan bahwa “gaya belajar merupakan cara belajar yang khas bagi mahasiswa”. sedangkan menurut nasution (2004: 94) menyatakan bahwa “gaya belajar adalah cara yang dengan konsisten dilakukan oleh seorang siswa dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berfikir dan memecahkan soal”. dari berbagai pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan gaya belajar adalah cara belajar yang khas, bersifat konsisten, kerapkali tidak disadari yang merupakan kombinasi dari seseorang tersebut menyerap dan mengatur serta mengolah informasi dari berbagai materi yang telah diberikan. motivasi belajar dan gaya belajar mahasiswa dalam mata kuliah ilmu alamiah dasar tampak dari hasil wawancara tanggal 5 januari 2016 dengan sejumlah mahasiswa pgsd semester 4 kelas 01,02, dan 03 tahun akademik 2014/2015 bahwa dalam mata kuliah ilmu alamiah dasar, motivasi belajar mahasiswa masih rendah karena hanya memenuhi kehadiran saja bukan untuk menambah wawasan apalagi mencari pengetahuan yang baru, sedangkan gaya belajar sama sekali belum disinggung dan dikembangkan dosen pada proses pembelajaran. sedangkan hasil observasi menunjukkan bahwa mata kuliah ilmu alamiah dasar yang diberikan hanya sebatas konsep-konsep dan teori-teori saja. kegiatan pembelajaran yang mengarah pada peningkatan motivasi belajar dan mengungkapkan gaya belajar yang sesuai dengan mahasiswa belum terpenuhi sehingga dapat menyebabkan prestasi mahasiswa menurun dan mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. kekhawatiran ini masih bersifat pernyataan berdasarkan studi lapangan dan teoritik pendahuluan yang masih perlu dibuktikan secara ilmiah. dengan demikian, usulan penelitian diajukan dengan judul “korelasi motivasi belajar dan gaya belajar terhadap prestasi belajar ilmu alamiah dasar mahasiswa prodi pgsd universitas slamet riyadi surakarta tahun akademik 2015/2016. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 124 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 122 126 metode metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional dan ex-post facto. populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa pgsd fkip unisri tahun akademik 2015/2016 yang berjumlah 120 mahasiswa kemudian dilakukan simple random sampling dihasilkan sampel berjumlah 30 mahasiswa. teknik pengumpulan data yang digunakan dengan menggunakan angket dan dokumentasi. teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah teknik korelasi product moment dan analisis korelasi ganda menggunakan bantuan spss dengan variabel motivasi belajar (x1), gaya belajar (x2) sebagai prediktor dan variabel terikat adalah prestasi belajar (y). hasil penelitian deskripsi data tabel 1. deskipsi data penelitian variabel penelitian mean std min max motivasi belajar (x1) 71,63 10,00 55 90 gaya belajar (x2) 82,06 6,169 67 92 prestasi belajar mahasiswa (y) 77,97 4,612 70 88 uji normalitas berdasarkan hasil uji normalitas diperolah nilai signifikansi motivasi belajar 0,162 > 0,05, maka h0 diterima sehingga motivasi belajar mahasiswa berdistribusi normal. gaya belajar mahasiswa memiliki signifikansi 0,106 > 0,05 maka h0 diterima sehingga gaya belajar mahasiswa berdistribusi normal. sedangkan prestasi belajar mahasiswa memiliki signifikansi 0,200 > 0,05 maka h0 diterima sehingga prestasi belajar mahasiswa berdistribusi normal. uji homogenitas berdasarkan hasil uji homogenitas diperoleh bahwa nilai signifikansi 0,068 > 0,05 menunjukkan bahwa h0 diterima sehingga prestasi belajar mahasiswa homogen. analisis korelasi product moment berdasarkan hipotesis 1 diperoleh koefisien (rhitug) untuk motivasi belajara sebesar 0,480 dikonsultasikan dengan rtabel untuk n = 30 dan taraf signifikansi 5% diperoleh angka sebesar rtabel = 0,361 sehingga rhitung > rtabel. berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar mata kuliah ilmu alamiah dasar mahasiswa. berdasarkan hipotesis 2 menunjukkan bahwa koefisien korelasi untuk gaya belajara sebesar 0,412 dikonsultasikan dengan rtabel untuk n = 30 dan taraf signifikansi 5% diperoleh angka rtabel sebesar 0,361 sehingga rhitung > rtabel. berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya belajar dengan prestasi belajar mahasiswa mata kuliah ilmu alamiah dasar. analisis korelasi ganda berdasarkan analisis terhadap hipotesis 3 menunjukkan bahwa koefisien korelasi ganda sebesar 0,631 dikonsultasikan dengan nilai rtabel pada taraf signifikansi 5% yaitu 0,361 sehingga lebih besar dari rhitung > rtable. sehingga koefisien determinasi (r2) sebesar 0,398, yang menunjukkan bahwa 39,8% perubahan pada prestasi belajar mahasiswa mata kuliah ilmu alamiah dasar (y) dapat ditentukan oleh motivasi belajar mahasiswa (x1) dan gaya belajar mahasiswa (x2), sedangkan 60,2% p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 korelasi motivasi belajar.......(anggit grahito wicaksono) 125 dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. nilai signifikansi fchange sebesar 0,001 dikonsultasikan dengan taraf signifikansi 5% sehingga 0,001 < 0,05 menunjukkan bahwa variabel motivasi belajar mahasiswa dan gaya belajar mahasiswa memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan prestasi belajar mahasiswa mata kuliah ilmu alamiah dasar. pembahasan hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi belajar dan gaya belajar mahasiswa dengan prestasi belajar mahasiswa p ad a mata kuliah ilmu alamiah dasar. variabel bebas yang digunakan adalah motivasi belajar dan gaya belajar. sedangkan variabel terikat adalah prestasi belajar mahasiswa. sebesar 39,8%, dan sisanya 60,2% diterangkan oleh variabel lain misalnya; minat belajar, keaktifan siswa, percaya diri, dll. variabel lain tersebut tidak diteliti dalam penelitian ini. penggunaan variabel bebas dalam menerangkan variasi variabel terikat dirasa sudah tepat walaupun prosentase pengaruhnya cukup kecil. motivasi belajar mempunyai hubungan positif dan signifikan dengan prestasi belajar mahasiswa. hal ini menunjukkan bahwa motivasi belajar yang tinggi akan berpengaruh pada prestasi belajar yang baik. motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada diri mahasiswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan, sehingga dengan dorongan internal dan eksternal pada diri mahasiswa yang tinggi dapat menimbulkan kegiatan belajar meningkat sekaligus meningkatkan prestasi belajar mahasiswa. hal tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan purnawan (2014: 8), menyatakan bahwa tingkat motivasi belajar mahasiswa yang baik dapat menimbulkan indeks prestasi mahasiswa sangat memuaskan. dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa motivasi belajar mahasiswa memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap pencapaian prestasi belajar mahasiswa yang ditunjukkan dengan indeks prestasi mahasiswa yang sangat memuaskan. oleh karena itu, alangkah baiknya mahasiswa dapat memaksimalkan motivasi belajarnya guna meningkatkan prestasi belajar yang dihasilkan. gaya belajar mahasiswa juga memiliki hubungan positif dan signifikan dengan prestasi belajar mahasiswa. hal ini menunjukkan bahwa dengan gaya belajar yang sesuai dan dapat dimaksimalkan pemanfaatannya dalam pembelajaran oleh mahasiswa dapat menimbulkan prestasi belajar mahasiswa yang baik. gaya belajar berkaitan dengan ciri khas setiap individu dalam menyerap dan mengolah informasi yang diterimanya, sehingga semakin mahasiswa dapat memaksimalkan gaya belajar yang dimilikinya dalam menyerap informasi semakin tinggi pula prestasi belajar yang dihasilkan. hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan nurfita (2013: 65), yang menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara gaya belajar dengan prestasi belajar mahasiswa dengan nilai koefisiensi kontingensi gaya belajar terhadap prestasi belajar adalah kuat, sehingga semakin sesuai gaya belajar mahasiswa maka semakin tinggi prestasi belajar yang diperoleh. hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa gaya belajar memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi belajar mahasiswa, sehingga e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 126 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 122 126 semakin mahasiswa dapat memaksimalkan gaya belajar yang dimilikinya semakin tinggi pula prestasi belajar yang dihasilkan. kedua variabel yaitu motivasi belajar dan gaya belajar mahasiswa secara bersamasama memiliki hubungan positif dan signifikan dengan prestasi belajar mahasiswa. hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi motivasi belajar dan semakin maksimal mahasiswa dalam memanfaatkan gaya belajarnya semakin tinggi pula prestasi belajar yang dihasilkan. hasil tersebut selaras dan sesuai dengan penelitian yang anwar (2013: 46), yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara gaya belajar dan motivasi belajar dengan prestasi belajar. berdasarkan pembahasan di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar dan gaya belajar memiliki hubungan positif dan signifikan dengan prestasi belajar mahasiswa baik secara sendiri-sendiri maupun bersama sama. simpulan berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1. terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar mahasiswa mata kuliah ilmu alamiah dasar. 2. terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya belajar dengan prestasi belajar mahasiswa mata kuliah ilmu alamiah dasar. 3. terdapat hubungan positif dan signifikan secara bersama-sama antara motivasi belajar dan gaya belajar dengan prestasi belajar mahasiswa mata kuliah ilmu alamiah dasar. daftar pustaka anwar, asif khairul. 2013. hubungan gaya belajar dan motivasi belajar dengan prestasi belajar mata diklat mengaplikasikan rangkaian listrik siswa smkn 2 depok sleman. skripsi: uny jasin, maskoeri. 2013. ilmu alamiah dasar. jakarta: raja grafindo persada. nasution, s. 2000. dikdaktik asas-asas mengajar. jakarta: bumi aksara. nurfita, nisa rizki. 2013. hubungan gaya belajar dengan prestasi belajar kdpk i pada mahasiswa prodi d-iv bidan pendidik reguler stikes aisyiyah yogyakarta tahun 2012/2013. naskah publikasi: stikes aisyiyah yogyakarta. purnawan, sugito adi. 2014. hubungan antara motivasi belajar mahasiswa aktivis dengan prestasi belajar mahasiswa program studi s1 keperawatan fakultas ilmu kesehatan universitas muhammadiyah surakarta. naskah publikasi: ums press. uno, hamzah b. 2008. teori motivasi dan pengukurannya. jakarta: bumi aksara. winkel, w. s. 1998. psikologi pendidikan dan evaluasi belajar. jakarta: gramedia. yamin, martinis. 2006. sertifikasi profesi keguruan di indonesia. jakarta: gaung persada press. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pengembangan program pendidikan.....(tsabita fiki amalia dan ika candra sayekti) 51 pengembangan program pendidikan di sd islam internasional al-abidin surakarta dalam menghadapi mea tsabita fiki amalia1, ika candra sayekti2. prodi pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta 1tsabitafiq@gmail.com, 2ics142@ums.ac.id abstract asean economic community (aec) ia an integratied system of the countries in southeast asia that enable and facilitate the free trade system. since 2015 the aec has been officially started, and many foreign companies has been opened in indonesia. however, the quality of human resources (hr) in indonesia is lacking to confront aec’s system. it can be seen from the number of unemployed people in indonesia and indonesian citizen education level is still low. this shows a lack of quality in education. departing from this problem, the authors conducted research at the international elementary school, sdii al abidin surakarta. this school has excellent programs that can be developed and replicated in order to improve the quality of human resources (hr) since elementary school. this research aims to study programs that are run in order to deal with aec. this research was conducted with a qualitative descriptive method by collecting data through interviews, observation, and documentation. the results showed some excellent programs that are owned by sdii al abidin surakarta which can be used as a weapon to face the asean economic community (aec). the programs are international curriculum, three varians grade programs, and extracurricular. keywords: program, international, aec pendahuluan sejak satu dekade lalu, para pemimpin asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan asia tenggara pada akhir 2015. ini dilakukan agar daya saing asean meningkat dan menarik investasi asing serta bisa menyaingi cina dan india. pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan masyarakat ekonomi asean (mea) memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh asia tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat. pelaksanaan mea 2015 tidak lepas dari dampak positif dan negatif, namun jika dilihat dari tingkat pendapatan yang belum merata serta kesenjangannya dengan negara-negara yang maju di kawasan asean lainnya. mea 2015 justru memberikan peluang yang postif bagi pembangunan domestik maupun pengembangan internasional, dengan prosedur dan pengembangan profesionalitas yang jelas maka mea akan mampu merubah tantangan menjadi peluang bagi pertumbuhan ekonomi indonesia yang lebih baik. usaha peningkatan kualitas sdm dapat ditempuh dengan upaya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi untuk menetapkan standar kompetensi profesionalisme di masing-masing sektor. upaya peningkatan kualitas sdm untuk bersaing dalam menghadapi mea 2015 harus segera dilaksanakan dalam rangka mencapai kemajuan dan mengejar ketertinggalannya dari negara-negara lain. produktivitas menjadi penopang utama daya saing suatu perekonomian namun faktor‐faktor lainnya mailto:tsabitafiq@gmail.com mailto:ics142@ums.ac.id e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 52 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 51 57 seperti kualitas infrastruktur, kualitas pendidikan, iklim investasi, kondisi transportasi, logistik, sistem perbankan yang probisnis serta faktor pendukung lainnya perlu ditingkatkan (bkf: 2014). pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (uu no. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas). pendidik meliputi pendidik pada tk/ra, sd/mi, smp/mts, sma/ma, sdlb/smplb/smalb, smk/mak, satuan pendidikan paket a, paket b dan paket c, dan pendidik pada lembaga kursus dan pelatihan. pendidik (guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. kualifikasi akademik yang dimaksudkan di atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: (a) kompetensi paedagogik, yaitu kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya; (b) kompetensi kepribadian, yaitu kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia; (c) kompetensi profesional. yaitu penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.; dan (d) kompetensi sosial, yaitu kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. tenaga kependidikan meliputi: kepala satuan pendidikan; pendidik; dan tenaga kependidikan lainnya seperti wakil / kepala urusan, laboran, dan tata usaha. standar nasional pendidikan adalah kriteria mimimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum negara kesatuan republik indonesia. untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di indonesia, pemerintah menentapkan 8 standar nasional pendidikan (snp) berdasarkan pp no. 32 tahun 2013. dalam hal ini 8 standar nasional pendidikan yaitu : standar isi; standar proses; standar kompetensi lulusan; standar pendidik dan tenaga kependidikan; standar sarana dan prasarana; standar pengelolaan; g. standar pembiayaan; h. standar penilaian pendidikan http://kompetensi.info/coretan-opini-civitas/permasalahan-pengembangan-kurikulum-di-sekolah.html http://kompetensi.info/coretan-opini-civitas/pendidikan-sains-pilar-terpenting-dalam-dunia-pendidikan.html http://kompetensi.info/coretan-opini-civitas/mengembangkan-kurikulum-2013-sebagai-upaya-untuk-menjadikan-anak-bangsa-yang-cerdas-dan-berkarakter.html http://kompetensi.info/berita-kampus/kewajiban-pembuatan-surat-keputusan-tugas-belajar.html http://kompetensi.info/berita-kampus/kewajiban-pembuatan-surat-keputusan-tugas-belajar.html http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=penyelenggaraan_pendidikan&action=edit&redlink=1 http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=penyelenggaraan_pendidikan&action=edit&redlink=1 p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pengembangan program pendidikan.....(tsabita fiki amalia dan ika candra sayekti) 53 (pp no 32 tahun 2013 tentang standar nasional pendidikan). standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria mengenai pendidikan prajabatan dan kelayakan maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan. pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. kualifikasi akademik yang dimaksud adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku. seseorang yang tidak memiliki ijazah dan/atau sertifikat keahlian tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan. kualifikasi untuk guru sd/mi adalah minimal memiliki ijazah d-iv atau sarjana dari bidang pendidikan sd/mi, bidang kependidikan lain, atau psikologi, dan memiliki sertifikat profesi guru untuk sd/mi. pendidik pada sd/mi sekurang-kurangnya terdiri atas guru kelas dan guru mata pelajaran yang penugasannya ditetapkan oleh masingmasing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan. sedangkan kualifikasi tenaga kependidikan di sd harus ada diantaranya: kepala sekolah; tenaga administrasi; tenaga perpustakaan; dan tenaga kebersihan. untuk menjadi kepala sekolah sd/mi harus berstatus guur sd/mi dan memiliki pengalaman mengajar di sd/mi minimal 5 tahun. selain itu, kepala sekolah juga harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku, dan memiliki kemampuan kepimpinanan kewirausahaan di bidang pendidikan. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan program yang dilakukan di sdii al-abidin surakarta dalam menghadapi mea. metode penelitian subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah guru, kepala sekolah, dan siswa sdii al-abidin surakarta. penelitian dilaksanakan di sdii al-abidin surakarta selama 5 bulan. jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. penelitian kualitatif menghasilkan deskripsi analitik tentang fenomena-fenomena secara murni bersifat informatif dan berguna bagi masyarakat peneliti, pembaca dan juga partisipan (sukmadinata, 2007: 107). sedangkan penelitian deskriptif pada umumnya dikumpulkan melalui dokumentasi, wawancara dan observasi. pengumpulan data yang diterapkan sebagai alat pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: observasi pengamatan (observasi) adalah metode pengumpulan data di mana peneliti atau kolaboratornya mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama penelitian. penyaksian terhadap peristiwa – peristiwa itu bisa dengan mengamati atau melihat, mendengarkan, merasakan, kemudian dicatat seobjektif mungkin (gulo, w. 2002: 116). observasi dilakukan di sdii e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 54 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 51 57 al-abidin surakarta saat jam pelajaran berlangsung, dan saat ekstrakulikuler. observasi juga dilakukan di dalam maupun di luar kelas. wawancara wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu (esterberg, dalam sugiyono 2012:233). pada penelitian ini wawancara dilaksanakan dengan responden guru kelas, kepala sekolah, dan siswa. wawancara dilakukan untuk mengetahui program yang dilaksanakan oleh sdii al abidin surakarta dalam menghadapi mea. metode dokumentasi metode dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data yang berupa portopolio, arsip, rekaman, dan laporan siswa (suparno, paul. 2008: 58). dalam dokumentasi ini digunakan untuk mengabadikan hasil – hasil penelitian untuk memperlancar proses pembuatan laporan. teknik analisis data kualitatif menggunakan konsep yang diberikan miles and hubermen. miles dan hubermen dalam sugiyono (2005: 91), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. aktivitas dalam analisis data yaitu data reduction, data display, dan conclution drawing/verivication. analisis data penelitian ini diawali pengumpulan data yang diperoleh dari observasi dan wawancara. data yang diperoleh dari observasi dan wawancara kemudian direduksi untuk dirangkum. data yang dihasilkan dapat diambil memalui metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. setelah data direduksi maka data dapat didisplay secara tersusun dalam pola hubungan. kemudian menarik kesimpulan pada data yang telah didisplay. jadi melalui teknik inilah dapat diketahui sejauh mana program pendidikan di sdii al-abidin dalam menghadapi mea. setelah data dianalisis dan dilakukan penafsiran, maka hasil penelitian dapat disimpulkan. penarikan kesimpulan program yang dilakukan sdii al-abidin surakarta dalam menghadapi mea berdasarkan kenyataan yang ada di lapangan. hasil dan pembahasan sdii al-abidin surakarta merupakan salah satu sekolah bertaraf internasional di kawasan surakarta. taraf internasional tersebut sudah jelas terlihat bahwa sdii alabidin memiliki cita-cita untuk go international. tidak hanya menawarkan nama yang bergengsi, sdii al-abidin memiliki beberapa beberapa program unggulan yang merupakan senjata menghadapi masyarakat ekonomi asean (mea). program yang pertama adalah adanya 3 jenis kelas yang berbeda. kelas yang dimiliki oleh sdii al-abdidin surakarta terbagi 3 jurusan yaitu tahfidz class program, bilingual class program, dan international class program. masing-masing kelas tersebut memiliki kelebihan masing masing. tahfidz class program diperuntukkan bagi siswa yang berminat untuk menghafal al-quran. bilingual class program merupakan kelas dengan pembelajaran biasa dengan dua bahasa pengantar, yaitu bahasa indonesia dan inggris. sedangkan international class p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pengembangan program pendidikan.....(tsabita fiki amalia dan ika candra sayekti) 55 program adalah kelas internasional yang menggunakan kurikulum cambridge. program pertama yaitu kurikulum yang digunakan oleh sdii al-abidin surakarta tidak hanya berasal dari satu kurikulum saja. terdapat 3 macam kurikulum yang digunakan, yaitu kurikulum 2013 yang berasal dari dinas; kurikulum cambridge yang digunakan untuk mendukung visi dan misi sekolah yang bernamakan international; dan kurikulum yang mendukung lainnya untuk menjadikan sd ii al-abidin menjadikan sekolah islam international yaitru kurikulum jaringan sekolah islam terpadu (jsit). program yang kedua adalah adanya 3 jenis kelas yang berbeda. kelas yang dimiliki oleh sdii al-abdidin surakarta terbagi 3 jurusan yaitu tahfidz class program; billingual class program, dan international class program. masing-masing kelas tersebut memiliki kelebihan masing masing. tahfidz class program diperuntukkan bagi siswa yang berminat untuk menghafal alquran. pembelajaran di kelas ini menggunakan paduan antara kurikulum 2013, dan kurikulum jsit. tahfidz merupakan program hafalan al-quran dengan target hafalan 3-5 juz. melalui progam kelas ini, siswa bisa tetap belajar sesuai dengan kurikulum pemerintah sambil menghafal alquran. billingual class program merupakan kelas dengan pembelajaran paduan antara kurikulum 2013 dan kurikulum jsit dengan dua bahasa pengantar, yaitu bahasa indonesia dan inggris. sebagian besar pembelajaran menggunakan kombinasi 2 bahasa tersebut. hal ini dilakukan untuk membiasakan anak dengan bahasa inggris yang merupakan bahasa dunia sehingga anak dapat terbiasa mendengar dan berbicara dengan bahasa inggris, sehingga dimasa depan anak tidak akan kesulitan apabila bertemu dengan warga negara asing atau berada di negara lain. sedangkan international class program adalah kelas internasional yang menggunakan paduan kurikulum cambridge, kurikulum 2013, dan kurikulum jsit. dalam pembelajaran juga diberlakukan bilingual, atau 2 bahasa. yaitu bahasa inggris dan bahasa indonesia. maksud dan tujuannya sama, yaitu untuk mempersiapkan anak di masadepan dalam menghadapi mea. siswa tidak menempuh tes tertentu untuk memasuki kelas mana yang harus ditempuh. namun, orangtua siswalah yang berperan karena setiap orangtua paham betul kemampuan anaknya dan orangtua tidak akan memaksa anak masuk ke kelas yang di atas kemampuan anak. setelah penjurusan kelas, dilakukan observasi terhadap siswa. siswa yang tidak mampu mengikuti pelajaran di kelas akan dipindahkan ke kelas yang lain namun harus dengan persetujuan orangtua. program yang ketiga yaitu ekstrakulikuler. pada kegiatan ekstrakulikuler tersebut siswa diajak untuk siap dalam menghadapi mea. siap bukan hanya kata, tapi juga lewat perbuatan, dengan dipersiapkan secara matang dan bisa terjun dalam segala lini. ekstrakulikuler di sdii al abidin surakarta tidak hanya pramuka atau ekstrakulikuler yang popular di sekolah lain. ekstrakulikuler di sdii al-abidin surakarta sangat bervariasi, antara lain: memanah; karate; taekwondo; tapak suci; bahasa jepang; bahasa mandarin; bahasa inggris; robotik; science terapan; science modern; music; vocal; dan masih banyak lagi. siswa bebas memilih ekstrakulikuler sesuai dengan minat siswa. tidak hanya e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 56 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 51 57 dilihat dari minat siswa, guru yang melihat potensi siswa juga boleh merekomendasikan ke siswa dan orangtua siswa. sehingga bakat dan minat siswa dapat dikembangkan dengan baik melalui ekstrakulikuler yang ada. sdii al-abidin sadar betul bahwa siswasiswinya perlu belajar melalui ekstrakulikuler dengan sungguh-sungguh. guru/pengajar yang disediakan untuk mengajarkan ekstrakulikuler berasal dari dalam/luar sekolah yang ahli dibidangnya. dalam hal ini, sdii al-abidin juga banyak menggandeng lembaga non akademik dalam mengajar ekstrakulikuler, seperti ahli dari sekolah robotic, atlet panahan, dll. dengan adanya pengajar ahli ini, diharapkan dapat memotivasi dan mengembangkan bakat dan minat siswa. pada pembelajaran siswa juga dipersiapkan untuk mea, siswa dikenalkan berbagai macam suku bangsa, warna kulit, nama bangsa & negara, kultur negara lain, dll. bukan hanya secara umum, namun diperkenalkan melalui pembelajaran. contoh sederhananya, dalam penggunaan nama, guru mengenalkan nama bukan hanya nama indonesia, seperti, brian, michele, omar, dan syafii. pengenalan tersebut dimaksudkan siswa tidak hanya mengetahui nama orang indonesia saja, namun siswa juga mengetahui asal negara mereka dengan mengetahui namanya. kegiatan lainnya yaitu kegiatan kewirausahaan yang dilaksanakan oleh siswa. pada hari tertentu siswa diminta membawa barang atau makanan untuk dijajakan di depan kelas. kegiatan ini dapat melatih kepercayaan diri, hemat, jujur dan bertanggung jawab. hal ini juga dapat mengajak siswa lebih siap di era mea. simpulan sdii al-abidin turut serta mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas sejak bangku sekolah dasar. melalui beberapa program unggulannya, siswa diharapkan dapat bersaing dalam dunia mea di masa depan. program yang dilakukan sdii al-abidin antara lain, yaitu: (1) variasi kurikulum, yaitu dengan tambahan kurikulum cambridge yang diterapkan di sekolah; (2) variasi bahasa, seperti bahasa inggris, jepang, dan mandarin; (3) variasi jenis kelas, yaitu tahfidz class program, billingual class program, dan international class program; (4) variasi ekstrakulikuler, yaitu robotik, science modern, science terapan, panahan, dll. daftar pustaka bkf. 2014. “analisa daya saing dan produktivitas indonesia menghadapi mea”. riset kajian badan kebijakan fiskal pusat kebijakan regional dan birateral kementerian keuangan republik indonesia. http://kemenkeu.go.id (diunduh 20 januari 2016) gulo, w. 2002. metodologi penelitian. jakarta: gramedia widiasarana indonesia. peraturan pemerintah nomor. 32 tahun 2013 tentang standar nasional pendidikan http://kemenkeu.go.id/ p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pengembangan program pendidikan.....(tsabita fiki amalia dan ika candra sayekti) 57 standar nasional pendidikan (snp) berdasarkan pp no. 32 tahun 2013 sugiyono.2012. metode penelitian kuantitatatif kualitatif dan r & d. bandung. alfa beta bandung sukmadinata, nana syaodih. 2007. metode penelitian pendidikan. bandung: rosdakarya. suparno, paul. 2008. action research riset tindakan untuk pendidik. jakarta: grasindo undang-undang nomor. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 42-4842 penerapan strategi cooperative script dengan media komik untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas v pada mata pelajaran bahasa indonesia di sd negeri ii gedong tahun ajaran 2013/ 2014 yulia maftuhah hidayati, fita rahmawati, astri herawati pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta jl. ahmad yani tromol pos 1 pabelan, kartasura, surakarta email: yulia_maftuhah@yahoo.com abstract the study aims to understand the students’ learning motivation at class v of the indonesian course by applying a cooperative script strategy with comic media. it was a class action research. the population included all the 17 students of the class v at sd negeri ii gedong primary school. it consisted of two cycles. the data collection employed observation and documentation. the technique of data analysis used a qualitative method with an interactive model, including data reduction, display data, and conclusion. the indicators were summarizing, listening, speaking, and expressing opinions. the class action research would be said to be successful if it met 80% of the indicators and 80% of the students achieved the kkm. the results of the study were summarizing at the early condition of 90.98%, cycle i of 74.51%, cycle ii of 88.24%; listening at the early condition of 50.98%, cycle i of 72.54%, cycle ii of 90.20%; speaking at the early condition of 45.09%, cycle i of 64.71%, cycle ii of 80.39%; and giving opinions at the early condition of 43.20%, cycle i at 49.02%, cycle ii of 80.39%. at the early condition, the students who achieved the kkm amounted to 9 people, at cycle i of 11 students, and at cycle ii of 17 students (or 100%). at the cycle ii, the students’ motivation had achieved the indicators. it could be concluded that applying a cooperative script strategy with comic media could increase the students’ indonesian course. keywords: cooperative script strategy, comic media, leaning motivation pendahuluan motivasi belajar merupakan salah satu hal yang penting dalam pembelajaran. martinis yamin (2011: 158) mengungkapkan motivasi belajar merupakan daya penggerak psikis dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukan kegiatan belajar dan menambah keterampilan serta pengalaman. siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan adanya motivasi dari dalam dirinya. motivasi belajar mutlak diperlukan dalam mencapai suatu tujuan. siswa akan bersungguhsungguh dalam belajar karena termotivasi untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal. motivasi belajar perlu untuk ditingkatkan karena berpengaruh langsung pada hasil belajar siswa. penerapan strategi cooperative script dengan media komik... (yulia m. h, fita r dan astri h) 43 hasil belajar siswa merupakan hal yang bisa dijadikan gambaran seberapa banyak ilmu yang dapat dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. hasil belajar siswa biasa ditampilkan dalam bentuk angka atau huruf. banyak hal yang mempengaruhi tinggi rendahnya hasil belajar siswa, salah satunya motivasi belajar. hasil belajar siswa akan tinggi apabila motivasi belajarnya tinggi, misalnya siswa a ingin memenangkan lomba olimpiade matematika, maka siswa a termotivasi untuk belajar dengan rajin. siswa a menambah frekuensi waktu belajar dan menambah referensi soal-soal matematika. hasilnya siswa a dapat menjuarai lomba olimpiade matematika. sebaliknya, jika motivasi belajar siswa rendah, hasil belajarnya pun akan rendah, misalnya siswa b merasa sekolah tidak penting, tanpa sekolah pun siswa b bisa bekerja di sawah. siswa b tidak termotivasi untuk mendapatkan hasil belajar atau nilai yang tinggi. siswa b tidak pernah mengerjakan pr dan belajar di rumah, saat pembelajaran tidak memperhatikan dan gaduh, hasilnya siswa b tidak naik kelas. fungsi motivasi belajar menurut oemar hamalik (dalam martinis yamin, 2011: 161) meliputi: (1) mondorong timbulnya suatu perbuatan (belajar), (2) mengarahkan perbuatan kepencapaian tujuan yang diinginkan, dan (3) mempercepat terselesainya suatu pekerjaan. keuntungan apabila motivasi belajar siswa dapat ditingkatkan antara lain: (1) siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, (2) siswa dapat lebih cepat menguasai materi pembelajaran, dan (3) hasil belajar siswa lebih tinggi. namun, kenyataannya tidak semua siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi. hal ini menyebabkan hasil belajar siswa pun tidak semua optimal. pada pembelajaran diharapkan semua siswa dapat menguasai semua materi yang diajarkan, paling tidak 75% dari seluruh siswa harus mencapai kkm. tinggi rendahnya motivasi belajar dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain faktor materi yang dipelajari, strategi yang digunakan, dan media pendukung. materi pada mata pelajaran bahasa indonesia merupakan salah satu materi yang sulit dipahami siswa. pada siswa kelas 5 sd negeri 2 gedong, 47% dari 17 siswa belum mencapai kkm. kesulitan siswa terletak pada materi-materi yang banyak bacaannya. kebanyakan siswa kurang termotivasi untuk membaca bacaan-bacaan yang panjang itu. apalagi kebanyakan dari bacaan-bacaan tersebut tidak didukung dengan gambar yang bisa membantu siswa untuk memahami isi bacaan. siswa kesulitan untuk menentukan pokok kalimat dan membuat rangkuman dari bacaan yang dibacanya. jika motivasi belajar siswa tidak ditingkatkan, hasil belajarnya pun tidak akan bisa meningkat. padahal bahasa indonesia merupakan mata pelajaran pokok yang berhubungan dengan mata pelajaran lainnya. semua mata pelajaraan mengandung materi bacaan, sehingga sangat penting untuk memotivasi siswa dalam membaca bacaan yang panjang. jika tidak ditingkatkan motivasi belajarnya, tidak hanya bahasa indonesia yang hasil belajarnya rendah, tetapi mata pelajaran yang lain juga ikut rendah. jika banyak mata pelajaran yang tidak mencapai kkm, maka siswa dikawatirkan tidak dapat naik kelas. seperti yang disampaikan di atas, strategi pembelajaran dan media pendukung mempengaruhi tinggi rendahnya motivasi siswa dalam belajar. penerapan strategi pembelajaran yang inovatif dapat membuat siswa tidak jenuh belajar. media pendukung yang unik dan sesuai dengan usia siswa, dapat menarik perhatian siswa. pemilihan strategi dan media ini harus disesuaikan dengan karakteristik dan potensi yang dimiliki siswa dan harus sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan. strategi pembelajaran cooperative script merupakan salah satu strategi pembelajaran inovatif yang cocok untuk diterapkan pada mata peprofesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 42-4844 lajaran bahasa indonesia. menurut mulyadi dan risminawati (2012: 48) cooperative script adalah metode belajar yang siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. strategi cooperative script dapat sekaligus melatih kemampuan berbicara siswa ketika siswa menjadi pembicara, lalu melatih kemampuan mendengar dengan seksama ketika menjadi pendengar. strategi cooperative script diterapkan dengan membentuk siswa secara berpasangpasangan untuk melatih siswa tidak membedakan antar teman. setiap pasangan mendapat sebuah bacaan, guru mengusahakan bacaan yang menarik dan gambar. setiap siswa membaca bacaan dan membuat ringkasan secara individu. kemudian guru memberi kartu yang berbeda warna, misalnya merah dan kuning kepada setiap pasangan. guru mengintruksikan yang memegang kartu merah terlebih dulu menjadi pembicara kemudian kuning pendengar, setelah selesai bergantian yang merah pendengar kemudian yang kuning pembicara. tugas pendengar adalah mengoreksi jika ada kesalahan. strategi cooperative script akan berjalan dengan baik jika siswa mendengar dan melaksanakan intruksi guru dengan baik. strategi ini juga melatih tanggung jawab siswa. siswa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. ketika menjadi pembicara, mereka berusaha untuk membacakan materi dengan jelas agar pendengar dapat mendengar dengan jelas pula. sedangkan ketika menjadi pendengar, mereka juga harus mendengarkan dengan seksama, mengoreksi kekurangan, dan menunjukkan ide-ide pokok yang kurang. media komik merupakan media yang cocok untuk siswa yang kurang gemar membaca. menurut will eisner (dalam suci lestari,dkk, 2009: 1) bahwa komik sebagai tatanan gambar dan balon kata yang berurutan dalam sebuah buku komik. sedangkan menurut suci lestari, dkk (2009: 1) komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak ya-ng disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks. komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri. menurut trimo (dalam suci lestari, dkk, 2009: 4) kelebihan media komik, antara lain: (1) menambah perbendaharaan kata-kata pembacanya, (2) mempermudah anak didik menangkap hal-hal atau rumusan yang abstrak, (3) mengembangkan minat baca anak dan salah satu bidang studi yang lain, dan (4) seluruh jalan cerita komik pada menuju satu hal yakni kebaikan atau studi yang lain. berdasarkan uraian di atas perlu diteliti apakah penerapan strategi cooperative script dengan media komik dapat meningkatkan motivasi siswa pada mata pelajaran bahasa indonesia. penelitian dilakukan pada kelas v sd negeri 2 gedong kecamatan pracimantoro kabupaten wonogiri. sehingga dirumuskan judul “penerapan strategi cooperative script dengan media komik untuk meningkatkan motivasi belajar sis-wa pada mata pelajaran bahasa indonesia”. metode penelitian pendekatan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilakukan melalui proses kolaboratif antara peneliti dan guru. menurut suharsimi arikunto (2008: 2-3) pengertian penelitian tindakan kelas dapat dijelaskan dengan pengertian tiga kata yang terkandung di dalamnya. kata pertama, penelitian merupakan suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan penerapan strategi cooperative script dengan media komik... (yulia m. h, fita r dan astri h) 45 mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. kata kedua, tindakan menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa. kata ketiga, kelas merupakan sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. dari pendapat suharsimi arikunto, maka dapat disimpulkan penelitian tindakan kelas adalah suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. menurut rubino rubiyanto (2011: 99) karakteristik penelitian tindakan kelas: (1) merupakan prosedur penelitian di tempat kejadian, dirancang untuk menanggulangi masalah di tempat kejadian/ di kelas, (2) diterapkan secara kontekstual artinya variabel yang ditelaah selalu terkait dengan keadaan dan suasana penelitian, (3) terarah pada perbaikan atau peningkatan mutu kinerja guru di kelas, (4) bersifat fleksibel, (5) banyak mengandalkan data dari observasi, (6) mirip “penelitian experimental” namun tidak secara ketat melakukan pengendalian variabel, dan (7) bersifat situasional dan spesifik, umumnya dilakukan dalam bentuk studi kasus. langkah-langkah yang diambil adalah strategi tindakan kelas adalah model siklus karena objek penelitian yang diteliti hanya satu kelas. adapun rancangan penelitian pada tiap siklusnya adalah: (1) perencanaan, melakukan identifikasi siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah (2) pelaksanaan, melaksanakan pembelajaran dengan strategi cooperative script dengan media komik pada mata pelajaran bahasa indonesia (3) observasi, melakukan pemantauan proses pembelajaran dengan strategi cooperative script dengan media komik pada mata pelajaran bahasa indonesia (4) refleksi, guru menganalisis motivasi belajar siswa sebagai dasar untuk melakukan tindakan pada siklus berikutnya data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data perilaku guru dan siswa pada saat proses pembelajaran, bagaimana cara guru menerapkan strategi cooperative script, dan bagaimana motivasi belajar siswa saat proses pembelajaran berlangsung. sumber data adalah guru dan siswa itu sendiri. pengumpulan data dilakukan pada saat pelaksanaan tindakan kelas. pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan dokumentasi. peneliti melakukan observasi berpartisipasi serta observasi sistematik dan non sistematik. peneliti ikut langsung dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. peneliti berkolaborasi dengan guru melakukan proses pembelajaran dengan strategi cooperative script menggunakan media komik. sebelum melakukan observasi, peneliti sudah merumuskan hal-hal apa saja yang akan diobservasi. namun, peneliti juga memperhatikan dan mencatat gejala yang tampak selama proses observasi. instrumen data yang digunakan adalah pedoman observasi guru dan siswa. dokumentasi yang digunakan peneliti yaitu dokumen pribadi, berupa catatan tentang tindakan dan kebiasaan siswa dalam proses pembelajaran. peneliti mendapatkan data tersebut dari guru kelas v. dari data tersebut peneliti dapat mengetahui kemampuan awal siswa. keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbaharui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) serta disesuaikan dengan tuntutan pengetahuan, kriteria dan paradigmanya sendiri. pada penelitian ini, teknik pemeriksaan data yang peneliti gunakan adalah kriteria kredibilitas yaitu triangulasi. untuk menguji keabsahan data dalam penelitian ini digunakan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 42-4846 triangulasi sumber dan triangulasi teknik. triangulasi sumber digunakan untuk mengecek data yang sama tapi menggunakan teknik yang berbeda. teknik analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif model deskriptif kualitatif. data diperoleh dari pedoman observasi siswa/ check list siswa. check list siswa ini berisi indikator-indikator kinerja/ keberhasilan siswa untuk mengukur tinggi rendahnya motivasi siswa dalam belajar. motivasi belajar siswa dari awal hingga akhir adapun data hasil peningkatan indikator motivasi belajar yang diamati dapat disajikan dalam grafik berikut. hasil dan pembahasan hasil penelitian yang memfokuskan motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa kelas v sd negeri ii gedong, wonogiri tahun ajaran 2013/2014 di mulai dari kondisi awal sampai dengan pelaksanaan siklus kedua dapat dilihat pada tabel berikut. indikator presentase siswa kondisi awal siklus i siklus ii meringkas 52,94% 74,51% 88,24% mendengarkan 50,98% 72,54% 90,20% berbicara 45,09% 64,71% 80,39% memberi pendapat 43,20% 49,02% 80,39% penerapan strategi pembelajaran cooperative script merupakan suatu cara yang menempatkan siswa mampu beker jasama dengan teman sekelasnya secara berpasangan. strategi pembelajaran cooperative script juga berfungsi sebagai batu loncatan diskusi kelas. sehingga pada akhirnya juga dapat meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa indonesia. kondisi awal motivasi belajar siswa kelas v sd negeri ii gedong, wonogiri sangat rendah. hal ini disebabkan karena guru masih menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi. pada pelaksanaan siklus pertama motivasi penerapan strategi cooperative script dengan media komik... (yulia m. h, fita r dan astri h) 47 belajar siswa mengalami peningkatan. tetapi peningkatan tersebut masih jauh dari indikator pencapaian yaitu 80%, untuk itu diperlukan siklus berikutnya guna mencapai indikator yang telah ditetapkan. pada pelaksanaan siklus kedua motivasi belajar siswa pada pembelajaran bahasa indonesia terus mengalami peningkatan. sehingga sudah mencapai indikator pencapaian yaitu 80%. jumlah siswa di kelas v sd negeri ii gedong, wonogiri yang mempunyai kkm 60, pada kondisi awal hasil belajar siswa memiliki rata-rata yakni 64,41. dapat dilihat peningkatan yang signifikan. pada pelaksanaan siklus pertama menunjukkan pening-katan hasil belajar dibandingkan kondisi awal, hal ini dapat ditunjukkan dengan rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa. nilai rata-rata kelas siklus pertama mencapai 73,53, hanya 11 siswa saja yang sudah mencapai kkm atau 64,71%. sehingga dapat dikatakan belum dapat mencapai indikator pencapaian kkm 80%. pada siklus kedua nilai rata-ratanya mencapai 82,35 dengan 17 siswa sudah mencapai kkm atau 100%. dengan demikian penelitian ini telah mencapai indikator pencapaian dan meningkatkan hasil belajar siswa. penerapan strategi pembelajaran cooperative script pada pembelajaran bahasa indonesia sangat membantu guru atau peneliti dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran pada sd negeri ii gedong, wonogiri. hal ini dapat dibuktikan dengan adanya hasil penelitian yang telah dicapai yaitu peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran bahasa indonesia. berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dipaparkan di atas maka hipotesis penelitian ini yaitu penggunaan strategi pembelajaran cooperative script dapat meningkatkan motivasi belajar siswa bahasa indonesia kelas v sd negeri ii gedong, wonogiri tahun ajaran 2013/ 2014 dapat diterima dan tujuan penelitian dapat tercapai. simpulan berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas v sd negeri ii gedong, wonogiri tahun ajaran 2013/2014 dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran cooperative script dapat meningkatkan motivasi belajar bahasa indonesia siswa kelas v sd negeri ii gedong, wonogiri tahun ajaran 2013/2014. hal ini ditunjukkan adanya peningkatan presentase indikator pencapaian motivasi belajar siswa yang meliputi : (1) meringkas pada kondisi awal sebesar 52,94%, siklus pertama 74,51%, siklus kedua mengalami peningkatan menjadi 88,24%. (2) mendengarkan pada kondisi awal sebesar 50,98%, siklus pertama sebesar 72,54%, siklus kedua mengalami peningkatan menjadi 90,20%. (3) berbicara pada kondisi awal sebesar 45,09%, siklus pertama sebesar 64,71%, siklus kedua mengalami peningkatan menjadi 80,39%. (4) memberi pendapat pada kondisi awal sebesar 43,20%, siklus pertama sebesar 49,02%, siklus kedua mengalami peningkatan menjadi 80,39%. peningkatan presentase dan jumlah siswa telah mencapai kkm. pada kondisi awal yang mencapai kkm hanya 9 siswa atau 52,94%, pada siklus pertama yang mencapai kkm meningkat menjadi 11 siswa atau 64,71%, kemudian pada siklus kedua yang men-capai kkm meningkat menjadi 17 siswa atau 100%. pada siklus kedua hasil belajar sudah mencapai indikator pencapaian yang telah ditetapkan. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 42-4848 daftar pustaka arikunto, suharsimi, dkk. 2008. penelitian tindakan kelas. jakarta: bumi aksara. kamulyan, mulyadi sri dan risminawati. 2012. model-model pembelajaran inovatif di sekolah dasar. surakarta: fkip-ums. lestari, suci, dkk. 2009. “media komik”, (file.upi.edu/direktori/.../ media.../media.../komik/ medgraf,.pdf, diakses pada tanggal 7 april 2013). rubiyanto, rubino. 2011. metode penelitian pendidikan. surakarta: fkip-ums. yamin, martinis. 2011. profesionalisasi guru dan implementasi ktsp. jakarta: gaung persada press. page 1 page 2 p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 12 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 12 18 keefektivan metode learning starts with a question pada pembelajaran geometri lingga nico pradana pgsd fip ikip pgri madiun nicopgsd@ikippgrimadiun.ac.id abstract this purpose of the research was to determine the effectiveness of learning start with a question methods on geometry learning. the effectiveness of these methods would be compared with presentation method. the method of this research was quasi experimental method with 2x1 factorial design. the population of this study was the third semester students at pgsd ikip pgri madiun while the sample was 3g as an experimental class and 3c as the control class. the sampling technique used was cluster random sampling. methods of data collection in this study was test method and divided into two: pre-test and post-test. data analysis techniques used in this study is a t-test with two independent samples. the results of this study were learning starts with a question method was more effective than presentation method. keywords: method, learning start with a question, geometry learning pendahuluan geometri merupakan mata kuliah bidang keahlian dan keterampilan pada program studi pendidikan guru sekolah dasar (pgsd). adapun materi yang dipelajari adalah geometri bidang dan ruang euclides. berisi tentang teorema-teorema euclid dan penerapan dari teorema tersebut. penerapan yang diberikan utamanya adalah bagian yang menunjang dalam pembelajaran geometri di sekolah dasar (sd). pembelajaran pada perkuliahan geometri, metode yang telah digunakan adalah presentasi. siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan setiap kelompok diberikan materi untuk dipresentasikan di setiap pertemuan. hal ini menimbulkan suatu permasalahan yang cukup signifikan. permasalahan tersebut adalah kurang dikuasainya materi yang menimbulkan kesulitan dalam menyampaikan di depan kelas. hal tersebut juga berdampak pada pasifnya diskusi kelas karena baik penyaji ataupun penerima materi sama-sama tidak mampu menguasai materi dengan baik. di sisi lain, pada geometri euclid terdapat teorema-teorema yang harus dibuktikan agar penguasaan konsep dan penyesuaian materi terhadap aplikasi menjadi lebih baik. oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan pembelajaran pada perkuliahan geometri. berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, kesulitan yang dialami siswa adalah kurangnya sumber-sumber materi yang mudah dipahami dan kurang bagusnya pemahaman siswa. kesulitan tersebut secara langsung mempengaruhi proses pembelajaran sehingga nilai siswa menjadi tidak maksimal. untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu dirancang suatu konsep pembelajaran yang mampu memudahkan siswa dalam memperoleh mailto:nicopgsd@ikippgrimadiun.ac.id e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 13 keefektifan metode learning ......(lingga nico pradana) sumber belajar yang mudah dipahami. selain itu perlu juga dibuat konsep pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif dalam pembelajaran. salah satu metode pembelajaran yang mampu membuat siswa aktif dalam pembelajaran adalah metode learning starts with a question. metode tersebut membuat pembelajaran dimulai dengan bertanya. pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat jawab oleh guru maupun siswa yang lain. di sisi lain, metode tanya jawab biasanya dilakukan dengan cara guru bertanya kepada siswa untuk memberikan stimulus demi membangun pengetahuan siswa. penerapan metode tersebut justru akan memberatkan siswa karena pada dasarnya masalah yang dihadapi siswa adalah materi itu sendiri. olson dan knott (2013) mengatakan bahwa permasalahan dalam kelas bukan hanya dari pertanyaan guru tetapi bagaimana guru membentuk mindset siswa untuk berusaha menyelesaikan permasalahan. dengan metode learning starts with a question guru dapat langsung mengetahui kesulitan siswa dalam memahami materi sehingga ada kemungkinan bahwa metode tersebut akan membuat pembelajaranmenjadi lebih efektif. identifikasi tersebut juga dinyatakan arnon (2009) dan khalid et.al (2008) bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran dapat membuat perkembangan pembelajaran menjadi lebih menarik. oleh karena itu, metode tersebut dapat dijadikan bagian dari konsep pembelajaran dalam kelas. konsep pembelajaran yang dibuat dengan metode learning starts with a question adalah dengan membentuk kelompok belajar di dalam maupun luar kelas. kelompok belajar di luar kelas dibentuk untuk berdiskusi sebelum pembelajaran di kelas dimulai sehingga pada tahap ini guru memfasilitasi siswa dengan materi dan pustaka-pustaka yang dibutuhkan oleh siswa. di sisi lain, kelompok di dalam kelas dibentuk untuk melakukan diskusi perihal bagian materi yang masih belum dipahami sehingga pada tahap ini guru memfasilitasi siswa dalam berdiskusi. menurut jansen (2006) dalam penelitiannya, siswa lebih sukabekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu permasalahan di dalam kelas. dengan konsep pembelajaran tersebut ada kemungkinan bahwa motivasi siswa dalam menyelesaikan permasalahan akan meningkat dan rasa ingin tahu siswa. berdasarkan uraian tersebut maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui manakah yang lebih efektif antara pembelajaran dengan metode learning starts with a question dengan metode presentasi. metode penelitian metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode quasi eksperiment. metode tersebut digunakan karena keterbatasan peneliti yang tidak dapat mengontrol variabel luaran yang mempengaruhi penelitian. populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa semester tiga ikip pgri madiun. teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. hasil pengambilan sampel yang telah dilakukan adalah kelas 3g sebagai kelas eksperimen dan kelas 3c sebagai kelas kontrol. teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah metode tes yang terbagi menjadi dua bagian. tes yang pertama dilakukan untuk mengambil data awal penelitian sebelum eksperimen yang digunakan untuk uji p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 14 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 12 18 keseimbangan. bentuk tes yang digunakan adalah soal subjektif dengan jumlah 8 soal. uji yang dilakukan adalah uji validitas isi dengan tiga validator. setelah itu dilakukan uji reliabilitas dengan formula alpha. tes yang kedua dilakukan untuk mengambil data setelah eksperimen dilakukan yang digunakan untuk menguji keefektifan metode pembelajaran. tes dibuat dengan jumlah 8 soal. instrumen tes tersebut sebelum digunakan akan diuji terlebih dahulu. uji instrumen yang dilakukan adalah validitas isi dan reliabilitas. teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah uji prasyarat, uji keseimbangan, dan uji hipotesis. uji prasyarat yang digunakan adalah uji normalitas dengan metode lilliefors dan uji homogenitas. kemudian uji keseimbangan dan uji hipotesis di uji menggunakan uji t. hasil penelitian penelitian diawali dengan mengadakan pre-test terhadap sampel penelitian. data hasil pre-test digunakan untuk uji keseimbangan. sebelum dilakukan uji keseimbangan, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas. hasil uji normalitas terdapat pada tabel 1. tabel 1. rangkuman uji normalitas kelas obs l tabel l keputusan uji kesimpulan eksperimen 0,11 0,14 h0 diterima berdistribusi normal kontrol 0,129 0,13 6 h0 diterima berdistribusi normal berdasarkan tabel 1, maka terlihat bahwa nilai dari obs l < tabel l . hal tersebut berarti dkl obs  dengan  14,0|  lldk sehingga baik pada kelas eksperimen maupun kontrol diperoleh bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. tabel 2. rangkuman uji homogenitas kelas obs f tabel f keputu san uji kesimpulan eksperimen dan kontrol 2,04 1,88 h0 ditolak variansi tidak homogen berdasarkan tabel 2, tabelobs ff  sehingga h0 ditolak. oleh karena itu diperoleh kesimpulan bahwa variansi-variansi dari populasi tidak sama dan uji keseimbangan dilakukan dengan uji t dengan 2 2 2 1   . berdasarkan hasil uji prasyarat pada tabel 1 dan tabel 2, maka persyaratan untuk melakukan uji keseimbangan telah dipenuhi. uji keseimbangan dilakukan menggunakan uji t dua sampel. hasil dari uji keseimbangan diperoleh nilai 675,1 obs t dengan daerah kritis  96,196,1|  tatauttdk . dari hasil tersebut maka dkt obs  sehingga h0 diterima. oleh karena itu diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan siswa kelas eksperimen sama dengan kelas kontrol. setelah diketahui bahwa kedua kelas telah seimbang, maka proses eksperimen dilakukan selama 3 bulan. kemudian dilakukan post-test untuk mengetahui data nilai pada pembelajaran geometri.sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat dengan uji normalitas dan homogenitas. hasil uji tersebut tersaji pada tabel 3 dan tabel 4 berikut. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 15 keefektifan metode learning ......(lingga nico pradana) tabel 3. rangkuman uji normalitas data post-test kelas obs l tabel l keputusan uji kesim pulan eksperimen 0,135 0,14 h0 diterima normal kontrol 0,112 0,136 h0 diterima normal tabel 4. rangkuman uji homogenitas kelas obs f tabel f keputusa n uji kesimpul an eksperimen dan kontrol 1,12 1,88 h0 diterima homogen berdasarkan tabel 3 dan tabel4, maka baik pada kelas eksperimen dan kontrol dapat disimpulkan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal. pada uji homogenitas diperoleh bahwa variansi-variansi dari populasi sama. oleh karena itu uji hipotesis akan dilakukan dengan uji t dengan 2 2 2 1   . hasil dari uji hipotesis dengan uji tdiperoleh 591,2 obs t dengan  645,1|  ttdk . dari hasil tersebut terlihat bahwa dkt obs  sehingga h0 ditolak. karena h0 ditolak, maka kesimpulan dari pengujian hipotesis tersebut adalah pembelajaran metode learning starts with a question lebih efektif daripada metode presentasi. pembahasan berdasarkan hasil pengujian hipotesis, diperoleh bahwa pembelajaran metode learning starts with a question lebih efektif daripada metode presentasi. hal ini sesuai dengan hipotesis penelitian. efek yang diberikan oleh metode learning starts with a question pada saat pembelajaran adalah siswa dapat mempelajari terlebih dahulu materi yang akan dibahas di kelas. tiap-tiap materi dipelajari dalam kelompok belajar yang telah dibentuk dan setiap materi yang akan dibahas di kelas telah dipelajari sebelum oleh seluruh kelompok. hal tersebut membuat siswa lebih siap dalam menjalani pembelajaran di dalam kelas. kesiapan tersebut dimiliki oleh seluruh siswa pada .kelas eksperimen. di sisi lain, siswa pada kelas kontrol dengan metode presentasi tidak memiliki kesiapan yang cukup. materi yang diberikan kepada siswa tiap kelompok berbeda. hal ini menyebabkan kesiapan yang dimiliki siswa dalam menghadapi pembelajaran hanya dimiliki oleh kelompok yang bertugas untuk presentasi. pada saat pembelajaran dimulai terjadi banyak problem yaitu pemateri kurang menguasai konten materi yang dipresentasikan. hal tersebut menyebabkan diskusi menjadi tidak berjalan dengan baik dan pembahasan materi kurang mendalam. pada proses pembelajaran dengan metode learning starts with a question, proses pembelajaran langsung dimulai dengan pengajuan pertanyaan oleh masing-masing kelompok. pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan tentang suatu hal yang belum atau sulit dipahami oleh siswa mengenai topik yang dibahas. pertanyaan-pertanyaan yang diajukan lebih banyak dijawab oleh kelompok lain yang sudah paham terhadap permasalahan yang diajukan. hal tersebut mengakibatkan terjadinya diskusi dalam kelas. setiap kelompok dapat saling bertukar pengalaman belajar dan saling memberi solusi dari masalah yang ditemukan. dengan proses pembelajaran tersebut, siswa dapat mengonstruk pengetahuannya sendiri berdasarkan p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 16 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 12 18 pengalaman belajar dalam kelompok dan informasi dari kelompok yang lain. barulah ketika diskusi selesai, guru memberikan penguatan dan evaluasi tentang topik yang dipelajari.diskusi dari suatu pertanyaan akan memberikan pembahasan yang lebih bermakna. pembahasan yang terjadi dalam kelas merupakan pembahasan yang merupakan permasalahan-permasalahan yang belum dikuasai siswa. hal tersebut berarti proses diskusi dengan sumber pertanyaan tersebut dapat menjadi sarana saling melengkapi pengetahuan antar siswa. dengan proses pembelajaran tersebut, maka proses konstruksi pengetahuan akan berlangsung dengan baik (dori 1999, ruitenberg 2009, flynn 2012). iklim pembelajaran dengan metode learning start with a questiondalam kelas dapat memberikan kondisi seperti komunitas bertanya. kondisi ini disebabkan karena keaktivan siswa dalam kelas yang memiliki rasa ingin tahu terhadap konten yang dipelajari. peran guru di kelas yaitu sebagai moderator untuk menyambungkan pertanyaan siswa yang kemudian dijawab oleh siswa lain. kemudian jika pembahasan menemui jalan buntu dalam artian terdapat pertanyaan yang tidak dapat dijawab maupun diselesaikan oleh siswa, maka guru dalam hal ini berfungsi sebagai narasumber dalam menjawab permasalahan tersebut. sejalan dengan penelitian wang & chua (2010) dan fukumoto (2007) yang menjelaskan tentang komunitas bertanya pada kelas. pembelajaran yang berbasis komunitas bertanya dalam kelas memiliki keefektifan yang lebih tinggi daripada pembelajaran tradisional. selain itu dapat membuat siswa menjadi lebih kritis dan meningkatkan kemampuan bertanya dari siswa. oleh karena itu pembelajaran akan lebih efisien jika menggunakan metode learning start with a question. berdasarkan proses pembelajaran dari metode learning starts with a question dan presentasi, hasil belajar siswa berbanding lurus dengan kefektifan kedua metode tersebut dalam pembelajaran.siswa pada pembelajaran learning starts with a question memiliki nilainilai yang lebih tinggi daripada siswa pada pembelajaran presentasi.hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata siswa kelas eksperimen yaitu 71,05 dan kelas kontrol 63,21. nilai ratarata dari kelas eksperimen memiliki perbedaan yang signifikan dengan nilai rata-rata kelas kontrol. nilai tersebut juga menunjukkan hasil pembelajaran geometri oleh siswa yang mendapat metode learning starts with a question lebih baik daripada yang mendapat metode presentasi. hal tersebut juga sejalan dengan teori pada penelitian anne et.al (2007) dan freeman et.al. (2014) pembelajaran aktif dalam artian pembelajaran yang mampu meningkatkan keaktivan siswa di kelas dapat meningkatkan performa siswa dalam kaitannya untuk menjawab suatu permasalahan. selain itu pembelajaran aktif juga dapat meningkatkan hasil pembelajaran siswa dalam bidang matematika lebih khusus dalam hal ini adalah pembelajaran geometri. simpulan dan saran berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran metode learning starts with a question lebih efektif daripada metode presentasi. metode learning starts with a question tersebut mampu memberikan pembelajaran yang aktif sehingga hasil e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 17 keefektifan metode learning ......(lingga nico pradana) pembelajaran geometri menjadi lebih baik. hasil belajar yang baik tersebut didukung dengan proses pembelajaran yang aktif dan bersifat konstruktivisme. mendasar pada hal tersebut maka peneliti menyarankan pada siswa untuk selalu aktif terutama dalam mengajukan pertanyaan berkaitan dengan substansi pembelajaran. dosen sangat diharapkan untuk selalu menggunakan metode-metode pembelajaran aktif seperti metode learning start with a question untuk membelajarkan siswadengan baik. bagi peneliti lain sebaiknya selalu meneliti dan mengkaji tentang metode-metode pembelajaran aktif sehingga dapat ditawarkan dengan bukti empiris kepada guru maupun dosen untuk membelajarkan siswa. daftar pustaka anne, h., shelli, b., & edward, w. 2007. active learning and technology: designing change for faculty, students, and institutions. educause review. vol. 42. no. 5. p.42-44. arnon, s., reichel, n. 2009. closed and open-ended question tools in a telephone survey about ``the good teacher'' an example of a mixed method study. journal of mixed methods research. vol. 3. no. 2.p. 172-196. dori, y., herscovitz, o. 1999. question-posing capability as an alternative evaluation method: analysis od an environmental case study. journal of research in science teaching. vol. 36. no. 4. p. 411-430. flynn, a. 2012. development of an online, postclass question method and its integration with teaching strategies. journal of chemical education. vol. 89. no.4. p. 456–464. fukumoto, j. 2007. question answering system for non-factoid type questions and automatic evaluation based on be method. in proc. ntcir-6workshop meeting. p. 441-447. freeman, r., eddy, s., mcdonough, m., smith, m., okoroafor, n., jordt, h., & wenderoth, m. 2014. active learning increases student performance in science, engineering, and mathematics. pnas. vol. 111. no. 23. p. 8410–8415. jansen, a. 2006. seventh graders’ motivations for participating in two discussion-oriented mathematicsclassrooms. the elementary school journal. vol. 106. no. 5. p. 409-427. khalid, m., jijkoun, v., rijke, m. 2008. the impact of named entity normalization on information retrieval for question answering. lecture notes in computer science. vol. 4956. p. 705-710. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 18 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 12 18 olson, j., knott, l. 2012. when a problem is more than a teacher’s question. education study mathematic. vol. 83. no. 2. p. 27-36. ruitenberg, c. 2009. introduction: the question of method in philosophy of education. journal of philosophy of education. vol. 43. issue 3. p. 315–323. wang, k., & chua, t. 2010. exploiting salient patterns for question detection and question retrieval in community-based question answering. in proc. international conference on computational linguistics. p. 1155–1163. jurnal pgsd vol 2 no 2 des 2015.indd 80strategi pembelajaran keterampilan ... (m. fakhrur saifudin) issn 2406-8012 strategi pembelajaran keterampilan menulis narasi dengan teknik urai ruang waktu (urw) di kelas iii sekolah dasar m. fakhrur saifudin pgsd fkip universitas ahmad dahlan fakhrur.saifudin@pgsd.uad.ac.id abstract this study aims to describe the development strategy of the skill in writing a narrative text with the urw technique in the early elementary school class. the research employed a descriptive-qualitative approach. it describes and analyzes the learning strategies of writing a narrative text with the urw techniques. the data in this study included the actions and documents concerning the planning, implementation, and evaluation of learning. the data collection techniques used observation, interview, documentation, and questionnaires. the validity of the data employed a triangulation of data or source. the data analysis applied an interactive model: data reduction, data display, and conclusion / veri cation. the analysis of quantitative data was used to determine the assessment of a narrative writing skill with the urw techniques in the early primary school class. the results of this study show that the urw techniques can be developed with a wide range, for example, the development of the urai techniques, the development of time and space techniques. the assessment of learning a narrative writing skill with the urw techniques in class iii of primary schools showed signi cant improvement. this can be seen in the analysis of the data from three locations showing an increase. the highest increase was in sd muhammadiyah pajangan at 92%, muhammadiyah senggotan at 88% and sd muhammadiyah 3 ambarketawang at 77%. keywords: strategy, learning, and urw pendahuluan materi bahasa indonesia mencangkup beberapa keterampilan yang wajib dikuasai peserta didik. keterampilan tersebut dikelompokkan menjadi 2, yaitu keterampilan reseptif (mendengarkan dan membaca) dan keterampilan produktif (menulis dan berbicara). tarigan (2007 :1) menyatakan bahwa keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal. keterampilan tersebut ada bukan karena faktor genetik atau kebetulan, namun keterampilan tersebut muncul karena dilatih. pada kurikulum ktsp, kedua keterampilan ini diajarkan secara terpisah dan bertahap, namun pada kurikulum 2013 keterampilan ini diajarkan secara terpadu, jadi pada kurikulum 2013 keterampilan mendengar, membaca, berbicara dan membaca diajarkan secara bersama-sama. keempat keterampilan bahasa indonesia tersebut sangat penting diberikan, karena dengan keterampilan tersebut dapat membantu siswa dalam memahami materi pelajaran yang lain. dari beberapa keterampilan berbahasa di atas, sebagian siswa mengalami kesulitan dalam menguasai keterampilan produktif khususnya menulis, padahal keterampilan menulis merupakan salah satu kompetensi dasar yang perlu dikuasai siswa sekolah dasar. kesulitan tersebut disebabkan karena siswa menganggap bahwa kegiatan menulis issn 2406-8012 profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 80 8681 merupakan kegiatan yang membosankan dan sulit terutama dalam menulis karangan narasi. dalam keterampilan menulis karangan narasi, siswa dituntut mampu memadukan kemampuan berpikir dan kemampuan berimajinasi. hal ini lah yang menjadikan siswa kurang melatih kemampuan dalam menulis karangan narasi. selain itu, beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya ketertarikan siswa akan menulis karangan narasi adalah masih terbatas pengetahuan guru dalam memberikan variasi model, metode, maupun teknik belajar menulis. hal ini disebabkan karena pemahaman tentang keterampilan menulis narasi masih dianggap sebagai keterampilan dasar. kegiatan pembelajaran terasa monoton dan siswa kurang tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut. pemilihan teknik urw berdasarkan pada pengalaman siswa yang dihubungkan dengan kegiatan pembelajaran lalu dituangkan pada sebuah karangan narasi. dalam pengaplikasian teknik ini akan diajarkan secara bertahap. tahapan tersebut diawali dengan pengaplikasian teknik urai, kegiatan menguraikan anggota kelompok dimana keanggotaan ini dapat berupa keanggotaan yang terdekat dengan siswa. misalnya belajar menguraikan anggota keluarga, setelah siswa mampu menguraikan suatu topik dengan baik maka kemampuan akan ditingkatkan dimana siswa diminta untuk mengamati suatu benda hidup maupun tak hidup dan alam sekitar melalui berbagai sudut pandang. teknik ini dinamakan teknik ruang. setelah kedua teknik tersebut dikuasai oleh siswa, selanjutnya siswa diajarkan untuk mengarang dengan teknik waktu, yaitu teknik yang berdasarkan pada urutan waktu suatu kejadian yang terjadi setiap hari maupun peristiwa yang dilihat siswa setiap hari. kombinasi dari ketiga teknik diatas yaitu teknik urai, teknik ruang dan teknik waktu biasa disebut dengan teknik urw. tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan strategi pengembangan keterampilan menulis narasi dengan teknik urw di kelas awal sekolah dasar serta penilaian keterampilan menulis narasi dengan menggunakan teknik urw di kelas awal sekolah dasar. keraf (2003:136) mengemukakan narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa itu. karangan narasi menyampaikan kepada pembaca mengenai urutan suatu kejadian dengan maksud memberi arti pada sebuah kejadian sehingga pembaca dapat memetik hikmah dari kejadian tersebut. teknik urai ruang waktu (:selanjutnya disebut urw) adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa indonesia dengan tujuan untuk meningkat keterampilan menulis siswa sd (prayitno, 2009:2). teknik urw merupakan salah satu variasi teknik belajar mengarang yang digunakan untuk membantu melatih dan meningkatkan kemampuan menulis siswa sd. berikut ini penjelasan mengenai teknik urai ruang waktu (urw) (1) mengarang dengan teknik urai adalah mengembangkan logika dan imajinasi tentang keanggotaan/bagian dari kelompok. teknik ini bermanfaat untuk menanamkan nilai seperti perlunya kesatuan, menghargai orang lain, kita membutuhkan orang lain; (2) mengarang dengan teknik ruang (bentuk) ini adalah untuk mengembangkan logika dan imajinasi tentang sik/betuk suatu benda,tumbuhan,hewan, dan alam semesta. teknik ini bermanfaat untuk menanamkan nilai seperti menghargai benda,tumbuhan,hewan,dan alat semesta; (3) mengarang dengan teknik waktu (urutan waktu kejadian) ini adalah untuk mengembangkan logika dan imajinasi tentang 82strategi pembelajaran keterampilan ... (m. fakhrur saifudin) issn 2406-8012 terjadinya suatu peristiwa yang dilakukannya setiap hari atau pristiwa yang dilihatnya setiap hari. metode ini bermanfaat untuk menanamkan nilai seperti menghargai waktu,mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat (prayitno, 2009:5). penelitian yang telah dilakukan hillocks (2007) menyatakan bahwa dalam pembelajaran keterampilan menulis narasi memilah menjadi tiga kriteria yaitu, speci city, style, dan elaboration. merujuk pada tulisan hillocks (2007), penelitian ini juga sejalan dengan konsep-konsep yang telah ditawarkan. beberapa kemiripan yang muncul dengan memadukan teknik urw. teknik ini dapat mendorong siswa untuk berimajinasi, mengeksplorasi, dan mengelaborasi sebuah pengalaman kemudian mampu menguraikan dalam bentuk narasi. metode penelitian jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif-deskriptif, yaitu peneliti akan mendeskripsikan strategi pembelajaran keterampilan menulis narasi dengan teknik urw di kelas awal sekolah dasar. data dan suber data penelitian ini berupa dokumen tentang perencanaan, implementasi, dan evaluasi berkaitan dengan proses pembelajaran keterampilan menulis narasi di kelas awal sekolah dasar. selanjutnya, informan yang akan menjadi sumber data ini adalah guru kelas awal sekolah dasar. mereka adalah pelaku, yaitu guru kelas yang berperan sebagai fasilitator proses pembelajaran. teknik validitas data menggunakan observasi, wawancara mendalam, kuesioner dan dokumentasi. validitas data yang digunakan menggunakan triangulasi data dan peer debrie ng. teknik analisis data menggunakan teknik analisis interaktif yang dikembangkan miles dan huberman (1992: 20) mulai dari pengumpulan data, reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan. dengan menggunakan analisis interaktif ini, peneliti mendapatkan data secara valid sehingga dapat menentukan analisis data yang akurat. hasil dan pembahasan strategi urw merupakan adaptasi keterampilan mengidenti kasi dan mendeskripsikan bagian-bagian dalam sebuah kalimat (prayitno, 2009: 7). strategi ini sesuai dengan kompetensi dasar sd mata pelajaran bahasa indonesia yaitu kd menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. strategi ini dimunculkan untuk menstimulus kemampuan siswa dalam hal mengidenti kasi bagian-bagian, mengurai, dan mengembangkan dalam sebuah kalimat narasi. beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan strategi urw ini antara lain; pemilihan materi, pemilihan media, dan penilaian yang tepat. penerapan strategi ini dimulai dengan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. pada tahap perencanaan pembelajaran dengan teknik urw dilakukan beberapa persiapan antara lain; penyusunan rpp, media dan evaluasi. pengembangan teknik urai pengembangan teknik urai dengan mengidenti kasi kalimat-kalimat pokok dalam setiap wacana yang disajikan. kegiatan ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam memudahkan menulis narasi dengan runtut dimualai dengan hal yang bersifat umum menuju khusus. sebagai contoh pada bacaan berikut. tempat pemberhentian kereta api disebut stasiun. keadaan stasiun sangat ramai. di stasiun ada banyak kereta api dengan berbagai jurusan masing-masing. keramaian di stasiun akan bertambah pada menjelang hari libur atau hari besar. kereta api menjadi salah satu angkutan missal yang diminati masyarakat. selain harganya terjangkau, kereta api juga menyediakan kenyamanan, keamanan, dan ketepatan sampai tujuan. (bse bahasa indonesia) pada kutipan teks tersebut dapat dikembangkan dengan teknik urai dengan cara mengidenti kasi pokok pikiran yang terkandung dalam paragraf di atas. issn 2406-8012 profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 80 8683 tabel 1. uraian pokok paragraf no uraian pokok paragraf 1. stasiun tempat berhentinya kereta api 2. suasana stasiun sangat ramai 3. stasiun ramai saat menjelang libur dan hari besar 4. stasiun dapat dijumpai di kota besar 5. dst (sesuai kemampuan siswa dalam mengidenti kasi) teknik urai ini membatu siswa untuk berpikir sistematis dalam mengidenti kasi topik karangan. semakin banyak uraian siswa, maka kemampuan siswa untuk merangkai dan mengembangkan menjadi paragraf yang runtut semakin baik. untuk memudahkan siswa menguraikan, dapat menggunakan media video tentang suasana stasiun kereta api. hal ini bertujuan untuk membangun imajinasi dan pengalaman siswa terhadap suasana stasiun. media cerita guru juga dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa. pengembangan teknik ruang istilah ruang dalam teknik urw dipahami sebagai ruang (bentuk) tentang sik suatu benda, tumbuhan, hewan, dan alam semesta. teknik ini mengembangkan logika dan imajinasi siswa pada topik yang disajikan. teknik ini bermanfaat untuk menanamkan nilai seperti menghargai benda, tumbuhan, hewan, dan alam semesta. dengan mengembangkan teknik ruang ini siswa akan mengidenti kasi dari sudut pandang sik atau bentuk dan mencatatnya dengan bahasa mereka. untuk mengembangkan teknik ruang pada rangkaian teknik urw ini, dilakukan beberapa langkah. langkah pertama yaitu mencatat bagian-bagian yang ada pada topik tersaji. misalnya, pada topik “ruang kelasku”. hal yang perlu dilakukan yaitu mencatat bagianbagaian ruang kelas berdasarkan imajinasi dan pengalaman siswa. tabel 2. identifi kasi ruang no identifi kasi ruang hasil imajinasi/ pengalaman 1 dinding depan papan tulis, tempat penghapus 2 pojok depan kelas meja kursi guru 3 samping kiri jendela 3 buah 4 samping kanan jendela 2 buah, pintu, gambar peta 5 belakang gambar pahlawan, jadwal piket, dll 6 (dst) (sesuai kemampuan siswa) pengembangan kalimat dari hasil identi kasi siswa ini disusun dengan menambahkan konjungsi dan keterangan tempat supaya memudahkan dari aspek keterbacaan. selanjutnya yaitu mengembangkan dalam bentuk karangan. berdasarkan hasil pengembangan kalimat, siswa kemudian merangkai kalimat-kalimat tersebut menjadi paragraph yang runtut dan padu dengan memperhatikan ejaan, pemilihan diksi, dan kosakata. berikut contoh pengembangan teknik ruang menjadi paragraph narasi. pengembangan teknik waktu pengembangan teknik waktu ini untuk menstimulus kemampuan logika dan imajinasi berdasarkan pengalaman suatu peristiwa yang dilakukan atau dilihat siswa. metode ini bermanfaat untuk menanamkan nilai seperti menghargai waktu, mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat, dan mengingat kegiatan yang dilakukan. dengan melatih siswa melihat peristiwa berdasarkan urutan waktu kejadian, siswa berlatih untuk menemukan pola waktu kejadian dengan kalimat sehingga menjadi sebuah paragraf. adapun langkah pertama yaitu mencatat dalam kalimat sederhana peristiwa sesuai urutan 84strategi pembelajaran keterampilan ... (m. fakhrur saifudin) issn 2406-8012 waktu. sebagai contoh topik “ kegiatanku di rumah”. 1. tiba di rumah, mengganti pakaian 2. makan siang 3. belajar dan membuat pekerjaan rumah (pr) 4. tidur siang 5. bangun tidur, bermain, dan mandi 6. belajar pada malam hari 7. tidur malam kemampuan siswa siswa dalam mengembangkan kalimat lengkap dipengaruhi oleh penguasaan tanda baca, diksi, konjungsi, dan kosakata yang menunjang keruntutan penyusunan paragraph narasi. jika siswa sudah mampu menulis kalimat lengkap maka langkah selanjutnya yaitu mengubah menjadi paragraph yang runtut. implementasi keterampilan menulis narasi dengan teknik urw bedasarkan hasil pengambilan data di tiga sekolah, yaitu sd muhammadiyah senggotan, sd muhammadiyah pajangan, dan sd muhammadiyah 3 ambarketawang. penilaian keterampilan menulis menggunakan model pembobotan masing-masing unsur (harris, 1969:68 dikutip nurgiyatoro, 2010:305). pemilihan penilaian ini dianggap sesuai dengan pembelajaran teknik urw disebabkan dalam menulis karangan narasi, diperlukan porsi atau bobot yang berbeda dalam tiap-tiap unsur. dengan demikian, unsur yang lebih penting diberi bobot lebih tinggi. berdasarkan pertimbangan tersebut, penilaian keterampilan menulis dapat diukur didasarkan pada kompetensi siswa kelas iii sd. berdasarkan hasil penilaian pada siklus 2 di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan teknik urw menunjukkan keberhasilan yang signi kan. hal ini terbukti dengan meningkatnya nilai mengarang narasi siswa dengan teknik urw. beberapa hal yang ditemukan bahwa penggunaan media sangat berpengaruh penting dalam keberhasilan teknik ini. media pembelajaran yang berfungsi sebagai penguat materi menjadi salah satu bahan untuk meningkatkan pemahaman, logika, dan imajinasi siswa dalam menyusun karangan narasi yang baik. indikator keberhasilan menulis narasi yaitu kemampuan siswa dalam mengidenti kasi halhal pokok, kemampuan siswa dalam memadukan kalimat-kalimat sehingga terjalin suatu paragraf narasi yang baik, serta penggunaan unsur kebahasaan seperti kosakata, ejaan dan konjungsi menjadi perhatian dalam menulis narasi. selain itu, penilaian sikap dan tingkah laku sebagai wujud performansi menjadi penting dalam pembelajaran menulis karangan narasi dengan teknik urw. kemampuan siswa untuk bertukar pendapat dan kerja sama dalam mengidenti kasi topik berperan signi kan terhadap keberhasilan teknik ini. berikut disajikan rekapitulasi hasil peningkatan nilai siswa pada siklus 1 dan siklus 2. tabel 3. rekapitulasi hasil peningkatan siklus 1 dan 2 sumber data siklus 1 siklus 2 sesuai kkm belum sesuai kkm sesuai kkm belum sesuai kkm sd muhammadiyah pajangan 33 % 67 % 92 % 7 % sd muhammadiyah senggotan 40 % 60 % 88 % 12 % sd muhammadiyah 3 ambarketawang 30% 70% 77% 23% issn 2406-8012 profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 80 8685 pada rekapitulasi data di atas, terlihat di sd muhammadiyah pajangan mengalami kenaikan secara signi kan dari siklus 1 siswa yang sesuai kkm sebesar 33 % menjadi 92 %. hal ini disebabkan siswa telah menguasai topik yang disajikan. unsur lain keberhasilan ini didukung dengan penggunaan video interaktif dengan tema “lingkungan” yang sebagian besar siswa sudah mengetahuinya. peran guru dalam memberikan contoh juga terlihat dalam pelaksaan pembelajaran menulis dengan teknik urw. guru menjelaskan tahap-tahap teknik urw beserta pengembangannya. simpulan strategi pembelajaran keterampilan menulis narasi dengan teknik urw dapat dikembangkan dengan berbagai cara. antara lain; (a) pengembangan teknik urai dilakukan dengan menguraikan topik menjadi bentuk-bentuk kata/frasa sederhana; (b) pengembangan teknik ruang ini, siswa dilatih untuk mengidenti kasi logika dan imajinasi berdasarkan benda, hewan, tumbuhan, dan lingkungan untuk dijadikan kalimat sederhana; dan (c) pengembangan teknik waktu, siswa dituntut untuk mampu menguraikan urutan berdasarkan peristiwa, waktu, atau suasana berdasarkan topik yang disajikan kemudian menyusunnya dalam bentuk kalimat lengkap secara runtut. implementasi keterampilan menulis narasi dengan teknik urw di kelas iii sekolah dasar menunjukkan peningkatan yang signi kan. hal ini dapat dilihat dalam analisis data dari tiga lokasi pengambilan data yang menunjukkan peningkatan. peningkatan tertinggi berada di sd muhammadiyah pajangan sebesar 92%. kemudian di sd muhammadiyah senggotan sebesar 88% dan di sd muhammadiyah 3 ambarketawang sebesar 77%. peningkatan tersebut dipengaruhi beberapa hal antara lain, penggunaan media yang berkualitas, pendampingan guru dalam proses pembelajaran, dan pemberian instrumen soal yang sesuai dengan tingkat kompetensi siswa. daftar pustaka darmadi, kaswan dan rita nirbaya. 2008. buku pelajaran bahasa indonesia (bse). jakarta: pusbuk depdiknas. de la paz, susan.1999. “teaching writing strategies and self regulation precedures to middle school students with learning disabilities”. proquest journal. pg.1-15. diakses 15 oktober 2014. dickey, michele d. 2006. “game design narrative for learning appropriating adventure game design narrative devices and techniques for the design of interactive learning environments”. proquestjournal. pg.245. diakses 15 oktober 2014. heriasa, dkk. 2014. “pengaruh pendekatan kontekstual terhadap keterampilan menulis karangan deskripsi pada siswa kelas v sd semester ganjil di gugus vi kecamatan buleleng kabupaten buleleng tahun pelajaran 2013/2014”. jurnal jpgsd vol 2 (1) http:// ejournal. undiksha.ac.id/ . diakses: 15 oktober 2014. hillocks, george. 2007. “narrative writing: learning a new model for teaching” proquest journal. pg. 109-111 diakses 15 oktober 2014. keraf, gorys. 2003. argumentasi dan narasi. jakarta: pt gramedia pustaka utama. miles, matthew b. dan a. michael huberman. 1992. qualitative data analysis. sage publication. terjemahan. oleh tjetjep rohendi rohidi. 1997.jakarta: universitas indonesia (ui-press). 86strategi pembelajaran keterampilan ... (m. fakhrur saifudin) issn 2406-8012 moleong, lexy, j, 2007. metodologi penelitian kualitatif.bandung: pt. remaja rosdakarya ngalimun dan noor alfulaila. 2014. pembelajaran keterampilan berbahasa indonesia. yogyakarta: aswaja pressindo. nurgiyantoro, burhan. 2010. penilaian dalam pengajaran bahasa dan sastra. yogyakarta: bpfe. prayitno, harun joko. 2009. berlatih mengarang dengan metode urw mengembangkan imajinasi anak sekolah dasar. surakarta: fkip ums. resmini, novi., dkk. 2009. pembinaan dan pembelajaran bahasa dan sastra indonesia. bandung: upi press. sugiyono, 2007. memahami penelitian kualitatif. bandung: cv. alfabeta sundari. 2011. “peningkatan keterampilan menulis karangan narasi dengan model examples non examples melalui media gambar animasi pada siswa kelas iv sdn kalisari batang” . http://lib.unnes.ac.id/18241/1/1402908137.pdf. diakses: 15 oktober 2014 suparno dan muhammad yunus. 2007. keterampilan dasar menulis. (ed. 1). jakarta: universitas terbuka. sutopo, hb, 2002. metodologi penelitian kualitatif. surakarta: uns press tarigan, henry guntur. 2007. menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa. bandung: angkasa bandung. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 efektifitas scientific aprroach with.....(pinkan amita tri prasasti) 19 efektivitas scientific approach with guided experiment pada pembelajaran ipa untuk memberdayakan keterampilan proses sains siswa sekolah dasar pinkan amita tri prasasti universitas pgri madiun pinkan.amita@universitaspgrimadiun.ac.id abstract the purpose of this study was to determine the effectiveness of scientific approach with guided experiment on learning science to empower science process skills. this study is a quasiexperimental research. the study design used posttest only control group design is divided into two groups: an experimental group using a scientific approach with guided experiment and control groups using the method of lecture and discussion. the population in the study were all students of class v sd sd n banjarejo academic year 2016/2017 by the number of 122 students. the sampling technique is cluster random sampling done by taking a sample of 37 fifth grade students in the experimental class a and 36 students of class v c in the control class. the instrument used was a questionnaire, observation sheets, interview and test. data science process skills were tested by t-test. the results of the analysis of hypothesis testing using t-test with significance level of 5% yield significance at p = 0.000 and the value = 0.018. classes that implement scieintific aproach with guided experiment has an average kps higher than the class without using scieintific aproach with guided experiment in the amount of 82.34 and 71.14. based on the results of hypothesis testing can dismpulkan that scieintific aproach with guided experiment in empowering capabilities of science process skills student gradev sd n banjarejo madiun academic year 2016/2017. keywords: scientific approach, guided experiment, science process skills (sps) pendahuluan ipa (ilmu pengetahuan alam) merupakan salah satu mata pelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir rasional. menurut trianto (2014), ipa pada hakikatnya dibangun atas dasar produk ilmiah, proses ilmiah, dan juga sikap ilmiah. ipa memberdayakan siswa agar mempunyai pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah. sebagai proses ilmiah diartikan semua kegiatan ilmiah untuk menyempurnakan pengetahuan tentang alam maupun untuk menemukan pengetahuan baru. jelas bahwa proses belajar ipa ditekankan pada pendekatan keterampilan proses, hingga siswa dapat menemukan fakta, membangun konsep, teori dan sikap ilmiah sehingga tercapai tujuan pembelajaran. tercapainya tujuan dari pembelajaran dapat dilihat dari keterampilan proses sains selama pembelajaran yang didukung oleh hasil belajar yang diperoleh siswa setelah melalui proses belajar. sanjaya (2012: 30) menyatakan bahwa hasil belajar sebagai kriteria keberhasilan suatu sistem pembelajaran. penguasaan keterampilan proses sains yang baik akan menghasilkan hasil belajar maksimal. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 20 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 19 26 pendekatan keterampilan proses sains (kps) merupakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada proses ipa. menurut trianto (2013: 144), ketrampilan proses sains merupakan keseluruhan ketrampilan ilmiah yang terarah yang dapat digunakan untuk menemukan suatu prinsip atau teori, untuk mengembangkan teori yang sudah ada sebelumnya ataupun untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan/flasisikasi. berdasarkan hasil timms (trends in mathematics and science study) tahun 2011, penilaian yang dilakukan international of education achievement study center bostos college tersebut, kemendikbud (2012: 37) menunjukkan bahwa indonesia berada di urutan ke-40 dengan skor 406 dari 42 negara di bidang sains. skor tes sains siswa indonesia ini turun 21 angka dibandingkan timss 2007. sedangkan pada survey yang dilakukan oleh programme for international student assesmen (pisa) tahun 2015, organization for economic cooperation and development (oecd) mengemukakan bahwa indonesia menempati peringkat ke-69 dari 76 negara di bidang science. meskipun begitu, indonesia mengalami peningkatan kompetensi sains dari 382 poin pada tahun 2012 menjadi 403 poin di tahun 2015. hal tersebut membuktikan bahwa proses sains masih belum optimal. para guru belum sepenuhnya melaksanakan pembelajaran secara aktif dan kreatif dalam melibatkan siswa serta belum menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran yang bervariasi berdasarkan karakter materi pelajaran. dalam proses belajar mengajar, kebanyakan guru hanya terpaku pada buku sebagai satusatunya sumber belajar mengajar. hal tersebut menjadi kelemahan dalam pembelajaran ipa dalam masalah teknik penilaian pembelajaran yang tidak akurat dan menyeluruh. penyebab utama kelemahan pembelajaran tersebut adalah karena kebanyakan guru tidak melakukan kegiatan pembelajaran dengan memfokuskan pada pengembangan keterampilan proses sains anak. sains sebagai suatu proses atau cara untuk menemukan solusi terhadap suatu masalah atau memahami suatu fenomena (kejadian) di alam ini. masalah atau kasus yang berhubungan dengan fenomenafenomena serta pengalaman yang dialami siswa membuat pembelajaran lebih bermakna sehingga siswa akan terpengaruh untuk melakukan kegiatan ilmiah. metode ilmiah yang dikembangkan untuk sd dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan dengan harapan bahwa pada akhirnya akan terbentuk paduan yang lebih utuh sehingga siswa dapat melakukan penelitian sederhana. berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di sdn banjarejo kota madiun, diketahui bahwa rata-rata nilai pada mata pelajaran ipa setara dengan standar ketuntasan lulusan (skl). hal ini menunjukkan bahwa diperlukan upaya untuk meningkatkan kemampuan sikap, pengetahuan dan keterampilan bagi siswa untuk meningkatkan dan mengembangkan keterampilan siswa terutama dalam pembelajaran ipa. hasil observasi dari 8 standar nasional pendidikan yang dikeluarkan oleh bsnp memiliki prosentase nilai yang tergolong rendah daripada standart yang lain adalah e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 efektifitas scientific aprroach with.....(pinkan amita tri prasasti) 21 standart proses pembelajaran yaitu sekitar 78 %. hal ini didukung fakta berdasarkan observasi awal pada kelas v sdn banjarejo, ada beberapa permasalahan yang ditemukan diantaranya pembelajaran ipa yang berlangsung hanya berfokus pada minds on dan mengesampingkan hands on dimana pembelajarannya masih dominan mendengarkan penjelasan guru dan menghafal. selain itu, siswa hanya melakukan kegiatan eksperimen di kelas hanya 3 kali dalam 1 semester. idealnya kegiatan eksperimen dilakukan pada setiap kd disesuaikan dengan karakteristik materi pembelajaran. kualitas pembelajaran yang buruk menyebabkan hampir 75% siswa yang memperoleh nilai di bawah kkm diduga karena keterampilan proses sains siswa pada mata pelajaran ipa masih rendah. hal ini karena model pembelajaran yang selama ini digunakan oleh guru belum dapat memfasilitasi peserta didik untuk meningkatkan keterampilan selama proses pembelajaran. trianto (2014: 148) mengemukakan bahwa keterampilan-keterampilan proses perlu diajarkan agar memberikan penekanan pada keterampilan berpikir yang dapat berkembang pada diri siswa. dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan proses sains, maka anak akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri sebuah fakta atau konsep serta menumbuhkan sikap yang diperlukan dalam penemuan ilmu pengetahuan. pemberdayaan kps dapat dilakukan dengan pengembangan proses belajar yang mengarah pada proses kegiatan ilmiah salah satunya mengaplikasikan scientific aproach. scientific aproach merupakan pendekatan di dalam kegiatan pembelajaran yang mengutamakan kreativitas dan temuantemuan peserta didik. pengalaman belajar yang peserta didik dapat tidak bersifat indoktrinisasi, hafalan, dan sejenisnya (capay, 2013). scientific aproach dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi dengan menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak tergantung dari informasi searah yang diberikan oleh guru (wenning: 2008). oleh karena itu proses pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi, dan tidak hanya diberi tahu. berdasarkan penelitian amita (2016) bahwa penggunaan scieintific aproach pada pembelajaran sains dengan memeilliki efektivitas tinggi memeberdayakan kps sesuai dengan tahapan dalam pembelajaran menekankan siswa menemukan sendiri konsep yang dipelajari, hal ini sejalan dengan teori belajar jean piaget bahwa siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi pemahaman konsep ilmiah. scientific aproach dapat dikembangkan dengan pengaplikasikan metode pembelajaran untuk mengoptimalkan dalam pemberdayaan kps. metode yang digunakan tentu metode pembelajaran yang menekankan pada pelatihan proses belajar melalui keterampilan salah satunya adalah mengguankan metode guided experiment. guided experiment adalah eksperimen terbimbing yaitu metode dimana seluruh jalannya percobaan sudah dirancang oleh p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 22 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 19 26 guru sebelum dilakukan oleh siswa (suparno, 2008), dengan metode ini siswa diharapkan: 1) dapat mempelajari sains dengan pengamatan langsung terhadap gejala-gejala maupun proses-proses sains 2) dapat melatih keterampilan berpikir ilmiah, 3) dapat menanamkan dan mengembangkan sikap ilmiah, 4) dapat menemukan dan memecahkan berbagai masalah baru melalui metode ilmiah dan lain sebagainya. selain itu eksperimen terbimbing dapat membantu pemahaman siswa terhadap pelajaran. penerapan scientific approach berbasis guided experiment ini harus sesuai dengan materi yang diajarkan sehingga memberikan pengaruh yang positif terhadap keterampilan proses sains siswa. metode penelitian penelitian ini dilaksanakan di sd negeri banjarejo 2016/2017. desain penelitian menggunakan posttest only control group design yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok ekperimen menggunakan scientific approach with guided experiment dan kelompok kontrol menggunakan metode ceramah dan diskusi. populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa sd kelas v sd n banjarejo tahun akademik 2016/2017 dengan jumlah 122 siswa. teknik pengambilan sampel dilakukan secara cluster random sampling dengan pengambilan sampel sejumlah 37 siswa kelas v a pada kelas eksperimen dan 36 siswa kelas v c pada kelas kontrol. variabel bebas adalah scieintific aproach with guided experiment. variabel terikat adalah ketrampilan proses sains. teknik pengumpulan data menggunakan tes, dokumentasi, observasi, wawancara dan angket. uji validitas meliputi validitas isi dan validitas konstruk melalui judgment experts dan validitas butir soal korelasi product moment dari karl pearson. uji reliabilitas menggunakan rumus alfa ronbach, uji normalitas menggunakan kolmogorovsmirnov, uji homogenitas menggunakan levene’s, uji hipotesis menggunakan t-test menggunakan bantuan spss 20 dengan taraf signifikansi 5%. hasil pengamatan dan pembahasan hasil uji efektivitas scieintific aproach dengan setting problem based learning untuk memberdayakan mahasiswa diperoleh dari data science process skill melalui uji hipotesis dan rerata hasil uji hipotesis data science process skill disajikan pada tabel 1. tabel 1. hasil uji hipotesis spss nilai keterampilan proses sains menunjukkan bahwa nilai rata-rata pada kelas ekperimen sebesar 82,34 dan pada kelas kontrol menunjukan nilai rata-rata 71,14. hal ini menunjukan bahwa keterampilan proses sains siswa memiliki e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 efektifitas scientific aprroach with.....(pinkan amita tri prasasti) 23 perbedaan dengan adanya pembelajaran menggunkan scieintific aproach pada pembelajaran sains dengan setting problem based learning dibandingkan dengan penggunaan metode ceramah dengan mengaplikasikan diskusi. berdasarkan hasil penelitian dapat dibuat histogram rata-rata perbandingan science process skill kelas ekperimen dan kelas kontrol seperti pada gambar.1 dan perbandingan persentase penilain aspek gambar.1 perbandingan rata-rata nilai science process skill kelas ekperimen dan kelas kontrol berdasarkan hasil analisis uji-t dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai posttest kelas ekperimen dan kelas kontrol terkait kemampuan kps. kesimpulan dari hasil uji analisis terdapat perbedaan kemampuan kps siswa pada kelas ekperimen dengan menggunakan scieintific aproach with guided experiment dan kelas kontrol yang menggunakan metode ceramah diskusi. hasil rerata nilai kps kelas ekperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sehinnga dapat dismpulkan scieintific aproach with guided experiment efektif dalam memberdayankan kemampuan keterampilan peoses sains siswa. perbedaan tersebut tentunya dikarenakan pada kelas ekperimen pemahaman mahsiswa mengenai konsep pada materi terbantu dengan pola pembelajaran dengan menggunakan scieintific aproach with guided experiment. langkah-langkah scieintific aproach with guided experiment membantu siswa untuk berpikir menggunakan metode ilmiah secara sistematis. pembelajaran mengarahkan pada siswa berhadapan dengan masalah yang dalam pemecahannya perlu pengujian dengan menggunakan kegiatan ekperimen (isjoni, 2013). siswa terlatih berpikir selayaknya ilmuwan karena dalam menentukan konsep melalui kegiatan yang sistemati seperti merumuskan masalah, berhipotesis, merancang percobaan, berekperimen hingga dapat mengkomunikasikan hasil sebagai solusi dari permasalahan yang ditemukan. kegiatan belajar tersebut tentu mengarahkan mahasiswa untuk lebih terbiasa dan terampil dalam berproses sains sehingga kps memiliki nilai yang optimal jika dibandingkan dengan kelas kontrol. hal ini ditunjukkan pada kelas eksperimen nilai kps lebih tinggi dengan bantuan guided experiment siswa diajak untuk aktif dalam mengambangkan hands on dan minds on melalui menggunakan alat dan bahan kemudian cara kinerja pada lembar yang diberikan kepada siswa dapat dengan mudah siswa kerjakan sesuai dengan petunjuk yang terdapat pada lembar kerja siswa. segala (2010: 74) menyatakan bahwa berbagai hasil penelitian menyebutkan bahwa pendekatan keterampilan proses memiliki keunggulan diantaranya : 1) memberi bekal cara memperoleh pengetahuan, 2) p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 24 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 19 26 keterampilan proses merupakan hal yang sangat penting untuk pengembangan pengetahuan di masa depan, 3) keterampilan proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat meningkatkan keterampilan berfikir dan cara memperoleh pengetahuan. peran serta guru dalam pembelajaran seharusnya sebagai pembimbing dan siswa menemukan sendiri konsep atau fakta yang akan dipelajarinya sehingga muncul sikap ilmiah siswa. keterampilan proses penemuan sendiri akan lebih bermanfaat bagi siswa sehingga pengetahuan yang dimiliki sulit untuk dilupakan peserta didik. perkembangan kognitif yang dihasilkan dari proses dialektika dimana seorang siswa yang belajar melalui pengalaman pemecahan masalah akan dipakai untuk saling berbagi dengan orang lain. penerapan pembelajaran dengan menggunakan scieintific aproach with guided experiment bertujuan agar siswa dapat terlibat langsung dalam kegiatan dan belajar untuk menyelesaikan masalah melaui langkah metode ilmiah yang diekpresikan melalui kegiatan praktikum. siswa akan lebih mudah menerima materi karena siswa tidak perlu menghafal dan menulis materi tetapi dengan cara menyelidiki dan menemukan solusi dalam menyelesaikan suatu permasalahan sehingga daya ingat siswa akan lebih kuat. penggunaan scieintific aproach with guided experiment lebih banyak berpusat pada mahasiswa dibandingkan aktivitas pada pendekatan konvensional. pendapat lu dan tseng (2007) menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran sains tidak hanya untuk memperoleh penjelasan ilmiah yang ada, tetapi yang lebih penting, untuk membentuk ilmiah penjelasan melalui proses penyelidikan. penjelasan menjelaskan hasil percobaan oleh siswa, berarti siswa datang untuk memahami bahwa pengetahuan ilmiah ada dalam hidup mahasiswa, dan dengan merefleksikan pengetahuan mahasiswa secara bertahap membentuk konsep-konsep ilmiah dan mengembangkan keterampilan untuk melakukan penyelidikan ilmiah. siswa belajar untuk saling percaya berbagi sumber daya lain, dan memenuhi tanggung jawab mereka. anak-anak yang memiliki keterampilan lebih dalam belajar juga menyebabkan mereka yang lemah dengan keterampilan untuk belajar dan menyelesaikan tugas bersama-sama dengan sikap positif (lu dan tseng, 2007). trianto (2014: 167), mengatakan bahwa ada beberapa kelebihan metode: 1) metode ini dapat membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri dari pada hanya menerima kata guru atau buku. 2) siswa dapat mengembangkan sikap untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi. 3) dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia. 4) siswa memperoleh pengalaman dan keterampilan dalam melakukan eksperimen. 5) siswa terlibat aktif mengumpulkan fakta dan informasi yang diperlukan untuk percobaan. 6) dapat menggunakan dan melaksanakan prosedur metode ilmiah dan berfikir ilmiah. 7) dapat memperkaya pengalaman dan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 efektifitas scientific aprroach with.....(pinkan amita tri prasasti) 25 berpikir siswa dengan hal-hal yang bersifat objektif, realitas dan menghilangkan verbalisme. 8) melalui eksperimen siswa dapat menghayati sepenuh hati dan mendalam, mengenai pelajaran yang diberikan. 9) siswa dapat aktif mengambil bagian untuk berbuat bagi dirinya, dan tidak hanya melihat orang lain, tanpa dirinya melakukan. 10) siswa dapat aktif mengambil bagian yang besar, untuk melaksanakan langkah-langkah dalam cara berpikir ilmiah. halini dilakukan melalui pengumpulan datadata observasi, memberikan penafsiran serta kesimpulan. pembelajaran dengan menggunakan scieintific aproach with guided experiment memberikan pengaruh positif dari kenaikan skor rata-rata, sehingga nilai rata-rata siswa yang menggunakan scieintific aproach with guided experiment (kelas eksperimen) lebih baik dibandingkan siswa pada kelas kontrol. scieintific aproach with guided experiment mampu memfasilitasi siswa untuk memberdayakan kps karena dalam tahapantahapan scieintific aproach with guided experiment siswa diarahkan untuk memecahkan permasalahan melalui kegiatan eksperimen agar menemukan solusi dari permasalahan hal ini didukung oleh gallagher (2013) yang menyatakan bahwa penggunana scieintific aproach dalam pengelolaan kelas akan melatih siswa besikap ilmiah dengan membiasakan siswa untuk berinvestigasi menemukan pemecahan masalah dari permasalahan yang diberikan dan membiasakan diri berlaku sebagai ilmuwan. siswa terbiasa mencari dan menemukan sendiri solusi hasil dari penmuan-penemuan yang dilakukan. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat dismpulkan bahwa scieintific aproach with guided experiment lebih efektif dalam memberdayakan kemampuan keterampilan proses sains. berdasarkan hasil uji ada perbedaan kemampuan keterampilan proses sains siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. hal ini terbukti dari pengujian statistik diperoleh adanya perbedaan kps siswa, dengan hasil p= 0,000 dan nilai = 0,018. kelas yang menerapkan scieintific aproach with guided experiment memiliki rata-rata kps lebih tinggi dibandingkan kelas tanpa menggunakan scieintific aproach with guided experiment yaitu sebesar 82,34 dan 71,14. daftar pustaka amita, pinkan.2016. efektivitas scieintific aproach pada pembelajaran sains dengan setting pbl untuk memberdayakan science process skil. jurnal bioedukasi. pendidikan biologi universitas sebelas maret. vol 8. no 1 . capay, m dan magdin, m (2013) task for teaching scientific approach using the black box method. jurnal departement of informatics faculty of natural sciencies, constantine the philospher universitas in nitra. slovakia p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 26 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 19 26 isjoni. 2013. cooperative learning (efektifitas pembelajaran kelompok). bandung: alfabeta lu, c., hong, j., & tseng, y. 2007. the effectiveness of inquiry-based learning by scaffolding students to ask “5 why” questions. jurnal pendidikan, vol. 1, no. 26. permendiknas. 2006. standar isi dan standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar sd/ mi. jakarta: cipta jaya. pisa. 2009. ranking by mean score for reading, mathematics and science. online(http://www.pisa.oecd.org/pages/0,3417,en322523513223573111111,00.html diakses 21 desember 2016). timss. 2011. timss and pirls in 2011development completed –into the field!.timss & pirls international study center, lynch school of education, boston college. iea international association for the evaluation of educational achievement. online (http://www.iea.nl. diakses 21 desember 2016). sanjaya, wina. 2012. strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. jakarta: prenada media grup. trianto. 2013. mendesaign model pembelajaran inovatif progresif. jakarta: kencana trianto. 2014. model pembelajaran terpadu: konsep strategi, dan implementasinya dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (ktsp). jakarta: bumi aksara. wenning, c.j. 2008. “dealing more effectively with alternative conception in science”. journal phisics teacher education, volume 5, nomor 1. hlm.11-19. 49studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 ... (yulia maftuhah hidayati, titik septiani) issn 2406-8012 studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 dalam pembelajaran berbasis tematik integratif di sekolah dasar se kecamatan colomadu tahun ajaran 2014/2015 yulia maftuhah hidayati1), titik septiani2) 1 fakultas keguruan dan imu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta ymh284@ums.ac.id 2 fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta ymh284@ums.ac.id abstarct the study aims to describe 1) teachers’ preparation of implementing an integrativethematic based learning process, 2) implementing a scientifi c-based learning process, and 3) implementing authentic evaluation by the teachers of grade i, ii, iv, and v of primary schools of colomadu subdistrict. the study employed a qualitative approach. the subjects included the teachers of grade i, ii, iv, and v of the schools, and its object was the teachers’ preparation of implementing an integrative-thematic based learning process. the data collection used an interview, observation, questionnaires, and documentation. the technique of data analysis applied an interactive model: data reduction, data display and verifi cation and/or conclusion. the results of the study show that the teachers of grade i, ii, iv, and v have understood the 2013 curriculum, implemented an integrative and thematicbased learning a scientifi c approach, systematically and implemented a learning preparation based on the 2013 curriculum. in terms of an authentic evaluation, the teachers have diffi culties because there were many students who must be evaluated so that it could not have done comprehensively. keywords: curriculum 2013, integrative-thematic learning, preparation pendahuluan pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia, oleh karena itu perkembangan pendidikan harus menjadi perhatian khusus bagi suatu bangsa. perkembangan pendidikan harus didukung oleh semua pihak terutama pemerintah, ini diperlukan agar pendidikan yang baik dapat dijalankan sesuai sistematika yang telah dibuat. seperti pemberlakuan kurikulum yang tepat pada setiap satuan pendidikan di seluruh indonesia. perjalanan kurikulum di indonesia telah mengalami banyak pergantian yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman yang ada. mulai tahun ajaran 2013/2014, pemerintah telah memberlakukan kurikulum baru yang disebut dengan kurikulum 2013. implementasi kurikulum tersebut diatur dalam permendikbud nomor 81a tahun 2013. hal ini dikarenakan adanya tantangan-tantangan yang dihadapi oleh bangsa indonesia meliputi tantangan internal dan tantangan eksternal. tantangan internal terkait dengan faktor perkembangan penduduk indonesia dilihat dari pertumbuhan penduduk usia produktif. sedangkan tantangan eksternal merupakan perubahan-perubahan global dan persaingan pasar bebas serta tuntutan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (mulyasa, 2013:5). kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi yang dirancang untuk mengantisipasi kebutuhan kompetensi abad profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 49 5850 issn 2406-8012 21. pada saat ini kemampuan kreativitas dan komunikasi menjadi sangat penting untuk dimiliki dalam menyongsong masa depan. berdasarkan hal tersebut maka rumusan kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan yang dipergunakan dalam kurikulum 2013 dengan mengedepankan pentingnya kreativitas dan komunikasi (kemendikbud, 2013:6). pembelajaran yang dilaksanakan dalam implementasi kurikulum 2013 merupakan pembelajaran berbasis tematik integratif dengan pendekatan saintifi k, di mana proses pembelajaran menekankan pada aktivitas mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. sehingga dalam suatu pembelajaran, akan dicapai kompetensi yang berimbang antara sikap, keterampilan dan pengetahuan. bentuk evaluasi yang digunakan dalam kuriulum 2013 adalah penilaian otentik. penilaian otentik lebih menekankan pada penilaian proses yang meliputi aspek sikap, aspek pengetahuan dan aspek keterampilan. pada penilaian otentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh peserta didik, akan tetapi lebih menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik. permendikbud nomor 65 tahun 2013 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah menyebutkan, bahwa “sesuai dengan standar kompetensi lulusan dan standar isi, maka prinsip pembelajaran yang digunakan dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu”. hal ini dipertegas kembali dalam permendikbud nomor 67 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sd/mi menyebutkan, bahwa “pelaksanaan kurikulum 2013 pada sd/mi dilakukan melalui pembelajaran dengan pendekatan tematik terpadu dari kelas i sampai kelas vi.” oleh karena itu perlu adanya sosialisasi terhadap semua pemangku kepentingan pendidikan dasar agar memiliki persepsi yang sama. sesuai dengan penjelasan yang diuraikan oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan (2013:9) menyatakan bahwa: pembelajaran dengan pendekatan tematik integratif adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema. pembelajaran tersebut memberikan pengalaman bermakna kepada siswa secara utuh. dalam pelaksanaannya pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah dasar diintegrasikan melalui tematema yang ditetapkan. guru kelas dalam melaksanakan pembelajaran berbasis tematik integratif tidak serta merta memberikan materi kepada peserta didik, akan tetapi melalui persiapan yang optimal sehingga pembelajaran berbasis tematik integratif dapat dilaksanakan dengan baik. persiapan tersebut membutuhkan peran serta pemerintah dalam memberikan sosialisasi kepada guru-guru tentang implementasi kurikulum 2013 khususnya pelaksanaan pembelajaran berbasis tematik integratif. berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis dengan beberapa guru sekolah dasar di kecamatan colomadu menyatakan bahwa sosialisasi tentang implementasi kurikulum 2013 yang 51studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 ... (yulia maftuhah hidayati, titik septiani) issn 2406-8012 berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran berbasis tematik integratif dilakukan secara bertahap. tahap pertama yaitu pada tahun ajaran 2013/2014 implementasi kurikulum 2013 dilaksanakan di sekolah dasar yang ditentukan oleh pemerintah sebagai pilot project atau disebut dengan sekolah sasaran. di kecamatan colomadu, sekolah dasar yang menjadi sekolah sasaran adalah sd negeri 02 malangjiwan pada kelas i dan kelas iv. tahap kedua yaitu pada tahun ajaran 2014/2015 implementasi kurikulum 2013 dilaksanakan secara serentak oleh semua sekolah dasar pada kelas i, ii, iv, dan v. dilaksanakannya kurikulum 2013 secara serentak, dibutuhkan persiapan yang matang baik dari pihak sekolah maupun dari pihak guru. oleh karena itu pemerintah menyelenggarakan sosialisasi implementasi kurikulum 2013 yang diikuti oleh semua guru kelas i, ii, iv dan v, termasuk sekolah dasar yang berada di kecamatan colomadu. setelah melaksanakan sosialisasi yang diselenggarakan oleh pemerintah setiap sekolah diharapkan mampu melaksanakan pembelajaran berbasis tematik integratif dengan sebaik baiknya dan dituntut dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi berimbang antara sikap, keterampilan dan pengetahuan. dengan adanya latar belakang tersebut peneliti tertarik dalam membuat penelitian tentang “studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 dalam pembelajaran berbasis tematik integratif di sekolah dasar se kecamatan colomadu tahun ajaran 2014/2015”. metode penelitian penelitian ini dilakukan pada sekolah dasar di wilayah colomadu dan dilakukan pada semester genap pada bulan januari 2015. jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif, sebab untuk mengkaji masalah, peneliti tidak membuktikan atau menolak hipotesis yang dibuat sebelum penelitian, tetapi mengolah data dan menganalisis suatu masalah secara non numerik. dalam penelitian ini yang menjadi subyek penelitian adalah guru kelas i, ii, iv dan v pada sekolah dasar di kecamatan colomadu dan obyek penelitian adalah kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran berbasis tematik integratif pada sekolah dasar di kecamatan colomadu. teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpul data utama (moleong, 2007:9). peneliti meninjau langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data atau informasi yang sesuai dengan fokus penelitian. untuk memperoleh data dan informasi yang akurat, maka diperlukan teknik pengumpulan data yang sesuai dengan metode penelitian kualitatif, maka dalam penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data yang meliputi : 1. wawancara wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 49 5852 issn 2406-8012 memberikan jawaban atas pertanyaan itu (moleong, 2007:186). wawancara dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui informasi dari guru kelas tentang proses pembelajaran berbasis tematik integratif pada sekolah dasar di kecamatan colomadu. 2. observasi metode ini dilakukan dengan cara mengamati secara langsung tentang kondisi yang terjadi selama di lapangan, baik yang berupa keadaan fi sik maupun perilaku yang terjadi dalam berlangsungnya penelitian. observasi dilakukan untuk mengumpulkan data-data secara langsung yang tekait dengan proses pembelajaran berbasis tematik integratif pada sekolah dasar di kecamatan colomadu. menurut rubiyanto (2013:90) observasi dikelompokkan dalam 4 jenis yaitu: (1) observasi berpartisipasi, (2) observasi non partisipasi, (3) quasi observasi berpartisipasi dan (4) observasi sistemik dan non sistemik. dalam penelitian ini peneliti menggunakan observasi berpartisipatif karena untuk mempelajari dan memahami perilaku orangorang yang terlibat. teknik pengumpulan data bantu merupakan teknik bantu dalam mengumpulkan data yang bertujuan untuk mendapatkan data pendukung sebagai penguat dari data pokok yang telah diperoleh. 1. angket menurut rubiyanto (2013:87) kuesioner atau angket adalah cara mengumpulkan data dengan jalan memberikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab oleh responden secara tertulis pula. ditinjau dari sifatnya angket dibedakan menjadi tiga jenis yaitu (1) angket tertutup, (2) angket terbuka dan (3) angket kombinasi. dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis angket terbuka karena diharapkan data yang diperoleh lebih luas dan mendalam. 2. dokumentasi menurut arikunto (2006:231) metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan dokumen lainnya. dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (sugiyono, 2005:82). dengan analisis dokumentasi ini diharapkan data yang diperlukan benarbenar valid. dokumentasi yang dimaksud adalah untuk memperoleh dan menganalisa data terhadap program pengajaran guru dan proses pembelajaran di kelas. untuk menjamin pemantapan dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dicatat dalam penelitian maka dipilih dan ditentukan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan keabsahan data yang diperolehnya. dalam penelitian ini teknik yang digunakan adalah teknik triangulasi. triangulasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (sugiyono. 2005:83). susan stainback (dalam sugiyono, 2005:85) menyatakan bahwa tujuan dari triangulasi bukan untuk mencari kebenaran 53studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 ... (yulia maftuhah hidayati, titik septiani) issn 2406-8012 tentang beberapa fenomena, tetapi lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan. dengan menggunakan triangulasi akan lebih meningkatkan kekuatan data sehingga data yang diperoleh akan lebih konsisten, tuntas dan pasti. ada dua jenis triangulasi yaitu triangulasi teknik dan triangulasi sumber. a) triangulasi teknik merupakan peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. b) triangulasi sumber merupakan untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda beda dengan teknik yang sama. gambar triangulasi teknik gambar triangulasi sumber dalam penelitian ini akan digunakan gabungan dari triangulasi teknik dan triangulasi sumber. triangulasi sumber digunakan untuk mengecek kevalidan data dengan membandingkan beberapa sumber yang diperoleh. sedangkan triangulasi teknik digunakan peneliti dalam membandingkan data observasi dan wawancara. dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan sejak awal dan sepanjang proses penelitian berlangsung. teknik analisis data yang dilakukan yaitu analisis kualitatif. data kualitatif adalah data yang bersifat deskriptif, keterangan, informasi, bersifat kata-kata bukan angka-angka. deskripsi data berupa informasi, keterangan secara mendalam tentang suatu obyek yang menjadi sasaran penelitian. proses-proses analisis kualitatif dapat dijelaskan kedalam tiga langkah yaitu : 1) reduksi data, 2) penyajian data dan 3) penarikan kesimpulan/ verifi kasi. ketiga komponen analisis data tersebut secara interaktif saling berhubungan selama dan sesudah pengumpulan data. karakter tersebut menjadikan data kualitatif disebut sebagai model interaktif. 1. reduksi data reduksi data merupakan suatu proses pemusatan, penyederhanaan, data-data yang kasar yang muncul pada saat tindakan dilaksanakan dari awal sampai akhir dan dilakukan selama tindakan berlangsung. pada proses ini peneliti memilah dan memilih halhal yang dianggap penting dan membuang yang dianggap kurang penting. 2. penyajian data penyajian data adalah penyampaian informasi berdasarkan data yang dimiliki dan disusun secara baik, runtut sehingga mudah dilihat, dibaca dan dipahami tentang suatu kejadian dan tindakan atau peristiwa dalam bentuk teks naratif. profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 49 5854 issn 2406-8012 3. penarikan kesimpulan/verifi kasi penarikan kesimpulan dilakukan setelah penyajian data dilakukan, pada penarikan kesimpulan dibutuhkan buktibukti yang mendukung. dengan adanya bukti-bukti yang mendukung penyimpulan data yang bersifat sementara dapat berubah. penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap untuk mendapatkan derajat kepercayaan. hasil penelitian dan pembahasan berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti pada tanggal 17 sampai dengan 21 januari 2015 pada sekolah dasar di kecamatan colomadu yaitu antara peneliti terhadap guru kelas i, ii, iv, v dan kepala sekolah dasar maka diperoleh data sebagai berikut. 55studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 ... (yulia maftuhah hidayati, titik septiani) issn 2406-8012 tabel. 1. rekaman wawancara no nama jabatan hasil wawancara sd negeri 01 gedongan 1. endang tutik k. spd kepala sekolah indikator 1 guru kelas telah memahami tentang kurikulum 2013 indikator 2 guru kelas telah menyiapkan berbagai keperluan untuk melakukan pembelajaran berbasis tematik integratif indikator 3 guru kelas telah memahami mengenai pembelajaran dengan pendekatan saintifi k indikator 4 guru kelas telah melaksanakan penilaian otentik setiap hari pada setiap akhir dari kd 2. suharni, s.pd. guru kelas i indikator 1 guru mengetahui tentang kurikulum 2013 meskipun belum sepenuhnya. indikator 2 guru telah melakukan persiapan sesuai dengan pembelajaran berbasis tematik integratif indikator 3 guru mengetahui tentang pembelajaran dengan pendekatan saintifi k meskipun belum sepenuhnya indikator 4 guru mengetahui penilaian otentik meskipun administrasi nya banyak dan rumit 3. jusuf azharri, s.pd guru kelas ii indikator 1 guru telah memahami mengenai kurikulum 2013 indikator 2 guru telah melakukan persiapan sesuai dengan pembelajaran berbasis tematik integratif indikator 3 guru telah memahami pembelajaran dengan pendekatan saintifi k indikator 4 guru mengetahui tentang penilaian otentik dan melaksanakannya meskipun belum terbiasa dan merasa rumit profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 49 5856 issn 2406-8012 4 samitri, s.pd. guru kelas iv indikator 1 guru mengetahui tentang kurikulum 2013 meskipun belum sepenuhnya. indikator 2 guru telah melakukan persiapan sesuai dengan pembelajaran berbasis tematik integratif indikator 3 guru mengetahui tentang pembelajaran dengan pendekatan saintifi k meskipun belum sepenuhnya indikator 4 guru mengetahui tentang penilaian otentik meskipun administrasi penilaian terlalu banyak dan rumit 5. siti khotijah, s.pd.sd guru kelas v indikator 1 guru telah memahami mengenai kurikulum 2013 indikator 2 guru telah melakukan persiapan sesuai dengan pembelajaran berbasis tematik integratif indikator 3 guru telah memahami pembelajaran dengan pendekatan saintifi k indikator 4 guru mengetahui tentang penilaian otentik dan melaksanakannya meskipun belum terbiasa dan merasa rumit sd negeri 01 gawanan 6. tris amay, s.pd.,m.pd. kepala sekolah indikator 1 guru kelas telah memahami tentang kurikulum 2013 karena guru kelas telah mengikuti penataran dan diklat indikator 2 guru kelas telah mempersiapkan segala keperluan dalam melaksanakan pembelajaran berbasis tematik integratif indikator 3 guru kelas telah memahami tentang pembelajaran dengan pendekatan saintifi k indikator 4 guru kelas telah memahami tentang penilaian otentik meskipun penilaian tersebut terlalu banyak dan rumit sehingga guru merasa terbebani berdasarkan data tersebut, diperoleh deskripsi hasil penelitian sebagai berikut, yakni, pada tahun ajaran 2014/2015 khususnya pada semester satu, sekolah dasar di kecamatan colomadu telah melaksanakan kurikulum 2013. proses pembelajaran yang dilakukan adalah pembelajaran tematik integratif dengan pendekatan saintifi k dan 57studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 ... (yulia maftuhah hidayati, titik septiani) issn 2406-8012 dilakukan oleh guru kelas i, ii, iv dan v. penilaian yang digunakan adalah penilaian otentik yang dilakukan oleh guru kelas selama proses pembelajaran berlangsung. terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh guru kelas dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif dengan pendekatan saintifi k dan pelaksanaan penilaian otentik. guru kelas sudah memahami tentang kurikulum 2013. hal tersebut dapat terlihat dari para guru yang telah mengetahui tentang bentuk pembelajaran yang diamanatkan pada kurikulum 2013 yaitu pembelajaran tematik integratif dengan pendekatan saintifi k serta bentuk evaluasi yang digunakan pada kurikulum 2013 yaitu penilaian otentik. guru kelas telah melaksanakan tentang proses pembelajaran berbasis tematik integratif. meskipun guru kelas masih mengalami beberapa kendala dalam proses pelak-sanaannya. kendala tersebut yaitu guru merasa kesulitan dalam melaksanakan setiap pembelajaran karena dalam satu hari guru harus menyelesaikan satu pembelajaran, sedangkan dalam prosesnya, peserta didik tidak selalu dapat menye-lesaikan pembelajaran secara tuntas. kendala lain adalah apabila pembelajaran yang telah lalu diberikan pengulangan pada pembelajaran hari berikutnya maka hal itu akan mengganggu proses pembelajaran pada hari berikutnya tersebut. guru kelas telah melaksanakan tentang pembelajaran dengan pen-dekatan saintifi k. dalam proses pembelajaran guru kelas telah berusaha melaksanakan lima pengalaman belajar yaitu mengamati, menanya, mengum-pulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. dalam prosesnya kelima pengalaman belajar tersebut tidak selalu dapat dilakukan secara menyeluruh karena guru harus mengejar pembelajaran dalam satu hari supaya dapat selesai dan juga guru harus menyesuaikan kemampuan setiap peserta didik. guru kelas juga berusaha menyediakan alat peraga yang disesuaikan dengan kebutuhan pada proses pembelajaran di kelas. guru kelas telah mengetahui dan melaksanakan penilaian otentik akan tetapi guru kelas belum sepenuhnya memahami tentang pelaksanaan penilaian otentik tersebut. hal itu dikarenakan begitu banyaknya peserta didik yang harus dinilai sehingga penilaian yang dilakukan kurang menyeluruh dan optimal, serta banyaknya jenis penilaian yang harus dilakukan sehingga guru mengalami kesulitan dalam melakukan penilaian. simpulan berdasarkan hasil penelitian tentang studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 dalam pembelajaran berbasis tematik integratif di sekolah dasar se kecamatan colomadu tahun ajaran 2014/2015 diperoleh kesimpulan sebagai berikut : guru kelas telah mengetahui dan memahami tentang kurikulum 2013 khususnya pembelajaran berbasis tematik integratif. pada pelaksanaan pembelajaran tematik integratif guru kelas sudah memiliki persiapan yang sesuai dengan sistematika profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 49 5858 issn 2406-8012 yang telah ditentukan dalam kurikulum 2013. persiapan tersebut antara lain : 1) silabus, 2) rpp, 3) buku guru dan buku siswa. hal ini dikarenakan adanya berbagai usaha yang dilakukan oleh pemerintah khususnya kabupaten karanganyar dalam memberikan sosialisasi kepada guru kelas dan juga kepala sekolah mengenai kurikulum 2013. guru kelas dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif menggunakan pendekatan saintifi k dengan lima pengalaman belajar yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan. guru kelas dalam melaksanakan penilaian otentik pada setiap pembelajaran mengalami beberapa kendala, antara lain : 1) jenis penilaian terlalu banyak sedangkan siswa yang harus dinilai juga banyak sehingga guru kurang optimal dalam memberikan penilaian dan bahkan guru terlalu disibukkan dengan penilaian maka materi pembelajaran kurang tersampaikan dengan baik, 2) administrasi dalam penilaian otentik terlalu banyak sehingga guru merasa kesulitan utamanya pada laporan hasil atau rapor, guru harus menyajikan rangkuman hasil penilaian selama satu semester dalam bentuk deskripsi dengan menggunakan kalimat positif. daftar pustaka arikunto, suharsimi. 2006. prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. jakarta: rineka putra kementrian pendidikan dan kebudayaan. 2013. panduan praktis bagi orang tua dalam mendampingi pembelajaran di sekolah. jakarta: kemendikbud. kementrian pendidikan dan kebudayaan. 2013. panduan teknis pembelajaran tematik terpadu dengan pendekatan saintifi k di sekolah dasar. jakarta: kemendikbud. moleong, lexy j. 2007. metodologi penelitian kualitatif. bandung: pt. remaja rosdakarya. mulyasa. 2013. pengembangan dan implementasi kurikulum 2013. bandung: pt. remaja rosdakarya. peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia nomor 65 tahun 2013 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah. peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia nomor 81a tahun 2013 tentang implementasi kurikulum pedoman umum pembelajaran. rubiyanto, rubino. 2013. penelitian pendidikan. surakarta: fkip ums. sugiyono. 2005. memahami penelitian kualitatif. bandung: cv. alfabeta. profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 32 4032 issn 2406-8012 membangun karakter siswa pendidikan dasar muhammadiyah melalui identifikasi implementasi pendidikan karakter di sekolah ratnasari diah utami1 ) 1 pendidikan guru sekolah dasar fkip, universitas muhammadyah surakarta rdu.150@ums.ac.id abstract the general objective of this research is to describe the general character education implementation applied in sd muhammadiyah baturan karanganyar this research is descriptive qualitative study. the sources of the research data consists of the informant, places (events), and document. data collection technique used in this study were (1) observations (2) in-depth interviews with teachers, parents and students of sd muhammadiyah baturan karanganyar. (3) documentation. to test the validity of the data used triangulation of data and informants. analysis using the interactive analysis techniques that includes four components: data collection, data reduction, data display, and conclusion. the results ofthis research is: teachers in sd muhammadiyah baturan have attempted to prepare learning model of character, but have not had the right model to reinforce character education to students. keywords: character, education, primary education pendahuluan sumber daya manusia merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu bangsa dalam mencapai tujuan nasional, kekayaan sumber daya alamnya yang berlimpah. sumber daya manusia yang dimiliki ini harus memiliki karakter yang kuat karena karakter yang kuat akan membentuk mental yang kuat. karakter yang kuat merupakan prasyarat untuk menjadi seorang pemenang dalam medan kompetisi seperti saat ini dan akan datang. pasal 1 uu sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa diantara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. amanah uu sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter. pendidikan nasional mempunyai fungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang akan berpengaruh dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, serta bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. untuk mewujudkan tujuan dari pendidikan nasional tersebut, maka sejak tahun 2010 pemerintah indonesia telah mencanangkan gerakan “pendidikan budaya dan karakter bangsa”. untuk mencapai hasil yang maksimal dari gerakan nasional 33membangun karakter siswa pendidikan dasar ... (ratnasari diah utami) issn 2406-8012 pendidikan budaya dan karakter bangsa tersebut, perlu tindakan pengimplementasian secara sistematis dan berkelanjutan, sebab tindakan implementasi ini akan membangun kecerdasan emosi seorang anak. kecerdasan emosi adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan. dengan kecerdasan emosi ini seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. sekolah dasar muhammadiyah baturan merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang bercirikan agama islam yang terletak di kecamatan colomadu kabupaten karanganyar. sekolah ini termasuk sekolah pinggiran karena terletak di pinggiran kota surakarta dan berlokasi cukup jauh dari kabupaten karanganyar. pembinaan karakter siswa di sekolah dasar muhammadiyah baturan ini dilaksanakan melalui kegiatan intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. dengan jumlah siswa yang hanya sedikit, lokasi sekolah yang termasuk pinggiran, serta guru-guru yang mengajar secara konvensional, sekolah tersebut sulit berkembang. selain itu implementasi pendidikan karakter bagi siswa di lingkungan sekolah belum mencapai hasil seperti yang diharapkan. melalui penelitian ini, diharapkan dapat diketahui bagaimana implementasi pendidikan karakter yang telah diterapkan di sekolah tersebut. selain itu diharapkan juga dapat diketahui apa faktor penghambat dalam pelaksanaan pendidikan karakter, sekaligus bagaimana solusi yang dapat ditawarkan untuk menghilangkan hambatan yang timbul dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah tersebut. dengan pembinaan karakter yang optimal, maka diharapkan sekolah tersebut dapat maju dan berkembang dengan baik. pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan pembimbingan, pengajaran serta pelatihan untuk peranannya di masa datang. pendidikan mempunyai posisi strategis dalam upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. posisi strategis ini dapat tercapai apabila pendidikan yang dilaksanakan mempunyai kualitas yang baik. hal tersebut dapat tercapai apabila pembelajarannya dilaksanakan dengan efektif dan efi sien, guna mencapai tujuan pendidikan seperti yang tercantum dalam uu ri no. 20 pasal 3 tahun 2003. tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka setiap guru dituntut untuk meningkatkan kompetensi siswanya dalam setiap proses pembelajaran. menurut kamus bahasa indonesia (2008: 682), karakter berarti tabiat, sifatsifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan antara seseorang dengan yang lain. kata karakter berasal dari bahasa yunani yaitu ‘kharassein’ yang berarti profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 32 4034 issn 2406-8012 memahat atau mengukir, sedangkan menurut bahasa latin karakter artinya adalah “membedakan”. secara harfi ah, karakter berarti kualitas mental atau moral, atau bisa juga diartikan sebagai kekuatan moral, nama ataupun reputasi. karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu, yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong atau penggerak, serta pembeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. seseorang dapat dikatakan berkarakter apabila orang tersebut telah mampu menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki oleh masyarakat, serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalani kehidupannya (hidayatullah, 2010: 15). pendapat lain mengatakan bahwa karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku untuk hidup dan bekerja sama, baik di dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara, serta merupakan sesuatu yang khas dari setiap individu (samani, 2012: 41). karakter yang baik adalah sesuatu yang kita inginkan bagi anak-anak kita. filosof yunani aristoteles (dalam lickona 2013: 72) mendefi nisikan karakter yang baik sebagai hidup dengan tingkah laku yang benar, tingkah laku benar dalam hal berhubungan dengan orang lain dan berhubungan dengan diri sendiri. karakter terbentuk dari tiga macam bagian yang saling berkaitan yaitu pengetahuan moral, perasaan moral, dan perilaku moral. karakter yang baik terdiri dari mengetahui kebaikan, menginginkan kebaikan, dan melakukan kebaikankebiasaan pikiran, kebiasaan hati, serta kebiasaan perbuatan (lickona 2013: 72). ketiga hal tersebut menjadi faktor pembentuk kematangan moral seseorang. apabila ketiga hal tersebut sudah dimiliki oleh seseorang, maka dapat dikatakan bahwa seseorang tersebut telah memiliki karakter yang baik. berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan kualitas atau kekuatan mental dan moral, akhlak atau budi pekerti individu yang mencerminkan kepribadian individu secara khusus yang menjadi pendorong atau penggerak, serta yang membedakan dengan individu lain. dengan demikian dapat dikatakan bahwa seseorang disebut telah memiliki karakter yang kuat apabila orang tersebut telah berhasil menyerap nilainilai dan keyakinan yang dikehendaki oleh masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalani kehidupannya. pendidikan dan pembentukan karakter merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan seseorang, karena karakter menjadi salah satu penentu kesuksesan seseorang. oleh karena itu, karakter yang kuat dan positif perlu dibentuk dengan baik dan dilakukan secara terus menerus. pendidikan tak cukup hanya untuk membuat anak menjadi pandai, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai-nilai luhur atau karakter yang baik (hidayatullah, 2010: 18). seorang anak akan menjadi cerdas emosinya jika diterapkan pendidikan karakter pada anak tersebut, dan kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depannya. 35membangun karakter siswa pendidikan dasar ... (ratnasari diah utami) issn 2406-8012 dengan kecerdasan emosi yang baik, maka diharapkan seseorang akan berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan yang dihadapinya kelak, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. untuk mewujudkan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah, maka semua komponen harus dilibatkan, yaitu: isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pengelolaan di dalam kelas, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga sekolah dan lingkungan disekitarnya, baik lingkungan sekolah maupun lingkungan rumah. berdasarkan latar belakang dan landasan teori di atas, masalah penelitian yang akan dibahas adalah bagaimanakah implementasi pendidikan karakter yang sudah diterapkan di sekolah dasar muhammadiyah baturan. adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran umum implementasi pendidikan karakter yang sudah diterapkan di sekolah dasar muhammadiyah baturan. metode penelitian penelitian dilaksanakan di sd muhammadiyah baturan kecamatan colomadu, kab karanganyar. tahapan pelaksanaan kegiatan penelitian sejak persiapan sampai dengan penulisan laporan penelitian secara keseluruhan dilakukan selama kurang lebih lima bulan. penelitian dilaksanakan mulai bulan november 2013 sampai bulan maret 2014. data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data tentang peranan siswa, guru, orang tua, dan pihak lain yang terkait dalam kegiatan penerapan pendidikan karakter. metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap implementasi pendidikan karakter yang telah dilakukan di sd muhammadiyah baturan. sebagaimana diungkapkan oleh bungin (2008: 101), peneliti melakukan wawancara mendalam yang bersifat terbuka, dan tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali, melainkan berulang-ulang. dengan metode dokumentasi, peneliti mencari data yang berupa catatan, arsip, buku, surat kabar, majalah, dokumen (moleong, 2007: 159). proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan sejak masa rancangan penelitian sampai pada masa pengumpulan data. selanjutnya data-data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan model miles dan huberman, yakni dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. untuk keabssahan data, penelitian ini hanya menggunakan tiga jenis keabsahan data yaitu perpanjangan pengamatan, triangulasi dengan mencari data penguat dari sumber lain, dan memberchek yaitu proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 32 4036 issn 2406-8012 hasil penelitian dan pembahasan upaya penanaman nilai karakter pada siswa sd muhammadiyah baturan, bapak/ibu guru sd muhammadiyah baturan melaksanakannya dengan mengajarkan mata pelajaran secara tematik, misalnya pada mata pelajaran matematika,guna secara tidak langsung menanamkan karakter ketelitian, ketekunan, dan tanggung jawab pada siswa, selain itu siswa juga diminta mengerjakan tugas tepat waktu dan bekerja secara kelompok. penanaman karakter pada mata pelajaran noneksak, bapak/ibu guru berusaha menanamkan rasa patriotisme, kerja sama, dan rasa hormat melalui beberapa strategi pembelajaran. selain itu, siswa diminta bekerja sama untuk menyelesaikan tugas seperti menyulam, menjahit, menyapu, dan membersihkan kelas. adapun untuk mata pelajaran agama islam, guru membiasakan anak untuk menghafal bacaan sholat dan surat pendek sebelum memulai materi pelajaran, menengok teman yang tidak masuk sekolah karena sakit atau membolos, koreksi ulangan milik sendiri, penugasan lingkungan sekitar,serta sebar luas salam. pada saat mata pelajaran bahasa indonesia berlangsung, guru menyisipkan pendidikan karakter melalui kegiatan bercerita dan membaca. ketika siswa mengikuti permainan dalam olahraga, maka guru akan menasehati siswa untuk terus bersikap sportif dan mengajarkan sikap bisa menerima kekalahan. apabila proses belajar mengajar dilaksanakan di luar kelas, maka guru berusaha membentuk karakter siswa dalam bentuk belajar kelompok, bekerja sama, saling menghargai, sopan, dan lain-lain. sedangkan dalam kegiatan sehari-hari, pembentukan karakter dilakukan dengan cara membiasakan siswa untuk mengawali segala sesuatu dengan berdoa, serta memberi nasihat kepada siswa tentang pentingnya olahraga bagi tubuh kita. pada saat proses pembelajaran berlangsung, guru berusaha memilih strategi, metode, pendekatan, dan model pembelajaran yang sesuai, serta tercermin dalam rpp. selain itu, guru juga membiasakan kegiatan belajar bersama teman, diskusi, melatih siswa untuk berani bertanya, menjawab, dan bercerita, melalui kegiatan pembelajaran sosiodrama, pengamatan sikap, koreksi milik teman, serta tutor sebaya. untuk menanamkan karakter pada siswa, pihak sekolah juga melakukan beberapa kegiatan rutin yang meliputi : berdoa bersama dan membaca surat-surat pendek sebelum dan sesudah pelajaran, salam atau menyalami guru untuk melatih sikap hormat kepada guru, membuat jadwal pelajaran secara terperinci (untuk menanamkan sikap kedisiplinan), membuat program out bound atau piknik untuk melatih anak memupuk kebersamaan di bawah pengawasan bapak/ ibu guru, serta mengingatkan anak dengan perilaku terpuji, jujur, dan percaya diri. setiap pagi sebelum bel berbunyi, bapak/ibu guru menyambut siswa yang datang di sekolah. guna melatih kedisiplinan, maka setiap hari senin diadakan upacara bendera dan upacara memperingati hari 37membangun karakter siswa pendidikan dasar ... (ratnasari diah utami) issn 2406-8012 besar. penanaman sikap religius, setiap hari diadakan sholat dhuha dan sholat dzuhur berjamaah. guna memupuk rasa solidaritas, setiap jum’at diadakan pengisian infak oleh setiap siswa. guna menumbuhkan rasa kebersamaan dan kasih sayang terhadap sesama, apabila ada teman yang sakit mereka diajak untuk berkunjung dan mendoakan. beberapa usaha yang dilakukan oleh bapak/ibu guru agar siswa memiliki sikap religius adalah dengan rutin berdoa bersama dan membaca surat pendek sebelum dan sesudah pembelajaran, mengucap salam, melaksanakan sholat dhuha di waktu istirahat, sholat dhuhur bersama sebelum pulang sekolah, serta memberikan contoh teladan yang baik. apabila dilihat dari deskripsi religius, maka dapat dilihat bahwa yang sudah diterapkan oleh sekolah dasar muhammadiyah baturan baru yang bersifat usaha agar siswa mempunyai sikap dan perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya yaitu agama islam, namun belum ada usaha dari pihak sekolah untuk menerapkan upaya agar siswa toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta upaya agar siswa hidup rukun dengan pemeluk agama lain, karena sekolah tersebut adalah sekolah yang berbasis agama islam. temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh m.a pike (2010) yang menunjukkan bahwa jika mahasiswa di suatu lembaga pendidikan yang memiliki perbedaan latar belakang agama melakukan proses belajar mengajar di bawah satu atap/kelas, maka akan menyebabkan beberapa perselisihan antara mahasiswa yang bersangkutan karena mereka memiliki keyakinan atau interpretasi yang berbeda mengenai beberapa hal. hal ini menunjukkan bahwa toleransi beragama diantara para mahasiswa tersebut masih rendah. hal yang sama juga akan terjadi pada siswa sd muhammadiyah baturan apabila tidak diajarkan untuk bersikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta upaya agar siswa hidup rukun dengan pemeluk agama lain. hal ini akan berakibat munculnya kemungkinan perselisihan antar siswa yang berbeda keyakinan, bahkan ada kemungkinkan siswa akan memusuhi siswa yang berbeda keyakinan. jujur adalah perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan lain (badan litbang pusat kurikulum, kemendiknas, 2010:8). ada berbagai macam cara yang dilakukan oleh guru di sd muhammadiyah baturan untuk menanamkan sikap jujur kepada siswa, yaitu mengajak siswa untuk selalu berkata jujur dan bertingkah laku jujur, memperhatikan kegiatan siswa sehari-hari, memberikan tugas, dan meminta siswa untuk mengerjakan tugas sendiri di kelas. apabila siswa melakukan kecurangan dalam mengerjakan tugas atau ujian, maka guru akan memberikan hukuman dengan menegur siswa, kemudian diberikan layanan bimbingan khusus sehingga dapat menimbulkan efek jera, bermain sportif, serta menyampaikan cerita moral yang mengandung nilai kejujuran. profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 32 4038 issn 2406-8012 apabila dilihat dari deskripsi jujur di atas, maka dapat dilihat bahwa yang sudah diterapkan oleh sekolah dasar muhammadiyah baturan adalah bersifat usaha agar siswa mempunyai sikap dan perilaku yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan lain. hal ini sudah sesuai dengan tujuan dari pendidikan karakter yang dicanangkan oleh pemerintah untuk menanamkan nilai karakter pada siswa. usaha yang dilakukan guru di sd muhammadiyah baturan untuk mengajarkan sikap toleran kepada siswa-siswinya adalah selalu mengingatkan agar saling menghargai satu sama lain dengan sesama teman walaupun memiliki perbedaan, melakukan berbagai macam strategi sepeti strategi debat, memberikan tugas kelompok untuk berdiskusi, memberi motivasi, serta memberikan contoh bagaimana cara bertoleransi dengan sesama teman. apa yang sudah dilakukan di sd muhammadiyah baturan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh aslan (2011). penelitian tersebut menunjukkan bahwa baik di dalam lingkungan sekolah maupun di dalam ruang kelas, perlu dilakukan pendekatan moral untuk pendidikan karakter. penelitian ini menyadari pentingnya interaksi sosial bagi siswa untuk pertumbuhan moral mereka karena di dalam kelas akan terjalin komunikasi antar sesama teman. hal ini secara tidak langsung akan membentuk karakter dari siswa karena mereka akan belajar bagaimana cara berdiskusi yang baik, menghargai teman, toleransi, saling menyayangi, empati, perhatian, dan lainlain. penerapan kedisiplinan di sd muhammadiyah baturan adalah dengan memberikan hukuman yang mendidik apabila siswa melakukan kesalahan, memberikan tugas kerja kelompok untuk melatih siswa berpikir kritis, menerima pendapat orang lain, menghimbau siswa agar masuk tepat waktu, mengenakan seragam sesuai dengan tata tertib, membiasakan berangkat sebelum jam 7, dan pada saat upacara selalu melaksanakan dengan khidmat, serta melaksanakan tugas tepat waktunya. bapak/ibu guru sekolah dasar muhammadiyah baturan telah berusaha agar siswa mempunyai sikap dan perilaku yang selalu tertib dan patuh terhadap ketentuan dan peraturan. hal ini sudah sesuai dengan tujuan dari pendidikan karakter yang dicanangkan oleh pemerintah untuk menanamkan nilai karakter pada siswa. upaya yang dilakukan oleh bapak/ ibu guru agar siswa mau bekerja keras yaitu mengajarkan kepada siswa untuk bersungguh-sungguh ketika mengikuti permainan dalam olah raga, memberikan hadiah kepada siswa yang bekerja keras agar siswa lain termotivasi untuk bekerja keras dan dalam pembelajaran, memberikan dorongan, petunjuk teknis dengan jelas. apabila dilihat dari deskripsi kerja keras di atas maka dapat dilihat bahwa yang sudah diterapkan oleh sekolah dasar muhammadiyah baturan adalah bersifat usaha agar siswa mempunyai sikap dan perilaku sungguh-sungguh dalam mengatasi 39membangun karakter siswa pendidikan dasar ... (ratnasari diah utami) issn 2406-8012 berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. apa yang diupayakan oleh pihak sekolah sudah sesuai dengan tujuan dari pendidikan karakter yang dicanangkan oleh pemerintah untuk menanamkan nilai karakter pada siswa. usaha yang dilakukan oleh bapak/ibu guru agar siswa memiliki sikap mandiri yaitu dengan memberikan pr untuk dikerjakan di rumah. guru dalam pembelajaran hanya membimbing dan mengarahkan, tidak membantu sepenuhnya. pada saat mengerjakan tugas, siswa tidak boleh meminjam alat tulis teman karena akan mengganggu aktivitas temannya. yang seluruh dilakukan oleh pihak kegaitan sekolah sudah sesuai dengan tujuan dari pendidikan karakter yang dicanangkan oleh pemerintah untuk menanamkan nilai karakter pada siswa. hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh althof dan berkowitz (2006).penelitian ini menunjukkan bahwa dengan melalui pendidikan selama beberapa waktu, maka karakter seseorang akan dapat terbentuk, salah satunya adalah sikap mandiri. selama mengikuti pendidikan, siswa akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik misalnya mandiri, belajar disiplin, tepat waktu, hormat dan patuh pada guru, menghargai teman, mencintai lingkungan, dan lain-lain. simpulan bapak dan ibu guru di sd muhammadiyah baturan telah berusaha mempersiapkan pembelajaran dengan model pembelajaran yang berkarakter, namun belum memiliki model yang tepat untuk memperkuat pendidikan karakter pada siswa. beberapa karakter yang sering ditanamkan oleh guru dalam pembelajaran diantaranya yaitu berani, disiplin, peduli lingkungan, peduli sosial, kerja keras, tanggung jawab, religius, percaya diri, kerjasama, kejujuran, mandiri, sopan santun, patuh terhadap instruksi guru, ketelitian, toleransi dan komunikatif. dalam usaha menanamkan karakter pada siswa, bapak/ibu guru di sd muhammadiyah baturan mengalami beberapa hambatan yang ditimbulkan baik oleh siswa sendiri, guru, maupun kurangnya dukungan dari pihak keluarga/orang tua dan lingkungan. daftar pustaka althof, w., & berkowitz,m.w. 2006. moral education & character education: their relationship and roles in citizenship education. journal of moral education, 35 (4), p.495-518 aslan, mecit. 2011.handbook of moral and character education,edt. larry p. nucci and darcia narvaez. international journal of instruction. vol.4, no.2, p.211-214 bungin, burhan. 2008. analisis data penelitian kualitatif. jakarta: raja grafi ndo persada. profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 32 4040 issn 2406-8012 departemen pendidikan nasional, direktrat jenderal pendidikan dasar dan menengah. undang-undang republik indonesia no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional hidayatullah, m.furqon. 2010. pendidikan karakter: membangun peradaban bangsa. surakarta: yuma perkasa kementerian pendidikan nasional, badan penelitian dan pengembangan pusatkurikulum. 2010. pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.jakarta: kemendiknas. lickona, thomas. 2013. pendidikan karakter: panduan lengkap mendidik siswa menjadi pintar dan baik. bandung: nusa media. moleong, lexy j. 2004. metodologi penelitian kualitatif edisi revisi. bandung: cv. remadja karya. pike, m.a. 2010. christianity and character education: faith in core values?. journal of belies & values: studies in religion & educaty. 31 (3). p. 311-312 samani, muchlas., hariyanto. 2012. konsep dan model pendidikan karakter. bandung: pt remaja rosdakarya. 23manajemen kurikulum dan pembelajaran bahasa indonesia ... (jurnaningsih, samino) issn 2406-8012 manajemen kurikulum dan pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura tahun 2013/2014 juminingsih1), samino2) 1 sdn 02 trangsan, gatak, sukoharjo juminingsih2@gmail.com 2 pgsd, fkip, universitas muhammadiyah surakarta sam224@ums.ac.id abstract the objective of this research was to describe: curriculum development and learning indonesian, curriculum implementation in learning indonesian and curriculum evaluation in learning indonesian in sdit muhammadiyah al kautsar kartasura. this study is a qualitative research. the research approach used in this study is a case study of data collection techniques used in this study are in-depth interviews, observation, and documentation. in developing the curriculum sdit muhammadiyah al kautsar kartasura have considered the principles or existing curriculum development theory. these principles are general principles and specifi c principles. the general principles include fl exibility, continuity, effectiveness, and practical. specifi c principles with regard to arranging goals, learning experiences, content and assessment. learning curriculum implementation in indonesian in sdit muhammadiyah al kautsar is the character education learning using learning model that is interesting and fun, which can increase the value of the character of students. character development curriculum that is implemented into the learning activities, extra-curricular activities of students, the fl agship program of the school, nursery competition and activities of daily student. curriculum evaluation to determine the effectiveness of the curriculum implemented in sdit muhammadiyah al kautsar in an effort to improve and enhance the curriculum. aspects of curriculum evaluation in sdit muhammadiyah al kautsar is appropriate stages of curriculum development stage is the determination of objectives, planning, testing, fi eld testing, implementation and quality control. keywords: management, curriculum, learning indonesian pendahuluan kualitas pendidikan di indonesia saat ini belum bisa dikatakan bagus bahkan cenderung memprihatinkan. data balitbang (2003) membuktikan bahwa dari 146.052 sd di indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia kategori the primary years program (pyp), dari 20.918 smp di indonesia hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia kategori the middle years program (myp) dan dari 8.036 sma hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia kategori the diploma program (dp) (tjipto subadi, 2010: 153). menurut mulyasa (2011: 7), dengan melihat realitas tersebut maka diperlukan pendidikan yang menghasilkan sdm yang berkemampuan dan berkemauan untuk meningkatkan kualitas secara berkesinambungan dan terus menerus. tujuan pendidikan adalah sebagai petunjuk arah, pembimbing, dan penuntun bagi anak didik untuk dapat tumbuh dewasa sesuai dengan potensi dan konsep diri yang sebenarnya. sehingga mereka dapat tumbuh, bersaing profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 23 3124 issn 2406-8012 dan mempertahankan kehidupannya di masa mendatang yang penuh perubahan dan tantangan. pendidikan juga bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang bertaqwa, beriman, berakhlak mulia, berilmu, sehat, kreatif, mandiri, cakap dan menjadi warga negara yang bertanggungjawab serta demokratis (dedy mulyasa, 2011: 4-5). proses pendidikan akan berjalan kondusif, interaktif, dan lancar jika dilandasi oleh dasar kurikulum yang baik dan benar. bisa dikatakan bahwa tujuan pendidikan dapat terlaksana jika kurikulum yang dijadikan dasar acuan relevan. dengan kata lain kurikulum dapat membawa ke arah tercapainya tujuan pendidikan (moh. yamin, 2009: 13-14). kurikulum adalah rencana tertulis tentang kemampuan yang harus dimiliki berdasarkan standar nasional, materi yang perlu dipelajari dan pengalaman belajar yang harus dijalani untuk mencapai kemampuan tersebut, dan evaluasi yang perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencapaian kemampuan peserta didik, serta seperangkat peraturan yang berkenaan dengan pengalaman belajar peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya pada satuan pendidikan tertentu (oemar hamalik, 2006:91). sdit muhammadiyah al kautsar merupakan salah satu contoh sekolah muhammadiyah yang terletak di desa gumpang, kartasura, sukoharjo. sekolah tersebut menawarkan inovasi dan pembaharuan kurikulum pendidikan dan pengajarannya. sdit muhammadiyah al kautsar secara teknis melakukan improvisasi pembelajaran dengan memadukan kurikulum dari kemendikbud dengan ciri khusus muhammadiyah dan untuk kualitas pembelajaran terbingkai dengan kurikulum islam terpadu. bahasa indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam pendidikan sekolah dasar. bahasa indonesia termasuk salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional. pembelajaran bahasa indonesia harus inovatif, kreatif, dan menyenangkan sehingga tujuan pembelajaran tercapai dan nilai ujian nasional yang diperoleh maksimal. pembelajaran bahasa indonesia sebagai subsistem dari sistem kegiatan pendidikan merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan integritas dan kepribadian bangsa melalui proses belajar mengajar. secara umum tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan tentang manajemen kurikulum dan pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura. secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan hal-hal sebagai berikut: 1) pengembangan kurikulum dan pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura; 2) implementasi kurikulum dalam pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura; 3) evaluasi kurikulum dalam pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura. penelitian ini memiliki manfaat, baik teoritis maupun praktis. secara teoritis hasil penelitian ini dapat bermanfaat dalam 25manajemen kurikulum dan pembelajaran bahasa indonesia ... (jurnaningsih, samino) issn 2406-8012 manajemen kurikulum yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa indonesia yang ada di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura, bahkan dapat untuk penelitian yang sejenis dan relevan sehingga dapat menunjang kurikulum yang sesuai dengan pembelajaran bahasa indonesia agar dapat meningkatkan kompetensi peserta didik. secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan masukan: 1) bagi guru bahasa indonesia yang ada di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura agar dapat mengimplementasikan kurikulum dalam proses belajar mengajar; 2) bagi sdit muhammadiyah al kautsar kartasura agar dapat menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dan standar kompetensi yang telah ditentukan; 3) bagi sdit muhammadiyah al kautsar kartasura agar dapat menemukan strategi yang tepat dalam implementasi pelaksanaan kurikulum yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa indonesia. selanjutnya bagi peneliti sendiri dapat mengimplementasikan pengetahuan yang didapat di perguruan tinggi terutama tentang penelitian pendidikan yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa indonesia. metode penelitian jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. sugiyono (2009:8) menyatakan jenis penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena dilakukan dalam kondisi alamiah. pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, yang mempelajari secara intensif latar belakang serta interaksi lingkungan yang menjadi subjek penelitian. penelitian di sdit muhammadiyah al kautsar dengan alamat jalan cendana ii rt 03 rw iii gumpang kartasura. penelitian di mulai dari bulan agustus sampai bulan desember 2013. data yang diambil peneliti adalah data mengenai pengembangan kurikulum dan pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura, implementasi kurikulum dalam pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura, dan evaluasi kurikulum dalam pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura. data yang muncul dalam penelitian kualitatif berupa kata demi kata bukan dalam bentuk angka (sutama, 2011:126). sumber data dalam penelitian ini, yakni: 1) kepala sekolah selaku pengembang kurikulum dan evaluasi kurikulum; 2) guru selaku implementasi kurikulum yang melakukan proses pembelajaran di dalam kelas; 3) dokumen pembelajaran guru yang meliputi prota dan promes, silabus serta rencana pelaksanaan pembelajaran. menurut sutopo (2006:50) nara sumber sangat berperan dalam penelitian kualitatif sebagai individu yang memiliki informasi. teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam (in-depht interview), observasi (observation), dan dokumentasi. wawancara dilakukan dengan pihak yang diwawancarai yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan guru-guru mata pelajaran bahasa indonesia profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 23 3126 issn 2406-8012 sdit muhammadiyah al kautsar kartasura. observasi dilakukan dalam bentuk observasi partisipasi pasif terhadap berbagai kegiatan yang terkait dengan pembelajaran bahasa indonesia sdit muhammadiyah al kautsar kartasura. peneliti melakukan observasi langsung saat peserta didik mengikuti pelajaran bahasa indonesia di ruang kelas. saat guru melaksanakan pembelajaran bahasa indonesia pada kelas v, dan interaksi yang terjadi selama proses pembelajaran. dokumentasi yang dilaksanakan dengan teknik mencatat dokumen yang sering disebut content analysis, yang digunakan untuk mengumpulkan data yang bersumber dari dokumen dan arsip tentang pelaksanaan kurikulum bahasa indonesia yang terdapat di sekolah serta yang dimiliki oleh guru kelas v. dokumen-dokumen di sekolah misalnya, nilai siswa, perangkat pembelajaran yang digunakan guru dalam proses pembelajaran, seperti: silabus, rpp, buku ajar, buku jurnal ,dan sebagainya. teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif (interactive model) yang terdiri dari kompeten data reduction, data display, dan conclusion drawing/verifi cation. untuk menguji keabsahan data dalam penelitian ini mengarah kepada triangulasi data yaitu pengumpulan data sejenis dengan menggunakan berbagai sumber data berbeda yang tersedia. untuk memperoleh kemantapan dan kebenaran serta keabsahan data, juga ditempuh review informan kunci. laporan penelitian di lihat oleh informan kunci untuk mengecek hasil penelitian yang sudah disusun sehingga dapat dipertanggungjawabkan. hasil penelitian dan pembahasan kurikulum yang dilaksanakan di sdit muhammadiyah al kautsar adalah kurikulum nasional yaitu kurtilas untuk kelas 1 dan 4, sedangkan untuk kelas 2,3,5, dan 6 menggunakan ktsp, kurikulum lokal, dan kemuhammadiyahan. sdit muhammadiyah al kautsar sejak tahun 2010 telah menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dalam pembelajaran bahasa indonesia dengan mengabungkan kurikulum nasional dengan kurikulum ciri khusus kemuhamadiyahan. proses penyusunan kurikulum di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura mencakup tiga prosedur utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan penyusunan kurikulum, dan pemberlakuan kurikulum. untuk proses penyusunan kurikulum ktsp di sdit muhammadiyah al kausar sebagai berikut: pengembangan kurikulum ktsp di sdit muhammadiyah al kausar mengacu pada prinsip-prinsip pengembangan ktsp yang terdiri dari 7 model. materi kurikulum merupakan gabungan antara kurikulum dari kementerian pendidikan dan kementerian agama republik indonesia. keleluasaan guru dalam pengembangan ktsp di lingkup rpp tidak boleh menyimpang dari silabus karena sebuah silabus disusun dengan memenuhi pertanyaan-pertanyaan: 1) apa yang kompetensi yang harus dikuasai siswa; 2) bagaimana cara mencapainya?; 3) bagaimana cara mengetahui pencapaiannya? 27manajemen kurikulum dan pembelajaran bahasa indonesia ... (jurnaningsih, samino) issn 2406-8012 proses penyusunan kurikulum dimulai dari pemetaan kompetensi dasar (kd) yang meliputi penjabaran standar kompetensi (sk) dan kompetensi dasar ke dalam indikator, menentukan tema dan identifi kasi. dilanjutkan dengan menetapkan jaringan yakni hubungan antara sk dan kd dengan tema, selanjutnya mulai menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp). pada penyusunan muatan kurikulum sdit muhammadiyah al kautsar berkoordinasi dengan k3s bersama sekolah lain. materi umum bisa dimasukkan, dengan catatan yang kurang sesuai tidak dipakai / diganti dengan materi yang sesuai dengan karakteristik dan kondisi sekolah sdit muhammadiyah al kautsar. pengembangan kurikulum di sdit muhammadiyah al kautsar memperhatikan tujuan pendidikan sekolah. berdasarkan tujuan tersebut maka buat program program unggulan yang terintegrasi pada proses pembelajaran. sdit muhammadiyah al kautsar bekerja sama dengan ums. ketika awal perencanaan maupun pengembangan kurikulum, pengurus dan beberapa bph dosen ums, diundang dan memberi masukan untuk sharing dan pertimbangan, selanjutnya sekolah yang menentukan dengan menyesuaikan dengan prinsipprinsip pengembangan kurikulum. sdit muhammadiyah al kautsar memberikan kebebasan kepada guru dalam memilih metode pembelajaran sesuai dengan kemampuan dan kreativitas guru. kepala sekolah memberi kesempatan kepada guru untuk mengembangkan sendiri materi dan metode pengajarannya. implementasi kurikulum dalam pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar diterapkan dalam kegiatan siswa seperti program ekstrakurikuler yaitu teater dan program unggulan dai cilik. selain itu, penerapan kurikulum dalam pembelajaran bahasa indonesia dilaksanakan dalam aktivitas sehari-hari seperti berkata sopan dengan bahasa indonesia yang baik dan benar ketika berbicara dengan kepala sekolah, guru, karyawan, kakak tingkat, maupun teman sebaya. implementasi ktsp dalam pembelajaran bahasa indonesia dalam program unggulan di sdit muhammadiyah al kautsar yaitu menyiapkan dai cilik dengan dilaksanakan program penjadwalan kultum berbahasa indonesia yang dilaksanakan setelah sholat dhuhur dengan audence siswa kelas 4, 5, dan 6. kegiatan ini bertujuan untuk pembiasaan berbicara atau berpidato di depan orang banyak dan melatih mental anak. evaluasi kurikulum setidaknya terkait dua hal yaitu evaluasi program dan evaluasi pembelajaran karena proses kurikulum berlangsung secara berkesinambungan yang merupakan keterpaduan dari dimensi pendidikan. secara umum sdit muhammadiyah al kautsar melalukan evaluasi terhadap implementasi kurikulum yang sudah dilakukan. evaluasi kurikulum juga dilaksanakan secara periodik yakni setiap pekan dan setiap bulan sekali pada sabtu-minggu terakhir oleh kepala sekolah. evaluasi kurikulum juga dilakukan oleh pengurus yaitu badan pelaksana harian. profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 23 3128 issn 2406-8012 penelitian yang relevan dalam penelitian ini, antara lain adalah dari mulyasa (2011) yang dalam penelitian ini menjelaskan adanya pembelajaran pendidikan karakter dengan menggunakan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, yang dapat meningkatkan nilai karakter siswa. penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian mulyasa yang mendeskripsikan adanya pengembangan materi pembelajaran, model pembelajaran serta penilaian yang otentik. keunggulan dari penelitian ini dibandingkan dengan penelitian terdahulu adalah pada penelitian ini terdapat pengembangan kurikulum berkarakter yang diimplementasikan ke dalam aktivitas pembelajaran, modul pembelajaran, serta pada evaluasi pembelajaran. fred c. lunenburg (2011), dari sam hauston state university melakukan penelitian tentang “key componen of curriculum plan: objectives, content, and learning experiences”, hasil penelitian adalah menghubungkan tiga komponen kurikulum, dimana pengembang kurikulum harus memperhatikan komponen kurikulum tersebut. m. akif helvaci pada tahun 2009 di turki melakukan penelitian tentang “an evaluation of changes in the curriculum in elementary school level in turkey”, hasil penelitian adalah evaluasi perubahan kurikulum pada kelas 1-5 di sekolah dasar. evaluasi ini menghasilkan peningkatan kualitas komunikasi, sikap positif, karakter personal, dan mengalami perubahan. pengembangan kurikulum di sdit muhammadiyah al kautsar kartasura dilaksanakan berdasarkan kurikulum nasional, dalam hal ini adalah kemendikbud (kementerian pendidikan dan kebudayaan) kemudian disusun secara sistematis dan terorganisasi dengan memperhatikan pondasi dan landasan sosiologis, fi losofi s , dan psikologis. pengembangan kurikulum sdit muhammadiyah al kautsar kartasura sudah mempertimbangkan prinsip-prinsip atau teori pengembangan kurikulum yang ada. prinsip tersebut adalah prinsip umum dan prinsip khusus. prinsip umum meliputi fl eksibilitas, kontinuitas, efektifi tas, dan praktis. prinsip khusus berkenaan dengan penyusunan tujuan, pengalaman belajar, isi dan penilaian implementasi kurikulum dalam pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar adalah adanya pembelajaran pendidikan karakter dengan menggunakan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, yang dapat meningkatkan nilai karakter siswa. pengembangan kurikulum berkarakter yang diimplementasikan ke dalam aktivitas pembelajaran, kegiatan ekstra kurikuler siswa, program unggulan sekolah, pembibitan lomba dan kegiatan siswa sehari-hari. evaluasi kurikulum untuk mengetahui efektifi tas kurikulum yang dilaksanakan di sdit muhammadiyah al kautsar dalam upaya memperbaiki serta menyempurnakan kurikulum. aspek-aspek evaluasi kurikulum di sdit muhammadiyah al kautsar sudah sesuai tahap tahap pengembangan kurikulum yaitu penentuan tujuan, perencanaan, ujicoba, uji lapangan, pelaksanaan dan 29manajemen kurikulum dan pembelajaran bahasa indonesia ... (jurnaningsih, samino) issn 2406-8012 pengawasan mutu. evaluasi kurikulum dalam pembelajaran bahasa indonesia berupa evaluasi proses pembelajaran yang direwiew oleh kepala sekolah. dan evaluasi pada hasil pembelajaran yaitu aspek pengetahuan, aspek afektif dan aspek psikomotorik siswa. aspek pengetahuan menunjukkan bahwa hasil pembelajaran siswa keseluruhan sudah berada di atas kkm, untuk aspek afektif terlihat pada nilai karakter yang di harapkan dalam rpp sudah sesuai dengan keadaan siswa. hasil penelitian pengembangan kurikulum di sdit muhammadiyah al kautsar selaras dengan penelitian fred c. lunenburg pada tahun 2011, dari sam hauston state university melakukan penelitian tentang “key componen of curriculum plan: objectives, content, and learning experiences”, hasil penelitian adalah menghubungkan tiga komponen kurikulum, dimana pengembang kurikulum harus memperhatikan komponen kurikulum tersebut. kompenen tersebut adalah perencanaan, pelaksanaan (implementasi) dan evaluasi. perencanaan kurikulum di sdit muhammadiyah al kautsar juga sama seperti penelitian grace meo pada tahun 2008 melakukan penelitian tentang “curriculum planning for all leaners: applying universal design for learning (udl) to a high school reading comprehension program”, hasil penelitiannya adalah perencanaan kurikulum yang menggunakan metode pal (planning for all leaner) meliputi empat langkah yaitu menentukan tujuan, metode, bahan ajar dan ujian. langkah langkah ini akan dilakukan saat kegiatan belajar mengajar bahasa indonesia dengan siswa di kelas v. implementasi kurikulum di sdit muhammadiyah al kautsar mempunyai kemiripan dengan penelitian christina bain & connie newton dari university of north texas pada tahun 2010 dengan judul penelitian “how do novice art teachers defi ne and implement meaningful curriculum?”, hasil penelitian adalah adanya budaya guru yang bermakna dan implementasinya dalam kurikulum. dengan menekankan hubungan antara kehidupan budaya siswa serta berkonsentrasi pada kualitas budaya siswa dengan membangun kepercayaan pada siswa. implementasi ini terlihat pada pembelajaran bahasa indonesia dan pada program-program unggulan sdit muhammadiyah al kautsar. evaluasi yang dilakukan di sdit muhammadiyah al kautsar menghasilkan peningkatan kualitas komunikasi, sikap positif, karakter personal siswa yang berdampak pada perubahan. hal ini selaras dengan penelitian m. akif helvaci pada tahun 2009 di turki melakukan penelitian tentang “an evaluation of changes in the curriculum in elementary school level in turkey”, hasil penelitian adalah evaluasi perubahan kurikulum pada kelas 1-5 di sekolah dasar . simpulan pengembangan kurikulum di sdit muhammadiyah al kausar dilaksanakan berdasarkan kurikulum nasional yaitu profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 23 3130 issn 2406-8012 kemendikbud yang disusun secara sistematis dan terorganisisai dengan memperhatikan pondasi fi losofi s, psikologis, dan sosiologis. pengembangan kurikulum juga sudah mempertimbangkan prinsipprinsip pengembangan dan melibatkan komponen pengembangan kurikulum. implementasi kurikulum dalam pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar diterapkan dalam proses kbm pembelajaran bahasa indonesia, yaitu pada kegiatan awal guru melakukan warming up untuk melakukan elaborasi kepada siswa, dalam kegiatan inti guru melakukan eksplorasi kepada siswa yang diselingi dengan ice breaking, serta pembentukan karakter siswa pada kegiatan penutup guru melakukan konfi rmasi sebagai followup dari kbm. implementasi juga dilaksanakan dalam kegiatan siswa seperti program ekstrakurikuler yaitu teater, program unggulan dai cilik, program unggulan penerapan budaya islami, pembibitan siswa untuk menghadapi lombalomba bahasa indonesia yang diadakan di tingkat kecamatan maupun kabupaten. evaluasi kurikulum dalam pembelajaran bahasa indonesia di sdit muhammadiyah al kautsar dilaksanakan pada ulangan harian setiap kompetensi dasar, pada kejuaraan-kejuaraan bahasa indonesia yang diadakan di tingkat kecamatan maupun kabupaten, dan mengamati karakter yang terbentuk pada siswa pada pembelajaran bahasa indonesia. evaluasi sudah dilaksanakan dengan mengakomodir proses pembelajaran dan hasil pembelajaran. hasil pembelajaran yang digunakan sebagai parameter adalah pengetahuan, afektif, dan psikomotorik siswa. daftar pustaka christina bain & connie newton et all. 2010. how do novice art teachers defi ne and implement meaningful curriculum?. journal proquest research library. deddy mulyasana,.2003. metodologi penelitian kualitatif. bandung: pt remaja rosdakarya fred.c. lunenburg. 2011. key components of curriculum plan: objectives, content and learning experiences.jurnal sam houston state university grace meo. 2008. curriculum planning for all leaners: applying universal design for learning (udl) to a high school reading comprehension program. journal center for applied special technology. helvalci, m. akif. 2009. an evaluationof changes in the curriculum in elementary school level in turkey. jurnal proquest research library. moh. yamin,. 2009. manajemen mutu kurikulum pendidikan. yogyakarta: diva press. mulyasa. 2011. menjadi guru profesional. bandung: pt remaja rosdakarya oemar hamalik,. 2009. evaluasi kurikulum. bandung: pt remaja rosdakarya sugiyono. 2008. metodologi penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta sutama . 2011. metode penelitian. surakarta:fairuz media 31manajemen kurikulum dan pembelajaran bahasa indonesia ... (jurnaningsih, samino) issn 2406-8012 sutopo. 2002. metodologi penelitian kualitatif. surakarta: sebelas maret university press tjipto subadi,. 2010. lesson studi berbasis ptk. surakarta:bp-fkip ums profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © universitas muhammadiyah surakarta 121 strategi think pair share dan jigsaw: manakah yang lebih efektif untuk kemampuan pemecahan masalah siswa? arief cahyo utomo 1* , zaenal abidin 2 , & henry aditia rigianti 3 1,2 universitas muhammadiyah surakarta, surakarta, indonesia 3 universitas pgri yogyakarta, yogyakarta, indonesia *email & phone: acu234@ums.ac.id; +628994547808 submitted: 2020-07-06 doi: 10.23917/ppd.v7i2.11404 accepted: 2020-12-02 published: 2020-12-20 keywords: abstract think pair share jigsaw problem solving this study aimed to find out the different of efectiveness of think pair share (tps) dan jigsaw learning model on problem solving ability of 6 th grade students. this study compared which has a greater effect on problem solving ability of 6 th grade students. this study was a quasy experiment. the subjects of this study were 6 th grade elementary school students in ngadirojo kidul, wonogiri, indonesia. data collection used were pretest dan post test technique. data analysis used was anova with t-test where previously preceded by prerequisite test (homogenity test dan normality test). the result of this study is there is difference between tps learning model dan jigsaw learning model. tps learning model has a greater influence in improving problem solving ability of 6 th grade elementary school students. pendahuluan kemampuan pemecahan masalah merupakan kecakapan atau ketrampilan menerapkan pengetahuan yang didapatkan sebelumnya untuk menghadapi situasi yang belum dikenalnya atau memecahkan masalah. pemecahan masalah merupakan sebuah proses yang dimulai dari tingkatan yang rendah (memahami) hingga merancang pelaksanaan dan penyelesesaian (schoenfeld, 2016). pemecahan masalah merupakan kemampuan yang dimiliki oleh semua orang dan terdapat tingkatan-tingkatan dari tingkatan yang rendah yaitu memahami hingga tingkatan merancang penyelesaian. oleh karena itu kemampuan pemecahan masalah sangat penting bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya. hal itu dikarenakan siswa pada akhirnya akan menghadapi berbagai permasalahan dalam dirinya dan mereka tidak dapat bergantung pada orang lain selain pada dirinya sendiri. siswa akan berusaha sendiri untuk memecahkan permasalahan serta memahami dan memaknai pentingnya pengetahuan yang didapatkannya sebelum maupun sesudah mengatasi permasalahnnya. siswa yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, akan dapat mengatasi permasalahan yang sama bahkan membantu siswa lainnya dalam menghadapi masalah selain itu, siswa akan mampu mengembangkan pengetahuannya untuk mendapatkan pemecahan masalah yang baru (trianto, 2007). utomo 1 , abidin 2 & rigianti 3 – strategi think pair share ... printed issn 2406-8012 122 pembelajaran dengan menggunakan strategi tipe jigsaw merupakan pembelajaran yang bersifat kooperatif dan fleksibel. terdapat lima poin utama yang mendukung pelaksanaan pembelajaran kooperatif yaitu; sikap saling ketergantungan yang positif, interaksi siswa terjadi secara langsung, tanggungjawab setiap siswa, keterampilan interpersonal dan kelompok kecil, serta pemrosesan informasi dalam kelompok (johnson dan johnson 1999). poin utama di dalam pembelajaran tipe jigsaw adalah pembelajaran yang dilakukan menggunakan model kelompok-kelompok sehingga dalam pembelajaran ini jumlah peserta yang digunakan harus dalam jumlah yang banyak. pengelompokkan di dalam pembelajaran tipe jigsaw bersifat heterogen sehingga siswa yang berkelompok berasal dari individu yang berbeda (pengetahuan dan pola pikir). masing-masing siswa nantinya akan membantu siswa lainnya dalam memahami materi yang diberikan. denagn demikian, setiap kelompok akan bertanggung jawab dalam topik atau materi yang ditugaskan oleh guru. dalam pembelajaran jigsaw, siswa dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasinya dan saling membantu. sesuai dengan hasil peelitian novi (2008) dimana penggunaan pembelajaran tipe jigsaw akan mampu meningkatkan kemampuan bertanggung jawab serta meningkatkan sikap kerja sama antar anggota kelompok. penelitian-peneltian yang berkaitan dengan pembelajaran tipe jigsaw telah banyak dilakukan di dunia pendidikan diantaranya penelitian yang dilakukan untuk membuktikan bahwa pembelajaran tipe jigsaw dapat digukan untuk meningkatkan kemampuan akademis siswa (carol, 1989). pembelajaran tipe jigsaw sangat sesuai apabila materi-materi yang diberikan oleh guru tidak terlalu banyak menggunakan rumus-rumus ataupun persamaan. pembelajaran tipe jigsaw ini sangat cocok digunakan untuk pembelajaran yang banyak mengandung teori. dengan banyak menggunakan teori, siswa akan semakin banyak membaca sebelum pembelajaran di kelas dilakukan. siswa akan mendapatkkan pengetahuan sebelumnya sebagai syarat untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. hal tersebut sangat sesuai dengan penerapan pembelajaran tipe jigsaw karena mengutamakan pengalaman siswa untuk saling berbagi informasi maupun saling membantu dalam kelompok. berdasarkan langkah-langkah pembelajaran tipe jigsaw dalam hedeen (2003), jigsaw menitikberatkan pada hubungan timbal balik antar siswa dalam sebuah kelompok guna pencapaian tujuan (mattingly dan vansickle 1991). selain itu, kegiatan yang dilakukan pada pembelajaran tipe jigsaw terbutkti dapat meningkatkan self-esteem siswa jika dibandingkan dengan tipe kooperatif lainnya (aronson dan bridgeman 1979). strategi tipe kooperatif lainnya adalah pembelajaran tipe think pair share (tps). mulyadi dan risminawati (2012) berpendaat bahwa pembelajaran tps adalah pembelajaran dimana menekankan pada prinsip kerja sama dan saling berbagi dengan siswa lainnya. kothiyal (2013) menjelaskan bahwa pemebelajaran tipe tps memiliki beberapa ciri khas yaitu keterlibatan yang interaktif dari siswa, pembelajaran kooperatif dan waktu tunggu. tps merupakan kegiatan yang mendorong siswa untuk memikirkan sebuah masalah yang kemudian dibagi dengan siswa lain. dalam strategi ini, siswa diminta untuk mengembangkan pemahaman konseptual yang mereka miliki tentang sebuah masalah dan mengembangkan opini (tint dan nyunt, 2015). pembelajaran tps ini memiliki sintak dimana guru menyajikan materi seperti biasa kemudian guru memberikan permassalahan kepada siswa. siswa diminta untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan dengan bekerja sama dengan siswa terdekatnya atau sebangkunya. kemudian diakhir pembelajaran siswa berpasang pasangan menyajikan hasil pemecahan persoalan yang diberikan tadi di depan kelas. ciri-ciri utama pembelajran tps adalah berpasang pasangan dan pemberian materi nya bersifat klasikan atau sekelas sama bukan perkelompok beda permasalahan (martha, emmanuel, dan seraphina 2015). sesuai vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 123 dengan sintak tersebut jika dikembangkan lagi akan terbentuk pembelajaran yang efektif dan efisien. jika sudah terbentuk pembelajaran yang kondusif maka tujuan pembelajaran pun akan tercapai dengan lancar. setiap tipe pembelajaran yang digunakan tentunya akan ada yang namanya kelebihan suatu tipe maupun juga kekurangannya. kelebihan dari strategi tps yaitu sebagai berikut: (1) dengan adanya kegiatan didalam pembelajarajan tps maka akan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam pembelajaran. (2) dalam berkelompok siswa juga diberikan waktu untuk lebih banyak berpikir mengenai permasalahan maupun topik yang diberikan sehingga akan ada interaksi saling membantu antar pasangan, (3) dengan berpasangan maka akan meningkatkan juga kemampuan kerja sama antar siswa sehingga menumbuhkan sikap toleransi. (4) dengan adanya kerja sama dan saling membantu maka siswa akan dipermudah dalam pemahaman siswa dan saling mengoreksi atau mengevaluasi ketika terjadi kesalahan. untuk kelemahan pembelajaran tps yaitu: (1) pembelajaran ini dimaksudkan bukan untuk kelas dalam skala besar sehingga jika diterapkan untuk kelas yang berskala besar maka guru akan mengalami kesulitan dalam membimbing setiap pasangan kelompok. (2) penambahan waktu yang cukup banyak jika kelompok pasangan terbentuk juga banyak dan juga setiap kelompok akan mendapatkan evaluasi dari guru sehingga membutuhkan tambahan waktu juga. (3) guru tidak akan dapat mengkoordinasi setiap siswa sehingga akan ada siswa yang menggantungkan pekerjaannya kepada siswa lain atau bergantung pada pasangannya. (4) kesulitan membentuk kelompok jika jumlah siswanya ganjil sehingga tipe pembelajaran ini akan berjalan jika jumlah anggotanya genap. pada saat penelitian pendahuluan di kelas vi sd negeri 3 dan 4 ngadirojo, masih terlihat guru meminta siswa mengerjakan soal-soal saja tanpa mengetahui tujuan untuk apa mengerjakan soal-soal tersebut. akibatnya para siswa tersebut merasa bosan dan kurang termotivasi. selain itu, siswa-siswa yang kurang mampu dalam mengerjakan soal tersebut akan merasa semakin tertekan dan tidak peduli lagi dengan pembelajaran. pada akhirnya pembelajaran kurang kondusif, siswa tidak aktif, dan enggan menyampaikan pendapatnya. hal-hal semacam itu akan terjadi kembali apabila dalam pembelajaran di dalam kelas hanya menggunakan metode diskusi, ceramah dan penugasan. tipe pembelajaran yang dapat digunakan untuk menciptakan suasana yang kondusif dan mampu untuk meningkatkan pemecahan masalah pada siswa diantarnya adalah tps dan jigsaw. menurut gok (2018) tps berkaitan erat dengan kemampuan konseptual siswa, kemampuan ini membantu siswa untuk menemukan konsep dalam upaya pemecahan masalah. sedang pembelajaran jigsaw juga menitikberatkan pada penemuan konsep secara sistematis melalui kegiatan kelompok (kusuma, 2018). kedua tipe pembelajaran tersebut merupakan contoh dari pembelajaran yang bersifat kooperatif yaitu saling membutuhnkan antar siswa dan saling membantu antar siswa. tipe pembelajaran kooperatif sangat mengedepankan kegiatan pembelajaran secara berkelompok, sehingga guru bukan merupakan narasumber tunggal dalam kelas (martalena, 2016). dengan begitu pembelajaran yang berorientasi pada guru maka akan berubah menjadi berpusat pada siswa an siswa juga menjadi aktif berdiskusi menyampaikan pendapatnya (tamah 2007). dengan adanya diskusi makan kelas menjadi mudah untuk diatur dan dikendalikan dan siswa nantinya akan merasakan bahwa meraka diberikan waktu yang cukup untuk berpikir dan merespon serta saling bantu membantu penelitian terkait pembelajran tps dan jigsaw beberapa kali dilakukan. namun begitu penelitian banyak berfokus pada kemampuan kognitif secara umum. penelitian pembelajaran tps dan jigsaw terkait kemampuan pemecahan masalah siswa bisa dikatakan masih sangat minim. terlebih lagi penelitian komparasi keefektifan di antara kedua pembelajaran tersebut. oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk utomo 1 , abidin 2 & rigianti 3 – strategi think pair share ... printed issn 2406-8012 124 membandingkan keefektifan dari tps dan jigsaw dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa sekolah dasar. metode penelitian penelitian ini termasuk dalam jenis penelitiian quasi eksperimen karena memberikan perlakuan tertentu terhadap sampel penelitian. penelitian ini dilaksanakan di sd negeri 3 ngadirojo sebagai kelas eksperimen 1 dengan tipe pembelajaran tps dan sd negeri 4 ngadirojo sebagai kelas ekspeimen 2 dengan tipe pembelajaran jigsaw. penelitian ini dilakukan selama 3 bulan dari bulan januari sampai maret 2020. subjek yang digunakan adalah siswa sd kelas 6 sebanyak 64 siswa. dalam penelitian ini kemampuan pemecahan masalah siswa merupakan variabel terikatnya. kemudian pembelajaran tps dan pembelajaran jigsaw merupakan variabel bebas atau perlakuan yang diterapkan. pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dan test. instrumen penelitian yang digunakan adalah berbentuk lembar observasi yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai terlaksananya secara benar tipe pembelajaran tps dan jigsaw. kemudian instrumen pretest dan postest soal-soal pilihan ganda untuk mengumpulkan data tentang hasil pemecahan masalah siswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah anova dengan menggunakan uji t dengan bantuan spss. hasil dan pembahasan dalam penelitian eksperimen terdapat uji prasyarat yang dilakukan terlebih dahulu. untuk membuktikan bahwa kedua kelas bersifat sama atau homogen maka dilaksanakan uji homogenitas dengan bantuan program spss. uji homogenitas dilakukan dengan metode uji f. berikut rangkuman uji homogenitas untuk kedua kelas eksperimen : tabel 1. uji homogenitas eksperimen 1 dan eksperimen 2 kelas n mean s fhitung f0,05; 14,22 keterangan eksperimen i 30 57 65,84 1,135 2,128 seimbang eksperimen ii 34 55,201 13,676 berdasarkan tabel 1 maka diketahui nilai rata-rata kedua kelas untuk kemampuan awalnya sebelum diberikan perlakuan yaitu 57 dan 55,201. untuk dikatakan homogen maka hasil dari f hitung harus lebih kecil dibandingkan f tabel. diketahui bahwa nilai f hitung < f tabel, yaitu 1,135 < 2,128, maka kesimpulannya adalah kedua kelas eksperimen tersebut bersifat homogen atau memiliki kemampuan yang sama sehingga kemampuan pemecahan siswa antara kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2 rata rata memiliki kemampuan yang sama. kemudian untuk uji prasyarat yang kedua adalah uji normalitas. yaitu digunakan sebelum dilaksanakan pembelajaran tps maupun jigsaw untuk mengetahui bahwa kemampuan pemecahan masalah untuk kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 bersifat normal. untuk melakukan uji normalitas menggunakan metode liliefors dengan bantuan program spss. untuk mengetahui apakah normal atau tidak maka l hitung harus lebih kecil dari pada l tabel. rangkuman hasil uji normalitas adalah sebagai berikut : tabel 2. hasil uji normalitas kelas eksperimen 1 dan 2 kelas lhitung ltabel keterangan eksperimen i 0,174 0,229 normal eksperimen ii 0,183 0,185 normal vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 125 berdasarkan hasil uji normalitas dengan metode liliefors didapatkan bahwa l hitung dari kelas eksperimen 1 dan 2 lebih kecil dari pada l tabel. oleh karena itu disimpulkan bahwa kelas eksperimen 1 dan 2 bersifat normal kemampuan pemecahan masalah siswa kelas eksperimen 1 dan 2 bersifat normal. berdasarkan hasil pos test atau setelah dilakukan perlakuan untuk kedua subjek penelitian diperoleh untuk hasil skor dari instrumen pemecahan masalah yang dikerjakan diperoleh sebagai berikut ini (lihat tabel 3 dan 4): tabel 3. hasil pemecahan masalah untuk kelas eksperimen 1 interval xi fi fk pesentase 71-76 73,5 6 6 20 % 77-82 76 7 13 23,33 % 83-88 83 11 24 36,67 % 89-94 90,5 6 30 20 % jumlah 30 100 % tabel 4. hasil pemecahan masalah pada kelas eksperimen 2 interval xi fi fk presentase 71-76 74,5 7 7 20,59 % 77-82 80 9 16 26,47% 83-88 87,5 14 30 41,18 % 89-94 93 4 34 11,76 % jumlah 34 100 % setelah uji prasyarat terpenuhi dan juga sudah mendapatkan data pemecahan masalah siswa setelah perlakuan maka selanjutnya adalah melakukan analisis data. analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan anova. uji anova menggunakan uji t utuk mencari perbedaan dari kedua tipe pembelajaran. berikut hasil rangkuman dari analisis data menggunakan uji anova dengan bantuan program spss. tabel 5 hasil uji hipotesis kelas rata-rata thitung t0,025;36 keterangan eksperimen i 87,067 2,653 2,399 h0 ditolak eksperimen ii 81,783 dari tabel 5 didapatkan rata rata dari kedua kelas eksperimen dengan tipe pembelajaran tps dan jigsaw. dari data tersebut diperoleh t hitung keduanya adalah 2,653 dimana jiaka dibandingkan deng t tabel maka lebih besar. dengan begitu dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan dari kedua tipe pembelajaran yang digunakan. sedangkan seberapa besar perbedaan diantara keduanya dapat dilihat dari kedua rata rata. rata-rata kelas eksperimen i lebih besar daripada rata-rata kelas eksperimen ii, yaitu 87,067 > 81,783. maka dengan begitu pembelajaran dengan menggunakan tipe pembelajaran tps lebih besar dari pada pembelajaran yang mengggunakan tipe jigsaw. pada dasarnya tipe pembelajaran tps dan jigsaw memiliki prinsip yang sama yaitu keduanya menekankan pembelajaran yang kooperatif. kedua tipe pembelajaran tersebut sama mementingkan kerja sama di dalam proses pembelajarannya. selain itu kedua pembelajaran juga memberikan materi yang sama pula dimana didalam kedua tipe pembelajaran tersebut sama sama menyajikan permasalah yang harus dipecahkan siswa. pada kedua pembelajaran tersebut siswa diminta untuk aktif berdiskusi dengan siswa utomo 1 , abidin 2 & rigianti 3 – strategi think pair share ... printed issn 2406-8012 126 lainnya dan membahas permasalah yang diberikan oleh guru secara bersama-sama tipe pembelajaran tps merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan berpasang-pasangan dengan teman sebangkunya. kemudian berdiskusi memecahkan masalah yang diberikan hingga akhirnya menyampaikan hasil diskusi dengan teman sebangku didepan kelas. dalam tipe ini ada pula dibagian akhir pembelajaran dibuatkan suatu hadiah bagi yang maju kedepan (risminawati dan kamulyan, 2012; zaini, 2007). tipe pembelajaran jigsaw adalah pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah siswa. hal tersebut dikarenakan dalam pembelajaran tipe jigsaw didalamnya guru dapat menyediakan masalah yang otentik sesuai dengan kehidupan siswa sehingga siswa dapat berpikir untuk menyelesaikan permasalahan. (risminawati dan kamulyan, 2012; zaini, 2007). hal itu sejalan dengan hasil penelitian di atas, di mana kemampuan awal dengan kemampuan setelah diberikan perlakuan yaitu tipe pembelajaran jigsaw berbeda. di dalam pembelajaran diperlukan guru yang dapat menyediakan ataupun memberikan suasana didalam kelas suasana menyenangkan oleh sebab itu guru sebaiknya menyediakan berbagai tipe pembelajaran untuk memfasilitasi siswa agar suasana menyenangkan tersebut dapat dilakukan. guru juga perlu mempertimbangkan kondisi dan perilaku yang ada pada diri siswa untuk memodifikasi pelaksanaan pembelajaran. (dimyati, 2013). hal tersebut sesuai dengan hasil di atas dimana dengan tipe pembelajaran tps dan jigsaw sangat memberikan bantuan kepada guru untuk menciptakan pembelajaran efektif dan efisien. berdasarkan uraian tersebut dan nilai yang didapatkan, hasil pemecahan masalah dengan menggunakan strategi tps mampu menumbuhkan partisipasi aktif siswa selama pembelajaran. siswa harus berpikir cepat, berpikir kritis dan tepat. setelah dibandingkan ternyata penerapan strategi tps di sd negeri 3 ngadirojo lebih baik daripada penerapan strategi jigsaw di sd negeri 4 ngadirojo. hasil penelitian ini sesuai dengan (umam, 2019) menjelaskan bahwa tps efektif dalam kemampuan pemecahan masalah. jika dibandingkan dengan jigsaw, maka jigsaw lebih banyak memerlukan persiapan dan dan koordinasi kelas yang baik agar dapat mengarahkan keterlibatan siswa secara maksimal (liao, griswold, dan porter 2018). hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata kelas iv sd negeri 3 ngadirojo lebih besar daripada kelas iv sd negeri 4 ngadirojo. pembelajaran yang menggunakan strategi tps dapat meningkatkan ketrampilan pemecahan masalah matematika dan keterampilan komunikasi matematika siswa (husna et al., 2013) hal tersebut juga membuktikan bahwa strategi tps juag memiliki kelebihan didalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada peserta didik. selain kemampuan pemecahan masalah didalam penelitian tersebut juga diungkapkan bahwa strategi tps juga dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika juga. kemudian untuk hasil dari penelitian yang lainnya juga menyebutkan bahwa kelompok yang menggunakan tps dalam pembelajaran tradisional memiliki efek positif serta strategi tps memiliki efek yang lebih signifikan terhadap kepercayaan diri dan keterampilan pemecahan masalah siswa (rifa’i dan lestari 2018) simpulan ada perbedaan pengaruh pembelajaran menggunakan strategi tps dengan strategi jigsaw terhadap kemampuan pemecahan masalah kelas vi sd negeri 3 ngadirojo dan sd negeri 4 ngadirojo. pada pembelajaran dengan menggunakan startegi tps memperoleh skor rata rata sebesar 87,067 sedangkan pada pembelajaran dengan menggunakan jigsaw memperoleh skor rata rata sebesar 81,783. oleh karena itu maka strategi tps lebih besar pengaruhnya dibanding strategi jigsaw terhadap kemampuan pemecahan masalah kelas vi sd negeri 3 ngadirojo dan sd negeri 4 ngadirojo. vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 127 daftar pustaka aronson, elliot, dan diane bridgeman. (1979). “jigsaw groups dan the desegregated classroom: in pursuit of common goals.” personality dan social psychology bulletin 5(4): 438–46. http://journals.sagepub.com/doi/10.1177/014616727900500405. dimyati dan mudjiono. (2013). belajar dan pembelajaran. jakarta: rineka cipta. gok, tolga. (2018). “the evaluation of conceptual learning dan epistemological beliefs on physics learning by think-pair-share.” journal of education in science, environment dan health 4(1): 69–80.doi: 10.21891/jeseh.387489 hedeen, timothy. (2003). “the reverse jigsaw: a process of cooperative learning dan discussion.” teaching sociology 31(3): 325–32.doi 10.2307/3211330 husna et al. (2013). “peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi matematis siswa sekolah menengah pertama melalui model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share (tps) magister pendidikan matematika program pascasarjana unsyiah banda aceh 2).” jurnal peluang. http://jurnal.unsyiah.ac.id/peluang/article/view/1061/997 johnson, david w., dan roger t. johnson. (1999). “making cooperative learning work.” theory into practice 38(2): 67–73. doi: 10.1080/00405849909543834 kothiyal, aditi, rwitajit majumdar, sahana murthy, dan sridhar iyer. (2013). “effect of think-pair-share in a large cs1 class: 83% sustained engagement.” icer 2013 proceedings of the 2013 acm conference on international computing education research: 137–44.doi: 10.1145/2493394.2493408 kusuma, ardi wira. (2018). “meningkatkan kerjasama siswa dengan metode jigsaw.” konselor 7(1): 26–30. doi: 10.24036/02018718458-0-00 liao, soohyun nam, william g. griswold, dan leo porter. (2018). “classroom experience report on jigsaw learning.” annual conference on innovation dan technology in computer science education, iticse: 302–7.doi: 10.1145/3197091.3197118 martalena. (2016). “meningkatkan hasil belajar matematika siswa siswa kelas v melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.” jurnal educatio 2(1): 52– 58.doi: 10.29210/12016232 martha, chianson, o’kwu emmanuel, dan kurumeh seraphina. (2015). “effect of thinkpair-share strategy on secondary school mathematics students’ achievement dan academic self-esteem in fractions.” aijcsr 2(2): 141– 47.http://www.aijcsr.com/index.php/aij/article/view/71 mattingly, robert m, dan ronald l vansickle. (1991). “the attainment of social studies with a jigsaw type cooperative learning model.” journal resume 22(33): 348– 267.http://eric.ed.gov/?id=ed348267 rifa’i, a., dan h. p. lestari. (2018). “the effect of think pair share (tps) using scientific approach on students’ self-confidence dan mathematical problem-solving.” in journal of physics: conference series,.doi: 10.1088/1742-6596/9983/1/012084 schoenfeld, alan h. (2016). “learning to think mathematically: problem solving, metacognition, dan sense making in mathematics (reprint).” journal of education 196(2): 1–38.doi: 10.1177/002205741619600202 tamah, siti mina. (2007). “jigsaw technique in reading class of young learners: revealing students’ interaction.” online submission. http://repository.uksw.edu/handle/123456789/107 tint, san san, dan ei ei nyunt. (2015). “collaborative learning with think-pair -share technique.” computer applications: an international journal 2(1): 1–11.doi: 10.5121/caij.2015.2101 umam, syaiful rohim dan khoerul. (2019). “the effect of problem-posing dan think-pairshare learning models on students’ mathematical problem-solving skills dan mathematical communication skills.” 4(3): 287–91.doi: 10.26737/jetl.v4i2.803 utomo 1 , abidin 2 & rigianti 3 – strategi think pair share ... printed issn 2406-8012 128 mulyadi dan risminawati. (2012). model – model pembelajaran inovatif di sekolah dasar. surakarta : bp – fkip ums. surtikanti dan joko santoso. (2009). strategi belajar mengajar. surakarta: bp-fkip ums. yanti. (2014). “peningkatan keaktifan dalam hasil pemecahan masalah materi lingkungan alam dan buatan melalui metode problem based intruction (pbi) pada siswa kelas iii semester i sdn 3 grobogan tahun pelajaran 2013/2014”. skripsi. surakarta:fkip ums (tidak diterbitkan). zaini dkk. (2007). staretgi pembelajaran. yogyakarta: ctsd (center for teaching staff development). profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 68 7668 issn 2406-8012 implementasi pendidikan ramah anak dalam pembentukan karakter siswa kelas rendah sd muhammadiyah program khusus kotta barat tahun pelajaran 2013/ 2014 risminawati1), siti nur rofi ’ah2) 1,2fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta ris286@ums.ac.id abstract this study aims to determine the implementation of child-friendly education in shaping the character of low-grade elementary school students at muhammadiyah special programme in the academic year 2013/2014. this research is qualitative research. the subjects of the study were low-grade teachers and students. research procedure includes several phases: pre-fi eld, phase fi eld activities, and post-fi eld.the data collection used are interviews, observation, fi eld notes and documentation. data is analized through descriptive qualitative: data reduction, data display and verifi cation to draw conclusions. the fi ndings inform that the child-friendly education is done through routinity, exemplary teachers, the learning process and the advice given to students. constraints in the character formation are parenting, environment and the increasing of sophisticated technology. solutions are done through home visit, through books liaison and communication with parents. the conclusion from this study is the implementation of child-friendly education in shaping the character of low grade students performed in a variety of activities both inside and outside the learning process of the learning process. child-friendly education is done in sd muhammadiyah special program kotta west can shape the character of students. keywords: implementation, child-friendly education, character pendahuluan anak sebagai generasi penerus bangsa sering kali menjadi ajang kekerasan atas problematika yang dialami guru maupun orang tua. anak juga sering menjadi pelampiasan kekerasan, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar. peringatan dan hukuman sering dilakukan guru kepada anak didik yang dianggap nakal dengan tujuan untuk memberikan efek jera agar perbuatan tersebut tidak diulang lagi. peringatan tersebut dilakukan dengan ucapan (bahkan bentakan), sedangkan hukuman dilakukan dengan mencubit, menjewer dan ada juga yang dikeluarkan dari dalam kelas. hasil temuan kpai pada tahun 2012 mencatat dari 1026 responden anak sd/ mi, smp/mts dan sma/man di sembilan propinsi, 87,6 persen anak mengaku mengalami tindak kekerasan baik kekerasan fi sik dan psikis di sekolah mulai dari dijewer, dipukul, dibentak, dihina, diberi stigma negatif hingga dilukai dengan benda tajam (wardah, 2012: http://m.voaindonesia.com/). praktisi pendidikan khususnya pemerintah telah berusaha menghidupkan kembali aktivitas pendidikan melalui cara-cara pendidikan yang betul-betul mencerdaskan dan dapat dinikmati oleh anak didik. hal ini terbukti dengan dikeluarkannya 69implementasi pendidikan ramah anak ... (risminawati, siti nur rofi ’ah) issn 2406-8012 kebijakan-kebijakan pendidikan nasional oleh depdiknas, sebagaimana telah dijelaskan dalam uu sisdiknas pasal 40 ayat 2 yang berbunyi, “pendidikan dan tenaga kependidikan berkewajiban untuk menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, kreatif, dinamis dan dialogis.” pendidikan ramah anak di sekolah dapat dijadikan kebijakan nasional sebagai bentuk penanganan dari berbagai kasus tersebut yang dapat diimplementasikan di seluruh sekolah di indonesia, dengan didukung oleh struktur, aparatur dan program berkelanjutan berbasis integrasi prinsip penyelenggaraan pendidikan yang menghormati hak asasi manusia (ham) dan prinsip perlindungan anak (wardah, 2012: http://m.voaindonesia.com). pendapat lain dikemukakan oleh senowarsito dan ulumudin (2012) pendidikan ramah anak adalah pendidikan yang berdasarkan prinsip 3p dalam proses pembelajarannya. prinsip 3p tersebut diantaranya pertama ialah provisi yang memiliki arti ketersediaannya kebutuhan anak seperti cinta/kasih sayang, makanan, kesehatan, pendidikan dan rekreasi. kedua ialah proteksi yang memiiki arti perlindungan terhadap anak dari ancaman, diskriminasi, hukuman, salah perlakuan dan segala bentuk pelecehan serta kebijakan yang kurang tepat. serta prinsip terakhir ialah partisipasi. partisipasi ini ialah hak untuk bertindak yang digunakan siswa untuk mengungkapkan kebebasan berpendapat, bertanya, berargumentasi, berperan aktif di kelas dan di sekolah pendidikan ramah anak yang diimplementasikan di sekolah secara langsung maupun tidak langsung akan membentuk karakter siswa. menurut hidayatullah (2010:13), “karakter adalah kualitas atau kekuatan mental dan moral atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong dan penggerak serta membedakan individu yang lain”. pendidikan karakter tidak saja merupakan tuntutan undang-undang dan peraturan pemerintah, tetapi juga oleh agama. setiap agama mengajarkan karakter atau akhlak pada pemeluknya. dalam islam, akhlak merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar ajaran nya yang memiliki kedudukan yang sangat penting, di samping dua kerangka dasar lainnya, yaitu aqidah dan syariah. nabi muhammad saw dalam salah satu sabdanya mengisyaratkan bahwa kehadiran nya di muka bumi ini membawa misi pokok untuk menyempurnakan akhlak manusia yang mulia. akhlak karimah merupakan sistem perilaku yang diwajibkan dalam agama islam melalui nash al-quran dan hadis (forniawan, 2012). dikti (forniawan, 2012) menyatakan bahwa pendidikan karakter dilakukan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. salah satu misi dari sd muhammadiyah program khusus kotta profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 68 7670 issn 2406-8012 barat mengupayakan terbentuknya manusia muslim yang berkualitas ulul albab dan berkarakter islami. persoalan yang berkaitan dengan karakter terdapat juga di lingkungan sd muhammadiyah program khusus kotta barat. sikap dan perilaku siswa di sana sangat beragam, hal tersebut disebabkan dari pola asuh orang tua dirumah dan lingkungan sekitar. kondisi keluarga yang sebagian besar orang tuanya banyak kesibukan di luar rumah, menjadikan siswa kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya sehingga akan mudah terpengaruh oleh hal – hal yang kurang baik dari lingkunan sekitarnya. demikian diungkapkan bapak nur salam, s.fil.i yang merupakan kepala sekolah di sd tersebut. sd muhammadiyah program khusus kotta barat merupakan salah satu sekolah yang menerapkan pendidikan ramah anak, hal tersebut bertujuan agar anak dapat belajar dengan suasana yang menyenangkan tanpa terbebani, untuk menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi siswa, dapat tercapainya tujuan pendidikan secara maksimal, dan lainlain. oleh karena itu sd muhammadiyah program khusus kotta barat mendesain pendidikan ramah anak sedemikian rupa dengan penerapan metode-metode yang beragam serta pengelolaan kelas yang menyenangkan, didukung pula dengan penanaman nilai-nilai positif oleh segenap tenaga kependidikan. oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengangkat masalah tersebut dengan judul: “implementasi pendidikan ramah anak dalam pembentukan karakter siswa kelas rendah sd muhammadiyah program khusus kotta barat tahun pelajaran 2013/2014”. berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. bagaimanakah implementasi pendidikan ramah di sd muhammadiyah program khusus kotta barat? 2. bagaimana upaya pembentukan karakter melalui pendidikan ramah anak pada siswa kelas rendah di sd muhammadiyah program khusus kotta barat? 3. bagaimana kendala dan solusi dalam pembentukan karakter siswa kelas rendah di sd muhammadiyah program khusus kotta barat. metode penelitian penelitian ini dilakukan di sd muhammadiyah program khusus kottabarat surakarta tahun pelajaran 2013/ 2014. jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. pada penelitian kualitatif data yang dikumpulkan umumnya berbentuk katakata, gambar-gambar dan kebanyakan bukan angka-angka. deskripsi atau narasi tertulis sangat penting dalam pendekatan kualitatif, baik dalam pencatatan data maupun untuk penyebaran hasil penelitian (danim, 2002: 138). subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas rendah dan guru yang mengajar kelas rendah sd muhammadiyah program khusus kottabarat. sumber data diperoleh melalui kepala sekolah, guru71implementasi pendidikan ramah anak ... (risminawati, siti nur rofi ’ah) issn 2406-8012 guru yang mengajar dan kelas rendah di sd muhammadiyah program khusus kottabarat. dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada kondisi yang alamiah, sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi dan wawancara mendalam (sugiono, 2008: 309). teknik pengumpulan data meliputi: observasi, wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. dalam pengumpulan data peneliti sebagai instrumen utama dengan dibantu oleh guru kelas untuk menjaga keabsahan data. penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi. tujuan trianggulasi digunakan oleh para peneliti kualitatif adalah untuk melakukan cross check data yang diperoleh dari lapangan. teknik analisis data yang dilakukan yaitu analisis kualitatif. fenomena yang nampak ditanyakan dan dikembangkan melalui wawancara mendalam kepada informan. pada penelitian ini analisis data dilaksanakan dan dikembangkan selama proses refl eksi sampai proses penyusunan laporan (setyaningsih, 2012). analisis data dilakukan dalam tiga kegiatan yang saling terkait yaitu: mereduksi data, menampilkan data, verifi kasi untuk menarik kesimpulan. proses penelitian disajikan menurut tahaptahapnya, yaitu: tahap pra-lapangan, tahap kegiatan lapangan dan tahap pasca lapangan. hasil penelitian dan pembahasan implentasi pendidikan ramah anak di sd muhammadiyah program khusus kotta barat tahun pelajaran 2013/2014 pendidikan ramah anak sebenarnya telah ditanamkan sejak sekolah ini didirikan, namun baru dinamai dengan sebutan “ramah anak” setelah melakukan studi banding di swedia. menurut senowarsito dan ulumudin (2012) pendidikan ramah anak adalah pendidikan yang berdasarkan prinsip 3p dalam proses pembelajarannya.prinsip 3p tersebut diantaranya pertama ialah provisi yang memiliki arti ketersediaannya kebutuhan anak seperti cinta/kasih sayang, makanan, kesehatan, pendidikan dan rekreasi. kedua ialah proteksi yang memiiki arti perlindungan terhadap anak dari ancaman, diskriminasi, hukuman, salah perlakuan dan segala bentuk pelecehan serta kebijakan yang kurang tepat. serta prinsip terakhir ialah partisipasi. partisipasi ini ialah hak untuk bertindak yang digunakan siswa untuk mengungkapkan kebebasan berpendapat, bertanya, berargumentasi, berperan aktif di kelas dan di sekolah. pengertian lain dikemukakan oleh kristanto, dkk (2011) mengenai pendidikan ramah anak yaitu pendidikan yang terbuka melibatkan anak dan remaja untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, serta mendorong tumbuh kembang dan kesejahteraan anak. sebagaimana yang telah diatur dalam pasal 4 uu no.23/2002 tentang perlindungan anak bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup tumbuh, berkembang, dan profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 68 7672 issn 2406-8012 berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dan kekerasan dan diskriminasi. salah satu hak dasar anak tersebut adalah hak berpartisipasi yang diartikan sebagai hak untuk mengeluarkan pendapat dan didengarkan suaranya. salah satu sekolah dasar yang telah menerapkan pendidikan ramah anak salah satunya adalah sd muhammadiyah program khusus di kotta barat. implementasi dapat ditunjukkan dari hasil wawancara dengan kepala sekolah dan para guru. menurut bapak nur salam selaku kepala sekolah pada hari selasa, 12 november 2013 mengungkapkan bahwa “pendidikan ramah anak merupakan pemenuhan hak-hak anak yang disesuaikan dengan umur atau tingkat perkembangannya. pendidikan ramah anak dilakukan dengan cara guru masuk dalam dunia anak”. bapak pungki indiarto pada hari jumat, 15 november 2013 mengemukakan bahwa “pendidikan ramah anak adalah pendidikan yang berbasis anak sebagai objek dan guru sebagai pelakunya. penerapan tersebut dilakukan dengan cara ketika terdengar adzan berkumandang guru mengingatkan siswa untuk melaksanakan ibadah sholat”. pendapat tersebut sesuai dengan hasil penelitian shabahatul munawarah (2009) yang berjudul “pola pembentukan karakter melalui pendidikan ramah anak dalam pai”. penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan penerapan konsep pendidikan ramah anak baik secara umum maupun dalam pendidikan islam memiliki tujuan yang sama yaitu untuk membentuk anak yang berkarakter positif (akhlaqul karimah) dengan pendekatan kasih sayang dan berbasis humanistik. penerapan pendidikan ramah anak dengan memberi kebebasan dan memberikan perilaku yang baik terhadap siswa diungkapkan oleh bapak wahyu purwanto pada hari kamis, 21 november 2013 yang mengemukakan bahwa “pendidikan ramah anak merupakan pendidikan yang memfasilitasi anak. siswa diberi kebebasan berpendapat dan memilih ekstrakulikuler yang akan diikuti sesuai dengan bakat dan minat. selain itu guru memberikan contoh untuk tidak melakukan tindakan fi sik kepada siswa yang melakukan pelanggaran. apabila siswa melakukan pelanggaran guru cukup menasehati dan memberikan peringatan lisan.” penerapan ramah anak dengan cara memotivasi anak diungkapkan oleh ibu diyah andriyani yang mengungkapkan bahwa “pada awal pelajaran guru menceritakan suatu kisah yang senang maupun sedih sehingga siswa akan termotivasi dan mengambil pembelajarannya”. berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa implementasi pendidikan ramah anak di sd muhammadiyah program khusus kottabarat terlihat dalam kegiatan pembiasaan sholat berjamaah, keteladanan guru dalam sikap dan berperilaku, menghargai pendapat dan memotivasi siswa dalam proses pembelajaran. 73implementasi pendidikan ramah anak ... (risminawati, siti nur rofi ’ah) issn 2406-8012 upaya pembentukan karakter melalui pendidikan ramah anak pada siswa kelas rendah di sd muhammadiyah program khusus kotta barat sd muhammadiyah program khusus kotta barat telah mengupayakan pembentukan karakter melalui pendidikan ramah anak. pembentukan karakter di sd muhammadiyah program khusus kotta barat ini lebih mengutamakan dalam pembentukan karakter islam sesuai dengan misi sekolah “mengupayakan terbentuknya manusia muslim yang berkualitas ulul albab dan berkarakter islami dan melaksanakan proses belajar mengajar yang dijiwai oleh pendidikan syariah”. hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru. bapak wahyu purwanto pada hari kamis 21 november 2013 bahwa “pembentukan karakter siswa dilakukan melalui pembiasaan dalam kehidupaan sehari-hari yang sesuai syariah diantaranya melatih ketaqwaan melalui program tahfi dz, iqro, sholat berjamaah dan berdoa setiap harinya, menanamkan tanggung jawab dengan mengajarkan membuang sampah pada tempatnya, dan mengajarkan kerjasama dengan belajar kelompok untuk mengerjakan tugas dari guru”. pendapat tersebut senada dengan hasil penelitian ana sri setyasih (2012) yang berjudul “kontribusi guru dalam pembentukan karakter melalui pendidikan ramah anak pada siswa kelas iv sd negeri 2 sribit tahun ajaran 2011/2012” hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode yang digunakan oleh guru sd n 2 sribit dalam membentuk karakter siswa adalah ucapan tutur kata, pembiasaan, contoh teladan, dan pendekatan. pembentukan karakter dikemukakan oleh ibu diyah andriyani pada hari selasa, 12 november 2013 yang mengemukakan bahwa “beberapa karakter yang ditanamkan terhadap siswa diantaranya kedisiplinan yang dilakukan dengan siswa wajib berbaris di depan kelas sebelum masuk ruang kelas, membentuk karakter kepemimpinan dengan mengajarkan siswa secara bergantian menjadi imam sholat dan pemimpin barisan, membentuk karakter kemandirian dengan membiasakan siswa mencuci piring setelah makan dan membeli sendiri peralatan sekolah, membentuk sikap qonaah dengan menerima snack dan makan siang yang disiapkan oleh sekolah.” selain itu sekolah menerapkan upaya terhadap siswa dengan melibatkan dalam kebijakan sekolah. hal ini dapat diketahui dalam wawancara bapak nur salam pada hari selasa, 12 november 2013 yang mengungkapkan bahwa “pembentukan karakter siswa selalu dilibatkan dalam penentuan kebijakan sekolah diantaranya siswa turut menentukan sangsi dalam pembuatan tata tertib, penentuan snack dan makan siang setiap harinya, penerimaan guru baru, kebebasan bertanya mengenai materi yang disampaikan baik didalam maupun di luar proses pembelajaran, dan penentuan lokasi untuk praktek pengalaman lapangan”. berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa upaya pembentukan karakter melalui pendidikan ramah anak pada siswa kelas rendah di sd muhammadiyah profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 68 7674 issn 2406-8012 program khusus kotta barat dengan berbagai cara diantaranya melibatkan siswa dalam berbagai kebijakan sekolah dan memberikan kegiatan yang dapat membentuk sikap kepemimpinan, disiplin, qonaah, taqwa, tanggung jawab serta dapat bekerjasama. kendala dan solusi dalam pembentukan karakter siswa kelas rendah di sd muhammadiyah program khusus kotta barat. dikti (dalam forniawan, 2012 :7) telah menetapkan tujuan pendidikan karakter ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. dengan ditetapkannya tujuan tersebut diharapkan para guru dapat menerapkan hal tersebut kepada siswa. namun ketika tujuan telah ditetapkan terkadang dalam pelaksanaan dilapangan terdapat kendalakendala yang menghambat tercapainya tujuan pembentukan karakter. seperti halnya sd muhammadiyah program khusus kotta barat. dalam pelaksanaan pembentukan karakter guru sering mengalami kendala-kendala. kendala tersebut dapat ditunjukkan dalam wawancara dengan guru sd muhammadiyah program khusus kotta barat. menurut bapak wahyu purwanto pada hari kamis, 21 november 2013 kendala-kendala yang terjadi ialah adanya perbedaan pola asuh siswa di rumah dan di sekolah dan pengaruh canggihnya tekhnologi yang terkadang berpengaruh negatif bagi anak. wawancara lain mengungkapkan kendala-kendala tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. hal tersebut dapat ditunjukkan dari ungkapan bapak nur salam pada selasa, 12 november 2013 ada tiga faktor yang menyebabkan kendala pembentukan karakter siswa diantaranya pola asuh orang tua, lingkungan sekitar baik di rumah maupun di sekolah dan teknologi modern yang membuat siswa dapat menyaksikan segala sesuatu yang sebetulnya tidak pantas baginya. meskipun berbagai kendala dialami namun sekolah memiliki solusi untuk masalah tersebut. solusi tersebut dapat ditunjukkan dalam wawancara dengan ibu khotimah nurul aini kamis, 14 november 2013 yang mengungkapkan bahwa kendala tersebut ditangani dengan cara melakukan guru berkunjung ke rumah siswa untuk mengenal keluarga siswa dan berdiskusi mengenai keadaan siswa. solusi selanjutnya menggunakan buku penghubung. buku penghubung ini digunakan untuk informasi yang diberikan guru kepada siswa mengenai informasi-informasi kegiatan-kegiatan siswa. solusi terakhir guru mengkomunikasikan segala informasi mengenai siswa kepada orang tua melalui media sms dan telepon. solusi tersebut sejalan dengan noor (2012:45-50) yang menyatakan bahwa nilai karakter dapat berkembang dalam lingkup pendidikan baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah. berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kendala pembentukan 75implementasi pendidikan ramah anak ... (risminawati, siti nur rofi ’ah) issn 2406-8012 karakter siswa adalah adanya perbedaan pola asuh siswa di rumah dan di sekolah dan pengaruh canggihnya tekhnologi yang terkadang berpengaruh negatif bagi anak. kendala dalam pembentukan karakter siswa ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pola asuh orang tua, lingkungan sekitar dan teknologi modern. dalam mengatasi kendala yang terjadi sekolah mengatasinya dengan cara mengadakan home visit, menggunakan buku penghubung yang berisi kegiatan siswa dan mengkomunikasikan kegiatan siswa melalui sms dan telepon. simpulan implementasi pendidikan ramah anak dalam pembentukan karakter siswa kelas rendah telah diimplementasikan sd muhammadiyah program khusus kotta barat dengan melaksanakan kegiatan yang dapat membentuk sikap kepemimpinan, disiplin, qonaah, taqwa, tanggung jawab serta dapat bekerjasama. serta guru memberikan keteladanan dengan menghargai pendapat dan memotivasi siswa dalam proses pembelajaran. dalam upaya pembentukan karakter siswa kelas rendah sd muhammadiyah program khusus kotta barat ini masih mengalami kendala-kendala. kendala tersebut diantaranya perbedaan pola asuh siswa di rumah dan di sekolah dan pengaruh canggihnya tekhnologi yang terkadang berpengaruh negatif bagi anak. kendala dalam pembentukan karakter siswa ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pola asuh orang tua, lingkungan sekitar dan teknologi modern. meskipun demikian sd muhammadiyah program khusus kotta barat memiliki solusi untuk mengatasi berbagai kendala yang terjadi. solusi tersebut diatasi dengan cara mengadakan home visit, menggunakan buku penghubung yang berisi kegiatan siswa dan mengkomunikasikan kegiatan siswa melalui sms dan telepon. daftar pustaka danim, sudarnawan. 2002. menjadi peneliti kualitatif (ancaman metodologi, presentasi, dan publikasi hasil penelitian untuk mahasiswa dan peneliti pemula bidang ilmuilmu sosial, pendidikan dan humaniora). bandung. pustaka setia departemen pendidikan nasional. 2006. peraturan menteri pendidikan nasional nomor 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi kelulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. jakarta forniawan, ari. 2012. “fungsi dan tujuan pendidikan karakter terhadap pendidikan nasional”. artikel ilmiah. fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. universitas muhammadiyah metro kristanto, khasanah, i dan karmila, m. 2011. identifi kasi model sekolah ramah anak (sra) jenjang satuan pendidikan anak usia dini se-kecamatan semarang selatan. jurnal penelitian paudia, volume 1 no. 1 2011 munawarah, shahabatul. 2009. “pola pembentukan karakter melalui pendidikan ramah anak dalam pai”.skripsi. surakarta profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 68 7676 issn 2406-8012 noor, rohinah m. 2012. mengembangkan karakter anak secara efektif di sekolah dan di rumah. yogyakarta. pustaka insan madani senowarsito dan arisul, ulumuddin. 2012. implementasi pendidikan ramahaanak dalam konteksmembangun karakter siswa di sekolah dasar negeri di kota semarang. media penelitian pendidikan volume 6 no.1 setyaningsih, ana sri. 2012. “kontribusigguru dalam pembentukan karakter melalui pendidikan ramah anak pada siswa kelas iv sd negeri 2 sribit tahun ajaran 2011/ 2012”. skripsi. surakarta: fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta sugiyono. 2007. memahami penelitian kualitatif. bandung: alfabeta wardah, fathiyah. 2012. “kpai imbau pemerintah lebih serius atasi kekerasan anak dalam lingkup pendidikan” (online). (http://m.voaindonesia.com/a/1562622.html) jurnal pgsd vol 2 no 2 des 2015.indd profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 95 10295 issn 2406-8012 keterampilan proses sains dan pembelajaran ipa di sekolah dasar (telaah buku siswa kelas iv sd tema 2 karya sumini) anatri desstya pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta anatri.desstya@ums.ac.id abstract the purpose of this research was to determine aspects of applied learning approach based on science process skills as a way to transfer material science for students in elementary school. the method used is the method of library research. the collection and review of reference indicators for science process skills is then connected to the science material in the student book iv theme 2. researchers analyzed the data associated with using inductive and deductive. the conclusion that: 1) in each sub-theme has been referring to the learning approach science process skills, 2) each sub-themes are science process skills are fundamental, namely observation and communication, 3) no founding the activities to formulate hypotheses. keywords: science process skills, science, elementary school pendahuluan pemberlakuan kurikulum 2013 pada sistem pendidikan di indonesia oleh pemerintah menunjukkan adanya urgensi perubahan dari kurikulum sebelumnya. ada pergeseran paradigma di dalam pembangunan abad 20 dan abad 21, yaitu pembangunan ekonomi berbasis sumber daya, sumber daya alam sebagai modal pembangunan, sdm sebagai beban pembangunan, dan penduduk sebagai sumber kekayaan alam, dan hal itu semua harus ditransformasi melalui pendidikan, yaitu pendidikan yang dirancang untuk menghasilkan generasi yang mempunyai peradaban yang kuat. abad xxi yang bercirikan pada informasi, komputasi, otomasi, dan komunikasi memerlukan proses pembelajaran yang menuntut lulusan dapat beradaptasi sesuai zamannya. dengan demikian, pembelajaran yang saat ini kita amati, yaitu guru sebagai pemberi tahu segala informasi dan seolah-olah sebagai sumber belajar, harus diubah ke arah siswa mencari tahu informasi dari berbagai sumber belajar, siswa mampu merumuskan masalah, dan diarahkan untuk ber kir analisis. menurut james conant (1997:14) dalam usman samatowa (2011), “sains sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan yang bertumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati dan dieksperimen lebih lanjut”. berdasarkan penyelidikan yang panjang, konsep sains baru dapat ditemukan. melalui eksperimen pertama dan eksperimen-eksperimen selanjutnya, sikap ilmiah dari seorang peneliti akan semakin terbentuk. untuk membelajarkan sains di sd, seorang guru harus memperhatikan hakikat sains dan karakteristik siswa sd, yang logikanya masih didasarkan pada situasi konkrit yang dapat diorganisir, diklasi kasikan atau dimanipulasi. anak belum dapat berpikir hipotesis dan menyelesaikan masalah-masalah abstrak yang pemecahannya berkoordinasi dengan banyak faktor (r. rosnawati, 2013). 96keterampilan proses sains ... (anatri desstya) issn 2406-8012 pembelajaran sains sebaiknya menggunakan metode discovery, metode pembelajaran yang menekankan pola dasar: melakukan pengamatan, menginferensi, dan mengkomunikasikan. pola dasar ini dapat dirinci dengan melakukan pengamatan lanjutan (mengumpulkan data), menganalisis data dan menarik kesimpulan (kemdikbud, 2013). pola-pola inilah yang terdapat pada pendekatan keterampilan proses sains (scienti c process). arahan pembelajaran dalam kurikulum 2013 di dalam permendikbud tentang standar proses dan kurikulum selanjutnya dirinci dalam bentuk silabus, buku guru, dan buku siswa. berdasarkan uraian di atas, maka peneliti melakukan kajian terhadap satu buku siswa yang selama ini telah digunakan oleh praktisi pendidikan untuk mengetahui aspek pembelajaran yang diterapkan berdasarkan pendekatan keterampilan proses sains sebagai cara untuk membelajarkan materi ipa bagi siswa di sekolah dasar. masalah yang akan diteliti adalah bagaimana aspek pembelajaran yang diterapkan berdasarkan pendekatan keterampilan proses sains sebagai cara untuk membelajarkan materi ipa bagi siswa di sekolah dasar. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek pembelajaran yang diterapkan berdasarkan pendekatan keterampilan proses sains sebagai cara untuk membelajarkan materi ipa bagi siswa di sekolah dasar. keterampilan proses sains (kps) merupakan keterampilam yang menjadi penggerak dan pengembangan fakta dan konsep serta penumbuhan dan pengembangan sikap dan nilai. keterampilanketerampilan inilah yang sering digunakan oleh para ilmuwan selama penyelidikannya. keterampilan itu adalah: 1) mengobservasi atau mengamati, termasuk didalamnya: menghitung, mengukur, mengkalsi kasi, dan mencari hubungan ruang/ waktu; 2) membuat hipotesis; 3) merencanakan penelitian/eksperimen; 4) mengendalikan variabel; 5) menginterpretasikan atau menafsirkan data; 6) menyusun kesimpulan sementara/ inferensi; 7) meramalkan/ memprediksi; 8) menerapkan/mengaplikasi; dan 9) mengkomunikasikan. observasi atau pengamatan adalah kegiatan yang menggunakan semua indera, baik melihat, mendengar, merasa, mengecap, dan mencium. semuanya bisa dilihat dan didengar oleh siswa, namun hal itu berlalu begitu saja tanpa memperoleh suatu makna, misalnya seorang guru menugaskan untuk mengobservasi benda-benda yang ada di sekitar sekolah, kemudian disuruh untuk mengklasi kasikan/menggolongkan benda hidup dan benda mati, dan menghitung jumlahnya masing-masing. pada kegiatan pengukuran, siswa ditugasi untuk mengukur panjang, luas, kecepatan, suhu, dan volume suatu benda. semakin tinggi tingkat sekolah anak, semakin rumit tugas-tugas pengukuran yang diberikan. pada kegiatan mengenal hubungan ruang dan waktu, siswa dilatih agar mampu mengenal bentuk-bentuk benda. anak-anak dapat menghitung laju perahu dalam berbagi bentuk. keterampilan membuat hipotesis merupakan keterampilan untuk menyusun suatu perkiaraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu. dalam kegiatan merencanakan penelitian, siswa dilatih untuk melakukan penelitian yang paling sederhana. anak-anak perlu menentukan alat dan bahan yang akan digunakan, objek yang akan diteliti, faktor atau variabel yang perlu diperhatikan, kriteria keberhasilan, langkah kerja, serta mencatat dan mengolah data untu menarik kesimpulan. pada keterampilan mengendalikan variabel, guru dapat melatih siswa untuk mengontrol dan memperlakukan variabel. variabel merupakan faktor yang berpengaruh. keterampilan interpretasi data merupakan kegiatan menafsirkan data. data yang dikumpulkan melalui observasi, penghitunga, pengukuran, eksperimen atau penelitian sederhanadapat disajikan dalam berbagai bentuk seperti tabel, gra k, histogram atau diagram. keterampilan menginferensi merupakan keterampilan membuat kesimpulan sementara berdasarkan informasi yang dimiliki sampai suatu waktu tertentu, dan bukan merupakan kesimpulan akhir. keterampilan meramalkan atau memprediksi profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 95 10297 issn 2406-8012 merupakan kemampuan untuk membuat prediksi berdasarkan hasil observasi, pengukuran atau penelitian yang memperlihatkan gejala tertentu. guru dapat melatih anak-anak dalam membuat peramalan kejadian-kejadian yang akan datang beradasrkan pengetahuan, pengalaman, atau data yang dikumpulkan. keterampilan penerapan atau aplikasi dapat dilakukan seorang guru untuk menerapkan konsep sains yang telah dikuasai untuk memecahkan masalah tertentu. keterampilan mengomunikasikan merupakan keterampilan untuk menyampaikan hasil penemuannya kepada orang lain, dalam bentuk laporan penelitian, membuat paper atau menyusun karangan. menurut semiawan (1992), terdapat beberapa faktor yang mendasari bahwa pendekatan keterampilan proses sains perlu diterapkan dalam proses belajar mengajar, yaitu: 1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung semakin cepat sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkan semua konsep dan fakta pada siswa. 2) adanya kecenderungan bahwa siswa lebih memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh yang konkret. hal ini sesuai dengan teori perkembangan kognitif dari piaget yang menyatakan bahwa anak sekolah dasar berada pada tahap perkembangan operasional konkret (7-12 tahun). 3) penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bersifat mutlak 100%, tapi bersifat relatif. 4) dalam proses belajar mengajar, pengembangan konsep tidak terlepas dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik. selama melakukan pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses sains, siswa akan mengalami proses belajarnya sendiri. diharapkan, sikap ilmiah akan mulai muncul. sund (1981:40) menyatakan sains sebagai batang tubuhnya pengetahuan yang diperoleh melalui proses inkuiri terus menerus yang digerakkan oleh masyarakat yang bergerak dalam bidang sains. sains merupakan suatu upaya manusia yang meliputi operasi mental, keterampilan dan strategi memanipulasi dan menghitung, keingintahuan (curiousity), keteguhan hati, ketekunan, yang dilakukan oleh individu untuk menyingkap rahasia alam semesta. dalam membelajarkan sains, seorang guru sebaiknya mengetahui karakteristik siswa sd dan hakikat sains sendiri, baik sebagai produk, proses maupun sikap ilmiah. mengacu pada arahan pembelajaran pada kurikulum 2013, yaitu sains diajarkan melalui metode discovery, maka pembelajaran sains diarahkan untuk melakukan serangkaian proses ilmiah untuk mendapatkan sebuah konsep sains. keterampilan proses sains merupakan keterampilan yang diperlukan untuk memperoleh, mengembangkan dan menerapkan konsepkonsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum dan teori sains. dengan melibatkan keterampilanketerampilan kognitif atau intelektual, siswa diharapkan mampu mempertajam penguasaan konsep yang dimiliki siswa dalam pembelajaran. sehingga keterampilan proses sains dapat berpengaruh pada penguasaan konsep siswa dalam ranah kognitif. buku siswa dan buku guru merupakan bentuk dokumen sebagai rincian dari standart proses dan kurikulum 2013, termasuk di dalamnya berisi konsep-konsep dan fakta-fakta sebagai produk sains dan yang telah digunakan oleh praktisi pendidikan. beberapa muatan pelajaran, yaitu: ips, bahasa indonesia, sbp (seni budaya prakarya), ppkn, pjok, matematika, dan ipa, terintegrasi dalam satu tema. penelitian ini mengkaji buku siswa kelas iv untuk sd dan mi tema 2, dari aspek muatan ipa. manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi terhadap isi buku dari aspek pembelajaran yang menerapkan keterampilan proses sains. metode penelitian metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode library research. pengumpulan dan penelaahan referensi tentang indikator-indikator pada pendekatan keterampilan proses sains kemudian dihubungkan dengan penyajian pada materi ipa dalam buku siswa kelas iv tema 2. peneliti menganalisis data-data terkait dengan menggunakan metode 98keterampilan proses sains ... (anatri desstya) issn 2406-8012 induktif dan deduktif. penelitian ini dilakukan selama 2 bulan, dari bulan nopember-desember 2015. hasil dan pembahasan buku yang ditelaah adalah buku siswa kelas iv sd dan mi tema 2. selalu berhemat energi, karya sumini dkk, dengan empat subtema yaitu 1). sumber energi, 2) pemanfaatan energi, 3) gerak dan gaya, 4) mengenal energi alternatif. hasil dari penelaahan dari buku siswa ini disajikan dalam tabel berikut: tabel 1. deskripsi pembelajaran materi ipa terhadap pendekatan keterampilan proses sains no bagian sub tema halaman buku deskripsi pembelajaran kps 1 sub tema 1 sumber energi hal 30 terdapat kegiatan: observasi (termasuk kegiatan menentukan hubungan waktu, pengukuran), interpretasi data, mengendalikan variabel, merencanakan eksperimen, menarik kesimpulan, dan mengaplikasikan, mengkomunikasikan 2 sub tema 2 p e m a n f a a t a n energi hal 50 hal 51 hal 71 hal 81 hal 83 terdapat kegiatan: observasi, menginterpretasi data dalam bentuk tabel, mengkomunikasikan terdapat kegiatan: merencanakan percobaan, observasi, mengkomunikasikan. terdapat kegiatan: merencanakan eksperimen, observasi, menarik kesimpulan. terdapat kegiatan: merencanakan eksperimen, observasi, mengendalikan variabel, menarik kesimpulan. terdapat kegiatan: merencanakan eksperimen, observasi, menarik kesimpulan, mengkomunikasikan 3 sub tema 3 gerak dan gaya hal 125 hal 131 hal 133 hal 134 terdapat kegiatan: observasi (termasuk kegiatan menentukan hubungan waktu, pengukuran), manarik kesimpulan. terdapat kegiatan: merencanakan eksperimen, mengendalikan variabel, observasi (termasuk kegiatan pengukuran, menentukan hubungan waktu), menginterpretasi data. terdapat kegiatan: merencanakan eksperimen, observasi (termasuk kegiatan mengklasi kasikan). terdapat kegiatan observasi dan menginterpretasi data 4 sub tema 4 mengenal energi alternatif hal 173 terdapat kegiatan: merencanakan eksperimen, dan aplikasi pada subtema 1. sumber energi, terdapat aktivitas untuk membedakan kecepatan penguapan profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 95 10299 issn 2406-8012 dari tisue yang ditempatkan pada kondisi yang berbeda. aspek pembelajaran kps, meliputi: observasi (termasuk kegiatan mengukur waktu kecepatan penguapan), menampilkan data pengamatan dalam bentuk tabel. data yang diamati merupakan kondisi perubahan dari 3 benda yang dipanaskan pada dua kondisi. kegiatan mengendalikan variabel, yaitu: menempatkan pada dua kondisi, panas dan teduh. kegiatan merencanakan eksperimen dipersiapkan sebelum semua kegiatan dilakukan. setelah data perubahan dicatat, kemudian digunakan untuk menarik kesimpulan, untuk kemudian diaplikasikan dengan kondisi seharihari saat menjemur pakaian ketika di rumah. observasi atau pengamatan tidak sama dengan melihat. dalam kegiatan mengobservasi atau mengamati, kita memilah-milahkan bagian yang penting dan kurang penting. kegiatan observasi ini menggunakan indra untuk melihat dan merasakan. untuk lebih lanjutnya, seseorang dikatakan melakukan observasi jika siswa mengenali perbedaan dan persamaan objek atau kejadian. ada dua kejadian yang diamati, yaitu panas dan teduh yang masing-masing kondisi terdapat 3 objek. masing-masing objek pada dua kondisi tersebut diamati secara detail. pada subtema ini, sebelum melakukan eksperimen, dilakukan perencanaan terlebih dahulu dengan menentukan alat dan bahan, objek yang akan diteliti, faktor atau variabel yang perlu diperhatikan, kriteria keberhasilan, cara dan langkah kerja, serta cara mencatat dan mengolah data untuk menarik kesimpulan. dalam eksperimen ini, alat dan bahan yang perlu disiapkan siswa adalah tisue, kertas hvs, dan sapu tangan masing-masing dua buah. objek yang diteliti adalah kecepatan pengeringan. variabel yang diperhatikan adalah jenis tisue, kertas hvs dan sapu tangan yang sama. variabel yang divariasi adalah tempat untuk menjemur, yaitu teduh dan panas. kriteria keberhasilan selama melakukan eksperimen dilihat pada hasil eksperimen yang sesuai dengan teori tentang kecepatan pengeringan suatu benda yang telah diberikan sebelumnya. keberhasilan eksperimen ini juga terkait dengan pemahaman cara dan langkah kerja yang akan dilakukan. kegiatan siswa untuk menyusun hipotesis diarahkan melalui seperangkat pertanyaan yang jawabannya tertuju pada hasil eksperimen yang akan dilakukan. seseorang dikatakan mengajukan hipotesis jika mereka menggunakan pengetahuan awal untuk menjelaskan suatu kejadian dan menyadari kemungkinan lebih dari suatu penjelasan dari suatu kejadian. siswa menggunakan pengetahuan awal tentang pengalaman sehari-harinya dalam menjemur pakaian di rumah pada kondisi terkena matahari. dari pengalaman ini, siswa mampu menyusun hipotesis dari eksperimen yang akan dilakukan. hipotesis merupakan suatu perkiraan yang beralasan untuk menjelaskan suatu kejadian atau pengamatan tertentu, dan hipotesis ini kemudian dibuktikan kebenarannya dengan percobaan sebagai langkah selanjutnya. dalam keterampilan mengomunikasikan, siswa dituntut untuk menyampaikan hasil temuannya kepada siswa yang lain dengan cara menyusun laporan penelitian, menyusun karangan, menyampaikan informasi dalam bentuk gambar, model, tabel, diagram, gra k atau hostogram, membuat berbagai pajangan yang dipamerkan di dalam ruang kelas, atau menceritakan pengalamannya dalam kegiatan observasi. penyampaian informasi pada subtema 1 disajikan dalam bentuk tabel pengamatan. kegiatan untuk mengaplikasikan konsep ini dikembalikan siswa setelah menarik kesimpulan dari eksperimen. siswa menjemur sesuatu benda di tempat yang terang. dapat ditarik kesimpulan, pada subtema i, aspek pembelajarannya sesuai dengan keterampilan proses sains, meliputi kegiatan observasi, interpretasi data, mengendalikan variabel, merencanakan eksperimen, menarik kesimpulan, mengaplikasikan, dan mengomunikasikan. pada subtema 2. pemanfaatan energi, terdapat 5 jenis aktivitas yang sesuai dengan aspek keterampilan proses sains, yaitu untuk aktivitas i: observasi, menginterpretasi data, mengkomunikasikan; aktivitas ii : merencanakan 100keterampilan proses sains ... (anatri desstya) issn 2406-8012 eksperimen, observasi, mengkomunikasikan; aktivitas iii: merencanakan eksperimen, observasi, menarik kesimpulan; aktivitas iv: merencanakan eksperimen, observasi, mengendalikan variabel, menarik kesimpulan; dan aktivitas v: merencanakan eksperimen, observasi, menarik kesimpulan, mengkomunikasikan. dalam kegiatan mengobservasi atau mengamati, kita memilah-milahkan bagian yang penting dan kurang penting. kegiatan observasi menggunakan semua indra untuk melihat, mendengar, merasa, mengecap, dan mencium. pada aktivitas i, kegiatan siswa dikatakan melakukan observasi dengan kriteria: menggunakan indera penglihatan, karena siswa mengamati alat-alat rumah tangga di rumah. siswa mengamati objek yang berupa peralatan rumah tangga secara detail, dilihat dari aspek sumber energi yang digunakan serta kegunaan alat tersebut. pada aktivitas ii, keterampilan observasi dilakukan dengan indera penglihatan dan perasa. siswa diminta untuk melihat objek yang dijemurnya, setelah beberapa menit, kemudian diraba. pada aktivitas iii, keterampilan observasi dilakukan dengan indera penglihatan. siswa mengamati secara detail tentang perubahan dari kejadian awal, yaitu ketika kertas dengan pola tertentu dipanaskan di atas lilin, menuju ke kejadian akhir, yaitu terjadinya gerakan pada kertas. pada aktivitas iv, observasi dilakukan dengan indera penglihatan dan perasa. siswa mengamati beberapa objek yang dimasukkan ke dalam air panas, kemudian memegangnya atau merasakan apakah benda tersebut menjadi panas atau tidak. pada aktivitas v, keterampilan observasi dilakukan dengan indera penglihatan. siswa melihat peristiwa mendidihnya air yang dipanasi selama waktu tertentu secara detail. dalam setiap aktivitas tersebut, keterampilan observasi sebagian besar dilakukan dengan indera penglihatan. sesuai dengan teori piaget, anak sd yang duduk di kelas 4 berada pada tahap perkembangan kognitif operasional konkret (7-12 tahun). anak masih sangat membutuhkan bendabenda konkret untuk membantu pengembangan kemampuan intelektualnya. anak mulai memecahkan masalah khusus, mempelajari keterampilan dan kecakapan berpikir logis yang membantu mereka memaknai pengalaman. keterampilan menginterpretasi data hanya terdapat pada aktivitas i. data yang dikumpulkan melalui observasi tersebut disajikan dalam bentuk tabel, untuk kemudiaan dikomunikasikan kepada orang lain. keterampilan untuk mengomunikasikan hasil eksperimen terdapat pada aktivitas i, ii, dan v. dalam keterampilan mengomunikasikan, siswa dituntut untuk menyampaikan hasil penemuannya kepada siswa lain, dengan cara menyusun laporan penelitian, menyusun karangan, menyampaikan informasi dalam bentuk gambar, model, tabel, diagram, gra k atau histogram, membuat berbagai pajangan yang dipamerkan di dalam ruang kelas, atau menceritakan pengalamannya dalam kegiatan observasi. pada aktivitas i, tampilan yang berupa tabel untuk kemudian dibacakan di depan kelas merupakan bentuk keterampilan mengomunikasikan. pada aktivitas ii, keterampilan mengomunikasikan disajikan dengan bentuk membuat laporan. sedangkan pada aktivitas v, keterampilan mengomunikasikan dilakukan dengan membacakannya di depan kelas. untuk aktivitas yang lain, tidak ditemukan kegiatan observasi. namun, keterampilan ini dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran yang lain, mengingat pembelajaran di sekolah dasar dilakukan secara tematik terpadu. keterampilan dalam merencanakan eksperimen ditemukan pada aktivitaas ii, iii, iv, dan v. eksperimen adalah kegiatan untuk menguji kebenaran dari suatu hipotesis yang disusun. sebelum melakukan eksperimen, dilakukan perencanaan terlebih dahulu dengan menentukan alat dan bahan, objek yang akan diteliti, faktor atau variabel yang perlu diperhatikan, kriteria keberhasilan, cara dan langkah kerja, serta cara mencatat dan mengolah data untuk menarik kesimpulan. pada subtema 3. gerak dan gaya, terdapat empat aktivitas yang sesuai dengan pembelajaran kps. aktivitas i, terdapat kegiatan: observasi (termasuk kegiatan menentukan hubungan waktu, pengukuran), menarik kesimpulan; aktivitas profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 95 102101 issn 2406-8012 ii: merencanakan eksperimen, mengendalikan variabel, observasi (termasuk kegiatan pengukuran, menentukan hubungan waktu), menginterpretasi data; aktivitas iii: terdapat kegiatan: merencanakan eksperimen, observasi (termasuk kegiatan mengklasi kasikan); aktivitas iv: observasi dan menginterpretasi data. sebagian besar subtema ini memuat kegiatan observasi dan merencanakan eksperimen. keterampilan merencanakan eksperimen perlu dilatihkan kepada siswa, baik untuk dicoba di sekolah maupun di rumah. saat di rumah, siswa dapat diarahkan belajar secara berkelompok, atau individu dengan bimbingan orang tua. sehingga saat menarik kesimpulan, tidak akan mengalami kesalahan. keterampilan merencanakan eksperimen, meskipun sangat sederhana, perlu dilakukan sendiri oleh siswa. sebagaimana yang dikatakan oleh bruner, bahwa siswa hendaknya belajar melalui partisipasi aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-eksperimen yang memungkinkan untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri. jadi kesimpulannya pada subtema 3, terdapat kesesuaian aspek pembelajaran dengan keterampilan proses sains, meliputi kegiatan: observasi, mengendalikan variabel merencanakan eksperimen manarik kesimpulan. dan menginterpretasi data. subtema 4. mengenal energi alternatif, terdapat tugas proyek untuk membuat sebuah kincir air yang terbuat dari plastik. siswa diberi tugas untuk menyelesaikan proyek di rumah, melalui kegiatan merencanakan eksperimen, meliputi penyiapan alat dan bahan serta menunjukkan langkah kerja. pada akhir percobaan, kemudian diaplikasikan pada sistem plta. kegiatan observasi merupakan keterampilan proses sains yang sangat mendasar. dengan melihat benda-benda yang didekatkan dengan magnet, siswa dapat mengklasi kasikan benda yang bersifat magnetis dan non magnetis, seperti yang terdapat pada subtema 3. siswa dapat menentukan hubungan waktu dengan mengendalikan variabel, yaitu menyiapkan 3 pasang buah benda untuk dijatuhkan dari ketinggian yang divariasi. hubungan waktu di sini dilakukan dengan menghitung dan mengamati benda yang lebih cepat sampai di tanah. keterampilan proses yang belum diterapkan pada tema ini adalah menyusun hipotesis. menurut conny semiawan, dkk, yang tertera dalam tabel acuan penerapan keterampilan memproseskan perolehan dari sd sampai dengan sma, kelas 4 sd/mi sudah mulai bisa untuk menyusun sebuah hipotesis. hipotesis merupakan suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu. kegiatan menyusun hipotesis dapat dilakukan guru dengan memberikan instruksi secara lisan, sebelum semua kegiatan tersebut dilakukan. kegiatan pengendalian variabel dan interpretasi data baru bisa dimulai ketika kelas 5 sd. namun dalam hasil kajian ini, kegiatan mengendalikan variabel sudah mulai diterapkan. kelas 4 sd merupakan kelas tinggi yang diperkirakan mereka sudah mulai bisa untuk berpikir logis. pada pembelajaran sains, hal yang mendasari hakikat sains sebagai produk yang berupa fakta-fakta dan konsep-konsep ilmiah, sebagai proses dan sikap ilmiah, yang diajarkan pada jenjang sekolah dasar, dapat dimulai pada hal-hal yang sangat sederhana dan ditemukan di sekitar kita (secara kontekstual). keterampilan proses sains dalam pembelajaran yang meliputi (melakukan observasi, menentukan variabel, membuat hipotesis, melakukan, pengukuran, dan analisis data, menarik simpulan, serta membuat laporan hasil pratikum) akan dapat diakses dengan menerapkan model pembelajaran kontekstual. dengan melakukan kegiatan yang tercermin dalam komponen pembelajaran kontestual guru dapat melakukan penilaian yang otentik (penilaian secara keseluruhan dalam proses pembelajaran terhadap siswa. kegiatan yang dilakukan siswa tersebut akan mampu memberikan pencapaian keterampilan proses yang maksimal. berdasarkan hasil penelaahan dan uraianuraian di atas, peneliti telah dapat membuktikan 102keterampilan proses sains ... (anatri desstya) issn 2406-8012 bahwa buku siswa kelas 4 tema 2 selalu berhemat energi, karya sumini, dkk, memuat beberapa konsep-konsep dan fakta-fakta sebagai produk sains, yang bisa dibelajarkan oleh para pendidik dengan pendekatan keterampilan proses sains. metode mengajar dengan pendekatan ini dapat dimulai secara kontekstual, yaitu pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar mengenai fenomena-fenomena yang terjadi pada lingkungan sekitar, berinteraksi dengan lingkungan belajarnya dalam mengkonstruksi pengetahuannya. simpulan kesimpulan dari penelitian ini yakni: 1) pada setiap subtema buku siswa kelas 4 tema 2 karya sumini, dkk. telah mengacu pada pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses sains, 2) setiap subtema terdapat keterampilan proses sains yang mendasar yaitu observasi dan mengomunikasikan, 3) belum ditemukan kegiatan untuk menyusun hipotesis. daftar pustaka conny semiawan, dkk. (1992). pendekatan keterampilan proses. jakarta: pt. grasindo. i ketut wardana. (2013). “pengaruh model kontekstual terhadap keterampilan proses sains dan hasi belajar sains pada siswa kelas iv sd gugus v dr. soetomo”. e-journal program pascasarjana universitas pendidikan ganesha program studi pendidikan dasar, vol. 3, 2013. . kemdikbud. (2013). permendikbud nomor 67 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah dasar/ madrasah ibtidaiyah. jakarta: kemdikbud. r. rosnawati. (2013). enam tahapan aktivitas dalam pembelajaran matematika mendayagunakan berpikir tingkat tinggi siswa. yogyakarta: universitas negeri yogyakarta. sund, rb. bybee. rw. trowbridge, lw. (1981). becoming secondary school science teacher. columbus. ohio: charles e marriel publishing company. sumini, dkk. (2014). buku teks pelajaran tematik kelas iv tema 2: selalu berhemat energi. surakarta: pt. tiga serangkai. sumiyati. (2013). implementasi kurikulum menuju indonesia maju. prosiding snps 2013. issn 2354-7022. usman samatowa. (2011). pembelajaran ipa di sekolah dasar. jakarta : pt indeks. pengaruh penggunaan metode.....(fauzatul ma’rufah r) 109 jppd, 5, (2), hlm. 109-118 vol. 5, no. 2, desember 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.5877 pengaruh penggunaan metode “seniman alam” terhadap hasil belajar pada pembelajaran tematik integratif siswa sekolah dasar fauzatul ma’rufah rohmanurmeta fkip, universitas pgri madiun fauzatul@unipma.ac.id pendahuluan pembelajaran tematik integratif hendaknya menjadi wahana untuk mendidik anakanak. menguasai materi hanyalah sebagian kecil tujuan pembelajaran tematik integratif. hal yang lebih penting adalah agar melalui pembelajaran tematik integratif anak-anak dapat berkembang menjadi manusia yang seutuhnya melalui aspek agama, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. pembelajaran tematik integratif menekankan pada keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. teori pembelajaran ini dimotori para tokoh psikologi gestalt, termasuk piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. pembelajaran dapat bermakna ketika siswa diajak untuk dekat dengan alam. alam ini memang diciptakan untuk kepentingan manusia, tetapi dalam memanfaatkannya kita harus mampu bertindak secara cerdas, agar apa yang sudah kita manfaatkan ini tidak rusak. oleh karena itu perlu suatu pembelajaran yang terjun langsung ke lingkungan alam agar kita jauh lebih mengenal lingkungan tersebut. untuk menjawab permasalahan yang abstrak: this study aims to determine the effect of natural artist methods on learning outcomes on integrative thematic learning in fourth grade students of elementary school. the research design used in this research is true experimental form posttest-only control design. the experimental group of this research is the fourth grader of sdn 1 nglayang, while the control group is sdn 2 nglayang. data collection is done by using the techniques of documentation, tests, and observation. in analyzing the data, this study uses statistical data analysis with the formula t test separated variance. the results of the study showed a significant difference, for dk 4 and significance level of 0.05 obtained t value = 3.296 and t table = 1.7011. the average score of students taught by natural artist's learning method is 66.67, while the average score of students taught by conventional learning method is 52. thus, the use of artist learning method influences the learning outcomes in integrative thematic learning of fourth grade students of sd. keywords: natural artist method, learning outcomes, integrative thematic learning https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.5877 mailto:fauzatul@unipma.ac.id pengaruh penggunaan metode.....(fauzatul ma’rufah r) 110 jppd, 5, (2), hlm. 109-118 terjadi, diperlukan upaya untuk memperbaiki kualitas pembelajaran tematik integratif agar dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. sebagai guru hendaknya mampu memberikan penguasaan konsep serta mampu menerapkan proses pembelajaran yang dapat mengembangkan seluruh aspek yang dimiliki siswa, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. guru harus pandai memilih metode pembelajaran yang tepat untuk menyampaikan suatu materi pembelajaran. agar pengetahuan dan pemahaman siswa tentang pembelajaran tematik integratif itu terekam dengan baik, maka wujud yang konkrit lebih berkesan daripada konsep-konsep abstrak, khususnya untuk siswa kelas iv sd. oleh sebab itu di dalam merencanakan pembelajaran tematik integratif kelas iv perlu digunakan pendekatan dan metode yang dapat menampilkan hal-hal yang konkret (noehi nasution & a.a. ketut budiastra, 2002: 5.32). berdasarkan observasi peneliti di sdn 1 nglayang, hasil pembelajaran tematik integratif pada siswa kelas 4 cenderung rendah. hasil ulangan siswa pada tema peduli terhadap makhluk hidup menunjukkan 80% dari total siswa yang berjumlah 29 anak kurang dari kkm. pembelajaran tematik integratif di sekolah ini memang lebih bersifat teoritis dan cenderung menggunakan metode ceramah. akibatnya, siswa belajar dengan menghafal materi tanpa tahu makna dari konsep. mereka juga cenderung tidak bisa menjelaskan apa yang sudah mereka pelajari. terdapat masalah di sdn 1 nglayang yaitu rendahnya hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik integratif. pembelajaran tematik integratif kelas iv masih menggunakan metode konvensional. guru menerangkan dan siswa mendengarkan kemudian mencatatnya. jika siswa belum memahami, guru mengulang kembali pelajaran. sehingga siswa menjadi kurang aktif, terutama dalam menjelaskan konsep-konsep materi pembelajaran tematik integratif. saat ini pembelajaran tematik integratif di sdn 1 nglayang masih bersifat verbalistik, sehingga siswa kesulitan memahami konsep materi pelajaran yang telah diajarkan. selain itu dalam pembelajaran melibatkan lingkungan nyata untuk meningkatkan pemahaman siswa. siswa hanya duduk, dengar, catat, dan menghafal materi pembelajaran tanpa benar-benar memahami materi tersebut. hal ini menyebabkan konsep pembelajaran tematik integratif yang diajarkan tidak mampu dikuasai oleh siswa. salah satu alternatif pembelajaran tematik integratif yang diduga dapat meningkatkan penguasaan konsep dan pemahaman hakikat lingkungan hidup adalah pembelajaran dengan metode “seniman alam”. metode ini merupakan pengkombinasian antara metode eksperimen, demonstrasi, dan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh mayangsari,dkk (2014:31) menjelaskan bahwa metode eksperiman dapat meningkatkan hasil belajar siswa. sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh kamoyo, dkk (2014: 109) menjelaskan bahwa penggunaan metode demonstrasi memiliki pengaruh yang positif terhadap hasil belajar siswa. berdasarkan hasil penelitian tersebut dengan adanya metode eksperimen, demonstrasi, dan dipadukan lagi dengan proses pemanfaatan lingkungan alam sebagai sumber belajar atau yang disebut metode seniman alam dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap hasil belajar pada pembelajaran tematik integratif siswa di sekolah dasar. manusia belajar sejak lahir hingga akhir hayatnya. kemampuan manusia untuk belajar merupakan karakteristik penting yang membedakan manusia dengan makhluk pengaruh penggunaan metode.....(fauzatul ma’rufah r) 111 jppd, 5, (2), hlm. 109-118 hidup lainnya. belajar memberikan keuntungan, baik bagi individu maupun masyarakat. bagi individu, kemampuan belajar secara terus menerus bisa semakin meningkatkan kualitas hidupnya. bagi masyarakat, belajar berperan penting dalam mentransmisikan budaya dan pengetahuan dari generasi ke generasi (rahyubi, 2012: 1). pembelajaran secara simpel dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. dari makna ini jelas terlihat bahwa pembelajaran merupakan interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, dimana antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah ditetapkan sebelumnya (trianto, 2010: 17). menurut loeloek dan sofan (2013: 29) menjelaskan bahwa pembelajaran tematik integratif atau pembelajaran tematik terpadu merupakan sebuah sistem dan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. pembelajaran tematik integratif bersifat memandu yang berguna untuk mencapai kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan mengoptimalkan kecerdasan ganda yang ada pada diri siswa sehingga dapat mengembangkan potensi afektif, psikomotorik, dan kognitif. sedangkan kemendikbud (2013: 193) menjelaskan bahwa pembelajaran tematik integratif atau pembelajaran terpadu menekankan pada beberapa mata pelajaran yang disatukan dalam sebuah tema yang lebih diutamakan pada makna belajar, dan keterkaitan berbagai konsep disiplin ilmu. pembelajaran dengan tema tertentu bertujuan agar meningkatkan minat dan motivasi siswa terhadap pembelajara sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman belajar secara langsung. menurut indriani (2015:89) implementasi pembelajaran tematik dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut; 1) perencanaan; 2) penerapan pembelajaran; 3) evaluasi. dalam tahap perencanaan guru melakukan pemetaan kd, penentuan tema, analisis indikator, penetapan jaringan tema, penyusunan silabus, dan penyusunan rpp. sedangkan dalam tahap penerapan/pelaksanaan pembelajaran dilakukan melalui langkahlangkah kegiatan pendahuluan, inti, dan akhir. adapun dalam tahap evaluasi atau penilaian pembelajaran tematik dilakukan dengan penilaian proses dan hasil. banyak metode pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam menyajikan pembelajaran tematik integratif kepada siswa. beberapa metode yang dapat digunakan adalah metode demonstrasi dan eksperimen. sanjaya (2008: 152) mengemukakan bahwa metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari (djamarah & zain, 2002: 95). penggunaan metode demonstrasi selalu diikuti dengan eksperimen. apa pun yang didemonstrasikan, baik oleh guru maupun oleh siswa (yang dianggap mampu untuk pengaruh penggunaan metode.....(fauzatul ma’rufah r) 112 jppd, 5, (2), hlm. 109-118 melakukan demonstrasi), tanpa diikuti dengan eksperimen tidak akan mencapai hasil yang efektif. dalam melaksanakan demonstrasi, seorang demonstrator menjelaskan apa yang akan didemonstrasikannya, sehingga semua siswa dapat mengikuti jalannya demonstrasi tersebut dengan baik. sedangkan metode eksperimen adalah metode yang siswanya mencoba mempraktikkan suatu proses tersebut, setelah melihat/mengamati apa yang telah didemonstrasikan oleh seorang demonstrator. eksperimen dapat juga dilakukan untuk membuktikan kebenaran sesuatu, misalnya menguji sebuah hipotesis (djamarah & zain, 2002: 112). metode “seniman alam” merupakan pengkombinasian antara metode demonstrasi, eksperimen, dan lingkungan alam sebagai sumber belajar. dalam metode “seniman alam” ini siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan, atau proses sesuatu. dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran, mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya itu. semua proses yang dialami siswa tersebut mempergunakan lingkungan alam sebagai sumber belajarnya. mereka mengamati, menganalisis apa yang ada di lingkungan yang dijadikan sebagai sumber belajar. metode penelitian penelitian ini dilakukan di sdn nglayang yang terletak di desa nglayang, kecamatan jenangan, kabupaten ponorogo, jawa timur. penetapan tempat penelitian ini didasarkan pada hasil observasi lapangan. desain penelitian yang dipilih adalah dengan menggunakan desain penelitian posttest-only control design. dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masingmasing dipilih secara random. kelompok pertama diberi perlakuan (x) dan kelompok yang lain tidak. kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua sd di kecamatan jenangan kabupaten ponorogo. sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sdn 1 nglayang sebagai kelas eksperimen, dan sdn 2 nglayang sebagai kelas kontrol. pada penelitian ini, teknik pengambilan sampelnya menggunakan teknik sampling jenuh. hal ini sesuai pendapat sugiyono (2010: 124) yang menjelaskan bahwa sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara dokumentasi, observasi, dan tes. instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah tes, tes tertulis dan tes kinerja. tes tertulis yang digunakan adalah tes pilihan ganda (multiple choice) sebanyak 20 soal. pertanyaan mengacu pada pokok bahasan tentang struktur daun dan fungsinya, siswa diminta untuk memilih salah satu jawaban yang dianggap paling benar. sedangkan tes kinerja diukur dengan melihat hasil karya yang dihasilkan siswa melalui kegiatan pembelajaran, baik berupa gambar maupun pengaruh penggunaan metode.....(fauzatul ma’rufah r) 113 jppd, 5, (2), hlm. 109-118 kerajinan tangan, serta partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran. untuk mengobservasi keaktifan siswa, dalam penelitian ini digunakan tabel pengamatan. tes dilakukan satu kali yaitu pada post test. post test dilakukan sesudah perlakuan (treatment). tujuannya untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran dengan metode seniman alam. langkah-langkah membuat tes yaitu: 1) membuat kisi-kisi soal tes, 2) menyusun soal tes, 3) mengadakan uji coba, 4) menganalisis hasil uji coba. sebuah tes yang baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda. sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur secara tepat. sedangkan uji reliabilitas menurut arifin (2012: 248) adalah derajat konsistensi instrumen yang bersangkutan. reliabilitas berkenaan dengan pertanyaan, apakah suatu instrumen dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. suatu instrumen dapat dikatakan reliabel jika selalu memberikan hasil yang sama jika diujikan pada kelompok yang sama pada waktu atau kesempatan yang berbeda. daya beda pada dasarnya adalah suatu tes yang disusun untuk memisahkan antara siswa yang menguasai materi pelajaran dan siswa yang tidak menguasai materi pelajaran. daya beda adalah sebuah butir soal yang menyatakan seberapa jauh kemampuan suatu soal mampu membedakan kemampuan individu peserta tes. dalam penelitian ini item soal tes dikatakan memenuhi syarat dan soal tersebut dapat digunakan jika nilai d > 0,20. sedangkan jika nilai d < 0,20 maka soal tersebut tidak dapat digunakan karena mempunyai kriteria yang jelek. sebuah butir soal dikatakan mudah jika sebagian besar siswa dapat menjawab dengan benar dan dikatakan sukar jika sebagian besar siswa tidak bisa menjawab dengan benar. klasifikasinya jika nilai tingkat kesukaran < 0,30 maka item soal tergolong sukar, jika nilai tingkat kesukaran 0,3 s.d 0,7 maka item soal tersebut tergolong sedang, dan jika nilai tingkat kesukaran < 0,10 maka item soal tersebut tergolong mudah. adapun langkah-langkah analisis data pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. uji asumsi dasar uji normalitas digunakan untuk menguji normal tidaknya penyebaran data. apabila data yang dianalisis berdistribusi normal maka peneliti boleh menggunakan teknik statistik parametris, sedangkan apabila data yang diolah tidak merupakan sebaran normal, peneliti harus menggunakan statistik non-parametris (arikunto, 2005: 300). uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan rumus chi-kuadrat. sedangkan uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah varians kedua data sampel homogen atau tidak. jika varians kedua data sampel tidak homogen, maka pengujian hipotesis tidak dapat dilanjutkan. uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan rumus uji-f. selanjutnya f hitung ini dikonsultasikan dengan f tabel. jika harga f hitung lebih kecil (<) dari harga f tabel, maka varians kedua data sampel dapat dinyatakan homogeny. sebaliknya, jika harga h hitung lebih besar atau sama dengan (≥) harga f tabel, maka varians kedua sampel dinyatakan tidak homogen. pengaruh penggunaan metode.....(fauzatul ma’rufah r) 114 jppd, 5, (2), hlm. 109-118 2. uji hipotesis hipotesis yang diujikan dalam penelitian ini adalah “adanya pengaruh yang signifikan dari penggunaan metode seniman alam terhadap hasil belajar pada pembelajaran tematik integratif siswa kelas iv sdn 1 nglayang kecamatan jenangan kabupaten ponorogo tahun pelajaran 2016/2017”. teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah teknik t-test (separated varian). hasil penelitian dan pembahasan hasil belajar pada pembelajaran tematik integratif tema peduli terhadap makhluk hidup kelas eksperimen yaitu hasil belajar pada pembelajaran tematik integratif siswa kelas iv sdn 1 nglayang yang menggunakan metode seniman alam yang diperoleh melalui tes. tes terdiri dari 20 item pertanyaan. berdasarkan tes yang diberikan kepada 15 siswa dari kelas eksperimen telah diperoleh table 1. tabel 1. distribusi frekuensi nilai kelas eksperimen kelas interval f f kumulatif f% 82 – 89 2 2 13,33% 74 – 81 3 5 20% 66 – 73 2 7 13,33% 58 – 65 4 11 26,67% 50 – 57 4 15 26,67% jumlah 15 100% hasil belajar kelas kontrol yaitu hasil belajar pada pembelajaran tematik integratif siswa tema peduli terhadap makhluk hidup kelas iv sdn 2 nglayang yang menggunakan metode pembelajaran konvensional yang diperoleh melalui tes. tes terdiri dari 20 item pertanyaan. berdasarkan tes yang diberikan kepada 15 siswa dari kelas kontrol telah diperoleh tabel distribusi frekuensi sebagai berikut: tabel 2. distribusi frekuensi nilai kelas kontrol kelas interval f f kumulatif f% 71 – 79 1 1 6,67% 62 – 70 3 4 20% 53 – 61 2 6 13,33% 44 – 52 5 11 33,33% 35 – 43 4 15 26,67% jumlah 15 100% soal tes uji coba yang digunakan berjumlah 30 item soal pilihan ganda dan telah diujikan kepada 19 siswa. tes ujicoba dilakukan untuk menguji kelayakan soal instrumen penelitian yang digunakan. tes dilakukan di sdn 1 plalangan, kecamatan jenangan, kabupaten ponorogo. analisis uji instrumen menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji daya beda, dan uji daya kesukaran. sehingga diperoleh data sebagai berikut: pengaruh penggunaan metode.....(fauzatul ma’rufah r) 115 jppd, 5, (2), hlm. 109-118 a. uji validitas dari hasil uji coba soal tes pada 19 responden yang diformulasikan dengan r product moment dengan taraf signifikansi 5%, maka diperoleh 𝑟𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 adalah 0,456 sehingga item soal dikatakan valid jika 𝑟ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 0,456. hasil uji validitas menunjukkan bahwa dari 30 butir soal pilihan ganda menunjukkan bahwa 20 soal memiliki validitas lebih dari 0,456 sehingga dinyatakan valid dan dapat digunakan sebagai soal tes dalam penelitian b. uji reliabilitas soal tes yang telah diuji cobakan dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan rumus k-r 20 untuk mengetahui reliabilitas butir soal. hasil uji reliabilitas soal tes menunjukkan data yang reliabel sebesar 1,2502. data ini menunjukkan nilai yang lebih besar dari 0,456 sehingga soal tes dinyatakan layak untuk digunakan dalam penelitian. c. daya beda dan tingkat kesukaran soal tes yang dinyatakan memenuhi kriteria daya beda adalah soal tes dengan kategori baik dan sedang. berdasarkan hasil perhitungan daya beda soal tes yang sudah diujikan menunjukkan bahwa 27 soal dinyatakan layak untuk digunakan dalam penelitian karena memenuhi kategori baik dan sedang. hasil perhitungan tingkat kesukaran soal tes yang sudah diuji cobakan menunjukkan tingkat kesukaran yang berbeda-beda. soal tes dengan tingkat kesukaran mudah sebanyak 3 butir soal. soal tes dengan kategori sedang sebanyak 16 butir soal dan 11 soal dinyatakan sukar. d. uji normalitas dalam penelitian ini, data yang diuji normalitasnya adalah data dari hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol pada pembelajaran tematik integratif. uji normalitas pada hasil belajar siswa kelas eksperimen dengan jumlah 15 orang, taraf signifikansi 5%, dan dk 4 diperoleh nilai chi-kuadrat tabel sebesar 9,488. dari hasil perhitungan diperoleh nilai chi-kuadrat sebesar 3,83 sehingga data dinyatakan berdistribusi normal karena nilai chi-kuadrat hitung < chi-kuadrat tabel. uji normalitas hasil belajar siswa kelas kontrol dengan jumlah 15 siswa, taraf signifikansi 5%, dan dk 4 diperoleh nilai chi-kuadrat tabel sebesar 9,488. dari hasil perhitungan diperoleh nilai chi-kuadrat sebesar 3,16 sehingga data dinyatakan berdistribusi normal karena nilai chi-kuadrat hitung < chi-kuadrat table. e. uji homogenitas uji homogenitas digunakan untuk menguji apakah sampel yang diambil berasal dari populasi yang homogen. uji homogenitas dalam penelitian ini menggunakan uji f dengan taraf signifikansi 5%. dari hasil uji homogenitas berdasarkan hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh fhitung sebesar 1,0763 sedangkan pengaruh penggunaan metode.....(fauzatul ma’rufah r) 116 jppd, 5, (2), hlm. 109-118 nilai ftabel sebesar 2,40. sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa kedua varian adalah sama karena fhitung lebih kecil dari ftabel. uji hipotesis uji hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan ttest dengan rumus separated varian. uji t tersebut digunakan untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran seniman alam terhadap hasil belajar pada pembelajaran tematik integratif siswa kelas iv. uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji t dengan varian homogen dan tingkat signifikansi 5%. dari hasil perhitungan diperoleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 sebesar 3,296 dan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 sebesar 1,7011. hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 . berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui adanya pengaruh metode pembelajaran seniman alam yang signifikan terhadap hasil belajar pada pembelajaran tematik integratif siswa kelas iv yang ditunjukkan dari perbedaan hasil belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. berdasarkan hasil analisis data, maka peneliti menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh metode pembelajaran seniman alam terhadap hasil belajar pada pembelajaran tematik integratif siswa kelas iv sdn i nglayang tahun ajaran 2016/2017. menurut hasil penelitian di sdn nglayang tahun pelajaran 2016/2017 pada pembelajaran tematik integratif kelas iv dengan jumlah siswa masing-masing 15, ditemukan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa sdn 1 nglayang yang menggunakan metode seniman alam dan hasil belajar siswa sdn 2 nglayang yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. diperoleh rata-rata hasil belajar siswa dengan menggunakan metode seniman alam 66,67, nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 85. sedangkan rata-rata hasil belajar siswa dengan metode pembelajaran konvensional sebesar 52, nilai terendah 35 dan tertinggi 75. selanjutnya dengan pembuktian hipotesis terbukti bahwa jumlah uji hipotesis untuk metode seniman alam yaitu 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 sebesar 3,296 dan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 sebesar 1,7011. hasil penghitungan analisis data menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan metode seniman alam terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik integratif. sikap siswa lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran karena siswa dituntut untuk mencari pengetahuannya sendiri melalui pengamatan. seniman alam merupakan suatu metode pembelajaran yang menuntut siswa mengamati, menganalisis apa yang ada di lingkungan alam secara langsung untuk mencari kebenaran, mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan mengenai suatu objek, keadaan, atau proses yang dialaminya itu kemudian menuangkannya dalam bentuk hasil kreativitas. seniman alam dilakukan dengan mengajak siswa mengamati objek yang berhubungan dengan materi secara langsung dan membuat hasil kreativitas dari apa yang telah dilihat dan dialami ketika mereka berada di lingkungan alam. dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran. pengaruh penggunaan metode.....(fauzatul ma’rufah r) 117 jppd, 5, (2), hlm. 109-118 dalam penerapan metode seniman alam di sdn 1 nglayang terdapat sedikit kendala, diantaranya adalah oleh karena lingkungan sdn 1 nglayang yang luas menyebabkan guru tidak bisa maksimal mengawasi kegiatan pengamatan siswa. untuk menerapkan metode pembelajaran seniman alam memang diperlukan profesionalitas guru dalam pembelajaran terutama di sekolah dasar. guru harus mampu mengatur waktu dan kelas agar pembelajaran berjalan efektif. walaupun begitu, dengan metode pembelajaran seniman alam siswa kelas iv sdn 1 nglayang lebih antusias dan aktif dalam mengikuti pembelajaran. pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. mereka pun mampu mengerjakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan menunjukkan hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang tidak menggunakan metode pembelajaran seniman alam. kelebihan metode seniman alam tersebut terbukti dengan hasil penelitian yang telah dilakukan di sdn 1 nglayang pada pembelajaran tematik integratif kelas iv. hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis yang berbunyi tidak ada pengaruh metode pembelajaran seniman alam yang signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas iv sdn 1 nglayang kecamatan jenangan ditolak. hipotesis tersebut diuji menggunakan rumus ttest separated varian dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05. berdasarkan analisis data hasil belajar siswa kelas iv tersebut diperoleh 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 sebesar 3,296 dan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 sebesar 1,7011 sehingga ha diterima karena 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙. hipotesis yang berbunyi ada pengaruh metode pembelajaran seniman alam yang signifikan terhadap hasil belajar ipa siswa kelas iv sdn 1 nglayang kecamatan jenangan kabupaten ponorogo tahun ajaran 2016/2017 diterima. simpulan hasil analisis data menunjukkan 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 sebesar 3,296 dan 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 sebesar 1,7011. kriteria pengujian ho ditolak dan ha diterima jika thitung > ttabel. uji hipotesis menunjukkan thitung > ttabel maka ha diterima. sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh metode seniman alam yang signifikan terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik integratif di kelas iv sdn i nglayang, kecamatan jenangan, kabupaten ponorogo tahun ajaran 2016/2017. pengaruh penggunaan metode.....(fauzatul ma’rufah r) 118 jppd, 5, (2), hlm. 109-118 daftar pustaka djamarah, s.j. &. zain, a. (2002). strategi belajar mengajar. jakarta: rineka cipta. indriani, f. (2015). kompetensi pedagogik mahasiswa dalam mengelola pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 pada pengajaran micro di pgsd uad yogyakarta. profesi pendidikan dasar vol. 2. no. 2, hlm 87-94. kamoyo. r, rede, a. & sabang, s.r. (2014). penerapan metode demonstrasi sebagai upaya peningkatan hasil belajar siswa di kelas iii sdn mire. jurnal kreatif tadulako online,, vol. 5 no. 2. issn: 2354-614x kemendikbud. (2013). kerangka dasar kurikulum 2013. kementerian pendidikan dan kebudayaan direktorat jenderal pendidikan dasar. jakarta loeloek, e. p, sofan, a. (2013). panduan memahami kurikulum 2013. jakarta: prestasi pustaka. mayangsari. d, nuriman, & agustiningsih (2014). penerapan metode eksperimen untuk meningkatkan aktivitas & hasil belajar ipa siswa kelas vi pokok bahasan konduktor & isolator sdn semboro probolinggo tahun pelajaran 2012/2013. jurnal edukasi unej,, vol. 1 no. 1, hlm. 27-31. nasution, n dan budiastra, (2002). pendidikan ipa di sd. jakarta: pusat penerbitan universitas terbuka. rahyubi, h. (2012). tori-teori belajar dan aplikasi pembelajaran motorik. bandung: nusa media. sanjaya, w. (2008). strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. jakarta: kencana prenada media grouf. sugiyono. (2010). metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta. trianto. (2010). mendesain model pembelajaran inovatifprogesif. jakarta: kencana. profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © universitas muhammadiyah surakarta 162 the validation of liaa (linguistic intelligence assessment android) development in elementary school otang kurniaman 1* , muhammad luthfi hidayat 2 , eddy noviana 3 , munjiatun 4 , & kurniawan 5 1,3,4,5 elementary school teacher education, universitas riau, pekanbaru, indonesia 2 information system, king abdulaziz university, jeddah, saudi arabia *email & phone: otang.kurniaman@lecturer.unri.ac.id +6281395278819 submitted: 2020-11-25 doi: 10.24036/blbs.v17i1.12696 accepted: 2020-12-19 published: 2020-12-20 keywords: abstract liaa linguistic intelligence android app this study provides an overview of the validation results of teachers and media experts to assess the liaa (linguistic intelligence assessment android) application, using the research and development method. this method is used to develop a product and tests its effectiveness. however, this article is just for developing and designing liaa. the results of the study showed response proportion: 78% for the teacher's language use, 84% for ease of application, 75% for final clarity of assessment, 84% for the presentation, 72% for the average of the final assessment test. validation from media experts to assess the appropriateness of using the liaa application with an average of 88% (very valid category). so it is concluded that the liaa application can be applied on a wide scale in measuring the linguistic intelligence of elementary school students. introduction the world is entering an industrial revolution 4.0 era with many disruptive changes in many fields. the disruption brings new patterns in human life into information technology-based life (subekti, 2018). an expansion of the internet influences the development of this technology, namely androids, which are increasingly popular in indonesia (kurniaman et al., 2020). life becomes more flexible, faster, and more techsavvy. those lifestyles also affect in the field of education. the androids ease of use has been attracting more-and-more users from different levels of age (islam, 2019). in light of the education technology, the rapid change would have an enormous influence, with the latest technology it would facilitate information exchange and make learning more comfortable so that learning becomes more effective (karmiani, 2018). the education sector also gets the impact of technology, so that the education sector has started to develop learning, evaluation, and learning media that use technology to make it easier for teachers to provide learning material (septyanti et al., 2020). since e-learning was introduced, the use of information and communication technology for learning has vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 163 grown, this has happened with the idea of developing the idea of the internet of things (iot) (bakri: 2018). internet of things (iot) is an idea of combining computer and communication technology in education. various technologies are used to create smart devices and equipment that would make learning easier and make it more useful (noviana, kurniaman, & huda, 2018). recently, there are many android-based apps for learning (kurniaman, noviana, pratiwi, maharani, & afendi, 2020). in this study, technology developed to measure linguistic intelligence for elementary school students to make it easier for teachers to detect students in the field of linguistic intelligence, which is one of the most critical intelligence for every student as a connector intelligence to other ones (armstrong, 2002). linguistic intelligence in elementary school is intelligence consisting of the ability to read, write, speak, and listen as assets to solve problems and be able to think critically in all fields (kurniaman, maharani, noviana, & afendi, 2020). linguistic intelligence is the intellectual ability of students to use words effectively both orally and in written form. besides, linguistic intelligence is also referred to as language intelligence and communication intelligence, which includes the ability to speak, interpret and express language as well as the ability to listen to and understand the words of others both orally and in writing (maharani et al., 2019). the purpose of the development of liaa (linguistic intelligence assessment android) is to develop an assessment-instrument of is the development of a linguistic intelligence based on android apps. the application would be available in the play store so that it is easy to install. the aspect of linguistic intelligence for elementary school students consists of four skills: writing skills, reading skills, speaking skills, and listening skills. the liaa application is an assessment instrument so that the teacher only checks the statements that appear, and at the end of the assessment, each student's score would appear. teachers' perceptions of the need for technology in elementary schools are fundamental, and very much needed to facilitate work (kurniaman, noviana, munjiatun, zufriady, & kurniawan, 2020). following the reality on the ground that technology in testing linguistic intelligence does not yet exist. so that the development of the liaa can provide convenience in testing students on a large scale with the help of android technology, linguistic intelligence should be measured when children enter school, to measure children's intellectual capacity (becker, 2003; chase, 2005). this intelligence develops with increasing age along with mentality behaviour that cannot be separated from the intelligence possessed by children (saeidi, & mazoochi, 2013). the linguistic intelligence test is made into four main menu displays; after a menu appears, the teacher can create a class by inputting the names and nis (national student id number) of students. then, the teacher creates and starts the class. returns to the initial menu by selecting which part would be tested first by clicking/pressing the selected menu and starting to test the students by assessing with a display on the instrument that each indicator appears. furthermore, we already know that every technology developed for learning is imperfect since it is just a human product. each of these technologies has advantages and disadvantages and need further development. the result of this would have an impact on learning, be it a positive impact or a negative impact. consequently, it is necessary to conduct a review in the field for each learning technology product that is created for assessing the effectiveness, usability, and ease of accessibility before its dissemination. after all, it would depict the assessment results of using this product of learning technology. kurniaman 1 , hidayat 2 , noviana 3 ,munjiatun 4 , kurniawan 5 the validation of liaa ... printed issn 2406-8012 164 methodology this research is an r and d (research and development) method to develop androidbased learning products and evaluate the effectiveness of the products (sugiyono, 2015). the method used four-d models. the four-d development model consists of 4 main stages, namely: define, design, develop and disseminate. this method and model was chosen because it aims to produce products in the form of learning technology applications. the product developed is then tested for its feasibility with validity to determine the extent of the feasibility of this learning technology media. the extent to which learning technology can impact or provide benefits to the educational process, especially in elementary schools. the subjects in assessing the validation of liaa development in class ii elementary schools, with four experts and four practitioners. in this study, authors used the following data collection techniques: a. validation questionnaire the validation questionnaire was given to the validators, namely instructional media experts, linguistic material experts, linguists, and class ii teachers before field trials. the aim is to get an assessment and input about the liaa application developed so that the liaa application is valid and feasible to be tested on a limited basis. b. teacher response questionnaire teacher response questionnaires were distributed to class ii teachers to determine the response and appropriateness of using the liaa application as well as responses about the ease of measuring linguistic intelligence for elementary school children. the purpose of using this questionnaire is to obtain teacher response data to the liaa application, which later be used to determine whether the quality of the liaa application. data management in this study was carried out after the data was collected. the collected data were then analyzed using descriptive statistical analysis techniques. according to sugiyono (2017), descriptive statistics are statistics used to analyze data by describing or describing the collected data as it is without intending to make general conclusions or generalizations. this analysis technique uses formulas that have been determined based on instruments that have been carried out by previous authors. the data in this study then were analyzed using descriptive analysis techniques which aim to describe the validation results provided by the validator after the validation stage. the validation aspects assessed by the validator using the likert scale with a score of 1-4. this scale gives flexibility to each validator to assess the liaa application developed. the validity of the liaa application product is determined by the average score given by the validator. the assessment categories are shown in the table 1: table 1. evaluation categories by validators rating score category 4 strongly agree 3 agree 2 disagree 1 strongly disagree (source: sugiyono, 2017) the validity results are calculated using the average score formula the validity criteria can be seen in the table 2: vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 165 table 2. interval of validity criteria average score interval category 81-100% very valid 61-80% valid 41-60% valid enough 21-40% not valid 0-20% very not valid the teacher response questionnaire after the product validation of the linguistic intelligence assessment instrument and limited trials of fifth-grade students was then distributed to 10 teachers to see how the teacher's response as a practitioner in using the product developed. the response data be analyzed under the assessment guidelines that have been developed. the following are the assessment categories contained in the teacher response questionnaire (see table 3): table 3. categories of teacher response questionnaire assessment rating score category 4 strongly agree 3 agree 2 disagree 1 strongly disagree the response criteria can be seen in the table 4: table 4. response criteria interval average score interval category 81-100% very practical 61-80% practical 41-60% quite practical 21-40% impractical 0-20% very impractical (source: modified riduwan, 2011) result and discussion the results of this study are the results of validation from experts and practitioners to assess developing liaa in class ii elementary schools. the research stage is carried out at the development stage, which describes the feasibility of making the liaa application. the liaa application design is shown in the image below: kurniaman 1 , hidayat 2 , noviana 3 ,munjiatun 4 , kurniawan 5 the validation of liaa ... printed issn 2406-8012 166 figure 1. initial liaa application design the liaa application is a development of a linguistic intelligence assessment instrument in the form of an application (software) on an android which is entered into the play store making it easier for teachers to install this application anytime and anywhere. teachers can use this application to assess students' linguistic abilities (reading, writing, listening and speaking). after the teacher installs the application in the playstore, the teacher can open it and register first. then login or register with a gmail account. the appropriateness of using the liaa application in measuring linguistic intelligence assessed by experts and practitioners can be seen in table 5 on teacher responses in language use, content, and display presentation. table 5. practitioner validation assessment no indicator score explanation initial score final score 1. use of language in liaa 56% 78% practical 2. ease of use of the liaa application 58% 84% very practical 3. final clarity of the assessment of student abilities 60% 75% practical 4. presentation display 50% 84% very practical 5. the contents of the presentation of linguistic intelligence 54% 70% practical 6. conclusion description of the results of the assessment of linguistic intelligence with the liaa application 56% 72% practical following the teacher's response to the use of the liaa application, the proportional results of the use of language at the initial value with an average of 56% after correcting it to 78% on average of the responses given to application assessments. the ease of use of vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 167 the application average was 58% and increased to 84% in the “very practical” category. the clarity of the final score on the students' ability on the initial average of 60% to 75% has increased with the practical category, for presentation in the display at the initial response of 50% has increased to 84% with the very practical category. the content indicator in the presentation with an average teacher response was 54% with an increase of 70% with the practical category, and the conclusion of the final result of the assessment of the average teacher response rate of 56% had an increase of 72% with the practical category. the results of the liaa feasibility in measuring linguistic intelligence can be seen in table 6. table 6. validation data for media experts no assessment aspects per cent average validation category 1 content eligibility 90% very valid 2 language 85% very valid 3 presentation 87% very valid 4 graphics 90% very valid average eligibility 88% very valid in accordance with the assessment of the validation of media experts, it is seen the results of the application the results obtained were 88% with very valid category so that the liaa can be disseminated so that it can make a very positive contribution in making it easier for teachers to measure linguistic intelligence which is considered by teachers to be very difficult and requires much time (mcbride, brewer, berkowitz, & borrie, 2013). teachers need to know that students who have linguistic intelligence have the advantage of mastering other languages besides their mother tongue or the language that is commonly used every day. those who are good at word processing have a vast vocabulary (andro, 2020). with technology that almost 100% of teachers and students have android, it makes it easier for teachers because they are familiar with the use of android (kurniaman, noviana, munjiatun, zufriady, & kurniawan, 2020) so that with the development of the liaa application they can provide convenience and be able to detect quickly in measuring students' abilities in linguistic intelligence. internal factors that affect linguistic intelligence include psychological aspects are interests, motivation, and learning styles. linguistic intelligence is often referred to as student verbal intelligence, which is multiple intelligence which involves sensitivity to spoken and written language, the ability to learn the language and the ability to use language to adapt (aminatun, ngadiso, & marmanto, 2018). liaa can detect the early potential of students intelligence. this intelligence would affect spoken and written language, which is influenced by left-brain function (mubasyira, 2014). children who have good linguistic intelligence would be able to understand the sequence, meaning, and sound of words or sentences (campbell, & campbell, 1999). the use of language in expressing ideas, desire can provide a clear picture (fraenkel, & wallen, 2007). the ability of students to process meaning becomes the main asset for students in determining interpersonal competence so that they have confidence in dealing with other people (sumarta, 2016). increasing student abilities can be achieved through learning activities. currently learning is no longer centred on the teacher, but more as a guide and facilitator in student learning activities. teachers should pay attention to aspects that can support the optimization of student abilities, one of which is to understand the strengths and weaknesses of students (hajhashemi, ghombavani & amirkhiz, 2011; tirri & nokelainen, 2012; pradana, 2018). kurniaman 1 , hidayat 2 , noviana 3 ,munjiatun 4 , kurniawan 5 the validation of liaa ... printed issn 2406-8012 168 the success of students in life depends on understanding our intelligence (ellis, 2008; hassaskhah, 2009) defines linguistic intelligence as a mental activity directed at adaptation to the real-world environment that is relevant to someone's life (nima, 2007). students who acquire very high linguistic intelligence or their better level would be able to follow classroom learning and be able to adapt to new situations using current skills. every student is born to have unique learning-characteristics; when they are in the classroom they would develop their respective intelligence, this means that each child would have strengths and weaknesses in learning information provided by the teacher or material that has been presented in their way. influenced by the learning style determined by the classroom (timmins, 1996). even so, teachers can show students how to use more to develop intelligence in helping to understand subjects or friends in the school environment (lazear, 1999). liaa is a technology to measure intelligence that can be used by teachers. conclusions the conclusions in this study are seen from the teacher's response to the liaa application experiencing the convenience and seen from the results; there is an increase in positive responses with the liaa. the judging results from media experts, the liaa application is very valid to be used in measuring linguistic intelligence and is also very valid to be tested on a large scale. references andro, j. (2020). analysis of linguistics intelligence on students at class v sd negeri 169 pekanbaru. jurnal pajar (pendidikan dan pengajaran), 4(3), 536-543. doi : http://dx.doi.org/10.33578/pjr.v4i2.7973. aminatun, d., ngadiso., & marmanto, s. (2018). applying please strategy to teach writing skill to students with different linguistic intelligences. teknosastik, 16 (1), 34-40. armstrong, t. ( 2002 ). 7 kinds of smart (menemukan dan meningkatkan kecerdasan anda berdasarkan teori multiple intelligence). jakarta: gramedia pustaka utama bakri, m. a. (2018). studi awal implementasi internet of things pada bidang pendidikan. journal of electrical and electronics, 4 (01), 18-23. becker, k. a. (2003). history of the stanfordbinet intelligence scales: content and psychometrics. il: riverside publishing. chase, d. (2005). underlying factor structures of the stanford-binet intelligence scales – 5th ed. (doctoral dissertation, drexel university, usa). campbell. l and campbell, b. (1999). multiple intelligence and student achievementsuccess stories from six schools. usa.ascd. ellis, r. (2008). the study of second language acquisition (2th ed.). oxford: oxford university press. fraenkel, j. r., and wallen, n. e. (2007). how to design and evaluate research in education. sixth edition. singapore: mcgraw – hill international edition. hajhashemi, k., ghombavani, f. & amirkhiz, s. (2011). the relationship between iranian efl high school students' multiple intelligence scores and their use of learning strategies. english language teaching, 4(3), pp. 214–22. hassaskhah, j. (2009). there is never any one right way to teach! a case of multiple intelligence. iranian efl journal, 4, 110-133. islam, p. s. (2019). perkembangan teknologi dan pengaruhnya terhadap penggunanya. [online] 16 mei 2020. http://dx.doi.org/10.33578/pjr.v4i2.7973 vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 169 https://www.kompasiana.com/putrisuryaislam/5dd2ca75097f36260936d522/per kembangan-teknologi-dan-pengaruhnya-terhadap-penggunanya. kurniaman, o., noviana, e., pratiwi, s. a., maharani, d. s., afendi, n. (2020). the effect of smartphone on student emotions. international journal of scientific & technology research, 9 (01), 138-141. karmiani, s. (2018). penggunaan media komik berbahasa inggris sebagai upaya meningkatkan kemampuan membaca pemahaman bahasa inggris pada siswa kelas viii smpn 3 teluk kuantan. jurnal pajar (pendidikan dan pengajaran), 2 (6), 883890. doi: http://dx.doi.org/10.33578/pjr.v2i6.6514. kurniaman, o., maharani, d. s., noviana, e., afendi, n. (2020). development of linguistic intelligence instruments for elementary schools student. els journal on interdisciplinary studies on humanities, 3 (1), 85-96. kurniaman, o., noviana, o., pratiwi, s. a., maharani, d. s., & afendi, n. (2020). the effect of smartphone on student emotions. international journal of scientific & technology research , 9 (01), 138-141. kurniaman, o., noviana, e., munjiatun, m., zufriady, z., & kurniawan, k. (2020). analysis of teacher perceptions in the development of liaa (linguistic intelligence assessment android) in elementary schools. international journal of latest research in humanities and social science (ijlrhss), 3(11), 1-5. lazear, d. (1999). eightn ways of teaching: the artistry of teaching with multiple intelligences. palatine, il: iri skylight publishing inc. maharani, d. s., dkk. (2019). development of instruments for assessing linguistic intelligence in elementary schools. journal of teaching and learning in elementary education (jtlee), 2 (2), 136144. mcbride, b. b., brewer, c. a., berkowitz, a. r., & borrie, w.t. (2013). environmental literacy, ecological literacy, ecoliteracy: what do we mean and how did we get here?. synthesis & integration, 4(5), 1-20. mubasyira, m. (2014). the effect of linguistic intelligence toward english achievement at sma tugu ibu, depok. faktor jurnal ilmiah kependidikan, 1 (2). 215-228. noviana, e., kurniaman, o., & huda, m. n. (2018). pengembangan aplikasi bimbingan tugas akhir mahasiswa berbasis website pada program studi pendidikan guru sekolah dasar fkip universitas riau. primary: jurnal pendidikan guru sekolah dasar, 7(1), 1-12. nima, s. (2007). on the relationship between linguistic intelligence and recalling lexical items in sla. international journal of research studies in education, 6(4), 29-36. pradana, aba. (2018). pembelajaran bahasa inggris berbasis multiple intelligence pada tipe kecerdasan linguistik. didaktika tauhidi: jurnal pendidikan guru sekolah dasar, 5(1): 41-52. septyanti, e., kurniaman, o., & charlina, c. (2020). development of interactive media based on adobe flash in listening learning for university student. international journal of scientific & technology research, 9 (01), 7477. subekti, h., dkk. (2018). mengembangkan literasi informasi melalui belajar berbasis kehidupan terintegrasi stem untuk menyiapkan calon guru sains dalam menghadapi era revolusi industri 4.0: revieu literatur. education and human development journal, 3 (01), 81-90. sugiyono. (2015). metode penelitian pendidikan. bandung: alfabeta. saeidi, m., & mazoochi, n. (2013). a comparative study on bilingual and monolingual iranian efl learners' linguistic intelligence across genders. life science journal, 10(6s), 321-334. http://www.lifesciencesite.com. https://www.kompasiana.com/putrisuryaislam/5dd2ca75097f36260936d522/perkembangan-teknologi-dan-pengaruhnya-terhadap-penggunanya https://www.kompasiana.com/putrisuryaislam/5dd2ca75097f36260936d522/perkembangan-teknologi-dan-pengaruhnya-terhadap-penggunanya http://dx.doi.org/10.33578/pjr.v2i6.6514 http://www.lifesciencesite.com/ kurniaman 1 , hidayat 2 , noviana 3 ,munjiatun 4 , kurniawan 5 the validation of liaa ... printed issn 2406-8012 170 sugiyono. (2017). cara mudah menyusun skripsi, tesis, dan disertasi. bandung: alfabeta. sumarta. (2016). the effects of linguistic intelligence and interpersonal communication competence toward students' english speaking skill. judika (jurnal pendidikan unsika), 4(2). 157-168. http://journal.unsika.ac.id/index.php/judika. tirri, k. & nokelainen, p. (2012). measuring multiple intelligences and moral sensitivities in education. basic books, new york. timmins, b. a. (1996). multiple intelligences: gardner's theory. practical assessment, research, and evaluation, 5(10), 1-3. doi: https://doi.org/10.7275/7251-ea02 http://journal.unsika.ac.id/index.php/judika profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 8-168 tanggapan perseptual guru bahasa inggris di sd se-surakarta terhadap kebijakan pelaksanaan mata pelajaran bahasa inggris di sekolah dasar honest ummi kaltsum pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta jl. ahmad yani tromol pos 1 pabelan, kartasura, surakarta email: huk172@ums.ac.id abstract this qualitative descriptive study aims to describe how the perceptual response of teachers of english in primary schools towards the government policy related to the implementation of english subjects in elementary school. population of this research is english teachers at the elementary school in surakarta and takes a sample of english teachers from primary schools in partnership with ums pgsd as many as 20 teachers of english. methods of data collection in this study using observations, interviews and documentation, and analysis with interactive analysis. in this research, the elementary teachers as research respondents divided into two groups of teachers who have educational backgrounds of english and non-english language. these two groups, divided into four categories. the first category are teachers who have a background in english education with teaching experience less than or equal to ten years. the second category are teachers with educational background in english with teaching experience more than ten years. the third categoryare teachers with backgrounds non english with teaching experience less than ten years. the fourth category are teachers with backgrounds non english with teaching experience more than ten years. the findings found in perceptual response from the four categories of teachers, show that basically they comprehend that the implementation of english subjects in elementary school is very important due to many reasons. the teachers agree toward the implementation of english subject at elementary school as long as it is conducted seriously and in a professional ways rather than as a additional curriculum. keywords: response, english subjects, government policy pendahuluan seiring dengan era globalisasi, beragam hal lain tampak turut bergerak untuk mengimbangi laju pesatnya perkembangan era tersebut. salah satunya adalah dinamisnya laju dunia pendidikan kita. dalam hal ini contohnya berupa kebijakan pemerintah terhadap mata pelajaran bahasa inggris di sekolah dasar (sd). salah satu cara pemerintah dalam menjawab tantangan di era globalisasi adalah dengan memperkenalkan bahasa inggris lebih dini, yaitu mulai dari sd di mana program ini dilaksanakan berdasarkan kurikulum 1994 untuk sd. di samping itu di dalam kurikutanggapan perseptual guru bahasa inggris di sd sesurakarta ..... (honest ummi kaltsum) 9 lum tingkat satuan pendidikan (ktsp) tahun 2006 disebutkan bahwa, bahasa inggris merupakan alat komunikasi secara lisan dan tulis. berdasarkan permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi dan permendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang standar kompetensi lulusan, bahasa inggris merupakan salah satu muatan lokal wajib bagi semua siswa sd dari kelas i hingga kelas vi (kaltsum dan wijayanti, 2012: 185). meski di tahun 2013, nampaknya akan muncul kebijakan baru terkait pelaksanaan mata pelajaran bahasa inggris di sd, namun bisa dikatakan kebijakan tersebut masih dalam tahap wacana. secara resmi, kebijakan untuk memasukkan pelajaran bahasa inggris di sd sesuai dengan kebijakan departemen pendidikan dan kebudayaan republik indonesia (depdikbud ri) no. 0487/1992, bab viii yang menyatakan bahwa sd dapat menambahkan mata pelajaran dalam kurikulumnya, asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. dalam hal ini, sekolah memiliki kewenangan untuk memasukkan mata pelajaran bahasa inggris berdasarkan pertimbangan dan kebutuhan situasi. kebijakan ini berdampak positif yakni banyak sekolah turut melaksanakan program pengajaran bahasa inggris mulai dari sd meski ada permasalahan yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja yaitu bagaimana dengan kualitas dan kesiapan para guru pengajar bahasa inggris di sd. permasalahannya di sini adalah alumni sarjana bahasa inggris, tidak dipersiapkan untuk mengajar di sd. dengan demikian, sebagian besar tidak dibekali metode untuk mengajar bahasa inggris di sd. dengan berlatar belakang berbagai permasalahan di atas, melalui penelitian ini, ingin diungkap bagaimana tanggapan perseptual guru bahasa inggris di sd se-surakarta terhadap kebijakan mata pelajaran bahasa inggris di sd. pengertian tanggapan menurut agus sujanto tanggapan didefinisikan sebagai gambaran pengamatan yang tinggal di dalam kesadaran kita sesudah kita mengamati. sedangkan menurut kartini kartono mengatakan bahwa tanggapan bisa diidentifikasi sebagai gambaran ingatan dari pengamatan. sementara suryadi suryabrata mengidentifikasi tanggapan sebagai bayangan yang tinggal setelah kita melakukan pengamatan. lebih jelasnya mengenai tanggapan ini abu ahmadi menyatakan :tanggapan adalah gambaran ingatan dan pengamatan yang mana objek yang telah diamati tidak lagi berada dalam ruang dan waktu pengamatan. berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa terjadinya tanggapan itu harus melalui pengamatan terlebih dahulu. berbicara mengenai tanggapan, muhibbin syah (1995:118) mengemukakan bahwa pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera, seperti mata dan telinga. dari beberapa pernyataan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa tanggapan itu bermula dari adanya suatu tindakan pengamatan yang menghasilkan suatu kesan sehingga menjadi kesadaran yang dapat dikembangkan pada masa sekarang atau pun menjadi antisipasi pada masa yang akan datang. jadi jelaslah bahwa pengamatan merupakan modal dasar dari tanggapan, sedangkan modal dari pengamatan adalah alat indera yang meliputi penglihatan dan penginderaan (http://bimbingandankonselingindonesia. blogspot.com/2012/02/pengertian-tanggapan. html). kata tanggapan mempunyai sinonim balasan, jawaban, kesan, komentar, penerimaan, persepsi, reaksi, respon, sahutan dan sambutan (http://www.sinonimkata.com/sinonim-164215tanggapan.html). seperti ditulis di atas, kata tanggapan salah satunya mempunyai sinonim dengan kata respon. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 8-1610 pengertian dari respon di dalam yusuf (2008: 96) itu sendiri ada tiga: · respon perseptual atau respon kognitif, adalah satu bentuk respon dari individu yang bereaksi, atas stimulus yang mereka hadapi. respon perseptual berbentuk tingkat pemahaman dan keyakinan seseorang terhadap suatu hal yang berhubungan dengan kepentingan dirinya. · respon syaraf simpatetik atau respon afektif, yaitu suatu respon yang berkaitan dengan aspek-aspek kesetujuan maupun ketidaksetujuan terhadap implementasi sesuatu. · respon perilaku, yaitu suatu respon yang dialami dan dilakukan untuk memberikan langkah-langkah antisipatif kebijakan pelaksanaan bahasa inggris di sd mata pelajaran bahasa inggris di sd, utamanya sd negeri, sudah dilaksanakan sejak lama, kurang lebih sudah 10 tahun lebih. kebijakan tentang dimungkinkannya pelajaran bahasa inggris di sd secara resmi dibenarkan karena dilandasi dengan berbagai kebijakan terkait. kebijakan depdikbud ri no. 0487/4/1992, bab viii, menyatakan bahwa sekolah dasar dapat menambah mata pelajaran dalam kurikulumnya, asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. kemudian kebijakan ini disusul oleh sk menteri pendidikan dan kebudayaan no. 060/u/1993 tanggal 25 februari 1993 tentang dimungkinkannya program bahasa inggris di sd sebagai mata pelajaran muatan lokal, dan dapat dimulai pada kelas 4 sd. kebijakan ini ditangapi secara positif dan luas oleh masyarakat utamanya oleh sekolahsekolah dasar yang merasa memerlukan dan mampu untuk menyelenggarakan pengajaran bahasa inggris. dalam perjalanan pengembangannya, bahasa inggris yang semula sebagai mata pelajaran muatan lokal pilihan, ada yang berkembang menjadi mata pelajaran muatan lokal wajib di beberapa daerah. kurikulum mata pelajaran muatan lokal ini tidak disusun oleh pusat kurikulum depdiknas tetapi dikembangkan di tingkat provinsi. oleh karena itu kurikulum muatan lokal di jawa tengah berbeda dengan di jawa timur dan jawa barat, baik mengenai tujuannya maupun materinya (suyanto, 2001). rumusan masalah dengan berlatar belakang permasalahan di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana guru bahasa inggris di sd memberikan tanggapan terhadap kebijakan tersebut. tujuan penelitian · mengetahui tanggapan para guru bahasa inggris di sd terkait kebijakan pemerintah tentang mata pelajaran bahasa inggris di sd. · mengetahui upaya para guru bahasa inggris (baik yang berlatar belakang pendidikan bahasa inggris dan non bahasa inggris dalam menjembatani permasalahan pengajaran bahasa inggris di sd. · memberikan masukan awal dan alternatif berupa pengetahuan bahwa mengajar (khususnya bahasa inggris) anak usia sd berbeda dengan mengajar anak sekolah lanjutan karena kognisi mereka berbeda. metode penelitian dalam penelitian ini digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. metodologi penelitian kualitatif memiliki tujuan utama mengumpulkan data deskriptif yang mendeskripsikan objek penelitian secara rinci dan mendalam dengan maksud mengembangkan konsep atau pemahaman dari suatu gejala. hal ini dilaksanakan karena disadari bahwa ada banyak hal yan tidak mungkin hanya melalui observasi dan pengukuran-pengukuran saja (sandjaya dan heriyanto, 2006:49) tanggapan perseptual guru bahasa inggris di sd sesurakarta ..... (honest ummi kaltsum) 11 jenis penelitian penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologis naturalistik. kegiatan inti dari penelitian kualitatif dalam penelitian ini adalah pemahaman tentang makna dan peristiwaperistiwa yang terjadi dalam latar sosial penelitian. menurut sukardi (2006: 11) penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama, yaitu pertama, menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore), dan kedua menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain). penelitian kualitatif naturalistik dilakukan atas dasar induktif yang mengedepankan pengembangan yang berawal dari spesifik seperti konsep, pandangan dan pengertian yang berasal dari bentuk data yang ada, untuk kemudian menuju pada kesimpulan atau hasil akhir (sukardi, 2006, 11). data dan sumber data dalam pendekatan kualitatif di sini, pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan, wawancara dan dokumentasi. dalam pengumpulan data tersebut, informasi dikumpulkan dari responden yang sumbernya adalah para guru bahasa inggris di sd di surakarta. data dikumpulkan dari sampel atas populasi untuk mewakili seluruh populasi. atau lebih jelasnya penelitian kualitatif di sini adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan pengamatan, wawancara, serta dokumentasi sebagai alat pengumpulan data. berkait dengan hal di atas, dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan adalah data primer yang populasinya adalah para guru bahasa inggris di sd. populasi dan sampel populasi penelitian ini adalah semua guru bahasa inggris di sd di surakarta. keseluruhan sd di surakarta berjumlah 290 sd, baik sd negeri, sd swasta dan sdlb. sampel yang dilibatkan dalam penelitian ini dilakukan dengan purposive yaitu beberapa guru bahasa inggris di sd yang bermitra dengan program studi pendidikan guru sekolah dasar (progdi pgsd) di surakarta yang kurang lebih ada 20 sd mitra, dengan demikian ada sekitar 20 guru. hasil dan pembahasan karakteristik responden responden dalam penelitian ini adalah guru bahasa inggris sd di wilayah surakarta. di surakarta itu sendiri ada 290 sd yang terdiri dari sd negeri, sd swasta dan sdlb. sampel dari penelitian ini adalah guru bahasa inggris dari sd-sd yang bermitra dengan pgsd ums yakni sebanyak 25 sd. dengan demikian responden dari penelitian ini adalah 25 guru sd. metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan pengamatan, wawancara dan dokumentasi. pengumpulan data berupa observasi direkam sejak penelitian sebelumnya di sekitar bulan maret 2010 dan dilanjutkan dengan observasi tentang bagaimana pelaksanaan pembelajaran bahasa inggris di sd di beberapa sd di surakarta. di sini peneliti mendapat data dengan cara mengikuti pembelajaran bahasa inggris di kelas. selain itu, peneliti mencatat hal hal yang berkaitan dengan mata pelajaran bahasa inggris. di sini, peneliti mendapat gambaran awal tentang bagaimana pelaksanaan mata pelajaran bahasa inggris di sd. selanjutnya, pengamatan tersebut lebih diperdalam di dalam penelitian yang sedang peneliti lakukan sekarang ini. dalam tahap pengumpulan data berupa pengamatan, peneliti datang ke sd mitra untuk memperoleh data primer dari responden. dari 25 sd mitra yang didatangi, ternyata yang memberi ijin untuk diobservasi hanya 20 sd. hal ini mengindikasikan bahwa tingkat antusiasme responden tinggi, terbukti dengan response rate sebesar 80%. gambaran keseluruhan dari responden penelitian ini, dijelaskan lebih lanjut dibawah ini. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 8-1612 data responden no. sd pendidikan terakhir guru bahasa inggris sekolah (bagi yang masih sekolah) pengalaman mengajar bahasa inggris 1 sd muhammadiyah program khusus kotta barat surakarta s1 bahasa inggris ums 2 tahun 2 sd muhammadiyah 1 surakarta s1 bahasa inggris umm s2 manajemen pendidikan dasar umm 13 tahun 3 sd muhammadiyah 4 surakarta d2 perpustakaan s1 pgsd, smt 8, ut 1 tahun 4 sd muhammadiyah 2 surakarta s1 fkip bahasa inggris uns 14 tahun 5 sd muhammadiyah 3 surakarta s1 fkip bahasa inggris unisri 6 tahun 6 sd muhammadiyah7 joyosuran surakarta s1 fkip bahasa indonesia 7 tahun 7 sd muhammadiyah 10 tipes surakarta s1 sastra inggris 7 tahun 8 sd muhammadiyah 11 mangkuyudan surakarta s1 fkip bahasa inggris ums 11 tahun 9 sd muhammadiyah 16 karangasem surakarta s1 sastra inggris uns 2 tahun 10 sdit muhammadiyah al kautsar gumpang s1 fkip bahasa inggris 9 tahun 11 sdn karangasem 2 surakarta s1 fkip bahasa inggris univet 4 tahun 12 sdn kleco 1 surakarta s1 sastra inggris (akta iv) 9 tahun 13 sdn pajang 1 surakarta s1 fkip bahasa inggris 7 tahun 14 sdn tunggulsari 2 surakarta s1 fkip bahasa inggris 9 tahun 15 sdn totosari surakarta s1 fkip bahasa inggris 11 tahun 16 sdn begalon 1 surakarta sma s1 fkip bahasa inggris ums (smt akhir) 7 tahun 17 sdn begalon 2 surakarta s1 sastra inggris uns 12 tahun 18 sdn bratan 2 s1 fisip & hukum uns 17 tahun 19 sd cakraningratan surakarta s1 fkip bahasa inggris 10 tahun 20 min surakarta s1 fkip bahasa inggris 9 tahun   tanggapan perseptual guru bahasa inggris di sd sesurakarta ..... (honest ummi kaltsum) 13 karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir dari 20 responden berdasarkan pengelompokan pendidikan terakhir, ternyata responden dengan latar belakang pendidikan s1 bahasa inggris merupakan kelompok terbanyak, yakni 80%, kemudian responden dengan latar belakang pendidikan s1 non bahasa inggris sebanyak 10%. selanjutnya responden dengan latar belakang pendidikan d2 non bahasa inggris 5% dan smu 5%. selengkapnya terlihat pada tabel berikut: responden berdasar pendidikan terakhir karakteristik responden berdasarkan pengalaman mengajar bahasa inggris dari 20 responden berdasarkan pengalaman mengajar bahasa inggris, ternyata sebagian besar responden sudah lama berpengalaman dalam mengajar bahasa inggris yakni selama kurang lebih 10 tahun yakni sebanyak 50%. sementara yang berpengalaman mengajar selama kurang lebih lima tahun sebanyak 20%, lima belas tahun 25%, dan dua puluh tahun 5%. responden berdasarkan pengalaman mengajar bahasa inggris karakteristik responden berdasarkan pendidikan yang sekarang tengah ditempuh. dari 20 responden berdasarkan pendidikan yang sekarang sedang ditempuh, dapat dideskripsikan bahwa sebagian besar responden tidak sedang menempuh pendidikan (belajar) yakni tepatnya 85%. responden yang sedang menempuh pendidikan s1 bahasa inggris ada 5%, non bahasa inggris 5% dan s2 5%. data selengkapnya terlihat dalam table iv.3 berikut: responden berdasarkan pendidikan yang sedang ditempuh hasil dan pembahasan pada bagian ini akan dipaparkan hasil penelitian mengenai “tanggapan guru terhadap kebijakan pemerintah terhadap pelaksanaan mata pelajaran bahasa inggris di sd”, yang dianalisa menggunakan analisis interaktif. deskripsi hasil dan pembahasan di sini didasarkan atas temuan yang diperoleh ketika dilakukan wawancara dalambentuk focus group discussion (fgd) yang diadakan tanggal 11 juni 2013. di sini ada dua kelompok guru sebagai sumber informasi yaitu guru yang memiliki latar belakang pendidikan bahasa inggris dan non bahasa inggris, dengan komposisi yaitu guru 1. empat orang guru dengan latar belakang pendidikan sarjana (s1) bahasa inggris dan pengalaman mengajar kurang atau sama dengan sepuluh tahun, 2. dua orang guru dengan latar belakang pendidikan sarjana (s1) bahasa inggris dan pengalaman mengajar lebih dari sepuluh tahun, 3. satu orang guru dengan latar belakang pendidikan non bahasa inggris dan pengalaman mengajar bahasa inggris (tahun) jumlah persentase 0 – 5 4 20% 6 – 10 10 50% 11 – 15 5 25% 16 – 20 1 5% sedang menempuh pendidikan jumlah persentase s1 bahasa inggris 1 5% s1 non bahasa inggris 1 5% s2 1 5% tidak sedang belajar 17 85% pengalaman mengajar bahasa inggris (tahun) jumlah persentase 0 – 5 4 20% 6 – 10 10 50% 11 – 15 5 25% 16 – 20 1 5% profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 8-1614 pengalaman mengajar kurang dari sepuluh tahun, dan 4. satu orang guru denga latar belakang pendidikan non bahasa inggris dengan pengalaman mengajar lebih dari sepuluh tahun. tanggapan perseptual guru tangapan perseptual atau tanggapan kog-nitif adalah satu bentuk tanggapan dari individu yang bereaksi atas stimulus yang mereka hadapi. tanggapan perseptual berbentuk tingkat pemahaman dan keyakinan seseorang terhadap sesuatu hal yang berhubungan dengan kepentingan dirinya. informan dengan kategori 1, yaitu guru yang berlatar belakang belakang pendidikan bahasa inggris dan pengalaman mengajar kurang atau sama dengan sepuluh tahun, memberikan pemahaman terhadap kebijakan pemerintah sebagai berikut: “bahasa inggris hanya untuk menambah pemahaman di sd dalam pengembangan kurikulum sd.” berbeda dengan apa yang disampaikan oleh informan dengan kategori 2, guru yang berlatar belakang pendidikan bahasa inggris dan pengalaman mengajar lebih dari sepuluh tahun. menurut mereka: “kebijakan pemerintah tersebut merupakan salah satu wujud upaya pemerintah dalam mempersiapkan peserta didik untuk mengenal bahasa inggris di jenjang sd, untuk lebih siap menempuh pendidikan di jenjang lanjutan.” sehubungan dengan tanggapan perseptual, informan dengan kategori 3 memberikan penjelasan sebagai berikut: pada kenyataannya guru bahasa inggris di sd, rata rata memang bukan lulusan yang diperuntukkan untuk mengajar sd. para lulusan tersebut memang diperuntukkan untuk mengajar sekolah tinggi. mereka terpaksa “pindah haluan” karena beberapa hal, diantaranya 1. jumlah jam mengajar mereka tidak banyak, 2. untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh. para guru bahasa inggris yang seharusnya mengajar sekolah atas, memang tidak dibekali pengetahuan bagaimana mengajar bahasa inggris untuk anak sd. namun demikian, seiring berjalannya waktu, para guru tersebut bisa menyesuaikan diri dan mendapatkan cara dan pengetahuan bagaimana cara mengajarkan bahasa inggris untuk anak sd. pemahaman lain disampaikan oleh informan dengan kategori 4, guru yang berlatar belakang pendidikan non bahasa inggris dan pengalaman mengajar lebih dari sepuluh tahun. mereka memahami kebijakan pemerintah terkait pelaksanaan mata pelajaran bahasa inggris di sd kurang lebih sebagai berikut: “bahasa inggris perlu di berikan sejak dini karena perkembangan iptek dan globalisasi menuntut seseorang untuk memahami bahasa inggris dengan baik dan benar.” dari keempat kategori informan di atas, secara eksplisit tersirat bahwa masih ada keyakinan yang positif atas manfaat kebijakan pemerintah, meskipun memiliki intensitas yang berbeda, seperti misalnya informan dengan kategori 1, mereka berpendapat bahwa mata pelajaran bahasa inggris yang dilaksanakan di sd tidak lebih dari sekedar formalitas belaka karena diangap sebagai suatu pelengkap dalam pelaksanaan sebuah kurikulum. sementara itu, informan dengan kategori tiga, menyatakan bahwa bahasa inggris memang perlu diberikan di sd mengingat globalisasi dewasa ini. lain halnya dengan informan dengan kategori 2 dan kategori 4, yang juga memiliki keyakinan yang teramat kuat akan pentingnya mata pelajaran bahasa inggris di sd utamanya jika dikaitkan dengan keberlangsungan pendidikan di masa mendatang. mereka optimis bahwa bahasa inggris memang perlu diberikan sejak sd atau sejak dini untuk menjawab tantangan pendidikan di masa depan. dari pendapat di atas, kaitannya dengan tanggapan perseptual, dapat disimpulkan menjadi dua hal yakni, pertama, informan kategori 1 dan 3 adalah mereka yang optimis dengan keberlangsungan kebijakan pemerintah dan melihat adanya kendala dalam kenyataan pelaksanaan mata pelajaran bahasa inggris di lapangan yang menurut mereka menjadikan pelaksanaannya hatanggapan perseptual guru bahasa inggris di sd sesurakarta ..... (honest ummi kaltsum) 15 nya sebatas formalitas. kedua, informan kategori 2 dan 4 adalah mereka yang juga optimis dengan keberlangsungan kebijakan pemerintah mengingat bahasa inggris merupakan sebuah bahasa yang wajib dikuasai setiap orang untuk menjawab berbagai tantangan jaman. yang membedakan informan kategori 1 dan 3 dengan kategori 2 dan 4 adalah tingkat kekritisan mereka dalam melihat permasalahan pelaksanaan mata pelajaran bahasa inggris di lapangan. informan kategori 1 dan 3, lebih kritis dan peka terkait kendala yang ada. dari informan kategori 2 dan 4, yang berpendapat bahwa pelaksanaan kebijakan pemerintah tersebut berjalan mulus dan tidak ada kendala, dari pernyataan mereka, dapat tarik kesimpulan, bahwa mereka kurang kritis dan peka terhadap permasalahan yang ada. dengan demikian, sehubungan dengan tangapan perseptual dari para guru, dapat ditarik satu kesimpulan yakni para guru bahasa inggris pada dasarnya setuju dengan kebijakan pemerin-tah tersebut, hanya saja, mereka berharap pelak-sanaannya tidak hanya sebatas untuk melengkapi kurikulum, tetapi harus dilaksanakan secara professional. simpulan berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, dapat dirumuskan simpulan yakni tanggapan perseptual yang terjadi di kalangan para guru atas implementasi kebijakan pelaksanaan mata pelajaran bahasa inggris di sd menunjukkan bahwa para guru memandang penting perlunya pelaksanaan mata pelajaran bahasa inggris di sd. namun demikian, meskipun hanya sebagai muatan lokal, para guru berharap, pelaksanaan proses belajar mengajarnya dilaksanakan dengan penuh persiapan yang matang, bukan asal asalan dan bukan hanya sebagai pelengkap kurikulum. saran berdasarkan simpulan di atas, dapat dirumuskan saran-saran yakni pada dasarnya kebijakan pemerintah dalam hal pelaksanaan mata pelajaran bahasa inggris di sd adalah suatu langkah yang positif, namun pemerintah perlu mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut proses pembelajaran secara matang dan professional. pemerintah perlu mempersiapkan standarisasi dalam hal tenaga pengajar, kurikulum, materi, metode dan lain sebagainya, sehingga pembelajaran bahasa inggris di sd tidak terkesan asal asalan dan ala kadarnya. perbaikan harus terus dilakukan oleh berbagai pihak yang terkait di dalam pembelajaran di sd, khususnya pembelajaran bahasa inggris. daftar pustaka denzin, k. norman., & lincoln, yvonna. s. 2000. handbook of qualitative research. (second edition) london: sage publication, inc. fatchan, h.a. 2011. metode penelitian kualitatif. surabaya: penerbit jenggala pustaka utama fauziati, e. 2010. teaching english as a foreign language. surakarta: era pustaka utama. kaltsum dan wijayanti. 2012. peningkatan aktivitas pembelajaran bahasa inggris melalui strategi savi dengan media gambar terhadap siswa kelas iv sd negeri 1 sonorejo blora. varia pendidikan vol. 24. no 2, desember 2012. kamal, sirajuddin. 2007. english language teaching in primary school in maakassar: teacher’s perception. jurnal: kajian linguistik dan sastra, vol. 19, no. 2, desember 2007: 136 – 148. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 8-1616 liao, posen. 2007. teachers’beliefs about teaching english to elementary school children. english teaching & learning. 31.1 (spring 2007): 43 76 http://home.pchome.com.tw/ showbiz/posenliao/doc/teachers_beliefs_about_teaching_english.pdf. diakses tanggal 13 nopember 2012 jam 4.32. miles, m.b., & huberman, m.a. 1992. analisis data qualitatif. (terjemahan tjejep rohendi rohidi). bandung: remaja rosda karya. (buku asli diterbitkan tahun 1985). moleong, lexy j. 2000. metodologi penelitian kualitatif. bandung: remaja rosda karya. muhibbin syah. 1995. psikologi pendidikan. bandung. remaja rosdakarya. rivers, w.m. 1983. communicating naturally in a second language. melbourne: cambridge university press sandjaya b dan heriyanto a. 2006. panduan penelitian. jakarta: prestasi pustaka su, ya-chen. 2006. efl teacher’s perception of english language policy at the elementary level in taiwan. educational studies, vol. 32, no. 3, september 2006, pp. 265-283. sugiyono. 2007. metode penelitian pendidikan. bandung: alfabeta. suharsimi arikunto. 2006. prosedur penelitian, suatu pendekatan praktik. jakarta: rineka cipta. sukardi. 2006. penelitian kualitatif-naturalistik dalam pendidikan. yogyakarta: usaha keluarga. sukardi, zamzani, dardiri. 2006. penelitian kualitatif naturalistik. yogyakarta: lembaga penelitian universitas negeri yogyakarta. suyanto. 2001. pengajaran bahasa inggris di sekolah dasar: kebijakan, implementasi, dan kenyataan. tilfarhoglu and ozturk. 2007. an analysis of elt teachers’ perceptions of some problems concerning the implementation of the english language teaching curricula in elementary schools. journal of language and linguistic studies vol.3, no.1, april 2007. tzuching, k.c. 2007. elementary efl student teachers’perception toward field experience in taiwan. http://ir.lib.cyut.edu.tw:8080/bitstream/310901800/7763/1/field%20experience.pdf. diakses 13 desember 2012 jam 13.40. spradley, james. p. 198). participant observation. new york: holt, rinehart and winston. yusuf, amin. 2008. respon guru atas implementasi kebijakan program sertifikasi: studi pada kkp dan mgmp di kabupaten semarang. lembaran ilmu kependidikan jilid ke-37, nomor 2, desember 2008. http://bimbingand an konseling indonesia. blogspot.com/2012/02/pengertian-tanggapan.htmldiakses jumat 1 maret 2013 jam 5.33 http://www.sinonimkata.com/sinonim-164215-tanggapan.html diakses jumat 1 maret 2013 jam 5.43 page 1 page 2 the inquiry of indegeneous culture sebagai ... (dhiniaty gularso dan rosalia susila p.) 121 the inquiry of indegenous culture sebagai model pembelajaran mata kuliah pendidikan kebudayaan daerah untuk meningkatkan kreatifitas mahasiswa dhiniaty gularso(1) dan rosalia susila purwanti(2) pgsd fkip universitas pgri yogyakarta dhiniatygularso@yahoo.com atau susilapurwanti13@gmail.com abstract inquiry model provides the opportunity for students to learn to develop their intellectual potential in the fabric of the activities that he composed himself to find something. students are encouraged to act actively seek answers to the problems it faces and draw their own conclusions through a process of critical scientific thinking, logical, and systematic. students may not remain and be passive, receiving and memorizing lessons given by the professor. the purpose of this study is students can explore the local culture or indigenous wisdom-based inquiry learning culture through the regional cultural education courses to be included in the syllabus and lesson plans for each subject to elementary schools. syllabus and lesson plans based on the indigenous culture is expected to foster respect and appreciate the diversity of indonesian culture. the method used in this research is the development of research that approached by research and development which refers to thiaragajan (1994) with 4d models that define, design, develop and disseminate. the data required in this research is quantitative data and qualitative data. acquisition of data using tests, observations, questionnaires. the instruments used are: (1) observation sheet subject of pendidikan kebudayaan daerah feasibility study using a model-based inquiry indigenous culture; (2) the observation sheet lecturer in organizing learning ability; (3 pieces of student activity observation; (4) the student questionnaire responses (5) the results of student competence. analysis of the data in this study is a descriptive qualitative. these results are an average increase of 76.54 kratifitas consisting of students above average creativity of students in answering questions at 75.02 and accuracy measures inquiry learning at 76.17. 76.54 value proves that the research is successful because of the success criteria of this study was 75. based on these results it can be concluded that the inquiry of indegenous culture can be used as learning models regional cultural education courses to enhance the creativity of students. sustainability of the student competency is learner-sd has the character to indonesia’s strong and cultured. besides, it is also expected of students as prospective teachers to defend the indonesian culture of the process of acculturation and globalization thus lowering the culture to learners after becoming a teacher someday. keywords: indegenous culture, inquiry model, student creativity profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 121-131122 pendahuluan proses pembelajaran pada mata kuliah pendidikan kebudayaan daerah (pkd) memerlukan suatu kondisi yang mengharuskan dosen mampu berinovasi dalam mengenalkan budaya indonesia yang begitu beragam dan bervariasi baik dari segi kualitas maupun kuantitas. penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bukan berarti harus berbasis computer dan ict, namun bagaimana teknik yang dipakai adalah tepat guna. inovasi pembelajaran pada kegiatan ini tidak menggunakan komputer karena difokuskan pada penggalian kebudayaan indonesia dalam hal permainan anak-anak, tumbuhan, kegiatan-kegiatan masyarakat, yang merupakan kearifan lokal suatu daerah di indonesia. kebudayaan indonesia zaman dahulu belum mengenal komputer dan komputer memang bukanlah kebudayaan indonesia. permasalahannya adalah mahasiswa pgsd belum banyak mengenal kebudayaannya sendiri. dikhawatirkan, pembelajaran yang mereka lakukan kelak ketika terjun di dunia kesd-an semakin meninggalkan budaya-budaya lokal indonesia. melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mempunyai keterampilan yang lebih dalam hal pengetahuan dan penerapan kebudayaan indonesia sehingga mampu menularkan kepada peserta didik ketika menjadi guru di sekolah dasar. outcome yang diharapkan dengan berlangsungnya proses pembelajaran seperti skenario di atas akan berdampak pada dosen yaitu dapat membekali dan memberikan landasan pada mahasiswa agar memiliki pengetahuan, pemahaman dan apresiasi yang baik mengenai keberagaman kebudayaan daerah di indonesia. selain itu dampak bagi mahasiswa adalah dimilikinya kemampuan menganalisis dan mengevaluasi perilaku masyarakat yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga negara khususnya peserta didik terkait dengan keberagaman budaya di indonesia. bekal tersebut dapat digunakan mahasiswa sebagai guru yang mengajar peserta didiknya pada mata pelajaran muatan lokal di sekolah dasar. kebudayaan daerah diartikan sebagai kebudayaan yang khas yang terdapat pada wilayah tersebut. kebudayaan daerah di indonesia sangatlah beragam. menurut koentjaraningrat kebudayaan daerah sama dengan konsep suku bangsa. suatu kebudayaan tidak terlepas dari pola kegiatan masyarakat. keragaman budaya daerah bergantung pada faktor geografis. semakin besar wilayahnya, maka makin komplek perbedaan kebudayaan satu dengan yang lain. jika kita melihat dari ujung pulau sumatera sampai ke pulau irian tercatat sekitar 300 suku bangsa dengan bahasa, adat-istiadat, dan agama yang berbeda. kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat “local wisdom” atau pengetahuan setempat “local knowledge”atau kecerdasan setempat “local genious”. sistem kearifan lokal secara netral dan dinamik di kalangan dunia barat biasanya disebut dengan istilah indigenous knowledge. konsep kearifan lokal atau kearifan tradisional atau sistem pengetahuan lokal (indigenous knowledge system) adalah pengetahuan yang khas milik suatu masyarakat atau budaya tertentu yang telah berkembang lama sebagai hasil dari proses hubungan timbal-balik antara masyarakat dengan lingkungannya. jadi, konsep sistem kearifan lokal berakar dari sistem pengetahuan dan pengelolaan lokal atau tradisional. karena hubungan yang dekat dengan lingkungan dan sumber daya alam, masyarakat lokal, tradisional, atau asli, melalui “uji coba” telah mengembangkan pemahaman the inquiry of indegeneous culture sebagai ... (dhiniaty gularso dan rosalia susila p.) 123 terhadap sistem ekologi dimana mereka tinggal yang telah dianggap mempertahankan sumber daya alam, serta meninggalkan kegiatan-kegiatan yang dianggap merusak lingkungan. pada prinsipnya inkuiri adalah pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa, maka peranan dosen adalah sebagai pembimbing, stimulator, dan fasilitator. dosen harus membimbing dan membantu mahasiswa untuk mengidentifikasi pertanyaan, dan masalahmasalah, membantu mahasiswa dalam menemukan sumber informasi yang tepat, dan membimbing mahasiswa melakukan penyelidikan. dosen menciptakan suasana yang menjamin kebebasan untuk melakukan eksplorasi, mendorong mahasiswa untuk berani memecahkan buah pikirannya sendiri dengan berbagai cara. dalam hal ini dosen dapat menempuh cara-cara: bersikap terbuka dalam menerima pendapat, bersedia menerima, memeriksa/menimbang semua usaha yang diajukan mahasiswa, dengan ringan hati memberikan kunci-kunci pemecahan masalah, memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berbuat kreatif dan mandiri, mendorong mahasiswa untuk berani bertukar pendapat, menganalisis pendapat dar tafsiran yang berbedabeda. di dalam pembelajaran inkuiri dosen berperan sebagai fasilitator: 1. menyiapkan tugas, masalah/problem yang akan dipecahkan oleh mahasiswa 2. memberikan klarifikasi-klarifikasi 3. menyiapkan setting kelas 4. menyiapkan alat-alat dan fasilitas belajar yang diperlukan 5. memberikan kesempatan pelaksanaan 6. sebagi sumber informasi, jika diperlukan oleh siswa 7. membantu mahasiswa agar dapat secara mandiri merumuskan kesimpulan dan implikasi-implikasinya. dosen sebagai stimulator, berusaha menstimulir mahasiswanya untuk berpikir aktif, dengan cara mengajukan pertanyaan, meminta mahasiswa untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip ke dalam berbagai situasi, mendorong mahasiswa untuk mengolah data dan informasi. selain itu dosen juga harus menghadapkan mahasiswa pada masalah, kontradiksi, implikasi, asumsi tentang nilai dan pertentangan nilai. kemudian dosen mengklarifikasi respon mahasiswa dan menyarankan alternatif penafsiran terhadap data. dosen tidak menekankan kebenaran jawaban, tetapi membantu mahasiswa menemukan dan mengklasifikasi jawaban yang tepat. oleh karena itu dosen dituntut memiliki keterampilan bertanya sehingga dapat meningkatkan berpikir kritis dan memecahkan masalah. secara umum proses pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: a. orientasi beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi ini adalah: 1) menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa. 2) menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. 3) menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa. b. merumuskan masalah merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. beberapa, hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya: 1) masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 121-131124 2) masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti. 3) konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa. c. merumuskan hipotesis kemampuan atau potensi individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir. potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuam menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. d. mengumpulkan data dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya. oleh sebab itu, tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaanpertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. e. menguji hipotesis yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. di samping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan. f. merumuskan kesimpulan merumuskan kesimpulan adalah proses mendiskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. agar kesimpulan relevan dengan fokus permasalahan maka, guru hendaknya mampu menunjukkan kepada siswa, data mana yang relevan dan mana yang kurang relevan. proses pembelajaran yang telah dilaksanakan pada tahun ajaran tahun ajaran 2010/2011, mata kuliah pkd belum mengarah pada praktik pembuatan silabus, rpp dan bahan ajar berbasis indegenous culture dan masih pada tataran teori sehingga pembelajaran masih didominasi oleh dosen dan belum sepenuhnya berpusat pada mahasiswa. banyaknya teori kurang memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengembangkan konsep yang diterima menjadi kontekstual. penuangan konseptual teori kebudayaan kedalam kontekstual diwujudkan dalam rancangan pembelajaran semester genap 2013/ 2014 melalui silabus dan rpp pada setiap mata kuliah berbasis indigenous culture. sedangkan metode yang dianggap tepat agar pembelajaran berpusat pada mahasisiwa adalah metode inkuiri. tujuan penelitian ini adalah mahasiswa dapat menggali kebudayaan berbasis kearifan lokal atau indigenous culture melalui pembelajaran inkuiri pada mata kuliah pendidikan kebudayaan daerah untuk dimasukan dalam silabus dan rpp tiap mata pelajaran ke-sd-an. silabus dan rpp berbasis indigenous culture diharapkan dapat menumbuhkembangkan sikap menghargai dan mengapresiasi keberagaman budaya indonesia. keberlanjutan dari kompetensi mahasiswa tersebut adalah peserta didik sd mempunyai karakter ke-indonesia-an yang kuat dan berbudaya. disamping itu juga the inquiry of indegeneous culture sebagai ... (dhiniaty gularso dan rosalia susila p.) 125 diharapkan mahasiswa sebagai calon guru ikut mempertahankan kebudayaan indonesia dari proses akulturasi dan globalisasi sehingga menurunkan kebudayaan tersebut kepada peserta didiknya setelah menjadi guru kelak. manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1) melestarikan kebudayaan indonesia dengan cara mahasiswa membuat perencanaan pembelajaran (silabus, rpp, bahan ajar) berbasis indigenous culture untuk semua mata pelajaran dan semua kelas, (2) menambah pengetahuan, keterampilan mengapresiasi dan khasanah budaya indonesia melalui pembelajaran inkuiri pada mata kulaih pkd (3) mengeksplorasi kembali kebudayaan indonesia yang merupakan kekayaan lokal indonesia meliputi permainan anak-anak, kesenian, lagu, tanaman dan hal-hal lain. metode penelitian metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan berpendekatan research and development yang mengacu pada thiaragajan (1994) dengan model 4d yaitu define, design, develop dan disseminate. adapun tahap-tahap penelitian digambarkan pada gambar 1 dan diuraikan sebagai berikut. define  analisis teori  analisis sk/kd design merancang draft silabus, rpp, bahan ajar dan penilaian (srbp) menggunakan teori inkuiri dan teori kebudayaan berkearifan lokal develope  mengembangkan draft srbp  review draft srbp  revisi model srbp  uji keterbacaan srbp  revisi model srbp  uji coba srbp  analisis srbp  revisi model srbp  produksi model srbp disseminate menghasilkan : model pembelajaran menggunakan teori inkuiri dan teori kebudayaan berkearifan lokal (indigenous culture) gambar 1. tahap-tahap penelitian sasaran inovasi pembelajaran yang akan dilakukan adalah mahasiswa program studi pgsd fkip upy semester vi yaitu kelas a1a5 angkatan 2011 berjumlah 203 mahasiswa. kelas tersebut merupakan mahasiswa yang menempuh mata kuliah pendidikan kebudayaan daerah pada semester genap tahun akademik 2012/2013. rancangan evaluasi yang digunakan sebagai analisis keberhasilan model ini adalah sebagai berikut. 1) kriteria kriteria penilaian dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut. a) ketepatan langkah-langkah pembelajaran inkuiri b) kreatifitas dalam menjawab pertanyaan dalam pembelajaran (kreatifitas sumber, fakta dan data) 2) indikator pencapaian tujuan indikator pencapaian kegiatan ini adalah sebagai berikut. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 121-131126 3) tolok ukur keberhasilan kegiatan tolok ukur keberhasilan kegiatan ini adalah jika mahasiswa mendapatkan nilai sebagai berikut. a) jika ketepatan langkah-langkah pembelajaran inkuiri mendapatkan nilai minimal 75. b) jika kreatifitas dalam menjawab pertanyaan dalam pembelajaran mendapatkan nilai minimal 75. data yang dibutuhkan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif. data tersebut memberikan informasi tentang validitas, praktis dan efektifitas dari model yang dikembangkan. data yang diperoleh meliputi : (1) data validitas instrumen, perangkat silabus, rpp, bahan ajar dan penilaian; (2) data keterlaksanaan pembelajaran mata kuliah (mk) pendidikan kebudayaan daerah (pkd) menggunakan model inkuiri berbasis indigenous culture meliputi kemampuan dosen dalam mengelola pembelajaran, respon mahasiswa terhadap pembelajaran, aktivitas mahasiswa, respon dosen sejawat, serta kompetensi hasil belajar mahasiswa. tabel 1 berikut adalah komponen yang divalidasi pada penelitian ini. jenis data perolehan data analisis data 1. data validitas instrument dan perangkat pembelajaran a silabus kajian teori dan kebutuhan mahasiswa validasi ahli melalui fgd b rpp kajian teori dan kebutuhan mahasiswa validasi ahli melalui fgd c bahan ajar kajian teori dan kebutuhan mahasiswa validasi ahli melalui fgd d penilaian kajian teori dan kebutuhan mahasiswa validasi ahli melalui fgd 2. data keterlaksanaan pembelajaran a keterlaksanaan pembelajaran observasi/pengamatan deskriptif kualitatif b kemampuan dosen dalam mengorganisir pembelajaran observasi/pengamatan deskriptif kualitatif c aktivitas mahasiswa (ketepatan langkah-langkah pembelajaran inkuiri) observasi/pengamatan deskriptif kualitatif d kreatifitas mahasiswa observasi/pengamatan deskriptif kualitatif e respon mahasiswa angket deskriptif kuantitatif f hasil kompetensi belajar mahasiswa tes kuantitatif no. indikator pencapaian tujuan nilai 1. ketepatan langkah-langkah pembelajaran inkuiri 1. orientasi 15 2. merumuskan masalah 15 3. merumuskan hipotesis 15 4. mengumpulkan data 15 5. menguji hipotesis 20 6. merumuskan kesimpulan 20 2. kreatifitas dalam menjawab pertanyaan dalam pembelajaran a. fakta 30 b. data 35 c. sumber 35 tabel 1. rekapitulasi data dan analisis penelitian yang akan dilakukan the inquiry of indegeneous culture sebagai ... (dhiniaty gularso dan rosalia susila p.) 127 instrumen yang dikembangkan pada penelitian ini diperoleh melalui focus group discussion (fgd). perserta fgd adalah dosendosen yang memiliki keahlian dalam bidang yang akan diteliti yaitu ahli pendidikan, ahli evaluasi pembelajaran, ahli media pembelajaran, ahli kebudayaan daerah/budayawan, ahli sejarah, ahli metodologi pembelajaran. instrumen yang dimaksud adalah : (1) lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran mk pkd menggunakan model inkuiri berbasis indigenous culture; (2) lembar observasi kemampuan dosen dalam mengorganisasikan pembelajaran; (3 lembar observasi aktivitas mahasiswa; (4) angket respon mahasiswa (5) hasil kompetensi mahasiswa. analisis data pada penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif. hasil dan pembahasan kriteria penilaian dalam kegiatan ini adalah ketepatan langkah-langkah pembelajaran inkuiri dan kreatifitas dalam menjawab pertanyaan dalam pembelajaran (kreatifitas sumber, fakta dan data). ketepatan langkah-langkah pembelajaran inkuiri meliputi orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis dan merumuskan kesimpulan. sedangkan kreatifitas dalam menjawab pertanyaan dalam pembelajaran meliputi kreatifitas sumber, fakta dan data. berdasarkan kriteria tersebut maka tolok ukur keberhasilan kegiatan ini adalah jika mahasiswa mendapatkan nilai sebagai berikut (1) jika ketepatan langkah-langkah pembelajaran inkuiri mendapatkan nilai minimal 75 dan (2) jika kreatifitas dalam menjawab pertanyaan dalam pembelajaran mendapatkan nilai minimal 75. berdasarkah analisis hasil pekerjaan mahasiswa, diperoleh informasi bahwa ketepatan langkah-langkah pembelajaran inkuiri rata-rata empat kelas yaitu 76,17 dengan perincian kelas a1-2011 sebesar 76.35; kelas a2-2011 sebesar 77,485; kelas a3-2011 sebesar 75,1625; dan kelas a4 -2011 sebesar 75,6875 (ditunjukkan dengan tabel 2) tabel 2. kemampuan mahasiswa dalam ketepatan langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode inkuiri   praktik 1 praktik 2 praktik 3 praktik 4 rata-ratamembatik kain indegenous games for children indegenous foods jenis-jenis kebudayaan kelas a1-2011 73.8 75.55 76.92 79.13 76.35 kelas a2-2011 73.7 76.88 80.44 78.92 77.485 kelas a3-2011 67.43 78.78 77.55 76.89 75.1625 kelas a4-2011 67.63 78.82 78.57 77.73 75.6875 rata-rata 70.64 77.5075 78.37 78.1675 76.17125 berdasarkan tabel 2 diatas, peningkatan kemampuan mahasiswa cukup tampak. peningkatan ini terjadi karena semakin banyak jumlah praktik tentunya mahasiswa semakin baik dalam memahami arti langkah-langkah pembelajaran menggunakan model inkuiri. peningkatan tersebut tampak jelas digambarkan oleh grafik 1 berikut ini. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 121-131128 rata-rata kreatifitas mahasiswa dalam menjawab pertanyaan, berdasarkan analisis hasil adalah 75,02 yang terdiri atas kelas a1-2011 sebesar 75,4075; kelas a2-2011 sebesar 76,7325; kelas a3-2011 sebesar 73,82 dan kelas a4-2011 sebesar 74,159. gambar 1. grafik peningkatan kemampuan mahasiswa dalam ketepatan langkahlangkah pembelajaran menggunakan model inkuiri tabel 3. kreatifitas mahasiswa dalam menjawab pertanyaan dalam pembelajaran   praktik 1 praktik 2 praktik 3 praktik 4 rata-ratamembatik kain indegenous games for children indegenous foods jenis-jenis kebudayaan kelas a1-2011 73.53 74.05 75.75 78.3 75.4075 kelas a2-2011 73.45 73.34 78.59 81.55 76.7325 kelas a3-2011 72.87 73.11 72.08 77.22 73.82 kelas a4-2011 72.78 73.079 72.72 78.06 74.15975 rata-rata 73.1575 73.39475 74.785 78.7825 75.029938 berdasarkan tabel 3 diatas, diperoleh hasil bahwa kelas a12011 dan kelas a2-2011 telah berhasil dalam penelitian ini sedangkan kelas a32011 dan kelas a4-2011 belum berhasil mencapai kriteria keberhasilan dalam penelitian ini yaitu sebesar 75. dimana perolehan nilai kreatifitas untuk kelas a3-2011 kurang 1,18 dan kelas a4-2011 memiliki kekurangan nilai sebesar 0,85. namun, untuk rata-rata seluruh mahasiswa, penelitian ini memenuhi criteria keberhasilan penelitian karena 75,02 > 75. peningkatan kreatifitas mahasiswa dalam menjawab pertanyaan dalam pembelajaran dapat lebih jelas terlihat pada grafik 2 berikut ini. the inquiry of indegeneous culture sebagai ... (dhiniaty gularso dan rosalia susila p.) 129 peningkatan kreatifitas mahasiswa dalam pembelajaran menggunakan model inkuiri adalah gabungan dari kedua indikator pencapaian tersebut diatas yaitu ketepatan langkah-langkah pembelajaran inkuiri dan kreatifitas dalam menjawab pertanyaan dalam penelitian. berdasarkan hasil perhitungan dan analisis pekerjaan mahasiswa, diperoleh rata-rata peningkatan kratifitas mahasiswa sebesar 76,54. grafik 2. kreatifitas mahasiswa dalam menjawab pertanyaan tabel 4. kreatifitas mahasiswa dalam pembelajaran menggunakan metode inkuiri   praktik 1 praktik 2 praktik 3 praktik 4 rata-ratamembatik kain indegenous games for children indegenou s foods jenis-jenis kebudayaan kelas a1-2011 73.5375 74.8 76.3375 78.71875 75.848438 kelas a2-2011 73.45 75.114286 78.592857 80.1 76.814286 kelas a3-2011 70.152778 75.944444 79.333333 81.583333 76.753472 kelas a4-2011 70.210227 75.948864 79.267045 81.619318 76.761364 rata-rata 71.837626 75.451898 78.382684 80.50535 76.54439 berikut ini adalah grafik yang memperjelas peningkatan kreatifitas mahasiswa dalam pembelajaran menggunakan metode inkuiri. berdasarkan grafik tersebut dapat dianalisis peningkatan paling tajam adalah pada saat dari praktik 1 ke praktik 2 yaitu dari membatik kain ke permainan anak berbasis kearifan lokal. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 121-131130 rencana tahapan selanjutnya adalah membandingkan teori inkuiri yang telah diteliti dengan teori lain misalnya problem based learning, teori demonstrasi, teori paikem, teori group investigation, teori studet facilitator and explaining, teori explicit interaction, teori cooperative integrated reading and compotition (circ), dan sebagainya. dari perbandingan ini kemudian akan diketahui teori mana yang lebih efektif untuk meningkatkan kreatifitas mahasiswa dalam pembelajaran pendidikan kebudayaan daerah untuk menggali kearifan lokal (indigenous wisdom). berdasarkan perbandingan teori tersebut juga akan muncul model pembelajaran yang cocok bagi pembelajaran berorientasi kearifan lokal. simpulan kesimpulan penelitian ini adalah the inquiry of indegenous culture dapat digunakan sebagai model pembelajaran mata kuliah pendidikan kebudayaan daerah untuk meningkatkan kreatifitas mahasiswa. saran saran untuk peneliti selanjutnya adalah menggunakan model lain untuk melakukan pembelajaran kebudayaan daerah, misalnya dengan problem solving, yang selanjutnya dapat dibandingkan efektifitasnya. grafik 3. peningkatan kreatifitas mahasiswa menggunakan dalam pembelajaran menggunakan model inkuiri the inquiry of indegeneous culture sebagai ... (dhiniaty gularso dan rosalia susila p.) 131 daftar pustaka bambang supriyadi, 2013. problema pendidikan di indonesia dan usulan pemecahannya, disampaikan pada dies natalis ke 51 universitas pgri yogyakarta, 11 desember 2013. bambang purwanto, 2012. merajut kebhinekaan dan kearifan budaya bagi kemajuan dan kesejahteraan indonesia, pidato ilmiah disampaikan pada rapat terbuka dalam rangka peringatan dies natalis ke-63 universitas gadjah mada. hamengku buwono x, 2011. menggugah hati, mengetuk nurani, membangun peradaban berbasis nilai-nilai kemanusiaan, pidato penganugerahan gelar doktor honoris causa bidang kemanusiaan dari universitas gadjah mada, 19 desember 2011, ugm, yogyakarta. hidayati, dkk, 2008. pengembangan pendidikan ips sd, direktorat jenderal pendidikan tinggi, departemen pendidikan nasional, jakarta. m. mohtar mas’oed et al, 2011. “untuk apa negara? renungan akhir tahun tentang tanggung jawab penyelenggaraan layanan publik”, pidato disampaikan pada rapat terbuka dalam rangka peringatan dies natalis ke-62 universitas gadjah mada. koentjoroningrat, 1985. persepsi tentang kebudayaan nasional, kumpulan karangan dalam persepsi masyarakat tentang kebudayaan, editor alfian, pt. gramedia, jakarta. rajab-kat,2010. memberdayakan kearifan lokal bagi komunitas adat terpencil, http:// www.depsos.go.id/modules.php?name=news&file=article&sid=328 rensus silalahi, 2011. kontribusi model pembelajaran kontekstual tipe inkuiri dalam meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan, jurnal penelitian pendidikan upi edisi khusus no. 2, agustus 2011. sri sumardiningih, endang mulyani dan marzuki, 2013. model pendidikan ekonomi kreatif berbasis karakter sebagai bridding course pembelajaran mata kuliah kewirausahaan di perguruan tinggi. jurnal kependidikan, universitas negeri yogyakarta, volume 43 nomor 1 mei 2013 issn 0125-992x halaman 69 – 77. pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 53 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 vol. 7, no. 1, juli 2020 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: doi.org/10.23917/ppd.v1i1.10817 pengembangan modul praktikum serli (discovery learning) untuk pembelajaran sains di sekolah dasar azizah1), puji winarti 2), nurul kami sani3) 1) fkip, universitas tadulako; 2,3) fkip, universitas darul ulum islamic centre sudirman 1azizahrosnadi@gmail.com; 2pujiwinartirulian@gmail.com; 3nurulkamisani@gmail.com pendahuluan proses pembelajaran merupakan suatu perpaduan yang tersusun rapi. perpaduan tersebut meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran. pembelajaran juga merupakan proses, cara, dan tindakan yang mempengaruhi siswa untuk belajar. dengan demikian, media pembelajaran merupakan alat dan teknik yang digunakan sebagai perantara komunikasi antara seseorang guru dan siswa. media pembelajaran memiliki peranan penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. hadirnya media pembelajaran mampu membawa dan membangkitkan minat dan antusiasme siswa dalam belajar, membantu memantapkan pengetahuan dan semangat siswa, menghidupkan proses pembelajaran, membantu guru dalam memperbaharui semangat siswa terhadap yang baru setiap harinya, serta dapat digunakan dalam rangka mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah, (wati, 2016). kondisi ideal di atas tidak sesuai dengan kondisi di beberapa sekolah dasar (sd) di kabupaten semarang khususnya dalam pembelajaran ipa. berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa proses pembelajaran ipa kebanyakan dilakukan dengan abstract: this study aims to develop a serli practicum module (discovery learning) for science learning in class vi elementary schools that has met valid, practical, and effective criteria for use in science learning in elementary schools. this type of research is research and development that uses the peffers et al development model. the type of development research includes six phases, namely: (1) identifying problems that motivate research, (2) describing research objectives, (3) designing and developing products, (4) testing products, (5) evaluating trial results, and (6) ) communicating results. the results of the study show that the serli practicum module (discovery learning) for science learning in class vi elementary school has been valid, practical and effective. validity values obtained are 61 with very valid criteria. practical value of 65.73 or very practical. and the acquisition of effectiveness value is 0.70 with effective criteria. keywords: serli practicum module, discovery learning, science learning mailto:1azizahrosnadi@gmail.com pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 54 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 pendekatan teacher center learning. dalam proses pembelajaran ipa, guru menyampaikan informasi atau ilmu pengetahuan hanya sebatas pada materi yang terdapat pada buku paket. mereka jarang menggunakan ragam media pembelajaran. hal tersebut mengakibatkan kurangnya pemahaman siswa tentang materi ipa. terbentuk konsep pada diri siswa bahwa pembelajaran ipa itu syarat dengan hafalan sehingga mempengaruhi minat belajar mereka. menurut tillery (2017), “secience is concerned with making sense out of the environment. the early stages of this "search for sense" usually involve objects in the environment, things that can be seen or touched. these could be objects you see every day, such as a glass of water, a moving automobile, or a running dog. selanjutnya dikatakan bahwa science is a way of thingking about and understanding your surroundings.” artinya bahwa sains adalah sesuatu yang dapat diamati yang terdapat di lingkungan. tahap ini diawali dengan menemukan hal–hal yang masuk akal yang melibatkan benda-benda di lingkungan, sesuatu yang dapat dilihat atau disentuh. hal ini mencakup benda-benda yang dapat terlihat setiap hari seperti segelas air, mobil yang bergerak, atau anjing yang sedang berlari. selanjutnya dikatakan pula bahwa sains adalah cara berpikir dan memahami tentang lingkungan sekitar. (hewitt, 1997), mengemukakan “science is the body of knowledge about nature that represents the collective efforts, insights, findings, and wisdom of the human race. science is not something new but had its beginnings before recorded history when humans first discovered reoccurring relationship around them.” artinya sains adalah kumpulan dari ilmu pengetahuan tentang alam yang secara umum meliputi usaha, pengertian, penemuan dan kebijakan manusia. sains bukan merupakan sesuatu yang baru tetapi merupakan awal dari catatan sejarah dimana manusia pertama menemukan apa yang terjadi disekitar mereka. berdasarkan uraian di atas, maka sains tidak saja mengumpulkan hukum-hukum, sebuah katalog yang tidak berhubungan dengan fakta-fakta. sains adalah kreatif pikiran manusia, dengan gagasan-gagasan penemuan bebas dan konsep-konsep. teori-teori fisika mencoba untuk menggambarkan kenyataan dan menentukan hubungan dengan fakta-fakta yang ada di bumi. ilmu pengetahuan alam (ipa) dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. pelajaran tersebut sebagai pendidikan berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan alam. berdasarkan pengertian di atas, maka pembelajaran ipa hendaknya disampaikan dengan menggunakan berbagai model pembelajaran. menurut bruce joyce & weil, model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran ipa yaitu dengan discovery learning, (darmawan & wahyudin, 2018). pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 55 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 model discovery learning adalah proses pembelajaran dimana siswa diberikan sebuah materi pembelajaran, kemudian diberikan acuan bagaimana materi tersebut dapat dijadikan sebuah jawaban atas pertanyaan atau masalah yang diberikan peserta didik. selama proses pembelajaran siswa dituntut untuk menemukan langkah, tahapan dan jawaban-jawaban yang dibutuhkan sampai ia menemukan sendiri. selanjutnya ia harus menggunakan hasil temuannya tersebut untuk menjawab dan merumuskan pendapat maupun deskripsi jawaban yang ditugaskan guru. sejalan dengan pendapat di atas, liewellyn (2011) mengemukakan bahwa pembelajaran ipa yang dilakukan melalui penyelidikan ilmiah melibatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dikembangkan siswa saat menyelidiki dunia alami mereka. selama investigasi ilmiah, ketiga aspek ini terintegrasi dan melilit seperti tiga helai tali. penyelidikan ilmiah juga mengacu pada keterampilan berpikir kritis yang melibatkan siswa saat melakukan eksplorasi sains. untuk dapat melakukan penyelidikan, maka dibutuhkan beragam media pembelajaran. media pembelajaran yang mendukung kegiatan penyelidikan seperti alat dan bahan percobaan, buku, lks, modul, dan sebagainya. salah satu yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan modul pembelajaran. menurut prastowo, a. modul adalah sebuah bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan tingkat pengetahuan dan usianya agar mereka dapat belajar sendiri (mandiri) dengan bantuan atau bimbingan yang minimal dari guru. kemudian dengan modul, siswa juga dapat mengukur sendiri tingkat penguasaannya terhadap materi yang dibahas pada setiap satuan modul. jika siswa telah menguasai materinya, maka mereka dapat melanjutkan pada satuan modul tingkat berikutnya. sebaliknya, jika siswa belum mampu maka mereka akan diminta untuk mengulangi dan mempelajari kembali, (prastowo, 2014). sementara itu, untuk menilai baik tidaknya atau bermakna tidaknya suatu modul ditentukan oleh mudah tidaknya modul digunakan oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran. menurut santyasa dalam (rusmiati, 2013), keuntungan yang diperoleh dari pembelajaran dengan penerapan modul adalah sebagai berikut: 1) meningkatkan motivasi peserta didik, karena setiap kali mengerjakan tugas pelajaran yang dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan; 2) setelah dilakukan evaluasi, pendidik dan peserta didik mengetahui benar, pada modul yang mana peserta didik telah berhasil dan padta bagian modul yang mana mereka belum berhasil; 3) peserta didik mencapai hasil sesuai dengan kemampuannya; 4) bahan pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester; dan 5) pendidikan lebih berdaya guna, karena bahan pelajaran disusun menurut jenjang akademik. menurut (surahman, 2012), modul adalah satuan program pembelajaran terkecil yang dapat dipelajari oleh peserta didik secara perseorangan (self instructional), setelah peserta menyelesikan satu satuan dalam modul, selanjutnya peserta dapat melangkah maju dan mempelajari satuan modul berikutnya. dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa modul adalah sebuah media pembelajaran yang disusun secara sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik sesuai tingkat pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 56 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 pengetahuan dan usia mereka agar dapat belajar sendiri dengan bantuan atau bimbingan yang minimal dari guru. bruner menjelaskan bahwa “discovery learning can be defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize it himself (darmawan & wahyudin, 2018). dengan demikian discovery learning dapat dipahami sebagai proses pembelajaran yang mampu menempatkan dan memerankan peran peserta didik sehingga lebih mampu menyelesaikan permasalahan yang ada sesuai dengan pokok materi yang dipelajarinya sesuai dengan kerangka pembelajaran yang disuguhkan oleh guru. pada akhir pembelajaran atau peserta didik setelah menyelesaikan tahapan pembelajaran ia dituntut juga untuk mampu mengorganisasi cara, tahapan dan gaya ia belajarnya sehingga sukses dalam menguasai materi. beberapa kelebihan penerapan model discovery learning yaitu: 1) membantu peserta didik memperbaiki dan meningkatkan keterampilan dan proses kognitif; 2) menguatkan pengertian, ingatan, dan transfer kompetensi selanjutnya; 3) menumbuhkan rasa senang peserta didik, karena berhasil menemukan sesuatu; 4) membantu peserta didik memperkuat konsep dirinya karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan teman-temannya; 5) menyebabkan peserta didik mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dan motivasi sendiri selama proses pembelajaran; 6) membantu peserta didik menghilangkan skeptisisme (keraguan); 7) mendorong peserta didik berpikir dengan intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri untuk nantinya ditemukan jawabannya oleh diri sendiri. modul praktikum ipa berpendekatan discovery learning adalah media pembelajaran yang dapat dipelajari secara mandiri berisi tujuan pembelajaran, ringkasan materi dan kegiatan praktikum untuk membuktikan fenomena alam. kegiatan praktikum disertai dengan beberapa pertanyaan yang menuntut peserta didik melakukan keterampilan proses sains yaitu mengamati, mengukur, komunikasi, mengklasifikasikan, prediksi, dan interferensi/hipotesis. melalui kegiatan praktikum dan proses mencari tahu jawaban atas pertanyaan yang disajikan, siswa dapat membuat kesimpulan sendiri atas materi yang mereka pelajari tersebut. tujuan penyusunan modul berpendekatan discovery learning yang diadopsi dari (prastowo, 2014), antara lain: 1) agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan pendidik. hal ini sesuai dengan karakteristk pendekatan discovery learning; 2) agar peran pendidik tidak terlalu dominan dan otoriter dalam kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik dapat menemukan pengetahuannya sendiri; 3) melatih kejujuran peserta didik. dengan tujuan memperoleh pengetahuan baru atau membuktikan fenoma yang terjadi maka langkah kerja dalam kegitan praktikum dibuat secara sistematis sehingga peserta didik melakukan kegiatan praktikum sesuai dengan perintah yang ada pada modul; 4) mengakomodasi berbagai tingkat dan kecepatan belajar peserta didik. peserta didik yang telah dapat membuat kesimpulannya sendiri dapat melanjutkan ke kegiatan praktikum selanjutnya; 5) agar peserta didik mampu mengukur sendiri tingkat penguasaan materi yang telah dipelajari. pada bagian akhir modul dilengkapi dengan evaluasi terkait dengan materi yang telah dipelajari lewat kegiatan praktikum. pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 57 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 berdasarkan keuntungan penggunaan modul dan model pembelajaran discovery learning di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “pengembangan modul praktikum yang berbasis discovery learning pada pembelajaran ipa kelas vi sekolah dasar”. metode penelitian jenis penelitian ini adalah research dan development (r&d). penelitian ini menggunakan model penelitian peffers, dkk yang meliputi enam fase, yaitu: (1) mengedentifikasi masalah yang memotivasi penelitian, (2) mendeskripsikan tujuan penelitian, (3) merancang dan mengembangkan produk, (4) menguji produk, (5) mengevaluasi hasil uji coba, dan (6) mengkomunikasikan hasil, (sani et al., 2018). subjek penelitian ini terdiri dari 2 jenis, yaitu subjek pada ujicoba kecil dan subjek pada uji lapangan. subjek ujicoba kecil terdiri dari 5 siswa. subjek ujicoba besar terdiri dari 120 siswa kelas vi yang berasal dari 3 sdn kalirejo 02, sdn sidomulyo 03, dan sdn leyangan yang terletak di kabupaten semarang. lokasi penelitian terletak pada 3 lokasi yang berbeda sesuai dengan subjek penelitian yang dilibatkan. ujicoba kecil dilaksanakan di sdn kalirejo 02 kecamatan ungaran timur kabupaten semarang. ujicoba lapangan dilaksanakan di sdn kalirejo 02 kecamatan ungaran timur, sdn sidomulyo 03 dan sdn leyangan kecamatan ungaran timur. data dan sumber data yang digunakan untuk menganalisis hasil penelitian ini terdiri dari 3 jenis, yaitu (1) data hasil validasi ahli, (2) data hasil ujicoba kelompok kecil dan (3) data hasil ujicoba lapangan. instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembar kuesioner dan tes. kuesioner digunakan untuk mendapatkan data kevalidan dan kepraktisan modul praktikum yang dikembangkan. sedangkan tes yang berbentuk pilihan ganda digunakan untuk mendapatkan data keefektifan modul praktikum ipa. sedangkan teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis menganalisis data yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif. analisis kualitatif dilakukan untuk mengolah data validitas modul dan kepraktisan modul. sedangkan analisis kuantitatif untuk mengolah data keefektifan modul. hasil dan pembahasan hasil tahapan pengembangan terdiri dari beberapa tahap, yaitu identifikasi masalah, deskripsi tujuan penelitian, rancangan pengembangan produk, uji produk, dan evaluasi hasil uji coba. identifikasi masalah kegiatan awal yang dilakukan yaitu mengidentifikasi masalah yang ada di sekolah. temuannya yaitu kurangnya media pembelajaran dan alat peraga yang mendukung pembelajaran ipa. hal ini menyebabkan pelaksanaan pembelajaran ipa berjalan kurang maksimal. penyampaikan materi kepada siswa tidak disertai dengan kegiatan praktikum yang memperkuat pemahaman siswa akan materi tersebut. permasalahan ini ditemukan di beberapa sekolah dasar kabupaten semarang seperti pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 58 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 sdn leyangan kecamatan ungaran timur, sdn langensari 03 kecamatan bergas, dan sdn kalirejo 02. berdasarkan permasalahan tersebut, selanjutnya melakukan studi pustaka. langkah yang diambil yaitu menganalisis kurikulum yang berlaku saat ini, yaitu kurikulum 2013. deskripsikan tujuan penelitian berdasarkan permasalahan yang ada, maka peneliti menentujan tujuan penelitian. tujuan penelitian ini yaitu mengembangkan modul praktikum ipa berbasis discovery learning yang digunakan dalam pembelajaran ipa di sekolah dasar. merancang dan mengembangkan produk pada tahap ini, peneliti membuat rancangan desain modul praktikum yang dikembangkan. desain yang dibuat dengan menyesuaikan isi modul, karakteristik anak sd, serta materi pembelajaran ipa. langkah selanjutnya setelah rancangannya siap yaitu menyusun modul. modul yang dikembangkan yaitu modul praktikum berbasis discovery learning ipa kelas vi sekolah dasar. modul ini diberi nama “modul praktikum serli (discovery learning) untuk pembelajaran ipa di sd. modul ini memuat materi rangkaian listrik, magnet, tata surya, gerak rotasi dan revolusi bumi. modul tersebut memiliki unsur-unsur modul yaitu (1) petunjuk penggunaan modul; (2) kompetensi inti, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran; (3) peta konsep; (4) rangkuman; (5) tes formatif; (6) pedoman penskoran tes formatif; (7) tindak lanjut; (8) kunci jawaban; dan (9) glosarium. selain unsur-unsur di atas, juga ditambah dengan “info tambahan” yang dimuat dalam kotak “info sains” untuk menambah wawasan pembaca. modul yang dikembangkan dilengkapi dengan contohcontoh nyata lengkap dengan ilustrasi gambar beserta penjelasannya. hal ini bermaksud untuk membangkitkan minat siswa dalam mempelajarinya setelah modul jadi, maka selanjutnya memvalidasi modul. validasi modul dengan melibatkan dua orang ahli dosen ipa pgsd dari universitas negeri yogyakarta dan. adapun indikator penilaian modul yaitu terdiri dari isi materi dan penyajian pembelajaran (daryanto, 2013). data hasil validasi tentang modul praktikum serli (discovery learning) untuk pembelajaran sains di kelas v sd dianalisis secara deskriptif. pengembangan bahan ajar dikatakan baik jika rata-rata dari seluruh indikator minimal dalam kategori baik. pedoman penilaian dan teknik penskoran selengkapnya terdapat pada lembar validasi. rata-rata skor dari masing-masing perangkat pembelajaran dihitung dengan cara sebagai berikut. tabel 1. kriteria penilaian kualitatif rentang data kualitatif x > 54,6 sangat valid 44,2 < x ≤ 54,6 valid 33,8 < x ≤ 44,2 cukup valid 23,4 < x ≤ 33,8 kurang valid x ≤ 23,4 sangat kurang valid pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 59 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 berdasarkan hasil validasi dari para ahli didapatkan nilai berikut. tabel 2. hasil validasi ahli ahli validasi 1 validasi 2 kriteria ahli 1 54 62 ahli 2 50 60 rata-rata 52 61 sangat valid berdasarkan tabel 2 di atas, didapatkan hasil nilai rata-rata validasi modul yaitu 61 dengan kriteria sangat valid. grafik perolehan nilai dari hasil validasi tahap pertama dan kedua disajikan dalam gambar berikut ini. gambar 1. grafik penilaian validitas 1 modul grafik di atas menggambarkan bahwa pada modul praktikum serli indikator isi materi memperoleh presentasi 71,7% dan penyajian pembelajaran sebesar 87,1%. gambar 2. grafik penilaian validitas 2 modul setelah direvisi berdasarkan saran dan komentar para ahli, maka diperoleh hasil akhir validasi sebesar 86,7% untuk indikator isi materi dan 100% untuk penyajian pembelajaran. menguji produk pengujian produk modul yang dikembangkan melibatkan 15 siswa kelas vi dari sdn kalirejo 02, sdn leyangan, dan sdn sidomulyo 03 kecamatan ungaran timur kabupaten semarang. uji produk dimaksudkan untuk mendapatkan modul yang praktis. indikator penilaian kepraktisan modul yaitu (a) efektif, (b) interaktif, (c) menarik, (d) efisien, dan (e) kreatif pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 60 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 modul praktikum serli dikatakan praktis jika mendapatkan respon positif dari penggunanya. modul ini dinyatakan praktis jika berada pada kriteria minimal praktis. rata-rata skor hasil angket siswa dihitung dengan menggunakan formula berikut: hasil dari rata-rata skor di atas kemudian ditentukan kriteria kepraktisannya dengan mengacu pada tabel berikut: tabel 3. kriteria penilaian kepraktisan rentang data kualitatif x > 63 sangat praktis 51 < x ≤ 63 praktis 39 < x ≤ 51 cukup praktis 27 < x ≤ 39 kurang praktis x ≤ 27 sangat kurang praktis dari hasil analisis data diperoleh nilai sebesar 65,73 atau sangat praktis. sehingga dapat disimpulkan bahwa modul praktikum serli (discovery learning) dapat diuji pada pemakaian lapangan. berikut ini digambarkan perolehan nilai kepraktisan modul serli. gambar 3. grafik penilaian kepraktisan modul berdasarkan grafik, diperoleh nilai sebesar 87,56 pada aspek efektif, 86,22 pada aspek interaktif, 90,67 pada aspek menarik, 87,56 untuk aspek efisien dan 86,22 pada aspek kreatif. evaluasi hasil ujicoba setelah modul dinyaatkan praktis, maka selanjutnya melakukan evaluasi hasil. kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan dari modul praktikum serli (discovery learning) untuk pembelajaran ipa di kelas vi sd. uji keefektifan modul dilakukan dibeberapa sekolah yaitu di sdn kalirejo 02, sdn leyangan dan sdn sidomulyo 03 kecamatan ungaran timur. jumlah sampel pada ujicoba ini sebanyak 120 siswa kelas vi sd. menguji keefektifan modul serli dilakukan dengan memberikan tes tertulis sebelum dan setelah kegiatan praktikum dengan menggunakan modul praktikum berbasis discovery learning ipa sd. teknik analisis data yang digunakan yaitu dengan pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 61 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 teknik analisis uji gain ternormalisasi. hake dalam sundayana (2015), mengembangkan rumus gain ternormalisasi sebagai berikut: kriteria tingkat capain uji gain yaitu: tabel 4. kriteria n-gain nilai kriteria 0,00 ≤ n ≤ 0,30 rendah 0,30 ≤ n ≤ 0,70 sedang 0,70 ≤ n ≤ 1,00 tinggi setelah evaluasi hasil ujicoba penggunaan modul diperoleh nilai sebagai berikut: tabel 5. rekapitulasi hasil uji pemakaian lapangan rata-rata pretes rata-rata postes n-gain kategori 60,5 88,2 0,70 sedang pada tabel 5, diperoleh nilai rata-rata pretes sebesar 60,5 dan rata postes sebesar 88,2. berdasarkan rumus n-gain maka didapatkan nilai n-gian sebesar 0,70 atau dengan krteria sedang. artinya modul serli yang dikembangkan telah efektif digunakan dalam pembelajaran praktikum ipa sd. pegembangan modul melalui tahapan penelitian r&d yang telah dilakukan menghasilkan modul praktikum serli (discovery learning) untuk pembelajaran sains di kelas vi sd yang valid, praktis, dan efektif. artinya modul ini dapat digunakan oleh guru dan siswa sekolah dasar khususnya kelas vi dalam pembelajaran ipa. modul ini membantu guru dan siswa dalam melakukan pembelajaran yang kompetensinya melakukan percobaan. melalui modul praktikum serli (discovery learning) untuk pembelajaran sains di kelas vi sd, membuat pembelajaran lebih bermakna (meaningfull) karena siswa dapat menemukan sendiri solusi atau jawaban permasalahan yang diberikan melalui percobaan yang telah dilakukan. melalui pendekatan discovery learning, siswa menjadi aktif dan mandiri dalam melakukan percobaan yang pada akhirnya membuat siswa dapat menemukan suatu konsep, memahami materi serta dapat memecahkan permasalahan. melalui modul yang berpendekatan discovery learning siswa mudah melakukan percobaan-percobaan sampai pada membuat kesimpulan sendiri. menurut (azizah & winarti, 2018), pembelajaran yang dilakukan dengan discovery learning menuntun siswa untuk dapat membuat kesimpulan atau menyelesaikan masalahnya sendiri. hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (azizah & winarti, 2019) menunjukan bahwa siswa merasa senang karena telah berhasil menemukan pengetahuan baru dan memecahkan permasalahan yang diberikan oleh guru, mereka dapat mengingat pelajaran dengan baik karena menemukannya sendiri dari percobaan yang telah dilakukan. dengan pendekatan discovery learning, siswa menjadi aktif dan mandiri dalam melakukan percobaan sehingga mereka menemukan konsep, memahami pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 62 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 materi serta dapat memecahkan permasalahan. menurut (lliewellyn, 2011), dengan melakukan penyelidikan ilmiah, dapat melatih keterampilan berpikir kritis pada anak. selain itu, menurut bruner, dengan melatih anak memecahkan permasalahannya sendiri maka siswa dapat mengorganisasi cara, tahapan, dan gaya belajarnya yang pada akhirnya siswa tersebut sukses dalam menguasai materi. simpulan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan (1) modul praktikum serli (discovery learning) untuk pembelajaran ipa di kelas vi sd yang dikembangkan telah memenuhi kriteria valid. hal ini dibuktikan dengan hasil rata-rata validasi ahli sebesar 61 dengan kriteria valid. (2) modul praktikum serli (discovery learning) untuk pembelajaran ipa di kelas vi sd yang dikembangkan telah memenuhi kriteria praktis. perolehan nilai sebesar 65,73 dengan kriteria sangat praktis. (3) modul praktikum serli (discovery learning) untuk pembelajaran ipa di kelas vi sd telah memenuhi kriteria efektif. hal ini dibuktikan dengan hasil nilai n-gain. berdasarkan analisis n-gain diperoleh bahwa nilai sebesar 0,70 dengan kriteria sedang. hal ini menandakan bahwa modul praktikum serli (discovery learning) untuk pembelajaran ipa di kelas vi sd efektif digunakan dalam kegiatan praktikum pembelajaran ipa di sekolah dasar. pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 63 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 daftar pustaka azizah, a., & winarti, p. (2018). pengembangan modul discon sains di sekolah dasar. publikasi pendidikan, 8(3), 234–243. https://doi.org/10.26858/publikan.v8i3.6841 azizah, a., & winarti, p. (2019). pengembangan modul praktikum dilan (discovery learning) untuk pembelajaran sains di kelas v sekolah dasar. jtiee (journal of teaching in elementary education), 2(2), 168–183. https://doi.org/10.30587/jtiee.v2i2.772 darmawan, d., & wahyudin, d. (2018). model pembelajaran di sekolah. remaja rosdakarya. hewitt, p. g. (1997). conceptual physics a new introduction to your environment. little, brown and company. lliewellyn, d. (2011). differentiated science inquiry. sage company. prastowo, a. (2014). pengembangan bahan ajar tematik. kencana prenada media group. rusmiati. (2013). pengembangan modul ipa dengan pendekatan kontekstual untuk kelas v sdn 2 semarapura tengah. e-journal program pascasarjana universitas pendidikan ganesha, 3, 13–22. sani, r. a., mnurung, s. r., suswanto, h., & sudiran. (2018). peneltiian pendidikan. tira smart. sundayana, r. (2015). statistika penelitian pendidikan. alfabeta. surahman. (2012). media pembelajaran dalam proses perkuliahan. unnes. tillery, e. r. (2017). integrated science. mcgraw hill company. wati, e. r. (2016). ragam media pembelajaran. kata pena. pengembangan modul praktikum......(azizah, dkk) 64 jppd, 7, (1), hlm. 53 64 profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 48 analyzing the use of the year four, theme three student book of the 2013 curriculum to build environmental awareness mentari deka handayani1*, laili etika rahmawati2, yeny prastiwi3, eko supriyanto4, choiriyah widyasari5 1,2,3,4,5universitas muhammadiyah surakarta, surakarta, indonesia *email: q200180009@student.ums.ac.id submitted: 2020-07-21 doi:https:10.23917/ppd.v8i1.13460 accepted: 2021-03-08 published: 2021-07-21 keywords: abstract environmental awareness; student books; 2013 curriculum the 2013 curriculum emphasizes the cultivation of individual values. there are 18 values to be instilled, one of which is caring for the environment. these values are taught through daily teaching and learning activities. environmental awareness is discussed in the year four student book under theme three. this research is designed as a descriptive-qualitative study facilitating document study. data collection was done using the data analysis technique, content analysis. the validity of the data was tested using semantic validity and stability reliability. results showed that the value of environmental awareness was present in theme three of the year four student book and can be divided into three indicators. these indicators include caring for plants, caring for animals as well as caring for other human beings. in conclusion, theme three of the year four student book is regarded as appropriate teaching material. introduction background the 21st century is known as the disruption era or the millennial generation. most daily activities have now shifted from face-to-face to virtual. the development of information and communication technology has grown at a speedy rate. this has also affected the constant development of gadgets. the millennial generation facilitates these gadgets daily, either for school, work, or even to communicate with their family or friends. the use of these gadgets has led to the reduction of live social interactions. children have been found to experience difficulty adapting to their environment after actively using their devices (rahmalah et al., 2019). this negatively impacts their environmental awareness. some examples include the lack of social etiquette of greeting people around their neighborhood and the inclination to litter without care. individual character-building should be encouraged within children to become moral members of society, ultimately leading to producing a distinguished nation. http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 49 as the nation’s next generation, students are directed through individual characterbuilding to have good morals and values to result in a nation that lives fairly, safely, and prosperously (putri, 2018). in 2013, the indonesian government, mainly through the acts of the ministry of education and culture (kementrian pendidikan dan kebudayaan, kemendikbud), started to push forward the planting of these values through schools. the ministry chose to do this by changing to a new curriculum, known as the 2013 curriculum, from the existing kurikulum tingkat satuan pendidik (ktsp). there are 18 values stated for the purpose of character building (hasan, 2009), including: 1. religiousness; 2. honesty; 3. tolerance; 4. discipline; 5. hard work; 6. creativity; 7. independence; 8. democracy; 9. curiosity; 10. spirit of nationality; 11. love for the nation; 12. appreciation for achievements; 13. friendly/social; 14. love for peace; 15. fondness for reading; 16. environmental awareness; 17. social awareness; 18. responsibility. in 2016, the kemendikbud conducted a revolution of the nation’s values. they implemented penguatan pendidikan karakter (ppk) to support character building. the five main values listed as prioritized values in the ppk include: 1. religiousness; 2. nationalism; 3. gotong royong (communal work or working together); 4. integrity; 5. independence. based on the 18 character values and the five main prioritized values, the value of environmental awareness seems interesting to analyze. integrity is the practice of constantly being honest in word, action and having the commitment and loyalty to stay within humanity’s values and morals (kemendikbud, 2017). environmental awareness is the attitude and act of constantly preventing the destruction of the environment in addition to developing methods of mending damage that has already been done to the environment (hasan, 2009). problem of study as indonesia enters the millennial era, environmental awareness has started to decline within the nation. many citizens litter, illegally cut down trees, do not care for animals and plants around them accordingly, and so on. humans do not realize that it is their doings that lead to natural disasters. due to this, environmental awareness must be planted in children from when they are young. in al-quran q.s 31:17, allah swt said o my dear son, establish prayer, encourage what is good and forbid what is evil, and endure patiently whatever befalls you (fu’adah & nugraheni, 2020). indeed these are the things that allah requires. implementation of the environmental awareness character in the 2013 curriculum can be done maximally by education providers, mainly teachers. teachers can maximize implementation when supported by appropriate tools. the teacher and student books developed by the kemendikbud can be used as one of these supportive tools. in theme three of the fourth-grade book, they discuss caring for all living creatures, which is of interest to this study. an analysis was done to observe whether the value of environmental awareness, such as caring for plants, animals, and helping one another, has been implemented in theme 3 of the fourth-grade student book. state of the art similar studies regarding the analysis of books for character-building values have previously been done. rahma (2018) analyzed character-building values in theme 4 of the 2013 curriculum year three student book that discussed social awareness. adi (2018) examined the contents of primary textbooks for character-building purposes. sayekti (2019) analyzed the core principles of natural science education in theme three, subtheme one of the 2013 curriculum year four student book. danawati et al. (2020) investigated the characteristic values in thematic student books that discussed character building. permatasari & anwas (2019) analyzed character-building in year seven natural sciences textbooks. mardikarini & suwarjo (2016) studied the values contained in the 2013 curriculum teacher and student textbooks. hutama et al. (2019) analyzed the characterhandayani et al – analyzing the use of the year four ... printed issn 2406-8012 50 building contents in the reading portions of the year four student book with the theme of the beauty of togetherness. rahayuningtyas (2013) examined contents of character values in the 2013 curriculum primary teacher and student handbooks. lastly, kusmilawati et al. (2019) analyzed the character values of year four students during the indonesian language subject while they were learning to read. gap study & objective this study hoped to improve teachers’ understanding of the character-building values of environmental awareness stated in theme 3 of the year four student book. with this improved understanding, teachers will innovate their education delivery methods and provide students with the best education. ultimately, this will supply students with values regarding environmental awareness that are targeted and maximized. it would produce a future generation that is noble, as well as socially and environmentally aware. method type and design this study is descriptive qualitative research facilitating a document study design. the document source is the 2017-revised version of theme three of the year four student book published by the ministry of education and culture, as well as journals and literature related to our discussion. data and data sources data from this study are sentences from theme three of the year four student book that contains character-building values of environmental awareness. this study facilitated both primary and secondary data. primary data were collected directly from the primary data source, namely theme three of the year four student book. on the other hand, secondary data were collected from book identification, relevant past studies, and other data or references that may be correlated to our interests. data collection technique documents the documents technique is used to collect data sourced from writing such as books and journal articles. data analysis data validity was tested using semantic validity and reliability stability. semantic validity was used to judge the appropriateness of the researched meaning, which is the value of environmental awareness in theme three of the year four student book. reliability stability was done by repeated reading of the obtained data to ensure the same understanding of the studied document each time. result social awareness 1. on page four, “let’s observe,” there is a picture of a group of people pulling a fishing net out from the sea. this activity was done by helping one another (gotong royong) and reflects the value of social awareness. vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 51 figure 1: gotong royong activity 2. on page 98, in the third question under “let’s try”, the sentence “inviting friends and family to do the same thing”. the word inviting depicts the value of social awareness. figure 2: the word “inviting” 3. on page 114, the sentence “discuss other examples of caring for the environment with your friend!”. this discussion activity will train students to voice their opinions as well as improve their listening skills. students were asked to pick out solutions that they will do themselves. the word discussion depicts values of caring for the environment, an indicator of social awareness. figure 3: the word “discussion” 4. on page 140, there is a story entitled “community service in the school garden”. this story depicts that working together will make the task complete earlier and the environment cleaner in a shorter amount of time. this activity contains values of social awareness as well as care for plants. handayani et al – analyzing the use of the year four ... printed issn 2406-8012 52 figure 4: the sentence “community service in the school garden” care for plants 1. on page 40, the sentence “the following are some ways to the sustainable growth of rice so that it can continue to be enjoyed by the indonesian community.” the word “sustainable” means to protect or preserve to maintain. the phrase “sustainable growth of rice” depicts care for plants. figure 5: the sentence “how to sustain rice” 2. on page 10, there is a table that contains the question, “have you taken advantage of plants wisely?” the word “taken advantage of plants” depicts care for plants. vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 53 figure 6: the word “taken advantage of plants” 3. on page 24, “let’s read”, there is a text entitled “lani and her younger sibling”. it tells the story of lani who constantly maintains the plants in their home and her younger sibling who often forgets to take care of the plants. lani’s actions reflect the value of care for plants. figure 7: the text “lani and her younger sibling” 4. on page 26, there is an activity section that contains the activity “create a schedule to take care of a plant that you have planted. be disciplined in following the schedule!”. this activity teaches students to care for plants and to be disciplined in maintaining plants that they have planted. figure 8: schedule for maintaining your plant handayani et al – analyzing the use of the year four ... printed issn 2406-8012 54 5. on page 45, there is the question “what have you done well while caring for that plant? explain!”. this question will teach students to recall past activities that they have done to care for the plants they planted. this question contains the value of care for plants. figure 9: the question regarding caring for plants 6. on page 97, there are pictures of animals and plants that are cared for and not cared for. students were asked to observe these pictures and to give a tick on which animals and plants were maintained well. this activity will directly stimulate the students’ brains in differentiating which plants and animals were taken care of and which of them were not. this activity reflects environmental awareness, care for animals and plants indicator. figure 10: choosing plants and animals that were taken care of 7. on page 136, there is a story entitled “beautiful flower in the town garden”. the story depicts that we must take care of all plants in that garden and it contains the value of care for plants. vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 55 figure 11: the story “beautiful flower in the town garden” 8. on page 141, there is a story entitled “to-be fruits must be cared for”. the story explains that before picking fruits from the trees, we must first ensure that it is ripe and ready. this story depicts the value of care for plants. figure 12: the story “to-be fruits must be cared for” care for animals handayani et al – analyzing the use of the year four ... printed issn 2406-8012 56 1. on page 49, there is the question “what can be done to preserve the sustainability of the bird of paradise?”. this question is one where the answer will reflect the value of care for animals. figure 13: the question about preserving the sustainability of the bird of paradise 2. on page 52, there is the question “what can you do to protect butterflies?”. this question reflects the value of care for animals. figure 14: the question about protecting butterflies 3. on page 52 “let’s create”, students are directed to make posters about preserving the sustainability of animals. this activity depicts the value of care for animals. figure 15: making a poster activity 4. on page 54, there is a story entitled “dayu and si mungil”. the story depicts the value of care for animals. vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 57 figure 16: the story dayu and si mungil 5. on page 57 “let’s write”, students were tasked to write about their experiences in caring for their pets. this activity reflects the value of care for animals. figure 17: writing a story about taking care of pets 6. on page 92, there is a story entitled “maintain the sustainability of rare animals”. this story is about efforts that can be done to protect and sustain animals that are near extinction. it depicts the value of care for animals. handayani et al – analyzing the use of the year four ... printed issn 2406-8012 58 figure 18: the story maintains the sustainability of rare animals 7. on page 134, the story is entitled “let si cuwit fly freely!”. the story explains that we have to let birds fly free and that reflects the value of care for animals. figure 19: the story let si cuwit fly freely! vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 59 8. on page 138, the story is entitled “kiki and lala, beloved rabbits”. the story teaches students to care for their pets. it contains the value of care for animals. figure 20: the story kiki and lala, beloved rabbits discussion character building during primary school is one of the main beginning of planting morals in a child. in this primary school age, children are still in the concrete operational stage of their development. during this stage, children require real things and examples when learning components regarding character building. character building during primary school is not the task and responsibility of the teachers alone, but also all members of the society, which are responsible for building the characters of our future generation. however, parents and family share the main responsibility in building a child’s personality, as they spend most of their time with family compared to at school. with the constantly developing times, indonesia has now moved into the disruption era. this era is marked by how society’s activities are shifted from the originally face-to-face to a virtual manner. the disruptive age demands humanity to understand and facilitate their knowledge and information and communication technology. this era has also involved many fields, including education. many parents experience difficulties when their children need to study using today’s technologies, one of which is advanced gadgets. the difficulties experienced by parents range from them being unable to provide these gadgets as it is not cheap, being unable to operate the gadget, and being unable to supervise their children’s use of the devices because of a packed routine. as a result, character-building should also be done at school. the school environment and teachers are now considered an essential key to a student’s successful character building. this is in line with what milson and mehling in rusminiati (2016) mentioned that teachers are an important factor in the development of an individual’s character at a young age. as such, teachers must be able to provide an excellent example of behavior in schools as well as in the surrounding environment. only providing an excellent example of behavior is not sufficient. teachers must also voice these out to children through subjects devised to build character. this is supported by judiani (2010), saying the indonesian education system is too focused on developing cognition and academics but lacks soft skills or nonacademic development. this leads to the need for a curriculum that considers values that build character during the education process. the indonesian government, specifically the ministry of education and culture, decided to change the previously used ktsp to the 2013 curriculum in response to this. handayani et al – analyzing the use of the year four ... printed issn 2406-8012 60 in theme three, “care toward living things” of the year four student book, environmental awareness was discussed in all sub-themes but not in every learning sections. in the first sub-theme, “animals and plants around my house”, there was an emphasis on the environmental awareness character-building indicator care toward plants. care for plants were also existent in learning section 1, learning section 2, learning section 3, learning section 4, and learning section 6. sub-theme one also contains components of environmental awareness character building, emphasizing the indicator of care toward other people. this was found in learning section 1. care toward plants, which is one indicator of environmental awareness character building, must be taught to students from a young age. this is done so that students have an awareness and the sense of owning over the plants around them from an early stage. a sense of ownership is necessary as students will then be disciplined in maintaining and caring for it. as a result, there will be no more destruction of nature in the future, such as mass deforestation, littering, and so on. this will lead to the sustainability of the natural resources found in indonesia. habituation of values in environmental awareness character building can be seen through several activities, including reading texts, pictures as well as discussions with other students to share in between each other and protect the environment well (judiani, 2010). in sub-theme one, “animals and plants around my neighborhood” of theme three, “care toward living things” of the year four student book, the subject matter of caring for plants was presented well. however, no subject matter correlates to caring for animals. in sub-theme two, “the variety of living things around me” of theme three, “care toward living things” of the year four student book, the indicator care for animals of environmental awareness character building is existent. this can be found in learning section 1, learning section 2, and learning section 6. in theme three, “care toward living things” of the year four student book, caring for animals was emphasized by protecting rare animals such as the bird of paradise and caring for pets such as cats. in sub-theme two, only the indicator care for animals was existent. the indicators caring for plants and caring for other human beings were not present. in the year four student book, all three indicators were present in sub-theme three of theme three, “care toward living things,” in the year four student book. sub-theme three is complimentary for the previous sub-themes. in addition, it also contains literacy-building aspects based on caring for plants, caring for animals, and caring for other human beings. reading texts in theme 3, “care toward living things”, of the year four student book further supports the use of this book as teaching material. the building of literacy is aimed at improving students’ understanding of the importance of environmental awareness. (meilani, 2013) mentions that the integration of character building in school teachings can be done by adding character-building values into all school subjects and teaching activities. theme three, “care toward living things,” of the year four student book contains values of environmental awareness character building and is suitable to be used as teaching material. theme three, “care toward living things,” of the year four student book can be used as teaching material. teachers are required to be innovative in their education delivery methods. this is so that the students can absorb environmental awareness values found in the student book in a targeted and maximized manner. if this is done well, then the goal of character building has been achieved, leading to a future generation with distinguished personalities. conclusion novelty and contribution divided dimensions hindered previous studies on environmental awareness. a comprehensive environmental awareness character building would produce a future vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 61 generation that is pious, noble, virtuous, and distinguished. this study discussed the implementation of environmental awareness character-building comprehensively. the results of this study are important for all primary school educators to produce a creative learning environment in building students’ environmental awareness. limitation and future study this study has several limitations. firstly, the characteristic value of caring for other human beings that were found was minimal. this limitation in teaching resources resulted in the lack of its delivery to students. secondly, the author has chosen to only discuss one theme among the eight existing themes studied by the students, which may lead to an incomprehensiveness of data. it will be great if future studies on environmental awareness focus on adding care for other human beings into the next version of theme three of the year four student book. implication / suggestions this study would like to provide three recommendations. firstly, the ministry of education and culture (kemendikbud) is suggested to equalize subject matters in theme three of the year four student book. this includes an even discussion of the topics of care for other humans, animals, and plants. secondly, teachers must be innovative and creative in their education delivery methods. finally, parents must be supportive and work in cooperation with teachers in producing distinguished characters in students. references adi, y. k. (2018). analisis muatan pendidikan karakter dalam buku teks kurikulum 2013 kelas iii sd semester 1. profesi pendidikan dasar, 1(1), 23. https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.3754 danawati, m. g., regina, b. d., & mukhlishina, i. (2020). analisis nilai karakter pada buku siswa tematik sekolah dasar berorientasi pendidikan karakter. jurnal pemikiran dan pengembangan sekolah dasar. vol 8 no 1. https://doi.org/10.22219/jp2sd.v8i1.12369. fu’adah, e. n., & nugraheni, y. t. (2020). perintah shalat pada anak perspektif surat luqman ayat 17 (telaah pendekatan normatif dan filologi). 8(1), 9. hasan, s. h. (2009). pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. badan penelitian dan pengembangan pusat kurikulum. hutama, f. s., anhar, h. a., & haidar, d. a. (2019). muatan nilai-nilai pendidikan karakter dalam teks bacaan pada buku siswa kelas iv tema indahnya kebersamaan. 1, 16. judiani, s. (2010). implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar melalui penguatan pelaksanaan kurikulum. jurnal pendidikan dan kebudayaan, 16(9), 280. https://doi.org/10.24832/jpnk.v16i9.519 kusmilawati, f. e., hadi, h., & agustini, f. (2019). analisis nilai karakter siswa kelas iv pada prose pembelajaran bahasa indonesia materi membaca. indonesian values and character education journal, 2(1), 1. https://doi.org/10.23887/ivcej.v2i1.17923 mardikarini, s., & suwarjo, s. (2016). analisis muatan nilai-nilai karakter pada buku teks kurikulum 2013 pegangan guru dan pegangan siswa. jurnal pendidikan karakter, 6(2). https://doi.org/10.21831/jpk.v6i2.12057 meilani, e. (2013). analisis muatan nilai karakter dalam buku teks bahasa indonesia kelas xi kurikulum 2013 revisi 2017. 16. kemdikbud. (2017). penguatan pendidikan karakter jadi pintu masuk pembenahan pendidikan nasional. kementerian pendidikan dan kebudayaan. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/07/penguatan-pendidikan-karakterhandayani et al – analyzing the use of the year four ... printed issn 2406-8012 62 jadi-pintu-masuk-pembenahan-pendidikan-nasional permatasari, a. d., & anwas, e. o. m. (2019). analisis pendidikan karakter dalam buku teks pelajaran ilmu pengetahuan alam kelas vii. kwangsan: jurnal teknologi pendidikan, 7(2), 156. https://doi.org/10.31800/jtp.kw.v7n2.p156--169 putri, d. p. (2018). pendidikan karakter pada anak sekolah dasar di era digital. ar-riayah : jurnal pendidikan dasar, 2(1), 37. https://doi.org/10.29240/jpd.v2i1.439 rahayuningtyas, d. i. (2013). an analysis of content of character values in the textbook of 2013 curriculum for handbooks of teacher and student in primary school. jurnal pendidikan karakter, 17. rahma, d. p. k. (2018). analisis nilai-nilai pendidikan karakter pada buku siswa kelas iii tema 4 “peduli lingkungan sosial” kurikulum 2013. rahmalah, p. z., astuti, p., & pramessetyaningrum, l. (2019). pengaruh penggunaan gadget terhadap pembentukan karakter anak usia dini. 9. sayekti, i. c. (2019). analisis hakikat ipa pada buku siswa kelas iv sub tema i tema 3 kurikulum 2013. profesi pendidikan dasar, 1(2). https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.9256 siahaan, i., & fransyaigu, r. (2020). analisis nilai karakter yang terkandung pada buku teks siswa sekolah dasar. 3(1), 15. jurnal pgsd vol 2 no 2 des 2015.indd 112pelaksanaan layanan dasar ... (minsih) issn 2406-8012 pelaksanaan layanan dasar bimbingan dalam membentuk karakter siswa di sd muhammadiyah program khusus kota surakarta minsih pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta minsih@ums.ac.id abstract this study aims to look at the implementation process of the teacher class guidance in building the character of students. this study is a qualitative research with phenomenological approach naturalistic. phenomenological approach seeks to understand human behavior in terms of a framework of thinking and acting people themselves. implementation of comprehensive guidance services done by classroom teacher and teacher assistant in sd muhammadiyah surakarta special program was very in uential on the formation of student character. the process of comprehensive guidance services form the basis of guidance services, response service, individual planning services, and support systems. this study focuses on basic counseling services and individualized service. this guidance service is a companion program for all students under the guidance of psychologists and counselors. the basic service is a service provided for all students in order to achieve optimal process of self development through activities classically presented systematically. this service is also aimed at preventing the emergence of problems in the educational process at school. keywords: guidance, counseling, comprehensive pendahuluan pendidikan merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa. kebesaran sebuah bangsa selalu diukur dari sejauhmana kualitas pendidikan sumber daya manusia yang dimilikinya. karakter menjadi sesuatu yang sangat penting untuk terus dikembangkan pada sumber daya manusia indonesia dalam menjawab kebutuhan masyarakat dan persaingan global yang berada di hadapan mata. untuk itu diskursus dan riset mengenai karakter terus menerus dilakukan secara komprehenship, utamanya di lingkungan akademik. oleh karenanya investasi di bidang pendidikan adalah sebuah keniscayaan dalam rangka mencapai keunggulan bangsa dan memenangkan persaingan global. kesadaran membangun karakter bangsa melalui jalur pendidikan harus ditindaklanjuti dengan program berkesinambungan dan sistematis. sebab pendidikan karakter mencakup semua hal, mulai dari pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, sampai pada kepengamalan nilai secara nyata, dari gnosis sampai ke praksis. kualitas pendidikan sebuah negara tidak terwujud secara instan, melainkan melalui proses panjang secara bertahap. salah satu tahapan penting yang harus diperhatikan adalah jenjang pendidikan dasar yang menjadi landasan kokoh bagi pengembangan pada tahapan berikutnya, serta terbentuknya pemahaman, sikap, dan perilaku belajar sepanjang hayat (long life learning). sekolah merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran penting dalam membentuk pribadi siswa, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. sekolah merupakan profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 112 120113 issn 2406-8012 suatu sistem yang komponen-komponen di dalamnya terintegrasi dengan baik. bimbingan konseling adalah salah satu komponen sekolah yang bertugas membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi komponen sekolah yang lain. pendidikan dasar yang dilaksanakan secara formal di sekolah dasar selayaknya memberikan dasar-dasar yang kuat bagi pengembangan kepribadian, moral, sikap, nilai, sosial, dan potensi siswa. kesemua hal tersebut dapat terwujud manakala sekolah tidak hanya berkutat pada proses transfer ilmu pengetahuan dan teknologi semata, namun lebih dari itu memperhatikan pula pengembangan seluruh aspek siswa yang kelak turut menunjang kesuksesan studi lanjut, karier, dan keberhasilan hidup di masyarakat. karakter menjadi sangat urgen untuk dikembangkan pada masyarakat indonesia dewasa ini mendasarkan pada realitas betapa bangsa ini tengah mengalami krisis multidimensi, di mana angka pengangguran cukup tinggi, kemiskinan menjadi pemandangan sehari-hari, kebobrokan moral menjangkiti seluruh elemen masyarakat, tingginya angka korupsi, kekerasan atas nama agama, kerusuhan sosial, keinginan kelompok masyarakat yang ingin lepas dari negara kesatuan republik indonesia, dan ancaman persaingan global di depan mata. mendasarkan pada hal tersebut, dewasa ini sekolah-sekolah dasar berupaya mengembangkan konsep pendidikan seimbang yang tidak hanya menghantarkan siswa pada pencapaian kecerdasan akademik, namun juga menjamin pencapaian perkembangan diri yang sehat dan produktif. dimana siswa adalah individu yang berada dalam proses berkembang atau menjadi (becoming) kearah kematangan yang memerlukan bimbingan secara terstruktur (yusuf, 2009:2). salah satu sekolah dasar yang berupaya menghantarkan siswanya menjadi insan kamil adalah sd muhammadiyah program khusus kota surakarta. siswa sd muhammadiyah program khusus selain dituntut untuk memiliki kompetensi akademik yang baik, juga diarahkan memiliki wawasan tentang diri, lingkungan, dan arah kehidupannya melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh sekolah, baik yang bersifat formal akademik maupun non akademik yang dirangkum melalui layanan bimbingan dan konseling komprehenship. pengurus sd muhammadiyah program khusus menyadari bahwa proses perkembangan siswa tidak selalu berjalan dalam alur linier atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang dianut. layanan bimbingan dasar merupakan bagian tidak bisa terpisahkan dengan fungsi bimbingan dan konseling komprehenship yang diselenggarakan di sd muhammadiyah program khusus kota surakarta yang merupakan program pendamping yang diperuntukkan bagi seluruh siswa di bawah bimbingan psikolog dan konselor. layanan dasar bimbingan merupakan layanan yang diberikan kepada seluruh siswa agar mencapai proses perkembangan diri secara optimal melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal yang disajikan secara sistematis. layanan ini bertujuan membentuk beberapa karakter siswa dan mampu mencegah terhadap timbulnya permasalahan dalam proses pendidikan di sekolah. selanjutnya siswa diberikan pula layanan perencanaan individual dalam merencanakan masa depannya. melalui layanan ini diharapkan siswa memahami kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya, serta memahami lingkungan terkait peluang dan kesempatan yang bisa diraihnya. tentunya layanan yang telah disusun oleh pengasuh sd muhammadiyah program khusus tersebut perlu mendapat dukungan berbagai pihak untuk menemukan pola terbaik dan ideal dalam pelaksanan, serta meminimalisir permasalahan yang muncul yang dapat berdampak pada ketidakefektifan layanan. untuk itu peneliti sebagai akademisi yang concern terhadap pelaksanaan pendidikan dasar tertarik melakukan kegiatan penelitian terkait dengan implementasi layanan bimbingan dan konseling komprehenship di sd muhammadiyah program khusus kota surakarta. diharapkan hasil penelitian ini memberikan kontribusi 114pelaksanaan layanan dasar ... (minsih) issn 2406-8012 positif bagi pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling komprhenship sebagai penunjang keberhasilan pelaksanaan pendidikan dasar di sd muhammadiyah program khusus kota surakarta secara khusus dan menjadi model layanan di sekolah-sekolah dasar lainnya. sesuai dengan fokus penelitian, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan model layanan dasar bimbingan komprehensif di sd muhammadiyah program khusus kota surakarta. secara etimologi istilah bimbingan merupakan terjemahan dari kata “guidance” berasal dari kata kerja “to guide” yang mempunyai arti “menunjukkan, membimbing, menuntun, ataupun membantu.” secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan, namun demikian tidak berarti semua bentuk bantuan atau tuntunan adalah bimbingan. bantuan dalam bentuk bimbingan menurut terminologi bimbingan dan konseling haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu sebagai mana dikemukakan berikut ini ini. berdasarkan pasal 27 peraturan pemerintah no 20/90, “ bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, merencanakan masa depan.”(depdikbud, 2008). menurut prayitno (1983) mende nisikan bahwa: bimbingan merupakan bantuan yang diberikan pada sesorang atau kelompok agar dapat berkembang menjai pribadi yang mandiri. kemandirian ini mecakup lima fungsi pokok yang hendak dijalankan oleh pribadi mandiri adalah: (a) mengenal diri sendiri dan lingkungannya, (b) menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis, (c) mengambil keputusan, (d) mengarahkan diri dan (e) mewujudkan diri. berdasarkan de nisi bimbingan yang telah dikemukakan para ahli diatas serta prinsipprinsip yang terkandung dalam pengertian bimbingan maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan (process of helping) kepada individu agar mampu berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan mampu memahami diri dan lingkungannya, mengarahkan diri, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan agama dan budaya sehingga mencapai kehidupan yang bermakna, yaitu berbahagia secara personal maupun sosial. moh. surya (1988: 36) mengemukakan bimbingan ialah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan perwujudan diri, dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungannya. sunaryo kartadinata (1998: 3) mende nisikan bimbingan sebagai sebuah proses membantu individu untuk mencapai perkembangan optimal. natawidjaja (1987: 37) menyatakan: bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu dapat memahami dirinya, sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan bertidak secara wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan kehidupan. sehingga dapat menggapai kebahagiaan hidup dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi kehidupan masyarakat pada umumnya. berdasarkan de nisi bimbingan yang telah dikemukakan para ahli diatas serta prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan merupakan proses pemberian bantuan kepada individu agar mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya, mengarahkan diri, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan agama dan budaya sehingga mencapai kehidupan yang bermakna, yaitu berbahagia secara personal maupun sosial. metode penelitian penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis naturalistik. pendekatan fenomenologis berusaha memahami perilaku manusia dari segi kerangka ber kir maupun bertindak orang-orang itu sendiri (moleong, 2002: 31). penelitian kualitatif profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 112 120115 issn 2406-8012 naturalistik dilakukan atas dasar induktif yang mengedepankan pengembangan yang berawal dari spesi k seperti konsep, pandangan dan pengertian yang berasal dari bentuk data yang ada, untuk kemudian menuju pada kesimpulan atau hasil akhir (sukardi, 2006: 11). pemilihan pendekatan penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa data yang hendak dicari adalah data yang menggambarkan proses pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sd muhammadiyah program khusus kota surakarta. disamping itu pendekatan ini juga bertujuan untuk memperoleh pemahaman dan penafsiran secara mendalam dan natural tentang makna dari fenomena yang ada di lapangan. pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. cara yang digunakan dalam menguji keabsahan data atau memeriksa kebenaran adalah yakni dengan memperpanjang waktu penelitian, melakukan pengumpulan data secara terus menerus, mengadakan triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, referensi yang cukup, pengecekan oleh subjek penelitian, uraian rinci, dan auditing. pemeriksaan keabsahan data pada penelitian ini mengikuti kriteria yang diajukan oleh moleong (2002:173) dan nasution (1993: 111) yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferbility), kebergantungan (dependability) dan kepastian (con rmability). analisis data penelitian kualitatif pada dasarnya sudah dilakukan sejak awal kegiatan penelitian sampai akhir penelitian. dengan cara ini diharapkan terdapat konsistensi analisis data secara keseluruhan. untuk menyajikan data tersebut agar lebih bermakna dan mudah dipahami, maka langkah analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah analysis interactive model dari miles dan huberman (1992: 20) yang membagi kegiatan analisis menjadi beberapa bagian yaitu : pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan veri kasi data. hasil penelitian dan pembahasan layanan dasar bimbingan di sd muhammadiyah program khusus surakarta mengacu pada lima hal, yaitu permasalahan akademik berupa permasalahan belajar dan non akademik berupa permasalahan perkembangan individu, masalah perbedaan individual, masalah kebutuhan individu, masalah penyesuaian diri dan kelainan tingkah laku. menyadari hal tersebut sd muhammadiyah program khusus surakarta melakasanakan kegiatan bimbingan dan konseing mendasarkan pada fungsinya: fungsi preventif fungsi preventif yang dilaksanakan oleh sd muhammadiyah program khusus surakarta mengarah pada upaya pencegahan terhadap kemunkinan timbulnya permasalahan. implementasi fungsi preventif berupa layanan yang diberikan kepada siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. fungsi pemahaman fungsi pemahaman yang dilaksanakan oleh sd muhammadiyah program khusus surakarta mengarah pada upaya membantu siswa memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensi, kelebihan, dan kekurangan), lingkungan (sosial, budaya, dan agama). berdasarkan pemahamannya siswa diharapkan mampu mengembangkan dirinya secara optimal dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif. fungsi perbaikan fungsi perbaikan yang dilaksanakan oleh sd muhammadiyah program khusus surakarta mengarah pada upaya pember fungsi preventif yang dilaksanakan oleh sd muhammadiyah program khusus surakarta mengarah pada upaya pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun orientasi masa depan. 116pelaksanaan layanan dasar ... (minsih) issn 2406-8012 fungsi pengembangan fungsi pengembangan yang dilaksanakan oleh sd muhammadiyah program khusus surakarta mengarah pada upaya membantu siswa dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan. disini sekolah berupaya mengembangkan potensi positif yang pada dasarnya sudah ada pada diri siswa agar berkembang secara actual dan berkelanjutan. berdasarkan analisis data dan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pelaksanaan bimbingan dasar di sd muhammadiyah pk sudah berjalan melalui pendidikan karakter, pendidikan karakter ini tentunya terwujud dalam beberapa bentuk yaitu: proses pembentukan karakter bagaimana membangun karakter, john c. maxwell sebagaimana dikutip oleh huda (2010:7) menyatakan bahwa karakter yang baik lebih dari sekedar perkataan. karakter yang baik adalah sebuah pilihan yang membawa kesuksesan. ia bukan anugerah, tapi dibangun sedikit demi sedikit dengan pikiran, perkataan, perbuatan nyata, pembiasaan, keberanian, usaha keras, dan bahkan dibentuk dari kesulitan demi kesulitan saat menjalani kehidupan. pernyataan di atas semakin mengukuhkan pendapat yang menyatakan bahwa proses pembentukan karakter yang dialami oleh nabi muhammad saw dan tokoh besar dunia lainnya yang penuh dengan rintangan dan tantangan adalah proses ilmiah yang didasarkan pada sunnatullah (hukum alam), bukan sebagai sebuah mukjizat atau sebuah peruntungan yang bersifat kebetulan. pernyataan ini selanjutnya menggiring kepada pandangan bahwa proses kehidupan tokoh besar dunia tersebut dapat dipelajari dan dijadikan acuan dalam merumuskan konsep pembentukan karakter yang ideal yang saat ini dikenal dengan pendidikan karakter. oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa terbentuknya karakter manusia ditentukan oleh faktor nature (alami atau trah) dan nurture (lingkungan) (megawangi, 2007:23). faktor nature mengarah pada setiap manusia memiliki kecenderungan ( trah) untuk mencintai kebaikan. namun trah ini bersifat potensial atau belum termanisfestasikan ketika anak dilahirkan. faktor nurture memberikan peran besar dalam menentukan pembentukan karakter seseorang melalui sosialisasi dan pendidikan. dalam konteks ini, faktor nurture melalui pendidikan mendapat tempat yang lebih besar dalam proses pembentukan karakter. secara umum, perumusan konsep pembentukan karakter melalui pendidikan didasarkan pada pengolahan totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi manusia (kognitif, afektif dan psikomotorik) dan fungsi totalitas sosiokultural dalam konteks interaksi lingkungan keluarga, pendidikan, dunia kerja, dan masyarakatolah pikir, meliputi: cerdas, kritis, kreatif, inovatif, analitis, ingin tahu (kuriositas, kepenasaran intelektual), produktif, berorientasi ipteks, dan re ektif. olah raga dan kinestetika, meliputi: bersih dan sehat, sportif, tangguh, andal, berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif, ceria, ulet, dan gigih. olah rasa dan karsa, meliputi: kemanusiaan, saling menghargai, saling mengasihi, gotong royong, kebersamaan, ramah, peduli, hormat, toleran, nasionalis, kosmopolit (mendunia), mengutamakan kepentingan umum, cinta tanah air (patriotis), bangga menggunakan bahasa dan produk bangsa, dinamis, kerja keras, dan beretos kerja. selanjutnya dalam proses pembentukan karakter, bohlin, farmer, dan ryan (2001:67) menyatakan bahwa cara membentuk karakter adalah dengan menumbuhkan karakter yang merupakan the habits of mind, heart, and action yang antara ketiganya (pikiran, hati, dan tindakan) saling terkait. senada dengan pendapat sebelumnya, lickona (1992: 29) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik (component of good character), yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral), dan moral action (perbuatan moral). ketiga komponen profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 112 120117 issn 2406-8012 tersebut diperlukan dalam pembentukan karakter agar individu mampu memahami, merasakan, dan mengerjakan sekaligus nilai nilai kebajikan. moral knowing adalah hal yang penting untuk diajarkan yang terdiri dari enam hal, meliputi: moral awareness (kesadaran moral), knowing moral values (mengetahui nilai-nilai moral), perspective taking, moral reasoning, dicision making, dan self knowledge. moral feeling adalah aspek lain yang harus ditanamkan kepada individu yang merupakan sumber energi dari diri manusia untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral. terdapat enam hal yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk manusia berkarakter, yaitu: conscience (nurani), self esteem (percaya diri), emphaty (memahami perasaan orang lain), loving the good (mencintai kebenaran), self control (kemampuan mengonrol diri), dan humility (rendah hati). moral action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat diwujudkan menjadi tindakan nyata. perbuatan moral ini merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act morally), maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter, yaitu: competence (kompetensi), will (keinginan), dan habit (kebiasaan). mendasarkan pada pendapat di atas, pendidikan karakter yang hanya mengajarkan moral knowing, tidak menjamin individu berkarakter, yaitu individu yang sesuai antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. wyne (1991: 74) menyatakan bahwa kemungkinan 95% kita semua tahu mana perbuatan yang baik dan buruk. permasalahannya adalah kita tidak memiliki keinginan kuat atau komitmen untuk melakukannya dalam tindakan nyata. berdasarkan visi sd muhammadiyah program khusus kota surakarta yaitu terwujudnya sekolah dasar yang unggul dalam ketauhidan dan keilmuan serta membentuk manusia yang berkuali kasi ulul albab yang tercermin dalam motto sekolah “sholeh, cerdas, kreatif, dan mandiri”, maka diperlukan upaya yang sistematis dan terprogram dalam mewujudkan visi tersebut, diantaranya melalui program bimbingan dan konseling di sekolah. seyogyanya sd muhammadiyah pk harus mengembangkan layanan-layanan bk yang dimanahkan oleh permendikbud 2014 no. 111 yang menyatakan bahwa pelaksanaan bimbingan dan konseling harus dimulai dari tingkat sekolah dasar. strategi pembentukan karakter melalui layanan dasar bimbingan pembentukan karakter melalui layanan dasar bimbingan diarahkan pada pengembangan nilai-nilai islami yang diselaraskan dengan kebutuhan dan tantangan dunia modern. pembentukan karakter dilaksanakan secara komprehenship dengan melibatkan seluruh komponen yang ada di sekolah. secara umum strategi pembentukan karakter di sd muhammadiyah pk kottabarat terintegrasi ke dalam seluruh kegiatan dan kehidupan disekolah. terintegrasi bermakna bahwa pembentukan karakter dilaksanakan secara terpadu pada seluruh kegiatan dan kehidupansekolah. secara khusus strategi pembentukan karakter dilaksanakan melalui kedisiplinan, habituasi, dan budaya sekolah. kesemuanya mengarah pada pengenalan, pemahaman, pembiasaan, dan praktek dalam rangka membentuk pribadi berkarakter unggul yang tercermin dari pola pikir, sikap dan perilaku siswa. kedisiplinan penerapan kedisiplinan di sd muhammadiyah pk kottabarat surakarta pada dasarnya merupakan wujud tanggung jawab pengurus muhammadiyah dibawah naungan pendidikan dasar menengah pimpinan daerah muhammadiyah surakarta. sekolah melibatka guru dan kepala sekolah serta staf administrasi dalam mendidik dan membimbing siswa secara penuh sesuai dengan tujuan dan visi dan misi sekolah, keinginan orang tua, dan harapan masyarakat. 118pelaksanaan layanan dasar ... (minsih) issn 2406-8012 pembiasaan pembiasaan merupakan rangkaian kegiatan bimbingan di sd muhammadiyah pk dalam rangka pembentukan karakter siswa yang terintegrasi pada seluruh kegiatan. pembiasaan yang dilaksanakan merupakan sarana bimbingan pribadi sosial dalam membentuk sikap dan perilaku positif pada diri. guru berkeyakinan bahwa perilaku-perilaku yang dibiasakan lambat laun secara bertahap semakin kuat dan menetap menjadi bagian karakter siswa. tabel 1 pengembangan karakter melalui pembiasaan no karakter yang dikembangkan bentuk kegiatan kegiatan rutin kegiatan spontan 1. taat dan religius a. berdoa setiap sebelum dan sesudah melakukan akti tas b. berdoa setelah shalat fardhu dan sunnah c. shalat fardhu berjamaah d. shalat sunnah e. puasa ramadhan f. puasa sunnah g. hadir di masjid 15 menit sebelum adzan. i. doa bersama di kelas dan setiap kegiatan a. mengucapkan salam ketika hendak masuk ruangan b. mengucapkan salam setiap bertemu dengan orang lain c. berdoa ketika bersin dan mendoakan orang lain yang bersin d. istighfar apabila melakukan kesalahan e. berdoa apabila terkena atau mendengar musibah f. bersyukur apabila mendapat kenikmatan 2. berwawasan ilmu pengetahuan dan teknologi a. membaca buku b. hadir tepat waktu c. aktif berkunjung di perpustakaan d. aktif diskusi e. senantiasa belajar f. ber kir cerdas, kritis, dan inovatif g. berorientasi iptek h. rasa ingin tahu i. menjadi pribadi kompetitif a. bertanya manakala tidak tahu atau belum paham b. tidak menunda waktu 3. berakhlakul karimah tertib antri makan santun di kelas santun di masjid berpakaian rapi berambut rapi senantiasa jujur bersahabat saling menghargai tertib antri mengucapkan terima kasih, maaf, permisi, dan tolong memberi senyum, salam, dan sapa mengetuk pintu setiap masuk ruangan meminta izin menggunakan barang orang lain berprasangka baik 4. berdakwah islamiyah berbicara yang bermakna santun berkomunikasi menjadi teladan melaksanakan perintah alqur’an dan as-sunnah senantiasa toleran memperingatkan teman yang tidak melaksanakan ibadah memperingatkan teman yang berbuat tidak baik memperingatkan teman yang tidak mengucapkan salam profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 112 120119 issn 2406-8012 budaya sekolah budaya sekolah yang dikembangkan di sd muhammadiyah pk kottabarat mengacu pada nilai-nilai unggul yang disepakati seluruh stakehoders sekolah menjadi nilai-nilai utama yang diwujudkan melalui berbagai kegiatan positif yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah. budaya sekolah yang dimiliki merupakan hasil perjalanan panjang yang telah teruji dan terbukti menghasilkan sesuatu yang menjadi keunggulan dan ciri khas. 1. budaya baca 2. budaya antri 3. budaya keteladanan 4. budaya kompetisi (persaingan positif) untuk menunjang upaya tersebut, sd muhammadiyah pk menerapkan pola pendidikan komprehenship dengan mengambil langkahlangkah positif dan kongkrit dengan cara memadukan dua sistem pendidikan, menerapkan sistem modern, dan menerapkan pendidikan yang bersifat integral-holistik. pertama, memadukan dua sistem pendidikan. hal ini dilakukan dengan cara memadukan sistem pendidikan yang mengarah pada kegiatan belajar mengajar formal menganut sistem sekolah pada umumnya dan pendidikan non formal melalui keseharian kehidupan siswa yang diatur dalam sistem fullday sebagaimana yang biasa diterapkan pada sekolah terpadu. hal ini sesuai dengan penjelasan blocher (1974) dalam rita mariyana et al (2010: 17) bahwa lingkungan belajar merupakan suatu konteks sik, sosial, dan psikologis yang dalam konteks tersebut individu belajar dan memperoleh perilaku baru. kedua, menerapkan konsep modern. konsep modern yang dikembangkan di memelihara yang baik dan mengambil penemuan baru yang lebih baik. artinya disini bahwa menerapkan konsep pendidikan kontekstual yang relevan dengan kondisi kekinian dan melakukan penyesuaian terhadap perkembangan zaman sesuai dengan kebutuhan dan tantangan global. ketiga, menerapkan sistem pendidikan bersifat integral-holistik. pendidikan mengajarkan kepada siswa untuk ber kir secara keseluruhan dan menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kehidupan yang begitu luas. pendidikan integral-holistik berupaya membangun manusia yang seutuhnya melalui pengembangan seluruh aspek dimensi manusia secara holistik, yang meliputi: potensi akademik, spiritual, emosi, sosial, kreatif, dan potensi sik (megawangi et al., 2007: 23). simpulan secara umum strategi pembentukan karakter di sd muhammadiyah pk kottabarat terintegrasi ke dalam seluruh kegiatan dan kehidupan disekolah. terintegrasi bermakna bahwa pembentukan karakter dilaksanakan secara terpadu pada seluruh kegiatan dan kehidupan sekolah. secara khusus strategi pembentukan karakter dilaksanakan melalui kedisiplinan, habituasi, dan budaya sekolah. kesemuanya mengarah pada pengenalan, pemahaman, pembiasaan, dan praktek dalam rangka membentuk pribadi berkarakter unggul yang tercermin dari pola pikir, sikap dan perilaku siswa. pendidikan integral-holistik di sd muhammadiyah pk secara umum dilaksanakan melalui proses yang mengarah pada pengembangan aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan sebagai bekal mengarungi kehidupan. 120pelaksanaan layanan dasar ... (minsih) issn 2406-8012 daftar pustaka gerald corey. 2003. teori dan praktek konseling dan psikoterapi (terj. e. koswara), bandung : re ka departemen pendidikan nasional. (2008). penataan pendidikan profesional konselor dan layanan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. diperbanyak oleh jurusan psikologi pendidikan dan bimbingan fip upi bandung. huda, m. (2010). “pendidikan karakter dalam sebuah festival”. jawa pos (7 juli 2010). jurusan psikologi pendidikan dan bimbingan. 2008. bimbingan dan konseling. bandung: fip upi. mariana, r. et al. (2010). pengelolaan lingkungan belajar. jakarta: kencana. megawangi, r. (2007). pendidikan karakter solusi yang tepat untuk membangun bangsa. cimanggis: indonesia heritage foundation. miles, m.b., & huberman, m.a. (1992). analisis data qualitatif. (terjemahan tjejep rohendi rohidi). london: sage publication ltd. (buku asli diterbitkan tahun 1985). moleong, lexy j. (2000). metodologi penelitian kualitatif. bandung : remaja rosda karya. nana syaodih sukmadinata. (2007). metode penelitian pendidikan. bandung: pt remaja rosdakarya. natawidjaja, rochman. (1987). pendekatan-pendekatan penyuluhan kelompok. bandung: diponegoro nasution, s. (1996). metodologi penelitian kualitatif. bandung : tarsito. lickona, t. (1992). educating for character, how our schools can teach respect and responsibility. new york: bantam books. sradley, james. p. (1980).participant observation. new york: holt, rinehart and winston. sukardi. (2006). penelitian kualitatif-naturalistik dalam pendidikan. yogyakarta : usaha keluarga. sukardi, zamzani, dardiri. (2006). penelitian kualitatif naturalistik. yogyakarta: lembaga penelitian universitas negeri yogyakarta. wyne, e. (1991). character and academic in the elementary school. in j.s. benninga (ed.), moral, character, and civic education in the elementary school (pp. 139-155). new york: teachers college press. yusuf, syamsu. 2009. program bimbingan dan konseling di sekolah. bandung: rizqi. yusuf, syamsu & nurihsan, juntika. 2008. landasan bimbingan dan konseling. bandung: rosdakarya. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 refleksi pendidikan ipa sekolah.........(desstya, dkk) 1 refleksi pendidikan ipa sekolah dasar di indonesia (relevansi model pendidikan paulo freire dengan pendidikan ipa di sekolah dasar) anatri desstya1), istiani indah novitasari2), aldi farhan razak3), kukuh sandy sudrajat4) pendidikan guru sekolah dasar fkip, universitas muhammadiyah surakarta 1ad121@ums.ac.id; 2istiani.indah96@gmail.com; 3aldifarhanrazak@gmail.com; 4sudrajatsandy@gmail.com abstract this study aimed to describe: the process of science education in elementary schools in line with expectations at this time, the educational model paulo freire, the purpose of education paulo freire, and its relevance to science education in primary schools. this study is a library research. the main data sources obtained from books, journals and other writings related to science education in primary schools and the educational model of paulo freire. data collection techniques with identifying information of the books, previous research reports, journals, articles, web, or other information. this research uses descriptive analysis method. the data analysis includes the decomposition of matter suitable object of study then described and analyzed for the conclusion, namely 1) science education in elementary routed through direct experience, conducted inquiry scientifically develop process skills and scientific attitude, 2) educational model’s paulo freire states on education dialectical, liberating education and shackled, and educational humanism, 3) he conformity of paulo freire's education with science education in elementary school, namely in the change in the quality of critical thinking, 4) relevance between the two in concepts, goals, positions of educators and learners. keywords: elementary school, elementary science education, educational of paulo freire pendahuluan pendidikan sebagai kunci utama bagi bangsa dalam membangun masa depannya. dengan pendidikan, suatu bangsa dapat membuka cakrawala dunia dan mampu bersaing dalam berbagai bidang. penguasaan dalam bidang teknologi merupakan wujud persaingan yang mengindikasikan majunya suatu bangsa. kemajuan teknologi didasari oleh pengetahuan dasar, yaitu ilmu pengetahuan alam (ipa). dewey (2001: 34) dalam freire (2007: 76), pendidikan adalah proses untuk membentuk kemampuan dasar yang bersifat fundamental, baik yang berkaitan dengan daya intelektual, ataupun daya emosional yang dipusatkan pada tabiat manusia dan terhadap sesamanya. driyarkara dalam yamin (2010: 65), pendidikan adalah proses memanusiakan manusia muda yang hendaknya dipahami sebagai proses humanisasi, artinya sikap, perbuatan dan kegiatan seseorang bersifat manusiawi. upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia indonesia seutuhnya, yang beriman dan bertakwa terhadap tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, berpengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan yang merupakan tujuan pendidikan nasional kita, telah diupayakan pemerintah dengan menyelenggarakan pendidikan formal yang ditempuh mulai dari jenjang sekolah dasar. sekolah dasar merupakan bagian dari satuan pendidikan dasar yang menjadi program wajib belajar pemerintah, yang diselenggarakan selama 6 tahun. di sekolah mailto:ad121@ums.ac.id mailto:istiani.indah96@gmail.com mailto:aldifarhanrazak@gmail.com mailto:sudrajatsandy@gmail.com p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 2 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 1 11 dasar, proses pendidikannya dirancang agar mampu melanjutkan ke pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. untuk menjadi bangsa yang maju dalam hal penguasaan teknologi, maka pendidikan tentang ipa telah diajarkan di sekolah dasar (djumhana, 2007: 45). selama ini, indikator keberhasilan dalam pendidikan menekankan pada kemampuan intelektual, kemampuan dalam menciptakan dan menerapkan suatu produk teknologi, tanpa memperhatikan sisi lain, seperti karakter sosial maupun spiritual. hal tersebut semakin menunjukkan bahwa proses pelaksanaan pendidikan di indonesia tidak sejalan dengan yang telah dicita-citakan. penguasaan teknologi berpengaruh terhadap kehidupan manusia. teknologi yang dikembangkan oleh manusia digunakan kembali untuk memudahkan kehidupan manusia. dengan demikian, sangat diperlukan upaya untuk menyelenggarakan pendidikan yang memanusiakan, seperti yang dimaksudkan oleh paulo freire, seorang doktor bidang pendidikan di brazil. freire mengungkapkan, pendidikan harus memiliki orientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. pendidikan harus melibatkan tiga unsur dalam prosesnya: pengajar, pelajar, dan kenyataan dunia. menurutnya, pendidikan diibaratkan sebagai sebuah bank, pelajar sebagai objek investasi dan sumber deposito potensial, sementara depositonya adalah ilmu pengetahuan, dan guru sebagai investornya. freire (2009: vii), fitrah manusia sejati adalah menjadi subjek, bukan objek. mereka merupakan subjek yang sadar, berusaha menyelesaikan permasalahan duniawi serta kenyataan yang menindas. dunia ini bukanlah sesuatu yang tercipta dengan sendiri, sehingga manusia harus bersikap kritis dengan menggunakan bahasa pikiran. mengamati urgensinya mengajarkan ipa di sekolah dasar agar suatu bangsa mempunyai bekal untuk mampu menguasai teknologi, tentang pelaksanaan proses pendidikan di indonesia yang tidak sejalan dengan cita-cita, dan keterkaitannya dengan pemikiran paulo freire tentang pendidikan, maka perlu adanya kajian lebih lanjut tentang model pendidikan paulo freire dan relevansinya dengan pendidikan ipa di sekolah dasar dari berbagai aspek. bagaimanakah proses pendidikan ipa di sekolah dasar yang sesuai dengan harapan pada saat ini? bagaimana model pendidikan paulo freire? apakah tujuan dari pendidikan paulo freire? bagaimana relevansi model pendidikan paulo freire dengan pendidikan ipa di sekolah dasar? ipa merupakan tubuhnya pengetahuan, terdiri dari sekumpulan fakta, konsep, teori, dan hukum, ditemukan melalui proses ilmiah. ipa sebagai attitude dan melibatkan cara berfikir. salah satu alasan ipa dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar, adalah bahwa ipa merupakan pengetahuan dasar suatu teknologi. harapan ke depan, dengan membekali materi ipa di sekolah dasar, bangsa ini akan menguasai teknologi. pembelajaran ipa sebaiknya dilakukan dengan discovery learning, yang didasarkan pada aktivitas pengamatan, menginferensi, dan mengkomunikasikan. aktivitas ini merupakan inti dari keterampilan proses (scientific process). oleh karena itu, proses pembelajaran ipa harus disesuaikan dengan hakikatnya dan karakter siswa sekolah dasar. siswa sekolah dasar berada pada tahap perkembangan operasional konkrit, e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 refleksi pendidikan ipa sekolah.........(desstya, dkk) 3 masih sangat membutuhkan benda-benda konkrit untuk membantu pengembangan kemampuan intelektualnya. untuk menemukan suatu produk sains, dan kemudian memahaminya, siswa sekolah dasar lebih diarahkan untuk proses menemukannya sendiri. siswa diberikan kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu, sehingga mampu mengembangkan kemampuan bertanya, mencari jawaban berdasar bukti serta mengembangkan berpikir ilmiah. siswa cenderung aktif selama pembelajaran untuk membangun (mengkonstruksi) pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan agar pembelajaran bermakna bagi siswa. siswa sebagai pusat pembelajaran, guru sebagai fasilitator. paulo freire, seorang doktor pendidikan di brazil, yang mengkritik dampak yang ditimbulkan oleh pendidikan sekolah terhadap masyarakat luas. freire mengemukakan tentang pendidikan pembebasan, bukan pendidikan untuk penguasaan (dominasi). menurutnya, belajar adalah pekerjaan yang cukup berat, menuntut kemampuan intelektual yang diimbangi dengan sikap kritik-sistematik dapat diperoleh dengan praktik langsung. pendidikan yang selama ini berlangsung dirasa telah membunuh semangat, keingintahuan, dan kekreativitasan kita. mata pelajaran sekolah mencerdakan siswa, tetapi kecerdasan yang hanya berkaitan dengan teks, tidak akan menjadi kritik yang mendasar terhadap teks itu sendiri. freire memperkenalkan konsep pendidikan dialogis. melalui pendidikan dialogis, freire membawa masyarakat brazil kembali kepada fitrahnya, yaitu manusia merdeka yang kritis dan kreatif. pendidikan yang selama ini berlangsung diibaratkan oleh freire sebagai pendidikan gaya bank, yang hanya menjadikan peserta didik sebagai objek yang terus menerima. peserta didik ibarat deposito yang dapat diisi kapan saja, dengan muatan apa saja. pendidikan semacam ini akan mematikan sikap kekritisan siswa. fitrah manusia adalah sebagai pelaku, bukan objek. manusia harus bersikap kritis dengan menggunakan bahasa pikiran. di dalam konteks pendidikan, freire menyebutkan bahwa kedudukan guru dan siswa adalah sama-sama sebagai subjek. kedua pihak dapat saling mengisi, bukan hanya diisi. metode penelitian jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dengan mengkaji dan mendeskripsikan isi dari literatur yang berupa buku, dokumen resmi pemerintah, maupun laporan hasil penelitian dari penelitian terdahulu. sumber data utama dari penelitian ini akan diperoleh melalui penelusuran pustaka, yaitu data yang diperoleh dari buku ira shore dan paulo freire (2001), jurnal dan tulisan lain yang berkaitan dengan pendidikan ipa di sekolah dasar dan model pendidikan pembebasan dari paulo freire. teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengidentifikasi informasi terkait dari buku-buku, laporan penelitian terdahulu, jurnal, artikel, web, ataupun informasi lainnya yang berhubungan dengan judul penelitian terkait untuk mencari aspek-aspek yang telah ditentukan. data pada penelitian ini dilakukan dengan cara analisis deskriptif. analisis data mencakup penguraian masalah objek kajian kemudian dideskripsikan dan dianalisis untuk memperoleh kesimpulan. . p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 4 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 1 11 hasil dan pembahasan proses pendidikan ipa di sekolah dasar ilmu pengetahuan alam pada hakikatnya merupakan body of knowledge (tubuhnya pengetahuan), a way of investigation (cara untuk melakukan penyelidikan), dan scientific attitude (sikap ilmiah). ipa sebagai body of knowledge merupakan hasil temuan yang dilakukan para ilmuan, yang berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, teori maupun model. temuan-temuan tersebut diperoleh melalui proses penyelidikan dengan metode discovery maupun inquiry. selama melakukan penyelidikan ini, sikap ilmiah (scientific attitude) sangat diperlukan dan akan mulai terbentuk. sikap ilmiah yang diharapkan meliputi objektif, tidak tegesaagesa, berhati terbuka, dapat membedakan antara fakta dn pendapat, tidak bersifat memihak pada satu pendapat tertentu, tidak mendasarkan kesimpulan berdasarkan prasangka, tidak percaya akan takhayul, tekun dan sabar dalam memecahkan masalah, mengkomunikasikan hasil temuannya untuk dikritisi dan disempurnakan, dapat bekerja sama dengan orang lain, dan selalu memiliki rasaa ingin tahu. pendidikan ilmu pengetahuan alam pada hakikatnya merupakan suatu pemahaman tentang pentingnya mempelajari alam sehingga akan membawa manusia pada kehidupan yang bermakna dan bermartabat. dalam pendidikan ipa menjelaskan pembentukan berfikir manusia dalam kaitannya dengan mempelajari alam sehingga manusia menjadi mengerti, beretika, dan lebih dekat dengan tuhannya. hakikat pendidikan ipa adalah membelajarkan peserta didik untuk memahami hakikat ipa, dengan memasukkan unsur sikap, content, dan proses. jika guru di sekolah dasar memahami secara mumpuni tentang hakikat pendidikan ipa, hal ini akan memungkinkan bagi guruguru sekolah dasar untuk menjalankan tugas profesional, yaitu pembelajaran ipa. menurut permendiknas no. 22 tahun 2006, kompetensi dalam pembelajaran ipa di sd/mi terdiri atas: 1) menguasai pengetahuan tentang berbagai jenis dan perangai lingkungan alam dan lingkungan buatan dalam kaitan dengan pemanfaatan bagi kehidupan sehari-hari; 2) mengembangkan keterampilan proses sains; 3) mengembangkan wawasan, sikap dan nilai-nilai yang berguna bagi siswa untuk meningkatkan kualitas kehidupan seharihari; 4) mengembangkan kesadaran tentang keterkaitan yang saling mempengaruhi antara kemampuan sains dan teknologi dengan keadaan lingkungan serta pemanfaatannya bagi kehidupan nyata sehari-hari; dan 5) mengembangkan kemampuan siswa untuk menerapkan iptek serta keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari, maupun untuk melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi. beberapa alasan mata pelajaran ipa dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah adalah: (1) ipa berguna bagi suatu bangsa, karena ipa merupakan pengetahuan dasar dari teknologi, yang merupakan tulang punggung dasri suatu bangsa. (2) ipa mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan sikap ilmiah yang membentuk insan indonesia yang berkepribadian luhur, dan (3) ipa mempunyai nilai-nilai pendidikan yang dapat membentuk kepribadian anak secara keseluruhan (samatowa, 2011: 6). dengan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 refleksi pendidikan ipa sekolah.........(desstya, dkk) 5 demikian, dapat digarisbawahi bahwa tujuan pendidikan ipa di sekolah dasar adalah membelajarkan siswa sekolah dasar agar memahami hakikat ipa, agar mampu berfikir kritis, dan mempunyai kepribadian luhur sebagai dasar dalam penguasaan teknologi. teori perkembangan kognitif piaget menyatakan bahwa anak sekolah dasar berada pada tahap operasional konkrit (7-12 tahun). mereka akan lebih mudah memahami sebuah konsep melalui pengalaman yang konkrit. karakteristik tersebut dapat digunakan oleh guru sekolah dasar dalam melakukan pembelajaran ipa yang mengacu pada kompetensi yang terdapat dalam permendiknas no 22 tahun 2006 tersebut. dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan ipa di sekolah dasar adalah upaya membelajarkan peserta didik untuk memahami hakikat ipa, dengan memasukkan unsur sikap, content, dan proses, yang dilakukan dengan memberikan suatu pengalaman belajar yang konkrit, yaitu dengan metode inquiry maupun discovery. model pendidikan menurut paulo freire penelitian ini memfokuskan pada pembahasan tentang cara, strategi, atau pendekatan dalam mentransfer ilmu pengetahuan dari paulo freire dari 3 aspek, yaitu pendidikan dialektis, pendidikan membebaskan, dan pendidikan humanistis. proses pembelajaran merupakan usaha untuk memperoleh pengetahuan. proses mentransfer ilmu pengetahuan dipandang sebagai aksi budaya untuk membebaskan siswa dari belenggu ketidaktahuannya. siswa memerankan diri sebagai subjek untuk berdialog dengan gurunya. dialog yang sesungguhnya akan menyatukan subjek-subjek yang berusaha mendapatkan pengetahuan akan suatu objek yang dalam konteks ini berperan sebagai media komunikasi di antara mereka. sejak awal siswa harus memposisikan diri sebagai subjek yang kreatif. dengan pendidikan secara dialektika, paulo freire mampu membawa kembali masyarakatnya menuju fitrahnya, yaitu manusia merdeka yang kritis dan kreatif. dialog menjadi kunci dari konsep pendidikan freire. pendidikan secara dialektika mampu mentransformasi nilai kejujuran, keadilan, kemanusiaan, kesetiakawanan, profesionalisme, keluhuran, kedisiplinan, dan ketulusan. pendidikan secara dialektika merupakan hal penting karena bukan sekedar transfer ilmu, tetapi pembentukan karakter. selama ini, dalam proses pembelajaran membahas pada sesuatu yang abstrak, tidak sesuai dengan kehidupan sebenarnya. dalam prosesnya, belajar harus memberi kesempatan bagi siswa untuk mengetahui konsep yang dibicarakan. sebuah tindakan selalu mengimplikasikan refleksi dan aksi berikutnya. usaha untuk mendapatkan pengetahuan mencakup sebuah dialektika yang beranjak dari aksi menuju refleksi, dan dari refleksi menuju aksi yang baru. siswa harus melewati proses abstraksi yang sebenarnya, dengan cara merefleksikan seluruh aksi-objek, dengan mengkaji ulang tujuan hidup mereka di dunia. pendidikan dialektis melibatkan unsur pengajar dan pelajar, yang merupakan subjek yang sadar, serta realitas dunia sebagai objek yang disadari (freire, 2009: 45). melalui dialog, pendidik dan peserta didik melakukan komunikasi dua arah yang p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 6 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 1 11 terjalin secara terbuka. dengan adanya keterbukaan melalui dialog, pendidikan dalam bentuk doktrinasi dapat dihindarkan. dialog merupakan metode tepat untuk memperoleh pengetahuan, sehingga guru dan murid harus menggunakan pendekatan ilmiah dalam melakukan dialog sehingga akan memperoleh realitas secara benar. bagi freire, mengetahui suatu hal/ konsep tidak sama dengan mengingatnya. paulo freire mengedepankan sistem pendidikan yang membebaskan, dan tidak membelenggu. pada model pendidikan yang membelenggu, siswa merupakan objek pasif dan tidak dituntut untuk berpartisipasi aktif dalam proses belajar. siswa hanya diisi kata-kata oleh guru. guru mengajarkan kepada siswa seolah-olah dirinya terpisah dari kehidupan nyata, seolah-olah bahasa pemikiran itu bisa muncul tanpa kenyataan yang ada. kurangnya guru dalam menghargai kebebasan siswa, merupakan cerminan pendidikan membelenggu, yang menanamkan kesadaran yang salah kepada siswa, yang pada akhirnya mereka hanya mengikuti alur kehidupan. guru melakukan tindakan manipulatif dengan siswa sebagai objeknya. pendidikan membebaskan yang digagasnya, merupakan proses ketika guru mengkondisikan siswa untuk mengenal dan mengungkap kehidupan yang real secara kritis. tidak adanya dikotomi antara subjek dan objek. pendidikan secara dialektis merupakan wujud dari pendidikan yang membebaskan merupakan upaya untuk memperoleh pengetahuan dan kreativitas dimana siswa bersama-sama dengan guru menjadi subjek pengetahuan. konsep pendidikan humanis yang digagasnya, mulai ada ketika ada apresiasi tentang hubungan dialektis antara kesadaran manusia dan dunia, atau antara manusia dan dunianya. pendidikan humanis memberikan kebebasan yang luas untuk berfikir kritis, dan semakin banyak yang dikritis dan mengkritisi. hal ini merupakan sebuah kondisi sejajar antar manusia yang satu dengan yang lain. dominasi atas salah satu pihak merupakan sebuah bentuk penindasan, sehingga keadaan-keadaan tersebut harus dilawan. berdasarkan uraian di atas, dapat diambil pokok-pokok dalam model pendidikan paulo freire, yaitu konsep pendidikan yang berwawasan humanis. antara pendidik dan peserta didik terjadi keharmonisan dalam melakukan dialog dalam menemukan suatu konsep pengetahuan. tujuan dari pendidikan paulo freire paulo freire, seorang tokoh pelopor critical pedagogy, yaitu pendekatan pembelajaran yang membantu siswa melalui dominasi pertanyaan dan tantangan serta keyakinan dan praktik. tujuan dari critical pedagogy adalah untuk memberdayakan peserta didik, membantu mereka agar membantu dirinya sendiri, dan membebaskan dari penindasan (siswanto, 2007: 15). pendidikan yang membebaskan dari paulo freire ini adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis, yang ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. pada tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab akibat. pendidikan paulo freire merupakan pendidikan yang berwawasan humanis, yang bertujuan agar dapat menghasilkan perubahan pada diri siswa baik perubahan dalam kualitas berfikir, kualitas pribadi, e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 refleksi pendidikan ipa sekolah.........(desstya, dkk) 7 kualitas sosial, kualitas kemandiriannya dan kualitas kemasyarakatannya. relevansi model pendidikan paulo freire dengan pendidikan ipa di sekolah dasar pembatasan kajian model pendidikan paulo freire dan pendidikan ipa di sekolah dasar adalah pada konsep, tujuan, metode pendidikan, posisi pendidik, serta posisi peserta didik, yang masing-masing disajikan dalam table 1 berikut: tabel 1. relevansi pendidikan paulo freire dengan pendidikan ipa di sekolah dasar aspek pendidikan paulo freire pendidikan ipa di sekolah dasar konsep pendidikan humanis pendidikan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan sikap ilmiah tujuan dapat menghasilkan perubahan pada diri siswa baik perubahan dalam kualitas berfikir, kualitas pribadi, kualitas sosial, kualitas kemandiriannya dan kualitas kemasyarakatannya membelajarkan siswa sekolah dasar agar memahami hakikat ipa, agar mampu berfikir kritis, dan mempunyai kepribadian luhur sebagai dasar dalam penguasaan teknologi metode menekankan pada kebebasan intelektual antara pendidik dengan peserta didik, melalui dialog terbuka metode inquiry dan discovery yang menekankan pada keterampilan proses posisi pendidik fasilitator, dinamisator, mediator dan motivator. pembimbing, fasilitator. posisi peserta didik sebagai pusat kegiatan pembelajaran sebagai subjek yang aktif dalam pembelajaran berdasarkan tabel 1, dapat dijelaskan dan ditarik relevansinya dalam pembahasan berikut ini: pendidikan humanisme paulo freire merupakan pendidikan yang memanusiakan manusia, dan menempatkan manusia pada posisi sentral dalam setiap perubahan yang terjadi dan mampu pula mengarahkan serta mengendalikan perubahan itu. perubahan yang terjadi melalui proses pembelajaran merupakan suatu bentuk proses belajar menemukan kembali (reinventing), menciptakan kembali (recreating), menulis ulang (rewriting) (freire, 2009:67). ketiga bentuk ini hanya bisa dilakukan oleh subjek. pendidikan kita selama ini hanya berfungsi untuk membunuh krativitas siswa, karena lebih mengedepankan aspek verbalisme, yaitu suatu asas pendidikan yang mengedepankan hafalan, bukan pemahaman, dan mengedepankan formulasi bukan substansi, serta lebih dalam lagi menyukai keseragaman, bukan kemandirian serta huru-hara klasikal, bukan petualangan intelektual (yunus, 2004: ix). keberhasilan dalam pendidikan yang ditekankan pada kemampuan intelektual, kemampuan dalam menciptakan dan menerapkan suatu produk teknologi (yang merupakan terapan dari ipa), dan tanpa memperhatikan karakter sosial maupun spiritual, menjadi tugas para praktisi pendidikan untuk menyelesaikannya. paulo freire menyarankan adanya pendidikan dialektis, yang mampu mentransformasi karakter dan sikap sosial, yaitu menghargai p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 8 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 1 11 pendapat dan pilihan orang lain, nilai kejujuran, keadilan, kemanusiaan, kesetiakawanan, pofesionalisme, keluhuran, kedisiplinan, dan ketulusan. dialog mengandalkan adanya kerendahan hati. seseorang mau belajar dari orang lain, meskipun dari segi budaya dianggap lebih rendah, memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. manusia pada hakikatnya adalah menjadi subjek yang harus mengubah dunia, membuat kehidupan ini semakin penuh dan semakin kaya, baik secara individual maupun secara kolektif. dialog menuntut sikap mau mendengar dan memahami diri sendiri, menekankan adanya interaksi yang dialogis antara keduanya dalam menciptakan pengetahuan bersama. guru sebagai subjek yang mengetahui ilmu, akan sangat tepat jika siswa juga memperoleh pemahaman yang sama tentang ilmu itu. posisi kedua pihak adalah setara dan sederajat dalam proses pembelajaran. freire berusaha membongkar watak pasif dari praktik pendidikan tradisional, karena pendidikan dengan pola ini menempatkan siswa sebagai objek pembelajaran, dan melanggengkan “sistem relasi penindasan”. disebutnya juga sebagai sistem pendidikan “gaya bank” yaitu guru bertindak sebagai pihak yang menabung pengetahuan, dan siswa penerimanya. pendidikan ipa di sekolah dasar dilakukan dengan memberikan pengalaman belajar secara langsung, melalui metode discovery maupun inquiry. bukan memberikan sesuatu yang abstrak yang seolah-olah terpisah dari kehidupan nyata dari siswa. sesuai dengan pendidikan yang membebaskan dari paulo freire, guru mengkondisikan siswa agar mampu mengenal dan mengungkap kehidupannya secara kritis. paulo freire menekankan pada kebebasan intelektual antara pendidik dengan peserta didik, melalui dialog terbuka. penemuan produk-produk ipa melalui inquiry maupun discovery memberikan kebebasan intelektual bagi siswa untuk lebih berfikir kritis. selama proses penemuan, siswa akan saling berdiskusi dalam dialog terbuka. pendidik dan siswa berada pada posisi sejajar dan saling belajar dan saling bekerja sama. freire memperjelas konsep ini dengan memberikan ciri-ciri guru yang membebaskan: a) terbuka terhadap kritikan dari pihak eksternal selama itu baik bagi pembangunan yang lebih dinamis dan konstruktif menuju pendidikan yang membebaskan, b) merasa tidak cukup dengan ilmu yang didapatnya, sehingga memiliki keinginan belajar terus menerus tanpa henti, c) tidak merasa menjadi yang paling mampu dan menguasai berbagai hal, dan menganggap murid juga sumber informasi yang bisa ia ambil pelajaran dari mereka. mansyur (2014: 50), menyatakan tentang pendidikan kritis dari paulo freire, bahwa pendidikan selalu melibatkan hubungan sosial dan pilihan-pilihan politik. ketika pendidikan memiliki hubungan yang erat dengan sosial, maka pendidikan akan memberikan pengaruh terhadap perubahan sosial yang ada. hal ini sejalan dengan teori belajar bandura, bahwa perilaku manusia selalu berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. dinyatakan oleh muakhirin (2014), bahwa dalam kurikulum ipa sekolah dasar, pembelajaran ipa sebaiknya memuat 3 komponen, yaitu: pembelajaran ipa harus merangsang pertumbuhan intelektual dan perkembangan siswa, dengan melibatkan siswa dalam kegiatan praktikum/ percobaan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 refleksi pendidikan ipa sekolah.........(desstya, dkk) 9 ipa, dan seharusnya mendorong terbentuknya sikap ilmiah, mengembangkan kemampuan penggunaan keterampilan berfikir kritis dan rasional, melalui pembelajaran inquiry, yang dilakukan secara berkelompok. dengan demikian, ada interaksi timbal balik antarsiswa, dan antara guru dengan siswa melalui sebuah proses dialog untuk menciptakan pemahaman dan pengetahuan bersama, yang mana hal ini sesuai dengan pemikiran paulo freire. hanya dengan menempatkan siswa sebagai subjek, bukan objek dalam pembelajaran bisa mendorong siswa untuk berfikir secara kritis dan rasional. pembelajaran inquiry berpusat pada pertanyaan ‘mengapa’ dan ‘bagaimana kita mengetahui’, sehingga anak dituntut untuk berfikir kritis, dan didorong untuk menjelaskan tentang apa yang diamati dalam diskusi kelas maupun tulisan. pembelajaran ipa sebagai proses aktif dan sangat dipengaruhi oleh keingintahuan siswa terhadap apa yang akan dipelajari. paulo freire menempatkan siswa sebagai pusat kegiatan pembelajaran, demikian juga dalam pendidikan ipa di sekolah dasar, yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran yang aktif. peran pendidik sebagai pembimbing, fasilitator, dinamisator, mediator dan motivator. hasil belajar tidak hanya tergantung pada objek yang disiapkan oleh guru, tetapi juga oleh interaksi antara berbagai informasi yang seharusnya diberikan kepada anak serta mengkaitkannya dengan pengetahuan yang sebelumnya sudah dimiliki. konteks pendidikan ipa yang humanistis, yaitu bagaimana mengajarkan ipa dengan cara memanusiakan manusia, sebagai seorang pendidik perlu memperhatikan aspek penting, yaitu a) memahami bahwa siswa memiliki bekal pengetahuan yang berhubungan dengan sesuat yang dipelajari, b) memahami aktivitas anak dalam melakukan kegiatan yang nyata, c) mendorong terciptanya kondisi untuk saling bertanya antara guru dan siswa. simpulan simpulan dari penelitian ini adalah: 1. pendidikan ipa di sekolah dasar diarahkan melalui pengalaman langsung, dilakukan secara discovery dan inquiry ilmiah dengan mengembangkan keterampilan proses dan sikap ilmiah. 2. model pendidikan menurut paulo freire menyatakan tentang pendidikan: a) dialektis, yaitu interaksi yang dialog is antara guru dan siswa. b) pendidikan yang membebaskan dan tidak membelenggu, yaitu mengenal dan mengungkap realitas kehidupan secara kritis. c) pendidikan humanisme, yaitu pendidikan yang memanusiakan manusia. 3. tujuan pendidikan paulo freire adalah menghasilkan perubahan pada diri siswa baik perubahan dalam kualitas berfikir, kualitas pribadi, kualitas sosial, kualitas kemandiriannya dan kualitas kemasyarakatannya 4. relevansi pendidikan ipa sekolah dasar di indonesia dengan pendidikan paulo freire: a. pendidikan humanis dari paulo freire, menempatkan manusia sesuai martabatnya. dalam pembelajaran ipa, siswa sebagai subjek pembelajar yang diberi kebebasan intelektual untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 10 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 1 11 bersikap ilmiah melalui metode discovery dan inquiry, melalui dialog terbuka. b. tujuan pendidikan paulo freire mengarah pada perubahan kualitas cara berfikir, yang sejalan dengan tujuan pendidikan ipa di sekolah dasar yang mulai mengembangkan kemampuan untuk berfikir kritis sebagai bentuk dari perubahan berfikir pasif. c. pendidikan paulo freire menempatkan peserta didik sebagai subjek yang aktif dalam pembelajaran, sedangkan peran pendidik sebagai fasilitator, mediator, dan motivator. demikian halnya dengan pendidikan ipa di sekolah dasar. hasil penelitian ini dapat direkomendasikan kepada para praktisi pendidikan untuk membelajarkan ipa di sekolah dasar dengan memberikan pengalaman secara langsung melalui proses inquiry ilmiah dengan melakukan pembelajaran secara dialogis, pembelajaran yang membebaskan sehingga dapat berfikir secara kritis dan rasional, dan pendidikan yang humanistis, yaitu pendidikan yang memanusiakan manusia. daftar pustaka depdiknas. 2006. peraturan menteri pendidikan nasional nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah: jakarta: kemendiknas. djumhana, nana & muslim. 2007. pendidikan ipa. jakarta: direktorat pendidikan tinggi. departemen pendidikan nasional. freire, paulo. 2009. politik pendidikan. kebudayaan kekuasaan dan pembebasan. yogyakarta: pustaka pelajar. kemdikbud. 2013. permendikbud nomor 67 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah dasar/ madrasah ibtidaiyah. jakarta: kemdikbud. mansyur, masykur h. 2014. pendidikan ala “paulo freire” sebuah renungan jurnal ilmiah solusi vol. 1 no.1 januari – maret 2014: 64-76. muakhirin, binti. 2014. “peningkatan hasil belajar ipa melalui pendekatan pembelajaran inquiry pada siswa sekolah dasar”. jurnal ilmiah guru “cope”, no. 01/tahun xviii/mei 2014 e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 refleksi pendidikan ipa sekolah.........(desstya, dkk) 11 shor, ira & paulo freire. 2001. menjadi guru merdeka. terj. a. nashir budiman yogyakarta: lkis. siswanto. 2007. “pendidikan sebagai paradigma pembebasan (telaah filsafat pendidikan paulo freire)”. jurnal tadris. volume 2. nomor 2. samatowa, usman. 2011. pembelajaran ipa di sekolah dasar. jakarta: pt indeks yamin, muh. 2010. “menggugat pendidikan indonesia: belajar dari paulo freire dan ki hajar dewantara”. jurnal pendidikan. volume 3. nomor 2. profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 46 information and communication technology in elementary schools: a comparison between hybrid and face-to-face learning systems wisnu zakaria1*, turmudi1, jupeth toriano pentang2 1indonesia university of education, bandung, indonesia 2western philippines university, philippines *email: wz@upi.edu submitted: 2022-02-15 doi: 10.23917/ppd.v9i1.17534 accepted: 2022-05-20 published: 2022-07-20 keywords: abstract elementary education; hybrid learning; information technology; learning systems; face-to-face learning at the beginning of 2020, the world was experiencing the covid-19 pandemic, and indonesia was no exception. the occurrence of this affects the learning system in indonesia, the learning system that was originally face-to-face was forced to online form, in this case the teachers are required to provide a creative, efficient and optimal learning system for students. so the purpose of this study is to find out the difference in the average learning result of elementary school students during the pandemic. the method used in this study is quantitative with a posttest-only control group design. the population in this study were grade 4 elementary school students in majalengka district, indonesia. there were 64 samples and was taken by purposive sampling. the results of this study are that there are differences in the average student learning results where students who study with the hybrid learning system are higher than the face-to-face learning system. the hybrid learning system is very reliable in the 4.0 era as well as learning during the covid-19 pandemic. however, for the record, it is necessary to look at the facilities and infrastructure considering that this system relies on technology, it is necessary to understand and be able to control the learning media for both teachers and students so that learning outcomes can be optimal and minimize the occurrence of obstacles. the present study revealed the implementation of 21st century learning. introduction background the coronavirus disease 2019 (covid-19) has caused widespread devastation throughout the world, including indonesia. the occurrence of this pandemic has an impact on the learning system in indonesia. the learning system, which was originally face-to-face, has been forced to be online in accordance with the government's rules and policies. in this http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:wz@upi.edu http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v7i1.9652 vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 47 case, teachers are required to provide a creative, efficient, and optimal learning system for students. it should be highlighted, however, that indonesia has now reached the era of the fourth industrial revolution, in which information technology has become part and parcel of human life. one of the features of this period is digitalization, which means that technology now facilitates all human activity (suwardana, 2018). as a result, the transition from face-to-face to online learning should not pose a considerable problem. considering at the technology-based hybrid learning system, computer-based education has been implemented and proclaimed in the curriculum. computers can help learning in various ways, such as presenting data and information, providing an overview of abstract things to be more open and imaginable to students so that meaning arises, facilitating interaction, and encouraging curiosity in students which is also in line with increasing student achievement. the computer taxonomy can be described in basic terms, namely (1) teaching about computers, (2) teaching with computers, and (3) managing educational administration with computer assistance (sunarto, 2011). the hybrid learning system is very reliable in the 4.0 era as well as learning during the covid-19 pandemic. however, for the record, it is necessary to look at the facilities and infrastructure considering that this system relies on technology, it is necessary to understand and be able to control the learning media for both teachers and students so that learning outcomes can be optimal and minimize the occurrence of obstacles. the good news is that students in this era are generation z, which are children who are close to technology, so it is easy to manipulate and teach them. from the teacher's point of view, this system also needs to be combined with methods, models and approaches that are appropriate to the situation and conditions of students, the environment and society. problem of study learning problems emerged during the covid-19 pandemic. it was discovered that there was a positive change in learning styles marked by the growth of active and creative attitudes of students, but there were also changes in negative learning styles marked by a decrease in students' desire to learn (aldiyah, 2021). online learning was less effective because many students did not understand the learning material (setyaningrum et al., 2021), which affected student learning outcomes. similarly, generation z students experienced online learning problems during the pandemic such as technical problems, not mastering the application, boredom in participating in learning activities, and difficulty understanding the material (malelak et al., 2021). a study in morocco demonstrated interior and exterior problems from the teacher's point of view in the use of information technology in foreign language learning – interior factors include teacher attitudes and dilemmas in the use of ict, lack of knowledge and competence teachers in the use of ict, while exterior factors are related to the lack of ict-based facilities and equipment (ismaili, 2021). these two factors create constraints in the learning system, influencing the performance, mindset, and achievement of the students. knowing the existence of these problems is the basis for the need for comparison of learning systems to determine the effectiveness of learning that can be applied in the 4.0 era along with the covid-19 pandemic, which is the uniqueness of this study with previous research. the study compared the learning system that occurred during (hybrid) and after (face-to-face) the pandemic, with the accumulation of score data for one full academic year taking into consideration information and communication technology (ict) at the elementary school level. the face-to-face indicated was after the strike of the pandemic where physical meeting was normally by the government. state of the art learning results can be translated into two constituent words, results are a cause and effect of the acquisition of a process which includes activities and changes. while learning zakaria et al. – information and communication technology in elementary schools… printed issn 2406-8012 48 is an attempt to instill behavior in a learner, both cognitive and affective. psychologically, learning can be translated into a process of behavioral change that is actually experienced in interaction with the environment (slameto, 2014). the hybrid learning learning system is expected to be a solution and mediation of a blend of face-to-face learning experiences by maximizing the presence of technology, considering that during a pandemic, students study at home or online. the hybrid learning system is a combined method or combination of face-to-face learning with online learning with the help of information technology, in other words, this system will utilize teaching materials based on information and communication technology but can still apply pedagogical approaches such as cognitive, behavioristic, constructivism and centered in students (chirino-barceló & molina, 2011) this hybrid learning system also has benefits including creating an effective and efficient learning experience, easily accessible and flexible, it can even reduce costs and energy for learning and teaching, this system can also facilitate students to learn independently optimally (bryan & volchenkova, 2016). citing from koehler et al. (2013) published technological pedagogical content knowledge (tpack) as the basis for the teacher's knowledge framework in integrating technology in the education curriculum system. this framework has three main components, namely technology, content, and pedagogy, where tpack is a slice of these three components, as described in figure 1. figure 1: the tpack framework (image from http://tpack.org) the tpack framework shows a dynamic relationship that is born, namely pedagogical content knowledge (pck), technology pedagogical knowledge (tck), technology pedagogical knowledge (tpk), and pieces that make up technology pedagogical content knowledge (tpack). mishra & koehler (2013) suggested that teachers need to integrate technology, content and pedagogy so that learning needs are balanced, especially this integration helps learning more effectively, of course this integration needs to be regulated in curriculum development. technology needs to be included in the curriculum in order to adapt to the world's progress in the digitalization era 4.0. furthermore, it is hoped that students in this era can collaborate for the future. this statement reinforces the belief that learning in this era requires technology-based learning systems such as hybrid learning, especially in information and communication technology (ict) subjects. gap study & objective vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 49 the assumption in this study is that student learning outcomes with a hybrid learning system are better than students who learn when using a face-to-face learning system. the problem-solving approach in this study uses a quantitative approach with a posttest-only control group design, with inferential statistical analysis. the results of this study are expected to provide an overview, evaluation, and reference for educators in indonesia regarding efficient and optimal learning systems, media and teaching methods implemented in the 4.0 era as well as during the covid-19 pandemic, especially at the elementary school level for information and comunication technology (ict). method research design and participants the study employed a quantitative specifically a posttest-only control group design, in which data was limited to posttest data (sugiyono, 2018). participants of the study were 64purposively chosen 4th grade elementary students in majalengka district, indonesia during the school year 2020-2021. porpusive sampling was used because there was a compatibility with the research plan, such as the availability of infrastructure, the implementation of new policies related to technology-based curricula following the pandemic, and the existence of ict learning at the elementary school level where not all schools exist. data and data sources the data used were obtained from the learning outcomes of grade 4 students in odd semesters and even semesters. the difference is the learning system used. the first data is the learning outcomes of odd semesters using a hybrid learning system, while the second data is the learning outcomes of even semester students using the face-to-face learning system. data collection technique the data collection technique in this study used the document technique, where the source of research data was obtained from existing data from the school. the instrument in this research is student learning outcomes in the form of quantitative data, the indicators used are: 1) cognitive domain includes knowledge, understanding, application and analysis; 2) the affective domain includes receiving, responding, valuing, and characteristics; 3) psychomotor domain, including physical, reflex, perceptual, and communication skills. the learning outcomes data are divided into two groups, the first group using a hybrid learning system and the second using a face-to-face learning system. these learning outcomes are the daily average points of students in the two groups, each of which is carried out for one semester or for one academic year as a whole. these daily values already include the indicators of the research instrument previously mentioned. regarding learning media, the hybrid learning system media used are google classroom applications, google forms, whatsapp, web browsers, digital whiteboards, social media and zoom meetings. while the face-to-face learning system uses conventional media found in classrooms and computer labs. data analysis there are two independent variables, namely the hybrid learning system (x1) and the face-to-face system (x2), while the dependent variable is student learning results (y). the stages of testing the data in this study are normality test to find out if the data is normally distributed or not, then homogeneity test is carried out to determine whether the variance of the data is homogeneous or not, and finally the sample mean difference test. for the level of acceptance and rejection, the 95% confidence level is used. zakaria et al. – information and communication technology in elementary schools… printed issn 2406-8012 50 result data on student learning outcomes using both the hybrid learning system (x1) and the face-to-face learning system (x2) came from the same sample of 64 students. the following is the result of the comparison of the descriptive statistical values of the two data. table 1. descriptive statistics group n mean std. deviation min max x1 64 83.16 6.011 70 95 x2 64 79.30 7.237 63 91 total 128 81.23 6.903 63 95 based on the table 1, it can be seen that the average score on the hybrid learning system (x1) is 83.16 and the face-to-face learning system (x2) is 79.30, this shows the average score between two different samples, where the average score on the hybrid learning system is higher compared to face-to-face systems. while the standard deviation value indicates that the higher the points, the distribution of the data increases the average points. to find out whether there is a definite difference in the mean scores of the two samples, it is necessary to carry out an inferential test as follows. test for normality and homogeneity normality and homogeneity tests were carried out to determine the next data analysis technique, if the data were normal and homogeneous then proceed with parametric tests but if the data were not normal it would be continued with non-parametric tests. the normality test will use the kolmogorov smirnov formula because it can test for normality with large and small (lestari & yudhanegara, 2018). the results of data testing assisted by spss version 26 are shown in the following table 2. table 2. normality test results group kolmogorov-smirnov test desc. statistic df sig. x1 0.109 64 0.082 normal x2 0.101 64 0.169 normal based on the output of table 2, the p-level (sig.) of the hybrid learning system score data (x1) is 0.082 and the face-to-face system score data (x2) is 0.169. because of the two p-level points (sig.) > 0.05, it can be said that at the 95% test level, the two samples met the normality of the data. furthermore, the homogeneity test is carried out as follows: table 3. homogeneity test results group levene statistic df1 df2 sig. desc. x1 – x2 1.804 1 126 0.182 homogenous based on the output of table 3, the p-level (sig.) of 0.182 is accepted. because the plevel (sig.) is greater than 0.05, it can be concluded that at the 95% test level the two variances are homogeneous. mean difference test (t-test) once it is known that the scale of normality and homogeneity of the data are met, the next step is to perform a parametric test, namely the t-test to determine the difference in the mean of the two samples. the test hypothesis used is a two-way test, namely as follows. h0 : p1 = p2 there is no difference in the average student learning outcomes between students who are given a hybrid learning learning system and students who are given a face-to-face learning system. vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 51 h1 : p1 ≠ p2 there is a difference in the average student learning outcomes between students who are given a hybrid learning learning system and students who are given a face-to-face learning system. the criteria for testing the hypothesis at the 95% confidence level are as follows: if the p-level points (sig. 2-tailed) 0.05, then h0 is accepted. meanwhile, if the p-level (sig. 2-tailed) < 0.05, then h0 is rejected. the results of data processing with the help of spss version 26 are obtained as follows: table 4. t-test results group tcount df ttable sig. (2-tailed) description x1 – x2 3.28 126 1.98 0.001 h0 rejected based on the output of table 4, it was found that the p-level (sig. 2 tailed) was 0.001 < 0.05, so according to the decision, h0 was rejected, and it could be concluded that there was a difference in the average student learning outcomes between students who were given the hybrid learning learning system and students who were given the face-to-face learning system. further analysis on the achievement of student learning outcomes can be seen as follows: figure 2: achievement of student learning outcomes based on predicate based on figure 2, it is certain that the achievement of hybrid learning outcomes in the a (very good) and b (good) predicates is more than in the face-to-face learning achievement sample. discussion the results showed that there was a significant difference in the average student learning outcomes between students who were given the hybrid learning system and students who were given the face-to-face learning system. where the average value in the hybrid learning system is higher than the face-to-face learning system. these results suggest that there are several factors, internal factors in students such as the interest and motivation to learn when implementing hybrid learning. basically, students already have an interest in the realm of technology, so the application of technology-based learning such as hybrid learning becomes very relevant. external factors such as the school environment and students' families, the existence of facilities and support from schools, teachers and 6 33 17 8 14 39 10 1 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 a b c d t o ta l s a m p le s predicate face-to-face hybrid score range predicate 100 88 a (very good) 87 78 b (good) 77 68 c (enough) < 67 d (less) zakaria et al. – information and communication technology in elementary schools… printed issn 2406-8012 52 students' families can trigger the implementation of effective learning in accordance with the conditions and abilities of students. the use of a hybrid learning system has also not only succeeded in improving physics learning outcomes at the junior high school level as the results of a study by saadjad et al (2016), but also can improve information and communication technology (ict) learning outcomes at the elementary level. hybrid learning is not only able to improve student learning outcomes, the results of the study of hediansah and surjono (2020) stated their findings that hybrid learning provides a positive response from teachers, this system has an influence on the interactive learning environment, trains students to learn independently and improves student skills, especially this system is in accordance with the demands of the times that need 21st-century learning innovations. the hybrid learning system does not only deserve to be applied at the elementary school level for information and communication technology (ict) material, judging by the study of prihadi et al. (2021) hybrid learning has succeeded in achieving a satisfactory point of understanding and student skills in the subject of citizenship geography. the same thing also happened to the results of the study of hariadi, et al (2016) where the learning outcomes of high school students by utilizing digital technology media for economic material proved to be effective and had a significant positive effect. in line with the results of the study by rorimpandey and midun (2021) which confirmed that hybrid learning is one of the best learning models that can be used for students who are still adapting to the development of internet technology, hybrid learning is able to have a significant effect on increasing concept understanding abilities. the success of the hybrid learning system does not only occur in this study, looking at the study of purnamawati et al (2019), stated the level of use of information technology in vocational students in the city of makassar, indonesia, the results of the study on the use of information technology were at a managed and measurable level, besides the ability of teachers in integrating information technology meets the criteria very well. reinforced by lestari (2018); suminar (2019) the successful application of information technology adds to the evidence that the 4.0 era is in line with the use of information technology in the curriculum system. the hybrid learning system is very well applied in the 4.0 era and during the covid-19 pandemic which requires the role of technological advances in the learning system, in line with what verawati and desprayoga (2019) stated. the hybrid learning system is a solution to increase time effectiveness, cost efficiency, energy and attracts students to learn with various media and environments. the implementation of the face-to-face learning system in this research cannot be said to be bad, student learning outcomes are still quite good. however, to get optimal results, intensified mentoring and tutorial assistance to the elementary students may be adopted by their teachers to facilitate effective learning amid the transition from hybrid to face-to-face learning (pentang, 2021). conclusion based on the results of data analysis that has been shown previously, it can be concluded in general that the comparison of learning outcomes of information and communication technology (ict) with a hybrid learning system is better than the learning outcomes of faceto-face teaching systems for elementary school students. the implementation of the hybrid learning system in this research brings benefits in an effort to provide effective and appropriate learning in accordance with the pandemic situation and can be an alternative for the transition period from online learning to face-to-face learning. the limitation of this study is that it only focuses on learning information and communication technology (ict), meaning that it is not comprehensive in all subjects, besides that, it would be better if this vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 53 study involved more samples spread across various cities in indonesia. follow-up on this study can be done by expanding the sample and examining the inhibiting factors and learning success factors in students both cognitively and affectively so that the study results are much more reliable. weaknesses in hybrid learning depend on the competence of teachers in understanding and integrating technology-based learning media, therefore, to bury this weakness it is necessary to upgrade the competence and knowledge of technology-based teachers. the hope from this research is that hybrid learning system can be developed in the indonesian curriculum, considering that currently there are still disadvantaged areas that have not been touched by technology. given the importance of technology in the 4.0 era and becoming a trend of progress in the future. references aldiyah, e. (2021). perubahan gaya belajar di masa pandemi covid-19 [learning style changes during the covid-19 pandemic]. cendekia: jurnal ilmu pengetahuan , 1(1), 816. https://doi.org/10.51878/cendekia.v1i1.24. bryan, a., & volchenkova, k. (2016). bleanded learning: definition, models, implications. bulletin of the south ural state university. ser. education. educational sciences, 8(2), 24–30. https://doi.org/10.14529/ped160204. chirino-barceló, v., & molina, a. (2011). critical factors in defining the mobile learning model. handbook of research on mobility and computing, 774–792. https://doi.org/10.4018/978-1-60960-042-6.ch048. hariadi, asriati, n., & achmadi. (2016). pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi terhadap hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi di sma [utilization of information and communication technology on learning outcomes in economics subjects in senior high school]. jurnal pendidikan dan pembelajaran khatulistiwa (jppk), 5(10), retrieved from https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/view/17130/0. hediansah, d., & surjono, h. d. (2020). hybrid learning development to improve teacher learning management. jurnal kajian teknologi pendidikan, 3(1), 1-9. http://doi.org/10.17977/um038v3i12019p001. ismaili, a. a. (2021). ict use in the efl classroom in morocco: efl teachers' personal and technology-related variables. international journal of information and communication technology education (ijicte), 18(1), 1-13. https://doi.org/10.4018/ijicte.286759. koehler, m. j., mishra, p., akcaoglu, m., & rosenberg, j. (2013). the technological pedagogical content knowledge framework for teachers and teacher educators. ict integrated teacher education, 1-7. retrieved from http://www.mattkoehler.com/publications/koehler_et_al_2013.pdf lestari, k. e., & yudhanegara, m. r. (2018). penelitian pendidikan matematika [mathematics education research]. bandung: refika aditama. lestari, s. (2018). peran teknologi dalam pendidikan di era globalisasi [the role of technology in education in the era of globalization]. edureligia: jurnal pendidikan agama islam, 2(2), 93-100. https://doi.org/10.33650/edureligia.v2i2.459. malelak, e. o., taneo, j., & ufi, d. t. (2021). problems of online learning during the covid19 pandemic in generation z. paedagoria: jurnal kajian, penelitian dan pengembangan kependidikan, 12(1), 115-121. retrieved from https://journal.ummat.ac.id/index.php/paedagoria/article/view/4044. pentang, j. t. (2021). impact assessment and clients’ feedback towards mathematics project implementation. international journal of educational management and development studies, 2(2), 90-103. https://doi.org/10.53378/346107. https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/view/17130/0 http://doi.org/10.17977/um038v3i12019p001 https://doi.org/10.33650/edureligia.v2i2.459 zakaria et al. – information and communication technology in elementary schools… printed issn 2406-8012 54 prihadi, s., sajidan, siswandari, & sugiyanto. (2021). the challenges of application of the hybrid learning model in geography learning during the covid-19 pandemic. geoeco, 7(3), 233-243. https://doi.org/10.20961/ge.v8i1.52205. purnamawati, arfandi, a., & nurfaeda. (2019). the level of sse of information and communication technology at vocational high school. jurnal pendidikan vokasi, 9(3), 249-257. https://doi.org/10.21831/jpv.v9i3.27117. rorimpandey, w. h., & midun, h. (2021). effect of hybrid learning strategy and self-efficacy on learning outcomes. journal of hunan university (natural sciences), 48(8), 181-189. retrieved from http://jonuns.com/index.php/journal/article/view/672. saadjad, d. y., hatibe, a., & saehana, s. (2016). perbandingan metode pembelajaran blended learning menggunakan powerpoint dipandu animasi [comparison of blended learning methods using powerpoint guided animation]. jurnal sains dan teknologi tadulako, 5(2), 35-44. retrieved from http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/jstt/article/view/6969. setyaningrum, a., rahmasari, f., zulfinanda, u., & safitri, p. t. (2021). pengaruh media pembelajaran online terhadap hasil belajar siswa pada masa pandemi covid-19 [the effect of online learning media on student learning outcomes during the covid-19 pandemic]. jurnal gammath, 6(1), 40-46. https://doi.org/10.32528/gammath.v6i1.5396. slameto. (2014). belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [learning and the factors that affect it]. jakarta: rineka cipta. sugiyono. (2018). statistik nonparametris untuk penelitian [nonparametric statistics for research]. bandung: alfabeta. suminar, d. (2019). penerapan teknologi sebagai media pembelajaran pada mata pelajaran sosiologi [application of technology as learning media in sociology subjects]. prosiding seminar nasional pendidikan fkip, 2(1), 774-783. retrieved from https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnp/article/download/5886/4220. sunarto, s. (2011). pembelajaran berbasis komputer [computer based learning]. retrieved from http://staffnew.uny.ac.id/upload/131568300/penelitian/pembelajaran+berbant uan+komputer-2.pdf suwardana, h. (2018). revolusi industri 4. 0 berbasis revolusi mental [industrial revolution 4.0 based on mental revolution]. jati unik: jurnal ilmiah teknik dan manajemen industri, 1(1). 102. https://doi.org/10.30737/jatiunik.v1i2.117. verawati, & desprayoga. (2019). solusi pembelajaran 4.0: hybrid learning [learning solution 4.0: hybrid learning]. prosiding seminar nasional pendidikan program pascasarjana universitas pgri palembang, 1183-1192. retrieved from https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/prosidingpps/article/view/2739. https://doi.org/10.21831/jpv.v9i3.27117 http://jonuns.com/index.php/journal/article/view/672 http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/jstt/article/view/6969 https://doi.org/10.32528/gammath.v6i1.5396 https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/psnp/article/download/5886/4220 http://staffnew.uny.ac.id/upload/131568300/penelitian/pembelajaran+berbantuan+komputer-2.pdf http://staffnew.uny.ac.id/upload/131568300/penelitian/pembelajaran+berbantuan+komputer-2.pdf profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 75 e-money tab as an attendance tracker for elementary school students minsih1*, fiki nur rahmawati2, rusnilawati3 1,2,3 universitas muhammadiyah surakarta, surakarta, indonesia *email: min139@ums.ac.id submitted: 2020-10-01 doi: 10.23917/ppd.v8i1.12227 accepted: 2020-12-03 published: 2021-07-25 keywords: abstract e-money; tablet; attendance; discipline; students this study aims to describe: 1) the process of using e-money tab, 2) the advantages and disadvantages of using the e-money tab, 3) the impacts of using the e-money tab. this study was conducted as a qualitative study facilitating a phenomenological research design. data was collected through interviews, live observation and analysis of documents. study subjects included the principal, the it team and students of 1 muhammadiyah elementary school, ketelan surakarta (elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta) and was conducted on location. results of this study showed that: a) the use of e-money tabs as an attendance tracker can only be accessed at school and requires a strong internet network, b) an advantage to the use of e-money tab as an attendance tracker is being able to track attendance of students with ease, allowing teachers to ensure discipline and parents to monitor the arrival and departure time of their children to and from school. on the other hand, a disadvantage to this system is the instability of the internet network especially when multiple students are using the e-money tab at the same time, causing error in the server, c) the e-money tab has impacted the process of attendance tracking, in which it has maintained and improved discipline of students. introduction background education can be regarded as an essential necessity. the education process can influence change in an individual towards a positive character. as explained by sukmadinata (2011: 4), education functions as a tool for students to develop their potential, skills and self-character in a positive manner for both themselves and their environment. due to this, education has to be improved and developed to situate with the change in eras. good education will produce high quality human resources. according to samino (2015: 1), education is absolutely necessary for the building of maturity in students. education can shape their characters and improve their moralities, knowledge and understanding of mailto:min139@ums.ac.id http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v7i1.9652 minsih, et al – e-money tab as an attendance ... printed issn 2406-8012 76 technology. the process of change and improvement in education aims to enhance the quality of education in indonesia. character building refers to the attempt done by teachers to influence their students positively while at school. this is in line with the comments by minsih (2015: 112), who explained that schools are an educational institute that play a big role in developing a student’s personality. the characters of students must be cultivated from a young age so that they form exceptional personalities. this is also in accordance with what was mentioned by widyahening (2016: 177), in which character building can be initiated from an early age, even while still a baby or in the womb, to produce people with positive characters. the development of a good character will influence the child’s personality when they grow older. this is because character is something that sticks to a person’s personality and behavior. an activity that is done repeatedly will become a habit, and a habit that becomes a routine will become part of a person’s character (putri, 2018: 41). character building is one of the main components that needs to be developed in life. one characteristic value necessary to be developed in discipline. discipline needs to be developed in schools so that students will have good characters. in accordance with abbas (2018: 240), discipline needs to be developed in schools to produce students that are educated and disciplined. discipline is the act of controlling oneself and the individual’s ability to follow rules (annisa, 2018: 108). the lack of self-control in students will cause them to deviate from school rules, such as coming to school late when lessons have started (putra, 2019: 110). character building is not the sole responsibility of educators, but of everyone around the child’s life. this includes family, members of the school and the child’s community (wuryandani, 2014: 288). the cultivation of discipline in students must always be supervised and proper examples must be set by all to guide these students. this way, students will not feel burdened and will understand that discipline is a mutual commitment which is applied to all members of the school. discipline is a character that can be shaped during the education process. in this era, there are many ways to take advantage of technology to improve the quality of education. the development of technology affects all aspects in life, especially in the field of education. the advancement of technology must be adapted, as it will advance science as well. the rapid development of facilities in many different fields in life is a form of advancement in technology and science (mubarok, a. 2017:230). new innovations that have been developed well and have been continuously supervised can improve the quality of education in indonesia. the advancement of technology in education improves its quality when applied in schools. this is in line with budiman (2017: 32), whereby the development of information technology in this era affects the field of education. elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta is not just prestigious in academics, but also in non-academic matters. as technology develops, this school always adapts to new programs facilitating technology. among which are the use of e-money as a main method of transaction in school, e-learning as an online platform for studies, e-infaq as an online method of infaq payments, e-library as a platform for students to borrow books from the library, e-rapot as a method of end of semester evaluations, and their latest project, the e-money tab as a student attendance tracker. the use of technology by elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta has been supported by the study by rahmawati (2020: 5), who investigated the advantages of technology in the process of student assessment also known as electronic reporting (elektronik rapot / e-rapot). with the demand for technology development in the 4.0 revolutionary era, sd muhammadiyah 1 ketelan designed the e-money tab. the availability of this system as a student attendance tracker aims to improve discipline among them. it also acts as a method to reduce the use of paper as an adiwiyata model school (adiwiyata: cares about the cleanliness, beauty and health of the environment). the e-money tab as an attendance vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 77 tracker is a new invention. past studies have explored the use of fingerprint and sms gateway digital attendance tracker systems. problem of study previously, schools have not been using technology optimally. for example, the use of paper-based methods of attendance tracking that has not been changed. this can be seen as a method that is not as effective, as parents are unable to directly observe whether their children have arrived in school and if they were punctual. this is in accordance to (wibowo, s., 2018: 1094) who mentions that the use of paper-based attendance methods lead to difficulties in parents knowing their children’s rate of attendance, sick leaves, permit leaves, missed classes as well as lateness in schools. with the advancement of technology, schools can now develop a digital attendance tracking system. this facility can support elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta as a technology-based school. state of the art these past studies were done by diartono (2010: 81), which concluded that this system is beneficial for monitoring attendance of students in school. the e-money tab is internet based, and thus if it is not connected to the internet, the tablet is unusable. this study is in line with prasongko & dewi (2015: 18), who mentioned that the use of a web based attendance tracker application system is able to improve the speed and ease of attendance report development, allowing it to be done in 20 minutes. the novelty of this study is that it conducts surveillance and records students’ attendances using the e-money tab and is directly connected to the parents’ mobile phones. using the whatsapp application, parents will be sent their children’s attendance information. if students are not present at school without explanation, then the application will automatically notify the parents, allowing them to follow up with their children at home (mubarok, a., 2017: 231). gap study & objective based on the presented study problem, the author is now conducting a study observing the use of e-money tab as an attendance tracker. the following includes some focus of the study: 1) the process of e-money tab use as an attendance tracker that improves building in students. 2) the advantages and disadvantages of the use of e-money tab as an attendance tracker in building discipline in students. 3) the impacts of e-money tab use as an attendance tracker in building discipling of students. method this study is a qualitative study using a phenomenological research design to explore the use of e-money tab as an attendance tracker in building discipline in students. according to creswell (2010: 20), a phenomenological study observes humans and identifies their experiences when faced with a certain phenomena. this study was conducted in elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta that is located at 1 kartini street, ketelan, banjarsari, surakarta. subjects of this study include the it team, principal of the school and the students of the school. the object studied is the use of the e-money tab as an attendance tracker. the study was done on 19th and 24th june 2010. the author collected data by: 1) interview method, the author enquired about the use of the e-money tab as an attendance tracker in building discipline in students, the advantages and disadvantages associated with the use of e-money tab as an attendance tracker in building discipline in students as well as the impacts of the use of e-money tab as an attendance tracker in building discipline in students. 2) observation method, by observing the process of using the e-money tab as an attendance tracker in building discipline in students. 3) assessment of documents method, done to collect data regarding the use of the e-money tab as a student attendance tracker, notification of attendance minsih, et al – e-money tab as an attendance ... printed issn 2406-8012 78 through whatsapp and the interface design of the e-money tab on the computer. the validity of data collected in this study was tested using triangulation of technique and data source. triangulation of techniques were conducted by comparison of data collected from interviews, observation and assessment of documents on the use of the e-money tab as an attendance tracker by students, the principal and the it team at elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta. triangulation of data sources in this study was done by checking data collected during interviews on the use of the e-money tab as an attendance tracker with sources including students, the principal and the it team at elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta. analysis of data was done using the miles huberman model, in which several things is conducted, including: 1) reduction of data, done by the author to summarize, choosing only core components and focusing on important points regarding the analysis of the use of emoney tab as an attendance tracker in building discipline in students. 2) presentation of data was done by including data correlated to the use of the e-money tab, advantages and disadvantages, and the impacts of e-money tab use. 3) verification of data, the author concluded analysis results from data obtained regarding the use of e-money tab as an attendance tracker in building discipline of students in elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta. result elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta have implemented the use of an online attendance tracker using the e-money tab since the beginning of the 2019 academic period, and it has been running well as hoped by the school. the e-money tab is developed based on the e-money card, which is the main method of transaction in the school. in line with the thoughts of (wulandari, d. 2018: 1928), who mentioned the use of electronic money as a transaction method is now becoming a trend in indonesia. in this era of advancing technology, schools are demanded to develop digital facilities that improve the quality of education. this is similar to the study by (budiman 2017: 41) that explains the global demand for education to keep up with technological advancements to improve quality. in the future, schools must be able to utilize technology in all its processes. schools must also be able to provide technology education to students from a young age to allow them to be able to develop with new technologies in the future. to support the digital era, elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta launched electronic based facilities such as e-infaq, e-library, e-learning, and e-money tab. table 1. results of interview regarding the impacts of e-money tab use as a student attendance tracker no. subject interview results 1. subject 1 states that students have become more disciplined and have a better understanding of technology. 2. subject 2 states that with the e-money tab as an attendance tracker, it has made the students be more disciplined. 3. subject 3 states that the e-money tab can minimize the frequency of lateness in students so that they are more disciplined. vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 79 as shown on picture 1, the e-money tab is a student school attendance tracker that utilizes e-money cards and a tablet. attendance is recorded in the morning when students arrive in school and in the afternoon when they leave school. when a student scans their emoney card on the tablet, their individual identities and information of their attendance will be recorded. at the same time, this information will be sent through whatsapp to their class teachers and parents. with the existence of the e-money tab, students are pushed to be disciplined in coming in on time. the following shows the process of using e-money tab as a student attendance tracker that is observed in this study: figure 1. process of using e-money tab by students the e-money tab is developed as an attendance tracker to shape students to become more disciplined in coming to school on time. as written by (nani, 2020: 8), the use of a fingerprint based attendance tracker for office workers in sorawolio subdistrict tends to improve discipline of staff in arriving on time. this was supported by written data that was recorded with extensive details on the arrival and departure times of the staff. the utilization of the e-money tab as an attendance tracker would ease both teachers and parents in supervising students while they are at school. this is in line with the study by (rahayu, 2018: 39) that states that the use of the fingerprint application system eases work performance by the administrative team, lecturers and parents of students in monitoring university students’ attendance. therefore, it is believed that the use of the e-money tab as an attendance tracker can be used to improve work performance of teachers in processing attendance data and in overseeing the discipline of students in school. discussion the process of e-money tab use in elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta the use of the e-money tab as an attendance tracker in elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta is an effort to introduce technology to students while they are young to improve the quality of the school as a model technology-based institution. the use of e-money tab as an attendance tracker can also improve work performance of the teaching staff in processing attendance data, as well as eases both teachers and parents in overseeing the students while at school. this corresponds to the study by (mubarok, a. 2017: 234) that states that attendance tracking facilitating an sms gateway system eases minsih, et al – e-money tab as an attendance ... printed issn 2406-8012 80 teachers in supervising the actions of students as there is multiple surveillance, both from the teachers and from the parents preventively. the e-money tab is used as an attendance tracker that has been functioning for over one year as it was started early since the beginning of the 2019 academic period. before the e-money tab was used as an attendance tracker, the it team first conducted socializations to the principal, teachers, parents and students. this socialization was conducted through spreading written notices and a live demonstration of how to use the emoney tab. with these, the principal, teachers and students became familiar with the right and proper use of the e-money tab. this is similar to the study by (asmira, 2016: 1017) that states that socialization and training of the use of a fingerprint-based system followed initially by some and then the rest of the staff led to the successful implementation of the system. students were very enthusiastic with the use of the e-money tab as an attendance tracker, and this improved their discipline. this is in accordance with the study by (wulandari, 2019: 109) that states that the implementation of the fingerprint system was followed with positive response from the staff and was effective in improving their discipline. attendance was tracked every day in the morning when students arrive and when they leave school. this is comparable to the study by (inayatillah, 2015: 28) that stated government employees and lecturers conducted attendance scanning twice in a day according to their arrival and departure times. with the existence of the e-money tab as an attendance tracker, we have seen a reduction in students that arrive late. the school implemented a code of conduct that stated that students attending school past 07.15 wib are said to be late, and thus classified as not disciplined because of tardiness. advantages and disadvantages of the e-money tab in elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta one of the advantages of using the e-money tab as an attendance tracker in elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta is as part of the school’s technology development. this is similar to the study by (budiman, 2017: 32) that says that the development of technology in this globalisation era impacts the field of education. thus, there is a global demand for the education sector to evolve its use of technology to improve its quality. the use of the e-money tab as an attendance tracker allows parents to easily monitor their child as attendance is directly connected to the parents’ whatsapp. this is similar to the study by (putra, 2018: 168) that states the use of a fingerprint based system as an attendance tracker that is connected with the global system for mobile communications (gsm) server allows attendance to be informed to parents. a disadvantage to the use of the e-money tab as an attendance tracker is that if the student loses their e-money card, they would need to report this and change into a new card. this is similar to what was reported by (sujana, 2019: 11) that states that users would need to make a new card if their original e-money card is lost. another disadvantage happens when multiple attendances are recorded at the same time, which causes the network to lag and a delay in the sending of notifications to parents through whatsapp. this issue was also highlighted in the study by (prasongko, 2015: 14) that states that attendance notification to parents sent through sms gateway was only delivered after five minutes and requires credit in the modem and signal from the provider. impacts of using e-money tab in elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta the use of the e-money tab as an attendance tracker allows teachers and parents to easily conduct monitoring. teachers no longer need to oversee each student one by one while at school. this is similar to what was found by (mubarok, 2017: 233) in which the vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 81 implementation of the sms gateway based system eased teachers in maintaining and overseeing students that violated school rules. using the e-money tab, there is a good system of communication between parents of the students with the school staff through notifications on whatsapp. this also assists parents in monitoring their children while at school, and prevents the need for them to personally chat with the teachers to ask for information about their children. this was also found in the study by (mubarok, 2017: 231) in which online applications plays a bridging role between parents and the school by attendance tracking through an application the automatically informs the presence of the students or violations that they may have done at school. evaluation and repairs on the e-money tab system is conducted routinely annually as well as whenever a problem occurs. this annual checking is conducted as a demand from the school to always keep on developing their program each year. this is in line with the study by (fakih, 2015: 43) that states that evaluation is done to evaluate the attendance tracking information system to solve problems that are present in the conventional attendance system previously used. the e-money card acts as a main transactional tool in elementary school of muhammadiyah 1 ketelan surakarta. aside from being used as an attendance tool, the e-money card is also used in buying food, drinks and stationeries at the school-owned company (bums badan usaha milik sekolah), as well as for infaq payment at school and borrowing of books from the library. conclusion novelty and contribution in conclusion, this study has found that a) the use of e-money tab as an attendance tracker is a means of improving school quality as a technology-based model school. the emoney tab is an extension feature build from the e-money card and can only be accessed in schools with a strong internet connection, b) the e-money tab has several advantages, among which are the feature to record attendance of all students, allowing teachers to oversee students’ disciplines and parents to monitor their children’s arrival and departure times at school. on the other hand, the disadvantages to the use of the e-money tab is the likelihood for its server to become error prone, especially when used by multiple students at the same time and without a stable internet connection. c) the impact of this e-money tab as an attendance tracker is that it is able to help build discipline in students. limitation and future study for future studies, there is a need for deeper studies of the use of the e-money tab as a student attendance tracker. for the government, it is hoped that the implementation of the e-money tab as an attendance tracker that can build discipline in students can be done in all schools. implication / suggestions some recommendations are presented by the author to different parties, among which are: 1) for the students, they must be able to improve discipline through the use of the emoney tab as an attendance tracker. 2) for schools, they must be able to improve the speed of their internet network so that the e-money tab system can be used maximally. in addition, schools should be responsible in adding on the number of tablets available to avoid lines during attendance recording as well as to reduce the amount of time needed. 3) for the school principal, they need to continue motivating and pushing students to improve discipline in schools. 4) for the it team, they need to continuously study and follow the development of digital technology as to solve problems related to the use of e-money tab as a student attendance tracker. minsih, et al – e-money tab as an attendance ... printed issn 2406-8012 82 references abbas, s., & r. (2018). “punishments to strengthen students’ discipline for future education.” advances in socisl science, education and humanities reserch 125. annisa, f. (2018). “planting of discipline character education values in basic school students.” international jurnal of education dynamics 1(1): 109. asmira. (2016). “efektivitas penerapan absensi (fingerprint) dalam meningkatkan disiplin kerja pegawai di kecamatan anggana kabupaten kutai kartanegara.” journal ilmu pemerintahan 4(3): 1017. budiman, h. (2017). “peran teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan.” jurnal pendidik islam 8(1). creswell, j. w. (2010). research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. yogyakarta: pustaka pelajar. diartono, d. a. (2010). “integrasi sistem presensi finger print dan sistem sms gateway untuk monitoring kehadiran siswa.” jurnal teknologi informasi 15(1). fakih, a., dkk. (2015). “pemanfaatan teknologi fingerprint authentication untuk otomatisasi presensi perkuliahan.” journal of information system engineering and business intelligence 1(2): 43. inayatillah. (2015). “dampak penerapan absen sidik jari (fingerprint) terhadap pns perempuan di lingkup uin ar-raniry banda aceh.” internasional journal of child and gender studies 1(2): 28. minsih. (2015). “pelaksanaan layanan dasar bimbingan dalam membentuk karakter siswa di sd muhammadiyah program khusus kota surakarta.” profesi pendidikan dasar 2(2): 112. mubarok, a., & santoso w. h. (2017). “penerapan sms gateway sebagai alternatif peningkatan kedisiplinan siswa di smk anwarul maliki sukorejo pasuruan.” jurnal pendidikan agama islam 2(2). nani, a. dkk. (2020). “efektivitas penerapan absensi fingerprint terhadap disiplin pegawai di kantor kecamatan sorawolio kota baubau.” jurnal studi ilmu pemerintahan 1(1): 8. prasongko, c., & dewi, s. (2015). “aplikasi presensi siswa berbasis web yang terintegrasi dengan sms gateway studi kasus smp muhammadiyah 4 yogyakarta.” jurnal sarjana teknik informatika 3(1): 14. putra, d. s., & ami f. (2018). “perancangan aplikasi presensi dosen realtime dengan metode rapid aplication development (rad) menggunakan fingerprint berbasis web.” jurnal pengembangan it 3(2): 168. putra, r. a. w., dkk. (2019). “the role of school’s rules in forming student discipline behavior at state 2 elementari school sendangsari sub district batuwarno wonogiri district year lessons 2019/2020.” civis education and social sciense jurnal 1(1). putri, d. p. (2018). “pendidikan karakter pada anak sekolah dasar di era digital.” jurnal pendidikan dasar 2(1). rahayu, m. i., dkk. (2018). “pengembangan sistem informasi presensi perkuliahan di fakultas teknik mesin dan dirgantara institut teknologi bandung.” jurnal teknologi informasi dan komunikasi 7(1): 9. rahmawati, heni. (2020). “analasis penerapan e-rapor dalam penilaian kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 1 ketelan surakarta tahun 2019/2020.” universitas muhammadiyah 1 ketelan surakarta. samino. (2015). filsafat pendidikan rujukan bagi pendidik dan calon pendidik. kartasura: duta permata ilmu. sujana, d., dkk. (2019). “komparasi analisa sistem simulasi vending machine autimatic cash money dan e-money di universitas islam syekh yusuf tangerang.” jutis 7(1): 11. vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 83 sukmadinata, n. s. (2011). landasan psikologi proses pendidikan. bandung: pt remaja rosdarya. wibowo, s., & s. (2018). “analisis dan perancangan sistem informasi presensi siswa berbasis android pada sd dan smp kanaan global school jambi.” jurnal manajemen sistem informasi 3(2). widyahening, e. t., dkk. (2016). “literary works and character education.” international journal of language and literature 4(1): 177. wulandari, d., dkk. (2018). “factors affecting the adoption of electronic money.” international jurnal of civil engineering and technology 9(7): 1928. wulandari, d. (2019). “respon aparatur sipil negara (asn) mengenai kebijakan absensi fingerprint dalam mendisiplinkan pegawai.” institut agama islam negeri bengkulu. wuryandani, w., dkk. (2014). “pendidikan karakter disiplin di sekolah dasar.” cakrawala pendidikan (2). profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 107 improving reading comprehension skills to solve text problems of elementary school students nanda anggun wahyu cahyani1*, fitri puji rahmawati1, adolph ian a. dela torre2 1universitas muhammadiyah surakarta, surakarta, indonesia 2prenza national high school, marilao, philipines *email: nandaanggun1503@gmail.com submitted: 2022-05-10 doi: 10.23917/ppd.v9i1.18250 accepted: 2022-07-11 published: 2022-07-31 keywords: abstract reading ability; reading skill; text question; student book this study sought to determine the reading comprehension and text problemsolving abilities of sixth-grade elementary students. this research utilized qualitative methodology. principal, sixth-grade teacher, and two sixthgrade students were the four subjects of this study. in this study, interviews, observation, and documentation were used as data collection methods. in this study, data analysis is performed using an interactive model data analysis technique comprising the steps of data reduction, data presentation, inference, and validation. moreover, source triangulation was used to ensure the validity of the data in this study. the findings of this study indicate that: (1) sixth-grade students are proficient in reading and comprehension; the average student is nearly able to comprehend the text after reading it; and (2) sixth-grade students are proficient in writing. in order to comprehend the reading, students must first read the text, comprehend its content, and be able to interpret its meaning, with the exception of its implied meaning. on average, however, they were able to draw conclusions from the reading. there were few students whose test scores on text questions were below the minimum completeness criteria score, given the sixth-grade students' average reading comprehension ability. introduction background according to pingge and wangid (2016), learning difficulties are a group of difficulties manifested in objective difficulties in skills such as the students' abilities when listening, conversing with others, reading, writing, reasoning, and arithmetic. the success of elementary education depends on achieving an educational goal by students and teachers while at school. according to niswati and sayekti (2020), by doing suitable learning http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:nandaanggun1503@gmail.com cahyani et al – improving reading comprehension ... printed issn 2406-8012 108 activities, it is hoped that students can improve their critical thinking skills. education in indonesia views students who get low learning outcomes as a belief that students have difficulties in learning. students who have difficulty reading will have a problem at the next grade level. that is why the teacher must select students who are already fluent in reading and those who are not to make some interventions to help the students read and comprehend. reading comprehension of reading texts is one of the obstacles in the world of education, especially at the high-grade elementary school level (kedang & bani, 2021). this fact must be the focus of a teacher's attention when instructing, as well as a subject for consideration and reflection when implementing learning. students' reading skills are not only utilized in the learning of indonesian but in all subjects. thus, it can be stated that students' reading comprehension skills are extremely beneficial when reading texts and answering questions about reading texts. reading must be taught at all levels of education so that students can develop their skills, particularly at the elementary school level. students who are expected to answer text-based questions must have the ability to comprehend what they read (anwar et al., 2022). given the importance of reading comprehension skills that students must possess, it is appropriate for teachers to take their teaching seriously and be able to collaborate with students' parents so that students can be taught by teachers at school and by their parents at home. problem of study students must be able to comprehend the material they are reading in order for the acquired knowledge to reach the students themselves. according to kurniawati and koeswanti (2020), reading is an activity that requires both oral and written reception of the messages and impressions contained in the text. in indonesia, the reading level of children remains relatively low. students with proficient reading skills cannot obtain new information and acquire new knowledge that they did not previously possess (saputri et al., 2019). the problem in the research field is related to the reading comprehension skills of students, and the teacher is also aware of it. when the teacher assigns the task of reading a text, students are unable to concentrate and instead converse with their peers and make jokes. as a result, students are not proficient readers. when asked to retell the contents of the readings and unable to answer questions from the teacher whose answers are already in the readings, students' comprehension is low because it is influenced by attention, interest, and involvement in reading a passage (sari et al., 2021). students' reading skills can be utilised to complete schoolwork effectively. according to sutawijaya (laily, 2014), story questions are highly relevant to the students' everyday lives. it is essential to provide students with story questions and problem-solving activities to be solved. students can read many books, one of which is a student book that they commonly use to study. according to(pabriana, 2021), student books can increase students' enthusiasm for learning and stimulate students' minds. the theme book was one of the teaching tools used in elementary schools in indonesia during the implementation of the thematic learning curriculum in 2013. these books can also assist instructors in facilitating the learning process and in ensuring that all students achieve their learning goals. all of the required reading material is included in the book's theme for the students. it is anticipated that it will help students become more proficient readers because they can use their reading skills to both read and respond to lengthy questions. students must take multiple steps to solve problems in textual questions. students are required to read the text and comprehend its content. however, without guidance from the instructor, students would experience confusion when answering text-based questions. for elementary school students, it is still difficult to solve text-based problems. students' ability vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 109 to solve text-based problems is also contingent on their reading ability. anwar et al. (2022) conducted a study that demonstrated the effect of students' reading comprehension skills on their ability to solve story-based problems. if students' reading skills are inadequate, their ability to solve story problems will be significantly impaired. in addition, a study by almadiliana et al. (2021) revealed that the greater the students' reading ability, the simpler it will be for them to solve text problems. state of the art elementary school students in indonesia continue to demonstrate below-average reading comprehension skills. this statement is consistent with the findings of basuki's (2012) study, which demonstrated that fourth-grade students' reading comprehension skills are limited. the essential competencies outlined in content standards do not align with international pirls requirements. inawati and sanjaya (2018) demonstrated that the fifthgrade public elementary schools in oku regency, south sumatera province, have moderate and slow reading rates. in addition, kaniati et al. (2018) found that students' critical thinking abilities are still subpar. it is reflected in the final grade for solving text-based or formative questions. the research conducted by laily (2014) demonstrated that the ability to read with comprehension is advantageous in mathematics, particularly when answering story questions. presently, the reading comprehension ability of students remains low.. students struggle with lengthy questions and text-based questions. yuwono et al. (2018) demonstrated that at the stage of comprehension, students encounter no difficulties. however, some students encounter difficulties during implementation because they do not read text questions carefully. magrifah et al. (2019) revealed that transformation errors are caused by multiple factors. the reasons include forgetting formulas, using improper procedures, designing incorrect recipes, inverting formulas, and misinterpreting questions. students are not accustomed to working with story-based questions. gap study & objective some previous studies have not explicitly examined related topics regarding sixth-grade students' ability to answer book-based story questions. in addition, elementary school students in indonesia continue to face challenges. in terms of reading comprehension, many students are skilled at answering questions posed in the form of stories. based on the issues, the purpose of this study was to determine the sixth-grade students' reading comprehension and text problem-solving skills at b2 state elementary school in sukodono district, sragen regency, central java, indonesia. method type and design this is a qualitative descriptive study. a qualitative study, according to sidiq and choiri (2019), seeks to comprehend a phenomenon experienced by subjects: behaviour, motivation, and actions. in addition, this study employed a case study approach to identify instances of students' text-based question-answering comprehension skills. this study examines the ability of sixth graders in reading comprehension to answer text-based questions in thematic student books. the research was conducted between january and march of 2022. data and data sources principal of the b2 state elementary school, a sixth-grade teacher, and two sixth-graders were interviewed for this study. the authors chose the informants because the school's principal was the student's teacher at the time, and the students worked on the questions and were tested on their reading comprehension. table 1 lists the participants in this study. cahyani et al – improving reading comprehension ... printed issn 2406-8012 110 table 1. informants initial role age gender s principal 55 years old male de teacher 35 years old female aas student 13 years old female fc student 13 years old female data collection technique interviews, observations, and documentation were used as data collection techniques. the interview method was utilised to obtain verbal information and data from the informants. on the other hand, direct observations were made using the observation technique regarding sixth graders' ability to comprehend reading in order to solve text problems in student books. in addition, the documentation technique was used to collect data from documents such as student grade transcripts, reading text questions, and other documents relevant to the research topic. data validity the validity of the data using triangulation of sources was used to compare the results of observations and interviews among principals, teachers, and students regarding the students' ability to understand what they were reading to solve text problems. the next step was to compare them again with the results of the documentation. data analysis the data analysis technique used in this study is huberman and miles in interactive model (sugiyono, 2017). the stages included data reduction in which the authors collected data in the field and then compiled and simplified them to be understood easily. the next one was data presentation wherein a form of a description of the data obtained in the area was presented briefly in a table or through a picture. finally, the conclusions and verification are presented. result students' ability to understand reading according to gilakjani (2016), reading is an interactive process in which the reader employs successful reading methods to develop a meaningful representation of a reading material. students' readiness to read is influenced by a variety of environmental conditions, therefore their reading comprehension differs. several signs can allude to a student's ability to manage all activities aimed to create a reading love. according to astuti et al. (2019), there are various markers of activities that nurture a student's love of reading so that he or she can comprehend what he or she is reading. among the countless activities include encouraging kids to read books, asking students to narrate events they have read from various sources as a basis for learning, and urging students to tell stories. motivating them to share what they have previously read and pushing them to read continuously are also helpful ways for encouraging pupils to value reading. reading requires an interaction between reading comprehension skills, the reader's cognitive processes, and the linguistic nature of a reading material (smith et al., 2021). according to tantri, several evidence indicate that pupils can absorb reading well (2016). first, pupils can understand the meaning of the author's words and idioms. students can vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 111 understand both explicit and implicit meanings. students can also draw implications from the lesson. this study related to students' ability to understand reading refers to the expression from tantri (2016). at the sixth grade level, all elementary schools can read fluently; as conveyed by the sixth-grade teacher, de said: "yes, thank god. all 6th-grade students here can read everything; if 6th graders cannot read, it will be difficult when doing the exam." sixth-grade students are indeed expected to be able to understand reading because they must know the contents of the reading area. the ability that students must have to understand the lesson first is the ability of students to catch the meaning of every word and sentence they read. at the b2 state elementary school, many sixth-grade students can grasp the meaning of words or sentences in a passage. some still do not quite understand what one of the students, aas, said: "yes, i can understand, but not everyone can understand a difficult word." the answer from the interview with aas was clarified by the response from her teacher, de, who also stated that: "in 6th grade, some students can understand the meaning of words that are familiar in their daily lives. if the words are not familiar, students also ask me to explain what the words mean. even though they are in 6th grade, they are still a child. that must be the difficulty, too." to understand the meaning of a sentence in reading, students must first read, then analyze the contents of the sentence and the main idea. in every sentence in the lesson, the author will have to make the sentence's main idea. because each sentence has its main idea, it is hoped that the reader will understand the contents of each sentence after reading it. the second reading comprehension ability that students must possess is the ability of students to capture the explicit meaning in a reading. based on interviews with a teacher, sixth-graders could grasp the exact meaning of reading. many students could understand, and only a few students had to be explained by the teacher first. this is also justified by the expression stated in by the principle: "yes, if it is written, students can find the meaning of the reading. it is possible that the student can interpret the meaning because the reading has explained the meaning of the word." in addition to the ability to capture the explicit meaning, students must also have the ability to capture the implied essence. sixth-grade students at sd n b2 still cannot catch the same importance of reading because the implied meaning is not contained in the lesson. among students, capturing the implied essence is still different. the teacher must explain and lure students first. de, a sixth-grade teacher, stated this: cahyani et al – improving reading comprehension ... printed issn 2406-8012 112 "if the meaning is implied in the reading, most 6th graders need to explain it. as a teacher, i explained it" the next ability that sixth-grade students must possess to understand reading is the ability of students to conclude what they have read. most students can complete a lesson in the theme book at the sixth-grade level, although some have slightly wrong conclusions but are close to correct. in a class, one student with another student will undoubtedly have different results in concluding the readings in the theme book because the students analyze differently. as conveyed by the sixth-grade teacher, de. "yes, all children can conclude a reading they have read. however, not all children are the same in concluding. so yeah, i was a teacher who does appreciate the different conclusions made by children." the authors also obtained observational data in the sixth grade of sd n b2 related to students' ability to understand the reading. the teacher invited students to understand the different lessons in these books based on observations. on the average, students can read with comprehension, conclude a reading quite well, and capture the sentences' meaning. while reading, the teacher assessed students' ability to understand each lesson. table 2 shows student scores related to reading comprehension in indonesian language learning. table 2. list of student reading score student's name value 1 value 2 value 3 value 4 s1 80 80 90 0 s2 70 80 80 82 s3 80 70 90 82 s4 70 80 85 69 s5 70 70 75 78 s6 80 90 80 92 s7 80 60 100 83 s8 80 80 85 83 s9 80 60 90 73 s10 60 70 80 77 s11 80 60 95 76 s12 70 70 70 73 s13 80 60 95 93 s14 90 90 80 86 s15 80 70 95 75 s16 90 80 85 86 s17 80 60 75 70 s18 90 70 80 83 s19 70 70 80 79 based on table 1, the sixth-grade students of sd n b2 for reading learning scores have been seen to meet the minimum score. students are already fluent in reading, but some students still look confused when faced with long lessons for reading comprehension. students' ability to solve text problems vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 113 the authors gave several text questions to the sixth graders of sd n b2 to determine their ability to solve text questions in reading comprehension. according to the theme book, the authors gave queries to students of sd n b2. the questions are from civics education, natural sciences, social sciences, indonesian language, and art education. table 3 shows the final results of working on the text questions given by the authors. table 3. student names and grades student's name total score final score s1 6 60 s2 10 100 s3 8 80 s4 10 100 s5 8 80 s6 8 80 s7 6 60 s8 8 80 s9 8 80 s10 6 60 s11 8 80 s12 8 80 s13 8 80 s14 10 100 s15 10 100 s16 8 80 s17 6 60 s18 8 80 s19 4 40 table 3 shows the results of analyzing students' difficulties when working on text questions. furthermore, table 3 shows why students choose the answers based on questions and answers with students. cahyani et al – improving reading comprehension ... printed issn 2406-8012 114 figure 1: citizenship education text questions figure 1 is a picture of the text of civics education in which the reader read the discussion on the cooperation among asean countries. the question is about the meaning of cooperation itself. in this case, students must use their knowledge and memory about the importance of cooperation. of the nineteen students, four answered the number one question incorrectly, namely fc, iw, sn, and adc. based on the questions and answers with students after working on question number one, students have difficulty because students forget the material. these students fail the material, namely adc and fc. figure 2: natural science text questions figure 2 is a picture of a text about natural sciences which discusses the nature of magnetic and non-magnetic objects. five students answered this question incorrectly in question number two; namely, fc, af, mi, mr, and akm. based on the question and answer with students after working on question number two, two students had difficulty, fc and mi, because they forgot the material. meanwhile, the other three students, af, mr, and akm, had trouble because they thought they were wrong to distinguish the properties of objects -magnetic as well as non-magnetic. vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 115 figure 3: social science text questions figure 3 is a text that discusses social science learning. the material is an example of a good attitude. the student who answered incorrectly was only one student, irp. according to irp, he responded poorly because the student was not careful in answering the question. figure 4: indonesian text questions figure 4 is a picture of indonesian text that discusses material about a person's life history. five students answered incorrectly, so, iw, sn, fw, and aua. they expressed that they had difficulty reading the questions. meanwhile, iw, fw, and aua answered incorrectly because they felt confused about the answer. cahyani et al – improving reading comprehension ... printed issn 2406-8012 116 figure 5: art education text questions figure 5 is an art education text question in which the material is about using the correct sentence on the poster. four students did wrong on question five, fc, nty, akm, and hdf. after working on the questions, the researchers conducted a question and answer session with fc and hdf. according to them, it was challenging to do question number five because students forgot the material related to how to make posters. meanwhile, nty and akm answered question number five incorrectly because they just answered without analyzing the question. they said that they did not know what to answer and they felt confused. discussion based on the observations and interviews, almost all sixth-grade students can already understand the readings in the theme book. however, some are still less precise such as not being able to determine the implied meaning or in making a conclusion that is not appropriate from the reading book of the theme. some students still had difficulty determining the main idea or content of the sentences in a reading. this finding was in line with basuki’s (2012) study, which showed that students' reading comprehension skills are still lacking. afrianti and marlina (2021) claim that reading comprehension problems are one of the many issues in the educational process, and that these issues can be seen early on in the process as well as during and after learning to read. in this way, students will be more likely to comprehend and turn in readings that are suitable for their age. additionally, inventive and creative teachers will develop lesson plans. formal education will boost student acceptance of classroom instruction and increase its effectiveness (boliti, 2018). students in sixth-grade elementary schools can draw conclusions from theme books because doing so will make it easier for them to comprehend the reading. before drawing conclusions, students must understand the meaning of the words or paragraphs in order to determine each paragraph's main idea. in each paragraph, the author includes the reading's central idea. according to kandupi (2021), teachers should instruct students in intensive reading techniques to enhance their ability to determine the main idea in reading. some sixth-graders are still having difficulty determining the content of each sentence. the essential ability to understand reading is a must for students to be able to work on questions in the form of text. this ability is not passed down from parents but must come from the learning process. a study by (laily, 2014) found that a story is a verbal form in everyday life that has the meaning of a concept and is expressed in a story or reading. problems in text questions are not only given after learning theories but also experiences related to students' daily lives. students must be able to apply the knowledge they have to answer in-story questions. the teacher also needs to discuss a keyword into a question that is adaptive to the process of giving the concepts of the learning material. based on the results of tests and questions and answers with students, many answered the questions incorrectly because they were not careful in reading and they instantly forgot the material. however, many students still answered several questions poorly compared to vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 117 all of those who answered correctly. there were only four students who were correct in answering these questions and got a score of one hundred. besides, there were students whose scores were above the minimum score and students whose scores were below. there were only five students whose scores were below. this finding is in line with the study of yuwono et al. (2018), which showed that students are still less careful in reading during the implementation of working on text questions. conclusion the following are the findings based on data gathered in the field and supported by theoretical research. the students of b2 state elementary school are all proficient readers in the sixth grade. on the other hand, a typical child can read with relative ease. second, aside from the class's stated purpose, students must read, understand the material, and interpret meanings in order to understand the lesson. on average, they can infer conclusions from the reading. thirdly, sixth graders who can understand a lesson perform well on text-based questions and can understand questions. few students' exam scores on text-based questions fell beneath the required level. there are some limitations to this research. first, since the authors only looked at one institution, there is a lack of diversity in study locations. second, the writers only selected four informants. the student then clarifies any remaining concerns for them. references afrianti, m. n., & marlina. (2021). peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui strategi probing-promptingbagi anak berkesulitan belajar. journal basicedu, 5, 272– 279. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i1.653 almadiliana, saputra, h. h., & setiawan, h. (2021). hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan memahami soal cerita matematika siswa kelas v sekolah dasar. jurnal pendidikan dasar, 1, 57–65. https://jurnal.educ3.org/index.php/pendagogia anwar, w. s., handayani, r., & gani, r. a. (2022). pengaruh kemampuan membaca pemahaman terhadap kemampuan menyelesaikan soal cerita matematika. jurnal elementary, 5, 76–81. https://doi.org/10.51574/jrip.v1i3.67 astuti, p., mumpuni, a., & pranoto, b. a. (2019). pengaruh minat dan kemampuan membaca peserta didik dalam memahami teks bacaan. jurnal kontekstual, 01, 26– 32. https://doi.org/10.46772/kontekstual.v1i01.55 basuki, i. a. (2012). kemampuan membaca pemahaman siswa kelas iv sd berdasarkan tes internasional dan tes lokal. jurnal bahasa dan seni, 2, 202–212. http://journal2.um.ac.id/index.php/jbs/article/view/164 boliti, s. (2018). peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas iv sdn 1 lumbi-lumbia melalui metode latihan terbimbing. jurnal kreatif tadulako online, 2, 12–23. http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/jkto/article/view/2831/1924 gilakjani, a. p. (2016). how can students improve their reading comprehension skill? journal of studies in education, 6, 229–240. https://doi.org/10.5296/jse.v6i2.9201 inawati, & sanjaya, m. d. (2018). kemampuan membaca cepat dan pemahaman siswa kelas v sd negeri oku. jurnal bindo sastra, 2, 173–182. https://doi.org/10.32502/jbs.v2i1.927 kandupi, a. a. (2021). upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada materi menentukan ide pokok paragraf dengan teknik membaca intensif di sd negeri cahyani et al – improving reading comprehension ... printed issn 2406-8012 118 bambalo. jurnal penelitian dan pengembangan pendidikan, 8, 241–255. https://doi.org/10.33394/jp.v8i2.3482 kaniati, m., hidayat, s., & kosasih, e. (2018). tingkat kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal-soal teks nonfiksi. jurnal ilmiah pendidikan guru sekolah dasar, 5, 100–111. https://ejournal.upi.edu/index.php/pedadidaktika/article/view/12709 kedang, m. k., & bani, b. s. (2021). perilaku awareness kelas v sd dalam membaca pemahaman teks nonfiksi. jurnal kajian pendidikan dan hasil penelitian, 7, 74–80. https://doi.org/10.26740/jrpd.v7n2.p74-80 kurniawati, r. t., & koeswanti, h. d. (2020). pengembangan media buku cerita bergambar untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas 1 sekolah dasar. jurnal pendidikan guru sekolah dasar, 7, 29–42. https://doi.org/10.30997/dt.v7i1.2634 laily, i. f. (2014). hubungan kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan memahami soal cerita matematika sekolah dasar. jurnal eduma tadris matematika, 3, 52–62. http://dx.doi.org/10.24235/eduma.v3i1.8 magrifah, maidiyah, e., & suryawati. (2019). analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika berdasarkan prosedur newman. jurnal ilmiah pendidikan matematika, 1, 1–12. https://doi.org/10.36706/jls.v1i2.9707 niswati, f. i., & sayekti, i. c. (2020). analisis kompetensi pedagogik calon guru sekolah dasar dalam mata kuliah microteaching. jurnal profesi pendidikan dasar, 7, 1–14. https://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/9128 pabriana, p. h. (2021). analisis keterbacaan buku teks siswa kelas iv pada tema i dengan menggunakan grafik fry. jurnal pendidikan dan konseling, 3, 28–35. https://doi.org/10.31004/jpdk.v2i2.1340 pingge, h. d., & wangid, m. n. (2016). faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa sekolah dasar di kecamatan kota tambolaka. jurnal pendidikan sekolah dasar, 2, 146–167. https://www.neliti.com/publications/71489/faktor-yang-mempengaruhihasil-belajar-siswa-sekolah-dasar-di-kecamatan-kota-tam saputri, e. y., sundari, r. s., & arifin, z. (2019). analisis kemampuan membaca siswa kelas ii c sekolah dasar negeri gisikdrono 02 semarang. seminar pendidikan nasional (sendika), 1, 67–77. http://conference.upgris.ac.id/index.php/sendika/article sari, e. i., wiarsih, c., & bramasta, d. (2021). strategi guru dalam meningkatkan keterampilan membaca pemahaman pada peserta didik di kelas iv sekolah dasar. jurnal educatio, 7, 74–82. https://doi.org/10.31949/educatio.v7i1.847 sidiq, u., & choiri, m. (2019). metode penelitian kualitatif di bidang pendidikan. nata karya. http://repository.iainponorogo.ac.id/484/ smith, r., snow, p., serry, t., & hammond, l. (2021). the role of background knowledge in reading comprehension: a critical review. journal reading psychology, 42, 214– 240. https://doi.org/10.1080/02702711.2021.1888348 sugiyono. (2017). metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. alfabeta cv. tantri, a. a. s. (2016). hubungan antara kebiasaan membaca dan penguasaan kosa kata dengan kemampuan membaca pemahaman. jurnal ilmiah perpustakaan dan informasi, 2, 1–29. https://doi.org/10.23887/ap.v2i1.10096 yuwono, t., supanggih, m., & ferdiani, r. d. (2018). analisis kemampuan pemecahan masalah matematika dalam menyelesaikan soal cerita berdasarkan prosedur polya. jurnal tadris matematika, 1, 137–144. https://doi.org/10.21274/jtm.2018.1.2.137144 pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 105 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 vol. 7, no. 1, juli 2020 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: doi.org/10.23917/ppd.v1i1.10969 pengembangan you-mathbook untuk meningkatkan pemahaman konsep perkalian pada siswa sd islam darul huda kota semarang indah puji lestari1), rida fironika kusuma dewi2), nuhyal ulia3) 123)fkip, universitas islam sultan agung 1indahpuji068@gmail.com, 2ridafkd@unissula.ac.id, 3nuhyalulia@unissula.ac.id pendahuluan youtube masih menjadi aplikasi andalan hingga beberapa tahun ini youtube menjadi ladang untuk mendapatkan uang melalui konten vlog yang kemudian diunggah pada akun pengguna. tidak hanya dijadikan sarana untuk mendapatkan uang, youtube juga dapat dijadikan sarana untuk belajar. kebermanfaatan youtube untuk berbagai bidang telah dibuktikan melalui berbagai penelitian (sorensen, max, & brietzke, 2014:69). begitu pula untuk bidang pendidikan. youtube memberikan fasilitas belajar melalui video-video yang tentunya lebih interaktif daripada belajar melalui tulisan. jutaan konten di youtube dapat kita jadikan referensi untuk belajar. anak-anak zaman millennial ini tentu sudah tidak asing dengan aplikasi youtube. mereka bisa dengan mudah mencari dan melihat banyak hal dari youtube. mengingat pada masa sekarang mayoritas anak-anak sudah mampu menggunakan gadget. abstract: this study aims to develop mathematical teaching materials on the subject of multiplication and find out their feasibility and practicality. this research is based on the lack of students' understanding of multiplication material and the lack of references other than worksheets or textbooks used by teachers. the renewal of this teaching material is the presence of a qr code in each chapter that can connect students to videos created by researchers and uploaded on youtube. this study uses the addie model (analysis, design, development, implementation, and evaluate). based on the five stages, the development of you-mathbook teaching materials resulted in a percentage of eligibility from three validators of 90.9%, a practical percentage of 84.1% and effectiveness calculated with a gain test of 0.35 indicating an increase in student learning outcomes in the 'medium' category. based on these results you-mathbook teaching materials are declared feasible, practical and effective to increase understanding of the concept of multiplication in fifth (v) grade students of darul huda islamic elementary school in semarang. keywords: mathematics, you-math book, concept, multiplication http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.8710 mailto:1indahpuji068@gmail.com mailto:2ridafkd@unissula.ac.id mailto:3nuhyalulia@unissula.ac.id pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 106 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 guru dapat menggunakan youtube untuk membantu menyampaikan materi yang membutuhkan media interaktif. melalui video-video yang menarik, motivasi belajar siswa juga akan lebih meningkat. tidak harus selalu belajar melalui ceramah yang disampaikan oleh guru. misalnya untuk mata pelajaran yang sifatnya abstrak dan sulit untuk dibayangkan oleh siswa. salah satunya adalah mata pelajaran matematika. belajar matematika melalui youtube memiliki dampak positif dan negatif seperti yang dihasilkan pada penelitian (suwarno, 2017:5) bahwa guru matematika berpendapat tentang penggunaan youtube sebagai sumber belajar matematika. dampak positif penggunaan youtube sebagai sumber belajar yakni lebih menarik bagi siswa belajar dalam bentuk video dibandingkan hanya berupa teks. namun, penggunaan youtube sebagai sumber belajar juga memiliki dampak negatif yaitu video yang diluar konten belajar dikhawatirkan lebih menarik perhatian siswa. penggunaan youtube sebagai media belajar matematika dapat dilaksanakan dengan berdasarkan teori belajar yang relevan. salah satu teori yang dapat membantu guru untuk mengarahkan siswa pada pemahaman konsep matematika adalah teori gagne. teori gagne merupakan teori yang dikembangkan oleh robert gagne seorang ahli psikologi yang berkebangsaan amerika. “…teori gagne terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning (akib, 2016:13)”. teori ini mengungkapkan bahwa kondisi belajar seseorang meliputi 3 hal yakni kondisi internal, eksternal dan hasil belajarnya. bagaimana kondisi eksternal dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat menunjang kesiapan belajar dari kondisi internal yang kemudian dapat mempengaruhi hasil belajar seorang individu. kurangnya pemahaman siswa terhadap konsep matematika menjadikan mata pelajaran ini terlihat sangat sulit bagi siswa. menurut penelitian trends in internati onal mathematics and science study (timms), matematika indonesia berada di peringkat ke-34 dari 45 negara. sedangkan menurut penelitian programme of international student assesment (pisa) menunjukkan bahwa indonesia menempati peringkat ke-61 dari 65 negara pada kategori literatur matematika. hal tersebut juga telah dibuktikan pada penelitian yang dilakukan oleh (sulastri, 2016:158) bahwa dari 34 siswa yang diteliti, hanya 9 siswa yang mendapat nilai diatas kkm dengan persentase 26 %. siswa di sekolah belum memahami alasan mengapa dan untuk apa mereka harus belajar segala macam materi yang ada pada matematika. padahal jika mereka memahami konsep belajar matematika yang pada dasarnya saling berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, mereka lebih mudah menguasai berbagai macam materi yang ada. contohnya adalah materi perkalian yang tanpa disadari materi tersebut sering kita pakai dalam kehidupan sehari-hari. penggunaan materi perkalian dalam kehidupan bukan lantas menjadikan semua siswa minat untuk mempelajarinya. kurangnya minat siswa kelas v terhadap matematika berdampak pada hasil nilai yang didapatkan. siswa kelas v bahkan masih kesulitan untuk menyelesaikan soal perkalian dengan bilangan enam ke atas. siswa sering melakukan kesalahan jika perkalian adalah penjumlahan berulang bilangan b pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 107 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 sebanyak bilangan a, bukan bilangan a di tambah bilangan b. siswa juga belum memahami sifat-sifat perkalian yakni asosiatif, distributif, komutatif juga unsur khusus dari perkalian contohnya perkalian bilangan a dengan angka 1 hasilnya adalah bilangan a itu sendiri. pemahaman konsep yang abstrak membuat siswa kesulitan untuk memahami konsep matimatika dan konsep yang dipelajari tidak memberi makna yang lebih pada pengalaman belajarnya (maharani, 2017:5). kurangnya variasi alternatif pemecahan masalah perkalian juga menjadi salah satu faktor mengapa siswa masih mengalami kesulitan. dari segi bahan ajar yang digunakan, guru masih mengandalkan buku lembar kerja siswa sebagai satu-satunya referensi. kemungkinan besar hal tersebut juga menjadi salah satu faktor penentu tingkat pemahaman siswa terhadap perkalian. pemanfaatan alat multimedia seperti proyektor untuk menunjang pembelajaran di era millennial ini juga masih minim digunakan di sd islam darul huda. kendalanya adalah jumlah alat yang terbatas juga kemampuan untuk menggunakannya. pada dasarnya, permasalahan diatas timbul karena minimnya referensi yang digunakan dalam pembelajaran. sehingga siswa juga minim akan informasi alternatif dalam menyelesaikan soal perkalian. pemahaman siswa hanya sebatas konsep dasar perkalian adalah penjumlahan yang berulang dengan berbantu jari yang mereka miliki. dengan adanya referensi yang inovatif diharapkan mampu membantu siswa dlaam memahami keabstrakan konsep matematika. oleh sebab itu, perlu adanya referensi tambahan bagi guru untuk dapat membantu siswa dalam memahami konsep perkalian. referensi yang dapat digunakan adalah bahan ajar khusus untuk matematika materi perkalian untuk kelas v. penggunaan bahan ajar untuk membantu siswa memahami perkalian dan pembagian terbukti efektif meningkatkan hasil belajar siswa (ummah, 2014:99). penelitian yang sejenis juga pernah dilakukan oleh (suwarno, 2017). penelitian yang dilakukannya berkaitan dengan sosial media yakni youtube yang memiliki potensi besar sebagai sumber belajar siswa khususnya matematika. penelitian kualitatif deskriptif ini meneliti berbagai sumber belajar matematika berupa video yang diunggah ke youtube dari berbagai channel. respons siswa dalam penelitian ini menunjukkan bahwa youtube memiliki potensi yang besar untuk menjadi sumber belajar jika mendapat arahan dari guru. sebab, 3 dari 10 siswa yang pernah menggunakan youtube sebagai sumber belajar hanya menemukan video matematika dengan tidak sengaja. sedangkan guru matematika yang berperan sebagai partisipan dalam penelitiannya mengatakan jika belum pernah menggunakan youtube sebagai referensi sumber belajar. menganalisis penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya, keterbaruan bahan ajar pada penelitian ini adalah dikombinasikannya bahan ajar dengan perkembangan teknologi dimasa sekarang. bahan ajar dilengkapi dengan video interaktif yang telah tersedia di youtube melalui kode qr. kode qr mempresentasikan suatu data dalam bentuk gambar modul hitam pola persegi dua dimensi yang kemudian akan terhubung pada sebuah laman tempat data tersebut berada. kode ini memiliki fungsi seperti encoding, pencarian gambar, decollating, alokasi gambar dan revisi gambar (mustakim, pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 108 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 2013:217). sehingga menjadi bahan ajar ini berbasis digital yang relevan di era sekarang. serta kemudahan akses yang hanya memerlukan smartphone yang tentunya mayoritas guru dan siswa dapat menggunakannya. melalui kode qr inilah yang akan menghubungkan bahan ajar matematika dalam bentuk buku pada alamat youtube yang memuat video interaktif. sehingga siswa tidak hanya belajar melalui teks, namun juga didukung dengan adanya video. bahan ajar menjadi satu elemen penting dalam menunjang pembelajaran. era milenial ini perlu diikuti oleh dunia pendidikan khususnya guru dan siswa. sehingga perlu adanya kombinasi antara perangkat pembelajaran dan teknologi yang saat ini berkembang. agar pembelajaran yang dialami siswa relevan dengan zamannya. oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan, kepraktisan dan keefektifan dari bahan ajar “you-mathbook” (bahan ajar matematika berbasis youtube) untuk meningkatkan pemahaman konsep perkalian pada siswa kelas v sd islam darul huda kota semarang. rumusan masalah yang ingin diketahui adalah: 1) apakah pengembangan “you-mathbook” valid; 2) apakah pengembangan “you-mathbook” praktis; 3) apakah pengembangan “you-mathbook” efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep perkalian pada siswa kelas v sd islam darul huda. metode penelitian penelitian ini menggunakan jenis research and development (r&d). metode penelitian r&d adalah langkah pengembangan yang dapat menghasilkan sebuah produk tertentu baik berupa perngkat lunak atau produk fisik (jennings, sycara, & wooldridge, 1998:31). produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah bahan ajar yang kemudian diberi nama ‘you-mathbook’. model yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar ini adalah model addie (analysis-design-developmentimplementation-evaluate). model ini memungkinkan untuk digunakan saat ini karena tahapan yang dimiliki masih relevan di era sekarang. menurut (ngussa, 2014:2) bahwa desain instruksional sangat penting digunakan bagi guru dan pengembangan kurikulum karena tujuan yang jelas terletak dalam analisis yang menjadi langkah pertama dari perancangan. penelitian ini dilakukan di sd islam darul huda kota semarang pada waktu semester genap 2019/2020. subjek penelitian ini adalah kelas v dengan jumlah 40 siswa. teknik pengumpulan data yang digunakan adalah a) wawancara, digunakan untuk memperoleh data awal. b) angket atau kuesioner, digunakan untuk uji validasi dan uji kepraktisan dengan skala likert dan diolah dengan rumus persentase (sugiyono, 2017). c) tes, digunakan untuk melakukan uji keefektifan melalui pre-test dan post-test yang kemudian diolah menggunakan uji gain ternormalisasi (sundayana, 2016). hasil dari ketiga alat pengumpulan data di olah dalam bentuk analisis kuantitatif. pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 109 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 hasil dan pembahasan hasil penelitian pengembangan bahan ajar ‘you-mathbook’ diperoleh menggunakan penjabaran hasil penelitian pengembangan bahan ajar sesuai tahapannya adalah sebagai berikut: tahap analysis (analisis) tahap analisis merupakan tahapan yang paling pertama dilakukan dalam penelitian ini. tahap analisis digunakan untuk menganalisa kebutuhan dalam pengembangan bahan ajar you-mathbook. pada tahap analisis ini terdiri dari need analysis dan performance analysis. a. performance analysis (analisis kinerja) melalui wawancara dengan guru kelas berkaitan dengan kurangnya pemahaman konsep perkalian pada siswa kelas v, dapat disimpulkan bahwa guru membutuhkan referensi lain yang lebih inovatif dalam membantu siswa meningkatkan pemahaman konsep perkalian. alasan yang lain adalah diera digital ini penggunaan teknologi dalam pembelajaran matematika juga belum maksimal. b. need analysis (analisis kebutuhan) berdasarkan analisis kebutuhan, perlu dikembangkannya bahan ajar berbasis digital untuk membantu guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep perkalian. sehingga tujuan dari pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. tahap design (perancangan) berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka perlu adanya pengembangan bahan ajar berbasis digital dengan nama you-mathbook. langkah selanjutnya adalah membuat rancangan dari produk bahan ajar tersebut. tahapan rancangan terdiri dari beberapa hal sebagai berikut: a. penyusunan materi materi yang akan dibahas dalam bahan ajar yang dikembangkan disesuaikan dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar dari permasalahan yang dihadapi oleh siswa yakni pemahaman konsep perkalian. materi juga dikaitkan dengan indikator pemahaman konsep. materi yang akan disajikan dalam bahan ajar you-mathbook adalah sebagai berikut: tabel 1. susunan materi indikator pemahaman konsep kompetensi dasar materi pemahaman mekanikal, dapat mengingat dan menerapkan sesuatu secara rutin atau perhitungan sederhana. melakukan operasi hitung bilangan bulat termasuk penggunaan sifat-sifatnya, pembulatan, dan penaksiran • perkalian sebagai penjumlahan berulang • sifat-sifat perkalian pemahaman induktif, dapat mencobakan sesuatu dalam kasus sederhana dan tahu bahwa sesuatu itu berlaku dalam kasus serupa. melakukan perkalian pada bilangan pecahan dan desimal • perkalian bilangan pecahan • perkalian bilangan desimal menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pemangkatan (pangkat dua dan tiga) • bilangan pangkat dua • bilangan pangkat tiga pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 110 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 b. pemilihan format format bahan ajar you-mathbook didesain dengan warna-warna yang menarik dan mudah digunakan sehingga dapat menarik minat guru dan siswa. rincian format bahan ajar adalah sebagai berikut: 1) bahan ajar memiliki desain warna-warni 2) bahan ajar berukuran a4 3) bahan ajar disertai dengan kode qr 4) ukuran huruf 16 dengan jenis constanta 5) bahan ajar dicetak dengan jenis kertas cts c. rancangan awal bahan ajar didesain dengan format yang telah dirancang. bahan ajar didesain dengan aplikasi coreldraw dan dilengkapi dengan kode qr yang akan menghubungkan guru dan siswa ke video yang dibuat oleh peneliti dan telah unggah di channel youtube. video tersebut berisi tentang materi pada setiap bab. hal tersebut dapat menjadi sarana pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran matematika. tahap development (pengembangan) tahap pengembangan akan menghasilkan draft dari hasil perancangan yang kemudian menjadi bahan untuk diuji validasi kepada validator yang telah ditentukan sebelumnya. pada tahap pengembangan ini bahan ajar di validasi untuk mengetahui kelayakan dan revisi produk sebelum di terapkan pada subjek penelitian. a. penulisan bahan ajar penulisan bahan ajar disusun berdasarkan beberapa aspek, yakni keamanan nasional, isi, penyajian, penerapan, bahasa, ilustrasi, dan grafis. penulisan bahan ajar akan menghasilkan sebuah draft lengkap dengan format yang telah ditentukan. bagianbagian yang terdapat pada buku bahan ajar diantaranya, (1) cover depan dan belakang, (2) halaman kata pengantar, (3) halaman cara penggunaan buku, (4) halaman ki dan kd, (5) halaman daftar isi, (6) halaman kelebihan buku, (7) halaman materi dan kode qr, (8) halaman latihan soal, (9) halaman games, (10) refleksi dan kesimpulan, (11) halaman soal ulasan, (12) glosarium,(13) biodata penulis, (14) daftar pustaka. penulisan bahan ajar juga terdapat proses penyertaan kode qr kedalam buku. gambar 2. kode qr pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 111 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 gambar 3. cover depan dan belakang gambar 4. petunjuk penggunaan buku gambar 5. halaman materi gambar 6. halaman latihan soal b. validasi bahan ajar draft bahan ajar yang telah selesai disusun kemudian di validasi. validasi bahan ajar merupakan kegiatan memberikan penilaian terhadap produk, jika hasil validasi dari ketiga validator dinyatakan layak maka bahan ajar dapat diimplementasikan kepada subjek penelitian. selain memberikan penilaian, validator juga memberikan keterangan saran dan masukan guna perbaikan dari produk. pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 112 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 hasil dari uji validasi bahan ajar dengan 25 pernyataan dari tujuh kriteria yakni keamanan nasional, isi, penyajian, penerapan, bahasa, ilustrasi, dan grafis diperoleh skor dari validator pertama adalah 123 skor dari 125 skor maksimal dengan persentase 98.4% . validator pertama memberikan masukan terkait cara penggunaan kode qr dan pewarnaan pada buku. validator kedua diperoleh skor 115 dengan persentase 92%. validator kedua memberikan masukan terkait kalimat yang digunakan dalam bahan ajar agar disesuaikan dengan susunan kalimat yang benar atau spok, kemudian disarankan untuk memilih ukuran huruf dan spasi yang seragam. perolehan skor dari validator ketiga diperoleh skor 103 dengan persentase 82.4%. validator ketiga memberikan masukan terkait beberapa kata dalam kalimat yang kurang efektif agar disesuaikan dengan kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar. hasil dari ketiga validator diperoleh rata-rata skor 113 dengan persentase 90.4% dengan kriteria sangat baik. berdasarkan persentase minimum produk dikatakan valid yakni 61% dengan begitu bahan ajar you-mathbook dinyatakan ‘valid’ dan layak digunakan dengan revisi. untuk lebih jelasnya, hasil validasi dapat dilihat pada tabel 2. tabel 2. hasil validasi bahan ajar validator skor persentase kategori validator 1 123 98.4% sangat baik validator 2 115 92% sangat baik validator 3 103 84.2% sangat baik rata-rata 113 90.4% c. revisi hasil validasi dari ketiga validator juga memuat kritik dan saran terhadap bahan ajar untuk kemudian di revisi guna kesempurnaan bahan ajar. diantaranya adalah (a) disarankan untuk penambahan halaman petunjuk penggunaan kode qr, sehingga guru ataupun siswa dapat memahami dengan jelas, (b) pewarnaan beberapa layout yang mengganggu tulisan, karena warna terlalu gelap, (c) beberapa penggunaan kata tidak sesuai dengan kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar, (d) ukuran huruf pada buku tidak seragam. setelah draft selesai di revisi, maka tahap selanjutnya adalah pengemasan yakni mencetak bahan ajar dengan ketentuan format yang telah dipilih sebelumnya. bahan ajar yang telah di kemas selanjutnya diujikan kepada subjek penelitian. pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 113 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 tahap implementation (penerapan) tahap penerapan dilakukan di sd islam darul huda pada kelas vb dengan jumlah keseluruhan 40 siswa. jadwal penerapan bahan ajar you-mathbook dijabarkan dalam jadwal pada table 3. tabel 3. jadwal penerapan produk tanggal kegiatan selasa, 10 maret 2020 pre-test rabu, 11 maret 2020 perlakuan i kamis, 12 maret 2020 perlakuan ii jumat, 13 maret 2020 perlakuan iii & post-test a. pre-test pre-test dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. sehingga peneliti dapat mengetahui perubahan tingkat pemahaman siswa sebelum dan sesudah perlakuan dengan bahan ajar you-mathbook. b. perlakuan perlakuan dengan menggunakan bahan ajar you-mathbook kepada siswa kelas vb dilakukan sebanyak tiga kali berturut-turut. perlakuan dilakukan kepada 40 orang siswa selama 3 kali perlakuan dengan waktu 6 x 35 menit. uji skala besar dilakukan dengan diawali menginstruksikan siswa untuk membawa hp guna mempraktikkan penggunaan kode qr kemudian dilanjutkan pembelajaran menggunakan bahan ajar you-mathbook. pendapat siswa mengenai perlakuan menggunakan bahan ajar you-mathbook adalah jika buku tersebut menarik karena sangat colorfull, kode qr yang terdapat pada buku sangat menarik perhatian dan memudahkan belajar melalui video. materi yang terdapat buku mudah dipahami, serta terdapat ilustrasi pendukung dan contoh pengerjaan soal. tahap evaluate (evaluasi) pada tahap evaluasi dilakukan post-test dan evaluasi oleh siswa yang telah menggunakan bahan ajar you-mathbook dalam pembelajaran perkalian. a. post-test post-test dilakukan guna mengetahui apakah ada peningkatan pemahaman konsep siswa sebelum dan sesudah perlakuan. berdasarkan hasil post-test lalu dibandingkan dengan hasil pre-test, terdapat peningkatan pada hasil belajar siswa. beberapa siswa mengalami peningkatan hasil belajar yang signifikan. b. respons siswa evaluasi oleh siswa dilakukan dengan cara mengisi angket respons siswa setelah perlakuan selesai diberikan. terdapat 10 pernyataan dengan empat aspek yakni kemudahan, kesinambungan, desain, dan ketertarikan yang harus dijawab oleh siswa. skor maksimal dari pernyataan yang harus dijawab semua siswa adalah 2.000. hasil perlakuan didapatkan skor sebanyak 1.682 dengan persentase 84% dengan kategori pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 114 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 ‘sangat baik’. analisis data dilakukan untuk menyimpulkan hasil validasi, respons siswa dan guru, serta tes uji kognitif siswa. analisis uji validasi setelah dilakukan uji validasi oleh tiga validator, maka perlu dilakukan analisis data untuk menarik kesimpulan dari ketiga validator mengenai kelayakan bahan ajar. perhitungan skor dari ketiga validator dihitung dengan rumus persentase (sugiyono, 2017) sebagai berikut : x 100% = 90.9 % pada bab iii batas minimum kelayakan bahan ajar adalah 61%. dari hasil rumus persentase diatas, didapatkan hasil 90.9% dengan kategori ‘sangat baik’. maka, dapat disimpulkan bahwa bahan ajar you-mathbook dikatakan ‘layak’. analisis uji kepraktisan uji kepraktisan dilakukan oleh siswa melalui angket respons siswa. uji kepraktisan yang dilakukan siswa melalui angket respon siswa memperoleh rata-rata skor 40.7 dari 50 rata-rata skor maksimal. hasil persentase respons siswa menunjukkan bahwa bahan ajar mendapatkan kategori ‘sangat baik’ yang berarti bahan ajar ‘praktis’ digunakan. analisis uji keefektifan analisis uji keefektifan dilakukan melalui pre-test dan post-tes. uji keefektifan berfungsi untuk mengetahui apakah bahan ajar you-mathbook efektif digunakan dalam membantu guru meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep perkalian. hasil pretest mendapatkan jumlah nilai 246 dan jumlah nilai post-test adalah 300. analisis uji keefektifan dihitung dengan rumus uji gain ternomalisasi (sundayana, 2016) sebagai berikut : berdasarkan hasil dari uji gain diatas, diperoleh hasil bahwa bahan ajar you-mathbook efektif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep perkalian dengan nilai 0.35 pada kategori ‘sedang’. pembahasan a. kelayakan bahan ajar penyusunan bahan ajar didasarkan dari berbagai referensi yang mendukung, materi yang bertingkat dari kategori mudah menuju yang lebih sulit serta memperhatikan beberapa aspek estetika. penilaian kelayakan bahan ajar dinilai dari pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 115 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 tujuh aspek diantaranya adalah keamanan nasional, isi, penyajian, penerapan, bahasa, ilustrasi, dan grafis. hasil validasi menunjukkan indikator keamanan nasional mendapatkan hasil persentase 100% kategori ‘sangat baik’. indikator isi mendapatkan hasil persentase 91% kategori ‘sangat baik’. indikator penyajian memperoleh hasil persentase 90% dengan kategori ‘sangat baik’. indikator penerapan memperoleh kategori ‘sangat baik’ dengan persentase 93%. indikator bahasa memperoleh hasil persentase 83% dengan kategori ‘sangat baik’. indikator ilustrasi memperoleh kategori ‘sangat baik’ dengan persentase 91%. serta indikator grafis memperoleh persentase 89% dengan kategori ‘sangat baik’. dari uji validasi yang dilakukan oleh ketiga validator menunjukkan bahwa bahan ajar you-mathbook ‘layak’ untuk digunakan dengan kategori ‘sangat baik’. hasil dari validasi yang dilakukan oleh ketiga validator dapat dilihat pada gambar 7. gambar 7. grafik kelayakan bahan ajar masing-masing penilaian dari validator sudah melampaui batas minimal 61% bahan ajar dikatakan ‘layak’ digunakan. penilaian yang diperoleh dari ketiga validator berada pada kategori ‘sangat baik’ sehingga dapat diperoleh dengan rata-rata skor pada persentase 90.9%. b. kepraktisan bahan ajar kepraktisan bahan ajar you-mathbook dinilai menggunakan respons siswa. angket respons dari 40 siswa menghasilkan rata-rata skor 42 dengan persentase 84%. hasil angket respons siswa pada masing-masing indikator adalah indikator kemudahan dengan kategori ‘sangat baik’ pada persentase 87%. indikator kesinambungan dengan kategori ‘baik’ pada persentase 73%. sedangkan kategori desain dan ketertarikan memperoleh hasil persentase 88% dan 82% dengan kategori ‘sangat baik’. kepraktisan bahan ajar you-mathbook dilihat dari fungsinya dalam membantu siswa memahami konsep perkalian. secara fisik bahan ajar you-mathbook sangat menarik dengan desain warna-warni. ukuran buku yang tidak terlalu besar ataupun terlalu kecil memudahkan siswa dan guru untuk membawanya serta membaca tulisan di dalamnya. kebaruan bahan ajar you-mathbook adalah menggunakan kode qr yang menghubungkan siswa kepada video pembelajaran yang ada di youtube. multimedia interaktif sangat efektif sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran, karena multimedia bisa digunakan untuk menyajikan sebuah informasi nyata, bisa dilihat, pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 116 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 didengar serta bisa dilakukan. dalam hal inilah peran guru harus memiliki kemampuan memahami teknologi karena akan berperan pada kehidupan masa kini sampai pada masa yang akan datang (al fatah, jupriyanto, & cahyaningtyas, 2019:20). dalam hal ini siswa perlu didampingi oleh guru atau orang tua dalam memanfaatkan gadget yang mereka miliki untuk belajar matematika. c. keefektifan bahan ajar bahan ajar dapat dikategorikan efektif jika terdapat peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep perkalian dilihat dari nilai pre-test dan post-test siswa. gambar 8. kegiatan post-test penelitian yang dilakukan oleh (angko & musjati, 2013:11-12) membuktikan bahwa bahan ajar matematika mampu meningkatkan pemahaman matematika pada kelas eksperimen dengan adanya peningkatan pada hasil belajar siswa pada kelas tersebut. pada penelitian ini juga terjadi peningkatan pemahaman konsep siswa ditunjukkan dari meningkatnya hasil pre-test dan post-test. peningkatan yang terjadi dikategorikan ‘sedang’ dengan nilai 0.35. hasil pre-test dan post-test siswa dapat dilihat dalam gambar 9. gambar 9. grafik hasil pre-test dan post-test berdasarkan grafik diatas, jumlah nilai mengalami kenaikan sejumlah 54 nilai. meski dalam kategori sedang, bahan ajar you-mathbook dapat dikatakan ‘efektif’ untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep perkalian. pemahaman konsep dapat ditunjukkan dengan berbagai hal. dengan mengetahui suatu konsep, peserta didik mampu mengenal, menerangkan, memadukan, memisahkan, memberi sebuah contoh, menyimpulkan suatu objek serta mengungkapkan kembali dengan bahasanya sendiri (kusumawati, kusumadewi, & ulia, 2019:207). pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 117 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 peningkatan indikator pemahaman konsep mekanikal pada penelitian ini ditunjukkan dengan jawaban benar siswa pada soal nomor 1 (perkalian sebagai penjumlahan berulang) lebih banyak dibandingkan ketika pre-test. artinya siswa sudah mampu mengingat dan menerapkan sesuatu secara rutin atau perhitungan sederhana. peningkatan indikator pemahaman konsep induktif dibuktikan dengan banyaknya jumlah jawaban benar siswa pada post-tes soal nomor 8 dan 9 (bilangan pangkat) lebih banyak daripada ketika pre-test. artinya siswa sudah dapat mencobakan sesuatu dalam kasus sederhana dan tahu bahwa sesuatu itu berlaku pada kasus yang serupa. kondisi internal siswa yang siap menerima hal baru dari lingkungan (eksternal) berupa bahan ajar menjadi pendukung utama dalam keefektifan bahan ajar ini. menurut teori gagne hasil belajar merupakan kombinasi kondisi internal siswa dan kondisi eksternal. komponen pendukung seperti adanya kode qr juga dapat menjadi stimulus baru bagi siswa. video yang ada pada kode qr dapat membantu siswa yang kurang mampu memahami materi melalui tulisan pada buku. sehingga semua siswa dapat memahami konsep perkalian dengan beberapa cara. kombinasi dari kesiapan internal siswa dan stimulus dari lingkungan itulah yang mampu membuat siswa memiliki hasil belajar berupa kemampuan intelektual, informasi verbal, keterampilan motorik, dan sebagainya. sehingga bahan ajar ini efektif untuk diterapkan dalam pembelajaran. simpulan hasil penelitian dan pembahasan penelitian “pengembangan you-mathbook untuk meningkatkan pemahaman konsep perkalian pada siswa kelas v sd islam darul huda kota semarang” yang telah diuraikan dapat ditarik kesimpulan bahwa pengembangan bahan ajar you-mathbook menggunakan model addie, dinyatakan layak dari hasil uji validasi oleh tiga validator dengan mendapatkan rata-rata skor 341 dengan persentase 90.9% pada kategori ‘sangat baik’. uji kepraktisan menunjukkan bahwa bahan ajar you-mathbook ‘praktis’ digunakan dalam pembelajaran. angket respons siswa memperoleh rata-rata skor 40.7 dengan persentase 84.1% pada kategori ‘sangat baik’. uji keefektifan diperoleh dengan membandingkan hasil pre-test dan posttest. jumlah nilai pre-test siswa adalah 246 sedangkan jumlah nilai post-test adalah 300. terjadi kenaikan jumlah nilai sebesar 54 dengan uji gain sebesar 0.35 pada kategori ‘sedang’. jadi, bahan ajar you-mathbook ‘efektif’ untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa meskipun dalam kategori ‘sedang’. pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 118 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 daftar pustaka akib, i. (2016). gagne dalam pembelajaran konsep matematika ( suatu alternatif kegiatan mengajar belajar konsep matematika) (i). makassar: lembaga perpustakaan dan penerbitan universitas muhammadiyah makassar. https://www.researchgate.net/publication/305739745 al fatah, s. m., jupriyanto, & cahyaningtyas, a. p. (2019). “analisis media pembelajaran multimedia interaktif terhadap motivasi belajar peserta didik di sekolah dasar.” jurnal pesona dasar, 7(2), 18–25. https://doi.org/10.24815/pear.v7i2.14755 angko, n., & musjati. (2013). “pengembangan bahan ajar dengan model addie untuk mata pelajaran matematika kelas 5 sds mawar sharon surabaya.” jurnal kwangsan, 1, 1–15. https://doi.org/10.31800/jtp.kw.v1n1.p1--15 jennings, n. r., sycara, k., & wooldridge, m. (1998). a roadmap of agent research and development. kluwer academic publisher, 1, 7–38. https://doi.org/10.1023/a:1010090405266 kusumawati, k., kusumadewi, r. f., & ulia, n. (2019). “analasis pemahaman konsep matematika siswa sd pada model pembelajaran problem base learning berbantu media pop up.” konferensi ilmiah mahasiswa unissula (kimu), 206– 210. http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/kimuhum/article/view/8132 maharani, i. n. (2017). “model pengembangan bahan aajar matematika untuk sekolah dasar.” vox edukasi, 8, 1–10. http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/vox/article/view/54 mustakim, s. (2013). “penggunaan qr code dalam pembelajaran pokok bahasan sitem periodik unsur pada kelas x sma labschool untad.” jurnal akademika kimia, 2(november), 215–221. http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/jak/article/view/7772 ngussa, b. m. (2014). “application of addie model of instruction in teachinglearning transaction among teachers of mara conference adventist secondary schools , tanzania.” jurnal of education and practice, 5(25), 1–11. http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.997.6465&rep=rep1&t ype=pdf sorensen, j. a., max, d., & brietzke, s. e. (2014). “youtube as an information source for pediatric adenotonsillectomy and ear tube surgery.” international journal of pediatric otorhinolaryngology, 78, 65–70. https://doi.org/10.1016/j.ijporl.2013.10.045 sugiyono. (2017). metode penelitianpendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d) (25th ed.). bandung: penerbit alfabeta. http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/kimuhum/article/view/8132 http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/vox/article/view/54 http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/jak/article/view/7772 http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.997.6465&rep=rep1&type=pdf http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.997.6465&rep=rep1&type=pdf pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 119 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 sulastri, a. (2016). “penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis siswa sekolah dasar.” jurnal pendidikan guru sekolah dasar, 1(1), 156–170. https://ejournal.upi.edu/index.php/jpgsd/article/view/9068 sundayana, r. (2016). statistika penelitian pendidikan (iii). bandung: alfabeta. suwarno, m. (2017). “potensi youtube sebagai sumber belajar matematika.” mathematics education journal, 1(1), 1–7. https://doi.org/10.21067/pmej.v1i1.1989 ummah, w. k. (2014). pengembangan bahan ajar operasi hitung perkalian dan pembagian melalui pendidikan matematika realistik indonesia (pmri) untuk siswa kelas iv mi bustanul ulum batu. universitas islam negeri maulana malik ibrahim malang. http://etheses.uin-malang.ac.id/7419/ https://ejournal.upi.edu/index.php/jpgsd/article/view/9068 http://etheses.uin-malang.ac.id/7419/ pengembangan you-math......(indah puji l, dkk) 120 jppd, 7, (1), hlm. 105 120 profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 130 steam oriented science learning management during the covid-19 pandemic mimin vera dwi priyantini*, bambang sumardjoko, choiriyah widyasari, yulia maftuhah hidayati universitas muhammadiyah surakarta, surakarta, indonesia *email: q200200004@student.ums.ac.id submitted: 2021-07-12 doi: 10.23917/ppd.v8i2.15155 accepted: 2021-12-16 published: 2021-12-27 keywords: abstract pandemic; steam; science learning; management; tolerance assessment; online learning this research was motivated by the importance of experimentation in science learning which cannot be done directly in online learning during the pandemic. the application of steam is one solution to problems that arise in the management of science learning in elementary schools during the pandemic. the subjects of this study were 20 grade 6 students in an elementary school in surakarta. the method used in this study was descriptive qualitative with a case study design. the recruited informants consisted of students and their parents. the techniques used in this research are interviews, observation and documentation. data analysis using data collection techniques, data reduction, presentation of power and drawing conclusions. the data validity technique is technique triangulation and source triangulation. the results of this study indicate that (1) the application of online learning changes the way students learn (2) in online learning experiments cannot be done directly (3) during the pandemic, teachers are required to innovate in the teaching and learning process (4) the steam approach can provide a meaningful experience for students (5) steam can encourage student development for the better. the implications of this research are: first, more and more teachers are implementing the steam approach in the teaching and learning process as an alternative so that students can learn optimally. both parents are willing to take the time to observe and assist their daughter's online learning process. this study describes the application of the steam approach in online learning during a pandemic. http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:q200200004@student.ums.ac.id http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v8i2.15155 vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 131 introduction background in 2020, the outbreak of coronavirus disease-2019 (covid 19) has not shown any signs of slowing down. recently, a new variant of the covid-19 virus was discovered, namely the delta variant. this new variant of the virus has killed hundreds of thousands of people around the world. on wednesday, july 14, 2021, at 07.00 wib, worldometer reported that there were 188,563,150 cases of covid 19 worldwide. a total of 4,065,129 people were declared dead and 172,396,201 people were declared cured(muhamad, 2021). the skyrocketing spread of covid-19 cases has prompted the government to immediately take action to contain the spread of the covid-19 virus, one of which is the determination of a joint decision (skb) of 4 ministers regarding the guidelines for the implementation of learning in the covid-19 pandemic period (kemdikbud ri, 2020). in the joint decision, it is explained that the implementation of learning in 2021/2022 must pay attention to the respective regional zones. for surakarta, entering the 2021/2022 school year, it is stated that it is still at level 4, the implementation of the teaching and learning process is carried out online, such as the implementation of learning in the 2020/2021 school year. june 12, 2021 is the first day of school in the year 2021/2022. according to the instructions in the skb 4 ministers in 2021, the learning activities that take place are still using the online system considering the risk of the spread of the covid-19 virus is still very high. learning is carried out synchronously or asynchronously. in indonesia, synchronous learning still relies on the use of proprietary video teleconferencing software program (busa et al., 2020). for asynchronous whatsapp groups are still a mainstay for most teachers and parents (daheri et al., 2020). a small number have also used the microsoft 365 application or google class because of the limited abilities and facilities owned by students. students are prohibited from coming to school and must study independently from home. this is a new phenomenon that poses new challenges in the world of education. if under normal conditions the world of education is filled with face-to-face activities between students and teachers, this cannot be done during this pandemic. learning and teaching activities are filled with virtual face-to-face activities. teachers and students meet in cyberspace. during this pandemic, teachers are required to designing media for teaching and learning activities that encourage innovative and creative power so that students can continue to receive maximum learning. all efforts made by all parties for the implementation of online learning have the aim of providing learning facilities so that students can learn meaningfully that is not bound by space and time during the pandemic (handayani et al., 2020; kurniasari, 2020; shah, 2020)(suswandari et al., 2021). it is a challenge for elementary school teachers with limited facilities owned by students considering that the majority of elementary school age children do not have their own gadgets / cellphones and rely on their parents' cellphones. electronic equipment facilities (hp, laptops, etc.) are the main factors in the online pjj process, this will facilitate the delivery of material to students for the smooth teaching and learning process (purwanto et al, 2020: 7)(bahri & budiyono, 2020). so that teachers are required to hold a learning process that can touch the whole of their students. especially for logic subjects such as mathematics and science. science learning would be better to apply experimental methods that can develop the competence of students. good science learning encourages students to get used to using scientific methods or process skills in studying science (suriasumantri in patta bundu, 2006: 3). because the implementation of science learning based on the 2013 curriculum should apply a scientific approach. in accordance with the minister of education and culture priyantini et al – steam oriented science learning management… printed issn 2406-8012 132 regulation number 81a of 2013 regarding the implementation of the 2013 curriculum in appendix iv, it is explained that the approach that is in accordance with the 2013 curriculum is a scientific approach in collaboration with a problem-based and project-based approach. good science content should encourage students to develop 4c skills (critical thinking, creative, communication,(khaira, 2018). koballa and chiapetta (2010: 105) define science as a science that demands investigation in obtaining new knowledge, and interaction with technological sophistication and society. it can be interpreted that in natural sciences has the dimension of thinking patterns, demanding investigation and building science and its relationship with technological sophistication and society.(peserta & smp, 2016). problem of study science learning activities should be able to improve the competence of students by providing meaningful experiences for students, one of which is by conducting direct experiments. however, at this time science learning cannot be carried out optimally because we are in the time of the covid 19 pandemic. this requires the teaching and learning process to be carried out online from home. this is in line with the circular of the minister of education and culture no. 35492/a.a5/hk/2020 which was set on march 2, 2020 related to stemming the spread of covid-19 transmission. online learning must remain meaningful for students. science learning should facilitate students to gain meaningful personal experiences for students, therefore students do not only understand theory, but an even greater hope is that students can apply newly acquired insights to find solutions to real-life problems. however, due to conditions that do not support conventional learning, these expectations cannot be realized optimally. this phenomenon is also faced by students at sdn kepatihan in learning natural sciences (ipa) with the sub-material of simple electrical circuits. if under normal conditions this material is in great demand by students because they will be invited to experiment directly with friends in class with the guidance of the teacher and if they face difficulties will immediately get help from the teacher and friends. however, during the pandemic, all of these activities cannot be carried out because the teaching and learning process is carried out online. teachers are required to design innovative teaching and learning processes in dealing with these conditions. current conditions encourage teachers to be smart in looking for techniques so that students can still learn meaningfully but still carry out recommendations from the government to continue to carry out the teaching and learning process with an online system. therefore, the application of steam in the teaching and learning process is seen as a way that is able to overcome these problems. the steam approach is a way that can be a solution to answer the challenges of education during a pandemic with various limitations of current conditions. irmani.l, et al.(2019) explained that steam is an approach in learning that can stimulate curiosity and be able to increase the curiosity of students so that they have skills in finding solutions in dealing with problems, cooperation, individual learning by applying a project-based learning process, research-based learning process and challenges. henceforth, the selection and implementation of a steam-based curriculum (science, technology, engineering, art, and math) has a very important role in increasing the creative ability of students which focuses on cooperation, creativity, developing communication skills both verbal and non-verbal research. , problem solving and critical thinking. with the steam approach, it is expected that students have good intelligence in academic aspects but are also intelligent in social and emotional aspects and math has a very important role for increasing the creative ability of students which focuses on cooperation, creativity, developing communication skills both verbal and non-verbal research, problem solving and critical thinking. with the steam approach, it is expected that students have good intelligence in academic aspects but are also intelligent in social and emotional aspects and vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 133 math has a very important role for increasing the creative ability of students which focuses on cooperation, creativity, developing communication skills both verbal and non-verbal research, problem solving and critical thinking. with the steam approach, it is expected that students have good intelligence in academic aspects but are also intelligent in social and emotional aspects (kumar, 2016). state of the art some researchers who have researched the application of steam one of them are(billiark et al., 2014)describes steam as a space that invites, encourages, and provides a safe learning environment where students have more freedom to explore and gain a deeper understanding of the arts and other disciplines. steam is also able to encourage good children's growth and development so that they grow into children who develop according to the demands of development according to their phases(daugherty et al., 2014). the application of steam in learning is able to encourage the growth of creativity, critical thinking and can help gain a strong understanding of the material(farwati et al., 2017). in early childhood the steam approach also significantly shapes students into children who have skills in problem solving and are able to socialize with the surrounding environment and are able to come up with creative ideas based on science and technology.(melati et al., 2019), (nurhikmayati, 2019) and (susanti et al., 2020). the application of steam is able to develop genius talents in students and encourage students to think critically and have good scientific literacy skills(adriyawati et al., 2020).(kim & park, 2012) the use of the steam approach in the teaching and learning process helps students to analyze the problems they are facing by involving 5 disciplines including science, technology, engineering, art and mathematics so that it will create strong resilience in the face of globalization. (iolanessa et al., 2020)(purnamasari et al., 2020). in addition to the advantages of the steam approach that have been described by several researchers above, the steam approach indicates that the application of steam has not been fully integrated in the teaching and learning process so far, so it requires assistance from experts and has not utilized comprehensive learning media.(munawar et al., 2019). gap study & objective based on the background described above, this study aims to describe the management of the application of steam in the subject matter of natural sciences (ipa) in grade 6 sdn kepatihan for the academic year 2020/2021 with the material "simple electrical circuits". the contribution of this research is that more and more fellow teachers are implementing this steam approach in learning so that students learn more meaningfully and learning objectives can be achieved. in previous studies, the application of steam was not carried out by online learning and was carried out face-to-face in the classroom. in this study, the application of steam was carried out during the pandemic and by implementing online learning as recommended by the government. method type and design the method applied in this research is descriptive qualitative with a case study research design, an inductive research perspective, which is centered on exploring and understanding individual meanings and translating the complexity of a problem (creswell, 2010:5). the research will draw/photograph the application of the steam approach by observing each stage of steam implementation in science subjects with the material "simple electrical circuit". cresswel (2012) explains that this research can examine the status of a group of people related to objects, conditions or events that are happening right now (yanuarto, 2018: 15). priyantini et al – steam oriented science learning management… printed issn 2406-8012 134 the subjects in this study were grade 6 students for the 2020/2021 academic year, totaling 20 students. this class was chosen as the research subject because this class as a whole has facilities in the form of gadgets for the application of steam in online learning. the data taken is not only taken from students but also involves parents because parents who directly accompany the learning process during the online system are implemented. table 1. indicators of learning management by implementing steam stage teacher's role role learners method exploration provide opportunities for students to explore interesting things from the material "simple electrical circuits" actively submit proposals/opinions on activities or materials to be studied related to the material "simple electrical circuits" discussion by using zoom meeting generating new ideas (new idea) offer a learning design to accommodate all suggestions and opinions from the exploration stage students provide suggestions from the learning design proposed by the teacher so that the design is more interesting and meaningful discussion by using zoom meeting creating and developing models (innonation) the teacher encourages students to explain what things must be done to the agreed design. students actively describe the things that will be done against the agreed design discussion by using zoom meeting steps of creation (creativity) the teacher gives instructions for students to design simple circuits (parallel and series) students design simple circuits (parallel and series) independe ntly working in their respective homes. drafting plans the teacher provides instructions and opportunities for students to prepare the planned design students design simple electrical circuits independe ntly done in their respective homes and discussed in the wa group communicati on and reflection (communicat ion and reflection) the teacher asks students to communicate/present their work and provide input from the student's presentation. students present their work. presentati on using zoom meeting vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 135 data and data sources the data in this study were obtained from interviews with students and interviews with parents of grade 6 students at sdn kepatihan in 2021 and data obtained by researchers from observations and documentation during the research process. data collection techniques used in this study were interviews and documentation. data collection technique observation the observations used in this study were non-participatory observations. researchers asked parents for help to make observations because conditions did not allow researchers to make direct observations of students. the aspects observed from the informants (students) are as follows: (1) observing the preparation phase (2) observing the implementation of steam-oriented learning (3) observing the stage of making electrical circuit designs in steam-oriented online learning interview data collection techniques through interviews were carried out to explore information related to the development of students during online learning. this interview was conducted by utilizing video call media as a means of conducting interviews. interviews conducted with students were used to obtain information related to the application of steam in online learning. interviews conducted with parents of students were used to obtain information about the support and obstacles faced during the implementation of steam in online learning. documentation is used to capture every stage of the implementation of steam in online learning with the material "simple electrical circuits". the grid of interviews with students conducted by researchers is as follows: table 2. interview grid with students aspect research questions indicator informant implementation of pjj in the science learning process from the point of view of students what do you think about the implementation of online learning? opinion, experience learners which is more comfortable for you to study face to face or online? why? application of steam in the online learning process what tools have you prepared in participating in the online learning process? are you able to operate all the applications found on the gadget? what applications are often used in online learning? inhibiting factors in the application of steam in online learning is the network at your place smooth or does it priyantini et al – steam oriented science learning management… printed issn 2406-8012 136 aspect research questions indicator informant often experience problems? what problems have you experienced in the online learning process? supporting factors in implementing steam in online learning do you have your own hp? suggestions from students for implementing steam in online learning what do you find interesting online learning during this pandemic? the lattice of interviews with parents of students conducted by researchers are as follows: table 3. interviews with parents of students aspect research questions indicator informa nt implementation of online learning in the science learning process from the point of view of students what do you think about the implementation of online learning? opinion, experience student guardia n in your opinion, which one is more effective, online or face-toface learning? application of steam in the online learning process what tools have you prepared for your son/daughter to take part in the online learning process? do you know what applications have been installed on your son/daughter's cellphone? according to your observations, does the application of steam have a positive impact on the development of your son/daughter? inhibiting factors in the application of steam in online learning is the network at your place smooth or does it often experience problems? how much internet quota capacity do you provide each week for your son/daughter? supporting factors in implementing steam in online learning do you always accompany your son/daughter in online learning? vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 137 aspect research questions indicator informa nt suggestions from parents for implementing steam in online learning in your opinion, what are the interesting things about online learning during this pandemic? suggestions from students for the application of steam in online learning in your opinion, what are the interesting things about online learning during this pandemic? data validity test the validity of the data used in this study is to use triangulation of sources. the interviewees in this study were students and parents of participants. in addition, the data will be strengthened by the implementation of documentation during the process of implementing steam in online learning. triangulation has the meaning of comparing and re-checking the level of trust in data generated through different times and tools (patton 1987:331) as well as peer-checking through discussion to enrich information. data analysis the data analysis technique used in this study is a qualitative research data analysis technique with the type of flow model (flow). in the flow data analysis technique, there are two main phases, namely the data collection phase and the post phase(miles, 1994). at the data collection stage, researchers can directly reduce data, display data, group data from data obtained from interviews and documentation and then make initial conclusions from the research conducted. after that stage, the researcher wrote the results of his research on the management of steam-oriented learning in grade 6 sdn kepatihan. result the results of the observation of the preparation stage at this stage, there are several components that need to be prepared, namely: (1) the teacher sends a summary of the material in the form of a printout containing a summary of the material that has been prepared and distributed to parents when the schedule for collecting assignments is as usual. (2) the teacher shares a youtube link containing the material "simple electrical circuits, (3) the teacher sends a zoom meeting link for the implementation of stem-oriented learning, (4) the teacher shares a google form link as a means of observation that must be filled in by parents (5) stage next, the teacher sends a quizz link which contains 15 questions that students have to do the results of observations of the implementation of steam-oriented learning the implementation of steam-oriented science learning is divided into several stages, namely: (1) the implementation of science learning activities in grade 6 at sdn kepatihan as long as steam is implemented is a student activity schedule made by the teacher once a week. the schedule explains in detail what will be done, as well as the activities that will be done by students for one week. the learning resources used are student thematic books borrowed from schools. in addition, in addition, the teacher makes a summary of the material that will be duplicated by as many as students. according to the agreement, every monday the student's guardian will come to school to pick up the schedule of activities and additional materials that have been prepared. in priyantini et al – steam oriented science learning management… printed issn 2406-8012 138 addition to taking the schedule, this opportunity is used to collect the results of student work for one week in the form of a spreadsheet. figure 1: example of class 6 pjj schedule (2) this research begins with conducting interviews on the implementation of distance learning (pjj) which has been carried out by utilizing the google form application. figure 2: observation using google form (3) the next stage carried out by the researchers was to apply the steam approach in teaching and learning activities. this activity begins by dividing students into groups because most students still use their parents' cellphones, which in the morning they have to work and it is not possible to take part in online activities in the morning. so the researcher grouped the students into 2 groups, namely the group in the morning and the group at night. the morning group is students who in the morning do not have problems participating in online activities in the morning. the night group is students who experience problems if they have to take part in online activities in the morning because students don't always carry cellphones. (4) make an agreement with parents that online learning activities in the morning start at 08.00 09.30 wib and the afternoon group starts at 18.30 20.00 wib by using the zoom meeting application. vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 139 figure 3: implementation of class 6 zoom meeting (5) in addition, researchers also made science learning videos with simple electrical circuit material by using the az screen recorder application. by utilizing this application in addition to making learning videos, researchers also combine powerpoint slides in the video. furthermore, this learning video is uploaded to the researcher's youtube channel. students are asked to listen to this learning video through the youtube application. figure 4: learning video with electrical circuit material (1) the results of observations of the stage of making electrical circuit designs in steam-oriented online learning students are asked to draw a simple electrical circuit design that will be photographed and sent to the whatsapp (wa) group to be given input by the teacher or by other friends. priyantini et al – steam oriented science learning management… printed issn 2406-8012 140 figure 5: one example of an image designed by students students begin to start making designs from designs that have been drawn. at this stage, students work alone with parental guidance at home and if they have difficulty, they can consult with the teacher via wa or telephone. students present their work by sending videos of the designs that have been made and students doing trials of the designs. the video is sent via wa to the teacher. the teacher appreciates and provides input via wa. figure 6: students design a simple electric circuit discussion science learning which is usually done in the classroom, which is identical to practice during the current pandemic, must be done online. as a classroom teacher, you must be extra innovative in designing interesting learning methods that students can do at home. during the learning process from home by utilizing various technological media, parents play a very important role as role models in assisting children's learning. many parents complain about the implementation of distance learning (pjj) through online. because they have to play a double role every day, namely working and accompanying their children to study, especially their children who are still small in elementary school age. considering that not all parents of students are accustomed to using technology for learning media, such as not being accustomed to operating laptops, gadgets, etc. the teacher's accuracy in determining the learning method or approach has a very important vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 141 role for the success of learning to actualize the learning outcomes that have been formulated. the presentation method was developed by referring to the learning outcomes to be actualized. the learning management that is made is expected to encourage students to be able to find solutions to real-life problems, both individually and in groups, by implementing knowledge and using technological sophistication as a form of concern and contribution in order to improve the quality of the environment responsibly. for this reason, one approach that can be used to bridge this is a steam-oriented approach model. based on the research findings, the application of steam can be supported by various learning methods. steam which has an integrative nature provides opportunities for various methods in the world of education to be used to encourage their application in learning. therefore, educators must be careful in interpreting any existing material. for this reason, a teacher must first create a conceptual framework for the steam approach. at the elementary school level, the application of the steam approach raises and stimulates students' curiosity through activities that support the process of developing scientific literacy. in addition, activities that apply observation and investigation as one of the most important science skills can also be integrated.(adriyawati et al., 2020,)(susanti et al., 2020)(laforce et al., 2017). the application of steam has also been shown to increase creativity. online learning by implementing steam requires teachers to be able to explore and design interesting and meaningful activities, this encourages teachers to develop into creative teachers. besides teachers who are required to be creative, students are also indirectly required to be creative individuals to be able to answer challenges and complete tasks in steam-oriented online learning (kim & park, 2012)(nurhikmayati, 2019). the implementation of steam raises new challenges in its implementation. the implementation has a tremendous positive impact, but there are several things that must be considered to implement the steam approach in online learning, especially for elementary school students. the application of steam requires equipment that must be prepared before implementing steam, this requires good cooperation between students, parents and teachers as mentors. however, in online learning, parents inevitably become substitute teachers as long as students study at home. however, not all of them have the capacity and ability needed to implement steam. it takes an easy and comprehensive learning media that can help the role of parents in online learning (munawar et al., 2019). conclusion previous research related to steam was carried out using a face-to-face system so that there was direct interaction between students and teachers. in this study, the application of steam was carried out during a pandemic with an online learning system. the findings in this study are expected that many more teachers will apply the steam approach in their classrooms. this research has some limitations. the informants selected in this study were students in one class of 27 students, this made the resulting data less diverse and incomplete. second, the limited ability of both students and parents in operating gadget applications as online learning media. this causes the research to run less smoothly. further research on the application of steam in online learning will be better with more informants and informants who have better mastery of technology so that research can run smoothly. this research has three suggestions. first, during the pandemic, all teachers in indonesia must innovate in designing learning so that students can still learn meaningfully even with online learning. second, the role of parents in online learning is very important to accompany their children as a substitute for a teacher at home. the three roles of experts priyantini et al – steam oriented science learning management… printed issn 2406-8012 142 in the application of steam are needed to create/find learning media that can encourage the implementation of steam. references adriyawati, utomo, e., rahmawati, y., & mardiah, a. (2020). steam-project-based learning integration to improve elementary school students’ scientific literacy on alternative energy learning. universal journal of educational research, 8(5), 1863–1873. https://doi.org/10.13189/ujer.2020.080523 bahri, s., & budiyono, f. (2020). pembelajaran daring pada masa covid-19 di kecamatan kalianget. september, 62–66. billiark, k., hubelbank, j., oliva, t., & camesano, t. (2014). teaching stem by design. advances in engineering education, 4(1), 1–21. busa, y., agusriandi, a., elihami, e., & mutmainnah, m. (2020). facing covid-19 in indonesia: variations of learning media and online teaching learning through you tube and zoom application. journal of critical reviews, 7(19), 7427–7432. daheri, m., juliana, j., deriwanto, d., & amda, a. d. (2020). efektifitas whatsapp sebagai media belajar daring. jurnal basicedu, 4(4), 775–783. https://doi.org/10.31004/basicedu.v4i4.445 daugherty, m. k., carter, v., & swagerty, l. (2014). elementary stem education: the future for technology and engineering education? journal of stem teacher education, 49(1). https://doi.org/10.30707/jste49.1daugherty farwati, r., permanasari, a., firman, h., & suhery, t. (2017). integrasi problem based learning dalam stem education berorientasi pada aktualisasi literasi lingkungan dan kreativitas. prosiding seminar nasional pendidikan ipa, 198–206. iolanessa, l., kaniawati, i., & nugraha, m. g. (2020). pengaruh model problem based learning ( pbl ) menggunakan pendekatan stem dalam meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa smp. wahana pendidikan fisika, 5(1), 113–117. kemdikbud ri. (2020). panduan pembelajaran jarak jauh. kementrian pendidikan dan kebudayaan, 021, 28. https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id/panduanpembelajaran-jarak-jauh/ khaira, n. (2018). pengaruh pembelajaran stem terhadap peserta didik pada pembelajaran ipa. seminar nasional mipa iv, 233–237. kim, y., & park, n. (2012). the effect of steam education on elementary school student ’ s creativity improvement * mechanical mechanism of rube goldberg machine contest. computer applications for security, control and system engineering, 115– 121. kumar, d. d. (2016). analysis of an interactive technology supported problem-based learning stem project using selected learning sciences interest areas (slsia). international journal of education in mathematics, science and technology, 5(1), 53. https://doi.org/10.18404/ijemst.69590 laforce, m., noble, e., & blackwell, c. (2017). problem-based learning (pbl) and student interest in stem careers: the roles of motivation and ability beliefs. education sciences, 7(4). https://doi.org/10.3390/educsci7040092 melati, l. t., warsono, & toto. (2019). pengaruh model problem based learning berbasis stem terhadap penguasaan konsep dan kemampuan berpikir kritis siswa. bioed: vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 143 jurnal pendidikan biologi, 7(2). miles, m. b. (1994). qualitatif data analysis (3rd ed.). sage publications. muhamad, s. v. (2021). pandemi covid-19 sebagai persoalan serius banyak negara di dunia. munawar, m., roshayanti, f., & sugiyanti, s. (2019). implementation of steam (science technology engineering art mathematics) based early childhood education learning in semarang city. ceria (cerdas energik responsif inovatif adaptif), 2(5), 276. https://doi.org/10.22460/ceria.v2i5.p276-285 nurhikmayati, i. (2019). implementasi steam dalam. didactical mathematics, 1(2), 41–50. peserta, c., & smp, d. (2016). implementasi model susan loucks-horsley terhadap communication and collaboration peserta didik smp. unnes science education journal, 5(1), 1079–1084. https://doi.org/10.15294/usej.v5i1.9565 purnamasari, i., handayania, s. s. d., formen, a., pd, m., & da, p. (2020). stimulasi keterampilan hots dalam paud melalui pembelajaran steam. 2008. sari, r.p., tusyantari, n.b., & suswandari, m. (2021). dampak pembelajaran daring bagi siswa sekolah dasar selama selama covid-19 universitas veteran bangun nusantara , sukoharjo. december 2020. https://doi.org/10.37478/jpm.v2i1.732 susanti, d., prasetyo, z. k., & retnawati, h. (2020). analysis of elementary school teachers ’ perspectives on stem implementation. jurnal prima edukasia, 8(1), 40–50. profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 63 analysing skills of planning, conduct, and assessment in teachers during online mathematics teaching rikana sulistyaningrum1*, sutama2, anatri desstya3 1,2,3master of primary education, universitas muhammadiyah surakarta, indonesia *email: rikana.sulistyaningrum@gmail.com submitted: 2020-12-30 doi: 10.23917/ppd.v8i1.13108 accepted: 2021-07-10 published: 2021-07-25 keywords: abstract online learning; pandemic covid19; teacher skill the field of education has been confronted with a difficult situation as a result of the covid-19 pandemic, which has infected hundreds of countries around the world. the government has placed multiple policies to combat the effects of the pandemic, including stopping all face-to-face teaching and replacing them with online learning. this sudden shift has demanded educators to be professional and be skillfully adaptive in their work processes. this issue is over three months during the pandemic, specifically from september to november 2020, whereby six teachers were analyzed. in conclusion, this study found that some teachers were able to utilize online media, while some still struggled with it during the covid-19 pandemic. introduction background early in the year 2020, the whole world began facing the coronavirus (covid-19) pandemic. this virus was first discovered in wuhan, china at the end of 2019 (wiryanto, 2020). early symptoms of this viral infection include high fever, coughing, runny nose, as well as the loss of taste or smell. if the condition is severe, this virus can cause respiratory system failure and even lead to death. as of current, there is no confirmed study as to the origin of this virus. many countries have chosen to conduct lockdowns and to implement social distancing in public areas to prevent the further spread of covid-19. the choice to conduct a lockdown has caused deterioration in multiple governmental sectors as well as public activities, including the education sector (anugrahana, 2020). the education sector is faced with a challenging situation as a result of the current covid-19 pandemic. since the initial discovery of a suspected covid-19 patient in indonesia in february of 2020, all students in indonesia were forced into a study from a home policy from 16 march 2020 and were not allowed to return to school until the situation stabilizes. stepping into the tenth month, there is no indication of the end of this pandemic. case http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:rikana.sulistyaningrum@gmail.com http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v8i1.13108 sulistyaningrum et al. – analysing skills of planning, conduct, and… printed issn 2406-8012 64 numbers continue to rise in all parts of the country, including in surakarta and multiple other surrounding cities. the government demands that educators be more professional during these covid-19 pandemic times (sdn & bulun, 2020). teachers were forced to facilitate technology to continue education processes in each of their classes. they had to be innovative in developing their lesson plan, either in the beginning, core, or closing of each of their activities (kisno et al, 2020). although classes were being done online, teachers had to maintain their professionalism. as all face-to-face learning, from early childhood education, elementary, and even up to undergraduate studies, were halted, all learning processes were done online (engelbrecht et al., 2020). online learning is the virtual conduct of learning that can include a vast target population. online learning can be done extensively and can facilitate unlimited, multiple, and variable learning (yudha & herzamzam, 2020). online learning can be conducted and done either free of charge or not. this situation can be looked at positively and presents as a great opportunity for teachers to explore and learn to facilitate technology in their teaching. in other words, as a result of facing the pandemic, teacher skills of using and facilitating technology-based mediums of teaching can be improved (wijaya et al., 2020). the ministry of education and culture has prepared a specifically designed platform to ensure the continuation of education processes even though schools were closed down. this is done by facilitating information and communication technologies. electronic learning (e-learning) is considered the most appropriate approach for the conduct of education processes throughout the pandemic. in indonesia, the government recommends rumah belajar and spada as e-learning platforms. these platforms are free and were developed by the ministry of education and culture as alternative solutions to learning for both students and teachers. spada is an e-learning platform developed by the ministry of research, technology, and higher education for hei. the indonesian ministry of education and culture has also collaborated with several online learning platforms, including mejakita, icando, ganeca digital, kelas pintar, quipper school, ruang guru, sekolahmu, zenius, cisco webex, and pahamify. all these resources aim to support both students and teachers to successfully conduct studies from home (mailizar et al., 2020). schools that have not prepared e-learning resources have difficulty, especially when teachers do not understand how to use online applications (zaharah et al., 2020). throughout the pandemic, learning processes in public elementary school in surakarta have been conducted using blended learning, whereby a combination of both online and offline learning was done. online learning has been done using the whatsapp application, facilitating its available features such as sending photos, videos, andeducational youtube video links. each class was further divided up into groups and each group had its own whatsapp group. offline learning was done by having small groups of teachers visit students’ homes. however this method is still very limited as the goal of this year’s curriculum is more focused on maintaining the health and wellbeing of all teachers and students, not high educational achievements. problem of study the conduct of remote learning with blended learning has been done in public elementary school in surakarta. this school is located in the middle of the city. however, this strategic location is not able to guarantee the success of e-learning. there are still many students that have limited access to the internet. as a result, teacher home visits present as one alternative to overcome the limitations of remote learning. however, the conduct of home visits by teachers is still limited by the need to follow health protocols set in place to prevent further infection of covid-19. vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 65 state of the art teachers face many challenges when it comes to online teaching. fauzi & kusuma (2020) conducted a study assessing teacher perspectives on online learning in west java. 73.9% of the 45 identified respondents stated that online learning was not effective. challenges associated with online learning include limitations in (1) facilities provided by the school, (2) internet connection, (3) planning, conduct, and assessment of learning processes (fauzi & sastra kusuma, 2020). in another study by quadri et al., 2017, the authors identified barriers to the implementation of e-learning. they classified these barriers into four groups, namely students, instructors, infrastructure and technology, as well as institutional management. the study reported that the most significant barrier was instructors and technology, while students presented as the most insignificant barrier. furthermore, it showed that limited time in developing a proper e-learning system is the most significant barrier to its implementation (naveed et al., 2017). the lack of time available to prepare lessons facilitating technology is a major challenge faced by teachers. hadijah and shalawatu (2017) explored the obstacles experienced by teachers when conducting e-learning. these include the lack of professional development regarding technology, restrictions of physical resources, technical support, and access to technology, as well as limited competency and self-confidence (hadijah & shalawati, 2017). gap study & objective through this study, the authors would like to observe the skills of teachers in facilitating online media for mathematics during lesson planning, the conduct of learning as well as student assessment or evaluation. this topic was chosen by the author as a result of the need for a basic understanding of the skills of teachers in utilizing online media for teaching mathematics during a pandemic. student assessments are regarded as an essential portion of a learning process and should be used by teachers to map each students’ achievements during learning. as an important component, student assessments should always be done by teachers to understand the effectiveness of the learning process (arifin, 2016). the research problem of this study is “how are the skills of teachers in lesson planning, the this study aims to describe the skills of teachers in facilitating online media in mathematics learning processes during the covid-19 pandemic. method this study will utilize a qualitative approach. bogdan and taylor in moleong (2012) defined qualitative methodology as a study approach that provides descriptive data in the form of written or spoken words from the observed subjects (sugiyono, 2020). this study attempts to obtain data that is accurate to the study location and interviewees, thus the author will involve themselves in the environment. the qualitative study method is also known as a naturalistic study as it is conducted in a natural setting (sugiyono, 2020). this method is also known as ethnographic research, as it was originally majorly used in the field of anthropology. the interview method was conducted using a semi-structured model, whereby the author prepared seven questions to query the respondents, which was then followed up with other questions to further explore their responses. these questions are related to (1) the teacher’s identity, (2) the number of students in their class, (3) the facilities available for online study at the students’ homes, (4) the model adopted by the teacher to teach, including for mathematics, (5) their apprehension of information technology (it), (6) problems that they face during online learning, and (7) their methods of assessing students during online learning. the interview was conducted to identify problems or barriers from respondents in teaching mathematics online in a more open way. respondents were class sulistyaningrum et al. – analysing skills of planning, conduct, and… printed issn 2406-8012 66 teachers and were asked to truthfully discuss problems that they faced throughout teaching in the middle of the covid-19 pandemic period. data was collected through the author’s observation by compiling items that contained actions and events experienced by the respondents during online learning. the author prepared several observational indicators correlated to the teacher’s role, (1) teachers as educators, instructors, mentors, and theory providers for students, (2) teachers must be able to motivate students, and (3) teachers must be able to develop students’ communication skills. the author conducted moderate participation observation, in which there is a balance between their role as both an active part of the group and a passive outsider observing in (sugiyono, 2020). the author collected data by participant observation in some of the respondent’s tasks, although not all of them. the author also collected data through document analysis. these documents are in the form of lesson plans, also known as rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp). in addition, the author also analyzed photos of student’s assignments sent to the teachers through whatsapp, as well as those sent to the school by parents. the author analyzed the collected data utilizing the cresswell model. cresswell (2012) mentions that this method of study is able to observe a group of humans that interacts with objects, conditions, or events that are currently happening (sugiyono, 2020). the data collected are results of author observation, conducted interviews, and documentation from the teachers in an elementary school in surakarta. data was observed as a whole and then grouped and coded accordingly for description. the population of interest is teachers in a public elementary school in surakarta totaling six people, who taught year one to year six. this study will be describing the skills of these teachers in facilitating online media for the purposes of mathematics learning processes. result the conduct of mathematics learning processes throughout the covid-19 pandemic period by teachers in public elementary school in surakarta is as follows. lesson planning lesson planning was done following guidelines for emergency lesson planning, known as rpp darurat, which only picks out essential topics of study. generally, all core topics from the 2013 curriculum for mathematics were included in the rpp darurat. however, not all of the topics were able to be delivered maximally as there was a limit in time. at the beginning of the 2020/2021 academic period, the teacher’s association in banjarsari subdistrict in surakarta conducted a workshop to draw up a standardized lesson plan that is adaptive to the covid-19 pandemic. this was in line with directions from the ministry of education and culture, where all learning processes must be customized and simplified to adapt to virtual learning. teachers in public elementary school in surakarta also developed a lesson plan that excluded usual components, including an opening, core objective, and closing. the lesson plan prepared by the respondents was rpp for mathematics that was integrated into thematic rpp for younger students (years 1, 2, and 3), and mathematics specialized rpp for older students (years 4, 5, and 6). a few of the teachers prepared specialized notes on the steps and learning objectives for each mathematics lesson, although some did not. for the younger classes, mathematics lessons were integrated with other subjects according to the thematic rpp, with steps as follows. these are the steps for the year 2 lesson plan theme 1, subtheme 3, topic 4 learning activity. vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 67 table 1. the steps for the year 2 lesson plan theme 1 offline online combination 1. the teacher prepares an educational video on imperative sentences, addition and subtraction, and techniques of coloring. 2. the teacher provides assignments through an online portal/use of google forms or using whatsapp application, which includes: a. students are asked to identify imperative sentences that are said by the ceremonial commander in a youtube video. b. students are asked to work on addition and subtraction practice questions on page 121 of their workbooks. c. students are asked to color on a picture. 3. parents report on their children’s work to their respective teachers. 4. teachers collect completed assignments and assesses them. the above online lesson plan for year twos facilitates gadgets already owned by the students. teachers send materials through educational videos, and assignments are sent through whatsapp group conversations between teachers and student guardians. the following is an example of the steps for the year 5 lesson plan chapter 3 following basic competency 3.3. it compares two different units of measurement (speed as the division of distance over time, and debit as a division of volume over time). these are the steps for the year 5 chapter 3 mathematics subject lesson plan. table 2. the steps for the year 5 lesson plan chapter 3 mathematics offline online combination 1. teachers hand out materials on comparing the two different units of measurement (speed as the division of distance over time, and debit as a division of volume over time). 2. teachers give out questions regarding the two different units of measurement (speed as the division of distance 1. teachers use educational videos available from youtube about comparing the two different units of measurement (speed as the division of distance over time, and debit as a division of volume over time). 2. teachers develop educational videos about comparing the two different units of measurement (speed as the division of distance over time, and debit as a division of volume over time) that will be shared through their personal youtube channels or through the whatsapp groups. 3. using google forms, students will work on questions regarding the 1. teachers hands out materials regarding the comparison of the two different units of measurement (speed as the division of distance over time, and debit as a division of volume over time). 2. through video calls, teachers give out questions on the comparison of the two different units of measurement (speed as the division of distance over time, and debit as sulistyaningrum et al. – analysing skills of planning, conduct, and… printed issn 2406-8012 68 offline online combination over time, and debit as a division of volume over time). 3. teachers give out story-based problem-solving tasks regarding the comparison of two different units of measurement (speed as the division of distance over time, and debit as a division of volume over time). comparison of the two different units of measurement (speed as the division of distance over time, and debit as a division of volume over time). 4. teachers utilize live video calls to give students assessments on comparison of the two different units of measurement (speed as the division of distance over time, and debit as a division of volume over time). a division of volume over time) to students. using google forms, students work on questions regarding the comparison of two different units of measurement (speed as the division of distance over time, and debit as a division of volume over time). in the lesson plan developed for older students, there are different alternatives available for the conduct of learning processes, such as the use of offline learning through home visits, online facilitating gadgets, or using a combination of the two systems, conduct of learning processes the learning process was conducted using a combination of both systems, also known as blended learning. in regard to this, each student has a chance to meet face-to-face with their teacher once a week in groups of five to six students. teachers conduct home visits according to those groups as well, with a maximum time limit of two hours, as directed by the surakarta ministry of education. the rest of the learning processes are conducted online through the use of whatsapp. this application was chosen as most students and their guardians are already familiar with the application. thus, it was hoped that all students would be able to access the study materials given by the teachers in a short amount of time. it would be especially easy if the parents own the phone and have it on their person at all times. this would allow students to access tasks sent through by their teachers while their parents are home, either before or after the parents leave for work. the lesson plan also describes the use of whatsapp by sending links to readily available educational videos, or videos that have been recorded by the teachers themselves. the following is an example of an assignment given by a teacher through a class’s whatsapp group. vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 69 figure 1. example of an assignment discussion during online mathematics class. figure 1 shows an example of online conversations through chats conducted by teachers during mathematics lessons. teachers only need to deliver study materials that the students would need to study independently, this can be done when the study materials contain sufficient theory for the students to read, understand and memorize. some teachers facilitate the whatsapp groups to send videos regarding how to solve an example problem. there are also teachers that facilitate whatsapp to send through youtube links about the current mathematics topic to ease independent learning by the students. one advantage to using this media is that students would be able to watch the videos repeatedly to fully comprehend study materials sent through by their teachers, although this method of learning is less interactive as it is not conducted synchronously (teacher and students are not in the same place at the same time). results from the interview done by the author are as follows. teachers experienced some difficulties in conducting mathematics classes. out of all the questions queried by the author, it was found that almost all teachers found difficulty in using the whatsapp application to deliver study materials. it assisted teachers when the material that was to be delivered had an existing youtube video. however, if teachers were unable to find an sulistyaningrum et al. – analysing skills of planning, conduct, and… printed issn 2406-8012 70 appropriate example video, then they had to be innovative and creative by developing their own videos independently. through interviews with ad, who is a year 3 teacher, and ri, a year 5 teacher, similar information was collected, in which they both used existing youtube video links as well as their independently made videos. both teachers were between 35 to 40 years old and were very familiar with phone applications. on the other hand, in the interview with km, who was a 53-year-old year 2 teacher, it was found that they did not facilitate existing youtube videos as much as the previous two teachers. ks delivered mathematics study materials through home visits. km mentioned that their difficulty in facilitating online media stemmed from their unfamiliarity with phone applications. in addition, they were also hesitant to learn about the use of online media as they were easily sick and felt physically limited. through interviews with the three other teachers, namely ar (teacher year 1), st (teaches year 4), and nh (teaches year 6), it was found that all three facilitated whatsapp only for delivering assignments. to provide study materials, they chose to conduct it faceto-face through small group home visits. the following are excerpts of the interviews done with the teachers in public elementary school in surakarta. table 3. the result of interviews with the teachers interview with ar, year 1 teacher interviewer: “how is the mathematics learning process in year 1? what model did you choose to conduct the learning process?” respondent: “among the year 1 students, not all are fluent in reading, writing, and counting, making it difficult for us to teach only through online learning. especially to teach mathematics, a special technique is required so the students understand how to count properly. that is why for the mathematics subject, lessons are done offline through home visits” interview with km, year 2 teacher interviewer: “why do you choose to conduct face-to-face teaching for mathematics? do you find it difficult to use online media?” respondent: “i am not too familiar with the applications on my phone. rather than having difficulties creating or finding an appropriate video to teach, i am more comfortable in teaching mathematics face-to-face.” interview with ad, year 3 teacher interviewer: “how is the year 3 students’ enthusiasm with online learning for mathematics? what were the difficulties you faced when teaching the subject?” respondent: “the students are less enthusiastic in learning to count using online methods, especially when they have to work on story-based questions. parents that find it difficult to help their children would complain. that is why during home visits, i would always focus more on mathematics, as most students would require more direct guidance from their teachers.” interview with sm, year 4 teacher interviewer: “how is the learning process for mathematics in year 4? what model did you choose for teaching?” respondent: “i tried to deliver study materials by taking videos from youtube, but turns out that study results from students are still less than expected as the materials for year 4 mathematics are very complex and they need to be taught step-by-step on how to solve each of the practice questions.” vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 71 interview with ri, year 5 teacher interviewer: “what difficulties did you find during online learning with the year 5? how are the results of student assessments of mathematics in your class?” respondent: “mathematics is supposed to be a fun subject if teachers have a special trick to teach their students. however, because face-to-face lessons with the year 5 are very limited, i helped them by providing examples on how to solve practice questions, either through existing videos from youtube or my independently developed simple videos. the result of the student assessments is merely on knowledge alone, and i am not able to judge on skill or honesty of the students in answering the questions, as a lot of the assignments students may get help from their older siblings or from their parents. however, i can still give assessments on the students’ attitude during home visits.” interview with nh, year 6 teacher interviewer: “how do you conduct student assessments for mathematics through online learning?” respondent: “the marks that i give for mathematics lessons are merely to judge their cognitive, knowledge, and skills. this is because face-to-face interaction is so limited. however, from the way or process of solving the mathematics problems, i can see the discipline of my students. the results are not as satisfying, but it is understandable as mathematics require accuracy and a high level of understanding.” generally, some of the younger teachers are still able to create their own educational videos using applications on their personal phones. however, for a teacher that is older, they are generally more reluctant to learn how to facilitate the applications on their phones. this often causes difficulty during the mathematics learning process. to overcome this difficulty, teachers of sd n conducted face-to-face learning for mathematics using home visits. in addition, some teachers also facilitated existing videos on youtube by sharing their links. student assessment during student assessment, teachers send through assignments according to the materials that have been previously discussed. the tasks are sent through in the form of photos or documents that need to be accessed by the guardians’ respective phones. a problem arises when the guardian’s phones do not have the same application as the teachers’, and thus are unable to access the sent documents. results of the mathematics learning process are sometimes not as satisfying as hoped. according to the syllabus, each theme of mathematics study is to be done in a minimum of 10 learning hours (kurikulum, 2017). meanwhile, it is very difficult to conduct face-to-face studies during the pandemic. this leads to difficulties in knowing how well students are able to solve the mathematics problems, as it is a subject that requires assessment of a whole process, not just the results of the work (muthy, 2018). students are forced to practice independently as guidance from teachers is very limited. this causes students to often not work on their assignments as maximally as they can, solving questions with less appropriate processes or even with steps that are incorrect. this causes their mathematics knowledge to be less than optimal. this is the core source of the problem, whereby students require repeated explanations from their teachers to fully understand learning materials in mathematics. as a result, if learning is only done online without face-to-face interaction with the teacher, only a small portion of students would be able to obtain a good understanding of mathematics. discussion sulistyaningrum et al. – analysing skills of planning, conduct, and… printed issn 2406-8012 72 results of this study in sd n in surakarta found that the conduct of mathematics learning processes during the pandemic faces many challenges. lesson planning that was done is known as emergency rpp and adapts to the conditions and situation of the current covid19 pandemic, in which only essential study materials are delivered. in the conduct of the mathematics lesson, the minimal face-to-face interaction led to less than maximal student achievement. this was because students required more guidance from teachers to learn and understand the many materials in mathematics (hasbullah, 2017). mathematics knowledge is very beneficial for all individuals in day-to-day life and is used by everyone. life skills can be obtained through an understanding of mathematics since young. it is always associated with all daily activities, ranging from simple activities such as cooking rice and measuring the right amount of water, to the measuring of cement, water, and sand ratios in building houses. the lesson contents in the 2013 curriculum with the concept of independent study that was introduced by the minister of education and culture, nadiem makarim, provide schools and teachers to decide on their own educational targets. especially in the midst of this pandemic, the emergency curriculum allows schools the freedom to choose which are the essential topics. however, in regards to teaching mathematics, teachers of sd n find that online learning is not effective. the mastery of mathematics concepts by students especially in younger classes can be done through games, with three stages as follows; a) understanding of concepts using things and concrete events, b) the process of concrete thinking during the transition period by introducing the shapes of its symbols, c) the visualization of symbols, such as integers as numbers and colors to describe the size of a room (amalina, 2020). an interesting and stimulating learning process of mathematics would generally facilitate learning tools such as toys, including artificial media bundaran pecahan, kaliberkuon, taktik butarna, and so on. the study entitled repeated subtraction for year 2 students showed that the game bubble match helped students to understand division as a concept of repeated subtraction (anugrahini & windrawanto, 2017). this mastery of concepts is difficult to be done without direct interaction between students and teachers. this is why it would be difficult for teachers to assess their students’ understanding of a concept through online learning. teachers are faced with a situation that demands them to be more creative in providing knowledge to their students. teachers need to learn more about online media that can be facilitated in the learning process of mathematics. the study by mailizar et al., (2020) states that in those with more experience, it is important to develop necessary skills so that lessons are more effective (mailizat et al., 2020). this is in line with what is happening in sd n surakarta, whereby reluctance to expand skills is more apparent in more senior teachers. in the student assessment of mathematics, teachers in sd n merely conducted tests to fill out their grading forms. indicators of competence are supposed to include several aspects, including cognitive, affective, and psychomotor skills. these are less able to be observed. assessments of the study process are often not conducted. this happens because teachers are not directly involved in ensuring the skills of students in solving mathematics problems. the biggest negative impact to come from this is that students will not be fully equipped with the necessary skills. many tests that were originally supposed to be done by the students are suddenly canceled or postponed. the curriculum achievements that were targeted are not fulfilled, and for those students who have mastered many concepts or skills, they are not able to obtain their proper grades. the readiness of teachers in facilitating online learning media for mathematics is highly necessary. teachers must try to improve and develop their technology-based skills and are demanded to be able to conduct effective learning processes even when they cannot meet vol. 8 no. 1, 2021 online issn 2503-3530 73 face-to-face with their students (syah, 2020). in the 5th national seminar for mathematics and mathematics studies (senatik) 2020, murtafiah et al., (2020) provided the results of their study on the delivery of mathematics lessons by teachers throughout the covid -19 pandemic. types of material delivery methods include: 1) the technique of material delivery that is dominantly done by teachers include uploading materials, uploading videos, and asking students to open books or workbooks; 2) platforms that has been effectively used to deliver materials include whatsapp, google classroom, zoom, and youtube; 3) teachers often directs students to learn independently by facilitating the applications whatsapp, google classroom, and youtube that can be accessed by students at any time in their own homes, 4) the delivery of materials that are beneficial, according to teachers are uploading videos with materials, a multi-strategy approach (using a combination of multiple platforms), and asking students to open books or workbooks (murtafiah et al., 2020). to overcome problems in learning processes that are correlated to the limited teacher skills, the author suggests that: 1) steps to the conduct of mathematics online learning should be prepared as effectively as possible. teachers cannot burden students with independent tasks that are supposed to be obtained in school through conventional methods, which is through explanations from teachers, or other methods that are aimed to increase the active participation of students in school. the teacher can be present temporally through the conduct of home visits in small groups; 2) teachers have to make an effort to develop their skills, especially in the use of online media for mathematics learning processes, 3) schools as an institution that organizes the delivery of education is responsible for facilitating the different changes that occur as a result of the shift from a school-centered study to a home-centered study. conclusion the conduct of remote learning processes or online learning for mathematics in sd n in surakarta was done with several limitations. in addition to some students being underfacilitated, the skills of teachers in utilizing online media is also a problem in itself. during lesson planning, teachers prepare lesson plans in a very simplistic manner by only choosing essential materials only. the conduct of mathematics learning processes in sd n surakarta was done with a blended learning system, in which for older classes, offline systems were still done using home visits. this was because students still required direct interaction with teachers in the process of learning mathematical concepts. student assessments during the covid-19 pandemic were done based on the readiness and skills of teachers in facilitating technology. assessments for cognitive, affective, and psychomotor aspects were not effectively done. assessments were done only as an accountability report to the schools, students, and parents. a positive impact of online mathematics learning is that teachers are pushed to be more creative and innovative. although some parties are still reluctant to improve their skill, generally teachers will still be motivated to try their best in delivering study materials to their students in limited situations and with a lack of face-to-face interaction. references amalina, a. (2020). pembelajaran matematika anak usia dini di masa pandemi covid-19 tahun 2020. jurnal obsesi : jurnal pendidikan anak usia dini, 5(1), 538. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i1.592 anugrahana, a. (2020). hambatan, solusi dan harapan: pembelajaran daring selama masa pandemi covid-19 oleh guru sekolah dasar. scholaria: jurnal pendidikan dan kebudayaan, 10(3), 282–289. https://doi.org/10.24246/j.js.2020.v10.i3.p282-289 anugrahini, m., & windrawanto. (2017). pengembangan game bubble match sebagai media pembelajaran pembagian dalam bentuk pengurangan sulistyaningrum et al. – analysing skills of planning, conduct, and… printed issn 2406-8012 74 berulang untuk siswa kelas 2 sd. journal on mathematics education, 4(1),75– 83. arifin, z. (2016). evaluasi pembelajaran : prinsip, teknik, dan prosedur (p. latifah (ed.); 7th ed.). pt remaja rosdakarya. hadijah, s., & shalawati. (2017). investigating teachers’ barriers to ict (information communication technology) integration in teaching english at senior high schools in pekanbaru. proceeding of the fifth international seminar on english language teaching (iselt-5), 5(1), 302–310. hasbullah. (2017). iejme_1984_article_5a2e491db1167. 12(10), 859–872. kisno, k., turmudi, t., & fatmawati, n. (2020). pelaksanaan penilaian matematika di sekolah dasar selama masa pandemi. martabat: jurnal perempuan dan anak, 4(1), 97–110. https://doi.org/10.21274/martabat.2020.4.1.97-110 kurikulum, t. p. (2017). silabus matematika sekolah dasar kurikulum 2013 (2017th ed.). dikdasmen. mailizar, almanthari, a., maulina, s., & bruce, s. (2020). secondary school mathematics teachers’ views on e-learning implementation barriers during the covid-19 pandemic: the case of indonesia. eurasia journal of mathematics, science and technology education, 16(7). https://doi.org/10.29333/ejmste/8240 murtafiah, w., suwarno, s., & lestari, n. d. s. (2020). exploring the types of a material presentation by teachers in mathematics learning during the covid-19 pandemic. journal of physics: conference series, 1663(1). https://doi.org/10.1088/17426596/1663/1/012043 muthy, a. n. & p. h. (2018). jurnal math educator nusantara ( jmen ). jurnal math educator nusantara, 4(2), 157–167. naveed, q. n., muhammed, a., sanober, s., qureshi, m. r. n., & shah, a. (2017). barriers effecting successful implementation of e-learning in saudi arabian universities. international journal of emerging technologies in learning, 12(6), 94–107. https://doi.org/10.3991/ijet.v12i06.7003 sdn, a., & buluh, t. (2020). efforts to improve teachers’ competence in preparing lesson plan during the covid-19 pandemic through in house training. pendidikan dan pengajaran, 4(november), 1259–1266. http://dx.doi.org/10.33578/pjr.v4i6.8191 sugiyono. (2020). metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d (sutopo (ed.); 2nd ed.). alfabeta. syah, r. h. (2020). dampak covid-19 pada pendidikan di indonesia: sekolah, keterampilan, dan proses pembelajaran. salam: jurnal sosial dan budaya syar-i, 7(5). https://doi.org/10.15408/sjsbs.v7i5.15314 wijaya, t. t., ying, z., purnama, a., & hermita, n. (2020). indonesian students’ learning attitude towards online learning during the coronavirus pandemic. psychology, evaluation, and technology in educational research, 3(1), 17–25. https://doi.org/10.33292/petier.v3i1.56 wiryanto. (2020). proses pembelajaran matematika di sekolah dasar di tengah pandemi covid-19. jurnal review pendidikan dasar: jurnal kajian pendidikan dan hasil penelitian, 6(2), 125–132. yudha, c. b., & herzamzam, d. a. (2020). learning mathematics in pandemic covid-19. jpd: jurnal pendidikan dasar, 1(1), 1–15. zaharah, kirilova, g. i., & windarti, a. (2020). dampak wabah virus corona terhadap kegiatan belajar mengajar di indonesia. salam: jurnal sosial dan budaya syar’i, 7(3), 269–282. http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/salam/article/view/15104/0 e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 112 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 112 121 penerapan mengarang terbimbing model kwl (know, want, learned) untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi nana sutarna stkip muhammadiyah kuningan nana@upmk.ac.id abstract skill of student writing narrative essay in class iv elementary school cengal iii, district kuningan, yet reached at the expected level. one of the ways that deems appropriate to solve the problem was through the application of learning guided writing by kwl model with picture media. this research used classroom action research with using of qualitative approach. classroom action research design used refers to kemmis and mc taggart model started with planning, action, observation, and reflection. the research instrument used were the student activity observation guidelines, interview, field notes, and questions. then the collected data were processed and analyzed. while checking the validity of the data using triangulation techniques, member checks, and expert opinion. through the application of learning guided writing by kwl model with picture media in narrative essay, student learning outcomes class iv elementary school cengal iii can increase. this was evidenced by the increasing number of students who were otherwised completed on each cycle, started from preliminary data as many as three students or 15%, the first cycle increased to 9 people or 45%, on the second cycle increased to 18 people or 90%. keywords: kwl model, writing essay, picture media pendahuluan menulis merupakan salah satu bentuk keterampilan berbahasa, yang merupakan hal penting dalam pembelajaran bahasa indonesia di sekolah dasar. suriamiharja (dalam djuanda, 2007: 180) mengatakan bahwa “menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan”. dengan demikian menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. tinggi rendahnya kemampuan menulis dipengaruhi oleh intensitas pembinaan dan latihan yang dilakukan. dengan kata lain, kemampuan menulis tidak mungkin timbul secara alami, tetapi memerlukan latihan dan pembinaan. salah satu kemampuan menulis yang menjadi perhatian adalah menulis karangan narasi. sebagaimana yang digariskan dalam kurikulum mata pelajaran bahasa indonesia di sd, siswa harus mempunyai perbendaharaan kata yang cukup kaya dengan diperkenalkan banyak kosakata. sejalan pula dengan pelajaran bahasa indonesia, kosakata mulai diperkenalkan sejak kelas 3 sd. semakin tinggi tingkatan kelas, kosakata yang harus dimiliki siswa harus semakin bertambah. untuk memperkaya kosakata pada siswa, pembelajaran mengarang merupakan salah satu kegiatan yang cukup efektif. dengan membuat suatu karangan siswa akan mencari dan memilih kata-kata yang sesuai untuk karangannya. kata-kata yang disusun menjadi kalimat-kalimat yang utuh, padu dan jelas akan mudah dipahami oleh para pembaca. rumaningsih (2012: 21) berpendapat bahwa mengarang adalah suatu penyampaian mailto:nana@upmk.ac.id mailto:nana@upmk.ac.id p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan mengarang terbimbing.....(nana sutarna) 113 pikiran secara resmi dan teratur melalui ucapan/tulisan atau suatu usaha penyajian pembicaraan yang luas tentang suatu pokok persoalan secara lisan atau tulisan. karangan selalu berbentuk uraian atau paparan, suatu bentuk yang dengan sendirinya merupakan hasil rancangan pembicaraan atau penulisan dengan kegunaan tertentu. sulaiman (2013:210) mengatakan bahwa agar kita mengarang dengan baik, persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah penguasaan kalimat, pilihan kata, logika, efektivitas, dari ketetapan penulisannya. berdasarkan cara-cara penyampaian gagasan, pesan yang sesuai dengan tujuan mengarang, pada umumnya tulisan dapat dikelompokan atas empat macam jenis karangan, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi. narasi adalah suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalani dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu kesatuan waktu. atau suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan yang sejelas jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi. tujuan keterampilan narasi secara khusus juga terdapat pada jenis narasi yang ada. jenis tulisan narasi berdasarkan tujuannya terdiri dari narasi ekspositoris dan narasi sugestif. gorys (2010: 136-137) menyatakan bahwa narasi ekpositoris bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan, sedangkan narasi sugestif bertujuan untuk memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu sebagai suatu pengalaman. keterampilan menulis narasi pada setiap jenjang pendidikan memiliki tujuan yang berbeda-beda. rini kristiantari (2010: 106), membagi tujuan pembelajaran menulis di sd menjadi tujuan menulis permulaan dan menulis lanjut. tujuan menulis permulaan adalah agar siswa mampu mentranskripsikan lambang bunyi bahasa lisan ke dalam bahasa tertulis. tujuan menulis lanjut adalah membina para siswa agar mampu mengekspresikan perasaan dan pikirannya ke dalam bahasa tulis. namun kenyataan di lapangan dalam proses pembelajaran menulis karangan, masih ditemukan adanya beberapa kendala dan hambatan. kendala dan hambatan yang muncul selain bersumber dari keterbatasan kemampuan siswa, juga dipengaruhi oleh kemampuan guru terutama dalam pemilihan bahan ajar. biasanya yang dilakukan guru dalam memilih bahan ajar tidak disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kemampuan siswa dan tidak menggunakan media sehingga tidak dapat menarik dan merangsang aktivitas siswa. berdasarkan hasil penelitian awal yang dilakukan melalui pengamatan terhadap proses pembelajaran dan pelaksanaan tes menulis karangan terlihat bahwa pembelajaran mengarang yang dilaksanakan di sd negeri cengal iii tahun pelajaran 2015/2016 perlu mendapatkan perhatian melalui pengorganisasian pembelajaran yang matang. dari komponen pembelajaran yang meliputi siswa, guru, tujuan, materi/ bahan ajar, metode, media, dan evaluasi; yang dapat menjembatani hubungan guru dan siswa adalah komponen metode/ teknik pembelajaran. metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. belajar produk pada umumnya hanya menekankan pada segi kognitif. sedangkan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 114 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 112 121 belajar proses dapat memungkinkan tercapainya tujuan belajar baik segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. dalam hal ini guru dituntut agar mampu memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. untuk melaksanakan proses pembelajaran perlu dipikirkan metode pembelajaran yang tepat. menurut sumiati dan asra (2009: 92) ketepatan penggunaan metode pembelajaran tergantung pada kesesuaian metode pembelajaran materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber atau fasilitas, situasi dan kondisi dan waktu. kenyataan tersebut perlu mendapat perhatian berupa suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan. maka diambil salah satu alternatif yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan kemapuan mengarang siswa kelas iv sd negeri cengal iii, yaitu melalui penerapan mengarang terbimbing model kwl. kaitannya dengan hal tersebut, pembelajaran mengarang terbimbing model kwl dianggap dapat 1) menarik perhatian siswa sehingga termotivasi untuk mengungkapkan perasaannya ke dalam bentuk tulisan; 2) mudah didapat, murah, dan tidak sulit untuk mempergunakannya; 3) tidak bersifat abstrak; 4) membantu membangkitkan minat siswa untuk mengarang. bahan yang akan dapat dijadikan stimulus dalam pembelajaran mengarang terbimbing lebih disukai. menurut thorndike dalam karwono (2010: 50) bahwa yang menjadi dasar terjadinya belajar adalah adanya asosiasi atau menghubungkan antara kesan indera (stimulus) dengan dorongan yang muncul untuk bertindak (respon) yang disebut dengan connecting. stimulus yang terjadi setelah sebuah perilaku terjadi akan mempengaruhi perilaku selanjutnya. perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu yang dapat diamati, yang terjadi karena hubungan stimulus dan respon. perilaku itu dapat diperkuat, dibiasakan dengan memberikan penguatan”. model kwl ditujukan untuk meningkatkanketerampilansiswamenuliskan ide, kata-kata kunci atau fase yang berkaitan dengan suatu topik dalam kegiatan curah pendapat (brainstorming), kemudian pesan yang didapat dituliskannya ke dalam tabel kwl. model kwl memberikan kepada siswa tujuan membaca dan memberikan peran aktif siswa sebelum, saat, dan sesudah membaca. model ini membantu mereka memikirkan informasi baru yang diterimanya dan juga bisa memperkuat kemampuan siswa mengembangkan pertanyaan tentang berbagai topik. model kwl dikembangkan oleh ogle (1986) untuk membantu guru menghidupkan latar belakang pengetahuan dan minat siswa pada suatu topik. model kwl melibatkan tiga langkah dasar yang menuntun siswa dalam memberikan suatu jalan tentang apa yang telah mereka ketahui, menentukan apa yang ingin mereka ketahui, dan mengingat kembali apa yang mereka pelajari dari membaca suatu topik. model know want learned menurut blachowicz dan ogle (2008: 113-114) memiliki beberapa karakteristik yang meliputi: (1) kwl merupakan sebuah proses yang menempatkan guru sebagai model dan terlibat aktif pada teks; (2) pembelajaran model kwl dilakukan menggunakan format k-w-l; (3) guru dan siswa memulai proses belajar bersama dengan brainstorming terkait apa yang mereka tahu (know) pada kolom k-w-l tentang suatu topik; (5) peran guru bukan untuk mengevaluasi atau p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan mengarang terbimbing.....(nana sutarna) 115 memperbaiki tetapi merangsang siswa untuk berpikir secara luas tentang apa yang mereka pelajari; (6) guru juga berperan dalam membantu siswa mengaktifkan pengetahuan dan mengembangkan minat pada topik. menurut rahim (2009: 41) model know want learned (kwl) memiliki tiga langkah yang mendasar, di antaranya sebagai berikut: (1) know (apa yang diketahui) merupakan kegiatan menggali pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki terkait topik; (2) want to learned (apa yang ingin dipelajari) merupakan langkah dimana guru mengajak siswa menyusun tujuan. (3) what i have learned merupakan tahap setelah membaca. langkah ini merupakan langkah untuk menemukan tujuan. adapun media yang digunakan dalam penerapan model ini yaitu menggunakan media gambar. menurut arsyad (2011) media gambar termasuk dalam bentuk visual berupa gambar representasi seperti gambar, lukisan, atau foto yang menunjukkan bagaimana tampaknya suatu benda.. gambar ini dapat dipergunakan oleh guru untuk memberikan gambaran tentang manusia, tempat, atau segala sesuatu sehingga penjelasan guru lebih konkret. kelebihan gambar menurut hastuti adalah: (1) dapat menterjemahkan ide-ide abstrak ke dalam bentuk yang lebih nyata, (2) banyak tersedia dalam buku-buku, majalah, koran, katalog, atau kalender, (3)gambar sangat mudah dipakai karena tak membutuhkan peralatan, (4) gambar relatif tidak mahal, (5) dapat digunakan untuk semua tingkat pengajaran dan bidang studi. berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan memilih permasalahan tentang keterampilan menulis karangan narasi dengan menerapkan model kwl (know, want, learned) menggunakan media gambar pada siswa kelas iv sekolah dasar. metode penelitian penerapan mengarang terbimbing model know want learned dalam penelitian ini dilakukan melalui penelitian tindakan kelas. menurut arikunto (2006: 3), “...penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap tindakan kelas berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan”. subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas iv sdn cengal iii, yang terdiri dari 11 siswa laki-laki, 9 siswa perempuan dan seluruhnya berjumlah 20 siswa. latar belakang kehidupan ekonomi orang tua siswa, rata-rata kelas menengah ke bawah dan sebagian besar mata pencahariannya adalah wiraswasta. sedangkan latar belakang pendidikan orang tua siswa, sebagian besar lulusan sma. prosedur penelitian berbentuk siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. dalam penelitian ini peneliti menggunakan model spiral kemmis dan taggart (dalam wiraatmaja, 2005: 6), yaitu model siklus yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan. seperti tampak pada gambar 1. gambar 1. adaptasi model spiral kemmis dan taggart (wiriaatmadja, 2005: 66) e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 116 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 112 121 arikunto (2006: 20) mengungkapkan bahwa dalam penelitian tindakan kelas ada empat tahapan penting, yaitu (1) menyusun rancangan tindakan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). secara lebih rinci prosedur penelitian tindakan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut. pada tahap menyusun rancangan, dilaksanakan dengan menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. tahap-tahap kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan tindakan adalah: penetapan bukti keberhasilan tindakan, penetapan jenis tindakan, pemilihan metode dan alat pengumpul data dan perencanaan teknik pengolahan data. setelah data-data terkumpul langkah berikutnya dari data tersebut segera dianalisis. teknik analisis data yang digunakan bersifat kualitatif. yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata. tahap pelaksanaan tindakan merupakan tahap implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu melaksanakan tindakan di kelas. kegiatan observasi dilakukan secara bersamaan dengan pelaksanaan tindakan, karena pada dasarnya kegiatan observasi adalah mengamati segala sesuatu kegiatan yang sedang berlangsung ketika guru melaksanakan tindakan yang telah direncanakan pada tahap sebelumnya, ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kinerja guru dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran menulis karangan serta untuk mengumpulkan atau merekam data dan membuat catatan lapangan yang lengkap mengenai hal-hal yang terjadi selama proses pembelajaran menulis karangan berlangsung. observasi merupakan teknik yang paling tepat untuk mengumpulkan data tentang proses kegiatan. penelitian tindakan kelas ini lebih cenderung mengikuti paradigma kualitatif (disebut fenomenologi), sehingga datangnya cenderung dinominasi data kualitatif. tahap refleksi merupakan tahap kegiatan untuk menganalisis, interprestasi dan ekplanasi (penjelasan) terhadap semua informasi yang diperoleh selama pelaksanaan tindakan (kasbolah, 1998: 74). informasi yang berhasil didokumentasikan, selanjutnya perlu diurai, diuji dan dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya, kemudian dikaitkan dengan teori tertentu atau hasil penelitian yang relevan. hasil informasi atau data yang sudah dianalisis, sintesis, kemudian melalui proses refleksi akan ditarik kesimpulan. pada penelitian ini, tahap refleksi sangat penting untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai hasil tindakan yang telah dilakukan dalam pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan mengarang terbimbing model know want learned. refleksi juga bermanfaat bagi peneliti dalam melakukan tindakan berikutnya sebagai umpan balik bagi tindakan berikutnya. dalam kegiatan ini, peneliti menggunakan instrumen penelitian yakni berupa lembar wawancara, lembar observasi, catatan lapangan, lembar kerja siswa, dan lembar tes. lembar wawancara berisi sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh data yang dapat diungkapkan secara lisan. dalam hal ini kegiatan wawancara dilakukan baik kepada siswa untuk mengetahui minat dan tingkat kemampuan siswa kelas iv sdn cengal iii dalam menulis p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan mengarang terbimbing.....(nana sutarna) 117 karangan. melalui kegiatan wawancara ini dapat diketahui hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dan guru dalam proses pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan pembelajaran mengarang terbimbing model know want learned. lembar observasi adalah sebuah format yang telah disusun dan berisi itemitem tentang kejadian-kejadian yang menggambarkan tingkah laku guru dan siswa kelas iv sdn cengal iii ketika berlangsungnya proses pembelajaran menulis karangan. kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kinerja guru dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran menulis karangan. catatan lapangan dalam penelitian ini adalah suatu catatan yang digunakan selama kegiatan pelaksanaan pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan pembelajaran mengarang terbimbing model know want learned berlangsung, yang berisi deskripsi mengenai proses pembelajaran menulis karangan, intepretasi, koreksi dan saran-saran yang perlu diberikan kepada praktisi untuk dilakukan perbaikanperbaikan. catatan lapangan digunakan untuk mencatat data kualitatif, untuk melukis suatu proses dan kejadian-kejadian yang terjadi dalam pembelajaran menulis karangan. lembar kerja siswa (lks) yang digunakan dalam penelitian ini berisi sebuah gambar seri dilengkapi dengan tabel kwl. tugas siswa adalah menyusun gambar seri tersebut kemudian menuliskan ide/kata kunci yang sesuai dengan gambar ke dalam tabel kwl kemudian siswa mengembangkan kata kunci tersebut menjadi sebuah karangan yang padu dengan memperhatikan penggunaan huruf kapital dan tanda baca. lembar tes yang dimaksud dalam penelitian ini adalah alat berupa hasil karangan siswa. hal ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai tingkat keberhasilan siswa dalam menulis karangan dengan menggunakan pembelajaran mengarang terbimbing model know want learned. selanjutnya penulis memvalidasi data yang terkumpul. teknik validasi data menurut hopkins (dalam wiriaatmadja, 2005: 167171) adalah: “triangulasi, member chek, audit trial, expert opinion, eksplanasi saingan, dan key respondent review”. triangulasi, “dilakukan untuk memeriksa kebenaran hipotesis, kontruk, atau analisis yang anda sendiri timbulkan dengan membandingkan dengan hasil orang lain, misalnya mitra peneliti lain, yang hadir dan menyaksikan situasi yang sama” (wiriaatmadja, 2005: 168). bahkan menurut elliot (dalam wiriaatmadja, 2005: 169) “triangulasi dilakukan berdasarkan tiga sudut pandang, yakni sudut pandang guru, sudut pandang siswa, dan sudut pandang yang melakukan pengamatan atau observasi”. member chek, “yakni memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara dari nara sumber (wiriaatmadja, 2005: 168). dalam kegiatan member chek, peneliti mengkonfirmasikan data temuan yang diperoleh baik kepada guru maupun siswa melalui kegiatan reflektif-kolaboratif pada setiap akhir kegiatan pembelajaran. expert opinion, dilakukan dengan cara meminta nasehat kepada pakar (wiriaatmadja, 2005: 171). melalui expert opinion pakar atau pembimbing akan memeriksa semua tahapan kegiatan penelitian dan memberikan arahan atau judgements terhadap masalah-masalah penelitian yang dikemukakan. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 118 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 112 121 hasil dan pembahasan berdasarkan hasil penelitian awal proses pembelajaran menulis karangan yang dilakukan di kelas iv sdn cengal iii berlangsung sebagai berikut: pertama, guru menginformasikan bahwa dalam pembelajaran bahasa indonesia hari ini siswa akan belajar tentang menulis karangan berdasarkan rangkaian gambar seri. kedua, guru menyajikan materi pembelajaran guru tidak menggunakan media gambar seri yang dapat memperjelas materi tentang mengarang, tetapi hanya menggunakan rangkaian gambar yang terdapat pada buku paket siswa. buku sumber yang digunakan dalam pembelajaran menulis karangan adalah buku belajar bahasa indonesia karangan dra. ninu murliani, terbitan pt. sarana panca karya nusa. ketiga, guru kurang memperhatikan kesulitan siswa dalam mengungkapkan ide, gagasan yang sesuai dengan maksud gambar seri serta penggunaan huruf kapital dan tanda baca dalam sebuah karangan. tes awal mengenai kemampuan siswa dalam menulis karangan berdasarkan rangkaian gambar seri yang dilakukan peneliti diperoleh data bahwa 3 orang (15%) siswa yang dikatagorikan tuntas sesuai kkm yang telah di tentukan. dalam mengarang dari penggunaan huruf kapital sudah sesuai dengan kaidah eyd meskipun dalam penggunaan tanda baca masih ada beberapa yang kurang sesuai, dalam struktur kalimat masih ada pengulangan kata yang sama, penempatan kata penghubung kurang tepat dan beberapa kalimat tidak memiliki kepaduan, kesesuaian dengan tema dan gambar tidak relevan. 17 orang (85%) siswa dikatagorikan belum tuntas yaitu penggunaan huruf kapital tidak sesuai dengan kaidah eyd, penggunaan tanda baca tidak tepat, dan struktur kalimat banyak pengulangan kata yang sama, penempatan kata penghubung tidak tepat, dan kesesuaian dengan tema dan gambar tidak relevan. berdasarkan data awal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan siswa dalam menulis karangan berdasarkan gambar seri masih tergolong rendah sehingga diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkannya. data awal yang diperoleh dalam menulis karangan ini adalah adanya kesulitan yang dihadapi siswa kelas iv sdn cengal iii dalam mengungkapkan ide, gagasan ke dalam bentuk karangan sesuai dengan maksud gambar serta penggunaan huruf kapital dan tanda baca pada karangan. secara keseluruhan, penelitian mengenai penerapan pembelajaran mengarang terbimbing model kwl dalam pembelajaran menulis karangan siswa kelas iv sdn cengal iii memberikan hasil yang positif berupa terjadinya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan. hal tersebut didasarkan pada hasil-hasil yang diperoleh dari tiga siklus pelaksanaan tindakan. pelaksanaan beberapa siklus tersebut merupakan tahapan tertentu dengan menerapkan rencana pembelajaran yang telah disusun berdasarkan model kwl. aspek yang peneliti observasi ketika proses pembelajaran berlangsung yaitu aspek kesungguhan, ketelitian, dan keberanian. ketiga indikator itu merupakan tolok ukur dalam menilai sikap siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan menggunakan pedoman observasi yang telah dibuat sebelumnya. pada siklus pertama sebagian besar siswa belum menunjukkan sikap kesungguhan, ketelitian, dan keberanian sesuai dengan yang diharapkan. selanjutnya pada pelaksanaan siklus kedua telah tampak peningkatan yang cukup berarti 5 orang siswa (15%) yang p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan mengarang terbimbing.....(nana sutarna) 119 dikatagorikan tuntas dan sisanya 6 orang siswa (55%) yang dikatagorikan cukup dan tidak ada lagi siswa yang dikatagorikan kurang dilihat dari perolehan jumlah skor ketiga aspek yang dinilai. pada pelaksanaan siklus ii sebagian besar siswa sudah menunjukkan sikap kesungguhan, ketelitian, dan keberanian dengan baik. hal ini dapat terlihat dari meningkatnya prosentase sikap siswa pada pelaksanaan siklus ii, yaitu jumlah siswa yang dikatagorikan baik dari 8 orang siswa bertambah menjadi 18 orang siswa artinya terjadi peningkatan sebesar 50% dan sisanya 2 orang siswa atau 10% masih dikatagorikan cukup. analisis data yang merupakan hasil dari post-tes yang dilaksanakan dalam menulis karangan memberikan gambaran adanya perbaikan dan peningkatan hasil dari data awal sebelum diterapkannya pembelajaran mengarang terbimbing model kwl tingkat kemampuan siswa dalam menulis karangan hanya mencapai 15%. setelah diterapkannya pembelajaran mengarang terbimbing model kwl melalui pelaksanaan tindakan dari mulai siklus i sampai dengan siklus ii, diperoleh peningkatan hasil yaitu mencapai 35% pada siklus i, dan meningkat menjadi 90% pada siklus ii. peningkatan ini terjadi pada setiap siklus tindakan melalui peningkatan aspek aspek sebagai indikator kemampuan menulis karangan, yakni meningkatnya kemampuan menggunakan huruf kapital, menggunakan tanda baca, struktur kalimat dan kesesuaian dengan tema dan gambar. secara keseluruhan, peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan mencapai 11% dari kondisi kemampuan awal sebelum diterapkannya pembelajaran mengarang terbimbing model kwl. hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran tersebut telah memberikan pengaruh positif yang cukup besar terhadap peningkatan kemampuan siswa kelas iv sdn cengal iii dalam menulis karangan. perencanaan dalam siklus i sampai siklus ii sudah dibuat yang lebih mengarah pada tahap-tahap dalam pembelajaran model kwl, namun dalam siklus i ditemukan sebuah perencanaan yang berhubungan dengan waktu dan gambar yaitu mulai waktu jam pembelajaran yang dilakukan 2x pertemuan dalam satu siklus, dan ketika kegiatan pembelajaran yang dilakukan memakan waktu melebihi batas yang telah ditentukan, hal ini disebabkan karena lamanya proses penyusunan gambar yang dilakukan siswa hampir semua siswa dalam kelompok lebih pokus terhadap gambar dan menyampingkan soal berikutnya, pada rencana pelaksanaan pembelajaran berikutnya, untuk waktu pertemuan dalam satu siklus tetap dua kali pertemuan melainkan satu kali pertemuan dengan alokasi waktu ( 4x 35 menit). dalam penelitian awal yang dilakukan melalui pengamatan terhadap proses pembelajaran dan pelaksanaan tes kemampuan menulis karangan kepada siswa kelas iv sdn cengal iii diperoleh data yang menggambarkan masih rendahnya atau belum memadainya kemampuan siswa kelas iv sdn cengal iii dalam menulis karangan, sebagaimana tersurat dalam kurikulum sd tahun 2006 yaitu siswa harus mampu menyusun karangan tentang berbagai topik sederhana dengan menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar serta memperhatikan ejaan. hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh akhadiah, bahwa: “siswa sekolah dasar sudah dituntut mampu menggunakan ejaan, kosa kata dan mampu membuat kalimat dengan menghubunghubungkan kalimat yang runtut dan padu e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 120 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 112 121 dalam satu paragraf sesuai dengan tingkat kemampuan siswa sd”. (akhadiah, 1993: 61). berdasarkan data hasil tes awal kemampuan menulis karangan dengan menggunakan empat indikator sebagai tolok ukur, yakni penggunaan huruf kapital, penggunaan tanda baca, struktur kalimat, dan kesesuaian dengan tema dan gambar, diperoleh data bahwa tingkat kemampuan siswa dalam menulis karangan sebelum dilaksanakannya tindakan dengan menerapkan pembelajaran mengarang terbimbing model kwl mencapai 15%. kemampuan tersebut meliputi empat indikator, yakni: penggunaan huruf kapital mencapai, penggunaan tanda baca mencapai, struktur kalimat mencapai, dan kesesuaian dengan tema dan gambar mencapai. setelah dilaksanakannya tindakan siklus i dengan menerapkan pembelajaran mengarang terbimbing model kwl, maka terjadi perubahan yang positif dengan adanya peningkatan melalui indikator-indikator kemampuan menulis karangan. dari data hasil pelaksanaan tindakan siklus i, diperoleh prosentase kenaikan tingkat kemampuan menulis karangan siswa yang di bandingkan dengan data awal yaitu, yang sebelum dilakukan tindakan siswa yang dikatagorikan baik hanya mencapai 15%, namun setelah dilakukan tindakan siklus i mencapai 40%. secara umum dari keempat indikator yang digunakan maka tingkat kemampuan menulis karangan siswa mengalami peningkatan sekitar 25% dari hasil data awal yang hanya mencapai 15% menjadi 40% menurut data hasil pelaksanaan tindakan siklus i. berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan siklus i, diperoleh beberapa temuan penting sebagai evaluasi terhadap penerapan rencana pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. pada kegiatan inti pembelajaran khususnya yang berhubungan dengan pengembangan aspek kesungguhan, ketelitian, dan keberanian belum sesuai dengan harapan. dalam hal ini dapat dilihat dalam aspek kesungguhan, setiap siswa cenderung kurang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas, perilaku tersebut terlihat pada saat pengerjaan tugas banyak siswa yang mengerjakannya dengan santai, banyak ngobrol dengan teman sehingga tugas terselesaikan dengan tidak tepat waktu. dalam aspek ketelitian banyak siswa yang mengerjakan tugas dengan asal-asalan, banyak coretan dan tulisannya tidak dapat dimengerti oleh guru. untuk aspek yang berhubungan dengan keberanian juga masih jauh dengan harapan, karena para siswa cenderung tidak mau maju ke depan untuk membacakan hasil karangannya karena malu sehingga mengganggu proses pembelajaran. upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan upaya optimalisasi kemampuan guru dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa ketika proses pembelajaran berlangsung agar selalu mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh tidak banyak ngobrol dengan teman, teliti dan harus rapih dalam menulis, dan harus berani tampil ke depan. temuan lain yang diperoleh dalam pelaksanaan tindakan siklus i, berkaitan dengan pemberian penghargaan. ternyata siswa yang mampu skor paling kecil ingin memiliki penghargaan tersebut siswa tersebut merasa kecewa kepada guru yang hanya memberikan penghargaan kepada temannya yang skornya paling tinggi. upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka pada siklus selanjutnya penghargaan akan diberikan kepada siswa yang skornya paling tinggu dan paling kecil, sehingga siswa yang skornya paling kecil akan lebih bersemangat lagi dalam belajarnya. hal p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan mengarang terbimbing.....(nana sutarna) 121 ini sesuai dengan pendapat skinner (dalam syah, 2003: 89) bahwa “...belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung progresif, proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila diberi penguatan.” berdasarkan data hasil pelaksanaan siklus ii, untuk indikator penggunaan huruf kapital mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya yang mencapai 45% menjadi 90%. artinya terjadi peningkatan kemampuan menulis karangan siswa berdasarkan data hasil tindakan siklus mencapai 45%. untuk lebih jelasnya dapat di lihat dari gambar 2. gambar 2 perbandingan hasil belajar dari data awal, siklus i dan siklus ii pada pelaksanaan siklus ii, ini guru terus memberikan bimbingan dan arahan pada siswa tentang pengungkapan ide/gagasan sesuai dengan ciri model kwl. sehingga mampu merangsang dan menggugah potensi siswa secara optimal dalam hal penggunaan huruf kapital, penggunaan tanda baca, struktur kalimat dan kesesuaian dengan tema dan gambar dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan. dengan disertakannya gambar seri yang berbeda-beda pada setiap siklus proses pembelajaran terasa lebih variatif sehingga tidak membosankan bagi siswa dan siswa menjadi lebih tertarik pada pembelajaran. berdasarkan temuan-temuan penelitian sebagaimanadipaparkandiatas,menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran mengarang terbimbing model kwl dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan, hal ini dapat dilihat dari prosentase kenaikan tingkat pencapaian dari setiap indikator yang menunjukkan bahwa setelah diterapkannya pembelajaran mengarang terbimbing model kwl dalam pembelajaran menulis karangan, maka kemampuan siswa kelas iv sdn cengal iii dalam menulis karangan menjadi meningkat. simpulan berdasarkan hasil pembahasan yang dilakukan terhadap data hasil pelaksanaan dengan menerapkan pembelajaran mengarang dengan menggunakan model kwl dengan menggunakan media gambar untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi pada siswa kelas iv sd negeri cengal iii kecamatan japara kabupaten kuningan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yakni sebagai berikut: (1) proses penerapan pembelajaran mengarang dengan menggunakan model kwl telah mampu memperbaiki praktek pembelajaran menulis karangan khususnya kemampuan dalam mengembangkan ide/ gagasan menjadi sebuah karang yang padu. hal ini dapat dilihat dari data hasil pelaksanaan tindakan yang meningkat. model kwl melibatkan tiga langkah dasar yang menuntun siswa dalam memberikan suatu jalan tentang apa yang sudah mereka ketahui, menentukan apa yang ingin mereka ketahui dan mengingatkan kembali apa yang telah mereka palajari. penerapan model kwl tersebut dilakukan melalui langkah-langkah, yaitu: mengaktifkan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 122 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 112 121 skemata awal siswa dengan membuat pernyataanpernyataan tentang apa yang diketahui siswa tentang suatu topik yang sedang dipelajari; membuat pernyataanpernyataan tentang apa yang ingin diketahui siswa dari suatu topik yang sedang dipelajari; membuat pernyataan-pernyataan tentang apa yang telah mereka pelajari dengan memadukan skemata awal siswa dengan informasi baru yang didapat dari topik tersebut. melalui penerapan model kwl tersebut dapat memberikan kemampuan kepada siswa untuk memiliki pengetahuan dan pengalaman berkaitan dengan topik yang diberikan, dapat membantu siswa dalam menemukan ide/ gagasan pokok dari sebuah topik, sehingga mereka mampu mengembangkan ide/ gagasan menjadi sebuah karangan yang padu; (2) hasil penerapan pembelajaran mengarang dengan menggunakan model kwl dengan menggunakan media gambar untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi pada siswa kelas iv sd negeri cengal iii kecamatan japara kabupaten kuningan, telah menunjukkan perubahan yang positif. artinya ada perubahan yang signifikan pada setiap pelaksanaan tindakan (i sampai dengan ii). dengan demikian, pembelajaran menulis karangan dengan model kwl dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi, dengan peningaktan hasil belajar dari data awal sebelum tindakan 15% siswa yang tuntas dan 85% siswa yang belum tuntas, siklus i yaitu 45 % siswa yang tuntas dan 55% siswa yang belum tuntas dan pada pelaksanaan siklus ii yaitu 90% siswa yang tuntas dan 10% siswa belum tuntas. sehingga dari data tersebut dapat di simpulkan bahwa pelasanaan penelitian tindakan kelas di akhiri sampai siklus ii karena telah mencapai target yang telah di tentukan daftar pustaka arikunto, suharsimi. (2006). prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. jakarta: rineka cipta. arsyad, azhar. (2011). media pembelajaran. jakarta: rajawalli pers. blachowicz, camilledan ogle, donna. (2008). reading comprehension. new york: the guilford press. djuanda, dadan, dkk. (2006). pembinaan dan pengembangan pembelajaran bahasa dan sastra indonesia. bandung: upi press. gorys, keraf. (2010). argumentasi dan narasi. jakarta: gramedia. karwono dan mularsih, heni. (2010). belajar dan pembelajaran serta pemanfaatan sumber belajar. jakarta: cerdas jaya kristiantari, rini. (2010). pembelajaran menulis di sekolah dasar: menulis deskripsi dan narasi. surabaya: media ilmu. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan mengarang terbimbing.....(nana sutarna) 121 rahim, farida. (2009). pengajaran membaca di sekolah dasar. jakarta: bumi aksara. rumaningsih, endang. (2012). cermat dan terampil berbahasa indonesia. semarang: rasail media group. sulaiman, al-kumai. (2013). bahasa indonesia bahasa bangsaku. pusat pengembangan bahasa: uin walisongo. sumiati & asra. (2009). metode pembelajaran. bandung: cv wacana prima. syah. wiriaatmadja, rochiati. (2005). metode penelitian tindakan kelas. bandung: remaja rosda karya. profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 156 readiness of elementary teachers in minimum competency assessment: teachers' competence in arranging literature and numeration tests titis angga rini1*, puri selfi cholifah1, ni luh sakinah nuraini1 & kay margetts2 1 universitas negeri malang, malang, indonesia 2the university of melbourne, australia *email: angga.rini.fip@um.ac.id submitted: 2021-10-29 doi: 10.23917/ppd.v8i2.16157 accepted: 2021-12-16 published: 2021-12-29 keywords: abstract literacy and numeracy; national assessment in indonesia; elementary school; teacher readiness minimum competency assessment is a new challenge for classroom teachers in implementing and integrating it in learning to maximize its diagnostic and curative function on the quality of indonesian education. this is the background of this research to analyze the readiness of teachers in arranging literacy and numeracy tests in elementary schools. this study used a content analysis design to reveal a test prepared by elementary school teachers for minimum competency assessment involving 30 elementary school teachers. data analysis results are presented in the form of percentage accuracy of items with quantitative descriptive and examples of items that are described qualitatively. the results showed that the competence of school teachers in compiling literacy and numeracy assessment questions in elementary schools was still not optimal in terms of form, content, context, and cognitive level, especially for reflect and evaluate levels for literacy assessments and reasoning levels for required numeracy assessments. especially for literary content on literacy, scientific context on literacy and numeracy, and third-level literacy and numeracy. based on the results of the study, it can be concluded that the competency of elementary school teachers in implementing a minimum competency assessment needs to be carried out to meet the standards and functions of the indonesian national assessment. this study provides an overview of teacher readiness in carrying out minimum competency assessments in elementary schools related to their role as learning evaluators. introduction background learning assessment occupies a trend of educational topics that are widely discussed, studied, and developed through the latest research results. the results of the study still http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:mt.hidayat@ums.ac.id vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 157 show the existence of learning assessment needs both in mastery and products from year to year (dasmalinda & hasrul, 2020; mundia sari & setiawan, 2020; rini & cahyanto, 2020). if previously traditional assessments were more in the form of written tests in a summative framework, now assessments have developed with various types and formats offline and online in a formative framework for various functions. this development is a great opportunity for educational practitioners to determine and design the best assessment used according to learning needs. in indonesia, the latest topic in the development of an assessment is the abolition of the national exam to become a national assessment. previously, the national examination was a summative assessment carried out for the grading and selecting process in the graduation and acceptance of students (nehru, 2019). after being evaluated and followed by the implementation of merdeka belajar policy, this assessment process is considered inappropriate because the assessment should be a step to improve the quality of education through its results. based on the improvement in the quality of education, the national assessment consists of a minimum competency assessment, a character survey, and an environmental survey which is planned to be implemented in 2021 (muta'ali, 2020). in contrast to the previous assessment to evaluate student achievement individually, the national assessment is aimed at evaluating the mapping of inputs, processes, and learning outcomes (sugiri & priatmoko, 2020). specifically related to learning, the competency assessment carried out includes two competencies, namely literacy and numeration. these two competencies have an important role in improving qualifications and preparing students for the 21st-century generation (grotlüschen et al., 2020). this fact is supported by the existence of various national and international surveys to measure the literacy level of students, such as pirls, pisa, timss, or alibaca (wulandari & azka, 2018). the survey results from pisa 2018 for example, show that the literacy level of indonesian students is still low, reading ability is ranked 371 while mathematical ability is ranked 379 (azizah, 2019). this condition underlies the implementation of a minimum competency assessment to measure, improve and increase the literacy level of indonesian students. improvements can be made if the teacher also has good competence in the minimum competency assessment. moreover, preparing literacy and numeracy tests related to the implementation of the minimum class competency assessment that is integrated with learning. in addition, the urgency of teacher competence in literacy and numeracy assessment is also related to their professionalism as an evaluator of student learning (daud et al., 2020; sulistyaningrum et al., 2021). as evaluators, teachers must have skills in the tests, measurements, and assessments that are included in them (archana & usha rani, 2017; megawati & sutarto, 2021). moreover, the assessment paradigm for diagnostics is implemented in a minimum competency assessment. to carry out diagnostics, the teacher must know the students' abilities correctly through test results from levels that have been achieved or have not been achieved. after that, the teacher must also follow up on the diagnostic results by integrating them into learning for example with training, strengthening, or enrichment to improve student competence in literacy and numeracy in elementary schools according to the objectives of the national assessment (nurhikmah et al., 2021). problem of study the main problem that will be discussed in this study focuses on teacher readiness in minimum competency assessment as a new policy in the implementation of learning assessment in indonesia. furthermore, it was also revealed how the preparation of higher order thinking-based questions is still a challenge for elementary school teachers. in addition, generally, the questions that are arranged are also in the form of multiple-choice, rini et al – readiness of elementary teachers ... printed issn 2406-8012 158 brief descriptions, and essays, as well as the lack of visual stimuli or contextual illustrations. the difference between the form and process of the test in the minimum competency assessment from the previous form and process of the test is what we want to reveal how the teacher's readiness to face and apply it in terms of competence in compiling literacy and numeracy tests in elementary schools. state of the art as has been discussed in the background of the research, the minimum competency assessment is a new policy in the implementation of the national assessment which has been discussed since 2020 and will began to be implemented in 2021. although new in education in indonesia, the implementation of minimum competency assessment has been implemented in several countries despite differences in the process (birenbaum et al., 2015; nortvedt et al., 2016). as the results are widely revealed through international surveys such as pisa, pirls, or timss which show the low ranking of indonesian students when compared to other countries involved in the survey (chamisah, 2017; sukmayadi & yahya, 2020). based on this fact, the topic of teacher readiness as a learning evaluator in minimum competency assessment is interesting for discussion. several research results that discuss minimum competency assessments starting from students' initial abilities, teacher competency development, and policy implementation have become new topics that are widely studied (anas et al., 2021; fauziah et al., 2021; rohim, 2021). digging further into the national assessment in indonesia, especially the minimum competency assessment, will provide an opportunity to prepare, implement, and evaluate its best practices in the future. gap study & objective minimum competency assessment is a challenge for teachers for their readiness and competence in carrying out literacy and numeracy assessments in learning. teachers as reform agents certainly need to have qualified knowledge and skills to implement these changes in learning assessments. the intended change relates to the difference between the minimum competency assessment and the previous assessment, both in terms of planning, form and application in learning. as stated in the problem of study, it is important to explore how the teacher's readiness in dealing with changes in learning assessments is related to the contribution of the results as a basis for the practice of minimum competency assessment in terms of teacher competence. regarding the urgency of the importance of teacher competence in minimum competency assessments, this study aims to analyze teacher competencies in preparing literacy and numeracy tests for minimum competency assessments in learning in elementary schools. method type and design following its objectives, this study uses content analysis to reveal the readiness of teachers in the assessment of minimum competencies in terms of their ability to prepare and analyze literacy and numeracy tests in elementary schools. complementing the data, data on perceptions of teacher readiness and difficulties in dealing with minimum competency assessments were also explored. in more detail, the research procedure taken is described in figure 1. data source in this study, the data sources obtained were 30 teachers who were involved in akm in their schools from representatives of 7 elementary schools in klojen district, malang city. klojen subdistrict was chosen with the background of the school area in the city center so that several schools became model schools in the regulation of educational policies in vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 159 malang city. . in addition, this number was obtained based on the willingness of teachers and principal referrals to be involved in this study who taught third and fifth grades in their schools who were indeed involved in the preparation of the 2021 national assessment in their schools. figure 1: research procedure data collection technique the data was extracted based on test instruments for literacy and literacy assessments in elementary schools that had been compiled in august 2021 as outputs in akm training activities. the data was also extracted using a questionnaire technique with an online form format which was distributed to participants to explore data on perceptions and difficulties of teachers in conducting literacy and numeracy assessments in elementary schools. the following is a grid of instruments for preparing literacy and numeracy tests according to the composition of the minimum competency assessment for elementary schools in table 1. in addition to the grid in literacy and numeracy, an analysis is also carried out on the form of questions based on the minimum competency assessment standards for classes in elementary schools which are more diverse in proportion 20% multiple-choice, 40% complex multiple-choice, 10% matchmaking, 5% short fill, and 25% essay. table 1. grid of literacy and numeration tests in elementary school n content cognitive context sum description sum code description sum description literacy 10 5 information text 5 l1 retrieve and access 6 personal 4 l2 interpret and integrate 3 sosiocultural 5 literary text 1 l3 reflect and evaluate 1 scientific numeracy 10 4 numeral 3 n1 knowing 6 personal 3 measurement & geometry 5 n2 applying 3 sosiocultural 2 data and uncertainty 2 n3 reasoning 1 scientific 1 algebra data analysis technique 1formulated goals 2determine data source 3data categorize 4analyze data and coding 5interprete and conclude the data rini et al – readiness of elementary teachers ... printed issn 2406-8012 160 all data were analyzed descriptively both quantitatively and qualitatively. the results were validated by involving two research colleagues through a peer debriefing process. in the quantitative descriptive technique, the assessment criteria and qualifications are determined by referring to arikunto (2013: 68) with the consideration that the score range is quite high for the categorization of teacher mastery levels in literacy and numeracy assessments with the information in table 2 as follows. table 2. criteria for mastery level scale percentage qualification 4 86-100 very good/skilled 3 71-85 good/skilled 2 56-70 good/skillful enough 1 <56 not good/unskilled result forms of literacy and numeracy questions for elementary schools from a total of 520 questions that were successfully compiled by 30 elementary school teachers, an analysis of the form of the questions was carried out according to the proportions required in the minimum competency assessment. the results of this analysis also show the form of questions that are widely used and mastered by teachers in preparing tests in elementary schools. figure 2: percentage of question forms compiled for literacy and numeracy in figure 2, it can be observed that short essay questions are most widely used by teachers in the form of questions to determine true or false as in the examples in figures 2, 5, and 3 before. from the results of this analysis, of course, the required proportions in the form of questions in the minimum competency assessment have not been met. especially for complex multiple-choice which should occupy the largest portion of the number of questions among the others. analysis of test items for literacy assessment in elementary schools the results of the analysis show that the readiness of teachers in the akm in the classroom for the preparation of literacy tests is quite good or quite skilled with the achievement of a score scale at 42%-89%. in more detail, the mastery of each aspect in the literacy test for minimum competency assessment in elementary schools is described in table 3. there's can be observed that in the content section of the literacy test, participants vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 161 used more informational texts than literary texts. the information text used is predominantly exposition, procedure, and explanatory texts, while in literary texts only story texts are used. this shows that the mastery of content from the literacy test itself is still not optimal in the type of literary text. in the cognitive aspect, it can be observed that the teacher's mastery in compiling questions at the retrieve and access (l1) level is very good, questions in the form of what, where, who, when are widely used appropriately in written and visual texts. likewise, at the second level for interpret and integrate (l2), the accuracy of the preparation of questions on the criteria is quite good. table 3. level of accuracy of preparation of literacy test for each aspect aspect criteria accuracy (%) qualification content information text 89% very good literary text 42% not good cognitive l1 80% good l2 65% good enough l3 45% not good context personal 84% very good sosio-cultural 75% good scientific 58% good enough based on the test grid, there were participants' misconceptions between the questions for each level. at level one, participants should be able to retrieve and access information that is explicit in a written or visual text. this level was mastered well by participants using what, where, when, who, or why questions extracted from the text. although some participants still showed misconceptions from levels one and two in the literacy assessment, especially in the preparation of the test questions. figure 3: sample question of retrieve and access level rini et al – readiness of elementary teachers ... printed issn 2406-8012 162 figure 3 is an example of a question made by the teacher for the interpretation and integration level which should be at the retrieve and access level because the question that must be determined is in the form of explicit information in the poster. on the other hand, in the example questions in figure 4, examples of questions made by participants for the interpret and integrate level in literacy are shown, namely interpreting how the characters in the story feel, which are shown through their attitudes or implicitly. this example is also one of the questions that use literary texts as its content, namely narrative. the narrative is a literary text that is widely used in the preparation of literacy tests, which should occupy a portion of 50% of the number of literacy tests using literary content. figure 4: sample question of interpreting and integrating level at the level of reflection and evaluation (l3), the level of accuracy of the compiled tests is still low. the majority of test questions that should be arranged at this level are at the interpret and integrate level, for example about converting text information into posters or using "how" questions but the answers are already in the text or explicit, for example, "how do i make banana chips last longer crispy?" through the text of the procedure for making banana chips. here it can be seen that the use of "how" questions are considered to have represented literacy test questions at level 3. even so, there were test questions that were appropriate and arranged both from the instructions and illustrations as in figure 5. figure 5: sample question of evaluation level in the example questions in figure 5, reflection and evaluation of the content of the text about community service carried out by amir is shown by assessing the illustration of similar behavior in the picture which also shows social concern. illustrations are also important to support this problem as a characteristic in akm as a form of visual text and the suitability of this illustration with real conditions from facial images, height, behavior, and others. vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 163 furthermore, in terms of context, it can be observed that the majority of personal context accuracy is used very well in literacy tests in elementary schools. likewise in the socio-cultural context, the average is used appropriately in the preparation of literacy tests such as about cultural diversity, social events, and others. however, in a scientific context, almost 50% of the participants did not use it even though it had been described in the grid. the personal context is more used than the socio-cultural or scientific context in the matter, even though the accuracy or accuracy is quite good. preparation of tests for numerical assessment in elementary schools the results of the analysis show that the readiness of teachers in the akm in the classroom for the numeracy test shows the criteria are quite good or quite skilled with the achievement of a score scale of 32%-100%. in detail, the mastery of each aspect in the numeracy test for elementary schools is described in table 4. table 4. test accuracy levels for numeracy in elementary schools for each aspect aspect criteria accuracy (%) qualification content numeral 90% very good measurement & geometry 85% very good data and uncertainty 68% good enough algebra 45% not good cognitif n1 80% good n2 58% good enough n3 32% not good context personal 100% very good sosio-cultural 40% not good scientific 38% not good table 4 shows that in terms of content, the numeracy test is more diverse than literacy and the average is well mastered in the preparation of the questions, especially for numbers, measurements, and geometry. counting operations questions, both integers, and fractions are arranged in questions with very good accuracy, as well as measurements and geometry such as calculating area, circumference, length, or weight which tend to be associated with personal contexts such as the example questions in figure 6. figure 6: sample question of knowing the level rini et al – readiness of elementary teachers ... printed issn 2406-8012 164 at the level of knowing (n1) in numeracy assessment in elementary schools, they are well mastered in preparing questions as exemplified in figure 6. the content used at this level is generally numbers and measurements such as counting the number of objects, the area of objects, identifying the size of objects, and others with personal contexts. a quite striking difference from the questions that are arranged lies in the stimulus in the form of visual texts and contexts that are associated with everyday life, in contrast to the form of math test questions that directly present operations, for example in addition to fractions. at the level of applying (n2) in numeracy assessment in elementary schools, they are mastered quite well in the preparation of questions, one of which is exemplified in figure 7. at this level, the questions compiled should require students to apply mathematical concepts in real situations that are routine. the majority of the questions compiled are still in the form of counting, classifying, identifying various materials related to daily life such as the example questions in figure 6. here, misconceptions were found in the preparation for level applying, not only related to daily life such as calculating the price of goods sold. purchased or measured the area of the park but rather a question to measure students' ability to apply their knowledge (n1) in everyday life. figure 7: sample question of applying level the example questions in figure 7 show the application of mathematical concepts related to the use of tools in everyday life. this question is intended for low grades in measurement material. however, the inaccuracy lies in the questions that are not well structured. notice the last sentence in the picture which should be edited as "from the selection of these various tools, which one is used to measuring body weight?". similar errors were also found in almost 55% of the questions compiled. in addition to editorial errors, the selection of illustrations is also often not under real conditions as in figure 8. vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 165 figure 8: other sample question of applying level the inaccuracy of the illustration shown in figure 8 lies in the selection of figures and their weight. edo is described as a child but weighs 30 kilograms, as well as ani, who is described as a child but weighs 47 kg, which is only 8 kg apart from dita, who is described as an adult woman weighing 55 kg. on the other hand, rado weighing 70 kg is described as having a growth that is not too fat. although only as a stimulus, this illustration shows a poor application of the concept in measurement. especially for students who are critical so that the selection of illustrations needs special attention in preparing questions. next, at the n3 level, it is known that the accuracy of the questions compiled at the reasoning level is still low. of the 30 participants, only 9 of them correctly arranged the numeration questions at this level. an example can be seen in figure 9 which uses evaluation questions to reveal students' ability in reasoning based on the illustrations provided. in this problem, students may not have to include the results of their calculations in answering questions, but in the process, they still have to calculate to find solutions to the questions as evidence of their answers. figure 9: sample question for reasoning level common errors that are known from the preparation of this question are misconceptions with questions for level n2, applying. the majority of questions are used in the form of questions as shown in figure 3 or 4, but the answers requested only require students to solve arithmetic operations in real life. the form of the question was also the majority using true and false questions, for example determining which statements are true and false without asking students to express their rationalization. discussion rini et al – readiness of elementary teachers ... printed issn 2406-8012 166 as has been revealed in the background of the research that the minimum competency assessment is different from the assessment practices that have been carried out so far in learning. this change demands the readiness of the government, teachers, students, and parents of students who are certainly involved in the process (nehru, 2019). of course, this change is aimed at increasing the competence of students as the nation's generation in the 21st century that is superior and competitive in the midst of the rapid development of science and technology (sukmayadi & yahya, 2020). more precisely, it is from this minimum competency that improvements should be made based on the diagnostic results of students' thinking and learning in literacy and numeracy. these two competencies were previously known as "calistung" or reading and writing arithmetic as a basic ability that must be mastered by students (muliastrini, 2020). the importance of "calistung" is the same as the importance of literacy and numeracy for students in solving problems in their daily lives. teacher competence plays an important role so that the objectives and functions of this minimum competency assessment are achieved. the intended competence is included in the preparation of test questions for the literacy assessment and numeracy itself in the class assessment. the illustration from the results of the assessment carried out nationally will be mapped on how the ability of students in elementary schools will be (novita et al., 2021). the teacher's task is to follow up on the results in learning starting from determining the competencies to be improved, preparing learning designs and learning instruments, providing treatment or further development, and evaluating through classroom assessments (deluca et al., 2018). this process certainly requires different literacy and numeracy test instruments at each grade level with the same proportions according to the specified standards. according to the results of the analysis in this study, the competence of teachers in preparing literacy and numeracy tests still needs to be improved. from the form of the questions, it can be seen that the teacher's skills in preparing questions still need to be addressed, namely in complex multiple-choice questions and matchmaking. the form of this question is indeed very different from the previous question form used in learning assessments which tend to be multiple choice or essay (osnal et al., 2016). however, it can be observed that from a large number of true-false short essay questions and the stimulus questions used, the teachers made good progress in following the changes in the assessment itself. although in some of the contexts that have been discussed, such as the use of illustrations, editorials, and the appearance of questions, it needs to be improved again to meet the test criteria as a measurement tool, namely having good readability (content, font size, color), not depending on previous questions, logical answer choices and homogeneous, the test stimulus (text, pictures, graphics, tables) is clear and functional and does not have multiple and negative meanings (rust et al., 2003). in terms of mastery of content, context, and cognitive level, the literacy tests that were prepared also did not meet the specified standards. in terms of literacy content, information texts are more widely used in learning than literary texts. literary texts themselves need to be varied according to the scope of the material in each class, such as poetry, rhymes, historical fiction, fables, or other types of literary texts (khair, 2018; machromah, 2021). as with numeracy content, general materials such as numbers, measurements, geometry, and data have better accuracy than other materials. furthermore, in terms of context, the personal context is indeed more dominantly used, especially for the lower class who are still focused on recognizing themselves according to the specified proportions, but the use of this context does need to be explored again, especially for science (rohim, 2021). the misconceptions of each cognitive level, in particular, need to be clarified so that the function of the minimum competency assessment can run ideally even though it does reflect on previous changes, for example, the 2013 curriculum in indonesia in the past few years requires a long journey until these changes can be implemented ideally. in this vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 167 condition, the findings of this study should be able to provide an overview to evaluate the next step in improving the competence of teachers as learning evaluators. efforts were initiated and documented in this early year through training, development, and other efforts in preparing qualified teacher competencies to conduct assessments (anas et al., 2021; andikayana et al., 2021; handayani et al., 2015). in line with literacy, the numeration tests that are prepared also still need to be improved in terms of content, context, and cognitive level. in numeration itself, it is considered more difficult to compile contextual math problems in everyday life, considering that so far math tests tend to be in the form of numbers and formulas only. this fact is also reflected in the findings of this study how the accuracy of the preparation of reasoning questions is low. students are accustomed to learning mathematics in the form of numbers and often do not know how to apply it in everyday life such as algebraic material for example (maulidina & hartatik, 2019). questions like "what do we study fractions for, ma'am?" or "why do we need to learn to count when we can use a calculator?", are examples of questions that have the potential to stimulate students to think critically and creatively in solving mathematical problems in everyday life (kong, 2014). conclusion in this study, it can be concluded that the readiness of teachers in minimum competency assessment in terms of their competence in compiling literacy and numeracy assessment questions in elementary schools still needs to be improved, especially for literacy assessment at the reflect and evaluate level and for numeracy assessment at the reasoning level. in terms of the accuracy of the form of the question, it can also be seen that the form of the questions that have been prepared does not meet the proportion of forms required in the minimum competency assessment so that it is also necessary to improve the competence of teachers in compiling the form of questions such as in the form of complex multiple choice. based on the results of this study, the improvement and development of teacher competencies in minimum competency assessments in elementary schools is urgently needed. teachers have an important role in implementing, using and following up on the results of the minimum competency assessment in the national assessment in improving the quality of indonesian education in the future. this research is limited to the analysis of the minimum competency assessment questions compiled by elementary school teachers according to the research location. differences in teacher competencies may be different in other locations that deserve to be investigated in preparing good teacher competencies for minimum competency assessments. furthermore, the results of this study also open up opportunities to conduct research that can improve and develop teacher competence in the assessment. references anas, m., muchson, m., sugiono, s., & forijati, r. (2021). pengembangan kemampuan guru ekonomi di kediri melalui kegiatan pelatihan asesmen kompetensi minimum (akm). rengganis jurnal pengabdian masyarakat, 1(1), 48–57. andikayana, d., dantes, n., & kertih, i. (2021). pengembangan instrumen asesmen kompetensi minimum (akm) literasi membaca level 2 untuk siswa kelas 4 sd. jurnal penelitian dan evaluasi pendidikan indonesia, 11(2), 81–92. archana, s., & usha rani, k. (2017). role of a teacher in english language teaching (elt). international journal of educational science and research (ijesr), 7(1), 1–4. azizah, r. n. (2019). mutu pendidikan dan budaya literasi [preprint]. ina-rxiv. https://doi.org/10.31227/osf.io/eyfvp birenbaum, m., deluca, c., earl, l., heritage, m., klenowski, v., looney, a., smith, k., rini et al – readiness of elementary teachers ... printed issn 2406-8012 168 timperley, h., volante, l., & wyatt-smith, c. (2015). international trends in the implementation of assessment for learning: implications for policy and practice. policy futures in education, 13(1), 117–140. chamisah, c. (2017). timss and pisa-how they help the improvement of education assessment in indonesia. aricis proceedings, 1. dasmalinda, d., & hasrul, h. (2020). penerapan penilaian autentik berdasarkan kurikulum 2013 dalam pembelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan. jurnal civics: media kajian kewarganegaraan, 17(1), 94–103. https://doi.org/10.21831/jc.v17i1.29000 daud, a., novitri, n., & hardian, m. (2020). evaluation of the teacher professional education program (ppg): english students’ perspective. al-ishlah: jurnal pendidikan, 12(2), 185–200. https://doi.org/10.35445/alishlah.v12i2.286 deluca, c., valiquette, a., coombs, a., lapointe-mcewan, d., & luhanga, u. (2018). teachers’ approaches to classroom assessment: a large-scale survey. assessment in education: principles, policy & practice, 25(4), 355–375. fauziah, a., sobari, e. f. d., & robandi, b. (2021). analisis pemahaman guru sekolah menengah pertama (smp) mengenai asesmen kompetensi minimum (akm). edukatif: jurnal ilmu pendidikan, 3(4), 1550–1558. grotlüschen, a., desjardins, r., & liu, h. (2020). literacy and numeracy: global and comparative perspectives. international review of education, 66(2–3), 127–137. https://doi.org/10.1007/s11159-020-09854-x handayani, t., wuryadi, w., & zamroni, z. (2015). pembudayaan nilai kebangsaan siswa pada pendidikan lingkungan hidup sekolah dasar adiwiyata mandiri. jurnal pembangunan pendidikan: fondasi dan aplikasi, 3(1), 95–105. https://doi.org/10.21831/jppfa.v3i1.7815 khair, u. (2018). pembelajaran bahasa indonesia dan sastra (basastra) di sd dan mi. arriayah: jurnal pendidikan dasar, 2(1), 81. https://doi.org/10.29240/jpd.v2i1.261 kong, s. c. (2014). developing information literacy and critical thinking skills through domain knowledge learning in digital classrooms: an experience of practicing flipped classroom strategy. computers & education, 78, 160–173. https://doi.org/10.1016/j.compedu.2014.05.009 machromah, i. u., utami, n. s., rinisetyaningsih, d. m., & fatmawati, l. w. s. (2021). minimum competency assessment: designing tasks to support students’ numeracy. turkish journal of computer and mathematics education (turcomat), 12(14), 3268-3277. maulidina, a. p., & hartatik, s. (2019). profil kemampuan numerasi siswa sekolah dasar berkemampuan tinggi dalam memecahkan masalah matematika. jurnal bidang pendidikan dasar, 3(2), 61–66. megawati, l. a., & sutarto, h. (2021). analysis numeracy literacy skills in terms of standardized math problem on a minimum competency assessment. unnes journal of mathematics education, 10(2). muliastrini, n. (2020). new literacy sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan sekolah dasar di abad 21. pendasi: jurnal pendidikan dasar indonesia, 4(1). mundia sari, k., & setiawan, h. (2020). kompetensi pedagogik guru dalam melaksanakan penilaian pembelajaran anak usia dini. jurnal obsesi : jurnal pendidikan anak usia dini, 4(2), 900. https://doi.org/10.31004/obsesi.v4i2.478 muta’ali, j. a. (2020). opini masyarakat tentang asesmen nasional sebagai penganti ujian nasional. journal of chemical information and modeling, 53(9), 1689–1699. nehru, n. a. (2019). asesmen komptenesi sebagai bentuk perubahan ujian nasional pendidikan indonesia: analisis dampak dan problem solving menurut kebijakan merdeka belajar. journal of chemical information and modeling, 53(9), 1689–1699. vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 169 nortvedt, g. a., santos, l., & pinto, j. (2016). assessment for learning in norway and portugal: the case of primary school mathematics teaching. assessment in education: principles, policy & practice, 23(3), 377–395. novita, n., mellyzar, m., & herizal, h. (2021). asesmen nasional (an): pengetahuan dan persepsi calon guru. jisip (jurnal ilmu sosial dan pendidikan), 5(1). https://doi.org/10.36312/jisip.v5i1.1568 nurhikmah, n., hidayah, i., & kadarwati, s. (2021). persepsi dan kesiapan guru dalam menghadapi asesmen kompetensi minimum. cokroaminoto journal of primary education, 4(1), 78–83. osnal, o., suhartoni, s., & wahyudi, i. (2016). meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun tes hasil belajar akhir semester melalui workshop di kkg gugus 02 kecamatan sumbermalang tahun 2014/2015. pancaran pendidikan, 5(1), 67–82. rini, t. a., & cahyanto, b. (2020). supporting elementary students creative writing skill with assessment as learning: proceedings of the 2nd early childhood and primary childhood education (ecpe 2020). 2nd early childhood and primary childhood education (ecpe 2020), malang, indonesia. https://doi.org/10.2991/assehr.k.201112.010 rohim, d. c. (2021). konsep asesmen kompetensi minimum untuk meningkatkan kemampuan literasi numerasi siswa sekolah dasar. jurnal varidika, 33(1), 54–62. rust, c., price, m., & o’donovan, b. (2003). improving students’ learning by developing their understanding of assessment criteria and processes. assessment & evaluation in higher education, 28(2), 147–164. sugiri, w. a., & priatmoko, s. (2020). persprektif asesmen autentik sebagai alat evaluasi dalam merdeka belajar. at-thullab: jurnal pendidikan guru madrasah ibtidaiyah, 4(1), 53. https://doi.org/10.30736/atl.v4i1.119 sukmayadi, v., & yahya, a. (2020). indonesian education landscape and the 21st century challenges. journal of social studies education research, 11(4), 219–234. sulistyaningrum, r., sutama, s., & desstya, a. (2021). analyzing skills of planning, conduct, and assessment in teachers during online mathematics teaching. profesi pendidikan dasar, 8(1), 63–74. https://doi.org/10.23917/ppd.v8i1.13108 wulandari, e., & azka, r. (2018). menyambut pisa 2018: pengembangan literasi matematika untuk mendukung kecakapan abad 21. de fermat: jurnal pendidikan matematika, 1(1), 31–38. https://doi.org/10.36277/defermat.v1i1.14 profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 84 the relationship between multiple intelligences of preservice elementary teacher toward their gender and performances muhamad ikhlas*, kuswanto & rosario f. quicho central luzon state university, science city of munoz, philippines *email: muhammadikhlas@clsu.edu.ph submitted: 2021-03-27 doi: 10.23917/ppd.v8i2.14028 accepted: 2021-10-27 published: 2021-12-12 keywords: abstract multiple intelligences; preservice elementary teachers; elementary education; performances; gender this research studied whether there was a significant relationship between the multiple intelligences of pre-service elementary teachers, their gender, and their performances. the survey method had been used for this study. a “multiple intelligence profiling questionnaire iii (mipq-iii)” was used to collect the multiple intelligences of the participants. reliability-test had been used to see the consistency of the questionnaire. in order to analysis of the data, descriptive statistics, independent sample t-test, and pearson correlation were used for this study. results showed that naturalistic intelligence has the highest mean score. meanwhile, logical-mathematics intelligence had the lowest mean score. results also showed that logical-mathematic, verbal-linguistic, spatial, bodilykinesthetics, and interpersonal intelligence have differences based on gender, while other intelligence had no differences. furthermore, results also showed that all intelligence, excluding naturalistic, positively correlates with the performances. lastly, hierarchical regression showed that among the multiple intelligences, the logical-mathematics intelligence became a predictor for the performance of the pre-service elementary teachers. the implications of this study, such as the results, showed a relationship between multiple intelligence and elementary school pre-service teachers. besides that, it was found that the multiple intelligence of elementary pre-service teachers had a wide variety of impacts on the performance of those pre-service teachers in the future. thus, it was expected that relevant stakeholders can better review these aspects, especially in the curriculum http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v7i1.9652 ikhlas et al the relationship between… online issn 2503-3530 85 introduction background in the whole process of education in schools, learning activities are the most basic activities. learning is a necessity or obligation for all individuals. pritchard (2008) states learning is the process of gaining more knowledge, or of learning how to do something. furthermore, domjan (2014) states if learning is defined in terms of a change in the mechanisms of behavior to emphasize the distinction between learning and performance. one of the places where the learning process takes place is at the elementary school level. elementary education is the most basic level of education in formal education. at this stage, students need to be directed, developed, and bridged towards their complex development. at this stage, also found a variety of students. that is because elementary students are unique children and need attention. students come to class with their own distinctive characteristics to be directed according to the objectives of primary school education (ocak & dermez, 2008). therefore, education in elementary schools is essentially education that is more directing and motivates more students to learn (so et al., 2019). the background of their uniqueness is seen in the changes in various aspects of both their attitude, movement, and intelligence so that it affects their development. theory that explains students' mental diversity is multiple intelligences by gardner (armstrong, 2009). gardner (2011) explains that intelligence is not only interpreted as intelligence quotient “iq” as it has been so far, but intelligence concerns a person's ability to solve problems and produce fashion products that are consequences in a particular cultural or community atmosphere. based on gardner’s multiple intelligences, each human being is able to perform seven relatively independent forms of information processing, where each individual is different from one another in terms of the intelligence profile that they show (gardner & hatch, 1989; işık & tarım, 2009; erdem & keklik, 2020), which then added two more intelligences namely naturalistic and existential intelligence (gardner, 2000). multiple intelligences explain that every human being does not have only one intelligence, but several intelligences. the theory of multiple intelligences not only recognizes these individual differences for practical purposes, such as teaching and assessment but also considers and accepts them as normal, reasonable, even interesting and very valuable. furthermore, gardner explains that there are nine intelligences that a person has. the nine intelligences are: 1. verbal-linguistic intelligence closely related to words, both oral and written along with the rules; 2. logical-mathematical intelligence related to the ability to process numbers or skills using logic; 3. spatial intelligence related to the ability to capture color, direction, and space accurately and change the capture into other forms such as decoration, architecture, painting, sculpture; 4. bodily-kinesthetic intelligence related to the ability to use the movements of the whole body to express ideas and feelings and the skill to use hands to create or change things. this intelligence includes specific physical abilities, such as coordination, balance, skills, strength, flexibility, speed and accuracy of receiving excitement, touch, and texture; vol. 8, no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 86 5. musical intelligence related to the ability to capture sounds, distinguish, compose, and express themselves through sounds that are pitched and rhythmic. this intelligence includes sensitivity to rhythm, melody, and sound color; 6. interpersonal intelligence that involve the ability to understand and cooperate with others. this intelligence involves many skills, such as the ability to empathize with others, the ability to organize a group of people towards a common goal, the ability to recognize and read the thoughts of others, the ability to make friends or establish contact; 7. intrapersonal intelligences related to internal aspects in a person, such as life feelings, range of emotions, the ability to distinguish emotions, mark them, and use them to understand and guide own behavior; 8. naturalist intelligence related to skills in recognizing and classifying flora and fauna in their environment. this intelligence is also related to human love for natural objects, animals, and plants. naturalist intelligence is also characterized by sensitivity to natural forms, such as leaves, clouds, rocks; and 9. existential intelligence related to human ability to place oneself in the farthest reaches of the cosmos, with the meaning of life, the meaning of death, the fate of the physical and mental world, and with the meaning of deep experiences such as love or art (armstrong, 2009; gardner, 1993, 2000). every child has these nine intelligences and could develop that intelligence to a sufficiently high level of competence if the child has support, training and teaching. according to gardner (1993) intelligence could be improved, modified, trained, and even changed. in fact, a person's intelligence and ability are flexible and could be guided (ahmadian & hosseini, 2012). problem of study in the current era, more advanced education which is supported and facilitated by various technologies certainly greatly helps students in the learning process, as well as elementary school students. generational differences between teachers and students certainly make different ways of thinking and learning styles between the two generations. it is feared that students better understand the content taught by teachers because students better understand how to use the latest technology. thus, learning multiple intelligences in elementary school students is very important as well as the importance to learn multiple intelligences on preservice teachers of elementary school students themselves. that is because later these preservice teachers would become instructors and educators for these students. the intended teacher candidates are undergraduate students who majored in education, commonly referred to as preservice teachers. preservice teachers are related to students who are enrolled in an undergraduate teaching degree in a university setting (ferry & kervin, 2011). therefore, the preservice teacher in this study referred to the preservice elementary teacher. a good preservice teacher is a prospective teacher who is smart in the field of teaching or pedagogic abilities and their respective expertise (nilsson & loughran, 2012). field of expertise for elementary school teachers, of course, these teachers master the material or content related to several subjects that are applied in each school based on the applicable curriculum. some general subjects taught to elementary school students are mathematics and english (language) subjects. in the philippines setting, courses applied to elementary education programs related to mathematics is temporary mathematics course while course related to english is speech communication course (central luzon state university curriculum, 2016). ikhlas et al the relationship between… online issn 2503-3530 87 state of the art some previous studies have shown that multiple intelligences have a significant relationship with learning outcomes (ahmadian & hosseini, 2012; ekinci, 2014; pourmohammadi et al., 2012; zahedi & moghaddam, 2016). more specifically logicalmathematical intelligence is positively related to students 'mathematical abilities, as well as verbal-linguistics intelligence which is positively related to students' language abilities. based on these points, the researchers conducted research related to multiple intelligences from preservice elementary teachers who were connected with their performance, especially in mathematics, english, and general performance. gap study & objective at this point, the main objective of this study consists in determining the preservice elementary teachers’ multiple intelligences; and the relationship between their gender, their multiple intelligences and their performance. in this sense, the purpose of this research are: 1) to describe the level multiple intelligences of the preservice elementary teachers?; 2) to analyze the difference between multiple intelligences of the preservice elementary teacher according to their gender; 3) to analyze the difference between multiple intelligences of the preservice elementary teacher (verbal-linguistic, logicalmathematic, spatial, musical, bodily kinesthetics, interpersonal, intrapersonal, naturalistic, existential) according to their math, english and general performance; 4) to describe how gender and multiple intelligence of the preservice elementary teacher predict their performance in math, english and general performance. method design the research study used a quantitative research design, which used to establish the relationship between two variables and sometimes explain the cause of such relationship (ary et al., 2010; fraenkel et al., 2011). descriptive-survey approach was used in this study to explore the preservice elementary teacher multiple intelligences, and the relationship between their gender, multiple intelligences toward their performance, especially in math, english, and general performance. participant this research was conducted at college of education, central luzon state university. the data were collected from the students of elementary education department in the first semester of 2018-2019 school year. the sample technique used in this study was purposive sampling, where researchers only limited the participant to first year preservice elementary teacher. afterwards, these 60 preservice elementary teachers were handed out questionnaires, but the regular questionnaires handed in by 59 preservice elementary teachers were accepted for assessment, so the return rate of the questionnaires was 98.33%. the 59 preservice elementary teachers in the sampling were 19 males or 32.2% and 40 females or 67.8% (see table 1). vol. 8, no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 88 table 1. demographic characteristics of the participants according to gender variables categories n percentage gender 1. male 19 32.2 2. female 40 67.8 instrument and procedures three instruments were used in this study. the first part was developed by the researcher covering the socio-demographic characteristics of the participants, asked the students of their socio-demographic characteristics such as gender, semester, and major. the students were asked to supply the information needed by writing answer whenever possible. in term to explore the multiple intelligences of preservice elementary teachers, researcher uses questionnaire for the instrument tool. mackey and gass (2005) showed questionnaires allow researchers to gather the information that learners are able to describe themselves. the second part was about the multiple intelligences which was adapted the multiple intelligence profiling questionnaire iii (mipq-iii) by tirri and nokelainen (2008). this questionnaire consisted of 35 items concerning multiple intelligences of the students. it consisted by nine dimensions, there are: linguistic, logicalmathematical, musical, spatial, bodily-kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, natural and existential intelligence. each dimension was followed by four questions, except natural dimension that only followed by three questions. this part asked the students to rate their multiple intelligences. using likert-type scales, participants were asked to judge indicate how agree they with each statement. the last part was about the preservice elementary teachers’ performance by asking directly to the lecturer concerned. data analysis the data gathered from the students were analyzed by using the statistical package for the social sciences 25 (spss 25). from the parametric tests, descriptive statistics, independent sample t-tests and pearson correlation coefficients were employed. firstly, the reliability of each scale was tested. the multiple intelligence profiling questionnaire iii (mipq-iii) was analyzed and cronbach’s alpha reliability was found 0.98. the cronbach’s alpha scores indicated that the scales used for the present study were highly reliable. furthermore, the researchers analyzed the categories for each intelligence possessed by preservice elementary teachers. as a result, the findings ranging between 5.00 and 4.20, 4.19 and 3.40, 3.39 and 2.60, 2.59 and 1.80, 1.79 and 1.00 were interpreted as very high, high, medium, low, and very low respectively (see table 2). table 2. the ranges of multiple intelligences questionnaire and their category score category 4.20 – 5.00 very high 3.40 – 4.19 high 2.60 – 3.39 medium 1.80 – 2.59 low 1.00 – 1.79 very low results firstly, multiple intelligences of the preservice elementary teachers were determined. when multiple intelligences types of the preservice elementary teachers were calculated, it was observed that logical-mathematic intelligence had the lowest mean score and naturalistic intelligence had the highest mean score (see table 3). ikhlas et al the relationship between… online issn 2503-3530 89 table 3. multiple intelligences of the preservice elementary teachers descriptive statistics descriptive statistics n min max mean sd logical-mathematic 59 2.00 5.00 3.06 .72 verbal-linguistic 59 1.00 5.00 3.77 .61 spatial 59 1.00 5.00 3.25 .62 musical 59 1.00 5.00 3.33 .87 bodily-kinesthetics 59 1.00 5.00 3.52 .66 interpersonal 59 1.00 5.00 3.61 .63 intrapersonal 59 1.00 5.00 3.83 .63 naturalistic 59 1.00 5.00 4.21 .54 existential 59 2.00 5.00 4.00 .53 valid n (listwise) 59 the difference between multiple intelligences types of students and gender were also examined. the result of descriptive statistics shows that some intelligence have significant differences between male and female participants, such as logical-mathematical, linguistic, spatial, bodily-kinesthetics, and interpersonal intelligence, while others intelligence did not indicate any significant difference (see table 4). table 4. result of independent t test for gender and multiple intelligences types of intelligence gender n m sd t df sig. logical-mathematic male 19 3.45 .70 2.971 57 .004 female 40 2.89 .66 verbal-linguistic male 19 3.37 .57 -3.845 57 .000 female 40 3.96 .54 spatial male 19 3.59 .72 3.059 57 .003 female 40 3.09 .51 musical male 19 3.47 .51 .842 57 .404 female 40 3.27 .99 bodily-kinesthetics male 19 3.91 .53 3.298 57 .002 female 40 3.34 .65 interpersonal male 19 3.97 .50 3.248 57 .002 female 40 3.44 .62 intrapersonal male 19 3.92 .54 .719 57 .475 female 40 3.79 .67 naturalistic male 19 4.37 .52 1.575 57 .121 female 40 4.13 .54 existential male 19 4.12 .66 1.178 57 .244 female 40 3.95 .45 the third objective of this study was to determine the relationship between preservice elementary teachers’ multiple intelligences and their performances. it was revealed that most of the intelligence types and the performances had a moderate positive correlation (see table 5). vol. 8, no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 90 table 5. the relationship of the multiple intelligences and the performances temporary math speech communication (english) gpa logical-mathematics .794** .568** .528** verbal-linguistic .140 .629** .635** spatial .710** .439** .477** musical .566** .550** .531** bodily-kinesthetics .671** .359** .306* interpersonal .730** .392** .388** intrapersonal .521** .598** .554** naturalistic .004 -.009 .156 existential .416** .241 .232 *correlation is significant at p<0.05. **correlation is significant at p<0.01. the last objective of this study was to determine whether gender and multiple intelligences of preservice elementary teachers predict their performance in terms of math, english and general performance. table 6 shows the model summary of hierarchical regression analysis used. model summary shows that gender has a high influence on the hierarchical regression analysis model used table 6. model summary of hierarchical regression analysis parameter model 1 model 2 temporary math r ,535a ,893b r2 0.287 0.797 adj. r2 0.274 0.755 r2 change 0.287 0.511 sig. f change 0.000 0.000 speech communication (english) r ,352a ,857b r2 0.124 0.735 adj. r2 0.109 0.680 r2 change 0.124 0.611 sig. f change 0.006 0.000 gpa r ,380a ,842b r2 0.144 0.709 adj. r2 0.129 0.648 r2 change 0.144 0.564 sig. f change 0.003 0.000 a. predictors: (constant), gender b. predictors: (constant), gender, intrapersonal, naturalistic, existential, bodily-kinaesthetic, linguistic, musical, interpersonal, spatial, logical mathematic moreover, table 7 shows the hierarchical regression analysis. it was revealed if among the multiple intelligences, logical-mathematics intelligence becomes a predictor for the performance of the preservice elementary teachers. ikhlas et al the relationship between… online issn 2503-3530 91 table 7. result of hierarchical regression among gender and multiple intelligence toward performance model predictor variable temporary math speech communication (english) gpa b sig. b sig. b sig. 1 (constant) 3.007 0.000 2.985 0.000 2.369 0.000 gender -0.441 0.000*** 0.239 0.006** 0.316 0.003** 2 (constant) 2.133 0.000 1.854 0.000 0.508 0.251 gender -0.192 0.038* 0.394 0.000*** 0.541 0.000*** logical mathematic 0.234 0.022* 0.329 0.001** 0.293 0.019 linguistic -0.056 0.451 0.005 0.948 0.028 0.755 spatial 0.175 0.063 0.065 0.457 0.217 0.057 musical 0.032 0.563 -0.008 0.879 -0.036 0.593 bodilykinaesthetic 0.030 0.648 0.010 0.869 -0.007 0.925 interpersonal 0.060 0.471 -0.101 0.202 -0.040 0.693 intrapersonal -0.014 0.833 0.122 0.054 0.094 0.245 naturalistic -0.246 0.000*** -0.075 0.148 0.034 0.613 existential 0.010 0.874 -0.041 0.505 -0.110 0.171 *** significant at p < 0.001; ** significant at p < 0.01; * significant at p < 0.05 gender = 1 – male, 2female discussion the first question asks about the level of multiple intelligences of preservice elementary teachers. to answer this question researcher uses descriptive statistics. based on table 3, the type of intelligence with the highest mean is naturalistic (m = 4.21), and the one with the lowest mean is logical-mathematic (m = 3.07). this indicates that the average intelligence possessed by preservice elementary teachers is more inclined to naturalistic intelligence, or it could be said that the naturalistic intelligence of the preservice elementary teachers is categorized as "very high". in contrast, the logical-mathematics of preservice elementary teachers are classified as medium. the results also showed that verbal-linguistic intelligence (m = 3.78), bodily-kinesthetic (m = 3.52), interpersonal intelligence (m = 3.61), intrapersonal intelligence (m = 3.83) and existential intelligence (m = 4.00) categorized as "high". meanwhile, spatial intelligence (m = 3.25) and musical intelligence (m = 3.33) categorized as "medium". the next question is whether there is a significant difference between the gender of the preservice elementary teacher according to their multiple intelligence. to answer this question researcher uses an independent sample t-test. table 4 showed the differences between the multiple intelligences of the preservice elementary teachers according to their gender. the result showed that there are differences among the logical-mathematic vol. 8, no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 92 intelligence of the preservice elementary teachers based on the gender (t(57) = 2.971, p<0.05 (0.004)), where male participants have logical-mathematics (m = 3.45) higher than female participants (m = 2.89). this result is similar to a study by furnham and buchanan (2005); lin (2009); biria et al. (2014); and loori (2005), where male participants tend to provide higher logical-mathematics intelligence than female participants. results also showed that there are differences among the verbal-linguistic intelligence of the preservice elementary teachers based on the gender (t(57) = -3.845, p<0.001 (0.000)), where female participants have verbal-linguistic (m = 3.95) higher than male participants (m = 3.36). this result is similar to the study by saricaglu and arikan (2009), lin (2009), and meneviş and özad (2014), which shows that female participants tend to have higher verballinguistics than male participants. afterward, the result also showed that there are differences among the spatial intelligence of the preservice elementary teachers based on the gender (t(57) = 3.059, p<0.05 (0.003)), where male participants (m = 3.59) have spatial intelligence higher than females participants (m = 3.09). this result is similar to the study by lin (2009) and shahzada et al. (2011), which states a difference in spatial intelligence based on gender. results also showed that there are differences among the bodily-kinesthetics intelligence of the preservice elementary teachers based on gender (t(57) = 3.298, p<0.05 (0.002)), where male participants have bodily-kinesthetics intelligence (m = 3.91) higher than female participants (m = 3.34). it is identical to a previous study by lin (2009); and biria et al. (2014), which shows that male participants tend to have higher bodily-kinesthetic intelligence than the female participant. furthermore, the result also showed that there are differences among the interpersonal intelligence of the preservice elementary teachers based on gender (t(57) = 3.248, p<0.05 (0.002)), where male participants have interpersonal intelligence (m = 3.97) higher than females participants (m = 3.44). otherwise, other result showed there is no difference between musical intelligence (t(57) = 0.842, p>0.05 (0.404)), intrapersonal intelligence (t(57) = 0.719, p>0.05 (0.475)), naturalistic intelligence (t(57) = 1.575, p>0.05 (0.121)), and existential intelligence (t(57) = 1.178, p>0.05 (0.244)) of the preservice elementary teacher according to their gender. this result seemed same like previous study by meneviş and özad (2014) that found there is no difference between naturalistic intelligence according to gender. furthermore, to answer whether there is a significant difference between the multiple intelligences of the preservice elementary teacher according to their maths, english, and general performance, the researcher uses pearson correlation. table 5 shows the result of multiple intelligences of the preservice elementary teacher according to their performances. the result showed that some multiple intelligences such as logicalmathematics, spatial, musical, bodily-kinesthetics, interpersonal, intrapersonal positively correlate with math, english, and general performance. this result seemed the same as the previous study by ekinci (2014), which showed a positive correlation between verballinguistic, logical-mathematic, intrapersonal, and interpersonal intelligence with students' performances; and ahmadian and hosseini (2012) that interpersonal intelligence correlates with students' english performance. meanwhile, naturalistic intelligence has no relationship with math, english, and general performance. this result is similar to the study by razmjoo (2008); sadeghi and farzizadeh (2012); ahmadian and hosseini (2012); and rad et al. (2014) that found there is no relationship between naturalistic intelligence and students' performances. as for the other intelligence, verbal-linguistics only has a positive relationship with english and general performance and is not related to math performance, whereas existential intelligence has only a positive relationship with math performance and is not related to english and general performance. it seemed the same as the study by ahmadian and hosseini (2012) that found verbal-linguistic intelligence correlates with english performance. result also show that ikhlas et al the relationship between… online issn 2503-3530 93 relationship between logical-mathematic intelligence and math performance (r = 0.794, p<0.01 (0.000)) is the highest correlation, while bodily-kinesthetics intelligence and general performance (r = 0.306, p<0.05 (0.018)) is the lowest correlation. lastly, in connection with the final question about whether multiple intelligences predict participants' performance, the researcher uses hierarchical regression analysis. table 7 shows the results of the model summary for hierarchical regression analysis. on the temporary math as a dependent variable, the first model shows that r square and r square change were 0.287, which indicates that gender affects the temporary math equal with 28.7%, this is also indicated by the value of significance f change (<0.001). thus, gender plays a role in influencing the model of the hierarchical regression tests performed. furthermore, on the second model, by adding multiple intelligences to the model, it is seen that r square experienced a change of 51.1%, from the previous 0.287 to 0.797. the significance f change (<.001) shows that gender and multiple intelligences simultaneously influence the hierarchical regression model that is performed. meanwhile, speech communication as a dependent variable is seen on the first model if gender as a predictor affects the hierarchical regression test model by 12.4% (0.124), with a significance f change value of 0.006 (<.001). then, after adding multiple intelligences to the model, the significance of the f change becomes 0.000 (<.001), which indicates gender and multiple intelligences as predictors simultaneously affecting the model of the hierarchical regression test. it could also be seen from the magnitude of r square changes by 61.1%, from the previous 0.124 to 0.735. lastly, on the gpa as a dependent variable, the first model has shown if gender affects the model with a significance value of f change equal to 0.003 (<.001), with an effect of 14.4%. then, the second model shows that gender and multiple intelligences as predictors simultaneously also influence the hierarchical regression test model conducted, with a significance f change value of 0,000 (<0.01). this could also be seen from the change in r square by 56.4%, from the previous 0.144 to 0.709. table 7 shows the results of the hierarchical regression test for each different dependent variable. the first model for all dependent variables shows that gender is a very significant predictor of temporary math (p <0.01), speech communication (p <0.01), and gpa (p <0.01). interestingly, in the temporary math results, the value of b has a negative value (b = -0.441), which means that males tend to have better grades than females. whereas the results of speech communication (b = 0.239) and gpa (b = 0.316) show the opposite results, females tend to have good results compared to males. furthermore, on the second model, it appears that gender still has an influence on the three dependent variables, such as temporary math (b = -0.192, p <0.05), speech communication (b = 0.394, p<0.01) and gpa (b = 0.541, p<0.01). interestingly, when added to the nine multiple intelligences, in the temporary math as the dependent variable, only two multiple intelligences predict the math performance, namely logical-mathematics (p <0.05) and naturalistic intelligence (p <0.01). on the logical-mathematic intelligence, seen positive b value (b = 0.234), which indicates that if someone has high logical-mathematical intelligence, they will get high math performance. conversely, the naturalistic intelligence obtained a negative b value (b = 0.246), which indicates that someone who has less naturalistic intelligence tends to get a good math performance. on the speech communication as a dependent variable, only has one intelligence as a predictor of speech communication performance, namely logical-mathematic intelligence vol. 8, no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 94 (p <0.01), with a positive b value (b = 0.329), which indicates that someone who has high logical intelligence is predicted have an excellent speech communication performance. likewise, with gpa as a dependent variable, which also only has one intelligence as a predictor, namely logical-mathematics intelligence (p <0.05), with a positive b value (b = 0.293), which also indicates that someone who has high logical intelligence predicted to have a good gpa or average performance. based on the second model, other multiple intelligences do not predict the three performances, but the three performances are more influenced by gender. some previous studies have found that multiple intelligences are not predictors of performance (koura & al-hebaishi, 2014). it could be argued that there may be other factors that could predict performance (javanmard, 2012). we could not predict a person's success in performance only from the basis of his/her scores on the multiple intelligences. multiple intelligences are vital to explore (savas, 2012; madkour & mohamed, 2016) because we can see how the potential of each of us is seen from the intelligence we have. in this study, exploration of preservice teachers' multiple intelligences has been carried out. before the teachers could educate and develop the potential of their students, the teachers themselves must first be intelligent and have good development in terms of various aspects of intelligence. for example, a teacher who teaches math subjects, then the teacher must have good mathematical intelligence. likewise with other intelligence, of course, it is essential for each teacher to possess, especially preservice elementary teachers. conclusion this study explores the relationship between elementary preservice teachers' multiple intelligence and their performances. based on the study, the naturalistic intelligence of the participants has been found to have the highest mean score among other intelligence, and this could be due to the university's location, which is in an agricultural area surrounded by nature. meanwhile, the logical-mathematics intelligence was found to have the lowest mean score among other intelligence, for the future preservice elementary teachers are expected to train more extra logical-mathematics abilities. after all, preservice elementary teachers are required to teach math subjects, which are compulsory in elementary school. furthermore, it was also found that there were differences between several bits of intelligence (logical-mathematic, verbal-linguistic, spatial, bodily-kinesthetics, and interpersonal intelligence) with gender. this could be due to the less balanced comparison of participants with fewer male participants than female participants. it is expected that research that could include more participants will be conducted in the future. eight of multiple intelligences, except naturalistic intelligence, correlate with the performances, especially logical-mathematical intelligence has a very positive relationship with math performance, as well as verbal-linguistic intelligence that has a positive relationship with english performance. lastly, hierarchical regression shows if gender considers as a predictor of temporary math, speech communication, and gpa or average performance. hierarchical regression also shows if logical-mathematics and naturalistic intelligence could predict temporary math performance, whereas for speech communication and gpa only is predicted by logical-mathematics intelligence. the findings obtained by this research can be input for related stakeholders, such as the department of education, teachers' supervisors, or preservice teachers themselves. for the department of education and teachers' supervisors, it could be included in terms of seeing how the multiple intelligences possessed by each teacher or preservice teachers, which with the results of intelligence, those related stakeholders can place the appropriate potentials of each teacher in mapping the class or grade to be taught. meanwhile, for preservice teachers, it could be input for them in terms of improving the intelligence that is lacking and ikhlas et al the relationship between… online issn 2503-3530 95 maximizing the potential of intelligence that is categorized as good. not limited to that, this study could also be input for other researchers who have the same interest. lastly, future research could be carried out that looks beyond the relationship of multiple intelligences with other performances such as arts, sports, science, and others. and also, not limited to multiple intelligences, future research could add other variables such as attitude, motivation, interest, learning styles, and other related variables. references ahmadian, m., & hosseini, s. (2012). a study of the relationship between iranian efl learners’ multiple intelligences and their performance on writing. mediterranean journal of social sciences, 3(1), 111-126. https://doi.org/10.5901/mjss.2012.03.01.111 ary, d., jacobs, l. c., sorensen, c., & razavieh, a. (2010). introduction to research in education. cengage learning. armstrong, t. (2009). multiple intelligences in the classroom. ascd. biria, r., boshrabadi, a. m., & nikbakht, e. (2014). the relationship between multiple intelligences and iranian efl learners’ level of l2 lexical knowledge: the case of gender. advances in language and literary studies, 5(3), 9-17. http://dx.doi.org/10.7575/aiac.alls.v.5n.3p.9 college of education of central luzon state university. (2016). curricular offerings. https://ced.clsu.edu.ph/curricular%20offerings.php domjan, m. (2014). the principles of learning and behavior: nelson education. ekinci, b. (2014). the relationships among sternberg's triarchic abilities, gardner's multiple intelligences, and academic achievement. social behavior and personality: an international journal, 42(4), 625-633. https://doi.org/10.2224/sbp.2014.42.4.625 erdem, d., & keklik, i. (2020). multiple intelligences profiles in prospective teachers. education reform journal, 5(1), 27-44. http://dx.doi.org/10.22596/erj2020.05.01.27.44 ferry, b., & kervin, l. (2011). using online simulation to engage users in an authentic learning environment. in gaming and simulations: concepts, methodologies, tools and applications (pp. 1460-1476): igi global. https://doi.org/ 10.4018/978-1-60960195-9.ch514 fraenkel, j. r., wallen, n. e., & hyun, h. h. (2011). how to design and evaluate research in education. mcgraw-hill furnham, a., & buchanan, t. (2005). personality, gender and self-perceived intelligence. personality and individual differences, 39(3), 543-555. https://doi.org/10.1016/j.paid.2005.02.011 gardner, h. (1993). multiple intelligences: the theory in practice. basic books. gardner, h. (2000). intelligence reframed: multiple intelligences for the 21st century. hachette gardner, h. (2011). frames of mind: the theory of multiple intelligences. hachette vol. 8, no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 96 gardner, h., & hatch, t. (1989). educational implications of the theory of multiple intelligences. educational researcher, 18(8), 4-10. https://doi.org/ 10.3102/0013189x018008004 işık, d., & tarım, k. (2009). the effects of the cooperative learning method supported by multiple intelligence theory on turkish elementary students’ mathematics achievement. asia pacific education review, 10(4), 465-474. https://doi.org/10.1007/s12564-009-9049-5 javanmard, y. (2012). on the relationship between multiple intelligences and their performance on vocabulary tests among iranian efl learners. global journal of human social science, 12(12), 61-73. https://globaljournals.org/gjhss_volume12/9-on-therelationship-between.pdf koura, a. a., & al-hebaishi, s. m. (2014). the relationship between multiple intelligences, self-efficacy and academic achievement of saudi gifted and regular intermediate students. educational research international, 3(1), 48-70. http://www.erint.savap.org.pk/pdf/vol.3(1)/erint.2014(3.1-05).pdf lin, s. c. (2009). gender and major differences in self-estimates of different aspects of gardner’s multiple intelligences: a study of the undergraduate pre-service teachers in taiwan. asian social science, 5(5), 3-14. https://doi.org/ 10.5539/ass.v5n5p3 loori, a. a. (2005). multiple intelligences: a comparative study between the preferences of males and females. social behavior and personality: an international journal, 33(1), 7788. https://doi.org/10.2224/sbp.2005.33.1.77 mackey, a., & gass, s. m. (2005). second language research: methodology and design. lawrence erlbaum associates publishers. madkour, m., & mohamed, r. a. a. m. (2016). identifying college students' multiple intelligences to enhance motivation and language proficiency. english language teaching, 9(6), 92-107. https://files.eric.ed.gov/fulltext/ej1101228.pdf meneviş, i̇., & özad, b. e. (2014). do age and gender influence multiple intelligences? social behavior and personality: an international journal, 42(1), 9s-19s. https://doi.org/10.2224/sbp.2014.42.0.s9 nilsson, p., & loughran, j. (2012). exploring the development of pre-service science elementary teachers’ pedagogical content knowledge. journal of science teacher education, 23(7), 699-721. https://doi.org/10.1007/s10972-011-9239-y ocak, g., & dermez, h. g. (2008). the fulfilment level of social skills of 4th and 5th grade students at primary school according to multiple intelligence types. the new educational review, 16, 157-176. https://tner.polsl.pl/e16/a12.pdf pour-mohammadi, m., abidin, z., jafre, m., & yang ahmad, k. a. b. (2012). the relationship between students' strengths in multiple intelligences and their achievement in learning english language. journal of language teaching & research, 3(4). https://doi.org/10.1.1.657.9827 pritchard, a. (2008). ways of learning: learning theories and learning styles in the classroom. routledge. rad, r. s., khojasteh, l., & kafipour, r. (2014). the relationship between multiple intelligences and writing skill of medical students in iran. acta didactica napocensia, 7(3), 1-9. https://files.eric.ed.gov/fulltext/ej1053260.pdf razmjoo, s. a. (2008). on the relationship between multiple intelligences and language proficiency. the reading matrix, 8(2). ikhlas et al the relationship between… online issn 2503-3530 97 https://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.540.3303&rep=rep1&ty pe=pdf sadeghi, k., & farzizadeh, b. (2012). the relationship between multiple intelligences and writing ability of iranian efl learners. english language teaching, 5(11), 136-142. https://files.eric.ed.gov/fulltext/ej1080111.pdf saricaglu, a., & arikan, a. (2009). a sudy of multiple intelligences, foreign language success and some selected variables. journal of theory and practice in education, 5(2), 110122. https://files.eric.ed.gov/fulltext/ed506218.pdf savas, p. (2012). pre-service english as a foreign language teachers' perceptions of the relationship between multiple intelligences and foreign language learning. learning and individual differences, 22(6), 850-855. https://doi.org/10.1016/j.lindif.2012.05.003 shahzada, g., ghazi, s. r., khan, h. n., iqbal, s., & shabbir, m. n. (2011). self-perceived multiple intelligences of male and female. mediterranean journal of social sciences, 2(1), 176. http://www.richtmann.org/journal/index.php/mjss/article/view/10765 so, w. w. m., chen, y., & wan, z. h. (2019). multimedia e-learning and self-regulated science learning: a study of primary school learners’ experiences and perceptions. journal of science education and technology, 28(5), 508-522. https://doi.org/10.1007/s10956-019-09782-y tirri, k., & nokelainen, p. (2008). identification of multiple intelligences with the multiple intelligence profiling questionnaire iii. psychology science, 50(2), 206. https://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.522.6173&rep=rep1&ty pe=pdf zahedi, s., & moghaddam, e. m. (2016). the relationship between multiple intelligences and performance of efl students in different forms of reading comprehension tests. theory and practice in language studies, 6(10), 1929-1939. https://www.academypublication.com/ojs/index.php/tpls/article/view/tpls0610192 91939 implementasi perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar ... (mulyadi sk, febriana p) 17 implementasi perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar dalam meningkatkan prestasi belajar siswa mulyadi sk dan febriana primasari pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta abstract the utilization existence of the library as a resource center for students in elementary school is a necessity that needs to be examined. although the school does not have the personnel in charge of taking care of a special library, but it can be handled by a designated teacher under the control of the principal to optimize he library utilization. the effectiveness of implementation will have an impact on the growth of like reading in the school library for students on one hand also creativity of teachers in using library as a learning resource for certain theme, so that students want to come or use to the school library. there is a prediction that the utilization of school library is able to increase the student achievement. keywords : libraries, learning sources, academic achievement pendahuluan latar belakang masalah peningkatan kualitas output pendidikan di era sekarang ini memperoleh prioritas dalam penggarapannya. peningkatan output pendidikan perlu ditunjang sarana dan prasarana yang memadai sebagai pusat sumber belajar. sebagaimana diamanatkan dalam uud 1945 pasal 31 bahwa setiap warga negara indonesia berhak mendapatkan pendidikan. usaha pemerintah ke arah ini telah dilaksanakan dengan menambah jumlah sekolah, menyediakan sumber informasi dan mengalokasikan anggaran pendidikan tahun 2011 berdasarkan uu apbn, anggaran pendidikan daerah sebanyak 158.234 miliar (detiknews.com, 12 september 2013). kualitas pendidikan dasar (sd) bagi warga negara merupakan sarana penting bagi pembangunan manusia trampil. perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sangat diperlukan tersedianya sumber belajar yang berupa hasil penelitian karya ilmiah lainnya yang telah dibukukan secara manual atau digital dan perpustakaan online. perpustakaan, berfungsi seba-gai taman bacaan, sumber-sumber belajar, untuk menumbuhkan minat baca yang sekarang ini dirasa melemah. dengan tersediannya perpustakaan di sekolah-sekolah akan memberi kemudahaan bagi para pelajar untuk mengaksesnya. seiring dengan perkembangan dunia pendidikan tuntutan ragam pengetahuan, proses pendidikanpun menuntut perubahan pelayanan siswa. pembelajaran tidak terpaku pada proses di tatap muka di kelas tetapi mampu menjadikan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. bentuk layanan pendidikan selalu berkembang dan berubah. termasuk pendekatan mengajar dari pendekatan tradisional ke arah aspek modern dengan pelibatan sistem multimedia dan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 17-3018 komunikasi elektronik. kenyataan selama ini ternyata perpustakaan semakin tidak diminati siswa untuk digunakan sebagai sumber belajar karena banyaknya multimedia canggih yang lebih mudah dan cepat digunakan. perpustakaan sekolah tidak hanya sebagai penyedia bacaan siswa di kala senggang. perpustakaan harus menjadi sumber, alat, dan sarana untuk belajar siswa. perpustakaan harus siap setiap saat untuk menunjang dan terlibat dalam pelaksanaan proses pembelajaran, baik di dalam jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran. keberadaannya sangat penting sebagai salah satu sumber belajar. perpustakaan dapat digunakan sebagai sarana peningkatan wawasan dan pengetahuan, meningkatkan minat dan kebiasaan membaca siswa, sarana pencarian pengetahuan atau informasi dan perpustakaan pun dapat digunakan sebagai tempat diskusi, ajang bertukar pikiran antara kelompok belajar. keberadaan perpustakaan sekolah tidak sebatas tempat penyimpanan buku paket pelajaran, tetapi harus mampu menyajikan alternatif sumber ilmu pengetahuan yang dibutuhkan siswa, karena keberadaan perpustakaan selama ini masih sulit diakses siswa. terlebih lagi ada kecenderungan pola pengajaran di sd pada umumnya bersandar pada buku paket yang ditentukan sekolah. ironisnya, sering kali buku paket tersebut hanya dari satu penerbit dan dipilih berdasarkan kedekatan pemerintah atau pengelola sekolah dengan penerbit tertentu. kondisi ini memicu keinginan siswa untuk mencari sumber bacaan atau informasi di luar buku paket. fungsi perpustakaan sekolah kurang mendapat perhatian, sebanarnya keberadaan perpustakaan sekolah bergantung pada komitmen warga sekolah sejak guru, siswa dan dukungan dari kepala sekolah bagaimana mensikapinya. selama ini, kepala sekolah cenderung lebih tergiur membangun fasilitas sekolah seperti lapangan, membuat sekolah bertingkat, atau membeli pendingin ruangan, sehingga pengadaan dan pemeliharaaan perpustakaan cenderung dikesampingkan. idealnya perpustakaan sekolah berisi buku pendamping, buku juga harus lebih spesifik sebagai penunjang dan pelengkap materi , yaitu sesuatu yang sesuai dengan bahan ajar yang diberikan guru untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar tetapi sulit diakses anak, baik karena harga mahal atau terbatas. sekolah tidak perlu ragu pula untuk menarik minat anak datang ke perpustakaan dengan menyediakan buku fiksi, komik, dan cerita rakyat yang bermuatan nilai positif. pengelolaan perpustakaan sekolah juga harus dilakukan secara profesional. pengelola harus serius melaksanakan kegiatannya demi tercapainya kemajuan dan proses pembelajaran di sekolah. maka, tidak bisa dibantah, perlu ada pustakawan yang siap sedia mengelola perpustakaan secara profesional, atau minimal ada satu orang yang ditugasi mengurus dan merawat buku-buku di perpustakaan. dalam kenyataan sekarang, banyak perpustakaan sekolah yang masih dikelola serampangan. masih banyak perpustakaan sekolah yang hanya menjadi gudang buku-buku lama dan buku paket tidak terpakai. bahkan, kadangkadang ada pula perpustakaan sekolah yang tidak pernah dikenal isinya oleh siswa maupun guru. penunjukan pengelola perpustakaan sekolah juga tidak boleh sembarangan, sebaiknya seseorang yang mengetahui seluk-beluk kepustakaan dan keperpustakaan yang dibutuhkan, tapi seseorang yang juga paham dan kenal dunia pendidikan. pengelola perpustakaan sekolah harus memiliki pengetahuan dan visi pendidikan. sehingga, keberadaaanya dapat menunjang kesuksesan pembelajaran di sekolah. sekarang perpustakaan sekolah sudah membutuhkan pengelolaan yang lebih diperhatikan oleh pihak sekolah. profesionalisasi pengelola dan pengelolaan perpustakaan sekolah mutlak dilakukan, karena di era ini, perpustakaan tidak lagi hanya sebagai pelengkap atau penunjang pendidikan. perpustakaan sekolah kini sudah menjadi urat nadi dalam proses pembejalaran dan pendidikan. implementasi perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar ... (mulyadi sk, febriana p) 19 pihak perpustakaan harus berusaha meningkatkan upaya pengelolaannya agar dapat menarik siswa untuk berkunjung ke perpustakaan sekolah. untuk menanamkan kebiasaan atau kegemaran membaca faktor-faktor yang mempengaruhi adalah guru, orang tua, alat dan lingkungan belajar, serta sarana belajar yang memadai. pihak sekolah harus dapat menarik para siswa untuk berkunjung ke perpustakaan. perpustakaan juga tidak sebatas koleksi cetakan, tetapi dapat diperluas medianya atau multimedia, seperti dilengkapi dengan audiovisual, digital, dan online. perpustakaan sangat penting di tingkat sd karena pada masa itulah siswa dapat dibiasakan kreatif mencari berbagai sumber informasi. apalagi sekeluarnya dari lembaga pendidikan, siswa dihadapkan pada kenyataan di masyarakat yang sangat komprehensif dan perlu dilihat dari berbagai aspek. secara yuridis formalnya yaitu pada pasal 23 uu no. 43 tahun 2007 tentang “sistem pendidikan nasional yang menyebutkan bahwa setiap lembaga pendidikan wajib menyelenggarakan perpustakaan yang memenuhi standar nasional perpustakaan dengan memperhatikan standar nasional pendidikan”. tak terkecuali di sdn tunggulsari 1 no 72 laweyan bahwa secara formal perpustakaan sudah dimiliki. namun belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber belajar. oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk dapat memberi sumbang wawasan pada khalaya sekolah dasar untuk bisa memaksimalkan fungsi perpustakaan sebagai sumber belajar siswa sd. bertolak dari latar belakang permasalah yang ada di sekolah dasar ini peneliti akan meneliti bagaimana keberadaan dan kemanfaatan perpustakaan di sekolah dasar dengan judul “perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar untuk meningkatkan prestasi belajar siswa” (studi kasus di sd tunggulsari 1 no 72 laweyan tahun pelajaran 2013-2014). fokus penelitian berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini difokuskan permasalahan yang perlu dikaji, antara lain sebagai berikut : bagaimana siswa memanfaatkan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar dalam upaya meningkatkan prestasi belajar ? bagaimana keberadaan / eksistensi perpustakaan di lingkungan sd negeri tunggulsari 1 no 72 laweyan bagi para siswa? bagaimana pelaksanaan perpustakaan sd negeri tunggulsari 1 no 72 laweyan? bagaimana kendala dan solusi pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar di sd negeri tunggulsari 1 no 72 laweyan? tujuan penelitian untuk memahami permasalahan diatas perlu dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut: untuk mengetahui manfaat perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa sd negeri tunggulsari 1 no 72 laweyan untuk mengetahui keberadaan / eksistensi perpustakaan sd negeri tunggulsari 1 no 72 laweyan. untuk mengetahui pelaksaan perpustakaan sd negeri tunggulsari 1 no 72 laweyan. untuk mengindentifiksi kendala dan solusi pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar di sd negeri tunggulsari 1 no 72 laweyan? manfaat penelitian keberadaan perpustakaan sekolah seharusnya berdampak positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan prestasi siswanya, untuk itu manfaat yang diharapkan terwujud dalam penelitian ini antara lain; profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 17-3020 secara teoritis dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan siswa pada khususnya, maupun bagi masyarakat belajar pada umumnya mengingat fungsi perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar siswa, disamping itu dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian sejenis, yaitu penelitian yang terkait dengan permasalahan pendidikan sekolah. sedang secara praktis peerpustakaan dapat menambah wawasan pembaca, memberi masukan bagi sekolah dasar lain yang berkaitan dengan pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar siswa. landasan teori tinjauan tentang perpustakaan sekolah pengertian perpustakaan sekolah perpustakaan sekolah merupakan sarana pendidikan yang perlu mendapat perhatian khusus oleh pengelola pendidikan. kata perpustakaan berasal dari kata pustaka, yang berarti kitab, buku-buku, kitab primbon (depdikbud:2006). dalam bahasa inggris dikenal dengan “library”. istilah ini berasal dari kata “librer” atau “libri”, yang artinya buku (sulistyo basuki, 2009:6). dengan demikian istilah perpustakaan adalah “sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, maupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasa disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual” (sulistyo basuki, 2009:6). pengertian perpustakaan yang mutakhir ini telah mengarahkan kepada tiga hal yang mendasar sekaligus, yaitu hakikat perpustakaan sebagai salah satu sarana pelestarian bahan pustakaan, manfaat perpustakaan sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan, serta tujuan perpustakaan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional. adapun pengertian perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang berada dalam suatu sekolah yang kedudukan dan tanggunng jawabnya kepada kepala sekolah yang melayani aktivitas akademik sekolah yang bersangkutan. jika ditilik dari pengertian tersebut, hakikat perpustakaan adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya. perpustakaan dapat pula diartikan sebagai tempat kumpulan bukubuku atau tempat buku dihimpun dan diorganisasikan sebagai media belajar siswa. wafford (dalam darmono, 2004) menterjemahkan perpustakaan sebagai salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola, dan memberikan layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum. dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan pengertian perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan. jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar di sekolah, perpustakaan sekolah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan prestasi siswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. melalui penyediaan perpustakaan, siswa dapat berinteraksi dan terlibat langsung baik secara fisik maupun mental dalam proses belajar. perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan, dimana bersama-sama dengan komponen pendidikan lainnya turut menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran. melalui perpustakaan siswa dapat mendidik dirinya secara berkesinambungan. secara umum perpustakaan sekolah sangat diperlukan keberadaanya dengan pertimbangan bahwa: perpustakaan merupakan sumber belajar, implementasi perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar ... (mulyadi sk, febriana p) 21 merupakan salah satu komponen sistem instruksional, sumber untuk menunjang kualitas pendidikan dan pengajaran, sebagai laboratorium belajar yang memungkinkan siswa dapat mempertajam dan memperluas kemampuan untuk membaca, menulis, berpikir dan berkomunikasi. dalam membantu siswa untuk menghasilkan karya yang bermutu, perpustakaan tidak bisa bekerja sendiri. dukungan sekolah, terutama melalui kebijakan pimpinan (kepala sekolah), akan memperlancar tugas atau kebijakan yang akan dijalankan oleh pengelola perpustakaan sekolah. tugas perpustakaan dalam memajukan masyarakat sekolah melalui ilmu pengetahuan dan informasi harus diwujudkan secara efektif dan efisien. masyarakat sekolah yang menjadi sasaran perpustakaan, mulai dari harus menjadi pintar dengan adanya perpustakaan sekolah. khususnya siswa, yang menjadi obyek dari pada pembelajaran dan pengajaran, harus dikenalkan betapa pentingnya manfaat dari perpustakaan sekolah. masyarakat sekolah yang sadar dengan kehadiran perpustakaan akan mewujudkan masyarakat yang gemar membaca atau reading society. memang, proses belajar siswa tidak hanya dilakukani. istilah long life education harus tertanam betul dan diaplikasikan dalam kehidupan siswa sehari-hari. terutama menanamkan akhlak atau nilai-nilai yang baik pada siswa. perpustakaan dapat mengajarkannya tentang rasa tanggungjawab dalam meminjam dan menjaga koleksi dari kerusakan atau hilang, membiasakan aktifitas membaca dalam mengisi jam istirahat, serta kebiasaan baik lain yang tercermin dalam tata tertib maupun peraturan perpustakaan. pihak sekolah berkewajiban mem-backup peraturan yang dikeluarkan oleh perpustakaan. diharapkan dengan penanaman akhlak atau nilai-nilai yang baik ini, siswa dapat lebih bertanggungjawab dalam kehidupan sosialnya, menjadi taat pada orang tua dan bapak ibu guru, serta menjadi warga masyarakat yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. karya yang bermutu dan prestasi hanya bisa diraih dengan adanya kemauan dan kebiasaan siswa untuk terus belajar, lewat membaca di perpustakaan sekolah. kegemaran membaca yang sudah terbudaya di kalangan siswa, harus diimbangi perpustakaan sekolah dengan menyediakan koleksi yang bermutu dan bervariasi. setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah atau digariskan dalam kurikulum harus di backup dengan baik oleh perpustakaan. siswa yang menerima pelajaran di kelas, harus terus dimotivasi untuk terus belajar mengembangkan ilmunya melalui proses membaca di perpustakaan. misalnya dengan memberi tugas membaca diperpustakaan, menceritakan kembali serta membuat laporan. dengan menyediakan fasilitas belajar yang menyenangkan, dan kedekatan pustakawan dengan siswa akan membantu proses kenyamanan belajar di perpustakaan. hasilnya siswa diharapkan bisa menguasai sekaligus mengembangkan mata pelajaran yang diterimanya di kelas. pihak manajemen sekolah perlu mendukung kebijakan untuk cinta kepada perpustakaan sekolah. misalnya saja memberi hadiah kepada siswa yang sering membaca di perpustakaan, serta menghimbau kepada guru untuk memotivasi siswa dalam melengkapi informasi dan pengetahuannya demi menunjang proses pendidikan serta daya serap terhadap mata pelajaran. siswa yang sudah mempunyai motivasi tinggi untuk belajar, tinggal menunggu waktu saja agar dapat berkarya dan berprestasi. pengelolaan perpustakaan sekolah definisi pengelolaan perpustakaan sekolah berasal dari kata pengelolaan dan perpustakaan sekolah. pengelolaan berasal dari kata kelola yang dapat diartikan mengurus atau menjalankan, proses, cara, perbuatan mengelola; melakukan kegiatan dengan menggerakkan tenaga orang lain; membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 17-3022 organisasi; memberi pengawasan pada semua hal yang terlibat di pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan. sejalan dengan tujuan diselengarakan pendidikan dan pembelajaran di sekolah, mencakup kemampuan dasar siswa pada kemahiran melakukan kegiatan baca-tulis dan berhitung (calistung), maka perpustakaan sekolah dapat memaksimalkan pemanfaatannya dalam membantu: (a) mengembangkan pendekatan inovatif untuk meningkatkan pemanfaatan bahan bacaan di perpustakaan sekolah, (b) memotivasi siswa dan mereka yang terlibat pada kegiatan pendidikan atau pembelajaran untuk menggunakan, buku sebagai bahan rekreasi dan sumber informasi, (c) membantu siswa dalam mengembangkan bakat, minat, dan kegemarannya, (d) mengembangkan strategi guna mendukung keberadaan perpustakaan sekolah dengan melibatkan peran serta orang tua murid melalui komite sekolah, badan pengembang buku dan lembaga-lembaga donasi agar keberadaan perpustakaan dapat terjaga kelangsungannya. perpustakaan sekolah memberi pelayanan pada siswa dan guru di sekolah. perpustakaan sekolah didirikan untuk menunjang pencapaian tujuan sekolah, yaitu pendidikan dan pengajaran seperti digariskan dalam kurikulum sekolah. dari pengertian perpustakaan disini terlihat dengan jelas bahwa tugas perpustakaan tidaklah ringan. perpustakaan harus dapat mengumpulkan bahan pustaka dari semua penerbit, tetapi sayang tidak semua penerbit bersedia mengirimkan bahan pustaka yang diterbitkannya ke perpustakaan sekolah. sinergi antara sekolah, perpustakaan sekolah dan penerbit pada kegiatan pendidikan dan pembelajaran harus dijalankan sebagai upaya mencerdaskan kehidupan anak-anak bangsa. proses pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. semua pengelola sekolah sadar bahwa untuk kepentingan pengembangan mutu anak didik selain menerima pembelajaran secara tatap muka juga kegiatan di laboratorium atau lapangan tentu amat dibutuhkan bahan bacaan wajib dan pendamping yang tidak sedikit. namun pada kenyataannya siswa hanya dibekali dengan sejumlah buku yang telah terpaket sesuai kurikulum pada setiap pelajaran. kondisi ini membuat mayoritas pengembangan perpustakaan sekolah tidak memiliki program yang jelas. keberadaan perpustakaan masih terbatas pada tuntutan akreditasi sekolah harus ada perpustakaan, perpustakaan tidak di desain sebagai penunjang kebutuhan utama. pengertian sumber belajar siswa terkait dengan pengertian sumber belajar, maka keberadan perpustakaan merupakan salah satu macam sumber belajar yang tersedia di lingkungan sekolah. mengacu pada definisi sumber belajar yang diberikan oleh association for education communication technology (aect, 2009) maka pengertian sumber belajar adalah berbagai sumber baik itu berupa data, orang atau wujud tertentu yang dapat digunakan oleh siswa dalam belajar baik yang digunakan secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajarnya. ditinjau dari segi pendayagunaan, aect membedakan sumber belajar menjadi dua macam yaitu: pertama, sumber belajar yang dirancang atau sengaja dibuat untuk digunakan dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. sumber belajar yang dirancang tersebut dapat berupa buku teks, buku paket, slide, film, video dan sebagainya yang memang dirancang untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran implementasi perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar ... (mulyadi sk, febriana p) 23 tertentu; kedua, sumber belajar yang tidak dirancang atau tidak sengaja dibuat untuk membantu mencapai tujuan pembelajaran. jenis ini banyak terdapat disekeliling kita dan jika suatu saat kita membutuhkan, maka kita tinggal memanfaatkannya. mengacu pada definisi aect tentang sumber belajar, maka sumber belajar jenis pertama yaitu sumber belajar yang sengaja dibuat untuk membantu pencapaian tujuan belajar perlu disimpan untuk didayagunakan secara maksimal. penyimpanan berbagai sumber belajar tadi ditempatkan dan diorganisasikan di perpustakaan. dengan demikian maka perpustakaan merupakan salah satu sarana yang dibutuhkan di lingkungan berbagai lembaga, termasuk sekolah guna membantu tercapainya setiap upaya pembelajaran. perpustakaan sekolah merupakan pusat seluruh penghuni sekolah dalam mencari sumber informasi dan ilmu pengetahuan. selain kinerja pustakawan sekolah serta koleksi yang baik, aktifitas layanan perlu diberdayakan guna mendukung peran perpustakaan sekolah. aktifitas layanan perpustakaan sekolah akan banyak dipengaruhi oleh aktifitas siswa dalam memanfaatkannya. sebagai mitra siswa dalam belajar, perpustakaan sekolah dapat merencanakan user education agar siswa memahami maksud dan tujuan layanan yang diberikan. pustakawan sekolah harus kreatif dalam mengemas layanan panduan siswa ini. jadwal untuk user education ini perlu disusun sedemikian rupa agar berjalan secara efektif. di sini siswa perlu dikenalkan bagianbagian yang ada di perpustakaan sekolah. seperti bagian peminjaman, penjajaran atau shelving di rak koleksi, dsb. di samping itu, perlu juga diajarkan fungsi dari masing-masing koleksi yang ada di perpustakaan. dengan memahami maksud beberapa informasi yang ada di perpustakaan, siswa tidak akan salah jalan ketika akan mencari informasi dan ilmu pengetahuan sebagai pelengkap atau tambahan dari mata pelajaran yang diterima di kelas.di kelas, pelajaran yang mereka terima tentu dapat dikembangkan dengan menggunakan atau sumber informasi di perpustakaan. siswa bisa memperdalam ilmunya secara lebih detail. proses penyerapan dan penalaran pelajaran merupakan awal dari proses yang harus dilalui siswa untuk menghasilkan karya yang bermutu. siswa yang sering memanfaatkan perpustakaan sekolah, akan terbiasa dengan koleksi yang ada. karena kelengkapan sumber informasi sangat menentukan dalam membuat karya yang bermutu, maka semakin banyak sumber informasi yang dipakai, makin baik pula suatu karya dapat dihasilkan. dengan rasio jumlah pustakawan sekolah dan siswa yang jauh dari ideal, maka seyogyanya sejak dini perpustakaan telah mengenalkan bagaimana memanfaatkan layanan dan koleksi yang ada untuk membantu mencapai tujuan pendidikan siswa. dengan perpustakaan umum atau daerah, perpustakaan sekolah juga bisa bekerjasama dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan layanannya kepada siswa, khususnya bagi siswa kelompok usia anak dan remaja. kerjasama dapat dilakukan misalnya dengan melakukan study visit ke perpustakaan umum atau daerah untuk mengetahui koleksi apa saja yang sesuai untuk siswa pada usia anak-anak atau remaja, serta layanan apa saja yang telah dihadirkan di sana. sehingga sepulang dari perpustakaan umum atau daerah, siswa akan memiliki wawasan tentang semua hal yang berkait dengan perpustakaan dan jasa layanannya. sedangkan bagi perpustakaan sekolah bisa berbenah ke dalam. siswa yang senang dan sering memanfaatkan perpustakaan sebagai penyedia jasa informasi dan ilmu pengetahuan, akan terbantu dalam mewujudkan prestasi dan cita-citanya. pengertian prestasi belajar prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara indiprofesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 17-3024 vidu maupun secara kelompok (djamarah, 1994:19). prestasi belajar merupakan dambaan bagi setiap siswa yang sedang mengikuti proses pembelajaran di sekolah serta dambaan bagi orang tua maupun guru. sebenarnya kata prestasi belajar merupakan suatu pengertian yang terdiri dari dua kata prestasi dan belajar, yang masingmasing mempunyai arti sendiri-sendiri. prestasi belajar mempunyai arti sesuatu yang diadakan (dibuat, dijadikan dan sebagainya) oleh usaha. pengertian prestasi belajar tidak hanya yang tersebut di atas akan tetapi ada pengertian lain mengenal kata prestasi belajar yang dinyatakan oleh suharto dan iryanta tata bahwa prestasi belajar adalah suatu yang ada (terjadi) oleh suatu kerja. selanjutnya makna kata “prestasi belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. ngalim purwanto menyatakan bahwa: “prestasi belajar adalah tingkat kemampuan berpikir”. pusat pengujian balitbang depdikbud menyatakan bahwa : “prestasi belajar tidak hanya meliput aspek pengetahuan dan ketrampilan, namun meliputi pula aspek pembentukan watak seorang siswa” prestasi merupakan bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai. belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. prestasi belajar dapat diartikan sebagai suatu hasil usaha yang telah dicapai dari latihan atau pengalaman yang ditunjukkan dengan nilai tes berdasarkan evaluasi. bloom membagi tingkat kemampuan atau tipe prestasi belajar dari aspek kognitif menjadi enam : (a) pengetahuan hafalan, (b) pemahaman atau komprehensif, (c) penerapan aplikasi,(d)analisis, dan (f) evaluasi. selanjutnya abin syamsudin secara garis besar membagi prestasi belajar menjadi tiga golongan, yaitu (1) aspek kognitif meliputi pengetahuan hafalan, pengamatan, pengertian, aplikasi, analisis, sintesis, evaluasi, (2) aspek efektif meliputi penerimaan, sambutan, penghargaan, apresiasi, internalisasi, karakterisasi, (3) aspek psikomotor meliputi keterampilan bergerak dan ketrampilan verbal dan non verbal. pertanyaan penelitian. untuk memandu pola pemikiran penelitian ini agar dapat fokus dan dapat menemukan jawaban solusi permasalah penelitian maka dimunculkan pertanyaan peneliatian sebagai berikut: bagaimana siswa memanfaatkan perpustakaan sebagai salah satu sumber belajar dalam meningkatkan prestasi belajar ? bagaimana eksitensi perpustakaan di lingkungan sd negeri tunggulsari 1 laweyan? bagaimana pelaksanaan perpustakaan sd negeri tunggulsari 1 laweyan? apakah kendalan dan apa solusinya pemanfaatan pepustakaan sekolah di sd negeri tunggulsari 1 laweyan? metode penelitian metode merupakan prosedur yang harus dilakukan secara sistematis. sementara metodologi ialah suatu kajian untuk mempelajari peraturan-peraturan dari suatu metode. jadi metode penelitian adalah kajian untuk mempelajari peraturan-peraturan dalam penelitian. jika ditinjau dari segi filsafat, metodologi penelitian merupakan epistemologi penelitian, yaitu menyangkut bagaimana seorang peneliti mengadakan penelitian (husaini usman dan purnomo setiady a, 2000: 42). penelitian dilaksanakan di sd negeri tunggulsari 1 laweyan. lokasi ini dipilih karena alasan sd negeri tunggulsari 1 laweyan surakarta, selama bulan oktober samapai bulan desember 2013. bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan tujuan untuk menggali informasi dan implementasi perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar ... (mulyadi sk, febriana p) 25 makna dibalik sebuah peristiwa. penelitian kualitatif merupakan penelitian multimetode dengan satu fokus masalah penelitian dan memiliki sudut pandang naturalistik dan pemahaman interpretif tentang pengalaman manusia (agus salim, 2006:35-38). sudut pandang naturalistik menurut h.b. sutopo (2002:33) bahwa topik penelitian kualitatif diarahkan pada kondisi asli (yang sebenarnya) dari subyek penelitian. kondisi subyek tersebut tidak dipengaruhi oleh perlakuan (treatment) secara ketat oleh peneliti. penelitian ini merupakan studi kasus tunggal, bahwa masalah apa yang dicari, bagaimana melakukan penelitian dalam situasi penelitian dan bagaimana peneliti menafsir beragam informasi yang telah digali dan dicatat, semuanya tergantung pada kondisi yang sebenarnya terjadi dilapangan studi. dengan strategi ini peneliti dapat fokus pada salah satu masalah saja, yitu studi penelitiaannya sama tentang perpustakaan sekolah, maka studi kasus tunggal tetap bisa digunakan dalam proses penelitian. sedangkan informasi kunci dalam penelitian ini adalah pustakawan atau penjaga perpustakaan sekolah, siswa, kepala sekolah bagian kurikulum, guru sd negeri tunggulsari 1 laweyan, untuk menjawab pertanyaan tentang ; manfaat dari perpustakaan sekolah, upaya perpustakaan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, kendala dan solusinya. informasi ini digali dengan wawancara dan observasi. unuk memvaliasi data meggunakan triangulasi teoritik dan triangulasi data, kemudian data dianalisis melalui; pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, penarikan mesimpulan/verifikasi. hasil penelitian perpustakaan sd negeri tunggulsari 1 no.72 penempatan perpustakaan sd negeri tunggulsari 1 no.72 kurang strategis, karena berada di pinggir dari semua ruang kelas. siswa harus berjalan jauh ketika akan mengunjungi perpustakaan, tata ruang kurang rapi, penataan buku, kode seri buku, pengelompokan penempatan, belum baik mengakibatkan pengunjung kesulitan dalam mencari buku, kurang menarik dan jarang dimanfaatkan siswa untuk belajar. perpustakaan idealnya berfungsi sebagai ruangan untuk meyimpan bahan pustaka yang disusun secara sistematis atau menurut sistem tertentu, dipakai secara efisien, sebagai tempat membaca, penelitian, informasi dan menambah pengetahuan. adapun bagi siswa dan guru, perpustakaan bermanfaat untuk; (a) membantu sekolah dalam melaksanakan program studi pendidikan, (b) memupuk kegemaran membaca, (c) mencari sumber informasi, (d) membantu kreatifitas daya fikir dan daya nalar/cipta, (e) menjadi sumber ilmu pengetahuan, (f) mendidik menjadi masyarakat yang bertanggung jawab. perpustakaan sd negeri tunggulsari 1 no.72 sebagai organisasi makro merupakan bagian integral dari sekolah, yang pelaksanaannya harus dipertanggungjawabkan kepada kepala sekolah. selain itu, perpustakaan mempunyai kedudukan sejajar dengan laboratorium, unit kesehatan siswa (uks), bimbingan penyuluhan (bp). pengelolaan perpustakaan sekolah. buku-buku yang di perpustakaan sd negeri tunggulsari 1 no.72 berasal dari berbagai macam sumber yaitu dropping dari pemerintah pusat, sumbangan dari guru atau siswa, foto copy dari pengelola perpustakaan, hadiah dari pihak sekolah, buku penunjang siswa dalam belajar masih minim. buku perpustakaan digolongkan menjadi; buku referensi, dibaca dan tidak boleh dipinjam keluar, dan buku sirkulasi yang dapat dipinjam. selain buku juga ada koleksi lain (non buku), yaitu kamus, buku referensi, cd, dan album foto. klasifikasi bahan pustaka di perpustakaan dilakukan dengan cara, (a) dikelompokkan berdasarkan asal dan bentuk fisik bahan pustaka; bahan pustaka dari bahan kertas dipisahkan dengan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 17-3026 bahan pustaka dari bahan film atau pita rekaman, buku-buku teks dipisahkan dengan buku referensi seperti: kamus, buku pegangan, terbitan berkala dan lainnya yang sejenis, (b) dikelompokkan berdasarkan ukuran bahan pustaka. untuk sejumlah buku yang memiliki ukuran sangat menonjol, misalnya ukuran tinggi jauh berbeda dengan yang lain perlu dipisahkan dan disusun di rak tersendiri, (c) dikelompokkan berdasarkan bahasanya. (d) dikelompokkan berdasarkan isi atau subjeknya. pengelompokkan berdasarkan ciri subyek atau isi dikatakan klasi-fikasi. dengan dilakukan klasifikasi bahan pustaka maka dapayt, memudahkan penelusuran dan temu kembali informasi di perpustakaan, memudahkan penyusunan/penempatan kembali bukubuku di rak, memudahkan penyusunan katalog berkelas, dan bisa mengetahui kekurangan dan kelebihan koleksi yang dimiliki. perpustakaan sd negeri tunggulsari 1 no.72 berpedoman pada klasifikasi ddc (decimal dewey classification). pengelola perpustakaan melakukan klasifikasi tidak dituntut untuk menjadi ahli , namun cukup berbekal pengetahuan tentang sifat, struktur, dan analisis hubungan yang terdapat diantara bidang-bidang pengetahuan. misalnya analisis bidang pengetahuan geografi yang meliputi sifat, struktur, metodologi dan hubungannya dengan pengetahuan lain, seperti ekonomi, geologi, biologi, dan sejarah merupakan latar belakang pengetahuan yang diperlukan dalam analisis subyek. buku-buku yang ada diberi nomor dan diklasifikasikan sesuai dengan aturan dan sistem ddc, sebagai berikut; pengaturan buku. buku diatur menurut urutan subyek dan ditempatkan pada rak buku yang tersedia. buku yang berukuran lebih tinggi atau lebar (oversize books) ditempatkan terpisah dari buku yang berkurang biasa. selain itu, pengaturan buku juga disesuaikan dengan kegunaan masing-masing buku tersebut, misalnya: bukubuku rujukan tidak disatukan dengan buku umum. pengaturan majalah. majalah lepas disimpan dalam kotak dan ditempatkan pada rak berdasarkan urutan abjad judul majalah. majalah yang dianggap penting, setelah lengkap terkumpul kemudian dijilid. penyusunan majalah yang sudah dijilid di dalam rak juga berdasarkan urutan abjad judul majalah atau nomor klasifikasi. pengaturan surat kabar. surat kabar baru disusun pada alat penjepit surat kabar. setelah terkumpul lengkap selama satu minggu, surat kabar dikeluarkan dari alat penjepit untuk menunggu pengolahan selanjutnya, misalnya: menjadi koleksi guntingan surat kabar atau untuk penyusunan indeks artikel surat kabar. setelah jangka waktu tertentu koleksi surat kabar dikeluarkan dari koleksi. pengaturan bahan non buku. koleksi non buku, misalnya: peta, bahan audio visual, alat peraga, cd, dan lain-lain ditempatkan pada tempat khusus sesuai dengan jenis bahan pustaka tersebut. ada yang ditempatkan dalam map khusus dan dijajarkan dalam lemari arsip (filling cabinet) atau ditempatkan dalam kotak khusus yang dibuat untuk menyimpan bahan-bahan tersebut. sistem pelayanan perpustakaan adalah sistem terbuka yaitu suatu sistem pelayanan dimana peminjam dengan bebas memasuki ruangan dan mencari sendiri serta memilih buku yang dikehendaki, kemudian baru diserahkan kepada petugas untuk dicatat sebagai buku yang dipinjam. peminjam buku bacaaan harus mempunyai kartu anggota perpustakaan, mengisi kartu anggota dan kartu peminjaman, siswa mencari buku yang dikehendaki. sedangkan sistem layanan tertutup yaitu sistem yang memberi kebebasan terbatas untuk mengambil dan menggunakan koleksi yang ada di rak, sehingga koleksi menjadi lebih rapi dan buku tidak dikhawatirkan hilang terbawa oleh pengunjung. aminah, s. pd sebagai ketua pengelola perpustakaan, sulistyani agustina, s. pd sebagai implementasi perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar ... (mulyadi sk, febriana p) 27 pengelola dan pelayanan perpustakaan. layanan perpustakaan pada hari senin senin sampai kamis pada pukul 07.00-13.30 wib, jumat pukul 07.00-11.00wib dan pada hari sabtu pada pukul 07.00-12.00 wib, karena waktu pelayanan bersamaan dengan waktu pembelajaran, sehingga siswa jarang yang memanfaatkannya, perpustakaan sekolah terbatas waktu dalam memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajarnya. deskripsi data hasil penelitian dan pembahasan deskripsi dan analisis penelitian dimaksudkan menyajikan data yang dimiliki, sesuai dengan pokok permasalahan yang akan dikaji pada penelitian ini yaitu manfaat perpustakaan sebagai sumber belajar, keberadaan perpustakaan, dan pelaksanaan perpustakaan di sd negeri tunggulsari 1 no.72. manfaat perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar perpustakaan berfungsi sebagai pusat edukasi berarti perpustakaan harus berfungsi sebagai guru atau sebagai pusat sumber belajar yang menyajikan berbagai kebutuhan para siswa. didukung dengan kreatifitas guru dalam mengatur lingkungan belajar siswa, sehingga terjadi pembelajaran dengan memanfaatkan sumber belajar yang sudah tersedia di sekolah, dan siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru tetapi juga dengan perpustakaan, agar siswa mengalami perubahan perilaku. namun perpustakaan sampai saat ini belum digunakan sebagai sumber belajar karena ada beberapa penyebabnya yaitu: perpustakaan sekolah belum mengoptimalkan pemanfaatannya sebagai sumber belajar, untuk pengembangan siswa, pengayaan materi pelajaran, dan pendalaman materi yang diajarkan, pembelajaran monoton ada di kelas, guru mengajar jarang di perpustakaan peran guru masih terbatas, guru harus dapat memainkan peran, khususnya dalam membantu siswa untuk mencapai tujuan belajar, mengarahkan siswa untuk memanfaatkan perpustakaan sekolah, mampu mengembangkan pendekatan inovatif untuk meningkatkan pemanfaatan bahan bacaan di perpustakaan sekolah, memotivasi siswanya. waktu istirahat untuk ke kantin dan sholat. untuk mengembangkan perpustakaan sebagai sumber belajar perlu diciptakaan waktu khusus di sekolah dalam menunjang belajar siswa. diharapkan penyediaan sarana untuk peningkatan aktivitas siswa di perpustakaan akan berpengaruh positif terhadap siswa, seperti budaya memanfaatkan perpustakaan akan menumbuhkan keterampilan membaca dan kegemaran membaca. rendahnya tingkat mobilitas siswa berkunjung ke perpustakaan. keterlibatan perpustakaan sekolah pada kegiatan pembelajaran tetap harus dijalankan sebagai upaya mencerdaskan anak didik, sebagai sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. e). koleksi buku kurang mendukung proses pembelajaran. dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) begitu pesat, perpustakaan sekolah dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perkernbangan iptek, misalnya memanfaatkan komputerisasi. ketersediaan buku di perpustakaan sangatlah penting untuk menunjang siswa dalam belajar. buku menjadi satu hal yang penting juga, karena dengan adanya buku yang bermutu akan membawa kemajuan bagi pembacanya, sedangkan dengan tidak adanya ketersediaan buku yang bermutu akan memunculkan sikap enggan untuk membaca di perpustakaan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 17-3028 pengelolaan dan tata tertib perpustakaan. dalam membantu siswa untuk menghasilkan karya yang bermutu, perpustakaan tidak bisa bekerja sendiri. dukungan sekolah, terutama melalui kebijakan pimpinan (kepala sekolah), akan memperlancar tugas atau kebijakan yang akan dijalankan oleh pengelola perpustakaan sekolah. masyarakat sekolah yang menjadi sasaran perpustakaan, mulai dari pihak manajemen sekolah, guru, siswa, pihak orang tua, dan segenap warga sekolah yang lain harus menjadi pintar dengan adanya perpustakaan sekolah. khususnya siswa, yang menjadi obyek dari pada pembelajaran dan pengajaran, harus dikenalkan betapa pentingnya manfaat dari perpustakaan sekolah. simpulan dan implikasinya simpulan berdasarkan diskripsi data dan laporan pada bab sebelumnya, manfaat perpustakaan sebagai sumber belajar dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa pada sdn tunggulsari 1 no. 72 laweyan namun perpustakaan sampai saat ini belum digunakan sebagai sumber belajar karena ada beberapa penyebabnya yaitu; (1) pengelolaan perpustakaan yang kurang mendapat perhatian dari pihak sekolah, sehingga dengan semua itu memunculkan kurangnya minat siswa berkunjung, (2) keberadaan perpustakaan yang kurang mendukung kebutuhan siswa sehingga pelaksanaan perpustakaan sekolah menjadi sepi peminatnya, (3) peran guru juga masih terbatas, guru hanya sekedar mengarahkan kepada siswa belum memberikan contoh tindakan secara nyata, (4) keterbatasan waktu di sekolah juga mengakibatkan siswa enggan memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar serta rendahnya siswa dalam melakukan aktivitas di perpustakaan, (5) koleksi buku yang kurang mendukung proses pembelajaran. implikasi berdasarkan simpulan penelitian yang telah dikemukakan maka implikasi yang dapat disampaikan secara teoritis dan praktis bahwa perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar siswa di sdn tunggulsari 1 no. 72 laweyan belum bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan prestasi siswa. hal itu di karenakan manfaat perpustakaan belum maksimal di rasakan bagi siswa. perpustakaan sekolah akan lebih menarik jika pihak sekolah memberikan perhatian yang maksimal untuk menjadikan perpustakaan sebagai taman baca siswa. daftar pustaka arikunto. 2005. metode penelitian kualitatif. jakarta: sagung seto. consuelo. 2006. pengantar metode penelitian. jakarta: ui press. darmono. 2006. manajemen dan tata kerja perpustakaan sekolah. jakarta: grasindo. depdikbud. 2006. pengantar ilmu perpustakaan. jakarta: sagung seto. djiwandono. 2005. evaluasi belajar dan pembelajaran. jakarta: bumi aksara. gino, dkk. 2006. belajar dan pembelajaran i. surakarta : universitas sebelas maret surakarta press fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas sebelas maret surakarta. implementasi perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar ... (mulyadi sk, febriana p) 29 harahap, basyral hamidy. 2006. kiprah kepustakaan (seperempat abad ikatan journal of educational media and library science. march, 30, 2009. pp. 130-145. ibrahim bafadal. 2005. pengelolaan perpustakaan sekolah. jakarta : bumi aksara. lucas, linda. (2005). library damage resulting from the 2004 indian ocean earthquake. martoatmojo, karmidi. 2005. manajemen perpustakaan khusus. jakarta : universitas terbuka. mbulu. 2006. peranan perpustakaan sekolah. jakarta: yudhistira. muhammad nuh. 2012. februari 2. mendiknas anggaran pendidikan daerah. detiknews. moleong, lexy j. 2006. metodologi penelitian kualitatif. bandung: remaja rosdakarya. nasution. 2005. pelayanan perpustakaan. yogyakarta : kanisius noerhayati. 2000. pengelolaan perpustakaan . bandung : alumni. perpustakaan nasional ri. 2007. perpustakaan sekolah : suatu petunjuk membina, memakai, dan memelihara perpustakaan di sekolah. jakarta: perpusnas ri. rohanda. 2000. aksentuasi perpustakaan dan pustakawan. jakarta : ikatan pustakawan indonesia soejono trimo. 2005. pedoman pelaksanaan perpustakaan. bandung : remaja karya. sofa. 2008. keberadaan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. jakarta: yudhistira. spradley. 1997. metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. jakarta: kencana. sri suharmini. 2006. perpustakaan dan kepustakawanan indonesia. jakarta : universitas terbuka. sudjana. 2005. evaluasi belajar siswa. jakarta: yudhistira. sugiyanto. 2006. tinjauan kultural terhadap kepustakawanan (inspirasi dari sebuah karya umberto uco). jakarta : sagung seto. sugiyono. 2006. memahami penelitian kualitatif. bandung: alfabeta. suhendar, yaya. 2007. pedoman penyelenggaraan perpustakaan sekolah. jakarta: kencana. suherman. 2009. perpustakaan sebagai jantung sekolah. bandung: mqs publising. sukidin, dkk. 2002. cara menganalisis data kualitatif. jakarta: yudhistira sulistyo, basuki. 2009. pengantar ilmu perpustakaan. jakarta : universitas terbuka. supriyanto, dkk. 2006. aksentuasi perpustakaan dan pustakawan. jakarta: ikatan perpustakaan indonesia. sutarno, ns. 2005. perpustakaan dan masyarakat. jakarta : yayasan obor indonesia sutopo hb. 2002. metodologi penelitian kualitatif, dasar teori dan terapannya dalam penelitian. surakarta: uns press. sutratinah tirtonego. 2006. proses belajar mengajar di sekolah. jakarta: rineka cipta. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 17-3030 syaiful bahri jamarah. 2006. upaya meningkatkan prestasi belajar siswa. yogyakarta: kanisius. teguh yudi. 2009. peran perpustakaan sekolah dalam mencetak siswa berprestasi. universitas negeri malang: jurnal pustakawan. w s. winkel. 2005. belajar dan pembelajaran dalam pencapaian prestasi. jakarta : sagung seto zulfikar zen. 2006. manajemen perpustakaan. jakarta: sagung seto. page 1 page 2 profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 55 curriculum management strategies and effective implementation of universal basic education in nigeria nimota jibola kadir abdullahi* university of ilorin, kwara state, nigeria *email: abdullahi.njk@unilorin.edu.ng submitted: 2022-04-05 doi: 10.23917/ppd.v9i1.18016 accepted: 2022-07-26 published: 2022-07-31 keywords: abstract students' mastery goal; effective classroom instruction; evaluation; self-efficacy; curriculum the main goal of this research was to investigate how curriculum management strategies affected the successful implementation of universal basic education (ube). a total of 712 participants were chosen using proportional random sampling from the sampled primary and junior secondary schools in north-west, nigeria. pearson product-moment correlation coefficient and linear regression analysis were used to test the hypotheses. the findings of the study demonstrated that students’ mastery goals, effective classroom instruction, and evaluation all helped to improve the effectiveness of ube implementation. thus, it was recommended that school managers should encourage students' mastery goals so as to help learners to be better engaged in the learning process. likewise, school managers should strive to create effective classroom instruction to help in engaging learners with concepts and processes of learning. furthermore, evaluation of curriculum and learners’ activities should be done frequently in order to determine learners’ competence before, during, and after instruction toward effective implementation of the curriculum. the results showed that the curriculum management strategies had a significant impact on the effective implementation of ube. introduction background today’s world best practice necessitates a learning environment that prepares learners for what they will need to know and do in their daily lives. any innovation in education entails certain teaching and learning methodologies that allow for its implementation and development. the school curriculum is a living and breathing document that evolves in response to society’s needs, difficulties and goals. as a result of the input on the universal basic education (ube) implementation, the current global and national problem need to be http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ abdullahi – curriculum management strategies ... printed issn 2406-8012 56 addressed through effective curriculum management. curriculum is a structure and construct by the administrators and school personnel to improve learners’ skills and knowledge while also meeting community needs (adesugba & temitope, 2019). the goal of curriculum management generally is to guarantee that all students get the most out of their education, in which learner need to derive the appropriate behaviour, attitudes, values, knowledge and skills from the curriculum for it to be meaningful (murdaningsih & murtiyasa, 2016). curriculum management strategies aims to align learning objectives for all students while also making results easier for teachers. curriculum management strategies in this study refers to effective delivery of instruction, students’ mastering goal and evaluation by ensuring that teachers have the training and support needed for delivering curriculum to learners. universal basic education (ube) is a programme which higher education is founded. it is compulsory for all citizens to enable to function effectively in society (ikoya & onoyase, 2008). on september 30, 1999, the then president of nigeria, president olusegun obasanjo, launched ube. the following were the goals of the ube as stated in the implementation guidelines: provision of free ube for every nigerian child of school going age; developing in the entire citizenry a strong consciousness for education and strong commitment to its vigorous promotion; cater for dropouts and out of school children and adolescents through various forms of complementary approaches to promotion of basic education; ensure the acquisition of the appropriate levels of literacy, manipulative and life skill as well as the ethical moral and civic values needed for laying the foundation for lifelong learning. universal basic education is expected to give basic education that will be completed by the end of the 9 years. it is not only for school-aged children, it is also intended to meet the educational needs of young people and adults who have not had access to sufficient and proper schooling, including nomadic education, adult education, migratory, fishermen’s education, adult’s education, out of school children and dropouts. implementation generally is merely the process of putting into action a previously agreed-upon plan, decision, proposal, idea, or policy. effective implementation entails completing all of the agreed-upon obligation in the planned action, as well as all of the concepts, objectives and rights enshrined therein (mkpa, 2005). universal basic education can be viewed in three dimensions according to uga and fanan (2019), universal refers to a programme that is meant for people from all walks of life including, the wealthy, the poor, the able, the physically challenged, the dull, the smart and anybody else eager to learn or ready to acquire knowledge. the term basic refers to the starting point in the acquisition of knowledge as well as the fundamental and bottom line of education. education refers to the transmission of knowledge. this shows that the ube is the bedrock of higher educations. effective implementation of ube entails providing proper educational facilities and providing coordinated help to instructors in order to ensure quality instruction, students’ self-efficacy and meeting society’s demand (abdullahi, 2021). hence, implementation occurs through the acquisition of the desired experience, knowledge, abilities, attitude, and ideas that will allow the learners to perform effectively in society. this means ube implementation entails putting theory into practice in such a way that learner’s performance in and out of the classroom demonstrates the end result. as a result, an instrument that serve as a vehicle of operation is required to achieve the goals of ube, that instrument is the curriculum management strategies (students' mastery goal, effective classroom instruction & evaluation) which can be thought of as the learning experience and intended learning outcomes that are systematically planned and guided by the school. problem of study as part of the country’s implementation of the ube, certain activities have been incorporated. recruiting and training of new teachers is one of the activities to permanently vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 57 improve learner’s literacy, numeracy and communication skills which necessitates the recruitment and training of teachers who will make the goals feasible (anaduaka & okafor, 2013). aside from hiring new instructors to supplement those who are already working, there is also a need to retrain those who are already in their positions to ensure that they have the essential skills to help the ube achieve its goals. other activities that have been initiated as part of the implementation of ube in the country include the establishment of new schools, provision of new equipment and resources, the development of strategies to increase enrolment (home grow feeding program), and the insurance of various school properties. however, effective implementation of ube is posed with enormous challenges in the aspect of poor planning, inadequate funding, inadequate teacher’s empowerment, and poor school curriculum management. to achieve the successful implementation of ube. efforts must be made on improve on planning, adequate funding, teacher empowerment to aid good study mastery goal, effective class instruction and evaluation towards quality instruction, self-efficacy and realization of educational goals. state of the art the issue of effective implementation of ube has become a bottleneck which affect all and sundry in nigeria. many studies have been conducted on curriculum and implementation and educational goals. christian et al (2021) conducted an appraisal of ube programme and curriculum implementation in ogoja education zone. eze et al. (2020) investigated french language curriculum content and upper basic education. okunola et al (2017) treatise has a focus on contemporary business environment and management of curriculum in tertiary institutions. meanwhile, agbor (2019) embarked on factors of effective ube programme implementation. wali et al (2019) carried out a study on curriculum management and its impact on public and private secondary schools’ performance in khyber pakhtunkhwa. kyayemagye & kintu (2020) investigated curriculum development and head teacher skills in uganda. igbokwe (2015) focused his research light on creating changes in students through curriculum reforms. omosidi et al (2017) studied school development planning and implementation of ube programme. sample of 150 principals, 450 vice principals and 900 teachers were selected for the study. gap study & objective the issue of effective implementation of ube has become a bottleneck which affect all and sundry in nigeria. many studies have been conducted on curriculum and implementation as well as educational goals. christian et al (2021) conducted an appraisal of ube programme and curriculum implementation in ogoja education zone. eze et al. (2020) investigated french language curriculum content and upper basic education. okunola et al (2017) treatise has a focus on contemporary business environment and management of curriculum in tertiary institutions. meanwhile, agbor (2019) embarked on factors of effective ube programme implementation. wali et al (2019) carried out a study on curriculum management and its impact on public and private secondary schools’ performance in khyber pakhtunkhwa. kyayemagye & kintu (2020) investigated curriculum development and head teacher skills in uganda. igbokwe (2015) focused his research light on creating changes in students through curriculum reforms. omosidi et al (2017) studied school development planning and implementation of ube programme. sample of 150 principals, 450 vice principals and 900 teachers were selected for the study. his finding revealed that, teachers’ teaching effectiveness improves students learning toward the implementation of ube programme. however, none of the author sited in this study focused on curriculum management strategies and effective implementation of ube. also, the previous studies did not focus on student mastery goals, effective classroom instruction and evaluation as critical variables to measure curriculum management strategies. another abdullahi – curriculum management strategies ... printed issn 2406-8012 58 glaring gap that prompted this investigation is that the aforementioned extant studies location and region varied significantly from the study. thus, this study endeavours to fill in the gaps left by the earlier scholars. the following objectives have been set to steer the study’s progress: 1) determine the relationship between students' mastery goal and effective implementation of ube in nigeria, 2) determine the relationship between effective classroom instruction and implementation of ube in nigeria, 3) determine the relationship between evaluation and effective implementation of ube in nigeria, and 4) determine the relationship among students' mastery goal, effective classroom instruction, evaluation and effective implementation of ube in nigeria. method type and design in order to explore the relationship between curriculum management strategies and effective implementation of universal basic education, this study used a quantitative research approach. it was chosen because it aids in the exploration of social facts by utilizing a single source of data to categorize traits and construct a statistical model to interprete the data collection that is measurable, objective, and statistically valid (cohen et al, 2000; bell et al, 2007). data and data sources the study’s target population consists of 19,436 primary schools head-teachers, and 2,581 principals of junior secondary school (jss) in north-west, nigeria. with the use of the research advisor (2006) table of determining the sample size of a known population with a confidence level =95%, margin of error =5%, sample of 712 school heads was selected. in each state, proportional random sampling method was used to select a sample of 377 headteachers, and 335 principals from the population, as indicated in table 1. the participants were chosen using stratified random sampling techniques to ensure that every member of the selected samples had an equal chance of being chosen (dillman et al, 2014). table 1. population sample of head of schools and teachers of basic education s/n northwest states number of pri. schools number of jss selected head-teachers selected principals 1 jigawa 1,998 424 39 55 2 kaduna 4,225 411 82 53 3 kano 5,732 875 111 114 4 katsina 2,217 246 43 32 5 kebbi 1,990 267 39 35 6 sokoto 1,729 177 33 23 7 zamfara 1,545 181 30 23 total 19,436 2,581 377 335 source: national personnel audit report (2019) research instruments a self-designed questionnaire titled “curriculum management strategies questionnaire (cmsq) and adapted questionnaire titled effective implementation of ube questionnaire (eiubeq) were utilized as the research instrument in this study. a total of 27 items were used to measure curriculum management strategies with three sub-construct; students' mastery goal (9 items), effective classroom instruction (9 items), and evaluation (9 items). the items of questionnaire regarding effective implementation were concluded from abdullahi (2020a) on quality instruction with (6 items), karani (2018) on self-efficacy with vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 59 (6 items), and abdullahi (2020b) on achievement of educational goal. participants responded to four likert scale from the range of 1 representing “strongly disagreed” to 4 being “strongly agreed”. the criterion mean depicts that any item that is above or equal to the criterion mean value of 2.50 is agreed by the participants, but any item that is below the criterion mean value is disagreed (patton, 2002; gay et al, 2009) decided that answering on a 4-point likert scale was quicker and easier than answering on 5to 7-point range. data collection technique the questionnaire was sent out from january 17 to february 17, 2022 with a total of 800 responses. to achieve a high response rate, three trained research assistants and researcher gave the questionnaires to participants from the sample schools. however, due to variety of situations such as the absence of school heads or the passage of time, researchers and study assistants in certain schools were forced to collect questionnaires in a matter of days. in addition, 740 questionnaires were recovered and filled out correctly. the retrieved numbers corresponds to research advisor (2006) recommendation with a number of 377 and 335 making a total of 712 used in this study. furthermore, prior to administering the questionnaire and carefully adhering to ethical considerations, participants’ agreement was asked. according to hesse-biber & leavy (2011) guidelines addressed ethical issues and participant safety by ensuring that participants are treated with enough respect beyond what is necessary by law. data validity the instrument’s validity was determined by sending draft copies to two experts in test and measurement, as well as two experts in educational management, to assess the instrument’s relevance and applicability. based on the recommendations and views of experts, the questionnaire was corrected and updated. in addition, 25 copies were distributed to participants in the sample to assess their grasp of the instructions, phrasing, and scale to see if there were any difficulties filling out the questionnaire. as a result, several of the comments given were corrected before sending the final copies. the instrument reliability was determined through cronbach’s alpha as shown in table 2. table 2. reliability test of cmsq ad eiubeq variable sub-construct n cronbach’s alpha decision curriculum management strategies students' mastery goal 9 0.893 all items are suitable and reliable effective classroom instruction 9 0.863 all items are suitable and reliable evaluation 9 0.874 all items are suitable and reliable effective implementation quality instruction 6 o.905 all items are suitable and reliable self-efficacy 6 0.922 all items are suitable and reliable realization of educational goal 6 0.882 all items are suitable and reliable abdullahi – curriculum management strategies ... printed issn 2406-8012 60 cronbach’s alpha is a measure of internal consistency, and it will be used to see if the reliability of numerous or multiple questions on the likert scale survey. as a rule of thumb, consider the following when evaluating alpha is α ≥ 0.9 (excellent), 0.9 > α ≥ 0.8 (good), 0.8 > α ≥ 0.7 (acceptable), 0.7 > α ≥ 0.6 (questionable), 0.6 > α ≥ (poor), and 0.5 > α (unacceptable). table 2 shows the reliability test for cmsq for effective implementation of universal basic education, these are students' mastery goal, effective classroom instruction, and evaluation. cronbach alpha value of sub-construct are 0.893 for students' mastery goal with (9 items), 0.863 for effective classroom instruction with (9 items), and 0.874 for evaluation with (9 items). also, on effective implementation variables, the cronbach’s alpha value for sub-construct are 0.905 for quality instruction, 0.922 for self-efficacy and 0.882 for realization of educational goal. value above 0.70 are regarded as suitable and reliable (hesse-biber & leavy, 2011; diamantopoulos et al., 2012). data analysis descriptive statistics are a set of data that provides a general trend such as mean, median, variance, standard deviation, skewness, count of minimum and maximum, and are used to summarize a large pool of data into useful information for educational managers to make decision, whereas descriptive analysis is the process of transforming raw data into a form that is easy to understand and turn into useful insights. a good analysis that can tell a story will be based on good data. good and quality data is defined as data that is accurate, complete, relevant and consistent, especially when it is legitimate and available on a timely basis. the data was analyzed using the mean and standard deviation to determine the study’s goal. at the (0.5) significant level, inferential statistics such as pearson product moment correlation and linear multiple regression analysis were utilized to evaluate the hypotheses and determine whether they were rejected or accepted (mayer, 2013; dillman et al, 2014). result demographic data of the participants this section uses simple percentage to discuss the demographic of the participants. table 3. demographic information of the participants n= 712 percentage (%) sex male female 532 180 75% 25% 712 100% age 41-50 51 above 314 398 44% 56% 712 100% years of teaching experience 15 – 25 years 25years and above 383 329 54% 46% 712 100% level of education bachelor’s degree master’s degree 628 84 88% 12% 712 100% table 3 shows the demographics of the participants in the study. males 532 make up (75%) of the population while females 180 make up of (25%). the majority of the population is between the ages of 51and above (56%). based on year of experience, majority 383 (54%) have 15 to 25 year experience while 329 (46%) have 25 and above experience. in terms of vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 61 level of education, the majority 628 (88%) have a bachelor’s degree while 84 (12%) have a master’s degree. students' mastery goal rq1: does students' mastery goal improve effective implementation of ube in nigeria? the mean and standard deviation responses of school heads on students' mastery goal are shown in table 4. table 4. mean and standard deviation of items on student’ mastery goal s/n students' mastery goal mean standard deviation 1 helps learners to better engage in the learning process. 2.80 0.958 2 encourages learner to display effort and persistent while study. 2.88 0.954 3 makes learner gain an awareness of the value of communication. 2.78 1.032 4 enhances effective thinking on the part of individual learners. 3.28 0.916 5 enables learners to express themselves freely. 2.96 0.951 6 provides avenue for self-identification and selfassessment. 3.12 0.966 7 makes learner have positive attitude towards task in the classroom. 2.86 0.962 8 makes learner have ownership in their learning. 2.92 0.954 9 encourages learner to use adaptive learning strategies. 2.93 0.964 grand mean 2.95 0.962 table 4 shows that the participants’ overall perception on students' mastery goal is ‘agreed” (m = 2.92, sd = 0.962). this shows that participants agreed that students' mastery goal improve effective implementation of universal basic education in nigeria. in addition, all of the responses had mean values more than 2.50, which was the criterion value. this indicates that participants agreed that students' mastery goal i) helps learners to better engage in the learning process (m = 2.80, sd = 0.958), ii) encourages learner to display effort and persistent while study (m = 2.88, sd = 0.954), iii) makes learner gain an awareness of the value of communication (m = 2.78, sd = 1.034), iv) enhances effective thinking on the part of individual learners (m = 3.28, sd = 0.916), v) enables learners to express themselves freely (m = 2.96, sd = 0.951)., vi) provides avenue for self-identification and self-assessment (m = 3.12, sd = 0.966) vii) makes learner have positive attitude towards task in the classroom (m = 2.86, sd = 0.962), viii) makes learner have ownership in their learning (m = 2.93, sd = 0.954), ix) encourages learner to use adaptive learning strategies (m = 2.93, sd = 0.964). effective classroom instruction rq 2: does effective classroom instruction enhance implementation of ube in nigeria? table 5 shows the participants responses on effective classroom instruction table 5. mean and standard deviation of items on effective classroom instruction abdullahi – curriculum management strategies ... printed issn 2406-8012 62 s/n effective classroom instruction mean standard deviation 10 helps in engaging learner with concepts and process for learning. 3.22 0.974 11 helps learner articulate what they learnt. 2.86 0.948 12 helps in bring out hidden talents and qualities in the learner. 2.92 0.968 13 guides learner to communicate with peers constructively. 2.86 0.979 14 helps in fostering creativity skill among the learners. 2.96 0.951 15 helps learner master difficult skills and concepts. 2.88 0.958 16 influences active participation of learner in learning. 3.36 0.961 17 gives room for proper development of attitude and perception. 3.24 0.978 18 provides in learner the ability to use the knowledge meaningfully. 3.12 0.956 grand mean 3.05 0.964 table 5 shows that the participants’ overall perception on effective classroom instruction is ‘agreed” (m = 3.05, sd = 0.964). this shows that participants agreed that effective classroom instruction enhances effective implementation of universal basic education in nigeria. in addition, all of the responses had mean values more than 2.50, which was the criterion value. this reveals that participants agreed that effective classroom instruction i) helps in engaging learner with concepts and process for learning (m = 3.22, sd = 0.974), ii) helps learner articulate what they learnt (m = 2.86, sd = 0.948), iii) helps in bring out hidden talents and qualities in the learner (m = 2.92, sd = 0.968), iv) guides learner to communicate with peers constructively (m = 2.86, sd = 0.979), v) helps in fostering creativity skill among the learners (m = 2.96, sd = 0.951)., vi) helps learner master difficult skills and concepts (m = 2.88, sd = 0.958) vii) influences active participation of learner in learning (m = 3.36, sd = 0.961), viii) gives room for proper development of attitude and perception (m = 3.24, sd = 0.956), ix) provides in learner the ability to use the knowledge meaningfully(m = 3.12, sd = 0.964). evaluation rq 3: does evaluation bring about effective implementation of ube in nigeria? table 6 presents participants responses on evaluation table 6. mean and standard deviation of items on evaluation s/n evaluation mean standard deviation 19 helps to determine learner’s competence before, during and after instruction. 2.97 0.954 20 provides policy on the selection of instructional materials. 2.85 0.961 21 helps to assess the impact of instructional activities. 2.90 0.967 22 helps to determine the effectiveness of teaching methods. 3.24 0.918 23 encourages achievement of teaching objectives. 2.82 0.978 vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 63 s/n evaluation mean standard deviation 24 helps to ensure success of the school system. 2.88 0.964 25 encourages effective habits of cognition that enable complex reasoning and efficient application of that reasoning. 2.92 0.954 26 develops a sense of guidance in learners. 2.86 0.922 27 helps in tracking and advancing learner progress. 2.84 0.966 overall mean 2.92 0.954 table 6 reveals that the participants’ overall perception on evaluation is ‘agreed” (m = 2.92, sd = 0.954). this shows that participants agreed that evaluation brings about effective implementation of universal basic education in nigeria. in addition, all of the responses had mean values more than 2.50, which was the criterion value. this reveals that participants agreed that evaluation i) helps to determine learner’s competence before, during and after instruction (m = 2.97, sd = 0.954), ii) provides policy on the selection of instructional materials (m = 2.85, sd = 0.961), iii) helps to assess the impact of instructional activities (m = 2.90, sd = 0.967), iv) helps to determine the effectiveness of teaching methods (m = 3.24, sd = 0.918), v) encourages achievement of teaching objectives (m = 2.82, sd = 0.978)., vi) helps to ensure success of the school system (m = 2.88, sd = 0.964) vii) encourages effective habits of cognition that enable complex reasoning and efficient application of that reasoning (m = 2.92, sd = 0.954), viii) develops a sense of guidance in learners (m = 2.86, sd = 0.922), ix) elps in tracking and advancing learner progress (m = 2.84, sd = 0.966). research hypotheses the following hypotheses were developed and tested: 1. there is no significant relationship between students' mastery goal and effective implementation of ube in northwest zone, nigeria. 2. there is no significant relationship between effective classroom instruction and implementation of ube in north-west, nigeria. 3. there is no significant relationship between evaluation and effective implementation of ube in north-west zone, nigeria. 4. there is no significant relationship between curriculum management strategies and effective implementation of ube in north-west zone, nigeria. pearson’s r can range from -1 to +1 according to creswell and creswell (2017) where positive pearson correlation means that one variable rises at the the same time as the other, whereas negative pearson correlation suggests that one variable increases while the other drops. h01: there is no significant relationship between students' mastery goal and effective implementation of ube in north-west zone, nigeria. abdullahi – curriculum management strategies ... printed issn 2406-8012 64 table 7. pearson correlation of students' mastery goal and effective implementation of ube students' mastery goal effective implementation of ube student’s mastery gaol pearson correlation 1 ..672** sig. (2-tailed) .000 n 712 712 effective implementation of ube pearson correlation .672** 1 sig. (2-tailed) .000 n 712 712 the pearson correlation (table 7) shows a high positive correlation between students' mastery goal and effective implementation of ube (r = 0.672, n =712, p = .000). the extremely significant p < 0.01 correlation indicate a high level of relationship and supported, which implies high level of confidence in the link (neuman, 2013; choy, 2014). h02: there is no significant relationship between effective classroom instruction and implementation of ube in north-west zone, nigeria. table 8. pearson correlation of effective classroom instruction and implementation of ube effective classroom instruction implementation of ube effective classroom instruction pearson correlation 1 .761 sig. (2-tailed) .000 n 712 712 implementation of ube pearson correlation .761 1 sig. (2-tailed) .000 n 1476 1476 the pearson correlation (table 8) shows a high positive correlation between effective classroom instruction and implementation of ube (r = 0.761, n =712, p = .000). the extremely significant p < 0.01 correlation indicate a high level of relationship and supported, which implies high level of confidence in the association (mugenda & mugenda, 2013; creswell, 2015). h03: there is no significant relationship between evaluation and effective implementation of ube in north-west zone, nigeria vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 65 table 9. pearson correlation of evaluation and effective implementation of ube evaluation effective implementation of ube evaluation pearson correlation 1 .749** sig. (2-tailed. .000 n 712 712 effective implementation of ube pearson correlation .749 1 sig. (2-tailed) .000 n 712 712 the pearson correlation (table 9) shows a high positive correlation between evaluation and effective implementation of ube (r = 0.761, n =712, p = .000). the extremely significant p < 0.01 correlation indicate a high level of relationship and supported, which implies high level of confidence in the association (miller et al, 2011; yilmaz., 2013). linear regression analysis objective 4: determine the relationship between curriculum management strategies and effective implementation of ube in north-west zone, nigeria this section shows the linear regression analysis on curriculum management strategies and effective implementation of ube in north-west zone, nigeria. table 10. linear regression of curriculum management strategies and effective implementation of ube model r r square adjusted r square std. error of the estimate 1 .881 .756 .753 .352 a. predictors: (constants), students' mastery goal, effective classroom instruction and evaluation. table 10 reveals that curriculum management strategies has significant impact on effective implementation of ube with o.756 of r square value. table 11. linear regression coefficient for curriculum management strategies and effective implementation of ube model unstandardized coefficient standardized coefficient t sig. b std. error beta (constant) 468 .108 4.209 .000 students' mastery goal 076 .038 .081 2.856 .000 abdullahi – curriculum management strategies ... printed issn 2406-8012 66 model unstandardized coefficient standardized coefficient t sig. b std. error beta effective classroom instruction .068 .054 .079 2.659 .000 evaluation 0.317 .034 .371 5.679 .000 b. dependent variable: effective implementation of ube linear regression was carried out to determine whether students' mastery goal, effective classroom instruction and evaluation could significantly predict effective implementation of universal basic education. the results of running linear regression model as shown in table 11 explained that the standard regression weight of the beta coefficients value for curriculum management strategies was .468 which reveals that curriculum management strategies enhances effective implementation of ube. also, shown that curriculum management strategies and effective implementation of ube indisputable correlated. t-test of 4.209 was sufficiently high with corresponding p-value of .000. thus, in relation, evaluation has the highest effect (beta = 0.371) follow by students' mastery goal (beta = 0.81) and effective classroom instruction (beta = 0.079). in summary, the findings from this multiple linear regression research affirm that students' mastery goal, effective classroom instruction and evaluation are positively related to effective implementation of ube in north-west zone, nigeria. discussion the findings in table 4 reveals that students' mastery goal improve the effectiveness of universal basic education implementation in nigeria, consequently, it help learners to better engaged in the learning process, awareness of the value of communication, enhances effective thinking on the part of individual learners, enables learners to express themselves freely, provides avenue for self-identification and self-assessment, makes learner have positive attitude towards task in the classroom, makes learner have positive attitude towards task in the classroom, learner have ownership in their learning as well as encourages learner to use adaptive learning strategies. results from hypothesis one reveals that there is close and positive relationship between students' mastery goal and effective implementation of ube in nigeria. the finding agreed with yeung et al (2014) that mastering oriented learners are more engaged and put up more effort in the learning process that resulting in improved achievement. the finding concurred with nolan (2016) that mastery oriented classroom enhances effective realization of education goal. in addition, this finding support the furner and gonzalez-dehass (2011) that mastery goal help to reduce or prevent anxiety student experience in classroom. students' mastery goal according to benita and matos (2021) is the desire to show competence and outperform others in the various educational context. this implies that students' mastery goal can be detected when a student can create a story from a picture, create story from tittle as well as complete control of something. table 5 findings shows that effective classroom instruction enhance implementation of universal basic education in nigeria. as a result, it helps in engaging learner with concepts and process for learning, learner articulate what they learn, bring out hidden talents and qualities in the learner, guides learner to communicate with peers constructively, fostering creativity skill among the learners, master difficult skills and concepts, influences active vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 67 participation of learner in learning, gives room for proper development of attitude and perception, as well as provides in learner the ability to use the knowledge meaningfully. result from h02 shows that there is a close and positive relationship between effective classroom instruction and implementation of ube in nigeria. the finding agreed with dike (2014) that producing curriculum is not enough, it is also necessary to put in place equipment to ensure that its deals are implemented through effective classroom instruction. also, the finding is in line with omosidi et al (2017) that effective classroom instruction enhance effective implementation of ube. table 6 reveals that evaluation brings about effectiveness of universal basic education implementation in nigeria. as a result, it helps to determine learner’s competence before, during and after instruction, provide policy on the selection of instructional materials, help to assess the impact of instructional activities, determine the effectiveness of teaching methods, encourages achievement of teaching objectives, ensure success of the school system, encourages effective habits of cognition that enable complex reasoning and efficient application of that reasoning, develops a sense of guidance in learners as well as helps in tracking and advancing learner progress. hypothesis three results shows that there is close and significant correlation between evaluation and effective implementation of ube in nigeria. this finding concurred with abdullahi (2016) that curriculum evaluation help to measure overall curriculum and programme effectiveness. also, the finding is in line with agbor (2019) that evaluation enhances effective and efficient implementation of ube programme. furthermore, the finding agreed with (idehen & izevbigie, 2000; saurayi, 2000) that poor evaluation adversely affect the successful implementation of ube programme. regression analysis reveals that there is strong relationship between curriculum management strategies and effective implementation of universal basic education in nigeria. the findings concurred with chris and isaac (2013) that implementation of ube programme in nigeria is unsatisfactory due to inadequate human resource, funding, overcrowding, poor instructional materials dilapidated buildings that will enhance quality instruction, self-efficacy and achievement of educational goals. also, this finding is in line with okunola et al (2017) that curriculum management has significant relationship with implementation of educational policy. school managers should strive to create effective classroom instruction to help in engaging learner with concepts and process for learning, articulate what learner learn, bring out hidden talents and qualities in the learner, guide learner to communicate with peers constructively, foster creativity skill among the learners, master difficult skills and concepts, influence active participation of learner in learning, give room for proper development of attitude and perception, as well as provide in learner the ability to use the knowledge meaningfully. furthermore, evaluation of curriculum and learners activities should be done frequently in order to determine learner’s competence before, during and after instruction, provide policy on the selection of instructional materials, help to assess the impact of instructional activities, determine the effectiveness of teaching methods, encourage achievement of teaching objectives, ensure success of the school system, encourage effective habits of cognition that enable complex reasoning and efficient application of that reasoning, develop a sense of guidance in learners as well as helps in tracking and advancing learner progress towards effective implementation of ube. conclusion based on the findings, the current study has conceptualized the relationship between independent variables such as students' mastery goal, effective classroom instruction and evaluation, all of which are promising variables for encouraging the effective implementation of ube. all of the research objectives and questions were supported while analyzing the findings. the fact is that while this study sheds light on the significance of abdullahi – curriculum management strategies ... printed issn 2406-8012 68 curriculum management strategies in the successful implementation of universal basic education, it also identified a few research limitation that should be addressed in future studies. aside from the variables employed in this study, other variables can be used to assess curriculum management strategies. senior secondary schools and higher institution can also be used in carried out similar study. this findings will assist the government and educational administrators in demonstrating concern for improve the effective implementation of ube. school managers should encourage students' mastery goal so as to help learners to better engage in the learning process, awareness of the value of communication, enhances effective thinking on the part of individual learners, enable learners to express themselves freely, provides avenue for self-identification and selfassessment, make learner have positive attitude towards task in the classroom, make learner have positive attitude towards task in the classroom, learner have ownership in their learning as well as encourage learner to use adaptive learning strategies. references abdullahi, e. o. (2016). principle of classroom evaluation. in a. a. adegoke, r. a. lawal, a. g. a. s. oladosu & a. a. jekayinfa (eds.). introduction to teaching methodology. haytee press and publishing company nigeria ltd, ilorin kwara state, nigeria. abdullahi, n. j. k. (2020). human resource development and management of tertiary education for global competitiveness in nigeria. journal of arts & social sciences (jass), 75–88. https://doi.org/10.46662/jass-vol7-iss1-2020(75-88). abdullahi, n. j. k. (2020). managing teaching approach in early childhood care education towards skill development in nigeria. southeast asia early childhood journal, 9(1), 59–74. https://ojs.upsi.edu.my/index.php/saecj/article/view/3527. abdullahi, n. j. k. (2021). managing functional basic education for job creation through emerging technologies and innovation in nigeria. journal of business studies, 42(1&2), 36-56. adesugba, a., & temitope, t. (2019). curriculum development multi-cultural education in the nigerian educational system. journal of scientific research and studies, 6(4), 4653. http://www.modernrespub.org/jsrs/abstract/2019/july/adesugba%20and%20temit ope.htm. agbor, c. a. (2019). determinants of effective implementation of universal basic education programme in ikom education zone of cross river state, nigeria. global journal of educational research, 18, 9-13. https://doi.org/10.4314/gjedr.v18i1.2 anaduaka, u. s., & okafor, c. f. (2013). the universal basic education (ube) programme in nigeria: problems and prospects. journal of research in national development, 11(1), 152–157. https://doi.org/10.4314/jorind.v11i1 bell, e., bryman, a., & harley, b. (2007). business research methods (5th ed.) new york: oxford university press. benita, m., & matos, l. (2021). internalization of mastery goals: the differential effect of teachers’ autonomy support and control. frontiers in psychology, 11. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2020.599303. christian, s. u., isaac, i. a., chenedu, i. o., & ekwutosi, m. n. (2021). appraisal of the implementation of the universal basic education programme in ogoja education zone: implication for curriculum implementation. journal of critical review, 8(2), 106118. chris, i. a., & isaac, j. k. (2013). an assessment of stakeholders perception of the implementation of universal basic education in north-central political zone of nigeria. journal of education and practice, 4(3), 158-165. vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 69 choy, l. t. (2014). the strengths and weaknesses of research methodology: comparison and complimentary between qualitative and quantitative approaches. journal of humanities and social sciences, 19(4), 99-104. cohen, l., mainion, l., & morrison, k. (2000). research methods in education (5th ed,). london: routledge falmer. creswell, j. w. (2015). a concise introduction to mixed methods research. thousand oaks, california: sage. creswell, j. w., & creswell, j. d. (2017). research design: qualitative, quantitative and mixed methods approach, usa: sage publication. diamantopoulos, a., sarstedt, m., fuchs, c., wilczynski, p., & kaiser, s. (2012). guidelines for choosing between multi-item and single-item scales for construct measurement: a predictive validity perspective. journal of the academy of marketing science, 40(3), 434–449. https://doi.org/10.1007/s11747-011-0300-3. dike, s. (2014). opening remarks presented at the training, the trainers workshop on the use of the revised 9 years basic education curriculum held at rock view hotel, abuja nigeria, 5-9th august. dillman, d. a., jolene, d., & leah, m. c. (2014). internet, phone, mail and mixed mode surveys: the tailored design method (4th ed.). hoboken, nj: john wiley. eze, k. o., ugwua, c. s., & okeke, c. i. o. (2020). extent of the upper basic education french language curriculum content-delivery with technologies in nigeria secondary schools. international journal of mechanical and production engineering research and development, 10(4), 311-318. furner, j. m., & gonzalez-dehass, a. (2011). how do students’ mastery and performance goals relate to math anxiety? eurasia journal of mathematics, science and technology education, 7(4), 227–242. https://doi.org/10.12973/ejmste/75209 gay, l. r., mills, g. e., & airasian, p. (2009). educational research: competencies for analysis. hesse-biber, s. & leavy, p. (2011). the practice of qualitative research. thousand oak, ca. idehen, c. o., & izevbigie, t. i. (2000). implementation of universal basic education programme: the way forward. in j. a. aghenta and d. awanbor (eds). the nigerian academy of education. benin city: ambik press ltd. igbokwe, c. o. (2015). curriculum reforms at the basic education level in nigeria aimed at catching them young to create change. american journal of education research, 3(1), 31-37. ikoya, p. o., & onoyase, d. (2008). universal basic education in nigeria: availability of schools’ infrastructure for effective program implementation. educational studies, 34(1), 11–24. https://doi.org/10.1080/03055690701785228 karani, n. n. (2018). self-efficacy evaluation survey on chinese employee: case of electronics limited company “x1” (shenzhen) and investment company limited “x2” (beijing). international journal of e-education, e-business, e-management and elearning, 8(1), 51-57. kyayemagye, f., & kintu, d. (2020). head teachers’ administrative skills and curriculum management in universal secondary education schools in kiruhura district, uganda. teacher education and curriculum studies, 5(3), 81. https://doi.org/10.11648/j.tecs.20200503.16 mayer, a. (2013). introduction to statistics and spss in psychology (1st ed.) england: pearson education limited. miller, v. d., poole, m. s., seibold, d. r., myers, k. k., hee sun park, monge, p., fulk, j., frank, l. b., margolin, d. b., schultz, c. m., cuihua shen, weber, m., lee, s., & shumate, m. (2011). advancing research in organizational communication through quantitative methodology. management communication quarterly, 25(1), 4–58. https://doi.org/10.1177/0893318910390193. abdullahi – curriculum management strategies ... printed issn 2406-8012 70 mkpa, m. a. (2005). challenges of implementing the school curriculum in nigeria. journal of curriculum studies, 12(1), 9-17. mugenda, a., & mugenda, o. (2013). research methods: qualitative and quantitative approaches. nairobi: acts press. murdaningsih, s., & murtiyasa, b. (2016). an analysis on eight grade mathematics textbook of new indonesian curriculum (k-13) based on pisa’s framework. jramathedu (journal of research and advances in mathematics education), 1(1), 14–27. https://doi.org/10.23917/jramathedu.v1i1.1780 neuman, w. l. (2013). social research methods: qualitative and quantitative approaches. usa: pearson education. nolan, j. (2016). growing mastery in new york curriculum. phidelta kappan, 98(3), 41-48. okunola, j. l., ocheho, t., & akinselure, o. p. (2017). management of accounting curriculum and contemporary business environment: a study of selected tertiary institution in nigeria. international journal of economics, commerce, and management, 5(7), 421429. omosidi, a. s., oyeniran, s. & murtala, a. t.(2017). assessment of school development planning on the implementation of universal basic education programme in kwara state, nigeria. kiu journal of social humanities, 2(1), 61-69. patton, m. q. (2002). qualitative research and evaluation methods. 3rd sage publications: thousand oaks, ca. research advisor. (2006). sample size table. http://www.reseach-advisor.com. saurayi, i. d. (2020). monitoring, evaluation and certification of the universal basic education programme. in j. a. aghenta and d. awanbor (eds). the nigerian academic of education. benin city: ambik press ltd. uga, m. o., & fanan, a. g. (2019). management and administration of universal basic education in nigeria: challenges, prospects and suggestions. bsujem, 1(2), 116-123. wali, u., mati, u., rahim, k., zahid, u., & abdulshahab, k. (2019). impact of curriculum management heads on public and private secondary school performance in khyber pakhtunkhwa. science international journal, 31(3), 431-434. yilmaz, k. (2013). comparison of quantitative and qualitative research traditions: epistemological, theoretical, and methodological differences: european journal of education. european journal of education, 48(2), 311–325. https://doi.org/10.1111/ejed.12014. yeung, a. s., craven, r. g., & kaur, g. (2014). influences of mastery goal and perceived competence on educational outcomes. australian journal of educational & developmental psychology, 14, 117–130. https://eric.ed.gov/?id=ej1041683 profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 132 science literacy in elementary schools: a comparative study of flipped learning and hybrid learning models hamna hamna* & muh. khaerul ummah bk universitas madako tolitoli, central sulawesi, indonesia *corresponding author’s email: anhahamna70@gmail.com submitted: 2022-08-25 doi: 10.23917/ppd.v9i2.19667 revised: 2022-10-15 accepted: 2022-11-02 keywords: abstract science literacy; flipped learning; hybrid learning; elementary school the condition of science literacy in elementary schools continues to transform using various learning technology platforms by following the dynamics of the learning conditions they face. although previously learning interactions took place normally in the classroom, today's learning also always requires learning interactions in a virtual-based space. this study uses a comparative experimental research design pretest-posttest control group design with a sample of 84 students from three grades who were purposively placed in two experimental class groups. data were collected in the form of a pretest and posttest. the data analysis technique used parametric analysis in the form of the comparative tukey test. the two models tested were proven to be effective in improving students' science literacy. the results of the comparative analysis prove that the flipped learning model is more positively effective in improving students' science literacy, compared to the application of the hybrid learning model. this technology-based model relies on facilities and infrastructure as a platform to support science literacy in addition to the technological capabilities of teachers and students. this study reveals the implementation of an effective learning model to be used in learning emergencies, including in normal situations after the covid-19 pandemic. introduction background of the study the current massive change in education governance requires the need to harmonize access to education and learning in schools. the goal is that all forms of educational services are more adaptive to various developments, both in terms of advances in learning technology and the state of the learning http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v9i2.19667 vol. 9 no. 2, 2022 online issn 2503-3530 133 environment (komariah, 2021; siregar, 2019). this massive change will always go hand in hand with technological developments that were felt after the outbreak of the covid-19 outbreak that occurred in recent years (salsabila et al., 2020). since the outbreak of the covid-19 virus, various government policies in the school education sector have taken place in the form of the implementation of a limited face-to-face learning system that will take effect simultaneously in mid-2021 (hamna & ummah bk, 2022). along with the implementation of the policy, it will also intensify the use of online system-based learning technology (the cabinet secretariat of the republic of indonesia, 2021). even in any situation, the implementation of education and student learning in schools should be ensured to take place well even though the models or learning strategies applied are different. responding to the learning situation that occurs, educators are always required to be able to design their teaching models by utilizing existing facilities as an effective learning innovation, either by utilizing the surrounding natural environment, social media or internet-based technology facilities, and so on. this is by what is contained in the circular letter of the minister of education and culture of the republic of indonesia number 4 of 2020 which offers that the implementation of education policies during the spread of covid-19 can be integrated with online learning (indonesian ministry of education and culture, 2020). until now, online-based learning has been used as an effective solution for remote teaching and learning activities, as an example seen today. although the covid-19 pandemic has shown signs of ending, online learning will still be needed in the present and the future. novita et al. (2019) said the purpose of implementing online learning is one way of learning that can build interactive relationships between teachers and students without requiring students to be present face to face in their classrooms, but interactive learning activities are mediated by the use of digitalization technology facilities in the form of smartphones or laptops (mu’ah et al., 2020). teaching and learning systems that run online include learning that is packaged virtually with various names such as blended learning, flipped learning, hybrid learning, and the latest metaverse learning has functioned with the help of internet-based technology (kye et al., 2021; indarta et al., 2022)). learning activities carried out online, require the accuracy of the material to be taught. because the accuracy in its use will be the domain of determining the success of learning. online learning in elementary schools has also been widely used in supporting student access to learning (widyaningsih, 2020). learning with online design is known as distance learning. access to learning generally uses various heterogeneous learning application media platforms such as whatsapp, zoom, google form, google meet, google classroom, and various other learning technology platforms (chen et al., 2014; dewi, 2020; assidiqia & sumarni, 2020). from these various platforms, the analysis then concentrates this research on the application of the flipped model and hybrid learning which will be reviewed in a focused manner in the next discussion. the implementation of this model certainly has an impact on improving the quality of learning activities, especially in terms of students' science literacy skills. although previously full-day learning interactions were carried out directly in the classroom (full offline learning), at this time they had to interact in a very limited virtual-based room (limited online learning). in this 21st-century learning condition which is known for the massive influence of internetization technology, educators are required to be able to provide maximum lessons in creative, innovative, and adaptive ways using learning media that can stimulate students to develop their science literacy skills (azimi et al., 2017). problem of the study initially, learning that was oriented to increasing science literacy by utilizing online learning facilities from home was seen as a new activity. but now it is seen as commonplace. so that the stigma of perceived learning as mediocre can be transformed into learning that feels new again. teachers are required to creatively take advantage of existing learning technology platforms with varied teaching hamna & ummah bk – science literacy in elementary schools... printed issn 2406-8012 134 presentation packages and be able to invite active student involvement through online learning that they apply when students study at home (effendi & wahidy, 2019). not a few students experience failure in their science literacy skills as long as students are charged with learning online from home. although this fact returns to the internal and external conditions of each student in receiving lessons at school (verawati & desprayoga, 2019). currently, the development of science literacy skills is still very much needed. this is because children's understanding of science as in learning science and numerical abilities will always be needed in their lives. and the state of every human being will always be faced with questions about his life, thus requiring scientific information and scientific ways of thinking to make decisions and personal interests, and the interests of many people in utilizing the potential of living resources such as air, water, and the environment. science literacy as scientific knowledge will always be needed by every human being. everyone needs to use this scientific information in their life. this is why learning that is identified with science literacy needs to be taught from an early age to children at school. at the elementary school education level, learning with an emphasis on the process of science literacy is seen as providing students with more scientific abilities such as making observations, inferences, experimenting, and inquiry is a scientific method as the core of students' science literacy learning. many ways of teaching can be applied by teachers in teaching science literacy. for example, learning offline or face-to-face in class, teachers can apply cooperative learning models with a scientific method approach, such as by applying the jigsaw learning model, inquiry, and other models (ummah bk & hamna, 2021). even in online learning, various alternative ways of teaching can be applied by teachers to teach science literacy in elementary schools such as flipped, hybrid, blended, and various other learning platforms. the application of learning models with an emphasis on scientific methods in teaching science literacy makes it easier for students to describe objects and events, ask questions, build explanations, test their explanations against the latest scientific knowledge, and communicate their ideas to others. thus, students will be stimulated to identify their assumptions, using critical and logical thinking. in this way, students are expected to be more active in developing their understanding of science literacy by combining their knowledge with their thinking and reasoning skills. although learning online from home does not mean that students cannot develop their science literacy skills. it depends on how educators can use existing facilities to support student learning, even though they are faced with various possible obstacles such as constraints with poor internet network connections and so on that can potentially reduce students' science literacy skills. the oecd (2018) released the results of the program for international student assessment (pisa) survey which recorded the learning achievements of 15-year-old students of science literacy in indonesia with an average score of 396 (ranked 70 out of 78 oecd countries). the condition of the science literacy ability of indonesian children in this oecd country is still low and very worrying in the current era of digital technology (fausan et al., 2021). pisa is an indicator for assessing the progress goals of science education in several countries, including indonesia to date (sadler & zeidler, 2009). the weakness of indonesian students' science literacy, as noted by the results of the program for international student assessment (pisa) survey, will signal the worst possibility if this condition is not taken seriously. one of the preliminary studies found in the object of this research was that information on science literacy learning outcomes for the students of an elementary school in tolitoli region, central sulawesi, indonesia was getting weaker, during which student learning activities at school were diverted to study from home with a fully online system which showed potential signs of declining literacy skills. student science. obtained from the results of student report cards after they were accumulated related to the science literacy ability of 48 students. initial data was obtained that the three science subjects students in the 2021/2022 academic year were generally classified as low based on the standard setting of 75% vol. 9 no. 2, 2022 online issn 2503-3530 135 of the minimum completeness criteria (kkm). the results of the achievement of science literacy can be seen in table 1. table 1. accumulative data on academic achievement in science literacy for class iv, v, and vi students of an elementary school in central sulawesi subjects average achievement score average achievement of 75% kkm mathematics 56,76% not complete natural science 51,53% not complete social science 56,77% not complete source: data on report value of the observed school for the 2021/2022 academic year the condition of the weakening of students' science literacy skills at the observed school cannot be separated from the shift in learning patterns from the face-to-face learning system in schools to changing learning patterns from home based on online and limited face-to-face learning (ptm) which some of the activities are carried out online. learning. the impact of the change in learning patterns requires that every teacher at the observed school switch to optimizing the online learning system as much as possible. the situational impact of the shift in learning conditions, making the online learning-based teacher learning pattern initially only used as an online learning media platform with the function of ordinary communication tools without utilizing their creativity in combining it with the application of cutting-edge learning strategies that have been widely recognized for their effectiveness by practitioners such as applying the model flipped learning, hybrid learning, blanded learning and various other effective learning models that can be synchronized with the use of online learning facilities. various applications of online learning models during the covid-19 emergency can make a major contribution to student learning (hamna & ummah bk, 2022). mainly contributing to students' science literacy learning in schools as well as answering the challenges of learning in the 21st century which requires integration with digitalization-internetization technology (alrashed & bin, 2021). research’s state of the art learning from home based on online learning is an effective learning pattern applied in times of emergency, especially in studying science literacy (utamajaya et al., 2020). learning using flipped learning and hybrid learning with an online learning base is useful for improving the interaction pattern of students' science literacy learning. these two models can stimulate students' ability to learn science to be better in achieving their learning outcomes, which used to be lethargic when studying online without clear teacher assistance, again making students enjoy the science literacy lessons taught to them (abroto et al., 2021). flipped learning and hybrid learning models are based on different learning implementations, but the learning media platforms used both rely on internet-based information technology media. flipped learning is learning that combines classroom meetings with online learning as well as hybrid learning which is both based on online learning. according to herreid & schiller (2013) in flipped learning, things that are usually done in the classroom such as explaining the material, giving assignments, exercises, and homework shifts to online-based learning. the implementation principle in flipped learning is synchronous and things that are usually homework including exercises, case studies, problem-solving, and the like are better done in class. while listening to the teacher's hamna & ummah bk – science literacy in elementary schools... printed issn 2406-8012 136 explanation becomes a homework assignment in the form of watching learning video shows. therefore this learning is called flipped learning. as is the case with hybrid learning, learning is also combined with online learning design (makhin, 2021). hybrid learning provides opportunities for students to be able to carry out direct learning such as discussions, and debates, and be able to receive instructions responsively even though it is mediated by an internetization platform (nurfallah & pradipta, 2021). the principle of implementing hybrid learning is asynchronous learning as a learning model that maximizes direct teaching from the teacher, where in the learning process students learn subject matter through direct virtual interaction with the teacher while still using internet media to support all learning activities such as doing assignments, discussing material, problem-solving includes studying problems that he has not understood while studying online. the fundamental difference in the focus of this research with the results of scientific studies from several previous researchers who have confirmed the advantages of the flipped learning and hybrid learning models which were studied separately and carried out by different research subjects, the researchers, in this case, is more focused on revealing the facts of the effectiveness of the two models. which is tested through the results of a comparative study that compares the advantages of the flipped learning and hybrid learning models which were studied simultaneously by utilizing two different class objects with experimental research methods. gap study & objective this study assumes that the implementation of the flipped learning and hybrid learning system model is seen as effective in improving students' science literacy skills. but of course, its use requires the support of facilities and infrastructure based on the latest technology. the application of the system is also an online learning medium that can bridge the increase in students' science literacy in elementary schools. therefore, this study focuses on looking at the comparison of the average level of effectiveness of the two models tested on the science literacy abilities of students in elementary schools. this comparative research was conducted because until now there have been no results of research that has carried out comparative tests on the advantages of the two models studied, namely the flipped learning model and hybrid learning, especially in measuring students' science literacy skills in elementary schools. method type and design this research is comparative-experimental quantitative research. the type of experimental method is a true experiment. determination of the type of true experiment which is analyzed comparatively is motivated by the selection of the test subject determined by probability sampling so that the results of the sample test can be generalized to a wider population object. the rationale for using this comparative-experimental research is to compare two different experimental class conditions in giving treatment so that the level of comparison of the effectiveness of the two learning models studied can be observed. in addition, the determination of the comparative-experimental method in this research analysis utilizes pretest and posttest instruments to measure students' science literacy learning outcomes by comparing the effectiveness of the flipped learning model and the hybrid learning model. the design of giving pretest-posttest and comparative-experimental research is almost the same as the type of quasi-experimental research based on the use of pretest-posttest, the difference is only seen from the side of the class group that is formed, namely all classes are used as experimental classes and there is no formation of a control class including the category determination of the sample that is not determined purposively. vol. 9 no. 2, 2022 online issn 2503-3530 137 data and data sources the variables used are two independent variables, namely the application of the flipped learning model and the application of the hybrid learning model. the two independent variables are then compared with the level of effectiveness of their application to the dependent variable, namely the students' science literacy ability. the research population came from all students of an elementary school in central sulawesi, which was then determined as an experimental class sample from three grade levels, namely grades iv, v, and vi which were determined based on a probability sampling mechanism. the overall sample of students is 84 students who are students for the 2021/2022 academic year. from this whole sample, it was then merged into two experimental class groups according to their class level. where the experimental class a is given treatment with the application of the flipped learning model and the experimental class b applies the hybrid learning model, as the results of the class formation are shown in table 2. table 2. experiment class grouping class samples samples experiment class a experiment class b iv class 28 14 14 v class 26 13 13 vi class 30 15 15 total 84 42 42 source: student data for academic year 2021/2022 the two learning models studied in experimental class a and experimental class b follow the design pattern as shown in figure 1 (flipped learning) and figure 2 (hybrid learning). figure 1: flipped learning model design (bishop & verleger, 2013) learning with the flipped model emphasizes the efficient use of learning time in class into learning activities that are done at online from home and work or assignments that should be done at home, swapping positions to be completed in class (oakes et al., 2019). in supporting the application of this flipped learning model, at an elementary school in central sulawesi, 3-day learning meetings are held for 1 month (12 learning meetings with flipped learning activities) by emphasizing two main approaches: 1) using computer/mobile phone devices as access learn directly outside the classroom by watching learning videos that have been shared by the teacher in the form of link access; and 2) continue to carry out interactive learning in the classroom using limited face-to-face learning (ptm) hamna & ummah bk – science literacy in elementary schools... printed issn 2406-8012 138 following the learning policy regulation by the local government in tolitoli regency, central sulawesi (tolitoli, 2021). figure 2: hybrid learning model design it is different from the design pattern of the hybrid learning model as can be seen in figure 2 and then its application is adjusted to the conditions of science literacy learning at the observed school. the design pattern begins with the first stage, where students carry out face-to-face learning about 3 times a week with the teacher in the classroom. furthermore, for the next 4 weeks (12 meetings as part of the hybrid learning activity), students were instructed to undergo web-based/online systembased independent learning activities from home, either synchronously or asynchronously. during the independent study period, all students meet again with the teacher through the online system directly according to a predetermined schedule. in this final stage, students are facilitated to report any learning problems they face in connection with learning tasks related to science literacy given to them. these activities can be done by students directly at school or virtually, depending on the learning situation at hand. data collection technique data collection techniques in the form of pretest and posttest in this comparative quasi-experimental method use a test instrument in the form of a questionnaire that has been tested for the level of validity and reliability. in order to determine the validity of the scientific literacy questionnaire, it was tested to 28 students. the trial completion of the scientific literacy questionnaire revealed that 18 of its items were valid. the calculation limit above 0.387 is used to determine item validity requirements. therefore, the number of questionnaire statements used to measure preand post-test results for scientific literacy among students is 18. the pretest was given before the learning model studied was applied to the two experimental class groups that had been formed to measure early science literacy skills for all students. the posttest was given after the learning model studied had been applied to the two experimental classes of this study. vol. 9 no. 2, 2022 online issn 2503-3530 139 data analysis the data analysis technique uses parametric statistical analysis in the type of multiple linear regression (f test). this analysis is used to determine the effect of two independent variables on other variables studied. then the results of comparative data analysis using the tukey test analysis, which is used to compare the effectiveness of the analysis of each learning model studied. the basis for determining this parametric test analysis departs from the results of the prerequisite tests for data analysis carried out, one of which is that all data are normally distributed. all types of statistical test analysis used were carried out using spss 26 software. results as explained in the research methods section, explains the flow of the process of applying two learning models that are believed to be able to streamline students' science literacy learning outcomes. in the following explanation, the comparative test results are explained between the two models studied, namely flipped learning and hybrid learning. the results of the research in the experimental class were seen based on the results of the pretest-posttest descriptive data analysis as tabulated in table 3 and table 4 below. table 3. descriptive data of pretest results experiment a science literacy subjects class iv class v class vi 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� flipped learning mathematics 42 88 65 54 76 65 48 76 62 natural science 67 85 76 58 80 69 65 77 71 social science 64 84 74 62 70 66 59 73 66 the average results of the students' science literacy pretest 58 86 72 58 75 67 57 75 66 experiment b science literacy subjects class iv class v class vi 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� hybrid learning mathematics 56 87 72 50 89 70 55 81 68 natural science 55 89 72 58 85 72 57 90 74 social science 67 87 77 64 82 73 68 78 73 the average results of the students' science literacy pretest 59 88 74 57 85 72 60 83 72 source: research data in 2022 table 4. descriptive data of posttest results experiment a science literacy subjects class iv class v class vi 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� flipped learning mathematics 79 90 84 84 98 91 81 90 86 natural science 80 95 88 78 92 85 88 96 92 social science 82 94 88 80 95 88 82 96 89 the average results of the students' science literacy posttest 80 93 87 81 95 88 84 94 89 experiment b science literacy subjects class iv class v class vi 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� 𝑿𝒎𝒊𝒏 𝑿𝒎𝒂𝒙 �̅� hybrid learning mathematics 75 83 72 86 94 90 72 82 77 natural science 72 89 81 83 98 91 76 87 82 social science 68 88 77 79 95 87 79 84 82 the average results of the students' science literacy posttest 59 87 77 83 96 90 76 83 80 hamna & ummah bk – science literacy in elementary schools... printed issn 2406-8012 140 source: research data in 2022 tables 3 and 4 show a comparison of the effectiveness of the two learning models based on the results of descriptive data testing, which are cumulatively taken from the overall data from the pretest and posttest test samples (class iv, v, and vi) which are simply seen from the accumulation of comparisons. the minimum value (x min), maximum value (x max), and average value (x ) of the learning outcomes of experimental class a (flipped learning) and experimental class b (hybrid learning). it is also known that the results of measuring the reliability of the test instrument are in table 5 with an r-table of 0.388 for experimental class a based on cronbach's alpha value of 0.881 (highly reliable). meanwhile, the results of the instrument reliability test for experimental class b are also very reliable with cronbach's alpha value of 0.877. table 5. realibility statistic flipped learning model hybrid learning model cronbach’s alpha n of items cronbach’s alpha n of items .881 84 .877 84 source: spss data processing results the results of the normality test show that the data is in a normally distributed state. the results of the normality test of this data become a determining factor for the use of parametric statistical hypothesis testing analysis for the comparative-experimental analysis model of the two class sample states tested, this is as the measurement results are shown in table 6 below. table 6. data normality test results test type kolmogorov-smirnova statistic df sig. science literacy flipped learning .134 42 .200* hybrid learning .134 42 .186* source: spss data processing results after performing the normality test with the results of all data being normally distributed, then the data multicollinearity test was carried out. this multi-collinearity test aims to test whether there is a correlation between the independent (independent) variables in the regression model. testing for the presence or absence of multi-collinearity data was carried out using the vif (variance inflation factor) method. the criteria used in testing the vif method is that if the vif value is > 10, then there is high multicollinearity between the regressors of one independent variable and the regressors of other independent variables, as shown in the following test results. table 7. data multi collinearity test results variable tolerance vif flipped learning 0.852 1.337 hybrid learning 0.756 1.376 source: spss data processing results vol. 9 no. 2, 2022 online issn 2503-3530 141 based on the results of the tabulation table 7, the vif value in all independent variables is < 10, and the tolerance value for the dependent variable is > 10%, so it can be interpreted that in this study there were no symptoms of multicollinearity in the two independent variables. through the test results of the prerequisite analysis, the statistical hypothesis test was carried out by using parametric statistical calculations with the type of multiple linear regression analysis. regression analysis is used to determine the indication of the effect of each independent variable on the dependent variable. measurement of statistical hypothesis testing using the f test (simultaneous test) one way anova test. simultaneous equation testing can be done by comparing the results of the f-count and f-table measurements provided that if f-count < f-table, ho is accepted and ha is rejected (not significant), otherwise if f-count > f-table, then ho is rejected and ha is accepted (significant). table 8. test of between-subjects effects dependent variabel: literasi sains source df f sign. between groups 2 7.321 .834 within group 82 total 84 source: spss data processing results the test results in this study simultaneously obtained the results that the f-count (7.321) > ftable (3.429) so it can be interpreted that the hypothesis is accepted, meaning that the flipped learning and hybrid learning models simultaneously affect students' science literacy skills. as the results of this simultaneous test were then carried out a comparative test analysis was seen through the tukey test measurement data. testing with the tukey test analysis was used to determine the significant difference in the effectiveness of the two learning models studied. the results of the tukey test can be seen in table 9 below. table 9. comparative test results data through tukey's test analysis dependent variable class (i) class (j) mean difference (i-j) std. error sign. 95% confidence interval lower bound upper bound science literacy flipped learning hybrid learning 2.71* 3.643 .037 2.41 1.49 hybrid learning flipped learning -2.52 3.555 .000 -1.49 -2.41 source: spss data processing results based on the results of the comparative analysis of the tukey test, it is proven that the science literacy ability of the experimental class that applies the flipped learning model has a significant difference from that of the experimental class that applies the hybrid learning model. the results of this test indicate that the application of the flipped learning model has a more effective and significant positive effect than the application of the hybrid learning model on students' science literacy skills. although there are differences in quantum data, these two models both make an effective contribution to improving students' science literacy skills. hamna & ummah bk – science literacy in elementary schools... printed issn 2406-8012 142 figure 3: comparative differences in the effectiveness of flipped learning and hybrid learning models table 10. accumulated average comparisonlevel of effectiveness of model implementation model comparison class iv samples class v samples class vi samples total score flipped learning pretest 72 67 66 68,33 posttest 87 88 89 88,00 hybrid learning pretest 74 72 72 72,67 posttest 77 90 80 82,33 it is known that the pretest results of the experimental class a that applied the flipped learning model showed students' science literacy results with an average achievement of 68.33 then increased effectively based on the posttest results with an average of 88.00. the results of the pretest experimental class b that applied the hybrid learning model with an average learning achievement of 72.67 also increased effectively from the results of the posttest achievement with an average result of 82.33. as it was proven earlier that the two models studied were proven to be effective in increasing students' science literacy at the observed school, although there was a significant difference in effectiveness that favored one of the models studied. as the data obtained, the flipped learning model is more effective than the implementation of the hybrid learning model. in fact, from the two experimental class conditions studied for the support of the facilities and infrastructure, including the learning technology used to support the application of the two learning models, it is the same as using a computer/laptop/smartphone device supported by the availability of internet network access. discussions flipped learning and hybrid learning are the two most dominant learning models applied by teachers and students in learning activities that integrate the application of online or offline learning 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 fourth-grade pretest fourth-grade post test fifth-grade pretest fifth-grade post test sixth-grade pretest sixth-grade post test hybrid learning flipped learning vol. 9 no. 2, 2022 online issn 2503-3530 143 media technology. the two learning models according to the results of research that have been carried out have proven to be very effective in improving students' science literacy at the observed school. the effectiveness of the application of the two models studied can be applied especially when facing learning emergencies, such as during the outbreak of the covid-19 virus which resulted in restrictions on access to face-to-face learning in schools. the research results of thohir et al. (2021) explain that this model can monitor student learning activities even though they are in a learning emergency, making it easier for teachers to monitor student learning progress through the use of various online media platforms that are easy for students to use and like, such as online quizzes, youtube and so on. not only can it be used in an emergency, but these two models can also be applied to all types of subjects at the elementary school level as long as access to learning requires synchronization with internetized technology facilities. usually the selection of these two learning models in improving students' science literacy in elementary schools because they can harmonize the learning conditions they face. relevant to the research results of wendt & rockinson-szapkiw (2014), using online learning media can minimize students' scientific misconceptions about what they learn. the effect of effectiveness of the application of the flipped learning model on increasing students' science literacy at the observed schoolis supported by the learning stages that have been carried out, with the teacher's initial step providing learning videos that have been creatively made by the teacher. the presence of this learning video is very helpful for students in learning, with the advantage that it can be watched repeatedly by students until students understand the material taught by the teacher through the mediation of the learning videos provided. awareness of students watching learning videos is also an important weight that underlies the increase in students' understanding of the material being taught so that in the end it makes it easier for students to complete their learning tasks. the presence of videos with flipped learning patterns according to leo and puzio (2016) is more enthusiastic about students' learning enthusiasm in science learning such as natural science subjects in high grades. the effectiveness of the flipped learning model has also been mentioned in several previous studies, as concluded through the results of sezer's research (2016) proving the effectiveness of flipped learning can produce good academic achievement and motivate students to be more active in learning. juniantari et al. (2018) said that the implementation of the flipped learning model on students' conceptual understanding has a positive effect. shi et al. (2019), flipped learning can improve students' cognitive abilities and effectively increase students' individual collaborative and pedagogical activities. khofifah et al. (2021) and gumilar (2021), the application of the flipped learning model has a positive effect on students' understanding of mathematical concepts and problem-solving. rohmatulloh & nindiasari (2022) through their research results also revealed an increase in student's conceptual understanding and problem-solving abilities by applying the flipped learning model. according to núñez et al. (2020) that in line with technological advances in environmental sciencesbased learning requires innovative and active teacher teaching methods, one of which is by doing flipped learning as a good teaching strategy for developing students' learning experiences and learning outcomes (cheng et al., 2019). likewise, the application of the hybrid learning model through the data from the research that has been carried out has also been proven to be able to improve the science literacy skills of students at the observed school. this hybrid learning model is an incarnation of the results of the development of the blanded learning model. from a review of the effectiveness of its application to students' science literacy skills, it is done by combining face-to-face learning with learning strategies by utilizing computer/mobile phone facilities online or offline systems. the strengthening of the application of the model is in line with the view that the hybrid learning model can combine face-to-face, synchronous, hamna & ummah bk – science literacy in elementary schools... printed issn 2406-8012 144 and asynchronous learning activities that facilitate the interaction of teachers and students under certain conditions (hendrayati & pamungkas, 2016). implementation of the hybrid learning model in responding to certain circumstances as stated by (makhin, 2021) that hybrid learning can be useful as a preventive measure to overcome student boredom and rigidity during the implementation of online learning policies during the covid-19 pandemic which has been carried out fully online so far (setiawan & iasha, 2020). the balancing of other learning conditions is mediated by today's technological advances according to nastiti & ‘abdu (2020), learning in the 4.0 revolution era can apply the hybrid learning system. based on the illustration of the design pattern of its application at the observed school, it shows that the hybrid learning model that is applied is not carried out fully online, but is balanced with other learning activities. the effectiveness of the implementation of this hybrid learning model in improving students' science literacy at the observed schoolis motivated by the flexibility of learning that can adapt to the learning conditions faced. if the learning collided with emergency conditions such as a ban on learning activities at school during the increasing cases of covid-19 or other emergency conditions, then this model becomes an effective learning alternative to be applied by teachers in supporting students' science literacy learning. conclusion the results of this study prove that the application of the flipped learning model and the hybrid learning model both have a positive and contributive impact on increasing students' science literacy at the observed school. however, the comparative test results prove that the application of the flipped learning model is more effective than the implementation of the hybrid learning model. the limitation of this research is that it only focuses on science literacy in elementary schools which includes learning mathematics, science, and social studies in the sense that it is not applied thoroughly to all subjects taught at school. the limitations of the ability of teachers and students to use the learning model studied and the limitations of some teachers and students in terms of the ability to use technology as well as access disruptions in the form of internet networks are limitations in this study. from this limitation, it can be followed up through the next relevant research. the hope from the results of this study is that these two technology-based learning system models can be used in students' science literacy learning activities. as long as access to student learning is supported by the availability of technological devices and supporting facilities and infrastructure, and is supported by the skills of teachers and students in utilizing this learning technology more meaningfully. given the learning paradigm in elementary schools, there will be a lot of contact with technological devices as a trend of learning progress in the present and the future. references abroto, a., maemonah, m., & ayu, n. p. (2021). pengaruh metode blanded learning dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa sekolah dasar. edukatif: jurnal ilmu pendidikan, 3(5), 1993–2000. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/edukatif.v3i5.703 alrashed, y., & bin, i. a. (2021). flipped learning in science education: implications and challenges. psychology and education journal, 58(1), 5697–5707. https://doi.org/https://doi.org/10.17762/pae.v58i1.1973 assidiqia, m. h., & sumarni, w. (2020). pemanfaatan platform digital di masa pandemi covid-19. seminar nasional pascasarjana universitas negeri semarang, 298–202. https://proceeding.unnes.ac.id/index.php/snpasca/article/download/601/519 azimi, rusilowati, a., & sulhadi. (2017). pengembangan media pembelajaran ipa berbasis literasi sains vol. 9 no. 2, 2022 online issn 2503-3530 145 untuk siswa sekolah dasar. psej: pancasakti science education journa, 2(2), 145–157. http://ejournal.ups.ac.id/index.php/psej bishop, j., & verleger, m. a. (2013). the flipped classroom: a survey of the research. 23.1200.123.1200.18. https://peer.asee.org/the-flipped-classroom-a-survey-of-the-research chen, w., niu, z., zhao, x., & li, y. (2014). a hybrid recommendation algorithm adapted in e-learning environments. world wide web, 271–284. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/s11280-0120187-z cheng, l., ritzhaupt, a. d., & antonenko, p. (2019). efects of the fipped classroom instructional strategy on students’ learning outcomes: a meta-analysis. education tech research dev, 793– 824. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/s11423-018-9633-7 dewi, w. a. f. (2020). dampak covid-19 terhadap implementasi pembelajaran daring di sekolah dasar. edukatif: jurnal ilmu pendidikan, 2(1), 55–61. https://edukatif.org/index.php/edukatif/article/view/89 effendi, d., & wahidy, a. (2019). pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran menuju pembelajaran abad 21. prosiding seminar nasional pendidikan program pascasarjana universitas pgri palembang, 125–129. https://jurnal.univpgripalembang.ac.id/index.php/prosidingpps/article/download/2977/2799 fausan, m. m., susilo, h., gofur, a., sueb, s., & yusop, f. d. (2021). the scientific literacy performance of gifted young scientist candidates in the digital age. cakrawala pendidikan: jurnal ilmiah pendidikan, 40(2), 467–479. https://doi.org/doi:10.21831/cp.v40i2.39434 gumilar, e. b. (2021). penerapan flipped classroom terhadap kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah matematis pada mahasiswa stai muhammadiyah blora. jornal ilmiah peadagogy, 14(2), 56–67. http://jurnal.staimuhblora.ac.id/index.php/pedagogy/article/view/95/87 hamna, & ummah bk, m. k. u. (2022). dilematism: principal’s managerial strategies in realizing the covid-19 vaccination program in elementary school. jurnal madako education, 8(1), 70–79. https://ojs.umada.ac.id/index.php/jme/article/view/214/201 hendrayati, h., & pamungkas, b. (2016). implementasi model hybrid learning pada proses pembelajaran mata kuliah statistika ii di prodi manajemen fpeb upi. jurnal penelitian pendidikan, 181–184. https://ejournal.upi.edu/index.php/jer/article/download/3430/2422 herreid, f., & schiller, n. a. (2013). case studies and the flipped classroom. journal of college science teaching, 62–66. https://www.academia.edu/27180689/case_studies_and_the_flipped_classroom indarta, y., ambiyar, a., samala, a. d., & watrianthos, r. (2022). metaverse: tantangan dan peluang dalam pendidikan. jurnal basicedu: journal of elementary education, 6(3), 3351–3363. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.2615 indonesian ministry of education and culture. (2020). circular of the minister of education and culture of the republic of indonesia number 4 of 2020 regarding the implementation of education during the emergency period of the spread of covid-19. https://pk.kemdikbud.go.id/read-news/suratedaran-nomor-4-tahun-2020-tentang-pelaksanaan-pendidikan-dalam-masa-daruratpenyebaran-covid19 juniantari, m., pujawan, i. g. n., & widhiasih, i. d. a. g. (2018). pengaruh pendekatan flipped classroom terhadap pemahaman konsep matematika siswa sma. journal of education technology, 2(4), 197–204. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/jet/article/view/17855/10693 khofifah, l., supriadi, n., & syazali, m. (2021). model flipped classroom dan discovery learning terhadap kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah matematis. jurnal prisma, 10(1), 17–29. https://jurnal.unsur.ac.id/prisma/article/view/1098 hamna & ummah bk – science literacy in elementary schools... printed issn 2406-8012 146 komariah, a. (2021). disrupsi inovasi manajemen layanan sekolah. prosiding seminar nasional pendidikan program pascasarjana universitas pgri palembang, 46–51. https://jurnal.univpgripalembang.ac.id/index.php/prosidingpps/article/download/5471/4808 kye, b., han, n., kim, e., park, y., & jo, s. (2021). educational applications of metaverse: possibilities and limitations. jeehp: journal of educational evaluation for health professions, 1–13. https://doi.org/https://doi.org/10.3352/jeehp.2021.18.32 leo, j., & puzio, k. (2016). flipped instruction in a high school science classroom. journal of science education and technology, 775–781. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/s10956-016-96344 makhin, m. (2021). hybrid learning model pembelajaran pada masa pandemi di sd negeri bungurasih waru sidoarjo. mudir: jurnal manajemen pendidikan, 3(2), 95–103. https://doi.org/https://doi.org/10.55352/mudir.v3i2.312 mu’ah, m., suyanto, u. y., romadhona, d., hidayati, n., & askhar, b. m. (2020). pemanfaatan aplikasi digital dalam pembelajaran interaktif bagi siswa sekolah dasar di era new normal. jurnal pengabdian masyarakat manage, 1(2), 122–128. https://doi.org/https://doi.org/10.32528/jpmm.v1i2.3986 nastiti, f. e., & ‘abdu, a. r. n. (2020). kesiapan pendidikan indonesia menghadapi era society 5.0. edcomtech: jurnal kajian teknologi pendidikan, 5(1), 61–66. http://journal2.um.ac.id/index.php/edcomtech/article/view/9138/pdf novita, l., sukmanasa, e., & pratama, m. y. (2019). penggunaan media pembelajaran video terhadap hasil belajar siswa sd. ijpe (indonesian journal of primary education), 3(2), 64–72. https://ejournal.upi.edu/index.php/ijpe/article/view/22103/10859 núñez, j. a. l., belmonte, j. l., guerrero, a. j., & sánchez, s. p. (2020). effectiveness of innovate educational practices with flipped learning and remote sensing in earth and environmental sciences—an exploratory case study. remote sensing, 897(12), 1–14. https://doi.org/https://doi.org/10.3390/rs12050897 nurfallah, m., & pradipta, t. r. (2021). motivasi belajar matematika siswa sekolah menengah selama pembelajaran daring di masa pandemi covid-19. jurnal cendekia: jurnal pendidikan matematika, 5(3), 2425–2437. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/cendekia.v5i3.752 oakes, d., joubert, m., & lyakhova, s. (2019). exploring teachers’ use of time gained due to the use of a flipped classroom approach in mathematics. proceedings of the british society for research into learning mathematics, 1–6. https://bsrlm.org.uk/wp-content/uploads/2019/09/bsrlm-cp39-2-10.pdf oecd. (2018). pisa 2018 results: whats student know and can do. oecd publishing. https://doi.org/https://doi.org/10.1787/19963777 rohmatulloh, r., & nindiasari, h. (2022). meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis melalui model pembelajaran flipped classroom. edukatif: jurnal ilmu pendidikan, 4(1), 436– 442. https://edukatif.org/index.php/edukatif/article/view/1877/pdf sadler, t. d., & zeidler, d. l. (2009). scientific literacy, pisa, and socioscientific discourse: assessment for progressive aims of science education. journal of research in science teaching, 46(8), 909– 921. https://doi.org/https://doi.org/10.1002/tea.20327 salsabila, u. h., sari, l. i., lathif, k. h., lestari, a. p., & ayuning, a. (2020). peran teknologi dalam pembelajaran di masa pandemi covid-19. al-mutharahah: jurnal penelitian dan kajian sosial keagamaan, 17(2), 188–198. https://doi.org/10.46781/al-mutharahah.v17i2.138 setiawan, b., & iasha, v. (2020). covid-19 pandemic: the influence of full-online learning for elementary school in rural areas. jurnal pendidikan sekolah dasar (jpsd), 6(2), 114–123. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30870/jpsd.v6i2.8400.g5942 sezer, b. (2016). the effectiveness of a technology-enhanced flipped science classroom. journal of vol. 9 no. 2, 2022 online issn 2503-3530 147 educational computing research, 4(55), 1–24. https://doi.org/https://doi.org/10.1177%2f0735633116671325 shi, y., ma, y., macleod, j., & yang, h. h. (2019). college students’ cognitive learning outcomes in fipped classroom instruction: a meta‑analysis of the empirical literature. journal of computers in education, 79–103. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/s40692-019-00142-8 siregar, f. a. (2019). teknologi pendidikan dan pembelajaran abad 21. prosiding seminar nasional teknologi pendidikan pascasarjana unimed, 610–618. http://digilib.unimed.ac.id/38872/3/atp 70.pdf thohir, m., maarif, s., rosyid, j., huda, h., & ahmadi, a. (2021). from disruption to mobilization: ire teachers’ perspectives on independent learning policy. jurnal cakrawala pendidikan, 40(2), 359– 373. https://doi.org/10.21831/cp.v40i2.39540 tolitoli, b. (2021). intruksi bupati tolitoli tentang pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas di masa pandemi covid-19 pada satgas pendidikan di kabupaten tolitoli. dokumen pemerintah kabupaten tolitoli, 1–3. https://www.lidikinvestigasi-ri.com/2021/08/bupati-tolitoliinstruksikan-kadis.html the cabinet secretariat of the republic of indonesia. (2021). joint decree minister of education, culture, research, and technology, minister of religion, minister of health, and minister of home affairs of the republic of indonesia ummah bk, m. k., & hamna. (2021). the effectiveness of jigsaw learning model by using numbered cards: strategy for increasing mathematics learning motivation students in elementary school. pedagogik journal of islamic elementary school, 4(1), 1–18. https://doi.org/https://doi.org/10.24256/pijies.v4i1.1765 utamajaya, j. n., manullang, s. o., mursidi, a., noviandari, h., & bk, m. k. u. (2020). investigating the teaching models, strategies and technological innovations for classroom learning after school reopening. palarch’s journal of archaeology of egypt/egyptology, 17(vol. 17 no. 7 (2020): palarch’s journal of archaeology of egypt/egyptology), 13141–13150. https://archives.palarch.nl/index.php/jae/article/view/5063 verawati, v., & desprayoga, d. (2019). solusi pembelajaran 4.0: hybrid learning. prosiding seminar nasional pendidikan program pascasarjana universitas pgri palembang, 1183–1192. https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/prosidingpps/article/view/2739 wendt, j. l., & rockinson-szapkiw, a. (2014). the effect of online collaboration on middle school student science misconceptions as an aspect of science literacy. journal of research in science teaching, 51(9), 1–16. https://doi.org/https://doi.org/10.1002/tea.21169 widyaningsih, o. (2020). penerapan pembelajaran online (dalam jaringan) di sekolah dasar. trapsila: jurnal pendidikan dasar, 2(2), 50–60. https://journal.uwks.ac.id/index.php/trapsila/article/download/1106/pdf e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 58 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 58 65 persepsi guru terhadap implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 di sekolah dasar muhammadiyah risminawati 1), nurul fadhila 2) fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta ris286@ums.ac.id abstract the purpose of this study was to describe the perception of teachers towards the preparation of the implementation of an integrated thematic learning curriculum in 2013 and the perception of teachers towards the implementation of integrated thematic curriculum in 2013 in sd muhammadiyah surakarta 24. the research is a qualitative research study design used is phenomenological. the technique of collecting data through observation, interviews and documentation. for the validity of the source data using triangulation and triangulation techniques. it can be concluded that the perception of teachers towards the preparation of the implementation of an integrated thematic learning curriculum in 2013 is to prepare and understand the student book and teacher books before doing the learning. rpp to make some adjustments tailored to the needs of learners. providing tools and learning media to be used. the media being used does not have any teachers make instructional media, teachers to sort out which material that is considered difficult requiring the use of instructional media, and perceived easy not to use instructional media. prepare assessment instruments. perception of teachers on the implementation of thematic learning integrative curriculum in 2013 that the learning has been interesting, learning students are invited active discussion, ask questions so that learning is not only one way, by learning to use the themes in the study, so that the learning can be achieved many learning objectives, learning teacher led to create lesson plans in advance, so that during the learning process the teacher already knows what needs to be done to facilitate the teacher to make a step in teaching. keywords: perception of teachers, implementation, learning, integrated thematic curriculum pendahuluan kemajuan suatu negara terletak pada sumber daya manusia (sdm) yang mendiami negara tersebut. sebuah negara akan maju apabila warga negaranya memiliki sdm yang berkualitas. kemampuan sdm yang berkualitas nantinya dapat digunakan untuk menghadapi persaingan dari dunia luar untuk kemajuan baik negara maupun kehidupan yang layak untuk dirinya sendiri. salah satu upaya membentuk sdm yang berkualitas yaitu dengan cara negara memberikan pendidikan yang layak bagi seluruh warga negaranya. pendidikan yang layak berupa pendidikan yang dapat mengembangkan potensi peserta didik serta mencetak peserta didik menjadi seorang yang memiliki sdm berkualitas. sesuai dengan hal tersebut, pendidikan nasional juga berusaha memberikan pendidikan yang layak bagi seluruh warga negaranya. dengan mewajibkan warga negara indonesia berpendidikan 9 tahun, tidak hanya mewajibkan namun pemerintah memberikan fasilitas yaitu dengan sekolah gratis tanpa spp. sekolah gratis tersebut bertujuan untuk mencerdaskan bangsa guna meningkatkan kualitas sdm. pendidikan yang layak dapat melalui lembaga formal yaitu sekolah. untuk menciptakan sekolah dengan suasana pembelajaran yang demokratis serta menyenangkan, dibutuhkan perubahan yang cukup mendasar dalam sistem pendidikan. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 persepsi guru terhadap.......(risminawati, dan nurul fadilah) 59 perubahan tersebut berkaitan dengan kurikulum, karena kurikulum merupakan suatu perangkat yang penting yang digunakan sebagai pedoman kegiatan pembelajaran di sekolah. hal tersebut sesuai dengan pengertian kurikulum menurut peraturan pemerintah republik indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional yang menuliskan bahwa kurikulum adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu” kurikulum yang dapat menjadi pedoman penyelenggaraan pembelajaran yang demokratis dan menyenangkan, kurikulum yang diperlukan juga untuk saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter. kurikulum tersebut juga dibutuhkan untuk membekali peserta didik dengan berbagai sikap dan kemampuan yang sesuai dengan tantangan masa depan. berkaitan dengan pentingnya kebutuhan akan kurikulum dengan karakteristik tersebut maka pemerintah indonesia mengembangkan kurikulum terbaru yaitu kurikulum 2013. selain berbasis kompetensi sekaligus karakter, kurikulum 2013 juga memiliki beberapa karakteristik seperti yang tertulis dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 67 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah. karakteristik kurikulum 2013 yaitu kurikulum yang mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik. kurikulum 2013 merupakan bentuk pengembangan dari kurikulum lama. seperti yang dijelaskan oleh mulyasa (2013: 66) “kurikulum 2013 merupakan tindak lanjut dari kurikulum berbasis kompetensi (kbk) yang pernah diujicobakan pada tahun 2004.” kbk dijadikan acuan dan pedoman bagi pelaksanaan pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah. implementasi dalam kamus besar bahasa indonesia diartikan sebagai pelaksanaan atau penerapan, sehingga implementasi kurikulum dapat diartikan sebagai pelaksanaan dari kurikulum yang telah dirancang/didesain ke lapangan atau ke setiap satuan pendidikan. kurikulum 2013 telah diimplementasikan sejak tahun ajaran baru 2013/2014. pada tahun 2013 kurikulum 2013 mulai diimplementasikan dengan sasaran uji coba pada satuan pendidikan tingkat sekolah dasar (sd) kelas i dan iv, tahun 2014 pengimplementasian kurikulum 2013 menjadi kelas i, ii, iv, dan v, dan pada tahun 2015 ini menjadi seluruh kelas yaitu kelas i, ii, iii, iv, v, dan vi. namun tidak semua sekolah menerapkan kurikulum 2013, sekolah-sekolah yang menjadi sasaran uji coba memiliki kriteria ditentukan oleh pemerintah. sekolah dasar muhammadiyah 24 surakarta adalah salah satu sekolah yang menjadi pilot project untuk implementasi kurikulum 2013.sd muhammadiyah 24 surakarta merupakan salah satu sekolah yang memiliki akreditasi cukup baik (a) dan beberapa kali siswa meraih prestasi baik akademik maupun non akademik. siswa yang berprestasi pasti memiliki guru yang baik dalam mengajar. pada umumnya implementasi kurikulum 2013 memiliki banyak permasalahan, diantaranya adalah (1). kurangnya pelatihan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 60 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 58 65 tentang kurikulum 2013. (2) pada saat pelatihan, penjelasan kurikulum 2013 yang diberikan oleh pembimbing satu dengan yang lain berbeda-beda sehingga menimbulkan kebingungan. (3) distribusi buku yang terlambat (4) materi dalam buku siswa terlalu dangkal, sehingga perlu adanya buku pendamping lain atau sumber belajar lain untuk menunjang pembelajaran (zen, 2015: 12; rahmawati, 2015: 56). berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dapat simpulkan bahwa implementasi kurikulum 2013 masih banyak menemui kendala. banyaknya masalah yang timbul dalam implementasi kurikulum 2013 ini menimbulkan berbagai persepsi. melalui penelitian ini, diharapkan dapat mengetahui bagaimana persepsi guru terhadap perencanaan implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta. disamping itu untuk dapat mengetahui persepsi guru terhadap implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 di sekolah tersebut. kurikulum 2013 lebih menekankan pada kompetensi yang berbasis sikap, keterampilan dan pengetahuan. ciri kurikulum 2013 menuntut kemampuan guru mengembangkan pengetahuan dan mendorong siswa berfikir kritis. adapun tujuan kurikulum 2013 adalah terbentuknya generasi produktif, kreatif, inovatif dan afektif. kurikulum 2013 menggunakan pendekatan tematik integratif, dimana peserta didik memahami berbagai mata pelajaran dalam satu tema. metode penelitian jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. sukmadinata (2013: 42) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas social, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individu maupun kelompok. desain penelitian yang digunakan berupa fenomenologis. sukmadinata (2013: 63) fenomenologi mempunyai dua makna, sebagai filsafat sain dan sebagai metode pencarian (penelitian). “studi fenomenologi (phenomenological studies) mencoba mencari arti dari pengalaman dalam kehidupan.” penelitian menghimpun data berkenaan dengan konsep, pendapat, pendirian, sikap, penilaian dan pemberian makna terhadap situasi atau pengalaman-pengalaman dalam kehidupan. penelitian ini dilaksanakan di sd muhammadiyah 24 surakarta. subjek penelitian yaitu guru kelas i sampai kelas vi. sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber data berupa kata-kata dan tindakan didapatkan dari hasil wawancara dengan bapak/ibu guru kelas i sampai vi. sumber tulisan berasal dari arsip-arsip sekolah mengenai kurikulum tematik integratif di sd muhammadiyah 24 surakarta. sedangkan foto dikumpulkan pada saat peneliti melakukan observasi di kelas saat proses pembelajaran berlangsung. teknik pengumpulan data yang digunakan ada 3 yaitu dengan observasi, wawancara dan studi dokumen. observasi menurut satori (2013: 105) menyatakan bahwa “observasi adalah pengamatan terhadap suatu obyek yang diteliti secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan dalam penelitian.” penelitian ini dilakukan di kelas i sampai kelas vi di sd muhammadiyah 24 surakarta. observasi yang dilakukan berkaitan dengan pembelajaran tematik yang p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 persepsi guru terhadap.......(risminawati, dan nurul fadilah) 61 dilaksanakan di sd muhammadiyah 24 surakarta. wawancara wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang digali dari sumber data langsung melalui percakapan atau tanya jawab (satori, 2013: 130). wawancara dalam penelitian ini dilakukan dengan bapak/ibu guru kelas i sampai vi untuk memperoleh data mengenai persepsi guru terhadap implementasi pembelajaran tematik kurikulum 2013. studi dokumen atau dokementasi menurut satori (2013: 149) studi dokumen yaitu mengumpulkan dokumen dan data-data yang diperlukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian. dokumen dalam penelitian ini berupa arsip siswa dan semua arsip yang berhubungan dengan pembelajaran tematik integratif yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas. adapun teknik analisis data yang digunakan adalah metode analisis data deskriptif, karena penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan tentang persepsi guru terhadap implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013. menurut matthew dan michael dalam patilima (2005: 98-99) analisis data di bagi menjadi tiga alur kegiatan yaitu 1. reduksi data reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data yang muncul dari catatan-catatan lapangan. dengan reduksi data, data kualitatif dapat disederhanakan dan ditransformasikan dalam aneka macam cara melalui seleksi ketat, melalui ringkasan atau uraian singkat, menggolongkannya dalam satu pola yang lebih luas. 2. penyajian data penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang member kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. 3. penarikan kesimpulan dari permulaan peneliti mulai mencari arti benda-benda, pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, dan proposisi. kesimpulan akhir tergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan lapangan, pengkodean, penyimpanan, dan metode pencarian ulang yang digunakan, kecakapan peneliti, dan tuntutan sponsor. hasil dan pembahasan persepsi guru terhadap persiapan implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta. persiapan yang dilakukan guru di sd muhammadiyah 24 surakarta yaitu: 1) menyiapkan dan memahami buku siswa dan buku guru. 2) membuat rpp dengan beberapa penyesuaian yang disesuaikan untuk kebutuhan peserta didik. 3) menyediakan alat dan media pembelajaran yang akan digunakan. media yang digunakan tidak harus setiap pembelajaran guru membuat media, guru memilah-milah mana materi yang dirasa sulit yang membutuhkan penggunaan media e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 62 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 58 65 pembelajaran, dan yang dirasa mudah tidak menggunakan media pembelajaran. 4) menyiapkan instrumen penilaian. persepsi guru terhadap implementasi tematik integratif kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta. persepsi guru terhadap implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta yaitu: a) pembelajarannya sudah menarik, karena setiap mata pelajaran digabungkan menjadi satu kesatuan. b) dalam pembelajaran sudah menerapkan pendekatan scientific dengan mengamati, mencoba, bertanya, mengasosiasikan dan mengkomunikasikan sehingga pembelajaran tidak hanya satu arah. c) untuk kedepannya saat ujian akhir apakah nanti menggunakan kurikulum atau disamakan dengan ktsp menjadi masalah yang dihadapi guru kelas vi untuk mempersiapkan peserta didiknya dalam menghadapi ujian akhir. d) dengan pembelajaran yang menggunakan tema dalam satu pembelajaran, sehingga dalam pembelajaran dapat tercapai banyak tujuan pembelajaran. e) guru sudah mendapatkan pelatihan, namun saat pelatihan guru lebih banyak terbebani dengan masalah penilaian yang menuntut guru lebih banyak administrasi. f) guru sudah melaksanakan penilaian autentik pada pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013. g) guru merasa terbebani dengan penilaian autentik karena memiliki 3 aspek yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan yang masingmasing di dapat dari nilai yang berbeda-beda. h) ada materi matematika yang tidak sesuai dengan usia harusnya ada dikelas v namun sudah dipelajari dikelas ii. i) dalam pembelajaran guru dituntut untuk membuat rpp terlebih dahulu, sehingga saat proses pembelajaran lebih memudahkan guru dalam melaksanakan langkahlangkah pembelajaran.pembahasan persepsi guru terhadap persiapan implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta. persiapan sebelum melakukan pembelajaran adalah hal yang wajib dilaksanakan guru. secara umum persiapan implementasi pembelajaran tematik integratif yang dilakukan oleh guru sd muhammadiyah 24 surakarta tidak jauh berbeda dengan persiapan guru yang lain dengan mempersiapkan buku siswa dan buku guru yang akan digunakan, menganalisi kd yang ada dalam buku guru, menganalisi buku siswa, menyusun rpp dengan beberapa penyesuaian yang dibutuhkan oleh peserta didik, menyiapkan media dan alat pembelajaran. media yang dipersiapkan disesuaikan dengan tema atau materi yang akan diajarkan tidak se mua materi guru selalu membuat media, hanya materi yang dirasa sulit guru membuat media agar siswa lebih paham dalam mendalami materi, namun jika materi dirasa mudah guru tidak membuat media pembelajaran. media pembelajran dapat p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 persepsi guru terhadap.......(risminawati, dan nurul fadilah) 63 berupa powerpoint yang ditampilkan lewat lcd. persiapan yang terakhir yaitu instrument penilaian. persepsi guru terhadap implementasi tematik integratif kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta. berdasarkan hasil penelitian, guru di sd muhammadiyah 24 surakarta sudah melaksanakan pembelajaran sesuai dengan pembelajaran tematik integratif, yaitu tidak terlihat pemisahan antar beberapa mata pelajaran yang dipadukan, dan sudah menggunakan tema dalam setiap pembelajaran yang dilakukan. hal ini sesuai dengan pengertian pembelajaran tematik integratif dalam permendikbud nomor 57 tahun 2014 tentang kurikulum 2013 sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah, yaitu pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. pelaksanaan pembelajaran tematik integratif yang dilakukan guru sd muhammadiyah 24 surakarta terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. hal ini juga sudah sesuai dengan permendikbud nomor 103 tahun 2014 tentang pembelajaran pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang menjelaskan bahwa tahapan dalam pembelajaran terdiri dari kegiatan pendahuluan/awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. instrumen yang direncanakan dengan check list dan skala, tetapi tidak digunakan dalam pelaksanaan penilaian dilakukan guru sd muhammadiyah 24 surakarta. guru-guru sudah melaksankan penilaian autentik yang menilai tiga aspek yaitu aspek sikap, aspek pengetahuan dan aspek keterampilan. aspek sikap dinilai melalui kebiasaan peserta didik sehari-hari saat pembelajaran berlangsung dilihat peserta didik yang menonjol, aspek pengetahuan di nilai dengan pemberian ulangan harian dan tugas-tugas, dan aspek keterampilan dinilai setiap hari saat pembelajaran berlangsung. simpulan persepsi guru dalam persiapan pembelajaran tematik integrative kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta yaitu sebagai berikut: a. menyiapkan dan memahami buku siswa dan buku guru. b. membuat rpp dengan beberapa penyesuaian yang disesuaikan untuk kebutuhan peserta didik. c. menyediakan alat dan media pembelajaran yang akan digunakan. media yang digunakan tidak harus setiap pembelajaran guru membuat media, guru memilah-milah mana materi yang dirasa sulit yang membutuhkan penggunaan media pembelajaran, dan yang dirasa mudah tidak menggunakan media pembelajaran. d. menyiapkan instrumen penilaian. persepsi mengenai implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta memang bermacam-macam, dengan penelitian ini dapat menemukan beberapa persepsi sebagai berikut: a. pembelajarannya sudah menarik, karena setiap mata pelajaran digabungkan menjadi satu kesatuan. b. dalam pembelajaran sudah menerapkan pendekatan scientific dengan mengamati, mencoba, bertanya, mengasosiasikan dan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 64 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 58 65 mengkomunikasikan sehingga pembelajaran tidak hanya satu arah. c. untuk kedepannya saat ujian akhir apakah nanti menggunakan kurikulum atau disamakan dengan ktsp menjadi masalah yang dihadapi guru kelas vi untuk mempersiapkan peserta didiknya dalam menghadapi ujian akhir. d. dengan pembelajaran yang menggunakan tema dalam satu pembelajaran, sehingga dalam pembelajaran dapat tercapai banyak tujuan pembelajaran. e. guru sudah mendapatkan pelatihan, namun saat pelatihan guru lebih banyak terbebani dengan masalah penilaian yang menuntut guru lebih banyak administrasi. f. guru sudah melaksanakan penilaian autentik pada pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013. g. guru merasa terbebani dengan penilaian autentik karena memiliki 3 aspek yaitu pengetahuan, sikap dan keterampilan yang masing-masing di dapat dari nilai yang berbeda-beda. h. ada materi matematika yang tidak sesuai dengan usia harusnya ada dikelas v namun sudah dipelajari dikelas ii. i. dalam pembelajaran guru dituntut untuk membuat rpp terlebih dahulu, sehingga saat proses pembelajaran lebih memudahkan guru dalam melaksanakan langkah-langkah pembelajaran. daftar pustaka mulyasa. 2013. guru dalam implementasi kurikulum 2013. jakarta: rosdakarya patilima,hamid. 2005. metode penelitian kualitatif. bandung: alfabeta. peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 67 tahun 2013 tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah. karakteristik kurikulum 2013 peraturan pemerintah republik indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional rahmawati, eka. 2015. “implementasi kurikulum 2013 dalam pembelajaran bahasa arab di kelas x man godean yogyakarta tahun pelajaran 2014/2015”. skripsi. yogyakarta: jurusan pendidikan islam, fakultas tarbiyah dan keguruan, uin sunan kalijaga. satori, djam’an dan aan komariah. 2013. metodologi penelitian kualitatif. bandung: alfabeta. sukmadinata, nana syaodih. 2013. metode penelitian pendidikan. bandung: pt remaja rosdakarya p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 persepsi guru terhadap.......(risminawati, dan nurul fadilah) 65 zen, futiqa. 2015. implementasi kurikulum 2013 dan hambatan yang dialami guru matematika di smkn tulungagung tahun 2014. skripsi. iain tulungagung. http://repo.iain-tulungagung.ac.id/id/eprint/2262. http://repo.iain-tulungagung.ac.id/id/eprint/2262 e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 102 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 102 111 analisis kelayakan bahasa dalam buku teks tema 1 kelas i sekolah dasar kurikulum 2013 arif wiyat purnanto 1) dan ali mustadi 2) 1) prodi pgsd fkip universitas muhammadiyah magelang; 2) prodi s2 pendidikan dasar pascasarjana uny 1arifwiyatumm@gmail.com; 2aly_uny@yahoo.com abstract this research aimed to describe language appropriateness of 2013 curriculum text book for 1st grade’s 1st theme.this research was conducted with qualitative approach by document analysis method. the document utilized in this research was 1st grade’s 1st theme of text book which was not published by ministry of education and culture. the research data was collected through content analysis utilizing validated instuments. the data was analyzed with krippendof quantitatie analysis techniqe including data collection, sample determination, data recording, data reduction, conclusion drawing and recount. the results show that 1st book of non ministry of education and culture publication has fulfilled all the determined criteria achieving good grade with 82.69% of language appropriateness. the weakness of this book is inappropriate materials sequence order, utilization of inappropriate words for children development, and utilization of inconsistent icons/symbols. the 2nd book of non ministry of education and culture publication had fulfilled all the determined criteria achieving fair grade with 78.36% of language adbisability. the weakness of this book was utilization of inappropriate words for children development, and material suitability to intelectual development of the students. keywords: textbook, language appropriateness, curriculum2013 pendahuluan kurikulum 2013 adalah kurikulum terbaru yang diterapkan di dunia pendidikan indonesia saat ini. berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dalam kurikulum pembelajaran sudah difasilitasi dengan sebuah buku teks tematik. buku teks tersebut mencakup seluruh mata pelajaran yang akan diajarkan dalam satu semester. siswa tentunya akan banyak terbantu untuk mengembangkan pengetahuannya dengan adanya buku teks. di samping itu, guru juga lebih efisien dalam menyampaikan materi pembelajaran. ada berbagai macam buku teks yang beredar di pasaran, beberapa di antaranya adalah buku terbitan erlangga, intan pariwara, ganesa, tiga serangkai, yudhistira. banyaknya buku teks yang beredar di pasaran membuat guru, orang tua, dan siswa sulit membedakan dan memilih buku teks yang berkualitas baik. kajian terhadap kelayakan bahasa buku teks bahasa indonesia sekolah dasar diperlukan untuk dapat memberikan gambaran kepada guru, orang tua, dan siswa tentang kualitas buku teks kurikulum 2013. adapun buku yang kami analisis adalah buku terbitan yudhistira dan buku terbitan erlangga. adapun alasan kami menggunakan buku teks ini karena buku teks ini merupakan buku teks yang paling banyak digunakan di sekolah dasar yang menerapkan kurikulum 2013. selain itu buku teks ini juga buku paling banyak beredar di pasaran. untuk selanjutnya buku terbitan yudhistira disebut sebagai buku teks non-kemdikbud 1 dan buku terbitan erlangga akan disebut sebagai buku teks nonkemdikbud 2. mailto:1arifwiyatumm@gmail.com p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 analisis kelayakan bahasa......(arif wiyat purnanto dan ali mustadi) 103 berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian tentang: bagaimanakah kelayakan bahasa dalam buku teks nonkemdikbud 1 tema 1 kelas i sekolah dasar kurikulum 2013? bagaimanakah kelayakan bahasa dalam buku teks non-kemdikbud 2 tema 1 kelas i sekolah dasar kurikulum 2013? kualitas buku teks salah satunya dapat dilihat dari kelayakan bahasa. kelayakan penggunaan bahasa dalam materi buku teks dapat ditinjau dari beberapa aspek. 1. lugas materi dinilai lugas ditinjau dari tiga aspek yaitu keefektifan kalimat, ketepatan kata, kebakuan istilah (urip purwono, 2008:16-18). berikut adalah penjelasan dari masing-masing aspek. 2. keefektifan kalimat hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan bahan ajar yang mampu membuat siswa untuk belajar mandiri dan memperoleh ketuntasan dalam proses pembelajaran adalah dengan penggunaan bahasa yang digunakan cukup sederhana karena siswa hanya berhadapan dengan bahan ajar ketika belajar secara mandiri (ika lestari, 2013: 3). sesuai dengan uraian tersebut tarigan (2009: 23) menyebutkan bahwa bahasa dalam buku teks haruslah sesuai dengan bahasa siswa, kalimatkalimatnya efektif, terhindar dari makna ganda, serta sederhana, sopan dan menarik. kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antar bagiannya logis, dan ejaannya pun harus benar. 3. ketepatan kata ketepatan pemilihan kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan, hal atau barang yang akan diamanatkan, dan ke6sesuaian atau kecocokan dalam menggunakan kata. ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasangagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan oleh penulis. 4. kebakuan istilah kebakuan adalah kesesuaian dengan kaidah ejaan, lafal, struktur, dan pemakaiannya. istilah yang digunakan sesuai dengan kamus besar bahasa indonesia adalah istilah teknis yang telah baku digunakan dalam bahasa. 5. komunikatif selain lugas bahasa dalam buku teks juga harus komunikatif. komunikatif dapat dinilai dari aspek yaitu pemahaman terhadap pesan atau informasi dan kesantunan bahasa.maksudnya adalah pesan atau informasi disampaikan dengan bahasa yang menarik dan lazim dalam komunikasi tulis bahasa indonesia. selain itu bahasa yang digunakan memiliki nilai kehalusan, baik, sopan, sesuai adat atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. tarigan (2009: 23) menjelaskan bahwa buku teks yang baik berusaha untuk memantapkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. 6. dialogis dan interaktif bahasa yang digunakan dalam penyajian materi harus dialogis dan interaktif. syarat untuk itu adalah sebagai berikut. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 104 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 102 111 7. kemampuan memotivasi peserta didik bahasa dalam buku teks harus mampu memotivasi peserta didik, artinya bahasa yang digunakan membangkitkan rasa senang ketika peserta didik membacanya dan mendorong mereka untuk mempelajari buku tersebut secara tuntas. sebagaimana pendapat tarigan (2009: 22) “buku teks yang baik ialah buku teks yang dapat membuat siswa ingin, mau, dan senang mengerjakan apa yang diinstruksikan dalam buku teks”. sejalan dengan hal itu zhuomin sun (2010: 891) mengungkapkan “many factors affect student’s motivation towards teaching materials: interest in the subject matter, level of difficulty, relevance to existing knowledge, perception of usefulness.” selain dapat membbangkitkan rasa senang, bahasa yang digunakan harus mampu merangsang peserta didik untuk mempertanyakan suatu hal lebih jauh, dan mencari jawabnya secara mandiri dari buku teks atau sumber informasi lain. penggunaan bahasa dapat meningkakan daya nalar dan daya cipta siswa (depdiknas, 2006: 39). sebagaimana pendapat solchan (2014: 546) bahwa buku teks harus menantang dan merangsang siswa untuk terus mempelajari buku tersebut. perlu diperhatikan juga terkait penggunaan struktur kalimat. penggunaan struktur kalimat harus sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa dan tingkat perkembangan kognisi siswa (depdiknas, 2006: 39). artinya penggunaan kalimat mempertimbangkan gradasi kerumitan kalimat. gradasi ini dapat dilihat dari prinsip yang mudah ke yang baru, dari sederhana ke rumit, mudah ke sulit, lama ke baru, dan sebagainya. department of education and childern’s service (2004: 10) memaparkan bahwa: “teaching and learning materials, whether purchased or donated, should be selected and accessed in ways which ensure relevant for the age of the children or students for whom they are selected and for their emotional, intellectual, social and cultural development. solchan (2014: 546) menjelaskan bahwa bahasa dalam buku teks harus menggunakan kalimat yang sesuai dengan tingkat kematangan siswa. tingkat kematangan meliputi kematangan intelektual (kognitif) maupun emosional peserta didik. menurut piaget anak usia antara 5-7 tahun memasuki tahap operasi konkret (concrete operations) yaitu pada waktu anak dapat berpikir secara logik. sedangkan perkembangan emosional siswa pada usia sd yaitu mulai mengalami ketidaksenangan, rasa malu, cemas, dan kecewa. oleh karena itu, buku teks harus dapat mendukung dan membantu guru. sebagaimana pendapat allan cunningsworth (1995: 15-17) “books should reflect the uses which learners will make of the language”. 8. kesesuaian dengan kaidah bahasa depdiknas (2006: 39) menyebutkan bahwa dalam penyusunan materi penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar. kesesuaian meliputi ketepatan tata bahasa dan ketepatan ejaan. maksudnya adalah tata kalimat yang digunakan untuk menyampaikan pesan mengacu kepada kaidah tata bahasa indonesia yang baik dan benar, serta ejaan yang digunakan mengacu kepada pedoman ejaan yang disempurnakan (eyd). solchan (2014: 546) menjelaskan bahwa p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 analisis kelayakan bahasa......(arif wiyat purnanto dan ali mustadi) 105 bahasa dalam buku teks harus menggunakan bahasa yang benar dan baku, serta menggunakan transliterasi yang telah dibakukan. nasucha, rohmadi, dan wahyudi (2009: 92) menyebutkan bahwa ejaan ikut menentukan kebakuan dan ketidakbakuan kalimat. hastuti (2003: 84) mengatakan bahwa ejaan yang disempurnakan harus diterapkan untuk pembakuan bahasa indonesia. 9. penggunaan istilah, simbol, dan ikon penggunaan istilah yang menggambarkan suatu konsep harus konsisten serta penggambaran simbol atau ikon harus konsisten antarbagian dalam buku. karena dengan penggunaan istilah yang konsisten dapat mempermudah siswa memahami isi buku. sebagaimana pendapat solchan (2014: 546) bahwa buku teks harus menggunakan istilah, kosakata, dan simbol-simbol yang mempermudah pemahaman isi buku teks. di atas telah diuraikan beberapa aspek yang digunakan untuk menilai kelayakan suatu materi dalam pembelajaran. selain materi pembelajaran yang layak kita juga perlu memahami karakteristik siswa untuk membantu keberhasilan dalam penyampaian materi pembelajaran. sub berikutnya akan disampaikan terkait karakteristik siswa kelas 1 sekolah dasar. selain beberapa komponen terkait kelayakan penggunaan bahasa dalam buku teks, yang perlu diperhatikan dalam penyusunan buku teks yaitu penilaian metode pembelajaran.pelajaran bahasa indonesia yang diajarkan pada masing-masing kelas pasti berbeda-beda. materi disesuaikan dengan tahap perkembangan bahasa siswa agar mampu mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor siswa. sumardi (2012: 3) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa beberapa masalah pada awal membaca yaitu lebih terkait kesulitan dalam menggunakan kata-kata dan kalimat daripada penggunaan huruf dan suku kata. untuk mengajarkan materi dasar bahasa untuk siswa kelas 1 metode yang yang paling sering digunakan yaitu mmp (membaca menulis permulaan). membaca dan menulis permulaan pada tahap keberwacanaan dan bersifat teknis. tahap-tahap keberwacanaan ini merupakan tujuan pembelajaran di sd kelas-kelas awal, yaitu kelas 1 dan 2. menurut solchan (2014: 66) “kemampuan membaca permulaan lebih diorientasikan pada kemampuan membaca tingkat dasar yaitu kemampuan melek huruf”. maksudnya adalah kegiatan membaca lebih mengarahkan anak agar dapat mengubah dan melafalkan lambang-lambang tulis menjadi bunyi bermakna. tetapi terkadang anak juga dapat melafalkan lambang huruf yang dibaca tanpa diikuti oleh pemahaman terhadap lambang bunyi tersebut. salah satu kegiatan membaca yang di kelas 1 yaitu kegiatan membaca nyaring. membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan suara keras dan jernih, tetapi bukan berteiak. tahap ini merupakan tahap awal belajar membaca. suku kata yang dipilih diusahakan suku kata yang bentuknya mirip atau berdekatan agar siswa dapat membedakan huruf satu dengan huruf lain. adapun yang dimaksud dengan lafal adalah pengucapan. lafal atau cara pengucapan setiap suku kata haruslah tepat. biasanya suku kata yang sedaeah artikulasi bunyinya hampir sama. cara pengucapan harus dicontohkan berulang-ulang agar dapat dibedakan dengan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 106 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 102 111 jelas bunyi dan cara pengucapannya (depdiknas, 2009: 6). dalam kegiatan membaca nyaring kalimat yang digunakan kalimat yang sedehana. kalimat sederhana adalah kalimat yang pendek, yaitu kalimat yang tediri atas 2-5 kata. namun, untuk kelas 1 semester 1 satu dikenalkan pada kalimat yang terdiri dari 2 3 kata (depdikbud, 2009: 6). dalam pembicaraan tentang kalimat sedehana, selain jumlah kata pada kalimat, pilihan katanya pun perlu dipertimbangkan, yaitu harus kata-kata yang mudah diucapkan dan kata-kata yang dekat atau akrab dengan dunia siswa kelas 1. sebagai contoh, pilihlah kata-kata yang berkaitan dengan keluarga, sekolah, atau kegiatan yang biasa dilakukan siswa dalam aktivitas kesehariannya. setelah siswa melek huruf dilanjutkan dengan kemampuan tingkat lanjut yaitu melek wacana. menurut solchan (2014: 66) “melek wacana yaitu kemampuan membaca yang sesungguhnya, yakni kemampuan mengubah lambang-lambang tulis menjadi bunyi disertai pemahaman akan lambanglambang tersebut”. sedangkan menulis permulaan yaitu pembelajaran yang lebih diorientasikan pada kemampuan yang bersifat mekanik. anak-anak dilatih untuk dapat menuliskan lambang-lambang tulis yang jika dirangkaikan dalam sebuah struktur maka lambang itu akan menjadi bermakna. selanjutnya anak secara perlahanlahan mulai digiring pada kemampuan menuangkan gagasan, pikiran, perasaan dalam bentuk bahasa tulis. dalam penelitian ini metode mmp perlu dijelaskan karena merupakan program pembelajaran yang diorientasikan kepada kemampuan membaca dan menulis permulaan di kelas-kelas awal. pada tahap awal anak memasuki bangku sekolah kelas 1 sekolah dasar, mmp merupakan menu utama. hal ini penting karena kemampuan dasar yang di maksud akan landasan keterampilan keterampilan lain baik dalam kehidupan di sekolah maupun di masyarakat. pada pembelajaran mmp terdapat beberapa metode yang dapat digunakan yaitu metode eja, metode bunyi, metode suku kata, metode kata, metode global, dan metode sas. berikut adalah paparan masing-masing metode tersebut (solchan, 2013: 616-623). metode penelitian pendekatan yang digunakan dalam peneltian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian analisis konten (content analysis). sumber data penelitian ini adalah dua buku teks terbitan nonkemdikbud tema 1 kelas i sekolah dasar kurikulum 2013. untuk selanjutnya buku teks terbitan yudhistira disebut sebagai buku teks non-kemdikbud 1 dan buku teks terbitan erlangga disebut sebagai buku teks nonkemdikbud 2. teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu teknik analisis dokumen melalui pengamatan dan pencatatanyang cermat terhadap buku teks kurikulum 2013. instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri (human instrument). teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah skema analisis konten menurut krippendorf (2004: 83) yang meliputi beberapa tahapan pengumpulan data (unitizing), penentuan sampel (sampling), reduksi (reducing), penarikan kesimpulan (inferring), menceritakan (narrating). p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 analisis kelayakan bahasa......(arif wiyat purnanto dan ali mustadi) 107 hasil dan pembahasan buku teks non-kemdikbud 1 a. lugas buku teks harus memiliki standar kelugasan yang baik. lugas dapat ditinjau dari 3 aspek yaitu kefektifan kalimat, ketepatan kata dan kebakuan istilah. berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan ditemukan bahwa tingkat kebakuan istilah sudah masuk dalam kategori baik. namun, dalam buku teks ini ditemukan beberapa kalimat yang tidak efektif. selain itu masih terdapat pula penggunaan kata yang kurang tepat. misalnya saja pada halaman 23 ditemukan kata “niat”. untuk siswa kelas 1 kata “niat” adalah kata yang cukup sulit diucapkan karena kata niat diakhiri dengan huruf konsonan sehingga sulit untuk diucapkan. selain itu makna dari kata niat sendiri adalah suatu yang abstrak atau tidak dapat dilihat sehingga untuk memahami kata “niat” cukup sulit.seharusnya bisa memilih kata lain yang masih terdapat dalam teks bacaan. seperti kata luka, jala, mata. b. komunikatif bahasa yang digunakan dalam buku teks haruslah bahasa yang komunikatif. dengan bahasa yang komunikatif maka buku dapat lebih nyaman dibaca. dalam buku teks ini sudah menyajikanpesanpesan yang bisa memotivasi siswa. contohnya adalah ayo bermain, ayo membaca, ayo menulis, dll. dengan bahasa-bahasa seperti itu dapat menarik minat siswa dalam membaca. selain menarik, bahasa yang digunakan juga sudah mencerminkan nilai kesantunan dalam berbahasa. c. dialogis dan interaktif penggunaan bahasa harus dapat memotivasi peserta didik dan mampu mendorong peserta didik untuk berpikir kritis terhadap materi yang disajikan. bahasa dalam buku teks hendaknya mampu membangkitkan rasa senang ketika peserta didik membacanya dan mendorong mereka untuk mempelajari buku tersebut secara tuntas. dari hasil analisis ditemukan bahwa bahasa yang digunakan sudah menarik dan mampu memotivasi siswa untuk mempelajari buku teks tersebut. hal itu dapat terlihat dari kegiatan-kegiatan yang menantang siswa untuk berbuat lebih dari apa yang telah diajarkan. selain memotivasi peserta didik, bahasa yang digunakan juga harus mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis. kemampuan berpikir kritis dapat diciptakan dengan menggunakan bahasa yang merangsang peserta didik untuk mempertanyakan suatu hal lebih jauh dan mencari jawabannya secara mandiri dari buku teks atau sumber lain. hal ini juga sering dijumpai dalam kegiatan belajar dalam buku teks. contohnya adalah pada kegiatan subtema 4 pembelajaran 2 halaman 100 disana ditemukan kegiatan mengukur badan. dengan pertanyaan “berapa tinggi badan teman-temanmu?” maka siswa akan termotivasi untuk mencari tahu informasi tersebut secara mandiri. d. kesesuaian dengan perkembangan peserta didik kesesuaian materi dengan perkembangan intelektual peserta didik dapat dilihat dari bahasa yang digunakan. bahasa yang digunakan dalam menjelaskan suatu konsep haruslah sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. bahasa disini meliputi huruf yang digunakan, kata yang digunakan, serta tanda baca yang digunakan. penyajian materi sudah menggunakan kalimat yang sesuai dengan perkembangan siswa secara kognitif. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 108 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 102 111 kesesuaian materi terkait dengan tingkat perkembangan emosional siswa sudah baik. materi terkait tingkat perkembangan emosional peserta didik dapat dilihat dari penggunaan bahasa yang sesuai dengan tingkat kematangan emosional siswa. sebagai contoh adalah kegiatan pada halaman 45 terkait dengan kegiatan mengenal bagian tubuh. materi penganalan bagian tubuh di kemas secara sederhana namun mudah dipahami oleh siswa karena materi didukung dengan ilustrasi yang berwarna-warni sehingga mampu menarik minat siswa. secara keseluruhan materi sudah sesuai dengan tahap perkembangan emosional siswa. hal itu bisa dilihat dari ilustrasi yang menarik, kombinasi warna teks yang disajikan, serta beberapa faktor lain yang menarik minat siswa untuk belajar. e. kesesuaian dengan kaidah bahasa. dalam kesesuaian dengan kaidah bahasa ada dua hal utama yang perlu diperhatikan yaitu ketepatan tata bahasa dan keteparan ejaan. sebagaimana disampaikan oleh solchan (2014: 546) yang menjelaskan bahwa syarat yang dipenuhi dalam buku teks adalah benar ditinjau dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan menggunakan bahasa indonesia yang benar dan baku. tata bahasa yang digunakan dalam buku teks ini sudah sesuai dengan ilmu bahasa. sedangkan apabila ditinjau dari segi ejaan materi-materi yang disampaikan sudah menunjukkan ejaan yang baku sesuai dengan perkembangan bahasa. f. penggunaan istilah, simbol, atau ikon. penggunaan istilah dalam buku teks sebaiknya konsisten dari awal sampai akhir sehingga dapat membantu siswa dalam memahami isi dari buku teks tersebut. istilah, kosakata, dan simbol-simbol hendaknya mempermudah pemahaman isi buku teks. dari hasil analisis menunjukkan bahwa istilahistilah yang digunakan dalam buku teks sudah sesuai dan konsisten dari awal sampai akhir. istilah-istilah yang digunakan juga istilah yang umum dan sering dijumpai siswa sehingga istilah dalam materi buku teks masuk dalam kategori yang baik. namun masih ditemukan beberapa penggunaan simbol dan ikon yang tidak konsisten, yaitu pada subtema 2. pada materi subtema 1 pembelajaran 2 sudah diperkenalkan masing-masing nama ikon. salah satu ikon namanya adalah badi. sedangkan pada subtema 2 pembelajaran 5 ditemukan nama ikon yang sama tetapi dengan nama yang berbeda yaitu putu. seharusnya ikon tersebut bukan bernama putu melainkan badi. dengan penggunaan ikon yang tidak konsisten seperti di atas maka dapat menghambat siswa dalam memahami materi yang disampaikan. siswa menjadi sulit menentukan mana yang benar dan mana yang salah. selain ikon di atas, pada halaman 42-43 juga terdapat ilustrasi yang tidak konsisten. berikut adalah ilustrasi dalam buku teks. pada halaman 42 terdapat sebuah gambar dengan keterangan bahwa gambar tersebut adalah gambar alis. sedangkan pada halaman 43 terdapat gambar yang sama tetapi dengan pengertian yang berbeda yaitu mata. materi ini tentunya menjadi sulit bagi siswa, karena deskripsi yang mereka pelajari tidak sesuai dengan deskripsi yang disampaikan pada bagian lain. berdasarkan rekapitulasi hasil analisis kelayakan penggunaan bahasa yang telah kami lakukan terhadap buku teks non-kemdikbud 1 dengan merujuk pada beberapa pendapat ahli diperoleh skor yaitu: p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 analisis kelayakan bahasa......(arif wiyat purnanto dan ali mustadi) 109 tabel 1. skor buku teks 1 subtema 1 2 3 4 rata-rata skor 43 41 44 44 43 dengan tingkat kelayakan bahasa sebesar 82,69% maka dapat disimpulkan bahwa kelayakan penggunaan bahasa di dalam buku teks ini termasuk dalam kategori baik. buku teks non-kemdikbud 2 a. lugas hasil analisis yang telah dilakukan masih ditemukan beberapa kalimat yang kurang efektif ditinjau dari jumlah kata dalam satu kalimat dan panjang kalimat dalam paragaf. padahal siswa kelas 1 hanya mampu menyerap kalimat yang terdiri kurang dari 6 suku kata. selain itu masih terdapat ketidaksesuaian pemilihan kata pada subtema 1. sebagai contoh pada halaman 75 ditemukan teks bacaan yang cukup panjang dan kalimat yang dipakai juga terlalu panjang yaitu “tubuh yang bersih terhindar dari penyakit kulit”. dalam satu kalimat terdapat lebih dari 4 kata. hal ini tentunya akan berdampak pada kemampuan siswa memahami isi/pesan yang disampaikan dalam buku teks. b. komunikatif pesan atau informasi yang disajikan dalam buku teks ini sudah mampu membantu siswa untuk memahami materi yang disajikan. siswa akan lebih mudah memahami materi apabila buku teks menyajikan materi dengan bahasa yang menarik dan lazim. selain itu bahasa yang digunakan mencerminkan nilai kesantunan. sesuai dengan pendapat tarigan (2009: 23) bahwa kesantunan tersebut tercermian melalui pemilihan bahasa yang halus, baik, sopan, dan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. c. dialogis dan interaktif bahasa dalam buku teks hendaknya mampu membangkitkan rasa senang ketika peserta didik membacanya dan mendorong mereka untuk mempelajari buku tersebut secara tuntas. hasil analisis menemukan bahwa bahasa yang digunakan sudah menarik dan mampu memotivasi siswa untuk mempelajari buku teks tersebut. hal itu dapat terlihat dari kegiatan-kegiatan yang menantang siswa untuk berbuat lebih dari apa yang telah diajarkan. selain itu, bahasa yang digunakan dalam penyajian materi sudah mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis. sebagai contoh pada halaman 43, disana terdapat kegiatan refleksi yang berbunyi “apakah aku bisa berteman dengan siapa saja?” dengan kalimat seperti itu maka akan memberikan tantangan anak untuk melakukan sesuatu hal yang lebih. kemampuan berpikir kritis dapat diciptakan dengan menggunakan bahasa yang merangsang peserta didik untuk mempertanyakan suatu hal lebih jauh dan mencari jawabannya secara mandiri dari buku teks atau sumber lain. d. kesesuaian dengan perkembangan peserta didik hasil analisis menemukan bahwa materi yang disampaikan sudah sesuai dengan tingkat perkembangan emosional. hal itu bisa dilihat dari ilustrasi yang menarik, kombinasi warna teks, pemilihan style yang mampu menggugah minat siswa untuk belajar. tetapi e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 110 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 102 111 masih terdapat beberapa kesalahan dalam penggunaan bahasa. penggunaan bahasa dalam buku teks ini masih kurang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual dan tingkat kematangan siswa. sebagai contoh adalah penggunaan tanda baca dan penggunaan huruf kapital. hal ini ditemukan hampir di semua halaman dalam buku teks. siswa kelas 1 belum bisa dikenalkan tanda baca maupun huruf kapital. siswa kelas satu masih dalam masa tahap membaca permulaan dimana seharusnya materi masih terkait pengenalan huruf dan suku kata. e. kesesuaian dengan kaidah bahasa hasil analisis menunjukkan bahwa tata bahasa yang digunakan sudah sesuai dengan ilmu bahasa, menggunakan ejaan yang baku. dengan tata bahasa yang baik dan ejaan yang baku akan memberikan fondasi yang tepat kepada siswa. f. penggunaan istilah, simbol, atau ikon penggunaan istilah, simbol, dan ikon dalam materi haruslah konsisten dari awal sampai akhir sehingga dapat membantu siswa dalam memahami isi dari buku teks tersebut. hasil analisis menemukan bahwa penggunaan istilah dalam buku teks ini sudah baik dan konsisten antar bagianbagian buku. seperti istilah mengamati, menanya, membaca, dan lain-lain. istilahistilah tersebut juga digunakan pada kegiatan yang tepat pula. selain konsisten dalam penggunaan istilah, suatu buku teks juga harus konsistens dalam penggunaan simbol atau ikon. dalam buku teks ini ikon yang sering digunakan adalah ikon siswa. seperti pada halaman 23, terdapat beberapa ikon seperti nina, lani, deli, made, toni, dan joni. masing-masing ikon digunakan secara konsisten dan tidak pernah berubah ataupun tertukar. ikon yang digunakan juga merujuk pada lingkungan belajar siswa di sekolah. berdasarkan rekapitulasi hasil analisis kelayakan penggunan bahasa diperoleh skor yaitu: tabel 2. skor buku teks 2 subtema 1 2 3 4 rata-rata skor 41 40 41 41 40,75 dengan tingkat kelayakan bahasa sebesar 78,36% maka dapat disimpulkan bahwa kelayakan materi di dalam buku teks ini termasuk dalam kategori cukup. simpulan berdasarkan analisis buku teks yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. a. buku teks non-kemdikbud 1 memenuhi aspek kelayakan penggunaan bahasa dengan persentase sebesar 82,69%. kelayakan penggunaan bahasa di dalam buku teks ini termasuk dalam kategori baik. kekurangan pada buku teks ini terletak pada penggunaan ilustrasi yang tidak konsisten dan pemilihan beberapa kata yang kurang sesuai dengan tahap perkembangan siswa. b. buku teks non-kemdikbud 2 memenuhi aspek kelayakan penggunaan bahasa dengan persentase sebesar 78,36%. kelayakan materi di dalam buku teks ini termasuk dalam kategori cukup. kekurangan dalam buku teks ini yaitu penggunaan tanda baca yang kurang sesuai dengan tahap perkembangan siswa dan konsistensi penggunaan ikon p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 analisis kelayakan bahasa......(arif wiyat purnanto dan ali mustadi) 111 daftar pustaka cunningsworth, a. (1995). choosing your course book. oxford: heinemann publishers ltd department of education and children’s service. (2004). choose and using teaching and learning materials. hindmarsh: decs publishing. depdiknas. (2006). pedoman penulisan buku pelajaran. jakarta: pusat perbukuan depdiknas. (2009). panduan untuk guru: membaca dan menulis permulaan untuk sekolah dasar kelas 1, 2, 3. jakarta: departemen pendidikan nasional. hastuti, sri. (1985). permasalahan dalam bahasa indonesia. yogyakarta: intan pariwara. lestari, ika. (2013). pengembagan bahan ajar berbasis kompetensi. padang: akademia nasucha, y., rohmadi, dan wahyudi. (2009). bahasa indonesia: untuk penulisan karya tulis ilmiah. surakarta: media perkasa. solchan, dkk. (2014). pendidikan bahasa indonesia di sd. tangerang selatan: universitas terbuka. sumardi, h. b. (2012). berbagai permasalahan pembelajaran membaca permulaan pada sekolah dasar negeri di kecamatan bantul. jurnal didaktika, 3, 3-5. tarigan, h.g dan tarigan, d. (2009). telaah buku teks bahasa indonesia. bandung: angkasa. purwono, urip. (2008). standar penilaian buku pelajaran. diakses pada tanggal 24 november 2015 dari http://telaga.cs.ui.ac.id/. sun, zhoumin. (2010). “language teaching material and learner motivation”. academy publisher, vol. 1, 889-892 http://telaga.cs.ui.ac.id/ profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 121 connecting spatial reasoning process to geometric problem lingga nico pradana* & octarina hidayatus sholikhah universitas pgri madiun, madiun, indonesia *email: nicopgsd@unipma.ac.id submitted: 2021-10-27 doi: 10.23917/ppd.v8i2.16132 accepted: 2021-12-16 published: 2021-12-24 keywords: abstract spatial reasoning; geometric problem; spatial skill the field of spatial reasoning has seen a lot of research. the process of spatial reasoning, on the other hand, needs to be investigated further. the goal of this study was to capture an elementary school student's spatial reasoning process when solving geometric problems. the spatial skills used in solving geometric problems were also identified in this study. a geometric test was given to seventeen elementary school students. three participants were chosen as the study's subjects based on their written responses. according to the findings, the subject's spatial reasoning process always begins with the processing of information in mental visualization. mental visualization is used to help with orientation and selecting the appropriate visual perspective. the spatial skills of spatial visualization and spatial orientation are critical in spatial reasoning. furthermore, this research initiated the emphasis on the focus of spatial reasoning in the process. introduction background spatial reasoning is an ability related to representing and using objects and relationships geometrically in two and three dimensions (williams et al., 2010; yüksel, 2017). spatial reasoning has three main properties (nctm, 2006). first, awareness of space such as distance, coordinates and dimensions. some of these skills are explicitly discussed in the mathematics curriculum. second, the interrelationship of spatial information representation, graphic coding and decoding such as diagrams and maps. third, interpreting spatial information and making decisions. when someone does spatial reasoning, then there are spatial skills that are used. spatial skills are classified into five components, namely spatial perception, spatial visualization, mental rotation, spatial relations, and spatial orientation (yüksel, 2017). spatial perception is the ability to determine vertical and horizontal directions based on information. spatial http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:nicopgsd@unipma.ac.id http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v7i1.9652 pradana & sholikhah connecting spatial reasoning ... printed issn 2406-8012 122 visualization is the ability to describe situations based on information (lowrie et al., 2017; moore-russo et al., 2013). mental rotation is the ability to rotate twoor three-dimensional objects and imagine their position when rotated. spatial relation is the ability to recognize relationships between parts of objects (lowrie & jorgensen, 2017; yüksel, 2017). spatial orientation is the ability to enter a given spatial situation (peng & sollervall, 2014). problem of study in this article, we carried out the student' spatial reasoning process in geometric problems. in previous research, spatial reasoning was stated as one of the factors that made someone successful in the field of mathematics (kovačevi´c, 2017; mulligan et al., 2017; newcombe, 2013). then it becomes another trigger for research to design spatial reasoning activities (cheng & mix, 2014; hartatiana et al., 2017; lowrie et al., 2017). these activities designed to improve spatial reasoning and mathematics performance of elementary school students. however, research was mostly done on elementary school students. the research still hasn't highlighted the elementary school student’ process of reasoning. in the measurement of spatial reasoning, the instruments used by previous studies are in the form of multiple choices. for example, spatial reasoning instrument (sri) (ramful et al., 2017), paper folding tests (akayuure et al., 2016; williams et al., 2010), mental rotation test (yoon & mann, 2017) etc. however, the spatial reasoning instrument has not described the spatial reasoning process itself. state of the art in previous studies, not all components were used in measuring spatial reasoning. lowrie et al (2017) using three components of spatial reasoning, namely spatial visualization, mental rotation and spatial orientation to design spatial reasoning activities. while cheng & mix designing spatial training uses two components, mental rotation and spatial relation (cheng & mix, 2014). it states that in spatial reasoning, not all spatial skills are used. but it is more directed to the problem presented can be solved using the appropriate spatial skills. the research that has been done, on the other hand, has been more focused on quantifying spatial reasoning. there are still few studies that show how a person's spatial reasoning works. this inspires the researcher to investigate the process of spatial reasoning as it relates to the elements of spatial skills. as a result, the findings of this study can be applied to the spatial reasoning process itself. gap study & objective spatial reasoning deals with geometric problems (kovačevi´c, 2017). geometric problems have the potential to make someone use spatial skills (lane et al., 2018). geometric problems have the potential to make someone use spatial skills (yüksel, 2017). this provides an opportunity to obtain a spatial reasoning process that involves spatial skills on geometric problems. studies on geometry are concentrated mainly on individual abilities and on processes. this ability includes manipulating various modes of object representation, recognizing and constructing nets, structuring object structures, recognizing object properties and comparing object shapes, and determining the volume and area of objects (pittalis & christou, 2010). the scope of a geometrical problem is a twodimensional and three-dimensional object. thus, the purpose of this study was to describe the elementary school students’ spatial reasoning process in solving geometric problems. in the process, spatial skills are often used which are often used in solving problems and how much the spatial skills function for a solver. vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 123 method type and design this research is a qualitative case study research. the research focuses on spatial reasoning and the use of aspects of spatial reasoning in solving geometric problems. by describing the process of spatial reasoning, the explanation related to the process and the spatial abilities used can be identified as related. data and data sources participants in this study were 17 elementary school student in madiun. more specifically, participants consisted of 6 male and 11 female and had an average age of 10,43 years. participants are upper class of elementary school (8 students are grade four and 9 students are grade five). from the seventeen participants, 3 participants were taken as the research subjects (subject a: grade five – female; subject b: grade five – female; subject c: grade four – male). the research subjects were chosen based on the answers of participants who have the potential to provide data on the spatial reasoning process. table 1. student characteristic source grade n (by grade) gender n (by gender) average age participant four 8 male 6 10,43 five 9 female 11 subject four 2 male 1 10,78 five 1 female 2 data collection technique the study began by giving geometric problems to the subjects (sample presented in figure 1). the problem involved manipulating different twoor three-dimensional objects. the results of the participants' answers were analyzed to determine the research subjects. the selected research subjects were then interviewed to find out the spatial reasoning process carried out and identify the spatial skills used. interviews were conducted with participants who could potentially provide data on the spatial reasoning process. the selection criteria are based on participants' written performance on geometric problems that have been resolved. there were three subjects (1 male; 2 female) interviewed to identify the spatial reasoning process and the spatial skills used. the interview procedure is carried out in an unstructured and flexible manner for all indicators of geometry problems. if the subject does not write an explanation, then the question given leads to the subject's thoughts about the answer he wrote. findings were analyzed with two tools. first is the process of spatial reasoning based on the primary nature of spatial reasoning. the main properties in spatial reasoning are: (1) awareness of space, (2) the association of spatial information representation, (3) interpretation of spatial information and making decisions. the second is identifying spatial skills that are components of the subject in doing spatial reasoning for students. spatial skills identified include (1) spatial perception, (2) spatial visualization, (3) mental rotation, (4) spatial relations, and (5) spatial orientation. pradana & sholikhah connecting spatial reasoning ... printed issn 2406-8012 124 data analysis the spatial reasoning process of the subject required several analyzes. interview transcripts are read and analyzed by researchers using the nature of spatial reasoning and the components of spatial skills. the researcher identifies each process carried out by the subject and maps the appropriate spatial skills components. next, by adapting the nature of spatial reasoning, the researcher makes a cycle of the spatial reasoning process based on the spatial skills used in solving geometric problems. draw the front, left, right, and top views of the following objects figure 1: geometric problem result the results of this study are presented based on indicators of geometric problems. the data presented is the answer of the subject who has solved the geometrical problem given and the results of the interview that support the findings. the process of spatial reasoning and identification of spatial skills are presented based on the type of geometric problem. the problem of manipulating twoor three-dimensional objects is presented with the problem of moving isometric views to orthogonal views. based on figure 2, the answers written by subject a are drawn on a flat plane. the depiction of the front, left, and right sides in accordance with the orientation of the view given is orthogonal. however, the upper side of the image presented does not match the orientation. then an interview was conducted to confirm the thoughts the subject carried out in solving the problem. from the results of the interview, the subject drew the front side by positioning itself in front of the object. the same thing is done for the left, right and top sides by positioning themselves on the left, right and top. when determining the left side, subject a rotates the question paper so that the subject can see the left side can be seen clearly so that the subject gets a picture of the left side in accordance with his view. however, that also applies in determining the upper side. this changes the orientation of the upper side and makes the image rotate 90 degrees. so, the subject a make spatial visualization which included the spatial orientation process. the spatial orientation itself make subject a reason about rotation and use mental rotation skill. vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 125 figure 2: answer of subject a figure 3: answer of subject b in figure 3, subject b can solve the problem correctly based on the answers provided. we inquired about the strategies employed in resolving these issues during the interview. subject b completes the task by counting the numerous cubes first. the subject then confirms the placement of each cube in the arrangement and positions itself on the front, left, right, and top sides. the process of obtaining a side view by drawing the sides of the cube that are visible when positioning themselves in each direction was also confirmed. as a result of the spatial visualization process, subject b presents the figure. in addition, the subject does so without turning the question paper. as a result, the subject's spatial visualization revealed a mental rotation process. in figure 4, subject c draws a side view based on the cubes' arrangement in the problem. this can be seen in the images on the left, right, and top, which are still in isometric view. the subject views the image based on the colors available on the problem, according to the results of interviews conducted on subject c. subject c is then required to draw one side in accordance with the cube arrangement's shape. subject c then notices that the image on the left is incorrect. according to subject c, there should be three boxes. the shape of the left-hand view on subject c was then confirmed. the cubes were arranged in the same way, and the results were the same. in the process of solving the geometric problem, the subject c defines the perspective of spatial orientation. / answer / front /right / upon /left / left / front / right / top pradana & sholikhah connecting spatial reasoning ... printed issn 2406-8012 126 figure 4: answer of subject c the research then identify the components of spatial skills that are used in the subject's spatial reasoning process. subject a and subject b position their gaze to obtain a side view on the arrangement of the cubes. it proves that the subject uses spatial orientation in solving given problems. then we asked why the left-hand side image was not skewed and the right-hand side image was unbroken. each subject gives the same meaningful answer that is because it is viewed from the left side then what is seen is the front side of the 3 cubes so that the picture is not tilted. then the explanation about the right side is because all the yellow sides are visible and only represent the yellow ones. we further asked whether the blue side was visible when viewed from the right direction. the subject responses were hidden by the blue side, which was horizontal and therefore not visible. the subject is able to recognize vertical and horizontal positions, so the spatial skills component used is spatial perceptions, according to the description. discussion according to research findings, the subject's spatial reasoning process always begins with the processing of information in mental visualization. the mental visualization then serves as the foundation for orienting yourself and selecting the appropriate visual perspective. previous theories that support this finding state that visualization is very important in solving geometric problems (jones et al., 2011; moore-russo et al., 2013). then the process proceeds with forming a perspective to construct a solution. this is done to determine the views and orientation of the given object. this orientation serves as a benchmark to see objects from both an isometric and orthogonal view (peng & sollervall, 2014; pittalis & christou, 2010). after that there is a decision. this decision making refers to the possibility of a variety of perspectives in the spatial orientation process carried out in the spatial reasoning process (nctm, 2006; van der henst, 1999). thus, the determination of new visualizations based on information and construction can be done in accordance with the problems given. in the process of spatial reasoning, the influence of gender in this study is very pronounced. yüksel (2017) states that gender is one of the factors that influence spatial / answer /front /left /right /upon vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 127 reasoning. male subjects in this study have a more flexible spatial orientation and can view objects from various angles. previous research backs up the findings of this study, indicating that men as a group have better spatial reasoning abilities as a result of biological factors. (gilligan et al., 2017; smith, 2009; tariq et al., 2013; yoon & mann, 2017). the use of spatial skills in solving geometric problems uses more spatial visualization and spatial orientation. previous research has shown that visualization is frequently used in the solution of geometric problems. (clements & battista, 1992; tepylo, 2017; walker et al., 2011). this demonstrates that paying attention to the process of spatial visualization and spatial orientation will increase the likelihood of success in solving geometric problems. conclusion according to the findings of this study, spatial reasoning begins with the processing of information into mental visualization forms, the formation of perspectives to construct solutions, the making of decisions, and the determination of new visualizations and perspectives based on the current construction. the spatial skills of spatial visualization and spatial orientation are critical in spatial reasoning. in addition, this research establishes the importance of spatial reasoning in the process. the geometric problems used in this study have a limitation in that they do not force the subject to use spatial relation skills. as a result, previous research should first focus on issues involving spatial relationships. this research examines how students use spatial reasoning to solve geometric problems. further research is needed to explore the constraints of spatial reasoning and provide assistance by detecting difficulties in the spatial reasoning process using the sequence of processes discovered. paying attention to the process of spatial reasoning is crucial in spatial reasoning. spatial reasoning has a unique combination of the five spatial skills. furthermore, all spatial abilities aid students in solving the geometric problem. as a result, teachers should think about paying attention to spatial reasoning, or at the very least, teachers should be able to create an activity, task, or problem based on spatial reasoning. references akayuure, p., asiedu-addo, k. s., & alebna, v. (2016). investigating the effect of origami instruction on preservice teachers’ spatial ability and geometric knowledge for teaching. international journal of education in mathematics, science and technology, 4(3), 198–209. https://doi.org/10.18404/ijemst.78424 cheng, y. l., & mix, k. s. (2014). spatial training improves children’s mathematics ability. journal of cognition and development, 15(1), 2–11. https://doi.org/10.1080/15248372.2012.725186 clements, d. h., & battista, m. t. (1992). geometry and spatial reasoning. in d. grouws (ed.), handbook of research on mathematics teaching and learning (pp. 420–464). national council of teachers of mathematics. gilligan, k. a., flouri, e., & farran, e. k. (2017). the contribution of spatial ability to mathematics achievement in middle childhood. journal of experimental child psychology, 163. https://doi.org/10.1016/j.jecp.2017.04.016 hartatiana, darhim, & nurlaelah. (2017). student’s spatial reasoning through model eliciting activities with cabri 3d. journal of physics: conf. series, 895, 1–5. jones, m. g., gardner, g., taylor, a. r., wiebe, e., & forrester, j. (2011). conceptualizing magnification and scale: the roles of spatial visualization and logical thinking. research in science education, 41(3), 357–368. https://doi.org/10.1007/s11165-010pradana & sholikhah connecting spatial reasoning ... printed issn 2406-8012 128 9169-2 kovačevi´c, n. k. (2017). spatial reasoning in mathematics. international scientific colloquim mathematics and children founded by margita pavleković, 6, 1–21. lane, d., lynch, r., & mcgarr, o. (2018). problematizing spatial literacy within the school curriculum. international journal of technology and design education, september. https://doi.org/10.1007/s10798-018-9467-y lowrie, t., & jorgensen, r. (2017). equity and spatial reasoning: reducing the mathematical achievement gap in gender and social disadvantage. mathematics education research journal. https://doi.org/10.1007/s13394-017-0213-7 lowrie, t., logan, t., & ramful, a. (2017). visuospatial training improves elementary students’ mathematics performance. british journal of educational psychology, 87(2), 170–186. https://doi.org/10.1111/bjep.12142 moore-russo, d., viglietti, j. m., chiu, m. m., & bateman, s. m. (2013). teachers’ spatial literacy as visualization, reasoning, and communication. teaching and teacher education, 29(1), 97–109. https://doi.org/10.1016/j.tate.2012.08.012 mulligan, j., woolcott, g., mitchelmore, m., & davis, b. (2017). connecting mathematics learning through spatial reasoning. mathematics education research journal. https://doi.org/10.1007/s13394-017-0210-x nctm. (2006). learning to think spatially. the national academies press. https://doi.org/10.17226/11019 newcombe, n. s. (2013). seeing relationships: using spatial thinking to teach science, mathematics, and social studies. american educator, 37(1), 26–32. peng, a., & sollervall, h. (2014). primary school students’ spatial orientation strategies in an outdoor learning activity supported by mobile technologies. international journal of education in mathematics, science and technology, 2(4), 246–256. pittalis, m., & christou, c. (2010). types of reasoning in 3d geometry thinking and their relation with spatial ability. educational studies in mathematics, 75(2), 191–212. https://doi.org/10.1007/s10649-010-9251-8 ramful, a., lowrie, t., & logan, t. (2017). measurement of spatial ability: construction and validation of the spatial reasoning instrument for middle school students. journal of psychoeducational assessment, 35(7), 709–727. https://doi.org/10.1177/0734282916659207 smith, n. j. (2009). language shift, gender, and ideologies of modernity in central java, indonesia. journal of linguistic anthropology, 19(1), 57–77. https://doi.org/10.1111/j.1548-1395.2009.01019.x tariq, v. n., qualter, p., roberts, s., appleby, y., & barnes, l. (2013). mathematical literacy in undergraduates: role of gender, emotional intelligence and emotional self-efficacy. international journal of mathematical education in science and technology, 44(8), 1143–1159. https://doi.org/10.1080/0020739x.2013.770087 tepylo, d. (2017). examining changes in spatialized geometry knowledge for teaching as early years teachers participate in adapted ... (issue july). https://doi.org/10.13140/rg.2.2.17795.60966 van der henst, j. b. (1999). the mental model theory of spatial reasoning re-examined: the role of relevance in premise order. british journal of psychology (london, england : 1953), 90 ( pt 1), 73–84. https://doi.org/10.1348/000712699161279 walker, c. m., winner, e., hetland, l., simmons, s., & goldsmith, l. (2011). visual thinking: vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 129 art students have an advantage in geometric reasoning. creative education, 02(01), 22–26. https://doi.org/10.4236/ce.2011.21004 williams, c., gero, j., lee, y., & paretti, m. (2010). exploring spatial reasoning ability and design cognition in undergraduate engineering students. proceedings of the asme design engineering technical conference, 6, 669–676. https://doi.org/10.1115/detc2010-28925 yoon, s. y., & mann, e. l. (2017). exploring the spatial ability of undergraduate students: association with gender, stem majors, and gifted program membership. gifted child quarterly, 61(4). https://doi.org/10.1177/0016986217722614 yüksel, n. s. (2017). visual-spatial ability in stem education (m. s. khine (ed.)). springer. https://doi.org/10.1007/978-3-319-44385-0 jurnal pgsd vol 2 no 2 des 2015.indd profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 87 9487 issn 2406-8012 kompetensi pedagogik mahasiswa dalam mengelola pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 pada pengajaran micro di pgsd uad yogyakarta fitri indriani pgsd fkip universitas ahmad dahlan yogyakarta tri_01_08@yahoo.co.id abstract this study aims to determine; (1) the pedagogical competence of students in managing integrated thematic learning curriculum in 2013 on micro teaching; (2) determine the barriers faced by students in managing integrated thematic learning curriculum in 2013 on micro teaching. this type of research is a eld research using qualitative approach. the results showed that; (1) the pedagogical competence of students in managing integrated thematic learning curriculum in 2013 on micro teaching is good. it is shown from the four aspects of pedagogical competence. (2) the barriers faced by students in managing integrated thematic learning curriculum teaching in 2013 at the micro, for example developing assessment instruments; linking indicators each subject according to the theme; removal of subjects one to the other subjects; making educative media according to the theme; developing material. keywords: pedagogic competencies, thematic integrative learning, curriculum 2013, micro teaching pendahuluan pemerintah indonesia saat ini tengah menggulirkan kurikulum baru yang dikenal dengan kurikulum 2013. kurikulum 2013 dikembangkan dalam rangka merespon salah satu tantangan eksternal, yakni terkait dengan rendahnya mutu pendidikan dikanca internasioanl terutama di negara asean. perubahan kurikulum dari ktsp menuju kurikulum 2013 membawa konsekwensi tersendiri bagi para guru. di mana dalam pembelajarannya guru dituntut menyelenggarakan pembelajaran aktif dengan pendekatan sainti k dan penilaian otentik. khusus di sekolah dasar, pembelajaran dilaksanakan secara tematik integratif. namun demikian, yang menjadi persoalan adalah para guru belum terbiasa mengajar dengan paradigma baru. hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi pelaksanaan kurikulum 2013 yang mengungkapkan sebagian guru dalam mengajar belum memanfaatkan sumber belajar secara maksimal dan buku teks menjadi acuan utama tanpa mencoba berkreativitas untuk mengembangkan secara lebih baik yakni dengan memanfaatkan lingkungan dan sumber belajar, sehingga kegiatan pembelajaran masih terbatas di ruang kelas. masih ada sebagian guru belum sepenuhnya menerapkan penilaian proses pembelajaran, hal ini dikarenakan keberhasilan siswa diukur dengan nilai akhir ujian nasional yang berbentuk angka (fanani, 2014: 5-6). dengan pembelajaran yang diselenggarakan demikian, mengindikasihkan bahwa kompetensi guru masih rendah. menurut mulyasa (2009: 10), kondisi guru yang kurang berkompeten dalam mengajar itu, bisa jadi disebabkan beberapa faktor antara lain; (1) masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara utuh. hal ini disebabkan oleh sebagian guru yang punya kerja sampingan selain profesi guru, sehingga waktu untuk membaca, 88kompetensi pedagogik mahasiswa ... (fitri indriani) issn 2406-8012 menulis dan berinovasi dalam mengajar relatif kurang.; (2) belum adanya standar profesional guru sebagaimana tuntutan di negara-negara maju; (3) kurangnya motivasi guru dalam meningkatkan kualitas diri karena guru tidak dituntut untuk meneliti sebagaimana yang diberlakukan pada dosen di perguruan tinggi. rendahnya mutu guru dalam mengajar, tentu menjadi pekerjaan berat bagi perguruan tinggi sebagai pencetak calon guru. salah satunya adalah universitas ahmad dahlan. di universitas ahmad dahlan terdapat beberapa program studi keguruan, salah satunya adalah program pendidikan guru sekolah dasar (pgsd), tujuan dari program ini adalah mencetak calon guru sekolah dasar yang unggul dan handal serta profesional. untuk mengakomodir tujuan tersebut, maka pgsd uad berupaya membekali berbagai kompetensi pada para mahasiswa yakni dengan menyelenggarakan program pengajaran mikro (ppl 1). pengajaran mikro merupakan mata kuliah yang diajarkan di semester v1 (enam) yang bertujuan untuk melatih dan mengasa kemampuan mahasiswa dalam mengajar sebelum diterjunkan pada ppl. meskipun program tersebut sebagai sarana latihan mengajar. para mahasiswa dituntut untuk menguasai berbagai kompetensi guru yaitu kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. out put dari mata kuliah pengajaran mikro ini, mahasiswa mampu melaksanakan pembelajaran (ppl 2) di sekolah dasar secara efektif. hal ini dilakukan dengan harapan kelak mereka ketika terjun di dunia kerja sebagai profesi guru, betulbetul menjadi guru yang professional. mempersiapkancalon guru dengan berbagai kompetensi merupakan bekal yang utama, maka perhatian terhadap berbagai kompetensi menjadi penting. oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan kajian mengenai kompetensi. tanpa mengurangi arti penting setiap kompetensi, dalam kajian ini penulis hanya memfokuskan pada satu aspek kompetensi yaitukompetensi pedagogik. karena menurut penulis kompetensi tersebut sangat berpengaruh dalam mencapai tujuan pendidikan, dan ia merupakan syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang guru agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif. kompetensi pedagogik merupakan hal penting yang harus dikuasai oleh para guru. kerena kompetensi pedagogik merupakan syarat utama dalam menyelenggarakan pembelajaran yang efektif bagi para siswa untuk mencapai tujuan pendidikan. kompetensi pedagogik menurut undang-undang no.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 1, ayat 10 adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya (undang-undang, 2006: 3). sedangkan menurut yasin (2008: 73-75) kompetensi pedagogik adalah kemampuan seorang pendidik dalam mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi; (1) kemampuan dalam memahami peserta didik; (2) kemampuan dalam merancang pembelajaran; (3) kemampuan melaksanakan pembelajaran; (4) kemampuan mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran. berdasarkan pendapat tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa kompetensi pedagogik guru adalah kemampuan seseorang dalam mengajar yang mencakup berbagai aspek terkait dengan ilmu mendidik, keterampilan dasar mengajar dan pengelolaan kelas agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan secara efektif untuk mencapai tujuan pendidikan. pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 istilah pembelajaran tematik pada dasarnya adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (trianto, 2011: 147, ahmadi dan amri, 2014: 94). sedangkan menurut rusman, pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsipprofesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 87 9489 issn 2406-8012 prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik (rusman, 2011: 254). kemunculan pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran lsafat yakni; (1) progresivisme; (2) konstruktivisme; (3) humanisme. aliran progresivisme memandang bahwa proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah dan memperhatikan pengalaman siswa. adapun aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa sebagai kunci dalam pembelajaran. dalam hal ini, isi dan materi pembelajaran perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa secara langsung yakni berinteraksi dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. sebab pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diintepretasikan sendiri oleh masing-masing siswa (rusman, 2011: 254, hernawan dkk, 2008: 1.10-1.11) ada beberapa karakteristik pembelajaran tematik integratif yang harus diperhatikan oleh guru, antara lain; (1) berpusat pada siswa; (2) pemisahan mata pelajaran tidak terlalu jelas; (3) mengembangkan keterampilan siswa; (4) menggunakan prinsip bermain sambil belajar; (5) mengembangkan komunikasi siswa; (7) menyajikan pembelajaran sesuai tema; (8) menyajikan pembelajaran dengan memadukan berbagai mata pelajaran (prastowo, 2014: 100109, tim pppk, 2014: 69). implementasi pembelajaran tematik dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut; (1) perencanaan; (2) penerapan pembelajaran; (3) evaluasi. dalam tahap perencanaan guru melakukan pemetaan kd, penentuan tema, analisis indikator, penetapan jaringan tema, penyusunan silabus, dan penyusunan rpp. sedangkan dalam tahap penerapan/pelaksanaan pembelajaran dilakukan melalui langkah-langkah kegiatan pendahuluan, inti dan akhir. adapun dalam tahap evaluasi atau penilaian pembelajaran tematik dilakukan dengan penilaian proses dan hasil. alat penilaian yang digunakan berupa tes dan non tes, yang meliputi; (1) tes tertulis; (2) tes lisan; (3) tes perbuatan; (4) catatan perkembangan siswa; (5) portofolio. penilaian ini tidak lagi terpadu melalui tema, tetapi terpisah sesuai kompetensi dasar, hasil belajar, dan indikator mata pelajaran, sehingga nilai akhir pada laporan hasil belajar siswa (lhbs) atau rapor dikembalikan pada kompetensi mata pelajaran ( ahmadi dan amri, 2014: 94). kurikulum 2013 dengan kurikulum satuan pendidikan memiliki perbedaan dalam sistem pembelajaran. di mana kurikulum satuan pendidikan pembelajarannya dilaksanakan masih terpisah-pisah, belum mengaktifkan siswa serta lebih menekankan hasil daripada proses pembelajaran. sedangkan kurikulum 2013 dilaksanakan secara tematik integratif dengan menggunakan pendekatan sainti k dan penilaian otentik. kegiatan belajar dengan pendekatan sainti k, guru mengajak siswa mengamati, menanya, mengumpulkan informasi / eksperimen, mengasosiasi/ mengolah informasi dan mengkomunikasikan terkait dengan materi yang dipelajari. adapun penilaian autentik, guru menilai proses dan hasil belajar siswa. hasil penilaian tersebut, kemudian dideskripsikan berbentuk uraian. berikut ini merupakan perbedaan esensial antara ktsp dengan kurikulum 2013 untuk sekolah dasar (tim kurikulum 2013: 103). 90kompetensi pedagogik mahasiswa ... (fitri indriani) issn 2406-8012 tabel 1. perbedaan ktsp dan kurikulum 2013 ktsp 2006 kurikulum 2013 mata pelajaran tertentu mendukung kompetensi tertentu tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi (sikap, keterampilan, pengetahuan) mata pelajaran dirancang berdiri sendiri dan memiliki kompetensi dasar sendiri mata pelajaran dirancang terkait dengan yang lain dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas tiap mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan berbeda semua mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan yang asama (sainti k) melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar tiap jenis konten pembelajaran diajarkan terpisah bermacam jenis konten pembelajaran diajarkan terkait dan terpadu satu sama lain. tematik untuk kelas i-iii belum integratif tematik integratif untuk kelas i-vi metode penelitian penelitian ini dikategorikan pada jenis penelitian lapangan ( eld research) dengan pendekatan kualitatif, di mana penelitian dilakukan untuk memahami fenomena sosial dari pandangan pelakunya (sugiyono, 2010: 3).fenomena yang ingin diteliti adalah kompetensi pedagogik mahasiswa dalam mengelola pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 pada pengajaran micro di pgsd uad yogyakarta. penelitian ini dilaksanakan di program studi pendidikan guru sekolah dasar universitas ahmad dahlan yogyakarta. adapun waktu penelitian berlangsung selama enam bulan pelaksanaan. enam bulan pelaksanaan tersebut terbagi menjadi enam tahap, yaitu dimulai dengan tahap perencanaan, kemudian dilanjut penyiapan instrumen, pengumpulan data kualitatif dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. setelah data kualitatif terkumpul kemudian dilakukan olah data. setelah semua data diolah kemudian masuk pada tahapan perumusan hasil penelitian. pada tahapan yang paling akhir yaitu penyusunan hasil penelitian secara keseluruhan. adapun sember data dalam penelitian ini adalah mahasiswa dan dosen. mahasiswa yang dipilih adalah mahasiswa semester v1 (enam) yang sedang melaksanakan pengajaran mikro. sedangkan dosen adalah orang yang memiliki kapasitas sebagai pendamping pengajaran mikro, dalam hal ini peneliti berkeyakinan bahwa dosen pendamping mengetahui kompetensi mahasiswa terutama kompetensi pedagogik dalam melaksanakan pengajaran mikro.untuk pengumpulan data peneliti menggunakan teknik pengamatan, wawancara dan dokumentasi. sedangkan keabsahan data menggunakan teknik trianggulasi data. analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik miles dan hubermen yakni dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas hingga datanya jenuh. adapun kegiatan yang dilakukan yakni pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan data atau veri kasi (matthew b. miles dan a. michael hubermen, 1992: 19-20). hasil dan pembahasan kompetensi pedagogik yang diteliti dalam kajian ini meliputi empat aspek yakni; (1) kemampuan memahami karakteristik peserta didik; (2) kemampuan merancang pembelajaran; (3) kemampuan melaksanakan pembelajaran; (4) kemampuan mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa kompetensi pedagogik mahasiswa dalam mengelola pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 87 9491 issn 2406-8012 pada pengajaran micro di pgsd uad yogyakarta sudah baik dalam memahami karakteristik peserta didik. menurut para mahasiswa bahwa karakteristik peserta didik sangatlah beragam antara siswa yang satu dengan siswa lainnya, baik dari segi latar belakang agama, sosial, keluarga, ekonomi, jenis kelamin dan sebagainya, di samping itu siswa sekolah dasar memiliki gaya belajar yang berbeda serta masih berpikir konkrit dan holistik. oleh karena itu dalam mengajar mahasiswa mengatakan guru hendaknya menerapkan berbagai macam starategi, menyelenggarakan pembelajaran yang menyenangkan, pembelajaran dilaksanakan secara terpadu dan konkrit seperti, mengajak siswa terjun langsung kepada obyek atau dengan menghadirkan benda konkrit terkait dengan materi yang diajarkan ke dalam kelas, guru melakukan pendekatan secara personal, tidak galak, murah senyum, senang memberi pujian, bersahabat dan tidak pilih kasih. dengan dimilikinya pemahaman mahasiswa terhadap karakteristik peserta didik secara baik, merupakan modal awal bagi mereka untuk melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan. adapun kemampuan mahasiswa merencanakan pembelajaran dapat dikatakan sudah baik dalam mengembangkan pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 (k 13) dengan memuat empat kompetensi inti yakni ki 1 (spiritual), ki 2 (sosial), ki 3 (pengetahuan) dan ki 4 (keterampilan). adapun model pembelajaran yang dikembangkan adalah pembelajaran aktif dengan pendekatan sainti k. secara format, rpp yang disusun oleh mahasiswa praktikan sudah sesuai dengan permendiknas ri nomor 65 tahun 2013 tentang standar proses, yaitu mencakup; identitas mata pelajaran, kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode dan strategi pembelajaran, kegiatan pembelajaran yang terdiri dari ; kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan penutup, penilaian hasil belajar dan sumber belajar. untuk mengetahui kemampuan mahasiswa praktikan dalam merancang rpp, peneliti menggunakan alat bantu berupa instrumen penelitian yang terdiri dari tujuh indikator yaitu rumusan kompetensi, rumusan tujuan pembelajaran, penentuan dan organisasi materi, pendekatan dan metode dalam pembelajaran, rancangan langkah-langkah pembelajaran, penggunaan media dan sumber belajar, rancangan penilaian. maka berdasarkan hasil telaah data dokumentasi terhadap tujuh indikator dapat dikatakan kemampuan mahasiswa praktikan dalam merancang rpp masuk kategori baik menggunakan format permendiknas ri nomor 64 tahun 2013 tentang standar proses, perumusan kompetensi sudah sesuai dengan ki dan kd, rumusan indikator telah menggunakan kata kerja operasional (dapat diukur berupa hasil) dan sesuai dengan alokasi waktu, di mana alokasi waktu yang direncanakan adalah 35 menit. perumusan tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan kd dan ada kejelasan serta mengandung tingkah laku yang diinginkan. pengembangan materi dan bahan ajar sudah benar secara teoritik, mendukung pencapaian kompetensi dasar serta dijabarkan dalam bahan ajar secara kontekstual. metode pembelajaran yang digunakan cukup bervariasi dan tercermin dalam langkah-langkah pembelajaran dengan mengaplikasikan pendekatan pembelajaran sainti k. adapun langkah-langkah pembelajaran yang dikembangkan pada kegiatan awal berisi pengaitan kompetensi yang akan dibelajarkan dengan konteks kehidupan siswa, di kegiatan inti telah ditulis secara rinci untuk menjabarkan tahapan pencapaian kd disertai alokasi waktu yang mengimplementasikan pendekatan sainti k dan berfokus pada siswa dengan memberi kesempatan siswa bekerja sama dengan teman serta berinteraksi dengan lingkungan. sumber belajar yang digunakan sudah sesuai untuk mendukung tercapainya kd dan cukup bervariasi. rancangan penilaian sudah sesuai dan mencakup seluruh indikator, dan menggambarkan penilaian otentik dengan mencantumkan rubrik penilaian, namun mahasiswa belum mencantumkan pendoman penyekoran serta kunci jawaban secara jelas dan 92kompetensi pedagogik mahasiswa ... (fitri indriani) issn 2406-8012 tepat. dari deskripsi di atas, dapat ketahui bahwa kemampuan mahasiswa dalam merancang pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 pada pengajaran mocroh sudah baik. kemampuan mahasiswa melaksanakan pembelajaran juga sudah baik dalam membuka pembelajaran, di mana dalam kegiatan pembukaan mahasiswa melakukan apersepsi dan motivasi yakni dengan mengkondisikan siswa secara sik dan psikis seperti mengajak siswa berdoa, menanya kabar, mengecek kehadiran siswa, membuat yel-yel dan tepuk, menyampaikan manfaat dan tujuan, mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan tema serta menyampaikan skenario pembelajaran. selanjutnya mahasiswa menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan menyampaikan rencana kegiatan. dengan dimilikinya kemampuan membuka pembelajaran, maka setidak-tidaknya mahasiswa dapat dengan mudah mengendalikan siswa dalam proses pembelajarannya. karena siswa telah mengetahui sejak awal terhadap apa yang akan mereka pelajari, sehingga siswa dapat melibatkan diri terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung. dalam melaksanakan kegiatan inti, mahasiswa sudah baik dalam memberi penjelasan, di mana mereka telah berusaha menyederhanakan materi sesuai dengan tingkat pemahaman siswa, dan contoh yang diberikan dekat dengan kehidupan siswa. hal ini terlihat ketika mahasiswa praktikkan mengajar sub tema hewan di sekitarku, siswa di ajak menyebutkan nama-nama hewan yang ada di rumah seperti kucing, ayam, burung, kambing dan lain-lain. dalam memberi pertanyaan ada kejelasan dan ada hubungan dengan masalah yang dibicarakan, ada waktu tunggu. dalam mendistribusikan pertanyaan dilakukan secara merata dan pertanyaan yang diberikan bersifat produktif serta berbagai level seperti mengapa dan bagaimana. adapun media yang digunakan oleh mahasiswa praktikkan sudah sesuai dengan materi yang diajarkan, sesuai dengan kondisi kelas, informasi yang disampaikan jelas dan siswa paham terhadap informasi yang disampaikan oleh media. dalam hal ini ketika mahasiswa praktikan mengajar tentang simbol pancasila, media yang digunakan adalah burung garuda, begitu juga ketika mereka mengajar tentang nilai pecahan uang, mahasiswa menggunakan media uang dengan berbagai nilai, mulai dari yang terkecil sampai yang paling besar, hingga potongan-potongan gambar yang terkait dengan materi. mahasiswa praktikan juga sudah baik dalam memberi penguatan, baik penguatan secara verbal maupun non verbal. dalam memberi penguatan verbal mahasiswa praktikkan menggunakan kata “baik, ya, betul, pintar sekali, oke”, sedangkan non verbal dilakukan dengan cara mendekati siswa yang bertanya ataupun yang bisa menjawab, anggukan dan senyuman. untuk variasi pembelajaran juga cukup baik, di mana mahasiswa dalam mengajar menggunakan metode variasi seperti ceramah, tanya jawab, diskusi, pengamatan dan demonstrasi. gaya mengajar sudah baik, dalam hal ini intonasi suara jelas, gerak badan bervariasi dan profersional seperti duduk, berdiri, berjalan dan mendekati siswa. sumber belajar belum variatif karena mahasiswa praktikkan hanya menggunakan buku pegangan guru dan siswa, belum menggunakan buku yang lain sebagai penunjang materi. penggunaan media cukup baik dan bervariasi seperti audio visual (lcd, laptop) serta media lain yang sederhana antara lain; kardus, kertas lipat, uang logam, jam dinding, dan lain-lain. kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara runtut dan sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai serta sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. kemampuan mahasiswa menerapkan pembelajaran tematik integratif sudah baik di mana pembelajaran yang diselenggarakan berpusat pada siswa, pemisahan mata pelajaran tidak terlalu jelas, mengembangkan keterampilan siswa, menggunakan prinsip bermain sambil belajar, materi yang disajikan sesuai tema dengan memadukan berbagai mata pelajaran seperti; pkn, bahasa indonesia, dan matematika. kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara interaktif dengan berbagai arah guru ke siswa, siswa ke guru dan siswa ke siswa. dalam menjelaskan materi mahasiswa profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 87 9493 issn 2406-8012 menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak menggunakan kata-kata yang tidak penting. huruf yang digunakan menulis di papan tulis jelas dan mudah dibaca. kemampuan mahasiswa menutup kegiatan pembelajaran sudah baik dalam mereview materi yang telah disampaikan. hal ini dilakukan secara bersama-sama, mahasiswa praktikan memberi pertanyaan dalam bentuk tulisan. mahasiswa praktikkan meminta hasil tugas siswa dikumpulkan kembali. sebelum pembelajaran dakhiri, mahasiswa praktikan memberi tugas tindak lanjut terkait materi yang telah disampaikan di kelas untuk dikerjakan di rumah dengan bimbingan orang tua. adapun kegiatan yang ditunjukkan oleh siswa saat kegiatan pembelajaran berlangsung dari aspek kesungguhan dan kedisiplinan masuk kategori cukup baik dalam mengikuti pelajaran cukup serius dan cukup perhatian, aspek semangat dan kegembiraan masuk kategori cukup baik siswa cukup antusias dan cukup gembira. kegiatan pembelajaran yang dilangsungkan sudah sesuai dengan rencana yang ada di rpp. kemampuan mahasiswa mengevaluasi proses dan hasil belajar sudah baik.di mana evaluasi proses dilakukan dengan cara tanya jawab pada saat menjelaskan materi dan lembar kerja siswa, sedangkan evaluasi hasil belajar dilakukan pada akhir pembelajaran. adapun bentuk evaluasi hasil belajar dilakukan secara tertulis dan non tertulis. untuk penilaian tertulismahasiswa membuat soal uraian berbentuk cerita. sedangkan non tertulis, mahasiswa melakukan pengamatan terhadap sikap siswa dan menilai hasil kerja siswa. butir-butir soal disusun disesuaikan dengan materi yang telah disampaikan, aspek yang dievaluasi adalah mencakup tiga rana yaitu kognitif, afektif, psikomotor. penilaian kognitif bertujuan untuk melihat sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diberikan, penilaian sikap bertujuan untuk melihat perhatian, ketelitian, tanggung jawab yang ditunjukkan siswa, sedangkan penilaian psikomotor bertujuan untuk melihat kemampuan siswa dalam melakukan percobaan hal ini ditunjukkan dengan hasil. evaluasi yang dilaksanakan ini adalah evaluasi formatif untuk mengetahui kemampuan siswa dengan penguasaan materi esensial setelah proses pembelajaran berlangsung, namun demikian, hasil tes tersebut belum sampai pada mengklasi kasikan seberapa ketuntasan penguasaan materi, sehingga untuk program remidi dan pengayaan seyogyanya harus ada sebagai tindak lanjut hasil evaluasi belum dilaksanakan. hal ini dikarenakan waktu praktik pengajaran micro tidak mencukupi. adapun hambatan yang dihadapi mahasiswa dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 antara lain; (1) kesulitan dalam mengembangkan instrumen penilaian; (2) mengaitkan mata pelajaran ke dalam satu tema; (3) bingung melakukan pergantian mata pelajaran satu ke mata pelajaran lainnya; (5) kesulitan membuat alat peraga sesuai dengan tema; (6) sulit membuat ape sesuai dengan tema; (7) mengembangkan materi. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ; (1) kompetensi pedagogik mahasiswa dalam mengelola pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 pada pengajaran micro sudah baik. hal ini ditunjukkan dari empat aspek kompetensi pedagogik yang menjadi fokus dalam penelitian, secara keseluruhan dapat ditampilkan secara baik. seperti pembelajaran yang diselenggarakan aktif, demokratis dan menyenangkan dan sesuai dengan rpp yang direncanakan. rpp yang dirancangkan telah sesuai dengan standar proses, indikator yang dibuat sudah terukur dan sudah menggunakan kata kerja operasional (kko). langkah-langkah kegiatan pembelajaran menggambarkan pembelajaran aktif, perancangan strategi dan penggunaan media cukup bervariasi, rancangan penilaian sudah sesuai dan mencakup seluruh indikator serta menggambarkan penilaian otentik. dalam melaksanakan pembelajaran tematik sudah sesuai dengan karakteristik pembelajaran 94kompetensi pedagogik mahasiswa ... (fitri indriani) issn 2406-8012 tematik integratif yakni berpusat pada siswa, ada interaktif. pemindahan mata pelajaran satu ke mata pelajaran lainnya tidak terlalu tampak. pendekatan sainti k sudah diterapkan yakni mengamati, menanya, menalar, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. evaluasi dilakukan pada saat proses pembelajaran dan di akhir kegiatan pembelajaran dengan mengembangkan penilaian otentik dan mengukur tiga aspek yakni koginitif, afeksi dan psikomotor; (2) adapun hambatan yang dihadapi mahasiswa dalam mengelola pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 pada pengajaran micro antara lain ; mengembangkan instrumen penilaian; mengaitkan indikator setiap mata pelajaran sesuai tema; pemindahan mata pelajaran satu ke mata pelajaran lainnya; membuat ape sesuai dengan tema; mengembangkan materi. daftar pustaka hernawan, asep herry dkk. (2008). pembelajaran terpadu di sd, jakarta: universitas terbuka. miles, matthew b. dan a. michael hubermen. 1992. analisis data kualitatif, terj. tjetjep rohendi rohidi jakarta: ui-press. mulyasae. (2009). standar kompetensi dan serti kasi guru, bandung: remaja rosdakarya prastowo,andi. (2014). pengembangan bahan ajar tematik: tinjauan teoristis dan praktis, jakarta: kencana. ____________. (2015). menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp) tematik terpadu: implementasi kurikulum 2013 untuk sd/mi, jakarta: kencana. rusman. (2011). model-model pembelajaran: mengembangkan profesionalisme guru, jakarta: rajagra ndo persada. trianto. (2011). desain pengembangan pembelajaran tematik: bagi anak usia dini tk/ra dan anak usia kelas awal sd/mi, jakarta: kencana. yasin,a. fatah. (2008).dimensi-dimensi pendidikan islam, malang: uin malang press. zainal fanani, ahmad, (2014). implementasi kurikulum 2013, makalah, disampaikan dalam seminar dan lokakarya di uad bekerja sama dengan dinas pendidikan, pemuda dan olahraga diy pada tanggal 19 agustus. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 30 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 30 41 implementasi pendidikan nilai (living values education) dalam pembelajaran ips (studi terhadap pembentukan karakter anak di tingkat sekolah dasar) tri sukitman1), m. ridwan2) pgsd stkip pgri sumenep 1tri.sukitman@gmail.com; 2ridwan_esto@yahoo.co.id abstract information and communication technologies that facilitate the service of the man, in fact also accelerate the negative effects for the existence of values that has evolved in this masyarakat. pernyataan evidenced by the spread of violence committed on school-age children, sexual abuse, a lack of values of decency against the old, free sex, abortion, and others. the spread of this phenomenon is inseparable from the development of information and communication technology that has now become the primary needs of a person. this research is categorized into field research (field research) were designed using qualitative approach with case study method (case study). the data collection techniques were used in this research through interviews, observation, field notes (field notes), study the documentation, and literature. results of research conducted in sdn batang-batang power i declare that there is some development programs educational value, including the value of education is integrated into the curriculum in 2013 (k-13) and the development of value by maximizing the role of parents in monitoring every activity of children in the home environment through liaison book. the book serves for monitoring the activities of children at home every day ranging from learning, prayer, reading the koran, refined language (enggi bunten), and helping the elderly. keywords: educational values (values education), social studies learning, character pendahuluan teknologi informasi dan komunikasi yang memudahkan pelayanan terhadap manusia pada sisi yang lain juga mempercepat pengaruh negatif bagi eksistensi nilai-nilai yang telah berkembang di suatu masyarakat. berbagai macam fenomena pada masa lalu dianggap tabu, kini dianggap biasa dan bisa menjadi sebuah tren dikalangan masyarakat. pernyataan ini dibuktikan dengan tersebarnya kekerasan yang dilakukan anak usia sekolah, pelecehan seksual, kurangnnya nilai-nilai kesopanan terhadap orang tua, free sex, aborsi, dan lain-lainnya. tersebarnya fenomena tersebut tidak terlepas dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kini sudah menjadi kebutuhan primer seseorang untuk terus mengikuti perkembangannya. sebagian besar kesalahan yang dilakukan para remaja dan pelajar padadasarnya disadari oleh mereka sebagai sesuatu yang melanggar nilai dan norma. pembelajaran di kelas sangat berpengaruh terhadap cara pandang dan bagaimana bersikap seorang remaja/ pelajar. pembelajaran idealnya tidak hanya mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga harus menekankan proses pengembangan afektif peserta didik. pendidikan nilaibukan hanya tugas guru agama dan pendidikan kewarganegaraan, tetapi semua bidang studi memiliki tanggungjawab yang sama (lubis 2009). pendidikan adalah proses pembudayaan, proses kultural, atau proses kultivasi untuk mengembangkan semua bakat dan potensi manusia guna mengangkat diri sendiri dan mailto:1tri.sukitman@gmail.com p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 implementasi pendidikan nilai......(tri sukitman, dan m. ridwan) 31 dunia sekitarnya pada taraf human (kartono, 1992: 22). taraf human yang terkandung dalam pengertian tersebut adalah bagaimana pendidikan bisa mengangkat derajat manusia kearah yang bermoral, bermartabat, berkarakter baik, mempunyai nilai (values) serta sikap yang mencerminkan bahwa manusia adalah insan kamil yang seutuhnya. dengan demikian, tujuan pendidikan tidak hanya menciptakan insan berakal, insan yang kompeten dan berguna, insan agent of change, insan yang bertakwa, melainkan insan kamil yang seutuhnya. permendiknas no. 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk pendidikan dasar dan menengah, ilmu pengetahuan sosial (ips) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikanmulai dari sd/mi/sdlb sampai smp/mts/smplb. ips mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. pada jenjang sd/mi mata pelajaran ips memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. melalui mata pelajaran ips, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warganegaraindonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta wargadunia yangcinta damai (bsnp, 2006: 18). berdasarkan tuntutan aturan pemerintah tersebut sangat jelas bahwa ips merupakanmata pelajaran yang berorientasi tidak hanya pengembangan intelektual, tetapi juga sikap dan keterampilan pada peserta didik (bertens, 2007; mulyana, 2004). dari permasalahan tersebut maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengembangkan pembelajaran di sekolah sesuai dengan tujuan dan amanah daripada permendiknas dengan mengoptimalkan peran dari pendidikan nilai (living values education) sebagai salah satu solusi dalam mengatasi masalah pendidikan karakter anak. metode penelitian lokasi penelitian yang menjadi kajian dalam latar penelitian ini adalah di sdn batang-batang daya i. sedangkan, subjek penelitian menurut moleong (2010: 26) menyatakan bahwa “....pada penelitian kualitatif tidak ada sampel acak, tetapi sampel bertujuan (purposive sample)”. berdasarkan uraian ini, maka yang dijadikan subjek penelitian ini: 1) kepala sekolah, yaitu para kepala sekolah yang terkait. 2) guru, yaitu khususnya guru mata pelajaran ips dan guru kelas sebagai pengarah dan pembimbing siswa di sekolah terkait. 3) siswa sekolah dasar terkait sebagai subjek penelitian. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. dipilihnya pendekatan kualitatif dalam penelitian ini didasarkan pada permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian. oleh karena, hakikat penelitian kualitatif adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya (nasution, 2003: 5). peneliti ingin mengetahui bagaimana implementasi pendidikan nilai (values education) dalam pembelajaran ips dalam upaya membentuk karakter anak di sekolah dasar yang ada di sumenep, sehingga peneliti memperoleh gambaran dari permasalahan yang terjadi secara mendalam (berupa kata-kata, gambar, perilaku) dan tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistik, melainkan dalam bentuk data kualitatif. penelitian ini juga dapat dikategorikan ke dalam penelitian lapangan (field research) yang dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif dengan ide pentingnya ke yaitu berangkat ke e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 32 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 30 41 lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang fenomena dalam suatu keadaan alamiah. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus (case study). menurut nasution (2003: 27) mengemukakan mengenai metode studi kasus sebagai berikut: case study adalah bentuk penelitian yang mendalam tentang sesuatu aspek lingkungan sosial termasuk manusia di dalamnya. case study dapat dilakukan terhadap seseorang individu, sekelompok individu, segolongan manusia, lingkungan hidup manusia atau lembaga sosial. case study dapat mengenai perkembangan sesuatu, dapat pula memberi gambaran tentang keadaan yang ada. penulis menganggap bahwa metode studi kasus dengan fokus penelitian ini yaitu tentang implementasi pendidikan nilai yang dilaksanakan di sekolah mampu menghimpun data berkenaan dengan sesuatu kasus berupa pembentukan karakter yang terkandung dalam model tersebut. adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. wawancara, merupakan percakapan yang menimbulkan komunikasi dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang bertindak untuk mengajukan pertanyaan dan narasumber sebagai pihak yang diwawancarai. 2. observasi, merupakan alat pengumpul data yang dilakukan untuk memperoleh gambaran lebih jelas tentang kehidupan sosial dan diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan yang sebenarnya tanpa usaha disengaja untuk mempengaruhi, mengatur, atau memanipulasinya (nasution, 2003: 106). dengan observasi diharapkan bisa memperoleh data secara langsung dan gambaran yang lebih jelas mengenai implementasi pendidikan nilai (living values education) dalam pembelajaran ips sebagai upaya pembentukan karakter anak di sekolah dasar yang ada di sumenep. 3. catatan lapangan (field note), merupakan catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. proses itu dilakukan setiap kali selesai mengadakan wawancara dan tidak boleh bercampur dengan informasi lainnya (moleong, 2010: 209). studi dokumentasi, adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkip, buku-buku, surat kabar, majalah, internet dan sebagainya untuk kepentingan penelitian. 4. studi literatur adalah teknik penelitian yang dapat berupa informasi data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti yang dapat diambil dari bukubuku, majalah, naskah-naskah, kisah sejarah, dokumentasi-dokumentasi, dan lain-lainnya (karono, 1996: 33). dalam penelitian ini peneliti bertindak membaca dan mempelajari bahan-bahan atau sumber-sumber informasi yang ada hubungannya dengan pendidikan nilai yang diterapkan untuk mengembangkan karakter anak di sekolah. teknik analisis data menurut bogdan & biklen, analisis data kualitatif didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensikannya, mencari dan p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 implementasi pendidikan nilai......(tri sukitman, dan m. ridwan) 33 menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. teknik pengolahan data dilakukan setelah data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. data kualitatif ini dinyatakan dalam bentuk non angka atau non numerik atau biasa disebut atribut. analisi data secara kualitatif dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: 1. menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yang diproleh dari hasil pengumpulan data 2. mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan rangkuman yang inti, proses dengan pernyataanpernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya; 3. penyusunan dalam satuan-satuan dan dikategorikan pada langkah berikutnya yang kemudian kategori-kategori itu dibuat sambil melakukan koding. 4. mengadakan pemeriksaan keabsahan data. setelah tahap ini mulailah tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substantif dengan menggunakan metode tertentu (furchan, 2004: 34). hasil dan pembahasan implementasi pendidikan nilai di sdn batang-batang daya i untuk menciptakan peserta didik yang mempunyai nilai karakter yang kuat, maka perlu dukungan yang kuat dari pihak sekolah yang mempunyai peran sentral untuk perkembangan anak (somantri, 2001). tidak sebatas itu saja, character building bisa dibangun juga apabila peran serta dari orang tua bisa dimanfaatkan sebagai kontrol dan memonitoring kegiatan anak ketika mereka ada di rumah sehingga setiap yang dilakukan oleh anak dapat diamati dan diarahkan. sdn batang-batang daya i merupakan sekolah yang mampu menerapkan dan memnafaatkan peran serta orang tua dalam mengembangkan nilai karakter anak yang kemudian diimplementasikan ke dalam kurikulum 2013 (k-13).sehingga semua yang dilakukan oleh anak baik di sekolah maupun di rumah dapat terintegrasi ke dalam pembelajaran dan kurikulum yang diberlakukan di sekolah. hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa ada 3 hal yang dilakukan sdn batang-batang daya i dalam menanamkan nilai karakter, diantaranya: a. pembiasaan rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disusun oleh sdn batang-batang daya i. kegiatan tersebut meliputi: 1) upacara bendera yang dilakukan setiap hari senin pagi. gambar 1. kegiatan upacara bendera 2) senam pagi dan menyanyikan lagulagu kebangsaan yang dilakukan setiap hari kecuali hari senin. kegiatan ini dilakukan atas dasar untuk memelihara kesehatan peserta didik dan menjelaskan betapa pentingnya hidup sehat. sedangkan kegiatan menyanyikan lagu-lagu e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 34 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 30 41 kebangsaan dilakukan atas dasar untuk mengenang jasa para pahlawan dan menanamkan jiwa cinta tanah air serta budaya bangsa indonesia. 3) doa bersama yang dilakukan setiap hari sebelum pelajaran dimulai. doa ini tidak hanya doa sebelumbelajar akan tetapi membaca surat pendek dan dihafalkan yang setiap saat ditagih oleh guru untuk dibacakan satu persatu sebagai bentuk evaluasi dari hafalan doa tersebut. 4) ketertiban, kegiatan ini dilakukan setiap pagi setelah senam bersama dilakukan kemudian para peserta didik diatur dari mulai kelas i bergiliran masuk kelas sampai kelas vi sambil bersalaman kepada kepala sekolah dan guru. 5) pemeliharaan kebersihan (jumat bersih) dilakukan rutin setiap hari jumat untuk membersihkan seluruh lingkungan sekolah, sedangkan untuk setiap harinya peserta didik diarahkan untuk membersihkan kelas saja. b. pembiasaan spontan, yaitu kegiatan tidak terjadwal dalam kejadian khusus, kegiatan ini meliputi:pembentukan perilaku memberi senyum, salam, sapa (s3), dan membuang sampah pada tempatnya, budaya antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran), saling mengingatkan ketika melihat pelanggaran tata tertib sekolah, kunjungan rumah, kesetiakawanan sosial, kerjasama. hal ini ditunjukkan oleh para guru yang dilakukan guru sebagai teladan kepada peserta didik. guru setiap pagi bergantian berjaga di pintu masuk dan menyalami peserta didik sambil memberikan sapaan dan senyuman. pembiasaan inilah yang kemudian dapat memberikan efek positif secara psikologis bahwa setiap guru yang memberikan sapaan dan senyuman akan membawa kenyamanan mereka di sekolah. c. pembiasaan keteladanan, dalam bentuk perilaku sehari-hari, meliputi: berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan keberhasilan orang lain, datang tepat waktu. pembiasaan ini hampir sama dengan pembiasaan spontan, guru yang memberikan teladan dan contoh baik kepada peserta didik sebagai bekal mereka untuk kehidupan masa depan kelak. sedangkan untuk implementasi pembelajaran pendidikan ips di sdn batangbatang daya i teritegrasi ke dalam semua materi pembelajaran (terpadu) karena sudah menerapkan kurikulum yang baru yaitu kurikulum 2013 (k-13) dengan diperkuat sebelumnya dengan tenaga guru yang sudah mendapatkan pelatihan tentang k-13 tersebut. di dalam implementasi k-13 khususnya pembelajaran ips merupakan materi ilmu sosial yang dikembangkan melalui penanaman nilai karakter dengan cara semua peserta didik harus bisa menerapkan nilainilai karakter tersebut dalam kehidupannya sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah yang tentunya juga didukung oleh orang tua wali dalam memonitoring setiap kegiatan anak. hal ini tentunya akan memberikan dampak positif untuk perkembangan peserta didik. sehingga, perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik akan seimbang dan maksimal perkembangannya atau dengan kata p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 implementasi pendidikan nilai......(tri sukitman, dan m. ridwan) 35 lain perkembangan emosional, spiritual, dan intelektualnya akan menjadi tolak ukur pertama yang harus dikembangkan dan dimaksimalkan. kegiatan yang dilakukan oleh sdn batang-batang daya i merupakan kegiatan sekolah yang perlu mendapatkan apresiasi dan dukungan dari semua pihak, karena kegiatan ini adalah kegiatan penting dalam pembelajaran di sekolah mengingat usia anak sekolah dasar adalah usia produktif untuk diarahkan ke arah yang positif sebagai pondasi mereka untuk kehidupan yang akan datang. hal ini, akan sama terjadi kepada setiap anak yang diajarkan dengan nilai-nilai yang baik, yaitu; religius, jujur, toleran, disiplin,kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, yang selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter dengan baik pula maka mereka tidak akan mudah terpengaruh terhadap nilai-nilai negatif. hal ini tentunya juga berbanding lurus dengan tujuan pembelajaran ips menurut standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. melalui mata pelajaran ips, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. mata pelajaran ips disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan (bsnp, 2006:181). tujuan ips dibagi dalam empat kategoti, yaitu: a. pengetahuan pengetahuan adalah kemahiran dan pemahaman terhadap sejumlah informasi dan ide-ide.tujuan pengetahuan ini membantu siswa untuk belajar lebih banyak tentang dirinya, fisik dan dunia sosial. pengembangan pengetahuan yang dilakukan oleh sdn batang-batang daya i tentunya mengekplorasikan pengalaman sehari-hari peserta didik yang dituangkan dalam pembelajaran di kelas, sehingga peserta didik akan berbagi pengalaman terhadap pengalaman peserta didik yang lainnya. karena, setiap yang dilakukan anak pasti berbeda setiap harinya dan perlu untuk kemudian dikembangkan dan diarahkan sesuai dengan pendidikan nilai karakter bangsa. b. keterampilan keterampilan adalah pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu sehingga digunakan pengetahuan yang diperolehnya. beberapa keterampilan yang ada dalam ips adalah: 1) keterampilan berpikir yaitu kemampuan untuk mendeskripsikan, mendefinisikan, mengklasifikasi, membuat hipotesis, membuat generalisasi, memprediksi, membandingkan, mengkontraskan, dan melahirkan ide-ide baru. 2) keterampilan akademik yaitu kemampuan membaca, menelaah, menulis, berbicara, mendengarkan, membaca dan meninterpretasi peta, membuat garis besar, membuat grafik dan membuat catatan. 3) keterampilan penelitian yaitu mendefinisikan masalah, merumuskan suatu hipotesis, menemukan dan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 36 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 30 41 mengambil data yang berhubungan dengan masalah, menganlisis data, mengevaluasi hipotesis dan menarik kesimpulan, menerima, menolak atau memodifikasi hipotesis dengan tepat. 4) keterampilan sosial yaitu kemampuan bekerjasama, memberikan kontribusi dalam tugas dan diskusi kelompok mengerti tanda-tanda non-verbal yang disampaikan oleh orang lain, memberikan penguatan terhadap kelebihan orang lain, dan mempertunjukkan kepemimpinan yang tepat. keterampilan-keterampilan inilah yang kemudian dikembangkan di sdn batang-batang daya i sesuai dengan kemampuan para peserta didik untuk mengembangkan potensi keterampilannya. c. sikap sikap adalah kemahiran mengembangkan dan menerima keyakinan-keyakinan, interes, pandangan-pandangan, dan kecenderungan tertentu. pengembangan sikap dalam pembelajaran di sdn batang-batang daya i, melalui penanaman sikap yang sesuai dengan 10 pilar pendidikan karakter (character building) yang menjadi acuan dan pedoman dalam pembelajaran menuju pembelajaran yang berbasis karakter dan nilai. d. nilai sedangkan nilai adalah kemahiran memegang sejumlah komitmen yang mendalam, mendukung ketika sesuatu dinggap penting dan dengan tindakan yang tepat. pembelajaran dan pengembangan nilai ini sama dengan pembelajaran dan pengembangan sikap (diknas, 2007: 15). melalui penanaman nilai sesuai dengan living values education (lve) yang memuat ada 12 nilai-nilai universal yang sudah disepakati unicef dan para praktisi pendidikan didunia, yaitu: kedamaian, pengahargaan, cinta, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, kerjasama, kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, dan persatuan (tillman, 2004: xx-xxi). strategi pengembangan pendidikan nilai dalam pembelajaran untuk menciptakan budaya yang berkarakter seperti paparan diatas terkait dengan implementasi pendidikan nilai di sdn batang-batang daya i baik implementasi dalam pembelajaran ada 2 strategi pengembangan pendidikan untuk menciptakan budaya yang berkarakter. pertama, pengembangan nilai ke dalam implementasi kurikulum 2013 (k-13). kedua, pengembangan nilai melalui memaksimalkan peran orang tua dalam memonitoring setiap kegiatan anak dilingkungan rumah. pertama, pengembangan nilai ke dalam implementasi kurikulum 2013 (k-13). strategi ini dikembangkan melalui penerapan k-13 disemua mata pelajaran karena k-13 menuntut untuk melakukan pembelajaran berbasis tematik (terpadu) sehingga memungkinkan akan sangat membantu dalam proses pengembangan nilai tersebut. pengembangan nilai melalui k-13 ini dilakukan dengan cara setiap yang dilakukan peserta didik baik di rumah maupun di sekolah akan diintegrasikan dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga pembelajaran tersebut akan memberikan pengalaman baru kepada setiap peserta didik mengingat setiap p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 implementasi pendidikan nilai......(tri sukitman, dan m. ridwan) 37 yang mereka lakukan pasti berbeda dengan peserta didik yang lain. hasil wawancara dengan kepala sekolah tentang kurikulum yang dikembangkan menyatakan bahwa: “kurikulum 2013 sangat membantu program dan strategi yang dikembangkan oleh sekolah mengingat betapa pentingnya kemudian implementasi pendidikan nilai yang membentuk budaya karakter bangsa.anak jaman sekarang sudah tidak mengenal yang namanya etika, nilai sopan, tata karma, dan nilainilai yang terkandung di dalam peraturan pemerintah terkait dengan pendidikan karakter. tentunya program yang dikembangkan oleh sekolah perlu dukungan dan dari semua pihak agar anak kita sebagai generasi penerus bangsa menjadi anak yang berkarakter sesuai dengan harapan dan cita-cita bangsa dan negara (hidayatullah, 2010). untuk mendukung program pemerintah tersebut sdn batang-batang daya i juga menuangkan hasil evaluasi belajar peserta didik ke dalam laporan hasil capaian kompetensi peserta didik sesuai dengan tuntutan k-13 dan aturan yang berlaku, sehingga antara kompetensi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap dan nilai), psikomotorik (keterampilan) akan seimbang dan akan ketahuan kompetensi mana yang menonjol dan yang kurang (wawancara dengan kepala sekolah sdn batang-batang daya i, pada tanggal 16 februari 2015) gambar 2. implementasi pendidikan nilai dalam k-13 dari gambar diatas jelas bahwa pengembangan nilai melalui k-13 dituangkan dalam hasil evaluasi semester yang merupakan hasil akhir dari pembelajaran untuk menentukan siswa berhasil apa tidak sesuai dengan kriteria ketuntasan yang berlaku di sekolah. dalam k-13 dituntut peran aktif sekolah untuk mengembangkan pembelajaran berbasis tematik, jadi program yang dilakukan oleh sekolah sangat mendukung atas program k-13 yang dikembangkan oleh pemerintah. kedua, pengembangan nilai melalui memaksimalkan peran orang tua dalam memonitoring setiap kegiatan anak di lingkungan rumah. pengembangan nilai ini e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 38 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 30 41 sangat penting untuk dilakukan mengingat kegiatan peserta didik tidak hanya di sekolah melainkan juga di rumah, sehingga peserta didik baik di rumah maupun di sekolah akan terpantau segala kegiatannya yang dapat membantu perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. gambar 3. buku penghubung antara orang tua dengan pihak sekolah gambar 5. isi buku penghubung strategi yang dikembangkan oleh sdn batang-batang daya i dalam mengimplementasikan pendidikan nilai ini melalui strategi buku penghubung. buku tersebut berfungsi untuk memonitoring kegiatan anak di rumah setiap hari mulai dari kegiatan belajar, sholat, membaca al-qur’an, berbahasa halus (enggi bunten), dan membantu orang tua. hasil wawancara dengan kepala sekolah terkait dengan strategi pengembangan pendidikan nilai di sdn batang-batang daya i menyebutkan bahwa: “strategi yang dikembangkan oleh sdn batang-batang daya i melalui peran serta dari pihak orang tua wali untuk mendukung dan membantu program sekolah. adapun program yang p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 implementasi pendidikan nilai......(tri sukitman, dan m. ridwan) 39 dikembangkan adalah dengan menggunakan buku penghubung.buku penghubung sangat penting sekali untuk dikembangkan agar setiap kegiatan peserta didik di rumah dapat dimonitoring oleh orang tua mereka masing-masing.sehingga kegiatan mereka dapat diarahkan jika kemudian itu tidak sesuai dengan tuntutan sekolah dan harapan para orang tua. peran orang tua sangat dibutuhkan mengingat kegiatan para peserta didik tidak hanya di sekolah melainkan juga mereka pasti akan bermain dengan teman-temannya dan punya kegiatan yang lain di rumah sehingga sangat penting kegiatan dan waktu bermain anak ketika di rumah bisa dimonitoring oleh orang tua wali mereka masing-masing. maka dari itu, strategi ini perlu dukungan dari semua pihak agar kelak anak-anak menjadi warga negara yang baik, berkhlak mulia, dan mempunyai wawasan yang luas menyongsong masa depan (wawancara dengan kepala sekolah sdn batang-batang daya i, pada tanggal 16 februari 2015). berdasarkan hasil wawancara tersebut maka sangat penting peran orang tua dalam mengembangkan potensi anak. peran serta orang tua wali akan pentingnya memonitoring semua kegiatan anak akan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan anak. peran orang tua wali itu tidak hanya memonitoring dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan kognitif anak, melainkan bagaimana anak juga diberikan wawasan dan pelajaran mengenai bagaimana anak bisa menyikapi kehidupan bermasyarakat dan hidup bersama (sosial) dengan baik, berbakti kepada bangsa dan negara, mampu mengaplikasikan pendidikan agama ke dalam kehidupannya, serta bisa menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungan sekitarnya (nadhifah, 2012). intelektualitas bukan menjadi satusatunya indikator keberhasilan anak, melainkan yang menjadi indikator keberhasilan anak adalah jika seorang anak mempunyai spiritual, intelektual, emosional yang seimbang dalam dirinya (muslich: 2011). jika yang menjadi ukuran keberhasilan anak adalah inteletual maka pasti banyak anak yang tidak mementingkan yang namanya akhlak, etika, kesopanan, taat beragama kepada tuhan. apalagi ditambah dengan perkembangan jaman yang semakin pesat anak sudah banyak yang menggunakan fasilitas gadget, hp, computer, dan internet tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan apabila salah menggunakan fasilitas tersebut. anak dituntut mampu berbahasa inggris yang bagus akan tetapi disisi lain anak sudah tidak bisa berbahasa indonesia yang baik, lebihlebih sudah tidak bisa menggunakan bahasa daerah yang menjadi kebanggaan suatu daerah dan identitas daerah dengan baik. simpulan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka ada beberapa simpulan yang dapat dipaparkan dalam penelitian ini, diantaranya: a. pendidikan nilai sangat penting diterapkan untuk menciptakan character building (budaya karakter) mengingat perkembangan anak jaman sekarang sudah banyak yang tidak mementingkan nilai-nilai etika, moral, sopan santun, taat beragama, dan lain-lain. b. untuk implementasi pendidikan nilai agar tercipta dan memelihara character building (budaya karakter) sdn batang-batang daya i mempunyai beberapa program, diantaranya: 1) pembiasaan rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan jadwal yang e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 40 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 1, juli 2016: 30 41 telah disusun oleh sdn batangbatang daya i. kegiatan tersebut meliputi: a) upacara bendera yang dilakukan setiap hari senin pagi. b) senam pagi dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan yang dilakukan setiap hari kecuali hari senin. c) doa bersama yang dilakukan setiap hari sebelum pelajaran dimulai. d) ketertiban. e) pemeliharaan kebersihan (jumat bersih). 2) pembiasaan spontan, kegiatan ini meliputi:pembentukan perilaku memberi senyum, salam, sapa, membuang sampah pada tempatnya, budaya antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran), saling mengingatkan ketika melihat pelanggaran tata tertib sekolah, kunjungan rumah, kesetiakawanan sosial, kerjasama. 3) pembiasaan keteladanan, dalam bentuk perilaku sehari-hari, meliputi: berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan keberhasilan orang lain, datang tepat waktu. c. untuk mendukung implementasi pendidikan nilai agar tercipta dan memelihara character building (budaya karakter) sdn batang-batang daya i mempunyai beberapa strategi, diantaranya: 1) pengembangan nilai ke dalam implementasi kurikulum 2013 (k-13). strategi ini dikembangkan melalui penerapan k-13 disemua mata pelajaran karena k-13 menuntut untuk melakukan pembelajaran berbasis tematik (terpadu) sehingga memungkinkan akan sangat membantu dalam proses pengembangan nilai tersebut. pengembangan nilai melalui k-13 ini dilakukan dengan cara setiap yang dilakukan peserta didik baik di rumah maupun di sekolah akan diintegrasikan dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga pembelajaran tersebut akan memberikan pengalaman baru kepada setiap peserta didik mengingat setiap yang mereka lakukan pasti berbeda dengan peserta didik yang lain. kemudian dievaluasi dan evaluasi tersebut akan dituangkan setiap ujian semester dengan mengikuti kaidah penilaian k-13. 2) pengembangan nilai melalui memaksimalkan peran orang tua dalam memonitoring setiap kegiatan anak di lingkungan rumah. pengembangan nilai ini sangat penting untuk dilakukan mengingat kegiatan peserta didik tidak hanya di sekolah melainkan juga di rumah, sehingga peserta didik baik di rumah maupun di sekolah akan terpantau segala kegiatannya dan diarahkan kearah yang positif yang dapat membantu perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. buku tersebut berfungsi untuk memonitoring kegiatan anak di rumah setiap hari mulai dari kegiatan belajar, sholat, membaca al-qur’an, berbahasa halus (enggi bunten), dan membantu orang tua. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 implementasi pendidikan nilai......(tri sukitman, dan m. ridwan) 41 daftar pustaka bertens, k..(2007). etika. jakarta: gramedia pustaka umum. bsnp. 2006. tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. jakarta: kementerian pendidikan dan kebudayaan indonesia. departemen pendidikan nasional.(2007). naskah akademik kajian kebijakan kurikulum mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (ips). badan penelitian dan pengembangan pusat kurikulum. furchan, a. (2004). pengantar penelitian dalam pendidikan. yogyakarta: pustaka pelajar offset. hidayatullah, furqon. (2010). pendidikan karakter: membangun peradaban bangsa. semarang: yuma pustaka uns press. kartono, kartini. (1992). pengantar ilmu mendidik teoritis (apakah pendidikan masih diperlukan).bandung. penerbit mandar maju. lubis, mawardi. (2009). evaluasi pendidikan nilai: perkembangan moral keagamaan mahasiswa ptain. cet.ii. yogyakarta: pustaka pelajar bekerjasama dengan stain bengkulu. moleong, lexy j. (2010).metodologi penelitian kualitatif. bandung: pt. remaja rosdakarya. mulyana, rohmat. (2004). mengartikulasikan pendidikan nilai. bandung: alfabeta. muslich, masnur. (2011). pendidikan karakter: menjawab tantangan krisis multidimensional. jakarta: bumi aksara. nasution.(2003). metode researce (penelitian ilmiah). jakarta: pt. bumi aksara. nadhifah, ismun nisa. (2012). penerapan nilai-nilai budi pekerti yang terintegrasi dalam pembelajaran sains terpadu melalui living values educational program (lvep).prosiding seminar nasional penelitian, pendidikan dan penerapan mipa,fakultas mipa, universitas negeri yogyakarta. somantri, numan. (2001). menggagas pembaharuan pendidikan ips. bandung: rosda karya. tillman, diane. (2004). living values activities for young adults (pendidikan nilai untuk kaum dewasa-muda) terj.risa praptono dan ellen sirait. jakarta: pt. gramedia widiasarana indonesia. undang-undang republik indonesia.no. 20 tentang sistem pendidikan nasional. identifikasi pengetahuan dan.........(murfiah, dkk) 61 jppd, 6, (1), hlm. 61 68 vol. 6, no. 1, juli 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i1.8374 identifikasi pengetahuan dan keterampilan perlindungan diri anak dari pelecehan seksual di sd muhammadiyah 1 surakarta murfiah dewi wulandari1), andina widhayanti2), achmad fathoni 3), muhammad abduh4), muhamad taufik hidayat5) fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, univeritas muhammadiyah surakarta 1mdw278@ums.ac.id; 2andinawidhayanti@yahoo.co.id; 3af267@ums.ac.id; 4muhammad.abduh@ums.ac.id; 5mt.hidayat@ums.ac.id pendahuluan kasus kriminal pelecehan seksual pada anak merupakan kasus yang cukup sering terjadi akhir-akhir ini. pelecehan seksual anak adalah interaksi antara anak dan orang dewasa, setelah itu anak dipergunakan untuk menstimulasi rangsangan seksual pelaku atau orang lain yang memiliki kendali atas korban (kelrey, 2015). unicef melaporkan bahwa satu dari sepuluh anak perempuan di dunia mengalami pelecehan seksual (liputan6.com, 2014). data dari 190 negara, unicef mencatat bahwa anakanak di seluruh dunia secara terus menerus dilecehkan secara fisik maupun emosional mulai dari pembunuhan, tindakan seksual, bullying, dan penegakan disiplin yang terlalu abstract: the purposes of this research are to 1) identify knowledge of children's personal protection from sexual abuse; 2) identifying children's personal protection skills from sexual abuse; and 3) describe efforts to prevent sexual abuse that have been carried out by the school. this type of research is descriptive qualitative research. this research was conducted at sd muhammadiyah 1 surakarta. the research subjects were fifth grade students. the technique of collecting data are through observation, interviews, and documentation. qualitative data analysis techniques use the concepts conveyed by miles and hubermen. the validity of the data was obtained through source triangulation and technical triangulation. the results of the research indicate that 1) the child's ability to identify appropriate touch situations is good and the child's ability to identify touch situations that are not appropriate is very good. this are indicated by the child knowing that the appropriate touches such as the touch of the parents when caring for the body, the touch of doctors and nurses when examining the disease and inappropriate touches such as the touch of a housemaid or neighbor; 2) the child's knowledge and skills in reporting are very low, this are indicated by the child being unable to tell other people and children protect themselves by shouting, angry and running; 3) school prevention efforts have been carried out by schools through health education on reproduction and puberty in two stages, namely in the health and religious. keywords: knowledge, skills, self protection, sexual abuse http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.8374 mailto:1mdw278@ums.ac.id mailto:2andinawidhayanti@yahoo.co.id mailto:af267@ums.ac.id mailto:muhammad.abduh@ums.ac.id identifikasi pengetahuan dan.........(murfiah, dkk) 62 jppd, 6, (1), hlm. 61 68 kasar. komisioner kpai jasra putra mengungkapkan, data menunjukkan bahwa pihaknya menemukan 218 kasus kekerasan seksual anak pada tahun 2015. sementara pada tahun 2016, kpai mencatat terdapat 120 kasus kekerasan seksual terhadap anakanak dan di tahun 2017, tercatat sebanyak 116 kasus (kpai.go.id, 2017). data kekerasan seksual mengalami penurunan, namun yang masih mengkhawatirkan dari laporan tersebut pelaku pelecehan adalah orang terdekat korban seperti ayah tiri dan kandung, keluarga dekat, tetangga, dan teman korban. sedangkan data penanganan kasus pelecehan seksual anak tahun 2017 dari pelayanan terpadu perempuan dan anak surakarta (ptpas) pemerintah kota surakarta menyebutkan adanya 18 kasus (muzdalifah & wulandari, 2018). pelecehan seksual anak memberikan dampak negatif pada anak, baik secara fisik maupun psikis. dampak pelecehan seksual pada anak berdasarkan hasil penelitian antara lain: anak-anak korban pelecehan seksual mengalami hambatan kesulitan attentional salah satu psikopatologi yang terkait dengan pengalaman setelah di tes dengan post traumatic stress disorder (ptsd); mengakibatkan psikopatologi pada masa dewasanya (beach, dkk., 2013); memiliki orientasi pasangan seksual sesama jenis dan cohabitation pada saat dewasa (wilson & widom, 2010); ibu yang mengalami pelecehan seksual pada masa anak-anak memiliki gangguan dalam attachment terhadap anaknya (kwako, dkk., 2010); memiliki perasaan takut seks dan sentuhan pada saat dewasa; selain itu anak yang belum genap berusia 10 tahun, mereka menjadi trauma sampai dewasa (suyanto, 2018). pelecehan seksual biasanya dilakukan oleh orang-orang terdekat anak, misalnya tetangga, paman, pembantu, dan lain-lain. kasus pelecehan seksual yang terjadi kebanyakan adalah penganiayaan, pemerkosaan dan pencabulan dengan korban anak perempuan. menurut kpai 67% kekerasan pendidikan terjadi di jenjang sekolah dasar yaitu berupa kekerasan fisik, kekerasan psikis, dan pelecehan seksual (maradewa, 2019). anak sekolah dasar menjadi pelaku maupun menjadi korban dari pelecehan seksual yang dilakukan temannya bahkan gurunya sendiri. cara paling efektif untuk mengurangi pelecehan seksual pada anak melalui program pendidikan komprehensif yang dirancang untuk melindungi anak dari pelecehan seksual (suyanto, 2018; topping & barron, 2009; walsh, zwi, woolfenden, & shlonsky, 2015). namun program pendidikan seks kadang terkendala dengan pendapat beberapa orang tua yang menganggap bahwa pendidikan seks untuk anak adalah tabu (bennett, 2007; buck & parrotta, 2014; islawati & paramastri, 2015; mkumbo, 2014; naz, 2014; paramastri & priyanto, 2010). pendidikan seks tidaklah sesempit yang diekspektasikan kebanyakan masyarakat, pendidikan seks sangatlah luas. pendidikan seks dapat menjadi bagian dari pendidikan kesehatan (martínez, dkk., 2012). di norweygia, pendidikan seks untuk high school terintegrasi dalam mata pelajaran ilmu sosial, agama, biologi dan human reproduksi, sedangkan pada awal sekolah dasar belajar tentang keluarga, aturan masyarakat, norma dan peran gender, tubuh dan pubertas, hubungan dan konflik serta identitas seksual (bartz, 2007). identifikasi pengetahuan dan.........(murfiah, dkk) 63 jppd, 6, (1), hlm. 61 68 pendidikan seks sejak dini sudah menjadi perhatian dari pemerintah indonesia dengan memasukkan materi-materi pendidikan seks ke dalam kurikulum 2013 (k13). dalam peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan no. 024 tahun 2016 tentang revisi kurikulum 2013 memuat kompetensi dasar (kd) yang berhubungan dengan pendidikan seks di sekolah, yaitu pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan untuk kelas satu. kd pengetahuan berbunyi “memahami bagian-bagian tubuh, bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain, cara menjaga kebersihannya, dan kebersihan pakaian”. sedangkan kd keterampilan berbunyi “menceritakan bagianbagian tubuh, bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain, cara menjaga kebersihannya, dan kebersihan pakaian”. dari kompetensi dasar tersebut, pendidikan seks masuk dalam kurikulum anak sekolah dasar. kompetensi dasar kelas satu dijabarkan pada tema 1 “diriku” yang terdiri dari subtema 2 “tubuhku” dan subtema 3 “merawat tubuh”, dalam buku siswa diharapkan siswa dapat menyebutkan anggota tubuh, bagaimana menjaga dan merawat anggota tubuh, bagian-bagian tubuh mana yang bisa dilihat orang lain dan siapa saja yang boleh melihat dan menyentuh anggota tubuhnya. metode penelitian jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. penelitian ini akan mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan perlindungan diri anak dari pelecehan seksual di sd muhammadiyah 1 surakarta. subjek dalam penelitian ini adalah lima anak kelas v, kepala sekolah, perawat uks, dan seorang guru kelas v sd muhammadiyah 1 surakarta. teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. observasi dilakukan peneliti terhadap perilaku anak dalam menjaga dirinya ketika berada di lingkungan sekolah. teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara tidak terstruktur sehingga pedoman wawancara yang digunakan memuat garis besar permasalahan saja yang digunakan untuk memperoleh data tentang pengetahuan dan keterampilan perlindungan diri anak dari pelecehan seksual. instrument yang digunakan peneliti mengadaptasi dari “what if” situation test (wist) (wurtele, & owens, 1998). ukuran ini terdiri dari enam ilustrasi singkat, dimana tiga ilustrasi menggambarkan permintaan yang tepat untuk menyentuh (contohnya dokter akan mengobati bagian pribadimu) dan tiga ilustrasi permintaan yang tidak tepat untuk menyentuh (contohnya tetanggamu akan memfoto bagian pribadimu). wist-iii memiliki tiga skala skor, yaitu: (1) mengenali sentuhan yang sesuai (skor 0-3); (2) mengenali sentuhan yang tidak sesuai (skor 0-3); (3) total skor keterampilan perlindungan diri (skor 0-24). masing-masing keterampilannya adalah: (1) keterampilan mengatakan (say skill) (skor 0-6); (2) keterampilan apa yang harus dilakukan (do skill) (skor 0-6); (3) keterampilan memberitahukan (tell skill) (skor 0-6); (4) keterampilan melaporkan (report skill) (skor 0-6). dari skor yang diperoleh dapat dikategorisasikan pengetahuan sentuhan yang sesuai dan tidak sesuai adalah (a) sangat baik (skor 3); (b) baik (skor 2); (c) kurang (1); identifikasi pengetahuan dan.........(murfiah, dkk) 64 jppd, 6, (1), hlm. 61 68 dan (d) sangat kurang (0). sedangkan untuk keterampilan perlindungan diri kategori (a) sangat baik (skor 6); (b) baik (skor 4-5); (c) kurang (skor 1-3); dan (d) sangat kurang (skor 0). data yang diperoleh peneliti selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan konsep miles dan huberman meliputi reduction, data display, dan conclution. keabsahan data penelitian diukur dengan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. hasil dan pembahasan berdasarkan identifikasi selama penelitian, pengetahuan orang yang boleh menyentuh bagian pribadinya dapat dikategorikan sangat baik. semua subjek membolehkan orang tua, dokter dan perawat menyentuh bagian pribadinya. namun ada tiga subjek yang menyatakan membolehkan dengan pengecualian. seperti yang diungkapkan oleh subjek satu (perempuan): “kalau dokternya perempuan boleh tapi kalau laki-laki tergantung, kalau sudah tua tidak terlalu malu.” sedangkan subjek dua (laki-laki) mengungkapkan: “kalau dokternya cewek tidak boleh.” pengetahuan anak tentang identifikasi orang yang tidak boleh menyentuh bagian pribadi masuk dalam kategori baik. empat dari lima subjek menyatakan orang yang tidak boleh menyentuh bagian pribadi yaitu, orang terdekat seperti pengasuh, paman/bibi, kakek/nenek; tetangga; dan orang asing yang tidak dikenal. penelitian yang sama dilakukan zhang dkk.(2013) di cina dan kenny dkk.(2012) di as dengan pengetahuan sentuhan yang sesuai dan sentuhan yang tidak sesuai sebagian besar baik. keterampilan perlindungan diri anak dari pelecehan seksual dapat dilihat dari bagaimana anak bersikap dan berkata. anak mampu menolak dengan baik secara verbal, menghindar keluar dari situasi-situasi yang membahayakan, memberitahu dan melaporkan kepada orang lain. keterampilan menolak tindakan pelecehan seksual secara verbal dapat dikatakan sangat baik, dengan berkata “tolong”, berkata “tidak mau”, dan berkata “jangan pegang kemaluanku”. seperti yang diungkapkan subjek dua (laki-laki): “tidak boleh, tidak boleh memperlihatkannya karena aurat.” keterampilan menolak tindakan pelecehan seksual dengan perilaku dilakukan dengan sangat baik, dengan berteriak, lari, dan menggigit pelaku. seperti yang diungkapkan subjek ketiga (perempuan): “teriak dan lari.” keterampilan memberitahukan tindakan pelecehan seksual pada orang lain masuk kategori kurang baik, ada beberapa subjek yang tidak memberitahukan pada orang lain dan hanya sedikit subjek yang memberitahukan pada orang lain. meskipun ada jawaban subjek yang akan memberitahukan pada orang tuanya namun mereka kesulitan untuk melaporkan peristiwa pelecehan seksual. seperti yang diungkapkan subjek keempat (perempuan): identifikasi pengetahuan dan.........(murfiah, dkk) 65 jppd, 6, (1), hlm. 61 68 “tidak, nanti kalau dikasih tau nanti diejek, tidak memberitahu orangtua juga nanti takut dimarahin.” hasil penelitian keterampilan perlindungan diri anak di beberapa negara juga masih kurang baik dalam hal melaporkan kepada orang lain (kenny dkk., 2012; sarno, julie & wurtele, 1997; zhang dkk., 2013). program yang dilaksanakan sd muhammadiyah 1 surakarta untuk melaksanakan upaya pencegahan pelecehan seksual sehingga anak dapat melindungi dirinya adalah dengan melaksankan penyuluhan kesehatan tentang reproduksi dan pubertas. anak mempunyai kesadaran untuk tertib diri yaitu menggunakan double celana, memakai baju yang tidak ketat dan memakai kerudung yang besar. sejauh ini program tersebut berhasil karena tidak ada laporan kasus pelecehan seksual anak di sekolah. keunggulan program upaya pencegahan ini yaitu diadakan selama dua tahap yang mengkaji dari dua bidang yang berbeda dan sama-sama penting. kegiatan dilakukan diawali dengan muatan materi bidang agama, sehingga anak yang baligh mengetahui apa saja yang harus dilakukan. kegiatan selanjutnya muatan bidang ilmiah atau kesehatan, anak mengetahui apa saja yang harus dilakukan ketika memasuki masa pubertas. seperti yang diungkapkan kepala sekolah berikut ini: “program pencegahan pelecehan seksual diantaranya seminar reproduksi anak kelas vi dan sosialisasi kelas v untuk anak yang mulai menstruasi dan mimpi basah, dipandang dari segi kesehatan sampai dengan segi agama, mulai bagaimana mereka merawat dirinya ketika mendapatkan mentruasi dan apa yang harus dilakukan, begitu juga untuk anak-laki-laki ketika mendapatkan mimpi basah, kemudian dijelaskan juga efek-efek atau akibat apa yang akan muncul setelah mendapatkan menstruasinyakalau perempuan pasti akan disampaikan bahwa yang mendapatkan menstruasi sudah bisa hamil (atau dibuahi) sedangkan yang laki-laki yang sudah mimpi basah dipastikan dapat membuat hamil (membuahi).” hasil tersebut sama dengan penelitian yang dilakukan oleh alicia hutardo (2014). pada penelitian tersebut alicia mengajak anak-anak untuk mengunjungi museum di el savador. metode yang dilakukan yang digunakan adalah bermain dan belajar dengan pemandu yang profesional. hal ini efektif untuk memberikan pengetahuan tentang pelecehan seksual kepada anak. anak diberi pertanyaan sebelum memasuki museum dan setelah keluar dari museum. hasilnya adalah nilai anak mengalamai peningkatan. simpulan pengetahuan yang sudah dimiliki anak adalah mengenai perlindungan diri dari pelecehan seksual yaitu mengenali dan menyadari adanya sentuhan yang tepat dan tidak tepat yang dilakukan oleh orang lain, mengetahui bagian tubuh pribadi yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh orang lain. keterampilan yang dimiliki anak mengenai perlindungan diri dari pelecehan seksual yaitu dengan mampu mengenali, menolak, dan melaporkan tindak pelecehan seksual. anak mampu berkata dan bersikap tentang tindakan pelecehan seksual. upaya pencegahan pelecehan seksual anak yang dilakukan identifikasi pengetahuan dan.........(murfiah, dkk) 66 jppd, 6, (1), hlm. 61 68 oleh sekolah untuk langkah perlindungan diri yaitu dengan penyuluhan kesehatan tentang reproduksi dan pubertas. keberhasilan program tersebut ditandai dengan tidak adanya laporan tentang kasus pelecehan seksual anak di sd muhammadiyah 1 surakarta. daftar pustaka abduh, muhammad dan wulandari d. murfiah. (2016). model pendidikan seks pada anak sekolah dasar berbasis teori perkembangan anak. the progressive and fun education seminar. isbn: 978-602-361-045-7 403-411 akbar, zalina dkk. (2014). program pendidikan seks untuk meningkatkan proteksi diri dari eksploitasi seksual pada anak usia dini. jurnal parameter vol 25 no. 2 doi: org10.21009/parameter252.07 alicia hurtado, md. (2014). children’s knowledge of sexual abuse prevention in el salvador. icahn school of medicine at mount sinai: annals of global health bartz, t. (2007). sex education in multicultural norway. sex education, 7(1), 17–33. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.1080/14681810601134702 beach, s. r. h., brody, g. h., lei, m. k., gibbons, f. x., gerrard, m., simons, r. l., … philibert, r. a. (2013). impact of child sex abuse on adult psychopathology: a genetically and epigenetically informed investigation. journal of family psychology, 27(1), 3–11. https://doi.org/10.1037/a0031459 bennett, l. r. (2007). zina and the enigma of sex education for indonesian muslim youth. sex education, 7(4), 371–386. https://doi.org/10.1080/14681810701635970 bily. (2019). tahun lalu kekerasan seksual dominasi kasus anak yang berhadapan dengan hukum. diakses pada 5 maret 2019 http://www.tribunnews.com/nasional/2019/01/09/tahun-lalu-kekerasan-seksualdominasi-kasus-anak-yang-berhadapan-dengan-hukum. buck, a., & parrotta, k. (2014). students teach sex education: introducing alternative conceptions of sexuality. sex education, 14(1), 67–80. https://doi.org/10.1080/14681811.2013.830968 darmadi, hamid. (2013). metode penelitian pendidikan dan sosial. bandung: alfabeta esya anesty, mashudi. (2015). pencegahan kekerasan seksual pada anak melalui pengajaran personal safety skills. jurnal metode didaktik islawati, i., & paramastri, i. (2015). program “jari peri” sebagai pelindung anak dari kekerasan seksual. jurnal psikologi, 42, no. 2(2), 115–128. kenny, c. maureen. dan r., reena. (2008). child sexual abuse: from prevention to self-protection. wiley interscience: 36-54: doi: 10.1002/car.1012 http://www.tribunnews.com/nasional/2019/01/09/tahun-lalu-kekerasan-seksual-dominasi-kasus-anak-yang-berhadapan-dengan-hukum http://www.tribunnews.com/nasional/2019/01/09/tahun-lalu-kekerasan-seksual-dominasi-kasus-anak-yang-berhadapan-dengan-hukum javascript:void(0) javascript:void(0) identifikasi pengetahuan dan.........(murfiah, dkk) 67 jppd, 6, (1), hlm. 61 68 kerley, dina sr. (2015). hubungan karakteristik orang tua dengan pengetahuan orang tua tentang kekerasan seksual pada anak usia prasekolah di kelurahan grogol selatan kebayoran lama jakarta selatan. skripsi, fkip. universitas islam negeri syarif hidayatullah. kenny, m. c., wurtele, s. k., alonso, l., kenny, m. c., wurtele, s. k., & evaluation, l. a. (2012). evaluation of a personal safety program with latino preschoolers evaluation of a personal safety program with latino preschoolers, 8712(october). https://doi.org/10.1080/10538712.2012.675426 kwako, l. e., noll, j. g., putnam, f. w., & trickett, p. k. (2010). childhood sexual abuse and attachment: an intergenerational perspective. clinical child psychology and psychiatry, 15(3), 407–422. https://doi.org/10.1177/1359104510367590 maradewa, rega. (2019). “kpai: 67 persen kekerasan bidang pendidikan terjadi di jenjang sd” diakses pada 19 juli 2019 http://www.kpai.go.id/berita/kpai-67-persen-kekerasanbidang-pendidikan-terjadi-di-jenjang-sd martínez l., j., carcedo j., r., fuertes, a., vicario-molina, i., fernández-fuertes a., a., orgaz, b., … fernández-fuertes a., a. (2012). sex education in spain: teachers’ views of obstacles. sex education, 12(4), 425–436. https://doi.org/10.1080/14681811.2012.691876 mkumbo, k. a. (2014). students’ attitudes towards school-based sex and relationships education in tanzania. health education journal, 73(6), 642–656. https://doi.org/10.1177/0017896913510426 muzdalifah, r. a., & wulandari, m. d. (2018). upaya pencegahan kekerasan seksual terhadap anak oleh pelayanan terpadu perempuan dan anak surakarta (ptpas) di kota surakarta. evolution, 1–14. naz, r. (2014). sex education in fiji, 664–687. https://doi.org/10.1007/s12119-0139204-3 paramastri, i., & priyanto, m. a. (2010). early prevention toward sexual abuse on children, 37(1), 1–12. sarno, julie & wurtele, s. (1997). effects of a personal safety program on preschoolers’ knowledge, skill, and perceptions of child sexsual abuse. child maltreatment, 2. suyanto, b. (2018). problem pendidikan dan anak korban tindak kekerasan. yogyakarta: suluh media. topping, k., & barron, i. (2009). school-based child sexual abuse prevention programmes: a review of effectiveness, 79(1), 431–463. https://doi.org/10.3102/0034654308325582 walsh, k., zwi, k., woolfenden, s., & shlonsky, a. (2015). school-based education http://www.kpai.go.id/berita/kpai-67-persen-kekerasan-bidang-pendidikan-terjadi-di-jenjang-sd http://www.kpai.go.id/berita/kpai-67-persen-kekerasan-bidang-pendidikan-terjadi-di-jenjang-sd identifikasi pengetahuan dan.........(murfiah, dkk) 68 jppd, 6, (1), hlm. 61 68 programs for the prevention of child sexual abuse: a cochrane systematic review and meta-analysis. research on social work practice, 1–23. https://doi.org/10.1177/1049731515619705 wilson, h. w., & widom, c. s. (2010). does physical abuse, sexual abuse, or neglect in childhood increase the likelihood of same-sex sexual relationships and cohabitation? a prospective 30-year follow-up. archives of sexual behavior, 39(1), 63–74. wurtele, s.k., hughes, j. & owens, j. s. (1998). an examination of the reliability of the “what if” situations test: a brief report. child sexual abuse. zhang, w., chen, j., feng, y., li, j., zhao, x., & luo, x. (2013). young children’s knowledge and skills related to sexual abuse prevention: a pilot study in beijing, china. child abuse & neglect. https://doi.org/10.1016/j.chiabu.2013.04.018 kesesuaian antara materi pembelajaran bahasa inggris dan kurikulum di kelas 3 sd al-irsyad surakarta sumayah ums comment by author: cek pedoman sum207@ums.ac.id abstract the research was intended to describe the congruence between english learning material and curriculum in the third year in sd al-irsyad surakarta. the problems discussed were 1. what english learning material was 2. what the learning goal was 3. how the congruence between english learning material and the learning goal was. comment by author: font 11, italics the research is qualitative. it is a library research. the approach used, in this case, was based on the teaching learning principles. the method applied in this research was analytical descriptive that utilizes library research and concentrated the attention on reference sources related to the topic discussed. the result of the research showed that the learning goal was very closely related to the learning material. key words: curiculum, goal, material. 4 | page 3 | page pendahuluan manusia adalah mahluk sosial (social being). dalam berinteraksi dengan yang lain, diperlukan pengetahuan, ilmu, juga tata krama. hal ini tidak mungkin di peroleh tanpa adanya pendidikan. pendidikan sangat penting dan perlu dilaksanakan agar generasi selanjutnya dapat meneruskan dan mengembangkan apa-apa yang telah dicapai dan dikembangkan generasi sebelumnya. comment by author: i paragraf minimal 3 kalimat maju tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh banyak aspek dan pendidikan adalah salah satunya. pendidikan memiliki berbagai macam bentuk, yang dibagi menjadi dua, yaitu ; pendidikan formal dan non formal. pendidikan dalam sekolah di kategorikan pendidikan formal, semua unsur – unsurnya terjalin saling berhubungan dan saling mendukung unsur – unsur tersebut, antaralain; gedung sekolah, ruang kelas, guru, murid, kurikulum, silabus, materi, dan sebagainya. materi pembelajaran adalah salah satu alat untuk mengukur tujuan pembelajaran. materi harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. banyak sekali materi bahasa inggris untuk sd yang telah ditulis dan diterbitkan, namun buku-buku tersebut belum tentu sesuai dengan tujuan pembelajarannya. jika materi tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan maka ujuan pembelajaran tentunya tidak tercapai. jadi materi berpengaruh terhadap tujuan pembelajaran. beberapa guru tidak mengembangan sendiri materi bahasa inggris dan hanya menggunakan materi yang ditulis oleh orang lain, sehingga guru tidak akan tahu apa yang harus dilakukan. kenyataannya, guru tersebut tetap memakai materi tersebut walau tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran. padahal, materi merupakan salah satu tolak ukur tercapainya tujuan pembelajaran. comment by author: kecil comment by author: bahasa inggris di sekolah dasar termasuk pelajaran muatan lokal. dalam era yang maju ini, bahasa inggris sangat penting. hampir semua sekolah dasar di indonesia telah memasukkan kedalam daftar mata pelajaran yang wajib di pelajari siswa, termasuk di sd al-irsyad surakarta yang telah berhasil memperoleh akreditasi “a” karena usahanya yang gigih. sd al-irsyad di dalam pembelajaran bahasa inggris-nya memakai buku dari penerbit yudistira berdasarkan kurikulum ktsp 2006. proses pendidikan akan berjalan kondusif, interaktif, dan lancar jika dilandasi oleh dasar kurikulum yang baik dan benar. bisa dikatakan bahwa tujuan pendidikan dapat terlaksana jika kurikulum yang dijadikan dasar acuan relevan. dengan kata lain kurikulum dapat membawa ke arah tercapainya tujuan pendidikan (moh. yamin, 2009: 13-14). kurikulum adalah rencana tertulis tentang kemampuan yang harus di miliki berdasarkan standar nasional, materi yang perlu di pelajari dan pengalaman belajar yang harus dijalani untuk mencapai kemampuan tersebut, dan evaluasi yang perlu dilakukan untuk menentukan tingkat pencapaian kemampuan peserta didik, serta seperangkat peraturan yang berkenaan dengan pengalaman belajar peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya pada satuan pendidikan tertentu (oemar hamalik, 2006: 91). kurikulum bahasa inggris sekolah dasar merupakan jenis kurikulum fusi (broad fields). hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh idi (2014: 117), yaitu bahwa terdapat enam macam fusi yang umumnya ditemukan di dalam kurikulum sekolah dasar. salah satu diantaranya adalah bahasa. dalam hal ini, bahasa merupakan percampuran dari mata pelajaran mata pelajaran menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan pengetahuan bahasa. dengan demikian, berarti bahwa dalam pembelajaran bahasa inggris di sekolah dasar, percampuran mata pelajaran tersebut harus diajarkan dalam setiap unit pelajaran. kurikulum fusi di sekolah dasar seyogyanya di terapkan di beberapa tingkat kelas bukan hanya dalam satu tingkat saja. pembelajaran bahasa inggris di surakarta bervariasi yaitu ada yang di mulai di kelas 1, kelas 2, atau kelas 3. sekolah dasar al-irsyad surakarta, pembelajaran bahasa inggris sudah di mulai sejak kelas 1. kurikulum fusi mempunyai 3 tingkatan yaitu : propinsi, daerah dan sekolah. ketiganya tergolong muatan lokal. dalam gbpp sekolah dasar (1995:2), mata pelajaran yang termasuk muatan lokal ialah bahasa inggris. jika pelajaran bahasa inggris di berikan di sekolah dasar sejak kelas 1, berarti kurikulumnya tingkat daerah atau sekolah. namun apabila pelajaran bahasa inggris diberikan sejak kelas empat berarti kurikulumnya tingkat provinsi. bahasa inggris sebagai muatan lokal, ini terdapat dalam surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan no 060/u/1993/25 pada februari 1993, yaitu bahasa inggris yang dapat diajarkan secara formal sebagai kurikulum muatan lokal di sd. muatan lokal ialah daerah menentukan si kurikulum yang sesuai dengan lingkungan alam, sosial, budaya, ekonomi dan kebutuhan pembangunan daerah tersebut (dekdikbud, 1993 : 1) berdasaran kurikulum yang di pakai di sd al-irsyad surakarta, pembelajaran bahasa inggris kelas 1 harus bagus karena akan mempengarui kelas berikutnya yaitu kelas 2 dan seterusnya. keberhasilan pembelajaran yang bagus dipengaruhi banyak faktor yang salah satunya adalah guru. menurut tarigan, guru adalah salah satu faktor yang sangat menentukan dan menjadi salah satu komponen dalam pembelajaran (10987:7). mengapa demikian? karena guru lah yang menjadi komponen – komponen lain seperti siswa, tujuan, materi, metode, media dan evaluasi. jadi kompenan – komponen ini baik dan tidaknya tergantung guru yang merupakan penentu. rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp), merupakan penjabaran dari silabus, akan mencerminkan semua komponen diatas yaitu tujuan, materi, media dan evaluasi. silabus mengandung item-item yang harus diajarkan dengan urutan yang tepat. hal ini sesuai dangan pengertian silabus. menurut ur (1996) definisi silabus yaitu dokumen umum yang terdiri dari daftar item isi ( kata, struktur, topik ), atau item proses ( tugas, metode ) dan diurutkan dari yang paling mudah, menuju yang paling sulit. kemampuan pengurutan ini biasanya di miliki guru atau pembuat materi. item pertama yang harus diajarkan terlebih dahulu tentu saja perlu direncanakan pelaksanaan pembelajarannya agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan efektif. hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh montague (1987: 12). menurutnya, perencanaan merupakan kunci untuk pembelajaran yang efektif (planning is the key to effective instruction). pembelajaran yang efektif yang dimaksud tentu saja adalah bahwa materi, metode, media, dan evaluasinya sesuai dengan tujuan pembelajaran item tersebut, namun tujuan pembelajaran item tersebut harus sejalan dengan tujuan pembelajaran yang telah dinyatakan dalam kurikulum. tujuan pembelajaran suatu item harus dirumuskan dengan tepat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. tujuan yang tepat akan digunakan sebagai dasar penentuan komponen – komponen lainnya dalam rencana pelaksanaan pembelajaan tersebut. ada tiga macam tujuan suatu item dalam pembelajaran bahasa inggris yang perumusasnnya memakai kata kunci tertentu. menurut mcnaught (1996), tujuan kognitif digolongkan menjadi enam macam, yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. sedangkan menurut sekolah pendidikan di universitas mississippi (2001: 1), tujuan psikomotor ada lima macam yaitu imitasi, manipulasi, ketepatan, artikulasi, dan naturalisasi. adapun tujuan efektif, menurut bloom (1981: 305) ada lima macam, yaitu : menerima, merespon, menghargai, organisasi, dan karakterisasi. menurut mager (1973), tujuan tersebut harus mengandang unsur behavior, condition, dan degre. sedangkan suparman (1997) berpendapat, audience (siswa) merupakan unsur lain yang harus ada. tiga jenis tujuan pembelajaran diatas menjadi dasar komponen – komponen lain dalam rencana pelaksanaan pembelajaran seperti materi, metode, media, kegiatan pembelajaran dan evaluasi. komponen – komponen ini muncul setelah tujuan pembelajaran di tentukan terlebih dahulu sehingga jelas dalam proses belajar mengajar yang di landasi rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp). ktsp merupakan kurikulum operasional yang disusun, di kembangkan dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan badan standar nasional pendidikan (bsnp) (masnur muslich, 2008, 17). tujuan ktsp secara umum, adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) pada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum(masnur muslich, 2008, 29). sedangkan, tujuan ktsp secara khusus: 1. meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dan mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. 2. meningkatkan kepandaian warga sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan kurikulum melalui pengembalian keputusan bersama. 3. mengaktifkan kompetensi yang sehat antar satuan pendidikan yang akan dicapai. berdasarkan latar belakang dan teori diatas, jelas bahwa tujuan pembelajaran sangat penting dalam tercapainya proses belajar mengajar. masalah penelitian ini dibatasi pada kesesuaian materi ajar bahasa inggris kelas tiga dengan tujuan pembelajarannya yang tertera di rpp.. adapun masalah penelitian yang akan didiskusikan ialah bagaimanakah materi, tujuan dan kesesuaian antara materi ajar dan tujuan pembelajaran di kelas 3 semester 1 sekolah dasar al-irsyad surakarta. tujuan penelitian yang ingin diperoleh ialah untuk mendeskripsikan materi ajar, tujuan pembelajaran dan kesesuaian antara materi dan tujuan pembelajaran kelas 3 sd`al-irsyad surakarta. metode penelitian penelitian ini ialah penelitian kualitatif. penelitian ini juga dikatagorikan sebagai penelitian kepustakaan yaitu penelitian yang mengkaji referensireferensi yang berhubungan dengan topik penelitian. penulis membagi sumber data menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sekunder. sumber data primer penulis peroleh dari : 1. materi bahasa inggris kelas 3 sd berjudul “basic english primry 3” karangan s.b. sulaiman, rina dwi indriastuty dan eko marsudiono. 2. tujuan pembelajaran yang tertera dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp). sumber datas sekunder diperoleh dari sumber referensi yang berupa buku – buku yang membahas tentang kurikulum, silabus, dan rpp yang berhubungan dengan topik penelitian. data penelitian ini ialah item item dalam buku “basic english primry 3” dan rumusan tujuan pembelajaran yang terdapat dalam rpp. tujuan pembelajaran ini ada 9 yang penulis beri no urut 1 sampai 9. penomoran ini sekedar untuk memudahkan analisa. metode penelitian ini deskriptif analitis yaitu metode penelitian dengan cara menguraikan sekaligus menganalisa data yang ada . dengan menggunakan kedua cara secara bersamaan maka diharapkan objek dapat diberikan makna secara maksimal (nyoman kutha ratna, 2010, 336). teknik pengambilan data menggunakan teknik “random sampling” dari lesson satu sampe tujuh, di ambil lesson satu dan lima dengan semua sub bab –sub bab yang ada. lesson 1 terdiri dari 9 sub bab yang diberi abjad a, b, c, d, e, f, g, h dan i. lesson 5 juga terdiri dari 9 sub bab yang diberi abjad yang sama a, b, c, d, e, f, g, h dan i . comment by author: hasil penelitian dan pembahasan di dalam pembahasan ini, data yang dibahas ialah lesson 1 dan 5 dalam buku bahasa inggris kelas 3 sd berjudul “basic english primry 3” karangan s.b. sulaiman, rina dwi indriastuty dan eko marsudiono. lesson 1 dan 5 mengndung item – item yaitu listening, speaking , reading dan writing. tujuan pembelajaran yang bersifat kongnitif, psikomotor dan afektif yang telah dirumuskan menjadi a (audience ), b (behavior), c (condition) dan d (degree) di ambil dari rpp yang ditulis oleh guru. penulis mendiskripsikan tujuan – tujuan yang ada di rpp dan menganalisanya berdasarkan teori yang telah dibahas dalam pendahuluan di atas. berdasarkan teori, tujuan yang sempuna yaitu tujuan yang mengandung rumusan a (audience ), b (behavior), c (condition) dan d (degree) maka hasil analisanya sebagai berikut : 1. lesson 1: alphabet lesson 1 mengandung empat item yaitu listening, speaking , reading dan writing. listening terdiri dari sub bab a, b, c, d, dan g. speaking terdiri dari sub bab i dan f. reading terdiri dari sub bab h dan f. writing terdiri dari sub bab h. didalam rpp dituliskan tujuan pembelajaran alphabet sebagai berikut: 1. siswa mampu mendengarkan ucapan alphabet a/ ei / z/ zie. 2. siswa mampu menirukan lafal alphabet a/ ei / z/ zie. 3. siswa mampu menyanyikan lagu “abc” bersama-sama. 4. siswa mampu mengucapkan huruf a-z. 5. siswa mampu menyanyikan lagu tentang huruf. 6. siswa mampu berdialog tentang mengeja huruf dalam kata. 7. siswa mampu membaca dialog. 8. siswa mampu melengkapi dialog. 9. siswa mampu menyusun kata menjadi kalimat. ditinjau dari tujuan pembelajaran, semua tujuan diatas tergolong tujuan psikomotor dan kognitif. tujuan afektif belum ada dalam rumusan tujuan yang ada dalam rpp . ditinjau dari tujuan pembelajaran yang dirumuskan menjadi a (audience ), b (behavior), c (condition) dan d (degree), tujuan diatas sudah sesuai tetapi belum sempurna karena belum ada unsur c (condition) dan d (degree). unsur c (condition) yaitu siswa diberi perlakuan apa atau dikondisikan seperti apa agar supaya siswa mendengar, memproduksi, mengucap dan menulis alfabet. berdasarkan materi pembelajaran, c (condition) nya berturut-turut sesuai sub bab a, b, c, d, e, f, g, h dan i dari lesson 1 yaitu setelah siswa diberi lagu abc, diberi perintah mengeja alphabet dan menirukan, setelah diberi perintah mengucapkan huruf yang ditunjuk guru, diberi perintah mengeja benda sembarang yang ditunjuk guru, setelah diberi perintah membaca keras dengan berpasangan, setelah diberi gambar, perintah menulis dan mengejanya, setelah diberi perintah mendengarkan kata-kata yang diucapkan guru dan memilih kata yang telah disediakan, setelah diberi gambar yang dimulai dengan huruf tertentu dan setelah diperintah memperkenalkan diri dengan menyebut nama dan mengejanya. d (degree) yaitu setingkat apa siswa mampu menirukan, menyanyi, mengucapkan, mengkomunikasikan, membaca, melengkapi dan menyusun apa. apakah siwa mengerjakannya dengan sempurna, tepat, benar, sedang, cukup dan sebagainya. ditinjau dari tujuan pembelajaran listening, speaking ,rreading dan writing, maka didapatkan hasil sebagai berikut : · tujuan no 1 : siswa mampu mendengarkan ucapan alphabet a/ ei / z/ zie. kata mampu mendengarkan lebih tepat apabila diganti dengan siswa mau atau bersedia mendengarkan ucapan alphabet. tujuan ini merupakan tujuan item listening · tujuan no 2 : siswa mampu menirukan lafal alphabet a/ ei / z/ zie. tujuan ini merupakan tujuan item pronounciation. · tujuan no 3 : siswa mampu menyanyikan lagu “abc” bersama-sama. tujuan ini merupakan tujuan item pronounciation.. · tujuan no 4 : siswa mampu mengucapkan huruf a-z. tujuan ini merupakan tujuan item pronounciation. · tujuan no 5 : siswa mampu menyanyikan lagu tentang huruf. tujuan ini merupakan tujuan item pronounciation . · tujuan no 6 : siswa mampu berdialog tentang mengeja huruf dalam kata. tujuan ini merupakan tujuan item speaking . · tujuan no 7 : siswa mampu membaca dialog. tujuan ini merupakan tujuan item reading. · tujuan no 8 : siswa mampu melengkapi dialog. tujuan pembelajaran ini ialah tujuan item structure. materi pembelajaran tidak ada yang sesuai dengan tujuan no 8.. jadi materi harus ditambah agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. · tujuan no 9 : siswa mampu menyusun kata menjadi kalimat. tujuan ini merupakan tujuan item writing. materi pembelajaran tidak ada yang sesuai dengan tujuan no 9.. jadi materi harus ditambah agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. dari analisa materi pembelajaran lesson 1, yang terdiri dari empat skill yakni listening, speaking , reading dan writing yang ada, dihubungkan dengan tujuan pembelajaran dalam rpp, item prounanciation dan structure yang tertera dalam tujuan pembelajaran di rpp. tidak dapat digolongkan kedalam empat skill tersebut. berbicara masalah skill para ahli membagi nya menjadi 2 yaitu macro dan micro. listening, speaking , reading dan writing termasuk macro skill sedangkan termasuk micro skill. micro skill ini diperlukan untuk mendukung macro skill. adapun tujuan no 8 dan 9 tidak ada dalam materi pembelajaran. maka perlu ditambah materi yang sesuai dengan tujuannya. 2. lesson 5 abilities lesson 5 mengandung empat item antaralain: listening, speaking , reading dan writing. listening terdiri dari sub bab a. speaking terdiri dari sub bab b, f dan h. reading terdiri dari sub bab c, d dan g. writing terdiri dari sub bab e dan i. didalam rpp dituliskan tujuan pembelajaran abilities sebagai berikut: 1. siswa mampu mendengarkan ucapan guru tentang kemampuan. 2. siswa mampu menirukan ucapan guru dengan lafal yang tepat. 3. siswa mampu merangkai kata-kata yang diucapkan guru menjadi kalimat yang benar tentang kemampuan. 4. siswa mampu berdialog tentang kemampuan. 5. siswa mampu membaca teks tentang kemampuan. 6. siswa mampu menyebutkan apa yang bisa dilakukan dengan bagian-bagian tubuhnya. 7. siswa mampu membuat kalimat yang bagus tentang anggota tubuhnya dan yang bisa diakukan. 8. siswa mampu melakukan survey kelas menanyakan tentang kemampuan teman-temannya. ditinjau dari tujuan pembelajaran, semua tujuan diatas tergolong tujuan psikomotor dan kognitif. tujuan afektif belum ada. ditinjau dari rumusan a (audience ), b (behavior), c (condition) dan d (degree) tujuan diatas sudah sesuai tetapi belum sempurna karena ada unsur c (condition) dan d (degree) kecuali tujuan no 2, 3 dan 8 yang sudah ada d (degree) nya. unsur c (condition) yaitu siswa diberi perlakuan apa atau dikondisikan seperti apa agar siswa mampu mendengar, memproduksi, membaca dan menulis can dan can not. berdasarkan materi pembelajaran, c (condition) nya berturut-turut sesuai sub bab a, b, c, d, e, f, g, h dan i dari lesson 1 yaitu setelah siswa diberi perintah mendengarkan dan meniru guru berdasar gambar, setelah diberi perintah memasangkan can dan can not dalam kalimat, diberi teks untuk dibaca, setelah diberi soal untuk dijodohkan, setelah diberi daftar kemampuan dan ketidakmampuan melakukan sesuatu dari nama-nama yang diseduakan, setelah diberi gambar untuk ditirukan dengan tanya jawab antara 2 orang, setelah diberi gambar anggota badan untuk dibaca fungsinya, setelah diberi gambar anggota badan untuk diucapkan fungsinya, dan setelah diberi gambar anggota badan untuk ditulis fungsinya. unsur d (degree) yaitu setingkat apa siswa mampu menirukan, menyanyi, mengucapkan, mengkomunikasikan, membaca, melengkapi dan menyusun apa. apakah siwa mengerjakannya dengan sempurna, tepat, benar, sedang, cukup dan sebagainya. ditinjau dari tujuan pembelajaran listening, speaking ,reading dan writing, maka didapatkan hasil sebagai berikut : · tujuan no 1 : siswa mampu mendengarkan ucapan guru tentang kemampuan. kata mampu mendengarkan lebih tepat apabila diganti dengan siswa mau atau bersedia mendengarkan ucapan guru tentang kemampuan. tujuan ini merupakan tujuan item listening. · tujuan no 2 : siswa mampu menirukan ucapan guru dengan lafal yang tepat. tujuan ini merupakan tujuan item pronounciation. · tujuan no 3 : siswa mampu merangkai kata-kata yang diucapkan guru menjadi kalimat yang benar tentang kemampuan. tujuan ini merupakan tujuan item writing. · tujuan no 4 : siswa mampu berdialog tentang kemampuan. tujuan ini merupakan tujuan item speaking . · tujuan no 5 : siswa mampu membaca teks tentang kemampuan. tujuan ini merupakan tujuan item reading . · tujuan no 6 : siswa mampu menyebutkan apa yang bisa dilakukan dengan bagian-bagian tubuhnya. tujuan ini merupakan tujuan item speaking . · tujuan no 7 : siswa mampu membuat kalimat yang bagus tentang anggota tubuhnya dan yang bisa diakukan. tujuan ini merupakan tujuan writing. · tujuan no 8 : siswa mampu melakukan survey kelas menanyakan tentang kemampuan teman-temannya. tujuan ini merupakan tujuan item speaking dari analisa materi pembelajaran lesson 1, yang terdiri dari empat skill yakni listening, speaking , reading dan writing yang ada, dihubungkan dengan tujuan pembelajaran dalam rpp, item prounanciation dan structure yang tertera dalam materi pembelajaran sub bab a dan d tidak dapat digolongkan kedalam empat skill tersebut. item prounanciation di materi pembelajaran lesson 5 sub bab a adalah micro skill yang mendukung macro skill yang berupa listening dan speaking. tujuan pembelajaran structure tidak dirumuskan dalam rpp tetapi ada dalam materi pembelajara lesson 5 sub bab d. kesimpulan setelah penulis melakukan penelitian, maka penulis menyimpulkan bahwa guru harus menulis tujuan pembelajaran dalam rpp dengan jelas. tujuan pembelajaran yang jelas ini menjadi dasar pemilihan materi pembelajaran yang tepat untuk siswa. kesesuaian antara materi pembelajaran dan tujuan pembelajaranya menjadi salah satu faktor penting yang menentukan berhasil tidaknya tujuan pembelajaran bahasa inggris. apabila tidak ditemukan materi yang sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan dalam rpp, maka guru dapat membuat materi sendiri. penulis menyarankan bagi guru untuk membuat materi pembelajaran sendiri yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang dibuat guru itu sendiri. selain itu penelitian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk topik-topik penelitian yang lain. daftar pustaka bloom, b. s., madaus, g. f., & hastings, j. t. 1981. evaluating to improve learning. usa, ny: mcgraw-hill, inc. depdikbud (kanwil). 1995. gbpp mulok bahasa inggris. kanwil depdikbud. jawa tengah. ------------------. 1993. pedoman pengembangan kurikulum muatan lokal. jakarta. fatmawati, rini. 2016. perumusan tujuan pembelajaran dalam rpp bahasa inggris sd. surakarta. idi, abdullah. 2007. pengembangan kurikulum: teori dan praktik. jogjakarta: ar-ruzz media. idi, abdullah. 2014. pengembangan kurikulum teori dan praktik. depok. pt. rajagrafindo. mager, r. f. 1973. measuring instructional intent. belmont, ca: fearon pitman publishers, inc. mcnaught. c. 1996. teaching and learning. http://www.rmit.edu.au/browse:id=tjbxs9kscune. (june 15, 2005). montague, e. j. 1987. fundamentals of secondary classroom instruction. columbus, ohio: merril publishing company. muslich, masnur. 2008. ktsp pembelajaran berbasis kompetensi dan kontekstual. jakarta. pt. bumi aksara. ratna, nyoman kutha. 2010. methodologi penelitian kajian budaya dan ilmu sosial humaniora pada umumnya. yogyakarta. pustaka pelajar. schimer, suzann. 2000. assessment strategies for elementary physical education. usa: human kinetics. school of education at the university of mississippi. 2001. the psychomotor domain. http://www.olemiss.edu/depts/educ school/ci/seced/psychomotor.htm. (june 15, 2005). sulaiman, s. b., rina dwi indriastuty dan eko marsudiono. 2009. basic engglish primary 3. jakarta. yudhistira. suparman, a. 1997. desain instruksional. jakarta. pau untuk ppai ditjen dikti depdikbud. tarigan, djogo and tarigan, henry guntur. 1987. teknik pengajaran ketrampilan berbahasa. bandung: angkasa. tim pengembang mkdp kurikulum dan pembelajaran. 2011. kurikulum & pembelajaran. jakarta. pt. grafindo persada. ur, p. 1996. a course design in language teaching. new york: cambridge university press. 59penerapan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan ... (suansah ) issn 2406-8012 penerapan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan keterampilan proses siswa pada pembelajaran ipa pokok bahasan konduktor dan isolator panas suansah1) 1 pasca sarjana, universitas pendidikan indonesia zahra.zaira@gmail.com abstract this study aims to improve the skills of students through the application process inquiry approach. the method used is classroom action research (ptk), which starts from the action planning, action, observation, refl ection and then make plans for improvement that are used in the next cycle. this research is conducted in two cycles. overall the action is performed in the fi rst cycle and the second directed to bring science process skills (kps) students, especially in the aspect of observation. the analysis showed that students’ prior learning process skills are still low with an average score of 5.40 kps. skills of students in the observation process after learning has increased very signifi cantly. in the fi rst cycle of ppp observation of students categorized quite skilled with the percentage of 60 %. in the second cycle becomes skilled category with the percentage 86.66 %. in cycle it, an average score of kps students pretest in posttest scores are 5.40 and 7.13. in the second cycle an average score of 7.30 kps in pretest and posttest score are of 9.03. keywords: inquiry approach, learning of science, science process skills pendahuluan proses pembelajaran pada kurikulum sekarang dituntut peserta didik harus aktif, sementara guru sebagai fasilitator. undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 disebutkan: “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.” kenyataan di berbagai sekolah, sering kita jumpai di mana guru yang cenderung lebih aktif daripada siswa. guru kelas lebih banyak menggunakan metode ceramah sehingga menyebabkan siswa kurang bergairah dalam belajar. salah satunya dalam mengikuti pembelajaran ipa, padahal ipa berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam sekitar secara sistematis, sehingga ipa bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsipprinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. hasil kajian penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran ipa di sekolah dasar masih banyak dilakukan secara konvensional (pembelajaran berpusat pada guru) dan prestasi belajar ipa masih sangat rendah bila dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya (sardjono, 2000). oleh karena itu, diperlukan suatu upaya profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 59 6760 issn 2406-8012 untuk memperbaiki kualitas pembelajaran agar dapat meningkatkan keaktifan siswa, keterampilan proses sains, dan sikap ilmiah sekaligus meningkatkan hasil belajar ipa siswa. salah satu upaya yang dapat diterapkan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran ipa tersebut adalah pendekatan inkuiri. pendekatan inkuiri adalah suatu strategi pembelajaran di mana guru dan murid sama-sama mempelajari peristiwa-peristiwa ilmiah dengan pendekatan yang dipakai oleh ilmuwan. “pendekatan inkuiri lebih menekankan pada pencarian pengetahuan daripada perolehan pengetahuan”. (iskandar, 19996/1997: 48). “proses inkuiri menuntut guru bertindak sebagai fasilitator, nara sumber, dan penyuluh kelompok. para siswa didorong untuk mencari pengetahuan sendiri, bukan dijejali dengan pengetahuan”. (hamalik, o, 2007: 221) inkuiri adalah proses penemuan dan penyelidikan masalah-masalah, menyusun hipotesa, merencanakan eksperimen, mengumpulkan data, dan menarik kesimpulan tentang hasil pemecahan masalah. carin dan sund 1975 (mulyasa, 2008: 108) mengemukakan bahwa ‘inquiry is the process of investigating a problem’ artinya bahwa inkuiri adalah proses penyelidikan suatu masalah. adapun piaget mengemukakan bahwa inkuiri merupakan pendekatan yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaanpertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan perseta didik lain. ktsp (depdiknas, 2006) dan kbk (depdiknas, 2004) menegaskan bahwa pendidikan ipa diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. pembelajaran ipa sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. oleh karena itu, pembelajaran ipa di sd harus menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. melalui pengalaman langsung (learning by doing) dapat memperkuat daya ingat anak dan biaya sangat murah sebab menggunakan alat-alat dan media belajar yang ada di lingkungan anak sendiri. john dewey mengatakan bahwa “learning by doing” artinya pengalaman seseorang yang diperoleh dengan bekerja merupakan hasil belajar yang tidak mudah dilupakan. ‘i see i forget, i hear i remember, i do i understand’ (karli 2003, dalam sri wulansari, 2006: 11). piaget mengatakan bahwa ‘pengalaman langsung yang memegang peranan penting sebagai pendorong lajunya perkembangan kognitif anak (tisno hadisubroto 1996, dalam samatowa, 2006: 12). pemberian pengalaman belajar secara langsung sangat ditekankan melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan 61penerapan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan ... (suansah ) issn 2406-8012 sikap ilmiah dengan tujuan untuk memahami konsep-konsep dan mampu memecahkan masalah. keterampilan proses sains merupakan keterampilan intelektual yang dimiliki dan digunakan oleh para ilmuwan dalam meneliti fenomena alam. keterampilan proses sains tersebut dapat dipelajari oleh siswa dalam bentuk yang lebih sesuai dengan tahap perkembangan anak usia sekolah dasar. keterampilan proses yang digunakan dalam sains yaitu, mengamati, menggolongkan, mengukur, menggunakan alat, mengkomunikasikan hasil melalui berbagai cara seperti lisan, tulisan, dan diagram, menafsirkan informasi, mengajukan pertanyaan, memprediksi, dan melakukan percobaan. aspek ketarampilan proses sains yang akan diselidiki peningkatannya dalam penelitian ini yaitu keterampilan proses sains siswa dalam mengamati (observasi). francis bacon (1561-1626) seperti aristoteles (384322 s.m) memandang sains sebagai suatu perjalanan yang dimulai dengan observasi menuju ke prinsip umum atau generalisasi, dan kemudian kembali pada observasi, (samatowa, 2006:13). keterampilan mengamati merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang dalam melakukan penyelidikan ilmiah (the basic of all scientifi c inquiry is observation), (samatowa, 2006: 138). proses mengamati dapat dilakukan dengan menggunakan indera kita, tetapi tidak menutup kemungkinan pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat-alat, misalnya thermometer, timbangan, atau mikroskop. pendekatan keterampilan proses ipa adalah pembelajaran yang dianjurkan di dalam mengajar ipa. keterampilanketerampilan proses ipa dikembangkan bersama-sama dengan fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip ipa. “keterampilan proses ipa dikembangkan pada anak sd merupakan modifi kasi dari keterampilan proses ipa yang dimiliki para ilmuwan sebab disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak dan materi yang diajarkan” (iskandar, 1996/1997: 48). hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh nurhayati, h (2003) menyimpulkan bahwa “model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan keterampilan proses siswa”. sedangkan mutiarawati, i (2006) menyimpulkan bahwa “dengan menggunakan pendekatan inkuiri dapat mengembangkan aktivitas belajar siswa sehingga proses belajar dan hasil belajar siswa lebih baik”. berdasarkan uraian di atas penulis merumuskan masalah sebagai berikut: (1) bagaimanakah gambaran keterampilan proses siswa pada pembelajaran konduktor dan isolator panas sebelum menggunakan pendekatan inkuiri?; (2) bagaimanakah gambaran keterampilan proses siswa pada pembelajaran konduktor dan isolator panas setelah menggunakan pendekatan inkuiri?; (3) kendala dan kesulitan apakah saja yang ditemukan selama proses pembelajaran konduktor dan isolator panas melalui pendekatan inkuiri? profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 59 6762 issn 2406-8012 tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran keterampilan proses siswa pada pembelajaran konduktor dan isolator panas sebelum menggunakan pendekatan inkuiri, mengetahui gambaran keterampilan proses siswa pada pembelajaran konduktor dan isolator panas setelah menggunakan pendekatan inkuiri, dan mengetahui kendala dan kesulitan apa saja yang ditemukan selama proses pembelajaran konduktor dan isolator panas melalui pendekatan inkuiri. metode penelitian metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dikembangkan oleh kemmis & taggart (1992: 5-6); elliot (1993: 32-33), hopkins dan suyanto (1996: 2). penelitian tindakan kelas merupakan penelitian praktis yang dilakukan di kelas dan bertujuan untuk memperbaiki praktik pembelajaran yang ada dan atau meningkatkan kualitas pembelajaran. di samping implementasi tindakan untuk memecahkan masalah, penelitian ini merupakan suatu proses dinamis mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refl eksi lokasi dan subjek penelitian penelitian ini dilakukan di sd negeri sosial i cimahi yang beralamat di komplek bpspc no. 23 kota cimah. lokasinya strategis dekat dengan jalan berada di komplek dinas sosial propinsi jawa barat dan berdekatan dengan kantor polres dan samsat kota cimahi. sekolah. jumlah guru yang mengajar di sekolah ini sebanyak 22 orang. adapun sampel yang diteliti adalah siswa kelas vi b yang jumlah seluruhnya adalah 30 siswa yang terdiri 12 siswa lakilaki dan 18 siswa perempuan. teknik pengumpulan data dan instrumen penelitian pengumpulan data dilakukan pada setiap aktivitas sesuai dengan petunjuk pelaksanaan penelitian tindakan kelas (suyanto, 1996). pada penelitian ini tahap pengumpulan data dilakukan pada saat: observasi awal dan identifi kasi awal permasalahan; pelaksanaan, analisis dan refl eksi tindakan pembelajaran siklus i; pelaksanaan, analisis dan refl eksi tindakan pembelajaran siklus ii; evaluasi terhadap pelaksanaan tindakan siklus i dan siklus ii; wawancara dengan guru dan siswa; menganalisis peningkatan keterampilan proses sains siswa. instrumen yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya: (a) tes, tes digunakan untuk memperoleh data tentang keterampilan proses sains siswa sebelum pembelajaran dan setelah pembelajaran. instrumen tes dibuat sesuai dengan materi yang diajarkan pada siswa kelas vi sd berdasarkan kurikulum yang berlaku; (b) observasi, digunakan untuk melihat secara langsung aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran. pedoman observasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis yaitu pedoman observasi untuk mengamati aktivitas guru dalam 63penerapan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan ... (suansah ) issn 2406-8012 mengelola pembelajaran dan pedoman observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung yang meliputi keterampilan proses siswa; (c) bertujuan untuk memperoleh pandangan guru dan siswa secara formal tentang pelaksanaan pembelajaran ipa berikut segala permasalahannya. prosedur penelitian prosedur yang ditempuh dalam pelaksanakan penelitian ini sebagai berikut: (1) observasi dan identifi kasi masalah untuk menemukan permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran ipa dan menemukan solusinya; (2) kegiatan pra tindakan yang meliputi: mendiskusikan rencana tindakan kelas sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran ipa di kelas serta pemilihan topik yang akan digunakan dalam penelitian dan waktu pelaksanaan, mendiskusikan model pembelajaran ipa berbasis inkuiri, dan menjaring kemampuan (keterampilan proses sains) awal siswa sebelum diterapkan model pembelajaran inkuiri; (3) rencana tindakan, yaitu membagi pembelajaran dalam siklus tindakan disesuaikan dengan materi pembelajaran berdasarkan hasil analisis terhadap kemampuan awal siswa (keterampilan proses sains); (4) pelaksanaan tindakan yang terdiri dari observasi, analisis, dan refl eksi; (5) kegiatan akhir untuk menjaring kemampuan akhir (keterampilan proses sains) siswa setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri dan menganalisis peningkatan kemampuan (keterampilan proses sains) siswa; (6) evaluasi tindakan untuk menganalisis dan merefl eksi seluruh tindakan yang telah dilakukan. hasil penelitian dan pembahasan keterampilan proses siswa sebelum pembelajaran berdasarkan data hasil tes yang diperoleh sebelum pembelajaran (pretes), kps siswa menunjukkan hasil yang berbeda. pada siklus i, rata-rata skor kps siswa adalah 5,40 dengan skor tertinggi 8 dan skor terendah 0, ini mendekati skor ideal yaitu 10. hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan awal dan kps pada siswa terhadap subpokok bahasan pengertian konduktor dan isolator masih rendah . pada siklus ii, terjadi peningkatan rata-rata skor kps siswa 7,30 dengan skor tertinggi 9 dan skor terendah 0. ini mengindikasikan bahwa pengetahuan awal dan kps siswa pada subpokok bahasan bahan untuk membuat konduktor dan isolator panas dalam kehidupan sehari-hari dapat dikatakan baik dan ada peningkatan jika dibandingkan dengan siklus i. keterampilan proses siswa setelah pembelajaran berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti terhadap kemampuan kps siswa kelas vi b sdn sosial i cimahi pada pembelajaran ipa dengan menerapkan pendekatan inkuiri secara umum mengalami peningkatan yang sangat signifi kan. baik profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 59 6764 issn 2406-8012 dari hasil pengamatan tindakan maupun dari hasil tes butir soal kps yang diberikan. selain itu, didukung oleh hasil wawancara terhadap guru dan siswa setelah seluruh pembelajaran i dan ii selesai. keterampilan proses sains terdiri dari sejumlah aspek keterampilan yang pada setiap aspeknya memiliki indikator masing-masing yang berbeda. supaya lebih fokus, maka pada penelitian ini yang diukur kenaikannya adalah aspek observasi. karena kemampuan mengamati (observasi) merupakan kemampuan mendasar dalam melakukan penyelidikan. keterampilan mengamati merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang dalam melakukan penyelidikan ilmiah (the basic of all scientifi c inquiry is observation), (samatowa, 2006: 138). berdasarkan hasil pengamatan tindakan terhadap kps siswa khususnya pada aspek observasi yang menjadi fokus penelitian telah menunjukkan peningkatan yang sangat signifi kan. adapun yang menjadi indikator sehingga dinyatakannya kps siswa kelas vi b meningkat setelah diterapkan pendekatan inkuiri pada pembelajaran konduktor dan isolator panas ini, adalah dilihat dari ketercapain indikator keterampilan observasi yang muncul pada diri siswa. berdasarkan hasil penelitian pada pembelajaran siklus i, hampir semua siswa kelas vi b sudah mampu melakukan pengamatan dengan menggunakan indera, hanya dua orang siswa yang belum menunjukkan kemampuan tersebut. pada indikator memilih dan menggunakan alat ukur yang tepat, masih terdapat 10 orang siswa yang belum tampak kemampuannya, dan tujuh orang siswa yang mampu mengumpulkan informasi relevan yang berkaitan. sedangkan pada pembelajaran siklus ii, semua siswa sudah mampu melakukan pengamatan dengan menggunakan inderanya, memilih dan menggunakan alat ukur yang tepat. kemampuan siswa dalam mengumpulkan informasi relevan yang berkaitan bertambah menjadi 18 orang. secara umum tingkat keberhasilan peningkatan tingkat kps siswa pada aspek observasi pada siklus i berada pada tingkat cukup terampil dengan ipk 60 %. sedangkan pada siklus ii kps siswa pada aspek observasi ini berada pada tingkat terampil dengan ipk 86,66%. begitu pun dengan data mengenai keterampilan proses sains (kps) siswa setelah pembelajaran yang diperoleh berdasarkan hasil postes. data tersebut menunjukkan bahwa kps siswa setelah pembelajaran mengalami peningkatan yang sangat memuaskan, hal ini dilihat dari ratarata skor yang diperoleh siswa pada setiap siklus. pada siklus i diperoleh rata-rata skor kps siswa 7,13 sedangkan pada siklus ii diperoleh rata-rata 9,03. peningkatan juga dapat dilihat dari perolehan nilai tertinggi siswa yang pada siklus i mendapat skor 9 dan siklus ii ada yang mampu mencapai skor ideal 10. peningkatan keterampilan proses sains siswa dari gain yang diperoleh pada siklus i, gain yang diperoleh sangat kecil yaitu 1,86. hal ini menunjukkan kecilnya peningkatan kps siswa sehingga dapat 65penerapan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan ... (suansah ) issn 2406-8012 dikatakan bahwa pembelajaran pada siklus i kurang berhasil. sedangkan peningkatan skor kps siswa siklus ii dilihat dari gain, dari data yang diperoleh diketahui adanya peningkatan nilai pretes dan postes kps siswa setelah mengalami tindakan pembelajaran siklus ii. peningkatan ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata pretes dan postes siswa yaitu 7,30 dan 9,03. namun gain yang dicapainya menurun dibandingkan pada siklus i yaiut 1,70, penguasaan materi pada siklus ii ini lebih baik jika dibandingkan dengan siklus i. dengan merujuk dari data-data yang diperoleh diatas jelaslah bahwa dengan menerapkan pendekatan inkuiri telah dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa kelas vi b pada pokok bahasan konduktor dan isolator panas. semangat dan antusias belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran ipa pun menjadi meningkat dengan demikian pendekatan inkuiri merupakan pendekatan yang cocok digunakan untuk meningkatkan keterampilan proses siswa. dengan memiliki keterampilan proses, maka siswa akan merasakan hakekat ipa serta membuat mereka terampil dalam melakukan kegiatan sains. kendala dan kesulitan yang dihadapi selama pembelajaran selama melakukan pembelajaran dengan menerapkan pendekatan inkuiri ini peneliti menemukan beberapa kendala dan kesulitan. kesulitan-kesulitan tersebut diantaranya sulitnya membangkitkan keinginan bertanya dan mengajukan pertanyaan pada siswa, siswa sulit untuk membuat kesimpulan dari data yang diperolehnya. hal ini dikarenakan kebiasaan belajar siswa yang hanya menerima pelajaran dari guru sehingga mereka menganggap guru adalah sumber belajar yang utama. dengan demikian agak kesulitan mengubah pola belajar mereka dengan menjadikan belajar sebagai proses berpikir. selain itu, diskusi kelas yang diharapkan ternyata kurang muncul karena siswa merasa malu dan tidak percaya diri untuk mengemukakan pendapatnya. kebanyakan mereka beralasan takut salah. peneliti juga mengalami kesulitan dalam mengelola waktu. hampir semua tahap pembelajaran menghabiskan waktu lebih banyak dari waktu yang sudah direncanakan sebelumnya. namun demikian kendala dan kesulitan yang dihadapi tidak sampai menghambat jalannya pembelajaran dan dapat diminimalisir oleh peneliti. simpulan dari uraian yang telah dibahas sebelumnya maka peneliti dapat mengambil simpulan sebagai berikut: keterampilan proses siswa kelas vi b sdn sosial i sebelum dilakukanya pembelajaran dengan menerapkan pendekatan inkuiri sangat rendah. hal ini terlihat dari rata-rata skor prestes kps yang diperoleh siswa hanya 5,40. rata-rata ini diperoleh setelah menjumlahkan skor yang diperoleh semua siswa kemudian dibagi dengan banyaknya siswa. kps siswa kelas vi b sdn sosial i cimahi setelah pembelajaran mengalami profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 59 6766 issn 2406-8012 peningkatan. hal ini terbukti dari hasil pengamatan peneliti terhadap keterampilan observasi siswa yang semula berada pada kriteria cukup terampil dengan ipk 60 % naik menjadi terampil dengan ipk 86,66 %. skor kps siswa yang diperoleh dari hasil tes butir soal kps, meningkat dari rata-rata 7,30 menjadi 9,03. dengan menerapkan pendekatan inkuiri pada pembelajaran ipa juga membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan dapat membangkitkan antusias serta semangat siswa dalam belajar. kendala dan kesulitan yang dihadapi saat menerapkan pendekatan inkuiri dalam pembelajaran adalah kesulitan dalam mengaktifkan siswa untuk bertanya dan menjawab pertanyaan, memerlukan waktu yang panjang sehingga selalu tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. kemudian terbatasnya media yang dimiliki sekolah. sistem uasbn yang lebih menekankan perkembangan aspek kognitif saja sehingga pembelajaran lebih ditekankan pada pencapaian kurikulum, akibatnya guru mencari jalan termudah dengan ceramah. siswa tidak dilatih menemukan dan mengembangkan pengetahuannya saran sebagai implikasi dari hasil penelitian, berikut dikemukakan rekomendasi yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan ipa di sd, khususnya dalam menerapkan dan mengembangkan pendekatan inkuiri. guruguru sdn sosial i cimahi khususnya dan guru sekolah dasar pada umumnya diharapkan mampu memotivasi siswa untuk melakukan aktivitas dalam proses pembelajaran. oleh karena itu, terampil dalam menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelas. guru kelas atau guru ipa dalam melakukan pembelajaran ipa harus mampu melibatkan seluruh aspek tidak hanya kognitif tetapi afektif, dan psikomotornya. pendekatan inkuiri salah satunya karena siswa dapat terlibat secara langsung dalam proses penemuan. sehingga siswa memiliki keterampilan sains yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. daftar pustaka cartono. 2007. metode dan pendekatan dalam pembelajaran sains. bandung: pps upi depdiknas. 2006. kurikulum tingkat satuan pendidikan sekolah dasar mata pelajaran ipa sd/ mi. jakarta: depdiknas. depdiknas. 2004. kurikulum berbasis kompetensi sekolah dasar mata pelajaran ipa sd/ mi. jakarta: depdiknas. hamalik, oemar. 2007. proses belajar mengajar. jakarta: pt bumi aksara nurhayati, h. (2003). pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan 67penerapan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan ... (suansah ) issn 2406-8012 keterampilan proses. skripsi upi bandung: tidak diterbitkan. mulyasa, e. 2008. menjadi guru profesional (menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan). bandung: pt remaja rosda karya mutiarawati, ika (2006). pendekatan inkuiri dalam pembelajaran konsep gaya gesekan untuk siswa kelas v sekolah dasar. skripsi upi bandung. tidak diterbitkan. samatowa, usman. 2006. bagaimana membelajarkan ipa di sekolah dasar. jakarta: depdiknas dikjen dikti wulansari, sri. 2006. penerapan pendekatan inkuiri untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam pembelajaran sains di kelas vi sdn cigagak kecamatan cibiru kota bandung. skripsi upi bandung. tidak diterbitkan sardjono. 2000. permasalahan pendidikan mipa di sekolah dan upaya pemecahannya. makalah pada seminar nasional mipa. fpmipa um malang jurnal pgsd vol 2 no 2 des 2015.indd profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 103 111103 issn 2406-8012 komparasi penerapan model stad dan tgt terhadap hasil belajar dan aktivitas siswa (studi pada siswa kelas v mata pelajaran pkn di sdn bendo 1, kec. pare, kab. kediri) kukuh andri aka pgsd fkip universitas nusantara pgri kediri andri.kupas@gmail.com abstract the alternative strategy to address social inequality and lack of student learning outcomes are models of cooperative learning. there are several models that made the researchers are interested in knowing the signi cance of the difference to the learning outcomes and student activities, namely the model of stad and tgt.the design of this research is quantitative research with this type of quasi-experimental with the factorial design version of nonequivalent control group design 2x2 (tuckman, 1999). based on data from pretest and posttest scores can be seen that a good learning outcomes for grade stad and tgt have increased, the increase amounted to 22.73% stad class and class tgt by 20.91%. stad class has increased by 1.82% higher than tgt class. similarly, in the students’ learning activities, stad model to get the student activity by 82.44% and amounted to 80.91% of igt. stad class rose 1.53% higher than tgt class. based on the hypothesis test concluded that (1) there is no signi cant difference in learning outcomes between the application of the model stad and tgt, and (2) there is no signi cant difference in learning activities between the application of the model stad and tgt. both models are equally able to bene t in improving student learning outcomes and student activity. in this study, there is no one model that can be said to be superior signi cantly from one another. keywords: stad, tgt, learning outcomes, student activities pendahuluan paradigma loso s pendidikan era kini telah mengalami perubahan dari era behaviorisme menuju konstruktivisme. perubahan ini menggeser pula paradigma pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru (teacher center) menuju berpusat pada siswa (student center), namun, pemusatan kepada siswa sifatnya masih menekankan pada pengembangan individu, seperti tugas-tugas harian, kegiatan tanya jawab, dan ulangan harian. pada setiap kelas, tentu ada kompetisi yang dilakukan siswa untuk mencapai hasil belajar yang maksimal. jika pembelajaran tidak menanamkan semangat kerja sama dan solidaritas sosial kepada siswa dari awal, maka kemungkinan besar akan menyebabkan kesenjangan hasil pendidikan. melihat hal di atas, perlu dikembangkan solidaritas sosial di kalangan siswa. kecenderungan pendekatan individu perlu diimbangi dengan pendekatan yang berbasis kerja sama, kebersamaan, dan kolaborasi. pendekatan yang dimaksud adalah cooperative learning. dengan pendekatan cooperative learning, guru tidak selalu memberikan tugas-tugas secara individual, melainkan secara berkelompok. dengan ini, maka setiap siswa dapat mengembangkan aspek kecakapan sosial selain kecakapan kognitif (isjoni, 2010:72) dan setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi kepada kelompoknya 104komparasi penerapan model ... (kukuh andri aka) issn 2406-8012 (allport dalam slavin, 2005:103). siswa yang pandai akan menjadi tutor bagi siswa yang kurang pandai. semua siswa akan saling membelajarkan demi prestasi kelompok sebagai satu kesatuan (rusman, 2011:204). setiap siswa tidak hanya bertanggung jawab belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga bertanggung jawab membantu sesama anggota kelompok untuk belajar dan mencapai keberhasilan kelompoknya (rusman, 2011:203). hasil penelitian yang mendukung manfaat cooperative learning diungkapkan oleh slavin dan madden “that programs involving cooperative interaction between students of different races are most likely to improve race relations in desegregated schools” (slavin & madden, 1979:169-180). oleh karena itu, jika cooperative learning diterapkan pada pembelajaran, maka dapat mengurangi kesenjangan hasil pendidikan dan meningkatkan solidaritas sosial, minimal pada output individuindividu di kelas. dengan demikian diharapkan kelak akan muncul generasi yang tidak hanya memiliki prestasi akademik yang baik, namun juga memiliki solidaritas sosial yang kuat. keidealan di atas memang tidak mudah diwujudkan dalam pembelajaran. berdasarkan hasil observasi di sdn bendo 1 pada mata pelajaran pkn kelas v, ditemukan kegiatan pembelajaran yang masih didominasi tugastugas individu. di samping itu, hasil belajar siswa juga kurang maksimal, lebih dari 40% nilai ulangan harian siswa di bawah kkm. hal ini perlu menjadi perhatian guru, guru perlu menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif sehingga pembelajaran bisa lebih divariasikan dengan berpusat pada siswa secara kooperatif. menurut aziz wahab, dalam mencapai tingkat keberhasilan yang optimal, sangat dibutuhkan penerapan metode pembelajaran yang bervariasi (wahab, 2006:6.5), sedangkan menurut reigeluth (1983), hasil pembelajaran merupakan efek yang dapat dijadikan sebagai indikator nilai dari penggunaan metode pembelajaran di bawah kondisi yang berbeda. jadi dapat disimpulkan, hasil belajar siswa dipengaruhi oleh: (1) strategi pembelajaran yang diterapkan, (2) kondisi pembelajaran, dan (3) interaksi antara metode dan kondisi pembelajaran. jika seorang guru menginginkan hasil belajar siswanya maksimal, maka ketiga hal di atas perlu diperhatikan dengan baik sejak perencanaan pembelajaran guna mencapai hasil belajar yang baik pula. variasi model pembelajaran sangat diperlukan oleh guru. alternatif strategi untuk menangani kesenjangan sosial dan rendahnya hasil belajar siswa adalah modelmodel pembelajaran kooperatif. variasi model pembelajaran kooperatif secara otomatis akan menggeser kegiatan pembelajaran yang semula bersifat teacher center (behaviorisme) menjadi student center (konstruktivisme), karena teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstruktivisme (rusman, 2011:201). pemusatan kegiatan belajar pada siswa dengan pembelajaran kooperatif juga akan membantu siswa belajar secara lebih bermakna dan menghargai nilai-niai kerjasama yang terkandung di dalamnya (slavin, 2005:93). model-model pembelajaran kooperatif, seperti stad, tgt, tai, circ dan jigsaw ternyata cukup banyak tersedia di dunia pendidikan. meskipun ada banyak model pengajaran, ternyata tidak semua model dapat diterapkan untuk tujuan yang sama (joyce, 2011:xvii). namun, ada beberapa model yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui signi kansi pengaruhnya, yaitu model student team achievment division (stad) dan model teams games tournaments (tgt). model stad terdiri atas lima komponen utama, antara lain: presentasi kelas, tim, kuis, skor, kemajuan individual dan rekognisi tim. model tgt terdiri atas lima komponen utama, yakni: presentasi kelas, tim, game, turnamen, dan rekognisi tim. stad dan tgt memang memiliki kemiripan, satu-satunya perbedaan mencolok antara keduanya adalah stad menggunakan kuis-kuis individual pada akhir pelajaran, sementara tgt menggunakan game akademik (slavin, 2005: 143). hasil belajar profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 103 111105 issn 2406-8012 pada penelitian ini merupakan penguasaan siswa setelah pembelajaran yang meliputi aspek kognitif. model stad dan tgt terbukti berpengaruh dalam meningkatkan hasil belajar, seperti penelitian oleh widya parimita dkk. (2012) yang menyimpulkan bahwa melalui pembelajaran kooperatif tgt dikolaborasikan dengan tipe stad dapat meningkatkan hasil belajar siswa. akan tetapi dalam penelitian lain mengenai stad dan tgt ditemukan ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa model pembelajaran stad lebih efektif mempengaruhi hasil belajar siswa dari pada tgt, seperti penelitian oleh hasan (2012), khasanah (2011), siswoko (2012) dan sebaliknya bahwa model tgt lebih efektif mempengaruhi hasil belajar siswa dari pada stad, seperti penelitian murdiono (2009), shoolihah (2012), fajaroh & sigit (2006). dari uraian di atas dapat diartikan ada sebuah masalah, model pembelajaran kooperatif manakah antara stad dan tgt yang lebih efektif dalam mempengaruhi hasil belajar siswa. maka dari itu, melalui judul “komparasi penerapan model stad dan tgt terhadap hasil belajar dan aktivitas siswa (studi pada siswa kelas v sdn bendo 1 mata pelajaran pkn)”, peneliti memiliki tujuan untuk mengetahui seberapa signi kan perbedaan dua model di atas terhadap hasil belajar dan aktivitas, serta model manakah yang paling efektif terhadap hasil belajar dan aktivitas siswa. metode penelitian rancangan penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain the faktorial version of nonequivalent control group design 2x2 (tuckman, 1999). dalam penelitian ini semua kelompok mendapat perlakuan, yaitu kelompok pertama yang menggunakan model pembelajaran stad dan kelompok kedua yang menggunakan model pembelajaran tgt. rancangan penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini. keterangan: o1,3 = pretest o2,4 = posttest x1 = perlakuan stad x2 = perlakuan tgt variabel bebas pada penelitian ini adalah penerapan model stad dan model tgt, sedangkan sebagai variabel terikat adalah hasil belajar dan aktivitas siswa. subjek penelitian ini adalah siswa kelas va sdn bendo 1, yaitu sebanyak 22 siswa. dibagi merata secara heterogen baik dari prestasi belajar dan jenis kelaminnya menjadi 11 siswa kelompok perlakukan model stad dan 11 siswa kelompok perlakuan model tgt. penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2014/2015. penelitian ini menggunakan dua jenis instrumen penelitian, yaitu instrumen untuk mengukur hasil belajar siswa dan aktivitas siswa. instrumen ini untuk mengukur variabel terikat sebagai akibat langsung dari perlakuan, intrumen hasil belajar ini berupa soal pretest dan posttest, pengembangan soal pretest dan posttest menggunakan soal yang sama. kemudian hasil pretest dan posttest akan digunakan sebagai unit analisis penelitian. bentuk instrumen pretest dan postest ini berupa soal pilihan ganda yang terdiri dari 10 item soal, sedangkan intrumen aktivitas siswa berupa rubrik observasi yang terdiri dari aspek kerjasama, keberanian, ketepatan jawaban diskusi, dan perhatian. pemilihan soal tes ini disesuaikan dengan materi yang diajarkan yaitu mata pelajaran pkn kompetensi dasar 4.2. mematuhi keputusan bersama. adapun indikator pencapaian kompetensinya dapat dilihat di bawah ini. o1 x1 o2 o3 x2 o4 106komparasi penerapan model ... (kukuh andri aka) issn 2406-8012 tabel 1 rincian indikator pencapaian kompetensi indikator pencapaian kompetensi 4.1.1 4.1.1 menjelaskan pengertian musyawarah 4.1.2 4.1.2 menjelaskan cara pengambilan keputusan bersama dalam musyawarah. 4.1.3 4.1.3 menyebutkan bentuk-bentuk keputusan bersama 4.1.4 4.1.4 menjelaskan cara melaksanakan keputusan bersama. 4.1.5 4.1.5 memberi contoh pelaksanaan keputusan bersama. 4.1.6 4.1.6 menjelaskan manfaat mematuhi keputusan bersama kemudian untuk mengetahui keandalan instrumen, perlu dilakukan uji coba untuk mengetahui validitas butir/item instrumen dan reliabilitas instrumen. uji coba ini dilakukan pada siswa kelas vb sdn bendo 1. perhitungan validitas dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment, bila skor item berkorelasi secara signi kan dengan total skor pada tingkat kepercayaan 95% dan nilai r hitung >0,602 (n=11 responden) maka dapat dikatakan item pertanyaan valid. adapun rumus korelasi product moment sebagai berikut: (sumber: arikunto, 2010: 213) keterangan: r = koe sien korelasi product moment x = skor item y = total skor n = jumlah responden ujivaliditas ini menghasilkan 10 butir soal dan rubrik observasi aktivitas siswa yang dianggap valid, mengingat r hitung tiap butir soal berada di atas 0,602 (r tabel 95%, n=11). reliabilitas dianalisis dengan teknik belah dua ganjil-genap dan dihitung menggunakan rumus: (sumber: arikunto, 2010: 223) keterangan: r ½ ½ = korelasi antar skor belahan tes (0,84 untuk soal dan 0,76 untuk rubrik) r 11 = koe sien reliabilitas uji reliabilitas ini menghasilkan 10 butir soal dan rubrik observasi aktivitas siswa yang dianggap reliabel, mengingat setelah dikonsultasikan dengan r tabel, harga r hitung = 0,91 (soal) dan 0,86 (rubrik) jadilebih besar dari 0,602 (r tabel 95%, n=11). teknik analisis statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah (1) uji prasyarat penelitian yang terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas, serta (2) uji hipotesis. pengujian normalitas data pada penelitian ini menggunakan rumus chi-kuadrat.untuk pengujian homogenitas menggunakan uji f. pada penelitian ini dilakukan 2 uji hipotesis nol (ho), yaitu (ho:1) tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signi kan antara penerapan model stad dan tgt, (ho: 2) tidak terdapat perbedaan aktivitas belajar yang signi kan antara penerapan model stad dan tgt. dari ho tersebut ditawarkan hipotesis alternatif (ha) sebagai berikut: (ha:1) terdapat perbedaan hasil belajar yang signi kan antara penerapan model stad dan tgt, (ha:2) terdapat perbedaan aktivitas belajar yang signi kan antara penerapan model stad dan tgt.kedua hipotesis ini akan diuji perbedaannya menggunakan independent sample t-test. profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 103 111107 issn 2406-8012 hasil dan pembahasan berdasarkan hasil pre test maupun post tes dari dua kelompok eksperimen tabel 2 data hasil belajar kelas rerata hasil selisih pre-post test selisih stad tgt sd pretest posttes stad 56,36% 79,09% 22,73% 1,82% 13,003 tgt 57,27% 78,18% 20,91% 14,012 dari data tabel 2 dapat diartikan bahwa hasil belajar baik kelas yang telah diberi perlakuan stad dan tgt mengalami kenaikan, dan yang memiliki kenaikan tertinggi adalah model stad. adapun selisih posttes antara penerapan model stad dan tgt adalah 1,82% yang menunjukkan penerapan model stad lebih tinggi. tabel 3 data aktivitas siswa kelas rerata selisih stadtgt sd stad 82,44% 1,53% 1,328 tgt 80,91% 1,689 untuk data aktivitas siswa dapat dilihat pada tabel 3 dan dapat diartikan bahwa model stad memiliki skor lebih tinggi dari pada model tgt sebesar 1,53%. setelah data diperoleh, maka selanjutnya dilakukan uji prasyarat yang terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas. data tersebut ditampilkan pada tabel 4. tabel 4 data uji normalitas hasil belajar kelas uji normalitas posttes kesimpulan normalitasxh2hitung xh2-tabel stad 6,734 11,070 xh2-hitung < xh2-tabel (normal)tgt 6,028 11,070 diawali uji normalitas kemudian dilanjutkan uji homogenitas, data ditampilkan seperti tabel 5. tabel 5 data uji homogenitas hasil belajar kelas uji homogenitas posttes kesimpulan homogenitas f-hitung f-tabel stad 1,161 2,978 f-hitung < f-tabel (homogen/ varian sama) tgt selain uji prasyarat untuk data hasil belajar, juga dilakukan uji prasyarat data aktivitas siswa, data ditampilkan sebagaimana tabel 6. tabel 6 data uji normalitas aktivitas siswa kelas uji normalitas kesimpulan normalitasxh2hitung xh2tabel stad 5,152 11,070 xh2-hitung < xh2-tabel (normal)tgt 6,028 11,070 tabel 7 data uji homogenitas aktivitas siswa kelas uji homogenitas kesimpulan homogenitast-hitung t-tabel stad 1,618 2,978 f-hitung < f-tabel (homogen/varian sama)tgt maka dapat dipaparkan data seperti tabel-tabel di bawah ini. 108komparasi penerapan model ... (kukuh andri aka) issn 2406-8012 dari paparan data tabel 7, baik data hasil belajar dan aktivitas menunjukkan telah normal dan homogen, oleh karena itu uji hipotesis menggunakan t-test polled varian dengan rumus keterangan: x1 = mean posttes hasil belajar stad/mean aktivitas siswa stad x2 = mean posttes hasil belajar tgt/mean aktivitas siswa tgt n1 = jumlah siswa stad n2 = jumlah siswa tgt s1 = standar deviasi postes hasil belajar/ mean aktivitas siswa stad s2 = standar deviasi posttes hasil belajar mean aktivitas siswa tgt menggunakan rumus di atas dilakukan perhitungan dan taraf signi kansi 5%,menghasilkan data sebagai berikut. tabel 8 hasil uji t postest hasil belajar (uji hipotesis 1) kelas thitung t-tabel kesimpulan stad 0,157 2,085 (5%) thitung < t-tabel (ho diterima)tgt dari data di atas, dapat ditafsirkan bahwa ho diterima, dengan nilai ho adalah tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signi kan antara penerapan model stad dan tgt. meski tidak signi kan, pada kasus ini terdapat selisihyang memang sangat tipis antara hasil belajar siswa dengan model stad dan tgt yang menunjukkan model stad lebih besar 1,82%. tabel 9 hasil uji t aktivitas siswa (uji hipotesis 2) kelas thitung t-tabel kesimpulan stad 0,280 2,085 (5%) thitung < t-tabel (ho diterima)tgt dari data di atas ditafsirkan bahwa ho diterima, dengan nilai ho adalah tidak terdapat perbedaan aktivitas belajar yang signi kan antara penerapan model stad dan tgt. meski tidak signi kan, pada kasus ini terdapat selisih yang sangat tipis antara aktivitas siswa pada kelas dengan penerapan model stad dan tgt yang menunjukkan model stad lebih besar 1,53% dari pada model tgt. berdasarkan data pretest dan posttest dapat diketahui bahwa skor hasil belajar baik untuk kelas stad dan tgt mengalami kenaikan, selain itu kedua kelas telah menunjukkan hasil belajar di atas kkm dan dapat dikatakan berhasil. hal disamping sejalan dengan pendapat aziz wahab bahwa dalam mencapai tingkat keberhasilan yang optimal, sangat dibutuhkan penerapan metode pembelajaran yang bervariasi (wahab, 2006:6.5). kenaikan kelas stad sebesar 22,73% dan kelas tgt sebesar 20,91%. dari kenaikan dua kelas tersebut kelas stad mengalami kenaikan lebih tinggi 1,82% dari kelas tgt. setelah diketahui ada peningkatan hasil belajar siswa di kedua kelas tersebut maka dilihat selisih hasil belajarnya, menunjukkan ada perbedaan sebesar 1,82% kelas stad lebih tinggi dari pada kelas tgt. untuk kepentingan penelitian, maka dilakukan uji ho, untuk dilihat apakah perbedaan tersebut signi kan atau tidak. setelah dilakukan penghitungan uji t dan dibandingkan dengan t tabel dengan taraf kesalahan 5% diketahui nilai t-hitung sebesar 0,157 dengan t-tabel 2,085, dapat disimpulkan bahwa t-hitung < t-tabel, jadi ho diterima dan ha ditolak. berdasarkan hal tersebut berarti tidak profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 103 111109 issn 2406-8012 terdapat perbedaan hasil belajar yang signi kan antara penerapan model stad dan tgt. begitu pula pada aktivitas belajar siswa, model stad mendapatkan hasil aktivitas siswa sebesar 82,44% dan tgt sebesar 80,91%, dengan selisih yang tipis antara aktivitas siswa pada kelas dengan penerapan model stad dan tgt yang menunjukkan model stad lebih besar 1,53% dari pada model tgt. setelah dilakukan penghitungan uji t dan dibandingkan dengan t tabel dengan taraf kesalahan 5% diketahui nilai t-hitung sebesar 0,280dengan t-tabel 2,085, dapat disimpulkan bahwa t-hitung < t-tabel, jadi ho diterima dan ha ditolak. berdasarkan hal tersebut berarti tidak terdapat perbedaan aktivitas belajar yang signi kan antara penerapan model stad dan tgt. kelas eksperimen dengan model stad dilakukan dengan berdiskusi masing-masing kelompok. pada saat diskusi masing-masing siswa diberi lembar kerja siswa yang didalamnya berisi materi dan beberapa latihan soal yang harus dikerjakan masing-masing siswa, namun dalam menjawab harus dilakukan secara musyawarah dalam kelompok. masing-masing kelompok terlihat aktif dalam berdiskusi dan menyampaikan gagasan masing-masing untuk menjawab latihan soal pada lembar kerja siswa. kemudian kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas secara bergantian, sehingga secara umum keaktifan siswa dengan pembelajaran model stad dapat dikatakan aktif, hal ini juga dapat dilihat dari hasil aktivitas siswa yang menunjukkan nilai 82,44%. model pembelajaran stad berpotensi untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. hal ini dikarenakan dalam kelompok stad pembagian anggotanya adalah heterogen, sehingga siswa yang sebelumnya cenderung pasif akan terpacu menjadi aktif karena pengaruh anggota yang lain. untuk model pembelajaran tgt, siswa dapat dikatakan sudah terlihat aktif. hal ini ditunjukkan dari hasil aktivitas siswa yang menunjukkan nilai 80,91%. dengan model ini, pembelajaran dimungkinkan untuk mengaktifkan siswa, baik dalam diskusi kelompok, permainan, dan turnamen. hal tersebut membuat siswa belajar dengan sendirinya tanpa harus menghapal materi secara berulang-ulang. terlebih lagi, di dalam permainan semua siswa saling berperan, masing-masing siswa memiliki peran yang sama untuk berusaha sebaik mungkin memahami materi dan menjawab pertanyaan dengan benar, sehingga dalam diskusi ini terlihat setiap siswa begitu antusias untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh guru. kedua model ini mengondisikan siswa untuk saling berdiskusi. pada saat diskusi ini terjadi pertukaran informasi antarsiswa dalam kelompok. saat kegiatan tersebut berlangsung, penyampaian materi lebih komunikatif karena disampaikan oleh masing-masing siswa, selain itu mereka juga berusaha menyampaikan pendapat yang kemudian didiskusikan bersamasama dalam kelompok untuk menentukan jawaban yang benar. dari uraian kegiatan siswa di atas maka penerapan model kooperatif ini sesuai dengan pendapat para ahli yang menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif memungkinkan setiap siswa dapat mengembangkan aspek kecakapan sosial di samping kecakapan kognitif (isjoni, 2010:72) dan setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan kontribusi kepada kelompoknya (allport dalam slavin, 2005:103). siswa yang pandai akan menjadi tutor siswa yang kurang pandai, semua siswa akan saling membelajarkan sesama siswa lainnya demi prestasi kelompok sebagai satu kesatuan (rusman, 2011:204). setiap siswa tidak hanya bertanggung jawab belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga bertanggung jawab membantu sesama anggota kelompok untuk belajar dan mencapai keberhasilan kelompoknya (rusman, 2011:203). unsur kuis pada stad dan permainan serta turnamen pada tgt dalam kedua model ini akan memacu semangat masing-masing siswa di dalam kelompok untuk segera menyelesaikan soal dengan benar, sehingga waktu akan dimaksimalkan siswa untuk berdiskusi. pembelajaran dengan model ini dapat membuat siswa senang dalam belajar, hal tersebut 110komparasi penerapan model ... (kukuh andri aka) issn 2406-8012 diharapkan dapat memberi semangat belajar tersendiri bagi siswa. simpulan meski tipis, nilai hasil belajar dan aktivitas siswa pada kelas dengan model stad lebih baik daripada metode tgt, namun, untuk kepentingan penelitian telah diajukan dua hipotesis untuk membedakan signi kansi perbedaannya. menggunakan uji hipotesis menggunakan t-test polled varian disimpulkan, eksperimen pada subjek ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signi kan antara penerapan model stad dan tgt dan tidak terdapat perbedaan aktivitas belajar yang signi kan antara penerapan model stad dan tgt. berdasarkan hal di atas, kedua model ini sama-sama dapat memberi manfaat dalam meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa. dalam penelitian kali ini, tidak ada salah satu model yang dapat dikatakan unggul secara signi kan dari satu dan lainnya, hal ini disinyalir sesuai pendapat slavin (2005:143) bahwa model stad dan tgt memang memiliki kemiripan, satu-satunya perbedaan mencolok antara keduanya adalah stad menggunakan kuis-kuis individual pada akhir pelajaran, sementara tgt menggunakan game-game akademik. daftar pustaka arikunto, suharsimi. 2010. prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. jakarta: rineka cipta hasan, s. 2012. pengaruh strategi pembelajaran kooperatif stad, tgt, dan integrasi stad+tgt terhadap keterampilan metakognisi, berpikir kritis, dan hasil belajar kognitif ipa-biologi sd kelas v di kota ternate.skripsi tidak diterbitkan.malang: fmipa um isjoni. 2010. cooperative learning efekti tas pembelajaran kelompok. bandung: alfabeta. joyce, b. 2009.models of teaching. terjemahan achmad fawaid dan ateilla mirza. 2011. yogyakarta: pustaka belajar. khasanah, d.r. 2011.komparasi hasil belajar matematika antara siswa yang diberi metode stad dengan tgtkelas viii mts negeri sumberagung jetis bantul.skripsi tidak diterbitkan. malang: fmipa um. murdiono, a. 2009.perbedaan efektivitas penerapan model pembelajaran kooperatif stad (students teams division achievement) dan tgt (teams games tournament) terhadap aktivitas belajar dan hasil belajar siswa.skripsi tidak diterbitkan. malang: fe um. reigulth, c.m. 1983.instructional-design theories and models.volume ii.a new paradigm of instructional theory.london: lawrence erbaum associates. rusman. 2011. model-model pembelajaran mengembangkan profesionalisme guru. jakarta: pt rajagra ndo persada. sigit, d & fajaroh f. 2006.implikasi penerapan model pembelajaran kooperatif stad (students teams division achievement) dan tgt (teams games tournament) terhadap kualitas proses dan hasil belajar kimia siswa sma negeri dampit kabupaten malang.jurnal pendidikan dan pembelajaran, 13 (1). siswoko, h. 2012. komparasi hasil belajar metode teams games tournament (tgt) dengan student teams achievement division (stad) pada sub konsep perpindahan kalor. skripsi tidak diterbitkan.jakarta: fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan uin syarif hidayatullah. profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 2, desember 2015 : 103 111111 issn 2406-8012 slavin, r. e. 2005.cooperative learning teori, riset dan praktik. bandung: nusa media. slavinr.e.&madden n. a.1979. school practices that improve race relations.american reseach educational journal.vol. 16 no. 2 169-180. shoolihah, a. 2012.perbandingan metode pembelajaran teams games tournament dan student teams achievement divisiondalam meningkatkan hasil belajar siswa.economic education analysis journal, 1 (2): 1-7. tuckman, b.w., 1999. condating educational research. 5th edition. orlando: harcourt brace college publisher. wahab, a. a. 1997. pendidikan pancasila dan kewarganegaraan. proyek pendidikan guru sekolah dasar. depdikbud. 1kesiapan madrasah ibtidaiyah muhammadiyah ... (siti azizah susilowati, nanda khoirunisa) issn 2406-8012 kesiapan madrasah ibtidaiyah muhammadiyah sebagai sekolah siaga bencana di kecamatan gondangrejo karanganyar siti azizah susilowati1), nanda khoirunisa2) 1 fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta azizah.susilawati@ums.ac.id 2 fakultas keguruan dan ilmu pendidikan azizah.susilawati@ums.ac.id abstract the research aims was to determine the readiness of school-related disaster preparedness school in some muhammadiyah islamic elementary schools in district gondangrejo. the object of research is 5 muhammadiyah islamic elementary schools in the district spread gondangrejo, karanganyar. collecting research data form the primary data using research instrument in the form of questionnaires with quantitative descriptive analysis. the results showed that: 1) the muhammadiyah islamic elementary schools located in district gondangrejo acquire preparedness index values between 0-32 with an average index value of 16 and included in katagoti “not ready”, 2) overall parameters included in the category of “low” with the index value between 3-30 with the highest parameter values in school policies and lowest parameter is the parameter emergency response plan. it was concluded that the muhammadiyah islamic elementary school in district gondangrejo karanganyar not alert to the disaster. keywords: the readiness level, eruption, merapi slope, boyolali pendahuluan kecamatan gondangrejo terletak di kabupaten karanganyar yang berada pada bagian barat laut dan berbatasan dengan kabupaten sragen di bagian utara, kabupaten boyolali di bagian barat, dan kota surakarta di bagian selatan. kondisi geomorfologi kecamatan gondangrejo berada pada zona utara yang terdiri dari bentuk lahan denudasional tersebar pada bagian tengah dan timur serta bentuk lahan fl uvial yang tersebar di bagian utara dengan relief bervariasi antara datar hingga perbukitan. badan nasional penanggulanggan bencana (2010) menyatakan bahwa kecamatan gondangrejo termasuk dalam daerah yang memiliki tingkat kerawanan yang tinggi. hal ini didukung dengan kondisi geografi daerah tersebut. memperhatikan kondisi di atas, maka kesadaran akan pengetahuan bencana seharusnya mulai dikembangkan di segala lapisan masyarakat tidak terkecuali di lingkungan sekolah. menurut laskunary dan khoirunisa (2014), “the school was the fi rst place for students to learn. disaster mitigation education needs as early as possible to be taught to students remember the potential area of indonesia that is prone to disaster”. sekolah sebagai tempat menimba ilmu para generasi muda merupakan tempat tinggal kedua para siswa setelah rumah. rata-rata per hari siswa menghabiskan waktu sekitar 7–8 jam dalam sehari di sekolah. hampir di issn 2406-8012 profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 1 112 sebagian besar wilayah indonesia, sarana dan prasarana sekolah yang ada sangatlah rentan terhadap bencana, selain infrastruktur bangunan sekolah, tak dapat dibayangkan apabila kejadian bencana terjadi pada jamjam sekolah (sunarhadi, 2013). perlindungan terhadap bencana siswa di sekolah merupakan perlindungan yang berlaku sama dengan di rumah, sehingga pihak sekolah merupakan pihak yang bertanggung jawab terhadap pengurangan resiko bencana yang akan timbul. kesiapsiagaan perlu dilakukan selain dalam tindakan juga harus didukung dengan semua faktor yang ada termasuk di dalamnya adalah infratuktur, kebijakan, perencanaan ,dan mobilisasi sumber daya. bencana selalu mengakibatkan kehancuran dan dampak bagi anak dan remaja, bahkan lembaga ilmu pengetahuan indonesia (lipi) dalam penelitian pada tahun 2006 yang bekerja sama dengan unesco menyatakan bahwa sekolah merupakan ‘ruang publik’ dengan tingkat kerentanan tinggi. berbagai inisiatif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan komunitas sekolah dilakukan di indonesia di berbagai tingkatan administrasi. surat edaran mendiknas no. 70a/se/mpn/2010 mengenai pengarusutamaan pengurangan risiko bencana di sekolah menjadi dasar dalam melakukan berbagai kegiatan pengurangan risiko bencana untuk mewujudkan budaya kesiapsiagaan dan keselamatan terhadap bencana di sekolah (koswara, 2012). bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan menggangu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam maupun faktor non-alam, atau faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis (uu no. 21 tahun 2007). selanjutnya bencana atau hazard didefi nisikan sebagai sumber bahaya yang berpotensial membahayakan masyarakat termasuk di dalamnya penduduk, lingkungan, harta benda, infrastruktur, serta bisnis (damon p. coppala, 2006). berdasar letak geografi s indonesia yang berpotensi besar terhadap terjadinya berbagai bencana alam, maka badan nasional penanggulangan bencana menganggap perlu adanyan penataan atau perencanaan yang matang dalam penanggulangan bencana sehingga dapat dilaksanakan secara terarah dan terpadu. undang-undang republik indonesia no.24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana pada pasal 35 dan 36 menyebutkan bahwa agar setiap daerah dalam upaya penanggulangan bencana, mempunyai perencanaan penanggulangan bencana, dan telah diturunkan dalam peraturan pemerintah no.21 tahun 2008 tentang penyelenggaraan penanggulangan ben-cana. peraturan pemerintah lebih lanjut menyebutkan bahwa penyelenggaraan penanggulangan bencana, meliputi kegiatan: 1) perencanaan penanggulangan bencana, 2) pengurangan resiko bencana, 3) pencegahan, 4) pemanduan dalam perencanaan pembangunan, 5) persyaratan analisis rencana bencana, 6) 3kesiapan madrasah ibtidaiyah muhammadiyah ... (siti azizah susilowati, nanda khoirunisa) issn 2406-8012 pelaksananaan dan penegakan tata ruang, 7) pendidikan dan pelatihan, dan 8) persyaratan standar teknis penanggulangan bencana. selanjutkan dirincikan dalam pasal 14 bahwa pendidikan dan pelatihan ditujukan untuk meningkatkan kesadaran, kepedulian, kemampuan, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. badan nasional penanggulangan bencana menyebutkan bahwa kesiapsiagaan ialah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. badan nasional penanggulangan bencana menyebutkan bahwa kesiapsiagaan dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda, dan berubahnya tata kehidupan masyarakat. lebih lanjut badan nasional penanggulangan bencana dalam pedoman penyusunan rencana penanggulangan bencana yang tertuang dalam peraturan kepala bnpb no.4 tahun 2008 menjelaskan bahwa upaya kesiapsiagaan dilakukan ketika bencana mulai terindentifi kasi akan terjadi dimana salah satu yang dapat dilakukan ialah mobilisasi sumberdaya antara lain berupa personil dan prasarana/sarana peralatan. salah satu upaya kesiapsiagaan bencana di sekolah adalah kesiapsiagaan infrastruktur atau disebut juga sebagai mitigasi aktif karena melakukan tindakan pencegahan dengan melakukan perbaikan di bidang sarana dan prasarana sekolah. upaya kesiapsiagaan di sekolah telah dibahas dalam konferensi world conference on disaster reduction (wcdr) kesebelas menghasilkan kerangka kerja framework for action/hfa 2005-2015 berupa usahausaha, antara lain: (1) menggalakkan pengintegrasian pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana sebagai bagian yang relevan dalam kurikulum pendidikan di semua tingkat dan menggunakan jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau pemuda dan anak anak dengan informasi; (2) menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana sebagai suatu elemen instrinsik dalam dekade 2005–2014 untuk pendidikan bagi pembangunan berkelanjutan (united nations decade of education for sustainable development); (3) menggalakkan pelaksanaan penjajagan risiko tingkat lokal dan program kesiapsiagaan terhadap bencana di sekolah dan lembaga pendidikan lanjutan; (4) menggalakkan pelaksanaan program dan aktivitas di sekolah untuk pembelajaran tentang bagaimana meminimalisir efek bahaya; (5) mengembangkan program pelatihan dan pembelajaran tentang pengurangan risiko bencana dengan sasaran sektor-sektor tertentu, misalnya: para perancang pembangunan, penyelenggara tanggap darurat, pejabat pemerintah tingkat lokal, dan sebagainya; (6) menggalakkan inisiatif pelatihan berbasis masyarakat dengan mempertimbangkan peran tenaga sukarelawan sebagaimana mestinya untuk meningkatkan kapasitas lokal dalam melakukan mitigasi dan menghadapi bencana; (7) memastikan kesetaraan akses kesempatan issn 2406-8012 profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 1 114 memperoleh pelatihan dan pendidikan bagi perempuan dan konstituen yang rentan; (8) menggalakkan pelatihan tentang sensitivitas gender dan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pelatihan tentang pengurangan risiko bencana. pembahasan tentang kesiapsiagaan bencana di sekolah lebih lanjut dikampayekan oleh un/isdr (united nations/international strategy for disaster reduction) hingga penghujung tahun 2007 dengan didasari berbagai pertimbangan bahwa anak-anak adalah kelompok yang paling rentan selama kejadian bencana, terutama yang sedang bersekolah pada saat berlangsungnya kejadian. bencana dapat mengakibatkan kerusakan baik secara material maupun non-material yang dapat mengancam keselamatan siswa di sekolah serta komponen sekolah yang lain, kondisi tersebut dapat mengakibatkan terganggunya hak siswa untuk memperoleh pendidikan. sekolah siaga bencana adalah sekolah yang memiliki kemampuan untuk mengelola risiko bencana di lingkungannya. tujuan diadakan sekolah siaga bencana adalah untuk membangun budaya siaga dan aman di sekolah serta membangun ketahanan dalam menghadapi bencana oleh warga sekolah, meningkatkan kapasitas institusi sekolah dan individu dalam mewujudkan tempat belajar yang lebih aman bagi siswa, guru, anggota komunitas sekolah serta komunitas di sekeliling sekolah, dan menyebarluaskan serta mengembangkan pengetahuan kebencanaan ke masyarakat luas melalui sekolah (ninil, 2009). mengukur upaya yang dilakukan sekolah dalam membangun sekolah siaga bencana (ssb), perlu ditetapkan parameter, indikator, dan verifi kasinya. parameter adalah standar minimum yang bersifat kualitatif dan menentukan tingkat minimum yang dicapai dalam pemberian respon pendidikan. indikator merupakan penanda yang menunjukkan apakah standart telah tercapai, sedangkan verifi kasi adalah bukti yang telah ditetapkan untuk menunjukkan indikator. parameter kesiapsiagaan sekolah diidentifi kasi terdiri dari empat faktor, yaitu: sikap dan tindakan, kebijakan sekolah, perencanaan kesiapsiagaan, serta mobilitas sumberdaya (konsorsium pendidikan bencana indonesia, 2011). keempat parameter di atas adalah perangkat pengukuran kesiapsiagaan bencana di sekolah. pengukuran masingmasing parameter itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkaitan satu sama lainnya. ukuran yang didapat dari sekolah terkait, dapat diketahui mengenai tingkat ketahanan sekolah terhadap bencana tertentu. praktik kesiapsiagaan sekolah juga dipadukan dengan upaya kesiapsiagaan aparat pemerintah dan masyarakat di daerah atau lingkungan terdekat dengan sekolah (konsorsium pendidikan bencana indonesia, 2011). metode penelitian metode penelitian yang digunakan dalam peneilitian ini ialah metode penelitian diskriptif kuantitatif dimana langkahlangkah yang diambil dalam pemecahan 5kesiapan madrasah ibtidaiyah muhammadiyah ... (siti azizah susilowati, nanda khoirunisa) issn 2406-8012 masalah menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. penelitian dilakukan pada 5 sekolah dasar yaitu madrasah ibtidaiyah muhammadiyah (mim) yang berada di kecamatan gondangrejo yaitu: mim munggur, mim mendungsari, mim kredenwahono, mim wonorejo, dan mim bulak. teknik pengumpulan data pada penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder, dimana data primer menggunakan instrumen penelitian berupa kuisioner dan data sekunder berupa data pendukung yang dimiliki sekolah. data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini ialah data tentang ketersediaan kesiapsiagaan infrastruktur sekolah yang dikelompokkan dalam beberapa bagian yaitu: aksesibilitas, kesehatan, dan upaya tindakan perbaikan infrastruktur sekolah. teknik pengolahan data dilakukan dengan tabulasi data menggunakan excel dan selanjutnya dilakukan analisis data. parameter ini digunakan untuk mengukur nilai kesiapan tiap-tiap individu yang bersangkutan. kajian tingkat kesiapsiagaan sekolah merupakan bagian dari kajian model sekolah siaga bencana yang dilakukan menggunakan indikator sekolah siaga bencana (ssb). indikator ssb yang digunakan dalam penelitian ini diadopsi dari penilaian sekolah siaga bencana departemen pekerjaan umum yang meliputi: (1) parameter pengetahuan dan keterampilan, (2) parameter kebijakan sekolah, (3) parameter rencana tanggap darurat, dan (4) parameter mobilisasi sumberdaya. penilaian kategori kesiapsiagaan sekolah dikategorikan sebagai berikut : tabel 1. nilai indeks kesiapsiagaan no nilai indeks kategori 1. 80 – 100 sangat siap 2. 65 – 79 siap 3. 55 – 64 hampir siap 4. 40 – 54 kurang siap 5. 0 39 belum siap hasil dan pembahasan tingkat kesiapsiagaan sekolah terhadap sekolah siaga bencana sekolah siaga bencana adalah sekolah yang memiliki kemampuan untuk mengelola risiko bencana dilingkungannya. kemampuan tersebut diukur dengan dimilikinya perencanaan penanggulangan bencana (sebelum, saat dan sesudah bencana), ketersediaan logistik, keamanan dan kenyamanan dilingkungan pendidikan, infrastruktur, serta sistem kedaruratan, yang didukung oleh adanya pengetahuan dan kemampuan kesiapsiagaan, prosedur tetap (standard operational procedure), dan sistem peringatan dini. kemampuan tersebut untuk mentransformasikan pengetahuan dan praktik penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana kepada seluruh warga sekolah sebagai konsituen lembaga pendidikan (konsorsium pendidikan bencana, 2011:10). sekolah siaga bencana (ssb) dapat dinilai dengan menggunakan 4 (empat) aspek yaitu sikap dan pengetahuan, kebijakan sekolah, issn 2406-8012 profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 1 116 perencanaan kesiapsiagaan, mobilisasi sumberdaya. penilaian kesiapan sekolah di kecamatan gondangrejo terhadap sekolah siaga bencana menghasilkan data kuisioner yang selanjutnya kemudian di analisis, hasil tabulasi data dari kecamatan gondangrejo dilakukan didapatkan sebagai berikut : tabel 2. nilai indeks kesiapsiagaan nama sekolah indeks parameter indeks kesiapsiagaan katagori ipk iks irtd ims mim munggur 0 0 0 0 0 belum siap mim mendungsari 33.3 0 0 0 8 belum siap mim kredenwahono 50 100 8.33 40 32 belum siap mim wonorejo 33.3 50 8.33 60 28 belum siap mim bulak 16.7 0 0 40 12 belum siap rata-rata 26.7 30 3.33 28 16 belum siap sumber: peneliti, 2015 keterangan: ipk = indeks pengetahuan dan keterampilan iks = indeks kebijakan sekolah ipr = indeks rencana tanggap darurat ims = indeks mobilisasi sumberdaya tabel 2. menunjukkan distribusi nilai indeks kesiapsiagaan sekolah dimana nilai tersebut diperoleh dari hasil penjumlahan dari parameter pengetahuan dan keterampilan, parameter kebijakan sekolah, parameter rencana tanggap darurat, parameter mobilisasi sumberdaya. tabel 2. menunjukkan bahwa sekolah mim yang berada di kecamatan gondangrejo memperoleh nilai indeks rata-rata 16 dan termasuk dalam katagori “belum siap”. data ini membuktikan bahwa nilai indeks kesiapsiagaan sekolah dasar muhammadiyah di kecamatan gondangrejo masih jauh dari katagori siap terhadap bencana, karena keseluruhan sekolah memiliki indeks kesiapsiagaan antara 0-32 dan termasuk dalam katagori “belum siap”. hasil penelitian menunjukkan bahwa mim munggur dalam kategori sekolah yang tidak siap menjadi sekolah siaga bencana karena secara keseluruhan parameter bernilai nol , kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan mim mendungsari dimana hanya mencapai indeks 8. mim kredenwahono merupakan sekolah yang paling siap menjadi sekolah siaga bencana di banding 3 mim yang lain di gondangrejo dengan nilai indek mencapai 32. mim kredenwahono telah menerapkan kebijakan sekolah dalam mendukung sekolah siaga bencana yang mencapai 100% dimana mim yang lain dalam indeks yang rendah. berdasarkan parameter kesiapan sekolah siaga bencana 7kesiapan madrasah ibtidaiyah muhammadiyah ... (siti azizah susilowati, nanda khoirunisa) issn 2406-8012 dari keempat sekolah, secara rata-rata mereka rendah dalam melaksanakan rencana tanggap darurat dan mobilisasi sumberdaya. kesiapan mim di gondangrejo berdasarkan indeks diatas secara berturutturut : mim kredenwahono, mim wonorejo, mim bulak, dan mim munggur. analisis parameter pengetahuan dan keterampilan parameter pengetahuan dan keterampilan merupakan parameter yang mempunyai kaitan dengan mitigasi non struktural, dimana pada parameter ini terdiri dari 6 indikator pertanyaan. perolehan nilai indeks pada parameter ini dapat dilihat pada grafi k dibawah ini. gambar 1. grafi k parameter pengetahuan dan keterampilan sumber: peneliti, 2015 grafi k 1. merupakan sebaran perolehan nilai indeks dari sekolah mim yang berada di kecamatan gondangrejo pada parameter pengetahuan dan keterampilan yang diwujudkan pada indikator-indikator atau pertanyaan-pertanyaan. indikator pertama (1) adalah tersedianya penge-tahuan mengenai bahaya (jenis bahaya, sumber bahaya dan besaran bahaya); kerentanan; kapasitas; risiko dan sejarah bencana yang terjadi di lingkungan sekolah atau daerahnya. indikator kedua (2) adalah tersedianya pengetahuan mengenai upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko bencana di sekolah hal ini memiliki indeks yang baik yaitu 80 dan 60 yang berarti hampir semua mim di kecamatan gondangrejo telah memikinya. nilai indeks yang rendah hanya 20 pada indikator ke-4 yaitu mengenai terlaksananya sosialisasi mengenai pengetahuan prb, ssb dan kesiapsiagaan kepada warga sekolah dan pemangku kepentingan sekolah karena sosialisasi jarang dilakukan. indikator ke3, 5 dan 6 tidak terlaksana sama sekali yaitu mengenai (3) keterampilan seluruh komponen sekolah dalam menjalankan rencana tanggap darurat, (5) terlaksananya pelatihan pengintegrasian prb ke dalam ktsp dan (6) terlaksananya kegiatan simulasi drill secara berkala di sekolah dengan melibatkan masyarakat sekitar. secara keseluruhan indeks pengetahuan dan keterampilan memiliki rerata hanya 27 dan ini termasuk dalam katagori “rendah” analisis parameter kebijakan sekolah parameter ini mempunyai kaitannya dengan kebijakan sekolah terkait bencana, parameter ini terdiri dari 2 indikator pertanyaan. nilai indeks parameter ini dapat dilihat pada grafi k di bawah ini. issn 2406-8012 profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 1 118 gambar 2. grafi k parameter kebijakan sekolah sumber: peneliti, 2015 indikator (1) adanya kebijakan, kesepakatan dan/atau peraturan sekolah yang mendukung upaya pengurangan risiko bencana di sekolah yang memiliki indeks 40 dan pada indikator (2) tersedianya akses bagi seluruh komponen sekolah terhadap informasi, pengetahuan dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dalam hal prb (materi acuan, ikut serta dalam pelatihan, musyawarah guru, pertemuan desa, jambore murid, dsb) memiliki indeks hanya 20 dan dengan rata-rata nilai indeks kebijakan sekolah sebesar 30. nilai indeks ini termasuk dalam katagori “rendah” analisis parameter rencana tanggap darurat parameter rencana tanggap darurat mempunyai kaitannya dengan mitigasi struktural dan mitigasti non struktural, dimana terdapat 12 indikator yang ada di parameter ini. nilai indeks pada parameter ini dapat dilihat dalam grafi k berikut. gambar 3. grafi k indeks rencana tanggap darurat sumber: peneliti, 2015 grafi k 3. terlihat jelas bahwa hanya indikator pertama yang berupa dokumen penilaian risiko bencana yang disusun bersama secara partisipatif dengan warga sekolah dan pemangku kepentingan sekolah yang memiliki nilai indeks sebesar 40, sementara itu ke-11 indeks lainnya tidak tersedia pada mim di kecamatan gondangrejo. kesebelas indikator tersebut adalah sebagai berikut: (2) rencana aksi sekolah dalam penanggulangan bencana (sebelum, saat, dan sesudah terjadi bencana). sistem peringatan dini yang dipahami oleh seluruh komponen sekolah, meliputi: (3) akses terhadap informasi bahaya, baik dari tanda alam, informasi dari lingkungan, dan dari pihak berwenang (pemerintah daerah dan bmg), (4) alat peringatan serta biaya pemeliharaannya dan tanda bahaya yang disepakati dan dipahami seluruh komponen sekolah, (5) protap penyebarluasan informasi peringatan bahaya di lingkungan sekolah, (6) petugas yang bertanggungjawab dan berwenang mengoperasikan alat peringatan dini, (7) prosedur tetap 9kesiapan madrasah ibtidaiyah muhammadiyah ... (siti azizah susilowati, nanda khoirunisa) issn 2406-8012 kesiapsiagaan sekolah yang disepakati dan dilaksanakan oleh seluruh komponen sekolah (8) adanya peta evakuasi sekolah, dengan tanda dan rambu yang terpasang, yang mudah dipahami oleh seluruh komponen sekolah, (9) kesepakatan dan ketersediaan lokasi evakuasi/shelter terdekat dengan sekolah, disosialisasikan kepada seluruh komponen sekolah dan orangtua murid, masyarakat sekitar dan pemerintah daerah, (10)adanya prosedur tetap kesiapsiagaan sekolah yang disepakati dan dilaksanakan oleh seluruh komponen sekolah, (11) adanya peta evakuasi sekolah dengan tanda dan rambu yang terpasang, yang mudah dipahami oleh seluruh komponen sekolah, (12) adanya lokasi evakuasi/shelter terdekat dengan sekolah yang disepakati dan disosialisasikan kepada seluruh komponen sekolah, orang tua siswa, masyarakat dan pemda. nilai rerata dari ke-12 indikator hanya 3 dan masuk dalam katagori “rendah”. analisis parameter mobilisasi sumberdaya mobilisasi sumberdaya mempunyai kaitannya dengan mitigasi struktural dan mitigasti non struktural, dimana terdapat 5 indikator yang ada di parameter ini. nilai indeks pada parameter ini dapat dilihat dalam grafi k berikut. gambar 4. grafi k parameter mobilisasi sumberdaya sumber: peneliti, 2015 grafi k di atas menunjukkan persebaran parameter mobilisasi sumberdaya yang mempunyai kisaran nilai antara 0 sampai dengan 60 dan nilai tertinggi pada indikator (1) mengenai bangunan sekolah yang aman terhadap bencana dan (2) jumlah dan jenis perlengkapan, suplai dan kebutuhan dasar pasca bencana yang dimiliki sekolah. indikator (5) mengenai pemantauan dan evaluasi partisipatif mengenai kesiapsiagaan dan keamanan sekolah secara rutin (menguji atau melatih kesiapsiagaan sekolah secara berkala) hanya memiliki indeks 20 saja karena pemantaun jarang dilakukan. indikator ke-3 dan 4 tidak memilki nilai indeks yaitu mengenai (3) adanya gugus siaga bencana sekolah yang melibatkan perwakilan peserta didik, adanya kerjasama di antara gugus guru atau forum mgmp sekolah terkait upaya prb di sekolah dan (4) adanya kerjasama dengan pihakpihak terkait penyelenggaraan penanggulangan bencana baik setempat issn 2406-8012 profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 1 1110 (desa/kelurahan dan kecamatan) maupun dengan bpbd/lembaga pemerintah yang bertanggung jawab terhadap koordinasi dan penyelenggaraan penanggulangan bencana di kota/kabupaten. secara keseluruhan nilai rerata pada parameter mobilisasi sumber daya adalah 28 dan termasuk dalam katagori “rendah”. persebaran kesiapan mim di kecamatan gondangrejo sebagai sekolah siaga bencana persebaran kesiapan mim di kecamatan gondangrejo sebagai sekolah siaga bencana tersebar secara merata dan pada tingkatan yang sama yaitu belum siap. persebaran dapat dilihat dalam peta (gambar 5) berikut : gambar 5. peta sebaran sekolah mi muhammadiyah kecamatan gondangrejo simpulan hasil penelitian kesiapan mim di kecamatan gondangrejo ini dapat disimpulkan bahwa mim di gondangrejo yang terdiri dari mim munggur, mendungsari, kredenwahono dan wonorejo secara rata-rata termasuk dalam kategori belum siap menjadi sekolah siaga bencana dengan indeks rata-rata 16. kesiapan mim di gondangrejo secara berturut-turut : mim kredenwahono, mim wonorejo, mim bulak, dan mim munggur. selain itu, kurangnya sosialisasi tentang ancaman bencana di sekolah menyebabkan rendahnya kesiapan mi muhammadiyah di kecamatan gondangrejo dalam menghadapi bencana, kondisi tersebut tersebar merata di seluruh mi muhamadiyah di kecamatan gondangrejo. 11kesiapan madrasah ibtidaiyah muhammadiyah ... (siti azizah susilowati, nanda khoirunisa) issn 2406-8012 daftar pustaka ninil r. m. jannah. 2009. kerangka kerja sekolah siaga bencana: hasil diskusi sesi pembelajaran kpb tentang sekolah siaga bencana. koswara, asep dan triyono. 2012. panduan monitoring dan evaluasi sekolah siaga bencana. jakarta: lipi press. siregar, betty gustina laskunary dan nanda khoirunisa, 2014, practice in biopore hole to improve flood mitigation disaster knowledge of sdit muhammadiyah al kautsar and mi muhammadiyah pk (special program) kartasura. “international conference on disaster risk reduction and education (icdrre) university state of yogyakarta”, 16 september 2014. sopaheluawakan jan, deny hidayati, haryadi permana krisna pribadi, dkk, 2006, kajian kesiapsiagaan masyarakat dalam bencana gempa bumi & tsunami. jakarta: lipi press. sunarhadi, amin dan teguh setyawan. 2012. melek geografi sma 7 surakarta dan ma al islam di kecamatan serengan dalam mengenal bencana banjir dan lingkungan. seminar nasional geografi , fakultas geografi , 19 juni 2014. surakarta: universitas muhammadiyah surakarta. surat edaran mendiknas no. 70a/se/mpn/2010 undang-undang republik indonesia no 24 tahun 2007 tentang penanggulan bencana indonesia wijayanti, pipit. 2012. pemanfaatan informasi geospasial tematik dalam peningkatan kapasitas terhadap bencana berbasis sekolah. makalah prosiding dalam seminar nasional, informasi geospasial untuk kajian kebencanaan dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dan pengembangan kecerdasan spasial (spatial thinking) masyarakat, 22 maret 2012. surakarta: universitas sebelas maret. konsorsium pendidikan bencana 2009, notulen rapat kpb: sekolah siaga bencana, 17 desember 2009” dikutip 3 januari, 2014 dari http://mdmc.or.id/index.php/ download-fi le/category/5-pendidikan-siaga-bencana?download=8:kerangka kerja sekolah-siaga-bencana-kpb profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 12 2212 issn 2406-8012 efektivitas mata kuliah bahasa inggris di pgsd terhadap keyakinan dan motivasi mahasiswa dalam mengajar bahasa inggris sd honest ummi kaltsum1), heru setyawan2), dika adi krisnawan3) 1 pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta huk172@ums.ac.id 2 pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta huk172@ums.ac.id 3 pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta huk172@ums.ac.id abstract this research aims to investigate the effectiveness of four english courses at pgsd fkip ums towards the belief and motivation of the pgsd students to teach english to primary students. from the 130 questioners distributed, 130 are also returned, and the working questioners are just 125. based on the results of the descriptive analysis shows that those four courses have been effective (mean statistic above 3 and mode 4). while the variable mode of beliefs have mean values above 3 and largely mode 3. these results indicate that the respondents have confi dence in moderate level to teach english to their students. student responses regarding motivation in teaching english showed that students have the motivation in teaching english, but the motivation is on moderate level. this is showed by the mean scores which is above 3 and most of the modes is 3. the results of the descriptive analysis showed that students still require the need for additional training to teach english to prospective students. these results indicated by the mean score of 4 and mode 4. from this data, it can be seen that the students needs an additional training to make them ready teaching english to children. the conclusion is the program of four english courses has been effective, however the students is in the moderate level of belief and motivation to teach english to primary students, therefore the additional english course training for those students is needed. keywords: effectiveness, beliefs, motivations pendahuluan hongkong, korea, taiwan, dan jepang, serta beberapa negara besar lainnya (kusumoto, 2008: 1), termasuk indonesia telah memberlakukan perubahan dalam hal kebijakan pembelajaran bahasa inggris sebagai respon terhadap kebutuhan akan pentingnya penguasaan bahasa inggris sebagai bahasa asing dan sarana komunikasi internasional. indonesia menerapkan kebijakan tersebut dengan memberlakukan pembelajaran bahasa inggris sedini mungkin yakni menjadikan bahasa inggris sebagai muatan lokal di sekolah dasar (sd). sehubungan dengan hal tersebut, untuk menjawab tantangan akan pentingnya pengajaran bahasa inggris di sd, program studi pendidikan guru sekolah dasar universitas muhammadiyah surakarta (pgsd ums), memberikan sebaran mata kuliah bahasa inggris selama empat semester, yakni: semester 1 mata kuliah bahasa inggris i, semester 2 mata kuliah bahasa inggris ii, semester 5 mata kuliah teaching english for 13efektifi tas mata kuliah bahasa ... (honest ummi kaltsum, heru setyawan, dika adi krisnawan) issn 2406-8012 children, dan semester 7 mata kuliah micro teaching in english. seluruh mahasiswa ums mendapatkan mata kuliah yang sama untuk dua semester yakni semester 1 mata kuliah bahasa inggris i dan semester ii mata kuliah bahasa inggris ii. sedangkan khusus mahasiswa pgsd, pada semester 5 dan 6 mendapatkan mata kuliah berbahasa inggris yakni english teaching for children dan micro teaching in english. materi inti bahasa inggris i ialah english for academic purposes (eap), sementara materi inti bahasa inggris ii adalah test of english profi ciency. dengan adanya sebaran mata kuliah bahasa inggris selama empat semester tersebut, mahasiswa pgsd ums sebagai calon guru sd diharapkan telah siap untuk menjawab tantangan berupa kebutuhan pembelajaran bahasa inggris di sd. berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini mengungkap bagaimana efektivitas pelaksanaan keempat mata kuliah tersebut dikaitkan dengan kesiapan mahasiswa pgsd (sebagai calon guru sd) untuk menjawab tantangan berupa kebutuhan pembelajaran dan pengajaran bahasa inggris di sd. mata kuliah bahasa inggris i mengandung materi perkuliahan english for academic purposes (eap). inti dari mata kuliah ini ialah pengetahuan yang mengarah kepada keterampilan untuk memahami suatu teks akademis tertentu di dalam disiplin ilmu tertentu, disertai pemahaman akan grammar dan vocabulary yang diperlukan. dengan demikian, eap merupakan suatu keterampilan kebutuhan akademis dan keprofesian. fauziati (2010: 206) berpendapat bahwa eap adalah bagian dari esp, english for academic purposes (eap) (2010: 206), often identifi ed as a sub-category of english for specifi c purposes (esp), is described by bernard coffey (1984) as a student’s need for quick and economical use of the english language to pursue a course of academic study. program eap biasanya dilaksanakan di perguruan tinggi dan fokus kepada suatu keterampilan membaca untuk memahami suatu mata kuliah atau disiplin ilmu dalam konteks akademis. selain itu, program tersebut lebih memprioritaskan keterampilan akademis untuk memahami sebuah subjek daripada perkembangan bahasa. hal ini senada dengan tulisan brown (2001: 123) eap is a term that is very broadly applied to any course, module, or workshop in which students are taught to deal with academically related language and subject matter. eap is common at the advanced level of preacademic programs as well as in several other institutional settings. fauziati (2009: 208) memberi pengertian eap sebagai sebuah program di dalam pengajaran bahasa inggris, menggunakan pendekatan berbasis genre (genre-based approach): genre-based approach (gba), where teaching and learning focuses on the understanding and production of selected genres of texts, have been identifi ed by rodgers (2001) as a major trend in english language profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 12 2214 issn 2406-8012 teaching (elt) in the new millennium. esp and eap are early examples of the application bga in elt. basically, gba is teaching language based on results of genre analysis, the study of how language is used within a particular setting (swales 1990) and is concerned with the form of language use in relation to meaning (bathia, 1993). muatan mata kuliah bahasa inggris ii di pgsd ialah test of english profi ciency (toep). test tersebut digunakan untuk mengukur seberapa jauh keterampilan bahasa inggris mahasiswa. test tersebut terbagi menjadi dua yakni listening dan reading. pada akhir semester dua, mahasiswa mengikuti test toep. hasil test ini akan menjadi syarat wisuda bagi mahasiswa ums. prasyarat mahasiswa dapat mengikuti wisuda apabila skor test toep minimal 400. pada mata kuliah english teaching for children, mahasiswa mendapatkan ilmu dan keterampilan berupa teknik mengajarkan bahasa inggris untuk anak. kognisi pebelajar tingkat anak-anak sangat berbeda dengan kognisi pebelajar dewasa. dunia mereka berbeda, demikian pula dengan metode pembelajaran yang digunakan untuk keduanya. hal ini seperti yang dituliskan scott dan ytreberg (1990: 3): the adult’s world and the child’s world are not the same. anak anak membutuhkan penanganan dan cara belajar yang berbeda dengan orang dewasa. hal tersebut juga dituliskan oleh reilly dan ward (1997: 2): very young learners, who will usually be pre-literate, and who inhabit a world quite different from that of their elders, require special handling. dengan adanya mata kuliah ini, diharapkan nantinya mahasiswa mampu menerapkan sistem atau proses belajar mengajar bahasa inggris yang sesuai untuk anak-anak. beberapa tujuan dari mata kuliah ini adalah 1) membantu calon guru atau guru untuk menguasai keterampilan-keterampilan khusus, agar dalam latihan pembelajaran sesungguhnya tidak mengalami kesulitan; 2) meningkatkan taraf kompetensi pembelajaran bagi calon guru secara bertahap, dengan penguasaan keterampilan-keterampilan khusus yang akhirnya dapat diintegrasikan dalam pembelajaran yang sesungguhnya; 3) pada in service training bagi guru atau dosen, diharapkan yang bersangkutan bisa menemukan sendiri kekurangannya dalam pembelajaran dan berusaha memperbaikinya; 4) memberi kemungkinan dalam latihan microteaching agar calon guru atau guru menguasai keterampilan (khusus) mengajar, agar dalam proses pembelajaran lebih mantap, terampil, dan kompeten; 5) sebagai penunjang usaha peningkatan keterampilan, kemampuan, serta efektifi tas dan efi siensi penampilan calon guru atau guru dalam proses pembelajaran. adapun fungsi microteaching ialah meningkatkan kompetensi mengajar dalam proses pembelajaran bagi calon guru atau guru, memberi kesempatan kepada guru atau calon guru untuk menguasai keterampilanketerampilan khusus dalam proses pembelajaran, sebagai metode/strategi 15efektifi tas mata kuliah bahasa ... (honest ummi kaltsum, heru setyawan, dika adi krisnawan) issn 2406-8012 mengajar tertentu, serta pengembangan metode/strategi mengajar tertentu penjelasan tentang microteaching lebih lanjut, menurut ogeyik (2009: 1) microteaching as a professional development tool in teacher training programs provides student teachers with opportunities to explore and refl ect on their own and others’ teaching styles and to acquire new teaching techniques and strategies. microteaching was developed in the early and mid 1960’s by dwight allen and his colleagues at the stanford teacher education program (cruickshank et al., 1996). nowadays, in many teacher education programs, microteaching is used to expand the scope of student teachers while mastering various teaching skills and teaching experiences; alternatively, it orients them to gain teaching experiences for natural classroom environments (amobi, 2005). sementara penjelasan tentang microteaching menurut seidman di dalam http://passthecourse.pbworks.com/w/file/ fetch/79539557/3716-11241-1-pb.pdf micro-teaching is a teacher training technique fi rst developed by dwight w. allen and his colleagues at stanford university. since its inception, microteaching has been adopted by a number of teacher education institutions that have become committed to it as a powerful tool in teacher training. each institution has developed the concept of micro-teaching in its own way. calon guru sd yang nantinya dipersiapkan menjadi guru kelas, seharusnya mampu dan kompeten untuk mengajar berbagai mata pelajarann yang ada di jenjang sd. sehubungan dengan hal tersebut, meskipun bahasa inggris adalah muatan lokal, dan bukan merupakan kategori mata pelajaran wajib, untuk mendukung kesuksesan mahasiswa sebagai calon guru sd, mahasiswa pgsd ums tetap dibekali berbagai mata kuliah yang nantinya akan diajarkan di jenjang sd, salah satunya adalah bahasa inggris. dengan sebaran mata kuliah bahasa inggris selama empat semester, diharapkan mahasiswa pgsd ums mampu bersikap positif terhadap mata pelajaran tersebut yang akan mengarah pada kemampuan mahasiswa untuk mengajarkan mata pelajaran bahasa inggris. hal ini senada dengan tulisan hull di dalam allen di dalam wati (2011: 82) yakni educational training gives more than a part of developing leaders rests upon the ability for the education to shape new and more productive behaviors; behaviors that have a positive effect on one’s abilities. di samping itu, penambahan mata kuliah akan memberikan keyakinan terhadap mahasiswa sebagai calon guru untuk lebih berkompeten. gee di dalam allen (2007) di dalam wati (2011: 82) menuliskan bahwa training is highly important in building the teachers’self-confi dence and in improving the employees’s performance. profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 12 2216 issn 2406-8012 beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini yakni, pertama dilakukan oleh noeth dan volkov (2004) dengan judul “evaluating the effectiveness of technology in our schools”. hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan teknologi di dunia pendidikan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari dan bisa sangat membantu. akan tetapi keberadaannya menjadi tidak efektif jika tidak dibarengi dengan tujuan yang krusial, perencanaan dalam hal aplikasinya, dan training yang memadahi untuk para penggunanya (2004: vi). penelitian selanjutnya dilakukan oleh herlina wati (2011:1) dengan judul “the effectiveness of indonesian english training program in improving confi dence and motivation”. hasil penelitian tersebut menginformasikan bahwa program training untuk guru memang efektif dalam hal menumbuhkan motivasi dan rasa percaya diri para guru, namun training tersebut tidak efektif dalam hal peningkatan kemampuan mereka dalam hal penguasaan keterampilan dasar bahasa inggris. selanjutnya penelitian lain yang dilakukan oleh tunio dan aziz (2012: 1) dengan judul “a study of the effectiveness of teacher training programes in english for secondary and higher secondary schools in district larkana”. hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa hasil training yang dilakukan terkadang tidak memenuhi tujuan seperti yang diharapkan. penelitian lain dilakukan oleh wong dkk (2012:1) dengan judul “esl teacher candidates’perceptions of readiness to teach english language learners”. hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa kendala atau permasalahan dari para guru dalam mengajar bahasa inggris adalah perbedaan budaya dan latar belakang tata bahasa yang berbeda dari anak didik mereka. hal tersebut merupakan kendala karena mereka belum memiliki pengetahuan akan hal tersebut. metode penelitian jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian kuantitatif. pada pendekatan kuantitatif ini penelitian dilaksanakan dengan survei. pada survei, informasi dikumpulkan dari responden yang sumbernya adalah mahasiswa pgsd ums semester vii tahun ajaran 2010/2011 dengan pertimbangan bahwa mahasiswa tersebut sudah menempuh keempat mata kuliah bahasa inggris. data dikumpulkan dari populasi. penelitian survei di sini adalah penelitian yang menggunakan pendekatan sensus, yakni seluruh anggota populasi merupakan responden penelitian. berkaitan dengan hal di atas, dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah data primer yang populasinya mahasiswa pgsd ums semester vii tahun ajaran 2010/2011. adapun pengumpulan data primer dilakukan dengan cara: 1. prasurvei kegiatan yang dilakukan yakni mengumpulkan data-data awal. 2. survei kegiatan survei meliputi pembagian kuesioner, yakni pengumpulan 17efektifi tas mata kuliah bahasa ... (honest ummi kaltsum, heru setyawan, dika adi krisnawan) issn 2406-8012 data primer, dengan membagikan angket kepada para responden yang bersangkutan. penelitian ini menggunakan pendekatan sensus, karena populasi diketahui dan bisa dipastikan jumlahnya, selain itu anggota populasi tidak banyak serta relatif bisa terjangkau (sekaran, 1992). populasi penelitian ini adalah mahasiswa pgsd semester vii angkatan 2010/2011. untuk mengungkap efektivitas mata kuliah bahasa inggris di pgsd dalam meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi untuk pengajaran bahasa inggris, digunakan kuesioner tertutup. kuesioner tertutup digunakan skala interval, lima point likert di mana pertanyaan-pertanyaan dijabarkan dalam 5 poin yakni 1 (sangat tidak setuju), 2 (tidak setuju), 3 (netral), 4 (setuju), 5 (sangat setuju). dalam penelitian ini digunakan kuesioner sebagai alat untuk mengetahui pendapat para mahasiswa terkait rasa percaya diri mereka untuk mengajar bahasa inggris di sd nantinya. agar kuesioner tersebut dapat mengukur tingkat keabsahan (valid) dan keandalan (reliabel), maka suatu kuesioner harus lolos uji validitas dan uji reliabilitas terlebih dahulu sebelum benarbenar disebarkan. suatu kuesioner dikatakan valid (sah) jika pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tersebut dapat mengungkap sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. suatu kuesioner dikatakan reliaber (andal) jika jawaban seseorang atas pertanyaan tersebut konsisten sepanjang waktu. selanjutnya untuk mengetahui efektifi tas pelaksanaan mata kuliah bahasa inggris di pgsd, dilakukan pendekatan deskriptif mean frekuensi. pendekatan tersebut digunakan untuk menggambarkan rata rata yang nantinya menentukan skor pengukuran oleh katz dan kahn (1978) if the score is “1” or less than 2.49, then effectiveness is low; if the mean score is 2.5 or less than 3.99, then effectiveness is moderate; if the mean score is 4 or less than 5.49 then effectiveness is high. scoring measurements scores level 1.00 2.49 2.50 3.00 4.00 5.49 low moderate high hasil dan pembahasan responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa pgsd fkip ums semester vii tahun ajaran 2010/2011. penelitian ini menggunakan angket untuk memperoleh data primer dari responden dengan model kuesioner/angket tertutup. angket yang dibagikan kepada responden sejumlah 130 angket, dan yang kembali sebanyak 130 angket. hal ini mengindikasikan bahwa tingkat antusiasme responden tinggi, terbukti dengan response rate sebesar 100%. berdasarkan 130 angket yang kembali, ternyata yang bisa diolah lebih lanjut sebesar 125 angket, sedang yang 5 angket tidak bisa diolah lanjut karena ternyata profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 12 2218 issn 2406-8012 responden tidak mengisi secara keseluruhan dari pernyataan yang disediakan. gambaran keseluruhan dari responden penelitian ini, dijelaskan lebih lanjut di bawah ini. sejumlah 125 responden berdasarkan usia yang dikelompokkan, ternyata usia 21 tahun merupakan kelompok terbanyak, yakni 69 orang atau 55,2%, kemudian usia 22 tahun merupakan kelompok terbanyak kedua yakni 34 orang atau 27,2%. selanjutnya kelompok paling sedikit adalah usia 24 dan 27 tahun yakni kedua kelompok masing-masing sebanyak dua orang atau 1,6%. selengkapnya terlihat pada tabel iv.1 berikut: tabel iv.1 responden berdasar usia no usia responden (th) mean mode frekuensi persentase 1 20 21,46 21 10 8 2 21 69 55,2 3 22 34 27,2 4 23 8 6,4 5 24 2 1,6 6 27 2 1,6 dari 125 responden berdasarkan pengalaman mengajar, ternyata sebagian besar responden tepatnya sejumlah 113 orang atau 90,4% belum mempunyai pengalaman mengajar di sekolah. sedangkan responden yang sudah berpengalaman mengajar sejumlah 12 orang atau 9,6%. hal ini mengindikasikan bahwa kebanyakan responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang belum memiliki pengalaman mengajar. hasil selengkapnya terlihat pada tabel iv.2 berikut: tabel iv.2. responden berdasarkan pengalaman mengajar no p e n g a l a m a n responden mean mode frekuensi persentase 1 belum 0,1 0 113 90,4 2 sudah 12 9,6 selanjutnya pengujian validitas dilakukan dengan teknik oneshoot, yakni pengujian terhadap sampel besar tanpa melalui sampel kecil dengan alasan indikator penelitian diyakini peneliti mampu mengukur variabel dengan baik. hasil menunjukkan bahwa terdapat beberapa indikator yang tidak dipakai agar syarat validitas terpenuhi. tidak dipakai di sini maksudnya adalah indikator tersebut dikeluarkan dan tidak ikut dianalisis, seperti: a3, a7, a8, a9, b8, c1, c2, c6 dan seterusnya. dalam uji validitas, hasil penelitian dikatakan valid jika: 19efektifi tas mata kuliah bahasa ... (honest ummi kaltsum, heru setyawan, dika adi krisnawan) issn 2406-8012 a. loading factor lebih dari atau sama dengan 0,5. b. indikator tiap variabel meneglompok dalam 1 kolom yang artinya mengukur apa yang seharusnya diukur atau mengukur variabel yang seharusnya diukur. dengan demikian, secara keseluruhan, validitas terpenuhi. secara keseluruhan, hasil selengkapnya terlihat dalam tabel berikut: tabel iv.3 uji validitas rotated component matrixa component 1 2 3 4 a1 .618 a2 .727 a5 .589 a6 .744 a10 .581 b1 .680 b2 .798 b3 .776 b4 .716 b5 .731 b6 .696 b7 .617 b9 .649 c3 .801 c4 .783 c5 .761 d1 .760 d2 .769 d3 .821 d4 .682 d5 .817 d6 .844 d7 .719 analysis. keterangan: a = variabel efektivitas secara keseluruhan b= variabel keyakinan c= variabel motivasi d= variabel kebutuhan pelatihan tambahan untuk mengetahui konsistensi alat ukur, maka angket harus lolos uji relibilitas. penelitian ini menggunakan nilai batas cronbach alpha sebesar lebih besar atau sama dengan 0,6. semakin tinggi nilai cronbach alpha, semakin bagus reliabilitas angket bersangkutan, dengan nilai tertinggi adalah 1. reliabilitas angket dalam penelitian ini untuk variabel efektifi tas sebesar 0,696; variabel keyakinan sebesar 0,870; variabel motivasi sebesar 0,816; dan variabel kebutuhan pelatihan tambahan sebesar 0,897. keseluruhan hasil uji reliabilitas mengindikasi bahwa kuesioner sebagai alat pengumpulan data reliabel. hal ini menunjukkan bahwa angket ini lolos uji relibilitas, sehingga bisa di analisis lebih lanjut. hasil selengkapnya terlihat di tabel berikut. tabel iv.4.uji reliabilitas reliability statistics keterangan cronbach’s alpha efektifi tas 0,696 keyakinan 0,870 motivasi 0,816 kebutuhan pelatihan tambahan 0,897 analisis data penelitian ini menggunakan descriptive analysis. analisis ini bertujuan untuk mengungkap mean respon responden terkait dengan variabel profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 12 2220 issn 2406-8012 yang diteliti, yakni efektivitas, keyakinan, motivasi, dan kebutuhan pelatihan tambahan. berdasarkan descriptive analysis, maka diperoleh hasil sebagaimana di tabel iv.5. hasil ini mengindikasi bahwa rata-rata menyatakan bahwa pembelajaran bahasa inggris sudah efektif (mean statistic di atas 3 dan mode 4) tabel iv.5: variabel efektifi tas statistics a1 a2 a5 a6 a10 n valid 125 125 125 125 125 missing 0 0 0 0 0 mean 3.21 3.47 3.52 3.19 3.56 std. error of mean .068 .059 .066 .078 .061 mode 4 4 4 4 4 minimum 2 2 2 1 2 maximum 4 4 5 5 5 sum 401 434 440 399 445 hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa variabel keyakinan memiliki nilai mean di atas 3 dan sebagian besar mode 3 (lihat tabel iv.6). hasil ini menunjukkan bahwa responden memiliki keyakinan untuk mengajarkan bahasa inggris kepada calon anak didiknya setelah mahasiswa menyelesaikan mata kuliah bahasa inggris yang diterima. berdasarkan mode yang sebagian besar ada di skor 3, maka level keyakinan yang ada tidak tinggi atau denga kata lain keyakinan yang muncul ada pada level moderate. tabel iv.6.: keyakinan statistics b1 b2 b3 b4 b5 b6 b7 b9 n valid 123 125 125 125 125 125 125 125 missing 2 0 0 0 0 0 0 0 mean 3.16 3.43 3.42 3.62 3.64 3.38 2.98 3.18 std. error of mean .071 .062 .059 .059 .058 .062 .071 .065 mode 3 4 3 4 4 3 3 3 minimum 1 2 2 2 2 1 1 1 maximum 5 5 5 5 5 5 5 5 sum 389 429 428 453 455 422 373 397 21efektifi tas mata kuliah bahasa ... (honest ummi kaltsum, heru setyawan, dika adi krisnawan) issn 2406-8012 berdasarkan tabel iv.7, hasil analisis descriptive, respon mahasiswa mengenai motivasi dalam pengajaran bahasa inggris terhadap calon anak didik menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki motivasi dalam pengajaran bahasa inggris, namun motivasi tersebut pada level moderate. hal ini terbukti pada skor mean di atas 3 dan sebagian besar mode pada angka 3 (lihat tabel iv.7) tabel iv. 7.: variabel motivasi statistics c3 c4 c5 n valid 125 125 125 missing 0 0 0 mean 3.58 3.37 3.23 std. error of mean .076 .078 .069 mode 4 3 3 minimum 1 1 1 maximum 5 5 5 sum 448 421 404 tabel iv.8: variabel kebutuhan pelatihan tambahan statistics d1 d2 d3 d4 d5 d6 d7 n valid 125 125 125 125 125 125 125 missing 0 0 0 0 0 0 0 mean 4.09 3.96 4.12 3.90 4.20 4.15 3.94 std. error of mean .067 .073 .060 .072 .067 .059 .073 mode 4 4 4 4 4 4 4 minimum 2 1 2 1 2 2 1 maximum 5 5 5 5 5 5 5 sum 511 495 515 488 525 519 493 simpulan berdasarkan atas hasil analisis data tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebaran keempat mata kuliah bahasa inggris yang ada di pgsd fkip ums, yakni bahasa inggris 1, bahasa inggris 2, teaching english for children, dan microteaching in english sudah tampak efektif. meski demikian, dalam hal keyakinan dan motivasi mahasiswa untuk mengajarkan mata pelajaran bahasa inggris kepada anak didik setelah lulus nantinya masih berada dalam level moderate atau tidaklah tinggi. situasi yang demikian, membuat mahasiswa membutuhkan hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa mahasiswa masih menghendaki perlunya pelatihan tambahan sebagai bekal dalam pengajaran bahasa inggris terhadap calon anak didiknya. hasil ini terindikasi dari skor mean 4 dan mode 4 (lihat tabel iv.8) profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 12 2222 issn 2406-8012 pelatihan tambahan bahasa inggris, sebagai bekal nantinya jika mahasiswa diberi tugas untuk mengampu mata pelajaran bahasa inggris. berdasarkan hasil keseluruhan penelitian ini, maka dapatlah disampaikan beberapa saran. bagi mahasiswa sebagai salah satu calon atau generasi emas penerus bangsa, sebagai calon pendidik, mahasiswa pgsd khususnya dan program studi lain umumnya, seyogyanya terus belajar dan menambah wawasan dan pengalaman di bidang apapun demi kebutuhan mendatang. bagi para pengambil kebijakan di bidang pendidikan dan kurikulum, seharusnya terus peka dan tanggap terhadap kebutuhan yang ada. jika memang dirasakan ada suatu kebutuhan pelatihan tambahan berupa ketrampilan tambahan di luar disiplin ilmu calon pendidik, seyogyanay pemerintah mengadakan suatu pelatihan tambahan yang dibutuhkan secara bertahap, konsisten, dan terukur. daftar pustaka fauziati, endang. 2009. introduction to methods and approaches in second or foreign language teaching. surakarta: era pustaka utama ______________. 2010. teaching english as a foreign language. surakarta: era pustaka utama. noeth and volkov. 2004. evaluating the effectiveness of technology in our schools. act policy report. reilly v, ward, s. 1997. very young learners. hongkong: oxford university press. scott, w.a., ytreberg, l.h. 1990. teaching english to chilren. new york: longman. tunio and aziz. 2012. a study of the effectiveness of teacher training programes in english for secondary and higher secondary schools in district larkana. interdisciplinary journal of contemporary research in business. october 2012 vol.4, no.6 wati, herlina. 2011. the effectiveness of indonesian english teachers training programs in improving confi dence and motivation. international journal of instruction e-issn: 1308-1470 jahuary 2011 vol.4, n0.1 p-issn: 1694-609x. wong dkk. 2012. esl teacher candidates’ perceptions of readiness to teach english language learners. the journal of multiculturalism in education volume 8 (october 2012) © universitas muhammadiyah surakarta 140 pengembangan media komik berbasis kearifan lokal untuk menentukan pesan dalam dongeng pada siswa sekolah dasar suwarti 1 , alfi laila 2* , & erwin putera permana 3 1,2,3 universitas nusantara pgri kediri, kediri, indonesia *email & phone: alfilaila@unpkediri.ac.id +6282138872204 submitted: 2020-07-16 doi: 10.23917/ppd.v7i2.11553 accepted: 2020-12-08 published: 2020-12-20 keywords: abstract comic fairytale kediri local wisdom decipher messages this study aims to; (1) do need assesment of students and teachers for the development of learning media in form of comic; (2) do validation by media experts, material experts, and language experts; (3) examine the effectiveness of the developed comic toward enhancement of the ability to decipher messages in fairy tales. this research and development applied addie (analysis, design, develop, implement, evaluate) model. the population of this study is 3 rd grade students of sdn sukorame 2 elementary school. data collection methods by observation, interview, questionnaire and documentation. evaluation of the validity of instructional media involved of five material experts and media experts. the result of this study find: (1) teachers and students need the development of comic based on local wisdom. (2) the validation score by the material expert is 89%, by the media expert is 82%, and by the language expert is 84.44%. (3) the effectiveness of developed comic can be seen from the questionnaire and pre-post test result. the pretest score is 68 and the posttest score is 84. meanwhile the teacher questionnaire score is 92% and student questionnaire score is 93.75%. based on these results, the comic developed is needed for students and teachers, very valid, and very effective. pendahuluan keragaman bahasa daerah yang dimiliki indonesia tersebar di seluruh nusantara dari sabang sampai merauke. bahasa daerah masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat indonesia. meskipun demikian, penggunaan bahasa indonesia tidak boleh terlepas dari kehidupan sehari-hari. hal ini menunjukkan pentingnya bahasa indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa. untuk berdialog dengan warga yang memiliki bahasa daerah berbeda, lazimnya menggunakan bahasa indonesia guna memudahkan dalam berkomunikasi. bahasa indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam pendidikan. sesuai dengan undang-undang republik indonesia nomor 24 tahun 2009 pasal 25 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara serta lagu kebangsaan, menyatakan bahwa bahasa indonesia berfungsi sebagai jati diri bangsa, kebanggaan nasional, sarana pemersatu berbagai suku bangsa, sarana komunikasi antardaerah dan vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 141 antarbudaya daerah. hal ini menunjukkan betapa pentingnya bahasa indonesia untuk diajarkan kepada siswa. sebagai sarana komunikasi, bahasa diajarkan mulai dari dini hingga di perguruan tinggi. umumnya anak usia dini hingga anak sekolah dasar menyukai cerita fantasi berupa dongeng yang diceritakan oleh orang tua mereka maupun mendengarkan dari guru saat di sekolah. salah satu materi yang terdapat di dalam mata pelajaran bahasa indonesia adalah tentang dongeng. istilah dongeng dipahami sebagai cerita rakyat yang belum pasti kebenarannya. dongeng dipandang sebagai cerita fantasi yang memiliki misi untuk memberikan pelajaran moral (nurgiyantoro, 2013:198-200). kemunculan dongeng selain berfungsi untuk memberikan hiburan, juga sebagai sarana untuk mewariskan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat pada waktu itu. dongeng dan berbagai cerita rakyat dipandang sebagai satu-satunya sarana yang ampuh untuk mewariskan nilai-nilai, sehingga dengan misi yang sedemikian rupa dongeng mengandung ajaran moral. setiap daerah pasti memiliki dongeng tersendiri yang diturunkan secara lisan maupun tulisan. dongeng yang diceritakan kepada anak pasti memiliki pesan moral yang terkandung didalamnya. salah satu unsur intrinsik yang terdapat dalam dongeng yaitu pesan atau amanat. cerita dalam dongeng memiliki pesan-pesan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. pesan adalah harapan atau maksud yang hendak disampaikan dalam suatu dongeng kepada pendengar atau pembaca (kosasih, 2013:222; nurgiyantoro, 2007:46).. untuk mengetahui pesan dalam dongeng, pembaca harus membaca atau mendengar dongeng hingga tuntas. dongeng yang terdapat di indonesia berasal dari kearifan lokal masingmasing daerah sehingga pesan moral yang didapatkan sesuai dengan kebiasaan sehari-hari masyarakat. sebagai contoh pesan moral dari cerita rakyat malin kundang yang berasal dari sumatra barat yaitu wajib menghargai dan mengormati orang tua. selanjutnya cerita dari jawa timur, keong mas, juga memberi pesan moral bahwa kebenaran akan mengalahkan kejahatan atau kebatilan. pesan moral yang disampaikan oleh cerita dari daerah yang berbeda sesuai dengan budaya suatu masyarakat. budaya suatu masyarakat tidak dapat di pisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri. salah satu contoh budaya dari suatu masyarakat yaitu kearifan lokal. kearifan lokal diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi melalui cerita dari mulut ke mulut. kearifan lokal adalah identitas atau kepribadian sebuah bangsa yang mampu menyerap, bahkan mengolah kebudayaan yang berasal dari luar/bangsa lain menjadi watak dan kemampuan sendiri (wibowo, 2015:17;istiawati, 2016:5;ratna, 2011:94). kearifan lokal ada di dalam cerita rakyat, peribahasa, lagu, dan permainan rakyat. kearifan lokal sebagai suatu pengetahuan yang ditemukan oleh masyarakat lokal tertentu melalui kumpulan pengalaman dalam mencoba dan diintegrasikan dengan pemahaman terhadap budaya dan keadaan alam suatu tempat. setiap daerah di nusantara memiliki kearifan lokal masing-masing. kearifan lokal dapat berupa budaya (nilai, norma, etika, kepercayaan, adat istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus). bentuk kearifan lokal diungkapkan dalam bentuk kata-kata bijak, berupa nasehat, pepatah, syair, pantun, folklore; aturan, prinsip, norma, dan tata aturan; upacara tradisi atau ritual; serta kebiasaan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari dalam pergaulan sosial (haryanto, 2013:368;ratna, 2011:95;wahyudi, 2014:13). kearifan lokal dapat diterapkan dalam pembelajaran siswa sekolah dasar, salah satunya pada materi dongeng di kelas iii. pada siswa kelas iii, terdapat kompetensi dasar 3.8. menguraikan pesan dalam dongeng yang disajikan secara lisan, tulis, dan visual dengan tujuan untuk kesenangan. dongeng dapat digunakan sebagai sarana untuk melestarikan kearifan lokal. masingmasing daerah memiliki cerita rakyatnya sendiri. begitu juga kabupaten/kota kediri. dengan adanya dongeng maka nilai, norma, etika, kepercayaan suatu daerah dapat diwariskan. akan tetapi pada kenyataannya sebagian besar siswa mendapatkan nilai yang suwarti 1 , laila 2 & permana 3 – pengembangan media komik berbasis ... printed issn 2406-8012 142 rendah dalam menguraikan pesan yang terdapat di dalam dongeng. proses belajar mengajar menjadi tidak kondusif dikarenakan siswa bosan dengan cara mengajar yang menggunakan metode ceramah menggunakan teks dongeng yang ada di buku tematik sebagai medianya. kebosanan siswa dalam belajar berimbas pada tidak pahamnya siswa terhadap materi menguraikan pesan dalam dongeng. hal ini menyebabkan hasil belajar siswa menjadi rendah, yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 68. data hasil belajar diperoleh dari wawancara dengan guru kelas pada waktu observasi. hasil wawancara menunjukkan bahwa tidak adanya media yang mendukung proses pembelajaran, berdampak pada kebosanan siswa dalam menerima materi menguraikan pesan dalam dongeng. berdasarkan hasil wawancara tersebut, maka peneliti berinovasi untuk mengembangkan media pembelajaran yang tepat agar materi yang disampaikan dapat tercapai dan siswa tidak merasa bosan. media yang digunakan dapat berupa media visual yang diwujudkan dalam bentuk komik. komik merupakan suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita (sudjana dan rivai, 2011:64). untuk lingkup nusantara, terdapat sebutan tersendiri untuk komik yaitu cerita bergambar atau cergam. media komik dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan membaca dikemukakan oleh voulte (2014:28) yang menyebutkan sepuluh alasan mengapa anak-anak perlu membaca komik; (1) kalimat yang terdapat dalam komik mengandung kata-kata yang lebih kompleks daripada media cetak lainnya;(2) komik dianggap dapat meningkatkan daya ingat karena berurutan, menggunakan daya ingat, dan imajinasi sendiri; (3) memperkenalkan cerita yang tidak biasa dimana cerita dalam komik memiliki jalan cerita yang tidak biasa dari masa sekarang ke masa lalu, masa depan ke masa sekarang, semua terdapat dalam cerita; (4) dianggap dapat menjadi cara lain mempelajari sastra yang beragam dan lebih rumit tetapi mudah dimengerti; (5) untuk pembelajaran karakter; (6) komik dapat memudahkan titik poin isi bacaan pada pembaca;(7) menumbuhkan semangat untuk menulis anak-anak karena berimajinasi;(8) dapat menambah pengetahuan kata-kata baru bagi pembaca; (9) komik dapat digunakan sebagai perluasan imajinasi; dan(10) dapat meningkatkan prestasi. media komik berbasis kearifan lokal akan dikembangkan dengan harapan dapat membantu proses belajar mengajar. kelebihan media komik dalam kegiatan pembelajaran menurut trimo (1997:22) menyatakan bahwa komik menambah pembendaharaan katakata pembacanya, mempermudah anak didik menangkap hal-hal atau rumusan yang abstrak, dapat mengembangkan minat baca anak dan salah satu bidang studi yang lain, dan seluruh jalan cerita komik menuju satu hal yakni kebaikan atau studi yang lain. pada penelitian yang dilakukan oleh budiarti dan haryanto (2016) yang berjudul “pengembangan media komik untuk meningkatkan motivasi belajar dan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas iv”, keseluruhan uji dan hasil penelitian menunjukkan bahwa media komik berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap motivasi belajar bahasa indonesia dan keterampilan membaca pemahaman siswa. penelitian yang serupa juga telah dilakukan oleh fatimah (2014), dengan judul “pengembangan science comic berbasis problem based learning sebagai media pembelajaran pada tema bunyi dan pendengaran untuk siswa smp”, hasil penilaian pakar terhadap science comic berbasis pbl memperoleh kriteria sangat layak dengan persentase penilaian pakar media sebesar 95,83%, pakar materi sebesar 95,37%, dan pakar bahasa sebesar 99,07%. hasil belajar siswa meningkat dengan kategori sedang dengan nilai n-gain sebesar 0,62. selain itu, kemampuan berpikir siswa juga mengalami peningkatan yang signifikan berdasarkan t-test dengan nilai thitung>ttabel(22,4>1,68). seperti dalam penelitian seto (2009) dengan judul “pengembangan kemampuan menuliskan kembali dongeng dengan menggunakan media komik pada siswa kelas vii d smp negeri 4 semarang”, berdasarkan teknik kualitatif, menunjukkan bahwa sebagian vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 143 besar siswa senang dan tertarik dengan pembelajaran menggunakan media komik. selain itu, media tersebut membantu kesulitan siswa dalam menuliskan kembali dongeng. penggunaan komik sebagai media pembelajaran juga menunjukkan hasil yang baik, hal ini dibuktikan dengan penelitian dari hidayati (2014) dengan hasil peningkatan indikator motivasi belajar siswa yang meliputi meringkas siklus pertama 74,51% menjadi 88,24%, kemampuan mendengarkan dari 72,54% menjadi 90,20%, kemampuan berbicara dari 64,71% menjadi 80,39%, dan kemampuan memberi pendapat dari 49,02% menjadi 80,39%. berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, masih minimnya pengembangan komik terutama media komik terkait pembelajaran dongeng. maka dari itu penelitian pengembangan media komik dalam pembelajaran dongeng penting dilakukan. tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) melakukan analisis kebutuhan pengembangan media komik (2) melakukan validasi media komik yang dikembangkan, serta (3) menguji keefektifan media komik yang dikembangkan. metode penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau research and development (sugiyono, 2016:297). metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu sesuai dengan pemasalahan atau kebutuhan yang ada. model pengembangan menjadi dasar untuk melakukan penelitian pengembangan yang ada untuk menghasilkan produk. pengembangan dilakukan berdasarkan hasil analisis kebutuhan di lapangan. penelitian dan pengembangan yang dilakukan untuk menghasilkan produk berupa komik sebagai media pembaelajaran materi menguraikan pesan dalam dongeng. langkah penelitian dan pengembangan model pengembangan addie (analysis, design, develop, implement, evaluate)(peterson, 2003; branch, 2009). pada tahap analisis, peneliti melakukan analisis kebutuhan yang bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang harus dikembangkan dalam menyusun media sesuai dengan kebutuhan siswa. selanjutnya membuat desain yang terdapat pada media untuk merumuskan model, tujuan, dan kegiatan yang terdapat pada media. desain media yang telah dibuat ditunjukkan kepada dosen pembimbing untuk memperoleh saran terkait media yang akan dikembangkan. hasil saran dosen pembimbing kemudian dievaluasi untuk membuat rancangan awal berupa media draf 1, kemudian akan dilakukan validasi kepada para ahli yaitu ahli materi bahasa indonesia dan guru sekolah dasar untuk memperoleh saran terhadap media yang telah dikembangkan. selanjutnya hasil validasi dievaluasi dan direvisi hingga menghasilkan media draf 2, kemudian di uji coba pada kelompok kecil. dari hasil implementasi kelompok kecil dievaluasi dan direvisi hingga menghasilkan draf 3 dan diuji coba pada kelompok besar. hasil dari revisi menghasilkan produk akhir berupa media draf 4. hasil akhir produk berupa media komik dapat dipergunakan untuk membantu proses pembelajaran di sekolah dasar. penelitian dilakukan di sdn sukorame 2 yang beralamat di jalan himalaya no. 2 sukorame, kec. mojoroto, kota kediri. pemilihan lokasi tersebut dikarenakan proses pembelajaran di sdn sukorame 2 masih menggunakan metode ceramah, tidak ada media yang menumbuhkan motivasi siswa untuk memahami pembelajaran. subyek penelitian yang diambil peneliti adalah siswa kelas iii sdn sukorame 2 kota kediri. siswa dalam penelitian tersebut berjumlah 31 orang. subyek informasi peneliti diperoleh dari guru kelas iii kota kediri. jenis data yang digunakan ialah data kuantitatif yang digunakan untuk menentukan kelayakan produk komik yang dikembangkan menjadi komik totok kerot. data yang diperoleh dari penilaian skor angket ahli materi, ahli media ahli bahasa, tanggapan guru dan siswa, serta subyek uji coba kelompok kecil. instrumen yang digunakan meliputi: (1) instrumen validasi ahli materi, (2) instrumen validasi ahli media, (3) instrumen validasi ahli suwarti 1 , laila 2 & permana 3 – pengembangan media komik berbasis ... printed issn 2406-8012 144 bahasa, dan (4) instrumen angket tanggapan guru dan siswa. teknik pengumpulan data yang digunakan ialah observasi, wawancara, angket dan dokumentasi. observasi digunakan untuk mengamati dan mengambil data terkait potensi dan masalah, proses belajar mengajar, kearifan lokal yang ada yang berdekatan dengan subjek penelitian. wawancara digunakan peneliti untuk memperoleh data terkait (1) media yang digunakan guru, (2) ketertarikan siswa pada muatan bahasa indonesia materi dongeng, (3) kemampuan menguraikan pesan dalam dongeng. dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data jumlah siswa, daftar nama siswa, salah satu kearifan lokal kediri, dan data tentang materi muatan bahasa indonesia. angket digunakan untuk memperoleh data dari ahli media , materi, bahasa, tanggapan guru dan siswa. validasi instrumen dilakukan oleh ahli materi, media, dan bahasa. validasi ahli materi meliputi sepuluh indikator, yaitu (1) materi dalam komik mudah dipahami, (2) materi dalam komik jelas, (3) kesesuaian isi komik dengan tujuan pembelajaran, (4) kesesuaian komik dengan kompetensi dasar, (5) kesesuaian materi komik dengan kemampuan siswa sekolah dasar, (6) komik mampu mendukung pembelajaran menguraikan pesan dalam dongeng, (7) kesesuaian kejadian komik dengan umur siswa, (8) kesesuaian cerita komik dengan kearifan lokal kabupaten kediri, (9) kejelasan latar cerita dalam komik dan (10) kesesuaian cerita dalam komik menyampaikan pesan dengan rakyat kabupaten kediri. ahli media meliputi (1) ketepatan ukuran, (2) ketepatan penataan gambar, (3) kemenarikan gambar, (4) kesederhanaan media pembelajaran, (5) keterpaduan aspek visual, (6) kesesuaian gambar ilustrasi dengan tingkat umur siswa, dan (7) kejelasan alur cerita. sedangkan ahli bahasa meliputi (1) ketepatan penggunaan ejaan bahasa indonesia (ebi), (2) penggunaan kosa kata, dan (3) penggunaan kalimat. dalam penelitian ini, definisi operasional variabel memberikan gambaran bagaimana variabel digunakan dalam penelitian. adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah media komik, kearifan lokal kediri, dan menguraikan pesan dalam dongeng. untuk pendefinisian operasional variabelnya dapat dijelaskan sebagai berikut. komik merupakan cerita bergambar yang menggunakan gambar tidak bergerak yang disusun sehingga membentuk alur cerita. komik dicetak dalam bentuk buku yang disesuaikan dengan karakter siswa kelas iii agar mudah digunakan. melalui komik dapat membantu siswa memahami pesan yang disampaikan dalam dongeng melalui gambargambar dan alur cerita yang runtut. kearifan lokal kediri merupakan identitas atau kearifsan lokal yang berasal dari daerah kediri. kearifan lokal ada di dalam cerita rakyat, peribahasa, lagu, dan permainan. kearifan lokal kediri yang diambil berupa dongeng totok kerot yang berasal dari daerah kecamatan pagu, kabupaten kediri. pesan dalam dongeng merupakan pesan moral yang dapat diambil dari dongeng. pesan dalam dongeng mengandung nasehat untuk mengajak pembaca mengambil hikmah dari dongeng yang disampaikan. dengan menggunakan dongeng totok kerot, siswa dapat mengambil pesan dalam dongeng yang berbasis kearifan lokal. teknis analisis data yang digunakan deskriptif kuantitatif. data yang diperoleh dari penskoran angket dikonversi untuk dianalisis. media komik totok kerot layak digunakan, jika hasil penilaian akhir dari validator, guru, dan siswa minimal mendapatkan kriteria “baik”. hasil dan pembahasan analisis kebutuhan di lapangan oleh guru dan siswa menghasilkan data mentah berupa skor maksimal dan skor minimal berdasarkan jumlah item dan rentang pilihan gradasi yang telah disediakan dalam angket. hasil data mentah yang diperoleh akan dikonversi ke dalam skala 100, kemudian dideskripsikan sesuai dengan variabel masing-masing. peneliti menggunakan skala guttman dengan skor penilaian 1 dan 0 (sugiyono, 2014:139). vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 145 urgensi penggunaan media komik bagi siswa tabel 1. need assesment pengembangan media komik responden siswa no. urgensi kebutuhan jumlah persentase 1. saya lebih mudah memahami pelajaran setelah guru menggunakan media pembelajaran 27 87 % 2. saya merasa bosan jika kegiatan belajar mengajar tidak menggunakan media pembelajaran 31 100% 3. saya lebih bersemangat mengikuti pelajaran saat guru menggunakan media pembelajaran 26 84% 4. saya tidak merasakan manfaat media pembelajaran 7 22,58% 5. saya lebih rajin belajar karena media pembelajaran membuat saya menyukai pelajaran 28 90% jumlah diadaptasi dari hasil angket need assesment siswa. berdasarkan data pada tabel 1, penggunaan media komik dari 31 siswa yang mengisi angket terdapat 26 siswa (84%) lebih bersemangat mengikuti pelajaran saat guru menggunakan media komik dalam pembelajaran, sedangkan sisanya menjawab biasa saja. setiap siswa memiliki gaya belajar yang beragam, memperhatikan karakteristik siswa kelas iii sekolah dasar yang tergolong tingkat rendah, memiliki ciri kecenderungan belajar melalui hal-hal yang konkret, yaitu dapat dilihat, didengar, dicium, diraba dan dirasa. pada aspek peningkatan pemahaman pembelajaran setelah menggunakan media terdapat 87% atau 27 anak yang berpendapat bahwa siswa ada peningkatan semangat belajar dan 100% atau 31 siswa yang merasa bosan apabila pembelajaran tidak menggunakan media sama sekali. untuk itu diperlukan media pembelajaran agar siswa tidak merasa bosan saat pembelajaran berlangsung. hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media komik dapat berfungsi dengan maksimal. hasil angket yang diberikan kepada guru sekolah dasar terkait urgensi pengembangan media komik dapat dilihat pada tabel 2 berikut. suwarti 1 , laila 2 & permana 3 – pengembangan media komik berbasis ... printed issn 2406-8012 146 tabel 2. need assesment pengembangan media komik bagi guru. no. urgensi kebutuhan jumlah persentase 1. saya menggunakan media komik 4 20 % 2. saya pernah membuat sendiri media komik dan mengalami banyak kendala 3 15 % 3. sumber belajar yang sangat dibutuhkan untuk segera dikembangkan adalah media komik 20 100% 4. pada materi menguraikan pesan dalam dongeng membutuhkan visualisasi objek 20 100% 5. materi dongeng lebih baik disajikan dengan gambar daripada disajikan melalui teks cerita 20 100% 6. pada materi yang bersifat abstrak siswa membutuhkan visualisai objek agar memudahkan dalam pemahaman 20 100% 7. siswa lebih tertarik menggunakan media saat pembelajaran dilaksanakan 18 90% diadaptasi dari hasil angket need assesment guru. berdasarkan tabel 2, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan media pembelajaran komik masih belum maksimal. hanya terdapat 20% guru yang pernah menggunakan media tersebut. dengan demikian, pengembangan media komik sangat dibutuhkan sebagai media pembelajaran pada materi menguraikan pesan dalam dongeng. kevalidan media komik yang dibuat, ditentukan oleh hasil dari skala diberikan validator ahli materi, ahli media dan ahli bahasa. hasil perolehan data kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dengan menghitung presentase menggunakan rumus dalam riduwan (2018). pemberian makna dan pengambilan keputusan menggunakan pedoman yang disajikan pada tabel 3 sebagai berikut. tabel 3. pengambilan keputusan kualifikasi validasi produk media komik. no. pencapaian nilai (skor) kategori validitas keterangan 1. 0% 20% tidak valid tidak boleh digunakan 2. 21% 40% kurang valid tidak boleh digunakan 3. 41% 60% cukup valid boleh digunakan setelah revisi besar 4. 61% 80% valid boleh digunakan dengan revisi kecil 5. 81% 100% sangat valid sangat baik untuk digunakan sumber: (riduwan, 2018: 40) penilaian dilakukan oleh ahli materi, ahli media dan ahli bahasa dengan memberikan skor satu sampai dengan lima yang mempresentasikan tanggapan, yaitu skor satu (1) artinya sangat kurang, skor dua (2) artinya kurang, skor tiga (3) artinya cukup, skor empat (4) artinya baik, dan skor lima (5) artinya sangat baik. penilaian diberikan oleh lima validator ahli. penilaian desain materi dilakukan oleh ahli materi terhadap sepuluh komponen indicator penilaian dengan hasil angket validasi disajikan pada tabel 4. vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 147 tabel 4. penilaian ahli materi no. indikator skor 1 2 3 4 5 a b a b a b a b a b 1. materi dalam komik mudah dipahami √ √ 2. materi dalam komik jelas √ √ 3. isi komik sesuai dengan tujuan pembelajaran √ √ 4. komik sesuai dengan kompetensi dasar √ √ 5. materi dalam komik sesuai dengan kemampuan siswa sekolah dasar √ √ 6. komik mampu mendukung pembelajaran menguraikan pesan dalam dongeng √ √ 7. kejadian dalam cerita komik sesuai dengan tingkat umur siswa √ √ 8. cerita dalam komik sesuai dengan kearifan lokal kabupaten kediri √ √ 9. latar cerita dalam komik jelas √ √ 10. cerita dalam komik menyampaikan pesan yang sesuai dengan rakyat kabupaten kediri √ √ validator a b jumlah skor 44 45 skor maksimal 50 50 rata-rata 88% 90% ∑rata-rata 89% diadaptasi dari hasil angket validasi materi. berdasarkan tabel 4. menunjukkan kualitas media komik totok kerot menurut dua ahli materi dengan rataan skor 89% dengan kualifikasi sangat valid. kemudian dilanjutkan dengan penilaian ahli media. penilaian media dilakukan oleh ahli media terhadap dua puluh indikator dengan hasil angket dari dua ahli media disajikan pada tabel 5. suwarti 1 , laila 2 & permana 3 – pengembangan media komik berbasis ... printed issn 2406-8012 148 tabel 5. penilaian ahli media no. indikator skor 1 2 3 4 5 a b a b a b a b a b 1. pemilihan ukuran komik totok kerot tepat √ √ 2. ukuran gambar proporsional dengan ukuran komik √ √ 3. pemilihan ukuran huruf tepat √ √ 4. penataan gambar tidak bertentangan dengan gerakan mata √ √ 5. penataan gambar memudahkan pembaca untuk memahami isi komik √ √ 6. ketepatan penempatan balon percakapan √ √ 7. ilustrasi gambar menarik untuk siswa sd √ √ 8. karakter tokoh menarik untuk siswa sd √ √ 9. gambar memiliki warna yang menarik bagi siswa sd √ √ 10. ketepatan tata letak (layout) komik √ √ 11. tidak ada hiasan-hiasan yang membingungkan siswa √ √ 12. tidak terlalu banyak teks didalam gambar √ √ 13. kata-kata menggunakan huruf yang sederhana √ √ 14. gaya huruf mudah terbaca √ √ 15. huruf tidak beragam dalam satu tampilan √ √ 16. keterpaduan aspek visual garis, bentuk, tekstur, warna dan ruang secara menyeluruh √ √ 17. ilustrasi gambar mudah dipahami oleh siswa √ √ 18. karakter dalam komik sesuai dengan siswa sd √ √ 19. watak yang dimiliki oleh karakter dalam komik sesuai dengan siswa sd √ √ 20. alur cerita komik disampaikan secara jelas √ √ validator a b jumlah skor 80 84 skor maksimal 100 100 rata-rata 80% 84% ∑rata-rata 82% diadaptasi dari hasil angket validasi media. berdasarkan tabel 5. diketahui bahwa validasi dilakukan oleh dua ahli, hasil validasi media dari ahli pertama yaitu sebesar 80% sedangkan hasil dari ahli kedua sebesar 84%. berdasarkan hasil validasi dari kedua ahli media diperoleh rata-rata yaitu 82% dengan kualifikasi sangat valid sehingga media sangat baik untuk digunakan. penilaian produk komik oleh ahli bahasa meliputi tiga komponen yaitu (1) penggunaan ejaan bahasa indonesia, (2) penggunaan kata, dan (3) penggunaan kalimat dalam komik yang tersaji dalam sembilan indikator. vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 149 tabel 6. penilaian ahli bahasa no. indikator skor 1 2 3 4 5 1. ketepatan penggunaan huruf √ 2. ketepatan penggunaan tanda baca √ 3. ketepatan penulisan kata √ 4. kosa kata yang digunakan jelas √ 5. kosa kata yang digunakan tepat √ 6. kosa kata yang digunakan sesuai dengan usia siswa √ 7. kalimat yang digunakan jelas √ 8. kalimat yang digunakan efektif √ 9. kalimat yang digunakan berstruktur √ total skor 38 skor maksimal 45 presentase skor 84,44% diadaptasi dari hasil angket validasi bahasa. tabel 6 menunjukkan kualitas media komik totok kerot menurut ahli bahasa dinyatakan layak diimplementasikan di lapangan dengan rataan skor 84,44% dengan kualifikasi baik sekali. uji coba skala kecil dilakukan pada satu orang siswa yang memiliki kompetensi paling rendah menggunakan angket respon siswa dengan skala likert. hasil uji coba dari 10 butir instrumen adalah 37 atau dengan presentase 74%. dengan demikian media komik totok kerot dapat dinyatakan layak dan dapat digunakan dalam uji coba lapangan skala besar. tahap akhir dari pengembangan media komik totok kerot yaitu uji coba skala besar untuk mengetahui kelayakan media komik. uji coba skala besar diterapkan terhadap 31 siswa (responden) guna menilai media komik totok kerot dari keseluruhan aspek dengan persentase 84%. dengan demikian, dapat diinterpretasikan media komik totok kerot berbasis kearifan lokal pada materi menguraikan pesan dalam dongeng termasuk pada kategori layak dan dapat digunakan sebagai media pembelajaran di sdn sukorame 2. berikut hasil angket respon guru pada uji coba luas menggunakan skala guttman. tabel 7. hasil angket respon guru no. indikator jumlah 1. materi yang terdapat dalam media sesuai dengan kd dan indikator 10 2. isi materi dalam media sudah sesuai 9 3. media komik mempermudah guru dalam menyampaikan materi 9 4. media komik mampu menghilangkan rasa bosan siswa 10 5. media komik mengaktifkan siswa dalam pembelajaran 9 6. bahasa yang digunakan dalam media mudah dimengerti 9 7. gambar dan keterangan dalam media jelas dan mudah dipahami 8 8. ilustrasi gambar menarik untuk siswa sd 9 9. media mampu meningkatkan kemampuan menguraikan pesan dalam dongeng 9 10. dongeng dalam media komik berbasis kearifan lokal kediri 10 jumlah skor 92 skor maksimal 100 persentase skor 92% diadaptasi dari hasil angket respon guru. suwarti 1 , laila 2 & permana 3 – pengembangan media komik berbasis ... printed issn 2406-8012 150 berdasarkan tabel 7, hasil angket respon guru menunjukkan hasil persentase skor sebesar 92% yang dilakukan kepada sepuluh guru. keefektifan media komik dapat diketahui melalui angket respon guru dan siswa. melalui uji coba yang telah dilakukan, angket respon guru mendapatkan persentase sebesar 92% dan respon siswa sebesar 93,75%. selain angket, diperoleh rata-rata nilai sebelum menggunakan menggunakan media sebesar 68 dan setelah menggunakan media komik sebesar 84. perolehan tersebut menyatakan bahwa media komik totok kerot efektif dan layak digunakan dalam pembelajaran. keefektifan media komik dalam pembelajaran dapat dilihat melalui peningkatan hasil belajar siswa sebagai wujud suasana pembelajaran yang kondusif. hal ini menunjukkan bahwa media komik sangat valid, sangat efektif dan dapat digunakan tanpa perbaikan. berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa media komik totok kerot berbasis kearifan lokal pada materi menguraikan pesan dalam dongeng layak digunakan dalam proses pembelajaran dan dapat diproduksi sebagai media pembelajaran untuk siswa kelas iii sdn sukorame 2. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan disimpulkan bahwa hasil tanggapan siswa dan guru sangat membutuhkan pengembangan media komik sebagai sarana media pembelajaran. penggunaan media komik totok kerot yang disajikan berbasis kearifan lokal layak digunakan pada materi menguraikan pesan dalam dongeng siswa kelas iii sekolah dasar. media komik totok kerot layak digunakan dalam pembelajaran dengan penilaian dari validator materi rata-rata skor 89% (sangat valid), ahli media 82% (sangat valid), dan ahli bahasa 84,44% (sangat valid). keefektifan media komik totok kerot dapat dilihat dari perbandingan nilai sebelum menggunakan media komik dan sesudah menggunakan media komik. melalui uji coba yang dilakukan diperoleh nilai sebelum menggunakan media sebesar 68 dan sesudah menggunakan media 84. melalui angket diperoleh respon guru sebesar 92% dan respon siswa sebesar 93,75%. berdasarkan persentase yang diperoleh, maka media komik totok kerot dinyatakan dibutuhkan oleh guru dan siswa, sangat valid, dan sangat efektif. dalam rangka pemanfaatan secara luas, produk pengembangan dapat disosialisasikan kepada pendidik dan sekolah lain. daftar pustaka akbar, s. (2013). instrumen perangkat pembelajaran. bandung: pt remaja rosda karya. budiarti, w. n., & haryanto, h. (2016). pengembangan media komik untuk meningkatkan motivasi belajar dan keterampilan membaca pemahaman siswa kelas iv. jurnal prima edukasia, 4(2), 233–242. https://doi.org/10.21831/jpe.v4i2.6295 branch, r. m. (2009). instructional design-the addie approach. new york: springer. fatimah, a. w. (2014). pengembangan science comic berbasis problem based learning sebagai media pembelajaran pada tema bunyi dan pendengaran untuk siswa smp. jurnal pendidikan ipa indonesia, 2(2), 203–208. haryanto, j. t. (2013). kontribusi ungkapan tradisional dalam membangun kerukunan beragama. jurnal walisongo, 21(2), 368. hidayati, y. m. (2014). penerapan strategi cooperative script dengan media komik untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas v pada mata pelajaran bahasa indonesia. jurnal profesi pendidikan dasar, 1(1), 42–43. istiawati, f. n. (2016). pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kearifan lokal adat ammatoa dalam menumbuhkan karakter konservasi. cendekia, 10(1), 5. kosasih, e. (2013). ketatabahasaan dan kesusastraan. bandung: yrama widya. nurgiyantoro, b. (2007). teori pengkajian fiksi. yogyakarta: gadjah mada. nurgiyantoro, b. (2013). teori pengkajian fiksi. yogyakarta: gadjah mada university press. peterson, c. (2003). bringing addie to life : instuctional design at its best. journal of educational multimedia and hypermedia , 2(3), 227-241. vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 151 ratna, n. k. (2011). antropologi sastra: peranan unsur-unsur kebudayaan dalam proses kreatif. yogyakarta: pustaka belajar. riduwan. (2018). dasar-dasar statistika (15th ed.). bandung: alfabeta. seto, k. k. (2009). peningkatan kemampuan menuliskan kembali dongeng dengan menggunakan media komik pada siswa kelas vii d smp negeri 4 semarang.skripsi, tidak dipublikasikan. universitas negeri semarang. sudjana & rivai. (2011). media pengajaran. bandung: sinar baru algesindo. sugiyono. (2014). metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta. sugiyono. (2016). metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta. trimo. (1997). media pendidikan. jakarta: depdikbud. uu ri no 24 th 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan (law no. 24 of 2009 on the national flag, language, emblem and anthem), pub. l. no. 24, 109 (2009). http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/uu_2009_2 4.pdf voulte, m. j. (2014). comic books and other hooks 21st century education. bloomington: author house. wahyudi, a. (2014). implementasi sekolah berbasis kearifan lokal di sd negeri sendangsari pajangan. yogyakarta: uny. wibowo, a. (2015). pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di sekolah. yogyakarta: pustaka belajar. profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 35 interactive pictorial story as learning media for third grade students nurul inayah1* , andarini permata cahyaningtyas2 , & rida fironika kusumadewi 3 1,2,3universitas islam sultan agung, semarang, indonesia *email: nurulinayah1609@gmail.com submitted: 2020-10-12 doi: 10.23917/ppd.v8i1.12299 accepted: 2021-07-13 published: 2021-00-00 keywords: abstract learning media interactive picture stories thematic learning this study aims to develop an interactive pictorial story as a learning media on theme 2 loving plants and animals and to determine its feasibility, practicality, and effectiveness. this study uses the addie model (analysis, design, development, implementation, and evaluation). in this study, the results obtained include: (1) the feasibility of the media obtained from the validation results by 5 validators obtained an average of 0.83 for content quality indicators and objectives, instructional quality indicators obtained an average of 0.84 and technical quality indicators obtained an average of 0.83. the average number of all indicators is 0.83 with the category "very valid". (2) the practicality of the media obtained a percentage of 98% in the "very feasible" category of teacher responses and 96% in the "very feasible" category of student responses. (3) the effectiveness is calculated by using the gain test of 0.56 indicating an increase in student learning outcomes in the "medium" category. the result of this research can be a reference to understand that an interactive pictorial story will be a big help for teachers in conducting an interesting teaching and learning process, especially during this pandemic. the pictorial story was created in an interactive format, so students can learn the material in a fun and interesting way. besides, in this outbreak, students need to have a technology-based learning resource other than their school books so they can study independently. introduction background learning media is a tool used to assist in delivering the lesson material and a way to improve the quality of learning. "learning media is used to streamline communication and interaction between teachers and students in the learning process at school" (kusumadewi, 2017, p. 192). that is why a good learning process must always use suitable learning media. therefore, various kinds of learning media can be used as a tool in delivering and facilitating http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:nurulinayah1609@gmail.com http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v8i1.12299 inayah et al – interactive pictorial story ... printed issn 2406-8012 36 students in receiving lesson materials. by using learning media, the effectiveness and activeness of students in learning can be improved, and it can create more varied learning activities. the use of learning media that is selected to be used as a tool in delivering lesson materials must be suitable and appropriate, so the learning concepts can be more easily understood and last longer in students' memories. in addition, the use of learning media must attract students to be more enthusiastic. teachers must also create a situation that involves students taking an active role. besides, the results of students' learning experiences will be more embedded and meaningful because students have built their knowledge from their experiences using appropriate learning media. based on the research, it can be seen that in thematic learning, the use of media has not been maximized so teachers need communication tools in the form of interactive multimedia that are interesting and motivates the students (hernaningtyas et al., 2014, p. 3). elementary students who still have a concrete mindset, especially those who are still in the lower class, are considered suitable for using this interactive multimedia. interactive multimedia can be utilized to help the teachers in delivering learning materials and increase students’ interest. other research shows that teachers have not utilized learning media, especially multimedia in learning activities (diputra, 2016; pangestika, 2018). the teacher's role in delivering material requires specific learning media, especially those involving computer devices, which can display screens, videos, images, and sound at once so it can accommodate the delivery of learning materials according to the theme. problem of study the lack of use of media in the process of delivering learning materials in elementary schools causes some difficulties for students to understand the material and makes students less enthusiastic in participating in monotonous learning. this is what happened in the third grade of sdn 01 kecapi where the learning process still rarely involves learning media, especially in multimedia format. teachers teach only by using student books, teacher books, and worksheets. students pay attention to the teacher's explanation then there will be assignments they should conduct individually or in a small group. this causes a reversed condition where the teachers are more active than the students, whereas k13 demands students to be more active in learning. the third-grade teacher emphasized that the use of media was rarely utilized because of the limitation of the school facility. the use of learning media, especially multimedia, has a very important role in the delivery of learning materials. students are rarely able to concentrate and pay attention to the teacher's explanation fully, so the learning process will not be optimal. teachers need suitable learning media, especially interactive ones to help and make it easier to deliver learning materials. interactive multimedia is also appropriate for elementary school students because it can increase student interest in learning so the learning process will be more meaningful. interactive multimedia can contain real information, can be heard, seen, and operated, so it is very effective to assist in delivering learning materials. teachers must be able to follow technological developments involved in the educational field (al fatah et al., 2019, p. 20) considering its rapid progress. one of the learning media that is interesting for students is digital pictorial stories. a pictorial story is a unified story accompanied by interesting pictures following the content of the narration that serves as an explanation, decoration, and support for the storyline to facilitate the process of understanding the content (kusumaningtyas & listianingsih, 2017, p. 74). with this, students will not be bored because they will be able to imagine through the pictures while reading the story. this vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 37 pictorial story can be a suitable medium to deliver any lesson and applied in all classes because the stories can be developed based on the lesson materials of a certain grade. moreover, pictorial stories will be more useful for students if they are developed into interactive multimedia. interactive multimedia is a combination of various media such as text, images, audio, video, and animation that are interactive and useful in delivering information (nopriyanti & sudira, 2015, p. 224). with the use of interactive picture stories, especially if it is completed with a quiz to test the students’ comprehension, they will find it easier to learn in a fun way. state of the art several studies regarding the development of the pictorial story as a learning medium have been carried out quite a lot. based on that, there is a fact that pictorial stories are proven to be able to increase student's interest and reading skills, so they can help teachers in the process of delivering learning materials properly, and then learning objectives can be achieved successfully (kurniawati & koeswanti, 2020; tarigan, 2018). there is research about the development of pictorial stories, which the fires one was conducted by agnes andriyani in 2017 from universitas sanata dharma yogyakarta who developed environmental education-based pictorial stories for grade iii sd kanisius wirobrajan 1 through validation conducted by one expert, one grade iii elementary school teacher, and third graders students (andriyani, 2017). second, it was conducted by erlita nugrahaningtyas in 2018 from the same university who created a pictorial storybook as a medium for learning healthy lifestyles for first graders. the research was validated by one expert lecturer as well as a class teacher (nugrahaningtyas, 2018). in addition, another study was also conducted by sri rahmawati in 2018 from raden intan state islamic university, lampung, who also developed a pictorial storybook based on a whole language approach to learn folklore for fifth grade sd/mi (rahmawati, 2018). of those three studies, they are related to this research because all of it is research about developing pictorial stories. however, there are some differences, such as this study focused more on interactive picture stories in learning theme 2 “love plants and animals” for grade iii elementary school. this research has been adapted to what students need to help and facilitate students' learning so that they can improve their abilities and understanding in learning and this can be utilized to help students in teaching during the pandemic. gap study & objective reviewing several previous studies that have been carried out, the novelty of the pictorial story as a learning medium in this study is the combination of the stories with interactive multimedia so it will take advantage of technological developments in education. before, pictorial stories are usually printed as a book, but now, with the help of technology, picture stories are developed into digital forms. this interactive pictorial story contains a theme with four different picture stories which represent the four sub-themes. one of the themes that can be conveyed using an interactive pictorial story is theme 2 in the third grade: loving plants and animals. in that theme, students will learn about how to love plans and animals by linking the stories with their real experiences. therefore, the purpose of this study was to determine the feasibility of interactive pictorial stories as a learning media in learning theme 2: love plants and animals, and also to find out the practicality and the effectiveness of the media for third-grade elementary school students. inayah et al – interactive pictorial story ... printed issn 2406-8012 38 method type and design this study used is a research and development (r&d) method. in the field of education, r&d is a research method used to develop or validate certain products utilized in the learning and education process (hanafi, 2017, p. 130). the model was addie. according to branch (cahyono, 2017, p. 4), addie stands for analysis, design, development, implementation, and evaluation. the analysis is the initial stage that includes needs analysis, student analysis, and material analysis to adapt the media to the needs, the characteristics of the students, and the learning materials. the second is the design which contains the preparation of materials, the selection of the formats, and the initial design of the media. next, development is the step to produce media. at this stage, the media that has been determined is created, then the validation process is carried out to assess the feasibility aspect of the media and revise the media if there is still any part of it that does not meet the criteria. furthermore, in the implementation stage, there are two processes: conducting pre-test and media testing. finally, the last phase is evaluation. at this stage, teachers and students fill a questionnaire out and a post-test is carried out by the students to obtain data conclusions regarding the practicality and effectiveness of the media. data collection the research was conducted at sdn 1 kecapi in the first semester of the 2020/2021 academic year. the subjects of this study were the teachers and 15 students of the third grade. the data collection techniques used were questionnaires and tests. the questionnaire was used by the validators to validate the research instruments, and by teachers to determine the feasibility of the media, as well as the response to the media. the tests were used as pre-test and post-test were conducted to find out the effectiveness of the media on students' comprehension. result and discussion the results of the research on the development of this media are divided into five points, according to the five stages of addie: analysis, design, development, implementation, and evaluation. analysis the analysis is the stage used to analyze the needs in the development of the interactive pictorial story as a learning medium. a. need analysis through interviews conducted with the third-grade teachers related to the lack of the use of learning media in delivering learning materials to the students, it can be concluded that the teachers need an interesting and innovative learning media to facilitate the students to comprehend the materials. so, it is necessary to develop an interactive pictorial story as a learning medium to help the students, especially on comprehending the theme 2 loving plants and animals. b. student analysis student analysis was conducted by interviewing the teachers at sdn 1 kecapi because the students must have different characteristics in understanding vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 39 the learning material. they tend to be more interested and excited if they learn through visual things such as when the teacher displays pictures or videos. c. material analysis the material that will be used in the development of interactive picture story learning media is on the theme 2 loving plants and animals for grade iii elementary students. this theme teaches students how to be careful, live peacefully side by side with other beings. this is a perfect example of lessons that can be taught by using a pictorial story. design based on the analysis process, it is necessary to develop an interactive pictorial story as a learning medium. so, the next stage is to make a design of the product. this design stage contains several things: a. material development the material that will be used in developing an interactive pictorial story is adjusted to the core competencies (ki) and basic competencies (kd) in theme 2 which is focused on the content of learning indonesian, mathematics, and civics. the material is put together and delivered in a pictorial story. the materials focused on: table 1. the content of theme 2: loving plants and animals competencies the content civics experience in expressing gratitude the importance and the kinds of good attitude indonesian how to take care of plants how to take care of animals mathematics commutative in addition commutative in multiplication fractions b. choosing the format the selection of the format of the interactive pictorial story is tailored to the needs of teachers and students, attractively designed, and expected to be easy to use. the details of the format in the interactive pictorial story include: 1) in delivering the material, it will include the combination of pictures and text; 2) the test will be multiple choices with four options (a, b, c, d); 3) the media will be accessed offline (without needing an internet connection); 4) the media presentation format is in the form of an application; 5) the font used is baar metanoia. inayah et al – interactive pictorial story ... printed issn 2406-8012 40 c. initial design the interactive pictorial story is designed according to a predetermined format and created using adobe flash cs6 application. the stories and pictures were developed based on the materials of theme 2: loving plants and animals. the media is presented in the form of applications, so it can be a manifestation of utilizing technology in education. development this development stage produces a draft as a result of the design, and then tested and validated it to the specified validator. at this phase of development, the media will be validated to determine the feasibility and revised the product as validators advised. a. creating the media creating the media was conducted following a predetermined format. the parts of the interactive pictorial story are (1) front cover display, (2) main menu display, (3) instruction display, (4) ki and kd display, (5) developer profile display, (6) pictorial story menu display, (7) the first sub-theme-based pictorial story display, (8) the second sub-theme-based pictorial story display, (9) the third sub-theme-pictorial story display, (10) the fourth sub-theme-pictorial story display, (11) evaluation display. figure 1. front cover display figure 2. main menu display figure 3. instruction display vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 41 figure 4. pictorial story menu display figure 5. the first sub-theme-based pictorial story display figure 6. the second sub-theme-based pictorial story display figure 7. the third sub-theme-based pictorial story display figure 8. the fourth sub-theme-based pictorial story display inayah et al – interactive pictorial story ... printed issn 2406-8012 42 figure 9. evaluation display b. expert judgement the interactive pictorial story that has been completed is then validated by 5 validators. in the validation test, there were 14 statements from 3 assessment criteria: the quality of content and objectives, instructional quality, and technical quality. the results of the validation test obtained from five validators were calculated using the aiken's v formula with details of each indicator: table 2. the recapitulation of the validation result the minimum feasibility for the media is <0.41. the average number of all indicators is 0.83 with the category "very valid" which means that the interactive pictorial story is feasible with the revisions suggested by the validators. c. revision the results of the validation process by five validators also contain suggestions to revise the media to make it more suitable as a learning media. the advice includes (1) increasing the font size and adjusting the font, (2) using effective sentences and adjusting the ebi (ejaan bahasa indonesia), (3) adding a new page to the developer profile menu for the drafting team that includes supervisors 1 and 2, validators, as well as illustrators. indicators subindicators validation result the average of each indicator the average of all the quality of content and objectives 1 0,9 0,83 0,83 2 0,9 3 0,8 4 0,75 5 0,8 the instructional quality 6 0,8 0,84 7 0,95 8 0,75 9 0,85 the technical quality 10 0,75 0,83 11 0,9 12 0,85 13 0,8 14 0,85 vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 43 implementation the implementation was carried out in the third grade of sdn 1 kecapi with a total of 15 students. this stage is carried out according to a predetermined schedule. the schedule for the application of interactive picture story learning media is described as follows: table 3. the schedule to implementing the media day, date activity tuesday, 11 august 2020 pretest & first treatment wednesday, 12 august 2020 second treatment thursday, 13 august 2020 third treatment friday, 14 august 2020 posttest a. pretest the pretest was conducted to determine the initial of students' comprehension so the researcher could find out changes before and after treatment by using an interactive pictorial story as a learning media. b. treatments the treatments using interactive pictorial story was carried out three times in a row. the treatment was carried out for 15 students with a time of 3 x 35 minutes. from the treatments, the researcher obtained opinions from the students that the media is very interesting, makes them more enthusiastic, and is easy to understand because there are several stories accompanied by good pictures, designs, and music background. evaluation at this stage, a posttest and responses from students and teachers were carried out, and here is the result: a. teachers’ response teachers' response is an evaluation process carried out by the third-grade teachers through an assessment on the response questionnaire sheet. the questionnaire contained 10 statements based on 3 criteria including the quality of content and objectives, instructional quality, and technical quality. it was obtained that the quality of content and objectives, instructional quality, and technical quality got 95%, 100%, and 100% respectively that all were categorized in the "very practical" category. the results obtained from filling out the teacher response questionnaire as a whole obtained a score of 49 out of 50 maximum scores with the percentage formula as follows: 𝑃 = 49 50 𝑥 100% = 98% from the results, the percentage showed that the media is practical to be used in learning. inayah et al – interactive pictorial story ... printed issn 2406-8012 44 b. students’ response students’ response is an evaluation process carried out by students by filling out the questionnaires after completion of the treatment. there were 10 statements from three criteria including the quality of content and objectives, instructional quality, and technical quality that students must answer. the results obtained from the student response questionnaire as a whole obtained a total score of 144 out of 150 maximum scores. 𝑃 = 144 150 𝑥 100% = 96% it showed that with 96% results, the media is practical to use. it was also obtained that the quality of content and objectives, instructional quality, and technical quality got 93%, 95%, and 100% respectively that all were categorized in the "very practical" category. the results of the practicality test can be seen in figure 10. figure 10. the graph of practicality test based on those results, the teachers' and the students’ responses showed that this media is practical to use in learning. there was also no advice from the teachers and students to revise the media, but there was a comment from the teachers that the media was good and needed to be developed on other themes. c. post-test the post-test was conducted to determine whether there was a change in students' comprehension, before and after the treatment. based on the comparison of the results between the pretest and posttest, it was found that there was an increase in the outcomes and even some of them increased significantly. the effectiveness of the interactive pictorial story as a learning medium can be seen from the increase in students' comprehension of theme 2: loving plants and animals. the results of the pre-test obtained a total value of 93 and the post-test obtained a total score of 125. the effectiveness test was calculated by the normalized gain test formula (sundayana, 2015, p. 151): 95% 96% 97% 98% 99% students’ response teachers’ response the percentage of teachers and students' response students’ response teachers’ response vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 45 g = 125 − 93 150 − 93 = 0,56 based on the results above, it is found that the interactive pictorial story was effective in increasing students' comprehension on theme 2: loving plants and animals with the value of 0.56 which is categorized as "medium". there was a similar study (ariesta & kusumayati, 2018) in testing the effectiveness of comics media which obtained a gain value of 0.651 with "medium" criteria. the results of the pretest and posttest in this study can be seen in figure 11. figure 11. the graph of pretest and posttest result the graph above shows the result had increased by 32 points. even though it is included in the medium category, interactive pictorial story learning media can be said to be "effective" to increase student's comprehension on theme 2: loving plants and animals. the interactive pictorial story as a learning media created and developed in this study has a distinction that the media contains four pictorial stories with different titles which were developed based on the lesson materials of theme 2. this media can deliver messages to students in a different way because there is an interaction between students and the media. moreover, this media was designed with a unique graphic form and used bright colors that seem cheerful. in addition to pictures and stories, this media also has quizzes to determine students' comprehension and is accompanied by a music background so it becomes more interesting and fun. the users also do not need the internet to be able to operate it. besides, it helps children through a fun activity to be able to interact with various characters in the story which can provide a more real and enjoyable experience, and make the learning process better (monica et al., 2013, p. 4). however, this media also has a limitation, which took a long time to complete, so the creator needs to spare more time. in addition, the media can only be downloaded and used via a laptop or computer so that if students use it, they must be accompanied by teachers or parents. it is necessary to develop it more to be able to be operated by using smartphones in the next study, so it can be more approachable for teachers and students. 0 50 100 150 pretest posttest the result of pretest and posttest the result of pretest and posttest inayah et al – interactive pictorial story ... printed issn 2406-8012 46 conclusion novelty and contribution the pictorial story was created in an interactive format, so students can learn the material in a fun and interesting way. furthermore, this interactive pictorial story has been adapted to what students need and it is created to help students to learn based on the theme. besides, in this outbreak, students need to have a technology-based learning resource other than their school books so they can study independently. limitation and future study this study has several limitations such as been conducted in the middle of covid-19 outbreak, so the research was only conducted on several third-grade students as the research subject. moreover, this study only discusses theme 2: love plants and animals for third graders. that is why it can be used as a reference for other researchers to develop the media based on the other themes. implication there are three suggestions concluded based on this research. first, the interactive pictorial story will be a big help for teachers in conducting an interesting teaching and learning process, especially during this pandemic. second, students need to be accompanied by their teachers or parents in using the interactive pictorial story because the media is only supported by a laptop/computer. finally, this interactive pictorial story can be used as reference material in other developmental studies. references al fatah, s. m., jupriyanto, & cahyaningtyas, a. p. (2019). analisis media pembelajaran multimedia interaktif terhadap motivasi belajar peserta didik di sekolah dasar. journal of chemical information and modeling, 7(9), 18–25. andriyani, a. (2017). pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendidikan lingkungan hidup untuk pembelajaran membaca siswa kelas iii b sd kanisius wirobrajan 1 (vol. 87). universitas sanata dharma yogyakarta. ariesta, f. w., & kusumayati, e. n. (2018). pengembangan media komik berbasis masalah untuk peningkatan hasil belajar ips siswa sekolah dasar. jurnal ilmiah pendidikan dasar, 3(1), 22–33. https://www.academia.edu/38922036/the_integration_of_technology_into_englis h_language_teaching_the_underlying_significance_of_lms_in_esl_teaching_des pite_the_ebb_and_flow_of_implementation?email_work_card=viewpaper%250ahttps://doi.org/10.1155/2016/3159805%25. cahyono, a. e. y. (2017). pengembangan perangkat pembelajaran problem-based learning berorientasi pada kemampuan berpikir kreatif dan inisiatif siswa. pythagoras: jurnal pendidikan matematika, 12 (1), 2017, 1-11, 12(1), 1–11. https://journal.uny.ac.id/index.php/pythagoras/article/view/14052/pdf. diputra, k. s. (2016). pengembangan multimedia pembelajaran tematik integratif untuk siswa kelas iv sekolah dasar. jpi (jurnal pendidikan indonesia), 5(2), 125–133. https://doi.org/10.23887/jpi-undiksha.v5i2.8475 hanafi. (2017). konsep penelitian r & d dalam bidang pendidikan. saintifika islamica: jurnal kajian keislaman, 4(2), 129–150. hernaningtyas, i. s., susetyarini, r. e., & widodo, r. (2014). pengembangan multimedia interaktif ceria (mic) pembelajaran tematik di sekolah dasar. jurnal pemikiran dan pengembangan sekolah dasar (jp2sd), 1(4), 256–266. https://doi.org/10.22219/jp2sd.vol1.no4.256-266. kurniawati, r. t., & koeswanti, h. d. (2020). pengembangan media buku cerita bergambar vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 47 untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas 1 sekolah dasar. didaktika tauhidi: jurnal pendidikan guru sekolah dasar, 7(1), 29. https://doi.org/10.30997/dt.v7i1.2634. kusumadewi, r. f. (2017). menumbuhkan kreativitas calon guru sekolah dasar berbantuan media permainan ular tangga rida fironika kusumadewi kegiatan belajar mengajar dikatakan kurang efektif apabila didalamnya tidak dibarengi dengan adanya kreativitas dari para pendidik . para pend. 1(2), 188–194. kusumaningtyas, n., & listianingsih, w. (2017). pengembangan media cergam untuk meningkatkan minat belajar matematika pada siswa sekolah dasar di daerah tertinggal. paradigma: jurnal filsafat, sains, teknologi, dan sosial budaya, 23(1), 73–79. https://doi.org/10.33503/paradigma.v23i1.372. monica, f., waluyanto, h. d., & zacky, a. (2013). perancangan buku cerita rakyat bergambar interaktif untuk menanamkan kejujuran pada anak usia 5-10 tahun. jurnal dkv adiwarna, 1(2), 5–10. http://publication.petra.ac.id/index.php/dkv/article/view/854. nopriyanti, n., & sudira, p. (2015). pengembangan multimedia pembelajaran interaktif kompetensi dasar pemasangan sistem penerangan dan wiring kelistrikan di smk. jurnal pendidikan vokasi, 5(2). https://doi.org/10.21831/jpv.v5i2.6416. nugrahaningtyas, e. (2018). pengembangan buku cerita bergambar sebagai media pembelajaran pola hidup sehat untuk anak kelas 1 sd [universitas sanata dharma yogyakarta]. in journal of materials processing technology (vol. 1, issue 1). pangestika, r. r. (2018). pengembangan multimedia interaktif adobe flash® pada pembelajaran tematik integratif berbasis scientific approach subtema keindahan alam negeriku. jurnal ilmu pendidikan dasar, 2(1), 93–106. rahmawati, s. (2018). pengembangan buku cerita bergambar berbasis pendekatan whole lenguage pada materi cerita rakyat untuk kelas v sd/mi. in skripsi. universitas islam negeri raden intan lampung. sundayana, r. (2015). statistika penelitian pendidikan. alfabeta. tarigan, n. t. (2018). pengembangan buku cerita bergambar untuk meningkatkan minat baca siswa kelas iv sekolah dasar. jurnal curere, 2(2), 2597–9515. efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 37 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 vol. 7, no. 1, juli 2020 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: doi.org/10.23917/ppd.v1i1.10736 efektivitas pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek literasi, dan pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan kemampuan koneksi matematis zaenal abidin pgsd fkip, universitas muhammadiyah surakarta za825@ums.ac.id pendahuluan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad 21 menuntut setiap individu untuk mampu berpikir secara kritis, sistematis, logis, kreatif, serta mampu melakukan interaksi sosial dengan baik. trilling & fadel (2009: 56) menyatakan bahwa pendidikan di abad ke-21 menekankan pada empat kompetensi belajar yang harus dikuasai oleh siswa, yaitu kemampuan pemahaman yang tinggi, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkolaborasi, dan kemampuan berkomunikasi. berbanding terbalik dengan tuntutan kompetensi pada abad ke-21, kompetensi siswa-siswa indonesia masih sangat buruk. hal ini dapat dilihat pada hasil trends in international mathematic and science study (timss) pada tahun 2015 masih berada di posisi ke 62 dari 65 negara yang mengikuti (tohir, 2016). hal tersebut menunjukkan bahwa anak-anak di indonesia yang berada di sekolah dasar masih kurang dalam abstract: the aims of this research to explains the effectiveness of increasing students' mathematical connection abilities that obtain problem-based learning, project-based learning literacy and inquiry learning. the students' connection in the mathematics of elementary school was very low. it was because students have not been facilitated to develop mathematical connection skills correctly. this research was in the form of a quasiexperimental design of the randomized pretest-posttest control group design. based on the results, problem-based learning was the most effective model compared to other learning models in facilitating mathematical connection skills. it was because problem-based learning can present problems in the context of learning that requires high-level thinking. thus training students to always connect mathematical concepts with daily context problems. project-based learning literacy was very effective and better than inquiry in facilitating connection skills. it was because students create literacy works that connect mathematical concepts and daily context applications. however, students were less facilitated in practising mathematical concepts. furthermore, inquiry learning was good enough in facilitating students' connection skills. however, students have not been allowed to use mathematical concepts in the context of everyday life. students were only facilitated to find concepts, so students have not been facilitated to develop mathematical connection skills. keywords: connection mathematics, pbl, pjbl literacy, inquiry mailto:za825@ums.ac.id efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 38 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 kemampuan matematika. hal tersebut sejalan dengan hasil programme for international student assessment (pisa) dari tahun ke tahun, pada tahun 2012 indonesia berada pada peringkat ke-64 dari 65 negara yang ikut berpartisipasi tes tersebut. pada tahun 2014 indonesia berada pada peringkat ke-63 dari 64 negara yang mengikuti, dan pada tahun 2016 indonesia masih berada pada peringkat 3 terakhir atau ke-62 dari 64 negara yang ikut berpartisipasi (oecd, 2016). hasil timss dan pisa tersebut menunjukkan bahwa anak-anak di indonesia masih sangat rendah dalam kemampuan membaca pemahaman dalam bidang sains dan matematika, serta kemampuan memecahkan masalah yang berkaitan dengan konteks kehidupan sehari-hari. hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dasar anak-anak tersebut kurang terfasilitasi dengan baik, terutama dalam pengembangan kemampuan koneksi matematis siswa. hal tersebut menjadi penting karena koneksi dapat mengembangkan kemampuan berpikir logis yang menjadi tuntutan dari abad ke-21 (abidin, 2013 : 67) dan koneksi dapat mengembangakan pembelajaran secara bermakna dan kontekstual (abidin, 2017). permasalahan tersebut diduga terjadi dikarenakan siswa lebih sering mengerjakan soal-soal rutin yang hanya melatih ingatan mereka (bill & jamar, 2010). selain itu, siswa tidak diberikan kesempatan untuk mencari dan menemukan pengetahuannya sendiri dan mengaitkannya dengan keadaan kehidupan nyata, sehingga kemampuan koneksi matematis siswa belum terfasilitasi dengan maksimal. berdasarkan studi terbatas yang dilakukan peneliti di salah satu sekolah dasar menyatakan bahwa pembelajaran matematika sangat susah untuk dihubungkan dengan materi matematika lainnya ataupun materi mata pelajaran lain. hal ini dikarenakan guru merasa belum terbiasa untuk membelajarkan matematika seperti itu. sedangkan, sebagaimana yang kita ketahui tuntutan dari kurikulum 2013 yaitu adanya keterhubungan antara satu mata pelajaran dengan yang lain ataupun satu materi dengan materi lain yang dikenal dengan tematic integrated (kemendikbud, 2013). selain itu, masalah lainnya yaitu siswa merasa bingung ketika pembelajaran terlihat seperti tidak ada pemisahan. hal ini disebabkan karena siswa belum terfasilitasi untuk mengembangkan kemampuan koneksi mereka, khususnya dalam hal ini kemampuan koneksi matematis siswa. selain itu, pada kurikulum 2013 edisi revisi 2016 mata pelajaran matematika tidak lagi menjadi satu kesatuan dalam pembelajaran tematik (endayanti & rahmawati, 2019). hal ini menyebabkan semakin sedikit peluang anakanak untuk belajar matematika secara holistik dengan pelajaran lainnya, sehingga anakanak kurang terfasilitasi kemampuan koneksinya dengan baik. berkaitan dengan revisi kurikulum 2013, pada edisi revisi penyajian materi dimulai dari konsep suatu materi bukan dari suatu permasalahan (endayanti & rahmawati, 2019). sehingga hal ini menyebabkan kurang terfasilitasinya kemampuan koneksi matematis siswa. siswa tidak diberikan konteks atau permasalahan yang berguna untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menduga, berpikir logis dan menyimpulkan informasi. konteks kehidupan sehari-hari menjadi hal yang penting dalam mengembangkan kemampuan, siswa akan berpikir secara induktif dan deduktif yang melatih berpikir logis ketika anak-anak dihadapkan dengan suatu permasalahan efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 39 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 (mahdiansyah dan rahmawati, 2014). sehingga dengan adanya revisi kurikulum ini, menyebabkan kurang terfasilitasinya kemampuan koneksi siswa dengan baik. pembelajaran matematika dapat mengembangkan sikap-sikap dan cara berpikir yang menjadi tuntutan dari perkembangan ilmu pengetahuan di abad ke-21. karena pembelajaran matematika mempunyai konsep pembelajaran yang sistematis. sehingga dalam pembejaran matematika akan dituntut sebuah keteraturan dalam setiap konsepnya, dan terdapat pula keterkaitan pada setiap konsepnya yang tidak dapat dipisahkan (abidin et al., 2020). hal tersebut akan berdampak pada sebuah sikap dan cara berpikir seseorang yang logis, sistematis, dan sangat rasional. sejalan dengan uraian tersebut, dalam national council teacher of mathematics (nctm, 2014: 6) disebutkan bahwa terdapat lima standar kemampuan dasar matematika yakni pemecahan masalah (problem solving), penalaran dan pembuktian (reasoning and proofing), komunikasi (communication), koneksi (connections), dan representasi (representation). hal tersebut sangat sesuai dengan pendapat trilling & fadel (2009: 48) yang menjelaskan bahwa keterampilan di abad ke-21 adalah keterampilan belajar berinovasi dan menyelesaikan masalah secara kontekstual. berkaitan dengan kompetensi matematika yang sudah ditentukan, siswa sekolah dasar seharusnya memiliki kemampuan koneksi matematis yang baik agar penguasaan konsep matematis antara satu materi dengan materi lainnya sangat baik, bisa memecahkan masalah yang berkaitan dengan matematika, dan dapat menghargai matematika dalam konteks kehidupan nyata. selain itu, sebuah pembelajaran hendaklah menghantarkan informasi yang diterima siswa ke dalam long time memory agar siswa tidak akan pernah lupa hal-hal yang sudah diajarkan. karena pembelajaran yang baik adalah pembelajaran bermakna yang dapat selalu diingat oleh siswanya sampai kapanpun. penjelasan tersebut sesuai dengan penjelasan dari teori pembelajaran ausubel yaitu kegiatan belajar haruslah bermakna dalam artian siswa memahami konsep atau materi dengan mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur kognitif yang telah dimilikinya (suwangsih & tiurlina, 2010: 32). sejalan dengan pernyataan tersebut, terdapat dua tipe umum koneksi matematis menurut nctm (2014: 67), yaitu modeling connections dan mathematical connections. modeling connections merupakan hubungan antara situasi masalah yang ada di dunia nyata dengan sebuah representasi dari media atau pemodelan. sedangkan mathematical connections adalah hubungan antara materi matematika dengan materi matematika lainnya atau dengan materi mata pelajaran lain. pembelajaran yang efektif membutuhkan media representatif yang dapat menghubungkan antara pengetahuan siswa di keadaan nyata dan materi pembelajaran. selain itu harus ada model yang sekiranya dapat mengembangkan pengetahuan lama dan baru siswa serta memfasilitasi kemampuan koneksi matematis. agar terpenuhinya semua kompetensi, seorang guru seharusnya dapat menjadi fasilitator dan mediator dalam pemenuhan kebutuhan siswa terkait kompetensi abad ke-21. oleh karena itu, guru harus bisa memilih model pembelajaran yang tepat untuk memenuhi kompetensinya. efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 40 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 pada proses pembelajaran, guru memegang peranan penting dalam memfasilitasi siswa. pengajaran yang digunakan guru tidak terlepas dari model pembelajaran yang ia gunakan. model pembelajaran merupakan suatu rencana yang digunakan untuk membentuk kurikulum, membuat materi pembelajaran, dan menjadi pedoman pembelajaran (joyce, weil, & calhoun, 2009: 113). lebih lanjut lagi model dijabarkan menjadi sebuah kesatuan luas dari sistem pembelajaran yang mengandung dasar filosofis khusus atau teori pembelajaran dengan metode pedagogi (abidin, 2017). jadi model pembelajaran merupakan kerangka konsep yang digunakan dalam suatu pembelajaran. seiring berkembangnya pembelajaran di abad ke-21, model pembelajaran yang dipakai oleh guru pun mengalami perkembangan. dalam menjembatani kompetensi yang harus dikuasai siswa, guru dituntut untuk memakai model pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. kesuksesan siswa dalam pembelajaran tidak hanya diukur dari seberapa ingat mereka pada materi yang diberikan oleh guru, melainkan seberapa paham siswa pada konsep yang telah diberikan oleh guru. terdapat perbedaan yang signifikan antara mengingat dan memahami. dalam taksonomi bloom yang dikenal dengan taxonomy of learning (komalasari, 2010: 72), mengingat berada dalam fase c1, yaitu kemampuan dasar pada ranah kognitif. sedangkan memahami berada pada fase c2, yang merupakan tahapan lebih tinggi dari mengingat. untuk membuat siswa dapat memahami konsep yang diberikan oleh guru, dibutuhkan model pembelajaran yang dapat mendukung hal tersebut. para ahli konstruktivisme berpandangan bahwa pembelajaran yang bermakna merupakan pembelajaran yang dapat membuat siswa menemukan konsep sendiri, hal ini sesuai dengan pendapat tan (2011). peran guru adalah fasilitator dalam proses penemuan konsep tersebut. konsep merupakan alat yang digunakan manusia untuk mengorganisasikan kesan-kesan yang tak terbatas dengan menggunakan indera (swidler, 2014). saat siswa sudah dapat membangun konsep sendiri, maka materi ajar yang diberikan akan dipahami oleh siswa. beberapa model pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk membangun konsep sendiri dan dianjurkan dalam pembelahajaran kurikulum 2013 adalah model pjbl-literasi dan model problem based learning. penelitian tentang model literasi yang terintegrasi dengan matematika sudah pernah dilakukan oleh shyyan et al., (2008). hasil penelitiannya menjelaskan bahwa membaca yang diintegrasikan dengan matematika telah mampu mengembangkan kemampuan guru dalam menghasilkan sejumlah strategi pembelajaran dan sekaligus meningkatkan kemampuan siswa dalam menguasai konsep matematika. penelitian lainnya dilakukan oleh ogle et al., (2007) menjelaskan bahwa pembelajaran pjblliterasi senantiasa dapat menghubungkan materi yang dipelajari dengan yang telah diketahui oleh siswa dan pembelajaran pjbl-literasi senantiasa menghubungkan materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata dan isu-isu kontemporer. model problem based learning membantu siswa dalam membiasakan untuk berpikir secara induktif (pitrianti, 2017). model problem based learning merupakan sebuah model yang siap digunakan dan sangat cocok untuk semua jenjang pendidikan, https://docs.google.com/document/d/16oog9gfxoyc_seozofkv8nkxm8ptzvg3bjkf1ehrbrk/edit#heading=h.2et92p0 efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 41 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 hal ini dapat dibuktikan dari beberapa penelitian tentang model ini salah satunya penelitian yang dilakukan oleh etherington (2011) menjelaskan pembelajaran dengan problem based learning anak-anak bisa memahami suatu masalah dan mencari solusi untuk masalahnya sehingga anak-anak bisa belajar secara bermakna. hal tersebut sejalan dengan penelitian firdaus (2017) yang menjelaskan bahwa pembelajaran dengan problem based learning dapat membuat anak menghubungkan pengetahuan siswa dan konteks kehidupan sehari-hari dengan baik. selain penelitian tersebut, masih banyak penelitian yang dilakukan terkait model problem based learning di berbagai jenjang pendidikan. dalam model problem based learning, pembelajaran difokuskan pada suatu materi yang memiliki konsep utama, sehingga ketika mengevaluasi akan sangat mudah, karena terfokus pada materi konsep yang sedang dipelajari. pembelajaran yang biasa diimplementasikan di sekolah atau konvensioal merupakan salah satu model yang harus dilihat efektivitasnya dalam penelitian ini. dalam kurikulum 2013, pembelajaran yang dimaksud ialah pembelajaran dengan pendekatan saintifik. hal itu dikarenakan dalam penelitian eksperimen kelas kontrol merupakan salah satu komponen penting agar tidak terjadinya bias dalam pengambilan keputusan dan kesimpulan dalam sebuah penelitian (creswell, 2012 : 88). dari semua uraian tersebut, belum terdapat penelitian yang memfokuskan terhadap pembelajaran model pjbl-literasi dan model problem based learning di sekolah dasar pada mata pelajaran matematika yang terfokus pada kemampuan koneksi matematis. sehingga dalam penelitian ini akan meneliti tentang efektivitas model pembelajaran pjbl-literasi dan model problem based learning, dan inkuiri dalam meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa sekolah dasar. metode penelitian metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan desain penelitian eksperimen. penelitian eksperimen ini melibatkan tiga kelompok sampel, satu kelompok sebagai kelompok kontrol dan dua kelompok sebagai kelompok eksperimen. menurut cresswell (2015: 167) metode penelitian true eksperimen terdiri 4 jenis desain yang semuanya memiliki kekuatan dan kelebihan. desain penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah desain yang memiliki rancangan the randomized pretest-posttest control group design. sebelum pretest diberikan, terlebih dahulu dilakukan random terhadap sample yang akan diteliti, setelah itu dilakukan pretest diawal sebelum pembelajaran sedangkan posttest diberikan diakhir setelah semua pembelajaran. populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi kelas v sekolah dasar pada semester genap tahun ajaran pendidikan 2017/2018 di wilayah kecamatan cileunyi kabupaten bandung. peneliti menetapkan salah satu sekolah dasar swasta di kabupaten bandung sebagai sampel penelitian karena memiliki banyak kelas paralel dengan kemampuan akademik yang homogen atau hampir sama. pemilihan sampel dilakukan tidak secara random, melainkan sampel dipilih berdasarkan teknik sampling insidental. selain itu, sd tersebut menjadi sekolah model kurikulum 2013 diwlayah jawa barat. efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 42 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tes kemampuan koneksi matematis siswa yang disusun berdasarkan indikator dari nctm (2014: 70). adapun indikator yang digunakan dapat dilihat pada tabel 1: tabel 1. indikator koneksi no indikator jumlah soal 1 recognize and use connecting among mathematical ideas 2 2 understand how mathematical ideas interconnect and build on one another to produce a coherent whole 2 3 recognize and apply mathematics in contexts outside of mathematics 2 dari indikator-indikator koneksi tersebut dapat dipahami, bahwa kemampuan koneksi matematis yang harus dikuasai siswa yaitu diantaranya mengkoneksi materi matematika satu dengan materi matematika lainnya, mengkoneksi matematika dengan mata pelajaran lain, dan mengkoneksi matematika dengan konteks kehidupan sehari-hari. teknik analisis yang dilakukan dalam penelitian menggunakan uji anova satu arah (uji analisys of variance) pada n-gain skor koneksi matematis untuk semua model pembelajaran. hasil dan pembahasan perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa dapat diketahui melalui analisis data menggunakan uji gain, yaitu dengan membandingkan skor pretest dan posttest. pada tahap ini akan dilihat perubahan atau peningkatan kemampuan koneksi matematis setiap siswa pada tiap kelas. adapun data gain dari setiap kelas dapat dilihat pada tabel 3. tabel 3. nilai gain koneksi descriptive statistics skor pretest n minimum maximum sum mean std. deviation kelas pjbl 24 57,1 100 1766 73,58 14,14 kelas pbl 24 64,3 100 1897 79,05 11,53 kelas inkuiri 24 53,3 100 1746 72,73 14,91 berdasarkan tabel 3 tersebut, dapat dilihat bahwa peningkatan kemampuan siswa kelas pjbl, kelas pbl dan kelas inkuiri tidak berbeda jauh yaitu berada pada skor 70-an. hal ini dapat dilihat dari perolehan rata-rata skor gain kelas pjbl sebesar 73,58, kelas pbl sebesar 79,05 dan rata-rata skor kelas inkuiri 72,73. berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa rata-rata skor gain kelas pbl sedikit lebih besar dibandingkan dengan rata-rata efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 43 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 skor gain kelas pjbl dan inkuiri. namun, secara keseluruhan ketiga kelas penelitian memiliki peningkatan kemampuan koneksi matematis yang sama. uji normalitas terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan untuk mengetahui bahwa beberapa sampel yang telah diambil berasal dari populasi yang sama sehingga data yang diperoleh berdistribusi normal. tabel 4. normalitas distribusi gain koneksi kolmogorovsmirnov keputusan keterangan sig. kelas pjbl .014 h0 ditolak data berdistribusi tidak normal kelas pbl .024 h0 ditolak data berdistribusi tidak normal kelas inkuiri .045 h0 ditolak data berdistribusi tidak normal berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa hasil output uji normalitas varians menunjukkan signifikansi data skor gain untuk kelas 1 adalah 0,014, kelas 2 adalah 0,024, dan kelas adalah 0,045. karena nilai signifikansi ketiga kelompok kurang dari 0,05, maka h0 ditolak. sehingga dapat disimpulkan bahwa data skor gain untuk siswa semua kelas bukan berasal dari populasi yang berdistribusi normal. dikarenakan ketiga kelas berdistribusi tidak normal, maka langkah selanjutnya yaitu melakukan uji kruskal wallis. uji ini merupakan uji non parametrik yang digunakan sebagai uji alternatif one way anova ketika syaratnya tidak terpenuhi tabel 5. hasil uji kruskal wallis gain koneksi sig. keputusan keterangan between group 0,069 h0 diterima tidak terdapat perbedaan kemampuan berdasarkan tabel 5. terlihat bahwa signifikansi hasil uji kruskal wallis yaitu lebih besar dari 0,05 (0,069 > 0,05), maka h0 diterima. hal ini dapat diasumsikan bahwa peningkatan kemampuan koneksi matematis ketiga kelompok tidak berbeda secara signifikan, artinya kelas pjbl, kelas pbl dan kelas inkuiri memiliki peningkatan kemampuan koneksi yang sama setelah ketiga kelas tersebut mendapat perlakuan yang berbeda. dari semua uraian dapat ditarik sebuah benang merah bahwasanya tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa antara kelompok siswa eksperimen 1 yang menggunakan pembelajaran model pjbl-literasi, eksperimen 2 yang menggunakan pembelajaran model pbl dengan kelompok kontrol yang menggunakan pembelajaran inkuiri. selain itu, tidak ada model yang lebih baik ataupun lebih unggul dalam memfasilitasi siswa dalam meningkatkan kemampuan koneksi matematis. namun untuk memperjelas hal tersebut, karena data tidak normal maka akan efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 44 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 dilakukan uji non parametrik (mann-whitney) untuk melihat perbandingan antara satu model dengan model lainnya. tabel 6. hasil uji mann whitney gain koneksi sig. (2 tailed) sig. (1 tailed) keputusan keterangan pbl – pjbl 0.058 0.029 h0 ditolak peningkatan kemampuan koneksi pbl lebih baik daripada pjbl pbl – inkuiri 0.039 0.019 h0 ditolak peningkatan kemampuan koneksi pbl lebih baik daripada inkuiri pjbl inkuiri 0.686 0.343 h0 diterima peningkatan kemampuan koneksi pjbl tidak lebih baik daripada inkuiri dari tabel 6 dapat disimpulkan bahwa kelas dengan pembelajaran menggunakan model pbl lebih baik daripada kelas pjbl-literasi dan inkuiri. namun, kelas dengan pembelajaran menggunaka model pjbl-literasi tidak lebih baik dari kelas inkuiri walaupun secara rata-rata kelas dengan pjbl-literasi lebih besar dibandingkan dengan kelas inkuiri. dalam penentuan efektivitas, ada tiga hal yang dilihat yaitu skor rata-rata di atas kkm, rata-rata gain, dan ketuntasan belajar. dari hal tersebut maka akan ditentukan keefektifan setiap pembelajaran terhadap kemampuan koneksi sebagai berikut: 1) pembelajaran berbasis masalah memiliki skor rata-rata 89, gain 79 dan ketuntasan belajar 100%. hal ini dapat diasumsikan bahwa pembelajaran berbasis masalah sangat efektif, karena skor rata-rata lebih dari kkm (89 > 70), gain dalam kategori tinggi dan ketuntasan belajar maksimum. 2) pembelajaran berbasis proyek literasi memiliki skor rata-rata 86, gain 73 dan ketuntasan belajar 100%. hal ini dapat diasumsikan bahwa pembelajaran berbasis proyek literasi sangat efektif, karena skor rata-rata lebih dari kkm (86 > 70), gain dalam kategori tinggi dan ketuntasan belajar maksimum. 3) pembelajaran inkuiri memiliki skor rata-rata 84, gain 72 dan ketuntasan belajar 88%. hal ini dapat diasumsikan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri sudah efektif, karena skor rata-rata lebih dari kkm (84 > 70), gain dalam kategori tinggi dan ketuntasan belajar lebih dari 80%. dari hasil pengujian hipotesis secara statistik, hipotesis yang diajukan secara empirik pada penelitian ini ditolak yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran pjbl-literasi, pbl dengan inkuiri. selain itu, tidak dapat perbedaan yang signifikan dalam peningkatan kemampuan koneksi matematis diantara siswa yang memperoleh pembelajaran pjbl-literasi, pbl dengan inkuiri. namun, model pbl merupakan model yang paling baik dan paling efektif dalam memfasilitasi peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa. efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 45 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada kelas eksperimen terdapat perbedaan dengan kemampuan koneksi matematis siswa pada kelas dengan pembelajaran inkuiri, hal ini disebabkan karena pada kedua kelas eksperimen proses pembelajaran selalu menekankan pada keterhubungan materi matematika dengan materi matematika lainnya, materi matemtaika dengan materi mata pelajaran lain, dan materi matematika dengan kehidupan nyata. proses pembelajaran tesebut berdampak pada pola pemikiran siswa yang selalu berusaha untuk melihat keterkaitan materi matematika dengan segala aspek sehingga kemampuan koneksi matematis siswa dapat menjadi lebih baik dikarenakan pembiasaan pada proses pembelajaran yang dilakukan. sedangkan pada kelas inkuiri proses pembelajaran dilakukan dengan tujuan siswa dapat mengkonstruk pengetahuan dari hasil pengamatannya yang terfokus pada materi matematika tanpa diberikan kesempatan untuk melihat keterkaitan materi matematika dengan aspek lain. hal ini mengakibatkan siswa pada kelas inkuiri tidak terbiasa dengan adanya sebuah keterkaitan antara materi matematika dengan aspek lain yang seyogyanya harus dibiasakan dan diperlihatkan. hal tersebut sangat sesuai dengan pendapat swanson et al., (2011) yang menjelaskan bahwa pembelajaran yang bagus bukan hanya membangun pengetahuan siswa namun harus sangat bermakna dan selalu mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari. berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan sebelumnya, rata-rata skor pretest kelompok pbl 2 diperoleh sebesar 12,29. setelah siswa mendapat perlakuan melalui pembelajaran model pbl, kemampuan koneksi matematis siswa mengalami peningkatan secara signifikan. hal ini dapat dilihat dari tingginya perolehan rata-rata skor posttest siswa yaitu sebesar 21,33. terlihat terdapat margin skor 9,02. dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model pbl mampu meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa secara signifikan. hal tersebut dikarenakan model pbl memberikan masalah sehari-hari sebagai konteks pembelajaran. hal tersebut sangat sesuai dengan hasil penelitian dari bilgin et al., (2009) yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan model pbl dapat membuat siswa lebih berpikir secara mendalam dan belajar menjadi sangat bermakna. dari hasil pengamatan selama pemberian treatment yang dilakukan, ada beberapa hal yang mempengaruhi kemampuan koneksi matematis siswa antara siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan model pbl dan siswa yang memperoleh pembelajaran berbeda. di antaranya adalah aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, pada kelas pbl ini aktivitas siswa cenderung sangat menyenangkan dan siswa sangat aktif dalam proses share and discuss. hal tersebut sangat sesuai dengan hasil penelitian greenleaf et al., (2011) yang menjelaskan bahwa dalam pembelajaran pbl dapat sangat meningkatkan motivasi siswa belajar karena adanya kegiatan diskusi yang menyenangkan. diskusi pada pembelajaran dengan model pbl ini sangat interaktif dan komunikatif dikarenakan semua siswa dituntut untuk aktif dan fokus pada permasalahan yang didiskusikan. pada proses pembelajaran di kelas eksperimen dengan model pbl, nuansa pembelajaran yang dilakukan tidak terkesan kaku dan terfokus pada materi matematika dengan tetap tidak mengesampingkan esensi dari muatan materi matematika. sehingga efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 46 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 ketika proses pembelajaran, siswa tidak merasakan bahwa mereka sedang belajar materi matematika tetapi mereka belajar materi yang memuat matematika dan aspek lainnya yang memperlihatkan bahwa materi matematika mempunyai keluesan yang sangat universal dan memahami kebermanfaatan matematika untuk kehidupan. berbanding terbalik dengan hal tersebut, siswa pada kelas inkuiri merasa bahwa matematika merupakan materi terfokus yang sehingga tidak perlu melihat aspek lainnya. hal tersebut sangat sesuai dengan hasil penelitian dari de graaf & kolmos (2003) yang menjelaskan bahwa pembelajaran dengan model pbl membuat anak tertantang untuk menyelesaikan masalah tanpa merasakan mereka sedang belajar. sejalan dengan model pbl, model pjbl-literasi pun memberikan pengaruh yang baik di dalam memfasilitasi peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa. pada pembelajaran ini siswa sangat senang dan aktif dalam pembelajaran yang membuat kemampuan mereka meningkat dengan signifikan. hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata awal siswa yang hanya memperoleh rata-rata 12,37, namun pada hasil tes akhir mereka memperoleh nilai 20,67. terdapat margin skor 8,3. hanya berbeda sedikit dengan model pbl yang mempunyai margin skor pretest-posttest 9,02. hal ini membuktikan bahwa model pjbl-literasi pun dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematis siswa secara signifikan. hal ini sangat sesuai dengan hasil penelitian herlina et al., (2012) yang menjelaskan bahwa literasi sangat penting dalam pembelajaran matematika dikarenakan hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa dalam menguasai konsep materi matematika. selain itu, pada model pembelajaran dengan model pjbl-literasi siswa sangat senang dikarenakan siswa mempunyai proyek yang harus dikerjakan. siswa belajar dengan mengaitkan materi matematika dengan kehidupan nyata, mengaitkan konsep matematika dengan konsep pelajaran lain dengan adanya kegiatan membuat proyek literasi. pada proyek ini siswa dituntut untuk mengoneksikan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari dan konsep pelajaran lain. pada pembelajaran dengan model pjbl-literasi siswa sangat difasilitasi dalam kemampuan koneksi matematis. hal tersebut terlihat dari kegiatan-kegiatan yang selalu adanya tuntutan untuk kemampuan koneksi dalam setiap tahap pembelajaran pjblliterasi. hal tersebut sangat sesuai dengan penelitian levenberg (2015) yang menjelaskan bahwa kegiatan literasi dapat meningkatkan kepekaan siswa terhadap konteks sekitar dan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi matematiak dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. dari semua uraian tersebut dapat ditarik benang merah bahwasanya pembelajaran model pbl merupakan model yang paling baik diantara model lainnya dalam memfasilitasi kemampuan koneksi matematis. selain itu, model pjbl-literasi lebih baik dibanding model inkuiri, walaupun secara uji non parametrik mann whitney menunjukan tidak lebih baik, namun jika dilihat dari rata-rata kelas pjbl literasi yang lebih tinggi dibandigkan kelas inkuiri. selain itu jika dilihat dari kriteria efektivitas, pembelajaran berbasis masalah memiliki skor rata-rata 89, gain 79 dan ketuntasan belajar 100%. hal ini dapat diasumsikan bahwa pembelajaran berbasis masalah sangat efektif, karena skor rata-rata efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 47 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 lebih dari kkm (89 > 70), gain dalam kategori tinggi dan ketuntasan belajar maksimum. hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil belajar siswa seperti pada gambar 2. gambar 2. hasil kerja siswa pbl pada gambar 2 dapat terlihat bahwa siswa pada kelas yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah sudah sangat bisa dalam mengkoneksikan pembelajaran matematika dengan materi lainnya. selain itu, siswa dapat membaca informasi dengan baik, hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mulai terfasilitasi dalam membaca pemahaman. dengan adanya perpaduan kemampuan ini, menunjukkan bahwa dalam pembelajaran berbasis masalah dapat memfasilitasi kemampuan koneksi yang diintegrasikan dengan kemampuan lainnya. sehingag sudah jelas, bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan model yang sangat efektif dalam memfasilitasi kemampuan koneksi matematis. pembelajaran berbasis proyek literasi memiliki skor rata-rata 86, gain 73 dan ketuntasan belajar 100%. hal ini dapat diasumsikan bahwa pembelajaran berbasis proyek literasi sangat efektif, karena skor rata-rata lebih dari kkm (86 > 70), gain dalam kategori tinggi dan ketuntasan belajar maksimum. hal ini dapat dibuktikan dengan hasil belajar siswa pada gambar 3. gambar 3. hasil belajar siswa pjbl-literasi efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 48 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 pada gambar 3 dapat terlihat bahwa kemampuan koneksi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran berbasis proyek literasi dapat memfasilitasi siswa daam mengkoneksikan kemampuan siswa antar materi satu dengan materi lainnya. hal tersebut jelas dapat dilihat dari jawaban siswa yang menunjukan siswa dapat mengoneksikan antara materi luas persegi dan luas lingkaran, serta tahu bagaimana cara penyelesaian dari permasalahan yang diberikan. pada pembelajaran ini, siswa dituntut juga mengisi jurnal harian yang berguna untuk mereview kemampuan dan pemahaman mereka selama prose pembelajaran. hal tersebut sudah sangat jelas menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek literasi dapat dengan sangat efektif meningkatkan kemampuan koneksi matematis. pembelajaran inkuiri memiliki skor rata-rata 84, gain 72 dan ketuntasan belajar 88%hal ini dapat diasumsikan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri sudah efektif, karena skor rata-rata lebih dari kkm (84 > 70), gain dalam kategori tinggi dan ketuntasan belajar lebih dari 80%. hal tersebut dapat terwakili dengan jelas dari hasil belajar siswa pada gambar 4. gambar 4. hasil belajar siswa inkuiri dari gambar 4 dapat kita lihat, bahwa pada hasil belajar siswa pembelajaran siswa masih ada miskonsepsi dalam pengisiannya. hal tersebut menunjukkan bahwa siswa masih belum bisa mengkoneksikan matematika dengan konteks lannya dengan baik, ataupun materi matematika dnegan matematika lainnya. hal tersebutlah yang membuat masih ada 20 persen siswa yang memiliki nilai di bawah kkm. pembelajaran inkuiri memang bisa dikatakan efektif dalam memfasilitasi kemampuan koneksi matematis, walaupun masih ada beberapa siswa yang belum terasilitasi dengan baik dalam memfasilitasi kemampuan koneksinya. simpulan tidak terdapat perbedaan kemampuan koneksi matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek literasi dan pembelajaran inkuiri. hal tersebut dikarenakan ketiga model pembelajaran tersebut sudah sangat baik memfasilitasi siswa dalam menghubungkan materi matematika dengan kehidupan sehari-hari karena pembelajaran yang dilakukan sangat kontekstual. efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 49 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 lalu, tidak terdapat perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa antara siswa yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek literasi dan pembelajaran inkuiri. meskipun demikian, pembelajaran berbasis masalah adalah model yang paling efektif dibandingkan model pembelajarannya lainnya dalam memfasilitasi kemampuan koneksi matematika. hal itu karena pembelajaran berbasis masalah dapat menghadirkan masalah dalam konteks pembelajaran yang membutuhkan pemikiran tingkat tinggi. sehingga melatih siswa untuk selalu menghubungkan konsep matematika dengan permasalahan di dalam kehidupan seharihari. pembelajaran berbasis proyek literasi sangat efektif dan lebih baik daripada inkuiri dalam memfasilitasi keterampilan koneksi. itu karena siswa membuat karya literasi yang menghubungkan konsep matematika dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. namun, siswa kurang difasilitasi dalam latihan konsep matematika. sedangkan pembelajaran inkuiri sudah cukup baik dalam memfasilitasi kemampuan koneksi siswa. namun, siswa belum diberikan kesempatan untuk menggunakan konsep matematika dalam kontek kehidupan sehari-hari. siswa hanya difasiltasi untuk menemukan konsep saja, sehingga siswa belum terfasilitasi untuk mengembangkan kemampuan koneksi matematis. daftar pustaka abidin, y. (2013). desain sistem pembelaran dalam konteks kurikulum 2013. bandung: refika aditama. abidin, z. mathematical learning activity using connecting organizing reflecting extending model to improve mathematical connection skill. 2nd icet theme:“improving the quality of education and training through strengthening networking”, 986. abidin, z., & jupri, a. (2017). the use of multiliteration model to improve mathematical connection ability of primary school on geometry. international e-journal of advances in education, 3(9), 603-610. abidin, z., utomo, a. c., pratiwi, v., & farokhah, l. (2020). project-based learningliteracy n improving students’mathematical reasoning abilities in elementary schools. jmie (journal of madrasah ibtidaiyah education), 4(1), 39-52. bilgin, i., şenocak, e., & sözbilir, m. (2009). the effects of problem-based learning instruction on university students’ performance of conceptual and quantitative problems in gas concepts. eurasia journal of mathematics, science and technology education, 5(2), 153-164. bill, v. l., & jamar, i. (2010). disciplinary literacy in the mathematics classroom. content matters: a disciplinary literacy approach to improving student learning, 63-86. efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 50 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 cresswell, j. (2015). riset pendidikan: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi riset kualitatif dan kuantitatif. yogyakarta: pustaka pelajar de graaf, e., & kolmos, a. (2003). characteristics of problem-based learning. international journal of engineering education, 19(5), 657-662. endayanti, t., & rahmawati, i. (2019). analisis pembelajaran matematika dalam kurikulum 2013 revisi pada kelas iv sekolah dasar. jurnal penelitian pendidikan guru sekolah dasar, 7(1). etherington, m. b. (2011). investigative primary science: a problem-based learning approach. australian journal of teacher education, 36(9), 4. firdaus, f. m. (2017). improving primary students' mathematical literacy through problem based learning and direct instruction. educational research and reviews, 12(4), 212-219. greenleaf, c. l., litman, c., hanson, t. l., rosen, r., boscardin, c. k., herman, j., ... & jones, b. (2011). integrating literacy and science in biology: teaching and learning impacts of reading apprenticeship professional development. american educational research journal, 48(3), 647-717. herlina, s., turmudi, m., & dahlan, j. a. (2012). efektivitas strategi react dalam upaya peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa sekolah menengah pertama. jurnal pengajaran mipa, 17(1), 1-7. joyce, b., weil, m., & calhoun, e. (2009). models of teaching: model-model pengajaran. yogyakarta: pustaka pelajar. kemendikbud (2013). bahan ajar pengelolaan pembelajaran terpadu. jakarta: kemendikbud. komalasari, k. (2010). pembelajaran kontekstual konsep dan aplikasi. bandung: refika aditama. levenberg, i. (2015). literacy in mathematics with “mother goose. literacy, 5(1). mahdiansyah, m., & rahmawati, r. (2014). literasi matematika siswa pendidikan menengah: analisis menggunakan desain tes internasional dengan konteks indonesia. jurnal pendidikan dan kebudayaan, 20(4), 452-469. national council of teachers of mathematics (nctm). (2014). principles to actions: ensuring mathematical success for all. oecd, p. (2016). science competencies for tomorrow’s world, volume 1: analysis. ogle, d., klemp, r. m., & mcbride, b. (2007). building literacy in social studies: strategies for improving comprehension and critical thinking. ascd. pitrianti, s. (2017). the implementation of problem-based learning in writing discussion text on indonesian language learning. international e-journal of advances in education, 3(9), 620-627. efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 51 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 shyyan, v., thurlow, m. l., & liu, k. k. (2008). instructional strategies for improving achievement in reading, mathematics, and science for english language learners with disabilities. assessment for effective intervention, 33(3), 145-155. suwangsih, e., & tiurlina. (2010) model pembelajaran matematika. bandung: upi press. swanson, e., edmonds, m. s., hairrell, a., vaughn, s., & simmons, d. c. (2011). applying a cohesive set of comprehension strategies to content-area instruction. intervention in school and clinic, 46(5), 266-272. swidler, l. (2014). dialogue institute:“whole child education” exercise in concept attainment. in dialogue for interreligious understanding (pp. 139-144). palgrave macmillan, new york. tan, m. (2011). mathematics and science teachers’ beliefs and practices regarding the teaching of language in content learning. language teaching research, 15(3), 325-342. tohir, m. (2016). hasil pisa indonesia tahun 2015 mengalami peningkatan. jurnal researchgate.(1-2). trilling, b., & fadel, c. (2009). 21st century skills: learning for life in our times. john wiley & sons. efektivitas pembelajaran......(zainal abidin) 52 jppd, 7, (1), hlm. 37 52 3. fitri puji.pmd implementasi model pembelajaran “berkat anang” ... (fitri puji rahmawati, dkk.) 109 implementasi model pembelajaran “berkat anang” di kalangan siswa pendidikan dasar berbudaya jawa fitri puji rahmawati, muhroji, dan ratnasari dewi utami pendidikan guru sekolah dasar fkip, universitas muhammadyah surakarta fitripr2012@yahoo.co.id; fpr223@ums.ac.id abstract the purpose of this research is to find a model of strengthening character education in elementary school environment learners javanese culture. the specific objective of the second year is to formulate a model of an active character education and fun in the elementary school students then tested the cultured javanese character education model that is active and fun in the cultured primary school learners java. the main method developed in this research is descriptive qualitative reflective. the research method will be implemented in the second year is the collection of data with focus group discussions involving teachers, principals, school committees , and parents / guardians of students . the collected data were analyzed by using a reflective critique. in that year also applied data collection methods to test the model. the data were analyzed with a heuristic model. this study has several performance indicators of each year. after the first year the indicator is reached, followed by a search for examples of learning models applied by the teacher in the implementation of character education. year two indicators to be achieved is the strong foundation of character education in the elementary sense after fgd with teachers, principals, school committee, and parents / guardians of students. this indicator will explain: (1) the weaknesses and strengths of the old model of learning in the teaching of character education, (2) the expectations of elementary education stakeholders about character education , (3) application of learning models “ thanks sam “ in sd and the surrounding region of surakarta , (4) the power of learning model “ thanks sam “ as a learning model that is able to strengthen the character of elementary school students . keywords: characters, “berkat anang”, learning model. pendahuluan masyarakat indonesia merupakan masyarakat yang beraneka ragam dan pluralistik. oleh karena itu pembelajaran di sekolah sebaiknya merupakan satu instrumen utama untuk memperkuat karakter bangsa indonesia dengan tidak meninggalkan cara pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. pembelajaran di sekolah dasar perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga siswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. dalam interaksi ini, siswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka untuk mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain. pengajar perlu menciptakan suasana belajar yang penuh cinta dan kerja sama serta gotong royong menciptakan karakterkarakter yang baik pada siswa. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 109-120110 pendidikan karakter saat ini merupakan bagian terpenting dari pendidikan di indonesia ketika masyarakat setiap hari disuguhi rekaman tingkah laku masyarakat indonesia yang jauh dari nilai-nilai karakter indonesia yang lemah lembut, sopan, ramah, dan menjunjung tinggi budaya timur. sarana yang paling mudah digunakan untuk mencoba mengembalikan nilai-nilai karakter yang telah terkikis itu dengan cara mengajarkan dan menerapkan pembelajaran karakter di sekolah. penelitian tentang “penguatan pendidikan karakter melalui model pembelajaran ‘berkat anang’ (berkarakter, aktif, dan menyenangkan) di kalangan siswa pendidikan dasar berbudaya jawa” tahun ke-2 ini akan menerapkan model pembelajaran “berkat anang” sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat menguatkan pendidikan karakter pada siswa pendidikan dasar berbudaya jawa. karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlah atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu lain (m. furqon, 2009:9). sedangkan pendidikan karakter sebagai the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values, dimana dalam hal ini mengandung tiga aspek yaitu pengetahuan, hati/ rasa dan tindakan atas dasar nilai yang menjadi acuannya (lickona, 1991). aspek-aspek yang perlu dibangun dalam menerapkan pendidikan karakter di sekolah yaitu perhatian tanpa batas di sekolah, menciptakan kultur moral positif di sekolah, dan melibatkan orang tua dan masyarakat sebagai partner dalam pendidikan karakter. penerapan pembelajaran karakter di kelas antara lain dapat dilakukan dengan cara berikut ini: 1) membuat aturan kelas (tidak boleh memperolok dan mengejek teman, menggunakan kata kotor, mengambil milik teman, tidak boleh menyontek, bekerjasama untuk yang baik, peduli, tidak boleh memotong pembicaraan teman, mendengarkan temannya yang berbicara dan sebagainya); 2) mengintegrasikan nilai karakter ke dalam pelajaran (guru dapat menyelipkan dengan sengaja isi karakter yang relevan ketika mengajarkan topik tertentu seperti kasih sayang, kesetiaan, kejujuran, nasionalisme, dsb); 3) mendidik kalbu (difokuskan pada hati); 4) prinsip pembelajaran (berpusat pada siswa, belajar aktif, berkomunikasi, refleksi); 5)metode pengajaran (diskusi kelas & kelompok, permainan); 6) evaluasi pembelajaran karakter (pardjono, 2010). aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. pembelajaran aktif (active learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. di samping itu pembelajaran aktif juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. pembelajaran aktif pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. dengan memberikan strategi belajar aktif pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. dalam metode belajar aktif setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. (mulyasa, 2004:241) implementasi model pembelajaran “berkat anang” ... (fitri puji rahmawati, dkk.) 111 pembelajaran yang menyenangkan menurut bredekamp, 1987 (dalam belajar bukunya megawangi ratna, 2005) antara lain: a) kurikulum disusun untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan anak di semua bidang pengembangan (fisik, social-emosi, dan kognitif); b) kurikulum dirancang untuk mengembangkan harga diri dan rasa percaya diri anak, sehingga anak menyenangi dan cinta belajar; c) setiap anak dipandang sebagai sesuatu yang unik yang mempunyai pola dan waktu pertumbuhan yang berbeda-beda; d) guru membimbing keterlibatan anak dalam proyek kegiatan dan memperkaya pengalaman belajar mereka dengan menggali ide, mereson pertanyaan dan melibatkannya dalam diskusi yang menantang pikiran mereka sehingga terbiasa berpikir kritis; e) proyek, pusat kegiatan dan aktivitas bermain mencerminkan minat anak saat itu; f) guru menumbuhkan perilaku prososial, mau bekerja keras, pantang menyerah, tekun, kreatif, produktif, dan mandiri pada diri anak dengan memberikan banyak rangsangan melalui kegiatan yang mendukung serta mendorong anak untuk tertarik memilih dan melakukannya; g) guru membangun motivasi internal anak untuk memahami dunia dan mengembangkan kecakapan mereka. metode penelitian penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan dalam pelaksanaannya penelitian ini perlu adanya kerja sama dengan guru kelas untuk memperoleh hasil yang optimal melalui prosedur yang paling efektif. adapun tujuannya melukiskan kondisi yang ada pada situasi tertentu saat penelitian dilakukan dan tidak melakukan uji hipotesis (ary, 1982: 425) adapun strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal. mengingat permasalahan dan fokus kemitraan sudah ditentukan dalam proposal sebelum pelaku terjun dan menggali permasalahan di lapangan, maka jenis kemitraan kasus ini secara lebih khusus disebut studi kasus terpancang. sumber data utama penelitian ini adalah guru sdn 1 blulukan, sdn 1 kleco, dan sdn 1 senden beberapa teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini yakni: 1) observasi langsung berperan pasif, 2) wawancara mendalam, sifatnya terbuka dan tidak formal, 3) focus group discussion (fgd). hasil dan pembahasan model pembelajaran “berkat anang” merupakan salah satu model pembelajaran yang bertujuan untuk menguatkan karakter siswa pendidikan dasar yang berbudaya jawa. model pembelajaran ini diterapkan dengan strategi pembelajaran yang berkarakter, aktif, dan menye-nangkan. bentuk dari model pembelajaran “berkat anang” sebagai berikut: pendekatan : pembelajaran berpusat pada siswa (student centered) strategi : sharing pengalaman, kocok arisan, sintesa gambar, ikhtisar wacana, jodohku, debat seru (debur), puzzle gila, gubah lagu, surat rahasia, lelang pertanyaan metode : diskusi, berkelompok, bermain peran, presentasi, tanya-jawab, bernyanyi, tepuk. syntac : 1. sharing pengalaman langkah-langkah: a. siswa dibentuk kelompok b. anggota kelompok memilih siapa yang ingin menjadi ketua kelompok c. siswa menerima penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran, materi yang akan dipelajari, dan strategi yang diterapkan dalam pembelajaran tersebut. d. siswa menerima format yang harus diisi secara berkelompok profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 109-120112 e. siswa berdiskusi dalam kelompok dipimpin oleh ketua kelompok f. siswa yang sedang berdiskusi dalam kelompok diawasi oleh guru sambil berkeliling ke masing-masing kelompok g. siswa diminta menulisakn hasil diskusi mereka di kertas plano h. siswa diminta menempelkan hasil diskusi mereka yang telah ditulis pada kertas plano ke dinding kelas. i. pilih di antara anggota kelompok yang bertugas mempresentasikan hasil kerja kelompok dan anggota kelompok yang lain mengikuti j. setiap kelompok diminta menanggapi sajian kelompok yang sedang dipresentasikan. k. guru memberikan penjelasan materi yang tidak dimengerti oleh kelompok lain l. guru memberikan penguatan m. guru memberikan penilaian hasil kerja siswa 2. kocok arisan langkah-langkah: a. bentuk kelompok 4 orang secara heterogen b. bagikan kertas jawaban pada siswa, masing-masing 1 lembar, kartu soal digulung dan dimasukkan dalam gelas c. gelas yang sudah berisi soal dikocok, kemudian salah satu yang jatuh, dibacakan agar dijawab oleh siswa yang memegang kartu jawaban. d. apabila jawaban benar, maka siswa dipersilahkan tepuk tangan e. setiap jawaban yang benar, siswa diberi poin 1 sebagai nilai kelompok sehingga nilai total kelompok merupakan penjumlahan poin dari para anggotanya. 3. sintesa gambar langkah-langkah: a. guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. guru menyajikan materi sebagai pengantar c. guru memperlihatkan gambar-gambar yang terkait dengan materi d. guru menunjuk siswa secara bergantian e. siswa memasang gambar menjadi urutan yang logis f. guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut g. dari alasan pengurutan gambar, guru menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai h. guru dan siswa membuat simpulan 4. ikhtisar wacana langkah-langkah: a. guru membagi siswa secara berpasangan b. guru membagikan materi untuk dibaca setiap siswa dan dibuat ringkasannya c. guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama kali berperan sebagai pembicara dan kedua sebagai pendengar d. pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. tugas pendengar yaitu: menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap membantu mengingat/menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnyaatau dengan materi lainnya e. bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar atau sebaliknya. kembali dilakukan seperti di atas. f. membuat kesimpulan 5. jodohku langkah-langkah: a. guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topic yang implementasi model pembelajaran “berkat anang” ... (fitri puji rahmawati, dkk.) 113 cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. b. setiap siswa mendapat satu buah kartu c. setiap siswa memikirkan jawaban/soal kartu yang dipegang d. setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya. e. setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu, akan diberi poin f. setelah satu babak, kartu dikocok lagia agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. g. demikian seterusnya h. kesimpulan 6. debat seru (debur) langkah-langkah: a. guru membagi dua kelompok peserta debat yang satu pro dan satu lainnya kontra b. guru memberikan tugas untuk membacakan materi yang akan didebatkan oleh kelompok di atas c. setelah selesai membaca materi, guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara dan ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra. d. demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan jawabannya e. sementara siswa menyampaikan gagasannya, guru menulis ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi. f. guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap g. dari data-data di papan tersebut, guru mengajak siswa membuat kesimpulan atau rangkuman yang mengacu pada topic yang ingin dicapai. 7. puzzle gila langkah-langkah: a. guru mencari gambar yang terkait dengan materi b. guru membuat puzzle dari gambargambar tersebut. c. guru juga dapat membuat puzzle ini dengan menggunakan program komputer, jika merasa susah dalam mendapatkan gambar. d. guru memasukkan potongan-potongan gambar itu ke dalam amplop e. guru membagikan amplop tersebut kepada masing-masing kelompok. f. berikan waktu secukupnya kepada siswa untuk merangkai gambar-gambar itu. g. pemenang dalam permainan ini adalah kelompok yang berhasil membentuk gambar utuh, atau kelompok yang paling banyak menyusun potonganpotongan gambar tersebut. h. siswa disuruh mendiskusikan gambargambar itu terutama mengenai kelebihan dan kekurangan gambar. i. guru dan siswa merayakan proses belajar mengajar ini dengan saling mengomentari gambar yang telah berhasil digabung. 8. gubah lagu langkah-langkah: a. guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok b. tugas siswa adalah mengubah syair lagu menjadi syair yang berkaitan dengan materi pelajaran c. berikan waktu 20 menit untuk mengubah lagu sesuai dengan pilihan yang sudah ditentukan sebelumnya. d. setelah semua kelompok menciptakan syair lagu, mintalah masing-masing kelompok untuk menyampaikan di depan kelas. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 109-120114 e. bagi kelompok lain yang belum bernyanyi maupun yang sudah bernyanyi, mereka harus menjadi juri yang bisa menilai baik atau buruknya nyanyian suatu kelompok yang sedang menyanyikan di depan kelas. f. setelah semua kelompok menyanyi di depan kelas, tentukan pemenang dalam permainan ini. g. rayakan kemenangan dengan perasaan gembira. 9. surat rahasia langkah-langkah: a. guru membuat daftar pertanyaan dengan tingkat kesulitan yang berbedabeda. b. masukkan pertanyaan ke dalam setiap amplop kemudian tuliskan poin pada masing-masing amplop tersebut. c. amplop yang berisi pertanyaan yang paling sulit memiliki poin yang lebih tinggi d. bagilah para siswa menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok beranggotakan 4-5 siswa e. mintalah kepada setiap kelompok untuk memilih amplop. jika suatu kelompok dapat menjawab dengan benar, berilah poin yang sesuai dengan yang tertera pada amplop tersebut. f. apabila suatu kelompok menjawab keliru maka kelompok ini akan dikurangi poinnya sesuai dengan poin yang tertera pada amplop itu. g. setiap kelompok boleh memilih amplop, baik yang memiliki poin rendah ataupun tinggi. h. pada akhir permainan, jumlahkan poinpoin yang dikumpulkan oleh setiap kelompok. i. pemenang dalam permainan ini adalah kelompok yang memperoleh pon paling tinggi j. diskusikan pertanyaan dan jawaban yang dikemukakan oleh setiap kelompok k. rayakan proses belajar mengajar ini dengan saling memuji antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. l. berilah komentar yang sesuai dengan porsi kesalahan setiap kelompok 10. lelang pertanyaan langkah-langkah: a. guru menuliskan 10 pertanyaan di selembar kertas kemudian masukkan ke dalam amplop b. guru membuat daftar pertanyaan ini sebanyak jumlah kelompok yang ada. c. daftar pertanyaan dalam setiap amplop harus memiliki tingkat kesulitan yang sama d. ambil salah satu amplop yang berisi 10 pertanyaan e. tawarkan kepada masing-masing kelompok mengenai nominal yang akan dipertaruhkan untuk melelang pertanyaan. f. setiap kelompok boleh menawar g. penawar yang paling tinggi berhak menjawab pertanyaan itu. h. apabila kelompok penawar tertinggi dapat menjawab pertanyaan maka kelompok ini berhak mendapatkan nilai sebesar penawarannya. i. jika jawaban kelompok tersebut keliru maka nilainya akan dikurangi sebesar penawarannya j. pemenang dalam permainan ini tentu saja kelompok yang mengumpulkan nilai paling banyak k. berikan penghargaan atas usaha semua kelompok l. pada akhir permainan, diskusikan pertanyaan dan jawaban dari masingmasing kelompok m. rayakan proses belajar-mengajar ini dengan perasaan gembira. implementasi model pembelajaran “berkat anang” ... (fitri puji rahmawati, dkk.) 115 implementasi pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran “berkat anang” telah dilaksnakan di tiga sekolah yakni: sdn 1 senden, sdn 1 blulukan, dan sdn 1 kleco. 1. implementasi di sdn 1 senden pada kegiatan perencanaan dalam mengimplementasikan kegiatan pembelajaran dengan strategi jodohku dan nht, guru mempersiapkan kata-kata yang berkaitan dengan materi jenis kebutuhan secara acak yang kemudian di cocokkan dengan 3 tulisan jenis kebutuhan tersebut sehingga contoh benda tersebut sesuai dengan 3 jenis kebutuhan masing-masing. rencana pelaksanaan pembelajaran juga harus disusun dengan baik sesuai dengan urutan dan format yang ada yaitu meliputi : kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, tujuan, materi ajar, metode pembelajaran, media, alat dan sumber belajar, kegiatan pembelajaran yang meliputi: kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, dan lampiran penilaian autentik bentuk pelaksanaan di sd negeri 1 senden, disesuaikan dengan buku guru dan buku siswa yang ada tanpa mengesampingkan kreatifitas guru dalam mengembangkan atau mengeksplor kemampuan serta pengalamannya dalam kegiatan pemnbelajaran. dalam proses pembelajarannya diharapkan siswa dapat terangsang agar dapat mengembangkan daya pikir serta kekreatifitasan sehingga pembelajaran terasa menyenangkan bagi siswa dan guru merasa nyaman untuk menyampaikan pembelajaran. tetapi siswa dituntut untuk aktif di kelas serta dapat memahami materi yang disampaikan baik oleh guru ataupun pada saat proses diskusi. sehingga tujuan dari proses pembelajaran dapat tercapai. kegiatan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan strategi jodohku dan nht( numbered head together), langkah awal guru harus menjelaskan konsep dasar materi. selanjutnya guru menyuruh siswa membaca materi tentang jenis-jenis kebutuhan. siswa di bagi menjadi 4 kelompok dimana setiap kelompok diberi 3 kartu yang berisi kata benda-benda untuk mendiskusikannya sesuai dengan jenis kebutuhan yang mana. untuk menempelkannya didepan kelas, guru menggunakan nht nya dengan memilih nomer yang dimiliki siswa dengan system kocokkan. pada kegiatan ini mampu menumbuhkan antusias siswa untuk berlomba –lomba menempelnya di papan tulis, dalam hal ini pendidikan karakter kedisiplinan dan kerjasama dapat terbentuk karena yang maju dengan bergiliran siswa, jadi yang paling anteng saampai yang ramai dapat aktif dan merespon apa yang diperintahkan guru. ketika ada siswa yang tidak ditunjuk untuk maju yang perlu ditanamkan oleh guru dari awal adalah pemahaman dimana semua siswa akan dapat maju kedepan sehingga guru harus adil dalam menunjuk siswa atau dikatakan semua mendapat giliran. bagi siswa yang maju dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang dapat terbentuk pada kegiatan ini serta siswa dapat memahami materi secara langsung. setelah mengaplikasikan strategi tersebut, bentuk evaluasi yang diberikan adalah dengan mengerjakan soal-soal yang ada di buku siswa dehingga semua siswa dapat mengerjakannya sendiri-sendiri. dan hampir semua siswa dapat aktif dalam mengerjakan soalnya di bukunya masing masing dan di papan tulis. karena waktu yang sangat terbatas, guru hanya dapat mengaplikasikan mareri baik mata pelajaran matematika bahasa indonesiamaupun ipa. pada saat di akhir, guru dapat melakukan refleksi tetapi refleksi untuk siswa belum karena waktunya sudah selesai dan siswanya sudah ingin sholat dhuha. untuk keseluruhan siswa sangat senang bdan dapat aktif untuk mengikuti prosesn pembelajarannya dengan berbagai strategi. kekuatan dari strategi jodohku dan nht ini, menjadikan pembelajaran semakin berkesan untuk siswa sehingga siswa dapat memahami materi yang telah dipelajari dengan baik serta menjadikan siswa senang untuk belajar, profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 109-120116 menumbuhkan perhatian siswa dan merangsang siswa untuk berpikir untuk menyelesaikan soalsoal yang diberikan oleh guru. harapan kedepan untuk proses pembelajaran, guru dapat menggunakan strategi ini dan strategi-strategi lain pada saat melakukan kegiatan pembelajaran, terutama pada kelas tinggi dan juga kelas-kelas yang lain dari kelas 1 sampai kelas 5 karena siswa akan lebih senang mengikuti pembelajaran dan tidak bosan daripada hanya mendengarkan penjelasan guru yang terasa membosankan dan membuat siswa menjadi ngantuk dalam proses pembelajaran. 2. sdn 1 blulukan pembelajaran dengan penggunan strategi ikhtisar wacana dimulai dan gubah lagu dilakukan pada tema 1 diriku subtema 2 tubuhku pembelajaran 1. pembelajaran dimulai dengan membuka pelajaran dengan salam. dilanjutkan dengan pengkondisian kelas serta memberitahu siswa tujuan dari pembelajaran hari ini yang dihubungkan dengan kegiatan sebelumnya dan kegiatan seharihari. memasuki kegiatan inti pembelajaran guru membagi siswa menjadi 5 kelompok. kemudian siswa mengamati gambar dan diskusi mengenai anggota tubuh yang dimiliki. pada langkah ini siswa menjadi aktif dalam mengamati gambar dan mengamati secara langsung bagian tubuh yang dimilikinya. keaktifan siswa juga dilanjutkan dengan mencoba menulis anggota tubuh di buku. setelah setiap kelompok dirasa cukup dalam mengamati dan menulis, guru membagi kelompok menjadi kelompok pembicara dan pendengar. tugas kelompok pembicara adalah menjelaskan hasil pengamatan. tugas kelompok pendengar adalah menyimak, mengoreksi, menunjukkan yang belum lengkap. guru dengan dibantu asisten mengontrol dan memeberikan bantuan kepada setiap kelompok agar proses ini berjalan dengan baik. langkah ini menumbuhkan karakter aktif dalam menyampaikan pendapat dimuka umum dan berani mengoreksi teman apabila ada yang kurang. selain itu juga dapat memupuk rasa percaya diri siswa. siswa juga menampakkan rasa senang karena mendapat banyak kesempatan untuk mengekspresikan diri. kegiatan selanjutnya sama seperti sebelumnya melainkan bertukar peran antar pembicara dan pendengar. akhir dari strategi ini kedua pihak, berdiskusi untuk meyimpulkan materi yang didiskusikan. langkah ini tetap didampingi guru dan asisten untuk mengkondusifkan suasana kelas. adapun beberapa hal yang harus diperhatikan dalam strategi ini adalah guru harus selalu mendampingi dalam setiap langkahnya. melihat siswa kelas 1 masih pada operasional konkrit. guru harus menggunakan media konkrit, guru harus harus menggunakan instruksi yang jelas. strategi yang kedua adalah gubah lagu. strategi ini digunakan untuk mempermudah menghafal dan yang penting siswa juga menjadi senang. lagu dengan nada sederhana membuat siswa dapat segera menghafal dengan cepat. lagu ini berkaitan dengan pengenalan anggota tubuh. pertama, guru mengenalkan bagian tubuh yang dimiliki siswa. seperti mata, hidung, tangan dan kaki. guru menyebutkan bagian tubuh kemudian siswa menirukan. guru juga mengeja tiap huruf dan ditirukan siswa. kemudian guru menanya siswa dengan sedikit permainan guru pegang apa. masuk pada gubah lagu guru membagi siswa dalm 5 kelompok. guru memberi contoh mengenai lagu jariku yang sudah digubah. yakni mengenalkan macam-macam bagian jari. guru menyanyikan satu baris satu baris. kemudian siswa menirukan apa yang dinyanyikan guru. begitu terus sampai lagu selesei. pada langkah akhir masing-masing menyanyikan lagu yang sudah diajarkan guru. disaat satu kelompok menampilkan nyanyiannya implementasi model pembelajaran “berkat anang” ... (fitri puji rahmawati, dkk.) 117 kelompok yang lain menilai penampilan yang nyanyi. dilakukan sampai semua kelompok menampilkan nyanyiannya dan menilai maka semua penilaian dikumpulkan dan menentukan pemenang. yang terakhir merayakan kemenagan satu kelas dengan perasaan gembira. penggunaan strategi gubah lagu, dapat menumbuhkan perasaan aktif dalam menjalankan instruksi guru. siswa dapat manjalani proses belajar dengan senang sehingga dalam proses belajar mengajar siswa tidak merasa tertekan justru dengan penuh kesenangan. pembelajaran dengan penggunan strategi debat seru dilakukan pada tema 1benda-benda di lingkungan sekitar subtema 2 perubahan wujud zat pembelajaran 4 dimulai dengan membuka pelajaran dengan salam. dilanjutkan dengan pengkondisian kelas serta memberitahu siswa tujuan dari pembelajaran hari ini yang dihubungkan dengan kegiatan sebelumnya dan kegiatan sehari-hari. guru memberitahu kepada siswa mengenai strategi yang akan dipakai pada pembelajaran hari ini. guru menjelaskan bagaimana peraturan yang harus dipatuhi semua. guru juga menjelaskan kepada siswa bahwa dalam proses pembelajaran akan ada penilaian secara kelompok. siswa dibagi menjadi 2 kelompok. yakni kelompok pro atau mendukung dan kelompok kontra atau kelompok yang tidak setuju. guru memberikan tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan. dalam materi ini materinya adalah penggunaan pestisida. pada tahap dapat menumbuhkan karakter cermat dan teliti dalam membaca, selain itu aktif dalam kerjasama satu kelompok juga bisa nampak melalui strategi ini. setelah dirasa kedua kelompok cukup dalam membaca, siswa diminta menulis poin-poin penting yang akan didebatkan. hasil tulisan diberitahukan kepada semua anggota kelompok sehingga dapat satu pendapat. pada tahap ini nampak siswa antusias dalam memberi pengetahuan sesama satu kelompok. proses yang menjadi inti adalah berdebat antara kelompok pro dan kontra. pertama kali kedua kelompok menentukan siapa yang pertama menyampaikan pendapat. penentuan ini dengan menjawab yang diberikan oleh guru. pada kesempatan kali ini tim pro yang mendapat kesempatan pertama dalam menyampaikan pendapat. tahap ini mendidik siswa untuk siap menghargai sesama. setelah kelompok pro menyampaikan pendapatnya, giliran kelompok kontra untuk menyampaikan pendapat dan menyanggah pendapat kelompok pro. suasana menjadi seru karena teman-teman yang lain juga memberi semangat. pada tahap ini banyak hal yang dapat ditanamkan kepada siswa. siswa dapat menampakkan keaktifannya dalam menyampaikan pendapat. siswa juga dapat membudayakan karakter menghargai pendapat orang lain. selain itu siswa juga nampak senang dalam menjalani proses kegiatan belajar mengajar dengan strategi debat seru. di setiap sesi guru memberi penguatan dan memasukkan konsep yang benar. sehingga kedua kelompok dapat mengambil pelajaran yang benar. selain itu guru juga menambahkan konsep atau tambahan informasi apabila belum muncul. proses debat dilanjutkan terus sampai materi selesei. di akhir pembelajaran guru mengumumkan pemenang dari debat tersebut. kemudian merayakan denagn perasaan penuh kegembiraan atas keberhasilan bersama. 3. sdn 1 kleco dalam kegiatan perencanaan dalam mengimplementasikan kegiatan pembelajaran dengan strategi sintesa gambar, guru hendaknya mempersiapkan gambargambar secara acak yang kemudian dengan gambar tersebut dapat membentuk suatu urutan gambar yang logis dan sistematis. gambar – gambar yang telah disediakan hendaknya mempunyai kemiripan agar merangsang siswa untuk berfikir dalam mengurutkannya. rencana pelaksanaan pembelajaran profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 109-120118 juga harus disusun dengan baik sesuai dengan urutan dan format yang ada yaitu meliputi : kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, tujuan, materi ajar, metode pembelajaran, media, alat dan sumber belajar, kegiatan pembelajaran yang meliputi: kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, dan lampiran penilaian autentik. adapun bentuk pelaksanaannya alangkah lebih baik jika disesuaikan dengan buku guru dan buku siswa yang ada tanpa mengesampingkan kreatifitas guru dalam mengembangkan atau mengeksplor kemampuan serta pengalamannya dalam kegiatan pemnbelajaran. sedangkan itu siswa juga tidak selalu dituntut untuk diam saja dalam pelaksanaan pembelajaran, guru seharusnya mampu merangsang siswa agar dapat mengembangkan daya pikir serta kekreatifitasan sehingga pembelajaran terasa menyenangkan bagi siswa dan guru merasa nyaman untuk menyampaikan pembelajaran. dalam kegiatan pelaksanaan dengan menggunakan strategi sintesa gambar, langkah awal guru harus menjelaskan konsep dasar materi. selanjutnya guru menunjukkan gambar secara acak kepada siswa, guru merangsang siswa dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan kepada siswa, sehingga dengan pertanyaan tersebut membuat siswa mampu mengurutkan gambar acak tersebut secara logis dan sistematis. guru mempersilahkan kepada siswa secara bergantian untuk memasangkan gambar dipapan tulis. pada kegiatan ini mampu menumbuhkan antusias siswa untuk berlomba –lomba memasangkan gambar di papan tulis, dalam hal ini pendidikan karakter kedisiplinan dapat terbentuk karena yang dapat maju untuk menempelkan adalah siswa yang paling anteng / tenang duduknya. ketika ada siswa yang tidak ditunjuk untuk maju yang perlu ditanamkan oleh guru dari awal karena ini kelas bawah yaitu kelas 1 maka semuanya harus berlomba – lomba untuk anteng–antengan ditempat duduk sehingga dapat tertanam pendidikan karakter mandiri dan saling menghargai antar temantemannya. bagi siswa yang maju untuk mengurutkan gambar didepan kelas, diminta untuk menceritakan gambar tersebut kepada temannya dan alasan mengapa memilih gambar tersebut. rasa percaya diri juga dapat terbentuk pada kegiatan ini. setelah mengaplikasikan strategi sintesa gambar, bentuk evaluasi yang diberikan adalah sebaiknya sampel gambar yang terapkan tidak hanya satu sub pokok bahasan, tetapi lebih dari satu sub pokok bahasan agar dapat memberikan ruang untuk berpikir kepada siswa terkait dengan penalaran bagaimana cara mengurutkan gambar acak sehingga membentuk suatu urutan gambar yang logis dan sistematis. namun karena terbatasnya waktu guru hanya dapat mengaplikasikan satu sub pokok bahasan gambar secara bersamaan yang kemudian guru memberikan soal evaluasi yang dikerjakan secara kelompok dengan teman sebangkuagar dapat membiasakan diri untuk bekerjasama, saling bertukar pendapat dan menghargai pendapat teman ketika berbeda pendapat. kekuatan dari strategi sintesa gambar ini menjadikan pembelajaran terasa menyenangkan, menumbuhkan perhatian siswa dan merangsang siswa untuk berpikir mengurutkan gambar sehingga menjadi gambar yang logis dan sistematis, siswa juga berlomba – lomba untuk meraih prestasi. harapan untuk kedepannya guru dapat menggunakan strategi ini pada kegiatan pembelajaran, terutama pada kelas rendah yaitu kelas 1 karena kelas 1senang dengan melihat gambargambar dari pada mendengarkan penjelasan guru yang terasa membosankan dalam pembelajaran. pada tema “selalu berhemat energi” dengan sub tema “macam-macam sumber energi” kelas iv dalam materi yang menerangkan mengenai macam-macam sumber energi, praktik membuat kincir angin, praktik mengetahui cara kerja kincir air. metode “surat rahasia dan lelang pertanyaan ini sangat cocok digunakan implementasi model pembelajaran “berkat anang” ... (fitri puji rahmawati, dkk.) 119 dikelas tinggi karena mampu merangsang keaktifan, kerja sama, sikap kompetitif dll. dalam pelaksanaan pembelajaran pada penerapan strategi ini langkah awal guru harus terlebih dahulu menyiapkan materi dan mencari refrensi lainnya agar materi yang disampaikan bisa lebih banyak dan luas, setelah itu guru juga harus menyiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam pengaplikasian strategi tersebut yaitu : amplop, beberapa pertanyaan, dll. pada awal pembelajaran guru menyampaikan meteri pembelajaran secara singkat kemudian siswa dibagi menjadi 5 kelompok dan memilih ketua kelompok dari masing-masing. guru menginstruksikan setiap kelompok untuk membuat yel-yel kemudian guru memberikan skor pada setiap penampilan kelompok. sebelum membuka amplop guru menjelaskan aturan permaianan, setiap kelompok yang bisa menjawab dengan benar akan mendapatkan tambahan nilai dan jika salah dalam menjawab maka poin dalam kelompok tersebut akan dikurangi. pertanyaan dilakukan secara rebutan agar siswa mampu berkonsentrasi dan bisa berlatih untuk cepat dalam berfikir dan menjawab pertanyaan. di akhir pembelajaran guru mentotal skor masing-masing kelompok dan kelompok yang memiliki skor tertinggi akan menjadi pemenangnya. simpulan implementasi pembelajaran dengan model “berkat anang”diterapkan dengan 10 strategi, yakni: sharing pengalaman, kocok arisan, sintesa gambar, ikhtisar wacana, jodohku, debat seru (debur), puzzle gila, gubah lagu, surat rahasia, dan lelang pertanyaan. pengimplementasian di sdn 1 senden m,enghasilkan kagiatan pembelajaran yang menyenangkan dan aktif sekaligus mampu menguatkan katakter kerja sama antarkelompok yang dibuat. sdn 1 kleco juga menerapkan strategi ini dengan hasil siswa antusias dalam belajar, senang,dan memunculkan karakter pemimpin yang bertanggung jawab. sedangkan sdn 1 blulukan, strategi gubah lagu dan surat rahasia yang diterapkan sangat membantu siswa bersamangat belajar serta menanmkan karakter jujur dan kreatif. daftar pustaka ary, donald. 1982. pengantar penelitian dalam pendidikan. (terjemahan arief furchan). surabaya: usaha nasional. hartono. 2008. strategi pembelajaran active learning (www. strategi pembelajaran active learning « membina generasi rabbani.htm, tgl 5 juni 2010). hernowo. 2007. menjadi guru yang mau dan mampu mengajar secara menyenangkan. bandung: penerbit mlc. lickona, t. 1991. educating for character, how our school can teach respect and responsibility. new york: bantam books lie, anita. 2007. cooperative learning: mempraktikkan cooperative learning di ruang-ruang kelas. jakarta: grasindo. marzuki, m. murdiono, samsuri. 2011. “pembinaan karakter siswa berbasis pendidikan agama di sd dan smp di diy”, dalam jurnal kependidikan, volume 41, nomor 1, mei 2011, hal. 71-86 profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 109-120120 megawangi, ratna, dkk. 2005. pendidikan yang patut dan menyenangkan. jakarta pusat: viscom pratama. miles, m.b. & huberman, a.m. 1984. qualitative data analisys: a source book of new methods. beverly hills, ca: sage publications moleong, lexy.j. 1990. metode penelitian kualitatif. bandung: remaja rosda karya. mulyasa, e., kurikulum berbasis kompetensi (kbk), konsep, karakteristik dan implementasi, bandung, remaja rosdakarya, 2004. pardjono. 2010. pendidikan karakter di indonesia: konsep dan implementasinya, makalah ini disampaikan pada saat seminar nasional “revitalisasi pendidikan karakter dalam membangun bangsa” pada tanggal 16 mei 2010. sjarkawi. 2006. pembentukan kepribadian anak: peran moral, intelektual, emosional, dan sosial sebagai wujud integritas membangun jati diri. jakarta: bumi aksara. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 84 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 84 91 penerapan pembelajaran problem based learning (pbl) untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas iv sekolah dasar fida rahmantika hadi fip ikip pgri madiun fidarahmantika88@ikippgrimadiun abstract the purpose of this study was to describe the steps to the application of pbl learning to improve student learning outcomes in the material fractions. this research was a class act. in this study the data source was the teacher and the student. data collection techniques used in this study consisted of (a) observation, (b) interviews, and (c) test. methods of data analysis used in this research is descriptive qualitative and descriptive comparative. the steps of learning by pbl method are (1) the stage of cooperation where students formed into groups of 4-5 students, (2) the orientation of students to the problem, namely the provision of problems related to everyday life, (3) organization students to learn independently in a group, (4) guided inquiry groups using worksheets to gather the appropriate information, and (5) develop and present the results of discussions through presentations to the class. the resulting increases in students’ mathematics learning of the results of the pre-action test 71.31 and increased in the first cycle to 75.78, on the second cycle increased by 82.63. keywords: problem based learning (pbl), students achievement, mathematic pendahuluan peningkatan kualitas pendidikan merupakan hal yang tidak akan habis dibicarakan dan diupayakan. salah satu upaya peningkatan kualitas pendidikan tersebut adalah mengubah paradigma pendidikan khususnya di sekolah dasar (sd). selama ini pengajaran hanya berpusat pada guru saja untuk itu para guru dituntut agar lebih kreatif dalam mengembangkan pembelajaran. siswa diharapkan dapat berprestasi melalui kegiatan-kegiatan nyata yang menyenangkan dan mampu mengembangkan potensi siswa secara optimal. dalam proses pembelajaran di sd taman 3, siswa masih berpendapat bahwa mata pelajaran matematika adalah mata pelajaran yang sulit. berdasarkan observasi langsung yang dilaksanakan tanggal 3 oktober 2016, pada setiap mata pelajaran matematika kelas iv guru lebih sering menggunakan metode ceramah, tanyajawab, dan penugasan. serta model pembelajarannnya masih bersifat konvensional. guru juga memaparkan bahwa ketika mengajar jarang sekali menerapkan model pembelajaran yang bermacam-macam. hal ini disebabkan target terselesaikannya seluruh materi selama satu semester yang harus terpenuhi. oleh karena itu siswa hanya terpaku pada guru dan buku saja. mereka kurang termotivasi dalam belajar dan belum belajar secara aktif. sehingga mereka belum menemukan hal yang menarik dari matematika. metode ini akan membuat siswa cenderung pasif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. peran guru lebih dominan dibanding peran siswa. berdasarkan permasalahan yang dihadapi siswa kelas iv sd taman 3 dibutuhkan model pembelajaran yang dapat mengembangkan dan menggali pengetahuan siswa secara maksimal. selain itu juga dapat mengaktifkan p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan pembelajaran problem.....(fida rahmantika hadi) 85 siswa untuk belajar bersama-sama sehingga siswa lebih mudah untuk memahami konsep yang diajarkan dan memiliki kemampuan mengkomunikasikan ide yang dimiliki baik secara lisan maupun tulisan. salah satu model pembelajaran yang sesuai dalam menyelesaikan permasalahan di atas adalah model pembelajaran problem based learning (pbl). menurut arends (2008: 41), pbl adalah pembelajaran yang menyuguhkan berbagai situasi masalah yang autentik dan bermakna kepada siswa, yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk invetigasi dan penyelidikan. sedangkan sanjaya (2009: 214) juga berpendapat bahwa pbl dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pbl adalah pembelajaran yang memberikan masalah kepada siswa dan siswa diharapkan untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan melaksanakan pembelajaran yang aktif. sehingga pada pembelajaran ini siswa yang selalu aktif, guru hanya sebagai fasilitator. masalah yang diberikan kepada siswa dalam metode pbl merupakan masalah yang berkaitan dengan kehidupan seharihari. pemberian masalah dalam konteks dunia nyata ini bertujuan agar siswa mampu membangun sendiri pengetahuan baru yang diterimanya. hal ini sesuai dengan pendapat trianto (2007:67) bahwa pembelajaran berdasarkan masalah menyajikan situasi masalah yang otentik dan bermakna kepada siswa sehingga dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri. melalui permasalahan yang diberikan, siswa akan berusaha menyelesaikan masalah tersebut berdasarkan pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya sehingga siswa mampu menemukan keterkaitan antara materi terdahulu dengan materi baru yang sedang mereka pelajari. menurut amir (2009: 12), ciri-ciri atau karakteristik pbl antara lain: 1) pembelajaran diawali dengan pemberian masalah; 2) siswa berkelompok secara aktif merumuskan masalah; 3) mempelajari dan mencari sendiri materi yang ber-hubungan dengan masalah serta melaporkan solusinya. sugiyanto (2008: 140) mengemukakan ada 5 tahapan yang harus dilaksanakan dalam pbl, yaitu: 1) memberikan orientasi tentang per-masalahannya kepada siswa. 2) mengorganisasikan siswa untuk meneliti. 3) membantu investigasi mandiri dan kelompok. 4) mengembangkan dan mempresentasikan hasil. 5) menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah. sanjaya (2009: 220) menyebutkan keunggulan pbl antara lain: 1) pbl merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami pelajaran; 2) pbl dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan ke puasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa; 3) pbl dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran; 4) melalui pbl bisa memperlihatkan kepada siswa setiap mata pelajaran (matematika, ipa, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekadar belajar dari guru atau buku-buku saja; 5) pbl dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa; 6) pbl dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis; 7) pbl dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata; 8) pbl dapat mengem-bangkan minat siswa untuk belajar e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 86 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 84 91 secara terus menerus sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir. berdasarkan uraian tersebut diatas, dapat dirumuskan suatu masalah yang menjadi fokus perbaikan pembelajaran, antara lain sebagai berikut: bagaimanakah penerapan pbl dalam meningkatkan proses pembelajaran matematika siswa kelas iv sd taman 3 tahun ajaran 2016/ 2017? apakah penerapan model pbl dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas iv taman 3 tahun ajaran 2016/ 2017? tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan penerapan pbl dalam meningkatkan proses pembelajaranmatematika siswa kelas iv sd taman 3 tahun ajaran 2016/ 2017 dan untuk mengetahui penerapan model pbl dapat meningkatkan hasil belajarmatematika siswa kelas iv sd taman 3 tahun ajaran 2016/ 2017. metode penelitian penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. menurut sanjaya (2012: 26) penelitian tindakan kelas diartikan sebagai proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melalui berbagai tindakaan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut. data adalah pencatatan peneliti, baik berupa fakta ataupun angka. data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa fakta dan informasi mengenai pembelajaran matematika model pbl di kelas iv sd.arikunto (2006:129) menyatakan sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh. pada penelitian ini sumber datanya adalah guru dan siswa. guru bertindak sebagai informan, yaitu orang yang memberikan informasi tentang pembelajaran matematika pada siswa kelas iv sd. siswa bertindak sebagai subjek, yaitu seseorang yang melaksanakan kegiatan dan diberi tindakan. sasaran yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah model pembelajaran pbl mampu meningkatkan hasil pembelajaran matematika siswa kelas iv sd. teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari (a) observasi, (b) wawancara, dan (c) tes. setelah melakukan observasi, wawancara, pemberian tugas, maka langkah berikutnya adalah memaparkan dan menganalisis data. menurut wiyono dan burhannuddin (2007: 90) analisis data adalah proses penyusunan data agar bisa ditafsirkan dan disimpulkan. metode analisis data yang yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan deskriptif komparatif. analisis data deskriptif kualitatif akan digunakan untuk mengalisis data verbal, yaitu data hasil pengamatan pembelajaran matematika siswa kelas iv sd dengan menggunanakan model pbl. analisis data deskriptif komparatif untuk data kuantitatif, yakni dengan membandingkan hasil antarsiklus. prosedur penelitian ini adalah setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. berdasarkan hasil refleksi siklus i ini akan ditentukan berlanjut ke siklus ii atau tidak. jika berlanjut ke siklus ii maka pada siklus ii akan dilakukan sesuai dengan langkah-langkah dari siklus i, begitu seterusnya. indikator keberhasilan tindakan meningkatkan hasil belajar siswa dengan penggunakan model pbl adalah ada jumlah siswa yang mengalami ketuntasan belajar sekurang-kurangnya 75% dari jumlah siswa dalam kelas tersebut. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan pembelajaran problem.....(fida rahmantika hadi) 87 hasil dan pembahasan untuk mengetahui kondisi di lapangandilakukan observasi pra tindakanmelaluipengamatan dan tes. dari pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa siswa kurangberminat mengikuti pembelajaran matematika. siswa masih menganggap bahwa pembelajaran matematika merupakan pelajaran yang sulit. selain itu siswa juga tidak aktif dalam proses pembelajaran. hasil tes pada pratindakan dapat dilihat dalam tabel 1. tabel 1. data nilai pra-tindakan no nilai jumlah siswa total nilai 1 55 1 55 2 60 4 240 3 65 2 130 4 70 2 140 5 75 3 225 6 80 6 480 7 85 1 85 jumlah rata-rata 1335 71,31 berdasarkan hasil pratindakan, dapat dilihat bahwa siswa yang belum mencapai kkm sebanyak 9 siswa dan siswa yang sudah menacapai nilai kkm sebanyak 10 siswa. sehingga dari hasil di atas dapat diambil kesimpulan bahwa hasil tes siswa masih rendah, hanya sebesar 71,31. tahap perencanaan tindakan di siklus i dimulai dari penemuan masalah yang dilanjutkan dengan merancang tindakan yang akan dilakukan. hasil perencanaan siklus i yaitu (a) merancang sekenario pembelajaran, (b) peneliti menyusun rpp, (c) peneliti menyiapkan instrumen penilaian dan catatan lapangan pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan model pbl. tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran pada siklus i yang diterapkan peneliti sebagai berikut: 1. orientasi siswa kepada masalah, pada tahap ini peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran dan mengaitkan dengan materi prasyarat melalui tanya jawab langsung kepada siswa. peneliti memberikan motivasi kepada siswa agar mampu bekerja sama dengan baik dalam satu kelompok. setelah itu pemberian masalah kepada setiap kelompok. penyajian masalah ini berupa soal yang terdapat dalam lks yang telah disiapkan oleh peneliti. masalah yang dibuat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. 2. mengorganisasikan siswa untuk belajar pada tahap ini peneliti membagi siswa ke dalam kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 orang siswa. setelah kelompok terbentuk dan masingmasing siswa duduk sesuai dengan kelompoknya, peneliti membagikan tugas belajar berupa lks yang berisi masalah-masalah yang harus diselesaikan oleh siswa melalui diskusi kelompok. 3. membimbing kelompok belajar dan bekerja pada tahap ini peneliti membimbing siswa dalam pengerjaan lks. peneliti berkeliling ke tiap-tiap kelompok untuk menanyakan apakah ada bagian yang dirasa sulit atau membingungkan. jika siswa mengalami kesulitan, peneliti bertindak sebagai pengarah dengan memberi arahan atau pertanyaan pancingan sehingga siswa bisa menemukan sendiri jawaban dari pertanyaan yang diberikan. peneliti meminta kepada setiap siswa untuk e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 88 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 84 91 berperan aktif dalam kegiatan diskusi kelompok. 4. mengembangkan dan menyajikan hasil karya pada tahap ini peneliti meminta siswa untuk melaporkan atau mempresentasikan hasil diskusi mereka di depan kelas. peneliti bertindak sebagai pengatur jalannya diskusi. peranan guru dalam kegiatan ini sangat penting. guru bertindak sebagai pengatur jalannya diskusi kelas. 5. menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah pada tahap ini peneliti bersama siswa mendiskusikan jawaban yang tepat dari pertanyaan yang tercantum dalam lks. selanjutnya peneliti bersama siswa juga membuat kesimpulan terhadap kegaiatan pembelajaran yang telah dilakukan. berdasarkan hasil pengamatan pada saat berlangsungnya pembelajaran pada siklus i, hasil proses dan hasil tes mengalami peningkatan. dapat dilihat dalam tabel 2. tabel 2. data proses pembelajaran siklus 1 no nilai jumlah siswa presentasi hasil diskusi kelompok keaktifan dalam pembelajaran di kelompok 1 60 4 7 2 65 8 5 3 70 6 5 4 75 1 3 5 80 1 0 jumlah 1335 1320 rata-rata 70,26 69,47 berdasarkan data dalam proses pembelajaran pada siklus i dalam tabel 2 dan 3, siswa seringkali merasa gugup atau malu ketika diminta untuk presentasi di depan kelas. hal ini disebabkan karena siswa belum terbiasa melakukan kegiatan presentasi selama kegiatan pembelajaran. dalam kegiatan diskusi bersama kelompok siswa juga masih kurang aktif. berdasarkan hasil tes dari 19 siswa kelas iv sd taman 3 yang mengikuti tes pada siklus i terdapat 12 siswa yang mencapai nilaikkm. sedangkan siswa yang belum mencapai nilai kkm sebanyak 7 siswa. berdasarkan hasil siklus i dapat diketahui bahwa indikator pencapaian sudah tercapai, akan tetapi kurang maksimal sehingga diperlukan lagi perbaikan yang akan dilaksanakan pada siklus ii. tabel 3. data hasil tes siklus-i no nilai jumlah siswa total nilai 1 60 1 60 2 65 4 260 3 70 2 140 4 75 2 150 5 80 5 400 6 85 4 340 7 90 1 90 jumlah 1440 rata-rata 75,78 rencana tindakan siklus ii hampir sama dengan perencanaan pada siklus i. akan tetapi, pelaksanaan tindakan siklus ii dilakukan dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus i. hasil perencanaan siklus i yaitu (a) merancang sekenario pembelajaran, (b) peneliti menyusun rpp, (c) peneliti menyiapkan instrumen penilaian dan catatan lapangan pelaksanaan pembelajaran keterampilan berbicara. tahap-tahap pembelajaran siklus ii, dilakukan setelah adanya revisi berdasarkan hasil refleksi dari siklus i. perbaikan yang dilakukan pada siklus ii ini yaitu penyajian masalah pada lks dibuat dengan menggunakan gambar. ini diharapkan siswa dapat menyelesaikan masalah lebih baik. berdasarkan hasil p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan pembelajaran problem.....(fida rahmantika hadi) 89 pengamatanpada saat berlangsungnya pembelajaran pada siklus ii, hasil proses dan hasil tes mengalami peningkatan. dapat dilihat di dalam tabel 4 dan 5. tabel 4. data proses pembelajaran siklus-ii no nilai jumlah siswa presentasi hasil diskusi kelompok keaktifan dalam pembelajaran di kelompok 1 65 2 2 2 70 5 3 3 75 5 5 4 80 5 7 5 85 2 3 jumlah 1425 1450 rata-rata 75 76,32 tabel 5. data hasil tes siklus-ii no nilai jumlah siswa total nilai 1 75 4 300 2 80 6 480 3 85 5 425 4 90 3 270 5 95 1 95 jumlah 1570 rata-rata 82,63 berdasarkan data dalam proses pembelajaran pada siklus ii, siswa sudah berkuranggugupnya ketika diminta untuk presentasi di depan kelas. siswa sudah berani menyampaikan hasil diskusi karena sudah pernah sebelumnya. siswa juga sudah banyak yang aktif dalam kegiatan diskusi bersama kelompok. berdasar hasil tes dari 19 siswa kelas iv sd taman 3 yangmengikuti tesakhir pada siklus ii semua siswa sudah mencapai nilai di atas kkm. jadi karena kriteria yang diterapkan peneliti telah tercapai padasiklus ii yaitu semua siswa sudah mencapai nilai kkm maka penelitian ini dihentikan pada siklus ii. pada pra tindakan ada banyak permasalahan dalam proses pembelajaran matematika. masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam hal menyelesaikan masalah. selain itu siswa juga sulit mengungkapkan hasil diskusi bersama kelompoknya. siswa cenderung malu dan kurang percaya diri karena belum terbiasa berbicara di depan umum. minat siswa terhadap pembelajaran matematika juga rendah, hal itu karena siswa merasa bosan dengan pembelajaran. hal itu menyebabkan hasil pembelajaran matematika siswa masih rendah. ini dilihat dari nilai rata-rata pada hasil pratindakan adalah 71,31 yang masih di bawah kkm. oleh sebab itu, diperlukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang inovatif. salah satu model pembelajaran yang inovatif yaitu model pbl. pada siklus i, aktivitas pembelajaran siswa kelas iv dalam mengikuti pembelajaran menggunakan model pblsudah berjalan sesuai dengan rencana. proses pembelajaran berjalan baik, siswa menjadi lebih antusias mengikuti pembelajaran. siswa lebih berminat dalam mengikuti pembelajaran matematika. nilai siswa dalam hal presentasi hasil diskusi dengan kelompok pada siklus satu memiliki rata-rata 70,26, sedangkan keaktifan siswa 69,47. untuk data hasil tes nilai rata-rata pada siklus i adalah 75,78. jika dibandingkan dengan rata-rata hasil tes sebelum tindakan maka rata-rata hasil tes siswa pada siklus i meningkat sebesar 4,47 poin dari 71,31 menjadi 75,78. pada siklus ii aktivitas pembelajaran siswa kelas iv dalam pembelajaran menggunakan model pbl bertambah lebih baik lagi dari siklus i. siswa lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran. hal itu juga menunjukkan rasa malu siswa untuk berbicara e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 90 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 84 91 di depan kelas sudah berkurang. siswa juga sudah aktif dalam proses pembelajaran. nilai siswa dalam hal presentasi hasil diskusi dengan kelompok pada siklus satu memiliki rata-rata 75, sedangkan keaktifan siswa 76,32. hal itu membuktikan bahwa kualitas pembelajaran dari pra tindakan, siklus i, hingga siklus ii mengalami peningkatan. dari sebelum tindakan hingga siklus ii, kegiatan proses pembelajaran mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna. untuk data hasil tes pada siklus ii adalah 82,63. jika dibandingkan dengan rata-rata hasil tes pada siklus i maka ratarata hasil tes siswa pada siklus ii meningkat sebesar 6,85 poin dari 75,78 menjadi 82,63. pada siklus ii ini, tidak ada siswa yang mendapatkan nilai di bawah kkm. semua siswa mendapatkan nilai tuntas. hal tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran pbl dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut. 1. langkah–langkah problem based learning (pbl) yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas iv yaitu: memberikan masalah dalam bentuk lks pada masingmasing siswa, membagi siswa dalam kelompok, membimbing siswa baik secara individu maupun kelompok dalam upaya pengerjaan lks, meminta siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, dan mendiskusikan jawaban yang tepat dari pertanyaan yang tercantum dalam lks serta membuat kesimpulan. 2. penerapan pembelajaran problem based learning (pbl) dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas pada materi pecahan. hasil tes siswa dari pra tindakan hingga siklus ii sudah mengalami peningkatan. pada pra tindakan nilai rata-rata kelas 71, 31 dan siswa yang mendapatkan nilai belum tuntas ada 47,4%. pada siklus i sudah mengalami peningkatan. nilai rata-rata kelas naik menjadi 75,78. siswa yang belum tuntas ada 36,8%. siklus ii sudah mengalami peningkatan dari siklus i. nilai rata-rata kelas 82,63 dan semua siswa sudah mendapatkan nilai tuntas. hal tersebut menunjukkan bahwa model pembelajaran pbl dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa kelas iv sd taman 3. daftar pustaka amir, m. taufiq. 2008. inovasi pendidikan melalui problem based learning. jakarta: kencana. arends, richard i. 2008. learning to teach. yogyakarta: pustaka pelajar arikunto, suharsimi. 2006. prosedur penelitian: suatu pendekatan praktik. jakarta: pt rineka cipta. sanjaya, wina. 2009. strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. jakarta: kencana prenada media group . p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan pembelajaran problem.....(fida rahmantika hadi) 91 `sugiyanto. 2008. model-model pembelajaran inovatif. surakarta: panitia sertifikasi guru rayon 13. trianto. 2007. model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivis. jakarta: prestasi pustaka. wiyono, bambang budi dan burhanuddin. 2007. metodologi penelitian (pendekatan kuantiatif, kualitatif, dan action research). malang: fip universitas negeri malang. 41pengelolaan sarana dan prasarana di sekolah dasar ... (wahyu ardhi bandono, samino) issn 2406-8012 pengelolaan sarana dan prasarana di sekolah dasar negeri 01 tohudan, karanganyar wahyu ardhi bandono1), samino2) 1 smk sakti gemolong bandono_19@yahoo.co.id 2 fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta samino@ums.ac.id abstract the purpose of this study are (1) to describe the characteristics of the provision of facilities and infrastructures; (2) to describe the characteristics distribution of facilities and infrastructures; (3) too describe the characteristics of facilities and infrastructures maintenance. this research uses qualitative research and ethnographic research design. data was collected through observation, interview, and documentation. model analysis of the data in this study uses cross-site analytical methods for description. the results of the study are (1) provision of facilities and infrastructure in 01 tohudan elementary school held by planning needs of infrastructure were prepared at the start of the new academic year, along with the preparation of the budget revenue and expenditure plan prepared in discussion of school community which consists of principals, teachers, school committee, and the school janitor. (2) the direct distribution applied the goods done at once, the items that have been received and in inventoried directly distributed to the principal, teacher, or school guard. while the indirect distribution is not completed at onces, so before the distribution completes, it cannot be handed over to the concerned, in addition to the indirect distribution occur if there are remaining infrastructure. (3) maintenance of infrastructure study conducted by teachers with students by keeping the facilities and infrastructure and put in the available space. and if there is damage, the infrastructure which cannot be handled by the teacher, the teacher reports verbally to the school principal and followed up with a written report to the principal. keywords: procurement, distribution, maintenance, infrastructure pendahuluan pengadaan sarana dan prasarana sekolah dimaksudkan untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar berjalan secara efektif dan efi sien sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. pengadaan merupakan fungsi operasional pertama dalam manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan. fungsi ini pada hakikatnya merupakan serangkaian kegiatan untuk menyediakan sarana dan prasarana pendidikan persekolahan y a n g sesuai dengan kebutuhan, baik berkaitan dengan jenis dan spesifi kasi, jumlah, waktu maupun tempat, dengan harga dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. penggunaan sarana dan prasarana diperlukan pendistribusian yang baik. pendistribusian sarana dan prasarana biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. pendistribusian sarana dan prasarana, tiga hal yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dan guru di sekolah dasar, terkait dengan pendistribusian sarana dan prasarana yaitu: (1) ketepatan barang yang disampaikan, baik jumlah maupun jenisnya; (2) ketepatan sasaran penyampaiannya; dan (3) ketepatan kondisi barang yang profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 41 4842 issn 2406-8012 disalurkan. dalam rangka itu, paling tidak kepala sekolah dan guru melakukan langkah penyusunan alokasi barang, pengiriman barang, dan penyerahan barang. sarana dan prasarana mampu bertahan lama dan dimanfaatkan untuk membantu proses pembelajaraan. oleh sebab itu, setiap sekolah diwajibkan untuk melakukan pemeliharaan yang baik melalui berbagai cara, diantaranya mewajibkan setiap peserta didik untuk menjaga kebersihan dan mewajibkan kepada guru untuk melaporkan segala kerusakan sebelum kerusakan sarana dan prasarana menjadi lebih parah lagi. selain itu, setiap sekolah perlu mempunyai program pemeliharaan, perawatan, perbaikan, dan serta pembangunan kembali gedung sekolah, perangkat dan lingkungannya. berdasarkan latar belakang penelitian seperti diuraikan di atas, maka dalam penelitian ini akan dikaji bagimana pengelolaan sarana dan prasarana di sekolah dasar negeri 01 tohudan karanganyar, sehingga mampu membantu guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengelolaan sarana dan prasarana di sekolah dasar negeri 01 tohudan karanganyar, yang meliputi: (1) karakteristik pengadaan sarana dan prasarana di sd negeri 01 tohudan. (2) karakteristik pendistribusian sarana dan prasarana di sd negeri 01 tohudan. (3) karakteristik pemeliharaan sarana dan prasarana di sd negeri 01 tohudan. metode penelitian penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif. menurut moleong (2007: 3) bahwa metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). desain penelitian ini menggunakan pendekatan atau desain etnografi . mantja (2005: 2) menyatakan bahwa etnografi merupakan rekonstruksi budaya sekelompok manusia atau hal-hal yang dianggap budaya dalam berbagai kancah kehidupan manusia. pada penelitian ini peneliti mengambil lokasi di sd negeri 01 tohudan kabupaten karanganyar, yang beralamat di jln. adisumarmo tohudan kulon rt 04 rw iii tohudan colomadu. sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah arsip/dokumen dan aktivitas/peristiwa. dokumen dan arsip yang digunakan adalah catatan-catatan tertulis yang berupa struktur organisasi, ketenagakerjaan, dan aktivitas lainnya di sd negeri 01 tohudan kabupaten karanganyar. menurut sutopo (2005: 49) “dalam penelitian kualitatif, posisi narasumber sangat penting, sebagai individu yang memiliki informasi”. informan merupakan tumpuan pengumpulan data bagi peneliti dalam mengungkapkan permasalahan penelitian. teknik pengumpulan data merupakan unsur penting dalam suatu penelitian, pada penelitian ini digunakan tiga macam teknik pengumpulan data observasi, wawancara 43pengelolaan sarana dan prasarana di sekolah dasar ... (wahyu ardhi bandono, samino) issn 2406-8012 mendalam dan dokumentasi. peneliti menggunakan observasi partisipan aktif untuk mencoba mempelajari dan memahami perilaku orang-orang yang terlibat. pada metode observasi ini peneliti ingin mengetahui lebih dekat tentang bagaimana audit internal dalam pengelolaan mutu pendidikan. proses wawancara dalam penelitian ini mengacu pada teori fi rst order understanding dan second order undertsanding. menurut tjipto subadi (2013) bahwa first order understanding adalah proses wawancara dengan cara bertanya kepada informan. informan menginterpretasikan pertanyaan penelitian sehingga peneliti mendapat jawaban yang tepat. second order understanding adalah peneliti menginterpretasikan interpretasi dari informan tersebut sehingga menemukan makna baru yang akurat. pemaknaan peneliti tersebut tidak boleh bertentangan dengan interpretasi informan. metode ini dipergunakan untuk mencari data jumlah karyawan, data pendaftar, data kelulusan, data sarana-prasarana dan catatan-catatan lain yang relevan dengan permasalahan penelitian. dokumen dalam penelitian ini berupa kurikulum, silabus, dan rpp. menurut sugiyono (2007: 366) uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confi rmability (objektivitas). dalam peneitian kualitatif, analisis data dilakukan sejak awal dan sepanjang proses penelitian berlangsung. teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik second order understanding sedangkan alur penelitian mengacu pandangan miles dan huberman (2005: 16) dengan tiga prosedur yaitu: (1) redu ksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan/verifi kasi. hasil penelitian dan pembahasan pengadaan sarana dan prasarana di sd negeri 01 tohudan engadaan sarana dan prasarana di sd negeri 01 tohudan diadakan berdasarkan perencanaan yang disusun oleh warga sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan penjaga sekolah. penyusunan rencana dilakukan pada awal tahun ajaran baru. perencanaan dibuat secara sistematis, rinci, dan teliti berdasarkan informasi realistis tentang kondisi sekolah. struktur perencanaan memisahkan antara bangunan, perabot sekolah, dan alat pelajaran. prasarana pembelajaran diklasifi kasikan menjadi dua macam, yaitu prasarana pendidikan yang secara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar dan prasarana pendidikan yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, tetapi secara langsung sangat menunjang terjadinya proses belajar mengajar. pengadaan sarana dan prasarana dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut: menyusun rencana kebutuhan sarpras dalam satu tahun kedepan, mendata kebutuhan yang harus profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 41 4844 issn 2406-8012 diadakan dan menentukan skala prioritas, serta menyusun anggaran kebutuhan biaya pengadaan sarpras yang nantinya disatukan dalam rapbs, dilakukan oleh panitia/ petugas yang ditunjuk oleh kepala sekolah berdasarkan surat perintah tugas (spt). perencanaan pengadaan sarana dan prasarana disusun secara sistematis, realistis berdasarkan analisis kebutuhan. hal ini menunjukkan bahwa sekolah telah memikirkan dan menetapkan kegiatan atau program yang akan dilakukan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai prosedur yang benar, yaitu merumuskan tujuan yang ingin dicapai, memilih program untuk mencapai tujuan, dan identifi kasi serta pengerahan sumber yang jumlahnya terbatas. adanya pengadaan yang berdasarkan perencanaan yang matang tersebut menunjukkan bahwa kepala sekolah, guru, dan komite sekolah sd negeri 1 tohudan telah menyadari arti pentingnya sarana dan prasarana sekolah, dimana sekolah telah memikirkan kebutuhan yang diperlukan untuk pendidikan yang berupa peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, maupun fasilitas yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran (nurkolis, 2006: 49). perencanaan pengadaan sarana dan prasarana yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru, dan komite sekolah pada dasarnya merupakan persiapan menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian tujuan tertentu. hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh nawawi (2006: 16). pengadaan sarana-prasarana pendidikan pada dasarnya merupakan upaya merealisasikan rencana pengadaan perlengkapan yang telah disusun sebelumnya. berkaitan dengan pengadaan sarana prasarana sekolah, ada beberapa cara yang dapat ditempuh oleh pengelola sekolah untuk mendapatkan sarana prasarana yang dibutuhkan sekolah, antara lain dengan cara membeli, mendapatkan hadiah atau sumbangan, tukar menukar, dan meminjam. namun pengadaan sarana dan prasarana di sd negeri 01 tohudan, hampir semuanya dilakukan melalui pembelian, dan atau disediakan oleh pemerintah. pengadaan sarana dan prasarana dilakukan dengan cara menyediakan semua keperluan barang atau jasa berdasarkan hasil perencanaan dengan maksud untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar berjalan secara efektif dan efi sien sesuai dengan tujuan yang diinginkan. hal ini merupakan fungsi operasional pertama dalam manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan. fungsi ini pada hakikatnya merupakan serangkaian kegiatan untuk menyediakan sarana dan prasarana pendidikan persekolahan sesuai dengan kebutuhan, baik berkaitan dengan jenis dan spesifi kasi, jumlah, waktu maupun tempat, dengan harga dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. berdasarkan uraian di atas, maka dapat dikemukakan bahwa pengadaan sarana dan 45pengelolaan sarana dan prasarana di sekolah dasar ... (wahyu ardhi bandono, samino) issn 2406-8012 prasarana sd negeri 01 tohudan, merupakan faktor utama untuk meningkatkan efektifi tas dan efi siensi pembelajaran berdasarkan perencanaan yang tepat. hal ini sesuai dengan hasil penelitian syakima, nurul m.y (2011) yang menyimpulkan bahwa: pengelolaan sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor utama untuk meningkatkan perilaku belajar siswa. kepala sekolah dan pihak pengadaan sarana dan prasarana harus lebih intensif untuk berdiskusi dengan guru tentang bagaimana mendorong siswa agar lebih berdisiplin di dalam kelas, merancang ulang tata letak, dan mempertimbangkan kembali alat pengajaran yang sekarang menjadi kebutuhan utama siswa. pendistribusian sarana dan prasarana di sd negeri 01 tohudan pendistribusian, sarana, dan prasarana di sd negeri 01 tohudan meliputi: pendistribusian barang dilakukan oleh petugas pengadaan dan yang menerima sarana-parasarana dengan memperhatikan kesesuaian barang yang diadakan. pendistribusian dilakukan sesuai dengan pemetaan yang telah dilaksanakan sebelumnya dengan cara langsung maupun tidak langsung. pendistribusian sarana dan prasarana dengan sistem pendistribusian langsung, sarana dan prasarana yang diterima oleh sekolah melalui pembelian maupun yang diterima dari pemerintah setelah diinventarisasikan langsung disalurkan pada bagian-bagian yang membutuhkan tanpa melalui proses penyimpanan terlebih dahulu. namun beberapa sarana seperti alat tulis, bahan praktik yang berupa barangbarang kecil, dan barang-barang yang masih tersisa, dilakukan dengan sistem tidak langsung, artinya barang barang yang sudah diterima dan sudah diinventarisasikan tidak secara langsung disalurkan, melainkan harus disimpan terlebih dahulu di gudang penyimpanan dengan teratur. sistem yang digunakan oleh sd negeri 01 tohudan dimaksudkan agar pendistribusian dapat berjalan dengan efektif, dimana sd negeri 01 tohudan dalam mendistribusikan sarana dan prasarana berupaya agar memenuhi beberapa asas yaitu: (1) asas ketepatan; (2) asas kecepatan; (3) asas keamanan; (4) asas ekonomis. namun terhdap barang-barang yang perlu disimpan di gudang sekolah mempertimbangkan pengawasan yang efektif, sehingga sarana dan prasarana yang disimpan selalu dalam keadaan baik dan utuh. berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa pendistribusian sarana dan prasarana yang dilakukan di sd negeri 01 tohudan, pada dasarnya ada dua sistem, yaitu sistem langsung dan sistem tidak langsung. pendistribusian dengan sistem langsung berarti barang-barang yang sudah diterima dan diinventarisasikan langsung disalurkan pada bagian-bagian yang membutuhkan tanpa melalui proses penyimpanan terlebih dahulu. sedangkan sistem pendistribusian tidak langsung adalah barang-barang yang sudah diterima dan diinventarisasikan tidak secara langsung disalurkan, dengan artian harus menjalani proses penyimpanan terlebih dahulu baik profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 41 4846 issn 2406-8012 digudang penyimpanan atau tempat lainnya. berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendistribusian sarana dan prasarana dilakukan untuk menempatkan sarana dan prasarana yang tepat, sehingga investasi yang telah dilakukan oleh sekolah nantinya benar-benar dapat digunakan dengan tepat, hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan pembelajaran siswa. dengan demikian hasil penelitian ini mendukung penelitian picus (2005), yang menyimpulkan bahwa pentingnya investasi fasilitas sekolah karena semua anak berhak untuk menghadiri sekolah yang aman, bersih, dan lingkungan pendidikan yang tepat. namun, para pembuat kebijakan harus menyadari bahwa investasi dalam fasilitas pendidikan tidak mungkin sendiri untuk meningkatkan pembelajaran siswa. pemeliharaan sarana dan prasarana di sd negeri 01 tohudan hasil penelitian tentang pemeliharaan sarana dan prasarana di sd negeri 01 tohudan yang diperoleh di lapangan melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi meliputi: pemeliharaan sarana prasarana pembelajaran dilakukan oleh guru bersama siswa dengan cara menjaga kebersihan sarpras dan menempatkan pada tempat yang telah tersedia. untuk sarana dan prasarana yang tidak dapat diperbaiki oleh guru, maka guru melaporkan kepada kepala sekolah secara lisan yang ditindaklanjuti dengan laporan tertulis. pelaksanaan perbaikan sarana prasarana pembelajaran dilakukan oleh pihak ke iii yang ditunjuk oleh kepala sekolah dengan menggunakan alokasi biaya yang tersedia pada pos belanja pemeliharaan oleh bendahara setelah mendapat persetujuan kepala sekolah. kegiatan pemeliharan sarana prasarana pembelajaran di sd negeri 01 tohudan diklasifi kasikan menjadi 2 yaitu pemeliharan pada sarana prasarana pembelajaran yang habis dipakai dan pemeliharaan pada sarana prasarana pembelajaran yang tidak habis dipakai. pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang, sehingga barang tersebut kondisinya baik dan siap digunakan. pemeliharaan mencakup segala upaya yang terus menerus untuk mengusahakan agar peralatan tersebut tetap dalam keadaan baik. pemeliharaan di mulai dari pemakaian barang, yaitu dengan cara hati-hati dalam menggunakannya. pemeliharaan yang bersifat khusus harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud. hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh dharma (2007: 31) mengemukakan pendapatnya bahwa: pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah adalah kegiatan untuk melaksanakan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana dan prasarana selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan secara berdayaguna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan. dengan adanya pemeliharaan secara rutin bertujuan agar usia pakai sarana dan prasarana dapat panjang, dan hal ini telah terbukti pada sarana dan prasarana yang ada di sd negeri 01 tohudan, demikian pula 47pengelolaan sarana dan prasarana di sekolah dasar ... (wahyu ardhi bandono, samino) issn 2406-8012 dengan adanya pemeliharaan secara berkala semua sarana dan prasarana khususnya peralatan dapat dipergunakan setiap saat, hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh dharma (2007: 31), menyatakan bahwa: tujuan pemeliharaan: (1) untuk mengoptimalkan usia pakai peralatan. hal ini sangat penting terutama jika dilihat dari aspek biaya, karena untuk membeli suatu peralatan akan jauh lebih mahal jika dibanding dengan merawat bagian dari peralatan tersebut. (2) untuk menjamin kesiapan operasional peralatan untuk mendukung kelancaran pekerjaan sehingga diperoleh hasil yang optimal. (3) untuk menjamin ketersediaan peralatan yang diperlukan melalui pengecekkan secara rutin dan teratur. (4) untuk menjamin keselamatan orang atau siswa yang menggunakan alat tersebut. hasil penelitian ini sekaligus mendukung penelitian yang dilakukan oleh asiabaka (2008) yang menyatakan bahwa: fasilitas sekolah memberi makna pada proses belajar mengajar. pengelolaan sarana prasarana adalah merupakan bagian integral dari keseluruhan manajemen sekolah. manajer sekolah harus melakukan penilaian yang komprehensif dari fasilitas untuk menentukan kebutuhan sekolah. aktualisasi tujuan dan sasaran pendidikan membutuhkan penyediaan, pemanfaatan dan pengelolaan fasilitas yang tepat dan maksimum. simpulan pengadaan sarana dan prasarana di sd negeri 01 tohudan direncanakan pada awal tahun pelajaran baru, berdasarkan musyawarah warga sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan penjaga sekolah. penyusunan perencanaan tersebut dibuat secara sistematis, rinci, dan teliti. berdasarkan informasi realistis tentang kondisi sekolah. spesifi kasi sarana dan prasarana sesuai dengan perencanaan yang telah disusun sebelumnya.barang yang telah di terima diperiksa dan diinvestarisasikan oleh panitia pengadaan. pendistribusian sarpras dilakukan oleh panitia pengadaan. hal yang perlu diperhatikan adalah ketepatan barang yang di sampaikan, baik jumlah maupun jenisnya; ketepatan sasaran penyampaiannya dan ketepatan kondisi barang yang di salurkan. panitia pengadaan memetakan sarana dan prasarana yang akan dialokasikan, baru didistribusikan sesuai dengan kebutuhan sarpras. pendistribusian dilakukan dengan 2 (dua) sistem, yaitu pendistribusian langsung dan tak langsung. pendistribusian langsung, diterapkan terhadap barang-barang yang dalam pengirimannya dilakukan sekaligus, langsung disalurkan kepada kepala sekolah, guru, atau penjaga yang membutuhkan, tanpa melalui proses penyimpanan. pendistribusian tak langsung dilakukan terhadap sarpras yang pengirimannya tidak selesai sekaligus, sehingga sebelum semua pengiriman lengkap, maka belum dapat diserahkan kepada yang bersangkutan. pemeliharaan dilakukan oleh guru dan siswa. apabila pemeliharaan dan perbaikan tidak bisa dilakukan oleh sekolah, maka diserahkan kepada pihak ke tiga yang ditunjuk oleh kepala sekolah. kemudian profesi pendidikan dasar vol. 2, no. 1, juli 2015 : 41 4848 issn 2406-8012 untuk biaya perbaikan dialokasikan pada pos belanja pemeliharaan oleh bendahara setelah mendapat persetujuan kepala sekolah. kegiatan pemeliharan diklasifi kasikan menjadi dua yaitu pemeliharan pada sarana prasarana pembelajaran yang habis dipakai dan tidak habis dipakai. daftar pustaka asiabaka, ihuoma p. 2008. “the need for effective facility management in school in nigeria”. new york science journal. vol. 1, no. 2: pg. 10-21. dharma, surya, 2007, manajemen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah, http://www.bpgdisdik-jabar.net, diakses tanggal 15 oktober 2009. harsono, 2008, etnografi pendidikan, surakarta: universitas muhammadiyah surakarta press. mantja, w. 2005. etnografi desain penelitian kualitatif dan manajemen pendidikan. malang: penerbit wineka media. miles, matthew b. and a. michael huberman. 2007. qualitative data analysis (terjemahan). jakarta: ui press. moleong, lexy .j. 2007. metodologi penelitian kualitatif. bandung: remaja rosda karya. nawawi, hadari, 2006, administrasi pendidikan, jakarta: gunung agung nurkolis, 2006, manajemen berbasis sekolah, jakarta: penerbit pt. gramedia widiasarana indonesia. picus, lawrence o.; scott f. marion; naomi calvo; william j. glenn. 2005. “understanding the relationship between student achievement and the quality of educational facilities: evidence from wyoming”. peabody journal of education. vol. 80 no. 3, pg. 71-95. subadi, tjipto.; khotimah, rita pramujiyanti.; sutarni, sri. 2013, a lesson study as a development model of professional teachers. issn 1948-5476 , vol.5, no. 2, pg. 103 – 105. sugiyono, 2007, metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif. dan r&d, bandung: alfabeta. sutopo, h. b, 2005, metodologi penelitian kualitatif, surakarta: sebelas maret university press. syakima, nurul m.y, maimunah sapri, dan mohd shahril a.r., 2011, measuring performance for classroom facilities, international conference on sociality and economics development ipedr vol. 10, iacsit press singapore, pg 84 – 86. peningkatan minat dan hasil belajar ipa ... (ratnasari dyah utami dan arum oktavia s) 57 peningkatan minat dan hasil belajar ipa melalui strategi word square pada siswa kelas v di sd negeri 03 jetis kecamatan jaten kabupaten karanganyar tahun ajaran 2013/2014 ratnasari diah utami dan arum oktavia sari pgsd fkip, universitas muhammadyah surakarta jl. ahmad yani tromol pos 1 pabelan, kartasura, surakarta email: rdu.150@ums.ac.id abstract the purpose of this study was to describe the enhancement of interest and learning outcomes of students in learning science through the square word strategy . this research is classroom action research ( car ). teacher is as the subject of the perpetrator and the student is as the recipient of actions. techniques of data collection are using observation techniques, interviews, test, and documentation. technical analysis of the data is using interactive analysis technique that consists of data reduction, data display, and conclusions. the results of this study showed an increase in interest and learning outcomes of students in learning science. it can be seen from the indicators of achievement of learning interest include: participation, attention, and pleasure in learning activities. the percentage of participating students’ interest in learning activities increased from 39.53 % to 86.04 %.. students who are concerned in learning activities in the pre cycle of 34.88 %, increasing to 83.71 % in the second cycle . while students are happy in learning activities in pre-cycle by 30.23 % increased to 81.39 % in the second cycle. student learning outcomes also increased, prior to the act the learning outcomes is as much 37.20 % and increased to 81.39 % in the second cycle . this study suggests that the implementation of square word strategy can increase the interest and learning in science teaching at fifth grade students of sd negeri 03 jetis district of cork karanganyar academic year 2013/2014 . keywords : interests , learning outcomes , strategies word square pendahuluan pendidikan merupakan interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang dapat berlangsung dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat. dalam undang-undang ri no. 20 pasal 3 tahun 2003 menjelaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. oleh karena itu setiap guru dituntut untuk meningkatkan kompetensi siswanya dalam setiap pembelajaran. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 57-6258 hasil pengamatan yang dilakukan pada kelas v sd negeri 03 jetis dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam, menunjukkan bahwa guru dihadapkan pada rendahnya minat dan hasil belajar siswa dalam kegiatan pembelajaran. penyebab rendahnya minat dan hasil belajar siswa ini salah satunya ialah berasal dari guru. selama ini guru belum mengembangkan metode yang tepat pada saat pembelajaran. guru masih menggunakan metode yang konvensional, sehingga suasana dalam proses belajar mengajar sangat membosankan siswa. salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah guru dituntut untuk memilih dan menggunakan metode dan strategi pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (paikem). salah satu bentuk strategi pembelajaran yang dapat diterapkan adalah strategi word square. strategi word square adalah strategi pembelajaran yang memadukan kemampuan menjawab pertanyaan dengan kejelian dalam mencocokkan jawaban pada kotak-kotak jawaban. strategi word square ini mirip seperti mengisi teka-teki silang, tetapi bedanya jawabannya sudah tersedia namun disamarkan dengan menambahkan kotak tambahan dengan sembarang huruf/angka penyamar atau pengecoh. strategi pembelajaran ini bisa diterapkan untuk semua mata pelajaran. tinggal bagaimana guru dapat memprogram sejumlah pertanyaan terpilih yang dapat merangsang siswa untuk berpikir efektif. tujuan penulisan huruf/angka pengecoh ini bukan untuk mempersulit siswa, tetapi untuk melatih sikap teliti dan kritis dari siswa. strategi word square dapat diterapkan untuk menjawab berbagai penyebab rendahnya minat dan hasil belajar siswa. melalui strategi word square dapat merubah anggapan siswa bahwa pembelajaran ipa itu membosankan dan sulit, selain itu siswa akan lebih berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran dan siswa akan terbiasa berinteraksi dengan teman sekelompoknya. berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka tujuan penelitian ini untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas v pada pembelajaran ipa melalui strategi word square. ilmu pengetahuan alam merupakan terjemahan kata-kata dalam bahasa inggris yaitu natural science. natural berarti berhubungan dengan alam, sedangkan science berarti ilmu pengetahuan. sehingga ilmu pengetahuan alam (ipa) atau science dapat disebut ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. ilmu pengetahuan alam berupaya untuk membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam dan seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak habis-habisnya. fokus program pengajaran ipa di sd ini hendaknya ditujukan untuk memupuk minat dan pengembangan anak didik terhadap dunia dimana mereka hidup. menurut purwanto (2003: 56) “minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu”. sedangkan menurut slameto (2010: 57) “minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan”. kegiatan yang diminati seseorang akan diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang. menurut sudjana (2010: 22) “hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”. selanjutnya menurut arikunto (dalam samino dan marsudi, 2012: 48) menjelaskan bahwa hasil belajar adalah hasil yang dicapai seseorang siswa setelah melakukan kegiatan belajar dan merupakan penilaian yang dicapai seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana bahan pelajaran atau materi yang diajarkan sudah diterima siswa. dari pengertian para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah suatu perbuatan yang disertai perhatian yang akhirnya melahirkan rasa senang dalam mencapai sesuatu yang diharapkan. sedangkan hasil belajar adalah peningkatan minat dan hasil belajar ipa ... (ratnasari dyah utami dan arum oktavia s) 59 hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, baik berupa nilai, perubahan sikap maupun bertambahnya pengetahuan yang di miliki siswa. kamulyan dan risminawati (2012: 71) menjelaskan bahwa strategi word square merupakan kegiatan belajar mengajar dimana siswa dihadapkan pada permainan yang menggunakan kartu sebagai media. kelebihan dari strategi word square adalah dapat meningkatkan kecerdasan anak dalam merangkai kata yang berserak dalam satu kotak, dimana anak diminta untuk menghubungkan huruf dengan cepat, baik secara menurun atau mendatar. selain itu, kelebihan lainnya yaitu: 1) kegiatan tersebut mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, 2) melatih untuk berdisiplin, 3) dapat melatih sikap teliti dan kritis, 4) merangsang siswa untuk berpikir efektif. berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah umum dalam penelitian ini adalah: (1) apakah strategi word square dapat meningkatkan minat belajar ipa pada siswa kelas v sd negeri 03 jetis kecamatan jaten kabupaten karanganyar tahun ajaran 2013/ 2014?” dan (2) apakah strategi word square dapat meningkatkan hasil belajar ipa pada siswa kelas v sd negeri 03 jetis kecamatan jaten kabupaten karanganyar tahun ajaran 2013/ 2014?” adapun tujuan penelitian ini dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. adapun yang menjadi tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. sedangkan yang menjadi tujuan khusus adalah (1) untuk mendeskripsikan bahwa strategi word square dapat meningkatkan minat belajar ipa pada siswa kelas v sd negeri 03 jetis tahun ajaran 2013/2014 dan (2) untuk mendeskripsikan bahwa strategi word square dapat meningkatkan hasil belajar ipa pada siswa kelas v sd negeri 03 jetis tahun ajaran 2013/2014. metode penelitian jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (ptk). susilo (2009: 1) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas (ptk) adalah salah satu strategi penyelesaian masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dan proses pengembangan kemampuan dalam mendeteksi dan menyelesaikan masalah. sekolah yang dijadikan tempat penelitian mengenai strategi word square ini adalah sd negeri 03 jetis, yang beralamatkan di jl.solosragen km 08 balong, jetis. subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa. penelitian dilaksanakan pada bulan oktober 2013 sampai bulan januari 2014. adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian tindakan kelas ini melalui empat tahapan utama sebagai berikut: (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting). jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. rubiyanto (2011: 71) menjelaskan bahwa data yang bersifat deskripsi, keterangan, informasi, kata-kata.data kualitatif dalam penelitian ini menyangkut tentang minat dan hasil belajar siswa dan kinerja guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. dalam penelitian ini tehnik pengumpulan data yang yang digunakan, yaitu metode observasi, metode wawancara, metode tes, dan metode dokumentasi. validitas data dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi. menurut moleong (dalam sukardi, 2006: 106) “triangulasi adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan suatu kejadian yang diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data-data yang ada”. triangulasi dalam penelitian ini dilakukan dengan cara triangulasi tehnik dan triangulasi sumber. sedangkan, validitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan validitas isi (content validity). artinya, tes adalah profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 57-6260 serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (arikunto, 2006: 150). analisis data dalam penelitian ini terdiri dari tiga komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu reduksi data, paparan data, dan penarikan kesimpulan seperti yang diungkapkan oleh miles dan huberman (dalam susilo, dkk. 2009: 103). untuk dapat mengukur keberhasilan suatu tindakan diperlukan indikator pencapaian yaitu sebesar 80%. indikator pencapaian minat belajar dalam penelitian ini diantaranya: 1) partisipasi, 2) perhatian, dan 3) rasa senang. dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ipa mencapai 80% siswa yang mencapai nilai kkm yaitu e” 65. hasil penelitian dan pembahasan kamulyan dan risminawati (2012: 71) menjelaskan bahwa strategi word square merupakan kegiatan belajar mengajar dimana siswa dihadapkan pada permainan yang menggunakan kartu sebagai media. strategi word square merupakan salah satu stategi pembelajaran yang inovatif, strategi tersebut dapat melatih kecerdasan anak dalam merangkai kata yang berserak dalam satu kotak, melatih untuk berdisiplin, penerapan strategi word square dalam pembelajaran ipa dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ipa. siswa yang sebelumnya pasif dan tidak minat dalam mengikuti pembelajaran ipa setelah diterapkan strategi word square siswa menjadi terlibat aktif dalam pembelajaran dan hasil belajar yang diperoleh siswa mengalami peningkatan. penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam dua siklus. masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti kemudian dianalisis dan direfleksi pada tiap akhir siklus untuk menentukan keberhasilan penelitian apakah perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya ataupun tidak. dalam pelaksanaan siklus i guru menerapkan strategi word square dalam pembelajaran ipa. kemampuan guru dalam menggunakan strategi word square pada pembelajaran ipa belum maksimal. dalam pelaksanaan pembelajarannya masih ada beberapa siswa yang terlihat bingung dalam mengikuti kegiatan pembelajaran karena petunjuk guru belum begitu jelas. guru belum dapat mengelola kelas dengan baik sehingga suasana pembelajaran belum kondusif, masih ada beberapa siswa yang ramai sendiri saat siswa lain mem bacakan hasil diskusinya. guru juga belum dapat mengelola waktu dengan baik, akan tetapi pada pertemuan kedua siswa sudah mulai terbiasa dengan strategi yang diterapkan guru sehingga tidak bingung lagi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, siswa yang ramai saat pembelajaran berkurang sedangkan siswa yang aktif dalam pembelajaran meningkat meskipun belum maksimal, guru juga sudah dapat mengelola waktu dengan baik. pada siklus i minat belajar siswa dalam pembelajaran ipa sudah mengalami peningkatan meskipun belum maksimal. indikator minat belajar tersebut meliputi: partisipasi, perhatian dan rasa senang dalam pembelajaran. siswa yang berpartisipasi pada siklus i sebanyak 28 siswa atau 65,11% sedangkan siswa yang perhatian sebanyak 25 siswa atau 58,13% dan siswa yang senang dalam pembelajaran sebanyak 20 siswa atau 46,51%, sehingga pada siklus i persentase minat belajar mencapai 56,58% naik 21,70% dari hasil observasi minat belajar siswa pada pra siklus. adapun hasil belajar siswa pada siklus i juga sudah mengalami peningkatan yaitu 23 siswa atau 53,48% siswa telah mencapai kkm naik 16,28% dari hasil belajar pada pra siklus, namun angka tersebut belum mencapai indikator pencapeningkatan minat dan hasil belajar ipa ... (ratnasari dyah utami dan arum oktavia s) 61 paian karena belum mencapai 80% sehingga penelitian tindakan dilanjutkan pada siklus ii. dalam pelaksanaan siklus ii menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam pembelajaran ipa dengan strategi word square mengalami peningkatan, selain itu guru juga menggunakan media gambar yang menarik perhatian siswa dalam pembelajaran. sebagian besar siswa sudah aktif dalam pembelajaran sehingga pembelajaran berlangsung optimal, suasana pembelajaran menyenangkan dan kondusif. siswa sudah sangat antusias dan minat dalam mengikuti pembelajaran sehingga hasil belajar yang diperoleh juga mengalami peningkatan. pada siklus ii tingkat minat siswa dalam belajar mengalami peningkatan, siswa yang berpartisipasi sebanyak 37 siswa atau 86,04% sedangkan siswa yang perhatian sebanyak 36 siswa atau 83,72% dan siswa yang senang dalam pembelajaran sebanyak 35 siswa atau 81,39% sehingga secara keseluruhan persentase minat belajar siswa pada siklus ii mencapai 83,71% naik 27,13% dari hasil observasi minat belajar siswa pada siklus i. adapun hasil belajar pada siklus ii juga mengalami peningkatan yaitu 35 siswa atau 81,39% siswa sudah mencapai kkm naik 27,91% dari siklus i. persentase minat belajar dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ipa telah mencapai indikator pencapaian yang diharapkan yaitu 80%. simpulan dan saran simpulan berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan dalam dua siklus dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan minat dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ipa melalui strategi word square. kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut: · penerapan strategi word square dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas v sd negeri 03 jetis pada pembelajaran ipa. hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase indikator pencapaian minat belajar siswa yang meliputi: siswa yang berpartisipasi pada pra siklus sebanyak 17 siswa atau 39,53%, pada siklus i meningkat menjadi 28 siswa atau 65,11%, dan pada siklus ii meningkat menjadi 37 siswa atau 86,04%. siswa yang perhatian pada pra siklus sebanyak 15 siswa atau 34,88%, pada siklus i meningkat menjadi 25 siswa atau 58,13%, dan pada siklus ii meningkat menjadi 36 siswa atau 83,71%. sedangkan siswa yang merasa senang pada pra siklus sebanyak 13 siswa atau 30,23%, pada siklus i meningkat menjadi 20 siswa atau 46,50%, dan pada siklus ii meningkat menjadi 35 siswa atau 81,39%. pada siklus ii minat belajar siswa sudah mencapai yang diharapkan yaitu 80%. · penerapan strategi word square dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas v sd negeri 03 jetis pada pembelajaran ipa. hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan persentase dan jumlah siswa yang mencapai kkm. pada pra siklus siswa yang mencapai kkm sebanyak 16 siswa atau 37,20%, sedangkan pada siklus i siswa yang mencapai kkm meningkat menjadi 23 siswa atau 53,48%, kemudian pada siklus ii siswa yang mencapai kkm meningkat menjadi 35 siswa atau 81,39%. pada siklus ii hasil belajar sudah mencapai yang diharapkan yaitu 80%. saran berdasarkan pengalaman melalui penelitian tindakan kelas yang dilakukan pada siswa kelas v sd negeri 03 jetis dalam penerapan strategi word square, maka disarankan beberapa hal sebagai berikut: · bagi kepala sekolah kepala sekolah sebagai seseorang yang mempunyai kedudukan paling tinggi di sekolah dan merupakan pimpinan sekolah, profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 57-6262 hendaknya menghimbau kepada para guru untuk selalu mengadakan perbaikan dalam pembelajaran. salah satunya dengan menggunakan strategi word square. · bagi guru guru hendaknya menerapkan strategi word square sebagai pertimbangan dan alternatif strategi dalam pembelajaran ipa yang dapat meningkatkan minat dan hasil belajar daftar pustaka arifin, zainal. 2011. konsep dan model pengembangan kurikulum. bandung: pt. remaja rosdakarya. arikunto, suharsimi. 2006. prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. yogyakarta: pt. rineka cipta. kamulyan s, mulyadi dan risminawati. 2012. model-model pembelajaran inovatif di sekolah dasar. surakarta: fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas muhammadiyah surakarta. purwanto, ngalim. 2003. psikologi pendidikan. bandung: pt. remaja rosdakarya. rubiyanto, rubino. 2011. metode penelitian pendidikan. program studi pgsd. surakarta: fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas muhammadiyah surakarta. samino dan marsudi, saring. 2012. layanan bimbingan belajar pedoman bagi pendidik dan calon pendidik. kartasura: fairuz. slameto. 2010. belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi. jakarta: rineka cipta. sudjana, nana. 2010. penilaian hasil proses belajar mengajar. bandung: pt. remaja rosdakarya. sukardi. 2006. metodologi penelitian pendidikan. jakarta: bima aksara. susilo, herawati, dkk. 2009. penelitian tindakan kelas sebagai sarana pengembangan keprofesionalan guru dan calon guru. malang: bayumedia. siswa. selain itu, guru juga dapat menerapkan strategi word square pada mata pelajaran yang lainnya agar siswa lebih berpartisipasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran . · bagi peneliti selanjutnya hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam melakukan penelitian berikutnya khususnya yang berkaitan dengan penerapan strategi word square. page 1 page 2 analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 77 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 vol. 7, no. 1, juli 2020 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: doi.org/10.23917/ppd.v1i1.10996 analisis kelayakan buku penilaian (bupena) disekolah dasar fitri puji rahmawati1), efi rusdiyani2) 1, 2) fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta 1fpr223@ums.ac.id, 2a510150009@student.ums.ac.id pendahuluan pendidikan merupakan komponen utama untuk mencerdaskan sumber daya manusia dari suatu bangsa. pendidikan menjadi suatu kebutuhan yang harus terpenuhi oleh setiap orang. dalam proses pendidikan berkaitan erat dengan adanya proses pembelajaran atau yang sering dikenal dengan proses belajar mengajar. kegiatan proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik jika di tunjang dengan sarana dan prasana. salah satu sarana yang di butuhkan adalah buku ajar atau buku teks penggunaan buku teks merupakan salah satu unsur yang harus ada di sekolah yang memuat materi pembelajaran yang digunakan untuk membatu siswa dalam meningkatkan kemampuan dalam belajar (bahrul hayat dan suhendra yusuf, 2010: 285). buku yang digunakan di sekolah saat ini merupakan buku yang berbasis kurikulum 2013. penyusunanan kurikulum 2013 mencakup 3 prinsip mendasar yaitu terintergrasi dengan lingkungan, pembelajaran dirancang agar siswa mampu menemukan tema serta efisiensi. abstract: the research objective is to describe the appropriateness of the assessment book (bupena) based on the content, presentation, language, graphics, and moral values contained therein. bupena is one of the textbooks used by the surakarta 16 muhammadiyah primary school. this research method is a descriptive qualitative method, which produces descriptive data in the form of written words. the research design is book analysis with data analysis techniques in the form of data collection, data recording, data reduction, drawing conclusions, and describing. the validity used is semantic validity. based on the results of the analysis of the feasibility of the contents or content of the book bupena presents material that is easy to understand in accordance with the development of students' age, the presentation of books that address the material contextually, the graphics of books that place the illustrations as wellorganized explanations, bupena books included in the category of proper use. the language used in the book is still found errors like mistakes in writing vocabulary. as well as the lack of moral values contained in the book, make a bhasa assessment and the moral values in the bupena book are inadequate and need improvement. keywords: content, presentation, language, graphics, moral values mailto:fpr223@ums.ac.id mailto:a510150009@student.ums.ac.id analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 78 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 menurut akbar, sa’dun (2013:33) buku teks yaitu buku yang digunakan sebagai rujukan atau referensi dalam mata pelajaran. untuk itu sangat diperlukan buku ajar sesuai dengan perkembangan siswa (afandi, ’alia n. & aka, 2019.) buku ajar adalah buku yang digunakan sebagai buku pelajaran dalam bidang studi tertentu, yang merupakan buku standar yang disusun oleh pakar dalam bidangnya untuk maksudmaksud dan tujuan instruksional, yang dilengkapi dengan sarana-sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya disekolah-sekolah dan perguruan tinggi sehingga dapat menunjang suatu progam pengajaran (muslich,2010: 50). memberikan garis besar dasar untuk peran perantara buku pelajaran ntuk mengajar dan mendorong siswa untuk membangun pengetahuan baru, menyeimbangkan detail dan ketepatan informasi, menyediakan sistem matematika yang logis dan konsisten, mengajukan pertanyaan baru, dan memberikan siswa informasi yang aktif, kreatif, dan banyak sisi. (gelfman, et.al, 2004) buku ajar pada umumnya memiliki anatomi buku yang terdiri dari: (1) halaman pendahuluan terdiri dari halaman judul, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, kata pengantar, dan pakarta; (2) halaman inti yang terdiri atas uraian rincian setiap bab, subbab disertai dengan contoh latihan dan soal-soal yang harus diselesaikan peserta didik; (3) halaman penutup yang terdiri dari lampiran, pustaka, kunci jawaban, dan glossary (agustina, 2011:75). mikk (2000: 69-99) menguatkan tentang karakteristik buku pelajaran yang baik perlu mempertimbangkan konten, aspek pembentukan nilai, elemen motivasi, aksesibilitas, ilustrasi, dan panduan belajar. siswa kelas 1 berada tahap operasional kongkret dimana pada tahap tersebut siswa perlu belajar secara kontektual. pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang mengaitkan dengan kehidupan nyata sehari-hari siswa siswa baik di keluarga, masyarakat dan sekolah (komalasari,2014:7). konsep pembelajaran siswa kelas 1 merupakan konsep mengajarkan kepada siswa belajar membaca, menulis dan menghitung. sehingga kurang tepat jika siswa kelas 1 harus membaca secara panjang dalam bacaan dan harus membaca lancar (yusuf, 2011: 69-70). untuk itu sangat perlu mengetahui kesesuaian buku dengan perkembangan anak, perlu adanya analisis pada buku ajar yang digunakan sebagai sumber belajar siswa (niron, 2013: 21-22). analisis yang dilakukan pada bupena kurikulum 2013 kelas 1 semester 1 untuk mengetahui kelayakan dari segi isi/materi, penyajian, kegrafikan, bahasa, dan nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam buku. berkaitan dengan nilai-nilai akhlak, buku ini digunakan oleh sekolah dasar muhammadiyah 16 surakarta yang menjalankan dua kurikulum yakni kurikulum 2013 dan kurikulum syariah. kompetensi dasar dari kurikulum syariah yang diterapkan untuk kelas 1 ialah menekankan pada kemampuan memahami nilai-nilai akhlak meliputi akhlak kepada allah, diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. kompetensi ini diajarkan bersama dengan mengajarkan materi lain yang terdapat dalam muatan tematik di kurikulum 2013. oleh karena materi ini wajib ada dalam pembelajaran, maka berkaitan dengan sumber belajar yakni buku ajar seharusnya memenuhi kriteria kelayakan nilainilai akhlak. salah satu sumber belajar berbentuk analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 79 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 buku yang dipilih dan digunakan oleh sd tersebut ialah bupena sebagai buku pendamping dari buku tematik terpadu kurikulum 2013. metode penelitian jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menghasilkan data deskriptif katakata yang diperoleh melalui wawancara maupun observasi perilaku seseorang. desain penelitian yang dipilih yakni analisis konten buku. data penelitian yang digunakan adalah buku dengan judul buku penilaian (bupena) kelas 1 sd. pengguna buku ini ialah sdm 16 surakarta. objek penelitian ialah kelayakan isi/materi, kegrafikan, penyajian, bahasa, dan nilai akhlak. instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar analisis dokumen yang disusun berdasarakan landasan teori tentang isi/materi, kegrafikan, penyajian, bahasa, dan nilai akhlak. analisis data yang digunakan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. hasil analisis dimuat ke dalam tabel checklist, selanjutnya dijabarkan melalui kata-kata hasil dari analisis yang ada pada buku tersebut. keabsahan data didasarkan pada validitas yang digunakan dalam penelitian yakni validitas semantis yaitu validitas yang mengetengahkan sejauh mana kategori dari analisis teks sesuai dengan makna teks dan sesuai dengan konteks yang dimiliki (kripendorff, 2004:323). pemeriksaan keabsahan data diuji menggunakan triangulasi teknik dengan mencocokkan data yang diperoleh hasil wawancara dengan hasil analisis buku yang telah dilakukan. wawancara dilakukan dengan guru sdm 16 surakarta kelas 1 untuk mengetahui buku pelajaran yang digunakan. pembacaan dan pencatatan secara cermat terhadap buku bupena. hasil dan pembahasan hasil dalam penelitian ini merupakan data dari teknik pembacaan dan pencatatan yang dilakukan secara cermat terhadap isi/materi, kegrafikan, penyuntingan, bahasa, dan nilai akhlak dalam buku bupena. hasil analisis tersebut dapat dilihat dalam tabel 1. tabel 1. analisis komponen kelayakan buku no komponen subkomponen halaman 1. isi (8) materinya berorientasi pada aktivitas yang mendorong pemahaman konsep 3.4,5,7,23,44,65,87,1 11,131 kemutakhiran materi 5,26,38.43,48.51,57,8 0,75 materi mendorong berpikir tingkat tinggi 18,35,41,51,61,71,81, 92,120,138 materi yang mengarah pada rasisme materi pornografi mengakomodasi keberagaman 66,68 wawasan gender 5,10,13,18,25 kelengkapan materi mendorong keterlibatan siswa untuk aktif belajar 41,61,82,100,102,109 ,116,120,129,151 2. penyajian (4) keterkaitan antara volume atau jilid 3,23,43,65.87111,131 ,153 analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 80 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 materi disajikan secara kontekstual 4,17,25,31,48,90 materi disajikan mengikuti sistematika keilmuan 7,11,15,16,1829 anatomi buku ajar ix, v 3. bahasa (5) keakuratan penggunaan tanda baca atau symbol penggunaan istilah yang akurat (kata dan kalimat) menggunakan bahasa yang memiliki makna ganda 3,11,26,43,57,81 penggunaan bahasa yang baik dan benar 51 penggunaan istilah 4. grafika (3) tata letak yang estetis 3,23,43,65,81,111,13 1,151 tata letak yang dinamis 3,11,23,28,45.73,88,1 05 ilustrasi yang memperjelas materi 3,5,10,17,23,31,48,52 ,56,69 tipografi yang tinggi penggunaan gambar yang akurat 4,17,23,48,58,87,94,1 02,105,122 5 nilai-akhlak (a) akhlak terhadap allah mencintai allah melebihi cinta kepada apa dan siapapun dengan menjadikan aquran sebagai pedoman hidup melaksanakan segala perintah dan menjahui larangannya untuk mendapat ridha-nya 10,11,25 mensyukuri dan menerima ketentuan allah setelah berikhtiar bertaubat dan memohon ampun kepada allah (b) akhlak terhadap diri sendiri memelihara kerapian serta kesucian lahir dan batin 25,48,52,56 tenang menambah pengetahuan sebagai bekal amal membina disiplin diri menutup aurat 5,,11,13,18 jujur dalam perbuatan dan perkataan sabar dan ikhlas rendah hati melakukan perbuatan yang baik menjauhi dengki dan dendam berlaku adil terhadap orang lain (c) akhlak terhadap keluarga saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga 80,111,113,115,116,1 20,122,125 saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak berbakti pada ibu-bapak saling mendoakan bertutur kata lemah lembut (d) akhlak terhadap tetangga saling membantu di waktu senang maupun susah saling memberi saling menghormati saling menghindari pertengkaran dan permusuhan hasil analisis yang berkaitan dengan kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan grafika terhadap buku bupena dapat dipaparkan beberapa contoh temuannya sebagai berikut. analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 81 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 analisis buku penilaian dari segi isi buku dari komponen penilaian yang ada dari segi isi buku bupena, berdasarkan hasil analisis isi, buku ini layak digunakan karena memiliki kriteria sebagai berikut. 1. materinya berorientasi pada aktivitas yang mendorong pemahaman konsep. salah satu materi yang penerapan pemahaman konsep termuat pada halaman 3. gambar 1. lembar halaman 3 di buku bupena dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa materi yang temuat dalam buku mengajarkan kepada siswa untuk mengucapkan salam ketika akan pergi atau keluar dari dari rumah. materi dilengkapi dengan gambar yang sesuai dengan materi . siswa kelas 1 merupakan usia anak belajar secara kongkret apa yang mereka lihat dengan bantuan gambar yang termuat pada materi dapat membantu meningkat pemahan siswa. gambar pada teks menjadi media yang memudahkan guru untuk menyapaikan pesan kepada siswa. sehingga dari proses pembelajaran tersebut pesan dari proses pembelajaran dapat tersampaikan dan mudah diterima oleh siswa serta meningkatkan proses dan hasil belajar (yuliana & yudi, 2015) 2. kemutakhiran materi, dalam buku bupena memuat materi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa serta sesuai dengan kd. salah satu kd yang termuat pada buku tersebut adalah 3.4 memahami kosa kata tentang anggota tubuh dan panca indra serta perewatannya melalui teks pendek dan ekplorasi lingkungan. contoh kemukhtahiran materi pada halaman 26 gambar 2. lembar halaman 26 di buku bupena analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 82 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 pada teks bacaan diatas menjelaskan panca indra yang ada di bagian tubuh manusia secara jelas. serta disertai dengan contoh kegunaan indra sehingga materi tersebut sesuai dengan kd 3.4 yang ingin di capai dalam proses pembelajaran. 3. materi mendorong berpikir tingkat tinggi keterampilan berpikir tingkat tinggi perlu dilatih bukan hanya pada siswa tingkat lanjutan namun harus dilatih sejak dini seperti pada siswa sekolah dasar (arini, 2017). pada soal latihan menyusun huruf mengajarkan siswa untuk memecahkan masalah. membentuk kemampuan siswa untuk berfikir tingkat tinggi agar jawaban sesuai. contoh mendorong berpikir tingkat tinggi terdapat pada halaman 18 gambar 3. lembar halaman 18 di buku bupena berdasarkan gambar 3 dapat dilihat bahwa buku bupena merupakan buku yang menerapkan proses pembelajaran dengan melatih siswa untuk berfikir tingkat tinggi. ciri utama keterampilan berpikir tingkat tinggi adalah kritis dan kreatif (conklin, 2012: 14). hal tersebut dapat dilihat dari siswa yang dilatih untuk kreatif mencari kosa kata yang tepat dan sesuai dengan jawaban yang disediakan pada buku. 4. mengakomodasi keberagaman keberagaman merupakan ciri khas atau perbedaan yang dimiliki setiap orang, dalam mengenal keberagaman yang ada dilingkungan seperti keberagaman hobi, keberagaman bentuk fisik, terdapat di halaman 66 gambar 4. lembar halaman 66 di buku bupena analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 83 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 berdasarkan teks yang di pahami oleh siswa untuk pendalam materi, siswa dikenalkan dengan ciri khas anggota keluarganya. 5. wawasan gender dari gambar dan kalimat mengajarkan tentang wawasan gender antara laki-laki dan perempuan perbedaan seperti suara, terdapat pada halaman 5. gambar 5. lembar halaman 5 di buku bupena berdasarkan teks diatas terdapat kalimat yang menyatakan bahwa warna suara laki dan perempuan berbeda. penyataan tersebut siswa akan mengetahui salah satu perbedaan yang ada pada siswa laki dan siswa perempuan. 6. mendorong keterlibatan siswa untuk aktif belajar buku penilaian bupena dari gambar tersebut, menjelaskan bahwa buku dilengkapi dengan latihan soal yang membatu siswa untuk aktif belajar untuk memecahkan masalah yang ada dan mampu mengevalusi kemampuan siswa dalam memahami materi, salah satu contoh terdapat pada halaman 41 gambar 6. lembar halaman 41 di buku bupena analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 84 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 kelengkapan soal latihan sangat diperlukan dalam pembuatan buku sebagai bahan ajar siswa dalam mengembangkan serta memahami materi. adanya soal dapat sebagai evaluasi untuk mengukur seberapa besar pesan yang di terima oleh siswa selama belajar. soal latihan dapat mendorong kemampuan siswa, berpikir kritis dan kreatif baik dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan menganalisis, mengevaluasi dan mencipta (anderson & krathwohl, 2001: 79). secara tidak langsung adanya soal latihan tersebut membentuk suatu kebiasaan siswa untuk berkontribusi secara aktif dalam proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru. analisis buku penilaian (bupena) dari segi penyajian dalam buku dilengkapi dengan anatomi buku sehingga mudahkan pengguna dalam mencari halaman ataupun materi apa saja dalam buku dan buku dilengkapi dengan gambar yang dapat menarik perhatian siswa. selain itu terdapat bagian penting dalam penyajian diantaranya: 1. keterkaitan antara volume atau jilid, pada halaman 3 gambar 7. lembar halaman 3 di buku bupena gambar 7 menjelaskan subtema “aku dan teman baru” dalam materi pendalaman terdapat terkaitan dimana pada pendampingan materi 1 diperkenalkan tentang diri sendiri kemudia pada pemdampingan materi 2 siswa diajarkan untuk mengenal teman hal tersebut terdapat terkaitan dari segi hubungan sosial yang harus diajarkan kepada siswa untuk mengenal teman-teman yang ada di lingkungannya. 2. materi disajikan secara kontekstual, pada halaman 23 analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 85 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 gambar 8. lembar halaman 23 di buku bupena siswa kelas 1 berada pada stadium pra operasional menuju ke stadium operasional kongkrit. proses pembelajaran yang dilaksanakan masih membutuhkan bimbingan guru, membutuhkan alat bantu dalam merealisasikan konsep yang dipahaminya. dari gambar tersebut, siswa belajar tentang anggota tubuh dan dilengkapi dengan gambar anggota tubuh manusia dari kepala sehingga kaki. gambar yang terdapat pada materi dapat membatu siswa untuk melihat dan mengenal anggota tubuh secara secara nyata atau kontektual. 3. materi disajikan mengikuti sistematika keilmuan, salah satu contoh terdapat pada halaman 7 gambar 9. lembar halaman 7 di buku bupena proses belajar dilaksanakan dengan mengenalkan hal yang sederhana hingga yang komplek. dari buku bupena dapat dilihat bahwa dihalaman awal siswa diajarkan terlebih dahulu tentang mengenal urutan huruf, huruf vokal, dan huruf konsonan yang sesuai dengan sistematika keilmuan bahasa. analisis buku penilaian dari segi bahasa penggunaan bahasa terdapat kata atau kalimat yang baik dan benar namun dalam buku perlu adanya perbaikan karena tidak adanya tanda baca, bahasa yang digunakan memiliki makna ganda, penggunaan bahasa yang kurang tepat atau penggunaan istilah yang kurang dipahami utuk siswa kelas 1. hal tersebut tergambarkan pada buku sebagai berikut: analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 86 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 1. bahasa yang memiliki makna ganda, pada halaman 81 gambar 10. lembar halaman 81 di buku bupena dari kalimat penugasan tersebut untuk siswa kelas satu mengalami kesulitan memahami khususnya pada kalimat “ majalah anak atau sumber bacaan lain” agar tidak menimbulkan makna ganda pada siswa mungkin dapat ditekan dengan kata majalah anak agar siswa mudah memahami kalimat. 2. penggunaan istilah, pada halaman 51 gambar 11. lembar halaman 51 di buku bupena suku kata yang membentuk setiap kata dan kalimat yang akan memiliki arti ,makna atau istilah (laksono, 2008: 4 ). pada pendalam materi gambar diatas terdapat kalimat “ pakaian kotor menjadi sarang penyakit” penggunaan istilah “ sarang penyakit” kata yang digunakan tidak sesuai dengan bahasa anak, bahasa yang sulit dipahami untuk siswa kelas. pada usia siswa kelas 1 merupakan masa anak mengenal bahasa yang sederhana seperti bahasa sehari-hari yang mereka dengar dan gunakan. bukan kalimat yang mengandung istilah sehingga penyerdahanakan istilah sangatlah penting agar pesan dapat dipahami oleh siswa. analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 87 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 analisis buku penilaian dari segi grafika 1. tata letak yang estetis, pada halaman 131 gambar 12. lembar halaman 131 di buku bupena dari 12 menunjukkan antara gambar dan tulisan peletakkan bervariasi sehingga memberikan kesan yang indah dalam buku. selain itu penempatan teks dan gambar sangat tepat. keterbacaan materi bacaan akan lebih mudah dipahami dengan adanya peletakkan gambar yang estetis dan tidak menumpuk (yasa,2013) 2. tata letak yang dinamis, pada halaman 88 gambar 13. lembar halaman 88 di buku bupena tata letak dalam sebuah buku merupakan salah satu faktor yang penting untuk diperhatian. apabila tata letak tidak sesuai akana menimbulkan makna ganda ataupun tidak tercapainya tujuan dari pembelajaran secara maksimal. dari gambar tersebut antara gambar 1 dan gambar 2 saling berkaitan dan peletakkan yang sejajar membuat mudah siswa dalam membaca karena letak berurutan secara dinamis. dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa buku bupena dalam meletakkan media gambar sebagai penjelas memperhatikan tata letak agar mudah dibahawi oleh siswa. 3. ilustrasi yang memperjelas materi, pada halaman 52 analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 88 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 gambar 14. lembar halaman 52 di buku bupena gambar 14 menunjukkan gambar mememotong kuku dengan bantuan orang lain memperjelas materi rawatlah kukumu sehingga siswa lebih jelas dalam memahami informasi. 4. penggunaan gambar yang akurat, pada halaman 94 gambar 15. lembar halaman 94 di buku bupena dari kalimat menjelaskan bahwa lani menyukai olahraga lompat tali dan gambar disamping anak sedang bermain lompat tali dari hal tersebut menunjukkan bahwa gambar sesuai dengan pernyataan yang ada analisis buku penilaian (bupena) dari segi nilai-akhlak dari segi penanaman nilai akhlak yang ada pada bupena masih sangat minim sehingga perlu adanyanya perbaikakan untuk ningkatkan penanaman nilai akhlak untuk siswa. nilai akhlak yang tertanam pada buku di antaranya: 1. melaksanakan segala perintah dan menjahui larangan-nya untuk mendapat ridhanya, pada halaman 25 analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 89 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 gambar 16. lembar halaman 25 di buku bupena dari kalimat yang ada mengajarkan siswa untuk menjalankan perintah yaitu tetang adab makan yang baik dan benar. siswa dapat mengembangkan keterampilan dan kemampuan secara positif dengan lingkungan dan teman sebayanya (elias, et.al., 2008; richardson, tolson, huang, & lee, 2009). dengan memberikan perintah serta contoh adab yang benar dapat menumbuhkan karakter atau kebiasaan yang positif pada diri siswa. 2. memelihara kerapian serta kesucian lahir dan batin, pada halaman 56 gambar 17. lembar halaman 56 di buku bupena gambar 17 mengajarkan siswa untuk selalu menjaga kebersihan telinga. berdasarkan analisis yang dilakukan oleh peniliti pada buku bupena, kelayakan isi/materi kelayakan isi atau materi buku teks pembelajaran bupena dilihat dari segi dari 8 komponen penilaian, buku bupena memenuhi muatan buku yakni sebanyak sangat baik. isi materi buku yang mengajarkankan siswa aktif belajar serta melatih untuk berfikir tinggat tinggi, pembelajaran yang bermakana telah memenuhi syarat sesuai dengan penilaian indikator penilaian. selain itu pada buku bupena juga tidak ditemukan materi yang mengajarkan kepada siswa tentang rasisme dan ponografi. analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 90 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 sehingga buku pena dapat digunakan sebagai buku teks yang menunjang proses pembelajaran. buku teks merupakan sumber belajar yang mempunyai peran dominan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. guru menggunakan buku teks untuk menentukan materi apa yang akan di ajarkan kepada siswa (senem, 2013). untuk itu perlu adanya uji kelayakaan untuk mengetahui ketepatan buku yang digunaka agar mampu menunjang proses belajar sesuai dengan tujuan dari adanya pembelajaran. kelayakan penyajian buku dianalisis berdasarkan komponen keterkaitan volume, penyajian materi secara kontekstual, sistematika ke ilmuan dan anatomi buku ajar buku bupena sangat baik. penyajian buku menyajikan materi yang kontekstual dengan lingkungan siswa sehingga dapat memudahkan siswa dalam menerima pesan saat pembelajaran. sistematika ke ilmuan yang dimuat dalam buku dimulai dari sederhana hingga ke kompleks sesuai dengan perkembangan usia siswa. kelengkapan anatomi buku seperti kata pengantar, daftar pustaka serta kompetensi dasar membatu memudahkan dalam penggunaan baik untuk belajar di sekolah dan dirumah. berdasarkan kelayakan penyajikan dan kelayakan grafika buku bupena merupakan buku yang memiliki penyajian materi yang kontekstual, penyajian gambar estesis dan penggunaan gambar yang akurat utuk siswa. dengan hasil tersebut, buku bupena masuk dalam kategori layak digunakan sebagai buku pelajaran untuk siswa kelas 1 sd. berkaitan dengan kelayakan bahasa, dimana bahasa memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan siswa. bahasa menjadi lambang atau simbol siswa dapat mengonseptualisasikan hubungan ketatabahasaan antara aktor-aksi-objeknya (widodo, 2015:38). hasil analisis dari bahasa memerlukan perbaikan. dalam buku bupena berdasarkan analisis masih terdapat kekurangakuratan seperti penggunaan bahasa yang sulit dipahami oleh siswa kelas 1, pemilihan diksi yang terlalu sulit dipahami membuat guru sulit menjelaskan kepada siswa dan kesalahan penulisan dalam buku menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan. nilai-nilai akhlak dalam buku sangat diperlukan dalam proses perkembangan siswa dalam menamnaman karakter sejak usia dini. namun berdasarkan hasil analisis penanaman karakter melalului penaman nilai akhlak yang terkandung dalam buku bupena masih dikategorikan masih minim. kurangnya materi serta gambar yang mengarah pada penanaman nilai–nilai akhlak siswa perlu dilakukaan perbaikan. penaman nilai akhlak yang tercemin dalam buku hanya untuk diri sendiri belum ada materi mengajarkan kepada siswa untuk mengharhagai tetangga, teman ataupun lingkungan sekitar. simpulan berdasarkan hasil analisis kelayakan, baik dari segi isi, penyajian, bahasa, grafika, buku bupena memiliki kelayakan nilai yang cukup baik. pada segi isi, buku ini sangat baik dan lengkap menyajikan materi muatan pembelajaran sesuai kurikulum analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 91 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 2013. demikian halnya pada segi penyajian buku ini masih layak digunakan karena lengkap dengan gambar ilustrasi yang sesuai, namun buku ini belum berwarna sehingga kurang menarik. kelayakan bahasa juga cukup baik, hanya beberapa kata masih abstark sehingga sulit dipahami siswa. segi grafika perlu dipebaiki pada tampilan buku serta tata letak karena kesan penuh terlihat di setiap halaman. segi kelayakan yang sangat perlu ditambahkan ialah akhlak. buku ini kurang mengakomodasi kelayakan penanaman akhlak. sebagai simpulan, buku tersebut dapat digunakan siswa dalam membantu belajar namun dari segi penaman nilai akhlak perlu adanya perbaikan karena masih minimnya penanaman nilai akhlak pada buku tersebut. daftar pustaka afandi, ’alia n. h., & aka, k. a. (2019). pengembangan dan validasi instrumen analisis buku tematik-terpadu pada kurikulum 2013. jurnal pendidikan dasar nusantara, 4(2), 199-219. https://doi.org/10.29407/jpdn.v4i2.13520 agustina, eka sofia. 2011. telaah buku teks bahasa indonesia. bandarlampung: universitas lampung. akbar, sa’dun. 2013. instrumen perangkat pembelajaran. bandung: usaha rosda arini ulfah hidayati.2017. melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran matematika pada siswa sekolah dasar. jurnal pendidikan dan pembelajaran dasar. vol 4 no 2. di akses pada http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/terampil/article/view/2222 elias, m. j., parker, s. j., kash, v. m., weissberg, r. p., & o’brien, m. u. (2008). social and emotional learning, moral education, and character education: a comparative analysis and a view toward convergence. handbook of moral and character education, 248-266. gelfman, e., podstrigich, a., and losinskaya, r. 2004. on the problem of typology and functions of school texts. discussion group14, focus on the development and research of mathematics textbooks. icme x, copenhagen, denmark, july. hayat, bahrul dan suhendra yusuf. 2010. benchmark internasional mutu pendidikan. jakarta: bumi aksara. komalasari, k. 2014. pembelajaran kontekstual: konsep dan aplikasi. bandung: refika aditama. kripendorff, k. 2004. content analysis: an introduction to its methodology. (2nd ed.). thousand oaks: sage publication, inc. https://doi.org/10.29407/jpdn.v4i2.13520 http://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/terampil/article/view/2222 analisis kelayakan buku......(fitri pr & efi r) 92 jppd, 7, (1), hlm. 77 92 laksono, kisyani. 2008. membaca 2. jakartaa: universitas terbuka. l.w. anderson dan d.r. krathwohl. 2001. a taxonomy for learning, teaching, and assesing; a revision of bloom’s taxonomy of education objectives. addison wesley lonman inc. new yor. https://eduq.info/xmlui/handle/11515/18345 masnur muslich. 2010. text book, penulisan buku teks. jakarta: bumi aksara. mikk, j. 2000. textbook: research and writing. oxford: lang moleong, lexy j. 2017. metode penelitian kualitatif. bandung: pt. remaja rosdakarya offset nasser, r. 2014. “a methodological and scientifi c approach to developing a research agenda in education”.journal of applied sciences, 1-8. niron, m.d., budiningsih, c.a., & pujiriyanto. 2013. “rujukan integratif dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah dasar”. jurnal kependidikan, 43(1), 19-31. di akses pada https://journal.uny.ac.id/index.php/jk/article/view/2247 richardson, r. c., tolson, h., huang, t. y., & lee, y. h. (2009). character education: lessons for teaching social and emotional competence. children & schools, 31(2), 71-78. https://academic.oup.com/cs/article-abstract/31/2/71/503731 senem, b. y. 2013. content analysis of 9th grade physics curriculum, textbook, lessons with respect to science process skills. unpublished doctoral dissertation. the middle east technical university, ankara. soeroso, hadi. 2011. telaah pengembangan kurikulum dan penyusunan ktsp. semarang: ikip pgri press. widodo, mulyanto. 2015. teori belajar bahasa. bandar lampung: universitas lampung. yasa.ketut ngurah.2013. kecermatan formula keterbacaan sebagai penentu keefektifan teks. jurnal pendidikan dan pengajaran. vol46 (3), hal:238-245. di akses pada http://pgsd.fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2017/01/19.pdf yuliana &, yudi budianti (2015). pengaruh penggunaan media konkret terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika kelas ii sekolah dasar negeri babelan kota 06 kecamatan babelan kabupaten bekasi. jurnal pendidikan dasar pedagogik vol. iii, no. 1. di akses pada http://jurnal.unismabekasi.ac.id/index.php/pedagogik/article/view/1258 yusuf, syamsu. 2011. psikologi perkembangan anak dan remaja. bandung: remaja rosdakarya https://eduq.info/xmlui/handle/11515/18345 https://journal.uny.ac.id/index.php/jk/article/view/2247 https://academic.oup.com/cs/article-abstract/31/2/71/503731 http://pgsd.fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2017/01/19.pdf http://jurnal.unismabekasi.ac.id/index.php/pedagogik/article/view/1258 issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 92 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 92 101 pengembangan modul bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan bagi mahasiswa pgsd tabah subekti1), ela minchah laila alawiyah2), dan sumarlam3) 1program studi s3 pbi pascasarjana uns; 2fkip, universitas muhammadiyah magelang; 3pascasarjana universitas sebelas maret 1tabahsubekti2@gmail.com; 2emlaa@yahoo.com; 3sumarlamwd@gmail.com abstract the research aims to develop module of bahasa which combined by national character. background of this study is there’s not yet any module of bahasa which combined by national character, in the other side indonesia needs teacher who able to teach and guide the children with national character to tighten the children’s nationality. by using this product, we hope that the student of elementary school teacher education (candidate of teacher) will able to teach and guide the children with national character. the research was supported by the expert in each field. the research divided become four step which called four-d (1) define; (2) design; (3) develop; and (4) disseminate. but, the duration of the research is only one year, so it caused the research only able to achieve third level (develop). the product of this research is a module of bahasa combined by national character which ready to used by lecturer in elementary school teacher education. object of the research are the student of elementary school teacher education (candidate of teacher) in university of muhammadiyah magelang, central java. the result of the study described that development of module bahasa is done effectively. it can be seen from the lecturers and students respond who had helped by the module. keywords: module, national character. pendahuluan penerapan kurikulum 2013 yang sudah dimulai sejak dua tahun terakhir ini, pernah akan tertunda dan terancam gagal dilaksanakan setelah diterbitkannya surat edaran mendikbud nomor: 179324/mpk/kr/2014 tgl 5 desember 2014 tentang penghentian implementasi kurikulum 2013 dan penggunaan kembali kurikulum tahun 2006 (kurikulum ktsp). mantan menteri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia, anis baswedan (2014: 2) menegaskan bahwa salah satu penyebab kegagalan /ketertundaan penerapan kurikulum 2013 ialah ketidak siapan sumber daya manusia (sdm) terutama tenaga guru dalam menerapkan kurikulum 2013. guru merupakan penerjemah kurikulum ke dalam pembelajaran di sekolah (suryaman, 2012: 34) oleh karenanya ketidaksiapan guru sangat berpengaruh pada ketertundaan kurikulum 2013. fakta di lapangan menunjukkan bahwa pelatihan dan penataran guru yang terlalu mendadak dengan jangka waktu pelatihan yang sangat singkat/terbatas berdampak pada ketidaksiapan guru dalam menerapkan kurikulum 2013, sehingga pemerintah tidak dapat memenuhi kebutuhan sdm yang cakap dalam implementasi kurikulum 2013. kegagalan penerapan kurikulum 2013 dapat diperparah lagi dengan banyaknya lulusan mahasiswa calon guru dari perguruan tinggi (baik negeri maupun swasta) yang ketika lulus kuliah ternyata belum memahami dan mampu menerapkan kurikulum 2013. salah satu faktornya karena saat berkuliah mereka masih mendapatkan materi atau modul lama yang belum mengintegrasikan nilai-nilai karakter kebangsaan di dalamnya. dengan demikian, mailto:tabahsubekti2@gmail.com mailto:emlaa@yahoo.com mailto:sumarlamwd@gmail.com p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pengembangan modul bahasa indonesia.....(tabah subekti, dkk) 93 maka lulusan (calon guru) yang dihasilkan oleh perguruan tinggi pencetak guru belum menguasai kurikulum 2013. hal ini dapat mengakibatkan ketidaksesuaian antara kualitas lulusan dan tuntutan kerja. idealnya, perguruan tinggi pembentuk tenaga pendidik dan tenaga kependidikan harus menjalankan program yang sejalan dengan program pemerintah terutama dalam hal pelaksanaan kurikulum berbasis karakter saat ini. hal ini sesuai dengan fungsi perguruan tinggi sebagai pembentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa (pasal 4a. uu no 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi). penyelarasan program perguruan tinggi dengan program pemerintah dapat dilakukan salah satunya dengan menerapkan metode perkuliahan yang dapat memberikan bekal pengetahuan mengenai konsep kurikulum 2013 terhadap mahasiswa calon guru secara mendalam. dengan demikian lulusan mahasiswa calon pendidik dan tenaga kependidikan dipastikan mampu menerapkan konsep kurikulum 2013 dengan baik. banyak upaya yang dapat dilakukan perguruan tinggi pencetak tenaga pendidik dan tenaga kependidikan dalam menyambut pelaksanaan kurikulum 2013 jika mengacu pada pasal 4a uu nomer 12 tahun 2012 tersebut, beberapa di antaranya dari skala terluas, melalui: (1) koordinasi antarlembaga perguruan tinggi pencetak tenaga pendidik dan kependidikan; (2) himbauan oleh pimpinan perguruan tinggi kepada staf pengajar untuk mengemas perkuliahan sesuai dengan penerapan kurikulum saat ini; atau (3) inisiatif dosen untuk mengelola perkuliahan sesuai penerapan kurikulum yang berlaku saat ini. inisiatif tersebut dapat berupa mengembangkan metode perkuliahan, mengembangkan modul, materi, dan media, yang selaras dengan kurikulum yang berlaku. berkaca pada beberapa hal tersebut, maka mengembangkan modul perkuliahan bahasa indonesia bermuatan nilai-nilai karakter kebangsaan merupakan salah satu upaya menyiapkan pelaksanaan kurikulum 2013. setelah mempelajari modul perkuliahan bermuatan karakter kebangsaan, mahasiswa diharapkan mampu mendapatkan bekal pemahaman kurikulum 2013 yang dikenal dengan kurikulum berbasis karakter, serta mampu mengaplikasikannya di sekolah. dampak positif lainnya yaitu ketika pengembangan modul bermuatan nilai karakter ini menunjukkan peningkatan yang signifikan, maka dapat diupayakan untuk mengembangkan modul perkuliahan bermuatan nilai karakter kebangsaan pada mata kuliah lain selain bahasa indonesia di perguruan tinggi seluruh indonesia sehingga memperoleh dampak yang lebih luas. kesiapan lulusan mahasiswa calon guru untuk melaksanakan kurikulum bermuatan karakter ini akan sangat mendukung pemantapan implementasi kurikulum 2013 pada masa mendatang, sehingga penerapan kurikulum 2013 tidak lagi mengalami ketertundaan/ kegagalan. luaran hasil penelitian ini berupa: (1) modul perkuliahan pendidikan bahasa indonesia bermuatan nilai-nilai karakter kebangsaan (hard copy dan soft copy), (2) artikel ilmiah hasil penelitian pengembangan yang dipublikasikan melalui jurnal/prosiding, dan (3) lulusan mahasiswa (calon guru sd) yang mampu dan siap menerapkan kurikulum 2013 pada tahun-tahun mendatang. adapun kontribusi hasil penelitian ini antara lain: (1) bagi pemerintah, dapat mendukung kesuksesan implementasi kurikulum 2013 yang saat itu masih mengalami ketertundaan; e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 94 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 92 101 (2) bagi institusi pendidikan dasar dan menengah, dapat terpenuhinya kebutuhan tenaga pengajar yang mampu dan siap menerapkan kurikulum 2013; (3) bagi perguruan tinggi, dapat menyelenggarakan perkuliahan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku saat ini melalui penyediaan modul yang bermuatan nilai karakter kebangsaan; (4) bagi mahasiswa calon guru, dapat meningkatkan kompetensi diri dalam rangka implementasi kurikulum 2013; dan (5) bagi peneliti, dapat meningkatkan profesionalisme kerja dan mengembangkan diri sesuai bidang keilmuan yang dimiliki. modul merupakan satuan program belajar mengajar yang terkecil, yang dipelajari oleh pembelajar secara mandiri (winkel, 2009:472). sementara itu menurut ahli lain, dikemukakan pula bahwa modul adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metode, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri untuk mencapai kompetensi yang diharapkan (anwar, 2010:90). senada dengan dua pendapat ahli tersebut, modul dapat pula diartikan sebagai suatu kesatuan bahan belajar yang disajikan dalam bentuk selfinstruction, artinya bahan belajar yang disusun di dalam modul dapat dipelajari siswa secara mandiri dengan bantuan yang terbatas dari guru atau orang lain (depdiknas, 2006: 132). menurut mulyasa dalam (rusimamto, 2013: 47) modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional, dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para pengajar. pengajaran modul merupakan usaha penyelenggaraan pengajaran individual yang memungkinkan pembelajar menguasai satu unit bahan pelajaran sebelum dia beralih kepada unit berikutnya. berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa modul perkuliahan adalah salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara sistematis dan menarik sehingga mudah untuk dipelajari oleh mahasiswa secara mandiri maupun klasikal dengan memperhatikan kemampuan individu pembelajar (mahasiswa). istilah karakter berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. sementara mengatakan bahwa karakter merupakan cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara (suyanto, 2010:74). senada dengan dua pengertian tersebut dijelaskan pula bahwa karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu (kertajaya, 2010:3). ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan penggerak yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu. sementara itu pendidikan karakter dapat diartikan sebagai suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti (lickona, 2005: 63). sintesa dari berbagai pengertian tersebut, karakter adalah sifat yang menjadi ciri khas yang dimiliki seseorang untuk melakukan tindakan etis dalam hidup bermasyarakat. secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter pembelajar, sehingga ketika dewasa siswa mampu menunjukkan sikap dan perilaku luhur dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter/ p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pengembangan modul bahasa indonesia.....(tabah subekti, dkk) 95 berdasarkan pada kajian teroi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa modul perkuliahan bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan adalah bahan ajar yang bersifat sistematis dan praktis, diperuntukkan bagi mahasiswa pgsd dan di dalamnya memuat nilai-nilai karakter kebangsaan sesuai kurikulum 2013. modul perkuliahan bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan disusun untuk mempermudah mahasiswa menguasai materi perkuliahan bahasa indonesia yang sesuai dengan implementasi kurikulum saat ini. modul merupakan sarana belajar yang memiliki sifat praktis dan sistematis (anwar, 2010:96), sehingga mudah digunakan mahasiswa baik secara terbimbing maupun secara mandiri untuk menguasai isi materi di dalam modul. banyak temuan-temuan para peneliti terdahulu yang membuktikan bahwa penggunaan modul sebagai sarana pembelajaran memiliki nilai efektivitas yang tinggi, seperti penelitian yang dilakukan oleh: akmalia, dalam penelitian yang berjudul “pengembangan modul ipa terpadu berkarakter tema pemanasan global untuk siswa smp/mts” yang dimuat dalam unnes science education journal, menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan layak dan efektif digunakan untuk pembelajaran di smp/mts kelas vii (akmalia, 2013:73); anton ginanjar, melalui penelitian yang berjudul “pengembangan media pembelajaran modul interaktif mata kuliah pemindahan tanah mekanik” membuktikan bahwa tanggapan dan minat mahasiswa dalam menggunakan modul interaktif pemindahan tanah mekanik ini termasuk dalam kategori “baik” (ginanjar, 2010: 62). efriana, dalam penelitiannya yang berjudul “pengembangan modul ipa terpadu berkarakter pada tema pengelolaan lingkungan untuk siswa kelas vii smp” yang dimuat dalam unnes science education juornal, modul terbukti efektif digunakan dalam pembelajaran siswa kelas vii smp negeri 2 kajen (efriana, 2013:84); ika muryani, dalam penelitian yang berjudul “pengembangan modul pembelajaran biologi berbasis sains teknologi masyarakat (stm) untuk siswa kelas x sma/ma”. hasil penelitiannya menunjukkan bahwa berdasarkan hasil analisis reviewer kualitas modul tersebut sangat baik (sb) dengan presentase 85,88% dan presentase berdasarkan respon siswa 90,44 % (muryani, 2014: 78); nisa ul istiqomah dalam penelitiannya yang berjudul “pengembangan modul matematika materi ruang dimensi tiga berbasis pendidikan karakter dengan pendekatan kontekstual untuk sma kelas x” membuktikan bahwa rata-rata skor aspek kelayakan isi, kelayakan bahasa, kelayakan penyajian, penilaian kontekstual dan penilaian karakter dengan kriteria “sangat baik” serta kelayakan kegrafikaan dengan kriteria “baik” (istiqomah, 2012: 94); dan parmin, dalam penelitiannya yang berjudul “pengembangan modul mata kuliah strategi belajar mengajar ipa berbasis hasil penelitian pembelajaran” yang dimuat dalam jurnal pendidikan ipa indonesia menunjukkan bahwa modul yang dikembangkan terbukti efektif berdasarkan hasil perolehan nilai mahasiswa (parmin, 2012: 83). berdasarkan beberapa penelitian terdahulu tersebut maka dapat disintesiskan bahwa penggunaan modul terbukti sangat membatu meningkatkan prestasi siswa/mahasiswa pada proses pembelajaran. adapun pada penelitian ini, peneliti berupaya meningkatkan pemahaman nilai-nilai karakter e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 96 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 92 101 kebangsaan mahasiswa melalui penggunaan modul bermatan karakter kebangsaan. metode penelitian penelitian yang dilaksanakan tergolong penelitian pengembangan atau research and development (r&d). produk yang dikembangkan adalah bahan ajar berupa modul perkuliahan mata kuliah bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan untuk mahasiswa pgsd. model pengembangan modul perkuliahan dalam penelitian ini mengacu pada model thiagarajan dalam (rohmad, 2012: 63) yang terdiri dari empat tahap pengembangan yang sering diistilahkan 4-d yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran (dessiminate). namun karena penelitian ini dilakukan hanya satu tahun, maka pengembangan yang dilakukan hanya sampai pada tahap ketiga (develop) saja. lingkup penelitian ini tergolong dalam penelitian pendidikan. objek penelitian pengembangan ini adalah modul perkuliahan bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan, sementara itu subjek penelitian ini yaitu dosen dan mahasiswa pgsd um magelang. tempat penelitian berada di kampus 1 universitas muhammadiyah magelang. variabel penelitian ini dapat dipilah menjadi dua yakni yang pertama adalah modul perkuliahan yang dikembangkan sedangkan variabel kedua yaitu efektivitas perkuliahan dosen dan mahasiswa. analisis data yang digunakan yakni menghitung hasil respon dosen dan mahasiswa. keberhasilan penelitian terletak pada sejauh mana modul yang dikembangkan dapat membantu dosen dan mahasiswa dalam melaksanakan aktivitas perkuliahan. kriteria yang digunakan terdiri atas lima level meliputi: (1) tidak membantu; (2) kurang membantu; (3) cukup membantu; (4) membantu; dan (5) sangat membantu. hasil dan pembahasan hasil yang dicapai dari pelaksanaan penelitian terbagi atas beberapa bagian sebagai berikut. tahap a. (define) ini merupakan tahap awal yang dilakukan dalam penelitian pengembangan modul bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan. tahap ini dijadikan dasar melangkah pada tahap berikutnya yakni tahap b. (design), dan tahap c. (develop). tahap define ini merupakan tahapan menganalisis kebutuhan modul seperti apa yang dibutuhkan mahasiswa pgsd. pada tahap ini terdapat empat analisis meliputi: analisis awal akhir, analisis mahasiswa, analisis materi, dan analisis tugas, serta perumusan tujuan perkuliahan khusus. rumusan analisis pada tahap ini dapat dijelaskan sebagai berikut. analisis mengenai kondisi awal dan prediksi kondisi akhir perlu dilakukan mengingat pengembangan modul ini dimaksudkan untuk membekali pemahaman mahasiswa mengenai karakter kebangsaan, kondisi awal dapat digambarkan bahwa mahasiswa belum sepenuhnya memahami karakter kebangsaan yang harus ditanamkan pada diri pribadi dan diteladankan kepada orang lain. mahasiswa pgsd merupakan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan untuk mendapatkan bekal kompetensi guru sekolah dasar. jumlah mahasiswa yang hendak dijadikan subjek penelitian sebanyak 280 orang dengan latar belakang yang beragam. perlunya dilakukan analisis mahasiswa ialah untuk menjamin produk pengembangan modul yang dilakukan mampu menjawab kebutuhan mahasiswa p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pengembangan modul bahasa indonesia.....(tabah subekti, dkk) 97 secara tepat, mudah diterima, dan memiliki manfaat yang nyata. kondisi mahasiswa pgsd yang menjadi subjek penelitian pengembangan ini dilihat dari segi jenis kelamin, presentase mahasiswa berkisar antara 10% mahasiswa laki-laki dan 90% mahasiswa perempuan. sementara itu dari latar belakang pendidikan mahasiswa yang berlatar belakang sma ipa 45%, sma ips 40%, dan lainnya 15%. latar belakang keluarga mahasiswa pun beragam misalnya orang tuanya berprofesi sebagai pegawai negeri, swasta, buruh, sopir, dan sebagainya. analisis mengenai kondisi mahasiswa ini dijadikan pertimbangan dalam menyusun modul bermuatan nilai karakter, yakni bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk menginternalisasi nilai-nilai karakter kebangsaan pada mahasiswa pgsd tersebut. materi perkuliahan yang hendak disusun senantiasa mengacu pada kurikulum skala nasional. beberapa sumber yang dapat dirujuk di antaranya: buku modul yang telah disusun beberapa pakar dan modul yang telah digunakan beberapa dosen baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. beberapa aspek yang dikaji pada modul yang hendak disusun di antaranya: (1) pengertian atau hakikat bahasa dan sastra; (2) karakteristik anak usia sd (3) kompetensi kebahasaan siswa sd (4) strategi pembelajaran bahasa di sd; dan (5) inovasi pembelajaran bahasa di sd. tahap b (design), tujuan tahap ini yaitu untuk merancang prototype modul perkuliahan yang terdiri atas 4 tahap, yaitu: (1) tahap penyusunan; (2) tahap pemilihan media; (3) tahap pemilihan format; dan (4) tahap rancangan awal (design awal). dalam hal ini rancangan awal yang dibuat adalah modul perkuliahan, lembar validasi modul perkuliahan, angket respon dosen dan respon mahasiswa terhadap modul perkuliahan bermuatan nilai karakter kebangsaan. selanjutnya rancangan awal ini disebut draft i. proses penyusunan draft i modul perkuliahan ini dilakukan setelah melalui berbagai pertimbangan seperti yang telah dijelaskan di muka. pada tahap design ini pula disusun instrumen yang digunakan untuk menguji kelayakan modul. beberapa aspek yang dinilai pada instrumen penelitian di antaranya: (1) kemenarikan modul perkuliahan; (2) penggunaan modul perkuliahan dapat membantu dosen dalam menyampaikan materi perkuliahan; (3) kepraktisan dalam penggunaan modul perkuliahan; (4) kemanfaatan modul dalam proses perkuliahan; (5) penyampaian materi dengan modul perkuliahan lebih efektif dan efisien sesuai waktu yang disediakan; (6) modul perkuliahan dapat digunakan berulang kali sesuai kebutuhan; (7) menginspirasi dosen/mahasiswa untuk lebih kreatif dalam kegiatan perkuliahan; (8) kemudahan dosen/mahasiswa dalam penggunaan modul perkuliahan; (9) keterbacaan bahasa dalam modul perkuliahan; dan (10) kejelasan penyajian materi dan latihan soal dalam modul perkuliahan. tahap c (develop,) tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan draft modul perkuliahan yang telah direvisi berdasarkan masukan validator dan data yang diperoleh dari uji coba. pada tahap ini terdapat dua langkah kegiatan, yaitu: validasi modul perkuliahan dan uji coba modul perkuliahan. hasil validasi tampak pada tabel. 1. tabel tersebut menunjukkan bahwa masih banyak aspek yang perlu direvisi, di antaranya: mempermudah penyampaian materi, kepraktisan, ketepatan waktu, serta kejelasan materi dan soal. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 98 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 92 101 tabel 1. hasil validasi draft i no aspek yang diamati presentase tingkat kesesuaian (0 – 100%) 1 kemenarikan modul 67% 2 mempermudah penyampaian materi 57% 3 kepraktisan 55% 4 kemanfaatan 60% 5 ketepatan waktu 40% 6 tingkat kegunaan kembali 70% 7 inspiratif 65% 8 memudahkan mahasiswa 62% 9 keterbacaan 70% 10 kejelasan materii dan soal 55% berdasarkan data hasil validasi ahli dan standar kriteria kevalidan di atas, maka pada draft 1 masih terdapat empat aspek yang perlu diperbaiki di antaranya: a. membantu mempermudah penyampaian materi. peranan modul sebagai sarana penyampaian materi sangat berpengaruh terhadap pemahaman mahasiswa dalam menguasai perkuliahan. demikian pula modul yang hendak dikembangkan ini harus memenuhi kriteria yang baik dalam membantu mempermudah penyampaian materi. sesuai saran validator pada instrumen validasi ahli, hendaknya modul yang dikembangkan ini lebih diperjelas lagi masing-masing subkompetensi beserta bagian-bagian pendukungnya. berdasarkan saran itu, peneliti segera melakukan perbaikan melalui proses mengedit hingga tersusun subkompetensi yang teratur dan mudah dipahami. b. kepraktisan modul dari segi kepraktisan, modul yang sedang dikembangkan ini dinilai masih kurang. hal ini tampak pada isi modul yang masih perlu dirapikan dan terlalu banyak istilah yang kurang mendukung. berdasarkan saran tersebut, peneliti segera melakukan perbaikan dan penyempurnaan agar dihasilkan modul yang praktis digunakan baik oleh dosen maupun mahasiswa. beberapa perbaikan tersebut di antaranya: (1) melakukan edit cover; (2) mengemas kembali isi modul lebih terinci; (3) mengatur tata letak paragraf, tabel, grafik, dan gambar; dan (4) memperbaiki lay out di bagian akhir modul. c. kesesuaian alokasi waktu masing-masing subpokok bahasan kesesuaian antara waktu dengan isi subpokok bahasan pada modul yang disusun masih dinilai kurang. ini dapat dilihat dari kurang seragamnya masingmasing subkompetensi dengan alokasi waktu yang tersedia. masih terdapat subkompetensi yang luas namun dialokasikan dengan waktu yang sedikit dan ada pula subkompetensi yang sempit namun dengan alokasi waktu yang terlalu luas. berdasarkan saran validator tersebut, peneliti segera melakukan penyempurnaan dari segi alokasi waktu. penyusunan kembali subkompetensi/pokok bahasan dengan alokasi waktu juga diupayakan agar seimbang. d. kejelasan materi dan daftar soal kejelasan materi dan daftar soal pada modul yang dikembangkan masih dinilai kurang oleh validator. hal ini dibuktikan dengan masih ditemukannya istilah yang kurang sesuai dengan isi materi modul. selain kejelasan materi, juga daftar soal p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pengembangan modul bahasa indonesia.....(tabah subekti, dkk) 99 dinilai kurang jelas dan perlu disesuaikan. kejelasan soal ini seharusnya dapat dipahami mahasiswa dan berkaitan langsung dengan materi yang dibahas. berdasarkan saran dari validator tersebut, peneliti segera melakukan perbaikan dengan menyusun kembali uraian materi secara lebih jelas dan lugas serta menyusun butir soal yang mudah dipahami dan berkaitan langsung dengan uraian materi yang dibahas sebelumnya. sementara itu aspek yang sudah cukup baik dan tidak memerlukan revisi di antaranya: kemenarikan modul, kemanfaatan, tingkat kegunaan kembali, inspiratif, memudahlan mahasiswa, dan keterbacaan. hasil validasi ahli ini digunakan sebagai acuan untuk melangkah pada tahap berikutnya yakni revisi atau penyempurnaan modul agar menghasilkan produk yang lebih baik lagi. langkah berikutnya adalah penyusunan draft ii. hal ini dilakukan setelah mendapatkan masukan dari validator. melalui perbaikan ini diharapkan dapat menghasilkan modul yang layak untuk digunakan bagi mahasiswa pgsd. draft ii yang telah tersusun selanjutnya diuji coba dengan cara digunakan untuk mengisi materi perkuliahan. kegiatan perkuliahan dengan menggunakan draft ii modul hasil pengembangan ini dipantau secara berkala dan dianalisis hasilnya di akhir penggunaan modul. uji coba dilaksanakan pada dosen pengampu mata kuliah bahasa indonesia dan mahasiswa pgsd semester 2 fkip um magelang dengan jumlah mahasiswa sebanyak 280 orang. pelaksanaan uji coba draft ii menghasilkan beberapa data yang menunjukkan bahwa modul yang digunakan telah memenuhi unsur kelayakan dan membantu proses perkuliahan. hal ini dibuktikan dengan adanya respon dosen dan mahasiswa setelah menggunakan modul merasa bahwa modul perkuliahan bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan telah membantu mahasiswa memahami, baik isi materi maupun nilai-nilai karakter kebangsaan yang harus dijiwai dan diteladankan kepada murid sd kelak. dalam pelaksanaannya, uji coba draft ii membutuhkkan peranan dosen dan mahasiswa. kedua unsur tersebut merupakan pelaku utama dalam proses perkuliahan. uji coba dilakukan secara bertahap. pada setiap tahapan, dosen memberikan subpokok bahasan dengan mengaitkan nilai karakter kebangsaan dalam proses perkuliahan. adapun nilai karakter kebangsaan yang diaplikasikan adalah sebanyak delapan belas karakter seperti telah dijelaskan di muka. hasil uji coba dan validasi draft ii selanjutnya digunakan sebagai acuan untuk menyusun naskah final modul perkuliahan bahasa indonesia yang bermuatan nilai karakter kebangsaan. tabel 2. hasil validasi draft ii no aspek yang diamati presentase tingkat kesesuaian (0 – 100%) 1 kemenarikan modul 84% 2 mempermudah penyampaian materi 82% 3 kepraktisan 90% 4 kemanfaatan 86% 5 ketepatan waktu 80% 6 tingkat kegunaan kembali 88% 7 inspiratif 87% 8 memudahkan mahasiswa 80% 9 keterbacaan 93% 10 kejelasan materi dan soal 90% naskah final ini selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu referensi e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 100 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 92 101 perkuliahan bahasa indonesia pada program studi pendidikan guru sekolah dasar (pgsd) adapun hasil validasi dan uji coba draft ii tampak pada tabel. 2. berdasarkan dua tabel pada bagian hasil penelitian, maka dapat kita cermati bahwa proses pengembangan dan penyempurnaan modul berkorelasi positif dengan peningkatan kualitas modul. ini didasarkan pada hasil penilaian validator terhadap kualitas modul dari segi kemenarikan, hingga kejelasan materi dan soal. peningkatan yang sangat signifikan tampak pada aspek mempermudah penyampaian, unsur kepraktisan, ketepatan waktu, dan kejelasan materi serta soal. simpulan mengacu pada kriteria keberhasilan penelitian yang telah dibahas pada bagian muka, serta melihat hasil validasi ahli dan respon dosen-mahasiswa, maka modul perkuliahan bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan yang disusun dan dikembangkan pada penelitian ini telah dapat dikatakan layak untuk digunakan. keterbatasan penelitian ini di antaranya adalah (1) merupakan penelitian tahap pemula; (2) durasi pengembangannya hanya satu tahun sehingga kurang maksimal; dan (3) lingkup penelitian masih sempit, yakni hanya pada satu instansi. pada peneliti berikutnya diharapkan dapat melakukan penelitian serupa pada skala yang lebih luas. daftar pustaka akmalia. (2013). "pengembangan modul ipa terpadu berkarakter tema pemanasan global untuk siswa smp/mts". unnes science education journal , vol 2 (no 1), 203-208. anwar, i. (2010). pengembangan bahan ajar. bandung, jawa barat, indonesia: direktori upi. baswedan, a. (2014, 12 4). surat edaran mendikbud nomor: 179324/mpk/kr/2014. depdiknas. (2006). teknik penyusunan modul. jakarta: departemen pendidikan nasional. efriana. (2013). "pengembangan modul ipa terpadu berkarakter pada tema pengelolaan lingkungan untuk siswa kelas vii smp." unnes science education journal , vol 2 (no 2), hal 269-273. ginanjar, a. (2010). pengembangan media pembelajaran modul interaktif mata kuliah pemindahan tanah mekanik. universitas sebelas maret, fkip. surakarta: uns press. istiqomah, n. u. (2012). pengembangan modul matematika materi ruang dimensi tiga berbasis pendidikan karakter dengan pendekatan kontekstual untuk sma kelas x. universitas negeri yogyakarta, fmipa. yogyakarta: uny press. kertajaya, h. (2010). on brand. bandung: mizan pustaka. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pengembangan modul bahasa indonesia.....(tabah subekti, dkk) 101 lickona. (2005). smart & good high schools: integrating excellence and ethics for success in school, work, and beyond. new york: the character education partnership. muryani, i. (2014). pengembangan modul pembelajaran biologi berbasis sains teknologi masyarakat (stm) untuk siswa kelas x sma/ma. universitas negeri yogyakarta, fmipa. yogyakarta: uny press. parmin. (2012). "pengembangan modul mata kuliah strategi belajar mengajar ipa berbasis hasil penelitian pembelajaran." jurnal pendidikan ipa indonesia , vol 1 (no 1), hal 8-15. rohmad. (2012). "desain model pengembangan perangkat pembelajaran." kreano , vol 3 (no 1), hal 59-72. rusimamto. (2013). "pengembangan modul ajar mata kuliah fisika ii untuk model pembelajaran kooperatif sebagai upaya meningkatkan kualitas hasil pembelajaran di jurusan teknik elektro ft unesa." seminar nasional pendidikan teknik elektronika (p. 901). surabaya: unesa press. suryaman, m. (2012). metodologi pembelajaran bahasa. yogyakarta: uny press. suyanto. (2010). aktualisasi pendidikan karakter . jakarta: direktorat jenderal manajemen pendidikan dasar menengah . winkel. (2009). psikologi pengajaran yogyakarta. yogyakarta: media abadi. systematic review......(anggit grahito w) 65 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 vol. 7, no. 1, juli 2020 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: doi.org/10.23917/ppd.v1i1.10822 systematic review pengaruh pendekatan saintifik terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa anggit grahito wicaksono fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas slamet riyadi garahito@gmail.com pendahuluan masalah yang cukup membuat dunia pendidikan di indonesia terutama dalam bidang ipa khawatir dapat dilihat pada hasil survei di bidang pendidikan yang diteliti oleh oecd dalam studi programme for international student assessment (pisa) tahun 2009, menunjukkan bahwa indonesia memiliki kemampuan pendidikan menghitung, membaca dan sains pada peringkat 60 dari 65 negara, namun pada tahun 2012, mengalami penurunan ke peringkat 64 dari 65 negara (oecd, 2012). hasil survei yang tidak berbeda dilakukan oleh timss (trends in student achievement in mathematics and science). timss merupakan studi yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali, yaitu pada tahun 1995, 1999, 2003, 2007, 2011, dan seterusnya (kemdikbud, 2016). indonesia berada di papan bawah dibandingkan dengan beberapa negara di asia. nilai rata-rata skor prestasi ipa siswa indonesia pada timss tahun 1999, 2003, 2007, dan 2011 secara berurutan adalah 435, 420, 427, dan 406. perolehan skor tersebut memberikan informasi bahwa siswa indonesia menempati peringkat 32 dari 38 negara (1999), peringkat 37 dari 46 negara (2003), peringkat 35 dari 49 negara (2007), dan peringkat 39 dari 42 negara (2011). hasil dari kedua survei tersebut menunjukan bahwa abstract: the purpose of the study was to investigate the effect of a scientific approach on improving students' critical thinking skills in various educational units. the research method used is a systematic review of research results available in the indonesia one search portal by analyzing qualitative research from each. from the results of the search for scientific publications, 33 scientific articles were obtained which were screened with inclusion and exclusion criteria obtained 5 articles. the results of this study revealed that (1) the scientific approach had a positive and significant influence on students' critical thinking skills in various educational units starting from elementary to high school. (2) the application of a scientific approach, especially in natural science learning (physics, biology, chemistry) can improve students' critical thinking skills because the scientific approach has a strong and significant relationship with critical thinking skills. this systematic review research has implications in science learning based on a scientific approach in developing innovative learning models related to the empowerment of higher order thinking skills that include critical thinking, creative thinking, and problem solving. keywords: systematic review, scientific approach, critical thinking skills mailto:garahito@gmail.com systematic review......(anggit grahito w) 66 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 indonesia mengalami penurunan sumber daya manusia (sdm) yang cukup signifikan terutama dalam bidang pendidikan ipa. berkaitan dengan dimensi ipa sebagai produk dan proses, seharusnya pembelajaran yang dilaksanakan mengajarkan pada siswa cara pengetahuan tersebut ditemukan (inquiry) oleh siswa. masih banyak guru yang yang belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam memilih dan mengaplikasikan berbagai metode dan pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa ingin tahu, keaktifan, minat dan motivasi belajar siswa. guru harus memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dari siswa tersebut, sehingga dapat memengaruhi hasil belajar ipa siswa. pendekatan yang cocok digunakan untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran adalah pendekatan yang berorientasi pada siswa. salah satu pendekatan yang mampu mengembangkan peran guru sebagai fasilitator dan pembimbing untuk mengembangkan potensi siswa yaitu dengan menggunakan pendekatan saintifik. kemendikbud (2013) memberikan konsepsi tersendiri bahwa pendekatan ilmiah atau pendekatan saintifik (scientific approach) dalam pembelajaran di dalamnya mencakup komponen: mengamati, menanya, menalar, mencoba/mencipta, menyajikan/mengkomunikasikan. pendekatan ilmiah (saintifik) ini tepat digunakan pada mata pelajaran ipa karena merupakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dan sekaligus proses pembelajarannya memenuhi kriteria ilmiah. pendekatan saintifik yang disebutnya dengan model pembelajaran saintifik proses pada dasarnya adalah pembelajaran yang dilandasi dengan pendekatan ilmiah yang diorientasikan guna membina kemampuan siswa memecahkan masalah melalui serangkaian aktivitas inkuiri yang menuntut kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif dan berkomunikasi dalam upaya meningkatkan kemampuan dan pengetahuan siswa (krogsgaard et al., 2011). karakteristik pendekatan saintifik menurut abidin (2014), adalah objektif, faktual, sistematis, bermetode cermat dan tepat, logis, aktual, disinterested (pembelajaran tidak memihak), unsupported opinion (tidak menumbuhkan pendapat atau opini yang tidak disertai bukti-bukti nyata), dan verifikatif. selain memiliki karakteristik, terdapat juga tujuan pembelajaran dengan pendekatan ilmiah. kurniasih dan berlin (2014) menjelaskan tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik didasarkan pada keunggulan pendekatan tersebut. beberapa tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah (1) untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, (2) untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik, (3) terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan, (4) diperolehnya hasil belajar yang tinggi. (5) untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide khususnya dalam menulis artikel ilmiah, (6) untuk mengembangkan karakter siswa. dalam rangka mencapai tujuan tersebut, maka difokuskan pada salah satu isu mukhtahir dalam pembelajaran kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik saat ini adalah mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi yang sangat berkaitan dengan systematic review......(anggit grahito w) 67 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 pendekatan saintifik adalah keterampilan berpikir kritis. keterampilan berpikir kritis merupakan keterampilan dalam berpikir secara rasional (masuk akal) dan reflektif dalam pengambilan keputusan berlandaskan yang diyakini atau yang dilakukan (ennis, 2015). hal ini sejalan dengan permendikbud no. 81 tahun 2013 tentang implementasi kurikulum disebutkan bahwa kebutuhan kompetisi masa depan dimana kemampuan peserta didik yang diperlukan yaitu kemampuan berkomunikasi, kreatif, dan berpikir kritis (kemendikbud, 2013: 10). penelitian mengenai pengaruh penerapan pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikri kritis siswa telah banyak dilakukan dan sebagian besar hasilnya mengungkapkan bahwa pendekatan saintifik berpengaruh positif dan signiikan terhadap keterampilan berpikir kritis siswa di hampir semua satuan pendidikan mulai dari sd – sma. pengamatan dan pencarian publikasi ilmiah yang telah dilakukan oleh penulis melalui portal indonesia one search memperoleh hasil 33 penelitian terkait yang diterbitkan antara tahun 2014 – 2018. seluruh penelitian tersebut masih sangat minim keterbacaannya, padahal hasil dari penelitian tersebut dapat digunakan oleh guru, mahasiswa, orang tua, siswa, peneliti, dan berbagai pihak yang berkepentingan untuk mendapatkan berbagai informasi. informasi yang didapat dari antara lain adalah peningkatan kualitas hasil belajar, kualitas pembelajaran, buku ajar, bahan ajar, serta dapat menentukan langkah dan tindakan yang diperlukan dalam penelitian lanjutan ataupun hanya sebagai sarana menambah wawasan dan pengetahuan. dewasa in sebagian besar peneliti merasa kesulitan dalam mengikuti perkembangan yang sangat pesat dari hasil-hasil penelitian yang dipublikasikan dalam bentuk artikel melalui jurnal online atau repository. para peneliti tersebut sangatlah bergantung pada rangkuman atau ringkasan dari hasil-hasil penelitian tersebut yang tersedia. artikel maupun tulisan hasil pemikiran ini akan tidak banyak bermanfaat dan memberikan informasi jika tidak dimanfaatkan untuk perkembangan ilmu pengetahuan di masa kinidan masa mendatang. salah satu teknik untuk mengetahui evidence base dan menggunakan artikel-artikel tersebut sebagai informasi adalah teknik systematic review. systematic review mempunyai kriteria dimana penelaahan terhadap artikel dilaksanakan secara terstruktur dan terencana. systematic review meningkatkan kedalaman dalam mereviu dan membuat rigkasan dalam evidence riset (davies & crombie, 2009). tujuan systematic review antara lain menjawab pertanyaan secara spesifik, relevan dan terfokus. systematic review juga menjari hasil riset, menurunkan bias dari review, mensintesis hasil, mengidentifikasi gab dari riset (torgerson, 2003). systematic review juga sering dibutuhkan untuk penentuan agenda riset, sebagai bagian dari desertasi atau tesis serta merupakan bagian yang melengkapi pengajuan hibah riset (davies & crombie, 2009). penelitian mengenai pengaruh pendekatan saintifik pada peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa telah banyak dilakukan seperti yang telah dilakukan oleh bq. azmi sukroyanti & ika sufianti (2017) dengan judul “pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa” menujukkan adanya pengaruh signifikan antara pendekatan saintifik terhadap keterampila berpikir kritis siswa, penelitian lain yang sejenis dilakukan oleh ni nyoman sukmasari, i ketut systematic review......(anggit grahito w) 68 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 adnyana putra, & m.g. rini dengan judul “pengaruh pendekatan saintifik berbasis asesmen portofolio terhadap hasil belajar keterampilan menulis dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas iv sd gugus pattimura pada tema cita-citaku” menunjukkan pengaruh yang positif dan signifikan dari pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. penelitian systematic review perlu dilakukan untuk mendapatkan suatu kesatuan pemahaman atau konklusi umum dari hasil-hasil penelitian yang sejenis. penelitian systematic review ini dilakukan dengan tujuan menyelidiki pengaruh pendekatan saintifik terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa di berbagai satuan pendidikan. penelitian systematic review ini memiliki kebaruan dalam menyimpulkan dampak pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa di sekolah dasar dan menengah. metode penelitian penelitian ini merupakan studi kepustakaan dalam bentuk sebuah literatur review sistematika pada artikel pendidikan ipa untuk mengidentifikasi pendekatan saintifik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. kriteria inklusi artikel yang digunakan adalah pendekatan saintifik yang meningkatkan keterampilan berpikir kritis, sedangkan kriteria eksklusi adalah artikel yang abstrak, artikel yang tidak menggunakan bahasa inggris dan artikel yang ditampilkan tidak fulltext. pencarian artikel tidak terbatas hanya untuk artikel dengan bahasa indonesia yang diakses dari pencarian internet dari database yaitu: indonesia one search dengan kata kunci pendekaatan saintifik, pembelajaran ipa, dan keterampilan berpikir kritis. artikel yang memenuhi kriteria inklusi dikumpulkan dan diperiksa secara sistematis. pencarian literatur yang dipublikasikan dari tahun 2014 sampai dengan 2018. proses pencarian mendapatkan 5 artikel yang memenuhi syarat kriteria inklusi dan eksklusi. hasil dan pembahasan berdasarkan hasil pencarian didapatkan sebanyak 33 artikel yang dianggap sesuai dengan tujuan penelitian kemudian dijadikan satu lalu dilakukan screening untuk mengindentifikasi kesesuaian judul pada artikel tersebut. setelah dilakukan screening didapatkan ada 10 artikel yang memiliki kesesuaian judulnya, dari 10 artikel ini kemudian di-screening berdasarkan eligibility sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan 5 artikel untuk selanjutnya dilakukan reviu. adapun strategi pencarian literatur dapat dilihat pada tabel 1. tabel 1. strategi pencarian literatur mesin pencari indonesia one search hasil penelusuran, tahun 2014 2018 33 fulltext, pdf 23 judul yang sesuai 10 eligible sesuai kriteria inklusi dan ekslusi 5 result 5 systematic review......(anggit grahito w) 69 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 analisis dari 5 artikel tersebut dapat diidentifikasi bahwa 1 artikel merupakan penelitian menggunakan metode quasy experimental with non-equivalent control group design, 1 artikel merupakan penelitian menggunakan metode quasy experimental with posttest only control group design, 2 artikel merupakan penelitian menggunakan metode quasy experimental with pretest-posttest control group design, dan 1 artikel merupakan penelitian menggunakan metode pre-experimental with one group pretest-posttest design. setelah dilakukan pengkajian kualitas studi dari 5 artikel dapat dikategorikan baik (high) selanjutnya dilakukan ekstraksi data. ekstraksi data ini dilakukan dengan menganalisa data berdasarkan nama penulis, judul, tujuan, metode penelitian dan hasil yaitu pengelompokan data-data penting pada artikel. adapun hasil ekstraksi data dapat dilihat pada tabel 2. tabel 2. hasil ekstraksi data penulis/ tahun judul jurnal tujuan metode hasil 1 ni nyoman sukmasari, i ketut adnyana putra, & m.g. rini kristiantari / 2015 pengaruh pendekatan saintifik berbasis asesmen portofolio terhadap hasil belajar keterampilan menulis dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas iv sd gugus pattimura pada tema citacitaku e-journal pgsd universitas pendidikan ganesha jurusan pgsd vol. 3, no. 1 mengetahui perbedaan hasil belajar keterampilan menulis dan kemampuan berpikir kritis antara kelompok siswa yang belajar dengan pendekatan saintifik berbasis asesmen portofolio dan kelompok siswa yang belajar dengan pendekatan saintifik konvensional. quasy experimental with nonequivalent control group design terdapat perbedaan hasil belajar keterampilan menulis dan kemampuan berpikir kritis antara siswa kelas iv sd gugus pattimura yang mengikuti pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik berbasis asesmen portofolio dan siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik konvensional pada tema cita-citaku. 2 bq. azmi sukroyanti & ika sufianti/ 2017 pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa jurnal ilmiah pendidikan fisika “lensa”, vol. 5 no.2. mengetahui pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa quasy experimental with postest only control group design ada pengaruh pendekatam saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa pada materi pengukuran kelas vii smp negeri 16 mataram tahun pelajaran 2017/2018. 3 fitri apriani pratiwi/ pengaruh penggunaan model artikel penelitian program studi mengetahui perbedaan antara keterampilan quasi experimental with pretestterdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis antara systematic review......(anggit grahito w) 70 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 2014 discovery learning dengan pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa sma pendidikan kimia fkip universitas tanjungpura berpikir kritis siswa yang diajar menggunakan model discovery learning dengan pendekatan saintifik dan yang diajar menggunakan model cooperative learning dengan pendekatan saintifik dan besarnya pengaruh model discovery learning dengan pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa materi larutan elektrolit dan non elektrolit di kelas x mipa sma negeri 7 pontianak. posttest control group design siswa yang diajar menggunakan model discovery learning dengan pendekatan saintifik dengan siswa yang diajar dengan menggunakan model cooperative learning dengan pendekatan saintifik. 4 orien ratna wuri & sri mulyaning sih/ 2014 penerapan pendekatan saintifik pada pembelajaran fisika materi kalor terhadap keterampilan berpikir kritis siswa kelas x sma jurnal inovasi pendidikan fisika (jipf) vol. 03, no. 03 mendeskripsikan keterlaksanaan pembelajaran, aktivitas siswa, keterampilan berpikir kritis siswa dan respon siswa dengan menerapkan pendekatan saintifik pada pembelajaran fisika materi kalor. preexperimental with one group pretestposttest design (1) pembelajaran fisika dengan menerapkan pendekatan saintifik pada materi kalor di kelas eksperimen 1 maupun eksperimen 2 seluruhnya terlaksana. adapun kualitas keterlaksanaan pembelajaran pada masing-masing kelas memiliki ratarata 61,84% dan 65,79% dengan kategori baik. (2) kualitas aktivitas siswa kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2 memiliki rata-rata masing-masing 55,42% dan 58,75% dengan kategori cukup. (3) systematic review......(anggit grahito w) 71 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 keterampilan berpikir kritis pada kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2 mengalami peningkatan dengan kriteria sedang. besarnya n-gain score untuk masing-masing kelas adalah 0,54 adalah 0,4. (4) respon siswa dalam pembelajaran adalah 79,73 % dan 79,80% masingmasing untuk kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2 keduanya berkriteria baik. 5 s. syarifuddi n/ 2018 the effect of using the scientific approach through concept understanding and critical thinking in science jurnal prima edukasia, vol. 6, no. 1 mengetahui: (1) pengaruh pendekatan saintifik melalui pemahaman konsep dalam sains, (2) pengaruh pendekatan saintifik melalui berpikir kritis dalam sains, dan (3) pengaruh pendekatan ilmiah melalui pemahaman konsep dan berpikir kritis dalam sains. quasi experimental with pretestposttest control group design (1) ada pengaruh positif yang signifikan dari pendekatan saintifik melalui pemahaman konsep dalam sains, hasil yang diperoleh 0,003, (2) ada pengaruh positif yang signifikan dari pendekatan saintifik melalui berpikir kritis dalam sains; hasil yang diperoleh 0,000, (3) ada pengaruh positif yang signifikan dari pendekatan ilmiah melalui pemahaman konsep dan berpikir kritis; berdasarkan analisis artikel didapatkan bahwa pendekatan saintifik dapat mempengaruhi dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa di setiap satuan pendidikan baik sd, smp, maupun sma. hal tersebut dapat dijelaskan dalam uraian pembahasan secara kualitatif masing-masing artikel. penelitian pertama yang dilakukan oleh ni nyoman sukmasari, i ketut adnyana putra, & m.g. rini kristiantari (2015), ditemukan bahwa secara bersama-sama hasil systematic review......(anggit grahito w) 72 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 belajar keterampilan menulis dan mengikuti pembelajaran dengan pendekatan saintifik berbasis asesmen portofolio berbeda secara signifikan dengan hasil belajar keterampilan menulis dan kemampuan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan pendekatan saintifik konvensional. hal ini sesuai dengan kajian teori dan fakta empiris hasil penelitian yang relevan. secara teoretis pendekatan saintifik berbasis asesmen portofolio dengan proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar siswa secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan dan diimbangi dengan pengumpulan karya terpilih dari siswa berupa karya, kegiatan, atau data sebagai bukti (evidence) yang menunjukkan perkembangan dan pencapaian siswa sehingga melalui pengumpulan tersebut siswa dapat terus mempelajari hasi karyanya berupa tulisan dan melalui hal tersebut siswa akan memulai untuk berpikir lebih kritis. penelitian kedua dilakukan oleh bq. azmi sukroyanti dan ika sufianti (2017), diperoleh hasil penelitian bahwa keterampilan berpikir kritis siswa dari posttest diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan perolehan nilai rata-rata kelas kontrol. pada kelas eksperimen tidak ada siswa yang sangat kurang, 6 siswa kategori cukup baik, 9 siswa kategori baik dan 13 siswa kategori sangat baik. sedangkan pada kelas kontrol terdapat 0 siswa kategori kurang baik, 5 siswa kategori cukup baik, 21 siswa kategori baik, dan 2 siswa sangat baik. pemnbahasan yang lebih detail adalah pada kelas eksperimen keterampilan berpikir kritis siswa meningkat pada indikator mengatur strategi dan taktik 86,61%, memberikan penjelasan sederhana 81,25%, menyimpulkan 72,32%, membangun keterampilan 52,68% , dan memberikan penjelasan lanjut 68,75%. sedangkan pada kelas kontrol meningkat pada indikator mengatur strategi dan taktik 76,89%, menyimpulkan 66,07%, memberikan penjelasan sederhana 58,04%, memberikan penjelasan lanjut 56,25%, dan membangun keterampilan 50%. penelitian ketiga oleh fitri apriani pratiwi (2014), diperoleh hasil penelitian bahwa peningkatan keterampilan berpikir kritis lebih baik dikelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol disebabkan adanya perbedaan model pembelajaran yang berdampak pada keterampilan berpikir kritis siswa. siswa di kelas eksperimen lebih berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan karena siswa diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri pengetahuan yang ingin disampaikan melalui percobaan langsung. proses diskusi yang terjadi di kelas eksperimen lebih aktif dibandingkan kelas kontrol karena siswa lebih antusias mendiskusikan hasil dari percobaan langsung daripada mendiskusikan soal-soal di lks yang tidak melalui percobaan langsung. hal ini sesuai pendapat wilcox (dalam slavin, 2015), pembelajaran dengan model discovery learning siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsipprinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. sedangkan siswa dikelas kontrol cenderung tidak seaktif kelas eksperimen systematic review......(anggit grahito w) 73 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 dalam menggali pengetahuannya dan siswa ada yang bergosip dan tidak seantusias kelas eksperimen. hal ini sejalan dengan pendapat slavin (2005), yang mengatakan bahwa model cooperative learning mengakibatkan siswa berkerja sama untuk memaksimalkan pembelajaran dirinya dan pembelajaran satu sama lainnya namun memiliki kekurangan yaitu apabila anggota kelompok tidak disiplin maka akan menjadi tidak kondusif. penelitian keempat dilakukan oleh orien ratna wuri dan sri mulyaningsih (2014), ditemukan bahwa pada kedua kelas eksperimen indikator memberikan menjelaskan sederhana, membangun keterampilan dasar, menyimpulkan, dan memberikan penjelasan lanjut memiliki kriteria cukup. selama pembelajaran hanya satu atau dua orang siswa yang berani mengutarakan pendapatnya ataupun menanya secara mandiri. ketika diberikan pancingan berupa pertanyaan sering kali siswa menjawab serentak, akan tetapi ketika diminta salah satu mengacungkan tangan dan mengutarakan pendapat kurang antusias. kelompok yang mempresentasikan percobaan perlu ditunjuk oleh guru, karena inisiatif siswa untuk mengajukan diri sangat kurang. saat mempresentasikan hasil diskusi tanya jawab antara kelompok yang melakukan presentasi dengan kelompok tidak presentasi kurang antusias. keterampilan berpikir kritis yang dilatihkan dalam menanya dan mengeluarkan pendapat adalah siswa dapat memberikan penjelasan sederhana dengan mengajukan argumentasi atau menanya. beberapa catatan dari siswa menyatakan bahwa pembelajaran dengan model baru ini asyik dan membuat mereka tidak bosan. dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa siswa merespon baik diterapkanya pembelajaran fisika dengan pendekatan saintifik. penelitian kelima dilakukan oleh s. syarifuddin (2018), ditemukan bahwa ada pengaruh positif yang signifikan dari pendekatan saintifik melalui berpikir kritis dalam sains. pendekatan ilmiah memberikan siswa kesempatan untuk menemukan konsep mereka sendiri melalui percobaan yang menyenangkan. melalui eksperimen yang menyenangkan, siswa dapat memiliki pengalaman belajar mereka sendiri, dan siswa akan mendapatkan pengetahuan yang berarti. selain itu, dengan pembelajaran yang menyenangkan, itu akan menarik minat siswa, motivasi dalam proses belajar mengajar, dan tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik. kemampuan berpikir kritis sangat berguna bagi siswa untuk menyelesaikan masalah. chukwuyenum (2013: 18) menyatakan "berpikir kritis telah menjadi salah satu alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari kita untuk menyelesaikan beberapa masalah karena melibatkan penalaran logis, menafsirkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi untuk memungkinkan seseorang mengambil keputusan yang andal dan valid". membuat keputusan yang andal dan valid dengan menggunakan penalaran logis, menafsirkan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi menjadikan pemikiran kritis sebagai alat yang memungkinkan siswa dalam menyelesaikan masalah. didukung oleh cekin (2015: 159), kemampuan berpikir kritis melibatkan pembelajaran tingkat lanjut daripada hanya menghafal fakta. mereka mungkin memungkinkan untuk menganalisis topik, mengevaluasi solusi, dan mensintesiskan pendapat mereka sendiri. semua hal ini sangat tepat untuk penerapan pendekatan ilmiah. dengan keterampilan ini, kesimpulan ditarik ke dalam lebih dapat diandalkan dan valid. systematic review......(anggit grahito w) 74 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 berdasarkan uraian dari artikel di atas menunjukkan hasil bahwa pendekatan saintifik memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis siswa di berbagai satuan pendidikan mulai dari sd – sma. pendekatan saintifik juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. penerapan pendekatan saintifik di dalam pembelajaran ipa membuat siswa menjadi bersemangat dalam belajar, karena metode tersebut dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih memahami apa tujuan dari adanya masalah dalam pembelajaran dan memberikan pemahaman yang lebih kepada siswa untuk menyelesaikan masalah yang disajikan melalui bimbingan yang bertahap. hal ini juga dikemukakan oleh vygotsky (dalam kurniasih dan sani, 2014) bahwa tujuan pendekatan saintifk yaitu untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik, terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan, diperolehnya hasil belajar yang tinggi, untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah, dan untuk mengembangkan karakter siswa. simpulan berdasarkan hasil systematic review yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan bahwa (1) pendekatan saintifik memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis siswa dalam berbagai satuan pendidikan mulai sd – sma. (2) penerapan pendekatan saintifik khususnya pada pembelajaran ipa (fisika, biologi, kimia) dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa karena pendekatan saintifik memiliki hubungan yang kuat dan signifikan dengan keterampilan berpikir kritis. saran dan rekomendasi bagi peneliti dan praktisi adalah untuk dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk mengembangkan pendekatan saintifik dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa, terutama dalam pembelajaran ipa. selain itu, dapat juga digunakan sebagai penelitian pendahuluan dalam penelitianpenelitian selanjutnya terkait dengan pendekatan saintifik dan keterampilan berpikiri kritis siswa dalam pembelajaran ipa. penelitian systematic review ini memiliki implikasi dalam pembelajaran ipa yang berbasis pendekatan saintifik dalam pengembangan model pembelajaran inovatif kaitannya dengan pemberdayaan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang meliputi berpikir kritis, berpikir kreatif, dan pemecahan masalah. systematic review......(anggit grahito w) 75 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 daftar pustaka abidin, y. (2014). desain sistem pembelajaran dalam konteks kurikulum 2013. bandung: pt refika aditama. cekin, a. (2015). the investigation of critical thinking dispositions of religious culture and ethics teacher candidates. journal of education and learning (edulearn), 9(2), 158. https://doi.org/10.11591/edulearn.v9i2.171 chukwuyenum, a. n. (2013). impact of critical thinking on performance in mathematics among senior secondary school students in lagos state. iosr journal of research & method in education, 3(5), 18–25. retrieved from www.iosrjournals.org davies, t.h., & crombie, k. (2009). what is a systematic review. hayward: hayward group ltd. ennis, r.h. (2015). critical thinking: a streamlined conception. in: davies m., barnett r. (eds) the palgrave handbook of critical thinking in higher education. palgrave macmillan, new york kemendikbud. (2013). kerangka dasar kurikulum 2013. jakarta: kementerian pendidikan dan kebudayaan direktorat jenderal pendidikan dasar. kemendikbud. (2016). seminar hasil timss 2015 oleh rahmawati. jakarta: puspendik kemdikbud. krogsgaard, m. r., brodersen, j., & comins, j. (2011). a scientific approach to optimal treatment of cruciate ligament injuries. acta orthopaedica, 82(3), 10–15. https://doi.org/10.3109/17453674.2011.588864 kurniasih, i. & sani, b. (2014). sukses mengimplementasikan kurikulum 2013. surabaya: kata pena. oecd. (2012). programme for international student assessment (pisa). accesed at october 13rd from: http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012results.html. pratiwi, f. a. (2014). pengaruh penggunaan model discovery learning dengan pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa sma. artikel penelitian program studi pendidikan kimia fkip universitas tanjungpura. tanjungpura: universitas tanjungpura. slavin, r. e. (2005). cooperative learning teori, riset dam praktik diterjemahkan oleh narilita yusron. bandung: nusa media. https://doi.org/10.11591/edulearn.v9i2.171 http://www.iosrjournals.org/ https://doi.org/10.3109/17453674.2011.588864 http://www.oecd.org/pisa/keyfindings/pisa-2012results.html systematic review......(anggit grahito w) 76 jppd, 7, (1), hlm. 65 76 sukmasari, n. n., putra, i. k. a., & kristiantari, m.g. r. (2015). pengaruh pendekatan saintifik berbasis asesmen portofolio terhadap hasil belajar keterampilan menulis dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas iv sd gugus pattimura pada tema cita-citaku. e-journal pgsd universitas pendidikan ganesha jurusan pgsd, vol. 3, no. 1. sukroyanti, b. a. & sufianti, i. (2017). pengaruh pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritis siswa. jurnal ilmiah pendidikan fisika “lensa”, vol. 5 no.2. syarifuddin, s. (2018). the effect of using the scientific approach through concept understanding and critical thinking in science. jurnal prima edukasia, vol. 6, no. 1. torgerson, c. (2003). systematic review. london: international publishing group. wuri, o. r. & mulyaningsih, s. (2014). penerapan pendekatan saintifik pada pembelajaran fisika materi kalor terhadap keterampilan berpikir kritis siswa kelas x sma. jurnal inovasi pendidikan fisika (jipf), vol. 03, no. 03. pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter ... (fitri puji rahmawati, dkk.) 71 pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter, aktif, dan menyenangkan di sd muhammadiyah 10 surakarta fitri puji rahmawati, magrifiani utami, dan malika dian ayu noviati pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta fpr223@ums.ac.id abstract the aim of this study include: a) describe the character of learning indonesian, active, and fun in sd muhammadiyah surakarta 1, b) describe a method of learning indonesian character, active, and fun in sd muhammadiyah surakarta 10, and c) describe obstacles encountered in the implementation of learning indonesian character, active, and fun in sd muhammadiyah surakarta 10. this research is a qualitative descriptive study. the strategy used is a single case study. the main data source of this research: teacher and fourth grade students in 10 elementary muhammadiyah surakarta. several data collection techniques: direct observation plays a passive, in-depth interviews, open and informal nature, giving questionnaires (open questionnaire). implementation of learning character, active, and fun on indonesian subjects in fourth grade surakarta muhammadiyah 10 can be observed from the three activities, namely: planning learning, learning implementation, and evaluation of learning. learning plan has been available syllabi and lesson plans, instructional implementation has accordance rpp but less variable in the application of the method, and the evaluation of teacher learning has developed rubrics and assessment in the lesson plan format. constraints faced to implement the learning of character, active, and fun on indonesian subjects in fourth grade surakarta muhammadiyah 10, among others: the constraints of the school, teachers, and students. keywords: character learning, active learning, learning fun pendahuluan tuntutan dalam dunia pendidikan telah banyak berubah, paradigma lama tentang pendidikan yang lebih mengarah pada pemahaman bahwa siswa hanya sekadar botol kosong yang siap diisi sudah tidak relevan. teori, penelitian, dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar membuktikan bahwa guru harus mengubah paradigm lama tersebut. pendidik perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar berdasarkan pemikiran berikut: (1) pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa; (2) siswa membangun pengetahuan secara aktif; (3) pengajar perlu berusaha mengembangan kompetensi dan kemampuan siswa; (4) pendidikan adalah interaksi pribadi di antara para siswa dan interaksi antara guru dan siswa. mata pelajaran bahasa indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 71-7772 di sekolah dasar. tradisi yang dilakukan dalam pembelajaran bahasa indonesia cenderung menggunakan pendekatan monolitik dan bersifat top down. guru hanya menekankan pada pembahasan apa yang ada dalam buku teks, tanpa dikaitkan dengan apa yang ada dan relevan di lingkungan sekolah maupun lingkungan siswa. sebagai akibatnya pembelajaran bahasa hanya memiliki kontribusi yang amat kecil dalam pengembangan ilmu pengetahuan. pembelajaran karakter tidak terlepas dari pembelajaran yang aktif. pembelajaran aktif pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar stimulus dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. dengan memberikan strategi belajar aktif pada anak didik dapat membantu ingatan (memory) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses. dalam metode belajar aktif setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. agar anak didik dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar (mulyasa, 2004: 241). perumusan masalah dalam penelitian ini yakni: bagaimanakah pembelajaran bahasa indonesia di sd muhammadiyah 10 surakarta dengan metode pembelajaran berkarakter, aktif, dan menyenangkan dan apa saja kendala yang ditemui dalam penerapan pembelajaran bahasa indonesia di sd muhammadiyah 10 surakarta dengan metode pembelajaran berkarakter, aktif, dan menyenangkan. penelitian tentang “pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter, aktif, dan menyenangkan di sd muhamamdiyah 10 surakarta ini bertujuan untuk: a) mendeskripsikan pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter, aktif, dan menyenangkan di sd muhammadiyah 10 surakarta,, b) mendeskripsikan metode pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter, aktif, dan menyenangkan di sd muhammadiyah 10 surakarta, dan c)mendeskripsikan kendala yang dihadapi dalam penerapan pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter, aktif, dan menyenangkan di sd muhammadiyah 10 surakarta. pembelajaran merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta didik. interaksi yang dilakukan adalah penyampaian ilmu atau informasi yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. pembelajaran menurut hamalik (2007:57) adalah suatu kombinasi yang tersusun, meliputi: unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. implementasi pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar terdiri dari perencanaan, pelaksanaan (implementasi), dan evaluasi. berdasarkan permen no. 41 tahun 2007 tentang standar proses menjelaskan bahwa perencanaan pembelajaran meliputi: silabus, rpp, dan prinsi-prinsip penyusunan rpp. pelaksanaan pembelajaran berisi persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran. sedangkan penilaian hasil belajar bertujuan untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran. pendidikan karakter perlu melibatkan semua pihak, baik rumah tangga atau keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, serta masyarakat luas (muslich, 2011: 52). pendidikan karakter tidak akan berjalan dengan baik apabila antar lingkungan pendidikan berjalan tidak seirama dan tidak saling mendukung. keluarga harus kembali menjadi sekolah kasih sayang (philips, 2000 pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter ... (fitri puji rahmawati, dkk.) 73 dalam muslich, 2011) atau tempat belajar yang penuh cinta dan kasih saying. sekolah, tidak hanya semata-mata pembelajaran pengetahuan, namun lebih dari itu penanaman moral, nilai etika, estetika, dan budi pekerti harus ditekankan. sedangkan masyarakat, harus memiliki sistem nilai yang baik dan dapat menjadi panutan bagi warganya (shihab, 1996 dalam muslich, 2011). pembelajaran aktif merupakan salah satu strategi yang berguna untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. hamzah b. uno (2012: 10) menyatakan bahwa “aktif maksudnya adalah memosisikan guru sebagai orang yang menciptakan suasana belajar yang kondusif atau fasilitator dalam belajar, sementara siswa sebagai peserta belajar yang harus aktif.” pembelajaran yang menyenangkan menjadi dambaan bagi setiap peserta didik, khususnya sekolah dasar. pembelajaran ini ditata sedemikian rupa untuk menciptakan aura kesenangan dalam pembelajaran. deporter (1999) mengungkapkan menata suasana kelas agar menyenangkan, dengan cara: (1) menata lingkungan kelas agar siswa dapat focus dan menyerap informasi, (2) meningkatkan pemahaman melalui gambar, (3) alat bantu belajar dalam berbagai bentuk, (4) pengaturan bangku mendukung hasil belajar, (5) musik membuka kunci keadaan belajar dan menciptakan asosiasi, (6) gaya-gaya yang lain. strategi pembelajaran aktif-menyenangkan bermuatan karakter, antara lain: active learning bermuatan karakter, cooperative learning bermuatan karakter, ctl bermuatan karakter, inquiry bermuatan karakter, pembelajaran berbasis masalah bermuatan karakter, strategi pembelajaran ekspositori bermuatan karakter, pakem bermuatan karakter, strategi pembelajaran inovatif bermuatan karakter, strategi pembelaajran afektif bermuatan karakter, dan quantum learning bermuatan karakter (suyadi, 2013: 11) metode penelitian penelitian ini dilaksanakan di kelas iv semester 1 sd muhammadiyah 10 surakarta. penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dan dalam pelaksanaannya penelitian ini perlu adanya kerja sama dengan guru kelas untuk memperoleh hasil yang optimal melalui prosedur yang paling efektif. adapun strategi yang digunakan adalah studi kasus tunggal. mengingat permasalahan dan fokus kemitraan sudah ditentukan dalam proposal sebelum pelaku terjun dan menggali permasalahan di lapangan, maka jenis kemitraan kasus ini secara lebih khusus disebut studi kasus terpancang. sumber data utama penelitian ini adalah guru dan siswa kelas iv di sd muhammadiyah 10 surakarta. beberapa teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam kemitraan ini dapat dijelaskan sebagai berikut: observasi langsung berperan pasif, wawancara mendalam, sifatnya terbuka dan tidak formal, memberikan kuisioner (angket terbuka). hasil dan pembahasan pembelajaran berkarakter, aktif, dan menyenangkan menurut sri mardjoko (guru kelas iv sd muhammadiyah 10 surakarta) merupakan aplikasi dari pembelajaran kontekstual yang sesuia dengan realita. pembelajaran ini dilihat dari segi keaktivan anak lebih baik dari pembelajaran konvensional dan anak lebih cepat memahami pelajaran. namun kekurangannya pembelajaran ini memerlukan media pembelajaran, membutuhkan persiapan dan waktu yang lebih banyak. terkadang kebebasan yang diberikan kepada anak melebihi batas dan dapat mengurangi tingkat kepatuhan anak kepada guru. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 71-7774 pendidikan karakter pada mata pelajaran bahasa indonesia kelas iv sd muhammadiyah 10 surakarta telah termuat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp) yang dipersiapkan guru yaitu dimasukkan pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. untuk mengimplementasikan pembelajaran di kelas, guru harus membuat rpp sebagaimana tercantum dalam permendikbud no. 65 tahun 2013. perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rpp dan penyiapan median dan sumber belajar, perangkat penilaian pembeljaran, dan skenario pembelajaran. rencana pelaksanaan pembelajaran telah dibuat skenario pembelajaran yakni apersepsi dan motivasi dengan siswa membaca contoh surat pribadi dengan seksama, kegiatan inti terdiri dari eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, serta kegiatan penutup. sumber belajar adalah buku bina bahasa indonesia 4a. berdasarkan observasi, persiapan untuk implementasi pembelajaran mata pelajaran bahasa indonesia telah dipersiapkan oleh guru dengan baik. sebagai buktinya telah ada silabus, rpp, perangkat pembelajaran, dan scenario pembelajaran yang tercantum dalam rpp. pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari rpp. pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. seluruh kegiatan ini telah tercantum dalam rpp yang disusun oleh guru. dalam rpp, metode pembelajaran tidak tercantumkan secara jelas. metode pembelajaran hanya tampak dalam kegiatan inti, yakni metode praktik, ceramah, tanya jawab, dan penugasan. pelaksanaan pembelajaran di kelas iv sd muhammadiyah 10 surakarta pada mata pelajaran di dalam pembelajaran guru belum menggunakan metode yang bervariasi dalam memfasilitasi karakter melainkan guru masih menggunakan metode ceramah. dengan metode ceramah guru berusaha menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam diri siswa dengan mengaitkan halhal yang dekat dengan siswa meskipun tidak menggunakan alat peraga. guru juga menggunakan beberapa istilah jawa dalam memperkuat penanaman pendidikan karakter tujuannya agar dapat menimbulkan makna mendalam pada siswa. ada beberapa karakter yang sering ditanamkan oleh guru dalam pembelajaran bahasa indonesia yaitu semangat, mandiri, jujur, tanggung jawab, pantang menyerah, kompetisi, dan maju. pelaksanaan dan hasil pendidikan karakter tidak terlepas dari guru dalam hal pemberian materi pembelajaran di kelas. guru dalam menyampaikan materi pembelajaran harus memikirkan out put yang dihasilkan sesuai dengan harapan. pembelajaran yang dilakukan yang pada akhirnya meningkatkan kompetensi peserta didik. kesuksesan pengajar dikelas sangat dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang berlangsung. salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan pembelajaran aktif. dengan pembelajaran aktif akan memperkuat penanaman pendidikan karakter pada siswa. jadi pendidikan karakter tidak terlepas dari pembelajaran aktif. betapa pentingnya model atau strategi pembelajaran aktif dalam suatu pembelajaran. model atau strategi pembelajaran aktif tersebut diadakan guna membuat suasana belajar lebih hidup. dengan pembelajaran aktif peserta didik diajak turut serta dalam dalam semua proses pembelajaran tidak hanya mental, pikiran dan rasa, akan tetapi juga melibatkan fisik. dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp) yang dipersiapkan guru kelas iv sd muhammadiyah 10 surakarta sudah mengandung pembelajaran aktif yang terletak pada langkah pembelajarannya. pembelajaran bahasa indonesia kelas iv di sd muhammadiyah 10 surakarta menggunakan metode pembelajaran aktif namun pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter ... (fitri puji rahmawati, dkk.) 75 belum bervariasi. pada saat observasi cara guru melaksanakan pembelajaran aktif yaitu dengan melakukan penilaian dengan cara performa di depan kelas. yang sebelumnya secara individu siswa mengerjakan tugas dari guru. karena guru tidak mewajibkan untuk performa di depan kelas maka hanya beberapa siswa yang tekun mengerjakan tugas tersebut. interaksi dalam pembelajaran pun kurang menyeluruh dan maksimal, hanya sebagian siswa yang memperhatikan sedangkan sebagian lainnya tidak fokus dalam pembelajaran. siswa merasa bosan, kurang termotivasi dan kurang tertuju terhadap pembelajaran yang dilaksanakan guru. hal ini terlihat dari kurangnya keberanian siswa dalam bertanya, menjawab, dan menyatakan pendapat meskipun beberapa kali guru memancing dengan mengajukan beberapa pertanyaan. pembelajaran dirasa kurang bermakna karena kurang didukung dengan sumber belajar yang bervariasi dan alat peraga yang mendukung. pembelajaran yang dilaksanakan guru kurang dapat mengoptimalisasikan potensi peserta didik sehingga peserta didik kurang dapat mencapai kompetensi secara maksimal. kompetensi yang kurang maksimal tersebut terlihat dari hanya beberapa siswa yang mampu menyelesaikan tugas dari guru. pada dasarnya pembelajaran aktif berusaha memperkuat pemahaman siswa dan respon peserta didik dalam pembelajaran. sehingga proses pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan dan tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka. selain itu pembealajaran aktif juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa untuk tetap tertuju pada pembelajaran. pembelajaran bahasa indonesia kelas iv sd muhammadiyah 10 surakarta kurang menarik dan menyenangkan. karena guru belum melaksanakan pembelajaran yang aktif yang bervariasi dan tanpa menggunakan alat peraga. guru kurang dapat memotivasi siswa dan kurang dapat memunculkan suasana gembira dalam pembelajaran. pembelajaran yang menyenagkan adalah pembelajaran yang didalamnya ada cerita, nyanyian, tantangan dan pemenuhan rasa ingin tahu siswa. namun belum diterapkan pada pembelajaran bahasa indonesia kelas iv sd muhammadiyah 10 surakarta. pembelajaran yang aktif sudah tentu menyenangkan. dan dengan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan tentu akan mudah bagi guru untuk menanamkan pendidikan karakter pada siswa. namun pada kenyataannya belum dilaksanakan secara maksimal pada mata pelajaran bahasa indonesia di kelas iv sd muhammadiyah 10 surakarta. hal tersebut mengakibatkan hanya beberapa siswa yang dapat mencapai indikator pencapaian. pada saat observasi pembelajaran bahasa indonesia kelas iv sd muhammadiyah 10 surakarta penilaian yang dilakukan guru sebagai berikut: tabel 1: indikator, teknik penilaian, dan bentuk instrumen pembelajaran aktif dan menyenangkan selain mempermudah penanaman pendidikan karakter pada siswa adalah mengurangi bahkan menghilangkan beban psikologis siswa tentunya akan mengefektifkan sekaligus mengefesiensikan aktivitas belajar mengajar di kelas. maka dibutuhkan kerja sama yang kompak di dalam pembelajaran antara guru dan siswa. dalam pembelajaran harus terjadi interkasi intensif antar berbagai komponen sistem pembelajaran. beberapa kendala penerapan pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter, aktif indikator pencapaian teknik penilaian bentuk instrumen menulis surat untuk teman sebaya tertulis tertulis dan penampilan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 71-7776 dan menyenangkan kelas iv di sd muhammadiyah 10 surakarta di antaranya: a) sekolah sd muhammadiyah 10 surakarta kelas iv memiliki ruang kelas yang sangat sempit dengan siswa yang banyak. kondisi kelas yang sempit tersebut menyebabkan siswa kurang bebas dan suasana yang tidak nyaman apabila hari semakin siang. hal inimenyebabkan guru harus mempertimbangkan lebih lanjut untuk mengadakan pembelajaran yang aktif dan bervariasi misalnya metode berkelompok. fasilitas pembelajaran di sd muhammadiyah 10 surakarta belum memadai terutama untuk menggunakan media pembelajaran berbasis it, seperti lcd. lcd masih harus bergantian dengan guru yang lain dalam hal pemakaiannya. hal ini menjadi kendala sebab pembelajaran tidak bisa setiap saat menerapkan pembelajaran yang kontekstual berbasis it. b) guru beberapa kendala yang dialami guru dalam menciptakan pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter, aktif dan menyenangkan, antara lain: guru kurang dapat mengelola dan menguasai kelas apabila mendesain pembelajaran di kelas menjadi pembelajaran aktif dan menyengkan. kelas yang sempit dengan siswa yang banyak mengakibatkan guru menjadi sulit mengendalikan siswa jika menggunakan pembelajaran yang aktif. guru kurang dapat mengoptimalisasikan sumber belajar lain dan alat peraga yang mendukung terciptanya pembelajaran aktif dan menyenangkan. alat peraga disimpan di tempat yang tidak cukup mudah untuk menggunakannya (di ruang perpustakaan yang tempatnya berbeda dengan lingkungan sekolah). hal ini mengakibatkan guru tidak setiap saat menggunakan alat peraga yang sebenarnya dapat sangat membantu pembelajaran bahasa indonesia. c) siswa sd muhammadiyah 10 surakarta terletak di daerah pinggiran surakarta sehingga ada beberapa siswa yang belum pernah melihat media-media pembelajaran yang menarik, atraktif, maupun berbasis it. sehingga ketika guru menggunakan media pembelajaran yang baru, banyak siswa yang ingin mencoba sehingga waktu pembelajaran banyak tersita. siswa pun tidak hanya sekadar mencoba namun mengganggu jalannya media pembelajaran, sebagai contoh menutupi lampu lcd, berlari-larian di depan lampu lcd, dan lain sebagainya. siswa lebih tertarik belajar untuk mempersiapkan mata pelajaran yang susah, seperti matematika. mata pelajaran bahasa indonesia dianggap mata pelajaran yang mudah sehingga mereka tidak terlalu semangat untuk mengikutinya. anggapan bahwa bahasa indonesia mudah sangat terlihat pada sikap siswa ketika proses pembelajaran berlangsung. simpulan dan saran simpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini, yakni: implementasi pembelajaran yang berkarakter, aktif, dan menyenangkan pada mata pelajaran bahasa indonesia di kelas iv sd muhammadiyah 10 surakarta dapat dicermati dari tiga kegiatan, yakni: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. perencanaan pembelajaran telah tersedia silabus dan rpp, pelaksanaan pembelajaran telah sesuai rpp namun kurang ada variasi dalam penerapan metode, dan pada evaluasi pembelajaran guru telah menyusun rubrik dan format penilaian dalam rpp. pembelajaran bahasa indonesia yang berkarakter ... (fitri puji rahmawati, dkk.) 77 kendala-kendala yang dihadapi untuk menerapkan pembelajaran yang berkarakter, aktif, dan menyenangkan pada mata pelajaran bahasa indonesia di kelas iv sd muhammadiyah 10 surakarta antara lain: kendala dari sekolah, guru, dan siswa. saran untuk guru dan pihak sekolah untuk memanfaatkan alat-alat peraga sekolah dengan memberikan akses yang lebih mudah bagi guru, misalnya dengan menempatkan ape di tempat yang dekat dengan pembelajaran. daftar pustaka darmansyah. 2011. strategi pembelajaran menyenangkan dengan humor. jakarta: p.t. bumi aksara. hartono. 2008. strategi pembelajaran active learning (www. strategi pembelajaran active learning « membina generasi rabbani.htm, 5 juni 2010). hernowo. 2007. menjadi guru yang mau dan mampu mengajar secara menyenangkan. bandung: penerbit mlc. lickona, t. 1991. educating for character, how our school can teach respect and responsibility. new york: bantam books miles, m.b. & huberman, a.m. 1984. qualitative data analisys: a source book of new methods. beverly hills, ca: sage publications moleong, lexy.j. 1990. metode penelitian kualitatif. bandung: remaja rosda karya. muslich, masnur. 2011. pendidikan karakter menjawab tantangan krisis multidimensional. jakarta: p.t. bumi aksara. peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia no. 41 tahun 2007 peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia no. 65 tahun 2013 peraturan pemerintah no.19 tahun 2005 suyadi. 2013. strategi pembelajaran pendidikan karakter. bandung: pt. remaja rosdakarya uno, hamzah b. dan nurdin muhammad. 2012. belajar dengan pendekatan pembelajaran aktif inovatif lingkungan kreatif efektif menarik (pailkem). jakarta: p.t. bumi aksara. page 1 page 2 issn 2406-8012 p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan sq3r berbantuan......(aulia rahmawati) 127 penerapan sq3r berbantunan reka cerita gambar untuk meningkatkan pemahaman membaca dan hasil belajar siswa aulia rahmawati pgsd uksw salatiga auliarahmawati0809@gmail.com abstract the use of models and methods are very influential in the learning process. sdn 1 bojong are still many students who do not understand the importance of reading, students assume that reading is boring, especially in subjects indonesian. implementation of action research conducted at sdn 1 bojong to improve learning outcomes and students' reading comprehension in learning indonesian. the study was conducted in four classes with the number of 27 students, 11 male and 16 female. after the study was conducted, the researchers obtained their learning outcomes and increase students' reading comprehension by applying sq3r as assisted learning model picture maker stories. the increase was generated in student achievement that can be greater than or equal to a predetermined kkm in indonesian subjects, namely 75. in cycle 1 students who can achieve ≥75 value amounted to 17 out of 27 students or 63% of 100% and in the second cycle students who have achieved ≥75 value amounted to 21 out of 27 students or as much as 78% from 100%. then saw an increase learning outcomes and students' reading comprehension of cycle 1 to cycle 2 and research using model sq3r declared successful. keywords: survey question reading recite review (sq3r), results learning, reading comprehension pendahuluan pendidikan bahasa indonesia di sd mengarah pada empat keterampilan berbahas yaitu membaca, menulis, menyimak dan berbicara, keterampilan berbahasa biasanya dikuasai melalui urutan, dimulai dari masa kecil pertama seseorang belajar menyimak dari lingkungan sekitar, lalu berbicara kemudian belajar menulis dan membaca. empat keterampilan berbahasa tersebut, membaca merupakan salah satu kegiatan yang diutamakan dan mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan khususnya dalam dunia pendidikan. melalui kegiatan membaca terdapat usaha untuk memperoleh informasi dan makna dalam suatu tulisan. membaca merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh semua siswa sd, smp, sma dan sekolah lanjutan. melalui kegiatan membaca siswa dapat memperoleh banyak informasi dan pengetahuan sehingga siswa dapat menambah wawasan. namun kenyataannya masih banyak yang belum mengerti akan pentingnya membaca, membaca belum menjadi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang. begitu pula di sdn 1 bojong khususnya kelas 4 masih banyak siswa yang tidak mengerti pentingnya membaca, siswa cenderung malas membaca mereka beranggapan bahwa membaca itu membosankan terutama ketika siswa melihat banyaknya tulisan yang harus siswa baca, selain itu disebabkan karena kurangnya ketersediaan buku pegangan siswa yang kurang menarik dan model yang digunakan guru dalam pembelajaran masih monoton, dalam pembelajaran lebih banyak menggunakan model yang kontekstual atau ceramah dan masih berpusat pada guru mailto:auliarahmawati0809@gmail.com e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 128 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 127 – 133 sehingga berpengaruh dalam proses dan hasil belajar siswa. rendahnya minat baca siswa akan berpengaruh pada pemahaman siswa ketika membaca, ketika siswa di suguhkan suatu bacaan siswa mau membaca dengan perintah guru, namun ketika diminta untuk menyimpulkan apa yang siswa baca, masih banyak siswa yang tidak paham apa yang siswa baca. data kondisi awal yang diambil dari hasil belajar siswa menunjukkan rendahnya minat baca siswa sehingga berpengaruh pada hasil belajar dan pemahaman membaca yang dicapai. pada kondisi awal yang menunjukkan rata-rata kelas 64.07 dari kkm bahasa indonesia yang sudah di tetapkan yaitu 75, siswa yang mendapatkan nilai diatas kkm hanya 1 siswa dari jumlah siswa 27. upaya yang dilakukan untuk membantu pemahaman membaca siswa, penulis menggunakan sq3r (surfey, question, reading, recite, review) berbantuan reka cerita gambar. ketika siswa disuguhkan bacaan yang bergambar diharapkan menimbulkan rasa ingin tahu dan rasa ingin membaca dalam diri siswa. dalam proses membaca siswa diarahkan untuk mengikuti langkah-langkah dalam model sq3r, sehingga siswa dapat memahami isi bacaan. penggunaan sq3r ini sangat bermanfaat dalam pembelajaran bahasa indonesia, empat aspek dalam pembelajaran bahasa indonesia diatas yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis terlihat dalam langkah-langkah yang ada dalam metode sq3r yaitu (surfey, question, reading, recite, review). hakikat membaca membaca pada hakikatnya suatu kegiatan yang melibatkan banyak hal, tidak hanya membaca sebuah tulisan namun juga menggunakan pikiran, psikolinguistik dan meta kognitif rahim (2008: 2). membaca juga merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh suatu makna dari suatu bacaan namun juga harus menguasai bahasa yang digunakan penulis, sehingga pembaca perlu mengaktifkan proses mental dan kognisinya (wassid, 2013: 246). membaca pemahaman merupakan suatu kegiatan atau proses untuk memperoleh makna atau pesan yang telah disampaikan penulis melalui kata-kata ataupun tulisan tarigan (2008: 7). membaca pemahaman merupakan suatu proses yang melibatkan beberpa indra dan merupakan kegiatan berfikir dalam memahami suatu tulisan, makna maupun pesan yang disampaikan oleh penulis keapada pembaca. kegiatan membaca pemahaman di sekolah dasar meliputi: a) membaca dengan pemahaman yang baik, b) membaca tanpa menunjuk, gerakan bibir dan kepala, c) membaca dalam hati (tarigan, 2008: 38). kegiatan membaca khususnya untuk kelas tinggi (4,5 dan 6) merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memahami dan berfikir yang terjadi bersamaan sehingga membaca pada kelas tinggi terjadi kegiatan berfikir memahami bacaan bukan hanya belajar huruf ataupun ucapan. membaca pemahaman tidaklah jauh berbeda dengan kegiatan membaca yang lainnya. terletak sedikit perbedaan yaitu dalam memahami isi bacaan dapat dilakukan secara cepat dan tepat dengan penggunaan cara membaca dalam hati ataupun menggunakan strategi sq3r. proses pemahaman membaca pada siswa sd kelas 4 bermuara pada pemahaman suatu teks bacaan secara sederhana, dengan kata-kata yang mudah dimengerti oleh siswa. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan sq3r berbantuan......(aulia rahmawati) 129 model pembelajaran sq3r adalah model membaca yang diperkenalkan oleh robinson pada tahun 1961. sq3r merupakan singkatan dari survey (membaca sekilas), question (bertanya), reading (membaca), recite (menjawab), dan review (meninjau kembali). menurut burns, dkk 1996 (khalik: 2008) sq3r pada tahap awal lebih efektif dilakukan secara kelompok kecil agar siswa dapat menyusun pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan tepat dan cepat. melalui kerja kelompok siswa dalam menyusun dan menjwab pertnyaan tidak terasa sulit. model pembelajaran sq3r berbantuan reka cerita gambar merupakan model yang sesuai jika digunakan dalam belajar pemahaman membaca, yang dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa, ditunjukkan pada hasil belajar siswa yang mengalami peningkatan. keberhasilan penelitian hasil belajar dan pemahaman membaca siswa menggunakan model sq3r sama dengan hasil penelitian dari hermawati, dkk (2015) dan artu (2014). metode penelitian yang dilakukan yaitu penelitian tindakan kelas bersifat deskriptif. ptk (penelitian tindakan kelas) merupakan upaya memperbaiki dan meningkatkan layanan profesional guru dalam meningkatkan mutu belajar disekolah menggunakan berbagai kegiatan. penelitian tindakan kelas (ptk) dilaksanakan langsung oleh peneliti di suatu kelas arikunto s. dkk (dalam muliawan 2010: 1). ptk digunakan untuk memperbaiki hasil belajar siswa yang diperoleh peneliti sesuai dengan data dan fakta yang ada di kelas, pelaksanaan dan penelitian dilaksanakan dengan empet tahap yaitu perencanaan, observasi, tindakan dan refleksi. ptk dilaksanakan untuk memperbaiki hasil refleksi pada kondisi awal yang rendah, dan direncanakan pembelajaran untuk memperbaiki kondisi awal. penelitian dilaksanakan di sdn 1 bojong, pelaksanan penelitian di lakukan pada sekolah tersebut dikarenakan mudah di jangkau dan peneliti ingin melakukan tindakan kelas bertujuan meningkatkan pemahaman membaca siswa. dalam pembelajaran bahas indonesia rendahnya minat baca siswa akan berpengaruh pada pemahaman siswa ketika membaca, ketika disuguhkan cerita atau dongeng siswa membaca namun ketika menyimpulkan apa yang siswa baca, masih banyak siswa yang tidak paham dengan apa yang siswa baca atau isi bacaan, begitupula model pembelajaran yang digunakan oleh guru masih cenderung berceramah. sehingga dalam proses pembelajaran tidak sedikit siswa yang merasakan bosan dan tidak memperhatikan penjelasan yang guru berikan. untuk meningkatkan hasil belajar dan pemahaman membaca peneliti menggunakan sq3r dengan berbantuan reka cerita gambar untuk siswa sdn 1 bojong khususnya kelas 4 yang berjumlah 27, terdiri dari 11 laki-laki dan 16 perempuan. penelitian dilaksanakan dengan 2 siklus, materi yang diambil pada siklus 1 yaitu “menyampaikan pesan yang diterima melalui telepon”, siklus 2 dengan mengambil materi “membaca teks pengumuman”. sebagai patokan ketuntasan hasil belajar siswa peneliti mengacu pada kkm dalam mata pelajaran bahasa indonesia yang berlaku di sdn bojong 1 yaitu 75. untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa, pada masingmasing siklus peneliti melakukan evaluasi berupa soal pilihan ganda. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 130 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 127 – 133 dalam penelitian tindakan peneliti menggunakan model sq3r berbantuan reka cerita gambar. sq3r adalah model yang telah diperkenalkan oleh robinson tahun 1961. dalam proses membaca dikalkukan survey bacaan terlebih dahulu untuk mendapatkan suatu gagasan umun dan menimbulkan pertanyaan dalam diri sendiri yang nantinya dapat terjawab ketika membaca bacaan tersebut sehingga bacaan akan lebih mudah dipahami. dalam meningkatkan pemahaman membaca yang akan berpengaruh pada hasil belajarmodel sq3r memiliki singkatan sebagai berikut: a. tahap membaca sekilas (survey) pada tahap awal siswa diarahkan untuk memperhatikan judul yang ditulis di papan tulis. selanjutnya, siswa membaca teks dalam beberapa menit secara sekilas dalam kelompok kecil. b. tahap menyusun pertanyaan (question) setelah siswa membaca secara siswa diminta untuk menyusun pertanyaan sesuai dengan bacaan yang sudah dibaca sekilas. masing-masing siswa dalam kelompok berdiskusi untuk menyusun pertanyaan, guru menyimpulkan dan menulis pertanyaan yang dibuat siswa pada papan tulis, lalu siswa menulis pertanyaan di buku masing-masing. c. tahap membaca (reading) pada tahap ini guru mempersilahkan siswa untuk membaca kembali bukunya secara saksama sambil memperhatikan pertanyaanpertanyaan yang telah disusun sebelumnya, waktu yang diberikan relatif lebih lama dibanding pada tahap survey. setelah itu, siswa diminta untuk menutup bukunya kembali. d. tahap menjawab pertanyaan (recite) pada tahap ini guru mengarahkan siswa untuk menjawab pertanyaan yang telah ditulis di papan tulis, pertanyaan yang jawabannya belum sempurna tidak langsung dibahas sampai tuntas oleh guru tetapi diberi kesempatan pada tahap berikutnya untuk disempurnakan oleh siswa melalui bimbingan guru. e. tahap meninjau ulang (review) pada tahap ini siswa diarahkan membaca kembali untuk menyempurnakan atau membenarkan jawaban yang belum sempurna yang dibahas oleh siswa melalui bimbingan guru. hasil dan pembahasan hasil penelitian pelaksanaan penelitian dilakukan dengan 3 tahap. tahap pertama disebut dengan kondisi awal, dimana peneliti melakukan kunjunga ke sekolah dan melakukan wawancara, observasi dan meminta hasil evaluasi sebagai tolok ukur penelitian yang akan dilakukan, tahap kedua disebut dengan siklus 1 dan tahap ke 3 disebut dengan siklus 2. siklus 1 diklaksanakan sebagai respon dari hasil data atau nilai yang didapatkan pada kondisi awal yang menunjukkan rendahnya hasil belajar siswa. siklus dilaksanakan melihat dari tingkat ketercapaian siklus 1 yang belum sesuai keinginan peneliti. keberhasilan penelitian mengacu pada kebijakan yang berlaku di sekolah khususnya dalam mata pelajaran bahasa indonesia nilai ketuntasan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa indonesia adalah 75. dibawah ii merupakan table pencapaian hasil belajar siswa dari mulai kondisi awal sampai dengan siklus 2. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan sq3r berbantuan......(aulia rahmawati) 131 tabel 1. hasil proses pra, siklus i, dan siklus ii n no kkm = 75 kondisi awal siklus 1 siklus 2 f p f p f p 1 1. tuntas ≥ 75 1 4% 17 63% 21 78% 2 2. tidak tuntas ≤ 75 26 96% 10 37% 6 22% 3 3. jumlah 27 100% 27 100% 27 100% nilai maks 80 80 90 nilai min 50 60 70 ratarata 64.07 76.29 79.62 pembahasan nilai ketuntasan pembelajaran bahasa indonesia di kelas 4 adalah 75, peneliti melaksanakan penelitian pertama dengan melakukan kunjungan di sdn 1 bojong dan melakukan wawancara, observasi dan pengambilan data atau nilai mata pelajaran bahasa indonesia yang diperoleh dari guru kelas, data tersebut digunakan peneliti sebagai nilai dari kondisi awal. dengan acuan kkm 75 menujukkan bahwa dalam kondisi awal siswa yang mendapatkan nilai ≥75 hanya ada 1 siswa dari 27 siswa dan masih terdapat 26 siswa yang mendapatkan nilai ≤75 dengan rata-rata kelas 64.07. pada kondisi awal menunjukkan nilai tertinggi yang dapat dicapai siswa adalah 80 dan nilai terrendah adalah 50 dengan persentase 4% dapat mencapai ≥75 dan 96% siswa masih memiliki nilai ≤75. dengan acuan nilai pada kondisi awal maka peneliti menggunakan model pembelajaran sq3r untuk mengatasi hasil belajar dan pemahaman membaca siswa maka dilakukan penelitian pada siklus 1. penelitian pada siklus 1 menggunakan model sq3r dengan berbantuan reka cerita gambar yang dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman membaca siswa peneliti melaksanakan penelitian kedua dengan melakukan observasi, evaluasi dan refleksi, dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus 1 terlihat bahwa siswa sangat bersemangat dalam belajar terlihat ketika siswa diminta untuk belajar dalam kelompok. ketika guru menunjukkan sebuah cerita bergambar siswa terlihat begitu bersemangat dengan mengangkat tangan dan bertanya cerita apa yang guru tunjukkan. pada siklus 1 menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa terlihat dalam table. table diatas menunjukkan bahwa siswa yang dapat mencapai nilai lebih dari kkm atau ≥75 ada 17 siswa, sedangkan siswa yang mendapat nilai ≤75 ada 10 siswa dari jumlah dalam satu kelas adalah 27siswa dan ratarata kelas 76.29, jika dilihat dalam persentase siswa yang mendapat nilai ≥75 mencapai 63% dan siswa yang mendapat nilai ≤75 mencapai 37%. nilai maksimal pada siklus 1 adalah 80 dengan nilai terrendah 60. pelaksanaan penelitian pada siklus 1 menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa jika dibandingkan dengan kondisi awal yang mencapai keberhasilan ≥75 hanya 4%. namun peneliti belum puas karena dari 27 siswa masih ada 10 siswa yang belum dapat mencapai kkm, maka peneliti melaukan penelitian kembali yaitu siklus 2. pelaksanaan penelitian pada siklus 2 dengan kegiatan yang sama, penggunaan model pembelajaran yang sama dengan siklus 1 peneliti mendapatkan peningkatan hasil belajar siswa namun tidak terlalu siknifikan. peningkatan hasil belajar siswa dalam siklus 2 yang terdapat dalam table diatas menunjukkan bahwa yang mendapat nilai ≥75 ada 21 siswa dan yang mendapat nilai ≤75 ada 6 siswa dengan rata-rata 79.62 dari jumlah siswa 27. jika dililhat dalam persentase yang e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 132 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 127 – 133 mendapat nilai lebih dari kkm sebanyak 78% dan yang belum dapat mencapai kkm ada 22%. pelaksanaan penelitian pada siklus 2 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus 1 walaupun memenag tidak terlalu banyak peningkatannya. pelaksanaan penelitian tindakan di sdn 1 bojong dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran sq3r (surfey, question, reading, recite, review) dengan berbantuan reka cerita gambar dengan kegiatan pembelajaran pada siklus 1 dan siklus 2 sama. peneliti telah mempersiapkan bagaimana melakukan peroses pembelajaran yang nantinya dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman membaca siswa. dalam pembelajaran kegiatan awal yang dilakukan adalah, peneliti mempersiapkan siswa untuk belajar dengan cara memberi salam, berdoa, absensi, motivasi dan penyampaian tujuan pembelajaran kepada siswa. peneliti memulai pembelajaran dengan menunjukkan cerita bergambar sesuai dengan materi kepada siswa dan melakukan tanya jawab dengan siswa. siswa dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 4 siswa dalam satu kelompok, masing-masing siswa diberikan cerita bergambar (sesuai dengan meteri) kemudian dipandu oleh guru menggunakan langkah-langkah sesuai dengan model sq3r. kegiatan penutup guru memberikan evaluasi berupa soal pilihan ganda yang harus dikerjakan oleh siswa setiap akhir pembelajaran. sehingga penerapan model pembelajaran sq3r berbantuan reka cerita gambar mampu meninkatkan hasil pembelajaran dan pemahaman membaca dalam mata pelajaran bahasa indonesia kelas 4. penealitian yang telah dilakukan pujana (2014) menyimpulkan bahwa sq3r dapat meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa, keterampilan membaca dan hasil belajar siswa. simpulan berdasarkan hasil observasi dan penelitian maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model sq3r (survey questions reading recite review) berbantuan reka cerita gambar dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman membaca siswa kelas 4 sdn 1 bojong. hasil belajar siswa mengalami penigkatan pada setiap siklus, pada siklus 1 siswa yang memiliki nilai tuntas atau ≥75 sebanyak 63% dan siklus 2 siswa yang memiliki nilai tuntas atau ≥75 sebanyak 78% dari siswa kelas 4 yang berjumlah 27. penerapan model pembelajaran sq3r dengan berbantuan reka cerita gambar dalam mata pelajaran bahasa indonesia pada kelas 4 dapat membantu siswa untuk berfikir dengan cara bertahap, siswa dapat menemukan gagasan umum sebelum membaca semua teks, menyusun pertanyaan, menemukan jawabannya setelah siswa membaca dan memastikan jawaban, sehingga apa yang siswa baca dapat tertanam lebih lama dalam ingatan siswa. daftar pustaka artu, n. (2014). “upaya meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas iv sdn pembina liang melalui penerapan strategi survey questions reading recite review (sq3r)”. kreatif tadulako. 2(2),105-106 p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 penerapan sq3r berbantuan......(aulia rahmawati) 133 hermawarti, m. m., sudiana, n., & nurjaya, i. g. (2015). impelementasi pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 dalam pembelajaran menulis di kelas x iis 1 sman 1 mendoyo. skripsi. universitas pendidikan ganesha. khalik. 2008. pengajaran bahasa indonesia 1. jakarta: depdikbud. muliawan, j. u. (2010). penelitian tindakan kelas. yogyakarta: gava media. pujana, i. a., arini, n. w., & sudatha, i. w. (2014). pengaruh metode pembelajaran sq3r terhadap keterampilan membaca pemahaman bahasa indonesia siswa kelas iv. ejournal mimbar pgsd universitas pendidikan ganesha.2(1) rahim, farida. (2008). pengajaran membaca di sekolah dasar. jakarta: bumi aksara. tarigan, henry guntur. (2008). membaca: sebagai suatu keterampilan berbahasa. bandung: angkasa. wassid, iskandar dan dadang sunendar. (2013). strategi pembelajaran bahasa. bandung: pt remaja rosda karya. pengembangan instrumen......(jan wantoro, dkk) 11 jppd, 6, (1), hlm. 11 20 vol. 6, no. 1, juli 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i1.8453 pengembangan instrumen penilaian pendidikan profesi guru sekolah dasar bebasis hots jan wantoro1), sutama2), siti zuhriah3), siti hadiyati nur hafida4) fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta 1jan@ums.ac.id, 2sutama@ums.ac.id, 3sz228@ums.ac.id, 4shnh421@ums.ac.id pendahuluan guru dituntut untuk melakukan penguatan karakter siswa yang menginternalisasikan nilai-nilai utama penguatan pendidikan karakter (ppk) yaitu religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong-royang dan integritas dalam setiap pembelajaran, hal ini tertuang dalam peraturan presiden nomor 87 tahun 2017. selain itu keterampilan abad 21 juga perlu diintegrasikan dalam kurikulum untuk membangaun generasi emas indonesia, yaitu keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, keterampilan untuk bekerjasama, kemampuan berkreativitas dan inovasi, dan kemampuan berkomunikasi. untuk menghadapi era kemajuan teknologi yang menuntut kemampuan literasi siswa, diperlukan kurikulum yang mengitegrasikan enam literasi dasar, yaitu literasi baca tulis, digital, numerik, finansial, sains, budaya dan kewargaan. disamping itu, membiasakan siswa dengan proses pembelajaran yang melatih keterampilan berpikir tingkat tinggi/highers order thinking skills (hots), diperlukan untuk menghadapi kompleksnya permasalahan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. pemerintah mengharapkan peserta didik bisa mencapai berbagai kompetensi dengan penerapan hots. kompetensi yang dimaksud yaitu berpikir kritis, kreatif dan inovasi, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerja sama, dan kepercayaan diri. kompetensi tersebut menjadi target karakter peserta didik yang melekat pada sistem abstract: in general, this study was aimed at developing a hots-based ppg assessment instrument at the universitas muhammadiyah surakarta. the specific objective of this study was to design a hots-based ppg assessment instrument that is appropriate for ppg learning. overall, this study uses a research and development approach. while the development of research is carried out in four stages, namely the stage of defining, designing, developing and disseminating. the results showed that the level of differentiation of the questions that had been given was still low, with the index of difficulty of the questions which were also still not satisfactory. in fact, the quality of the deception has an indication that it is considered to be lacking. keywords: assessment instrument, hots, ppg http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.8453 mailto:jan@ums.ac.id mailto:sutama@ums.ac.id mailto:sz228@ums.ac.id mailto:shnh421@ums.ac.id pengembangan instrumen......(jan wantoro, dkk) 12 jppd, 6, (1), hlm. 11 20 evaluasi dalam ujian nasional dan merupakan kecakapan abad 21. keterampilan hots diterapkan karena belum sesuai harapan peringkat programme for international student assessment (pisa) dibandingkan dengan negara lain, sehingga standar soal ujian nasional dicoba ditingkatkan untuk mengejar ketertinggalan tersebut. pisa tahun 2015 melakukan perhitungan terhadap siswa dari 70 negara, salah satunya indonesia. hasil pisa menunjukkan bahwa siswa di indonesia berada di peringkat 63 untuk matematika, 64 untuk membaca, dan 62 untuk sains. rendahnya peringkat siswa indonesia menjadi permasalahan dalam bidang pendidikan. pendidikan yang merupakan leading sector proses pembangunan ternyata memiliki kualitas yang tergolong rendah. hal tersebut juga diperkuat oleh hasil pemetaan 21 universitas tahun 2013 yang menunjukkan bahwa indonesia berada di peringkat 49 dari 50 negara pada pemetaan mutu pendidikan tinggi (delyanti, 2014: 75). upaya meningkatkan kualitas pendidikan di indonesia selalu dilakukan, salah satunya melalui upaya penyiapan guru professional melalui sistem pendidikan guru yang bermutu dan akuntabel. hots merupakan kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). soalsoal hots digunakan sebagai pengukur kemampuan: transfer satu konsep ke konsep lainnya, mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, memproses dan menerapkan informasi, menelaah ide dan informasi secara kritis (himah, 2016: 90-91). perkembangan pendidikan sekarang ini mendorong setiap peserta didik untuk semakin aktif dalam pembelajaran. pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu bangsa, jika pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat di suatu negara baik maka negara akan semakin mudah untuk berkembang. pendidikan seringkali dijadikan sebagai leading sector bagi pembangunan di suatu negara oleh karena itu, guru merupakan bagian terpenting dalam upaya mengembangkan sistem pendidikan yang ada. guru dapat meningkatkan kualitas sistem pendidikan karena guru mampu melakukan interaksi secara langsung dengan peserta didik dalam proses belajarmengajar. adanya guru yang memiliki kualitas baik mampu mendorong semakin baiknya sistem pendidikan di indonesia. guru sangat erat kaitanya dengan upaya peningkatan sumber daya manusia (sdm) namun, berdasarkan hasil ujian tulis nasional program profesi guru (ppg) dapat diketahui bahwa hampir setengah dari jumlah peserta tidak lulus ujian akhir ppg (lantip diat prasojo, dkk, 2017: 41). banyak faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kelulusan mahasiswa ppg. perwujudan pola pembelajaran dapat dimulai dengan mengubah sistem penilaian yang merupakan salah satu komponen pendidikan. penilaian yang dilakukan dengan menggunakan instrumen tidak terstandar menjadi salah satu faktor belum terpenuhinya tujuan penilaian pendidikan (hamid, 2010). penilaian belajar menunjukkan berbagai prosedur untuk memperoleh informasi belajar siswa dan menentukan keputusan berkaitan dengan kinerja atau hasil belajar siswa (miller & gronlund, 2012). sugiyono (2009) menyatakan bahwa produk yang masih jarang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah instrumen penilaian pembelajaran. pengembangan instrumen penilaian pembelajaran merupakan upaya untuk pengembangan instrumen......(jan wantoro, dkk) 13 jppd, 6, (1), hlm. 11 20 mengembangkan instrumen penilaian berdasarkan analisis kebutuhan menjadi produk baru dengan uji keefektifannya dahulu sehingga, menghasilkan produk yang berfungsi dan bermanfaat bagi masyarakat (tutik wijayanti, dkk, 2014). adanya pengembangan instrumen penilaian pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa terhadap suatu materi pembelajaran. salah satu pengembangan instrumen penilaian dapat dilakukan melalui pembuatan soal berkualitas. soal dapat dikatakan berkualitas ketika soal mampu mengukur apa yang hendak diukur dan soal harus sejajar dengan sasaran belajar yang dicapai (uno, 2008). penilaian dalam ppg dilakukan untuk menetapkan pencapaian kompetensi (capaian pembelajaran) mahasiswa ppg selama dan setelah suatu program pembelajaran/perkuliahan dilakukan. sementara itu, orientasi penilaian lebih dititik beratkan kepada seberapa jauh kompetensi/capaian pembelajaran (cp) yang sudah dicanangkan dapat dicapai oleh siswa yang dan disertai dengan pelacakan peran berbagai faktor aktualisasi kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan. sebagaimana telah dipahami secara umum bahwa terdapat banyak faktor penentu aktualisasi kegiatan pembelajaran yang antara lain berupa faktor kompetensi guru/dosen, pendekatan dan metodologi yang dikembangkan guru/dosen, karakteristik isi/materi atau bahan ajar, bimbingan/pendampingan yang diperoleh, sarana dan prasarana pembelajaran yang tersedia, serta kondisi fisik/psikis mahasiswa ppg sendiri (pedoman penyelenggaraan program ppg, 2018). perkembangan pendidikan sekarang ini menuntut setiap siswa harus mampu berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/hots). mahasiswa ppg pun tidak terlepas dari perkembangan tersebut. salah satu faktor yang seringkali mendorong mahasiswa ppg gagal dalam ujian akhir ppg adalah tidak terbiasanya mahasiswa terhadap soal berbasis hots sehingga, mahasiswa sering terjebak dalam pertanyaan yang berbasis hots tersebut. untuk membiasakan mahasiswa ppg terhadap soal berbasis hots maka, diperlukan adanya pengembangan instrumen penilaian berbasis hots. hots dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas oleh karena itu, proses pembelajaran harus dapat memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. berdasarkan latar belakang di atas, permasalahanpenelitian ini difokuskan pada “bagaimana pengembangan instrumen penilaian ppg berbasis hots di universitas muhammadiyah surakarta?”. fokus penelitian kemudian dirinci menjadi dua pertanyaan yaitu, bagaimana mendesain instrumen penilaian berbasis hots yang layak bagi pembelajaran ppg?, dan bagaimana efektivitas instrumen penilaian ppg berbasis hots yang dikembangkan di universitas muhammadiyah surakarta? secara umum penelitian ini ditujukan untuk mengembangkan instrumen penilaian ppg berbasis hots di universitas muhammadiyah surakarta. tujuan khusus penelitian ini adalah mendesain instrumen penilaian ppg berbasis hots yang layak bagi pembelajaran ppg. metode penelitian secara keseluruhan, penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan, yaitu suatu proses untuk mengembangkan produk yang telah ada dan pengembangan instrumen......(jan wantoro, dkk) 14 jppd, 6, (1), hlm. 11 20 dapat dipertanggung jawabkan dari segi efisiensi, efektifitas dan kekokohannya (sutama, 2012). selanjutnya dalam penelitian ini akan dikembangkan instrumen penilaian ppg berbasis hots. sedangkan pengembangan penelitian dilakukan dalam empat tahap, yaitu tahap pendefinisian (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate), atau biasa disebut model 4-d (four d model). desain penelitian yang akan dilakukan dalam dua tahun, yaitu 1) kualitatif, dan 2) evaluatif. subjek penelitian yang digunakan adalah mahasiswa ppg di universitas muhammadiyah surakarta. sebanyak 251 mahasiswa ppg dalam jabatan 2019 dijadikan sebagai subyek penelitian tahun 1 untuk menganalisis kebutuhan pengembangan instrument penilaian ppg berbasis hots. subyek penelitian lainnya adalah instruktur ppg (dosen ppg), ahli pendidikan dan ahli penilaian pendidikan. metode pengumpulan data menggunakan wawancara, dokumentasi, observasi ,tes, dan angket (denzin dan lincoln, 2009). metode pengumpulan data dalam pengembangan ditambah menggunakan focus group discussion (fgd). sedangkan teknik analisis diterapkan menggunakan analisis kualitatif model alur dan komparasi deskriptif (flick, kardorff, and steinke, 2004: 266). dan regresi linear ganda dan anova satu jalur. langkah-langkah penelitian dan pengembangan ini secara keseluruhan dapat diringkas menjadi dua langkah utama. kedua langkah utama diilustrasikan pada gambar 1 di bawah. gambar 1. diagram langkah penelitian hasil dan pembahasan 1. hasil pengembangan penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrument penilaian hots yang berupa soal pilihan ganda bagi mahasiswa ppg yang valid dan reliabel. penilaian instrument dilakukan melalui analisis ahli untuk menguji kevalidan dari penilaian yang telah dibuat dan penilaian uji coba yang melibatkan 54 mahasiswa ppg dalam jabatan (daljab) 2 tahun 2019. analisis difokuskan pada persentase jawaban benar dari mahasiswa ppg daljab 2. workshop pengembangan instrument penilaian ppg berbasis hots mengkaji teori yang relevan survei, eksplorasi dan analisis data pbm ppg fgd hasil analisis data pbm ppg fgd need assessment workshop penyusunan instrument penilaian ppg berbasis hots fgd review penyusunan instrument penilaian ppg berbasis hots fgd review pengembangan instrument penilaian ppg berbasis hots instrument penilaian ppg berbasis hots pengembangan instrumen......(jan wantoro, dkk) 15 jppd, 6, (1), hlm. 11 20 proses pengembangan instrument penilaian hots meliputi penyusunan soal tes oleh tim (wiggins and mctighe, 2011). soal tes tersebut kemudian dilakukan penilaian oleh ahli pendidikan, hasil revisi dari penilaian ahli pendidikan kemudian akan dijadikan sebagai bahan uji coba terbatas. hasil uji coba terbatas akan menjadi bagian dari revisi produk akhir terkait instrument penilaian berbasis hots yang siap diujicobakan di lapangan. penilaian kevalidan instrument penilaian hots oleh ahli melalui beberapa tahapan terkait dengan aspek kelayakan bahasa, dan kelayakan isi. kelayakan bahasa dan isi yang dinilai dalam pengembangan ini adalah ketepatan struktur pertanyaan, kebakuan istilah, kemampuan mendorong berpikir kritis, keakuratan materi, dan kesesuaian materi dengan perkembangan ilmu. berdasarkan pendapat ahli maka, soal yang telah dikembangkan mendapatkan revisi di beberapa nomor soalnya. soal-soal yang dibuat masih belum menunjukkan adanya hots sehingga, perlu dilakukan revisi. dalam penyusunan soal yang mengukur tingkat berpikir tinggi perlu disajikan berbagai informasi melalui teks, gambar, grafik, tabel maupun yang lainnya, dan berisi informasi yang ada dalam kehidupan sehari-hari (merta, i wayan, dkk, 2019). instrumen penilaian berbasis hots pada mahasiswa daljab 2 pgsd ums ditekankan pada soal cerita, dimana masing-masing mahasiswa akan menganalisis soal cerita dan mampu menjawab soal dengan benar. adanya soal cerita akan menuntut mahasiswa untuk menganalisis setiap kalimat dalam soal cerita sehingga mahasiswa dapat menjawab soal dengan benar. setiap soal yang ada selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. berdasarkan pada taksonomi bloom, dari 13 soal yang dikembangkan, hanya 3 soal (23,07%) yang merupakan lots (lower order thinking skills) dan 10 soal (76,93%) merupakan soal hots. soal hots yang digunakan memang masih berkisar pada indikator mengaplikasi dan menganalisis saja. hasil revisi dari ahli kemudian diujicobakan kepada mahasiswa ppg melalui soal pilihan ganda sebanyak 54 responden. 2. analisis butir soal untuk mengetahui mutu dari soal yang telah dikembangkan selama proses ppg maka, digunakanlah analisis butir soal dengan memperhatikan empat aspek, yaitu: daya pembeda, tingkat kesukaran, pengecoh/distractor, dan homogenitas butir soal. a. daya pembeda daya pembeda dalam suatu soal bertujuan untuk mengukur sejauhmana butir soal mampu membedakan antara peserta didik yang menguasai materi dengan peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran (kurniawan, 2015). semakin tinggi nilai daya pembeda maka soal tersebut baik untuk digunakan. hal tersebut dikarenakan soal mampu membedakan kemampuan peserta didik dengan baik. untuk mengetahui daya pembeda suatu soal maka, digunakanlah kriteria daya pembeda sesuai tabel 1. pengembangan instrumen......(jan wantoro, dkk) 16 jppd, 6, (1), hlm. 11 20 tabel 1. kriteria daya pembeda indeks daya pembeda penafsiran butir soal d > 0,40 sangat baik 0,30 < d < 0,40 baik 0,20 < d < 0,30 cukup d < 0,20 jelek sumber: arif, 2014 pada analisis butir soal didapatkan data bahwa dari 13 soal yang telah disusun, hanya 3 soal (23,07%) yang memiliki daya pembeda sangat baik, 2 soal (15,39%) memiliki daya pembeda baik, 2 soal (15,39%) memiliki daya pembeda cukup, dan 6 soal (46,15%) memiliki daya pembeda jelek. berdasarkan perhitungan maka tingkat daya pembeda soal rendah, artinya kemampuan soal untuk membedakan peserta didik yang menguasai materi dan tidak masih rendah. perlu adanya perbaikan terhadap soal yang telah dikembangkan sehingga mampu memiliki daya pembeda yang lebih baik lagi. pengembangan soal higher order thinking skills (hots) harus mampu mendorong peserta didik untuk memahami materi pembelajaran dengan baik sehingga, soal yang memiliki daya pembeda tinggi akan berkaitan erat dengan soal hots. b. tingkat kesukaran tingkat kesukaran menunjukkan seberapa baik kualitas soal (kurniawan, 2015). soal yang mudah untuk dijawab oleh peserta didik tidak akan mendorong tingkat berpikir kritisnya seorang peserta didik, sedangkan soal yang terlalu sulit juga akan menyebabkan peserta didik untuk mudah putus asa dalam mengerjakan soal. semakin kecil indeks kesukaran suatu soal maka soal tersebut akan semakin sulit, begitu pula sebaliknya. ketika indeks yang diperoleh besar maka soal mudah dikerjakan oleh peserta didik. untuk mengukur tingkat kesukaran suatu soal, maka digunakanlah kriteria tingkat kesukaran seperti pada tabel 2. tabel 2. kriteria tingkat kesukaran indeks kesukaran penafsiran butir soal 0,00 – 0,30 sukar 0,31 – 0,70 sedang 0,70 – 1,00 mudah sumber: arif, 2014 berdasarkan perhitungan terhadap 13 soal oleh 54 peserta didik, didapatkan hasil bahwa hanya 3 soal (23,07%) yang memiliki indeks sukar, 2 soal (15,39%) memiliki indeks sedang, dan 8 soal (61,54%) memiliki indeks mudah. jadi, dapat disimpulkan bahwa soal hots yang telah dikembangkan oleh tim masih memiliki indeks kesukaran pengembangan instrumen......(jan wantoro, dkk) 17 jppd, 6, (1), hlm. 11 20 yang rendah. setengah dari soal yang dikembangkan memiliki tingkat kesukaran yang sangat mudah. soal hots memang bukanlah soal yang sulit atau sukar namun, harus mendorong siswa berpikir kritis. mudahnya peserta didik untuk menjawab soal yang ada dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya: intensitas peserta didik menggunakan jenis soal yang sama. semakin sering peserta didik menggunakan jenis soal yang sama atau relative sama akan mendorong peserta didik untuk menjawab benar terhadap soal yang disediakan. dalam pengembangan soal hots diperlukan adanya soal yang memiliki kriteria sedang dan sukar lebih banyak dibandingkan soal yang mudah. c. pengecoh/distraktor analisis pengecoh merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui keefektifan suatu pengecoh dalam suatu soal. semakin banyak peserta didik yang memiliki pengecoh maka, pembuat soal harus memperhatikan lagi kunci jawaban yang tersedia (arif, 2014). depdiknas dalam kurniawan (2015) menyatakan bahwa pengecoh akan efektif jika dipilih oleh 5% atau lebih peserta didik dan dipilih oleh peserta didik yang tidak menguasai materi pembelajaran. berdasarkan perhitungan anates, kualitas pengecoh memiliki indikator yang kurang. dari 13 soal yang dilakukan analisis, hanya 5 soal (38,46%) yang memiliki indeks pengecoh sangat baik, sedangkan 8 soal lainnya (61,54%) memiliki kualitas pengecoh yang buruk. hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa secara tidak langsung, pembuat soal telah menunjukkan kunci jawaban dari setiap soal yang ada. hal ini sesuai dengan analisis tingkat kesukaran, dimana soal yang telah disusun tersebut masih memiliki indeks kesukaran yang rendah. peserta didik dapat langsung mengetahui kunci jawaban yang tersedia. soal yang memiliki indeks pengecoh buruk masih belum sesuai dengan pengertian soal hots. melalui soal yang ada, peserta didik tidak harus berpikir kritis untuk menemukan kunci jawabannya. 3. validitas soal berdasarkan pada pengelompokkan indikator kata kerja oprasional (kko) soal menurut taksonomi bloom, maka soal yang telah dikembangkan sudah sesuai dan masuk dalam kriteria soal hots. meskipun ketika dilakukan analisis butir soal, sebagian besar soal memiliki indeks dibawah skor kelayakan untuk aspek daya pembeda, tingkat kesukaran dan pengecohnya. hanya terdapat 1 soal saja yang memiliki korelasi sangat signifikan antara keseluruhan aspek tersebut. untuk mengetahui nilai korelasinya dapat dilihat pada tabel 3. selanjutnya soal yang telah disusun perlu ditingkatkan tingkat kesukarannya, distraktor/pengecohnya, dan daya bedanya. pengembangan instrumen......(jan wantoro, dkk) 18 jppd, 6, (1), hlm. 11 20 tabel 3. rekap analisis butir soal no daya pembeda tingkat kesukaran korelasi sign. korelasi 1 53,33 mudah 0,465 2 33,33 sukar 0,263 3 53,33 mudah 0,624 sangat signifikan 4 20,00 sedang 0,225 5 13,33 sukar 0,190 6 40,00 mudah 0,294 7 46,67 mudah 0,452 8 40,00 mudah 0,413 9 20,00 sangat mudah 0,247 10 13,33 sangat mudah 0,219 11 -6,67 sangat mudah -0,047 12 0,00 sangat sukar 0,113 13 26,67 sedang 0,204 sumber: hasil perhitungan, 2019 berdasarkan tabel 3, dapat dilihat bahwa soal yang telah dikembangkan memiliki validitas yang sangat rendah. rendahnya validitas soal tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti: intensitas mengerjakan soal yang relatif sama, dan pemahaman materi oleh peserta didik. karena peserta didik ppg merupakan guru-guru yang telah memiliki pengalaman kerja cukup lama maka, pemahaman guru terkait suatu materi pembelajaran sudah sangat baik sehingga mampu menjawab soal dengan mudah. meskipun demikian, perlu adanya peningkatan kualitas soal ppg agar dapat dikatakan soal yang hots. simpulan berdasarkan hasil analisis, tingkat daya pembeda soal yang telah diberikan masih rendah, sehingga mahasiswa yang sudah menguasai materi dengan yang belum menguasai materi tidak dapat dibedakan dengan baik. masih diperlukan perbaikan terhadap soal yang telah dikembangkan agar mampu memiliki daya pembeda yang lebih baik lagi. soal hots yang telah dikembangkan oleh tim masih memiliki indeks kesukaran yang rendah, yaitu setengah dari soal yang dikembangkan masih berada pada tingkat kesukaran yang sangat mudah. jenis soal yang sama atau relatif sama dan sering ditemuai oleh peserta didik akan mendorong peserta didik untuk menjawab benar terhadap soal yang disediakan. dalam pengembangan soal hots diperlukan adanya soal yang memiliki kriteria pengembangan instrumen......(jan wantoro, dkk) 19 jppd, 6, (1), hlm. 11 20 sedang dan sukar lebih banyak dibandingkan soal yang mudah. berdasarkan perhitungan anates, kualitas pengecoh memiliki indikator yang kurang, hasil tersebut menunjukkan bahwa pembuat soal telah menunjukkan kunci jawaban meskipun secara tidak langsung. hal ini sesuai dengan analisis tingkat kesukaran, dimana soal yang telah disusun tersebut masih memiliki indeks kesukaran yang rendah. soal yang memiliki indeks pengecoh buruk masih belum sesuai dengan pengertian soal hots. daftar pustaka delyanti, azzumarito. 2014. pengembangan instrumen tes literasi matematika model pisa. journal of educational research and evaluation 3 (2), 74-78 denzin, n.k. &lincoln, y.s. 2009. handbook of qualitative research (edisi bahasa indonesia). yogyakarta: pustaka pelajar. depdiknas. 2013. pedoman penilaian hasil belajar. depdiknas. jakarta himah, faiqotul. dkk. 2016. pengembangan instrumen tes computer based testhigher order thinking (cbt-hot) pada mata pelajaran fisika di sma. jurnal pembelajaran fisika, 5 (1), 89-95 kurniawan, tutut. 2015. analisis butir soal ulangan akhir semester gasal mata pelajaran ips sekolah dasar. journal of elementary education, vol 4(1), 1-6 lantip diat prasojo, udik budi wibowo, arum dwi h. 2017. manajemen kurikulum program profesi guru untuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal di universitas negeri yogyakarta. jurnal pendidikan dan kebudayaan, 2 (1) merta, i wayan; nur lestari; dadi setiadi. 2019. teknik penyusunan instrumen higher order thinking skills (hots) bagi guru-guru smp rayon 7 mataram. jurnal pendidikan dan pengabdian masyarakat, vol 2(1), 48-53 miller, m. d., linn, r. l., & gronlund, n. e. 2012. measurement and assessment in teaching. new jersey: pearson higher education pedoman penyelenggaraan program ppg. 2018. direktorat jenderal pembelajaran dan kemahasiswaan kementerian riset, teknologi dan pendidikan tinggi permendiknas no 8 tahun 2009). permendiknas no. 87 tahun 2013 panduan pelaksanaan sertifikasi guru tahun 2006 sugiyono. 2009. metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r & d. bandung: alfabeta sutama. 2012. metode penelitian pendidikan (kuantitatif, kualitatif, ptk, r&d). surakarta: fairuz media tutik wijayanti, dkk. 2014. pengembangan instrumen penilaian pembelajaran (implementasi penilaian kemampuan berpikir kritis dan karakter demokratis pada materi sistem politik indonesia dengan metode pembelajaran role playing berbasis konservasi. innovative journal of curriculum and educational technology, 3 (2), 30-37 pengembangan instrumen......(jan wantoro, dkk) 20 jppd, 6, (1), hlm. 11 20 uno, hamzah. 2008. perencanaan pembelajaran. jakarta: pt bumi aksara. wiggins, g., and mctighe, j. 2011. the understanding by design guide to creating highquality units. alexandria, va: ascd profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © universitas muhammadiyah surakarta 171 implementasi model concept attainment untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah ratnawati handayani 1* , & yulia maftuhah hidayati 2 1,2 universitas muhammadiyah surakarta, sukoharjo, indonesia email & phone: * ratnawati281098@gmail.com +6281328851727 submitted: 2020-09-03 doi: 10.23917/ppd.v7i2.12053 accepted: 2020-12-03 published: 2020-12-20 keywords: abstract mathematics achievement model concepts problem solving this study aims to describe the implementation of concept attainment model in developing math problem solving skills of 5 th grade elementary school students. this study used a qualitative approach with a phenomological research design. the subjects in this study were 2 students and 1 teacher of 5 th grade of sd negeri newung 2 elementary school (sdn newung 2), sukodono, indonesia. the data technique used tests and interviews with students and teachers. the data validity used source and method triangulation. data analysis used three stages, namely (1) data reduction, (2) data presentation, (3) data conclusions. the results of this study, (1) the students' mathematical solving ability is good, because students have mastered the indicators of mathematical problem solving abilities, (2) implementation of the concept attainment model in mathematics learning is correct, because students are enthusiastic about learning, the steps used are appropriate, namely the stage of analyzing thinking strategies, presenting data, and testing concept achievement. pendahuluan matematika bukan hanya mempelajari hal kognitif/pengetahuan saja, namun dalam belajar matematika siswa juga mendapatkan kemampuan matematis. kemampuan matematis yang dimaksud seperti yang ditetapkan dalam (nctm 2000) yaitu, standar kemampuan matematis yang siswa wajib punya sebagai berikut: (1) kemampuan pemecahan masalah, (2) komunikasi matematis, (3) kemampuan koneksi, (4) kemampuan penalaran, dan (5) kemampuan representasi. dari lima standar kemampuan matematis tersebut, kemampuan pemecahan masalah ialah satu hal penting bagi siswa. melalui pemecahan masalah, siswa dibiasakan untuk melihat masalah bukan hanya dari satu sisi saja. magdalena dan surya (2018) mengungkapkan bahwa pemecahan masalah adalah salah satu komponen kurikulum matematika yang digunakan saat kegiatan belajar mengajar dan juga dalam penyelesaian soal, hal ini dikarenakan dengan pemecahan masalah siswa mampu mendapatkan pengalaman yang memerlukan pengetahuan dan juga ketrampilan yang mampu dikuasai, kemudian dapat diaplikasikan pada soal tidak rutin. melalui kegiatan ini diharapkan kemampuan matematika misalnya, penemuan pola, penggeneralisasian dan komunikasi matematika, pemecahan pada masalah tidak rutin dapat dikembangkan secara lebih baik pemecahan masalah merupakan suatu keterampilan minimal dalam matematika yang harus dikuasasi siswa untuk dapat menjalankan fungsinya dalam lingkungan masyarakat (ahmad dan susanto, 2013:134). hal ini didukung dengan adanya penjelasan pemecahan handayani 1 , & hidayati 2 implementasi model concept attainment ... printed issn 2406-8012 172 masalah yang diungkapkan oleh nctm (2000) yaitu proses pengaplikasian pengetahuan yang sudah diproleh sebelumnya pada keadaan yang baru serta berbeda. nctm merupakan dewan perkumpulan guru matematika seluruh dunia yang memiliki tujuan untuk mensupport guru dalam menegaskan bahwa matematika itu adil, pembelajaran terbaik untuk semua siswa dengan visi, kepemimpinan, pengembangan profesional, dan penelitian. adapun menurut nctm (2000) indikator-indikator yang diperlukan dalam mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematika sebagai berikut: (1) mengidentifikasi data yang diketahui, ditanyakan, dan sudah cukupnya data yang diperlukan dalam soal matematika., (2) menyusun model matematika yang digunakan untuk penyelesaian., (3) menerapkan rencana/model matematika untuk menyelesaikan berbagai masalah matematika atau diluar matematika., (4) menjelaskan jawaban/hasil berdasarkan asal masalah., (5) menggunakan matematika dengan bermakna. pemecahan masalah ialah suatu proses berpikir untuk menyelesaikan permasalahan. selain itu, pemecahan masalah adalah pemakaian metode dalam kegiatan pembelajaran dengan memberikan siswa pengetahuan untuk menerima suatu permasalahan baik masalah individu atau masalah kelompok, untuk diselesaikan secara individu atau bersama-sama. menurut polya (2004) tahap-tahap dalam pemecahan masalah antara lain, (1) memahami suatu masalah, (2) membuat rencana penyelesaian, (3) melakukan rencana, (4) melihat kembali. adanya keterangan-keterangan tersebut kesimpulanya yaitu pemecahan masalah memiliki tahapan seperti berikut, (1) mengidentifikasi dan memahami suatu persoalan/masalah, (2) merencanakan penyelesaian suatu masalah, (3) melaksanakan rencana, (4) menjelaskan hasil, (5) melihat kembali. hasil studi timss (trends in international mathematics and science study) peringkat indonesia berada diposisi bawah dari tahun ke tahun, seperti tahun 2011 indonesia di peringkat 38 dari 46 negara dengan skor 375. begitu pula dengan hasil timss pada tahun 2015 yang dipublkasikan pada desember 2016 berada diperingkat 46 dari 51 negara dengan skor 397. hal tesebut memperlihatkan bahwa di indonesia kemampuan pemecahan masalah matematikanya masih rendah. untuk mengatasi rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematika yang berada di indonesia diperlukan untuk menerapkan sebuah model pembelajaran. model pembelajaran sendiri memiliki pengertian sebuah rencana yang berfungsi sebagai acuan untuk membuat perencanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. dalam memilih model pembelajaran terdapat beberapa acuan, yaitu mengacu pada pendekatan pembelajaran yang digunakan di kelas yang didalamnya terdapat tujuan pengajaran, langkah-langkah dalam kegiatan belajar mengajar, suasana yang digunakan dalam pembelajaran, dan juga pengelolaan di dalam kelas (kholifah dan kurniawan, 2016). ada berbagai macam model pembelajaran, namun model concept attainment dapat menjadi alternatif untuk menjadikan siswa memahami gambaran konsep pembelajaran, karena model ini dirancang untuk menyusun informasi sehingga, macam-macam konsep yang penting bisa dipelajari dengan efektif serta efisien (joyce, weil, dan e.c., 2016). model ini juga dapat membuat siswa lebih antusias dalam belajar, baik menerapkan maupun menghubungkan konsep secara bersamaan, untuk menghasilkan pencapaian yang lebih baik (habib, 2019). adapun juga model concept attainment merupakan suatu model pembelajaran yang tepat untuk memperlihatkan suatu data informasi yang sudah diorganisir dengan sebuah hal yang luaa dan lebih mudah dimengerti untuk tingkatan perkembangan konsep (putri 2017). vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 173 penerapan model ini memusatkan pada dua hal, antara lain pengembangan sebuah konsep, dan sebuah korelasi antara konsep yang terkait erat untuk latihan dalam berpikir kritis (muhammad, djufri, dan muhibbudin 2014). hal ini didukung dengan penelitian yang dilaksanakan oleh munir et al., (2017) pada siswa kelas xi sma nu palembang, model concept attainment mempengaruhi berpikir kritis pada anak karena siswa menemukan suatu konsep dari materi pembelajaran. penelitian mengenai model concept attainment sebelumnya pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. angraini (2019) mengungkapkan bahwa model concept attainment mampu memberikan pengaruh yang baik dalam kemampuan matematis dan berpikir kritis siswa. kemudian, hasil penelitian putri (2017) menggunakan model concept attainment untuk mengukur tingkat pemahaman konsep matematika siswa. penelitian yang dilakukan oleh habib (2019) mengenai model concept attainment mempengaruhi hasil prestasi mata pelajaran sosial siswa. lalu, dilakukan oleh (sijabat et al. 2019) menggunakan model concept attainment untuk mengetahui aktivitas matematika siswa. penelitian oleh muhammad et al. (2014) mengungkapkan bahwa model concept attainment dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran biologi materi metabolism. kemudian, kaur (2018) mengungkapkan bahwa model concept attainment dapat meningkatkan prestasi siswa dalam mata pelajaran kimia. begitu pula, bhargava (2015) menuturkan bahwa model concept attainment dapat meningkatkan prestasi sosial siswa kelas viii. penelitian kumar dan mathur (2013) menuturkan bahwa model concept attainment dapat mempengarusi akusisi fisika siswa, kemudian penelitian yang dilakukan anjum (2014) yaitu membandingkan pemahaman konsep geometri siswa pada materi geometri. kiswandi, soedjoko, dan hendikawati (2013) melakukan penelitian mengenai model concept attainment pemehaman siswa lebih baik dibandingkan dengan model cognitive growth. sedangkan, penelitian ini membahas tentang model concept attainment untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematika di kelas v. berdasarkan hal tersebut, peneliti melakukan penelitian tentang “implementasi model concept attainment untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah”. tujuan dari penelitian ini yaitu, untuk mendeskripsikan implementasi model concept attainment dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas v sd. metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian dengan berlandaskan filsafat positivisme, pendekatan ini diperlukan pada kondisi objek yang alamiah, dalam penelitian peneliti mempunyai peran sebagai instrument kunci, menggunakan teknik triangulasi untuk mengumpulkan data, analisis data bersifat induktif atau kualitatif serta hasil penelitian dari pendekatan kualitatif lebih berfokus ke pemahaman makna (sugiyono, 2018:15) dan dengan desain penelitian fenomenologi. penelitian ini berlangsung di sd negeri newung 2 yang terletak di dusun pohjaring, rt. 01 rw. 02 desa newung, kecamatan sukodono, kabupaten sragen, jawa tengah, 57263. penelitian ini dilakukan di kelas v karena sudah menerapkan selama 3 bulan model concept attainment dalam pembelajaran matematika dalam materi bangun ruang. narasumber untuk penelitian ini ialah 2 siswa dan 1 guru kelas v sd negeri newung 2. teknik pengumpulan data untuk penelitian ini menggunakan wawancara dan tes. tes dikerjakan oleh siswa yang terdiri 5 pertanyaan mengenai pemecahan masalah dengan materi kubus dan balok pada kd 3.5 dan 4.5, tes ini digunakan untuk melihat kemampuan siswa dalam menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah matematika. kemudian, dilakukan wawacara dengan siswa mengenai jawaban dari soal tes yang sudah handayani 1 , & hidayati 2 implementasi model concept attainment ... printed issn 2406-8012 174 dituliskan dan mengenai pembelajaran model concept attainment yang sudah dilaksanakan dalam pembelajaran matematika, begitu pula wawancara yang dilakukan dengan guru mengenai pembelajaran model concept attainment dalam pembelajaran matematika. kemudian, teknik keabsahan datanya menggunakan triangulasi sumber, peneliti melibatkan lebih dari satu sumber untuk mendapatkan data yaitu wawancara dengan guru dan siswa. lalu, triangulasi teknik/metode peneliti menggunakan satu sumber saja namun dengan teknik berbeda wawancara dan tes. data penelitian ini akan dianalisis dengan tiga tahap, antara lain: (1) reduksi data, yaitu peneliti merangkum data penelitian, (2) penyajian data, yaitu peneliti menyusun data hingga menghasilkan gambaran penelitian, (3) kesimpulan/ verifikasi data, yaitu peneliti menemukan makna dari penelitian. hasil dan pembahasan penelitian ini menyampaikan secara menyeluruh mengenai implementasi model concept attainment untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas v. penelitian ini dilaksanakan di sd negeri newung 2 yang sudah menerapkan model concept attainment di kelas v dan menggunakan wawancara, tes tertulis dan dokumentasi untuk mendapatkan datanya. penelitian ini mengambil sampel 2 siswa kelas v, masingmasing siswa diberikan 5 soal mengenai kemampuan pemecahan masalah matematika dengan materi bangun ruang kubus dan balok. selanjutnya, dilanjutkan wawancara dengan siswa dan guru mengenai model concept attainment. kemampuan pemecahan masalah matematika siswa bisa diketahui dari hasil tes yang sudah dikerjakan siswa. untuk menganalisis seberapa menguasainya siswa dalam mengerjakan tes pemecahan masalah dapat diidentifikasi dari indikator kemampuan pemecahan masalah itu sendiri. indikator tesebut yaitu, memahami masalah (siswa menyebutkan yang diketahui dan ditanya), merencanakan penyelesaian (siswa menuliskan rumus yang sesuai dengan permasalahan dalam soal), melakukan rencana (siswa memasukkan data yang diperoleh ke dalam rumus yang sudah ditentukan, siswa melaksanakan penyelesaian dengan tahap yang runtut dan penghitungan yang benar, siswa menyimpulkan hasil penyelesaian.), dan melihat kembali (siswa mampu melihat kembali pekerjaannya). jawaban untuk soal nomor 1 dari kedua subjek s1 dan s2 dapat dilihat berikut ini (lihat gambar 1). gambar 1. hasil pekerjaan s1. berdasarkan jawaban s1, dapat diketahui s1 mengetahui data yang diketahui dan yang ditanyakan, s1 dapat menuliskan rumus dan mengaplikasikannya secara tepat, kemudian siswa juga mampu menyimpulkan jawaban dengan tepat serta mengecek kembali. sehingga, dapat ditarik kesimpulan yaitu s1 menguasai semua indikator kemampuan vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 175 pemecahan masalah matematika dalam soal ini. hal ini didukung dengan wawancara sebagai berikut: p : apakah kamu memahami soal nomor 1 dan jawabannya? s1 : paham bu. dalam soal ini yang diketahui ada kotak yang berbentuk kubus dan mainan kayu yang berbentuk kubus juga tetapi ukuran mainan kayu lebih kecil lalu yang dicari berapa banyak mainan kayu yang dapat dimasukkan dalam kotak. selanjutnya dicari volume kubus besar dan keci rumusnya v= sisi x sisi x sisi, lalu hasilnya volume kotak dibagi volume kubus nanti ketemu jawabannya yaitu 8 mainan kayu dapat masuk kedalam kotak bu. saya cek kembali apa yang sudah saya kerjakan. berdasarkan hasil wawancara dengan s1 dapat ditinjau, s1 memang memahami permasalahan yang berada dalam soal, lalu juga mampu mengaplikasikan rumus, menyelesaikan permasalahan dengan jawaban yang tepat, dan mengecek kembali. sehingga dapat disimpulkan bahwa s1 menguasai indikator dalam tahapan kemampuan pemecahan masalah matematika yang berada dalam soal. sedangkan, untuk jawaban s2 sebagai berikut (lihat gambar 2). gambar 2. hasil pekerjaan s2 berdasarkan jawaban s2, apat ditinjau bahwa s2 mampu menyebutkan yang diketahui dan ditanyakan, kemudian menuliskan rumus dan memasukkan data ke dalam rumus dengan benar. s2 juga menyimpulkan jawaban dengan benar dan mengeceknya kembali. hal ini membuktikan bahwa s2 sudah menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah untuk soal ini. uraian ini didukung dengan wawancara sebagai berikut. p : apakah kamu memahami soal nomor 1 dan jawabannya? s2 : paham bu. diketahui ada kotak kubus besar dan mainan kayu kubus kecil. pertanyaannya mencari banyaknya mainan kayu yang dapat masuk ke dalam kotak, cara mencari banyaknya mainan kayu yang dapat dimasukkan ke dalam kotak yaitu mencari volume kotak kemudian dibagi dengan volume mainan kayu. kotaknya berbentuk kubus berarti memakai rumus volume: sisi x sisi x sisi. dan sudah saya cek kembali. berdasarkan wawancara dengan s2, dapat ditinjau s2 mampu mengutarakan yang diketahui dan ditanyakan, kemudian menjelaskan rumus dan memasukkan data dengan benar. s2 juga menyimpulkan jawaban dengan benar dengan mengeceknya kembali. dapat disimpulkan bahwa siswa menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah untuk soal ini. handayani 1 , & hidayati 2 implementasi model concept attainment ... printed issn 2406-8012 176 uraian di atas mengenai jawaban s1 dan s2 pada soal nomor 1 dapat diketahui bahwa siswa mampu menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah matematika. kemudian, untuk soal nomor 2 hasil pekerjaan siswa bisa diketahui sebagai berikut (lihat gambar 3). gambar 3. hasil pekerjaan s1 berdasarkan jawaban s1, dapat dilihat bahwa s1 mampu mengidentifikasi data diketahui dan ditanyakan dalam soal. s1 juga dapat menuliskan rumus dan menyelesaikannya dengan benar, lalu dalam membuat kesimpulan siswa juga menjelaskan dengan benar dan s1 melihat kembali hasil pekerjaannya. sehingga, bisa disimpulkan bahwa s1 sudah menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah yang berada dalam soal ini. hal ini didukung dengan wawancara sebagai berikut p : apakah kamu memahami soal nomor 2 beserta jawabannya? s1 : paham bu. soal ini mencari banyaknya kotak obat yang bisa masuk ke dalam kotak berbentuk balok. yang diketahui ada kotak yang berbentuk balok dan kotak obat (kubus). selanjutnya dicari volumekotak dan kotak obat rumusnya dengan volume balok adalah v = panjang x lebar x tinggi dan volume kubus adalah v = sisi x sisi x sisi, lalu hasilnya volume kotak dibagi volume kubus nanti ketemu jawabannya yaitu ada 120 kotak obat yang dapat masuk ke dalam kotak balok. sudah saya cek kembali jawaban saya. berdasarkan wawancara tersebut s1 mampu menjelaskan data yang berada disoal dan pertanyaannya. lalu, s1 mampu menuliskan dan mengaplikasikan data ke dalam rumus dengan benar. selanjutnya s1 menyimpulkannya secara tepat dan mengecek kembali pekerjaannya. sehingga, penyimpulannya yaitu s1 sudah menguasai setiap indikator dalam tahapan kemapuan pemecahan masalah yang berada dalam soal ini. sedangkan, untuk jawaban s2 dapat dilihat sebagai berikut (lihat gambar 4). gambar 4. hasil pekerjaan s2 vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 177 berdasarkan jawaban s2 di atas siswa dapat ditinjau bahwa s2 mampu menyebutkan data yang ada dalam soal, penulisan rumus dan mengaplikasikannya dengan tepat, serta menyimpulkan jawaban dengan benar, dan s2 mengecek kembali jawabannya. hal ini menunjukkan bahwa s2 sudah menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah matematika. p : apakah kamu memahami soal nomor 2 beserta jawabannya? s2 : paham bu. diketahui kotak berbentuk balok dan kotak obat berbentuk kubus, dalam soal ini mencari banyaknya kotak obat yang dapat dimasukkan ke dalam kotak besar, awalnya mencari volume balok dengan rumus v = p x l x t, setelah itu dicari volume kubus dengan rumus v = s x s x s. kemudian untuk mencari banyaknya kotak obat yang dapat masuk ke dalam kotak dengan cara volume balok dibagi volume kubus. hasilnya banyaknya kotak obat adalah 120 buah. dan sudah saya cek kembali jawaban saya. berdasarkan wawancara dengan s2 dapat dilihat bahwa s2 mampu menyebutkan yang diketahui dan ditanyakan, kemudian menjelaskan rumus dan mengaplikasikan data ke rumus dengan benar. setelah itu dapat disimpulkan yaitu siswa menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah untuk soal ini.dari uraian mengenai soal nomor 2 yang sudah dikerjakan oleh s1 dan s2 dapat diketahui bahwa s1 dan s2 sudah menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah matematika dalam soal ini. selanjutnya, untuk soal nomor 3 dapat dilihat jawaban siswa seperti berikut (lihat gambar 5). gambar 5. hasil pekerjaan s1 berdasarkan gambar 5, dapat dilihat bahwa s1 mampu menyebutkan yang diketahui dan ditanyakan dalam soal, s1 mampu menyebutkan rumus dan mengaplikasikan data ke dalam rumusnya dengan tepat, s1 juga menyimpulkan jawaban dan mengecek kembali jawabannya. sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa s1 menguasai indikator dalam kemampuan pemecahan masalah untuk soal ini. p : apakah memahami soal nomor 3 dengan penyelesaiannya? s1 : saya paham bu. dalam, soal ini yang diketahui volumenya, panjang dan lebar dari bak mandi berbentuk balok. lalu, yang ditanyakan adalah berapa lebar dari bak mandi ini. untuk menyelesaikan saya masukkan ke dalam rumusnya kemudian lebar dapat dicari dengan volume dibagi panjang x tinggi. dan saya sudah mengecek kembali bu. berdasarkan wawancara dengan si, dapat dilihat bahwa s1 mampu menjelaskan tentang permasalahan dalam soal ini dengan menyebutkan yang diketahui, ditanyakan dalam soal, s1 mampu menyebutkan rumus dan menjelaskan pengerjaannya rumusnya, menyimpulkan jawaban dan mengecek kembali jawaban. sehingga, dapat ditarik handayani 1 , & hidayati 2 implementasi model concept attainment ... printed issn 2406-8012 178 kesimpulan bahwa s1 menguasai indikator dalam kemampuan pemecahan masalah untuk soal ini. dan jawaban s2 sebagai berikut (lihat gambar 6). gambar 6. hasil pekerjaan s2 berdasarkan jawaban s2 sudah menjawab soal tepat. s2 mampu menyebutkan yang diketahui dan ditanyakan, siswa mampu menuliskan rumus dan mengaplikasikandatanya dengan tepat. s2 juga mampu menyimpulkan jawaban dengan benar. sehingga, dapat disimpulkan bahwa s2 sudah menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah matematika untuk soal ini.tetapi, untuk menunjukkan pernyataan tersebut dapat dilihat wawancara sebagai berikut. p : apakah kamu memahami soal nomor 3 dengan penyelesaiannya? s2 : saya paham bu. diketahui ada bak mandi berbentuk balok dengan volume, panjang dan tinggi. dicari lebar dari balok ini, kemudian dalam mencari lebar balok memerlukan rumus v = p x l x t, data dimasukkan kemudian hasilnya lebar balok adalah 15 cm. tetapi saya tidak mengecek kembali jawaban saya. berdasarkan wawancara dengan s2 dapat ditinjau yakni s2 dapat menyebutkan yang diketahui dan ditanyakan dalam soal. s2 mampu menjelaskan rumus balok dan mengaplikasikan data ke dalam rumus dengan penyimpulan jawaban dengan tepat. maka dari itu, kesimpulannya adalah siswa sudah menguasai indikator dalam kemampuan pemecahan masalah matematika untuk soal ini. pada soal nomor 3 s1 dan s2 sudah mampu menguasai indikator dalam kemampuan pemecahan masalah matematika yang ada dalam soal ini. untuk soal nomor 4 dapat dilihat jawaban siswa seperti berikut (lihat gambar 7). gambar 7. hasil pekerjaan s1 vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 179 berdasarkan jawaban s1, dapat ditinjau bahwa s1 mampu menyebutkan hal yang diketahui dan ditanyakan dalam soal, s1 mampu menuliskan rumus dan memasukkan data ke dalam rumus dengan baik, s1 menyimpulkan dengan benar hasil yang diperoleh dan mengecek kembali jawabannya. hal ini membuktikan, bahwa s1 sudah menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah matematika untuk soal ini. untuk membuktikan pernyataan tersebut maka dilakukan wawancara sebagai berikut p : apakah kamu memahami maksud dari soal nomor 4? s1 : saya paham bu. soal ini diketahui luas alas, volume, dan lebar aquarium. lalu, ditanyakan tinggi aquarium ini, caranya ya dimasukkan ke dalam rumus seperti ini, lalu tinggi aquarium dapat dicari dengan volume dibagi luas alas bu. saya mengeceknya kembali bu. berdasarkan wawancara dengan s1 tersebut dapat ditinjau bahwa s1 dapat menyebutkan hal yang diketahui dan ditanyakan dalam soal, mampu menuliskan rumus dan memasukkan data ke dalam rumus dengan baik, s1 menyimpulkan dengan benar hasil yang diperoleh dan mengeceknya kembali. hal ini membuktikan bahwa s1 cukup menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah matematika untuk soal ini. dan untuk jawaban s2 dapat dilihat sebagai berikut (lihat gambar 8). gambar 8. hasil pekerjaan s2 berdasarkan jawaban s2, dapat dilihat bahwa s2 dapat menyebutkan yang diketahui dan ditanyakan, s2 mampu menuliskan rumus, tetapi memasukkan data informasi ada kesalahan. s2 juga tidak menyimpulkan jawaban dengan benar. dapat disimpulkan bahwa siswa cukup menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah untuk soal ini. untuk menguatkan pernyataan tersebut dapat dilihat hasil wawancara sebagai berikut. p : apakah kamu memahami maksud dari soal nomor 4? s2 : paham bu. didalam soal ini terdapat luas alas, volume dan lebar aquarium. tinggi dari aquarium perlu dicari , mengerjakannya dengan cara menggunakan rumus volume balok v = p x l x t. dan saya tidak mengeceknya kembali bu. pada soal nomor 4 s2 sudah menguasai indikator dalam kemampuan pemecahan masalah matematika, namun s2 hanya mengasai 3 indikator saja karena dalam penyimpulan jawaban s2 kurang tepat dan tidak mengecek kembali jawabannya. kemudian, untuk jawaban nomor 5 dari kedua subjek dapat ditinjau sebagai berikut (lihat gambar 9). handayani 1 , & hidayati 2 implementasi model concept attainment ... printed issn 2406-8012 180 gambar 9. hasil pekerjaan s1 berdasarkan jawaban, dapat dilihat bahwa s1 sudah mengetahui apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dan menuliskan rumus serta memasukkan data dengan tepat. namun, dalam poin a siswa kurang teliti dalam mengerjakan soal sehingga jawabannya salah. poin b s1 menjawab benar dan poin c yang merupakan kesimpulan s1 menjawab salah. ini membuktikan bahwa siswa cukup memahami beberapa indikator dalam kemampuan pemecahan masalah. untuk menguatkan pernyataan berikut adalah hasil wawancara dengan s3 sebagai berikut: p : apakah anda paham dengan soal nomor 5? s1 : saya paham bu. di dalam soal ini mencari selisih volume kubus 1 dan volume kubus 2. diketahui masingmasing sisi kubus lalu setelah dihitung menggunakan rumus barulah dicari selisish dengan mengurangi antara kubus 1 dan kubus 2. tapi saya tidak mengecek ulang pekerjaan saya. berdasarkan wawancara dengan s2 tersebut dapat ditinjau bahwa s2 dapat menyebutkan hal yang diketahui dan ditanyakan dalam soal, mampu menuliskan rumus dan memasukkan data ke dalam rumus dengan baik, tetapi s2 tidak menyimpulkan dengan benar hasil yang diperoleh. hal ini membuktikan bahwa s2 cukup menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah matematika untuk soal ini. selanjutnya jawaban s2 sebagai berikut (lihat gambar 10) gambar 10. hasil pekerjaan s2 berdasarkan jawaban siswa di atas. siswa mampu menyebutkan yang diketahui dan ditanyakan dalam soal, s2 mampu menuliskan rumus rumus dan memasukkan data dengan benar. namun, s2 tidak mampu menyimpulkan jawaban dengan benar karena dari penghitungannya saja siswa sudah melakuakn kesalahan dan untuk selishnya sendiri siswa tidak ditampilkan. hal ini menunjukkan bahwa s2 cukup menguasai indikator kemampuan vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 181 pemecahan masalah matematika.tetapi, untuk menunjukkan pernyataan tersebut benar dapat dilihat dari hasil wawancara sebagai berikut. p : apakah anda paham dengan soal nomor 5? s2 : sedikit bu. dalam soal ini terdapat sisi dari kotak pensil 1 dan kotak pensil 2. ditanyakan selisih abtara volume kotak pensil 1 dengan kotak pensil 2. volume kubus = sisi x sisi x sisi data dimasukkan ke dalam rumus kemudian hasilnya dicari dengan volume kubus 1 dikurangi volume kubus 2. berdasarkan wawancara dengan s2 dapat dilihat bahwa s2 dapat mampu menjelaskan yang diketahui dan ditanyakan dalam soal s2 mampu menjelaskan rumus dan memasukkan data. namun, siswa kurang teliti atas jawaban siswa karena tidak dicek kembali. sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa cukup menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah yaitu memahami masalah, merencanakan masalah, dan melakukan rencana untuk soal ini. pada soal nomor 5 s1 dan s2 hanya menguasai indikator memahami masalah, merencanakan penyelesaian dan melakukan rencana saja, dalam tahap penyimpulan siswa tidak teliti sehingga mengalami kesalah. dari hal ini dapat diimpulkan bahwa s1 sudah menguasai indikator kemampuan pemecahan masalah matematika untuk 4 soal dari 5 soal yang tersedia dapat. sedangkan, s2 sudah menguasai 3 soal dari 5 soal yang tersedia dan s2 cukup menguasai indicator dalam kemampuan pemecahan masalah matematika. berdasarkan hasil tes tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa sudah berlangsung selama 3 bulan menggunakan model concept attainment dalam pembelajaran matematika materi bangun ruang di kelas v. untuk penerapan model concept attainment itu sendiri, mengajak siswa menemukan konsep dengan melakukan analisis contoh yang diberikan guru agar siswa memahami konsep yang dipelajari. siswa antusias selama pembelajaran matematika menggunakan model concept attainment karena, dapat mengidentifikasi contoh, memikirkan konsep yang dipelajari dan menyimpulkan hasil diskusi, hal ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh habib (2019) yaitu siswa dalam pembelajaran matematika menggunakan model concept attainment lebih antusias dalam belajar, baik menerapkan maupun menghubungkan konsep secara bersamaan, untuk menghasilkan pencapaian yang lebih baik. selain itu, langkah-langkah pelaksanaan model concept attainment yang sudah diterapkan di kelas v yaitu mulai dari (1) tahap penyajian konsep yang tahap ini siswa diberikan sebuah gambar yang diberi label, kemudian dianalisis apa yang didapatkan dari mengamati tersebut, (2) tahap tes pencapaian konsep dalam tahap ini siswa diberikan contoh lagi namun tidak diberi label, kemuduian setelah dianalisis siswa membuat hipotesisnya, dan (3) tahap mengalisis strategi berpikir yaitu siswa bergabung dengan kelompok kemudian mengungkapkan pemikirannya dan menyimpulkannya. ketiga tahapan tersebut sudah dilakukan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran matematika. hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh joyce dan weil (2016), yaitu: 1. fase satu: penyajian data dan identifikasi konsep a. guru memberikan contoh gambar yang ada label/nama. b. siswa mengidentifikasi contoh kemudian menuliskan perbandingan ciri-ciri untuk contoh + dan -. c. siswa membuat sebuah hipotesis kemudian, melakukan pengetesan. d. siswa mendefinisikan konsep yang didapatkan berdasarkan ciri-ciri utama. 2. fase dua: tes pencapaian konsep handayani 1 , & hidayati 2 implementasi model concept attainment ... printed issn 2406-8012 182 a. siswa mengidentifikasi contoh yang tidak diberi label dengan menyatakan ya atau tidak. b. guru memberi penegasan mengenai hipotesis, nama konsep, dan mengutarakan kembali definisi konsep sesuai dengan ciri-ciri utama. 3. fase tiga: menganalisis strategi berpikir a. siswa mengutarakan yang dipikirkannya. b. siswa melakukan diskusi mengenai hipotesis dan ciri-ciri konsep yang sudah didapatkan. c. siswa melakukan diskusi mengenai tipe dan jumlah hipotesis yang didapatkan. simpulan berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, (1) kemampuan pemecahan matematika siswa dengan model concept attainment sudah baik, karena siswa sudah menguasai indikator memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melakukan rencana dan melihat kembali, dan hasilnya sebagai berikut s1 dapat menguasai semua indikator untuk 4 soal dari 5 soal yang diberikan, sedangkan s2 dapat menguasai semua indikator untuk 3 soal dari 5 soal yang diberikan, indikator yang paling dimengerti siswa adalah dalam tahapan memahami masalah (menyebutkan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan), merencanakan penyelesaian (merumuskan rumus yang digunakan), dan yang tidak dipahami adalah indikator menyimpulkan hasil dan mengecek kembali jawaban. (2) pelaksanaan model concept attainment sudah berlangsung selama 3 bulan ntuk pembelajaran matematika materi bangun ruang di kelas v. langkah-langkah dalam menggunakan model concept attainment sudah dilakukan secara runtut mulai dari tahap penyajian konsep, tahap tes pencapaian konsep dan tahap mengalisis strategi berpikir. siswa antusias dalam pembelajaran matematika yang sudah menggunakan model concept attainment. saran untuk siswa lebih banyak berlatih dalam menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah matematika dan saran untuk guru yaitu mengoptimalkan pengetahuan matematika dalam pembelajaran menggunakan model concept attainment. daftar pustaka ahmad, and susanto. (2013). teori belajar dan pembelajaran di sekolah dasar. jakarta: jakarta : kencana prenada media group. angraini, lilis marina. (2019). “the influence of concept attainment model in mathematical communication ability at the university students.” infinity journal 8(2):189. anjum, shaikh kashefa. (2014). “a study of effect of concept attainment model on achievement of geometric concepts of viii standard students of english medium students of aurangabad city shaikh.” srjis/bimonthly 2(15):2451–56. bhargava, ruchi. (2015). “effect of concept attainment model on achievement in social sciences.” international journal of science and research (ijsr) 5(5):699–701. habib, hadiya. (2019). “effectiveness of concept attainment model of teaching on achievement of xii standard students in social sciences.” shanlax international journal of education 7(3):11–15. joyce, bruce, and marsha weil. (2000). models of teaching. amerika: amerika : a. person educational company. joyce, bruce, marsha weil, and e.c. (2016). models of teaching (ninth edition) (9th ed.). yogyakarta: yogyakarta : pustaka pelajar. kaur, rajwinder. (2018). “to study the effectiveness of concept attainment model of vol. 7 no. 2, 2020 online issn 2503-3530 183 teaching on achievement of secondary school students in chemistry.” scholarly research journal for humanity science & english language 5(25). kholifah, desi, and eko setyadi kurniawan. (2016). “pengaruh model pembelajaran concept attainment berbasis masalah terhadap pemahaman konsep dan minat belajar siswa kelas xi sma negeri 8 purworejo tahun pelajaran 2015 / 2016.” universitas muhammadiyah purworejo 9(2):54–58. kiswandi, edy soedjoko, and putriaji hendikawati. (2013). “komparasi model pembelajaran concept attainment dan cognitive growth terhadap kemampuan pemahaman konsep.” unnes journal of mathematics education. 2(3). kumar, amit, and madhu mathur. (2013). “pengaruh model pencapaian konsep pada akuisisi konsep fisika.” 1(3):165–69. magdalena, theresia, and edy surya. (2018). “pengaruh model pembelajaran means ends analysis terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada kelas x sma swasta bhayangkari rantauparapat.” prosiding seminar nasional sinastekmapan i(november):1165–73. muhammad, nazar, djufri, and muhibbudin. (2014). “penerapanmodel concept attainment terhadap hasil belajar siswa padamaterimetabolisme.” jurnal biologi edukasi 6(1):9–15. munir, dini arfiyansyah, and dewi sundari. (2017). “pengaruh pembelajaran concept attainment model (cam) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa di sma nahdatul ulama (nu) palembang.” 2(2). nctm. (2000). principles and standards for school mathematics. reston: reston va : nctm. polya, g. (2004). how to solve it mathematical method. new jersey: princeton university press: new jersey: princeton university press. putri, dini palupi.(2017). “model pembelajaran concept attainment dalam meningkatkan pemahaman konsep matematika.” jurnal tatsqif 15(1):97–130. sijabat, fransisca theresia, effie efrida muchlis, nurul astuty yensy b, (2019) program studi, and pendidikan matematika. “penerapan model pembelajaran concept attainment untuk meningkatkan aktivitas matematika siswa smp.” 3(1). profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 71 digital literacy and tpack’s impact on preservice elementary teachers’ ability to develop science learning tools sarah fazilla1*, anita yus2, muthmainnah muthmainnah3 1iain lhokseumawe, lhokseumawe, indonesia 2universitas negeri medan, medan, indonesia 3universitas bina bangsa getsempena, banda aceh, indonesia *email: sarahfazila@iainlhokseumawe.ac.id submitted: 2022-02-11 doi: 10.23917/ppd.v9i1.17493 accepted: 2022-05-05 published: 2022-07-31 keywords: abstract digital literacy; tpack; elementary education; science; learning tools the transition of education from the 4.0 era of the industrial revolution to the 5.0 era of the social revolution necessitates educators’ skill development. particularly, technology-based learning devices must be designed with digital literacy and technological pedagogical kontent knowledge (tpack) skills in mind so that learning tools for teachers are more creative and innovative. the purpose of this study was to determine the impact of digital literacy and technological pedagogical content knowledge (tpack) on the ability of prospective madrasah ibtidaiyah science teachers to create learning tools. this study employed a survey approach. madrasah ibtidaiyah (islamic primary school) iain lhokseumawe sixth-semester preservice teacher students were the subjects of this study. the data collection method employed a questionnaire and a straightforward regression analysis. the results demonstrate a strong correlation between digital literacy and the ability to compose science learning tools. a t-table value of 9.880 indicated a positive and significant relationship between digital literacy and the capacity to organize science learning tools. with a t-table value of -0.562, tpack has no significant effect on the ability to compose learning tools. therefore, it can be concluded that digital literacy has a positive effect on the ability of preservice islamic primary teachers to create science learning tools for their students. introduction background developing an education system from the age of industry revolution 4.0 to society 5.0 requires educators to improve their skills, especially in designing technology-based learning http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:sarahfazila@iainlhokseumawe.ac.id http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v7i1.9652 fazilla et al – digital literacy and tpack’s impact on preservice... printed issn 2406-8012 72 devices. in the world of teacher education, it is necessary to improve the quality of human resources, especially the ability of indonesian teachers, as it is one of the determinants of learning success. furqon arbianto et al. (2019) stated that trainee teachers are expected to increase their chances of becoming quality teachers and realise their position in the present era of the industrial revolution. the ability to integrate technology into the learning process, both in the learning requirements in the 21st century: planning and implementing learning plans and choosing the suitable learning media. a lesson plan is a reference document used by teachers that provides an overview of the activities that teachers and students engage in during the learning process (fahrurrozi & mohzana, 2020). a well-developed learning implementation plan assist teaching activities. when developing learning media, teachers must integrate ict into their activity steps. education pattern 4.0 necessitates a fundamental and comprehensive revolution in learning systems and educational administration in general. changes in school systems and learning patterns influence the evolution of education technology. therefore, educators must be tech-savvy and adaptable, especially given the rapid pace of technological development. individuals must possess digital competence to be able to study effectively, such as through distance education (tang & chaw, 2015). according to setyaningsih et al. (2019), digital literacy is also defined as the effort to study, explore, comprehend, evaluate, and employ digital technology. the use of digital media facilitates contextual and audiovisual presentation of instructional materials. digital-based learning is anticipated to produce engaging, meaningful, and interactive learning that can enhance the quality and achievement of learning objectives, foster collaborative learning attitudes, and increase critical, creative, and communicative thinking skills. five digital literacy competencies are mapped by hobbs (2010): (1) access, which refers to the ability to conduct searches utilizing media and technology and to distribute appropriate and pertinent information to others. (2) analyze and evaluate the message, which entails comprehending it and applying critical thinking to assess its quality, honesty, reliability, and point of view before taking the communication’s potential effects or consequences into account. (3) create, which comprises writing or producing material with originality and self-assurance, supported by a focus on the reader and effective composing methods. (4) apply ethical and social responsibility concepts from one’s own identity and life experience in communication behavior. (5) act, which involves contributing as a member of society at the local, regional, national, and international levels by working both individually and collectively to exchange information and address issues in the family, workplace, and community. in the twenty-first century, it is expected of teachers to be able to balance skills, pedagogy, and material content in addition to providing materials and mastering skills in engaging ways. according to akhwani and rahayu (2021), tpack will be a fundamental learning structure in the twenty-first century and a means for teachers to accomplish their educational objectives. when teachers employ the technological pedagogical content knowledge (tpack) skills, the use of technology in education is evident. a theoretical framework called tpack unifies pedagogy, technology, and themes. in order to facilitate an effective and efficient learning process, the tpack optimizes communication technology by combining content knowledge (ck), pedagogical knowledge (pk), and pedagogical content knowledge (pck) into an integrated whole. teachers should place equal emphasis on the knowledge and technological sides of education in addition to the pedagogical side. technology, pedagogy, and content knowledge are all integrated into one framework called tpack. schmid et al. (2021) explain how and why teachers are unable to separate knowledge and content. teachers must understand the relationship between pedagogy and content in order to implement strategies that assist students in comprehending the material. teachers vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 73 are expected to comprehend the interrelationships between technology, pedagogy, and content. effective integration of technology into educational approaches and content areas is possible. tpack comprises educational knowledge (pk), content knowledge (ck), and standardised technologies and technologies. technological knowledge (tc) refers to the skills needed to operate a technology. in his research, zimmermann et al. (2021) stated that the use of tpack in learning in the field of science, particularly chemistry, is crucial because it can improve students’ skills in terms of content mastery, teaching materials, and technology integration. for this reason, prospective teachers must master literacy skills, particularly digital literacy, in order to maximize the use of technology in learning; this skill will also have a positive effect on the formation of self-efficacy. problem of study based on the results of interviews with preservice madrasah ibtidaiyah teachers at iain lhokseumawe, it was determined that the preservice teachers comprehend technological development but are limited to completing their homework. some of them still found it challenging to incorporate appropriate educational, content, and technological skills when preparing for learning planning tasks. most of the preservice teachers also stated that an effective lesson plan should make the learning process more engaging and creative. improving the learning process with a lesson plan is necessary to achieve the intended learning objectives. in an effort to enhance the learning management plan, uno (2011) proposes a lesson plan based on the assumption that: (1) to improve learning quality, a lesson plan for developing the learning activity is required. (2) a systematic approach to lesson design exists. (3) a person learns through a lesson design plan. (4) refer to students individually when developing a lesson plan. (5) learning is conducted to achieve learning objectives. (6) the ultimate purpose of lesson planning is to facilitate student learning. (7) the lesson plan includes all learning variables, allowing for the determination of the optimal method of learning to achieve the set objectives. (8) if the teacher possesses strong digital skills, it is prudent to incorporate technological, educational, and content-related skills into the lesson plan. state of the art in a study examining the tpack development of pre-service science teachers during a science teaching methods course, kartal et al. (2021) discovered that the experimental group had a positive ability to integrate technology into science teaching, teachers understood that teaching science with technology required more than technical knowledge and skills, and that it was essential to recognise the interaction between science, technology, and pedagogy. aktaş & ozmen’s (2020) further research on the development of tpack from preservice science teachers (pst) who participated in the tpack development course (tpack-dc) by conducting interviews revealed that tpack-dc contributed to the association of pst technology knowledge (tk), pedagogical knowledge (pk), and content knowledge (ck), and that with tpack teachers are able to determine diverse learning methods and use the appropriate technology. in a study by hanik (2020) that analysed students’ tpack skills in relation to presentation activities in lectures, it was determined that students’ tpack skills were still in the moderate range, particularly in terms of adjusting material with the appropriate technology. according to suyamto et al. (2020), the advancement of science and technology can be used to enhance the quality of education. according to shopie azizah et al.(2021), prospective teachers are expected to become teachers who are skilled at teaching effectively, mastering content, and able to use technology in the learning process. the ability of tpack for prospective science teachers can be seen in the preparation of lesson plans that include elements of pedagogy, content, and technology. however, the results of the study indicate fazilla et al – digital literacy and tpack’s impact on preservice... printed issn 2406-8012 74 that several prospective science teachers still lack the skills to use technology in the learning process. gap study & objective this study examined the impact of digital literacy and technological pedagogic content knowledge (tpack) on prospective madrasah ibtidaiyah teachers’ ability to identify and develop science learning plans. in this study, it is hoped that prospective and elementary school teachers will be able to develop their competencies by understanding how technology, pedagogy, and content are subsequently integrated into learning in schools. based on this description, the researcher conducted research to investigate in greater depth the impact of digital literacy and tpack on the capacity of aspiring elementary school teachers to create learning media for science learning. method type and design the goal of this study was to thoroughly explain and analyse the data on digital literacy and tpack’s impact on preservice elementary teachers’ ability to develop science learning media. based on research methods, this study took a quantitative approach. the survey method is a survey method that appears in the relationship between the sample’s past or present beliefs, opinions, characteristics, behaviours, sociological and psychological variables. (sugiyono, 2016). data and data sources all third-year preservice islamic primary teachers at iain lhokseumawe made up the population of this study. there were 57 participants in the study sample. the validation and reliability phases of survey data collection using questionnaires have been successfully completed. using a questionnaire was the study’s method for gathering data. a closed questionnaire, in which each statement has a range of possible responses so the respondent can only select the options that best fit his needs. prior to conducting the research, the instrument must first undergo a trial phase to assess its level of validity (validity) and reliability (reliability). while reliability demonstrates consistency when the measuring instrument is utilised, validity demonstrates the certainty, correctness, or accuracy of the measuring instrument. using the spss 22 programme, this instrument’s validity was examined while accounting for the data in the corrected item-total coreaction, namely the correlation between the individual item scores and the total item scores. the r table is used to evaluate the data, and if the calculated r value is higher than the r table value, the item is considered to be valid. the gultman split half correlation value, which is compared with the r table, shows the reliability test’s results. if the calculated r value is higher than the r table value, the item is considered to be legitimate. the gultman split half correlation value, which is compared with the r table, shows the reliability test’s results. data collection technique observation both direct observation and participatory observation were used in this study. the researchers watched the informants, the teachers, assess students both inside and outside of the classroom. when evaluating students' social attitudes, the reserachers took part in the activities of the teachers. following are the elements that informants (teachers) have reported seeing: (1) observing the social attitudes of the students (2) noting the social attitudes of the students vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 75 (3) reporting the social attitude notes to the students (4) signing the social attitude notes in the journal assessment (5) making a summary of the social attitudes of the students. questionnaire questionnaire tools for retrieving independent variable data are digital literacy and tpack, and documentation tools for retrieving dependent variables are science learning plans at madrasah ibtidaiyah. table 1. research instruments grid variable indicators literacy digital 1. internet search 2. guide hypertext (hypertextual navigation) 3. evaluation of information content (content evaluation) 4. knowledge assembly tpack 1. tk (technological knowledge) 2. pk (pedagogical knowledge) 3. ck (content knowledge) 4. pck (pedagogical content knowledge) 5. tck (technological content knowledge) 6. tpack (technological pedagogical content knowledge) learning tools 1. identify general learning objectives 2. teaching analysis 3. identify the input behavior and characteristics of students 4. development of test items or evaluation tools 5. learning strategies data analysis / analisis data simple regression methods are data analysis techniques used in quantitative research that use statistics to determine the impact of the independent variable (x) on the dependent variable (y) and how much of an impact it has (sugiyono, 2016). r has a value between 0 and 1, and as it approaches 1, it indicates a stronger relationship; conversely, as it approaches 0, it indicates a weaker relationship. the significance of the regression equation and the linearity test using spss 22 are then presented.. the final stage is to test the hypothesis, carried out to test the effect between the variables as well as to find out how big the influence between the independent variable and the dependent variable is, test the hypothesis in this study using the t test, to determine whether there is an effect of variable x on variable y with a 95% confidence level or = 0.05 or sig value <0.05. the statistical hypotheses in this study are; h0 : ry1 = 0 h1 : ry1 > 0 result normality test result to check for normality in this study, the kolmogorov-smirnov test is used. the calculated result must be higher than 0.05 to satisfy the one-sided test significance criterion. it has to fazilla et al – digital literacy and tpack’s impact on preservice... printed issn 2406-8012 76 be evenly distributed, in other words. the digital ability normality test result showed a value of 0.114 or greater than 0.05. in other words, the distribution of the digital capability data is normal. the tpack normality test yields a result of = 0.200 or > 0.05, indicating that h0 is accepted and h1 is rejected. the tpack data is therefore normally distributed. table 2 displays the findings of the normality analysis. table 2. result of variable normality test for digital literacy (x1) and tpack (x2) one-sample kolmogorov-smirnov test unstandardized residual unstandardized residual n 34 34 normal parametersa,b mean .0000000 .0000000 std. deviation .52919851 .52652493 most extreme differences absolute .136 .101 positive .136 .101 negative -.096 -.059 test statistic .136 .101 asymp. sig. (2-tailed) .114c .200c,d a. test distribution is normal. b. calculated from data. c. lilliefors significance correction. d. this is a lower bound of the true significance. linearity test results the linearity test results show the relationship between digital ability and the ability of future teachers to plan learning. since the significance value = 0.000, the probability value (column sig) = 0.72 and f = 0.522. it can be concluded that the regression model is linear (0.72>0.05). for the result of the relationship between tpack and future teacher ability in the learning plan, the regression model is linear for the value of probability value (column sig) = 0.857 and f = 0.328 because the p-value = 0.857> 0.05. the results of the linearity analysis of literacy digital can be seen in the table 3, and the results of the linearity analysis of tpack can be seen in the table 4. table 3. result of linearity for variable literacy digital anova sum of squares df mean square f sig. learning plan * literacy digital between groups (combined) 31.871 5 6.374 20.75 3 .000 linearity 31.229 1 31.229 101.6 75 .000 vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 77 deviation from linearity .642 4 .160 .522 .720 within groups 8.600 28 .307 total 40.471 33 table 4. result of linearity for variable tpack anova table sum of squares df mean square f sig. learning plan * tpack between groups (combined) 4.213 5 .843 .651 .663 linearity 2.513 1 2.513 1.941 .175 deviation from linearity 1.700 4 .425 .328 .857 within groups 36.257 28 1.295 total 40.471 33 results of hypothesis test based on the results of the regression test, the results of the first hypothesis test (h1) showed significant values of the trainee’s digital literacy impact on 0.00 and tscientific learning plans. i did. with a value of 9.880 f-table is 108.132> 0.304, we can conclude that digital ability and tpack simultaneously affect the ability of future teachers in madrasah ibtidaiyah to plan science learning. increase, the magnitude of the correlation coefficient between digital literacy and tpack regarding the ability of an ambitious primary school teacher to prepare tools for science lessons is 0.774 or 77.4%, the rest being influenced by other factors. the result of the multiple regression significance test that the two variables have a significant effect together is shown by the following regression equation. y = 8.274 + 0.782 x1 0.41x2 the standard error of the estimate is 5.012. the results of this test show that digital literacy and tpack have a significant impact on the ability to plan scientific learning. discussion based on the results of data analysis carried out by madrasah ibtidaiyah teachers using the interpretation of digital literacy variables regarding the ability of students to plan science learning, the magnitude of the effect, both individually and collectively, has a significant effect with 77.2 percent. as a result, it can be said that trainee teachers' digital literacy has a 77.2 percent impact on educational quality, with other factors responsible for the remaining 22.8 percent. this supports the claim made by schmid et al. (2021), who found a positive correlation between tpack components and the use of technology in lesson plans among teacher candidates. additionally, sholihah et al. (2016) discovered that learning postpack enhanced the capacity to develop tpack and aspirant physics teachers' learning tools. only 6.2 percent of madrasah ibtidaiyah teachers' ability to plan scientific instruction for future students is impacted by the tpack variable. these findings demonstrate that tpack does not significantly affect science learning plans development, with other factors accounting for the remaining 93.8% of the variance. according to aktaş and zmen (2020), tpack skills enable science candidates to select the best teaching strategy by using technology to teach pertinent subjects. helpful for engaging students, classroom management, and using the right direction when instructing science subjects. the simultaneous data analysis results can be interpreted using the teacher of the ibtidaiyah madrasah's ambitious tpack, which is very good at planning concurrent science lessons, and the variables of digital aptitude. the analysis yielded a r value of 0.878 and a coefficient of determination value of 0.774, or 77.4%. this finding supports the assertion made by prasetyo et al. (2019) and demonstrates that teachers' tpack is significantly impacted by their ict skills, with an effect size of 14.21%. in other words, both variables are highly significant. additionally, the study by kartal et al. (2021) showed that the experimental group can successfully integrate technology into science classes because they have aspirational science teachers. reacted. given that there are only knowledge, skills, and technical skills, it takes skills to achieve interactions between science, technology, and pedagogy.. overall, tpack and digital literacy have a positive and significant impact on ambitious teachers' capacity to plan lessons, particularly at the basic education level and especially with scientific materials, according to the findings of hypothesis testing. according to altun (2019), who conducted research at a university in turkey to examine the impact of digital literacy and the attitudes that prospective early childhood education teacher students developed as a result of applying tpack, it was discovered that students' understanding and vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 79 mastery of digital literacy affects their ability to integrate technology in learning, which is one of the components of tpack. the ability of teachers to have ambitions to plan learning, especially at the basic education level and especially with scientific material, is generally based on the results of testing the hypothesis that digital literacy and tpack have a positive and significant effect on that ability. therefore, it is expected that teachers will need to develop their teaching skills by understanding how to incorporate technology into the creation of appropriate lesson plans and apply it during the learning process in order to produce quality graduates who can think critically and creatively. in order for educators to be more competent in their line of work, it is also hoped that the involvement of stakeholders will increase the calibre of educational personnel. adequate facilities and infrastructure must also be improved. conclusion according to the survey's results, future madrasah ibtidaiyah teachers will be better able to plan their students' science lessons if they are digitally literate. based on these findings, efforts should be made to raise the standard of digital literacy so that future educators can become more professional and timely. the ability of madrasah ibtidaiyah teachers to plan science lessons for future students is impacted by tpack. its worth is inferior to the effects of digital literacy. other, stronger variables may have an impact on a teacher's capacity to design a science lesson plan for elementary school students. in conclusion, the ability of madrasah ibtidaiyah iain lhokseumawe teachers to prepare science lessons for future students is significantly impacted by digital literacy and tpack. therefore, in order to enhance the quality of education and make it competitive in today's changing times, digital literacy and tpack need to be appropriate for all aspiring and primary teachers. this study still only included students who attended madrasah ibtidaiyah iain lhokseumawe, which is one of its major limitations. before students create learning plans, there is a need for prerequisite courses to further cover tpack and digital literacy in order to make the data more significant. a larger sample, including madrasah ibtidaiyah teachers in lhokseumawe city and aceh utara district, needs to be studied for future research on the role of digital literacy and educators' tpack in planning. two recommendations come from this study: 1) in the context of islamic primary teacher education, lecturers' ability to incorporate digital literacy into materials and learning processes needs to be strengthened; 2) there should be a workshop for principals and teachers to improve teacher competency, particularly for madrasah ibtidaiyah teachers to integrate digital literacy and tpack both from planning and the learning process. references akhwani & rahayu, d. w. (2021). analisis komponen tpack guru sd sebagai kerangka kompetensi guru profesional di abad 21. jurnal basicedu, 5(4), 1918–1925. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i4.1119 aktaş, i̇., & özmen, h. (2020). investigating the impact of tpack development course on pre-service science teachers’ performances. asia pacific education review, 21(4), 667–682. https://doi.org/10.1007/s12564-020-09653-x altun, d. (2019). investigating pre-service early childhood education teachers’ technological pedagogical content knowledge (tpack) competencies regarding digital literacy skills and their technology attitudes and usage. journal of education and learning, 8(1), 249. https://doi.org/10.5539/jel.v8n1p249 elya umi hanik. (2020). self directed learning berbasis literasi digital pada masa pandemi covid-19 di madrasah ibtidaiyah. elementary islamic teacher journal, 8, 183–208. doi: 10.21043/elementary.v8i1.7417. fahrurrozi, m., & mohzana. (2020). pengembangan perangkat pembelajaran: tinjauan fazilla et al – digital literacy and tpack’s impact on preservice... printed issn 2406-8012 80 teoretis dan praktek (vol. 51, issue 1). furqon arbianto, u., widiyanti, w., & nurhadi, d. (2019). kesiapan technological, pedagogical and content knowledge (tpack) calon guru bidang teknik di universitas negeri malang. jurnal teknik mesin dan pembelajaran, 1(2), 1. https://doi.org/10.17977/um054v1i2p1-9 hobbs, r. (2010). digital_and_media_literacy_a_plan_of_action.pdf. https://www.aspeninstitute.org/wpcontent/uploads/2010/11/digital_and_media_literacy.pdf kartal, t., dilek, i., & preservice, i. (2021). preservice science teachers tpack development in a technology-enhanced science teaching method course to cite this article : preservice science teachers ’ tpack development in a technologyenhanced science teaching method course. https://doi.org/https://doi.org/10.21891/jeseh.994458 prasetyo, t., yektyastuti, r., & maulidini, y. d. (2019). pengaruh literasi tik terhadap technological pedagogical content knowledge (tpack) guru. jurnal ilmiah untuk peningkatan mutu penddikan e-issn:, 6(1), 13–20. https://doi.org/10.21009/improvement.061.02. schmid, m., brianza, e., & petko, d. (2021). self-reported technological pedagogical content knowledge (tpack) of pre-service teachers in relation to digital technology use in lesson plans. computers in human behavior, 115(september 2020), 106586. https://doi.org/10.1016/j.chb.2020.106586 setyaningsih, r., abdullah, a., prihantoro, e., & hustinawaty, h. (2019). model penguatan literasi digital melalui pemanfaatan e-learning. jurnal aspikom, 3(6), 1200. https://doi.org/10.24329/aspikom.v3i6.333 sholihah, m., yuliati, l., & wartono. (2016). peranan tpack terhadap kemampuan menyusun perangkat pembelajaran calon guru fisika dalam pembelajaran post-pack. jurnal pendidikan: teori, penelitian, dan pengembangan, 1(2), 144–153. http://dx.doi.org/10.17977/jp.v1i2.6115. shopie azizah, d., anjani putri, d., & mulhayatiah, d. (2021). prospective science teacher tpack skills in preparing the lesson plans. jurnal geliga sains: jurnal pendidikan fisika, 8(2), 132. https://doi.org/10.31258/jgs.8.2.132-139 sugiyono. (2016). metode penelitian kuantitatif, kualitatif, r & d. alfabeta. suyamto, j., masykuri, m., & sarwanto, s. (2020). analisis kemampuan tpack (technolgical, pedagogical, and content, knowledge) guru biologi sma dalam menyusun perangkat pembelajaran materi sistem peredaran darah. inkuiri: jurnal pendidikan ipa, 9(1), 46. https://doi.org/10.20961/inkuiri.v9i1.41381 tang, c. m., & chaw, l. y. (2015). digital literacy and effective learning in a blended learning environment. proceedings of the european conference on e-learning, ecel, 14(1), 601–610. uno, h. b. n. m. (2011). belajar dengan pendekatan pailkem: pembelajaran aktif, inovatif, lingkungan, kreatif, menarik. bumi aksara. zimmermann, f., melle, i., & huwer, j. (2021). developing prospective chemistry teachers’ tpack-a comparison between students of two different universities and expertise levels regarding their tpack self-efficacy, attitude, and lesson planning competence. journal of chemical education, 98(6), 1863–1874. https://doi.org/10.1021/acs.jchemed.0c01296 98 profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd communication skills profile of elementary teacher education students in stem-based natural science online learning duhita savira wardani1*, jajang bayu kelana1 & zingiswa mybert monica jojo2 1institut keguruan dan ilmu pendidikan siliwangi, cimahi, indonesia 2university of south africa, south africa *email : duhita@ikipsiliwangi.ac.id submitted: 2021-03-05 doi: 10.23917/ppd.v8i2.13848 accepted: 2021-12-16 published: 2021-12-20 keywords: abstract elementary education; communication skills; stem; online learning; natural science this study aimed to determine the communication skill profile of elementary teacher education (ete) students enrolled in natural science online learning based stem. pre-experimental research with a one-shot case study design was used in this study. the study's sample consisted of 25 ete students from a university in cimahi. observation and documentation were the techniques used in this study. the paired sample t-test was used to analyze the data. the descriptive analysis and hypothesis testing with the t-test were used to check the data validity. the findings of this study revealed that (1) there is an effect of stem-based online science learning on ete students' communication skills, (2) that most students are still in the intermediate category for written communication and "does not meet the standards" for oral communication skills, and (3) that students' communication skills in stem-based science online learning still need to be optimized. the study's findings suggest that ete lecturers in indonesia should broaden their knowledge and perspectives in stem-based learning and communication management. second, ete lecturers in indonesia must take the assessment of communication skills more seriously. last but not least, the government, with the help of researchers, must devise an excellent assessment system to overcome time constraints. the results of this study revealed that stem-based online science learning is being implemented. © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd mailto:duhita@ikipsiliwangi.ac.id http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v7i1.9652 http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ online issn 2503-3530 99 vol. 8, no. 2, december 2021 introduction background education is facing a number of increasingly serious challenges, in line with the evolution of the world's paradigm of what education means. one of the most significant challenges is that education must be capable of producing fully competent human resources. unlike decades ago, the competencies expected of human resources professionals today are more focused on a few competencies, one of which is communication skills. this is one of the competencies that is emphasized in the twenty-first century, and it is one of the skills that a person must have when entering the workforce (bybee, 2013). human resources should be able to communicate in order to collaborate and communicate creative ideas at this time. communication skills are seen as more than just soft skills; they are also seen as one of the keys to overcoming today's challenges. (haryanti & suwarma, 2018). communication skills are defined as the ability to effectively convey verbal information, criticism, and the ability to reflectively and interactively use and write in a variety of media and technologies. collaboration, interpersonal skills, personal responsibility, social responsibility, and public interest thinking, as well as two-way communication, are all important aspects of effective communication. (greenstein, 2012). problem of study the results of a study conducted by marfuah (2017) on grade vii students at a junior high school in depok city during the even semester of the 2015/2016 academic year demonstrate the lack of student communication skills in indonesia, and it is also well known that students rarely receive assignments to make observations or assignments of natural objects and phenomena. students are placed as recipients of information and the contents of the book are poured out so that when asked for arguments in the discussion process, students are unable to express their opinions, are insecure, and as a result, students do not understand the material, resulting in low learning outcomes. in a study conducted by dipalaya et al. (2016), the same issue was discovered: learning biology is still heavily geared toward developing and testing students' memory. learning is often based on rote learning rather than student experience, causing students' abilities to be misunderstood as memorizing abilities, resulting in less-than-optimal communication skills. the teacher has recently begun to provide opportunities for students to communicate while learning, as evidenced by the frequent discussion and question-and-answer activities in class. however, the expected communication skills have not been fully developed during the learning process. students are less interactive in their communication, use less technology, and deliver messages or information in a less assertive and effective manner. communication skills should be taught as part of the learning process, given their importance. stem-based learning is an example of a successful learning strategy. students are frequently required to communicate good ideas with peers, teachers, or other audiences to convey the results of the learning process they have gone through in this approach, which is based on project-based learning. as a result, it is thought that the stem approach will help students improve their communication abilities. stem learning is based on a multidisciplinary approach and project based learning. the goal of stem education is to prepare students to apply their knowledge to solve complex problems and to develop stem skills. (ritz & fan, 2015). through the systematic integration of knowledge, concepts, and skills, the stem learning approach is expected to produce meaningful learning for students. students become better problem solvers, inventors, independent, logical thinkers, and have greater technological literacy as a result of the stem approach. (stohlmann et al., 2012);(kelana et al., 2020). students are expected to not only solve stem-related problems, but also to solve a variety of complex problems that will help wardani et al – profile of elementary teacher education… printed issn 2406-801 100 x o them develop their higher-order communication and thinking skills. stem can also help students prepare for the needs of 21st-century human resources (bybee, 2013);(firdaus et al., 2020), even though it is still in the midst of the covid-19 pandemic. covid-19 is a virus that has never been predicted before, and it is likely that it will become an endemic virus in the community. according to dale fisher, who global outbreak warning and response network official, the covid-19 vaccine will most likely be available by the end of 2021. in this regard, the indonesian minister of education and culture issued circular no. 4 of 2020 on the implementation of education policy in an emergency for the spread of covid, which explains that students learn at home through distance learning to provide meaningful learning experiences (kelana, j.b., wardani, d.s., & wulandari, 2021). state of the art in fact, studies on student communication skills have been carried out both in indonesia and abroad. these studies include hausberg et al. (2012) which conducts development and evaluation in improving the communication skills of medical students, maryanti et al., (2012) examines the relationship between communication skills and student learning activities. in line with this, dharmayanti (2013) investigated the use of role-playing techniques in improving student communication skills, wardani et al. (2020) used a project based learning model with a prop-making activity to improve students' written communication skills, and thomas et al. (2009) developed sbar communication techniques to improve medical students' communication skills. however, most of these studies focus on offline or face-to-face learning, and few have looked at communication skills in stem via online learning. gap study & objective this study aims to identify the profile of communication skills of elementary teacher education students in stem-based natural science online learning as a first step in analyzing the effect of stem-based learning on students' communication skills through online learning. oral and written communication skills are included in the measured communication skills profile. method type and design this research is a pre-experimental research with a one-shot case study design. the one-shot case study design is a research design consisting of one group that is given treatment which then observes these results and the absence of a comparison group and randomization (dantes, 2012; sugiyono, 2012). the design of the one shot case study can be seen in figure 1 (fraenkel, j.r., and weelen, 2008). figure 1: pre-experimental research with a one-shot case study design note: x: treatment of independent variable o: observation or measurement of dependent variable convenience sampling was used to select the sample for this study, which consisted of 25 elementary teacher education (ete) students from a university in cimahi, indonesia, during vol. 8, no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 101 the 2018/2019 academic year. the study's independent variable is stem-based online natural science learning, and the study's object is student communication skills. stem has been used in lectures for the past few semesters, but due to the covid-19 pandemic in the middle of the even semester, lectures have been transferred to online learning while still incorporating stem. data and data sources the data gathered in this study is in the form of results from students' oral and written communication skills tests. oral communication and written communication are the two types of communication skills that are assessed in students. data collection on oral communication skills was carried out through a presentation process which was assessed based on a rubric adapted from the university of baltimore (university of baltimore, 2010) with 6 indicators, namely: 1) organization, (2) eye contact, (3) delivery, (4) conclusion, (5) responsiveness, and (6) multimedia support. the results of the student presentations will then be analyzed as a whole and will divide the students into three categories of oral communication skills which can be seen in table 1. table 1. oral communication assessment criteria total score category 16-18 exeed the standard 11-15 meet the standard or avarage ≤ 10 failed to meet standard while data on written communication skills was gathered through the creation of a report, which was then evaluated based on predetermined criteria, which consisted of: (1) objectives, (2) background of the problem, (3) idea finding, (4) making process, ( 5) testing process, (6) analysis, (7) results, and (8) conclusions and fulfilling the format and style requirements that have been determined. the results of processing grades from student reports are then categorized into several categories based on the rubric adapted from the university of baltimore, with the scoring criteria which can be seen in table 2. table 2. written communication assessment criteria total score category 25-30 advance 17-24 intermediate 9-16 emerging ≤ 8 basic data collection technique observation the observations used in this research are participatory observation and direct observation. the author evaluates both inside and outside of class activities by observing informants (lecturers). the author participates in lecturer activities when assessing students' oral communication skills which consists of 6 indicators documentation the purpose of this study's documentation method is to obtain data through documentation, which entails studying documents related to all of the study's data requirements. the document used in this study is a document report on the results of wardani et al – profile of elementary teacher education… printed issn 2406-801 102 project implementation carried out by each student to assess students' written communication skills which consists of 8 indicators. data validity furthermore, a t-test (paired sample t-test) was used in this data processing activity to see if project-based learning improved the writing skills of elementary school teacher candidates' science teaching materials. h0 is accepted and interpreted as not having a significant improvement in the writing skills of science teaching materials for elementary school teacher candidates using the project-based learning model if the asymp.sig value is (2-tailed)>, where α = 0.05. data analysis the data analysis method used consisted of descriptive analysis of the data and hypothesis testing using the t-test. the hypotheses proposed in this study are: (1) there is an effect of using stem-based online science learning on the oral communication skills of pgsd students, (2) there is an effect of using stem-based online natural science learning on ete students' written communication skills. result the lecture begins by allowing students to identify problems using a student worksheet, which the lecturer guides through zoom in order to complete. the students were confronted with the problem of discovering a village that lacked access to electricity and relied on kerosene lamps, which are a non-renewable source of energy. it was also explained that because non-renewable energy sources will eventually run out, the price of fuel oil will continue to rise, and because the village is remote, there is no electricity servicehowever, other suitable alternative energy sources, such as wind and water, are available in the village. students are also required to create problem-solving designs in order to create tools that use alternative energy as solutions to problems they have encountered individually at this meeting. students will begin to turn the results of their thoughts into products that can individually solve these problems at the second meeting, giving them the freedom to choose which designs to use. students begin making tools individually after creating a complete design with scale and size. the product designs that each student is expected to create are propeller designs for wind power plants or turbine designs for hydropower plants that can produce the most electrical energy. each student must analyze how to make their windmill produce more electrical energy once the propeller or mill in the product can move and produce electrical energy. each student is allowed to redesign and remake the product or improve the product that has been made so that it can produce more electrical energy at the fourth and fifth meetings. at the sixth meeting, students were asked to present the products they had created individually after all of the learning activities had been completed. this meeting will also include a presentation-based assessment of students' oral communication skills. then, as a means of evaluating written communication skills, students are asked to prepare a structured report based on the product that has been created. according to research, the majority of students (56%) still fall into the "failed to meet standards" category. none of the students, on the other hand, "exceed the standards," and some of the others "meet the standard." this suggests that stem-based science education can help students improve their oral communication skills, but the implementation process still needs to be improved. the data can be seen in table 3. vol. 8, no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 103 table 3. analysis of oral communication skills total score number of students % exceed the standard meet the standard or average 14 56 failed to meet standard 11 44 table 3 shows that more than half of the students have oral communication skills that fall short of the minimum requirements. this is due to a lack of opportunities for students to practice their oral communication skills in the past. aside from that, this can occur because not all knowledge can be conveyed through oral presentations. table 4 shows the results of written communication skills testing. table 4. analysis of written communication skills level number of students % advanced intermediate 13 52 emerging 8 32 basic 4 16 table 4 shows that the majority of students are in the intermediate category, with thirteen students (52%) in the intermediate category, eight students (32%) in the emerging category, four students (16%) in the basic category, and no students in the advanced category. this indicates that, while the majority of students are already in the intermediate category, there is still room for them to improve their written communication skills through stem-based natural science online learning in order to advance to the advanced category. figure 2: example of students’ response of a question on purposes of making a product which earns a score of 1. in english, it equals as “making a tool to solve the problem in order to find a solution” figure 2 shows an example of a student's response to the 'objectives' section with a score of one, indicating that the student is at the emerging level. the explanation receives a score of one because it does not meet the criteria. meanwhile, figure 3 depicts an example of a student's response for the 'objectives' section with a score of two points at the intermediate level. figure 3: example of students’ response of a question on purposes of making a product which earns a score of 1. in english, it equals as “find a solution to provide the village with additional energy in the form of electricity, as it previously relied solely on kerosene as a fuel source” wardani et al – profile of elementary teacher education… printed issn 2406-801 104 "being able to make simple power generation technology using the principle of energy change through the use of natural energy sources based on problem analysis," is the answer to the 'objectives' section that students are expected to write. keywords such as energy crisis, alternative energy, natural energy, and power generation are also likely. it is also possible to write it directly by mentioning windmills or watermills. figure 2 only states that the purpose of making the product is "making a tool to solve the problem in order to find a solution," without elaborating on what problems are encountered, what tools will be made, and what the conditions and situations that are occurring. meanwhile, in figure 3, the response appears brief, but the explanation includes several keywords, such as "additional energy." the student then mentioned the village's previous conditions, implying that the students already knew what problems the village was facing. despite the fact that the answers to the students' explanations were incomplete, the explanation indicated that students could write down the product's objectives based on problem analysis. the data were found to be normally distributed and not homogeneous based on the results of the normality and homogeneity tests, so the mean similarity test could be continued using the mann-whitney u-test as an alternative to the free sample t-test through the spss 20 program with a significance level of 0.05. table 3 displays the mann whitney u-test results. table 5. the mann-whitney u-test test statisticsa pos pre z -4.512b asymp. sig. (2-tailed) .001 a. mann-whitney signed ranks test b. based on negative ranks. only the two-party (2-tailed) test meets the test criteria based on the mann-whitney test of the student report scores. the null hypothesis is rejected in table 3 because asmp. sig. (tailed) has a significance of 0.001 and 0.001 is smaller than 0.05. this means that the application of stem-based online science learning has an impact on ete students' communication skills. discussion according to table 3, more than half of the students are unable to communicate verbally. they do not meet the requirements, as evidenced by the findings. this happened because students had not had enough opportunities to practice their oral communication skills in the past. when students have the opportunity to speak in front of an audience, they will feel nervous, and when asked to give a presentation, they will feel under pressure. (saenab et al., 2017). this causes students to forget what they want to say when speaking in front of a group, even if they are in an online learning environment. receiving and transmitting information, as well as gathering data, are all communication skills (ilyas, 2013). because stem relies on a project-based learning approach, students are frequently required to communicate ideas with colleagues, teachers, or other audiences to convey the result of the learning process, students' oral communication skills have been honed in stem-based online science learning. project-based learning in stem, according to priansa (2015) , always includes presentations or performances. this presentation process, like the vol. 8, no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 105 previous project design presentation stage, allows students to share tasks in providing information about their project results. information is communicated communicatively via poster media, attracting other members to actively ask questions. the question-and-answer process also increases student knowledge of the concepts covered (saenab et al., 2017). based on this description, it is possible to conclude that by implementing stem consistently in online learning, students' oral communication skills will be able to meet or exceed standards. meanwhile, according to table 4, half of the students have intermediate written communication skills, while the other half have emerging or basic skills. the intermediate category indicates that some students can communicate in writing, as evidenced by the individual reports on project results. it is possible to see how students determine goals, background problems, idea generation, project creation process, trial process, analysis, results, and conclusions, as well as how they adhere to the predetermined format and style. students will gain experience and basic concepts from stem project activities that will help them understand problems and find solutions. improved written communication skills as a result of positive treatment/values from stem learning activities using a project-based learning model. according to afriana et al. (2016), project-based learning in stem has several benefits, including: encouraging students to do meaningful work; able to encourage students to improve collaborative skills in communication; increasing motivation in learning; improving student skills to manage learning resources; making students more able to develop and practice communicating skills; providing students with experiential learning through practice and project organization; students will understand the material and be able to communicate their understanding through writing as a result of thi. figure 2 depicts the responses, which show that students were unable to elaborate on the problems encountered, the tools that will be created, and the conditions and situations that occurred. one aspect of creative thinking skills is the ability to elaborate, which allows a person to develop, enrich, and detail ideas (guilford, 1950; guilford, 1967; beck, 2011). students can learn to elaborate in presentations where they present their work or products. the presentation process in stem learning can consistently train students to think fluently and elaborately, which can be expressed verbally and in writing. (nafiah & suyanto, 2014; nurcholis et al., 2013). furthermore, in figure3, students were able to analyze the problems encountered and understand that these problems require solutions in one aspect but are unable to find the correct solution. even though the answers to the students' explanations were incomplete, the explanation indicated that students could write down the product's objectives based on problem analysis. the ability of students to critically review problems from various points of view is closely related to their ability to analyze problems (yuniarti & hadi, 2015). project-based learning can help you develop the ability to analyze problems in stages (maida, 2011). this is due to the fact that in project-based learning, students must be able to develop their knowledge and skills through a process of problem analysis and investigation with structured open questions in order to be able to apply knowledge to produce a product (kelana & wardani, 2021). conclusion previous research on communication skills was limited to face-to-face learning dimensions and primarily focused on one aspect of oral communication. the current study revealed the implementation of stem-based online science learning that is conducted online. the current study's findings would be critical for all elementary education parties to develop an effective solution to this problem. wardani et al – profile of elementary teacher education… printed issn 2406-801 106 there are several limitations to the study. initially, it is only conducted on ete students in a single batch at a single university, so it cannot be generalized completely to all ete students. second, because the study lasted less than a year, the data was not entirely comprehensive. future studies on implementing social attitudes assessment would benefit from more representative informants (from various universities) over the course of a year. three recommendations are made by this study. first, ete lecturers in indonesia must broaden their knowledge and insights into stem-based learning and communication management. second, ete lecturers in indonesia must take communication skills assessment more seriously. finally, the government, with the help of researchers, must create an excellent assessment system to address time constraints. references afriana, j., permanasari, a., & fitriani, a. (2016). penerapan project based learning terintegrasi stem untuk meningkatkan literasi sains siswa ditinjau dari gender (implementation of stem integrated project based learning to improve students' scientific literacy in terms of gender). jurnal inovasi pendidikan ipa, 2(2), 202. https://doi.org/10.21831/jipi.v2i2.8561 beck, j. (2011). cognitive behavior therapy: basics and beyond. london: the guilford press. bybee, r. w. (2013). the case for stem education: challenges and opportunities. virginia: nsta press. dantes, n. (2012). metode penelitian (research method). yogyakarta: andi offset. dharmayanti, p. a. (2013). teknik role playing dalam meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal siswa smk (role playing techniques to improve interpersonal communication skills of vocational school students). jurnal pendidikan dan pengajaran. 46(3), 256-265. http://dx.doi.org/10.23887/jppundiksha.v46i3.4228. dipalaya, t., susilo, h., & corebima, a. d. (2016). pengaruh strategi pembelajaran pdeode (predict-discuss-exolain-observe-discusssexplain) pada kemampuan akademik berbeda terhadap keterampilan komunikasi siswa (the effect of pdeode (predict discuss-exolain-observe-discusssexplain) learning strategies on different academic abilities on students' communication skills). jurnal pendidikan, 1(9), 1713-1720. http://dx.doi.org/10.17977/jp.v1i9.6723 firdaus, a. r., wardani, d. s., altaftazani, d. h., kelana, j. b., & rahayu, g. d. s. (2020). mathematics learning in elementary school through engineering design process method with stem approach. in journal of physics: conference series, (vol. 1657, no. 1, 012044). iop publishing. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1657/1/012044 fraenkel, j.r., and weelen, n. e. (2008). how to design and evaluate research in education. mcgraw-hill. greenstein, l. (2012). assessing 21st century skills: a guide to evaluating mastery and authentic learning. california: corwin sage company. guilford, j. p. (1950). creativity. american psychologist, 5(9), 444–454. https://doi.org/10.1037/h0063487 guilford, j. p. (1967). creativity: yesterday, today and tomorrow. the journal of creative behavior, 1(1), 3-14. https://doi.org/10.1002/j.2162-6057.1967.tb00002.x. haryanti, a., & suwarma, i. r. (2018). profil keterampilan komunikasi siswa smp dalam pembelajaran ipa berbasis stem (profile of junior high school students' communication skills in stem-based natural science learning). wapfi (wahana pendidikan fisika), 3(1), 49-54. https://doi.org/10.17509/wapfi.v3i1.10940 hausberg, m. c., hergert, a., kröger, c., bullinger, m., rose, m., & andreas, s. (2012). enhancing medical students’ communication skills: development and evaluation of an undergraduate training program. bmc medical education. 12(19), 1-9. http://dx.doi.org/10.23887/jppundiksha.v46i3.4228 http://dx.doi.org/10.17977/jp.v1i9.6723 https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/h0063487 vol. 8, no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 107 https://doi.org/10.1186/1472-6920-12-16 ilyas, a., & marjohan. (2013). hubungan antara keterampilan komunikasi dengan kecemasan berbicara di depan umum (the relationship between communication skills and public speaking anxiety). konselor. 2(1), 273-278. https://doi.org/10.24036/02013211203-0-00 kelana, j.b., wardani, d.s., & wulandari, m. a. (2021). penggunaan aplikasi zoom meeting di masa pandemi covid-19 (use of the zoom meeting application during the covid 19 pandemic). elementary, jurnal, 4(1), 18–22. http://journal.ummat.ac.id/index.php/elementary/article/view/3520. kelana, j. b., & wardani, d. s. (2021). model pembelajaran ipa sd (elementary science learning model). cirebon: edutrimedia indonesia. kelana, j. b., wardani, d. s., firdaus, a. r., altaftazani, d. h., & rahayu, g. d. s. (2020). the effect of stem approach on the mathematics literacy ability of elementary school teacher education students the effect of stem approach on the mathematics literacy ability of elementary school teacher education students. in journal of physics: conference series, (vol. 1657, no. 1, 012006). iop publishing. https://doi.org/10.1088/1742-6596/1657/1/012006 maida, c. a. (2011). project-based learning: a critical pedagogy for the twenty-first century. policy futures in education, 9(6), 759-768. https://doi.org/10.2304/pfie.2011.9.6.759 marfuah, m. (2017). meningkatkan keterampilan komunikasi peserta didik melalui model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw (improve students' communication skills through the jigsaw type cooperative learning model). jurnal pendidikan ilmu sosial. 26(2), 148-160. https://ejournal.upi.edu › jpis › article › download › pdf. maryanti, s., zikra, ., & nurfarhanah, . (2012). hubungan antara keterampilan komunikasi dengan aktivitas belajar siswa (relationship between communication skills and student learning activities). konselor, 1(2), 1-8. https://doi.org/10.24036/0201212700-0-00. nafiah, y. n., & suyanto, w. (2014). penerapan model problem-based learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan hasil belajar siswa (application of problem-based learning models to improve critical thinking skills and student learning outcomes). jurnal pendidikan vokasi, 4(1), 125-143. https://doi.org/10.21831/jpv.v4i1.2540 nurcholis, a., suciati, & indrowati, m. (2013). implementation of prolem based learning (pbl) model accompanied by scientific articles for increasing creative thinking ability student in x3 class sman 2 boyolali academic year of 2012/2013. bio-pedagogi, 2(2), 58–67. https://jurnal.uns.ac.id/pdg/article/view/5300/4698 priansa, d. j. (2015). manajemen peserta didik dan model pembelajaran (student management and learning models). bandung: alfabeta. saenab, s., yunus, s. r., & virninda, a. n. (2017). pjbl untuk pengembangan keterampilan mahasiswa: sebuah kajian deskriptif tentang peran pjbl dalam melejitkan keterampilan komunikasi dan kolaborasi mahasiswa (pjbl for student skills development: a descriptive study of the role of pjbl in boosting student communication and collaboration skills). makassar: seminar nasional lembaga penelitian unm (national seminar of the unm research institute.) stohlmann, m., moore, t., & roehrig, g. (2012). considerations for teaching integrated stem education. journal of pre-college engineering education research. journal of pre-college engineering education research 2(1), 28–34. https://doi.org/10.5703/1288284314653 sugiyono. (2012). metodologi penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan r&d (educational research methodology approaches to quantitative, qualitative and r & d). bandung: alfabeta. http://journal.ummat.ac.id/index.php/elementary/article/view/3520 wardani et al – profile of elementary teacher education… printed issn 2406-801 108 thomas, c. m., bertram, e., & johnson, d. (2009). the sbar communication technique: teaching nursing students professional communication skills. nurse educator. 34(4), 176-180. https://doi.org/10.1097/nne.0b013e3181aaba54 university of baltimore. (2010). assessment rubrics for communication: oral communication skills. https://www.ubalt.edu/merrick/student resources/rubrics.cfm. wardani, d. s., fauzi, m. r., zafira, r., & kurniawati, d. (2020). creating props: improving writing skills of teaching materials of elementary teacher education students through project-based learning model. mimbar sekolah dasar, 7(2), 216–234. https://doi.org/10.17509/mimbar-sd.v7i2.26334 yuniarti, t. & hadi, s. (2015). peningkatan kemampuan analisis pokok bahasan masalah ekonomi dengan model pembelajaran problem based learning (pbl) siswa sma negeri 1 bandongan kabupaten magelang (increasing the ability to analyze the subjects of economic problems with the problem based learning (pbl) learning model of sma negeri 1 bandongan students in magelang regency). dinamika pendidikan, 10(1), 76–87. https://doi.org/10.15294/dp.v10i1.5096 http://www.ubalt.edu/merrick/studenthttp://www.ubalt.edu/merrick/student analisis soal hots......(wasifatun n & m. agung r) 15 jppd, 7, (1), hlm. 15 24 vol. 7, no. 1, juli 2020 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: doi.org/10.23917/ppd.v1i1.9652 analisis soal hots pada buku siswa tokoh penjelajah angkasa luar wasifatun najiroh1), muhammad agung rokhimawan2) 1)program magister s2 pgmi, uin sunan kalijaga yogyakarta; 2)pgmi fitk, uin sunan kalijaga yogyakarta 1)wasifatuna@gmail.com; 2)rokhimawan78@gmail.com pendahuluan perkembangan dunia pendidikan dari tahun ke tahun mengalami perubahan. seiring dengan perubahan yang terjadi, kurikulum juga mengalami perubahan, kurikulum yang digunakan saat ini yaitu kurikulum 2013, pada kurikulum 2013 ini menunut peserta didik untuk aktif, kreatif dan berpikir kritis karena perkembangan pendidikan yang semakin maju. menurut wantoro (2019) peserta didik dituntut semakin aktif dalam proses belajar mengajar dengan adanya perkembangan pendidikan. namun pada kenyataannya peserta didik di indonesia khususnya di jenjang sekolah dasar hanya mampu mengingat istilah yang umum dan menarik kesimpulan yang sederhana. pada akhirnya peserta didik kesulitan menjawab soal uraian yang memerlukan pemikiran yang lebih tinggi. ditinjau dari kegunaannya, buku atau bahan ajar yang digunakan untuk peserta didik adalah membantu mempermudah peserta didik dalam proses belajar mengajar. maka sudah seharusnya, dalam buku atau bahan ajar tersebut terdapat komponen soal yang memicu peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi. oleh karena itu seorang pendidik dituntut memunculkan sikap berpikir kritis peserta didik dengan menyusun butir soal tingkat tinggi yang mampu merangsang peserta didik dengan abstract: this study aims to describe the evaluation questions, find out the form of the questions and show hots questions in the thematic book with indicators analyzing (c4), evaluating (c5) and creating (c6) the questions in the thematic books. this study includes a qualitative approach with the subject of evaluation questions on the thematic student book subtheme character explorer space. content content analysis is an analysis technique used in research. the results of the analysis of hots questions on the book class vi students of the space explorer sub-theme that there are 120 items with 63 items are questions with the cognitive realm of higher order thinking or higher order thinking skills (hots). 57 items are questions with the cognitive realm of low thinking or lower order thinking skills (lots). keywords: hots, outer space, student book http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.8710 mailto:wasifatuna@gmail.com mailto:rokhimawan78@gmail.com analisis soal hots......(wasifatun n & m. agung r) 16 jppd, 7, (1), hlm. 15 24 evaluasi materi kurikulum 2013. hakekatnya kurikulum merupakan seperangkat rencana pembelajaran yang berisi tujuan, isi dan bahan pelajaran yang digunakan sebagai pedoman untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar agar tujuan akhir pembelajaran dapat tercapai (suyatmini, 2017). menurut elwin sulistya (2015) pembelajaran pada kurikulum 2013 di sd menggunakan tematik integrative yaitu merupakan penggabungan dari beberapa mata pelajaran ke dalam satu tema. pembelajaran yang tergabung dalam buku tematik di sekolah dasar antara lain matematika, sbdp, ipa, ips, ppkn dan bahasa indonesia. pembelajaran tematik diimplementasikan pada buku pelajaran sebagai sumber belajar. buku pelajaran yang digunakan di sekolah dasar yaitu buku siswa dan buku guru. menurut hasrawati (2016) bukua ajar siswa adalah buku acuan bagi peserta didik yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dan mencakup materi pembelajaran untuk melakukan kegiatan dalam proses belajar mengajar. sedangkan menurut sahrul asri (2017) buku siswa merupakan buku yang membantu peserta didik mengonstruksi pemahaman dalam pembelajaran di kelas sedangkan buku guru merupakan buku untuk pendidik memberikan arahan kepada peserta didik dan kedua buku tesebut memiliki hubungan yang sangat erat, sehingga keduanya tidak dapat dilepaskan. pada buku guru dan siswa kelas vi tema 9 subtema 3 tokoh penjelajah angkasa luar terdapat latihan soal evaluasi. soal yang terdapat pada buku tersebut berupa soal dengan standar kemampuan berpikir tingkat tinggi atau hots (higher order thinking skills). menurut saputra (2016) hots adalah sebuah proses berpikir peserta didik dalam level kognitif yang lebih tinggi kemudian dikembangkan dari bermacam-macam konsep dan metode kognitif dengan taksonomi yang lebih tinggi. menurut widodo (2013) kemampuan peserta didik pada hots meliputi keterampilan menyelesaikan masalah, berpikir kritis, menyampaikan argumen dan mampu mengambil keputusan dengan begitu peserta didik dapat membedakan gagasan atau ide pokok secara jelas, menyampaikan argumen dengan baik, dapat memecahkan masalah, mengkonstruksi penjelasan serta memahami hipotesis hal-hal rumit menjadi lebih jelas dengan level kognitif. proses kognitif pada soal evaluasi buku siswa mencakup enam level yaitu mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. level mengingat (c1), memahami (c2) dan mengaplikasikan (c3) termasuk dalam kategori keterampilan berpikir tingkat rendah (lots) sedangkan menganalisis (c4), mengevaluasi (c5) dan mencipta (c6) termasuk dalam kategori keterampilan tingkat tinggi (hots). menurut setiawati (2019) keterampilan tingkat tinggi (hots) pada evaluasi pembelajaran terlihat melalui soal-soal pada buku siswa, soal yang diberikan pada level menganalisis c4 sampai level mencipta (c6). jadi, dalam proses pembuatan soal pendidik dapat berdasar pada kko yang sudah dirumuskan dari beberapa level kognitif. penelitian-penelitian yang relevan sudah dipublikasi oleh beberapa penelitian dalam jurnal, misalnya penelitian yang dilakukan oleh setiawati (2019) tentang analisis higher order thinking skills (hots) siswa sekolah dasar dalam menyelesaikan soal analisis soal hots......(wasifatun n & m. agung r) 17 jppd, 7, (1), hlm. 15 24 bahasa indonesia. kontribusi penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan adalah sama-sama melakukan penelitian tentang analisis soal hots pada siswa sekolah dasar. sedangkan perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian tersebut menganalisis soal bahasa indonesia dan penelitian yang akan dilakukan adalah menganalis soal ipa. penelitian lainnya adalah penelitian wirandani (2019) tentang analisis butir soal hots (high order thinking skill) pada soal ujian sekolah kelas xii mata pelajaran bahasa indonesia di smk an-nahl. kontribusi penelitian tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan adalah sama-sama menganalisis soal hots. sedangkan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian tersebut dilakukan di smk. dengan dasar inilah yang mendorong peneliti untuk menganalisis soal hots pada buku siswa kelas 6 subtema 3 yaitu tokoh penjelajah angkasa luar. metode penelitian jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif jenis content analysis. menurut wirandani (2019) metode kualitatif merupakan metode yang digunakan untuk memaparkan dan mengungkapkan suatu gejala yang terjadi di lapangan secara natural atau alami. subjek penelitian adalah soal evaluasi buku siswa kelas vi subtema tokoh penjelajah angkasa luar, objek penelitian adalah kemampuan berpikir tingkat tinggi (hots). teknik pengumpulan data yaitu dokumentasi atau catatan suatu peristiwa yang sudah terjadi sebagai bukti suatu kejadian, pada penelitian ini dokumentasi yang diambil berupa gambar soal evaluasi dalam buku siswa kelas vi subtema tokoh penjelajah angkasa luar. instrumen pengumpulan data adalah alat dokumentasi berupa kamera untuk mengambil gambar hasil observasi. menurut rahmadani (2018) teknik analisis data dilakukan dengan memilih level kognitif pada instrumen yang digunakan oleh pendidik saat melakukan evaluasi proses belajar mengajar. oleh karena itu analisis deskriptif kualitatif digunakan sebagai teknik analisis dengan jenis analisis isi atau content analysis dengan langkah sebagai berikut: a) mengelompokkan butir soal subtema tokoh penjelajah angkasa luar yang termasuk kedalam kategori ranah kognitif berpikir tingkat tinggi (hots) yaitu dengan mengelompokkan berdasarkan level c4, c5, c6; b) menyajikan data deskriptif kualitatif meliputi proses mengklasifikasi, mengidentifikasi, mengategorikan dan menarik kesimpulan. hasil dan pembahasan mengetahui bentuk soal dalam buku siswa subtema tokoh penjelajah angkasa luar menurut srika ningsih (2018) soal tes yang baik adalah soal yang dapat menilai apa yang akan dinilai dan yang seharusnya dinilai. buku siswa kelas vi tema 9 subtema tokoh penjelajah angkasa luar merupakan buku bse peserta didik revisi 2018 karangan diana karitas, ari subekti, heri kusumawati dan fransisca susilowati berisi 3 subtema analisis soal hots......(wasifatun n & m. agung r) 18 jppd, 7, (1), hlm. 15 24 dengan tema besar yaitu luar angkasa. subtema pertama yaitu keteraturan yang menakjubkan, subtema kedua yaitu benda angkasa luar dan rahasianya kemudian subtema ketiga adalah tokoh penjelajah angkasa luar. pada penelitian ini, peneliti mengambil subtema ketiga yaitu tokoh penjelajah angkasa luar dengan 6 pembelajaran, setiap pembelajaran terdiri dari beberapa butir soal dan bentuk soal uraian. soal hots terdapat pada pembelajaran 1 yang terdiri dari 7 butir soal, pembelajaran 2 terdiri dari 10 butir soal, pembelajaran 3 terdiri dari 11 butir soal, pemelajaran 4 terdiri dari 11 butir soal, pembelajaran 5 terdiri dari 11 butir soal dan pembelajaran 6 terdiri dari 13 butir soal. keseluruhan soal hots yaitu 63 butir soal. berdasarkan hasil penelitian menunjukkan sebagian besar soal pada buku siswa subtema tokoh penjelajah angkasa luar termasuk dalam soal berpikir tingkat tinggi (hots). soal hots atau higher order thinking score yang banyak ditemukan menunjukkan bahwa peserta didik harus mampu berpikir tingkat tinggi level menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. banyak ditemukan soal hots yang hampir sama tetapi beda sub bahasan nya. contohnya terdapat pada halaman 34 dan 83 yaitu membuat gambaran tokoh. kemudian indikator menganalisis sub indikator pada bentuk soal yaitu kemampuan peserta didik menganalisis suatu bacaan dengan informasi penting yang diperoleh dan cara peserta didik membedakan atau kesamaan perisitiwa penting yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan cerita fiksi. sub indikator mengidentifikasi yaitu kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi suatu peristiwa dan mengenali bagaimana peristiwa tersebut bisa terjadi serta terkait satu sama lain sehingga membentuk suatu struktur yang padu. contohnya pada soal halaman 39 yaitu tentang satelit dan apa yang akan terjadi dengan benda langit tersebut. sub indikator menghubungkan yaitu kemampuan peserta didik berpendapat, menentukan sudut pandang dari suatu peristiwa satu dengan peristiwa lain sehingga didapatkan nilai atau tujuan dari peristiwa tersebut. contohnya pada soal halaman 11 yaitu tentang memberikan pendapat tentang seorang tokoh. bentuk soal dengan sub indikator mengevaluasi yaitu kemampuan peserta didik memeriksa, menguji kekurangan dan kelebihan suatu peristiwa berdasarkan kriteria yang ada sehingga dapat dijadikan masukan untuk kedepannya. contohnya pada soal halaman 138 yaitu melakukan wawancara dengan salah satu anggota kelompok kemudian dibuat laporan hasil wawancara. sub indikator mengkritik yaitu kemampuan peserta didik menilai suatu peristiwa yang didukung dengan fakta yang akurat untuk dijadikan bahan perbaikan. sub indikator mencipta yaitu kemampuan peserta didik membuat suatu karya yang memenuhi kriteria tertentu. bentuk soal dengan indikator merencanakan yaitu kemampuan peserta didik menggunakan metode untuk menyelesaikan masalah secara jelas, spesifik dan realistis. contohnya soal pada halaman 92 yaitu menggambarkan cerita fiksi untuk mengetahui rangkaian peristiwa di dalamnya tentang konflik yang dihadapi kemudian gambar tersebut ditukarkanlah dengan teman yang lain dan diberi pendapat oleh mereka. sub indikator memproduksi yaitu kemampuan peserta didik analisis soal hots......(wasifatun n & m. agung r) 19 jppd, 7, (1), hlm. 15 24 untuk membuat suatu karya dengan tindak lanjut dari perencanaan. berdasarkan sub indikator tersebut, soal hots yang dibuat dengan tujuan memunculkan potensi peserta didik agar lebih terpacu untuk semakin berkembang dengan membiasakan peserta didik menyelesaikan soal yang menantang. mendeskripsikan soal dalam buku siswa subtema tokoh penjelajah angkasa luar menurut khaldun (2019) kurikulum terbaru yang digunakan saat ini yaitu kurikulum 2013 memfokuskan seorang pendidik mempunyai keterampilan dalam menyusun soal evaluasi hots untuk melatih peserta didik berpikir kritis. jumlah soal evaluasi pada subtema tokoh penjelajah angkasa luar 120 butir soal uraian. keseluruhan butir soal menunjukkan 63 butir soal merupan soal dengan ranah kognitif berpikir tinggi (hots) yang terdiri dari sub indikator menganalisis (c4), mengevaluasi (c5) dan mencipta (c6). menurut kurniati (2016) untuk mengenali kompetensi peserta didik secara komperehensif maka dibedakan menjadi kemampuan kemampuan berpikir tingkat rendah (lots) dan berpikir tingkat tinggi (hots). berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa terdapat jenis butir soal tingkat tinggi atau hots pada buku siswa subtema tokoh penjelajah angkasa luar. keseluruhan butir soal 120 terdiri dari 63 soal dengan ranah kognitif tingkat tinggi atau higher order thinking score (hots) sub indikator menganalisis (c4), mengevaluasi (c5) dan mencipta (c6). sisa dari keseluruhan soal merupakan butir soal kognitif tingkat rendah atau lower order thinking score (lots) dengan sub indikator mengingat (c1), memahami (c2) dan mengevaluasi (c3). menurut eka sri (2017) menganalisis setiap butir soal level ranah kognitif dilakukan dengan cara menyesuaikannya dengan kko pada taksonomi bloom. butir soal pada setiap pembelajaran dengan bentuk soal uraian yaitu pembelajaran satu terdiri dari 16 butir soal, pembelajaran dua terdiri dari 22 butir soal, pembelajaran tiga terdiri dari 24 butir soal, pembelajaran empat terdiri dari 26 butir soal, pembelajaran lima terdiri dari 13 butir dan pembelajaran enam terdiri dari 19 butir soal. berdasarkan sub indikator menganalisis (c4), mengevalusi (c5) dan mencipta (c6) sebagai berikut. a. menganalisis (c4) menurut rochman (2018) menganalisis pada soal hots dilakukan untuk mengetahui highest level peserta didik dalam level menganalisis. terdiri atas sub indikator yaitu kemampuan peserta didik menganalisis suatu bacaan dengan informasi penting yang diperoleh. cara peserta didik membedakan atau kesamaan perisitiwa penting yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan cerita fiksi, mengidentifikasi suatu peristiwa dan mengenali bagaimana peristiwa tersebut bisa terjadi serta terkait satu sama lain sehingga membentuk suatu struktur yang padu serta kemampuan peserta didik berpendapat. menentukan sudut pandang dari suatu peristiwa satu dengan analisis soal hots......(wasifatun n & m. agung r) 20 jppd, 7, (1), hlm. 15 24 peristiwa lain sehingga didapatkan nilai atau tujuan dari peristiwa tersebut. menganalisis terdapat 34 butir soal pada pembelajaran 1 hingga 6. menganalisis terdapat pada pembelajaran 1 dengan 3 butir soal yaitu sub indikator menganalisis pengelompokan sistem tata surya butir soal halaman 142, menganalisis mengapa manusian melakukan usaha penemuan sesuatu yang baru butir soal halaman 148 dan menganalisis sikap yang diperlukan untuk melakukan penemuan baru pada halaman 148. pembelajaran 2 dengan 6 butir soal sub indikator menganalisis fungsi, penemu teleskop dan kegiatan dengan teleskop pada halaman 149, menganalisis peristiwa yang terjadi dalam cerita dengan diagram pada halaman 153, menganalisis nilai dan sikap yang didapatkan dari para tokoh penemu benda luar angkasa pada halaman 158. pembelajaran 3 terdapat 8 butir soal yaitu menganalisis bagaimana astronomy menuju bulan pada halaman 160, menganalisis cerita yang terjadi di sekeliling kita, menganalisis cerita pengalamanmu pada halaman 166, menganalisis dampak peristiwa yang terjadi pada halaman 169 dan menganalisis dampak dan pengaruh modernisasi pada halaman 170. pembelajaran 4 terdapat 7 butir soal yaitu menganalisis perbandingan menggunakan transportasi pada halaman 174, menganalisis dampak modernisasi transportasi udara dan air pada halaman 175, menganalisis persamaan dan perbedaan cerita fiksi dengan pengalamanmu pada halaman 177, menganalisis diagram venn tentang persamaan dan perbedaan cerita fiksi dengan pengalamanmu pada halaman 178, menganalisis artikel dengan mencari dampak persatuan dan kesatuan terhadap masyarakat sekitar pada halaman 182-183. pembelajaran 5 terdiri dari 7 butir soal yaitu menganalisis bacaan rahasia di luar angkasa pada halaman 185, menganalisis bagian cerita fiksi yang paling disukai pada halaman 190, menganalisis persamaan dan perbedaan cerita fiksi dan pengalanmu pada halaman 190-191, menganalisis penemu luar angkas yang paling dikagumi pada halaman 195 dan menganalisis nilai yang dapat diambil dari penemu yang dikagumi pada halaman 195. pembelajaran 6 terdiri dari 3 butir soal yaitu menganalisis bacaan apa hal yang diperlukan untuk menjadi astronot pada halaman 198, menganalisis cerita fiksi tentang kerja bakti pada halaman 203 dan menganalisis nilai yang perlu dimiliki astronot yang tinggal diluar angkasa pada halaman 203. b. mengevaluasi (c5) soal hots mewajibkan peserta didik melakukan evaluasi atas fakta-fakta yang ada (hasyim, 2019). oleh karena itu mengevaluasi merupakan kemampuan peserta didik memeriksa, menguji kekurangan dan kelebihan suatu peristiwa berdasarkan kriteria yang ada sehingga dapat dijadikan masukan untuk kedepannya dengan mengkritik yaitu kemampuan peserta didik menilai suatu peristiwa yang didukung dengan fakta yang akurat untuk dijadikan bahan perbaikan. pembelajaran mengevaluasi terdapat 23 butir soal. pembelajaran 1 terdapat 4 butir soal yaitu mengevaluasi dengan membuat kesimplan pada bacaan penemuan gallileo pada halaman 144, mengevaluasi analisis soal hots......(wasifatun n & m. agung r) 21 jppd, 7, (1), hlm. 15 24 pesan yang disampaikan dari cerita kesempatan yang hilang pada halaman 147 dan mengevaluasi keterampilan yang diperlukan untuk melakukan penemuan baru pada halaman 148. pembelajaran 2 terdiri dari 3 butir soal yaitu menceritakan pengalaman serupa dengan cerita yang telah dibuat pada halaman 154, menarik kesimpulan tentang patung yang disukai dan ingin dibuat pada halaman 155, mendiskusikan dengan orang tua tentang alat yang belum ditemukan hingga kini pada halamaan 158. pembelajaran 3 terdapat 3 butir soal yaitu mengevaluasi dengan membuat kesimpulan dari dampak modernisasi pada halaman 163, mempresentasikan cerita yang terjadi disekeliling pada halaman 166 dan mengevaluasi isi cerita dari majalah pada halaman 170. pembelajaran 4 terdiri dari 4 butir soal yaitu mengevaluasi dengan membuat kesimpulan tentang dampak modernisasi transportasi udara dan air pada halaman 175, mempresentasikan dengan diagram venn persamaan dan perbedaan cerita fiksi dengan pengalamanmu pada halaman 178, mempresentasikan dampak persatuan dan kesatuan terhadap masyarakat sekitar pada halaman 182 dan mendiskusikan transportasi yang menjadi pilihan jika bepergian dengan keluarga pada halaman 183. pembelajaran 5 terdiri dari 3 butir soal yaitu mempresentasikan model sistem tata surya yang telah dibuat pada halaman 188, mempresentasikan karangan yang berbeda dari cerita fiksi pada halaman 192 dan diskusi permainan ular tangga pada halaman 195. pembelajaran 6 terdiri dari 6 butir soal menyimpulkan penemuan yang dilakukan sebelum manusia dikirim ke luar angkasa pada halaman 197, membuat kesimpulan tentang persamaan dan perbedaan cerita fiksi pada halaman 199, mengevaluasi scenario drama bermain peran pada halaman 203, mengevaluasi nilai yang perlu dimiliki astronot yang tinggal di luar angkasa pada halaman 203, mengembangkan sikap dan keterampilan yang perlu dikembangkan selama pembelajaran dan mengevaluasi hal yang perlu ditingkatkan pada halaman 203. c. mencipta (c6) rofiah (2013) menggolongkan aspek berpikir kreatif berupa keterampilan mencipta. mencipta yaitu kemampuan peserta didik membuat suatu karya yang memenuhi kriteria tertentu. mencipta terdapat 6 butir soal yang terdapat pada pembelajaran 2 membuat planet 3 dimensi dengan balon pada halaman 151, pembelajaran 5 membuat model tata surya pada halaman 188, pembelajaran 6 membuat roket dengan bahan bekas pada halaman 192, membuat scenario drama pada halaman 203, bermain peran pada halaman 203 dan membuat perencanaan untuk membantu meningkatkan nilai, sikap dan keterampilan pada halaman 204. menurut wahidmurni (2018) level penalaran soal kognitif tingkat tinggi (hots) memuat aspek menganalisis (c4), mengevaluasi (c5), dan mengkreasi (c6). dalam penelitian ini memakai level ranah kognitif dengan menganalisis soal hots (higher order thinking skills) pada buku siswa kelas 6 subtema tokoh penjelajah angkasa luar yang memuat indikator menganalisis (c4), mengevaluasi (c5) dan mencipta (c6). hasil penelitian terhadap soal evaluasi pada buku siswa kelas 6 tema 9 subtema tokoh analisis soal hots......(wasifatun n & m. agung r) 22 jppd, 7, (1), hlm. 15 24 penjelajah angkasa luar menunjukkan jumlah keseluruhan butir soal untuk analisis tingkat tinggi (hots) lebih banyak daripada butir soal kognitif tingkat rendah (lots). sesuai dengan standar pada kurikulum 2013 yaitu dengan adanya soal kognitif tingkat tinggi akan meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik secara kreatif. bentuk soal dan penjelasan yang rinci pada buku siswa membantu peserta didik di sd n kintelan 2 yogyakarta merespon soal hots dengan cukup baik. hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh yuniar (2015) yang menjelaskan bahwa dalam menganalisis soal hots dilakukan setelah data terkumpul kemudian data diolah dan analisis data observasi diinterpretasikan untuk menjawab permasalahan penelitian. kemudian pengolahan data dilakukan dengan menganalisis kecocokan soal dengan kriteria ranah kognitif indikator hots. hasil pengolahan data berupa observasi dan dokumentasi kemudian digabungkan dan digunakan oleh peneliti sebagai data yang pasti untuk menjawab rumusan masalah. simpulan berdasarkan hasil analisis soal hots (higher order thinking skills) pada buku siswa kelas vi tema 9 subtema tokoh penjelajah angkasa luar dapat disimpulkan: bentuk soal evaluasi pada buku siswa subtema tokoh penjelajah angkasa luar terdiri dari 6 pembelajaran dan keseluruhan 120 butir soal dengan bentuk uraian dengan 63 butir soal hots dan 57 butir soal lots. butir soal yang terdapat pada subtema tokoh penjelajah angkasa luar sebagian besar terdiri dari ranah kognitif tingkat tinggi (hots) dengan indikator menganalisis (c4), mengevaluasi (c5) dan mencipta (c6). presentase untuk soal hots indikator menganalisis (c4) yaitu berjumlah 34 butir soal, mengevaluasi (c5) berjumalh 23 butir soal dan mencipta (c6) berjumlah 6 butir soal. analisis soal hots......(wasifatun n & m. agung r) 23 jppd, 7, (1), hlm. 15 24 daftar pustaka hasrawati. perangkat pembelajaran tematik di sd. jurnal auladuna: pendidikan dasar islam, vol.3 no.1, hlm.37-49. hasyim, m., & kusuma, f. 2019. analisis high order thinking skill (hots) siswa dalam menyelesaikan soal open ended matematika. jurnal pendidikan matematika dan matematika, vol.5 no.1, hlm.55-64. khaldun, h & utami, l. 2019. pengembangan soal kimia higher order thinking skills berbasis komputer dengan wondershare quiz creator materi hidrolisis garam dan larutan penyangga. jurnal pendidikan sains indonesia (indonesian jurnal of science indonesia), vol.7 no.2, hlm.132-142 kurniati, d, harimukti, r, & asiyah, n. 2016. kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa smp di kabupaten jember dalam menyelesaikan soal berstandar pisa. jurnal penelitian dan evaluasi pendidikan, vol.20 no.2, hlm.142-155. ningsih, s., & yusrizal. 2018. analisis butir soal ujian bahasa indonesia buatan guru mtsn di kabupaten aceh besar. jurnal master bahasa, vol.6 no.2, hlm.195-202. rahmadani, r., ahda, y., & rahmawati. 2018. analisis aspek kemampuan berpikir tingkat tinggi pada instrumen penilaian materi protista untuk peserta didik sma/ma kelas x. jurna biodik, vol.4 no.1, hlm.8-17. rochmah, n., & widi, a. 2015. analisis soal tipe higher order thinking skill (hots) dalam soal un kimia sma rayon b tahun 2012/2013. jurnal kaunia, vol.11 no.1, hlm.2739. rochman & hartoyo, z. 2018. analisis high order thinking skills (hots) taksonomi menganalisis permasalahan fisika. jurnal spej (science and physics education jurnal), vol.1 no.2, hlm.78-88. rofiah, e., aminah, n.s., & ekawati. 2013. penyusunan instrumen tes kemampuan berpikir tingkat tinggi fisika pada siswa smp. jurnal pendidikan fisika, vol.1 no.2, hlm.17-22. saputra, h. (2016). pengembangan mutu pendidikan menuju era globalisasi: penguatan pembelajaran dengan penerapan hots (high order thinking skills). bandung: smile’s publishing. setiawati, s. 2019. analisis higher order thinking skills (hots) siswa sekolah dasar dalam menyelesaikan soal bahasa indonesia. prosiding seminar nasional pendidikan kaluni, vol.2, hlm.552-227. sri, e., khaldun ibnu., & sulastri. 2017. analisis soal-soal ujian materi stoikiometri sma negeri kota banda aceh. jurnal pendidikan sains indonesia (indonesian journal of science indonesia), vol.5 no.2, hlm. 73-79. sulistya e, yusuf a. 2015. implementasi kurikulum 2013 di sekolah dasar. manajemen pendidikan, vol.24 no.5, hlm. 414-423. analisis soal hots......(wasifatun n & m. agung r) 24 jppd, 7, (1), hlm. 15 24 suyatmini. 2017. implementasi kurikulum 2013 pada pelaksanaan pembelajaran akuntansi di sekolah menengah kejuruan. jurnal pendidikan ilmu sosial, vol.27 no.1, hlm.60-68. wahidmurni. 2018. pengembangan penilaian untuk mengukur berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/hots). workshop pengembangan penilaian kurikulum 13 bagi guru-guru madrasah aliyah negeri batu tanggal 13 juli 2018. wantoro, j, dkk. 2019. pengembangan instrumen penilaian pendidikan profesi guru sekolah dasar bebasis hots. jurnal profesi pendidikan. vol.6 no.1, hlm.11-20. widodo, t. 2013. high order thinking berbasis pemecahan masalah untuk meningkatkan hasil belajar berorientasi pembentukan karakter siswa. jurnal cakrawala pendidikan, vol.32 no.1, hlm.61-171. wirandani, t. 2019. analisis butir soal hots (high order thinking skill) pada soal ujian sekolah kelas xii mata pelajaran bahasa indonesia di smk an-nahl. jurnal pendidikan bahasa dan sastra indonesia, vol.2 no.4, hlm.485-494. profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 109 development of e-comic teaching materials for social studies learning in elementary schools hana dinah fadilah universitas negeri jakarta, jakarta, indonesia *email: hanadinahf@gmail.com submitted: 2021-07-17 doi: 10.23917/ppd.v8i2.15202 accepted: 2021-12-16 published: 2021-12-23 keywords: abstract elementary school; e-comic; social studies learning; the purpose of this research was to develop mobile learning-based e-comic social studies teaching materials to pique the interest of fifth-graders in elementary school. the students in this study were from the fifth grade at riyadh el jannah islamic school. the addie model was used to conduct research development or research and development in this study. however, it only reached the development stage due to circumstances that prevent it from completing all of the stages. this research used a questionnaire for expert evaluation as well as interviews with teachers and students. this study employed descriptive quantitative and descriptive qualitative data analysis techniques. the quantitative descriptive method is used to process expert data and student response questionnaires, while the qualitative descriptive method is used to describe corrective comments and validators' inputs. the feasibility test for mobile learning-based e-comic teaching materials received an average percentage of 93.78 percent, making it a worthy category. the final scores for product trials on teacher and student responses were 92 percent and 94.57 percent, respectively. based on the findings of the data analysis, it can be concluded that the developed mobile learning-based e-comic teaching materials are suitable for classroom use.. introduction background education is one of the most fundamental processes in adjusting to one's surroundings in order to achieve a goal or achieve success. education can be defined as educators' efforts to develop knowledge and skills for the benefit of humanity. learning objectives, students, educators, curriculum, materials or subject matter, approaches, methods, media, learning resources, and evaluation are all components of education (ratnasari, 2017). social studies learning allows students to gain in-depth knowledge related to the environment, including those that cover the four competencies in the 2013 curriculum objectives (saputri & http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:h vol. 8 no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 110 estiastuti, 2018). social studies education is an adaptation of a series of social sciences and humanities that are combined into a single unit in a medium, as well as social studies learning, which is the implementation of education in schools (hilmi, 2017). the purpose of social studies learning is to educate a community's life based on good moral and ethical values and can uphold the nation's cultural values and also aims to form students who have the knowledge, national insight, skills, social ethics, and high social character (rosidah, 2017). the term social studies in elementary school are the name of a subject that combines a series of concepts from the social sciences, humanities, science, and various themes of life and social problems (yuanta, 2019). social studies in elementary schools aims to teach and guide students to become good citizens, have knowledge and perceptions, skills, and also social concerns that can be useful for students themselves, society, and the country (rosmalina, 2019). during the learning process, teaching materials become one of the components that can determine whether learning is exciting or not. the factors influencing whether or not the learning process is interesting are also influenced by the teaching materials used for learning (rohmah, 2017). teaching materials are media where teachers provide information or knowledge to students, and teaching materials are also learning materials that are systematically arranged for use by teachers and students in the learning process at school (husada et al, 2020). problem of study the problem that often occurs in elementary school students, especially in social studies learning, is the use of learning media that are less attractive to students and do not always use media in the learning process (sari, 2017). according to adhaningrum (2020), the issues encountered during the implementation of social studies learning in the indonesian thematic curriculum 2013 are ineffective learning materials used by students, resulting in an ineffective learning process. based on the aforementioned issues, several researchers concluded that comics teaching materials were appropriate for use in the elementary school social studies learning process. according to the findings of prihanto & yunianta (2018)’s study, the mathematics comic learning media can assist students in learning, and the mathematics comic media has been declared valid, effective, and practical to use for learning mathematics in elementary schools. according to indaryati & jailani (2015)'s research, studying comics can boost students' motivation and achievement, and the findings show that comics are effective and practical for learning mathematics. sari (2017) discovered that using comic books as learning materials in elementary schools is successful. an e-comic based on mobile learning was developed in social studies learning in elementary schools to aid in the resolution of the problems described. it is possible to increase students' imagination and interest in learning in a lesson by reading comic books or books with pictures and storylines. when combined with a variety of teaching methods, comics can help students become more engaged in the learning process (nugraheni, 2017). state of the art comics are collections of images arranged in sequence and using characters in the story to increase the imagination of the reader (hardiyanti et al, 2019). the comic itself contains the text that can be found in the conversation bubble, which serves to clarify the story in it, and comics are also pictured books that are liked by children. the comic itself comes from the french “comique”, which is an adjective that means funny or ridiculous. "comique" itself comes from the greek, namely comicos (aeni & yusupa, 2018). according to sudjana & rivai (subroto et al, 2020), comics have several characteristics, including comics that consist of various serialized stories are entertaining, have other characteristics in them so fadilah development of e-comic teaching materials… online issn 2503-3530 111 that the power of comics can be well understood and can also focus attention. in the surrounding environment, readers can identify themselves with the feelings and behaviour of the characters because the stories in comics can be about themselves, and stories that are packaged into concise comics and attract the reader's attention are also usually equipped with action stories and the making is more alive because with the free use of primary colors in comics. in addition, learning media that uses comics as a medium of learning will make it easier for teachers when providing subject matter, and this can help educators understand or accept material (subroto et al., 2020). comics can now be created digitally without the need for printing in today's world. electronic comics are a type of technological media that aims to improve understanding of the concept of early childhood knowledge while also serving as a learning medium that appeals to children's interests (syarah et al, 2018). electronic comics are also known as digital comics, and technological advancements have an impact on comics in today's digital world (ruiyat et al, 2019). the use of electronic comics teaching materials that combine pictures and text can help children understand some concepts while they are learning. this study differs from previous research in that it created an e-comic teaching material for social studies learning for fifth-grade elementary schools. and the e-comic that will be developed is in the form of a strip. the developed e-comic is in the form of a strip. a comic strip is a comic that has only a few panels of pictures but can express a complete and clear idea in terms of content. the e-comic can be used as a media tool in fifth-grade social studies lessons in elementary schools. the author prefers e-comic teaching materials because they have several advantages, including: increasing student interest in learning, making the material more appealing to students, assisting students in understanding abstract concepts, and providing storylines that cover the material kanti et al, 2018). students benefit from using this e-comic teaching material because it does not require an internet connection, allowing them to learn independently without having to wait for instructions from the teacher. to draw students' attention to the content of this e-comic, it will be packaged into an illustrated storyline. gap study & objective comic books are typically packaged in a book, but with the advancement of technology in the modern era, comics are now also available in electronic form, referred to as mobile comics (anesia et al, 2018). social studies comics were created on a mobile platform, allowing users to take them with them wherever they go. comics in the form of mobile apps can also help to reduce paper consumption (hadi & dwijananti, 2015). subroto et al (2020), conducted previous research on comics and concluded that comics are effective for use in learning because they contain many colors and images, making the material easier to understand. styaningsih et al (2016), found that using digital comics teaching materials in civics learning increased student interest in learning. another study was conducted by (muliani, 2020) who discovered that comic books could be used to support learning activities in elementary schools to improve student learning outcomes in social studies classes. based on the foregoing, the researcher conducted this study with the goal of developing an engaging, efficient, and effective e-comic teaching material for the fifth grade in elementary schools based on mobile learning in social studies subjects that can help increase student interest in social studies learning in the fifth grade. vol. 8 no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 112 method the research design that will be carried out is research and development (r&d) research to develop teaching materials in the form of mobile learning-based e-comic using the addie model. the addie model emerged in the 1990s, which was developed by reiser and mollenda. the researcher uses the addie development model because it has a procedure that refers to the research and development (r&d) stage, which has simple stages so that effective products can be developed. the addie model has 5 stages, namely analyze, design, development, implementation, and evaluation. however, due to conditions that did not allow using the 5 stages of the addie model, this research was not continued until implementation and evaluation. the following is an explanation of each addie stage in making mobile learning-based e-comic teaching materials. analyze this analysis stage aims to obtain and collect information for the required needs. at this stage, the researcher will first analyze the material and also analyze the needs (needs analysis). the subjects in this study were fifth-grade elementary school students. design in the design, the researcher designed and developed an e-comic based on mobile learning social sciences on the material of the indonesian nation's resistance against invaders in the fifth grade of elementary school based on the results of the analysis in the previous stage. development the development stage is the step where e-comic is made based on an existing design. then the teaching materials are validated by experts, which will be continued at the revision stage. experts who will validate these teaching materials are material experts, media experts and language experts. after the product has been made, it enters the product testing stage which will be carried out by teachers and students. instruments and data processing the instruments that will be used for data collection in this study are interviews with teachers, students and expert test assessment questionnaires. the data analysis technique that will be used in this research is descriptive quantitative and also descriptive qualitative. the quantitative descriptive method is used to process expert data and student response questionnaires, while the qualitative descriptive method is used to describe corrective comments and validators' inputs. data for the study is collected using custom-made instruments that will be distributed to teachers, students, and experts. for data analysis, this study employs a likert scale of 15. the formula for calculating the ideal percentage is as follows: p = 𝑆 𝑁 × 100 % source : (arikunto, 2012) p = ideal percentage s = number of components of research results n = total maximum score the questionnaire response to the use of e-comic contained 5 criteria according to the questions asked. changes from the results of the assessment of media experts, linguists, material experts from letters to scores that have been determined in table 1: fadilah development of e-comic teaching materials… online issn 2503-3530 113 table 1. likert scale of validity sheet interval criteria 5 very good 4 good 3 sufficient 2 poor 1 very poor source : (ulfah, 2014) the purpose of using an expert questionnaire is to determine the feasibility of the underdevelopment product so that the questionnaire's feasibility value can be obtained for each aspect. the conversion of scores into a statement of assessment criteria is shown in table 2: table 2. interpretation of media eligibilit score percentage (%) criteria 0 20 very weak 20< <40 weak 40< <60 sufficient 60< <80 worthy 80< <100 very worthy source : (anesia et al, 2018) based on the criteria showed in table 2, the media is said to be feasible if the percentage is > 60% of all aspects. result as a result of this development research, an e-comic based on mobile learning has been created. using the addie development model, but only up to the development stage due to unforeseen circumstances. the stages that researchers have completed are detailed below: analyze researchers gather and analyze the needs for e-comic teaching materials in the analysis phase by analyzing core competencies and basic competencies, as well as the learning objectives of fifth-grade elementary school students in the 2013 indonesian national curriculum, and determining the materials to be used in e-comic teaching materials. students must be able to identify the important factors that lead to indonesian colonialism and the indonesian people's efforts to maintain their sovereignty, according to the curriculum's basic competency 3.4. the goal of studying this basic competency is for students to be able to recognize the background of european arrival in indonesia and to be able to explain the events surrounding the arrival of european expeditions in indonesia. the researcher decided to create an e-comic teaching materials based on the material of vol. 8 no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 114 european colonization in indonesia based on the competency analysis. the author also conducted a needs analysis by observing and interviewing teachers and fifth-grade students at the riyadh el jannah islamic school. according to the results of the interview, there is still a shortage of social studies teaching materials, as students struggle to comprehend the history of european colonization in indonesia. design researchers worked on determining the comic's title and theme, collecting references, determining the material, compiling the comic's framework, designing the e-writing comic's format, and designing the e-display comic's or panel at this stage. drafting the e-comic the research moves on to the stage of drafting the e-comic material after the researcher determines the content of the lesson. microsoft word is used to create scripts and e-comic materials. the source material has been adjusted to the basic competency that was determined during the analysis stage, as well as combining several resources and making adjustments to make it understandable for students. this e-comic is divided into four parts, each explaining why europeans colonized indonesia, as well as explaining portuguese, spanish, and dutch colonization. the material is organized into easy-to-follow stories with appealing illustrations to keep students interested in reading the e-comic. e-comic creation tools and applications computers, laptops, and the cintiq pro 13 pen were used to create the e-comic. clip studio paint ex and adobe photoshop are the media editing applications used. freepik, a image resources website, is used to find suitable imaging materials.. illustration design interesting illustrations are required to draw students' attention to this e-comic and encourage them to read it. the author establishes two main characters, mr. girdan as a teacher and kido as a student, based on the previous stage's draft. to make it more interesting, the surrounding background of this e-comic cover has been adjusted to the colonial theme. figure 1. illustration design display fadilah development of e-comic teaching materials… online issn 2503-3530 115 figure 2. illustration design display development the e-comic is created based on a predetermined design during the development stage. starting with the canvas, creating panels, locating the source of the illustration components, designing and combining the illustrations, and, if necessary, redrawing the illustrations. following the completion of the teaching materials, they will be validated by material, media, and language experts. canvas and panel making the canvas and panel must be created first. adobe photoshop cs6 is used for both of these projects. the canvas has a resolution of 4000 x 5000 pixels and a 300 dpi. the panels are sized to fit the size of the canvas.. figure 3. canvas display and e-comic panels e-comic editing and illustration creation after the canvas and panels have been created, the e-development comic's team moves on to editing the rest of the e-components. book's making panel boxes, word balloons, and adding extra designs like ancient effects, as well as making illustrations as needed, is the vol. 8 no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 116 first step. the next step is to decide on the language for the e-story comic's and tailor it to the script. this procedure is repeated until the desired outcome has been achieved. figure 4 shows the subsequent outcomes of the development. figure 4. cover and story display in e-comic e-comic validation test a validation test is a developed product assessment process that will be evaluated by the validator. a questionnaire with three aspects, namely the material aspect, the language aspect, and the media aspect, is used in the validation process. the goal of the validation is to see if the e-comic is suitable for research purposes. table 3. e-comic validation test expert validator percentage (%) criteria material 90,76% very worthy language 78,66% very worthy media 98,46% very worthy mean 89,29% the product revision is carried out based on the validator's feedback and suggestions after it has been assessed by the validator in every aspect. the figure 5 displays the e-comic after changes have been made. fadilah development of e-comic teaching materials… online issn 2503-3530 117 figure 5. the display of e-comic after revision discussion this research creates an e-comic-style teaching plan for distance learning in social studies subjects for elementary school students. using the addie development model, but due to unforeseen circumstances, this study was not completed until the implementation and evaluation stage. social studies e-comic teaching materials based on mobile learning learning that has been developed is said to be excellent because it meets all of the requirements. the e-teaching comic's materials include information about the beginnings of european colonization in indonesia. teaching materials are accompanied by supporting illustrations that correspond to the material described, as well as stories that serve as material explanations, so that students can understand the material while reading. illustrations are useful as supporting descriptions in clarifying the contents of an article because they provide a concrete and clear picture. furthermore, the e-comic teaching materials, based on the quality of the design of the teaching materials developed, contain detailed content and language that is easy to understand for students to understand the material. the attractiveness of illustrations varies and is interesting based on the characteristics that students possess. this media is thought to help students by attracting their attention and engaging them in self-directed learning. the three validators' evaluations were obtained from the research that was conducted. on the basis of this evaluation, criticism and suggestions were obtained, which were used as a guide for improving the e-comic. by meeting assessment criteria such as the suitability of competence or learning objectives, the material presented is easy to understand, and the material's suitability with the image is very good, the above validation results obtained a percentage of 90.76 percent for the material aspect. the language aspect received 78.66 percent due to criteria such as the sentences used in the e-comic can represent the content of the message or information to be conveyed and the sentences used are communicative. meeting the criteria for the accuracy of color selection on the e-comic character, the character design of the e-comic characters is attractive, and the presentation of the e-comic illustration has led to an understanding of the concept resulted in a 98.46 percent score for vol. 8 no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 118 the media aspect. the overall average for these three elements is 89.29 percent. it can be concluded that this e-comic can be used effectively in social studies classes. after expert product validation, product trials were given to teachers and students to see how they reacted to the e-comic based on the questionnaire that had been created. the teacher's response received a final score of 92 percent, while the average student response received a score of 94.57 percent. based on the results of the survey, it can be concluded that e-comic teaching materials are ideal for use in social studies classes. the findings are similar to those of wicaksana et al (2019), who created an e-comic about the struggle for indonesian independence, which received an average rating of 93.78 percent, indicating that it is suitable for classroom use and can increase students' interest in learning about the struggle of indonesian independence preparations. another study conducted by laksmi & suniasih (2021), on the development of e-comic in fifth-grade elementary school students was also found to be suitable for use in elementary school, with a percentage result of 90% on individual test subjects and a validator assessment average of 98 percent from content experts, learning experts, learning design experts, and learning media experts. conclusion this study develops e-comic teaching materials for distance learning in social studies in elementary schools, focusing on european colonization of indonesia. several validators reviewed the e-comic for material, language, and media. the average percentage for teacher responses was 92 percent, and the average score for student responses was 94.57 percent, according to the validator's assessment. this e-comic teaching material can be concluded to be appropriate for learning. references adhaningrum, sofia agustin. 2020. “pengembangan bahan ajar ips kontekstual tema wirausaha di kelas 6 sekolah dasar.” jurnal penelitian dan pendidikan ips 14(1):44– 54. doi: 10.21067/jppi.v14i1.4746. aeni, wiwik akhirul, and ade yusupa. 2018. “model media pembelajaran e-komik untuk sma.” jurnal teknologi pendidikan 6(1):1. doi: 10.31800/jtpk.v6n1.p1--12. anesia, regita, b. .. anggoro, and indra gunawan. 2018. “pengembangan media komik berbasis android pada pokok bahasan gerak lurus.” indonesian journal of science and mathematics education 1(1):53–57. arikuto, suharsimi. 2012. dasar dasar evaluasi pendidikan. jakarta: bumi aksara. hadi, w, s., and p. dwijananti. 2015. “pengembangan komik fisika berbasis android sebagai suplemen pokok bahasan radioaktivitas untuk sekolah menengah atas.” upej (unnes physics education journal) 4(2). doi: 10.15294/upej.v4i2.7431. hardiyanti, dwi astuti, fina fakhriyah, and irfai fathurohman. 2019. “pengembangan media komik strip berbasis keunggulan lokal pada materi gaya dan cerita fiksi di kelas iv muatan bahasa indonesia dan ilmu pengetahuan alam.” seminar nasional pagelaran pendidikan dasar nasional (ppdn) 1(1):397–407. hilmi, muhammad zoher. 2017. “implementasi pendidikan ips dalam pembelajaran ips di sekolah.” jurnal ilmiah mandala education 3(2):164–72. husada, syahda puspita, taufina taufina, and ahmad zikri. 2020. “pengembangan bahan ajar pembelajaran tematik dengan menggunakan metode visual storytelling di sekolah dasar.” jurnal basicedu 4(2):419–25. doi: 10.31004/basicedu.v4i2.373. indaryati, and jailani. 2015. “pengembangan media komik pembelajaranmatematika meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa kelas v.” prima edukasia 3(1):84– 96. fadilah development of e-comic teaching materials… online issn 2503-3530 119 kanti, fitra yurisma, bambang suyadi, and wiwin hartanto. 2018. “pengembangan media pembelajaran komik digital pada kompetensi dasar sistem pembayaran dan alat pembayaran untuk siswa kelas x ips di man 1 jember.” jurnal pendidikan ekonomi: jurnal ilmiah ilmu pendidikan, ilmu ekonomi dan ilmu sosial 12(1):135. doi: 10.19184/jpe.v12i1.7642. laksmi, ni luh putu ari, and ni wayan suniasih. 2021. “pengembangan media pembelajaran e-comic berbasis problem based learning materi siklus air pada muatan ipa.” jurnal imiah pendidikan dan pembelajaran 5(1):56. doi: 10.23887/jipp.v5i1.32911. muliani, fitri. 2020. “pembangan media pembelajaran berupa buku komik pada materi sejarah di sekolah dasar ( studi kasus : sd negeri 148 pekanbaru ).” jurnal edukasi dan teknologi pembelajaran 1(1):40–52. nugraheni, nursiwi. 2017. “penerapan media komik pada pembelajaran matematika di sekolah dasar.” refleksi edukatika : jurnal ilmiah kependidikan 7(2):111–17. doi: 10.24176/re.v7i2.1587. prihanto, d. a., and t. n. h. yunianta. 2018. “pengembangan media komik matematikapada materi pecahan untuk siswa kelas v sekolah dasar.” maju: jurnal ilmiah … 5(1):79– 90. ratnasari, ika wanda. 2017. “hubungan minat belajar terhadap prestasi belajar matematika.” 5(2):289–93. rohmah, dina fitrohtur. 2017. “pengembangan buku ajar ips sd berbasis kontekstual.” jurnal pendidikan: teori, penelitian, dan pengembangan 2(5):719–23. rosidah, ani. 2017. “penerapan model pembelajaran kooperatif snowball throwing untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran ips.” jurnal cakrawala pendas 3(2). rosmalina, rosmalina. n.d. “tinjauan perkembangan kurikulum ips sd.” perkembangan kurikulum pendidikan ips sd rosmalina 2019:1–37. ruiyat, suci aprilyati, yufiarti yufiarti, and karnadi karnadi. 2019. “peningkatan keterampilan berbicara dengan bercerita menggunakan komik elektronik tematik.” jurnal obsesi : jurnal pendidikan anak usia dini 3(2):518. doi: 10.31004/obsesi.v3i2.256. saputri, sari mei, and arini estiastuti. 2018. “pengembangan komik berbasis multimedia powerpoint dengan model inquiry ips kelas iv.” joyful learning journal 7(3):29–38. doi: 10.15294/jlj.v7i3.24582. sari, yunita. 2017. “pengembangan bahan ajar komik ipa dengan penanaman nilai budai pada siswa kelas iv sekolah dasar.” jurnal pendidikan sekolah dasar 3(2):129. doi: 10.30870/jpsd.v3i2.2134. styaningsih, harum aris, winaro, and muh hendri nuryadi. 2016. “pengaruh penggunaan media komik digital terhadap upaya penegakan minat belajar ppkn siswa pada kompetensi dasar mendeskripsikan kasus pelanggaran dan upaya penegakan ham.” jurnal profesi pendidik 3(2):129–40. subroto, erlanda nathasia, abd. qohar, and dwiyana. 2020. “efektivitas pemanfaatan komik sebagai media pembelajaran matematika.” jurnal pendidikan: teori, penelitian, dan pengembangan 5(2006):135–41. syarah, erie siti, elindra yetti, and lara fridani. 2018. “pengembangan media komik elektronik untuk meningkatkan pemahaman konservasi anak usia dini.” jpud jurnal pendidikan usia dini 12(2):231–40. doi: 10.21009/jpud.122.04. ulfah, alifah. 2014. “pengembangan media audio visual pada kompetensi penerapan teknik perlakuan kimiawi enzimatis di smkn 2 indramayu.” wicaksana, i. putu gde caesar renddy, anak agung gede agung, and i. nyoman jampel. 2019. “pengembangan e-komik dengan model addie untuk meningkatkan minat vol. 8 no. 2, december 2021 printed issn 2406-8012 120 belajar tentang perjuangan persiapan kemerdekaan indonesia.” jurnal edutech universitas pendidikan ganesha 7(2):48–59. yuanta, friendha. 2019. “pengembangan media video pembelajaran ilmu pengetahuan sosial pada siswa sekolah dasar.” trapsila: jurnal pendidikan dasar 1(2):91–100. peran guru dalam.......(minsih & aninda) 20 jppd, 5, (1), hlm. 20 27 vol. 5, no. 1, juli 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.6144 peran guru dalam pengelolaan kelas minsih1), aninda galih d2) program studi pendidikan guru sekolah dasar universitas muhammadiyah surakarta 1minsih@ums.ac.id, 2naninda21@gmail.com pendahuluan keberhasilan pembelajaran di kelas sangat ditentukan oleh guru. kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan. kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien. memberi ganjaran dengan segera, mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan siswa, mengembangkan aturan permainan dalam kegiatan kelompok adalah contoh-contoh kegiatan mengelola kelas. hal ini sesuai dengan pendapat karwati dan donni (2015: 6) manajemen kelas adalah usaha sadar untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, serta melaksanakan pengawasan terhadap program dan kegiatan yang ada di kelas sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara sistematis, efektif, dan efisien, sehingga segala potensi peserta didik mampu dioptimalkan. siswa sekolah dasar sangat memerlukan pengelolaan kelas yang inovatif. karena siswa sekolah dasar yang mayoritas masih mempunyai sikap kanak-kanak yang notabene abstract: the purpose of this study was to know the role of teachers in the management of learning in the classroom at mi muhammadiyah pk kartasura. the research was conducted through qualitative approach. data were collected by interview, observation, and documentation. the research data was validated by triangulation technique. data were analyzed through three stages: data reduction, data display, conclusions drawing / verification. this study concludes that the role of teachers in implementing the teaching and learning process is a key element in the management of learning. at mi muhammadiyah pk kartasura, teachers should plan, implement and evaluate learning and build good inter-relationships among all members of the learning process. teachers must also act as facilitators, motivators, demonstrators, mediators and evaluators, in the management of innovative classes. one of the indicators of learning management in innovative classes at mim pk kartasura was student-centered learning. keywords: classroom management, teacher, student. https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.6144 mailto:1minsih@ums.ac.id mailto:2naninda21@gmail.com peran guru dalam.......(minsih & aninda) 21 jppd, 5, (1), hlm. 20 27 masih sangat suka bermain. menurut sumantri dan syaodih (2008: 43) anak usia sd memiliki karakteristik: senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok dan senang melakukan sesuatu secara langsung. sedangkan menurut teori kognitif piaget anak sd yaitu usia 7-8 dan 9-14 yang berada pada masa operasional konkret, maka guru dituntut tidak hanya mampu menyampaikan materi saja, namun cara guru dalam menyampaikan materi juga harus diperhatikan, guru dituntut inovatif dan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan supaya materi tersebut dapat diterima oleh siswa dan siswa tidak bosan karena guru menggunakan pembelajaran yang monoton. pada sisi yang lain, hidayati, (2015) dalam penelitiannya mengisyaatkan bahwa tingkat pemahaman dan kesiapan guru tentang konsep kurikulum yang digunakan juga dapat berpengaruh pada kualitas pembelajaran. hal tersebut tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pengelolaan kelas. pengelolaan kelas perlu menciptakan suasana gembira atau menyenangkan di lingkungan sekolah melalui pengelolaan kelas, dengan menjalin keakraban antara gurusiswa, maka guru dapat mengarahkan siswa dengan lebih mudah untuk mendorong dan memotivasi semangat belajar siswa. pembelajaran menyenangkan adalah pembelajaran dimana interaksi antara guru dan siswa, lingkungan fisik, dan suasana memberikan peluang terciptanya kondisi yang kondusif untuk belajar. suasana pembelajaran yang menyenangkan siswa tidak akan membuat siswa merasa bosan dan tidak akan merasa takut dalam melibatkan diri dalam proses pembelajaran. dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan kondusif dan siswa dituntut aktif untuk mengembangkan ide kreatifitasnya dalam bertanya, mempertanyakan masalah-masalah yang muncul dalam pembelajaran, dan mengemukakan gagasannya. dengan demikian dalam pembelajaran guru tidak mendominasi aktivitas belajar-mengajar, tetapi siswa yang lebih banyak melakukan aktivitas belajar. artinya dalam setiap kali tatap muka, guru harus menggunakan metode dan model secara bervariatif. hal ini yang terjadi di mi muhammadiyah program khusus kartasura. berdasarkan observasi awal dapat dilihat bahwa guru yang mengajar memiliki semangat dan kompetensi yang tinggi, tentunya semangat itu datang dalam hati para guru di mim pk melalui proses penempaan yang panjang. adanya kegiatan guru belajar disetiap hari sabtu merupakan program yang digagas oleh kepala sekolah. berdasarkan wawancara awal dengan kepala sekolah bapak nasrul harahap menyatakan kegiatan itu dilaksankan sebagai wadah bagi para guru untuk memupuk kompetensi dan karakter disiplin dengan semangat mengabdi di mim. mi muhammadiyah pk kartasura sebagai sekolah unggulan yang masih termasuk baru jika dibandingkan dengan sekolah unggulan lain di kecamatan kartasura. penelitian ini difokuskan pada peran guru dalam pengelolaan kelas inovatif di mi muhammadiyah program khusus kartasura. peran guru dalam.......(minsih & aninda) 22 jppd, 5, (1), hlm. 20 27 metode penelitian jenis penelitian ini adalah kualitatif sebagai suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang dan perilaku yang diamati (moleong, 2013: 10). oleh karenanya penelitian akan mengungkap tentang peran guru dalam mengelolah pembelajaran di kelas dalam memotivasi siswa. penelitian ini dilakukan di mi muhammadiyah program khusus kartasura jawa tengah pada bulan januari sampai mei 2017. teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. keabsahan data menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. dalam penelitian ini teknik analisis data dilakukan menurut miles and huberman dalam bukunya moleong (2013: 341) yaitu melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. hasil dan pembahasan pembelajaran merupakan kunci utama di lembaga pendidkan, kunci utama itu tidak lepas dari peran guru dalam pengelolaan kelas. di mi muhammadiyah program khusus (pk) kartasura peran guru dituntut dengan baik dalam melaksanakan prosess kegiatan pembelajaran, karena guru tidak hanya membuat perencanaan pembelajaran, menyampaikan materi dan memberikan nilai pada siswa saja tetapi guru harus membangun inter relasi yang baik bagi semua anggota pembelajaran di kelas. sebagaimana yang diungkapkan oleh uno dan mohammad (2012: 111) pembelajaran inovatif adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa (meliputi kd yang ada) sehingga berbeda dengan pembelajaran pada umumnya yang dilakukan oleh guru (secara konvensional). data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi menunjukkan sebelum melaksanakan proses belajar mengajar guru terlebih dahulu merencanakan akan seperti apa model pembelajaran yang akan digunakan dan juga metode atau strategi apa yang akan digunakan, yang mana hal-hal tersebut sudah ditulis dalam lesson plane (rpp). tujuan dari membuat lesson plane terlebih dahulu adalah supaya guru dapat memilih dan mengembangkan model, metode dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa, karena setiap siswa memiliki karakteristik dan gaya belajar yang berbeda-beda. hal ini senada dengan penelitian surjana (2007) guru sebagai pengelola kelas merupakan orang yang mempunyai peranan yang strategis yaitu orang yang merencanakan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan di kelas, orang yang akan mengimplementasikan kegiatan yang direncanakan dengan subjek dan objek siswa, orang menentukan dan mengambil keputusan dengan strategi yang akan digunakan dengan berbagai kegiatan di kelas, dan guru pula yang akan menentukan alternatif solusi untuk mengatasi hambatan dan tantangan yang muncul; maka dengan tiga pendekatan-pendekatan yang dikemukakan, akan sangat membantu guru dalam melaksanakan tugas pekerjaannya. di mim pk kartasura para guru memiliki peran supaya bisa menjadi contoh yang baik bagi siswa dan supaya guru bisa menjadi inspirasi bagi siswa, hal ini terlihat dalam peran guru dalam.......(minsih & aninda) 23 jppd, 5, (1), hlm. 20 27 pembiasaan yang dilakukan oleh para guru kelas-guru mata pelajaran dalam berkomunikasi (sapa, senyum dan salam) serta kedisiplinan guru dalam melaksanakan kegiatan rutin sekolah . hal ini senada yang disampaikan sarwiji (2015: 235) bahwa peran guru dalam pandangan learner-centered (berpusat pada siswa) peran guru adalah sebagai pemandu, koordinator dan fasilitator dalam proses pembelajaran. hal ini juga diperkuat oleh pernyataan kirom (2017) berdasarkan hasil penelitiannya yang menyatakan bahwa pembelajaran adalah sebagai suatu upaya yang dilakukan pendidik atau guru secara sengaja dengan tujuan menyampaikan ilmu pengetahuan, dengan cara mengorganisasikan dan menciptakan suatu sistem lingkungan belajar dengan berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara lebih optimal. walaupun istilah yang digunakan “pembelajaran”. tidak berarti guru harus menghilangkan perannya sebagai pengajar. dalam konteks pembelajaran, sama sekali tidak berarti memperbesar peranan peserta didik disatu pihak dan memperkecil peranan guru dipihak lain. hal senada juga relevan dengan hasil penelitian esmaeili, dkk (2015) yang menyimpulkan para guru harus tahu bahwa masing-masing siswa memiliki sifatnya sendiri dan guru yang memiliki kreativitas dan semangat akan menggunakan metode yang tepat dengan mengamati perbedaan masing-masing siswa, memberi hukuman dan penghargaan pada waktu yang tepat dapat menggambarkan proses pembelajaran yang menyenangkan dan suasana kelas begitu gembira sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan bagi siswa. prinsip hadiah dan hukuman ini sebenarnya banyak dikecap banyak tokoh karena sifatnya lebih mengancam, akantetapi dapat diambil sisi positif dari dampat diterapkannya prinsip ini, sesuai dengan hasil penelitian indrawati (2013) yang menyatakan bahwa dalam pembelajaran mampu meningkatkan perilaku disiplin siswa adalah dengan penerapan pemberian hadiah dan hukuman yang biasa ini bertujuan untuk meningkatkan perilaku disiplin siswa melalui pemberian reward and punishment dalam pembelajaran. selanjutnya terkait dengan peran guru dalam dunia pendidikan, slameto (2010: 98) mengatakan bahwa peran guru telah meningkat dari hanya sebagai pengajar menjadi pengarah belajar. dimana guru bertanggung jawab sebagai: 1. perencana pengajaran yaitu guru mampu membuat lesson plane secara efektif. 2. pengelola pengajaran yaitu guru diharapkan mampu mengelola seluruh kegiatan belajar mengajar dan menciptakan kondisi belajar yang dapat membuat siswa dapat belajar efektif dan efisien. hal ini sesuai dengan penelitian asmadawati (2014) yaitu “…guru juga bisa memainkan perannya dalam pengelolaan kelas, baik yang menyangkut kegiatan mengatur tata ruang kelas yang merupakan: mengatur meja, tempat duduk siswa, menempatkan papan tulis ”. hal ini juga diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh marasabessy (2012) yang menyatakan bahwa pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru tersertifikasi dan guru yang belum tersertifikasi, disebabkan karena karena kurangnya sikap profesional guru guru itu dalam mengelolah pembelajaran, bukan karena nilai sertifikasi itu. peran guru dalam.......(minsih & aninda) 24 jppd, 5, (1), hlm. 20 27 3. penilai hasil belajar yaitu mengikuti semua hasil belajar yang telah dicapai siswa. 4. motivator yaitu guru hendaknya senantiasa berusaha untuk menimbulkan, memelihara dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. sesuai dengan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, peneliti menemukan apa saja peran guru dalam pengelolaan kelas inovatif di mi muhammadiyah program khusus kartasura. peran guru yang sesuai yaitu : 1. guru sebagai pengelola kelas atau pengelola pengajaran, guru memimpin jalannya proses belajar mengajar, menangani masalah atau hambatan yang terjadi selama proses belajar mengajar. misalnya saat jam pelajaran setelah sholat duhur siswa mulai tidak fokus, dan banyak yang mengeluh mengantuk, untuk mengatasi hal tersebut biasanya guru akan mengajak siswa ice breaking atau bermain games ringan supaya siswa bisa kembali fokus dan semangat. hal ini sesuai dengan penelitian utama (2016) yaitu guru kelas 4 dan 5 sd n pandeyan dalam menciptakan iklim belajar yang tepat guru lebih cenderung pada penekanan hal positif, dimana guru akan menghitung satu sampai tiga saat ada siswa yang gaduh/ribut, untuk pemusatan kembali guru mengajak siswanya untuk tepuk satu, tepuk dua, dan tepuk tiga supaya siswa bisa fokus kembali. 2. fasilitator yaitu guru berusaha memberikan fasilitas yang diperlukan siswa selama proses belajar mengajar sehingga siswa mampu menerima materi secara optimal. dalam hal ini berkaitan dengan pengaturan tempat duduk yang nyaman untuk siswa yang dapat memudahkan siswa untuk mengikuti pembelajaran. hal ini sesuai dengan penelitian asmadawati (2014) yaitu “…guru juga bisa memainkan perannya dalam pengelolaan kelas, baik yang menyangkut kegiatan mengatur tata ruang kelas yang merupakan: mengatur meja, tempat duduk siswa, menempatkan papan tulis…”. 3. motivator yaitu guru mampu membangkitkan semangat belajar siswa, menjelaskan secara konkret kepada siswa apa saja hal yang akan didapat diakhir pelajaran, memberi reward terhadap prestasi siswa. dan memotivasi siswa yang belum bisa mendapat reward supaya lebih semangat dalam belajarnya. 4. demonstrator yaitu guru mampu memberikan contoh memperagakan penggunaan alat dan media untuk mengerjakan tugas atau materi dan memperagakan penggunaan alat dan media yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar. hal ini senada dengan pendapat daryanto (2013) bahwa inovasi pembelajaran yang efektif itu terletak pada peran guru dalam menggunkn media pembelajaran yang efektif dan inovatif. 5. mediator yaitu guru sebagai perantara dalam usaha untuk merubah tingkah laku siswa dan juga upaya guru untuk menyediakan dan menggunakan media pembelajaran. contoh guru merubah perilaku siswa yaitu memberi pengarahan pada siswa yang mengalami kesulitan dalam menggunakan media pembelajaran. peran guru dalam.......(minsih & aninda) 25 jppd, 5, (1), hlm. 20 27 6. evaluator yaitu guru memantau perkembangan hasil belajar siswa secara keseluruhan dan membuat rangkuman guna meningkatkan kompetensi siswa. hasil wawancara dengan guru dikelas 5a yaitu pada saat ulangan harian, guru meletakan soal di tempat yang berbeda-beda, dan siswa diminta untuk menemukan soalnya sendiri baru bisa mengerjakannya. dengan strategi find me ini siswa sangat bersemangat dan berlomba-lomba untuk segera menemukan soal. aunurrahman (2009: 140) menyatakan bahwa keberhasilan proses pembelajaran tidak terlepas dari kemampuan guru mengembangkan model-model pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan intensitas keterlibatan siswa secara efektif di dalam proses pembelajaran. hal ini juga senada dengan penelitiannya arifin (2012) yang menyatakan bahwa dengan model pembelajaran yang banyak melibatkan siswa untuk aktif akan mempengaruhi prestasi belajar anak didik. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam pengelolaan kelas inovatif di mi muhammadiyah program khusus kartasura di mulai dari guru membuat lesson plane (rpp) yaitu guru akan merencanakan untuk menggunakan model, metode dan strategi yang akan digunakan yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan. guru selalu mengusahakan menggunakan strategi yang bervariasi dalam setiap pembelajaran, sehingga siswa selalu aktif dan semangat dalam mengikuti proses belajar mengajar. terkadang guru juga membuat strategi pembelajaran sendiri, misalnya mozaik hadits dan service learning. peran guru dalam pengelolaan kelas inovatif di mi muhammadiyah program khusus kartasura sangat kompleks yaitu menjadi pengelola kelas atau pengelola pengajaran guru juga berperan sebagai fasilitator, motivator, demonstrator, mediator, dan evaluator. intinya adalah bagaimana guru selalu berusaha supaya siswa bisa semangat, senang dan aktif dalam proses belajar mengajar. penelitian regina osakwe (2014) manajemen kelas yang benar-benar akan mengatasi masalah perilaku siswa, guru harus memberikan strategi yang menarik, strategi yang menyenangkan memungkinkan setiap siswa untuk terlibat secara aktif. kendala yang dihadapi adalah guru sering merasa kehabisan ide untuk membuat lesson plan yaitu dalam menentukan untuk menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi dan bisa menciptakan kondisi kelas yang kondusif dan efektif. solusi yang diberikan dari sekolah yaitu pelatihan untuk guru, kerjasama dengan penyedia jasa kegiatan belajar mengajar, diskusi dan sharing pengalaman (min 1x sebulan), evaluasi dan monitoring serta peningkatan sarana dan prasarana. sedangkan kendala dari siswa sendiri yaitu biasanya pada jam pelajaran siang karena biasanya siswa sudah mulai jenuh dan capek. solusinya guru akan melakukan ice breaking dan permainan edukatif sehingga siswa bisa kembali semangat. peran guru dalam.......(minsih & aninda) 26 jppd, 5, (1), hlm. 20 27 daftar pustaka arifin, m. 2012. “pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe tari bambu (bamboo dancing) pada standar kompetensi menggunakan hasil pengukuran listrik terhadap hasil belajar siswa kelas x titl smkn 2 surabaya” . jurnal pendidikan teknik elekro, vol. 1 no. 2. http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id /index.php/jurnal-pendidikan-teknik-elektro/article/view/1984 asmadawati. 2014. “keterampilan mengelola kelas”. jurnal nasional logaritma vol. ii, no.02 aunurrahman. 2009. belajar dan pembelajaran. bandung. alfabeta. daryanto. 2013. inovasi pembelajaran efektif. bandung. yrama widya. esmaeili, zohreh., hosein mohamadrezai, dan abdolah mohamadrezai. 2015. “the role of teacher's authority in students' learning”. journal of education and practice.vol.6, no.19, 2015. hidayati, yulia maftuhah. 2015. “studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 dalam pembelajaran berbasis tematik integratif di sekolah dasar se-kecamatan colomadu tahun ajaran 2014/2015. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 2, no. 1, juli. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/1494/1036. indrawati, r. 2013. “peningkatan perilaku disiplin siswa melalui reward dan punishment”. jurnal pendidikan olahraga. vol. 1 no. 02. http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/ index.php/jurnal-pendidikan-jasmani/article/view/2847 karwati, euis, dan donni juni priansa. 2015. manajemen kelas. bandung. alfabeta. kirom, askhabul. 2017. “peran guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran berbasis multikultural”. jurnal al murabbi vol 3 no. 01. http://jurnal.yudharta.ac.id/v2/index.php/pai/article/view/893 marasabessy, apridayani. 2012. “análisis pengelolaan pembelajaranyang dilakukan oleh guru yang sudah tersertifikasi danyang belum tersertifikasi pada pembelajaran ipa di kelas v sekolah dasar”. jurnal penelitian pendidikan, 2012, vol. 13, no. 1, april, hlm. 7-13. moleong, l.j. 2013. metodologi penelitian kualitatif. bandung: pt. remaja rosda karya. osakwe, regina n. 2014. “classroom management: a tool for achieving quality secondary school education in nigeria”. international journal of education issn 1948-5476 vol. 6, no. 2 https://scholar.google.co.id/citations?user=rwnxuxcaaaaj&hl=id&oi=sra http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/tag/1984/learningdevice http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/tag/1984/learningdevice http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/tag/1984/learningdevice http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/ http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/ peran guru dalam.......(minsih & aninda) 27 jppd, 5, (1), hlm. 20 27 peraturan menteri pendidikan nasional no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. peraturan pemerintah no. 19 tahun 2005 bab iv pasal 19 ayat 1. uno, b. hamzah, dan nurdin mohamad. (2012). belajar dengan pendekatan paikem: pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, menarik. jakarta. pt bumi aksara. sarwiji, bambang. 2015. pembelajaran dan perkembangan belajar. jakarta barat. pt. indeks. slameto. 2010. belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. jakarta. rineka cipta. sumantri; nana syaodih. (2008) perkembangan peserta didik. jakarta : ut. surjana, andyarto (2007) jurnal pendidikan penabur, vol 02. no.02. utama, gangsar febri. 2016. “kemampuan guru mengelola kelas 4 dan 5 sd negeri pandeyan umbulharjo yogyakarta”. edisi 16 tahun ke 5. yogyakarta. pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 165 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 vol. 6, no. 2, desember 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i2.8765 pengembangan media pleace o’clock pada pokok bahasan pecahan untuk siswa sdn 4 jenggik ahmad yasar ramdan1), atiaturrahmaniah2) 1), 2) pgsd, fkip universitas hamzanwadi 1)ahmadyasar9@gmail.com; 2)eyick_nissa@yahoo.co.id pendahuluan kualitas pendidikan yang baik tergantung pada upaya yang dilakukan dalam meningkatkan mutu pendidikan. hal ini adalah tugas dan tanggung jawab semua stakeholders pendidikan baik dari pemerintah, masyarakat, guru, orang tua, dan siswa. untuk meningkatkan kualitas pendidikan maka diperlukan sumber daya yang berkualitas untuk dapat bersaing secara global, maka siswa harus dibekali dengan keterampilan (yuanita & yuniarita, 2018). disisi lain, fungsi guru sebagai transformasi ilmu pengetahuan perlu dibantu dengan model, alat peraga, serta media pembelajaran yang tepat agar proses belajar-mengajar dapat berlangsung secara efektif. guru dapat meningkatkan kemampuannya dengan mengidentifikasi contoh-contoh pemikiran siswa tentang matematika yang terjadi di ruang kelas, sehingga memberikan pendidikan matematika yang berkualitas tinggi (leatham et al., 2015). hal ini disebabkan karena pekerjaan guru adalah pekerjaan profesional yang membutuhkan keterampilan dan kreativitas. abstract: this research aimed to find out the validity and effectiveness of pleace o’clock media as the developed products and to find out students’ achievement test. the development procedures used borg and gall model which had been modified into 8 stages. the subjects of this study were 23 of fifth grade (v) students of sdn 4 jenggik. data collection techniques used in this study were validation sheets, achievement test, and students’ response questionnaire. the results from expert validators, or from media experts obtained 55 scores, then the average scores were 4.23 which were indicated as "excellent". meanwhile, material experts obtained 37 scores, then the average scores were 3.36 and indicated as "sufficient". the results of students’ response questionnaire obtained 268 scores or reached 89.76%. hence, based on the conversion table, the score was indicated as "good" category. meanwhile, the learning achievement test with the total number of 23 students, where 21 students had completed, with the percentage of completeness was 91, 30%. thus, it can be concluded that the use of the o’clock pleace media on fractions was effective in the learning process in fifth (v) grade students of sdn 4 jenggik. keywords: development, media pleace o’clock, fraction http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.8382 mailto:ahmadyasar9@gmail.com pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 166 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 mata pelajaran matematika memiliki karakteristik yang abstrak, artinya kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan kebanyakan materinya bersifat konsep, akan tetapi sangat membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari. dalam pembelajaran matematika, terdapat beberapa kemampuan yang akan dicapai, meliputi: (1) pemecahan masalah, (2) penalaran, (3) menghubungkan, (4) berkomunikasi, dan (5) merepresentasikan (nctm, 2000). proses pembelajaran matematika sangat penting dilaksanakan dengan interaktif, menyenangkan, inovatif, dan memotivasi siswa. proses pembelajaran aktif (active learning) merupakan kegiatan belajar yang mampu mengoptimalkan potensi siswa, yang memiliki tujuan untuk mencapai hasil belajar yang maksimal (hosnan, 2014:209). maka dari itu, untuk menciptakan pembelajaran aktif pada mata pelajaran matematika, guru seyogyanya dibantu dengan penggunaan media pembelajaran yang menarik, sehingga anak tidak merasa takut dan jenuh di dalam kelas. tingkat kreativitas guru juga sangat diperlukan dalam mengembangkan atau dapat menggunakan semua jenis media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan sebagai media informasi dalam memudahkan siswa untuk dapat memahami suatu konsep dengan baik. keterlibatan siswa juga diperlukan dalam memberikan pembelajaran yang merata. artinya, pembelajaran dapat dipahami oleh semua siswa baik yang memiliki kecerdasan yang tinggi maupun rendah. maka diperlukan media pembelajaran yang dapat melibatkan siswa dalam memecahkan suatu permasalahan, sehingga proses pembelajaran akan lebih menarik dan bermakna. proses pembelajaran yang bermakna ketika siswa memiliki kemampuan dan mampu mencapai salah satu tujuan pembelajaran, karena materi itu bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari siswa (sirait & azis, 2017). selain belajar bermakna, yang dapat menambah pengetahuan serta pengalaman belajar siswa, diharapkan dapat membekali siswa dengan keterampilan (suryaningsih & fatmawati, 2017). penggunaan media pembelajaran pada kegiatan belajar-mengajar sangat penting dalam memberikan pemahaman yang konkrit kepada siswa mengenai materi yang disampaikan. akan tetapi, guru masih banyak hanya mengandalkan keberadaan buku paket, dan masih kurang untuk menggunakan atau mengembangkan media pembelajaran yang menarik. padahal salah satu manfaat penggunaan media dapat menyatukan gaya belajar siswa, dan dapat diterima dengan baik oleh siswa. salah satu sumber belajar yang dapat menyalurkan pesan sehingga membantu mengatasi perbedaan gaya belajar, keterbatasan daya indera, hambatan jarak geografis, jarak waktu dan lain-lain, yang dapat dibantu dan diatasi dengan pemanfaatan media pembelajaran (sadiman et al., 2012). media pembelajaran memberikan kemudahan siswa dalam membentuk konsep nyata, serta bentuk media yang bervariasi mendorong siswa aktif dalam proses pembelajaran (ulfaeni et al., 2017). media pleace o’clock merupakan media pembelajaran yang berupa papan yang berisikan 2 buah lingkaran yang dapat diputar sesuai dengan skala bilangan pecahan yang akan diujikan. media ini digunakan untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran terutama untuk menjelaskan konsep operasi penjumlahan dan pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 167 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 pengurangan pecahan. media pleace o’clock merupakan pengembangan dari alat peraga teropong pecahan. alat peraga teropong pecahan digunakan untuk membantu anak memahami konsep pecahan, yang terdiri atas dua komponen, yaitu penyangga dan lingkaran pecahan (pitadjeng, 2006:141-142). untuk lebih jelasnya, perbandingan antara keduanya dapat dijelaskan pada tabel 1. tabel 1. perbandingan alat peraga teropong pecahan dengan media pleace o’clock no teropong pecahan media pleace o’clock 1 memiliki 1 bidang lingkaran pecahan sebagai operasi pecahan memilki 2 bidang lingkaran pecahan sebagai operasi pecahan 2 memilki variasi warna pada mika pecahan untuk menyekat untuk menyekat 2 bagian yang sama besar pada bagian pecahan memilki variasi warna pada bidang lingkaran untuk menentukan skala besar pada pecahan 3 penggunaan alat peraga dengan cara menggabungkan 2 bagian pecahan yang dioperasikan dalam satu bidang lingkaran penggunaan media dengan cara memutar tombol pemutar yang terdapat pada media 4 belum mampu menentukan pecahan yang senilai sudah mampu menentukan pecahan senilai tabel 1 sudah menjelaskan bahwa perbandingan antara alat peraga teropong pecahan dengan media pleace o’clock terdapat perbedaan yang jelas. namun, keduanya merupakan media pembelajaran yang mampu memberikan pemahaman yang jelas kepada siswa pada konsep pecahan dengan menggunakan objek konkrit. sehingga proses pembelajaran dapat memberikan pemahaman yang konkrit, karena melihat karakteristik anak pada usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkrit. tahap perkembangan anak usia sekolah dasar menurut jean piaget termasuk dalam tahap operasional konkrit: dari 7 hingga 11 tahun (anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret) (suharto, 2012:27). media pembelajaran dipandang sebagai salah satu alternatif solusi yang tepat untuk memberikan konsep yang konkrit kepada siswa pada materi pecahan. salah satu media yang efektif dan efisien adalah media pleace o’clock karena dengan adanya media ini siswa mampu membandingkan serta mengoperasikan dengan jelas penjumlahan dan pengurangan pecahan. oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kevalidan dan keefektifan produk yang dikembangkan berupa media pleace o’clock serta untuk mengetahui tes hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran yang dikembangkan. metode penelitian jenis penelitian ini adalah research and development (r & d). penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggung jawabkan (sukmadinata, 2012:164). prosedur penelitian pengembangan menggunakan prosedur yang dikembangkan borg & gall (1983:783), yang telah dimodifikasi sesuai pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 168 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 dengan kebutuhan penelitian menjadi 8 tahapan, yakni: (1) analisis kebutuhan, (2) desain produk, (3) validasi desain (4) revisi desain, (5) uji coba skala kecil, (6) revisi produk, (7) uji coba skala besar, dan (8) revisi akhir produk. prosedur penelitian di atas ditunjukan pada gambar 1. gambar 1. prosedur penelitian yang telah dimodifikasi subjek penelitian ini adalah siswa kelas v sdn 4 jenggik sebanyak 23 orang siswa. teknik pengumpulan data menggunakan lembar validasi ahli media dan materi, tes hasil belajar siswa, dan angket respon siswa. data yang diperoleh pada hasil penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah perhitungan menggunakan skala linkert (skala lima) untuk analisis hasil validasi expert (ahli media dan materi) dan pensekoran ya bernilai (1) dan tidak bernilai (0) untuk angket respon, serta data hasil belajar siswa. data kevalidan dan keefektifan produk diolah dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. hasil dan pembahasan hasil penelitian diperoleh dengan teknik pengumpulan data dan prosedur penelitian pengembangan yang digunakan. sehingga hasil penelitian diuraikan secara rinci sesuai dengan prosedur penelitian dan efektivitas hasil pengembangan produk. berikut ini adalah prosedur penelitian pengembangan media pleace o’clock pada pokok bahasan pecahan untuk siswa sdn 4 jenggik, yang menggunakan 8 tahapan pengembangan, yaitu: 1. analisis kebutuhan data analisis kebutuhan selain dengan melakukan survey maka dilakukan juga studi lapangan dan studi pustaka. hasil yang didapatkan dari studi lapangan menggunakan analisis swot, yaitu kekuatan (strength) adalah fasilitas yang dimiliki sekolah seperti gedung sekolah yang bersih dan nyaman, perpustakaan yang menyediakan buku-buku lengkap, dan beberapa alat peraga dan media yang dapat digunakan untuk menunjang pembelajaran siswa. sedangkan kelemahan (weakness) pembelajaran matematika hanya memanfaatkan buku-buku pelajaran yang digunakan siswa. hal ini juga disebabkan oleh keterbatasan waktu dan kreativitas guru dalam analisis kebutuhan desain produk validasi desain revisi desain revisi akhir uji coba skala besar revisi produk uji coba skala kecil pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 169 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 mengembangkan media pembelajaran. kemudian peluangnya (opportunities) dapat dimanfaatkan adalah sarana dan prasarana yang ada di sekolah, biaya serta kemampuan guru dalam mengembangkan kreativitas dan kualitas pembelajaran yang baik yakni dengan mengembangkan alat atau media pembelajaran, dan ancamannya (threats) siswa merasa kurang termotivasi dan kurang meningkatkan berpikir kritis siswa sehingga prestasi hasil belajar siswa akan menjadi rendah. sehingga dari penjabaran deskripsi analisis kebutuhan ini sebagai dasar atau acuan dalam mengembangkan media pleace o’clock pada pokok bahasan pecahan untuk siswa kelas v sdn 4 jenggik. dengan demikian, media yang dikembangkan dapat memenuhi beberapa kebutuhan yang telah dijelaskan di atas. 2. desain produk pada tahap ini mulai disusun bentuk awal atau prototype dari media pleace o’clock, yakni dengan mengumpulkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan media. adapun beberapa langkah-langkah pengembangan produk awal adalah sebagai berikut: a. alat-alat pembuatan, terdiri dari penggaris, gunting, alat tulis (pensil dan bolpoin), cutter, palu, gergaji, amplas, spidol permanen, dan kuas. b. bahan pembuatan terdiri dari triplek (80 x 60 cm), rantai kamrat (2 buah), gear rantai (4 buah), mur baut (4 buah), paku (1 ons), mika (transparan dan merah), kertas karton (kuning), lem alteco, pylox, dan cat kayu. c. memotong triplek dengan ukuran 80 x 60 cm sebanyak 4 buah sebagai cover depan dan belakang. d. melubangi triplek biasa sebanyak 3 lubang yang seukuran dengan tuas besi yang digunakan, dimana 2 lubang sebagai pusat lingkaran dan 1 lubang sebagai tuas pemutar. e. membuat rangka kayu media yang berbentuk persegi dengan ukuran 80 x 60 cm. f. mengelas dan memasang gear serta rantai pada masing-masing tuas. g. satukan 3 buah triplek pada bagian depan dan belakang pada rangka kayu media. h. tempel kertas karton pada bagian depan media sebelah kiri dan kanan atas media. i. melubangi triplek sebagai cover depan pada bagian atas berbentuk lingkaran sebanyak 2 buah dengan diameter 30 cm dan satukan dengan rangka kayu media. j. memasang 2 buah bundaran mika warna merah sebagai roda pemutar pada pusat tuas media sebelah kiri dan kanan serta tombol pemutar. k. membuat lingkaran dari mika sebanyak 16 buah, yakni pecahan dengan diameter 30 cm. l. membuat wadah untuk mika pecahan dan soal, kemudian adalah pengecatan produk. pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 170 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 3. validasi desain validasi desain terhadap produk yang dikembangkan adalah untuk menggali komentar, saran baik secara tertulis maupun lisan dengan cara melakukan diskusi tentang produk yang dikembangkan. a. validasi ahli media validasi oleh ahli media dibutuhkan untuk mendapatkan kevalidan media pleace o’clock, baik dari segi keawetan bahan yang dipakai, tampilan warna dan gambar, serta efisiensi penggunaan media. tabel 2. hasil penilaian produk oleh ahli media no pernyataan skor penilaian 1 2 3 4 5 1 ketepatan ukuran gambar √ 2 keawetan bahan √ 3 ketepatan jenis bahan yang dipakai √ 4 keamanan bahan papan untuk anak-anak √ 5 bentuk fisik kemasan √ 6 kualitas gambar √ 7 keserasian warna pada tampilan √ 8 fokus jarak pandang √ 9 kesesuaian media dengan tujuan dan karakteristik siswa √ 10 kemampuan media dalam mengembangkan motivasi siswa √ 11 kemampuan media untuk menciptakan rasa senang siswa dalam proses pembelajaran √ 12 kemudahan media dalam praktik pembelajaran √ 13 efesiensi media dalam proses pembelajaran √ jumlah 55 rata-rata 4, 23 berdasarkan hasil validasi oleh ahli media pada tabel 2 di atas menunjukkan bahwa kualitas media pleace o’clock jika dilihat dari sudut pandang ahli media adalah telah memenuhi kriteria atau kategori “sangat baik” dengan jumlah skor aktual adalah 55 dengan rata-rata 4, 23. b. validasi ahli materi komponen kevalidan materi meliputi segi kelengkapan kelayakan isi media pleace o’clock, ketuntasan dan penyajian materi. tabel 3. hasil penilaian produk oleh ahli materi no pernyataan skor penilaian 1 2 3 4 5 1 kesesuaian dengan sk dan kd, serta indikator yang telah dirumuskan √ 2 merangkum isi materi dengan jelas √ 3 kesesuaian dengan silabus √ 4 ruang lingkup materi √ 5 ketuntasan materi √ 6 tercapaianya tujuan pembelajaran √ 7 relevansi dengan tingkat kemampuan siswa √ pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 171 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 8 kesesuaian dengan kebutuhan siswa √ 9 materi disajikan secara sistematis √ 10 relevansi media dengan materi √ 11 memberikan kemudahan bagi siswa dalam memahami isi materi √ jumlah 37 rata-rata 3, 36 berdasarkan hasil validasi ahli materi pada tabel 3 di atas menunjukkan bahwa kualitas media pleace o’clock adalah memenuhi kriteria “cukup” dengan jumlah skor aktual 37 dan rata-rata 3, 36. 4. revisi desain saran perbaikan untuk pengembangan produk dari ahli materi, yaitu: (a) tambahkan soal latihan dan kunci jawaban pada buku pedoman media, (b) gunakan bahasa-bahasa yang mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar, (c) perbaiki tabel kisikisi soal dengan menambahkan sk dan kd materi yang diajarkan. sedangkan saran perbaikan dari ahli media, yaitu: (a) gunakan variasi warna soal pada media serta menambahkan variasi berupa bilangan pecahan yang dapat meningkatkan kemenarikan dari media, (b) seharusnya pada pembahasan alat dan bahan serta langkah-langkah pembuatan media harus disertai foto, (c) kata-kata dalam cover belakang buku semestinya harus diminimalisir, sehingga pesan yang disampaikan mudah dipahami. 5. uji coba skala kecil pada uji coba skala kecil peneliti melakukan sosialisasi atau pengenalan kepada siswa dan guru terhadap media pleace o’clock yang telah dikembangkan agar guru dan siswa mampu memahami bagaimana cara penggunaan media sehingga akan mempermudah peneliti dalam memberikan pemahaman kepada siswa pada proses pembelajaran. pada uji coba skala kecil hanya melibatkan 6 orang siswa yang melibatkan siswa yang memiliki prestasi tinggi, sedang, dan rendah. 6. revisi produk dari hasil uji coba yang telah dilaksanakan pada skala kecil, peneliti juga memberikan angket respon siswa, tujuannya untuk mengetahui kepraktisan dari produk yang dikembangkan. sehingga pada tahap ini, peneliti menemukan kelemahan atau kekurangan dari media pleace o’clock yakni: (a) ketahanan dari kartu soal yang digunakan tidak memiliki ketahanan yang tidak lama, sehingga kartu soal pada media mudah rusak dan kotor, dan (b) tingkat kesukaran soal terlalu mudah. 7. uji coba skala besar pada uji coba media pleace o’clock dalam skala besar, diuji cobakan kepada 23 siswa kelas v sdn 4 jenggik. pada tahap uji coba ini, produk yang telah dikembangkan digunakan dalam proses pembelajaran di dalam kelas. pada tahap ini juga memberikan siswa untuk memberikan saran dan perbaikan media/produk dalam menentukan pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 172 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 efektifitas dan kevalidan/kelayakan media melalui angket respon siswa dan tes hasil belajar. 8. revisi akhir produk berdasarkan hasil validasi, revisi, dan evaluasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan penilaian terhadap produk yang dikembangkan. hal ini dapat diartikan bahwa revisi terhadap produk yang dikembangkan membawa hasil yang positif terhadap media pleace o’clock yang dikembangkan. revisi akhir produk dari hasil uji coba skala besar lebih pada kejelasan dan kualitas mika pecahan yang digunakan, standing media sangat perlu dibutuhkan sebagai penyangga media, dan soal-soal latihan yang disediakan perlu diperbanyak. analisis hasil uji coba lapangan dalam mengetahui efektifitas produk yang dikembangkan berupa media pleace o’clock pada pokok bahasan pecahan dengan menggunakan tes hasil belajar dan angket respon siswa. tes hasil belajar terdiri dari 5 soal uraian, masing-masing nomor soal memiliki sub soal, berikut dibawah ini adalah tabel 4 presentase ketuntasan belajar siswa. tabel 4. presentase ketuntasan belajar keterangan ketuntasan jumlah kkm = 70 siswa yang tuntas 21 siswa yang tidak tuntas 2 presentase ketuntasan belajar 91,30 % data yang diperoleh setelah dilakukan uji coba adalah dari 23 orang siswa terdapat 21 siswa yang tuntas dan 2 orang siswa belum tuntas. presentase ketuntasannya adalah 91,30% berdasarkan analisis data konversi nilai keefektifan produk yang dikembangkan, maka produk yang dikembangkan termasuk dalam kriteria “sangat baik” berdasarkan konversi nilai yang dikembangkan oleh widoyoko (2009:242). sedangkan angket respon siswa diperoleh kemudian dianalisis untuk mendapatkan presentase kepraktisan dari produk yang dikembangkan. pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 173 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 tabel 5. prensentase komponen angket respon siswa no pernyataan presentase skor klasifikasi 1 saya sangat senang belajar matematika dengan menggunakan media pleace o’clock 96% sangat baik 2 media pleace o’clock membuat saya lebih terlibat dalam aktivitas belajar di dalam kelas 65% kurang 3 saya sangat tertarik belajar matematika dengan media pleace o’clock dibawah bimbingan guru 91% sangat baik 4 media pleace o’clock merupakan media yang sangat baik untuk membantu saya belajar matematika 91% sangat baik 5 media pleace o’clock merupakan sumber belajar matematika yang efektif untuk mempelajari materi pecahan 96% sangat baik 6 kehadiran media pleace o’clock sangat membantu saya memahami materi dengan lebih mudah 87% baik 7 saya lebih termotivasi belajar matematika dengan menggunakan media pleace o’clock sebagai media pembelajaran di dalam kelas 96% sangat baik 8 media pleace o’clock mampu membangkitkan minat saya belajar matematika dengan lebih baik 91% sangat baik 9 media pleace o’clock adalah media pembelajaran yang jelas dan mudah dipahami 96% sangat baik 10 media pleace o’clock membantu saya memahami materi pecahan dengan lebih cepat 96% sangat baik 11 media pleace o’clock menciptakan ativitas belajar yang menyenangkan 96% sangat baik 12 media pleace o’clock mendorong saya untuk aktif 83% baik 13 media pleace o’clock dapat merangsang saya berpikir lebih aktif 83% baik rata-rata keseluruhan 89,63% baik jumlah keseluruhan angket respon siswa mendapatkan skor 268 dengan rata-rata presentase respon siswa menunjukkan 89,76%. dari data angket respon siswa pada rata-rata yang didapatkan, media pleace o’clock termasuk dalam kategori “baik”. maka dapat dikatakan bahwa media yang telah dikembangkan termasuk dalam media pembelajaran yang praktis, karena produk yang dikembangkan telah mencapai standar kepraktisan produk yakni 80% dengan kriteria baik atau sangat baik (sudjana, 2005:118). kajian produk akhir pengembangan media pembelajaran ini menggunakan model pengembangan borg and gall yang sudah disederhanakan menjadi menjadi 8 tahapan yaitu: (1) analisis kebutuhan, (2) desain produk, (3) validasi desain (4) revisi desain, (5) uji coba skala kecil, (6) revisi produk, (7) uji coba skala besar, dan (8) revisi akhir produk. model pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk yang baik, sehingga dapat memberikan dampak positif dalam proses pembelajaran terutama dalam pokok bahasan pecahan. dalam kajian produk akhir dari media pleace o’clock dan buku pedoman penggunaan media, maka diperoleh produk akhir. hasil kajian produk akhir tersebut antara lain: pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 174 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 1. kelayakan media pleace o’clock a. kelayakan media dan buku pedoman penggunaan media dari ahli media, bahwa media yang telah dikembangkan termasuk dalam kategori valid dan layak digunakan. data ini diperoleh dari hasil analisis data dari ahli media didapatkan rata-rata nilai 4,23. b. dari hasil analisis data yang diperoleh dari ahli materi terhadap media dan buku pedoman penggunaan media termasuk dalam kategori valid dan alayak digunakan. hasil data dari validator diperoleh rata-rata nilai sebesar 3,36 dengan kategori valid dari ahli materi. 2. keefektifan pembelajaran dengan media pleace o’clock a. tes hasil belajar siswa setelah dianalisis menunjukkan presentase ketuntasan mencapai 91,30% dengan kriteria tuntas. sehingga pembelajaran dengan media pleace o’clock dikatakan efektif terhadap hasil belajar siswa, dengan kriteria kualitatif “sangat baik. b. hasil uji coba lapangan yang telah dilaksanakan oleh peneliti, bahwa diperoleh respon siswa terhadap media pleace o’clock menunjukkan presentase respon positif mencapai 89,76%, sehingga media dapat dikatakan efektif karena telah melebihi batas minimal keefektifan produk yaitu 80%. dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keefektifan pembelajaran menggunakan pleace o’clock dapat dikatakan efektif karena respon siswa terhadap media positif dengan kriteria kualitatif berada pada kategori “baik”. berikut ini adalah perbaikan atau revisi media dan buku pedoman berdasarkan penilaian dari expert judgment. gambar 2. media dan buku pedoman sebelum direvisi gambar 3. media dan buku pedoman sudah direvisi media pleace o’clock telah memberikan kemudahan siswa dalam memahami materi penjumlahan dan pengurangan pecahan. karena media mampu mendorong pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 175 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 motivasi siswa dalam proses pembelajaran di kelas. minat atau motivasi siswa muncul karena mereka tertarik terhadap sesuatu, berdasarkan kebutuhan, dan apa yang dipelajari sangat bermakna untuk dirinya (wahyuningsih, 2012). selain itu, media telah memudahkan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. sehingga media sangat membantu siswa dalam mencapai kompetensi yang harus dikuasai setelah proses pembelajaran dengan media (mahlianurrahman & syamsu, 2019). berdasarkan deskripsi hasil penelitian di atas, media pleace o’clock yang telah dikembangkan termasuk dalam kategori layak untuk digunakan dalam pembelajaran matematika. selain itu, media pembelajaran sangat efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa, karena produk yang dikembangkan berada dalam kriteria “sangat baik”. media pembelajaran sebagai salah satu komponen pembelajaran, dan sebagai alat bantu guru untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa (salamah, 2017). media pleace o’clock ini dapat digunakan oleh guru dalam memberikan pembelajaran materi pecahan pada siswa sekolah dasar, terutama dalam memberikan kemudahan dalam menyampaikan materi dan penyajian materi yang lebih konkrit. simpulan berdasarkan prosedur dari penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan media pleace o’clock pada pokok bahasan pecahan untuk siswa sdn 4 jenggik termasuk dalam kategori valid dan efektif, serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pecahan, terutama pada kompetensi penjumlahan dan pengurangan pecahan. hal ini dibuktikan dengan hasil penilaian dari expert judgment atau ahli media dan materi, bahwa penilaian media pleace o’clock oleh ahli media, layak dan valid digunakan dengan kriteria atau kategori “sangat baik” dengan jumlah skor aktual adalah 55 dengan rata-rata 4, 23. sedangkan penilaian oleh ahli materi, layak dan valid untuk digunakan yang telah memenuhi kriteria “cukup” dengan jumlah skor aktual 37 dan rata-rata 3, 36. keefektifan pembelajaran dengan menggunakan media pleace o’clock telah memenuhi kriteria kualitatif “sangat baik” ditunjukkan dengan presentase ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 91,30%. kemudian hasil analisis dari uji coba lapangan diperoleh respon positif siswa mencapai 89,76%, sehingga media dapat dikategorikan “baik” dan telah memenuhi batas minimal keefektifan produk yaitu 80%. saran yang ingin peneliti sampaikan setelah melakukan penelitian ini, yaitu: 1) media pleace o’clock dapat digunakan dalam proses pembelajaran matematika yang efektif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa di sekolah; 2) guru dapat mengembangkan media pleace o’clock dalam bentuk materi lain, karena media yang dikembangkan hanya sebatas satu pokok pembahasan penjumlahan dan pengurangan pecahan, sehingga media pleace o’clock dapat dijadikan acuan untuk pengembangan media pembelajaran selanjutnya. pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 176 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 daftar pustaka borg, w. r., & gall, m. d. (1983). educational research: an introduction. new york: longman. hosnan, m. (2014). pendekatan saintifik dan kontekstual dalam pembelajaran abad 21 kunci sukses implementasi kurikulum 2013. bogor: ghalia indonesia. leatham, k. r., peterson, b. e., stockero, s. l., & van zoest, l. r. (2015). conceptualizing mathematically significant pedagogical opportunities to build on student thinking. journal for research in mathematics education, 46(1), 88–124. mahlianurrahman, & syamsu, f. d. (2019). developing tutorial video for enhancing elementary school students ’ process skills in science. eelementry, 5(1), 1–12. nctm. (2000). principles and standards for school mathematic. reston, va: nctm. pitadjeng. (2006). pembelajaran matematika yang menyenangkan. jakarta: depdiknas. sadiman, a. s., rahardjo, r., haryono, a., & rahardjito. (2012). media pendidikan: pengertian, pengembangan, dan pemanfaatannya. jakarta: pt. rajagrafindo persada. salamah, e. r. (2017). pengembangan media pembelajaran berbasis audio visual tokoh-tokoh kemerdekaan indonesia. pendidikan dasar dan pembelajaran, 7(1), 9–18. https://doi.org/http://doi.org/10.25273/pe.v7i01.1251 sirait, a. r., & azis, z. (2017). the realistic of mathematic educational approach ( rme ) toward the ability of the mathematic connection of junior high school in bukhari muslim medan. american journal of educational research, 5(9), 984– 989. https://doi.org/10.12691/education-5-9-10 sudjana, n. (2005). penilaian hasil proses belajar mengajar. bandung: pt. ramaja rosdakarya. suharto, a. (2012). memahami teori psikologi kognitif piaget hubungannya dengan perkembangan anak dalam belajar. edukasi, 7(1), 19–37. sukmadinata, n. s. (2012). metode penelitian pendidikan. bandung: pt. rosdakarya offset. suryaningsih, e., & fatmawati, l. (2017). pengembangan buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api untuk siswa sd. profesi pendidikan dasar, 4(2), 112–124. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.5310 ulfaeni, s., wakhyudin, h., & januar, s. h. (2017). pengembangan media monergi (monopoli energi) untuk menumbuhkan kemampuan pemahaman konsep ipa siswa sd. jurnal profesi pendidikan dasar, 4(2), 136–144. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.4990 pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 177 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 wahyuningsih, a. n. (2012). pengembangan media komik bergambar materi sistem saraf untuk pembelajaran yang menggunakan strategi pq4r. journal of innovative science education, 1(1), 20–27. widoyoko, e. p. (2009). evaluasi program pembelajaran. yogyakarta: pustaka pelajar. yuanita, & yuniarita, f. (2018). pengembangan petunjuk praktikum ipa berbasis keterampilan proses untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa sekolah dasar. jurnal profesi pendidikan dasar, 5(2), 139–146. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.6608 pengembangan media place..(ahmad y r & atiurrahmaniah) 178 jppd, 6, (2), hlm. 165 178 profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 81 analysis of factors affecting primary teachers’ happiness binsar samosir1* & darsih idayani2 1,2universitas terbuka, south tangerang, indonesia *email: bsamosir31@gmail.com submitted: 2022-03-06 doi: 10.23917/ppd.v9i1.17687 accepted: 2022-07-02 published: 2022-07-31 keywords: abstract character strength; social life; compensation; teachers’ happiness; multiple linear regression teachers are indispensable to education. teachers’ presence in the classroom is crucial for student learning. consideration must be given to teachers’ happiness in order for them to perform their duties effectively in schools. this study employed a multiple linear regression model to determine the effects of character strength, social life, and compensation on the happiness of teachers. this was a quantitative descriptive study with 71 teachers as the population and 40 teachers as the sample from maitreawira primary school in batam. the information was gathered using a questionnaire. before using multiple linear regression to analyze the data, their validity and dependability were evaluated. the results indicated that the teachers’ social lives had an impact on their happiness. while the factors of moral fortitude and remuneration have a limited impact on teachers’ happiness, neither factor has a substantial impact. however, character strength, social life, and compensation can simultaneously affect teachers’ happiness. the headmaster of a primary school is expected to pay attention to the social life of teachers in order to increase their happiness. this study demonstrated the effect of character strength, social life, and compensation on the happiness of teachers. introduction background due to their direct involvement in fostering the character and intelligence of students, the role of teachers in the field of education is both essential and noble. teachers are inextricably linked to numerous factors that deplete their energy, mind, and heart. teachers must have effective teaching and class management skills. especially during a pandemic such as the current one, teachers are always required to solve unexpected problems. teachers must be able to communicate online with their students. according to ardhyantama and idayani (2020), effective communication positively influences students’ learning motivation, particularly during this pandemic. teachers must maintain their zeal and endurance to deal with the personalities of dozens of students in the classroom and the http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:bsamosir31@gmail.com samosir & idayani – analysis of factors affecting primary teachers’ happines ... printed issn 2406-8012 82 demands of parents, principals, foundations, and the education authorities. if teachers are unable to maintain their zeal and stamina and control their emotions, this duty becomes taxing. in order to perform their jobs in accordance with national values, such as educating the nation's life and developing students' character, teachers must be happy in order to maintain their stamina. positive relationships exist between students' attitudes and motivations as well as their perceptions of teachers' happiness (moskowitz & dewaele, 2021). according to bhatia and mohsin (2020), it's crucial to put an emphasis on workplace happiness rather than individual engagement or job satisfaction. additionally, stasio et al. (2019) discovered that subjective joy and affection have an impact on job engagement. happiness is the key to keeping new teachers in the classroom, despite the fact that many studies to date have concentrated on work and working conditions (de stercke, goyette, & robertson, 2015). even the definition of happiness depends on a number of factors. divergent viewpoints exist on the matter. teacher happiness is defined as the state of teachers as they carry out their teaching duties, optimism, faith, and ethics based on external factors from the perspective of philosophy, psychology, pedagogy, and comparative analysis that focuses on happiness and well-being. to achieve the desired state, work produces a type of pleasure (zhongying, 2013). an individual's happiness can be influenced by a variety of factors. in seligman's book "authentic happiness," he argues that both internal and external factors affect happiness. examples of external factors include things like money, marriage, social life, health, religion, age, education, climate, race, and gender. character strength, satisfaction from the past, and happiness in the present are all concurrent internal factors (seligman, 2017). problem of study maitreyawira primary school has 1665 students and 71 teachers, with 53 female teachers and 18 male teachers. the large number of students, the diverse characteristics of parents, the demands of principals, foundations, and the education authorities all have an impact on teachers' emotional regulation. the happiness of the teacher is critical to the success of the learning process and positive interactions with students. the school and the school foundation have coordinated teacher compensation in an effort to increase teachers' happiness so that they can perform their duties to the best of their abilities. it is expected to have an indirect impact on student achievement. however, it is unknown whether the compensation provision has increased the happiness of elementary school teachers.there were four research questions to answer in this study, i.e. 1. does strength of character partially affect the teacher’s happiness? 2. does social life partially affect the teacher’s happiness? 3. does compensation partially affect the teachers’ happiness? 4. do character strength, social life, and compensation simultaneously affect a teacher’s happiness? based on the research questions, the research hypothesis is following hypothesis 1: strength of character is partially affected the teacher’s happiness. hypothesis 2: social life is partially affected teachers’ happiness. hypothesis 3: compensation is partially affected teachers’ happiness. hypothesis 4: character strength, social life, and compensation simultaneously affect a teacher’s happiness. state of the art several studies related to the factors that can affect happiness in the workplace in general and teachers’ happiness have been carried out. tadic et al. conducted a multi-level vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 83 analysis that showed that self-appropriate motivation supports a negative relationship between job demands and happiness (tadić, bakker, & oerlemans, 2013). meanwhile, toulabi et al. acquired that happiness had a significant relationship with all components of work-life quality except promotion opportunities in ilam, iran (toulabi, raoufi, & allahpourashraf, 2013). wulandari and widyastuti stated that five factors make a person happy at work. the first is positive relationships with other people, such as support from colleagues and superiors. the second is achievements, such as job completion, job suitability, and self-development. then, the physical work environment, such as supporting facilities. then, compensation (salary and incentives) and health, such as a healthy and relaxed body (wulandari & widyastuti, 2014). prasetyo, in his study, suggests that the factors that influence lecturers’ happiness are relationships with other people (students, fellow lecturers, structural officials of higher education), total involvement in assignments, the discovery of the meaning of spirituality and career development (prasetyo, 2015). in addition, jalali and heidari showed a significant relationship among happiness, subjective well-being, performance and creativity of elementary school teachers in ramhormoz city, iran (jalali & heidari, 2016). similar to jalali and heidari’s research, ihtiyaroglu showed that life satisfaction and happiness were significantly predicted an appreciative and indifferent class management profile (i̇htiyaroğlu, 2018). mertoglu more comprehensively explores the factors that differentiate teachers’ happiness working at the primary, middle and high school levels and provide notable advice to form happier individuals in foça and dikili district of i̇zmir, turkey. he discovered that teachers’ happiness rates did not differ considerably according to marital status, age, number of children, income level and seniority. however, there is a significant difference in teachers’ happiness rates between teachers who are willing to go to school and teachers who are not ready to go (mertoğlu, 2018). the following are happiness factor studies from the past three years. benevene et al. (2019) discuss the never-before-discussed mediating aspect of teachers' happiness. results indicated that teachers' workplace happiness partially mediates the relationship between dispositional happiness and teacher health. moreover, it fully mediates the association between teacher self-esteem and health. in addition, the impact of self-esteem and dispositional happiness on health conditions is greater when teachers recognise their workplace as a context in which they experience happiness.. on the basis of student happiness, nurochim and ngaisah (2019) provided a theoretical explanation of efforts to improve the quality of teachers. positive patterns of human resource management can be discovered with an analysis that focuses on happiness at work. it might raise teachers' standards. at the same time, the management of human educational resources based on the social and psychological potential already present can enhance the quality of the teacher themselves. life satisfaction, the meaning of life, and emotions as elements that contribute to teachers' happiness are some things that need to be taken into account in order to improve teachers' quality. in contrast, kun and gadanecz (2022) examined the relationship between teachers' psychological resources and workplace well-being, psychological capital, and perceived workplace happiness. the results indicate that happiness and well-being at work are particularly associated with optimism, hope, and psychological resources within oneself. kim and kim (2020) investigated the impact of early childhood teachers' happiness and psychological exhaustion on teacher-child interactions in metropolitan south korea. improving the quality of teacher-child interaction necessitates increasing the happiness of early childhood educators and reducing psychological fatigue, as demonstrated by the findings. ahmed et al. (2020) investigated the correlation between work motivation and happiness among elementary school teachers in the pasir gudang region of johor, malaysia. samosir & idayani – analysis of factors affecting primary teachers’ happines ... printed issn 2406-8012 84 the results indicate a strong correlation between job satisfaction and teacher work motivation. gap study & objective the study’s objectives were to test the hypothesis of the partial effects and a stimulant effect of independent variables (strength of character, social life, and compensation) on a dependent variable (teacher’s happiness). based on several studies, it can be seen how important to maintain teacher happiness. most studies discussed psychological and mental factors without combining the material side, such as the compensation received by the teacher. consequently, the compensation factor was added to the character and social life factors. using previously untested multiple linear regression models, this study aims to determine the effect of character strength, social life, and compensation factors on the happiness of teachers at maitreyawira primary school batam. method type and design this study is a quantitative descriptive study with a case study design included in nonexperimental research. it describes a phenomenon through quantitative data processed through a presentation, analysis, and interpretation. there are four variables in this study, i.e. three independent variables: character strength factor (𝑋1), social life (𝑋2) and compensation (𝑋3) and a dependent variable is teachers’ happiness (𝑌). the authors conducted this study at maitreyawira primary schools in batam, riau islands, indonesia (see figure 1) from march to june 2021. this study begins by conducting a literature review on character strength, social life, compensation, and teachers’ happiness theory. in addition, literature reviews were also conducted on data processing, such as validity and reliability, correlation, and multiple linear regression. furthermore, data collection was carried out using a survey method. after data collection, data processing, analysis, drawing conclusions and giving suggestions are carried out. figure 1: location of the present study data and data sources the population was 71 teachers in maitreyawira primary school batam, with an average age is 34,7 years. three independent variables and one dependent variable were investigated so that the minimal sample is ten times the number of variables, as many as 40 samples (sugiyono, 2012). a random sampling technique was used in this study. the sample is 11 male teachers and 29 female teachers with the latest education s1. data collection technique vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 85 the data were collected using a newly created questionnaire by submitting questions in writing to the respondents. the questions are logically related to the variables under investigation in this study, i.e., character strength, social life, pay, and teacher satisfaction. in hypothesis testing, every answer has significance. data validity and reliability data analysis was conducted with validity and reliability tests to know the level of validity and trustworthiness of the data measured. the validity test was conducted to measure the accuracy of the questionnaire as an instrument of data collection. the validity test is carried out with a validity interval. the criteria used come from within the test tool itself, and each variable indicator is correlated with the total value obtained from the coefficient of product-moment correlation. if the coefficient is low and not significant, then the indicator of the variable in question is declared invalid. the calculations are using spss version 23, where the criteria for the validity of each item are determined by looking at the significant sign or p-value (sig.(2-tailed)) in the spss output. valid items have a significant sign at the significance level of 0.05 or the sig.(2-tailed) value < 0.05 on the spss output. a reliability test is a test to see the consistency of a measurements series. the reliability test used the cronbach alpha test. a variable is reliable if it has a cronbach alpha value > 0.6. data analysis the normality and multicollinearity test, using the kolmogorov-smirnov test, are carried out to determine whether the data meet the assumptions of the classical multiple linear regression model. in the normality test, if the k-s test results have a sig value > 0,05, the data variables are normally distributed (field, 2018). the multicollinearity test aims to determine whether the independent variables in the regression equation are not correlated with each other. in the multicollinearity test, if the vif value is < 10, it means there is no multicollinearity (field, 2018). while the correlation test is carried out to determine the direction and strength of the relationship between two or more variables. according to sugiyono (2018), in general, every regression analysis is preceded by correlation analysis, but every correlation analysis is not necessarily followed by regression. the correlation not followed by regression is the correlation between two variables that do not have a causal or functional relationship. correlation tested with product moment correlation (sugiyono, 2018). the product moment correlation formula for the independent variable 𝑋 with the dependent variable 𝑌 is (sugiyono, 2017) 𝑟𝑋𝑌 = 𝑛 ∑ 𝑋𝑌 − ∑ 𝑋 ∑ 𝑌 √(𝑛 ∑ 𝑋2 − (∑ 𝑋)2)(𝑛 ∑ 𝑌2 − (∑ 𝑌)2) (1) with 𝑟𝑋𝑌 = correlation coefficient between 𝑋 and 𝑌 variables ∑ 𝑋= total score of 𝑋 ∑ 𝑌= total score 𝑌 𝑛 = amount of data according to sugiyono (2017), table 1 shows the level of correlation value (sugiyono, 2017). table 1. the level of correlation correlation coefficient correlation level 0,000-0,199 very low 0,200-0,399 low 0,400-0,599 strong enough samosir & idayani – analysis of factors affecting primary teachers’ happines ... printed issn 2406-8012 86 0,600-0,799 strong 0,800-1,000 very strong after the correlation test, the multiple linear regression test was performed. multiple linear regression is a development of simple linear regression that only uses one independent variable. it uses more than one independent variable. multiple linear regression is used to analyze the causal relationship of several independent variables (𝑋𝑖 ) to one dependent variable (𝑌) with the following model. 𝑌 = 𝑎0 + 𝑎1𝑋1 + 𝑎2𝑋2 + ⋯ + 𝑎𝑛𝑋𝑛 + 𝜀 (2) with 𝑌 = dependent variable [teachers’ happiness (𝑌)] 𝑎0 = constant 𝑎₁, 𝑎₂, … , 𝑎𝑛 = regression coefficients 𝑋₁, 𝑋₂, … , 𝑋𝑛 = independent variables [character strength factor (𝑋1), social life (𝑋2), and compensation (𝑋3)] 𝜀 = error the multiple linear regression model was used to estimate the regression coefficient of several independent variables (𝑋𝑖 ) to the dependent variable (𝑌). all independent variables must be included in the regression calculation simultaneously to determine the regression equation in the data test. this regression equation then produces a constant and regression coefficients for each independent variable. the independent variables in this study are character strength factor, social life, and compensation. the dependent variable in this study is teacher’s happiness. the multiple linear regression method can be applied to determine the factors that affect teachers’ happiness. using this method, regression coefficients that form a regression equation will be obtained, indicating how much the independent variables affect the dependent variable. result validity dan reliability test the validity and reliability test results are shown in tables 2 and 3. based on the rtable, the minimum pearson correlation value (𝛼 = 0,05) with 40 respondents is 0,2573. each item’s validity is found in column rcount (see table 2). it shows that all pearson correlations values for each item are > 0,2573. so it can be concluded that all questionnaire items for all these variables are valid. furthermore, the reliability test is shown in tables 3. according to the reliability test results, the alpha-cronbach reliability coefficient is greater than 0.60. it indicates that the instrument is reliable. table 2. validity test result item x1 x2 x3 x4 rcount description rcount description rcount description rcount description 1 0.50 valid 0.51 valid 0.5 valid 0.6 valid 2 0.67 valid 0.51 valid 0.61 valid 0.8 valid 3 0.51 valid 0.67 valid 0.62 valid 0.62 valid 4 0.44 valid 0.59 valid 0.6 valid 5 0.44 valid 0.69 valid 0.5 valid 6 0.42 valid vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 87 table 3. reliability test result (cronbach’s alpha) variable cronbach’s alpha description x1 0.67 reliable x2 0.73 reliable x3 0.71 reliable x4 0.75 reliable classic assumption test table 4 displays the outcomes of the normality test. each variable’s significance value in table 4 is greater than 0,05. it indicates that all variables have a normal distribution, which satisfies the conditions needed to conduct a linear regression analysis. the results of the multicollinearity test are shown in table 5. the value of vif for all independent variables is less than 5. it means that there is no multicollinearity (field, 2018). table 4. normality test result tests of normality kolmogorov-smirnova shapiro-wilk statistic df sig. statistic df sig. x1 0.162 40 0.010 0.943 40 0.044 x2 0.153 40 0.019 0.929 40 0.015 x3 0.160 40 0.011 0.902 40 0.002 a. lilliefors significance correction table 5. multicollinearity test result coefficientsa unstandardized coefficients unstandardized coefficients collinearity statistics model b std. error beta t sig. tolerance vif 1 (constant) 0.580 2.298 0.252 0.802 x1 0.249 0.214 0.379 1.162 0.253 0.131 7.628 x2 0.375 0.103 0.550 3.656 0.001 0.615 1.626 x3 -0.094 0.250 -0.132 -0.378 0.708 0.113 8.817 a. dependent variable: y correlation test the correlation test results are shown in table 6. the correlation coefficient between the character strength (𝑋1) and the teacher’s happiness (𝑌) is 0,542, positive correlation with strong enough level. the correlation coefficient between the social life (𝑋2) and the teacher’s happiness (𝑌) is 0,667, positive correlation with strong level. while the correlation coefficient between the compensation (𝑋3) and the teacher’s happiness (𝑌) is 0,555, positive correlation with strong enough level. the highest correlation coefficient is between social life and teacher’s happiness. table 6. correlation test result correlation value level rx1y 0.542 strong enough rx2y 0.667 strong samosir & idayani – analysis of factors affecting primary teachers’ happines ... printed issn 2406-8012 88 rx3y 0.555 strong enough multiple linear regression from the output of multiple linear regression by spss 23, several values related to the coefficient of determination and multiple linear regression are obtained (see table 7 – table 9). based on table 7, the r-value is 0,706. according to sugiyono (2012), it shows a strong relationship between the factors of character strength, social life and compensation on the happiness level of maitreyawira primary school teachers. as much as 70.6% of teachers’ happiness is influenced by character strength, social life, and compensation. while other factors outside the model influence the remaining 29.4%. table 7. multiple linear regression result (r-value) model summary model r r square adjusted r square std. error of the estimate 1 0.706a 0.499 0.457 0.7565 a. predictors: (constant), x3, x2, x1 from table 8, the constant value 𝑎0 = 0,580, the coefficient value of the character strength variable 𝑎1 = 0,249, the coefficient value of the social life variable 𝑎2 = 0,375, and the coefficient value of the compensation variable 𝑎3 = −0,094 are obtained. then the regression equation is 𝑌 = 0,580 + 0,249𝑋1 + 0,375𝑋2 − 0,094𝑋3 (3) look at linear regression equation (3). the three variables added statistically significantly to the prediction of teachers’ happiness. constant 𝑎0 = 0,580, it is indicated that if the independent variables of character strength (𝑋1), social life (𝑋2), and compensation (𝑋3) are zero, then the teacher’s happiness (𝑌) reaches 58%. coefficient 𝑎1 = 0,249 demonstrates that if the character strength (𝑋1) increases by 1% while the other variables are constant, the teachers’ happiness (𝑌) rises by 24.9%. coefficient 𝑎2 = 0,375 indicates that if social life (𝑋2) increases by 1% while other variables are stable, the teacher’s happiness (𝑌) increases by 37.5%. coefficient 𝑎3 = −0,094 states that if the compensation (𝑋3) increases by 1% while the other variables are constant, the teachers’ happiness (𝑌) decreases by 9.4%. hypothesis test based on table 8, partially hypothesis tests was obtained, i.e. 1. the tcount value of 𝑋1 equal to 1,162 smaller than ttable = 1,6838 means that the character strength variable partially does not affect the teacher’s happiness. 2. the tcount value of 𝑋2 equal to 3,656 greater than ttable = 1,6838 means that the social life variable partially affects the teacher’s happiness. 3. the tcount value of 𝑋3 equal to -0,094 smaller than ttable = 1,6838 means that the compensation variable partially does not affect the teacher’s happiness. the simultaneous hypothesis test results using the f-test are shown in table 9. the fcount value is 11,940 while the ftable value is 5% with dfresidu = 36 and dfregression = 3, it is known that ftable = 2.87. because fcount is greater than ftable, it means that the independent variables (strength of character, social life, and compensation) in this study simultaneously affect the level of teacher happiness. vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 89 table 8. multiple linear regression result (t-test) coefficientsa unstandardized coefficients unstandardized coefficients collinearity statistics model b std. error beta t sig. tolerance vif 1 (constant) 0.580 2.298 0.252 0.802 x1 0.249 0.214 0.379 1.162 0.253 0.131 7.628 x2 0.375 0.103 0.550 3.656 0.001 0.615 1.626 x3 -0.094 0.250 -0.132 -0.378 0.708 0.113 8.817 a. dependent variable: y table 9. multiple linear regression result (f-test) anovaa model sum of squares df mean square f sig. 1 regression 20.499 3 6.833 11.940 0.000b residual 20.601 36 0.572 total 41.100 39 a. dependent variable: y b. predictors: (constant), x3, x2, x1 discussion according to the findings of the multiple linear regression analysis, the happiness of the teachers at maitreyawira primary school is not entirely influenced by character traits or pay. the findings disagree with those of seligman (2005), wulandari and widyastuti (2014). two of the five factors that make a person happy at work, according to them, are compensation and character strength. studies on teachers’ happiness have also been done in turkey (mertoğlu, 2018) and iran (jalali & heidari, 2016), but they differ from the findings of this study. on the other hand, teachers’ happiness is somewhat influenced by their social lives. this finding is in line with prasetyo’s (2015) study, which found that relationships with other people have a positive impact on lecturers’ happiness. the findings of the study by toulabi et al. (2013) in iran are also consistent with this one. they came to the conclusion that, with the exception of promotion opportunities, all aspects of work-life quality were significantly correlated with happiness. however, kim and kim (2020) in south korea took a different approach to their research on happiness. they did the opposite: enhancing early childhood teachers’ happiness can enhance the effectiveness of teacher-child interaction. the way a teacher interacts with a student may indicate that teacher’s social life at school.. if we look at research from 2005 and 2018, we find that teachers’ happiness is still largely influenced by financial factors like compensation, salaries, and incentives. however, the trend has shifted to social life since 2018 until the present. studies that have begun to link social life with teacher happiness have shown this. similar to this study’s findings, social life has a big impact on teachers’ happiness. the fact that teachers’ social lives have changed over time and in the present makes this condition possible. the average age of the teachers at maitreyawira primary school is 34,7 years, as detailed in the section on data and data sources. the millennial generation, as defined by karl mannheim’s 1923 generation theory, is made up of people who were born between 1980 samosir & idayani – analysis of factors affecting primary teachers’ happines ... printed issn 2406-8012 90 and 2000. consequently, the millennial generation’s age range today is roughly 22 to 42. the teachers at maitreyawira primary school belong to the millennial generation based on their average age, which is 34.7 years. the millennial generation is very familiar with the digital world, claim ahmad and nurhidaya (2020). social media is used by this generation 93% of the time. according to zis et al. (2021), after using a device, millennial and z generation behaviour changed from being interactive to being passive. no effective communication results from this condition. in contrast, developing a strong social life necessitates effective communication. teachers at maitreyawira primary school who teach members of the millennial generation tend to become more passive or interact with others less. the condition alters the social life of teachers. character strength and pay are factors that do not entirely influence teachers’ happiness, but the other two factors in this study—social life and compensation—have an impact on teachers’ happiness at the same time. this condition implies that the factors that determine happiness are interdependent. conclusion this study indicated the effect of character strength, social life, and compensation on teachers’ happiness. the influence is explained comprehensively, i.e. the simultaneous or partial impact. character strength and compensation partially do not affect teachers’ happiness. besides, social life partially affects teachers’ happiness. simultaneously, character strength, social life, and compensation influence teachers’ happiness. this study has several limitations. at first, it is related to the diversity of the population. population only selected from maitreyawira primary school made the data less diverse. second, the study duration was less than a year, so the data was not comprehensive. future studies about teachers’ happiness would be better with a more representative population (from various islands or provinces) in a whole year study. social life can be investigated more deeply related to mental health in influencing teachers’ happiness. based on the discussion results, it can be concluded that at maitreyawira primary school, social life partially influences teachers’ happiness. meanwhile, character strength and compensation have no partial effect on teachers’ happiness. however, the three independent variables simultaneously affect teachers’ happiness. it is hoped that in the future, the principal can coordinate with the foundation (for private schools) to pay attention to teachers’ social life to increase teachers’ happiness. references ahmad, a., & nurhidaya, n. (2020). media sosial dan tantangan masa depan generasi milenial [social media and millennial generation future challenges]. avant garde: jurnal ilmu komunikasi, 8(2), 134–148. https://doi.org/10.36080/ag.v8i2.1158 ahmed, n. e., hushin, h., & mahayadin, m. (2020). workplace happiness and the relationship to the work motivation among pkebahagiaan di tempat kerja dan hubungannya terhadap motivasi kerja guru sekolah rendah di daerah pasir gudang. sains humanika, 12(2), 35–39. https://doi.org/10.11113/sh.v12n2-2.1782 ardhyantama, v., & idayani, d. (2020). two-way communication in distance learning. proceedings of international conference on the future of education iconfed), 404– 410. penang, malaysia: institute of teacher education tuanku bainun campus. retrieved from http://ipgktb.edu.my/iconfed2020/e_proceedings/bi/theme_e/fp068_e_twoway%20communication%20in%20distance%20learning.pdf vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 91 benevene, p., de stasio, s., fiorilli, c., buonomo, i., ragni, b., briegas, j. j. m., & barni, d. (2019). effect of teachers’ happiness on teachers’ health. the mediating role of happiness at work. frontiers in psychology, 10. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.02449 bhatia, a., & mohsin, f. (2020). determinants of college teachers’ happiness-a comprehensive review. journal of critical reviews, 7(9), 9–17. https://doi.org/10.31838/jcr.07.09.02 de stasio, s., fiorilli, c., benevene, p., boldrini, f., ragni, b., pepe, a., & briegas, j. j. m. (2019). subjective happiness and compassion are enough to increase teachers’ work engagement? frontiers in psychology, 10. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.02268 de stercke, j., goyette, n., & robertson, j. e. (2015). happiness in the classroom: strategies for teacher retention and development. prospects, 45(4), 421–427. https://doi.org/10.1007/s11125-015-9372-z field, a. (2018). discovering statistics using ibm spss statistics (5th ed.). london: sage publications ltd. i̇htiyaroğlu, n. (2018). analyzing the relationship between happiness, teachers’ level of satisfaction with life and classroom management profiles. universal journal of educational research, 6(10), 2227–2237. https://doi.org/10.13189/ujer.2018.061021 jalali, z., & heidari, a. (2016). the relationship between happiness, subjective well-being, creativity and job performance of primary school teachers in ramhormoz city. international education studies, 9(6), 45–52. https://doi.org/10.5539/ies.v9n6p45 kim, j. s., & kim, s. l. (2020). the effects of early childhood teachers’ happiness and psychological burnout on their teacher-child interactions. the journal of the convergence on culture technology (jcct), 6(2), 123–130. https://doi.org/10.17703/jcct.2020.6.2.123 kun, a., & gadanecz, p. (2022). workplace happiness, well-being and their relationship with psychological capital: a study of hungarian teachers. current psychology, 41(1), 185–199. https://doi.org/10.1007/s12144-019-00550-0 mertoğlu, m. (2018). happiness level of teachers and analyzing its relation with some variables. asian journal of education and training, 4(4), 396–402. https://doi.org/10.20448/journal.522.2018.44.396.402 moskowitz, s., & dewaele, j. m. (2021). is teacher happiness contagious? a study of the link between perceptions of language teacher happiness and student attitudes. innovation in language learning and teaching, 15(2), 117–130. https://doi.org/10.1080/17501229.2019.1707205 nurochim, & ngaisah, s. (2019). kebahagiaan di tempat kerja: kajian teoretik upaya peningkatan mutu guru [happiness in workplace: theoretical study of efforts to improve teacher quality]. prosiding simposium pendidikan majelis nasional korps alumni himpunan mahasiswa islam (mn kahmi) 2019: teknologi, industri dan pendidikan, 93–100. surakarta: uns press. retrieved from https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/56365/1/kebahagiaan %20di%20tempat%20kerja_nur_compressed.pdf prasetyo, a. r. (2015). gambaran career happiness plan pada dosen [overview of career happiness plan for lecturer]. jurnal psikologi undip, 14(2), 174–182. https://doi.org/10.14710/jpu.14.2.174-182 samosir & idayani – analysis of factors affecting primary teachers’ happines ... printed issn 2406-8012 92 seligman, m. e. p. (2017). authentic happiness: using the new positive psychology to realize your potential for lasting fulfilment (paperback edition). boston: nicholas brealey publishing. sugiyono. (2012). metode penelitian bisnis [bussiness research methodology]. bandung: alfabeta. sugiyono. (2017). statistika untuk penelitian [statistics for research]. bandung: alfabeta. sugiyono. (2018). metode penelitian kuantitatif [quantitative research methods]. bandung: alfabeta. tadić, m., bakker, a. b., & oerlemans, w. g. m. (2013). work happiness among teachers: a day reconstruction study on the role of self-concordance. journal of school psychology, 51(6), 735–750. https://doi.org/10.1016/j.jsp.2013.07.002 toulabi, z., raoufi, m., & allahpourashraf, y. (2013). the relationship between teachers’ happiness and quality of working life. procedia social and behavioral sciences, 84, 691–695. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2013.06.628 wulandari, s., & widyastuti, a. (2014). faktor-faktor kebahagiaan di tempat kerja [happiness factors in workplace]. jurnal psikologi, 10(1), 49–60. https://doi.org/10.24014/jp.v10i1.1178 zhongying, h. u. (2013). research and analysis on the teachers’ happiness. journal of applied sciences, engineering and technology, 6(10), 1720–1725. https://doi.org/10.19026/rjaset.6.3894 zis, s. f., effendi, n., & roem, e. r. (2021). perubahan perilaku komunikasi generasi milenial dan generasi z di era digital [changes in communication behavior of millennials and z generations in digital era]. satwika: kajian ilmu budaya dan perubahan sosial, 5(1), 69–87. https://doi.org/10.22219/satwika.v5i1.15550 pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 211 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 vol. 6, no. 2, desember 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i2.9067 pengembangan media pembelajaran kartik (kartu tematik) tema 8 keselamatan di rumah dan di perjalanan bagi siswa sekolah dasar kelas ii amaliyah ulfah pgsd, fkip universitas ahmad dahlan amaliyah.ulfah@pgsd.uad.ac.id pendahuluan kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran sekolah dasar saat ini yaitu kurikulum 2013. kurikulum 2013 sendiri memiliki tujuan mempersiapkan peserta didik agar memiliki pengetahuan yang luas, beragama, kreatif, inovatif, dan mandiri dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki agar dapat bersaing dengan berbagai negara lainnya (muhroji & yusrina, 2018). kurikulum 2013 menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif, sehingga siswa memperoleh pengalaman langsung dan terlatih menemukan sendiri (zuhera, habibah, & mislinawati, 2017). melalui pengalaman langsung siswa diharapkan dapat memahami konsep-konsep yang telah ia temukan dan kemudian dihubungkan dengan konsep lain yang telah ia pahami. pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam kurikulum 2013 yaitu pembelajaran tematik. (am, saputra, & amelia, 2018) menyatakan pembelajaran tematik merupakan pembelajaran dengan system yang memungkinkan siswa (baik secara individual maupun secara berkelompok) aktif mencari, menggali, dan abstract: the lack of media in thematic learning underlies this study. this study aims at developing kartik (thematic card), and specifically describes, (1) steps of kartik media development, (2) feasibility of kartik according to experts, (3) students' responses to the kartik media. drawing upon the notions developed by this research and development consisted of seven stages, namely collecting information, planning, developing preliminary product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, and revision. the subjects in this study were 10 graders of grojogan public elementary school in limited trial and 30 students in the main trial. questionnaires were used for data collection, and the data was analyzed using quantitative descriptive. the kartik media was developed through seven steps, namely determining the theme, designing card, designing content, designing user manual, designing card box, expert validation, and product trial. the results showed that the kartik media was appropriate for use for grade ii primary school students. media experts score 86 (very good), material experts score 42 (good), and learning experts score 40 (good). the students responses were 96.92% (very good) and 98.2% in the main group trials. the kartik media was declared appropriate for use. keywords: learning media, thematic learning, kartik media . http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.8710 mailto:amaliyah.ulfah@pgsd.uad.ac.id pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 212 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 menemukan konsep keilmuan secara mandiri, bermakna dan otentik melalui tema tertentu. salah satu karakteristik pembelajaran tematik yang penting yaitu pembelajarannya berpusat pada siswa (mukhlis, 2012). seorang guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, melainkan berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mendapatkan pengalaman belajar secara langsung. hal ini sesuai pendapat sanjaya (2016) dalam proses pembelajaran guru bukan hanya satu-satunya model dan sumber ilmu satu-satunya di kelas, akan tetapi ia sebagai penentu dalam mencapai tujuan pembelajaran. dengan kata lain berhasil atau tidaknya proses pembelajaran juga ditentukan oleh kualitas dan kemampuan guru dalam mengajar. maka sebagai guru sangat perlu mengemas pembelajaran tematik sekreatif mungkin dan menyenangkan. kenyataannya sebagian besar guru dalam melaksanaan pembelajaran terpadu atau tematik masih dengan cara yang monoton tanpa strategi atau media yang bervariasi. berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada bulan oktober 2018 dengan guru kelas ii sekolah dasar diperoleh informasi ketika melaksanakan pembelajaran tematik guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan memberikan tugas-tugas pada siswa. selain itu juga diperoleh informasi penggunaan media dalam pembelajaran tematik selama ini masih sangat minim dan tidak bervariasi. alasan guru jarang menggunakan media yaitu karena keterbatasan waktu dan biaya untuk merancang media dan masih banyaknya tugas-tugas sekolah yang harus diselesaikan. media memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam pembelajaran. media dapat menjadi alat bagi guru untuk memperjelas materi agar lebih berkesan dan mudah diingat oleh siswa. fungsi media pembelajaran selain sebagai alat bantu mengajar juga bisa sebagai sumber belajar yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin sehingga dapat terciptanya suasana belajar yang kondusif, efektif, efisien dan menyenangkan (umar, 2014). penggunaan media pembelajaran pada tingkat sekolah dasar merupakan hal yang sangat penting, karena usia sekolah dasar termasuk dalam tahapan operasional konkret. edgar dale (sanjaya, 2016) menyebut kerucut pengalaman atau lebih dikenal cone of experience menyatakan bahwa semakin konkret siswa mempelajari sesuatu dengan pengalaman langsung dan melihat prosesnya sendiri, maka semakin banyak pengalaman belajar yang diperoleh siswa. berdasarkan kenyataan di lapangan penggunaan metode yang bervariasi dan media pembelajaran di kelas menjadi kebutuhan yang harus diperhatikan dan ditindak lanjuti. untuk itu perlu dikembangkan media pembelajaran yang menarik dan tidak terlalu membutuhkan biaya besar, salah satunya kartik (kartu tematik). kartu tematik merupakan salah satu jenis media visual berupa gambar yang disajikan dalam bentuk kartu-kartu untuk dimainkan siswa secara kelompok. media gambar dapat memberikan gambaran tentang segala sesuatu seperti, binatang, manusia, tempat, atau peristiwa, sehingga penjelasan guru lebih konkrit daripada hanya diuraikan dengan kata – kata (chrisnawati, usodo, & pramesthi, 2016). prinsip penggunaan kartik dalam pembelajaran yaitu belajar sambil bermain. belajar sambil bermain diyakini dapat membuat peserta didik lebih termotivasi untuk belajar dan tidak bosan. sesuai pendapat supardi dalam (siskawati, 2016) menyatakan bermain di dalam kelas dapat menghindari atau menghilangkan kejenuhan, kebosanan, pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 213 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 dan perasaan mengantuk peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. media permainan menjadikan lingkungan belajar yang menyenangkan dimana siswa mengikuti peraturan untuk dapat mencapai tujuan tertentu (muhibbi, faizah, & f, n.d.). penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (mardati & wangid, 2015) tentang pengembangan media permainan kartu gambar dengan teknik make a match untuk kelas i sd juga menunjukkan penggunaan media permainan kartu dapat memotivasi siswa dan menambah pemahaman siswa. penggunaan media kartu juga mampu mengatasi keterbatasan ruang dan waktu. penggunaan media pembelajaran dengan sistem permainan bagi siswa sekolah dasar dapat menjadikan kegiatan belajar menjadi lebih menarik. selain itu siswa dapat secara langsung terlibat aktif sehingga pembelajaran tidak membosankan, melatih kerjasama, meningkatkan pemahaman terhadap materi yang diajarkan, menumbuhkan minat belajar, mempercepat proses informasi serta menyelesaikan masalah, sekaligus dapat meningkatkan kepekaan sosial dengan orang lain. berdasarkan yang telah diuraikan di atas, perlu dikembangkan media pembelajaran edukatif yaitu kartik (kartu tematik) tema 8 keselamatan di rumah dan di perjalanan bagi siswa sekolah dasar kelas ii. metode penelitian jenis penelitian ini yaitu research and development (r&d). penelitian dan pengembangan dilakukan secara bertahap mengacu pada borg and gall (dalam sugiyono, 2015) yaitu: (1) research and information collecting, (2) planning, (3) develop preliminary form a product, (4) preliminary field testing, (5) main product revision, (6) main field testing, (7) operational product revision. uji coba penelitian dan pengembangan ini dilakukan secara bertahap. tahap pertama yaitu uji ahli, media atau produk yang telah dibuat dan dikembangkan diuji cobakan kepada ahli media, ahli materi, dan ahli pembelajaran. tahap kedua yaitu uji kelompok kecil. proses uji kelompok kecil dilakukan untuk mengetahui respon siswa menggunakan media kartik dalam pembelajaran. uji kelompok kecil dilakukan pada subjek sebanyak 10 siswa. tahap selanjutnya uji kelompok besar. pada tahap uji coba kelompok besar dilakukan pada 30 siswa tujuan diadakannya uji coba kelompok besar ini untuk mengetahui keefektifan media yang telah dibuat pada proses pembelajaran. jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data kualitatif dan data kuantittif. data kualitatif berupa masukan dan saran dari ahli. data kuantitatif diperoleh dari jumlah skor yang diperoleh dari tiga validasi ahli dan peserta didik. instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar angket dan lembar penilaian siswa. angket diberikan kepada ahli, sedangkan penilaian oleh peserta didik menggunakan skala guttman “ya” dan “tidak”. teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan statistik deskriptif. langkah-langkah yang dilakukan untuk meganalisis data hasil validasi yaitu mencari skor keseluruhan, rata-rata, dan simpangan baku dari instrumen yang telah diisi. langkah selanjutnya melakukan penilaian berdasarkan skor dalam tabel kategorisasi kelayakan seperti tabel 1 (sukardjo, 2005). pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 214 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 tabel 1. konversi skor menjadi skala lima no skor siswa nilai kriteria 1 x > mi + 1,8 sbi a sangat baik 2 mi + 0,6 sbi < x ≤ mi + 1,8 sbi b baik 3 mi 0,6 sbi < x ≤ mi + 0,6 sbi c cukup baik 4 mi 1,8 sbi < x ≤ mi – 0,6 sbi d kurang baik 5 x ≤ mi – 1,8 sbi e sangat kurang baik keterangan: x = skor aktual mi = mean ideal (1/2 (xmak + xmin) sbi = simpangan baku ideal = 1/6 (xmak xmin) kemudian untuk menghitung hasil penilaian skor dari peserta didik menggunakan skala guttman ya (1) dan tidak (0) menggunakan rumus adalah sebagai berikut (putra & ishartiwi, 2015). presentase jawaban : x 100% keterangan : f = frekuensi subjek uji coba yang dimiliki alternatif jawaban n = jumlah seluruh subjek uji coba setelah diperoleh persentase dari rumus di atas, kemudian peneliti menafsirkan ke dalam kriteria skala lima menurut suharsimi (2015) sebagai berikut: 80 – 100 = sangat baik 66 – 79 = baik 56 – 65 = cukup 40 – 55 = kurang 30 – 39 = sangat kurang hasil dan pembahasan penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang dilakukan untuk menghasilkan produk pembelajaran berupa media kartu tematik tema 8 keselamatan di rumah dan di perjalanan. penelitian pengembangan berdasarkan model borg and gall dilakukan melalui beberapa langkah: 1. research and information collecting tahap awal dalam penelitian ini adalah pengumpulan informasi dan penelitian awal, yang meliputi tinjauan literatur dan analisis kebutuhan. media pembelajaran kartik dikembangkan berdasarkan permasalahan yang terjadi di sd n grojogan bantul yogyakarta kelas 2. berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, diperoleh informasi guru memiliki keterbatasan waktu untuk mengembangkan media sehingga kegiatan pembelajaran dilakukan tanpa menggunakan media. guru biasanya hanya menggunakan metode ceramah dan penugasan. pembelajaran tematik dianggap sebagai pembelajaran yang menyenangkan apabila kegiatan pebelajaran dilakukan dengan berbagai aktivitas. misalnya dengan kegiatan mencoba, pengamatan, diskusi atau kegiatan sambil bermain. pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 215 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 berdasarkan hasil wawancara dengan peserta didik kelas ii, diperoleh informasi peserta didiknya lebih senang apabila pembelajaran dilakukan sambil bermain. salah satu permainan yang sering dilakukan siswa yaitu kartu. selain itu materi tema 8 memiliki keterbatasan ketika dilakukan dengan praktik, karena pada tema ini melibatkan suatu kegiatan yang bersangkutan dengan keselamatan saat diperjalanan atau jalan raya. sehingga memerlukan strategi lain untuk mengatasinya yaitu dengan media pembelajaran. upaya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan membutuhkan cara yang praktis dan menarik. oleh karena itu perlu dikembangkan media pembelajaran berupa kartu yang di design dengan full colour dan menggunakan ilustrasi gambar yang diambil secara langsung. kelas ii sd n grojogan menggunakan kurikulum 2013, sehingga materi media pembelajaran kartik disesuaikan buku kurikulum 2013 khususnya tema 8 keselamatan di rumah dan di perjalanan subtema 3 aturan keselamatan di perjalanan di sekolah. 2. planning kegiatan perencanaan yang meliputi pendefinisian keterampilan yang harus dipelajari dan perumusan tujuan pembelajaran. media kartik bertujuan untuk membantu guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran khususnya tema 8 keselamatan di rumah dan di perjalanan. 3. develop preliminary form a product pada tahap ini peneliti mulai merancang dan membuat desain produk awal. berikut ini tahapan dalam pengembangan media kartik. gambar 1. tahapan pengembangan media kartik berdasarkan gambar 1, pengembangan media pembelajaran kartik dapat dijelasan sebagai berikut. a. menentukan tema tema yang dipilih disesuaikan dengan kebutuhan dan kurikulum 2013 yaitu tema 8 keselamatan di rumah dan di perjalanan subtema 3 aturan ketika di perjalanan. mata pelajaran yang dipadukan yaitu bahasa indonesia, matematika, ppkn, sbdb, dan pjok. menentukan tema dan tujuan pembelajaran membuat design kartu menentukan isi kartu membuat design buku petunjuk membuat wadah /box kartu uji produk validasi ahli pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 216 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 b. membuat desain kartu pembuatan design backroud pada kartu dibuat dengan software corel x7. design backround depan pada kartu dibuat dengan mengkomposisikan garis, titik yang dikombinasikan dengan gambar sesuai dengan karakter peserta didik. selain itu backround dibuat full colour supaya peserta didik tertarik dan termotivasi untuk belajar dengan media yang telah dikembangkan. media yang dikembangkan berukuran 10,5 cm x 14,8 cm ukuran ini dipilih supaya isi teks terlihat keterbacaannya. sedangkan backround belakang kartu didesign dengan gambar yang disesuaikan dengan tema. design bagian belakang kartu terdapat tulisan berupa identitas tema dan sub tema, ilustrasi gambar, logo tut wuri handayani, logo universitas, dan logo kurikulum 2013. gambar 2. tampilan belakang design kartik c. menentukan isi kartu isi media kartik disesuaikan dengan materi dalam buku kurikulum 2013 tema 8 keselamatan di rumah dan di perjalanan. isi pada media kartik dibuat menarik dengan bubuhan shape pada backroud tulisan . berikut contoh salah satu kartik. gambar 3. detail isi dari kartik d. membuat design buku petunjuk bagi guru dan peserta didik pembuatan design buku petunjuk penggunaan bagi guru dan peserta didik masih pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 217 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 sama yaitu menggunakan aplkasi software coreldraw x7. buku petunjuk inimeuat langkah-langkah penggunaan media pembelajaran kartik. buku petunjuk penggunaan ini dibuat satu buku yang di dalamnya berisi petunjuk penggunaan bagi guru dan bagi peserta didik. e. membuat desain wadah / box kartu wadah kartu dicetak dengan kertas ivory 310 gram dengan laminasi doff supaya ketika wadah dilipat kertas dan gambar tidak pecah. wadah kartu di desain dengan software coreldraw x. wadah kartu disesuaikan dengan bentuk media kartik yaitu kubus dengan ukuran 15 cm x 11 cm x 3 cm. setelah dicetak wadah kartu dilipat dan lem menggunakan lem fox agar merekat dengan sempurna sampai membentuk kubus. desain wadah kartu terdapat identitas berupa nama media kartik “kartu tematik” tema 8 keselamatan di rumah dan di perjalanan, subtema 3 aturan keselamatan di perjalanan, logo universitas, logo kurikulum 2013, identita kelas dan nama penyusun, pada bagian tengah diberikan ilustrasi gambar rumah dan orang ketika dijalan, bersepeda, dan menyebrang dengan maksud memberikan tanda atau isyarat sesuai dengan tema. f. validasi ahli setelah media kartik dicetak, kemudian media kartu divalidasikan oleh para ahli yaitu ahli media, ahli materi, dan ahli pembelajaran. 1) penilaian ahli media berdasarkan penilaian dari ahli media menunjukkan jumlah skor 86 sehingga mendapatkan kategori sangat baik. media kartik dikatakan sangat baik karena menurut ahli media dilihat dari aspek jenis bahan yang digunakan aman untuk peserta didik kelas ii sd. selain itu, media kartik dianggap sesuai dengan karakteristik peserta didik yang masih suka bermain. sesuai dengan pernyataan nursidik (indriani, 2014), beberapa karakteristik siswa sd antara lain senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, dan senang melakukan atau memperagakan sesuatu secara langsung. dilihat dari kualitas tampilan komposisi warna yang digunakan pada background kartu dan isi kartu yang berupa kombinasi gambar dan tulisan tergolong baik,karena dibuat full colour sehingga dapat menarik perhatian peserta didik untuk belajar. seperti yang diungkapkan leshin, pollock & reigeluth dalam (arsyad, 2016) bahwa beberapa cara yang digunakan untuk menarik perhatian pada media berbasis teks adalah warna, huruf, dan kotak. warna digunakan sebagai alat penuntun dan penarik perhatian kepada informasi yang penting. tidak hanya warna saja yang digunakan untuk menarik perhatian siswa, penggunaan bentuk shape yang bervariasi juga menambah ketertarikan peserta didik terhadap media kartu. selain untuk menarik perhatian peserta didik terhadap media kartik penggunaan shape yang bervariasi digunakan untuk pemisah antara pertanyaan satu dengan pertanyaan dua. hal ini sesuai dengan pendapat arsyad (2017) yang mengemukakan bahwa hal yang perlu diperhatikan dalam media berupa cetakan salah satunya yaitu format, isi yang berbeda dari sebuah media supaya pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 218 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 dipisahkan dan dilabel secara visual. hal ini bertujuan agar peserta didik yang membaca tidak bingung dan mudah memperoleh pemahaman. selain itu jika dilihat dari aspek kualitas intruksional media kartik dapat memberikan kesempatan belajar kepada peserta didik, hal ini dapat ditunjukkan dengan sajian dari media kartik memuat materi soal yang mengembangkan ranah kognitif, afektif dan psikomotor. selain itu jika dilihat dari segi ukuran, media kartik merupakan media yang mudah dipegang dan mudah untuk dibawa atau dipindah tempatkan. seperti yang diungkapkan oleh arsyad (2017) bahwa kriteria pemilihan media yang harus diperhatikan oleh guru salah satunya praktis, luwes, dan bertahan yaitu bahwa media yang digunakan bahanya mudah didapatkan, mudah dibuat sendiri dan dapat digunakan dimanapun dan kapanpun dengan peralatan yang tersedia disekitar tempat belajar. angket penilaian yang diberikan kepada ahli media tidak hanya memberikan penilaian berupa skor, melainkan juga tanggapan berupa masukan dan saran yang bersifat membangun. masukan yang diberikan oleh ahli media adalah penutup pad box / wadah dari media kartik lebih diperbesar agar box bisa tertutup dengan sempurna, meghilangkan kotak-kotak transparan pada sampul petunjukk penggunaan media, dan memberikan isian pada sampul belakang petunjuk penggunaann media supaya tidak terlihat kosong. 2) penilaian ahli materi hasil penilaian ahli materi menunjukkan jumlah skor 42, sehingga mendapatkan penilaian dengan kategori baik. media kartik dikatakan baik oleh ahli materi karena dilihat dari aspek kelayakan isi materi dengan indikator sudah sesuai dan materi yang disajikan pada media sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran. hal ini sesuai dengan pendapat sanjaya (2008) media pembelajaran yang telah dipilih dan ditetapkan harus mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya apakah tujuan itu bersifat kognitif, afektif atau psikomotor. sedangkan jika dilihat dari aspek kesesuaian sajian materi, materi yang disajikan pada media kartik mendorong rasa ingin tahu siswa karena media yang disajikan bersifat visual sehingga siswa lebih mudah untuk mengingat dan memahami materi, seperti yang dikemukakan oleh livie dan lentz (sananky, 2013) bahwa salah satu fungsi dari media pembelajaran adalah fungsi kognitif di mana peserta didik merasa lambang visual mempermudah dalam memahami materi. selain itu materi yang disajikan pada media kartik dapat merubah pemahaman siswa dari abstrak ke konkrit dan materi yang disajikan pada media menambah wawasan peserta didik, mendorong rasa ingin tahu peserta didik serta dapat merangsang dan menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. hal ini sesuai dengan fungsi media pembelajaran yang dikemukakakn oleh (sanaky, 2013) yang menyebutkan bahwa media pembelajaran berfungsi untuk merangsang pembelajaran dengan membuat konsep abstrak menuju konsep kongkrit dan menyajikan kembali informasi secara konsisten dan memberi suasana pembelajaran yang menyenangkan, menarik, santai. pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 219 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 menurut ahli materi media kartik yang telah dikembangkan dapat membantu proses pembelajaran karena media ini dapat digunakan untuk mengenalkan dan mengajarkan peserta didik pentingnya menjaga keselamatan di rumah dan di perjalanan. selain memberikan penilaian berupa skor ahli materi juga memberikan masukan dan komentar yang bersifat membangun dengan tujuan menghasilkan media yang layak dan layak baik dari segi isi (materi) pada produk yang dikembangkan. masukan dan komentar tersebut merupakan data yang dianalisis menjadi data kualitatif. adapun masukan yang diberikan oleh ahli materi adalah korelasi antara pertanyaan dan jawaban perlu diperhatikan supaya peserta didik tidak bingung dengan media kartik dan isi dari media berkesinambungan. 3) penilaian ahli pembelajaran hasil validasi ahli pembelajaran mendapatkan skor 40, mendapatkan penilaian dengan kategori baik. media kartik dikatakan baik karena menurut ahli pembelajaran dilihat dari aspek kelayakan isi media yang dikembangkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai/ tujuan pembelajaran hal ini sesuai dengan pendapat indriana (2013) yang menyatakan bahwa faktor yang yang sangat menentukan tepat atau tidaknya sesuatu dijadikan media pengajaran pembelajaran antara lain adalah tujuan pembelajaran. kesesuaian dengan tujuan pengajaran yang dimaksudkan yaitu media pengajaran tersebut menyesuaiakan dengan tujuan intruksional, apakah tujuan tersebut bersifat umum atau khusus. dilihat dari aspek kepraktisan media kartik merupakan media yang mudah dibawa dan dipindah tempatkan sehingga pembelajaran menggunakan media kartik mudah dilakukan dimana saja. manfaat dan tujuan dalam penggunaan media dalam proses belajar mengajar yaitu proses pembelajaran dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja (sundayana, 2016). selain itu dilihat dari aspek kelayakan untuk siswa, media kartik dapat melibatkan peserta didik secara langsung dalam pembelajaran dan proses pembelajaran lebih menarik sehingga peserta didik memahami secara langsung materi yang sedang ia pelajari. hal ini sesuai dengan pendapat (sundayana, 2016) yang mengemukakan bahwa manfaat dan tujuan penggunaan media dalam proses belajar mengajar yaitu proses pembelajaran lebih jelas dan menarik dan meningkatkan kualitas dan hasil belajar siswa, dengan media pembelajaran siswa lebih mudah dalam menerima materi yang disampaikan karena dengan media siswa dapat terlibat langsung dan mengetahui secara materi yang sedang diajarkan. menurut ahli pembelajaran media kartik dapat menjadikan belajar sambil bermain. seperti yang kita tahu bahwa prmainan kartu sangat familiar dikalangan peserta didik dan kebanyakan dari mereka menyukainya, maka dari itu media kartik didesain sedemikian rupa agar media kartu yang dikembangkan mempunyai nilai edukatif untuk peserta didik. sesuai dengan pendapat (muna, 2014) yang menyebutkan bahwa suatu permainan dikatakan permainan edukatif apabila permainan tersebut memiliki unsur mendidik yang akan didapatkan pada permainan itu sendiri. pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 220 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 sedangkan untuk masukan yang diberikan oleh ahli pembelajaran yaitu untuk tingkatan ranah pada setiap indikator perlu diurutkan dari yang terendah ke ranah paling tinggi, dan perlu menambahkan indikator untuk menyempurnakan ketercapaian kompetensi dasar, pada bagian penilaian perlu ditambahkan penilaian karakter dari setiap kegiatan pembelajaran 4. preliminary field testing media kartik di ujicobakan pada kelompok kecil sebanyak 10 peserta didik. uji coba produk dilakukan pada peserta didik kelas ii di sd n grojogan. uji coba produk diawali dengan penjelasan materi, kemudian peserta didik dibagi menjadi 3 kelompok dan masing-masing kelompok mendapatkan 1 paket media kartik. setelah semua kelompok mendapatkan kartu, 1 kelompok maju memainkan kartik. peserta didik dipersilahkan untuk mencari pasangan kartu yang telah ia pegang sesuai waktu yang diberikan, dan jika peserta didik sudah menemukan pasangan kartu peneliti mengkonfirmasi temuan peserta didik. hasil persentase penilaian peserta didik sebesar 96,92% sehingga mendapatkan penilaian dengan kategori sangat baik. berdasarkan hasil respon peserta didik, dilihat dari aspek kemudahan materi sebagian besar peserta didik merasa lebih mudah memahami materi dengan media kartik. respon tersebut sesuai dengan manfaat dari media pembelajaran pendapat arsyad (2016) yang menjelaskan bahwa media pembelajaran dapat memperjelas dalam penyajian pesan dan informasi, sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik dan hasil belajar meningkat. peserta didik juga menyebutkan bahwa belajar dengan media kartik yang dikembangkan bagus, warnanya menarik, dan bahan yang digunakan sangat aman untuk mereka. media kartik juga dapat menumbuhkan semangat peserta didik dalam belajar. hal ini sesuai dengan prinsip dalam pengembangan media mengkuti taksonomi leshin, dkk (arsyad, 2017) bahwa beberapa cara yang dapat digunakan untuk menarik perhatian pada media berbasis cetakan atau teks adalah warna, huruf, dan kotak. warna digunakan sebagai alat penuntun dan penarik perhatian. 5. main product revision pada tahap ini peneliti melakukan revisi produk setelah ujicoba terbatas. revisi produk ini dilakukan berdasarkan saran dan masukan yang diberikan oleh guru dan siswa. masukan dari guru yaitu box penutup media agar lebih dirapatkan lagi supaya kartunya tidak jatuh dan bertebaran. sedangkan respon peserta didik terhadap kartik mendapatkan respon yang sangat baik, hal ini dibuktikan semua peserta didik pada uji coba terbatas merasa senang saat belajar menggunakan media kartik. 6. main field testing langkah selanjutnya dilakukan uji coba pada kelompok utama yang berjumlah 30 peserta didik. langkah-langkah pembelajaran pada kegiatan uji coba kelopok utama ini sama dengan uji coba kelompok terbatas, yang berbeda pada uji coba kelompok utama ini adalah subjek coba. hasil penilaian peserta didik mendapatkan skor 98,2%, sehingga pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 221 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 mendapatkan penilaian dengan kategori sangat baik. media kartik dapat dikategorikan sangat baik karena menurut respon peserta didik, respon yang diberikan sangat positif. menurut peseta didik mereka merasa senang ketika belajar menggunakan media kartik karena mereka menilai bahwa dengan media kartik materi pada tema 8 mudah mereka pahami, bentuk media sangat menarik baik dari segi warna dan gambar. selain itu dilihat dari kepraktisannya, media kartik dapat digunakan secara mandiri dan mudah dibawa kemana-mana sehingga mereka bisa belajar diruang kelas maupun diluar kelas. sesuai dengan pendapat raiser dan dick (indriana, 2013) bahwa salah satu kriteria utama dalam meneyeleksi media pembelajaran yaitu kepraktisan yang berkaitan dengan mudah atau tidaknya ketika digunakan oleh peserta didik. penelitian pada uji coba kelompok utama, peserta didik juga diberikan soal berupa tes untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan dibantu dengan adanya media kartik dalam proses pembelajaran. berdasarkan hasil tes yang dilakukan dengan jumlah peserta didik sebanyak 30 diperoleh nilai rata-rata 86,3 dengan nilai kkm 75. hal ini menunjukkan bahwa media kartik dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. 7. operational product revision setelah selesai melakukan penelitian pada kelompok utama, peneliti melanjutkan pada tahapan revisi produk operasional. guru dan peserta didik pada uji coba kelompok utama memberikan respon yang baik terhadap media, sehingga tidak ada revisi yang didapatkan dari guru dan peserta didik. kajian produk akhir produk akhir dari penelitain pengembangan ini adalah sebuah perangkat kartu tematik yang berisikan soal dan jawaban yang dimainkan dengan model pembelajaran make a match bagi peserta didik kelas ii sekolah dasar. media pembelajaran kartik berukuran 14,8 cm x 10,5 cm. kartik berjumlah 60 lembar yang berupa pertanyaan dan jawaban dengan desain full color. kertas yang digunakan adalah kertas ivory dengan ketebalan 260 dan laminasi doff, sedangkan box wadah kartik dicetak dengan kertas ivory 310 dengan lainasi doff, sedangkan untuk buku petunjuk penggunaan media dicetak dengan kertas ivory 260 dengan ukuran 10,5 cm x 14,8 cm. media kartik yang dikembangkan ini memuat materi pembelajaran tema 8 keselamatan di rumah dan di perjalanan, subtema 3 aturan keselamatan di perjalanan dan dimainkan secara berkelompok untuk menciptakan pebelajaran yang efektif dan melibtkan peserta didik dengan menanamkan sikap karakter kerja sama dan tanggungjawab. simpulan simpulan yang dapat diambil dalam penelitian pengembangan ini sebagai berikut. 1. penelitian dan pengembangan telah dilakukan terdiri dari tujuh langkah, yaitu: 1) menentukan tema dan tujuan pembelajaran, 2) membuat design kartu, 3) menentukan isi kartu, 4) membuat buku petunjuk penggunaan, 5) membuat desain pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 222 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 wadah/ box kartu, 6) validasi ahli media, materi, dan ahli pembelajaran, dan 7) uji coba produk. 2. hasil penelitian menunjukkan media kartik memiliki kelayakan yang baik. hasil penilaian dari ahli media memperoleh nilai 86 masuk kategori sangat baik. menurut dari ahli materi memperoleh nilai 42 masuk kategori baik. sedangkan menurut ahli pembelajaran memproleh nilai 40 masuk kategori baik. 3. hasil penilaian oleh peserta didik pada uji coba terbatas mendapatkan persentase 96,92% (sangat baik). sedangkan hasil penilaian pada uji coba kelompok utama memperoleh persentase 98,2% dan menunjukkan kategori sangat baik. saran yang diberikan bagi guru agar dapat mengembangkan media belajar lainnya yang lebih kreatif dan inovatif, sehingga proses pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan bagi peserta didik. daftar pustaka am, i. a., saputra, s. y., & amelia, d. j. (2018). pembelajaran tematik integratif pada kurikulum 2013 di kelas rendah sd muhammadiyah 07 wajak. jinop (jurnal inovasi pembelajaran), 4(1), 35–46. https://doi.org/10.22219/jinop.v4i1.4936 arsyad, a. (2016). media pembelajaran. jakarta : rajawali pers. ________. (2017). media pembelajaran. jakarta : rajawali pers. chrisnawati, h. e., usodo, b., & pramesthi, g. (2016). pengembangan media pembelajaran desain tematik : upaya meningkatkan hasil belajar siswa dan kemampuan pengelolaan kelas bagi guru sd dalam implementasi kurikulum 2013. vi, 91–105. indriana, d. (2013). ragam alat bantu media pengajaran. yogyakarta: diva press. indriani, d. s. (2014). keefektifan model think pair share terhadap hasil belajar ips. journal of elementary education, 4(1), 27–31. majid, a. (2014). pembelajaran tematik terpadu. bandung: pt remaja rosdakarya. mardati, a., & wangid, m. n. (2015). pengembangan media permainan kartu gambar dengan teknik make a match untuk kelas i sd. jurnal prima edukasia, 3(2), 120. https://doi.org/10.21831/jpe.v3i2.6532 muhibbi, s., faizah, u., & f, a. n. m. (2017). pengaruh media permainan kartu pintar terhadap ketuntasan belajar siswa pada materi klasifikasi tumbuh-tumbuhan sholihul muhibbi ulfi faizah an nuril maulida f abstrak. (20), 1–5. pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 223 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 muhroji, m., & yusrina, h. (2018). penggunaan modul pada pembelajaran tematik di sdn 1 jimbung klaten. profesi pendidikan dasar, 1(1), 1. https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.6457 mukhlis, m. (2012). pembelajaran tematik pembelajaran tematik mohamad muklis stain samarinda. fenomena, iv(20), 63–76. https://doi.org/10.1002/pro.215 muna, w. (2014). kartu permainan: media pembelajaran bahasa arab kontekstual. 7(1), 84–100. putra, l. d., & ishartiwi, i. (2015). pengembangan multimedia pembelajaran interaktif mengenal angka dan huruf untuk anak usia dini. jurnal inovasi teknologi pendidikan, 2(2), 169–178. https://doi.org/10.21831/tp.v2i2.7607 sanaky, hujair ah. (2013). media pembelajaran interakif-inovatif. yoyakarta : kaukaba dipanara. sanjaya, w. (2016). strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. jakarta: prenadamedia group. siskawati, m. (2016). pengembangan media pembelajaran monopoli untuk meningkatkan minat belajar geografi siswa. jurnal studi sosial, 4(1), 72–80. sugiyono. (2015). metode penelitian & pengembangan research and development. bandung: alfabeta. suharsimi. (2015). dasar – dasar evaluasi pendidikan edisi 2. jakarta: bumi aksara. sukardjo. (2005). evaluasi pembelajaran. diktat mata kuliah evaluasi pembelajaran. prodi tp pps uny. tidak diterbitkan. sundayana, r. (2016). media dan alat peraga dalam pembelajaran matematika. bandung: alfabeta. umar. (2014). peran dan fungsinya dalam pembelajaran. al-afkar : jurnal keislaman & peradaban, 5(januari-juli), 131–144. zuhera, y., habibah, s., & mislinawati. (2017). kendala guru dalam memberikan penilaian terhadap sikap siswa dalam proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 di sd negeri 14 banda aceh. ilmiah pendidikan guru sekolah dasar, 2(1), 73–87. retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/187406-id-kendala-guru-dalammemberikan-penilaian.pdf pengembangan media pemb......(amaliyah ulfah) 224 jppd, 6, (2), hlm. 211 224 urgensi guru sejati di sekolah dasar (saminoi) 31 urgensi guru sejati di sekolah dasar samino pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta jl. ahmad yani tromol pos 1 pabelan, kartasura, surakarta email: samino@ums.ac.id abstract true teacher, the substance is a true example of a teacher, tireless , hard work, struggle and sacrifice for the success of his students. teachers have a minimum three main tasks, namely: (1) professional duties, (2) human duty, and (3) civic duties. furthermore, with regard to who the true teacher? there are five important things attached as a true teacher, namely: (1) the teachers are second parents, (2) the teacher is a motivator, (3) the teacher is the adventurous, (4) teacher, liberator and fighters, and (5) teacher, personal prophetic spirit. to be able to be a true teacher, five elements must be attached, namely: (1) responsibility , not a privilege, (2) the sacrifice, not the facility, (3) work hard , not relaxed; (4) authority, not authoritarian, and (5) modeling. true teacher is fully teachers in goodness, not tempted by the glitter of the world. if teachers are tempted by the glitter of the world, they will ruin their students and even society. hope all the children of this nation remains a good teacher or professional teachers who meet the competency of personality, pedagogic, social, and professional as well as the holy prophet (siddeeq, trustworthy, sermons, and fathonah). they eventually bring success for the glory of indonesian education. keywords: teacher, proffesional, competency pendahuluan urgensi guru sejati adalah keteladanan, ungkapan itulah yang pernah dikatakan oleh mantan guru saya. guru saya, guru yang sangat tekun sebagai pendidik dan pengajar di mi muhammadiyah bentak tempat penulis sekolah sewaktu di mi sebagai murid angkatan pertama. kata teladan sangat kental dan tepat disandangnya, beliau di sekolah betul-betul menjadi teladan dalam segala hal, maklum waktu itu sekolah guru masih sangat terbatas, bahkan kelas satu sampai kelas tiga dipegang olehnya sendiri. beliau datang ke sekolah paling awal dan pulang paling akhir. beliau sederhana, ikhlas, dan penuh tanggungjawab. pentingnya keteladanan bagi guru biasa dimaknai digugu lan ditiru (bahasa jawa). pada surat kabar harian “suara merdeka” yang terbit pada tanggal 25 januari 2014 terdapat artikel yang berjudul “guru merokok, bolehkah?”. artikel tersebut ditulis oleh dewi pujining nugraheni s.pd, guru smk negeri i kaligondang purbalingga. dalam artikel tersebut setelah dibaca, dipahami, dan dirasakan, tersirat urgensi keteladanan bagi murid merupakan tampilan guru sejati. gerakan berhenti merokok dan upaya sekolah bebas asap rokok bahkan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 31-4132 sampai dengan kampus bebas asap rokok sulit membuahkan hasil. hal tersebut menjadi sulit karena lemahnya keteladanan. tata tertib sekolah secara tegas telah mencantumkan dilarang merokok bagi peserta didik. akan tetapi, oleh karena kurang diikuti keteladanan guru secara serius oleh guru, maka terasa kurang ampuh. di sekolah dasar (sd) sampai dengan jenjang yang lebih tinggi masih saja ada guru yang merokok dengan alasan tata tertib tersebut dibuat untuk murid bukan untuk guru, murid dilarang merokok karena belum punya penghasilan, murid masih kecil, merokok dengan niat membantu mengatasi pengangguran, dan masih banyak lagi alasan yang dikemukakan. keteladanan mutlak diperlukan, tidak dapat ditawar lagi dalam mendidik, mengembangkan, dan mendewasakan peserta didik menuju terwujudnya cita-cita bangsa. hal tersebut secara umum tidak hanya persoalan merokok akan tetapi terhadap semua persoalan pendidikan, lebihlebih jika dikaitkan dengan pendidikan akhlak atau karakter. semua yang dicanangkan di sekolah tidak akan dapat berhasil dengan baik tanpa adanya keteladanan guru. oleh karena itu, dalam akhir tulisan nugrahani tersebut ditegaskan bahwa “jika anda seorang guru, pasti anda tidak mau ketika filosofi guru yang dimaknai sebagai digugu lan ditiru diganti dengan wagu tur saru”. guru mejadi sentral keteladanan sewaktu anak masih menjadi murid. dengan kata lain, semua ucapan dan tingkah laku guru selalu menjadi perhatian muridnya, dijadikan pedoman dan selalu ditiru oleh muridnya, bahkan bisa jadi mengalahkan pengaruh orang tua di rumah. oleh karena itu, penulis selalu ingat pepatah yang diajarkan guru sewaktu masih jadi murid mi muhammadiyah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. memper-hatikan pepatah tersebut berarti murid tidak hanya meniru contoh perilaku buruk dari guru apa adanya, tetapi dapat lebih buruk atau lebih parah lagi. begitulah beratnya menjadi guru sejati sebagai teladan murid-muridnya. pembahasan guru sejati, siapa itu? membahas tentang guru merupakan persoalan yang menarik, hal itu mungkin sejatinya juga menarik dibahas sejak peradaban manusia ada di dunia. dalam pewayangan sebagai bagian budaya bangsa, banyak diceritakan tentang kisah guru. dalam pewayangan guru sering diidentikkan dengan pendeta yang disebut begawan. akan tetapi, tidak semua guru atau begawan itu semuanya baik atau mengajarkan kebaikan dengan hati yang tulus ikhlas. contoh kasus adalah guru durna yang juga biasa dipanggil begawan durna. ia menjadi gurunya para pandawa (pandawa lima) sekaligus juga gurunya para kurawa (seratus bersaudara). sang guru durna hidup di lingkungan negara astina tempat para kurawa yang dipimpin oleh kurupati atau duryudana. negara tersebut sangat makmur, sehingga menjadi negara yang kaya raya. negara astina tersebut peninggalan pandu dewananta, maka semestinya menjadi milik para pandawa (keturunan pandu). sebab guru durna merasa mendapat kehidupan yang mewah dan melimpah harta benda dari pemerintah astina, maka sebagai guru dalam menyampaikan ilmunya menjadi tidak murni dan tidak suci lagi, bahkan mengedepankan kepentingan sponsor yaitu para kurawa yang dipimpin duryudana untuk membunuh pandawa. pembunuhan pandawa menjadi target kurawa, sebab kalau pandawa tidak mati, maka akan mengancam keutuhan negara astina. untuk memenuhi maksud kurawa tersebut, guru durna menggunakan siasat jahatnya. salah satu putera pandawa yaitu bima (nama lain dari bratasena atau werkudara) diperintah mencari “sarang angin” yang letaknya di tengah hutan reksa muka. padahal di tengah hutan itu ada raksasa besar yang terkenal memangsa manusia, siapa yang masuk hutan itu pasti mati. raksasa tersebut merupakan penjelmaan dari bethara bayu karena mendapat kutukan dari urgensi guru sejati di sekolah dasar (saminoi) 33 bethara guru. akan tetapi karena bima menjalankan dengan ikhlas, maka justru yang terjadi mendapatkan pertolongan dari yang maha kuasa. setelah raksasa besar itu melawan bima dan kalah, maka berubah menjadi manusia aslinya yaitu: bethara bayu. keduanya akhirnya menjadi sahabat, bahkan sang bima diberi hadiah sebuah cincin yang memiliki kesaktian bisa hidup seperti di air ikan. kisah guru durna yang selalu punya niat jahat tersebut telah banyak diceritakan dalam pewayangan dalam berbagai lakon, khususnya yang berkaitan dengan perlawanan antara pandawa dan kurawa atau negara amarta dan astina. sebagian kisah guru durna tersebut juga dikutip oleh abu sangkan (2008: 107) dalam bukunya “berguru kepada allah” sebagai berikut. “dalam pewayangan diceritakan ada seorang pendeta bernama durna, seorang guru spiritual yang cukup tinggi ilmunya, namun memiliki niat yang tidak baik terhadap muridnya yang bernama bima. niat yang tidak baik dikemas dalam bentuk pengajaran terhadap muridnya ini, tetapi sang bima adalah orang yang sangat patuh dan tulus di dalam menerima pengajaran gurunya, ia ditugaskan untuk menuntut ilmu yang harus dijalankan sebagai laku samadi untuk mencari sebuah “sarang angin” yang letaknya berada di tengah hutan reksa muka (sarang angin merupakan gambaran bagi ahli spiritual merupakan letak nafas yang ada pada dirinya sendiri), yaitu pusat atau tempat nafas yang hakiki yaitu nafas, nufus kemudian tanaffas anfas, maksudnya carilah di mana letak nafasmu yang sebenarnya, yaitu berada dalam wadah (sarang) yang dengan allah (aqrabu ilaihi min hablil warid, allah dekat berada lebih dekat dari urat lehermu sendiri)”. kisah tentang guru durna di atas merupakan salah satu contoh guru yang tidak baik bahkan dapat dikatakan jahat dan khianat, sehingga tidak dapat menjadi teladan bagi muridnya, apalagi bagi masyarakat luas. gambaran guru yang tidak baik di masa sekarang juga sangat banyak, contoh: guru yang sering terlambat, mangkir, berkata jorok, merokok di depan murid-murid, dan melakukan pungutan liar, bahkan berbuat yang sangat tidak terpuji seperti korupsi, berzina, memperkosa murid, menggelapkan dana bantuan, dan sebagainya. berdasarkan uraian di atas berarti menjadi guru sejati yang dapat digugu lan ditiru atau teladan memang tidak mudah karena harus konsisten antara hati, ucapan, dan perilaku. secara umum, khususnya guru sd betul-betul menjadi sorotan, apalagi kegagalan demi kegagalan dalam pendidikan selalu dihubungkan dengan guru. tan-pa mengurangi hal-hal penting lainnya, terlebih dahulu akan dibicarakan tentang sejatinya guru itu sendiri. untuk dapat menemukan guru yang sejati tidak dapat dilepaskan dengan pembahasan yang terkait dengan tugas guru. membahas tugas guru secara utuh, lengkap, dan mendalam secara ideal memang tidak akan dapat ditemukan. akan tetapi secara singkat menurut fakhruddin (2010: 77) tugas guru digambarkan sebagai berikut: profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 31-4134 berdasarkan gambar tersebut dapat dipahami bahwa tugas guru meliputi tiga hal pokok, yaitu: (1) tugas profesi, (2) tugas kemanusiaan, dan (3) tugas kemasyarakatan. akan tetapi jika dijabarkan secara mendalam terdapat konskuensi yang sangat berat. selanjutnya berkaitan dengan siapa sebenarnya guru sejati itu? fakhruddin (2010: 78-95) dalam kajiannya telah memberikan gambaran lima hal penting yang melekat sebagai guru sejati, yaitu: (1) guru adalah orang tua kedua, (2) guru adalah seorang motivator, (3) guru adalah sang tugas profesi mengaja mendidik melatih meneruskan dan mengembangkan nilainilai hidup meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi mengembangkan keterampilan dan penerapanya profesi menjadi orang tua auto pengertian: • homoludens • homopuber • homosapiens transformasi diri autoidentifikasi profesi mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara indonesia yang bermoral pancasila mencerdaskan bangsa indonesia urgensi guru sejati di sekolah dasar (saminoi) 35 petualang, (4) guru, sang pembebas dan pejuang, dan (5) guru, pribadi berjiwa profetik. kelima hal tersebut harus melekat dan integral pada guru dan sangatlah tepat jika diimplementasikan oleh guru sd atau yang sederajat. bahkan menu-rut hemat penulis kelima hal tersebut di atas merupakan urgensi sejatinya guru atau dapat disebut “guru sejati”. merujuk kepada lima hal tersebut, fakhruddin juga banyak mengutip dari pernyataan beberapa guru teladan dari luar negeri. selanjutnya penulis dalam menjelaskan lebih lanjut mensarikan dari uraian fakhruddin. guru adalah orang tua kedua guru sesungguhnya bukan sekadar mendidik dan mengajar, akan tetapi secara substansi adalah sebagai orang tua kedua bagi murid di sekolah. untuk menekankan pembahasan mengenai guru sebagai orang tua kedua, fakhruddin mengutip pernyataan doni chirarell seorang bp teacher of exellence dari alaska berikut ini: “saya memiliki keyakinan mendasar bahwa para orang tua telah menunjukkan kepercayaan mereka terhadap diri saya dan sekolah ketika mereka mengirimkan anakanaknya ke sekolah. saya hanya menekankan cinta, kepedulian, dan perhatian yang telah dimiliki dan telah dibangun oleh orang tua untuk anak-anaknya saat sekolah bekerja sama dengan keluarga mereka selama tahun ajaran”. apabila anak di rumah memiliki orang tua sebagai sandaran atau tumpuan berbagai hal, maka di sekolah ada guru sebagai tempat merangkum nilai-nilai kearifan, ilmu, dan pengetahuan. guru menggantikan peran orang tua, sehingga guru tepat disebut sebagai orang tua kedua bagi murid atau peserta didik. oleh karena itu, guru bertanggung jawab dalam memperhatikan berbagai hal, antara lain: kesehatan, keselamatan, intelektualitas, emosionalitas, spiritualitas, dan kegelisahan anak. lebih lanjut ia menjelaskan bahwa menjadi orang tua memang bukanlah pekerjaan yang mudah dan ringan. apabila seorang benar-benar menikmati “pekerjaannya”, maka pekerjaan “berat” tersebut menjadi sangat ringan dan nikmat. dengan demikian, dapat diberi titik simpul bahwa persepsi dan paradigma seorang guru terhadap pekerjaannya memberikan peran yang sangat signifikan dalam keberlangsungan pendidikan dan pembelajaran. di akhir uraiannya, ia menjelaskan bahwa terkadang, kemajuan seorang siswa terbelenggu dengan sikap sempit yang dipraktikkan oleh seorang guru atau pendidik. konsep diri laksana, atau minimal menempatkan diri, sebagai orang tua kedua, akan bermuarakan dasar yang kuat bagi anak didiknya, sehingga akan terus melangkahkan kakinya menuju masa depan yang lebih baik. guru yang baik asyik dengan pekerjaannya dan memandang anak didiknya seperti anaknya sendiri. guru adalah seorang motivator guru dituntut memiliki kemampuan memotivasi anak didiknya agar berhasil atau memiliki prestasi yang cemerlang. guru adalah motivator, memberikan semangat kepada anak didiknya, memberi kekuatan bagi yang lemah, dan mendorong bagi yang lambat. pembahasan mengenai hal ini, fakhruddin mengutip pernyataan virginia maxfield, guru teladan dari decature, georgia berikut ini: “jika saya bisa menumbuhkan rasa ingin tahu seumur hidup dalam diri murid-murid, saya yakin mereka akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk meraih kesuksesan, kebahagiaan, dan hubungan yang kuat dengan orang lain dalam kehidupan mereka”. memperhatikan pernyataan tersebut, guru harus memiliki tekad yang kuat untuk menumbuhkan anak didiknya sehingga mencapai perkembangan secara optimal. lebih lanjut ia profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 31-4136 menjelaskan bahwa seorang pendidik diharuskan untuk selalu memompa semangat para anak didiknya untuk belajar dengan tekun, menghadapi kesusahan dengan senyum dan keterbatasan dengan semangat berubah. motivasi semacam ini akan membuat semangat mereka kembali menyala. dalam psikologi, istilah motivasi mengacu pada konsep yang digunakan untuk menerangkan kekuatan-kekuatan yang ada dan bekerja pada diri organisme atau individu yang menjadi penggerak tingkah laku organisme atau individu tersebut. seorang pendidik yang baik akan selalu memotivasi anak didiknya untuk terus belajar dan berkarya. pada setiap kesempatan, pendidik seperti itu akan mengajak setiap anak didiknya untuk mengembangkan kreativitas dan keahliannya. apa yang dilakukan ini membawa implikasi yang sangat besar dalam perkembangan pola pikir dan pola sikap peserta didik. motivasi yang diberikan oleh guru, apalagi telah dijadikan sebagai orang tua kedua, maka akan bisa menjadi titik pelita penerang kehidupan anak didiknya. sejatinya semua orang akan senang jika diberi motivasi positif. dengan motivasi tersebut, akan semakin bersemangat untuk berkreasi dan mengaktualisasikan kreativitasnya di dunia ini. guru adalah sang petualang guru memiliki tujuan jangka panjang terhadap kehidupan anak didiknya dan untuk kepentingan yang lebih luas (bukan hanya diri sendiri). untuk menekankan pembahasan mengenai guru sebagai sang petualang, fakhruddin mengutip pernyataan linda adamson, guru teladan dari maryland berikut ini: “tujuan saya untuk para murid adalah menyiapkan untuk menjadi sukses ketika berusia 30 tahun kelak. jika saya bisa melakukan tugas dengan baik, maka hasilnya akan dapat dirasakan dalam kehidupan anak-anak ini dan dalam kehidupan orangorang yang mereka sentuh”. guru pada dasarnya melakukan perjalanan panjang agar anak dapat mencapai cita-cita yang tinggi, bukan hanya untuk masa sekarang, tetapi berlanjut sampai dengan masa tuanya. bahkan bagi orang beragama, bukan hanya untuk tujuan dunia saja, akan tetapi sampai dengan akhirat. perkembangan dunia yang serba cepat ini membutuhkan kesediaan untuk terus belajar, mengkaji semua hal, dan ini sejatinya berlaku bagi semua orang, lebih-lebih bagi seorang guru yang merupakan penyampai nilai kepada anak didiknya. guru menjadi pusat berbagai hal untuk mendewasakan anak didiknya. apabila seorang guru tidak bersedia membaca gemericik dinamika kontemporer, bisa dipastikan dia tidak akan bisa menyampaikan korelasi pelajaran yang diberikan dengan dunia kongkret, ranah sosial. di samping itu, anak didik pun tidak respons terhadap gurunya. guru harus kaya materi, luas pandangan, kaya metode, dan menarik perhatian bagi anak didiknya. oleh karena itu, guru harus menjadi petualang intelektual, siap melakukan pengkomparasian atas semua hal yang disaksikan dengan pelajaran yang diberikan, dengan demikian, anak didik dalam pembelajaran akan merasa nyaman, nikmat, dan menyenangkan, akhirnya siswa akan selalu berusaha maju bersama dan mencapai cita-cita bersama. guru, sang pembebas dan pejuang guru dalam semua geraknya adalah untuk melakukan perubahan, agar anak didik terbebas dari kebodohan, keterbelakangan, kemiskinan dan sebagainya. untuk mencapai tujuannya, maka selalu kerja keras, tak kenal lelah, pantang mundur, dan berjuang tiada henti. untuk menekankan pembahasan mengenai guru, sang pembebas dan pejuang, fakhruddin mengutip pernyataan mar-tha stickle, guru teladan dari ascention parish di louisiana berikut ini: urgensi guru sejati di sekolah dasar (saminoi) 37 “keberhasilan yang paling saya banggakan adalah sesuatu yang tidak bisa dituliskan dalam kalimat pada resume atau piagam penghargaan. kenikmatan dan kepuasan yang sesungguhnya saya dapatkan ketika menyaksikan salah satu pemain bola didikan saya mencetak gol pertamanya, atau membantu murid saya yang tidak suka membaca untuk mengerti isi cerita yang sangat bagus, atau membantu seorang penulis muda dalam memainkan gaya bahasa hingga puisinya terasa pas. ini semua adalah keberhasilan yang memotivasi saya setiap harinya untuk terus mengejar tujuan saya dalam mendapatkan gelar yang paling terhormat, yaitu guru”. guru merupakan sosok yang tak pernah puas sebelum melihat keberhasilan anak didiknya sesuai dengan yang dicita-citakan. guru bangga dengan pekerjaannya dan menekuni pekerjaannya sepanjang masa, tidak pernah berhenti sebelum melihat anak didiknya berhasil. ia melakukan pekerjaannya dengan ikhlas, ibarat sepi ing pamrih rame ing gawe (tidak bangga jika dipuji, tidak sakit jika dicela). guru adalah pembebas dan pejuang, hal itu dapat dilihat pada banyak kasus atau kisah guru-guru di tempat terpencil atau pedalaman. sebagai contoh adalah ibu muslimah yang telah ditulis oleh andrea herata dalam novelnya laskar pelangi. pada masa penjajahan belanda juga kita dapat disaksikan ibu raden ajeng kartini yang kisahnya dapat dibaca dalam buku habis gelap terbitlah terang, dan setelah itu sangat banyak contoh perjuangan untuk menegakkan pendidikan atau lembaga persekolahan. hal itu melekat pada identitas guru atau pendidik yang berjuang untuk membebaskan anak bangsa ini dari berbagai bentuk ketertinggalan. begitu juga setelah merdeka, guru tetap menjadi bagian yang sangat penting dalam memajukan bangsa menjadi bangsa yang mampu bersaing dengan bangsabangsa lain di dunia. dapat dibayangkan seandainya guru tidak ada, pasti yang ter-jadi gelap gulita dan negara indonesia menjadi sangat tertinggal. sejarah kota nagasaki dan hirosima di jepang sewaktu di bom oleh amerika serikat pada tahun 1945 cukup menjadi pelajaran. meskipun jepang telah menjadi lumpuh, pemerintah waktu itu mengambil langkah awal yaitu menginventarisir guru dan melakukan pembinaan terhadap guru. pemerintah berkeyakinan selama guru masih ada, maka harapan masa depan jepang masih cemerlang. hal tersebut terbukti jepang sekarang menjadi negara yang maju, bahkan mampu bersaing dengan negara-negara maju di dunia. guru, pribadi berjiwa profetik guru adalah seorang yang mengemban amanah mulia, semua yang diajarkan dan dipraktikkannya atas dasar tuntunan yang benar. sebagaimana misi kenabian, semua yang diajarkan adalah kebenaran untuk membawa kebahagian dunia sampai dengan akhirat, semua ajarannya bersumber dari allah, tuhan yang maha esa. oleh karena itu, wajar jika yang dilakukan disebutnya sebuah sikap profetik. sikap profetik adalah sikap kenabian, sikap yang pernah dilakukan oleh para nabi. untuk menekankan pembahasan mengenai guru, pribadi berjiwa profetik, fakhruddin mengutip pernyataan beberapa guru teladan berikut ini: carole firestone, guru teladan dari california, menyatakan: “saya mengajarkan para murid agar menjadi pengambil risiko. jangan takut untuk mengambil kesempatan atau mencoba sesuatu yang baru. kegagalan adalah bagian dari hidup dan merupakan sesuatu yang harus kita pelajari”. deborah johnston, guru teladan dari calorado, menyatakan: “berapa banyak murid yang bangun tidur dan berkata, ‘hore, hari ini saya akan gaprofesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 31-4138 gal’. saya mengatakan kepada murid-murid saya bahwa jika mereka tidak mengatakan hal ini pagi ini, mereka sebaiknya tidak melakukannya di dalam kelas. saya katakan kepada mereka, ‘setiap orang akan menjadi sukses, titik. hal ini bukan untuk didiskusikan. sekarang, tinggal bagaimana caranya kalian mencapai kesuksesan tersebut?” xochitl fuhriman-ebert, guru teladan dari oregan, menyatakan: “saya selalu katakan, ‘berikan saya murid yang tidak dianggap.’ merekalah saya inginkan. mereka tahu rasanya berjuang. dan ketika mereka merasakan kesukesan, itu adalah sukses yang manis. mereka harus merasakan kesuksesan. jika mereka belum merasakannya, mereka tidak tahu apa yang mereka lewatkan.” berdasarkan pernyataan-pernyataan guru teladan tersebut dapat dipahami bahwa nabi adalah pejuang tiada henti bahkan sampai mati, menjadi contoh segala hal atau semua aspek kehidupan. itulah yang semestinya ditiru dan dilakukan oleh para guru sejati. nabi sayang kepada muridnya seperti anaknya sendiri, dianggap bagian dari keluarganya, bahkan juga dapat menempat-kan diri sebagai sahabatnya. membangun masya-rakat menjadi kewajibannya, tidak terlalu mem-prioritas urusan materi atau duniawi, lebih memen-tingkan pembangunan masa depan melalui pem-bentukan manusia seutuhnya, seimbang lahir-ba-tin, jasmani-rohani, individusosial, material-spiritual, dan dunia-akhirat. keteladanan guru keteladanan guru dapat dipelajari dari komentar beberapa guru teladan yang telah dikemukakan di atas. bagi umat islam dan manusia seluruh dunia terdapat contoh keberhasilan yaitu keberhasilan dan keteladanan nabi muhammad s.a.w. keberhasilan memimpin umat dan mengubah situasi yang gelap gulita menjadi terang benderang, dari alam kebodohan menjadi alam yang cerah dan cerdas, dari alam kemung-karan menjadi alam kebaikan, dari alam kebejatan menjadi berakhlaqul karimah, dari alam kekafiran dan kesirikan menjadi keimanan dan ketakwaan. keberhasilan nabi muhammad s.a.w. tersebut karena keteladanannya, apa yang dikatakan itu juga yang lakukan. maka dari itu, keteladanannya tersebut diabadikan oleh allah swt dalam qs al-ahzab (33) ayat 21 yang artinya: “sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut allah”. berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami makna pentingnya keteladanan dalam membangun umat manusia, bahkan dapat dikatakan mutlak adanya. kalangan muhammadiyah tidak akan dapat melupakan sosok pendirinya, yakni: k.h. ahmad dahlan. beliau mampu menggerakkan muhammadiyah ke seluruh pelosok tanah air dalam berbagai bidang, antara lain: bidang dakwah, pendidikan, kesehatan, dan sosial. pengembangan pendidikan muhammadiyah tiada duanya di indonesia, berbagai tokoh dan ahli menyebutkan bahwa keberhasilan itu salah satunya ditunjang dengan keteladanan. apa yang dikaji, dipelajari, dan dipahami, itu pula yang disampaikan dan diamalkan. dengan kata lain, satu hati, satu kata, dan satu perbuatan. k.h. ahmad dahlan termasuk tokoh muslim indonesia paling berpengaruh, cemerlang pemikiran pembaharuannya, aktif, dan memiliki hasil yang nyata. secara singkat sosok k.h. ahmad dahlan disebutkan iskandar (2011: 104) sebagai berikut. “sebagai orang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasangagasan cemerlang, dengan mudah k.h. ahmad dahlan diterima dan dihormati di urgensi guru sejati di sekolah dasar (saminoi) 39 tengah kalangan masyarakat. ia pun dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi jam’yatul khoir, budi utomo, sarekat islam, dan komite pembela kanjeng nabi muhammad saw. pada 1912, ia mendirikan muhammadiyah untuk melaksanakan citacita pembaharuan islam di bumi nusantara. k.h. ahmad dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan islam. ia ingin mengajak umat islam indonesia kembali hidup menurut tuntunan al-qur’an dan hadis. muhammadiyah berdiri pada 18 november 1912. sejak awal, ia telah menetapkan bahwa muhammadiyah bukan organisasi politik, melainkan bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.” semua tahu bahwa pendidikan muhammadiyah sekarang telah menjadi besar dan telah banyak melahirkan kader bangsa yang tangguh. bahkan presiden ri pertama dan kedua adalah putera-putera muhammadiyah. oleh karena itu, pemerintah ri menetapkan k.h. ahmad dahlan sebagai pahlawan nasional dengan sk presiden no. 657 tahun 1961 atas jasa-jasanya dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan islam dan pendidikan. guru sejati sebagai pendidik harus penuh dengan keteladanan, apalagi bagi murid sd keteladanan mutlak diperlukan. dengan kata lain, dalam mendidik murid-murid di sd harus penuh dengan keteladanan atau suri teladan yang baik. untuk memberikan suri teladan yang baik, hanya bisa dilakukan oleh guru-guru yang berkualitas dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. menurut samiyo (dalam alantaqi, 2010: 198200), ada lima unsur yang harus melekat pada kepemimpinan guru, yaitu: (1) tanggungjawab, bukan keistimewaan; (2) pengorbanan, bukan fasilitas; (3) kerja keras, bukan santai; (4) otoritas, bukan otoriter; dan (5) keteladanan. secara singkat masing-masing unsur tersebut dapat disarikan sebagai berikut. (1) tanggungjawab, bukan keistimewaan. ketika seseorang diangkat atau mendapat amanah menjadi guru, maka harus mempertanggung-jawabkan kepada manusia dan kepada allah swt. oleh karena itu, tidak boleh merasa paling istimewa atau yang harus diistimewakan. (2) pengorbanan, bukan fasilitas. menjadi guru bukan berniat untuk menikmati kehormatan atau kebanggaan dan gaji yang banyak. akan tetapi justru ia mampu menujukkan adanya pengorbanan waktu, tenaga, dan perhatian kepada murid-muridnya, baik moral maupun material. (3) kerja keras, bukan santai. guru memiliki tanggungjawab yang besar dalam menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang sedang terjadi pada murid-muridnya. guru harus selalu bekerja keras (tidak boleh santai) dalam mengupayakan pengembangan murid-muridnya sampai ke tingkat dewasa. (4) otoritas, bukan otoriter. guru memiliki kewenangan terhadap murid-muridnya dalam proses pendidikan, tetapi tidak boleh sewenang-wenang, maka guru harus memiliki visi, misi, dan tujuan sesuai dengan nilai-nilai pendidikan. murid harus dilayani dengan baik, tidak boleh mengkhianati jabatan profesional yang disandangnya. (5) keteladanan. guru harus dapat menjadi teladan dalam semua kebaikan, tindakannya senantiasa sesuai dengan apa yang diyakini dan diucapkan. kesederhanaan, keikhlasan, tingkah lakunya atau seluruh amal perbuatannya harus dapat menjadi contoh murid-muridnya, bahkan bagi masyarakat luas. itulah kata kunci bahwa urgensi guru sejati adalah keteladanan. tugas profesional seorang guru memang jika dirinci sangat banyak dan sangat berat, jauh berbeda dengan profesi lainnya. kondisi bangsa sekarang ini adalah merupakan hasil pendidikan masa lalu, demikian juga kondisi bangsa yang akan datang sangat tergantung pendidikan masa profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 31-4140 sekarang. guru sd adalah tonggak keberhasilan suatu bangsa, dan negara yang maju karena pendidikannya maju. tanpa bermaksud merendahkan penganut agama selain islam, bagi muslim telah memiliki tolok ukur sebagai tokoh yang menjadi suri teladan kehidupan dalam berbagai aspek kehidupan. tokoh tersebut adalah nabi muhammad saw. beliau terkenal sangat kuat akidahnya, mulia akhlaknya, cerdas, dan bijaksana, sehingga dalam waktu singkat (kurang dari 23) dapat meraih kesuksesannya. berbeda dengan sebagian manusia sekarang, mudah tergelincir gemerlapnya dunia dan terbius tujuan jangka pendek. pada majalah suara muhammadiyah edisi no. 02 tahun ke 99 dengan tema sentral “jerat hukum politisi muda”, disebutkan banyaknya elit politik terjerat korupsi dan masuk bui, bahkan yang sangat mengagetkan terjadi pada anak-anak muda sebagai calon penerus bangsa. selanjutnya disebutkan sebagai berikut ini: “panorama mengagetkan ialah, di antara para tersangka, terdakwa, dan terpidana itu adalah anak-anak muda aktivis dan tokoh pergerakan islam. publik bertanya, bagaimana mereka dapat terperangkap korupsi padahal selama ini berada di lingkungan gerakan islam? mereka kaum muda santri. apa yang terjadi pada moralitas atau standar akhlak islam dalam membingkai pikiran, sikap dan tindakan-tindakan mereka di dunia politik dan pemerintahan. contoh kasus tersebut tidak pernah terjadi pada guru masa lalu dan semestinya tidak akan terjadi pada guru masa sekarang dan akan datang. jika hal tersebut terjadi pada guru, alangkah carut marutnya dunia pendidikan di indonesia dan berdampak pada bangsa ini secara keseluruhan, selanjutnya akan menjadi bangsa yang rusak, bahkan negara akan hancur berantakan. oleh karena itu, guru harus penuh kehati-hatian, berpegang teguh pada prinsip sebagai guru, istikomah dan berakhlakul karimah. purna wacana guru sejati adalah guru yang penuh keteladanan dalam kebaikan, tidak tergoda oleh gemerlapnya dunia, apalagi harta, tahta, dan wanita. apabila guru tergoda terhadap yang bukan semestinya, maka akan bergeser menjadi guru yang mencelakakan muridnya, bahkan masyarakatnya, seperti guru durna. guru adalah panutan semua orang, maka tidak boleh aji mumpung, semua dilakukan sesuai dengan kaidah seorang guru. banyak orang terbius dengan ungkapan pujangga jawa ki ranggawarsito yang bunyinya: “…amenangi jaman edan, yen ora edan nora komanan…” artinya di masa gila-gilaan orang harus ikut gilagilaan, agar tetap mendapat bagiannya. selanjutnya disebutkan, tampaknya mereka melupakan penggalan ungkapan selanjutnya yang sangat mendambakan norma dan etika, yaitu: “…sa beja-bejane wong kang edan, luwih beja wong eling lan waspada”. artinya, seberuntung apapun orang yang gila-gilaan, masih tetap beruntung mereka yang tetap ingat dan waspada. inilah nilai budaya unggul (su’ud, 2012: 32-33). untuk keberhasilan peserta didiknya, guru harus tampil prima sehingga dicintai murid-muridnya. hasil penelitian di amerika yang dilakukan oleh para ilmuwan amerika, yang dipimpin oleh hart adams menegaskan bahwa ada tiga kelompok yang menjadi sebab seorang guru dicintai oleh murid-muridnya. tiga kelompok tersebut dikutip oleh khlifah dan quthub (2009: 37), yaitu: ke-lompok pertama: (1) sikap tolong menolong dengan loyalitas tingggi, (2) menjelaskan pelajaran dengan baik, dan (3) menggunakan perumpamaan atau contoh saat menjelaskan. kelompok kedua: (1) berbudi pekerti baik, (2) cerdas atau cekatan, serta (3) mampu membuat suasana di dalam kelas menjadi hangat dan menyenangkan. kelompok ketiga: (1) arif dan lemah lembut terhadap murid-muridnya, (2) peka terhadap urgensi guru sejati di sekolah dasar (saminoi) 41 perasaan murid-muridnya, dan (3) merasa bahwa murid-muridnya adalah teman-temannya. demikianlah guru, berapapun waktu yang disediakan untuk membicarakan tidak akan ada habisnya, berapapun halaman lembar kertas untuk menulisnya tidak ada habisnya. oleh karena itu, tulisan ini dimaksudkan menjadi bagian sumbang saran kepada guru agar dapat menjadi guru sejati. memang kajian yang diberikan masih banyak terdapat hal-hal yang bersifat umum, akan tetapi pada dasarnya telah diolah sedemikian juga melalui perspektif atau kacamata guru dalam perspektif ke-sd-an. semoga guru tetap menjadi guru yang profesional memenuhi kompetensinya (kepribadian, paedagogik. sosial, dan profesional), sebagaimana sifat nabi saw (sidik, amanah, tabligh, dan fathonah), akhirnya membawa keberhasilan pendidikan dan berjayalah indonesia (wallahu a’lam bishshowab). daftar rujukan alantaqi, wajihuddin. 2010. rahasia menjadi guru teladan penuh empati. yogyakarta: garailmu al-qarni, ‘aidh. 2006. cahaya pencerahan (terjemahan oleh moh. shoban rahman zuhdi dan moh abidun). jakarta: qisthi press. al-qur’an dan terjemahnya. departemen agama ri. khalifah, mahmud dan quthub usamah. 2009. menjadi guru yang dirindu (terjemahan oleh: muhtadi kardi & kusrin karyadi). surakarta: ziyad visi media. nugraheni, dewi pujining. 2014. “guru merokok, bolehkah?” dalam suara merdeka, tahun ke 64, no. 334, sabtu wage, 25 januari 2014, hlm 10. fakhruddin, asef umar. 2010. menjadi guru favorit. yogyakarta: diva press. iskandar, salman. 2011. 55 tokoh muslim indonesia paling berpengaruh. solo: tinta medina. rosyadi, khoiron. 2004. pendidikan profetik. yogyakarta: pustaka pelajar. sangkan, abu. 2008. berguru kepada allah. jakarta selatan: yayasan shalat khusyu’. suara muhammadiyah. 2014. “moral politik di pinggiran” edisi no. 02, tahun ke-99 (16 – 31 januari 2014). yogyakarta: penerbit suara muhammadiyah. su’ud, abu. 2012. how to be real indonesian (bagaimana menjadi orang indonesia sejati). semarang: pustaka zaman. page 1 page 2 profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 170 teacher's use of whatsapp application to solve elementary school students' online learning difficulties eko kuntarto*, faizal chan, & nurul qalbi eka pratiwi universitas jambi, jambi, indonesia *email: nurulqalbiekapratiwi.pgsd@gmail.com submitted: 2021-04-21 doi: 10.23917/ppd.v8i2.14210 accepted: 2021-12-27 published: 2021-12-30 keywords: abstract whatsapp; learning difficulties; online learning this research aimed to describe the types of difficulties encountered by students when conducting online learning through whatsapp, as well as how teachers address students' learning difficulties. the method used in this research was qualitative research method using case study design. data were gathered through online observation and interviews. data analysis was carried out by collecting data, analyzing data, and drawing conclusions. to check the validity of the data, sources and technique triangulations were used. the results of this research showed that there were several difficulties experienced by the students during online learning through whatsapp group, such as lack of support facilities because students did not have their own mobile phones, unstable internet network, and insufficient internet quota. regarding the use of whatsapp in learning activities, students had difficulty discussing in the group or using whatsapp features. the teacher overcame the obstacles for students who did not have their own mobile phones by asking their classmates or neighbors who lived nearby to provide information related to learning activities. to address challenges such as an unstable internet network, the teacher instructed students to find a location with a good network while learning. then, regarding students who did not have an internet quota, the teacher recorded the student's whatsapp numbers so they could get free internet assistance from the ministry of education and culture. to solve problems related to the difficulty of students discussing in groups and difficulties using the whatsapp feature, the teacher always guided and assisted students on how to use the whatsapp features in the learning process. http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:nurulqalbiekapratiwi.pgsd@gmail.com http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v7i1.9652 vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 171 introduction background according to the minister of education and culture regulation number 81a year 2013, learning is a method for students to master what is taught. learning activity, in general, is an educational process that allows students to develop their potential and abilities, as well as the attitudes, knowledge, and skills required to live and socialize as a nation and contribute to human welfare. the world is currently experiencing the covid -19 pandemic, which has claimed many lives and represented a massive challenge for indonesia and the rest of the world. the covid-19 outbreak causes an impact on education as well. based on circular letter no 3 year 2020, in the context of preventing the development and spread of coronavirus disease (covid -19), education units are directed to focus on several issues concerning the prevention and the transmission of coronavirus disease. following the policies issued by the minister of education and culture, namely circular letter number 4 year 2020 regarding the implementation of education during the coronavirus disease emergency, there are some changes in the learning process, in which teaching and learning activities are conducted remotely (from home) or online. problem of study this necessitates a shift in the learning process from face-to-face (offline) to online learning. a social media platform is a type of media where users can find information, communicate with one another, and make new friends online. as is well known, there are various types of social media, such as facebook, twitter, line, bbm, whatsapp, instagram, path, linkedin, snapchat, and others (trisnani, 2017). whatsapp is one type of online social media platform that is simple to use and operate for students. whatsapp, as a social media platform, enables its users to deliver specific announcements, various ideas, and learning resources, as well as to support online discussions (amry, 2014). there are several advantages to using whatsapp messenger group for learning: 1) it can easily be downloaded and free, 2) it allows the transmission of comments, writings, images, videos, sounds, and documents. 3) it can be used as a medium for publishing works or disseminating information. 4) it has a variety of features for disseminating information and knowledge, and 5) it makes online learning more convenient (indaryani & suliworo, 2018). teachers must be creative in using whatsapp, including the use of application features for delivering material, appointing assignments, collecting assignments, and conducting online learning assessments in order to produce effective learning outcomes. this needs to be a teacher's attention so that students do not have difficulty to participate in online learning. learning difficulties occur when a person's learning process is disrupted by the emergence of conflicting responses or a person's inability to learn (mulyadi, 2010). so, if there are problems or learning difficulties encountered by the students during online learning, teachers must be able to address the issues in various ways. the teacher's role is critical in effectively utilizing whatsapp in the learning process so that students do not find it difficult to participate in learning activities. teachers can use whatsapp to give assignments, interact with students, and collect assignments in order to prevent gatherings during the current pandemic and prevent the spread of covid-19. furthermore, the teacher's role is vital in providing solutions or ways to overcome learning difficulties experienced by students during the learning process. the researchers selected sd n 160/ix simpang tuan as the subject of the research. according to the results of the observations and interviews with the homeroom teacher, there were still some students at the school, particularly the fifth-grade students, who had difficulty participating in online learning using whatsapp. kuntarto et al teacher's use of whatsapp application… printed issn 2406-8012 172 state of the art several studies have been conducted to investigate the use of whatsapp in online learning. first, alaby (2020) carried out research on the use of whatsapp as a medium of information and learning. this study found that whatsapp plays an important role in the lecture process. it is also used to improve the method of sending assignments. second, shodiq and zainiyati (2020) discovered that using whatsapp as a learning tool in the midst of the covid-19 pandemic is very appropriate because this application is simpler, easier to use, and has more features than another online application. third, research by afnibar and fajhriani (2020) revealed that students generally use whatsapp to communicate and learn. whatsapp also makes communication easier, supports learning activities, and assists students in learning activities. fourth, dewi's (2020) study discovered that using whatsapp helps reduce the impact of covid-19 on the implementation of online learning in elementary schools. gap study & objective covid-19 has had such a large impact on education as it can be seen on the shifting of face-to-face learning into online learning through the use of different applications such as whatsapp, zoom, google classrooms, and others. this online learning can be quite effective if teachers, students, and parents work together. fifth, a study by wiguna et al. (2020), informed that the use of whatsapp is a factor that significantly influences the learning process when it is conducted online. in this case, students in elementary school face a number of challenges when participating in the online learning process via whatsapp application. based on this context, the purpose of this research is to describe the students’ difficulties in online learning using whatsapp application, as well as the methods that teachers have used to help these students overcome their learning difficulties. method type & design this is qualitative research using a case study design. the research was conducted at sd negeri 160/ix simpang tuan, particularly in the fifth grade. this research was carried out during the even semester of the 2020/2021 academic year. data & data source the data were qualitative in the form of words gathered through observations and interviews. the participants of this research were fifth-grade students and the homeroom teacher. the first set of data focused on students' difficulties with online learning. these data were gathered from four students who struggled with online learning. the second set of data came from the fifth-grade students' homeroom teacher, and it was about how the teacher overcame students' difficulties. the data for this research were collected through observation and interviews. data collection technique the observation technique was used to determine how the teacher used the whatsapp social media platform to help students overcome learning difficulties. the researchers joined the whatsapp group of the class, did the observations, and paid attention to the teacher and students' activities during the online teaching and learning process. the observations were done based on the observation guide. vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 173 table 1. observation guide no aspects observed indicator 1 supporting facilities in the form of whatsapp application 1. have a mobile phone 2. have joined the whatsapp group 3. have a stable internet connection 4. have an internet quota 2 the use of the whatsapp application 1. whatsapp group is used to facilitate discussion during the online learning process. 2. the class in whatsapp group is used to deliver information about learning activities. 3. all students actively participate in discussion activities through whatsapp group chats. 4. whatsapp is active during the teaching and learning process. 5. whatsapp is used every day. 6. whatsapp features are used in the online learning process. 7. there are obstacles in using whatsapp for online learning. 8. the teacher provides a solution when students encounter a problem during the learning process. the researchers also employed semi-structured interviews. data collection from interviews began by preparing an interview guide sheet. interviews were conducted with the homeroom teacher and the fifth-grade students who had difficulty following online learning by complying with health protocols by wearing masks, washing hands, and using hand sanitizers. during the interview, the teacher and students were asked to respond to questions based on the actual situation. table 2. interview guide data sources aspects observed indicator teacher supporting facilities in the form of whatsapp application 1. have a mobile phone 2. have whatsapp application on the phone 3. have a stable internet connection 4. have an internet quota the use of the whatsapp application 1. have joined the class whatsapp group 2. whatsapp group is used to facilitate students with discussions. 3. whatsapp group is used to notify students about upcoming learning activities. 4. whatsapp is active during the teaching and learning process. kuntarto et al teacher's use of whatsapp application… printed issn 2406-8012 174 5. whatsapp is used every day. 6. the teacher knows and is able to use whatsapp's features. 7. obstacles to online learning with whatsapp 8. solutions to overcome obstacles in using whatsapp students supporting facilities in the form of whatsapp application 1. own a mobile phone 2. have a whatsapp application on the phone 3. have a stable internet connection 4. have an internet quota the use of the whatsapp application 5. whatsapp is more user-friendly for online learning than other social media platforms. 6. students use the class in whatsapp group to ask questions related to online learning problems. 7. students use class whatsapp group to discuss online learning materials. 8. students use whatsapp more frequently than textbooks 9. students use whatsapp every day. 10. students know and are able to use whatsapp’s features. data analysis several triangulation techniques were employed in this research. first, source triangulation was used to test the validity of the data by cross-referencing the data from various sources. second, technique triangulation was used to test the validity of the data by comparing it to the same source but using different techniques. the data analysis technique was carried out continuously until it was completed, causing the data to become saturated. the stages in data analysis include data collection, data analysis, and conclusion drawing. results this research aims to describe the students’ difficulties in learning online using the whatsapp application, as well as the methods that teachers have used to help these students overcome their learning difficulties. data were gathered through observations conducted during the research period through the whatsapp group. in addition, to enrich the data, interviews with the participants were also conducted. the followings are the findings from interviews with the teacher and fifth-grade students at sd negeri 160/ix simpang tuan who had difficulty in learning online using whatsapp. forms of students' online learning difficulties using whatsapp according to the research findings, the form of students' difficulties in online learning using whatsapp was related to supporting facilities such as the whatsapp application. it was found that the students did not own mobile phones, that the internet network was unstable, and that they did not have an internet quota. then, the difficulties associated vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 175 with the use of the whatsapp platform were that students did not understand how to use whatsapp features, so they did not dare to ask questions in the group, and they became inactive in the whatsapp group during learning. further explanation is given below. the researchers discovered several findings regarding the students' difficulties with online learning using whatsapp. the findings of the observations and interviews revealed that the difficulties of the fifth-grade students were related to a lack of supporting facilities, in this case, the whatsapp application. the following is a discussion of the problems encountered by students at sd negeri 160/ix simpang tuan when using whatsapp for online learning. 1. students did not have their own mobile phones one of the reasons students struggled with assignments was that they did not have their own mobile phones. in this case, they used their parents’ mobile phones. as a result, when the teacher distributed assignments and learning materials, students were unable to join the whatsapp group. they finished the assignments when their parents returned home from work. under these conditions, learning did not run effectively. it was mentioned by rj, one of the fifth-graders at sekolah dasar negeri 160/ix simpang tuan: “i don't have my own mobile phone; the one i use belongs to my father; as a result, i can't complete my assignments on time when the teacher posts them in the whatsapp group. i didn't do it immediately. i'm going to have to wait for my father to get home from work. then i'll check the group and finish my homework” (23/01/2021). 2. unstable internet connection another issue was the limited internet network at the student's house due to its location in the garden. this resulted in students not receiving messages from the teacher in the whatsapp group, which could impede the teaching and learning process in online learning. as explained by student a in our interview: “i frequently missed lessons because the signal in my house was lost, and also, since my house is in the garden, it is difficult to find a good internet connection. sometimes, i have to leave my house or go to a friend's house outside the garden to find an internet connection” (30/01/2021). 3. students do not have an internet quota another challenge in online learning is the internet quota or data limit. the difficulty discovered in this research was that students did not have an internet quota. the internet quota that students used was purchased independently. they did not receive free internet quota assistance from the ministry of education and culture. students were unable to purchase their quota at any time. due to their parent's financial situation, students must first postpone the purchase of their internet quota. as a result, students missed out on online learning, which was done through a whatsapp group. this is supported by the results of interviews with a fifth-grade student of sd n 160/ix simpang tuan, initials ap: “in terms of assignments, i have difficulty accepting assignments from teachers who send them through the whatsapp group because my brother and i share one mobile phone. when i want to do an assignment, my brother's internet quota runs out, so i can’t check the assignments assigned by the teacher” (20/01/2021). kuntarto et al teacher's use of whatsapp application… printed issn 2406-8012 176 according to the findings of observations and interviews, the online learning difficulties encountered by students when studying using whatsapp during the covid-19 pandemic are students' lack of personal mobile phones, unstable internet connections, and limited internet quotas. due to these difficulties, students are unable to follow the teacher's lessons. learning through whatsapp groups is one option for students to continue learning during the covid-19 pandemic in order to prevent the virus's spread and transmission. ● the use of whatsapp during the research, the researchers found that students encountered problems in online learning. based on the findings of observations and interviews, the difficulties of learning faced by fifth-grade students at sd negeri 160/ix simpang tuan are as follows: 1. students find it difficult to engage in a discussion in a whatsapp group. during online learning using whatsapp, some students still had difficulty discussing the tasks assigned by the teacher through the whatsapp group because the mobile phone belonged to their parents, as a result, students could not use whatsapp during school hours. students also did not dare to ask the teacher who assigned the tasks if they were confused about how to complete the assignment. it is in accordance with the results of the interview with one of the respondents, initials ma: “when the teacher sends assignments to the group, i sometimes didn't understand the tasks. furthermore, the whatsapp account i use belongs to my parents, so i won't be able to participate in the lessons during school hours. i didn't even dare to ask questions in the whatsapp group. when i didn't understand, i asked a friend via whatsapp chat, and he sent me a video of how he completed the task” (06/02/2021). 2. students find it difficult in using whatsapp’s features the issue discovered was that students had difficulty using the whatsapp feature, such as students could not download learning materials or send photos of their assignments to the teacher due to memory limitations, and students failed to play videos sent by the teacher. when the whatsapp memory is full, the phone will undoubtedly become slow and whatsapp will cease to function properly. it was uttered by ta, a fifth-grade student at sekolah dasar negeri 160/ix simpang tuan: “when the teacher started the lesson in the group and sent photos and learning videos, i couldn't download them because whatsapp warned me that my whatsapp memory was full, so i couldn't see what assignment announcements the teacher made. if we receive a notification that our whatsapp memory is full, our phones will no longer receive message notifications or whatsapp chat” (06/02/2021) ▪ teacher's strategy to overcome students' difficulty in online learning through whatsapp from the research findings, students' difficulties were related to learning support facilities, such as students' lack of personal mobile phones. the teacher provided a solution in which classmates or neighbors shared information about the lessons taught that day, and they could discuss it together through a whatsapp group on their friend's mobile phone. the teacher also allowed students to submit their assignments when their parents came home from work. vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 177 this information was conveyed by az, one of the participants of this research: “as students do not have their own mobile phones but rather those of their parents or siblings, i sent messages via whatsapp chat to friends or neighbors who are close to them so they can share the assignments i give on that day. i also allow the students to send their assignments late because the most important thing is that they want to complete the tasks. personally, students' effort to finish their tasks is enough to make me grateful” (30/01/2021) to overcome online learning difficulties caused by limited internet quotas and unstable internet signals in the area of residence, teachers provided a solution by registering student phone numbers with school operators, to be registered as the recipient of free internet quota assistance from the ministry of education and culture, so that students can carry out learning without any obstacles. this information was conveyed by the homeroom teacher of the fifth-grade students of sd negeri 160/ix simpang tuan, initials az: “if a student is having trouble with internet quotas, i report it to the school operator so that the mobile phone number registered as a recipient of free quota assistance from the ministry of education and culture, allowing students to participate in learning and do assignments without interruption. similarly, if an internet signal is unstable, i advise students to find a location with a good network during learning hours”(30/01/2021) the teacher managed the online learning process through whatsapp by assigning tasks to the students. the teacher gave assignments once a day to prevent students from becoming lazy and having difficulty or confusion with multiple assignments. the teacher also provided clear instructions for the assignments and allowed students to ask and answer questions in the whatsapp group or private chats, as well as through whatsapp calls. as mentioned by az, the homeroom teacher: “when submitting assignments, i took advantage of existing whatsapp features to overcome online learning difficulties experienced by students. i sent a downloaded video about material that the students did not understand. besides, i also provided students the opportunity to ask questions either in groups or through private chats. i shared sample photos of assignments that they did not understand, and in addition to using chat, i sent voice notes to explain the learning materials” (30/01/2021) then, it was also found that the teacher's method of dealing with students who had learning difficulties during online learning was that the teacher provided learning media using whatsapp by sending learning videos to the group and providing an explanation of the learning material that was sent to the group. the teacher also offered a discussion session in the whatsapp group so that students could ask questions to the teacher regarding learning material that has not been understood. discussion based on the findings of this current research, several points regarding students' difficulties in online learning through whatsapp group as well as teacher's strategies in addressing students' problems are discussed below. kuntarto et al teacher's use of whatsapp application… printed issn 2406-8012 178 during this research (18 january 2021-18 february 2021), online learning was carried out using whatsapp. teachers and students conducted teaching and learning activities in a whatsapp group. during this covid-19 pandemic, the teacher played an important role in online learning. teachers guided and assisted students in overcoming online learning difficulties by sending learning materials and explaining tasks that students must complete while studying at home. then, when students experienced learning difficulties, the teacher offered solutions so that students could continue to learn and did not miss out on the learning material. in this case, the teacher followed a policy issued by the minister of education and culture, nadiem anwar makarim, who issued circular letter number 3 year 2020 through the letter number 36962/mpk.a/hk/2020 concerning online learning to prevent the spread of corona virus diseases (covid-19). this policy has compelled teachers and students to continue their learning at home through the use of distance learning media, one of which is the whatsapp application, which was used by the fifth-grade teacher at sd negeri 160/ix simpang tuan. during the pandemic, learning was done online through whatsapp. the teacher distributed assignments, and students were expected to complete them. however, some students were still late in submitting their assignments. this occurred as a result of some difficulties or obstacles encountered during online learning. the difficulty encountered was that students did not have their own mobile phones, but rather those of their parents or siblings. so, in order to complete school assignments, students had to wait for their parents to return home; in some cases, students submitted assignments at night when their parents were at home. according to indaryani and suliworo, "whatsapp is a messaging-based application for smartphones, with a basic interface similar to blackberry messenger" (indaryani & suliworo, 2018). as a result, smartphones are essential for using the whatsapp application. when students did not have their own mobile phones, the teacher overcame online learning difficulties by sending private chats to students' parents, so that they left their mobile phones at home for their children to study, or by sending messages to classmates who were close to their homes. suryani, (2017) argued, "the whatsapp application also has a message status in the form of a sign that functions to find out the status of the message, so that teachers can monitor students whether they have opened the messages, read, or not at all". with the message's status, the teacher can more easily track which students have done the assigned tasks. in online learning through the whatsapp group, the assignments were distributed every day during class hours. following the distribution of the assignment by the teacher, the student must submit the assignment via whatsapp, and they must also send a photo of proof when they were working on the assignment, along with a photo of the completed task. however, some students did not know the task assigned by the teacher during class and did not complete it. from the data, this happened due to students running out of their internet quota, preventing them from receiving messages from the teacher in the whatsapp group. hartono (2012) argued, "whatsapp is a cross-platform messaging application that allows users to exchange messages without using sms fees because whatsapp uses the same internet network data package for email, web browsing, and others". conforming to this explanation, the teacher's method of overcoming this problem was to register the students' mobile phone numbers with school operators so that they were recorded as recipients of free internet quota assistance from the ministry of education and culture. vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 179 as stated in research data, one of the learning difficulties during online learning using whatsapp was an unstable internet signal, which prevented students from sending assignments to the teacher on time. this is consistent with nasrullah's (2015) opinion that "social media has a special character, namely the network, the infrastructure that connects computers with other hardware. computers or mobile phones must be connected through a connection in order to communicate with other users." purwanto et al. (2020) confirmed this by stating that "internet communication costs money". the factor causing difficulties in online learning is a less stable internet network because not all residences are covered by internet service. according to indaryani and suliworo (2018), "whatsapp also uses 3g/4g or wifi connections for data communication". parents' limited abilities in using smartphones and internet fees, as well as other factors, have become obstacles in the learning process, resulting in online learning difficulties during the covid-19 pandemic. to overcome students who have difficulty in online learning, the teacher provided a solution by calling them directly using whatsapp calls and instructing them to move to places where there is a good signal during learning hours or online discussions. during the covid-19 pandemic, the teacher sent learning assignments every day, with one task per day. although there was only one task, there were students who had difficulty understanding the material presented by the teacher, and as a result, students were lazy to complete the task. this is consistent with dalyono's (2009) belief that "learning difficulties or learning disorders are situations in which a person's learning process is hampered due to the emergence of conflicting responses." it also refers to a person's inability to learn." faced with these issues, the teacher attempted to use the features of the whatsapp social media platform to provide learning videos that could be downloaded and sent to the class in whatsapp group, and the teacher also shared photos of examples of how to finish the assignments. according to indaryani and suliworo (2018), "there are several benefits of using whatsapp messenger group in learning: 1) it is easily and freely obtained, 2) it allows the transmission of comments, writings, images, videos, sounds, and documents, 3) it can be used to publish works or disseminate information, 4) it has various features for disseminating information and knowledge, and 5) it facilitates online learning. with the current pandemic, teachers must be able to use whatsapp features in the learning process to overcome online learning difficulties and to create meaningful learning for students. based on the discussion above, whatsapp can provide benefits and serve as a solution to learning difficulties faced by students. by maximizing the use of whatsapp for learning, students do not miss the material presented by the teacher. the use of this application also makes it easier for students to succeed in their learning when face-to-face learning is not possible. by using whatsapp, students can still carry out learning, although it is not as effective as face-to-face learning. conclusion the objective of this research is to describe the different types of online learning difficulties that students face when using whatsapp, as well as how teachers can help students overcome these difficulties. based on the result of the research and the discussion that has been presented, it is possible to conclude that the types of learning difficulties experienced by students are related to students' lack of support facilities because students did not have their own mobile phones, unstable network, and internet quota. then, when it comes to whatsapp features, students had trouble discussing in whatsapp groups and using whatsapp features. the teacher overcame the obstacles for students who did not have their own mobile phones by asking their classmates or neighbors who lived nearby to kuntarto et al teacher's use of whatsapp application… printed issn 2406-8012 180 provide information related to learning activities. to address challenges such as an unstable internet network, the teacher instructed students to find a location with a good network while learning. then, regarding students who did not have an internet quota, the teacher recorded the student's whatsapp numbers so they could get free internet assistance from the ministry of education and culture. to solve problems related to the difficulty of students discussing in groups and difficulties using the whatsapp feature, the teacher always guided and taught students on how to use the whatsapp features in the learning process. the findings of this research are expected to provide information and increase teacher understanding of how to use whatsapp to help elementary school students overcome online learning difficulties during the covid-19 pandemic. furthermore, the results of this research can also be used to guide teachers in selecting effective media during the covid19 pandemic. for researchers, as prospective teachers, the results of this study increase researchers' understanding that teachers must have their own method or solution in overcoming students' difficulties in online learning using whatsapp. references afnibar dan fajhriani. (2020). pemanfaatan whatsapp sebagai mediakomunikasi antara dosen dan mahasiswa dalam menunjang kegiatanbelajar (studi terhadap mahasiswa uin imam bonjol padang. jurnalkomunikasi dan penyiaran islam.vol.11(1).70-83. ahmadi, rulam. 2016. metodelogi penelitian kualitatif. yogjakarta: ar-ruzz media alaby, m. a. (2020). media sosial whatsapp sebagai media pembelajaran jarak jauh mata kuliah ilmu sosial budaya dasar (isbd). ganaya: jurnal ilmu sosial dan humaniora, 3(2), 273–289. amry, a. b. (2014). the impact of whatapp mobile social learning on the achievement and attitudes of female students compared with face to face learning in the classroom. european scientific journal, 10(22), 116–136. dewi, w. a. f. (2020). dampak covid-19 terhadap implementasi pembelajaran daring di sekolah dasar. edukatif : jurnal ilmu pendidikan, 2(1), 55–61. hartono. (2012). paikem pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. pekanbaru : zanaf. indaryani, e., & suliworo, d. (2018). dampak pemanfaatan whatsapp dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pada pelajaran fisika. prosiding seminar nasional quantum, 25, 25–31. kamila, h. p., (2019). pengaruh pemanfaatan media sosial whatsapp terhadapmotivasi belajar bahasa indonesia di smp islam al wahab jakarta tahun pelajaran 2018/2019. (skripsi mahasiswa ilmu tarbiyah dan keguruan uin syarif hidayatullah) kbbi. (2016). kamus besar bahasa indonesia. (kbbi). [online]. mulyadi. (2010). diagnosis kesulitan belaja dan bimbingan terhadap kesulitan belajar khusus. narti, s. (2017). pemanfaatan “whatsapp” sebagai mediakomunikasi dosen dengan mahasiswa bimbingan skripsi(studi analisis deskriptif pada mahasiswa ilmu komunikasi bimbinganskripsi universitas dehasen bengkulu tahun 2016). vol. 8 no. 2, december 2021 online issn 2503-3530 181 jurnalprofessional, 4(1). purwanto, a., pramono, r., asbari, m., santoso, p. b., wijayanti, l. m., choi, c. h., & putri, r. s. (2020). studi eksploratif dampak pandemi covid-19 terhadap proses pembelajaran online di sekolah dasar. edupsycouns: journal of education, psychoslogy and counseling, 2(1), 1–12. sadikin, a., & hamidah, a. (2020). pembelajaran daring di tengah wabahcovid-19(online learning in the middle of the covid-19pandemic.jurnalilmiah pendidikan biologi.vol.6(2). 214-224 shodiq, i. j., & zainiyati, h. s. (2020). pemanfaatan media pembelajaran e-learning menggunakan whastsapp sebagai solusi ditengah penyebaran covid-19 di mi nurulhuda jelu. al-insyiroh: jurnal studi keislaman, 6(2), 144–159. sugiyono. 2005. metode penelitian bisnis. bandung: alfabeta suryani, r. (2017). fungsi whatsapp grup shalihah cabang bandar lampung sebagai pengembangan media dakwah dalam menentukan akhlakul karimah. sahidillah, m.w., & miftahurrisqi, p. (2019). whatsapp sebagai media literasi digital siswa. jurnal varadika kajian penelitian pendidikan, 31(1),52-57. https://journals.ums.ac.id/index.php/varidika/issue/view/850 trisnani. (2017). pemanfaatan whatsapp sebagai media komunikasi dankepuasan dalam penyampaianpesan dikalangan tokoh masyarakat.jurnal komunikasi, media daninformatika, 1–12. wiguna, r., sutisnawati, a., & lyesmaya, d. (2020). analisis proses pembelajaran siswa berbasis onine di kelas rendah pada masa pandemic conid-19. jurnal perseda, iii(2), 75– 79. https://journals.ums.ac.id/index.php/varidika/issue/view/850 p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 54 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 54 61 dampak penggunaan handphone terhadap aktivitas belajar siswa sekolah dasar satrianawati pendidikan guru sekolah dasar, universitas ahmad dahlan satrianawati@pgsd.uad.ac.id abstract this research aims to show the impact of using handphone in learning activities of students in elementary school. this research is a descriptive qualitative research. the data source in this study are teachers, parents, and students. the data was collected by using the techniques of observation, interviews, and documentation. the results showed that children using handphone tend to be lazy to learn and love the instant ways in resolving problems. the children with the level of interaction with the handphone for more than three hours per day tend to be lazy and not paying attention to the lesson. keywords: using handphone; learning activities pendahuluan perkembangan zaman saat ini membawa generasi muda menjadi generasi yang memiliki banyak tantangan untuk berbuat dan berkembang lebih baik. kegiatan yang dilakukan anak sehari-hari tidak terlepas dari pengaruh teknologi yang ada di tempat tinggalnya. orang tua sebagai pendidik anak ketika di rumah seharusnya berani meletakkan handphone atau gadget serta menghabiskan waktunya di rumah hanya untuk memperhatikan kebutuhan anak, berdiskusi dengan anak tentang kegiatan yang telah dilakukannya di sekolah. pernyataan tersebut, berawal ketika peneliti melakukan kunjungan ke rumah teman di desa wonosari. atas dasar ini, peneliti menemukan fakta yang sangat mengejutkan ketika melihat anak lebih banyak berinteraksi dengan handphone dibanding dengan orang-orang yang ada dalam rumahnya. hal ini cukup memprihatinkan, karena anak yang ditemui tersebut ternyata kurang memahami materi pelajaran yang diberikan di sekolah. selanjutnya peneliti melakukan wawancara tentang kegiatan anak. wawancara ini dilakukan pada anak dan orang tua anak tersebut. ditemukan informasi bahwa anak tersebut seharusnya telah duduk di bangku sekolah dasar malah kembali ke taman kanak-kanan (tk) lagi. peneliti kemudian melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui latar belakang keluarga anak dan menyusuri sebab-sebab sehingga anak tersebut tidak duduk di bangku sekolah dasar. tentunya saat mengetahui situasi tersebut, peneliti kemudian beberapa kali melakukan kunjungan ke rumah anak tersebut. alhasil yang ditemukan anak tersebut beberapa kali selalu melakukan kegiatan yang sama dalam hari libur maupun sekolah. saat hari libur anak ini kalau diajak keluar rumah, anak tersebut mau dan ketika hanya berada di rumah maka handphone ibunya menjadi sasaran kegiatannya. baik anak maupun ibu, keduanya asyik dengan kegiatan masing-masing. semua aktif dengan handphone nya. peneliti kemudian berpikir kalau anak melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang dilihat dari ibunya. namun situasi bermain handphone jauh lebih banyak mailto:satrianawati@pgsd.uad.ac.id e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 dampak penggunaan handphone......(satrianawati) 55 dibanding berdiskusi ataupun berkonsultasi dengan ibu. kegiatan bercerita bersama menjadi kurang dilaksanakan dan terkesan sebagai hal yang sepele. akibatnya, ketika peneliti menanyakan tentang prestasi anak di sekolah ibunya mengatakan bahwa anak ini memang kurang memahami materi pelajaran yang didapatkan di sekolah dan merasa belum siap memasuki jenjang pendidikan di sekolah dasar. kesiapan anak memasuki sekolah dasar tidak hanya menjadi beban anak sendiri, tapi perilaku orang tua dalam mendorong dan memotivasi anak untuk masuk sekolah perlu diberikan sejak dini. usia anak masuk sekolah dasar adalah tujuh tahun. jika anak ini sudah memasuki tujuh tahun dan belum siap masuk sekolah dasar, padahal pertumbuhan fisik atau tubuhnya terlihat baik, itu artinya ada hal yang tidak bisa sejalan dengan perkembangan kognitif anak. maka perilaku sehari-hari anak tersebut harus ditelusuri lebih lanjut. karena dalam teori pengkondisian yang dijelaskan oleh skinner (schunk, 2012) variabel-variabel eksternal di mana perilaku merupakan suatu fungsi memungkinkan dilakukannya hal yang dapat disebut sebagai analisis kausal atau fungsional. kita berupaya untuk memprediksikan dan mengendalikan perilaku organisme individual. ini adalah variabel terikat kita – efek yang penyebabnya kita cari. “variabel bebas” kita – penyebab dari perilaku – adalah kondisi eksternal dimana perilaku merupakan suatu fungsi. hubungan antara keduanya – “hubungan sebab-akibat” dalam perilaku – merupakan hukum dari sebuah ilmu pengetahuan. sebuah perpaduan dari hukum-hukum ini yang dinyatakan dalam istilah kuantitative menghasilkan sebuah gambaran menyeluruh dari organisme tersebut sebagai sebuah sistem perilaku. pernyataan skinner tentang adanya variabel eksternal seperti apa yang akan dijadikan kajian dalam penelitian, bahwa dari beberapa fakta yang ditemukan di lapangan tentang perilaku anak memiliki hubungan sebab – akibat sehingga memunculkan satu perilaku yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak. oleh karena itu, peneliti kemudian melanjutkan penelitian dengan mengambil subjek penelitian berupa dua orang anak bersaudara yang berusia 8 dan 9 tahun dan melakukan pengamatan terhadap kedua anak tersebut, tentang variabel eksternal yang mempengaruhi perilaku anak dan mencari referensi baru untuk membuktikan suatu pernyataan tentang perilaku anak. dalam penelitian ini perilaku anak atau variabel eksternal melihat perilaku anak yang dikhususkan pada penggunaan handphone yang terjadi seperti pada temuan pada kisah anak pertama yang seharusnya duduk di bangku sekolah dasar dengan tingkat perkembangan fisik yang baik tapi yang terjadi adalah anak tersebut masih harus kembali duduk di bangku tk. oleh karena itu, dua anak sebagai subjek penelitian yang diambil dalam melihat variabel eksternal adalah anak yang duduk di bangku sekolah dasar memiliki kisah yang hampir sama dengan anak pertama bahwa anak yang duduk di bangku sekolah dasar pernah tertinggal setahun di sekolah dikarenakan tidak mau berpisah dengan adiknya. selain itu, pemilihan subjek penelitian juga didasarkan pada kondisi anak dengan interaksi penggunaan handphone setiap harinya. dalam hal ini penggunaan handphone oleh subjek penelitian dan dampaknya terhadap aktivitas belajar di rumah dan di sekolah. aktivitas belajar yang didapatkan dalam penelitian ini adalah terkait dari dampak penggunaan handphone. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 56 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 54 61 jadi permasalahan yang dianalisis dalam penelitian ini adalah berapa lama anak menggunakan atau berinteraksi dengan handphone dalam sehari dan bagaimana kedua anak tersebut menggunakan handphone dalam kehidupan sehari-hari serta melihat dampak penggunaan handphone terhadap aktivitas belajar anak usia sekolah dasar. metode penelitian jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif (denzin & lincoln, 2009). subjek penelitian adalah sebanyak dua orang anak. pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan mengadakan wawancara mendalam kepada guru, orang tua, dan anak. instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan mendasar yang digunakan telah divalidasi oleh ahli. lama penelitian 10 bulan mulai dari bulan maret 2015 – desember 2015. penelitian ini bersifat natural. penelitian ini berakhir dilakukan ketika ulangan penaikan kelas selesai. objek penelitian dan alamat dalam penelitian ini menggunakan nama samaran untuk melindungi identitas objek. anak yang berusia 9 tahun bernama dyah dan anak yang berusia 8 tahun bernama dina. adapun instrumen daftar pertanyaan mendasar yang diajukan oleh peneliti, dalam mengumpulkan data adalah: tabel 1. instrumen dasar penelitian no. instrumen untuk penelitian untuk objek penelitian orang tua objek guru objek 1. berapa lama kamu menghabiskan waktu main game dengan handphone dalam sehari? selama berapa lama (nama) menghabiskan waktu main game dengan handphone dalam sehari pernahkah ibu menganjurkan untuk membatasi anak bermain game di handphone pada (nama)? 2. bagaimana kamu belajar di rumah? apakah dia belajar di rumah? bagaimana dia belajar? bagaimana (nama) belajar di sekolah? 3. apa yang kamu lakukan ketika di rumah? apa saja yang dilakukan dia kalau tidak ke sekolah ataupun sepulang sekolah? apa yang (nama) lakukan di sekolah saat belajar? bagaimana perilakunya? 4. berapa nilaimu semester ini? berapa nilai dia semester ini? bagaimana nilainya semester ini? bagaimana (nama) belajar sehari-hari di kelas? 5. kegiatan apa yang sering kamu lakukan di rumah? apa yang sering dilakukan anak di rumah? apa yang biasa dilakukan (nama) ketika tidak memahami pelajaran? hasil penelitian kegiatan dyah dan dina sepulang sekolah biasanya belum mengganti pakaian sekolah dan langsung memeriksa meja makan untuk makan siang. hal ini terjadi berkali-kali dan sudah menjadi kebiasaan. ibu dan bapak mereka selalu asyik dengan kegiatannya sendiri. hanya sesekali e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 dampak penggunaan handphone......(satrianawati) 57 mendengar dan memperhatikan anak. ibu: “dyah..., ganti bajunya baru makan siang”. dyah malah sibuk menonton tv bersama adiknya bila acara yang mereka tonton iklan maka dyah langsung mencari handphone untuk bermain game. berdasarkan hasil pengamatan selama beberapa hari, dyah dan dina memang anak yang kurang mendapat perhatian orang tua dikarenakan orang tua mereka sibuk dengan perkualiahannya. mereka bukanlah orang asli daerah jogja. tetapi untuk beberapa tahun ini mereka terpaksa tinggal di jogja, bersekolah di jogja dan sejak 2014 mereka tinggal dan bersekolah di jogja. hasil ujian ataupun nilai ulangan tengah semester dyah dan dina sangat jauh berbeda. mereka dua bersaudara duduk di kelas yang sama. mereka bersekolah di sd negeri di kab. sleman. nilai dina jauh lebih baik dibanding dyah. hal ini dikarenakan dyah terlalu banyak bermain handphone, menonton tv, dan kurang mengikuti latihan ataupun pembelajaran seperti kursus dan lain-lain. sedangkan dina terlihat lebih baik dalam mempersiapkan pembelajaran di sekolah. kurangnya perhatian orang tua dan terjadinya pembiaran dalam aktivitas anak ketika memegang handphone ibu bapaknya, menonton acara televisi dan lain sebagainya. mereka juga kurang bersosialisasi dengan tetangga dikarenakan rumah yang tertutup dan ketika diajak oleh anak-anak yang seusia mereka, mereka jarang untuk pergi keluar karena lebih memilih bermain game di handphone. dampak yang terlihat dari adanya kegiatan anak yang banyak bermain handphone berupa game, menonton film di handphone mengakibatkan nilai mereka kurang memuaskan. nilai dina lebih baik dibanding dyah. usianya lebih muda dibanding dyah. dina berumur 8 tahun sedangkan dyah berumur 9 tahun. dina mengikuti kursus matematika dan bahasa inggris di kumon setiap hari senin dan kamis. sedangkan dyah tidak mau ikut kursus atau kegiatan apapun. dyah kurang tertarik dengan kegiatan belajar, dyah lebih suka di rumah, bermain game di handphone, dan menonton televisi. kegiatan yang dilakukan lebih kepada kegiatan fisik. karena dyah menyukai kegiatan fisik, ada sisi positif yang dimilikinya yaitu dyah pandai memasak. untuk anak seusia dyah pandai memasak nasi merupakan prestasi yang dimilikinya. sekalipun nilai rapornya jelek, tapi dyah penyayang kepada adikadiknya. mungkin karena kebiasaan menonton film kartun yang didownload melalui handphone dan lain sebagainya yang berisi pesan positif. namun, suatu ketika dyah pernah bertanya kepada peneliti, ketika siang itu peneliti bertandang ke rumahnya dyah berkata “piz, apa itu cabul?”. peneliti menjawab “siapa yang cabul? mengapa berkata seperti itu? dyah menjawab “saiful jamil, barusan saya nonton di televisi” saat dyah bertanya dia juga sedang memegang handphone. peneliti menjawab “waduh waduh walah, kok nonton itu to, cabul itu berarti dia telah membuka celana orang lain hingga kemaluannya kelihatan”. dyah menjawab “kemarin temanku di sekolah membuka celana temanku yang lain, tapi tidak ditahu sama guru”. peneliti menjawab “astagfirullah itu tidak boleh”. dyah lalu berkata “tapi saya tidak, saya hanya lihat dan kasian sama teman saya yang dibuka celananya, mungkin dia malu, tapi temanku itu, nakal”. saya pun kembali bertanya “belajar apa hari ini di sekolah? dyah menjawab “belajar matematika dengan pkn, p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 58 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 54 61 matematikaku hari ini 60 dan pkn belum dikasi nilai”. terus sekarang kamu lagi ngapain? “saya sekarang lagi mau main game di handphone, terus ada juga game di laptopnya bapa main game, tapi sekarang sedang dipake anang. penelitipun melanjutkan untuk masuk ke dalam rumah. bertemu ibunya dan ibunya sedang sibuk mempersiapkan presentasinya di sebuah universitas. nampak bahwa memang ibunya sangat sibuk dengan kegiatannya. sehingga anak-anak bermain sendiri tanpa di dampingi, hanya sesekali ibunya menengok ketika ada suara tangisan dan mendengar bunyi suara keras. ibunya kemudian berkata “dyah, jangan main handphonr terus! rapikan bukumu! dan kalau ada pekerjaan rumah (pr) mu kerjakan pr mu! jangan sampe besok pas mau masuk sekolah baru kamu pusing lagi karena pr mu. ini dikarenakan pernah beberapa kali dyah tidak mau pergi ke sekolah karena pr nya belum selesai, sehingga lebih memilih di rumah. kegiatannya di rumah adalah bermain game di handphone. beberapa kali ibunya menceritakan tentang kegiatan dyah yang lebih banyak bermain game. berapa jam dalam sehari dihabiskan untuk main game. ibunya menjawab intinya selama dyah dan dina belum tidur, selalu main handphone atau main game menggunakan laptop, jarang belajar, kalau dilarang yang terjadi di rumah tangisan yang heboh. belajar kecuali ada pr, setelah pr selesai lanjut main lagi. selain itu dyah malas ke pengajian dan tidak mau ikut kursus ataupun pelatihan. dyah belajar hanya ketika berada di sekolah itupun kata gurunya dyah adalah anak yang kurang fokus dalam pembelajaran, lebih banyak melamun. bermain handphone menjadi kegiatan rutinitas dalam kesehariannya, setidaknya lebih dari tiga jam sehari dyah bermain game dengan menggunakan handphone. saat asyik bermain dengan handphone dyah tidak mau diganggu atau melakukan apapun misalnya memperhatikan adiknya yang lagi main dan terjatuh. seringnya dyah asyik hingga permainan game nya selesai. menjelang ulangan semester dyah dan dina diajak oleh ibu ke toko buku dan disuruh untuk memilih buku pelajaran yang mereka inginkan. dina memilih buku yang berjudul kiat-kiat menjawab pertanyaan dengan cepat, praktis dan tepat, sedangkan dyah membeli buku sulap. dyah berkata “agar bisa cepat menyelesaikan jawaban ujian”. adapun informasi dari guru dyah dan dina, kalau saya menjelaskan dyah bahkan bertanya lebih dari satu kali untuk pertanyaan yang sama. walaupun sudah dijawab, dyah cenderung lupa. sehingga penjelasan saya kurang dipahami. akibatnya nilai hasil belajar dyah menjadi rendah. gurunya berkata, sebagai guru, ya sudah biasa kami mengingatkan anak-anak untuk tidak terlalu sering main game di handphone dan menonton televisi. banyak nasehat yang kami berikan dan biasanya anak-anak kami di sekolah tidak terkecuali dyah memang selalu kami perhatikan tentang kegiatannya di sekolah. dyah dan dina walaupun sebagai pendatang di sini tapi mereka dapat menyesuaikan diri dan mereka berteman dengan orang lain. hanya sekedar ikut-ikutan temannya dan dyah lebih aktif daripada dina ketika bermain, tapi kalau belajar mereka berbeda dina lebih teliti sehingga menyelesaikan pekerjaan selalu lama, kalau dyah dapat menyelesaikan dengan cepat namun tidak diperiksa kembali pekerjaannya. sehingga dyah jarang mendapat nilai yang baik. untuk nilai semester atau penaikan kelas, nilai dina jauh lebih baik dibanding dyah. nilai semester dyah masih ada angka e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 dampak penggunaan handphone......(satrianawati) 59 dibawah 60 sedangkan dina rata-rata di atas 70. dina masuk lima besar di kelasnya, sedangkan dyah tidak. bahkan ketika ibu bapaknya menghadiri acara pengambilan raport di sekolah, guru menginformasikan bahwa dyah dan dina belum lunas membayar buku, padahal ibunya telah memberikan mereka uang untuk membayar buku. setelah ditelusuri ternyata uang untuk membayar buku digunakan untuk jajan. ibunya berkata “uang jajan lima ribu sehari, ketika di sekolah, karena di sekolah beli nasi seribu rupiah sudah cukup, bawa minuman (susu) dari rumah jadi mengapa uang pembayaran buku digunakan untuk jajan?” dyah dan dina tak bisa berkutik, ketika ditanya ibunya tentang pembayaran sekolah. dyah lalu ke kamar, mengunci pintu dan kembali bermain game di handphone. pembahasan handphone seperti dalam pandangan skinner dapat dikatakan sebagai variabel eksternal yang mempengaruhi perilaku anak. sehingga perilaku anak sebagai organisme individual memiliki hubungan sebab-akibat yang melahirkan ilmu pengetahuan baru. pengetahuan berupa penggunaan handphone berlebihan mengakibatkan aktivitas anak menjadi tidak semestinya. handphone merupakan alat komunikasi yang sifatnya audio visual. sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari. handphone yang semakin canggih menyediakan fitur-fitur yang semakin canggih dan membuat anak belajar lebih baik, jika handphone digunakan untuk mengakses materi pelajaran. sehingga memang tidak salah jika anak usia sekolah dasar yang memegang handphone akan membuat anak mendapatkan lebih banyak informasi. tetapi jika penggunaan handphone tidak difungsikan dengan baik maka akan membuat anak keasyikan dengan permainan yang ada di handphone dan belajar anak menjadi tidak baik. karena keasyikan bermain handphone sehingga kebiasaan belajar tidak dilakukan ketika di rumah. padahal anak sd seharusnya diberikan pembiasaan atau rutinitas kegiatan pembelajaran sehingga proses pertumbuhan dan perkembangannya menjadi lebih baik. perkembangan dan pertumbuhan siswa sd yang baik akan membuat mereka mudah memahami materi pembelajaran yang diberikan. menurut jean piaget (slavin, 2011) anak siswa sd berada pada tahap pemikiran operasional konkret sehingga membutuhkan penjelasan materi dengan memberikan contoh konkrit. contoh konkrit ini diharapkan mampu membuat anak mengkonstruk ilmu pengetahuan sebelumnya dan apa yang diperolehnya dari panca indranya. hasil penelitian menunjukkan bahwa dyah dan dina adalah anak yang pindah sekolah karena mengikuti orang tuanya yang melanjutkan pendidikan. sebagai anak yang pindah sekolah seperti dyah dan dina, santrock (2012: 120) menjelaskan bahwa “ketika anak-anak pindah ke sekolah dasar mereka berinteraksi dan mengembangkan hubungan dengan orang-orang baru”. dyah dan dina mengembangkan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, tetapi dalam lingkungan tempat tinggal karena selain kondisi rumah tertutup sehingga mereka jarang untuk berhubungan dengan orangorang di sekitar tempat tinggalnya. kondisi ini membuat orang tua mereka menyediakan atau memberikan fasilitas pada anak berupa handphone. sehingga mereka menghabiskan waktu dengan bermain handphone ataupun yang lainnya. kenyataannya mereka lebih suka bermain handphone karena mereka p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 60 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 54 61 bebas memilih permainan yang mereka inginkan. kejadian ini mengindikasikan adanya kasih sayang orang tua kepada anak dengan memberikan fasilitas berupa handphone. padahal menurut meliala (2004) banyak orang tua tidak bisa membedakan kasih sayang, lalu memberi pengganti kasih sayang. pengganti kasih sayang atau kasih sayang palsu dapat berupa: 1. pemberian materi yang berlebihan 2. kelonggaran atau kompromi 3. ataupun ekspektasi yang rendah hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian handphone pada anak merupakan bagian dari kasih sayang palsu orang tua anak. anak terbiasa dengan handphone nya dan tidak terbiasa dengan belajar ketika di rumah. sehingga yang terjadi nilai ulangan dyah menjadi kurang baik. hal ini ditunjukkan dengan nilai rapor sebagai hasil belajar di sekolah menunjukkan bahwa kegiatan yang dilakukan sehari-hari seperti banyak bermain handphone dan lain sebagainya di luar pembelajaran mengakibatkan rendahnya nilai hasil belajar. gutrie (gredler, 2013) dalam teori belajarnya menjelaskan, bahwa ada kedekatan stimulus dan respon yang diberikan kepada anak yang belajar. artinya bahwa dalam kasus ini proses belajar yang terjadi di rumah dyah dan dina harusnya diberikan proses pembiasaan terhadap anak dalam belajar. anak tidak dibiarkan terbiasa bermain handphone. selain itu, orang tua yang tidak memberikan respon dari sikap anak yang acuh tak acuh membuat anak semakin menunjukkan kemunduran moralnya. padahal menurut brunner pendidikan bukan sekedar persoalan teknik dan pengolahan informasi, bahkan bukan penerapan teori belajar di kelas atau menggunakan hasil ujian prestasi yang berpusat pada mata pelajaran. pendidikan merupakan usaha yang kompleks untuk menyesuaikan kebudayaan dengan kebutuhan anggotanya, dan menyesuaikan anggotanya dengan cara mereka mengetahui kebutuhan kebudayaan (baharudin & wahyuni, 2007). terkait dengan pendapat brunner harusnya orang tua memberikan pembiasaan untuk dijadikan budaya dalam rumah untuk membentuk karakter anak yang bertanggungjawab, terhadap perilakunya. oleh karena itu, pemberian materi berlebihan atau mengizinkan anak bermain dengan handphone, pembiaran terhadap perilaku anak yang menyimpang berupa kelonggaran dalam melakukan apapun adalah bagian dari kasih sayang palsu orang tua kepada anak. kejadian yang nampak dari penelitian ini adalah kesibukan orang tua yang memberikan kasih sayang palsu kepada anak tidak selamanya membuat anak menjadi lebih baik. justru hal ini perlu ditindak lebih lanjut, karena akibatnya anak menjadi malas belajar dan kurang memperhatikan pembelajaran ketika di kelas. kasus dyah yang membeli buku sulap menjelang ulangan merupakan gambaran dari sikap dyah yang lebih menyukai cara-cara instan dalam menyelesaikan masalah. terobsesi dengan apa yang dimainkan dan keajaiban-keajaiban game yang didapatkan melalui handphone membuatnya lupa bahwa belajar adalah sebuah proses. oleh karena itu, sebagai pemerhati anak katakan “stop” pada kasih sayang palsu orang tua terhadap anak. simpulan kasih sayang palsu yang diberikan orang tua dilakukan dengan cara memberikan dan menyediakan fasilitas kepada anak berupa handphone, menonton televisi, bermain game merupakan suatu hal yang keliru karena anak e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 dampak penggunaan handphone......(satrianawati) 61 menjadi orang yang terabaikan. anak menjadi lebih sering menggunakan handphone, cenderung malas belajar, dan menyukai cara-cara yang instan dalam menyelesaikan masalah. hal ini terlihat dari nilai rapor dan kesukaan dalam membeli buku. selain itu, tingkat interaksi yang tinggi dengan handphone lebih dari tiga jam perhari cenderung membuat anak malas dan tidak memperhatikan pelajaran, sehingga menjadi hal yang wajar jiak nilai hasil belajar anak menjadi rendah. karena handphone merupakan salah satu penyebab anak tidak memperhatikan pelajaran ketika di rumah dan sikap ketidakpedulian terhadap pelajaran terbawa sampe di sekolah. disarankan sebaiknya guru dan orang tua bekerjasama dalam memperhatikan anak. utamanya sebagai orang tua yang memiliki banyak kesibukan sebaiknya tidak menggunakan handphone saat bersama dengan anak. minimal orang tua harus berani tidak memegang handphone atau meletakkan handphone nya untuk tidak dimainkan oleh anak, serta tidak membiarkan anak bermain game ataupun handphone lebih dari tiga jam. para orang tua anak harus berhenti memberikan kasih sayang palsu pada anak. katakan “stop” pada orang tua yang memberikan kasih sayang palsu pada anak. daftar pustaka baharudin & wahyuni. 2007. teori belajar dan pembelajaran. jogjakarta: ar ruzz media. gredler, m.e. 2013. learning and instruction: teori dan aplikasi (edisi keenam). (terjemahan tri wiowo). jakarta: kencana. (buku asli diterbitkan tahun 2011) meliala, andyda. 2004. temukan dan kembangkan keajaiban anak anda melalui kecerdasan majemuk. yogyakarta: andi. denzin, n.k & lincoln, y.s. (2009). hanbook of qualitative research. (terjemahan dariyatno, badrus samsul fata, abi, & john rinaldi). yogyakarta: pustaka pelajar. (buku asli diterbitkan tahun 1997) santrock, john.w. 2012. psikologi pendidikan. edisi 3 buku 1. (terjemahan diana angelica). jakarta selatan: salemba humanika. (buku asli diterbitkan tahun 2008) schunk, d.h. 2012. learning theories an educational perspective. (terjemahan eva hamdiah & rahmat fajar). upper saddle river, nj: pearson education. (buku asli diterbitkan tahun 2008) slavin. 2011. psikologi pendidikan: teori dan praktik. jilid i. (terjemahan marianto samosir). jakarta: pt indeks. (buku asli diterbitkan tahun 2009) profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 15 analysis of fifth graders’ higher order thinking skills in studying human and animal respiratory organs ika maryani 1*, rifky hanifah2, siwi purwanti 3, rafael onate4 1,2,3universitas ahmad dahlan, yogyakarta, indonesia 4university of saint anthony, iriga city, philippines *email: ika.maryani@pgsd.uad.ac.id submitted: 2020-12-28 doi: 10.23917/ppd.v8i1.13064 accepted: 2021-03-10 published: 2021-07-13 keywords: abstract elementary education; hots; hots questions in natural sciences background: higher order thinking skills (hots) are crucial for students to face the 21st century development. this study aimed to determine higher order thinking skills of the fifth graders at muhammadiyah elementary school in demangan and baitussalam ii islamic elementary school in solving questions on human and animal respiratory organs. method: a descriptive quantitative approach was employed. it included survey and ex-post factor designs. the research data were collected using tests. result: the participants of the study achieved medium scores on three categories of hots. thirty nine percent of ibnu thufail fifth graders achieved a medium score on judgement and critical thinking, 48% of ibnu rusdy fifth graders obtained a medium score on similar category, and 42% of the muhammadiyah fifth graders got low scores on judgement and critical thinking. meanwhile in problem-solving, 43% students were in medium category, 39% in low category, and 32% in medium category. forty eight percent of the students obtained medium scores and 52% achieved poor scores. implications: the research findings imply that students’ hots in natural science need to be improved. novelty: the present study revealed students’ hots based on judgment and critical thinking, problem solving, logic and reasoning skills. introduction background of the study the 21st century is a knowledge age full of challenges. one of the challenges in developing science associated with the function of education is improving the quality of human resources (hr). indonesia is one of the developing countries that have poor human http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:ika.maryani@pgsd.uad.ac.id http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v8i1.13064 maryani et al analysis of fifth graders’ higher order thinking skills... printed issn 2406-8012 16 resources. in 2016, the undp international data showed that the indonesia's human development index ranked 113 out of 187 countries in the world, far behind other asean countries (ibrahim et al., 2017). indonesia is also at the bottom of the list in scientific literacy and reading literacy. data released by pisa in 2018 stated that the reading literacy of indonesian students was ranked 6th from the bottom with a literacy level of 1a out of 6 levels. likewise, indonesian students obtained a score of 396 in scientific literacy, which is at level 1a out of 6 recognized levels. the average score obtained by indonesian students on scientific literacy is in the low category, which took the 69th place among 77 countries worldwide. based on the data, it can be said that indonesian students lack the ability to understand, interpret and communicate using written materials. this is also illustrated by poor, linear and fragmented reasoning used by the students to answer essay questions (akmala et al., 2019). reading plays a crucial role in obtaining information; therefore, it is of important aspects in higher order thinking skills (hots). higher order thinking is a thought process that involves activities beyond memorization, such as relaying information that has been obtained. learning in schools must also be directed towards optimizing the skills needed in the 21st century. one of the most influential subject matters that are able to direct and optimize students' thinking skills is science because science learning programs can support the development of 4c (communication, collaboration, critical thinking, and creativity). science learning at muhammadiyah elementary school in demangan has been assisted with various learning tools, properties and projectors. however, the students seemed unenthusiastic when asked to inquire about the lesson. most of the questions raised by the students were usually pertaining to the names of the human and animal respiratory organs instead of the concrete every day problems that exist around them. the observation results showed that the students had not been able to identify real-world problems in science. this further indicates that science learning has been separated from real world contexts. as a result, learning becomes meaningless and irrelevant to students (usmaedi, 2017). identifying problems is the initial step to reasoning, evaluating, critical thinking and solving problems in schools and communities. problem-solving abilities can encourage students to perform higher order thinking skills (hots) such as critical thinking and creative thinking to face the 21st century challenges (handayani & priatmoko, 2013). besides problem-solving abilities, logical reasoning, judgement and critical thinking are also included in higher order thinking skills (brookhart, 2010:14). to examine students’ higher order thinking skills (hots), it is important to include hots categories in learning evaluation. however, past studies revealed that evaluation questions were mostly adopted from student books. open-ended questions that can facilitate students’ hots, reasoning, problem-solving abilities and investigation skills were rarely found (fajriyah & agustini, 2017). all of the above suggests that little is known about the measurements of higher order thinking skills (hots) although in fact, students need to be equipped with hots to become globally competent. (latifah, 2020) has developed a multiple choice and matching test to evaluate students’ hots. the instrument has been declared valid empirically, but has never been used to measure students’ hots in science. therefore, we are intrigued to adopt the instrument developed by latifah and use it to analyze the higher order thinking skills of fifth graders from muhammadiyah elementary school and baitussalam ii elementary school. problems of the study this study aims to analyse the thought processes of the fifth graders in studying human and animal respiratory organs. specifically, it sought to answer the following questions: vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 17 1. what are the expected higher order thinking skillsto be mastered by fifth graders? 2. what are the manifested/observed hots among the respondents? previous related studies many recent studies have focused on students’ higher order thinking skills (hots). in a study conducted by (fajriyah & agustini, 2017), a test referring to mazarno’s hots theory was developed since the existing evaluation tests were mostly adopted from textbooks and were unable to facilitate students’ hots. on the other hand, the current study constructed a test based on hots indicators suggested by brookhart, namely problem solving, logic and reasoning, judgment and critical thinking. research conducted by (sari & silitonga, 2016) revealed the effect of higher order thinking skills (hots) on the process of learning, learning effectiveness and problem-solving abilities. another relevant study categorized students’ higher order thinking skills into low category (44.1) (akmala et al., 2019). this study disclosed the determining factor of students’ poor hots, namely inadequate practice of reasoning skills in responding to essay questions. furthermore, (permatasari et al., 2017) found that students at man 1 malang had poor hots with a mean score of 27.9 and a standard deviation of 8.1. the highest and the lowest scores achieved by the students were 52 and 11 (out of 100), respectively. (ramadhan et al., 2018) analyzed a two-tier multiple choice test and the profile of students’ hots in quantum mechanics in cilacap regency. they discovered that the instrument was valid and reliable. however, the students’ hots were categorized low with a mean score of 8.45 out of 30. it suggests that hots play a crucial role in helping students analyze problems. moreover, (sarwinda, 2019) showed that hots-based science worksheets had a significant effect on fifth graders’ cognitive achievement in science at muhammadiyah 4 and muhammadiyah 5 elementary schools, jakarta. other research findings suggest that test questions at schools cannot stimulate and develop students’ hots (acesta, 2020). furthermore,(hajar et al., 2018) examined discrepancies in junior high school students’ hots. (yuniar et al., 2015) analyzed test questions at schools and found that the tests had not fulfilled the criteria of hots development. finally, research by (wirandani et al., 2019) proved that the questions used to measure students’ hots were at c4, c5, c6 cognitive levels. research gap & objectives based on the explanation above, it can be concluded that an in-depth analysis of indonesian students’ higher order thinking skills (hots) needs to be conducted. there is not much known about the implementation of logic and reasoning, judgment and critical thinking, and problem-solving in indonesia since most studies usually focus on students’ hots at the cognitive levels of c4, c5, and c6. therefore, the current study aimed to investigate fifth graders’ hots based on logic and reasoning, judgment and critical thinking, and problem-solving. the findings of this study will provide important insights into the development of hots in indonesian students. methods type and design of the study this study used a quantitative approach to data collection, data interpretation and data display (arikunto, 2013:27). it belonged to a descriptive study which was intended to provide a detailed description of a particular symptom, phenomenon, or object without any intervention given to the object under study (priyono, 2016:37; arikunto, 2013:3). a survey was conducted to describe quantitatively the tendency, attitude, or opinion of a particular population by examining a sample of the population (creswell, 2017). this survey maryani et al analysis of fifth graders’ higher order thinking skills... printed issn 2406-8012 18 particularly aimed to analyze fifth graders’ higher order thinking skills (hots) at muhammadiyah elementary school in demangan and baitussalam ii islamic elementary school. the present study also employed an ex-post-facto design where investigations or observations were made after an incident had existed and the research examined backwards to find out the factors that influenced the incident (arikunto, 2013; sugiyono, 2017). data and source of data the research subject consisted of the fifth graders from muhammadiyah elementary school in demangan and baitussalam ii islamic elementary school. the research variable, which was the students’ higher order thinking skills (hots), was measured using multiple choice and matching questions. the questions were packaged in three bundles, namely package a, package b and package c. each package contained 10 multiple choice questions and 5 matching questions. the questions were developed based on a basic competence, namely human and animal respiratory organs. the hots-based test indicators consisted of problem solving, logic and reasoning, and judgment and critical thinking. the data of this study were gathered using a test comprising a series of questions used to measure the participants’ skills, intelligence, abilities or talents (arikunto, 2013). the test contained higher order thinking skills-based science questions. the research instrument was adopted from (latifah, 2020), who has done the empirical testing of the test. the test was divided into three packages, namely package a, package b and package c. each of the packages contained 10 multiple choice items and 5 matching test items. package a consisted of 4 multiple choice questions and 5 matching questions on judgment and critical thinking skills, 4 multiple choice questions on problem-solving, and 2 multiple choice questions on logic and reasoning. meanwhile, package b contained 5 multiple choice questions and 5 matching questions on judgment and critical thinking skills, 4 multiple choice questions on problem-solving, and 1 multiple choice question on logic and reasoning. package c comprised 5 multiple choice questions and 5 matching questions on judgement and critical thinking skills, 4 multiple choice questions on problem-solving, and 1 multiple choice question on logic and reasoning. the initial data collection was conducted using google form. every multiple choice and matching question was worth 1 point. descriptive statistics was used to present the data through table, graph, pie chart, mode, median, mean, decile, percentile, calculation of data distribution through calculation of mean score, standard deviation and percentage. descriptive data analysis was done through the calculation of scores, mean, percentage and standard deviation. the research population is presented in table 1. table 1. student population no. name of school class number of students role 1. sd muhammadiyah demangan class v ibnu thufail 34 hots data collection class v ibnu rusdy 34 hots data collection 2. sd it baitussalam ii cangkringan class v 28 hots data collection 3. sd negeri tugu harum class v 34 instrument validation vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 19 no. name of school class number of students role 4. sd it bina insan kamil turi class v 28 instrument validation 5. sd negeri tegalsari 04 class v 28 instrument validation total 186 data collection data collection techniques are methods and tools used by researchers to obtain data. the data of this study were collected using a test. a test is a series of questions used to measure skills, intelligence, knowledge, abilities or talents possessed by an individual or a group (arikunto, 2013). test was used in this study to examine elementary students’ higher order thinking skills. data-collecting instrument the instrument used to collect the data of this study was hots-based questions on science. the instrument was adopted from (latifah, 2020), who has done empirical testing on the test. the test was divided into three packages, namely package a, package b and package c. every package contained 10 multiple choice questions and 5 matching questions. these questions were distributed to students at sd muhammadiyah demangan and sd it baitussalam ii. the complete test can be seen in appendix 1. the blueprint and the scoring guide of the test are presented in table 2 and table 3, respectively. table 2. the blueprint of instrument indicator item stimulus packag e multiple choice questions matching questions problem solving identify the problem 3 text a 4 text a identify various kinds of solutions 5 experimental results a 6 experimental results a logic and reasoning the ability to reason (consider and evaluate) through true and false statements by considering principles 9 picture a judgment and critical thinking skill analyze informations 1 text a 2 text a 1 picture a 2 picture a 3 picture a 4 picture a 5 picture a develop critical insight 5 experimental results a maryani et al analysis of fifth graders’ higher order thinking skills... printed issn 2406-8012 20 indicator item stimulus packag e multiple choice questions matching questions 6 experimental results a synthesize multiple points of view 10 picture a problem solving identify the problem 3 text b 4 text b identify various kinds of solutions 5 text b 6 text b logic and reasoning the ability to reason (consider and evaluate) through true and false statements by considering principles 9 picture b judgment and critical thinking skill analyze informations 1 text b 2 text b 1 picture b 2 picture b 3 picture b 4 picture b develop critical insight 7 text b 8 text b synthesize multiple points of view 10 picture b problem solving identify the problem 3 text c 4 text c identify various kinds of solutions 5 text c 6 text c logic and reasoning the ability to reason (consider and evaluate) through true and false statements by considering principles 9 picture c judgment and critical thinking skill analyze informations 1 text c 2 text c 1 picture c 2 picture c 3 picture c 4 picture c 5 picture c develop critical insight 7 picture c 8 picture c synthesize multiple points of view 10 picture c vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 21 tabel 3 scoring guide type of questions item score per question maximum score multiple choice questions 1-10 1 10 matching questions 1-5 1 5 final score scor𝑖𝑛𝑔 𝑜𝑓 multiple choice questions + scoring of matching questions 15 × 100 data analysis data analysis was performed using descriptive statistics. sugiyono (2018:147) argues that data analysis consists of grouping data based on variables and types of respondents, presenting data for each variable studied, performing calculations to answer problem formulations, and performing calculations to test hypotheses. research that does not formulate a hypothesis will not need to take the final step. the data analysis techniques used in this study included the presentation of data through tables, graphs, pie charts, calculation of mode, median, mean, decile and percentage as well as calculation of data distribution through calculation of mean scores, standard deviation and percentages. descriptive statistical data analysis in this study was carried out by presenting the students’ test scores, mean scores, score percentage and standard deviation. results analysis of students’ higher order thinking skills (hots) in general the overall description of the participants’ ability in answering higher order thinking skills (hots)-based questions on human and animal respiratory organs can be seen in table 4. table 4. the overall description of the participants’ hots category formula score range number of students % very poor x < m – 1.5sd x ≤ 24.35 5 8 poor m – 1.5sd < x ≤ m – 0.5sd 24.35 < x ≤ 40.73 19 29 medium m – 0.5sd < x ≤ m + 0.5sd 40.73 < x ≤ 57.12 20 31 high m + 0.5sd < x ≤ m + 1.5sd 57.12 < x ≤ 73.50 19 29 very high m + 1.5sd < x 73.50< x 2 3 table 4 show that all of the participants (65 students from sd muhammadiyah demangan and sd it baitussalam ii) obtained a mean score of 48.92, from the category of 40.73 < x ≤ 57.12. the percentage of very poor, poor, medium, high and very high-score category achieved by the students was 8% (5 students), 29% (18 students), 31% (20 students), 29% (19 students), and 3% (2 students), respectively. based on these data, it was concluded that the fifth graders of ibnu thufail and ibnu rusdy at sd muhammadiyah demangan and the fifth graders at sd it baitussalam had medium higher order thinking skills (hots). it indicates that the students’ hots have not been developed optimally. inadequate maryani et al analysis of fifth graders’ higher order thinking skills... printed issn 2406-8012 22 preparation to answer hots questions can influence students’ ability in acquiring knowledge and refine mindset. analysis of ibnu thufail students’ higher order thinking skills (hots) at sd muhammadiyah demangan the description of the ibnu thufail students’ ability in answering higher order thinking skills (hots)-based questions on human and animal respiratory organs can be seen in table 5. table 5. analysis of ibnu thufail students’ hots category formula score range number of students % very poor x < m – 1.5sd x ≤ 25.78 1 4 poor m – 1.5sd < x ≤ m – 0.5sd 25.78 < x ≤ 39.70 4 17 medium m – 0.5sd < x ≤ m + 0.5sd 39,70 < x ≤ 53.63 13 57 high m + 0.5sd < x ≤ m + 1.5sd 53.63 < x ≤ 67.56 5 22 very high m + 1.5sd < x 67.56 < x 0 0 table 5 indicate that the majority of ibnu thufail students (57% or 13 students) achieved medium scores on hots. while 4% (1) student obtained a very poor score on hots, 17% or 4 students achieved poor scores on hots. there were 22% (5) students who acquired high scores on hots and 0% or none of the students got a very high score on hots. these numbers suggest that ibnu thufail students from sd muhammadiyah in demangan can be categorized into medium category in terms of higher order thinking skills (hots). 1. analysis of ibnu thufail students’ judgment and critical thinking scores the results of the analysis of students’ hots based on judgement and critical thinking in human and animal respiratory organs are presented in figure 3: vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 23 figure 1. ibnu thufail students’ hots based on judgment and critical thinking indicator in percentage based on figure 3, it can be inferred that 39% of the ibnu thufail students achieved medium scores on judgement and critical thinking. the score range obtained by the students was 33.47 < x ≤ 49.62, where the mean score was 44.44. the highest score on judgement and critical thinking observed among ibnu thufail students was 66.67 (very high) and the lowest score on judgement and critical thinking found among ibnu thufail students was 11.11 (very poor). 2. analysis of ibnu thufail students’ problem-solving scores figure 2. ibnu thufail students’ hots based on problem-solving indicator in percentage figure 2 suggests that 48% (11) ibnu thufail students achieved medium scores on problem-solving tests. the majority of the students obtained a score of 50 with a score range of 45.72 < x ≤ 67.33. the highest problem-solving score acquired by the students was 100 (very high) and the lowest score observed among the students was 25 (poor). very poor 8% poor 22% medium 39% high 22% very high 9% very poor 0% poor 17% medium 48% high 26% very high 9% maryani et al analysis of fifth graders’ higher order thinking skills... printed issn 2406-8012 24 3. analysis of ibnu thufail students’ logic and reasoning scores figure 3 shows that almost half of the students (48%) or 11 students achieved medium scores on logic and reasoning with a score range of 31.54 < x ≤ 68.46. the majority of the students obtained an average score of 50. the highest score on logic and reasoning observed among the students was 100, while the lowest was 0. figure 3. ibnu thufail students’ hots based on logic and reasoning indicator in percentage analysis of ibnu rusdy students’ higher order thinking skills (hots) at sd muhammadiyah demangan the overview of ibnu rusdy students’ ability in answering higher order thinking skills (hots)-based questions on human and animal respiratory organs is presented in table 6. table 6. analysis of ibnu rusdy students’ hots category formula score range number of students % very poor x < m – 1.5sd x ≤ 15.65 1 5 poor m – 1.5sd < x ≤ m – 0.5sd 15.65 < x ≤ 34.97 8 36 medium m – 0.5sd < x ≤ m + 0.5sd 34.97 < x ≤ 54.30 6 27 high m + 0.5sd < x ≤ m + 1.5sd 54.30 < x ≤ 73.63 7 32 very high m + 1.5sd < x 73.63 < x 1 0 based on table 6, it was known that ibnu rusdy students’ scores on hots were distributed across different categories. one (4%) student got a very poor score on hots, 8 (35%) students obtained poor scores on hots, 6 (26%) students achieved medium scores on hots, 7 (31%) students got high scores on hots and only one (4%) student acquire a very high score on hots. these figures suggest that the ibnu rusdy students’ hots was poor. 1. analysis of ibnu rusdy students’ hots judgement and critical thinking scores the ibnu rusdy students’ hots in answering questions on human and animal respiratory organs contained in package b are presented as follows. very poor 0% poor 26% medium 48% high 26% very high 0% vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 25 figure 4. ibnu rusdy students’ hots based on judgment and critical thinking indicator in percentage in figure 4, it can be seen that the ibnu rusdy fifth graders’ judgement and critical thinking scores were in the medium category (48%) with a score range of 35.56 < x ≤ 55.75. the students were reported to obtain a score ranged between 40-50. the highest score on judgement and critical thinking found among the students was 80, while the lowest was 0 (very poor). 2. analysis of ibnu rusdy students’ problem-solving scores figure 5. ibnu rusdy students’ hots based on problem-solving indicator in percentage figure 5 indicates that 9 (39%) ibnu rusdy students belonged to the low category in terms of problem-solving. the majority of the students achieved a score of 25 with a score range of 1.16 < x ≤ 27.92. the highest score observed in this indicator was 75 (very high), while the lowest was 0 (very poor). 3. analysis of ibnu rusdy students’ logic and reasoning scores very poor 4% poor 22% medium 48% high 22% very high 4% very poor 13% poor 39%medium 17% high 31% very high 0% maryani et al analysis of fifth graders’ higher order thinking skills... printed issn 2406-8012 26 figure 6. ibnu rusdy students’ hots based on logic and reasoning indicator in percentage based on figure 6, it can be concluded that more than half of the ibnu rusdy students (52%) achieved low scores on logic and reasoning. the students averagely obtained a score of 0 between -28.79 < x ≤ 22.29. the highest score found in this category was 100 (high), while the lowest was 0 (poor). analysis of students’ higher order thinking skills (hots) at sd it baitussalam ii students’ higher order thinking skills (hots) at sd it baitussalam ii in asnwering questions on human and animal respiratory organs are summarized in table 7. table 7. analysis of baitussalam ii students’ hots category formula score range number of students % very poor x < m – 1,5sd x ≤ 37,59 1 5 poor m – 1,5sd < x ≤ m – 0,5sd 37,59< x ≤ 50,42 3 16 medium m – 0,5sd < x ≤ m + 0,5sd 50,42 < x ≤ 63,26 10 53 high m + 0,5sd < x ≤ m + 1,5sd 63,26 < x ≤ 76,10 4 21 very high m + 1,5sd < x 76,10 < x 1 5 table 7 suggest that the fifth graders at sd it baitussalam achieved different scores on hots. one (5%) student achieved a very poor score on hots, 3 (16%) students obtained poor scores on hots, 10 (53%) students got medium scores on hots, 4 (21%) students obtained high scores on hots and 1 (5%) student achieved a very high score on hots. these numbers indicate that on the average, the students at sd it baitussalam possessed high higher order thinking skills (hots). 1. analysis of baitussalam ii students’ judgment and critical thinking scores the baitussalam ii students’ judgement and critical thinking skills in answering questions on human and animal respiratory organs contained in package c are presented as follows. very poor 0% poor 52% medium 0% high 48% very high 0% vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 27 figure 7. baitussalam ii students’ hots based on judgment and critical thinking indicator in percentage figure 7 shows that 42% of the fifth graders at sd it baitussalam ii obtained poor scores on judgement and critical thinking. on average, students achieved a score of 40 within the score range of 29.98 < x ≤ 44.73. the highest score found in this category was 90 (very high), while the lowest was 40 (poor). 2. analysis of baitussalam ii students’ problem-solving scores figure 8. baitussalam ii students’ hots based on problem-solving indicator in percentage in figure 8, it can be known that the baitussalam ii students’ problem-solving skills were in high and medium categories (32%). the students obtained scores between 75100, with a score range of 58.37 < x ≤ 83.73 and a score range of 83.73 < x ≤ 109.10. the highest score found in problem-solving was 100 (high), while the lowest was 25 (very poor). 3. analysis of baitussalam ii students’ logic and reasoning scores very poor 0% poor 42% medium 16% high 37% very high 5% very poor 10% poor 26% medium 32% high 32% very high 0% maryani et al analysis of fifth graders’ higher order thinking skills... printed issn 2406-8012 28 figure 9. baitussalam ii students’ hots based on logic and reasoning indicator in percentage figure 9 indicates that baitussalam students’ logic and reasoning was categorized low. there were 10 (53%) students who obtained poor scores on this indicator, with a score range of -29.58 < x ≤ 21.72. the highest score observed was 100, while the lowest was 0 (poor). discussion the mean score achieved by students at sd muhammadiyah demangan and sd it baitussalam ii was 48.92 within a score range of 40.73 < x ≤ 57.12. the students’ hots were categorized into very poor (8% or 5 students), poor (29% or 18 students), medium (31% or 20 students), high (29% or 19 students) and very high (3% or 2 students). the numbers suggest that on average the fifth graders of ibnu thufail and ibnu rusdy at sd muhammadiyah demangan and the fifth graders at sd it baitussalam possessed medium higher order thinking skills (hots). according to (kurniawati et al., 2020), some factors affecting students’ hots include inadequate practice of questions that can enrich students’ knowledge and improve mindset. in the hots-based tests, ibnu thufail students from sd muhammadiyah achieved a mean score of 46.67, with the highest score of 66.67 and the lowest score of 20. meanwhile, ibnu rusdy students from sd muhammadiyah obtained a mean score of 44.64, with the highest score of 80.00 and the lowest score of 13.33. on the other hand, the mean score acquired by the fifth graders at sd it baitussalam ii was 56.84, with the highest score of 86.67 and the lowest score of 33.33. a more in-depth analysis was done to investigate the participants’ judgment and critical thinking, problem-solving, and logic and reasoning skills. multiple choice tests were developed to measure the participants’ judgement and critical thinking skills. the tests contained argumentative texts, scenarios, advertisements or other information resources (brookhart, 2010) to stimulate students’ cognitive ability in judging or making the right decisions. in line with indraswati et al (2020), judgement and critical thinking skills are associated with examining assumptions, not to blindly accept information. these skills also help individuals understand a concept with a clear mind so that they can draw an appropriate conclusion. in addition, to examine the participants’ problem-solving skills, questions comprising non-routine scenarios were distributed. the students were then required to complete the tasks of identifying problems as well as very poor 0% poor 53% medium 0% high 47% very high 0% vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 29 exploring and finding the most efficient solutions (brookhart, 2010). besides, the participants’ logic and reasoning skills were investigated through multiple choice questions containing true or false options (brookhart, 2010). overall, 31% of the students from sd muhammadiyah demangan and sd it baitussalam ii had medium achievements in higher order thinking skills (hots). the mean score achieved by 57% of ibnu thufail students on hots in general was medium. in detail, 39% of the students achieved medium scores on judgement and critical thinking, 48% of them obtained medium scores on problem-solving and 48% of them acquired medium scores on logic and reasoning. this finding illustrates that the students were quite skillful in judgment and critical thinking, problem-solving, and logic and reasoning. similarly, 48% (11) of the ibnu rusdy students achieved medium scores on judgment and critical thinking. less than half of the students (39%) possessed poor ability in problem-solving and 52% (12) of the students were low in logic and reasoning. an example of problem-solving question in package b is presented in figure 10. figure 10. problem-solving question number 3, package b this problem-solving question presents a stimulus in the form of a text containing a respiratory problem. the test takers were asked to answer the questions based on the stimulus text. the initial step in completing a problem-solving task is to identify or define the problem according to the question presented or the main idea implied in the text (brookhart, 2010). student achievement on this problem-solving task shows that the students had poor ability in identifying a problem. next, a logic and reasoning task (number 9) provided the students with a stimulus in the form of a picture of a bird and its respiratory organs. the logical and reasoning problem contained in package b is shown in figure 11. maryani et al analysis of fifth graders’ higher order thinking skills... printed issn 2406-8012 30 figure 11. logic and reasoning question number 9, package b the students’ logic and reasoning skills were challenged by problem number 9. the problem required the students to use deductive logic to draw conclusions from the general theory of breathing and to explain breathing in birds in detail. this is in accordance with (siswoyo & sunaryo, 2017) who state that questions presented with pictures without containing a lot of factual information can be used to test a person's deductive logic in solving a problem because deductive logic does not require a lot of factual information. based on this explanation, the students' lack of logic and reasoning ability shows weak theoretical mastery that prevented them from making proper associations of the problem presented. similarly, the fifth graders at sd it baitussalam ii obtained poor scores in logic and reasoning. there were 42% students who achieved poor scores on judgement and critical thinking. their problem-solving skills belonged to high and medium category with a percentage of 32% and the students’ logic and reasoning skills were categorized low with a percentage of 51%. the majority of the students provided incorrect answers to problem number 7 and problem number 8 related to judgement and critical thinking. the questions contained a stimulus in the form of an image. the stimulus and the problem are presented in figure 12. vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 31 figure 12. judgement and critical thinking stimulus questions number 1 and 2, package figure 13. judgement and critical thinking questions number 1 and 2, package c in questions 1 and 2, the stimulus was given in the form of a text and the answer to each questions was stated in the text. despite so, only a few students were successful in answering the questions correctly. students with high scientific literacy will perform better in higher order thinking skills (hots) (putranta & supahar, 2019; suryawati et al., 2018). in this study, the students demonstrated poor judgement and critical thinking skills due to low scientific literacy. the students’ logic and reasoning skills were also in the low category. an example of logic and reasoning question is shown in figure 14. maryani et al analysis of fifth graders’ higher order thinking skills... printed issn 2406-8012 32 figure 14. logic and reasoning question number 9, package c unlike question number 9 in package b, question number 9 in package c shows a different animal. the question was intended to assess the students’ deductive reasoning skills. the analysis results showed that the students obtained poor scores on this category. besides, it was also found that the students had poor problem-solving skills (package c0 and poor judgement and critical thinking skills (package a). this finding is confirmed by (fajriyah & agustini, 2017) who found that students have poor ability in making deductions, analyzing errors, analyzing perspectives, making decisions, enriching experiences, and solving a problem. in addition, the results of this study suggest that the students had difficulty answering higher order thinking questions. it may happen because the students were not accustomed to solving non-routine problems. in addition, the students were unable to make associations between prior knowledge with new knowledge (akmala et al., 2019). this was shown by the fact that the students answered incorrectly to logic and reasoning problems despite the stimulus that had been provided for assistance. besides students’ ability, learning process may also contribute to the students’ hots development. as stated by (fajriyah & agustini, 2017), higher order thinking skills are essentially a form of learning outcomes that are influenced by various factors, including the learning model and media used by the teacher in the classroom. the application of appropriate learning models and media can support the development of students’ higher-order thinking skills (hots). one learning model that can be used to improve hots is worksheet-assisted problem based learning (pbl). this learning model has been proven to be effective in promoting students’ hots (sari & silitonga, 2016). conclusions novelty and contribution past studies on higher order thinking skills (hots) focused merely on bloom’s taxonomy, while the current study revealed students’ hots based on logical reasoning, judgement and critical thinking and problem-solving that are in line with the 21st century education goals. vol. 8 no. 1, july 2021 online issn: 2503-3530 33 the findings of this study will be useful for elementary school teachers and practitioners in finding effective solutions to current educational problems. limitation and future research this study has some limitations in terms of research focus and research population. in terms of focus, the current study was only focused on one basic competence in science which is human and animal respiratory organs. besides, the research subject was limited to the elementary level. therefore, future research needs to include more indicators of higher order thinking skills (hots) and more extended subjects of research. implications/suggestions there are three important suggestions that can be derived from the research findings. first, schools should enrich teachers’ knowledge and broaden teachers’ view of higher order thinking skills (hots) because students’ hots are strongly affected by the learning process. second, elementary teachers in indonesia need to be able to select appropriate learning strategies and methods to optimize the process of learning, develop students’ thinking ability and facilitate students’ hots, for example learning models that fully involve students in the process (inquiry, problem-based learning, projectbased learning, discovery, etc). finally, the government, supported by researchers on relevant fields should design a proper evaluation system to overcome time constraint. references acesta, a. (2020). analisis kemampuan higher order thingking skills ( hots ) siswa materi ipa di sekolah dasar. quangga: jurnal pendidikan dan biologi, 12(2), 170–175. https://doi.org/10.25134/quagga.v12i2.2831.received akmala, n. f., suana, w., & sesunan, f. (2019). analisis kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa sma pada materi hukum newton tentang gerak. titian ilmu: jurnal ilmiah multi sciences, 11(2), 67–72. https://doi.org/10.30599/jti.v11i2.472 arikunto, s. (2013). prosedur penelitian. pt rineka cipta. brookhart, s. m. (2010). how to assess higher-order thinking skills in your classroom. http://www.ascd.org/publications/books/109111.aspx creswell, j. w. (2017). research design pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed. pustaka pelajar. fajriyah, k., & agustini, f. (2017). analisis keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa kelas v sd pilot project kurikulum 2013 di kota semarang. jurnal kreatif, 8(1), 192–198. https://doi.org/10.15294/kreatif.v8i1.16488 hajar, y., yanwar, r., jalaludin, m. a., achmad, n., indriani, s., hidayat, w., & rohaeti, e. e. (2018). analisis kemampuan high order thinking (hot). jurnal pembelajaran matematika inovatif, 1(3), 453–458. https://doi.org/10.22460/jpmi.v1i3.453-458 handayani, r., & priatmoko, s. (2013). pengaruh pembelajaran probem solving berorientasi hots ( higher order thinking skills ) terhadap hasil belajar kimia siswa kelas x. national scientific journal of unnes, vol 7, no., 1051–1062. https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jipk/article/view/4406 ibrahim, g. a., ismadi, h. d., zabadi, f., ali, n. b. v., alipi, m., antoro, b., hanifah, n., miftahussururi, nento, m. n., akbari, q. s., & aziz, m. (2017). peta jalan gerakan literasi nasional. kementerian pendidikan dan kebudayaan. indraswati, d., marhayani, d. a., sutisna, d., & widodo, a. (2020). critical thinking dan problem solving dalam pembelajaran ips untuk menjawab tantangan abad 21. sosial horizon:jurnal pendidikan sosial, 7(1), 12–28. maryani et al analysis of fifth graders’ higher order thinking skills... printed issn 2406-8012 34 https://doi.org/10.31571/sosial.v7i1.1540 kurniawati, o. w., nuriman, & mahmudi, k. (2020). analysis of the fifth grade students’ higher order thinking skills on science in the ecosystem theme at elementary schools. 9(3), 313–322. https://doi.org/10.33578/jpfkip.v9i3.7866 latifah, a. (2020). pengembangan soal hots materi organ pernafasan manusia dan hewan bagi siswa kelas v sd. universitas ahmad dahlan. permatasari, a., wartono, & kusairi, s. (2017). analisis kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa sma. prosiding seminar nasional pendidikan ipa, 2, 98–102. https://core.ac.uk/download/pdf/267023964.pdf priyono. (2016). metode penelitian kuantitatif. zifatama publishing. putranta, h., & supahar. (2019). synthesis of the cognitive aspects’ science literacy and higher order thinking skills (hots) in chapter momentum and impulse. journal of physics: conference series, 1397(1), 12014. https://doi.org/10.1088/17426596/1397/1/012014 ramadhan, g., dwijananti, pp., & wahyuni, s. (2018). analisis kemampuan berpikir tingkat tinggi ( high order thinking skills ) menggunakan instrumen two tier multiple choice materi konsep dan fenomena. unnes hysics education journal, 7(3). https://doi.org/https://doi.org/10.15294/upej.v7i3.27682 sari, w. n., & silitonga, m. (2016). kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas xi pmia man tanjung morawa pada pembelajaran sel dengan model pbl berbantuan lks. jurnal pelita pendidikan, 5(june), 4–13. https://doi.org/10.24114/jpp.v5i4.9306 sarwinda, w. (2019). pengaruh penggunaan worksheet ipa berorientasi hots terhadap hasil belajar kognitif siswa sd muhammadiyah 4 dan 5 jakarta. jurnal pendidikan dasar, 10(vol 10 no 1 (2019): jpd-jurnal pendidikan dasar), 77–84. https://doi.org/10.21009/10.21009/jpd.081 siswoyo, & sunaryo. (2017). high order thinking skills : analisis soal dan implementasinya dalam pembelajaran fisika di sekolah menengah atas. jurnal penelitian dan pengembangan pendidikan fisika, 3(1), 11–20. https://doi.org/10.21009/1.03102 sugiyono. (2017). metode penelitian pendidikan : pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan r & d. penerbit alfabeta. sugiyono, s. (2018). metode penelitian pendidikan: pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan r&d. alfabeta. suryawati, e., suzanti, f., suwondo, s., & yustina, y. (2018). the implementation of schoolliteracy-movement: integrating scientific literacy, characters, and hots in science learning. jurnal pendidikan biologi indonesia, 4(3), 215–224. https://doi.org/10.22219/jpbi.v4i3.6876 usmaedi. (2017). menggagas pembelajaran hots pada anak usia sekolah dasar. jpsd, 3(1). https://doi.org/10.30870/jpsd.v3i1.1040 wirandani, t., kasih, a. c., & latifah. (2019). analisis butir soal hots ( high order thinking skill ) pada soal ujian sekolah kelas xii mata pelajaran bahasa indonesia di smk annahl. jurnal pendidikan bahasa dan sastra indonesia, 2(4), 485–494. https://doi.org/10.22460/p.v2i4 yuniar, m., rakhmat, c., & saepulrohman, a. (2015). analisis hots (high order thinking skills) pada soal objektif tes dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (ips) kelas v sd negeri 7 ciamis. pedadidaktika: jurnal ilmiah pendidikan guru sekolah dasar, 2(2), 187–195. http://ejournal.upi.edu/index.php/pedadidaktika/article/view/5845 profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2022 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 163 re-examining institutionalized schooling: a new era in basic education institutions in kenya caleb mackatiani1*, navin mackatiani2 and mercy imbova3 1university of nairobi, kenya 2masinde muliro university of science and technology, kenya 3kisii university, kenya *corresponding author’s email: mackatianicaleb@gmail.com submitted: 2022-11-02 doi: 10.23917/ppd.v9i2.20327 revised: 2022-12-11 accepted: 2022-12-14 keywords: abstract access; de-schooling; institutionalization; re-examine this study examined critical concerns for reconsidering the future of education in kenya. these are power/authority, school processes and policies, and the curriculum. schools have developed regulations that have evolved into school cultures, leading to the institutionalization of education. learners are enslaved due to administrators' expectations based on institutionalization-causing factors. this study aimed to analyze the elements that influence institutionalized education in kenya. the issue was examined using both qualitative and quantitative methodologies. the study utilized a 384-person sample with a confidence interval of 0.05, a confidence level of 95%, a zscore of 1.96, and a standard deviation of 0.5. the study indicated that school policies influence the power and authority of institutionalized education. the study discovered that headship authority and power institutionalize schools. power, policies, and curricula institutionalize the elementary and secondary levels of education. this has spurred disobedience among teachers and students. introduction background of the study cambridge dictionary (n.d.) refers to re-examine as to look or consider a person or a thing carefully and in detail again. hence all actors and processes in education are to be re-considered http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v9i2.20327 mackatiani et al. – re-examining institutionalized schooling, kenya.. printed issn 2406-8012 164 together. in this study, the focal point is the school policies and procedures that should be re-looked at. besides, the cambridge dictionary (n.d.) further conceptualizes together as doing something with each other. furthermore, wikipedia refers to era as a span of time defined for the purpose of historiography. it is, therefore, the primary and secondary schools head teachers who should define span of time for purposes of implementation. also, wikipedia observes that education is characterized as a learning cycle for a person to achieve information and comprehension of higher explicit item. globalization is a process by which the world's people are brought closer together socially, economically, and in other aspects. with the advent of the 21th century, the world is registering remarkable transformation in education, science, and technology. globalization has taken the center stage in minimizing institutionalization of schooling. as a result, the world shares quite a lot in common. what goes on in one part of the globe can be felt elsewhere; for example, industrial and technological resolutions enjoyed in developed countries significantly influence developing countries. similarly, the developing countries impact the rest of the world positively or negatively. similarly, developing countries impact the rest of the world positively or negatively. the aspect of de-schooling can be enhanced in learning institutions in the developing world. the aspect of de-schooling can be enhanced in learning institutions in the developing world. these changes are more pronounced in the current millennium. ivan illich is the proponent of de-schooling (illich,1973). he observed that school, by its very nature, tends to make a total claim on the time and energies of its participants (i.e making a learner academic slave). this, in turn, makes the teacher into custodian, preacher and therapist. the teacheras-custodian acts as a master of ceremonies, who guides pupils through a drawn-out labyrinthine ritual. the teacher, as moralist substitutes for parents, god or the state he or she indoctrinates the pupil about what is right and wrong. the teacher as therapist (skilled personnel) feels authorized to delve into the personal life of pupils in order to help them grow as world indigenous peoples. the safeguards of individual freedom are all cancelled in the dealings and the teacher focuses on his functions as a judge (decision maker). schools are therefore, designed on the assumption that there is a secret to everything in life; that the quality of life depends on knowing that secret; that secrets can only be known in orderly successions; and that only teachers can reveal these secrets. subsequently, these accumulate to institutionalization of schooling. institutionalization refers to the action of establishing something as a norm or culture in an organization. in this respect, de-schooling should be invoked. de-schooling involves a period where very little formal schooling is done in order to recalibrate the child’s natural love of learning. during the de-schooling process, an administrator adjusts ones understanding of learning. besides, the approach to learning and how a child learns needs to be adjusted. this is because public and private education is focused on educating multiple students at once. problem of the study education is viewed as a public and common good, which nurtures hope, imagination, and action for a common future. the initiative seeks to mobilize ideas and action toward an educational change that can respond to the world’s enormous challenges such as the climate crisis, radical technological change, democratic instability, the automation of work, gigantic population shifts, and the effects of virology. to address these challenges, sustainable development goal number four (sdg 4) is critical. it aims at "ensuring inclusive and equitable quality education and promotion of lifelong learning opportunities for all." thus, the goal ensures that all girls and boys complete free primary and secondary schooling by 2030. the kenyan government domesticated the international protocol. however, it appears that schooling has been institutionalized and this can probably impede the achievement of sustainable development goal number four. it is on the sdg 4 basis that this study vol. xx, no. x, month year online issn 2503-3530 165 investigated re-thinking the institutionalization of schooling in the contemporary world focusing on curriculum, prefects’ system, and leadership styles of head teachers. research’s state of the art this study was guided by organizational theory. the theory involves various approaches to analyzing organizations and attempts to explain the mechanisms of organizations. in educational management, understanding organizational theory within the micro and macro realms of educational settings are crucial. the other factor that influences organizational settings is organizational culture. organizational settings organizational culture is made up of a system of shared assumptions, beliefs, and values that govern people in the organization. in organizations, values, and beliefs that evolve influence members’ functions and performance. in the organization. organizations develop and maintain unique cultures. the unique culture acts as a guide. it molds the behavior and roles of its members in the organization. the organizational culture also advocates for the values and assumptions of the organization. therefore, the main characteristic of organizational theory in education is that it is mostly normative rather than descriptive. hence, it advocates how organizations should be managed rather than providing explanations of the workings of organizations. according to britannica.com, institutionalization is a process of developing or transforming rules and procedures that influence a set of human interactions. it is this definition by britannica that our paper will focus on. schooling is not necessarily education. schools have come up with rules and procedures that have become a culture of a particular institution. institutionalization of schooling can be visualized basically in school organization. models of schools depend upon the expectations of administrators. within these dimensions, power is distributed in the school organization. authority, control, and policy vary relay upon the image of the school. controlling the school pivots around the image of a particular school. power and authority in schooling the ability to exercise power is a necessary condition for the exercise of authority. according to benn and peters, the condition for the exercise of authority should not be confused with what "authority" means. power rests on resources and the influence they confer; authority rests on consensus (hersey et al., 2008).therefore, with power one can act despite a lack of consensus. to have authority is to be conceded a decision-making role. in a school setting, power and authority are vested in the leadership styles of head teachers. the leadership styles of head teachers affect the development of education. the authoritative character has contributed a lot to the increase of indiscipline in teachers and students (setyaningtyas & rusnilawati, 2019). despite kenya being a democratic society, schools still adopt dictatorship approaches. the headteacher is rigid & bureaucratic. learners cannot seek an audience with head teachers on sensitive matters that affect them. the dictatorship approach also applies to teachers. students are coerced to accept any advances from head teachers and teachers. this condition promotes indiscipline among the students. as a result, students project through indiscipline acts. according to pace j and hemmings (2007), authority is a fundamental, problematic, and poorly understood component of a school. schools have institutionalized schooling through power and authority. globally, governments have developed policies to address educational issues. in kenya, there are policies on funding primary and secondary school education. free primary education is in existence. however, primary schools come up with policies to charge tuition fees and textbook levies. besides, secondary school education has been subsidized. but schools have come up with their policies and tuition fees are overcharged. the government has also come up with a policy on the prefects’ system. the purpose of this policy is to promote the philosophy of democracy. however, head teachers appoint prefects despite the existence of these policies. scholars have revealed power and authority mackatiani et al. – re-examining institutionalized schooling, kenya.. printed issn 2406-8012 166 are bully mechanisms that influence institutionalized school schooling. abuya et al (2013) noted that the establishment of levies and the cost of school uniform influence access to school. thus, he recommended the need to lower the costs or subsidize schooling programs to make education affordable. in kenya, schools have come up with their own institutionalized rules. students don’t participate in the decision-making of their schools. students don’t participate in selecting school prefects though the policy on the uniform is clear, parents are directed to acquire uniforms specifically from schools or particular shopping outlets. extra tuition fees and other school levies have been imposed by the school administration. the school policies pose obstacles to children from disadvantaged families. school policies and procedures school policy guidelines ensure inclusivity in education. the guidelines enable every learner to access course content, fully participate in learning activities and demonstrate their strength at assessment (rok, 2019). inclusive guidelines focus not only on education quality for all learners but also on the diversified environment. schools that advocate for diversity, adopt strategies that promote equal opportunities for learners to participate in school activities. variables influencing school strategies can be recognized when all relevant variables that regulate the implementation process are in control. this is because policy implementation is concerned with working within the school systems through which policy goals are put into practice. some of the problems associated with practices of inclusive education policy that are evident during implementation are a result of errors made in the other stages (minsih & hidayat, 2022) the commitment of policy implementers is usually assumed to be the most significant factor in the policy objectives achievement process. commitment is biased and very hard to measure (dorenkamp & ruhle, 2019). however, some pointers show the level of commitment of a school to a particular mission. one pointer is accomplishing responsibilities and assurances, especially when the school knows what its roles are toward policy implementation. policy implementation studies reveal that the success of any policy relies on the ability to implement it (hess, 2013). implementation is unsuccessful due to a lack of organizational ability to implement and sustain the practices of policy. economically, learners are required to meet expenses of school fees, examination fees, textbooks, and school uniforms. however, education stakeholders, especially parents are ignorant of legal laws on educational issues. the barrier of policy and legal support has promoted the institutionalization of schooling. the barrier has, therefore, hindered the implementation of inclusivity of education. this is in light of the contradiction of some of the policies. the united nations convention on the rights of the child (1989), the constitution of kenya (2010), and the education act (2001) have illegalized corporal punishment to be administered to children. however, schools continue administering corporal punishment to learners. this has contributed to the physical and psychological torture of learners. also, the policy on ict discourages students to have mobile phones while in school. in contrast, learners are supposed to acquire ict skills via laptops and phones. besides, mackatiani & likoko (2022) note that schools lack essential equipment for the implementation of e-learning. moreover, recently, during the covid-19 pandemic, there was a shift in to use of mobile phones for the promotion of virtual learning. other barriers that hinder the implementation of inclusive education include inadequacies in resources and facilities, charges for remedial learning, specialized staff, pedagogical techniques, flexible curricula, supportive leadership, and cultural attitudes. schools must put more energy into useful inclusive education practices and strategies that value students’ welfare, dignity, self-sufficiency, and contribution to society. vol. xx, no. x, month year online issn 2503-3530 167 marginalization occurs through the operationalization of policies or the types of materials and surfaces that are used. embracing inclusive education as a guiding principle naturally requires the transformation of education systems, and this change process is consistently challenged by several encounters. reforming school systems to become inclusive is not only about putting in place developed inclusive policy guidelines that meet the needs of learners, but also about transforming the schools‟ strategies, beliefs, and values (unesco, 2014). negative attitudes and damaging beliefs create a significant barrier to the education of learners. learners may project through violent destructive activities. this has been demonstrated by setting school buildings ablaze. the negative attitudes towards learner differences that result in discrimination and prejudice in the school and the society manifest themselves as a critical barrier to the learning process. however, such obstacles can be overcome through inclusive school strategies that nurture access and participation for all learners regardless of their inabilities. curriculum according to mackatiani (2012), curriculum consist of elements and dimensions. elements are decisions of political settings. this correlates with mackatiani et al (2016) who noted that politics have got great influence on development of education in any country. dimensions entail formal, non-formal and informal aspects of the curriculum. guidelines on development of curriculum result in the creation of two curriculum models, namely the product model and the process model. the product model focuses on the plan and intentions, whereas the process model focuses on the activities and effects. curriculum models are thus classified as either technical (product) or non-technical. kenya's curriculum model is technical in this context (mackatiani et al, 2022). it is a top-down, content-based curriculum development model. teachers are never involved in the curriculum's design or development. there is no participatory approach in the model. the curriculum model entails provision of experiences in subject areas. curriculum models, therefore, provide planned experiences for students to achieve. in spite of this, the planned activities must be delivered to learners via various modes of delivery to ensure effective learning efficiency. as a result, learning outcomes are critical in curriculum delivery. a curriculum model must flow systematically in order to be realistic. subsequently, instructional delivery approaches are crucial. according to various studies, inadequacy of resources contributes to inefficiency in schools (imbova et al, 2018; mackatiani et al,2017; mackatiani et al,2018; and mackatiani et al, 2020). inefficiencies contribute to institutionalization of schooling. according to mackatiani (2017), the education model in kenya is examinations oriented. teachers devise approaches to repetitively review past lessons. ogburn (1957) notes that teachercentered approaches are due to cultural lag which causes less adjustment between two parts that previous existed. drilling exercises are therefore, given to learners. subsequently notes are dictated to learners. revision of past examination paper analysis is also conducted. learners memorize the answers for the purpose of passing national examinations. tuition coaching has therefore been institutionalized in all schools. parents, teachers and pupils subsequently adhere to the provisions of remedial coaching. learners lack recreation time. in fact, the examinations have become a syndrome. children study for the purpose of passing examinations only and teachers also teach them only for getting certificates. in light of this, khatimah and kusuma (2019) notes that when the school curriculum is implemented in the absence of the phenomena of students’ experience, students develop negative attitudes towards learning. they therefore, project against the school through their negative actions. appreciation is emphasized on logic, reasoning, and inference, that must be reintroduced into the curriculum to create a generation of learners who impress creativity and innovation. subsequently the head teacher does not ensure achievement of information but also comprehension of higher explicit levels. mackatiani et al. – re-examining institutionalized schooling, kenya.. printed issn 2406-8012 168 gap study & objective the 21st century skills are crucial in the realization quality and inclusive education. specific issues on education inefficiencies have been addressed in kenya, subsequently, impact of these variables on equity and quality education in kenya have been researched. however, there are minimal studies on institutionalization of schooling and de-schooling. also, there are minimum comparative studies on the institutionalization of schooling in primary and secondary schools. the specific objectives for this study were to: assess the influence of authority on institutionalized schooling in kenya; establish the influence of school policies and procedures on institutionalized schooling in kenya; and determine the influence of curriculum on institutionalized schooling in kenya. method type and design mixed-method approach was adopted for the study. mixed methods research is the combination and integration of qualitative and quantitative methods in the same study. the overall purpose and central premise of mixed methods studies are that the use of quantitative and qualitative approaches in combination provides a better understanding of research problems and complex phenomena than either approach alone. the study targeted 1136 primary schools and 276 secondary schools in kakamega county, kenya. through stratified sampling,36 primary schools and 12 secondary schools were selected. of these, 36 primary school head teachers, 12 secondary school head teachers, 72 primary school teachers, 24 secondary school teachers, 144 primary school pupils,36 secondary school students, 36 primary school parents’ association (p.a) members, and 12 secondary school p. a. members and 12 education officers were sampled. the total sample size was 384. this conformed to the confidence interval of 0.05, the confidence level of 95 percent which is a z-score of 1.96, and the standard deviation of 0.5 data and data sources the data used were obtained from respondents in shools and educat5ion offices on variables that influence institutionalization of schooling. the outcomes of institutionalization affect qualiy and inclusive education of students in primary and secondary schools. the data were on the ineffiencies that influence institutionalization in both primary and secondary schools. the other data were on deschooling when invoked, promote quality and inclusive education. data collection technique data collection was conducted in schools and education offices. the researchers issued the questionnaires to the respondents. primary data for this study was collected through questionnaires. the information gathered was supplemented by documentary analysis and researchers’ observation. after the fieldwork, the researchers assembled all the filled questionnaires for data cleaning, juxtaposition, coding and finally data analysis. data analysis data analysis involves organizing, summarizing, and synthesizing data in order to provide the neccessary information for description. through thematic analysis, data were coded and categorized according sub-themes related to the purpose of the study. the analysis involved gleaning meaning from the qualitative data based on questionnaires and literature review. qualitative data was derived from the questionnaires of the study. in this case, analysis of qualitative data, attitudes and opinions of respondents was conducted. subsequently, descriptive statistics were derived from the analysis. this led to the coding of the collected data. qualitative data were classified according to the variables vol. xx, no. x, month year online issn 2503-3530 169 of the study ie power/authority, school policies and procedures, and curriculum. the results were summarized in frequency tables, after which a report was compiled. results this study surveyed the consequences of institutionalized schooling. the study was guided by the following objectives: to assess the influence of authority on institutionalized schooling in kenya; to establish the influence of school policies and procedures on institutionalized schooling in kenya, and to determine the influence of curriculum on institutionalized schooling in kenya. the study sought views from the education officers, headteachers, and parents relating to the influence of institutionalized schooling. their perceptions were captured in table 1 attendance primary schools secondary schools head teachers pas education officers headteachers pas education officers n % n % n % n % n % n % positive 36 100 3 25 4 33.3 8 66.7 3 25 4 33.3 negative 0 0 9 75 8 66.7 4 33.3 9 75 8 66.7 total 36 100 12 100 12 100 12 100 12 100 12 100 table 1. perceptions ofeducation officers, head teachers and parents on influence of institutionalized schooling. the data contained in table 1 indicated that 100 percent of headteachers in primary schools indicated that institutionalized schooling positively impacted education participation. however, 66.7 percent of headteachers in secondary schools showed that institutionalized schooling positively impacted education. also, 33.3 percent of education officers indicated that institutionalized schooling had a positive influence on education participation in both primary and secondary schools. furthermore, another 25 percent of parents in both primary and secondary schools revealed institutionalized schooling positively impacted education. further findings from table 1 revealed that none of the headteachers in primary schools indicated that institutionalized schooling negatively impacted education. however, 33.3 percent of headteachers from secondary schools indicated that institutionalized schooling negatively influenced education participation. also, 66.7 percent of education officers indicated that institutionalized schooling had a negative influence on education participation in both primary and secondary schools besides, 75 percent of parents in both primary and secondary schools revealed institutionalized schooling negatively impacted education. the study also assessed the extent to which authority influenced institutionalized schooling. to determine the extent, on a lekart scale of one to five, views were sought from education officers, headteachers, and teachers. their perceptions were captured in table 2. mackatiani et al. – re-examining institutionalized schooling, kenya.. printed issn 2406-8012 170 likert scale rating primary schools secondary schools head teachers teachers education officers head teachers teachers education officers n % n % n % n % n % n % very high(5) 12 33.3 36 50 4 33.3 9 75 24 100 4 33.3 high(4) 24 66.7 36 50 0 66.7 3 25 0 0 8 66.7 moderate(3) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 low(2) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 very low(1) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 total 36 100 72 100 4 100 12 100 24 100 4 100 table 2. perceptions on the extent which authority influenced institutionalized schooling. concerning data contained in table 2, 33.3 percent of headteachers in primary schools and75 percent of head teachers in secondary schools indicated that authority had a very high impact on institutionalized schooling. however, 50 percent of teachers in primary schools and 100 percent of teachers in secondary schools indicated that authority had a very high influence on institutionalized schooling. besides, 33.3 percent of education officers indicated that authority had a very high influence on institutionalized schooling in both primary and secondary schools. also, 66.7 percent of head teachers in primary schools and 25 percent of teachers in secondary schools revealed that authority had a high impact on institutionalized schooling. besides, 66.7 percent of education officers indicated that institutionalized schooling had a high impact on education participation. none of the respondents indicated that the impact of authority was either moderate, low, or very low. the second study objective sought to establish the influence of school policies and procedures on institutionalized schooling in kenya; to establish the influence, the study sought views from headteachers, teachers, and students on whether schools have got their policies and procedures. their views were captured in table 3 primary schools secondary schools headteachers teachers students headteachers teachers students n % n % n % n % n % n % yes 36 100 72 100 144 100 0 0 24 100 36 100 no 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 total 36 100 72 100 144 100 12 100 24 100 36 100 table 3. headteachers’, teachers’ and students’ views on school policies and procedures. vol. xx, no. x, month year online issn 2503-3530 171 concerning data contained in table 3, 100 percent of headteachers, indicated that both primary and secondary schools noted that schools had policies and procedures. besides, 100 percent of teachers indicated that both primary and secondary schools had policies and procedures. also, 100 percent of students indicated that both primary and secondary schools had policies and procedures. none of the respondents indicated that schools didn’t have policies and procedures. the study further sought to establish the perceptions of parents, teachers, and education officers on school policies and procedures. their perceptions were captured in table 4 lekart scale rating primary schools secondary schools parents teachers educatio n officers parents teachers education officers n % n % n % n % n % n % very high(5) 36 100 36 50 0 0 12 100 24 100 0 0 high(4) 0 0 0 0 8 66.7 3 25 0 0 8 66.7 moderate(3) 0 0 0 0 4 33.3 0 0 0 0 4 33.3 low(2) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 very low(1) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 total 36 100 72 100 12 100 12 100 24 100 12 100 table 4. parents, teachers and education officers on school policies and procedures. regarding data contained in table 4, 100 percent of parents and teachers in both primary and secondary schools noted that policies and procedures had a very high influence on institutionalized schooling. however, 66.7 percent of education officers indicated that school policies and procedures had a high influence in both primary and secondary none of the respondents indicated that the impact of school policies and procedures was either moderate, low, or very low. the third study objective sought to determine the influence of curriculum on institutionalized schooling in kenya. the study sought perceptions of headteachers, teachers, and education officers on the influence of curriculum on institutionalized schooling. respondents’ perceptions were captured in table 5 lekart scale rating primary schools secondary schools headteachers teachers education officers head teachers teachers education officers n % n % n % n % n % n % very high(5) 18 50 54 75 4 66.7 12 100 24 100 8 66.7 mackatiani et al. – re-examining institutionalized schooling, kenya.. printed issn 2406-8012 172 high(4) 18 50 18 25 8 33.3 0 0 0 0 4 33.3 moderate(3) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 low(2) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 very low(1) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 total 36 100 72 100 12 100 12 100 24 100 12 100 table 5. head teachers, teachers and education officers on influence of curriculum. the data contained in table 7.5, revealed that 50 percent of head teachers in primary schools and 100 percent of head teachers in secondary schools noted that curriculum had a very high influence on institutionalized schooling. besides, 75 percent of teachers in primary schools and 100 percent of teachers in secondary schools indicated that curriculum had a very high influence on institutionalized schooling. also, 66.7 percent of education officers that curriculum had a very high influence on institutionalized schooling in both primary schools and secondary schools. further findings in the data contained in table 7.5, revealed that 50 percent of head teachers in primary schools and non of the head teachers in secondary schools noted that curriculum had a high influence on institutionalized schooling. besides, 25 percent of teachers in primary schools and 0 percent of teachers in secondary schools indicated that curriculum had a high influence on institutionalized schooling. also, 33.3 percent of education officers noted that curriculum had a high influence on institutionalized schooling in both primary schools and secondary schools. however, none of the respondents indicated that the influence of curriculum on institutionalized schooling at the primary or secondary school level was moderate, low, or very low. discussions the majority of the respondents noted that institutionalized schooling negatively influenced education participation. the negative impact was realized in secondary schools. this is due to the fact that learners are adolescents and are projected instantly. however, the impact is not felt in primary schools since most of the learners are minors. the findings concur with hersey et al (2008) who noted with power one is able to act despite a lack of consensus. this implies that education participation would be affected to a greater extent. besides, most respondents noted that authority had influenced institutionalized schooling to a very high extent in both primary and secondary schools. this concurred with pace and hemmings (2007) who noted that authority is a fundamental, problematic, and poorly understood component that has institutionalized schooling. this is an implication that dictatorship greatly influences institutionalized schooling. therefore, there was a need to re-examine the leadership styles of head teachers. also, all the respondents revealed that schools had their policies and procedures. this is in concurrence with wasono et al (2015) who revealed that the commitment of policy implementers is usually assumed to be a significant factor in the policy-objective achievement process. this implied that respective schools at both primary and secondary school levels had their policies that guide the daily routine. subsequently, these policies lead to institutionalized schooling in both primary and secondary schools. therefore, there was a need to re-rethink individual school policies and procedures that influence institutionalized schooling. vol. xx, no. x, month year online issn 2503-3530 173 furthermore, all respondents noted that school policies and procedures had influenced institutionalized schooling to a very high extent. this concurred with unesco (2014) which noted that school policy guidelines transform the schools’ strategies, beliefs, and values. this is an implication that school policies and procedures impacted greatly on institutionalized schooling. therefore, there was a need to re-examine policies and procedures in schools. in addition, all respondents noted that curriculum content had influenced institutionalized schooling to a very high extent. this concurred with mackatiani (2017), who noted the education model in kenya is examinations oriented and as a result, it leads to the institutionalization of schooling. this implied that institutionalized schooling was rampant in schools. the study, therefore, revealed that power and authority influenced institutionalized schooling to a very high extent in both primary and secondary schools. also, respective schools at both primary and secondary school levels have their policies that guide daily routine activities. the school policies and guidelines have contributed to institutionalized schooling. furthermore, it was found that curriculum contributed to institutionalized schooling to a high extent. conclusion this study is empirical research that was conducted in secondary and primary schools. it is original work.the related literature review conducted revealed that power and authority vested in headship contributed to institutionalized schooling. also, respective schools at both primary and secondary school levels have policies that have influenced the institutionalization of schooling. curriculum, on the other hand, has contributed to institutionalized schooling. learners are forced to attend paid remedial classes subsequently, power and authority, school policies, and curriculum have led to institutionalized schooling in both primary and secondary schools. however, the reviewed literature also revealed that thefocal point of study was on how individual factor impacted on quality and inclusivity. from the related literature reviewed, the research gap identified was that no comparative studies had been conducted on factors influencing institutionilised schooling in secondary and primary schools. this study, therefore, sought to investigate the extent to which power and authority; policies; and curriculum influenced instutionalized schooling in secondary and primary schools. this study like any other study had various limitations. the geographical set up of the study site was a significant limitation to this study. the site is vast and varied in terrain which affected the transport infrastructure during the rainy season. the record keeping and the documentation that could not be relied upon to understand institutional processes. besides, the perception of institutionalized schooling was a limitation. the administration of institutions was also a limitation. it affected the quality and participation of education being offered in respective institutions. with regard to mitigation of limitations, the study was conducted during the dry month of august 2022. besides, the study sampled respondents drawn from all over the study site through stratified sampling. in addition, research tools used to gather information ensured the supplementation of each other. further, information on institutionalized schooling was not manipulated this study is significant to education stakeholders in kenya and sub-sahara africa. stakeholders will be sensitized to how institutionalization occurs in schools. it will highlight when there is a concern in shifts from efficiency to formality schools. policy formulators and policy implementers might use the findings of the study to redress issues that promote the institutionalization of schooling. the study might be significant to comparative and international education as it provides data and add to the growth of knowledge. further research on education should be used to open up discourses about the expectations and realities of learning about the anxieties and fears that students experience. it should also have the potential for teaching/learning to act as a source of hope and transformation. the futures mackatiani et al. – re-examining institutionalized schooling, kenya.. printed issn 2406-8012 174 of learning should become part of broad social dialogues that foster teachers’ force and engagement in the renewal of education, and in the construction of better futures for students. education should shift to focus on in-the-field, experiential training to develop usable skills. traditional exams will, at least in part, be replaced by assessments of skills and competencies shown while doing, rather than theory. “to thrive in the 21st century will require acquiring practicable career skills. learning for examinations will not help students face everyday life and work situations. the 3l skills (learning, life, and literacy) are crucial learning processes. the role of teachers in a 21st-century classroom should shift, from being an ‘expert’ to being a ‘facilitator’. the focus for instruction shifts from ‘knowing’ to being able to use and apply information in relevant ways. the role of 21st-century head teachers should shift from institutionalized schooling to a participatory approach in all processes being undertaken in schools. references abuya, b., oketch, m., & musyoka, p. (2013). why do pupils dropout when education is ‘free’? explaining school dropout among the urban poor in nairobi. compare: a journal of comparative and international education, 43(6), 740–762. https://doi.org/10.1080/03057925.2012.707458 cambridge dictionary. (n.d.). re-examine. https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/reexamine cambridge dictionary. (n.d.). era. https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/era dorenkamp, i., & ruhle, s. (2019). work–life conflict, professional commitment, and job satisfaction among academics. the journal of higher education, 90(1), 56–84. https://doi.org/10.1080/00221546.2018.1484644 hersey, p., blanchard, k. h., & johnson, d. e. (2008). management of organizational behavior: leading human resources. pearson prentice hall. hess, f. (2013). the missing half of school reform. national affairs, 17, 19-35. https://www.nationalaffairs.com/publications/detail/the-missing-half-of-school-reform illich, i. (1973). deschooling society. penguin. imbova, m. (2018). students’ completion rates: implications for teaching and learning resources in secondary schools in kenya. journal of education and practice, 9(24). https://core.ac.uk/download/pdf/234641922.pdf khatimah, k., & kusuma, r. s. (2019). intercultural friendship as strategy to reduce anxiety and uncertainty of zimbabwe students in muhammadiyah surakarta university. komuniti : jurnal komunikasi dan teknologi informasi, 11(1), 45–57. https://doi.org/10.23917/komuniti.v10i3.5900 mackatiani, c. i. (2020). conflict and xenophobia in africa: implications for peace education. journal of leadership, accountability & ethics, 17(3). http://www.digitalcommons.www.nabusinesspress.com/jlae/jlae17-3/9_mackatianifinal.pdf mackatiani, c. i. (2012). fallacy of institutionalized schooling in kenya. journal of education management society of kenya, 4(4). http://erepository.uonbi.ac.ke/handle/11295/42076# mackatiani, c.i. (2017). influence ofexaminations oriented approaches on quality education in kenya. journal of education and practice, 3(5), 51-58. https://www.iiste.org/journals/index.php/jep/article/view/37014/38054// mackatiani,c.i.& likoko, s.n (2022). coronavirus era: implications for massive open online courses in basic education institutions in kenya. london journal of research in humanities and social https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/re-examine https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/re-examine https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/era https://www.nationalaffairs.com/publications/detail/the-missing-half-of-school-reform https://core.ac.uk/download/pdf/234641922.pdf http://www.digitalcommons.www.na-businesspress.com/jlae/jlae17-3/9_mackatianifinal.pdf http://www.digitalcommons.www.na-businesspress.com/jlae/jlae17-3/9_mackatianifinal.pdf http://erepository.uonbi.ac.ke/handle/11295/42076 https://www.iiste.org/journals/index.php/jep/article/view/37014/38054/ vol. xx, no. x, month year online issn 2503-3530 175 sciences, 22 (2), 1-18. https://journalspress.com/ljrhss_volume22/coronavirus-eraimplications-for-massive-open-online-courses-in-basic-education-institutions-in-kenya.pdf mackatiani, c.i., likoko, s.n. &mackatiani, n.i. (2022). coronavirus era: implications for reconceptualization of curriculum delivery in kenyan primary and secondary schools. world journal of education, 12(3),29-37. https://doi.org/10.5430/wje.v12n3p29. mackatiani, c.i., ariemba, n.a, &ngware, j.w.,(2020).african response to quality education: comparative perspectives on quality primary education in kenya. european journal of education studies, 6(11), 254-269. http://dx.doi.org/10.46827/ejes.v0i0.2846 mackatiani, c.i.,musembi, n.j & gakunga, d. k.(2018) learning achievement: illusions of teachercentered approaches in primary schools in kenya. journal of education and practice, 9(18), 4655. https://core.ac.uk/download/pdf/234641741.pdf mackatiani, c.i. (2017). influence of physical facilities on quality primary education in kenya in post upe and efa era. european journal of education studies, 3(5), 822840. http://dx.doi.org/10.46827/ejes.v0i0.743 mackatiani, c., imbovah, m., imbova, n., & gakungai, d. k. (2016). development of education in kenya: influence of the political factor beyond 2015 mdgs. journal of education and practice, 7(11), 5560. https://eric.ed.gov/?id=ej1099584 minsih, m., & hidayat, m. t. (2022). inclusive culture management at islamic elementary schools: the ideal concept. al-tanzim: jurnal manajemen pendidikan islam, 6(1), 65–78. https://doi.org/10.33650/al-tanzim.v6i1.3243 ogburn, w., f. (1957). on culture and social change. university of chicago press. pace, j. l., & hemmings, a. (2007). the dynamic character of authority relations across classes. a review of educational research, 77(1), 4-27. rok (2019). sessional paper no: 1 of 2019: a policy framework for reforming education and training for sustainable development in kenya. government printersrok (2015). basic education act no_14 of 2013.https://www.education.go.ke › downloads › file › 96-ba... rok (2010). constitution of kenya. https://eregulations.invest.go.ke › media › constit.. setyaningtyas, h., & rusnilawati, r. (2019). analisis kesulitan belajar siswa kelas v pada materi bangun ruang dan alternatif pemecahannya berdasarkan teori van hiele di sd negeri 1 gatak delanggu [undergeaduate, universitas muhammadiyah surakarta]. http://eprints.ums.ac.id/75747/ unesco (2014). education strategy 2014–2021. fontenot, 75352 paris 07 sp, france. www.unesco.org/openaccess/terms-use-ccbyncnd-en) unicef (1989). convention on the rights of the child. https://www.unicef.org/child-rights-convention wasono, r., soesanto, s., samsudi, s., & sutarto, j. (2015). improving human resources through the internalization of cultural values organization. the journal of educational development, 3(2). https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jed/article/view/9764 https://journalspress.com/ljrhss_volume22/coronavirus-era-implications-for-massive-open-online-courses-in-basic-education-institutions-in-kenya.pdf https://journalspress.com/ljrhss_volume22/coronavirus-era-implications-for-massive-open-online-courses-in-basic-education-institutions-in-kenya.pdf https://doi.org/10.5430/wje.v12n3p29 http://dx.doi.org/10.46827/ejes.v0i0.2846 https://core.ac.uk/download/pdf/234641741.pdf http://dx.doi.org/10.46827/ejes.v0i0.743 https://eric.ed.gov/?id=ej1099584 http://eprints.ums.ac.id/75747/ kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 115 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 vol. 6, no. 2, desember 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i2.9259 kreasi iklim sekolah melalui gerakan sekolah menyenangkan di sd muhamammadiyah mantaran rr. khoiry nuria widyaningrum1), fitri nur mahmudah2) 1), 2) pascasarjana manajemen pendidikan, universitas ahmad dahlan 1)raden1807046016@webmail.uad.ac.id; 2)fitri.mahmudah@mp.uad.ac.id pendahuluan sekolah merupakan tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran. kegiatan ini tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi merupakan beberapa kegiatan untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang harus ditumbuhkan dan dibiasakan di lingkungan sekolah sehari-hari maupun dirumah. pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk manusia indonesia yang bermoral, cerdas, rasional, inovatif, bekerja keras, optimis, percaya diri, dan berjiwa patriot. dengan demikian pendidikan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pendidikan yang dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pendidikan yang dapat abstract: the purpose of this study was to determine the creation of the school climate in muhammadiyah elementary school and the role of the principal in creating this climate. the research method was carried out in a descriptive qualitative manner. data retrieval is done by observation or observation as well as interviews with students, teachers and parents of students' guardians. the research instrument used in the form of a list of questions and observation sheets. photo and video documentation is also done as a reinforcement bouquet. the results obtained from this study are the creation of the school climate in muhammadiyah elementary school mantaran colored by the concept of a fun school movement whose main purpose is to instill character and make education more humane humans through program 1) positive environment creation, 2) character education, 3) learning based on project and problem solving, 4) school conectednes. based on the results of observations, the level of the type of climate at the muhammadiyah elementary school is classified as an open school climate and is a level of conducive climate. the role of the school principal in creating a school climate in muhammadiyah elementary school is among others: 1) changing the teacher's mindset and parents' guardianship towards education that humanizes humans, 2) creating relationships and relationships between people with love and affection, 3) division of delegation of duties , 4) resolving conflicts as soon as possible so as not to disturb the comfort of work, 5) giving motivation (performance rewards, awards, teacher good stars etc.), 6) harmonizing and enriching the work environment and learning by creating positive environments both physical and non-physical, 7) the cenectedness school program includes gsm networks, parent teaching, etc. keywords: school climate creation; gsm; sd muhammadiyah mantaran http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.9259 mailto:raden1807046016@webmail.uad.ac.id;%202)fitri.mahmudah@mp.uad.ac.id mailto:raden1807046016@webmail.uad.ac.id;%202)fitri.mahmudah@mp.uad.ac.id kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 116 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak baik dari ranah kognitif, fisik, sosial-emosi, kreativitas, dan spiritual harus seimbang. untuk mencapai sasaran tersebut, perlu adanya pengelolaan iklim dan budaya sekolah yang baik. iklim dan budaya sekolah sangat dipengaruhi oleh ekosistem yang terbentuk pada sekolah tersebut. budaya dan iklim sekolah merupakan faktor yang esensial dalam membentuk siswa menjadi manusia yang berkarakter, optimis, berani tampil, berprilaku kooperatif serta memiliki kecakapan personal dan akademik. ekosistem sekolah saat ini cenderung membuat anak stress dan kurang menyenangkan. tidak banyak sekolah yang memiliki iklim sekolah yang positif dan kondusif sehingga mampu mengubah perilaku manusia menjadi lebih berkarakter dan berprestasi. kebanyakan sekolah terlalu mementingkan akademik atau unsur kognitif dalam pembelajaran. nilai-nilai karakter yang seharusnya dicapai dalam pembelajaran cenderung dilupakan karena para guru fokus pada konten materi pelajaran untuk mengejar nilai dan ranking sekolah. karena stress banyak pula kasus bullying yang muncul, perilaku yang melanggar kedisiplinan, tidak bertanggungjawab sehingga justru nilai akademik rendah karena motivasi belajar juga rendah. hal ini menunjukkan bahwa iklim dan budaya sekolah kurang kondusif dalam mendukung proses pembelajaran. berkaitan dengan perubahan kultur dan budaya organisasi sekolah, diperlukan medium yang dinamakan sebagai iklim organisasi itu sendiri. iklim sekolah merujuk pada kualitas dan karakter kehidupan sekolah yang didasarkan pada pengalamanpengalaman, norma, tujuan, nilai, hubungan antarpersonal, proses belajar mengajar dan praktek kepemimpinan serta struktur organisasi yang ada di sekolah (national school climate council, 2007). penelitian yang dilakukan fraser & fisher pada tahun 1986 (i wayan githa, 2005) menemukan bahwa salah satu cara meningkatkan kualitas pendidikan adalah melalui peningkatan iklim sekolah. kedua peneliti tersebut membuktikan bahwa siswa dapat mencapai prestasi belajar lebih baik jika mereka merasa berada dalam iklim sekolah yang disenangi.(rahmawati, 2016). hasil penelitian yang dilakukan oleh damayanti (2015, hlm. 129) juga menunjukkan bahwa “iklim sekolah berpengaruh dan signifikan terhadap mutu sekolah sebesar 57,5%, sehingga menegaskan bahwa iklim sekolah dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap mutu sekolah.” dengan kata lain, menciptakan iklim sekolah berarti melaksanakan sebagian dari upaya peningkatan mutu sekolah. oleh karena itu, perlu adanya kreasi iklim sekolah dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memanusiakan dan mengedepankan karakter dalam rangka meningkatkan mutu sekolah. penciptaan iklim sekolah yang memanusiakan dan mengedepankan karakter dapat dilakukan dengan menerapkan konsep sekolah menyenangkan atau program gerakan sekolah menyenangkan (gsm). pada dasarnya gsm adalah gerakan sosial bersama guru untuk menciptakan budaya belajar yang kritis, kreatif, mandiri dan menyenangkan di sekolah. gerakan ini mempromosikan dan membangun kesadaran guru-guru, kepala sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar ilmu pengetahuan dan bekal ketrampilan hidup agar anak-anak menjadi pembelajar yang sukses. konsep gerakan sekolah menyenangkan kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 117 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 pada dasarnya merujuk pada konsep well-being school dan ajaran ki hadjar dewantara beberapa ciri sekolah masa depan yang menyenangkan adalah belajar tanpa dipaksa, berprestasi tanpa stress, disiplin tanpa ditakut-takuti, hingga peduli tanpa ada syarat. konsep gerakan sekolah menyenangkan ini memiliki empat prinsip utama yakni learning environment, pedagogical practice, character development, dan school connectedness. sd muhammadiyah mantaran adalah sekolah swasta yang terletak di jl. turi km 3 mantaran trimulyo sleman yang telah menerapkan konsep gsm. jumlah siswa 2 tahun terakhir ini mulai meningkat seiring dengan program sekolah dengan branding sekolah menyenangkan. iklim sekolah yang dibangun dan berkembang di sekolah ini mampu membuat sekolah ini bangun dari keterpurukan, setelah sekian lama hampir 6 tahun dipandang merupakan sekolah pinggiran yang jumlah siswanya juga kurang memenuhi kuota. selain itu, prestasi baik akademik maupun non akademik sekolah ini mengalami peningkatan seiring perubahan iklim sekolah yang dibangun. oleh karena itulah, penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh dan mengobservasi apa saja bentuk kreasi iklim melalui program gerakan sekolah menyenangkan di sd muhammadiyah mantaran, bagaimana jenis tingkatan iklim di sd muhammadiyah mantaran, serta peran kepala sekolah dalam menciptakan iklim tersebut sehingga membuat sekolah tersebut bertransformasi dan mampu menarik masyarakat sekitar sehingga menjadi sekolah yang unggul dan sekarang menjadi sekolah rujukan. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penciptaan iklim sekolah di sd muhammadiyah mantaran melalui gsm, dan peran kepala sekolah dalam menciptakan iklim sekolah melalui program gsm metode penelitian jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. alasan menggunakan pendekatan kualitatif adalah metode ini dapat digunakan untuk menemukan dan memahami apa yang tersembunyi dibalik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami secara memuaskan. tempat penelitian ini adalah sd muhammadiyah mantaran dan waktu penelitian dilaksanakan bulan september-oktober 2019. subjek penelitian ini adalah siswa, guru, dan wali murid. sedangkan objek penelitiannya adalah program dari gerakan sekolah menyenangkan yang diterapkan di sekolah sehingga mampu membuat kreasi iklim di sd muhammadiyah mantaran. teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung ke sekolah, wawancara dengan guru, siswa, kepala sekolah maupun wali murid, serta pengumpulan dokumentasi. analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui pengumpulan data, reduksi data, penanyajian data kemudian merumuskan kesimpulan. hasil dan pembahasan sd muhammadiyah mantaran terletak di jalan turi km 3 mantaran, trimulyo sleman. letak geografis sekolah ini sangatlah strategis dan nyaman untuk proses kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 118 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 pembelajaran, karena jauh dari keramaian dan terletak dipinggir persawahan, dekat sungai, dekat kantor kelurahan. sekolah ini membuat branding sekolah “islamic fun school” yaitu sekolah menyenangkan yang bernuansa islami dengan visi “terwujudnya sekolah menyenangkan berbasis al islam yang unggul dalam prestasi, terampil, berbudaya islami dan cinta lingkungan”. sd muhammadiyah mantaran saat ini sudah memiliki 217 siswa dan 12 guru serta 5 karyawan. sekolah ini tergolong sekolah baru yang mulai naik daun dengan program sekolah menyenangkan. program sekolah menyenangkan ini, ternyata mampu menciptakan iklim kelas yang sangat kondisuf dalam pembelajaran sehingga melahirkan iklim sekolah yang positif . kreasi iklim di sd muhammadiyah mantaran warga sd muhammadiyah mantaran memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat dekat, harmonis dan tidak mengenal kasta. semua guru karyawan terlibat aktif dan saling mendukung dalam menjalankan program sekolah. mereka bekerja, mendidik dengan hati, serta didasari oleh tekad kebersamaan memajukan sekolah sehingga membuat corak kepribadian sekolah tersebut sangat terlihat, apalagi dengan program sekolah menyenangkan yang telah dirintis sejak dua tahun terakhir. guru-guru mulai mengubah mind setnya dari pendidikan yang hanya mementingkan kognitif/akademik menjadi pendidikan yang lebih memanusiakan dengan program karakter dalam konsep gerakan sekolah menyenangkan (gsm). program ini juga mampu mempengaruhi sikap, kepercayaan, nilai dan motivasi individu yang berada pada sekolah ini menjadi lebih hidup dan bergairah. hal ini mencerminkan iklim sekolah seperti yang dijelaskan oleh litwin dan stringer bahwa iklim sekolah adalah hasil dari persepsi subyektif terhadap sistem formal, gaya informal kepala sekolah, dan faktor lingkungan penting lainnya yang mempengaruhi sikap, kepercayaan, nilai dan motivasi individu yang berada pada sekolah tersebut, (gunbayi, 2007). jadi iklim sekolah sangat mempengaruhi sikap, nilai dan motivasi seseorang pada lingkungan sekolah. iklim sekolah mengacu pada kualitas dan karakter school life siswa, yang didasarkan pada pengalaman interaksi siswa orang tua dan personil di sekolah, dan bagaimana norma, tujuan dan nilai yang diterapkan dalam interpersonal relationship pada praktik pembelajaran dan struktur organisasi di sebuah lembaga pendidikan atau sekolah, (rapti, 2012). hal ini sejalan dengan yang dilakukan guru-guru di sd muhammadiyah mantaran yang menunjukkan karakter saling berbagi dan berkolaborasi dalam praktek pembelajaran maupun nilai-nilai yang diterapkan antar warga sekolah. hubungan antar warga sekolah terlihat sangat akrab dan dekat sehingga mampu membentuk iklim sekolah yang kondusif. sedangkan menurut pretorius, iklim sekolah sebenarnya mencerminkan hati dan jiwa dari sebuah sekolah, psikologis dan atribut institusi yang menjadikan sekolah memiliki kepribadian yang relatif bertahan dan dialami oleh seluruh anggota yang menjelaskan persepsi kolektif dari prilaku rutin dan akan mempengaruhi sikap dan prilaku sekolah, (pretorius & de villiers, 2009). iklim sekolah merupakan bagian dari budaya sekolah dan mencerminkan kepribadian sekolah. prinsip gsm dalam rangka kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 119 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 mengkreasi iklim sekolah yang sudah diterapkan di sd muhammadiyah mantaran antara lain : 1) penciptaan lingkungan positif , 2) pendidikan karakter, 3) pembelajaran yang berbasis project dan problem solving, 4) school conectednes. program penciptaan lingkungan positif yang dilakukan meliputi : a) pengaturan setting tempat duduk yang variatif tiap minggunya .; b) pembentukan zona-zona kelas. zonazona kelas antara lain zona urut kedatangan, zona profil siswa, zona emosi, zona kebaikan, zona harapan orang tua dan siswa, zona hasil karya, pojok baca, pojok kebersihan dll ; c) pembuatan wahana bermain di halaman sekolah. halaman sekolah mulai tertata rapi, terdapat zona dolanan, garis-garis di lapangan untuk wahana bermain siswa, taman dan tempat duduk di bawah pohon ; d) pemanfaatan lorong-lorong kelas, tangga, pojok sekolah untuk media dan tempat belajar ; e) penataan kamar mandi/wc menjadi lebih warna-warni dan menyenangkan. setting tempat duduk tiap kelas tidak monoton dari depan ke belakang tetapi berubah-ubah. terdapat ruang-ruang gerak untuk siswa yang lebih longgar dan leluasa. pengaturan tempat duduk peserta didik pada dasarnya dilakukan untuk memenuhi empat tujuan: aksesibilitas yang membuat peserta didik mudah menjangkau alat dan sumber belajar yang tersedia; mobilitas yang membuat peserta didik dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian lain dalam kelas; memudahkan terjadinya interaksi dan komunikasi antara guru dan peserta didik maupun antar peserta didik; memungkinkan para peserta didik untuk dapat berkelompok dan bekerja sama. (wiyani, 2013) layout tempat duduk zona kesepakatan kelas zona kedatangan pojok kebersihan, pojok baca zona emosi zona harapan zona kedatangan ternyata mampu menurunkan tingkat keterlambatan siswa masuk sekolah. program ini dilakukan dengan cara setiap siswa menempelkan atau memasang namanya pada urut kedatangan dibuat oleh siswa bersama guru di kelasnya. siswa berlomba-lomba datang lebih awal demi memasang namanya diurutan terawal tiap harinya. zona profil siswa mampu membuat para siswa lebih percaya diri dan membangun “self belonging”. zona ini memajang profil siswa dari biodata siswa kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 120 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 disertai foto pribadi maupun keluarga sampai cita-cita siswa. sedangkan zona emosi merupakan tempat/zona dimana siswa dapat menempelkan emoticon senang, sedih, dan marah sesuai perasaanya saat itu. ini dapat dilakukan setiap pagi sebelum memulai pembelajaran atau siang hari sebelum pulang sekolah. manfaat pelaksanaan zona emosi di pagi hari adalah memberikan informasi awal guru tentang keadaan emosi para siswa sebelum pembelajaran berlangsung. potret keadaan ini, dapat membantu guru menentukan kegiatan apa yang harus dilakukan agar pembelajaran berlangsung efektif. misalkan hampir semua siswa sedih atau marah, maka guru harus menetralkan suasana menjadi gembira melalui ice breaking atau kegiatan apersepsi yang menyenangkan agar pembelajaran juga menyenangkan. zona harapan menggambarkan harapan siswa dan orang tua selama satu semester atau satu tahun dalam pembelajaran. zona hasil karya merupakan tempat memajang hasil karya dan kreatifitas siswa agar merasa bangga dan menghargai hasil karya orang lain. zona baca merupakan pojok baca yang dibuat secara minimalis tetapi nyaman dan menarik untuk menambah minat baca dan mendukung program literasi. sedangkan zona pojok kebersihan adalah tempat menggantungkan alat-alat kebersihan dalam kelas. hal ini sangat sepele, namun meupakan indikator tanggungjawab siswa di kelas tersebut dalam menjaga alat kebersihan dan tertib maupun disiplin mengembalikan ke tempat semula. zona kebaikan merupakan cara pembentukan karakter positif yang dapat dilakukan melalui pembuatan celengan kebaikan, pohon kebaikan maupun amplop kebaikan. dari penciptaaan lingkungan positif melalui pengadaan zona-zona kelas maka siswa akan berkembang secara optimal sesuai kebutuhannya. hal ini sejalan dengan pernyataan brooks dalam (mardianto, 2018) bahwa siswa lebih cenderung berkembang secara psikologis pada lingkungan sekolah yang memberikan rasa nyaman. mereka merasa diperlakukan secara adil oleh guru dan semua orang yang ada disekolah sehingga tumbuh dalam diri mereka rasa memiliki lingkungannya. zona profil siswa, zona cita-cita, dan zona hasil karya merupakan contoh zona yag dapat membangun rasa kepemilikan terhadap kelasnya. mereka akan merasa bangga akan hasil karya yang mereka pajang dan dapat menumbuhkan rasa percaya diri. program penguatan pendidikan karakter di sd muhammadiyah mantaran meliputi a) piagam bintang kebaikan, b) program circeltime/ pagi berbagi, c) pohon kebaikan , amplop kebaikan atau celengan kebaikan, d) program literasi, e) dua kelas. program pemberian piagam bintang kebaikan kepada setiap siswa yang melakukan kebaikan atau perilaku positif. piagam diberikan setiap minggunya pada upacara bendera hari senin, setiap kelas sekitar 3-5 siswa yang mendapatkan menurut penilaian dan pengamatan guru. pemberian reward dilaksanakan oleh semua guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, membuat siswa lebih percaya diri dan lebih mengenal potensi dalam dirinya sendiri. dalam proses pembelajaran siswa akan lebih aktif karena muncul rasa percaya diri akibat dari reward atau penghargaan yang diberikan. hal ini sesuai dengan pendapat wina sanjaya (2005: 165) yang menyatakan bahwa siswa yang diberi ganjaran akan berbesar hati dan meningkatkan partisipasi dalam setiap proses pembelajaran. (marta, 2016). kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 121 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 program cyrcle time merupakan program dimana guru bersama siswa melakukan refleksi terhadap sesuatu hal terutama yang menyangkut sikap-sikap keseharian yang dirasa perlu dikuatkan dan difollow up oleh guru dalam rangka pembentukan karakter siswa. program ini dapat dilaksanakan baik dalam pembelajaran maupun di luar pembelajaran. sedangkan program pohon kebaikan, amplop atau celengan kebaikan adalah, kegiatan dimana setiap siswa dapat menuliskan hal-hal kebaikan yang telah dilakukan temannya setiap harinya kemudian ditempelkan pada pohon kelas, atau dimasukkan dalam amplop ataupun celengan. kegiatan literasi macam-macam bentuknya. di sekolah ini, dalam rangka meningkatkan motivasi membaca ada jadwal khusus 10 menit literasi pagi, selain itu setiap kelas tersedia pojok baca dan terapat zona pohon literasi, tirai literasi atau amplop literasi. setiap siswa yang sudah membaca buku akan menuliskan judul buku ke dalam kertas kecil dan ditempelkan ke pohon literasi atau dimmasukkan ke dalam amplop literasi. program duta kelas merupakan pemilihan duta kelas terdiri dari banyak kategori seperti duta baca/duta literasi, duta kebersihan, duta bicara, duta hr, duta dll. hal ini bertujuan untuk melibatkan siswa dalam pengkondisian kelas serta melatih tanggung jawab. program penguatan karakter ini dilaksanakan sejak tahun lalu dan mulai masif dan muncul kreasi-kreasi baru di tahun ini. program karakter yang dilaksanakan di sd muhammadiyah mantaran mampu mengubah perilaku siswa. banyak siswa yang tadinya pendiam menjadi lebih percaya diri, siswa yang kurang disiplin menjadi lebih disiplin, dan terbangunnya empati dan menghargai. hal ini sejalan dengan program pemerintah yaitu penguatan pendidikan karakter. penguatan pendidikan karakter mempunyai tujuan akhir bagaimana peserta didik dapat berperilaku sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila sehingga mampu membangun dan menanggapi berbagai tantangan di masa depan. (marta, 2016) pembelajaran yang berbasis project dan problem solving sudah dilakukan di sd muhammadiyah mantaran. pembelajaran yang dilaksanakan di sd muhammadiyah mantaran sangat kreatif dan inovatif. pembelajaran yang dilakukan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. pembelajaran yang sering dilakukan di sekolah ini adalah pembelajaran berbasic project. bahkan tugas maupun pekerjaan rumah berbasis project tidak lagi mengerjakan soal-soal di buku maupun lks. istilah pekerjaan rumah (pr) sudah diganti menjadi hiburan rumah (hr). hal ini menghilangkan image bahwa pekerjaan atau tugas rumah itu adalah hiburan yang menyenangkan dan mereka tidak stress dan merasa terbebani. contoh hr yang biasa diberikan misalnya dalam pembelajaran penjumlahan kelas bawah, siswa hanya diberi tugas menghitung semua jumlah sepatu dan sandal yang ada dirumah kemudian menjumlahkannya. untuk kelas atas, misalnya diberi proyek untuk wawancara dengan pak rt atau penjual sayur deket rumah dsb. metode pembelajaran yang digunakan guru-guru sangat bervariatif, mulai dari bermain peran, pembelajaran berbasis riset, simulasi maupun window shopping. pembelajaran lebih menenkankan pada berpikir kritis, kreatif dan memecahkan masalah. kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 122 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 school conectedness merupakan hubungan antara sekolah dengan masyarakat maupun orang tua wali murid. sekolah ini mampu membangun jejaring dengan pihak luar (dudi) seperti ngudi rizki, kedai pramuka, bpd, gsm, puskesmas, polsek, warga masyarakat sekitar, maupun wali murid. di sekolah ini, paguyuban wali murid sudah terbentuk dan hubungan antara guru dan wali murid terjalin sangat baik. kegiatan sekolah sering kali melibatkan wali murid bahkan di pembelajaran melalui program parent teaching. program parent teaching merupakan program unggulan yang melibatkan wali murid di sekolah ini. program ini dilaksanakan setiap semester dalam satu periode yaitu setiap sabtu dalam bulan tertentu. pada semester gasal biasanya dilaksanakan pada bulan oktober sedangkan pada semester genap dilaksanakan sekitar bulan februari. dalam event program sekolah seperti tutup tahun, family gathering, outing/pembelajaran luar kelas orang tua juga dilibatkan. para orang tua bahkan menjadi panitia bersama guru. hubungan antara guru dan orang tua wali murid sangat baik dan terjalin komunikasi dan kolaborasi yang baik karena setiap bulan sekali terdapat forum paguyuban wali murid bersama guru/wali kelas. dari uraian berbagai program yang dilaksanakan di sd muhammadiyah mantaran, terlihat bahwa iklim yang terbangun di sekolah ini sangatlah humanis, menyenangkan, dan memanusiakan. kegiatan yang ada sd muhammadiyah mantaran mampu mempengaruhi sikap, kepercayaan, nilai dan motivasi seseorang. terbukti dari data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi sikap disiplin siswa meningkat dengan ditandai angka keterlambatan menurun, munculnya sikap empati dan peduli serta banyak siswa yang mulai percaya diri dan berani mengungkapkan sesuatu dengan siapapun. sebagai contoh ditemukan beberapa siswa yang tadinya dijuluki anak pendiam dikelas, kini dia aktif dan berani tampil di depan serta aktif berkomunikasi dengan orang lain. dari sisi guru, banyak sekali ditemukan guru-guru yang berubah karakternya menjadi lebih percaya diri dan muncul ide-ide kreatif yang mendorong guru lain untuk mengikutinya. selain itu hubungan antar guru, guru dengan karyawan maupun guru dengan kepala sekolah terlihat sangat dekat dan kompak. mereka saling menghargai dan suasan kantor selalu nyaman. walaupun banyak candaan yang muncul, rasa peduli dan menghargai tetap terjaga dan justru melalui bercanda tersebut kekeluargaan mereka menjadi sangat dekat. iklim sekolah berkaitan dengan lingkungan yang produktif dan kondusif untuk belajar siswa dengan suasana yang mengutamakan kerjasama, kepercayaan, kesediaan, keterbukaan, bangga dan komitmen. iklim sekolah berkaitan juga prestasi akademik, moral dan prilaku siswa. iklim sekolah yang optimal adalah iklim sekolah yang resfonsif terhadap perkembangan kebutuhan setiap siswa, merangsang pertumbuhan pribadi dan akademik. iklim sekolah yang telah dibangun di sd muhammadiyah mantaran mampu mengubah image sekolah ini dari sekolah pinggiran menjadi sekolah rujukan yang terbukti akhir-akhir ini sekolah dibanjiri kunjungan dari berbagai sekolah, universitas, maupun dinas pendidikan kabupaten tangerang dan kabupaten sleman bahkan kementrian victoria australia juga sempat berkunjung di sekolah ini. kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 123 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 iklim sekolah didefinisikan sebagai kepribadian suatu sekolah yang digunakan untuk membedakan dengan sekolah yang lain. sd muhammadiyah mantaran jelas memiliki iklim sekolah yang lain dari sekolah-sekolah disekitarnya. program-program yang telah diuraiakan berdasarkan hasil observasi diatas menunjukkan bahwa sekolah ini memiliki suasana yang mampu menumbuhkan nilai-nilai, harapan, kebijakan dan prosedur dalam organisasi dan mengubah perilaku individu maupun organisasi. menurut freiberg (dalam marshall 2002:1) menegaskan bahwa iklim sekolah dapat menjadi pengaruh positif pada kesehatan lingkungan belajar atau hambatan yang signifikan untuk belajar. selain itu, iklim sekolah yang positif berkaitan dengan peningkatan kepuasan kerja serta dapat memainkan peran penting dalam menyediakan suasana sekolah yang sehat dan positif. interaksi dari berbagai anggota sekolah dan faktor iklim kelas dapat memberikan dukungan yang memungkinkan semua komunitas sekolah untuk mengajar dengan optimal. iklim sekolah juga termasuk kepercayaan, menghormati, saling mengerti kewajiban dan perhatian untuk kesejahteraan lainnya, memilki pengaruh yang kuat terhadap pendidik dan peserta didik, hubungan antara peserta didik serta prestasi akademis dan kemajuan sekolah secara keseluruhan. iklim sekolah yang positif merupakan lingkungan yang kaya untuk pertumbuhan pribadi dan keberhasilan akademik.(marshall, megan l, 2002: 2). hal ini terbukti di sd muhammadiyah mantaran, bahwa dengan iklim yang terbangun kondusif dimana persepsi setiap individu di sekolah ini menganggap bahwa sekolah ini menyenangkan dan hubungan antar sesamanya juga sehat membawa pengaruh positif terhadap perkembangan akademik siswa. dari data yang diperoleh, prestasi akademik yaitu nilai rata-rata us/un kelas 6 , tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan dan di luar prediksi yang ditargetkan. berikut tabel 1. tabel 1. rata-rata hasil ujian sekolah/ujian nasional 3 tahun terakhir no mata pelajaran tahun pelajaran 2016/2017 2017/2018 2018/2019 1. bahasa indonesia 70,91 76,64 83,18 2. matematika 74,32 74,80 62,77 3. ipa 88,64 82,88 90,55 rata-rata 233,87 234,32 236,50 ranking kecamatan 8 2 2 data di atas menunjukkan bahwa dengan iklim sekolah yang kondusif memang berpengaruh tehadap prestasi akademik siswa. untuk data prestasi akademik dan non akademik sekolah ini juga mengalami peningkatan yaitu dari tahun 2016/2017 berhasil meraih 43 kejuaraan lomba-lomba, pada tahun 2017/2018 bisa meraih 58 kejuaraan lomba-lomba. hal ini cukup membuktikan bahwa sd muhammdiyah mantaran selalu berprogress atau meningkat dalam hal prestasi akademik maupun non akademik. gunbayi (2007:2) menjelaskan iklim organisasi sangat penting bagi pencapaian efektivitas organisasi. iklim adalah indikasi dari seberapa baik organisasi dapat mewujudkan seluruh potensi yang dimilikinya. kinerja organisasi yang tinggi kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 124 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 cenderung menggunakan kemampuan semua orang secara optimal. iklim di sd muhammadiyah mantaran ini mendorong iklim organisasi yang mengoptimalkan kemampuan semua warga sekolah. keterlibatan siswa, guru, orang tua dalam pembelajaran, penentuan kebijakan, program sekolah sangat diperhatikan. semua warga sekolah diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri dalam rangka mengefektifkan organisasi sekolah. sebagai contoh, siswa sangat aktif dan pembelajaran berpusat pada siswa, serta adanya program pemberian ruang kepada siswa untuk mengekspresikan diri sesuai karakter masing-masing, penghargaan terhadap sekecil apapun kebaikan siswa maupun menjunjung tinggi harga diri. selain itu guru juga diberikan ruang untuk mengaktualisasikan diri mengkreasi pembelajaran, terlibat di semua kegiatan, bahkan kepala sekolah memberikan kesempatan guru untuk mengembangkan karirnya di setiap kesempatan yang ada. cohen, et, al. menjabarkan pengukuran iklim sekolah ke dalam sepuluh dimensi, yang dikelompokkan ke dalam 4 kategori, yaitu : safety, teaching and learning, interpersonal relationship dan institutional environment. kategori pertama terdiri atas (1) rule and norms, meliputi adanya aturan yang dikomunikasikan dengan jelas dan dilaksanakan dengan konsisten. hal ini dibuktikan dengan adanya code of conduct dan kesepakatn kelas yang dibuat di sd muhammadiyah mantaran. (2) physical safety meliputi perasaan siswa dan orang tua siswa yang merasa aman dari kerugian fisik di sekolah; (3) social and emotional security meliputi perasaan siswa yang merasa aman dari cemoohan, sindiran dan pengucilan. di sekolah ini terdapat program buddy dan stop bulliying sehingga siswa merasa aman, nyaman dalam bergaul. (cohen, mccabe, michelli, & pickeral, 2009). kategori kedua terdiri atas (1) support and learning, yang menunjukkan adanya dukungan terhadap praktek langsung, seperti tanggapan yang positif dan konstruktif, dorongan untuk mengambil resiko, tantangan akademik, perhatian individual dan kesempatan untuk menunjukkan pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai cara, (2) social and civic learning, menunjukkan adanya dukungan untuk pengembangan pengetahuan dan keterampilan sosial dan kemasyarakatan, contohnya mendengarkan secara efektif apa yang menjadi aspirasi warga sekolah, pemecahan masalah, refleksi dan tanggung jawab serta mampu membuat keputusan yang etis. (cohen et al., 2009). hal ini ditunjukkan pembelajaran yang melibatkan masyarakat dan orang tua siswa di sd muhammadiyah mantaran serta pembelajaran yang memberikan pengalaman yang bermakna, kontekstual serta melatih siswa berpikir kritis dan menyelesaikan masalah. selain itu setiap ada maslaah, selalu merefleksikan penyebabnya dan semangat untuk mencari solusi. kategori ke tiga terdiri atas (1) a resfect for divercity, yang menunjukkan adanya sikap saling menghargai terhadap perbedaan semua warga sekolah, baik antara siswa dengan siswa, orang tua dengan siswa dan orang tua dengan orang tua; (2) soccial support adults, menunjukkan adanya hubungan yang saling percaya dan kerjasama antara orang tua dengan orang tua untuk mendukung siswa, serta keinginan untuk mendengar dan kepedulian pribadi; (3) social support students, menunjukkan adanya kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 125 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 jaringan antar siswa untuk mendukung kegiatan akademik. kegiatan paguyuban wali murid yang dilakukan merupakan kegiatan yang menguatkan kategori ini. kategori ke empat terdiri atas (1) school connctedness/engagement, meliputi ikatan positif dengan sekolah, rasa memiliki dan norma – norma umum untuk berpartisipasi dalam kehidupan sekolah bagi siswa dan keluarga; (2) physical surroundings, meliputi kebersihan, ketertiban dan daya tarik fasilitas dan daya tarik fasilitas dan sumber daya alam dan material yang memadai. program penciptaan lingkungan positif dan program jejaring maupun paguyuban wali murid sangat menggambarkan kategori keempat pengukuran iklim di sekolah ini. dimensi iklim sekolah tersebut diatas, harus dikondisikan dengan baik supaya iklim sekolah kondusif sehingga proses pendidikan di sekolah berjalan lancar dan apa yang menjadi tujuan tercapai. ternyata, dimensi iklim sekolah tidak hanya mencakup hubungan antar warga sekolah tetapi juga lingkungan fisik sekolah, bahkan aktivitas pembelajaran maupun aktivitas program persekolahan yang ada di sekolah tersebut. tingkatan dan jenis iklim sekolah di sd muhammadiyah mantaran iklim sekolah dapat mempengaruhi kegairahan guru bekerja, dan sikap guru serta pelaksanaan inovasi di sekolah (wahyuningrum, 2008). ini berarti, bila semua personel mampu mengupayakan iklim yang baik, maka berbagai macam tujuan sekolah akan mempunyai peluang yang besar untuk dapat tercapai. dengan demikian dapat dikatakan bahwa untuk menciptakan iklim sekolah yang kondusif diperlukan peranan kepala sekolah, dimana perwujudan iklim sekolah dapat dilaksanakan pada berbagai tingkatan iklim. tingkatan-tingkatan iklim mulai dari yang paling kondusif sampai dengan yang paling tidak kondusif disebutkan oleh silver dalam made pidarta (2011) dalam (wahyuningrum, 2008) antara lain a) iklim terbuka, ialah hubungan dan pergaulan berjalan lancar, tidak ada sesuatu yang bersifat rahasia, b) iklim otonomi, yaitu guruguru dapat kebebasan berinisiatif, berkreasi dan bekerja, juga bebas dalam memenuhi kebutuhannya, c) iklim terkontrol, ialah apabila guru-guru diharapkan dapat bekerja dengan tekun tetapi tetap memiliki kebersamaan. d) iklim kekeluargaan, yaitu mementingkan kerja sama dan toleransi cukup tinggi e) iklim kebapakan, adalah manakala guru-guru bekerja relatif taat kepada perintah kepala sekolah serta tidak membantah, f) iklim tertutup, ialah kontak hubungan sangat sedikit, orang cenderung bekerja sendiri, dengan kompetisi yang cukup tinggi. berdasarkan hasil pengamatan, tingkatan jenis iklim di sd muhammadiyah mantaran tergolong iklim sekolah yang terbuka yang ditandai dengan 1) melukiskan suasana sekolah yang penuh semangat kerja (energetic). ini dibuktikan dengan guruguru di sekolah energic,kreatif, 80% masih muda dengan usia 24th 35th . 2) organisasi hidup dan bergerak ke arah tujuan. visi misi sekolah ini sangat dipegang teguh dengan membranding sekolah menjadi sekolah yang menyenangkan. 3) organisasi mampu memberikan kepuasan kebutuhan daripada anggota kelompok. sekolah ini mampu memberikan kepuasan terhadap siswa, guru maupun orang tua wali murid berdasarkan hasil wawancara. animo pendaftar ke sekolah ini juga meningkat yaitu tahun 2017/2018 kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 126 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 mendapat siswa baru kelas 1 berjumlah 24 siswa, kini tahun 2018/2019 mencapai 53 siswa kelas 1. 3) siswa maupun guru di sekolah ini dilatih untuk menjadi seorang leader atau pemimpin dengan menggilir jabatan ketua kelas ataupun ketua panitia dalam program sekolah secara demokratis dan tanpa ada rasa iri. rutinitas ini sudah membudaya dan tanpa ada paksaan. 4) suasana terbuka adalah keaslian (authencity) perilaku yang terjadi diantara seluruh anggota. suasana yang terbuka dan perubahan perilaku terutama karakter siswa ini berjalan begitu saja tanpa disadari. peran kepala sekolah dalam mengkreasi iklim sekolah iklim organisasi sekolah itu tidak muncul dengan sendirinya. untuk mewujudkan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif dalam mendukung pembelajaran diperlukan strategi. mengacu pada agenda perubahan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam mewujudkan iklim sekolah yang kondusif dan menunjang pencapaian tujuan pendidikan dapat dilakukan melalui program yang mencakup level kelas (regulator), level profesi (mediator), dan level sekolah (manajemen). (pujiatin, 2014). pada level kelas yang dilakukan kepala sekolah sd muhammadiyah mantaran adalah mewujudkan pembelajaran dan penilaian yang efektif dan selalu melakukan refleksi dan tindak lanjut terhadap yang dilakukan guru. sedangkan pada level profesi yang dilakukan adalah melakukan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan sekolah yang kuat kepala sekolah mampu mengambil keputusan tanpa mengedepankan sikap otoriter, tetapi lebih bersikap demokratis, terbuka dan transparan, serta menjadi tauladan bagi seluruh warga sekolah . selain itu juga mengembangkan staf/guru yang kompeten dan berdedikasi tinggi terbukti beberapa guru di sd muhammadiyah mantaran mampu berprestasi dan memiliki potensi yang senantiasa dikembangkan. pada level sekolah ( manajemen ) dapat dilakukan dengan 1) menumbuhkan komitmen untuk mandiri, 2) mengutamakan kepuasan pelanggan (customer satisfaction), 3) menumbuhkan sikap responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan, 4) menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib (safe and orderly), 5) menumbuhkan budaya mutu di lingkungan sekolah budaya, 6) menumbuhkan harapan prestasi tinggi harapan, 7) menumbuhkan kemauan untuk berubah, 8) mengembangkan komunikasi yang baik, 9) mewujudkan teamwork yang kompak, cerdas, dan dinamis , 10) melaksanakan keterbukaan (transparansi) manajemen, 11) menetapkan secara jelas serta mewujudkan visi dan misi sekolah, 12) melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif, 13) meningkatan partisipasi warga sekolah dan masyarakat 14) menetapkan kerangka akuntabilitas yang kuat. (pujiatin, 2014) berdasarkan hasil wawancara, peran kepala sekolah yang dilakukan dalam menciptakan iklim sekolah di sd muhammadiyah mantaran antara lain 1) mengubah mind set guru dan orang tua wali murid terhadap pendidikan yang memanusiakan. setiap bulan ada pertemuan paguyuban wali murid dan setiap minggunya terdapat rapat guru. di forum inilah kepala sekolah selalu berusaha mengubah mindset guru dan wali murid, 2) menciptakan hubungan dan pergaulan antar personel dengan cinta dan kasih kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 127 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 sayang, dalam hubungan antar sesame guru, seperti tidak ada jarak dan guru merasa dekat dengan kepala sekolah, 3) pembagian tugas pendelegasian wewenang, ini dibuktikan dengan adanya wakil kepala sekolah atau staf antara lain urusan kesiswaan, kurikulum, rumah tangga, sarpras, keuangan. semuanya ada jobdes yang jelas dan saling membantu antar lini waka, 4) menyelesaikan konflik sesegera mungkin jangan sampai mengganggu kenyamanan kerja, ketika ada konflik, kepala sekolah menyelesaikan dengan pendekatan personal. misalkan ada kasusu guru tertentu maka kepala sekolah tidak akan menegur di forum rapat tetapi diselesaikan secara personal, 5) pemberian motivasi (reward kinerja, penghargaan, bintang kebaikan guru dll), 6) mengharmoniskan dan memperkaya lingkungan bekerja dan belajar dengan penciptaan lingkungan positif baik fisik maupun non fisik, ditandai dengan mengubah layout kantor dan kelas-kelas serta halaman luar sekolah, 7) program school cenectedness meliputi jejaring gsm, parent teaching, dan paguyuban wali murid serta program pembelajaran berbasis masyarakat. simpulan kreasi iklim sekolah di sd muhammadiyah mantaran diwarnai dengan konsep gerakan sekolah menyenangkan yang bertujuan utama untuk menanamkan karakter dan membuat pendidikan yang lebih memanusiakan manusia melalui perogram 1) penciptaan lingkungan positif , 2) pendidikan karakter, 3) pembelajaran yang berbasis project dan problem solving, 4) school conectednes. berdasarkan hasil pengamatan, tingkatan jenis iklim di sd muhammadiyah mantaran tergolong iklim sekolah yang terbuka dan merupakan tingkatan iklim yang kondusif. peranan kepala sekolah dalam menciptakan iklim sekolah di sd muhammadiyah mantaran antara lain 1) mengubah mind set guru dan orang tua wali murid terhadap pendidikan yang memanusiakan manusia, 2) menciptakan hubungan dan pergaulan antar personel dengan cinta dan sayang, 3) pembagian tugas pendelegasian wewenang, 4) menyelesaikan konflik sesegera mungkin jangan sampai mengganggu kenyamanan kerja, 5) pemberian motivasi (reward kinerja, penghargaan, bintang kebaikan guru dll), 6) mengharmoniskan dan memperkaya lingkungan bekerja dan belajar dengan penciptaan lingkungan positif baik fisik maupun non fisik, 7) program school cenectedness meliputi jejaring gsm, parent teaching. kreasi iklim sekolah........(khoiri nw & fitri nm) 128 jppd, 6, (2), hlm. 115 128 daftar pustaka cohen, j., mccabe, l., michelli, n., & pickeral, t. (2009). measuring and improving school climate: a strategy that recognizes, honors and promotes social, emotional and civic learning the foundation for love, work and engaged citizenry. teachers college record, 111(1), 180–213. gunbayi, i. (2007). school climate and teachers ’ perceptions on climate factors : educational technology, 6(3), 70–79. retrieved from https://learn.rochester.edu/bbcswebdav/pid-1849557-dt-content-rid22303682_1/courses/ed468.2019summer.13203/school climate and teachers perspective.pdf mardianto. (2018). membangun iklim sekolah untuk mereduksi perilaku agresi siswa: bullying dan cyberbullying. (november), 1–14. marta, d. e. (2016). implementasi pemberian reward kepada siswa sd muhammadiyah bantul kota. jurnal pendidikan guru sekolah dasar, edisi 25. pretorius, s., & de villiers, e. (2009). educators’ perceptions of school climate and health in selected primary schools. south african journal of education, 29(1), 33– 52. https://doi.org/10.1590/s0256-01002009000100003 pujiatin, d. (2014). strategi kepala sekolah untuk mengembangkan iklim sekolah (studi multi kasus di smkn 1 pogalan dan smk muhammadiyah 1 trenggalek ). rahmawati, t. (2016). pembentukan iklim sekolah menuju learning community. http://staffnew.uny.ac.id/upload/198111112009121001/penelitian/artikel+iklim +sekolah.pdf, 1–21. rapti, d. (2012). school climate as an important component in school effectiveness. academicus international scientific journal, (69), 110–125. https://doi.org/doi/10.7910/dvn/eugu2u wahyuningrum, m. m. (2008). iklim sekolah di era otonomi sekolah ( suatu kajian manajerial ). journal manajemen pendidikan, 02/th iv/o(02), 62–78. wiyani, n. a. (2013). manajemen kelas: teori dan aplikasi untuk menciptakan kelas yang kondusif. jogjakarta: ar-ruzz media. profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2022 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 148 practitioners’ perceptions of play-based pedagogy on the holistic development of young children nonhlanhla ntshangase1, roy venketsamy1,* 1 university of pretoria, south africa *corresponding author’s email: roy.venketsamy@up.ac.za submitted: 2022-06-02 doi: 10.23917/ppd.v9i2.18477 revised: 2022-10-27 accepted: 2022-11-09 keywords: abstract play-based pedagogy; play-based teaching and learning; holistic development; young children; early childhood development south africa has made remarkable progress in trying to improve early childhood education by introducing the national curriculum framework (ncf) in 2015. the ncf encourages practitioners to engage young children in play-based activities to improve their physical, social, emotional, and cognitive development, as core developmental skills. the main objective of this study was to explore practitioners’ perceptions of play-based pedagogy on the holistic development of young children. the qualitative approach was used to collect information through semi-structured interviews and lesson observations from five participants in the mpumalanga province. this study found that despite the department of basic education mandating the implementation of play-based pedagogy in early childhood centers through the national curriculum framework challenges are experienced by practitioners. practitioners had a good understanding of play-based pedagogy and play-based teaching and learning, but they needed continuous professional development and support to implement it in classrooms. introduction background of the study in 2015 the south africa department of basic education (dbe), early childhood development (ecd) sector introduced the national curriculum framework (ncf) (dbe, 2015). the framework aimed to streamline and focus on early childhood development by promoting play-based pedagogy and playhttp://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v9i2.18477 vol. 9, no. 2, december 2022 online issn 2503-3530 149 based teaching and learning in all centers. this framework envisaged promoting the development of young children through the implementation of various activities through play, discovery, exploration, investigation, and meaningful involvement in teaching and learning. the framework further encouraged practitioners to engage and inspire young children to become active participants in the learning process. despite the emphasis on play-based pedagogy in early childhood education, anecdotal evidence shows a minimal implementation of play-based teaching and learning in most south african ecd centers (solis, et al. 2019). practitioners were allowed to implement various strategies to enhance the holistic development of young children through play-based pedagogy. in the ncf, theme 2 emphasizes the importance of learning and development through play-based activities, and it further emphasizes that activities should be child-centered (dbe, 2015). the ncf encourages practitioners to engage young children in play-based activities to improve their physical, social, emotional, and cognitive development, as core developmental skills. the study comprised five practitioners from five different centers, (four schoolbased and one community-based centers), who had more than ten (10) years of teaching experience in a grade r class, and all were very experienced and had rich knowledge and experience in teaching young children. the other participants in the study were 360 grade r children whose ages ranged between 5 and 6 years old. for this reason, the researchers aimed to investigate practitioners' perceptions of the implementation of play-based pedagogy for the holistic development of young children. play-based pedagogy and play-based teaching and learning will be used interchangeably for this study. play-based pedagogy according to pyle and danniels (2016), play-based pedagogy means learning through play. playbased activities respect young children's culture, creativity, and spontaneity to promote all domains of development (baumer, 2013). play-based pedagogy encompasses all methods and necessities considered to initiate learning processes. aubrey (2017) states that play-based pedagogy depends on a complementary environment, including resources that allow for exploration, engagement, and access to information and knowledge to enhance young children's learning and development. edwards (2017) believes that young children's engagement with play-based activities enhances their understanding of basic social and physical skills, such as sharing resources, playing together (team spirit), developing gross and fine motor skills. the authors opine that conducive play-based environments should provide maximized learning. play-based pedagogy offer practitioners an opportunity to engage meaningfully and educationally with young children in classrooms. ellison (2012) agrees that for children's optimal social and physical development, both parents and practitioners need to provide a supportive environment to encourage them to participate in play-based activities. it is, therefore, pertinent that the learning environment is appropriately resourced to encourage play-based teaching and learning; however, most south african early childhood development centers in rural areas are poorly resourced (ekeh & venketsamy, 2020). fleer (2015) confirms that play generates joy and fun that amplifies children’s interest and motivation. therefore, play-based pedagogy can be perceived as an approach that allows young children to grow and develop in totality. the availability of educational resources enhances developmental domains such as social, physical, emotional, and cognitive (baker, et al. 2016). practitioners must involve playful activities for young children to become engaged under their guidance in a safe environment (weisberg, et al. 2013). unicef (2018) confirms that play-based ntshangase & venketsamy – practitioners’ perceptions of play-based pedagogy on … printed issn 2406-8012 150 teaching and learning allow children to take the initiative, help in decision-making, and promote selfchoice activity that controls their experience. whitebread, et al. (2017) articulate that play-based pedagogy is a concept that emphasizes the importance of tactile stimulation and the use of resources for young children’s perpetual development. baumer (2013) states that play-based pedagogy is a cooperative play that promotes the holistic development of children. solis et al. (2019) state that playbased pedagogy allows young children to develop holistically by exploring through curiosity, ownership, and enjoyment, using stimulating resources. play-based pedagogy and holistic child development wall et al. (2015) state that play-based pedagogy is a method of teaching and learning that enhances the holistic development of young children within an educational learning environment. the learning environment plays a significant role in ensuring that young children can engage and explore through play activities freely. pyle and danniels (2016) argue that some education centers are hesitant to introduce and engage young children in play-based activities due to practitioners' lack of knowledge skills and competencies. young children get involved in activities that bring fun and stimulation to their holistic development (fleer, 2015). play is a defining feature of human development and learning through play is central to quality early childhood pedagogy, education, and development. hassinger-das et al. (2018) concur with fleer (2015) that play-based pedagogy is crucial for the holistic development of young children. play activities for young children have continued to be an integral part of an educative-developmental program (wright, 2011). humankind’s concerns have always been to provide education, skills, and competencies from birth to adulthood, and in the absence of formal schooling, play remained the primary vehicle of thrust (unicef, 2018). gastrow and oppelt (2018) state that science and technology increasingly benefit the human understanding of play and argue for implementing play-based pedagogy in early grades. kelly et al. (2019) believe that play ideas are exchanged among a broader population with improved communication channels, research, and publications. according to the dbe (2015), play is placed under a regulated framework defined by time, place, nature, and resources. this perspective focuses on each child and their progress. the researchers believe that play activities are an integral part of teaching and learning in early-grade classes, which resonates with the national curriculum framework (dbe, 2015). fleer (2015) recommends that teaching and learning activities incorporate free-choice, open-ended spontaneous activities that would be fun and enjoyable to young children. however, she argues that these activities must be planned, controlled and directed by the practitioner; otherwise, the activity becomes meaningless. pellegrini et al. (2012) believe that an educational or pragmatic perspective of play-based teaching and learning has far-future development of the child’s social, educational, and economic goals. therefore, early childhood development centers (ecdcs) are pioneers in ensuring the holistic development of young children through their planned teaching and learning activities focused on playbased pedagogy. in south africa, the researchers believe that majority of the ecd centers operate within the educational-pragmatic perspective and are more curriculum-orientated rather than employing play-based pedagogy in their teaching and learning. zosh et al. (2017) state that the capacity to engage in play activities and the play itself positively impact the child’s holistic development. wolfgang et al. (2010) state that as children become involved in the play activity, they become engaged, that their moods and spirits are uplifted. in contrast, the scientific approach and its rules and regulations suggest that play should be conducted using the practitioner's knowledge (isaacs et al. 2019). wolfgang et al. (2010) state that a vol. 9, no. 2, december 2022 online issn 2503-3530 151 practitioner's primary responsibility is to organize the environment; plan play activities and resources; plan alongside children; and observe play and assess play. kelly et al. (2019) argue that a more embracing strategy would be to adopt play as liberal, one that should be anchored in the pedagogy of play that fosters play-based and results in the child's spontaneous development. the benefit of play-based pedagogy in child development through play-based activities, young children discover and develop their interests and abilities, learn new skills, and build their vocabulary. therefore, the process of holistic child development cannot supersede the rapport between play and play-based learning (mardell et al. 2016). the researchers believe that young children can develop much-needed life skills through play-based activities when given enough opportunities, especially access to a conducive environment and resources that support their holistic development. vogt et al. (2018) believe that the environment should allow young children to initiate and embrace play as engagement and self-actualization. the play-based approach to teaching and learning should create a greater space where young children develop holistic skills, such as sensory-motor, symbolic and construction, communication, sharing, and critical thinking, fostering creativity (duci et al. 2014). these skills make play-based pedagogy essential for young children's development since they learn to solve problems, get along with others, and develop their fine and gross motor skills (weiland & yoshikawa, 2013). the rationale for employing play-based pedagogy in ecd is that early learning needs to be based on playful activities even though the understanding of play itself varies (zosh, 2017). play-based pedagogy holds great value in developing young children early by encouraging pre-literacy and language skills, creativity, and imagination (weisberg et al. 2013). learning while playing emphasizes the practitioner's role as the one who ensures that play-based learning is appropriately facilitated for the holistic development of children (gasteiger, 2015). the development of young children requires this critical methodology, supported by pedagogical resources, during play-based learning from an early age (smidt, 2011). implementing play-based pedagogy for young children’s holistic development becomes a necessity, especially for the differentiation of learning (nilsen, 2021). play pedagogy teaches young children how to behave and constitutes social preparation for formal schooling (mardell et al. 2017). therefore play-based pedagogy is regarded as an approach that enhances a child’s holistic development through a range of play-based activities, which promotes areas like numeracy and literacy (sarkar, 2020). young children voluntarily engage in purposeful play-based activities, such as imaginative, constructive, creative, physical, solitary, and cooperative, to name a few, for their development (ali et al. 2018). from an overall perspective, play is viewed as a child-centered, directed activity with minimal adult interference for young children's maximum and holistic development. practitioner's views and play-based pedagogy on child development play-based pedagogy or play-based teaching and learning is an approach where a practitioner and a child become actively involved in various play-based activities. it is essential to know that maintaining a good relationship with a child creates a conducive environment for holistic child development as they freely participate in activities. according to voko et al. (2014), holistic development is an approach to learning that emphasizes the importance of children's physical, emotional, social, and psychological well-being in early childhood. the holistic approach requires practitioners to be well-informed of the content knowledge and the pedagogy to scaffold and direct learning on specific aspects of the environment (siraj-blatchford, 2019). pyle and danniels (2016) state that practitioners understand play-based pedagogy as an approach that encourages the facilitation of child-centered teaching and learning. a study by voko et al. (2014) revealed that practitioners in education centers are faced with ntshangase & venketsamy – practitioners’ perceptions of play-based pedagogy on … printed issn 2406-8012 152 immense pressure to achieve academic excellence; thus, implementing play-based teaching and learning is a challenge. nicolopoulou (2010) states that some parents compel practitioners to disregard play-based pedagogy in education centers and focus primarily on academic achievement compared to the effectiveness of self-exploration, skills, and values. asharai and baharuddin (2018) found that parents were more focused on academic achievements than their children's holistic development. these researchers also found that practitioners preferred books and other activities over play-based teaching and learning. although some practitioners are aware of the advantages of play-based teaching and learning, implementing the approach in the classroom can be challenging due to the demands for completing content (syllabus) and the lack of play resources (ashari & hushairi, 2019). bubikova-moan et al. (2019) argue that play-based pedagogy has a significant role in the holistic development of young children. for this reason, play-based teaching and learning should be mandated in early childhood centers. the dbe (2015) agrees with bubikova-moan et al. (2019) and has incorporated play-based pedagogy in the national curriculum framework for all early childhood education centers. pyle and danniels (2016) support play-based pedagogy that benefits the child and a practitioner that understands the role to play while facilitating teaching and learning through play. therefore, it is necessary to set up centers with relevant and age-appropriate resources to inspire children to interact, engage, and explore the available resources for their learning and holistic development. practitioners must use play-based pedagogy to connect a child’s development with their expected developmental domains. whitebread et al. (2017) state that holistic development views effective learning as experimental and explorational. practical and explorational development involves studying growth and development patterns to draw guidelines for each step and typical development (varun and pandey, 2018; siraj-blatchford et al. 2019). according to voko et al. (2014) and morrow (2011), holistic child development refers to a dynamic process that focuses on physical, emotional, social, and cognitive changes from birth to adulthood. each child develops uniquely; hence goldstein (2012) argues that providing an environment that will give young children an opportunity to imagine, explore things, and socialise is essential. despite numerous research and agreement on play-based teaching and learning, it may be challenging to implement this approach in some centers. the reason is that some practitioners may have a negative attitude towards implementing play-based teaching and learning. furthermore, they may lack knowledge or experience of play-based pedagogy and lack the necessary resources. according to dbe (2015), for ecd centers to implement play-based teaching and learning, they should create an engaging, creative, and beneficial environment for the holistic development of children. wolfgang et al. (2010) state that the safer the environment, the greater the space within which young children will develop their sensory-motor, symbolic and construction innovation of play and play activities. problem of study play-based pedagogy is an integral approach to the holistic development of young children. it aids in encouraging children to construct knowledge of the world by interacting with objects and people through play activities (samuelsson & carlsson, 2008). the introduction of ncf in 2015 in south africa envisaged enhancing and reinforcing the implementation of play-based pedagogy in centers for the holistic development of young children. the introduction of ncf brought hope to the centers that learning through play will finally be well implemented for child’s social, emotional, physical, and vol. 9, no. 2, december 2022 online issn 2503-3530 153 cognitive development. aubrey (2017) confirms that learning through play constitutes social, emotional, cognitive, and physical preparation for formal schooling. this is articulated by hassingerdas et al. (2018), who revealed that learning by young children could be informal and coincidental, which makes play a fundamental methodology in their development. however, according to solis et al. (2019), the problem is that many young children in south africa are still not fully exposed to play-based teaching and learning. there are numerous reasons for the lack of play-based teaching and learning implementation within the south african context. reasons cited for the non-implementation of play-based pedagogy are lack of knowledge and understanding of policy imperatives on play-based teaching and learning, understanding of what play-based pedagogy entails, limited resources and lack of support to implement play-based teaching and learning from departmental officials. ellison (2012) argues that play contributes significantly to the development of young children. it reinforces various skills, namely creativity, communication, sharing, teamwork, individual conduct in their community, and behavior within society. these skills are strengthened, reinforced, and enhanced through appropriately planned, designed, and timed play activities (ekeh & venketsamy, 2020). state of the art numerous studies were undertaken on the value and importance of play-based teaching and learning. weisberg, et al. (2013) viewed play-based pedagogy as an approach that involves playful and child-directed activities with a degree of adult guidance and scaffolded learning assistance. baumer (2013) reports that play-based pedagogy promotes the holistic development of children. baker et al. (2016), who researched play-based teaching and learning, state that learning through play activities is an integral part of teaching and learning for early childhood development. play reinforces a variety of skills that significantly contributes to young children's holistic development (ellison, 2012). play-based teaching and learning activities strengthen, reinforce, and enhance these skills. the dbe's view on play-based pedagogy is supported by solis et al. (2019) as an approach that allows young children to develop by exploring, taking ownership of their learning, and enjoying by utilizing stimulating resources. solis et al. (2019) solidify that the dbe (2015) initiated and encouraged using play for the holistic development of young children in centers. gap study and objective based on the explanation, it can be agreed that play-based pedagogy is integral to the holistic development of young children. children learn through play since they are actively engaged in their learning. the dbe (2015) has developed a policy emphasizing the importance of play-based teaching and learning. despite this being mandated, there are pockets of non-implementation of play-based teaching and learning. the objective of this study was to elicit the views of practitioners on play-based pedagogy and their challenges in providing support and intervention. method type and design this is a descriptive qualitative study that adopted a case study design. the study focused on practitioners in the mpumalanga province in south africa. since mpumalanga has four major districts, the researcher chose nkangala district. the researcher works as a subject advisor in the district and has access to the research sites. the researchers chose five centers from this district. these were ntshangase & venketsamy – practitioners’ perceptions of play-based pedagogy on … printed issn 2406-8012 154 purposively selected since each had an early childhood development center attached to the primary school. these centers are managed and supported by the mpumalanga department of education. data and data source the data in this study consist of transcripts of in-depth interviews and classroom observations. the data sources in this study included five (5) practitioners and 100 children between the ages 5-6 years in the respective practitioner’s classes (see tables 1). in this study, the researchers applied the following ethical principles: informed consent obtained from each participant; confidentiality – protecting the participant's information and the right to withdraw from the study without explanation. participants table 1. biographical data of the sample observation the observation used in this study was straightforward observation. the authors observed the participants during their teaching and learning. the observation included individual child and group observation (guided by the lesson and child choices and preferences of the play activities) and exploration and engagement with resources within their classroom (indoor). during the indoor activities, children were observed on how they manipulate, explore, and construct resources to develop their cognitive, emotional, and social domains. outdoor activities were also observed to understand the physical domain, including social and emotional aspects, how they communicate (socialise), and demonstrate their emotional maturity when playing with others. interviews the study used semi-structured interviews to encourage participants to communicate their views, perceptions, roles, and knowledge of the curriculum, and play pedagogy in developing young children holistically. this data collection method indicates that the researchers followed an open-ended structured questionnaire. the open-ended format allowed probing and discussion of participants' views of the phenomenon (owen, 2014). the interviews ranged from 30-45 minutes with each participant. the questions were as follows: full description code gender /race age range qualificati on teaching experience grade teaching center description number of children practitioner a pa f-b 45 level 5 18 years r community -based 20 practitioner b pb f-b 36 diploma in ecd 12 years r schoolbased 25 practitioner c pc f-b 31 diploma in ecd 11 years r schoolbased 15 practitioner d pd f-b 46 diploma in ecd 20 years r schoolbased 20 practitioner e pe f-w 43 b.ed. in preprimary ed. 20 years r schoolbased 20 vol. 9, no. 2, december 2022 online issn 2503-3530 155 data validity validity relates to trustworthiness, dependability, credibility, transferability, and conformability (creswell, 2013). to ensure the validity of the questions, the authors presented the questions to the early childhood education department academics. the purpose was to ensure that the questions were clearly articulated, elicited responses appropriately, and were unambiguous. once this process was completed, the questions were piloted with two educators who were not part of the sampled schools. regarding the validity of the data and to authenticate the dependability of this research, questions, transcripts, and voice audio recordings were analyzed and checked. trustworthiness was highly considered in this study to the degree of confidence in data, interpretation, and methods used in the research to ensure the quality of the study (polit & beck, 2014). data analysis the collected data was prepared and organized by transcribing the interviews verbatim, reviewed, and explored by identifying emerging themes or ideas (moser & korstjens, 2018). all the data collected were analyzed and organized in themes, coded, and then interpreted (maher et al. 2018). the data coding system was established into categories, and codes were assigned to the data by going through all five participants’ responses and tagging them with codes. the researcher systematically worked through each theme and sub-theme. the main and sub-themes were linked to analyzed data (azungah, 2018). the findings and recommendations were finally drawn from the themes informed by the data collected, which concluded the research study. results the following three themes emanated from the transcribed data: theme 1: practitioner’s understanding of play-based pedagogy. theme2: implementation of play-based activities for the holistic development of children. theme 3: need for support to implement play-based pedagogy theme 1: practitioner’s understanding of play-based pedagogy to elicit the participant's understanding of play-based pedagogy, the researchers asked: “what is your understanding of the term play-based pedagogy about teaching and learning in early grade centers?”. the responses varied among the participants. below are verbatim quotes from the participants regarding their understanding of play-based pedagogy. according to pa, she indicated, “play-based pedagogy refers to teaching and learning through playful activities. these activities should include games that young children like." pb agreed with pa's view that play-based pedagogy has to do with teaching and learning through play. however, she further stated that the play activity must have some educational purpose and should not be just a random game. in response to the same question, pc said, "play-based activities must be designed to ensure children are learning something educational. there is value in what they are learning through play, and this must be of benefit to their development." both pd and pe agreed that play-based pedagogy is about using fun, age-appropriate games with educational value to the child. they further stated that play-based activities must be carefully planned and should be part of the learning program in their centers. play-based pedagogy (teaching and learning) cannot be time-fillers to keep young children occupied. to ensure that practitioners understood the concept of play-based pedagogy, the researchers probed further. they asked the participants about the difference between play-based pedagogy and ntshangase & venketsamy – practitioners’ perceptions of play-based pedagogy on … printed issn 2406-8012 156 play-based teaching and learning. to this question, all participants, pa, pb, pc, pd, and pe, agreed that play-based pedagogy refers to using play in teaching and learning, while play-based teaching and learning are using games and playful activities to strengthen children's understanding of concepts taught. an example cited by pb was, "using the rhyming song to teach counting through play – onetwo, buckle my shoe, three four, knock at the door, five six, pick up stick….' according to pc she stated, play-based pedagogy refers to the methodologies used to implement play activities. when referring to play-based teaching and learning, the focus is on the activities used to teach young children and what they learn from play-activity. one example of play-based teaching and learning that i use in my class is 'shopping'. the children are given play money to buy and sell products from their shops. i try to teach my young children more and less in this lesson. when you purchase something and pay for it, your money decreases (less). through play activities, my young children can understand the mathematical concept of more and less. the researchers noted that the participants had a fair understanding of play-based pedagogy and play-based teaching and learning from the responses above. theme 2: implementation of play-based activities for the holistic development of children. since the ncf emphasises the importance of play-based activities, the researchers posed the question of the implementation of play-based activities for the holistic development of children. all the participants agreed that play-based teaching and learning are valuable to the holistic development of children. pb stated, “every day, we go outside to the jungle gym and i allow my young children to climb, hang onto the beams, crawl, hop and run about. the various activities help them to develop their muscles and coordination skills.” according to pc, she said, “at my school, we must spend half an hour on play equipment, which happens towards the end of the day. most of the activities that engage our children are sand-play, water-play and jungle gym. our activities are very coordinated and prescribed." pd’s response to the implementation of play-based activities for the holistic development of young children was children must develop holistically, and we must also remember that it is not only cognitive or intellectual development. the play activities must also encourage social development. i include play activities where children must learn to trust and depend on each other. some of the activities that i give them are team activities where they are in groups and have to rely on each other to win games. through my activities, i can pick out those children who want to share and be part of a team and those who like to play independently. simple games like 'egg hunt; pass the ball, rings games, etc.' are helpful to identify children and their social development. theme 3: need for support to implement play-based pedagogy to elicit participants' views regarding how they were supported and their need for help to implement play-based pedagogy, the authors asked participants the following question, “what kind of support do you require to implement play-based teaching and learning?” to this question, the responses varied amongst the participants. all participants, pa; pb; pc; pd, and pe, concurred that there is a need for support to implement play-based pedagogy into their teaching and learning activities. when the researchers probed further, pb stated, “we have the ncf given to all ecd centers, and this framework was not discussed with us as practitioners. we need the vol. 9, no. 2, december 2022 online issn 2503-3530 157 department officials to explain what is expected of us as practitioners to implement play-based pedagogy." according to pd, she said, “there is a need for training and development of ecd practitioners on how to implement play-based pedagogy in our classrooms." pe’s response to this question was, “i know what play is and how to integrate play into my teaching and learning – what i like to know are the kinds of educational play activities i can use.” pa also shared a similar view of pe, and she too had little knowledge of educational play. in response to training and development, there was a consensus amongst all participants that the department should plan ongoing training and development workshops for all practitioners. these workshops should be continuous, and the training should be practical and participatory so that they can engage in the activities. another major concern of most participants was the lack of resources. although they had outdoor resources for play-based teaching and learning, many of the centers had limited or no indoor resources. all the participants indicated that their schools did not have financial support to purchase educational games. according to pa, she said, “i ask my parents to donate games for our class. very few parents can buy a game and send it to school." according to pb and pd, their children come from disadvantaged communities and most of their parents are unemployed. it is challenging for the parents to support the school. pe stated, i make games for my children. i sometimes get help from primary school, making a few board games and puzzles from magazines. these games help my children develop socially, cognitively, and physically in the class. the authors observed that practitioners were taking their children outside to play on the jungle gym during the classroom observation. this was evident in all centers since they all had access to the jungle gym. although these activities were enjoyable and exciting to the children, the teacher's knowledge of the importance of these activities was limited to physical and social development. the authors asked pc, “what is the value of the ‘swinging activity?” she could state that it was for the development of the finger muscles. she further indicated that the activity would strengthen the child's finger muscles, which will help in pencil grip and handwriting. there was no explanation of the benefits of swinging activity to coordination and balance. during another observation of participant pe, the authors noticed that children were playing together in groups. they passed the ball to each other as the practitioner called out their names. when asked about the value of this game, the participant indicated that this was to develop social interaction, children getting to know each other’s names and perception skills. it was interesting to note the benefits of a simple game such as 'passing the ball' had so many benefits to the learner's holistic development. discussion theme 1: practitioner’s understanding of play-based pedagogy the findings revealed that participants had a good understanding of play-based teaching and learning. they were able to explain the differences between play-based pedagogy and play-based teaching and learning. the participants’ responses concur with pyle and danniels (2016), who articulate that play-based pedagogy means applying different teaching and learning methods using play-based activities. whitebread et al. (2017) state that play-based pedagogy encompasses all methods and necessities considered to initiate the learning process. ntshangase & venketsamy – practitioners’ perceptions of play-based pedagogy on … printed issn 2406-8012 158 theme 2: implementation of play-based activities for the holistic development of children the participants also agreed that play activities are essential for young children to develop holistically. they agreed that play helps young children develop emergent literacy and numeracy skills. their views agree with solis et al. (2019), who state that play activities allow young children to develop language and mathematical skills. in their response, the participants also indicated that play is a natural learning mode. young children engage and explore the environment to enhance their learning. this statement aligns with fleer (2015), who acknowledges that play is a powerful medium through which children develop and actively engage with the world around them (immediate environment). all participants opined that the environment significantly contributes to the young child's ability to explore and engage in a safe, conducive and stress-free environment. aronstam and braund (2016) agree that daily interaction, exploration and engagement with activities in their learning environment stimulate young children to explore and enhance their learning. according to pc, she indicated that play-based activities must be carefully planned and should make educational sense. play-based activities should not be unplanned, on-the-spot activities or time-fillers in the early grades. pc's views align with fleer (2015), who also maintains that play-based teaching and learning must be carefully planned and have educational value to the young child. all participants shared a common view that play-based activities are essential for the holistic development of young children. they agreed that educational play adds value to a child's physical, social, emotional, and cognitive development. hassinger-das et al. (2018) share similar views with fleer (2015) that play activities allow young children to interact socially with their peers. fleer (2015) and ekeh and venketsamy (2021) also opined that young children learn to understand and acknowledge different emotions through various play-based activities. he states that the learning environment can trigger mixed feelings, expressive behaviors and psychological patterning. therefore, it is crucial that through storytelling, creative arts, and life-skill lessons. practitioners should engage young children in activities that could stimulate these emotions. during the observation lessons, it was noted that practitioners often encouraged young children to work in social groups. mraz et al. (2016) believe that children learn and develop empathy while also perfecting their skills in listening, sharing ideas, expressing themselves, negotiating and learning to compromise during play. these views aligned with the findings in this study and during the interview with the practitioners. according to unicef (2018), a child’s holistic development is mainly enhanced by a well-arranged and stimulating environment that promotes learning through play to support curricular goals and objectives. all participants share this view. theme 3: need for support to implement play-based pedagogy although the department of basic education has developed the ncf, this framework was not effectively communicated and advocated by all participants. the study revealed that most participants had minimal knowledge and understanding of the framework. all participants agreed that they need ongoing professional development programs to implement play-based pedagogy. according to stirrup et al. (2017), practitioners need to be developed, supported, and visited often to ensure that policies are implemented. they state that practitioners must be guided in classroom practice. practitioners also indicated the lack of resources to implement play-based teaching and learning. the dbe supported centers with infrastructure for outdoor play activities; however, indoor play resources were seriously lacking in most centers. this was observed during the classroom observation. all participants stated that they need appropriate resources and teacher development programs to vol. 9, no. 2, december 2022 online issn 2503-3530 159 implement play-based teaching and learning. they indicated that the training and development programs should be ongoing and not once-off since short once-off programs are ineffective. conclusion play-based pedagogy and play-based teaching and learning are rapidly gaining recognition worldwide. the use of technological games developed for young children is becoming highly popular. practitioners should also consider using technological games in their ecd centers apart from physical games and outdoor equipment. in south africa, the dbe has introduced ict, and centers are encouraged to use ipads, laptops, and computer-aided teaching and learning. many digital games are uploaded for young children. the success of play-based pedagogy depends on practitioners’ knowledge and understanding of its implementation during the teaching and learning of young children. practitioners perceived play-based teaching and learning as required methods for enhancing child development. despite the ncf articulating and mandating the implementation of play-based pedagogy, there are still challenges to effective implementation at the classroom level. according to solis et al. (2019), most practitioners in south africa are not implementing play-based pedagogy or play-based teaching and learning effectively due to a lack of knowledge, skills and competencies. for this reason, there is a need for continuous ongoing professional development programs to capacitate practitioners on play-based pedagogy and play-based teaching and learning. the study was limited to one province and one district in south africa. furthermore, the participants in this study were a small sample. some of the participants answered questions very subjectively despite the assurance of confidentiality. future studies about practitioners' views on playbased pedagogy should include more participants from different districts and provinces. the centers should consist of both rural and urban centers. this study has three suggestions/recommendations. for effective implementation of play-based pedagogy, (a) the dbe should develop ongoing professional teacher development programs for all practitioners. these programs must be ongoing and continuous. (b) all centers should be appropriately resourced so that practitioners can effectively plan play-based teaching and learning activities for both indoor and outdoor classrooms. (c) both the dbe and the schools should offer support to practitioners, for example, peer or collaborative teaching, classroom observation, attending model lessons and developing a network learning community to share good practices. references ali, e., constantino, k. m., hussain, a., & akhtar, z. (2018). the effects of play-based learning on early childhood education and development. journal of evolution of medical and dental sciences, 7(43), 6808-6811.. aronstam, s., & braund, m. (2015). play in grade r classrooms: diverse teacher perceptions and practices. south african journal of childhood education, 5(3), 1–10. https://doi.org/10.4102/sajce.v5i3.242. ashari, z. m., & baharuddin, m. k. (2017). play based pedagogy in preschool: a meta analysis research. man in india, 97(12), 237-243. aubrey, c. 2017. sources of inequality in south african early child development services. south african journal of childhood education, 7(1). https://sajce.co.za/index.php/sajce/article/view/450 azungah, t. (2018). qualitative research: deductive and inductive approaches to data analysis. qualitative research journal, 18(4), 383–400. https://doi.org/10.1108/qrj-d-18-00035, 18(4): ntshangase & venketsamy – practitioners’ perceptions of play-based pedagogy on … printed issn 2406-8012 160 383-400. baker, m., krechevsky, m., ertel, k., ryan, j., wilson, d., & mardell, b. (2016). playful participatory research: an emerging methodology for developing a pedagogy of play. nine edmonton. baumer, s. (2013). play: play pedagogy and playworlds | encyclopedia on early childhood development. https://www.child-encyclopedia.com/play/according-experts/play-pedagogyand-playworlds. bubikova-moan, j., næss hjetland, h., & wollscheid, s. (2019). ece teachers’ views on play-based learning: a systematic review. european early childhood education research journal, 27(6), 776– 800. https://doi.org/10.1080/1350293x.2019.1678717 creswell, j. w., & poth, c. n. (2016). qualitative inquiry and research design: choosing among five approaches. sage publications. department of basic education (dbe). (2015). the south african national curriculum framework for young children from birth to four. pretoria: department of basic education. duci, v., tahsini, i., & voko, k. (2014). role of teachers to support individual holistic development according to the age groups. save the children’s resource centre. https://resourcecentre.savethechildren.net/document/role-teachers-support-individualholistic-development-according-age-groups/ ekeh, m. c., & venketsamy, r. (2021). ensuring child-friendly learning environments in nigerian early childhood centers. in k. s. adeyemo (ed.), the education systems of africa (pp. 677–703). springer international publishing. https://doi.org/10.1007/978-3-030-44217-0_37 edwards, s. (2017). play-based learning and intentional teaching: forever different? australasian journal of early childhood, 42(2), 4–11. https://doi.org/10.23965/ajec.42.2.01 ellison, c. r. (2012). the importance of play in early childhood education [thesis]. https://soar.suny.edu/handle/20.500.12648/5541. fleer, m. (2015). pedagogical positioning in play – teachers being inside and outside of children’s imaginary play. early child development and care, 185(11–12), 1801–1814. https://doi.org/10.1080/03004430.2015.1028393. gasteiger, h. (2015). early mathematics in play situations: continuity of learning. in b. perry, a. macdonald, & a. gervasoni (eds.), mathematics and transition to school: international perspectives (pp. 255–271). springer. https://doi.org/10.1007/978-981-287-215-9_16. gastrow, m., & oppelt, t. (2018). big science and human development—what is the connection? south african journal of science, 114(11–12), 1–7. https://doi.org/10.17159/sajs.2018/5182 goldstein, j. (2012). play in children’s development, health, and well-being. brussels: toy industries of europe. hassinger-das, b., zosh, j. m., hirsh-pasek, k., & golinkoff, r. m. (2018). playing to learn mathematics. encyclopedia on early childhood development. https://www.child-encyclopedia.com/playbased-learning/according-experts/playing-learn-mathematics. isaacs, s., roberts, n., spencer-smith, g., & brink, s. (2019). learning through play in grade r classrooms: measuring practitioners’ confidence, knowledge and practice. south african journal of childhood education, 9(1), 1–11. https://doi.org/10.4102/sajce.v9i1.704. kelly, r. s., boulin, a., laranjo, n., lee-sarwar, k., chu, s. h., yadama, a. p., carey, v., litonjua, a. a., lasky-su, j., & weiss, s. t. (2019). metabolomics and communication skills development in children; evidence from the ages and stages questionnaire. metabolites, 9(3), 42. https://doi.org/10.3390/metabo9030042 vol. 9, no. 2, december 2022 online issn 2503-3530 161 maher, c., hadfield, m., hutchings, m., & de eyto, a. (2018). ensuring rigor in qualitative data analysis: a design research approach to coding combining nvivo with traditional material methods. international journal of qualitative methods, 17(1), 160940691878636. https://doi.org/10.1177/1609406918786362 mardell, b., wilson, d., ryan, j., ertel, k., krechevsky, m., & baker, m. (2016). towards a pedagogy of play. cambridge, ma: harvard graduate school of education. morrow, v. (2011). understanding children and childhood. centre for children and young people: background briefing series, no. 1. (2nd ed.). lismore: centre for children and young people, southerncross university.. moser, a., & korstjens, i. (2018). series: practical guidance to qualitative research. part 3: sampling, data collection and analysis. european journal of general practice, 24(1), 9–18. https://doi.org/10.1080/13814788.2017.1375091. mraz, k., porcelli, a., & tyler, c. (2016). purposeful play: a teacher’s guide to igniting deep and joyful learning across the day. heinemann. nicolopoulou, a. (2010). the alarming disappearance of play from early childhood education. human development, 53(1), 1-4.. nilsen, t. r. (2021). pedagogical intentions or practical considerations when facilitating children’s play? teachers’ beliefs about the availability of play materials in the indoor ecec environment. international journal of child care and education policy, 15(1), 1. https://doi.org/10.1186/s40723-020-00078-y. owen, g. t. (2014). qualitative methods in higher education policy analysis: using interviews and document analysis. the qualitative report, 19(26), 1. pandey, s., & ashokan, v. (2018). assessment of birth order on learning abilities among late adolescent. online submission, 8(12), 649-657. pellegrini, a. d., symons, f., & hoch, j. (2014). : a methodological primer, second edition (2nd ed.). psychology press. https://doi.org/10.4324/9781410610270 polit, d. f., & beck, c. t. (2009). essentials of nursing research: appraising evidence for nursing practice. lippincott williams & wilkins. pyle, a., & danniels, e. (2017). a continuum of play-based learning: the role of the teacher in playbased pedagogy and the fear of hijacking play. early education and development, 28(3), 274– 289. https://doi.org/10.1080/10409289.2016.1220771 sarkar, d. (2020). a guide to holistic development for students. idreamcareer. https://idreamcareer.com/blog/holistic-development/ samuelsson, i. p., & carlsson, m. a. (2008). the playing learning child: towards a pedagogy of early childhood. scandinavian journal of educational research, 52(6), 623–641. https://doi.org/10.1080/00313830802497265 siraj-blatchford, i. (2009). conceptualising progression in the pedagogy of play and sustained shared thinking in early childhood education: a vygotskian perspective. faculty of social sciences papers (archive), 2–77. https://ro.uow.edu.au/sspapers/1224 smidt, s. (2010). : the role of play in the early years. routledge. https://doi.org/10.4324/9780203851999. solis, l., khumalo, k., nowack, s., blythe-davidson, e., & mardell, b. (2019). toward a south african pedagogy of play | project zero. http://www.pz.harvard.edu/resources/toward-a-south-africanpedagogy-of-play https://idreamcareer.com/blog/holistic-development/ https://doi.org/10.1080/00313830802497265 ntshangase & venketsamy – practitioners’ perceptions of play-based pedagogy on … printed issn 2406-8012 162 stirrup, j., evans, j., & davies, b. (2017). early years learning, play pedagogy and social class. british journal of sociology of education, 38(6), 872–886. https://doi.org/10.1080/01425692.2016.1182010. unicef. (2018). learning through play strengthening learning through play in early childhood education programmes. vogt, f., hauser, b., stebler, r., rechsteiner, k., & urech, c. (2018). learning through play – pedagogy and learning outcomes in early childhood mathematics. european early childhood education research journal, 26(4), 589–603. https://doi.org/10.1080/1350293x.2018.1487160. wall, s., litjens, i., & taguma, m. (2015). early childhood education and care pedagogy review: england. organisation for economic co-operation and development. http://www.oecd.org/edu/school/early-childhood-education-and-care-pedagogy-reviewengland.pdf weiland, c., & yoshikawa, h. (2013). impacts of a prekindergarten program on children’s mathematics, language, literacy, executive function, and emotional skills. child development, 84(6), 2112– 2130. https://doi.org/10.1111/cdev.12099. weisberg, d. s., hirsh-pasek, k., & golinkoff, r. m. (2013). guided play: where curricular goals meet a playful pedagogy: guided play. mind, brain, and education, 7(2), 104–112. https://doi.org/10.1111/mbe.12015 whitebread, d., neale, d., jensen, h., liu, c., solis, s.l., hopkins, e., hirsh-pasek, k. zosh, j. m. (2017). the role of play in children’s development: a review of the evidence (research summary). the lego foundation, dk wolfgang, c., stannard, l., & jones, i. (2003). advanced constructional play with legos among preschoolers as a predictor of later school achievement in mathematics. early child development and care, 173(5), 467–475. https://doi.org/10.1080/0300443032000088212. wright, t. s. (2011). countering the politics of class, race, gender, and geography in early childhood education. educational policy, 25(1), 240–261. https://doi.org/10.1177/0895904810387414. zosh, j. m., hopkins, e. j., jensen, h., liu, c., neale, d., hirsh-pasek, k., solis, s. l., & whitebread, d. (2017). learning through play: a review of the evidence (white paper). the lego foundation, dk. profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 1 supporting parents’ needs as educational partners to enhance children’s classroom learning denise miller1* & roy venketsamy2 1,2university of pretoria *email: roy.venketsamy@up.ac.za submitted: 2022-05-06 doi: 10.23917/ppd.v9i1.18227 accepted: 2022-06-27 published: 2022-07-06 keywords: abstract parents; home-school partnership; communication; learner support parents are essential in supporting their children's learning and development. parental support to young learners include helping their children with homework, school projects, collaborating with the teachers, participating in school events and school governance. this study argues for strengthening an inclusive home-school partnership to effectively support their learners. the focus of this study was to explore the parents-school partnership in supporting children's learning. the research applied a qualitative approach using a semistructured online interview questionnaire via google forms. fourteen (14) parents met the inclusion criteria, and interview forms were used in the analysis. the study found that most south african parents have minimal knowledge and understanding of how to support their children’s learning. there is a lack of communication and partnership between the school and home. this will ensure appropriate communication and participation of parents in the school activities. schools should recognise that the south african context is diverse and should be inclusive in their policies to accommodate all parents. school governing bodies should be enabled to foster the relationship between the schools and parents since they are representative of the parents. the results showed that to strengthen the home-school partnership, schools must be conscious of applying principles that will advocate for inclusiveness and the recognition of the diversity of the parent population. introduction background parents have an essential role in supporting their children's learning and development, and this support is even more crucial and significant when their children enter mainstream schooling. hoglund et al. (2015) highlight that parental support to young learners includes http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:roy.venketsamy@up.ac.za miller & venketsamy – supporting parents’ needs as educational partners… printed issn 2406-8012 2 several elements: helping their children with homework, school projects, working in collaboration with teachers, participating in school events, and school governance. furthermore, hoglund et al. (2015) agree that parental involvement in schooling is a multidimensional construct that refers to the engagement of significant caregivers in their children's education at home. the authors believe that the working relationship or partnership between the school and parents is imperative in supporting children to achieve their optimal potential. this is clearly articulated in the south african constitution, the bill of rights section 28 and 29 about children's rights to education. the bill further stipulates that the state should ensure children's rights are implemented (the constitution of the republic of south africa, 1996). the notion of the school as a social construct is a crucial element in this article; it assists in locating the core argument of how parents can be empowered to participate in their children's education. according to subedi (2014), there has to be a distinction between the school as the insular, individualised institution; and the school as a community that embraces its transformational role and, therefore, parents and other stakeholders as partners. rogers (2017) agrees that the school is a social construct that promotes the learning and participation of stakeholders. to achieve this partnership, the school must be differently organised, dismantling separation and nurturing cooperation beyond the classroom wall and the school's physical boundaries (rogers, 2017). through this thinking, parents can fulfil their critical role in supporting their children with learning activities. there is consensus (baumrind, larzelere & owens, 2010; epstein, 1986; epstein et al., 2018) that parents are the first educators and mentors of their children. for this reason, it will be essential to enable and empower parents to support their children to enter formal schooling and straddle the culture of acquiring knowledge and skills in school in comparison to the learning at home. empowering parents with the capability to support learners will be particularly important if rogers' argument is followed, that the school, in its current format, is constructed to offer a curriculum 'as a one-size-fits-all intervention' (rogers, 2017). problem of study parents are often called to the school and asked why they are not supporting their children at home. too often, parents indicate that they are unaware of how to help their young learners to learn. le mottee (2016a) observes that little has been done to contribute to parental development, even though the parental capacity building is crucial for transforming the early childhood development sector; by implication, early childhood education (ece). this argument is supported by lemmer and van wyk (2004), le mottee (2016b) and walton (2011) that parents must be provided with the necessary knowledge and skills if they are to support their children's learning activities at home. therefore, this study sought to investigate how parents can be empowered to support their children and enhance home-school partnerships effectively through qualitative analysis. this is generally an essential topic in educational research, as numerous studies have shown an association between parental involvement and children’s educational achievement. this is a south african case study contextualised within gauteng province (one of the nine provinces in south africa). gauteng has 12 education districts and this study took place in one districts, the tshwane south district. this choice was because the researcher was granted permission to work in this district since she resides within the educational zone. state of the art a crucial role of parents is the support they give their children once they enter the formal schooling system. the revised white paper on families in south africa 2021 (republic of south africa [rsa], 2021) recognises the importance of the parental role in education and makes an emphatic statement in this regard. the white paper states that the family is vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 3 indispensable for education. peterson (2009) espouses that when parents are actively and positively involved in their children's lives, particularly in educational activities, learners will be rewarded by achieving higher academic results. castro et al. (2015) recognised that active parental participation in the education of young learners could have a broader impact on children's later life. gap study & objective it is assumed that most parents are fully aware of how to support their young children's learning at home. this study, therefore, investigated what support parents need to strengthen their competencies and skills to help young learners in the home-school partnership. the authors, therefore, focused this article on exploring the critical responsibilities of parents in supporting their children and how they collaborate in partnership with schools to ensure quality support for their children. for this reason, the following research questions were developed to guide this study, 'what support do parents require to form partnerships with schools to support their young learners? and 'how can parents and schools work collaboratively to support young learners to enhance their academic achievements?' the significance of this study is that it will empower and capacitate parents with fundamental skills to support their children at home. method type and design the qualitative interpretivism paradigm was the most appropriate method to conduct this study. the qualitative interpretive paradigm allowed the researchers to acknowledge the multiple realities shared by the participants of the same phenomenon. according to deforge and shaw (2012), qualitative researchers also operated under different ontological assumptions about the world. the biographical data of the participants are displayed in table 1. data and data sources table 1. biographical data of the sample parent no gender age range no of young children grade of child occupation qualification p1 male 36-45 2 r personal administrator grade 12 p2 female 26-35 1 2 event manager tertiary diploma p3 female 26-35 2 2 chef tertiary diploma p4 female 26-35 2 1 customer service grade 12 p5 female 36-45 3 2 admin officer degree p6 female 36-45 2 r team assistant tertiary diploma p7 male 36-45 2 2 director grade 12 p8 male 46-56 2 r medical doctor doctorate p9 female 26-35 3 1 project manager degree p10 female 46-56 2 1 health administrator tertiary diploma miller & venketsamy – supporting parents’ needs as educational partners… printed issn 2406-8012 4 parent no gender age range no of young children grade of child occupation qualification p11 female 56+ 2 r operating manager government honours p12 female 46-56 2 2 lecturer masters p13 male 36-45 2 2 senior management degree p14 female 26-35 2 2 housewife tertiary diploma the authors used purposive sampling as a technique to identify the participants. purposive sampling, also known as judgmental, selective, or subjective sampling, is a form of non-probability sampling in which researchers rely on their judgment when choosing members of the population to participate in their surveys. a sample of 14 parents agreed to complete the online questionnaire and these questionnaires were emailed to each of the parents. as per the inclusion criteria, only parents who had children in grades r, 1 and 2 could participate by completing the online questionnaire. more females (ten) participated in the study compared to four males. the ages of the parents were between 26 and 55 years. only one parent indicated an age of more than 55 years. the authors believed that the sample size was adequate to understand the phenomenon in-depth. based on the occupational profiles of the parents, it is evident that parents' occupations varied across the participants. parents indicated they were housewives, administrators, chefs, events managers, directors, lecturers, and medical doctors. all parents completed minimum grade 12 education and indicated they are very competent in speaking, reading and writing english. most participants indicated that they have at least two young children in their families. their children are in either grades r, 1 or 2. data collection technique data was collected using a semi-structured online interview questionnaire. the questionnaires were distributed using the google forms platform. this gave access to the participants in this study and encouraged parents to write their experiences. participants could respond to close and open-ended questions by relaying their experiences. data analysis the data were analysed using the thematic approach (guest et al., 2012; creswell, 2014). the authors compared multiple data sources, searching for common themes (creswell, 2014). to ensure that the data was correct and without misinterpretation, post transcription member checking took place (maree, 2016). the ethical consideration of this paper included obtaining informed consent and maintaining anonymity, confidentiality, privacy, and avoidance of betrayal and deception to meet the ethical code of conduct requirements. ethics clearance was obtained from the university of pretoria's ethics committee. result based on the data generated and analysed, the following themes emerged: 1) school as a social construct; 2) the partnership between home and school; 3) involvement of parents in the education of their children. vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 5 school as a social construct as indicated, the school as a social construct is a crucial element of this study. it highlights the core argument of how parents can be empowered to participate in their children's education (vincent, 2013). to elicit parents' understanding of the school as a social construct, the authors aimed to explore parents' perceptions of the school their young children attended. participants p1, p2, p6, p8, p11 and p14 agreed that their children's school accommodated their learning needs. furthermore, p1 agreed that "the school has a good ethos of teaching and learning. they follow the prescribed caps curriculum from the department of education". p2 indicated, “the school leadership and management are well organised and there are policies and procedures for school management and parental support. the school has a good control system regarding curriculum coverage and communication with parents and other stakeholders. the principal is keeping abreast with the latest developments in education by attending workshops and training sessions.” both p6 and p8 agreed that the schools their young children attend keep parents well informed on the activities at the school. their schools have established a good working relationship with all parents and their school's academic track record is evident in the high success rate. although most parents praised and acknowledged the schools their young children attended, some believed there were areas in which the schools could improve. p1 stated, "i feel that the school sometimes expects too much from me, especially in terms of homework which my child comes home with. i can understand that my child is attending school every alternative day due to covid, but that does not mean that i will have to teach my child at home”. p12 believed that the school could improve her young child's quality of education. she responded: “i feel that the activities that my child brings home are sometimes too simple and not age-appropriate. i find my child doing more colouring activities than actual mathematics. teachers need to plan age-appropriate activities, for example, problem-solving math”. p13 had a very positive view of the school: “i found the teachers and management of the school very interactive. the curriculum is great for my kid; it positions any learning material that creates an independent way of reading/solving and interpretation. safety during this trying time is being put first and they take into account onlearning without ’burdening’ parents”. partnerships between home and school a home-school partnership is built on a healthy relationship between the school and the parents. the second key theme for this study was to ascertain the nature and value of the collaboration between the home and school in supporting children's academic achievements. in this regard, the participants had diverse opinions of how they identified their relationship with the school. p2 identified it as "good, lots of clear and concise communication with the school.” it was noticeable that this parent also had easy access to the registered teacher “i have regular conversations with my child’s teacher regarding his progress and we can address any difficulties immediately.” equally, p7, p9 and p13 identified that they have interactive relationships with the schools and that communication is encouraged and welcomed. all three participants alluded that they have transparent communication with the school these parents indicated that they had good communication experiences with the school. they identified that the communication was transparent and that they could communicate with the teacher directly via email. it was noted that the schools also encourage communication between parents and the 'register' teacher. the registered teacher is the class teacher. parents found that the communication was regular and they could raise issues regarding their children's miller & venketsamy – supporting parents’ needs as educational partners… printed issn 2406-8012 6 academic programme and development. they experienced the teachers to be open and transparent. communication is fundamental in establishing home-school partnerships. often, language can be a barrier to accessible communication between home and school (hajisoteriou & angelides, 2016). it was evident from the responses that only some parents experienced transparent communication and a sense of welcoming interaction between the school and parents. in this regard, the reactions from p1, p6 and p 11 provided a different impression indicating the lack of home-school relationship and communication. p1 responded: "we have very minimal contact with the school. we try to look at our child's book to see his work. this is a challenge for the parents to determine what they are busy with from the child's book and determine what he is struggling with." a critical concern is a response from p11, who indicated: "i have had a few run-ins predominately about how they handled a bullying incident. i was not immediately contacted and had to call the school to find out what happened. i was very concerned about the safety of my child." on the other hand, some participants indicated they have no home-school relationship. to this extent, p6 related that she had no working relationship with the school except through report cards and school notices. it was difficult for her to communicate with the school as they have strict communication rules. whatsapp messages are only allowed during certain hours and because she is working, she cannot easily have a continuous telephone conversation or whatsapp conversation. sometimes the response from the teacher can also be dismissive. open communication between the school and parents is critical in establishing a homeschool relationship. it is recognised that communication between the school and parents is vital in establishing the home-school partnership, mainly focusing on supporting the child's learning. although most parents indicated that they also speak english at home, it may not necessarily be their first language. hajisoteriou and angelides (2016) acknowledge that language barriers can impede communication from the parents to the school. parents were asked to comment on their communication with the school, specifically focusing on their children's academic progress. the responses revealed the limited functional home-school relationships. most parents responded that they have limited to no conversations regarding learners' academic progress with the school. three reactions of p3, p4 and p14 stood out. p4 responded that the communication happens incidentally: "they never do; i was only told when they saw me coming to pick him up from school on the last day of the school. i was so shocked as i thought the issues the teacher raised could have been addressed during the school term. it saddened and made me angry. if she did not see me, i would not have had the conversation with her." on the other hand, p3 stated: "the school very much communicates with me. it is about assisting my child with either his words or with counting. i get instructions to help my son but no guidance on how i must do it. sometimes he gets frustrated with my way of helping him." equally, p14 stated: “the teachers communicate weekly with the parents on the development of the children, indicating what they are doing well, the progress on issues they were struggling with and advice on what we as parents have to help with. the teachers don’t tell me how to do it.” most participants used words like, ’rarely’, “when reports are given’, and 'once a term, to describe their interaction with the school. this indicates that communication regarding children's academic challenges and progress remains mainly in the formal communication arena related to reporting cards. it also means that their communication with parents is relegated to only once a term when the report cards are distributed. as indicated by p4, this does not mean that teachers and parents are meeting to discuss the report cards, which is vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 7 only part of the once-per-year teacher-parent meeting. if such a meeting is needed, the parents must request it as indicated by p13. involvement of parents in the education of their children a key theme for this research was to determine whether parents were involved in their children's education. it was also to explore how schools responded to the capacity-building needs of parents to support their children's learning. p10 indicated that they pay for extra lessons for the child. p10 responded: "when we were reading with my child, i realised that he liked drawing the characters and was good with it. i then decided to send him for additional art classes. he made quite remarkable progress." the responses revealed a lack in terms of enablement initiatives in schools. most participants responded negatively, with only p7, p9 and p12 indicating that there were interventions from the school's side to enable parents to support their children. this lack of home-school relationships is concerning as it is one of the transformational tenets of the south african schooling system (badat & sayed, 2014; le mottee, 2016 b). according to p6, parents were oriented on checking children's work for the day and consolidating the learning. p7 responded: "by checking if he understands everything he learned at school. i try my best. it seems i am doing something right, as shown in his first term results". the parent, however, did not indicate how the ‘checking’ happens and whether they got clear guidelines on how to do ‘checking’ of the subject areas. the response from p8 is slightly more revealing of the kind of support the school provided parents with. as indicated by p8: “although i marked yes, it is a text instruction from teachers on certain areas. i try to follow this at home but sometimes i get stuck as it’s not also useful or clear.” the response from p12 indicates an individualised intervention by the teacher rather than an institutionalised approach to parental enablement. p12 responded: "feedback sessions inform us of areas that need focus for development or attention. our interaction at home is based on or informed by those areas. we focus then on specific areas and see positive results in our child's development. it works for us at the moment." most parents responded with an emphatic "no". they indicated that they had very little to no conversations with their teachers on their children's academic progress. these conversations are only made at the end of the first term with the school report. the schools set up an afternoon for parent-teacher meetings, which means the conversations are short and kept to a minimum to allow all the parents to speak to the teacher. as can be deduced from the three parents who had some enablement from the school, such interventions have not yet been institutionalised. seemingly, it is done more on an individualised basis, depending on the individual child's performance. rogers (2017) and epstein (1987) argue that this should be an institutionalised programme with the necessary enablement, such as human and financial resources allocated to plan and implement homeschool relationship programmes. the responses from parents affirm the argument by singh and mbokodi (2011) that parents are willing to support their children's learning. the authors agree that this often is not supported by the propensity of the school and the teachers towards parents. i believe parents want to be empowered to support their children. it is evident from the responses that parents are willing to take full responsibility for supporting their children. as indicated by p5's reaction, parents recognise their commitment: "parents must help educators because it is our responsibility to see that the child performs well and understands what they're being taught. besides, charity begins at home." miller & venketsamy – supporting parents’ needs as educational partners… printed issn 2406-8012 8 this negates the findings from munje and mncube (2018), indicating that parents have neither the will nor the intellectual ability to support their children's learning. the authors shared this conviction with p5 that parents have a sense of responsibility for supporting their children. the authors also concur with p8 that not knowing how to support your child with specific learning content often creates frustration and difficulty between the parents and child. it ultimately influences the home-school relationship when there is no response from the school to the requests made for support, which may give the school the impression that parents are unwilling to participate. the reactions from p9 illustrate this sentiment: "as a parent, i do not have confidence in my ability to teach this to my kids, and it worries me that they could be disadvantaged." equally, p14 responded: “parents don’t always have a lot of time to do homework with their kids, and they may not understand how to do the homework adds to more frustration.” the comments from p8 contextualise the predicament of parents trying to support their children's learning when she responded as with many things in parenthood, you only learn from your childhood and upbringing with all its faults and outdated or apparent successes. so, you apply to your children what you think worked for you. however, they are so different in a different system and world. so, you try and fail, and now and then succeed. the school could perhaps teach us some basic and up-to-date skills and how to adjust them to your child. a few examples of where i'm unsure or lost homework, how to explain the material to a child, how to respond to errors, what to strive for (a 100% correct or 50%), i.e. strive for perfection or focus on what he got right, how to deal with own frustrations. as a parent, i can relate to this as my child often told me: "that is not the way the teacher did it." or "you don't do it the same way the teacher did it". fitriah et al. (2013) and segoe & bisschoff (2019) acknowledge these comments from parents. it is not that parents do not want to be involved, but they realise that learning content has evolved, and they do not necessarily feel confident enough to help their children without assistance from the school. several parents indicated how schools could use online platforms to support them. p2 and p9 provided ideas on how parents can be supported via online media. as stated by p2, “if i know what work my child must master and complete, i will appreciate tips from the teachers on how to help the kids and also how to motivate them to learn their work. the teachers can give us these tips as they go through the job. when they start with new words, they can tell us how we need to drill these words with our child and what to look out for and how to correct mistakes. this they can post on the class whatsapp group then all the parents can do the same thing.” p9 responded, “i think teachers can send support videos where they teach the core concepts. they can also show us what to look for, for example, when my child is learning words or writing simple sentences or sums, and i can then refer to how the teacher is doing it.” although more conservative in their responses, other parents acknowledged their need for support and made practically sound suggestions on how they think the school can support them. to this extent, p10, p12 and p13 suggested that the school can have workshops once a term where the teachers provide information on the work to be covered for the term and then work with parents on how to support their children. having this knowledge, parents feel that they will be empowered to track their children's performance. they will also be able to check whether their children have mastered a particular piece of work. p6 expanded on this suggestion, adding that when parents do this, they can identify what the child is struggling with and determine whether the child needs additional help, for example, tutoring or any life skill. vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 9 discussion according to vygotsky (1929), the school as a social construct is shaped by the policy and the political and social agenda. it defines the curriculum and how children and their families engage in and with the curriculum. school or education is offered as a social instrument and a means to obtain success and move beyond the current social and financial status (orozco, 2015). getting the parents' perspectives on their children's schools was essential. rogers (2017) agrees that the school as a social construct is in partnership with the parent community. he further states that the school, as a community, should embrace parents and stakeholders to unite as a whole system rather than in fragmented pieces. he believes that the school as a social construct should promote a conducive learning and development space for parents and learners. the authors agree with rogers (2017) that although the school plays a significant role in the education of their children., equally parents, too, have a responsibility to ensure that they support the school to provide quality education. although most parents believed that their young children's schools were good, some parents thought they were burdened with helping their children with too much homework. according to caño et al. (2016), epstein et al. (2007) and hoglund et al. (2015), it is expected that parents' comments express satisfaction or concern about the attention given to the academic programme. according to my experience, a significant amount of attention is given to how well the school is organised and managed. a minor critique is given to the teachers' class organisational skills. however, this may not indicate the quality of teaching and learning in the same classroom. the importance of the teacher-parent relationship is recognised in government policy documents (deewr, 2008). the school is expected to approach parents to become involved and guide them in entering and participating in such relationships (epstein, 2018; epstein et al., 2018; epstein & van voorhis, 2002). therefore, the school must establish appropriate communication channels with parents to ensure and foster a positive home-school relationship. the authors believe that processes of how this relationship can be fostered and implemented are not pre-determined but are determined through collaboration and mutual agreement between parents and the school. the data confirmed, as posited by ellis et al. (2015), santana et al. (2016) and taylor (2015), that parents have different perspectives on their relationship with schools. in my opinion, parents tend not to be publicly critical of their children's schools. their responses in this regard were tentative as if they did not want to acknowledge the difficulty in their relationship with the school assertively. this was discernible from their responses as their comments either started or finished with "the relationship is good", as indicated by p1 and p11. singh and mbokodi (2011) and nelson (2019) found that parents want to be involved but often lack confidence, and the terms for parental involvement are then entirely determined by the school. the authors can relate to the comments of the parents. notwithstanding the difficulty i had with the school in supporting my child's learning, my choices were limited as a parent, and it was better not to disturb the little relationship i managed to establish with the class teacher. the responses from participants support stitt and brooks’ (2014) and antony-newman’s (2019) arguments that the conversation from the school with parents is steeped in the standardised measurement of children's achievement and, therefore, the communication primarily relates to academic report cards. i agree with georgis et al. (2014) that parents want to have a sense that the schools recognise them as having the ability to make meaningful inputs to their children's learning. the varied nature of such relationships does not diminish the importance of what? thereof. it is also acknowledged by ellis et al. (2015) that parents and teachers can view the relationship differently. this happens as teachers miller & venketsamy – supporting parents’ needs as educational partners… printed issn 2406-8012 10 are regarded as the professional partners and parents as the laypersons, with the related power tension present (santana et al., 2016). the authors believe that schools have not yet formalised and institutionalised development interventions guiding parents on how to support their children's learning. as demonstrated by the responses from p2, p4 and p14, the interactions are with the individual parents only. according to stats south africa's (2018) reading and literacy study, approximately half of south african children attend daycare or educational facilities. the study further found that most children in this age group do not read, draw or tell stories with their parents (stats sa, 2018). the finding of the stats sa statistic was further affirmed by the progress in international reading literacy study (pirls) 2016 report. this report placed south african grade 4 learners' reading ability last out of 50 countries (howie et al., 2017). although the pirls study focused on grade 4, the authors assume that learners have developed a foundational reading competence from grades r–3. contrary to this finding, parents in the research sample indicated that they read to and with their children. they also attempt to help their children with phonics, and some parents help them with numeracy. the closure of schools due to the outbreak of the covid-19 pandemic forced parents to adopt an active role in the education of their children; thus began homeschooling. dimopoulos et al. (2021) agree that across the world, education systems responded rapidly to this crisis by creating homeschooling and online educational environments so that young children do not miss out on their education. bubb and jones (2020) agree that parents have to shoulder a higher degree of responsibility in the education of their children. despite parents having to shoulder the responsibility of home-schooling, they also experienced challenges such as content knowledge of the curriculum, use of technology, socio-economic conditions and a balance between working from home and home-schooling (calear et al., 2022). most parents indicated that they received no training or formal guidance from the school to support their children. all parents agreed that they needed guidance to help their children. firstly, parents acknowledged that they must be enabled and empowered to participate in the home-school relationship. parents were transparent in the responses about their lack of knowledge of how to support their children's learning. secondly, they clearly articulated how they can be supported and offered different ideas on how the school can facilitate this. their suggestions considered parents' schedules and acknowledged the use of electronic communication in supporting parental enablement initiatives by the school, as argued by singh and mbokodi (2011). the authors agree with parents that the knowledge of the learning content throughout the term is helpful. for example, schools communicated regularly with parents when children could not physically attend school due to the covid-pandemic and the restriction of movement (department of cooperative governance, 2020). communication was biweekly via sms or whatsapp parent groups, and parents could track the child's work progress, challenges and achievements. the directives supported these communication initiatives on continuing education during covid–19 (department of basic education, 2020; macupe, 2020). the authors agree with singh and mbokodi (2011) and michael et al. (2012) that schools often undermine parents' willingness to participate in their children's education. they do not see a continuity between the learning at home and what happens at school. vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 11 conclusion there should be a close parent-school partnership to strengthen and support the school. this partnership should be based on mutual trust, respect and acknowledgement. this study found that school and home communication has been irregular and often intermittent. schools only communicated with parents when they wanted to retain a learner in a particular grade. the study also found that no proper structure in the school can champion the required changes in communication. for this reason, the study recommended that the following home-school partnership be designed by applying a more inclusive propensity to refute the school's values and culture of exclusivity. the homeschool partnership must be conscious of applying principles that will advocate for inclusiveness and the recognition of the diversity of the parental population of the school. furthermore, it is recommended that home-school partnerships be formally established and appropriate systems and policies should be in place regarding communication between teachers and parents. the study was limited to only one district in gauteng province; therefore, the authors believe that the findings could vary in the study were conducted in other districts within gauteng province. supporting parents’ needs as educational partners to enhance children’s classroom learning opens the field for studies and practices on policy implementations. the results of this study can be taken forward through action research and experiential learning studies focusing on the following: 1) development of the home-school partnership model, testing through pilot studies and determining from these pilot studies the workability of such a partnership in the south african context; 2) the department of basic education and the department of cooperation and governance are working with teachers and subject advisors to develop clear and straightforward formulated tools and tips aligned to the dominant teaching methodologies for a parent to use at home to support learning. references antony-newman, m. (2019). parental involvement policies in ontario: a critical analysis. school community journal, 29(1), 143–170. https://eric.ed.gov/?id=ej1220084 badat, s., & sayed, y. (2014). post-1994 south african education: the challenge of social justice. the annals of the american academy of political and social science, 652(1), 127–148. https://doi.org/10.1177/0002716213511188 baumrind, d., larzelere, r. e., & owens, e. b. (2010). effects of preschool parents’ power assertive patterns and practices on adolescent development. parenting, 10(3), 157– 201. https://doi.org/10.1080/15295190903290790 calear, a. l., mccallum, s., morse, a. r., banfield, m., gulliver, a., cherbuin, n., farrer, l. m., murray, k., rodney harris, r. m., & batterham, p. j. (2022). psychosocial impacts of home-schooling on parents and caregivers during the covid-19 pandemic. bmc public health, 22(1), 119. https://doi.org/10.1186/s12889-022-12532-2 caño, k. j., cape, m. g., cardosa, jacient mar, miot, c., pitogo, g. r., quinio, c. m., & merin, j. (2016). parental involvement on pupils’ performance: epstein’s framework. the online journal of new horizons in education, 6(4), 143–150. castro, m., expósito-casas, e., lópez-martín, e., lizasoain, l., navarro-asencio, e., & gaviria, j. l. (2015). parental involvement on student academic achievement: a metaanalysis. educational research review, 14, 33–46. https://doi.org/10.1016/j.edurev.2015.01.002 constitution of south africa, (1996). creswell, j. w. (2014). research design: qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. sage. deforge, r., & shaw, j. (2012). backand fore-grounding ontology: exploring the linkages miller & venketsamy – supporting parents’ needs as educational partners… printed issn 2406-8012 12 between critical realism, pragmatism, and methodologies in health & rehabilitation sciences: backand fore-grounding ontology. nursing inquiry, 19(1), 83–95. https://doi.org/10.1111/j.1440-1800.2011.00550.x dimopoulos, k., koutsampelas, c., & tsatsaroni, a. (2021). home schooling through online teaching in the era of covid-19: exploring the role of home-related factors that deepen educational inequalities across european societies. european educational research journal, 20(4), 479–497. https://doi.org/10.1177/14749041211023331 department of co-operative governances, disaster management act. (2020). amendment of regulations issued in terms of section 27(2). pretoria. government printers. department of basic education. (2020). standard operating procedure for the containment and management of covid-19 for schools and school communities. pretoria. government printers department of education, employment and workplace relations (deewr). (2008). familyschool partnerships framework: a guide for schools and families. australian government, [canberra, australian capital territory]: department of education, employment and workplace. ellis, m., lock, g., & lummis, g. (2015). parent-teacher interactions: engaging with parents and carers. australian journal of teacher education, 40(5). https://doi.org/10.14221/ajte.2015v40n5.9 epstein, j. l. (1986). parents' reactions to teacher practices of parent involvement. the elementary school journal, 86(3), 277-294. epstein, j.l. (1987). toward a theory of family-school connections: teacher practices and parent involvement. in k. hurrelmann, f.x. kaufmann & f. lösel (eds.), social intervention: potential and constraints. walter de gruyter. pp. 121-136. epstein, j.l. (2018). school, family, and community partnerships: preparing educators and improving schools. london: routledge. epstein, j.l., sanders, m.g. & sheldon, s.b. (2007). family and community involvement: achievement effects. retrieved december 10, 2010. epstein, j. l., sanders, m. g., sheldon, s. b., simon, b. s., salinas, k. c., jansorn, n. r., greenfeld, m. d. (2018). school, family, and community partnerships: your handbook for action: corwin press. epstein, j. l., & van voorhis, f. e. (2000). teachers involve parents in schoolwork (tips) interactive homework training materials [overhead transparency packet] fitriah, a., sumintono, b., subekti, n. b., & hassan, z. (2013). a different result of community participation in education: an indonesian case study of parental participation in public primary schools. asia pacific education review, 14(4), 483–493. https://doi.org/10.1007/s12564-013-9275-8. georgis, r., gokiert, r. j., ford, d. m., & ali, m. (2014). creating inclusive parent engagement practices: lessons learned from a school community collaborative supporting newcomer refugee families. multicultural education, 21, 23–27.. guest, g., macqueen, k. m., & namey, e. e. (2011). applied thematic analysis. sage publications. hajisoteriou, c., & angelides, p. (2016). promoting immigrant parental involvement in culturally-diverse schools through a multiple perspectives approach. international journal of pedagogies and learning, 11(2), 145–162. https://doi.org/10.1080/22040552.2016.1227254 hoglund, w. l. g., jones, s. m., brown, j. l., & aber, j. l. (2015). the evocative influence of child academic and social-emotional adjustment on parent involvement in inner-city schools. journal of educational psychology, 107(2), 517– 532. https://doi.org/10.1037/a0037266. howie, s., combrinck, c., roux, k., mokoena, m. and mcleod palane, n., (2017). south vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 13 africa grade 4 pirls literacy 2016 highlights report: south africa. pretoria: university of pretoria. lemmer, e., & van wyk, n. (2004). schools reaching out: comprehensive parent involvement in south african primary schools. africa education review, 1(2), 259– 278. https://doi.org/10.1080/18146620408566284 le mottee, s. (2016a.) overview of national integrated policy for early childhood development 2016. le mottee, s. (2016b). transforming the ecd sector: a national integrated policy for early childhood development. change4children lab. university of cape town. accessed july 20, 2018. macupe, b. (2020). parents owe it to their children to take part in how schools are run. mail and guardian. 6 december. maree, k. (2016). “planning a research proposal,” in first steps in research, 2nd edn, ed k. maree (pretoria: van schaik publishers), 49–70. mbokodi, s. m., & singh, p. (2011). parental partnerships in the governance of schools in the black townships of port elizabeth. perspectives in education, 29(4), 38–48. https://www.ajol.info/index.php/pie/article/view/76991. michael, s., wolhuter, c.c. & wyk, n.v. (2012). the management of parental involvement in multicultural schools in south africa: a case study. ceps journal, 2(1): 57-82. munje, p. n., & mncube, v. (2018). the lack of parent involvement as hindrance in selected public primary schools in south africa: the voices of educators. perspectives in education, 36(1), 80–93. https://journals.ufs.ac.za/index.php/pie/article/view/3585 nelson, m.l. (2019). parents' perceptions about parent involvement in an elementary school. doctoral dissertation. minnesota: walden university. orozco, a. (2015). the social construction of education. retrieved april 24 2020, 2020, from https://prezi.com/po25noqwkrk5/the-social-construction-of-education/ peterson, r. (2009). families first: keys to successful family functioning. retrieved july 21 2019, from www.ext.vt.edu the republic of south africa. (1996). constitution of the republic of south africa. pretoria. government printers the republic of south africa. (2021). the revised white paper on families in south africa. pretoria. government printers. bubb, s., & jones, m.-a. (2020). learning from the covid-19 home-schooling experience: listening to pupils, parents/carers and teachers. improving schools, 23(3), 209–222. https://doi.org/10.1177/1365480220958797 santana, l., rothstein, d. & bain, a. (2016). partnering with parents to ask the right questions: a powerful strategy for strengthening school-family partnerships. alexandria, united states: association for supervision & curriculum development. segoe, b. a., & bisschoff, t. (2019). parental involvement as part of curriculum reform in south african schools: does it contribute to quality education? africa education review, 16(6), 165–182. https://doi.org/10.1080/18146627.2018.1464692. statistics south africa (stats sa). (2019). families and parents are key to the well-being of children. available at http://www.statssa.gov.za/?p=1438. accessed on november 9 2021 stitt, n. m., & brooks, n. j. (2014). reconceptualizing parent involvementparent as accomplice or parent as partner? schools, 11(1), 75–101. https://doi.org/10.1086/675750. subedi, b.p. (2014). the transformative role of educational institution: a case study of a rural community school of nepal. paper presented at the 5th education for rural transformation (ert) international symposium organized by kathmandu university miller & venketsamy – supporting parents’ needs as educational partners… printed issn 2406-8012 14 and stockholm university rogers, e. (2017). school is a social construct learning is not. retrieved from https://prezi.com/po25noqwkrk5/the-social-construction-of-education/ taylor, s. (2015). use of role and power in parent-teacher relationships: perceptions from the parent perspective. dissertations and theses. https://doi.org/10.15760/etd.2321 vincent, c. 2013. parents and teachers: power and participation. routledge. vygotski, l. s. (1929). ii. the problem of the cultural development of the child. the pedagogical seminary and journal of genetic psychology, 36(3), 415–434. https://doi.org/10.1080/08856559.1929.10532201. walton, e. (2011). getting inclusion right in south africa. intervention in school and clinic, 46(4): 240-245. profesi pendidikan dasar http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © the author(s). 2021 this work is licensed under a creative commons attribution 4.0 international license 93 analysis of the implementation of 21st-century skills based on 2013 curriculum in primary level karisma anggun surya1, ika candra sayekti1*, siti rahaimah binti ali2 1universitas muhammadiyah surakarta, surakarta, indonesia 2universiti pendidikan sultan idris, tanjung malim, malaysia *email: ics142@ums.ac.id submitted: 2021-11-13 doi: 10.23917/ppd.v9i1.16293 accepted: 2022-04-07 published: 2022-07-31 keywords: abstract 21st-century skills; 2013 curriculum; learning; elementary school this study aimed to describe the integration of 21st-century skills in implementing the 2013 curriculum at an indonesian islamic elementary school and the challenges and solutions associated with implementing 21st-century skills at the islamic elementary school. this study utilised a qualitative research and case study research design. interviews and documentation were used to collect the data. triangulation of methods and sources was utilised to validate data. in the meantime, data analysis was conducted using comparative analysis. the results of this study indicated that the integration and implementation of 21st-century skills at the islamic elementary school had been comprehensively carried out; however, several obstacles still need to be overcome. it is hoped that this research can serve as an overview of the implementation of 21st-century skills in schools so that any necessary improvements can be made to the learning process. this study implies that decision-makers in indonesia should expand the knowledge and understanding of teachers regarding 21st-century skills. the current study reveals the implementation of 21st-century skills in primary education. introduction background the unesco survey on the educational quality of developing countries in the asia-pacific region showed that the quality of education in indonesia remained poor and ranked 10th out of 14 countries (geotimes, 2015). the low quality of education can be seen from the implementation of the curriculum and teachers’ readiness to apply it on learning process. the curriculum is the means for achieving the purpose of education and is an educational guidance. the curriculum will greatly influence what direction and education will be carried out (shobirin, 2016). the curriculum design development should prioritise environmental http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ mailto:ics142@ums.ac.id surya et al – analysis of the implementation of 21st ... printed issn 2406-8012 94 protection and emphasise scientific knowledge and appreciation of nature (yang, 2015). no matter how good a curriculum is designed, it cannot be realised if not supported by proper implementation management. curriculum implementation is the application of curriculum objections to the educational process. the school learning process is one of the management factors that support the successful implementation of the 2013 curriculum. (katuuk, 2014). in fact, however, many teachers have not adequately implemented the 2013 curriculum, particularly with regard to the development of 21st-century skills, which are supposed to be integral components of the 2013 curriculum. this demonstrates the necessity for an examination of the existing education system in indonesia in order to identify a solution to improve the quality of education. in this era, the government has obliged all schools to implement 2013 curriculum in their learning process. the curriculum also integrates 21st-century skills, which consist of critical thinking skills, communication skills, collaboration skills, and creativity skills (4c skills). every student should have 4c skills to face the 21st-century challenges. the implementation of 21st-century skills-based 2013 curriculum will greatly influences the students to enter this millennial century (sugiyarti, arif, & mursalin, 2018). sternberg in živkovic (2016) suggested that educational institutions emphasise memorisation too often, whereas memorisation requires repetition. however, critical thinking requires skillful analysis, evaluation, and interpretation. technology utilisation is an important innovation in implementing education in the 21st-century (imam farisi, 2016). the use of information and communication technology is helpful not only to assist teachers in teaching, but also to help students face the 21st-century challenges. education in the 21st-century requires students to have skills, knowledge, and abilities in technology, media, and information. the learning process must be able to develop life and career skills so that students are able to succeed in life and work (wijaya, sudjimat, & nyoto, 2016). undeniably, the implementation of 21stcentury skills in the 2013 curriculum is still not optimal. there are many obstacles remain faced by teachers in applying 21st-century skills. the obstacles may occur due to the factors from the teacher themselves, infrastructure, or school. it is widely acknowledged that teachers play crucial roles in preparing students to acquire 21st-century skills during the learning process. in addition to extensive knowledge of learning materials, professional teachers are also expected to have skills in using technology, designing learning activities, implementing them, and developing student skills and knowledge. in accordance with the opinion of leaman & corcoran (2018), teachers executing learning activities should employ effective learning strategies, examine teaching materials, comprehend student experiences, and utilise technological advancements. in the 21st century, the mindsets of educators who implement learning activities are of utmost importance. a teacher must possess three essential characteristics: adventure, endurance, and creative problem solving (faulkner & latham, 2016). in conjunction with the implementation of curriculum based on 21st-century skills, teachers must be able to apply creative methods and strategies to develop 21st-century skills in students. therefore, teachers must comprehend the concept of learning in curriculum for 2013 and the application of 21st-century skills to learning. they should also be able to find the most effective means of minimising learning process obstacles.. problem of study based on the research conducted by wangid, mustadi, & erviana (2014), it was found that the majority of teachers in yogyakarta were quite ready to implement thematicintegrative learning. however, according to wangid, their readiness to implement the 2013 curriculum required support and assistance to achieve maximum results. the reason was that there were still a lot of obstacles experienced by the teachers in implementing learning process using this relatively-new curriculum. this assumption is supported by other vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 95 research conducted by krissandi & rusman (2015) which stated that the obstacles occurred in implementing 2013 curriculum may come from various factors, one of which is from the teachers themselves. most of the obstacles are experienced due to teachers' confusion over the 2013 curriculum implementation, which resulted in discrepancy between learning activities and the concept of 2013 curriculum. another study on the teachers' readiness in implementing 2013 curriculum was conducted by hidayati & septiani (2015), they explained that the 2014/2015 academic year teachers in colomadu district already knew about 2013 curriculum and comprehended it, especially the integrative thematic learning. however, this study did not observe the teachers' comprehension on 21st-century skillsbased learning process. when in fact, 21st-century skills are considered crucial in implementing 2013 curriculum. this is in line with the conditions experienced at mim ngwaru. most of mim ngwaru teachers have known and comprehended 2013 curriculum. however, the implementation in learning process is still not in accordance with the concept of 2013 educational curriculum and has not integrated the 21st-century skills yet. based on the explanation above, this study aimed to describe the integration of 21stcentury skills in the implementation of 2013 curriculum at mim ngwaru and to describe its obstacles and solutions. it is hoped that this research could provide an overview of how 21st-century skills are integrated in the implementation of 2013 curriculum at mim ngwaru, as well as the obstacles and the solutions made by the teachers and schools. state of the art several studies integration of 21st-century skills in the implementation of 2013 curriculum. first, faulkner & latham (2016) reported the qualities teachers need in teaching in the 21st-century. second, sugiyarti, arif, & mursalin (2018) describe the influences of the implementation of 21 st century skills-based 2013 curriculum to students to enter this millennial century. hidayati & septiani (2015) developed the teachers' readiness in implementing 2013 curriculum. meanwhile, krissandi & rusman (2015) which stated that the obstacles occurred in implementing 2013 curriculum may come from various factors, one of which is from the teachers themselves. leaman & corcoran (2018) which stated that in executing learning activities, teachers should use effective learning strategies, examine teaching materials, understand student experiences, and utilise technological developments. meanwhile, živkovic (2016) suggested the importance of critical thinking, skillful analysis, evaluation, and interpretation. katuuk (2014) suggested some management aspects that support the successful implementation of 2013 curriculum, one of which is the learning process at school. on the other side, shobirin (2016) suggested that curriculum will greatly influence what direction and how education will be carried out. yang (2015) explain the development of curriculum design should prioritise environmental protection and emphasise scientific knowledge and appreciation of nature. the last ones, related to 21stcentury skills. wijaya, sudjimat, & nyoto (2016) describe the education in the 21st-century requires students to have skills, knowledge, and abilities in the fields of technology, media, and information. the learning process must be able to develop life and career skills so that students are able to succeed in life and work. gap study & objective based on the explanation, the integration of 21st-century skills in the implementation of 2013 curriculum is very important to developed life and carrier skills of the student. there are only a few studies about the integration of 21st-century skills in the implementation of 2013 curriculum. based on the background, this study aimed to describe the integration of 21st-century skills in the implementation of 2013 curriculum at mim ngwaru and to describe its obstacles and solutions. the present study's findings would be very important to create effective solutions to the issue regarding the 21st-century curriculum, especially in elementary schools. surya et al – analysis of the implementation of 21st ... printed issn 2406-8012 96 method type and design the type of research used in this study was qualitative research. qualitative research is a research used to observe natural objects, in which the researcher is the key instrument (sugiyono, 2010). data and data sources the object in this study was the 21st-century skills based-2013 curriculum. the subjects in this study were the 5th grade students of mim ngwaru, the 5th grade thematic teachers, and the principal of mim ngwaru plosorejo. the primary data source for this research were the interviews with the teachers and students of mim ngwaru (see table 1). meanwhile, the secondary data sources were the curriculum-related documents owned by the school, such as: rpp (rencana perencanaan pembelajaran/learning implementation plans) and lkpd (lembar kerja peserta didik/student's worksheet) and other documents used in learning. data collection technique data collection techniques used in this research were interviews and documentation. interview is a dialogue conducted by an interviewer to obtain information from an interviewee (salim & haidir, 2019). this technique was conducted to obtain data about the integration of 21st-century skills in the implementation of 2013 curriculum at mim ngwaru, as well as its obstacles and solutions. the interview instruments were compiled according to several indicators of 21st-century skills which encompassed 4c skills. raniah, effendi, & liliawati (2018) identified the indicators in 4c skills as follows: 1) indicators in critical thinking skills that consist of: a) problem solving-based learning; b) analysing and asking questions; c) selecting and collecting information from various sources; d) drawing conclusions based on the results of problem solving; e) using interactive media. 2) indicators in collaborative skills that include: a) students being able to work effectively and systematically in groups; b) teachers motivating students to be responsible for themselves in completing group assignments; c) students developing an attitude of respect and mutual help between group members. 3) indicators in communication skills, namely: a) teachers providing space for students to communicate with other students or with the teachers; b) students being able to convey ideas and express their thoughts both verbally and in writing; c) teachers accustoming students to interact with different people, for example through learning outside the classroom/school. 4) indicators in developing creativity, namely: a) teachers developing learning innovations that challenge students to think fluently, flexibly, originatively, and in detail; b) students presenting what they learned in new and original ways according to their creativity. the construct of this interview instrument has been validated by the supervisor. meanwhile, documentation is a complementary technique to observation and interview methods in qualitative research (sugiyono, 2010). data validity the data validity test was carried out by combining technical and source triangulation. technique triangulation means using different data collection techniques to obtain data from the same source, while source triangulation is a technique to obtain data from different sources using the same technique (sugiyono, 2010). data analysis vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 97 the data analysis technique used in this research was componential analysis technique. in componential analysis, the data sought are not those that are similar, but those that have differences. the data were obtained through triangulation data collection techniques so that a number of specific and different dimensions for each element are found (sugiyono, 2010). result the integration of 21st-century skills implementation based on the interview results and documentation conducted by the researchers from july 13 to august 15, 2020 of the teachers, 5th grade students, and school principal; data were obtained from various indicators of 21st-century skills as follows: critical thinking and problem-solving skills table 1. interview results and analysis of theme 1 sub-theme 1 lesson 1 learning plan indicator interview results learning plan analysis results indicator 1: problem solvingbased learning learning process was carried out by the teachers by using problem solving questions that were adjusted to the learning material the teachers had not yet written the questions in the learning plan. students worked on assignments according to handbooks, such as determining the main idea. indicator 2: analysing and asking questions the activity of analysing questions was carried out by conducting joint discussions. the students were stimulated by the teachers to understand the questions. in theme 1 sub-theme 1 lesson 1, students were not asked to analyse the questions. instead, they analysed a text and a picture. questioning activities were written in interactive dialogue. indicator 3: selecting and collecting information from various sources it was done by providing explanations and directions to the students, as well as adjusting materials to the information sources needed, such as textbooks, experimental activities, observations, and group discussions. the sources of the information needed had been written, such as: literature review, interviews, discussion, and observation. in addition, the media used in learning had also been written. indicator 4: drawing conclusions based on the results of problem solving the teachers stimulated the students to draw conclusions by asking questions related to the material or problems being discussed. it had been written in the learning steps. students were asked to compare their friends' opinions and then drew conclusions from the opinions that have been explained. indicator 5: using interactive media interactive media had already been used. it was usually used in the form of electronic and non-electronic such as teaching aids. the media had been written in the learning plan, namely: manuals, picture slides, and material slide as seen in figure 3. based on table 1, it can be concluded that the learning process at mim ngwaru has applied critical thinking and problem solving skills even though there are still some flaws in the implementation. the students have been able to develop critical thinking skills by solving problems, asking questions, gathering information, and drawing conclusions. however, in analysing questions, they still need help from the teachers. the 5th grade surya et al – analysis of the implementation of 21st ... printed issn 2406-8012 98 teachers have also tried to develop students' critical thinking skills by creating problembased questions and using interactive media to stimulate student curiosity. collaboration skills table 2. interview results and analysis of theme 1 sub-theme 1 lesson 1 learning plan indicator interview result learning plan analysis results indicator 1: students being able to work effectively and systematically in groups it had been executed in learning by carrying out group activities. collaboration skills could be seen in the learning plans, specifically in discussion activities. indicator 2: teachers motivating students to be responsible for themselves in completing group assignments it had been executed by providing the students with positive inputs and giving them a time limit to do assignments. it could be seen in the learning step. students formed groups and shared responsibilities as emcees, journalists, etc. indicator 3: students developing an attitude of respect and mutual help between group members it had been carried out pretty well. the students were motivated by rewarding them. in addition, points were deducted from the students who did not want to help with group assignments. it had been written in the rpp. students explained their own group's opinion and teachers confirmed it, then guided them to write conclusions. based on table 2, it can be concluded that mim ngwaru teachers have developed student collaboration skills through group activities. students are accustomed to join group activities so that they could develop a sense of responsibility and mutual respect. students' responses in these activities varied, but the teacher tried to motivate them to carry out group assignments as well as possible. communication skills table 3. interview results and analysis of theme 1 sub-theme 1 lesson 1 learning plan indicator interview result learning plan analysis results indicator 1 : teachers providing space for students to communicate with other students or with the teachers the teachers provided space for the students to communicate, either through discussion or question-and-answer activities between teachers and students, or between students and students it had been written in the learning plan. teachers stimulated students' communication skills through discussion activities. indicator 2: students being able to convey ideas and express their thoughts the teachers had given motivation. for example, they would not blame the students' opinions. it was shown in the learning steps. teachers gave opportunities for all students to express their opinions in discussion activities. vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 99 indicator interview result learning plan analysis results both verbally and in writing indicator 3: teachers accustoming students to interact with different people, for example through learning outside the classroom/school it had been done by carrying out outing class activities once a semester. the outing class activities had not been written in the learning plan. based on table 3, it can be concluded that mim ngwaru teachers have implemented communication skills in learning. activities that are usually carried out by the teachers in developing student communication skills are discussion. students can express their opinions verbally or in writing and teachers will not blame the students' opinions. they are also trained to develop their communication skills with others outside the school, one of the activities that has been carried out is an outing class which is conducted once a semester. creative thinking skills table 4. interview results and analysis of theme 1 sub-theme 1 lesson 1 learning plan indicator interview result learning plan (rpp) analysis results indicator 1: teachers developing learning innovations that challenge students to think fluently, flexibly, originatively, and in detail the teachers gave the students freedom to present what they had learned according to the students' creativity, including the freedom to present their findings. it had been written in the learning plan with the use of various teaching methods and strategies, such as using a scientific approach and a cooperative learning strategy. indicator 2: students presenting what they learned in new and original ways according to their creativity the teachers had motivated the students by giving them the opportunity to draw conclusions and present their findings. it was shown in the learning steps. teachers provided the opportunity for students to make paragraphs according to the main ideas that had been found, and to draw conclusions on the discussion results. based on table 4, it can be concluded that the teachers have implemented the skills to develop students' creativity by choosing fun learning strategies and creative teaching aids. they also give students the opportunity to draw conclusions and present their findings. the obstacles and the solutions in the implementation of 21st-century skills at mim ngwaru based on the results of the interviews conducted by the researchers from july 13, 2020 to august 15, 2020 of the 5th grade teachers, 5th grade students, and the principal; data were obtained as follows: surya et al – analysis of the implementation of 21st ... printed issn 2406-8012 100 table 5. the obstacles and the solutions in the implementation of 21st-century skills at mim ngwaru obstacles experienced solutions executed by the teachers solutions executed by the school principal the lack of variation in using problem-solving questions in learning process using alternative questions from other sources. such as the internet or teachers' handbooks conducting training programs or workshops, as well as regular monthly guidance with the principal students' low ability in analysing problemsolving questions teachers accustomed students to make questions and work on problem solving questions regularly limited media and learning resources if possible, teachers made their own learning media according to the discussed material and their creativity. meanwhile, one of the ways that the teachers took to minimise the limitations of learning resources was to utilise the available resources as much as possible and look for other learning sources if possible inconducive class conditions during group activities teachers gave a time limit for students to complete group assignments group activities that only focus on answering questions to develop problem solving skills there were no specific solutions that had been executed by the teachers. however, for several times, they conducted group activities with simple observations and experiments even though the students mostly answered the questions in writing. students' low participation in discussion activities teachers provided points for students who were active in discussion. the teachers also tried not to blame students' opinions so that they would not be afraid to express their opinions. based on the table 5, it can be concluded that in implementing 21st-century skills on the 5th grade learning process, the teachers still experienced several obstacles. the main vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 101 obstacles came from the teachers' own factors. teacher ability to develop and plan learning activities is considered very important in achieving learning objectives. therefore, right solutions are needed to minimise these obstacles. solutions are not only carried out in terms of strategies, methods, and learning models, but also must be able to improve the teachers' ability to develop learning process. one of the efforts done by the school principal to improve teachers' teaching skills is providing them with opportunities to attend training or workshops. discussion the integration of 21st-century skills implementation the 2013 curriculum applied at mim ngwaru has been adjusted to comply with 21stcentury skills. the teachers have arranged lesson plan that could develop students' skills so that the students are able to think critically and analytically through problem solving and group activities. in addition, the teachers also develop students' communication skills and their creativity in developing ideas. hereafter, we will elaborate the discussion of 21stcentury skills that have been observed by the researchers and the research results that have been found in mim ngwaru. critical thinking and problem solving skills mim ngwaru plosorejo has developed students' collaboration skills through group activities. students are accustomed to join group activities so they can develop a sense of responsibility and mutual respect. this is in accordance with the opinion of mahanal (2014) which defined collaborative skill as a skill to work together in groups effectively and respect each other. students are trained to develop a willingness to help each other, to compromise, and to be responsible for the given assignments. students' responses in these activities varied, but teachers tried to motivate them to carry out group assignments as well as possible. the teachers realised that every time group activities were carried out, students became more interested and enthusiastic. however, due to the group activities, classroom conditions were often inconducive. therefore, the teachers should be able to choose the right strategy to organise the class. the 5th grade teachers usually give students a time limit to do the assignment and provide new activities for students who have completed the assignment so that they don't disturb the other students. furthermore, the teachers provided rewards and deducted points from students who did not want to help with group assignments. this is as shown in table 2. pratiwi, ardianti, & kanzunnudin (2018) revealed that conducting group activities repeatedly under teachers' guidance and direction can improve students' collaboration skills and their learning outcomes. in implementing group activities for the 5th grade students at mim ngwaru, the teachers only focus on problem solving with written method. students are given assignments to solve problems just by reading the questions and answering them. this is not in line with the research conducted by pratiwi, ardianti, & kanzunnudin (2018) which stated that in carrying out group assignments, students should not only been given memorising tasks, but they also need group activities arranged by the teacher to be challenging and fun. the teachers have tried to develop students' senses of responsibility by providing them with positive inputs. it is hoped that the teachers can make the students be responsible for the given assignments. the teachers also accustom students to do group assignments. they will get accustomed and willing to share assignments in time being. gradually, students also became more responsible for their duties because they not only get input from the teacher, but also from their peers. this statement shows that students' senses of responsibility in doing assignments can be formed through group activities. this is in line with the research surya et al – analysis of the implementation of 21st ... printed issn 2406-8012 102 conducted by umar (2011) which explained that group learning can improve student learning outcomes. group activities can train students to understand their position as social beings, to form good relations between friends, to responsible, and to understand the rights of others. collaboration skills the teachers have developed students' collaborative skills through group activities. students are accustomed to do group activities so they can develop a sense of responsibility and mutual respect. this is in accordance with the opinion of mahanal (2014) which defined collaborative skill as a skill to work together in groups effectively and respect each other. students are trained to develop a willingness to help each other, to compromise, and to be responsible for the given assignments. students' responses in these activities varied, but the teachers tried to motivate them to carry out group assignments as well as possible. the teachers realised that every time group activities are carried out, students become more interested and enthusiastic. however, due to the group activities, classroom conditions are often inconducive. therefore, the teacher should be able to choose the right strategy to organise the class. the 5th grade teachers usually give students a time limit to do the assignments and provide new activities for students who have completed the assignment so that they don't disturb the other students. furthermore, the teachers also provide rewards and point deductions for students who did not want to help with group assignments. this is as shown in table 2. pratiwi, ardianti, & kanzunnudin (2018) revealed that conducting group activities repeatedly under teachers' guidance and direction can improve students' collaboration skills their learning outcomes. in implementing group activities for the 5th grade students at mim ngwaru, the teachers only focus on problem solving with written method. students are given assignments to solve problems just by reading the questions and answering them. this is not in line with the research conducted by pratiwi, ardianti, & kanzunnudin (2018) which stated that in carrying out group assignments, students should not only been given memorising tasks, but they also need group activities arranged by the teacher to be challenging and fun. the teachers have tried to develop students' senses of responsibility by providing them with positive inputs. it is expected that the teachers could make the students be responsible for the given assignments. the teachers also accustom students to do group assignments. they will get accustomed and willing to share assignments in time being. gradually, students also become more responsible for their duties because they not only get input from the teacher, but also from their peers. this statement shows that students' senses of responsibility in doing assignments can be formed through group activities. this is in line with the research conducted by umar (2011) which explained that group learning can improve student learning outcomes. group activities can train students to understand their position as social beings, to form good relations between friends, to responsible, and to understand the rights of others. communication skills the teachers have applied communication skills in learning activities through class discussion. students are given the freedom to convey ideas and express their thoughts both verbally and in writing. they are also accustomed to have good relationships with other people from different backgrounds. according to the teachers, students' communication skills should be developed so that they have the ability to relate to other people in their lives. raniah, effendi, & liliawati (2018) explains that communication skill is a skill in expressing all thoughts verbally or in writing to develop self ability to face the 21st-century challenges. vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 103 during discussion activities, students can express their opinions verbally or in writing and the teacher will not blame their opinion. students are also trained to develop their communication skills with other people outside the school, one of the activities carried out is an outing class which is conducted once a semester. however, there are some students who still reluctant to get involved in discussions. they tend to keep silent when asked to speak out in front of the class, but talk a lot with their friends. this is in line with the research conducted by wahyuni (2015) which suggests that some individuals have anxiety to speak in public, so they need some experiences to be able to communicate. as an effort to develop students' communication skills, they must be accustomed to deal with other people. not only in classroom or at school, but they also should connect with the community. creative thinking skills the teacher have applied skills to develop students' creativity by choosing fun learning strategies and creative teaching aids. the teacher also provide students with opportunity to draw a conclusion and present their findings. the implementation of creative thinking skills in 5th grade students at mim ngwaru is carried out by giving students the freedom to conclude and present their work according to the information obtained from the information gathering activities. based on the interview results and the rpp analysis, it can be concluded that even though the teacher has tried to develop innovations in learning, some students still have difficulties in developing their ideas and need the teachers’ help to stimulate them. the indicators of creativity skills implementation can be seen in table 4. this is not in line with the opinion of febrianti, djahir, & fatimah (2016) creative thinking is a process to develop ideas and generate new thoughts that have a broad scope, which includes thinking fluently, flexibly. originatively, and in detail. the obstacles and the solutions in the implementation of 21st-century skills at mim ngwaru based on the obtained data, the elaboration of the research results is as follows: the 5th grade teachers realised that there are still many obstacles that occur during the implementation of 21st-century skills in the classroom. the obstacles may come from various factors, such as student, infrastructure, government policies, and the teachers themselves. when in fact, the main key to successful learning lies in the quality of the teachers. this is in accordance with the opinion of krissandi & rusman (2015) which stated that a teacher's function is as a knowledge transformer for students who guides students in the process of seeking knowledge and skills. from the students' factors, it is found that there are a lot of students who are still not familiar with 21st-century learning which demands critical, collaborative, communicative, and creative thinking. the difference between social and economic backgrounds is one of the major obstacles in achieving maximum 21st-century education. this difference creates different levels of students' creativity and focus in learning, especially in developing critical thinking skills. this situation becomes a challenge for the teachers in applying 21st-century skills. in addition, the lack of adequate infrastructure makes learning less effective, so that each skill cannot be implemented properly. a good teacher in 21st-century education is a teacher who can work with students to find out how to do something, how to know something and how to use something. therefore, in learning process, a teacher must be able to stimulate students to strengthen their curiosity, identifying ability, and problem solving skills. the research result indicates that the teachers still lack of skills in controlling the class, encouraging students' activeness and creativity, and guiding them to formulate their ideas to solve problems. this is in line with the opinion of hadisaputra, hakim, muntari, hadiprayitno, & muhlis (2018) which states that the role of teachers in the 21st-century education is as a guide, a discussion surya et al – analysis of the implementation of 21st ... printed issn 2406-8012 104 director, and an assessor of student progress. the teachers' understanding in the implementation of 21st-century skills is still considered lacking. this can be seen in the lack of variation in using the problem-solving questions and the ineffectiveness of problemsolving activities undertaken. the teachers have done various ways to minimise the existing obstacles, such as utilising the existing media and learning resources optimally. they also choose strategies and methods that fit students' characters. another way is taken by the school in order to improve the quality and ability of teachers in teaching. one of them is by conducting training programs or workshops, as well as regular monthly guidance with the principal. this is in accordance with the research conducted by hadisaputra, hakim, muntari, hadiprayitno, & muhlis (2018) which stated that training programs on improving the skills of science teachers in mataram as the 21st-century "role model" in learning science showed satisfactory results. conducting training programs divided into 4 stages could increase teachers' understanding on how to implement practicum models according to the 21stcentury needs. therefore, the implementation of training programs on 21st-century skills will greatly influence the improvement of teacher quality and understanding in implementing 21st-century skills. conclusion the integration of 21st-century skills in learning process at islamic elementary school ngwaru is as follows: 1) critical thinking and problem solving skills are carried out by working on problem-based learning. however, there are some indicators of critical thinking skills that have not been carried out optimally, such as training students to analyse a question and develop learning resources. 2) as for collaboration skills within groups of 5th grade students, the teachers only focus on solving problems with written methods. more often, students do group assignments by completing and answering questions. 3) communication skills have been implemented well. the teachers provide space for students to communicate through class discussions. 4) creativity skills is developed by giving students the freedom to convey the results of their work. however, there are indicators in developing creativity skills that remain unexecuted by the teachers. they have not developed educational innovations that can stimulate students to think fluently and flexibly, and also to present their original ideas or in new ways. the obstacles in implementing 21st-century skills on the 5th grade students are: a) the lack of variation in using problem-solving questions; b) students' low ability in analysing problem-solving questions; c) limited learning media; d) inconducive class; e) group activities that only focus on answering questions; f) students' low participation in discussion activities. the solution is to develop islamic elementary school teachers' skills by including them in training programs or workshop; which are expected to improve their skills in teaching. the authors hope that this research will have an impact on the implementation of 21stcentury skills based-2013 curriculum at islamic elementary school ngwaru towards a better direction. it is expected that this research could be used to resume other researches on the 21st-century skills implementation. furthermore, it is hoped that this research could be used as an overview of the 21st-century skills implementation at schools, so that any solutions can be made to implement the skills better in learning process. references faulkner, j., & latham, g. (2016). adventurous lives: teacher qualities for 21st-century learners. australian journal of teacher education, 41(4), 137–150. https://doi.org/10.14221/ajte.2016v41n4.9 febrianti, y., djahir, y., & fatimah, s. (2016). analisis kemampuan berpikir kreatif peserta vol. 9, no. 1, july 2022 online issn 2503-3530 105 didik dengan memanfaatkan lingkungan pada mata pelajaran ekonomi di sma negeri 6 palembang. jurnal profit, 3(1), 121–127. doi : 10.36706/jp.v3i1.5561 geotimes. (2015). kualitas pendidikan indonesia, peringkat 10 dari 14 negara. in redaksi geotimes. https://geotimes.co.id/arsip/kualitas-pendidikan-indonesia-peringkat-10dari-14-negara/ hadisaputra, s., hakim, a., muntari, hadiprayitno, g., & muhlis. (2018). pelatihan peningkatan keterampilan guru ipa sebagai role model abad 21 dalam pembelajaran ipa. jurnal pendidikan dan pengabdian masyarakat, 1(2), 274–277. https://jurnalfkip.unram.ac.id/index.php/jppm/article/view/874 hidayati, y. m., & septiani, t. (2015). studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 dalam pembelajaran berbasis tematik integratif di sekolah dasar se-kecamatan colomadu tahun ajaran 2014/2015. profesi pndidikan dasar, 2, 49–58. doi: 10.23917/ppd.v2i1.1494 imam farisi, m. (2016). developing the 21 st-century social studies skills through technology integration. turkish online journal of distance education, (january), 16– 30. https://doi.org/10.17718/tojde.47374 katuuk, d. a. (2014). manajemen implementasi kurikulum : strategi penguatan implementasi kurikulum 2013. cakrawala pendidikan, (1), 13–26. doi: https://doi.org/10.21831/cp.v1i1.1858 krissandi, a. d. s., & rusman. (2015). kendala guru sekolah dasar dalam implementasi kurikulum 2013. cakrawala pendidikan, (3), 457–467. doi: https://doi.org/10.21831/cp.v3i3.7409 leaman, h., & corcoran, r. (2018). teacher action research in elementary soocial studies. inquiry in education, 10(2). https://digitalcommons.nl.edu/ie/vol10/iss2/5/ mahanal, susriyati. (2014). peran guru dalam melahirkan generasi emas dengan keterampilan abad 21. seminar nasional pendidikan hmps pendidikan biologi fkip universitas halu oleo, 1(september), 1–16. pratiwi, i. a., ardianti, s. d., & kanzunnudin, m. (2018). peningkatan kemampuan kerjasama melalui model pproject based learning (pjbl) berbantuan metode edutainment pada mata pelajaran imu pengetahuan sosial. refleksi edukatika : jurnal ilmiah kependidikan, 8(2). https://doi.org/10.24176/re.v8i2.2357 raniah, d., effendi, r., & liliawati, w. (2018). profil keterampilan abad 21 pada pembelajaran project based learning (pjbl) materi gelombang bunyi. prosiding seminar nasional fisika (sinafi), 19–24. salim, d. . m. p., & haidir, d. s. a. m. p. (2019). penelitian pendidikan: metode, pendekatan, dan jenis (1st ed.; m. . ihsan sartya azhar, ed.). jakarta: kencana. shobirin, m. (2016). konsep dan implementasi kurikulum 2013 di sekolah dasar. yogyakarta: deepublish. sugiyarti, l., arif, a., & mursalin. (2018). pembelajaran abad 21 di sd. prosiding seminar dan diskusi nasional pendidikan dasar, 439–444. sugiyono, p. d. (2010). metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan r&d. bandung: alfabeta cv. umar, e. (2011). peningkatan hasil belajar siswa sekolah dasar melalui belajar kooperatif tipe jingsaw. jurnal inovasi, 8(september 2011), 102–111. https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jin/article/view/733 wahyuni, e. (2015). hubungan self-effecacy dan keterampilan komunikasi dengan kecemasan berbicara di depan umum. jurnal komunikasi islam, 5 (1). doi: https://doi.org/10.15642/jki.2015.5.1.51-82. wangid, m. n., mustadi, a., & erviana, v. y. a. (2014). kesiapan guru dalam pelaksanaan pembelajaran tematik-integratif pada kurikulum 2013 di diy. jurnal prima edukasia, 2(2), 175–182. doi: https://doi.org/10.21831/jpe.v2i2.2717. surya et al – analysis of the implementation of 21st ... printed issn 2406-8012 106 wijaya, e. y., sudjimat, d. a., & nyoto, a. (2016). transformasi pendidikan abad 21 sebagai tuntutan pengembangan sumber daya manusia di era global. prosisding seminar nasional pendidikan matematika, 2, 263–278. malang. yang, c. (2015). education for appreciating environment — an example of curriculum design of natural aesthetic education in taiwan. 8(5), 88–100. https://doi.org/10.5539/ies.v8n5p88 živkovic, s. (2016). a model of critical thinking as an important attribute for success in the 21st-century. procedia social and behavioral sciences, 232(april), 102–108. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2016.10.034 e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis muatan pendidikan karakter.....(yogi kuncoro adi) 27 analisis muatan pendidikan karakter dalam buku teks kurikulum 2013 kelas iii sd semester 1 yogi kuncoro adi pgsd, fkip universitas kuningan yogi.kuncoro.adi@uniku.ac.id abstract the aim of this study is to describe character education content of the third grade elementary school curriculum 2013 textbook semester 1. the design of this study was content analysis by qualitative approach. subject of this study is textbook of curriculum 2013 semester 1 for the third grade of elementary school students. object of this study is character education content. the data collected by reading and recording of unit analysis. the unit analysis were materials and evaluation that integrated the values of character education in the textbooks. the instrument used in this research was the analysis sheet based on the theories. the validity of the instrument and the data used was semantic validity and expert judgment. the reliability of the data used the stability and reproducibility. the techniques of analyzing data consisted of unitizing, sampling, recording, reducing, inferring, and narrating. the results of this study show that most of the character education value was spread into every theme, although some indicators were not found. distribution of each character value, by disregarding any indicators, evenly on all themes. however, these findings prove that a particular character value investment is not focused as in the relevant theory. keywords: content analysis, character education pendahuluan kurikulum 2013 saat ini sedang mengalami evaluasi dan revisi. seperti disebutkan mendikbud (2014: 2) melalui permendikbud nomor 160 pasal 4 bahwa sekolah di luar pilot project dapat melaksanakan ktsp paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. hal ini mengartikan bahwa kurikulum 2013 akan dilaksanakan kembali setelah dievaluasi. begitu pula buku teks baik yang sudah diterima pihak sekolah maupun yang belum tetap akan digunakan nantinya. kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang dikembangkan berbasis kompetensi. perbedaan kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya terlihat dari adanya penambahan kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial, selain kompetensi keterampilan dan pengetahuan. keempat kompetensi dalam kurikulum 2013 dikembangkan baik dalam indikator, materi, maupun evaluasi pembelajaran. kurikulum 2013 lebih menekankan pada pencapaian kompetensi sikap spiritual, sosial, keterampilan, dan pengetahuan secara holistik. hal tersebut mengingat tujuan kurikulum 2013 berkaitan dengan terciptanya warga negara yang berkarakter. kompetensi sikap berkaitan dengan pendidikan karakter. setyawan & mustadi (2015: 108) menyatakan bahwa pendidikan karakter sebaiknya dilakukan sejak dini. perwujudannya melalui pendidikan yang paling dasar yaitu sd. pendidikan karakter dianggap sebagai usaha untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik sehingga siswa bersikap dan bertindak berdasarkan nilainilai yang telah menjadi kepribadiannya. penanaman nilai karakter harus secara wajib dimuat dalam buku teks yang digunakan oleh guru dan siswa, salah satunya. mailto:yogi.kuncoro.adi@uniku.ac.id p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 28 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 27 41 menurut tarigan & tarigan (2009: 1314), buku teks adalah buku pelajaran dalam bidang studi tertentu yang merupakan buku standar, disusun oleh para pakar dalam bidang ilmu tersebut dan tujuan instruksional, yang dilengkapi dengan sarana pengajaran yang serasi dan mudah dipahami oleh para pemakainya di sekolah sehingga menunjang suatu program pembelajaran. selain itu, cunningsworth dalam rahimpour & hashemi (2011: 62) juga berpendapat bahwa buku teks merupakan sumber daya yang efektif untuk belajar mandiri, menyajikan materi, ide dan kegiatan, referensi bagi siswa, silabus yang mencerminkan pembelajaran, dan dukungan untuk guru baru. kedua pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa buku teks memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran, yang mana pembelajaran menjadi efektif dan efisien sehingga tujuan-pun tercapai. buku teks dapat dianggap sebagai alat untuk menyampaikan pesan (materi pelajaran) yang utama dari penyampai pesan (guru) ke penerima pesan (siswa). oleh karena itu, buku teks harus disusun oleh ahlinya agar sesuai dengan kurikulum yang berlaku. dalam hal ini, buku teks sangat mempengaruhi proses agar tercapainya tujuan pembelajaran, yang notabene pada kurikulum 2013 berbasiskan karakter. perkembangan zaman selain memberikan dampak positif juga adanya dampak negatif, khususnya terhadap perkembangan karakter suatu bangsa. akan tetapi, justru yang paling berkembang adalah sisi negatif, yaitu degradasi moral masyarakat. menurut zuchdi (2015: 1), degradasi moral tersebut ditandai oleh memudarnya sikap santun, ramah, serta jiwa kebhinekaan, kebersamaan, dan kegotongroyongan dalam kehidupan masyarakat indonesia. berdasarkan hal itu, perlu adanya program pendidikan yang dapat mewadahi berkembangnya karakter yang positif yang mengacu pada pancasila sebagai warga yang taat negara. cubukcu (2012: 1527) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai cara bagaimana mengajarkan siswa untuk memutuskan dengan baik dan bagaimana berperilaku yang sesuai. lebih lanjut disebutkan bahwa, orang yang rendah hati, jujur, baik, setia, sabar dan bertanggung jawab diklasifikasikan sebagai orang-orang dengan karakter yang baik oleh orang lain. pendapat ini dapat dimaknai bahwa karakter yang baik dapat ditanamkan kepada tiap siswa melalui pendidikan karakter. hal tersebut sejalan dengan lickona (2013: 82) yang menyatakan bahwa karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik (kebiasaan dalam cara berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan). berdasarkan pendapat tersebut, karakter yang baik harus diajarkan melalui pengetahuan moral terlebih dahulu, lalu siswa diajarkan untuk merasakan suatu moral, kemudian siswa akan melakukan tindakan mana yang dipilih setelah dipikirkan dengan matang. pendidikan karakter di indonesia menjadi program yang memiliki tujuan dan fungsi yang terarah. kemdiknas (2011: 7) dalam panduan pelaksanaan pendidikan karakter menyebutkan bahwa pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilainilai yang membentuk karakter bangsa yaitu pancasila, meliputi: 1) mengembangkan potensi peserta didik agar e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis muatan pendidikan karakter.....(yogi kuncoro adi) 29 menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berprilaku baik; 2) membangun bangsa yang berkarakter pancasila; 3) mengembangkan potensi warganegara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia. sedangkan fungsi dari pendidikan karakter adalah: 1) membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural; 2) membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan mampu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan umat manusia; mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan baik; 3) membangun sikap warganegara yang cinta damai, kreatif, mandiri, dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam suatu harmoni. penelitian ini dilakukan dengan meneliti buku teks terbitan kemdikbud, maka digunakan teori pendidikan karakter yang relevan dengannya. kemdikbud telah mencanangkan 18 nilai yang bersumber dari agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional. nilai-nilai tersebut adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab (kemdiknas, 2011: 8). kurikulum 2013 digadang-gadang sebagai kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya. selain itu, pendidikan karakter sangat penting untuk diterapkan kepada siswa sejak usia dini. untuk merealisasikan karakter mulia sangat perlu dibangun budaya atau kultur yang dapat mempercepat terwujudnya karakter yang diharapkan. kultur merupakan kebiasaan atau tradisi yang sarat dengan nilai-nilai tertentu yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan. kultur dapat dibentuk dan dikembangkan oleh siapa pun dan dimana pun (zuchdi, 2015: 22). pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa, pengembangan suatu nilai karakter harus berpondasikan nilai karakter tertentu. kesimpulan tersebut dapat dicontohkan melalui misalnya ketika guru hendak menanamkan nilai karakter disiplin pada siswa, maka guru harus sudah menanamkan nilai karakter tanggung jawab terlebih dahulu, atau kedua nilai tersebut berjalan beriringan. pada akhirnya, pengembangan nilai karakter harus difokuskan terhadap nilai-nilai yang berkaitan, bukanlah menyebarkan ke-18 nilai secara merata sehingga tidak terfokus. metode penelitian jenis penelitian ini adalah content analysis yang menggunakan pendekatan kualitatif. peneliti dilakukan di kampus ii universitas kuningan sebagai lokasi untuk meneliti meskipun penelitian ini tidak terbatas oleh tempat. waktu penelitian ini dilaksanakan bulan juni-agustus 2016. subjek dan objek penelitian ini adalah buku teks kelas iii sd semester 1 merupakan subjek dalam penelitian ini. muatan nilai-nilai pendidikan karakter adalah objek dalam penelitian ini. pengumpulan data dilakukan dengan pembacaan dan pencatatan terhadap unit analisis. unit analisis berupa materi dan evaluasi yang mengintegrasi nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku teks. instrumen yang digunakan adalah lembar analisis isi yang disusun berdasarkan landasan teori. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 30 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 27 41 validitas instrumen dan data yang digunakan adalah semantic validity dan expert judgement. reliabilitas yang digunakan adalah stability dan reproducibility. teknik analisis data yang digunakan sesuai dengan krippendorf (2004: 83) terdiri dari unitizing, sampling, recording, reducing, inferring, dan narrating. hasil dan pembahasan hasil penelitian nilai religius pada materi pembelajaran, indikator menandakan sikap dan perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama ditemukan dalam empat tema yang dianalisis. indikator toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain ditemukan 1 kali muatan di tema 3 saja. pada evaluasi pembelajaran, indikator menandakan sikap dan perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama ditemukan 1 muatan di tema 1, 6 muatan di tema 3. indikator toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain ditemukan 2 muatan di tema 1, 1 muatan di tema 3. tabel 1. jumlah temuan muatan pendidikan karakter religius-rasa ingin tahu aspek indikator aspek materi evaluasi 1 2 3 4 1 2 3 4 religius sikap dan perilaku patuh melaksanakan ajaran agama 1 1 7 13 1 0 6 0 toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain 0 0 1 0 2 0 1 0 hidup rukun dengan pemeluk agama lain 0 0 0 0 0 0 0 0 jujur perilaku yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan 0 0 0 2 0 1 3 3 perilaku yang selalu dapat dipercaya dalam tindakan 0 0 0 0 0 0 0 0 perilaku yang selalu dapat dipercaya dalam pekerjaan 0 0 0 0 0 0 1 0 toleransi sikap dan tindakan menghargai perbedaan agama lain 2 1 2 3 0 0 1 1 sikap dan tindakan menghargai tindakan orang lain 2 1 0 2 1 1 1 0 sikap dan tindakan menghargai perbedaan suku dan etnis lain 0 1 0 6 0 0 0 1 disiplin perilaku tertib pada berbagai ketentuan dan peraturan 4 4 0 11 3 3 1 4 perilaku patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan 6 10 0 2 11 16 0 4 kerja keras berupaya mengatasi hambatan belajar dan tugas 1 0 0 0 2 2 0 3 menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya 0 2 1 0 7 5 4 3 kreatif berpikir untuk menghasilkan ide 0 2 1 4 2 0 0 2 menghasilkan cara atau hasil baru 5 6 2 5 7 6 5 0 mandiri sikap tidak mudah tergantung pada orang lain 1 3 0 0 1 3 0 3 perilaku tidak mudah tergantung pada orang lain 0 1 0 0 6 2 0 1 demokratis cara berpikir yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain 1 2 0 1 1 1 0 0 cara bersikap yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain 1 1 0 0 2 0 0 0 cara bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain 0 1 0 0 0 0 0 0 rasa ingin tahu sikap selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari materi yang diamatinya 13 10 3 7 1 5 0 40 tindakan selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari materi yang dilakukannya 8 9 1 1 16 28 1 0 nilai jujur pada materi pembelajaran, indikator perilaku berupaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan ditemukan 2 muatan di tema 4 saja. pada evaluasi pembelajaran, indikator perilaku berupaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis muatan pendidikan karakter.....(yogi kuncoro adi) 31 ditemukan 1 muatan di tema 2, 3 muatan di tema 3 dan 4. indikator perilaku berupaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam pekerjaan ditemukan 1 muatan di tema 3 saja. nilai toleransi pada materi pembelajaran, indikator sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama orang lain ditemukan 2 muatan pada tema 1 dan 3, sedangkan 1 muatan ditemukan di tema 2 serta 3 muatan di tema 4. indikator sikap dan tindakan yang menghargai tindakan orang lain ditemukan 2 muatan di tema 1 dan 4, sedangkan di tema 2 ditemukan 1 muatan. sedangkan indikator sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan suku dan etnis orang lain ditemukan 1 muatan di tema 2 dan 6 muatan di tema 4. pada evaluasi pembelajaran, indikator sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama orang lain ditemukan 1 muatan di tema 3 dan 4. indikator sikap dan tindakan yang menghargai tindakan orang lain ditemukan 1 muatan di tema 1, 2, dan 3. sedangkan indikator sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan suku dan etnis orang lain ditemukan 1 muatan di tema 4. nilai disiplin pada materi pembelajaran, indikator perilaku tertib pada berbagai ketentuan dan peraturan ditemukan 4 muatan di tema 1 dan 2, juga ditemukan 11 muatan di tema 4. sedangkan indikator perilaku patuh ditemukan 6 muatan di tema 1, 10 muatan di tema 2 dan ditemukan pula 2 muatan di tema 4. pada evaluasi pembelajaran, indikator perilaku tertib pada berbagai ketentuan dan peraturan ditemukan 3 muatan di tema 1 dan 2, 1 muatan di tema 3, dan 4 muatan di tema 4. sedangkan indikator patuh ditemukan 11 muatan di tema 1, 16 muatan di tema 2, 4 muatan di tema 4. nilai kerja keras pada materi pembelajaran, indikator perilaku berupaya mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas ditemukan 1 muatan di tema 1 saja. indikator menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya ditemukan 1 muatan di tema 3 dan 2 muatan di tema 2. pada evaluasi pembelajaran, indikator perilaku berupaya mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas ditemukan 2 muatan di tema 1 dan 2, 3 muatan di tema 4. indikator menyelesaikan tugas dengan sebaikbaiknya ditemukan 7 muatan di tema 1, 5 muatan di tema 2, 4 muatan di tema 3, dan 3 muatan di tema 4. nilai kreatif pada materi pembelajaran, indikator berpikir untuk menghasilkan ide ditemukan di tema 2 terdapat 2 muatan, di tema 3 terdapat 1 muatan dan di tema 4 terdapat 4 muatan. indikator menghasilkan cara atau hasil baru ditemukan 5 muatan di tema 1 dan 4, sedangkan di tema 2 terdapat 6 muatan serta ditemukan 2 muatan di tema 3. pada evaluasi pembelajaran, indikator berpikir untuk menghasilkan ide ditemukan 2 muatan di tema 1 dan 4. indikator menghasilkan cara atau hasil baru ditemukan 7 muatan di tema 1, 6 muatan di tema 2, 5 muatan di tema 3. nilai mandiri pada materi pembelajaran, indikator sikap tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas ditemukan 1 muatan di tema 1, juga terdapat 3 muatan di tema 2. sedangkan indikator perilaku ditemukan 1 muatan di tema 2 saja. pada evaluasi pembelajaran, indikator sikap tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas ditemukan 1 muatan pada tema 1, dan 3 muatan pada tema 2, 3, dan 4. sedangkan indikator p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 32 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 27 41 perilaku ditemukan 6 muatan di tema 1, 2 muatan di tema 2, 1 muatan di tema 4. nilai demokratis pada materi pembelajaran, indikator cara berpikir yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain ditemukan 1 muatan di tema 1 dan 4, sedangkan di tema 2 terdapat 2 muatan. indikator cara bersikap ditemukan 1 muatan di tema 1 dan 2 saja. sedangkan indikator cara bertindak hanya ditemukan 1 muatan di tema 2 saja pada evaluasi pembelajaran, indikator cara berpikir yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain ditemukan 1 muatan di tema 1 dan 2 saja. indikator cara bersikap ditemukan 2 muatan di tema 1 saja. nilai rasa ingin tahu pada materi pembelajaran, indikator menandakan sikap yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari materi yang diamatinya ditemukan 13 muatan di tema 1, 10 muatan di tema 2, 3 muatan di tema 3, dan ditemukan 7 muatan di tema 4. indikator tindakan ditemukan 8 muatan di tema 1, 9 muatan di tema 2, sedangkan di tema 3 dan 4 masing-masing ditemukan 1 muatan karakter. pada evaluasi pembelajaran, indikator sikap ditemukan 1 muatan di tema 1, 5 muatan di tema 2, dan 40 muatan di tema 4. indikator menandakan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari materi yang dilakukannya ditemukan 16 muatan di tema 1, 28 muatan di tema 2, 1 muatan di tema 3. nilai semangat kebangsaan pada materi pembelajaran, indikator cara berpikir yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya ditemukan 1 muatan karakter di tema 1 saja. indikator cara berwawasan hanya ditemukan 1 muatan di tema 1 saja. pada evaluasi pembelajaran, indikator cara berpikir ditemukan 1 muatan di tema 4 saja. indikator cara bertindak yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya ditemukan 1 muatan di tema 1 saja. nilai cinta tanah air pada materi pembelajaran, indikator cara berpikir yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa terdapat 1 muatan di tema 1, 2 muatan di tema 2, dan ditemukan 3 muatan di tema 4. indikator cara bersikap ditemukan 4 muatan di tema 1, ditemukan 3 muatan di tema 4. sedangkan indikator cara berbuat ditemukan masing-masing 1 muatan di tema 1, 2, dan 3. pada evaluasi pembelajaran, indikator cara berpikir ditemukan 1 muatan di tema 1 saja. indikator cara bersikap yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa ditemukan 2 muatan di tema 3, 1 muatan di tema 4. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis muatan pendidikan karakter.....(yogi kuncoro adi) 33 tabel 2. jumlah temuan muatan pendidikan karakter semangat kebangsaan-tanggung jawab aspek indikator aspek materi evaluasi 1 2 3 4 1 2 3 4 semangat kebangsaan cara berpikir yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya 1 0 0 0 0 0 0 1 cara bertindak yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya 0 0 0 0 1 0 0 0 cara berwawasan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. 1 0 0 0 0 0 0 0 cinta tanah air cara berpikir yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa 1 2 0 3 1 0 0 0 cara bersikap yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa 4 0 0 3 0 0 2 1 cara berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa 1 1 1 0 0 0 0 0 menghargai prestasi sikap dan tindakan menghasilkan ide/karya yang berguna bagi masyarakat 0 0 0 0 0 0 0 0 sikap dan tindakan mengakui keberhasilan orang lain 1 0 0 0 0 0 0 0 menghormati keberhasilan orang lain 1 0 0 0 0 0 0 0 bersahabat/ komunikatif senang berbicara dengan orang lain 9 9 1 8 5 0 3 6 senang bergaul dengan orang lain 4 5 1 4 0 2 0 2 senang bekerja sama dengan orang lain 10 11 0 19 6 3 1 7 cinta damai sikap yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya 0 0 0 5 0 0 0 0 perkataan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya 0 1 0 0 0 0 0 0 tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya 0 1 0 0 0 0 0 0 gemar membaca kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan 1 11 4 13 0 0 0 0 kesadaran menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan 0 6 0 2 0 0 0 0 peduli lingkungan berupaya mencegah kerusakan lingkungan alam 8 0 1 8 6 0 0 4 upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam 0 1 5 0 1 0 4 0 peduli sosial sikap selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan 3 6 0 15 2 0 2 6 tindakan selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan 4 10 1 5 1 0 0 3 tanggung jawab tugas dan kewajiban terhadap diri sendiri 1 3 0 3 0 0 0 5 tugas dan kewajiban terhadap masyarakat 1 2 1 6 0 3 0 3 tugas dan kewajiban terhadap lingkungan (alam, sosial dan budaya) 8 2 1 7 4 0 1 3 tugas dan kewajiban terhadap negara 0 1 0 1 2 0 0 0 tugas dan kewajiban terhadap tuhan yang maha esa 4 1 0 0 1 0 0 0 nilai menghargai prestasi pada materi pembelajaran, indikator sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk mengakui keberhasilan orang lain ditemukan 1 muatan karakter di tema 1 saja. sedangkan indikator menghormati keberhasilan orang lain juga ditemukan 1 muatan karakter di tema 1 saja. sedangkan pada evaluasi pembelajaran, ketiga indikator muatan nilai menghargai prestasi tidak ditemukan di tema manapun. nilai bersahabat/komunikatif pada materi pembelajaran, indikator tindakan p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 34 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 27 41 yang memperlihatkan rasa senang berbicara dengan orang lain ditemukan 9 muatan di tema 1 dan 2, sedangkan di tema 3 terdapat 1 muatan serta di tema 4 terdapat 8 muatan. indikator senang bergaul ditemukan 4 muatan di tema 1 dan 4, sedangkan di tema 2 ditemukan 5 muatan, dan ditemukan 1 muatan di tema 3. sedangkan indikator senang bekerja sama terdapat 10 muatan di tema 1, 11 muatan di tema 2 serta 19 muatan di tema 4. pada evaluasi pembelajaran, indikator senang berbicara dengan orang lain ditemukan 5 muatan di tema 1, 3 muatan di tema 3, 6 muatan di tema 4. indikator tindakan yang memperlihatkan rasa senang bergaul dengan orang lain ditemukan 2 muatan di tema 2 dan 4. sedangkan indikator senang bekerja sama ditemukan 6 muatan di tema 1, 3 muatan di tema 2, 1 muatan di tema 3, dan 7 muatan di tema 4. nilai cinta damai pada materi pembelajaran, indikator sikap yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya hanya ditemukan di tema 4 sebanyak 5 muatan. indikator perkataan ditemukan 1 muatan di tema 2 saja. sedangkan indikator tindakan juga ditemukan 1 muatan di tema 2 saja. sedangkan pada evaluasi pembelajaran, ketiga indikator muatan nilai cinta damai tidak ditemukan di tema manapun. nilai gemar membaca pada materi pembelajaran, indikator kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya ditemukan 1 muatan di tema 1, 11 muatan di tema 2, 4 muatan ditema 3 serta terdapat 13 muatan di tema 4. indikator kesadaran di tema 2 ditemukan 6 muatan, dan 2 muatan di tema 4. sedangkan pada evaluasi pembelajaran, indikator ketiga indikator muatan nilai gemar membaca tidak ditemukan di tema manapun. nilai peduli lingkungan pada materi pembelajaran, indikator sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya ditemukan 8 muatan di tema 1 dan 4, di tema 3 terdapat 1 muatan. indikator upayaupaya untuk memperbaiki kerusakan alam ditemukan 1 muatan di tema 2, 5 muatan di tema 3. pada evaluasi pembelajaran, indikator sikap dan tindakan mencegah kerusakan pada lingkungan alam ditemukan 6 muatan di tema 1, 4 muatan di tema 4. indikator upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam ditemukan 1 muatan di tema 1, 4 muatan di tema 3. nilai peduli sosial pada materi pembelajaran, indikator sikap selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan terdapat 3 muatan di tema 1, 6 muatan di tema 2 dan 15 muatan di tema 4. indikator tindakan ditemukan 4 muatan di tema 1, 10 muatan di tema 2, 1 muatan di tema 3 serta 5 muatan di tema 4. pada evaluasi pembelajaran, indikator sikap ditemukan 2 muatan di tema 1 dan 3, 6 muatan di tema 4. indikator tindakan selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan ditemukan 1 muatan di tema 1, 3 muatan di tema 4. nilai tanggung jawab pada materi pembelajaran, indikator tugas dan kewajiban terhadap diri sendiri ditemukan 1 muatan di tema 1, 3 muatan di tema 2 dan 4. indikator tugas dan kewajiban terhadap masyarakat ditemukan 1 muatan di tema 1 dan 3, juga terdapat 2 muatan di tema 2 serta ditemukan 6 muatan di tema 4. pada indikator tugas dan kewajiban terhadap e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis muatan pendidikan karakter.....(yogi kuncoro adi) 35 lingkungan (alam, sosial dan budaya) ditemukan 8 muatan di tema 1, 2 muatan di tema 2, 1 muatan di tema 3 serta ditemukan 7 muatan di tema 4. indikator tugas dan kewajiban terhadap negara ditemukan 1 muatan di tema 2 dan 4. sedangkan indikator tugas dan kewajiban terhadap tuhan yang maha esa ditemukan 4 muatan di tema 1, 1 muatan di tema 2. pada evaluasi pembelajaran, indikator tugas dan kewajiban terhadap diri sendiri ditemukan 5 muatan di tema 4. indikator tugas dan kewajiban terhadap masyarakat ditemukan 3 muatan di tema 2 dan 4. pada indikator tugas dan kewajiban terhadap lingkungan (alam, sosial dan budaya) ditemukan 4 muatan di tema 1, 1 muatan di tema 3, dan 3 muatan di tema 4. indikator tugas dan kewajiban terhadap negara ditemukan 2 muatan di tema 1 saja. sedangkan indikator tugas dan kewajiban terhadap tuhan yang maha esa ditemukan 1 muatan di tema 1 saja. pembahasan karakter religius memiliki kesamaan arti dengan ketaatan beribadah. zuchdi (2015: 26) menyatakan istilah tersebut sebagai pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan untuk selalu menjalankan ajaran agamanya. oleh karena itu, data yang disajikan dalam deskripsi mengenai materi kegiatan siswa berdoa relevan dengan karakter religius atau taat beribadah. akan tetapi karakter religius tidak serta merta mengenai hubungan seorang manusia dengan tuhan-nya. selain itu, manusia harus berhubungan baik dengan sesamanya. hal tersebut dapat dicontohkan melalui data evaluasi ketika siswa dihadapkan suatu masalah untuk mengambil sikap tentang pelaksanaan ibadah temannya yang menandakan toleransi dalam karakter religius. kemdiknas (2010: 9-10) menyebutkan bahwa karakter religius itu selain menandakan sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya juga menandakan sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. akan tetapi, melalui penelitian ini, sikap yang menunjukkan terhadap hidup rukun dengan pemeluk agama lain tidak ditemukan, sehingga hal tersebut mengurangi pelaksanaan karakter religius itu sendiri. zuchdi (2015: 26) menyatakan bahwa kejujuran adalah sikap dan perilaku seseorang yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya selalu dapat dipercaya dalam perkataan dan perbuatannya. melalui perkataan, seperti dicontohkan dalam data siswa membaca teks pertanyaan tentang beramal harian kemudian ditanya amal baik yang telah dilakukannya hari itu yang menandakan karakter jujur. sedangkan data mengenai kejujuran dalam tindakan sangat sedikit ditemukan muatannya dalam keempat buku tema yang dianalisis. hal yang sangat penting sebagai guru ketika memberikan contoh kepada siswanya untuk melakukan tindakan yang berlandaskan kejujuran, tidak hanya berupa perkataan. karakter ini sangat berkaitan erat dengan nilai anti korupsi, yang notabene seharusnya secara gencar diajarkan dalam pendidikan formal. hal tersebut sejalan dengan syarbini & arbain (2014: 70) bahwa kata jujur dapat didefinisikan sebagai lurus hati, tidak berbohong, dan tidak curang. tanpa sifat jujur, seseorang tidak akan dipercaya dalam kehidupan sosialnya. nilai kejujuran di sekolah dapat p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 36 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 27 41 diwujudkan dalam bentuk tidak melakukan kecurangan akademik. toleransi sebagai karakter yang berdiri sendiri adalah ketika dicontohkan melalui muatan yang menampilkan toleransi kesemua agama yang ada di indonesia. hal tersebut dicontohkan melalui data siswa membaca teks tentang anak yang menghormati peribadatan agama lain yang berupa sikap dan tindakan menghargai perbedaan agama orang lain. lebih luas dari itu, kemdiknas (2010: 9-10) menyebutkan makna toleransi sebagai sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. selain perbedaan agama, pendapat misalnya, dicontohkan melalui data siswa memahami perbedaan makanan temannya yang menandakan karakter toleransi. melalui penanaman karakter toleransi, siswa akan memahami pelajaran di balik perbedaan. apalagi hal tersebut didukung dengan konteks indonesia yang merupakan negara multi agama, multi etnis, dan multi budaya. disiplin secara sederhana adalah mengenai ketaatan dan kepatuhan terhadap peraturan. syarbini & arbain (2014: 71) menyatakan bahwa nilai kedisiplinan dapat diwujudkan antara lain dalam bentuk kemampuan mengatur waktu dengan baik, kepatuhan pada seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku di sekolah, mengerjakan segala sesuatunya tepat waktu, dan fokus pada pekerjaan. salah satu yang menjadikan contoh data dari pernyataan tersebut di atas adalah ketika siswa mengurutkan alat tulis berdasarkan perintah yang ada dalam buku teks. hal tersebut berupa tindakan yang menunjukkan perilaku tertib pada berbagai ketentuan dan peraturan. temuan tersebut sejalan dengan zuchdi (2015: 27) yang menyebutkan kedisiplinan sebagai sikap dan perilaku yang menunjukkan ketertiban dan kepatuhan terhadap berbagai ketentuan dan peraturan. berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemdikbud melalui buku teks kurikulum 2013 ini mengharapkan nantinya setiap siswa untuk dapat menyelesaikan tugasnya baik dalam kegiatan akademik di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat. akan tetapi, pernyataan tersebut kurang diperkuat melalui tidak selalu ditemukannya indikator karakter disiplin di setiap tema, apalagi jika difokuskan terhadap disiplin waktu. kemdiknas (2010: 9-10) mendeskripsikan karakter kerja keras sebagai perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaikbaiknya. indikator pertama dapat disebutkan melalui temuan soal evaluasi yang meminta siswa membuat tabel berdasarkan data grafik. siswa kelas iii sd diharapkan menggunakan kemampuan analisis yang dimilikinya dalam pengerjaan soal tersebut. hal serupa juga ditemukan melalui data siswa dalam membuat karya montase bertemakan alat transportasi. selain mempergunakan pengetahuan dasar siswa mengenai macam-macam alat transportasi, materi pembelajaran tersebut juga berupa menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. hal tersebut sejalan dengan pernyataan syarbini & arbain (2014: 72) bahwa bekerja keras merupakan hal yang penting guna tercapainya hasil yang sesuai dengan target. akan tetapi, bekerja keras e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis muatan pendidikan karakter.....(yogi kuncoro adi) 37 akan menjadi tidak berguna jika tanpa adanya pengetahuan. kreativitas merupakan karakter yang sangat ditekankan dalam kurikulum 2013. pernyataan tersebut diperkuat dengan hampir selalu ditemukannya karakter ini di setiap tema. pada temuan data yang telah dideskripsikan dapat dicontohkan melalui kegiatan membuat keranjang dari bahan lunak dan membuat barometer sederhana. karakter kreatif melalui data tersebut menggunakan kegiatan yang aplikatif dalam setiap pembelajaran. akan tetapi, kreatif tidak hanya mengenai produk baru yang dihasilkan dari tangan siswa. karakter kreatif juga ditemukan melalui data kegiatan berpikir untuk menghasilkan cara dalam suatu hal. seperti dijelaskan oleh zuchdi (2015: 27) bahwa kreatif dan inovatif adalah kegiatan berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang dimiliki. data yang telah diambil menunjukkan bahwa siswa belajar lebih mandiri untuk mencari sendiri pola dekoratif yang disukainya dari internet. selain itu, dalam evaluasi juga disebutkan bahwa siswa diminta untuk membuat surat tentang pengalamannya selama liburan yang menandakan karakter mandiri. hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh syarbini dan arbain (2014:72), bahwa peserta didik dituntut untuk mengerjakan semua tanggung jawab dengan usahanya sendiri. demi melihat kemandirian peserta didik, nilai kemandirian dapat diwujudkan antara lain dalam bentuk mengerjakan soal ujian secara mandiri, mengerjakan tugatugas sekolah secara mandiri, dan menyelenggarakan kegiatan siswa secara swadana. berdasarkan data yang telah diambil menunjukkan bahwa aspek demokratis terlihat dalam pengetahuan siswa mengenai hak-hak yang dimilikinya baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat. temuan data materi disebutkan bahwa hiburan dan informasi juga merupakan hak yang dimiliki oleh siswa di rumah. hal ini sejalan dengan lickona (2013: 76), bahwa demokrasi pada gilirannya merupakan cara yang diketahui terbaik dalam menjamin keamanan dari hak asasi masing-masing individu (untuk memiliki rasa hormat) dan juga mengangkat makna dari kesejahteraan umum (bersikap baik dan bertanggung jawab kepada semua orang). hal tersebut dicontohkan ketika siswa menuliskan hak dan kewajibannya baik yang sudah maupun belum diterima sehingga menunjukan bahwa mereka sedang belajar menuju pemaknaan demokratis. nilai rasa ingin tahu merupakan aspek yang paling dominan dalam penelitian ini. berdasarkan data yang diambil, menunjukan bahwa siswa diharapkan mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. salah satunya dengan siswa mengamati bersama gambar-gambar pola dekoratif toraja sehingga menunjukkan begitu besarnya rasa ingin tahu yang dimiliki siswa. hal ini sejalan dengan indikator rasa ingin tahu yang dituangkan oleh kemdiknas (2010: 10), bahwa rasa ingin tahu merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. selain itu, dengan siswa melakukan berbagai pengamatan, salah satunya terhadap jenis tanaman petani semakin mempertegas begitu besarnya rasa ingin tahu yang diharapkan dimiliki oleh siswa. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 38 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 27 41 nilai semangat kebangsaan menurut kemdiknas (2010:10) meliputi cara berfikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. salah satu data yang diambil, menunjukan bahwa siswa mengaplikasikan poin pertama dalam pancasila yang menandakan karakter semangat kebangsaan dalam bentuk tindakan. begitupun dalam evaluasi, ketika siswa melakukan pengamatan kejadian dalam musyawarah yang menunjukan karakter semangat kebangsaan dalam bentuk tindakan. akan tetapi, hal ini kurang sesuai dengan indikator semangat kebangsaan yang dituangkan oleh kemdiknas bahwa data menunjukan indikator tindakan saja yang ada dalam buku materi tersebut. karakter cinta tanah air ditunjukkan salah satunya ketika siswa membaca syair lagu tentang flora dan fauna khas indonesia. kemdiknas (2010: 10) menyatakan bahwa cinta tanah air merupakan cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. kegiatan siswa menuliskan dongeng dengan bahasa daerahnya masingmasing juga mempertegas karakter cinta tanah air yang dimiliki oleh siswa. namun, berdasarkan data yang diambil, terdapat satu indikator yang tidak ditemukan sama sekali dalam evaluasi. indikatornya adalah cara berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. siswa sangat mengenal kata-kata prestasi dalam aktivitas di dunia pendidikan, hal tersebut dikarenakan berkompetisi merupakan salah satu cara guru memberikan motivasi terhadap siswa. namun dalam hal ini, siswa masih perlu banyak belajar mengenai bagaimana cara untuk menghargai prestasi seseorang. berdasarkan data yang telah diambil, menunjukan bahwa karakter menghargai prestasi salah satunya terlihat ketika siswa membaca teks tentang saling menghargai setelah berlomba. hal ini kurang sesuai dengan yang dituangkan oleh kemdiknas (2010: 10), bahwa menghargai prestasi merupakan sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. sementara dalam materi hanyalah sebatas pengetahuan saja. selain itu dalam buku teks kurikulum 2013 untuk kelas iii sd ini hanya sedikit materi yang memungkinkan siswa untuk belajar menghargai prestasi. bahkan dalam evaluasi tidak ditemukan sama sekali aspek tentang menghargai prestasi. berdasarkan data, dikatakan bahwa siswa memainkan drama bersama-sama teman sekelasnya yang menandakan karakter bersahabat/komunikatif. temuan tersebut menunjukkan sikap siswa untuk saling bekerja sama dan bergaul dengan sesama temannya. sebagaimana kemdiknas (2010:10) menyebutkan bahwa bersahabat/komunikatif merupakan tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. kegiatan dalam pembelajaran pembelajaran saintifik mendukung sekali dengan penanaman nilai karakter komunikatif/bersahabat ini. hal tersebut diawali dengan kegiatan mengamati sampai dengan mengomunikasikan, yang mana merupakan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis muatan pendidikan karakter.....(yogi kuncoro adi) 39 salah satu contoh kegiatan yang komunikatif/bersahabat. kemdiknas (2010:10) mengungkapkan bahwa karakter cinta damai adalah sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. berdasarkan data dalam materi pembelajaran ditemukan kegiatan masyarakat pasar, dimana ditemukan interaksi sosial yang majemuk dari tiap lapisan masyarakat. lebih jauh di buku tersebut ditampilkan seseorang satu sama lainnya saling tegur sapa dan saling menghormati. hal tersebut semakin jelas bahwa ada sebuah tujuan yang ingin dicapai buku tersebut terhadap karakter siswa. akan tetapi, dalam evaluasi pembelajarannya tidak ditemukan sama sekali muatan karakter cinta damai tersebut. karakter gemar membaca merupakan karakter yang erat kaitannya dengan kebiasaan siswa untuk mau membaca setiap harinya. sebagaimana kemdiknas (2010:10) mengemukakan bahwa karakter ini merupakan kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. sejalan dengan pengertian tersebut, buku teks dalam penelitian ini memberikan sarana untuk membiasakan siswa agar mau membaca. jenis bacaannya pun beragam, baik itu cerita rakyat, surat, maupun cerita pengalaman dan perjalanan. muatan teks bacaannya juga banyak mengandung nilai kebajikan untuk siswa yang membacanya. akan tetapi, evaluasi pembelajarannya tidak ditunjukkan tentang muatan nilai karakter gemar membaca. karakter peduli terhadap lingkungan sangat ditekankan kepada siswa sebagai salah satu nilai baik yang harus dimilikinya. sebagaimana syarbini & arbain (2014: 74) mengatakan bahwa sebagai calon pemimpin masa depan, seorang siswa perlu memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungannya, baik lingkungan sekolah maupun masyarakatnya. berdasarkan data yang diperoleh, terdapat data mengenai lingkungan sekitar yang kotor beserta dampaknya, yang mana tentunya hal ini dapat dijadikan sebuah analisis bagi siswa untuk berpikir apa yang seharusnya dilakukan terhadap lingkungan dalam kehidupan nyata. peduli sosial membantu kita belajar dari satu sama lain. kepedulian justru mampu menghubungkan sesama. kemdiknas (2010:10) mengatakan bahwa karakter peduli sosial merupakan sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. nilai karakter peduli sosial ini banyak ditunjukkan dalam penelitian ini, misalnya pada materi pembelajaran yang menampilkan teks tentang anak-anak membantu orang tua. lebih jauh lagi, nilai karakter ini bahkan dijadikan sebagai tema pembelajaran. temuan tersebut semakin memperjelas bahwa karakter peduli sosial ini sangat penting dan ingin ditonjolkan dalam buku siswa kurikulum 2013. lickona (2013: 73) menyatakan bahwa tanggung jawab berarti melaksanakan sebuah pekerjaan atau kewajiban dalam keluarga, di sekolah, maupun di tempat bekerja dengan sepenuh hati dan memberikan yang terbaik. temuan data didapatkan ketika siswa membaca teks tentang kewajiban menjaga lingkungan sekolah. contoh bacaan tersebut merupakan salah satu penanaman karakter tanggung jawab terhadap lingkungan, dalam hal ini lingkungan sekolah, yang dijadikan contoh p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 40 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 27 41 untuk dijadikan objek tanggung jawab siswa. data dalam penelitian ini, indikator pada karakter tanggung jawab tersebar hampir ke setiap tema. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disajikan beberapa kesimpulan kaitannya dengan analisis muatan nilai pendidikan karakter pada buku siswa kurikulum 2013 kelas iii sd semester 1. muatan nilai religius, jujur, dan disiplin, memiliki indikator yang tidak ditemukan pada semua tema. karakter semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan menghargai prestasi memiliki indikator yang tidak ditemukan dalam materi pembelajaran atau evaluasi pembelajaran. muatan karakter cinta damai dan gemar membaca sama sekali tidak ditemukan muatannya dalam evaluasi pembelajaran. nilai karakter toleransi, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat/komunikatif, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab tersebar di setiap tema, serta ada indikator yang tidak ditemukan. berdasarkan temuan dalam penelitian ini, kurang lengkapnya indikator dalam setiap aspek nilai karakter membuat penanaman setiap nilai menjadi kurang utuh. akan tetapi, di sisi lain pengembangan suatu nilai karakter harus berpondasikan nilai karakter tertentu. kesimpulan tersebut dapat dicontohkan melalui misalnya ketika guru hendak menanamkan nilai karakter disiplin pada siswa, maka guru harus sudah menanamkan nilai karakter tanggung jawab terlebih dahulu, atau kedua nilai tersebut berjalan beriringan. pada akhirnya, pengembangan nilai karakter harus difokuskan terhadap nilai-nilai yang berkaitan, bukanlah menyebarkan ke-18 nilai secara merata sehingga tidak terfokus. berdasarkan hal tersebut, pemerintah diharapkan memperbaiki kekurangan yang ada dari indikator-indikator aspek nilai-nilai karakter. akan tetapi, hal tersebut juga harus memperhatikan pemfokusan pada penanaman setiap nilai karakter untuk setiap jenjang kelas. kepada guru diharapkan ketika menggunakan buku siswa kurikulum 2013 untuk lebih memperhatikan muatan nilai pendidikan karakter yang belum sesuai sehingga dapat memperbaikinya ketika dalam proses pembelajaran. daftar pustaka cubukcu, z. (2012). the effect of hidden curriculum on character education process of primary school students. educational sciences: theory & practice, 12 (2), 1526-1534. kemdiknas. (2010). pedoman sekolah: pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. jakarta: kemdiknas. kemdiknas. (2011). panduan pelaksanaan pendidikan karakter. jakarta: pusat kurikulum dan perbukuan. krippendorf, k. (2004). content analysis: an introduction to its methodology (2nd ed). thousand oaks: sage publication ltd. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis muatan pendidikan karakter.....(yogi kuncoro adi) 41 lickona, t. (2013). mendidik untuk membentuk karakter: bagaimana sekolah dapat memberikan pendidikan tentang sikap hormat dan bertanggung jawab. (terjemahan juma abdu wamaungo). new york: bantam books. (buku asli diterbitkan tahun 1991). mendikbud. (2014). peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 160, tahun 2014, tentang pemberlakuan kurikulum tahun 2006 dan kurikulum 2013. rahimpour, m. & hashemi, r. (2011). textbook selection and evaluation in efl context. world journal of education, 1, 62-68. setyawan, w., & mustadi, a. (2015). pengembangan ssp tematik-integratif untuk membangun karakter disiplin dan kreatif siswa kelas i sd. jurnal prima edukasia, 3(1), 108-119. syarbini, a. & arbain, m. (2014). pendidikan antikorupsi: konsep, strategi, dan implementasi pendidikan antikorupsi di sekolah/madrasah. bandung: alfabeta. tarigan, h.g & tarigan, d. (2009). telaah buku teks bahasa indonesia. bandung: angkasa. zuchdi, d. (2015). pendidikan karakter: konsep dasar dan implementasi di perguruan tinggi. yogyakarta: uny press. muatan pendidikan ramah anak......(ika candra, dkk) 37 jppd, 5, (1), hlm. 37 45 vol. 5, no. 1, juli 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.6517 muatan pendidikan ramah anak dalam konsep sekolah alam ika candra sayekti1), novita wulan sari 2), nabila alfarini mutiara primasti 3), megan nina sasarilia 4) pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta 1ics142@ums.ac.id; 2 novitawulan69@gmail.com; 3 a510150214@student.ums.ac.id; 4 megannina@gmail.com pendahuluan proses pendidikan dari masa ke masa terus dilakukan inovasi, sesuai dengan perkembangan dan kemampuan manusia itu sendiri, sehingga pendidikan mengalami kemajuan yang cukup pesat. dunia pendidikan nasional sedang dihadapkan pada masalah yang sangat mendasar dalam mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa agar menjadi wahana untuk mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab seperti yang diamanatkan dalam undang-undang sisdiknas. undangundang republik indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 ayat 1. undang-undang tersebut menyatakan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar abstract: the purpose of this research was to describe the implementation of friendly school children in muhammadiyah alam surya mentari elementary school of surakarta. the research methods used qualitative method because the data presented are words. if seen from the problems studied, this research is a descriptive research. data was collected by interviewing, observing, and documentation. validate data with triangulation of sources and methods. the data in this research are information from principals, teachers and students at muhammadiyah alam surya mentari elementary school of surakarta the results of the research describe that in the new student admission there is no special selection, especially in terms of academic for students who register, this school also proved to receive children with special needs, while in the process of learning teacher always use a variety of learning methods with interesting media and teachers evaluate at the end of the chapters and end sub themes, midterm exam, final exam, and tasks. for student practice, students are helped by a worksheet prepared by the teacher. the results of this research explained that muhammadiyah alam surya mentari elementary school of surakarta has completed the indikator that must be owned by child friendly school. keywords: child friendly school, nature school https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.6517 mailto:ics142@ums.ac.id mailto:novitawulan69@gmail.com mailto:a510150214@student.ums.ac.id mailto:megannina@gmail.com muatan pendidikan ramah anak......(ika candra, dkk) 38 jppd, 5, (1), hlm. 37 45 peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. berdasarkan pernyataan di atas diketahui bahwa pendidikan memiliki tujuan yang luhur. pendidikan yang dilaksanakan tidak hanya melahirkan seseorang yang ahli dalam bidang tertentu, namun juga memiliki budi pekerti dan perilaku yang baik, dapat menempatkan dirinya dalam lingkungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. pada saat ini perkembangan pendidikan di lingkungan sekolah diwarnai dengan berbagai penciri yang mampu menimbulkan rasa nyaman bagi peserta didik. penciri tersebut antara lain adalah terdapatnya sekolah ramah anak, sekolah terpadu, sekolah internasioal, sekolah multiple intelegence, dan sebagainya. tujuan dari penggunaan slogan tersebut adalah sebagai pemacu sekolah agar menjadi lebih unggul. selanjutnya merujuk pada pasal 4 uu no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak yang berbunyi bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup tumbuh berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. salah satu hak dasar anak tersebut adalah hak berpartisipasi yang diartikan sebagai hak untuk mengeluarkan pendapat dan didengarkan suaranya. pasal ini menjadi salah satu faktor dibentuknya model sekolah ramah anak. pada tahun 2015, komisi perlindungan anak indonesia (kpai) mencatat, telah terjadi 6006 kasus kekerasan pada anak di indonesia. angka ini meningkat signifikan dari tahun 2010 yang hanya 171 kasus. sementara pada tahun 2011, tercatat sebanyak 2179 kasus, 2012 sebanyak 3512 kasus, 2013 sebanyak 4311, dan 2014 sebanyak 5066 kasus. dari 6006 kasus, sebanyak 3160 kasus kekerasan terhadap anak terkait pengasuhan, 1764 kasus terkait pendidikan, 1366 kasus terkait kesehatan dan napza, dan 1032 kasus disebabkan oleh cyber crime dan pornografi. merujuk pada data kpai tersebut menunjukkan bahwa sekolah hingga detik ini belum bisa menjadi tempat yang ramah bagi anak (siswa). sedangkan menurut uu no.23 tahun 2002 pasal 54 tentang perlindungan anak yang berbunyi: “anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan atau lembaga pendidikan lainnya”. berdasarkan pasal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang anak harus merasa aman dan nyaman selama proses pembelajaran. salah satunya dengan menciptakan lingkungan yang ramah anak, yaitu membuat suasana yang aman, nyaman, sehat dan kondusif, menerima anak apa adanya, dan menghargai potensi anak (arismantoro, 2008: 2). pemenuhan hak-hak anak ini menuntut para pendidik untuk memberikan pelayanan semaksimal mungkin dan pola pendidikan yang berfokus pada peserta didik (student center). sekolah pada hakikatnya merupakan agen pelaksana proses pendidikan yang harus memiliki budaya ramah dalam menjalankan fungsinya untuk mencapai tujuan pendidikan. berbagai berita kekerasan di sekolah sering terjadi pada siswa akhir-akhir ini. ironisnya lagi kekerasan ini dilakukan oleh pihak sekolah baik itu guru, karyawan ataupun lainnya. hal itu berdampak pada fisik dan psikologis siswa. sekolah tampak muatan pendidikan ramah anak......(ika candra, dkk) 39 jppd, 5, (1), hlm. 37 45 kehilangan budaya ramah dalam mendidik siswa tidak hanya dalam melaksanakan tugasnya menghasilkan siswa berbudi pekerti dan cerdas secara intelektual, tetapi juga belum mendidik siswa dengan cara yang santun. berbagai permasalahan seputar perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak menjadikan sekolah ramah anak menjadi program yang dibutuhkan oleh semua anak indonesia dalam menempuh jenjang pendidikan formal dari tingkat dasar sampai tingkat menengah. sekolah ramah anak disefinisikan sebagai sekolah yang aman, bersih dan sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, mampu menjamin, memenuhi, menghargai hak-hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan salah lainnya serta mendukung partisipasi anak terutama dalam perencanaan, kebijakan, pembelajaran, pengawasan, dan mekanisme pengaduan terkait pemenuhan hak dan perlindungan anak di pendidikan. sekolah ramah anak bukanlah membangun sekolah baru, namun mengkondisikan sebuah sekolah menjadi nyaman bagi anak serta memastikan sekolah memenuhi hak anak dan melindunginya, serta menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi anak setelah rumahnya sendiri. dengan demikian diharapkan sekolah mampu melahirkan generasi penerus yang berkepribadian ramah, sopan, santun, berkepribadian jujur dan lainnya. sekolah sebagai agen pendidikan diharapkan dapat menerapkan menajeman sekolah yang ramah terhadap siswa dengan cara memanusiakan siswa sesuai karakteristik siswa. sd muhammadiyah alam surya mentari merupakan sekolah berbasis alam yang tentunya juga menjadi sekolah ramah anak bagi siswanya. berdasarkan uraian diatas penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implementasi sekolah ramah anak di sd muhammadiyah alam surya mentari surakarta. menurut kristanto (2011: 41) sekolah ramah anak adalah sebuah konsep sekolah yang terbuka, berusaha mengaplikasi pembelajaran yang meperhatikan perkembangan psikologis siswanya. mengembangkan kebiasaan belajar sesuai dengan kondisi alami dan kejiwaan anak. sedangkan menurut ngadiyo (2013: 18) bahwa sekolah ramah anak adalah sekolah yang anti diskriminatif, menerapkan paikem, perhatian dan melindungi anak, lingkungan yang sehat, serta adanya partisipasi orang tua dan masyarakat. berdasarkan peraturan menteri negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak republik indonesia nomor 8 tahun 2014 tentang kebijakan sekolah ramah anak, indikator sekolah ramah anak (sra) dikembangkan untuk mengukur capaian sra, yang meliputi 6 (enam) komponen penting, yaitu: kebijakan sra; pelaksanaan kurikulum; pendidik dan tenaga kependidikan terlatih hak-hak anak; sarana dan prasarana sra; partisipasi anak; dan partisipasi orang tua, lembaga masyarakat, dunia usaha, pemangku kepentingan lainnya serta alumni. prinsip perlindungan terhadap anak haruslah menyeluruh, meliputi provisi, proteksi, dan partisipasi (habiby, 2016: 71). prinsip sekolah ramah anak diantaranya: pertama, non diskriminasi yaitu menjamin kesempatan setiap anak untuk menikmati hak anak untuk pendidikan tanpa diskriminasi atas gender, suku bangsa, agama, dan latar belakang orangtua. kedua, kepentingan terbaik bagi anak yaitu dinilai dan diambil oleh pengelola dan penyelenggara pendidikan. ketiga, hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan yaitu menciptakan lingkungan yang menghormati martabat anak dan muatan pendidikan ramah anak......(ika candra, dkk) 40 jppd, 5, (1), hlm. 37 45 menjamin pengembangan holistic dan terintegrasi setiap anak. keempat, penghormatan terhadap pandangan anak yaitu mencakup penghormatan atas hak anak untuk mengekspesikan pandangan dalam segala hal yang mempengaruhi anak di lingkungan sekolah. kelima, pengelolaan yang baik, yaitu menjamin transparasi, akuntabilitas, partisipasi, keterbukaan informasi, dan supremasi hukum di satuan pendidikan. indikator yang menjadi acuan dalam penelitian ini diantaranya: a) penegakan disiplin dengan nonkekerasan; b) tersedia tenaga pendidik yang terlatih tentang gender, hak anak, dan peserta didik yang memerlukan perlindungan khusus (misalnya: anak penyandang disabilitas); c) mengintegrasikan materi lingkungan hidup di dalam proses pembelajaran; d) adanya larangan terhadap tindak kekerasan dan diskriminasi antar peserta didik, dan larangan hukuman fisik; e) menjamin, melindungi, dan memenuhi hak peserta didik untuk menjalankan ibadah dan memperoleh pendidikan agama sesuai dengan agama masing-masing; f) membiasakan gerakan penanaman budi pekerti; g) proses pembelajaran yang dilakukan dengan cara yang menyenangkan, inklusif, penuh kasih sayang dan bebas dari perlakuan diskriminasi; h) dapat mengembangkan minat, bakat, dan inovasi serta kreativitas peserta didik melalui kegiatan esktrakurikuler secara individu maupun kelompok; i) peserta didik terlibat dalam kegiatan bermain, berolahraga dan beristirahat; j) penilaian pembelajaran dilaksanakan berbasis proses dan mengedepankan penilaian otentik; k) bangunan sekolah menggunakan pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat; l) kapasitas ruang kelas sesuai dengan fungsi ruang, jumlah peserta didik tidak melebihi 32 peserta didik m) sekolah memiliki area/ruang bermain (lokasi dan desain dengan perlindungan yang memadai, sehingga dapat dimanfaatkan oleh semua peserta didik, termasuk anak penyandang disabilitas); n) tersedia alat permainan edukatif (ape) yang memenuhi sni. penelitian yang dilakukan oleh nur zakiyah, siti (2017) menunjukan bahwa proses pelaksanaan pengembangan sekolah ramah anak berbasis edutainment di sd muhammadiyah 1 purbalingga dengan mengacu program-program kegiatan yang berpusat dengan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan anak, memahami keberagaman dan penyertaan anak, proses pengembangan lingkungan belajar siswa, serta keterlibatan wali siswa dan masyarakat yang mendukung proses pembelajaran untuk pencapaian tujuan pembelajaran yang ramah anak dengan pendidikan berbasis edutaimnet. sedangkan penelitian yang dilakukan oleh diah utami, ratnasari (2017) menunjukkan bahwa: 1) sekolah ramah anak dapat diartikan sebagai sekolah atau tempat pendidikan yang secara sadar menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab, 2) implementasi sekolah ramah anak (sra) di sd muhammadiyah 16 surakarta telah diterapkan pada siswa kelas 3 – 5. pelaksanaanya sudah baik dan sudah memenuhi indikator sra meskipun masih terdapat beberapa hambatan, 3) implementasi sekolah ramah anak di sd muhammadiyah 16 surakarta telah dilaksanakan dengan humanis, tanpa diskriminasi, melibatkan guru yang inovatif, lingkungan yang nyaman untuk pembelajaran, serta melibatkan siswa secara aktif dalam setiap pembelajaran. muatan pendidikan ramah anak......(ika candra, dkk) 41 jppd, 5, (1), hlm. 37 45 metode penelitian jenis dari penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. jenis penelitian ini berupaya menggambarkan kejadian atau fenomena sesuai dengan apa yang terjadi dilapangan pada saat diteliti. bogdan dan taylor (darmadi, 2013: 286) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data diskriptif berupa katakata tertulis maupun lisan dari orang – orang dan perilaku yang diamati. aktivitas dalam analisis data yaitu data reduction, data display, dan conclution drawing/verification. validitas data yang digunakan yakni triangulasi sumber dengan menganalsis data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. hasil dan pembahasan berdasarkan indikator yang diamati dalam implementasi sekolah ramah anak di sd muhammadiyah alam surya mentari diperoleh hasil sebagai berikut: tabel. 1. checklist observasi penerapan program ramah anak no indikator ada tidak 1. penegakan disiplin dengan nonkekerasan √ 2. tersedia tenaga pendidik yang terlatih tentang gender, hak anak, dan peserta didik yang memerlukan perlindungan khusus (misalnya: anak penyandang disabilitas); √ 3. mengintegrasikan materi lingkungan hidup di dalam proses pembelajaran; √ 4. adanya larangan terhadap tindak kekerasan dan diskriminasi antar peserta didik, dan larangan hukuman fisik √ 5. menjamin, melindungi, dan memenuhi hak peserta didik untuk menjalankan ibadah dan memperoleh pendidikan agama sesuai dengan agama masing-masing √ 6. membiasakan gerakan penanaman budi pekerti √ 7. proses pembelajaran yang dilakukan dengan cara yang menyenangkan, inklusif, penuh kasih sayang dan bebas dari perlakuan diskriminasi √ 8. dapat mengembangkan minat, bakat, dan inovasi serta kreativitas peserta didik melalui kegiatan esktrakurikuler secara individu maupun kelompok √ 9. peserta didik terlibat dalam kegiatan bermain, berolahraga dan beristirahat √ 10 penilaian pembelajaran dilaksanakan berbasis proses dan mengedepankan penilaian otentik √ 11 bangunan sekolah menggunakan pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat √ 12 kapasitas ruang kelas sesuai dengan fungsi ruang, jumlah peserta didik tidak melebihi 32 peserta didik √ 13 sekolah memiliki area/ruang bermain (lokasi dan desain dengan perlindungan yang memadai, sehingga dapat dimanfaatkan oleh semua peserta didik, termasuk anak penyandang disabilitas) √ 14 tersedia alat permainan edukatif (ape) yang memenuhi sni √ 15 orang tua menyediakan waktu, pikiran, tenaga, dan materi sesuai kemampuan untuk memastikan tumbuh kembang, minat, bakat, dan kemampuan anak √ muatan pendidikan ramah anak......(ika candra, dkk) 42 jppd, 5, (1), hlm. 37 45 berdasarkan tabel 1 dapat disimpulkan bahwa indikator penegakan disiplin dengan non-kekerasan terlihat dalam pembiasaan rutin pada kegiatan pembentukan akhlaq dan penanaman/pengamalan ajaran agama dan hidup sehat dengan olahraga. hal tersebut mendukung uu no. 23 tahun 2002 pasal 4 tentang perlindungan anak yang berbunyi bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup tumbuh berkembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. adapun kegiatan pembiasaan meliputi: upacara bendera, tadarus al-qur’an, sholat berjamaah, skj / senam, do`a pagi (stretching), selain itu terdapat juga pembiasaan lainnya berupa hafalan al quran, penanaman budaya bersih dan sebagainya. setiap kegiatan yang dilakukan dilaksankan secara tepat waktu dan sesai aturan yang telah ditetapkan sekolah. selain itu pembiasaan hafalan alquran dan sholat berjamaan juga bertujuan untuk mewujudkan kelembutan hati peserta didik sehingga menjadi langkah untuk menegakkan kegiatan non kekerasan di sekolah. selanjutnya indikator tersedia tenaga pendidik yang terlatih tentang gender, hak anak, dan peserta didik yang memerlukan perlindungan khusus (misalnya: anak penyandang disabilitas) terlihat saat anak mengikuti alur kegiatan pbm (penerimaan siswa baru) yang terdiri dari observasi siswa dan orang tua. observasi siswa berupa tes kemandirian, membaca iqro’, dan wawancara anak. akan tetapi observasi terhadap anak ini bukan menjadi acuan maupun tolak ukur yang dilakukan oleh pihak dalam menerima siswa baru mengingat sekolah ini juga merupakan sekolah yang menerima siswa anak berkebutuhan khusus (abk) untuk menjadi siswa di sd muhammadiyah alam surya mentari. hal ini senada dengan ngadiyo (2013: 18) bahwa sekolah ramah anak adalah sekolah yang anti diskriminatif, jadi sekolah menghargai keragaman setiap individu yang unik. indikator tentang mengintegrasikan materi lingkungan hidup di dalam proses pembelajaran terlihat dalam penerapan kurikulum di sekolah ini, di mana pelaksanaanya menggunakan 3 kurikulum. kurikulum nasional, kemuhammadiyahan dan sekolah alam, yaitu: 1) kurikulum nasional merupakan kurikulum yang sama seperti yang diterapkan sekolah-sekolah yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kurikulum 2013. di sd muhammadiyah alam surya mentari, kurikulum tingkat satuan pendidikan diterapkan untuk kelas 1 dan 4, sedangkan untuk kurikulum 2013 diterapkan untuk kelas 2,3,5, dan 6; 2) kurikulum kemuhammadiyahan, merupakan kurikulum yang menjadi ciri sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan muhammadiyah. di dalamnya memuat beberapa poin yaitu akidah, ibadah, akhlak, al-qur’an, tariq, kemuhammadiyahan, bahasa arab, dan al-qur’an; 3) kurikulum sekolah alam, terdapat 4 hal yang ditanamkan yaitu akhlak, logika, kepemimpinan, dan kewirausahaan. berdasarkan keempat hal tersebut terdapat metode dan cara penyampaian yang berbedabeda. akhlak dalam penyampaiannya menggunakan metode bahasa ibu serta melalui pembiasaan, dimana guru memberikan contoh yang baik bagi siswa. logika dalam penyampaiannya menggunakan metode belajar belajar bersama alam. kepemimpinan disampaikan melalui kegiatan outbound dan hisbul wathan. sedangkan kewirausahaan disampaikan melalui kegiatan cooking, market day, dan learning by maestro. muatan pendidikan ramah anak......(ika candra, dkk) 43 jppd, 5, (1), hlm. 37 45 kemudian indikator tentang adanya larangan terhadap tindak kekerasan dan diskriminasi antar peserta didik, dan larangan hukuman fisik terlihat dalam penerapan sistem reward dan punishment di sd muhammadiyah alam surya mentari sudah terlaksana dengan baik tidak ada hardikan dalam pemberian punishment dan reward dilakukan berimplikasi dengan kehidupan sehari-hari. pemberian reward ini dapat dilakukan dengan cara verbal maupun non verbal misalnya memberikan tepuk tangan, memberikan acungan jempol, pujian dan lain-lain. sistem reward dan punishment yang digunakan harus hal yang positif dan membangun siswa untuk lebih baik lagi. selanjutnya indikator menjamin, melindungi, dan memenuhi hak peserta didik untuk menjalankan ibadah dan memperoleh pendidikan agama sesuai dengan agama masing-masing terlihat dimana sekolah ini merupakan sekolah dibawah naungan muhammadiyah maka keseluruhan siswa beragama islam, serta dalam menjalankan ibadah sekolah ini dilengkapi dengan masjid yang dapat digunakan sholat berjamaah seluruh warga sekolah. indikator tentang membiasakan gerakan penanaman budi pekerti terlihat dalam pembiasaan penanaman sikap jujur, santun, berani serta kegiatan yang berkaitan dengan hari pahlawan dan hari-hai besar lainnya. indikator tentang proses pembelajaran yang dilakukan dengan cara yang menyenangkan, inklusif, penuh kasih sayang dan bebas dari perlakuan diskriminasi terlihat ketika pembagian kelas, setiap kelas nantinya terdapat anak berkebutuhan khusus yang dapat menjadikan siswa lainnya mempunyai rasa toleransi yang tinggi terhadap sesama. hal ini senda dengan (arismantoro, 2008: 2), untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak, yaitu membuat suasana yang aman, nyaman, sehat dan kondusif, menerima anak apa adanya, dan menghargai potensi anak termasuk anak berkebutuhan khusus. pendapat (arismantoro, 2008: 2), untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak juga tampak pada indikator mengenai mengembangkan minat, bakat, dan inovasi serta kreativitas peserta didik melalui kegiatan esktrakurikuler secara individu maupun kelompok terlihat dari adanya ekstrakurikuler wajib dan pilihan. ekstrakulikuler wajib diantaranya hizbul wathan, renang dan drumband sedangkan pilihannya terdiri dari pencak silat, menari, melukis, qiraah, pantomime, jimbe, tenis meja dan musik. melalui ekstrakurikuler ini menjadi wadah siswa untuk menyalurkan potensi dan bakatnya yang tidak dapat diberikan di kegiatan kokurikuler dan siswa dibebaskan memilih sesuai potensinya masing-masing. indikator tentang peserta didik terlibat dalam kegiatan bermain, berolahraga dan beristirahat terlihat ketika proses pembelajaran berlangsung. di sekolah ini ruang kelas menyatu dengan alam sehingga sangat memungkinkan untuk siswa untuk melakukan kegiatan bermain dan berolahraga. indikator tentang penilaian pembelajaran dilaksanakan berbasis proses dan mengedepankan penilaian otentik terlihat dalam penerapan kurikulum 2013, penilaian yang digunakan merupakan penilaiaan autentik yang meliputi penilaian sikap, kognitif dan ketrampilan. hal ini juga dibuktikan dengan bukti dokumentasi yang ditemukan dalam penelitian. indikator tentang bangunan sekolah menggunakan pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat terdapat dalam bentuk ruang kelas muatan pendidikan ramah anak......(ika candra, dkk) 44 jppd, 5, (1), hlm. 37 45 yang menyerupai pendopo. dengan bentuk yang seperti ini memudahkan cahaya masuk kedalam ruangan. indikator mengenai kapasitas ruang kelas sesuai dengan fungsi ruang, jumlah peserta didik tidak melebihi 32 peserta didik terlihat di setiap kelas di sekolah ini, yang mana setiap kelas hanya terdapat sekitar 20-25 siswa. indikator mengenai sekolah memiliki area/ruang bermain (lokasi dan desain dengan perlindungan yang memadai, sehingga dapat dimanfaatkan oleh semua peserta didik, termasuk anak penyandang disabilitas) terlihat dalam bentuk sekolahan yang tidak sama seperti halnya sekolah pada umumnya. dalam sekolah ini terdapat halaman yang luas sehingga memudahkan siswa untuk bermain dengan siswa yang lainnya. selain itu terdapat pula ruang terapi atau ruang inklusi. dengan adanya ruangan ini siswa berkebutuhan khusus mendapatkan terapi setiap minggunya. dengan jadwal untuk okupasi terapi antara hari senin-kamis sesuai dengan kebutuhan siswa, fisioterapi setiap hari rabu dan terapi wicara setiap hari senin. indikator tentang tersedia alat permainan edukatif (ape) yang memenuhi sni terlihat ketika pembelajaran sedang berlangsung dimana guru akan menggunakan media sebagai alat bantu dalam menunjang proses pembelajaran. indikator tentang orang tua menyediakan waktu, pikiran, tenaga, dan materi sesuai kemampuan untuk memastikan tumbuh kembang, minat, bakat, dan kemampuan anak terlihat pada setiap jum’at orangtua akan diberikan buku komunikasi yang berisikan tentang hal-hal apa saja atau kejadian yang dianggap perlu untuk dikomunikasikan kepada orangtua. simpulan berdasarkan hasil penelitian mendeskripsikan bahwa sd muhammadiyah alam surya mentari telah mengimplementasikan sekolah ramah anak. hal tersebut dapat dibuktikan dengan terpenuhinya lima belas aspek indikator yang diobservasi. daftar pustaka arismantoro. 2008. character building: bagaimana mendidikanak berkarakter. yogyakarta: tiara wacana. bashori, muchsin, dkk. 2010. pendidikan islam humanistik: alternatif pendidikan pembebasan anak. bandung: refika aditama. darmadi, hamid. 2013. metode penelitian pendidikan dan sosial. bandung: alfabeta. habiby, wahdan najib dan ika candra sayekti. 2016. “pemenuhan hak anak dalam buku siswa kelas lima sekolah dasar”. jurnal profesi pendidikan dasar vo;. 3. no.2, desember. hlm. 71-83. http://journals.ums.ac.id/index.php /ppd/article/view/4745. komisi perlindungan anak indonesia (kpai). 2016. panduan sekolah & madrasah ramah anak. jakarta: erlangga. http://journals.ums.ac.id/index.php muatan pendidikan ramah anak......(ika candra, dkk) 45 jppd, 5, (1), hlm. 37 45 kristanto. 2011. “identifikasi model sekolah ramah anak (sra) jenjang satuan pendidikan anak usia dini se-kecamatan semarang selatan”. jurnal penelitian paudia, volume 1 no. 1. http://journal.upgris.ac.id/index.php/paudia /article/view/257 ngadiyo. 2013.”homeschooling, melejitkan potensi anak.” majalah embun, edisi 49v-rajab 1434.mei 2013, hlm 18. nur zakiyah, siti. 2017. pengembangan sekolah ramah anak berbasis edutaiment di sd muhammadiyah 1 purbalingga. purwokerto: institut agama islam negeri purwokerto. sugiyono. 2012. memahami penelitian kualitatif. bandung: alfabeta. suparno, paul. 2008. action research riset tindakan untuk pendidik. jakarta: grasindo undangundang nomor 8 tahun 2014 tentang kebijakan sekolah ramah anak. undang undang nomor. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. undang-undang nomor. 20 tahun 2003 tentang sstem pendidikan nasional. utami, ratnasari diah. 2017. implementasi penerapan sekolah ramah anak pada penyelenggaraan pendidikan sekolah dasar. the 5th urecol proceeding. surakarta: muhammadiyah university press. http://journal.upgris.ac.id/index.php/paudia pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 145 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 vol. 6, no. 2, desember 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i2.9159 pola kepemimpinan kepala sekolah dalam penguatan karakter di sekolah dasar kota sintang-kalimantan barat lusila parida1), sirilus sirhi 2) daniel dike3) 1),2),3) stkip persada khatulistiwa sintang 1)301086lp@gmail.com; 2)dsirilussirhi@gmail.com;3)denisthomason2246@gmail.com pendahuluan permasalahan atau problem-problem sosial terkait karakter siswa dalam bidang pendidikan pada lima tahun terakhir di kota sintang mendapat perhatian cukup serius dari dinas pendidikan dan pemerintah kabupaten sintang. mengingat menguatnya kasus kenakalan remaja seperti tindakan asusila, kasus pembunuhan terhadap kepala sekolah oleh orangtua siswa (prayogi, 2019), pencurian, kasus narkoba, serta meningkatnya penderita aids dikalangan muda menghadirkan kekuatiran tersendiri di kalangan masyarakat dan pemerintah. kondisi tersebut mendorong adanya pemikiran tentang pentingnya peraturan daerah untuk mengatur sistem belajar dan jam belajar agar hal-hal negatif dapat diminimalisir. hasil survey tahun 2018 dilakukan di sekolah-sekolah kota sintang ditemukan fenomena kuat adanya perilaku intoleran, indisipliner, masih rendahnya disiplin waktu untuk belajar, adanya kejadian saling ejek (bully) atau perundungan siswa lewat media sosial facebook dengan menguploud vidio tindakan perundungan (pujianto, 2019). kasus lain yang sempat memanas adalah saling abstract: this study aims to describe the image of principal's leadership patterns in the formation of character values in elementary schools. the research design used a case study research at the elementary school 07 sintang, the islamic elementary school sintang, and elementary school suluh harapan sintang. the subjects of the research used the area sampling method because of consideration of the special characteristics of the schools with reference schools, state islamic schools and private catholic schools. data collection is done through observation, in-depth interviews and document studies. the selection of research subjects using the purposive sampling method. the subjects of these researches were 33 people consisting of three principals and 30 teachers. data validity is done through the triangulation process. the results showed that the dominant leadership patterns in the three schools tended to be dominant in the instructional leader pattern. for the process of forming the students’ character to be more optimized, the principal must do a combination of leadership patterns. transformative leadership patterns and cultural leadership must be cultivated in strengthening character by innovating strategic programs according to the conditions and abilities of the school. the character strengthening programs that are integrated into students' subjects and extracurricular for students must accommodate the six stages of the pyramid of habituation of character values. keywords: strengthening, character, transformative,, cultural, leadership http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.9159 pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 146 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 mengejek dan menghina simbol-simbol agama yang membangkitkan isu sara dan tindakan persekusi terhadap etnis atau agama tertentu sehingga berproses sampai ke wilayah hukum (wahidin, 2019). dalam pergaulan sosial siswa menguat kecenderungan anak-anak mulai memililih dan membatas pergaulan dengan teman seiman dan mulai menutup diri terhadap anak-anak lain yang berbeda keyakinan. pembelahan dalam politik ikut berdampak secara sosial sampai di level pergaulan anak-anak di tengah masyarakat sehingga memberi kesan kuat bahwa sikap intoleransi dan kebencian terhadap kelompok lain adalah sesuatu yang secara langsung atau tidak langsung diajarkan kepada anak-anak. untuk membentuk dan memperkuat mutu pendidikan dengan nilai-nilai karakter di sekolah, dinas pendidikan kabupaten sintang mengadakan pelatihan model pembelajaran dalam membangun karakter siswa terhadap para guru. pelatihan guru diikuti oleh 80 orang yang tersebar di berbagai sekolah di sekolah-sekolah. sekretaris daerah (sekda) kabupaten sintang menjelaskan pentingnya penguatan terhadap aspek pelaku pendidikan, peningkatan mutu dan akses pendidikan serta mengembangkan efektivitas birokrasi melalui perbaikan tata kelola serta pelibatan publik (wahidin, 2019). pentingnya membangun karakter di setiap jenjang pendidikan merupakan bagian penting dari program nawa cita dan tri sakti. poit penting n0 8 dari nawa cita adalah penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan karakter peserta didik. perlu adanya revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan serta menempatkan secara proporsional aspek-aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotism, cinta tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti (lopolalan, 2014). agenda revolusi karakkter bangsa diperkuat dalam rpjm 2015-2019 yang menyatakan bahwa penguatan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik terintegrasi dalam matatim pelajaran (tim penyusun, 2017a). pendidikan karakter di sekolah dasar adalah proses membiasakan siswa membangun pemahaman moral (moral knowing), sensivitas moral (moral feeling) dan tindakan moral (moral action) dalam kehidupan mereka sehari-hari. penemuan dan pemaknaan nilai-nilai moral dikonstruksi dan dibudayakan melalui proses pembiasaan lingkungan dan bukan semata-mata lewat pengajaran di ruang kelas sebagai proses transfer of knowledge. martin heidegger menerangkan bahwa belajar adalah membuat segala sesuatu yang kita jawab menjadi hakikat yang selalu menunjukan dirinya sendiri setiap saat, karena apa yang dituntut dari mengajar adalah membiarkannya belajar (bonnet, 2010). jadi proses penguatan karakter proses kebudayaan, dimana produk kehidupan sosial dan aktivitas manusia dikembangkan (majelis luhur persatuan taman siswa, 2013). sebagai pemimpin pembelajaran kepala sekolah harus memahami bahwa aspek pikiran dan kognisi dan ingatan siswa adalah sesuatu yang melampaui aspek fisik (extending beyond the skin) sehingga proses belajar dalam penguatan karakter siswa adalah menghidupkan fungsi-fungsi intermental maupun extramental dalam kebudayaan pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 147 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 (ardichvili, 2010). proses belajar dan pembentukan karakter terjadi ketika apa yang muncul pada niat intermental diinternalisasi siswa dalam proses intersubyektifnya. artinya, proses karakter dalam diri siswa membutuhkan peran kekuatan lingkungan sosial (social environmet) maupun peran kekuatan batin (inner resources) siswa sendiri, sebab nilai-nilai karakter itu tertanam secara sosial dalam lingkungan budaya tertentu (elkind and sweet, 2019). penanaman nilai karakter di sekolah harus tiba pada kesadaran siswa bahwa ia tahu tujuan belajar dan bagaimana harus belajar (learn how to learn). jadi nilai tertinggi dari proses belajar adalah kemampuan siswa menjadi dirinya sendiri yang memiliki tangungjawab atas apa yang harus dilakukan, kapan sesuatu itu harus dikerjakan, serta bagaimana cara melakukannya, tanpa memandang apa siswa senang atau tidak dengan apa dikerjakannya (zamroni, 2014). dalam mencapai kompetensi karakter unggul kepala sekolah memegang peranan penting karena ia sesungguhnya memiliki kapasitas sebagai leader, manager dan motivator yang menentukan arah dan tujuan kebijakan pendidikan karakter di sekolah. kepala sekolah harus mengupayakan semua komponen sekolah berkomitmen menjalankan fungsinya dengan merujuk peraturan presiden nomor 87 tahun 2017 tentang penguatan pendidikan karakter yang memprasyaratkan adanya manajemen berbasis sekolah (mbs). bagaimana gambaran kepemimpinan, pola kepemimpinan dan hasil yang diharapakan dari impementasi pendidikan karakter menjadi pertanyaan yang hendak dijawab dalam riset ini melalui studi kasus pada tiga sekolah dasar di kota sintang, kalimantan barat. metode penelitian penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk mengembangkan worksheet tematik integratif berbasis scientific inquiry. tahap-tahap pengembangan mengikuti borg and gall (dalam haryati, 2012:14-15) dalam sepuluh tahapan yaitu 1) penelitian dan pengumpulan data (research and information collecting); 2) perencanaan (planning); 3) pengembangan draf awal produk (develop preliminary form of product); 4) uji coba lapangan awal (preliminary field testing) 5) merevisi hasil uji coba (main product revision); 6) uji coba lapangan (main field testing); 7) penyempurnaan produk hasil uji coba lapangan (operational product revision); 8) uji pelaksanaan lapangan (operational field testing); 9) penyempurnaan produk akhir (final product revision); 10) diseminasi dan implementasi (dissemination and implementation). penelitian ini menggunakan case study research karena mengkaji fenomena faktual pendidikan dasar terkait program penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar (ary, d., jacobs, l.c., & sorensen, 2010). penelitian ini dikategori sebagao field research karena informasi data diperoleh secara langsung dari subyek penelitian di lokasi penelitian (martell, 2017). penelitian ini dilaksanakan di kota sintang, kalimantan barat, sejak februari-agustus 2019 dengan metode sampling area yakni sebagian populasi dianggap merepresentasikan ciri populasi sekolah dasar yang ada di kota sintang. karakteristik subyek dipilih berdasarkan ciri atau karakteristik sekolah yakni sekolah rujukan (sdn 07 sintang), madrasah (min sintang) dan sekolah swasta pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 148 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 umum (sd suluh harapan). pemilihan subyek penelitian menggunakan metode purposive sampling dengan pertimbangan bahwa subyek ditentukan sesuai tujuan riset. atas pertimbangan bertujuan tersebut dipilih 3 orang kepala sekolah dari tiga sekolah, dan 10 guru dari tiap-tiap sekolah sehingga jumlah subyek penelitian berjumlah 33 orang. pengumpulamn data dilakukan melalui wawancara mendalam (deep interview) terhadap kepala sekolah terkait perannya dalam penguatan pendidikan karakter. pusat amatan adalah kegiatan dan aktivitas kepala sekolah, guru dan siswa terkait penguatan karakter dalam proses pembelajaran di ketiga sekolah. analisis data dilakukan secara induktif (interaktif), yaitu penelitian dimulai dari fakta empiris dan melakukan pembentukan data dengan analysis interactive model miles & huberman (iman gunawan, 2015). proses analisis data ini terbagi menjadi tiga tahapan penting yaitu melakukan reduksi data, display data dan verikasi/penarikan kesimpulan yang dilakukan secara berulang dan interaktif sampai memastikan seluruh data sudah valid atau ajek (miles & huberman, 1994) hasil dan pembahasan bagian hasil dan pembahasan ini mendeskripsikan bagaimana pola kepemimpinan kepala sekolah dalam penguatan karakter siswa sekolah dasar di tiga sekolah dasar dengan karakteristik yang berbeda. secara rinci hasil dan kajian aspek-aspek tersebut diuraikan sebagai berikut: 1. peran kepala sekolah dalam penguatan karakter di sdn 7 sintang a) peran kepala sekolah sebagai manager peran kepala sekolah sebagai manager dalam penguatan nilai-nilai karakter tergambar dari informasi wawancara dan amatan dijumpai data dan fenomena terkait adanya upaya penciptaan managerial yang baik di sekolah.implementasi lima pilar penting ini melalui peran managerial, leader dan motivator kepala sekolah tergambar secara ringkas pada tabel 1. tabel 1. peran managerial karakter managerial pola kepemimpinan penguatan karakter siswa dalam perencanaan program sekolah menyusun visi, misi dan tujuan sekolah yang berbasis penguatan nilai-nilai karakter yang disosialisasi melalui papan flocat di dinding depan kantor kepala sekolah. merencanakan program pengintegrasian pendidikan karakter bersama team sekolah untuk semua mata pelajaran. mengkaji kebijakan pendidikan karakter dan membuat beberapa program yang terjangkau seperti operasi semut, praogram spiritual, kerja sama luar negeri. merencanakan supervisi harian dan mingguan sebagai upaya peningkatan profesionalisme guru dan kesiapan belajar membuat pembagian tanggungjawab pelaksanaan pendidikan karakter bersama guru, program pembinaan guru pemula untuk karakter. penguatan karakter siswa dalam pelaksanaan program mengoptimalkan sarana pendidikan di sekolah sebagai tempat pembudayaan nilai-nilai karakter yakni religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas seperti pengadaan fasilitas olahraga pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 149 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 sekolah futsal dan basket. mengerakkan semua unsur sekolah dalam implementasi pendidikan karakter memberikan layanan yang baik bagi semua warga sekolah dan tamu dengan tugas guru piket di depan gerbang sekolah. bermitra dengan komite dan instansi lain seperti the brige australia. pemberdayaan guru, siswa, komite, orangtua dan sarpras penguatan karakter siswa dalam evaluasi program sekolah supervisi akademik, non akademik dan administrative membuat evaluasi diri sekolah, rapat mingguan, bulan, semester, tahunan. hasil supervisi dijadikan perbaikan dan inovasi program sekolah b) peran leader peran kepala sekolah sebagai leader dalam penguatan nilai-nilai karakter dilakukan melalui pemberian arahan, pendelegasian dan pemberian keputusan. berdasarkan amatan dan wawancara disimpulkan beberapa temuan pada tabel 2. tabel 2. peran leader karakter leadership pola kepemimpinan penguatan karakter siswa dalam pemberian arahan/petunjuk menghindari persoalan-persoalan seperti miss understanding dan miss communication dalam komunikasi dan koordinasi antar guru dan pimpinan. evaluasi, pengarahan dan pengawasan langsung terhadap guru dan progam. memahami kondisi guru, staf, dan siswa dan beri suport kinerja mereka. adanya toleransi bagi guru yang berhalangan melaksanakan tugas atas pertimbangan kemanusiaan. adanya iklim keterbukaan terhadap kritik, ruang kepala sekolah terbuka untuk para guru, karyawan dan orangtua menyampaikan kritik. membangun komunikasi yang baik dengan rekan guru dan staf memberikan petunjuk yang tepat dan menangani konflik bersama team sekolah membangun iklim kerja yang positif dan memunkinkan guru bekerja dengan tenang dan percaya diri. penguatan karakter siswa dalam pendelegasian tugas memberi tugas dan wewenang kepada guru dalam tugasnya atau programnya untuk mencapai tujuan atau program sekolah. adanya penerimaaan yang baik serta penuh tanggungjawab dari guru dan karyawan untuk menjalankan tugas yang diberikan menerima pertanggungjawaban hasil dan memberi reward terhadap guru dan siswa yang memiliki kinerja dan prestasi seperti prestasi dalam lomba o2sn. mengontrol dan mengkoordinasikan pekerjaan staf dan guru memberikan kepercayaan penuh dan tidak mengambil alih tugas yang sudah didelegasi penguatan karakter siswa dalam pemberian keputusan ada putusan dan kesepakatan bersama terkait program penguatan karakter. memberikan keputusan secara cepat dan tepat sasaran. ada akses informasi yang disediakan untuk siswa, guru dan orangtua. mengutamakan musyawarah dalam pengambilan keputusan c) peran motivator peran kepala sekolah sebagai motivator dalam penguatan karakter berdasarkan amatan dan wawancara secara ringkas diuraikan pada tabel 3. pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 150 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 tabel.3. peran motivator karakter motivator pola kepemimpinan mendorong guru sebagai model karakter bagi siswa menciptakan iklim kerja yang baik, menyenangkan, transparansi menetapkan prinsip penghargaan dan sangsi untuk kinerja guru dan siswa memberi kepercayaan dan tanggungj jawab tugas kepada guru & staf penguatan karakter melalui pembudayaan nilai karakter menanamkan nilai-nilai karakter sesuai budaya dan situasi kondisi sekolah membiasakan tegur, salam, sapa, antar warga sekolah program operasi semut untuk kebersihan lingkunga kelas dan sekolah” menumbuhkan budaya antri mengadakan kegiatan rohani untuk semua siswa dari semua agama mendorong toleransi dan solidaritas diantara guru & siswa 2. peran kepala sekolah dalam penguatan karakter siswa di sekolah madrasah ibtidaiyah negeri sintang a) peran managerial madrasah ibtidaiyah negeri sintang merupakan sekolah di bawah kementerian agama sehingga kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional berdasarkan semangat, misi dan nilai-nilai islam. min sangat konsen terhadap pembentukan karakter siswa berlandaskan landasan alqur’an dan hadist dan tradisi religius islam. perilaku religius ini tampak dalam sikap-sikap islami yang ditanamkan melalui pembentukan watak, sikap, tindak tanduk, tutur kata, sikap doa, ibadah, sikap hormat kepada guru, orangtua, teman dan sesama. semua program dan praktik perilaku ini didukung dengan sarana memadai yakni gedung sekolah yang cukup megah serta bangunan surau dua lantai sebagai pusat kegiatan rohani. secara ringkas peran kepemimpinan kepala sekolah sebagai manager tergambar pada tabel 4. tabel 4. peran manager karakter managerial pola kepemimpinan penguatan karakter siswa dalam perencanaan program sekolah merumuskan visi dan misi sekolah, membuat struktur organisasi sekolah, menyusun program kerja kepala sekolah, menyusun data guru, menyusun bank data siswa, membuat grafik keadaan siswa, membuat buku tamu, membuat buku mutasi dan menyusun jadwal rapat sekolah & rapat komite. merencanakan dan melaksanakan program keagamaan seperti program infak untuk sumbangan pembangunan fasilitas sekolah seperti mushola. memastikan kesiapan guru terkait perangkat pembelajaran seperti silabus, rpp, bahan ajar. memastikan kesiapan dukungan sarana ruang kelas, lapangan olahraga, kantin, parkir, taman terbuka hijau, surau yang difungsikan sebagai tempat ibadah dan aula. pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 151 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 penguatan karakter siswa dalam pelaksanaan program sekolah menjalankan kurikulum sesuai dengan kurikulum nasional dan kurikulum berbasis agama islam (depag) melatih aspek kognitif siswa secara kontekstual dan berpusat pada siswa seperti pembelajaran ipa, langsung dilatih bagaimana cara mencangkok tanaman dan dipraktekan secara langsung oleh guru dan siswa di luar kelas. mewajibkan hapalan juzt ayat-ayat alqur’an sebagai bagian dari latihan iman, olah hati dan pengusaan siswa tentang agama dan nilai-nilai keislaman. kepedulian sosial melaui program infaq rutin rp. 1000 setiap hari jumat dan menyumbangkan pakaian yang pantas untuk sesama atau teman yang membutuhkan biasana dalam bulan rahmadan. menggiatkan partisipasi siswa dibidang olah raga dengan prestasi nyata seperti bidang badminton dan futsal. penguatan karakter siswa dalam pengevaluasian program sekolah monitoring dan pengawasan rutin sebagai tolok ukur bagi kepala sekolah maupun bagi guru,siswa dan karyawan untuk mencapai tujuan. selalu sial untuk pengawasan oleh team internal sekolah maupun depag dan dinas pendidikan, karena guru-guru yang mengabdi tidak hanya pns depag tetapi juga pns dinas pendidikan sehingga adanya kolaborasi dalam proses supervisi. pengawasan rutin terhadap siswa untuk memantau perkembangan dan kebiasaan siswa setiap hari di sekolah. b) peran leader peran kepala sekolah sebagai leader berdasarkan amatan dan wawancara secara ringkas diuraikan pada tabel 5. tabel 5. peran leader karakter leadership pola kepemimpinan penguatan karakter siswa dalam pemberian arahan/petunjuk ada arahan bagi guru dan karyawan untuk melaksanakan program sekolah guru dan karyawan diarahkan dengan petunjuk teknis dari kepalas ekolah maupun, depang dan terkait karakter sesuai nilai-nilai islam. penguatan karakter siswa dalam pendelegasian tugas mempercayai dan mendelegasikan tugas sesuai keahliannya masingmasing. guru dan staf . menguatkan fungsi peran 4 koordinator (bukan wakil kepala sekolah sesuai juknis) yang menangani 18 rombel seperti: koordinator kurikulum, kesiswaan, sarpras dan humas. penguatan karakter siswa dalam pemberian keputusan keputusan berdasarkan hasil musyawarah. ada legalitas setiap keputusan & diimplementasi di setiap koordinator. masalah dilevel siswa & guru dilakukan identifikasi untuk memastikan kejelasan akar masalah c) peran motivator berdasarkan amatan dan wawancara disimpulkan beberapa point penting peran motivator kepala sekolah dan tergambar pada tabel 6. tabel 6. peran kepala sekolah sebagai motivator karakter motivator pola kepemimpinan penguatan karakter melalui dorongan bagi bawahan untuk menjadi model karakter siswa mendorong penyediaan fasilitas untuk mengakomodir pembentukan karakter memberi keteladanan sebagai pemimpin untuk menjadi model karakter baik bagi bawahan maupun siswa kepala sekolah dan guru sebagai role model dari nilai-nilai karakter pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 152 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 yang ditanamkan baik dalam disiplin, kerajinan, kejujuran, semangat dan sikap doa, semangat berbagi melalui infaq, merawat dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan kelas penguatan karakter siswa dengan penguatan/pembudayaan pendidikan karakter membudayakan nilai-nilai religius dan norma-norma yang berlaku di masyarakat, seperti sholat 5 waktu, senyum dan tegur sapa yang baik antar warga sekolah. adanya keterlibatan orangtua dan masyarakat dalam proses dan keberhasilan belajar siswa di sekolah selalu rutin menyelenggarakan dan memperingati hari-hari kebangsaan dan keagamaan. adanya sikap solider yang tinggi baik bagi guru maupun bagi siswa adanya keterlibatan dalam kebersihan lingkungan sekitar sekolah kerjasama dan kolaborasi yang baik antara sesama guru yang berjumlah 44 orang dan siswa sebanyak 800an orang. 3. peran kepemimpinan kepala sekolah di sd suluh harapan sintang peran kepemimpinan kepala sekolah di sd suluh harapan memiliki warna kepemimpinan yang khas sesuai dengan nilai-nilai pendidikan katolik. meskipun tidak eksplisit diberi nama sekolah katolik namum nilai dan visi universalnya dilandasi oleh nilai-nilai pendidikan katolik yang sifatnya terbuka pada semua nilai baik yang ada pada semua agama dan budaya. hal ini terkondisi oleh visi dan misi pendiri yang berlatar katolik. kepala sekolah yang mengemban tugas pemimpin minimal memiliki latar belakang dan pemahaman terhadap visi pendidikan katolik yang menegaskan 100% katolik dan 100% indonesia. a) peran manager sekolah ini menjalankan kurikulum pendidikan sesuai kurikulum nasional, namun sebagai sekolah swasta yang memiliki otonomi tentu memiliki visi dan misi dalam mendukung program pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa. sebagai sekolah katolik dalam implementasinya dibidang akademik maupun non akademik mengakomodir semua agama dari siswa dan guru yang ada di sekolah seperti, katolik, protestan, islam dan budha, konghucu. kepala sekolah sebagai manager memiliki program program sekolah untuk penguatan nilai-nilai karakter. berdasarkan wawancara dan amatan secara ringkas diuraikan pada masing-masing tabel 7. tabel 7. peran managerial karakter managerial pola kepemimpinan penguatan karakter siswa dalam perencanaan program sekolah adanya perencanaan tentang pendidikan karakter yang tertuang dalam visi dan misi serta program sekolah. ada 6 nilai prioritas untuk mengembangkan pemahaman nilai-nilai karakter pendidikan abad 21, yaitu: (1) bertubuh sehat, (2) mandiri, (3) tekun, (4) berpikir terbuka, (5) memiliki jiwa kepemimpinan, (6) bersyukur. penguatan karakter siswa dalam pelaksanaan program sekolah suasana belajar dikondisikan menyenangkan dan memberi rasa aman penanaman nilai keagamaan, moral dan etika universal siswa melatih kebiasaan yang baik bagi guru, karyawan dan peserta didik seperti: kejujuran, kedisplinan, kerja sama dan tanggungjawab memperkenalkan teknologi bagi guru, karyawan dan peserta didik melatih keterampilan berbahasa baik nasional maupun internasional yang santun sebagai alat komunikasi (belajar bahasa inggris dan pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 153 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 mandarin). penguatan karakter siswa dalam pengevaluasian program sekolah adanya monitoring langsung di lapangan adanya pengawasan tentang pelaksanaan jam mengajar pelaksanaan monitoring yang disepakati team sekolah adanya kolaborasi dan kebersamaan sebagai kepala sekolah dan pihak yayasan untuk memantau perkembangan sekolah b) peran leader peran kepala sekolah sebagai leader dalam penguatan nilai-nilai karakter berdasarkan wawancara dan amatan diuraikan pada tabel 8. tabel 8. peran leader karakter leaderhip pola kepemimpinan penguatan karakter siswa dalam pemberian arahan/petunjuk adanya petunjuk atau arahan secara langsung seperti mengarahkan guru untuk memperhatikan siswa yg sedang bermain di halaman pada saat jam istirahat. membagi tugas dan tanggungjawab kepada guru dalam menjalankan tugas baik dalam pembelajaran maupun di luar akademik arahan secara lisan maupun tulisan. menyusun target kerja yang harus dicapai oleh seluruh perangkat sekolah (guru, staf, pimpinan). memahami dengan berbagai kondisi yang ada dengan keterbukaan dan saling memahami penguatan karakter siswa dalam pendelegasian tugas adanya pendelegasian tugas sesuai prosedur yang ada di sekolah pendelegasian diberikan kepada wakil kepala sekolah, guru dan staf terkait tugas yang tidak bisa dilakukan oleh kepala sekolah maupun tugas pokok lainnya dalam menjalankan program-program sekolah adanya tanggungjawab dan kolaborasi dalam menjalankan tugas yang diberikan penguatan karakter siswa dalam pemberian keputusan adanya keputusan untuk tugas atau tanggung jawab yang sifatnya prinsip dan berhubungan dengan kepentingan sekolah bersifat regulatif adanya musyawarah dalam pengambilan keputusan adanya identifikasi masalah sebelum membuat keputusan c) peran kepala sekolah sebagai motivator peran kepala sekolah sebagai motivator dalam penguatan nilai-nilai karakter berdasarkan wawancara dan amatan tergambar pada tabel 9. tabel 9. peran motivator karakter motivator pola kepemimpinan penguatan karakter melalui dorongan bagi bawahan untuk menjadi model karakter siswa adanya contoh kedisplinan yang diberikan kepada bawahan oleh pimpinan adanya teguran bagi guru yang kurang disiplin adanya bimbingan dan motivasi bagi guru-guru muda dalam menjalankan perannya di sekolah penguatan karakter siswa dengan penguatan/pembudayaan pendidikan karakter melaksanakan pendekatan parenting dalam proses belajar siswa adanya keteladanan yang diperankan kepala sekolah dalam ucapan, pakaian, pola asuh dan perbuatan mengawasi penggunaan waktu mengajar adanya pertemuan rutin untuk menerapkan pola parenting yang baik bagi siswa adanya kolaborasi guru dalam menjalankan program sekolah pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 154 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 program penguatan pendidikan karakter di sekolah usaha-usaha yang dilakukan untuk penguatan karakter di tiga sekolah umumnya terintegrasi dalam kegiatan belajar dan melalui kegiatan rutin sekolah. hal ini terlihat dari adanya kesamaan program dan kegiatan sekolah sebagai upaya nyata mewujudkan sekolah berkarakter. berdasarkan amatan dan wawancara yang dilakukan di sd negeri 7 sintang, sd suluh harapan dan madrasah ibtidaiyah negeri sintang menggambarkan adanya upaya penguatan karakter melalui penyususan visi, misi dan tujuan sekolah yang berbasis nilai-nilai karakter. di ketiga sekolah pembelajaran diintegrasi dengan penguatan yang didukung oleh nama besar sekolah dengan kategori sekolah adiwiyata (sdn 07), sekolah berbasis karakter religious (min), sekolah multikultural (sd suluh harapan). implementasi kebijakan penguatan karakter dilakukan melalui analisis kondisi sekolah, merencanakan supervisi sebagai upaya peningkatan profesionalisme guru serta membuat struktur organisasi sekolah dengan bagan konsep tulisan yang disosialisasi lewat papan flocat diruangan guru dan kepala sekolah. pembenahan administrasi dan modernisasi data melalui bank data sekolah program dapodak merupakan bagian dari upaya meningkatkan dan mempertahankan status akreditas sekolah dengan kategori unggul. implementasi kebijakan pendidikan karakter mulai difokus lebih dahulu pada upaya memperlancar kegiatan belajar siswa sehingga fokus kepala sekolah terarah pada penyusunan data guru, bank data siswa, grafik keadaan siswa, membuat buku tamu, membuat buku mutasi, jadwal rapat sekolah dan rapat komite sekolah. kegiatan yang spesifik ditentukan oleh kekhususan masing-masing sekolah. misalnya, madrasah memiliki rencana melaksanakan program keagamaan yang berpedoman pada haditz dan alquaran dan program habituasi nilai-nilai budaya islam. program rutin yang dilakukan sekolah atau guru adalah menyiapkan kelengkapan silabus, rpp, bahan ajar, sarana ruang kelas, lapangan olahraga, kantin, parkir, taman terbuka hijau, surau yang difungsikan sebagai tempat ibadah dan aula. pembelajaran berjalan normal setiap sekolah dan belum terlihat adanya program khusus yang menampilkan adanya sosialisasi yang masif terkait penguatan karakter. pola kepemimpinan kepala sekolah dalam penguatan karakter perbedaan pola kepemimpinan ditentukan oleh kebijakan program, eksekusi program dan evaluasi pencapaian program serta norma-norma dan kultur organisasi sekolah. pola kepemimpinan dipandang sebagai satu persyaratan kunci kesuksesan, prestasi, dan pencapaian tujuan organisasi (yukl, 2002). dari kacamata tersebut dapat dilihat bahwa pola kepemimpinan terkait penguatan pendidikan karakter pada ketiga sekolah sama-sama lebih difokus pada kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership). hal ini terlihat dari titik penekanan pada target capaian kurikulum dan kegiatan belajar setiap hari di sekolah. program penguatan karakter akhirnya lebih diorientasikan pada program kegiatan rutin sekolah. ketiga kepala sekolah belum memiliki program strategis penguatan karakter yang khas (khusus) sesuai kondisi, kebutuhan dan keunggulan sekolah. jadi program strategis yang dimiliki oleh kepala pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 155 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 sekolah adalah “program intergrasi nilai karakter melalui mata pelajaran sesuai arahan kementrian pendidikan. dengan demikian program pendidikan karakter masih terlihat sebagai program rutin pembelajaran setiap mata pelajaran yang diajar guru di setiap sekolah. ada indikasi kuat bahwa semua sekolah ingin maju dengan hasil yang baik, dengan prestasi yang banyak diraih dalam berbagai iven o2sn di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. dinamika pendekatan scientific dalam kurikulum 2013 belum banyak terlihat dalam implementasinya di kelas meskipun rencana pembelajaran sudah menyertakan nilai-nilai karakter. belajar masih dominan di ruang kelas dengan pola konvensiona, belum banyak aktivitas observasi, menanya, membuat eksperimen, membangun asosiasi dan penalaran siswa, membiasakan tindakan komunikasi dan kolaborasi diantara guru. cukup kuat diarasakan fenomena siswa diberi banyak pekerjaan rumah, les-les tambahan di rumah guru untuk memenuhi capaian nilai kognitif siswa. ini fenomena umum yang cukup banyak ditemukan di sebagian besar sekolah dasar. materi kurikuluim yang banyak dan guru sendiri belum mahir dalam mengelola pembelajaran tematik dengan pendekatan scientific, membuat proses kreativitas, inovasi dan pengembangan kemampuan berpikir kritis (high other thingking skill) masih cukup lemah di sekolah-sekolah. terkait probelematika ii kepala sekolah belum memiliki kebijakan dan program strategis khusus yang dirancang untuk penguatan pendidikan karakter di sekolah berbasis kelas, berbasis sekolah dan berbasis masyarakat sebagai bagian integral dari proses pendalaman dan perluasan bidang penguatan karakter (tim penyusun, 2017b). umumnya penekanan program terfokus pada unsur aspek disiplin waktu, kebersihan, kerapihan berpakaian dan kondisi lingkungan sekolah dengan tanaman hias yang mendapat perhatian dan prioritas lebih ketika sekolah mempersiapkan visitasi akreditasi sekolah. ada upaya inovasi program seperti di sdn 07 sintang melalui program operasi semut yang mewajibkan seluruh siswa dan guru memungut dan membersihkan sampah di sekitar sekolah, ruang kelas sebelum memulai dan mengakhiri pelajaran. target yang ingin dicapai adalah menjaga dan merawat kebersihan lingkungan sekolah dengan nilai karakter yang ditanamkan adalah tanggung jawab dan kemandirian. di setiap dinding sekolah, di area depan di pampang 18 nilai karakter sebagai bagian dari sosialisasi membangun ingatan siswa terkait nilai-nilai karakter namun tidak semua siswa memberi perhatian yang serius terhadap semua nilai yang tercatat di papan flocat dari 5 bidang prioritas yang dikembangkan yakni, religius, nasionalis, integritas, gotong royong dan mandiri. penguatan nilai karakter terlihat juga dari fenomena di ruang-ruang kelas, di teras, di gang-gang sekolah terpampang tulisan atau qout, kata-kata bijak yang bertujuan memotivasi siswa untuk hal-hal yang baik atau nilai kebajikan. tulisan-tulisan tersebut mencerminkan upaya sekolah memperkenalkan dan mensosialisasikan nilai karakter agar siswa tahu, paham dan bisa menjalankan beberapa keunggulan yang dimiliki sekolah. keunggulan sekolah seperti sekolah adi wiyata membangun kesadaran publik sekolah bahwa kebersihan menjadi bagian penting dari kehidupan pribadi dan komunal. hal yang sama juga terlihat di sd suluh harapan, ada qout dan kata-kata motivasi ditempel, digantung di dinding ruang kelas. tulisan dan qout semacam ini dihrapkan pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 156 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 memberi informasi pengetahuan dan ingatan siswa dan para pengunjung. sd suluh harapan terarah untuk mencapai enam nilai yang ia yakini diperlukan untuk pendidikan abad 21 yaitu: 1) sehat, 2) mandiri, 3) tekun, 4) berpikir terbuka, 5) memiliki jiwa kepemimpinan, 6) bersyukur. dengan demikian kebijakan sekolahnya menekankan pentingnya parenting. parenting difokuskan pada hal-hal sederhana seperti penanaman nilai sopan santun, kehalusan dalam bertutur kata dan menyapa orang lain yang seusia dan yang lebih tua. kepala sekolah sd suluh harapan menjelaskan demikian: ”saat ini, nilai tata krama, sopan santun, bahasa yang halus, dan terpuji pada dunia anak-anak sudah berkurang. anak-anak cenderung mudah berkata kasar, perilakunya kurang sopan sehingga kami guru di sekolah memerankan posisi sebagai orangtua, sekaligus kakak untuk anak-anak didik kami karena rata-rata guru-guru kami semua masih frees graduate. jadi hal-hal yang baik, tata krama, cara menyapa, memberi salam, meminta maaf dan mengucapkan terima kasih itu benar-benar kami budayakan di sekolah ini.” intervensi kebijakan pembelajaran dan karakter di sd suluh harapan menekankan pada “nilai-nilai seperti tubuh harus selalu sehat, mandiri, tekun, berpikir terbuka, memiliki jiwa kepemimpinan.” nilai-nilai ini selalu ditanamkan dalam diri siswa dalam setiap pembelajaran di sekolah oleh guru. sd suluh harapan membudayakan proses dan kegiatan belajaran secara menyenangkan dengan tetap fokus pada penguatan nilai keagamaan, moral dan etika, melatih kebiasaan yang baik bagi guru, karyawan dan peserta didik. bahasa dan perilaku yang baik dan lembut harus pertama-tama ditunjukan oleh guru. karena itu disekolah ini tidak ada toleransi bagi guru yang melakukan kekerasan verbal maupun fisik terhadap siswa. siswa juga memperkuat literasi sastra dan bahasa melalui pengajaran bahasa nasional maupun internasional seperti bahasa inggris dan mandarin diajarkan di sd suluh harapan. sd suluh harapan sebagai sekolah swasta yang didirikan oleh tokoh-tokoh katolik secara tidak langsung mengembangkan nilai-nilai kristiani yang sejalan dengan budaya multikultural yang tetap berpedoman pada konsep pendidikan katolik seperti gravissimum educationis (ge). sistem ini tidak hanya menekankan aspek akademik tetapi kemanusiaan universal yaitu “...setiap anak memperoleh pengetahuan yang secara berangsur-angsur diperoleh tentang dunia, kehidupan dan manusia yang disinari oleh terang iman.” dasar filosofis persekolahan katolik umumya terkait visi ideal tentang manusia. kemampuan ini dicapai atau yang wajib dimiliki siswa ketika menempuh suatu jenjang pendidikan tertentu termasuk sejak pendidikan dasar terkait karakter (sarkimin, 2017). inti dari pendekatan parenting yang dikembangkan kepala sekolah dalam strategi penguatan karakter di sd suluh harapan terarah pada pembentukan kepribadian dan kemanusiaan utuh dari generasi muda yang tumbuh dalam kasih allah yang dilengkapi dengan akal budi dan kepribadian yang baik sehingga mampu mempertanggung jawabkan seluruh tindakan dan pendiriannya. penguatan karakter di madrasah ibtidaiyah negeri sintang lebih dominan pada dimensi religius karena sekolah ini berlatar agama islam dan berada di bawah kementrian agama. karakter dan program karakter yang diupayakan di dalam proses belajar adalah penanaman nilai-nilai dan budaya islami baik dari tata krama sopan pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 157 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 santun, cara berpakaian semuanya disesuaikan dengan nilai-nilai dan tradisi islam. hal ini terlihat mulai dari bangunan fisik sekolah, sarana pra sarana, penggunaan hijab maupun aturan lainnya sangat mencerminkan karakteristik sekolah yang khas islam. sekolah ini homogen karena semua guru dan siswanya beragama muslim. disatu sisi kepemimpinan dalam semua program menjadi lebih mudah karana satu kebijakan menjangkau semua dalam satu kegiatan bersama seperti berdoa, sholat berjemaah, kebijakan infaq, atau membuat acara khusus keagamaan seperti perayaan-perayaan keagamaan sangat mudah dikondisikan dan dikordinir. tekanan peran kepala sekolah adalah berupaya menciptakan kehidupan sekolah yang sehat, agamis, memiliki moralitas dan etika islam yang kuat. lingkungan dan kondisi sekolah yang homogen sangat membantu peningkatan kinerja sekolah dalam mendukung terciptanya kehidupan religius yang lebih baik di sekolah (asmendri, 2014). hal ini tergambar jelas dalam surat ali imran, 3:103, “dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” juga sesuai firman allah dalam surat as shaff (61:4) dinyatakan, “sesungghnya allah menyukai orang yang berperan di jalan-nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti satu bangunan yang tersusun kokoh” (zamroni, 2014). modal sosial religius inilah menjadi kekuatan kepala sekolah dalam menggerakan dan merancang program strategis berbasis nilai-nilai unggul islam dalam penguatan, perluasan dan pendalaman pendidikan karakter di level kelas, sekolah dan masyarakat. strategi dalam penguatan pendidikan karakter kemampuan kepala sekolah diukur dari keterampilannya mengartikulasi visinya disetiap kesempatan serta kapasitasnya mempengaruhi guru, staf, siswa, orangtua dan semua pemangku kepentingan lainnya (chang, 2004; goverment, 2018). agar kepemimpinan menjadi efektif, kepemimpinan harus dibangun di atas dasar yang kuat yakni adanya visi dan misi yang jelas untuk masa depan, ada strategi spesifik, dan adanya budaya sukses (charanjit s. rihal, 2017). umumnya ketiga sekolah dmasih berkutat pada semua peran dan program rutin sekolah dan program rutin, seperti upacara bendera setiap hari senin, adanya piket kelas, disiplin berbaris masuk kelas, doa bersama sebelum masuk kelas atau sebelum memulai pembelajaran, sholat berjemaah, kegiatan rohani setiap jumat bagi yang non muslim, ketemu guru memberi salam dan cium tangan. atau program spontan terkait mengumpulkan sumbangan untuk korban bencana, kematian atau kedukaan yang menimpa siswa, guru atau orangtua siswa dan guru. beberapa kegiatan di luar jam sekolah seperti ekstrakurikuler dan pramuka wajib hanya. strategi penguatan yang transformatif belum dimiliki sekolah. strategi kebijakan untuk mengotimalkan integrasi nilai karakter dalam mata pelajaran dan kegiatan rutin melalui management pengelolaan kinerja kepala sekolah untuk penguatan karakter. kepala sekolah perlu membuat rancangan sederhana penguatan nilai karakter seperti yang dirancang pada tabel 10. pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 158 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 tabel 10. rancangan program strategis untuk inovasi penguatan nilai karakter di sekolah program kegiatan nilai karakter yang ditanamkan strategi pencapaian penanggung jawab anggaran hasil yang diharapkan program rutin/ semesteran rekoleksi manasik haji religius mandiri kerjasama depag/ paroki/remaja mesjid kepala sekolah team guru 1 rp.... siswa rajin ibadah aktif di kegiatan rohani estra kurikuler pramuka seni budaya kreatif tanggungjaw ab kemah budaya pentas seni etnik team guru pusat sangar rp.... sekolah sadar budaya siswa kreatif spontan tanggap musibah peduli infaq kotak sumbangan waka kurikulum ketua osis rp.... peka dengan penderitaan sesama aktivitas di rumah merawat tananaman peduli lingkungan satu siswa satu pohon/tanaman individu siswa, orangtua, guru rp.... terampil merawat tanaman di rumah literasi membaca buku cerita gemar membaca membuat sinopsis wali kelas, dan guru rp... cinta buku, cinta pengetahuan tabel 10 adalah sebuah contoh sederhana yang bisa diinovasi oleh kepala sekolah dalam merancang program strategis untuk perluasan dan pendalaman terhadap penguatan karakter di kelas, di sekolah dan dimasyarakat sesuai kondisi dan karakteristik sekolah. hal ini penting untuk mendukung dan meningkatkan kapasitas dan skill kepala sekolah untuk mendisaian program untuk pendidikan karakter yang dijangkau sekolah dan terukur dalam evaluasi pencapaiannya. dalam kaitan dengan peran leader, manager, motivator kepala sekolah dapat menginovasi dan memperkuat strategi penguatan karakter melaui rancangan sederhana untuk memimpin, menata kegiatan guru dan siswa, serta memberi motivasi kepada guru untuk mengembangkan kegiatan secara inovatif. umumnya kepala sekolah saat ini sudah tidak diberi beban mengajar sehingga sangat dimungkinkan dirinya lebih fokus untuk memikirkan program terobosan dan penataan management berbasis sekolah untuk merealisasi penguatan karakter. hal ini penting agar kepala sekolah tidak terjebak pada habituasi karakter yang sifatnya rutinitas saja. umumnya kepala sekolah sudah unggul dalam kepemimpinan pembelarajan (instructional leadership) tetapi belum banyak mengembangkan kemampuan kepemimpinan transformatif (trasformatif leadership). model kepemimpinan tranformatif harus lebih dibudayakan di sekolah terkait penguatan karakter. pola ini akan lebih mendorong kepuasan dan keyakinan siswa dan guru, guru merasa tidak tertekan dan memberi perhatian pada kemajuan siswa (academic excelent) serta memberi keyakinan kepala sekolah terhadap kinerjanya sendiri. hasil penelitian yang dilakukan di sekolah-sekolah kecamatan purwakarta ditemukan bahwa kepemimpinan yang lebih tranformatif memberi dampak yang lebih baik terhadap kemajuan sekolah (yuningsih & herawan, 2015). demikian juga perbaikan sistem dan aspek layanan mutu manajemen sekolah akan memberi dampak positif bagi perbaikan kinerja guru dan layanan yang bermanfaat bagi siswa (dike, daniel, & parida, 2016, 2019; ozkan, pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 159 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 2015). kepemimpinan transformasional menekankan adanya pergeserean dari dimensi kepemimpinan menuju “profesionalisme, karena profesionalisme lebih menekankan kompetensi dari pada sekedar keterampilan memimpin (lynch, 2015). dalam mempercepat peningkatan hasil dan dampak penguatan nilai-nilai karakter maka kepala sekolah perlu juga mengembankan kepemimpinan berbasis budaya (cultural leadership) karena karakter tidak lepas dari konteks sosial dan budaya setempat, budaya sekolah (carjuzaa, 2012; john keedy, 2002). cultural leadership menekankan pemahaman dan kompetensi terkait nilai-nilai kepercayaan dan identitas sosial kultural siswa dan guru. menurut nononka dapat ditempuh melalui empat strategi yakni sosialisasi, eksternalisasi, kombinasi, dan internalisasi. langkah sosialisasi bisa ditempuh melalui berempati dengan orang lain dan lingkungannya melalui pertukaran subyektif antar individu di ruang-ruang kelas atau lingkungan sekolah. tujuanya, membantu guru dan siswa memperoleh dan meningkatkan pengetahuan tentang budaya dan meminimalisir adanya prasangka yang terbentuk sebelumnya. strategi internalisasi dilakukan dengan menerima dan meperdalam nilai-nilai baik yang dibentuk dan dihadirkan dari interaksi akulturasi budaya yang terjadi di sekolah. strategi kombinasi diupayakan dengan mengkombinasikan berbagai pendekatan strategi kepemimpinan dan management sehingga ia tidak terpola pada satu model pendekatan saja dalam penguatan karakter (nonoka, 2005). keempat aspek ini dikembangkan melalui pembiasaan dan keteladanan kepala sekolah, guru, orangtua dan lingkungan terkait 18 nilai karakter yang ditopang oleh lima program prioritas melalui pola piramidal dari tahap mengetahui, memahami, membiasakan, meyakini, melakukan dan mempertahankan nilai-nilai karakter sebagai way of life atau cara hidup sebagaimana terlihat pada gambar 1. gambar 1. proses pembentukan dan habitasi nilai karakter siswa simpulan dari uraian yang dipaparkan dalam hasil dan pembahasan berikut ini beberapa kesimpulan dan saran untuk peningkatan kapasitas kepemimpinan kepala sekolah dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah dasar. pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 160 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 a. implementasi pendidikan karakter baik pada sekolah negeri, madrasah dan sekolah swasta masih terfokus pada integrasi nilai karakter melalui mata pelajaran dan belum ada program-program inovatif kepala sekolah untuk perluasan dan pendalaman karakter di sekolah karena kepemimpinan kepala sekolah dominan pada pola kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership). b. beberapa program terobosan yang dilakukan lebih terkait dengan upaya memberdayakan dan membudayakan kebiasaan baik dengan nilai-nilai karakter yang sudah dilakukan di sekolah seperti upaya menjaga kebersihan ruang kelas, lingkungan sekitar, menyapu kelas dan halaman, memungut sampah dan menyiram bunga, tugas piket rutin oleh siswa dan guru. hal-hal ini perlu dilakukan dengan melampaui hal-hal yang rutin dari sisi kebijakan. c. hasil penguatan pendidikan karakter yang dihadirkan di sekolah melalui intervensi pembelajaran belum diperluas secara optimal dengan metode dan pendekatan pembelajaran kontekstual dan inovatif, misalnya melalui pendekatan inquiri learning, problem solving, dan pendekatan dan penilaian project dan product dalam pembelajaran. pendekatan scientif dalam implementasi k.13 belum membudaya sebagai budaya belajar untuk membangun keterampilan belajar (learn how learn) siswa sehingga nilai karakter bukan sebatas penanaman informasi pengetahuan semata tetapi membudayakan siswa sendiri menemukan nilai dan makna lewat aktivitas di dalam dan di luar sekolah. untuk meningkatkan keberhasilan penguatan pendidikan karakter di sekolah maka kepala sekolah perlu mengembangkan pola kepemimpinan transformatif leadership dan cultural leadership sehingga memberi ruang inovasi program-program penguatan karakter misalnya dengan membuat tabel acuan program pendidikan karakter yang bisa dirancang secara kolaboratif dan team work bersama guru dengan melibatkan institusi lain di luar sekolah. upaya ini perlu dilakukan untuk memperkuat implementasi k.13 yang berbasis karakter, literasi, 4c (communication, colaboration, creativity, critical thinking) dan hots (high order thingking skills). pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 161 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 daftar pustaka ardichvili, a. (2010). lev semyonovich vigotsky. in j. a. palmer (ed.), 50 pemikir paling berpengaruh terhadap dunia pendidikan moderen: biografi, dedikasi, dan kontribusinya (terjemahan, pp. 62–68). yogyakarta: penerbit laksana. retrieved from www.divapress-online.com ary, d., jacobs, l.c., & sorensen, c. (2010). introduction to research in education (eighth). belmont: wadsworth cengage learning. asmendri. (2014). the roles of school principal in the implementation of character education at boarding school. al-ta’lim journal, 21(2), 104–111. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.15548/jt.v21i2.87 carjuzaa, j. (2012). the positive impact of culturally responsive pedagogy: montana’s indian education for all the montana context indian education for all: old promise, new movement moving in a positive direction educators’ personal reflections on professional development pr. international journal of multicultural education, 14(3), 1–17. chang, l. (2004). the role of classroom norms in contextualizing the relations of children’s social behaviors to peer acceptance. developmental psychology, 40(5), 691–702. https://doi.org/10.1037/0012-1649.40.5.691 charanjit s. rihal, m. (2017). the importance of leadership to organizational success. nejm catalyst: department of cardiovascular medicine. retrieved from https://catalyst.nejm.org/importance-leadership-skills-organizational-success/ david h. elkind and freddy sweet. (2019). how to do character education. los angeles. retrieved from https://www.goodcharacter.com/how-to-articles/how-todo-character-education/ dike, daniel, & parida, l. (2016). persepsi dan konsepsi mutu pendidikan sekolah dasar. pendidikan dasar perkhasa, 2(2), 197–211. retrieved from http://jurnal.stkippersada.ac.id/jurnal/index.php/jpdp/article/view/112/122 dike, daniel, & parida, l. (2019). hexagonal management kelas dalam pemebelajaran di sekolah dasar. akuntabilitas management pendidikan, 7(1), 35–49. https://doi.org/permalink/doi: http://dx.doi.org/ 10.21831/amp.v7i1.2326 8 goverment, v. s. (2018). education and training: shoools, teaching and curiculum, and arts. retrieved from https://www.education.vic.gov.au/school/ teachers/teachingresources/discipline/arts/pages/default.aspx henry lopolalan. (2014, may 21). cita 9 agenda prioritas jokowi-jk. kompas.com. retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2014/05/21/0754454/. nawa.cita.9.agenda.prioritas.jokowi-jk iman gunawan. (2015). metode penelitian kualitatif. jakarta: pt bumi aksara. pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 162 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 john keedy. (2002). cultural leadership in school administration. journal of thought, 2(3), 3–9. lynch, m. (2015). becoming a transformatonal school leadership. the tech advocate. majelis luhur persatuan taman siswa. (2013). kihadjar dewantara: pemikiran, konsepsi, keteladanan, sikap merdeka (ii). yogyakarta: universitas sarjanawiyata tamansiswa (ust press). mardiatmadja, b. . (2017). arah dan ranah pendidikan. in rosalia emmy (ed.), lembaga pendidikan katolik dalam konteks indonesia (ke 5, pp. 31–47). yogyakarta: pt kanisius. martell, c. c. (2017). approaches to teaching race in elementary social studies: a case study of preservice teachers. the journal of social studies research, 41(1), 75–87. https://doi.org/10.1016/j.jssr.2016.05.001 michael bonnet. (2010). martin heidegger. in joy a. palmer (ed.), 50 pemkir paling berpengaruh terhadap dunia pendidikan moderen: biografi, dedikasi, dan kontribusinya (terjemahan, pp. 45–52). jakarta: penerbit laksana. retrieved from www.divapress_online.com miles, matthew & huberman, m. (1994). qualitative data analysis. thousand oaks, ca.: sage publications. nonoka, i. (2005). managing organizational knowledge theoretical and methodological foundations, great minds in management: the process of theory and development. london: oxford, oxford university press. ozkan, s. (2015). evaluating learning management systems : hexagonal e-learning assessment (helam). european and mediterranean conference on information systems, european a(january 2008), 1–17. retrieved from https://www.researchgate.net/publication/237325850_evaluating_learning_manage ment_systems_hexagonal_e-learning_assessment_model_helam prayogi. (2019, october 17). kepsek tewas ditusuk orang tua murid di sintang kalbar. republika. retrieved from https://nasional.republika.co.id/berita/pzia9a384/kepsek-tewas-ditusuk-orang-tuamurid-di-sintang-kalbar pujianto, a. (2019, october 22). terungkap asal sekolah kasus bully siswi sintang, dilakukan siswi lain yang juga kakak kelas korban. tribun pontianak. retrieved from https://pontianak.tribunnews.com/2019/10/22/terungkap-asal-sekolah-kasusbully-siswi-sintang-dilakukan-siswi-lain-yang-juga-kakak-kelas-korban?page=4 suparno, p. (2017). idealisme sekolah katolik dalam tantangan zaman. in rosalia emmy (ed.), lembaga pendidikan katolik dalam konteks indonesia (ke 5, pp. 47– 60). yogyakarta: pt kanisius. pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 163 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 tarsisius sarkimin. (2017). sekolah katolik: penegasan misi, penguatan tata kelola dan peningkatan kualitas sumber daya. in rosalia emmy (ed.), lembaga pendidikan katolik (ke 5, pp. 61–89). yogyakarta: pt kanisius. tim penyusun. (2017a). konsep dan pedoman penguatan pendidikan karakter tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. jakarta: kemdikbud. tim penyusun. (2017b). konsep dasar penguatan pendidikan karakter: senang belajar di rumah kedia. jakarta: kemdikbud. wahidin. (2019a, february 4). terkait persoalan lampion, wabup askiman tegaskan sudah diselesaikan dengan damai. tribun pontianak. retrieved from https://pontianak.tribunnews.com/2019/02/05/terkait-persoalan-lampion-wabupaskiman-tegaskan-sudah-diselesaikan-dengan-damai wahidin. (2019b, july 3). sekda yosepha hasnah buka kegiatan pelatihan prb dan evaluasi program kiat guru kabupaten sintang. tribun pontianak, pp. 1–2. retrieved from https://pontianak.tribunnews.com/2019/07/03/sekda-yosephahasnah-buka-kegiatan-pelatihan-prb-dan-evaluasi-program-kiat-guru-kabupatensintang yukl, g. . (2002). leadership in organizations (5th ed.). upper saddle river: prenticehall. yuningsih, e., & herawan, e. (2015). kepemimpinan transformasional kepala sekolah dan iklim sekolah terhadap sekolah efektif pada sd negeri di purwakarta. jurnal administrasi pendidikan, xxii(2), 81–92. zamroni. (2014). percikan pemikiran pendidikan muhammadiayah. yogyakarta: penerbit ombak. pola kepemimpinan kepala......(lusila parida, dkk) 164 jppd, 6, (2), hlm. 145 164 virtual mathematics kits.....(octarina h.s & lingga n.p) 147 jppd, 5, (2), hlm. 147 154 vol. 5, no. 2, desember 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: abstrak: the digital era makes education begin to be contaminated with technology. this study aim to determine the effectiveness of virtual mathematics kits (vmk) viewing by student' mathematical literacy. the vmk was used in extracurricular activities based on mathematical literacy. 83 elementary school students (grade 5) in 4 school participated in this study. there were two intervention classes and two non-intervention classes. all classes were given mathematical literacy activities for 6-weeks period (90-min each week). the vmk used in intervention classes. the activities focus on student' ability to make ideas, reasoning and solve various mathematical problem. the mathematical literacy activities led to improvements in both of two classes. however, the use of vmk make student' mathematical literacy much better. the vmk support student to reason and manipulated mathematical object although students have difficulty to operate vmk. this study showing the use of digital media (vmk) support student' mathematical literacy. keywords: virtual mathematics kits, mathematical literacy, digital media https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.6717 virtual mathematics kits (vmk): mempromosikan media digital dalam literasi matematika octarina hidayatus sholikhah1), lingga nico pradana2) pgsd fkip universitas pgri madiun 1)octariana@unipma.ac.id; 2)nicopgsd@unipma.ac.id pendahuluan era digital telah masuk dalam ranah pendidikan. pemanfaatan teknologi untuk pendidikan menjadi suatu hal yang penting (akayuure, asiedu-addo, & alebna, 2016; genlott & grönlund, 2016). akan tetapi, pemanfaatan teknologi pada pendidikan matematika sekolah dasar masih belum tercipta iklimnya. pendidikan matematika sekolah dasar memerlukan kemampuan menganalisa, menalar, menyampaikan ide, dan memecahkan masalah dalam berbagai situasi (oecd, 2012). semua hal tersebut secara umum disebut sebagai literasi matematika (julie, 2007; lange, 2003). literasi matematika merupakan suatu kemampuan yang penting untuk menunjang kemampuan matematika siswa (lengnink, 2005; yore, pimm, & tuan, 2007). oleh karena itu, penting untuk meninjau dari sisi literasi matematika siswa untuk melihat perkembangan kemampuan matematis. https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.6717 virtual mathematics kits.....(octarina h.s & lingga n.p) 148 jppd, 5, (2), hlm. 147 154 penelitian sebelumnya mengenai literasi matematika menyatakan bahwa literasi matematika merupakan kemampuan yang dapat dilatih (ehmke, wild, & müller-kalhoff, 2005; haara, bolstad, & jenssen, 2017; yore et al., 2007). namun, penelitian tersebut dilakukan pada jenjang sekolah yang lebih tinggi dan belum berdasar pada kemampuan siswa sekolah dasar. penelitian mengenai literasi matematika pada sekolah dasar kebanyakan dilakukan menggunakan model-model pembelajaran saintifik dengan media kongkrit (hofer & beckmann, 2009; mumcu, 2016; sumirattana, makanong, & thipkong, 2017). akan tetapi, belum ada penggunaan teknologi dalam model dan media yang digunakan. untuk dapat memahami dan menghubungkan konsep matematika, diperlukan media yang dapat membuat objek matematika menjadi dinamis dan dapat dimanipulasi. berdasarkan hal tersebut, vmk didesain untuk menyajikan objek matematika menjadi dinamis dan dapat dengan mudah dimanipulasi. hal tersebut diharapkan pada membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan matematis pada literasi matematika. penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan keefektivan vmk pada aktivitas literasi matematika. aktivitas literasi matematika didesain sebagai kegiatan ekstrakurikuler di luar jam pelajaran sekolah. dalam aktivitas ini vmk digunakan untuk membantu siswa dalam memahami, menalar, membuat ide penyelesaian dan menyelesaikan masalah. dengan digunakannya vmk dalam aktivitas literasi matematika, diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan literasi matematika dan memiliki pengalaman dalam menggunakan teknologi melalui media digital. metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode penelitian eksperimen. jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan melibatkan 83 siswa sekolah dasar dari 4 sekolah (rerata umur = 10.6; interval umur = 9.8 – 11.3; 37 laki – laki; 46 perempuan). siswa berasal dari sekolah yang menggunakan kurikulum 2013. pemilihan sekolah dilakukan berdasarkan nilai rerata ujian nasional dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. sekolah yang dipilih adalah sekolah pada level sedang (interval rerata = 6.7 ≤ �̅� ≤ 7.7). 83 siswa tersebut dibagi ke dalam dua kelas yaitu kelas intervensi dan kelas non-intervensi. kelas intervensi terdiri dari 45 siswa dan kelas non-intervensi terdiri dari 38 siswa. kelas intervensi adalah kelas dimana vmk digunakan. instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen literasi matematika. instrumen literasi matematika dibagi dalam dua sesi tes (s1 dan s2). instrumen berupa 30 soal item pilihan ganda (15 item untuk masing-masing sesi). pada masing-masing item diberikan kolom alasan untuk menuliskan alasan dari jawaban yang dipilih (lihat gambar 1). skor maksimum yang diperoleh adalah 60. instrumen literasi matematika dibuat berdasarkan indikator literasi matematika (oecd, 2012). koefisien reliabilitas pada masing-masing tes adalah 0.73 (s1) dan 0.76 (s2). vmk merupakan kumpulan produk dari bermacam-macam software seperti geogebra, matlab dan office mix. kegunaan vmk adalah untuk 1) menyajikan permasalahan matematis; 2) mentransformasi konsep matematika ke dalam sebuah objek yang dapat dimanipulasi; 3) memberikan bantuan (slimulus) pada siswa untuk membuat virtual mathematics kits.....(octarina h.s & lingga n.p) 149 jppd, 5, (2), hlm. 147 154 ide penyelesaian masalah. vmk dibuat untuk mendukung aktivitas literasi matematika. contoh vmk terdapat pada gambar 1. (a) bidang media geometri dengan objek dinamis  (b) animasi volume kubus dengan kubus satuan gambar 1. contoh vmk aktivitas literasi matematika dirancang sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang dilakukan di luar jam pelajaran sekolah. aktivitas ini dilakukan selama 90 menit setiap minggu dalam periode 6 minggu. aktivitas literasi matematika dilakukan secara berkolaborasi dengan guru kelas. rangkuman aktivitas literasi matematika dapat dilihat pada tabel 1. tabel 1. rangkuman aktivitas literasi matematika minggu ke objektif 1 memformulasi dan merumuskan masalah matematis 2 – 3 menalar dan membuat ide penyelesaian 4 – 5 menerapkan, menyajikan dan mengevaluasi hal yang berkaitan dengan masalah matematis 6 integrasi virtual mathematics kits.....(octarina h.s & lingga n.p) 150 jppd, 5, (2), hlm. 147 154 prosedur tes s1 dilakukan 2 minggu sebelum aktivitas literasi matematika dilakukan. siswa harus menyelesaikan tes s1 selama 60 menit. seminggu setelah aktivitas literasi matematika selesai, tes s2 diberikan ke siswa. waktu yang diberikan adalah 60 menit. hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian disajikan dalam dua bagian yaitu konsistensi desain aktivitas literasi matematika dan keefektifan vmk pada aktivitas literasi matematika. data pada tes s1 dianalisis dengan anova untuk menunjukkan konsistensi aktivitas literasi matematika sebelum intervensi. data yang merepresentasikan kefeektifan vmk (tes s2) dianalisis menggunakan ancova (field, 2013; maxwell & delaney, 2018). tabel rerata dan standar deviasi disajikan pada tabel 2. tabel 2. rerata dan standar deviasi s1 dan s2 mengukur intervensi (45) non-intervensi (38) r sd r sd tes s1 37.42 8.04 37.81 8.52 tes s2 43.47 7.64 40.07 8.31 konsistensi desain aktivitas literasi matematika hasil dari anova menyatakan bahwa tidak ada perbedaan rerata yang signifikan antara kelas intervensi dan kelas non intervensi f(1,82) = 2.46, p = 0.16. oleh karena itu kemampuan literasi matematika siswa sebelum intervensi dilakukan tidak berbeda. konsitensi desain aktivitas literasi matematika menjadi suatu yang sangat penting. dengan diperolehnya kesimpulan bahwa kemampuan literasi matematika siswa sebelum intervensi dilakukan tidak berbeda, maka pembeda dari kedua kelas setelah aktivitas berakhir adalah penggunaan vmk. keefektivan vmk pada aktivitas literasi matematika ancova dengan skor tes s1 sebagai kovariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor rerata tes literasi matematika (s2) antara kelas intervensi dan nonintervensi. skor tes s1 dijadikan sebagai kovariat dikarenakan nilai tersebut merupakan suatu kontrol kemampuan awal literasi matematika. selanjutnya, perbedaan rerata dilihat dengan memperhatikan p values. pada hasil ancova dinyatakan bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara kedua kelas f(1,82) = 8.34, p < 0.01. perbedaan rerata disajikan pada gambar 2. gambar 2 juga menunjukkan adanya peningkatan rerata pada kedua kelas. akan tetapi, kelas intervensi memiliki rerata yang lebih baik daripada kelas non-intervensi. kesimpulan yang diperoleh adalah siswa yang menggunakan vmk pada aktivitas literasi matematika memiliki kemampuan literasi matematika yang lebih baik. vmk sebagai suatu media digital terbukti memiliki nilai efektifitas untuk mendukung kegiatan berbasis literasi matematika. virtual mathematics kits.....(octarina h.s & lingga n.p) 151 jppd, 5, (2), hlm. 147 154 gambar 2. rerata tes s1 dan s2 literasi matematika penelitian ini menunjukkan peran media digital yang mendukung kegiatan berbasis literasi matematika. kegiatan berbasis komputer berkorelasi tinggi dengan kegiatan matematika literasi (ic & tutak, 2017). temuan penelitian ini menyatakan bahwa vmk dapat memberikan bantuan bagi siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematis. berbeda dengan penggunaan benda-benda kongkrit dalam pembelajaran literasi matematika (gatabi, stacey, & gooya, 2012; hofer & beckmann, 2009), vmk membuat objek matematika dapat dimanipulasi. objek matematika menjadi bersifat dinamis. hal tersebut membuat siswa secara bebas dapat mengekplore konsep matematika dan mencari hubungan antar konsep. dari perspektif literasi matematika, aktivitas literasi matematika dilaksanakan di luar jam sekolah. aktivitas ini didesain sebagai kegiatan ekstrakurikuler. berbeda dengan integrasi literasi matematika dalam pembelajaran (firdaus & herman, 2017; hofer & beckmann, 2009; sumirattana et al., 2017), kegiatan ini bebas dari objektif pembelajaran matematika di kelas. hal itu membuat aktivitas literasi matematika dapat fokus pada tujuan atau objektif-objektif kemampuan literasi matematika (oecd, 2012). vmk pada kegiatan ini dibuat secara khusus untuk membantu siswa dalam mencapai objektifobjektif literasi matematika. permasalahan yang disajikan dalam vmk juga bervariasi tanpa terikat dengan kurikulum matematika di sekolah. dengan demikian, siswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar literasi matematika. siswa mendapatkan pengenalan teknologi yang tentu sangat penting di era digital (genlott & grönlund, 2016). dari perspektif penggunaan vmk, siswa sangat antusias dalam menggunakan vmk di kelas literasi matematika. meskipun media digital ini merupakan media yang baru, siswa memiliki ketertarikan yang tinggi pada media. beberapa siswa mengalami kesulitan dalam menggunakan vmk terutama pada media geometri. namun kegiatan tetap berjalan lancar dikarenakan guru dan peneliti membantu siswa dalam menggunakan vmk. vmk membuat siswa lebih mudah dalam melakukan penalaran. sekali lagi objek yang dinamis sangat membantu siswa dalam menemukan ide-ide penyelesaian masalah (güven & kosa, 2008). seperti yang ditunjukkan pada gambar 3, siswa memanipulasi bangun jajar genjang menjadi berbagai macam bentuk jajar genjang yang lain. pada suatu 34 36 38 40 42 44 tes s1 tes s2 s k o r literasi matematika intervensi non-intervensi virtual mathematics kits.....(octarina h.s & lingga n.p) 152 jppd, 5, (2), hlm. 147 154 momen tertentu, siswa dapat membentuk persegi maupun persegi panjang. hal tersebut membuat siswa dapat menghubungkan konsep jajar genjang ke konsep persegi maupun persegi panjang.    gambar 3. jajar genjang yang dimanipulasi menjadi persegi dan persegi panjang simpulan penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media digital seperti vmk dapat mensupport aktivitas literasi matematika. siswa yang terlibat dalam aktivitas literasi matematika memang mengalami peningkatan kemampuan literasi matematika. namun, vmk dapat membantu siswa dalam mempelajari literasi matematika. siswa dapat mempelajari literasi matematika secara mudah dan maksimal. hal yang paling penting dalam sebuah media matematika kemampuan dalam menyajikan konsep abstrak ke dalam bentuk kongket. vmk mampu memberikan dan menyajikan bentuk-bentuk yang tidak hanya sekedar kongkrit tetapi juga dinamis dan manipulatif. oleh karena itu, dalam kegiatan-kegiatan berbasis literasi matematika sangat disarankan bagi pengajar untuk menggunakan media digital. dalam hal ini adalah vmk itu sendiri. penelitian ini memiliki beberapa batasan. batasan yang pertama adalah belum adanya pengenalan mengenai vmk sebelum dimulainya aktivitas literasi matematika. hal ini membuat beberapa siswa kesulitan dalam menggunakan vmk. maka dari itu sangat penting untuk melakukan pengenalan vmk sebelum aktivitas dilakukan. batasan yang kedua, subjek penelitian ini berada di kelas yang sama yaitu kelas 5. dikarenakan penggunaan vmk mampu mendukung aktivitas literasi matematika, maka dari itu sangat penting untuk melibatkan lebih banyak jenjang dan membentuk suatu kelompok yang lebih heterogen. virtual mathematics kits.....(octarina h.s & lingga n.p) 153 jppd, 5, (2), hlm. 147 154 daftar pustaka akayuure, p., asiedu-addo, k. s., & alebna, v. (2016). investigating the effect of origami instruction on preservice teachers’ spatial ability and geometric knowledge for teaching. international journal of education in mathematics, science and technology, 4(3), 198–209. https://doi.org/10.18404/ijemst.78424 ehmke, t., wild, e., & müller-kalhoff, t. (2005). comparing adult mathematical literacy with pisa students: results of a pilot study. zdm international journal on mathematics education, 37(3), 159–167. https://doi.org/10.1007/s11858-0050005-5 field, a. (2013). discovering statistics using ibm spss statistics (4th ed.). london: sage. firdaus, f. m., & herman, t. (2017). improving primary students ’ mathematical literacy through problem based learning and direct instruction. educational research and reviews, 12(4), 212–219. https://doi.org/10.5897/err2016.3072 gatabi, a. r., stacey, k., & gooya, z. (2012). investigating grade nine textbook problems for characteristics related to mathematical literacy. mathematics education research journal, 24(4), 403–421. https://doi.org/10.1007/s13394-0120052-5 genlott, a. a., & grönlund, å. (2016). closing the gaps improving literacy and mathematics by ict-enhanced collaboration. computers and education, 99, 68–80. https://doi.org/10.1016/j.compedu.2016.04.004 güven, b., & kosa, t. (2008). the effect of dynamic geometry software on student mathematics teachers’ spatial visualization skills. turkish online journal of educational technology, 7(4), 100–107. haara, f., bolstad, o., & jenssen, e. (2017). research on mathematical literacy in schools aim , approach and attention. european journal of science and mathematics education and mathematics education, 5(3), 285–313. hofer, t., & beckmann, a. (2009). supporting mathematical literacy : examples from a cross-curricular project. zdm mathematics education, 41, 223–230. https://doi.org/10.1007/s11858-008-0117-9 ic, u., & tutak, t. (2017). correlation between computer and mathematical literacy levels of 6th grade students. european journal of educational research, 7(1), 63– 70. https://doi.org/10.12973/eu-jer.7.1.63 julie, c. (2007). learners ’ context preferences and mathematical literacy. mathematical modelling (ictma 12): education, engineering and economics. woodhead publishing limited. https://doi.org/10.1533/9780857099419.4.195 lange, j. de. (2003). mathematics for literacy. in quantitative literacy: why numeracy matters for schools and colleges (pp. 75–90). https://doi.org/10.1007/b97511 lengnink, k. (2005). reflecting mathematics: an approach to achieve mathematical literacy. zdm international journal on mathematics education, 37(3), 246–249. https://doi.org/10.1007/s11858-005-0016-2 virtual mathematics kits.....(octarina h.s & lingga n.p) 154 jppd, 5, (2), hlm. 147 154 maxwell, s. e., & delaney, h. d. (2018). designing experiments and analyzing data: a model comparison perspective, second edition. new york: routledge. mumcu, h. y. (2016). using mathematics , mathematical applications , mathematical modelling , and mathematical literacy : a theoretical study. journal of education and practice, 7(36), 80–96. oecd. (2012). pisa 2012 assessment and analytical framework pisa 2012 assessment and analytical framework. oecd publishing. sumirattana, s., makanong, a., & thipkong, s. (2017). using realistic mathematics education and the dapic problem-solving process to enhance secondary school students ’ mathematical literacy. kasetsart journal of social sciences, 38(3), 307– 315. https://doi.org/10.1016/j.kjss.2016.06.001 yore, l. d., pimm, d., & tuan, h. l. (2007). the literacy component of mathematical and scientific literacy. international journal of science and mathematics education, 5(4), 559–589. https://doi.org/10.1007/s10763-007-9089-4 e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 efektifitas quantum teach......(octarina h sholihah) 131 efektivitas quantum teaching learning pada mata pelajaran matematika siswa sekolah dasar octarina hidayatus sholikhah universitas pgri madiun email: octarinahs@gmail.com abstract the purpose of this research is to examines the effectiveness of quantum teaching learning by comparing the final results between students who use quantum teaching learning and without use quantum teaching learning at elementary school level learning. this research use a quasiexperimental research with a quantitative approach. the research design was posttest only control group design by using quantum teaching learning in the experimental group discussion and lecture method in the control group. the population was all students in six grade of sdn pojoksari academic year 2015/2016. the sampling technique used was cluster random sampling. data collection methods used in this research is documentation and testing. analysis data techniques in this research using t-test significance level of 5%. the result of this research is quantum teaching learning effective applied to elementary school mathematics courses. keywords : quantum teaching learning, mathematic learning pendahuluan pendidikan merupakan upaya untuk mengembangkan kemampuan individu dalam mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang sedang atau yang akan terjadi. pendidikan dilakukan secara terencana, terprogram, terarah dan berkelanjutan sebagai upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia dalam menunjang tercapainya tujuan pembangunan nasional. oleh karena itu, pendidikan harus mampu mempertahankan budaya dan jati diri bangsa di tengah gencarnya gempuran beragam budaya yang beraneka ragam. karena indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan sumber daya alam, maka indonesia harus mampu menjadi bangsa yang mandiri yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sesuai dengan tujuan dan cita-cita bangsa. kualitas pendidikan nasional dinilai belum memiliki kualitas yang memadai dibanding dengan kualitas pendidikan di negara lain. hal ini dapat dilihat pada peringkat human development index (hdi) indonesia menempati peringkat 111 dari 117 negara pada tahun 2004 dan peringkat 110 pada tahun 2005. demikian pula dengan laporan international educational achievment (iea) menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa sekolah dasar, indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara yang disurvei. sementara dalam laporan world competitiveness year book tahun 2000, sumber daya manusia indonesia menempati peringkat 46 dari 47 negara yang disurvei. pemerintah dalam hal ini departemen pendidikan nasional selalu berusaha agar pendidikan kita dapat berkembang sesuai dengan tuntutan kemajuan jaman, sedangkan masyarakat dan keluarga adalah faktor pendukung berhasil atau tidaknya generasi penerus bangsa untuk memajukan negaranya. dilihat dari penjelasan tersebut, maka peran pendidikan sangat penting dalam menentukan masa depan bangsa. pendidikan merupakan mailto:octarinahs@gmail.com p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 132 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 131 135 upaya yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan sumber daya manusia. pendidikan dalam ranah pendidikan dasar baik sd/madrasah ibtidaiyah, dilakukan untuk memberikan bekal berupa ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan cara berpikir (dirman, 2015: 47). salah satu alat untuk mengembangkan cara berpikir siswa adalah melalui pelajaran matematika. karena dalam pembelajaran matematika siswa dituntut untuk mengembangkan potensi berpikir secara logis. oleh karena itu, matematika sangat diperlukan baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapi kemajuan jaman. sehingga matematika perlu dibekalkan kepada peserta didik sejak sd, bahkan sejak tk (solikhah, 2014: 737) pada kenyataannya prestasi belajar matematika di indonesia masih rendah. hal ini dapat dilihat pada survei melalui programme for international student assessment (pisa) 2003 menunjukkan bahwa dari 41 negara yang disurvei untuk bidang matematika indonesia menempati peringkat 39. rendahnya prestasi belajar matematika di indonesia juga dialami siswa sd negeri yang ada di kabupaten magetan. hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan salah satu kepala sekolah di sdn pojoksari kabupten magetan yang menunjukkan bahwa selama proses pembelajaran matematika siswa cenderung ramai sendiri, tidak memperhatikan guru di depan, sampai keefektifan tidak nampak pada proses pembelajaran. selain permasalahan yang berasal dari siswa ternyata juga ada permasalahan dari tenaga pendidiknya, hal ini terlihat bahwa pada saat proses pembelajaran guru kurang efektif dalam menggunakan model pembelajaran, sehingga kurang menarik perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran. pembelajaran yang digunakan guru hanya bersifat klasikal dengan metode ceramah. siswa hanya bisa mendengarkan dan mencatat materi yang disampaikan oleh guru tanpa melibatkan siswa secara langsung, sehingga siswa merasa jenuh dan bosan dalam mengikuti pembelajaran. hal tersebut akan mengurangi tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, sehingga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. salah satu penyebab dari berbagai masalah tersebut adalah ketidaktepatan model pembelajaran yang digunakan pada saat pembelajaran matematika. model pembelajaran yang digunakan guru sangat penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa (kosasih, 2013). dalam hal ini kehadiran guru dalam kegiatan pembelajaran memegang peranan penting. guru harus mampu mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan siswa untuk dijadikan bekal dalam menghadapi segala ketimpangan yang terjadi di masyarakat. selain itu, guru harus mampu memilih model pembelajaran yang menyenangkan dalam proses pembelajaran, karena model pembelajaran yang tepat dan menarik membuat suasana belajar mengajar menjadi nyaman, sehingga memungkinkan setiap siswa untuk mudah dalam menerima dan menyerap materi pelajaran dengan benar deporter (2010). model pembelajaran yang dipilih diharapkan mampu mengembangkan dan meningkatkan prestasi belajar siswa. ada beberapa model pembelajaran yang bisa digunakan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika. model pembelajaran tersebut diantaranya adalah quantum teaching learning. quantum teaching learning adalah model pembelajaran yang menyenangkan e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 efektifitas quantum teach......(octarina h sholihah) 133 serta menyertakan segala dinamika yang menunjang keberhasilan pembelajaran itu sendiri dan segala keterkaitan, perbedaan interaksi serta aspek-aspek yang dapat memaksimalkan momentum untuk belajar. quantum teaching learning dapat dipandang sebagai model pembelajaran yang ideal, karena menekankan pada kerja sama antara peserta didik dan guru untuk mencapai tujuan bersama. bobby deporter (2015), mengembangkan strategi pembelajaran quantum melalui istilah tandur, yaitu tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi dan rayakan. dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat, maka diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika. model pembelajaran quantum teaching ini efektif meningkatkan karakter kreatifitas dan hasil belajar matematika pada siswa kelas iii sd negeri peterongan (permana dkk, 2016: 154). metode penelitian bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasy experimental design (eksperimen semu) dengan rancangan penelitiannya adalah posttest-only control design yaitu rancangan yang menyertakan kelompok kontrol sebagai pembanding (sugiyono, 2007). adapun rancangan penelitian ini dapat digambarkan dengan skema pada tabel 1. tabel 1. rancangan posttest-only control design keterangan: x = perlakuan menggunakan pendekatan quantum teaching learning y = perlakuan tanpa menggunakan pendekatan quantum teaching learning 𝑇1 = hasil belajar mahasiswa yang diberikan pendekatan quantum teaching learning 𝑇2 = hasil belajar mahasiswa yang tidak diberikan pendekatan quantum teaching learning variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran (menggunakan quantum teaching learning dan tanpa menggunakan quantum teaching learning). variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa kelas vi pada mata pelajaran matematika. populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa vi sdn pojoksari tahun pelajaran 2015/2016. pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling, maka akan dipilih 2 kelas secara acak. kelas acakan pertama akan diajarkan menggunakan quantum teaching learning sebagai kelas eksperimen dan kelas acakan kedua akan diajarkan tanpa menggunakan quantum teaching learning sebagai kelas kontrol. teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik pengukuran. pengukuran dilakukan dengan pemberian tes prestasi belajar yakni ujian akhir semester (uas) mata pelajaran matematika. soal diberikan sesuai dengan jadwal uas siswa sdn pojoksari. sedangkan, alat pengumpul data atau instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan tes. jenis tes yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tes tertulis dalam bentuk pilihan ganda dengan 25 butir soal. uji validitas meliputi validitas isi dan validitas konstruk melalui judgment x t1 y t2 p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 134 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 131 135 experts dan validitas butir soal korelasi product moment dari karl pearson. uji reliabilitas menggunakan rumus alfa cronbach, uji normalitas menggunakan kolmogorov-smirno, uji homogenitas menggunakan levene’s, uji hipotesis menggunakan uji-t dengan taraf signifikansi 5%. hasil dan pembahasan penelitian dilakukan dengan terlebih dahulu menguji keseimbangan rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. uji keseimbangan yang dilakukan menggunakan uji-t. uji prasyarat untuk uji-t yang dilakukan menunjukkan bahwa masingmasing kelompok perlakuan berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan memiliki variansi yang sama, sedangkan uji-t yang dilakukan menunjukkan bahwa rerata kemampuan awal dari kedua kelompok perlakuan adalah sama (seimbang). dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masing-masing kelompok perlakuan layak untuk diberikan perlakuan. tabel 2. rangkuman rata-rata prestasi belajar matematika model pemb jumlah siswa nilai terendah tertinggi ratarata kontrol 15 52.00 76.00 65,38 eksperimen 17 52.00 80.00 70,00 selanjutnya dilakukan uji hipotesis penelitian menggunakan uji-t yang sebelumnya ada uji prasyarat yang menunjukkan bahwa sampel berasal dari populasi berdistribusi normal dan memiliki variansi yang sama yang ditunjukkan pada tabel 3. tabel 3. rangkuman uji prasyarat uji jenis uji hasil keputusan kesimpulan normalitas kontrol lilliefors 0,156 h0 diterima data normal normalitas eksperimen lilliefors 0,136 h0 diterima data normal homogenitas barlett 1.31 h0 diterima data homogen hipotesis uji-t sebagai berikut: h0: 21   (prestasi belajar matematika menggunakan model quantum teaching learning tidak lebih baik dari pada yang tidak menggunakan quantum teaching learning) h1: 21   (prestasi belajar matematika menggunakan model quantum teaching learning lebih baik dari pada yang tidak menggunakan quantum teaching learning) uji hipotesis diperoleh hasil 799,2 obs t dan 960,1 tabel t . ini berarti h0 ditolak, sehingga disimpulkan bahwa prestasi belajar matematika menggunakan model quantum teaching learning lebih baik dari pada yang tidak menggunakan model quantum teaching learning. hal ini sesuai dengan hipotesis yang disusun. siswa yang diberikan model pembelajaran quantum teaching learning dan tidak diberikan model pembelajaran quantum teaching learning memiliki prestasi belajar yang berbeda. hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh siswa. siswa yang diberikan model pembelajaran quantum teaching learning memiliki rata-rata 84,75 dan yang tidak diberikan quantum teaching learning memiliki rata-rata 76,56. dari nilai rata-rata yang diperoleh dapat diketahui bahwa prestasi belajar siswa yang diberikan pembelajaran dengan model pembelajaran quantum e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 efektifitas quantum teach......(octarina h sholihah) 135 teaching learning lebih baik daripada yang tidak diberikan quantum teaching learning. hal ini disebabkan karena pada pembelajaran quantum teaching learning siswa akan lebih mudah dan lebih fokus perhatianya pada materi yang disampaikan dan berusaha memahaminya, sehingga pembelajaran berjalan aktif dan efektif. hal ini diperkuat lagi oleh jurnal penelitian yang telah diujikan oleh trisnawati dan wutsqa (2015: 305) mengemukakan bahwa model pembelajaran quantum teaching lebih efektif daripada cooperative learning tipe teams games tournament (tgt) dalam pembelajaran matematika. simpulan quantum teaching learning efektif diterapkan pada mata pelajaran matematika terbukti dari hasil uji yang diperoleh sebesar 799,2 obs t dengan taraf signifikansi sebesar 5%. hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan quantum teaching learning lebih baik daripada hasil belajar siswa yang tidak diajarkan dengan quantum teaching learning dengan rata-rata 84,75 pada kelas ekperimen dan 76,56 pada kelas kontrol. daftar pustaka deporter bobbi, mark reardon dan sarah singer-nourie. 2010. quantum teaching. bandung: kaifa 34. deporter bobbi dan mike hernacki. 2015. quantum learning. bandung: mizan pustaka. dirman dan cicih juarsih. 2014. pengembangan potensi peserta didik. jakarta: rineka cipta. kosasih, nandang dan dede sumarna. 2013. pembelajaran quantum dan optimalisasi kecerdasan. bandung: alfabeta. permana, dkk. 2016. keefektifan pembelajaran quantum teaching terhadap kreatifitas dan hasil belajar matematika kelas iii sdn peterongan semarang. jurnal profesi pendidikan dasar vol. 3, no. 2, 2016, p. 154. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/3968/3515 solikhah, octarina hidayatus. 2014. eksperimentasi model pembelajaran kooperatif tipe group investigation (gi) dan numbered heads together (nht) pada materi garis singgung lingkaran ditinjau dari kecerdasan majemuk siswa kelas viii smp negeri se-kota madiun tahun ajaran 2013/2014. jurnal riset pendidikan matematika. 7 (2): 737. sugiyono. 2015. metode penelitian kuantitatif kualitatif dan r&d. bandung: alfabeta. trisnawati dan dhoriva urwatul wutsqa. 2015. perbandingan keefektifan quantum teaching dan tgt pada pembelajaran matematika ditinjau dari prestasi dan motivasi. 2 (2): 305. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/3968/3515 penerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher ... (nur amalia dan diah setiyani) 63 penerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher here untuk meningkatkan motivasi belajar ips kelas iv sd negeri i tempursari klaten tahun 2013/ 2014 nur amalia dan diah setiyani program studi pendidikan guru sekolah dasar, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta nur_amalia@ums.ac.id abstract this study aims to elevate motivation to learn social studies of fourth grade students of sd negeri i tempursari klaten, academic year 2013/2014. this research is a classroom action research. the subjects in this study were the teacher and fourth grade students. the data collection techniques used are observation, testing, and documentation. the data analysis technique used is interactive qualitative analysis through three stages, i.e. data reduction, data exposure and conclusion construction. the results showed that there is an increase in students’ motivation at the second cycle that reaches 80 % of the initial condition, 33.33 % . it is evident that the number of students who are 1) enthusiastic students in participating learning social studies reached 80% of total students; 2) active in the learning process reached 80%; 3) working diligently in the testing was 86.67%; 4) able to create a conducive learning environment reached 80%; 5) able to work on the problems well reached 86.67 %. therefore, it can be concluded from this study that the learning strategy, everyone is a teacher here, can increase the students’ motivation in learning social study. keywords: students’ learning motivation, everyone is a teacher here strategy pendahuluan pembelajaran di kelas pada dasarnya adalah sokongan untuk peserta didik agar terjadi proses penting dalam pembelajaran, yaitu pemerolehan ilmu dan pengetahuan. menurut pasal i butir 20 uu nomor 20 tahun 2003 tentang sisdiknas, interaksi peserta didik dengan pendidik merupakan proses komunikasi dua arah melalui kegiatan belajar dan mengajar. pada umumnya, mengajar dilakukan oleh guru atau pendidik dan belajar dilakukan oleh siswa atau peserta didik. pembelajaran yang konvensional dan monoton dimana pendidik lebih mendominasi dalam pembelajaran membuat siswa merasa bosan dan tidak termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. proses belajar menjadi kurang menggairahkan dan kurang menarik. siswa tidak terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. proses komunikasi hanya terjadi satu atau dua arah saja. siswa hanya duduk sambil mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru dan jarang bertanya atau menungkapkan pendapat mereka. akibatnya siswa menjadi bosan dan tidak profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 63-7064 termotivasi untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. seperti halnya yang terjadi pada pembelajaran ips di sekolah dasar. pada umumnya pembelajaran ips di sekolah dasar masih bersifat teacher centered. hal ini dikarenakan guru masih cenderung menggunakan metode pembelajaran yang konvensional serta materi pembelajaran banyak dan sukar dipahami oleh siswa sepenuhnya. guru dan siswa juga menganggap bahwa mata pelajaran ips sebagai pelajaran yang tidak menarik dan membosankan karena bersifat hafalan. kondisi yang demikian tentu membuat proses pembelajaran hanya dikuasai oleh guru. kaitannya dengan proses pembelajaran, motivasi memiliki pengaruh yang besar pada proses belajar siswa. motivasi merupakan suatu dorongan yang muncul dari dalam individu untuk melakukan sesuatu. motivasi belajar, dalam hal ini, mengandung arti dorongan untuk belajar baik dari dalam maupun dari luar. menurut pendapat sardiman (2007: 40) seseorang akan berhasil dalam belajar kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. dengan motivasi yang dimiliki oleh siswa maka kegiatan belajar akan memiliki hasil yang baik. motivasi belajar tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata yang berasal dari guru atau orang tua. akan tetapi, kegiatan pembelajaran yang inovatif pun dapat memotivasi siswa untuk belajar. terlebih lagi apabila inovasi yang terjadi mampu menumbuhkan inner motivation dalam diri siswa. seringkali, mata pelajaran utama merupakan mata pelajaran yang sarat akan materi dan menuntut siswa untuk banyak membaca dan menghafal. tentu membutuhkan strategi-strategi pembelajaran yang tepat untuk membangkitkan motivasi siswa untuk belajar. permasalahan muncul karena kebanyakan guru masih belum menghadirkan inovasi dalam pembelajarannya. rata-rata guru masih menerapkan pembelajaran yang konvensional. permasalahan di atas juga terjadi pada pembelajaran ips di kelas iv di sd negeri i tempursari klaten. dengan materi pelajaran ips yang sangat banyak, siswa kurang termotivasi ketika pembelajaran hanya dengan menggunakan metode ceramah dan tugas saja. hal tersebut dibuktikan dari hasil observasi di lapangan, bahwa pada saat pembelajaran ips di kelas iv sd negeri i tempursari berlangsung, sebagian besar siswa tidak memperhatikan pelajaran yang disampaikan oleh guru. motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ips yang rendah di sd tersebut mengakibatkan nilai ulangan harian siswasiswa di kelas iv pun berada di bawah kkm. sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas iv di sd negeri i tempursari pada mata pelajaran ips adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran aktif tipe everyone is a teacher here. strategi pembelajaran everyone is a teacher here merupakan salah satu jenis strategi pembelajaran aktif dimana siswa akan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. komunikasi dalam pembelajaran akan berlangsung lebih maksimal karena strategi ini mendorong siswa mengutarakan apa yang dipahami kepada teman-temannya, seolah-olah dia adalah gurunya (ahlinya). dengan strategi ini siswa akan termotivasi untuk belajar dengan giat. metode penelitian penelitian tindakan kelas ini dilakukan di sd negeri i tempursari klaten. waktu yang diperlukan oleh peneliti untuk melakukan penelitian ini direncanakan mulai awal bulan oktober hingga bulan januari 2014. subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas iv dan siswa kelas iv sd negeri i tempursari klaten dengan jumlah siswa 15 siswa. prosedur penelitian tindakan kelas (ptk) melalui proses pengkajian yang terdiri dari 4 tahapan utama yaitu mulai dari pepenerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher ... (nur amalia dan diah setiyani) 65 rencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi. pada penelitian ini data yang dibutuhkan meliputi: data siswa, nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran ips, proses pembelajaran ips, dan hasil observasi motivasi belajar ips. jenis data pada penelitian ini ada dua jenis data, yaitu: data kuantitatif dan data kualitatif. data kuantitatif dalam penelitian ini yaitu nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran ips. data kualitatif dalam penelitian ini yaitu hasil observasi tindak mengajar guru pada saat pembelajaran ips dan hasil observasi motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ips metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode observasi, angket berupa tes dan dokumentasi. observasi adalah cara mengumpulkan data dengan jalan mengamati langsung terhadap objek yang diteliti. tes merupakan sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan dan kemampuan untuk yang dimiliki oleh siswa. dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah, data siswa, foto, dan rekaman proses tindakan kelas. untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan sejumlah instrumen penelitian. instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk memperoleh dan mengelola informasi dari para responden. adapun instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: lembar observasi dan soal tes. lembar observasi terdiri dari dua macam, yaitu lembar observasi untuk proses pembelajaran ips dan lembar observasi peningkatan motivasi belajar. untuk memperoleh keabsahan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sumber. dalam penelitian ini teknik analisis data yang akan digunakan teknik analisis kualitatif interaktif yang dikembangkan oleh miles dan huberman (1984) dengan meliputi tiga tahap, yaitu: reduksi data, paparan data dan penyimpulan. indikator yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah peningkatan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaran ips melalui strategi pembelajaran everyone is a teacher here pada siswa kelas iv sd negeri i tempursari tahun 2013/2014 dengan prosentase kenaikan untuk mencapai 80%. hasil penelitian dan pembahasan sebelum peneliti melaksanakan kegiatan penelitian, terlebih dahulu peneliti melaksanakan kegiatan observasi pada prasiklus baik melalui pengamatan maupun mengalami langsung. pada pengalaman langsung, peneliti bertindak sebagai guru yang mengajar mata pelajaran ips, sedangkan guru kelas iv bertindak sebagai observer yang mengamati proses kegiatan pembelajaran. pada kegiatan prasiklus ini, peneliti belum menerapkan strategi pembelajaran inovatif. setelah peneliti melaksanakan kegiatan prasiklus, peneliti melaksanakan kegiatan siklus i dengan menerapkan strategi pembelajaran everyone is a teacher here. strategi tersebut dipilih setelah mendapati beberapa permasalahan yang ada, yaitu kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran ips di kelas tersebut kurang diminati siswa dikarenakan strategi pembelajarannya masih teacher centered. siswa hanya difokuskan untuk mendengarkan penjelasan dari guru dan membaca materi atau mengerjakan soal secara individu. untuk itu, pada kegiatan siklus i ada 4 tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. dalam kegiatan perencanaan peneliti menyiapkan rpp, materi pembelajaran, media dan strategi pembelajaran serta evaluasi pembelajaran, yang dirasa mampu mendongkrak motivasi siswa dalam belajar ips. pada tahap tindakan, peneliti melaksanakan proses pembelajaran dengan menerapkan strategi pembelajaran everyone is a teacher here. tahap ketiga adalah pengamatan atau observasi. kegiatan pengaprofesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 63-7066 matan atau observasi ini dilaksanakan untuk mengamati proses pembelajaran ips ketika diterapkan strategi pembelajaran everyone is a teacher here dan juga mengamati peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ips. pada siklus i, diperoleh hasil pengamatan atau observasi. peneliti melakukan analisis terhadap hasil pengamatan pada proses pembelajaran dan peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ips. dari analisis tersebut diperoleh kesimpulan bahwa siswa menunjukkan antusiasnya dalam mengikuti pembelajaran ips. kemudian dilakukan refleksi terhadap kegiatan siklus i dan diketahui sejauh mana keberhasilan strategi pembelajaran everyone is a teacher here untuk menigkatkan motivasi belajar ips serta diketahui kekurangan-kekurangan apa saja yang harus diperbaiki di siklus berikutnya. dari kegiatan siklus i, terlihat siswa lebih antusias dalam menjawab pertanyaan dari guru. ketika siswa diminta untuk membuat pertanyaan, siswa pun antusias dan bersemangat membuat soal. siswa juga lebih bersemangat dalam mempelajari materi ips dengan membaca buku referensi. akan tetapi memang belum semua siswa bisa aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran ips. pada siklus pertama telah tercapai: 1. terjadi peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ips meskipun belum maksimal. 2. siswa mulai antusias dalam mengikuti pembelajaran ips. 3. partisipasi siswa dalam pembelajaran ips mulai tumbuh, akan tetapi masih didominasi oleh siswa yang pandai. 4. managemen waktu belum berhasil. sedangkan hal-hal yang harus diperbaiki adalah: 1. menggali pengetahuan awal siswa. 2. membimbing siswa untuk menanggapi jawaban dari siswa yang lain. 3. komunikasi aktif dengan siswa dan antar siswa belum maksimal. berdasarkan hasil refleksi siklus pertama ini, maka masih harus dilaksanakan siklus yang kedua dengan 2 pertemuan. kemudian peneliti merencanakan kegiatan siklus ii. pada dasarnya prosesnya sama dengan pelaksanaan siklus i. dari hasil analisis dan refleksi siklus ii, dapat diketahui bahwa masalah yang timbul pada siklus i telah dapat diatasi pada siklus ii. peneliti yang bertindak sebagai guru kelas telah melaksanakan pembelajaran dengan maksimal dan baik dengan adanya peningkatan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ips. peningkatan motivasi belajar siswa ini juga memberikan dampak yang positif terhadap perolehan nilai hasil belajar siswa yang dilihat dari perolehan nilai postes siklus i dan siklus ii. pada akhir siklus ii ini diperoleh peningkatan motivasi belajar siswa dengan prosentase sebesar 86,67% sebagaimana yang telah ditetapkan dalam indikator pencapaian. berikut ini adalah table perbandingan skor motivasi belajar siswa. penerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher ... (nur amalia dan diah setiyani) 67 tabel 2. data interval hasil observasi motivasi belajar siswa tabel 1. perbandingan skor motivasi belajar siswa no. nama (inisial) pra siklus siklus i siklus ii rata-rata jumlah ket 1 2 1 2 1. mn 12 16 16 19 20 17 tinggi 2. slh 15 16 17 18 19 17 tinggi 3. aa 9 10 10 16 17 12 tinggi 4. rpw 8 13 14 14 16 13 tinggi 5. scn 9 14 15 15 18 14 tinggi 6. da 16 17 18 20 20 18 tinggi 7. aat 10 13 16 16 16 14 tinggi 8. ai 10 10 14 16 17 13 tinggi 9. uk 10 10 13 10 11 11 tinggi 10. aar 10 15 15 15 17 14 tinggi 11. dda 8 10 10 10 10 10 rendah 12. nan 9 10 10 10 13 10 rendah 13. saa 10 10 10 11 13 11 tinggi 14. fss 12 15 16 20 20 16 tinggi 15. ckp 17 17 17 20 20 18 tinggi   no. interval frekuensi frekuensi % 1 1-10 (rendah) 2 13,33% 2 11-20 (tinggi) 13 86,67%   profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 63-7068 berdasarkan pada tabel dan grafik peningkatan motivasi belajar siswa tersebut diatas dapat diketahui bahwa motivasi belajar siswa kelas iv pada mata pelajaran ips sampai pada siklus terakhir yaitu siklus ii telah mengalami peningkatan. siswa yang memiliki motivasi belajar yang tinggi sebanyak 13 siswa atau 86,67%. sedangkan siswa yang memiliki motivasi belajar rendah yaitu 2 orang atau sebanyak 13,33%. berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dalam kegiatan prasiklus dan kegiatan dua siklus (4 pertemuan), dapat dilihat adanya peningkatan motivasi belajar siswa kelas iv pada mata pelajaran ips. dengan demikian terbukti bahwa penerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher here dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas iv pada mata pelajaran ips di sd negeri i tempursari klaten tahun 2013/ 2014. grafik 1. prosentase peningkatan motivasi belajar siswa kelas iv pada mata pelajaran ips grafik 2. perbadingan prosentase indikator motivasi belajar penerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher ... (nur amalia dan diah setiyani) 69 pada saat dilaksanakannya kegiatan pembelajaran dengan strategi pembelajaran everyone is a teacher here siswa sangat antusias terhadap kegiatan pembelajaran. siswa sangat senang ketika diminta untuk membuat soal sendiri yang dituliskan ke dalam kertas. siswa mendapat kesempatan untuk menjadi guru bagi temannya. karena dalam strategi ini, memang berarti semua siswa bisa menjadi guru. dengan strategi ini, siswa dilatih untuk membangun pengetahuannya sendiri. siswa juga dibiasakan untuk membaca dan berfikir secara ilmiah. melalui kegiatan diskusi siswa dilatih mengembangkan ide dan gagasan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh temannya. ketika diminta untuk membuat soal sendiri, siswa dilatih untuk berfikir secara ilmiah. dengan begitu motivasi belajar siswa pun menjadi bertambah. siswa lebih tertarik dengan pembelajaran dengan strategi pembelajaran everyone is a teacher here jika dibandingkan dengan pembelajaran yang konvensional. hal tersebut sesuai dengan pendapat hisyam zaini (2007: 63) bahwa strategi everyone is a teacher here merupakan strategi pembalajaran yang tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara individual. strategi ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai guru bagi kawankawannya. dengan strategi ini, siswa yang selama ini tidak mau terlibat akan ikut serta dalam pembelajaran secara aktif. partisipasi kelas yang meningkat baik secara keseluruhan maupun individu dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran. sebagaimana dijelaskan oleh saiful sagala (2013: 112) bahwa dengan suasana belajar yang menyenangkan ini akan memotivasi siswa untuk belajar lebih aktif. hasil penelitian yang serupa seperti penelitian yang dilakukan oleh nur’aini mulyaningsih dengan judul penerapan model quantum teaching dan strategi everyone is a teacher here untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas va sd muhammadiyah 16 karangasem pada mata pelajaran ips tahun 2011/ 2012. hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi dan hasil belajar dalam pembelajaran ips. simpulan dan saran hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di sd negeri i tempursari klaten dalam dua siklus ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. penerapan strategi pembelajaran everyone is a teacher here terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar mata pelajaran ips pada siswa kelas iv sd negeri i tempursari klaten tahun 2013/ 2014. 2. meningkatnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran ips ditandai dengan adanya antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran, siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran, siswa tekun dalam mengerjakan soal, siswa mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, dan siswa mengerjakan soal dengan baik. dalam penelitian ini diperoleh peningkatan rata-rata motivasi belajar siswa dari ketiga aspek tersebut mencapai 82, 67%, sehingga indikator pencapaian motivasi belajar siswa sebesar 80% dapat tercapai. berdasarkan hasil penelitian ini, penulis mengajukan beberapa saran untuk meningkatkan motivasi belajar pada pembelajaran ips agar hasil belajar lebih optima. 1. terhadap guru a. siswa usia sd tidak bisa hanya duduk diam memperhatikan penjelasan guru, apalagi dengan karakteristik materi pelajaran ips yang sarat akan materi. maka guru harus bisa melaksanakan kegiatan pembelajaran yang inovatif dan menekankan keaktifan siswa. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 63-7070 b. motivasi belajar siswa mempengaruhi hasil belajar siswa maka kegiatan pembelajaran yang dilakukan harus dapat menumbuhakn motivasi belajar dalam pembelajaran. c. pembelajaran harus berpusat pada siswa, guru sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa aktif dalam pembelajaran. d. strategi pembelajaran everyone is a teacher here terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga dapat dijadikan salah satu alternatif dalam usaha membangun motivasi belajar siswa khususnya dalam mata pelajaran ips. 2. terhadap peneliti selanjutnya bagi peneliti selanjutnya yang ingin melaksanakan penelitian sejenis, sangatlah penting mengetahui karakteristik siswa dan melakukan perencanaan yang matang sehingga implementasi strategi belajar yang dipilih dapat terlaksana secara maksimal. hasil penelitian kemudian dapat menjadi pembanding terhadap penelitian ini dan mengetahui apakah ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil perolehan akhir. daftar pustaka kunandar. 2008. penelitian tindakan kelas sebagai pengembangan profesi guru. jakarta: rajawali pers. sapriya. 2012. pendidikan ips, konsep dan pembelajaran. bandung: rosdakarya. sagala, syaiful. 2013. konsep dan makna pembelajaran. bandung: alfabeta. uno, hamzah b. 2010. teori motivasi dan pengukurannya analisis di bidang pendidikan. jakarta: bumi aksara. zaini, hisyam, dkk. 2007. strategi pembelajaran aktif. ctsd. yogyakarta. page 1 page 2 implementasi pendidikan tauhid kelas i sdit ar risalah kartasura ... (saring marsudi, fatimah umi m) 49 implementasi pendidikan tauhid kelas i sdit ar-risalah kartasura tahun pelajaran 2013/2014 saring marsudi, fatimah umi mutsana pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta jl. ahmad yani tromol pos 1 pabelan, kartasura, surakarta abstract national education serves to develop skills and form the character and civilization of dignity in the context of the intellectual life of the nation, aimed at developing the potential of students to become a man of faith and fear to allah the lord, noble, healthy, knowledgeable, skilled, creative, independent, and become citizens of a democratic and responsible ( education law , article 3 ). this means that the education at primary school level should refer to the planting of monotheism in order to achieve educational goals fully. the purpose of this study to determine the level of implementation of monotheism in the first grade sdit ar -risalah kartasura. this research is qualitative research. the data collection methods include observation, interviews, and documentation. this qualitative descriptive data analysis technique emphasize on deductive and inductive inference .the results showed that the content of tauhid on sdit ar-risalah kartasura are summarized in aqidah morals compiled based on salafusshalih which is sourced from the qur’an and sunnah. application of monotheism in the learning education at the first grade conducted with a variety of visual images method , and shiroh story ( history ). evaluation of learning is done with the test methods and non test , and complies with the assessment standards based on the achievement of the indicators that have been formulated , including cognitive, affective , and psychomotor . keywords: implementation ; tauhid education pendahuluan pendidikan tauhid merupakan landasan pendidikan islam yang mengarahkan seseorang kepada keselamatan di dunia dan akhirat. allah swt berfirman dalam al qur’an surat an-nisa’ ayat 48, yang artinya: “sesungguhnya allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yang lebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang allah kehendaki”. panggilan “anakku” pada al qur’an surat luqman ayat 13 merupakan pentingnya mengajarkan tauhid sedini mungkin, dengan kelanjutan ayatnya “janganlah menyekutukan allah”. makna yang terkandung dalam ayat tersebut menyimpulkan bahwa ibadah tidak akan bisa diterima selama masih dalam keadaan musyrik. (lukluk sismiati, 2012: 1). anak merupakan pondasi dasar terbentuknya masyarakat. fase paling subur, panjang dan dominan bagi murabbi (pendidik) menanamkan nilai-nilai pokok yang lurus kedalam jiwa (aqidah) dan kelakuan (akhlak) peserta didiknya. sdit ar-risalah kartasura hadir untuk mencetak generasi dengan keselarasan intelekprofesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 49-5650 tualitas dan religiusitas yang kaffah. ustadz jaufat rifai, s.pd.i, salah satu tenaga pendidik yang mengampu mata pelajaran aqidah akhlak kelas 1 dan 2 di sdit ar-risalah menjelaskan pentingnya penanaman aqidah sejak dini dikarenakan penanaman aqidah tauhid itu pokok bagi anak. uraian ini menjadi dasar penelitian yang berjudul “implementasi pendidikan tauhid usia sekolah dasar kelas 1 sdit ar-risalah kartasura tahun pelajaran 2013/ 2014”. rumusan masalah pada penelitian ini terfokus pada implementasi pendidikan tauhid usia sekolah dasar di sdit ar-risalah kartasura tahun pelajaran 2013/2014, adalah sebagai berikut: (1) bagaimanakah isi atau muatan pendidikan tauhid kelas 1 di sdit ar-risalah kartasura, (2) bagaimanakah penyusunan materi pembelajaran tauhid kelas 1 dalam rpp di sdit ar-risalah kartasura, (3) bagaimanakah pendekatan pembelajaran pendidikan tauhid kelas 1 di sdit arrisalah kartasura, (4) apa sajakah evaluasi pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan tauhid kelas 1 sdit ar-risalah kartasura, dan (5) bagaimanakah standar penilaian yang diterapkan dalam pendidikan tauhid kelas 1 di sdit arrisalah kartasura? sesuai dengan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan isi atau muatan pendidikan tauhid kelas 1 di sdit ar-risalah kartasura, (2) mendeskripsikan penyusunan materi pembelajaran tauhid kelas 1 dalam rpp di sdit arrisalah kartasura, (3) mendeskripsikan pendekatan pembelajaran pendidikan tauhid kelas 1 di sdit ar-risalah kartasura, (4) mendeskripsikan evaluasi pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan tauhid kelas 1 sdit ar-risalah kartasura, dan (5) mendeskripsikan standar penilaian yang diterapkan dalam pendidikan tauhid kelas 1 di sdit ar-risalah kartasura. sistem pendidikan, nilai dan norma yang dimiliki adalah nilai dan norma yang berasal dari tuhan yaitu wahyu atau agama disebut dengan ilmu illahi. pendidikan tauhid merupakan poros terwujudnya tujuan pendidikan islami. tauhid berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-tawhidan, secara harfiyah diartikan menyatukan, menegaskan atau mengakui bahwa sesuatu itu satu. makna harfiyah diatas adalah menegaskan atau mengakui dan meyakini akan keesaan allah swt (mahasri. dkk, 2006: 13) maka kedudukan dan fungsi tauhid terdapat pada posisi utama dalam kehidupan seorang muslim. tauhid merupakan dasar dalam beraqidah, bersyari’at, dan berakhlak. penjelasan tauhid sebagai dasar dalam beraqidah, bersyari’at dan berakhlak, tertulis dalam ayat kursi, qs al baqarah ayat 225: “allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluknya); tidak mengantuk dan tidak tidur. kepunyaan-nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi allah tanpa izinnya? allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu allah melainkan apa yang dikehendaki-nya. kursi allah meliputi langit dan bumi. dan allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan allah maha tinggi lagi maha besar.” (al qur’an tarjamah tafsiriyah, 2013:50). pendidikan tauhid ditujukan kepada setiap orang atau anak-anak agar memiliki kesadaran dalam diri diawasi oleh allah dimanapun berada, sehingga menjadi pemicu dalam beramal baik dan benteng dari perbuatan dosa. ramadi menjelaskan kecintaan kepada allah akan melahirkan rasa takut yang disertai penghormatan dan pengagungan, baik di tengah kesepian atau keramaian. penanaman ini akan menjadi penentram jiwa dan benteng dari dosa-dosa. (dr. amani ar-ramadi, 2006: 16). pandangan ini menguatkan akan pentingnya penanaman tauhid bagi anak-anak usia sekolah dasar. sekolah dasar adalah masa kanak-kanak akhir dengan rentan usia antara 6/7 sampai deimplementasi pendidikan tauhid kelas i sdit ar risalah kartasura ... (saring marsudi, fatimah umi m) 51 ngan 9/10 untuk kelas rendah dan rentas usia 9/ 10 sampai dengan 12/13 untuk kelas tinggi. masa usia sekolah dasar inilah merupakan masa yang sebaik-baiknya untuk menanamkan tauhid secara mendasar sebagai landasan pembentukan keimanan dan ketakwaan kepada allah swt. berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan sekolah dasar menjadi pondasi dasar dalam menanamkan nilainilai tauhid kepada peserta didik. sdit arrisalah kartasura adalah lembaga pendidikan islam yang mempunyai peran penting dalam penanaman nilai-nilai tauhid melalui proses pembelajaran secara integral. kurikulum yang sistemik, cakupan materi pendidikan tauhid, dukungan pendidik yang professional dan islami menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. adapun cakupan materi pendidikan tauhid terdiri dari empat macam yaitu: (1) tauhid rububiyah yaitu keyakinan seorang muslim bahwa alam semesta ini diciptakan oleh allah swt dan selalu mendapat pengawasan dan pemeliharaan allah, (2) tauhid uluhiyah atau ubudiyah yaitu merupakan tekad yang bulat dari seorang muslim bahwa segala pujian, doa dan harapan, amal dan perbuatannya hanya semata untuk pengabdian dan kebaktian kepada allah swt., (3) tauhid sifat yaitu segala sifat allah swt sebagaimana dijelaskan dalam alquran dan hadits harus tertanam dalam jiwa, kepribadian, dan kehidupan sehari-hari, (4) tauhid qauli tauhid amali dimaksudkan bahwa tauhid tidak hanya terhujam dalam hati (itikad belaka) tapi harus diikrarkan (diucapkan) dengan lisan dan dibuktikan dengan amal dan perbuatan. metode penelitian penelitian ini teramasuk jenis penelitian kualitatif, yaitu merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dengan menggunakan analisis dan pendekatan induktif. (pupu saeful rahmat. 2009. “penelitian kualitatif”. equilibrium, 9: 1-8). subjek penelitian adalah yang akan dikenai kesimpulan hasil penelitian yang didalamnya terdapat objek penelitian. (afdhol, a. m, dkk. 2011:1). subjek penelitian adalah guru dan peserta didik kelas i (a, b, c, dan d) sdit ar-risalah kartasura, sedangkan objek penelitian adalah proses dan hasil pembelajaran tauhid. sumber data meliputi sumber data primer dan sekunder. primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. sumber data sekunder adalah sumber tidak langsung memberikan data kepada pengumpulan data (sugiyono, 2010: 308-309). data primer mengacu pada data hasil wawancara dengan guru. data sekunder berdasarkan data wawancara dengan beberapa sampel siswa kelas 1 di sdit ar risalah. metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. metode wawancara, menurut sukardi (2008: 79) adalah cara mengumpulkan data dengan cara tanya jawab secara langsung berhadapan muka, peneliti bertanya secara lisan dan responden menjawab secara lisan juga. (rubino rubianto, 2013: 89). wawancara dengan narasumber siswa kelas i, guru mata pelajaran aqidah akhlak kelas i, wakasek kurikulum, dan kepala sekolah. metode observasi, menurut margono (2007:158) merupakan cara mengumpulkan data dengan mengamati langsung terhadap objek yang diteliti. (rubino rubiyanto, 2013: 90). penelitian dilakukan pengamatan proses dan evaluasi pembelajaran aqidah akhlak kelas i sdit arrisalah. metode dokumentasi, untuk mengetahui data yang akan dijadikan rujukan berupa prota, promes, silabus, rpp, presensi dan daftar nilai siswa. untuk mengetahui keabsahan data dalam penelitian ini dengan mneggunakann teknik triangulasi data yang memanfaatkan sesuatu yang profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 49-5652 lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (moloeng, 2004: 330). teknik ini artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh. metode analisis data, data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. metode penelitian deskriptif kualitatif adalah pengolahan data hasil penelitian berupa data deskriptif dan penekanan pada penyimpulan deduktif dan induktif. jalur analisis data kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (miles dan huberman, 1992). reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan, dilakukan selama penelitian berlangsung. penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun, sehingga kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. upaya penarikan kesimpulan dilakukan peneliti secara terus-menerus selama berada di lapangan. hasil dan pembahasan penelitian di sdit ar-risalah kartasura, di dukuh dregan rt.03/ rw.vi pebelan kartasura sukoharjo menghasilkan ulasan mengenai isi muatan pendidikan tauhid kelas i di sdit arrisalah kartasura, proses penyusunan materi pembelajaran tauhid, pendekatan dalam penerapan pendidikan tauhid, evaluasi yang digunakan dalam mengukur tingkat keberhasilan pendidikan tauhid, dan standar penilaian dalam penerapan nilai pada pendidikan tauhid kelas i di sdit arrisalah kartasura. isi atau muatan pendidikan tauhid kelas i di sdit ar-risalah kartasura termuat dalam mata pelajaran aqidah akhlak. materi disajikan dalam buku aqidah akhlak yang terdiri dari rukun iman, rukun islam, asma’ul khusna pada semester i dan syahadat pada semester ii. (1) rukun iman; artinya suatu perkara yang wajib dikerjakan. iman artinya yakin dan percaya. rukun iman terbagi atas: (a) iman, (b) iman kepada allah, (c) iman kepada malaikat, (d) iman kapada kitab allah, (e) iman kepada rasul, (f) iman kepada hari akhir, dan (g) iman kepada takdir. (aqidah akhlak kelas i, 2010: 3-5) (2) rukun islam; rukun islam adalah hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang muslim: (a) mengucapkan dua kalimat syahadat, (b) menegakan sholat lima waktu, (c) membayar zakat, (d) berpuasa di bulan ramadhan, (e) ibadah haji bagi yang mampu, (aqidah akhlak kelas i, 2010:10-14) (3) asma’ul khusna, asma artinya nama-nama dan khusna artinya baik, jadi asma’ul khusna artinya nama-nama allah yang baik, antara lain: (a) al khaliq, artinya sang pencipta, (b) ar razaaq, artinya sang pemberi rezeki, (c) as sami’ artinya sang maha mendengar, (d) al bashiir, artinya sang maha melihat, (e) an nashiir, artinya maha penolong.(aqidah akhlak kelas i, 2010:20-22 ) (4) syahadat, terdiri dari syahadat tauhid bunyinya “…asyhadu alla ilaha illallah”, artinya aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain allah. syahadat rasul berbunyi “…wa asyhadu anna muhammadar rasulullah”, artinya dan aku bersaksi bahwa nabi muhammad saw itu utusan allah. (aqidah akhlak kelas i, 2010: 49-53) penyusunan materi pembelajaran tauhid kelas 1 dalam rpp di sdit ar-risalah kartasura. hasil wawancara dengan pihak guru dan wakasek kurikulum menyebutkan penyusunan materi bersumber dari al qur’an dan as sunnah yang sesuai dengan kurikulum konsorsium pendidikan islam al ummah. penyusunan materi oleh pihak asyatidz dan asytidzah serta praktisi penimplementasi pendidikan tauhid kelas i sdit ar risalah kartasura ... (saring marsudi, fatimah umi m) 53 didikan. guru juga dituntut untuk menggali kompetensi guru dalam penyampaianya. pendekatan pembelajaran pendidikan tauhid kelas 1 di sdit ar-risalah kartasura. metode dominan dengan menggunakan ceramah. gambar visual, kisah-kisah shiroh juga menjadi salah satu metode pendekatan. aktivitas belajar sdit ar-risalah kartasura tahun pelajaran 2013/ 2014 no komponen aspek yang diamati a kegiatan awal membuka pelajaran mengucap salam meminta siswa untuk berdoa bersama presensi siswa menanyakan keadaan siswa motivasi melakukan ice breaking mengajak siswa untuk menyanyi/bermain yang berkaitan dengan pelajaran apersepsi mengulang materi sebelumnya menggali pengetahuan awal siswa mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan materi pelajaran penyampaian tujuan pembelajaran menyampaikan tujuan pembelajaran dengan jelas mengaktifkan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya meminta siswa untuk menyampaikan materi di depan kelas mendorong siswa untuk memberi tanggapan b kegiatan inti eksplorasi mengadakan variasi mengajar menunjukkan sikap bersahabat dan adil kepada semua siswa menghargai setiap perbedaan pendapat siswa menekankan bagian-bagian penting pada materi pelajaran elaborasi menumbuhkan kepercayaan diri memberi tugas dengan petunjuk yang jelas membimbing siswa yang mengalami kesulitan menumbuhkan inisiatif siswa tugas diarahkan dengan jelas menuntut tanggung jawab siswa konfirmasi membuat kesimpulan dari materi yang telah dipelajari melibatkan siswa dalam membuat kesimpulan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 49-5654 evaluasi pembelajaran yang digunakan dalam pendidikan tauhid kelas 1 sdit ar-risalah kartasura. evaluasi pembelajaran menggunakan metode tes untuk memberikan informasi keberhasilan peserta didik memahami materi tauhid dalam bentuk akademik melalui ulangan harian, uts dan uas. keberhasilan implementasi pendidikan tauhid diketahui dari metode nontes. buku penghubung dan buku monitoring (mutaba’ah) merupakan instrument penilaian yang bersifat nontes. standar penilaian yang diterapkan dalam pendidikan tauhid kelas 1 di sdit ar-risalah kartasura. evaluasi pembelajaran mengacu pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. penilaian akademik mengacu pada indikator pencapaian siswa yang terbentuk dalam kalimat kata kerja operasional sehingga tercapai indikator dari segi akademis dan implementasi. kurikulum pendidikan tauhid sdit ar-risalah kartasura mengacu manajemen lembaga berkarakter sistematis untuk tercapainya karakter kebangsaan dengan karakter religious secara sistematis. simpulan dan saran simpulan hasil penelitian dan perolehan data mengenai implementasi pendidikan tauhid usia sekolah dasar kelas i sdit ar-risalah kartasura tahun pelajaran 2013/ 2014, yang tertuang dalam bab iv dapat peneliti simpulkan: muatan pendidikan tauhid kelas i di sdit ar-risalah kartasura yang diajarkan sejak kelas i –vi dapat menjadi satu kesatuan yang utuh dan tidak terputus. materi tauhid yang terangkum dalam mata pelajaran aqidah akhlak diajarkan pada kelas i sdit ar-risalah terdiri dari rukun iman, rukun islam, asma’ul khusna pada semester i dan syahadat pada semester ii. materi tersebut telah sesuai dengan ruang lingkup materi ketauhidan yang terdiri atas tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, tauhid sifat, tauhid qauli. 85 materi pembelajaran tauhid disusun guna menanamkan aqidah salafusshalih, yang bersumber dari al qur’an dan as sunnah serta bersandarkan pada kurikulum kpi, konsorsium pendidikan islam al ummah. penyusunan materi dipercayakan kepada pihak asyatidz dan asytidzah serta praktisi pendidikan yang lebih memahami ullumuddin (ilmu agama) serta konsep pendidikan dengan baik. sehingga materi dapat tersaji dengan benar dan sesuai dengan tingkat perkembangan pengetahuan anak. penerapan pembelajaran tauhid di kelas i dilakukan dengan berbagai metode. metode ceramah yang merupakan metode dominan guru keno komponen aspek yang diamati c kegiatan akhir tindak lanjut melakukan evaluasi dan penilaian melakukan refleksi dari proses pembelajaran menyarankan siswa untuk belajar dirumah meminta siswa berdoa sebelum pulang mengucap salam kesan untuk pelaksanaan pembelajaran efektivitas dalam pembelajaran kesesuaian dengan indikator materi yang telah dirumuskan menguasai situasi kelas penampilan guru dalam proses pembelajaran baik   implementasi pendidikan tauhid kelas i sdit ar risalah kartasura ... (saring marsudi, fatimah umi m) 55 las rendah, namun variasi metode gambar visual, dan kisah shiroh (sejarah) juga digunakan untuk mempermudah peserta didik dalam memahami materi tauhid. evaluasi pembelajaran yang dilakukan dengan metode tes dan nontes. kedua metode ini telah sesuai dengan standar evaluasi yang harus dilakukan dalam sebuah lembaga pendidikan. acuan standar penilaian pada ketercapaian dari indikator yang telah dirumuskan. indikator yang tertuang dalam kalimat berbentuk kata kerja operasional ini berdampak pada pencapaian yang tidak hanya bersifat akademis namun juga implementasinya. standar penilaian yang dilakukan sehingga mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. saran kepada kepala sekolah sdit ar-risalah kartasura: (1) perlu sosialisasi dan pelatihan bagi asyatidz dan asyatidzah serta praktisi pendidikan untuk aktif memproduksi panduan pembelajaran yang diarahkan sesuai syari’at islam, (2) meningkatkan kualitas pembelajaran yang inovasi sesuai syari’at islam. upaya sekolah untuk selalu memodifikasi kegiatan pembelajaran yang diselaraskan dengan nilai-nilai dasar tauhid. (3) mengkondisikan lingkungan sekolah untuk senantiasa menerapkan syari’at islam didalamnya. keadaan lingkngan belajar yang dipisakan antara kelas putra dan putri, serta kantor ustadz dan ustadzah yang terpisah pula, merupakan penerapan hijab (pembatas) yang dibenarkan oleh syari’at islam dan sangat baik untuk terus dijaga keistiqomahanya. kepada tenaga pendidik sdit ar-risalah kartasura: (1) menerapkan pola asuh rasulullah yang tangguh dan penuh kasih sayang kepada peserta didiknya agar selalu terjaga. bentakan dan bullying (kata-kata yang menjatuhkan) yang tidak diberlakukan sangat membantu proses pembentukan karakter yang mulia atau akhlakul karimah. (2) aktif membuat alat peraga. alat peraga sangat berfungsi untuk mengongkritkan cara pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan. (2) berinovasi dalam menerapkan metode dan strategi pembelajaran. metode dan strategi yang menarik akan membuat peserta didik lebih menikmati dan berperan aktif proses pembelajaran. bagi peneliti selanjutnya: perlunya dilakukan penelitian lanjutan terkait pentingnya pendidikan tauhid sejak dini. penelitian tersebut diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran yang lurus untuk membentuk tauhid yang kokoh akan menghasilkan generasi yang sholih, cerdas, bertanggung jawab dan berakhlakul karimah. daftar pustaka heru mustakim. 2010. “aqidah akhlak kelas i”. bekasi: forum komunikasi lembaga pendidikan islam. john santrock. 2011. “perkembangan anak jilid 1”. jakarta: erlangga. lukluk sismiati. 2012. “implementasi pendidikan tauhid usia dini di tkit al mukmin maimunah hasan. 2011. “pendidikan anak usia dini”. jogjakarta: diva press. margono, s. 2008. “metodologi penelitian pendidikan”. jakarta: rineka cipta. michael quinn patton. 2009. “metode evaluasi kualitatif”. yogyakarta: pustaka pelajar. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 49-5656 moleong, s. 2008. “metodologi penelitian kualitatif”. bandung: remaja rosda karya. muhammad suwaid. 2013. “cinta nabi untuk si buah hati”. solo: pustaka arafah. nasution, s. 2003. “metode penelitian naturalistik kualitatif”. bandung: tarsito. partini, s. (2008). perkembangan masa kanak-kanak akhir. dalam izzaty, r.e, dkk. perkembangan peserta didik. yogyakarta : uny press. sayyid quthb. 2012. “ma’alim fi ath thoriq: petunjuk jalan yang menggetarkan iman”. yogyakarta: darul uswah. undang-undang republik indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen bandung: citra umbara. undang-undang republik indonesia nomor 12 tahun 2013 tentang sisdiknas”. bandung: citra umbara. page 1 page 2 kecerdasan emosional......(imanuel s.a, dkk) 41 jppd, 6, (1), hlm. 41 50 vol. 6, no. 1, juli 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i1.7946 kecerdasan emosional peserta didik sekolah dasar imanuel sairo awang 1), metah merpirah 2), yohanes berkhmas mulyadi3) sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan persada khatulistiwa sintang 12iman.saiaw@gmail.com; 2metamarvira@gmail.com; 3yohanes@gmail.com pendahuluan pendidikan merupakan sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan perkembangannya. undang-undang republik indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dengan tegas menuliskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya. pendidikan penting untuk memajukan pengetahuan, budi pekerti, karakter, dan tubuh anak. hal ini penting dan tidak dapat dipisahkan karena manusia harus bertumbuh secara holistik. dengan demikian, proses pendidikan bagi anak haruslah sesuai dengan tumbuh kembang seorang anak tersebut dalam melakukan proses pembelajaran. pendidikan dapat diartikan sebagai pengajaran karena pendidikan pada umumnya selalu membutuhkan pengajaran. proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik merupakan suatu pengalaman menerima, mendengar, serta melihat apa yang disampaikan oleh guru. dalam hal ini yang terpenting adalah bagaimana peserta didik dapat mengolah kemapuan yang ada dalam dirinya. kemampuan peserta didik tersebut tercermin dalam segenap kecerdasan yang dimilikinya. abstract: this study aimed to describe emotional intelligence of grade iv students of elementary school. this study used descriptive method with a qualitative approach. the data collection using emotional intelligence questionnaires and interview. based on the results the students’ emotional intelligence charactheristic was variated. the student ability to recognize and manage emotions was lacked. in addition, the ability to motivate oneself, recognize the emotions of others and the ability to develop relationships was good. nevertheless there was tendency for the characteristics of good emotional intelligence to contribute to the learning achievements of students. this is indicated by 63.64% of students characterized by good emotional intelligence also supported by learning outcomes with 54.55% of students whose learning outcomes are complete. keywords: emotional intelligence, student, elementary school http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.7946 mailto:metamarvira@gmail.com mailto:yohanes@gmail.com kecerdasan emosional......(imanuel s.a, dkk) 42 jppd, 6, (1), hlm. 41 50 woolfolk (yusuf, 2010: 106) mengemukakan bahwa, “intelegensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan.” kecerdasan merupakan serangkaian kemampuan peribadi, emosi, dan sosial yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil. goleman (khoerunnisa 2011: 32) menyatakan bahwa, “kecerdasan umum semata-mata hanya dapat memprediksi kesuksesan hidup seseorang sebanyak 20% saja, sedangkan 80% yang lain adalah yang di sebutnya emotional intelligence.” ini memberikan penjelasan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual melainkan adanya kecerdasan emosional. kecerdasan emosional juga memungkinkan individu untuk dapat merasakan dan memahami dengan benar. kecerdasan emosional menjadi daya dan kepekaan emosional yang membangkitkan energi untuk memperoleh informasi serta mempengaruhi hasil belajar. kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk memotivasi diri sendiri, dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa. kosasih (rahma 2017: 14), menuliskan “kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh manusiawi.” bagi pemilik kecerdasan emosional informasi tidak hanya didapat melalui panca indra saja namun ada sumber lain, yakni suara hati. pernyatan ini hendak menjelaskan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan yng dimiliki seseorang untuk mengelola pikiran, sikap, dan tindakan dirinya agar permasalahan yang dihadapi dapat terpecahkan. salovey & mayer seperti dikutip guntersdorfer & golubeva (2018: 55), menuliskan pengertian kecerdasan emosional sebagai,”the subset of social intelligence that involves the ability to monitor one’s own and others’ feelings and emotions, to discriminate among them and to use this information to guide one’s thinking and actions.” hal ini mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional merupakan pengatur dan pengawas dalam membimbing pikiran dan prilaku pada kelima kemampuan dasar yakni penghargaan diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan ketrampilan sosial. dengan demikian, kecerdasan emosional selalu berhubungan dengan pikiran dan prilaku diri sendiri terhadap orang lain. kecerdasan emosional pada hakikatnya merupakan kemammpuan untuk mencari tahu serta mengelola emosi dalam diri. sejalan dengan pendapat tersebut, goleman seperti dikutip ibrahim (2012: 53), menyatakan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.” lebih lanjut goleman (uno dkk, 2009: 15), menjelaskan terdapat lima wilayah dari kecerdasan emosional yakni kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan. kelima domain kecerdasan emosional tersebut, harus ditumbuhkan dalam diri anak, terutama kecerdasan emosional......(imanuel s.a, dkk) 43 jppd, 6, (1), hlm. 41 50 pada usia awal sekolah yakni di sekolah dasar. sehingga, apabila pada usia dini sudah diberikan pengetahuan maupun pengalaman mengelola emosi, niscaya kelak pada usia dewasa anak tersebut mampu menaklukan berbagai tantangan dalam hidupnya. penumbuhan dan pengembangan emosi anak sangat penting dilakukan karena betapa banyak dijumpai anak-anak yang begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, tetapi ia mudah marah, mudah putus asa atau bersikap angkuh dan arogan. temuan hasil observasi yang dilakukan di kelas iv sekolah dasar negeri 03 nanga ngeri, kapuas hulu, didapati fakta bahwa peserta didik mudah marah bila ditegur gurunya, suka berkelahi dengan teman sekelasnya, malas belajar serta kurang dalam keterampilan sosial. terdapat peserta didik yang mampu memotivasi dirinya sendiri misalnya dengan tidak bermain dikelas dan mau menolong teman sekelasnya, namun ada juga yang melakukan hal sebaliknya. kemudian terdapat juga peserta didik yang benar-benar memperhatikan gurunya saat menjelaskan materi pelajaran dan ada juga yang tidak. berdasarkan uraian tersebut akan diteliti lebih lanjut karakteristik kecerdasan emosional yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik sehingga dapat memudahkan guru dalam menyampaikan pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didiknya. dalam penelitian ini peneliti ingin meneliti tentang kecerdasan emosional untuk mencoba membantu permasalahan yang sering terjadi yakni kemampuan untuk mengenali emosinya sendiri, mengolah emosinya sendiri, memotivasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain (teman) dan membina hubungan dengan teman diwaktu yang tepat. berdasarkan masalah tersebut penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul kecerdasan emosional peserta didik kelas iv sekolah dasar. metode penelitian penelitian ini dilaksanakn dengan metode deskriptif. menurut best (sukardi, 2003: 157), “penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya. lebih lanjut nawawi (portanata dkk 2017: 341), menegaskan “metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan objek-subjek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lainya) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya.” berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif sebagai usaha analisis berdasarkan kata-kata yang disusun menjadi kalimat sehingga membentuk sebuah pernyataan yang diperlukan. penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan semua gejala yang ditemukan pada saat penelitian ini dilaksanakan secara apa adanya. subyek dari penelitian ini adalah peserta didik kelas iv sekolah dasar negeri 03 nanga ngeri, kapuas hulu yang berjumlah 22 orang. pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan angket kecerdasan emosional yang kemudian dilanjutkan dengan wawancara untuk mendapatkan data yang valid mengenai karakteristik kecerdasan emosionalnya. analisis data hasil angket dilakukan dengan metode perhitungan persentase yang akan menentukan responden yang akan diwawancarai. selanjutnya data hasil wawancara akan dianalisis dengan strategi kualitatif-verifikatif. analisis data kecerdasan emosional......(imanuel s.a, dkk) 44 jppd, 6, (1), hlm. 41 50 dengan strategi kualiatif-verifikatif merupakan sebuah upaya analisis induktif terhadap data penelitian yang dilakukan pada seluruh proses penelitian yang dilakukan (bungin, 2007: 151). model analisis ini lebih mengutamakan data yang dikumpulkan dibandingkan dengan bangunan teori pendukung. hasil dan pembahasan penelitian ini mengumpulkan data menggunakan angket untuk membantu mengetahui kecerdasan emosional yang ada pada peserta didik. berdasarkan hasil analisis angket dari 22 orang peserta didik, delapan orang peserta didik berada pada kecerdasan emosional berkategori kurang dengan jumlah 40-55, tujuh peserta didik dengan jumlah 56-65 kecerdasan emosional cukup, delapan peserta didik dengan jumlah 66-79 kecerdasan emosional baik dan satu orang dengan jumlah 80-100 kecerdasan emosional sangat baik. dari hasil angket tersebut menjadi data pendukung dan mempermudah peneliti dalam memilih responden dengan melanjutkan proses wawancara sebagai data utama. rekapitulasi hasil angket dapat dilihat pada tabel 1. tabel 1. hasil analisis angket kecerdasan emosional interval peserta didik keterangan 80-100 zk baik sekali 66-79 sr,zn,pc,ds,ak,ap baik 56-65 dh,rs,dl,al,tm,fi,da cukup 40-55 rf,ar,cv,dc,ka,wy,zh,vu kurang setelah diperoleh data angket tentang kecerdasan emosional peserta didik kelas iv sekolah dasar, selanjutnya dilakukan wawancara untuk mendalami karakteristik kecerdasan emosional peserta didik meliputi kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan. 1. kemampuan mengenali emosi diri peserta didik yang diwawancarai rata-rata peserta didik yang sering terlihat cemas dan gelisah jika sedang belajar. terdapat peserta didik yang menjawab bahwa tetap gugup dalam mengerkakan soal meskipun peserta didik tersebut sudah belajar untuk mempersiapkan diri dalam ulangan.“ saya sangat gelisah dan cemas saat ulangan walau saya sudah belajar di rumah” demikian disampaikan ds. terdapat pula peserta didik yang santai saat dinasehati gurunya dan tidak merasa takut jika nilai peserta didik kurang baik diantara teman sekelasnya dc mengatakan “kadang saya santai kalau dinasehati guru ada juga bosan dengar guru ceramah terus”. sedangkan peserta didik berinisial ar mengatakan bahwa ia sering marah dan merasa jengkel dengan temannya walaupun temannya tersebut tidak mengganggu dan mengusik dirinya. “kadang saya tidak tahu mengapa marah dan jengkel dengan kawan padahal dia tidak ganggu”. demikian diungkan ar. pendapat ini mengidentifikasi bahwa kemarahan dan jengkel yang timbul dalam hati peserta didik tidak mengetahui penyebab tidak suka kepada temannya tersebut melainkan perasaan tersebut muncul dengan sendiri. kecerdasan emosional......(imanuel s.a, dkk) 45 jppd, 6, (1), hlm. 41 50 dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa kurangnya kemampuan mengenali emosi diri ditunjukan dengan peserta didik yang sering merasa gugup dan cemas, peserta didik yang santai saat dinasehati gurunya dan peserta didik yang tidak mengetahui penyebab kemarahan dan rasa jengkel yang timbul secara tibatiba. 2. kemampuan mengelola emosi kemampuan mengelola emosi peserta didik ditunjukan dengan sikap dan prilaku peserta didik dalam sehari-hari. berdasarkan hasil wawancara rata-rata peserta didik marah jika ada teman meminjam barang kesayangannya. saat diwawancara apakah jika ada teman yang mengejek kamu akan membalas ejekan tersebut? rf dengan jelas mengatakan “harus membalas ejekan teman dan ingin meninjunya”. demikian pula yang disampaikan peserta didik ar saat marah biasanya selelau berteriak-teriak dan biasanya membanting barang-barang yang ada di sekitarnya “saya berteriak-teriak kalau marah dan membanting barang”. ar juga sering datang terlambat ke sekolah karena bosan mengikuti pelajaran kadang juga mengikuti teman untuk membolos sekolah dan memilih bermain. dari hasil wawancara yang didapatkan peserta didik menunjukan prilaku marah tak terkendali dan suka membanting barang-barang yang ada di sekitarnya, suka membolos sekolah karena merasa bosan dengan pelajaran yang diberikan guru maka dapat disimpulkan bahwa kurangnya kemampuan mengelola emosi pada peserta didik tersebut. 3. kemampuan memotivasi diri peserta didik yang kurang kemampuan memotivasi dirinya tidak berkeinginan untuk mencapai target belajar sehingga peserta didik tersebut mengalami hasil belajar yang kurang memuaskan. berdasarkan temuan saat wawancara, peserta didik tidak mempunyai target belajar dan jadwal pelajaran mereka belajar hanya pada saat ada ulangan saja. alasannya mereka bosan saat disuruh belajar dan memilih untuk bermain dengan temanya. ketika ditanya apakah kamu bertekad mencapai target belajar yang sudah ditetapkan? dc menjawab “saya tidak mempunyai target dalam belajar”. selain itu dc juga tidak berkeinginan untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka dan olahraga. hal ini juga dinyatakan oleh peserta didik yang berinisial ds yang menyatakan dirinya tidak mempunyai target dalam belajar asalkan bisa naik kelas seperti temanya yang lain “tidak asalkan saya naik kelas”. pernyatan tersebut juga dikatakan oleh ka mengatakan tidak ada target belajar asal naik kelas walaupun nilai yang didapatkannya tergolong rendah. berdasarkan temuan tersebut, jelaslah bahwa peserta didik kurang kemampuan memotivasi diri hal ini ditunjukan peserta didik yang tidak mempunyai target belajar dan tidak ada kemauan dalam diri peserta didik untuk terdorong mencapai hasil belajar yang maksimal. 4. mengenali emosi orang lain hasil wawancara peserta didik mengenali kecerdasan emosional terdapat beberapa peserta didik yang acuh dengan temannya dan asik dengan kesibukan sendiri.peserta didik yang berinisial wy termasuk peserta didik yang acuh dengan kecerdasan emosional......(imanuel s.a, dkk) 46 jppd, 6, (1), hlm. 41 50 teman sekelasnya saat temanya bercerita tidak bisa menjadi pendengar dengan baik dan malas untuk mendengar keluh kesah teman. saat ditanya jawaban dari wy sanyat jelas “saya tidak bersedia mendengar keluh kesah teman dan malas mendengarkannya”. hal ini juga dinyatakan oleh ar “saya merasa jenuh mendengar cerita dan keluh kesah teman” ar juga kurang bisa mengenali emosi orang lain dan juga sedikit cuek dengan orang lain. terdapat pula peserta didik yang tidak suka dan bahagia bila temannya mendapat prestasi alasannya karena yang mendapat prestasi temannya bukan dia jadi mengapa dia harus bahagia sedangkan teman yang mendapat prestasi tersebut “saya tidak bahagia ketika teman saya berprestasi karena dia bukan saya” demikian yang disampaikan oleh vu. pada saat ditanya apakah kamu merasa sedih ketika melihat berita bencana di tv? vu menjawab “saya tidak merasa sedih ketika melihat bencana di tv. berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa kurangnya kemampuan mengenali emosi diri di tunjukan melalui sikap acuh dengan teman sekelasnya dan tidak merasa terharu dan sedih bila orang lain tertimpa musibah serta tidak bisa merasakan kebahagian yang orang lain rasakan. 5. kemampuan membina hubungan zh adalah peserta didik yang pemalu dan pendiam di kelas sehinga selalu menyendiri dan jarang bergaul dengan kawannya. prestasi belajar zh termasuk dalam kategori tidak tuntas. pada saat ditanya apakah pada hari pertama masuk sekolah kamu dapat beradaptasi dengan cepat dengan temanmu? zh menjawab “saya sulit mendapat teman kadang saya memilih sendiri”. zh juga sulit memahami pemikiran orang lain yang berbeda pendapat dengan dirinya dan juga kurang disukai oleh teman sekelasnya “saya tidak disukai mereka” demikian pernyataan dari zh. ada juga peserta didik yang yang lebih suka mengerjakan tugas sendiri dari pada berdiskusi dengan temannya hal ini yang dinyatakan oleh wy “saya suka mengerjakan tugas sendiri dari pada dengan teman”. wy juga mengatakan dirinya kadang bersikap acuh tak acuh bila mendengar pengumuman kegiatan gotong-royong membersihkan lingkungan di sekitar rumahnya. pernyataan tersebut juga dikatakan oleh rf “saya tidak suka kegitan gotong-royong”. berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan membina hubungan yang kurang baik di tunjukan dengan peserta didik yang pendiam dan kurang bisa bergaul dengan temannya dan juga kurang bisa bekerja sama dengan baik dengan temannya dan lebih memilih mengerjakan pekerjaan sendiri. pada aspek kemampuan mengenali emosi diri, beberapa peserta didik kurang mampu mengenali emosi diri. kenyataan ini didapatkan melalui observasi, angket dan wawancara. dalam tahap observasi, peneliti melihat sebagian siswa yang malas belajar pada saat jam pelajaran, siswa terlihat murung, dan siswa hanya diam saja ketika tidak memahami materi yang di sampaikan guru. hal ini juga didukung hasil analisis angket yang didapatkan bahwa beberapa dari siswa menunjukan kecerdasan emosional yang kurang. kecerdasan emosional......(imanuel s.a, dkk) 47 jppd, 6, (1), hlm. 41 50 hasil wawancara membuktikan demikian, ketika ditanya yang berkaitan dengan aspek kemampuan mengenali emosi diri, siswa menjawab sering terlihat gugup dan cemas yang berlebihan saat belajar dan mengerjakan soal yang diberikan oleh guru meskipun siswa tersebut sudah belajar di rumah. terdapat juga jawaban siswa yang santai saat dinasehati guru karena siswa merasan bosan selalu dinasehati dan juga siswa yang sering merasa marah dan jengkel terhadap temanya tanpa tahu penyebab kearahan yang dirasakannya. pada aspek kemampuan mengelola emosi berdasarkan hasil observasi, beberapa siswa asik bermain saat guru menjelaskan materi, siswa yang berkelahi dan ada juga siswa yang sering mengejek temannya. hal ini juga didukung hasil analisis angket yang didapatkan bahwa beberapa dari siswa menunjukan kecerdasan emosional yang kurang baik. hasil wawancara juga menguatkan data yang didapatkan ketika ditanya aspek kemampuan mengelola emosi siswa menjawab dengan jelas jika siswa marah tak terkendali seperti berteriak-teriak, melempar barang yang ada di sekitarnya dan suka berkelahi dengan teman-temannya ketika ada teman yang megejeknya dia harus membalas ejekan tersebut bahkan siswa tersebut ada rasa keinginan untuk meninju temannya ketika merasakan sakit hati. kemampuan memotivasi diri adalah kemampuan memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.padaaspek kemampuan memotivasi diri berdasarkan observasi,terdapat bahwa siswa kurang motivasi untuk mendapat pringkat yang baik di kelasnya, beberapa siswa yang sering mendapat nilai yang rendah dan sulit untuk menerima pendapat temannya. salovey (manizar 2016: 9) berpendapat bahwa kemampuan memotivasi diri merupakan kemampuan untuk menguasi diri dan untuk berkreasi. hasil wawancara juga sangat menguatkan data yang didapatkan ketika ditanya tentang aspek kemampuan memotivasi diri, jawaban sesuai dengan apa yang didapatkan saat pengamatan. siswa tidak berkeinginan untuk mencapai target belajar asalkan naik kelas seperti temannya sehingga siswa tersebut mengalami hasil belajar yang kurang memuaskan mereka belajar hanya pada saat ada ulangan saja. alasannya mereka bosan saat disuruh belajar dan memilih untuk bermain dengan temanya. selain itu juga tidak berkeinginan untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka dan olahraga. berdasarkan hasil amatan aspek kemampuan mengenali emosi, beberapa siswa yang sulit menerima pendapat temannya, ada siswa yang selalu diam dan jarang bermain dengan kawannya pada saat teman terkena musibah siswa bersikap acuh. hal ini juga didukung hasil analisis angket yang didapatkan bahwa beberapa dari siswa menunjukan kecerdasan emosional yang kurang baik. hasil wawancara juga menguatkan data tersebut, ketika diwawancara yang berkaitan dengan aspek kemampuan mengenali emosi orang lain, jawaban yang diberikan sesuai dengan hasil amatan. siswa acuh dan asik dengan kesibukan sendiri saat temanya bercerita tidak bisa menjadi pendengar dengan baik dan malas untuk mendengar keluh kesah teman, siswa yang tidak suka dan bahagia bila temannya mendapat prestasi alasannya karena yang mendapat prestasi temannya bukan dia jadi mengapa dia harus bahagia sedangkan teman yang mendapat prestasi tersebut siswa dan tidak merasa sedih ketika melihat berita bencana di tv. kecerdasan emosional......(imanuel s.a, dkk) 48 jppd, 6, (1), hlm. 41 50 kemampuan membina hubungan dengan orang adalah kemampuan untuk mengelola emosi orang lain sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi leih luas. salovey (manizar 2016: 9) seni membina hubungan yang sebagian besar berkaitan dengan ketrampilan mengelola emosi orang lain. kemampuan membina hubungan yang didapatkan berdasarkan hasil temuan terdapat siswa yang pemalu dan pendiam dikelas selalu menyendiri dan jarang bergaul dengan kawannya sehingga siswa tersebut sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, siswa yang yang lebih suka mengerjakan tugas sendiri dari pada berdiskusi dengan temannya hal ini menyebabkan tidak tercipta komunikasi yang baik. terdapat siswa yang kadang bersikap acuh tak acuh bila mendengar pengumuman kegiatan gotong-royong membersihkan lingkungan di sekitar rumahnya. hasil angket memperlihatkan bahwa sebanyak 8 peserta didik atau 36,36% mempunyai karakteristik kecerdasan emosional yang kurang. karakteristik yang kurang ini sejalan dengan hasil belajar yang juga tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (kkm), dimana sebanyak 10 peserta didik atau 45,45% berada dibawah kkm. sebagian peserta didik mendapatkan prestasi yang baik di sekolah adalah yang mempunyai karakteristik kecerdasan emosional yang baik pula. hal ini sesuai dengan penelitian agustian, dkk. (2014: 1) yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional mempunyai kontribusi terhadap hasil belajar siswa. dengan demikian, dapat disimpulkan meskipun tidak terdapat olarisasi yang nyata, namun bila peserta didik mempunyai karakteristik kecerdasan emosional yang cukup baik, maka prestasi belajar juga cenderung berhasil pula. simpulan berdasarkan temuan dan analisis data dapat disimpulkan bahwa terdapat kecendrungan karakteristik kecerdasan emosional yang baik akan berkontribusi pada prestasi belajar peserta didik. hal ini ditunjukkan dengan sebanyak 63,64% peserta didik berkarakteristik kecerdasan emosional cukup baik juga ditunjang dengan hasil belajar dengan persentase 54,55% peserta didik yang hasil belajarnya tuntas. meskipun demikian karakteristik kecerdasan emosional peserta didik kelas iv sekolah dasar berbeda-beda. kecerdasan emosional......(imanuel s.a, dkk) 49 jppd, 6, (1), hlm. 41 50 daftar pustaka agustian, d., suarjana,md., & riastini, pt. n. (2014). kontribusi kebiasaan belajar dan kecerdasan emosional terhadap hasil belajar matematika kelas iv sdn di gugus x kecamatan buleleng. jurnal mimbar pgsd, 2(1) 1-11. bungin, b. (2007). penelitian kualitatif komunikasi, ekonomi, kebijakan public, dan ilmu social lainnya, (edisi kedua). jakarta: kencana prenada media group. guntersdorfer, i. & golubeva, i. (2018). emotional intelligence and intercultural competence: theoretical questions and pedagogical possibilities. intercultural communication education, 1(2), 54-63. ibrahim. (2012). pembelajaran matematika berbasis-masalah yang menghadirkan kecerdasan emosional. jurnal infinity, 1(1), 45-61. khoerunnisa. (2011). “pengaruh kecerdasan emosional peserta didik terhadap akhlak peserta didik”. jurnal pendidikan universitas garut.volume 5. hlm 30-43. manizar, e. (2016). “mengelola kecerdasan emosional”. tadrib: jurnal pendidikan agama islam, 2(2), 1-16. portanata, l., lisa, y. dan awang, i. s. (2017). “analisis pemanfaatan media pembelajaran ipa sd”.jurnal pendidikan dasar perkhasa. 3(1) 337-348. rahma, f. w. (2017). “hubungan kecerdasan emosional dengan hasil belajar matematika siswa kelas v sd negeri 4metro pusat 2016/2017”. skripsi. lampung. fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. uno, h. b., dan umar, m. k. (2009). mengelola kecerdasan dalam pembelajaran. jakarta: bumi aksara. yusuf, s. 2010. psikologi perkembangan anak dan remaja. bandung: remaja rosdakarya. kecerdasan emosional......(imanuel s.a, dkk) 50 jppd, 6, (1), hlm. 41 50 peningkatan keterampilan menyimak cerita anak ... (minsih dan dewi maya) 175 peningkatan keterampilan menyimak cerita anak melalui pendekatan savi (somatis, auditori, visual, intelektual) dan media audio visual pada siswa kelas v sd negeri ngadirejo 01 kartasura kabupaten sukoharjo tahun pelajaran 2013/2014 minsih dan dewi maya program studi pendidikan guru sekolah dasar, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta. minsih@ums.ac.id abstract this study aims to improve listening skills of childrens story telling using savi approach (somatic, auditory, visual, intellectual) and audio-visual media of fifth-grade students of ngadirejo 01 elementary school kartasura, 2013/2014 school year. this type of research is ptk (classroom action research). this study conducted two cycles with two meetings each cycle. the subjects of this study were fifth-grade students of ngadirejo 01 elementary school kartasura as many as 43 students and teachers as subject-actors of savi approach and audiovisual media . the results showed an increase in students’ listening skills. it can be seen from: 1) pay attention to the story; before action 62,79%, first cycle 83.71% and second cycle 100%, 2) identifying topics story; before actions 37.20 % , cycle i 55.81 % and second cycle 80.23%, 3) answering questions; before actions 41.86%, first cycle 66.27% and second cycle 80.22%, 4) retelling the story; before actions 27.90%, the first cycle 52.32% and second cycle 80.22%. the test results of listening learning also increased. it can be seen from the study: before the actions 39.54%, first cycle 74.41% and second cycle 100%. the conclusion of this study is the application of the savi approach (somatic , auditory , visual , intellectual) and audiovisual media can improve listening skills in children story telling of fifth-grade students of ngadirejo 01 elementary school kartasura. keywords: listening skill, savi approach, audio-visual media pendahuluan pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. proses pendidikan tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri, yang diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. sekolah sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan formal diharapkan mampu membentuk manusia ke arah yang lebih baik melalui proses belajar mengajar. bahasa indonesia memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial dan emosional siswa yang merupakan penunjang keberhasilan dalam profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 175-181176 mempelajari semua bidang studi. pembelajaran bahasa indonesia merupakan proses belajar yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa agar dapat berkomunikasi dalam bahasa indonesia dengan baik dan benar. guntur henry tarigan (1986: 2) menyatakan, “pembelajaran bahasa indonesia mencakup empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak (listening skill), keterampilan berbicara (speaking skill), keterampilan membaca (reading skill), dan keterampilan menulis (writing skill).” keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan satu kesatuan. selanjutnya setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. keterampilan menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa sebelum menguasai keterampilan lain. menyimak merupakan proses komunikasi, khususnya dalam pengembangan kemampuan berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. untuk meningkatkan keterampilan menyimak, guru menerapkan pendekatan pembelajaran yang mampu mendorong siswa berpartisipasi aktif dalam proses belajar mengajar. pendekatan pembelajaran savi merupakan pembelajaran yang melibatkan panca indera yang sesuai diterapkan dalam pembelajaran menyimak. pendekatan savi memiliki empat dimensi, yaitu somatis yang bermakna belajar dengan berbuat, auditori yaitu belajar dengan berbicara dan mendengarkan, visual yaitu belajar dengan mengamati dan menggambarkan, serta intelektual yang bermakna belajar dengan berpikir dan merenung. penerapan pendekatan savi diimbangi dengan penggunaan media pembelajaran yang berbasis audio visual. media film animasi merupakan media pembelajaran berbasis audio visual yang mampu menunjang keberhasilan peningkatan keterampilan menyimak cerita. pembelajaran bahasa indonesia keterampilan menyimak sd negeri ngadirejo 01 kartasura khususnya kelas v masih belum mencapai kriteria ketuntasan minimum (kkm). berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas v, pemerolehan prestasi siswa pada keterampilan menyimak rata-rata masih di bawah nilai 69, sedangkan kriteria ketuntasan minimum (kkm) yang ditentukan untuk pelajaran bahasa indonesia di sd negeri ngadirejo 01 adalah 70. berdasarkan pengumpulan data didapat bahwa siswa yang belum mencapai kkm keterampilan menyimak pelajaran bahasa indonesia sebanyak 26 siswa atau 60,46% dan siswa yang sudah mencapai kkm 17 siswa atau 39,54%. permasalahan mengenai rendahnya keterampilan menyimak ini timbul karena beberapa hal, yaitu: (1) pembelajaran monoton bagi siswa, (2) pendekatan pembelajaran yang digunakan belum melibatkan keaktifan siswa (3) media pembelajaran yang digunakan kurang inovatif, (4) dalam proses pembelajaran, siswa cenderung menjadi subyek pasif yang hanya menerima pelajaran, (5) paradigma yang menyatakan bahwa menyimak sama dengan kegiatan mendengar pasif, spontan, dan tidak selektif, (6) menyimak merupakan komunikasi verbal yang sulit dilakukan. berdasarkan latar belakang tersebut, dilakukan penelitian tindakan kelas (ptk) yang berjudul: “peningkatan keterampilan menyimak cerita anak melalui pendekatan savi (somatis, auditori, visual, intelektual) dan media audio visual pada siswa kelas v sd negeri ngadirejo 01 kartasura tahun pelajaran 2013/2014.” tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak melalui pendekatan savi (somatis, auditori, visual, intelektual) dan media animasi audio visual pada siswa kelas v sd negeri ngadirejo 01 kartasura tahun pelajaran 2013/2014. landasan teori keterampilan adalah kemampuan untuk menggunakan akal, fikiran, ide dan kreativitas peningkatan keterampilan menyimak cerita anak ... (minsih dan dewi maya) 177 dalam mengerjakan, mengubah ataupun membuat sesuatu menjadi lebih bermakna. mulyati (2007: 14) menyatakan bahwa keterampilan berbahasa merupakan suatu keterampilan yang dimiliki seseorang dalam memilih lambang-lambang guna menyampaikan pesan dan memberikan makna terhadap lambang-lambang yang berisi pesan yang disampaikan. menurut mulyati (2007: 110113) terdapat empat aspek keterampilan dasar berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. menurut yusi rosdiana jenisjenis cerita yang cocok untuk anak-anak usia sd dapat dikelompokkan ke dalam cerita jenaka, dongeng, fabel, legenda, dan mite atau mitos (rosdiana, 2008: 67-69). elemen-elemen atau unsur-unsur cerita tersebut adalah tema dan amanat, tokoh, latar, alur atau plot, sudut pandang, dan gaya. menyimak merupakan sebuah keterampilan yang kompleks yang memerlukan ketajaman perhatian, konsentrasi, sikap mental yang aktif dan kecerdasan yang mengasimilasi serta menerapkan setiap gagasan. hermawan (2012: 43) menyatakan bahwa kegiatan menyimak diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok besar, yaitu menyimak secara pasif, kritis, dan aktif. indikator keterampilan menyimak cerita yang harus dicapai siswa dalam penelitian ini adalah memperhatikan cerita, mengenali topik cerita, menjawab pertanyaan, menceritakan kembali isi cerita. “pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu” (kamulyan dan risminawati, 2012: 2). pendekatan savi merupakan pendekatan pembelajaran yang memiliki sistem lengkap untuk melibatkan kelima indera dan emosi dalam proses belajar yang merupakan cara belajar secara alami yang melibatkan aspek somatik, auditori, visual, dan intelektual. media pembelajaran adalah alat yang digunakan dalam pembelajaran sebagai sarana untuk menjelaskan materi pelajaran dengan tujuan untuk mempermudah seseorang menerima pesan yang disampaikan. media pembelajaran berbasis audio visual adalah salah satu media pembelajaran yang mampu menarik perhatian siswa untuk ikut aktif di dalam pembelajaran serta merupakan media yang memanfaatkan kemajuan teknologi. setiap anak memiliki karakteristik dan tipe belajar yang berbeda-beda, dengan adanya perbedaan tipe belajar siswa, pendekatan savi melibatkan panca indera serta penggunaan media animasi audio visual membantu siswa konsentrasi, memahami, fokus, serta memberi makna pada pesan yang diterima dalam menyimak cerita anak sesuai tipe belajar siswa. penelitian ini relevan dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. penelitian-penelitian tersebut diantaranya purwanti (2012) dalam penelitian tindakan kelas yang berjudul “peningkatan hasil belajar matematika melalui pendekatan belajar “savi” pada siswa kelas iii sdn 01 jatisuko jatipuro tahun pelajaran 2010/2011", puspitosari, galih (2012) dalam penelitian tindakan kelas yang berjudul “peningkatan keterampilan menyimak pada pelajaran bahasa indonesia melalui media audio visual pada siswa kelas v sd negeri karanganyar 02 tahun ajaran 2011/2012”, anggraeni, nita (2013) dalam penelitian tindakan kelas yang berjudul “peningkatan aktivitas belajar ipa melalui pendekatan pembelajaran savi pada siswa kelas iv sd negeri 01 anggaswangi grobogan tahun 2012/2013”, rosadi, bahtiyar (2013) dalam penelitian tindakan kelas yang berjudul “penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (ts-ts) dalam meningkatkan keterampilan menyimak pada mata pelajaran bahasa indonesia kelas v sd negeri pringanom 3 profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 175-181178 tahun ajaran 2012/2013 masaran sragen”. hipotesis penelitian tindakan kelas (ptk) sebagai berikut: penerapan pendekatan pembelajaran savi dan media audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak dalam mata pelajaran bahasa indonesia pada siswa kelas v sd negeri ngadirejo 01 kartasura tahun pelajaran 2013/2014. metode penelitian lokasi penelitian ini adalah di sd negeri ngadirejo 01 kecamatan kartasura kabupaten sukoharjo tahun pelajaran 2013/2014. dengan setting penelitiannya secara khusus lingkungan siswa kelas v sebagai tempat subyek penelitian melakukan kegiatan mengajar, secara umum di lingkungan sd negeri ngadirejo 01 kecamatan katasura kabupaten sukoharjo. subyek penelitian ini adalah guru kelas v selaku wali kelas, sedangkan subyek yang memperoleh tindakan adalah siswa kelas v sd negeri ngadirejo 01 kartasura tahun ajaran 2013/ 2014 sejumlah 43 siswa dengan jumlah siswa laki-laki 21 siswa dan perempuan 22 siswa. penelitian ini terdapat empat prosedur penelitian secara umum menurut arikunto (2006: 16) dalam (suyadi, 2011: 49) yang meliputi 1) tahap perancanaan, terdiri dari identifikasi masalah, analisis penyebab masalah dan merumuskannya, ide untuk memecahkan masalah, 2) pelaksanaan, pelaksanaan tindakan dilakukan selama 2 minggu dalam 2 siklus. pada tahap ini diterapkan pendekatan pembelajaran savi dan media audio visual di kelas v sesuai dengan tindakan yang telah direncanakan sebelumnya, 3) pengamatan, observasi dilaksanakan berdasar pada proses pembelajaran yang berlangsung. 4) refleksi, kegiatan refleksi ini dilakukan pada setiap akhir pembelajaran dan dapat dilakukan dialog untuk menangani masalah yang muncul. teknik pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini antara 1) observasi, pada penelitian ini adalah observasi mengajar pra siklus dan observasi mengajar siklus i dan siklus ii. 2) wawancara, dalam penelitian ini telah dilakukan wawancara bebas untuk memperkaya data-data yang selanjutnya dikembangkan bersama informasi-informasi lain untuk memperkuat jawaban tentang penelitian yang dilakukan. 3) tes, teknis tes telah dilakukan pada pembelajaran setiap siklus. 4) dokumentasi, dokumentasi dalam penelitian ini adalah memperoleh data sekolah dan nilai keterampilan menyimak sebelum tindakan. menurut budiharso (2013: 150) “instrumen penelitian adalah alat fasilitas yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti”. adapun instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini meliputi lembar observasi tindak mengajar dan belajar, soal tes menyimak, pedoman wawancara terhadap guru dan siswa, dan dokumentasi. teknik analisis data dilakukan tindakan pembelajaran dan dikembangkan selama proses refleksi sampai proses penyusunan laporan. menurut suyadi (2011: 85) “analisis data adalah analisis data yang telah terkumpul guna mengetahui seberapa besar keberhasilan tindakan dalam penelitian untuk perbaikan belajar siswa”. kegiatan analisis menjadi beberapa bagian yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data verifikasi dan penarikan kesimpulan. penelitian tindakan kelas ini, indikator yang telah dicapai siswa adalah adanya peningkatan keterampilan menyimak cerita anak pada mata pelajaran bahasa indonesia dengan diterapkannya pendekatan savi (somatis, auditori, visual, intelektual) dan media audio visual. indikator yang telah dicapai siswa dalam keterampilan menyimak adalah a) memperhatikan cerita, b) mengenali topik cerita, c) menjawab pertanyaan, d) menceritakan kembali isi cerita. kriteria ketuntasan minimum (kkm) yang dicapai adalah 70. jadi sekurang-kurangnya 80% siswa peningkatan keterampilan menyimak cerita anak ... (minsih dan dewi maya) 179 kelas v sd negeri ngadirejo 01 kartasura mendapatkan nilai ketuntasan belajar individual sebesar > 70 dalam keterampilan menyimak cerita anak pada mata pelajaran bahasa indonesia. penelitian ini dikatakan berhasil apabila indikator menyimak siswa dapat mencapai sekurang-kurangnya 80% secara keseluruhan. hasil penelitian dan pembahasan penelitian dilaksanakan di sd negeri ngadirejo 01 yang berlokasi di desa ngadijayan, kecamatan kartasura, kabupaten sukoharjo, kode pos 57163. jumlah siswa di sd ngadirejo 01 kartasura adalah 326 siswa yang terdiri dari 154 siswa laki-laki dan 172 siswa perempuan. guru sd ngadirejo 01 ini berjumlah 17. kepala sekolah yang sekarang menjabat di sd ngadirejo adalah musri hartini, s.pd. akreditasi sd n ngadirejo 01 adalah kualifikasi a pada tanggal 12 desember 2007. berdasarkan observasi dan wawancara pra siklus dengan guru kelas v sd negeri ngadirejo 01 kartasura diperoleh keterangan tentang keterampilan menyimak selama mengikuti pembelajaran. hasil pra siklus menunjukkan keterampilan menyimak siswa mengenai memperhatikan cerita sebanyak 27 siswa atau 62,79%, menanggapi isi cerita sebanyak 16 siswa atau 37,20%, menjawab pertanyaan sebanyak 18 siswa atau 41,86%, menceritakan kembali sebanyak 12 siswa atau 27,90%. hasil observasi menunjukkan terdapat permasalahan pelaksanaan pembelajaran bahasa indonesia terkait keterampilan menyimak siswa yang masih kurang. kemampuan menyimak siswa yang kurang ditandai dengan hasil akhir pretes mata pelajaran bahasa indonesia sebanyak 26 siswa atau 60,46% mendapat nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal yang harus dicapai atau dinyatakan belum tuntas. sebanyak 17 siswa atau 39,54% mendapat nilai di atas kriteria ketuntasan minimal atau dinyatakan tuntas yaitu > 70. berdasarkan data yang diperoleh pada dialog awal menunjukkan kondisi awal di sd negeri ngadirejo 01 kartasura pembelajaran menyimak cerita di kelas v masih rendah. kondisi awal siswa ini karena beberapa faktor penyebab yaitu, pendekatan pembelajaran masih konvensional sehingga belum mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan menyimak cerita dan media pembelajaran tidak inovatif. berdasarkan data yang diperoleh pada kondisi awal maka solusi meningkatkan keterampilan menyimak siswa adalah sebagai berikut pendekatan pembelajaran savi (somatis, auditori, visual, intelektual) dan media audio visual dalam pembelajaran menyimak cerita. penelitian dilaksanakan 2 siklus, yaitu siklus i dan siklus ii. setiap siklus dilakukan 2 kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit setiap pertemuan. setiap siklus terdapat empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. berdasarkan tindakan penelitian pada siklus i menunjukkan bahwa keterampilan menyimak siswa pada pertemuan 1 pada indikator memperhatikan cerita mencapai 81,39%, mengenali topik cerita 46,51%, menjawab pertanyaan 53, 48%, menceritakan kembali isis cerita 41,86%. pada pertemuan 2 indikator memperhatikan cerita mencapai 86,04%, menanggapi isi cerita 65,11%, menjawab pertanyaan 79,06%, menceritakan kembali 62,79%. rata-rata secara keseluruhan 64,52%. peningkatan keterampilan menyimak juga ditunjukkan dari hasil tes yang dilakukan pada siklus pertama, yaitu dari 43 siswa yang mengikuti pembelajaran, terdapat 11 siswa atau 25,59% yang nilainya kurang dari kkm dan 32 siswa atau 74,41% yang nilainya memenuhi kkm. hasil ini mengalami kenaikan 41,85% pada pertemuan siklus i dengan nilai terendah 50 dan tertinggi 95. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan menyimak siswa masih berada di bawah prosentase indikator pencapaian sebesar 80%, sehingga keterampilan menyimak siswa perlu ditingkatkan. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 175-181180 hasil penelitian siklus ii menunjukkan indikator keterampilan menyimak mengalami peningkatan dari masing-masing indikator. pada pertemuan 1 indikator memperhatikan cerita mencapai 95,34%, mengenali topik cerita 76,74%, menjawab pertanyaan74,41%, menceritakan kembali isi cerita 79,06%. pada pertemuan 2 indikator memperhatikan cerita mencapai 100%, mengenali topik cerita 83,72%, menjawab pertanyaan 86, 04%, menceritkan kembali 81,39%. rata-rata semua aspek secara keseluruhan ada 84,58%. peningkatan keterampilan menyimak juga ditunjukkan dari hasil tes siswa yaitu mencapai 100% atau dari 43 siswa yang mengikuti pembelajaran, semua siswa telah mendapat nilai di atas kkm yaitu 70. hal ini menunjukkan peningkatan cukup baik yaitu 25,59%. hasil tes siswa siklus ii telah mencapai batas pencapaian keberhasilan yaitu sebesar 80%, dengan nilai terendah 70 dan nilai tertinggi 100. keberhasilan peningkatan keterampilan menyimak dapat dilihat dari hasil pengamatan indikator menyimak siklus i dan siklus ii sebagai berikut, siswa yang memperhatikan cerita meningkat 13,96% dari 83,71% menjadi 97,67%. hal ini menunjukkan bahwa semua siswa telah memperhatikan cerita yang didengarkan, siswa yang mengenali topik cerita meningkat 24,42% dari 55,81% menjadi 80,23%, siswa yang menjawab pertanyaan meningkat 13,95% dari 66,27% menjadi 80,22%, siswa yang menceritakan kembali isi cerita meningkat 27,9% dari 52,32% menjadi 80,22%. dari data di atas dapat diperoleh hasil bahwa keterampilan menyimak siswa mengalami peningkatan dari pra siklus, siklus i, sampai siklus ii. jadi hipotesis yang berbunyi “penerapan pendekatan pembelajaran savi dan media audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak dalam mata pelajaran bahasa indonesia pada siswa kelas v sd negeri ngadirejo 01 kartasura tahun pelajaran 2013/ 2014” dapat dibuktikan kebenarannya. kesimpulan penerapan pendekatan savi (somatis, auditori, visual, dan intelektual) dan media audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak siswa kelas v sd negeri ngadirejo 1 tahun pelajaran 2013/2014. hal ini dapat dibuktikan dari hasil penilaian keterampilan menyimak yang telah memenuhi aspek-aspek pencapaian keterampilan menyimak pada akhir siklus sebesar 84,58%. selain itu juga hasil tes keterampilan menyimak yang mengalami peningkatan berdasarkan nilai kkm. pada pelaksanaan siklus i sebanyak 74,41% atau 32 siswa mencapai nilai kkm. siklus ii meningkat menjadi 100% dengan nilai rata-rata siklus ii 92,67. hipotesis tindakan yang berbunyi “penerapan pendekatan pembelajaran savi dan media audio visual dapat meningkatkan keterampilan menyimak cerita anak dalam mata pelajaran bahasa indonesia pada siswa kelas v sd negeri ngadirejo 01 kartasura tahun pelajaran 2013/2014” telah terbukti kebernarannya. peningkatan keterampilan menyimak cerita anak ... (minsih dan dewi maya) 181 daftar pustaka budiharso, teguh. 2009. panduan lengkap penulisan karya ilmiah skripsi, thesis dan disertasi. yogyakarta: venus guntur, henry tarigan. 1986. menyimak sebagai suatu keterampilan berbahasa. bandung: angkasa hermawan, herry. 2012. menyimak keterampilan berkomunikasi yang terabaikan. yogyakarta: graha ilmu kamulyan, mulyadi sri dan risminawati. 2012. model-model pembelajaran inovatif di sekolah dasar. surakarta: pgsd fkip ums mulyati, yeti dkk.2007. keterampilan berbahasa indonesia. jakarta: universitas terbuka rosdiana, yusi. 2008. bahasa dan sastra indonesia di sd. jakarta: universitas terbuka suyadi. 2011. panduan penelitian tindakan kelas. yogyakarta: diva press kelebihan dan kekurangan .....(ratnasari dw & yosina m) 185 jppd, 5, (2), hlm. 185 192 vol. 5, no. 2, desember 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.7353 kelebihan dan kelemahan metode talaqqi dalam program tahfidz al-qur’an juz 29 dan 30 pada siswa kelas atas madrasah ibtidaiyah muhammadiyah ratnasari diah utami1), yosina maharani2) pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta 1) rdu150@ums.ac.id; 2)yosina.maharani@student.ums.ac.id pendahuluan kesibukan sering kali menjadi alasan terhalangnya seseorang untuk menjadi salah satu barisan para penghafal al-qur’an. menghafal al-qur’an dianggap suatu hal yang sangat mustahil bagi orang yang mengatakan bahwa ia sibuk sehingga seolah ada pembenaran untuk tidak menghafal al-qur’an. bahkan masih didapati pula orang yang mengatakan bahwa ia tidak mempunyai waktu sama sekali untuk sekedar membaca bahkan menghafalkan al-qur’an. tradisi menghafal al-qur’an merupakan bagian inheren dalam diri umat islam. sebuah tradisi yang dilandasi oleh keimanan terhadap al-qur’an sebagai kitab suci dan pedoman hidup utama. sejak zaman nabi muhammad saw hingga masa sekarang, lahir para penghafal al-qur’an yang sering disebut al-huffazh (jamak dari al-hafizh). biografi abstrak: the purpose of this research is to identify 1) the advantages and weakness of talaqqi method in program tahfidz al-qur'an juz 29,30, and 2) attempt to overcome the weakness of talaqqi method in program tahfidz al-qur'an juz 29,30, the type of research used in this study is qualitative descriptive. data collection methods used in this study are the method of observation, interview and documentation. validity of data used is triangulation method and triangulation of data source by using three step activity data analysis that is data reduction, data presentation, and conclusion. the results of this study indicate that 1) the advantages of talaqqi method is the motivation factor and habalan memorization of students which is still less so this method is considered very suitable and effective to be applied in the madrasah and students can read and memorize the qur'an in accordance with the rules of science that tajwid correct. the weakness of the talaqqi method is derived from its own student factors that have not mastered the science of tajwid well such as short length, pronunciation makhraj, students who are easily bored so it will be joking with friends of their own. 2) efforts made by teachers in overcoming the weaknesses of talaqqi method is to check the reading, control the development of memorization of students, listened one by one, come to the desk students who felt still have difficulty in memorizing, and by forming homogeneous classes tailored to the level of students' memorization skills. keywords: advantages, weakness, talaqqi method, tahfidz al-qur'an https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.7353 mailto:rdu150@ums.ac.id mailto:rdu150@ums.ac.id mailto:yosina.maharani@student.ums.ac.id kelebihan dan kekurangan .....(ratnasari dw & yosina m) 186 jppd, 5, (2), hlm. 185 192 dan kisah hidup para pengahafal al-qur’an diabadikan serta dikenang oleh generasi islam sepanjang masa. hashim (2016: 13) menyatakan bahwa “al-qur’an is the source of strength of muslim ummah which has been revealed by allah” yang berarti bahwa alqur’an adalah sumber kekuatan islam yang disebutkan secara sah oleh allah. al-qur’an telah diwahyukan kepada nabi muhammad saw dengan bermacam cara, misalnya dengan ditulis, dibaca, dan dihafal setiap saat. karena kecintaan dari generasi ke generasi muslim, al-qur’an dapat terjaga kemurniannya hingga saat ini hingga telah mewariskan berbagai metode dan cara menghafal al-qur’an, seperti dipraktikan oleh beberapa madrasah dan lembaga tahfizhul qur’an lainnya di banyak negara islam, terrmasuk di madrasah indonesia seperti mim pk kenteng yang berada di kecamatan nogosari kabupaten boyolali. hashim (2015: 91) menyatakan bahwa “strategy in tahfiz learning styles should be given special attention by all parties whwn drafting a curiculum for tahfiz teaching and learning so that the excellence in quality of the students can be achieved” yang berarti bahwa strategi dalam gaya belajar tahfidz harus diberikan sebuah perhatian khusus oleh sema pihak ketika menyusun suatu kurikulum pengajaran dan pembelajaran tahfidz sehingga kunggulan dalam kualitas siswa dapat tercapai. mim pk kenteng adalah suatu madrasah unggulan yang didalamnya menerapkan program tahfidz al-qur’an juz 29,30. untuk mengajarkan tahfidz al-qur’an diperlukan metode atau cara yang pantas agar mencapai tujuan yang diinginkan. salah satu metode yang digunakan untuk memudahkan hafalan al-qur’an adalah dengan metode talaqqi. metode ini dipilih karena dianggap yang paling cocok diterapkan di madrasah tersebut mengingat siswa masih dalam tahap awal belajar. makhyauddin (2016: 80) menyatakan bahwa metode talaqqi yaitu guru membacakan, sementara murid mendengarkan, lalu menirukan sampai hafal. herry (2013: 84-86) mengungkapkan bahwa penggabungan cara-cara tradisional seperti metode talaqqi adalah metode paling ideal dalam menghafal al-qur’an. terdapat beberapa alasan yang mendasar yaitu 1) doktrinal yang berarti memenuhi tiga syarat yaitu sanad yang sah dan mutawatir, sesuai dengan kaidah bahasa arab (meskipun tidak popular), dan sesuai rasm utsmani. oleh sebab itu, tradisi sanad sangat penting dalam khazanah islam. talaqqi (menurut penafsiran sebagian ulama) atau talqin (menurut pendapat yang lain) seperti tersebut telah dijelaskan dalam al-qur’an sehingga orisinalitasnya dapat dipertanggungjawabkan. 2) rasional (intelektual) yang berarti dengan mengikuti metodemetode tradisional seperti diatas, kebenaran bacaan al-qur’an dapat dijamin, karena ada proses chek and re-chek anata pembaca (murid) dengan pakar (syekh, kyai). lebih utama lagi, jika talaqqi dilakukan dengan sebanyak mungkin bersama pakar karena akan semakin meningkatkan mutu bacaan dan mendekati kesempurnaan. 3) emosional yang memiliki beberapa hikmah antara lain melatih kesabaran, ketabahan, ketekunan, dan etika sosial dapat meneladani dan menghayati kontribusi para pendahulu (salafus shaleh) yang begitu tulus menjaga dan mengagungkan al-qur’an. selain itu, dengan adanya kewajiban talaqqi, akan aktif dengan rutinitas mulia yang dapat menyehatkan mental dan memotivasi diri. 4) spiritual yang berarti jika kita talaqqi (mengaji) dengan para syekh, kyai atau ustadz, maka akan mendapatkan banyak ilmu dari mereka. inilah diantara kunci keberhasilan para penghafal al-qur’an, sedangkan kelemahan metode talaqqi menurut kelebihan dan kekurangan .....(ratnasari dw & yosina m) 187 jppd, 5, (2), hlm. 185 192 susianti, (2016: 13) ada beberapa kelemahan dalam penggunaan metode talaqqi, yaitu 1) tidak efisien karena hanya menghadapi beberapa murid (tidak lebih dari 5 orang), sehingga kalau menghadapi murid yang banyak, metode ini kurang tepat. 2) membuat murid cepat bosan karena metode ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi. 3) murid kadang hanya menangkap verbalisme semata terutama mereka yang tidak mengerti terjemahan dari bahasa tertentu. 4) metode tradisional memang sangat berat dan kurang digemari oleh banyak orang di masa sekarang (herry, 2013: 85). makhyarudin (2016: 85) juga menambahkan bahwa salah satu cara untuk mengatasi kelemahan dalam menerapkan metode talaqqi adalah dengan mengambil termmursyid untuk membimbing menghafal al-qur’an dengan syarat harus hafiz al-qur’an. bimbingan yang dilakukan oleh term mursyid biasanya diwujudkan dalam bentuk menerima setoran hafalan, mengontrol dan mengkondisikan hafalan, memberikan saran, nasihat, arahan, dan motivasi, serta memeriksa bacaan. dengan adanya term mursyid, kegiatan menghafal akan berlangsung secara kontinu dan dinamis. berdasarkan uraian latar belakang masalah dan teori-teori di atas peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana kelebihan dan kelemahan metode talaqqi dalam pengajaran pada program tahfidz al-qur’an juz 29 dan 30. adapun penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan metode talaqqi dalam program tahfidz alqur’an juz 29,30 sekaligus upaya untuk mengatasi kelemahan metode talaqqi di mi muhammadiyah program khusus kenteng. penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai kelebihan dan kelemahan dari metode talaqqi yang digunakan sebagai metode dalam mengajar tahfidz al-qur’an. metode penelitian penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. penelitian ini merupakan penelitian yang jenis datanya bersifat non angka bisa berupa kalimat, pernyataan, dokumen serta data lain yang bersifat memberikan deskripsi dan kategorisasi berdasarkan kancah penelitian (musfiqon, 2015: 70). sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. sumber data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi yang terkait dengan kelebihan dan kelemahan metode talaqqi dalam program tahfidz al-qur’an, sedangkan sumber data sekunder diperoleh melalui dokumen penting tentang program tahfidz al-qur’an di mim pk kenteng. nara sumber dalam penelitian ini adalah bapak kepala sekolah, guru (pengajar) tahfidz kelas 4, guru tahfidz kelas 5 serta siswa kelas empat dan lima dalam rangka menggali informasi tentang kelebihan dan kelemahan metode talaqqi dalam program tahfidz al-qur’an. kehadiran peneliti adalah sebagai perencana, pengumpul, penganalisis data sekaligus pelapor dari hasil penelitian yang telah dilakukan. teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara serta dokumentasi keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi metode dan triangulasi sumber data. triangulasi metode digunakan untuk mengecek efektifitas metode yang digunakan dalam penelitian, selain menggunakan metode wawancara, peneliti juga menggunakan metode observasi dan dokumentasi dalam mengumpulkan data yang sama, sedangkan triangulasi sumber data dimaksudkan untuk melakukan pencarian data yang sama pada kelebihan dan kekurangan .....(ratnasari dw & yosina m) 188 jppd, 5, (2), hlm. 185 192 sumber data yang berbeda. dalam hal ini, peneliti melakukan pencarian data yang sama kepada guru tahfidz kelas 5, maka untuk melakukan pencarian data yang sama, peneliti juga mencari data pada guru tahfidz kelas 4 dan dari siswa kelas empat dan lima. teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mereduksi data, menyajikan data, serta yang terakhir adalah penarikan kesimpulan. hasil penelitian dan pembahasan penelitian ini dilakukan di mi muhammadiyah program khusus yang terletak di desa kenteng kecmatan nogosari boyolali. waktu yang dibutuhkan untuk penelitian ini adalah selama empat bulan drngan narasumber bapak kepala sekolah, guru tahfidz, serta siswa kelas empat dan lima. a. kelebihan metode talaqqi dalam program tahfidz al-qur’an juz 29,30 di mi muhammadiyah program khusus kenteng nogosari boyolali dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara yang mendalam dengan guru tahfidz di mim pk kenteng tentang kelebihan dan kelemahan ketika menerapkan metode talaqqi dalam program tahfidz al-qur’an juz 29, 30. adapun alasan pihak sekolah menggunakan metode talaqqi adalah karena metode ini dianggap paling cocok untuk diterapkan kepada anak-anak mengingat anak-anak yang belum sepenuhnya menguasai ilmu tajwid seperti panjang pendek, makhraj, dan belum begitu paham tentang bacaan mana yang harus dibaca jelas, mana yang harus dibaca samar-samar dan mana yang harus dibaca mendengung. adapun kelebihan dari penerapan metode talaqqi adalah siswa yang belum menguasai ilmu tajwid dalam membaca dan menghafal ayat al-qur’an akan semakin lebih tahu dan paham tentang membaca al-qur’an dan menghafal sesuai dengan ilmu tajwid. metode ini dianggap sangat cocok diterapkan pada siswa sekolah dasar serta memiliki kelebihan bahwa siswa semakin memahami kaidah ilmu tajwid ketika membaca dan menghafal al-qur’an. kelebihan lain dari metode talaqqi ini adalah anak menjadi lebih siap untuk hafalan secara mandiri. biasanya anak anak belum siap untuk menghafal secara mandiri. ketidaksiapan ini karena anak dalam membaca dan menghafal al-qur’an belum sesuai makhrajnya serta tajwid yang belum benar. selain itu metode talaqqi ini cocok untuk memotivasi dan membiasakan siswa untuk menghafal, karena motivasi anak dalam menghafal masih kurang. kebiasaan anak untuk menghafal juga masih kurang, sehingga meetode talaqqi ini dianggap cocok untuk diterapkan. berdasarkan observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran, dapat dilihat bahwa siswa terlihat sangat senang karena ada guru tahfidz yang mengajar dalam menghafalkan al-qur’an dengan cara yang mudah, sehingga siswa mudah mengerti dan memahami materi yang diajarkan. berkaitan dengan kelebihan saat mengimplementasikan metode talaqqi dalam program tahfidz al-qur’an tersebut, maka sesuai dengan pendapat herry (2013: 85) yang menjelaskan bahwa salah satu kelebihan metode talaqqi adalah bersifat rasional, yang mana al-qur’an adalah pedoman hidup utama muslim. para ulama pun telah kelebihan dan kekurangan .....(ratnasari dw & yosina m) 189 jppd, 5, (2), hlm. 185 192 merumuskan berbagai etika dan tata cara dalam berinteraksi dengan al-qur’an termasuk bagaimana cara membaca dan menghafalkannya. dengan mengikuti metode talaqqi, kebenaran bacaan al-qur’an dapat dijamin, karena ada proses chek and re-check antara pembaca dengan pakar (syekh, kyai). hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh qawi (2017: 282) yang menyatakan bahwa penerapan metode talaqqi dalam pembelajaran al-qur’an terlihat efektif. juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh awaluddin (2017) yang menyatakan bahwa metode talaqqi seakan menjadi solusi dalam pencapaian tujuan pembelajaran tahsin dan tahfidz yang memerlukan perhatian lebih terhadap perkembangan siswa dalam melafalkan al-qur’an sehingga siswa memiliki kelebihan khusus yang dapat dipantau oleh guru. b. kelemahan metode talaqqi dalam program tahfidz al-qur`an juz 29,30 di mi muhammadiyah program khusus kenteng nogosari boyolali kelemahan dari penerapan metode talaqqi ini sebenarnya berasal dari faktor siswanya itu sendiri, dan faktor itu terletak pada penguasaan ilmu tajwid yang masih kurang, seperti panjang pendek, juga pengucapan makhraj yang berbeda-beda, misalnya pengucapan huruf hijaizah syin dan sin. ada beberapa siswa yang sudah bisa membedakan cara membaca huruf tersebut, tetapi ada juga siswa yang belum bisa membedakan cara membaca huruf tersebut. hal ini menjadi pr bagi guru tahfidz di sekolah tersebut, bagaimana agar guru bisa mengajarkan tahfidz al-qur’an kepada siswa dengan lebih baik lagi sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. kelemahan lain dalam penerapan metode talaqqi ini adalah sebagian anak mudah bosan ketika diajarkan tahfidz, apalagi jika ada anak yang sudah hafal secara mandiri sehingga akan cepat bosan kalau melihat teman lainnya tidak hafal-hafal. kelemahan dari penerapan metode talaqqi tersebut juga yang dirasakan oleh guru tahfidz yaitu kelemahan yang berasal dari faktor siswanya. ada beberapa siswa yang belum menguasai ilmu tajwid seperti panjang pendek, pengucapan makhraj antar siswa 1 (satu) dengan siswa yang lainnya berbeda, misalnya pengucapan makhraj antara huruf syin dan sin. ada beberapa siswa yang sudah dapat membedakan pengucapan huruf tersebut, tetapi ada juga beberapa siswa yang belum bisa membedakan huruf tersebut. berkaitan dengan kelemahan saat mengimplementasikan metode talaqqi dalam program tahfidz al-qur’an tersebut, susianti (2016: 13) menjelaskan bahwa salah satu kelemahan dari implementasi metode talaqqi adalah murid kadang hanya menangkap verbalisme semata terutama mereka yang tidak mengerti terjemahan dari bahasa tertentu. selain itu, kelemahan dari implementasi metode talaqqi juga terletak pada siswanya yang terkadang mudah bosan ketika diajarkan tahfidz oleh gurunya serta kurang disiplinnya siswa dalam melakukan setoran hafalan kepada gurunya. siswa yang tidak menyetorkan hafalan kepada gurunya akan bersendau gurau dengan teman disampingnya. hal ini sesuai dengan pendapat herry (2013: 85) yang menyatakan bahwa metode talaqqi merupakan metode tradisional yang memang sangat berat dan kurang digemari oleh banyak orang di masa sekarang. kelebihan dan kekurangan .....(ratnasari dw & yosina m) 190 jppd, 5, (2), hlm. 185 192 c. upaya guru untuk mengatasi kelemahan dari implementasi metode talaqqi dalam program tahfidz al-qur’an juz 29,30 di mim pk kenteng ada beberapa upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengatasai kelemahan dalam penerapan metode talaqqi ini. yang sering dilakukan guru adalah dengan memeriksa bacaan siswa, mengontrol perkembangan siswa dalam menghafalkan al-qur’an serta menyimak siswa satu persatu. walaupun cara ini memebutuhkan waktu yang lama, tetapi hal itu adalah cara yang bisa ditempuh guru untuk mencapai tujuan yang diharapkan supaya siswa mampu menguasai kaidah ilmu tajwid saat membaca serta menghafalkan al-qur’an. selain itu ada upaya juga dari pihak sekolah dengan merrencanakan membuat kelompok kelas tahfidz,. direncanakan setiap kelas nantinya ada 3 kelas yaitu kelas a, b dan c. dari 3 kelas ini, akan pecah jadi 4 kelas. setiap kelas target hafalannya disesuaikan dengan kemampuan kelompok anak, sehingga nanti akan menjadi kelas homogen kelas tahfidz. dengan adanya pengelompokan ini diharapkan dapat meminimalisir sendau gurau siswa, dan siswa dapat lebih serius dalam menghafal karena mereka berada dalam kelas homogen yang disesuaikan dengan kemampuan target hafalan siswa. berdasarkan observasi di lapangan, peneliti mengamati bahwa guru tahfidz akan mendatangi ke meja siswa yang dirasa masih memiliki kesulitan dalam menghafalkan alqur’an. selain itu upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah adalah dengan mengadakan acara-acara yang bisa membangkitkan motivasi hafalan siswa yang dilaksanakan di lapangan sekolah mim pk kenteng. beberapa upaya diatas, sesuai dengan pernyataan makhyaruddin (2016: 85) yang menyatakan bahwa dalam bimbingan hafalan diwujudkan dalam bentuk menerima setoran hafalan, mengontrol dan mengkondisikan hafalan, memberikan saran, nasihat, arahan, dan motivasi serta memeriksa bacaan, sehingga kegiatan menghafal al-qur’an berlangsung secara kontinu dan dinamis. fatimah (2017) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa salah satu mengatasi kelemahan pada metode hafalan adalah dengan meningkatkan peran guru dan orang tua atau wali siswa untuk memberikan perhatian lebih, menciptakan suasana nyaman, bersahabat seperti dengan mengadakan acara-acara yang bisa membangkitkan motivasi siswa dalam menjalankan sebuah metode hafalan alqur’an secara terprogram dengan baik. simpulan kelebihan metode talaqqi dalam program tahfidz adalah metode yang cocok dan efektif untuk diterapkan di madrasah karena faktor motivasi dan kebiasaan hafalan siswa yang masih kurang serta siswa yang belum menguasai ilmu tajwid dalam membaca dan menghafal al-qur’an, maka siswa akan semakin lebih mengetahui dan paham tentang membaca dan menghafal al-qur’an yang sesuai dnegan kaidah ilmu tajwid. sedangkan, kelemahan metode talaqqi adalah dari faktor siswanya sendiri yang mana ada beberapa siswa yang belum menguasai ilmu tajwid dengan baik seperti panjang pendek, pengucapan makhraj misalnya pengucapan antara huruf syin dan sin. kelemahan yang lainnya adalah siswa mudah bosan ketika diajarkan tahfidz oleh gurunya serta siswa yang tidak menyetorkan hafalan kepada gurunya akan bersendau gurau dengan teman disampingnya. kelebihan dan kekurangan .....(ratnasari dw & yosina m) 191 jppd, 5, (2), hlm. 185 192 upaya yang dilakukan untuk mengatasi kelemahan saat mengimplementasikan metode talaqqi adalah memeriksa bacaan siswa, mengontrol perkembangan hafalan siswa, dengan disimak satu-persatu, mendatangi ke meja siswa yang dirasa masih mengalami kesulitan dalam menghafal serta dengan membentuk kelas homogen yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan hafalan siswa yang mana juga dapat meminimalisir sendau gurau siswa juga mengadakan acara-acara yang bisa membangkitkan motivasi hafalan siswa yang dilaksanakan di lapangan sekolah mim pk kenteng. kelebihan dan kekurangan .....(ratnasari dw & yosina m) 192 jppd, 5, (2), hlm. 185 192 daftar pustaka awaluddin, iqbal. 2017. “pelaksanaan pembelajaran tahsin dan tahfidz dengan metode talaqqi di smp muhammadiyah surakarta tahun pelajaran 2016/2017”. skripsi. fakultas agama islam, universitas muhammadiyah surakarta”. fatimah, meti. 2017. “metode hafalan al-qur’an kelas v sekolah dasar islam terpadu ibnu umar dan sekolah dasar muhammadiyah program khusus boyolali ahun 2015/2016”. skripsi. fakultas agama islam, universitas muhammadiyah surakarta. hashim, azmil. 2015. “corelation between strategy of tahfiz learning styles and students performance in al-qur’an memorization (hifz)”. mediterranean journal of social. malaysia: fakulty of human science, universiti pendidikan sultan idris. vol. 6, no 2 s5 hal 13-21 ____________. 2016. “role of employers in empowering lecturers in tahfiz institutions of malaysia”. mediterranean jornal of social. malaysia: universiti pendidikan sultan idris. vol. 6 issue 1 hal 85-92 herry, bahirul amali. 2013. agar orang sibuk bisa menghafal al-qur’an. yogyakarta: pro-u media. makhyaruddin.2016. rahasia nikmatnya menghafal al-qur’an. jakarta: pt. mizan publika. musfiqon. 2015. panduan lengkap metodologi penelitian pendidikan. jakarta: pt. prestasi pustakaraya. qawi, abdul. 2017. “peningkatan prestasi belajar hafalan al-qur’an melalui metode talaqqi di mtsn gampong teungoh aceh utara”. jurnal ilmiah islam futura. aceh. vol. 16 no. 2 hal 265-283. susianti, cucu. 2016 “efektivitas metode talaqqi dalam meningkatkan kemampuan menghafal al-qur’an anak usia dini”. tunas siliwangi. universitas pendidikan nasional. vol 2 no 1 hal 1-19” profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 78-8478 peningkatan motivasi belajar matematika melalui strategi pembelajaran think-talk-write (ttw) pada siswa kelas v mi muhammadiyah ngasem kecamatan colomadu tahun pelajaran 2013/2014 minsih dan dwi astuti program studi pendidikan guru sekolah dasar, fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta, 2014, 12 halaman email minsihbae@gmail.com, minsih@ums.ac.id abstract this study aims to increase the motivation to learn mathematics through the learning strategy think-talk-write (ttw) fifth grade students of muhammadiyah ngasem mi. subjects were teachers and students of class v. the object of research is learning motivation and learning strategies think-talk-write (ttw). the research process was conducted in two cycles, each cycle consisting of two meetings. each cycle consists of four stages, namely: planning, action, observation, and reflection. data collection techniques used through observation, tests, interviews and documentation. instrument used in this study is the observation sheet, guidance interviews, tests, assessment guidance document data. data analysis technique used consists of three components, namely: data reduction, data display, and conclusion. test the validity of using triangulation and triangulation methods. indicators of success is the achievement of 75% on each of the indicators. the results showed an increase in motivation to learn mathematics. 1) the readiness of students to follow the learning cycle i ii 67.2% 80.4% cycle 2) activity of students in a discussion with a friend the first cycle ii 65.2% 82.6% cycle 3) the ability of students working on the first cycle 58.7% second cycle 84.8% 4) the courage to ask questions first cycle 50% cycle ii 79.2%. the conclusion of this research is the application of learning strategies thinktalk-write (ttw) can increase students’ motivation to learn mathematics class v mi muhammadiyah ngasem colomadu district of academic year 2013/2014. keywords: learning motivation, strategy penbelajaran think-talk-write (ttw) pendahuluan pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia (sdm). proses pembelajaran di kelas adalah salah satu tahap yang menentukan keberhasilan belajar siswa. upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran dapat dilakukan melalui beberapa komponen seperti siswa, guru, indikator pembelajaran, isi pelajaran, metode, media, dan evaluasi. proses pembelajaran di sekolah, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib dipelajari. matematika adalah suatu ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. peningkatan motivasi belajar matematika melalui ... (minsih dan dwi astusti) 79 banyak aspek kehidupan ini yang dijalankan berdasarkan perhitungan matematika. keberhasilan pembelajaran matematika dinilai dari perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa. proses pembelajaran yang dilakukan guru berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. proses pembelajaran yang efektif, efisien dan bermakna dapat diciptakan oleh seorang guru dengan menggunakan strategi pembelajaran yang tepat. penggunaan strategi dan metode pembelajaran yang tepat akan mempengaruhi motivasi belajar siswa. hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan di madrasah ibtidaiyah muhammadiyah ngasem , siswa kelas v pada mata pelajaran matematika banyak mengalami kesulitan. proses pembelajaran matematika masih cenderung berpusat pada guru, dengan kata lain siswa masih pasif dalam proses pembelajaran. siswa kurang antusias dan kurang bersemangat, baik dalam bertanya maupun dalam menjawab pertanyaan dari guru saat pembelajaran matematika. strategi yang digunakan guru dalam proses pembelajaran kurang bervariasi sehingga membuat siswa merasa jenuh. berdasarkan hasil analisis terhadap rendahnya motivasi belajar siswa keas v mi muhammadiyah ngasem, hal tersebut disebabkan proses pembelajaran yang masih konvensional. proses pembelajaran cenderung teacher centered sehingga menjadikan siswa pasif. motivasi belajar dapat meningkat, dibutuhkan suatu pembelajaran yang efektif dan efisien yaitu dengan menggunakan strategi pembelajaran inovatif yang dapat memecahkan masalah-masalah tersebut. strategi pembelajaran think-talk-write (ttw) merupakan alternatif untuk mengatasi rendahnya motivasi belajar matematika. strategi pembelajaran tersebut merupakan strategi inovatif dengan jenis pembelajaran kooperatif. strategi thinktalk-write (ttw) dapat memberi kontribusi positif dalam meningkatkan motivasi belajar matematika pada siswa kelas v mi muhammadiyah ngasem. alasan penggunakan strategi thinktalk-write (ttw) karena strategi ini menekankan siswa untuk saling bekerja sama antar anggota kelompok. tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatkan motivasi belajar matematika melalui strategi think-talk-write (ttw) pada siswa kelas v mi muhammadiyah ngasem tahun pelajaran 2013/2014. kajian teori menurut uno (2010: 3) motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri sesorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya. khairani (2013: 177) menjelaskan bahwa motivasi adalah tenaga pendorong seseorang untuk melakukan sesuatu dengan tujuan yang telah ditetapkan. usaha tekun yang dilakukan oleh seseorang yang dilandasi adanya motivasi maka akan melahirkan hasil yang baik dan maksimal. menurut cronbach dalam bahruddin dan esa (2007: 13) “learning is shown by change in behavior as result of experience”. motivasi dan belajar merupakan dua aktivitas yang ada di sekolah dan keduanya mempunyai hubungan yang saling berkaitan serta mempengaruhi. proses belajar seseorang sangat dipengaruhi oleh motivasi seseorang didalam kelas. menurut uno (2010: 23) motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator yang mendukung. menurut winayawati, dkk (2012: 66) strategi think-talk-write (ttw) diawali dengan peserta didik membaca materi yang sudah dikemas dengan pendekatan kontrukvis untuk memahami kontennya (think), kemudian peserta didik mengkomunikasikan untuk mendapatkan kesamaan pemahaman (talk), dan akhirnya diskusi serta negosiasi, peserta didik menuliskan hasil peprofesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 78-8480 mikirannya dalam bentuk rangkuman (write). langkah-langkah strategi pembelajaran thinktalk-write (ttw): 1) guru membagikan lks yang memuat soal yang harus dikerjakan oleh siswa serta petunjuk pelaksanaannya. 2) peserta didik membaca masalah yang ada dalam lks dan membuat catatan kecil secara individu tentang apa yang ia ketahui dan tidak ketahui dalam masalah tersebut. ketika peserta didik membuat catatan kecil inilah akan terjadi proses berpikir (think) pada peserta didik. setelah itu peserta didik berusaha untuk meyelesaikan masalah tersebut secara individu. 3) guru membagi siswa dalam kelompok kecil (3 5 siswa). 4) siswa berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman satu grup untuk membahas isi catatan dari hasil catatan (talk). dalam kegiatan ini mereka menggunakan bahasa dan kata-kata yang mereka sendiri untuk menyampaikan ide-ide dalam diskusi. pemahaman di bangun melalui interaksinya dalam diskusi. diskusi di harapkan dapat menghasilkan solusi atas soal yang di berikan. 5) dari hasil diskusi, peserta didik secara individu merumuskan pengetahuan berupa jawaban atas soal dalam bentuk tulisan (write). pada tulisan itu peserta didik menghubungkan ide-ide yang diperolehnya melalui diskusi. 6) perwakilan kelompok menyajikan hasil diskusi kelompok, sedangkan kelompok lain diminta memberikan tanggapan. 7) kegiatan akhir pembelajaran adalah membuat refleksi dan kesimpulan atas materi yang dipelajari. sebelum itu dipilih beberapa atau satu orang peserta didik sebagai perwakilan kelompok untuk menyajikan jawabannya, sedangkan kelompok lain diminta memberikan tanggapan. metode penelitian penelitian ini dilakukan di mi muhammadiyah ngasem kecamatan colomadu. waktu berlangsungnya penelitian adalah bulan januari pada semester genap pada tahun pelajaran 2013/ 2014. jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (ptk). sesuai dengan variabel yang diambil dalam penelitian, jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif. subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas v mi muhammadiyah ngasem. prosedur penelitian tindakan kelas meliputi: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap pengamatan atau observasi dan refleksi. pengambilan data dilakukan dengan observasi, metode tes, wawancara dan dokumentasi. instrumen yang digunakanpeneliti dalam penelitian ini adalah, lembar observasi, pedoman wawancara, tes,dan pedoman pengkajian data dokumen. menurut miles dan huberman (kunandar 2011: 102) membagi kegiatan analisis data menjadi beberapa bagian yaitu: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. triangulasi merupakan teknik pengecekan kebsahan data yang didasarkan pada sesuatu diluar data untuk keperluan mengecek atau sebagai pembanding terhadap data yang telah ada (afifudin dan beni, 2009: 155). dalam penelitian ini, triangulasi yang digunakan adalah: (1) triangulasi metode yang merupakan penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal, seperti metode wawancara dan metode observasi. dalam penelitian ini peneliti melakukan metode wawancara dan observasi.wawancara dilakukan kepadaguru dan siswa kelas v mi muhammadiyah ngasem. observasi dilakukan saat proses pembelajaran matematika berlangsung. (2) triangulasi sumber yaitu menggunakan sumber data yang meliputi dokumentasi, arsip, hasil wawancara dan hasil observasi. data hasil observasi dari berbagai sumber ini, yakni penggabungan data yang berasal peningkatan motivasi belajar matematika melalui ... (minsih dan dwi astusti) 81 dari guru dan siswa, untuk diketahui kevalidannya. sumber dokumentasi berupa foto-foto kegiatan pembelajaran dan dokumen pribadi siswa. sumber tes berupa hasil dari tes yang telah diberikan kepada siswa. dalam penelitian tindakan kelas ini, indikator keberhasilan yang harus dicapai oleh siswa adalah adanya peningkatan motivasi belajar pada mata pelajaran matematika sebesar 75% dari masing-masing indikator yang telah ditentukan. hasil penelitian penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas v mi muhammadiyah ngasem terdiri dari dua siklus. setiap siklus terdiri dari pertemuan i dan pertemuan ii. motivasi belajar matematika merupakan fokus yang ditingkatkan dalam penelitian. motivasi belajar matematika diamati melalui empat indikator yaitu: 1) kesiapan siswa mengikuti pembelajaran, 2) keaktifan siswa dalam diskusi dengan teman, 3) kesanggupan siswa mengerjakan soal, 4) keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan kepada guru. hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar matematika di setiap siklus melalui penerapan strategi pembelajaran think-talk-write (ttw). keberhasilan strategi pembelajaran think-talk-write (ttw) dapat ditunjukkan pada perbandingan motivasi belajar pra siklus, siklus i, dan siklus ii pada tabel berikut. tabel 1. data peningkatan motivasi belajar siswa no indikator motivasi belajar pra siklus siklus i siklus ii 1 kesiapan siswa mengikuti pembelajaran 56,5% 67,3% 80,4% 2 keaktifan siswa dalam diskusi dengan teman 52,2% 65,2% 82.6% 3 kesanggupan siswa mengerjakan soal 47,8% 58,7% 84,8% 4 keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan kepada guru 40% 50% 79,2% rata-rata 49,2% 60,3% 81,7%   profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 78-8482 grafik dan tabel diatas menunjukkan bahwa pada hasil observasi pra siklus motivasi belajar masih rendah. rata-rata motivasi belajar yang dimiliki siswa pada pra siklus 49,2%. pelaksanaan siklus i mengalami peningkatan sebesar 60,3%. hasil yang dicapai pada siklus i sudah menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar yang signifikan, namun perlu adanya perbaikan pada siklus berikutnya karena nilai yang dicapai belum mencapai batas indikator keberhasilan. pelaksanaan siklus ii menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan motivasi belajar matematika dengan rata-rata 81,7%. guru melakukan evaluasi setiap akhir siklus i dan siklus ii. evaluasi bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dari segi kemampuan mengerjakan soal secara individu. berikut disajikan perbandingan hasil belajar siswa dari pra siklus, siklus i dan siklus ii: gambar 1. grafik perbandingan motivasi belajar tabel 2. perbandingan evaluasi belajar matematika no nama kkm nilai pra siklus siklus i siklus ii keterangan 1 fitri nur cahyani 65 63 70 70 tuntas 2 wahyuningsih 65 70 70 70 tuntas 3 rendra esa a. 65 74 75 100 tuntas 4 faiqotul hanifah 65 60 70 70 tuntas 5 dela putri meilani 65 62 60 75 tuntas 6 mukadimah cinta 65 75 50 75 tuntas 7 siti nur halizah 65 80 100 100 tuntas 8 shifa khairun nisa 65 68 75 85 tuntas peningkatan motivasi belajar matematika melalui ... (minsih dan dwi astusti) 83 dari tabel diatas menunjukkan adanya peningkatan evaluasi belajar matematika siswa kelas v mi muhammadiyah ngasem dari pra siklus terdapat 47,8% siswa yang tuntas, siklus i 65,5% siswa yang tuntas dan siklus ii 82,6% siswa yang tuntas. dapat disimpulkan bahwa penelitian berhasil. perbandingan nilai hasil belajar matematika, dapat dilihat pada grafik berikut ini : no nama kkm nilai pra siklus siklus i siklus ii keterangan 9 nanda nur y 65 60 45 70 tuntas 10 anisa istiqomah 65 85 100 100 tuntas 11 nur muhammad r. 65 66 70 80 tuntas 12 atika dwi ningsih 65 50 30 35 belum tuntas 13 muhammad hafidz 65 74 70 100 tuntas 14 abdul zakifadilah 65 60 70 70 tuntas 15 fard aulia hakim 65 76 70 75 tuntas 16 hasyim as'ari 65 70 75 90 tuntas 17 alvito rian r 65 50 50 50 belum tuntas 18 dhanis syafi'i j 65 60 90 100 tuntas 19 ahmad febrianto 65 55 35 50 belum tuntas 20 yumna rada s 65 58 40 60 belum tuntas 21 rosy mutia sari 65 60 35 70 tuntas 22 wawan nugroho 65 70 70 70 tuntas 23 rofi’ nafi’ah 65 65 85 85 tuntas rata-rata ketuntasan 47,8% 65,5% 82,6%   gambar 2. prosentase perbandingan nilai evaluasi profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 78-8484 grafik diatas menunjukkan adanya peningkatan evaluasi siswa yang signifikan setelah diadakan penelitian tindakan kelas siklus i dan siklus ii pada mata pelajaran matematika kelas v mi muhammadiyah ngasem melalui penerapan strategi think-talk-write (ttw). berdasarkan penjelasan diatas dapat diketahui bahwa motivasi belajar yang didukung hasil evaluasi belajar matematika dalam setiap tindakan mengalami peningkatan. dari pencapaian tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan strategi think-talk-write (ttw) mampu meningkatkan motivasi belajar matematika materi pecahan. kesimpulan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. melalui strategi think-talk-write (ttw) dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa kelas v mi muhammadiyah ngasem dengan aspek : kesiapan siswa mengikuti pembelajaran 80,4%, keaktifan siswa dalam diskusi dengan teman 82,6%, kesanggupan siswa mengerjakan soal 84,8%, keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan kepada guru 79,1%. 2. berdasarkan uraian no 1 disimpulkan bahwa strategi think-talk-write (ttw) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, maka hipotesis diterima. hal ini membuktikan bahwa strategi think-talk-write (ttw) dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas v mi muhammadiyah ngasem yang berdampak pada hasil evaluasi belajar siswa yang meningkat yaitu pra siklus 47,80%, siklus i 65,50%, dan siklus ii 82,60%. daftar pustaka afifiddin dan beni ahmad saebani. 2009. metodologi penelitian kualitatif. bandung: cv pustaka setia. baharuddin dan esa nurwahyuni. 2007. teori belajar dan pembelajaran. jakarta: ar-ruzz media. khairani, makmun. 2013. psikologi belajar. yogyakarta: aswaja pressindo. kunandar. 2011. langkah mudah penelitian tindakan kelas sebagai pengembangan profesi guru. jakarta: pt rajawali pers. uno, b hamzah. 2010. teori motivasi & pengukurannya. jakarta: bumi aksara. winayawati, dkk. 2012. implementasi model pembelajaran kooperatif dengan strategi thinktalk-write terhadap kemampuan menulis rangkuman dan pemahaman matematis materi integral. forum penelitian (66-67). page 1 page 2 e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan game bubble match......(meinita yesi anugrahini dan y. windrawanto) 75 pengembangan game bubble match sebagai media pembelajaran pembagian dalam bentuk pengurangan berulang untuk siswa kelas 2 sd meinita yesi anugrahini1; y.windrawanto2 program studi pgsd fkip universitas kristen satya wacana 1meinitayess05_@gmail.com; 2windrawanto@staff.uksw.edu abstract this study aims to develop bubble match game as a medium of mathematics learning. this research focuses on the division material as a repeat reduction for grade 2 elementary students. type of research used is research and development (rnd) model of addie. the addie development model has stages of analysis, design, implementation and evaluation. the subjects of this study are 2nd grade students of elementary school pangudi luhur ambarawa amounted to 37 students. data collection techniques used are expert test / expert validation, test (multiple choice questions), non test (student response questionnaire and observation sheet). the effectiveness of this media was analyzed using paired-samples t test conducted with spss program while the prevalence of media was analyzed using expert test. from this research, it can be concluded that bubble match game media can be developed with addie development model and proven effective with the increase of pretest average 81,62 while posttest 83,24. media game bubble match proved valid based on validator’s judgment from media aspect that got score 4.1 with good category and from material aspect which got average score 3,9 with good category. keywords: bubble match game, learning media, research and development (rnd) pendahuluan pendidikan di abad ke-21 menuntut adanya suatu manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan (rusman, 2012). adanya kemajuan dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat pemharuh terhadap penggunaan alat-alat atau media bantu mengajar di sekolah-sekolah dan lembagalembaga pendidikan lainnya. dengan kemajuan dalam bidang teknologi, perkembangan pendidikan di sekolah semakin lama semakin mengalami perubahan. sekarang ini, pembelajaran di sekolah mulai disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga terjadi perubahan dan pergeseran paradigma pendidikan. saat ini banyak media pembelajaran berbantuan komputer digunakan dalam pelajaran, satu diantaranya adalah pembelajaran matematika. sebagai ilmu yang universal, matematika mendasari perkembangan teknologi modern , mempunyai peran penting di berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. matematika perlu diajarkan karena pelajaran ini melath siswa untuk berfikir secara logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif serta mampu bekerja sama. jenjang sekolah dasar yang dinilai sebagai pondasi pertama perlu dibangun secara kuat melalui penanaman konsep matematika dan keterampilan yang benar bagi siswa. pembelajaran matematika di sekolah dasar diharapkan dapat menyajikan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai dengan kurikulum dan pola pikir siswa sehingga siswa dapat mudah menyelesaikan masalah matematika yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mailto:meinitayess05_@gmail.com p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 76 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 75 83 (wahyudi dan kriswandani, 2013). tujuan pendidikan masa sekarang ialah untuk memberi bekal siswa agar dapat berfungsi secara efektif dalam zaman teknologi. namun pada kenyataannya, pembelajaran yang mengantarkan pada peranan tersebut masih menjumpai banyak kendala. sampai saat ini mata pelajaran matematika masih menjadi mata pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa. dimata siswa matematika merupakan suatu mata pelajaran yang selalu berkaitan dengan angka dan membebani otak dalam berfikir. kenyataan ini juga diungkapkan oleh (rusgianto 2006) yang menyatakan bahwa semua tingkatan sekolah ata pendidikan, banyak siswa yang bersikap negatif terhadap matematika, siswa menganggap matematika sebagai bidang studi yang sulit dipelajari, siswa takut terhadap matematika. tentu saja pandangan atau sikap negatif siswa terhadap matematika berpengaruh terhadap cara-cara siswa dalam mempelajari matematika. pembelajaran matematika di sekolah dasar faktanya masih belum dikatakan pembelajaran yang efektif dan efisien. hal ini diperkuat dengan hasil selama melakukan observasi di sd dalam pembelajaran matematika siswa mengalami kesulitan dalam materi dasar matematika contohnya dalam berhitung. selain hal tersebut wali kelas menjumpai kendala yang lain berkaitan dengan pembuatan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan, dikarenakan kurangnya ketersediaan waktu untuk menyediakan media dalam pembelajaran. siswa memiliki kecenderungan beradaptasi untuk mendapatkan pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran yang biasa dikenal dengan gaya belajar. terdapat tiga macam gaya belajar siswa yaitu gaya belajar visual, auditori dan kinestetik (deporter, 2003). inilah yang melandasi peneliti mengembangkan suatu media yang sesuai untuk jenis gaya belajar siswa. pada umumnya guru sekolah dasar hanya membelajarkan matematika dengan cara konvensional, belum memanfaatkan suatu media di dalam pembelajarannya, terutama media yang memanfaatkan teknologi komputer. pembelajaran matematika yang dilakukan hanya mengharapkan agar materi yang ada cepat selesai sesuai silabus dan hasil nilai yang baik, namun kebermaknaan siswa terhadap suatu pembelajaran menjadi suatu hal yang masih kurang diperhatikan (arda, 2015). penggunaan media akan mempermudah siswa memahami pembelajaran matematika, karena pembelajaran menggunakan media dapat didesain menjadi sebuah pembelajaran yang menarik, menyenangkan sehingga siswa tidak cepat bosan, dan dapat memotivasi serta merangsang siswa untuk semangat dalam belajar, hal ini mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien. penggunaan teknologi pembelajaran yang dapat menggabungkan unsur pendidikan dan unsur hiburan salah satunya adalah digunakannya ilmu teknologi berbasis komputer dalam inovasi model pembelajaran. darmawan (2012) menyatakan program computer assisted instruction (cai) model games atau permainan merupakan program pembelajaran berbantuan komputer yang menekankan pada penyajian bentuk-bentuk permainan dengan muatan bahan pelajaran di dalamnya. hal ini dibutuhkan agar siswa mampu menerapkan semua pengalaman belajarnya dalam menyelesaikan masalah dan akan termotivasi untuk bermain tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sedang belajar. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan game bubble match......(meinita yesi anugrahini dan y. windrawanto) 77 salah satu program yang bisa digunakan untuk membuat games pembelajaran ini, yaitu menggunakan adobe flash creative suite 6. kelebihan yang dimiliki software ini merupakan program yang didesain khusus oleh adobe system incorporated untuk membuat animasi interaktif dan dinamis yang sangat menarik. adobe flash creative suite 6 didesain untuk membuat animasi flash 2 dimensi yang handal dan ringan bagi sistem perangkat komputer, sehingga bisa dioperasikan tanpa spesikasi komputer yang tinggi. selain mampu untuk menampilkan multimedia, adalah tersedianya fasilitas untuk memprogram melalui action script. media pembelajaran ini akan dikembangkan dengan model addie (analysis, desain, development, implementation, evaliation). penelitian yang relevan dengan penelitian ini diantaranya penelitian dari imam abdillah dan dadang sudrajat 2014. pengembangan permainan ular tangga pada pelajaran matematika untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di sdn majalengka wetan vii. produk dari penelitian ini adalah permainan ular tangga dengan program adobe flash cs 3. usabilitas dari permainan ini adalah 84,19%, kompabilitas sebesar 80,15, interaktivitas sebesar 83,83%, meningkatkan motivasi belajar sebesar 82,72%, dan tampilan visual dari media sangat menarik yaitu sebesar 81,98%. berdasarkan abror (2003) dalam penelitiannya tentang mathematics adventure games berbasis role playin game (rpg) sebagai media pembelajaran mata pelajaran matematika kelas vi sd negeri jetis 1 menunjukkan tingkat validasi pengembangan media berbasis aplikasi game dari ahli media diproleh nilai rata-rata 4,32 pada kategori sangat layak, ahli materi dipdengan demikian dapat disimpulkan bahwa aplikasi game “mathematics adventure games” layak digunakan sebagai media karena memperoleh nilai rata-rata 4,34 pada kategori sangat layak. penelitian safitri (2013) yang berjudul “pengembangan media pembelajaran matematika pokok bahasan segitiga menggunakan macromedia flash untuk siswa kelas vii smp” berdasarkan hasil dari uji coba diperoleh potensial efek media pembelajaran menggunakan macromedia flash terhadap pemahaman konsep siswa yaitu 78 dalam kategori baik. media pembelajaran ini valid, terlihat dari hasil penilaian validator, dimana semua validator menyatakan baik berdasarkan content, construct dan bahasa. sedangkan ditinjau dari sisi kepraktisan bahan ajar ini sudah dinyatakan praktis, hal ini terlihat dari hasil uji coba pada one to one dan small group diperoleh rata-rata hasil belajar siswa dalam kategori baik. berdasarkan filed test diketahui bahwa media ajar interaktif berbasis komputer pokok bahasan segitiga di sekolah menengah pertama memiliki efek potensial terhadap hasil belajar siswa terlihat hasil pencapaian nilai akhir siswa yaitu kategori baik sekali 50%, kategori baik 35%, sedangkan kategori cukup 12,5%. sehingga dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran berbasis macromedia flash pokok bahasan segitiga tersebut efektif digunakan pada pembelajaran matematika. berdasarkan analisis yang sudah dilakukan, penulis melakukan pengembangan media pembelajaran berupa game bubble match. media game bubble match ini memiliki fitur dan kontrol seperti game bubble shooter klasik lainnya, ada sejumlah bubble yang tersedia dan sebuah penembak yang digunakan untuk menghancurkan bubble. berbeda dengan game yang sudah ada sebelumnya, game ini dikembangkan untuk p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 78 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 75 83 mampu memberikan kondisi lebih rileks yang dirasakan siswa ketika belajar. tujuan dari adanya penelitian adalah mengembangkan media pembelajaran matematika game bubble match dalam memahami materi pembagian sebagai pengurangan berulang pada siswa kelas ii sd dengan menggunakan model pengembangan addie. metode penelitian jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian pengembangan dengan model addie yang terdiri dari tahap analysis, design, development, implementation, dan evaluation. penelitian dilaksanakan pada 27-29 maret 2017 di kelas ii sd pangudi luhur ambarawa. subjek penelitian ini adalah siswa kelas ii sd pangudi luhur ambarawa dengan jumlah 37 siswa. dalam penelitan ini data diperoleh melalui uji pakar, tes, dan non tes. uji pakar memiliki tujuan untuk mengetahui kevalidan media pembelajaran game edukasi bubble match. uji pakar dalam penelitian ini dilakukan melalui uji pakar materi, uji pakar media dan uji pakar soal. kemudian untuk mengetahui keefektifan produk media pembelajaran game edukasi bubble matc digunakan tes. sedangkan untuk teknik non tes dilakukan melalui angket dan observasi. angket digunakan untuk mengetahui kualitas media pembelajaran yang telah diproduksi. sedangkan observasi dilakukan untuk mengamati bagaimana guru dan siswa melakukan pembelajaran menggunakan media ini. lembar validasi pakar dilakukan untuk mengevaluasi media pembelajaran berupa game bubble match. butir penilaian dari aspek materi dan aspek media masing–masing terdiri dari 10 butir. kategori untuk masingmasing aspek yaitu 1 untuk yang tidak baik dan 5 untuk yang sangat baik. peneliti membuat rentang skor pada masing-masing kategori dengan cara membuat rentang skor pada masing-masing kategori. sedangkan untuk validasi pakar soal penilaian dilakukan dengan mencentang kategori valid dan tidak valid untuk masing-masing soal. angket respon guru dan angket respon siswa. angket digunakan untuk mengetahui respon guru dan siswa terhadap implementasi produk yang dikembangkan. bahwa butir penilaian dari angket respon guru terhadap media masing–masing terdiri dari 10 butir. kategori untuk masing-masing aspek yaitu 1 untuk yang tidak baik dan 5 untuk yang sangat baik. butir penilaian angket respon siswa media masing–masing terdiri dari 5 butir. kategori untuk masing-masing aspek yaitu “iya” dan “tidak”. observasi dilakukan untuk mengamati guru dan siswa dalam penggunaan media game bubble match dalam proses pembelajaran. kategori untuk masing-masing aspek yaitu 1 untuk yang tidak baik dan 5 untuk yang sangat baik. tes tertulis digunakan untuk mengetahui keefektifan media pembelajaran yang dikembangkan. tes tertulis dilaksanakan pada saat pretest dan posttest. hasil dan pembahasan penelitian ini menghasilkan produk berupa media pembelajaran matematika game bubble match untuk siswa kelas 2 sd pada materi pembagian sebagai pengurangan berulang. pengembangan ini dilakukan dengan model addie sebagai berikut. analisis (analysis) 1. analisis kurikulum dan materi e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan game bubble match......(meinita yesi anugrahini dan y. windrawanto) 79 kurikulum yang digunakan dalam pengembangan game bubble match adalah kurikulum ktsp. dalam kurikulum ini terdapat standart kompetensi, kompetensi dasar dan indikator (osman, 2006) dapat dilihat pada tabel 1. tabel 1. standart kompetensi, kompetensi dasar dan indikator standart kompetensi kompetensi dasar indikator 3. melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka. 3.2. melakukan pembagian bilangan dua angka 1.mengenal pembagian sebagai pengurangan berulang. 2.memecahkan masalah seharihari yang melibatkan pembagian. pemetaan yang dilakukan dalam analisis standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator menjadi dasar untuk merancang materi dan kegiatan yang ada di dalam game bubble match. 2. analisis kebutuhan pada tahap ini dilakukan analisis kebutuhan siswa melalui observasi yang dilakukan. dalam analisis ini didapatkan informasi bahwa masih banyak siswa yang sulit memahami materi matematika, salah satunya adalah pembagian. kendala yang masih sering ditemui oleh guru dalam pembelajran diantaranya ialah kurangnya ketersediaan waktu untuk membuat pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. akan menjadi lebih baik jika pembelajaran bisa dikemas dengan menarik dan menyenangkan sehingga siswa tidak merasa monoton belajar matematika yang hanya berfikus pada materi dan angka. kondisi penggunaan media dalam pembelajaran juga masih minim. guru perlu menyediakan media pembelajaran yang dapat membantu dan memotivasi siswa dalam belajar. misalnya media-media yang dapat membantu dsiswa dalam memahami materi. menanggapi situasi tersebut, maka perlu adanya pengembangan media pembelajaran, khusunya untuk mata pelajaran matematika. media yang dikembangkan merupakan game yang berisi muatan materi pembelajaran khusunya pembagian sebagai pengurangan berulang. game yang dikembangkan ini didesain untuk memberikan efek rileks pada anak dalam belajar memahami pembagian sebagai pengurangan berulang. perencanaan (design) media game bubble match dengan materi pembagian sebagai pengurangan berulang, ini disesuaikan dengan kompetensi dasar yaitu melakukan pembagian bilangan dua angka. maka kompetensi itu menjadi acuan dalam materi yang akan dimuat dalam game bubble match. metode yang digunakan ialah metode intructional games. tujuan dari intructional games adalah menyediakan pengalaman belajar siswa dengan memberikan fasilitas belajar untuk menambah kemampuan siswa melalui permainan yang mendidik. dalam observasi yang dilakukan sekolah memiliki laboratorium komputer , sehingga memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran berbasis komputer. media game bubble match yang dikembangkan ini didesain agar siswa dapat memperoleh pengalaman belajar tersebut dengan menyenangkan. tahap pengembangan (development) pada tahap pengembangan dilakukan produksi produk berupa media game bubble match dengan materi pembagian sebagai p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 80 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 75 83 pengurangan berulang. komponen-komponen game bubble match akan diuraikan sebagai berikut. 1. animasi loading animasi loading ini merupakan tampilan awal sebelum masuk pada halaman menu utama game bubble match. tampilan loading tampak pada gambar 1. gambar 1. tampilan animasi loading 2. menu utama tampilan menu utama berisi menu-menu yang ada di dalam game bubble match yaitu about program, direction, playing games, dan help menu. tampilan menu utama dapat dilihat pada gambar 2 berikut. gambar 2. tampilan menu utama 3. about program menu about program ini berisi judul pengembangan media, nama peneliti, identifikasi pembelajaran (sk, kd, materi). tampilan about program dapat dilihat pada gambar 3. gambar 3. tampilan about program 4. direction menu direction pada media game bubbe match ini berisi petunjuk cara pengoperasian media game buble match. siswa dapat mempelajari sekilas materi yang harus dipahami sebelum memainkan game. tampilan direction tampak pada gambar 4. gambar 4. tampilan direction 5. playing games pada menu playing games berisi map atau peta permainan yang didalamnya meliputi 5 level yang akan dimainkan dan soal untuk latihan. untuk masuk dalam permainan siswa memilih level yang akan dimainkan, dalam game ini siswa tidak bisa melompat level, karena untuk melanjutkan ke level berikutnya siswa harus menyelesaikan tiap-tiap level sampai 5selesai. tampilan 1 playing game dapat dilihat pada gambar 5. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan game bubble match......(meinita yesi anugrahini dan y. windrawanto) 81 gambar 5. tampilan 1 playing games 4 level yang dipilih akan masuk dalam halaman game yang dimainkan. tampilan ini adalah game bertahan dengan menembak objek yaitu bubble yang jumlahnya sudah ditentukan sebagai bilangan yang harus dibagi dengan cara menembaknya dengan peluru yang sudah ditentukan juga sebagai bilangan pembagi. setelah berhasil menembak bubble sampai habis pemain harus menjawab pertanyaan dengan benar supaya bisa melanjutkan ke level berikutnya. jika jawaban salah maka pemain harus mengulangi kembali level yang dimainkan. tampilan halaman 2 playing games bisa dilihat pada gambar 6. gambar 6. tampilan 2 playing games setelah menyelesaikan 5 level dalam game, secara otomatis akan ditampilkan halaman penguatan yang berisi kesimpulan apa yang sebenarnya dipelajari dari tiap level permainan. halaman penguatan materi tersebut dapat dilihat pada gambar 7. gambar 7. tampilan 3 playing games 6. latihan soal halaman soal pada media game bubble match ini terdapat pada map atau peta permainan. halaman ini akan muncul ketika memilih navigasi soal, halaman ini memuat latihan soal yang bisa dikerjakan oleh siswa dan langsung mengetahui nilai hasil latihan soal. latihan yang terdapat pada halaman soal ada 5 soal isian. dimana pada halaman ini siswa bisa berlatih secara mandiri. tampilan halaman soal tampak pada gambar 8. gambar 8. tampilan latihan soal 7. help menu halaman help menu berisi penguatan materi dari tiap level yang dimainkan. isi sama dengan penguatan soal yang muncul otomatis setelah level 5 selesai dimainkan. pada halaman ini dibahas secara rinci satupersatu apa yang sebenarnya dipelajari pada tiap level. bahwa tiap level memiliki pembahasan materi yang dimuat pada masingmasing level. hal ini bisa dimanfaatkan oleh p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 82 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 75 83 guru untuk menjelaskan materi pembagian sebagai pengurangan berulang. tampilan help menu dapat dilihat pada gambar 9. gambar 9. tampilan help menu evaluasi (evaluation) tahap terakhir pengembangan media game bubble match dengan materi pembagian sebagai pengurangan berulang adalah evaluasi media game bubble match yang sudah dihasilkan dan di uji cobakan. analisis data kevalidan analisis data kevalidan didapat melalui hasil penilaian validator.. analisis data kevalidan media game bubble match meliputi hasil validasi pakar media dan pakar materi. penilaian validator tersebut akan dijelaskan masing-masing sebagai berikut. tabel 2. hasil validasi pakar media no indikator ratarata kategori 1 media 4,1 baik rata-rata keseluruhan 4,1 baik berdasarkan validator pada aspek media diperoleh skor rata-rata 4,1 dengan presentase 82 %, menurut kriteria menunjukkan kategori baik. tabel 3. hasil validasi pakar materi no indikator rata-rata kategori 1 materi 3,9 baik rata-rata keseluruhan 3,9 baik berdasarkan penilaian validator pada aspek materi diperoleh skor 3,9 dengan presentase 78 %, kriteria menunjukkan kategori baik. analisis data keefektifan tabel 4. hasil rata-rata pretest dan posttest no indikator rata-rata 1 pretest 81,62 2 posttest 83,24 dari analisis data pretest dan posttest diketahui bahwa game bubble match efektif karena adanya peningkatan rata-rata nilai. angket respon guru yang disediakan terdiri dari 10 indikator. rata-rata yang diperoeh adalah 39 yang termasuk dalam kategori baik. angket yang diberikan kepada siswa terdiri dari 5 indikator. rata-rata setiap siswa diperoleh isian “ya” dari indikator 1 sampai dengan 5. dengan demikian menurut hasil angket respon siswa, siswa menyatakan setuju media game bubble match sesuai digunakan dalam proses pembelajaran. untuk lembar observasi dari maksimal 40 didapatkan rata-rata 3,87 dengan kategori baik dengan demikian pembelajaran yang dilakukan peneliti sesuai. simpulan dan saran berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan melalui bab sebelumnya, maka diperoleh simpulan produk media pembelajaran game bubble match dapat dikembangkan menggunakan desain pengembangan addie (analysis, design, development, implementation, dan evaluation). berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, maka diberikan saran sebagai berikut. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan game bubble match......(meinita yesi anugrahini dan y. windrawanto) 83 1. bagi siswa media game bubble match yang dikembangkan mempermudah siswa dalam memahami materi pembagian khususnya pembagian sebagai pengurangan berulang. penggunaan media berbasis komputer dengan kemasan permainan dapat menambah minat dan motivasi siswa dalam belajar matematika. dengan digunakannya media game bubble match peserta didik lebih mandiri dalam belajar serta membuat mereka lebih aktif. 2. bagi guru penggunaan media game bubble match menjadi salah satu referensi guru untuk memilih media dalam pembelajaran. media game bubble match ini membantu guru dalam proses pembelajaran. pada pembelajaran guru bisa menggunakan komputer atau laptop untuk menggunakan media game bubble match. 3. bagi sekolah pengembangan media game bubble match bisa mendukung pembelajaran berbasis komputer maka sekolah harus menyediakan fasilitas komputer bagi siswa, misalnya dengan penganggaran lab komputer untuk sekolah. 4. bagi peneliti selanjutnya pengembangan media game bubble match sebagai media berbasis komputer dapat digunakan untuk materi lainnya. pengembangan media game bubble match masih sangat luas, kembangkanlah media game pembelajran yang lainnya dengan lebih menarik lagi untuk pembelajaran siswa. daftar pustaka abror. (2003). mathematics adventure games berbasis role playing game (rpg) sebagai media pembelajaran mata pelajaran matematika kelas vi sd negeri jetis 1. disertasi. yogyakarta: program studi pendidikan teknik informatika, jurusan pendidikan teknik elektronika fakultas teknik, universitas negerti yogyakarta arda. (2015). pengembangan media pembelajaran interaktif berbasis komputer untuk siswa smp kelas viii. e-jurnal mitra sains, volume 3 nomor 1, januari 2015 hlm 69-77. darmawan deni. (2012). teknologi pembelajaran. bandung: pt. remaja rosdakarya. deporter, bobbi & hernacki. (1999). quantum learning. bandung : kaifa osman. (2006). matematika kelas 2 sekolah dasar. jakarta: yudhistira. rusman. (2012). belajar dan pembelajaran berbasis komputer mengembangkan profesionalisme guru abad 21. bandung, alfabeta. wahyudi, dan kriswandani. (2013). pengembangan pembelajaran matematika sd. salatiga : widya sari press. menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 69 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 vol. 6, no. 1, juli 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i1.7269 menggali potensi lokal kabupaten banyumas untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa sd putri handayani1), merdhenita restuti2), miftakhul jannah3), katrina ramadhani4), ellianawati5), wiwi isnaeni6) pendidikan dasar, pascasarjana universitas negeri semarang 1puutrih7@gmail.com; 2merdhenitarestuti@gmail.com, 3sayamita24@gmail.com, 4krpratama@gmail.com, 5ellianawati@mail.unnes.ac.id, 6wi2isna@yahoo.co.id pendahuluan penerapan kurikulum 2013 sebagai upaya membentuk generasi emas di tahun 2045 menjadi masyarakat yang cerdas dan berkarakter. pendidikan karakter mempunyai peran utama dalam mempersiapkan generasi terbaik. penerapan pendidikan karakter dilakukan melalui penanaman pengetahuan lokal. permendikbud nomor 21 tahun 2016 memuat standar isi yang dilatar belakangi oleh adanya keberagaman budaya di indonesia. pendidikan harus memfasilitasi siswa untuk mengenalkan budaya lokal dan menanamkan sikap mencintai budaya lokal di daerahnya. ilmu pengetahuan alam (ipa) di sekolah dasar merupakan ilmu yang dimaksudkan agar siswa memiliki pengetahuan, gagasan, dan konsep yang diperoleh dari pengalaman. salah satu tujuan dari ipa di sd/mi sesuai permendiknas no. 22 tahun 2006 adalah mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. memahami dan menggunakan konsep ipa dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi sederhana adalah tujuan dari pendidikan (rusilowati et al., 2015). salah satu aspek yang tepat untuk diintegrasikan pada proses pembelajaran ipa adalah potensi lokal yang menjadi keunggulan tiap daerah. hal ini sesuai dengan amanat undang – undang sistem abstract: the purpose of this study was to determine the application of the project based learning (pjbl) learning model with ethnoscience to the improvement of creative thinking skills in the process of making tempe. the subjects in this study were 40 students in one school in banyumas district. this type of research is quantitative research. the research method used one group pre-test and post-test design. based on the results of the analysis obtained data pre-test and post-test creative thinking skills with a n-gain score of 0.7 with a high category. the results of the questionnaire for creative thinking skills were 14 students in the high category, 23 students in enough categories, and 3 students in the low category. it can be concluded that learning using the ethnics-charged project based learning (pjbl) model can improve student's creative thinking skills in elementary schools. keywords: pjbl, ethnoscience, making tempe, creative thinking skills http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.7269 mailto:2merdhenitarestuti@gmail.com mailto:3sayamita24@gmail.com mailto:4krpratama@gmail.com mailto:4krpratama@gmail.com mailto:6wi2isna@yahoo.co.id menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 70 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 pendidikan nasional no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menjelaskan bahwa kurikulum perlu mengembangkan potensi lokal untuk merespon kebutuhan tiap daerah. potensi lokal dalam pembelajaran dapat berkaitan dengan materi sains di sekolah dasar. hal ini sejalan dengan penelitian wilujeng (2016), pengintegrasian potensi daerah ke dalam pembelajaran akan memberikan wawasan kepada siswa terkait potensi daerah dan nilai – nilai kearifan lokal. kabupaten banyumas mempunyai ciri khas yang menjadi identitas dan jati diri suatu bangsa. berdasarkan sosial kultural, kabupaten banyumas identik dengan berbagai potensi interaksi sosial, bahasa, makanan khas, dan seni budaya. salah satu ciri khas kabupaten banyumas dari segi makanan khas. mendoan merupakan salah satu potensi lokal banyumas yang terbuat dari bahan baku kedelai. ciri khas mendoan dari kabupaten banyumas berasal dari kedelai yang dicetak menjadi lembaran tempe yang sangat tipis dan dilumuri adonan tepung yang dicampur daun kucai. tempe digoreng setengah matang dan dihidangkan dalam keadaan hangat. proses pembuatan tempe diperoleh secara turun temurun oleh masyarakat banyumas menggunakan prinsip – prinsip sains. hal ini mengartikan bahwa proses pembuatan tempe berkaitan dengan kegiatan pembelajaran di sekolah dasar. berdasarkan hasil studi pendahuluan salah satu sekolah di kabupaten banyumas, apresiasi peserta didik terhadap potensi lokal tersebut belum baik. peserta didik belum memahami proses pembuatan tempe yang ada di kabupaten banyumas. keberadaan home industry tempe di sekitar tempat tinggal peserta didik, belum dimanfaatkan dengan baik sebagai sumber belajar dalam pembelajaran di sekolah dasar. penerapan model project based learning (pjbl) bermuatan etnosains diduga sebagai solusi untuk mengatasi masalah tersebut. menurut atmojo (2012), kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan. budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. proses pembuatan makanan tradisional merupakan bagian dari contoh budaya, contohnya proses pembuatan tempe secara turun menurun di kabupaten banyumas. hasil penelitian atmojo (2012) menyatakan bahwa pembelajaran ipa berbasis etnosains yang mengaitkan pembelajaran dengan budaya masyarakat akan meningkatkan apresiasi siswa terhadap budaya masyarakat tersebut. dengan etnosains, siswa dapat memahami konsep ipa seperti hasil penelitian arfianawati, et al (2016) yang menunjukkan bahwa etnosains dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan berpikir kritis siswa. home industry tempe di kabupaten banyumas dapat digunakan untuk pembelajaran ipa terpadu berbasis etnosains. pembelajaran proses pembuatan tempe terkait dengan pembelajaran ipa tema 7 peristiwa dalam kehidupan, subtema 2 peristiwa kebangsaan seputar proklamasi, dan kd 3.7 menganalisis pengaruh kalor terhadap perubahan suhu dan wujud benda dalam kehidupan sehari – hari. kompetensi ini menuntut siswa untuk mampu memahami konsep perubahan kalor pada kehidupan menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 71 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 sehari – hari. selain itu, siswa juga harus mempunyai keterampilan berpikir kreatif untuk menganalisis pengaruh kalor yang berkaitan dengan proses pembuatan tempe. keterampilan berpikir kreatif adalah suatu proses yang memunculkan ide ide baru. menurut munandar (2012), ada 4 aspek untuk menilai kemampuan berpikir kreatif peserta didik yaitu berpikir lancar, berpikir luwes, berpikir orisinal, dan keterampilan menilai. pencapaian tujuan pembelajaran perlu model pembelajaran yang tepat. pembelajaran berbasis proyek (pjbl) diharapkan dapat mencapai kompetensi yang sesuai perkembangan sains dan teknologi. pembelajaran pjbl melatih peserta didik untuk menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan lingkungan sekitar melalui proyek – proyek. berdasarkan penelitian yang dilakukan satria et al (2013) mengatakan bahwa keterampilan berpikir kreatif siswa lebih efektif ketika menggunakan model pembelajaran berbasis proyek dibandingkan dengan model pembelajaran kreatif. berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan, peneliti tertarik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif melalui pembelajaran pjbl bermuatan etnosains di sekolah dasar. metode penelitian penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan metode eksperimen. penelitian ini berdesain “one group pre test dan post test” yaitu melihat efektifitas penerapan model project based learning (pjbl) bermuatan etnosains terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa sd. subjek penelitian yang dilibatkan yaitu peserta didik kelas v sekolah dasar di kabupaten banyumas. teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan tes. instrumen penelitian yang digunakan meliputi instrumen lembar keterlaksanaan pembelajaran model pjbl bermuatan etnosains dan tes kemampuan berpikir kreatif siswa. penelitian ini menggunakan validitas instrumen berupa content validity yang melibatkan dua orang ahli untuk menilai relevansi instrumen penilaian dengan aspek yang diukur. hasil dan pembahasan penelitian dilaksanakan pada rombogan belajar peserta didik kelas v yang terdiri dari 40 siswa sekolah dasar. berdasarkan data observasi siswa tentang kemampuan berikir kreatif diperoleh dari rerata skor 134,75 termasuk kategori cukup kreatif. pencapaian kemampuan berpikir kreatif siswa diuraikan lebih rinci berdasarkan indikatornya, yaitu fluency, flexibility, originality, dan elaboration tertera pada tabel 1. tabel 1. rerata skor kemampuan berpikir kreatif ditinjau dari indikator kemampuan berpikir kreatif pada observasi pembelajaran no indikator berpikir kreatif rerata skor kriteria 1 fluency 130 cukup 2 flexibility 134 cukup 3 originality 140 tinggi 4 elaboration 135 tinggi kemampuan berpikir kreatif 134,75 ckup kreatif menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 72 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 kemampuan berpikir kreatif siswa berdasarkan tabel 1 dapat dijelaskan bahwa siswa cukup memberikan banyak solusi terhadap suatu masalah. siswa memecahkan masalah dengan penjelasan sendiri (tidak sama dengan penjelasan yang diberikan dalam pembelajaran), namun cara tersebut masih umum. tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa memperoleh hasil cukup pada indikator fluency dan flexibility. hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu a) materi perpindahan kalor pada proses pembuatan tempe masih pada proses adaptasi. telaah materi dilakukan selama dua kali pertemuan (2 x 2 jam pelajaran) yaitu pada saat diskusi dan presentasi; b) persiapan proyek cukup menyita waktu karena kegiatan proyek baru pertama kali dilakukan. siswa memerlukan bantuan dalam merancang proyek. implementasi pembelajaran menggunakan project based learning mendorong siswa lebih kreatif. pernyataan tersebut sesuai pernyataan insyasiska (2015) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pembelajaran project based learning dapat mempengaruhi kreativitas siswa sebesar 31,1%. hal tersebut mengembangkan kemampuan berpikir lancar (fluency). siswa berlatih mengumpulkan ide-ide dalam menyelesaikan masalah melalui rancangan kerja proyek, seperti menentukan tujuan, rumusan masalah, hipotesis, pemilihan alat dan bahan, serta menentukan prosedur kerja pembuatan produk kreatif. kemampuan menghasilkan keberagaman ide (flexibility) siswa juga dikembangkan selama melakukan proyek. siswa diberi kesempatan berpikir untuk menghasilkan beragam ide guna diterapkan dalam penyelesaian masalah yang sudah mereka rumuskan. ide-ide yang dihasilkan siswa dapat berupa ide unik (originality) karena guru sebagai fasilitator dan motivator tidak membatasi pemikiran mereka dalam menyelesaikan masalah. tahapan project based learning menurut kemendikbud (2014: 34) adalah sebagai berikut: 1. starts with the essential question (penentuan pertanyaan mendasar). pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan siswa dalam melakukan suatu aktivitas. siswa diberikan pertanyaan mengenai makanan daerah yang terbuat dari tempe. 2. design a plan for the project (menyusun perencanaan proyek) perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa. siswa dengan bantuan guru menyusun rencana alat dan bahan yang akan digunakan. adapun alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain kompor, panci, baskom, saringan, dandang, sotel kayu, kacang kedelai, ragi tempe, daun pisang, plastik, dan tusuk gigi. 3. creates a schedule (menyusun jadwal) pada langkah ini menjelaskan tentang lamanya proyek harus diselesaikan tahap demi tahap. pembuatan proyek ini dibuat selama kurang lebih 1 minggu yang terdiri dari 4 pertemuan. 4. monitor the students and the progress of the project (memantau siswa dan kemajuan proyek) menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 73 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 pada tahap ini guru bertanggung jawab untuk memantau kegiatan siswa dalam pelaksanaan proyek, melalui proses hingga penyelesaian proyek. dalam kegiatan pemantauan, guru membuat lembar pengamatan yang akan merekam berbagai aktivitas siswa dalam menyelesaikan tugas proyek. proyek dimulai dengan perebusan kedelai hingga pada tahap pembuatan bentuk tempe dan pengemasan produk. 5. assess the outcome (penilaian hasil) pada tahap ini siswa menyusun laporan produk yang telah dibuat pada lembar proposal kegiatan. kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan hasil proyek tiap kelompok, dalam hal ini menyajikan bentuk tempe, alat dan bahan yang telah dibuat serta kesimpulan pada proyek yang telah dilaksanakan. 6. evaluate the experiences (evaluasi pengalaman) dalam tahap evaluasi, siswa diberi kesempatan untuk membawa pengalaman mereka selama tugas pembuatan proyek secara lengkap dan runtut. pada tahap ini juga dilakukan umpan balik pada proses dan produk yang dihasilkan. pada tahap ini pula guru memberikan beberapa pertanyaan bagi siswa untuk mengukur pemahaman siswa. pembelajaran ditutup dengan pemberian soal evaluasi. keberhasilan penerapan model pjbl bermuatan etnosains pada tema 7 subtema 2 dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dapat dilihat dari nilai pretest posttest. data keterampilan kreatif diperoleh dari tes uraian yang diberikan kepada peserta didik kelas v setelah mendapatkan pembelajaran ipa menggunakan model pjbl bermuatan etnosains. peningkatan keterampilan berpikir kreatif secara keseluruhan dapat dilihat dari skor n-gain. adapun hasil peningkatan keterampilan berpikir kreatif dapat dilihat pada tabel 2. tabel 2. hasil keterampilan berpikir kreatif berdasarkan tabel 2, hasil keterampilan berpikir kreatif siswa pada tema 7 subtema 2 mengalami peningkatan yang tinggi dengan n-gain 0,70. hasil keterampilan berpikir kreatif peserta didik yang sudah didapatkan dari hasil posttest kemudian dikategorikan ke dalam tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah. berdasarkan hasil dari nilai peserta didik kemudian dipilih masing-masing 2 peserta didik yang tergolong kategori tinggi, sedang, dan rendah. nilai tes keterampilan berpikir kreatif dapat di lihat pada tabel 3. rata-rata nilai n-gain kategori pretest posttest 42,8 82,575 0,70 tinggi menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 74 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 tabel 3. nilai tes keterampilan berpikir kreatif kategori banyak peserta didik persentase tinggi 30 75 % sedang 7 17,5% rendah 3 7,5 % berdasarkan data tersebut kemudian dipilih secara acak peserta didik yang berkategori tinggi yaitu sp-13 dan sp-26, peserta didik berkategori sedang adalah sp10 dan sp-23, dan peserta didik yang berkategori rendah adalah sp-20 dan sp-32. setelah menemukan data, kemudian peneliti melakukan analisis lebih lanjut dengan melakukan wawancara dan pada hasil observasi selama proses pembelajaran. hasil pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa sp-13 dan sp-26 antusias mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti karena pada pembelajaran ipa sebelumnya belum pernah adanya pembuatan produk. pada indicator kemampuan berpikir lancar, sp-26 mampu menjelaskan maksud dari setiap soal. sedangkan, pada indikator kedua kemampuan berpikir luwes, hamper setiap soal terjawab dengan baik kecuali pada nomor 1. sp-26 memiliki dorongan yang kuat untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang diberikan. pada pencapaian idikator ketiga yaitu kemampuan berpikir rasional sp-26 menjawab semua soal berdasarkan gagasan sendiri yang didapat dari pengalaman peserta didik dalam kehidupan sehari-hari dan penyampain materi yang diberikan oleh guru. ketika menyelesaikan soal juga sp-26 juga memiliki gagasan lain seperti yang terdapat pada nomor 4. sp-26 mampu memberikan alasan lain bahwa ketika pembuatan tempe menerapkan produksi secara higienis dimaksudkan untuk memiliki nilai kandungan gizi yang tinggi karena akan diserap oleh tubuh. sp-26 dapat memahami inti soal dan memberikan jawaban lain yang sesuai dengan pertanyaan disamping jawaban penerapan pembuatan dibuat higienis karena agar mempercepat pertumbuhan jamur pada tempe. pada indicator keempat yakni kemampuan berpikir memperinci, sp-26 yakin terhadap jawabannya dan mampu menyimpulkan jawaban yang dituliskannya. hasil wawancara dengan peserta didik dengan kategori cukup yaitu s-10 dan s-23 menunjukkan bahwa mereka cukup aktif dalam kegiatan pembelajaran. pada indicator pertama yaitu kemampuan berpikir lancar, keduanya mengaku terkadang melontarkan pertanyaan maupun memberikan pendapat pada saat pembelajaran, alasannya karena ditunjuk oleh gurunya dan karena ingin mendapat nilai. indikator selanjutnya yaitu kemampuan berpikir luwes, keduanya baik s-10 maupun s-23 dapat menyelesaikan semua soal, namun belum dengan alasan yang cukup jelas. penyebabnya karena dalam menangkap atau memahami informasi yang diberikan guru masih rendah. pembelajaran ipa identik dengan materi yang begitu banyak dan banyak melakukan kegiatan percobaan. pada indikator berpikir orisinal, s-10 supaya dapat memahami pembelajaran yaitu dengan memperhatikan penjelasan dari guru, sedangkan s-23 dengan menghafal materi pelajaran yang telah diajarkan. bagi s-10 dan s-23 pembelajaran ipa merupakan pembelajaran susah, namun keduanya tidak menjelaskan alasan mengapa menganggap menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 75 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 pembelajaran ipa merupakan pembelajaran yang susah. menurutnya pembelajaran ipa biasanya lebih banyak mencatat daripada kegiatan percobaan, sehingga pada saat pembelajaran proses pembuatan tempe merupakan hal yang baru bagi s-10 dan s-23. peserta didik s-10 merasa senang dan s-23 merasa bangga apabila pembelajaran ipa menghasilkan suatu produk. pada indikator kemampuan berpikir memperinci, s-10 dan s-23 ketika ditanya apakah paham dari soal nomor 1 “mengapa air yang direbus pada panci, lama-lama akan terasa panas? mengapa pegangan pada panci tidak terasa panas?”, mereka tidak dapat menjawab maksud dari soal nomor 1. padahal keduanya dapat menuliskan jawaban dengan benar soal nomor 1 pada lembar jawaban. ketika ditanya proses untuk mendapatkan jawaban dari soal nomor 4 “mengapa dalam pembuatan tempe perlu diterapkan proses yang higienis?”, mereka juga tidak dapat menjawab. pada jawaban soal nomor 6, peserta didik menjawab mendapat ide untuk menuliskan jawaban soal nomor 6 dari penjelasan gurunya. peserta didik mengaku ketika dihadapkan dengan suatu masalah, mereka dapat menyelesaiakannya. s-10 dan s-23 dapat menjawab soalsoal yang diberikan oleh peneliti berdasarkan dari hasil pemikiran sendiri. menurut pendapat keduanya soal-soal tersebut dapat terjawab karena proses membaca materi pelajaran. kesimpulan dari soal-soal yang diberikan oleh peneliti menurut s-10 yaitu proses pembuatan tempe, sedangkan menurut s-13 kesimpulan pembelajaran yang telah dilakukan yaitu mempelajari tentang konduksi, konveksi, dan radiasi. pada kategori peserta didik yang rendah yaitu sp-20 dan s-32, siswa tersebut terlihat pasif mengikuti proses pembelajaran. hal ini dikarenakan peserta didik tersebut merupakan pendiam dan pada pembelajaran biasanya jarang aktif dalam pembelajaran, mereka mengaku jarang bertanya atau menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. pada indikator pertama yaitu kemampuan berpikir lancar, pemahaman s-20 tentang maksud dari pertanyaan masih rendah karena s-20 kurang rinci dalam memberikan penjelasan. misal pada nomor 10, s-20 memberikan jawaban “merebus kedelai merupakan proses fermentasi”, namun jawaban tersebut masih salah karena s20 tidak mampu menjelaskan proses perpindahan kalor yang terjadi pada saat pembuatan tempe. pada indicator kedua yaitu kemampuan berpikir luwes, sp-20 dapat menyelesaikan semua pertanyaan yang diberikan, hanya saja jawaban yang diberikan tidak disertai dengan alasan yang jelas. hal ini dikarenakan karena kemapuan informasi yang didapat selama proses pembelajaran masih rendah, sehingga hanya dapat menangkap sedikit informasi. selanjutnya, pada indicator kemampuan berpikir orisinal, semua jawaban yang dikemukan oleh s-20 merupakan hasil gagasan sendiri dan ide penyelesaian permasalahan didapat dari pengalaman belajar dikelas. namun s-20 mengalami kendala dalam memhami materi yang diberikan karena merupakan pembelajaran yang baru sehingga perlu penyesuaian. pada indikator keempat kemampuan berpikir memperinci, kesimpulan yang dipaparkan s-20 tidak dapat mendetail dan tidak mencakup seluruh inti pertanyaan sehingga hasil temuaanya kurang relevan dengan pertanyaan yang diberikan. sp-32 merupakan salah satu peserta didik berkategori rendah. pada indikator fluency, sp-32 belum mampu menjelaskan secara rinci terkait pemahaman soal. seperti contoh, pada menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 76 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 soal nomor 9 tentang perpindahan kalor, sp32 masih belum tepat dalam menjawab pertanyaan. pada indikator kemampuan berpikir luwes atau flexibility, sp-32 menjawab pertanyaan pada soal hanya sebatas pengetahuan yang didapat melalui proses pembelajaran. pendapat yang disampaikan sp-32 masih bersifat umum. hal yang sama juga terjadi pada indikator ketiga yaitu tentang kemampuan berpikir orisinal atau originality, sp-32 belum mampu mengeluarkan ide-ide lain bagi penyelesaian soal. pengetahuan yang didapat masih terpaku pada pembelajaran sehingga belum nampaknya partisipasi aktif dari sp-32. sp-32 masih enggan bertanya kepada guru tentang materi pelajaran yang ia belum megerti, sehingga pada indikator kemampuan berpikir memperinci atau elaboration hanya terpaku pada poin-poin jawaban tanpa menjelaskan lebih rinci dari jawaban soal yang dimaksud. sp-23 merasa kurang percaya diri dengan jawaban yang diperolehnya. gambar 1. keterampilan berpikir kreatif angket dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui ketrampilan berpikir kreatif peserta didik, antara lain kemampuan berpikir lancar (fluency), kemampuan berpikir luwes (flexibility), kemampuan berpikir orisinal (originality), dan kemampuan berpikir memperinci (elaboration). hasil tes angket dari peserta didik dihitung dengan menggunakan pedoman yang telah ditentukan. berdasarkan hasil angket keterampilan berpikir kreatif, sejumlah 40 peserta didik dapat diketahui ada 3 pencapaian tingkatan berrpikir kreatif yaitu tinggi, cukup dan rendah. dari peserta didik kelas v di salah satu sekolah di kabupaten banyumas terdapat 14 peserta didik memiliki keterampilan berpikir kreatif tinggi, 23 peserta didik memiliki keterampilan berpikir kreatif cukup dan 3 peserta didik memiliki keterampilan berpikir rendah. indikator kelancaran dalam keterampilan berpikir kreatif berkaitan dengan banyaknya gagasan atau jawaban yang dihasilkan peserta didik. pembelajaran dengan menggunakan model project based learning memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan banyaknya jawaban atau gagasan hasil pemikiran pesrta didik. kemampuan berpikir kreatif ada indikator luwes dapat berarti peserta didik memiliki inisiatif jawaban dalam menyelesaikan masalah atau soal. sebenarnya siswa sudah mampu menghasilkan lebih dari satu jawaban namun masih berasal dari konsep menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 77 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 yang sama atau kurang bervariasi. namun kekurangan tersebut dapat tertutupi pada saat diskusi kelompok. pada indikator orisinal berkaitan dengan keaslian ataupun uniknya jawaban dari peserta didik. ada beberapa peserta didik yang menemukan cara penyelesaian soal yang berbeda dari konsep yang diperoleh ketika pembelajaran. hal ini berarti beberapa peerta didik sudah dapat membentuk suatu penyelesaian baru yang berasal dari pengalaman yang telah dilaluinya maupun berasal dari konsep yang lain. gambar 2. waktu pertumbuhan jamur pada tempe berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan desain pembelajaran bermuatan potensi lokal berupa pembuatan tempe, menunjukkan pertumbuhan jamur pada tempe yang dibungkus daun pisang lebih cepat daripada tempe yang dibungkus dengan plastik. hal ini sejalan dengan penelitian sayuti (2015: 152) menunjukkan bahwa bahan kemasan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kualitas tempe. tempe yang dibungkus menggunakan daun pisang perkembangan jamur lebih cepat, karena pada daun tidak tembus cahaya sehingga sirkulasi udara menyebabkan oksigen lebih mudah masuk dan kelembapan udara terjaga dengan baik. jadi, faktor cahaya, sirkulasi udara, dan kelembapan berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur pada tempe selama proses fermentasi. sedangkan proses pembuatan tempe yang dibungkus dengan plastik, tidak kedap cahaya, kelembapan dan sirkulasi udara bergantung pada jumlah lubang yang dibuat oleh peserta didik. selain itu tempe yang terbungkus dari daun pisang memiliki nilai kandungan lemak dan protein yang lebih tinggi dibandingkan tempe yang terbungkus plastic. namun dari segi kemudahan dalam pembuatan tempe, bahan pembungkus plastik lebih mudah didapatkan mengingat bahan pembungkus dari daun pisang yang mulai langka. produk yang dihasilkan dari proses pembelajaran adalah tempe. tempe tersebut disusun berdasarkan kreatifitas dari peserta didik. guru memberi kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk mengemas tempe sesui dengan bentuk yang diinginkan. adapun hasil dari bentuk yang dihasilkan masing-masing tiap kelompok dapat dilihat pada table 4. menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 78 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 tabel 4. bentuk produk tempe berdasarkan bentuk-bentuk tempe yang telah dihasilkan tidak menunjukkan keterkaitan dengan waktu proses pematangan jamur pada tempe dikarenakan lamanya proses pembuatan tempe bergantung pada kelembapan, cahaya, dan sirkulasi udara yang berasal bahan pembungkus tempe. simpulan berdasarkan hasil yang dijelaskan di atas beberapa poin disimpulkan bahwa model yang cocok untuk menerapkan pembelajaran sains berdasarkan potensi daerah kabupaten banyumas adalah model project based learning (pjbl). pembelajaran ipa terpadu bermuatan etnosains yang dihasilkan dari penelitian menggunakan sintaks model pjbl. penerapan pembelajaran ipa bermuatan etnosains berdasarkan pada potensi lokal kabupaten banyumas dapat meningkatkan kemampuan beprikir kreatif siswa. nama kelompok bentuk tempe yang dibungkus daun pisang bentuk tempe yang dibungkus plastik k 1 trapesium segitiga k 2 segitiga tabung k 3 tabung kerucut k 4 jajargenjang persegi k 5 segitiga bola k 6 jajar genjang persegi panjang k 7 persegi panjang bola k 8 jajar genjang kerucut k 9 trapesium bola k -10 persegi segitiga menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 79 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 daftar pustaka arfianawati, s., sudarmin, m., & sumarni, w. (2016). model pembelajaran kimia berbasis etnosains untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. jurnal pengajaran mipa, 21(1), 46-51. atmojo, s. 2012. profil keterampilan proses sains dan apresiasi siswa terhadap profesi pengrajin tempe dalam pembelajaran ipa berpendekatan etnosains. jurnal pendidikan ipa indonesia unnes, 1(2). 115-122. departemen pendidikan nasional republik indonesia. 2003. undang – undang republik indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. jakarta : sekretariat jenderal departemen pendidikan nasional insyasiska, d., zubaidah, s., dan susilo, h. 2015. pengaruh project based learning terhadap motivasi belajar, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan kognitif siswa pada pembelajaran biologi. jurnal pendidikan biologi volume 7, nomor 1, agustus 2015, hlm. 921 kementrian pendidikan dan kebudayaan republik indonesia. peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 57 tahun 2014 tentang kurikulum 2013 sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah kerangka dasar kurikulum 2013 sd/mi. 2014. jakarta: kementerian pendidikan dan kebudayaan. kementrian pendidikan dan kebudayaan republik indonesia. 2016. permendikbud 21 tahun 2016 tentang standar isi sekolah dasar dan menengah. jakarta : kementrian pendidikan dan kebudayaan. damayanti, c., rusilowati, a., & linuwih, s. (2017). pengembangan model pembelajaran ipa terintegrasi etnosains untuk meningkatkan hasil belajar dan kemampuan berpikir kreatif. journal of innovative science education unnes, 6(1), 116-128. satria, m., harahap. m.b., sani r.a. (2013). the effect of project based learning model with kwl worksheet on student creative thinking process in physics problems. journal of education and practice, vol.24 no. 25 tahun 2013, hlm. 188-200. sayuti. 2015. pengaruh bahan kemasan dan lama inkubasi terhadap kualitas tempe kacang gude sebagai sumber belajar ipa. bioedukasi jurnal pendidikan biologi universitas muhammadiyah metro, vol. 6 no.2 november 2015, hlm. 148-158. munandar, u. 2012.mengembangkan bakat dan kreativitas anak sekolah petunjuk bagi para guru dan orang tua. jakarta : pt. gramedia wilujeng. menggali potensi lokal......(putri handayani, dkk) 80 jppd, 6, (1), hlm. 69 80 p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 136 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 136 144 pengembangan media monergi (monopoli energi) untuk menumbuhkan kemampuan pemahaman konsep ipa siswa sd siti ulfaeni1); husni wakhyudin2); henry januar saputra3) universitas pgri semarang email: 1ulvashifa@gmail.com abstract this research applied media development monergi (monopoli energi) which helps the students understanding of science and how implementation media monergi be able to increase the students understanding in science.this subject of the research were students 3b grade, academic year 2016/2017 with total students 38. the data from this research calculated by pretest and also posttest, questionnaire responds the students about the media. questionnaire from expert validations media and also material. the scoring expert validations media and also material trough 2 steps, found from presentation from validation 1 and 2 that will be found the average presentation 77% with the criteria "valid" and 98% with the criteria "perfect", from the expert validations 1 and 2 we found the results that were 92% and 98% with the criteria is "perfect", and the result student responds about media monergi is 93% with "perfect" criteria. the result of student understanding concept pre-test was 49% and post-test was 84% there is enhancement. therefore the capability of students understanding in science concept was increased. the conclusion was media learning of monergi valid to increase students understanding science concept the students 3b sdn pedurungan kidul 02 semarang. keywords: research and development, monergi (monopoli energi), the ability in concept understanding pendahuluan keterampilan siswa dapat dikembangkan, dapat diasah ketika siswa sudah mulai memasuki bangku sekolah. ketika berada dibangku sekolah dasar potensi ini dapat dipupuk dengan pembelajaran yang menarik sesuai dengan materi pembelajaran maka dapat ditunjang dengan menggunakan media yang kreatif dan inovatif. agar perolehan hasil pembelajaran yang diinginkan dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa. kemampuan pemahaman konsep itu sangat perlu diberikan kepada siswa karena memudahkan ingatan siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru. menurut aqib (2013: 50), media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada pembelajar (siswa). sehingga media pembelajaran merupakan perantara atau pengantar pesan dari guru kepada siswa agar mempermudah penyerapan materi pembelajaran yang diajarkan (kustandi, 2013: 14) . penggunaan media pembelajaran sangat penting terutama dalam mengajar siswa sekolah dasar yang rata-rata berusia 7-12 tahun. pada usia tersebut manusia memasuki tahap operasional konkret, yaitu telah memiliki kemampuan berpikir logis akan tetapi dengan dibantu benda-benda yang bersifat konkret atau nyata, artinya dalam kegiatan pembelajaran siswa memerlukan benda nyata yang dapat memudahkan ia berpikir. benda nyata dalam kegiatan pembelajaran berupa media pembelajaran mailto:ulvashifa@gmail.com e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 pengembangan media monergi................(siti ulfaeni, dkk) 137 yang dapat membantu guru dalam menyampaikan materi sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. kemampuan guru dalam merancang dan menerapkan media pembelajaran merupakan kunci dari keberhasilan proses pembelajaran. media pembelajaran diharapkan membantu dalam proses pembelajaran, juga memudahkan siswa membentuk konsep nyata. media pembelajaran yang bervariasi itu diterapkan dengan desain khusus yang berbeda dengan media sebelumnya maupun dari media yang sudah ada, dan memiliki langkah-langkah yang menarik, membuat siswa aktif. keaktifan siswa dilihat dari cara siswa mengikuti petunjuk yang diminta guru dengan baik dan sesuai. pembelajaran yang digunakan di kelas rendah harus ditunjang dengan media konkrit yang mendukung dan sesuai dengan materi pembelajaran. hasil pembelajaran yang diperoleh siswa tentunya tidak semuanya mendapat nilai yang diharapkan sesuai dengan kkm yang telah ditentukan. media yang menarik dan didesain sedemikian rupa dapat menarik perhatian dan simpati siswa ketika mengikuti pembelajaran. namun media yang menarik perhatian siswa yaitu media yang nyata dan konkrit, maksudnya media yang membantu siswa untuk memahami suatu pembelajaran yang mudah dipahami dan kontekstual yang berkaitan dengan kehidupan nyata siswa. benda nyata dalam pembelajaran memudahkan dan membantu guru dalam menyampaikan materi sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat terlaksana dengan maksimal. kemampuan guru merancang dan menerapkan media pembelajaran merupakan kunci dari keberhasilan proses pembelajaran yang menyenangkan. praktek dalam pembelajaran kelas rendah, guru harus menggunakan media yang menarik perhatian siswa agar berpusat pada kegiatan pembelajaran karena kelas rendah masih membutuhkan media konkret, sama juga dengan kelas tinggi guru juga membutuhkan media sebagai alat transfer materi kepada siswa dengan mudah dan menarik perhatian siswa, agar perhatian siswa berpusat pada kegiatan pembelajaran, meskipun kelas tinggi sudah mampu berpikir secara abstrak namun dengan penggunaan media akan lebih memudahkan pemahaman materi (arsyad, 2014). namun pada kenyataannya guru hanya menggunakan buku acuan dengan media seadanya, buku yang digunakan adalah buku dari pemerintah. menggunakan buku saja tidak efektif jika tidak diimbangi dengan media pembelajaran. penggunaan media yang kurang efektif mengakibatkan dampak pada siswa yang kurang aktif. siswa kurang begitu antusias dalam mengikuti pelajaran dan cenderung melakukan aktifitas-aktifitas yang merugikan siswa itu sendiri. dalam pembelajaran di kelas iiib siswa cenderung lebih suka permainan, gambar-gambar berwarna dan menarik. pembelajaran di kelas rendah guru harus menggunakan media yang nyata dan kongkrit untuk membantu siswa memahami materi yang diajarkan terutama dalam pembelajaran ipa di sekolah dasar yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. hal ini senada dengan tulisan desstya dkk (2017: 2) pembelajaran ipa sebaiknya dilakukan dengan discovery learning, yang didasarkan pada aktivitas pengamatan, menginferensi, mengkomunikasikan hasil belajarnya. aktivitas ini merupakan inti dari keterampilan proses (scientific process) (samawato, 2010); (almafdi, 2016). p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 138 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 136 144 salah satu solusi untuk menangani masalah tersebut dibutuhkan media pembelajaran yang sesuai digunakan kelas rendah khususnya pada kelas iii yaitu media pembelajaran monopoli. monopoli adalah suatu permainan yang dimainkan lebih dari dua orang, permainan ini lebih menekankan pada menguasai. maksud menguasai dalam permainan monopoli ini adalah menguasai materi-materi yang akan diajarkan oleh guru. permainan ini dimodifikasi menjadi media pembelajaran yang menyenangkan sebagai penunjang pembelajaran agar siswa dapat memahami materi yang akan diajarkan oleh guru. media monopoli lebih disukai siswa dan dapat melatih kejujuran siswa. siswa kelas rendah lebih suka bermain sambil belajar untuk itu peneliti menggunakan pengembangan media monopoli sebagai penunjang pembelajaran. berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan, maka rumusan masalah dari penelitian tersebut adalah: apakah pengembangan media monergi (monopoli energi) valid menumbuhkan kemampuan pemahaman konsep ipa dan bagaimana implementasi media monergi (monopoli energi) mampu menumbuhkan kemampuan pemahaman konsep ipa siswa kelas iiib sdn pedurungan kidul 02 semarang. husna (2009: 15) permainan monopoli merupakan salah satu jenis permainan papan yang bertujuan untuk mengumpulkan kekayaan dan menguasai komplek-komplek pada papan permainan. media monopoli merupakan media yang dapat digunakan dengan cara bermain sehingga memberi siswa situasi-situasi yang menyenangkan, tidak membosankan dan mempermudah sisiwa dalam menjawab pertanyaan. media permainan monopoli merupakan salah satu media yang dapat menimbulkan kegiatan belajar yang menarik dan membantu suasana belajar menjadi menyenangkan. permainan monopoli digunakan sebagai media pembelajaran karena kebanyakan siswa sudah mengetahui permainan tersebut. sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih menyenangkan dan memperoleh banyak pengetahuan dan materi yang dipelajari. tujuan utama dari permainan monopoli pembelajaran ini sebenarnya sama dengan permainan monopoli pada umumnya yaitu menguasai, maksud dari penguasai adalah menguasai ilmu pengetahuan yang terdapat pada permainan monopoli tersebut. keistimewaan dari media permainan monopoli ini yang membedakan dari permainan monopoli pada umumnya yaitu terdapat di dalam kartu dana umum, kartu kesempatan dan dikembangkan lagi kartu hukuman dan kartu pembelian yang terdapat di permainan monopoli. gambar-gambar yang terdapat pada kotak monopoli sesuai dengan materi yang akan diajarkan. keistimewaan dari media monopoli ini juga terdapat pada papan yang terbuat dari kaya dan dilapsi dengan mmt, papan tersebut digunakan sebagai meja dan dapat dilipat agar praktis di bawa kemana-mana. papan yang terbuat dari kayu dilapisi dengan mmt monopoli sehingga mmt monopoli tersebut tidak mudah rusak dan dapat di gunakan kembali. pemahaman menurut bloom (dalam ahmad susanto, 2013: 6) diartikan sebagai kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau atau bahan yang dipelajari. pemahaman menurut bloom ini adalah seberapa besar siswa mampu menerima, menyerap dan memahami pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa, atau sejauh mana siswa dapat memahami seta mengerti apa yang siswa baca, yang dilihat, yang dialami, atau e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 pengembangan media monergi................(siti ulfaeni, dkk) 139 yang siswa rasakaan berupa hasil penelitian atau observasi langsung yang siswa lakukan. carin dan sund (dalam ahmad susanto, 2013: 7-8) bahwa pemahaman dapat dikategorikan kepada beberapa aspek, dengan kriteria-kriteria sebagai berikut : a. pemahaman merupakan kemampuan untuk menerangkan dan menginterprestasikan sesuatu: ini berarti bahwa seseorang yang telah memahami sesuatu atau telah memperoleh pemahaman akan mampu menerangkan atau menjelaskan kembali apa yang telah diterima. b. pemahaman bukan sekedar mengetahui yang biasanya sebatas mengingat kembali pengalaman dan memproduksi apa yang pernah dipelajari. c. pemahaman lebih dari sekedar mengetahui karena pemahaman melibatkan proses mental yang dinamis, dengan memahami akan mampu memberikan uraian dan penjelasan yang lebih kreatif, tidak hanya memberikan gambaran dalam suatu contoh saja tetapi mampu memberikan gambaran yang lebih luas dan baru sesuai dengan kondisi saat ini. d. pemahaman merupakan suatu proses bertahap yang masing masing tahap mempunyai kemampuan sendiri, seperti menerjemahkan, menafsirkan, ekstrapolasi, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. menurut badan standar nasional pendidikan (2006) indikator pemahaman konsep adalah sebagai berikut : a. menyatakan ulang suatu konsep b. mengklarifikasikan objek-objek menurut sifatsifat tertentu c. memberi contoh dan non-contoh dari konsep d. mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep e. menggunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu f. mengaplikasikan konsep atau pemecahan masalah sains berasal dari kata science yaitu istilah yang mengacu pada masalah-masalah kealaman (natural). secara sederhana sains didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang gejala-gejala alam. sains juga merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang terdiri dari fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan teori-teori yang merupakan produk dari proses ilmiah. setiap pembelajaran ipa dimulai dengan judul yang mengacu pada masalah utama yang diajarkan, dalam kurikulum konsep telah diberikan langsung pada setiap pembelajaran. pada pembelajaran ipa sekolah dasar diperlukan pengetahuan dasar mengenai konsep yang terkandung dalam setiap unit pembelajaran. sebelum pembelajaran dimulai guru ipa menginformasikan kepada peserta didik tujuantujuan yang diharapkan, yang kemudian akan menjadi capaian setelah pelajaran selesai. dalam samatowa (2011: 19-20 paparan dari pengertian kemampuan pemahaman konsep ipa dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemahaman konsep ipa yaitu siswa mampu menyerap dan memahami pelajaran tentang ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala alam. metode penelitian jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan atau research and development (r&d). metode ini merupakan p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 140 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 136 144 rangkaian proses atau langkah-langkah mengembangkan suatu produk atau menyempurnakan suatu produk yang sudah ada agar dapat dipertanggung jawabkan, metode pengembangan ini memiliki fungsi yang sangat luas jika dapat dikembangkan di dalam masyarakat, maka diperlukannya penelitian keefektifan produk yang dikembangkan (sugiyono, 2015). prosedur pengembangan media ini dilakukan berdasarkan tahapan langkahlangkah pengembangan model desain sistem pembelajaran model borg and gall, yang meliputi penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan penelitian, pengembangan bentuk awal produk, uji lapangan awal, revisi produk, uji lapangan awa, revisi produk operasional, uji lapangan operasional, revisi produk akhir, desiminasi dan implementasi. peneliti hanya akan menggunakan 5 (lima) tahapan. analisis data yang digunakan yaitu analisis dekriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif. data kualitatif berupa komentar dan saran perbaikan produk dari ahli media pembelajaran dan ahli materi pembelajaran. sedangkan data kuantitatif berupa skor penilaian angket ahli media, angket ahli materi, angket respon siswa, dan hasil kemampuan pemahaman konsep ipa dengan hasil pretest dan posttest. ujicoba media pembelajaran hasil pengembangan dilaksanakan di sdn pedurungan kidul 02 semarang pada tanggal 23 dan 24 mei 2017. subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas iiib sdn pedurungan kidul 02 semarang. sesuai dengan tahapan penelitiannya, maka akan dilaksanakannya beberapa tahapan proses pengambilan data. dalam penelitian ini dilakukan ujicoba terlebih dahulu media monergi (monopoli energi) dengan jumlah 38 siswa kelas iiib. tahap perencanaan media monergi (monopoli energi) yang di dalamnya mencangkup pemilihan media yang tepat dan akan dijadikan sebagai penunjang materi pembelajaran. pada tahap perencanaan (planning), peneliti memilih pengembangan media monergi (monopoli energi). tujuan dari penelitian pengembangan media monergi (monopoli energi) ini agar dapat digunakan sebagai penunjang pembelajaran pada materi sumber energi dan kegunaannya. adapun beberapa komponen yang masuk dalam media monopoli energi diantaranya: 1) papan permainan yang terbuat dari kayu berukuran ± 60 x 60 cm, yang berfungsi sebagai papan atau tatakan dalam permainan. 2) desain monopoli yang terbuat dari mmt, hanya saja pada gambar monopoli diganti dengan gambar yang sesuai materi dan pada kartu yang biasa berisi 2 kartu yaitu kartu dana umum dan kartu kesempatan kemudian dikembangkan menjadi 4 kartu yaitu kartu dana umum, karu kesempatan, kartu pembelian dan kartu hukuman. monopoli ini berukuran ± 60 x 60 cm. 3) kotak kecil untuk meletakan kartu permainan berukuran ± 10 x 10 cm 4) 2 dadu dan 4 bidak 5) kartu permainan, berupa potonganpotongan kartu yang berukuran ± 6 x 9 cm, yang berisi pertanyaan sesuai dengan materi. 6) kartu aturan permaina atau langkahlangkah dalam permainan monergi (monopoli energi). e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 pengembangan media monergi................(siti ulfaeni, dkk) 141 hasil dan pembahasan uji keefektifan media dilakukan di sdn pedurungan kidul 02 semarang, siswa kelas iiib dengan jumlah 38 siswa. hasil uji keefektifan media pembelajaran monergi berdasarkan hasil pretest-posttest dan angket respon siswa terhadap media pembelajaran monergi. soal pretest-posttest diberikan kepada siswa pada saaat ujicoba. sebelum menggunakan media monergi siswa terlebih dahulu mengerjakan soal pretest kemudian siswa mengikuti pelajaran ilmu pengetahuan alam dengan menggunakan media monergi. kemudian pada akhir penggunaan media, siswa mengerjakan soal posttest sehingga dapat dilihat perbedaan antara hasil pretest dengan hasil posttest. analisis implementasi kemampuan pemahaman konsep implementasi kemampuan pemahaman konsep dapat dilihat dengan adanya peningkatan dari hasil pretest dan posttest. hasil pretest menunjukan bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 30 dan nilai tertinggi mencapai 90 dengan jumlah soal sebanyak 10 butir soal, kemudian dihitung dengan cara dikalikan 10 setiap butir soal benar. nilai rata-rata siswa mencapai 48,95. pada pretest ini siswa yang tidak mencapai kkm sebanyak 36 siswa sedangkan siswa yang sudah mencapai kkm sebanyak 2 siswa dengan jumlah persentase keseluruhan 49%. sedangkan hasil posttest menunjukan bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 70 dan tertinggi 100 dengan jumlah soal sebanyak 10 soal benar, kemudian dikalikan 10. nilai rata-rata yang diperoleh siswa mencapai 83,95. jumlah persentase keseluruhan dari nilai posttest mencapai 84%. skor gain (gain ternormalisasi) berada di 0,6856 di kategori “sedang”. dengan demikian peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa implementasi kemampuan pemahaman konsep dapat meningkat dengan adanya nilai yang diperoleh siswa mencapai nilai kkm yang telah ditentukan sehingga siswa memahami materi pembelajaran ipa yang telah diajarkan. nilai gain ternormalisasi berada di kategori “sedang” dengan rentang 0,6856. sehingga kemampuan pemahaman konsep ipa dapat meningkat setelah menggunakan media pembelajaran monergi (monopoli energi) materi energi dan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari pada materi bentuk-bentuk energi dan contohnya. analisis respon siswa terhadap media monergi (monopoli energi) analisis respon siswa terhadap media monergi (monopoli energi) untuk menumbuhkan kemampuan pemahaman konsep ipa siswa kelas iiib sdn pedurungan kidul 02 semarang pada mata pelajaran ipa dapat dilihat dari persentase berdasarkan hasil yang didapat dari penilaian hasil respon yang dikerjakan oleh 38 siswa sdn pedurungan kidul 02 semarang, maka diketahui rentang nilai 81%-100% dari 93% termasuk dalam kriteria “ tinggi”. penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa inggrisnya research and development adalah penelitian pengembangan untuk menghasilkan suatu produk atau menyempurnakan produk lain. pada tahap pengembangan yang dilakukan berdasarkan langkah-langkah borg and gall. pengembangan media monergi untuk kelas iiib berdasarkan wawancara dengan guru kelas iiib, memberikan angket kebutuhan guru tentang media pembelajaraan dan siswa yang ditemukan di kelas iiib sdn pedurungam kidul 02 p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 142 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 136 144 semarang. dari data yang diperoleh maka disusun desain produk yang akan dibuat, yang dilakukan sesuai dengan penelitian dan pengumpulan informasi pada materi pembelajaran bentuk-bentuk energi dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. tahap selanjutnya pengembangan yaitu membuat media pembelajaran sesuai dengan desain, kemudian dilakukan validasi media pembelajaran dengan beberapa revisi dari hasil saran dan komentar.dengan validasi media pembelajaran dilakukan 2 tahap yaitu tahap 1 awal mengajukan produk, tahap 2 tahap revisi produk. kemudian dilakukan validasi materi pembelajaran dilakukan oleh ahli materi pembelajaran dengan melalui tahap 2 yaitu tahap 1 mengajukan produk dan tahap 2 revisi produk, hal ini diketahui bahwa produk tidak perlu melakukan revisi lagi karena sudah mencapai kriteria “sangat valid”. dalam tahap oleh ahli diperoleh saran dan komentar. saran dan komentar tersebut dijadikan pedoman untuk merevisi produk. tahap uji lapangan awal yaitu mengujicobakan produk yaitu media pembelajaran. tahap revisi hasil iji coba yaitu menilai kemampuan pemahaman konsep ipa dengan diberikan tes sebelum menggunakan media dan sesudah menggunakan media (pretest dan posttest) serta mengetahui respon siswa terhadap media pembelajaran. validasi dilakukan oleh ahli media pembelajaran, ahli materi pembelajaran, berupa cheklist dan respon siswa dengan memilih jawaban “ya” atau “tidak”. tujuan pengembangan media monergi yaitu untuk meningkatkan kemampuan pemahaman siswa agar dapat membantu siswa dalam proses pemerolehan pengetahuan mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. kemudian diujicobakan oleh peneliti di sdn pedurungan kidul 02 semarang. berdasarkan penilaian media pembelajaran monergi pada validasi tahap akhir yang dilakukan oleh ahli media pembelajaran didapat persentase sebanyak 98% dengan kriteria “sangat valid” dan ahli materi pembelajaran didapat hasil persentase penilaian sebanyak 98% dengan kriteria “sangat valid”, selanjutnya produk diujicobakan pada siswa kelas iiib sdn pedurungan kidul 02 semarang, untuk mengetahui tingkat persentase hasil kemampuan pemahamn konsep ipa siswa dan persentase respon siswa mengenai produk media pembelajaran yang dikembangkan. berdasarkan data yang diperoleh, hasil penilaian hasil kemampuan pemahamn konsep ipa siswa posttest sebanyak 84% dengan kriteria “valid”. sehingga dikatakan siswa berminat dengan mata pelajaran ilmu pengetahuan alam dan respon siswa hasil persentase sebanyak 93% dengan kriteria “sangat tinggi”. hasil dari validasi tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran monergi (monopoli energi) dalam materi bentukbentuk energi dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari untuk siswa sd kelas iiib berada pada kriteria “sangat valid” sehingga dapat dinyatakan bahwa media pembelajaran monergi (monopoli energi) dalam materi energi dan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari pada materi pokok bentuk-bentuk energi dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari mampu menumbuhkan kemampuan dan pemahaman konsep ipa siswa kelas iiib sdn pedurungan kidul 02 semarang. e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 pengembangan media monergi................(siti ulfaeni, dkk) 143 simpulan dan saran hasil dari penelitian dan pengembangan yang telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan media monergi (monopoli energi) mampu menumbuhkan kemampuan pemahaman konsep ipa mata pelajaran bentuk-bentuk energi dan contohnya. hal tersebut dapat dibuktikan dengan alasan sebagai berikut: 1. pengembangan media monergi (monopoli energi) valid menumbuhkan kemampuan pemahaman konsep ipa siswa kelas iiib berdasarkan hasil validasi dengan ahli media dari validasi 1 dan 2 didapat rata-rata persentase yaitu 77% dengan kriteria “valid” dan 98% dengan kriteria “sangat valid” hasil validasi ahli materi dari validasi 1 dan 2 didapat rata-rata persentase yaitu 92% dan 98% dengan kriteria “sangat valid”. sehingga media monergi (monopoli energi) sangat valid menumbuhkan kemampuan pemahaman konsep ipa siswa kelas iiib sdn pedurungan kidul 02 semarang. 2. implementasi media monergi (monopoli energi) mampu menumbuhkan kemampuan pemahaman konsep ipa siswa kelas iiib berdasarkan hasil hasil persentase respon siswa terhadap media monergi (monopoli energi) dengan presentase 93% dengan kriteria “sangat valid”. dan hasil persentase pretest dan posttest untuk menumbuhkan kemampuan pemahaman konsep ipa siwa kelas iiib dengan hasil presentase pretest 49% dan 84%. sehingga kemampuan pemahaman konsep ipa dapat meningkat. setelah dilakukan penelitian, saran yang dapat peneliti sampaikan adalah sebagai berikut: 1. media monergi (monopoli energi) dapat dikembangakan menjadi media permainan yang digunakan dalam proses pembelajaran yang menyenangkan dengan materi yang sesuai dan menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan kemampuan siswa dalam pembelajaran di sekolah. 2. guru dapat menggunakan media monergi (monopoli energi) untuk memberikan suasana belajar siswa yang menyenangkan. penelitian pengembangan ini memiliki keterbatasan yaitu hanya dinilai oleh ahli media pembelajaran dan ahli materi pembelajaran. selain itu materi yang diberikan hanya terbatas yaitu pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam dengan materi energi dan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari dengan pokok materi bentuk-bentuk energi dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 144 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 136 144 daftar pustaka arsyad. 2014. media pembelajaran. jakarta: rajawali pers. almafdi, feni imsa. 2016. “keefektifan model stad berbantu media audio visual terhadap kemampuan pemahaman konsep ipa siswa kelas iv sd negeri kreman 01 tegal.” skripsi. universitas pgri semarang. aqib, zainal. 2013. model-model, media, dan strategi pembelajaran kontekstual (inovatif). bandung: yrama widya. desstya, dkk. 2017. refleksi pendidikan ipa sekolah dasar di indonesia. (relevansi model pendidikan paulo freire dengan pendidikan ipa di sd). jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 4, no.1, juli 2017. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/2745/3444 husna, m. 2009. 100+ permainan tradisional indonesia untuk kreatifita, ketangkasan dan keakraban. yogyakarta: cv andi offset. kustandi, cecep & bambang sutjipto. 2013. media pembelajaran manual dan digital. bogor: penerbit ghalia indonesia. samawato. 2010. pembelajaran ipa di sekolah dasar. jakarta: indeks. sugiyono. 2015. metode penelitian tindakan komperhensif. bandung: alfabeta susanto, ahmad. 2013. teori belajar & pembelajaran di sekolah dasar. jakarta: prenadamedia group. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/2745/3444 e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 analisis kebutuhan mahasiswa.................(amaliah ulfa) 145 analisis kebutuhan mahasiswa program studi pgsd uad dalam mata kuliah pembelajaran terpadu di sekolah dasar amaliyah ulfah fkip universitas ahmad dahlan yogyakarta amaliyah.ulfah@pgsd.uad.ac.id abstract good mastery of integrated learning model is one of important competencies for primary school education students. without good mastery, they will find it hard to design and do instruction in primary schools that involve a number of fields of study and themes. this study aims at investigating the needs of primary school education students in the course of integrated learning in elementary school. this is a survey research which used questionnaire to collect the data. the population of this study were 318 primary school education students who took the course. it used proportionale stratified sampling with the number of samples as many as 178 students. the results indicate that the needs of students were related to course materials, including a variety of elementary school students characteristics, types or models, procedures, and assessment in integrated learning. it is expected that the teaching methods of integrated learning course use direct practice in elementary school. while the evaluation system is in written form and practice. keywords: analysis, needs, students, integrated learning pendahuluan peralihan kurikulum dari ktsp ke kurikulum 2013 mengubah paradigma pembelajaran di sekolah dasar yang mengharuskan seorang guru juga harus mampu melaksanakan pembelajaran secara terpadu /tematik (risminawati dan nurul fadilah: 2016: 3). pembelajaran terpadu dapat diartikan sebagai pendekatan pembelajaran yang menghubungkan konsep berbagai mata pelajaran. melalui pembelajaran terpadu, pembelajaran di sekolah dasar disajikan secara holistik agar pembelajaran menjadi lebih aktif dan bermakna. oleh karena itu pendekatan pembelajaran terpadu menjadi salah satu aspek penting yang harus dikuasai mahasiswa calon guru sekolah dasar. mata kuliah tentang pengajaran memang mendapatkan porsi yang cukup besar di pgsd dan merupakan mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa calon guru sekolah dasar. penguasaan pembelajaran terpadu sendiri dapat diperoleh mahasiswa jurusan pgsd melalui salah satu mata kuliah yaitu pembelajaran terpadu di sekolah dasar. mata kuliah pembelajaran terpadu merupakan mata kuliah yang membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan dalam memadukan dan menghubungkan mata pelajaran maupun materi pelajaran di sekolah dasar menggunakan tema-tema. melalui mata kuliah ini mahasiswa juga dilatih melakukan penilaian di sekolah dasar secara variatif. walaupun mata kuliah pembelajaran terpadu sudah diberikan di semester 4, akan tetapi banyak mahasiswa semester atas yang kesulitan melaksanakan pembelajaran terpadu (tematik). contohnya berdasarkan hasil observasi ketika praktek micro teaching, masih banyak dijumpai mahasiswa yang kurang bisa menghubungkan atau mengaitkan antara mata pelajaran satu p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 146 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 145 153 dengan yang lain dalam satu tema. mahasiswa juga sering kebingungan bagaimana melakukan apersepsi dalam pembelajaran terpadu. banyak juga mahasiswa yang tidak bisa menggunakan alokasi waktu dengan baik ketika melaksanakan pembelajaran secara terpadu (rata-rata melebihi waktu yang ditentukan). selain itu tidak sedikit mahasiswa yang mengeluh kesulitan jika harus menyusun instrument penilaian yang bervariasi dalam pembelajaran terpadu. kendala-kendala seperti itu juga pernah disampaikan oleh praktisi yang mengampu micro teaching maupun guru ketika melaksanakan magang di sekolah. hal tersebut sangat disayangkan jika dibiarkan terus menerus. oleh karena itu mahasiswa pgsd perlu bekal yang cukup bagaimana melaksanakan pembelajaran terpadu di sekolah dasar. mata kuliah yang berhubungan dengan pengajaran di sekolah dasar menjadi hal penting yang harus dikaji lagi bagi prodi pgsd. namun sayangnya selama ini buku ajar atau modul khusus tentang pembelajaran terpadu di sekolah dasar belum pernah dibuat. bahan ajar memiliki posisi yang sangat penting dalam pembelajaran yaitu sebagai representasi dari penjelasan pendidik di kelas. namun sebelum menyusun bahan ajar yang baik, sebaiknya perlu dilakukan analisis kebutuhan mahasiswa terlebih dahulu terkait materi atau metode yang harus dikembangkan. penyusunan bahan ajar yang mempertimbangkan kebutuhan mahasiswa sangat penting dilakukan agar bahan ajar dapat disusun secara lengkap sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan kebutuhan di lapangan. oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan karena berupaya menggali kebutuhan mahasiswa dalam mata kuliah pembelajaran terpadu di sekolah dasar. analisis kebutuhan dapat diartikan sebagai alat untuk melakukan sebuah perubahan. menurut anderson, dkk. menurut suharsimi (2008: 56) analisis kebutuhan diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mengidentifikasi kebutuhan sekaligus menentukan prioritas diantaranya. sedangkan menurut kaufman (witkin, 1984: 6) analisis kebutuhan diartikan sebagai “sebuah gap antara apa itu (what is) dengan apa yang seharusnya (what sould be) dalam bentuk hasil”. dalam bidang pendidikan analisis kebutuhan merupakan proses penting karena melalui kegiatan ini dapat dilakukan sebuah evaluasi pelaksanaan pembelajaran serta memberikan gambaran yang jelas mengenai kesenjangan antara kondisi nyata (riil) dengan kondisi yang diinginkan (harapan) siswa. roth (masaong & ansar, 2011) mengkategorikan analisis kebutuhan menjadi dua tipe, yaitu “preparatory (when a product or program is being planned) and retrospective (when the product already exists or the program has been implamented)”. lebih lanjut hutchinson dan waters (nation & macalister, 2010: 25) menjelaskan fokus analisis kebutuhan terdiri dari dua hal, yaitu target needs (target kebutuhan) dan learning needs (kebutuhan belajar). implementasi program atau target kebutuhan dalam penelitian ini yaitu berkaitan dengan kebutuhan dimana pembelajaran terpadu akan diterapkan yaitu di sekolah dasar. sedangkan kebutuhan belajar atau perencanaan program yaitu kebutuhan mahasiswa pgsd dalam proses pengajaran pembelajaran terpadu dalam perkuliahan. dua hal pokok ini menjadi penting agar terjadi keselarasan antara e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 analisis kebutuhan mahasiswa.................(amaliah ulfa) 147 pemerolehan ilmu dengan kebutuhan di lapangan. lebih lanjut roth (masaong & ansar, 2011) menjelaskan ada enam elemen yang dilakukan dalam proses asesmen kebutuhan pada pendidikan tinggi yaitu: “(1) educational goals or philosophy given as a point departure, (2) need indefication and need prioritization, (3) treatment selection, (4) treatmen implementation, (5) evaluation, and (6) modification and recicle”. langkah pertama yang dapat dilakukan yaitu menentukan tujuan pengajaran. langkah kedua yaitu: mengidentifikasi kebutuhan – kebutuhan pembelajar kemudian memprioritaskan kebutuhan yang paling utama. langkah selanjutnya yaitu memilih jenis penanganan atau solusi. langkah keempat yaitu implementasi penanganan. kemudian melakukan evaluasi dan modifikasi. menurut subroto, dkk (2005: 16) pembelajaran terpadu yaitu pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan lainnya. jika dikaitkan dengan tingkat perkembangan siswa, pembelajaran terpadu merupakan pendekatan pembelajaran yang berangkat dari teori pembelajaran yang menolak sistem drill sebagai dasar pembentukan pengetahuan (prabowo, 2000). trianto (2012: 69) juga menjelaskan prinsip utama yang harus dikembangkan dalam pembelajaran terpadu adalah developmentally approprite practice (dap), yang maksudnya pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa seperti kognitif, minat, emosi dan bakat. jadi dapat disimpulkan pembelajaran terpadu yaitu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan konsep berbagai mata pelajaran dalam satu tema agar siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungan. pelaksanaan pembelajaran terpadu harus memperhatikan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa serta lebih menekankan keterlibatan anak dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung. mata kuliah pembelajaran terpadu di sd merupakan salah satu mata kuliah yang penting diajarkan bagi calon guru sekolah dasar. hal ini karena penguasaan pembelajaran terpadu dapat mendukung salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh seorang guru yaitu kompetensi pedagogik. menurut uu ri no. 14 tahun 2005 kompetensi pedagogi adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. undang-undang telah menuliskan dengan jelas bahwa seorang guru harus bisa merancang dan melaksanakan pembelajaran dengan baik. pembelajaran terpadu merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru sekolah dasar sesuai dengan aturan dalam kurikulum 2013. namun karena banyaknya kelas di pgsd, dengan pengajar/ dosen yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda menjadikan kemampuan mahasiswa juga beragam. pada akhirnya ketika mata kuliah micro teaching/ magang terapan di semester atas banyak ditemukan permasalahan terkait praktek pembelajaran terpadu di sd. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 148 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 145 153 metode penelitian penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dalam bentuk survey. penelitian ini dilaksanakan di kampus 5 universitas ahmad dahlan, jl. ki ageng pemanahan no 19 yogyakarta. teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu angket. populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa s1 pgsd semester 5 kelas a, b, c, d, e, f, dan g sebanyak 318 orang. teknik pengambilan sampel dilakukan secara proportionale stratified sampling. penentuan jumlah sampel menggunakan rumus slovin dengan taraf signifikasi 5% sehingga sampel penelitian yang digunakan yaitu sebanyak 178 mahasiswa. hasil dan pembahasan peran mata kuliah pembelajaran terpadu di sd pernyataan angket pertama dan kedua berkaitan dengan peran mata kuliah pembelajaran terpadu di sekolah dasar bagi mahasiswa. berdasarkan hasil angket pertama diperoleh informasi jika seluruh mahasiswa pgsd (100%) sepakat mata kuliah pembelajaran terpadu sangat penting dipelajari. adapun alasan mahasiswa sangat beragam, antara lain: mata kuliah pembelajaran terpadu di sd dapat memperjelas mahasiswa ketika akan melaksanakan pembelajaran terpadu di sekolah dasar, melalui mata kuliah pembelajaran terpadu mahasiswa dapat mengetahui komponen atau rpp k13 dan cara menyusunnya, melalui mata kuliah pembelajaran terpadu mahasiswa dapat berlatih menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema, mahasiswa dapat belajar menentukan rencana pembelajaran yang menarik, dan mahasiswa dapat terlatih keterampilannya dalam melaksanakan pembelajaran tematik. pernyataan angket kedua memberi informasi 167 mahasiswa (93,8%) sepakat jika mata kuliah pembelajaran terpadu dapat memberi contoh implementasi pembelajaran terpadu di sekolah dasar. alasan mahasiswa secara umum karena melalui mata kuliah tersebut mahasiswa mempunyai gambaran tentang pembelajaran di sd sehingga dapat mengimplementasikan dengan baik. selain itu mahasiswa juga bisa memperoleh informasi tentang kesulitan-kesulitan dan pemecahan masalah terkait pembelajaran terpadu. namun ada 11 mahasiswa (6,2%) yang tidak setuju jika mata kuliah pembelajaran terpadu dapat memberi contoh implementasi pembelajaran terpadu di sekolah dasar. hal ini karena mahasiswa seringkali di lapangan menemui beberapa guru yang belum menggunakan rpp tematik walaupun sekolahnya sudah mengimplementasikan k13. kebutuhan mahasiswa terkait materi materi pengajaran mata kuliah pembelajaran terpadu secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 7 bagian yaitu: 1) konsep dasar pembelajaran terpadu, 2) karakteristik siswa sd, 3) jenis/ model pembelajaran terpadu, 4) prosedur pembelajaran terpadu, 5) perangkat pembelajaran terpadu, 6) pengembangan rpp. dan pembelajaran terpadu, dan 7) penilaian pembelajaran terpadu. dari ketujuh garis besar materi, mahasiswa kemudian diminta memilih materi sesuai kriteria sangat dibutuhkan, cukup dibutuhkan, dan kurang dibutuhkan. hasil penilaian mahasiswa dapat dijelaskan pada tabel 1. e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 analisis kebutuhan mahasiswa.................(amaliah ulfa) 149 tabel 1. kebutuhan mahasiswa terkait materi pembelajaran terpadu materi sangat dibutuhkan cukup dibutuhkan kurang dibutuhkan 1 69,7% 30,3% 2 72% 28% 3 73% 27% 4 70,2% 29,8% 5 50% 47% 3% 6 68% 32% 7 71,3% 28,7% berdasarkan hasil tabel 1, menurut mahasiswa materi yang masuk kategori sangat dibutuhkan dengan prosentase tinggi yaitu karakteristik siswa sd (72%), jenis/ model pembelajaran terpadu (73%), prosedur pembelajaran terpadu (70,2%), pengembangan rpp dan penilaian pembelajaran terpadu (71,3%). sedangkan materi yang cukup dibutuhkan dengan prosentase tertinggi menurut mahasiswa yaitu perangkat pembelajaran terpadu (47%). selain itu ada juga sebesar 3% mahasiswa yang memilih materi perangkat pembelajaran terpadu sebagai materi yang kurang dibutuhkan. materi perangkat pembelajaran terpadu mendapatkan prosentase cukup tinggi pada kategori cukup dibutuhkan dan kurang dibutuhkan karena mahasiswa pada umumnya sudah memiliki pengetahuan tentang perangkat pembelajaran dalam mata kuliah di semester sebelumnya. dari hasil penilaian mahasiswa juga diperoleh informasi terkait materi lainnya yang sebaiknya juga dipelajari maupun diperdalam dalam mata kuliah pembelajaran terpadu di sd antara lain: 1) perumusan tujuan pembelajaran yang lebih mendalam 2) pengembangan model pembelajaran terpadu 3) pemilihan atau perancangan media pembelajaran dalam pembelajaran terpadu 4) integrasi kearifan lokal atau karakter dalam pembelajaran terpadu pemberian kesempatan kepada mahasiswa untuk menentukan sendiri materi yang dibutuhkan mempunyai arti yang sangat penting karena dapat menunjang keberhasilannya dalam pembelajaran. hal ini sesuai dengan pendapat oxfor (dahnilsyah, 2011: 91) yang menyatakan apabila siswa diberi kesempatan untuk memilih sendiri materi, menentukan tujuan, dan arah proses pembelajaran sesuai yang mereka inginkan, maka mereka akan mampu dan berusaha lebih keras mencapai tujuan belajar mereka. kebutuhan mahasiswa terkait metode pengajaran pembelajaran terpadu bagian ini menjelaskan tentang metode apa yang menjadi kebutuhan mahasiswa pada mata kuliah pembelajaran terpadu. penulis memberikan alternatif pilihan metode pengajaran dalam mata kuliah pembelajaran terpadu yaitu melalui ceramah bervariasi, demonstrasi, atau praktek langsung di sd. selain itu penulis juga memberikan kebebasan bagi mahasiswa jika ingin menuliskan metode yang menurut mereka lebih sesuai. hasil angket dapat dijelaskan pada tabel 2. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 150 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 145 153 tabel 2. kebutuhan mahasiswa terkait metode pengajaran metode jumlah mahasiswa persentase ceramah bervariasi 14 7,8% demonstrasi 58 32,6% praktek langsung di sd 80 45% semua metode digabungkan 26 14,6% berdasarkan tabel 2 dapat diketahui sebagian besar mahasiswa (45%) menginginkan metode pengajaran terpadu dengan praktek langsung di sd. alasan mahasiswa secara umum karena mahasiswa dapat secara langsung mempraktekkan bagaimana mengajar pembelajaran terpadu tidak hanya sekedar teori sehingga harapannya dapat memperoleh pengalaman yang nyata. selain metode praktek, tidak sedikit juga mahasiswa yang menghendaki metode pengajaran pembelajaran terpadu dengan demonstrasi (32,6%). demonstrasi dilakukan dengan cara dosen mepraktekkan contoh/ konsep kemudian mahasiswa ikut berlatih mempraktekkan. alasan mahasiswa memilih metode ini karena metode ini lebih mudah diingat dan mudah diulang-ulang jika belum paham. menariknya ada 7,8% responden lainnya yang memilih metode pembelajaran terpadu lebih sesuai jika menggunakan ceramah bervariasi. selain metode pengajaran, penulis juga berusaha menganalisis kebutuhan mahasiswa terkait media dan modul pembelajaran terpadu. berdasarkan hasil angket 145 mahasiswa (81,5%) sepakat jika mata kuliah pembelajaran terpadu perlu menggunakan media pembelajaran. adapun media yang diinginkan mahasiswa antara lain: buku guru dan buku siswa k13, rpp edisi revisi terbaru, artikel terkait pembelajaran terpadu untuk menambah wawasan, media konkret dan alat peraga edukatif lainnya yang bisa digunakan dalam pembelajaran terpadu. sedangkan responden lainnya (18,5%) memilih mata kuliah tersebut tidak memerlukan media. alasannya karena fokus mata kuliah pembelajaran terpadu yaitu mahasiswa mampu menyusun rpp terpadu dan praktek melaksanakannya sehingga penggunaan media tidak terlalu penting. untuk modul, sebanyak 140 mahasiswa (78,6%) setuju mata kuliah pembelajaran terpadu membutuhkan modul atau bahan ajar. alasan mahasiswa sangat beragam yaitu agar materi lebih mudah mempelajari, materi tidak tercecer dan terarah, memudahkan mahasiswa mencari referensi, dapat digunakan sebagai sebagai panduan, dan dapat dipelajari lagi ketika sudah lulus. sedangkan responden lainnya kurang setuju jika ada modul dalam pembelajaran terpadu karena dinilai akan menambah biaya perkuliahan. kebutuhan mahasiswa terkait sistem evaluasi selanjutnya bagian ini akan mengulas kebutuhan mahasiswa terkait penilaian atau asesmen. penilaian dalam mata kuliah pembelajaran terpadu yang ditawarkan ada 3 bentuk yaitu dalam tertulis, prakter, tertulis dan praktek. hasil angket dapat dilihat pada tabel 3. e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 analisis kebutuhan mahasiswa.................(amaliah ulfa) 151 tabel 3. kebutuhan mahasiswa terkait sistem evaluasi sistem evaluasi jumlah mahasiswa persentase tertulis 17 9,5% praktek 39 22% tertulis dan praktek 122 68,5% berdasarkan tabel 3 dapat disimpulkan sebagain besar mahasiswa menginginkan sistem penilaian dalam pembelajaran terpadu secara tertulis dan praktik. menurut alimuddin (2014: 29) penilaian praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu aktivitas atau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi. penilaian praktik dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. menurut mahasiswa dengan sistem penilaian tersebut dapat lebih mengetahui tingkat pengetahuan masing-masing, lebih tahu bagaimana mengajarkan pembelajaran terpadu, lebih bermakna karena dapat mengetahui letak kesalahan ketika praktek, dan lebih adil karena untuk bisa mendapatkan hasil yang baik mahasiswa harus benar-benar paham teori dan juga prakteknya. penilaian praktik yang dimaksud dalam mata kuliah pembelajaran terpadu adalah mahasiswa harus bisa mempraktikkan beberapa keterampilan dasar mengajar dan dapat menunjukkan kemampuan mengajar menggunakan salah satu model pembelajaran terpadu. praktek mengajar mahasiswa dilaksanakan secara kelompok (team teaching), namun penilaiannya secara individu. langkah yang dilakukan dalam penilaian praktik yaitu: 1) membagi mahasiswa menjadi beberapa kelompok (maksimal 4 anak), 2) menentukan indikator penilaian berdasarkan kompetensi yang akan dinilai, 3) membagi tema/ sub tema dan kelas yang akan dipraktikkan, 4) menyusun rpp yang akan dipraktikkan, 5) praktik mengajar, 6) evaluasi praktik pengajar. solusi yang ditawarkan solusi yang dapat ditawarkan terkait kebutuhan mahasiswa terhadap materi pengajaran yaitu dengan memberikan porsi belajar yang cukup untuk materi-materi yang sangat dibutuhkan dan mengurangi materi yang tidak terlalu dibutuhkan seperti perangkat pembelajaran terpadu. selain itu penulis bersama tim dosen mata kuliah yang sama juga akan menambahkan materi lain yang memang dibutuhkan mahasiwa seperti penyusunan tujuan pembelajaran yang benar dan pengintegrasian kearifan lokal atau karakter dalam pembelajaran terpadu. selama ini metode pengajaran yang digunakan dalam mata kuliah pembelajaran terpadu yaitu demontrasi dan praktek di kelas. agar pembelajaran terpadu lebih bermakna, dosen bersama tim akan mendiskusikan, mengkaji, dan mengupayakan agar mahasiswa dapat praktek secara langsung di sd walaupun hanya 1 atau 2 kali. hal ini karena sulitnya mengatur waktu perkuliahan 2 sks dengan praktek di lapangan yang membutuhkan waktu yang lama. terkait kebutuhan mahasiswa terhadap media pembelajaran, penulis akan mengusulkan agar perpustakaan juga dilengkapi dengan buku guru dan buku siswa k13 yang lengkap. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 152 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 145 153 penulis bersama tim dosen juga akan segera menyusun modul pembelajaran terpadu agar lebih memudahkan mahasiswa dalam belajar. selanjutnya terkait sistem evaluasi pembelajaran sudah sesuai karena selama ini system evaluasi yang digunakan adalah tertulis dan praktek. tertulis untuk ujian tengah semster (uts) dan praktek untuk ujian akhir semster (uas). simpulan secara garis besar dapat disimpulkan kebutuhan mahasiswa pgsd uad dalam mata kuliah pembelajaran terpadu di sd dari segi materi yang sangat dibutuhkan yaitu karakteristik siswa sd, jenis atau model pembelajaran terpadu, prosedur pembelajaran terpadu, dan penilaian pembelajaran terpadu. metode pengajaran mata kuliah pembelajaran terpadu lebih sesuai dengan praktek langsung di sd. sistem evaluasi mata kuliah pembelajaran terpadu sebaiknya dalam bentuk tertulis dan praktik. ketiga aspek di atas sangat relevan dengan upaya pemenuhan kebutuhan mahasiswa, yakni dari segi materi yang lebih runut, pemilihan metode yang lebih tepat, dan sistem penilaian yang sesuai. daftar pustaka alimuddin. (2014). penilaian dalam kurikulum 2013. disampaikan pada seminar nasional pendidikan karakter di gedung scc palopo pada sabtu, 03 mei 2014. dahnilsyah. (2011). “analisis kebutuhan dan minat mahasiswa pada mata kuliah keterampilan berbicara di program studi bahasa inggris, fkip, universitas riau”, dalam jurnal bahasa, vol. 6, no. 1. masaong, a. k., & ansar. (2011). manajemen berbasis sekolah. malang: sentra media. nation, i., & macalister, j. (2010). language curriculum design . london: routledge taylor and francis group. prabowo. (2000). pembelajaran fisika dengan pendekatan terpadu dalam menghadapi perkembangan iptek milenium iii. seminar dan lokakakarya jurusan fisika fmipa unesa bekerja sama dengan himpunan fisika indonesia (hfi). surabaya: unesa. risminawati dan nurul fadilah. 2016. “persepsi guru terhadap implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta”. jurnal profesi pendidikan dasar. vol. 3, no. 1 juli 2016. [versi online] http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/2604. diakses tanggal 12 juli 2017. subroto, dkk. (2005). materi pokok pembelajaran terpadu. jakarta: universitas terbuka. suharsimi. (2008). dasar-dasar evaluasi pendidikan. jakarta: bumi aksara. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/2604 e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 analisis kebutuhan mahasiswa.................(amaliah ulfa) 153 trianto. (2012). model pembelajaran terpadu. jakarta: pt bumi aksara. uu ri no. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. witkin. (1984). assessing needs in education and social programs. san francisco: josseybass publisher. issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 134 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 134 – 140 peningkatan hasil belajar ipa materi kenampakan rupa bumi menggunakan model scramble metta ariyanto pgsd fkip universitas kristen satya wacana mettaari27@gmail.com abstract this study aims to improve understanding of the concept visual appearance of the earth through media-assisted learning model scramble picture cards in class iii elementary negeri sumogawe getasan district of semarang district 03 school year 2016/2017. the shape of this research is classroom action research (ptk) are conducted in two cycles. each cycle consists of four phases: planning, implementation, observation, and reflection. subjects were students in third grade students of sd negeri 03 sumogawe getasan district of semarang district, amounting to 34 students consisting of 17 male students and 17 female students. source data comes from teachers and students. data collection techniques used were interviews, observation, testing, and documentation. results of research conducted initial conditions prior to student learning improvement achieve mastery only 15 students (46.42%), while 19 students (53.57%) have not yet reached the thoroughness with an average value of 61.42. in the first cycle has been implementing assisted learning method scrambe picture card games increased student learning outcomes that achieve completeness limit of 20 students (64.28%) and who have not completed 14 students (35.71%) with an average value of 63.57. at this stage of the second cycle of the 34 students who achieve mastery of 30 students (89.28%) who have not completed 4 students (10.71%) and the average value kkm science subjects is 65. viewed from the repair cycle i and cycle ii it can be concluded that this research is successful and does not need to continue the next cycle. keywords: scramble learning model, the appearance of the surface of the earth, learning outcomes. pendahuluan pembelajaran ipa di sd, diupayakan adanya penekanan pada pembelajaran salingtemas (sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar yang lebih bermakna depdiknas (dalam citrasmi dkk, 2016). depdiknas (dalam andriana, 2014) menyatakan bahwa “ilmu pengetahuan alam (ipa) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, dan ipa bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta tetapi disertai dengan konsep-konsep, prinsipprinsip yang merupakan suatu proses penemuan. maka dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran ipa adalah mata pelajaran yang penting, yang mana pelajaran ipa dipelajari sejak pendidikan dasar, pelajaran ipa digunakan siswa untuk mempelajari hubungan manusia dengan alam dengan cara pengamatan dan pengumpulan konsep konsep alam yang logis, sistematis dan bertujuan untuk sebuah penemuan. tujuan pembelajaran ipa di sd adalah pemahaman terhadap disiplin ipa dan keterampilan berkarya untuk menghasilkan suatu produk yang akan merefleksikan penguasaan kompetensi seseorang sebagai hasil belajarnya sukra (dalam citrasmi dkk, 2016). maka terlihat pembelajaran ipa diorentasikan kepada aktivitas siswa dan guru yang mendukung konsep, prisip dan prosedur yang mendorong konsep pembelajaran yang bermakna untuk hasil yang memuaskan. ipa merupakan pelajaran yang diterima sejak jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah atas, adapun pengertian ipa menurut ahli, permendiknas no. 22 tahun 2006 (dalam suryanta dkk, 2014) menyatakan tentang standar isi mendifinisikan bahwa ilmu pengetahuan mailto:mettaari27@gmail.com p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 peningkatan hasil belajar ipa.....(metta ariyanto) 135 alam (ipa) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga ipa tidak hanya berisi penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa faktafakta, konsep-konsep, atau prinsipprinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. menurut samatowa (dalam murti dkk, 2016) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan alam adalah aktivitas anak yang melalui berbagai kegiatan nyata dengan alam menjadi hal untama dalam pembelajaran ipa. sedangkan menurut damayanti (dalam noorhafizah dan asmawati 2014) mennyatakan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan alam sangat penting agar usaha pencapaian tujuan pembelajaran dapat dilakukan dengan efektif. dari pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa ipa adalah pelajaran yang mengharapkan siswa dapat terjun secara langsung dengan tahapan yang sistematis melalui berbagai macam tahapan logis, dan berujung pada sebuah penemuan baru mengenai alam demi tercapai tujuan pembelajaran yang efektif. hasil belajar pengertian hasil menurut purwanto (dalam sukmadinata dalam sukriswati, 2016) hasil belajar adalah merupakan ketercapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengukuti proses belajar mengajar, hasil belajar juga dapat diartikan perubahan yang diakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakuknya. menurut sukmadinata (dalam sukriswati, 2016) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensi atau kapasitas yang dimiliki seseorang. menurut nana sudjana (dalam sukriswati, 2016) hasil belajar merupakan kemampuankemampuan yang dimiliki setelah ia menempuh pengalaman belajarnya (proses belajar mengajar). dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan berupa kecakapan fisik, mental, intelektual yang berproses dari kegiatan belajar baik di jenjang pendidikan formal seperti sekolah dan di jenjang pendidikan non formal seperti dilingkup keluarga dan masyarakat yang akan digunakan dalam kegiatan seharihari baik didalam sekolah maupun bermasyarakat. berdasarkan pengertian dan tujuan pembelajaran ipa maka guru perlu merancang pelajaran yang mendorong siswa untuk mempunyai rasa keinginan untuk mengikuti pembelajaran, menurut damayanti (dalam ramadani dkk, 2014) menyatakan bahwa kegiatan pelajaran haruslah menantang menyenangkan, mendorong eksplorasi memberi pengalaman sukses dan pengembangan kecakapan berfikir siswa. oleh karena itu dalam proses pembelajaran ipa di sd haruslah menekankan keaktifan siswa, yang tidak hanya medengarkan ceramah dari guru, hal ini bertujuan untuk memberikan pengalaman yang lebih kepada siswa untuk menanamkan konsepkonsep pelajaran ipa dari pengalaman siswa itu sendiri. model pembelajaran scramble suyatno (dalam lestari dkk, 2016), menyatakan bahwa model pembelajaran scramble merupakan salah satu tipe pembelajaran yang disajikan dalam bentuk kartu dengan mencari pasangan jawaban dari pertanyaan yang jawabannya tersusun secara acak. menurut komalasari (dalam lestari dkk, 2016), mengutarakan bahwa model scramble ini mengajak siswa mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan secara kreatif dengan menyusun huruf-huruf yang disusun secara acak. komalasari (murti dkk, 2016) berpendapat bahwa “model pembelajaran scramble yaitu model pembelajaran yang mengajak siswa mencari jawaban terhadap suatu pertanyaan atau pasangan dari suatu konsep secara kreatif dengan cara menyusun huruf-huruf yang disusun secara acak sehingga membentuk suatu jawaban atau pasangan konsep”. sedangkan menurut e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 136 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 134 – 140 suyatno (dalam murti dkk, 2016) berpendapat bahwa “model pembelajaran scramble adalah suatu metode pembelajaran yang menggunakan kartu soal dan kartu jawaban yang dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis. sehingga siswa dituntut berpikir kreatif dalam pembelajaran di dalam kelas, untuk dapat mengurutkan kata-kata dalam kunci jawaban menjadi kata yang logis”. dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran screamble adalah model pembelajaran dengan cara berkelompok dengan mengasah kekreatifitasan siswa untuk mencari jawabanjawaban logi dari kata-kata yang diacak dan siswa diminta merangkai menjadi jawaban yang logis dari sebuah pertanyaan atau persolan. suyatno (dalam suryanta dkk, 2014) adapun sintaks model pembelajaran scramble yaitu: (1) buatlah kartu soal sesuai bahan ajar; (2) buatlah kartu soal dengan diacak nomornya; (3) sajikan materi; (4) membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban; (5) siswa bekelompok mengerjakan soal dan mencari jawaban yang benar. hasil temuan di sdn sumogawe 03 kab. semarang menunjukkan bahwa hasil belajar ipa siswa masih tergolong kurang memuaskan. permasalahan ini merupakan salah satu indikator bahwa proses pembelajaran ipa di sekolah belum maksimal, hasil observasi peneliti sebelum tindakan kkm di sdn sumogawe 03 adalah 65, hasil belajar siswa sebelum tindakan siklus i dapat terdapat 15 (44,11%) siswa yang belum tuntas dan 19 (55,88%) siswa telah tuntas kkm dengan jumlah siswa keseluruhan 34 siswa. berdasarkan latar belakang masalah dalam pelajaran ipa ini guru bersama peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe scramble. model pembelajaran scramble menurut ahli antara lain diutaran oleh soeparno (dalam ramadani dkk, 2014) menyatakan, bahwa model pembelajaran scramble adalah pembelajaran secara berkelompok dengan mencocokan kartu pertanyaan dan kartu jawaban yang telah disediakan. berdasarkan pengertian model pembelajaran scramble model pembelajaran ini bertujuan untuk mengubah pola proses pembelajaran yang semula hanya berpusat kepada guru, akan diubah menjadi pola belajar yang berpusat pada siswa yang mengutamakan interaksi siswa dalam kelompokkelompok kecil didalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, olehkarena itu peneliti mengangkat rumusan masalah “ apakah dengan menggunakan model pembelajaran scramble dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ipa pada materi kenampakan rupa bumi?”, dan peneliti mengangkat judul penelitian “ peningkatan hasil belajar ipa materi kenampakan rupa bumi menggunakan model scramble”. adapun penelitian terdahulu yang sejalan dengan penelitian ini antara lain penelitian yang dilakukan oleh lestari (2015) menyatakan bahwa hasil penelitian menggunakan model pembelajaran scramble pada mata pelajaran ipa di kelas v di sdn 101766 bandar setia menyatakan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang berjumlah 30 orang siswa. kondisi pre tes siswa tuntas sebanyak 7 orang atau (23,3%) dan yang tidak tuntas sebanyak 23 orang atau (76%) dengan ratarata kelas (51,33%). setelah tindakan siklus i tingkat ketuntasan meningkat menjadi 28 siswa (93,3%) yang tidak tuntas sebanyak 2 siswa (6,6%) dengan ratarata 87,66. peningkatan hasil belajar dari keadaan awal (pre tes dan tindakkan siklus i meningkat sebesar (56,67%) dan tindakkan siklus i ke siklus ii sebesar (13,3%). hasil observasi guru diperoleh pada siklus i pertemuan pertama dengan menggunakan model pembelajaran scramble ratarata 71,87tergolong tinggi tindakan siklus ii p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 peningkatan hasil belajar ipa.....(metta ariyanto) 137 pertemuan kedua diperoleh ratarata nilai 90,63 tergolong tinggi. metode penelitian penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (ptk). sanjaya (dalam hafizah, 2014) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang di dalamnya ada intervensi atau perlakuan tertentu untuk perbaikan kinerja dalam dunia nyata. adapun tujuan dati penelitian tindakan kelas menurut trianto (dalam hafizah, 2014) tujuan dari ptk secara umum adalah sebuah peningkatan atau perbaikan (improvement and therapy), anatara lain sebagi berikut: (1) peningkatan atau perbaikan terhadap kinerja belajar siswa di sekolah; (2) peningkatan atau perbaikan terhadap mutu proses pembelajaran di kelas; (3) peningkatan atau perbaikan terhadap kualitas penggunaan media, alat bantu ajar, dan sumber belajar lainnya; (4) peningkatan atau perbaikan terhadap kualitas prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa; (5) peningkatan atau perbaikan terhadap masalah masalah pendidikan anak di sekolah; (6) peningkatan dan perbaikan terhadap kualitas penerapan kurikulum dan pengembangan kompetensi siswa di sekolah. menggunakan metode penelitian penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus yang dikemukakan oleh kemmis dan taggart (dalam andriani, 2011) yang terdiri dari 4 langkah, antara lain: 1) perencanaan. pada tahap ini peneliti menyiapkan instrument penelitian yang terdiri dari instrument pembelajaran, instrument observasi dan instrument penilaian hasil belajar siswa; 2) pelaksanaan. semua yang telah dipersiapkan pada tahap perencanaan akan dilaksanakan pada tahap ini; 3) observasi semua kegiatan yang terjadi selama pelaksanaan diamati dan dicatat; 4) refleksi. dari hasil pengamatan dapat lihat kekurangan yang terjadi selama pelaksanaan sehingga pada siklus berikutnya dapat dilakukan penyempurnaan. jadi penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru kelas dan memperoleh permasalahan yang diperoleh didalam kelas dan diselesaikan didalam kelas secara tersetruktur sesuai dengan langkah langkah ptk dan hasil pemecahan masalah dapat dipergunakan untuk meningkatkan kecakapan kinerja guru di sekolah. hasil dan pembahasan penelitian ini berjenis penelitian tindakan kelas yang mana dilaksanakan dua siklus. penelitian ini bertjuan untuk mengukur tingkat peningkatan hasil belajar siswa atau tingkat kognitif siswa, adapun hasil belajar siswa pada kondisi awal siswa diperoleh dari guru kelas pada mapel ipa siswa yang belum tuntas 15 (44,11%) dan 19 (55,88%) siswa telah tuntas kkm dengan jumlah siswa keseluruhan 34 siswa. berdasarkan hasil observasi peneliti pada pra siklus peneliti bersama guru kelas bekerja sama untuk merencanakan proses tindakan siklus i. pada kondisi awal tingkat ketuntasan siswa mencapai 16 siswa atau (47,05%) dan 18 siswa atau (52,94%) belum mencapai kkm. nilai pra siklus dapat dilihat pada tabel 1. tabel 1. distribusi frekuensi pra siklus nilai mata pelajaran ipa no pra siklus nilai jumlah siswa persent ase 1 tuntas 16 47,05% 2 belum tuntas 18 52,94% berdasarkan hasil belajar siswa pada kondisi pra siklus peneliti dan guru kelas melaksanakan perencanaan untuk proses tindakan siklus i. setelah tindakan siklus i terdapat kenaikan tingkat ketuntasan siswa, pada tindakan siklus i siswa yang tuntas berjumlah 24 siswa atau (70,58%) dan siswa yang belum tuntas berjumlah 10 siswa atau e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 138 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 134 – 140 (24,41%). hasil tindakan siklus i dapat diihat pada tabel 2. tabel 2. distribusi frekuensi siklus i nilai mata pelajaran ipa no siklus i nilai jumlah siswa persenta se 1 tuntas 24 70,58% 2 belum tuntas 10 24,41% berdasarkan hasil penelitian kondisi pra siklus dan tindakan siklus i dapat disajikan dalam tabel 3, tabel 3. perbandingan distribusi frekuensi nilai mata pelajaran ipa pra siklus dan siklus i no nilai pra siklus siklus i jumlah siswa persent ase jumlah siswa persent ase 1 tuntas 11 36,60% 18 60,00% 2 belum tuntas 19 63,30% 12 40,00% berdasarkan tabel 3 dapat disimpulkan bahwa ada kenaikan tingkat ketuntasan siswa, pada kondisi pra siklus tingkat ketuntasan hanya mencapai 16 siswa atau (47,05%) dan pada siklus i tingkat ketuntasan mencapai 24 siswa atau (70,58%) jadi dapat disimpulkan bahwa tingkat ketuntasan siswa meningkat 8 siswa atau (23,52%), dan tingkat ketidak tuntasan siswa menurun sebesar 8 siswa (23,52%) dari jumlah keseluruhan siswa 34 siswa. dari tindakan siklus i terdapat kenaikan tingkat ketutasan hasil belajar siswa yang cukup memuaskan, akan tetapi dalam proses tindakan siklus i tidak lepas dari permasalahan. permasalahan yang muncul pada tindakan siklus i antara lain guru dan siswa belum memahami jalannya proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran scramble sehingga guru dan siswa masih kebingungan dalam pelaksanaan pembelajaran, suasana proses pembelajaran kurang kondusif dikarenakan siswa yang rame, masih terdapat siswa yang belum mecapai kkm. berdasarkan permasalahan yang muncul pada tndakan siklus i peneliti bersama dengan guru menyusun rencana untuk pemecahan masalah yang muncul pada siklus i dan diterapkan langsung pada siklus ii guna untuk meminimalisir permasalahanpermasalahan yang akan muncul pada siklus ii. pada tindakan siklus ii tingkat ketuntasan siswa meningkat kembali sehingga tingkat ketuntasan siswa mencapai 31 siswa atau (89,28%) dan siswa yang belum mencapai kkm berjumlah 3 siswa atau (10,7%), dari tindakan pada siklus ii dapat disajikan dalam tabel 4. tabel 4. distribusi frekuensi nilai mata pelajaran ipa siklus ii no siklus ii nilai jumlah siswa persentase 1 tuntas 31 89,28% 2 belum tuntas 3 10,70% hasil tindakan siklus i dan ii dapat disajikan dalam bentuk tabel 5 sebagai berikut, tabel 5. perbandingan distribusi frekwensi nilai mata pelajaran ipa siklus i dan siklus ii n o nilai siklus i siklus ii jumlah siswa persent ase jumlah siswa persent ase 1 tuntas 24 70,58% 31 89,28% 2 belum tuntas 10 24,41% 3 10,70% dari tabel 5 mengenai perbandingan distribusi frewensi siklus i dan siklus ii dapat disimpulkan bahwa terdapat kenaikan tingkat ketuntasan hasil belajar siswa dari tindakkan siklus ii, pada siklus i tingkat ketuntasan siswa mencapai 24 siswa atau (70,58%) dan pada tindakkan pada siklus ii tingkat ketuntasan mencapai 31 siswa atau (89,28%) kenaikan hasil belajar siswa mencapai 7 siswa atau (20,58%) dan tingkat ketidak tuntasan siswa menurun sebesar 7 siswa atau (20,58%). dari tindakkan pada siklus ii permasalahan yang muncul pada siklus i dapat p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 peningkatan hasil belajar ipa.....(metta ariyanto) 139 teratasi dengan baik, dan tingkat ketuntasan siswa kembali meningkat pada siklus ii. akantetapi pada siklus ii ini tidak lepas dari permasalahan, permasalahan yang muncul antara lain adalah masih terdapat 3 siswa yang tidak tuntas kkm atau (8,82%). nilai pra siklus, siklus i dan siklus ii dapat dilihat pada tabel 6 tabel 6. perbandingan distribusi frekwensi nilai mata pelajaran ipa pra siklus, siklus i, siklus ii n o nilai pra siklus siklus i siklus ii jum lah sisw a persen tase juml ah sisw a persen tase juml ah sisw a persent ase 1 tuntas 16 47,05 % 24 70,58 % 31 89,28 % 2 belum tuntas 18 52,94 % 10 24,41 % 3 10,70 % berdasarkan tabel perbandingan distribusi frekwensi nilai mata pelajaran ipa siswa kelas iii sdn sumogawe 03 tahun ajaran 2016/ 2017 dari kondisi pra siklus, siklus i dan siklus ii dapat disimpulkan bahwa penelitian ini telah berhasil dilaksanakan dan telah berhasil memecahkan rumusan masalah yang ditentukan oleh peneliti oleh karena itu peneliti memutuskan menghentikan penelitian pada siklus ii, dengan hasil kondisi pra siklus dan ke tindakan siklus i tingkat kentuntasan siswa meningkat sebesar 8 siswa atau (23,52%), siklus i ke siklus ii meningkat kembali sebesar 7 siswa atau (20,58%) sehingga pada tindakan siklus ii tingkat ketuntasan mencapai 31 anak atau (82,28%). berdasarkan dari penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran scramble dapat meningkatkan hasil belajar ipa sdn sumogawe kelas iii dengan materi kenampakan rupa bumi, oleh karena itu peneliti menyarankan untuk para pendidik atau pihak sekolah untuk selalu berani berinovasi dalam menyampaikan materi ajar kepada siswa, supaya dapat memperoleh hasil belajar siswa yang memuaskan. simpulan berdasarkan hasil penelitian terhadap hasil belajar siswa dalam mata pelajaran ipa dalam materi rupa bumi maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran scramble dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas iii di sdn sumogawe 03 kabupaten semarang tahun ajaran 2016/ 2017. hasil penelitian kondisi pra siklus hasil belajar siswa pada mata pelajaran ipa tingkat ketuntasan hanya mencapai 16 siswa atau (47,05%) dan tingkat ketidak tuntasan siswa mencapai 18 siswa atau (52, 41%). hasil dari tindakan siklus i tingkat katuntasan meingkat menjadi 24 siswa atau (70,58%) dan tingkat ketidak tuntasan sebesar 10 siswa atau (24,41%) dan pada tindakan siklus ii ketuntasan hasil belajar siswa kembali mengalami kenaikan sehingga mencapai 31 siswa atau (89,28%) dan ketidak tuntasan siswa hanya mencapai 3 siswa atau (10,70%). berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran scramble dapat meingkatkan hasil belajar siswa kelas iii di sdn sumogawe 03 kabupaten semarang. daftar pustaka andriana, wahyu istanti dan h.a. triwidjaja. 2014. penerapan model pembelajaran picture and picture pada pembelajaran ipa anak tunagrahita sdlb. jurnal p3lb, 1 (2): 169174. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 140 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 134 – 140 andriani, lis. 2011. meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran ipa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe picture to picture di kelas v sdn 2 balaesang. jurnal kreatif tadulako online. 6 (5): 1-10. citrasmi ni wyn, dkk. 2016. pengaruh model pembelajaran scramble berbantuan media gambar terhadap hasil belajar ipa di sd. e-jurnl undiksha, 4 (1): 1-10. lestari, dewi dan demmu korokoro. 2015. meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ipa dengan menggunakan model pembelajaran scramble di kelas v sd negeri no. 101766 bandar setia. jurnal.unimed. 3 (1): 1-9. lestari, ni kadek sri, dkk. 2016. penerapan model pembelajaran scramble untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar ipa pada siswa kelas iv. e-jurnal.pgsd, 4 (1): 1-10. murti, i gede ari dkk. 2016. pengaruh model pembelajaran scramble berbantuan media gambar terhadap hasil belajar ipa siswa kelas iv sd. e-junal pgsd universitas pendidikan ganesha jurnal pgsd, 9 (1): 1-11. noorhafizah dan asmawati. 2014. meningkatkan hasil belajar konsep energi panas melalui model pembelajaran inkuiri terbimbing variasi model student teams achievement divisions (stad) pada siswa kelas iv sdn teluk dalam 3 banjarmasin. jurnal.fkip.uns.ac.id.jurnal paradikma, 9 (2): 1-4. ramadani ni km triana, dkk. 2014. pengaruh model pembelajaran scramble berbantuan kartu pertanyaan terhadap hasil belajar ipa siswa kelas v sd. ejurnal.undiksh, 2 (1): 110. ramadani, ni km triana, dkk. 2014. pengaruh model pembelajaran scramble berbantuan kartu pertanyaan terhadap hasil belajar ipa siswa kelas v sd. jurnal pgsd, 2 (1): 1-10. suryanta, i made, dkk. 2014. pengaruh model pembelajaran scramble berbantuan media gambar animasi terhadap hasil belajar ipa siswa kelas v sd gugus yos sudarso denpasar. e-jurnal.undiksha, 2 (1): 1-10. kedudukan dan aplikasi pendidikan sains ... (anatri desstya) 193 kedudukan dan aplikasi pendidikan sains di sekolah dasar anatri desstya pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta email: ana.destya@gmail.com abstract natural science is basic science, which in its development wider and its application of science was born, namely technology. science and technology are achieved by a nation is a benchmark for the progress of a nation. through the process of education in elementary school, science has begun to be given. however, in the implementation, it raises some problems occurred and the nature of science is not in line if applicable, including: not or do not give the maximum opportunity for students to develop creativity, teaching material still feels off with the main problems that arise in the community, the process has not appeared skills in learning at school, and still conventional science lessons. efforts to science education in elementary schools is indispensable to the era of technology in the future with respect to some aspects, namely: understanding the nature of science, know and understand the child’s developmental level, especially elementary school age children, relying on the theory of constructivism and developmental theory of jean piaget, and apply scientific study combined with the various models of learning science, among other constructivists, the inquiry, science process skills, stm (science technology society), integrated, interactive, learning cycle and clis (children learning in science). keywords: science, technology, science learning models pendahuluan sains atau ipa (ilmu pengetahuan alam) merupakan disiplin ilmu dari physical science dan life science. kelompok ilmu physical science meliputi: ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika. kelompok ilmu life science yakni biologi (anatomi, fisiologi, zoologi). james conant (dalam samatowa, 2011) mendefinisikan sains dari aspek ontologi dan epistemologi yakni suatu deretan konsep serta skema eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati dan dieksperimentasikan lebih lanjut. sains berupaya untuk membangkitkan minat dan rasa ingin tahu manusia agar kecerdasan dan pemahaman tentang alam seisinya terus berkembang. diiringi dengan mengalirnya informasi, jangkaun sains semakin luas dan lahirlah sains terapan, yakni teknologi. sains dan teknologi yang dicapai oleh suatu bangsa biasanya digunakan sebagai tolok ukur untuk kemajuan suatu bangsa. kemajuan bangsa ini sangat ditentukan oleh kemampuan sumber daya manusia indonesia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 193-200194 sains yang diajarkan sesuai dengan hakikatnya, yaitu sebagai proses, produk, sikap, dan teknologi akan menjadi sarana untuk mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan keterampilan proses sains melalui rentetan pembelajaran di bangku sekolah. hal ini sejalan dengan diberlakukannya kurikulum 2013 yang bertujuan untuk membentuk insan indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terintegrasi. namun, sejauh ini masih terdapat banyak hambatan dalam penerapan pembelajarannya di sekolah, terutama di tingkat sekolah dasar. sri wuryastuti dalam penelitiannya menemukan beberapa permasalahan pembelajaran ipa yang terjadi di lapangan saat ini, antara lain: 1) dalam proses belajar mengajar di sekolah saat ini tidak atau belum memberi kesempatan maksimal kepada siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, 2) bahan ajar yang diberikan di sekolah masih lepas dengan permasalahan pokok yang timbul di masyarakat, terutama yang berkaitan dengan perkembangan teknologi dan kehadiran produk-produk teknologi di tengahtengah masyarakat, serta akibat-akibat yang ditimbulkannya, 3) keterampilan proses belum tampak dalam pembelajaran di sekolah dengan alasan untuk mengejar target kurikulum, 4) pelajaran ipa yang konvensional hanya menyiapkan peserta didik untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi, bukan menyiapkan sdm yang kritis, peka terhadap lingkungan, kreatif, dan memahami teknologi sederhana yang hadir di tengah-tengah masyarakat. berdasarkan studi kepustakaan dari beberapa hasil penelitian, artikel ini akan mengkaji urgensi pendidikan sains di sekolah dasar dengan memperhatikan beberapa aspek yang mempengaruhinya untuk menghadapi era teknologi di masa depan. pembahasan hakikat sains sains (ipa) adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya (hendro darmojo dalam samatowa, 2011). sains merupakan suatu pengetahuan yang bisa diterima di khalayak umum sebagai suatu produk ilmu (produk ilmiah) yang penemuannya melalui serangkaian penyelidikan panjang yang terstruktur (proses ilmiah), yang keberhasilannya dalam melakukan penyelidikan ini ditentukan oleh sikap ilmiah yang dimiliki. sains sebagai produk ilmiah berupa kumpulan pengetahuan yang terdiri dari: fakta, konsep, dalil, prinsip, hukum, teori, dan model. sains sebagai proses merupakan kumpulan dari hands-on activities, eksperimen, dan proyek yang bertujuan untuk menyelidiki keajaiban dunia. keterampilan proses tersebut dapat meliputi: kemampuan untuk mengamati, mengumpulkan data, mengolah data, menginterpretasikan data, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. sains sebagai sikap merupakan aktivitas manusia yang ditandai dengan proses berpikir yang berlangsung di dalam pikiran orang-orang yang berkecimpung dalam bidang itu. selama melakukan proses penyelidikan (proses ilmiah) untuk menghasilkan produk ilmiah, diharapkan pula tumbuh sikap terbuka, objektif, berorientasi pada kenyataan, bertanggung jawab, bekerja keras, jujur, teliti, dan lain sebagainya. tujuan pendidikan sains di sekolah dasar berdasarkan ktsp (kurikulum tingkat satuan pelajaran) tujuan pembelajaran ipa di sd/mi adalah agar siswa: a) memperoleh keyakinan terhadap kebesaran tuhan yme berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-nya. b) mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep ipa yang kedudukan dan aplikasi pendidikan sains ... (anatri desstya) 195 bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. c) mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara ipa, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. d) mengesampangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. e) meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan melestarikan lingkungan alam. f) meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan tuhan g) memperoleh bekal pengetahuan, konsep, keterampilan ipa sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke smp/mts. berdasarkan tujuan pembelajaran tersebut, ada beberapa alasan yang menyebabkan sains masuk ke kurikulum sekolah. a) sains sangat mendukung kemajuan suatu bangsa. sains merupakan dasar teknologi yang merupakan tulang punggung pembangunan. suatu teknologi tidak akan berkembang pesat jika tidak didasari pengetahuan dasar yang memadai. pengetahuan dasar yang diperlukan adalah pengetahuan dasar sains. b) sains mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis. sebelum menemukan suatu konsep, siswa dihadapkan oleh suatu permasalahan yang harus dipecahkan melalui serangkaian proses penelitian. sikap kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi akan mendorong siswa untuk lebih aktif bertanya dan mencoba membuktikan kebenarannya. setelah proses penemuan yang panjang ini, siswa akan menyimpannya dalam struktur kognitif siswa dalam waktu yang lebih lama. c) sains mampu mengembangkan sikap ilmiah yang membentuk insan indonesia berkepribadian luhur. nilai-nilai pendidikan tercermin pada sikap ilmiah yang mulai muncul saat melakukan penelitian yang ditandai dengan munculnya rasa keingintahuan. selanjutnya, mereka akan melalui serangkaian tahap penelitian dari proses mencari sumber literatur yang mendukung, menyusun hipotesis, praktikum, mencatat dan menganalisis data, menyimpulkan, sampai tahap pembuatan laporan penelitian. serangkaian tahap inilah yang sering disebut dengan metode ilmiah. peneliti harus tekun dan tidak mudah putus asa apabila hasil penelitian mereka gagal. ketelitian dalam mengamati hasil penelitian sangat menentukan dalam menarik kesimpulan. sesuatu yang dilihat, harus dikatakan dengan jujur, dan sesuai kenyatannya, di sinilah sikap objektif muncul. dengan demikian, kepribadian yang luhur tercermin dari sikap ilmiah yang telah terbentuk dengan sendirinya melalui serangkaian proses penelitian. berdasarkan paparan di atas, tujuan diberikannya materi ipa untuk tingkat sekolah dasar yakni siswa dapat memahami konsep ipa yang kemudian dapat dihubungkan secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. selain itu, siswa dapat mengembangkan rasa syukur terhadap tuhan yang maha esa atas semua kebesaran-nya. konstruktivisme dan teori perkembangan jean piaget menurut teori perkembangan jean piaget, perubahan-perubahan dan perkembangan yang terjadi pada peserta didik harus mendapatkan perhatian khusus dari guru. secara umum, semua anak berkembang melalui urutan yang sama, meskipun jenis dan tingkat pengalaman mereka berbeda satu sama lain. teori perkembangan jean piaget menekankan pada suasana belajar profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 193-200196 konstruktivisme. menurut pandangan konstruktivisme, belajar merupakan suatu proses yang aktif dan melalui proses pengalaman. pengetahuan dibangun dalam pikiran siswa. teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. setiap tahap perkembangan intelektual ini dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengonstruksi ilmu pengetahuan. pada tahap sensor motorik, anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (ruseffendi dalam hamzah, 2004). menurut piaget, pengkonstruksian pengetahuan dibangun dalam pikiran siswa melalui proses asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. asimilasi merupakan proses penyatuan atau pengintegrasian informasi baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimiliki. akomodasi merupakan proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. ekuilibrasi merupakan proses penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. apabila dengan asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi dengan lingkungannya, terjadilah ketidakseimbangan (diliquibrasi). jadi, seseorang yang mengalami equilibrasi akan mengalami perubahan intelektual yang lebih tinggi. jean piaget mengemukakan empat periode perkembangan kognitif anak, yaitu: periode sensorimotorik (0-2 tahun), periode praoperasional (2-7 tahun), periode operasional konkret (7-11/12 tahun), dan periode operasional formal (12 tahun ke atas). anak sd tidak berada pada tahap sensorimotorik, namun penting untuk diketahui karena perkembangan pola pikirnya melalui pengalaman fisik berlanjut sampai tahap operasional. anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. pada tahap ini, anak masih sangat membutuhkan benda-benda konkret untuk membantu pengembangan kemampuan intelektualnya. pada akhir tahap operasional konkret, mereka telah dapat memahami tentang perkalian, menulis dan berkorespondensi, dan mulai dapat berpikir abstrak yang sederhana, misalnya memahami konsep berat, gaya, dan ruang. anak mulai memecahkan masalah khusus, mempelajari keterampilan, dan kecakapan berpikir logis yang membantu mereka memaknai pengalaman. tahap ini merupakan perkembangan dari tahap praoperasional yang dimulai dengan proses internalisasi melalui pancaindra sampai ke otak. aplikasi pembelajaran ipa di sekolah dasar teori perkembangan piaget yang dikemukakan sebelumnya memberikan inspirasi tentang pentingnya pemahaman guru terhadap perkembangan dan eksistensi siswa, pemilihan bahan pembelajaran, penentuan strategi pembelajaran dalam upaya mewujudkan proses pembelajaran yang optimal. pembelajaran ipa yang dihubungkan dengan teori piaget, dilihat dari beberapa aspek, yaitu : a) belajar melalui perbuatan (pengalaman langsung) belajar merupakan proses transfer pengetahuan dari guru kepada siswanya. piaget mengatakan bahwa pengalaman langsung memegang peranan penting sebagai pendorong lajunya perkembangan kognitif siswa. pengetahuan yang diperoleh akan tersimpan kuat dalam struktur ingatan mereka melalui pengalaman langsung. pengalaman ini terjadi secara spontan dari kecil (sejak lahir) sampai berumur 12 tahun. efisiensi pengalaman langsung pada anak tergantung pada konsistensi antara hubungan metode dan objek yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif anak. anak akan siap mengembangkan konsep tertentu jika ia telah memiliki struktur kognitif yang bersifat hierarkis dan integratif. kedudukan dan aplikasi pendidikan sains ... (anatri desstya) 197 b) perlu berbagai variasi kegiatan dalam proses belajar berbagai macam kegiatan yang dilakukan bertujuan untuk merangsang aspek psikomotorik anak, serta menghindari kondisi yang menjenuhkan. siswa sd pada kelas rendah (1, 2, dan 3) masih senang bermain, di sinilah guru harus berperan sebagai pengatur agar transfer pengetahuan tetap dapat dilakukan. metode joyfull learning bisa menjadikan pembelajaran menyenangkan. guru harus menciptakan kondisi yang menyenangkan dengan memfasilitasi siswa dengan berbagai macam kegiatan serta memperlihatkan benda-benda konkret yang dapat diamati, dialami, atau dicoba oleh siswa selama proses pembelajaran. hal ini akan memberikan kesan bagi siswa bahwa belajar sains sangat menyenangkan. benda-benda konkret yang dimaksud tidak hanya kit ipa yang sudah tersedia di laboratorium, namun guru bisa membuat alat peraga sederhana, misalnya kincir air pembangkit energi listrik dari barang bekas. c) guru perlu mengenal tingkat perkembangan siswanya perkembangan ini meliputi dua aspek, yakni perkembangan intelektual dan fisik. perkembangan fisik yang normal ternyata mempengaruhi tingkah laku anak. berkembangnya sistem syaraf akan berdampak pada peningkatan intelegensi siswa, sehingga timbul polapola tingkah laku yang baru. pertumbuhan otot akan membawa perubahan dalam kemampuan motorik yang tercermin dalam perubahan sosialisasi siswa. secara psikomotorik, permainan anak pada semua tahapan usia sangat bergantung pada perkembangan otot-ototnya, terutama dalam permainan dan olahraga. anak usia sd mayoritas berada pada tahap operasional konkret. mereka mampu berpikir atas dasar pengalaman nyata/ konkret. d) perlu latihan yang berulang untuk pengembangan berpikir operasional berdasarkan teori ini, belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang meliputi: daya berpikir, mengingat, mengamati, menghapal, menanggapi, dan sebagainya. daya tersebut akan berkembang melalui banyak latihan, dan sebaliknya akan berkurang jika tidak pernah dilatih. selain teori psikologi daya, prinsip pengulangan ini juga didasari oleh teori psikologi asosiasi atau connecsionisme yang dipelopori oleh thorndike dengan salah satu hukum belajarnya “low of exercise” yang mengemukakan bahwa belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respon. pengulangan akan memperkuat hubungan stimulus dan respon. tugas dan peran guru dalam membelajarkan sains di sd berdasarkan teori perkembangan piaget, anak usia sd berada pada tahap operasional konkret (usia 7–12 tahun). sains jika diterapkan di sekolah dasar mengacu pada hakikatnya yaitu sains sebagai produk ilmiah, sikap ilmiah, dan proses ilmiah. siswa sd lebih diarahkan untuk menemukan produk dan memahaminya. siswa diberi kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu yang akan mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban berdasarkan bukti, serta cara berpikir ilmiah. siswa cenderung aktif selama pembelajaran untuk membangun pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan yang bermakna. siswa sebagai pusat pembelajaran, guru sebagai fasilitator. tuntutan kurikulum 2013 adalah membentuk insan indonesia yang produktif, kreatif, dan inovatif melalui penguatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang terintegrasi dengan pendekatan saintifik melalui kegiatan pembelajaran yang menekankan pada 5 m, yaitu mengamati, menanya, menalar, membuat jejaring, dan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 193-200198 mengomunikasikan. pada tingkat sd, ipa diajarkan secara tematik bersama mata pelajaran lain. bahkan untuk kelas rendah, mata pelajaran ipa tidak muncul secara eksplisit, namun muncul dalam kd bahasa indonesia. dengan demikian, proses pembelajaran sains yang sebaiknya diterapkan oleh para pendidik lebih diperkuat dengan pembelajaran 5m pada kurikulum 2013. sesuai dengan teori perkembangan piaget di atas yang dihubungkan dengan karakteristik siswa sd dan hakikat sains, guru memiliki tugas penting dalam pencapaian dan keefektifan pembelajaran. tugas tersebut antara lain: a) memahami materi sains sebelum melakukan transfer ilmu kepada siswa kompetensi paedagogik harus dimiliki oleh seorang guru karena pengetahuan inilah yang akan ditanamkan pada kognitif siswa. b) memahami tingkat perkembangan siswa sd guru harus memahami bahwa siswa sd berada pada tahap perkembangan operasional konkret. hal ini bisa menginspirasi dalam pemilihan bahan pembelajaran/media yang akan dibawa, penentuan strategi, pendekatan, dan metode pembelajaran yang digunakan dalam upaya mewujudkan proses pembelajaran yang optimal. c) melakukan penilaian secara autentik dari serangkaian proses pembelajaran yang telah dilakukan. penilaian dalam kurikulum 2013 berbentuk penilaian otentik yaitu penilaian yang dilakukan secara komprehensif dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran yang melibatkan peserta didik. menurut sumarna (2004), penilaian otentik merupakan pendekatan penilaian secara realistis terhadap prestasi siswa. tiga ranah yang dinilai yakni ranah afektif, kognitif, dan psikomotor. penilaian afektif (sikap) dilakukan melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik, dan jurnal. instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik. penilaian kognitif melalui: tes tulis, tes lisan, dan penugasan. penilaian psikomot dilakukan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio. instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. model-model pembelajaran sains (ipa) hakikat sains sebagai proses, menekankan bahwa untuk mendapatkan suatu pengetahuan dilakukan melalui proses penelitian, mulai dari kegiatan mengamati, membuat hipotesis, merancang dan melakukan percobaan, sampai menyimpulkan. selain itu, melalui metode ilmiah, siswa menemukan dan mengkonstruksi pengetahuannya dengan berinteraksi sosial, baik dengan sesama teman, guru, maupun lingkungan sekitarnya. beberapa model pembelajaran ipa yang dapat diterapkan sesuai dengan konsep sains, antara lain: model pembelajaran konstruktivis, inquiri, keterampilan proses, stm (sains teknologi masyarakat), ipa terpadu, interaktif, siklus belajar (learning cycle), dan clis (children learning in science). a) model belajar konstruktivis model belajar konstruktivis menekankan pada pengetahuan awal siswa sebagai tolok ukur dalam belajar. prinsip yang paling esensial dari model ini adalah siswa memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah, bukan di bangku sekolah. menurut piaget, masuknya pengetahuan ke struktur kognitif siswa melalui dua cara yaitu asimilasi dan kedudukan dan aplikasi pendidikan sains ... (anatri desstya) 199 akomodasi. tahap-tahap pembelajaran konstruktivisme yakni: 1) tahap pengetahuan awal, 2) tahap eksplorasi, 3) tahap diskusi dan penjelasan konsep, dan 4) tahap pengembangan dan aplikasi konsep. b) model inquiri pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri suatu masalah yang dipertanyakan (wina sanjaya, 2006:1994). model ini menjadikan siswa sebagai subjek belajar. tahap pembelajarannya, antara lain: perumusan masalah, pengumpulan data, penyusunan hipotesis, melakukan eksperimen, mencatat hasil percobaan, penarikan kesimpulan, dan mengkomunikasikan. c) pendekatan keterampilan proses sains pendekatan keterampilan proses sains merupakan keterampilan intelektual yang digunakan untuk meneliti fenomena alam. aspek keterampilan proses sains yang disyaratkan untuk siswa sd adalah keterampilan mengamati, melakukan percobaan, mengelompokkan, menafsirkan hasil percobaan, meramalkan, menerapkan, mengomunikasikan, dan mengajukan pertanyaan. d) stm (sains teknologi masyarakat) stm merupakan model pembelajaran ipa/ teknologi dalam konteks pengalaman manusia. salah satu tujuan model stm adalah mengantisipasi kemajuan sains dan teknologi beserta dampaknya serta memasyarakatkan sains dan teknologi. segi positif dari pendekatan sts ini dapat digunakan untuk mengantisipasi hasil pendidikan ipa di sekolah dari berbagai kejadian atau gejala dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. banyak tingkah laku anggota masyarakat indonesia yang menunjukkan seakan-akan mereka belum menerima pendidikan ipa, atau pendidikan ipa di sekolah tidak ada dampaknya dalam cara hidup dan erpikir sebagian besar masyarakat indonesia. empat tahapan pembelajaran stm, yakni 1) invitasi, 2) eksplorasi, 3) penjelasan dan solusi, dan 4) tahap pengambilan tindakan. e) terpadu berdasarkan sifat keterpaduannya, pembelajaran terpadu dibedakan menjadi tiga, yakni model dalam satu disiplin ilmu, antarbidang, dan lintas siswa. salah satu bagiannya adalah pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual, baik di dalam maupun antarmata pelajaran akan memberi peluang bagi terjadinya pembelajaran efektif dan bermakna. f) interaktif model interaktif menitikberatkan pada pertanyaan siswa. siswa diberi kesempatan untuk mencari tahu objek yang akan dipelajari, kemudian melakukan penyelidikan tentang pertanyaan mereka sendiri sehingga dapat menemukan jawaban atas pertanyaannya. tahap pembelajarannya: 1) persiapan, 2) pengetahuan awal, 3) eksplorasi, 4) pertanyaan siswa, 5) penyelidikan, 6) pengetahuan akhir, dan 7) tahap refleksi. g) siklus belajar (learning cycle) model siklus belajar berorientasi pada peristiwa alami, saling berhubungan, atau prinsip-prinsip yang melibatkan beberapa konsep. model ini juga memberikan pengalaman nyata pada siswa dengan tujuan untuk mengembangkan pemahaman konseptual. tiga tahap pembelajarannya adalah: 1) eksplorasi, 2) pengenalan konsep, dan 3) penerapan konsep. h) clis (children learning in science) model belajar clis menekankan pada pengalaman belajar, mulai dari proses mengamati sampai melakukan sendiri. tahap pembelajarannya, yaitu 1) orientasi, 2) profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 193-200200 pemunculan gagasan, 3) penyusunan ulang gagasan, 4) penerapan gagasan, dan 5) pemantapan gagasan. simpulan dan saran pendidikan sains di sekolah dasar perlu diajarkan untuk menghadapi era teknologi di masa depan dengan memperhatikan beberapa aspek, antara lain: memahami hakikat sains, tingkat perkembangan anak dengan bertumpu pada teori konstruktivisme dan teori perkembangan jean piaget, dan menerapkan pembelajaran saintifik yang dipadukan dengan berbagai variasi model pembelajaran ipa, antara lain: konstruktivis, inquiri, keterampilan proses sains, stm, terpadu, interaktif, learning cycle, dan clis. daftar pustaka anderson, r.d & c.p. 1994. research on science teachers education. new york ny: macmilan. aunurrahman. 2009. belajar dan pembelajaran. bandung: alfabeta. samatowa, usman. 2011. pembelajaran ipa di sekolah dasar. jakarta: pt indeks. suparno, paul. 1997. filsafat konstruktivisme dalam pendidikan. yogyakarta: kanisius. wuryastuti, sri. 2008. “inovasi pembelajaran ipa di sekolah dasar”, no 9 (www.indonesian.journalcourse.com/doc/6018-inovasi-pembelajaran-ipa-di-sekolah-dasar-file-upijournal-inovasi pendidikan. diakses 21 oktober 2014). peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia nomor 66 tahun 2013 tentang standar penilaian pendidikan. hubungan kecocokan antara tipe kepribadian dan model lingkungan ... (alpha ariani) 1 hubungan kecocokan antara tipe kepribadian dan model lingkungan belajar dengan motivasi belajar pada mahasiswa pgsd universitas achmad yani banjarmasin alpha ariani fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas achmad yani banjarmasin abstract primary schools aims to form the younger generation who have morals, values and character that tends to be a productive, creative, innovative, and affective . elementary school teachers are one of the key success in shaping the next generation therefore elementary school teachers must have the professional ability, attitude and personality. university achmad yani banjarmasin as one of the colleges that will generate prospective elementary teachers has to make efforts so that the demands of the professional needs of elementary school teachers in the community can be met. teacher professional must have pedagogical, social competence, professional competence, and personality competence. several efforts should be made starting from the right curriculum, condusive learning process, quality of faculty, and building positive character of the student. based on preliminary observations, primary education students come from many levels. besides, they have a variety of purposes and reasons for studying. this leads to the diversity of motivation in their studies .therefore, it is necessary to study on compatibility relationship between personality type and model learning environment with students learning motivation. the result of this study can be used as one consideration in selection of new students to enter primary education department. keywords: relationships, compatibility between personality type and model learning environment, motivation. pendahuluan kurang lebih lima tahun terakhir ini, posisi guru mendominasi kuota penerimaan cpns di setiap kabupaten, kota dan provinsi di indonesia. seperti pada penerimaan cpns di kabupaten, kota yang berada di provinsi kalimantan selatan pada tahun 2013 yang baru lalu, prosentase untuk posisi guru berkisar antara 55% sampai dengan 80% dari kuota posisi yang lain.(www.bapustarda-kalsel.go.id). hal ini dapat menjadi indikator betapa besarnya kebutuhan sumber daya manusia di dunia pendidikan (khususnya profesi guru) dan sekaligus memutarbalikan fakta bahwa beberapa tahun lalu profesi ini sempat menjadi profesi yang tidak menarik bagi generasi muda. saat ini profesi guru menjadi primadona baik bagi generasi muda maupun orang tua yang memiliki anak yang akan menempuh pendidikan tinggi. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 1-72 besarnya kebutuhan tenaga guru ditunjukan oleh salah satu kabupaten di provinsi kalimantan selatan yaitu kabupaten banjar. pada tahun 2013, kabupaten banjar membutuhkan 400 tenaga guru akan tetapi pemerintah pusat hanya mengalokasikan 35 orang saja. di kabupaten tapin mendapatkan kuota 90 orang tenaga guru. besarnya kebutuhan tenaga guru tentu saja bukan hanya di instansi pemerintah saja namun juga di lembaga pendidikan swasta. pemerintah mencanangkan 9 tahun wajib belajar dan sekolah dasar merupakan pendidikan dasar yang harus ditempuh oleh anak. dalam kurikulum 2013, kurikulum sd menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif dan lebih menekankan pada pembentukan moral, nilai-nilai dan karakter anak sehingga menjadi individu yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif. guru sekolah dasar (sd) merupakan ujung tombak keberhasilan dalam membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas. oleh karenanya harus benar-benar memiliki kemampuan, sikap profesional yang tinggi dan kepribadian yang sesuai agar dapat mendidik siswanya menjadi berkualitas baik dari segi psikis maupun mental spiritual. berdasarkan uu no. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang menyatakan guru profesional selain memiliki kualifikasi akademik minimal s1, juga harus memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, komp etensi sosial, kompetensi profesional, dan kompetensi kepribadian. dalam usaha memenuhi kebutuhan guru sd dengan kualifikasi memiliki keempat kompetensi tersebut universitas achmad yani banjarmasin sejak tahun 2010 membuka dan menyelenggarakan prodi pendidikan guru sekolah dasar. berdasarkan jumlah calon mahasiswa yang mendaftar sekitar 80% yang mendaftar di prodi pgsd. hal ini menunjukan besarnya animo masyarakat untuk menjadi guru sd. keberhasilan pendidikan yang diselenggarakan suatu lembaga pendidikan dapat dilihat dari kualitas lulusannya (out come). agar lulusan prodi pgsd universitas achmad yani banjarmasin dapat menjawab dan memenuhi kebutuhan tenaga guru sd yang profesional maka perlu memperhatikan kurikulum, pelaksanaan proses pembelajaran, sarana prasarana, kualifikasi akademik dosen, dan faktor internal dari mahasiswa itu sendiri. beberapa faktor internal dari mahasiswa yang dapat mempengaruhi keberhasilan pendidikannya adalah motivasi, minat, potensi intelektual, kemampuan belajar, dan kepribadian. berdasarkan observasi awal diperoleh informasi bahwa ada mahasiswa yang dipaksa oleh orang tuanya untuk kuliah di pgsd karena orang tuanya juga seorang guru sd, ada yang memang berminat untuk menjadi guru sd, dan ada juga yang terpengaruh oleh temannya yang juga (sudah) kuliah di pgsd. ada mahasiswa yang murni sebagai pelajar, dalam artian tidak sambil bekerja, namun ada juga yang sambil bekerja sebagai kasir, sebagai pramuniaga, sebagai sales, bagian umum, guru paud dan lain sebagainya. pilihan bidang studi yang ditekuni dan pilihan bidang pekerjaan yang digeluti menggambarkan tipe kepribadian seseorang. menurut holland, minat dan kemampuan membuat orang cenderung berpikir, memandang sesuatu, dan bertingkah laku dengan cara tertentu. minat, cara pandang dan kemampuan merupakan bagian dari kepribadian. kepribadian akan mengarahkan seseorang untuk memilih pekerjaan tertentu. salah satu cara mempersiapkan diri untuk mendapatkan pekerjaan sesuai kepribadiannya yaitu dengan memilih bidang studi yang sejalur dengan pekerjaan tersebut sehingga memiliki bekal secara teoritis maupun praktis. sikap mahasiswa dalam mengikuti proses belajar mengajar juga beraneka macam. ada hubungan kecocokan antara tipe kepribadian dan model lingkungan ... (alpha ariani) 3 yang sangat bersemangat, mengerjakan dengan sungguh-sungguh setiap tugas yang diberikan dosen, ada yang menyelesaikan tugasnya dengan sekedarnya saja, ada yang sering tidak masuk kuliah, ada yang selalu duduk di barisan depan, ada yang senang duduk di barisan belakang, ada yang mencari dan bertanya buku-buku yang bisa dijadikan referensi, tetapi ada juga yang pasif. semua itu menunjukan seberapa besar motivasi belajarnya. dimilikinya motivasi yang tinggi menyebabkan mau berusaha keras sehingga pada akhirnya mendapatkan ilmu dan mencapai hasil belajar yang optimal, demikian sebaliknya. pembahasan tipe kepribadian dan model lingkungan teori mengenai tipe kepribadian dan model lingkungan diambil dari teori mengenai karir yang diungkapkan oleh john l. holland. beberapa asumsi dari teori ini yaitu: 1. seseorang dapat dikategorikan ke dalam salah satu tipe kepribadian, yaitu realistic (r), investigative (i), artistic (a), social (s), enterprising (e), dan conventional (c). makin mirip seseorang dengan suatu tipe tertentu makin besar kemungkinannya menunjukan sifat-sifat kepribadian dan tingkah laku yang berhubungan dengan tipe tersebut. setiap tipe merupakan hasil interaksi dari beberapa hal termasuk diantaranya peran kebudayaan, orang tua, teman sebaya, kelas sosial, dan lingkungan fisik. dari pengalaman ini orang pertama-tama menyukai aktivitas tertentu dan menjauhi aktivitas lain. aktivitas yang terpilih ini kemudian menjadi minat yang kuat, dan minat tersebut tumbuh menjadi kemampuan tertentu yang khusus. akhirnya minat dan kemampuan membentuk sifat yang berpengaruh kuat kepada cara berpikir, memandang sesuatu, dan bertindak. 2. lingkungan hidup orang dapat dikategorikan ke dalam enam model lingkungan, yaitu realistic (r), investigative (i), artistic (a), social (s), enterprising (e), dan conventional (c). setiap lingkungan didominasi oleh satu tipe kepribadian dan tiap lingkungan mempunyai ciri fisik tertentu yang menumbuhkan masalahmasalah dan stress tertentu. misalnya lingkungan realistic didominasi oleh otang bertipe realistic. 3. perpasangan antara kepribadian dan lingkungan memberikan hasil seperti pilihan kerja, kestabilan kerja, prestasi, pilihan pendidikan, dan tingkah laku sosial. manusia mencari lingkungan yang memberinya kesempatan untuk menggunakan keterampilan dan kemampuannya, serta mengekspresikan sikap dan nilai hidupnya. dengan demikian manusia mengambil peran dan masalah yang dapat diterimanya. tipe orang realistic akan mencari lingkungan yang realistic juga, dan seterusnya. dalam batasbatas tertentu lingkungan pun mencari orang melalui perkenalan dan seleksi. 4. tingkah laku orang ditentukan oleh interaksi antara kepribadian dan karakteristik lingkungan. dengan mengetahui pola kepribadian seseorang dan pola lingkungannya, pada prinsipnya kita dapat memperkirakan hasil interaksi atau perpasangan tipe-tipe tersebut, khususnya dalam lingkup pekerjaan. enam tipe kepribadian yang dikemukakan holland lebih memperhatikan kegiatan, kemampuan, nilai-nilai dan minat. gambaran keenam tipe kepribadian tersebut adalah : 1.tipe realistic, pembawaan dan pengalaman khusus dari orang realistic mengarahkannya lebih menyukai kegiatan yang melibatkan manipulasi obyek, alat, mesin, binatang secara eksplisit, teratur atau sistematis. kecenderungan tingkah laku ini membawa kemahiran dalam kemampuan manual, mekanikal, pertanian, elektrikal, serta teknik, dan kekurangan dalam kemampuan sosial dan pendidikan. 2. tipe investigative, pembawaan dan pengalaman khusus dari orang investigative mengarahkannya lebih menyukai kegiatan yang menuntut investigasi yang sifatnya observasional, simbolik, sistematik, dan kreatif dalam menghadapi gejala fisik, biologik, dan budaya. ia menghindari kegiatan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 1-74 persuasif, sosial, dan rutin. kecenderungan tingkah laku ini membawa kepada kemahiran dalam kemampuan ilmiah dan matematik, dan kekurangmampuan dalam persuasif. 3. tipe artistic, pembawaan dan pengalaman khusus dari orang artistic mengarahkannya lebih menyukai kegiatan yang tidak pasti, bebas dan tidak sistematis yang menuntut manipulasi fisik, verbal, dan obyek untuk menciptakan produk atau bentuk seni, dan menghindari kegiatan yang eksplisit, sistematis, dan rutin. kecenderungan tingkah laku ini membawa pada kemahiran dalam kemampuan artistic (bahasa,seni, musik, drama, tulisan) dan kekurangmampuan dalam sistemusaha atau administrasi. 4. tipe social, pembawaan dan pengalaman khusus orang social mengarahkannya lebih menyukai kegiatan yang menuntut manipulasi orang lain untuk memberi informasi, latihan, pengembangan, pemeliharaan, atau penerangan, dan menghindari kegiatan yang sifatnya eksplisit, sistematis, dan benturan yang melibatkan bahan, alat, atau mesin. kecenderungan tingkah laku ini akan membawa pada kemahiran dalam kemampuan berhubungan dengan orang lain seperti kemampuan interpersonal dan pendidikan, dan kekurangmampuan dalam bidang teknik. 5. tipe enterprising, pembawaan dan pengalaman khusus orang tipe ini mengarahkannya lebih menyukai kegiatan yang menuntut manipulasi orang lain untuk mencapai tujuan organisasi atau sasaran ekonomi, dan menghindari kegiatan observasional, simbolis, dan sistematis. kecenderungan tingkah laku ini akan membawa pada kemahiran dalam kepemimpinan, kemampuan interpersonal dan mempengaruhi orang lain, dan kekurangmampuan dalam bidang ilmiah. 6. tipe conventional, pembawaan dan pengalaman khusus orang conventional mengarahkannya lebih menyukai kegiatan yang menuntut manipulasi data yang sifatnya eksplisit, beraturan dan sistematis, seperti pencatatan, reproduksi, pendataan bahan, pengaturan data tertulis atau angka menurut rencana yang telah ditentukan, menjalankan mesin pengolahan data, dan menghindari kegiatan yang sifatnya tidak pasti, bebas, penyelidikan atau kurang sistematis. kecenderungan tingkah laku ini membawa kemahiran dalam kemampuan administrasi, komputasional, dan sistem usaha, dan kekurangmampuan dalam bidang artistik. demikian halnya dengan model lingkungan. terdapat enam model lingkungan yaitu realistic, investigative, artistic, social, enterprising, dan conventional, yang kesemuanya memiliki gambaran seperti pada kepribadian di atas. apa yang dipandang sebagai lingkungan, umumnya merupakan hal-hal yang kita dapatkan dari orang-orang dalam lingkungan itu. hal ini berarti bahwa ciri-ciri lingkungan mencerminkan ciri-ciri dari anggota lingkungan itu dan ciri dominan suatu lingkungan mencerminkan ciri khas dari anggotanya. kecocokan tipe kepribadian dengan model lingkungan hubungan seseorang dengan lingkungannya dapat ditentukan menurut derajat congruence dengan menggunakan model heksagonal seperti di bawah ini : hubungan kecocokan antara tipe kepribadian dan model lingkungan ... (alpha ariani) 5 derajat paling besar terjadi jika suatu kepribadian berada dalam lingkungan yang cocok, misalnya tipe realistic dalam lingkungan realistic. derajat kecocokan berikutnya terjadi jika suatu tipe kepribadian berada dalam lingkungan sebelahnya, misalnya tipe realistic di lingkungan investigative atau conventional. pribadi realistic dalam lingkungan artistic atau enterprising merupakan derajat kecocokan ketiga. terakhir, derajat ketidakcocokan yang tertinggi terjadi jika suatu kepribadian berada dalam lingkungan yang berlawanan, misalnya realistic dalam lingkungan sosial. dengan menggunakan model heksagonal empat tingkat kecocokan dapat terjadi untuk setiap tipe, yaitu cocok, agak cocok, kurang cocok, tidak cocok. motivasi motif mempunyai peranan penting di dalam kehidupan manusia sehari-hari karena motif merupakan dasar dari tingkahlaku manusia. menurut munandar (2001:7.2) motif merupakan suatu kesediaan atau suatu dorongan yang berasal dari dalam diri seseorang yang mengarahkan orang tersebut untuk bertingkahlaku. bimowalgito (2010 : 240) menyebut motif sebagai dorongan yang datang dari dalam untuk berbuat. branca (dalam bimowalgito, 2010 :240) menyebut motif sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat atau merupakan driving force. motif sebagai pendorong pada umumnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling kait mengait dengan factor lain. hal-hal yang dapat mempengaruhi motif disebut motivasi. motivasi merupakan keadaan dalam diri individu yang mendorong perilaku kearah tujuan. dengan demikian dapat dikemukakan bahwa motivasi itu mempunyai 3 aspek yaitu (1) keadaan terdorong dalam diri organism; (2) perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan ini; (3) goal atau tujuan yang dituju oleh perilaku tersebut (morgan, 1984). salah satu teori motivasi adalah teori motivasi social yang dikemukakan oleh david mc. clelland (1974). motif social merupakan gambar 1 : model heksagonal interaksi antara tipe kepribadian dan model lingkungan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 1, juli 2014: 1-76 motif yang kompleks, yang merupakan sumber dari banyak perilaku atau perbuatan manusia. menurut mc. clelland tingkah laku individu dimotivasi oleh 3 kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan akan berprestasi (need for achievement), kebutuhan akan persahabatan (need for affiliation), dankebutuhan akan kekuasaan (need for power). penjelasan secara detil tentang ketiga motif tersebut adalah sebagai berikut (mc. clelland dalam munandar): 1. kebutuhan akan berprestasi, merupakan kebutuhan atau keinginan untuk berprestasi lebih baik atau menganggap berprestasi lebih baik itu adalah penting. orang yang mempunyai kebutuhan akan berprestasi yang tinggi akan mempunyai performance yang lebih baik daripada orang yang mempunyai kebutuhan berprestasi yang rendah. ciri-ciri tingkah laku orang yang memiliki dorongan berprestasi yang tinggi adalah : • bertanggung jawab sepenuhnya atas perbuatan-perbuatannya • berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru • mencari hasil penilaian dari apa yang telah dikerjakannya • memilih resiko yang sedang (moderat) didalam menyelesaikan tugas 2. kebutuhan akan persahabatan (affiliation), merupakan kebutuhan atau keinginan bersahabat atau berada bersama orang lain. seseorang yang memiliki dorongan persahabatan yang tinggi akan memperlihatkan ciri-ciri tingkah laku sebagai berikut: • lebih suka bersama orang lain daripada sendirian • sering berhubungan dengan orang lain, misalnya bercakap-cakap • lebih memperhatikan segi hubungan pribadi dalam pekerjaan daripada segi tugas-tugas yang ada • melakukan pekerjaan lebih giat apabila bekerja bersama-sama dengan orang lain 3. kebutuhan akan kekuasaan, merupakan kebutuhan atau keinginan untuk memiliki pengaruh terhadap orang lain. kebutuhan ini timbul dan berkembang dalam interaksi sosial. orang yang mempunyai kebutuhan akan kekuasaan yang tinggi akan memberikan kontrol, mengendalikan atau memerintah orang lain. seseorang yang mempunyai dorongan kekuasaan yang tinggi akan memperlihatkan ciri-ciri tingkah laku sebagai berikut : • sangat aktif dalam menentukan tujuan kegiatan dari organisasi dimana ia berada. • mudah tergerak oleh bentuk pengaruh antar pribadi dari kelompok atau organisasi. • mengumpulkan barang-barang atau menjadi anggota suatu perkumpulan yang dapat mencerminkan harga diri. • berusaha menolong orang lain walaupun pertolongan itu tidak diminta. menurut mc. clelland (dalam munandar, 2001) ketiga kebutuhan pokok ini secara bersama-sama mendasari tingkah laku individu sehari-hari, hanya saja derajat kekuatannya tidak sama. pada suatu situasi, mungkin kebutuhan akan persahabatan lebih kuat, namun pada situasi lain mungkin kebutuhan akan kekuasaan yang lebih berperan. jadi kebutuhan mana yang lebih mendominasi tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh situasi dimana tingkah laku tersebut akan muncul. hubungan kecocokan antara tipe kepribadian dan model lingkungan ... (alpha ariani) 7 penutup profesi guru sekolah dasar akan sesuai untuk individu dengan tipe social. hal ini karena pembawaan dan pengalaman khusus orang social mengarahkannya lebih menyukai kegiatan yang menuntut manipulasi orang lain untuk memberi informasi, latihan, pengembangan, pemeliharaan, atau penerangan, dan menghindari kegiatan yang sifatnya eksplisit, sistematis. kecenderungan tingkah laku ini akan membawa pada kemahiran dalam kemampuan berhubungan dengan orang lain seperti kemampuan interpersonal dan pendidikan. mahasiswa dengan tipe kepribadian sosial, akan menikmati proses pembelajaran di prodi pgsd karena proyeksi pekerjaan yang akan dilakukan kelak sesuai dengan tipe kepribadian, materi perkuliahan, dan iklim yang ada juga sesuai kepribadian mahasiswa tersebut. kondisi tersebut akan menumbuhkan motivasi belajar sehingga diharapkan ilmu yang diberikan dapat diserap maksimal dan prestasinya akan baik. daftar pustaka ariani, alpha. 1993. hubungan kecocokan antara tipe kepribadian dan model lingkungan kerja dengan keikatan terhadap perusahaan. bandung : skripsi hadi, sutrisno. 2004. metodologi research. jilid 1. yogyakarta : penerbit andi hadi, sutrisno. 2004. metodologi research. jilid 2. yogyakarta : penerbit andi holland, john,l. 1985. making vocational choice : a theory of vocational personalities and work environment. second edition. new jersey : prentice-hall, inc. englewood cliffs. margono. 2003. metodologi penelitian pendidikan. jakarta : rineka cipta. dalam pendidikan di era globalisasi munandar, as. 2001. psikologi industri. jakarta : universitas terbuka morgan, king, robinson. 1984. introduction to psychology. singapore : mcgraw-hill book co. walgito, bimo. 2010. pengantar psikologi umum. yogyakarta : cv. andi offset winarsunu, tulus. 2006. statistik dalam penelitian psikologi dan pendidikan. malang : universitas muhamadiyah malang. page 1 page 2 e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 keterampilan guru menerapkan keterampilan.......(ika candra sayekti dan arum mawar k) 97 kemampuan guru menerapkan keterampilan proses sains dalam pembelajaran ipa pada siswa sekolah dasar ika candra sayekti1); arum mawar kinasih2) 1fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta email: 1ics142@ums.ac.id; 2arummawar07@gmail.com abstract this research was intend to know the implementation of scientific process skills in elementary school of muhammadiyah 14 surakarta. it was qualitative research. the subject of this research was students on grade iv b. the data was obtained by observation, interview, and documentation. observation was conducted by observing learning process on subject science. the interview used to get data of scientific process skill that is planned on subject science. the documentation that was used was lesson plan an others. data validation was conducted through triangulation. the results of this research were: teacher has prepared lesson plan that implement science process skill on its learning process, the teacher planned all the basic aspect of science process skills, such as: observing, classifying, measuring, predicting, inferring, and communicating. along the learning process, the learning process was not conducted as written on learning process. the teacher got some hindrance to implement science process skill such as the minimum understanding of the teacher on science process skill and also teacher’s skill on time and class management. keywords: science process science, science, elementary school pendahuluan guru sekolah dasar harus dapat berperan menjadi guru kelas maupun guru mata pelajaran karena tuntutan kurikulum yang berlaku. kurikulum yang diimplementasikan oleh berbagai sekolah pada saat ini masih beragam, terdapat sekolah yang masih menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (ktsp) dan kurikulum 2013. sekolah dasar muhammadiyah 14 surakarta merupakan sekolah yang masih menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (ktsp). pada ktsp, pembelajaran pada kelas i s.d. iii dilaksanakan melalui tematik, sedangkan kelas iv s.d. kelas vi dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. oleh karena itu calon guru sekolah dasar harus menguasai berbagai kompetensi untuk setiap bidang ilmu yang dipelajari di sekolah dasar dan karakteristiknya. guru sebagai agen pembelajaran harus memiliki empat kompetensi seperti yang telah ditentukan dalam undang-undang tentang nomor 14 tahun 2005, seorang guru wajib memiliki segenap kompetensi untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. kompetensi tersebut meliputi kemampuan pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang dapat ditempuh melalui pendidikan profesi. kompetensi pedagogi adalah kemampuan mengelola pembelajaran; kompetensi kepribadian merupakan kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik; kompetensi professional merupakan kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam; adapun kompentesi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan beriteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat luar. oleh mailto:ics142@ums.ac.id p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 98 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 97 105 karena itu, calon guru harus menyiapkan diri untuk memenuhi empat kompetensi di atas. pada penelitian ini dikaji kompetensi guru dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam (ipa), terutama dalam penanaman keterampilan proses sains pada pembelajaran. ipa pada ktsp berdiri sebagai mata pelajaran. berdasarkan permendikbud 22 tahun 2016, mata pelajaran ipa di sd memiliki tujuan agar peserta didik memperoleh keyakinan terhadap kebesaran tyme berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan-nya, mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep ipa yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalama kehidupan sehari-hari; mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif, dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara ipa, lingkungan, teknologi, dan masyarakat; mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan; meningkatkan kesardaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam; meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan tuhan serta memperoleh bekal pengetauan, konsep, dan keterampilan ipa sebagai bekal untuk melanjutkan jenjang selanjutnya. berdasarkan tujuan di atas, jelas bahwa tujuan akhir pembelajaran ipa tidak sebatas pada penguasaan konsep, akan tetapi lebih dari itu, siswa diharapkan dapat mengaitkan antara konsep yang dipelajari dengan penerapannya dalam kehidupan, dikembangkan sikap ilmiahnya melalui pemahaman terhadap alam, serta siswa diasah keterampilan mental dan fisiknya untuk dapat berperan terhadap permasalahanpermasalahan di lingkungan sekitarnya. hal ini perlu diberikan untuk menyiapkan generasi penerus untuk hidup dalam sebuah komunitas teknologi, di mana penemuanpenemuan semakin berkembang, yang memegang peranan di era sekarang (osman, 2012). untuk itu pembelajaran ipa di sekolah dasar didesain agar siswa mengalami proses, bukan sekedar duduk manis menerima sekumpulan pengetahuan dari guru. ipa di sekolah dasar sebaiknya dilaksanakan dengan melibatkan alam sekitar sehingga siswa dapat menjelajah alam sekitar melalui inkuiri ilmiah (mariana dan praginda, 2008). melalui proses menemukan sendiri siswa akan belajar untuk berpikir, menyelesaikan masalah-masalah, serta siswa dapat belajar untuk mengambil keputusan secara bijaksana sehingga keterampilan berpikirnya terasah karena terdapat ruang untuk mengembangkannya (mutlu dan temiz, 2013). oleh karena itu dalam proses pembelajaran ipa selalu menekankan implementasi hakikat ipa. hakikat ipa meliputi hakikat ipa sebagai produk, proses dan sikap. hakikat ipa sebagai produk meliputi: fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, serta model. hakikat ipa sebagai proses memberikan gambaran bahwa ipa merupakan proses penemuan untuk menyusun pengetahuan yang meliputi: observasi, eksperimen, penyimpulan, dan lain-lain. sedangkan hakikat ipa sebagai sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak sikap dapat dipandang sebagai sikap-sikap yang melandasi proses ipa, meliputi: rasa ingin tahu, jujur, objektif, kritis, terbuka, disiplin, dan lain-lain. pada penelitian ini akan dibatasi pada aspek keterampilan proses sains (kps). e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 keterampilan guru menerapkan keterampilan.......(ika candra sayekti dan arum mawar k) 99 terdapat dua macam kps, yaitu keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terintegrasi. keterampilan proses dasar meliputi mengamati, mengklasifikasi, mengkomunikasikan, mengukur, menyatakan hubungan ruang dan waktu, menggunakan gambar, menginferensi dan memprediksi. sedangkan, keterampilan proses terintegrasi meliputi mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi dan mengontrol variabel, memformulasi hipotesis, menginterpretasi data, mendefinisi operasional, membaca grafik dan melakukan percobaan (rauf et al., 2013; yeany et al., 1984; germann et al., 1996; padilla, 1990 dalam aydogdu, 2015). bagi siswa sd penting sekali memiliki keterampilan proses dasar untuk membekali diri. dalam penelitian ini kps dibatasi pada kps dasar, yang meliputi keterampilan mengobservasi, mengukur, mengklasifikasi, memprediksi, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. menyikapi hal tersebut, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kompetensi guru dalam menanamkan keterampilan proses sains di sekolah dasar. metode penelitian penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif, menggunakan rancangan penelitian naratif (creswell, 2015). penelitian ini dilaksanakan di sd muhammadiyah 14 surakarta yang beralamat di jalan sri kuncoro nomor 12 surakarta. penelitian ini dilaksanakan pada bulan november 2015 hingga juni 2016 subjek penelitian merupakan seseorang atau sesuatu yang dapat memberikan keterangan tentang hal yang diteliti. subjek utama penelitian ini adalah siswa kelas iv b serta guru pengampu ipa di kelas tersebut. pada penelitian ini pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi. observasi adalah mengumpulkan catatan lapangan (creswell, 2015). observasi dilakukan dengan mengamati dan mencatat langsung terhadap objek penelitian yaitu dengan mengamati proses pembelajaran ipa di kelas iv b di sd muhammadiyah 14 surakarta. wawancara kualitatif terjadi ketika peneliti menanyakan berbagai pertanyaan terbuka kepada partisipan atau lebih dan mencatat jawaban mereka (creswell, 2015: 429). wawancara digunakan terkait rencana penanaman kps dalam pembelajaran. dokumentasi yang digunakan peneliti berupa rpp, serta dokumen lainnya. penelitian ini menggunakan metode analisis data secara deskriptif yang bersifat induktif, yaitu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu (sugiyono, 2015). analisis data dilakukan secara terus menerus dari awal sampai akhir penelitian. miles dan huberman (sugiyono, 2015: 337) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. aktivitas yang dilakukan dalam analisis data yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification (sugiyono, 2015). untuk menguji validitas data dilakukan dengan metode triangulasi sumber. triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang diperoleh dengan berbagai sumber, yaitu siswa keas iv dan guru ipa. triangulasi teknik dilakukan dengan mengecek data pada sumber yang sama dengan berbeda teknik, misalnya observasi, wawancara, dan dokumentasi. apabila ketiga teknik pengujian kredibilitas menghasilkan data yang berbeda, maka p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 100 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 97 105 peneliti melakukan diskusi lebih lanjut pada sumber data yang bersangkutan untuk memastikan data yang paling benar. hasil dan pembahasan pada penelitian ini akan dibahas tentang kompetensi guru dalam menanamkan kps pada pembelajaran ipa, meliputi: perencanaan guru dalam rencana impementasi kps, proses penanaman kps, dan faktor pendukung dan penghambat yang dialami guru dalam penanaman kps di sdm 14 surakarta pada siswa iv b. sekolah ini masih menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan atau ktsp sehingga ipa berdiri sendiri sebagai mata pelajaran. penelitian ini dibatasi pada bab energi yang meliputi kompetensi dasar: 8.1. mendeskripsikan energi panas dan bunyi yang terdapat di lingkungan sekitar serta sifat-sifatnya; 8.2. menjelaskan berbagai bentuk energi alternatif dan cara penggunaannya; 8.3. membuat suatu karya/ model untuk menunjukkan perubahan energi gerak akibat pengaruh udara, misalnya roket dari kerta/baling-baling/pesawat kertas/parasut; 8.4. menjelaskan perubahan energi dan cara penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. data hasil penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dapat dijelaskan sebagai berikut: rencana penanaman kps pada siswa rencana penanaman keterampilan proses sains (kps) dituangkan dalam rpp yang disusun oleh guru. rpp yang disusun guru telah memenuhi standar yang ditentukan dalam standar proses pada ketentuan permendiknas nomor 40 tahun 2007. kegiatan-kegiatan yang menggambarkan penanaman kps tampak pada kegiatan pembelajaran. penanaman kps ini direncanakan melalui metode ceramah untuk bagian tertentu, tanya jawab interaktif dan praktek. guru merencanakan pemunculan gagasan siswa melalui diskusi baik secara lisan maupun tertulis, memberikan kesempatan untuk berpikir, menganalisis, serta menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut. siswa juga difasilistasi untuk dapat menarik kesimpulan. guru pun merencanakan pemberian fasilitas kepada siswa dalam membuat laporan eksplorasi serta menyajikan hasil kerjanya baik secara individu maupun kelompok. selain itu, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat membuat karya atau model tentang perubahan energi. berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan bahwa guru sudah merencanakan pembelajaran dengan menanamkan kps dengan baik. baik di sini dalam artian bahwa guru sudah merencanakan kps di dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. pada kegiatan pembelajaran dituliskan bahwa guru melibatkan partisipasi peserta didik secara aktif, pembelajaran juga mengutamakan pada pemberian pengalaman langsung kepada peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. seperti misalnya melalui kegiatan diskusi, praktek serta penyediaan fasilitas pembelajaran untuk mengeksplorasi kemampuan siswa baik secara individu maupun secara kelompok. hal tersebut sesuai dengan permendiknas nomor 41 tahun 2007 menjelaskan bahwa dalam menyusun perencanaan pembelajaran guru juga perlu memperhatikan prinsip-prinsip penyusunan rpp diantaranya yaitu guru harus memperhatikan partisipasi aktif peserta didik serta mendesain pembelajaran yang berpusat e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 keterampilan guru menerapkan keterampilan.......(ika candra sayekti dan arum mawar k) 101 pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, mtivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian. selain itu, perencanaan yang disusun oleh guru menuntut peserta didik untuk melakukan percobaan atau praktek. percobaan atau praktek sangat penting dilakukan sebagai salah satu cara untuk menanamkan kepada peserta didik mengenai ketrampilan proses sains. seperti hal nya yang diungkapkan oleh subali (2013: 376) bahwa pembelajaran ipa yang kreatif pada dasarnya peserta didik diminta untuk melakukan penemuan atau inkuiri (inquiry) secara terbuka, atau mengerjakan tugas-tugas yang berkait dengan penyelidikan sehingga peserta didik melakukan kegiatan seperti kegiatan kreatif yang dilakukan oleh ilmuwan dalam melakukan riset ilmiah. kps yang disusun oleh guru dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp) meliputi kegiatan mengamati yang direncanakan melalui pengamatan tentang macam-macam bentuk energi, demonstrasi dari guru tentang percobaan parasut sederhana. keterampilan mengkomunikasikan direncanakan oleh guru dalam rpp berupa kegiatan pemberian kesempatan kepada peserta didik terhadap hasil kerja secara individual maupun kerja kelompok. selaras dengan yang disampaikan oleh suryosubroto dalam setiawan (2013: 6) bahwa ada beberapa langkah-langkah yang harus dilalui oleh guru dalam menggunakan keterampilan proses yaitu dalam proses belajar mengajar, guru hendaknya selalu mengikutsertakan siswa secara aktif guna mengembangkan kemampuan-kemampuan siswa antara lain kemampuan mengobservasi, merencanakan dan melaksanakan penelitian, serta mengkomunikasikan hasil penemuannya. proses penanaman kps pelaksanaan penanaman kps pada siswa kelas iv b dapat dijelaskan sebagai berikut, guru memberikan kesempatan kepada siswa pada beberapa kegiatan pembelajaran, hal ini tampak pada satu kegiatan di mana guru memfasilitasi kegiatan pengamatan terhadap macam-macam energi untuk menanamkan keterampilan mengamati. selain itu guru juga meminta siswa mengamati saat guru melakukan demonstrasi parasut. dalam hal ini siswa diminta menunjukkan perubahan energi gerak akibat pengaruh udara. pada keterampilan mengkomunikasikan guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan hasil diskusi kelas baik secara individu maupun kelompok. pada aspek teknik dalam menanamkan kps, guru belum maksimal menyiapkan teknik penanaman kps kepada siswa karena metode yang digunakan baru sebatas diskusi, demonstrasi, ceramah dan tanya jawab yang sedikit berbeda dengan rpp yang disusun. melalui metode diskusi, guru dapat menanamkan keterampilan mengkomunikasikan suatu bahan pembelajaran. metode demonstrasi membantu siswa dalam melatih keterampilan mengamati. metode tanya jawab yang bervariasi digunakan untuk menanamkan keterampilan mengkomunikasikan, mengklasifikasikan secara verbal kepada siswa. meskipun demikian, metode ceramah menjadi metode yang paling dominan dalam pembelajaran. pada aspek pemberian kesempatan diskusi, guru memberikan kesempatan untuk berdiskusi kepada siswa dalam kelompok dengan anggota 3 s.d. 4 siswa per kelompok. adapun pada aspek review pembelajaran, guru mendorong adanya review dari setiap p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 102 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 97 105 kegiatan yang telah dilaksanakan, hal ini diberikan guru pada tahap konfirmasi dengan bertanya kepada siswa. berdasarkan hal tersebut tampak bahwa penanaman keterampilan proses pada pembelajaran ipa pada kelas iv b belum maksimal. poin kps yang dapat diperoleh terbatas pada keterampilan mengamati dan mengkomunikasikan. guru belum melaksanakan penilaian kps pada siswa secara detail, guru biasanya hanya menilai aspek kognitif dan keaktifan siswa selama pembelajaran. hal tersebut disebabkan karena manajemen waktu yang belum optimal serta penguasaan terhadap kps yang masih terbatas. penilaian dalam pembelajaran ipa hendaklah mampu mengungkap kemampuan siswa secara keseluruhan karena dalam dalam kegiatan pembelajaran khususnya ipa, peserta didik tidak hanya dituntut untuk memiliki skor atau hasil belajar yang tinggi, tetapi peserta didik juga perlu memiliki keterampilan dalam melakukan penyelidikan atau penemuanpenemuan. oleh karena itu guru menyusun penilaian secara keseluruhan, seperti hal nya yang disampaikan di dalam permendiknas nomor 20 tahun 2007 menyatakan bahwa salah satu prinsip dalam melakukan penilaian yaitu menyeluruh dan berkesinambungan. penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta didik. dalam pembelajaran ipa guru tidak hanya menilai peserta didik dalam hal kognitif saja, tetapi guru perlu menilai proses atau setiap hal yang dilakukan oleh peserta didik sebagai rangkaian dari proses pembelajaran. sehingga dalam pembelajaran ipa setiap keterampilan yang dilakukan oleh peserta didik dapat dijadikan sebagai acuan penilaian. jadi penilaian tidak hanya mentikberatkan pada penilaian kognitif saja tetapi dapat berupa penilaian-penilaian yang lain yang mendukung kegiatan penanaman kps pada peserta didik. selaras dengan yang dijelaskan oleh arif (2016: 125) bahwa dalam melakukan evaluasi kps diperlukan berbagai cara dan teknik yang sesuai dengan hakikat sains itu sendiri. untuk dapat mengetahui kemampuan belajar siswa dalam proses belajarnya, penilaian dilakukan harus fokus pada proses bukan pada produk sains. penilain kps yang telah dilakukan oleh guru salah satunya keaktifan siswa, hal tersebut sesuai dengan pendapat arif (2016: 129) menyatakan bahwa konsep penilaian melalui keterampilan proses sains setidaknya harus menekankan pada keaktifan siswa, kemampuan dalam mengolah informasi, berdasarkan kejelasan atau keefektifan instrumen penilaian yang diberikan. aspek kps yang dimunculkan pada pembelajaran aspek penanaman kps dilihat dari beberapa indikator, indikator pada aspek mengamati yang dimunculkan yaitu siswa memanfaatkan indera penglihatan untuk mengamati energi dan benda yang terdapat di lingkungan sekitar yang dapat digunakan sebagai energi alternatif. siswa diminta menjelaskan tentang benda yang diamati dikaitkan dengan materi yang sedang dibahas.sehingga indera yang paling sering dimanfaatkan adalah indera penglihatan. sedangkan indikator yang lain belum dimunculkan dalam pembelajaran. indikator pada aspek mengklasikasikan sebagian besar sudah tampak dalam pembelajaran. pada indikator ini siswa e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 keterampilan guru menerapkan keterampilan.......(ika candra sayekti dan arum mawar k) 103 diminta mengelompokkan macam-macam energi berdasarkan suumbernya serta mengidentifikasi jenis energi alternatif dalam kehidupan. pada aspek keterampilan tidak muncul karena dalam pembelajaran, guru tidak melibatkan alat ukur. begitu pula dengan keterampilan prediksi, siswa tidak memperoleh kesempatan untuk memprediksi tentang pengamatan yang sudah dilakukan berkaitan dengan materi energi. padahal banyak kasus yang dapat dimunculkan oleh guru untuk mengasah keterampilan prediksi siswa melalui materi ini. pada aspek menyimpulkan siswa sudah diberi kesempatan untuk menyimpulkan, meskipun bukan kesimpulan dari hasil percobaan yang sudah dilakukan. pada aspek mengkomunikasikan, siswa berusaha menyampaikan informasi secara lisan terhadap hasil yang telah diperoleh dari pengalaman sehari-hari berkaitan dengan energi. siswa juga aktif menyampaikan gagasan maupun ide saat pembelajaran berlangsung. berdasarkan data tersebut, dapat dikatakan bahwa penanaman keterampilan proses sains dalam pembelajaran ipa pada materi energi belum maksimal. guru belum memunculkan aktivitas-aktivitas yang merangsang siswa untuk menumbuhkan kps. padahal agar siswa dapat mengembangkan kps, maka dalam pembelajaran ipa guru harus menyediakan kegiatan yang dapat memberikan kesempatan siswa untuk memunculkan kps tersebut (samatowa, 2011). kesempatan tersebut dapat dilaksanakan melalui kegiatan demonstrasi, praktik, diskusi, pengamatan secara sederhana. namun, apa yang sudah direncanakan guru dalam rpp tidak dapat dilaksanakan sepenuhnya oleh guru itu sendiri. hambatan dalam penanaman kps faktor utama yang menjadi penghambat dalam penanaman kps pada kasus ini adalah masih minimnya pemahaman guru terhadap kps. meskipun beberapa aspek kps sudah dituangkan dalam rpp namun guru tidak menerapkan pembelajaran sesuai dengan rpp yang disusun. padahal kps adalah ruh atau salah satu ciri khas dari pembelajaran ipa yang membedakan dengan mata pelajaran lainnya. penerapan kps kepada siswa ini didukung oleh permendiknas 2006 nomor 22, menyatakan bahwa, “ilmu pengetahuan alam (ipa) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga ipa bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. pada proses penemuan terdapat proses mengobservasi, mengklasifikasi, mengkomunikasikan, dan lain-lain. namun, pada pembelajaran yang telah dilaksanakan, guru hanya menanamkan beberapa kps saja melalui metode yang dipilih. bahkan metode yang dipilihpun berbeda dengan rencana. guru jarang menyampaikan pembelajaran melalui percobaan. hal tersebut disebabkan karena guru mengalami kesulitan dalam manajemen waktu dan manajemen kelas. berdasarakan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa guru sudah merencanakan penanaman kps dalam rpp, namun kemampuan guru untuk mengimplementasikan rencana dalam pembelajaran belum maksimal. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: perencanaan penanaman kps sudah tertuang p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 104 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 97 105 pada rpp yang telah disusun oleh guru, proses penanaman kps masih terbatas pada keterampilan mengamati, dan mengkomunikasikan saja. guru masih menitikberatkan pada aspek kognitif dan keaktifan peserta didik, adapun hambatan dalam pelaksanaan penanaman kps yaitu kurangnya pemahaman guru terhadap kps dan keterampilan guru dalam mengelola kelas. daftar pustaka arif, moh. (2016). “pengembangan instrumen penilaian mapel sains melalui pendekatan keterampilan proses sains sd/mi”. ta’allum, 04 (01) : 123-148 aydogdu, bulent. 2015. “the investigation of science process skills of science teachers in terms of some variables”. academic journals, vol 10 (5), pp. 582-294. diakses dari http://www.academicjournals.org/err. creswell. 2015. riset pendidikan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi riset kualitatif dan kuantitatif. yogyakarta: pustaka pelajar. penerjemah: hely p.s. dan sri mulyantini s. mariana, i made alit dan wandy praginda. 2008. hakikat ipa dan pendidikan ipa. jakarta: pppptk ipa. mutlu dan temiz. 2013. “science process skills of students having field dependent and field independent cognitive styles”. academic journals, vol 8 (11), pp. 765-776. diakses dari http://www.academicjournals.org/err. osman, kamisah. 2012. primary science: “knowing about the world through science process skills”. asian social journals, nol. 8, no. 16: issn 1911-2025. published by canadian center of science and education. peraturan menteri pendidikan nasional republik indonesia nomor 20 tahun 2007 tentang standar penilaian pendidikan. permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi rauf, rose ammah abd., et al. 2013. “inculcation of science process skill in a science classroom”. asian social science, vol. 9, no. 6: published by canadian center of science and education. samatowa, usman. 2011. pembelajaran ipa di sekolah dasar. jakarta: pt. indeks. setiawan, heru. (2013). “peningkatan keterampilan proses sains siswa melalui pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran ipa kelas iii sd”. artikel penelitian. universitas tanjungpura pontianak http://www.academicjournals.org/err http://www.academicjournals.org/err e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 keterampilan guru menerapkan keterampilan.......(ika candra sayekti dan arum mawar k) 105 subali, bambang dan siti mariyam. (2013). “pengembangan kreativitas keterampilan proses sains dalam aspek khidupan organisme pada mata pelajaran ipa sd”. jurnal cakrawala pendidikan, 32 (3) : 365 – 381 sugiyono. 2015. metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d. alfabeta: bandung. analisis kemampuan inovasi......(anna mariyani) 189 jppd, 6, (2), hlm. 189 198 vol. 6, no. 2, desember 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i2.9028 analisis kemampuan inovasi pembelajaran guru sekolah dasar dalam implementasi pembelajaran tematik kurikulum 2013 anna mariyani prodi pendidikan guru sekolah dasar, stkip muhammadiyah blora annamariyani@gmail.com pendahuluan anak di kelas awal sd berada pada masa rentangan usia dini sehingga pada masa tersebut kemampuan anak untuk bergaul dengan halhal yang bersifat abstrak pada umumnya baru terbentuk pada usia ketika mereka duduk di kelas terakhir sd dan berkembang lebih lanjut pada usia smp. pengalaman belajar yang lebih menunjukkan kaitan unsurunsur konseptualnya, baik intra maupun antarbidang studi akan meningkatkan peluang bagi terjadinya pembelajaran yang lebih efektif. pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. pembelajaran pada kelas rendah sekolah dasar seperti yang dijabarkan di atas berbeda dengan kondisi riil yang terjadi di lapangan. berdasarkan hasil tugas mata kuliah yang peneliti berikan kepada mahasiswa tentang observasi proses pembelajaran abstract: this study was conducted with the following objectives: 1) analyzing elementary school teachers 'understanding of the thematic approach, 2) obtaining a profile of elementary school teachers' ability to innovate in the learning process with a thematic approach, and 3) knowing the obstacles of teachers in implementing thematic approaches in elementary school. the study used a qualitative descriptive method with research subjects from grade 1 to grade 6 students in five elementary schools in blora district, blora regency, collected by observation and interview. triangulation is done through focus group discussions between researchers, teachers, and school principals. the results showed that conceptually the teacher understood the thematic approach well, but in its implementation 24 of the 30 teachers studied did not innovate in the learning process. keywords: : learning innovation, teacher ability, primary school teacher, thematic approach http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.8710 mailto:annamariyani@gmail.com analisis kemampuan inovasi......(anna mariyani) 190 jppd, 6, (2), hlm. 189 198 pada kelas rendah, realitasnya banyak guru belum benar-benar memahami pembelajaran tematik. penelitian tentang permasalahan ini sebelumnya lebih terfokus media pembelajaran tematik akan tetapi ada sebagian guru yang tidak paham sama sekali bagaimana menerapkan pembelajaran tematik mulai dari perencanaan, proses, dan evaluasi pembelajaran tematik. adanya realitas tersebut, penelitian dengan topik pembelajaran tematik dipandang sangat penting dan sesuai dengan kebutuhan guru. oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mencermati lebih mendalam mengenai permasalahan dalam implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar di kecamatan blora kabupaten blora berdasarkan latar belakang penelitian di atas, tiga pertanyaan penelitian yang dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. bagaimanakah pemahaman guru sd di kecamatan blora tentang inovasi pembelajaran dengan pendekatan tematik? 2. bagaimana kemampuan guru sd di kecamatan blora dalam melaksanakan pendekatan tematik? 3. hambatan-hambatan apa saja yang dialami guru dalam mengimplementasikan pendekatan tematik di sd kecamatan blora? metode penelitian penelitian ini di laksanakan di sekolah dasar yang terletak di kecamatan blora. sekolah yang dimaksud adalah; sd muhammadiyah blora, sd n 1 jetis, sd bangkle 1, sd n 1 karangjati dan sd n 1 kauman. subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas i sampai vi, di lima sd lokasi penelitian. jadi dalam studi kasus ini, peneliti tidak mengambil secara keseluruhan komponen-komponen yang ada di lima sd kecamatan blora. penelitian hanya dibatasi terkait dengan proses pembelajaran tematik, serta seluruh aktivitas guru dan siswa selama dalam proses pembelajaran. tujuan pembatasan ini adalah agar kajian analisis kemampuan guru dalam implementasi pembelajaran tematik dapat dilakukan secara komprehensif dan mendalam. pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. digunakannya pendekatan kualitatif karena dalam penelitian ini, akan dilakukan kajian terhadap aktivitas sejumlah kelompok manusia yang sedang berlangsung dalam proses kegiatan pendidikan. bogdan dan biklen (1982:3) menjelaskan bahwa “dalam bidang pendidikan, penelitian kualitatif sering disebut penelitian naturalistik, karena penelitian ini sering berada di tempat dimana peristiwaperistiwa yang menarik perhatian terjadi secara alamiah”. atas dasar itu, maka penelitian ini dapat digolongkan ke dalam penelitian kualitatif-naturalistik. penelitian kualitatif-naturalistik, peneliti memperlakukan dirinya sebagai instrument utama (human instrument) yaitu bergerak dari hal-hal yang spesifik, dan dari tahapan yang satu ke tahap berikutnya, serta memadukannya sedemikian rupa sehingga pada akhirnya dapat ditemukan kesimpulankesimpulan. sejalan dengan itu, creswell (2010:261) mengatakan bahwa dalam analisis kemampuan inovasi......(anna mariyani) 191 jppd, 6, (2), hlm. 189 198 penelitian kualitatif peneliti adalah instrument kunci (researcher as key instrument) yang mengumpulkan sendiri data melalui dokumentasi, observasi dan wawancara dengan partisipan. kecenderungan peneliti memilih pendekatan ini, karena masalah yang diteliti sedang berlangsung dalam proses kegiatan pendidikan, yaitu kegiatan pembelajaran di kelas rendah dengan menggunakan pendekatan tematik. selanjutnya alasan peneliti memilih pendekatan kualitatif-naturalistik adalah disebabkan data yang akan diperoleh dari penelitian ini di lapangan lebih banyak menyangkut perbuatan dan ungkapan kata kata dari responden yang sedapat mungkin bersifat alami, tanpa adanya rekayasa. sebagaimana moleong (2006:3) mengatakan bahwa “penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data kualitatif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari perilaku orang-orang yang diamati”. metode yang digunakan adalah metode studi kasus dimana pada penelitian ini berusaha mengungkap penerapan pendekatan tematik dalam proses pembelajaran yang meliputi pemahaman guru tentang pendekatan tematik, pelaksanaan pembelajaran tematik, dan kendala-kendala dalam pembelajaran tematik. kasus yang dimaksud dalam penelitian adalah implementasi pendekatan tematik dalam pembelajaran di sd kecamatan blora yang akan diteliti. kasus tersebut dibatasi dalam konteks pembelajaran pada pendekatan tematik. penggunaan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus diharapkan dapat mengungkap aspekaspek yang diteliti. instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, artinya peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mencari informasi yang berhubungan dengan fokus penelitian melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan (field notes). hal ini sesuai dengan pendapat cresswel (2010:261) yang mengatakan “dalam penelitian kualitatif, peneliti berperan sebagai instrument kunci (researcher as key instrument) mengumpulkan data melalui dokumentasi, observasi perilaku atau wawancara. human instrument ini dibangun atas dasar pengetahuan dan menggunakan metode yang sesuai dengan tuntutan penelitian”. untuk memudahkan pengumpulan data di lapangan, peneliti dipandu oleh pedoman observasi, pedoman wawancara, dan rambu-rambu studi dokumentasi. analisis data mengikuti cara miles dan huberman (sugiyono, 2012) yang terdiri dari empat alur kegiatan, yaitu: pengumpulan data, reduksi data, display data, dan verifikasi/ menyimpulkan data. alur kegiatan di atas dapat dijabarkan bahwa empat jenis kegiatan utama yakni pengumpulan data, reduksi data, display data, dan verifikasi/ menyimpulkan data merupakan proses siklus interaktif. reduksi data dalam penelitian akan dilakukan dengan cara mengelompokkan data yang telah terkumpul sesuai dengan aspek-aspek permasalahan penelitian. reduksi data ini dilakukan untuk menajamkan dan mengorganisasikan data lapangan yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. dengan demikian kesimpulannya dapat diverifikasi untuk dijadikan temuan penelitian terhadap masalah yang diteliti. data yang telah direduksi kemudian disajikan (display) dalam bentuk deskripsi sesuai dengan aspek analisis kemampuan inovasi......(anna mariyani) 192 jppd, 6, (2), hlm. 189 198 aspek penelitian penyajian data ini dimaksudkan untuk memudahkan peneliti menafsirkan data dan menarik kesimpulan. berdasarkan kepada aspek penelitian, maka data yang diperoleh dari lapangan akan disajikan secara struktural mengenai keadaan faktual tentang implementasi pembelajaran tematik di sd kecamatan blora. hasil dan pembahasan pemahaman guru tentang pendekatan tematik didapatkan dari hasil wawancara terhadap tiga puluh orang guru di sd yang diteliti. untuk mengkonfirmasi lebih lanjut mengenai pemahaman guru terkait pendekatan tematik pada dua sekolah di atas, peneliti melakukan pertanyaan lanjutan tentang arti pentingnya penggunaan pendekatan tematik dilaksanakan untuk siswa sekolah dasar. berdasarkan pertanyaan yang kedua ini, dari dua sd di atas peneliti tidak menemukan alasan yang cukup kuat sesuai dengan teori bahwa sejatinya pembelajaran tematik dilaksanakan pada anak usia sd disebabkan anak masih berada pada fase operasional konkrit yang mana cara berfikir anak dalam belajar masih bersifat holistik. hampir semua guru tidak mampu menjawab secara pasti dan terlihat ragu-ragu dalam memberikan jawaban. adapun guru yang menjawab menjelaskan dasar pentingnya pembelajaran tematik dilaksanakan tidak lebih karena alasan tuntutan kurikulum dan kebijakan pemerintah. meskipun tidak dijelaskan menurut definisi yang benar setidaknya guru bisa menjawab bahwa pembelajaran tematik adalah pembelajaran yang menggabungkan dua atau lebih mata pelajaran ke dalam satu tema. akan tetapi alasan penting kenapa tematik perlu diimplementasikan untuk anak usia sekolah dasar, sebagian besar guru tidak mampu menjawab, terlihat ragu-ragu, adapun yang menjawab tidak lebih alasannya karena tuntutan dari kebijakan perubahan kurikulum secara nasional. artinya guru pada dua sd tersebut tidak mampu menjelaskan alasan filosofis penerapan pembelajaran tematik di sd. berdasarkan jawaban dari wawancara yang dilakukan ditemukan bahwa hampir semua guru mampu menjelaskan dan memahami pendekatan tematik. hal ini terlihat dari jawaban responden bahwa pendekatan tematik merupakan pendekatan yang memadukan dua mata pelajaran atau lebih dengan menggunakan tema sebagai penghubung mata pelajaran. kemampuan guru sd dalam melaksanakan inovasi pembelajaran dengan pendekatan tematik pelaksanaan pembelajaran tematik di 5 sd yang diteliti secara umum belum sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp) yang telah dirancang guru. pada saat pelaksanaan pembelajaran guru belum sepenuhnya berpedoman pada rpp. sehingga yang sering terlihat dalam proses pembelajaran adalah ketidaksesuaian antara perencanaan yang dibuat guru dengan pelaksanaan pembelajaran. pada dasarnya rpp yang dibuat guru di 5 sd yang menjadi tempat penelitian ini sudah menganut prinsip pembelajaran tematik. contohnya saja pada indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran yang dirancang guru sudah mengaitkan antara analisis kemampuan inovasi......(anna mariyani) 193 jppd, 6, (2), hlm. 189 198 dua atau lebih mata pelajaran dengan tema yang ditetapkan. namun tematik pada rpp tidak terlihat ketika guru melaksanakan pembelajaran. sebagian besar guru tidak melaksanakan pembelajaran tematik bukan karena ketidakmampuan atau tidak mengerti mengimplementasikannya, akan tetapi lebih karena alasan teknis untuk mengejar target ketercapaian materi dan tuntutan sistem dalam kurikulum pendidikan nasional. hampir sebagian besar guru mengatakan bahwa yang dituntut dari guru adalah agar materi bisa disampaikan semuanya kepada siswa, dan nilai siswa di atas rata-rata sehingga berdampak pada peringkat sekolah. implementasi pendekatan tematik tidak terlaksana adalah karena kurangnya pengalaman dan pelatihan yang didapatkan guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik. sementara itu mitra sesama guru pun tidak ada yang bisa dijadikan model/panutan dalam pelaksanaan pembelajaran tematik yang ideal. hal ini cukup beralasan karena sd tersebut merupakan salah satu sekolah yang ditunjuk sebagai pilot project implementasi kurikulum 2013. berdasarkan hasil observasi terlihat guru-guru pada sd ini sudah berupaya melaksanakan tematik integratif dalam proses pembelajaran. namun dari hasil pengamatan, perpindahan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya masih terlihat jelas pada saat pembelajaran berlangsung. peneliti tidak melihat hubungan antara tema yang digunakan dengan penyampaian materi pada setiap mata pelajaran yang dikaitkan oleh guru. hambatan-hambatan guru dalam pelaksanaan pendekatan tematik dari hasil wawancara dengan semua guru terkait faktor pendukung dan penghambat pembelajaran tematik, secara umum informasi yang didapatkan dapat dideskripsikan sebagai berikut: faktor-faktor pendukung yang disampaikan oleh semua guru adalah berupa ketersediaan sumber bahan ajar, tuntutan hasil akhir bukan pada proses pembelajaran, fasilitas/ sarana dan prasarana, ketersediaan media, guru partner, keterampilan serta kreatifitas guru dalam mengelola pembelajaran, dan kebijakan kepala sekolah yang dapat mendukung implementasi pendekatan tematik. sementara itu dari segi faktor penghambat, guru-guru menuturkan mulai dari waktu untuk mempersiapkan materi-materi yang relatif lebih lama dibanding kurikulum sebelumnya, kurangnya sumber belajar untuk pengayaan siswa, mindset orang tua yang menganggap anaknya tidak mempelajari materi yang jelas, dan sebagian guru yang tidak menginginkan pembelajaran tematik, mengendalikan antusiasme belajar siswa, dan persiapan media, alat peraga, serta sumber belajar yang lebih banyak dan bahkan belum pernah dilakukan/ dibuat sebelumnya. pelaksanaan pendekatan tematik memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tingkat perkembangan anak usia sekolah dasar yang berada pada fase operasional konkrit. melalui pembelajaran dengan pendekatan tematik anak sekolah dasar akan diajak belajar sesuai dengan dunia nya yaitu pembelajaran yang dekat dengan konteks kehidupan dan pengalamannya sehari-hari. berkaitan dengan hal ini menjadi sangat penting bagi guru sekolah dasar memahami secara filosofis arti pentingnya pendekatan tematik untuk proses pembelajaran di sd. karena tanpa memahami landasan filosofis pembelajaran tematik analisis kemampuan inovasi......(anna mariyani) 194 jppd, 6, (2), hlm. 189 198 dikhawatirkan bahwa proses pembelajaran yang dilakukan guru hanya untuk memenuhi syarat administrasi sekolah dan tuntutan kurikulum. pembelajaran tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan. pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangan siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik). menurut jean piaget (dalam dantes, 2008) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya. anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) mulai berpikir secara operasional, (3) mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat. analisis kemampuan inovasi......(anna mariyani) 195 jppd, 6, (2), hlm. 189 198 pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. (2) integratif, pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilahmilah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. (3) hierarkis, pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi. berkaitan dengan temuan penelitian adalah menjadi sebuah keniscayaan bagi guru sekolah dasar untuk kembali memahami hakekat perkembangan anak usia 7 – 12 tahun. tugas ini juga yang melekat sebagai fungsi kompetensi pedagogik yang harusnya selalu dimiliki, dihayati, dipahami, serta diimplementasikan guru dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab profesi guru sd. sementara itu, uno (2009: 17) menjelaskan “apabila seorang guru ingin menjadi guru yang professional maka sudah seharusnya ia dapat selalu meningkatkan wawasan pengetahuan akademis dan praktis melalui jalur pendidikan berjenjang ataupun upgrading dan/ atau pelatihan yang bersifat in-service training dengan rekan-rekan sejawatnya”. terakhir, setiap pengembangan dalam hal pembelajaran perlu didukung oleh kebijakan-kebijakan kepala sekolah. kebijakan yang jelas dan baik akan dapat memberikan kelancaran dan kemudahan dalam implementasi pembelajaran tematik. menurut mulyasa (2013:106) ada beberapa kebijakan yang relevan diambil kepala sekolah dalam membantu kelancaran implementasi pembelajaran tematik, yaitu: a) memprogramkan perubahan kurikulum sebagai bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan. b) menganggarkan biaya operasional untuk ketersediaan media dan sumber pembelajaran sebagai bagian dari anggaran sekolah. c) meningkatkan mutu dan kualitas guru, serta fasilitator agar dapat bekerja secara professional (meningkatkan profesionalisme guru). d) menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk kepentingan pembelajaran. e) menjalin kerjasama yang baik dengan unsur-unsur terkait secara resmi dalam kaitannya dengan implementasi pembelajaran tematik. jadi, secara garis besar dapat dikatakan bahwa dalam menghadapi masalahmasalah atau hambatan-hambatan dalam kegiatan pendidikan hendaknya semua komponen pendidikan dilibatkan, baik itu guru, administrator, orang tua siswa, dan masyarakat. analisis kemampuan inovasi......(anna mariyani) 196 jppd, 6, (2), hlm. 189 198 simpulan berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan: 1. hampir semua guru mampu menjelaskan dan memahami pendekatan tematik. 2. kemampuan guru dalam malaksanakan pendekatan tematik masih rendah terutama dalam permindahan antar muatan pelajaran yang tidak nyambung. disamping itu beberapa guru kurang implementatif dengan alasan mengejar target materi sesuai kurikulum. 3. hambatan yang dialami guru dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik adalah waktu, mindset orang tua, penolakan guru menggunakan pembelajaran tematik karena persiapan yang lebih kompleks dan melelahkan. berdasarkan simpulan di atas, penelitian ini merekomendasikan beberapa hal agar implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar dapat berjalan maksimal dan seperti yang diharapkan, yaitu sebagai berikut: kepala sekolah perlu lebih mengintensifkan pendampingan terhadap guru dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik. selain itu, kepala sekolah juga harus selalu memberikan dukungan dan support yang lebih kepada guru terutama dalam memberikan semua sumber daya yang ada seperti membantu menyediakan sarana dan sumber pembelajaran, memberikan sumber pendanaan untuk ketersediaan media pembelajaran. 1. semua guru diharapkan mempunyai komitmen yang lebih dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan melakukan evaluasi pembelajaran tematik. selain itu, guru harus memahami betul konsep pembelajaran tematik atau pembelajaran terpadu sehingga penerapan pembelajaran tematik sesuai dengan tuntutan kurikulum. sebagai ujung tombak pelaksana kurikulum di lapangan guru harus benar-benar paham dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan metode pembelajaran. guru tidak bisa hanya menunggu informasi tapi harus aktif mencari informasi perkembangan metode metode pembelajaran muthakhir dari berbagai sumber sebagai bentuk tanggung jawab profesi. 2. pemerintah dalam hal ini kemendikbud, perlu memperhatikan kualitas intstruktur untuk sosialisasi pelatihan pembelajaran tematik. penujukkan instruktur perlu lebih diperketat dan yang dipilih benar-benar memiliki kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni, sehingga dalam implementasi di lapangan guru-guru mendapatkan pemahaman yang komprehensif dalam melaksanakan pembelajaran tematik. selain itu, guru perlu didampingi dan dipantau secara berkelanjutan agar pelatihan-pelatihan yang diberikan tidak sekedar menjadi wacana tapi dievaluasi hasilnya degan menggunakan indikator yang terukur. analisis kemampuan inovasi......(anna mariyani) 197 jppd, 6, (2), hlm. 189 198 daftar pustaka akbar, s. 2010. pengembangan modelmodel pembelajaran tematis untuk kelas 1 dan 2 sd: identifikasi dan perancangan model konseptual pembelajaran tematis untuk kelas 1 dan 2 sd. laporan penelitian, malang: lemlit um. anitah w.s. 2009. strategi pembelajaran di sd. jakarta: universitas terbuka. bogdan, b.c. and biklen, s.k. (1982) qualitative research for education, an introduction to theory and methode. boston: allyn and bacon, inc. creswell, j.w. 2010. research design qualitative, quantitative and mixed methods approach (third edition). penerjemah achmad farwaid. yogyakarta: pustaka pelajar. depdiknas. 2006. kurikulum tingkat satuan pendidikan. jakarta: depdiknas. joni, t. r. 1996. pembelajaran terpadu. naskah program pelatihan guru pamong, bp3gsd pptg ditjen dikti. lincoln, y.s. dan guba, e.g. (1985). naturalistik inquiry. london: sage publication. moleong, l.j. 2006. metode penelitian kualitatif. bandung: pt. remaja rosdakarya. mulyasa, e. 2013. pengembangan dan implementasi kurikulum 2013. bandung: pt. remaja rosdakarya. nasution, s. 1988. metode penelitian naturalistik-kualitatif. bandung: pt. trasito. sugiyono. 2012. memahami penelitian kualitatif. bandung: alfabeta. suryosubroto. 2009. proses belajar mengajar di sekolah. jakarta: pt rineka cipta. trianto. 2009. mengembangkan model pembelajaran tematik. jakarta: pt prestasi pustakaraya. grigg, r. 2015. becoming an outstanding primary school teacher. becoming an outstanding primary school teacher. new york: routledge. karli, h. 2016. penerapan pembelajaran tematik sd di indonesia. eduhumaniora jurnal pendidikan dasar kampus cibiru, 2 (1). karyani, l. t. 2017. implementasi pembelajaran tematik integratif dengan pendekatan scientific pada kelas 5 sekolah dasar negeri unggulan di kabupaten purworejo. e-jurnal skripsi mahasiswa tp, 6 (8): 754–761. analisis kemampuan inovasi......(anna mariyani) 198 jppd, 6, (2), hlm. 189 198 trianto. 2011. desain pengembangan pembelajaran tematik bagi anak usia dini tk/ ra dan anak usia kelas awal sd/ mi. jakarta: prenada media group. uno, h.b. 2009. profesi kependidikan: problema, solusi, dan reformasi pendidikan di indonesia. jakarta: bumi akasara. internalisasi nilai-nilai kearifan.....(yanti h & honest u.k) 51 jppd, 6, (1), hlm. 51 60 vol. 6, no. 1, juli 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i1.8369 internalisasi nilai-nilai kearifan lokal pada pelajaran bahasa jawa di sekolah dasar yanti haryanti1), honest ummi kaltsum2) 1)program studi ilmu komunikasi, 2)program studi pendidikan guru sekolah dasar universitas muhammadiyah surakarta 1yanti.haryanti@ums.ac.id; 2huk172@ums.ac.id pendahuluan media indonesia akhir-akhir ini sering menampilkan berita dan informasi tentang konflik-konflik sosial yang diklaim sebagai akibat adanya pengikisan nilai-nilai kearifan lokal budaya asli indonesia. mulai melunturnya pilar nilai utama kearifan lokal indonesia yaitu: saling percaya, komunikasi, dan kohesivitas sosial dianggap telah memicu maraknya perseteruan horisontal masyarakat indonesia. nilai-nilai rasa kesetia kawanan sosial dengan berbagi dan peduli menjadi kunci sukses perdamaian bangsa. falsafah dan nilai-nilai kelokalan itu merupakan warisan leluhur yang harus dijaga sebagai perekat nkri (fajardin, 2019 https://nasional.sindonews.com). kearifan lokal selalu ada di setiap daerah di indonesia. masing-masing memiliki cirikhas yang kemudian berfungsi sebagai identitas daerah lalu menyatu menjadi pembentuk karakter bangsa. nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa nampaknya ada kecenderungan untuk memudar, sehingga diberlakukannya program revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal abstract: local wisdom is supposed to be a basic guideline for people to live their life in the surround society. recently, media emerges and discusses on the survival of the local wisdom throughout the indonesian society. this research is trying to review how the values of local wisdom are taught in elementary schools. process of learning cultural values is better done intensively and continuously that internalization of the values can be absorbed well. internalization process of the values done in schools need tough efforts, started with selection of media or tools which load the values needed to be learned. using the content analysis, this research is trying to review the content about local wisdom in the text books of bahasa jawa subject. this analysis is hoped to find themes and examples of the implementation of the javanesse local wisdom. by using the content analysis, this research results in the findings that the three dimensions of local values are covered in all text books used in the research; however, there are some detail values found not discussed in the text books. keywords: local wisdom, internalization, content analysis http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.8369 mailto:yanti.haryanti@ums.ac.id mailto:honest.ummi.kaltsum@ums.ac.id https://nasional.sindonews.com/ internalisasi nilai-nilai kearifan.....(yanti h & honest u.k) 52 jppd, 6, (1), hlm. 51 60 budaya jawa di sekolah menengah atas. suranto aw dalam penelitiannya secara kualitatif berusaha untuk mengungkap keberhasilan program revitalisasi ini dengan menggunakan metode studi evaluasi melalui 4 (empat) model evaluasi yaitu: context, input, process, product. penelitian ini menerapkan teknik pengamatan dan wawancara pada siswa sekolah menengah atas dalam berkomunikasi. nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa yang diamati antara lain adalah cara berpakaian, bertingkah laku, keramahan, kejujuran, berkomunikasi dengan sesama teman atau guru, dan nilai-nilai ketimuran lainnya. penelitian oleh suranto aw ini menemukan bahwa ada nilai kearifan lokal budaya jawa yang mendesak untuk direvitalisasi melalui jalur pendidikan yaitu etika berkomunikasi baik dengan teman sebaya ataupun dengan warga sekolah lain yang lebih tua dari siswa (aw, 2018: 43). hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa belum dipahami dengan baik oleh siswa sekolah menengah atas tersebut sehingga ditemukan adanya kesalahan implementasi. proses pembelajaran nilai-nilai budaya lokal membutuhkan waktu yang tidak sebentar diawali dari usia dini seseorang. apabila ada salah implementasi nilai-nilai pada usia remaja, kemungkinan ada permasalahan di pembelajaran pada fase sebelumnya, misalnya pada masa sekolah dasar. berdasarkan tinjauan dan temuan dari penelitian tersebut, nampaknya perlu dikaji ulang bagaimana nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa diakomodir oleh sekolah dan kemudian siswa bisa memahami dan menerapkannya dalam kehidupannya, khususnya dalam interaksi dan berkomunikasi dengan orang lain. bukan sebuah proses yang instan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam terhadap suatu nilai, melainkan membutuhkan proses internalisasi secara terus menerus sehingga siswa bisa menerapkannya dalam kehidupan nyata. demikian halnya dalam pendidikan, pemahaman siswa terhadap sebuah nilai hendaknya diawali sejak pendidikan dasar yang akan menjadi landasan keberhasilan pendidikan di tingkat selanjutnya. dalam penelitian suranto aw di atas, pengamatan dilakukan kepada siswa sekolah menengah atas dan ditemukan adanya urgensi akan diberlakukannya program revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa, maka layak bila diadakan kajian dan penelitian terhadap pengajaran nilainilai kearifan lokal ini pada pendidikan yang lebih rendah untuk melihat proses internalisasi nilai-nilai tersebut. oleh karena itu, penelitian ini mengulas dan mengkaji bagaimana pelajaran tentang budaya jawa diajarkan kepada siswa sekolah dasar di jawa tengah. tentunya bukan sebuah pembelajaran yang mudah untuk menanamkan nilainilai budaya ini. disini sekolah perlu mengelola bahan ajar dan proses komunikasi pembelajaran yang intensif dan mendalam kepada siswanya. salah satu fungsi komunikasi adalah menyampaikan pesan dari seseorang kepada orang lain. tidak ada satu orang pun yang tidak melakukan komunikasi sepanjang hidupnya, dengan berbagai cara dan media tentunya. pesan yang dikomunikasikan tidak hanya ide, buah pikiran, atau keinginan seseorang saja; melainkan juga nilai-nilai, aturan-aturan, norma-norma, bahkan sejarah dan tradisi yang diharapkan akan tetap bertahan dari generasi ke generasi. proses komunikasi memampukan seseorang untuk mentransmisikan sebuah budaya (nurudin, 2009: 74). bentuk komunikasi pun akan menyesuaikan dengan hal-hal yang ingin disampaikan tersebut, baik secara verbal maupun nonverbal, secara langsung maupun tidak langsung. pesan yang disampaikan internalisasi nilai-nilai kearifan.....(yanti h & honest u.k) 53 jppd, 6, (1), hlm. 51 60 kadang tidak akan bisa langsung mendapatkan respon saat itu juga. ada beberapa pesan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima dan dipahami sebelum diberikan respon. sebagai contoh adalah bagaimana menyampaikan sebuah nilai atau norma yang dianut dalam sebuah budaya. seseorang mempelajari nilai-nilai budaya tidak bisa hanya dalam hitungan hari, bulan, atau tahun melainkan durasi waktu yang lebih lama dari itu (liliweri, 2014: 56) melalui proses komunikasi yang intensif dan terus menerus. dalam proses berkomunikasi, kita memerlukan bahasa. dalam proses komunikasinya, seseorang memerlukan pembelajaran dan pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai budaya tersebut. wardhaugh (1988:212) dalam kutipan sartini (2009:31) menuliskan pendapat tentang keterhubungan antara bahasa dan kebudayaan adalah (i) struktur bahasa menentukan cara-cara penutur bahasa tersebut memandang dunianya, (ii) budaya masyarakat tercermin dalam bahasa yang mereka pakai karena mereka memiliki segala sesuatu dan melakukannya dengan cara tertentu yang mencerminkan apa yang mereka nilai dan apa yang mereka lakukan. dalam pandangan ini, perangkat-perangkat budaya tidak menentukan struktur bahasa, tetapi perangkatperangkat tersebut jelas memengaruhi bagaimana bahasa digunakan dan mungkin menentukan mengapa butiran-butiran budaya tersebut merupakan cara berbahasa, (iii) ada sedikit atau tidak hubungan atau tidak sama sekali antara bahasa dan budaya. hal ini yang disebut dengan internalisasi. internalisasi merupakan proses belajar terus menerus yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan sebuah pengetahuan, ketrampilan, bahkan nilai-nilai dan norma-norma sehingga bisa diterapkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan seseorang sebagai anggota masyarakat (ihromi, 2004: 82). proses internalisasi yang dialami seseorang akan selalu berbeda dengan orang lain sesuai fase-fase kehidupan yang dilaluinya, dimulai dari masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa dan fase orang tua (ritzer, 2009: 142). pada penelitian ini dibatasi pada proses internalisasi yang terjadi pada fase kanak-kanak (pendidikan dasar). sebagaimana proses komunikasi pada umumnya yang harus melibatkan media dan komunikan sehingga pesan yang disampaikan bisa mendapatkan tanggapan atau reaksi, internalisasi membutuhkan media sebagai sarana memperlancar prosesnya. media internalisasi adalah berupa tempat, model, peralatan, lingkungan, dan termasuk di dalamnya adalah pihak atau individu-individu lain. media internalisasi merupakan agen yang ada di dalam fase-fase kehidupan seseorang, diawali dari keluarga, teman sebaya, sekolah, organisasi, tempat kerja, dan seterusnya. masing-masing agen internalisasi memiliki fungsi yang berbeda. keluarga berfungsi terhadap pengawasan sosial, pertemanan sebaya berfungsi sebagai tempat interaksi dimana kedudukan seseorang sederajat, sekolah sebagai tempat untuk mendapatkan pendidikan formal yang tidak didapat di keluarga dan pertemanan, demikian seterusnya di organisasi dan tempat kerja (soekanto, 2009: 59). dalam penelitian ini, diskusi dipusatkan pada sekolah sebagai agen dan media formal seseorang mengalami proses internalisasi awal, terutama pada sekolah dasar. sekolah memiliki peran penting dalam pembelajaran, penanaman, dan pemahaman nilai-nilai budaya secara formal. harapan orang tua atau keluarga sebagai agen terkecil sering menuntut sekolah untuk memberikan tambahan media dan alat-alat yang kadang tidak ditemukan di dalam keluarga. salah satu alat bantu yang digunakan sekolah dalam internalisasi nilai-nilai kearifan.....(yanti h & honest u.k) 54 jppd, 6, (1), hlm. 51 60 memberikan media pembelajaran adalah buku-buku pegangan untuk pengetahuan maupun penugasan. buku pegangan merupakan alat bantu pengajaran yang paling mendasar bagi siswa untuk mendapatkan suatu pengetahuan. penelitian ini mengkaji bagaimana buku-buku pegangan siswa sekolah dasar yang mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa. kearifan lokal adalah sebuah pengetahuan yang kompleks tentang sistem nilai, kepercayaan, norma, dan cara hidup dari sebuah budaya yang ada di lokasi tertentu (liliweri, 2014: 223). budaya jawa secara geografis berada di pulau jawa terutama di propinsi jawa tengah dan jawa timur. zamroni menyatakan ada tiga dimensi nilai kearifan lokal budaya jawa, seperti yang dikutip oleh suranto aw. ketiga dimensi nilai tersebut adalah: 1) keberagaman yang melingkupi nilai-nilai kekhusukan hubungan dengan tuhan, kepatuhan terhadap agama, perbuatan baik dan ikhlas, pembalasan atas perbuatan baik dan buruk, serta rasa syukur; 2) kemandirian yang cakupanya meliputi harga diri, etos kerja, disiplin, tanggungjawab, keberanian dan semangat, keterbukaan, pengendalian diri, pikiran positif, dan potensi diri; 3) kesusilaan yang mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang, kebersamaan dan gotong royong, kesetiakawanan, tolong menolong, tenggang rasa (tepo sliro), saling menghormati, tata karma, dan rasa malu (aw, 2010: 48-49). berdasarkan atas latar belakang di atas, penelitian ini bermaksud mengkaji nilai-nilai kearifan lokal pada pelajaran bahasa jawa di sekolah dasar. bahasa jawa merupakan salah satu matapelajaran dari kurikulum muatan lokal. sebagaimana kita ketahui bahwa kurikulum muatan lokal ini dapat memuat empat mata pelajaran yaitu; a) bahasa daerah. bahasa daerah ini bertujuan untuk mempertahan nilai-nilai budaya masyarakat setempat dalam wujud komunikasi dan apresiasi sastra; b) pendidikan lingkungan hidup bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap lingkungan hidup dalam bentuk kegiatan pembelajaran, pola hidup bersi dan menjaga keseimbangan ekosisten; c) bahasa inggris bertujuan untuk mengenalkan budaya masyarakat lokal; dan d) komputer bertujuan untuk mengembangkan keterampilan penggunanan alat teknologi secara teknis. melalui pembelajaran muatan lokal diharapkan peserta didik mempunyai kepedulian terhadap nilai-nilai sosio-kultural yang melingkupi peserta didik sebab mata pelajaran muatan lokal memuat karakteristik budaya lokal, keterampilan, nilai-nilai luhur budaya setempat (nasir, 2013: 1). metode penelitian pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis isi untuk mencoba mendapatkan pemahaman tentang pesan simbolik yang ada dalam dokumen. dalam penelitian ini dokumen yang digunakan adalah buku-buku teks pegangan siswa sekolah dasar dalam pelajaran bahasa jawa. analisis isi merupakan penelitian yang dilakukan dengan tujuan mengkaji teks atau dokumen untuk diambil kesimpulan berdasarkan konteks penggunaannya. teknik analisis isi yang digunakan dalam penelitian ini menerapkan skema analisis menurut krippendorf (2004: 83) yaitu: unitizing (pengumpulan data), sampling (pengambilan contoh), recording (perekaman/pencatatan), reducing (reduksi/pengurangan), dan inferring (penarikan simpulan). internalisasi nilai-nilai kearifan.....(yanti h & honest u.k) 55 jppd, 6, (1), hlm. 51 60 dengan menggunakan teknik purposive sampling, peneliti memilih contoh buku-buku teks pelajaran bahasa jawa yang digunakan di sekolah dasar negri dan swasta untuk mendapatkan perbandingan penerapan nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa. berdasarkan kenyamanan dan kemudahan, peneliti memilih sekolah-sekolah dasar yang ada di sekitar tempat tinggal peneliti, yaitu di daerah kecamatan kota boyolali. buku-buku teks yang dipilih ada 3 yaitu “remen basa jawi” untuk kelas iv dan “remen basa jawi” kelas v yang digunakan di sdit arofah boyolali dan buku “sesuluh basa jawa” untuk kelas iv yang digunakan di sdn ix boyolali. pada penelitian dengan jenis kajian pustaka ini, peneliti mengumpulkan data dari buku-buku dan jurnal-jurnal ilmiah sebagai referensi pustaka untuk menganalisa tema-tema bahasan dalam buku-buku teks pelajaran bahasa jawa yang menjadi unit penelitian ini. hasil dan pembahasan secara umum, perwajahan dari semua buku pegangan yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk komprehensif bacaan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar teks. tugas-tugas yang diharapkan untuk dikerjakan siswa pun tidak terlalu jauh dari teks yang memang merupakan tema dari masing-masing bab di buku-buku tersebut. semua buku pegangan yang digunakan dalam penelitian ini memuat nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa. namun ditemukan adanya variasi dan perbedaan sebaran dan prosentase nilai-nilai kearifan lokal yang dibahas. pada buku berjudul “remen basa jawi” untuk kelas iv dan v dengan penerbit erlangga, semua instruksi penugasan dituliskan dalan bahasa jawa ngoko, sementara pada bagian jawaban tugas yang semestinya dikerjakan siswa, diberikan contoh dengan menggunakan bahasa jawa krama. hal ini menunjukkan ada penanaman nilai kesopanan dan tata krama. siswa yang merupakan individu yang lebih muda dari guru hendaknya berlaku sopan santun terhadap orang yang lebih tua. pembedaan penggunaan bahasa ini tidak ditemukan dalam buku berjudul “sesuluh basa jawa” untuk kelas iv dengan penerbit surya badra. pada buku ini baik teks, instruksi tugas, maupun jawaban siswa dikerjakan dalam bahasa jawa ngoko. nilai keberagaman nilai keberagaman pada dasarnya adalah ajaran untuk percaya kepada dzat yang maha besar dan maha kuasa. budaya jawa yang dalam sejarahnya ada pengaruh agama hindu dan budha mempercayai adanya hubungan timbal balik antara perbuatan baik dan buruk. terdapat banyak konsep spiritual dalam agama hindu salah satunya adalah konsep karma phala yakni semua perbuatan ada hasilnya atau hasil dari perbuatan (kurniawan, 2016: 7). oleh karena itu budaya jawa berisi ajaran tentang perbuatan baik dan keikhlasan seseorang dalam melakukannya sehingga tidak akan mendapatkan kesialan atau akibat dari perbuatan buruk bila dilakukan. setiap individu yang ikhlas berbuat baik adalah merupakan perwujudan kepatuhan terhadap tuhan dan agama yang dianut serta rasa syukur. nilai-nilai seperti ini termuat dalam buku sesuluh basa jawa klas iv terbitan dari surya badra surakarta. pada bab iii (wulangan 3), bahan bacaan berjudul sekaten menceritakan tentang asal usul tradisi sekaten di daerah internalisasi nilai-nilai kearifan.....(yanti h & honest u.k) 56 jppd, 6, (1), hlm. 51 60 surakarta dan yogyakarta yang berasal dari kata ‘syahadattain’ yang dalam agama islam bermakna 2 kalimat syahadat. berikut kutipan sebagian dari teks: “sekaten yaiku tradisi kang diselenggarakake ono ing kraton kanggo mengeti dina laire nabi muhammad. sekaten mau asale seka tembung syahadatain, yaiku 2 ukara syahadat. upacara sekaten iku dianakake saben setaun sepisan. yen biyen-biyene sekaten mau kanggo nyebarake agama islam, saiki sekaten luwih kanggo hiburan.”(sutiyem, 2013: 29) (sekaten adalah tradisi yang diselenggarakan di keratin untuk memperingati hari lahirnya nabi muhammad. istilah sekaten berasal dari kata syahadatain yaitu 2 kalimat syahadat. upacara sekaten diadakan sekali dalam setahun. kalo sebelumnya, pada jaman dahulu, sekaten diadakan untuk penyebaran agama islam, sekarang lebih untuk hiburan) dari kutipan ini, ditunjukkan adanya nilai kepatuhan terhadap agama, khususnya agama islam. pada kalimat terakhir paragraf di atas jelas disebutkan bahwa tradisi sekaten tersebut diperuntukkan syiar agama: “kalau sebelumnya, pada jaman dahulu, sekaten diadakan untuk penyebaran agama islam, sekarang lebih untuk hiburan.” bacaan ini mencoba menanamkan sebuah kearifan bahwa dalam budaya jawa pun ada kepercayaan dan kepatuhan terhadap agama. selain itu nilai keberagamaan yang menunjukkan adanya pembalasan atas perbuatan baik dan buruk juga dimuat dalam buku remen basa jawi kelas v terbitan erlanga jakarta. bacaan panjang sebanyak delapan paragraf ini menceritakan tentang tokoh wayang karna yang harus membela pihak yang penuh angkara murka dan akhirnya mati dalam perang baratayudha di tangan saudaranya sendiri yang berada di pihak yang benar. berikut cuplikan bacaannya: “sejatine, karna wis mangerti yen mbelani kurawa kui dudu tumindak kang becik. nanging, karna wis kaputangan budi karo duryudana raja hastina kang ambeg angkara murka. mulane dheweke gelem sabaya mukti sabaya pati tegese gelem mbelani hastina.” (trimo, 2016: 18-19) (sebenarnya, karna sudah sadar kalau membela kurawa adalah perbuatan yang tidak baik. tetapi, karna berhutang budi terhadap duryudana raja hastina yang dipenuhi keangkara murkaan. maka, dia mau saja hidup mati ikut membelanya, yaitu membela negara hastina) lalu paragraf ini dilanjutkan pada paragraf-paragraf berikutnya tentang perang baratayudha. dan pada bagian akhir teks, paragraf terakhir menceritakan kematian karna: “panah mlesat banter banget ngenani janggane adipati karna. senopati kurawa kang madeg senopati iku banjur gugur ing madyaning tegal kurusetra.” (trimo, 2016: 20) (panah melesat cepat sekali mengenai dagu adipati karna. senopati kurawa yang berkuasa itu lalu gugur meninggal di tengah-tengah tanah kurusetra) internalisasi nilai-nilai kearifan.....(yanti h & honest u.k) 57 jppd, 6, (1), hlm. 51 60 teks bacaan panjang ini mengajarkan tentang kearifan dalam budaya jawa bahwa semua perbuatan buruk tidak akan mendapatkan pahala dari tuhan, melainkan celaka yang akan didapat. dengan demikian, dapat dikatakan bahwa balasan dari perbuatan atau karma dan karma sebagai konsep spiritual hindu turut pula mempengaruhi nilai budaya jawa. dimensi nilai tersebut merupakan cerminan nilai keberagaman (aw, 2018: 48-49). nilai kemandirian pada buku sesuluh basa jawi klas iv, ada teks bacaan berjudul lomba nari (lomba menari) yang menceritakan tentang seorang anak bernama marsinah yang akan mengikuti lomba menari di sekolahnya. nilai kemandirian yang ditanamkan dalam bacaan ini adalah etos kerja, kedisiplinan, dan pengembangan potensi diri. beberapa bagian paragraf banyak kalimat yang memuat nilai-nilai tersebut. berikut kutipan beberapa diantaranya: “dadi penari iku ora gampang, kudu sregep latian supaya obahe awak katon luwes, kudu ngapalake urut-urutaning jogetane. sing mesti kudu duweni watak disiplin, percaya diri, lan sregep. kabeh watak mau wis diduweni karo marsinah, pramilo deweke pinter anggone nari. lomba narine ana ing kabupaten mau saingane ora sithik. sanadyan saingane akeh, marsinah ora minder, dheweke percaya yen bisa luwih apik saka kanca-kanca liyane. rasa percaya karo awake dhewe mau sing dadekake marsinah mantep anggone nari ing ngarepe juri.” (sutiyem, 2013: 23-24) (menjadi penari itu tidak mudah, harus rajin latihan supaya gerakannya bagus, harus menghafalkan urutan gerakan tariannya. yang pasti harus memiliki watak disiplin, percaya diri, dan rajin. semu sifat itu sudah dimiliki oleh marsinah, maka dia bisa bagus menarinya. lomba menari di kabupaten itu saingannya tidak sedikit. tetai meskipun banyak saingannya, marsinah tidak malu, dia percaya kalau bisa lebih baik dari teman-temannya yang lain. rasa percaya pada diri sendiri itulah yang membuat marsinah terlihat bagus menarinya ketika di depan juri.) berpikir positif juga merupakan salah satu ajaran kearifan budaya jawa yang ada dalam dimensi kemandirian. bacaan di atas mencontohkan bagaimana marsinah tidak ‘minder’ dan tetap berpikir bahwa dia bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. nilai kemadirian juga memiliki unsur pengendalian diri. ajaran tentang nilai pengendalian diri dan kesabaran tertuang dalam buku remen basa jawi untuk kelas v pada teks berjudul “karna madeg senopati” di salah satu paragrafnya tertulis: “prabu kresna kang mangerteni raden werkudara ngamuk, banjur ngelingake supaya sabar lan ora grusa grusu. kanggo nerusake perang, raden arjuna banjur madeg dadi senopati andhawa ngadepi adipati karna. prabu kresna kang dadi kusire arjuna tansah wanti-wanti supaya arjuna ngati-ati anggone perang lan ngeningake cipta karsa yen tetandhingan lawan karna.” (trimo, 2016: 23) internalisasi nilai-nilai kearifan.....(yanti h & honest u.k) 58 jppd, 6, (1), hlm. 51 60 (prabu kresna yang mengetahui bahwa raden werkudara marah, lantas mengingatkan supaya sabar dan tidak tergesa-gesa. untuk meneruskan peperangan, raden arjuna lalu berdiri mengambil alih posisi menjadi senopati untuk menghadapi adiati karna. prabu kresna yang bertindak sebagai kusir keretanya arjuna selalu mengingatkan kepada arjuna untuk berhati-hati dalam perang dan selalu ingat pada yang maha kuasa ketika perang melawan karna) bacaan dengan tema pewayangan sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa yang bisa diajarkan kepada siswa. dalam paragraf di atas ini paling tidak ada dua kearifan yang termuat, yaitu nilai kekhusyukan hubungan dengan tuhan (tansah ngeningake cipta karsa) dan nilai pengendalian diri (ora grusa grusu, ngati-ati). dimensi nilai harga diri, etos kerja, disiplin, tanggungjawab, keberanian dan semangat, keterbukaan, pengendalian diri, pikiran positif, dan potensi diri tersebut merupakan cerminan nilai kemandirian (aw, 2018: 48-49). nilai kesusilaan ada beberapa nilai kearifan yang mewadahi dimensi kesusilaan ini di dalam buku pegangan siswa. dalam buku sesuluh basa jawi klas iv pada teks berjudul sinau bareng (belajar bersama), diceritakan seorang anak bersama teman-temannya belajar tentang pewayangan. pada paragraf berikut, mengandung nilai kebersamaan dan gotong royong: “sanalika uga ardi eling yen deweke duwe janji karo aminah, doni, lan mardi arep sinau kelompok kanggo garap tugas basa jawa kang uwis diparingi kalian bu guru. bu guru paring tugas maring siswa supaya maca wayang lan nggoleki watake paraga kang ana ing crita mau.” (sunarsih, 2016: 32-33) (seketika ardi ingat ada janji dengan aminah, doni, dan mardi akan belajar bersama untuk mengerjakan tugas yang sudah diberikan bu guru. bu guru memberikan tugas kepada para siswa untuk membaca tentang wayang dan mencari tahu watak karakter masing-masing tokoh dalam cerita tersebut) masih di buku yang sama, nilai kesusilaan yang berupa tata krama dan kesopan santunan ada di dalam teks berjudul “matur simbah” (menghadap kakek). bacaan berbentuk dialog ini sangat jelas mencontohkan bagaimana tata krama dalam budaya jawa sangat kuat terutama dalam pemakaian bahasa jawa. “bagas : kula nuwun, sugeng siang mbah kakung. mbah kakung : eh.. putuku bagas, rene-rene le, ana perlu apa? bagas : mekaten mbah, kula badhe matur kaliyan simbah bilih lampah kula mriki dipun dawuhi ibuk, simbah sakmenika dipun aturi tindak dateng griya kula. mbah kakung : ana perlu apa kok simbah diaturi mara menyang omahmu? …” (sunarsih, 2016: 17) (bagas : permisi, selamat siang kakek kakek : eh.. cucuku bagas, sini-sini nak, ada perlu apa? bagas : begini kek, saya mau menghadap kakek untuk menyampaikan bahwa saya disuruh ibu meminta kakek untuk datang ke rumah saya sekarang. kakek : ada perlu apa kok kakek disuruh ke rumahmu? …) internalisasi nilai-nilai kearifan.....(yanti h & honest u.k) 59 jppd, 6, (1), hlm. 51 60 teks berbentuk dialog seperti di atasa memudahkan siswa belajar bagaimana penggunaan bahasa jawa terutama krama inggil diterapkan. pada teks, tokoh bagas berbahasa krama inggil karena sedang berbicara dengan kakeknya (orang yang lebih tua), sementara kakek menggunak bahasa jawa ngaka kepada bagas (anak yang lebih muda). penggunaan bahasa krama inggil dan ngaka dalam bahasa jawa bermakna kesopanan dan penghormatan kepada orang-orang tertentu, seperti perbedaan usia, jabatan, atau situasi kondisi yang mengharuskan digunakannya bahasa krama inggil. dimensi nilai cinta dan kasih sayang, kebersamaan dan gotong royong, kesetiakawanan, tolong menolong, tenggang rasa (tepo sliro), saling menghormati, tata karma, dan rasa malu merupakan aspek kesusilaan dalam budaya jawa (aw, 2018: 48-49). dari hasil penelitian terhadap buku ajar bahasa jawa yang diberikan kepada siswa sekolah dasar tersebut di atas, perlu diadakan penelitian lanjutan dengan metode observasi (pengamatan) dimana proses belajar mengajar di kelas bisa diawasi dengan lebih jelas sehingga bisa ditemukan permasalahan lain. penelitian ini perlu dikembangkan sampai dengan adanya evaluasi penerapan nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa ini ke dalam kehidupan nyata siswa. teknik penelitian pun akan dikembangkan ke penggalian data dari narasumber-narasumber yang terlibat maupun yang dikenai hasil pembelajaran. oleh karena itu, lanjutan dari penelitian ini adalah menggunakan teknik indepth interview dan observasi untuk mendapatkan pengetahuan tentang pola pengajaran yang diterapkan di sekolah dan hasil pengajarannya. simpulan pengajaran budaya dan bahasa jawa di sekolah dasar memerlukan usaha yang cukup keras dimana mengajarkan sebuah budaya yang penuh nilai-nilai bukanlah pekerjaan mudah. memahamkan siswa didik yang masih tergolong kanak-kanak terhadap suatu nilai harus dilakukan dalam proses yang intensif dan menggunakan berbagai media sesuai usia mereka. dari buku-buku pegangan siswa yang digunakan dalam penelitian ini ditemukan bahwa nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa belum semuanya diajarkan dan dijabarkan. tiga dimensi nilai kearifan lokal yang dijadikan acuan sudah tercakup semua namun rincian nilai-nilainya tidak semua termuat. nilainilai yang belum ada yaitu: rasa syukur, harga diri, tanggung jawab, potensi diri, cinta dan kasih sayang, tolong menolong, tenggang rasa, dan rasa malu. akan tetapi bila dicermati, nilai-nilai tersebut bisa saja disampaikan sebagai pengembangan tema-tema yang sudah ada. sebagai contoh pada bab yang bertema wayang, guru bisa mengembangkan ke contoh-contoh cerita nyata yang ada di sekitar lingkungan siswa atau sekolah yang memuat pesan dalam cerita wayang tersebut. internalisasi nilai-nilai kearifan.....(yanti h & honest u.k) 60 jppd, 6, (1), hlm. 51 60 daftar pustaka aw, suranto. (2010). komunikasi sosial budaya. yogyakarta: graha ilmu. aw, s. (2018). evaluasi program revitalisasi nilai-nilai kearifan lokal budaya jawa yang relevan dengan etika komunikasi di sekolah. widya komunika, 8(2), 4257. fajardin, muhammad atik. (2019). konflik sosial muncul karena kearifan lokal terkikis. https://nasional.sindonews.com ihromi. (2004). bunga rampai sosiologi keluarga. jakarta: yayasan obor indonesia kurniawan, p. s. (2016). sintesa unsur-unsur spiritualitas, budaya, dan kearifan lokal masyarakat bali dalam materi kuliah akuntansi sosial dan lingkungan. jurnal pendidikan akuntansi indonesia, 14(1). krippendorf, k. (2004). content analysis: an introduction to its methodology (ed). thousand oaks: sage publication, ltd. liliweri, alo. (2014). pengantar studi kebudayaan. bandung: nusa media nasir, m. (2013). pengembangan kurikulum muatan lokal dalam konteks pendidikan islam di madrasah. hunafa: jurnal studia islamika, 10(1), 1-18. nurudin, 2009. pengantar komunikasi massa. jakarta: pt rajagrafindo persada ritzer, george. (2009). sosiologi: ilmu berparadigma ganda. jakarta: rajawali press sartini, n. w. (2009). menggali nilai kearifan lokal budaya jawa lewat ungkapan (bebasan, saloka, dan paribasa). jurnal ilmiah bahasa dan sastra, 5(1), 28-37. soekanto, soerjono. (2009). sosiologi suatu pengantar. jakarta: pt rajagrafindo persada soekanto, soerjono. (2002). sosiologi keluarga. jakarta: rineka cipta sunarsih, sri. (2016). remen basa jawi kanggo sd/mi kelas iv. jakarta: penerbit erlangga sutiyem, hj. (2013). sesuluh basa jawa. surakarta: cv surya badra trimo, im tri suyoto. (2016). remen basa jawi kanggo sd/mi kelas v. jakarta: penerbit erlangga https://nasional.sindonews.com/ kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 29 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 vol. 6, no. 1, juli 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i1.8467 kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun sekolah berkualitas di sekolah dasar minsih1), rusnilawati2), imam mujahid3) 1,2) pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta; 3) fud institut agama islam negeri surakarta 1min139@ums.ac.id; 2rus874@ums.ac.id; 3imammujahid@iain.ac.id pendahuluan sekolah merupakan institusi pendidikan yang memiliki berbagai dimensi yang satu sama lain berkaitan dan saling menunjang yang di dalamnya terdapat kegiatan belajar mengajar untuk peningkatan kualitas dan pengembangan potensi peserta didik. kepala sekolah memiliki jabatan tertinggi di sekolah. karena kepala sekolah memiliki peranan penting dan segala sesuatu yang ada di sekolah. untuk itu antara kepala sekolah dan guru harus saling bekerjasama dan diperlukan koordinasi dalam memajukan sekolah berkualitas. dengan demikian kepemimpinan kepala sekolah menjadi faktor penentu dalam proses pendidikan yang ada di sekolah. menurut priansa (2014: 49) kepala sekolah merupakan pejabat profesional yang ada dalam organisasi sekolah, yang bertugas untuk mengatur semua sumber daya sekolah dan bekerja sama dengan guruguru, staff dan pegawai lainnya dalam mendidik peserta didik untuk mencapai tujuan abstract: principal leadership was a determining factor in the education process in mi muhammadiyah special program kartasura. principal leadership emphasized the formation of student character and not on student grades. the purpose of this study was to describe the leadership style applied and the role of principals as leaders in building high-quality school. this type of research was qualitative research. the research design used was phenomenology. research used primary data in the form of interviews and observations and used secondary data in the form of documents obtained from school. the data analysis used was an interactive model analysis with source triangulation and methods. the results of this study were: first. principal leadership had a democratic-monarchic leadership style. this was based on the system that applied in the process of determining policies and decision-making processes carried out jointly. second, the role of the principal included several aspects that had been carried out, namely: as an educator, as a manager, as an administrator, as a supervisor, as a leader, as an innovator, as a very good motivator. the principal could be an example in carrying out their duties. therefore, the type and character of the leader must be observed and assessed properly. keywords: leadership of school head, elementary school, quality http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.8467 mailto:min139@ums.ac.id mailto:rus874@ums.ac.id kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 30 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 pendidikan. kepala sekolah yang profesional ia akan melakukan penyesuaian kebutuhan dunia pendidikan dan mampu berkembang sesuai dengan perkembangan jaman di era globalisasi. sekolah yang berkualitas tidak lahir dengan sendirinya dan tidak lahir karena fasilitas yang lengkap. sekolah yang berkualitas harus dibentuk dan direncanakan dengan baik serta dilaksanakan dengan baik. dalam pelaksanaannya juga diperlukan kerjasama antara dimensi satu sama lain, stakeholder, dan komitmen dari warga sekolah. wahyusumidjo (2011: 83) menjelaskan bahwa kepala sekolah adalah sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin suatu lembaga atau sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberikan pelajaran dan peserta didik yang menerima pelajaran. kepemimpinan merupakan faktor penting yang harus dimiliki oleh kepala sekolah. menurut kartono dalam priansa (2014: 162) kepemimpinan adalah kemampuan untuk memberikan pengaruh yang konstruktif kepada orang lain untuk melakukan satu usaha kooperatif mencapai tujuan yang sudah direncanakan. sedangkan pendapat menurut syarifudin (2011: 108), kepemimpinan merupakan suatu proses interaksi antara pemimpin dan orang lain yang dipimpin dalam suatu kelompok atau organisasi. pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya mempengaruhi dan mengarahkan serta menggerakkan seluruh anggota kelompok untuk memberdayakan sumber daya organisasi yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan organisasi. berdasarkan hasil wawancara awal yang telah diketahui bahwa pada tahun 2010 kepala sekolah di mi muhammadiyah program khusus kartasura berganti dan setelah adanya pergantian kepala sekolah, sekolah tersebut mendapat dapat memperoleh lebih dari 450 siswa. dengan adanya pergantian kepala sekolah tersebut mi muhammadiyah program khusus kartasura membuat kebijakan dengan menambahkan kata program khusus maupun islam terpadu ini ternyata memiliki pengaruh yang besar pada pertimbangan orang tua dalam menyekolahkan anaknya di sekolah dasar. peningkatan jumlah peminat tersebut juga menggunakan strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah yaitu dilakukan promosi seperti menyebarkan brosur, kalender, memasang baliho, membuat majalah yang kreatif dan edukatif. berbagai upaya yang dilakukan kepala sekolah tersebut ternyata dapat menarik perhatian dari para orang tua siswa karena sekolah tersebut mampu bersaing dengan sekolah-sekolah lama yang unggul. sekolah merupakan lembaga yang bersifat kompleks dan unik. bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. sedang bersifat unik karena sekolah memiliki karakter tersendiri, dimana terjadi proses belajar mengajar. karena sifatnya yang kompleks dan unik tersebut, sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. menurut wahyusumidjo (priansa, 2014: 33) keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah. menurut sumayang (priansa, 2014: 12) dijelaskan bahwa mutu (quality) adalah tingkat dimana rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunaannya, di samping itu mutu kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 31 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 adalah tingkat dimana sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan rancangan spesifikasinya. berkaitan dengan hal tersebut, mutu pendidikan dapat dilihat dalam dua hal yakni mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. proses pendidikan yang bermutu terjadi apabila seluruh komponen pendidikan terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri. berdasarkan sudut pandang sekolah bermutu sama halnya dengan sekolah yang berkualitas yang mengacu pada sejauh mana sekolah dapat mencapai tujuan yang telah direncanakan atau sesuai dengan yang diharapkan. mi muhammadiyah program khusus kartasura ini lebih menekankan pada pembentukan karakter siswa dan bukan pada hasil nilai siswa. kepala sekolah dapat mengatur kondisi sekolah dengan baik dan lebih menariknya lagi sekolah di mi muhammadiyah kartasura ini tidak menyeleksi siswanya sehingga anak dengan berbagai karakter dan kemampuannya dapat diterima. pola asuh guru di mi muhammadiyah program khusus kartasura terhadap siswa lebih ditekankan dengan memperhatikan kebutuhan siswa dalam memahami karakter siswa.sekolah tersebut menerapkan kurikulum yang sama dengan kurikulum pemerintah hanya perbedaannya terletak pada penambahan mata pelajaran bahasa inggris, agama, dan kaligrafi. kepala sekolah di mi muhammadiyah program khusus juga menerapkan pembelajaran yang berbasis kecerdasan majemuk (multiple intelligences). sekolah ini merupakan sekolah dasar yang memiliki kelas paralel, dengan masing-masing 3 rombel untuk kelas bawah dan masing-masing rombel untuk kelas atas. setiap guru di sekolah tersebut juga membuat pembelajaran yang menyenangkan dan menarik. hal ini terlihat dari adanya kegiatan alpha zone. alpha zone adalah suatu kegiatan yang mirip dengan apersepsi yaitu serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menyiapkan siswa dalam menerima pembelajaran. adanya kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala sekolah di mi muhammadiyah program khusus dalam membangun sekolah yang berkualitas dapat dikatakan berhasil karena dengan adanya kepala sekolah membuat program-program yang menarik minat siswa dan sekolah tersebut mampu bersaing mengikuti perkembangan. rumusan yang digunakan dalam penelitian ini: 1) bagaimana gaya kepemimpinan kepala sekolah di mi muhammadiyah program khusus kartasura?, 2) bagaimana peran kepala sekolah dalam membangun sekolah yang berkualitas di mi muhammadiyah program khusus kartasura? metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengungkapkan kejadian dengan penjelasan yang menyeluruh apa adanya. desain penelitian yang digunakan adalah fenomenologi. fokus utama fenomenologi adalah pengalaman nyata. menurut darmadi (2014: 209) penelitian fenomenologi menjelaskan atau mengungkapkan makna konsep atau fenomena pengalaman yang di dasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. peneliti terfokus pada kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun sekolah berkualitas di mi muhammadiyah program khusus kartasura. peneliti sebagai intrumen yaitu melakukan pengamatan mengenai kepemimpinan kepala sekolah di mi muhammadiyah program khusus (pk) kartasura. selanjutnya kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 32 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 melakukan wawancara secara mendalam mengenai bernagai pertanyaan pada narasumber yaitu kepala sekolah dan guru. selanjutnya data yang diperoleh diolah dan dianalisis untuk mendapatkan informasi yang nyata dari kepala sekolah tentang kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun sekolah berkualitas di mi muhammadiyah program khusus kartasura. teknik pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk pengumpulan data. teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini wawancara, pengamatan dan dokumentasi. keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi. triangulasi merupakan teknik pengecekan keabsahan data yang didasarkan pada sesuatu di luar data, untuk keperluan mengecek atau sebagai pembanding terhadap data yang telah ada. dalam penelitian kualitatif bisa menggunakan dua macam triangulasi yaitu triangulasi teknik dan triangulasi sumber. trianngulasi teknik adalah teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. analisis data kualitatif yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskan, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. teknik analisisnya ada 3 tahap yaitu sebagai berikut: reduksi, display dan verifikasi. hasil dan pembahasan kepemimpinan kepala sekolah sangat berpengaruh terhadap kemajuan sekolah karena gaya kepemimpinan ini memberikan kontribusi sebannyak 75% terhadap kemajuan sekolah. mengingat sejarah perkembangan mim kartasura 10 tahun sebelumnya masih terbelakang dan memiliki kualitas sekolah yang masih rendah. hal ini sebagaimana dinyatakan oleh bapak nasrul: “dulu idealisme saya sekolah berkembang bersama-sama, tetapi setalah saya pegang 8 tahun memang benar pernyataan tersebut jika kepemimpinan kepala sekolah mempengaruhi 75% dalam kemajuan sekolah. dan 25% tersebut mencakup guru dan warga sekolah. kepemimpinan kepala sekolah sangat penting dalam menentukan sekolah itu mau diarahkan seperti bagaimana, kualitasnya, desainnya dan kebijakan. jika beda kepemimpinan bisa merubah kebijakankebijkan di sekolah tersebut, bisa menjadi lebih berkembang, bisa menjadi merosot sekolah tersebut, dan bisa sama tetapi beda inovasi dan program”. gaya kepemimpinan kepala sekolah mim pk kartasura adalah demokratis hal ini sebagimana dengan pernyataan guru kelas ii fathoni yang menyatakan: “kami melihat bahwa kepemimpinan belian itu sangan demokratis, hal ini terlihat dalam kebijakan-kebijakan yang beliau ambil seperti proses mengambil keputusan harus dengan musyawarah. serta berbagai kebijakan-kebijakan yang beliau keluarkan sudah melalui tahap musyawarah.” kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 33 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 pernyataan tersebut sejalan dengan yang dinyatakan oleh bapak nasrul: “memimpin itu ada 2 hal, ada sesuatu yang bisa dimusyawarahkan dan ada sesuatu yang tidak bisa dimusyawarahkan. jadi ada yang demokratis dan ada monarki. dan saya menggunakan 2 hal itu secara general. contohnya sesuatu yang tidak bisa di musyawarahkan yaitu mengenai idealisme seperti kedisiplinan.” berdasarkan beberapa pernyataan wawancara, dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah di mim pk kartasura menerapkan gaya kepemimpinan demokratis. walau dalam beberapa hal menerapkan gaya yang monarki sehingga sering diidentikkan dengan gaya kepemimpinan demokratis monarkis. dari petikan wawancara dan berdasarkan data dokumentasi serta proses observasi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem kepemimpinan kepala sekolah mim program khusus (pk) kartasura memiliki gaya kepeminmpinan yang demokratis-monarki. pernyataan ini didukung oleh bebrapa bukti administrasi dan petikan wawancara kepada beberapa guru dan kepala sekolah yang bersambutan. kepemimpinan ini juga erat kaitannya dengan peran sebagai manajer, dimana manajer sering menerapkan beberapa hal dalam mengelola dan mengorganisasikan sebuah lembaga dan institusi, sistem sekolah yang terbentuk dalam sebuah struktur organisasi yang masing-masing memiliki koordinator sebagai penanggung jawabnya. hal ini sering disebut sebagai manajemen kontrol. manajemen kontrol ini sebagai sumber kekuatan sistem leadership di mim pk kartasura. peran pemimpin sebagai administrator melaksanakan sistem administrasi dengan sabaik-baiknya telah dilaksanakan, dan dalam hal ini membuat beberapa program dan kebijakan. pelaksanaannya berdasarkan pembentukan organisasi dan tim-tim yang terlibat. seperti setiap guru harus membuat rpp yang outentik dan dikumpulkan kepada coordinator kurikulum. sistem arsip-arsip terkait surat masuk dan surat keluar sudah diatur oleh sop-nya. berdasarkan hal tersebut dapat dibuktikan dengan petikan wawancara sebagai berikut ini: “gini mbak, saya sebagai pemimpin juga melaksanakan tugas administrasi, tugas supervise, tugas sebagai manajer dan tugas sebagai pemempin yang harus mampu mempengaruhi bawahan saya untuk semangat melaksanakan tugas dan kewajibannya karena ini merupakan tanggung jawab kita masing-masing.” kepemimpinan ini juga erat kaitannya dengan peran sebagai manager, dimana manager sering menerapkan beberapa hal dalam mengelola dan mengorganisasikan sebuah lembaga dan isntitusi, sistem sekolah yang terbentuk dalam sebuah struktur organisasi yang masing-masing memiliki koordinator sebagai penanggung jawabnya. hal ini sering disebut sebagai manajemen kontrol. manajemen kontrol merupakan sumber kekuatan sistem leadership di mim pk kartasura. hal ini yang sesuai dengan pernyataan nasrul sebagai berikut ini: kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 34 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 “yang saya lakukan, sama dengan menerapkan management kontrol. manajemen kontrol menjadi salah satu pilar sekolah yang maju. peran kepala sekolah dalam manajemen kontrol sangat penting sekali. menurut saya ini adalah tugas yang berat sekali seperti tugas negara, tugas yayasan,dan tugas ortom. program sekolah yang sangat banyak tersebut berat sekali dalam mengontrolnya. maka sistem saya, membentuk struktur organisasi. seperti supervisi kelas dan observasi kelas saya menugaskan kepada guru. mengontrol kegiatan-kegiatan dengan melakukan rapat mingguan dan wajib dilakukan.” disamping itu peran kepala sekolah sebagai pemimpin harus memiliki kemampuan tata kelola yang baik. sebagaimana ungkapan bapak nasrul sebagai berikut: “saya membagi tugas-tugas kepada tim dalam struktur organisasi. salah satu pemimpin yang berhasil adalah yang bisa mendelegasikan artinya dapat membagi tugasnya kepada timnya. kepala sekolah jika melaksanakan semuanya sendiri artinya kepala sekolah tersebut kepemimpinannya tidak bagus karena tidak mampu mendelegasikan tugasnya.” keberhasilan kepemimpinan ini tidak lepas dari beberapa faktor yang ikut mempengaruhi. faktor-faktor yang ikut mendukung keberhasilan dalam memimpin adalah: pertama, yaitu belajar dalam hal ini seorang pemimpin terus harus belajar mengkaji dan belajar serta banyak membaca buku-buku tentang kepemimpinan, dan belajar kepada sekolah yang lebih baik kualitasnya (magang) diskusi dengan beberapa pakar dan ahli. karena kalau tidak memiliki wawasan, tidak dapat mendapatkan solusi dalam menyelesaikan masalah. kedua, adalah komunikasi, skill kepala sekolah dalam berkomunikasi itu sangat penting karena memerintah, mengingatkan, mengajak dan mengontrol kalau menggunakan bahasa yang semena-mena menyakiti hati. pemimpin itu ada yang dilahirkan dan ada yang karena belajar. ketiga adalah dukungan dari penyelenggara yaitu yayasan. itu kekuatan bagi saya, karena saya saat memimpin saya paling muda saat umur saya 25 tahun dan guru-guru di mim pk kartasura paling muda 26 tahun.” sedangkan kesulitan dalam hal ini yang paling menjadi hal yang harus diantisipasi adalah dua faktor penghambat dalam kepemimpinan yaitu: pertama, kualitas sumber daya manusia dan pembiayaan. kualitas sumber daya manusia meliputi kepala sekolah dan guru-guru. seperti komitmen, loyalitas, kreatifitas,dan daya juang. saya pernah mengeluarkan guru dan karyawan. yang guru karena loyalitasnya kurang dan mencemarkan nama baik sekolah. sedangkan yang karyawan memang masa kontraknya habis dan saya tidak perpanjang karena kinerjanya kurang bagus. kedua, pembiayaan, segala sesuatu membutuhkan pembiayaan. promosi dan publikasi yang baik butuh modal yang banyak agar dapat menarik masyarakat. peran pemimpin sebagai motivator harus jelas, di mim pk kartasaura diadakan sebuah program yang akan memotivasi sdm agar memiliki kualitas yang baik dan kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 35 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 terukur. program guru belajar merupakan bentuk apresiasi yang harus dibanggakan. pelaksanaan workshop dan pelatihan ini dilakssanakan setiap sebulan 2 kali yaitu minggu kedua dan keempat, saat itulah memberi motivasi-motivasi. selain itu setiap pagi terdapat apel dan mengirim guru studi banding ke sekolah-sekolah yang lebih maju yaitu untuk memberikan motivasi. kepala sekolah sebagai motivator tidak harus kepala sekolah yang harus memberikan motivasi karena sudah setiap hari mendengarkan tetapi dengan mengirim guru-guru untuk membandingkan dan memotivasi dirinya untuk lebih baik lagi. sebagai inovator dibuat kebijakan 5 hari sekolah efekif bagi siswa yang sebelumnya hari sabtu anak-anak sekolah tetap masuk. jadi senin, selasa, rabu, kamis,dan jumat adalah hari sekolah efektif bagi siswa. pada hari sabtu minggu pertama dan ketiga siswa ekstrakulikuler, dan sabtu minggu kedua dan keempat siswa libur diganti dengan guru-guru belajar bersama. sehingga guru-guru dapat belajar dengan fresh dari pagi berdiskusi mengenai pembelajaran-pembelajaran yang harus di inovasi. dahulu yang menerapkan ini di kecamatan kartasura hanya mim pk kartasura, sekarang banyak yang menerapkan ini. sebagai supervisor pemimpin memberikan tugas pada guru dan pemimpin yang memantau dan mengevaluasinya. kepemimpinan kepala sekolah mim program khusus (pk) kartasura memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis-monarki. pernyataan ini didukung oleh beberapa bukti administrasi dan petikan wawancara kepada beberapa guru dan kepala sekolah yang bersambutan. kepemimpinan kepala sekolah mempengaruhi 75% dalam kemajuan sekolah dan 25% tersebut mencakup guru dan warga sekolah. kepemimpinan kepala sekolah sangat penting. jika beda kepemimpinan bisa merubah kebijakan-kebijkan di sekolah tersebut, bisa menjadi lebih berkembang, bisa menjadi merosot sekolah tersebut, dan bisa sama tetapi beda inovasi dan program. kepala sekolah harus terlebih dahulu diperbaiki sehingga dapat menentukan kualitas sekolah tersebut. sudarwan danim (priansa, 2014: 21) menyarankan untuk meningkatkan mutu sekolah atau sekolah yang bermutu dapat dilakukan dengan melibatkan lima faktor yang dominan yaitu: 1. kepemimpinan kepala sekolah: kepala sekolah harus memiliki dan memahami visi kerja secara jelas, mampu dan mau bekerja keras, mempunyai dorongan kerja yang tinggi, tekun, tabah dalam bekerja, memberikan layanan yang optimal, dan disiplin kerja yang kuat. 2. peserta didik: pendekatan yang harus dilakukan adalah “anak sebagai pusat” sehingga kompetensi dan kemampuan peserta didik dapat digali sehingga sekolah dapat menginventariskan kekuatan yang ada pada peserta didik. 3. guru: pelibatan guru secara maksimal, dengan meningkatkan kompetensi dan profesional kerja guru dalam kegiatan seminar, mgmp, lokakarya serta pelatihanm sehingga hasil dari kegiatan tersebut diterapkan di sekolah. 4. kurikulum: adanya kurikulum yang ajeg/ tetap tetapi dinamis dapat memungkinkan dan memudahkan standar mutu yang diharapkan sehingga tujuan dapat dicapai secara maksimal. kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 36 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 5. jaringan kerjasama: jaringan kerjasama tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah dan masyarakat semata (orang tua dan masyarakat) tetapi dengan sekolahsekolah lain yang bermutu dan berkualitas. berdasarkan kutipan teori tersebut dapat ditarik benang merah bahwa kepemimpinan ini merupakan hal yang sangat menentukan dalam keberhasilan sebuah lembaga/institusi. walaupun masih banyak faktor penentu yang lainnya yang ikut mendukung keberhasilan itu. kepala sekolah mim pk kartasura menerapkan 2 hal dalam kepemimpinannya, yaitu ada hal yang harus dimusyawarahakan dan ada hal yang tidak harus dimusyawarahkan. hal yang tidak harus dimusyawarahkan yaitu mengenai idealism dan kedisiplinan. sesuai dengan hasil penelitian nuchiyah (2007) bahwa kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh signifikan mencapai 46 % terhadap prestasi belajar siswa. kepemimpinan ini juga erat kaitannya dengan peran sebagai manager, dimana manager sering menerapkan beberapa hal dalam mengelola dan mengorganisasikan sebuah lembaga dan isntitusi, sistem sekolah yang terbentuk dalam sebuah struktur organisasi yang masing-masing memiliki koordinator sebagai penanggung jawabnya. hal ini sering disebut sebagai manajemen kontrol. manajemen kontrol ini sebagai sumber kekuatan sistem leadership di mim pk kartasura. stoop & johnson dalam samino (2014: 56) mengemukakan empat belas peranan kepala sekolah dasar, yaitu: (1) kepala sekolah sebagai business manager, (2) kepala sekolah sebagai pengelola kantor, (3) kepala sekolah sebagai administrator, (4) kepala sekolah sebagai pemimpin profesional, (5) kepala sekolah sebagai organisator, (6) kepala sekolah sebagai motivator atau penggerak staf, (7) kepala sekolah sebagai supervisor, (8) kepala sekolah sebagai konsultan kurikulum, (9) kepala sekolah sebagai pendidik, (10) kepala sekolah sebagai psikolog, (11) kepala sekolah sebagai penguasa sekolah, (12) kepala sekolah sebagai eksekutif yang baik, (13) kepala sekolah sebagai petugas hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (14) kepala sekolah sebagai pemimpin masyarakat. berdasarkan hasil penelitian ini dapat dideskripsikan bahwa di mim pk kartasura memiliki peran dalam kepemimpinana yaitu sebagai administrator dan sebagai supervisor. sehingga sangat relevan dengan teori di atas dari keempat belas peranan tersebut, dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu kepala sekolah sebagai administrator pendidikan dan sebagai supervisor pendidikan. sesuai dengan hasil penelitian setiyati (2014) bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru dengan sumbangan efektifnya sebesar 18,22%. karakter kuat yang dimiliki pemimpin akan ikut memberikan pengaruh positif terhadap gaya dan keberhasilan kepemimpinannya.oleh karenanya dalam menentukan tipe dan karakter pemimpin harus diobservasi dan diasesmen dengan baik. berikut ini adalah faktor yang turut memberikan pengaruh terhadap keberhasilan sebuah lembaga. faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan kepemimpinan dalam mengembangkan lembaga yang dipimpin dapat diukur atau ditandai oleh empat hal, yaitu : moril, disiplin, jiwa karsa (esprit de corps), dan kecakapan diri (praire, 2015: 23). kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 37 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 1. moril: moril adalah keadaan jiwa dan emosi seseorang yang mempengaruhi kemauan untuk melaksanakan tugas dan akan mempengaruhi hasil pelaksanaan tugas perorangan maupun organisasi. 2. disiplin : disiplin adalah ketaatan tanpa ragu-ragu dan tulus ikhlas terhadap perintah atau petunjuk atasan serta peraturan yang berlaku. disiplin yang terbaik adalah disiplin yang didasarkan oleh disiplin pribadi. 3. jiwa korsa : jiwa korsa adalah loyalitas, kebanggan dan antusiasme yang tertanam pada anggota termasuk pimpinannya terhadap organisasinya. dalam suatu organisasi yang mempunyai jiwa korsa yang tinggi, rasa ketidakpuasan bawahan dapat dipadamkan oleh semangat organisasi. 4. kecakapan : kecakapan adalah kepandaian melaksanakan tugas dengan hasil yang baik dalam waktu yang singkat dengan menggunakan tenaga dan sarana yang seefisien mungkin serta berlangsung dengan tertib. peran pemimpin sebagai administrator melaksanakan sistem administrasi dengan sabaik-baiknya telah dilaksanakan, dan dalam hal ini membuat beberapa program dan kebijakan. pelaksanaannya berdasarkan pembentukan organisasi dan tim-tim yang terlibat. seperti setiap guru harus membuat rpp yang outentik dan dikumpulkan kepada coordinator kurikulum. dan demikian juga sistem arsiparis terkait surat masukn dan surat keluar dan semua sudah diatur oleh sop-nya. hal ini senada dengan pernyataan dalam samino (2014: 56) mengemukakan empat belas peranan kepala sekolah dasar, diantaranya yaitu: (1) kepala sekolah sebagai business manager, (2) kepala sekolah sebagai pengelola kantor, (3) kepala sekolah sebagai administrator serta yang lainnya. hal ini juga didukung oleh hasil penelitian triyanto (2013) bahwa kepala sekolah berupaya untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme guru dengan memberikan keleluasaan untuk mengikuti pendidikan lanjutan, mengikuti diklat, serta memberikan arahan agar bekerja sesuai tuntutan. peran pemimpin sebagai motivator harus jelas, di mim pk kartasaura diadakan sebuah program yang akan memotivasi sdm agar memiliki kualitas yang baik dan terukur. program guru belajar merupakan bentuk apresiasi yang harus dibanggakan. pelaksanaan workshop dan pelatihan ini dilakssanakan setiap sebulan 2 kali yaitu minggu kedua dan keempat, saat itulah memberi motivasi-motivasi. selain itu setiap pagi terdapat apel dan mengirim guru studi banding ke sekolah-sekolah yang lebih maju yaitu untuk memberikan motivasi. sebagai inovator dibuat kebijakan 5 hari sekolah efekif bagi siswa yang sebelumnya hari sabtu anak-anak sekolah tetap masuk di hari sabtu. jadi senin, selasa, rabu, kamis, dan jumat adalah hari sekolah efektif bagi siswa. khusus hari sabtu minggu pertama dan ketiga siswa ekstrakulikuler, dan sabtu minggu kedua dan keempat siswa libur diganti dengan guru-guru belajar bersama. sehingga guru-guru dapat belajar dengan fresh dari pagi berdiskusi mengenai pembelajaran-pembelajaran yang harus di inovasi. persepsi kepala sekolah sebagai pemimpin yang baik di mim pk adalah seorang pemimpin yang mampu mewujudkan kualitas sekolah yang baik dan dipercaya oleh masyarakat. sekolah yang berkualitas adalah sekolah yang dapat melayani semua orang/masyarakat. karena saat ini masih banyak sekolah unggul yang memilih-milih kondisi anak, ada seleksi. kalau sekolah dapat melayani semua anak baik anak pinter kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 38 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 ataupun tidak pintar. sebenarnya kalau menurut teori tidak ada anak tidak pintar, karena semua anak memiliki kepintrannya masing-masing, oleh karena dalam penerapan pembelajaran sekolah ini menerapkan konsep kecerdasan majemuk. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1) kepemimpinan kepala sekolah mim program khusus (pk) kartasura memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis-monarki. hal ini didasarkan pada sistem yang berlaku di mim pk kartasura yang dalam proses penentuan kebijakan dan proses pengambilan keputusan dilaksanakan secara bersama-sama, 2) peran kepala sekolah meliputi beberapa aspek yang telah dijalankan yaitu: sebagai educator (pendidik), sebagai manajer, sebagai administrator, sebagai supervisor, sebagai pemimpin, sebagai innovator, sebagai motivator sangat baik sehingga kepala sekolah bisa menjadi contoh dalam menjalankan tugasnya. karakter kuat yang dimiliki pemimpin akan ikut memberikan pengaruh positif terhadap gaya dan keberhasilan kepemimpinannya.oleh karenanya dalam menentukan tipe dan karakter pemimpin harus diobservasi dan diasesmen dengan baik. kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 39 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 daftar pustaka darmadi, hamid. (2014). metode penelitian pendidikan dan sosial. bndung: alfabeta. priansa, donni juni. (2014). kinerja dan profesionalisme guru. bandung: alfabeta. priansa, donni junidan rismi somad. (2014). manajemen supervisi dan kepemimpinan kepala sekolah. bandung: alfabeta. praire, paolo. (2015). kepemimpinan pendidikan. jakarta: afabeta press. mulyadi, muhammad. (2016). metode penelitian praktis: kualitatif dan kuantitatif. jakarta: publika press. moleong, lexy. j. (2015). metode penelitian kualitatif. bandung: bandung rosdakarya. nuchiyah, nunu. (2007). pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa. jurnal pendidikan dasar vol v no 7. http://jurnal.upi.edu/ samino. (2014). kepemimpinan pendidikan. surakarta: ums press. setiyati, sri. (2014). pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja, dan budaya sekolah terhadap kinerja guru. jurnal pendidikan teknologi dan kejuruan vol 22 no 2. https://journal.uny.ac.id/index.php/jptk/article/view/8931. sugiyono. (2015). metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r & d). bandung: alfabeta. syarifudin. (2011). manajemen pendidikan. jakarta: diadit media. triyanto, eko; sri anitah; nunuk suryani. (2013). peran kepemimpinan kepala sekolah dalam pemanfaatan media pembelajaran sebagai upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran. jurnal teknologi pendidikan vol 1 no 2. http://jurnal.pasca.uns.ac.id. wahyusumidjo. (2011). kepemimpinan kepala sekolah. jakarta: pt. raja grafindo persada. http://jurnal.upi.edu/pendidikan-dasar/view/85/pengaruh%20kepemimpinan%20kepala%20sekolah%20dan%20kinerjamengajar%20guru%20terhadap%20prestasi%20belajar%20siswa https://journal.uny.ac.id/index.php/jptk/article/view/8931 http://jurnal.pasca.uns.ac.id/ kepemimpinan kepala sekolah......(minsih, dkk) 40 jppd, 6, (1), hlm. 29 40 sekolah ramah anak.....(lutfiana & harun) 10 jppd, 5, (1), hlm. 10 19 vol. 5, no. 1, juli 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.6111 sekolah ramah anak berbasis hak anak di sekolah dasar luthfiana ambarsari1), harun2) progam pascasarjana universitas negeri yogyakarta 1luthfiana.ambarsari2016@student.uny.ac.id; 2harun_pgpauduny@yahoo.com pendahuluan sekolah ramah anak dilaksanakan diberbagai negara, salah satunya indonesia. pelaksanaan sekolah ramah bertujuan untuk memenuhi hak anak secara menyeluruh. hal tersebut sesuai dengan peraturan kementerian pppa ri no. 8 tahun 2014 yang menyebutkan bahwa sekolah ramah anak merupakan satuan pendidikan yang salah satu tujuannya adalah untuk menjamin, memenuhi dan menghargai hak anak serta melindungi anak dari tindak kekerasan dan diskriminasi. memperkuat uraian sebelumnya, pemerintah walikota di kota yogyakarta salah satu wilayah di indonesia yang merupakan tempat penelitian ini dilakukan telah membuat kebijakan sekolah ramah anak yang bertujuan untuk menjamin dan memenuhi hak-hak anak secara terencana dan bertanggungjawab. sekolah ramah anak di kota yogyakarta memiliki kewajiban untuk melindungi peserta didik dari segala bentuk perilaku yang mengakibatkan pelanggaran hak anak. selain itu, berupaya untuk menyediakan sumberdaya pendukung untuk mewujudkan sekolah ramah anak. keselamatan peserta didik juga dijamin dalam sekolah ramah anak. kemudian, sekolah juga berupaya menyediakan lingkungan dan infrastruktur yang bersih abstrak: this research aimed to describe the child-friendly school policy in two child-friendly pilot primary schools. this research concern: “how does the implementation of child-friendly school policy based child rights at primary school?” the method that used in this research was a qualitative type of phenomenology. the data were collected by observation method, interview, and documentation. the data analysis technique that used was phenomenology research data analysis of burke johnson and larry christensen. the results showed that there were 3 discoveries related to child-friendly school policies in primary schools. first, the child-friendly school policies were designed and implemented to ensure children's rights were fulfilled. second, the child-friendly school policies were implemented in learning area, the school social environments, the school’s physical environment, and infrastructure facilities. third, the child-friendly school policies were applied to create condition conducive and fun in school. keywords: child-friendly schools, children's rights, child-friendly environments https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.6111 mailto:luthfiana.ambarsari2016@student.uny.ac.id mailto:harun_pgpauduny@yahoo.com sekolah ramah anak.....(lutfiana & harun) 11 jppd, 5, (1), hlm. 10 19 dan sehat sehingga membuat peserta didik aman dan nyaman ketika berada di sekolah. peserta didik berhak mendapat perlindungan dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga pendidik, maupun teman sebaya. berdasarkan hasil observasi di 2 sekolah dasar yang dijadikan tempat penelitian, peserta didik di kelas tinggi maupun kelas rendah masih sering mengejek temannya. sehingga perlu kerjasama dari berbagai pihak terutama orangtua peserta didik untuk meminimalisir terjadinya bullying yang dapat menimbulkan tindak kekerasan antar peserta didik. hal tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa orang tua harus terlibat aktif untuk melakukan pendekatan terhadap peserta didik agar tradisi bullying dapat diminimalisir atau dihilangkan (cross d. et. al, 2012). keterlibatan orang tua diperlukan karena lingkungan sosial peserta didik di sekolah dan di rumah memungkinkan peserta didik melakukan perubahan secara positif. setiap anak di berbagai negara wajib dijamin dan dipenuhi hak-haknya secara utuh. sebagai seorang yang memiliki rasa kemanusiaan seharusnya semua masyarakat menyadari betapa pentingnya untuk memenuhi hak anak sebagai hak manusia sehingga tidak ada tindak kekerasan terhadap anak. konvensi hak anak mempromosikan kesejahteraan anak di sekolah termasuk sekolah harus mudah diakses oleh anak, memberi perlindungan terhadap anak, dan memberi hak kepada anak untuk berpendapat (jiang, x. et. al., 2014). sejalan dengan uraian sebelumnya, action aid (2013) menyatakan bahwa terdapat 10 hak anak secara umum yang harus dipenuhi yaitu: 1) hak untuk wajib belajar dan pendidikan gratis 2) non diskriminasi 3) insfrastruktur yang memadai 4) kualitas guru-guru yang terlatih 5) lingkungan yang aman dan non kekerasan 6) pendidikan yang relevan 7) hak untuk mengetahui hak-haknya 8) hak untuk berpartisipasi 9) sekolah yang transparan dan akuntabel 10) kualitas pembelajaran. selain itu, peserta didik perlu mengetahui hak atas kesejahteraan mereka untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan (lenzer, g. & gran, b., n.d). sehingga dalam pembuatan kebijakan atau peraturan di sekolah seharusnya melibatkan peserta didik untuk menjamin kebutuhan peserta didik terpenuhi. berdasarkan uraian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa salah satu hak anak yaitu untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan. peserta didik di kelas tinggi maupun kelas rendah masih sering melakukan bullying terhadap temannya. hal tersebut seolah sudah menjadi tradisi yang belum tuntas untuk dihilangkan. peserta didik di sekolah berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. sehingga pola asuh yang diberikan orang tuanya dapat berpengaruh terhadap perilaku anak di sekolah. hubungan orangtua dengan anak yang positif memiliki pengaruh pada anak ketika di sekolah (hay. i., 2016). sehingga baik dan buruknya perilaku anak di sekolah cenderung dipengaruhi oleh kebiasaan yang dilihat dan diterima anak di sekitar lingkungannya, terutama di rumah sebagai pendidikan pertama bagi anak. sejalan dengan uraian sebelumnya, anak membutuhkan orang tua untuk memberikan pengetahuan tentang bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain maupun dengan lingkungan. orang tua mempengaruhi perkembangan anak, seperti mempengaruhi keyakinan dan perilaku mereka (dewi, k.s, dkk, 2015). sehingga anak perlu diberi pondasi pengetahuan yang kokoh agar dapat berperilaku dengan baik. sekolah ramah anak.....(lutfiana & harun) 12 jppd, 5, (1), hlm. 10 19 orangtua yang melakukan pengasuhan yang negatif akan mempengaruhi agresi anak-anak dengan meningkatkan pengaruh negatif mereka (joussemet et.al, 2008). sehingga ketika di sekolah, ada anak yang semakin tinggi kelasnya akan melakukan kegiatan yang negatif, seperti mengancam temannya dan bahkan meminta uang kepada adik kelas yang dianggapnya memiliki posisi lemah di sekolah. hal tersebut masih sering terjadi di sekolah karena kurangnya kesadaran peserta didik untuk berbuat baik. di sekolah ramah anak, antar peserta didik seharusnya memiliki sikap saling menghargai dan tidak melakukan bullying. hal tersebut untuk mendukung terciptanya lingkungan sekolah ramah anak yang aman dan nyaman bagi peserta didik dengan tidak adanya bullying yang dilakukan secara verbal maupun fisik. tetapi, berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di sekolah, peserta didik masih belum memiliki kesadaran untuk tidak melakukan bullying terhadap temannya. kemudian, salah satu hak anak adalah mendapat perlindungan baik secara fisik maupun psikis. sehingga melalui penelitian ini, peneliti berusaha mengungkap terkait kebijakan sekolah ramah anak yang dilaksanakan di 2 sekolah dasar rintisan sekolah ramah anak di kota yogyakarta sebagai upaya untuk menciptakan sekolah yang aman dan nyaman bagi peserta didik. fokus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keterlaksanaan kebijakan sekolah ramah anak di 2 sekolah dasar rintisan sekolah ramah anak di kota yogyakarta. sehingga rumusan pertanyaan penelitian adalah bagaimana pelaksanaan kebijakan sekolah ramah anak di sekolah dasar. metode penelitian pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif fenomenologi. langkah-langkah penelitian kualitatif fenomenologi yaitu merumuskan pertanyaan sentral yang merupakan pertanyaan menyeluruh tentang konsep yang akan dieksplorasi dalam penelitian. tempat penelitian yaitu di 2 sekolah dasar di kota yogyakarta yaitu di sd n pujokusuman 1 dan sd n ngupasan. penelitian dilaksanakan di dua sekolah dasar tersebut karena keduanya merupakan sekolah dasar yang telah terpilih sebagai sekolah rintisan untuk melaksanakan sekolah ramah anak di kota yogyakarta. subjek penelitian adalah warga sekolah. observasi dilakukan untuk melihat kondisi pembelajaran dan lingkungan sekolah mengenai keterlaksanaan kebijakan sekolah ramah anak berlangsung. peraturan kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (pppa) no. 8 tahun 2014 telah dijadikan panduan untuk menyusun butir-butir aspek yang diobservasi di sekolah. kemudian, wawancara dilakukan dengan kepala sekolah, tim pengembang sekolah ramah anak, guru, dan peserta didik. selain itu, dokumentasi juga digunakan untuk merekam situasi yang sedang berlangsung terkait kebijakan sekolah ramah anak di sekolah. analisis data berupa deskripsi dari hasil wawancara dan observasi pada informan dalam penelitian. peneliti memilih kalimat signifikan dari hasil wawancara yang sesuai dengan tema penelitian. kemudian, kalimat tersebut dideskripsikan dan diberi makna. setelah itu, dapat diperoleh kesimpulan dari data yang telah diperoleh. sekolah ramah anak.....(lutfiana & harun) 13 jppd, 5, (1), hlm. 10 19 hasil dan pembahasan data yang diperoleh selama observasi pada dua sekolah dasar yang meliputi lima belas aspek pengamatan terkait sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah sebagai penunjang program sekolah ramah anak disajikan dalam tabel 1. tabel. 1. hasil observasi terkait sarana dan prasarana sekolah ramah anak no. aspek yang diamati pilihan jawaban ya tidak 1 kapasitas ruang kelas sesuai dengan jumlah peserta didik √ 2 ruang kelas dilengkapi meja kursi peserta didik dan guru, dan fasilitas pembelajaran lainnya sesuai kebutuhan yang dibuat dari bahan yang tidak membahayakan bagi anak √ 3 peserta didik dilibatkan dalam penataan ruang kelas √ 4 memiliki toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan √ 5 tersedia tempat sampah terpilah √ 6 memiliki lapangan dan fasilitas olahraga yang cukup √ 7 memiliki tempat cuci tangan dengan air bersih yang mengalir √ 8 memiliki tempat ibadah √ 9 memiliki kantin sehat √ 10 ruang uks √ 11 simbol terkait sekolah ramah anak, seperti dilarang merokok √ 12 memiliki tanaman di lingkungan sekolah √ berdasarkan hasil observasi dapat dilihat bahwa di 2 sekolah dasar rintisan sekolah ramah anak di kota yogyakarta sudah memiliki sarana dan prasarana yang menunjang terlaksananya sekolah ramah anak. sarana prasarana tersebut meliputi tersedianya ruang kelas yang sesuai dengan jumlah peserta didik, ruang kelas yang memiliki fasilitas yang tidak membahayakan bagi peserta didik, penataan ruang kelas yang melibatkan peserta didik, dan seterusnya. wawancara telah dilakukan dengan kepala sekolah, tim pengembang sekolah ramah anak di sekolah dan guru di sd n pujokusuman 1 dan sd n ngupasan. hasil wawancara yang telah diperoleh yaitu: 1. perumusan kebijakan sekolah ramah anak dilakukan dengan komite sekolah dan perwakilan paguyuban tiap kelas untuk merumuskan gugus tugas sekolah ramah anak dan komite perlindungan, indikasi bahwa hak anak terpenuhi adalah anak merasa nyaman dan aman di sekolah baik secara fisik maupun psikis 2. pelaksanaan pembelajaran non diskriminatif, sarana pembelajaran memadai (terdapat lcd dan cctv tiap kelas), memfasilitasi 1 anak 1 buku untuk buku sekolah ramah anak.....(lutfiana & harun) 14 jppd, 5, (1), hlm. 10 19 buku yang resmi dari pemerintah 3. pihak sekolah menjalin hubungan dengan orang tua peserta didik dan masyarakat sekitar. misalnya ada pertemuan paguyuban antara orang tua murid dan guru, kerjasama dengan puskesmas, polsek, dinas lingkungan hidup (dlh), dan sebagainya. 4. lingkungan fisik dan sarana prasarana bagus dan memadai. di kedua sekolah tersebut terdapat bangunan cagar budaya yang masih dilestarikan dan digunakan sebagai ruangan kelas. selain itu, sekolah mengupayakan untuk memfasilitasi peserta didik dengan sarana dan prasarana yang layak dan aman bagi peserta didik, seperti lapangan olahraga, tempat ibadah, kantin sehat, dan sebagainya. 5. upaya yang dilakukan untuk membuat kondisi sekolah kondusif dan menyenangkan yaitu menyediakan berbagai fasilitas untuk menunjang kegiatan belajar peserta didik seperti gazebo, tanaman, dan sebagainya. kemudian, guru harus memfasilitasi peserta didik untuk belajar dari hal yang mudah ke yang sulit, karena kecerdasan tiap peserta didik berbeda-beda. sehingga guru tidak boleh memukul rata semua peserta didik untuk memiliki kecepatan pemahaman yang sama. dokumentasi dilakukan untuk merekam berbagai kegiatan terkait kebijakan sekolah ramah anak, seperti proses pembelajaran di kelas, foto kegiatan peserta didik di luar kelas, kondisi kantin sekolah, dan sebagainya. dengan adanya dokumentasi dapat mendukung sumber data di lapangan agar lebih objektif. hasil dari dokumentasi di sekolah telah menunjukkan bahwa proses pembelajaran dilakukan dengan prinsip menyenangkan bagi peserta didik dan tidak ada perbedaan perlakuan antar peserta didik. kemudian, peserta didik dapat bermain dan belajar di luar kelas dengan aman dan nyaman. kebijakan sekolah ramah anak di 2 sekolah dasar rintisan sekolah ramah anak di kota yogyakarta yaitu sdn pujokusuman 1 dan sdn ngupasan dirancang dan diimplementasikan untuk menjamin terpenuhinya hak anak. sehingga dalam perumusan dan pelaksanaannya pihak sekolah melibatkan orang tua peserta didik untuk dijadikan teman berdiskusi mengenai kebutuhan apa yang diperlukan anak dalam proses pembelajaran. sehingga hak anak secara langsung dapat dipenuhi dengan baik karena orangtua mengetahui dengan baik apa yang dibutuhkan oleh anaknya. menambahkan uraian sebelumnya, penelitian yang dilakukan oleh adinarayana dan uma (2015) telah menemukan bahwa guru perlu mengajak orangtua untuk kegiatan yang dilakukan di sekolah, seperti diskusi pembuatan fasilitas belajar peserta didik, diskusi tentang kemajuan belajar peserta didik, dan sebagainya. pendidikan adalah salah satu area penting kelangsungan hidup dan pengembangan hak anak (elizabeth heger, b. & kim, m., 2009). dalam sekolah ramah anak, dalam bidang pembelajaran seharusnya non diskriminatif dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. guru harus mampu mendidik peserta didik dalam satu kelas yang terdiri dari berbagai latar belakang. berdasarkan observasi di lapangan, ada peserta didik yang suka menjaili temannya, mengejek temannya, bahkan memukul temannya. sejalan dengan uraian sebelumnya, guru dapat bekerjasama dengan guru lain untuk menghadapi anak yang heterogen, yaitu dengan membuat manajemen kelas dan pembagian tugas untuk meminimalisir perilaku kurang baik yang dilakukan oleh peserta didik (rytivaara a., 2012). selain itu, untuk menunjang terlaksananya sekolah ramah sekolah ramah anak.....(lutfiana & harun) 15 jppd, 5, (1), hlm. 10 19 anak dengan optimal guru perlu memahami dengan baik mengenai hak-hak anak. memperkuat uraian sebelumnya, pelatihan terhadap guru penting untuk dilakukan terkait konvensi hak anak agar guru dapat bertindak sesuai dengan yang diharapkan oleh peserta didik (jerome l., et. al., 2015). pemberian fasilitas lcd di tiap kelas juga berpengaruh terhadap semangat peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran. berdasarkan hasil observasi di lapangan, peserta didik selalu meminta guru untuk menggunakan lcd dalam proses pembelajaran. guru menayangkan gambar atau video pembelajaran terkait materi pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. peserta didik antusias dengan hal tersebut karena dengan melihat video pembelajaran membuat peserta didik tertarik dan lebih memahami materi yang diajarkan. selain itu, peserta didik juga dibiasakan untuk membaca buku. sejalan dengan uraian sebelumnya, pemasangan cctv di tiap kelas dan ruangan di sekolah juga berpengaruh terhadap peserta didik untuk sadar menjaga perilakunya agar tidak menyimpang dan merugikan orang lain. hal tersebut karena melalui cctv aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran dapat dipantau dengan baik. menambahkan uraian sebelumnya, khotib (2012) mengatakan bahwa penerapan teknik supervisi di kelas dengan menggunakan cctv dapat dimanfaatkan untuk melihat pembelajaran secara menyeluruh. berdasarkan hasil observasi dan wawancara di lapangan, apabila ada peserta didik yang tidak mengakui perbuatannya yang melanggar aturan maka pihak sekolah akan memutar tayangan di cctv sehingga peserta didik pada akhirnya akan mengakui perbuatannya yang salah. guru dan peserta didik dapat bekerjasama untuk membuat lingkungan kelas yang positif (howe r. b. & katherine c., 2011). sejalan dengan uraian sebelumnya, guru dan peserta didik perlu membuat perjanjian mengenai hak dan tanggung jawab siswa di kelas yang harus dilakukan untuk melakukan kegiatan yang positif, seperti tidak boleh mengejek temannya, tidak boleh berlari di dalam kelas, dan sebagainya (davidson d., 2011). apabila peserta didik melanggar maka akan dikenai hukuman tetapi bukan hukuman fisik (gershoff e.t., et. al, 2017). hal tersebut dapat meminimalisir tindak kekerasan yang dilakukan antar peserta didik. selain itu, guru juga perlu membiasakan peserta didik untuk belajar berkelompok (modipane m. & themane m., 2014). sehingga melalui diskusi kelompok, peserta didik diharapkan dapat saling menghargai satu sama lain. lingkungan sosial di sekolah ramah anak harus harmonis. hubungan antar warga sekolah harus saling terjaga dengan baik, begitu juga dengan masyarakat dan instansi di sekitar sekolah. pada dua sekolah rintisan sekolah ramah anak di kota yogyakarta tersebut telah menjalin kerjasama yang baik dengan masyarakat dan instansi di sekitar lingkungan sekolah. kerjasama yang dilakukan misalnya ketika pelaksanaan upacara bendera, pihak sekolah mengundang polisi dari polsek untuk memberikan informasi kepada peserta didik mengenai tata tertib berlalu lintas. selain itu, pihak sekolah juga bekerjasama dengan puskesmas di lingkungan sekitar sekolah terkait sosialisasi makanan sehat dan melakukan uji makanan di kantin sekolah untuk memastikan bahwa makanan yang dijual di sekolah aman dan sehat untuk dikonsumsi peserta didik. hubungan sosial antar warga sekolah juga diupayakan untuk harmonis. budaya sekolah ramah anak.....(lutfiana & harun) 16 jppd, 5, (1), hlm. 10 19 senyum, sapa, salam, sopan, dan santun (5s) telah diajarkan kepada peserta didik dan dilakukan oleh semua warga sekolah. hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir terjadinya pertengkaran baik secara fisik maupun verbal antar warga sekolah. permasalahan yang masih ditemui di lapangan adalah kurang harmonisnya hubungan antar peserta didik. hal tersebut tidak dapat dihindari karena peserta didik berasal dari berbagai latar belakang berbeda. peserta didik yang mendapat perhatian dari orangtua cenderung dapat bersikap dengan baik. tetapi peserta didik yang kurang mendapat perhatian dari orangtua dan berasal dari keluarga dengan sikap yang keras maka perilakunya juga agresif serta cenderung berbuat kurang baik ketika di sekolah. peserta didik dengan moral yang rendah, maka lebih cenderung berperilaku agresif terhadap orang lain (gasser l. & malti t., 2012). tetapi itu bukan sepenuhnya salah peserta didik. anak bersikap agresif karena lingkungan yang tidak hangat (azimi l., et. al., 2012). terkadang peserta didik hanya butuh untuk berbicara dengan orang tua tentang masalah dalam rumah tangga (bainham a., et. al., 2003). sehingga perilaku melalui hal tersebut diharapkan perilaku anak dapat dikendalikan dengan baik. sejalan dengan uraian sebelumnya, anak dapat berperilaku bebas baik itu di rumah maupun di sekolah (carrasco c. et. al, 2017). sehingga apabila anak melakukan kesalahan maka guru maupun orang tua harus melakukan pendekatan dengan baik agar anak tidak merasa disalahkan. selain itu, jika anak berhadapan dengan kasus yang berkaitan dengan hukum maka orang tua dapat mencari dukungan sosial untuk anaknya (tichovolsky m. h. et. al., 2013). keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam kelangsungan hidup anak (epstein j.l. et. al., 2001). sehingga untuk meminimalisir perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak di sekolah, pihak sekolah perlu bekerjasama dengan orang tua untuk membentuk iklim yang positif, menghargai pendapat orang tua peserta didik (wuyts d., et. al., 2017), orang tua terlibat aktif dalam pengembangan keterampilan emosional (lester l. et. al., 2017), serta perlu membekali anak dengan keterampilan sosial (loudova i. & lasek j., 2015). kemudian, peserta didik dapat dibiasakan untuk pergi ke sekolah bersepeda bersama teman-temannya untuk mendukung kesehatan peserta didik dan mempererat hubungan antar peserta didik (frumkin h., et. al., 2006) lingkungan fisik dan sarana di sekolah ramah anak harus cukup untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik, seperti lapangan olahraga, kantin sehat, toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, ruang uks, tempat ibadah, dan sebagainya. agar peserta didik tidak bosan karena belajar di dalam ruangan kelas, maka perlu fasilitas belajar di luar ruangan yang menunjang kegiatan belajar peserta didik. sejalan dengan uraian sebelumnya, peserta didik senang dengan lingkungan di luar ruangan terlebih kalau berbasis elektronik (broberg a. et. al., 2013). selain itu, peserta didik juga perlu area bermain yang penuh dengan tanaman hijau. memperkuat uraian sebelumnya, peserta didik senang dengan area bermain dan area yang hijau penuh dengan tanaman yang baik untuk kesehatannya (corsi, m., 2002). kondisi sekolah yang kondusif dan menyenangkan di sekolah ramah anak diupayakan dengan cara menyediakan berbagai fasilitas yang memadai untuk peserta didik, seperti fasilitas belajar di luar ruang kelas, lapangan yang luas untuk bermain, dan sekolah ramah anak.....(lutfiana & harun) 17 jppd, 5, (1), hlm. 10 19 tanaman hijau yang baik untuk kesehatan peserta didik. selain itu, pembelajaran di kelas juga harus menyenangkan tanpa adanya diskriminasi. prestasi dan kebahagiaan peserta didik merupakan prioritas utama dalam proses pembelajaran di sekolah. pihak sekolah dan orang tua murid harus dapat mewakili suara peserta didik apabila terdapat keluhan yang dialami oleh peserta didik (bruce, m., 2014). demikian juga dengan konten bahan ajar selayaknya selektif dan mendukung pemenuhan hak-hak anak sesuai dengan hasil konvensi pbb tahun 1989 yang memuat provisi, proteksi dan partisipasi (habiby, 2016: 71). dukungan dari semua pihak diperlukan untuk tercapainya pelaksanaan sekolah ramah anak yang optimal, termasuk desain lingkungan perkotaan yang berkualitas tinggi dapat mewakili dukungan efektif untuk kesejahteraan, termasuk kesejahteraan anak (anderson j. et. al., 2016). simpulan kebijakan sekolah ramah anak yang telah dilakukan di sekolah meliputi pelaksanaan kebijakan di bidang pembelajaran yang dilakukan tanpa kekerasan dan diskriminasi. hal tersebut berarti dalam proses pembelajaran di sekolah dilakukan dengan prinsip menyenangkan bagi peserta didik, guru tidak melakukan hukuman secara fisik kepada peserta didik dan tidak ada perbedaan perlakuan antar peserta didik. kemudian, pelaksanaan kebijakan di lingkungan sosial dan fisik sekolah. pihak sekolah berupaya untuk menciptakan lingkungan yang harmonis. selain itu, lingkungan fisik dan sarana prasarana yang cukup dan memadai untuk menunjang kebutuhan peserta didik. sdn pujokusuman 1 dan sdn ngupasan telah berupaya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif dan menyenangkan bagi peserta didik. indikasi bahwa sekolah telah menjadi sekolah yang kondusif dan menyenangkan adalah apabila peserta didik merasa aman dan nyaman di sekolah. kebijakan sekolah ramah anak tersebut dilakukan oleh warga sekolah dengan dukungan dari orangtua peserta didik serta masyarakat sekitar sekolah. daftar pustaka adinarayana & uma. 2015. community participation in improving enrollment, retention and quality of elementary education: a case study of andhra pradesh. bulgarian journal of science and education policy (bjsep), vol. 9, no. 2. anderson j. et. al. (2016). lively social space, well-being activity, and urban design: findings from a low-cost community-led public space intervention. journal environment and behavior, vol. 49, no. 6. http://journals.sagepub.com/ doi/abs/10.1177/0013916516659108 azimi l., et. al. (2012). relationship between maternal parenting style and child’s aggressive behavior. procedia social and behavioral sciences 69, hlm. 1276 – 1281 http://journals.sagepub.com/ sekolah ramah anak.....(lutfiana & harun) 18 jppd, 5, (1), hlm. 10 19 bainham a., et. al,. (2003). children and their families: contact, rights and welfare. hart publishing broberg a. et. al. (2013). child-friendly urban structures: bullerby revisited. journal of environmental psychology 35, hlm. 110-120 bruce m. (2014). the voice of the child in child protection: whose voice?. soc. sci. 3, hlm. 514–526 carrasco c. et. al. (2017). social adjustment and cooperative work in primary education: teacher and parent perceptions. revista de psicodidáctica corsi, m. (2002). the child friendly cities initiative in italy. environment&urbanization vol 14 no 2 cross, d. et. al., (2012). the friendly schools families progamme: three year bullying behaviour outcomes in primary school children. international journal of educational research 53 hlm. 394-406 davidson, d. (2011). children’s rights: the right to education. pdmu team dewi, k.s. dkk., (2015). children’s aggressive behavior tendency in central java coastal region: the role of parent-child interaction, father’s affection and media exposure. procedia environmental sciences 23 hlm. 192 – 198 elizabeth heger, b. & kim, m. (2009). international human rights law, global economic reforms, and child survival and development rights outcomes. law and society review vol. 43 no. 3, hlm. 455 epstein j.l. et. al. (2001). school, family, and community partnerships: preparing educators and improving schools. journal resource review frumkin h. et. al. (2006). safe and healthy school environments. oxford university press gasser l. & malti t. (2012). “children’s and their friends’ moral reasoning: relations with aggressive behavior”. international journal of behavioral development 36(5) 358–366 gershoff e.t, et. al. (2017). promising intervention strategies to reduce parents use of physical punishment. child abuse & neglect 71, hlm. 9-23. habiby, wahdan najib dan ika candra sayekti. 2016. “pemenuhan hak anak dalam buku siswa kelas lima sekolah dasar”. jurnal profesi pendidikan dasar vol. 3, no.2, desember, hlm. 71-83. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/ article/view/4745. hay, i. et. al., (2016). parent child connectedness for schooling and students performance and aspirations: an exploratory investigation. international journal of educational research 77 hlm. 50-61 howe r. b & katherine c. (2011). countering disadvantage, promoting health: the value of children’s human rights education. the journal of educational thought 45, 1, hlm. 59 jerome l., et. al. (2015). teaching and learning about child rights: a study of implementation in 26 countries. unicef http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/ sekolah ramah anak.....(lutfiana & harun) 19 jppd, 5, (1), hlm. 10 19 jiang, x. et. al., (2014). “children’s rights, school psychology, and well-being assessments”. soc indic res 117, hlm. 179-193 joussemet et.al., (2008). controlling parenting and physical aggression during elementary school. child development vol. 79, no. 2, hlm. 411 – 425 khotib. (2012). penerapan teknik supervisi observasi kelas dengan menggunakan cctv di sekolah menengah pertama al falah ketintang surabaya. skripsi. iain sunan ampel surabaya lenzer, g. & gran, b. (n. d). rights and the role of family engagement in child welfare: an international treaties perspective on families’ rights, parents’ rights, and children’s rights. child welfare vol. 90, no. 4 lester l. et. al. (2017). family involvement in a whole-school bullying intervention: mothers’ and fathers’ communication and influence with children. j child fam study loudova i. & lasek j. (2015). parenting style and its influence on the personal and moral development of the child. procedia social and behavioral sciences 174 , hlm. 1247 – 1254 modipane m. & themane m. (2014). “teachers’ social capital as a resource for curriculum development: lessons learnt in the implementation of a child-friendly schools programme”. south african journal of education, vol. 34, no. 4 peraturan walikota. (2016). peraturan walikota yogyakarta nomor 49, tahun 2016, tentang sekolah ramah anak republik indonesia. (2014). peraturan menteri negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak republik indonesia nomor 8, tahun 2014, tentang kebijakan sekolah ramah anak rytivaara a., (2012). collaborative classroom management in a co-taught primary school classroom. international journal of educational research 53 hlm. 182-191 tichovolsky m. h. et. al (2013). parent predictors of changes in child behavior problems. journal of applied developmental psychology 34, hlm. 336-345 wuyts d. et. al. (2017). effects of social pressure and child failure on parents’ use of control: an experimental investigation. contemporary educational psychology p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 180 manajemen adaptasi pembelajaran........(wahdan najib habiby, dkk) manajemen adaptasi pembelajaran kurikulum 2013 ke kurikulum 2006 (ktsp) sdn sondakan surakarta wahdan najib habiby1, nita arum s2, myshell nuraini3, firnie zonna as4, dwinita s5 program studi pendidikan guru sekolah dasar universitas muhammdiyah surakarta 1wn.habiby@ums.ac.id; 2nita.as@student.ums.ac.id; 3myshell.n@student.ums.ac.id; 4firnie.zas@student.ums.ac.id; 5dwinita.sari@student.ums.ac.id abstract education is one of the most important things in determining the progress of a nation. indonesian government always strives to develop education, such as the curriculum which always developed and change. recently in indonesia has experienced a shift from a curriculum of 2006 (ktsp) to curriculum 2013. both of the curriculum has a lot of significant differences. unfortunately when the materials of the new curriculum for elemantary school uncomplate, the goverment took decision to implementation in the school. so there is two kind of curriculum implementing in one school, and its terrible. the problem in implementing of this new curriculum saw in the sdn sondakan 11 surakarta where grade 1 and 4 using curriculum 2013 and other grade using curriculum 2006. when the student grade 1 moving to second grade they got problem and need adaptation in teaching learning proces. with the management of curriculum adaptation is expected that students can follow the learning activities with two different curriculum well. the purpose of the curriculum adaptation management is that students can easily adapt to the implementation of the 2013 curriculum in class i and the implementation of the ktsp curriculum in class ii.it can be concluded that the management of adaptation of curriculum 2013 to ktsp in the first grade students of sdn sondakan surakarta effectively enables students to adjust the curriculum changes that have been implemented by the school. keywords: learning adaptation, learning management, curriculum pendahuluan pengembangan terhadap suatu kurikulum perlu dilakukan mengingat adanya berbagai tantangan yang sedang dan akan dihadapi, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. tantangan internal terkait dengan kondisi tuntutan kebutuhan pendidikan yang mengacu pada 8 (delapan) standar nasional pendidikan sebagaimana tertuang dalam bab 2 pasal 2 peraturan pemerintah no 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan meliputi: standar pengelolaan, standar biaya, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan. selain itu, terdapat tantangan yang berasal dari kehidupan sosial kemasyarakatan suatu bangsa akibat perkembangan penduduk usia produktif. hal-hal yang dapat dikembangkan dalam standar pengelolaan antara lain manajemen berbasis sekolah. rehabilitasi gedung sekolah dan penyediaan laboratorium serta perpustakaan sekolah. dalam mencapai standar pendidik dan tenaga kependidikan, upaya yang dilakukan antara lain adalah peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru, pembayaran tunjangan sertifikasi, serta uji kompetensi dan pengukuran kinerja guru. standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan merupakan standar yang terkait dengan kurikulum yang mailto:wn.habiby@ums.ac.id mailto:nita.as@student.ums.ac.id mailto:myshell.n@student.ums.ac.id mailto:firnie.zas@student.ums.ac.id mailto:dwinita.sari@student.ums.ac.id e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 180 – 189 181 perlu secara terus menerus dikaji agar peserta didik yang melalui proses pendidikan dapat memiliki kompetensi yang telah ditetapkan. terkait dengan perkembangan penduduk, saat ini jumlah penduduk indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70% (slameto, 2015: 1-9). artinya, pada tahun 2020-2035 sumber daya manusia (sdm) indonesia usia produktif akan melimpah. sdm yang melimpah, dan apabila memiliki kompetensi dan keterampilan dapat menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan. oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar sdm usia produktif yang melimpah dapat ditransformasikan menjadi sdm yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban. tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan di masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogi, serta berbagai fenomena ocialt yang mengemuka. tantangan masa depan antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. perubahan kurikulum yang diterapkan dalam sistem pendidikan nasional indonesia mengalami perjalanan yang unik, salah satunya dapat dirasakan dalam proses pergantian kurikulum ktsp (2006) menjadi kurikulum 2013 yang menggunakan konsep tematik integratif untuk jenjang sekolah dasar. melalui permendikbud nomor 81a tahun 2013 secara resmi pemerintah menetapkan implementasi kurikulum 2013, dan dipertegas lagi melalui permendikbud nomor 65 tahun 2013 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah dan permendikbud nomor 67 tahun 2013. padahal kurikulum ktsp baru dilaksanakan kurang dari tujuh tahun, dan belum dapat diukur tingkat keberhasilan maupun kegagalannya. implementasi kurikulum 2013 melalui peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan tersebut menimbulkan pro dan kontra dikalangan akademisi, praktisi, maupun masyarakat pendidikan di indonesia. risminawati dan nurul fadilah (2016: 53) menyatakan bahwa pada umumnya implementasi kurikulum 2013 memiliki banyak permasalahan, diantaranya adalah (1). kurangnya pelatihan tentang kurikulum 2013. (2) pada saat pelatihan, penjelasan kurikulum 2013 yang diberikan oleh pembimbing satu dengan yang lain berbeda-beda sehingga menimbulkan kebingungan. (3) distribusi buku yang terlambat (4) materi dalam buku siswa terlalu dangkal, sehingga perlu adanya buku pendamping lain atau sumber belajar lain untuk menunjang pembelajaran. permasalahan yang lain dapat terlihat dari laporan hidayati, ym dan titik septiyani (2015: 56-57) bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 di sekolah dasar se-kecamatan colomadu kabupaten karanganyar diimplementasikan untuk kelas 1, 2, 4, dan 5. meskipun para guru sudah memiliki pemahaman dan persiapan melaksanakan kurikulum baru, namun mereka masih kesulitan dalam melakukan penilaian otentik p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 182 manajemen adaptasi pembelajaran........(wahdan najib habiby, dkk) yang memiliki varibel sangat banyak. berdasarkan observasi di sdn sondakan surakarta menerapkan kurikulum 2013 hanya pada siswa kelas 1 dan 4 saja. hal tersebut dilakukan mengingat sdm yang faham tentang imlementasi kurikulum 2013 terbatas dan belum lengkapnya instrumen pembelajaran yang disusun pemerintah. minimnya pemahaman dari sdm yang dimiliki sebuah sekolah juga tercermin dalam penelitian abduh (2015: 123) di sdn pujokusumo 1 yogyakarta karen amayoritas guru masih berorientasi terhadap aspek pengetahuan dibandingkan dengan aspek holistik sebagaimana konsep yang terdapat dalam kurikulum 2013. apabila ditelusuri lebih jauh, nampaknya hampir seluruh sekolah dasar di indonesia belum sepenuhnya menerapkan kurikulum 2013 pada tiap tingkatan kelas. fenomena ini menjelaskan bahwa sesungguhnya sejak tahun 2013 mayoritas sekolah dasar di indonesia menerapkan kurikulum ganda. tentunya permasalahan-permasalahan teknis akan muncul seiring dengan perubahan kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran siswa. misalkan kelas 1 menggunakan kurikulum 2013, kemudian naik kelas 2 menggunakan kurikulum ktsp. hal tersebut memerlukan adaptasi tersendiri khususnya bagi siswa yang menjalaninya. secara konseptual andriani (2015:89-90) mengatakan bahwa kurikulum 2013 dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (ktsp) memiliki perbedaan dalam sistem pembelajaran. dimana kurikulum satuan pendidikan pembelajarannya dilaksanakan masih terpisah-pisah, belum mengaktifkan siswa serta lebih menekankan hasil daripada proses pembelajaran. sedangkan kurikulum 2013 dilaksanakan secara tematik integratif dengan menggunakan pendekatan saintifik dan penilaian otentik. kegiatan belajar dengan pendekatan saintifik, guru mengajak siswa mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi/ mengolah informasi dan mengkomunikasikan terkait dengan materi yang dipelajari. adapun penilaian autentik, guru menilai proses dan hasil belajar siswa. hasil penilaian tersebut, kemudian dideskripsikan berbentuk uraian. dengan demikian jika dilihat dari sisi kuantitas jam dan mata pelajaran pembelajaran, jumlah jam belajar pada kurikulum ktsp lebih sedikit yaitu 6 jam pelajaran dengan mata pelajaran lebih banyak yaitu 12 mata pelajaran. sedangkan pada kurikulum 2013 jumlah jam belajar lebih banyak yaitu 10 jam pelajaran dengan mata pelajaran lebih sedikit yaitu 8 mata pelajaran. dilihat dari sisi pendekatan pembeljarannya, pada kurikulum ktsp menggunakan pendekatan mata pelajaran sedangkan untuk kurikulum 2013 pendekatan inquiry. dilihat dari sisi proses pembelajaran, dalam kurikulum 2013 proses pembelajarannya lebih berpusat pada siswa, sedangkan kurikulum ktsp proses pembelajarannya lebih berpusat pada guru. sedangkan jika dilihat dari sisi penilaian, penilaian kurikulum 2013 lebih spesifik yaitu menekankan pada tiga aspek ranah kompetensi yaitukompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta sistem pensekoran dengan angka 1-4, sedangkan kurikulum ktsp lebih menekankan pada aspek pengetahuan saja dengan system pensekoran 1-100. perbedaan-perbedaan konseptual antara kurikulum ktsp dengan kurikulum 2013 yang demikian mencolok jelas dapat menimbulkan kebingungan dan kekagetan siswa apabila kedua konsep tersebut diberikan secara bergantian setelah naik kelas, apalagi jika yang mengalami adalah siswa kelas satu e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 180 – 189 183 sekolah dasar. siswa kelas satu mempunyai tahap berpikir konkrit, tahap berpikir konkrit merupakan tahap berpikir pada tingkat paling sederhana di sekolah dasar. pada tahap ini siswa kelas 1 perlu mendapatkan pembimbingan guru tahap demi tahap secara terus menerus. siswa kelas 1 masih tergantung pada kehadiran benda-benda konkrit sebagai alat peraga dan media pembelajaran, serta perlu adanya aktivitas bermain sambil belajar di kegiatan belajar mengajar setiap harinya. banyaknya perbedaan yang spesifik membuat siswa sulit menyesuaikan diri terhadap perubahan kurikulum yang mereka rasakan. oleh karena itu dibutuhkan manajemen yang terencana dari pihak sekolah, agar kendala-kendala yang akan muncul dapat diminimalisir tanpa melanggar ketentuan pemerintah terkait pemberlakuan kurikulum nasional. berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini ditujukan untuk mengetahui sistem managemen adaptasi pembelajaran dari kurikulum 2013 ke kurikulum ktsp pada siswa kelas 1 di sdn sondakan surakarta. mengingat sdn sondakan surakarta merupakan salah satu dari 4 sekolah yang dijadikan pilot project pendidikan dasar di surakarta yang selama ini memiliki prestasi yang cukup baik. metode penelitian penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif. pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara. penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung dan wawancara kepada pimpinan sekolah maupun guru kelas 1 dan 2 sebagai pihak-pihak yang terlibat secara langsung terhadap perubahan implementasi kurikukum. observasi dilakukan untuk menggali informasi dalam bentuk data-data mengenai penerapan dua kurikulum (kurikulum 2013 dan ktsp) berserta manajemen adaptasi kurikulumnya. penelitian ini dilakukan di sdn sondakan no. 11 laweyan kota surakarta. selama dua bulan yaitu pada bulan agustus dan september 2017. hasil dan pembahasan penerapan kurikulum 2013 di sdn sondakan surakarta hanya kepada siswa kelas 1 dan siswa kelas 4. sedangkan siswa kelas 2, 3, 5, dan 6 diberlakukan kurikulum ktsp. perbedaan kurikulum ktsp dengan kurikulum 2013 terletak pada: 1) jumlah jam belajar dan jumlah mata pelajaran jumlah jam belajar pada kurikulum ktsp lebih sedikit yaitu 6 jam pelajaran dan mata pelajaran lebih banyak yaitu 12 mata pelajaran, sedangkan pada kurikulum 2013 jumlah jam belajar lebih banyak yaitu 10 jam pelajarn sedangkan mata pelajaran lebih sedikit yaitu 8 mata pelajaran; 2) pendekatan pembelajaran, pendekatan pembelajaran pada kurikulum ktsp menggunakan pendekatan mata pelajaran sedangkan untuk kurikulum 2013 pendekatan inquiry 3) proses pembelajaran, dalam kurikulum 2013 proses pembelajarannya lebih berpusat pada siswa, sedangkan kurikulum ktsp proses pembelajarannya lebih berpusat pada guru dan 4) penilaian, perbedaan paling mencolok diantara kurikulum 2013 dan ktsp adalah dibagian penilaiannya. penilaian kurikulum 2013 lebih spesifik yaitu menekankan pada tiga aspek ranah kompetensi diantaranya kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta system pensekoran dengan angka 1-4, p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 184 manajemen adaptasi pembelajaran........(wahdan najib habiby, dkk) sedangkan kurikulum ktsp lebih menekankan pada aspek pengetahuan saja dengan sistem pensekoran 1-100. khususnya siswa kelas 1 yang naik ke kelas 2. masih berada pada tahap berpikir konkrit. pembelajaran menggunakan kurikulum 2013 lebih pas diberikan kepada siswa kelas 1 dan 2, karena mereka sangat membutuhkan alat peraga dan bimbingan guru secara agar pembelajaran menyenangkan / belajar sambil bermain. pada kenyataannya, ketika naik kelas 2, mereka hasrus mengalami perubahan kurikulum ke ktsp. perubahan yang sangat signifikan dirasakan disini, yang menekankan pada pengetahuan anak, guru di dalam pembelajaran selalu memberikan materi dengan kompetensi dasar yang harus dipenuhi setiap pertemuannya. jelas sangat berbeda sekali penerapan dalam praktek pembelajaran. menurut james a.f stoner (2008) manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. menurut mulayu s.p hasibuan (2000) manajemen adalah proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai satu tujuan. menurut soeharto heerdjan (1987), adaptasi adalah usaha atau perilaku yang tujuannya mengatasi kesulitan dan hambatan. menurut mustofa fahmi adaptasi adalah proses dinamika yang bertujuan untuk menggubah kelakuan seseorang agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara dirinya dan perubahan di sekitarnya. gerungan (1996) menyebutkan bahwa “penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri)”. jadi dapat disimpulkan bahwa adaptasi adalah suatu perilaku untuk mengatasi kesulitan dan hambatan serta bertujuan untuk mengatasi dinamika perubahan yang terjadi di sekitar juga mengubah situasi sekitar menjadi seperti yang diinginkan. menurut uu no. 20 tahun 2003 kurikulum merupakan seperangkat rencana & sebuah pengaturan berkaitan dengan tujuan, isi, bahan ajar & cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan nasional. sudjana (2005) mengatakan, kurikulum merupakan niat & harapan yang dituangkan kedalam bentuk rencana maupun program pendidikan yang dilaksanakan oleh para pendidik di sekolah. kurikulum sebagai niat & rencana, sedangkan pelaksaannya adalah proses belajar mengajar. yang terlibat didalam proses tersebut yaitu pendidik dan peserta didik. harsono (2005) mengungkapkan bahwa kurikulum ialah suatu gagasan pendidikan yang diekpresikan melalui praktik. pengertian kurikulum saat ini semakin berkembang, sehingga yang dimaksud dengan kurikulum itu tidak hanya sebagai gagasan pendidikan, namun seluruh program pembelajaran yang terencana dari institusi pendidikan nasional. jadi dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang tujuan, isi, bahan ajar, serta cara penyelenggaraan dalam bentuk praktik kegiatan belajar yang dilaksanakan pendidik di sekolah. dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen adaptasi kurikulum adalah suatu proses perencanaan, pengendalian, dan pengorganisasian, sdm e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 180 – 189 185 demi tujuan mengatasi dinamika perubahan yang terjadi di sekitar yang berupa seperangkat rencana dan pengaturan tentang tujuan, isi, bahan ajar, serta cara penyelenggaraan dalam bentuk praktik kegiatan belajar yang dilaksanakan pendidik di sekolah. manajemen/pengelolaan adaptasi pelaksanaan pembelajaran menggunakna kurikulum 2013 ke kurikulum ktsp di sdn sondakan surakarta dilakukan dengan beberapa tahap diantaranya perencanaan, pengorganisasian, pengendalian sumber daya manusia (kepala sekolah, guru, staff/karyawan dan siswa). penerapan manajemen adaptasi pada implementasinya kurikulum 2013 ke ktsp mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan. kelebihan manajemen adaptasi kurikulum: 1. dapat membuat kepala sekolah menyiapkan berbagai strategi pengelolaan sumber daya sekolah dengan memanfaatkan penerapan adaptasi kurikulum ini guna menciptakan iklim belajar yang kondusif sehingga tercipta sekolah yang berkualitas dan unggul 2. dapat membuat guru semakin inisiatif dan kreatif di dalam pembelajaran hal ini tercermin lewat inovasi guru dalam menerapkan metode, model, pemdekatan, maupun strategi pembelajaran tidak hanya itu saja guru juga dapat termotivasi dalam menciptakan sebuah alat peraga / media baru yang bermanfaat bagi peserta didik 3. dapat membuat peserta didik memiliki pengalaman belajar yang lebih dengan merasakan dua kegiatan belajar mengajar yang sangat berbeda karakteristiknya, serta meningkatkan pola pikir siswa yang berbeda karena adanya kombinasi dari dua system belajar yang berbeda 4. dapat membuat orangtua siswa lebih mengapresiasi pihak sekolah, sehingga muncul kepercayaan lebih dari orang tua untuk mempercayakan anaknya pada pihak sekolah karena menganggap sekolah dapat membuat anak mereka menjadi pribadi yang berkualitas tinggi 5. dapat membuat masyarakat memiliki pemahaman lebih tentang pentingnya sekolah bagi anak karena masyarakat sudah mengetahui bahwa sekolah mempunyai sebuah system penerapan kebijakan pendidikan yang menjadi terobosan baru untuk meningkatkan kualitas diri pada anak mereka setelah lulus nantinya. kelemahan manajemen adaptasi kurikulum: 1. pada beberapa guru yang belum sepenuhnya memahami kurikulum baru dapat membuat guru seutuhnya tidak dapat mengoptmalkan perannya sebagai fasilitator dalam pembelajaran. 2. perubahan pada sistem penilaian yang awalnya bertumpu pada tiga ranah kompetensi menjadi ranah kompetensi pengetahuan saja ataupun sebaliknya menjadikan guru sedikit kesulitan dalam penerapannya. 3. kesulitan pada dana serta waktu yang digunakan guru dalam menerapkan strategi, metode, pendekatan atau model maupun waktu yang digunakan guru untuk membuat alat peraga / media maka dapat disimpulkan bahwa kelebihan manajemen adaptasi lebih banyak dibandingkan dengan kelemahannya. tujuan manajemen adaptasi kurikulum sangat tepat p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 186 manajemen adaptasi pembelajaran........(wahdan najib habiby, dkk) karena siswa kelas rendah dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan penerapan dua kurikulum dengan karakteristik yang sangat berbeda sehingga manajemen adaptasi kurikulum sangatlah cocok diterapkan pada sekolah dasar khususnya pada siswa kelas i sdn sondakan surakarta. penerapan manajemen adaptasi kurikulum 2013 ke ktsp pada siswa kelas i sdn sondakan surakarta. memperhatikan situasi di sdn sondakan surakarta, maka implementasi manajemen adaptasi kurikulum dilaksankan melalui tga tahapan 1. tahap perencanaan kepala sekolah sangat berperan penting dalam mengatur perencanaan ini. berikut beberapa upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah sdn sondakan pada tahap perencanaan manajemen adaptasi sekolah: a. kepala sekolah merencanakan pengadaan rapat dengan guru-guru terkait dengan penerapan dua kurikulum di sdn sondakan surakarta guna memperkuat pemahaman guru dalam menerapkan kurikulum yang berbeda pada kelas tertentu khususnya kelas i dan kelas ii b. kepala sekolah merencanakan pengadaan rapat bersama guru beserta wali murid tentang diadakannya penerapan dua kurikulum di sdn surakarta, dalam rapat tersebut wali murid diberi pemahaman akan karakteristik dua kurikulum yang berbeda serta kelebihan yang dimiliki tiap-tiap kurikulum juga pengaruhnya pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap anak. c. kepala sekolah juga merencanakan pemberian penyuluhan pada masyarakat sekitar melalui tokoh masyarakat bahwa sekolah akan menggunakan dua kurikulum yang berbeda. sehingga tokoh masyarakat dapat mensosialisasikan kepada warganya untuk mengupayakan persiapan anak mereka dalam menempuh dua kurikulum berbeda di sekolah dasar kelak. d. kepala sekolah juga merencanakan program pada akhir semester genap bagi para siswa khusunya kelas i untuk menghadapi kurikulum baru yang notabennya memiliki karakteristik berbeda pada setiap aspeknya. program ini berupa pengenalan mata pelajaran baru, buku modul baru, serta cara pengajaran baru oleh guru. 2. tahap pengorganisasian tahap pengorganisasian merupakan tahap dimana pengelompokan berbagai sumber daya sekolah secara benar guna mendukung kelancaran dalam program manajemen adaptasi kurikulum 2013 ke ktsp pada siswa kelas i sdn sondakan surakarta. misalnya kepala sekolah beserta guru mengelola dana dari pemerintah dan dana sekolah sendiri guna membuat media / alat peraga yang diterapkan pada masing-masing kelas yang mempunyai kurikulum yang berbeda. 3. tahap pengendalian sumber daya manusia tahap pengendalian sumber daya manusia ini berupa upaya pengarahan guru, siswa, beserta warga sekolah untuk bersamasama bekerjasama untuk mendukung upaya pengelolaan adaptasi dari penerapan kurikulum di sdn sondakan. upaya tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam memperkuat perencanaan serta pengorganisasian yang e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 180 – 189 187 telah diterapkan. pengendalian sumber daya manusia sendiri terdiri dari beberapa tahap antara lain sebagai berikut: a. pengendalian terhadap guru pengendalian terhadap guru disini, guru diarahkan untuk mengelola kelas dengan baik. pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru dikembangkan melalui inisiatif dan inovasi gruru sendiri. apalagi kita tahu siswa kelas i masih dalam tahap berpikir konkret. dalam mengelola kelas guru diharapkan mampu menerapkan kurikulum 2013 dengan baik dalam pembelajaran sehari-hari dengan tidak lupa memberikan sebuah inovasi metode maupun strategi pembelajaran yang baru untuk meningkatkan antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran, kemudian guru juga diharapkan membuat media / alat peraga yang menarik dan bermanfaat agar dalam menerima materi siswa lebih cepat paham serta melekat dalam daya ingat siswa secara terus menerus. guru diharapkan agar selalu memprioritaskan pembelajaran berpusat pada siswa walaupun untuk kelas i lebih sederhana dalam pembelajaran guru diarahkan untuk lebih menyisipkan karakter-karakter bagi siswa lewat pembelajaran menyenangkan misalnya saja dari dongeng yang dibacakan oleh guru, siswa dapat memetik pembelajaran dari dongeng tersebut dan belajar karakter mana yang dapat mereka tiru. penerapan nyanyian di sela-sela pemberian materi juga sangat diperlukan untuk menambah keceriaan dan antusias siswa juga mencegah kebosanan dalam mengikuti pembelajaran. tidak hanya sampai disitu guru juga diharapkan dapat memperkenalkan pembelajaran berbasis kurikulum ktsp sebagai upaya mempersiapkan siswa menghadapi kurikulum baru dikelas selanjutnya (kelas ii) b. pengendalian terhadap siswa pengendalian terhadap siswa berupa kegiatan pengarahan dan pembimbingan kepada siswa dalam penyesuaian kurikulum baru. kegiatan ini dilakukan di sela-sela pembelajaran dan pada semester dua akhir. guru membimbing siswa dalam beberapa pertemuan, guru mencoba menerapkan pembelajaran berbasis ktsp dengan mengutamakan pada pengetahuannya.dengan diadakan pembekalan dalam kegiatan ini otomatis siswa kelas i dapat dengan mudah menyesuaikan diri terhadap penerapan dua kurikulum di sekolah. c. pengendalian terhadap warga sekolah pengendalian terhadap warga sekolah merupakan pengarahan kepada segenap warga sekolah termasuk staff dan karyawan untuk ikut andil dalam mensukseskan program manajemen adaptasi kurikulum 2013 ke ktsp. demi kesuksesan program ini maka semua warga sekolah harus bekerja secara optmal sehingga hasil yang didapatpun bisa maksimal. contoh partisipasi warga sekolah salah satunya adalah kepala sekolah, guru, selalu aktif dalam menyelenggarakan rapat dan sosialisasi kepada wali murid dan warga sekitar sekolah, staff beserta karyawan ikut andil dalam menyiapkan berbagai keperluan dalam menyelenggarakan rapat tersebut. pengaruh penerapan manajemen adaptasi kurikulum di sekolah pada penerapan manajemen adaptasi kurikulum 2013 ke ktsp pada siswa kelas i p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 188 manajemen adaptasi pembelajaran........(wahdan najib habiby, dkk) yang telah diterapkan di sdn sondakan no. 11 surakarta, tedapat dampak / pengaruhn yang signifikan. pengaruh tersebut dapat dijabarkan antara lain: a. pola pikir siswa selalu berkembang karena adanya kombinasi dari pembelajaran yang berbeda karakteristik. tidak hanya itu siswa menjadi lebih kritis, pengetahuan siswa bertambah luas, penanaman karakter lebih kuat karena adanya penanaman karakter di sela-sela pembelajaran yang dilakukan oleh guru. b. hasil belajar dan prestasi siswa meningkat baik pada akademik maupun non akademiknya. c. dalam penilaian guru lebih spesifik dalam menilai dari ketigaranah tersebut baik ranah pengetahuan, sikap, maupun keterampilan siswa. d. peningkatan kompetensi guru baik kompetensi social, professional, maupun pedagogic. e. kepala sekolah semakin termotivasi untuk terus memajukan dan mengembangkan sekolah lewat perencanaan strategi memanajemenkan sumber daya sekolah. f. meningkatkan kerjasama antar warga sekolah karena mempunyai tujuan yang sama yaitu membuat sekolah menjadi unggul. g. membuat siswa mudah menyesuaikan diri apabila ada pergantian kurikulum yang baru yang telah dicanangkan pemerintah h. membuat orangtua selalu termotivasi untuk bekerjasama dengan guru dalam tujuan mengembangkan potensi siswa baik akademik maupun non akademik i. dapat mencetak generasi yang cerdas, berprestasi, kreatif, inovatif, dan cemerlang j. menciptakan sekolah yang nyaman, berkualitas, dan eksis dipandang masyarakat luas dari uraian diatas dapat terlihat bahwa penerapan kurikulum ganda di sekolah tidak selalu memberikan efek negatif. selama pengelolaan pelaksanaan kurikulum dikelola dengan baik maka dapat berimplikasi positif bagi pembelajaran maupun bagi siswa. simpulan dan saran penerapan dua kurikulum di sekolah mempunyai berbagai manfaat serta kelebihan tersendiri. akan tetapi penerapan dua kurikulum di sekolah ini tidak serta merta mudah untuk dijalankan oleh siswa. sdn sondakan surakarta yang telah menerapkan manajemen adaptasi kurikulum 2013 ke ktsp pada siswa kelas i dengan tujuan agar siswa dapat dengan mudah beradaptasi dengan penerapan kurikulum 2013 di kelas i dan penerapan kurikulum ktsp di kelas ii. dalam menjalankan program manajemen adaptasi kurikulum ini perlu adanya tahapan / proses sehingga dapat berjalan dengan baik, tahap itu dibedakan menjadi tahap perencanaan, pengorganisasian, dan tahap pengendalian. tahapan-tahapan tersebut perlu keterlibatan dan kerjasama antara kepala sekolah, guru, siswa, staff dan karyawan beserta seluruh warga sekolah. secara umum manajemen adaptasi kurikulum 2013 ke ktsp pada siswa kelas i yang diterapkan sdn sondakan surakarta secara efektif membuat siswa dapat menyesuaikan perubahan kurikulum yang telah diterapkan sekolah. e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 180 – 189 189 daftar pustaka abduh, muhammad. 2015. pengembangan media pembelajaran tematik-integratif berbasis sosiokultural bagi siswa kelas iv sekolah dasar”. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 2, no. 2, desember 2015. hlm.87 – 94. hlm. 121-132. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/1647 hidayati, yulia maftuhah dan titik septiyani. 2015. “studi kesiapan guru melaksanakan kurikulum 2013 dalam pembelajaran berbasis tematik integratif di sekolah dasar se-kecamatan colomadu tahun ajaran 2014/2015”. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 2, no. 1, juli 2015, hlm. 49 – 58. journals.ums.ac.id/index.php/ppd/ article/view/1494 indriani, fitri. 2015. “kompetensi pedagogik mahasiswa dalam mengelola pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 pada pengajaran micro di pgsd universitas ahmad dahlan yogyakarta”. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 2, no. 2, desember 2015. hlm.87 – 94. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/1643 kementrian pendidikan dan kebudayaan. (2013). peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia nomor 67, tahun 2013, tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah. kementrian pendidikan dan kebudayan. (2013). peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia nomor 65, tahun 2013, tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah. risminawati dan nurul fadhila. 2016. “persepsi guru terhadap implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta”. profesi pendidikan dasar vol. 3, no. 1, juli 2016 : 52 – 58. http://journals.ums.ac.id/ index.php/ppd/article/view/2604 suryanto, slamet, (nov 2016). “adaptasi kurikulum inklusif siswa dengan hambatan sosial emosional di sekolah dasar”. ilmu pendidikan, volume 30, no.1. diakses 12 november 2017. http://webcache.googleusercontent. com/search?q=cache:e-naselbrtuj: journal.unj.ac.id/unj/index.php/pip/ article/view/2620+&cd=5&hl=id&ct=clnk&gl=id. peraturan pemerintah republik indonesia, 2005. nomor 19 tentang standar nasional pendidikan yuli, erviana, agustus 2016, “ kesiapan guru sekolah dasar dalam pelaksanaan pembelajaran tematik-integratif pada kurikulum 2013 di kota yogyakarta”. volume 2, no. 2, tahun 2016. http://journal.uad.ac.id/index.php /jpsd/article/download/5560/pdf_26. slameto, 2015, “rasional dan elemen perubahan kurikulum 2013”. jurnal schoolaria, volume 5, no. 1 tahun 2015, hlm. 1-121. http://ejournal.uksw.edu/scholaria/ article/download/2/2 http://journals.ums.ac.id/ http://journal.uad.ac.id/index.php%20/jpsd/article/download/5560/pdf_26 http://ejournal.uksw.edu/scholaria/%20article/download/2/2 http://ejournal.uksw.edu/scholaria/%20article/download/2/2 implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 127 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 vol. 5, no. 2, desember 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.6458 implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa sdn cipinang besar utara 04 petang jatinegara jakarta timur sugi harni1); indina tarjiah2) program studi pendidikan dasar1); program studi pendidikan khusus2) universitas negeri jakarta 1)anielisabeth20@gmail.com; 2)indina.tarjiah@gmail.com pendahuluan program pendidikan anak wajib belajar 9 tahun, merupakan salah satu upaya pemerintah dalam membentuk generasi bangsa menjadi lebih baik di masa mendatang. sehubungan dengan hal tersebut pendidikan dasar merupakan usaha untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem sistem pendidikan nasional pasal 3 menjelaskan fungsi pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan tujuan pendidikan nasional untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. implikasi dari undang-undang tersebut adalah pendidikan haruslah memiliki program mengenai pembentukan karakter yang benar-benar nyata dan diterapkan di setiap jenjang pendidikan baik pendidikan dasar, menengah, dan atas, agar tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. undang-undang sisdiknas pasal 1 tahun 2003 juga menyatakan di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi abstrak: the objective of this research is to know the extent of the behaviorism theory has an impact in forming discipline in elementary school students, especially at sdn cipinang besar utara 04 petang in kelurahan cipinang besar utara jatinegara sub-district, east jakarta. this research adopted qualitative approach with descriptive method. this research was obtained by using several assessment in the form of observation, interview, and documentation. analysis techniques data used by collecting information from the data that has been obtained from the assessment that has been used, provides data, and concluded the data. the results of this research showed that the implementation of consistent behaviorism theory can form discipline to their students. keywords: behaviorism theory, the formation of discipline, character https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.6458 mailto:anielisabeth20@gmail.com implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 128 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. melihat kedua undang-undang ini dapat kita tentukan garis besar dari tujuan nasional adalah selain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa juga menciptrakan karakter siswa yang beriman, mandiri, dan berakhlak mulia. dengan demikian dengan melihat kondisi siswa di indonesia bisa dikatakan sistem pendidikan nasional sudah gagal memenuhi tujuan undang-undang. kurangnya pendidikan karakter telah membuat peserta didik dan juga adalah bagian dari bangsa seakan-akan kehilangan martabatnya. memang dari satu sisi pendidikan nasional berhasil mencerdaskan anak bangsa, akan tetapi hal itu tidak cukup, mengingat keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari kecerdasanya, tetapi juga sikap dan karakternya. membangun karakter yang mandiri, disiplin, dan bijaksana harus melibatkan kerja sama dan dukungan dari semua pihak, dan dalam hal ini dunia pendidikan memiliki peranan yang besar menjadi promotor untuk menyosialisasikan pendidikan karakter tersebut, dan didukung dengan segenap upaya sekolah agar memasukkan nilai-nilai moral dalam setiap pembelajarannya. serta kita membutuhkan cara yang tepat untuk mendidik para anak bangsa agar memiliki karakter disiplin yang kuat. teori belajar yang paling tua dan primitif ialah behaviorisme dimana teori ini berpendapat tentang perubahan perilaku dapat ditentukan melalui sejumlah stimulus. dengan menggunakan teori behaviorisme ini peneliti berharap dapat membentuk karakter peserta didik di sdn cipinang besar utara 04 petang menjadi lebih baik. teori behavior ini menekankan bahwa tingkah laku yang ditunjukkan pada seseorang merupakan akibat dari stimulus (rangsangan) dan respon (balikan). stimulus yang diberikan berupa sejumlah peraturan yang harus ditaati oleh peserta didik, ada hukuman (punishment) jika peserta didik melanggar aturan tersebut, selain hukuman ada pula hadiah (reward) apabila peserta didik dapat menunjukkan perilaku lebih dari yang diharapkan oleh peneliti. teori ini dikenalkan oleh beberapa ahli psikologi. para ahli yang menganut paham behaviorisme ini adalah ivan pavlov, b.f skinner, edward lee thorndike, robert gagne, dan albert bandura. mereka melakukan sejumlah percobaan pada hewan peliharaan, karena hewan peliharaan ini dianggap dapat mewakili sifat manusia. mereka memperhatikan dan mencatat setiap respon yang muncul akibat adanya stimulus yang telah diberikan. ternyata lama kelamaan hewan percobaan itu, menunjukkan bahwa setiap stimulus yang diberikan tepat dan berulang dapat memunculkan perilaku yang diinginkan. berangkat dari percobaan para ahli ini, peneliti ingin membuktikan apakah teori behaviorisme ini benar dapat diterapkan di dunia pendidikan, khususnya untuk membentuk karakter peserta didik sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pendidik. kedisiplinan sangat penting diajarkan sedini mungkin kepada seseorang, oleh karenanya selain rumah, sekolah adalah tempat terpenting kedua untuk mengajarkan perilaku disiplin. seseorang yang memiliki sikap disiplin pasti dapat mengatur rutinitas dan dapat menggunakan waktu dengan baik. budaya disiplin yang dibawa sejak masa kanak-kanak yaitu berawal dari keluarga juga akan tercermin di sekolah. jika peserta didik menunjukkan perilaku disiplin dapat menggambarkan insan muda yang bermoral, sehingga generasi penerus bangsa tentunya akan memiliki moral dan martabat yang tinggi di dunia internasional. menurut tu'u (2004:34-35) disiplin penting diadakan di sekolah implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 129 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 karena orang yang memiliki sikap disiplin akan mengoptimalkan prestasinya dan sebaliknya jika tidak mempunyai sikap disiplin akan menghambat prestasi, dapat dikatakan sikap disiplin ini dapat menjadikan seseorang sukses di masa mendatang, dan dengan dibangunnya sikap disiplin di sekolah menjadikan suasana belajar mengajar menjadi nyaman, dan kondusif, karena para peserta didik mengikuti semua peraturan yang berlaku. dalam melakukan kebiasaan disiplin di sekolah ini tentunya tidak hanya berfokus pada karakter peserta didiknya saja, namun juga para warga sekolah lainnya seperti para guru, kepala sekolah, penjaga sekolah, staf administrasi (operator sekolah), dan juga orang tua murid. para warga sekolah haruslah terlebih dahulu memberikan contoh nyata sikap disiplin dalam keseharian, dengan adanya sikap nyata ini sesuai dnegan teori behaviorisme oleh albert bandura teori ini merupakan proses mengamati kemudian meniru perilaku, sikap, dan emosi. peserta didik usia sekolah dasar yang masih dalam masa kanak-kanak, dan remaja awal sangat rentan dalam mengamati dan meniru perilaku orang dewasa. sebaiknya para orang dewasa khususnya pendidik memberikan teladan dan contoh sikap disiplin yang baik dan nyata pada peserta didiknya. selain itu memang tugas pendidik adalah membimbing, mendidik, dan mengajar peserta didik menjadi lebih baik lagi baik dalam ilmu, maupun karakternya. pembenukan disiplin dalam penelitian dilakukan pada kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler sekolah. dengan melibatkan ketiga aktifitas ini diharapkan sikap disiplin dapat melekat dalam diri tiap peserta didik. misalnya pada kegiatan intrakurikuler pendidik dapat menghubungkan materi pelajaran dengan sikapsikap disiplin, pada aktifitas kokurikuler pendidik dapat memberikan soal atau projek di rumah maupun di sekolah yang melibatkan sikap disiplin, dan aktifitas ektrakurikuler peserta didik dapat bekerja sama dengan pelatih untuk lebih menekankan aktifitas ektrakurikuler dengan sikap disiplin contohnya pramuka yang banyak melatih sikap disiplin dalam tiap kegiatannya. penelitian awal dilakukan dengan mengobservasi para peserta didik dari kelas satu sampai dengan kelas enam. hasil observasi menunjukkan banyak peserta didik yang tidak memakai dasi atau atribut lengkap, beberapa peserta didik mengeluarkan baju sehingga terlihat tidak rapi, dalam 1 minggu didapatkan 23 peserta didik membolos, dan 19 peserta didik terlambat masuk sekolah. berdasarkan permasalahan yang telah dibahas di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya membentuk disiplin peserta didik melalui implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa di sdn cipinang besar utara 04 petang jatinegara, jakarta timur dan hambatan apa yang dialami melalui implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa di sdn cipinang besar utara 04 petang jatinegara, jakarta timur. metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. penelitian ini betujuan untuk menjelaskan pembentukan disiplin melalui implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa di sdn cipinang besar utara 04 implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 130 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 petang jatinegara, jakarta timur. pengumpulan penelitian ini dilakukan dengan obeservasi langsung dan wawancara oleh pihak-pihak yang terkait seperti pendidik, kepala sekolah, dan peserta didik sendiri. waktu penelitian dilakukan kurang lebih sekitar 3 bulan yaitu bulan april 2018 sampai awal juni 2018. (moleong, lexy j.2014; 186-208) menyatakan teknik wawancara dilakukan untuk mendapatkan hasil yang akurat mengenai kondisi di lapangan dan kondisi yang sebenarnya. sebelum melakukan wawancara peneliti membuat daftar pertanyaan sebagai pedoman dalam menanyakan kepada informan atau narasumber. pertanyaan-pertanyaan yang dibuat yang berhubungan dengan pembentukan, kebiasaan, karakter dalam membentuk sikap disiplin. selain wawancara peneliti juga melakukan observasi mandiri dengan membuat daftar cheklist. dalam daftar terdapat beberapa kriteria disiplin pada anak usia sekolah dasar. untuk menguatkan observasi ini peneliti juga melakukan dokumentasi sebagai bukti nyata dan real. dokumentasi disini bukan hanya melulu berupa foto atau video, dokumentasi dapat berupa catatan penting, agenda harian guru, agenda harian siswa, transkrip nilai peserta didik, portofolio peserta didik, dan sebagainya. teknik analisis data. analisa data dalam penelitian ini mengacu pada model analisis interaktif yang diajukan huberman dan miles. huberman dan miles (dalam sugiyono,2011: 246) mengemukakan bahwa langkah pertama model analisis interaktif adalah reduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan mencari tema serta polanya. reduksi data dalam penelitian ini dilakukan setelah diperoleh data dari hasil pengamatan, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dipilih data-data pokok dan difokuskan pada hal-hal yang penting, sehingga data menjadi jelas dan sistematis. langkah kedua dalam model analisis interaktif adalah penyajian data miles (dalam dewi puspitaningrum, 2014: 343-357) mengemukakan bahwa penyajian data merupakan analisis merancang deretan dan kolom-kolom dalam sebuah matriks untuk data kualitatif dan menentukan jenis dan bentuk data yang dimasukkan dalam kotak-kotak matriks. dalam penelitian ini, data disajikan berupa teks naratif yang mendeskripsikan mengenai subjek penelitian yaitu menggambarkan tentang implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa di sdn cipinang besar utara 04 petang jatinegara, jakarta timur. langkah ketiga dalam model analisis interaktif adalah verifikasi data (data verification). dalam penelitian ini, verifikasi data dilakukan dengan menghubungkan data dengan teori b.f skinner dan albert bandura dalam menarik kesimpulan. hasil penelitian dan pembahasan sdn cipinang besar utara 04 petang adalah sekolah negeri milik pemerintah. sekolah ini berdiri di jl.bekasi timur iv no.1, kelurahan cipinang besar utara, kecamatan jatinegara, kota jakarta timur. gambar 1 adalah denah sdn cipinang besar utara 04 petang: implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 131 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 gambar 1. denah lokasi sekolah melihat denah di atas, sekolah ini berada di pusat kota, sebelah barat sekolah terdapat stasiun kereta api jatinegara, sebelah utara pasar tradisional "pasar enjo", sebelah timur laut pasar induk cipinang jaya, sebelah barat terdapat lembaga permasyarakatan cipinang, juga terdapat kantor imigrasi jakarta timur, dan sebelah selatan terdapat kejaksaan negeri jakarta timur. karena letaknya berada di daerah padat penduduk, dan rata-rata yang tinggal di daerah ini adalah pedagang kecil. oleh karena itu, lingkungan seperti ini sangat mungkin jika mereka memiliki sikap kurang disiplin, sikap kurang disiplin itu dilatarbelakangi oleh banyak hal. salah satunya ada yang ikut membantu orang tua berjualan, sehingga tidak bisa datang tepat waktu ke sekolah, dan masih banyak lagi. tak hanya masalah datang tepat waktu, namun banyak hal lain yang menuntut kedisiplinan peserta didik. tepat waktu dalam mengumpulkan tugas, disiplin dalam mengikuti upacara bendera, disiplin dalam mengantre, dan juga disiplin dalam belajar. sikap disiplin sangat penting dikenalkan sejak dini, dengan memiiki sikap ini seseorang dapat ditentukan kepribadiannya, dan juga kesuksesannya kelak. pembentukan sikap disiplin melalui teori behaviorisme menurut b.f skinner pembentukan perilaku dapat dikontrol melalui operant conditioning (penguatan perilaku positif atau negatif). dalam hal ini, segala perilaku yang muncul oleh peserta didik baik positif dan negatif dalam menunjukkan sikap displin harus segera diberi penguatan. penguatan dapat positif dapat pula negatif. contoh seorang peserta didik datang terlambat, pendidik harus memberi penguatan negatif, dengan menegur, menanyakan alasan dia terlambat, dan apapun alasannya harus diberi sanksi yang tegas agar peserta didik paham letak kesalahannya. demikian pula bila seorang peserta didik menunjukkan sikap disiplin dengan mengikuti upacara bendera dengan atribut lengkap, pendidik juga harus memberikan penguatan postif berupa pujian. hal ini tergambar lewat penuturan dari ibu suryani, m.pd sebagai berikut: "ibu berikan apresiasi bagi para peserta didik yang memakai atribut lengkap pada upacara kali ini, dengan kalian beratribut lengkap kalian menunjukkan citra diri seorang pelajar sejati, dan bagi yang belum beratribut lengkap, minggu depan segera dilengkapi." implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 132 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 rupanya penuturan dari ibu suryani, m.pd selaku kepala sekolah ini memberikan dampak psikologi yang baik bagi beberapa peserta didik, berikut penuturannya: bima kelas 1 mengatakan, "saya bangga beratribut lengkap, saya tampak ganteng memakai topi dan dasi, juga kepala sekolah memperhatikan saya. saya lebih baik dari kakak kelas 5 yang nggak pakai topi." dewi kelas 4 mengatakan, "saya merasa bangga dipuji oleh kepala sekolah, dan saya menjadi pelajar teladan." selain menggunakan teori b.f skinner penelitian ini menggunakan teori albert bandura yakni pembentukan perilaku di peroleh dari proses mengamati, dan meniru. dengan ini untuk mengantisipasi proses meniru yang tidak tepat, maka ibu suryani, m.pd berkata; "untuk membangun iklim budaya disiplin sekolah diperlukan kesadaran pendidik dan para orang dewasa yang berada di sekolah, memberikan contoh nyata disiplin dengan datang tepat waktu, dan selalu mencitrakan perilaku disiplin dalam segala hal." hal serupa juga dikatakan oleh ibu ida fauziah, s.pd; "rumah saya berada paling jauh dari lokasi sekolah, dan saya memiliki penyakit sendi di bagian lutut, tapi saya selalu berusaha datang lebih dahulu. dengan begitu saya dapat mengerjakan banyak hal sebelum memulai pekerjaan." ibu apriyani rotua, s.pd juga berkata hal serupa; "saya memiliki dua anak kecil, satu sudah memasuki tk, dan satu lagi balita, ditambah dengan kondisi rumah saya yang jauh kira-kira menempuh 2 jam perjalanan, namun saya selalu hadir lebih awal agar dapat mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, dan dapat mengecek segala hal." selain sikap yang harus dimiliki oleh para pendidik, pendidik juga harus memiliki kesadaran diri untuk selalu menganggap dirinya sebagai teladan yang ditiru oleh anak didiknya. hal ini dikatakan oleh ibu siti nursuyati asih, s.pdi; "selain karena tuntutan kita sebagai aparatur sipil negara yang tidak boleh datang telat, karena adanya sanksi dari pemerintah. kita juga memiliki tanggung jawab moril untuk dijadikan contoh oleh para peserta didik." dengan demikian, jelaslah sikap disiplin sudah melekat pada sanubari para pendidik di sdn cipinang besar utara 04 petang. mereka tahu segala tindakannya di gugu dan ditiru oleh para peserat didik. berikut penjelasan mengenai disiplin oleh ibu siti nursuyati asih, s.pd; "disiplin adalah kesadaran diri yang berasal dari hati. dengan disiplin pada diri maka seseorang akan disiplin pada segala hal." juga seorang peserta didik kelas 6 athifah putri berkata; "disiplin sangat penting untuk para pelajar agar dapat meraih prestasi yang lebih baik, dengan melatih diri agar disiplin dalam belajar di rumah saya dapat menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh bu apri." implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 133 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 pernyataan dari athifah tersebut menunjukkan bahwa disiplin yang berasal dari dalam diri pesera diri memberikan dampak yang lebih besar dalam meraih kesuksesan. dibandingkan yang bersal dari luar diri peserta didik. namun lingkungan sekolah dan figur para peserta didik yang mendukung dapat menularkan perilaku baik ini, karena dengan lingkungan dimana biasa peserta didik tumbuh, lama kelamaan akan memberikan dampak dari dalam diri yang bisa saja melekat hingga akhir hayat. disamping itu, perlu pula ada peraturan yang jelas agar peserta didik paham ramburambu atau aturan yang harus mereka lakukan dan mengetahui dengan jelas hal-hal apa saja yang harus dilaksanakan selama berada di sekolah agar dapat membentuk sikap disiplin peserta didik. dalam membuat peraturan sekolah ini kepala sekolah melibatkan peran serta guru, komite sekolah, dan juga siswa. mekanisme dalam membuat aturan sekolah, pertama pendidik membuat kesepakatan bersama para peserta didik, pendidik mendengarkan kesan-kesan peserta didik ketika membuat kesepakatan yang akan ditaati bersama dan membuat konsekuensi jika melanggar kesepakatan yang telah dibuat. kemudian kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat itu dibicarakan bersama kepala sekolah, komite, dan orang tua murid dalam kesempatan ini kepala sekolah dan para pendidik menyampaikan hal-hal atau perilaku yang akan dibentuk dengan menjalankan peraturan yang telah dibuat. para orang tua pun didengarkan segala apa yang mereka inginkan untuk terlaksananya peraturan ini dengan baik. setelah semuanya telah sepakat dan juga memberikan konsekuensi yang telah dibuat maka, peraturan tersebut disahkan dengan ditandatangani oleh kepala sekolah. setelah membuat kesepakatan yang telah disahkan tugas pendidik adalah memberikan sosialisasi kepada semua warga sekolah. berikut penuturan ibu suryani, m.pd; "dalam membuat kesepakatan atau peraturan dilakukan dengan melibatkan para warga sekolah mulai dari peserta didik, pendidik, saya, komite, dan para orang tua, tentunya hal tersebut dilakukan secara bertahap, tidak langsung sekali jadi." hal ini selaras dengan pernyataan salah seorang komite sekolah ibu dedeh kosasih; "ketika itu, akhir bulan maret 2018 kami komite sekolah diundang hadir oleh kepala sekolah dalam rangka membicarakan peningkatan sikap disiplin pada peserta didik, juga membicarakan program sekolah jangka panjang mengenai literasi yang menjadi fokus program sekolah." salah seorang peserta didik kelas 5 maya audia juga berkata; "bu ani mengajak teman-teman dan saya membicarakan masalah disiplin di sekolah, dan kami banyak membuat kesepakatan, yang sebenarnya juga saya takut jika melanggar saya akan malu karena dalam kesepakatan itu, saya juga menyumbang saran hukuman yang diberikan jika melanggar kesepakatan yang telah dibuat." diana mutiah (2012: 87-88) mengatakan “melalui interaksi dan komunikasi antara orang tua dan anak, maka akan berkembang berbagai aspek kepribadian anak termasuk aspek kesadaran terhadap tanggung jawab....mengasuh, membina dan mendidik anak di rumah merupakan kewajiban setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak." arti dalam kalimat ini adalah selain pihak sekolah peran orang tua dalam membentuk karakter anak implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 134 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 di rumah juga sangat penting. oleh karena itu peneliti melakukan wawancara dengan beberapa orang tua murid. berikut hasil wawancaranya, ibu neneng salah satu orang tua kelas 6 mengatakan; "setelah pertemuan guru dan orang tua murid, saya membuat kesepakatan di rumah bersama anak saya dan anggota rumah untu mengadakan jam belajar, dan juga waktu bermain. saya ingin melihat perubahan dalam anak saya menjadi lebih baik dan disiplin." ibu sari salah satu orang tua kelas 2 berkata; "sebelum diadakan pertemuan itu, saya memang sudah menerapkan disiplin dengan aturan jam main sampai jam berapa anak harus pulang ke rumah, juga waktu anak saya tidur malam, mengaji, dan menonton tv. alhamdulilah anak saya menurut dan memiliki nilai yang bagus serta tidak pernah membolos sekolah." penuturan lain juga berasal dari bapak hendra salah satu orang tua murid kelas 4 berkata; "anak saya sangat susah di atur, bertindak semaunya memang sih itu juga kesalahan saya dan istri karena saya dan istri berdagang sehingga kami kurang memperhatikan kebutuhan sekolah anak kami. dengan adanya program ini disekolah saya harap anak saya mempunyai perilaku yang lebih displin, sehingga nilai-nilainya menjadi bagus." salah satu contoh budaya disiplin di sdn cipinang besar utara 04 petang dan juga mendukung program literasi adalah kegiatan membaca 15 menit sebelum memulai kegiatan belajar. berikut wawancara dengan salah seorang informan; "di sekolah ini sudah mulai mengenal budaya membaca semenjak sekolah ini dijadikan model sekolah literasi, hal tersebut sangat bagus dengan anak-anak disiplin membaca paling tidak 15 menit sebelum mulainya pelajaran, siswa dibimbing untuk aktif mencari informasi, juga memiliki hobi yang baik, dengan adanya sikap disiplin guru yang membiasakan kegiatan ini, lama kelamaan para murid akan tahu banyak karena banyak membaca, kalau bagi siswa kelas rendah sisi baiknya mereka yang tadinya belum lancar membaca jadi berkeinginan agar lancar membaca. banyak sekali sisi positif dari budaya membaca ini." berdasarkan pemaparan informan diatas pembiasaan budaya membaca 15 menit sebelum belajar, memberikan banyak dampak postif, baik dari bertambahnya ilmu, juga menimbulkan keinginan agar lancar membaca bagi kelas rendah. tentunya budaya ini perlu disiplin dari para pendidik, tidak hanya 1 bulan atau 2 bulan selanjutnya tidak dilaksanakan justru akan membuat peserta didik tidak disiplin melakukan kegiatan ini. kegiatan ini juga dapat melihat keaktifan peserta didik, kegemaran peserta didik dilihat dari bahan bacaan yang ia sukai, dan tentunya sikap disiplin peserta didik yakni tekun dalam mengikuti kegiatan ini. beberapa paparan diatas merupakan contoh-contoh budaya membentuk disiplin yang telah dilakukan oleh sdn cipinang besar utara 04 petang, dalam penerapannya itu sekolah juga mengalami beberapa hambatan yakni dari faktor internal yakni pendidik yang tidak tegas dalam memberikan konsekuensi terhadap peserta didik yang sering kali melanggar kesepakatan, entah karena sudah jenuh atau menyerah, tapi hal itu tentunya perlu dilakukan evaluasi dan dibicarakan dengan kepala sekolah dan orang tua murid implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 135 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 yang bersangkutan. sedangkan faktor eksternal berasal dari peserta didik dan orang tua peserta didik. para peserta didik kurang sadar akan pentingnya sikap displin ini dalam menentukan kesuksesannya di masa mendatang, juga peran orang tua yang tidak peduli dengan kondisi anaknya karena sibuk mencari nafkah. banyak ditemui para orang tua yang sibuk namun memiliki waktu luang untuk berkomunikasi dengan anaknya menghasilkan anak yang berkarakter disiplin, sukses, dan mandiri. berikut hasil wawancara dengan ibu ida fauziah, s.pd; "faktor ekonomi yang menjadi fokus di lingkungan sekolah kami, karena sekolah ini terletak di pusat kota, banyak orang tua murid ini yang merupakan pendatang dari desa mengadu nasib dengan berdagang, mereka tidak mempunyai waktu memperhatikan anaknya. anaknya itu tidak ada yang mnegawasi dalam kesehariannya, mereka dibiarkan mandiri. namun namanya juga anak usia sd biar bagaimanapun perlu figur orang dewasa dalam membimbing mereka. jadi anak-anak yang seperti inilah yang menjadi hambatan sekolah kami dalam menerapkan disiplin." berikut penuturan ibu nikhen lukitawati, s.pd mengenai hambatan sekolah selanjutnya; "saya melihat ada guru yang jengkel dan merasa jenuh memberikan hukuman kepada peserta didiknya karena selalu mengulangi kesalahan yang sama yaitu datang terlambat ke sekolah. tentunya hal ini tidak baik karena dengan memberikan kelonggaran pada salah satu peserta didik akan membuat peserta didik merasa hal tersebut maklum. dan akan berdampak tidak baik kedepannya." beberapa temuan di lapangan tentunya merupakan beberapa hambatan yang dialami oleh sekolah dalam mengimplementasikan teori behaviorisme b.f skinner dan bandura dalam membentuk disiplin peserta didik. implementasi teori behaviorisme melalui teori operant condotioning ini difokuskan adanya penguatan baik penguatan postif maupun penguatan negatif. berdasarkan temuan dari hasil penelitian di atas didapatkan dalam membentuk sikap disiplin ini diperlukan kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua. langkah awal yang dibentuk sudah sangat bagus dengan membuat kesepakatan tidak dari satu pihak tapi dari beberapa pihak yang melibatkan para warga sekolah. baik kepala sekolah, para pendidik, staff administrasi (operator sekolah), penjaga sekolah, pelayan sekolah, komite sekolah, peserta didik, serta orang tua peserta didik. dengan melakukan kesepakatan yang melibatkan banyak pihak, dapat memberikan kontribusi yang besar guna berhasilnya kegiatan pembentukan sikap disiplin pada peserta didik. pembentukan disiplin pada peserta didik, dimaksudkan agar kelak para peserta didik dapat mampu mengatur segala kegiatannya sehingga ketika dewasa tidak merasa banyak membuang waktu untuk hal yang tidak berguna. dan juga untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yakni menjadikan generasi penerus bangsa yang memiliki karakter yang kuat, mandiri, displin, dan dapat bersaing di dunia internasional. pembentukan disiplin ini penting dimulai sejak dini, pihak sekolah sangat konsentrasi dengan program ini, karena selain menginginkan peserta didik yang berkualitas, juga agar kegiatan pembelajaran berjalan dengan kondusif dan nyaman. implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 136 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 teori lain dari albert bandura tentang mengamati dan meniru, hal ini sangat dipahami betul oleh pemangku pendidikan, oleh karena nya diperlukan kesadaran penuh, dari hati untuk memposisikan diri pendidik menjadi teladan bagi para peserta didiknya. para pendidik menunjukkan sikap disiplin dengan hadir sebelum kelas dimulai walaupun kondisi rumah yang jauh dari sekolah, mereka (pendidik dan peserta didik) menunjukkan sikap keseriusan dalam melaksanakan kegiatan membaca 15 menit sebelum kegiatan belajar dimulai. dengan melihat contoh nyata yakni guru mereka, maka peserta didik menurut teori bandura ini diharapkan meniru sikap tersebut. kebiasan terlambat yang dimiliki oleh beberapa siswa segera ditinjak lanjuti oleh pendidik dengan memberi teguran, jika terlambat diulang lagi dalam minggu yang sama diberikan penguatan negatif berupa hukuman, dengan menyanyikan lagu indonesia raya, dan apabila kali ketiga dalam waktu 1 minggu mengulang hal yang sama tentunya akan diberikan penguatan negatif (hukuman) yang lebih berat lagi misalnya dengan menugaskan peserta didik menghafal nama menteri, dan juga bisa hal lain. hukuman yang diberikan disesuaikan oleh usia mereka, kelas mereka, dan juga perlu diingat pendidik tidak boleh memberikan hukuman fisik, karena akan lebih merugikan si peserta didik. selain berkurangnya waktu belajar, juga keletihan fisik dapat mengakibatkan kurangnya konsentrasi ketika peserta didik mengikuti pelajaran, juga apabila hukuman fisik terlalu berat berdampak peserta didik menjadi sakit, dan malah tidak masuk, mereka akan lebih jauh tertinggal. karena adanya beberapa pelanggaran dalam menjalani kesepakatan sekolah membuat buku penghubung antara sekolah dengan pihak oarang tua, buku penghubung ini dibuat agar menjadi penghubung antara pihak sekolah dan orang tua murid dalam memberikan informasi perkembangan anaknya di sekolah. buku penghubung ini merupakan dokumentasi yang penting dalam melaksanakan program displin peserta didik. jika orang tua memiliki buku penghubung, pihak sekolah juga memiliki buku konseling didalamnya memuat berbagai perilaku peserta didik yang melanggar kesepakatan yang telah dibuat, dan juga dalam buku konseling ini merekam kejadian yang peserta didik lakukan, mulai dari hari, tanggal, tahun, waktu kejadian, jenis pelanggaran, hukuman yang diberikan, dan tindak lanjut yang dilakukan. sehingga jelas buku konseling yang merupakan salah satu dokumentasi sekolah dapat memperlihatkan gambaran kondisi peserta didiknya sampai sejauh mana kesalahan itu dapat diperbaiki. buku konseling ini juga berguna bagi berbagai pihak jika ditemukan ada peserta didik yang mengalami hambatan dalam belajar, dan cenderung menjadi anak berisiko. karena dalam menangani anak berisiko diperlukan keahlian khusus, jika pendidik masih dapat menanggulangi keberisikoan peserta didik akan bagus berdampak pada anak tersebut menjadi lebih baik, namun apabila pendidik tidak dapat menangani keberisikoan peserta didik diperlukan pihak lain seperti terapis, psikolog, polisi, pemuka agama, dan sebagainya. (riana bagaskorowati, 2010: 69) mengatakan "...dengan menghimpun informasi sebanyak-banyaknya terhadap faktor berisiko...informasi yang terhimpun diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai anak tersebut, sehingga selanjutnya dapat dilakukan suatu tindakan ataupun intervensi secara dini, tepat, dan implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 137 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 akurat." menurut pendapat tersebut buku konseling sangat penting dan harus ada pada tiap sekolah, dan lebih khusus setiap pendidik memiliki buku konseling kelas. penguatan postitif dan negatif teori skinner ini telah memberikan hasil yang cukup memuaskan mengingat baru sedikitnya waktu penelitian yakni 3 bulan, hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan tingkah laku peserta didik yang semula sering membolos dengan diberikan penguatan negatif berupa hukuman. peserta didik tersebut menurunkan tingkat membolosnya dari 3 kali dalam seminggu kini, 1 bulan sekali dibulan terakhir yakni mei dan juni 2018, mungkin lama kelamaan kondisi ini akan menghilang, dan malah peserta didik menjadi rajin. hasil lain yang berhubungan dengan pemakaian atribut sekolah lengkap, berdasarkan penelitaian sudah mulai jarang peserta didik yang tidak beratribut lengkap. mereka mulai memiliki rasa malu jika tidak beratribut lengkap. hal ini tentunya di dukung oleh konsistennya pendidik dalam menghukum atau memberi penguatan negatif pada para peserta didik yang melanggar aturan tersebut. pada sisi lain dalam teori bandura terdapat kegiatan mengamati dan meniru, jika kedua teori skinner dan bandura dikolaborisakan dan membentuk pribadi seseorang sesuai dengan apa yang diharapkan. kedua teori ini membiasakan peserta didik melihat contoh disiplin yang nyata, membiasakan peserta didik mematuhi kesepakatan yang telah ditetapkan bersama, dan pendidik segera memberikan respon penguatan baik penguatan positif (hadiah, pujian, rasa bangga, dll) maupun penguatan negatif (hukuman, teguran). semua pendidik hendaknya bersikap tegas dan konsisten dalam menerapkan operant conditioning ini. selain penguatan juga pendidik diharpakan selalu memebrikan dukungan atau memotivasi peserta didik agar kesadaraan akan pentingnya perilaku disiplin dan mengikuti kesepakatan ini berasal dari dalam diri. bukan karena takut dihukum. awalnya mungkin menghadirkan efek seperti itu, namun kedepannya diharapkan tidak hanya untuk menhindari hukuman tapi juga karena adanya kesadaran diri untuk bersikap disiplin. beberapa hambatan yakni hambatan internal yakni pendidik yang tidak konsisten dalam memberikan penguatan. sehingga adanya celah yang dapat menimbulkan asumsi peserta didik untuk tidak mematuhi kesepakatan yang telah dibuat. hambatan selajutnya bersifat ekternal dari peserta didik yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya sikap disiplin ini dalam membentuk karakter mereka kelak. jika mereka memiliki sikap disiplin mereka akan meraih sukses, karena mereka dapat mengatur waktu, dan segala hal yang mereka inginkan. selain itu orang tua juga menjadi hambatan. beberapa orang tua yang berpenghasilan rendah menjadikan pembentukan disiplin anak dari rumah kurang kuat, dikarenakan kondisi orang tua yang sibuk mencari nafkah, sehingga mengabaikan anaknya. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh maka dapat disimpulkan implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa di sdn cipinang besar utara 04 petang, jatinegara, jakarta timur diperoleh dengan menggabungkan dua teori dari b.f skinner operant conditioning (pemberian penguatan baik positif maupun negatif) dan teori dari albert bandura proses mengamati dan meniru implementasi teori behaviorisme.....(sugi harni & indina t) 138 jppd, 5, (2), hlm. 127-138 dapat mempengaruhi perilaku seseorang. dengan kolaborasi dua teori ini selama 3 bulan yakni bulan april 2018 sampai juni 2018 menunjukkan perubahan perilaku peserta didik yang semula bertindak kurang disiplin, menjadi lebih disiplin. dalam prosesnya ini ditemui pula hambatan yang berasal dari pendidik yang tidak konsisten dalam memberikan penguatan dan kurangnya kesadaran peserta didik akan pentingnya sikap disiplin ini, serta kurangnya perhatian orang tua yang sibuk mencari nafkah sehingga membiarkan anaknya dirumah seorang diri. dengan telah dibuatnya kesepakatan dan adanya penguatan diharapkan penguatan positif tidak hanya dalam bentuk ucapan, pujian, namun juga dapat berupa hadiah yang bersifat akademis, dengan adanya poin peserta didik yang peling sedikit melanggar kesepakatan diberikan hadiah berupa voucer membeli buku di toko buku, atau jalan-jalan ke museum, dan bisa hal lain yang memancing perilaku peserta didik untuk memunculkan rasa disiplin dalam diri. namun hal ini harus bekerja sama dengan berbagai pihak, disini lah tantangan bagi sekolah agar dapat menrealisasikannya. juga sekolah selalu melakukan evaluasi terhadap pendidik guna menghindari adanya celah yang dapat membuat kesepakatan yang telah dibuat terlihat tidak bermakna. perlu adanya komunikasi yang berkelanjutan dengan para orang tua murid agar mereka mengetahui perkembangan anaknya di sekolah. daftar pustaka arikunto, suharsimi. 2006. prosedur penelitian suatu pendekatan praktis. jakarta: pt asdi mahasetya bagaskorowati, riana. 2010. anak berisiko: identifikasi, asesmen, dan intervensi dini. bogor : ghalia indonesia. moleong, lexy j. 2014. metodologi penelitian kualitatif. bandung: pt remaja rosdakarya. mutiah, diana. 2012. psikologi bermain anak usia dini. jakarta: kencana prenada media group. sugiyono, 2009. metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan r & d. bandung: alfabeta. tu'u, tulus. 2004. peran disiplin pada perilaku dan prestasi siswa. jakarta: grasindo uu ri nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional uu sisdiknas pasal 1 tahun 2003 tentang tujuan pendidikan nasional e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 pengembangan buku cerita bergambar.....(eni suryaningsih dan laila fatmawati) 113 pengembangan buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api untuk siswa sd eni suryaningsih1), laila fatmawati2) fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas ahmad dahlan yogyakarta e-mail: 1enisurya258@gmail.com; 2lailaokyfatmawati@gmail.com abstract the background of this research is fact in the field regarding low knowledge of the community about disaster mitigation. besides, there is no knowledge material presentation about volcano eruption disaster mitigation that routinely scheduled at schools in disaster prone areas. a media is needed to deliver knowledge material about mitigation and can be integrated in learning. this research aims to develop and determine the feasibility of picture story books about volcano eruption disaster mitigation for elementary school students in disaster prone areas. this is a research and development which carried out eight stages. the result of the assessments from the media expert is 85.33 (very good), material expert is 89.6 (very good), language expert is 76 (good), product test is 95.08 (very good), and application test is 88.66 (very good). all assessments average score is 86.93 converted into qualitative data is in the category of "very good". keywords: disaster mitigation, story book of disaster mitigation pendahuluan indonesia merupakan salah satu negara yang mendapat predikat negara rawan bencana. indonesia adalah negara kepulauan dengan potensi bencana alam sangat tinggi khususnya gempa bumi, letusan gunung api dan tsunami, karena terletak pada tiga pertemuan lempeng bumi. ketiga lempeng tersebut adalah lempeng indo-australia, lempeng eurasia, dan lempeng pasifik. lempeng benua eurasia yang memanjang dari pantai barat sumatera hingga pantai selatan jawa, terus ke timur sampai daerah nusa tenggara (nur, 2010: 67) tersebut tertabrak oleh lempeng indo-australia dan menyusup ke bawah lempeng eurasia, sehingga penunjaman lempeng tersebut mengakibatkan adanya jalur gempa bumi dan rangkaian gunung api aktif. wilayah indonesia yang dilalui dua jalur pegunungan aktif di dunia yaitu sirkum pasifik dan sirkum mediterania mengakibatkan indonesia memiliki banyak gunung api yang terletak di daerah sumatra, jawa hingga nusa tenggara. selain itu indonesia termasuk wilayah yang selalu bergerak, hal ini dapat dilihat dari jumlah gunung yang terdapat di indonesia, ada 500 gunung api tidak aktif dan 129 gunung api yang masih memperlihatkan aktifitasnya (basyid, 2009). banyaknya gunung api yang terdapat di indonesia mengakibatkan tanah indonesia menjadi subur. daerah yang mempunyai tanah subur menjadi salah satu pilihan untuk dijadikan tempat tinggal oleh masyarakat, karena masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dengan bercocok tanam. selain itu, secara budaya dan alami, tempat lahir dan dibesarkan memang mempunyai daya ikat yang kuat secara emosional dan kultural (suhardjo, 2011) sehingga banyak penduduk yang memilih atau dengan sengaja tinggal di kawasan yang rentan terhadap bencana. seperti halnya masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api, mereka akan tetap tinggal di sana meski mailto:1enisurya258@gmail.com p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 114 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 112 124 bahaya letusan gunung api dapat terjadi kapan saja aktivitas gunung api yang fenomenanya cenderung dapat diprediksi, menjadikan pentingnya memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait mitigasi bencana gunung api. mitigasi dapat diartikan sebagai upaya atau tahapan mengambil tindakan-tindakan untuk mengurangi pengaruh/ resiko dari suatu bahaya sebelum bahaya tersebut terjadi (nirmalawati, 2011). upaya pemerintah dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang mitigasi bencana, salah satunya adalah melalui lembaga pusat vulkanologi mitigasi bencana geologi (pvmbg) serta badan penanggulangan bencana daerah (bpbd). namun penyuluhan maupun soaialisasi tentang mitigasi tersebut dirasa masih kurang, sehingga masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang mitigasi bencana. salah satu peristiwa bencana yang mengakibatkan banyak korban adalah erupsi gunung merapi tahun 2010, dengan kerusakan dan kerugian diperkirakan mencapai 2,1 trilyun rupiah dan korban meninggal 227 jiwa (lestari, dkk, 2012). gunung merapi merupakan salah satu gunung api teraktif di dunia, karena hampir setiap periode mengalami erupsi. periode berulang aktivitas erupsi berkisar 2-7 tahun (susilo & rudiarto, 2014). dampak dari erupsi gunung merapi yang terletak di antara 4 kabupaten tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di daerah sekitar gunung. empat kabupaten yang dimaksud adalah kabupaten magelang, kabupaten sleman, kabupaten boyolali dan kabupaten klaten (bnpb, 2010). menurut peta wilayah zona ancaman merapi yang bersumber dari bnpb (2010), kecamatan dukun kabupaten magelang termasuk salah satu wilayah dalam zona ancaman merapi, yaitu jarak radius 15 km dari puncak merapi. beberapa kelurahan di kecamatan dukun ada yang hanya berjarak 5 sampai 10 km dari puncak merapi, salah satunya adalah desa ngargomulyo dan desa kalibening yang terletak di sebelah barat gunung merapi. sd negeri ngargomulyo dan mi muhammadiyah kalibening adalah salah satu sekolah yang berada di kelurahan tersebut dan masuk dalam sekolah siaga bencana. kurangnya pemahaman masyarakat dan orang tua tentang pengetahuan mitigasi bencana berdampak pada ketidak tahuan anak-anak mereka terhadap arti mitigasi bencana. masyarakat baru menyadari setelah terjadi bencana, yang menyebabkan banyak korban harta, benda dan jiwa. oleh karena itu perlu dirancang media yang berisi materi tentang mitigasi dan dapat digunakan sebagai suplemen dalam pembelajaran guna memperluas pengetahuan siswa tentang mitigasi bencana. dalam kenyataan di lapangan, masih banyak sekolah di kawasan rawan bencana yang belum memasukkan mitigasi bencana ke dalam program persekolahan. guru yang mengajar di sekolah yang berada di kawasan rawan bencana tersebut belum mengembangkan media tentang mitigasi bencana, termasuk media dalam bentuk buku cerita bergambar sebagai suplemen dalam pembelajaran ips. keterbatasan tersebut membuat sedikit sekali guru mensosialisasikan atau mengajarkan mitigasi kepada siswa disekolah. pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, oleh karena itu pengetahuan tentang mitigasi dapat disampaikan melalui pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. penyelenggaraan pendidikan oleh sekolah e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 pengembangan buku cerita bergambar.....(eni suryaningsih dan laila fatmawati) 115 seharusnya bukan hanya sekedar memberikan transfer pengetahuan melainkan dapat menjadikan belajar bermakna. pembelajaran akan menjadi lebih bermakna ketika siswa terlibat secara aktif dalam menemukan konsep dari fenomena yang ada di lingkungan (rizal: 2014), apalagi jika ditambah dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh siswa. selain belajar bermakna, belajar juga diharapkan dapat memberikan keterampilan kepada siswa. mitigasi bencana merupakan salah satu bagian dari keterampilan untuk kehidupan siswa, khususnya siswa yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana, karena mitigasi bencana termasuk bagian dari keterampilan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa. hal ini sesuai dengan prinsip umum pengembangan kurikulum. kurikulum yang dikembangkan disekolah hendaknya disesuaikan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat (syaodih: 2013: 150). pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan, maka dari itu materi tentang mitigasi bencana dapat dijadikan salah satu materi muatan lokal, untuk sekolah dasar yang berada di daerah rawan bencana. siswa sekolah dasar merupakan peserta didik yang paling cepat menangkap dan mentransfer ilmu yang diperoleh dari sekolah untuk keluarga dan masyarakat. oleh karena itu, pendidikan mitigasi sejak dini kepada siswa sekolah dasar merupakan suatu langkah awal untuk membangun masyarakat yang tanggap dan sadar bencana (arifianti, 2011). siswa pada usia sd cenderung lebih senang membaca jika isi buku terdapat gambar yang menarik, bahkan lebih senang untuk membaca buku cerita bergambar (rahmawati, 2016: 127). buku cerita bergambar adalah sebuah cerita ditulis dengan gaya bahasa ringan, cenderung dengan gaya obrolan, dilengkapi dengan gambar yang merupakan kesatuan dari cerita untuk menyempaikan gagasan tertentu (faizah, 2009: 253). selain menarik, buku cerita bergambar juga mempunyai beberapa manfaat, diantaranya adalah dapat membantu perkembangan emosi anak, memperoleh kesenangan, membantu anak belajar tentang dunia dan untuk menstimulasi imajinasi (nurgiantoro, 2015). media buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana untuk sekolah dasar belum banyak dikembangkan, sehingga menjadikan penelitian ini mempunyai keunggulan tersendiri, yaitu dengan mengembangkan buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api yang dapat terintegrasi dalam pembelajaran ips. sapriya (2011: 7) berpendapat bahwa pendidikan ips terdapat dalam dua jenis, yakni pendidikan ips untuk persekolahan dan pendidikan ips untuk perguruan tinggi. pendapat tersebut dapat diartikan bahwa pendidikan ips penting untuk di ajarkan mulai dari sekolah dasar. berdasarkan uraian diatas maka peneliti terdorong untuk mengembangkan karakter tanggap bencana sejak dini melalui pengembangan buku cerita bergambar. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana langkah-langkah pengembangan buku cerita bergambar, serta untuk mengetahui kualitas dan kelayakan buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api untuk siswa sd/mi kelas iv di daerah rawan bencana. metode penelitian jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (research and development). pengembangan dilakukan mengacu pada model pengembangan p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 116 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 112 124 sugiyono (2013: 201) dan hanya dibatasi sampai pada langkah ke delapan. produk yang dikembangkan adalah buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api untuk siswa sd/mi kelas iv di daerah rawan bencana. penelitian dilaksanakan di sd negeri ngargomulyo dan mi muhammadiyah kalibening. uji coba dilakukan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan sebagai acuan untuk menentukan kelayakan kualitas buku cerita bergambar yang dikembangkan. uji coba yang dilakukan meliputi uji validasi ahli, uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. subjek coba dalam penelitian ini terdiri dari subjek uji ahli (ahli materi, ahli media dan ahli bahasa) yaitu dosen pgsd yang berkompeten di bidangnya. uji coba kelompok kecil dilakukan terhadap 6 siswa di sd negeri ngargomulyo, sedangkan uji coba kelompok besar dilakukan terhadap 16 siswa di mi muhammadiyah kalibening. teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan ini antara lain penilaian ahli, penilaian guru dan respon siswa. dalam penelitian ini terdapat dua jenis data yang diperoleh peneliti, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. data kualitatif dalam penelitian ini berupa saran dan masukan dari ahli dan guru yang diperoleh dari hasil validasi dan uji coba. sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil uji kelayakan produk yang diperoleh dari jumlah penilaian validasi ahli, guru dan siswa yang berupa skor dan selanjutnya dikategorikan menjadi kategori tertentu. instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner atau angket. angket dalam penelitian ini menggunakan skala likert yang mempunyai kategori rentang nilai mulai dari yang tertinggi sampai terendah (suharsimi dan cepi, 2009: 35). peneliti menggunakan beberapa angket, diantaranya angket untuk ahli materi, ahli media, ahli bahasa, angket penilaian guru dan angket respon siswa. data yang diperoleh melalui lembar penilaian produk dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. data kualitatif diperoleh dari: 1) komentar dan saran yang diperoleh dari ahli materi, media dan bahasa; 2) komentar dan saran dari guru kelas iv; 3) komentar dan saran dari siswa. data yang diperoleh dianalisis dan dideskripsikan secara kualitatif untuk merevisi produk yang dikembangkan. data kuantitatif dalam penelitian dan pengembangan ini berupa: 1) skor penilaian dari validasi ahli; 2) skor dari uji coba produk; 3) skor dari uji coba pemakaian. data angket respon siswa diukur menggunakan skala guttman. dengan demikian, hasil penilaian ahli, uji coba produk serta uji coba pemakaian jika diperoleh hasil akhir minimal “baik”, maka produk buku cerita bergambar yang dikembangkan dapat dikatakan layak untuk digunakan. hasil dan pembahasan buku cerita bergambar yang dikembangkan ini didasarkan pada permasalahan yang ditemukan peneliti, yaitu kurikulum yang digunakan sebagai acuan untuk proses kegiatan belajar belum dapat memfasilitasi upaya pemahaman materi tentang mitigasi bencana. buku cerita bergambar yang dikembangkan merupakan bahan ajar tambahan berupa cerita bergambar yang memuat materi tentang mitigasi bencana erupsi gunung api yang disusun berdasarkan kurikulum untuk kelas iv sd/mi. e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 pengembangan buku cerita bergambar.....(eni suryaningsih dan laila fatmawati) 117 buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api ini dirasa sangat sangat perlu untuk dikembangkan, mengingat secara geografis banyak sekolah yang berada pada kawasan rawan bencana. seperti beberapa sekolah di kecamatan dukun kabupaten magelang yang termasuk dalam zona ancaman merapi (bnpb, 2010). kelebihan dari buku cerita bergambar yang mudah dimanfaatkan dan dapat digunakan dalam banyak hal untuk jenjang pengajaran (sudjana & rivai, 2013) diharapkan dapat membuat siswa lebih tertarik untuk belajar tentang mitigasi. selain itu buku cerita bergambar dapat merangsang imajinasi dan membantu anak dalam memperkaya imajinasi, karena gambar dalam buku cerita mengandung cerita (nurgiyantoro, 2010: 154). buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api diharapkan dapat menumbuhkan rasa gemar membaca pada siswa. tujuan lainya adalah agar siswa mengetahui dan memahami pesan-pesan positif yang terkandung di dalamnya, serta dapat mengaplikasikan rangkaian upaya mitigasi bencana erupsi gunung api dalam kehidupan nyata. pengembangan buku cerita bergambar ini menggunakan desain pengembangan yang terdiri dari 10 langkah yaitu:, potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi produk, revisi desain, uji coba produk, revisi produk, uji coba pemakaian. namun, pada penelitian ini dimodifikasi menjadi 8 langkah, yaitu sampai pada uji coba pemakaian karena keterbatasan peneliti untuk melaksanakan sampai langkah produksi masal (sugiyono, 2013: 407) (purwanto, 2014). melalui materi mitigasi bencana erupsi gunung api, siswa diajak untuk mengenal karakteristik lingkungan tempat tinggalnya, serta dilatih untuk waspada dan siap siaga apabila terjadi bencana pada proses pengembangan buku cerita bergambar ini terdapat beberapa tahapan. tahap yang pertama, potensi dan masalah yaitu dilakukan pengamatan dari hasil wawancara pada tanggal 25 dan 27 oktober 2016. dari wawancara di dapatkan informasi sebagai berikut: 1. pendidikan mitigasi belum masuk dalam program persekolahan. 2. belum dikembangkan materi dan bahan ajar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api. 3. materi mitigasi bencana erupsi gunung api disampaikan melalui pelajaran ips dan sifatnya masih terlalu umum. 4. materi tentang mitigasi bencana erupsi gunung api dianggap perlu disampaikan kepada siswa, khususnya di daerah rawan bencana seperti daerah rawan gunung merapi. tahap yang kedua pengumpulan data, peneliti melakukan analisis kebutuhan siswa tentang perlu tidaknya pengembangan buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api untuk siswa sd/mi di daerah rawan bencana. selain itu peneliti melakukan analisis kurikulum, yaitu analisis silabus agar materi tidak menyimpang dengan sk dan kd yang telah ditetapkan. berdasarkan wawancara dengan guru kelas dan kepala sekolah yang akan dijadikan sebagai tempat untuk penelitian, didapatkan informasi bahwa belum dikembangkan materi tentang mitigasi bencana erupsi gunung api yang terintegrasi dalam pembelajaran. peneliti juga melakukan studi literatur, yaitu mencari beberapa teori yang akan dijadikan pijakan dalam pengembangan produk. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 118 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 112 124 dari hasil studi pendahuluan pada tahap potensi dan masalah dapat disimpulkan bahwa guru belum mengembangkan materi dan media yang berkaitan dengan mitigasi bencana erupsi gunung api. oleh karena itu, penelitian ini difokuskan untuk mengembangkan media buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api untuk sekolah yang bberada di daerah rawan bencana. tahap ketiga adalah desain produk, pada tahap ini dilakukan pembuatan desain produk yang akan dikembangkan. adapun langkahlangkah dalam mendesain produk yang dikembangkan adalah sebagai berikut: 1. menganalisis kompetensi dasar, indikator dan tujuan pembelajaran pada materi yang akan dikembangkan 2. menyusun materi dan mengintegrasikan materi tentang mitigasi bencana erupsi gunung api 3. setelah selesai menyusun materi, mulai dilakukan pembuatan story board untuk memudahkan perancangan, dimana pembuatan gambar dilakukan dengan menggunakan aplikasi corel draw. setelah desain selesai dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan pengembangan produk. pada tahap pengembangan dilakukan beberapa kegiatan (prihatina, 2016), diantaranya adalah sebagai berikut: 1. perumusan ide, tokoh , alur dan pembentukan karakter 2. pembuatan sketsa/ story board 3. pembuatan desain/ ilustrasi gambar dengan corel draw 4. pemberian teks dan dialnjutkan dengan mencetak produk. 5. mencetak desain buku cerita bergambar yang telah dibuat, menggunakan kertas a5, jenis kertas ivory 230 gr untuk sampul dan art paper ukuran 120 gr untuk isi tahap ke empat adalah penilaian dan evaluasi. penilaian yang pertama adalah penilaian oleh ahli, yaitu ahli materi, ahli media dan ahli bahasa. setelah mendapat penilaian dari ahli selanjutnya dilakukan revisi berdasarkan saran dan masukan. berdasarkan uji validasi yang telah dilakukan oleh ahli materi, nilai yang didapatkan adalah dengan jumlah skor 112. sehingga dapat diketahui bahwa nilai yang didapat adalah 89,6. apabila di konversikan ke dalam data kualitatif, maka nilai yang di dapat termasuk dalam kategori “baik sekali”. berdasarkan uji validasi yang telah dilakukan oleh ahli media, nilai yang didapatkan adalah dengan jumlah skor 64. sehingga dapat diketahui bahwa nilai yang didapat adalah 85,33. apabila di konversikan ke dalam data kualitatif, maka nilai yang di dapat termasuk dalam kategori “baik sekali”. berdasarkan uji validasi yang telah dilakukan oleh ahli bahasa, nilai yang didapatkan adalah dengan jumlah skor 38. sehingga dapat diketahui bahwa nilai yang di dapat adalah 76. apabila dikonversikan ke dalam data kualitatif, maka nilai yang di dapatkan termasuk dalam kategori “baik”. hasil respon angket siswa dalam uji coba produk (uji coba kelompok kecil) terhadap buku cerita bergambar dapat dilihat pada tabel 2. hasil perhitungan respon siswa pada uji coba kelompok kecil menunjukkan nilai 96,42 kemudian dikonversikan ke dalam data kualitatif, berdasarkan nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api termasuk dalam kategori “baik sekali”. e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 pengembangan buku cerita bergambar.....(eni suryaningsih dan laila fatmawati) 119 tabel 2. data hasil angket respon siswa (uji coba kelompok kecil) no nama jumlah jawaban ya (skor) 1. glh 14 2. uln 12 3. zk 14 4. isn 14 5. fnd 13 6. srs 14 jumlah 81 nilai 96,42 kategori baik sekali hasil perhitungan penilaian guru pada uji coba kelompok kecil menunjukkan nilai 93,75 kemudian dikonversikan ke dalam data kualitatif, berdasarkan nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api termasuk dalam kategori “baik sekali”. seluruh nilai yang didapat dari angket respon siswa dan penilaian guru kemudian dicari rata-rata. apabila nilai tersebut dikonversikan ke dalam data kualitatif maka penilaian buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api dalam uji coba kelompok kecil termasuk dalam kategori “baik sekali”. pada tahap uji coba pemakaian sebagai produk akhir bertujuan untuk melihat kelayakan dari buku cerita bergambar. penilaian uji coba pemakaian di dapat melalui pengisian angket respon siswa kelompok besar dan angket penilaian guru yang dilakukan oleh guru kelas iv mi muhammadiyah kalibening, yaitu daryanto, s.pd. adapun hasil data pada uji coba pemakaian adalah sebagai berikut: hasil penilaian angket respon siswa dalam uji pemakaian (uji coba kelompok besar) adalah sebagai berikut: tabel 3. hasil data angket respon siswa (uji coba pemakaian kelompok besar) no nama siswa jumlah jawaban ya (skor) 1. zhr 14 2. and 14 3. aml 14 4. nbl 14 5. rfk 13 6. nva 14 7. imm 13 8. aul 14 9. frl 14 10 dka 14 11. mwn 13 12. dms 14 13. tgr 14 14. frh 13 15. hfd 11 16. abd 14 jumlah 218 nilai 97,32 kriteria sangat baik tabel 3. adalah hasil respon siswa terhadap buku cerita bergambar, diketahui skor yang diperoleh sebanyak 218 sehingga nilai yang diperoleh nilai 97,32 kemudian dikonversikan ke dalam data kualitatif, berdasarkan nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api termasuk dalam kategori “baik sekali”. hasil penilaian guru terhadap buku cerita bergambar, diketahui skor diperoleh sebanyak 75 sehingga hasil perhitungan penilaian guru pada uji coba kelompok besar menunjukkan nilai 80 kemudian dikonversikan ke dalam data kualitatif, berdasarkan nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api termasuk dalam kategori “baik sekali”. seluruh nilai yang didapat dari angket respon siswa dan penilaian guru kemudian p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 120 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 112 124 dicari rata-rata. apabila nilai tersebut dikonversikan ke dalam data kualitatif maka penilaian buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api dalam uji coba kelompok besar termasuk dalam kategori “baik sekali”. tahapan selanjutnya adalah analisis data, yang dilakukan setelah uji coba. yang pertama analisis data kualitatif, berupa komentar dan saran dari penilaian. ahli materi memberikan komentar dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan produk yang dikembangkan. saran dan komentar dari ahli materi adalah untuk perbaikan redaksi, penambahan glosarium dan profil penulis. ahli media memberikan komentar dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan produk yang dikembangkan. sebagai berikut; 1) buku supaya dilengkapi dengan deskripsi singkat pada sampul belakang, dan ditambahkan profil penulis, 2) potongan buku jangan sampai menghilangkan bagian teks pada cerita, 3) sesuaikan pemilihan warna antara teks dengan background. sedangkan ahli bahasa memberikan komentar yaitu tentang konsistensi penggunaan tanda baca dan penggunaan kosa kata/istilah yang lebih familiar. hal ini sesuai dengan pendapat kustandi & sudjipto (2013: 145) bahwa aspek bahasa termasuk dalam komponen yang harus diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaran. bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan karakter peserta didik, serta penggunaan istilah dan struktur kalimat harus jelas. analisis hasil uji coba produk kelompok kecil, guru dan siswa memberikan komentar atau saran terhadap produk yang dikembangkan. adapun komentar dan saran dalam tahap uji coba produk adalah sebagai berikut: 1) siswa tertarik dengan buku cerita yang dikembangkan, 2) siswa menjadi lebih bersemangat untuk membaca cerita kaena gambar dalam cerita bagus dan menarik, 3) penyajian materi bagus sehingga dapat mendorong minat dan motivasi siswa dalam belajar. analisis data uji coba pemakaian kelompok besar, siswa dan guru memberikan penilaian, saran dan kritik sebagai berikut; 1) buku cerita bagus, menarik dan bahasa yang digunakan mudah dipahami, 2) siswa antusias dan semangat dalam membaca buku cerita, 3) buku cerita dapat memberikan motivasi belajar, 4) buku cerita tepat dengan kondisi lingkungan sekolah yang berada di kawasan rawan bencana. analisis data kuantitatif dilakukan setelah uji validasi, hasil validasi dapat diketahui bahwa buku cerita yang dikembangkan mendapatkan nilai sebagai berikut: tabel 4. data kuantitatif hasil uji validasi no penilaian nilai kategori 1 ahli materi 89,60 baik sekali 2 ahli media 85,33 baik sekali 3 ahli bahasa 76 baik jumlah 250,93 rata-rata 83,64 baik sekali dari data pada tabel 4 dapat diketahui bahwa penilaian buku cerita bergambar oleh para ahli mendapat rata-rata 83,6 dan termasuk dalam kategori baik sekali dan dinyatakan layak untuk digunakan. apabila dari keseluruhan nilai dalam diagram dicari maka diperoleh rata-rata sebesar 83, 64. sedangkan dari data pada tabel 5 dapat diketahui bahwa penilaian buku cerita bergambar dalam uji coba mendapat rata-rata 91,87 dan termasuk dalam kategori “baik sekali”. apabila dari keseluruhan nilai uji e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 pengembangan buku cerita bergambar.....(eni suryaningsih dan laila fatmawati) 121 coba dalam diagram dicari maka diperoleh rata-rata sebesar 91, 87. tabel 5. data kuantitatif hasil uji coba no penilaian nilai kategori 1 uji coba produk angket respon siswa 96,42 baik sekali penilaian guru 93,75 baik sekali 2 uji coba pemakaian angket respon siswa 97,32 baik sekali penilaian guru 80,00 baik sekali jumlah 367,49 rata-rata 91,87 baik sekali seluruh penilaian dari 3 ahli, angket respon siswa dan penilaian guru dari uji coba produk dan uji coba pemakaian terhadap buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api dapat dicari rata-rata dengan menggunakan rumus yang sudah ditentukan diperoleh hasil sebesar 87,75 berdasarkan nilai tersebut setelah dicari rata-rata maka nilai dari keseluruhan penilaian dari buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api dikonversikan dan dapat disimpulkan dalam kategori “baik sekali”. buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api yang dikembangkan berisi tentang upaya-upaya mitigasi bencana erupsi gunung api, atau langkah-langkah yang harus dilakukan ketika terjadi erupsi gunung api yang dikemas dalam bentuk cerita bergambar. kalimat yang digunakan dalam buku cerita bergambar juga disesuaikan dengan anak usia sd, yaitu dengan bahasa yang tidak berbelit dan mudah dipahami (sugiarti, 2015). buku cerita dilengkapi dengan gambargambar yang menarik agar siswa tertarik untuk membaca dan mempelajarinya. hal ini sesuai dengan (wahyuningsih, 2012) yang menyebutkan bahwa minat itu dapat timbul ketika peserta didik tertarik dengan sesuatu, dan sesuatu yang dibutuhkan atau dipelajari tersebut dapat bermakna bagi dirinya. buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api ini dapat digunakan sebagai buku suplemen dalam pembelajaran ips, serta dapat digunakan sebagai media pembelajaran tentang mitigasi bencana erupsi gunung api. hal ini didukung dengan pendapat (wahyuningsih, 2012) yang mengatakan bahwa media pembelajaran merupakan alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. berdasarkan deskripsi data penilaian yang telah tersaji, buku cerita bergambar yang dikembangkan ini telah mendapatkan nilai dengan kategori sangat baik dan layak untuk digunakan. buku ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber untuk mengajarkan mitigasi bencana erupsi gunung api sejak dini kepada siswa sekolah dasar, khususnya di sekolahsekolah yang berada di daerah rawan bencana. simpulan dan saran setelah melalui beberapa tahapan dalam penelitian, produk buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api telah selesai dikembangkan. berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: telah dikembangkan buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api untuk siswa sd/mi kelas iv di daerah kawasan rawan bencana melalui 8 tahap pengembangan. produk yang dikembangkan berbentuk buku cerita bergambar yang telah diuji validasi oleh dosen p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 122 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 112 124 ahli materi, ahli media dan ahli bahasa. dinilai oleh 6 siswa kelas iv sd negeri ngargomulyo, 16 siswa mi muhammadiyah kalibening serta guru kelas iv dari kedua sekolah tersebut. pengembangan buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api disusun dengan menerapkan model pengembangan sugiyono (2013: 201). langkah analisis meliputi analisis kurikulum, analisis karakteristik siswa dan materi. tahap perancangan dilaksanakan dengan menyusun materi dan pembuatan story board. pada tahap pengembangan dilaksanakan pengembangan buku cerita kemudian dilanjukan pada tahap mencetak desain. hasil validasi dari ahli menunjukkan tingkat kelayakan sangat baik dan buku cerita tersebut dapat diujicobakan dengan revisi. uji coba kelompok kecil dilakukan terhadap 6 siswa, sedangkan pada uji coba kelompok besar dilakukan pada 16 siswa yang diambil secara acak. kelayakan buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api berdasarkan penilaian tiga dosen ahli, masingmasing mendapatkan nilai sebagai berikut, 89,6 dari ahli materi, 85,33 dari ahli media, 76 dari ahli bahasa, 95,08 pada uji coba kelompok kecil dan 88,6 pada uji coba kelompok besar. apabila diambil nilai ratarata dari uji validasi mendapatkan nilai 83,64, dan nilai rata-rata dari uji coba produk mendapatkan nilai 91,87. dengan demikian buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api untuk siswa sd/mi kelas iv di daerah rawan bencana layak untuk digunakan. saran yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian ini dalam rangka mengembangkan bahan ajar serta media khususnya buku cerita adalah, buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api yang dihasilkan dapat dikembangkan dengan cerita yang berbeda, ataupun materi mitigasi bencana yang lainya. selain itu dapat digunakan sebagai bahan ajar untuk siswa sekolah dasar dan pendidikan selanjutnya terkait dengan pembelajaran mitigasi bencana sejak dini. e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 pengembangan buku cerita bergambar.....(eni suryaningsih dan laila fatmawati) 123 daftar pustaka arifianti, y. (2011). buku mengenal tanah longsor sebagai media pembelajaran bencana sejak dini. bulletin vulkanologi dan bencana geologi, 6(3), 17-24. arikunto, suharsimi & sarifudin cepi. (2009). evaluasi program pendidikan. jakarta: bumi aksara. basyid, a. (2010). pengembangan peta rencana kontijensi bencana gunung api. jurnal itenas rekayasa, 14(4), 216-226. bnpb. (2010). “peta zona ancaman merapi”. http://geospasial.bnpb.go.id/wpcontent/uploads/2010/11/2010-11-15_update_zonasi_ancaman_merapi_bnpb.pdf. (di akses tanggal 12 oktober 2017) faizah, u. (2009). “keefektifan cerita bergambar untuk pendidikan nilai dan keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa indonesia”. jurnal cakrawala pendidikan, 3(3), 249-256. lestari, p., prabowo, a., & wibawa, a. (2012). “manajemen komunikasi bencana merapi 2010 pada saat tanggap darurat”. jurnal ilmu komunikasi upn veteran yogyakarta, 10(2), 173-197. nirmalawati, n. (2012). pembentukan konsep diri pada siswa pendidikan dasar dalam memahami mitigasi bencana. smartek, 9(1), 61-69. nur, a. m. (2010). gempa bumi, tsunami dan mitigasinya. jurnal geografi, 7(1), 66-73. nurgiyantoro, burhan. 2005. sastra anak. yogyakarta: gadjah mada university press. prihatina, r. r. n. (2016). pengembangan media pembelajaran buku cerita bergambar untuk pembelajaran ips siswa smp kelas viii. social studies, 5(8), 1-10. purwanto, ngalin. (2013). prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran. bandung: remaja rosdakarya. rahmawati, aulia. (2016). penerapan sq3r berbantuan reka cerita gambar untuk meningkatkan pemahaman membaca dan hasil belajar siswa. profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, hlm. 126-132 rizal, m. (2014). pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing dengan multi representasi terhadap keterampilan proses sains dan penguasaan konsep ipa siswa smp. jurnal pendidikan sains, 2(3), 159-165. sapriya. (2011). pendidikan ips. bandung: rosdakarya. sudjana, nana & ahmad rivai. 2013. media pengajaran. bandung: sinar baru algensindo. http://geospasial.bnpb.go.id/wp-content/uploads/2010/11/2010-11-15_update_zonasi_ancaman_merapi_bnpb.pdf http://geospasial.bnpb.go.id/wp-content/uploads/2010/11/2010-11-15_update_zonasi_ancaman_merapi_bnpb.pdf p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 124 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 112 124 sugiarti, d. (2015). pembuatan buku cerita bergambar dengan tokoh gatotkaca sebagai media pembelajaran kelas b tk khalifah surabaya. jurnal pendidikan seni rupa, 3(1), 64-69. sugiyono. (2013). metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif kualitatif dan r&d. bandung: alfabeta. suhardjo, d. (2011). arti penting pendidikan mitigasi bencana dalam mengurangi resiko bencana. jurnal cakrawala pendidikan, (2), 174-188. susilo, a. n., & rudiarto, i. (2014). analisis tingkat resiko erupsi gunung merapi terhadap permukiman di kecamatan kemalang, kabupaten klaten. teknik pwk (perencanaan wilayah kota), 3(1), 34-49. syaodih, nana. 2013. pengembangan kurikulum. bandung: pt remaja rosdakarya. wahyuningsih, a. n. (2012). pengembangan media komik bergambar materi sistem saraf untuk pembelajaran yang menggunakan strategi pq4r. journal of innovative science education, 1(1), 20-27. analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 1 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 vol. 7, no. 1, juli 2020 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi:doi.org/10.23917/ppd.v1i1.9128 analisis kompetensi pedagogik calon guru sekolah dasar dalam mata kuliah microteaching fadilah ismiya niswati1), ika candra sayekti2) 1, 2) fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas muhammadiyah surakarta 1fadhilahismiya@gmail.com; 2ics142@ums.ac.id pendahuluan proses pembelajaran adalah rangkaian aktivitas yang dilakukan antara guru dan siswa dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. guru yang kreatif dan berkompeten akan lebih mudah dalam mengelola kelas, sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang optimal dan menyenangkan. akan tetapi, masih ada beberapa guru yang belum dapat mengelola kelas dengan baik. hal tersebut dikarenakan kurangnya kreativitas guru dalam memvariasikan pembelajaran menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang beragam. selain itu, sulitnya guru untuk menghadapi berbagai macam karakter siswa dan kedisiplinan siswa saat pembelajaran. oleh sebab itu, diperlukan sosok guru profesional yang mampu menguasai proses pembelajaran. guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi utama seperti dalam peraturan menteri pendidikan nasional republik indonesia nomor 16 tahun 2007 dijelaskan tentang standar kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru ada 4 standar kompetensi utama, yaitu kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial abstract: this study aims to describe: 1) pedagogical competencies mastery of student in elementary school teacher education department; 2) obstacles of pedagogical competencies faced by informant; 3) effort conducted by the informant to overcome the obstacles of pedagogical competencies. this is a qualitative study using descriptive methods. data collection techniques used were observation, structured interviews and documentation. the results showed that 1) prospective teachers were able to master seven pedagogical of ten competencies, so the informant require to improve three other aspects, that are: curriculum development; implementation of educated learning; and effectively, empathically, and politely communication with students; 2) obstacles faced by informant are they haven’t mastered content material well; lack of creativity in media development; and they haven’t mastered classical management well; 3) efforts that required by the informant are by increasing knowledge about learning materials by finding references from various sources, increasing creativity in media development, and being able to be assertive and be able to reprimand students. keywords: pedagogical competence, microteaching, elementary school teacher education mailto:fadhilahismiya@gmail.com mailto:ics142@ums.ac.id analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 2 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 (ristyantoro, 2015). salah satu kompetensi yang harus dikuasai adalah kompetensi pedagogik. kompetensi pedagogik adalah kemampuan seorang guru untuk mengelola proses belajar yang berhubungan dengan siswa (ali, 2013). guru yang mengajar harus mampu menguasai dan memahami kompetensi pedagogik secara menyeluruh akan tetapi, masih terdapat beberapa guru yang belum menguasai kompetensi pedagogik dengan baik, seperti pengelolaan kelas, penggunaan teknologi, pemilihan variasi pembelajaran, dsb. selain itu, masih terdapat problematika guru dalam menguasai karakteristik peserta didik (nurhamidah, 2018). saat ini sudah berkembang kompetensi guru yang disebut technological pedagogical and content knowledge (tpack). tpack adalah dasar dari mengajar yang efektif dengan teknologi, pengetahuan tentang konsep-konsep belajar serta pengetahuan tentang penggunaan teknologi (nofrion, bayu wijayanto, ratna wilis, 2012). akan tetapi, masih terdapat guru yang kurang mampu menguasai perkembangan teknologi dengan baik dan menyebabkan lambatnya pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan serta mengakibatkan prestasi belajar siswa menurun (soewarno, hasmiana, 2017). menurut (sunardi, imam s., endang w. w., 2017) berdasarkan permendikbud no.16 tahun 2007 kompetensi pedagogik yang harus dikuasai oleh guru meliputi 1) menguasai karakteristik siswa dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual, 2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik, 3) mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu, 4) menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik, 5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran, 6) memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki, 7) berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik, 8) menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar, 9) memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran, 10) melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. sebagai calon guru di program studi kependidikan, mahasiswa harus menguasai dan memahami seluruh kompetensi pedagogik agar melahirkan calon guru yang kreatif dan inovatif khususnya mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar (pgsd) di universitas muhammadiyah surakarta (ums). untuk menjadi calon guru profesional, mahasiswa harus melaksanakan praktek mengajar terlebih dahulu agar cakap dan aktif ketika berada di lapangan. oleh sebab itu, mahasiswa pgsd ums khususnya program studi pgsd diberikan mata kuliah microteaching untuk mempersiapkan diri agar mampu terjun langsung di lapangan. menurut (ningsih, 2017) program pengajaran micro bertujuan untuk melatih calon guru meningkatkan kemampuan mengajar mereka. output dari mata kuliah pengajaran mikro ini, mahasiswa mampu melaksanakan pembelajaran di sekolah dasar secara efektif (indriani, 2015). permasalahan yang terjadi adalah terkadang masih terdapat mahasiswa yang belum menguasai materi-materi dan keterampilan dasar mengajar dengan baik. pada analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 3 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 kurikulum 2013 berbagai aspek kegiatan selama pembelajaran perlu diamati dan dinilai oleh guru. guru pun perlu mengamati dan memahami karakter dari setiap individu yang nantinya digunakan bahan evaluasi oleh calon guru atas keberhasilannya dalam mengajar. menurut penelitian yang telah dilakukan oleh (indriani, 2015) mahasiswa mengalami hambatan dalam mengelola pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 pada pengajaran micro meliputi pengembangan instrumen penilaian, mengaitkan indikator setiap mata pelajaran sesuai tema, pemindahan mata pelajaran satu ke mata pelajaran lainnya, membuat ape sesuai dengan tema dan mengembangkan materi. oleh karena itu, mahasiswa perlu mengasah mental untuk berbicara di depan kelas dan juga perlu menguasai kurikulum 2013 secara keseluruhan. pada kajian ini, penulis mengkaji lebih dalam kemampuan pedagogi mahasiswa dalam melaksanakan proses pembelajaran pada mata kuliah microteaching. penelitian lain yang dilakukan oleh (juliana, marmawi, r, 2017) mengkaji barusebatas mengetahui kompetensi pedagogi guru usia 5-6 tahun, adapun kajian ini berusaha mendeskripsikan kemampuan pedagogi calon guru secara utuh termasuk hambatan yang dialami beserta solusi yang dilakukan oleh informan. penelitian yang lain oleh (wardani, 2017) mengkasi pelaksanaan kompetensi pedagogi guru di sd muhammadiyah 16 surakarta yang menunjukkan masih terdapat beberapa masalah yang dialami guru dalam pembelajaran, maka pada kajian ini akan mendeteksi lebih awal problematika yang dialami calon guru pada ranah kemampuan pedagogi yang dimiliki. berdasarkan latar belakang tersebut, penulis mengkaji “analisis kompetensi pedagogik calon guru sekolah dasar dalam mata kuliah microteaching”. pada penelitian ini akan membahas masalah yang berkaitan dengan 1) penguasaan kompetensi pedagogik yang dimiliki mahasiswa pgsd di universitas muhammadiyah surakarta dalam mata kuliah microteaching; 2) hambatan yang dihadapi oleh mahasiswa pgsd untuk mengelola proses pembelajaran pada mata kuliah microteaching; 3) upaya yang dilakukan oleh mahasiswa pgsd untuk mengatasi hambatan tersebut. metode penelitian penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi tindakan dll. secara holistik dan dengan cara deksripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (sugiyono, 2017). kajian ini dilakukan di universitas muhammadiyah surakarta pada program studi pgsd di laboratorium microteaching fkip. pada penelitian ini mahasiswa pgsd semester vi yang menjadi subyek penelitian. teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi. observasi digunakan untuk memperoleh hasil pengamatan tentang penguasaan aspek-aspek kompetensi pedagogik calon guru. wawancara terstruktur untuk memperoleh data tentang penguasaan analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 4 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 kompotensi pedagogik calon guru, hambatan dan upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan. dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan data berupa arsip-arsip seperti rencana pelaksanaan pembelajaran dan lampirannya. keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik. analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis menurut miles and huberman yaitu analisis data kualitatif yang dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas yang meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan (sugiyono, 2017). hasil dan pembahasan penguasaan kompetensi pedagogik calon guru sekolah dasar untuk mengelola pembelajaran dalam mata kuliah microteaching a. penguasaan karakteristik siswa dari aspek sosial dan emosional pada aspek sosial, informan mengidentifikasi karakteristik siswa melalui kegiatan interaksi siswa dengan guru dan interaksi siswa dengan temannya, serta mengikutsertakan siswa secara langsung dalam pembelajaran. interaksi siswa dengan guru dan interaksi siswa dengan temannya dapat meningkatkan kemampuan sosial siswa terhadap keadaan ekternalnya. mengikutsertakan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran dapat melatih kemampuan berkomunikasi siswa dan dapat meningkatkan keaktifan siswa dan kemampuan kepercayaan dirinya. hasil penelitian tersebut sepadan dengan pendapat (emiliasari, 2018) penguasaan karakteristik siswa dapat dilihat ketika mereka melakukan kegiatan kelas terbuka. mengidentifikasi dan menganalisis mengidentifikasi kemampuan awal siswa yang dilihat dari kepercayaan dirinya, interaksi dengan teman, dan keaktifan siswa, termasuk kesulitan belajar siswa. sedangkan untuk aspek emosional informan menciptakan suasana belajar yang semangat, nyaman dan menyenangkan melalui pemberian ice breaking, bernyanyi, melatih konsentrasi dan menumbuhkan suasana penuh kecerian dengan dengan guyonan, memberikan kesempatan belajar yang sama dengan kemampuan siswa yang berbeda, dan memberikan perhatian kepada siswa. menciptakan suasana pembelajaran yang semangat, menyenangkan dan nyaman dapat meningkatkan ketertarikan siswa dalam mengikuti pembelajaran. pemahaman aspek emosional siswa juga dapat meningkatkan aspek-aspek emosi yaitu toleransi, santun dan semangat. hasil penelitian tersebut sepadan dengan pendapat (saudah, 2015) pemahaman terhadap siswa melalui penguasaan dari aspek emosional menerima dengan baik tanggapan atau respon dari siswa dan sesekali membuat suasana penuh keceriaan dengan gegurauan agar menumbuhkan rasa antusiasme siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung. b. penguasaan teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran informan memberikan berbagai kegiatan pembelajaran secara langsung yang meliputi pengamatan gambar, mendengarkan penjelasan guru, diskusi, membuat benda 3 dimensi menggunakan plastisin, bernyanyi dan mempresentasikan hasil pekerjaan di analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 5 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 depan kelas. dengan memberikan kegiatan pembelajaran secara langsung dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, khususnya pada anak usia sekolah dasar mulai dari konkrit ke tahap berpikir abstrak serta dapat memberikan pengalaman belajar bagi siswa. kegiatan-kegiatan pembelajaran tersebut merupakan salah satu upaya informan untuk menerapkan prinsip pembelajaran aktif dan memotivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran. selain itu, informan juga dapat mengetahui cara belajar dari masing-masing siswa. hasil penelitian tersebut sepadan dengan penelitian (ali, 2013) berdasarkan teori yang dikemukakan oleh edgar dale menunjukkan bahwa keterlibatan langsung/pengalaman setiap peserta didik itu bertingkat-tingkat, mulai dari yang abstrak ke yang kongkrit. prinsip-prinsip pembelajaran yang digunakan dalam upaya meningkatkan pelaksanaan pembelajaran adalah perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan serta perbedaan individu. informan memilih model, strategi, pendekatan dan metode sesuai dengan karakteristik siswa, materi dan kegiatan pembelajaran. pemilihan model pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan keadaan eskternalnya, sedangkan penerapan pendekatan saintifik dapat meningkatkan pengalaman belajar siswa dan mengajak siswa terjun secara langsung dalam pembelajaran. informan sudah menerapkan strategi pembelajaran pembelajaran yang berbeda-beda. penerapan strategi pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan motivasi dan keasktifan siswa dalam pembelajaran. informan sudah menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi yang sangat berpengaruh pada kefektifan pembelajaran. hasil penelitian tersebut sepadan dengan penelitian (indriani, 2015) menjelaskan bahwa dalam mengajar guru hendaknya menerapkan berbagai macam starategi, menyelenggarakan pembelajaran yang menyenangkan, pembelajaran dilaksanakan secara terpadu dan konkrit seperti, memberikan pengalaman langsung menghadirkan benda konkrit atau dengan mengajak siswa terjun langsung kepada obyek terkait dengan materi yang diajarkan. c. pengembangan kurikulum menurut (yurni & bakti, 2016) yang menjelaskan bahwa dalam proses mengembangkan kurikulum diperlukan perumusan tujuan, merencanakan pengalaman belajar dan memilih kegiatan yang sesuai dengan tujuan dan pengalaman belajar, indikator dikembangkan dan diuraikan dari kompetensi dasar dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. pendapat tersebut sepadan dengan hasil penelitian yang diperoleh bahwa informan mampu mengembangkan kurikulum dengan merumuskan tujuan pembelajaran menggunakan format abcd serta mengacu pada kd dan indikator. perumusan tujuan pembelajaran berpengaruh pada kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa, sehingga informan harus merumuskan dengan jelas. informan sudah memilih materi yang tepat sesuai dengan karakteristik dan kemampuan siswa serta mengambil dari berbagai sumber. pada pemilihan materi pembelajaran harus menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta tercapainya analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 6 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 indikator. pemilihan materi yang tepat berpengaruh kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. informan sudah mengembangkan indikator menggunakan kko yang tepat dan dapat diukur, namun pada perumusan kko belum mencapai kemampuan tingkat tinggi. perumusan indikator sangat berpengaruh terhadap penerapan pembelajaran hots. perumusan indikator juga berpengaruh pada kegiatan yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran. oleh sebab itu, informan harus mengasah kemampuan dalam merumuskan indikator pada tingkatan yang lebih tinggi. hasil penelitian tersebut sepadan dengan pendapat (vianti, 2011) yang menjelaskan bahwa indikator dikembangkan dan diuraikan dari kompetensi kompetensi dasar dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan menunjukkan perbuatan atau respon yang ditampilkan oleh siswa serta digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian. d. penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik pada proses perencanaan pembelajaran informan sudah menyusun rancangan pembelajaran menggunakan rpp dengan runtut, namun masih terdapat kekurangan dalam pada penyusunan lampiran. hasil penelitian tersebut sepadan dengan ketentuan permendikbud no.22 tahun 2016 tentang komponen yang harus ada dalam pembuatan rpp. informan juga sudah menerapkan pembelajaran hots dengan memberikan pertanyaan kepada siswa. namun dalam pembelajaran, hots belum dilakukan dengan optimal. pembelajaran yang di dalamnya terdapat hots dapat dilihat dari perumusan indikator. menurut (puspaningtyas, 2018) kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) merupakan aktivitas berpikir yang tidak sekedar menghafal dan menyampaikan kembali informasi yang telah diketahui. tetapi kemampuan berpikir tingkat tinggi juga merupakan kemampuan mengkonstruksi, memahami, dan mentransformasi pengetahuan serta pengalaman yang sudah dimiliki untuk dipergunakan dalam menentukan keputusan dan memecahkan suatu permasalahan pada situasi baru dan hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. pada proses pembelajaran informan sudah menerapkan pembelajaran saintifik yang meliputi tahap mengamati mengajak siswa untuk membaca teks, mengamati video, gambar dan fenomena masyarakat. pada tahap menanya, informan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. pada tahap mengumpulkan informasi diterapkan melalui kegiatan diskusi dengan teman kelompok. pada tahap mengolah informasi (menalar), informan meminta siswa untuk mengerjakan soal dan membuat kesimpulan. pada tahap mengkomunikasikan, informan meminta siswa untuk menyampaikan hasil pengamatan dan hasil pekerjaan. hasil penelitian diatas sepadan dengan pendapat (usman & eko raharjo, 2013) pada proses juga meningkatkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi (menyimak, melihat, membaca, mendengar), bertanya, asosiasi, menyimpulkan, mengkomunikasikan baik secara lisan, tertulis, maupun bahasa tubuh. analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 7 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 informan menerapkan pembelajaran 4c saat proses pembelajaran. pada aspek aspek critical thinking and problem solving informan memberikan pertanyaan kepada siswa dan meminta siswa untuk menanggapinya. kegiatan pembelajaran tersebut melatih peserta didik untuk mencari tahu dan memperdalam tentang materi pembelajaran. pada aspek comunication skill informan menciptakan komunikasi siswa melalui kegiatan diskusi dan mengkomunikasikan hasil diskusi tersebut. melalui kegiatan pembelajaran ini juga peserta didik dapat mengembangkan kecakapan kepemimpinan (leadership) dengan mengatur jalannya diskusi, sehingga diskusi tetap fokus dan dapat memperoleh suatu simpulan yang bermakna. pada aspek creativity and innovation informan meminta siswa untuk membuat hasil karya seperti puzzle dan membuat benda 3 dimensi. kegiatan tersebut juga dapat mengembangkan bakat siswa dalam mencapai cita-cita yang diinginkannya melalui pengembangan kreatifitas yang ditugaskan. pada aspek colaboration telihat saat melakukan diskusi dengan kelompok. melalui kegiatan kolaboratif, peserta didik dapat mengembangkan sikap kerjasama, saling menghargai dan menghormati. berdasarkan temuan penelitian di atas senada dengan pendapat (ariyana, yoki., ari pudjiastuti., reisky bestary., 2018) proses pembelajaran pada kurikulum 2013 perlu mengintegrasikan pembelajaran 4c yang dikenal dengan pembelajaran abad 21 yang menerapkan empat keterampilan yang telah diidentifikasi sebagai keterampilan abad ke-21 (p21) sebagai keterampilan sangat penting dan diperlukan untuk pendidikan abad ke-21. e. pemanfaatan tik penguasaan informan dalam pemanfaatan tik yaitu informan menggunakan komputer, lcd dan power point text sebagai media pembelajaran untuk menyampaikan materi pembelajaran yang meliputi teks bacaaan dan cerita, gambar hewan, gambar pasar, gambar kegiatan masyarakat, gambar benda, video lagu anak-anak dan video materi pembelajaran. pemvariasian isi ppt berpengaruh terhadap ketertarikan dan mampu meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran. mayoritas informan menggunakan ppt untuk menyampaikan materi pembelajaran. tampilan slide power point yang disiapkan oleh informan pun bervariasi ada yang bergambar dan berwarna dan ada yang cenderung menampilkan text saja. tampilan power point yang cenderung bergambar dan berwarna dapat menarik perhatian siswa untuk mengikuti pembelajaran. tampilan power point yang cenderung menampilkan teks membuat siswa menjadi bosan mengikuti pembelajaran. hal tersebut sepadan dengan pendapat (munandar, sulistyarini, & zakso, 2013) bahwa guru mampu menggunakan media pembelajaran tik dengan cara pengamatan terhadap gambar yang sesuai dengan materi, sehingga siswa mampu menerima pesan yang disampaikan dan terlibat aktif dalam pembelajaran, sehingga dapat menggunggah minat dan motivasi belajar siswa. analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 8 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 f. pengembangan potensi siswa pada pengembangan potensi siswa informan sudah memfasilitasi berbagai kegiatan dalam pembelajaran seperti membaca, presentasi, mengamati gambar, praktek, membuat hasil karya poster, membuat benda 3 dimensi, dan kerja kelompok untuk meningkatkan prestasi belajar dan mengembangkan potensi siswa. pada pembelajaran, informan sebagai ujung tombak yang mengajarkan berbagai ilmu dan keterampilan kepada siswa. potensi diri yang dimiliki masing-masing siswa dapat disalurkan dengan baik oleh informan. kegiatan belajar yang monoton akan membuat anak merasa bosan dengan proses belajar mengajar. hal tersebut sepadan dengan pendapat payong dalam (wardani, 2017) tugas guru adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa agar berbagai potensi dan kemampuan yang beragam itu dapat dikembangkan secara optimal. g. berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan siswa inah (2015) menyatakan bahwa komunikasi merupakan penyampaian pesan kepada audiens dalam bentuk simbol atau lambang dengan harapan bisa membawa atau memahamkan pesan itu kepada peserta didik (siswa) serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku. menurut (noviana, 2018) dalam penelitiannya bahwa guru harus mampu memberikan respon yang lengkap dan relevan pada komentar dan pertanyaan peserta didik. pendapat diatas sepadan dengan hasil penelitian bahwa informan menggunakan bahasa yang mudah dipahami siswa saat menjelaskan dan mampu memahami keadaan siswa dengan cara menumbuhkan suasana pembelajaran dengan candaan untuk meningkatkan antusiasme siswa dalam kegiatan pembelajaran. komunikasi efektif ditandai dengan adanya suasana pembelajaran yang menyenangkan, menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti, pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat siswa, pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan atau reward pada siswa. oleh sebab itu, pentingnya bagi informan untuk melakukan interaksi dengan siswa dalam proses pembelajaran. informan berkomunikasi secara empatik melalui penyiapan kondisi psikologis siswa dengan memberikan respon yang positif saat menanggapi jawaban jawaban atau pendapat siswa. berkomunikasi secara empatik berpengaruh pada keadaan emosi siswa dan empati siswa. informan mampu memahami keadaan siswa dengan cara menumbuhkan suasana pembelajaran dengan candaan untuk meningkatkan antusiasme siswa dalam kegiatan pembelajaran. komunikasi ini mampu menciptakan interaksi yang membuat informan memahami siswa. temuan penelitian tersebut sejalan dengan pendapat (noviana, 2018) dalam penelitiannya bahwa guru harus mampu memberikan respon yang lengkap dan relevan pada komentar dan pertanyaan peserta didik. h. penyelenggaraan penilaian, evaluasi proses, dan hasil belajar informan merencanakan prosedur penilaian pada 3 aspek yaitu penilaian sikap menggunakan teknik non tes, penilaian kognitif menggunakan teknik tes, dan penilaian keterampilan menggunakan teknik tes dan non tes. informan menerapkan penilaian analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 9 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 sikap yang dinilai melalui kegiatan berdo’a, cara memperhatikan guru, dan kerjasama kelompok, penilaian kognitif dinilai saat mengerjakan lkpd dan penilaian keterampilan dilakukan melalui presentasi, praktek, membuat gambar dan hasil karya. penilaian aspek sikap dilakukan untuk meningkatkan dan menanamkan karakter pada siswa agar siswa terbiasa menerapakannya dalam kehidupan sehari-hari. penilaian aspek kognitif dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman siswa terhadap pembelajaran. sedangkan penilaian psikomotor dilakukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkreasi. penilaian atau evaluasi dilakukan oleh informan terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran. hasil penelitian tersebut sepadan dengan penelitian (wardani, 2017) guru melaksanakan evaluasi pembelajaran menggunakan teknik tes yang meliputi pemberian tugas, ulangan harian dan pekerjaan rumah untuk menilai aspek kognitif siswa dan teknik nontes yang dilakukan dengan pengamatan terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran untuk menilai aspek afektif dan psikomotor. i. pemanfaatan hasil penilaian dan evaluasi pada pemanfaatan hasil penilaian dan evaluasi, sebagian informan sudah merencanakan program remedial dan pengayaan yang dirancang pada rpp dan sebagaian informan lainnya hanya menginformasikan program remedial dan pengayaan kepada siswa di akhir pembelajaran. pembelajaran dapat dikatakan tuntas, apabila siswa mampu mencapai seluruh kompetensi. informan mengadakan program remedial sebagai bantuan untuk meningkatkan ketuntasan belajar pada masing-masing siswa. hasil penelitian sepadan dengan pendapat (mahmudah, 2014) bahwa evaluasi pembelajaran berbasis kompetensi mengharuskan pencapaian ketuntasan dalam pencapaian kompetensi dasar secara perorangan, sehingga mengharuskan dilaksanakannya program remedial dan pengayaan sebagai umpan balik dari penerapan sistem pembelajaran tuntas. j. melakukan tindakan reflektif pada pelaksanaan tindakan reflektif informan sudah menanyakan kesan siswa terhadap pembelajaran pada hari tersebut dan menanyakan kegiatan pembelajaran yang disukai oleh siswa, menanyakan pembelajaran yang telah dipelajari dan menyimpulkannya. melakukan tindakan refleksi sangat berpengaruh bagi informan untuk memperbaiki pembelajaran di esok hari. kemudian guru juga meminta siswa untuk menyiapkan pembelajaran di esok hari. dengan berefleksi, merenungkan, dan menganalisis informan akan dapat menemukan kelebihan dan kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran. melakukan tindakan refleksi sangat berpengaruh bagi informan untuk memperbaiki pembelajaran di esok hari. hasil penelitian tersebut sejalan dengan penelitian (munandar et al., 2013) guru melakukan tindakan reflektif analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 10 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 dengan mengajak siswa membuat rangkuman pembelajaran dan hasil pembelajaran yang telah dilakukan. hambatan yang dihadapi informan untuk mengelola proses pembelajaran dalam mata kuliah microteaching hambatan pertama yang dihadapi informan saat proses pembelajaran adalah kurangnya kreativitas dalam pembuatan media pembelajaran. informan hanya mengoptimalkan media yang berkaitan dengan penjodohan gambar. yang menjadi alasan lain informan menggunakan media tersebut, dikarenakan waktu yang digunakan untuk mempersiapkan pembelajaran tidak banyak. kreativitas guru dalam pengembangan media pembelajaran sangat diperlukan karena sangat berkaitan dengan masalah pemilihan media yang tepat sesuai dengan materi dan karakteristik siswa. semakin kreatif media yang disajikan, maka semakin tertarik siswa mengikuti pembelajaran. temuan tersebut sejalan dengan pendapat (alwi, 2017) media menunjukan komponen dari sistem instruksional secara keseluruhan sehingga kreativitas guru dalam pengembangan media sangat diperlukan. dalam pemilihan media juga harus disesuaikan dengan kondisi siswa dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. hambatan yang kedua yaitu kurang mampunya informan dalam mengelola kelas. saat mengelola kelas, informan belum memperhatikan pada seluruh siswa. saat mengerjakan tugas dan mendengarkan penjelasan informan, masih ada siswa yang tidak mendengarkan. pengelolaan kelas berpengaruh pada kefektifan pembelajaran. pengelolaan kelas yang baik dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. karena pada saat mengajar, informan berinteraksi dengan siswa sehingga informan perlu meningkatkan kemampuan mengelola kelas. temuan tersebut sejalan dengan penelitian (wardani, 2017) guru mengalami hambatan dalam mengelola kelas untuk mengkondisikan peserta didik di kelas dan peserta didik kurang memahami materi yang telah dijelaskan. hambatan yang ketiga yaitu kurang mampunya informan dalam penguasaan materi. sebagian besar informan hanya mengambil dan menyampaikan materi pada satu sumber saja yaitu buku guru dan siswa saja. inti dari proses pembelajaran adalah penyampaian materi, oleh sebab itu materi dalam pembelajaran harus dikuasai oleh informan agar memudahkan siswa memahami materi. menurut (hasan, 2015) sebagian besar, para guru mengalami kesulitan dalam mempersiapkan bahan mengajar. hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan guru tentang materi yang akan disampaikan. upaya yang dilakukan oleh informan untuk mengatasi hambatan yang dihadapi upaya pertama yang dilakukan informan sekolah dasar untuk mengatasi hambatan adalah meningkatkan kreativitas dalam pembuatan media dengan mencari analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 11 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 referensi yang sesuai dengan materi. pengetahuan tentang penggunaan media harus terus ditingkatkan agar guru selalu memperoleh ide atau kreatifitas dalam pembelajarannya. temuan tersebut sejalan dengan penelitian (alwi, 2017) penggunaan media harus terus ditingkatkan untuk meningkatkan kreativitas dalam pembelajaran. dalam proses ini, guru harus mencoba dan mencari tahu pembuatan media melalui berbagai sumber seperti buku dan internet. upaya kedua yang dilakukan oleh informan untuk menguasai materi dengan mempelajari dari buku dan internet serta bertanya dengan teman sejawat. pengetahuan guru tentang materi pembelajaran harus ditingkatkan agar informan mampu mengembangkan pengetahuan dan memudahkan guru untuk menjelaskan kepada siswa. menurut (alwi, 2017) dalam penelitian juga menyebutkan upaya yang dilakukan dengan memfasilitasi guru untuk mengikuti pelatihan dan memberikan berbagai referensi materi melalui buku atau internet. upaya ketiga yang dilakukan informan dalam pengelolaan kelas dengan cara menegur dan memberi tanggungjawab kepada siswa. teguran kepada siswa perlu dilakukan informan agar siswa segan dengan informan dan juga mampu menunjukkan ketegasan informan. memberi tanggungjawab kepada siswa diharapkan agar siswa mampu mengasah pengetahuannya.temuan tersebut sejalan dengan penelitian (wardani, 2017) guru melakukan teguran kepada peserta didik, guru harus bersikap tegas dan memberikan hukuman yang mendidik seperti pemberian tugas. simpulan berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa informan mampu menguasai aspek kompetensi pedagogik yang meliputi penguasaan karakteristik siswa dari aspek sosial dan emosional, penguasaan teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran, pemanfaatan tik, pengembangan potensi siswa, penyelenggaraan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar, pemanfaatan hasil penilaian dan evaluasi dan melakukan tindakan reflektif. namun pada aspek pengembangan kurikulum, penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik serta komunikasi efektif, empatik, dan santun dengan siswa masih perlu ditingkatkan kembali. hambatan yang dihadapi informan dalam mengelola proses pembelajaran yaitu a) kurang mampunya informan dalam penguasaan materi, b) kurangnya kreativitas dalam pengembangan media, c) kurang mampunya informan dalam mengelola kelas. upaya yang perlu dilakukan informan untuk mengatasi hambatan dalam mengelola pembelajaran adalah a) meningkatkan pengetahuan tentang materi pembelajaran dengan mencari referensi dari berbagai sumber; b) meningkatkan kreativitas dalam pengembangan media pembelajaran melalui berbagai sumber; c) informan harus mampu bersikap tegas dan mampu menegur siswa serta memberikan hukuman yang mendidik. analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 12 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 daftar pustaka ali, h. g. (2013). prinsip-prinsip pembelajaran dan implikasinya terhadap pendidik dan peserta didik. jurnal al-ta’dib, 6(1), 31–42. retrieved from http://ejournal.iainkendari.ac.id/al-tadib/article/view/288 alwi, s. (2017). problematika guru dalam pengembangan media pembelajaran. itqan, 8(2), 145–167. retrieved from http://ejurnal.iainlhokseumawe.ac.id /index.php/itqan/article/download/107/65/ ariyana, yoki., ari pudjiastuti., reisky bestary., z. (2018). buku pegangan pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi program peningkatan kompetensi pembelajaran berbasis zonasi. retrieved from http://repositori.kemdikbud.go.id/11316/1/01._buku_pegangan_pembelajaran_ho ts_2018-2.pdf emiliasari, r. n. (2018). an analysis of teachers pedagogical competence in lesson study of mgmp smp majalengka. eltin journal, journal of english language teaching in indonesia, 6(1), 22. retrieved from http://ejournal.stkipsiliwangi.ac.id/index.php/eltin/article/view/1030 hasan, h. (2015). kendala yang dihadapi guru dalam proses belajar mengajar matematika di sd negeri gani kabupaten aceh besar. jurnal pesona dasar, 1(4), 40–51. retrieved from http://jurnal.unsyiah.ac.id/ pear/article/download/7524/6192 inah, e. n. (2015). peran komunikasi dalam interaksi guru dan siswa. al-ta’dib, 8(2), 150–167. retrieved from http://ejournal.iainkendari.ac.id/al-tadib/article/view/416 indriani, f. (2015). kompetensi pedagogik mahasiswa dalam mengelola pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 pada pengajaran micro di pgsd uad yogyakarta. junal profesi pendidikan dasar, 2(2), 87–94. retrieved from http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/1643/1169 juliana, marmawi, r, h. (2017). analisis kompetensi pedagogik guru dalam pembelajaran pada anak usia 5-6 tahun. jurnal pendidikan dan pembelajaran khatulistiwa, 6(7), 1–10. retrieved from http://jurnal.untan.ac.id/ index.php/jpdpb/article/view/20855 mahmudah, anna rif’atul. (2014). pelaksanaan program remedial dan pengayaan dalam meningkatkan prestasi belajar pai siswa kelas viii smp n 5 yogyakarta tahun pelajaran 2013 / 2014 (universitas islam negeri sunan kalijaga). retrieved from http://digilib.uin-suka.ac.id/12842/ munandar, a., sulistyarini, & zakso, a. (2013). analisis kompetensi pedagogik guru dalam pembelajaran sosiologi di sma negeri 1 jawai. jurnal pendidikan dan pembelajaran khatulistiwa, 2(9). retrieved from http://jurnal.untan.ac.id /index.php/jpdpb/article/view/3371 analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 13 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 ningsih, y. (2017). performance of learning process in a micro teaching class at arraniry islamic national university. english education journal, 8(4), 553–561. retrieved from http://jurnal.unsyiah.ac.id/eej/article/view/9218 nofrion, bayu wijayanto, ratna wilis, r. n. (2012). analisis technological pedagogical and content knowledge (tpack) guru geografi di kabupaten solok, sumatera barat. jurnal geografi, 10(2), 105–116. retrieved from https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/geo/article/view/9070/9430 noviana, n. e. (2018). analisis peningkatan kompetensi pedagogik guru dalam pembelajaran ekonomi di sma negeri 1 sutojayan. jurnal ekonomi pendidikan dan kewirausahaan, 6(1), 159–170. retrieved from https://journal.unesa.ac.id/ index.php/jepk/article/view/2837/2076 nurhamidah, i. (2018). problematika kompetensi pedagogi guru terhadap karakteristik peserta didik. jurnal teori dan praksis pembelajaran ips, 3(1), 27– 38. retrieved from http://journal2.um.ac.id/index.php/jtppips/article/view/3886 puspaningtyas, n. a. (2018). peningkatan higher order thinking skills (hots) melalui strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir (sppkb) pada pembelajaran ekonomi kelas x smk muhammadiyah 1 wates. retrieved from https://eprints.uny.ac.id/59666/1/skripsi_nur astuti puspaningtyas_ 14804244003.pdf ristyantoro, m. a. g. (2015). analisis kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional mahasiswa ppl jurusan pendidikan ekonomi fakultas ekonomi universitas negeri semarang dalam implementasi kurikulum 2013 di sma dan smk negeri kota semarang (universitas negeri semarang). retrieved from https://lib.unnes.ac.id/20737/ saudah, s. (2015). kesesuaian kompetensi pedagogik guru ipa dalam mendukung implementasi kurikulum 2013 di smp muhammadiyah 4 sambi boyolali. retrieved from http://eprints.ums.ac.id/35247/14/2. naskah publikasi.pdf soewarno, hasmiana, dan f. (2017). kendala-kendala yang dihadapi guru dalam memanfaatkan media berbasis komputer di sd negeri 10 banda aceh. jurnal pesona dasar, 2(4), 28–39. sugiyono. (2017). metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: penerbit alfabeta. sunardi, imam s., endang w. w., s. (2017). sumber belajar penunjang plpg 2017 kompetensi pedagogik mata pelajaran guru kelas sd. retrieved from http://www.beritaguru.com/2017/08/modul-plpg-2017-guru-kelas-sekolah.html usman, h., & eko raharjo, n. (2013). strategi kepemimpinan pembelajaran menyongsong implementasi kurikulum 2013. jurnal cakrawala pendidikan, 5(1), 1–13. analisis kompetensi pedagogik......(fadilah in & ika cs) 14 jppd, 7, (1), hlm. 1 14 vianti, s. l. (2011). kesesuaian antara pengembangan indikator dan kompetensi dasar dalam silabus ktsp aspek membaca di smp negeri 3 batang tahun ajaran 2010/2011 (universita negeri semarang). retrieved from https://lib.unnes.ac.id/6069/ wardani, w. k. (2017). analisis kompetensi pedagogik guru dalam proses pembelajaran di sd muhammadiyah 16 surakarta. 1–14. retrieved from http://eprints.ums.ac.id/50847/1/naskah publikasi.pdf yurni, s., & bakti, h. e. (2016). pengembangan kurikulum di sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. 293–306. retrieved from http://ap.fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2016/03/22-samsila-yurni-h.-erwinbakti.pdf pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 57 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 vol. 5, no. 1, juli 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.5432 pengembangan modul ips pada materi gejala alam di indonesia dengan pendekatan scientific bagi mahasiswa pgsd vera yuli erviana fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas ahmad dahlan vera.erviana@pgsd.uad.ac.id pendahuluan ilmu pengetahuan sosial (ips) merupakan salah satu muatan pelajaran yang wajib dipelajari oleh mahasiswa pgsd uad sebagai calon guru sekolah dasar. definisi ilmu pengetahuan sosial (ips) menurut fakih samlawi dan bunyamin maftuh (2008:1) adalah mata pelajaran yang memadukan konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu sosial yang disusun melalui pendekatan pendidikan pendidikan dan psikologis serta kelayakan dan kebermaknaannya bagi siswa dan kehidupannya. pembelajaran ips yang baik adalah pembelajaran yang bermakna, dimana mahasiswa belajar menghubungkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baik di kelas maupun di luar kelas (stahl, 2008: 43). pembelajarannya lebih ditekankan pada abstract: this research aims to develop and produce social studies module. the module leaning material is natural phenomena in indonesia with scientific approach. the module develops for collegestudents of elementary school teacher education, ahmad dahlan university. this research was a research and development. the development of the module is based on analyze, design, development, implementation and evaluation (addie). data collection techniques are interviews, product assessment by experts, and college-students response sheets. the instruments of this research are 1) interview guideline to get preliminary information on the analysis of needs in the elementary school teacher education program; 2) product assessment sheet which is in the form of assessment sheet by expert judgment and expert input in the fgd, and 3)college-students response sheet to understand the module's practicality. the results of the research show the module’s feasibility by the material and learning experts with an average score of 120, with "very good" criteria. the study of feasibility by media experts obtains an average score of 83, with "very good" criteria. based on the assessment of 10 college-students obtained n = 87.86%, with the module criteria of "very practical". it can be concluded that the module developed is very feasible, in accordance to the assessment of the experts and college-students response. keywords: social studies module, scientific approach https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.5432 pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 58 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 pengembangan ide-ide melalui serangkaian kegiatan pembelajaran. salah satu kegiatan pembelajaran yang bermakna yaitu dengan melakukan simulasi sederhana. menurut madona (2016: 6) pembelajaran ips hendaknya disajikan semenarik mungkin agar peserta didik dapat memahami seluruh kajian yang terdapat pada pembelajaran ips dengan mudah. melalui kegiatan simulasi sederhana, pembelajaran dilakukan dengan pendekatan scientific di mana mahasiswa ikut terlibat langsung selama proses pembelajaran sampai dengan pembuatan laporan dan evaluasi. kegiatan simulasi sederhana akan lebih mudah dilakukan apabila tersedia modul karena keberadaanya diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mahasiswa pgsd khususnya pada mata kuliah materi pembelajaran ips sd. subekti, dkk (2016: 99) dalam penelitiannya menyatakan bahwa modul yang dikembangkan telah memenuhi unsur kelayakan dan membantu proses perkuliahan dibuktikan dengan adanya respon dosen dan mahasiswa setelah menggunakan modul merasa bahwa modul perkuliahan bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan telah membantu mahasiswa memahami, baik isi materi maupun nilai-nilai karakter kebangsaan yang harus dijiwai dan diteladankan kepada murid sd kelak. susilo (2015) yang mengembangkan modul ekonomi sub bab akuntansi berbasis pendekatan pembelajaran saintifik efektif untuk meningkatkan kemampuan aplikatif dan mencipta siswa dengan nilai signifikansi = 0,000 dan 0,007 ≤ 0,05 pada saat uji efektivitas antara kelas kontrol dan kelas perlakuan. nilai tersebut menunjukan bahwa nilai kelas perlakuan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai kelas kontrol. sementara itu dalam penelitian susilo, dkk (2014) menunjukkan hasil uji kelayakan pengembangan modul berbasis pembelajaran saintifik dengan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan mencipta siswa dalam proses pembelajaran akuntansi pada siswa kelas xii sma n 1 slogohimo mendapatkan nilai pencapaian sangat baik yakni: ahli materi 83, 16 %, ahli media 84, 17 % dan praktisi 88 %. hasil uji coba diperoleh prosentase pencapaian sangat baik sebesar 85,7 %, sehingga modul tersebut valid digunakan. mandacahyanti (2016) menyampaikan bahwa modul pembelajaran diperlukan sebagai suplemen untuk membantu guru dalam menyampaikan materi pada pembelajaran tematik. suryaningsih, (2017: 112-124) dalam penelitiannya menyatakan bahwa bahan belajar berupa buku cerita bergambar dapat membantu memahamkan siswa sd disekitar gunung merapi yogyakarta dalam memahami mitigasi bencana erupsi gunung api. penelitian ini dengan penelitian sebelumnya sama-sama melakukan penelitian riset and development (r &d), dengan mengembangkan modul sebagai panduan dalam belajar. hal tersebut dilakukan mengingat manfaat dan fungsi modul sangat berguna bagi mahasiswa dalam membelajari mata kuliah pembelajaran ips. modul pembelajaran ips mampu membantu mahasiswa dalam menguasai muatan ips yang begitu banyak, karena di dalam modul disajikan bahan bacaan yang kaya akan referensi. hal ini dapat mengurangi kesulitan mahasiswa dalam menemukan buku-buku pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 59 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 referensi yang sulit dicari dan harganya relatif mahal. modul juga disusun menggunakan pendekatan scientific yang terdiri dari mengamati, menanya, menalar, membuat jejaring, dan mencoba. manfaat yang diperoleh yaitu membantu mahasiswa mencapai kompetensi yang diharapkan serta mengembangkan materi dan konsep ips yang lebih mendalam. dalam kegiatan membuat jejaring (kelompok) yang bersifat praktikum ini dapat membantu melatih sikap sosial mahasiswa agar lebih pandai dalam melakukan komunikasi dan interaksi sosial dengan teman sejawat maupun dengan dosen. ada beberapa faktor yang menjadi penyebab rendahnya pemahaman mahasiswa pgsd khususnya di mata kuliah materi pembelajaran ips sd pada materi gejala alam di indonesia. faktor penyebabnya adalah pembelajaran ips belum bermakna. selama ini pembelajaran ips hanya bersifat teoritis belum pernah sekalipun mahasiswa melakukan simulasi sederhana. hal ini menyebabkan materi ips hanya bersifat hafalan dan mudah dilupakan. dalam perkuliahan sudah melibatkan kerja sama kelompok, namun belum terlihat maksimal, hanya beberapa anggota kelompok saja yang terlibat aktif sedangkan yang lain hanya menjadi anggota pasif. pembelajaran ips yang teoritis ini juga berdampak pada rendahnya keaktifan mahasiswa dalam mengembangkan pemahaman baru. saat mengembangkan konsep pembelajaran ips mahasiswa memerlukan bimbingan dan arahan dari dosen, hal tersebut dikarenakan mahasiswa masih memiliki konsep yang kurang luas sehingga perlu dikembangkannya modul pembelajaran ips. saputra (2017) mengatakan bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh untuk kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. menurut subekti (2016: 95) modul perkuliahan adalah salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara sistematis dan menarik sehingga mudah untuk dipelajari oleh mahasiswa secara mandiri maupun klasikal dengan memperhatikan kemampuan individu pembelajar (mahasiswa). bahan ajar berbentuk modul sudah pernah dikembangkan oleh dosen, tetapi belum pernah digunakan dalam pembelajaran di kelas. menurut sejpal (2013: 169) “module is a unit of work in a course of instruction that is virtually self-contained and a method of teaching that is based on the building up skills and knowledge in discrete units”. menurut widodo dan jasmadi (2008:50-52) karakteristik sebuah modul adalah sebagai berikut: 1) self instructional, yaitu ketergantungan kepada orang lain harus dikurangi atau malah dihilangkan ketika siswa menggunakan bahan ajar tersebut. siswa mampu membelajarkan diri sendiri dengan modul yang dikembangkan tersebut. oleh karena itu, dalam modul harus terdapat tujuan yang dirumuskan dengan jelas, baik tujuan akhir maupun tujuan antara. selain itu, modul tersbut akan memudahkan peserta didik belajar secara tuntas dengan memberikan materi pembelajaran yang dikemas dalam unit-unit atau kegiatan yang lebih spesifik. 2) self contained, yaitu seluruh materi pembelajaran dari satu kompetensi atau satu subkompetensi yang akan dipelajari terdapat pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 60 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 dalam satu modul utuh. jika harus dilakukan pembagian atau pemisahan materi dari satu kompetensi atau subkompentensi harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan keleluasaan kompetensi atau subkompetensi yang harus dikuasai oleh siswa. 3) stand alone, modul yang dikembangkan tidak tergantung pada bahan ajar lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain. 4) adaptif, sebuah modul dikatakan adaptif jika modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, fleksibel digunakan di berbagai tempat, serta isi materi pembelajaran dan perangkat lunaknya dapat digunakan sampai dengan kurun waktu tertentu. 5) user friendly, sebuah modul harus bersahabat dengan pemakainya. setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon, mengakses sesuai dengan keinginannya, bahasa sederhana dan mudah dimengerti oleh pemakainya. menurut pemaparan rufii (2015: 19) “the module is basically structured as follow: learning aims, learning outcomes, resources, learning and teaching strategies, assessment criteria and evaluation”. setiap produk modul yang sudah jadi harus dinilai kualitasnya dengan kriteria yang telah ditentukan. aspek-aspek yang harus dipenuhi dalam penyusunan bahan ajar menurut depdiknas (2008: 28) antara lain: 1) aspek kelayakan isi. kesesuaian dengan standar kompetensi, kompetensi dasar; kesesuaian dengan perkembangan anak; kesesuaian dengan kebutuhan bahan ajar; kebenaran materi pembelajaran; manfaat untuk penambahan wawasan, dan kesesuaian dengan moral dan nilai-nilai sosial. 2) aspek kebahasaan. keterbacaan; kejelasan informasi bacaan; kesesuaian dengan kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar; memanfaatan bahasa secara efektif dan efisien (jelas dan singkat). 3) aspek penyajian. kejelasan tujuan (indikator) yang ingin dicapai; urutan sajian; pemberian motivasi, daya tarik; interaksi (pemberian stimulus dan respon), dan perlengkapan informasi. pembelajaran tematik-integratif sesuai dengan kurikulum 2013 menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach), sehingga dalam langkah-langkah kegiatan pembelajarannya harus sesuai dengan pendekatan tersebut. di dalam modul pelatihan implementasi kurikulum 2013 (2013: 209), disebutkan bahwa pendekatan ilmiah meliputi menggali informasi melaui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta. oleh karena itu, penelitian ini dimaksudkan untuk menyusun sebuah modul dengan pendekatan scientific. modul dilengkapi dengan deskripsi materi, peta konsep, langkah-langkah pembelajaran, bahan bacaan, pendekatan scientific, lembar kerja eksperimen, latihan soal, rangkuman, evaluasi, pedoman penilaian dan kunci jawaban. modul yang akan dikembangkan ini akan disusun mencakup semua langkah-langkah pembelajaran sampai dengan evaluasi. pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 61 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 metode penelitian penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (r & d), yaitu suatu proses penelitian yang digunakan untuk mengembangkan suatu produk. proses dalam mengembangkan modul mengacu pada model pengembangan addie (analysis, design, development, implementation, evaluation) adapun langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut. pada tahapan analysis dilakukan analisis kurikulum pada mata kuliah materi dan pembelajaran ips terutama pada materi atau pokok bahasan gejala alam. analisis kurikulum meliputi standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator-indikator lainnya. dari hasil analisis ini dapat diketahui beberapa bahan ajar yang diperlukan dan disiapkan untuk kegiatan pembelajaran dan jenis bahan ajar yang akan digunakan/dipilih. analisis merupakan dasar dalam pengembangan modul yang akan disusun dan dilakukan analisis terhadap karakteristik penggunaan modul. selanjutnya analisis terhadap sumber belajar yang akan digunakan sebagai bahan penyusunan modul dengan pendekatan scientific. analisis ini meliputi ketersediaan, kesesuaian dan kemudahan dalam memanfaatkannya. dari analisis di atas dimaksudkan untuk memenuhi kriteria modul harus menarik dan dapat membantu mahasiswa untuk mencapai kompetensi. tahap perencanaan dilakukan berdasarkan hal-hal yang diperoleh dari tahap analisis sebelumnya. kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan meliputi: 1) menyusun peta kebutuhan modul; 2) menentukan judul-judul modul; 3)penulisan modul dengan langkahlangkah sebagai berikut. a) perumusan kompetensi yang harus dikuasai. b) menentukan alat penilaian. c) penyusunan materi. 4) struktur modul (memuat judul, petunjuk belajar (petunjuk mahasiswa), kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, tugas-tugas dan langkah kerja dan evaluasi/penilaian). tahap pengembangan meliputi kegiatan pembuatan modul. setelah ditentukan kerangka penyusunan modul, langkah selanjutnya adalah menentukan produk modul. modul yang disusun memperhatikan syarat kualitas berikut: aspek kelayakan isi; aspek kebahasaan; aspek penyajian; dan aspek scientific. modul yang telah dikembangkan kemudian dikonsultasikan kepada teman sejawat dengan bidang yang sesuai, supaya mendapat masukkan untuk pengembangan dan perbaikan modul sebelum diujicobakan. sebelum sampai pada pengembangan produk, dilakukan pengebangan instrumen yang akan digunakan untuk penilaian produk sebagai evaluasi produk awal yang telah dikembangkan. instrumen yang diperluan meliputi lembar penilaian ahli materi dan pembelajaran, lembar penilaian ahli media, serta lembar aktivitas penggunaan modul untuk mahasiswa. tahap implementasi dilakukan setelah produk yang dikembangkan selesai disusun. pada tahap ini dilakukan uji coba yang terbatas yakni pada kelompok kecil yang terdiri dari 10 mahasiswa pgsd uad dalam proses pembelajaran. selanjutnya adalah tahap evaluasi yang dilakukan antara lain adalah mengevaluasi produk yang dikembangkan berdasarkan pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 62 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 dari hasil penilaian produk ahli materi dan pembelajaran, hasil penilaian ahli media, serta evaluasi dari hasil implementasi kelompok kecil. hasil penilaian ahli dan uji coba kelompok kecil dilakukan sebagai acuan untuk perbaikan produk. tahap penilaian modul materi gejala alam dengan pendekatan scientific adalah sebagai berikut: draf tahap 1 (penilaian pembimbing dan teman sejawat) revisi i uji coba  analisis evaluasi  produk akhir. instrumen penilaian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: a) lembar penilaian ahli, lembar penilaian ini akan dinilai oleh 2 orang teman sejawat ahli materi dan pembelajaran, dan 2 orang teman sejawat ahli media. b) lembar evaluasi untuk mahasiswa. c) lembar evaluasi ini digunakan untuk mengetahui tanggapan mahasiswa berkaitan dengan penggunaan modul. data proses pengembangan produk: pengembangan modul berupa data deskriptif, dicermati, disusun dan ditabulasi. data kualitas produk yang dihasilkan. pada analisis lembar penilaian. tabulasi data lembar penilaian kualitas modul diperoleh dari 2 orang teman sejawat dan pembimbing. menghitung sbi berdasarkan tabulasi data, kemudian mengkonversikan rata-rata secara kualitatif dengan rentang skor mengikuti kualifikasi widoyoko (2009:238). observasi kegiatan pembelajaran menggunakan produk modul, hasil data observasi yang dilakukan peneliti akan dianalisis sebagai berikut: 1) tabulasi data yang diperoleh dari penilaian mahasiswa, hasil dari penilaian mahasiswa dihitung dari banyaknya pilihan “ya” untuk setiap pernyataan dan memiliki skor 1. 2). mengkonversi rata-rata yang diperoleh menjadi nilai kualitatif sesuai kriteria kepraktisan dalam tabel soewandi (2005: 50). hasil dan pembahasan model pengembangan yang digunakan untuk mengembangkan produk bahan ajar berbentuk modul mengacu pada langkah-langkah pengembangan addie. tahap analyze atau analisis dilakukan pengamatan dan pencermatan terhadap kompetensi yang akan dicapai pada materi gejala alam yang akan dikembangkan pada modul terlebih dahulu. analisis yang dilakukan meliputi analisis kompetensi yang akan dicapai, analisis karakteristik mahasiswa pgsd, serta analsis referensi yang akan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan bahan ajar. pada tahap ini dilakukan analisis tujuan pembelajaran. tujuan pembelajaran secara umum dapat diklasifikasikan menurut ranah pengetahuan, sikap dan keterampilan. hasil analisis tujuan pembelajaran dijabarkan di bawah ini. pada capaian pengetahuan yang harus dicapai sebagai berikut : 1) menjelaskan definisi gejala alam. 2) mendeskripsikan gejala alam yang pernah terjadi di indonesia. 3) menjelaskan cara-cara menghadapi gejala alam indonesia. 4) menganalisis dampak dari gejala alam. capaian sikap, memiliki sikap terbuka, kritis, inovatif, dan percaya diri dalam melaksanakan kegiatan praktikum tentang peristiwa gejala alam. sedangkan pada capaian keterampilan, yang harus dicapai sebagai berikut : 1) mampu melakukan simulasi pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 63 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 sederhana tentang peristiwa gejala alam. 2) mampu menyusun laporan simulasi sederhana tentang peristiwa gejala alam. setelah analisis tujuan pembelajaran, selanjutnya dilakukan analisis terhadap karakteristik peserta didik dalam hal ini disebut dengan mahasiswa. proses menganalisis karakteristik mahasiswa merupakan pemahaman terhadap keterampilan spesifik, pengetahuan awal, gaya belajar, dan sikap mahasiswa untuk siap melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan modul. berdasarkan penjelasan di atas, maka dikembangkan bahan ajar yang berbentuk modul sebagai salah alternatif bahan ajar yang dapat digunakan mahasiswa pgsd. alasan dikembangkan bahan ajar berupa modul dengan pendekatan scientific karena mahasiswa setelah lulus diharapkan mampu menjadi calon guru yang memiliki kemampuan mengajar profesional terutama dalam mengajarkan ips di sd. harapannya dengan pendekatan scientific dapat mempermudah dalam memahami konsep gejala alam. selain analisis tujuan pembelajaran dan karakteristik mahasiswa, dilakukan analisis terhadap sumber yang akan digunakan sebagai acuan atau referensi dalam penyusunan modul. tahap design atau perencanaan pengembangan modul gejala alam dengan pendekatan scientific meliputi: 1) penyusunan draf awal modul, proses penyusunan draf awal modul dilakukan dengan menentukan kompetensi yang akan dicapai, kemudian menentukan judul setiap bab maupun subbab. 2) penulisan modul terdiri dari : perumusan kompetensi yang akan dicapai sebelum menyusun materi dilakukan perumusan kompetensi yang ingin dicapai. dalam merumuskan kompetensi juga ditentukan indikator yang akan dicapai. indikator yang dikembangkan meliputi 3 aspek yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif. a) menentukan alat evaluasi yang digunakan dalam modul yaitu: untuk aspek kognitif (kemampuan berpikir) menggunakan soal latihan, penugasan dan soal evaluasi akhir; pada aspek psikomotorik (keterampilan) mengunakan kinerja atau performance, portofolio dan projek; sedangkan pada aspek afektif (watak atau prilaku) menggunakan pengamatan langsung dan observasi. b) penyusunan materi yang disusun berdasarkan beberapa referensi yang dikembangkan dengan pendekatan scientific. modul yang dikembangkan mengikuti sistematika sebagai berikut. bagian awal terdiri dari judul, kata pengantar, petunjuk penggunaan, bagian-bagian modul, daftar isi, kompetensi yang akan dicapai, dan peta konsep materi gejala alam. sedangkan bagian inti terdiri dari langkah pembelajaran, materi, lembar praktikum, lks, tugas individu, evaluasi untuk pemahaman konsep, serta umpan balik. bagian penutup berisi daftar pustaka. c) penyusunan instrumen, setelah draf awal produk selesai disusun, selanjutnya peneliti mengembangkan instrumen yang digunakan untuk evaluasi produk. instrumen yang digunakan antara laian yaitu lembar penilaian ahli materi dan pembelajaran, lembar penilaian ahli media, serta lembar penilaian aktivitas penggunaan modul untuk pengguna atau mahasiswa. instrumen terakhir yang disusun adalah lembar penilaian oleh mahasiswa terkait penggunaan modul yang dikembangkan. pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 64 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 tahap pengembangan meliputi proses pembuatan modul. kegiatan yang dilakukan dalam pembuatan modul antara lain: a) penulisan draft modul, pada tahap penulisan draft modul, secara garis besar isi modul dengan pendekatan scientific. untuk mengembangkan bahan ajar modul dengan pendekatan scientific ini, penulis menggunakan program microsoft word 2007 dengan program penunjang corel draw x3 dan paint untuk membuat grafik, ilustrasi dan gambar-gambar pendukung untuk memperjelas materi. dalam menyusun modul, penulis menggunakan bahasa indonesia dan berdasarkan kurikulum yang berlaku saat ini di pgsd uad dengan pendekatan pembelajaran scientific. dengan menggunakan pendekatan scientific, maka tiap kajian materi dalam modul diawali dengan masalah sehari-hari yang harus diselesaikan oleh mahasiswa. mahasiswa diajak menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan petunjuk yang ada. dari hasil penyelesaian masalah pada kajian materi, mahasiswa akan menemukan konsep maupun pengertian dari materi yang dipelajari. hasil penyusunan draf modul dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian awal dan bagian inti. bagian awal draf modul terdiri dari cover, kata pengatar, daftar isi, petunjuk penggunaan, kompetensi yang akan dicapai, dan peta konsep materi. sedangkan pada bagian inti terdiri dari 6 bab materi tentang gejala alam yaitu gempa bumi, erupsi gunung berapi, tsunami, banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor. selain inti tentang materi juga terdapat soal latihan, lembar kegiatan mahasiswa, evaluasi, umpan balik dan daftar pustaka. tahap implementation setelah dilakukan tahap pengembangan maka produk yang dikembangkan diujicobakan dalam kelompok kecil. uji coba penggunan produk yang dikembangkan dan dilakukan terhadap 10 mahasiswa pgsd uad. untuk itu, peneliti melakukan observasi di awal untuk memilih mahasiswa yang digunakan sebagai subyek uji coba. uji coba lapangan tidak dilakukan pada penelitian ini karena keterbatasan waktu. peneliti akan melakukan uji coba lapangan pada penelitian selanjutnya. pada saat uji coba mahasiswa diberikan produk untuk dipelajari. namun, sebelumnya diberikan penjelasan terhadap bagian modul dan petunjuk dalam penggunaan modul tersebut. tujuan utama dari pelaksanaan evaluasi dalam kelompok kecil, yaitu: (a) mengidentifikasi masalah-masalah yang mungkin dialami oleh mahasiswa; dan (b) mengetahui tanggapan mahasiswa dalam menggunakan media serta mengetahui perbaikan terhadap penggunaan modul dan aspek tampilan modul. materi yang diujicobakan pada kelompok kecil ini hanya terbatas pada materi gempa bumi. tahap evaluation dari model pengembangan addie adalah tahap evaluasi. evaluasi yang dilakukan terhadap bahan ajar berupa modul yang dikembangkan dengan pendekatan scientific meliputi: a) evaluasi hasil penilaian ahli materi dan pembelajaran, evaluasi ini dilakuakan untuk mengetahui tingkat kelayakan materi yang dikembangakan pada modul dengan pendekatan scientific. hasil penilaian dari ahli digunakan untuk perbaikan modul sehingga menjadi modul yang layak digunakan bagi mahasiswa sebagai pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 65 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 salah satu referensi atau sember belajar. b) evaluasi hasil penilaian ahli media, hasil dari penilaian ahli media digunakan sebagai acauan dalam memperbaiki modul dilihat dari unsur keprakstidan penggunaan modul, tampilan modul, serta kegrafikan atau gambar yang terdapat pada modul. c) evaluasi hasil lembar penilaian mahasiswa, hasil dari penilaian mahasiswa digunakan sebagai perbaikan dari segi pembelajaran dan kepraktisan penggunaan modul gejala alam yang dikembangkan dengan pendekatan scientific. hasil penilaian dan evaluasi selanjutnya dijelaskan pada pembahasan. data hasil uji coba produk diperoleh dari berbagai sumber melalui lembar penilaian ahli materi dan pembelajaran, ahli media, dan uji coba terhadap 10 mahasiswa. uji coba hanya dilakukan kepada kelompok kecil karena keterbatasan waktu. hasil penilaian ahli materi dan pembelajaran, validasi ahli dimaksudkan untuk meminta persetujuan atau kesesuaian modul dengan kebutuhan, sehingga modul tersebut layak digunakan dalam proses pembelajaran. aspek penilaian yang diajukan pada ahli materi meliputi aspek kelayakan isi, aspek kebahasaan, aspek sajian dan aspek pendekatan scientific. data hasil penilaian 2 orang ahli materi dan pembelajaran secara keseluruhan diperoleh skor maksimalnya 140, skor minimumnya 28, mi = 84, sbi = 18,7. hasil konversi rerata skor keseluruhan menjadi nilai skala lima seperti pada tabel 1. tabel 1. konversi rerata skor keseluruhan menjadi kriteria pada penilaian ahli materi dan pembelajaran interval skor kriteria nilai 112,05 < x sangat baik 93,35< x < 112,05 baik 74,65 < x ≤ 93,35 cukup 55,95 < x ≤ 74,65 kurang x ≤ 55,95 sangat kurang berdasarkan keseluruhan rata-rata penilaian produk oleh ahli materi dan pembelajaran diperoleh skor x = 120, yang termasuk dalam kriteria nilai “sangat baik”. hasil penilaian kelayakan materi dari masing-masing aspek penilaian disajikan pada tabel 2 tabel 2. hasil analisis penilaian ahli materi dan pembelajaran no aspek yang dinilai skor interval skor kriteria nilai 1 kelayakan isi 31 x > 28,005 sangat baik 2 kabahasaan 30 x > 28,005 sangat baik 3 sajian 30.5 x > 28,005 sangat baik 4 pendekatan scientific 30.5 x > 28,005 sangat baik pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 66 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 berdasarkan penilaian ahli materi dan pembelajaran pada aspek kelayakan isi yang terdiri dari 7 indikator diperoleh rata-rata skor 31, nilai maksimumnya 35, nilai minimumnya 7, 21  i x , 67,4 sb i  dengan rerata 4,5 dan kriteria nilai “sangat baik”. pada aspek kebahasaan terdiri dari 7 indikator diperoleh skor 30, nilai maksimumnya 35, nilai minimumnya 7, 21  i x , 67,4 sb i  dengan rerata 4,5 dan kriteria nilai “sangat baik”. pada aspek sajian terdiri dari 7 indikator penilaian diperoleh skor 30.5, nilai maksimumnya 35, nilai minimumnya 7, 21  i x , 67,4 sb i  dengan rerata 4,5 dan kriteria nilai “sangat baik”. sedangkan pada aspek pendeketan scientific terdiri dari 7 indikator penilaian diperoleh skor 30.5, nilai maksimumnya 35, nilai minimumnya 7, 21  i x , 67,4 sb i  dengan rerata 4,5 dan kriteria nilai “sangat baik”. lihat gambar 1. gambar 1. hasil penilaian ahli materi dan pembelajaran tiap aspek berdasarkan hasil penilaian ahli media, aspek penilaian yang diajukan pada ahli media meliputi aspek bahan ajar modul, aspek gambar, dan aspek tampilan. data hasil penilaian 2 orang ahli media secara keseluruhan diperoleh skor maksimalnya 95, skor minimumnya 19, 57  i x , dan 7,12 sb i  . hasil konversi rerata skor keseluruhan menjadi nilai skala lima seperti pada tabel 3 tabel 3. konversi rerata skor keseluruhan menjadi kriteria pada penilaian ahli media interval skor kriteria nilai 76.5 < x sangat baik 63,35< x ≤ 76,5 baik 50,65< x ≤ 63,35 cukup 37,95< x ≤ 50,65 kurang x ≤ 37,95 sangat kurang 29,5 30 30,5 31 31,5 rerata skor rerata skor pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 67 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 berdasarkan keseluruhan penilaian produk oleh ahli media diperoleh skor x = 83, yang termasuk dalam kriteria nilai “sangat baik”. berikut ini dijelaskan pada tabel 4 hasil penilaian kelayakan materi dari masing-masing aspek penilaian. tabel 4. hasil analisis penilaian ahli media berdasarkan penilaian 2 orang ahli media, pada aspek bahan ajar modul yang terdiri dari 4 indikator diperoleh skor rerata 16.5, nilai maksimumnya 24, nilai minimumnya 4, 12  i x , 33.3 sb i  dengan kriteria nilai “baik”. pada aspek gambar terdiri dari 8 indikator diperoleh skor 35, nilai maksimunnya 40, nilai minimunnya 8, 24  i x , 16 sb i  kriteria nilai “baik”. pada aspek tampilan terdiri dari 7 indikator penilaian diperoleh skor 31.5, nilai maksimunnya 35, nilai minimunnya 7, 21  i x , 67.4 sb i  dengan kriteria nilai “sangat baik”. gambar 2. hasil penilaian ahli media hasil penilaian penggunaan modul oleh mahasiswa dan telah dilakukan penilaian oleh 10 mahasiswa diperoleh hasil n = 87.86 % dengan kriteria penggunaan modul sangat praktis. hasil penilaian berdasarkan masing-masing pernyataan disajikan pada tabel 5. 3,6 3,8 4 4,2 4,4 4,6 4,8 bahan ajar modul gambar tampilan rerata skor rerata skor pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 68 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 tabel 5. hasil penilaian mahasiswa menggunakan modul no aspek yang diamati presentasi dalam (%) 1 keterlaksanaan oleh mahasiswa 96,67% 2 motivasi belajar 80% 3 keaktifan 76,67% 4 interaksi 97,50% dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa masing-masing aspek dalam menilai proses pembelajaran (sudjana, 2005: 59-62) memiliki nilai yang cukup baik dilihat dari presentase yang diperoleh. dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan modul dalam proses pembelajaran berlangsung dengan baik dengan tingkat kepraktisan yang sangat praktis. simpulan simpulan yang di hasilkan yaitu pengembangan bahan ajar berbentuk modul pada materi gejala alam dengan pendekatan scientific untuk mahasiswa pgsd yang disusun dengan menerapkan model pengembangan addie (analysis, design, development, implementation, & evaluation) bahwa penggunaan modul dalam proses pembelajaran berlangsung dengan baik dengan tingkat kepraktisan yang sangat praktis. daftar pustaka depdiknas. (2008). pengembangan bahan ajar. jakarta: depdiknas. fakih samlawi, bunyamin maftuh. (2008). konsep dasar ips. departemen pendidikan dan kebudayaan. jakarta kemdikbud. (2013). kompetensi dasar sd/mi versi maret 1. madona, ade sri. (2016). pengembangan modul ips berbasis multimedia interaktif untuk siswa kelas vi sekolah dasar. jurnal pelangi. vol.8. no.2. mandacahyanti, hedwigis ratri. 2016. pengembangan modul pembelajaran tematik kelas iii sekolah dasar. skripsi. jurusan pendidikan guru sekolah dasar universitas pgri yogyakarta. pengembangan modul ips......(vera yuni erviana) 69 jppd, 5, (1), hlm. 57 69 rufii, r. (2015). developing module on constructivist learning strategies to promote students’ independence and performance. international journal of education, volume 7 nomor 1, 18-28. saputra, henry j. , faizah, n. (2017). pengembangan bahan ajar untuk menumbuhkan nilai karakter peduli lingkungan pada siswa kelas iv sekolah dasar. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 4, no.1, 61-62. sejpal, k. (2013). modular method of teaching. international journal for research in education, volume 2 nomor 2, 169-171. soewandi, s. (2005). perspektif pembelajaran di berbagai bidang. yogyakarta: usd stahl, j. (2008). a vision of power teaching and learning in the social studies: building social understanding and civic efficacy. journal coucil for social studies. waldorf, maryland. subekti, t. dkk. (2016). pengembangan modul bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan bagi mahasiswa pgsd. jurnal profesi pendidikan dasar, vol.3, no.2, 88-90. subekti, tabah, ela minchah laila alawiyah, dan sumarlan. “pengembangan modul bahasa indonesia bermuatan nilai karakter kebangsaan bagi mahasiswa pgsd”. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember. hlm 92-101. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/2746 suryaningsih, eni dan laila fatmawati. 2017. “pengembangan buku cerita bergambar tentang mitigasi bencana erupsi gunung api untuk siswa sd”. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember, hlm. 112-124. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/5310 susilo, a., siswandari, bandi. (2014). pengembangan modul berbasis pembelajaran saintifik untuk peningkatan kemampuan mencipta siswa dalam proses pembelajaran akuntansi siswa kelas xii sma n i slogohimo 2014. jurnal pendidikan ilmu sosial, vol 26, no.1, juni 2016. universitas negeri semarang. susilo, agus. (2015). pengembangan modul berbasis pembelajaran saintifik untuk peningkatan kemampuan aplikatif dan mencipta siswa dalam proses pembelajaran akuntansi. skripsi. universitas sebelas maret. widiyoko, e. p. (2009). evaluasi program pembelajaran panduan praktis bagi pendidik dan calon pendidik. yogyakarta: pustaka belajar. widodo. c.s dan jasmadi. (2008). panduan menyusun bahan ajar berbasis kompetensi. jakarta: alex media kompetindo. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/2746 http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/5310 implementasi kurikulum dalam pembentukan karakter siswa kelas iii ... (warsito dan samino) 141 implementasi kurikulum dalam pembentukan karakter siswa kelas iii sd ta’mirul islam surakarta warsito dan samino sekolah dasar ta’mirul islam surakarta w4rs1to@yahoo.com abstract the type of this research is a qualitative field research. the data collection used in this research is observation method, interview, and documentation. in the qualitative descriptive analysis using inductive approach. the result of these research are; firstly; the management of curriculum in forming student’s character in ta’mirul islam elementary school of surakarta, consist of several points, there are: the process of learning curriculum planning which consist of staff coordination meeting and early meeting by making learning administration. secondly, implementing curriculum that forming some character, such as discipline and responsible, in line with some good habituation like reciting a holy qur’an, patriotism, obligatory, and sunnah prayer, doing exercise, the implementation of student’s monitoring book, assignments, and charity and religious activities such as charity’s camp and pesantren ramadhan. thirdly, the evaluation of implementation activities in forming the character that packed in supervision and monitoring activities. the management of curriculum implementation which build third class in ta’mirul islam elementary school of surakarta is really affective and efficient, so that many educational success can be reached in academic as well as in non-academic sector’s, especially in building discipline and responsible character. there are several difficulties that management of curriculum implementation face in building character such as, the number of students, the students economic background, a little gap between school and student’s parents, less communication, the distance of students home with school, and some other student’s environment factors that unsupported. keywords: management, curriculum,character pendahuluan pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dalam mewujudkan kualitas sumber daya manusia. pendidikan merupakan suatu investasi yang paling berharga dalam bentuk peningkatan kualitas sumber daya insani untuk pembangunan suatu bangsa. sering kali kemajuan suatu bangsa diukur sejauhmana masyarakatnya mengenyam pendidikan. semakin tinggi pendidikan yang dimiliki suatu masyarakat, maka semakin majulah bangsa tersebut. sehingga tercapai masyarakat berpendidikan dan berkhlakul karimah yang dapat membawa kemajuan dalam berbagai bidang. dengan adanya pendidikan, dapat meningkatkan kualitas moral, pengetahuan dan teknologi. maka dari itu, sangat diperlukan adanya kesinergian antara pendidikan dan sumber daya manusia. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 141-148142 penyelenggaraan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan manajemen kurikulum. menurut nurhadi (dalam arikunto dan yuliana 2008:3) manajemen adalah suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya, agar efektif dan efisien. istilah kurikulum menurut arikunto dan yuliana (2008: 131) dalam arti sempit adalah semua pelajaran baik teori maupun praktek yang diberikan kepada para siswa selama mengikuti suatu proses pendidikan tertentu. sedangkan dalam arti luas adalah semua pengalaman yang diberikan oleh lembaga pendidikan kepada anak didik selama mengikuti pendidikan. akhirnya dapat dikemukakan bahwa manajemen kurikulum adalah proses pengelolaan oleh sekelompok manusia yang tergabung dalam organisasi pendidikan untuk mencapai tujuan kurikulum. sebagaimana dikemukakan sudarsyah dan nurdin, tim dosen administrasi pendidikan universitas pendidikan indonesia (2010: 191) manajemen kurikulum adalah sebagai suatu system pengelolaan kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik dalam rangka mewujudkan ketercapaian kurikulum. ketika dalam pelaksanaannya, manajemen kurikulum senantiasa seimbang dan sejalan sesuai dengan konteks manajemen berbasis sekolah (mbs). terlebih dalam kurikulum yang sekarang berjalan yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (ktsp). pelaksanan kurikulum tersebut diharapkan lembaga pendidikan atau sekolah mampu mengelola kurikulum secara mandiri dengan mengutamakan kebutuhan lembaga pendidikan atau sekolah serta kebijakan nasional yang telah ditetapkan. sejak 2500 tahun yang lalu, socrates telah berkata bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi good and smart. sedangkan dalam sejarah islam, nabi muhammad saw. mengajarkan, bahwa misi utamanya dalam mendidik manusia adalah untuk menyempurnakan akhlak dan mengupayakan pembentukan karakter yang baik (good character) ( majid dan andayani, 2012: 2). pentingnya pendidikan karakter sebagaimana tertulis dalam uu nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 menyatakan bahwa: “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (hidayatullah, 2010:14). sejalan dengan itulah, manajemen kurikulum diharapkan dapat terealisasi di lembaga pendidikan untuk membentuk peserta didik berakhlak dan berkarakter. lembaga pendidikan sd ta’mirul islam surakarta, merupakan sekolah tingkat dasar yang dianggap mampu memanajemen kurikulum dalam membentuk karakter peserta didik. sekolah dasar swasta tersebut menjadi percontohan sekolah dasar yang mampu menanamkan pendidikan karakter. (gunadi, wawancara 16 september 2014). sekolah tersebut mampu menanamkan nilai-nilai karakter dengan nuansa islamiyah. tetapi juga tidak mengabaikan prestasi akademik maupun non akademik. data prestasi akademik hasil ujian nasional tahun ajaran 2012/2013 berada pada posisi ke-5 dengan nilai rata-rata 87,5 (gunadi, wawancara, 16 septemeber 2013). adapun data prestasi non akademik tahun ajaran 2012/2013 menunjukkan bahwa siswa sd ta’mirul islam surakarta berhasil memperoleh juara lebih dari 60 kejuaraan, termasuk menjadi juara umum implementasi kurikulum dalam pembentukan karakter siswa kelas iii ... (warsito dan samino) 143 lomba mapsi se-kecamatan laweyan (dokumentasi, 16 september 2013). berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “manajemen implementasi kurikulum dalam pembentukan karakter siswa sd ta’mirul islam surakarta tahun 2013/2014". tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan (1) perencanaan kurikulum dalam membentuk karakter siswa di sd ta’mirul islam surakarta. (2) implementasi manajemen kurikulum dalam rangka membentuk karakter siswa di sd ta’mirul islam surakarta. (3) evaluasi kurikulum dalam rangka membentuk karakter siswa di sd ta’mirul islam surakarta. terdapat beberapa kajian pustaka tentang penelitian manajemen kurikulum dalam pembentukan karakter. hasil peneitian syaifudin (ums. 2012) menyebutkan, pengelolaan pendidikan karakter di smp negeri 1 pacitan dalam seting sekolah pada pendidikan karakter diwujudkan dalam bentuk implementasi strategi intervensi meliputi penguatan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa pada pengembangan kurikulum, pendahuluan ktsp, visi dan misi sekolah, mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri. adapun untuk strategi habituasi meliputi implementasi nilai-nilai pendidikan karakter bangsa pada budaya sekolah, peraturan tata tertib sekolah atau kelas, keteladanan, dan pembiasaan warga sekolah. dalam ciri-ciri aktivitas mengajar guru pendidikan karakter terlihat dari kemampuan guru dalam mengerjakan aspek-aspek administrasi. aspek-aspek tersebut meliputi pembuatan silabus, program tahunan (prota), program semester (promes), serta (rpp) yang diintegrasikan dengan nilai-nilai karakter bangsa. aktivitas siswa dalam pendidikan karakter sesuai dengan ketentuan yang berlaku mencakup pakaian seragam siswa, rambut, kuku, tato dan make up, masuk dan pulang sekolah, kegiatan mengikuti upacara, kegiatan mengikuti pembelajaran di kelas, pengelolaan waktu istirahat, aktivitas pada kantin kejujuran, aktivitas memelihara lingkungan dan kebersihan kelas, serta kegiatan keagamaan dan sosial. penelitian tesis tersebut, menitikberatkan pada pengelolaan pendidikan karakter melalui beberapa strategi, di antaranya strategi habituasi, strategi intervensi, dan aktivitas guru mengajar, sehingga berbeda dengan penelitian tesis ini. hasil penelitian tamsari (ums 2012) menyebutkan penerapan pendidikan karakter siswa melalui pembiasaan (habituasi) atau budaya sekolah seperti pembiasaan berjabat tangan, mengucapkan salam, shalat sunnah dhuha, merupakan kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah yang menanamkan nilai-nilai karakter dengan konsep dasar. metode pembelajaran karakter siswa bervariatif, dengan selalu berusaha mengaitkan atau memasukan materi atau pokok bahasan ke dalam nilai-nilai karakter (reflektif). kemudian memberikan nasehat-nasehat, arahan, wejangan, tausiyah, untuk selalu berbuat kebaikan sesuai dengan nilai-nilai keislaman, yang dilakukan sebelum atau sesudah atau di sela-sela penyampaian materi; faktor yang mempengaruhi karakter siswa dalam pendidikan karakter adalah bentuk dukungan dari lingkungan keluarga (orang tua), lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat dan stakeholder lainnya, merupakan turut mempengaruhi nilai-nilai karakter anak melalui tingkat perhatian, kasih sayang, dan bimbingan. penelitian tesis tersebut membahas tentang pengelolaan pendidikan karakter. akan tetapi lebih mengutamakan pengelolaan melalui pembiasaan, penggunaan metode bervariatif, dan melalui tausiyah, arahan, maupun wejangan, sehingga berbeda dengan penelitian tesis ini. hasil penelitian tukirin (ums. 2013) menyebutkan pertama, pengembangan program kurikulum al-islam, meliputi: program tahunan, program semester, program modul, program mingguan dan harian, dan program pengayaan dan remedial. yang kedua, pelaksanaan pembelajaran al-islam, meliputi: pre-test (apersepsi), profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 141-148144 proses, dan post test. yang ketiga, evaluasi hasil belajar peserta didik, meliputi: ulangan harian, ulangan tengah semester (uts), dan ulangan akhir semester (uas). yang keempat, kegiatan-kegiatan dalam kurikulum al-islam, meliputi: tadarus, hafalan surat-surat pendek,shalat dhuha, shalat dhuhur, shalat jum’at, dan baitu arqam. penelitian tesis tersebut membahas tentang implementasi kurikulum alislam dalam meningkatkan ibadah mahdhah. adapun cara implementasi kurikulum al-islam dalam meningkatkan ibadah mahdhah dengan pengembangan kurikulum al-islam, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar peserta didik. jadi penelitian tersebut menitikberatkan pada implementasi kurikulum al-islam dalam meningkatkan ibadah mahdhah, sehingga berbeda dengan penelitian tesis ini. jurnal yang berjudul implementation of a curriculum management tool: challenges faced by a large australian university, menyatakan bahwa: “units is an online repository of unit guides and a curriculum mapping tool. staffdevelopment in the use of the tool has led to more thoughtful use of learning and teaching activities and better linking of learning outcomes with assessment” (lai, jennifer. marrone, mauricio, 2012: 28-36). makna dari kutipan tersebut kurang lebih adalah sebuah universitas besar australia menerapkan kurikulum alat manajemen baru yang disebut unit. unit adalah sebuah repositori online panduan satuan dan alat pemetaan kurikulum. staff development dalam penggunaan alat ini telah menyebabkan penggunaan lebih bijaksana dalam belajar dan mengajar. sehingga dapat dikatakan kegiatan yang lebih baik adalah menghubungkan hasil belajar dengan penilaian. jurnal penelitian tersebut membahas tentang manajemen dalam pelaksanaan kurikulum yang disebut unit. unit sebagai alat memetakan kurikulum dalam proses belajar mengajar, sehingga mampu menghubungkan hasil dengan penilaian. hasil penelitian hartshorne dan may (dalam mulkey & young jay. 1997:35-37) bahwa program pendidikan karakter, pelajaran agama, dan pelatihan moral yang berpengaruh pada perilaku moral siswa. penelitian dalam jurnal tersebut menyimpulkan bahwa beberapa program dari pendidikan karakter, pelajaran agama, dan pelatihan moral berpengaruh terhadap perilaku moral siswa. berangkat dari kelima kajian pustaka atau hasil penelitian tersebut di atas, penelitian ini menempatkan pada manajemen kurikulum dalam membentuk karakter pada siswa. karena cara mengatur dan mengelola kurikulum dalam membentuk karakter siswa belum ada yang meneliti. metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, fenomenologis dan berbentuk diskriptif. dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang mengedepankan penelitian data atau realitas persoalan dengan berlandaskan pada pengungkapan apa-apa yang dieksplorasikan dan diungkapkan oleh para responden dan data yang berupa kata-kata, gambar dan bukan angka. dengan kata lain metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan (moleong, 2003:3). menurut soetopo (2002:35) pendekatan kualitatif deskriptif adalah mengumpulkan data yang berupa kata-kata, kalimat atau gambar yang memiliki arti lebih dari pada sekedar angka atau frekuensi. pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan dokumentasi. wawancara mendalam dapat implementasi kurikulum dalam pembentukan karakter siswa kelas iii ... (warsito dan samino) 145 dilakukan dengan dua cara. pertama, wawancara sebagai strategi utama dalam mengumpulkan data berupa transkrip wawancara. kedua, wawancara sebagai strategi penunjang teknik lain dalam mengumpulkan data, observasi partisipan, analisis dokumen, dan fotografi ( danim, 2002: 130). wawancara ini digunakan penulis untuk mengumpulkan data dalam aspek letak geografis, sejarah berdiri, visi, misi, tujuan, dan strategi sekolah. observasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi partisipasi adalah observasi dimana orang yang mengadakan penelitian ikut mengambil bagian dalam peri kehidupan orangorang yang diobservasi (mantra, 2004: 82-83). observasi ini digunakan penulis untuk mengumpulkan data dalam aspek struktur kurikulum, muatan kurikulum, beban belajar, ketuntasan belajar, kenaikan kelas dan kelulusan, kegiatan ekstrakurikuler, dan kalender pendidikan. metode dokumentasi ini digunakan penulis untuk mengumpulkan data dalam aspek struktur pengurusan yayasan, struktur organisasi sekolah, deskripsi tugas pendidik dan tenaga kependidikan, keadaan pendidik, karyawan dan jumlah peserta didik, tata tertib pendidik dan peserta didik, dan fasilitas pendidikan. proses analisa data yang dilakukan pada penelitian ini adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. hasil penelitian sd ta’mirul islam surakarta dalam merencanakan program kurikulum pembelajaran dilaksanakan beberapa agenda kegiatan. di antaranya adalah rapat koordinasi staf pimpinan. rapat tersebut terdiri dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, puk bidang kurikulum, puk bidang sarana prasarana, puk bidang kesiswaan, puk bidang al-islam dan humas, serta kepala tata usaha, dan bendahara sekolah. setiap puk bertugas menyusun anggaran kegiatan dalam jangka satu tahun yang akan datang sesuai dengan kebuuhan. tujuan dari rapat tersebut untuk menyusun rancangan anggaran pengeluaran belanja sekolah (rapbs). di samping tersebut juga dilaksanakan pendistribusian keuangan ke semua puk yang ada. setelah tercapainya kesepakatan musyawarah tersebut, hasilnya akan dibawa pada komite sekolah beserta pengurus yayasan ta’mirul masjid untuk disyahkan. selanjutnya termasuk bagian dalam perencanaan program kurikulum di sd ta’mirul islam surakarta adalah agenda rapat awal tahun ajaran. kegiatan rapat tersebut adalah untuk mempersiapkan perangkat pembelajaran selama satu tahun yang akan datang. perangkat pembelajaran yang disusun meliputi program tahunan (prota), program semester (promes), silabus, kriteria ketuntasan mengajar (kkm), dan rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp). pembahasan rapbs merumuskan beberapa program sekolah dalam setahun. hal tersebut diketahui pada setiap puk kurikulum memberikan deskripsi agenda kegiatan yang dilaksanakan satu tahun yang akan datang. pembagian tugas mengajar yang dilaksanakan di sd ta’mirul islam tiap tahun mengalami perubahan jam. hal tersebut dikarenakan tiap tahun masih menambah kelas, sehingga termasuk juga menambah rombongan belajar siswa. untuk kelas 3 wali kelas mengampu rata-rata 32-36 jam tiap minggu, yang terdiri dari 8 kelas. sedangkan untuk al-quran hadis 8 jam tiap minggu, fiqih, ski, dan akidah akhlak masing-masing 1 jam, dan bahasa arab dan sholat 2 jam tiap minggu. adapun bagian yang bertugas mengatur jumlah jam mengajar guru adalah puk kurikulum yang disetujui oleh kepala sekolah. perencanaan merupakan suatu hal yang berkaitan dengan proses pengambilan keputusan yang bijak, terorganisasi, dan sistematis. sd ta’mirul islam merupakan sekolah dasar swasta bercirikan islami yang mempunyai beberapa program yang terlaksana dalam membentuk karakter profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 141-148146 disiplin siswa. metode pembelajaran yang mencerminkan penanaman disiplin dan tanggung jawab adalah salah satunya pada mata pelajaran fiqih kelas 3 dengan materi tata cara salat ketika sakit, salat sunah rawatib, dan salat jum’at. cara mengajar materi tersebut dengan simulasi atau praktek. sehingga dapat dikatakan bahwa penanaman karakter disipli dan tanggug jawab dapat dilaksanakan dengan metode simulasi atau praktek. beberapa contoh lagi adalah kegiatan yang disebut dengan “kegiatan pembiasaan siswa”, yang terdiri dari pembiasaan mengaji, pembiasaan patriotisme, pembiasaan shalat sunah dhuha, pembiasaan shalat wajib, dan pembiasaan olahraga pagi. di samping itu juga terdapat kegiatan dalam rangka untuk membentuk karakter tanggung jawab, di antaranya adanya buku pantauan siswa, penerapan tugas terstruktur, pelaksanaan pesantren ramadhan, dan kegiatan kemah bakti sosial. sehingga dari kedua deskripsi tersebut dapat dikemukakan implementasi kurikulum dalam pandangan ktsp adalah penerapan ide, maupun pelaksanaan kegiatan dari kurikulum sehingga peserta didik mampu menguasai kompetensi, pengetahuan, dan tingkah laku yang lebih baik. sd ta’mirul islam surakarta melaksanakan beberapa kegiatan kurikulum dalam rangka menerapkan kurikulum yang telah disusun. beberapa kegiatan penerapan kurikulum yang terlaksana merupakan bertujuan untuk membentuk karakter disiplin dan tanggung jawab siswa. disiplin adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. hal tersebut telah terlaksana di sd ta’mirul islam dengan melaksanakan pembiasaan mengaji, pembiasaan patriotisme, pembiasaan shalat sunah dhuha, pembiasaan shalat wajib, dan pembiasaan olahraga pagi. sedangkan tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan tuhan yang maha esa. hal tersebut dapat dilihat di sd ta’mirul islam dengan melaksanakan kegiatan seperti adanya buku pantauan siswa, penerapan tugas terstruktur, pelaksanaan pesantren ramadhan, dan kegiatan kemah bakti sosial. kedua nilai karakter tersebut mampu menjadi dasardasar untuk melandasi nilai-nilai karakter yang lainnya. kegiatan monitoring dan evaluasi merupakan satu kesatuan yang hampir sama. adapun monev yang dilaksanakan di sd ta’mirul islam disebut dalam bentuk supervisi sekolah. kegiatan monev diikuti oleh semua bapak/ibu guru, dan karyawan/karyawati tersebut dilaksanakan tiap pada hari ahad. pelaksanaan kegiatan tersebut antara pukul 7.30 – 10.00 wib. kegiatan supervisi tersebut bertujuan memberikan penilaian program yang telah dilaksanakan sekaligus memberikan motivasi untuk meningkatkan kualitas ketenagakerjaaan. pelaksanaan supervisi yang dilaksanakan di sd ta’mirul islam adalah pada minggu pertama, sekolah memberikan kegiatan supervisi kepada semua bapak/ibu guru dan karyawan/ karyawati. supervisi minggu kedua diawali dengan membaca al-qur’an secara berkelompok. kemudian dilanjutkan dengan koordinasi kelas paralel antara guru kelas maupun guru mata pelajaran. koordinasi guru paralel tersebut membahas kesamaan pelakasanaan pembelajaran beberapa guru-guru kelas paralel. kegiatan supervisi minggu ketiga adalah pelaksanaan supervisi dari pengurus yayasan masjid tegalsari. adapun yang menjadi pembicara adalah bapak k.h. muhammad halim, sh. kegiatan minggu keempat adalah agenda supervisi umum, yang juga meliputi seluruh guru dan karyawan sd ta’mirul islam. supervisi tersebut langsung disampaikan oleh kepala sekolah bapak drs. bandung gunadi, yang implementasi kurikulum dalam pembentukan karakter siswa kelas iii ... (warsito dan samino) 147 sebelumnya diawali dengan tadarus al-qur’an secara berkelompok. kemudian dilanjutkan dengan kegiatan evaluasi guru kelas paralel. kegiatan evaluasi ini bertujuan menilai kekurangan pelaksanaan pembelajaran yang sudah terlaksana maupun perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan. monitoring dilaksanakan bertujuan untuk supervisi, yaitu untuk mengetahui apakah program sekolah atau madrasah berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. dengan kata lain monitoring menekankan pada pemantauan proses pelaksanaan program. secara tidak langsung sedapat mungkin tim atau petugas memberikan saran untuk mengatasi masalah yang terjadi. evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah program sekolah atau madrasah mencapai sasaran yang diharapkan. kesimpulan hasil monitoring diharapkan dapat digunakan untuk mengambil keputusan dalam rangka membantu agar program sekolah atau madrasah berhasil seperti yang diharapkan. kesimpulan hasil evaluasi diharapkan untuk mengambil keputusan tentang program sekolah atau madrasah secara utuh, mulai dari kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan masa depan (konteks), input, proses, output yang ditargetkan maupun outcome yang diharapkan. pelaksanaan program supervisi yang dilaksanakan di sd ta’mirul islam merupakan agenda untuk mengevaluasi program-program yang telah dilaksanakan. peran serta semua guru maupun karyawan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan evaluasi. akan tetapi kepala sekolah menjadi supervisor sekaligus evaluator utama dalam pelaksanaan tersebut. pihak yayasan juga turut membantu memberikan spirit maupun evaluasi program yang sudah terlaksana. kendala manajemen implementasi kurikulum dalam pembentukan karakter siswa terdapat dua factor, yaitu (1) faktor siswa; dan (2) faktor lingkungan keluarga; antara lain: (a) kurangnya sinergi kegiatan siswa di sekolah dan rumah, (b) kurangnya komunikasi sekolah dengan orang tua, (c) jarak sekolah dengan rumah, dan (c) pergaulan siswa di rumah. simpulan dan saran manajemen implementasi kurikulum dalam membentuk karakter siswa di sd ta’mirul islam surakarta menunjukan bahwa proses manajemen diawali dengan perencanaan kurikulum. proses perencanaan tersebut dapat dilihat dengan adanya perencanaan kurikulum pembelajaran. hal ini meliputi adanya rapat koordinasi staf pimpinan. rapat koordinasi staf pimpinan membahas tentang perencanaan program kegiatan dan anggaran satu tahun ke depan. hal tersebut diikuti kepala sekolah, wakil kepala sekolah, serta staf pimpinan. bagian dalam perencanaan juga diadakannya rapat awal tahun ajaran. rapat tahun ajaran merencanakan perangkat pembelajaran selama satu tahun. perangkat pembelajaran yang disusun adalah program tahunan (prota), program semester (promes), dan silabus, dan rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp). implementasi kurikulum merupakan kegiatan yang dilaksanakan setelah adanya perencanaan kurikulum. implementasi kurikulum dalam membentuk karakter disiplin siswa diwujudkan pelaksanaan pembiasaan mengaji, pembiasaan patriotisme, pembiasaan shalat sunah dan wajib, dan pembiasaan olahraga pagi. sedangkan implementasi kurikulum dalam membentuk karakter tanggung jawab diwujudkan dalam program buku pantauan siswa, penerapan tugas terstruktur, kegiatan pesantren ramadhan, dan kemah bakti sosial. evaluasi dan monitoring dilaksanakan sekolah dengan mengadakan kegiatan supervisi. kegiatan supervisi sekolah dilaksanakan secara rutin setiap hari ahad. kegiatan supervisi bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program kegiatan pembentukan karakter. di samping itu, sekaligus adanya monitoring berkala dari pihak sekolah kepada seluruh guru dan karyawan. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 141-148148 daftar pustaka arikunto, suharsimi dan lia, yuliana. 2008. manajemen pendidikan. yogyakarta: aditya media. arikunto, suharsimi.1996. prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. jakarta: pt rineka cipta. danim, sudarwan. 2002. menjadi peneliti kualitatif. bandung: pustaka setia. furqon, hidayatullah muhammad. 2010. guru sejati: membangun insan berkarakter kuat dan cerdas.surakarta:yuma pustaka. ida bagoes, mantra. 2004. filsafat penelitian dan metode penelitian sosial. yogyakarta: pustaka pelajar. moleong, j lexi. 2006. metode penelitian kualitatif (edisi revisi). bandung: pt rosda karya. lai, jennifer. marrone, mauricio “implementation of a curriculum management tool: challenges faced by a large australian university” asian social science no. 8 , 14 november 2012. majid, abdul dan andayani, dian. 2012. pendidikan karakter perspektif islam. bandung: pt remaja rosdakarya. mulkey, young jay. the history of character education. journal of physical education, no.68 amerika serikat novemberdesember 1997. soetopo. 2002. metodologi penelitian kualitatif. surakarta: uns press. syaifudin. 2012. pengelolaan pendidikan karakter (studi situs smp negeri 1 pacitan). universitas muhammadiyah surakarta: tesis (tidak diterbitkan). tamsari. 2012. pengelolaan pendidikan karakter siswa mi al-huda durenombo kabupaten batang. universitas muhammadiyah surakarta: tesis (tidak diterbitkan). tim dosen administrasi pendidikan upi.2010. manajemen pendidikan. bandung: alfabeta. tukirin. 2013. implementasi kurikulum al-islam dalam meningkatkan ibadah mahdhah” pada siswa kelas xi sma muhammadiyah 2 surakarta. universitas muhammadiyah surakarta: tesis (tidak diterbitkan). penerapan model cooperative learning ... (heri maria zulfiati) 99 penerapan model cooperative learning tipe snowball throwing untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar ips siswa sd heri maria zulfiati pogram studi pendidikan guru sekolah dasar universitas sarjanawiyata yogyakarta e-mail: mariazulfiati@yahoo.co.id abstract this classroom action research aims to determine the increase in activity and results activity with cooperative learning model snowball throwing on learning social studies class iv students second semester elementary school district 1 rejowinangun school yogyakarta year 2013/2014. this study was conducted in two cycles, the subjects in this study were as many as 28 people and the object of research is the result of learning activity social studies. student activity data were collected using the method of observation, while the results of the data gathered through the sosial studies test method which tests learning outcomes. the results show the application of cooperative learning model type snowball throwing in learning social studies can increase activity and learning outcomes. increased activity of students in the first cycle 63.40 % and 81.91 % in the second cycle or in other words an increase of 18.51 % active students are included in the active category. student learning outcomes in the first cycle 72.84% and 83.26% in the second cycle. there has been an increase in science learning outcomes of 18.00 % included in the high category. based on these data the application of cooperative learning model snowball throwing concluded that learning can enhance the activity social studies student learning outcomes. keywords: snowball throwing, activity, learning outcomes pendahuluan pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. melalui penyelenggaraan pendidikan diharapkan dapat mencetak manusiamanusia berkualitas yang akan mendukung tercapainya sasaran pembangunan nasional. pendidikan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh guru. peran siswa merupakan hal yang sangat vital dalam mencapai tujuan pembelajaran. siswa sangat diharapkan telibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. dalam pendidikan, proses pembelajaran adalah kegiatan paling pokok. menurut munif chatib (2012:135) pembelajaran adalah proses tranfer ilmu dua arah, antara guru sebagai pemberi informasi dengan siswa sebagai penerima informasi. selain itu guru sebagai inovator yang mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah (hamalik, 2001). oleh karena itu dalam proses profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 99-108100 pembelajaran seorang guru dituntut untuk bisa memotivasi siswanya agar siswa bisa aktif terlibat didalam pembelajaran. berdasarkan observasi awal dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada 9 november 2013 dan 16 november 2013 terlihat bahwa kegiatan pembelajaran yang terjadi di sd rejowinangun i yogyakarta pada mata pelajaran ips, saat pembelajaran berlangsung, sangat jarang terlihat siswa aktif dalam pembelajaran. untuk berbicara menyampaikan pendapat, ide, mengajukan pertanyaan, dan menjawab pun mereka tidak berani. tidak lebih dari 10% siswa yang berani berbicara. selain itu, peneliti melihat siswa kurang fokus dalam belajar dan siswa sering mengobrol pada saat pembelajaran berlangsung. siswa hanya “menuntut” untuk bertindak sebagai objek pembelajaran saja. peran siswa tidak lebih sebagai pendengar setia. dengan kata lain, pembelajaran terjadi lebih mengarah kepada teacher oriented. penyebab masalah pembelajaran di kelas iv antara lain juga dipengaruhi antara lain motivasi belajar siwa rendah, metode pembelajaran yang kurang variatif, dan minimnya penggunaan alat peraga. ironisnya lagi, hal tersebut bisa mempengaruhi hasil belajar siswa. bagaimana mengoptimalkan hasil belajar ips siswa menjadi tugas seorang pendidik. untuk itulah dalam proses pembelajaran dibutuhkan suatu paradigm baru yang diyakini mampu memecahkan masalah tersebut. paradigma itu ditandai oleh pembelajaran dengan inovasi-inovasi yang berangkat dari hasil refleksi terhadap eksisitensi paradigma lama yang mengalami masa suram menuju paradigm baru. paradigma lama tersebut tampaknya sudah tidak relevan lgi dengan kondisi saat ini yang ditandai oleh perubahan disegala aspek. pada proses pembelajaran dengan paradigma lama masih kurangnya variasi model pembelajaran yang digunakan sehingga proses pembelajaran jadi monoton. pembelajaran harus turut berubah seiring dengan perubahan aspek lainnya. sehingga terjadi keseimbangan dan kesesuaian yang pada akhirnya berimbas pada peningkatan kualitas dan hasil belajar siswa. salah satu model pembelajaran yang dikembangkan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yaitu dengan menggukan model cooperative learning. model pembelajaran cooperative learning adalah suatu model pembelajaran yang dapat memungkinkan terjadinya aktivitas belajar, saling berinteraksi dengan sesama secara aktif, dan efektif. dengan cooperative learning diharapkan siswa dapat lebih intensif belajar sehingga akan menguasai materi pelajaran dengan mudah, karena siswa lebih mudah memahami penjelasan dari kawannya disbanding penjelasan guru karena taraf pengetahuan serta pemikiran mereka lebih sejalan dan sepadan. selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa cooperative learning memiliki dampak positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya. salah satu model pembelajaran yang digunakan adalah cooperative learning tipe snowball throwing. metode pembelajaran snowball throwing merupakan salah satu metode cooperative learning. menurut saminanto (2010:37) “metode pembelajaran snowball throwing disebut juga metode pembelajaran gelundungan bola salju. lemparan pertanyaan tidak menggunakan tongkat seperti metode pembelajaran talking stik akan tetapi menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilempar-lemparkan kepada siswa lain. siswa yang mendapat bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya. langkah-langkah pembelajaran yang ditempuh dalam melaksanakan model snowball throwing sebagaimana dikemukakan suprijono (2010: 128) adalah sebagai berikut (1) guru menyampaikan materi yang akan disajikan, guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi pembelajaran (2) masing-masing ketua kelompok penerapan model cooperative learning ... (heri maria zulfiati) 101 kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada teman kelompoknya (3) kemudian masing-masing murid diberi satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok, kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu murid ke murid yang lain selama kurang lebih 5 menit (4) setelah tiap murid mendapat satu bola/satu pertanyaan (5) diberikan kesempatan kepada murid untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian (6) guru bersama dengan murid memberikan kesimpulan atas meteri pembelajaran yang diberikan (7) guru memberikan evaluasi sebagai bahan penilaian pemahaman muridakan materi pembelajaran (8) guru menutup pembelajaran dengan memberikan pesan-pesan moral dan tugas di rumah. penggunaan model cooperative learning tipe snowball throwing diharapkan akan menjadi solusi dan dapat menarik perhatian siswa sehingga siswa akan lebih aktif dalam pembelajaran dan akan menciptakan suasana lebih segar serta mengurangi kejenuhan dalam kelas. selain itu pembelajaran aktif dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa/ anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran (hartono, 2008: 20). menurut sudjana (1991) keaktifan belajar siswa dapat dilihat berdasarkan indikator keaktifan siswa yaitu turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, terlibat dalam pemecahan permasalahan, bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak, memahami persoalan yang dihadapinya, berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untukpemecahan masalah, melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru, menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya, melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah sejenis, kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yangdihadapinya. dengan lebih aktifnya siswa diharapan akan meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran ips. metodologi penelitian penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di sd negeri rejowinangun 1 kotagede yogyakarta, pada semester genap tahun ajaran 2013/ 2014, dengan menyesuaikan jam pelajaran ips di kelas iv sdn rejowinangun 1 kotagede yogyakarta penelitian tindakan kelas ini terbagi dalam 2 siklus dan tiap siklus terdiri dari 2 pertemuan. langkah-langkah pelaksanaan penelitian ini melalui 4 tahap, yaitu : perencanaan (planning), tindakan (action), pengamatan (observing), refleksi (reflecting). (arikunto, 2010 : 137). alur yang digunakan dalam penelitian ini dapat digambarkan seperti gambar berikut: gambar 1. model penelitian tindakan kelas menurut kemmis & m. taggart (arikunto, 2008:16) secara rinci prosedur pelaksanaan menurut kemmis & m. taggart (arikunto, 2008:16) profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 99-108102 penelitian tindakan kelas dapat diuraikan sebagai berikut: 1) pra siklus tahap ini peneliti melakukan observasi dan wawancara mengenai cara mengajar guru dan aktivitas siswa dalam menerima pelajaran serta rendahnya keaktifan dan hasil belajar ips siswa. kemudian menetapkan dan merumuskan rencana tindakan yaitu menyusun strategi pembelajaran dengan menyusun skenario pembelajaran 2) siklus 1 pembelajaran ips siklus 1 dilakukan dalam dua kali pertemuan dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. perencanaan (planning) kegiatan perencanaan antara lain: identifikasi masalah, perumusan masalah dan analisis penyebab masalah, dan pengembangan intervensi. dalam tahap ini, peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. tindakan perencanaan yang peneliti lakukan antara lain adalah merencanakan identifikasi masalah yang dihadapi guru dan siswa selama proses pembelajaran, rencana penyusunan perangkat pembelajaran, rencana penyusunan alat perekam data, dan mmerencanakan pelaksanaan pembelajaran kooperatif snowball throwing. b. pelaksanaan (acting) pelaksanaan dilaksanakan peneliti untuk memperbaiki masalah. di sini, langkahlangkah praktis tindakan diuraikan dengan jelas. pelaksanaan merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas. di sini peneliti melakukan analisis dan refleksi terhadap permasalahan temuan observasi awal dan melaksanakan apa yang sudah direncanakan pada kegiatan planning. c. pengamatan (observing) pengamatan merupakan kegiatan pengambilan data untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. efek dari suatu intervensi terus dimonitor secara reflektif. kegiatan yang dilakukan pada tahap pengamatan ini yaitu: pengumpulan data, mencari sumber data, dan analisis data. pada langkah ini, peneliti selaku pelaku tindakan atau sebagai pengajar sekaligus observer bersama observer lain melakukan pengamatan terhadap proses belajar mengajar yang dilakukan sendiri dan aktivitas siswa secara berkelanjutan. d. refleksi (reflecting) refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis tentang perubahan yang terjadi pada siswa, suasana kelas, dan guru. pada tahap ini, peneliti menjawab pertanyaan mengapa (why) dilakukan penelitian, bagaimana (how) melakukan penelitian, dan seberapa jauh (to what extent) intervensi telah menghasilkan perubahan secara signifikan. disini peneliti melakukan analisis dan refleksi terhadap permasalahan dan kendala-kendala yang dihadapi di lapangan. langkah-langkah tersebut dituangkan dalam rencana terevisi untuk melakukan tindakan pada siklus ii hingga hasil belajar siswa meningkat. 3) siklus ii pelaksanaan siklus ii ini didasari dari hasil refleksi pada silkus i. masalah-masalah yang timbul pada siklus i ditetapkan alternative pemecahan masalahnya dengan harapan tidak terulang pada siklus ii nantinya. apabila hasil refleksi pada siklus ii menunjukkan belum tercapainya indicator ketercapaian pembelajaran maka siklus akan dilanjutkan, dan sebaliknya apabila refleksi pada siklus ii telah menunjukkan tercapaianya indikator ketercapaian pembelajaran maka siklus akan dihentikan. data observasi dianalisis dengan mendeskripsikan keaktifan siswa dalam kegiatan penerapan model cooperative learning ... (heri maria zulfiati) 103 pembelajaran kelompok yaitu dengan menggunakan lembar observasi keaktifan siswa. penelitian keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dapat dilihat dari skor pada lembar observasi keaktifan siswa. persentase perolehan skor pada lembar observasi dikualifikasi untuk mengukur keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. cara menghitung persentase keaktifan siswa berdasarkan lembar observasi untuk tiap pertemuan adalah sebagai berikut. p = x 100% keterangan: p = persentase keaktifan siswa. f = banyak siswa yang melakukan indikator lembar observasi. a = banyak siswa keseluruhan. hasil data observasi dikualifikasikan dengan pedoman berikut. tabel 1. kualifikasi persentase keaktifan siswa sedang untuk mengetahui keberhasilan tindakan yang dilaksanakan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa materi pembelajaran ilmu pengetahuan sosial menggunakan model cooperative learning tipe snowball throwing digunakan persentase nilai yang diperoleh secara keseluruhan anak setelah dilaksanakan tindakan. persentase kriteria 75% p 100% sangat tinggi 50% p 75% tinggi 25% p 50% sedang 0% p 25% rendah p = untuk mengetahui persentase nilai yang diperoleh anak dengan perhitungan sebagai berikut: hasil presentase yang didapat kemudian dikualifikasikan menggunakan tabel kriteria berikut. tabel 2. persentase nilai siswa persentase (p) kualifikasi 80% < p ≤ 100% sangat tinggi 60% < p ≤ 80% tinggi 40% < p ≤ 60% sedang 20% < p ≤ 40% rendah 0% < p ≤ 20% sangat rendah sedangkan untuk mencari perhitungan rerata secara klasikal dari sekumpulan nilai yang telah diperoleh siswa tersebut dapat menggunakan rumus mean (arikunto, 2010: 264). profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 99-108104 keterangan : = rata-rata kelas (mean) = jumlah nilai siswa n = banyaknya siswa indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah peningkatan keaktifan 10% dari siklus sebelumnya dan rata-rata keaktifan dalam proses pembelajaran minimal 70%. sedangkan indikator kinerja hasil belajar ditetapkan sesuai kriteria ketuntasan minimal (kkm) yang ada di sd negeri rejowinangun 1 pada mata pelajaran ips yaitu 62 maenggunakan model cooperative learning tipe snowball throwing peneliti memberi target 80% dari jumlah keseluruhan siswa mencapai katuntasan belajar siswa dengan memperoleh nilai = 62 sesuai kkm. hasil penelitian dan pembahasan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebanyak dua siklus dengan setiap siklusnya dua kali pertemuan. berdasarkan data hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya diketahui bahwa: keaktifan belajar siswa keaktifan adalah kondisi siswa yang aktif dalam pembelajaran, baik secara fisik, mental, dan pikiran. keaktifan siswa dalam pembelajaran merupakan salah satu kriteria yang dapat digunakan untuk menilai keefektifan proses pembelajaran. proses pembelajaran yang efektif adalah proses pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar dengan melakukan kegiatan mandiri. pada pratindakan, peneliti mengamati keaktifan siswa dalam pembelajaran ips. pada pratindakan, hasil observasi keaktifan adalah 36,64% dengan kriteria sedang. pada siklus i, persentase keaktifan meningkat 26.76% dari pratindakan, sehingga persentase keaktifan menjadi 63.40% dengan kriteria tinggi. pada siklus ii, persentase keaktifan kembali meningkat 18,51% dari siklus i menjadi 81.91% dengan kriteria sangat tinggi. perbandingan pelaksanaan tindakan antar siklus keaktifan belajar dapat dilihat pada tabel berikut: tabel 3. hasil perbandingan pelaksanaan tindakan antar siklus keaktifan siswa no indikator pra siklus siklus i siklus ii persentase kriteria persentase kriteria persentase kriteria 1 a 53.57% tinggi 76.79% tinggi 82.14 sangat tinggi 2 b 39.29% sedang 69.64% tinggi 78.57 tinggi 3 c 25.45% sedang 60.71% tinggi 80.36 sangat tinggi 4 d 32.14% sedang 64.29% tinggi 75 tinggi 5 e 16.8% rendah 57.14% tinggi 85.71 sangat tinggi 6 f 39.29% sedang 58.93% tinggi 82.14 sangat tinggi 7 g 53.57% tinggi 75% tinggi 100 sangat tinggi 8 h 28.57% rendah 44.64% sedang 71.43 tinggi rata-rata 36,64% sedang 63.40% tinggi 81.91% sangat tinggi penerapan model cooperative learning ... (heri maria zulfiati) 105 keterangan: a mendengarkan dan memperhatikan presentasi/ penjelasan guru b mencatat penjelasan guru c merespon pertanyaan atau perintah dari guru d mengajukan pertanyaan kepada guru jika menemukan masalah e berpartisipasi dalam diskusi kelompok f mengemukakan pendapat dalam kelompok g mengerjakan soal dan lembar kegiatan h mempresentasikan hasil kerja kelompok adapun grafik perbandingan hasil pra siklus, siklus i dan siklus ii keaktifan belajar adalah sebagai berikut. gambar 1. grafik perbandingan hasil prasiklus, siklus i dan siklus ii hasil belajar hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan, peneliti melakukan observasi dan wawancara terhadap guru kelas iv sdn rejowinangun 1 yogyakarta, dalam observasi dan wawancara diketahui bahwa hasil belajar si ips masih tergolong rendah. keadaan tersebut terjadi karena saat pembelajaran guru cenderung menggunakan metode ceramah, belum menggunakan metode atau media yang lebih variatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran ips sehingga siswa juga kurang antusias untuk mengikuti pembelajaran dan nilai siswa kurang memuaskan. hal tersebut ditunjukkan dari hasil pra siklus, terlihat dari 28 siswa terdapat 16 siswa atau 57,14% yang belum mencapai nilai ketuntasan, yaitu 62 dan 12 siswa atau 42,86% telah mencapai nilai ketuntasan sedangkan nilai ratarata siswa 60,96. berdasarkan hasil yang diperoleh pada pra siklus tersebut hasil belajar siswa perlu ditingkatkan. setelah diberi tindakan pada siklus i terlihat bahwa terjadi peningkatan yang cukup signifikan, hal ini ditunjukkan dari 28 siswa terdapat 21 siswa atau 75,00% yang sudah mencapai nilai ketuntasan, sedangkan 7 siswa atau 15,00% belum mencapai ketuntasan. sedangkan nilai ratarata siswa pada siklus i 72,84%. pada siklus ii semua kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus i diperbaiki sehingga proses pembelajarannnya menjadi lebih baik dan hasilnya terjadi peningkatan. hal ini terlihat dari 28 siswa terdapat 24 siswa atau 85,71% dan 4 profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 99-108106 siswa atau 25% belum mencapai ketuntasan. sedangkan rata-rata siswa 83,26. pada siklus ii ini telah mencapai indikator keberhasilan. perbandingan hasil pra siklus, siklus i dan siklus ii dapat dilihat pada table berikut. tabel 4. perbandingan hasil pra siklus, siklus i, dan siklus ii keterangan pra siklus siklus i siklus ii nilai tertinggi 87 92 100 nilai terendah 37 44 50 banyak siswa yang tuntas 12 21 24 banyak siswa yang belum tuntas 16 7 4 persentase siswa yang tuntas 42,86% 75,00% 85,71 persentase siswa yang belum tuntas 57,14% 25,00% 14,29 nilai rata-rata siswa 60,96 72,84 83,26 adapun grafik perbandingan hasil pra siklus, siklus i dan siklus ii adalah sebagai berikut. gambar 2. grafik perbandingan hasil prasiklus, siklus i dan siklus ii hasil belajar berdasarkan data di atas dapat dinyatakan bahwa pembelajaran menggunakan menggunakan model cooperative learning tipe snowball throwing dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas iv di sdn rejowinangun 1 yogyakarta. penerapan model cooperative learning ... (heri maria zulfiati) 107 simpulan, implikasi, dan saran simpulan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dalam dua siklus, dapat disimpulkan bahwa penggunaaan model pembelajaran cooperative learning tipe snowball throwing dapat disimpulkan bahwa: 1. proses pembelajaran melalui model cooperative learning tipe snowball throwing 2. penggunaan model pembelajaran cooperative learning tipe snowball throwing dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa. pada pratindakan, peneliti mengamati keaktifan siswa dalam pembelajaran ips. pada pratindakan, hasil observasi keaktifan adalah 36,64% dengan kriteria sedang. pada siklus i, persentase keaktifan meningkat 26.76% dari pratindakan, sehingga persentase keaktifan menjadi 63.40% dengan kriteria tinggi. pada siklus ii, persentase keaktifan kembali meningkat 18,51% dari siklus i menjadi 81.91% dengan kriteria sangat tinggi. 3. penggunaan model pembelajaran cooperative learning tipe snowball throwing dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pembelajaran ips pada siswa kelas iv sdn rejowinangun 1 yogyakarta. hal tersebut berdasarkan hasil pada kondisi awal (pra tindakan) dengan nilai rata-rata siswa sebesar 60,96 dengan persentase ketuntasan 42,86%. setelah diberikan tindakan pada siklus i diperoleh nilai rata-rata siswa meningkat cukup signifikan menjadi 72,84 dengan persentase ketuntasan 75,00% dan pada siklus ii nilai rata-rata siswa meningkat dibandingkan pada nilai rata-rata siklus i yaitu mencapai 83,26 dengan persentase ketuntasan 85,71%. implikasi berdasarkan hasil penelitian ini, penggunaaan model pembelajaran cooperative learning tipe snowball throwing keaktifan dan hasil belajar siswa kelas iv sd negeri rejowinangun 1 pada mata pelajaran ips dapat meningkat, maka implikasi praktis dalam penelitian ini yaitu sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi guru untuk pemilihan dan penerapan model cooperative learning tipe snowball throwing sehingga dapatmemberikan pengalaman. selain itu implikasi praktis bagi siswa yaitu diharapkan siswa tidak malu-malu lagi dalam mengeluarkan pendapat, berinteraksi dengan teman atau guru untuk mencari informasi terkait dengan materi yang dipelajari, dapat turut serta atau aktif dalam kegiatan belajar di sekolah sehingga dapat menambah pengalaman baru bagi siswa dan dapat meningkatkan tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe snowball throwing untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada materi pembelajaran ips pada siswa memperoleh tanggapan positif dari guru dan siswa. model pembelajaran cooperative learning tipe snowball throwing ini mempunyai potensi untuk dikembangkan pada mata pelajaran lain untuk menumbuhkan kerjasama yang baik dan tidak memandang teman melalui kelompok. dengan diterapkannya model pembelajaran cooperative learning tipe snowball throwing pada mata pelajaran ips dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas iv sdn rejowinangun 1 yogyakarta. saran a. peran guru sangat diperlukan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran. guru mempertimbangkan untuk menerapkan metode pembelajaran yang dapat membantu siswa mengembangkan kompetensi dan kemampuannya serta membangun pengetahuan secara aktif. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 99-108108 b. penerapan pembelajaran yang membuat siswa aktif kooperatif baik untuk meningkatkan hasil belajar siswa serta aktivitas belajar siswa karena itu penerapan metode pembelajaran snowball throwing dapat digunakan dalam proses belajar mengajar selanjutnya. c. karena beberapa keterbatasan peneliti dalam penelitian ini disarankan banyak penelitian lanjutan mengenai model cooperative learning tipe snowball throwing ini daftar pustaka arikunto, suharsimi. 2010. dasar-dasar evaluasi pendidikan. jakarta: bumi aksara ________________. 2010. prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. hamalik u. 1999. interaksi dan motivasi belajar mengajar. jakarta: raja grafindo persada. hartono. 2008. metode pembelajaran aktif. yogyakarta: workshop pengembangan profesi guru. munif chatib. 2012. sekolahnya manusia. bandung: kaifa. slavin, r.e. 2008. cooperative learning: teori, riset dan praktik. bandung: nusa media. silberman, melvin l. 2009. active learning. bandung: nusamedia saminanto. 2010 dalam krisna.2012. model pembelajaran snowball throwing. [online] tersedia http://dataseverku.blogspot.com/2012/02/model-pembelajaran-snowball-throwing.html. [4/ 4/2014] sudjana, nana. 2004. penilaian hasil proses belajar matematika. bandung: remaja rosdakarya suprijono, agus. 2013. cooperative learning teori dan aplikasi paikem. surabaya: pustaka pelajar. e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 167 – 179 167 pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sekolah dasar heru purnomo1, arrofa acesta2 fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas kuningan 1herupurnomo809@gmail.com; 2arrofa_acesta@yahoo.com abstract this study aims to produce teaching materials and assessment of authentic courses of education ipa in elementary school decent and effective. this research is a research and development. consisting of nine stages, namely: (1) preliminary study, (2) planning, (3) initial product development, (4) initial test, (5) revision to compose the main product, (6) field trial, (7) ) revisions to improve the product of field trial results, (8) field implementation tests, and (9) final product revisions. the results of the study as follows. (1) feasibility assessment of ipa material experts and science evaluation experts with good criteria with an average rating of 3.8, assessment of ipa materials with an average rating of 4.08, trial is limited to good criteria and field implementation trials with good criteria. the effectiveness of product development of gain score calculation know knowledge aspect (knowledge) obtained index of gain equal to 0,71 with high category, field test result which done in three classes got average result as follows, student who give very good response 27, 2%, good student response with average percentage 54,91%, student response with good enough category 16,27%, while for student response with less category equal to 0,66% and less once 0,99% . keywords: instructional materials, authentic assessment, science education sd. pendahuluan pendidikan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia dalam mengembangkan kemapuan yang dimilikinya, dengan pendidikan manusia dapat belajar untuk memperbaiki dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. pendidikan berperan dalam memperbaiki, meneruskan dan menurunkan pengetahuan dari generasi yang lalu ke generasi berikutnya. dengan pendidikan diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas yang dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan potensi yang dimiliki manusia sehingga menjadi manusia yang relatif lebih baik, berbudaya, dan manusiawi. perguruan tinggi adalah salah satu lembaga yang disediakan oleh pemerintah untuk mewadahi mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki secara formal untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik. sebelum menempuh pendidikan di perguruan tinggi mahasiswa diwajibkan harus menyelesaikan terlebih dahulu pendidikannya di sekolah menengah atas (sma). berbeda dengan di sekolah menengah tingkat atas, di perguruan tinggi dikhususkan untuk mengambil penjurusan sesuai dengan bakat, minat dan potensi yang dimiliki oleh mahasiswa itu sendiri, dimana pembelajaran di perguruan tinggi memberikan gambaran yang jelas tentang hasil kompetensi yang akan dicapai oleh mahasiswa. program studi pgsd adalah salah satu penjurusan di tingkat perguruan tinggi yang di buka untuk mewadahi pendidikan yang lebih spesifik dalam pendidikan keguruan, khususnya bagi para calon mahasiswa yang mempunyai keinginan kuat dalam mailto:1herupurnomo809@gmail.com p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 168 pengembangan bahan ajar.......(heru purnomo dan arrofa accesta) mengembangkan bakat, minat dan potensinya menjadi seorang calon guru sekolah dasar yang profesional sesuai dengan perkembangan kebutuhan yang ada dilapangan saat ini. di perguruan tinggi khususnya prodi pgsd berbagai mata kuliah wajib yang harus diambil oleh setiap mahasiswa program studi pendikan guru sekolah dasar, salah satu mata kuliah wajib tersebut adalah pendidikan ipa sd. menurut martin, r & sexton (2005: 10), menyatakan bahwa “the word scaince originates from the latin word scaintie, meaning “knowledge”, as in possessing knowledge istead of misunder standing or being ignorant”. sain berasal dari kata scaince yang diartikan “pengetahuan” bagaimana menguasai pengetahuan yang terjadi pada kehidupan sehari-hari agar dapat mengetahui aspek-aspek yang ada di dunia baik alam, tumbuhan dan manusia. menurut mc. neill dan krajcik (manokore & williams, 2012: 2) bahwa pembelajaran sains harus ditunjang dengan kegiatan diskusi ilmiah sehingga memungkinkan peserta didik mampu mengungkapkan pendapat dan kesimpulannya (inference) dengan disertai bukti-bukti dan fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. mata kuliah pendidikan ipa dimaksudkan untuk memberikan pemahaman lebih tentang prinsip-prinsip dasar pembelajaran ipa di sd yang berhubungan dengan model–model pembelajaran ipa di sd, penilaian portofolio,dan portofolio dalam pembelajaran ipa di sd melalui penerapan berbagai modelmodel pembelajaran dan simulasi mengajar ipa di sd, akan tetapi ketersediaan bahan ajar pendidikan ipa sd yang diperuntukan untuk mahasiswa pgsd masih sangat terbatas dalam kontesk isi bahan ajar. kunandar (2013: 24-25) mendeskripsikan karakteristik bahan ajar/materi pembelajaran yaitu. 1) menggembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreatifitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik. 2) sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di sekolah kemasyarakat dan manfaat pada masyarakat sebagai sumber belajar. 3) menggembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan serta menerapkan dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat. 4) memberikan waktu yang cukup leluasa untuk menggembangkan berbagai sikap, pengetahuan dan keterampilan. 5) kompetensi dinyatakan dalam kopetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran. 6) kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasian (organizing element) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti. 7) kompetensi dasar dikembangkan berdasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horisontal dan vertikal). padahal bahan ajar merupakan salah satu instrumen yang vital bagi proses pembelajaran selama perkuliahan untuk membatu mahasiswa selama perkuliahan mengenai materi apa yang disampaikan. dijelaskan e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 167 – 179 169 menurut dick & carey (2009: 230) bahan ajar adalah the instructional materials contains the content.... .includes materials for major objectives and the terminal objective, and any materials for anhancing memory and transfer... refer to any preexisting materials that are being incorporated, as well as to those materials that will be specifically develoved for the objectives...include information thet the learner will use to guide their progress through the instruction. berdasarkan berbagai teori yang uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahan ajar adalah segala bahan materi atau isi pembelajaran yang harus dikuasai peserta didik untuk menunjang pencapaian kompetensi peserta didik yang guna membantu dalam pelaksanaan kegiatan proses pembelajaran. masih terdapat keterbatasan yang ada pada bahan ajar sekarang ini, seperti kajian yang ada masih sangat tinggi seperti konsep dasar yang ada masih konsep-konsep murni dari pendidikan ipa, padahal keberadaan materi kuliah pendidikan ipa sd lebih bedasarkan pada konsep-konsep dan aplikasi materi yang merujuk pada pembelajaran di sekolah dasar, seharusnya bahan ajar yang digunakan di jurusan pgsd lebih merujuk pada pembelajaran ipa apa yang ada disekolah dasar, sehingga bisa membekali para mahasiswa sebagai calon guru sekolah dasar untuk dapat digunakan dan diaplikasikan langsung di sekolah dasar kelak ketika mereka sudah mengajar di sekolah dasar. pada bahan ajar terdapat instrumen penilaian pendidikan ipa yang dirancang guna untuk mengetahui ketercapaian mahasiswa selama proses perkuliahan mengacu pada tiga aspek (otentik assessment), yaitu sikap (attitude), pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill). penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komperhensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses dan keluaran (output) pembelajaran (permendikbud, 2013: 2). menurut nitko & brookhart (2007: 253) mengemukakan bahwa “authentic assesment usually means presenting student with tasks that are directly meaningfull to their education instead of indirectly meaningful.” pada kenyataanya instrumen penilaian yang ada pada saat ini belum mengakomodir tentang otentik assessment tersebut, padahal ketiga aspek ini sangat penting dalam melihat penguasaan mahasiswa dalam proses perkuliahan. dijelaskan menurut morrison (2012: 160) ciri-ciri penilaian otentik yaitu. 1) menggunakan sejumlah cara yang berbeda untuk menentukan prestasi anak dan apa yang mereka ketahui dan mampu melakukan. 2) mempertimbankan kebutuhan khusus menyangkut bahasa, budaya dan kebutuhan khusus lainya. 3) berkelanjutan sepanjang tahun pelajaran. 4) menilai anak dan karya mereka yang sebenarnya dengan contoh karya, portofolio, performa, proyek, jurnal, percobaan, dan observasi guru. 5) menilai anak secara menyeluruh, bukan hanya dari penguasaan keterampilan. 6) merupakan dari proses belajar. 7) berdasarkan kurikulum, anak dinilai berdasarkan apa yang mereka pelajari dan kerjakan. 8) merupakan proses kerja sama melibatkan anak, guru, orangtua, dan profesi lainya; tujuanya adalah membuat penilaian berpusat pada anak. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 170 pengembangan bahan ajar.......(heru purnomo dan arrofa accesta) berbagai aspek sangat penting dikembangkan, seperti aspek sikap dalam proses pembelajaran mata kuliah pendidikan ipa karena dengan menggembangkan aspek sikap dapat memberikan pandangan terhadap sikap yang positif mahasiswa selama perkuliahan. aspek pengetahuan (knowledge), knowledge dapat memberikan gambaran dosen untuk mengukur tingkat kemampuan pencapaian mahasiswa atas penguasaan konsep. aspek keterampilan (skill) untuk melihat kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan mengajar dan mengaplikasikan konsep yang sudah diperoleh selama perkuliahan seperti melakukan percobaanpercobaan ipa sd dan melakukan simulasi mengajar ipa di sekolah dasar dengan baik dan benar. kebutuhan akan hadirnya bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pembelajaran ipa sekolah dasar sangat dibutuhkan untuk memberikan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan kompetensi yang diharapkan diperguruan tinggi khususnya mata kuliah pendidikan ipa di pgsd. adapun tujuan penelitian dan pengembangan penelitian ini adalah 1. untuk menghasilkan bahan ajar dan instrumen penilaian otetik pendidikan ipa sekolah dasar yang layak diperguruan tinggi program studi pendidikan guru sd. 2. dapat mengetahui keefektifan bahan ajar dan penilaian otentik pendidikan ipa di pgsd ditinjau dari penguasaan konsep, sikap dan keterampilan proses. metode penelitian penelitian yang dilaksanakan ini merupakan penelitian pengembangan atau research and development. dijelaskan borg & gall (1983: 772) penelitian pengembangan yaitu penelitian yang berorentasi untuk menggembangkan, dan memvalidasi produkproduk yang digunakan dalam penelitian. model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini diadopsi dari model rancangan pengembangan dari borg and gall (1983: 775). gambar 1. model pengembangan borg, .r & gall, m.d. (1983:775) penelitian ini merancang dan memodifikasi model pengembangan ke dalam 9 tahap dari 10 tahapan yang dikemukakan oleh borg & gall. 1. studi pendahuluan 2. perencanaan (planning) 3. pengembangan produk awal 4. uji coba awal 5. revisi untuk menyusun produk utama 6. uji coba lapangan (main field testing) 7. revisi untuk menyempurnakan produk hasil uji coba lapangan (oprational product testing). 8. uji pelaksanaan lapangan (operational field testing) 9. revisi produk final (final product rivision) desain uji coba produk uji coba dilakukan untuk mengetahui kelayakan dan efektifitas bahan ajar dan instrumen penilaian otentik ipa sekolah dasar di pgsd universitas kuningan. dengan bantuan ahli materi dan ahli penilaian otentik pendidikan ipa sekolah dasar untuk meneliti pengembangan bahan ajar dan penilaian e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 167 – 179 171 otentik pendidikan ipa sekolah dasar yang sedang di kembangkan. a. uji ahli (expert judgment) sebelum produk diujicobakan, produk yang dikembangkan harus divalidasi oleh ahli penilai di bidangnya agar produk ini mempunyai jaminan layak untuk diuji cobakan kepada subjek uji coba. b. uji coba terbatas uji coba awal (terbatas/ kelompok) dilakukan dengan memilih kelas mahasiwa secara acak dan menggunakan produk yang dikembangkan selama kegiatan proses perkuliahan. c. uji coba produk lapangan pada perlakuan uji coba lapangan oprasional ini dilakukan seluruh mahasiswa di tiga kelas. selanjutnya hasil data tersebut dianalisis untuk menyusun produk final. instrumen & teknik analisis data teknik pengumpulan data instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk tes dan non-tes yang berupa wawancara, observasi, angket dan validasi para pakar atau ahli untuk mengukur tingkat kelayakan bahan ajar dan instrumen penilaian otentik pendidikan ipa sekolah dasar sesuai dengan kebutuhanya a. analisis kelayakan atau hasil validasi ahli dan penilaian guru. data yang diperoleh berdasarkan kuisioner dianalisis mengunakan teknik statistik deskriptif berdasarkan masing-masing variabel. . konversi nilai skala 5 dapat dilihat pada tabel 1 yang diadaptasi dari widoyoko (2010: 238) tabel 1. konversi skor 5 1) skor 5 diberi kreteria sangat baik 2) skor 4 diberi kreteria baik 3) skor 3 diberi kreteria cukup 4) skor 2 diberi kreteria kurang baik 5) skor 1 diberi kreteria sangat tidak baik b. analisis keefekifan teknik analisis data untuk mengetahui efektifitas produk pengembangan dengan pretest dan post-tes untuk menggukur aspek kemampuan pengetahuan (knowledge) dan observasi untuk mengetahui aspek keterampilan (skill) dan aspek sikap (attitude), kemudian melakukan perhitungan menggunakan teknik normalized gain score atau normalisasi skor gain . langkahlangkah perhitungan yang dilakukan adalah sebagai berikut. 1) gain ternormalisasi dihitung mengacu pada persamaan hake (1998:3) yaitu. keterangan: = gain ternormalisasi sf = skor post-test si = skor pre-test. 2) gain ternormalisasi dijumlahkan untuk semua mahasiswa dan ditentukan rataratanya. 3) kategori efektifitas pengembangan produk bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd menggunakan klasifikasi hake (1998: dapat dilihat pada tabel berikut. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 172 pengembangan bahan ajar.......(heru purnomo dan arrofa accesta) tabel 2. efektifitas produk pengembangan hasil dan pembahasan hasil pengembangan produk awal hasil pengembangan produk awal bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sekolah dasar pada mahasiswa jurusan pgsd tingkat 1 meliputi beberapa tahap pengembangan awal sebagai berikut. 1. studi pendahuluan studi pendahuluan dilakukan peneliti dengan menganalisis silabus mata kuliah pendidikan ipa sd. dalam analisis yang dilakukan, ditemukan berbagai kekurangan dan ketidaksesuaian antara bahan ajar dengan silabus mata kuliah pendidikan ipa sd. kebutuhan pada materi dan penilaian yang disajikan dalam bahan ajar pendidikan ipa masih dirasa sangat kurang, kekurangan terdapat pada materi dan penilaian otentik yang belum tersajikan secara maksimal. 2. perencanaan (planning) tahap perencanaan dilakukan peneliti dengan menyusun rancangan pengembangan bahan ajar dan penilaian ipa berdasarkan kelemahan-kelemahan yang ditemukan pada studi pendahuluan terhadap bahan ajar yang tersedia. 3. pengembangan produk awal pada tahap pengembangan produk awal peneliti menetapkan draft dan format bahan ajar meliputi cover bahan ajar, daftar isi, materi dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd yang meliputi 8 bab materi dan penilaian otentik pendidikan ipa sd sesuai dengan silabus mata kuliah pendidikan ipa sd serta daftar pustaka. produk awal yang sudah dikembangkan kemudian divalidasi oleh ahli materi ipa dan ahli evaluasi ipa. adapun pemaparan hasil validasi bahan materi dan instrumen penilaian itentik ipa bahan ajar pendidikan ipa sd disajikan sebagai berikut: 1) hasil validasi bahan ajar oleh ahli ipa hasil validasi penilaian materi dan instrumen penilaian ipa produk pengembangan bahan ajar pendidikan ipa sd meliputi ahli materi ipa dan ahli evaluasi ipa. dimana hasil data validasi dan penilaian produk pengembangan ini merupakan penilaian para ahli, baik dari segi bahan ajar maupun instrumen penilaian otentik pendidikan ipa sd untuk mahasiswa pgsd. berikut ini disajikan data hasil validasi produk oleh ahli materi ipa dan evaluasi ipa serta hasil penilaian produk oleh guru akan dipaparkan sebagai berikut. 2) validasi ahli materi dan ahli evaluasi ipa hasil validasi ahli materi ipa didapatkan perolehan hasil dengan jumlah nilai 70 dari 18 indikator pembelajaran yang dinilaidengan rentang skor 1-5 untuk penilaian produk pengembangan, sehingga diperoleh nilai dengan rata-rata 3,8 dari seluruh penilaian indikator pada materi ipa, kemudian nilai ratarata 3,8 dilakukan perhitungan kriteria, maka didapatkan hasil dengan kategori baik pada produk materi ipa yang dikembangkan. sedangkan hasil validasi ahli instrumen evaluasi ipa, didapatkan hasil dengan jumlah nilai 49 dari 12 indikator pembelajaran yang di e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 167 – 179 173 26,2 53,2 17,5 0,4 2,8 respon mahasiswa uji terbatas sangat baik baik cukup baik kurang kurang sekali nilai dengan rentang skor 1-5 untuk penilaian produk pengembangan, pada instrumen evaluasi ipa diperoleh rata-rata nilai 4,08 dari keseluruhan indikator penilaian yang disajikan pada instrumen evaluasi ipa, setelah dilakukan perhitungan kriteria pada nilai ratarata 4,08 hasil kreteria yang di dapat berkategori “baik” pada produk instrumen evaluasi ipa yang dikembangkan. hasil uji coba produk hasil data yang diperoleh dari uji coba produk penelitian yang dilakukan pada pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik pada mata kuliah pendidikan ipa sd yaitu uji coba lapangan terbatas dan uji pelaksanaan lapangan yang dilaksanakan pada bulan juni-juli 2017 di universitas kuningan pada jurusan pgsd. berikut ini disajikan hasil perolehan data selama pelaksanaan uji coba produk. 1. hasil uji coba terbatas uji coba lapangan terbatas ini dimaksudkan untuk mendapatkan masukan dan saran pada produk yang dikembangkan pada kebutuhan mahasiswa jika terdapat kesalahan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada produk pada saat uji coba awal terhadap kondisi di lapangan. uji coba terbatas ini di lakukan pada seluruh mahasiswa kelas b tingkat 1 jurusan pgsd universitas kuningan dengan subjek penelitian sebanyak 29 mahasiswa. uji coba terbatas ini dilaksanakan dengan membagikan produk yang dikembangkan kepada masing-masing mahasiswa dibantu oleh dosen pengampu mata kuliah pendidikan ipa sd untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik pada mata kuliah pendidikan ipa sd. berdasarkan 2 diatas maka diketahui respon mahasiswa terhadap kelayakan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd. berikut ini pemaparan hasil respon mahasiswa berdasarkan tabel di atas yaitu diperoleh hasil dengan rata-rata yang memberikan respon sangat baik sebesar 26,2%, respon peserta didik pada kategori baik dengan presentase paling besar dengan 53,2%, respon peserta didik yang diberikan pada kategori cukup baik dengan presentase 17,5%, sedangkan untuk respon kurang dengan presentasi 0,4% dan kurang sekali yaitu 2,8%. berdasarkan hasil yang diperoleh dari respon peserta didik diatas didapatkan hasil respon yang positif terhadap kelayakan pengembangan bahan ajar, dimana kreteria penilaian yang positif pada respon kelayakan mahasiswa adalah minimal 53,2% peserta didik pada respon baik. gambar 2. diagram hasil mahasiswa pada uji coba terbatas 2. hasil uji pelaksanaan lapangan. uji pelaksanaan lapangan dilakukan untuk mendapatkan data hasil produk setelah dilakukan revisi pada tahap uji coba terbatas, apakah produk yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa atau tidak. hasil uji lapangan ini diambil dari seluruh mahasiswa di 3 kelas tingkat 1 jurusan pgsd universitas kuningan yaitu kelas a, d, dan e p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 174 pengembangan bahan ajar.......(heru purnomo dan arrofa accesta) 74 25 0 kategori gain score mahasiswa tinggi sedang rendah dengan subyek kelas a 35 mahasiswa, kelas d 35 mahasiswa dan kelas e yaitu 29 mahasiswa. sebelum uji pelaksanaan lapangan dilaksanakan dengan menggunakan produk pengembangan, peneliti melakukan penggambilan data pre-tes untuk melihat kemampuan awal mahaswiswa sebelum menggunakan produk yang dikembangkan. setelah pengambilan data pretes, selanjutnya dalam uji pelaksanaan lapangan adalah membagikan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd yang telah di revisi pada uji coba terbatas kepada 29 mahasiswa di kelas b peserta untuk digunakan selama proses pembelajaran. selama proses pembelajaran peneliti melakukan penilaian kepada peserta didik pada aspek keterampilan (skill) dan sikap (atittude) peserta didik selama proses pembelajaran mengunakan produk pengembangan. pada kegiatan akhir peneliti mengambil data post-tes dengan membagikan soal dengan kisi-kisi sama dengan soal pre-test untuk mengukur efektifitas kemampuan mahasiswa setelah menggunakan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd. adapun hasil data selama proses pembelajaran selama uji pelaksanaan lapangan adalah sebagai berikut. data hasil pre-test dan post-test data pre-tes diambil pada seluruh mahasiswa di kelas a, d, dan e pgsd universitas kuningan pada tingkat 1 untuk menggukur kemampuan awal peserta didik sebelum menggunakan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd dengan disaksikan dosen pengampu dan peneliti. sedangkan data posttest diambil setelah proses pembelajaran selesai dengan menggunakan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd yang digunakan untuk mengukur peningkatan yang dicapai peserta didik setelah menggunakan produk pengembangan yang nantinya akan dihitung dengan konversi nilai antara data pretes dan post-tes untuk melihat efektifitas peningkatan kemampuan yang terjadi. berdasarkan data pretes dan posttest diatas dapat diketahui kemampuan awal peserta didik didapatkan nilai rata-rata 31,59 sedangkan kemampuan setelah menggunakan produk pengembangan didapatkan nilai dengan rata-rata 78,27. berdasarkan rata-rata posttes dan pretest terdapat peningkatan nilai rata-rata 46,68 setelah menggunakan produk pengembangan. sedangkan hasil yang diperoleh pada pretes dan posttest dengan perhitungan gain score pada aspek kreteria di ketahui sebanyak 74 mahasiswa dalam kategori “tinggi” dan terdapat 25 mahasiswa pada kategori “sedang” sedangkan mahasiswa dalam kategori “rendah” yaitu 0, dalam peningkatan hasil belajar mengunakan produk pengembangan. berikut ini disajikan diagram perolehan hasil klasifikasi gain score peserta didik uji pelaksanaan lapangan pada gambar 3 berikut. gambar 3. diagram perolehan gain score pada uji pelaksanaan lapangan berdasarkan perhitungan nilai gain score diperoleh rata-rata sebesar 0,71 dari 99 peserta didik. berdasarkan pengkategorian hasil e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 167 – 179 175 20 65 42,5 60 90 75 7,1 0 20 40 60 80 100 pre-test post-test indeks gain analisis gain score pada tabel perhitungan hake maka nilai 0,71 di kategorikan tinggi. dengan hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa produk yang dikembangkan sangat efektif dalam proses pembelajaran. gambar 4. diagram pretes dan posttest hasil observasi sikap dan keterampilan peserta didik selain hasil pretes dan post test, data yang diperoleh untuk melihat aspek keefektifan pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd pada aspek sikap (atittude) dan keterampilan (knowledge) adalah melalui observasi langsung selama proses pembelajaran menggunakan produk yang dikembangkan. berikut ini adalah hasil observasi selama uji coba pelaksanaan lapangan di kelas a, d, dan e secara umum didapatkan hasil yang baik, salah satunya ditunjukan dengan rasa hormat dan keaktifan yang diperlihatkan mahasiswa pada saat mendengarkan dan memperhatikan dosen pada saat memberikan arahan tentang penggunaan bahan ajar yang telah di pegang setiap mahasiswa dan menjelaskan setiap materi pembelajaran. hasil angket respon mahasiswa pada uji coba lapangan pengambilan data respon peserta didik dalam uji coba pelaksanaan lapangan ini bertujuan untuk menggetahui respon dari mahasiswa terhadap kelayakan produk yang dikembangkan terhadap kebutuhan mahasiswa itu sendiri, apakah produk yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa atau tidak. hasil angket respon mahasiswa uji pelaksanaan lapangan ini diambil pada seluruh mahasiswa di 3 kelas tingkat 1 jurusan pgsd universitas kuningan yaitu kelas a, d, dan e dengan subyek kelas a 35 mahasiswa, kelas d 35 mahasiswa dan kelas e yaitu 29 mahasiswa. berdasarkan hasil uji coba lapangan dari tiga kelas, didapatkan hasil rata-rata respon mahasiswa sebagai berikut, mahasiswa yang memberikan respon sangat baik sebesar 27,2%, respon peserta didik pada kategori baik dengan presentase rata-rata 54,91%, untuk respon peserta didik yang diberikan pada kategori cukup baik dengan presentase 16,27%, sedangkan untuk respon peserta didik dengan kategori kurang sebesar 0,66% dan kurang sekali sebesar 0,99%. revisi produk pengembangan dilakukan berdasarkan masukan dan saran dari para ahli dan mahasiswa. revisi produk pengembangan dilakukan berdasarkan kebutuhan mahasiswwa terhadap temuan yang didapatkan selama uji coba lapangan baik uji terbatas maupun pelaksanaan lapangan pada mahasiswa jurusan pgsd universitas kuningan tingkat 1 kelas a, b, d, dan e. revisi produk pertama revisi tahap pertama ini didapatkan dari hasil uji coba awal pada saat validasi produk ahli materi ipa dan validator evaluasi ipa. hasil validasi ini berupa penilaian, masukan perbaikan, saran dan kritik produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd. revisi produk awal yang di lakukan menjadi dasar untuk menggembangkan poduk yang layak p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 176 pengembangan bahan ajar.......(heru purnomo dan arrofa accesta) untuk di uji cobakan di lapangan. adapun masukan validator ahli materi ipa dan ahli evaluasi ipa guna perbaikan-perbaikan pada produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd adalah sebagai berikut. a) perbaikkan tata tulis pada bahan ajar yang dikembangkan. b) disetiap awal bab materi disertakan pendahuluan. c) perbaikan tata tulis pada setiap soal yang ada di masing-materi. d) mempertimbangkan penilaian diri atau teman sejawat pada setiap soal dalam materi masing-masing. e) dukung gambar yang menarik dan relevan masih perlu ditambah pada setiap sub bagian penilaian/ materi revisi produk kedua revisi produk tahap kedua dilakukan pada saat uji coba lapangan secara terbatas yang di uji cobakan pada seluruh mahasiswa kelas b tingkat 1 jurusan pgsd universitas kuningan yang berjumlah 29 mahasiswa. masih ada beberapa penulisan tempat belum sesuai tata bahasa, masih ditulis dengan huruf kecil, mohon dikoreksi. a) mohon dipertimbangkan untuk membuat sub-bab agar lebih mempermudah mahasiswa dalam mengetahui batasanbatasan bab. b) ditambahkan materi yang lebih luas. c) terlalu banyak menggunakan bahasa asing. revisi produk ketiga. revisi produk tahap ketiga ini dilakukan berdasarkan masukan, saran dan komentar produk pengembangan pada saat uji pelaksanaan lapangan secara lebih luas, yang di uji cobakan pada subjek seluruh mahasiswa di 3 kelas tingkat 1 jurusan pgsd universitas kuningan yaitu kelas a, d, dan e dengan subyek kelas a 35 mahasiswa, kelas d 35 mahasiswa dan kelas e yaitu 29 mahasiswa untuk menghasilkan produk final pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd. berikut adalah beberapa masukan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd. a) buku pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd sangat membantu dan mempermudah mahasiswa dalam proses pembelajaran karena penyajian materi, instrumen penilaian dan penilaiannyapun sudah disajikan dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. b) penilaian sudah dikembangkan sesuai dengan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan sesuai dengan harapan, namun perlu adanya pengemasan yang baik seperti cover dan gambar agar bahan ajar ini lebih menarik minat pembaca. c) tolong penulisan tata tulis di perbaiki d) materi dalam setiap bab sudah mewakili kebutuhan mahasiswa, namun .apabila di perluas dengan bahasa yang menarik akan menjadi produk yang lebih baik. kajian produk akhir penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menggembangkan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd yang layak dan efektif sesuai kebutuhan mahasiswa sesuai dengan silabus yang digunakan. terdapat beberapa tahap utama yang dilakukan peneliti dalam pengembangan materi dan instrument bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd untuk mendapatkan produk final, yang pertama e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 167 – 179 177 adalah uji coba awal dengan validasi ahli materi ipa dan ahli evaluasi ipa untuk mendapatkan produk awal yang layak untuk di ujicobakan dilapangan, yang kedua adalah mengumpulkan temuan pada uji lapangan secara terbatas pada mahasiswa di kelas b tingkat 1 jurusan pgsd universitas kuningan dengan subjek 29 peserta didik, dan yang ketiga adalah temuan pada saat uji pelaksanaan lapangan seluruh mahasiswa di 3 kelas tingkat 1 jurusan pgsd universitas kuningan yaitu kelas a, d, dan e dengan subjek kelas a 35 mahasiswa, kelas d 35 mahasiswa dan kelas e yaitu 29 mahasiswa, dari beberapa tahapan utama produk pengembangan tersebut maka dihasilkan produk final. bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd berdasarkan hasil penilaian yang diperoleh dari ahli materi ipa bahwa materi ipa pada bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd yang dikembangkan dalam kategori baik dengan perolehan nilai rata-rata 3,9 dalam skala 5. sedangkan hasil penilaian yang diperoleh dari ahli evaluasi ipa juga menunjukan hasil dalam kategori baik, ini bisa dilihat dari perolehan nilai rata-rata 4,08 dalam skala 5. berdasarkan hasil penilaian yang didapatkan pada saat uji coba terbatas yang dilaksanakan di kelas b mahasiswa jurusan pgsd universitas kuningan diketahui respon mahasiswa terhadap kelayakan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd diperoleh hasil dengan rata-rata yang memberikan respon sangat baik sebesar 26,2%, respon peserta didik pada kategori baik dengan presentase paling besar dengan 53,2%, respon peserta didik yang diberikan pada kategori cukup baik dengan presentase 17,5%, sedangkan untuk respon kurang dengan presentasi 0,4% dan kurang sekali yaitu 2,8%. berdasarkan hasil yang diperoleh dari respon peserta didik diatas didapatkan hasil respon yang positif terhadap kelayakan pengembangan bahan ajar, dimana kreteria penilaian yang positif pada respon kelayakan mahasiswa adalah minimal 53,2% peserta didik pada respon baik. sedangkan hasil penilaian yang didapatkan pada saat uji coba lapangan yang dilaksanakan di kelas a, d, dan e mahasiswa jurusan pgsd universitas kuningan. berikut hasil uji coba lapangan yang didapatkan dari mahasiswa kelas a diketahui respon mahasiswa terhadap kelayakan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd diperoleh hasil dengan rata-rata yang memberikan respon sangat baik sebesar 24,5%, respon peserta didik pada kategori baik dengan presentase rata-rata 61,7%, untuk respon peserta didik yang diberikan pada kategori cukup baik dengan presentase 12,1%, sedangkan untuk respon peserta didik dengan kategori kurang sebesar 0,8% dan kurang sekali sebesar 0%. berdasarkan hasil yang diperoleh dari respon peserta didik diatas pada keterbacaan produk pengembangan didapatkan hasil respon mahasiswa yang positif karena kreteria respon yang positif pada respon mahasiswa 61,7 pada respon baik. sedangkan hasil uji coba lapangan yang didapatkan dari mahasiswa kelas d diketahui respon mahasiswa terhadap kelayakan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd diperoleh hasil dengan rata-rata yang memberikan respon sangat baik sebesar 30%, respon peserta didik pada kategori baik dengan presentase rata-rata 49,8%, untuk respon peserta didik yang diberikan pada p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 178 pengembangan bahan ajar.......(heru purnomo dan arrofa accesta) kategori cukup baik dengan presentase 20,3%, sedangkan untuk respon peserta didik dengan kategori kurang sebesar 7,1% dan kurang sekali sebesar 2,9%. berdasarkan hasil yang diperoleh dari respon peserta didik diatas pada keterbacaan produk pengembangan didapatkan hasil respon mahasiswa yang positif karena kreteria respon yang positif pada respon mahasiswa 49,8% pada respon baik. kemudian hasil uji coba lapangan di kelas terakhir yaitu kelas e diketahui respon mahasiswa terhadap kelayakan produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd diperoleh hasil dengan rata-rata yang memberikan respon sangat baik sebesar 26,2%, respon peserta didik pada kategori baik dengan presentase rata-rata 53,2%, untuk respon peserta didik yang diberikan pada kategori cukup baik dengan presentase 17,5%, sedangkan untuk respon peserta didik dengan kategori kurang sebesar 0,4% dan kurang sekali sebesar 2,8%. berdasarkan hasil yang diperoleh dari respon peserta didik diatas pada keterbacaan produk pengembangan didapatkan hasil respon mahasiswa yang positif karena kreteria respon yang positif pada respon mahasiswa 53,2% pada respon baik. dari perolehan nilai tersebut tersebut maka kelayakan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd yang di kembangkan sudah memenuhi syarat kelayakan untuk di impelementasikan pada proses pembelajaran di lapangan. simpulan dan saran berdasarkan hasil penelitian dan analisis data maka diperoleh kesimpulan dalam penelitian pengembangan ini sebagai berikut. 1. hasil pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd terbukti layak berdasarkan data hasil penelitian. berdasarkan uji coba lapangan dari tiga kelas, didapatkan hasil rata-rata mahasiswa yang memberikan respon sangat baik sebesar 27,2%, respon peserta didik pada kategori baik dengan presentase rata-rata 54,91%, untuk respon peserta didik yang diberikan pada kategori cukup baik dengan presentase 16,27%, sedangkan untuk respon peserta didik dengan kategori kurang sebesar 0,66% dan kurang sekali sebesar 0,99%. 2. dapat diketahui bahwa bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd yang dikembangkan terbukti efektif, dimana hasil pada perhitungan gain score pada aspek kreteria di ketahui sebanyak 74 mahasiswa dalam kategori “tinggi” dan terdapat 25 mahasiswa pada kategori “sedang” sedangkan mahasiswa dalam kategori “rendah” yaitu 0. sedangkan berdasarkan pada perhitungan nilai gain score diperoleh rata-rata sebesar 0,71 dari 99 peserta didik. berdasarkan pengkategorian hasil analisis gain score pada tabel perhitungan hake maka nilai 0,71 di kategorikan tinggi. dengan hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa produk yang dikembangkan sangat efektif dalam proses pembelajaran. pemanfaatan produk 1. produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd dapat digunakan oleh dosen dan mahasiswa untuk referensi tambahan dalam proses kegiatan pembelajaran khususnya dalam mata kuliah pendidikan ipa sd. e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 167 – 179 179 2. produk pengembangan bahan ajar dan penilaian otentik mata kuliah pendidikan ipa sd dapat digunakan sebagai referensi untuk pengembangan bahan ajar mata kuliah pendidikan ipa sd lebih lanjut. daftar pustaka borg. l,e, & gall, m.d (1983) edcational reseach. (4thed). new york: logman. dick, w., carey, l.& carey, j.o. (2009) .the systematic design of instruction (7th ed). boston: allyn and bacon. hake, r.r. (1998). interactive engagement vs traditional methods: a six-thousandstudent survey of mechanics test data for introductory physics. departement of physics. american journal of physics,(1998) hlm. 1-26. kunandar. (2013). penilaian autentik penilaian hasil belajar peserta didik berdasarkan kurikulum 2013. jakatra: raja grafindo persada. mendikbud. (2013). standar penilaian pendidikan. jakarta: mentri pendidikan dan kebudayaan republik indonesia. manokore, v. & williams, m. (2012). middle school students’ reasoning about biological inheritance: students’ resemblance theory. international journal of biology education, 2(1), pp. 1-31. martin, r., sexton, c.,ffranklin., & gerlovich, j. (2005). teaching science for all childern, inquiry metods for constructing understanding, new jersey: pearson education. morrison, g.s. (2012). dasar-dasar pendidikan anak usia dini (paud) (edisi terjemahan suci romadhona & april widiastuti). new jersey: pearson merill prentice hall. (buku asli diterbitkan tahun 2008). nitko, a.j & brookhart. (2007). educational assesment of student. new york: pearson education inc. widoyoko, eko putro. (2009). evaluasi program pembelajaran. yogyakarta: pustaka pelajar. memahami pentingnya......(dwiba elisa, dkk) 21 jppd, 6, (1), hlm. 21 28 vol. 6, no. 1, juli 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i1.7268 memahami pentingnya menjaga asupan makanan sehat dengan model pembelajaraan cooperative tipe number head together (nht) dwiba elisa1), siti alimah2), sri sulistiyorini3) pendidikan dasar, universitas negeri semarang 1dwibaelisa12@gmail.com; 2siti_alimah@mail.unnes.ac.id; 3boendha_rini@yahoo.co.id pendahuluan pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan untuk membentuk sumber daya manusia sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya. selain itu, untuk menghadapi persaingan global diperlukan pendidikan untuk menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga membentuk manusia yang berakal dan berhati nurani. keberhasilan pembangunan disegala bidang dipengaruh oleh salah satu faktor yaitu sumber daya manusia. guna pembentukan sumber daya manusia yang diinginkan hingga saat ini pendidikan masih diyakini untuk menangani hal tersebut. untuk itu perlu adanya peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan secara berkesinambungan guna menjawab perubahan zaman. peningkatan mutu pendidikan tidak lepas dari masalah proses pembelajaran. proses penyelenggaraan pembelajaran yang dikelola oleh guru yang cenderung tidak dilakukan secara maksimal sehingga siswa menjadi pasif dan kurang tertarik pada mata pelajaran yang diikuti, yang menyebabkan hasil belajar menjadi rendah. abstract: the purpose of this study was to improve the activity and cognitive learning outcomes of students using the numbert together learning model (nht) cooperative. the research methodology used is quantitative pre-experimental research with research design using a one-time case study. the data obtained in this study were data from pretest and posttest. the data analyzed to see the score of the test results. then the test results are calculated on average and calculate the ngain between the pretest and posttest. the learning process using cooperative learning model number head together (nht) seen from the results of pretest 67.142 and posttest results 77.142 shows a 10% increase in student learning outcomes in the medium category with n-gain value 0.304. while based on the results of the learning done, the cooperative learning model number head together (nht) increases student learning activities by 30% from 55% to 85%. keywords: cooperative, nht, learning, activity, outcome. http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.7268 mailto:2siti_alimah@mail.unnes.ac.id memahami pentingnya......(dwiba elisa, dkk) 22 jppd, 6, (1), hlm. 21 28 proses pembelajaran pada kurikulum 2013 menurut permendikbud no 65 tahun 2013 tentang standar proses kurikulm 2013 memperkuat pembelajarannya dengan pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran). proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tematik terpadu adalah mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam suatu tema. seperti pada tema 3 makanan sehat dengan subtema pentingnya menjaga asupan makanan sehat pada kelas 5 semester 1, pada subtema tersebut terdapat 2 mata pelajaran yaitu bahasa indonesia dan ipa. seyogyanya jika suatu sekolah sudah menerapkan kurikulum 2013 dalam proses pembelajarannya, aktivitas dan hasil belajar siswanya baik karena dibantu oleh konsep pendekatan yang terdapat pada buku siswa. namun, pada kenyataan di lapangan guru masih menggunakan cara-cara lama dalam menyampaikan materinya dan distribusi buku untuk guru dan siswa pun belum merata, guru dan siswa masih menggunakan lks yang dijual oleh pihak ketiga atau pengembang sehingga esensi dari pembelajaran tematik terpadu tersebut tidak berjalan sesuia dengan harapan. hal tersebut sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan pada hari kamis, 11 oktober 2018 di sd islam ta’allumul huda bumiayu, diperoleh data bahwa upaya guru dalam menciptakan pembelajaran yang menarik dan inovatif masih rendah yang mengakibatkan hasil belajar kurang optimal. sesungguhnya proses pembelajaran akan bermakna dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan karena tidak lepas dari adanya dukungan fasilitas dan kemampuan guru dalam mengorganisasikan pembelajaran. pemilihan model pembelajaran menjadi salah satu faktor yang harus diperhatikan. untuk mengatasi hal tersebut peneliti terdorong untuk melakukan suatu penelitian dengan menggunakan model pembelajaran cooperative dalam pembelajaran tematik terpadu. model cooperative adalah model pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok dan diarahkan untuk mempelajari materi yang telah ditentukan (astrawan, 2013). model pembelajaran yang termasuk pada model cooperative yang akan digunakan yaitu number head together (nht). menurut huda (mulyana, dkk. 2016) model pembelajraan kooperatif tipe number head together (nht) dalam tipe ini siswa diberi penomoran, belajar secara berkelompok, bekerjasama untuk menyatukan ide-ide yang dimiliki siswa dan berani mengemukakan pendapatnya di depan kelas yang akan meningkatkan motivasi siswa dan aktif dalam proses pembelajaran. hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh mulyana, dkk (2016) dengan menggunakan model yang sama namun pada materi yang berbeda menyatakan bahwa model cooperative tipe number head together (nht) dapat meningkat aktivitas dan hasil belajar siswa. selain itu penelitian yang dilakukan oleh destiyandani, dkk (2016) yang menyatakan bahwan model number head together (nht) dapat meningkatkan hasil belajar dan penguasaan materi segitiga oleh siswa. berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran yaitu number head together (nht) yang mengutamakan adanya kerjamasa antar siswa, adanya pemberian nomor untuk mempermudah guru menunjuk siswa yang akan memahami pentingnya......(dwiba elisa, dkk) 23 jppd, 6, (1), hlm. 21 28 mengemukakan pendapatnya. model pembelajaran yaitu number head together (nht) dapat meningkatkan hasil belajar, motivasi dan aktivitas siswa dalam belajar. oleh karenanya peneliti ingin melakukan inovasi dalam proses pembelajaran kurikulum 2013 yang sudah menggunakan tematik terpadu (tematik antar mata pelajaran) yang kemudian didukung dengan model pembelajaraan cooperative tipe number head together (nht) yang bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kognitif siswa sehingga dalam penelitian ini peneliti akan mengangkat judul tentang “memahami pentingnya menjaga asupan makanan sehat dengan model pembelajaraan cooperative tipe number head together (nht)”. metode penelitian penelitian dilaksanakan di kelas 5b sd islam ta’allumul huda bumiayu yang merupakan sekolah milik yayasan wakaf perguruan ta’allumul huda yang beralamatkan di jl. hj. aminah dukuhturi, kec. bumiayu, kab. brebes propinsi jawa tengah yang telah berdiri sejak tahun 1912. penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimen. menurut dantes (sugiartini, 2015) penelitian pra eksperimental ditandai dengan tidak adanya kelompok pembanding dan randomisasi. desain penelitian merupakan bagaimana rancangan penelitian dilaksanakan. desain penelitian dalam penelitian ini menggunakan one shot case study. subjek penelitian ini adalah 21 siswa yang merupakan seluruh siswa kelas 5b sd islam ta’allumul huda bumiayu. variabel bebas pada penelitian ini yaitu model pembelajaran cooperative tipe number head together (nht). objek dalam penelitian ini yaitu aktivitas dan hasil belajar siswa, sebagai akibat dari penggunaan model pembelajaraan cooperative tipe number head together (nht). data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada subtema pentingnya menjaga asupan makanan sehat dan aktivitas belajar siswa selama proses pelajaran. untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan lembar observasi untuk aktivitas belajar siswa dan tes untuk mengukur hasil belajar siswa. metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu data utama yang dipakai untuk melihat peningkatan hasil belajar adalah data hasil pretest dan posttest. data tersebut dianalisis untuk melihat skor hasil tes. selanjutnya hasil tes tersebut dihitung rata-ratanya. serta menghitung ngain antara pretest dan posttest. untuk menghitung n-gain dapat digunakan rumus hake (yusuf, 2018). kriteria perolehan skor n-gain dapat dilihat pada tabel berikut: tabel 1. kategori perolehan skor n-gain batasan kategori g > 0,7 tinggi 0,3 < g ≤ 0,7 sedang g ≤ 0,3 rendah adapun hipotesis pada penelitian ini yaitu (1) terdapat pengaruh penggunaa model pembelajaran cooperative tipe number head together (nht) terhadap aktivitas memahami pentingnya......(dwiba elisa, dkk) 24 jppd, 6, (1), hlm. 21 28 belajar siswa kelas 5b sd islam ta’allumul huda bumiayu pada subtema pentingnya menjaga asupan makanan sehat. (2) terdapat pengaruh penggunaa model pembelajaran cooperative tipe number head together (nht) terhadap hasil belajar siswa kelas 5b sd islam ta’allumul huda bumiayu subtema pentingnya menjaga asupan makanan sehat. hasil dan pembahasan penelitian dilakukan pada satu hari pelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yaitu number head together (nht) berbasis tematik dengan materi pelajaran yang saling terkait melalui langkah-langkah penggunaan model pembelajaran number head together (nht). langkah penggunaan model pembelajaran number head together (nht) adalah sebagai berikut: (1) masing-masing siswa diberikan nomor. (2) siswa diminta untuk membuat kelompok. (3) siswa diberikan permasalahan yang harus dijawab secara bekerja sama dalam kelompoknya. (4) siswa ditunjuk secara acak secara bergiliran untuk menyampaikan hasil yang telah diperoleh. (5) adanya pemberian reward pada siswa yang berani dan tepat. berdasarkan hal tersebut, diperoleh hasil penelitian yang dilakukan pada bulan oktober 2018 yaitu data pretest dan posttest. berikut diagram rerata nilai pretest dan posttest: gambar 1. diagram batang skor rerata pretest dan posttest diagram di atas menunjukkan bahwa terdapat perubahan yang signifikan terhadap hasil belajar kognitif siswa setelah menggunakan penggunaan model pembelajaraan cooperative tipe number head together (nht). hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh jumiati, dkk (2011) bahwa penggunaan model pembelajaraan cooperative tipe number head together (nht) meningkatkan hasil belajar siswa. selain itu perhitungan n-gain juga diperlukan untuk meminimalisir bias yang terjadi. di bawah ini merupakan hasil n-gain sebagai berikut: memahami pentingnya......(dwiba elisa, dkk) 25 jppd, 6, (1), hlm. 21 28 tabel 2. rekapitulasi hasil n-gain berdasarkan hasil data yang diperoleh pada tabel di atas menyatakan bahwa ngain penggunaan model pembelajaran cooperative tipe number head together (nht) terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas 5b sd islam ta’allumul huda bumiayu subtema pentingnya menjaga asupan makanan sehat termasuk pada kategori sedang yaitu 0,304. berikut gambar diagram batang nilai n-gain tiap siswa: gambar 2. diagram batang line nilai n-gain tiap siswa pada penelitian ini juga diperoleh data aktivitas belajar siswa berdasarkan hasil lembar observasi yang diisi oleh observer ayu hana nafilah pada proses pembelajaran yang tidak menggunakan model pembelajaran cooperative tipe number head together (nht) dengan proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran cooperative tipe number head together (nht), hasil observasi adalah sebagai berikut: gambar 3. diagram lingkaran aktivitas belajar siswa n nilai skor ideal nilai min. nilai mak. rerata 2 1 100 0 1 0,304 memahami pentingnya......(dwiba elisa, dkk) 26 jppd, 6, (1), hlm. 21 28 berdasarkan perolehan data di atas dapat disimpulkan penggunaan model pembelajaran cooperative tipe number head together (nht) terhadap aktivitas belajar siswa kelas 5 sd islam ta’allumul huda bumiayu subtema pentingnya menjaga asupan makanan sehat terdapat perbedaan yaitu adanya peningkatan aktivitas belajar siswa sebesar 30%. hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh wahyuningsih dan murwani (2015) yang menyatakan bahwa model cooperative learning tipe nht meningkatkan hasil belajar kognitif dan aktivitas belajar siswa. simpulan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran cooperative tipe number head together (nht) dilihat dari hasil pretest dan posttes menunjukkan peningkatan sebesar 10% pada hasil belajar siswa kategori sedang dengan nilai n-gain sebesar 0,304. dilihat berdasarkan diagram lingkaran hasil observasi yang dilakukan model pembelajaran cooperative tipe number head together (nht) meningkatkan aktivitas belajar siswa sebesar 30%. penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menambahkan variabel yaitu mengukur karakter yang dapat dinilai dari penerapan model pembelajaran cooperative tipe number head together (nht) dan perasaan siswa selama mengikuti pembelajaran dan penelitian tersebut dapat menggunakan metode mixmethode. memahami pentingnya......(dwiba elisa, dkk) 27 jppd, 6, (1), hlm. 21 28 daftar pustaka astrawan, budi. g. i. (2013). penerapan model kooperatif tipe nht dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ipa di kelas v sdn 3 tonggolobibi. ejournal undiksha, vol. 3, no. 4. destiyandani era, tri nova hasti yunianta, helti lygia mampouw. (2016). penerapan model pembelajaran number heads together (nht) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas viia smp negeri 2 tuntang pada materi segitiga. journal satya widya, vol. 32, no.2. hlm.65 – 78. jumiati, martala sari, dian akmalia. (2011). peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model numbereds heads together (nht) pada materi gerak tumbuhan di kelas viii smp sei putih kampar. journal lectura vol. 02. no. 02. mulyana, mutia a, nurdinah h. asep k.j. (2016). penerapan model kooperatif tipe number heads together (nht) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi kenampakan alam dan sosial budaya. jurnal pena ilmiah. vol. 1 no. 1. peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan no 65 tahun 2013 tentang standar proses kurikulm 2013, h. 3-4. sugiartini, gusti ayu, nyoman dantes, i made candi. (2015). pengaruh penggunaan metode pembelajaran kontekstual berbantuan media gambar terhadap motivasi dan hasil belajar ipa pada siswa kelas vi slb negeri gianyar. ejournal program pascasarjana universitas pendidikan ganesha program studi penelitian dan evaluasi pendidikan. vol. 5, no. 1. yusuf, mochamad. (2018). efektivitas perangkat pembelajaran berbasis keterampilan proses untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa sd ditinjau dari kemampuan akademik. journal pendidikan pedagogia. issn 2089-3833 (print) | issn 2548-2254. wahyuningsih d, singgih murwani. (2015). peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran biologi melalui implementasi model numbered head together pada siswa kelas xi sma negeri 2 yogyakarta. jurnal pendiidkan matematika dan sains. vol. 3, no. 1. widodo, lusi widayanti. (2013). peningkatan aktivitas belajar dan hasil belajar siwa dengan metode problem based learning pada siswa kelas viia mts negeri donomulyo kulon progo. jurnal fisika indonesia. vol. xvii, no. 49, issn : 1410-2994. memahami pentingnya......(dwiba elisa, dkk) 28 jppd, 6, (1), hlm. 21 28 pengembangan petunjuk praktikum.....(yuanita & fitha y) 139 jppd, 5, (2), hlm. 139-146 vol. 5, no. 2, desember 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: abstrak: this study aims to develop science practices instruction based on science critical thinking skill and tomeasure the effectiveness of the product toward critical thinking skill of elementary students in gerunggang. the type of this research is research and development. the research instruments were documentation, expert sheet validation, observation sheet, feasibility sheet, and the test instrument of students’ critical thinking. the subjects of this study were elementary school students in gerunggang. the data subjects in this study were elementary school students and teachers in higher class. based on the results of the development using the steps from timpuslitjaknov, which include: (1) needs analysis, (2) initial product development, (3) expert validation and revision, (4) smaller-scale field trials, and (5) larger-scale field trials. depelopment study of science with the results of the feasibility test by 3 expert (media, material, and language) the results are very feasible, smaller-scale tests and largerscale results with decent results. the effectiveness results of critical thinking skills are: 1) indicators provide simple explanations with n-gain 0.40 medium category, 2) complete indicators with n-gain 0.37 medium category, 3) indicators provide explanations with n-gain 0.28 low category, so, it can easily be concluded that the result development of science practical instruction based on science critical thinking skill can enhance studnets’ critical thinking skill for elementary school students. keywords: science practical instructions, processing skills science (kps), critical thinking skills https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.6608 pengembangan petunjuk praktikum ipa berbasis keterampilan proses untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa sekolah dasar yuanita1), fitha yuniarita2) program studi pendidikan guru sekolah dasar, stkip muhammadiyah bangka belitung 1) yuanita@stkipmbb.ac.id; 2) fitha.stkip@gmail.com pendahuluan abad 21 menuntut sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu bersaing dalam persaingan global. sumber daya manusia yang berkualitas berasal dari proses pendidikan yang berkualitas, dimana dalam proses pendidikan tersebut siswa harus dibekali dengan keterampilan guna memecahkakan masalah dan mencari alternatif solusi. hal tersebut dapat dibentuk melalui pembelajaran di sekolah salah satunya melalui pelajaran ilmu pengetahuan alam (ipa). ipa berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam. ipa bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa faktafakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip semata tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. mata pelajaran ipa merupakan wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitarnya, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari (mulyasa, 2010: 110). https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.6608 mailto:yuanita@stkipmbb.ac.id mailto:fitha.stkip@gmail.com pengembangan petunjuk praktikum.....(yuanita & fitha y) 140 jppd, 5, (2), hlm. 139-146 keterlibatkan siswa secara aktif melakukan eksplorasi materi pelajaran, mengkonstruksi sendiri ide-ide yang didapat dari hasil pengamatan dan diskusi, diharapkan nantinyan siswa dapat menguasai materi dengan baik dan meningkatkan keterampilan berpikir salah satunya keterampilan berpikir kritis.pada kenyataannya, kemampuan berpikir kritis peserta didik belum dikembangkan terutama di sekolah dasar margunayasa (2015: 2). hal ini terlihat pada rancangan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran di sekolah dasar belum ditujukan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik. karakteristik pembelajaran di sekolah dasar masih konvensional dan dalam pelaksanannya masih didominasi oleh guru (teacher-centered) sehingga pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered) belum terintegrasi penuh dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah dasar kurangnya kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilihat dari kemampuan siswa selama ini yang kurang dalam menganalisis beberapa masalah yang sedang terjadi dan menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah.oleh karena itu perlunya memfasilitasi pembelajaran salah satunya dengan penggunaan petunjuk praktikum ipa.berdasarkan hasil telaah penuntun praktikum ipa yang dilakukan oleh penelitian sebelumnya oleh lena putri handayani (2012: 69) menyebutkan beberapa permasalahan mengenai pelaksanaan praktikum ipa.pertama, penuntun praktikum yang tersedia belum sesuai dengan kurikulum, dimana pada dasarnya kegiatan praktikum harus mampu mengembangkan kemampuan belajar ilmiah siswa, sementara penuntun praktikum yang ada masih menuntun siswa untuk melakukan praktikum dengan cara hanya mengikuti prosedur yang ada pada penuntun praktikum saja. kedua, pendekatan praktikum yang digunakan sekolah saat ini adalah pendekatan praktikum konvensional, yakni guru memberikan masalah, alat, bahan serta langkah kerja pada siswa. ketiga, penuntun praktikum yang biasa digunakan adalah berupa lembaran kerja siswa (lks) yang beredar di pasaran, yaitu gabungan dari lembaran kerja untuk materi ajar dan kegiatan praktikum. selama ini petunjuk kerja hanya berupa lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik dan masih bersifat kaku.petunjuk praktikum tersebut hanya akan membuat keterampilan berpikirnya kurang berkembang karena siswa akan mencari jawaban sendiri pada buku pelajaran, siswa tidak terbiasa untuk membuat, menganalisis, mencari sendiri serta merancang sendiri apa yang akan mereka kerjakan sehingga kemampuan berpikir kritis siswa kurang terlatih. mukhlis (2015:20) mengatakan dalam hasil penelitiannya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa karakreistik lks dengan penerapan model pembelajaran 5e yang memuat langkah-langkah saintifik (mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyimpulkan dan menyajikan) yaitu materi pengamatan memuat konteks permasalahan yang dekat dengan kehidupan di sekitar siswa, dan dirancang mengikuti tahapan model 5e, komponen petunjuk kerja. siswa meliputi judul pengamatan, masalah pengamatan, tujuan, prosedur pengamatan yang memuat alat dan bahan dan langkah kerja, bahan diskusi, dan kesimpulan. berdasarkan permasalahan di atas, peneliti tertarik untuk mengembangkan petunjuk praktikum ipa berbasis keterampilan proses sains untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis. dengan membuat petunjuk praktikum yang berbasis untuk pengembangan petunjuk praktikum.....(yuanita & fitha y) 141 jppd, 5, (2), hlm. 139-146 kps antaralain; menggunakan 5 kps yaitu: mengamati, menafsirkan pengamatan, meramalkan, menggunakan alat dan bahan dan berkomunikasi metode penelitian jenis penelitian ini adalah research and development menggunakan prosedur pengembangan dari timpuslitjaknov degan tahapan: (1) analisis kebutuhan, (2) pengembangan produk awal, (3) validasi ahli danrevisi, (4) uji coba lapangan skala kecil, (5) uji coba lapangan skala besar. penelitian dilaksanakan di sekolah dasar yang berada di kecamatan gerunggang. pada penelitian ini analisis data hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. data berupa saran dan kritik dari ahli/pakar dan siswa dianalisis dengan pendekatan kualitatif. data kelayakan dan kesesuaian petunjuk praktikum diolah dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. validasi ahli dilakukan dengan uji expert terkait dengan format, isi/materi dan bahasa. sedangkan uji coba produk diberikan kepada siswa sekolah dasar di kecamatan gerunggang. teknik pengumpulan data yang digunakan dokumentasi, lembar validasi ahli/pakar, lembar observasi, lembar uji kelayakan dan soal tes. keterampilan berpikir kritis menggunakan 3 indikator :1) memberikan penjelasan sederhana, 2) indikator menyimpulkan dan 3) indikator memberikan penjelasan lanjut. hasil penelitian dan pembahasan berdasarkan teknik pengumpulan data yang dilakukan maka hasil penelitian diurakan sesuai dengan tahapan pengembangan dan efektifitas hasil pengembangan produk. tahap pengembangan petunjuk praktikum ipa berbasis keterampilan proses dilakukan menggunakan lima tahapan pengembangan: pertama, analisis kebutuhan, yang dilakukan oleh peneliti dengan melakukan wawancara langsung dan fgd pada guru sekolah dasar yang mengajar ipa. pada pelaksanaannya peneliti melakukan fgd di sdn 35 dan sdn 3 pangkalpinang yang berada di kecamatan gerungang mengenai analisis kebutuhan di lapangan, tentang apa yang menjadi kendala keterampilan berpikir kritis siswa yang kurang serta mengecek petunjuk praktikum yang biasanya digunakan oleh guru. berdasarkan hasil kajian terhadap petunjuk praktikum yang digunakan oleh guru tersebut, rata-rata petunjuk praktikum yang digunakan hanya berisi soal yang harus di isi siswa dan terkesan masih kaku. hasil fgd tersebut kemudian diolah dan di analisis sehingga menghasilkan komponen-komponen yang akan dimuculkan dalam petunjuk praktikum ipa. pada pembuatannya komponen yang dikembangkan berupa; judul, ki, kd, tujuan praktikum, dasar teori, alat dan bahan, langkah-langkah praktikum, hasil dan pembahasan, kesimpulan dan pertanyaan. komponen tersebut kemudian dibuat dengan 5 jenis keterampilan proses yang disesuaikan dengan petunjuk praktikum ipa yaitu: mengamati, menafsirkan pengamatan, meramalkan, menggunakan alat dan bahan dan berkomunikasi dengan mengambil materi cahaya untuk siswa kelas 4 sekolah dasar. kedua, pengembangan produk awal, setelah mendapatkan informasi kemudian dilakukan pengembangan yang disesuaikan dengan ki dan kd materi ipa cahaya untuk pengembangan petunjuk praktikum.....(yuanita & fitha y) 142 jppd, 5, (2), hlm. 139-146 siswa kelas 4 sekolah dasar. pada tahap ini pemilihan keterampilan berpikir kritis yang di masukan kedalam petunjuk praktikum di sesuaikan dengan ketercapaian yang di inginkan, salah satunya dapat melatih keterampilan berpikir siswa tersebut. ketiga, validasi ahli dan revisi, setelah produk awal jadi peneliti melakukan validasi oleh tiga orang ahli baik dari segi bahasa dan kesesuaian materi dan setelah mendapat masukan kemudian melakukan revisi untuk kemudian dilakukan langkah selanjutnya. masukan terutama pada isi konten petunjuk praktikum dari ahli ipa ada keterampilan proses yang belum terlihat, secara bahasa oleh ahli bidang bahasa sudah baik untuk digunakan pada siswa sekolah dasar. hasil uji kelayakan oleh 3 pakar ahli (media, materi, dan bahasa) menunjukkan hasil sangat layak dengan persentase kelayakan 81,6 persen. keempat, uji coba lapangan skala kecil, dilakukan oleh peneliti pada jumlah yang kecil untuk mendapatkan masukan sebelum diterapakan kelangkah berikutnya, setelah di ujikan untuk pemahaman kalimat sudah cukup paham. apanila ada beberapa soal yang masih sulit dipahami dan kesulitan saat pengerjaan maka akan direvisi. uji skala kecil pada 6 orang siswa dengan nilai layak dengan persentase kelayakan 78,53 persen. kelima, uji coba lapangan skala besar, tahap ini dilakukan setelah revisi dari masukan pada tahap skala kecil. setelah uji coba lapangan skala besar dan sudah memenuhi standar kelayakan dengan persentase kelayakan 77,4 persen, maka bisa dilakukan uji keterampilan berpikir kritis siswa untuk melihat efektifivitas dari petunjuk praktikum yang dikembangkan. sedangkan efektifitas hasil petunjuk praktikum ipa berbasis keterampilan proses sains terhadap keterampilan berpikir kritis diuji dengan perbandingan pretes dan postes pada gambar 1. gambar 1. perbandingan nilai rata-rata pretes dan postes berpikir kritis 1,22 0,06 0,22 3,86 1,17 1,34 0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 4,50 memberikan penjelasan sederhana menyimpulkan memberi penjelasan lanjut perbandingan rata-rata skor untuk tiap indikator keterampilan berpikir kritis pretest postest pengembangan petunjuk praktikum.....(yuanita & fitha y) 143 jppd, 5, (2), hlm. 139-146 berdasarkan gambar 1 setelah dilakukan perhitungan secara statistik menggunakan rumus n-gain penggunaan petunjuk praktikum berbasis keterampilan proses sains terhadap keterampilan berpikir kritis siswa menjadi meningkat, dimana dari 3 indikator berpikiran kritis; 1) indikator memberikan penjelasan sederhana dengan n-gain 0,40 kategori sedang, 2) indikator menyimpulkan dengan n-gain 0,37 kategori sedang, 3) indikator memberikan penjelasan lanjut dengan n-gain 0,28 kategori rendah, sehingga dapat di simpulkan bahwa hasil pengembangan petunjuk praktikum ipa berbasis keterampilan proses sains dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa sekolah dasar, walaupun pada indikator memberikan penjelasan lanjut peningkatan masih sedikit, hal ini disebabkan bahwa mereka belum terlatih dalam menambahkan jawaban dalam sebuah kalimat yang komplek dengan informasi, memberikan penjelasan tambahan menggunakan kemampuan tingkat tinggi diluar materi yang dijelaskan, dimana untuk kelas 4 sd masih perlu dilatih kemampuan menganalisis permasalahan dengan membaca pertanyaan berulang-ulang serta mencari dan mengumpulkan informasi siswa sehingga dapat mengerjakan soal apa yang dipertanyakan. keterampilan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran ipa merupakan kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah, melakukan analisis, mengevalusi dan kemudian mengambil keputusan sampai mengambil sebuah keputusan dari hasil penyelidikan yang dilakukan. pada pelaksanaanya menggunakan petunjuk praktikum ipa berbasis keterampilan proses sains akan melatih siswa tersebut dalam mengamati terutama mengunakan semua indera dan melanjutkan dengan menafsirkan pengamatan untuk menjawab dari pertanyaan dalam bentuk meramalkan, menggunakan alat dan bahan dan berkomunikasi. tahapan-tahapan tersebut di harapkan dapat merubah pola pikir siswa sehingga keterampilan berpikir kritis siswa akan terbangun, hal ini sangat penting diketahui oleh guru sebagai pelaksana di lapangan bahwa belajar ipa bukan hanya mengetahui hasil akhir saja akat tetapi harus bisa melatih kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sampai kepada tahap analisis dan mengambil keputusan. zamroni dan mahfudz (2009:23-29) mengemukakan ada enam argumen yang menjadi alasan pentingnya keterampilan berpikir kritis dikuasai siswa. pertama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat akan menyebabkan informasi yang diterima siswa semakin banyak ragamnya, baik sumber maupun esensi informasinya. oleh karena itu siswa dituntut memiliki kemampuan memilih dan memilah informasi yang baik dan benar sehingga dapat memperkaya khazanah pemikirannya. kedua, siswa merupakan salah satu kekuatan yang berdaya tekan tinggi (people power), oleh karena itu agar kekuatan itu dapat terarahkan ke arah yang semestinya (selain komitmen yang tinggi terhadap moral), maka mereka perlu dibekali dengan kemampuan berpikir yang memadai (deduktif, induktif, reflektif, kritis dan kreatif) agar kelak mampu berkiprah dalam mengembangkan bidang ilmu yang ditekuninya. ketiga, siswa adalah warga masyarakat yang kini maupun kelak akan menjalani kehidupan semakin kompleks. hal ini menuntut mereka memiliki keterampilan berpikir kritis dan kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya secara kritis. keempat, berpikir kritis adalah kunci menuju berkembangnya kreativitas, dimana kreativitas muncul karena melihat fenomena-fenomena atau permasalahan yang pengembangan petunjuk praktikum.....(yuanita & fitha y) 144 jppd, 5, (2), hlm. 139-146 kemudian akan menuntut kita untuk berpikir kreatif. kelima, banyak lapangan pekerjaan baik langsung maupun tidak, membutuhkan keterampilan berpikir kritis, misalnya sebagai pengacara atau sebagai guru maka berpikir kritis adalah kunci keberhasilannya. keenam, setiap saat manusia selalu dihadapkan pada pengambilan keputusan, mau ataupun tidak, sengaja atau tidak, dicari ataupun tidak akan memerlukan keterampilan untuk berpikir kritis. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilaksanakan, maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut: 1. penelitian pengembangan petunjuk praktikum dengan menggunakan prosedur pengembangan dari timpuslitjaknov yaitu meliputi: (1) analisis kebutuhan, (2) pengembangan produk awal, (3) validasi ahli dan revisi, (4) uji coba lapangan skala kecil, (5) uji coba lapangan skala besar dengan hasil uji kelayakan oleh 3 pakar ahli (media, materi, dan bahasa) menunjukkan hasil sangat layak, uji skala kecil memperoleh hasil layak dan uji skala besar dengan hasil layak. 2. hasil efektifitas keterampilan berpikir kritis pada tiga indikator berpikiran kritis memberikan penjelasan sederhana dengan n-gain 0,40 kategori sedang, indikator menyimpulkan dengan n-gain 0,37 kategori sedang, indikator memberikan penjelasan lanjut dengan n-gain 0,28 kategori rendah, sehingga dapat di simpulkan pengembangan petunjuk praktikum ipa berbasis keterampilan proses sains dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa sekolah dasar. pengembangan petunjuk praktikum.....(yuanita & fitha y) 145 jppd, 5, (2), hlm. 139-146 daftar pustaka achmadi, hainur rasid.1996. telaah kurikulum fisika smu (model pembelajaran konsep dengan lks.) surabaya: university press. departemen pendidikan nasional. 2004. pedoman umum pengembangan bahan ajar sekolah menengah atas. departemen pendidikan nasional, direktorat pendidikan menengah umum. depdiknas. 2004. pengembangan instrumen ranah psikomotor. jakarta. dick&carey. 2009. the systematic design of instruction, 7th editions, pearson education ltd., london handayani, putri.dkk. 2012. pengembangan buku penuntun praktikum ipa berbasis inkuiri terbimbing untuk smp kelas vii semester ii (online) https://www.google.co.id/?gws_rd=cr,ssl&ei=svimwdo4nojv0at7m47adw #q=jurnal+pendidikan+tentang+petunjuk+praktikum+ipa. dikases 25/5/2017 hassoubah, z. i. 2007. mengasah pikiran kreatif dan kritis: disertai ilustrasi dan latihan. terjemahan bambang suryadi. developing creative & critical thinking skills: a handbook for students. 2002. bandung: nuansa. juhji.2016. peningkatan keterampilan proses saisn siswa melalui pendekatan inkuiri terbimbing. jppi, vol. 2 no.1, juni 2016, hlm 58-70 e-issn 2477-2038 kilinc, a. 2007. the opinions of turkish highschool pupils on inquiry based laboratory activities. gazi university gazi education faculty department of biology education, (online), (http://www.tojet.net/articles/646.pdf). diakses 8 desember 2013 margunayasa, i gede. 2014. pengaruh petunjuk praktikum ipa bermuatan perubahan konseptual terhadap peningkatan pemahaman konsep ipa pada mahasiswa pgsd. universitas pendidikan ganesha. jurnal pendidikan indonesia issn: 2303-288x vol 3, no. 1, april 2014 margunayasa dan ayu indri. 2015. “analisis kemampuan berpikir kritis siswa kelas v dalam pembelajaran ipa di 3 sd gugus x kecamatan buleleng”. e-jurnal pendidikan ganesha vol 3, no. 1 tahun 2015 mukhlis, muh.nasir.,dkk. 2015. “pengembangan perangkat pembelajaran model 5e untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa”. e-journal penelitian pendidikan ipa e-issn: 2407-795x vol i, no, 2 july 2015. mulyasa, e. 2010. kurikulum tingkat satuan pendidikan. bandung: pt remaja rosdakarya. rustaman, n.y. 2007. “program pembelajaran praktikum berbasis kemampuan generik (p3bkg) dan profil pencapaiannya (online)”, pengembangan petunjuk praktikum.....(yuanita & fitha y) 146 jppd, 5, (2), hlm. 139-146 (http://file.upi.edu/direktori/sps/prodi.pendidikan_ipa/19620115198703 1-pdf,. diakses 8 oktober 2013). subagyo, y. wiyanto dan marwoto. 2008. “pembelajaran dengan pendekatan keterampilan proses sains untuk meningkatkan penguasaan konsep suhu dan pemuaian”. jurnal pendidikan fisika indonesia. sugiyono. 2011. metode penelitian pendidikan (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d). jakarta: alfabeta sutrisno, leo, dkk. 2007. pembelajaran ipa sd. konsorsium pjj departemen pendidikan nasional: jakarta. timpuslitjaknov. 2008. metodologi penelitian pengembangan : departemen pendidikan nasional trianto. 2010. mendesain model pembelajaran inovatif-progresif. jakarta. prenada media group. wahyuni, sri. 2015. “pengembangan petunjuk praktikum ipa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa smp”. jurnal pengajaran mipa, volume 20, nomor 2, oktober 2015 zamroni & mahfudz. 2009. panduan teknis pembelajaran yang mengembang-kan critical thinking. jakarta. depdiknas dinamika merger sekolah..........(wahdan nh., dkk) 177 jppd, 5, (2), hlm. 177 184 vol. 5, no. 2, desember 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.7302 dinamika merger sekolah: antara pengembangan dan problem sekolah wahdan najib habiby1), aninda tetrasari z.h2), rofiqoh maldinni3), ita noer prawiti4), fitri nur wulandari5), qorin umdatul millah6) pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta 1) wnh122@ums.ac.id; 2)a510150236@student.ums.ac.id; 3)a510150237@student.ums.ac.id; 4)a510150238@student.ums.ac.id; 5)a510150239@student.ums.ac.id; 6)a510150241@student.ums.ac.id pendahuluan pembaharuan dalam bidang pendidikan dititikberatkan pada peningkatan mutu pendidikan. peningkatan mutu menjadi sebuah tuntutan kebutuhan di masyarakat dengan mengikuti kebutuhan dan mobilitas masyarakat yang tinggi. survei dari organization for economic cooperation and development (oecd) menunjukkan bahwa mutu pendidikan di indonesia masih sangat rendah, yaitu menempati peringkat 8 terbawah atau berada pada urutan 57 dari 65 negara. untuk meningkatkan kualitas pendidikan di indonesia pemerintah telah mengupayakan berbagai alternatif kebijakan salah satunya adalah dengan adanya kebijakan penggabungan sekolah (regrouping school). sutedi (2007) menjelaskan bahwa merger sebagai suatu bentuk penggabungan dua badan usaha, badan usaha yang satu tetap ada dan yang satu dihapuskan secara hukum dan nama yang digunakan adalah nama badan usaha yang ada. abstrak: the purpose of this study is expected to provide an understanding of the effects of school mergers carried out by sd sondakan no. 11 surakarta. in addition, the results of this study can be useful for educational institutions, especially for schools that experience impacts. the merger policy of schools in surakarta sondakan state elementary school no.11 has a positive impact on learning activities in schools, the realization of a comfortable and conducive learning environment. the implementation of activities to develop students' talents through extracurricular activities. the existence of literacy activities before implementing learning. able to follow and win champions from various competitions both academic and non-academic. for example ccai competition, phbs, persami, etc. negative influence after the school merger for students, social influence, especially in the economic strata. because guardians of students from these 3 elementary schools have different economies. so that there are still some students who feel isolated and lacking in confidence. keywords: school development, school merger, positive and negative effect https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.7302 mailto:a510150236@student.ums.ac.id dinamika merger sekolah..........(wahdan nh., dkk) 178 jppd, 5, (2), hlm. 177 184 tujuan dari kebijakan penggabungan sekolah tertuang dalam surat edaran menteri dalam negeri nomor 421.2/2501/bangda/1998 tentang pedoman pelaksanaan penggabungan sekolah yaitu agar tercapainya efisiensi dan efektifitas sekolah dalam penggunaan anggaran belanja negara untuk pembiayaan pendidikan. jumlah sekolah yang melebihi kapasitas yang ada di indonesia, terutama sekolah yang tidak produktif akan menyita anggaran untuk operasional. sehingga dengan adanya kebijakan penggabungan sekolah, anggaran bagi sekolah yang tidak produktif akan di alihkan untuk usaha peningkatan mutu pendidikan. saat ini sekolah tingkat dasar yang berdiri di indonesia telah mencapai 148.244. khususnya di wilayah surakarta kecamatan laweyan kurang lebih terdapat 30 sekolah. salah satunya adalah sd negeri sondakan no. 11 surakarta. sekolah ini bertempat di desa sondakan kecamatan laweyan surakarta. sd negeri sondakan ini merupakan salah satu sd yang mendapatkan keputusan dari dinas 3 tahun yang lalu untuk menjadi sekolah regrouping (merger) dari tiga sekolah yaitu sd negeri premulung, sondakan, dan tegalmulya. hal ini dikarenakan sekolah tersebut berada dilokasi yang saling berdekatan bahkan berhimpitan seperti satu lingkup sekolah. selain itu, ketiga sekolah tersebut belum memiliki fasilitas halaman untuk melakukan upacara bendera dan tempat bermain bagi peserta didik. oleh karena itu, ketiga sekolah itu di regrouping menjadi satu sekolah yaitu sd negeri sondakan no. 11 surakarta dengan bangunan dan fasilitas yang baru dan lebih lengkap. dari proses regrouping hingga saat ini, pasti terdapat pengaruh dan perubahan dari segala aspek, baik guru, siswa maupun yang lainnya. penelitian mengenai regrouping sekolah dasar ini telah dilaksanakan oleh beberapa peneliti yang memiliki hasil penelitian yang mirip dengan penelitian ini. penelitian tersebut diantaranya (1) sudiyono, dkk dengan judul dampak regrouping sekolah dasar: kasus sd pakem 1 di kecamatan pakem kabupaten sleman memperoleh hasil sebagai berikut : 1) kebijakan regrouping belum didukung oleh kebijakan teknis operasional terkait dengan pengelolaan sarana dan prasarana dan pengelolaan kelas paralel. 2) kebijakan regrouping di sd pakem 1 memberikan dampak positif bagi efisiensi pendanaan sekolah, tetapi tidak efiasien dalam hal pengelolaan aset. 3) kebijakan regrouping di sd pakem 1 mengakibatkan terjadinya penurunan ranking prestasi hasil belajar. sarwa wibawa (2009) juga melakukan penelitian mengenai dampak penggabungan sekolah dasar terhadap efisiensi, keefektifan, produktifitas dan pelayanan pendidikan di kecamatan bantul, kabupaten bantul pada tahun 2009. hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dampak penggabungan sekolah dilihat dari efisiensi penggunaan dana yang dimiliki sekolah cukup efisien. tujuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai efek merger sekolah yang dilakukan oleh sd negeri sondakan no. 11 surakarta. dari pemahaman tersebut kami dapat mengetahui dampak adanya merger sekolah. selain itu, hasil penelitian ini dapat berguna bagi lembaga pendidikan khususnya bagi sekolah yang mengalami dampak penggabungan. metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. sukmadinata (2009 : 72) menjelaskan penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian dinamika merger sekolah..........(wahdan nh., dkk) 179 jppd, 5, (2), hlm. 177 184 yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya. proses pengumpulan data yang kami lakukan adalah dengan teknik wawancara dan observasi. wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dilakukan secara sistematis dan berlandasakan kepada tujuan penelitian. wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu kepada kepala sekolah, guru, wali murid serta murid di sd negeri sondakan no.11 surakarta. observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengamati suatu objek atau subjek yang diteliti. dalam penelitian ini kami mengamati kegiatan dan aktivitas yang dilakukan oleh seluruh stakeholder sd negeri sondakan no.11 surakarta. hasil penelitian dan pembahasan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan yang berlandaskan pada efisiensi dan efektivitas anggaran pendidikan, pemerintah mencanangkan kebijakan regrouping terutama untuk sekolah dasar. kata regrouping merupakan kata lain dari merger/penggabungan. kata merger lebih dikenal di dalam dunia bisnis. merger sangat lekat dengan badan usaha terutama badan usaha profit. merger pada awalnya merupakan salah satu usaha pengembangan dan pertumbuhan perusahaan yang dapat dilakukan dengan cepat. selain itu, merger merupakan salah satu alternatif untuk investasi modal dan pertumbuhan modal secara internal atau organisasi. merger dilakukan dengan menggabungkan dan membagi sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk mencapai tujuan bersama. merger menurut encyclopedia of banking and finance (gunawan widjaja, 2002 : 47) adalah “ a combination of two or more corporations where the dominant unit absorbs the passive unit, the former continuing operation, usually under the same name.” merger adalah kombinasi dari dua atau lebih perusahaan di mana unit yang dominan menyerap unit pasif, perusahaan yang digabung beroperasi terus-menerus, biasanya dengan nama yang sama. marger yang diterapkan di dalam dunia pendidikan lebih berkaitan dengan perampingan jumlah sekolah. penggabungan sekolah adalah proses menyatukan dua sekolah atau lebih untuk mencapai pengelolaan yang efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan. konsep dasar penggabungan sekolah (regrouping) yang dikeluarkan oleh menteri dalam negeri tentang pedoman pelaksanaan penggabungan sekolah (regrouping) sekolah dasar (sd) yaitu: (1) penggabungan (regrouping) sd adalah usaha penyatuan dua unit sd atau lebih menjadi satu kelembagaan (institusi) sd dan diselenggarakan dalam satu pengelolaan; (2) lingkup penggabungan sd meliputi sd yang terdapat antar desa/kelurahan yang sama dan atau di desa/kelurahan yang berbatasan dan atau antar kecamatan yang berbatasan; (3) sekolah dasar kemudian disingkat dengan sd adalah bentuk satuan pendidikan dasar milik pemerintah yang menyelenggarakan program pendidikan enam tahun; (4) sd inti adalah sd yang terpilih antara beberapa sd dalam satu gugus sekolah yang berfungsi sebagai pusat pengembangan di dalam gugus sd dinamika merger sekolah..........(wahdan nh., dkk) 180 jppd, 5, (2), hlm. 177 184 tersebut; (5) sd imbas adalah anggota satu gugus sekolah yang menjadi binaan sd inti; (6) sd kecil adalah sd di daerah terpencil yang belum memenuhi syarat pembakuan (santoso, 2009: 3). sd negeri sondakan no. 11 surakarta di merger pada tahun 2015 atau 3 tahun yang lalu. jika kebanyakan sekolah di merger karena kekurangan murid maka lain halnya dengan sd negeri sondakan no.11 surakarta. alasan merger 3 sekolah (sdn premulung, sdn sondakan no.11, dan sdn tegalmulyo) menjadi 1 sekolah antara lain kurang memadainya sarana dan prasarana terutama halaman sekolah. tiga sekolah tersebut saling bersebelahan dan tidak memiliki halaman sama sekali, jika saat mengadakan upacara menggunakan jalan yang ada di depan, serta tidak adanya halaman bermain bagi anak. nama sekolah yang diambil setelah di merger yakni sd negeri sondakan no. 11 karena lokasi sekolah tersebut berada di kelurahan sondakan. penggabungan sekolah atau regrouping berarti mengalami suatu perubahan dalam hal fisik dan non fisik agar bisa dipertahankan. salah satu sasaran manajemen perubahan adalah mengupayakan agar proses transformasi tersebut itu berlangsung dalam waktu yang relatif cepat dengan kesulitankesulitan seminimal mungkin. keharusan dalam melaksanakan perubahan dalam saat ini tidak boleh menunggu hingga sebuah organisasi tersebut mengalami sebuah proses kemunduran, maka dari itu mereka harus melaksanakan perubahanperubahan yang perlu diprediksi dan diantisipasi kebutuhan akan perubahan (santoso, 2009: 3). dari penjelasan santoso mengenai merger sekolah, dapat kita ketahui bahwa adanya merger atau penggabungan sekolah itu pasti ada perubahan dalam hal fisik dan non fisik bahkan menjadi sebuah keharusan. begitu pula dengan sd negeri sondakan no. 11 surakarta ini setelah terjadi penggabungan terdapat perubahan dalam berbagai hal seperti perubahan sarana prasarana, sumber daya manusia, administrasi, bentuk kepemimpinan, dan masih banyak lagi. setelah di merger, terjadi sistem mutasi pns dan guru dipindah tugaskan. termasuk kepala sekolah yang sebelumnya ada tiga harus diambil satu yaitu kepala sekolah dari sd negeri sondakan no. 11. kepemimpinan kepala sekolah telah mampu merubah kondisi sekolah dengan meningkatkan kualitas pelayanan sekolah di segala bidang. pada bidang sarana dan prasarana kepala sekolah mengajukan perbaikan gedung. gedung dari tiga atap bangunan sekolah tersebut sekarang menjadi satu atap bangunan bertingkat hingga 3 lantai. menurut haris budiyono (2011) menjelaskan bahwa proses sosialisasi dan implementasi kebijakan merger sdn memerlukan sikap kooperatif dan pertisipatif stakeholders pendidikan sdn, baik yang digabung maupun yang digabungi sehingga 2 kepentingan dapat dikelola dan dicapai dengan baik. dari observasi yang telah kami lakukan, stakeholders yang ada di 3 sd ini cukup kooperatif dan berpartisipasi dalam mensosialisasikan dan mengimplementasikan kebijakan merger menjadi sdn sondakan ini. namun, dalam melaksanakan kebijakan ini pasti juga ada efek dan hambatan bagi warga sekolah. adanya perubahan ini akan menimbulkan beberapa efek terhadap warga anggota di sekolah. hal ini juga dijelaskan oleh crayonpedia dalam tesis yang ditulis oleh murdono dengan judul pengelolaan sekolah dasar regrouping “dampak pengelolaan dinamika merger sekolah..........(wahdan nh., dkk) 181 jppd, 5, (2), hlm. 177 184 regrouping yang dikelola dengan baik, perencanaan yang matang, serta peran kepala sekolah yang optimal akan memberikan dampak yang positif bagi pengelolaan sekolah. sebab dengan hanya satu kepala sekolah di satu kompleks sd, akan terjadi efisiensi dan kemudahan dalam pengawasan” (crayonpedia, 2009: 3). artinya adanya regrouping / merger akan memiliki dampak positif maupun negatif. dampak yang ditimbulkan oleh merger sekolah ini tergantung dari pengelolaan, perencanaan yang matang, serta peran kepala sekolah yang optimal. apabila hal tersebut telah dilakukan dengan maksimal maka akan berdampak positif. namun apabila masih belum matang dan salah satu dari faktor tersebut kurang maka akan lebih banyak dampak negatif yang dirasakan yang berarti kurang berhasil dan perlu pembenahan. adanya penggabungan sekolah (merger) ini memberikan efek atau pengaruh dalam berbagai segi terutama dari guru, wali murid, maupun siswanya sendiri. hasil wawancara kami dengan beberapa guru dari 3 sekolah dasar tersebut tentang efek positif dan negatif yang dirasakan setelah adanya merger sekolah ini. efek positif tersebut adalah sebagai berikut: (1) guru senang karena mendapatkan banyak teman baru; (2) belajar demokrasi dan memahami berbagai macam karakter seseorang yang pasti berbeda; (3) mendapatkan banyak wawasan karena sekolah ini memiliki kelas paralel (kelas a, b, dan c), sehingga setiap membuat program untuk kelas ketiga guru kelas tersebut harus bermusyawarah bersama dan sharing. setiap perubahan tidak hanya efek positif yang diberikan, pasti juga ada efek negatif yang dirasakan. berikut ini efek negatif yang dirasakan oleh guru: (1) beberapa guru masih menunjukkan keegoan masing-masing, sehingga terkadang sulit untuk diajak bekerjasama jika tidak sesuai dengan kemauan sendiri; (2) harus mengulang administrasi kelas karena banyak data yang hilang dan berubah; (3) harus mengenal kembali karakteristik siswa dan merubah metode belajara sesuai dengan karakteristik siswa yang diampu, karena sistem pembagian kelas dibagi rata tidak mendapatkan siswa dari sekolah yang lama. karena terjadi sistem mutasi pns dan pemindahan tugas, saat ini banyak guru baru di sekolah tersebut yang bukan berasal dari tiga sekolah dasar tersebut. namun para guru tetap berusaha untuk saling mengenal dan memahami karena dari awal sudah termasuk 1 gugus. sebelum di merger guru-guru antara 3 sekolah tersebut berhubungan baik kadang melaksanakan piknik bersama. setelah adanya merger sekolah baru kelihatan adanya perbedaan antar guru-guru, komunikasi yang di lakukan kebanyakan berhubungan dengan pekerjaan saja. dalam melaksanakan kegiatan sekolah ada guru yang cepat tanggap untuk merealisasikan kegiatan tersebut, namun juga ada yang kurang tanggap. selain dengan guru-guru, kami juga mewawancarai beberapa orang tua siswa yang merasakan penggabungan sekolah tersebut. hasil wawancara yang kami dapatkan bahwa mereka merasa senang karena mendapatkan banyak teman. selain itu hubungan antara perangkat sekolah dengan orang tua siswa semakin bagus, orang tua siswa selalu ikut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. bahkan di sdn sondakan no.11 ini mempunyai organisasi bagi orang tua siswa. organisasi orang tua siswa antara lain: komite dan kelompok adiwiyata. kelompok ini merupakan kumpulan perwakilan dari dinamika merger sekolah..........(wahdan nh., dkk) 182 jppd, 5, (2), hlm. 177 184 beberapa orang tua wali murid dari kelas 1 hingga kelas 6. mereka selalu dilibatkan dalam kegiatan sekolah terutama kegiatan di luar sekolah seperti perlombaan, perkemahan, dll. kelompok adiwiyata ini bekerjasama dalam memfasilitasi kebutuhan siswa maupun dalam menjayakan sekolah ini. kami juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa. sebelum di merger kegiatan di sekolah masih sangat sedikit, namun setelah di merger banyak ide-ide dari guru sehingga dapat merealisasikan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan bakat siswa. kegiatan tersebut berupa kegiatan literasi dan ekstrakurikuler. kegiatan ekstrakulikuler yang dilaksanakan yaitu seni musik, seni tari, melukis / menggambar, pencak silat, taekwondo, drumband, dan pramuka. dengan adanya ekstrakulikuler ini yang menghadirkan ahlinya membantu siswa dalam mengembangkan bakat mereka. adanya merger ini juga memberikan efek yang sangat baik bagi para siswa. sekolah mulai mengikuti dan meraih juara dari berbagai lomba baik akademik maupun non akademik. misalnya lomba ccai, phbs, persami, dll. hal ini menjadi salah satu stimulus dan sebagai motivasi bagi seluruh peserta didik di sd negeri sondakan no. 11 surakarta untuk terus berprestasi. sd n sondakan no. 11 bekerja sama dengan dinas pendidikan kota surakarta untuk mengadakan kegiatan literasi membaca dengan cara menghadirkan perpustakaan keliling, perpustakaan keliling memberikan fasilitas belajar siswa untuk membaca. dengan adanya banyak kegiatan menjadikan sekolah tersebut menjadi lebih hidup dan bersemangat untuk sekolah. kegiatan literasi yang dilakukan di sd n sondakan no. 11 meliputi: 1. hari senin berupa upacara (penanaman pendidikan karakter bagi siswa : nasionalisme, disiplin, kepemimpinan, dll) 2. hari selasa berupa literasi bersama guru kelas di kelas masing-masing (15 menit sebelum belajar : kegiatan keterampilan : cerita, puisi, dll) 3. hari rabu berupa literasi agama (dengan membaca surat-surat dalam juz 30, menanamkan jiwa religius) 4. hari kamis berupa literasi membaca (membaca buku dari perpustakaan keliling) 5. hari jumat berupa literasi senam (senam poco-poco olahraga, senam pinguin, dan senam gemu fa mire). pengaruh negatif setelah adanya merger sekolah bagi siswa, adanya pengaruh sosial terutama dalam strata ekonomi. karena wali murid dari 3 sekolah dasar tersebut memiliki perekonomian yang berbeda. sehingga beberapa siswa masih ada yang merasa terkucilkan dan kurang percaya diri. namun, setiap guru dan wali kelas selalu memberikan arahan dan nasihat kepada seluruh siswa, selain itu dengan diadakan kegiatan-kegiatan bersama ini juga akan membiasakan anak untuk dapat bersosialisasi lebih baik dengan teman sebaya, kakak kelas, adik kelas, maupun para guru dan staf karyawan. kendala setelah di merger bagi operator yakni pada kegiatan pendataan, memerlukan lebih banyak waktu, lebih banyak data yang di urus. sehingga operator sekolah harus pandai-pandai dalam membagi waktu. jika kendala bagi guru mata dinamika merger sekolah..........(wahdan nh., dkk) 183 jppd, 5, (2), hlm. 177 184 pelajaran yakni pada penyesuaian waktu / jadwal. sebelum banyak kegiatan bagi siswa, guru harus memikirkan solusi agar siswa tidak merasa bosan dan siswa menjadi bersemangat sekolah. sd negeri sondakan menjadi sorotan atau selalu diawasi oleh pemerintah. sekolah yang pelaksanaan belajarnya 5 hari kerja dari senin – jumat. implementasi merger yang dilaksanakan oleh sdn sondakan ini dirasa belum maksimal dan masih banyak kendala yang dirasakan oleh warga sekolah di dalamnya. namun hal ini wajar karena menurut subarsono (2008: 119), “suatu program pendidikan dapat menghasilkan pendidikan berkualitas dan tentunya untuk sampai kepada pendidikan bermutu memerlukan perencanaan yang matang. menurutnya keberhasilan memerlukan masa dan proses yang cukup panjang minimalnya baru dapat dilihat dalam waktu 5 tahun”. sedangkan sdn sondakan sendiri dilakukan merger baru berjalan 3 tahun, sehingga belum terlihat keberhasilan dan kemapanannya. penelitian sudiyono, dkk dengan judul dampak regrouping sekolah dasar: kasus sd pakem 1 di kecamatan pakem kabupaten sleman. memiliki hasil yang berbeda dengan hasil penelitian yang kami lakukan dikarenakan penyebab regrouping antara sd pakem 1 dengan sd negeri sondakan no. 11 berbeda. sd pakem 1 di regrouping karena kekurangan siswa, sedangkan sd yang kami teliti diregrouping karena sarana prasarana yang kurang memenuhi syarat dan kurang memfasilitasi siswa dalam belajar dan bermain. namun dampak positif dan dampak negatif yang dirasakan hampir sama. simpulan merger sekolah yang di laksanakan di sd negeri sondakan no. 11 surakarta memberikan dampak positif maupun negatif bagi siswa. setelah adanya merger sekolah, sekolah tersebut dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dan kegiatan lainnya dengan baik. terutama kegiatan yang berhubungan di luar kelas seperti upacara, senam, kegiatan ekstrakulikuler. siswa selalu terlibat dalam kegiatan sekolah terutama kegiatan di luar sekolah seperti perlombaan, perkemahan, dll. serta dengan banyaknya guru juga dapat mengembangkan sekolah dengan baik. namun masih ada salah satu hal yang menjadi kekurangan dalam pelaksanaan merger sekolah ini. perbedaan sosial antar wali siswa dari 3 sd sebelumnya menjadi penyebab kekurangan tersebut. dinamika merger sekolah..........(wahdan nh., dkk) 184 jppd, 5, (2), hlm. 177 184 daftar pustaka budiono, haris. (2011). kajian implementasi kebijakan “regrouping” sdn di kota bekasi. region volume iii. no. 1 (maret 2011) gunawan widjaja. 2002. merger dalam perspektif monopoli. jakarta: raja grafindo persada: 47. purwaningsih, ika. 2014. “implementasi kebijakan regrouping sekolah dasar di kabupaten purworejo”. skripsi. fkip-uny murdono. 2012. “pengelolaan sekolah dasar regrouping: studi situs sdn gondosuli 2 dan 3 kecamatan muntilan kabupaten magelang”. tesis. surakarta: ums pasca sarjana manajemen pendidikan sukmadinata, nana s. 2009. metode penelitian pendidikan. bandung: remaja rosdakarya octavia, lilis. s., dkk. 2017. “efisiensi regrouping sekolah ditinjau dari peran stakeholder untuk penguatan pendidikan karakter”. seminar nasional pendidikan sinergitas keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam penguatan pendidikan karakter. malang: manajemen pendidikan unm santoso. 2009. program penggabungan sekolah dasar (regrouping sd) kota sukabumi. http://bestpractice.yipd.or.id/best/getfilespracticedetail/487. diakses pada tanggal 19 desember 2011 : 3 wibawa, sarwa. 2009. “dampak penggabungan sekolah dasar terhadap efisiensi, keefektivan, produktivitas, dan pelayanan pendidikan di kabupaten bantul”. tesis. pps-uny subarsono. 2008. analisis kebijakan publik: konsep, teori, dan aplikasi. yogyakarta: pustaka pelajar sudiyono, dkk. 2009. dampak regrouping sekolah dasar: kasus sd pakem 1 di kecamatan pakem kabupaten sleman. diakses dari http://staff.uny.ac.id/files/penelitian http://bestpractice.yipd.or.id/best/getfilespracticedetail/487 http://staff.uny.ac.id/files/penelitian pengembangan instrumen......(ayundha nabilah, dkk) 90 jppd, 5, (1), hlm. 90 99 vol. 5, no. 1, juli 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.6110 pengembangan instrumen untuk mengukur kemampuan persepsi visual dan kesadaran linguistik siswa sekolah dasar ayundha nabilah1), vismaia s. damaianti2), mubiar agustin3) universitas pendidikan indonesia 1ayundhanabilah@student.upi.edu; 2 vismaia@upi.edu; 3mubiar@upi.edu pendahuluan survei global seperti progress in international reading literacy study (pirls) dan programme for international students assessment (pisa) menunjukkan bahwa anak-anak indonesia berada dalam tingkat literasi yang rendah. di lain pihak, membaca merupakan hal yang sangat penting untuk dikuasai anak di tingkat sekolah dasar. membaca adalah kemampuan yang harus dikuasai oleh siswa karena kemampuan membaca akan terkait dengan seluruh proses belajar siswa (rahim, 2008; cummings, dkk. 2008; durukan, 2011). data pirls 2011 dan pisa 2012 menunjukkan bahwa anak-anak indonesia masih berada pada tingkat melek huruf yang rendah (mullis, martin, foy, & drucker, 2012). selain itu, survei yang dilakukan oleh world's most literate nation pada tahun 2016 menunjukkan bahwa minat baca orang indonesia berada di posisi ke 60 dari 61 negara (miller & mckenna, 2016). data ini menunjukkan bahwa kurangnya minat membaca dan kecenderungan untuk menyukai kegiatan membaca pada anak-anak indonesia. abstract: the aim of this paper is to describe the development and validation of test instrument that measure students’ visual perception and linguistic awareness. this is a part of a bigger study of quasiexperiment research which investigates the use of story reading through big book towards primary school students’ visual perception and linguistic awareness. the content validity is done by the expert judgment. besides, items validity obtained from the trial tested to the first grader of primary schools. there are two sets of questions that consist of the same indicators but different question. 33 students fill set 1 and 30 students fill set 2. the result of expert validation is 87%, meanwhile, the item validity shows valid and invalid items. the researcher combined set 1 and set 2 to get the representation item from all indicators. the test reliability is in the good level. based on these findings, the implication is that the instrument could be used due to its validity and reliability in measuring students' visual perception and linguistic awareness. keywords : visual perception, linguistic awareness, primary school https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.6110 mailto:ayundhanabilah@student.upi.edu mailto:vismaia@upi.edu mailto:mubiar@upi.edu pengembangan instrumen......(ayundha nabilah, dkk) 91 jppd, 5, (1), hlm. 90 99 peneliti menemukan banyak anak yang enggan membaca buku. salah satu alasan mereka tidak ingin membaca adalah karena mereka mengalami kesulitan dalam membaca. faktor dominan yang membuat anak-anak tidak mau membaca diantaranya pemenuhan prasyarat membaca, yaitu kesiapan membaca. kemampuan membaca anak dengan kesiapan memiliki hubungan yang erat (dechant, 1970; fuchs, et al., 2001). selama kesiapan membaca tidak terpenuhi, akan ada banyak kegagalan dalam proses membaca selanjutnya. diantara banyak faktor yang dapat menjadi penyebab anak-anak mengalami kesulitan membaca, frostig (1964) menemukan bahwa gejala yang paling sering terjadi adalah gangguan dalam persepsi visual. kesiapan dan kemampuan membaca dipengaruhi oleh kemampuan persepsi visual anak (vernon, 2016). kemampuan persepsi visual adalah kemampuan anak memberi makna kepada stimulus visual dalam bentuk simbol yang masuk melalui indra yang disebut kemampuan persepsi visual. ada enam indikator kemampuan persepsi visual yang memainkan peran kuat dalam membaca (lerner, 1976; kavale & forness, 2000; abdurrahman, 2003; lerner & kline, 2006 ; frostig, et.al 1964) yaitu: spatial relation atau hubungan keruangan merupakan persepsi tentang posisi berbagai objek dalam ruang. dimensi ini meliputi tempat suatu obyek atau simbol (huruf, angka, gambar) dan hubungan keruangan yang menyatu dengan obyek di sekitarnya. implikasinya, setiap kata-kata yang disodorkan kepada anak harus dilihat secara keseluruhan yang dikelilingi oleh ruang. ketika siswa mempunyai visual relation yang baik, maka ia akan bisa menunjukkan dan menyebutkan posisi objek dalam sekumpulan gambar. visual discrimination atau diskriminasi visual, yaitu kemampuan membedakan suatu objek dari objek lainnya, baik bentuk, urutan, maupun posisi. kemampuan tersebut meliputi mencocokkan atau menentukan karakteristik yang tepat. tugas dari diskriminasi visual diantaranya memasangkan huruf, kata, atau gambar. implikasinya, kegiatan membaca berkaitan dengan membedakan bentuk, posisi huruf atau kata, dan membedakan lambang/ilustrasi. misalnya, ada beberapa gambar, lalu diberikan satu gambar dan siswa harus memilih gambar yang sama. figure and ground atau latar dan obyek, yaitu kemampuan membedakan suatu objek dari latar. siswa yang memiliki dimensi ini akan mudah memusatkan perhatian pada obyek. sebaliknya, siswa yang tidak memiliki kemampuan ini akan mudah pecah fokus perhatiannya. kemampuan ini meliputi melihat bentuk secara visual dan menemukan bentuk tersebut dengan latar bentukbentuk lain yang tersembunyi. visual closure, yaitu kemampuan mengidentifikasi objek, walaupun objek tersebut tidak diperlihatkan, implikasinya anak akan dapat memprediksi keutuhan kalimat atau kata atau ilustrasi walaupun ada penghilangan. kemampuan ini meliputi mengenali bentuk yang tidak lengkap dan "mengisi" garisgaris agar sesuai dengan bentuk yang sebenarnya. visual memory, yaitu kemampuan mengingat sesuatu. kemampuan mengingat visual merupakan kemampuan yang penting dalam membaca. implikasinya anak dapat mengingat simbol/ilustrasi. kesiapan dan kemampuan membaca tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan persepsi visual, tetapi juga dipengaruhi oleh kesadaran linguistik (rochyadi, 2011; pengembangan instrumen......(ayundha nabilah, dkk) 92 jppd, 5, (1), hlm. 90 99 erbay, 2013). hal tersebut terjadi karena lisan dan tulisan termasuk dalam proses kegiatan membaca yang saling berhubungan (otto, 2015). kesadaran linguistik adalah kemampuan untuk mencerminkan atau mendeskripsikan ucapan sebagaimana kedengarannya (lyster, 2002). kesadaran linguistik pada anak-anak sekolah dasar adalah prasyarat untuk keterampilan membaca (bryant, p. dan bradley, l., 1981). hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pelatihan kesadaran fonologis yang diberikan selama pembelajaran membaca dapat mengembangkan keterampilan membaca anak. ada enam jenis kesadaran linguistik yang harus dimiliki oleh para siswa sebelum mereka belajar membaca ( lyster, 2002; kirby, et al., 2003) yaitu: pertama, isolasi fonem, mengidentifikasi bunyi huruf awal dan bunyi akhir dalam sebuah kata. kedua, identitas fonem, mengidentifikasi bunyi awal suku kata yang sama dalam katakata yang berbeda. ketiga, segmentasi fonem, memecahkan satu kata ke dalam suku kata yang berbeda. keempat, morfem, memilih kata berdasarkan penghilangan bunyi dan penambahan bunyi. kelima, semantik, memilih gambar sesuai dengan maknanya. keenam, sintaksis, mengurutkan benda yang didengar pada cerita sesuai dengan alurnya. pengembangan kemampuan membaca sangat penting bagi siswa. pembelajaran membaca merupakan yang alami, holistik, dan harus sesuai dengan perkembangan siswa (yarmi, 2014: 87) karena membaca merupakan suatu keterampilan khusus ditingkat sekolah dasar. mengingat pentingnya keterampilan membaca dan banyaknya siswa sekolah dasar kurang menguasainya, maka peneliti berupaya untuk mengembangkan dan memvalidasi instrumen untuk mengukur kemampuan persepsi visual dan kesadaran linguistik untuk siswa sekolah dasar. sebelum nantinya instrumen tersebut dapat digunakan kalangan akademisi dalam mengidentifikasi kemampuan membaca siswanya yang selanjutnya dapat diberikan treatment yang sesuai dengan kebutuhan siswa. metode penelitian penelitian ini merupakan jenis kuasi-eksperimen. dalam penelitian kuasi eksperimen, validasi instrumen sangatlah diperlukan. validasi merupakan pertimbangan penting saat menyiapkan instrumen yang akan digunakan (maulana, 2009). dengan mengetahui validitas suatu instrumen, peneliti dapat mengetahui apakah instrumen dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. dalam mengukur validasi konten, peneliti meminta para ahli di bidang yang berhubungan dengan variabel penelitian untuk menilai instrumen (creswell, 2015). instrumen tes untuk pengumpulan data dikembangkan oleh peneliti. peneliti memberikan instrumen kepada ahli kemampuan persepsi visual dan kesadaran linguistik. ahli memberikan beberapa saran dan komentar pada instrumen. komentar yang diberikan oleh ahli membantu merestrukturisasi dan mengembangkan tes. instrumen diuji coba di kelas i sekolah dasar. ada 2 set tes yang mencakup semua indikator. set 1 diuji coba pada 33 siswa, sementara set 2 diuji coba pada 30 siswa. skor siswa digunakan untuk menetapkan validitas instrumen dan reliabilitas instrumen. pengembangan instrumen......(ayundha nabilah, dkk) 93 jppd, 5, (1), hlm. 90 99 validitas diukur dengan menggunakan spss untuk mencari skor korelasi t pearson dan dibandingkan dengan rtabel . reliabilitas instrumen diukur dengan spss untuk melihat nilai alpha cronbach. hasil dan pembahasan peneliti melakukan validasi konten dengan memberikan instrumen kepada seorang ahli persepsi visual dan kesadaran linguistik. proses validasi ini menggunakan lembar validasi yang harus diisi oleh validator. komponen lembar validasi yang digunakan oleh validator digunakan untuk meninjau isi instrumen. data yang diperoleh dari tahap validasi konten ini adalah penilaian, komentar, dan saran dari validator. validator diminta untuk memberikan tanda centang di lembar validasi untuk setiap pertanyaan dari instrumen tes. tanda centang di lembar validasi memiliki skor 1 hingga 5. skor keseluruhan yang diberikan oleh validator dianalisis dan direvisi. nilai total yang diberikan validator adalah 87%. hal tersebut berarti instrumen dapat digunakan dengan beberapa revisi. validator memberikan beberapa saran dan komentar pada instrumen tes. validator menyarankan untuk merevisi beberapa pertanyaan agar lebih jelas bagi para siswa. selain itu, menurut validator, pertanyaan dalam indikator penutupan visual closure harus direvisi menjadi menghubungkan titik-titik gambar dan siswa memilih gambar yang sama setelah menghubungkan titik-titik. validator juga menyarankan untuk menggunakan kata dan gambar yang kontekstual. setelah merevisi instrumen berdasarkan penilaian ahli, peneliti melakukan validasi butir atau validasi item. validasi item diuji coba pada siswa. tesnya adalah tes individual dan tatap muka. peneliti memberikan instruksi kepada siswa satu per satu. instrumen diuji coba di kelas 1 sd. ada 2 set tes yang mencakup semua indikator. set 1 diuji pada 33 siswa, sementara set 2 diuji pada 30 siswa. validitas diukur dengan menggunakan spss untuk mendapatkan skor korelasi pearson dan dibandingkan dengan rtabel. relibilitas diukur dengan spss untuk mendapatkan skor alpha cronbach. khusus untuk tes kemampuan persepsi visual pada indikator eye motor coordination (nomor 1, 2, 3) tidak termasuk dalam pengukuran validitas karena jenis pertanyaannya bukan pilihan ganda, sehingga untuk kemampuan persepsi visual ada lima indikator yang uji coba oleh siswa. begitu pula untuk tes kesadaran linguistik pada indikator sintaksis (nomor 16, 17, 18), pertanyaannya tidak bisa dilakukan uji validasi butir karena tidak berbentuk pilihan. sehingga untuk indikator yang tidak divalidasi butir, peneliti menekankan validasi konten oleh expert. berikut hasil uji validasi butir pada soal tes kemampuan persepsi visual dan kesadaran linguistik. pengembangan instrumen......(ayundha nabilah, dkk) 94 jppd, 5, (1), hlm. 90 99 tabel 1. hasil validasi tes kemampuan persepsi visual indikator no set 1 set 2 j koef h koef h visual discrimina-tion 1 0,156 0,619 v 3 2 0,384 v 0,345 3 0,238 0,670 v visual-spatial 4 0,233 0,619 v 5 5 0,702 v 0,389 v 6 0,597 v 0,522 v figure and ground 7 0,342 0,430 v 3 8 0,806 v 0,217 9 0,603 v 0,217 visual closure 10 0,170 0,198 3 11 0,709 v 0,466 v 12 0,359 v 0 visual memory 13 0,384 v 0,146 3 14 0,107 0,554 v 15 0,345 v 0,105 subjek 33 30 r table 0,3440 0,3610 realibilitas 0,77 0,81 keterangan: no : nomor soal koef : skor korelasi pearson h : hasil v : valid j : jumlah pertanyaan yang valid soal yang valid adalah soal yang memiliki korelasi pearson lebih dari rtabel. rtabel untuk set 1 adalah 3.440 karena subjeknya 33 siswa. sedangkan rtabel untuk set 2 adalah 0,3610 karena subjeknya 30 siswa. tabel 1 menunjukkan bahwa ada beberapa item yang tidak valid. namun, setiap indikator mewakili total item yang valid. peneliti menggunakan 3 soal pada setiap indikator, hasil perhitungan menunjukkan bahwa minimal ada 3 soal yang valid pada setiap indikator. peneliti akan memilih tiga soal yang valid dalam setiap indikator yang akan digunakan. selain validitas, reliabilitas pada setiap set soal juga telah dihitung. reliabilitas soal set 1 adalah 0,77, sedangkan reliabilitas soal set 2 adalah 0,81. ketika reliabilitas 0,60 < rxy ≤ 0,80 itu berarti tes tersebut dalam tingkat reliabilitas yang tinggi. maka, dapat disimpulkan bahwa soal tes set 1 maupun set 2 tersebut berada pada tingkat reliabilitas yang tinggi dan dapat digunakan sebagai instrumen. pengembangan instrumen......(ayundha nabilah, dkk) 95 jppd, 5, (1), hlm. 90 99 tabel 2. hasil validasi tes kesadaran linguistik indikator no set 1 set 2 j koef h koef h isolasi fonem 1 0,733 v 0,266 3 2 0,483 v -0,108 3 0,535 v 0,123 identitas fonem 4 0,419 v 0,196 4 5 0,445 v 0,488 v 6 0,332 0,476 v segmentasi fonem 7 0,232 0,616 v 3 8 -0,117 0,374 v 9 0,384 v 0,195 morfem 10 0,592 v 0,018 3 11 0,357 v 0,783 v 12 0,158 0,241 semantik 13 0,465 v 0,238 3 14 0,370 v 0,078 15 0,230 0,384 v subjek 33 30 r table 0,3440 0,3610 realibilitas 0,67 0,63 keterangan no : nomor soal koef : skor korelasi pearson h : hasil v : valid j : jumlah pertanyaan yang valid dalam instrumen tes kesadaran linguistik, soal yang valid adalah butir soal yang memiliki korelasi pearson lebih dari rtabel. r tabel untuk set 1 adalah 3.440 karena subjeknya 33 siswa. sedangkan rtabel untuk set 2 adalah 0,3610 karena subjeknya 30 siswa. tabel 2 menunjukkan bahwa ada beberapa nomor soal yang tidak valid. namun, total nomor soal yang valid diwakili setiap indikator. peneliti akan memilih tiga soal yang valid pada setiap indikator yang akan digunakan. hasilnya menunjukkan ada minimal tiga soal yang valid untuk setiap indikator. reliabilitas soal set 1 adalah 0,67, sedangkan soal set 2 skor mempunyai reliabilitas 0,63. ketika reliabilitasnya 0,60 < rxy ≤ 0,80 , hal itu berarti tes tersebut berada pada tingkat reliabilitas yang tinggi. maka, dapat disimpulkan bahwa tes kesadaran linguistik mempunyai reliabilitas yang tinggi. peneliti memilih soal yang valid dari set 1 dan set 2, kemudian menggabungkannya dalam instrumen tes. setiap indikator harus terdiri dari tiga soal valid. kesimpulan dari soal valid yang digunakan untuk instrumen tes adalah sebagai berikut. pengembangan instrumen......(ayundha nabilah, dkk) 96 jppd, 5, (1), hlm. 90 99 tabel 3. soal valid yang digunakan pada tes kemampuan persepsi visual indikator korelasi butir n visual discrimination 0,619 set 2 nomor 1 1 0,384 set 1 nomor 2 2 0,670 set 2 nomor 3 3 visual-spatial 0,619 set 2 nomor 4 4 0,702 set 1 nomor 5 5 0,597 set 1 nomor 6 6 figure and ground 0,430 set 2 nomor 7 7 0,806 set 1 nomor 8 8 0,603 set 1 nomor 9 9 visual closure 0,709 set 1 nomor 11 10 0,466 set 2 nomor 11 11 0,359 set 1 nomor 12 12 visual memory 0,384 set 1 nomor 13 13 0,554 set 2 nomor 14 14 0,345 set 1 nomor 15 15 keterangan: n : nomor butir pada tes pengembangan instrumen......(ayundha nabilah, dkk) 97 jppd, 5, (1), hlm. 90 99 tabel 4. soal valid yang digunakan pada tes kesadaran linguistik indikator korelasi butir n isolasi fonem 0,733 set 1 nomor 1 1 0,483 set 1 nomor 2 2 0,535 set 1 nomor 3 3 identitas fonem 0,445 set 1 nomor 5 4 0,488 set 2 nomor 5 5 0,476 set 2 nomor 6 6 segmentasi fonem 0,616 set 2 nomor 7 7 0,374 set 2 nomor 8 8 0,384 set 1 nomor 9 9 morfem 0,592 set 1 nomor 10 10 0,357 set 1 nomor 11 11 0,783 set 2 nomor 11 12 semantik 0,465 set 1 nomor 13 13 0,370 set 1 nomor 14 14 0,384 set 2 nomor 15 15 keterangan: n : nomor butir pada tes berdasarkan data yang terdapat dalam tabel 3 dan tabel 4 terdapat 15 soal valid untuk instrumen tes kemampuan persepsi visual dan terdapat 15 soal valid untuk instrumen tes kesadaran linguistik. masing-masing soal telah mewakili 5 indikator yang observasi. kedua set soal dapat digabung menjadi satu instrumen untuk mengukur kemampuan persepsi visual dan linguistik yang terdiri dari 30 soal/pertanyaan. selanjutnya instrumen dapat digunakan baik oleh peneliti selanjutnya, guru, dan pihak lain yang membutuhkannya. pengembangan instrumen......(ayundha nabilah, dkk) 98 jppd, 5, (1), hlm. 90 99 simpulan jumlah soal yang valid di set 1 dan set 2 bisa digabungkan dan mewakili setiap indikator. setelah digabungkan, maka akan menjadi satu set soal tes kemampuan persepsi visual dan kesadaran linguistik dan dapat digunakan oleh berbagai kalangan yang membutuhkan. daftar pustaka abdurrahman, m. 2003. pendidikan bagi anak berkesulitan belajar. jakarta : rineka cipta. bryant, p., nunes, t. and bindman, m., 2000. the relations between children's linguistic awareness and spelling: the case of the apostrophe. reading and writing, no. 12, vol.3, 253-276. creswell, john. 2015. riset pendidikan: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi riset kualitatif & kuantitatif. yogyakarta: pustaka pelajar. cummings, k. d., atkins, t., allison, r., & cole, c. 2008. response to intervention: investigating the new role of special educators. teaching exceptional children, vol. 40, no. 4, 24–31. dechant, e. 1970. improving the teaching of reading. new jersey: prentice-hall durukan, e. 2011. effects of cooperative integrated reading and composition circ technique on reading-writing skills. educational research and reviews, vol. 6, 102-109. erbay, f. 2013. predictive power of attention and reading readiness variables on auditory reasoning and processing skills of six-year-old children. educational sciences: theory & practice, vol. 131, 422-429 frostig, m., lefever, d.w. dan whittlessy, j.r.b. 1964. the marianne frostig developmental test of visual perception 1964 standardization. palo alto: consulting psychologist press fuchs, d., fuchs, l.s., thompson, a., otaiba, s.a., yen, l., yang, n.j., braun, m. and o'connor, r.e., 2001. is reading important in reading-readiness programs? a randomized field trial with teachers as program implementers. journal of educational psychology, vol. 93, no. 2, 251. kavale, k. a., & forness, s. r. 2000. auditory and visual perception processes and reading ability: a quantitative reanalysis and historical reinterpretation. learning disability quarterly, vol. 23, no.4, 253-270. pengembangan instrumen......(ayundha nabilah, dkk) 99 jppd, 5, (1), hlm. 90 99 kirby, j.r., parrila, r.k., pfeiffer, s.l. 2003. naming speed and phonological awareness as predictors of reading development. journal of educational psychology, vol. 95, no.3, 453. lerner, j. w. 1976. children with learning disabilities: theories, diagnosis, teaching strategies. houghton mifflin school. lyster, s.a.h., 2002. the effects of morphological versus phonological awareness training in kindergarten on reading development. reading and writing, vol. 15, no. 3-4, 261-294. maulana. 2009. memahami hakikat, variabel, dan instrumen penelitian pendidikan dengan benar. bandung: learn2live in live2learn. miller, j.w., & mckenna, m.c. 2016. world literacy: how countries rank and why it matters. routledge. mullis, i. v. s., martin, m. o., foy, p., & drucker, k. t. 2012. pirls 2011 international result in reading. united states: timss & pirls international study center, lynch school of education, boston college. otto, b. 2015. perkembangan bahasa pada anak usia dini. jakarta: prenadamedia group piaget, j., & inhelder, b. 1969. the psychology of the child. new york: basic books. rahim, f. 2008. pengajaran membaca di sekolah dasar. jakarta: bumi aksara. rochyadi, e. 2011. “model pembelajaran berbasis kesadaran linguistik dan kemampuan persepsi visual untuk meningkatkan kemampuan membaca anak tunagrahita”. disertasi. bandung: sps upi. vernon, m. d. 2016. backwardness in reading. cambridge university press. yarmi, gusti dan resty widyastuti. 2014. “meningkatkan kemampuan membaca melalui permainan komputer pada siswa kelas i di sdn kalibata 03 pagi jakarta timur”. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember. http://journals.ums.ac.id/ index.php/ppd/article/view/1013/688. http://journals.ums.ac.id/ paper title (use style: paper title) e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 efektivitas penggunaan komik.......................(anggit grahito & ratna w) 125 efektivitas penggunaan komik berbasis sikap ilmiah terhadap sikap peduli lingkungan mahasiswa universitas slamet riyadi anggit grahito wicaksono1), ratna widyaningrum2) 1fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas slamet riyadi email: 1gara_hito@yahoo.co.id; 2ratnawidya133@gmail.com abstract the purpose of this research is to know: (1) difference of environmental care attitude of students before and after using comic based scientific attitude on basic natural science subjects and (2) effectiveness of the use of comic based scientific attitudes toward environmental care attitude on basic natural science subjects. this research uses pre experimental quantitative research method with one group pretestposttest design with t-test and n-gain test analysis technique. the results of the first hypothesis test concluded that there are differences in environmental cares attitude before and after using comic based scientific attitude and experienced an increase in average values of environmental care attitude before and after using comic based scientific attitude. the result of the second hypothesis test concludes that the use of comic based scientific attitude is effective on the environmental cares attitude of students on the medium criterion with the value of the n-gain test of 0.425. keywords: comics, scientific attitude, environmental care attitude pendahuluan program studi pendidikan guru sekolah dasar (pgsd) merupakan lembaga yang menyiapkan calon guru sekolah dasar. lembaga mengharapkan lulusan yang dihasilkan tidak hanya memiliki pemahaman dan wawasan ilmu pengetahuan. namun, lulusan yang dihasilkan juga harus terampil dan memiliki kompetensi paedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. banyak mata kuliah yang diberikan dalam rangka pembentukan kompetensi lulusan tersebut. salah satu mata kuliah yang diberikan adalah ilmu alamiah dasar (iad). iad merupakan mata kuliah yang menjadi peletak dasar-dasar ipa sehingga mahasiswa memiliki wawasan yang matang tentang metode ilmiah dan ilmu pengetahuan secara umum. salah satu materi dalam mata kuliah iad adalah wawasan isu lingkungan baik lokal, nasional, maupun global. indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. potensi alam erat kaitannya dengan manajemen eksplorasi dan manajemen pemberdayaan lingkungan hidup. ekplorasi sumber daya alam maupun mineral seharusnya diimbangi dengan menjaga kualitas lingkungan sekitar agar tetap terjaga seimbang (mariyanah, 2005). hal ini penting agar kejadian-kejadian berupa bencana alam maupun pencemaran lingkungan dapat diminimalisasi. hasil observasi yang telah dilakukan terhadap perilaku mahasiswa di prodi pendidikan guru sekola dasar (pgsd) fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (fkip) universitas slamet riyadi (unisri) dalam menjaga lingkungan baik secara lokal maupun nasional masih sangat rendah. hal ini tampak pada perilaku mereka saat membuang sampah tidak pada tempatnya, padahal sudah tersedia tempat sampah yang memadai. berdasarkan hasil wawancara dengan dosen pengampu mata kuliah iad didapatkan fakta bahwa perkuliahan tentang wawasan isu mailto:gara_hito@yahoo.co.id mailto:ratnawidya133@gmail.com p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 126 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 125 130 lingkungan saat ini belum dapat memunculkan sikap peduli lingkungan mahasiswa. hal ini terjadi karena keterbatasan dosen dalam penggunaan media pembelajaran dan hanya cenderung menyampaikan materi tersebut dengan ceramah saja. media pembelajaran hanya slide presentasi, sehingga mahasiswa hanya memiliki catatan atau hand out dari slide presentasi dosen sebagai sumber belajar. menurut arsyad (2011: 4), media pembelajaran adalah perantara yang membawa pesan atau informasi bertujuan instruksional atau mengandung maksudmaksud pengajaran antara sumber dan penerima. menurut tella (2007: 154), tanpa dukungan media pembelajaran, kegiatan belajar mengajar yang hanya menggunakan buku pelajaran sebagai satu-satunya sumber belajar oleh siswa, menjadikan suasana belajar menjadi kurang menarik dan membosankan serta membuat anak kurang mengembangkan kemampuan serta kreativitas siswa pada materi tersebut. memotivasi siswa dipandang sebagai aspek penting dalam pembelajaran yang efektif (bossard, 2005: 43). ketika siswa kurang tertarik terhadap pelajaran maka akan mempengaruhi cara mereka bereaksi atau memperhatikan guru. dari beberapa paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan peralatan yang membawa pesan-pesan untuk mencapai tujuan pembelajaran. media pembelajaran yang inovatif dan populer di kalangan mahasiswa saat ini adalah media pembelajaran berupa komik. hal tersebut sejalan dengan pendapat tatalovic (2009: 23) yang menyatakan bahwa, komik adalah bentuk seni yang populer terutama di kalangan remaja dan dengan demikian memberikan potensi untuk pendidikan sains dan komunikasi. sudjana dan rivai (2009: 64) memberikan definisi yang lebih komprehensif bahwa, komik adalah suatu bentuk kartun yang mengungkapkan karakter dan memerankan suatu cerita dalam urutan yang erat dihubungkan dengan gambar untuk memberikan hiburan kepada para pembacanya. sementara menurut mccloud (2001: 20), komik adalah gambar-gambar atau lambang-lambang lain yang terjukstaposisi dalam urutan tertentu bertujuan untuk memberikan informasi dan/mencapai tanggapan estetis dari para pembacanya. oleh karena itu, jika media yang menyenangkan ini dipakai dalam proses pembelajaran, akan membawa suasana menyenangkan dalam proses pembelajaran. jika siswa mendapati suasana yang menyenangkan dalam proses pembelajaran, mereka akan terlibat total dalam proses pembelajaran itu. keterlibatan secara total ini penting untuk melahirkan hasil akhir yang sukses. hasil belajar merupakan perubahan kecakapan fisik, mental, kecerdasan dari kegiatan belajar pada pendidikan formal maupun non formal, yang akan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari (ariyanto 2016: 134). hasil belajar mata kuliah iad erat kaitannya dengan sikap ilmiah dan sikap peduli lingkungan. menurut muslich (2011: 34), sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau akademisi ketika menghadapi persoalan-persoalan ilmiah. selain itu menurut bossard, et. all. (2005: 45) sikap ilmiah juga diartikan sebagai suatu kecenderungan, kesiapan, kesediaan, seseorang untuk memberikan respon/tanggapan/tingkah laku secara ilmu pengetahuan dan memenuhi syarat (hukum) e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 efektivitas penggunaan komik.......................(anggit grahito & ratna w) 127 ilmu pengetahuan yang telah diakui kebenarannya. artikel oleh wicaksono dan jumanto (2016: 212) menyatakan bahwa sikap ilmiah adalah suatu keadaan dalam diri individu yang disertai dengan perasaan dan alasan tertentu untuk memberikan respon/ tanggapan/ tingkah laku guna memperoleh suatu fakta berdasarkan ilmu pengetahuan. selain sikap ilmiah, mata kuliah iad sangat terkait dengan sikap peduli lingkungan. sikap peduli lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi (mulyana, 2009: 24). menurut kemendiknas (2010: 10) sikap peduli lingkungan hidup adalah suatu sikap dan perilaku yang selalu berupaya mencegah kerusakan alam dan sekitarnya serta mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang telah terjadi. narwanti (2011: 30) berpendapat, sikap peduli lingkungan merupakan sikap dan tindakan yang berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap peduli lingkungan berarti sikap yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari untuk melestarikan, memperbaiki dan mencegah kerusakan dan pencemaran lingkungan. berdasarkan paparan di atas maka perlu adanya suatu penelitian menggunakan media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan menarik untuk mahasiswa sehingga dapat memberikan makna tentang sikap peduli lingkungan dalam perilaku mahasiswa. media pembelajaran tersebut adalah media komik tentang perubahan iklim berbasis sikap ilmiah yang dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan. penggunaan media komik tersebut diharapkan efektif dalam menumbuhkan kepeduliah mahasiswa terhadap lingkungan. dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sikap peduli lingkungan mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan komik berbasis sikap ilmiah pada mata kuliah ilmu alamiah dasar dan mengetahui efektivitas penggunaan komik berbasis sikap ilmiah terhadap sikap peduli lingkungan mahasiswa pada mata kuliah ilmu alamiah dasar. metode penelitian metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitiaan kuantitatif pre experimental dengan desain penelitian one group pretest-posttest design. populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester dua program studi pgsd fkip unisri tahun akademik 2016/2017 yang berjumlah 95 mahasiswa kemudian dilakukan purposive sampling dihasilkan sampel berjumlah 32 mahasiswa. teknik pengumpulan data yang digunakan dengan menggunakan angket, wawancara, dan observasi. uji validitas data menggunakan validitas konstruk untuk instrumen angket sikap peduli lingkungan. teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah uji t dan uji n-gain dengan bantuan spss 21. hasil dan pembahasan hasil penelitian ini terdiri dari deskripsi data, uji prasyarat analisis dan pengujian hipotesis. adapun deskripsi data penelitian ditunjukkan seperti pada tabel 1. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 128 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 125 130 tabel 1. deskripsi data penelitian pada uji prasyarat analisis terdiri dari uji normalitas dan uji homogenitas. berdasarkan hasil uji normalitas diperolah nilai signifikansi pretest sikap peduli lingkungan 0,200 > 0,05, maka ho diterima sehingga pretest sikap peduli lingkungan berdistribusi normal. posttest sikap peduli lingkungan memiliki signifikansi 0,200 > 0,05 maka ho diterima sehingga posttest sikap peduli lingkungan berdistribusi normal. berdasarkan hasil uji homogenitas diperoleh bahwa pretest sikap peduli lingkungan memiliki signifikansi 0,181 > 0,05 menunjukkan bahwa ho diterima sehingga pretest sikap peduli lingkungan homogen. posttest sikap peduli lingkungan memiliki signifikansi 0,094 > 0,05 menunjukkan bahwa ho diterima sehingga posttest sikap peduli lingkungan homogen. pada pengujian hipotesis 1 diperoleh hasil paired sample t-test pada tabel 2 sebagai berikut: tabel 2. hasil paired sample t-test t df sig. (2tailed) pair 1 hasil pretest sikap peduli lingkungan posttest sikap peduli lingkungan -14.313 31 0.000 dari tabel 2 diperoleh nilai t sebesar 14,313 dengan sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05 dan dari tabel 1 diperoleh rata-rata nilai sikap peduli lingkungan sebelum menggunakan komik sebesar 64,25 dan sesudah menggunakan komik sebesar 79,44. dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan sikap peduli lingkungan mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan komik berbasis sikap ilmiah dan mengalami peningkatan nilai rata-rata sikap peduli lingkungan sebelum dan sesudah menggunakan komik berbasis sikap ilmiah. pegujian hipotesis 2 menunjukkan bahwa perhitungan rumus n-gain diperoleh hasil sebesar 0,425, jika nilai tersebut dikonsultasikan dengan tabel kriteria efektivitas pembelajaran artinya penggunaan komik berbasis sikap ilmiah efektif terhadap sikap peduli lingkungan mahasiswa dengan kriteria sedang. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap peduli lingkungan mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan komik berbasis sikap ilmiah pada mata kuliah iad. hal tersebut ditunjukkan dengan rata-rata nilai sikap peduli lingkungan sebelum menggunakan komik sebesar 64,25 dan sesudah menggunakan komik sebesar 79,44. perbedaan rata-rata nilai sikap peduli lingkungan menunjukkan bahwa penggunaan komik berbasis sikap ilmiah efektif dalam peningkatan sikap peduli lingkungan mahasiswa yang termasuk dalam kriteria sedang. penggunaan komik berbasis sikap ilmiah materi perubahan iklim adalah salah satu cara yang dapat memunculkan sikap peduli lingkungan mahasiswa yang dapat memahami kepedulian terhadap lingkungan dengan cara menyenangkan menggunakan komik berbasis sikap ilmiah dan berbagai implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. sikap peduli variabel penelitian mean std min max pretest sikap peduli lingkungan 64,25 3,976 56 72 posttest sikap peduli lingkungan 79,44 7,339 68 92 e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 efektivitas penggunaan komik.......................(anggit grahito & ratna w) 129 lingkungan adalah sikap yang harus dibentuk dan dikembangkan sejak dini. sikap peduli lingkungan berarti sikap yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari untuk melestarikan, memperbaiki dan mencegah kerusakan dan pencemaran lingkungan. komponen sikap peduli lingkungan adalah kerja keras untuk melindungi alam, menghargai kesehatan kebersihan, bijaksana dalam menggunakan sumber daya alam (sda), dan tanggung jawab terhadap lingkungan. hasil analisis data tersebut dapat terjadi karena materi tentang perubahan iklim dibuat lebih menarik perhatian dan bermakna bagi mahasiswa dengan disajikan dalam bentuk komik yang inovatif dengan cerita yang mewakili sikap ilmiah mahasiswa yang salah satunya adalah sikap peduli lingkungan. sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh mulyani (2009: 32) yang menyatakan bahwa penggunaan media komik strip efektif untuk mencapai kompetensi. hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa penggunaan media berupa komik strip dapat meningkatkan antusiasme dan ketertarikan anak dalam pembelajaran sehingga kompetensi anak dapat meningkat dengan signifikan. penelitian lain dilakukan oleh ikhsaniyah (2015: 69) yang membahas tentang efektivitas penggunaan media komik biologi terhadap motivasi dan hasil belajar kognitif menyimpulkan bahwa penggunaan media komik biologi efektif terhadap motivasi maupun hasil belajar kognitif. penelitianpenelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa media komik adalah salah satu media yang cukup efektif dalam peningkatan aspek kognitif dan aspek afektif dalam pembelajaran termasuk juga dalam peningkatan sikap peduli lingkungan. simpulan dan saran berdasarkan hasil dan pembahasan maka kesimpulan pertama dalam penelitian ini adalah ada perbedaan sikap peduli lingkungan mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan komik berbasis sikap ilmiah pada mata kuliah ilmu alamiah dasar prodi pgsd universitas slamet riyadi tahun akademik 2016/2017. penggunaan komik berbasis sikap ilmiah efektif terhadap sikap peduli lingkungan mahasiswa mata kuliah ilmu alamiah dasar prodi pgsd universitas slamet riyadi tahun akademik 2016/2017. hasil penelitian dapat menjadi pertimbangan peneliti lain untuk memasukkan isu-isu lingkungan lokal maupun nasional di sekitar mahasiswa dalam pembelajaran dan mengintegrasikan dengan fenomenafenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud penanaman sikap peduli lingkungan. selain itu perlunya selalu menjaga dan meningkatkan kualitas pembelajaran iad yang bermuatan lingkungan dengan diintegrasikan dalam media pembelajaran inovatif karena penggunaan komik berbasis sikap ilmiah efektif terhadap sikap peduli lingkungan mahasiswa. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 130 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 125 130 daftar pustaka ariyanto, metta. 2016. peningkatan hasil belajar ipa materi kenampakan rupa bumi menggunakan model scramble. profesi pendidikan dasar. vol. 3. no. 2, hlm. 133-14 arsyad, azhar. (2011). media pembelajaran. jakarta: rajawali pers. bossard, d., lewenstien, b., and bonney, r. (2005). scientific knowledge and attitude change: the impact of a citizen science project. international journal of science education, 27 (9), 1099-1121. ikhsaniyah, wahdatul. (2015). efektivitas media komik biologi materi virus melalui pembelajaran koopertif tipe cooperative integrated reading and compositing (circ) terhadap motivasi dan hasil belajar biologi siswa kelas x sma n 1 sewon. skripsi. uin sunan kalijaga yogyakarta. kemdiknas. (2010). desain induk pendidikan karakter. jakarta: badan penelitian dan pengembangan pusat kurikulum. mariyanah, nur. (2005). efektivitas media komik dengan media gambar dalam pembelajaran geografi pokok bahasan perhubungan dan pengangkutan”. (studi eksperimen pada siswa kelas ii smp n i pegandon kabupaten kendal). skripsi. unnes mccloud, jr, g.s. (2001). sistem informasi. yogyakarta: andi offset. mulyana, rahmat. (2009). penanaman etika lingkungan melalui sekolah peduli dan berbudaya lingkungan. jurnal tabularasa pps unimed. 6 (2), 175-180. mulyani, tri. (2009). efektivitas penggunaan media komik strip pada pembelajaran materi saling ketergantungan dalam ekosistem di smp negeri 1 kaliwungu kudus. skripsi. unnes. muslich, masnur. (2011). pendidikan karakter: menjawab tantangan krisis multidimensional. jakarta: bumi aksara. narwanti, sri. (2011). pendidikan karakter pengintegrasian 18 nilai peembentuk karakter dalam mata pelajaran. yogyakarta: familia. sudjana, nana dan ahmad rivai. (2009). media pengajaran. bandung: sinar baru algesindo. tatalovic, m. (2009). science comics as tools for science education and communication: a brief, exploratory study. journal of science and communication. 8 (4), 1-17. tella, a. (2007). the impact of motivation on student’s academic achievement and learning outcomes in mathematics among secondary school students in nigeria. eurasia j. math. sci. & technol. edu. 3(2), 149-156. wicaksono, anggit grahito dan jumanto. (2016). relevansi pendidikan karakter dengan sikap ilmiah dalam perspektif pembelajaran ipa di sekolah dasar. jurnal eksplorasi unisri. 29 (2), 208-216. persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 79 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 vol. 5, no. 1, juli 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.5397 persepsi guru sekolah dasar terhadap keberhasilan implementasi kurikulum 2013 apri damai sagita krissandi pgsd fkip universitas sanata dharma apridamai@gmail.com pendahuluan salah satu dimensi yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan dunia pendidikan nasional di masa depan adalah kebijakan mengenai kurikulum. kurikulum merupakan jantungnya dunia pendidikan. untuk itu, kurikulum di masa depan perlu dirancang dan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional dan meningkatkan mutu sumber daya manusia indonesia (puskur, 2007). kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (uu no.20 tahun 2003). agar senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman, kurikulum senantiasa berubah. sejak zaman indonesia merdeka, kurikulum sudah mengalami 11 kali perubahan. terakhir kurikulum berubah dari kurikulum ktsp menjadi kurikulum 2013. idealnya perubahan kurikulum direncanakan secara matang. hal-hal yang perlu dilakukan dalam perubahan kurikulum abstract: this study aimed to describe the perception of elementary school teachers kanisius branch of central java and yogyakarta about the success in implementing the curriculum 2013. this study was descriptive research. the subjects were 65 teachers in central java and yogyakarta under the kanisius foundation. the data were collected through questionares and interviews. the instrument validity was assessed by triangulation methods. the data were analyzed using the descriptive analysis technique. the results of the study show that the succes in 2013th curriculum implementation were government, institution, teacher, parent and student. the success that comes from the teacher has a percentage of 27.5%. studentgenerated success has a percentage of 31.2%. successes from the government have a percentage of 15.9%. the success that comes from the institution has a percentage of 10.9%. finally, the success that comes from parents has a percentage of 14.5%. keywords: perception, implementation, curriculum 2013, success https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.5397 persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 80 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 misalnya evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum lama, analisis kebutuhan terhadap tantangan zaman, penyusunan perangkat kurikulum, dan sosialisasi secara optimal. kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. titik beratnya, bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan keterampilan proses. permendikbud nomor 65 tahun 2013 menyatakan bahwa pembelajaran pada jenjang sekolah dasar berdasarkan kurikulum 2013 mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. sejalan dengan karakteristik dan cara belajar anak usia sekolah dasar usia 6 8 tahun, maka pembelajaran di sekolah dasar hendaknya mengusahakan suatu suasana yang aktif dan menyenangkan. untuk itu, beberapa prinsip perlu diperhatikan oleh guru, antara lain: prinsip latar, prinsip belajar sambil bekerja, prinsip belajar sambil bermain, dan prinsip keterpaduan (ardini, 2012: 2). sasaran pembelajaran dalam kurikulum 2013 mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan (permendikbud nomor 54 tahun 2013). di dalam kurikulum 2013 dinyatakan juga bahwa penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah (permendikbud nomor 66/2013). pada awal diimplementasikannya kurikulum 2013 telah menuai banyak kontroversi. penyiapan kurikulum 2013 dinilai terlalu terburu-buru dan tidak mengacu pada hasil kajian yang sudah matang berdasarkan hasil ktsp, dan kurang memperhatikan kesiapan satuan pendidikan dan guru. padahal kurikulum ini mencakup beberapa perubahan penting baik dari sisi substansi, implementasi, sampai evaluasi. meskipun demikian, kurikulum 2013 tetap dilaksanakan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2013/2014. kementerian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) menjelaskan bahwa pada tahun 2010-2035 adalah bonus demografi bagi indonesia dalam mempersiapkan generasi emas karena jumlah penduduk dengan usia sekolah sangat tinggi (tim penyusun modul plpg, 2013). dalam konteks indonesia rencana mempunyai sumbangan sebesar 20% terhadap keberhasilan suatu kebijakan, implementasi mempunyai sumbangan sebesar 60%, sisanya 20% adalah bagaimana mengendalikan implementasi (tilaar dan rian nugroho, 2008: 211). oleh karena itu, implementasi merupakan hal yang paling berat dalam keberhasilan suatu kebijakan. hal ini dikarenakan masalah yang tidak dijumpai secara teoritis dapat muncul dalam implementasi di lapangan. setelah satu tahun berjalan secara bertahap, kurikulum yang baru dilaksanakan secara serentak di semua satuan pendidikan mulai tahun ajaran baru 2014/2015. sejumlah kendala persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 81 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 yang dapat ditemui dalam pelaksanaannya, antara lain terkait dengan anggaran, kesiapan pemerintah dalam menyiapkan perangkat kurikulum, kesiapan guru, sosialisasi, dan distribusi buku risminawati dan nurul fadilah (2016: 53). di antara semua daftar di atas, masalah utama yang sangat menghambat adalah kesiapan guru sebagai kunci keberhasilan implementasi kurikulum ini. kunci keberhasilan kurikulum ini juga dipengaruhi oleh persepsi guru tentang keberhasilan implementasi kurikulum 2013. menurut rakhmat (2004: 14) persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubunganhubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan melampirkan pesan. jadi persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak. guru merupakan sumber daya manusia dalam implementasi kurikulum 2013. sumberdaya manusia yang digunakan akan menentukan implementasi dan keberhasilan kebijakan. hal ini kiranya sejalan dengan pendapat van meter dan van horn dalam hill dan hupe (2009: 4647) yang memformulasikan enam variabel yang mempengaruhi proses dan penampilan implementasi yaitu: (1) standar dan tujuan, (2) sumber daya, (3) komunikasi antar organisasi, (4) karakteristik lembaga pelaksana, (5) kondisi sosial, ekonomi, dan politik, (6) disposisi pelaksana. kurikulum 2013 membawa perubahan mendasar peran guru dalam pembelajaran. secara administratif, pemerintah pusat telah menyiapkan perangkat pelaksanaan pembelajaran yang tidak perlu lagi disiapkan oleh guru. namun demikian, guru dituntut berperan secara aktif sebagai motivator dan fasilitator pembelajaran sehingga siswa akan menjadi pusat belajar. hal ini menjadi kendala tersendiri bagi para guru karena tidak semua guru memiliki kompetensi tersebut. selain itu, guru dituntut kesiapannya untuk melaksanakan kurikulum dalam waktu yang relatif singkat sementara perangkatnya belum disiapkan secara matang. oleh karena itu diperlukan kerjasama seluruh stakeholder serta beberapa tahapan agar implementasi kurikulum dapat berjalan dengan baik, yaitu tahap perencanaan, tahap pengorganisasian, dan tahap pengendalian (habiby, dkk, 2017: 180) atas dasar uraian di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah apasaja keberhasilan yang didapatkan guru sd di yayasan kanisius cabang jawa tengah dan yogyakarta dalam mengimplementasikan kurikulum 2013? metode penelitian penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan mendeskripsikan secara luas keberhasilan guru sd yayasan kanisius cabang jawa tengah dan yogyakarta dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. penelitian ini dilaksanakan di yayasan kanisius cabang jawa tengah dan yogyakarta. guru yayasan tersebut menjadi subyek penelitian karena sepanjang pengetahuan peneliti belum banyak penelitian berkaitan dengan keberhasilan implementasi pelaksanaan kurikulum 2013. subyek penelitian ini terdiri atas 65 persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 82 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 orang guru sd. obyek penelitian ini meliputi keberhasilan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan angket. instrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan kuesioner. untuk menetapkan keabsahan data diperlukan kriteria pemeriksaan data berupa kriteria derajat kepercayaan. hal ini dilakukan untuk menjaga kredibilitas hasil penelitian yang dilakukan. validasi yang digunakan untuk menjaga kredibilitas ini adalah trianggulasi. triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. denzim dalam moleong (2002:178), membedakan empat (4) macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan, sumber, metode, penyidik, dan teori. dalam hal ini peneliti menggunakan teknik triangulasi dengan metode, yang berarti membandingkan dan mengecek suatu informasi yang diperoleh melalui metode yang berbeda. analisis yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari tiga jalur kegiatan yang berjalan secara simultan. ketiga jalur tersebut meliputi: (1) reduksi data, yakni proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatancatatan tertulis di lapangan; (2) penyajian data, yakni penyajian informasi yang telah tersusun yang kemungkinan memberikan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan; dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi, dalam kegiatan ini peneliti mencari arti benda-benda, mencatat urutan, dan pola-pola dari permulaan pengumpulan data. hasil dan pembahasan penelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan keberhasilan guru-guru sd kanisius dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. keberhasilan guru-guru sd kanisius dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dideskripsikan dengan melihat persepsi para guru terhadap keberhasilan implementasi kurikulum 2013. agar data survai penelitian ini mendalam secara substansial dan kontekstual maka digunakan cara analisis dari responrespon pertanyaan terbuka yang hasilnya diinterpretasi dengan konsep-konsep yang sesuai dengan latar belakang sekolah dan guru-guru sd kanisius. bentuk survai berupa pertanyaan terbuka, menjadikan jawaban bervariasi. data tentang keberhasilan-keberhasilan yang diperoleh melalui wawancara dan penyebaran angket terhadap responden menunjukkan bahwa keberhasilan yang dihadapi 65 guru-guru sd kanisius dapat diklasifikasikan menjadi lima ranah. pertama, keberhasilan yang berasal dari guru. kedua, keberhasilan yang berasal siswa. ketiga, keberhasilan yang berasal dari pemerintah. keempat adalah keberhasilan yang berasal dari institusi. kelima adalah keberhasilan yang berasal dari orang tua. persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 83 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 jawaban responden mengenai sumber keberhasilan dalam setiap klasifikasi. keberhasilan yang berasal dari guru dikatakan responden sebanyak 38 kali. keberhasilan yang berasal dari siswa dikatakan responden sebanyak 43 kali. keberhasilan yang berasal dari pemerintah dikatakan responden sebanyak 22 kali. keberhasilan yang berasal dari institusi dikatakan responden sebanyak 15 kali. terakhir, keberhasilan yang berasal dari orang tua dikatakan responden sebanyak 20 kali. persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan pada gambar 1. gambar 1 memperlihatkan persentase jawaban responden pada setiap klasifikasi sumber keberhasilan. keberhasilan yang berasal dari guru mempunyai persentase sebesar 27.5%. keberhasilan yang berasal dari siswa mempunyai persentase sebesar 31.2%. keberhasilan yang berasal dari pemerintah mempunyai persentase sebesar 15.9%. keberhasilan yang berasal dari institusi mempunyai persentase sebesar 10.9%. terakhir, keberhasilan yang berasal dari orang tua mempunyai persentase sebesar 14.5%. berdasarkan lima klasifikasi sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 di atas, dapat diperinci kembali sebagai berikut. pertama, keberhasilan yang berasal dari guru dapat diperinci menjadi dua klasifikasi, yaitu: 1) motivasi belajar guru; 2) koordinasi antar guru. kedua, keberhasilan yang berasal dari siswa dapat diperinci menjadi lima klasifikasi, yaitu: 1) keaktifan siswa; 2) karakter siswa; 3) keterampilan siswa; 4) kreativitas siswa; dan 5) beban buku siswa. ketiga, keberhasilan yang berasal dari pemerintah dapat diperinci menjadi tiga klasifikasi, yaitu: 1) variasi metode dan media pembelajaran; 2) pendekatan saintifik; dan 3) materi yang kontekstual. keempat, keberhasilan yang berasal dari institusi dapat diperinci menjadi empat klasifikasi, yaitu: 1) penambahan jam belajar; 2) sarana dan prasarana; 3) keaktifan kepala sekolah; dan 4) lokakarya. kelima, keberhasilan yang berasal dari orang tua dapat diperinci menjadi dua klasifikasi, yaitu: 1) komunikasi orang tua dengan sekolah; dan 2) keaktifan orang tua. 27,5 31,2 15,9 10,9 14,5 gambar 1. diagram presentase sumber-sumber keberhasilan kurikulum 2013 guru siswa pemerintah institusi orang tua persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 84 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 jumlah jawaban responden mengenai sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari guru. motivasi belajar guru yang semakin meningkat dikatakan responden sebanyak 27 kali. koordinasi antar guru yang semakin efektif dikatakan responden sebanyak 11 kali. persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan dalam gambar 2. gambar 2 memperlihatkan persentase sumber keberhasilan yang berasal dari guru. motivasi belajar guru yang semakin meningkat mempunyai persentase sebesar 71,1%. koordinasi antar guru yang semakin efektif mempunyai persentase sebesar 28,9%. jumlah jawaban responden mengenai sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari siswa. keaktifan siswa yang semakin meningkat dikatakan responden sebanyak 28 kali. karakter siswa yang semakin baik dikatakan responden sebanyak 5 kali. keterampilan siswa yang semakin baik dikatakan responden sebanyak 5 kali. kreativitas siswa dikatakan responden sebanyak 3 kali. terakhir, beban buku yang dibawa oleh siswa semakin ringan dikatakan oleh responden sebanyak 2 kali. persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan dalam gambar 3. 71,1 28,9 gambar 2. diagram persentase sumber-sumber keberhasilan dari guru motivasi belajar guru koordinasi antar guru 65,1 11,6 11,6 7 4,7 gambar 3. diagram persentase sumber-sumber keberhasilan dari siswa keaktifan siswa karakter siswa keterampilan siswa kreativitas siswa beban buku siswa persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 85 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 gambar 3 memperlihatkan persentase sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari siswa. keaktifan siswa yang semakin meningkat mempunyai persentase sebesar 65,1%. karakter siswa yang semakin baik mempunyai persentase sebesar 11,6%. keterampilan siswa yang semakin baik mempunyai persentase sebesar 11,6%. kreativitas siswa mempunyai persentase sebesar 7%. terakhir, beban buku yang dibawa oleh siswa semakin ringan dikatakan mempunyai persentase sebesar 4,7%. jumlah jawaban responden mengenai sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari pemerintah. variasi metode dan media pembelajaran dikatakan responden sebanyak 12 kali. pendekatan saintifik yang menarik dikatakan responden sebanyak 3 kali. materi pembelajaran yang kontekstual dikatakan responden sebanyak 7 kali. persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan dalam gambar 4. gambar 4 memperlihatkan persentase sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari pemerintah. variasi metode dan media pembelajaran mempunyai persentase sebesar 54,5%. pendekatan saintifik yang menarik mempunyai persentase sebesar 13,6%. materi pembelajaran yang kontekstual mempunyai persentase sebesar 31,8%. jumlah jawaban responden mengenai sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari institusi. kebijakan yayasan untuk menambah jam belajar anak dikatakan responden sebanyak 1 kali. penyediaan sarana dan prasarana dikatakan responden sebanyak 9 kali. peran aktif kepala sekolah dikatakan responden sebanyak 2 kali. lokakarya yang diadakan oleh institusi dikatakan responden sebanyak 3 kali. persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan dalam gambar 5. 54,5 13,6 31,8 gambar 4. diagram persentase sumber-sumber keberhasilan pemerintah variasi metode dan media pembelajaran pendekatan saintifik materi kontekstual persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 86 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 gambar 5 memperlihatkan persentase sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari institusi. kebijakan yayasan untuk menambah jam belajar anak mempunyai persentase sebesar 6,7%. penyediaan sarana dan prasarana mempunyai persentase sebesar 60%. peran aktif kepala sekolah mempunyai persentase sebesar 13,3%. lokakarya yang diadakan oleh institusi mempunyai persentase sebesar 20%. jumlah jawaban responden mengenai sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari orang tua. komunikasi orang tua dengan sekolah yang semakin efektif dikatakan responden sebanyak 16 kali. peran aktif orang tua dikatakan responden sebanyak 4 kali. persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan dalam gambar 6. gambar 6 memperlihatkan persentase sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari orang tua. komunikasi orang tua dengan sekolah yang semakin efektif mempunyai persentase sebesar 80%. peran aktif orang tua mempunyai persentase sebesar 20%. kurikulum 2013 yang telah empat tahun diimplementasikan memiliki berbagai permasalahan. akan tetapi, permasalahan-permasalahan tersebut sesungguhnya telah 6,7 60 13,3 20 gambar 5. diagram persentase sumber-sumber keberhasilan institusi penambahan jam belajar sarana dan prasarana peran kepala sekolah lokakarya 80 20 gambar 6. diagram persentase sumber-sumber keberhasilan orang tua komunikasi orang tua dengan sekolah peran aktif orang tua persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 87 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 diupayakan solusi dari berbagai pihak. salah satu penentu keberhasilan implementasi kurikulum 2013 adalah kesiapan guru. kesiapan para guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dapat dilihat dari persepsi guru terhadap hambatan dan dukungan implementasi tersebut. menurut syaodih, (rusman, 2009: 75) untuk mengimplementasikan kurikulum berdasarkan rancangan, dibutuhkan beberapa kesiapan, terutama kesiapan pelaksana. sebagus apapun desain dan rancangan kurikulum yang dimiliki, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada guru. kurikulum yang sederhana pun, apabila gurunya memiliki kemampuan, semangat, dan dedikasi yang tinggi, hasilnya akan lebih baik dari desain kurikulum yang hebat. kotler (2000: 12) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran obyek, penerimaan stimulus (input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap. oleh karena itu, persepsi seseorang terhadap suatu hal dapat mempengaruhi sikap maupun perilakunya. persepsi guru terhadap implementasi kurikulum 2013 merupakan cerminan kesiapan para guru menyongsong dan melaksanakan kurikulum 2013. hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 berasal dari guru, siswa, pemerintah, institusi, dan oran tua. hal ini kiranya sesuai dengan pendapat rusman (2009: 74) bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum sebagai berikut: dukungan dari instansi dan kepala sekolah, dukungan dari rekan sejawat guru, dukungan dari siswa dan orang tua, dan dukungan dari dalam diri guru merupakan unsur yang utama. ketika unsur-unsur di atas menghadapi kendala dapat dipastikan akan menghambat proses implementasi suatu kurikulum. guru sebagai ujung tombak pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan sebuah kurikulum. pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap kesiapan guru dalam implementasi kurikulum 2013. berdasarkan hasil wawancara juga ditemukan beberapa guru yang mulai memiliki persepsi negatif terhadap implementasi kurikulum 2013, mereka memilih untuk kembali menerapkan kurikulum 2006 karena diangap lebih mudah diimplementasikan. persepsi demikian muncul setelah pemerintah memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk lanjut pada kurikulum 2013 atau kembali pada kurikulum 2006. hal ini menjadi polemik karena terdapat dua kurikulum yang berjalan secara bersamaan. pemerintah perlu segera mengambil sikap atas fenomena tersebut. persepsi guru yang positif perlu dibangun agar optimisme majunya pendidikan di indonesia dapat dimiliki bersama. persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 88 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 simpulan persepsi guru terhadap keberhasilan implementasi kurikulum 2013 dipengaruhi faktor guru, siswa, pemerintah, institusi, dan orang tua. berdasarkan lima klasifikasi sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 di atas, dapat diperinci kembali sebagai berikut. pertama, keberhasilan yang berasal dari guru dapat diperinci menjadi dua klasifikasi, yaitu: 1) motivasi belajar guru; 2) koordinasi antar guru. kedua, keberhasilan yang berasal dari siswa dapat diperinci menjadi lima klasifikasi, yaitu: 1) keaktifan siswa; 2) karakter siswa; 3) keterampilan siswa; 4) kreativitas siswa; dan 5) beban buku siswa. ketiga, keberhasilan yang berasal dari pemerintah dapat diperinci menjadi tiga klasifikasi, yaitu: 1) variasi metode dan media pembelajaran; 2) pendekatan saintifik; dan 3) materi yang kontekstual. keempat, keberhasilan yang berasal dari institusi dapat diperinci menjadi empat klasifikasi, yaitu: 1) penambahan jam belajar; 2) sarana dan prasarana; 3) keaktifan kepala sekolah; dan 4) lokakarya. kelima, keberhasilan yang berasal dari orang tua dapat diperinci menjadi dua klasifikasi, yaitu: 1) komunikasi orang tua dengan sekolah; dan 2) keaktifan orang tua. daftar pustaka ardini, pupung puspa. 2012. “pengaruh dongeng dan komunikasi terhadap perkembangan moral anak usia 7-8 tahun”. jurnal pendidikan anak, vol. 1, no. 1. https://journal.uny.ac.id/index.php/jpa/article/view/2905https://journal.uny.ac.id/ind ex.php/jpa/article/view/2905 habiby, wahdan najib, dkk. 2017. “manajemen adaptasi pembelajaran kurikulum 2013 ke kurikulum 2006 (ktsp) sdn sondakan surakarta. jurnal profesi pendidikan dasar. vol. 4, no. 2, desember, hlm 180-189. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article /view/5555/3669 hill, m. and hupe p. (2009). implementing public policy. california: sage publication. inc. kotler, philip. (2000). marketing management: edisi milenium, international edition. new jersey: prentice hall. international, inc. kristiansari, rini. (2014). “analisis kesiapan guru sekolah dasar dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik integratif menyongsong kurikulum 2013”. jurnal pendidikan indonesia, universitas pendidikan ganesha, vol. 3, no. 2 moleong, l.j. (2002). metode penelitian kualitatif. bandung: remaja rosdakarya http://journals.ums.ac.id/index.php/ persepsi guru sekolah......(apri damai sk) 89 jppd, 5, (1), hlm. 79 89 murwati, hesti. (2013). “pengaruh sertifikasi profesi guru terhadap motivasi kerja dan kinerja guru di smk negeri se-surakarta”. jurnal pendidikan bisnis dan ekonomi (bise), 1 (1). hlm. 1-10. permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang standar pendidik. permendikbud nomor 54 tahun 2013 tentang standar kompetensi lulusan. permendikbud nomor 65 tahun 2013 tentang standar proses. permendikbud nomor 66 tahun 2013 tentang penilalian. permendikbud nomor 67 tahun 2013 tentang struktur kurikulum sd-mi. puskur. (2007). gagasan kurikulum masa depan. jakarta: balitbang puskur depdiknas. rakhmat, d. 2004. psikologi komunikasi. yogyakarta: kanisius risminawati dan nurul fadhila. 2016. “persepsi guru terhadap implementasi pembelajaran tematik integratif kurikulum 2013 di sd muhammadiyah 24 surakarta”. profesi pendidikan dasar vol. 3, no. 1, juli 2016 : 52 – 58. http://journals.ums.ac.id/ index.php/ppd/article/view/2604 rusman, (2009). manajemen kurikulum. jakarta: pt raja grafindo persada. sanjaya, wina. (2010). kurikulum dan pembelajaran. jakarta: kencana. sari, nengah cipta. (2015). “persepsi guru terhadap pelaksanaan kurikulum 2013 pada mata pelajaran sejarah”. widya winayata: jurnal pendidikan sejarah, universitas pendidikan ganesha, vol. 3, no. 1 supianto, anton. (2014). “persepsi guru ips terhadap kurikulum 2013 (studi kasus pada smp negeri 10 pontianak)”. jurnal pendidikan dan pembelajaran, vol. 3, no. 8 tilaar& riant nugroho. (2008). kebijakan pendidikan: pengantar untuk memahami kebijakan pendidikan sebagai kebijakan publik. yogyakarta: pustaka pelajar. tim pengembang modul plpg. (2013). modul plpg. yogyakarta: universitas sanata dharma. uu no.20 tahun 2003. (2003). sistem pendidikan nasional. yamin, moh. (2012). panduan manajemen mutu kurikulum pendidikan. yogyakarta: diva press. http://journals.ums.ac.id/ aksesibilitas kemampuan literasi......(anna sylvia, dkk) 1 jppd, 6, (1), hlm. 1 10 vol. 6, no. 1, juli 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i1.7787 aksesibilitas kemampuan literasi media siswa sekolah anna sylvia dian wijaya1), suhardi2), ali mustadi3) 1,3) pascasarjana, universitas negeri yogyakarta; 2)fakultas bahasa dan seni, uny 1annasylvia.2017@student.uny.ac.id; 2suhardi@uny.ac.id; 3ali_mustadi@uny.ac.id pendahuluan perkembangan teknologi di indonesia semakin maju. kecenderungan global ini menyebabkan adanya perubahan di hampir segala aspek, salah satunya adalah aspek penyebaran informasi melalui media massa. gejala ini membuat informasi atau pesan dari media menjadi semakin mudah didapatkan. kemudahan tersebut menjadikan semua pihak dapat mengakses apa yang ingin diketahui kapan pun dan dimana pun. tanpa memiliki kemampuan untuk menangkap pesan dari media, dapat menjerumuskan anak ke dalam budaya yang tidak sesuai dengan karakteristik anak. tidak jarang kasus tersebut sampai menjadikan anak harus berhadapan dengan hukum. hal tersebut tercantum dalam laporan di kpai bahwa ada pengaduan di bidang anak terhadap hukum sebanyak 8.470 sepanjang tahun 2015-2016. hal ini merupakan pengaduan tertinggi terhadap anak dibandingkan dengan kasus pengaduan yang lain. pihak yang paling rentan terkena pengaruh dari media salah satunya adalah anak-anak. berdasarkan suevey nielsen consumer media view tahun 2017 yang dilakukan di 11 kota di indonesia, pengaksesan media televisi masih memimpin penggunaannya sebanyak 96%, disusun abstract: in indonesia gerakan literasi sekolah (gls) launched by the government, has aim to make learners become literary generation. one of the literacy skills that should be developed nowadays is media literacy. information can be more accessible to children through their ability to use information technology and media. this research aimed to determine the needs of media literacy of elementary school students. the purpose of this research is to know students' accessibility the most to media, media influence, and the importance of media literacy ability to be owned by grade v elementary school students. through a survey approach that has been conducted on 83 students of class v primary schools in purworejo, central java, the results of this study describe that students of grade v elementary school in purworejo have been familiar with media technology. most of them can access the media especially television. therefore, it is necessary media literacy ability to increase students' awareness of various content in the media information, so that students can be wise in choosing the appropriate content with his age. the development of media literacy can be implemented in gls keywords: gls, media accesibility, media literacy http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.7787 mailto:annasylvia.2017@student.uny.ac.id mailto:suhardi@uny.ac.id mailto:ali_mustadi@uny.ac.id aksesibilitas kemampuan literasi......(anna sylvia, dkk) 2 jppd, 6, (1), hlm. 1 10 oleh media luar ruang 53%, internet 44%, selanjutnya untuk media radio 37%, media massa koran 7%, tabloid serta majalah 3%. masyarakat dalam generasi milinial sudah sangat familiar dengan berbagai media. pentingnya sebuah media literasi dapat digarisbawahin degnan melihat kemajuan modernisasi masyarakat yang dipengaruhi oleh media (nijboer & hammelburg, 2010: 37). anak-anak memerlukan suatu perhatian yang lebih besar. anak usia sekolah dasar belum sepenuhnya dapat menyaring informasi dengan kritis dari media. mereka cenderung lebih senang melihat tontonan menghibur dan dapat diimitasi. penikmat media dari usia anak mungkin belum dapat menemukan realitas bahwa apa yang disajikan oleh media massa merupakan hal yang sudah direkayasa. seperti pada contoh kasus hilarius christian yang merupakan peajar, tewas dalam duet gladiator di bogor pada tanggal 29 januari 2016. selain itu pada contoh kasus di banyumas dimana ada 7 siswa sekolah dasar yang mengalami gangguan mental karena kecanduan game online (aziz, 2018). kasus ini menunjukkan bahwa anak sangat mudah mengakses game online yang berakibat pada kecanduan. pada akhirnya kecanduan tersebut membuat anak mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan. kejadian ini merupakan salah satu bentuk karena adanya pengaruh media yang tidak dapat disaring dengan baik oleh para penonton sajian. kemampuan menyaring informasi dari media secara kritis disebut literasi media. penumbuhan generasi literat pada usia sekolah yang melek terhadap media dapat disisipkan dalam kurikulum pendidikan. yayasan tifa (2016) menyebutkan bahwa tujuan akhir dari pendidikan literasi ini sebenarnya adalah mendidik masyarakat agar kritis terhadap media. literasi media perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan saat ini untuk menciptakan para generasi literat yang memiliki kemampuan dalam memahami pesan atau informasi dari media. salah satu jalan yang dapat digunakan guna menumbuhkan kemampuan literasi media ini adalah melalui gerakan literasi sekolah yang telah mulai gencar dilaksanakan di kurikulum 2013. literasi merupakan terjemahan darikata dalam bahasa inggris yaitu literacy, yang merupakan adopsi dari bahasa latin yakni littera (huruf) yang pengertiannya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan bagaimana cara memperoleh informasi. kress (2003: 17) mengemukakan, “literacy is the term to use when we make messages using letters as the means of recording that message.” literasi merupakan istilah yang digunakan ketika kita membuat pesan atau informasi menggunakan huruf sebagai alat untuk merekam pesan tersebut. konteks ini menunjukkan bahwa literasi tidak lepas dari bahasa, mengingat bahwa huruf merupakan penyusun kata sebagai bagian dari bahasa. literasi media dalam bahasa indonesia sering diartikan sebagai melek media. untuk menjadi seorang yang melek media atau memiliki kemampuan literasi media, membutuhkan kemampuan dalam memahami pesan atau informasi. literasi media menjadi penting di tengah terpaan informasi di media. (buckingham, burn, & cranmer, n.d, 2004:18) menyimpulkan bahwa media literacy adalah, “the ability to access, understand, and create communications in a variety contexts.” media literasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menciptakan komunikasi dalam berbagai konteks. perovic (2015: 93) mengklasifikasikan kemampuan dalam berliterasi media mencakup: 1) access, 2) critical thinking, 3)creative media production, 4) media awareness, dan 5) civic participation. kemampuan ini dirangkum dalam sebuah peta konsep yang berisikan beberapa indikator yang mendukung aspek kemampuan literasi tersebut. kemampuan awal adalah kemampuan mengakses media melalui aktivitas membaca dan menulis via media. istilah lain disebutkan oleh lin, li, deng, & lee (2011: 164) sebagai consuming skill atau kemampuan seseorang dalam mengoperasikan media, mendapatkan informasi, dan menggunakan teknologi informasi. banyak aktivitas yang dapat menunjukkan bahwa siswa telah memiliki keterampilan aksesibilitas kemampuan literasi......(anna sylvia, dkk) 3 jppd, 6, (1), hlm. 1 10 ini antara lain dapat merespon atau memberi tanggapan sebuah teks yang tertampil dari media, memahami bahasa sosial yang digunakan, yang terakhir siswa dapat mengantisipasi pesan atau informasi yang terkandung di dalam media tersebut. berdasarkan survei aksesibilitas siswa terhadap media, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana aksesibilitas siswa terhadap media, pengaruh media, serta pentingnya kemampuan literasi media untuk dimiliki oleh siswa kelas v sekolah dasar. metode penelitian metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mix-method, yaitu penggabungan dari pendekatan kualiatif dan kuantitatif. sugiyono (2011: 404) menyatakan bahwa penelitian kombinasi (mixed methods) merupakan suatu metode penelitian yang menggabungkan antara metode kuantitatif dengan metode kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan penelitian, sehingga diperoleh data yang lebih komperehensif, valid, reliabel, dan obyektif. penelitian ini mendeskripsikan angket hasil survey yang telah disebarkan oleh peneliti. proses kualitatif terjadi saat peneliti melakukan wawancara kepada guru dan siswa mengenai accessing media informasi. kemudian data dikuatkan dengan penelitian kuantitatif dengan diadakannya metode survey melalui angket. penelitian ini dilaksanakan di kabupaten purworejo dengan tiga sekolah sampel yaitu sd negeri kledungkradenan, sd negeri lugosobo 1, dan sd negeri salam. responden merupakan siswa kelas v sekolah dasar. jumlah keseluruhan responden ada 83 siswa. penelitian dilakukan pada bulan januari 2018. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aksesibilitas siswa terhadap media, pengaruh media, serta pentingnya kemampuan literasi media untuk dimiliki oleh siswa kelas v sekolah dasar. selain menggunakan teknik survei, penelitian juga dilengkapi dengan data kualitatif pertanyaan terhadap guru dan siswa sebagai data pendukung. data disajikan dalam tabel presentase yang menunjukkan jumlah siswa yang memiliki kategori berdasarkan pernyataan yang ada. hasil dan pembahasan data diperoleh melalui survey terhadap siswa kelas v di beberapa sekolah dasar di kabupaten purworejo. jumlah responden adalah 83 siswa yang berasal dari sd negeri kledungkradenan, sd negeri salam, dan sd negeri lugosobo 1. jika dibagi menurut jenis kelamin, responden memiliki jumlah yang seimbang, seperti yang ditunjukkan dalam tabel 1: tabel 1. data responden no jenis kelamin jumlah 1 perempuan 42 2 laki-laki 41 jumlah total 83 peneliti memberikan pertanyaan survey sebagai upaya untuk mengetahui mengenai kemampuan literasi media siswa. kebutuhan kemampuan literasi media berdasarkan aksesibilitas kemampuan literasi......(anna sylvia, dkk) 4 jppd, 6, (1), hlm. 1 10 tingkat aksesibilitas siswa dengan media. berikut merupakan hasil dari temuan berdasarkan analisis kebutuhan dalam survei yang telah dilakukan. tabel 2. hasil kalkulasi angket pernyataan ya kadang tidak p1 81 (9,76/10) 1 (0,12/10) 1 (0,12/10) p2 66 (7,95/10) 7 (0,84/10) 10 (1,2/10) p3 32 (3,86/10) 33 (3,98/10) 18 (2,17/10) p4 18 (2,17/10) 39 (4,70/10) 26 (3,13/10) p5 38 (4,58/10) 25 (3,01/10) 20 (2,41/10) p6 27 (3,25/10) 26 (3,13/10) 30 (3,61/10) p7 21 (2,53/10) 14 (1,69/10) 48 (5,78/10) p8 54 (6,51/10) 25 (3,01/10) 4 (0,48/10) p9 55 (6,63/10) 21 (2,53/10) 7(0,84/10) indikator pernyataan: p1 = saya tahu cara menggunakan televisi p2= saya tahu cara menggunakan handphone p3 = saya selalu paham dengan informasi di televisi p4 = saya selalu paham dengan informasi terbaru p5 = saya melihat adegan perkelahian di televisi p6 = saya melihat acara yang tidak cocok untuk anak-anak p7 = saya pernah mencontoh perbuatan yang ada di televisi (ucapan, perbuatan, dll) p8 = saya menonton televisi ditemani orang tua atau keluarga p9 = saya lebih suka acara kartun untuk anak-anak untuk mengetahui sebaran data dari jawaban sampel di setiap pernyataan ditunjukkan dengan tabel sebagai berikut: tabel 3. sebaran data n min max mean std. dev p1 83 1.00 3.00 2.9639 .24424 p2 83 1.00 3.00 2.6747 .68269 p3 83 1.00 3.00 2.1687 .76221 p4 83 1.00 3.00 1.9036 .72607 p5 83 1.00 3.00 2.2169 .81223 p6 83 1.00 3.00 1.9639 .83295 p7 83 1.00 3.00 1.6747 .85694 p8 83 1.00 3.00 2.6024 .58309 p9 83 1.00 3.00 2.5783 .64620 valid n (listwise) 83 aksesibilitas kemampuan literasi......(anna sylvia, dkk) 5 jppd, 6, (1), hlm. 1 10 aksesibilitas penjabaran hasil angket tersebut pada pernyataan pertama menunjukkan bahwa peserta didik mudah untuk mengakses televisi. 81 (97,6) responden sudah bisa mengakses televisi secara mandiri. selain itu, pada pertanyaan kedua dimana siswa ditanya apakah siswa paham penggnaan smartphone, siswa juga sebagian besar 79,5% menjawab dapat menggunakan handphone dengan baik. dimensi literasi media terdiri dari lima elemen yaitu 1) access, 2) analyze, 3) create, 4) reflect, dan 5) act. penjelasan pengertian dari access cenderung kepada bagaimana mencari dan membagi informasi relevan menggunakan media dan teknologi yang sesuai (hobbs, 2011). hasil ini mengindikasikan bahwa saat ini media memang mudah untuk diakses oleh siswa. televisi dan handphone menjadi dua media elektronik yang mudah diakses oleh siswa. dari kedua hal tersebut televisilah yang menjadi media paling mudah diakses. hal ini sesuai dengan penelitian dari suevey nielsen consumer media view tahun 2017 yang dilakukan di 11 kota di indonesia, pengaksesan media televisi masih memimpin penggunaannya sebanyak 96%, disusun oleh media luar ruang 53%, internet 44%, radio 37%, koran 7%, tabloid dan majalah 3%. perkembangan perseprual-kognitif yang diungkapkan oleh allen & marrotz (2010) yang mengungkapkan bahwa anak memang lebih senang mencari informasi dari berbagai media seperti internet, radio, ataupun televisi. tabel 4. p1 pengaksesan media televisi f % valid % cum % valid 1 1 1.2 1.2 1.2 2 1 1.2 1.2 2.4 3 81 97.6 97.6 100.0 total 83 100.0 100.0 tabel 5. p2. pengaksesan smartphone f % valid % cum % valid 1 10 12.0 12.0 12.0 2 7 8.4 8.4 20.5 3 66 79.5 79.5 100.0 total 83 100.0 100.0 pendampingan dalam pengaksesan media dalam survei menunjukkan bahwa sekitar 55 (66,3%) responden menonton televisi dengan ditemani oleh orang tua mereka, namun pada survei mengenai pemahaman informasi yang dinikmati oleh mereka, siswa yang merasa paham dengan informasi yang ada terdapat sekitar 32 (38,6%) atau hampir setengah lebih dari responden. aksesibilitas kemampuan literasi......(anna sylvia, dkk) 6 jppd, 6, (1), hlm. 1 10 tabel 6. p8. pendampingan pengaksesan media f % valid % cum % valid 1 4 4.8 4.8 4.8 2 25 30.1 30.1 34.9 3 54 65.1 65.1 100.0 total 83 100.0 100.0 tabel 7. p3. pemahaman informasi konten f % valid % cum % valid 1 18 21.7 21.7 21.7 2 33 39.8 39.8 61.4 3 32 38.6 38.6 100.0 total 83 100.0 100.0 pendampingan orang tua menjadi hal yang penting dalam pengaksesan media terutama untuk siswa yang sudah tumbuh dan berkembang. (allen & marrotz, 2010) siswa kelas v sekolah dasar dalam perkembangannya membutuhkan pendampingan dalam mengakses media. menurut psikologi belajar dari albert bandura yang mengungkapkan bahwa proses belajar dipengaruhi lingkungan dengan pengalaman. oleh karena itu, dalam perkembangan siswa, proses melihat dapat mempengaruhi perilaku siswa. siswa mudah untuk mengimitasi apa yang telah ia lihat, dengar, dan rasakan. namun, ternyata semakin tinggi usia semakin siwa dapat mengatur mengenai egonya, seperti pada penjelasan sigmund freud. tabel 8. p7. peniruan konten (verbal and action) f % valid % cum % valid 1 48 57.8 57.8 57.8 2 14 16.9 16.9 74.7 3 21 25.3 25.3 100.0 total 83 100.0 100.0 tabel 9. p5. pengaksesan tayangan kekerasan f % valid % cum % valid 1 48 57.8 57.8 57.8 2 14 16.9 16.9 74.7 3 21 25.3 25.3 100.0 total 83 100.0 100.0 pertanyaan kelima menunjukkan akses siswa terhadap tayangan yang mengandung kekerasan atau perkelahian. hasil menunjukkan bahwa 57,8% siswa pernah melihat aksesibilitas kemampuan literasi......(anna sylvia, dkk) 7 jppd, 6, (1), hlm. 1 10 tayangan mengenai perkelahian di media. melalui kajian mengenai proses peniruan siswa, terdapat kemungkinan mereka dapat meniru adegan tersebut kembali ke dalam kehidupannya sehari-hari. namun ternyata, pada hasil pertanyaan ketujuh, siswa yang mencontoh perbuatan pada televisi (verbal atau tindakan) hanya sebesar 25,3% dengan jawaban ya, 16,9 % kadang, dan 57,8% tidak. jika dihubungkan dengan karakteristik siswa usia kelas v sekolah dasar, anak kelas v usia sekolah dasar memang mampu untuk mulai meniru kaa-kata populer yang ia pernah dengar di media (allen & marrotz, 2010). demikian, tidak memungkiri bahwa pengaksesan tayangan yang mengandung kekerasan atau konten negatif dapat ditiru oleh siswa. salah satu dampak dari tayangan televisi, dijelaskan oleh hasil wawancara terhadap guru. salah satu guru mengaku bahwa media televisi memang memberi pengaruh besar terhadap siswa. siswa dapat meniru adegan-adegan yang sebenarnya belum cocok dengan usianya. selain itu, pengaksesan media yang tidak mendapat pendampingan dengan baik sangat mempengaruhi cara berkomunikasi dan bertindak siswa dalam kehidupan seharihari di sekolah. media literasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menciptakan komunikasi dalam berbagai konteks. kemampuan untuk mengakses ini mengacu pada penentuan konten media yang sesuai dengan kebutuhan (buckingham et al., n.d., 2004: 18). namun, hasil survey menunjukkan bahwa data tersebar heterogen dimana kemampuan siswa dalam memahami media yang diakses di televisi hampir seimbang yaitu 38,6%, 39,8%, dan 21,7%. hasil kalkulasi yang hampir sama ini menandakan kurangnya pandangan aktif dari siswa dalam memahami konten media dan belum sesuai dengan pengertian literasi media sendiri yang merupakan cara pandang aktif dalam mengakses dan media yang mengintepretasikan pesan yang disajikan (potter, 2014). literasi media merupakan hal yang berkelanjutan sehingga perlu dimiliki oleh siswa sejak dini sehingga siswa dapat menyaring konten yang bersifat reaktif, agresif, apatis, dan juga masa bodoh. hasil survei menunjukkan bahwa hampir separuh siswa yaitu sebesar 45,8% pernah melihat adegan mengenai perkelahian di televisi, sehingga kemampuan menyaring konten ini diperlukan oleh siswa. pemahaman mengenai informasi yang didapatkan oleh individu dalam membentuk persepsi terhadap informasi adalah berbeda (tamburaka, 2013). hal ini sesuai dengan hasil survey yang menunjukkan keberagaman siswa dalam kemampuan memahami informasi terbaru, yang ditunjukkan dengan angka 21,7%, 39%, 26%. siswa lebih banyak tidak paham dan terkadang paham dalam memaknai informasi yang ia terima. (livingstone, 2009) mengungkapkan bahwa kemampuan analisis dalam literasi media seperti analisis struktur pesan dengan mendayagunakan konsep dasar ilmu pengetahuan dapat meningkatkan kemampuan sisswa dalam memahami pesan pada media tertentu. salah satu manfaat dari literasi media adalah adalah membantu siswa semakin waspada terhadap informasi yang menyebar secara bebas (ramsey, 2017). sebelumnya, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai literasi. literasi merupakan istilah yang digunakan ketika membuat pesan atau informasi menggunakan huruf untuk merekam pesan (kress, 2003). selain itu, istilah umum untuk literasi adalah melek huruf. pengertian tersebut dapat diperluas sebagai “words that name the use of the resources in aksesibilitas kemampuan literasi......(anna sylvia, dkk) 8 jppd, 6, (1), hlm. 1 10 the production of the message or words that name the use of the resources in the production of the message” (lewandowski, co-investigator, & lewandowski, 2015). tahap literasi media yang sedang dijalani oleh siswa usia sekolah dasar adalah perkembangan dari tahap intensif ke tahap exploring (potter, 2014). pada tahap ini apabila siswa dimaksimalkan dalam memiliki kemampuan literasi media, maka siswa dapat semakin berkembang dan melek huruf terhadap segala informasi yang ia terima.oleh karena itu ia membutuhkan kemampuan untuk mencerna informasi. tahap ini diperlukan untuk perkembangannya menuju kedewasaan. lebih-lebih untuk anak usia sekolah dasar kelas v merupakan usia siswa yang mulai dapat terpengaruh media (allen & marrotz, 2010). selain itu siswa memerlukan pedampingan terhadap media yang diakses oleh siswa. siswa yang mendapat pendampingan baik dari orang tua atau orang yang lebih paham akan terhindar dari peniruan konten-konten negatif yang ada di konten media. untuk kalangan peserta didik, salah satu manfaat dari literasi media adalah dapat membantu siswa untuk lebih waspada terdahap pesan yang diterima dari media serta membangun persepsi yang akan membantu mengarahkan mereka untuk memberikan aksi terhadap media baik politik, ekonomi, maupun masalah sosial (ramsey, 2017). perkembangan informasi yang semakin luas, serta kemudahan akses informasi sangat jelas membutuhkan kemampuan literasi media dalam pengaksesannya. “children and teenagers spend more time engaded in various media than they do in any other activity except fo sleeping (council on cummunication media, 2010). pandangan mengenai pembelajaran literasi media dalam anak-anak disampaikan oleh strasburger, wilson, & jordan (2014) yang mengungkapkan bahwa pengajaran media literasi ditekankan pada membaca, mendengar, melihat, dan menulis secara komprehensif untuk memahami sudut pandang, mengkonstruksi tekni, tujuan, target khalayak dan pro-kontranya. “media literacy requires the skill to realize that the messages taken from media are reconstructed in the media” (sur, 2014). kemampuan literasi media dibutuhkan untuk membangun kemampuan memaknai pesan yang terkadung dan tersebar dalam media masa. hobbs & moore (2013) menjelaskan berbagai kemampuan literasi media yang harus dikuasai oleh anak yaitu terdiri dari kompetensi (1) the acces dimension :using, finding, and comprehending, (2) analyze: the critical thinking dimension, (3) communicate : tehe expressive dimension, (4) reflect : the social responsibility dimension, and (5) act : make difference in the world. kelima kemampuan literasi ini merupakan kemampuan yang sebaiknya dapat dikuasai oleh siswa dan bertahap sesuai dengan tahap perkembangannya. melalui pemahaman kompetensinya, dapat menjadikan seorang siswa semakin melek terhadap informasi, menganalisis, dan merefleksikannya sehingga pada akhirnya dapat digunakan untuk berkomunikasi. selain itu, diharapkan dapat memunculkan sikap kreatif siswa dalam menciptakan suatu media. simpulan hasil penelitian ini menggambarkan bahwa siswa kelas v sekolah dasar di purworejo telah terbiasa dengan teknologi media. kebanyakan dari mereka dapat mengakses media terutama televisi. namun, hanya sedikit yang dapat memahami informasinya. tanpa kemampuan literasi media, siswa mungkin terpengaruh oleh konten aksesibilitas kemampuan literasi......(anna sylvia, dkk) 9 jppd, 6, (1), hlm. 1 10 yang mungkin tidak sesuai dengan usia mereka. kemampuan literasi media diperlukan untuk meningkatkan kesadaran siswa akan berbagai konten dalam informasi media, sehingga siswa dapat bijak dalam memilih konten yang sesuai dengan usianya. bentuk literasi di sekolah dapat dimasukkan ke dalam kegiatan literasi sekolah yang telah diterapkan. selain itu, bentuk bantuan dari orang tua atau orang dewasa dalam mengakses konten yang dinikmati dari media juga merupakan faktor utama dalam perkembangan siswa di media. oleh karena itu, kemampuan literasi media menjadi hal penting yang harus dikuasai oleh siswa kelas v sekolah dasar. daftar pustaka allen, k. e., & marrotz, l. r. (2010). profil perkembangan anak; prakelahiran hingga usia 12 edisi 5. clifton park: thomson delmar learning. aziz, abdul. (2018). kecanduan game online, 10 anak di banyumas alami gangguan mental diakses 13 februari 2019. https://www.merdeka.com/peristiwa/kecanduangame-online-10-anak-di-banyumas-alami-gangguan-mental.html. buckingham, d., burn, a., & cranmer, s. (n.d.). (2004). the media literacy of children and young people. hobbs, r. (2011). digital and media literacy: connecting culture and classroom. usa: corwin. hobbs, r., & moore, d. c. (2013). discovering media literacy. california: sage publications. nielsen. (2017). tren baru di kalangan pengguna internet di indonesia diakses 14 mei 2018. http://www.nielsen.com/id/en/press-room/ 2017/tren-baru-dikalangan-pengguna -internet-di-indonesia.html kress, g. (2015). literacy in the new media age. london: routledge. lin, tzu-b., li, yen-yi, deng, f., & lee, lin. (2013). understanding new media literacy: an explorative theoretical framework. journal of educational technolgy & society. vol. 16. no.4. pp. 160-170. lewandowski, c. m., co-investigator, n., & lewandowski, c. m. (2015). literacy in the new media age. the effects of brief mindfulness intervention on acute pain experience: an examination of individual difference (vol. 1). https://doi.org/10.1017/cbo9781107415324.004 livingstone, s. (2009). what is media literacy ?. brussel : eavi. nijboer, jelke & hammelburg, esther. (2010). extending media literacyl a new direction for libraries. new library world. vol. 111. no1/2. pp. 36-45. potter, w. j. (2014). media literacy (7th editio). california: sage publications. https://www.merdeka.com/peristiwa/kecanduan-game-online-10-anak-di-banyumas-alami-gangguan-mental.html https://www.merdeka.com/peristiwa/kecanduan-game-online-10-anak-di-banyumas-alami-gangguan-mental.html http://www.nielsen.com/id/en/press-room/ https://doi.org/10.1017/cbo9781107415324.004 aksesibilitas kemampuan literasi......(anna sylvia, dkk) 10 jppd, 6, (1), hlm. 1 10 perovic, jelena. (2015). media literacy in montenegro. media and communication. vol 3. iss 4. pp. 91-105. ramsey, e. m. (2017). voices in the field the basic course in communication , media literacy , and the college curriculum, 9(1), 116–128. strasburger, v. ., wilson, b. ., & jordan, a. . (2014). children, adolencents, and the media (third edit). usa: sage publications. sugiyono. (2015). metode penelitian pendidikan : pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta. sur, e., unal, e., & iseri, k. (2014). “primary school grade teachers’ and students’ opinions on media literacy”. media education research journal, vol xx1, 119127. tamburaka, a. (2013). literasi media; cerdas bermedia khalayak media massa. jakarta: rajawali pers. tim peneliti pkmbp. (2013). model-model gerakan literasi media & pemantauan media di indonesia. yogyakarta: yayasan tifa & pkmbp efektifitas model pembelajaran.......(ivayuni listiani) 101 jppd, 5, (2), hlm. 101-108 vol. 5, no. 2, desember 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi:https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.5748 efektifitas model problem based instruction terhadap keterampilan proses sains mahasiswa pada mata kuliah konsep sains ivayuni listiani fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas pgri madiun ivayuni@unipma.ac.id pendahuluan pendidikan merupakan sesuatu yang bersifat dinamis sehingga selalu menuntut adanya suatu perbaikan yang bersifat terus menerus. seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, setiap negara dituntut untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu manusia yang mempunyai kesiapan mental dan kemampuan berpartisipasi mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga dapat meningkatkan kualitas bangsa itu sendiri. pendidikan bertujuan untuk memberikan pembelajaran yang dapat mengajarkan berbagai hasil belajar seperti bagaimana menumbuhkan sikap positif, karakter, dan melatihkan keterampilan mengambil keputusan serta keterampilan-keterampilan untuk berhasil hidup di abad 21 (nurmasari, kusmayadi, riyadi, 2014). keterampilan abad 21 yang sekarang menjadi pusat perhatian peneliti pendidikan sains antara lain adalah learning and innovation skills dan life and career skills (ibrahim, 2012). pendidikan yang sesuai dengan perkembangan abad 21 menurut amir (2010: 1) merupakan pendidikan yang lebih mengandalkan pada pengembangan keterampilan abstract: this research aims to find out the effectiveness of problem based instruction model on science process skills of students in the subject of science concepts ii pgri madiun university. this research was a quasi experiment with quantitative approach. the research design was posttest only control group design by using model problem based instruction in the experimental group and the lecture method varies in the control group. the study population was the whole second semester students prodi pgsd pgri madiun university. the sampling technique used cluster random sampling, in order to obtain semeseter 2 class 2d as an experimental group and 2c as a control group. the data collection technique using a multiple choice test and essay, observation sheets, as well as their academic papers. the hypothesis testing using t-test. normality test was performed using kolmogorov-smirnov test with significance of control class 0,332 and experiment class 0,538. homogeneity test using levene's test with significance level of 0.532. hypothesis test results obtained a significance level of 0.00 so that the results of this study concluded that the learning model problem based instruction is effective against science process skills of students in the subject of science concepts ii pgri madiun university. keywords: model of learning, problem based instruction, science process skills, science concepts. https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.5748 mailto:ivayuni@unipma.ac.id efektifitas model pembelajaran.......(ivayuni listiani) 102 jppd, 5, (2), hlm. 101-108 proses yang meliputi, keterampilan berpikir, keterampilan pemecahan masalah, keterampilan berkomunikasi untuk mendukung optimalisasi pencapaian pendidikan. pembelajaran ipa yang pada hakekatnya merupakan pengetahuan yang berdasarkan fakta, hasil pemikiran dan produk hasil penelitian yang dilakukan para ahli, sehingga perkembangan pembelajaran ipa diarahkan pada produk ilmiah, metode ilmiah dan sikap ilmiah yang dimiliki mahasiswa dan akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas mahasiswa. pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warga negara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan (yayu, 2017). peningkatan kualitas dapat dilakukan melalui berbagai hal melalui pemberdayaan proses pembelajaran. proses pembelajaran belum sepenuhnya mengakomodasikan mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga mahasiswa terkesan pasif. kepasifan mahasiswa berdampak pada kurang tertariknya dalam kegiatan pembelajaran sehingga menyebabkan rendahnya kps mahasiswa dalam berkomunikasi untuk mengungkapkan apa yang kurang dimengerti. hasil timss (trends in international mathematics and science studies) pada tahun 2011, menunjukkan bahwa hasil sains indonesia berada pada urutan ke-40 dari 42 negara dengan nilai rata-rata sebesar 406. hasil serupa juga ditunjukkan dalam studi pisa (programme for international student assessment) dimana skor indonesia kembali turun menjadi 382 dan menduduki peringkat ke-64 dari 65 negara yang mengikuti studi pisa pada tahun 2012. keadaan tersebut disebabkan oleh rendahnya kemampuan anak indonesia dalam kemampuan mengidentifikasi masalah ilmiah, menggunakan fakta ilmiah, memahami sistem kehidupan, dan memahami penggunaan peralatan sains (pusat penilaian pendidikan balitbang kemendikbud, 2011). proses pembelajaran di tingkat perguruan tinggi lebih bersifat transfer of knowledge sehingga kurang memberdayakan mahasiswa dalam pembelajaran. mahasiswa kurang berkembang secara mandiri melalui penemuan dalam proses memecahkan masalah. pembelajaran ipa seharusnya lebih memberdayakan pada proses karena melalui proses pembelajaran mahasiswa akan memperoleh ilmu pengetahuan yang lebih bermakna. kondisi pembelajaran harus diperbaiki yaitu dengan berbagai pendekatan, model dan metode pembelajaran. model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai kerangka berpikir yang menuntun seseorang untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran (arends, 2002). pemilihan model pembelajaran yang tepat merupakan suatu alternatif dalam usaha meningkatkan kualitas pembelajaran, agar siswa dapat mudah memahami apa yang dipelajari (hendracipta, 2017). oleh karena itu setiap model pembelajaran bercirikan sintaks atau langkah-langkah yang harus diikuti di dalam pengimplementasiannya. setiap model pembelajaran memiliki karakteristik dan tujuan khusus untuk apa model tersebut dikembangkan. model problem base instruction dikembangkan untuk melatih mahasiswa/siswa berkemampuan berpikir, mampu menyelesaikan masalah, dapat berperan menjadi orang dewasa, dan mandiri lewat penyelidikan autentik terhadap masalah-masalah keseharian. model problem based instruction menekankan pada penemuan konsep melalui efektifitas model pembelajaran.......(ivayuni listiani) 103 jppd, 5, (2), hlm. 101-108 serangkaian proses pembelajaran. mahasiswa belajar bagaimana mengkonstruksi perolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik-topik, kerangka masalah, mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun fakta, mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah, bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah. model problem-based instruction memiliki lima langkah pembelajaran (arend et al., 2001), yaitu: (1) dosen mendefisikan atau mempresentasikan masalah atau isu yang berkaitan, (2) dosen membantu mahasiswa mengklarifikasi masalah dan menentukan bagaimana masalah itu diinvestigasi (investigasi melibatkan sumber-sumber belajar, informasi, dan data yang variatif, melakukan surve dan pengukuran), (3) dosen membantu mahasiswa menciptakan makna terkait dengan hasil pemecahan masalah yang akan dilaporkan (bagaimana mereka memecahkan masalah dan apa rasionalnya), (4) pengorganisasian laporan dengan makalah dan laporan lisan, dan (5) presentasi, pada proses ini mahasiswa dilatihkan untuk mampu mengkomunikasikan hasil yang diperoleh setelah melalui serangkaian proses pembelajaran. keterampilan proses atau metode ilmiah merupakan bagian dari sains (subiyanto, 2008: 114). mahasiswa mampu untuk menemukan konsep atau prinsip tau teori, untuk mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya, ataupun untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan dengan menggunakan keterampilanketerampilan memproses perolehan pengetahuan (indrawati, 2009: 3). proses belajar mengajar dengan pendekatan keterampilan proses akan menciptakan kondisi belajar yang melibatkan mahasiswa serta aktif. keterampilan proses perlu diberdayakan dalam kegiatan belajar mengajar dikarenakan perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tidak mungkin lagi para guru mengajar semua fakta dan konsep kepada mahasiswa. pengembangan konsep pada proses belajar mengajar tidak lepas dari perkembangan sikap dan nilai dalam anak didik. oleh karena itu, pengembangan keterampilan dalam memperoleh data dan pengetahuan akan berperan sebagai wahana penyatu antara pengembangan konsep dan pengembangan sikap dan nilai (conny, 2011: 14-16). penilaian menurut sayekti (2016) tidak hanya mentikberatkan pada penilaian kognitif saja tetapi dapat berupa penilaian-penilaian yang lain yang mendukung kegiatan penanaman kps pada peserta didik. selaras dengan yang dijelaskan oleh arif (2016: 125) bahwa dalam melakukan evaluasi kps diperlukan berbagai cara dan teknik yang sesuai dengan hakikat sains itu sendiri. untuk dapat mengetahui kemampuan belajar siswa dalam proses belajarnya, penilaian dilakukan harus fokus pada proses bukan pada produk sains. metode penelitian penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode eksperimen semu (quasi exsperimental research). metode ini digunakan karena banyak dari subjek penelitian yang tidak dapat dikontrol atau dikendalikan (darmadi, 2011:37). tujuan penelitian eksperimen semu adalah mencari hubungan sebab-akibat dengan memberi perlakuanperlakuan tertentu pada dua kelompok eksperimen yaitu perlakuan tertentu pada efektifitas model pembelajaran.......(ivayuni listiani) 104 jppd, 5, (2), hlm. 101-108 kelompok eksperimen dan tanpa melakukan perlakuan tertentu untuk kelompok kontrol. rancangan penelitian ini dapat dilihat pada tabel 1: tabel 1. rancangan penelitian postest only control group design kelompok perlakuan post tes eksperimen (r) x t2 kontrol (r) t2 keterangan: x : perlakuan yang diberikan kepada kelompok eksperimen yaitu dengan penggunaan model problem based instruction t2 : tes akhir yang diberikan kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol r : random assigment (pemilihan kelompok secara random) populasi dalam penelitian adalah seluruh mahasiswa semester 2 prodi pgsd ikip pgri madiun. teknik pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling yang diambil dari mahasiswa semester 2 prodi pgsd ikip pgsd madiun yang terdiri dari 2 kelas, yaitu kelas 2d sebagai kelas eksperimen dengan kelas 2c sebagai kontrol. variabel bebas dalam penelitian adalah model problem based instruction. variabel terikat adalah keterampilan proses sains. teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode tes dan metode non tes. metode tes digunakan untuk memperoleh data keterampilan proses sains. pertanyaan dalam tes dapat berupa tes tertulis maupun lisan. tes yang digunakan berupa tes objektif yaitu bentuk pilihan ganda dan essay. metode non tes menggunakan teknik dokumentasi, observasi, wawancara dilakukan dengan mengumpukan data, mengambil catatan-catatan dan menelaah dokumen yang ada yang dimiliki kaitan dengan objek penelitian (riduwan, 2011). data yang dikumpulkan dengan teknik ini adalah data nilai mahasiswa. instrumen penilaian kemampuan keterampilan proses sains berupa tes essay, kemampuan kognitif yang digunakan berupa tes objektif. soal tes yang digunakan sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian, diujicobakan terlebih dahulu untuk mengetahui kualitas soal. kelayakan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini maka dilakukau uji kelayakan yang diuji dengan statistik meliputi uji validitas, uji reliabiitas, uji pembeda soal, uji indeks kesukaran. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui taraf signifikansi efektifitas pembelajaran menggunakan model problem based instruction pada mata kuliah konsep sains terhadap keterampilan proses sains mahasiswa. persyaratan data statistik agar dapat diuji menggunakan paired t-test adalah sebaran data harus normal dan homogen. uji prasyarat dilakukan sebelum uji hipotesis dengan paired t-test, uji prasayarat menggunakan uji kolmogorv-smirnov yang digunakan untuk uji normalitas sedangkan pada uji homogenitas digunakan uji dari levene’s. hasil dan pembahasan data keterampilan proses sains mahasiswa diambil dari dua kelas yaitu kelas 2d sebagai kelas eksperimen menggunakan model problem based instruction berjumlah 39 mahasiswa dan kelas 2c sebagai kelas kontrol dengan metode ceramah bervariasi efektifitas model pembelajaran.......(ivayuni listiani) 105 jppd, 5, (2), hlm. 101-108 berjumlah 36 mahasiswa. deskripsi data keterampilan proses sains mahasiswa dapat dirinci dalam tabel 2: tabel 2. deskripsi data keterampilan proses sains hasil statistik kelas kontrol eksperimen rata-rata 63,09 80,37 standar deviasi 11,24 9,55 variansi 120,63 88,75 nilai minimum 42,00 50,00 nilai maksimum 76,00 94,00 median 66,67 80,00 n 36 39 uji normalitas dilakukan menggunakan uji kolmogorov-smirnov dengan α = 0,05 dan dibantu program spss 18. jika nilai sig. dari uji normalitas lebih besar dari α (sig > 0,05) maka h0 diterima sehingga dapat dikatakan bahwa data terdistribusi normal. uji normalitas data keterampilan proses sains dapat dilihat pada tabel 3. tabel 3. hasil uji normalitas keterampilan proses sains kelas n sig. keputusan kontrol 36 0.332 normal eksperimen 39 0,538 normal tabel 3 menunjukkan bahwa nilai (sig.) > 0,05 sehingga keputusan uji h0 diterima. hal ini dapat disimpulkan bahwa semua sampel pada penelitian ini berasal dari populasi yang berdistribusi normal. uji homogenitas menggunakan uji levene’s dengan α = 0,05 dengan bantuan program spss 18. h0 dinyatakan bahwa tiap kelas memiliki variansi yang sama (homogen). h1 dinyatakan bahwa tiap kelas tidak memiliki variansi yang sama. homogenitas data keterampilan proses sains dapat dilihat pada tabel 4. tabel 4. hasil uji homogenitas keterampilan proses sains f sig. keterangan keputusan 75 0,532 sig. > 0,05 homogen tabel 4 menunjukkan bahwa nilai (sig) > 0,05 sehingga keputusan uji h0 diterima. hal ini menunjukkan bahwa semua sampel berasal dari populasi yang variansinya homogen. uji hipotesis pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji-t. data keterampilan proses sains mahasiswa pada penelitian dinyatakan normal dan homogen, sehingga prasyarat uji-t telah terpenuhi. kriteria yang digunakan dalam pengambilan keputusan hipotesis adalah tingkat signifikasi (α) = 0,05 yaitu h0 ditolak jika signifikasi probabilitas (sig) < α (0,05). hal ini berarti jika signifikasi probabilitas (sig) < 0,05 maka hipotesis nihil (h0) ditolak dan sebaliknya jika signifikasi probabilitas (sig) > 0,05 maka hipotesis nihil diterima. efektifitas model pembelajaran.......(ivayuni listiani) 106 jppd, 5, (2), hlm. 101-108 hasil uji efektivitas model pembelajaran problem based instruction diperoleh dari data kps melalui uji hipotesis. hasil uji hipotesis data kps disajikan pada tabel 5 tabel 5. uji hipotesis jenis uji hasil keputusan kesimpulan paired sample t-test thitung = -8,194 p = 0,00 h0 ditolak hasil tidak sama (ada beda) tabel 5 menunjukkan hasil keputusan uji (sig) < 0,050 sehingga h1 diterima, hal ini berarti ada efektivitas model problem based instruction terhadap keterampilan proses sains mahasiswa. hal tersebut didukung dari nilai rata-rata keterampilan proses sains yaitu 60,39 pada kelas kontrol dan 81,57 pada kelas eksperimen, dengan selisih rata-rata yaitu 21,18. rata-rata nilai keterampilan proses sains mahasiswa yang diperoleh kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. hal tersebut dikarenakan melalui model problem based instruction, guru mengajak mahasiswa untuk terlibat aktif baik secara fisik dan mental dalam belajarnya. mahasiswa diajak aktif berpikir mengenali masalah, mengungkapkan gagasan-gagasan pemecahan masalah, merancang percobaan sendiri, melakukan percobaan sampai pada penyusunan kesimpulan. model problem based instruction mengembangkan keterampilan proses sains mahasiswa karena mahasiswa dilatih untuk menemukan sendiri suatu konsep. model problem based instruction melatihkan bagaimana mahasiswa harus belajar. dosen hanya berperan sebagai fasilitator. hal tersebut sesuai dengan pernyataan schlenker (trianto, 2010) menyatakan bahwa latihan inkuiri dapat meningkatkan pemahaman sains, produktif dalam berpikir kreatif, dan siswa menjadi terampil dalam memperoleh dan menganalisis informasi. model problem based instruction merupakan model yang menyajikan masalah sebelum mahasiswa membangun pengetahuannya. hal ini sesuai dengan pendapat duch (2001) yang menyatakan bahwa problem based instruction memberikan kesempatan untuk belajar bagaimana cara mereka belajar. mahasiswa dilatih untuk menyusun sendiri pengetahuannya, mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, mandiri serta meningkatkan kepercayaan diri melalui proses pembelajaran. pembelajaran dengan model problem based instruction diawali dengan tahapan merumuskan masalah melalui wacana pada lks. tahapan selanjutnya adalah merumuskan hipotesis. mahasiswa dibentuk dalam kelompok-kelompok diskusi belajar sehingga mahasiswa dapat berkolaborasi dan berinteraksi. hal tersebut sesuai dengan pernyataan setiawan (2008:56) mengungkapkan bahwa pengkonstruksian pengetahuan secara bersama-sama melalui diskusi kelompok memungkinkan mahasiswa mengungkapkan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain dan bersama-sama membangun pengertian. tahapan kedua adalah merancang percobaan, mendorong mahasiswa untuk lebih memahami masalah yang akan dipecahkan dan saling mengemukakan ide-ide untuk mengembangkan pemahaman mahasiswa. mahasiswa berpikir mengenai alat dan bahan yang diperlukan, cara kerja yang harus dilakukan, dan cara mentabulasikan data yang efektifitas model pembelajaran.......(ivayuni listiani) 107 jppd, 5, (2), hlm. 101-108 diperoleh. tahap ini melatihkan keterampilan dalam merencanakan percobaan melalui pemahaman konsep, menentukan alat dan bahan, menentukan langkah kerja pada tahap selanjutnya. tahapan ketiga adalah pengumpulan data melalui kegiatan percobaan. percobaan memberikan kesempatan mahasiswa mengembangkan keterampilan analisis (analysis). hal tersebut sesuai dengan pernyataan hackling (2005) yang mengungkapkan bahwa praktik penyelidikan lapangan memberikan kesempatan siswa untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan menginvestigasi serta mendapatkan pengalaman nyata. melalui kegiatan percobaan mahasiswa akan belajar untuk menemukan sebuah konsep. tahapan ini melatihkan keterampilan melakukan percobaan yang meliputi keterampilan menggunakan peralatan dalam memperoleh suatu pengetahuan. tahapan keempat adalah analisis data akan melatihkan mahasiswa belajar aktif dan memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berpikir sendiri, mahasiswa akan termotivasi dalam belajar, melatihkan kemampuan menemukan informasi, meningkatkan semangat ingin tahu, dan kemampuan bertanya mahasiswa. hal tersebut sesuai dengan pernyataan callahan, et. al. (2009: 293-294) menyatakan bahwa dalam kegiatan menganalisa data dapat dilakukan dengan membangun dan menggunakan ideide yang dimiliki siswa. pada tahapan ini, mahasiswa dapat melatihkan aspek kemampuan mengkomunikasikan hasil pengamatan, analisis data, dan pembahasan. tahapan kelima adalah membuat kesimpulan. tahapan ini melatihkan mahasiswa dapat membedakan penjelasan dan penelitian dan mampu menyusun hubungan berdasarkan pada bukti dan argumen logis. melalui pembelajaran yang menekankan pada proses mahasiswa akan dibiasakan untuk mengembangkan keterampilanketerampilan yang dimiliki untuk menemukan dan mengkonstruksikan sendiri konsep yang telah dipelajari. simpulan berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan pembelajaran dengan menggunakan model problem based instruction efektif untuk memberdayakan keterampilan proses sains dilihat dari hasil uji hipotesis dengan perolehan signifikansi sebesar 0,00 < 0,05 dengan demikian penerapan model problem based instruction dapat dijadikan sebagai alternatif model dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif dan kreatif dalam mencapai tujuan pembelajaran. daftar pustaka depdiknas. 2008. panduan pengembangan bahan ajar. jakarta: direktorat pendidikan dasar dan menengah. drake. 2014. the “ideal” vs “real” value educator: how teachers’ practice impacts on value education at a disadvantaged south african school. mediterranean journal of social sciences vol. 5 no. 20 september 2014 issn (online) 20392117, issn (prin) 2039-9340. efektifitas model pembelajaran.......(ivayuni listiani) 108 jppd, 5, (2), hlm. 101-108 hake, r.r. 1998. intercrative engagement versus tradisional method: a sixthousand-student survey of mechanics test data fpr introductory physics courses. american assosiation of physics teachers. 66, hlm. 64-74. handayani, c. d., t. jalmo, dan pramudiyati. 2014. pengaruh bahan ajar modul remedial terhadap hasil belajar kognitif siswa. jurnal bioterdidik.vol 2 no 4, 2014. m.c. liu dan j. y. wang. 2010. investigating knowledge integration in web-based thematic learning using concept mapping assessment. educational technology & society, 13(2), hlm. 25-39. majid, abdul. 2014. pembelajaran tematik terpadu. bandung: pt remaja rosdakarya. nilasari efi, ery try djatmika, dan anang santoso. 2016. “pengaruh penggunaan modul pembelajaran kontekstual terhadap hasil belajar siswa kelas v sekolah dasa”r. jurnal pendidikan: teori, penelitian, dan pengembangan volume: 1 nomor: 7 bulan juli tahun 2016 halaman: 1399—1404. tersedia secara online eissn: 2502-471x. ningsih, pudji hariati. “pengaruh penggunaan modul dan penggunaan buku paket terhadap prestasi belajar mata pelajaran ips siswa kelas v sdn sukabumi 10”. jurnal penelitian dan pendidikan ips (jppi) volume 9 no 2 (2015) 12101218. issn (print): 1858-4985. http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jppi. prastowo. 2014. pengembangan bahan ajar tematik. jakarta: kencana. santrock. 2010. psychology pendidikan edisi 2. (penerjemah tri wibowo). jakarta: kencana prenada media group. saputra, henry januar dan nur isti faizah. 2017. “pegembangan bahan ajar untuk menumbuhkan nilai karakter peduli lingkungan pada siswa kelas iv sekolah dasar. jurnal profesi pendidikan dasar vol. 4, no. 1. juli. hlm. 62-74. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/3956. subekti, tabah. 2016. “pengembangan modul bahasa indonesia bermuatan karakter nilai kebangsaan bagi mahasiswa pgsd. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 3. no. 2. desember, hlm. 92-101. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd /article/view/2746 sugiyono. 2015. metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan r&d. cetakan ke-22. bandung: alfabeta. trianto. 2011. desain pengembangan pembelajaran tematik bagi anak usia dini tk/ra & anak kelas awal sd/mi. jakarta: kencana prenada media group. http://ejournal.unikama.ac.id/index.php/jppi http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/3956 http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 42 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 42-53 penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran bahasa inggris (studi kasus di sdn 3 tarubasan klaten) suryanti galuh pravitasari1), muhammad lutfi yulianto2) stmik sinar nusantara surakarta email: 1galuh.at.edu@gmail.com; 2mlutfiyulianto@gmail.com abstract this research aimed to find out whether the use of interactive multimedia in class contributes significant role in the success of the english teaching and learning process. the object of the study was the third grade students of sdn 3 tarubasan, klaten. this study is categorized as a class action research which was carried out in two cicles with five meetings each. it was done in the even semester of 2015/2016. a pre-test was given to the objects of the study to record their initial score before the use of the interactive multimedia was implemented. the mean of the pretest was 68,7 with only 3 objects of the study meeting the passing grade score of 69. at the end of the first cycle, a post-test was given which resulted in a mean of 70,7. the number of the object of study meeting the passing grade score accelerated as much as 61,5%. finally, after the second cycles was done, the mean of the post-test was 82,6 with all objects of the study met the passing grade score. it means that there is an increasing of 11,9 point in the students’ achievement from the prior-to the treatment with interactive multimedia tool to the first cycle and 13,9 point from the first to the second cycle. all of the objects of the study have also successfully met the passing grade score. therefore, it can be concluded that the use of interactive multimedia in the english teaching and learning process is proved to give significant influence to the students’ final achievement. keywords: multimedia, interactive, teaching and learning process pendahuluan perkembangan dan kemajuan teknologi informasi telah memberikan pengaruh yang sangat signifikan di berbagai bidang. salah satunya yaitu penggunaan multimedia dalam bidang pendidikan. multimedia di sini berperan sebagai pengantar atau perantara pesan guru kepada siswa. hal ini dapat mempermudah penyampaian materi pelajaran sebagaimana yang disampaikan oleh khusna dan sumarsih (2016) yang menyatakan bahwa peningkatan motivasi dan ketuntasan belajar dapat tercapai melalui penggunaan multimedia. selain itu, hamalik (2008) juga menyatakan bahwa multimedia lebih banyak membantu siswa belajar daripada guru mengajar. artinya, siswa menjadi lebih mudah menyerap materi pelajaran melalui multimedia yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. alasan lain semakin luasnya penggunaan multimedia sebagai alat bantu atau media pembelajaran adalah dikarenakan multimedia ini mampu menampilkan berbagai informasi secara audio visual dan juga interaktif (rahayuningrum, 2012). hal ini menjadikan pembelajaran lebih menarik dan lebih efisien sehingga proses pembelajaran dapat terlaksana dengan lebih mudah, lebih menarik dan dapat meningkatkan minat anak-anak untuk belajar. salah satu mata pelajaran yang diberikan kepada anak di sekolah dasar adalah bahasa inggris. dengan mengenalkan bahasa inggris sejak dini diharapkan anakanak dapat menguasai dan berkomunikasi secara lancar dan benar. kemampuan untuk berkomunikasi ini sangatlah penting di era globalisasi dan era informasi ini. dengan mailto:galuh.at.edu@gmail.com e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 penggunaan media interaktif menggunakan....(s. galuh pravitasari dan lutfi yulianto) 43 menguasai bahasa inggris, anak akan siap jika tiba-tiba harus berhadapan dengan sesuatu yang menggunakan bahasa inggris. sebagai contoh ketika anak dihadapkan dengan buku-buku bacaan atau referensi yang bahasa pengantarnya adalah bahasa inggris. oleh karena itu, pembelajaran bahasa inggris ini harus dapat dilaksanakan dengan semaksimal mungkin dan semenarik mungkin sehingga anak tidak akan mudah kehilangan minat untuk belajar. kemudian muncullah berbagai teknologi multimedia yang disusun guna mendukung proses pembejaran bahasa inggris. beberapa penelitian tentang penggunaan multimedia di dalam kelas juga telah dilaksanakan. hasilnya terbukti cukup efektif dalam mewujudkan ketercapaian kompetensi yang diharapkan. mardika (2012) menyatakan bahwa multimedia memberi kontribusi yang cukup efektif terhadap ketuntasan belajar siswa kelas v sd yang mana sebanyak 95% murid berhasil tuntas. selain itu, sudarsono (2012: vi) juga membuktikan adanya peningkatan ketuntasan belajar mata pelajaran ipa sebesar 81% melalui penelitiannya tentang penggunaan multimedia dalam pembelajaran ipa. beberapa penilitian di atas dijadikan referensi penulis untuk melakukan kegiatan yang sama dengan obyek penelitiannya adalah siswa-siswi kelas iii sd tarubasan klaten. penulis meneliti kontribusi penggunaan multimedia untuk mencapai ketuntasan belajar siswa dalam mata pelajaran bahasa inggris. metode penelitian metode penelitian berasal dari kata “metode” yang bermakna “cara yang tepat untuk melakukan sesuatu; dan “logos” yan bermakna ilmu atau pengetahuan. jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian metode penelitian adalah cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran untuk mencapai suatu tujuan. (narbuko dan abu achmadi, 2001:1) dalam penelitian ini, cara atau metode yang dilakukan adalah dengan melaksanakan sebuah tindakan atau perlakuan kepada para subyek penelitian di dalam proses pembelajaran di kelas. oleh karena itu, penelitian ini tergolong ke dalam jenis penelitian tindakan kelas (ptk). pengertian dari ptk adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. penelitian ini merupakan salah satu upaya guru atau praktisi dalam bentuk berbagai kegiatan yang dilakukan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. selain itu, aqib (2007: 13) menyatakan bahwa ptk merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan yang dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas (sugiyono, 2010). di sini ada tiga batasan yang disebutkan yaitu penelitian, tindakan, dan kelas. oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ptk adalah sebuah kegiatan yang meneliti atau mencermati sebuah treatment tertentu yang dengan sengaja diberikan kepada para peserta didik di dalam kelas. penelitian ini dilaksanakan di sd tarubasan klaten yang secara khusus mengambil kelas iii sebagai subyek dari penelitian ini. kelas iii sd tarubasan ini memiliki 13 murid. penelitian ini berlangsung pada semester genap 2015/2016. obyek penelitian adalah penggunaan media ajar berbasis multimedia dalam pembelajaran bahasa inggris. berhubung penelitian ini termasuk dalam kategori penelitian tindakan kelas (ptk), maka dilaksanakan dalam dua siklus. masing-masing siklus dilaksanakan dalam tiga pertemuan. di akhir pertemuan dari setiap siklusnya, dilaksanakan sebuah tes untuk mengetahui kemajuan dari proses pembelajaran dengan menggunakan multimedia. sebelum siklus, penulis juga melaksanakan pre-tes untuk p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 44 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 42-53 mengetahui bekal awal dari masing-masing siswa di kelas iii tersebut. pengumpulan data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan teknik observasi, wawancara, catatan lapangan, angket, dan tes. metode pengumpulan data pengumpulan data dilakukan melalui: a. observasi pengamatan atau observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. (nurbuko dan abu achmadi, 2001: 70). berdasarkan pengamatan yang dilakukan, diperoleh data bahwa tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas iii sd tarubasan, yang terwujud dalam nilai rata-rata kelas, belum dapat dikatakan berhasil dicapai. hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang dapat dikelompokkan ke dalam faktor internal dan eksternal. faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri para murid kelas iii sd tarubasan tersebut. faktor-faktor tersebut antara lain adalah tingkat kecerdasan, kurangnya motivasi, dan kurangnya konsentrasi. hal ini terlihat selama dalam proses pengamatan, banyak sekali murid yang tidak fokus pada pembelajaran. sebaliknya mereka mngerjakan hal-hal lain misalnya bercakap-cakap, menggambar, dan sebagainya. faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhi dari luar atau dari selain yang ada dalam diri murid-murid tersebut. salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi kurang berhasilnya pencapaian tujuan pembelajaran adalah kurangnya media atau bahan ajar yang dapat menarik minat para murid. pembelajaran berlangsung secara teacher center. oleh karena itu, para murid kehilangan konsentrasi dengan cepat. b. wawancara wawancara adalah proses tanya-jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasiinformasi atau keterangan-keterangan. (cholid nurbuko dan abu achmadi, 2001: 70). saat ini, metode wawancara ini sering digunakan dalam penelitian. hal ini disebabkan tanpa wawancara peneilitian akan kehilangan informasi yang hanya dapat diperoleh dengan bertanya langsung kepada responden. hasil yang diperoleh penulis dalam kegiatan wawancara dengan guru bahasa inggris kelas iii sdn iii tarubasan ini adalah kurangnya sarana dan prasarana untuk membuat proses pembelajaran berjalan lebih menarik. teknologi informasi yang mendukung proses pembelajaranpun belum ada. c. tes metode pengumpulan data yang selanjutnya adalah dengan memberikan tes kepada para responden. tes merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan dalam rangka melaksanakan kegiatan pengukuran, yang di dalamnya terdapat berbagai pertanyaan, pernyataan, atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan atau dijawab oleh peserta didik untuk mengukur aspek perilaku peserta didik (arifin, 2012: 118). tes yang diberikan kepada responden berupa tes sebelum perlakuan atau sebelum penggunaan multimedia dalam pembelajaran bahasa inggris dimulai. hal ini bertujuan untuk mengetahui bekal awal kemampuan dari para responden. tes yang kedua adalah tes yang diberikan setelah siklus i selesai. jika hasil dari tes pada siklus i sudah sesuai dengan target penelitian, maka proses perlakuan selesai. sebaliknya jika hasil tes pada siklus i belum menghasilkan prestasi yang memuaskan, maka akan diulang satu siklus lagi (siklus 2) yang akan diakhir dengan sebuah tes. hasilnya diharapkan sudah dapat memenuhi tujuan dari penelitian ini. definisi operasional variabel a. multimedia e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 penggunaan media interaktif menggunakan....(s. galuh pravitasari dan lutfi yulianto) 45 multimedia adalah penggunaan berbagai media yang berbeda untuk membawa atau menyampaikan informasi dalam bentuk teks, grafik, animasi, audio, video dan atau gabungan dari beberapa komponen tersebut. multimedia dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu multimedia content production dan multimedia communication. multimedia content production adalah penggunaan dan pemrosesan beberapa media yang berbeda untuk menyampaikan informasi atau menghasilkan produk multimedia. multimedia communication adalah penggunaan multimedia untuk tujuan komunikasi (rahayu, 2013: 7). multimedia merupakan gabungan dari beberapa media diantaranya: 1) teks teks merupakan dasar dari pengolaan kata dan informasi berbasis multimedia. dalam kenyataannya, multimedia meyajikan informasi kepada audiens dengan cepat karena tidak diperlukan membaca rinci dan teliti. 2) gambar gambar merupakan segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dan dimensi. sebagai contoh data mahasiswa dengan atribut seperti nama, alamat, nim, dll. lebih efektif apabila foto mahasiswa yang bersangkutan ditampilkan. 3) suara suara mampu menjelaskan karakteristik suatu gambar, misalnya music dan suara efek. 4) grafik secara umum grafi berarti gambar garis. grafik ini merupakan sarana yang baik untuk menyajikan informasi. 5) animasi animasi menggambarkan objek yang bergerak agar kelihatan lebih hidup. membuat animasi menggerakkan gambar seperti kartun, lukisan, tulisan, dll (munadi, 2008). media pembelajaran kata “media” merupakan bentuk jamak dari kata”medium” yang berasal dari bahasa latin yang berarti “perantara”. pengertian lebih jauh tentang media adalah sesuatu yang membawa informasi dari sumber untuk diteruskan kepada penerima. “media pembelajaran” diartikan sebagai suatu alat atau bahan yang mengandung informasi atau pesan pembelajaran. penggunaan media dalam hal ini ditunjukkan untuk memperlancar jalanya komunikasi dalam proses pembelajaran (marisa, 2011:6). berbagai penelitian yang dilakukan terhadap pemanfaatan media pembelajaran meninjukkan bahwa media tersebut berdampak positif dalam pembelajaran. “sebuah gambar lebih berarti dari seribu kata” seperti dituliskan oleh deporter, reardon, dan singer-noure (1999) bahwa penggunaan alat peraga dalam mewakili proses belajar akan merangsang modalitas visual dan menyalakan jalur saraf sehingga memunculkan beribu-ribu asosiasi dalam kesadaran sisiwa. rangsangan visual dan asosiasi ini akan memberikan suasana yang sangat kaya untuk pembelajaran. beberapa alasan mengapa media pembelajaran perlu digunakan dalam proses pembelajaran menurut marisa (2011: 7-9) adalah: 1. pembelajaran lebih menarik dan interaktif p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 46 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 42-53 penggunaan media pembelajaran (foto, video) dalam hal ini dapat menarik perhatian siswa bila dibandingkan dengan hanya menjelaskan deskripsi secara lisan. 2. pembelajaran menjadi lebih kongkret dan nyata. penggunaan media pembelajaran di sd, terutama dikelas rendah, sangat sesuai dengan karakteristik siswa yang masih berada dalam taraf ‘operasionalkongkret’. dalam taraf ini siswa lebih mudah mempelajari segala sesuatu yang secara langsung dapat mereka lihat, denganr, pegang dan rasakan. 3. mempersingkan proses penjelasan materi pembelajaran. suatau topik, terlebih bila topic tersebut sulit dijelaskan secara lisan, akan memakan waktu lama. mengganti cara penjelasan dengan menggunakan media pembelajaran, akan mengurangi waktu yang akan anda gunakan untuk member penjelasan lisan kepada siswa. 4. mendorong siswa belajar secara lebih mandiri media pembelajaran yang sudah dirancang khusus untuk pembelajaran tentu dapat digunakan oleh siswa untuk belajar baik secara individual maupun dalam kelompok. 5. materi pembelajaran lebih terstandarisasi bila guru menyampaikan materi pembelajaran menggunakan media tertentu, maka setiap siswa akan mendaoatkan materi pembelajaran yang sama. 6. belajar dan mengajar dengan memanfaatkan aneka sumber belajar. dengan banyaknya informasi yang ada disekitar kita saat ini, baik itu berupa bahan yang tercetak (koran atau majalah) maupun yang ada dalam bentuk audiovisual (termasuk internet), maka kita sebagai guru dan siswa sebagai individu yang belajar mempunyai sumber belajar yang sangat kaya. sumber belajar yang ada saat ini, sangat mungkin dimanfaatkan dalam proses belajarmengajar (marisa, 2011: 7-9). teknik analisis data penelitian tindakan bertujuan untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain. (nurbuko dan abu achmadi, 2001: 55). dalam penelitian ini, tindakan dilakukan di dalam kelas. oleh karena itu, pengembangan multimedia yang sudah disusun akan diaplikasikan secara langsung dalam proses pembeljaran bahasa inggris di kelas iii sdn iii tarubasan, klaten. analisis data kualitatif digunakan untuk menentukan peningkatan proses belajar khususnya berbagai tindakan yang dilakukan guru. analisis data yang dilakukan yaitu mendeskripsikan data yang dilakukan dalam bentuk naratif, membuat grafik atau menyusunnya dalam bentuk tabel. kemudian penarikan kesimpulan yakni proses penarikan intisari dari sajian data yang telah terorganisir dalam bentuk pernyataan untuk menjawab rumusan masalah. data kuantitatif dianalisa dengan teknik analisa sederhana dengan menggunakan prosentase. analisa data kuantitatif dilaksanakan dengan cara: 1. kategorisasi data data yang diperoleh disusun berdasarkan kategori tertentu untuk e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 penggunaan media interaktif menggunakan....(s. galuh pravitasari dan lutfi yulianto) 47 memudahkan analisis tes pemahaman (konsep, proses, dan aplikasi konsep). 2. validasi data agar data bersifat objektif, valid, dan reliabel, maka dalam penelitian ini dilakukan teknik triangulasi dan saturasi yaitu dengan melakukan beberapa tahapan antara lain: a. menggunakan cara yang bervariasi untuk mendapatkan data yang sama misalnya dengan tes, pengamatan, dan wawancara. b. menggali data yang sama dari sumber yang berbeda. dalam penilitian ini ada dua sumber yaitu guru dan siswa. c. mengecek kelengkapan dan keakuratan data dengan caramelakukan pengecekan ulang. d. melakukan pengolahan dan analisa ulang dari data yang sudah terkumpul 3. intepretasi data intepretasi data dilakukan berdasarkan teori dan atauran yang disepakati atau menggunakan intuisi/pengetahuan penulis dan guru untuk menciptakan proses pembeajaran yang menarik sebagai bekal pada tahap pembelajaran. 4. tindakan hasil intepretasi data dapat digunanakan untuk informasi dalam penentuan tindakan selanjutnya. rancangan kegiatan penelitian sebagaimana yang disampaikan oleh aqib (2007: 30), ptk dilaksanakan melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari 4 tahap seperti yang diilustrasikan dalam gambar 1. kemudian menurut hopkins sebagaimana dikutip oleh aqib (2007:31) pelaksanaan tindakan dalam ptk digambarkan melalui gambar 2. gambar 1. prosedur pelaksanaan ptk gambar 2. spiral tindakan kelas (adaptasi dari hopkins, 1993:48) identifikasi masalah perencanaan refleksi observasi observasi refleksi siklus ii siklus i perencanaan ulang p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 48 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 42-53 dalam penelitian ini, penulis melaksanakan dua siklus dimana setiap siklus dilaksanakan dalam 5 tatap muka (sesuai dengan jumlah materi yang harus disampaikan). berikut ini adalah tahapan pelaksanaan penelitian yang dilakukan oleh penulis: siklus i 1. perencanaan setelah permasalahan teridentifikasi melalui pengamatan dan wawancara, tahap pertama yang dilaksanakan adalah merencanakan kegiatan-kegiatan dan mempersiapkan perangkat-perangkat yang diperlukan dalam proses penelitian. tahapan ini meliputi: a. menyusun rencana pembelajaran (rpp) b. mempersiapkan materi dan media pembelajaran yang berupa perangkat komputer/laptop dan software multimedia yang akan digunakan c. mempersiapkan lembar pengamatan dan daftar nilai 2. tindakan dalam tahap ini, penulis melaksanakan beberapa kegiatan: a. kegiatan awal (pra-pembelajaran) kegiatan ini meliputi: 1) membuka pertemuan dengan kegiatan ‘brainstorming’ sesuai dengan tema 2) menjelaskan tujuan dan gambaran proses pembelajaran 3) memberikan pre-test untuk mengetahui bekal awal para subyek penelitian b. kegiatan inti 1) menjelaskan cara penggunaan media ajar (multimedia) 2) para subyek peneilitian dipersilakan memulai kegiatan pembelajaran melalui multimedia yang telah disediakan. 3) peneliti melakukan pendampingan kepada subyek penelitian dalam berinteraksi dengan multimedia yang disediakan 4) peneliti melaksanakan observasi dan mencatat segala temuan selama proses pembelajaran berlangsung 5) mencatat hasil post-test siklus i c. refleksi pada kegiatan ini, peneliti melakukan analisi data dari hasil pengamatan/observasi ketika proses pembelajaran berlangsung. selain itu, peneliti juga melaksanakan analisa terhadap hasil pre-test dan post-test pada siklus i. hasil pre-test menunjukkan bahwa rata-rata nilai yang diperoleh siswa sebelum proses pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif dilaksanakan adalah 68,5. sementara itu rata-rata nilai setelah pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif adalah 70,7. ini berarti sudah ada peningkatan sebesar 2,2 point. namun, dikarenakan masih ada beberapa subyek penelitian yang mendapat nilai di bawah kkm yang sebesar 6,9, maka peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian pada siklus ii. siklus ii a. perencanaan setelah permasalahan teridentifikasi melalui pengamatan dan wawancara, tahap pertama yang dilaksanakan adalah merencanakan kegiatan-kegiatan dan mempersiapkan perangkat-perangkat yang e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 penggunaan media interaktif menggunakan....(s. galuh pravitasari dan lutfi yulianto) 49 diperlukan dalam proses penelitian. tahapan ini meliputi: 1) menyusun rencana pembelajaran (rpp) 2) mempersiapkan materi dan media pembelajaran yang berupa perangkat komputer/laptop dan software multimedia yang akan digunakan 3) mempersiapkan lembar pengamatan dan daftar nilai b. tindakan dalam tahap ini, penulis melaksanakan beberapa kegiatan: 1) kegiatan awal (pra-pembelajaran) kegiatan ini meliputi:  membuka pertemuan dengan kegiatan ‘brainstorming’ sesuai dengan tema  menjelaskan tujuan dan gambaran proses pembelajaran 2) kegiatan inti  menjelaskan cara penggunaan media ajar (multimedia)  para subyek peneilitian dipersilakan memulai kegiatan pembelajaran melalui multimedia yang telah disediakan.  peneliti melakukan pendampingan kepada subyek penelitian dalam berinteraksi dengan multimedia yang disediakan  peneliti melaksanakan observasi dan mencatat segala temuan selama proses pembelajaran berlangsung  mencatat hasil post-test siklus ii  refleksi pada kegiatan ini, peneliti melakukan analisis data dari hasil pengamatan/observasi ketika proses pembelajaran berlangsung. selain, peneliti juga melaksanakan analisa terhadap hasil post-test pada siklus i dan post-test pada siklus ii. hasil posttest menunjukkan bahwa rata-rata nilai yang diperoleh siswa setelah proses pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif adalah 70,7. sementara itu rata-rata nilai setelah pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif pada siklus ii adalah 82,6. ini berarti sudah ada peningkatan sebesar 11,9 point. semua subyek penelitian sudah berhasil mendapatkan nilai yang di atas kkm sebesar 69. oleh karena itu peneliti memutuskan untuk menghentikan penelitian pada siklus ii saja. hasil dan pembahasan daftar nilai baik yang dari pre-test, posttest pada siklus i dan post-test pada siklus ii digunakan oleh peneliti untuk mengetahui apakah tujuan dari penelitian tindakan kelas ini tercapai atau tidak. hasil pre-test sebelum perlakuan penggunaan multimedia interaktif diberikan kepada para subyek penelitian adalah seperti yang terlihat dalam tabel 1. rata-rata perolehan nilai pre-test ketiga belas subyek penelitian adalah 68,5. angka ini masih di bawah kkm yang sebesar 69. berdasarkan pengamatan, perolehan angka yang masih di bawah kkm ini dikarenakan subyek belum mendapatkan pembelajaran mengenai materi yang diujikan dalam pre-test. namun, dengan rata-rata 68,5 tersebut sebenarnya dapat disimpulkan bahwa bekal kemampuan bahasa inggris para subyek sudah terbilang cukup bagus. dalam tabel 1 tersebut juga terlihat ada sejumlah 3 atau 23% dari subyek penelitian yang sudah melampaui kkm. sementara yang lain belum. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 50 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 42-53 tabel 1. hasil penilaian pre-test no nama siswa nilai nilai rata-rata kelas 1. tio 68 65.8 2. revina 76 3. bagas 62 4. juve 76 5. abi 68 6. ozy 60 7. maya 64 8. hawin 78 9. aldinatamuti 62 10. farel 56 11. azizah 56 12. rista 68 13. farhan 62 sebagaimana yang terlihat dalam tabel 1 di atas, rata-rata perolehan nilai pre-test ketiga belas subyek penelitian adalah 68,5. angka ini masih di bawah kkm yang sebesar 69. berdasarkan pengamatan, perolehan angka yang masih di bawah kkm ini dikarenakan subyek belum mendapatkan pembelajaran mengenai materi yang diujikan dalam pre-test. namun, dengan rata-rata 68,5 tersebut sebenarnya dapat disimpulkan bahwa bekal kemampuan bahasa inggris para subyek sudah terbilang cukup bagus. dalam tabel 1 tersebut juga terlihat ada sejumlah 3 atau 23% dari subyek penelitian yang sudah melampaui kkm. sementara yang lain belum. di akhir siklus i penulis mengadakan posttest untuk para subyek penelitian. hasil dari post-test tersebut dapat dilihat dalam tabel 2. tabel 2. hasil penilaian post-test pada siklus i no nama siswa nilai nilai rata-rata kelas 1. tio 72 70,7 2. revina 76 3. bagas 60 4. juve 76 5. abi 72 6. ozy 76 7. maya 80 8. hawin 92 9. aldinatamuti 68 10. farel 56 11. azizah 52 12. rista 80 13. farhan 60 tabel 2 memperlihatkan bahwa ada peningkatan nilai rata-rata dari pre-test ke post-test yaitu dari angka 68,5 menjadi 70,7. ini berarti ada peningkatan sebesar 2,2 point. jumlah subyek penelitian yang sudah melampaui nilai kkm adalah sebanyak 3 orang atau 23%. sementara itu, nilai ratarata post-test pada siklus i, sebagaimana e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 penggunaan media interaktif menggunakan....(s. galuh pravitasari dan lutfi yulianto) 51 dapat dilihat pada tabel 2, adalah sebesar 70,7 dan jumlah subyek yang nilai posttestinya sudah melebih kkm sejumlah 8 orang atau 61,5% dari total subyek penelitian. hal ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 28,5% pada jumlah subyek penelitian yang sudah melampaui kkm dari sebelum perlakuan/pelaksanaan ptk ke setelah siklus i selesai diberikan. di akhir siklus ii, peneliti mengadakan post-test. hasilnya seperti terlihat dalam tabel 3. tabel 3. hasil penilaian post-test pada siklus ii no nama siswa nilai nilai rata-rata kelas 1. tio 86 82,6 2. revina 93 3. bagas 78 4. juve 84 5. abi 75 6. ozy 79 7. maya 90 8. hawin 98 9. aldinatamuti 76 10. farel 70 11. azizah 73 12. rista 94 13. farhan 78 tabel 3 menunjukkan bahwa nilai rata-rata post-test pada siklus ii meningkat cukup tajam yaitu dari angka 70,7 pada siklus i ke angka 82,6 pada siklus ii. hal ini berarti ada peningkatan sebesar 11,9 point. tabel 3 juga memperlihatkan bahwa seluruh subyek penelitian yang berjumlah 13 anak telah berhasil melampaui nilai kkm. hal ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah subyek penelitian yang telah melampaui kkm sebanyak 38,5% dari hasil post-test pada siklus i atau sebesar 77% jika dibandingkan dengan hasil pre-test. jika ditampilkan dalam bentuk grafik, maka perbandingan peningkatan nilai rata-rata dari pre-test, post test siklus i, dan post test pada siklus ii akan terlihat dalam gambar 4. 0 20 40 60 80 100 pre-test posttest siklus i posttest siklus ii jumlah subyek yang melampaui kkm gambar 4. diagram perbandingan jumlah subyek yang telah melampaui kkm p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 52 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 42-53 berdasarkan data-data di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran bahasa inggris di kelas iii sdn iii tarubasan, klaten ini terbukti mampu meningkatkan ketuntasan belajar siswa. oleh karena itu, tujuan dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas (ptk) ini berhasil. simpulan berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang berjudul “penggunaan multimedia interaktif dalam pembelajaran bahasa inggris kelas iii sdn 3 tarubasan klaten” penulis dapat menyimpulkan bahwa penggunaan multimedia interaktif tersebut dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap peningkatan ketuntasan dan pemahaman para siswa kelas iii sdn 3 tarubasan. hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan nilai rata-rata para peserta didik sebelum diberi perlakuan sebesar 68,7 dan setelah diberi perlakuan pembelajaran dengan multimedia interaktif selama 2 siklus yaitu sebesar 82,6. hal ini berarti ada peningkatan sebesar 13.9 point. terdapat peningkatan jumlah peserta didik yang nilainya melampaui batas kkm dari sebelum perlakuan tindakan pembelajran dengan multimedia interaktif yaitu 3 anak menjadi 13 anak atau seluruh peserta didik telah berhasil menuntaskan pembelajaran bahasa inggris setelah melalui dua kali siklus. sehingga total peningkatan jumlah ketuntasan belajar peserta didik adalah 77%. hal ini bermakna bahwa penggunaan multimedia interaktif dapat memberikan beberapa manfaat terhadap ketuntasan belajar peserta didik yaitu antara lain: 1. perubahan model pembelajaran dari teacher centered ke student centered. 2. keaktifan dan konsentrasi peserta didik dalam proses pembelajaran juga meningkat dikarenakan tampilan desain multimedia interaktif yang bagus. 3. peserta didik lebih bersemangat dan gembira dalam mengikuti proses pembelajaran dikarenkan peserta didik belajar sambil bermain implikasi berdasarkan pengamatan selama proses pembelajaran bahasa inggris dengan menggunakan multimedia interaktif, saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah: 1. bagi peserta didik: pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif memang sangat menyenangkan, tetapi perlu kiranya sebelum proses pembelajaran dengan multimedia tersebut dimulai, peserta didik diberi kegiatan semacam brainstorming secara lisan oleh guru. selain brainstorming, sedikit kegiatan fisik misal senam otak juga dapat menajdi alternatif untuk merangsang semangat peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. 2. bagi guru seiring semakin melajunya perkembangan teknologi, maka disarankan para guru juga mengikuti perkembangan teknologi tersebut dengan banyak mencoba aplikasiaplikasi yang tersedia di internet untuk diunduh dan diaplikasikan ke dalam proses pembelajaran supaya peserta didik dapat belajar dengan lebih menyenangkan. 3. bagi sekolah e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 penggunaan media interaktif menggunakan....(s. galuh pravitasari dan lutfi yulianto) 53 kiranya sekolah menyadari betapa penting ketersediaan sarana dan prasaran pembelajaran yang memadai jika ingin memberikan layanan yang terbaik kepada para peserta didiknya. selain itu, dengan saran dan prasarana yang mencukupi, prestasi akademik dari peserta didik pun akan meningkat. sehingga perlu kiranya menganggarkan dana untuk membeli perangkat multimedia dan diletakkan di setiap ruang kelas. daftar pustaka aqib, zainal (2007). penelitian tindakan kelas: untuk guru. yrama widya, bandung. khusna, meitiya sumarsih (2016). pemanfaatan media cd interaktif untuk meningkatkan moitivasi dan prestasi belajar akuntansi. ijurnal kajian pendidikan akuntansi indonesia, vol. 5 no.7 marisa, dkk, 2011. komputer dan media pembelajaran. universitas terbuka munadi, yudhi (2008). media pembelajaran: sebuah pendekatan. gaung persada, ciputat, bandung nurbuko, cholid dan abu achmadi (2001). metodologi penelitian. (6thed.). bumi aksara, jakarta rahayuningrum, rosalia hera. 2012. penggunaan media pembelajaran cd interaktif berbantuan komputer untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas viif di smpn 2 imogiri. skripsi. digilib.uns.ac.id, universitas sebelas maret surakarta. sudarsono (2012). penggunaan multimedia interaktif untuk meningkatkan pemahaman konsep perubahan lingkungan fisik pada siswa kelas iv sdn jimbung, klaten. skripsi. digilib.uns.ac.id, universitas sebelas maret surakarta. sugiyono (2010). metode penelitian pendidikan: pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d, alfabeta, bandung persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 225 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 vol. 6, no. 2, desember 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i2.10151 persepsi masyarakat dan dampak sistem zonasi untuk jenjang sekolah dasar di kecamatan serengan kota surakarta wahdan najib habiby1), saroh nur fiatin2) 1), 2) pgsd, fkip universitas muhammadiyah surakarta 1) wnh122@ums.ac.id; 2)nfiatun@gmail.com pendahuluan sebuah sekolah dapat didirikan jika komponen-komponen pendidikan terpenuhi yaitu manajemen kurikulum, kesiswaan, personalia, sarana pendidikan, tatalaksana sekolah, keuangan, pengorganisasian sekolah, dan hubungan sekolah dengan masyarakat atau humas (suryosubroto, 2010). semua komponen yang terkandung sangat penting di dalam pendidikan. dengan terpenuhinya semua komponen maka abstract: the purpose of this study is to describe: 1) the implementation of school zoning in serengan subdistrict, surakarta city; 2) public perception of the school zoning system of serengan sub-district, surakarta city; and 3) the impact of the zoning system in serengan subdistrict, surakarta city. this type of research is descriptive qualitative research. the qualitative data analysis technique uses the concepts conveyed by miles and huberman. data collection techniques carried out through questionnaires, interviews, and documentation. the results showed: 1) the implementation of the zoning system in serengan sub-district in surakarta was in accordance with the technical guidelines for implementing acceptance of new students in surakarta city, but to fulfill the quota of study groups was opened offline registration paths 2) the results of the public perception questionnaire on the zoning system for equal distribution of school access in schools serengan subdistrict, surakarta city for the understanding of the zoning system in the latest ppdb, which is classified as being medium for a positive response value of 47%. however, the negative response value and the doubtful response value are in the category of less, 30% and 23%. whereas public perception for indicators of zoning system implementation included a high 67% positive response and 14% and 19% less response. 3) the results of the questionnaire perception of the public about the impact of the zoning system, the impact felt by the community is high, with a positive response of 68%. doubtful responses and negative responses included less namely 17% and 14%. keywords: ppdb, elementary school, serengan, zoning impact http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.8382 mailto:wnh122@ums.ac.id mailto:nfiatun@gmail.com persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 226 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 pendidikan dapat berlangsung. sesuai dengan permendikbud no. 17 tahun 2017 tentang penerimaan peserta didik baru (ppdb) pada tk, sd, smp, sma, smk/ bentuk lain sederajat (menteri kebudayaan dan pendidikan, 2017), dijelaskan pada pasal 24 dan jumlah siswa sekolah dasar dalam satu rombongan belajar paling sedikit 20 di setiap kelasnya. apabila salah satu komponen pendidikan tidak terpenuhi, misalnya jumlah siswa dalam rombongan belajar tidak sesuai dengan ketentuan maka proses terselenggaranya pendidikan tidak dapat terjadi. kurang atau tiadanya subjek yang dibimbing dalam sebuah sekolah akan berdampak langsung pada ruang lingkup administrasi pendidikan yang di dalamnya terdapat penggolongan bidang administrasi material yang mencakup bidang materi seperti ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, alat-alat perlengakapan, dan lainlain. seperti kasus yang terjadi, misalnya kepala bidang ketenagaan dinas pendidikan (disdik) kabupaten pamekasan akh. nawawi dalam kompas menjelaskan bahwa ada 40 sekolah dasar yang ditutup sebagian, yakni 5 sekolah ditutup murni sedang 35 lainnya akan digabung dengan sekolah lain (latief, 2009). sma puspunegoro di kabupaten brebes, jawa tengah juga resmi ditutup (latief, 2010). dalam 2 tahun terakhir yaitu 20172018, tercatat di kabupaten kudus terdapat 45 sekolah dasar negeri yang terpaksa ditutup (nafiyanti, 2018). berdasarkan beberapa kasus tersebut memiliki permasalahan yang sama yakni terpaksa ditutup karena kekurangan siswa atau jumlah siswa yang tidak memenuhi standar rombongan belajar. penurunan jumlah siswa sekolah dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. faktor internal meliputi posisi strategis sekolah, fasilitas sarana sekolah, promosi yang dilakukan sekolah, dan hasil akreditasi sekolah tersebut. sedangkan faktor eksternalnya meliputi renovasi sekolah, pendirian sekolah yang letaknya strategis, adanya kebijakan sekolah gratis dan kehadiran sekolah dengan label internasional (litbang, 2010). faktor-faktor inilah yang secara tidak langsung melahirkan mainset sekolah unggul dan tidak unggul. tidak sedikit, keluaran atau output siswa dari sekolah dengan predikat unggul ini menghasilkan keluaran di atas rata-rata karena ditunjang dengan sarana maupun prasarana yang baik. melihat fenomena di mana adanya perbedaan perlakuan yang terjadi di masyarakat, pemerintah berupaya menghilangkan diskriminasi sekolah. salah satu upaya pemerintah dalam rangka pemerataan pendidikan, yaitu dengan mengeluarkan aturan baru dalam penerimaan peserta didik melalui peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan no 51 tahun 2018 tentang ppdb pasal 20, di dalam permendikbud tersebut mengatur perihal sistem zonasi yang wajib diaplikasikan dalam menerima calon peserta didik baru. zonasi di sini adalah sistem yang mana mewajibkan setiap siswa atau calon peserta didik baru dengan radius tertentu untuk mendaftar di sekolah sekitar dimana ia tinggal (pendidikan, menteri kebudayaan & indonesia, 2018). berdasarkan data yang diperoleh dari dinas kependudukan dan catatan sipil (dispendukcapil) kota surakarta tahun 2017, menyatakan bahwa persebaran persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 227 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 penduduk kecamatan serengan menduduki peringkat ke lima dari 5 kecamatan di surakarta yang artinya paling sedikit. namun data kepadatan penduduk kecamatan serengan menempati posisi kedua terbanyak dari 5 kecamatan. berdasarkan uraian permasalahan yang ditemukan peneliti, maka perlu dilakukan penelitian mengenai persepsi dan dampak dari kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yaitu sistem zonasi untuk pemerataan akses pendidikan pada sekolah dasar di kecamatan serengan kota surakarta. harapan penelitian ini dapat memberikan informasi bagaimana keberterimaan masyarakat terhadap sistem zonasi dalam proses penerimaan peserta didik yang digunakan dalam upaya meningkatkan pemerataan akses pendidikan. metode penelitian penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deksriptif untuk memberikan gambaran tentang permasalahan melalui analisis dengan menggunakan pendekatan ilmiah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yaitu untuk mengetahui bagaimana dampak sistem zonasi untuk pemerataan akses sekolah berdasarkan persepsi masyarakat. populasi penelitian adalah 14 sekolah dasar negeri di kecamatan serengan kota surakarta dengan total 2.789 siswa. objek penelitian adalah 150 staf sekolah dan 280 orang tua sekolah. sampel penelitian menggunakan rumus slovin yaitu 9 sekolah yang dijadikan sampel. metode sampling dilakukan secara purposive sampling, yakni peneliti memilih secara langsung tanpa ada patokan siapa saja sampel yang dituju sesuai kebutuhan peneliti. teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara kepada kabid sd dinas pendidikan dan kepala korwil 1 laweyan dan serengan serta 9 orang guru dan 3 orang tua siswa, angket, dan dokumentasi. teknik angket dilakukan peneliti untuk mengetahui persepsi dan dampak sistem zonasi menurut staf sekolah dan orang tua siswa. teknik wawancara yang digunakan adalah teknik tidak terstruktur sehingga hanya memuat garis besar permasalahan saja untuk mengetahui pemahaman, pelaksanaan, dan evaluasi sistem zonasi dalam ppdb oleh staf dan orang tua siswa. untuk menguji kevalidan dan kelayakan data angket persepsi masyarakat, peneliti menggunakan uji validitas isi dan uji reliabilitas. lalu, dokumentasi yang digunakan adalah laporan data pembagian zona di surakarta dan foto ketika penelitian. data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan konsep miles dan huberman, yakni reduction, data display, dan conclusion. hasil dan pembahasan penerimaan peserta didik baru adalah salah satu kegiatan yang pertama kali dilakukan dalam sebuah lembaga pendidikan melalui serangkaian kegiatan yang telah ditentukan oleh pihak lembaga pendidikan kepada calon peserta didik baru (asri & dkk, 2016). sehingga dapat disimpulkan bahwa penerimaan peserta didik baru persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 228 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 merupakan serangkaian kegiatan yang pertama kali dilakukan dalam proses administrasi sekolah sebagai ajang seleksi untuk menentukan siswa yang diterima di suatu sekolah. penerimaan peserta didik baru atau biasa disebut ppdb merupakan pintu gerbang menuju jenjang sekolah yang lebih tinggi dari sebelumnya. apabila program ppdb sudah dibuka maka orang tua maupun calon siswa berbondong-bondong mendaftarkan dirinya ke sekolah yang diinginkannya. namun, pada tahun 2018 tepatnya bulan juli, kota surakarta mulai menerapkan sistem zonasi yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai program yang diharapkan menghilangkan praktik jual beli kursi, peningkatan kapasitas guru, mendorong siswa untuk kerja sama dengan adanya kelas yang heterogen dan sebagai bentuk pemerataan akses pendidikan. sebagaimana yang dikemukakan oleh lincoln, z., (2016) pemerataan pendidikan merupakan hal yang ideal untuk dicapai karena keragaman individu. sistem zonasi ini di setiap wilayah kelurahan dibagi dalam jarak terdekat dengan satuan pendidikan yang ditetapkan oleh kepala dinas berdasarkan usulan dari ikatan guru taman kanak-kanak indonesia (igtk), kelompok kerja kepala sekolah (k3s), dan musyawarah kerja kepala sekolah (mkks) untuk pendaftaran ppdb baik tk, sd, dan smp negeri di kota surakarta. dalam pelaksanaanya ppdb sistem zonasi ini berlandaskan petunjuk teknis (juknis) ppdb kota surakarta tahun pelajaran 2018/2019 nomor 954/1528/kep/set/2018 (surakarta, 2018) berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh purwanti (2018), menunjukkan bahwa sistem ini tidak efektif mengurangi angka putus sekolah bagi anak-anak dari kalangan rmp (rawan melanjutkan sekolah) karena tidak semua anak rmp tinggal dekat dengan sekolah. namun apa yang dinyatakan purwanti (2018) dalam penelitiannya tidak terjadi di surakarta, karena dalam pelaksanaannya dinas pendidikan bekerja sama dengan dispendukcapil yang berhubungan dengan pendataan nik, bappeda berkaitan dengan jarak dan data penduduk, dan uns selaku pengelola sistem ppdb online. sehingga memudahkan pemerintah dalam mendata anak usia sekolah untuk mendapatkan sekolah sesuai dengan koordinat tempat tinggalnya. hal tersebut senada dengan penelitan yang dilakukan oleh idrus tahun 2012 , yakni sistem zonasi secara tidak langsung dapat meningkatkan mutu pendidikan. karena sekolah yang sebelumnya tidak termasuk kategori sekolah favorit, dengan adanya sistem zonasi mau tidak mau harus meningkatkan kualitas sekolahnya baik sarana prasarana dan tenaga pendidiknya. program yang efektif dari pemerintah untuk mewujudkan pemerataan pendidikan di indonesia (safarah. & wibowo, 2018). tetapi sistem zonasi yang di laksanakan mengakibatkan adanya persepsi penilaian masyarakat tentang ppdb sistem zonasi serta dampak yang dirasakan oleh masyarakat. penelitian ini melibatkan 14 sekolah dasar negeri dan orang tua siswa kelas 1 di serengan, surakarta. berdasarkan teknik purposive sampling, sampel penelitian ini adalah 9 dari 14 sekolah dasar negeri di persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 229 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 kecamatan surakarta. dengan total angket yang terkumpul kembali 99 dari 150 angket dan 155 dari 280 angket yang di sebar. data persepsi masyarakat dan dampak sistem zonasi berikut ini diperoleh melalui pembagian angket kepada orang tua siswa dan guru sekolah dasar dalam hal pemahaman dan sikap baik orang tua maupun guru sekolah dasar tentang ppdb, dan pelaksanaan sistem yang telah dilaksanakan dan dirasakan orang tua dan guru sekolah dasar untuk pemerataan akses sekolah di kecamatan serengan kota surakarta. 1. persepsi guru tentang sistem zonasi dalam ppdb hasil angket persepsi guru disajikan dengan menampilkan detail item per indikator sekaligus skala penilaiannya. gambar 1. hasil data persepsi guru tentang zonasi berdasarkan gambar 1 dapat diketahui sejauh mana guru paham tentang konsep ppdb terbaru dengan membandingkannya dengan kriteria intrepretasi skor, sebagai berikut: tabel 1. tabel kategori intrepretasi skor intrepretasi angka 66.5% 100 % tinggi angka 33.5 % 66 % sedang angka 0 % 33 % rendah pertama, pemahaman masyarakat tentang konsep ppdb terbaru. berdasarkan data gambar 1,menunjukkan penilaian positif 57% responden. guru atau pihak sekolah yang paham dengan konsep ppdb terbaru apabila ditemui orang tua yang kurang informasi ppdb online plus zonasi maka sekolah akan cepat tanggap untuk mengarahkannya. berdasarkan respon yang diberikan guru, mayoritas responden telah memiliki pengetahuan yang baik. hal tersebut dapat dikaitkan dengan upaya sosialisasi yang dilakukan oleh sekolah. seperti yang diungkap oleh responden “…setiap ada event selalu saya sampaikan pendaftarannya kapan dan zonanya sdnya mana saja…” persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 230 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa setiap sekolah di surakarta telah mensosialisasikan sistem zonasi dalam ppdb terbaru. karena, setiap kepala sekolah baik tk, sd, smp, sma/smk berkewajiban mensosialisasikannya kepada orang tua siswa dimulai setelah adanya pertemuan dengan dinas pendidikan bulan mei. namun 36% responden merasa ragu, persepsi guru menunjukkan bahwa meskipun orang tua paham saat dijelaskan tentang sistem ppdb terbaru, kenyataan di lapangan banyak orang tua yang masih salah persepsi tentang sistem kedekatan rumah dengan sekolah. jadi, kebanyakan dari orang tua mengartikan sistem zonasi ini adalah dari seberapa besar km2 jarak rumah dengan sekolah. 2% responden guru merasa konsep ppdb terbaru sesuai dengan tujuan pemerintah namun lain dengan yang dirasakan guru atau sekolah selaku pelaksana sistem tersebut.. kedua, pelaksanaan sistem ppdb terbaru 58% responden guru menunjukkan nilai positif. karena ppdb merupakan salah satu kegiatan yang pertama kali dilakukan melalui serangkaian kegiatan yang telah ditentukan oleh lembaga pendidikan (asri & dkk, 2016). jadi, orang tua hanya membawa persyaratan pdb (peserta didik baru) ke sekolah zona 1 yang telah dipilih tanpa harus mencari sekolah-sekolah yang sesuai dengan nilai anaknya karena secara otomatis akan disesuaikan oleh sistem; namun 19% responden merasa bahwa lebih senang dengan sistem ppdb tanpa zonasi. hal tersebut dapat diketahui melalui pernyataan guru yang belum terbiasa dengan sistematika sistem pdb secara daring (online). lalu, 23% responden merasa ragu sistem ini dapat mempengaruhi perkembangan kualitas sekolah. yakni kualitas sekolah dapat turun, naik, atau sama saja. kualitas sekolah baik atau tidak dapat diketahui dari kualitas outputnya, ppdb yang sebelumnya tanpa zonasi maka sekolah dapat memberikan kriteria tertentu sesuai kebutuhan sekolah tersebut. namun, karena ppdb terbaru memakai zonasi maka sekolah mau tidak mau harus menerima semua anak usia sekolah yang mana salah satu tujuan dari sistem ini adalah untuk pemerataan, maka hal tersebut yang menyebabkan guru merasa ragu sistem ini dapat mempengaruhi kualitas perkembangan sekolah. dari kedua poin tersebut dapat ditarik kesimpulan, persepsi guru tentang sistem zonasi dalam ppdb terbaru adalah guru paham tentang konsep ppdb terbaru sehingga mempermudah penyampaian informasi kepada orang tua saat proses pendaftaran, dan untuk peningkatan kualitas sekolah guru selaku anggota sekolah merasa ragu karena sistem baru diterapkan 2 tahun dimulai pada tahun 2017 sehingga belum dapat dilihat pengaruhnya. 2. persepsi orang tua tentang sistem zonasi orang tua selaku salah satu responden penelitian ini diharapkan mampu mewakili perspektif masyarakat mengenai sistem zonasi yang diterapkan kembali di ppdb tahun 2019. berikut merupakan penjabaran persepsi orang tua yang dibagi menjadi dua (2) sub aspek: persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 231 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 gambar 2. hasil data persepsi orang tua tentang zonasi pertama, pemahaman orang tua tentang konsep sistem zonasi dalam ppdb berdasarkan gambar 2. 41% responden orang tua menyatakan skala sikap positif. hal tersebut diperkuat melalui wawancara guru yang menyatakan ;“...ya ada, ada juga yang tidak mengetahui sejak awal” ;“ada yang sudah dan ada pula yang baru tahu saat mendaftar”; “sudah, karena tahun 2018 sekolah sosialisasi ke tk-tk di sekitar sini.”. terdapat nilai sikap negatif sebesar 33%, yang menunjukkan nilai kurang bahwa pengetahuan dan pemahaman orang tua terhadap sistem masih rendah yakni orang tua hanya tahu syarat atau sistematika sistem tersebut berjalan. lalu untuk mengantisipasi kejadian tersebut terulang kembali, dinas pendidikan tidak hanya melakukan sosialisasi sistem ppdb terbaru kepada kepala sekolah di seluruh kota surakarta tetapi juga mengadakan pertemuan dengan camat, lurah dan lpmk bidang pendidikan. sehingga, seluruh elemen masyarakat dapat tersentuh dan menyeluruh, maka masyarakat pun akan tahu dengan sendirinya di lingkungan desa masing-masing secara langsung maupun tidak langsung kedua, dalam pelaksanaan sistem ppdb terbaru diketahui 71% responden merasa sistem ppdb terbaru sudah baik. hal tersebut dapat diketahui dari sikap orang tua yang kooperatif dalam memenuhi syarat pendaftaran dan mengikuti prosedural pendaftaran sesuai peraturan. selain sikap orang tua yang kooperatif, evaluasi atau penilaian orang tua terhadap sistem dapat diketahui saat pelaksanaan sistem. yakni, orang tua siswa merasa bahwa sekolah dekat dengan rumah menjadikan waktu anak lebih banyak di rumah daripada di jalan karena jarak tempuh sekolah dengan rumah jauh. hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh wilson dan dkk yaitu dengan sekolah yang dekat dengan rumah mendorong anak untuk berjalan kaki atau bersepeda sehingga juga berdampak pada keaktifan dan kesehatan anak (wilson, marshall, wilson, & krozek, 2010). sebanyak 19% responden orang tua siswa merasa lebih memilih pendaftaran sekolah dengan sistem lama atau tanpa zonasi. karena orang tua merasa jika memakai zona tempat tinggal maka untuk menyekolahkan anaknya akan terbatasi. disisi lain, kabid bidang sd dinas surakarta menegaskan dalam wawancaranya, bahwasanya dalam permendikbud no 51 tahun 2018 dinas pendidikan berkewajiban memfasilitasi anak usia sekolah untuk medapatkan sekolah. dan melalui wawancara, pihaknya persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 232 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 menegaskan kembali. jikalau orang tua tidak mau melakukan pendaftaran ulang setelah pengumuman penerimaan, kembali lagi kepada keputusan orang tua yang diambil. karena memang sudah tersistem secara otomatis. jika terdapat siswa yang belum mendapatkan sekolah, selama telah melakukan pendaftaran online maka sistem otomatis mencarikan sekolah terdekat dari rumahnya. selain itu, orang tua merasa ragu 10% dari pelaksanaan sistem. yang meyatakan sistem ppdb tersebut dapat sesuai dengan tujuannya atau tidak. hal tersebut dapat diketahui bahwa mayoritas siswa di surakarta adalah siswa dari luar kota. berdasarkan hasil dari persepsi guru dan persepsi orang tua yang dijelaskan di dalam point a dan b dapat disimpulkan bahwa guru merasa orang tua sudah kooperatif selama melaksanakan pendaftaran siswa baru dengan sistem zona sekolah meskipun pengetahuannya dalam memahami sistem zona ini masih rendah. sedangkan orang tua merasa sistem zona sekolah sudah baik. 3. dampak sistem zonasi sistem zonasi sangat erat kaitannya dengan tempat tinggal siswa, seperti yang diungkapkan thompson dalam jurnalnya bahwa siswa yang berada di zona asalnya memiliki hak mutlak untuk mendaftar di sekolah tersebut (thomson, 2010). hal tersebut sesuai dengan tujuan dari sistem zonasi adalah sebagai salah satu upaya pemerataan akses pendidikan dengan kondisi siswa indonesia yang heterogen diharapkan mampu mendorong siswa untuk saling bekerja sama dan sebagai salah satu upaya menghilangkan praktik jual beli kursi (surakarta, 2018). a. dampak sistem zonasi perspektif guru data tentang dampak sistem zonasi dalam perspektif guru apakah mampu mewujudkan tujuan program atau tidak, disajikan dalam gambar 3. gambar 3. hasil data dampak sistem zonasi perspektif guru pertama, gambar 3. menunjukkan 51% skala penilaian positif. maksud dari skala positif di sini adalah guru merasa setuju bahwa sistem zonasi berpengaruh dengan kuota. hal tersebut, dialami mayoritas sekolah di batas kota/ wilayah pinggir kota surakarta, berikut daftar sekolah beserta jumlah siswa asli zonasi yang didapatkan melalui hasil wawancara: persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 233 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 tabel 2. daftar kuota asli zona sekolah (daring) no nama sekolah kuota pendaftar 1. sd n serengan 1 28 7 2. sd n serengan 2 28 16 3. sd n slembaran 28 5 4. sd n pringgolayan 28 2 5. sd n kratonan 56 31 6. sd n kawatan 28 11 7. sd n kartodipuran 28 2 8. sd n bunderan 28 20 kabid sd dinas surakarta menyatakan dalam wawancaranya, bahwa kuota adalah batas minimal sehingga apabila sekolah sampai kuota 28 tidak apa-apa. namun, karena jumlah kuota yang tidak terpenuhi minimal rombel pada tahun 2018, maka dinas memberikan pengumuman untuk membuka jalur pendaftaran offline. akan tetapi, disaat pendaftaran offline dibuka mayoritas siswa yang mendaftar adalah siswa yang berasal dari luar kota bukan dari wilayah surakarta. kedua, 19% responden merasa sistem pdb berdasarkan kedekatan rumah dengan sekolah berdampak pada menurunnya semangat belajar siswa. karena siswa merasa sistem pdb tidak menggunakan nilai sehingga siswa mulai enggan belajar. senada dengan penelitian oleh desi wulandari yang menunjukkan adanya pengaruh signifikan antara sistem zonasi dengan prestasi belajar siswa(wulandari, adelina hasyim, & nurmalisa, 2018) ketiga, 30% responden guru menyatakan skala penilaian netral yang artinya guru ragu bahwa; 1) sistem zonasi mampu mengatasi kemacetan lalu lintas di jalan. guru merasa ragu karena sistem yang baru berjalan 2 tahun jadi mayoritas siswa yang ada berasal dari luar zona kota surakarta. sehingga penelitian yang dilakukan oleh azizah dan udik dalam jurnalnya (safarah. & wibowo, 2018: 210) menyatakan selain untuk pemerataan pendidikan zonasi juga berdampak salah satunya perihal kemacetan lalu lintas sekitar sekolah belum terjadi di kota surakarta. tapi, bisa saja dalam beberapa tahun ke depan apa yang diharapkan pemerintah dapat terealisasi dengan baik. seperti yang dikemukakan kabid sd dinas pendidikan surakarta dan kepala korwil 1 laweyan dan serengan yaitu agar anak sekolah dekat dengan rumahnya, kalau sekolah dekat dengan rumah maka di jalan tidak akan menjadi ruwet dan macet karena anak bersekolah di luar zona kk-nya persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 234 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 14% 6% 80% b. dampak sistem zonasi perspektif orangtua data tentang dampak sistem zonasi dalam perspektif orangtua apakah mampu mewujudkan tujuan program atau tidak, disajikan dalam gambar 4. positif ragu negatif gambar 4 hasil data dampak sistem zonasi perspektif orangtua pertama, 80% atau 123 responden orang tua menunjukkan skala penilaian positif bahwa sistem zonasi sudah baik. tapi, melalui wawancara yang telah dilakukan, secara tidak langsung orang tua masih memiliki mindset sekolah favorit. sehingga apabila sistem ppdb tidak memakai sistem zona maka besar kemungkinan orang tua tetap berupaya mencarikan sekolah yang dianggap “favorit” oleh orang tua. kedua, skala penilaian negatif dengan 14% atau 21 responden orang tua menunjukkan bahwa sistem zonasi di surakarta khususnya di serengan dalam menanggulangi keterlambatan siswa masih belum terlihat hasilnya. dalam koran sindo (musfah, 2018) mengemukakan zonasi memiliki keunggulan meminimalisasi keterlambatan siswa belum terealisasi dengan baik di serengan. meskipun kepala korwil 1 laweyan dan serengan mengatakan bahwa zonasi tersebut dimaksudkan agar anak di daerah asal tempat tinggal (sesuai kk) bersekolah di daerah itu juga. anak terlambat ke sekolah atau tidak merupakan murni dari kesadaran pribadi dan orang tua dalam mengajarkan pentingnya berangkat sekolah tepat waktu selain untuk mengantisipasi siswa yang terlambat, sistem zonasi juga bertujuan untuk mengurangi tingkat kemacetan di sekitar sekolah. untuk itu pemerintah surakarta membagi jam masuk untuk sd, smp, sma/smk yakni untuk siswa sekolah dasar masuk pukul 07.30 wib, smp masuk pukul 07.00 wib, dan siswa sma/smk masuk pukul 06.30 wib. jam tersebut berlaku untuk wilayah karisidenan kota surakarta. ketiga, 6% responden orang tua menunjukkan skala penilaian ragu bahwa tingkat kemacetan di solo masih sama. hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh azizah dan udik dalam jurnalnya menyatakan selain untuk pemerataan pendidikan zonasi juga berdampak salah satunya mengatasi kemacetan lalu lintas sekitar sekolah (safarah. & wibowo, 2018). sistem yang beru dilaksanakan ini belum terlihat dampaknya untuk mengurangi kemacetan terutama di sekitar sekolah. jika sistem zonasi persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 235 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 berkelanjutan, bisa jadi aka nada dampak yang signifikan. senada dengan yang diutarakan abbot yang tahun 2012 dalam jurnalnya yakni diterapkannya sistem zonasi memungkinkan adanya pengurangan penggunaan emisi di lingkungan (yang, abbott, & schlossberg, 2012). berdasarkan hasil data dari perspektif guru dan orang tua tentang dampak sistem zonasi, dapat disimpulkan sistem pendaftaran online belum mampu memenuhi kuota rombel; semangat belajar siswa berkurang; sistem zonasi belum mampu mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas sekitar sekolah di serengan; dan sistem zonasi belum efektif menanggulangi keterlambatan siswa ke sekolah. dari pemaparan hasil persepsi guru dan orang tua tentan sistem zonasi dan persepsi guru dan orang tua tentang dampak sistem zonasi diketahui bahwa keduanya memiliki pandangan yang berbedabeda sesuai dengan sudut pandang dan fungsinya di masyarakat. hal tersebut sesuai dengan makna dari persepsi bahwa bukanlah suatu proses untuk memahami atau menafsirkan hal yang harus tepat tetapi digunakan untuk sesuatu sesuai pernyataan (thoha, 2014: 142). simpulan pada tahun 2018 sistem zonasi mulai diterapkan di seluruh wilayah surakarta dalam ppdb baik di kecamatan banjarsari, jebres, pasar kliwon, serengan, dan laweyan, tepatnya pada bulan juni 2018. hasil penelitian menunjukkan: 1) pelaksanakan ppdb sesuai juknis kota surakarta. namun, dalam kasus tertentu juknis tersebut dimodifikasi sesuai dengan kondisi di lapangan. yakni, dalam kasus kekurangan siswa dalam memenuhi kuota rombongan belajar, maka dinas pendidikan mengeluarkan pengumuman untuk membuka pendaftaran jalur offline. 2) persepsi masyarakat terhadap sistem zonasi untuk pemerataan akses sekolah di kecamatan serengan kota surakarta, perseptif masyarakat untuk indikator pemahaman adalah masyarakat sudah paham konsep ppdb terbaru dengan sistem zonasi. indikator pelaksanaan sistem zonasi sudah terlaksana dengan baik meskipun di lapangan masih ada masyarakat yang mencoba mendaftarkan anaknya di luar zona wilayahnya. 3) sedangkan dampak sistem zonasi, dampak yang dirasakan masyarakat yakni masyarakat merasa sistem ini belum mampu memenuhi kuota rombongan belajar, berkurangnya semangat belajar siswa, dan dalam mengurangi kemacetan lalu lintas di sekitar sekolah belum efektif. meskipun demikian, masyarakat merasa dengan adanya sistem ini anakanak mendapatkan sekolah yang dekat dengan rumah dan memudahkan orang tua untuk mengawasinya persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 236 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 daftar pustaka asri, u., & dkk. (2016). efektivitas penerimaan peserta didik baru (ppdb) melalui penerimaan peserta didik online, 1. retrieved from http://repository.unhas.ac.id /handle/123456789/17968 idrus, m. (2012). mutu pendidikan dan pemerataan pendidikan di daerah. psikopedagogia, 1(2). https://doi.org/http://dx.doi.org/10.12928/psikopeda gogia.v1i2.4603 latief. (2009). sekolah akan ditutup dan digabung. kompas. accessed july, 30 2019. retrieved from https://edukasi.kompas.com/read/2009/12/21/15434482/ waduh.kurang.siswa.40.sd.bakal.ditutup.dan.digabung latief. (2010). 40 sekolah akan ditutup dan digabung. kompas. accessed may, 21 2019. retrieved from https://nasional.kompas.com/reas/2010/07/30/20454727/ cuma.11.siswa.sekolah.ini.ditutup lincoln, z., p. (2016). educational equality or educational equity. nucd journal of economic and information science, 60(1), 187–312. litbang, b. p. b. (2010). faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan jumlah siswa sekolah swasta jenjang pendidikan dasar dan menengah di jakarta dan tangerang. ybhk. jakarta. menteri kebudayaan dan pendidikan. penerimaan peserta didik baru pada tk, sd, smp, sma/smk atau bentuk lain yang sederajat, pub. l. no. 17 (2017). indonesia: permendikbud. musfah, j. (2018). analisis kebijakan pendidikan: mengurai krisis karakter bangsa. (d. munandar, ed.) (1st ed.). jakarta: kencana. nafiyanti, s. (2018). dua tahun, 45 sd di kudus tutup. suara merdeka. accessed march, 01 2019. retrieved from https://www.suaramerdeka.com/news/baca/ 148626/dua-tahun-45-sd-di-kudus-tutup pendidikan, menteri kebudayaan, d., & indonesia, r. penerimaan peserta didik baru pada taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan sekolah menengah kejuruan, pub. l. no. 51 (2018). indonesia: permendikbud. purwanti, dian. ira irawati., dan j. a. (2018). efektivitas kebijakan penerimaan peserta didik baru sistem zonasi bagi siswa rawan melanjutkan pendidikan. dinamika, 5(4), 1–7. purwanti, d. (2018). efektivitas kebijakan penerimaan peserta didik baru sistem zonasi bagi siswa rawan melanjutkan pendidikan. dinamika, 5(4). retrieved from https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/dinamika/article/view/1737 safarah., a. a., & wibowo, u. b. (2018). program zonasi di sekolah dasar sebagai upaya pemerataan kualitas pendidikan di indonesia. lentera pendidikan, 21(1), http://dx.doi.org/10.12928/psikopeda http://www.suaramerdeka.com/news/baca/ http://www.suaramerdeka.com/news/baca/ persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 237 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 206–213. https://doi.org/https://doi.org/10.24252/lp.2018v21n2i6 surakarta, p. k. petunjuk teknis penyelenggaraan penerimaan peserta didik baru (ppdb) kota surakarta tahun pelajaran 2018/2019 (2018). indonesia. suryosubroto. (2010). manajemen pendidikan di sekolah. jakarta: rineka cipta. thoha, m. (2014). perilaku organisasi: konsep dasar dan aplikasinya. jakarta: grafindo persada. thomson, k. a. t. s. (2010). externalities and school enrollment policy : a supply side analysis of school choice in new zealand, 4(4), 418– 449.https://doi.org/10.1080/15582159.2010.526848 wilson, e. j., marshall, j., wilson, r., & krozek, k. j. (2010). by foot, bus or car, children’s school travel and school policy. environment and planning, 9(42), 2168–2185. https://doi.org/https://doi.org/10.1068/a435 wulandari, d., adelina hasyim, d., & nurmalisa, y. (2018). pengaruh penerimaan peserta didik baru melalui sistem zonasi terhadap prestasi siswa. kultur demokrasi, 5(9). retrieved from http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/ jkd/article/view/15181 yang, y., abbott, s., & schlossberg, m. (2012). the influence of school choice policy on active school commuting : a case study of a middle-sized school district in oregon. anvironment and planning, 44, 1856–1874. https://doi.org/10.1068/a44549 http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/ https://doi.org/10.1068/a44549 persepsi masyarakat dan ..... (wahdan nh & saroh nf) 238 jppd, 6, (2), hlm. 225 238 p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 84 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 84 96 analisis bentuk bentuk penilaian sikap siswa sekolah dasar di kota kediri karimatus saidah1; rian damariswara2 fkip ,universitas nusantara pgri kediri, email: 1karimatus@unpkediri.ac.id; 2riandamar08s@unpkediri.ac.id abstract this study is aim to describe forms of attitude assessment that implemented by teacher at elementary school in kediri. design of this study was qualitative reseach . the subjects were teacher of elementary school that has been implementing curriculum 2013 which consist of grade 1 to grade 5 teachers.instrument of this study was a researcher who was supported with interview guide, observation form and documentation. the finding of this study show that all of teacher write their assessment instrument similar to book teacher of curriculum 2013. teacher use observation technique without any instrument when they do assessment. they argue that assessing attitudes using instrument is difficult and need much time.the assessment report is write using microsoftt excel application. microsoft excel applicatioan will automatically make describtion of the student when teacher submit their assessment report. keywords: assessment forms, attitudes pendahuluan pembelajaran di sekolah dasar meliputi serangkaian proses mulai dari penyusunan rancangan kegiatan belajar, pelaksanaan kegiatan belajar hingga proses penilaiannya. ketiga proses tersebut saling berkaitan satu sama lain, sehingga pelaksanaan pembelajaran diharapkan dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan rancangan yang telah disusun. katercapaian tersebut, dapat dilihat dari indikator penilaian. harsiati (2013: 7) menyatakan bahwa dengan melakukan penilaian, guru dapat memberikan umpan balik (feed back) yang sesuai bagi siswa, sehingga penilaian yang baik akan dapat memberikan bantuan terkait kegiatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa. penilaian merupakan jembatan antara proses pengajaran yang dilakukan oleh guru dengan proses belajar yang sedang ditempuh oleh siswa. alasannya, dalam kegiatan pembelajaran yang terjadi tidak selalu sejalan dengan rancangan pembelajaran yang telah dibuat oleh guru, sehingga kegiatan penilaian diperlukan untuk memperbaiki atau menentukan kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan siswa (william, 2013: 1). hal tersebut, ditambahkan oleh pendapat cullogh (2007: 2) bahwa penilaian merupakan salah satu bagian penting dalam sistem pendidikan. penilaian berhubungan dengan penentuan prioritas pembelajaran bagi siswa, lama waktu yang dibutuhkan dalam suatu program pembelajaran serta untuk mengetahui ketercapaian sebuah program pembelajaran. berdasarkan uraian tersebut, penilaian merupakan bagian integral dalam sebuah proses pembelajaran. penilaian selain untuk memberikan umpan balik bagi siswa, juga digunakan sebagai dasar untuk menentukan kegiatan belajar selanjutnya, dan untuk mailto:1karimatus@unpkediri.ac.id e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis bentuk-bentuk penilaian ...........(karimatus saidah, dan rian damariswara) 85 mengetahui keberhasilan sebuah program pembelajaran. penilaian yang dilaksanakan pada jenjang sekolah dasar meliputi 3 aspek yaitu aspek sikap, aspek pengetahuan dan aspek keterampilan. penilaian pada aspek keterampilan dan pengetahuan dilaksanakan oleh guru, sekolah sebagai satuan pendidikan dan atau pemerintah. berbeda dengan penilaian sikap yang hanya dilakukan oleh guru dengan cara melakukan observasi dan mendeskripsikan informasi terkait perilaku siswa. (permendikbud no. 23 tahun 2016) aspek sikap yang dijabarkan dalam dua kategori yaitu sikap sosial dan sikap spiritual. sikap sosial dideskripsikan sebagai sebuah sikap yang menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, percaya diri dan pedui terhadap sesama. sikap spiritual dideskripsikan sebagai sebuah sikap mampu menerima, menjalankan dan menghargai ajaran agama yang dianutnya (lampiran permendikbud no.21 tahun 2016). berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa penilaian pada ranah sikap dilakukan oleh guru dalam bentuk deskripsi perilaku siswa yang meliputi dua macam kategori sikap yaitu sikap sosial dan sikap spiritual. penilaian sikap merupakan salah satu bentuk penilaian yang menuntut guru untuk memahami karakteristik dari setiap siswanya. rimland (2013:3) menyatakan bahwa guru sering tidak menyusun instrumen sikap secara formal atau tertulis karena kesulitan dalam penyusunanya. selain hal tersebut, sikap siswa merupakan sesuatu yang tidak mudah dinilai secara objektif, hal ini karena sikap yang dimiliki oleh siswa dapat juga dipengaruhi oleh suasana hati dan perasaan yang mana dapat berubah ubah setiap harinya. tipe penilaian sikap tidak menentukan tingkatan siswa berdasarkan hasil kerjanya, akan tetapi penilaian sikap dapat menentukan bentuk kegiatan pembelajaran yang perlu kita rancang untuk membantu siswa mengembangkan karakternya agar memiliki sikap positif yang dapat menunjang kesuksesan akademisnya (givenh, 2010:5). menurut nurbudiyani (2013:17) tujuan penilaian sikap adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai pencapaian tujuan imstruksional oleh siswa khususnya pada tingkat penerimaan, partisipasi, penilaian, organisasi dan internalisasi. penilaian sikap mengadaptasi taksonomi ranah afektif yang disampaikan oleh bloom. menurut bloom et al. (1981: 304) taksonomi disusun untuk menunjukkan hirarki yang kontinyu.taksonomi merupakan bagian dari proses internalisasi dimana komponen sikap dilalui dari mulai memberikan perhatian sampai kepada kemampuan untuk mengontrol sikap. taksonomi ini terdiri dari 5 kategori internalisasi yang dominan yaitu sebagai berikut: 1. penerimaan yaitu sensitifitas terhadapkeberadaan fenomena atau stimulus tertentu yang mana memunculkan keinginan untuk menerima hal tersebut. yang termasuk bagian dari penerimaan adalah perhatian, kemauan untuk menerima dan mengontrol atau menyeleksi perhatian 2. respon yaitu sikap dimana yang dilakukan siswalebih dari hanya sekedar memberikan perhatian saja, yaitu di implikasikan dalam bentuk aksi nyata, melakukan sesuatu tentang p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 86 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 84 96 fenomensna dan tidak hanya sekedar merasakannya saja. yang termasuk dari respon adalah persetujuan dalam memberikan respon, kemauan untuk memberikan respon dan kepuasan dalam repon. penentuan sikap/ penilaian yaitu lebih dari sekedar melakukan sesuatu tetapi merasakan hal tersebut dengan memiliki penghargaan dan menunjukkan tanggung jawab yang konsisten dalam bersikap terhadap sesuatu tersebut. penilaian ini biasanya bersifat kegiatan sukarela yang didalamnya terdapat antusiasme, konsistensi dan frekuensi. yang termasuk penilaian adalah menerima nilai, memilih nilai dan berkkomitmen terhadap nilai organisasi didefinisikan sebagai konseptualisasi nilai dan mengerjakan konsep ini untuk menentukan interrelasi antar nilai. dengan demikian siswa dapat menggunakan nilai tersebut sebagai konsep dasar untuk membuat keputusan tentang konsep aktivitas ataupun kegiatan.yang termasuk organisasi adalah konseptualisasi nilai dan organisasi sitem nilai karakterisasi yaitu karakterisasi dari organisasi nilai, keyakinan, ide dan etika kedalam sistem yang konsisten dalam diri siswa yang di sebut sebagai: karakterisasi nilai. yang termasuk dalam kerakterisasi nilai adalah generalisasi dan karakterisasi beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mensikap siswa yaitu dengan teknik observasi, wawancara maupun angket. observasi perilaku dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus mengenai kejadian-kejadian di sekolah yang dapat digunakan untuk menilai sikap siswa. observasi dapat juga dilakukan dengan menggunakan daftar cek yang memuat perilaku yang di harapkan muncul dari peserta didik (uno &koni, 2012: 31) kelemahan dari observasi ini memang terkadang bisa terjadi bias atau subjektifitas individu dari guru tersebut, ekspektasi atau preferensi yang berbeda dari data. untuk itu guru dapat melakukan pemetaan dengan menyusun skala bertingkat untuk menentukan tingkatan sikap siswa yang telah teramati. penggunaan berbagai metode dapat memperkaya dan mempertajam pengamatan guru sehingga mengurangi kemungkinan subjektifitas (bloom&hastings,1981: 312 ). teknik kedua adalah teknik wawancara. wawancara adalah interaksi personal antara guru dan siswa ketika pertanyaan verbal di ajukan secara langsung, wawancara dapat dilakukan secara individu maupun kelompok (ratnawulan & rusdiana 2015: 206). teknik ketiga yaitu kuisioner. kuesioner dapat berupa pertanyaan dengan jawaban terbuka maupun tertututup. kuesionertertutup digunakan untuk mengetahui atau memaksa siswa untuk memilih jawaban atau sikap yang telah disiapkan. pertanyaan dapat berbentuk jawaban benar salah atau skala seperti sangan setuju, setuju dan kurang setuju atau dalam bentuk yang lainnya. pertanyaan tertutup ini bermanfaat jika guru ngin mengetahui bagaimana sikap siswa terhadap suatu hal. namun kelemahan dari metode ini adalah seperti yang telah disampaian di awal, siswa mungkin aka memberikan jawaban yang sesuai dengan kepatutan yang berlaku sehingga tidak dapat menggambarkan keadaan sesungguhnya dari siswa tersebut. kuesioner terbuka yaitu pertanyaan yang e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis bentuk-bentuk penilaian ...........(karimatus saidah, dan rian damariswara) 87 membutuhkan tanggapan, respon atau sikap siswa terhadap sesuatu hal sehingga dapat meluas. karena siswa bebas memberikan jawaban mereka maka dengan instrumen ini dapat menunjukkan tingkatan kemampuan siswa dala taksonomi sikap (bloom&hastings, 1981: 314). langkah-langkah penyusunan kuesioner menurut arifin (2009: 168) yaitu sebagai berikut. a. menyusun kisi-kisi angket, yang terdiri dari pokok permasalahan, sub pokok masalah, indikator dan nomor angket. b. menyusun pertanyaan dan bentuk jawaban yang diinginkan. a. membuat pedooman atau petunjuk cara menjawab pertanyaan. b. validasi ahli sebelum uji coba lapangan c. melakukan pengambilan data angket kepada peserta didik tidak seperti dua jenis penilaian lain, yaitu pada aspek pengetahuan dan keterampilan, dimana sekolah sebagai satuan pendidikan serta pemerintah ikut melaksanakan kegiatan penilaian. penilaian sikap merupakan hak guru yang dianggap paling mampu mendeskripsikan sikap siswa. hal tersebut, dikarenakan guru memiliki kedekatan emosional, terlibat dan berinteraksi secara langsung dengan siswa. penilaian sikap pada jenjang sekolah dasar, lebih ditekankan pada kompetensi sikap baik sosial dan spiritual. guru dituntut untuk mampu menanamkan sikap sikap positif sesuai dengan amanat kurikulum 2013. di sisi lain, guru juga dituntut untuk menilai sikap siswa secara objektif. hasil penelitian enggarwati (2015) tentang kesulitan guru dalam mengimplementasikan penilaian otentik di sdn glagah kabupaten banyuwangi menunjukkan bahwa guru mengalami kesulitan dalam melakukan penilaian sikap. hal ini dikarenakan guru belum memahami cara untuk mengukur sikap siswa. memberikan penilaian yang objektif terhadap sikap siswa merupakan tugas yang cukup berat bagi guru, karena guru harus memperhatikan bagaimana perkembangan sikap dari setiap siswa dari waktu ke waktu serta merancang pembeajaran agar mampu membangun sikap positif pada diri setiap peserta didiknya. hasil penelitian lain yang dilakukan oleh retnawati (2016) pada guru matemtika smp tentang hambatan guru matematika dalam menerapkan kurikulum baru menunjukkan bahwa guru mengalami kesulitan dalam melaksanakan penilaian terutama pada penilaian sikap. sebagaian besar guru memilih teknik observasi agar lebih leluasa terkait waktu penilaian. pelaksanaan pendidikan di kota kediri pada tahun 2017 semester genap masih menganut 2 macam kurikulum, yaitu ktsp 2016 dan kurikulum 2013. namun pada tahun ajaran baru semester gasal tahun ajaran 2017/2018 seluruh satuan pendidikan baik sd, smp maupun sma diharapkan telah melaksanakan kurikulum 2013 yang telah direvisi pada tahun 2016. walaupun menggunakan 2 kurikulum yang berbeda aspek penilaian yang harus dilkukan guru tetaplah sama, termasuk pada penilaian sikap. hal yang membedakan adalah cara masing-masing guru dalam melakukan penilaian sikap. dengan alasan tersebut, peneliti bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengambilan keputusan oleh guru. pengambilan keputusan, berkaitan dengan alasan serta proses penentuan bentuk-bentuk p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 88 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 84 96 penilaian yang digunakan guru untuk mendeskripsikan sikap siswanya. judul yang diteliti yakni “analisis bentuk-bentuk penilaian sikap siswa di sekolah dasar di kota kediri”. metode penelitian rancangan penelitian rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. penelitian kualitatif menekankan pada upaya memahami suatu subjek secara menyeluruh. hal tersebut, sesuai dengan pendapat moleong (2014:6), penelitian kualitaitf adalah penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa dalam suatu konteks khusus alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai bentuk metode ilmiah. metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskripsi. semua data yang diperoleh dalam penelitian dideskripsikan dengan kata-kata. objek penelitian objek penelitian ini adalah guru sekolah dasar dari 3 sekolah yang berbeda. guru yang menjadi objek penelitian merupakan guru yang mengajar pada sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 berjumlah 10 guru. para guru tersebut mengajar dari kelas 1 sampai dengan kelas 5. lokasi penelitian lokasi penelitian yakni sekolah dasar di kota kediri. kota kediri memiliki 167 sekolah dasar negeri dan swasta yang tersebar dalam tiga kecamatan. kecamatan kota memiliki 52 sekolah dasar, kecamatan mojoroto memiliki 58 sekolah dasar, dan kecamatan pesantren memiliki 47 sekolah dasar. peneliti memfokuskan pada tiga sekolah dasar, dimana masing-masing sekolah mewakili masingmasing kecamatan. kecamatan kota diwakili sdn banjaran 1, kecamatan mojoroto diwakili sdn sukorame 2 dan kecamatan pesantren diwakili sdn burengan 2. pemilihan ketiga sekolah dasar tersebut, dengan pertimbangan: 1) menerapkan kurikulum 2013, 2) merupakan sekolah rujukan kota kediri, dan 3) peneliti memiliki akses untuk melakukan penelitian. teknik pengumpulan data teknik pengumpulan data adalah suatu langkah yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian. sugiyono (2013:308-308) berpendapat bahwa teknik pengumpulan data adalah langkah yang paling utama ditempuh dalam penelitian melalui observasi (pengamatan), interview (wawancara), koesioner (angket), dokumentasi, dan gabungan keempatnya. dalam penelitian menggunakan dua langkah, yakni dokumentasi, dan wawancara. langkah dokumentasi dilaksanakan dengan cara menganalisis isi penilaian sikap dalam rpp. langkah wawancara dilaksanakan dengan mewawancarai guru selaku pembuat penilaian sikap siswa. langkah wawancara, dapat mengetahui pemahaman guru mengenai penilaian sikap, penentuan pembuatan penilaian siswa dan pengambilan nilai sikap saat pembelajaran. langkah angket tidak digunakan karena sudah diwakili wawancara e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis bentuk-bentuk penilaian ...........(karimatus saidah, dan rian damariswara) 89 dengan narasumber (guru) dan tidak melibatkan banyak sumber data penilitian. definisi operasional sikap merupakan perilaku yang ditampakkan oleh siswa. penilaian sikap merupakan penilaian terhadap sikap sosial dan sikap spiritual yang ditanamkan oleh guru dan ditampakkan oleh siswa. teknik analisis data teknik analasis data dilaksanakan setelah data penelitian dikumpulkan. analisis data yang digunakan yakni menurut model miles and huberman yakni reduksi data, penyajian data dan verifikasi. reduksi data bertujuan mengurangi dan mengambil data yang diperlukan dalam penelitian. proses reduksi dilakukan dalam analisis perangkat pembelajaran guru. analisis difokuskan pada penilaian sikap yang telah dituangkan dalam perangkat pembelajaran. penyajian data dalam penelitian kualitatif dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, tabel dan sejenisnya. dalam proses penyajian data, peneliti memaparkan analisis kompetensi guru mengenai pemahamana, cara penentuan dan pelaksanaan pengambilan penilaian sikap sikap. setelah data dipaparkan dengan uraian, dilanjutkan pada proses verifikasi. proses verifikasi yakni peneliti menarik kesimpulan dari berbagai analisis data yang telah dilakukan. hasil dan pembahasan hasil wawancara wawancara terhadap guru dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan penilaian sikap di sekolah dasar. data hasil wawancara terhadap guru akan di jabarkan sesuai dengan lokasi penelitian yaitu sebagai berikut: 1. sdn burengan 2 kota kediri rangkuman hasil wawancara terhadap guru di sdn burengan 2 menunjukkan bahwa pada umumnya guru ataupun sekolah tidak memiliki aturan tertentu mengenai pelaksanaan penilaian sikap, akan tetapi guru diinstruksikan untuk melaksanakan penilaian sesuai dengan aturan yang berlaku pada kurikulum 2013. bahan penilaian sikap oleh guru seluruhnya mengacu pada buku guru kurikulum 2013 yang telah disediakan oleh sekolah seperti disiplin, tanggung jawab, kerjasama, percaya diri dan seterusnya. guru tidak menyusun instrument penilaian sikap karena menurut mereka instrument penilaian skap sudah ada di buku guru, oleh karena itu ketika ditanya terkait bagaimana cara menyusun instrument penilaian sikap, guru menjawab sesuai buku guru, karena memang guru tidak menyusun instrument penilaian sikapnya sendiri. hal-hal yang menjadi ertimbangan dalam menilai sikap siswa menurut guru adalah dengan mengetahui karakter siswa tersebut, akan tetapi guru lain mejawab bahwa ketika menilai sikap siswa tidak ada pertimbangan khusus. guru tidak mengalami kendala dalam penyususnan instrument penilaian karena memang mereka tidak menyususnnya sendiri, sedangkan dalam pelaksanaannya guru menggunakan metode observasi unruk menilai sikap siswa. observasi yang dilaksanakan oleh guru pada pelaksanaannya tidak selalu mengacu pada instrummen penilaian sikap yang terdapat di buku guru, menurut mereka p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 90 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 84 96 tanpa isntrumenpun guru sudah hafal karakter setiap siswanya sehingga dapat menilai tanpa menggunakan instrument tertentu. bentuk pelaporan nilai sikap oleh guru telah berbasis aplikasi sehingga guru hanya memasukkan nilai kemudian akan muncul deskripsi secara otomatis. hasil penilaian sikap dilaporkan dalam bentuk raport tengah semester dan raport semester, menurut guru hasil peniaian sikap secara tidak langsung dapat mempengaruhi perubahan sikap siswa menjadi lebih positif sdn sukorame 2 kota kediri hasil wawancara terhadap guru di sdn sukorame 2 menunjukkan bahwa di sekolah tersebut tidak ada kesepakatan khusus mengenai pelaksanaan penilaian sikap, kegiatan penilaian selururhnya disesuaikan dengan buku guru kurikulum 2013. terkait model penilaian dalam kurikulum 2013 guru guru menyatakan bahwa pelaksanaan penilaian sikap sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 masih sulit untuk dilaksanakan dilapangan, karena kebutuhan penilaian dan kondisi siswa yang berbeda, serta setting pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, kadang tidak selalu sama dengan apa yang terdapat pada buku guru. adapun dala hal penyususnan instrument penilaian guru menyatakan sesuai dengan yang tertera pada buku guru, namun ada beberapa guru yang menyatakan penyususnan instrument sesuai kesepakatan dengan guru lain. disisi lain ketika di tanya terkait cara menyususn instrument guru tidak menjawab detail hanya menyampaikan bahwa instrument di sesuaikan dengan buku guru bahan penilaian sikap oleh guru seluruhnya disesuaikan dengan buku guru, seperti kejujuran, keaktifan dan sebagainya, guru tidak menjelaskan lebih detail terkait sikap apa saja yang dinilai. pada pelaksanaannya guru menggunakan metode observasi untuk memberikan ilia terkait sikap siswa. guru merasa tidak mengalami kendala dalam menyususn instrument penilaian, karena memang telah disediakan dalam buku guru akan tetapi guru mengalami kendala dalam hal pelaksanaan penilaian di kelas, dimana setiap guru harus melaksanakan observasi setiap harinya, kemudian memasukkan nilai kedalam format penilaian yang telah ditentukan, guru menyatakan tidak ada pertimbangan khusus dalam melaksanakan penilaian yang penting disesuaikan dengan apa yang harus dinilai. kendala lain yang di hadapi adalah karena system penilaian berbasis digital, dimana data di olah menggunakan program tertentu ada guru yang menyatakan merasa kesulitan untuk mengoperasikannya dan mengolah data sesuai dengan petunjuk, bentuk pelaporan hasil peniaian berupa deskripsi yang telah terprogram secara digital sehingga guru hanya memasukkan nilai, kemudian muncul nilai secara abjad dan deskripsinya. menurut guru penilaian sikap memberikan perubahan positif pada siswa akan tetapi ada juga yang menyatakan behwa tidak ada perubahan berarti dari sikap siswa setelah mengetahui hasil penilaian terhadap dirinya. 2. sdn banjaran 1 kota kediri hasil wawancara terhadap guru di sdn banjaran 1 kota kediri menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan penilaian sikap tidak ada e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis bentuk-bentuk penilaian ...........(karimatus saidah, dan rian damariswara) 91 kesepakatan khusus antar guru maupun arahan tersendiri dari sekolah, guru melakukan penilaian berdasarkan kebutuhan masing masing. tujuan dari penilaian sikap adalah untuk mengetahui dan memperbaiki sikap siswa yang dianggap kurang sesuai selama proses pembelajaran. menurut guru penilaian sikap pada kurikulum 2013 model penilaiannya cukup baik dan mudah cara mengisinya, namun guru mengalami kesulitan dalam hal penerapan instrument penilaian, karena menurut guru banyak aspek yang harus dinilai dalam jangka waktu tertentu. guru menyatakan membuat instrument penilaian secara mandiri, namun ketika ditanya prosedur penyusunan instrument guru tidak menjelaskan secara spesifik bagaimana proses pengembangan tersebut. aspek-aspek yang menjadi pertimbangan dalam melaksanakan penilaian adalah karakteristik setiap siswa. sedangkan aspekaspek yang menjadi bahan penilaian sikap adalah keaktifan siswa, kerjasama, kemandirian, kesopanan, disiplin dan sebagainya, bentuk pelaporan hasil penilaian sikap di sebutkan hamper sama dengan pelaporan ranah pengetahuan hanya saja aspekaspeknya yang berbeda. menurut guru adanya penilaian sikap sedikit banyak berpengaruh pada perubahan sikap siswa. hasil dokumentasi selain wawancara, peneliti juga mendokumentasikan rencana penilaian sikap dalam rpp yang disusun oleh guru dan dokumen bentuk pelaporan hasil penilaian. berikut penjabaran hasil dokumentasi yang telah di peroleh: 1. deskripsi rencana penilaian rpp guru bedasarkan analisis rencana pelaksanaan pembelajaran oleh guru yang telah dihimpun menunjukkan bahwa hampir seluruh alur pembelajaran dan penilaiannya sama dengan yang telah di cantumkan pada buku guru. teknik penilaian yang tedapat dalam rancangan penilaian guru yang telah didokumentasikan menggunakan teknik observasi sikap dengan instrument penilaian berbentuk ceklis. berikut ini adalah contoh rubrik penilaian sikap yang digunakan oleh guru. gambar.1 contoh rubrik penilaian sikap kelas 2 tema hidup rukun semester gasal di sdn sukorame 2 keterangan gambar: bt = belum terlihat yaitu apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator karena belum memahami makna dari nilai itu (tahap anomi). mt = mulai terlihat yaitu apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten karena sudah ada pemahaman dan mendapat penguatan lingkungan terdekat (tahap heteronomi). mb = mulai berkembang yaitu apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten, karena p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 92 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 84 96 selain sudah ada pemahaman dan kesadaran juga mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas (tahap sosionomi). sm = sudah membudaya yaitu apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten karena selain sudah ada pemahaman dan kesadaran dan mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas sudah tumbuh kematangan moral (tahap autonomi). secara umum bentuk instrument penilaian sikap yang tercantum dalam rancangan penilaian guru di 3 sekolah dasar yang menjadi objek penelitian sama dengan format yang telah di contohkan diatas, yaitu menggunakan daftar cek. hal yang membedakan hanya aspek yang menjadi bahan penilaian misalnya seperti aspek percaya diri, disiplin dan sebagainya. penentuan aspek ini bergantung pada aspek apa yang harus dinilai sesuai dengan yang tercantum pada buku guru kurikulum 2013. 2. deskripsi dokumen laporan hasil penilaian laporan hasil penilaian sikap di jabarkan dalam bentuk deskrripsi sikap siswa sesuai dengan aspek-aspek sikap yang terdapat dalam kurikulum. perlu diketahui bahwa system penyusunan laporan hasil penilaian di sd yang menjadi objek penelitian telah berbasis computer menggunakan aplikasi microsot excel, yang mana dalam pengerjaannya guru hanya memasukkan nilai baik berupa angka maupun huruf, kemudian akan secara otomatis muncul deskripsi sesuai dengan rentang nilai yang telah di masukkan. selain itu penilaian sikap tidak muncul di semua mata pelajaran hal ini disesuaikan dengan kompetensi dasarnya, misalnya sikap spiritual pada mata pelajaran agama dan sikap sosial pada mata pelajaran pkn. berikut contoh hasil print out laporan hasil penilaian di sdn burengan 2 gambar 2. contoh raport siswa adapun langkah langkah penyusunan raport menggunakan aplikasi microsoft excel yang diambil dari dokumen aplikasi di sdn sukorame 2 yaitu sebagai berikut: e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis bentuk-bentuk penilaian ...........(karimatus saidah, dan rian damariswara) 93 a. memasukkan kompetensi dasar yang akan di laporkan sesuai dengan mata pelajaran terkait seperti pada gambar 3 gambar 3.tampilan kompetensi dasar pada aplikasi microsoft excel b. mengisi biodata siswa yang akan dinilai pada worksheet yang telah disiapkan. c. memasukkan nilai pada mata pelajaran terkait (gambar 4) gambar 4. tampilan pengisisan nilai pada aplikasi microsoft excel d. secara otomatis akan muncul deskripsi hasil penilaian seperti pada gambar 5 gambar 5. tampilan deskripsi hasil penilaian pada aplikasi microsoft excel pembahasan a. bentuk rancangan penilaian yang digunakan guru bentuk rancangan penilaian yang disusun oleh guru disamakan dengan petunjuk dalam buku guru kurikulum 2013. bahkan ketika ditelusuri lebih lanjut rencana pelaksanaan pembelajaran oleh guru juga sama dengan isi buku guru. guru menyatakan bahwa seluruh kegiatan harus mengacu dari buku guru sehingga semua rancangan kegiatan, maupun rancangan penilaian disamakan dengan buku guru. sesuai dengan hasil dokumentasi yang telah di deskripsikan pada bab sebelumnya bentuk rancangan penilaian yang disusun oleh guru dalam bentuk ceklis dan teknik penilaian menggunakan observasi. rubrik penilaian dirancang dengan dengan kriteria rentang yang telah ditetapkan yaitu misalnya aspek sikap disiplin rentang penilaian mulai dari belum terlihat, mulai terlihat, mulai berkembang dan sudah membudaya. akan tetapi guru tidak mencantumkan indikator dari sikap disiplin p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 94 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 84 96 yang ingin dinilai sehingga hal ini berpotensi tingginya unsur subjektifitas guru dalam menilai, selain itu ha ini berpengaruh juga terhadap reliabilitas instrument dimana ketika instrument penilaian digunakan oleh guru lain maka hasil penafsiran penilaian akan berbedabeda antara guru satu dengan guru yang lain.dari analisis tersebut mennjukkan bahwa teknik penilaian yang digunakan guru cenderung seragam walaupun berbeda sekolah. guru sangat bergantung pada buku guru terkait rancangan penilaian. dalam kajian teori bloom&hastings menjelaskan bahwa penggunaan metode yang bervariasi diperlukan untuk mempertjam dan memperkaya hasil pengamatan oleh guru untuk menghindari subjektifitas (1981: 312). pelaksanaan penilaian oleh guru di kelas teknik penilaian yang digunakan oleh guru yaitu teknik observasi.dari rangkuman hasil wawancara guru menyatakan kendala yang dihadapi adalah karakteristik siswa yang berbeda-beda dan konsistensi sikap siswa selama proses penilaian, serta penentuan kategori sikap siswa sesuai dengan rubrik penilaian yang ada. kendala lain yang dihadapi oleh guru adalah guru harus mengamati sikap siswa satu per satu dengan jumlah siswa yang cukup banyak yaitu sekitar 30 sampai 40an siswa dan membutuhkan waktu tidak hanya satu hari, sedangkan beban tugas guru yang cukup banyak, guru harus mampu membagi waktu antara kegiatan penilaian dan pembelajaran. rangkuman hasil observasi terkait pelaksanaan penilaian di kelas menunjukkan bahwa guru mengobservasi siswa, akan tetapi guru tidak menggunakan rubric penilaian berupa pedoman observasi seperti yang terdapat dalam rancangan penilaian. guru menyatakan bahwa untuk memasukkan nilai atau mengisi rubric tidak harus setiap hari, selain itu karena telah bertemu setiap hari guru sudah hafal dengan karakter siswa sehingga bisa memberikan penilaian tanpa harus menggunakan pedoman observasi. sesuai dengan penjelasan dalam kajian teori (bloom & hastings, 1981: 312) teknik observasi memiliki kelemahan dimana bisa terjadi bias atau subjektifitas individu dari guru tersebut, ekspektasi atau preferensi yang berbeda dari data. untuk itu guru perlu menggunakan pedoman observasi dengan indikator yang jelas. guru perlu mencatat hasil observasi yang telah dilaksanakan, hal ini untuk menghindari guru lupa sehingga berpotensi subjektif dalam melakukan penilaian b. pelaporan hasil penilaian hasil dari penilaian sikap selanjutnya di laporkan dalam bentuk raport siswa. proses penyusunan laporan dilakukan dengan memasukkan nilai pada aplikasi microsoft excel seperti yang telah dideskripsikan pada bab sebelumnya. bentuk laporan hasil penilaian sikap berupa deskripsi sikap siswa sesuai dengan aspek-aspek sikap yang telah dinilai oleh guru. karena berbasis aplikasi maka deskripsi sikap muncul secara otomatis sesuai dengan rentang nilai yang di berikan oleh guru. deskripsi yang muncul sesuai dengan rentang nilai yang di berikan oleh guru misalnya sangat baik, baik, dan butuh bimbingan. dari hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa deskripsi sikap siswa hanya berbeda e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 analisis bentuk-bentuk penilaian ...........(karimatus saidah, dan rian damariswara) 95 pada predikatnya saja yaitu sangat baik, baik dan butuh bimbingan. selanjutnya deskripsi aspek penilaian akan sama. jadi setiap aspek yang dinilai tidak dideskripsikan sendiri-sendiri melainkan disimpulkan dari seluruh aspek penilaian. bentuk pelaporan seperti ini pada satu sisi memudahkan guru dalam proses pengerjaannya, akan tetapi kelemahannya adalah keunikan dari setiap aspek sikap siswa maupun kekurangan siswa dalam bersikap pada aspek tertentu tidak terdeskripsikan secara mendetail. simpulan rancangan penilaian yang disusun oleh guru berbentuk rubrik pengamatan sikap siswa dengan jenis instrument ceklis. pelaksanaan penilaian sikap di kelas dilakukan dengan menggunakan metode observasi akan tetapi tidak menggunakan pedoman penilaian atau rubrik yang telah di rancang sebelumnya. pelaporan hasil penilaian dilakukan dengan cara memasukkan data dalam aplikasi microsoft excel kemudian akan muncul deskripsi siswa secara otomatis sesuai dengan rentang nilai yang di berikan oleh guru. daftar pustaka arifin, zaenal. 2009. evaluasi pembelajaran: prinsip, teknik, prosedur. bandung: remaja rosdakarya. bloom, b. s, madaus, g. f & hastings, j. t. 1981. evaluation to improve learning. united states of america: mcgraw-hill, inc. enggarwati, nur sasi. 2013. “kesulitan guru sd negeri glagah dalam mengimplementasikan penilaian otentik pada kurikulum 2013”. jurnal basic education vol.4 (12). diakses pada 23 januari 2017. http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/pgsd/article/viewfile/ 1141/1013 given, susannah. m. 2010. “using affective assesment to understan student identity (as reader and non reader)”. the jounal of virginia community college vol:15 (1). diakses pada 23 januari 2017. http://commons.vccs.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1027 &context=inquiry harsiati, titik. 2011. penilaian dalam pembelajaran (aplikasi pada pembelajaran membaca dan menulis), malang: universitas negeri malang. -----------------.2013. asesmen pembelajaran bahasa indonesia. malang: um press lampiran permendikbud no.21 tahun 2016 tentang standar isi pendidikan dasar dan menengah. cullogh, mc marry. 2007. an introduction to assesment. learning and teaching center university og glasgow. diakses pada 23 januari 2017 dari (http/:www.gla.ac.uk/media/ media_12158_en.pdf) http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/pgsd/article/viewfile/%201141/1013 http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/pgsd/article/viewfile/%201141/1013 http://commons.vccs.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1027%20&context=inquiry http://commons.vccs.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1027%20&context=inquiry p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 96 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 84 96 moleng. lj. 2007. metodologi penelitian kualitatif. bandung: remaja rosdakarya. nurbudiyani, ipin. 2013. “pelaksanaan pengukuran ranah kognitif, afektif dan psikomotor pada mata pelajaran ips kelas iii sd muhamadiyah palangkaraya”. pedagogik jurnal pendidikan vol 8(2). diakses pada 23 januari 2017. http://jurnal.umpalangkaraya.ac.id/ libs/download.php?file=fkip_vol8_no2_part88_2%20iin%20nurbudiyani.pdf. permendikbud no. 23 tahun 2016 tentang standar penilaian pendidikan. ratnawulan elis, & rusdiana h.a. 2015. evaluasi pembelajaran. bandung: pustaka setia retnawati, heri. 2015. “hambatan guru matematika sekolah menengah pertama dalam menerapkan kurikulum baru”. cakrawala pendidikan no. 3 2015. diakses pada 5 juni 2017 dari http://journal.uny.ac.id/index.php/cp/article/view/7694 rimland emily. 2013. “assesing affective learning using student respon system”. libraries & the academy vol: 13 (4). dari https://pdfs.semanticscholar.org/c2ca/ 949b9534db0bd96b393523c8a35906c99702.pdf. sugiyono. 2010. metode penilitian guru (pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d). bandung: alfabeta uno, hamzah b & koni satria. 2013. asesmen pembelajaran. jakarta; bumi aksara. william, dylan. 2013. “assesment: the bridge between teaching and learning”. ncte vol: 21 (2). dikses pada 23 januari 2017. dari (http://www.ncte.org/library/nctefiles/resources/ journals/vm/0212-dec2013/vm0212assessment.pdf.) http://jurnal.umpalangkaraya.ac.id/%20libs/download.php?file=fkip_vol8_no2_part88_2%20iin%20nurbudiyani.pdf http://jurnal.umpalangkaraya.ac.id/%20libs/download.php?file=fkip_vol8_no2_part88_2%20iin%20nurbudiyani.pdf https://pdfs.semanticscholar.org/c2ca/%20949b9534db0bd96b393523c8a35906c99702.pdf https://pdfs.semanticscholar.org/c2ca/%20949b9534db0bd96b393523c8a35906c99702.pdf http://www.ncte.org/library/nctefiles/resources/%20journals/vm/0212-dec2013/vm0212assessment.pdf http://www.ncte.org/library/nctefiles/resources/%20journals/vm/0212-dec2013/vm0212assessment.pdf analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 129 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 vol. 6, no. 2, desember 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i2.9256 analisis hakikat ipa pada buku siswa kelas iv sub tema i tema 3 kurikulum 2013 ika candra sayekti1); ika fajar rini2); fawzia hardiyansyah3) 1), 2), 3) pgsd, fkip universitas muhammadiyah surakarta 1)ics142@ums.ac.id; 2)ikafajarrini@gmail.com; 3)hardiyansyahfawzia17@gmail.com pendahuluan kurikulum 2013 menawarkan berbagai perubahan yang bertujuan untuk menyempurnakan kurikulum sebelumnya. tantangan internal maupun eksternal menjadi alasan utama dikembangkannya kurikulum tersebut di indonesia. tantangan internal meliputi tuntutan tercapainya delapan standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan dalam pp no.19 tahun 2005. sedangkan tantangan eksternal berkaitan dengan tantangan masa depan untuk bersaing di dunia internasional pada abad 21. kompetensi yang diperlukan oleh generasi usia emas di masa mendatang, perkembangan pengetahuan dan teknologi, serta tantangan global yang mengaharuskan setiap negara untuk mampu bersaing di berbagai aspek agar eksistensi tetap terjaga. proses pembelajaran menjadi salah satu aspek dalam memfasilitasi lulusan menjadi insan yang unggul. pada kurikulum 2013, proses pembelajaran ditekankan pada penggunaan pendekatan saintifik, yaitu pembelajaran yang logis, berbasis pada fakta, data, atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika/ penalaran tertentu. pendekatan ini mendorong siswa berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. abstract: this study was aim to analyse science as a process skill, products/content, and attitudes on students’ book at 4th grade theme 3 curriculum 2013. the design of this study was qualitative with the type of content study research. the data was collected through documentation. data analysis techniques through reduction, presentation and drawing conclusions. the results showed that scence as a process skill, products/content and attutudes was available on that book, but the aspect of science process skill, science as product and science as hat attitudes was not complete. science as a product/content found in this book merely on fact, concept, and principle. science as attitudes found on this book are honest, opend minded, responsible, objective, cooperative, critical thinking, curiosity, careful, discipline, care for environment. science as a process found of this book are still limited in: observing, classifying, concluding, and communicating keywords: science, product, content, process, attitudes, students’ book http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i2.9256 mailto:ics142@ums.ac.id mailto:ikafajarrini@ analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 130 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 pendekatan saintifik sesungguhnya merupakan pendekatan pembelajaran yang melandasai pembelajaran ipa. pendekatan saintifik meliputi kegiatan 5m, yaitu: mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan. hal tersebut merupakan keterampilan yang melandasi pembelajaran ipa. jika demikian maka dapat diketahui bahwa pelaksanaan pendekatan saintifik menjadi acuan bagi penerapan pembelajaran muatan lain pada kurikulum 2013. permasalahannya belum semua sekolah menerapkan pendekatan saintifik secara benar. selain pendekatan saintifik dalam pembelajaran, buku teks juga merupakan salah satu elemen kurikulum yang perlu diperhatikan. buku teks merupakan salah satu sumber belajar siswa sekaligus pedoman yang digunakan guru dalam pembelajaran. apabila suatu buku teks tidak menyajikan materi yang relevan, maka dampaknya adalah tujuan kurikuler tidak dapat tercapai dengan optimal. berlakunya kurikulum 2013 memerlukan sosialisasi yang ekstra agar para pelaku pendidikan khususnya guru memahami maksud dari pelaksanaan kurikulum 2013. salah satu cara untuk menunjang pelaksanaan kurikulum 2013 adalah dengan disediakannya buku guru dan buku siswa oleh kementerian pendidikan dan kebudayaan indonesia. melalui buku guru dan buku siswa diharapkan membantu proses pembelajaran di kelas. pada kelas atas jenjang sekolah dasar, terdapat beberapa muatan pelajaran, salah satuanya adalah muatan ilmu pengetahuan alam (ipa). ipa memiliki karakteristik tertentu yang berbeda dengan muatan pelajaran lain. maka perlu dikaji apakah muatan pelajaran ipa yang tertuang dalam buku teks 2013 memenuhi karakteristik ipa yang ditentukan, seperti misalnya menanamkan hakikat ipa di dalam proses pembelajarannya. hal tersebut penting karena ipa menjadi subject matter dalam tes timss yang juga diikuti oleh siswa sekolah dasar di indonesia, sedangkan menurut hasil timss (martin et, al., 2015) di tahun 2015, indonesia menduduki peringkat ke-4 dari bawah dengan perolehan skor 397, dengan skor rata-rata internasional sebesar 500 poin. sehingga dipandang perlu mengkaji buku yang digunakan sebagai referensi bagi siswa terkait materi yang digunakan dalam study timss. muatan ipa meskipun dilaksanakan secara terintegrasi dengan muatan lain sebaiknya tetap menekankan pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. pembelajaran yang mengandung muatan ipa diarahkan dilaksanakan secara inquiri sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. hal ini berimplikasi terhadap pembelajaran di sekolah, khususnya di sekolah dasar, pembelajaran ipa harus memuat karakteristik ipa yang terdiri dari tiga aspek yaitu hakikat ipa produk ilmiah, proses ilmiah, dan sikap ilmiah. namun masih terdapat pendidik yang memfokuskan pembelajaran ipa pada segi kontennya saja. padahal kurikulum sains bertujuan untuk mengembangkan pemahaman konseptual dan pemahaman prosedural. pemahaman konseptual mengarah pada pengetahuan siswa terkait aspek biologis dan fisis dari dunia dan pemahaman prosedural mengarah pada pemahaman siswa terhadap prosedur ilmiah (inspectorate evaluation studies, 2012). oleh karena itu, perlu dikaji apakah buku teks pada kurikulum 2013 hanya analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 131 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 menanamkan konten atau sudah memuat hakikat ipa untuk menanamkan jiwa scientist bagi siswa. hakikat ipa sebagai produk yaitu kumpulan hasil penelitian yang telah dilakukan ilmuwan dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai hasil kegiatan empirik dan kegiatan analitis. bentuk ipa sebagai produk adalah fakta-fakta, prinsip, hukum, dan teori-teori ipa. hakikat ipa sebagai proses merupakan proses untuk menggali dan memahami pengetahuan tentang alam karena ipa adalah tidak hanya berupa kumpulan fakta-fakta dan konsep-konsep tetapi membutuhkan proses dalam menemukan fakta dan teori yang akan digeneralisasi oleh ilmuwan. proses dalam memahami ipa disebut dengan keterampilan proses sains (science process skils) yaitu keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuwan. keterampilan proses sains dibagi menjadi dua, yaitu keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terintegrasi. peserta didik usia sekolah dasar masih ditanamkan pada aspek keterampilan proses sains dasar. mengacu pada penelitian sayekti (2016) keterampilan proses dasar yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: mengobservasi, mengklasifikasi, mengukur, memprediksi, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. sedangkan hakikat ipa sebagai sikap atau biasa dikenal dengan sikap ilmiah yaitu sikap-sikap yang melandasi proses belajar ipa, seperti misalnya ingin tahu, jujur, objektif, kritis, terbuka, disiplin teliti, dan sebagainya (sayekti, 2012). sikap ilmiah harus dikembangkan dalam pembelajaran sains sehingga dapat terinternalisasi dalam kehidupan siswa dalam menumbuhkan karakter siswa. pada penelitian ini hakikat ipa sebagai sikap yang dikaji adalah: jujur, terbuka pada ide baru, bertanggunjawab, objektif, bekerjasama, berpikir kritis, rasa ingin tahu, rasa mawas diri, disiplin, dan kesadaran atau peduli terhadap lingkungan. sesuai dengan perkemaban kurikulum 2013, penguatan pendidikan karakter perlu diintegrasikan dalam pelaksanaan pembelajaran. hal ini senada dengan kajian sayekti (2015) bahwa pembelajaran ipa berperan dalam membangun karakter peserta didik karena dalam pembelajanr ipa memuat hakikat ipa sebagai sikap yang memiliki nilai hampir sama dengan nilai-nilai karakter dalam penguatan pendidikan karakter. oleh sebab itu, kajian hakikat ipa sebagai sikap dalam konten buku perlu dikaji sehingga penanaman sikap dpat membantu pembentukan karakter peserta didik yang baik. lebih lanjut, bsnp (2011) menyatakan bahwa ipa berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga ipa bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. menurut hendro darmojo dalam (samatowa 2010: 2) menyatakan bahwa “ipa adalah pengetahuan yang rasional dan objektif tentang alam semesta dengan segala isinya”. oleh karena itu, perlu dikaji bagaimana integrasi hakikat ipa ke dalam buku teks pada muatan ipa kurikulum 2013 pada jenjang sekolah dasar. hal ini penting karena pengalaman awal tentang sains penting untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap positif, dan rasa percaya diri siswa terhadap sains (kazempour, 2014). analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 132 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 sebelumya telah dilakukan penelitian tentang analisis buku, di antaranya (purnanto dan arif wiyat, 2016) tentang kelayakan bahasa dalm buku teks sekolah dasar; berikutnya penelitian adi, yogi kuncoro (2017) tentang analisis muatan pendidikan karakter pada buku teks sekolah dasar. sehingga pada kajian ini penulis ingin menggali sesuatu yang berbeda yaitu analisis hakikat ipa pada buku siswa kelas iv sub tema i, tema 3, buku yang dikeluarkan oleh kemendikbud cetakan tahun 2017 yang meliputi hakikat ipa sebagai produk, proses, dan sikap metode penelitian penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan jenis penelitian kajian isi. sumber data dalam penelitian ini adalah buku siswa kelas iv sub tema i, tema 3, buku yang dikeluarkan oleh kemendikbud cetakan tahun 2017, jurnal, atau literatur yang berkaitan dengan pembahasan. dalam penelitian ini penulis menggunakan metode dokumentasi dalam pengumpulan data. penelitian ini menggunakan metode analisis data secara deskriptif yang bersifat induktif, yaitu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan pola hubungan tertentu (sugiyono, 2015). analisis data dilakukan secara terus menerus dari awal sampai akhir penelitian. miles dan huberman (sugiyono, 2015:337) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. aktivitas yang dilakukan dalam analisis data yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification (sugiyono, 2015) hasil dan pembahasan pengembangan dilakukan setelah melakukan penelitian terkait analisis kebutuhan untuk mengetahui hal-hal yang sedang diperlukan di lapangan. analisis kebutuhan dilakukan melalui wawancara dengan guru sdn randusongo 1 dan siswa kelas v. berdasarkan hasil wawancara analisis kebutuhan, peneliti menyimpulkan bahwa dalam pembelajaran guru sering menggunakan lks sebagai bahan ajar. lks yang digunakan memiliki kelemahan yaitu isi dari lks tersebut hanya didominasi oleh kemampuan kognitif siswa seperti terlalu banyak materi pembelajaran yang disajikan dan 75% berisi soal-soal evaluasi. kemudian lks yang digunakan belum memenuhi kriteria lks yang baik, hal tersebut dapat dilihat dari syarat didaktis yang ada dalam lks tersebut belum menekankan proses penemuan konsep. muatan pelajaran ipa kelas iv tema 3 “peduli terhadap makhluk hidup” pada buku siswa kurikulum 2013 yang dikeluarkan oleh kemendikbud cetakan 2017 mengenai hakikat ipa terdapat pada setiap sub tema pada pembelajaran 1 dan 3. adapun konsep dasar (kd) pada muatan ipa yang dipelajari pada tema 3, yaitu: (1) 3.1. menganalisis hubungan antara bentuk dan fungsi bagian tubuh pada hewan dan tumbuhan; (2) 3.8 menjelaskan pentingnya upaya keseimbangan dan pelestarian sumber daya alam di lingkungannya; (3) 4.1. menyajikan laporan hasil pengamatan tentang bentuk dan fungsi bagian tubuh tumbuhan; (4) 4.8. melakukan kegiatan upaya analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 133 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 pelestarian sumber daya alam bersama orang-orang di lingkungannya. pada sub tema 1 pembelajaran 1 dan 3 bagian yang dipelajari adalah kd. 3.8 dan 4.8. untuk dapat menganalisis hakikat ipa pada masing-masing pembelajaran, peneliti harus mengidentifikasi materi-materi yang sesuai dengan kd yang telah disebutkan di atas. adapun penjelasan penanaman hakikat ipa pada masing-masing aspek akan dibahas sebagai berikut: hakikat ipa sebagai produk temuan hakikat ipa sebagai produk tersaji pada tabel 1. tabel 1. keberadaan hakikat ipa sebagai produk no. aspek sub tema 1 pb 1 pb 3 1. fakta h1; h5 h20; 21 2. konsep h; h5 h20 3. prinsip/hukum h5 h21 4. teori 5. model keterangan: pb : pembelajaran h : halaman berdasarkan analisis buku siswa dapat diketahui bahwa penanaman hakikat ipa sebagai produk pada sub tema 1 pembelajaran 1 tampak pada: (1) fakta tampak pada pernyataan tentang sesuatu yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari seperti: padi menghasilkan beras; proses pertumbuhan padi; sampah akan menyebabkan banjir; tanaman menghasilkan oksigen; sawah dibajak; padi ditanam; padi berbiji; padi dipanen; padi diambil dari sawah; padi dijemur dan digiling; biji padi siap jadi beras; nasi siap dimakan; (2). konsep merupakan hal yang bersifat lebih umum daripada fakta, misalnya: lumbung padi, benih, biji padi, perkecambahan, sekam, bibit, pantai, dataran tinggi, dataran rendah; (3) prinsip dapat dilihat dari: jika terjadi banjir, padi tidak akan tumbuh; jumlah penduduk yang meningkat akan meningkatkan kebutuhan yang besar terhadap padi. pada pembelajaran 3, hakikat ipa sebagai produk tampak pada: (1) fakta: tumbuhan hijiau membuat segar udara karena menghasilkan oksigen; bunga membuat rumah menjadi indah dan enak dipandang mata (2) konsep: akar; bunga; daun; batang; buah; tumbuhan biji; fotosintesis; klorofil; (3) prinsip: jika tumbuhan tidak punya akar maka tumbuhan mudah dicabut, mudah roboh, atau hanyut saat hujan. hakikat ipa sebagai proses temuan hakikat ipa sebagai proses tersaji pada tabel 2. tabel 2 keberadaan hakikat ipa sebagai proses no. aspek sub tema 1 pb 1 pb 3 1. mengobservasi h 1; h4 h 20; h 21; h 22 2. mengklasifikasi h 6 h 22 3. mengukur h 22 4. memprediksi h20 analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 134 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 5. menyimpulkan h 22 6. mengkomunikasikan h2; h3 h 21, 22 keterangan: pb : pembelajaran h : halaman 1) subtema 1 pembelajaran 1 pada aspek hakikat ipa sebagai proses diperlihatkan pada hal berikut: (a) mengobservasi; (b) mengklasifikasi; (c) mengukur; (d) memprediksi; (e) menyimpulkan; (f) mengkomunikasikan. a) mengobservasi: sesuai dengan kajian teori, bahwa kegiatan mengobservasi melibatkan indera penglihatan. pada pembelajaran 1 kegiatan observasi terdapat pada halaman 1, pada halaman itu disediakan gambar sawah tempat padi hidup. kegiatan mengobservasi juga terdapat pada halaman 4 “ayo mengamati”. siswa diminta mengamati gambar, kemudian menulis 5 pertanyaan tentang gambar. seperti tampak pada gambar 1 berikut. gambar 1. keterampilan mengobservasi b) mengklasifikasi: mengklasifikasikan merupakan kegiatan mengelompokkan benda berdasarkan persamaan atau perbedaan ciri dan sifat yang dimiliki. pada pembelajaran 1 kegiatan mengklasifikasi terdapat pada halaman 6 yaitu siswa diminta mengisi tabel tentang pantai, dataran tinggi, dan dataran rendah. pada kegiatan ini siswa mencari perbedaan antara pantai, dataran tinggi dan dataran rendah berdasarkan ciri-ciri khusus atau pembeda di antara ketiganya. analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 135 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 gambar 2. keterampilan mengklasifikasi c) mengkomunikasikan: mengkomunikasikan dapat dikatakan sebagai kegiatan menyampaikan segala sesuatu baik secara verbal maupun dalam bentuk lain seperti grafik, data, gambar, dan lain-lain. pada pembelajaran 1 kegiatan mengkomunikasikan terdapat pada halaman 2 dam 3. pada halaman 2 siswa diminta untuk mengkomunikasikan secara tertulis, sedangkan pada halaman 3 yaitu siswa diminta menjelaskan diagram yang telah dikerjakan. gambar 3. keterampilan mengkomunikasikan 2) subtema 1 pembelajaran 3 a) observasi: terdapat pada halaman 20 di mana pada buku terdapat gambar yang dapat memantu siswa dalam mengamati. pada halaman 21 juga terdapat gambar anak menyiram bunga yang dapat menguatkan siswa dalam kegiatan mengamati yang membantu memvisualisasi penjelasan yang ada. pada 22 yaitu siswa diminta menanam satu jenis tumbuhan kemudian mengamati pertumbuhan tanaman tersebut. kegiatan tersebut termasuk observasi karena melibatkan indera penglihatan. analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 136 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 gambar 4. keterampilan mengobservasi b) mengklasifikasi: terdapat pada halaman 22, siswa diminta mengidentifikasi bagian-bagian tumbuhan beserta fungsinya. hal tersebut termasuk dalam kegiatan mengklasifikasi karena siswa harus mengetahui perbedaan dari bagian dan fungsi bagian-bagian tumbuhan tersebut. c) mengukur: terdapat pada halaman 22, di mana siswa diminta untuk memasukkan biji di tanah dalam pot kira-kira 3cm. maka siswa didorong untuk mencoba mengukur kedalaman tanah menggunakan alat ukur penggaris. d) menyimpulkan: terdapat pada halaman 22 yaitu siswa diminta membuat laporan hasil diskusi. pada laporan tersebut tentu terdapat kesimpulan dari hasil percobaan. e) mengomunikasikan: terdapat pada halaman 21 dan 22 yaitu setelah membaca teks tentang bagian-bagian tumbuhan, siswa diminta menjawab beberapa pertanyaan berdasarkan teks tersebut. selain itu pada halaman 22, siswa diminta menuliskan hasil diskusi dalam bentuk laporan, hal ini menanamkan keterampilan komunikasi siswa secara tertulis. hakikat ipa sebagai sikap sayekti (2015), mengemukakan bahwa pengertian sains mencakup tiga aspek, salah satunya hakikat ipa sebagai sikap. scientific attitudes: adalah keyakinan, nilainilai, pendapat/ gagasan, objektif, dan sebagainya. misalnya membuat keputusan setelah memperoleh cukup data yang berkaitan dengan masalahnya secara selalu berusaha objektif, jujur, dan lain-lain. temuan hakikat ipa sebagai sikap dapat disajikan pada tabel 3. tabel 3 keberadaan hakikat ipa sebagai sikap no. aspek sub tema 1 pb 1 pb 3 1. jujur h2 h23 2. terbuka pada ide-ide baru h6 3. bertanggung jawab h3 h 21; h22 4. objektif h4 h 21 5. kerjasama h2; h3; h5;h6 h 21; h22; h23 6. berpikir kritis h3 h 21-22 7. rasa ingin tahu h2 h 23 8. sikap mawas diri (hati-hati) h 22 9. disiplin h 22 analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 137 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 10. kesadaran/ peduli terhadap lingkungan h4; h6 h 22 keterangan: pb : pembelajaran h : halaman berikut akan diuraikan penjelasannya 1) sikap jujur: ditunjukkan pada pembelajaran 1 halaman 5 saat siswa diminta memilih salah satu tanaman yang sering dimanfaatkan dalam kehidupan seharihari. gambar 5. penanaman sikap jujur 2) terbuka pada ide-ide baru: ditunjukkan pada pembelajaran 1 halaman 6 yaitu siswa diminta menyebutkan sikap yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehrai-hari setelah mempelajari materi. gambar 6. penanaman sikap terbuka 3) sikap bertanggung jawab terhadap keilmuannya, bekerjasama, dan pemikiran kritikal: ditunjukkan oleh penugasan pada halaman 3 yaitu siswa diminta berdiskusi mengisi diagram, kemudian siswa diminta mempertanggungjawabkan hasilnya berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang disediakan. berdasarkan kegiatan tersebut selain siswa diminta mempertanggungjawabkan pekerjaannya, siswa juga diminta untuk objektif, serta kritis dalam menyusun jawaban. analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 138 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 gambar 7. penanaman sikap tangung jawab 4) sikap objektif dan sikap berlandaskan bukti: terdapat pada pembelajaran 1 halaman 4 yaitu siswa diminta mengamati gambar kemudian menuliskan lima pertanyaan sesuai dengan gambar. siswa dilatih untuk bersikap objektif karena pertanyaan harus sesuai dengan gambar. gambar 8. penanaman sikap objektif 5) kerjasama, kerjasama menunjukkan adanya interaksi antara dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama. hal ini ditunjukkan oleh kalimat “diskusikanlah dengan teman….” yang terdapat pada halaman 2, 3, 5, dan 6. 6) rasa ingin tahu ditunjukkan oleh pembelajaran 1 halaman 2 yaitu siswa diminta membuat pertanyaan sebanyak-banyaknya untuk menjawab rasa ingin tahu siswa. gambar 9. penanaman sikap rasa ingin tahu 7) sikap kesadaran atau peduli terhadap lingkungan ditunjukkan pada halaman 4 yaitu terdapat materi tentang beberapa cara untuk mempertahankan padi agar tetap dapat dinikmati masyarakat indonesia. analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 139 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 gambar 10. penanaman sikap peduli lingkungan 1) subtema 1 pembelajaran 3 a) jujur: sikap jujur pada pembelajaran 3 terdapat pada halaman 23, sikap jujur ini ditanamkan melalui pertanyaan yang mendorong siswa menjawab sesuai apa yang dialami dan dirasakan, seperti misalnya untuk mengidentifikasi apa saja yang telah dipelajari hari ini dan apa yang ingin diketahui siswa secara lebih lenjut. gambar 11. penanaman sikap jujur b) bertanggung jawab terhadap keilmuannya, objektif, dan kerjasama: ditunjukkan pada halaman 21 yaitu saat siswa diminta berdiskusi mencari bagian tumbuhan lain yang berfungsi untuk menjaga kelestarian tumbuhan. dalam kegiatan tersebut siswa dilatih bertanggung jawab atas hasil diskusi mereka. harus objektif karena penjelasan mereka harus sesuai teori yang disampaikan, kemudian melatih kerjasama karena diskusi dilakukan secara berkelompok. gambar 12. penanaman sikap tanggung jawab selain itu tanggung jawab ditanamkan juga ketika siswa diminta untuk menanam tumbuhan. pada kegiatan itu ada beberapa perintah yang harus dilaksanakan siswa ketika menanam dan merawat tanaman. c) pemikiran kritis: sikap ini terlihat pada halaman 21-22 saat siswa diminta menjawab beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan tumbuhan di sekitar siswa. secara tidak langsung siswa diminta berpikir kritis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena jawabannya berkaitan dengan pendapat siswa. analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 140 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 gambar 13. penanaman sikap kritis d) berlandaskan pada bukti: sikap ini terdapat pada halaman 21 yaitu siswa diminta mencari bagian tumbuhan yang dapat melindungi bagian tumbuhan yang lainnya. dalam kegiatan tersebut siswa harus memiliki bukti yang kuat untuk bisa memilih bagian tumbuhan tersebut. gambar 14. penanaman sikap berlandaskan pada bukti e) rasa ingin tahu: terdapat pada halaman 23, pada kegiatan “ayo renungkan”. gambar 15. penanaman sikap ingin tahu f) sikap mawas diri, disiplin, dan kesadaran atau peduli terhadap lingkungan: terdapat pada halaman 22 pada kegiatan siswa diminta menanam satu jenis tumbuhan kemudian merawat dan mengamati setiap bagiannya. siswa harus berhati-hati dalam menanam tanaman karena jika tidak berhati-hati tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik. siswa dituntut untuk disiplin karena harus rutin menyirami dan merawatnya. jika tidak, tumbuhan bisa mati. siswa juga dilatih untuk peduli lingkungan, karena dengan menanam tumbuhan tersebut siswa secara tidak langsung ikut merawat kelestarian lingkungan sekitar. gambar 16. penanaman sikap hati-hati, disiplin dan peduli lingkungan analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 141 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 berdasarkan hasil kajian yang dilakukan, diperoleh bahwa buku teks kurikulum 2013 sudah menanamkan hakikat ipa dalam pembelajaran. adapun penanaman secara nyata bergantung kepada guru sebagai fasilitator pendidikan. hal ini menunjukkan bahwa pemerintah melalui kemendikbud sudah melaksanakan amanah dari tujuan pembelajaran ipa untuk menekanakan pengalaman langsung (permendiknas 22, 2006). kelemahan yang ditemukan dalam bukuk siswa kurikulum 2013 edisi revisi tahun 2017 kelas 4 tema 3 yaitu terkait penanaman hakikat ipa yang belum menyeluruh. hal tersebut tampak dari kajian yang telah dilakukan bahwa hakikat ipa sebagai produk yang ditemukan dalam buku hanya terbatas pada fakta, konsep, dan pinsip. padahal aspek lain masih mungkin untuk dikembangkan. hakikat ipa sebagai proses sudah cukup baik karena sudah mencakup keterampilan proses sains dasar yaitu pada aspek: mengobservasi, mengklasifikasi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. adapun hakikat ipa sebagai sikap dalam buku tersebut sudah lebih lengkap, meliputi: jujur, terbuka pada ide-ide baru, bertanggungjawab terhadap keilmuannya, bersikap objektif, bekerjasama, berpikir kritikal, rasa ingin tahu, sikap mawas diri, kedisiplinan diri, dan kesadaran/peduli terhadap lingkungan. simpulan berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, buku kurikulum 2013 edisi revisi tahun 2017 kelas 4 tema 3 masih ditemui adanya kekurangan-kekurangan terkait hakikat ipa. hakikat ipa sebagai produk yang ditemukan dalam buku teks siswa kelas iv tema 3 yaitu terbatas pada fakta, konsep, dan pinsip. hakikat ipa sebagai proses yang ditemukan pada buku ini masih terbatas pada aspek: mengobservasi, mengklasifikasi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. adapun hakikat ipa sebagai sikap dalam buku tersebut sudah lebih lengkap, meliputi: jujur, terbuka pada ide-ide baru, bertanggungjawab terhadap keilmuannya, bersikap objektif, bekerjasama, berpikir kritikal, rasa ingin tahu, sikap mawas diri, kedisiplinan diri, dan kesadaran/peduli terhadap lingkungan. penelitian serupa masih perlu dilakukan untuk perbaikan penyusunan buku guru dan siswa oleh kementrian di tahap berikutnya. analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 142 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 daftar pustaka inspectorate evaluation studies. (2012). science in the primary school 2008. evaluation support and research unit inspectorate department of education and skills. diakses dari https://www.education.ie/en/publications/inspection-reportspublications/evaluation-reports-guidelines/science-in-the-primary-school.pdf. kazempour, mahsa. (2014). i can’t teach science! a case study of an elementary preservice teacher’s intersection of science experiences, beliefs, attitude, and selfefficacy. international journal of environmental & science education. doi: 10.12973/ijese.2014.204a. issn 1306-3065, diakses dari https://files.eric.ed.gov/fulltext/ej1016889.pdf. martin, et al. (2015). timss 2015 international results in science. iea. diakses dari http://timss2015.org/wp-content/uploads/filebase/full%20pdfs/t15-internationalresults-in-science.pdf. permendiknas 22 tahun 2006 tentang standar isi. purnanto, arif wiyat. (2016). analisis kelayakan bahasa dalam buku teks tema 1 kelas i sekolah dasar kurikulum 2013. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/2773. https://doi.org/10.23917/ppd.v3i2.2773 adi, yogi kuncoro. (2017). analisis muatan pendidikan karakter dalam buku teks kurikulum 2013 kelas iii sd semester 1. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/3754. https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.3754 samatowa, usman. (2010). pembelajaran ipa di sekolah dasar. jakarta: indeks. sayekti, ika candra, dkk. (2012). pembelajaran ipa menggunakan pendekatan inkuiri terbimbing melalui metode eksperimen dan demonstrasi ditinjau dari kemampuan analisis dan sikap ilmiah siswa. jurnal inkuiri, vol. 1 no. 2, hal 142-153. issn:2252-7893. https://eprints.uns.ac.id/1578/1/130-234-1-sm.pdf. _________. (2015). peran pembelajaran ipa di sekolah dalam membangun karakter anak.proceeding.https://publikasiilmiah.ums.ac.id/xmlui/bitstream/handle/11617/ 6010/13_ika%20candra%20sayekti.pdf?sequence=1&isallowed=y. ________dan arum mawar kinasih. (2016). profesionalisme guru dalam menanamkan keterampilan proses sains pada siswa kelas iv a di sdm 14 surakarta. prosiding snps, https://media.neliti.com/media/publications/173238id-profesionalisme-guru-dalam-menanamkan-ke.pdf. slameto, (2015). “rasional dan elemen perubahan kurikulum 2013”. scholaria,vol.5, no.1, januari 2015:1-9 https://www.education.ie/en/publications/inspection-reports-publications/evaluation-reports-guidelines/science-in-the-primary-school.pdf https://www.education.ie/en/publications/inspection-reports-publications/evaluation-reports-guidelines/science-in-the-primary-school.pdf https://files.eric.ed.gov/fulltext/ej1016889.pdf http://timss2015.org/wp-content/uploads/filebase/full%20pdfs/t15-international-results-in-science.pdf http://timss2015.org/wp-content/uploads/filebase/full%20pdfs/t15-international-results-in-science.pdf http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/2773 https://doi.org/10.23917/ppd.v3i2.2773 http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/3754 https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.3754 https://eprints.uns.ac.id/1578/1/130-234-1-sm.pdf https://publikasiilmiah.ums.ac.id/xmlui/bitstream/handle/11617/6010/13_ika%20candra%20sayekti.pdf?sequence=1&isallowed=y https://publikasiilmiah.ums.ac.id/xmlui/bitstream/handle/11617/6010/13_ika%20candra%20sayekti.pdf?sequence=1&isallowed=y https://media.neliti.com/media/publications/173238-id-profesionalisme-guru-dalam-menanamkan-ke.pdf https://media.neliti.com/media/publications/173238-id-profesionalisme-guru-dalam-menanamkan-ke.pdf analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 143 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 sugiyono. 2015. metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d. alfabeta: bandung. sulistyoroni, s. (2007). model pembelajaran ipa sekolah dasar dan penerapannya dalam ktsp. semarang: tiara wacana. tursinawati. (2016). “penguasaan konsep hakikat sains dalam pelaksanaan percobaan pada pembelajaran ipa di sdn kota banda aceh”. pendidikan guru sekolah dasar (pgsd) jurnal pesona dasar universitas syiah kuala. volume 2, no.4, april 2016: issn 2337-9227. analisis hakikat ipa......(ika candra s, dkk) 144 jppd, 6, (2), hlm. 129 144 p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 154 pengembangan quantum teaching........(dewi ayu s) pengembangan quantum teaching berbasis video pembelajaran camtasia pada materi permukaan bumi dan cuaca dewi ayu sulistyaningrum fakultas ilmu pendidikan, universitas pgri semarang email: dewiayusulistya@gmail.com abstract the research to motivate students learning and helping teacher to give theory by quantum teaching development model by using audio visual media software based on camtasia studio 8, as a valid and practical learning media. the type of research used is research and development. the procedure in this development study apply the according to borg and gall with initial research and information collection, planning, product draft development, initial field trials, revision test of the results. the result of media validation at first stage media expert was 57,5% and stage 2 was 91,25%, second media expert validation was 95%, material validation result in first material expert of phase 1 was 55,71, and phase 2 was 95 , 71%, second material expert validation 95,71%, student response question 93,75%. then camtasia based on audio visual media with quantum teaching media is valid and ready for field trial. then the questionnaire responses of students as much as 92.68% and questionnaire teacher response learning media and learning materials 97% and 100%. so it can be concluded that the development of quantum teaching based on camtasia learning video is valid and practical so that motivated learning besides feasible use learning in elementary school. keywords: quantum teaching, camtasia pendahuluan pendidikan ialah usaha sadar dan terencana manusia untuk mencapai tujuan yang diinginkan dan pendidikan dapat membina kepribadiannya seseorang sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. pendidikan tidak dapat muncul secara kebetulan saja. usaha sadar untuk memenuhi kebutuhan terdidik bukan untuk memenuhi kebutuhan pendidik. pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam mental. demikian proses pembelajaran tercapai atau tidaknya pembelajaran tergantung pada dilihat dari hasil proses pembelajaran tersebut. proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. pendidikan sangatlah mempengaruhi dalam proses pembelajaran karena menyangkut kegiatan pembelajaran guru sebagai pengajar harus dituntut mempunyai kualitas mengajar yang baik agar peserta didik dapat secara terencana, baik dalam aspek pengetahun, keterampilan, maupun sikap. interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut dipengaruhi oleh lingkungan. berdasakan analisis wawancara yang dilakukan oleh peneliti di sdn jomblang 01 semarang di dapatkan fakta bahwa banyak peserta didik yang menyukai pelajaran ipa, namun ada menganggap sukar karena jarang menggunakan media dalam pembelajaran karena keterbatasan guru dalam membuat media pembelajaran saat pembelajaran e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 154 – 166 155 berlangsung atau keterbatasan koleksi media di sekolah, akan tetapi mereka sangat berharap agar pembelajaran ipa di sekolah dapat di laksanakan secara efisien, menarik, dan efektif. kemudian dari wawancara juga dapat diketahui bahwa terdapat saranaprasarana berkaitan dengan teknologi yang kurang dimanfaatkan oleh guru. metode pengajaran menggunakan metode ceramah dan menggunakan media gambar tetapi media gambar tersebut juga tidak terlalu sesering mungkin, lebih banyak menggunakan metode ceramah dan sumber belajar yang biasanya menggunakan buku pegangan yaitu bse dan buku ktsp, guru lebih sering sebagai teacher centered dalam proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas maka dari itu siswa kurang aktif dalam pembelajaran berlangsung. berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan narasumber guru kelas iii di sekolah dasar negeri jomblang 01 kelas masih menggunakan kurikulum ktsp pada mata pelajaran ipa memiliki kkm yang tinggi yaitu sebesar 67. suatu kegiatan belajar mengajar dikatakan berhasil apabila lebih dari 80% siswa lolos kkm dari 41 siswa kelas iii sdn jomblang 01 berdasarkan nilai ipa pada ulangan tengah semester ganjil. berdasarkan kkm yang tinggi tersebut dapat memacu guru untuk membuat suatu proses belajar mengajar yang dapat memotivasi siswa untuk terus belajar dan memiliki hasil yang baik, namun faktanya, guru kelas iii lebih sering menggunakan buku sebagai media pembelajaran dan menggunakan metode ceramah. pembelajaran quantum adalah salah satu model pembelajaran yang inovatif yang berorientasi pada peserta didik (student centered). pembelajaran quantum difokuskan pada hubungan yang dinamis dalam lingkungan kelas dengan interaksi membentuk landasan dan kerangka untuk belajar. model pembelajara quantum menekankan kegiatan pada pengembangkan potensi manusia secara optimal melalui caracara yang sangat manusiawi, yaitu mudah, menyenangkan, dan memberdayakan. setiap anggota komunitas belajar dikondisikan untuk saling mempercayai dan saling mendukung. peserta didik dan guru berlatih dan bekerja sebagai tim guna mencapai kesuksesan bersama. dalam konteks ini, sukses guru adalah sukses peserta didik, dan sukses peserta didik berarti sukses guru. (kosasih & sumarna, 2013:89). model pembelajaran quantum teaching ini efektif meningkatkan karakter kreatifitas dan hasil belajar matematika pada siswa kelas iii sd negeri peterongan (permana dkk, 2016: 154) pengembangan potensi diri siswa akan berjalan dengan efektif apabila seorang mampu menggunakan model dan media mengajar yang tepat. penerapan model dan media pembelajaran yang akan dipilih oleh guru dalam memberikan suatu materi pembelajaran akan diajarkan sangat menentukan terhadap keberhasilan proses belajar peserta didik, terutama yang harus diperhatikan guru adalah pemilihan dan penggunaan model pembelajaran serta media pembelajaran yang cocok pada materi pembelajaran yang akan diajarkan. penggunaan media pembelajaran pada pembelajaran di sekolah dasar menjadi bagian paling penting yang harus diperhatikan oleh guru sebab siswa sekolah p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 156 pengembangan quantum teaching........(dewi ayu s) dasar memilki kemampuan yang terbatas dalam memahami materi bersifat abstrak. media audio-visual adalah seperangkat alat yang dapat memproyeksikan gambar bergerak dan bersuara. paduan antara gambar dan suara membentuk karakter sama dengan objek aslinya. alat-alat yang termasuk dalam kategori media audio–visual, adalah: televisi, video-vcd, sound, slide, dan film. (sanaky 2013: 119). berdasarkan paparan diatas pengertian media berbasis audio visual dapat disimpulkan bahwa seperangkat alat media yang dapat bergerak dan bersuara dalam memproyeksikan dari gambar yang menarik dan bagi yang melihat dapat tertarik. audio visual akan dikembangkan melalui dengan software camtasia 8 dan dipadukan dengan power point 2010, camtasia studio adalah salah satu yang dapat merekam segala sesuatu yang sedang berlangsung dalam layar monitor anda (enterprise 2015: 1),. sedangkan menurut adi (2014: 1), “camtasia studio merupakan salah satu software multimedia yang sering digunakan untuk membuat video, baik berupa untuk editing film ataupun video tutorial. menggunakan software camtasia 8, kemampuan utama camtasia adalah merekam aktivitas layar deskop secara punuh atau sebagia, dan menyimpan hasil rekaman ke dalam format video. kelebihan lain ialah camtasia adalah mampu merekam melalui kamera komputer atau webcam. untuk mengedit video, camtasia memiliki menu yang lengkap sehingga software ini cukup mudah digunakan untuk seorang pemula sekalipun. pengguna camtasia akan sangat leluasa dalam mengedit konten film yang akan dibuat, karena camtasia mampu digunakan untuk impor video, gambar (foto), musik, dan lain-lain. selaian itu camtasia studio 8 merupakan salah satu perangkat lunak atau software yang dapar digunakan untuk pembuatan video atau untuk mengedit video software ini juga baik untuk pemula. berdasarkan pokok pikiran di atas menjadi acuan untuk mengembangkan model pembelajaran dan media pembalajaran untuk dapat menciptakan suasana pada saat proses pembelajaran berlangsung diharapkan setelah menggunakan pengembangan model pembelajaran quantum teaching berbasis video camtasia untuk membantu guru dalam proses kegaiatan belajar mengajar, maka peneliti mengembangkan model pembelajaran kreatif dan inovatif berbasis video camtasia. belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.(slameto 2010: 3) berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah usaha sadar yang dilakukan oleh seseorang dengan sengaja memperoleh konsep yang dinginkan sehingga seseorang dapat kemungkinan seseorang terjadi tingkah laku dan pola berpikir. sains atau ipa adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat pada sasaran, serta menggunakan prosedur, dan dijelaskan dengan penalaran sehingga mendapatkan suatu kesimpulan (susanto 2016: 167). e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 154 – 166 157 berdasarkan menurut para ahli pembelajara ipa ialah suatu kumpulan pengetahuan yang sistematik yang di dalamnya membahas tentang gejala-gejala alam dan lingkungan sekitar alam maka dari itu ipa dalam melalui pengamatan, prosedur, penalaran yang logis maka dapat disimpulkan dalam memahami alam semesta ini deporter dkk (1999: 4) dalam (sukardi, 2013: 81) secara umum quantum teaching adalah sebuah metode dan proses pembelajaran di dalam kelas yang mengoptimalkan interaksi berbagai unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajar. dalam interaksi ini berbagai unsur belajar efektif dilibatkan (antusiasime dan semangat belajar siswa). hasil interaksi ini diharapkan dapat mengubah dan melejitkan kemampuan dan bakat siswa. kemampuan dan bakat ini pada akhirnya akan menjadi presentasi dan hasil belajar yang bermanfaat bagi mereka sendiri dan orang lain. jadi berbagai unsur yang diinteraksikan ibarat sebagai energi, dan kompetensi siswa yang meningkat pesat disimbolkan sebagai cahaya yang dihasilkan dari interaksi tersebut. menurut de potter (1999) dalam (sukardi, 2013: 93) metode ambak adalah akronim dari apa manfaat bagiku. ini adalah metode untuk mendorong siswa memahami dan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari akan memberikan manfaat yang besar bagi dirinnya maupun orang lain. metode tandur adalah metode umum dalam kegiatan inti pembelajaran. tandur adalah akronim dari tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi dan rayakan. media pembelajaran adalah sarana atau alat bantu pendidikan yang dapat digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektifitas dan efisien dalam mencapai tujuan pengajaran. (sanaky, 2013: 3) media visual yang menggabungkan penggunaan suara memperlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. salah satu pekerjaan penting yang diperlukan dalam media diperlukan dalam media audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian (arsyad, 2015: 91) kemampuan utama camtasia adalah merekam aktivitas layar desktop secara penuh atau sebagian dan menyimpan hasil rekaman ke dalam format video. kemampuan lain camtasia adalah mampu merekam melalui kamera komputer atau webcam. untuk mengedit video, camtasia memiliki menu yang lengkap sehingga software ini cukup mudah digunakan untuk seorang pemula sekalipun. pengguna camtasia akan sangat leluasa dalam mengedit konten film yang akan dibuat, karena camtasia mampu digunakan untuk impor video, gambar (foto), musik, dan lainlain. hasil penelitian relevan yang dilakukan oleh anik wijayanti (2016) yang berjudul pengaruh quantum teaching dalam pembelajaran ipa terhadap hasil belajar siswa kelas iii sd se-gugus 2 hasanudin, menunjukkan perbedaan hasil belajar antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan quantum teaching dan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran yang biasa dilakukan guru dibuktikan dari hasil t-test pada taraf signifikansi 0,00<0,05. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 158 pengembangan quantum teaching........(dewi ayu s) berdasarkan hasil penelitian anik wijayanti (2016) dengan judul pengaruh quantum teaching dalam pembelajaran ipa terhadap hasil belajar siswa kelas iii sd se-gugus 2 hasanudin, menunjukkan perbedaan hasil belajar ipa yang signifikan antara kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran quantum teaching dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan konvensional. hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti bahwa lebih berpengaruh pada valid dan efektitifnya implementasi pembelajaran dengan model pembelajaran quantum teaching. metode penelitian prosedur dalam penelitian pengembangan yaitu dengan pemikiran dikemukakan oleh borg and gall model ini memiliki 10 langkah prosedur penelitian dan pengembangan. namun pada peneliti dan pengembangan hanya menggunakan sampai langkah ke lima dikarenakan keterbatasan waktu dan biaya, peneliti hanya menggunakan sampai dengan tahap ke lima sebagai berikut : 1) penelitian dan pengumpulan data, 2) perencanaan, 3) pengembangan draf produk, 4) uji coba lapangan awal, 5) merevisi hasil uji coba. pada tahap ini peneliti melakukan observasi ditiga sekolah, di sdn pandean lamper 03 semarang yang dilakukan pada tanggal 31 januari 2017, sdn sambirejo 02 semarang yang dilakukan pada tanggal 1 februari 2017 dan sdn jomblang 01 semarang yang dilakukan pada tanggal 2 februari 2017, untuk menganalisis kebutuhan guru dan siswa terdahap model pembelajaran dan media pembelajaran. dari hasil observasi yang dilakukanoleh peneliti, pada tiap-tiap sekolah terdapat permasalahan yang munculnya yaitu saat proses pembelajaran berlangsung terutama dalam pembelajaran ipa siswa perlu adanya media pembelajaran yang menarik agar dapat mengingat materi yang diajarakan dan bisa membuat siswa merasakan minat belajar untuk menerima pembelajaran atau materi yang baru karena perlunya adanya media pembelajaran. keterbatasan guru dalam membuat media pembelajaran yang bervariasi dengan model pembelajaran, serta besarnya ketertarikan guru dalam menggunakan model pembelajaran quantum teaching berbasis video pembelajaran camtasia pada pembelajaran ipa. berdasarkan permasalahan tersebut perlu adanya pengembangan model pembelajaran quantum teaching berbasis video pembelajaran camtasia pada materi permukaan bumi dan cuaca. pada produk yang dikembangkan oleh peneliti, membuat sepraktis mungkin agar dapat digunakan penelitian dan pengembangan di sekolah dan dapat meningkatkan minat belajar siswa. subyek penelitian pada penelitian ini adalah siswa kelas iii sd negeri jomblang 01 dengan jumlah 41 peserta didik. waktu penelitian adalah semester genap tahun ajaran 2016/2017. penelitian berdasarkan dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti. beberapa pengumpulan data menggunakan instrumen yang dibutuhkan untuk mengetahui masalah-masalah yang ada dalam subyek penelitian harapannya peneliti e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 154 – 166 159 dapat mendesain produk sesuai dengan tujuan penelitian. berikut ini dibahas beberapa instrumen pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini : 1. observasi teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan untuk mengambil data dari sekolah yang akan diteliti. pada penelitian ini melakukan obsevasi di tiga sekolah yaitu sdn pandean lamper 03 semarang, sdn sambirejo 02 semarang dan sdn jomblang 01 semarang untuk mengumpulkan data atau mendapatkan informasi dari sekolah yang berkaitan tentang proses pembelajaran di kelas iii yang berkaitan tentang model pembelajaran yang digunakan oleh guru dan media pembelajaran yang sering guru gunakan khususnya pada mata pelajaran ipa yang berlangsung di sekolah 2. pengamatan langsung dalam banyak kasus, pengamatan tingkah-laku langsung sistematis merupakan metode pengukuran paling diinginkan. peneliti mengidentifikasi tingkah-laku yang menarik dan merancang prosedur yang sistematis untuk mengidentifikasi, mengkategorikan dan mencatat tingkah laku dalam situasi alamiah atau pertunjukan (soegeng, 2016: 132). pengamatan langsung dalam penelitian ini akan dilakukan saat kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. 3. wawancara wawancara pada penelitian ini dilakukan secara tidak terstruktur. 4. dokumentasi dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang berupa bendabenda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, foto-foto, dan lain sebagainya. dalam penelitian ini, yang dimaksud adalah data responden dalam penelitian ini. dokumentasi dari penelitian ini adalah berupa foto dan dokumen lain yang menunjang dalam penelitian ini. 5. angket atau kuesioner angket atau kuesioner adalah jumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. (arikunto , 2010: 194) teknik angket ini digunakan untuk menganalisis kebutuhan peserta didik dalam mengetahui proses pembelajaran mengunakan video camtasia dan analisis kebutuhan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran berlangsung, salain itu teknik angket digunakan untuk mengetahui dalam uji validitas dalam proses pengembangan quantum teaching berbasis video camtasia agar dapat dikatan layak sebagai pembelajaran di sekolah dasar kuesioner diberikan kepada angket tanggapan siswa, angket respon guru dan angket validasi produk kepada para ahli media dan ahli materi yaitu sebagai berikut: a. lembar angket peserta didik data kuantitatif skor penilaian yang diperoleh dari hasil pengisian lembar angket peserta didik kemudian dianalisis dengan acuan yang diadaptasi dengan menggunakan skala guttman yang nantinya akan dideskripsikan secara kualitatif. angket ini digunakan untuk mengetahui kelayakan penggunaan p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 160 pengembangan quantum teaching........(dewi ayu s) quantum teaching berbasis video camtasia pembelajaran yang dikembangkan. lembar angket peserta didik diberikan kepada peserta didik setelah mereka menggunakan atau mengikuti pembelajaran dengan menggunakan media tersebut. lembar angket peserta didik berbentuk checklist b. lembar validasi lembar validasi digunakan untuk mendapatkan validasi dari ahli tentang kualitas quantum teaching berbasis video camtasia. lembar validasi ini berbentuk checklist. kualitas dalam video tersebut dijabarkan kedalam indikatorindikator dan dikembangkan lebih lanjut. lembar validitas ini terdiri dari dua macam yaitu lembar validitas ahli media dan lembar validitas ahli materi pembelajaran c. lembar angket kelayakan data kuantitatif skor penilaian yang diperoleh dari hasil pengisian lembar angket kelayakan yang diisi oleh guru akan dianalisis dengan acuan yang diadaptasi menggunakan skala likert yang nantinya akan dideskripsikan secara kualitatif. angket ini digunakan untuk mengetahui kelayakan penggunaan quantum teaching berbasis video camtasia pembelajaran yang dikembangkan. angket kelayakan ini diberikan kepada guru setelah menggunakan model pembelajaran quantum teaching berbasis video camtasia tersebut. untuk menganalisis data dari lembar angket dengan skala likert bentuk chekclist. penelitian dan pengembangan ini digunakan dua teknik analisis data yaitu deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif. data kuantitatif berupa komentar dan saran perbaikan produk dari ahli media pembelajaran dan ahli materi pembelajaran yang nantinya akan dideskripsikan secara deskriptif kualitatif untuk perbaikan produk yang dikembangkan. sedangkan data kuantitatif berupa skor penilaian ahli media pembelajaran dan ahli meteri pembelajaran insrumen angket menggunakan skala likert. skala likert digunakan pada angket pengujian pengembangan quantum teachingberbasis video pembelajaran camtaisa untuk uji validasi ahli media, uji ahli ahli materi, uji respon guru kelas, dan uji angket respon siswa penelitian dengan menggunakan skala likert yaitu dengan menghadirkan sejumlah pernyataan yang positif dan negatif dalam suatu obyek. dalam menjawab butir-butir pertanyaan dan dapat dipilih jawaban yang meliputi “5(sangat baik)”, “4 (baik)”, “3 (cukup)”, “2 (kurang)” dan “1 (sangat kurang)”. juga menggunakan skala guttman hanya memiliki dua interval saja, yaitu “setuju” dan “tidak setuju”. data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan cara menghitung skor yang diperoleh. analisis skor yang digunakan yaitu analisis deskriptif yang digunakan untuk menghitung persentase dari hasil angket yang akan diberikan untuk ahli media, ahli materi, angket respon guru kelas dan e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 154 – 166 161 angket tanggapan siswa dengan langkahlangkah sebagai berikut: 1. data yang diperoleh dari ahli media, ahli materi memiliki validitas isi berupa data kualitatif yang diubah menjadi data kuantitatif dengan ketentuan pedoman pemberian skor seperti pada tabel 1, 2, dan 3: tabel. 1 pedoman pemberian skor ahli media, ahli materi angket dan respon guru keterangan skor sb (sangat baik) 5 b (baik) 4 c (cukup) 3 k (kurang) 2 sk (sangat kurang ) 1 tabel. 2 pedoman penskoran angket respon siswa keterangan skor tidak 0 ya 1 2. setelah data terkumpul, kemudian menghitung skor yang diperoleh dari hasil angket yang telah diisi. 3. menjumlahkan skor ideal item (kriterium) untuk seluruh aspek pada angket yang telah diisi 4. menghitung persentase angka dari analisis data yang dilakukan. 5. dari yang telah diperoleh kemudian ditransformasikan ke dalam kalimat yang bersifat kualitatif. 6. untuk menentukan kriteria kelayakan dilakukan dengan cara seperti tabel 3. tabel. 3. kriteria interprestasi kelayakan media penilaian kategori 0% 20% 21% 40% 41% 60% 61% 80% 81% 100% sangat tidak layak tidak layak cukup layak layak sangat layak hasil dan pembahasan pengembangan model quantum teaching terhadap video pembelajaran berbasis camtasia pada materi permukaan bumi dan cuaca dalam materi ipa kelas iii semester ii, dikembangkan berdasarkan langkah-langkah penelitian dan pengembangan (research and development). penelitian menggunakan desain pengembangannya yang dikemukakan oleh borg and gall. pada media video pembelajaran yang akan membantu siswa dalam memahami mata pelajaran ipa terutaman materi permukaan bumi dan cuaca kelas iii semester ii dan membantu guru untuk menyampaikan pembelajaran di kelas. keunggulan produk model quantum teaaching terhadap video pembelajaran camtasia pada sifatnya mampu dibawah kemanapun, dengan tampilan menarik dan disertai animasi yang menarik dan disertai gambar-gambar yang kongkret yang disekitar lingkungan siswa yang sering siswa melihat, selain itu video pembelajaran ini siswa dapat belajar mandiri dan didampingi oleh wali murid siswa di dalam video pembelajaran ini terdapat percobaan yang siswa dapat mencoba di rumah mereka. model quantum teaching terhadap video pembelajaran berbasis camtasia dikemas semenarik mungkin dalam bentuk cd pembelajaran. kelayakan media ini dapat diliihat dari hasil p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 162 pengembangan quantum teaching........(dewi ayu s) validasi ahli media, validasi ahli materi, hasil angket respon guru dan hasil angket respon siswa. hasil validasi ahli media pada tahap validasi ahli media ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan pembuatan produk model quantum teaching terhadap video pembelajaran berbasis camtasia pada materi permukaan bumi dan cuaca sebelum dilakukan uji coba lapangan awal. pada tahap ini dua validator ahli media dipilih oleh peneliti. validasi media dilakukan dengan memberikan lembar angket validasi ahli media.berdasarkan hasil validasi yang dilakukan oleh peneliti terdahap validator ahli media validasi pertama. gambar 1. hasil validator media tahap pertama hasil analisis penilaian ahli media pada tahap pertama mendapatkan persentase memperoleh skor 57,7% dengan kriteriacukup layak dan ahli media memberikan saran dan komentar yang diberikan yaitu video pembelajaran berbasis camtasia menyesuaikan dengan model quantum teaching yang menggunakan sintaks metode tandur karena dalam video pembelajaran tersebut belum ada sintaks metode tandur, maka dari itu peneliti perlu adanya revisi produk yang sesuai dengan saran dan komentaryang diberikan oleh validasi ahli media pada tahap pertama. setelah selesai melakukan validator pada ahli media pertama, peneliti melakukan validator ahli media yang kedua. gambar. 2 hasil validator media kedua hasil analisis penilaian hasil media validasi kedua mendapatkan persentase total sebesar 95% dengan kriteria sangat layak dan ahli media pada validator kedua memberikan komentar yaitu siap untuk digunakan untuk penelitian atau siap untuk uji coba lapangan awal. pada validator yang pertama mendapatkan saran, kritikan dan komentar untuk revisi produk maka peneliti memperbaiki desain yang sesuai dengan komentar validator ahli media dan diperoleh hasil analisis penilaian ahli media validasi media pada tahap kedua gambar. 3 hasil perbandingan validasi media 60% 50% 60% 60% 44% 46% 48% 50% 52% 54% 56% 58% 60% 62% persentase validasi ahli media tahap pertama indikator keses uaian kelayakan produk kontribusi produk keunggulan produk 95% 95% 95% 95% 0% 20% 40% 60% 80% 100% persentase validasi ahli media indikator keses uaian kelayakan produk kontribusi produk kenggulan produk 60% 80% 50% 100% 60% 90% 60% 95% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% persentase hasil tahap pertama pers entase hasi l tahap kedua perbandingan validasi media tahap pertama dan tahap kedua indikator keses uaian kelayakan produk kontribusi produk keunggulan produk e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 154 – 166 163 hasil analisis penilaian ahli media validasi pada tahap kedua mendapatkan persentase skor total sebesar 91,25% dengan kriteria sangat layak. maka produk yang sudah validasi siap untuk uji coba lapangan. hasil validasi ahli materi pada tahap validasi ahli materi pembelajarn untuk bertujuan untuk melihat sejauh mana materi yang ada pada model quantum teaching terhadap media video pembelajaran berbasis camtasia pada materi permukan bumi dan cuaca, mata pelajaran ipa kelas iii semester ii. pada tahap ini, dua validator yang dipilih untuk bersedia sebagai validasi ahli materi. uji validasi terhadap produk dengan memberikan lembar angket validasi ahli materi. hasil analisis penilaian ahli materi validasi pada tahap pertama mendapatkan persentase skor total sebesar 55,71% dengan kriteria cukup layak. gambar. 4 hasil ahli materi tahap pertama pada tahap validator validasi ahli materi tahap pertama mendapatkansaran dan komentar yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran (rpp) menyesuiakan model quantum teaching dengan sintaks metode tandur, maka dari itu peneliti perlu adanya revisi terhadap produk yang dikembangkan agar sesuai dengan saran dari validator pertama.setelah selesai melakukan validator pada ahli materi pada tahap pertama, peneliti melakukan validator ahli materi yang kedua gambar. 5 hasil validator ahli materi hasil analisis penilaian ahli materi validasi pertama mendapatkan persentase skor total sebesar 95,71 % dengan kriteria sangat layak. validator ahli materi memberikan saran yaitu produk siap digunakan penelitian atau siap untuk di uji caba lapangan awal. pada validator yang pertama mendapatkan saran dan komentar untuk revisi produk maka peneliti memperbaiki desain yang sesuai dengan komentar validator ahli materi dan diperoleh hasil analisis penilaian ahli materi validasi materi pada tahap kedua gambar. 6 hasil perbandingan validasi materi hasil analisis penilaian ahli materi validasi pada tahap kedua mendapatkan persentase 95,71% dengan kriteria sangat layak. maka dari itu produk yang 46,6% 60% 50% 60% 0,0% 10,0% 20,0% 30,0% 40,0% 50,0% 60,0% 70,0% persentase validasi ahli materi tahap pertama indikator kesesuaian indikator kelayakan indikator penyajian indikator kompotensi 93,3% 96% 100% 100% 88,0% 90,0% 92,0% 94,0% 96,0% 98,0% 100,0% 102,0% persentase validasi ahli materi indikator kesesuaian indikator kelayak an indikator penyajian indikator kompetensi p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 164 pengembangan quantum teaching........(dewi ayu s) dikembangkan oleh peneliti setelah melakukan validasi dari ahli materi siap untuk di uji coba lapangan awal. hasil angket respon guru hasil angeket respon guru kelas iii bertujuan untuk mengetahui respon guru kelas iii terhadap kelayakan model quantum teaching terhadap video pembelajaran berbasis camtasia pada materi permukaan bumi dan cuaca kelas iii semester ii. berdasarkan hasil analisis angket respon guru dalam madia pembelajaran. hasil analisis penilaian respon guru dalam media pembelajaran mendapatkan persentase skor total 97,5% dengan kriteria sangat layak. gambar. 7 hasil respon guru media maka produk yang dikembangkan oleh peneliti mendapatkan kelayakan model quatum teaching terhadap video pembelajaran berbasis camtasia pada materi permukaan bumi dan cuaca kelas iii semester ii.selain itu angket respon guru dalam materi pembelajaran memperoleh penilaian. hasil analisis penilaian respon guru dalam materi pembelajaran mendapatkan persentase skor total 100% dengan kriteria sangat layak. maka dari itu produk yang dikembangkan oleh peneliti layak digunakan dalam pembelajaran. gambar. 8 hasil respon materi hasil angket respon siswa hasil angket respon siswa bertujuan untuk megetahui respon siswa terhadap keberterimaan model quantum teaching terhadap video pembelajaran berbasis camtasia pada materi permukaan bumi dan cuaca dalan mata pelajara ipa kelas iii pada uji coba lapangan awal dengan dilakukan pengisian angket respon siswa kelas iii di sdn jomblang 01 semarang gambar. 9 hasil angket tanggapan siswa maka dari itu dari hasil angket respon siswa terhadap media video pembelajaran berbasis camtasia terhadap model quantum teaching sangat layak digunakan pada pembelajaran di dalam kelas selain itu siswa 100% 95% 95% 100% 92% 93% 94% 95% 96% 97% 98% 99% 100% 101% persentase angket respon guru media pembelajaran indikator keses uaian kelayakan produk kontribusi produk keunggulan produk 100% 100% 100% 100% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% persentase angket respon guru materi pembelajarn indikator keses uaian indikator kelayak an indikator penyajian indikator kompetens i 7,31% 92,68% kriteria analisi angket tanggapan siswa berdasarkan persentase layak sangat layak e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 154 – 166 165 dapat belajar mandiri menggunakan video pembelajaran yang dikembangkan oleh peneliti dan membantu guru untuk mendapangi pembelajaran terutama mata pelajaran ipa materi permukaan bumi dan cuaca kelas iii semester ii. berikut adalah contoh gambar tampilan pengembangan quantum teaching berbasis video pembelajaran camtasia simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada penelitian pengembangan produk model quantum teaching terhadap video pembelajaran berbasiscamtasia pada mata pelajaran ipa materi permukaan bumi dan cuaca kelas iii semester ii maka dapat disimpulkan bahwa: 1. dihasilkan produk model quantum teaching terhadap video pembelajaran berbasis camtasia pada mata pelajaran ipa materi permukaan bumi dan cuaca kelas iii semester ii yang disesuaikan dengan 10 langkah model penelitian dan pengambangan (r&d) menurut borg and gall. dari sepuluh langkah tersebut peneliti hanya mengambil lima langkah yaitu pada revisi hasil uji coba. 2. kevalidan model quantum teaching terhadap video pembelajaran berbasis camtasia pada mata pelajaran ipa materi permukaan bumi dan cuaca kelas iii semester ii dilakukan dengan cara melakukan validasi media pembelajaran dan materi pembelajaran. penilaian oleh ahli media pada tahap pertama oleh validator pertama dan validator kedua mendapatkan 57,5% dan 95% dengan kriteria cukup layak dan sangat layak. selain itu pada tahap kedua mendapatkan persentase 95% dengan kriteria sangat layak. berdasarkan perolehan persentase terhadap validasi ahli materi pada tahap pertama dengan validator pertama dan kedua mendapatkan persentase 95,71 % dan 55,71% dengan kriteria sangat layak dan cukup layak. setelah itu pada tahap kedua persentase 91,25% dengan kriteria sangat layak sehingga video pembelajaran berbasis camtasia pada mata pelajaran ipa valid digunakan uji coba lapangan. 3. kepraktisan model quantum teaching terhadap video pembelajaran camtasia pada mata pelajaran ipa materi permukaan bumi dan cuaca kelas iii semester ii dilakukan dengan cara memberikan angket respon guru dan angket tanggapan siswa kelas iii sdn jomblang 01. hasil tanggapan tersebut diperoleh pada angket respon guru dalam media dan materi 97,5% dan 100% dengan kriteria sangat layak selain itu hasil dari angket tanggapan siswa 93,75% dengan kriteria sangat layak. maka dari itu hasil pengembangan model quantum teaching terhadap video pembelajaran berbasis camtasia pada mata pelajaran ipa materi permukaan bumi dan cuaca kelas iii semester ii praktis digunakan pada kelas iii sekolah dasar p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 166 pengembangan quantum teaching........(dewi ayu s) daftar pustaka adi, a. p. (2014). menjadi pembuatan film andal dengan camtasia studio 8. jakarta: pt elex media komputindo. arikunto , s. (2010). prosedur penelitian suatu pendekatan praktik . jakarta : pt rineka cipta. arsyad , a. (2015). media pembelajaran . jakarta: kharisma putra utama offset . enterprise, j. (2015). membuat video tutorial menggunakan camtasia. jakarta: pt elex media komputindo. kosasih, n., & sumarna, d. (2013). pembelajaran quantum dan optimalisasi kecerdasan . bandung: alfabeta, cv. permana dkk. 2016. keefektifan pembelajaran quantum teaching terhadap kreatifitas dan hasil belajar matematika kelas iii sdn peterongan semarang. jurnal profesi pendidikan dasar vol. 3, no. 2, 2016, hlm.154. http://journals.ums.ac.id/index.php/ ppd/article/view/3968/3515 sanaky, a. h. (2013). media pembelajaran interaktif-inovatif. yogyakarta: kaukuba. soegeng, a. (2016). dasar-dasar penelitian. yogyakarta: magnum pustaka utama. sukardi, i. (2013). model-model pembelajaran modern. palembang : tunas gemilang press. susanto, a. (2016). teori pembelajaran & pembelajaran di sekolah dasar. jakarta: prenadamedia grup hyperlink " wijayanti , a. (2016). pengaruh quantum teaching dalam pembelajaran ipa terhadap hasil belajar siswa kelas iii sd se-gugus 2 hasanudin. jurnal pendidikan guru sekolah dasar. edisi 34 tahun ke 5. http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/ pgsd/article/viewfile/5115/4783. http://journals.ums.ac.id/index.php/%20ppd/article/view/3968/3515 http://journals.ums.ac.id/index.php/%20ppd/article/view/3968/3515 http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/ profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 182-192182 persepsi mahasiswa semester vii pgsd tentang pelaksanaan program pengalaman lapangan (ppl) oleh fakultas keguruan dan ilmu pendidikan ums tahun akademik 2013/2014 suwarno, wahyu doko ariyanto pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta abstract this study aimed to describe the implementation of ppl (professional and teaching practice at school) for pgsd fkip ums students; pgsd students’ perception towards ppl. this research is descriptive with qualitative approach. sources of data in this study are students, mentor teachers coordinator, and lecturers as ppl supervisor. data collection techniques used were questionnaires, interviews, and documentation. the questionnaire were obtained from 60 students to determine vii semester pgsd fkip ums students’ perceptions about ppl 2013. interviews were conducted to students who had attended the ppl, coordinator of mentor teachers, and lecturers.. data analysis techniques performed interactively. the validity of the data used triangulation technique. based on the results of research conducted by researchers at the school with good quality, medium, and regular shows that the number of 35 or 58.33 % of the students expressed that one poin to be improved is in terms of the time of registration. a number of 50 or 83.33 % of the students stated that in the partner schools do not have science labs and learning of mathematics as a suggestion. a total of 60 or 100 % of students stated that the performance of mentor teachers’ coordinator in carrying out the task was quite good. some 21 or 31 % of students stated that some mentor teachers were still using conventional learning strategies or unable to model an active and innovative teachers for the student-teachers. a total of 40 or 66.67 % of the students stated that the performance of the supervisors needs to be improved, especially to guide students in preparing and developing student-teachers’ learning program at school and in assisting them writing final report of ppl. a number of 41 or 68.33 % of the students stated that it is mandatory to give a memento to the partner school. some 57 or 95 % of students stated that students are required to have teaching practice exams at partner school. it was concluded that the good cooperation between the organizers of the ppl, students, supervisors, teacher and mentor teacher coordinator to facilitate the implementation of the ppl . keywords: perceptions, students, ppl (professional adn teaching practice at school) pendahuluan faktor guru diyakini memegang peranan yang sangat strategis dalam upaya memperbaiki kualitas pendidikan di indonesia. guru yang berkualitas berpengaruh besar terhadap efektifitas pembelajaran dan pada gilirannya akan mempengaruhi prestasi peserta didik. keberadaan guru persepsi mahasiswa semester vii pgsd tentang pelaksanaan ... (suwarno dan wahyu djoko a.) 183 yang bermutu merupakan syarat utama hadirnya sistem dalam praktek pendidikan yang berkualitas. oleh karena itu, fkip ums menyelenggarakan program pengalaman lapangan (ppl) yang merupakan kegiatan praktik mengajar yang wajib ditempuh oleh mahasiswa calon guru di sekolah-sekolah mitra. program pengalaman lapangan (ppl) merupakan salah satu kegiatan kurikuler yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa s1 fkip dan fai tarbiyah ums untuk mendapatkan gelar sarjana. kegiatan ini diharapkan mampu membentuk empat kompetensi yang dipersyaratkan untuk menjadi guru yang profesional, yaitu: kompetensi paedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial (tim penyusun program pengalaman lapangan pgsd, 2013). berdasarkan latar belakang di atas maka dilakukan suatu penelitian tentang persepsi mahasiswa semester vii pgsd tentang pelaksanaan ppl fkip ums dengan tujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan ppl dan mendeskripsikan persepsi mahasiswa semester vii pgsd terhadap ppl. sehingga bermanfaat untuk memperoleh teori baru tentang persepsi mahasiswa terhadap pelaksanaan ppl dan dapat digunakan sebagai evaluasi dari pelaksanaan ppl mahasiswa semester vii pgsd ums tahun akademik 2013/2014. metode penelitian penelitian dilaksanakan di program studi pgsd fkip ums dengan menyebarkan angket dan wawancara kepada mahasiswa pgsd dan dosen pembimbing lapangan serta koordinator guru pamong. jenis penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian deskriptif yang hanya menggambarkan atau mendeskripsikan fenomena yang diobservasi baik fenomena alam maupun buatan secara deskriptif dan obyektif (rubino, 2009: 36), menggunakan pendekatan kualitatif yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok (nana syaodih, 2011: 60). teknik pengumpulan data dari penelitian ini dengan cara: 1. angket, 2. wawancara, dan 3. dokumentasi. untuk menentukan keabsahan data digunakan teknik triangulasi. triangulasi yang digunakan adalah teknik angket, wawancara, dan dokumentasi. teknik analisis data yang digunaka adalah teknik deskriptif kualitatif yang meliputi: penyediaan data, reduksi data, display data, dan data collection. hasil dan pembahasan hasil menurut moskowitz dan orgel (dalam walgito, 2005: 100) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses yang integrated dalam diri individu terhadap stimulus yang diterimanya. hasil penelitian tentang persepsi mahasiswa semester vii pgsd fkip ums terhadap pelaksanaan ppl tahun 2013/2014 melalui 60 angket yang terdiri dari tiga kategori yaitu, 20 angket sekolah mitra dengan mutu baik, 20 angket sekolah mitra dengan mutu sedang, dan 20 angket sekolah mitra dengan mutu biasa. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 182-192184 a. komponen persiapan no pernyataan jawaban jumlah ya tidak angka % angka % angka % 1 anda mengikuti dan memahami perkulihan microteaching dengan baik selama satu semester 20 100% 0 0% 20 100% 2 mahasiswa ppl mendapat pelatihan atau contoh dalam membuat perangkat pembelajaran (prota, promes, silabus, dan rpp) 13 65% 7 35% 20 100% 3 mahasiswa ppl mendapatkan bekal tentangkurikulum 2013 18 90% 2 10% 20 100% 4 mahasiswa ppl mendapatkan pembekalanilmu pendidikan 20 100% 0 0% 20 100% 5 proses dan prosedur pendaftaran pplmenyulitkan mahasiswa 3 15% 17 85% 20 100% 6 mahasiswa mengalami kesulitan mencarilokasi ppl yang telah ditentukan 3 15% 17 85% 20 100% 7 waktu persiapan ppl sangat singkat 13 65% 7 35% 20 100% b. komponen sarana dan prasarana 1 sekolah mitra memiliki ruang kelas yangcukup 20 100% 0 0% 20 100% 2 sekolah mitra sudah menerapkan kurikulum2013 20 100% 0 0% 20 100% 3 sekolah mitra mempunyai media pembelajaran yang diperlukan oleh mahasiswa ppl dalam pembelajaran 16 80% 4 20% 20 100% 4 sekolah mitra tidak mempunyai buku pendamping pelajaran untuk guru yang relevan dengan kurikulum yang berlaku 2 10% 18 90% 20 100% 5 sekolah mitra sudah memiliki fasilitasinternet secara gratis 20 100% 0 0% 20 100% 6 sekolah mitra telah memiliki laboratoriumipa dan matematika 10 50% 10 50% 20 100% c. komponen kinerja koordinator guru pamong 1 koordinator guru pamong menyambut baikmahasiswa ppl 20 100% 0 0% 20 100% 2 koordinator guru pamong meminta mahasiswa ppl membuat rpp dengan ditulis tangan dan tegak bersambung 11 55% 9 45% 20 100% d. komponen kinerja guru pamong 1 guru pamong memberikan pembekalansebelum mahasiswa ppl mengajar 18 90% 2 10% 20 100% 2 guru pamong melakukan evaluasi setelahmahasiswa ppl selesai mengajar 10 50% 10 50% 20 100% tabel 1. rekapitulasi data hasil angket persepsi mahasiswa semester vii pgsd terhadap pelaksanaan ppl fkip ums tahun 2013/2014 di sekolah mitra dengan mutu baik persepsi mahasiswa semester vii pgsd tentang pelaksanaan ... (suwarno dan wahyu djoko a.) 185 no pernyataan jawaban jumlah ya tidak angka % angka % angka % 3 guru pamong menggunakan/menampilkan model pembelajaran yang baik dan tepat pada saat mahasiswa ppl melakukan observasi 15 75% 5 25% 20 100% 4 guru pamong jarang mengawasi mahasiswappl saat melakukan proses pembelajaran 5 25% 15 75% 20 100% 5 guru pamong menguji praktik pembelajaranmahasiswa ppl 19 95% 1 5% 20 100% 6 guru pamong jarang berada di sekolahan 0 0% 20 100% 20 100% 7 guru pamong sulit diajak berkomunikasi mengenai pembelajaran yang dilakukan mahasiswa ppl 2 10% 18 90% 20 100% 8 guru pamong bersikap subyektif terhadapmahasiswa ppl tertentu 2 10% 18 90% 20 100% a. komponen kinerja dosen pembimbing 1 dosen pembimbing lapangan menyampaikan gambaran sederhana tentang kegiatan ppl 19 95% 1 5% 20 100% 2 dosen pembimbing lapangan membimbing mahasiswa ppl dalam menyusun dan membuat program kerja ppl 11 55% 9 45% 20 100% 3 dosen pembimbing lapangan mengevaluasikegiatan ppl bersama mahasiswa ppl 15 75% 5 25% 20 100% 4 dosen pembimbing setidaknya datang memantau mahasiswa ppl minimal dua kali dalam seminggu 6 30% 14 70% 20 100% 5 dosen pembimbing lapangan memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi mahasiswa ppl 18 90% 2 10% 20 100% 6 dosen pembimbing lapangan membimbing dan membantu dalam penyusunan laporan akhir ppl 11 55% 9 45% 20 100% b. komponen pelaksanaan 1 kegiatan ppl dilaksanakan sesuai denganjadwal yang sudah ditentukan 18 90% 2 10% 20 100% 2 kegiatan ppl diawali dengan perkenalan seluruh anggota sekolah di sekolah tempat ppl berlangsung 16 80% 4 20% 20 100% 3 mahasiswa ppl diikut sertakan dalamkegiatan piket 13 65% 7 35% 20 100% 4 mahasiswa ppl diikutsertakan dalamkegiatan ekstra kurikuler 20 100% 0 0% 20 100% 5 mahasiswa ppl dibimbing untuk membuatadministrasi sekolah 20 100% 0 0% 20 100% 6 terdapat kendala dalam penarikanmahasiswa ppl dari sekolah mitra 2 10% 18 90% 20 100% 7 mahasiswa ppl diwajiban masuk setiap haridi sekolah mitra 20 100% 0 0% 20 100% 8 mahasiswa ppl diperbolehkan ijin sewaktu-waktu 14 70% 6 30% 20 100% 9 pada akhir kegiatan mahasiswa ppl diwajibkan memberi kenang-kenangan sesuai permintaan sekolah mitra 14 70% 6 30% 20 100% profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 182-192186 no pernyataan jawaban jumlah ya tidak angka % angka % angka % a. komponen evaluasi 1 pelaksanaan ujian ppl sesuai dengan jadwalyang telah ditentukan 15 75% 5 25% 20 100% 2 mahasiswa ppl tidak perlu mengikuti ujianppl 1 5% 19 95% 20 100% 3 format laporan ppl sangat mudah dipahamioleh mahasiswa ppl 16 80% 4 20% 20 100% 4 pengumpulan laporan kegiatan ppldilakukan secara kelompok 20 100% 0 0% 20 100% tabel 2. rekapitulasi data hasil angket persepsi mahasiswa terhadap pelaksanaan ppl pgsd fkip ums tahun 2013/2014 di sekolah mitra dengan mutu sedang a. komponen persiapan no pernyataan jawaban jumlah ya tidak angka % angka % angka % 1 anda mengikuti dan memahami perkulihan microteaching dengan baik selama satu semester 20 100% 0 0% 20 100% 2 mahasiswa ppl mendapat pelatihan atau contoh dalam membuat perangkat pembelajaran (prota, promes, silabus, dan rpp) 16 80% 4 20% 20 100% 3 mahasiswa ppl mendapatkan bekal tentangkurikulum 2013 16 80% 4 20% 20 100% 4 mahasiswa ppl mendapatkan pembekalanilmu pendidikan 20 100% 0 0% 20 100% 5 proses dan prosedur pendaftaran pplmenyulitkan mahasiswa 2 10% 18% 90% 20 100% 6 mahasiswa mengalami kesulitan mencarilokasi ppl yang telah ditentukan 0 0% 20 100% 20 100% 7 waktu persiapan ppl sangat singkat 8 40% 12 60% 20 100% b. komponen sarana dan prasarana 1 sekolah mitra memiliki ruang kelas yangcukup 20 100% 0 0% 20 100% 2 sekolah mitra sudah menerapkan kurikulum2013 0 0% 20 100% 20 100% 3 sekolah mitra mempunyai media pembelajaran yang diperlukan oleh mahasiswa ppl dalam pembelajaran 13 65% 7 35% 20 100% 4 sekolah mitra tidak mempunyai buku pendamping pelajaran untuk guru yang relevan dengan kurikulum yang berlaku 5 25% 15 75% 20 100% 5 sekolah mitra sudah memiliki fasilitasinternet secara gratis 6 30% 14 70% 20 100% 6 sekolah mitra telah memiliki laboratoriumipa dan matematika 0 0% 20 100% 20 100% persepsi mahasiswa semester vii pgsd tentang pelaksanaan ... (suwarno dan wahyu djoko a.) 187 no pernyataan jawaban jumlah ya tidak angka % angka % angka % a. komponen kinerja koordinator guru pamong 1 koordinator guru pamong menyambut baikmahasiswa ppl 20 100% 0 0% 20 100% 2 koordinator guru pamong meminta mahasiswa ppl membuat rpp dengan ditulis tangan dan tegak bersambung 8 40% 12 60% 20 100% b. komponen kinerja guru pamong 1 guru pamong memberikan pembekalansebelum mahasiswa ppl mengajar 19 95% 1 5% 20 100% 2 guru pamong melakukan evaluasi setelahmahasiswa ppl selesai mengajar 20 100% 0 0% 20 100% 3 guru pamong menggunakan/menampilkan model pembelajaran yang baik dan tepat pada saat mahasiswa ppl melakukan observasi 11 55% 9 45% 20 100% 4 guru pamong jarang mengawasi mahasiswappl saat melakukan proses pembelajaran 2 10% 18 90% 20 100% 5 guru pamong menguji praktik pembelajaranmahasiswa ppl 19 95% 1 5% 20 100% 6 guru pamong jarang berada di sekolahan 0 0% 20 100% 20 100% 7 guru pamong sulit diajak berkomunikasi mengenai pembelajaran yang dilakukan mahasiswa ppl 2 10% 18 90% 20 100% 8 guru pamong bersikap subyektif terhadapmahasiswa ppl tertentu 7 35% 13 65% 20 100% c. komponen kinerja dosen pembimbing 1 dosen pembimbing lapangan menyampaikangambaran sederhana tentang kegiatan ppl 20 100% 0 0% 20 100% 2 dosen pembimbing lapangan membimbing mahasiswa ppl dalam menyusun dan membuat program kerja ppl 8 40% 12 60% 20 100% 3 dosen pembimbing lapangan mengevaluasikegiatan ppl bersama mahasiswa ppl 12 60% 8 40% 20 100% 4 dosen pembimbing setidaknya datang memantau mahasiswa ppl minimal dua kali dalam seminggu 12 60% 8 40% 20 100% 5 dosen pembimbing lapangan memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi mahasiswa ppl 19 95% 1 5% 20 100% 6 dosen pembimbing lapangan membimbing dan membantu dalam penyusunan laporan akhir ppl 4 20% 16 80% 20 100% d. komponen pelaksanaan 1 kegiatan ppl dilaksanakan sesuai denganjadwal yang sudah ditentukan 14 70% 6 30% 20 100% 2 kegiatan ppl diawali dengan perkenalan seluruh anggota sekolah di sekolah tempat ppl berlangsung 20 100% 0 0% 20 100% 3 mahasiswa ppl diikut sertakan dalamkegiatan piket 16 80% 4 20% 20 100% 4 mahasiswa ppl diikutsertakan dalamkegiatan ekstra kurikuler 20 100% 0 0% 20 100% 5 mahasiswa ppl dibimbing untuk membuatadministrasi sekolah 18 90% 2 10% 20 100% profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 182-192188 no pernyataan jawaban jumlah ya tidak angka % angka % angka % 6 terdapat kendala dalam penarikanmahasiswa ppl dari sekolah mitra 7 35% 13 65% 20 100% 7 mahasiswa ppl diwajiban masuk setiap haridi sekolah mitra 20 100% 0 0% 20 100% 8 mahasiswa ppl diperbolehkan ijin sewaktu-waktu 19 95% 1 5% 20 100% 9 pada akhir kegiatan mahasiswa ppl diwajibkan memberi kenang-kenangan sesuai permintaan sekolah mitra 12 60% 8 40% 20 100% a. komponen evaluasi 1 pelaksanaan ujian ppl sesuai dengan jadwalyang telah ditentukan 17 85% 3 15% 20 100% 2 mahasiswa ppl tidak perlu mengikuti ujianppl 0 0% 20 100% 20 100% 3 format laporan ppl sangat mudah dipahamioleh mahasiswa ppl 17 85% 3 15% 20 100% 4 pengumpulan laporan kegiatan ppldilakukan secara kelompok 20 100% 0 0% 20 100% tabel 3: rekapitulasi data hasil angket persepsi mahasiswa terhadap pelaksanaan ppl pgsd fkip ums tahun 2013/2014 di sekolah mitra dengan mutu biasa a. komponen persiapan no pernyataan jawaban jumlah ya tidak angka % angka % angka % 1 anda mengikuti dan memahami perkulihan microteaching dengan baik selama satu semester 18 90% 2 10% 20 100% 2 mahasiswa ppl mendapat pelatihan atau contoh dalam membuat perangkat pembelajaran (prota, promes, silabus, dan rpp) 20 100% 0 0% 20 100% 3 mahasiswa ppl mendapatkan bekal tentangkurikulum 2013 12 60% 8 40% 20 100% 4 mahasiswa ppl mendapatkan pembekalanilmu pendidikan 16 80% 4 20% 20 100% 5 proses dan prosedur pendaftaran pplmenyulitkan mahasiswa 6 30% 14 70% 20 100% 6 mahasiswa mengalami kesulitan mencarilokasi ppl yang telah ditentukan 3 15% 17 85% 20 100% 7 waktu persiapan ppl sangat singkat 14 70% 6 30% 20 100% b. komponen sarana dan prasarana 1 sekolah mitra memiliki ruang kelas yangcukup 15 75% 5 25% 20 100% 2 sekolah mitra sudah menerapkan kurikulum2013 0 0% 20 100% 20 100% 3 sekolah mitra mempunyai media pembelajaran yang diperlukan oleh mahasiswa ppl dalam pembelajaran 8 40% 12 60% 20 100% persepsi mahasiswa semester vii pgsd tentang pelaksanaan ... (suwarno dan wahyu djoko a.) 189 no pernyataan jawaban jumlah ya tidak angka % angka % angka % 4 sekolah mitra tidak mempunyai buku pendamping pelajaran untuk guru yang relevan dengan kurikulum yang berlaku 4 20% 16 80% 20 100% 5 sekolah mitra sudah memiliki fasilitasinternet secara gratis 0 0% 20 100% 20 100% 6 sekolah mitra telah memiliki laboratoriumipa dan matematika 0 100% 20 100% 20 100% a. komponen kinerja koordinator guru pamong 1 koordinator guru pamong menyambut baikmahasiswa ppl 20 100% 0 0% 20 100% 2 koordinator guru pamong meminta mahasiswa ppl membuat rpp dengan ditulis tangan dan tegak bersambung 19 95% 1 5% 20 100% b. komponen kinerja guru pamong 1 guru pamong memberikan pembekalansebelum mahasiswa ppl mengajar 19 95% 1 5% 20 100% 2 guru pamong melakukan evaluasi setelahmahasiswa ppl selesai mengajar 17 85% 3 15% 20 100% 3 guru pamong menggunakan/menampilkan model pembelajaran yang baik dan tepat pada saat mahasiswa ppl melakukan observasi 13 65% 7 35% 20 100% 4 guru pamong jarang mengawasi mahasiswappl saat melakukan proses pembelajaran 1 5% 19 95% 20 100% 5 guru pamong menguji praktik pembelajaranmahasiswa ppl 20 100% 0 0% 20 100% 6 guru pamong jarang berada di sekolahan 0 0% 20 100% 20 100% 7 guru pamong sulit diajak berkomunikasi mengenai pembelajaran yang dilakukan mahasiswa ppl 1 5% 19 95% 20 100% 8 guru pamong bersikap subyektif terhadapmahasiswa ppl tertentu 5 25% 15 75% 20 100% c. komponen kinerja dosen pembimbing 1 dosen pembimbing lapangan menyampaikangambaran sederhana tentang kegiatan ppl 18 90% 2 10% 20 100% 2 dosen pembimbing lapangan membimbing mahasiswa ppl dalam menyusun dan membuat program kerja ppl 8 40% 12 60% 20 100% 3 dosen pembimbing lapangan mengevaluasikegiatan ppl bersama mahasiswa ppl 13 65% 7 35% 20 100% 4 dosen pembimbing setidaknya datang memantau mahasiswa ppl minimal dua kali dalam seminggu 5 25% 15 75% 20 100% 5 dosen pembimbing lapangan memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi mahasiswa ppl 17 85% 3 15% 20 100% 6 dosen pembimbing lapangan membimbing dan membantu dalam penyusunan laporan akhir ppl 5 25% 15 75% 20 100% profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 182-192190 no pernyataan jawaban jumlah ya tidak angka % angka % angka % a. komponen pelaksanaan 1 kegiatan ppl dilaksanakan sesuai denganjadwal yang sudah ditentukan 17 85% 3 15% 20 100% 2 kegiatan ppl diawali dengan perkenalan seluruh anggota sekolah di sekolah tempat ppl berlangsung 20 100% 0 0% 20 100% 3 mahasiswa ppl diikut sertakan dalamkegiatan piket 15 75% 5 25% 20 100% 4 mahasiswa ppl diikutsertakan dalamkegiatan ekstra kurikuler 20 100% 0 0% 20 100% 5 mahasiswa ppl dibimbing untuk membuatadministrasi sekolah 12 60% 8 40% 20 100% 6 terdapat kendala dalam penarikanmahasiswa ppl dari sekolah mitra 4 20% 16 80% 20 100% 7 mahasiswa ppl diwajiban masuk setiap haridi sekolah mitra 18 90% 2 10% 20 100% 8 mahasiswa ppl diperbolehkan ijin sewaktu-waktu 20 100% 0 0% 20 100% 9 pada akhir kegiatan mahasiswa ppl diwajibkan memberi kenang-kenangan sesuai permintaan sekolah mitra 15 75% 5 25% 20 100% b. komponen evaluasi 1 pelaksanaan ujian ppl sesuai dengan jadwalyang telah ditentukan 16 80% 4 20% 20 100% 2 mahasiswa ppl tidak perlu mengikuti ujianppl 2 10% 18 90% 20 100% 3 format laporan ppl sangat mudah dipahamioleh mahasiswa ppl 10 50% 10 50% 20 100% 4 pengumpulan laporan kegiatan ppldilakukan secara kelompok 12 60% 8 40% 20 100% pembahasan persepsi mahasiswa terhadap komponen persiapan data tabel 1, 2, dan 3 pada komponen a menunjukkan hasil tentang persepsi mahasiswa terhadap persiapan ppl melalui angket yang meliputi beberapa item yaitu: kegiatan perkuliahan microteaching, pendaftaran ppl, lokasi sekolah mitra, dan lamanya waktu sebelum pelaksanaan ppl. mahasiswa menyatakan hal yang harus diperbaiki dalam komponen persiapan ppl ini adalah dari segi waktu persiapan ppl yang sangat singkat. persepsi mahasiswa terhadap komponen sarana dan prasarana data tabel 1, 2, dan 3 pada komponen b menunjukkan hasil tentang persepsi mahasiswa terhadap sarana dan prasarana. adapun yang persepsi mahasiswa semester vii pgsd tentang pelaksanaan ... (suwarno dan wahyu djoko a.) 191 digunakan sebagai evaluasi adalah kelengkapan sarana dan prasarana. mahasiswa menyatakan bahwa sebagian besar sekolah mitra belum mempunyai laboratorium ipa dan matematika sebagai sarana pembelajaran. persepsi mahasiswa terhadap komponen kinerja koordinator guru pamong data tabel 1, 2, dan 3 pada komponen c menunjukkan hasil tentang persepsi mahasiswa terhadap kinerja koordinator guru pamong. adapun yang digunakan sebagai evaluasi adalah sikap koordinator guru pamong. mahasiswa menyatakan bahwa kinerja koordinator guru pamong sudah bagus dalam melaksanakan tugasnya. persepsi mahasiswa terhadap komponen kinerja guru pamong data tabel 1, 2, dan 3 pada komponen d menunjukkan hasil tentang persepsi mahasiswa terhadap kinerja guru pamong. adapun yang digunakan sebagai evaluasi adalah aktivitas guru pamong dan sikap guru pamong. mahasiswa menyatakan bahwa hal yang harus diperbaiki adalah guru pamong masih menggunakan strategi pembelajaran yang konvensional. persepsi mahasiswa terhadap komponen kinerja dosen pembimbing lapangan data tabel 1, 2, dan 3 pada komponen e menunjukkan hasil tentang persepsi mahasiswa terhadap kinerja dosen pembimbing lapangan. adapun yang digunakan sebagai evaluasi adalah aktivitas dan sikap dosen pembimbing lapangan. mahasiswa menyatakan hal yang harus diperbaiki adalah membimbing mahasiswa dalam menyusun program kerja dan menyususn laporan akhir ppl. persepsi mahasiswa terhadap komponen pelaksanaan data tabel 1, 2, dan 3 pada komponen f menunjukkan hasil tentang persepsi mahasiswa terhadap pelaksanaan ppl. adapun yang digunakan sebagai evaluasi adalah proses kegiatan ppl. mahasiswa menyatakan bahwa diwajibkan memberikan kenang-kenangan kepada sekolah mitra. evaluasi mahasiswa terhadap evaluasi ppl data tabel 1,2, dan 3 pada komponen g menunjukkan hasil tentang persepsi mahasiswa terhadap evaluasi ppl. adapun yang digunakan sebagai evaluasi adalah ujian dan pengumpulan laporan ppl. mahasiswa menyatakan bahwa untuk memperoleh nilai maka wajib melaksanakan ujian praktik mengajar. kesimpulan dan saran kesimpulan 1. persepsi mahasiswa terhadap komponen persiapan menurut hasil persepsi mahasiswa pgsd hal yang harus diperbaiki dari komponen persiapan yaitu dari segi waktu persiapan ppl. 2. persepsi mahasiswa terhadap komponen sarana dan prasarana mahasiswa menyatakan belum adanya laboratorium ipa dan matematika di sekolah mitra sebagai sarana pembelajaran. 3. persepsi mahasiswa terhadap komponen kinerja koordinator guru pamong mahasiswa menyatakan kinerja guru pamong sudah bagus dalam melaksanakan tugas. 4. persepsi mahasiswa terhadap komponen kinerja guru pamong mahasiswa menyatakan bahwa guru pamong masih menggunakan strategi pembelajaran yang konvensional atau kurang mengaktifkan siswa. 5. persepsi mahasiswa terhadap komponen kinerja dosen pembimbing lapangan mahasiswa menyatakan bahwa kinerja dosen pembimbing perlu ada perbaikan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 182-192192 terutama membimbing mahasiswa dalam menyusun program kerja dan menyusun laporan akhir ppl. 6. persepsi mahasiswa terhadap komponen pelaksanaan ppl mahasiswa menyatakan bahwa diwajibkan memberikan kenang-kenangan kepada sekolah mitra. 7. persepsi mahasiswa terhadap komponen evaluasi ppl mahasiswa menyatakan bahwa untuk memperoleh hasil akhir wajib melaksanakan ujian praktik mengajar. 8. evaluasi mahasiswa pgsd oleh guru pamong mahasiswa program studi pgsd perlu ditingkatkan lagi dalam hal penguasaan kelas, pengkondisian anak, manajemen waktu, penguasaan materi, dan penggunaan alat peraga. tata tulis tidak hanya dalam pembuatan rpp saja tetapi dalam penulisan di papan tulis, dan administrasi sekolah harus diperbaiki lagi. saran panitia penyelenggara ppl memperbaiki sistem perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi ppl. mahasiswa pgsd perlu berlatih lagi dalam hal penguasaan kelas, materi, dan penggunaan alat peraga. dosen pembimbing lapangan diharapkan melaksanakan tugasnya dengan baik. sekolah mitra agar menjadi tempat menimba ilmu yang baik untuk mahasiswa ppl. daftar pustaka rubiyanto, rubino. 2009. metode penelitian pendidikan. surakarta: fkip ums. sukmadinata, nana. 2012. metode penelitian pendidikan. bandung: pt. remaja rosdakarya. syaodih, nana. 2011. metode penelitian pendidikan. bandung: pt. remaja rosdakarya. tim penyusun pedoman praktek pengalaman lapangan pgsd. 2013. pedoman program pengalaman lapangan 2013. surakarta: laboratorium fkip ums. walgito, bimo. 2005. pengantar psikologi umum. yogyakarta: andi offset. faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 91 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 vol. 6, no. 1, juli 2019 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: 10.23917/ppd.v1i1.7988 faktor-faktor penyebab miskonsepsi siswa sd pada materi life processes and living things yogi kuncoro adi1) dan ndaru mukti oktaviani2) 1), 2)pgsd fkip universitas kuningan 1)yogi.kuncoro.adi@uniku.ac.id, 2)ndaru.mukti.oktaviani@uniku.ac.id pendahuluan seorang siswa disebut mengalami miskonsepsi ketika dia menjelaskan konsep sains tertentu, tetapi tidak sesuai dengan konsep ilmiah yang diterima oleh pakar dalam bidangnya. biasanya, siswa yang mengalami hal ini mampu menjawab pertanyaan yang diberikan, meskipun keliru, dengan keyakinan yang tinggi. seperti yang disampaikan (celikten, ipekcioglu, ertepinar, & geban, 2012) bahwa miskonsepsi menyiratkan jawaban keliru yang diberikan siswa ketika berhadapan dengan situasi tertentu ketika pengetahuan mereka tentang bagaimana dunia bekerja berbeda dari para ilmuwan. oleh karena itu, miskonsepsi menjadi hal yang krusial apabila tidak segera ditangani. hal tersebut berkaitan dengan peningkatan proses dan hasil belajar yang signifikan. teori pembelajaran konstruktivisme berkaitan dengan pembelajaran sains. artinya, pembahasan mengenai miskonsepsi siswa pun berkaitan erat dengan konstruktivisme. paham ini menentang keras tabula rasa. bagi konstruktivis, siswa tidak mengikuti pelajaran sains di sd sebagai tabula rasa (suparno, 2013), yang mana diibaratkan sebagai kertas kosong yang harus diisi guru dengan tintanya. akan tetapi, mereka datang ke sekolah dengan berbagai pengetahuan tentang dunia fisik mereka berdasarkan pengalaman sehari-hari, meskipun terdapat miskonsepsi. misalnya, siswa abstract: the misconception is a common problem in the world of science learning. this study aims to reveal the types and causes of primary science misconception in the life processes and living things. therefore, qualitative case studies were used in this study and the primary school students were subject to this study. the results showed that students who had misconceptions in the concept of living, classification, breathing, and microbe and disease. in addition, the causes of student misconceptions were the students' pre-concepts, humanist thinking, false reasoning, and associative thinking. based on the findings of this study, it is recommended that learning must promote cognitive conflict to correct the student’s misconceptions. keywords: misconception, primary science http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.7988 mailto:yogi.kuncoro.adi@uniku.ac.id faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 92 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 sudah mengetahui proses mencairnya es batu dalam gelas yang berisi air sirup yang diminumnya. hal tersebut mengartikan bahwa mereka berpikir, sedangkan konsep perubahan wujud benda baru mereka dapatkan ketika mengenyam pendidikan formal. paparan sebelumnya sejalan (sopandi, latip, & sujana, 2017) bahwa siswa sering datang ke kelas dengan berbagai pengetahuan yang berbeda dari konsepsi ilmiah. miskonsepsi ini menghambat siswa untuk mendapatkan konsepsi ilmiah. hal yang sama juga disampaikan (duit, 1996) bahwa penelitian tentang konsepsi (alternatif) siswa dalam sains telah mengungkapkan bahwa konsepsi awal siswa sangat mempengaruhi, bahkan menentukan pembelajaran konsep sains yang disajikan di kelas, di buku teks atau sejenisnya. kedua pendapat tersebut sejalan, bahwa miskonsepsi yang dimiliki siswa akan menghambatnya dalam mempelajari konsep sains selanjutnya yang dipelajarinya di dalam kelas. penguasaan akan suatu konsep sains akan berkaitan erat dengan penguasaan konsep sains sebelumnya yang mendasari. sejalan dengan (başer & geban, 2007) bahwa belajar akan pengetahuan baru dibangun di atas pengetahuan yang sudah ada, dan karenanya miskonsepsi menetapkan hambatan untuk belajar lebih lanjut. selain itu, menurut (celikten et al., 2012), jika informasi baru tidak dapat terhubung ke struktur kognitif maka miskonsepsi baru dapat terjadi. oleh karena itu, menjembatani penguasaan setiap konsep adalah suatu keniscayaan. penelitian mengenai identifikasi miskonsepsi dapat dilakukan di sd untuk mengungkap jenis miskonsepsi yang dimiliki oleh siswa. berkaitan dengan life processes and living things adalah submateri living/non-living classification, plant growth, dan human growth (pine, messer, & john, 2001). sedangkan (allen, 2010) menyebutkan lebih dari itu, bahwa materi life processes and living things dalam sains dasar mencakup submateri concept of living, classification, circulation, breathing, nutrition, feeding relationships, microbes and disease, dan heredity and variation. untuk mengungkap jenis kasus tersebut lebih dalam dan peneliti dapat merekomendasikan perbaikan akan hal itu, studi kasus ini menginterpretasi penyebab miskonsepsi dari setiap analisis wawancara. studi kasus ini berfokus pada siswa sebagai pembelajar yang meng-konstruk pengetahuannya. sehingga, dapat dipaparkan faktorfaktor penyebab miskonsepsi siswa (suparno, 2013), yaitu: (a) prakonsepsi atau konsep awal siswa, pengetahuan yang dimiliki siswa sebelum mempelajari konsep lainnya. prakonsepsi ini dapat diperoleh dari orangtua, teman, sekolah tingkat sebelumnya, dan pengalaman lingkungan siswa, (b) pemikiran asosiatif, siswa ketika menghadapi suatu konsep terkadang menghubungkan maknanya dengan konsep yang lain, (c) pemikiran humanistik, siswa terkadang memandang semua benda dari pandangan manusiawi, memahami benda seperti tingkah laku manusia yang hidup, (d) reasoning yang tidak lengkap/salah, penalaran siswa terkadang tidak lengkap/salah. hal tersebut mungkin karena kurangnya informasi yang diperoleh atau mungkin juga logika yang keliru dalam menyimpulkan atau menggeneralisasikan suatu konsep, (e) intuisi yang salah, intuisi merupakan perasaaan dalam diri seseorang, yang secara spontan mengungkapkan sikap atau gagasannya tentang sesuatu sebelum secara obyektif dan rasional diteliti, (f) tahap perkembangan kognitif, ketika dituntut tahap operasional formal (abstrak) untuk memahami sebuah konsep yang abstrak, barangkali siswa masih berada pada tahap faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 93 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 operasional konkret, (g) kemampuan, yaitu kurangnya iq, dan terakhir (h) minat belajar, kaitannya dengan kesukaan. metode penelitian studi kasus yang dijadikan fokus kajian adalah masalah miskonsepsi siswa sekolah dasar dalam sains dasar, difokuskan pada materi life processes and living things. subjek penelitian yang dilibatkan adalah siswa di sd n 2 purwawinangun, sd n 1 awirarangan, dan sd n unggulan yang berada di wilayah upt dinas pendidikan kabupaten kuningan. data tentang jenis miskonsepsi dan penyebab miskonsepsi-nya didapatkan sumber datanya dari siswa. penulisan secara inisial nama disertai dengan jenjang kelas, misalnya nnh (1), digunakan dalam penelitian ini untuk menjaga kerahasiaan. pengamatan dan wawancara merupakan teknik pengumpulan data dalam penelitian ini. pengamatan dilakukan dengan mengamati proses kegiatan pembelajaran di dalam kelas. melalui teknik tersebut, didapatkan beberapa siswa untuk diwawancara karena terindikasi mengalami miskonsepsi, sehingga peneliti ingin mengungkapnya lebih dalam. analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik untuk penelitian kualitatif dari miles & huberman (sugiyono, 2011), yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. triangulasi dilakukan dengan cara mengumpulkan data dengan teknik pengumpulan data yang berbeda (pengamatan dan wawancara), mengkonfirmasi miskonsepsi siswa dalam waktu dan situasi yang berbeda, serta siswa yang berbeda. hasil dan pembahasan studi kasus ini melihat siswa yang memiliki miskonsepsi terkait dengan materi life processes and living things. para siswa diberikan pertanyaan langsung (ask pupils directly about their ideas) berdasarkan konstruk analisis terhadap indikator-indikator sebagai submateri. beberapa siswa memberikan jawaban yang tidak ilmiah namun diyakini benar oleh mereka. penelitian ini menemukan kasus miskonsepsi pada berbagai jenjang kelas sekolah dasar. deskripsi hasil penelitian tersebut disajikan sebagai berikut, dimulai dari temuan miskonsepsi pada materi concept of living. penelitian menemukan adanya kasus siswa yang menganggap bahwa benda tidak hidup sebagai hidup. misalnya, nnh (1) yang menganggap bahwa spons pencuci piring itu dapat minum air. siswa tersebut berpikir bahwa proses minumnya air adalah dengan cara spons menyerap air. selain itu, juga hal yang sama terjadi pada adn (2) namun dengan kasus yang berbeda, yaitu percaya bahwa pensil itu adalah tumbuhan. hal tersebut diyakininya karena salah satu bahan baku pembuatan pensil adalah berasal dari pohon, sedangkan dia memahami bahwa pohon adalah makhluk hidup. miskonsepsi juga ditemukan pada kasus serupa namun terdapat perbedaan pada alasan yang digunakan. misalnya, nf (2) memahami bahwa kayu, bagian dari pohon yang telah dipisahkan atau ditebang, bukanlah makhluk hidup. hanya saja, siswa tersebut meyakini bahwa kayu tidak tergolong sebagai makhluk hidup karena diciptakan (diolah) oleh manusia, bukan didasari atas sifat-sifat hidupnya. hal yang sama juga terjadi pada aae (1) bahwa spons bukanlah makhluk hidup karena spons tidak memiliki kaki. meskipun bergerak adalah salah satu ciri makhluk hidup, namun faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 94 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 pensyaratan adanya kaki sebagai cara untuk bergerak adalah sebuah miskonsepsi. terakhir, aae (1) yang menyatakan bahwa tumbuhan adalah makhluk hidup. hanya saja, dia beranggapan demikian karena tumbuhan adalah makhluk hidup yang dapat berbuah. kasus miskonsepsi sebelumnya diamati pada bagian alasan jawaban, meskipun jawaban benar, namun alasan siswa untuk menjawab tersebutlah yang belum ilmiah. berikut ini terdapat kasus siswa yang mengalami miskonsepsi terhadap makhluk hidup dianggap tidak hidup. kap (2) berpikir bahwa pohon bukanlah makhluk hidup karena tidak dapat bergerak. siswa tersebut memeragakan bahwa makhluk hidup dapat bergerak seperti gerak tubuhnya. alat gerak yang dibutuhkan tentunya adalah kaki. berlawanan dengan kasus sebelumnya, kasus berikut adalah siswa-siswa yang mengetahui bahwa tumbuhan adalah makhluk hidup. namun, mereka percaya bahwa tumbuhan tergolong sebagai makhluk hidup karena minum air. misalnya mff (3) menganggap bahwa tumbuhan minum air ketika disiram dengan air. meskipun begitu, dia menyatakan bahwa tumbuhan tidak makan, hanya minum saja. miskonsepsi yang sama terjadi pada adn (2) yang mana dia beranggapan bahwa tumbuhan minum air. tabel 1. miskonsepsi siswa sd pada materi concept of living no jenis miskonsepsi kasus penyebab 1 benda tidak hidup dianggap hidup spons dapat minum air pemikiran yang humanis pensil adalah tumbuhan over-generalisasi 2 miskonsepsi pada alasan jawaban kayu bukan makhluk hidup karena dibuat manusia reasoning yang tidak lengkap spons bukan makhluk hidup karena tidak memiliki kaki pemikiran yang humanis tumbuhan adalah makhluk hidup karena dapat berbuah konsep awal siswa 3 makhluk hidup dianggap tidak hidup pohon bukan makhluk hidup karena tidak dapat bergerak pemikiran yang humanis 4 tumbuhan adalah makhluk hidup karena minum air tumbuhan minum air ketika disiram dengan air reasoning yang tidak lengkap faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 95 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 indikator kedua dari life processes and living things adalah classification. pada materi ini, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan terkait dengan jamur, terumbu karang, dan tumbuhan berbunga. miskonsepsi ditemukan pada siswa dengan berbagai jenis dan faktor penyebab dari individu siswa. berikut dipaparkan hasilnya. kasus pertama yang terungkap dari para siswa adalah mereka menganggap bahwa organisme tertentu termasuk atau diklasifikasikan sebagai tumbuhan karena mereka memiliki ciri-ciri yang sama dengan tumbuhan. pca (3), mii (4), rs (5), ehr (5), dan lmh (2) menunjukkan miskonsepsi jenis ini. pca (3) percaya bahwa jamur merupakan tumbuhan karena hidup di tanah. untuk dapat terus hidup, jamur membutuhkan air, pupuk, cahaya matahari, dan oksigen. selain itu, siswa tersebut juga menyebutkan bahwa jamur begitu pula sama dengan tumbuhan, memiliki akar, dahan, daun, dan bunga. siswa lain, mii (4) meyakini hal yang sama, bahwa jamur adalah tumbuhan karena memiliki akar dan batang. selain itu, jamur juga disebutkan membutuhkan air untuk terus hidup. hal yang sama juga disebutkan oleh rs (5) bahwa jamur adalah tumbuhan karena memiliki bentuk yang mirip dengan daun. berbeda dengan kasus sebelumnya, siswa ehr (5) memiliki jenis miskonsepsi yang sama terhadap dua organisme, yaitu jamur dan terumbu karang yang dianggap olehnya sebagai tumbuhan karena mampu tumbuh menjadi besar. lmh (2) pun demikian menyebutkan bahwa terumbu karang termasuk tumbuhan karena mampu tumbuh dari bentuknya yang kecil hingga menjadi besar. selain itu, siswa tersebut juga menambahkan bahwa meskipun organisme lain pun juga mampu tumbuh, terumbu karang juga memiliki daun dan bunga layaknya tumbuhan. berikutnya, miskonsepsi terjadi pada siswa yang meyakini bahwa beberapa organisme diklasifikasikan ke dalam tumbuhan karena dianggap memiliki tempat hidup yang sama dengan tumbuhan yang asli. acja (3), naz (4), dan dr (3) memiliki miskonsepsi ini. seperti acja (3) yang memiliki miskonsepsi bahwa terumbu karang merupakan tumbuhan karena tumbuh di dalam air. selain itu, dia menambahkan bahwa terumbu karang, selayaknya tumbuhan asli, berkembang biak di dalam air dan tidak mampu hidup jika dikeluarkan dari dalam air. berbeda organisme dengan naz (4), bahwa jamur termasuk tumbuhan karena tumbuhnya di tanah selayaknya tumbuhan asli. miskonsepsi pada kasus yang sama juga dimiliki oleh dr (3). jenis miskonsepsi berikutnya ditemukan pada satu siswa yang beranggapan bahwa suatu organisme disebut tumbuhan karena dia tumbuh dari tumbuhan yang mati. adalah jamur yang dianggap oleh adn (2) bahwa jamur termasuk tumbuhan karena terbuat dari pohon mangga yang telah mati. satu kasus berikutnya juga ditemukan pada siswa yang meyakini organisme tertentu adalah tumbuhan karena ditemukan di suatu tempat sebagai bahan makanan. aae (1) meyakini hal demikian ini karena jamur yang dianggapnya tumbuhan ditemukan di tempat yang sama sebagai sayuran secara bersama-sama tumbuhan asli. misalnya wortel, brokoli, dan jamur merupakan tumbuhan yang sekaligus sayuran yang dapat dipetik. berikutnya ditemukan beberapa siswa yang menganggap bahwa tidak semua tumbuhan memiliki bunga, namun alasan yang mereka sebutkan adalah miskonsepsi. adalah adn (2) dan nf (2) yang menyebutkan hal demikian. adn (2) menyebutkan faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 96 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 contoh tumbuhan yang memiliki bunga adalah bunga mawar, buah naga, dan bunga melati. sedangkan mangga, jeruk, dan jambu disebutkannya adalah tumbuhan yang tidak memiliki bunga. demikian halnya dengan nf (2) yang menyebutkan bahwa pohon mangga merupakan salah satu tumbuhan atau pohon yang tidak memiliki bunga. tabel 2. miskonsepsi siswa sd pada materi classification no jenis miskonsepsi kasus penyebab 1 organisme yang memiliki ciri-ciri tumbuhan jamur memiliki akar, dahan, daun, dan bunga pemikiran asosiatif jamur memiliki akar dan batang pemikiran asosiatif bentuk jamur mirip daun pemikiran asosiatif jamur dan terumbu karang dapat tumbuh seperti tumbuhan reasoning tidak lengkap terumbu karang memiliki daun dan bunga reasoning tidak lengkap 2 organisme memiliki tempat hidup yang sama dengan tumbuhan terumbu karang dan tumbuhan tumbuh dalam air, berkembang biak, dan hanya mampu hidup dalam air konsep awal siswa jamur tumbuh di tanah pemikiran asosiatif 3 organisme tumbuh dari tumbuhan yang mati jamur adalah tumbuhan karena tumbuh dari pohon mangga yang mati reasoning yang keliru 4 organisme ditemukan di suatu tempat sebagai bahan makanan jamur dianggap tumbuhan karena ditemukan di tempat yang sama sebagai sayuran secara bersama-sama tumbuhan asli pemikiran asosiatif 5 tidak semua tumbuhan memiliki bunga mangga, jeruk, dan jambu adalah contoh tumbuhan yang tidak memiliki bunga konsep awal siswa faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 97 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 temuan miskonsepsi berikutnya ditemukan pada indikator breathing. pada materi ini hanya sedikit ditemukan jenis kasus miskonsepsi-nya. siswa mii (4), lmh (2), y (2), dan l (3) mempercayai bahwa sebagai makhluk hidup, tumbuhan juga bernapas. hanya saja, seperti mii (4) yang mengatakan bahwa tumbuhan bernapas, namun hanya ketika terkena angin. lmh (2) pun demikian menjawabnya bahwa angin dihirup oleh tumbuhan untuk bernapasnya. y (2) memperjelas jawabannya bahwa jika tidak ada angin maka tumbuhan tidak bernapas. berkebalikan dari lainnya, l (3) mengatakan bahwa tumbuhan bernapas menghirup air. tabel 3. miskonsepsi siswa sd pada materi breathing no jenis miskonsepsi kasus penyebab 1 zat yang dihirup tumbuhan ketika bernapas tumbuhan menghirup angin ketika bernapas reasoning yang keliru tumbuhan hanya bernapas ketika ada angin reasoning yang keliru ketika tidak ada angin, tumbuhan tidak bernapas reasoning yang keliru tumbuhan menghirup air untuk bernapas reasoning yang keliru temuan terhadap miskonsepsi pada indikator microbe and disease mengungkap dua siswa yang beranggapan bahwa bakteri selalu menyebabkan penyakit kepada manusia. maba (1) meyakini bahwa jika seseorang makan dari makanan yang kotor maka akan ada bakteri dalam tubuhnya. sedangkan jika seseorang makan dari makanan yang sehat maka di dalam tubuhnya tidak akan terdapat bakteri. selain itu, memperbanyak makan buah atau sayuran akan dapat menghilangkan bakteri dalam tubuh. mii (4) melaporkan hal yang sama, bahwa bakteri berasal dari tempat-tempat yang kotor. kemudian makanan yang kotor karena dihinggapi lalat misalnya, terkandung bakteri dan akan membuat badan sakit. faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 98 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 tabel 4. miskonsepsi siswa sd pada materi microbe and disease no jenis miskonsepsi kasus penyebab 1 bakteri selalu menyebabkan penyakit kepada manusia makan dari makanan yang sehat maka di dalam tubuhnya tidak akan terdapat bakteri pemikiran asosiatif makanan yang kotor karena dihinggapi lalat misalnya, terkandung bakteri dan akan membuat badan sakit pemikiran asosiatif penelitian studi kasus ini menemukan jenis miskonsepsi siswa pada submateri concept of living, classification, breathing, dan microbe and disease. sedangkan penyebab miskonsepsi dari siswa adalah pemikiran humanis, konsep awal, reasoning yang keliru, dan pemikiran asosiatif. berikut pembahasan disertai dengan contoh kasusnya. pada submateri concept of living, ditemukan kasus bahwa siswa memahami spons pencuci piring dapat minum air. jenis miskonsepsi yang ditemukan, siswa meyakini bahwa benda tidak hidup dianggap hidup. hal ini disebabkan karena pemikiran yang humanis. untuk memperbaikinya, siswa perlu dibantu berpikir bahwa benda itu bukan manusia. pernyataan siswa tersebut tidak benar secara ilmiah, spons tidak dapat minum air karena spons merupakan benda mati, yang terjadi sebenarnya adalah spons menyerap air bukan meminum air. miskonsepsi juga ditemukan pada materi dan sub materi yang sama namun berbeda kasus. pada kasus ini siswa beranggapan bahwa pensil adalah tumbuhan. jenis miskonsepsi yang berkaitan dengan kasus tersebut adalah benda tidak hidup dianggap hidup. penyebab miskonsepsi tersebut adalah over generalisasi. solusinya, guru dapat meminta siswa mencari data atau informasi tambahan yang diperlukan untuk mengambil kesimpulan agar siswa belajar penalaran secara benar. secara ilmiah pendapat siswa tersebut tidak benar. pensil bukanlah tumbuhan dikarenakan tumbuhan terdiri dari akar, batang, dan daun; sedangkan pensil tidak memiliki akar, batang, dan daun karena pensil adalah benda mati. ditemukan kasus miskonsepsi serupa namun terdapat perbedaan pada alasan yang diutarakan oleh siswa. siswa beranggapan bahwa kayu bukan makhluk hidup karena dibuat manusia. jenis miskonsepsi pada alasan jawaban siswa. penyebabnya yaitu reasoning yang tidak lengkap. solusi yang dapat diberikan yaitu siswa dapat ditantang dengan ditunjukkan dan dihadapkan pada kejadian atau peristiwa yang sesungguhnya, sehingga siswa mengetahui bahwa pemikiran mereka kurang tepat. secara konsep ilmiah pemahaman siswa tersebut keliru. walaupun siswa meyakini bahwa kayu faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 99 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 bukanlah makhluk hidup, tetapi siswa memberikan alasan yang salah. kayu memang bukan makhluk hidup, karena makhluk hidup memiliki ciri-ciri seperti bernapas, tumbuh dan berkembang, makan dan minum, peka terhadap rangsang, dan berkembang biak. tidak jauh berbeda dengan kasus sebelumnya, terdapat alasan yang keliru. pada kasus ini siswa berkeyakinan bahwa spons bukan makhluk hidup karena tidak memiliki kaki. jenis miskonsepsi terdapat pada jawaban siswa yang disebabkan oleh pemikiran yang humanis. untuk memperbaikinya, siswa perlu dibantu berpikir bahwa benda itu bukan manusia. berdasarkan konsep ilmiah spons bukan makhluk hidup bukan karena tidak memiliki kaki, tetapi spons bukan makhluk hidup karena spons merupakan benda mati. jadi, pemahaman siswa tersebut keliru. hal yang sama juga terjadi pada siswa yang menganggap bahwa tumbuhan adalah makhluk hidup karena dapat berbuah. jenis miskonsepsi pada alasan jawaban, disebabkan oleh konsep awal siswa. solusi yang dapat diberikan adalah siswa perlu dihadapkan pada pengalaman baru yang berbeda. siswa dapat mengamati dan mengalami sendiri bahwa tidak semua tumbuhan dapat berbuah. kasus berikutnya, siswa beranggapan bahwa pohon bukan makhluk hidup karena tidak dapat bergerak. jenis miskonsepsi tersebut yaitu makhluk hidup dianggap tidak hidup. hal tersebut disebabkan oleh pemikiran yang humanis. solusinya, siswa perlu dibantu berpikir bahwa tidak setiap makhluk hidup harus memiliki ciri manusia. karena tidak semua makhluk hidup memiliki alat gerak berupa kaki. berbeda dengan kasus sebelumnya, pada kasus ini siswa menyatakan bahwa tumbuhan minum air ketika disiram dengan air. jenis miskonsepsi tersebut, tumbuhan adalah makhluk hidup karena minum air. penyebabnya reasoning yang tidak lengkap. solusi yang dapat diberikan yaitu siswa dapat ditantang dengan ditunjukkan dan dihadapkan pada kejadian atau peristiwa yang sesungguhnya, sehingga siswa mengetahui bahwa pemikiran mereka kurang tepat. konsep ilmiah yang tepat adalah ketika tumbuhan disiram dengan air tumbuhan tidak meminum air itu. air tersebut diserap oleh tanah dan akar tumbuhan menyerap air mineral dan zat hara yang terdapat di dalam tanah sebagai bahan makanan untuk proses fotosintesis. penelitian selanjutnya membahas submateri classification. ditemukan kasus bahwa siswa beranggapan bahwa jamur memiliki akar, dahan, daun, dan bunga. jenis miskonsepsinya, organisme yang memiliki ciri-ciri tumbuhan. kasus tersebut disebabkan oleh pemikiran asosiatif. untuk mengatasi kasus miskonsepsi tersebut, siswa perlu dijelaskan konsep mengenai tiga domain dalam kehidupan, secara rinci mengenai domain eukarya. setelah konsep tersebut dikenalkan, siswa dapat mengamati contoh-contoh dari bagian domain eukarya secara konkret. secara ilmiah, jamur termasuk ke dalam kingdom fungi karena tidak memiliki ciri-ciri seperti tumbuhan. kasus selanjutnya, siswa percaya bahwa jamur memiliki akar dan batang. siswa tersebut meyakini bahwa organisme memiliki ciri-ciri tumbuhan. hal tersebut disebabkan oleh pemikiran asosiatif. untuk menangani kasus miskonsepsi tersebut, faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 100 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 siswa perlu dijelaskan konsep dan mengamati bagian tubuh jamur secara langsung. secara ilmiah, jamur termasuk ke dalam kingdom fungi karena tidak memiliki ciri-ciri seperti tumbuhan. kasus serupa juga ditemukan bahwa siswa meyakini beberapa organisme memiliki ciri-ciri tumbuhan. siswa menganggap bahwa bentuk jamur mirip dengan daun, disebabkan oleh pemikiran asosiatif. solusi yang dapat diberikan yaitu siswa perlu dijelaskan konsep mengenai bentuk-bentuk daun. secara ilmiah, jamur dan daun berbeda. jamur termasuk ke dalam kingdom fungi, sedangkan daun merupakan bagian dari tumbuhan yang termasuk ke dalam kingdom plantae. berikutnya ditemukan kasus yang sama dimana siswa memiliki pemikiran bahwa jamur dan terumbu karang dapat tumbuh seperti tumbuhan. jenis miskonsepsi termasuk ke dalam organisme yang memiliki ciri-ciri tumbuhan. penyebabnya yaitu reasoning yang tidak lengkap. untuk menangani kasus tersebut yaitu siswa dapat ditantang dengan ditunjukkan dan dihadapkan pada kejadian atau peristiwa yang sesungguhnya, sehingga siswa mengetahui bahwa pemikiran mereka kurang tepat. pernyataan siswa tersebut keliru secara ilmiah. jamur termasuk ke dalam kingdom fungi dan terumbu karang termasuk ke dalam kingdom animalia, keduanya bukan tumbuhan. temuan miskonsepsi selanjutnya yaitu siswa memiliki pemikiran bahwa terumbu karang memiliki daun dan bunga. jenis miskonsepsi serupa dengan kasus sebelumnya yaitu organisme yang memiliki ciri-ciri tumbuhan. penyebab miskonsepsi pun serupa yakni reasoning tidak lengkap. solusi yang dapat diberikan yaitu siswa dapat ditantang dengan ditunjukkan dan dihadapkan pada kejadian atau peristiwa yang sesungguhnya, sehingga siswa mengetahui bahwa pemikiran mereka kurang tepat. secara ilmiah, terumbu karang merupakan hewan sehingga tidak memiliki daun dan bunga. oleh karena, daun dan bunga merupakan bagian dari tumbuhan. berikutnya ditemukan kasus, siswa beranggapan bahwa terumbu karang dan tumbuhan tumbuh dalam air, berkembang biak, dan hanya mampu hidup dalam air. jenis miskonsepsi yang berkaitan dengan kasus tersebut yaitu organisme memiliki tempat hidup yang sama dengan tumbuhan. hal tersebut disebabkan oleh konsep awal siswa. cara menangani kasus tersebut yaitu siswa perlu dihadapkan pada pengalaman baru yang berbeda sehingga siswa menjadi bingung, pikirannya tertantang, dan diharapkan akan mengubah gagasan awalnya. sebagian pemahaman siswa tersebut keliru. terumbu karang memang tumbuh, berkembang biak dan hanya mampu hidup di dalam air sedangkan tumbuhan dapat tumbuh, berkembang biak, dan hidup di berbagai tempat. diantaranya, di tanah, di air, dan menempel pada tumbuhan lain sebagai inangnya. masih dengan jenis yang sama, kasus yang ditemukan yakni jamur tumbuh di tanah. penyebabnya yaitu adanya pemikiran asosiatif. solusi yang dapat diberikan yaitu siswa perlu dijelaskan mengenai konsep fungi. jamur tidak hanya tumbuh di tanah, ada juga jamur yang tumbuh di kulit manusia, di batang pohon, di tumpukan jerami, dan di dinding bangunan. faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 101 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 kasus selanjutnya, siswa menyatakan bahwa jamur adalah tumbuhan karena tumbuh dari pohon mangga yang mati. jenis miskonsepsi tersebut adalah organisme tumbuh dari tumbuhan yang mati. hal tersebut disebabkan oleh reasoning yang keliru. solusinya, guru perlu menekankan logika yang benar pada siswa sehingga siswa belajar penalaran secara benar. konsep ilmiah yang dipahami oleh siswa adalah salah. jamur bukanlah tumbuhan dan jamur tidak hanya tumbuh dari pohon mangga yang mati. seperti pembahasan pada kasus sebelumnya bahwa jamur dapat tumbuh di tanah, di batang pohon, di kulit manusia, di tumpukan jerami, dsb. kasus yang ditemukan berikutnya yaitu jamur dianggap tumbuhan karena ditemukan di tempat yang sama sebagai sayuran secara bersama-sama tumbuhan asli. siswa meyakini organisme ditemukan di suatu tempat sebagai bahan makanan. penyebabnya yaitu pemikiran asosiatif. solusi yang dapat diberikan yaitu siswa perlu dijelaskan mengenai konsep oleh guru serta membandingkan struktur jamur dan struktur tumbuhan. struktur tubuh jamur terdiri dari tudung/pileus, lamela/gills, cincin/annulus, hifa, inti sel, septa, stipe/tangkai buah, dan miselium. sedangkan struktur tumbuhan terdiri dari akar, batang, daun, buah, dan bunga sebagai pelengkap. temuan berikutnya, siswa memiliki pemikiran bahwa tidak semua tumbuhan memiliki bunga. disebutkan bahwa mangga, jeruk, dan jambu adalah contoh tumbuhan yang tidak memiliki bunga. penyebabnya yaitu konsep awal siswa. cara menangani kasus tersebut yaitu siswa perlu dihadapkan pada pengalaman baru yang berbeda sehingga siswa menjadi bingung, pikirannya tertantang, dan diharapkan akan mengubah gagasan awalnya. pemikiran siswa tersebut adalah salah. karena tumbuhan mangga, tumbuhan jeruk, dan tumbuhan jambu memiliki bunga. pada submateri breathing, peneliti menemukan kasus bahwa siswa benar dalam memberikan jawaban tetapi salah dalam mengungkapkan alasannya. siswa percaya bahwa tumbuhan bernapas. salah satu siswa menyatakan bahwa tumbuhan menghirup angin ketika bernapas, siswa lainnya berpendapat bahwa tumbuhan menghirup air ketika bernapas. jenis miskonsepsi tersebut yaitu zat yang dihirup tumbuhan ketika bernapas. miskonsepsi tersebut disebabkan karena reasoning yang keliru. solusi yang dapat diberikan yaitu guru perlu menekankan logika yang benar pada siswa sehingga siswa belajar penalaran secara benar. secara ilmiah alasan yang diberikan oleh siswasiswa tersebut adalah salah karena tumbuhan bernapas menghirup oksigen. kasus berikutnya ditemukan siswa yang berpendapat bahwa tumbuhan bernapas ketika ada angin. diperkuat dengan pernyataan siswa lain yang menganggap bahwa ketika tidak ada angin tumbuhan tidak bernapas. jenis miskonsepsi yang berkaitan dengan kasus tersebut yaitu zat yang dihirup tumbuhan ketika bernapas. penyebab miskonsepsi adalah reasoning yang keliru. cara mengatasi miskonsepsi tersebut yakni guru perlu menekankan logika yang benar pada siswa sehingga siswa belajar penalaran secara benar. konsep ilmiah yang dipahami siswa keliru. tumbuhan tidak hanya bernapas ketika ada angin dan tumbuhan juga bernapas ketika tidak ada angin. seperti manusia dan hewan, tumbuhan juga bernapas setiap waktu. faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 102 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 temuan selanjutnya berkaitan dengan submateri microbes and disease. siswa menyatakan bahwa makan dari makanan yang sehat maka di dalam tubuhnya tidak ada bakteri. jenis miskonsepsi tersebut yaitu siswa beranggapan bahwa bakteri selalu menyebabkan penyakit kepada manusia. miskonsepsi tersebut disebabkan oleh pemikiran asosiatif. cara menangani miskonsepsi tersebut ialah siswa perlu dijelaskan mengenai konsep mikroorganisme oleh guru. fakta sebenarnya, walaupun makan dari makanan yang sehat tubuh manusia pasti memiliki bakteri di dalamnya. salah satunya bakteri e.coli, bakteri tersebut ditemukan dalam usus besar manusia. mikroba bermanfaat mencerna makanan dan menghasilkan vitamin (diperkirakan ada 100 juta mikroba yang hidup dalam dan pada tubuh manusia). masih dengan jenis miskonsepsi yang sama, pada kasus ini siswa meyakini bahwa makan di tempat yang kotor misalnya, terdapat bakteri dan akan membuat badan sakit. penyebab miskonsepsi tersebut ialah adanya pemikiran asosiatif. solusi yang dapat diberikan untuk kasus tersebut yaitu siswa perlu dijelaskan mengenai konsep bakteri oleh guru. konsep yang dimiliki oleh siswa tersebut keliru secara ilmiah. pada hakikatnya bakteri ada dimanapun termasuk di dalam tubuh manusia, makan di tempat yang kotor atau di tempat yang bersih tidak akan mempengaruhi keberadaan bakteri. pembelajaran mata pelajaran sains adalah mengetahui berbagai fenomena alam yang ada di lingkungan dan dapat menjelaskannya secara ilmiah. perkembangan siswa yang masih pada tahap awal sekolah dasar tersebut sangat rentan untuk membentuk miskonsepsi. (tayubi, 2005) menyatakan bahwa miskonsepsi terjadi secara universal di seluruh dunia bagaimanapun lingkungan sosial budaya, bahasa, maupun etniknya. konsepsi dan miskonsepsi siswa diduga kuat terbentuk pada masa anak dalam interaksi otak dengan alam. penelitian yang bertujuan untuk mengeksplorasi perkembangan konseptual siswa telah menunjukkan bahwa siswa umumnya mengembangkan ide-ide yang tidak akurat atau tidak lengkap tentang proses dan fenomena ilmiah sebelum pembelajaran formal, dan karena ide-ide ini sering resisten terhadap perubahan, mereka dapat menghasilkan hambatan yang signifikan terhadap kemampuan siswa untuk belajar sains (burgoon, heddle, & duran, 2011). untuk mengatasi miskonsepsi, perlu metode dan strategi pembelajaran yang menarik dengan mengaitkan topik dengan peristiwa. selain itu, sebelum memulai topik baru, guru perlu memberikan semacam tes untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada siswa (mufit, festiyed, fauzan, & lufri, 2018). penerapan strategi pembelajaran yang efektif untuk mengatasi miskonsepsi, seperti halnya kebanyakan strategi pembelajaran, sangat tergantung pada kemauan dan kemampuan guru. mengubah pemahaman konseptual siswa adalah tugas yang sangat berat. pengetahuan konten guru dan kesadaran mereka tentang miskonsepsi siswa merupakan faktor penting dalam penerapan strategi perubahan konseptual. jika para guru tidak menyadari miskonsepsi yang dipegang oleh siswa mereka dan/atau memiliki miskonsepsi itu sendiri, guru mungkin secara tidak sadar memperkuat atau menyebarkan miskonsepsi baru kepada siswa mereka selama pembelajaran sains faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 103 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 (burgoon et al., 2011). oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk mengetahui apa yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa dan menghilangkannya untuk membuat siswa memperoleh konsepsi ilmiah lebih mudah (sopandi et al., 2017). simpulan pada materi life processes and living things submateri concept of living ditemukan jenis miskonsepsi benda tidak hidup dianggap hidup, miskonsepsi pada alasan jawaban, makhluk hidup dianggap tidak hidup dan tumbuhan adalah makhluk hidup karena minum air. jenis miskonsepsi pada materi yang sama, submateri classification ditemukan siswa yang percaya adanya organisme yang memiliki ciri-ciri tumbuhan, organisme memiliki tempat hidup yang sama dengan tumbuhan, organisme tumbuh dari tumbuhan yang mati, organisme ditemukan di suatu tempat sebagai bahan makanan dan tidak semua tumbuhan memiliki bunga. sedangkan pada submateri breathing, ditemukan jenis miskonsepsi zat yang dihirup tumbuhan ketika bernapas. pada submateri microbe and disease, ditemukan jenis miskonsepsi bakteri selalu menyebabkan penyakit pada manusia. penelitian yang dilakukan menunjukan banyak kasus miskonsepsi, kasus miskonsepsi tersebut menunjukan bahwa beberapa siswa mengalami miskonsepsi yang berasal dari siswa itu sendiri. penyebab miskonsepsi yang ditemukan antara lain: konsep awal siswa, reasoning yang keliru, pemikiran humanistik dan pemikiran asosiatif. miskonsepsi tersebut biasanya diperoleh dari siswa itu sendiri berdasarkan pengalaman di lingkungan dengan cara melihat dan mengamati suatu peristiwa yang terjadi. faktor-faktor penyebab......(yogi kuncoro, dkk) 104 jppd, 6, (1), hlm. 91 104 daftar pustaka başer, m., & geban, ö. (2007). effect of instruction based on conceptual change activities on students’ understanding of static electricity concepts. research in science & technological education, 25(2), 243–267. https://doi.org/10.1080/02635140701250857 burgoon, j. n., heddle, m. l., & duran, e. (2011). re-examining the similarities between teacher and student conceptions about physical science. journal of science teacher education, 22(2), 101–114. https://doi.org/10.1007/s10972-0109196-x celikten, o., ipekcioglu, s., ertepinar, h., & geban, o. (2012). the effect of the conceptual change oriented instruction through cooperative learning on 4th grade students’ understanding of earth and sky concepts. science education international, 23(1), 84–96. duit, r. (1996). the constructivist view in science education – what it has to offer and what should not be expected from it. in international conference “science and mathematics for hte 21st century: towards innovatory approaches” (vol. 1, pp. 40–75). mufit, f., festiyed, f., fauzan, a., & lufri, l. (2018). impact of learning model based on cognitive conflict toward student’s conceptual understanding. iop conference series: materials science and engineering, 335(1). https://doi.org/10.1088/1757-899x/335/1/012072 pine, k., messer, d., & john, k. st. (2001). children’s misconceptions in primary science : a survey of teachers’ views. research in science & technological education, 19(1), 79–96. https://doi.org/10.1080/0263514012004624 sopandi, w., latip, a., & sujana, a. (2017). prospective primary school teachers’ understanding on states of matter and their changes. journal of physics: conference series, 812 (2017). https://doi.org/10.1088/1742-6596/755/1/011001 sugiyono. (2011). metode penelitian kuantitatif kualitatif dan r&d. bandung: afabeta. suparno, p. (2013). miskonsepsi & perubahan konsep dalam pendidikan fisika. jakarta: pt grasindo. tayubi, y. r. (2005). identifikasi miskonsepsi pada konsep-konsep fisika menggunakan certainty of response index (cri). mimbar pendidikan, 24(3), 4–9. issn 2406-8012 p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pemenuhan hak anak dalam.....(wahdan najib habiby, dan ika candra sayekti) 71 pemenuhan hak anak dalam buku siswa kelas lima sekolah dasar kurikulum 2013 wahdan najib habiby1 dan ika candra sayekti2 pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta 1wnh122@ums.ac.id; 2ics142@ums.ac.id abstract the aim of this research was to investigate whether students’ text book grade 5 theme i in curriculum 2013 has been fulfill child right in learning process or not. it was library research through qualitative approach, and using descriptive analytic method. the result of this study showed that indonesian government has consistently applied the 1989 un children right convention result, both juridically and applicatively. it can be seen on students’ text book grade v theme i curriculum 2013 which has been fulfill child right but it is required to be actualized more in real learning process by the teacher. keyword: child right content, students book, curricullum 2013 pendahuluan pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap individu dan menempati posisi yang sangat strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. kesadaran terhadap pentingnya aspek pendidikan bagi sebuah negara tidak cukup dipahami secara material, seperti menaikkan anggaran pendidikan dalam apbn. hal yang jauh lebih penting dari masalah anggaran adalah konstruk penyelenggaraan pendidikan nasional yang berlandaskan pemenuhan hak-hak peserta didik. karena secara logis sekolah yang diperuntukkan bagi siswa (anak-anak) hendaknya dibangun diatas kepentingan anak, bukan atas kepentingan orang dewasa yang seringkali hanya mengutamakan capaian prestasi anak. hasil konvensi hak-hak anak united nations convention on the right of the child/crc pada tanggal 20 november 1989, anak didefinisikan sebagai “setiap manusia yang berusia di bawah 18 tahun”. sedangkan menurut undang-undang perlindungan anak no. 23 tahun 2002, anak wajib diberi perlindungan secara menyeluruh sejak dalam kandungan. dengan demikian anak adalah manusia yang sejak berada dalam kandungan sampai usia 18 tahun. perlindungan secara menyeluruh yang dimaksud dalam undangundang meliputi tiga hal, yaitu: provisi, proteksi dan partisipasi. provisi memiliki arti menyediakan dan memenuhi kebutuhan anak seperti pendidikan, makanan, kesehatan, tempat tinggal, dll). proteksi berarti melindungi anak dari kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan psikis, penelantaran, dan eksploitasi. sedangkan partisipasi bermakna memberikan kesempatan kepada anak untuk berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang melibatkan dirinya, seperti dalam pendidikan, pembelajaran, dan penentuan aturan. secara eksplisit ketiga hal tersebut diuraikan baik dalam teks konvensi pbb maupun dalam undang-undang perlindungan anak. habiby (2012) dalam penelitiannya menemukan dari 47 siswa kelas vi sdn tahunan yogyakarta mengalami stres dalam mailto:wnh122@ums.ac.id mailto:ics142@ums.ac.id e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 72 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 71 83 menjalani program sekolah untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional 2012 dengan level sedang 53,2% (25 siswa) dan ringan 46,8% (22 siswa). stres siswa tersebut berimplikasi pada aspek emosi 42,92%, diikuti aspek pikiran 39,35%, aspek fisik 35,94%, dan aspek perilaku 34,54%. program sekolah tersebut adalah penambahan jam belajar setiap hari dari senin sampai sabtu selama 4 jam untuk mengulas materi mata pelajaran yang di uji nasionalkan dari kelas 3 6 sd. metode drill yang diterapkan sekolah didukung dengan rendahnya pengetahuan guru dan kepala sekolah tentang stres pada anak menjadi stressor terbesar. gambaran tentang kondisi anak didik di sd tahunan di atas adalah satu dari sekian banyak kasus pengabaian hak-hak anak yang terjadi di sekolah. pengabaian tersebut biasanya dilakukan dengan berbagai alasan, seperti memberikan hukuman fisik dan psikis dengan alasan mendisiplinkan; memberikan terlalu banyak materi pembelajaran dengan alasan tuntutan kurikulum; memberikan pekerjaan rumah yang banyak dengan alasan agar siswa mau belajar; pendidikan yang terlalu berpusat pada guru dengan alasan siswa belum mampu memahami materi; pendapat siswa tidak dihargai dengan alasan pendapatnya salah; dan lain sebagainya. komisi perlindungan anak indonesia (kpai) menyadari bahwa selama ini penyelenggaraan pendidikan di indonesia belum dibangun dengan pemenuhan hak-hak anak, oleh karena itu mereka mendesak untuk menjadikan konsep sekolah ramah anak menjadi kebijakan nasional yang diadopsi oleh seluruh sekolah agar anak bisa belajar dengan nyaman, senang, tentram, tidak terancam, menumbuhkan karakter dan mandiri. merespon masukan dari mayarakat akan pentingnya sekolah yang ramah anak, maka pemerintah menyusun perangkat hukumnya melalui peraturan menteri negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak nomor 8 tahun 2014 tentang kebijakan sekolah ramah anak. keberadaan sekolah ramah anak tidak bisa terlepas dari poin-poin yang terdapat dalam hasil konvensi pbb tentang hak-hak anak dimana sekolah ramah anak adalah sekolah yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggungjawab. prinsip utama dari sekolah ramah anak adalah tidak terdapat diskriminasi kepentingan, pemenuhan hak hidup serta penghargaan terhadap anak. secara implisit penyelenggaraan sekolah ramah termuat dalam pasal 28, 29, dan 31 konvensi hak anak pbb. poin penting dari ketiga pasal tersebut adalah: 1) pendidikan berpusat pada anak, penegakan disiplin dengan memperhatikan martabat dan harga diri anak, dan pengembangan kapasitas anak; 2) pengembangan keterampilan, pembelajaran, kemampuan lainnya, martabat manusia, harga diri, dan kepercayaan diri; 3) pengembangan kepribadian, bakat, dan kemampuan untuk hidup dalam kehidupan di masyarakat; 4) hak anak untuk pendidikan tidak hanya masalah akses, tetapi konten; dan 5) hak anak untuk pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya. penerapan konsep sekolah ramah anak sebagaimana tercantum dalam poin 4 di atas menyebutkan bahwa hak anak untuk pendidikan tidak hanya masalah akses, namun juga masalah konten. konten yang dimaksud adalah materi pelajaran yang di ajarkan kepada siswa, yaitu susunan materi yang ada dalam buku/bahan ajar siswa. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pemenuhan hak anak dalam.....(wahdan najib habiby, dan ika candra sayekti) 73 sejak tahun 2013 pemerintah indonesia menerapkan kurikulum nasional baru yang dikenal dengan kurikulum 2013. pengembangan kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dan ktsp 2006 yang mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. dengan visi anak indonesia yang cerdas, ceria, berakhlak, dan berhati mulia. pemerintah memperkenalkan kurikulum 2013 yang berfokus pada “pendidikan” dan “kebudayaan” yang ditujukan untuk menghasilkan anak yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk menghadapi kehidupan masa kini dan masa depan. kompetensi yang diharapkan dari lulusan sd/mi dalam kurikulum 2013 adalah kemampuan pikir dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret. kemampuan itu diperjelas dalam kompetensi inti, yang salah satunya, “menyajikan pengetahuan dalam bahasa yang jelas, logis dan sistematis, dalam karya yang estetis, atau dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak sehat, beriman, berakhlak mulia”. kompetensi itu dirancang untuk dicapai melalui proses pembelajaran berbasis penemuan (discovery learning) melalui kegiatan-kegiatan berbentuk tugas (project based learning), dan penyelesaiaan masalah (problem solving based learning) yang mencakup proses mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan (kementerian pendidikan dan kebudayaan, 2014: ii). sejak ditetapkannya hasil konvensi pbb tentang hak-hak anak secara internasional tahun 1989, banyak negara meratifikasi hasil konvensi termasuk indonesia, melalui keputusan presiden nomor 36 tahun 1990 pada tanggal 25 agustus 1990. berdasarkan keputusan presiden tersebut selanjutnya diratifikasi ke dalam undang-undang tentang perlindungan anak nomor. 23 tahun 2002 dan telah dilakukan revisi melalui undang-undang no. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang perlindungan anak. pemerintah indonesia juga menerbitkan peraturan menteri negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak nomor 8 tahun 2014 tentang kebijakan sekolah ramah anak. sedangkan untuk memobilisasi dan percepatan tersedianya sekolah ramah anak di indonesia maka pemerintah menerbitkan peraturan menteri negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak nomor 12 tahun 2011 tentang indikator kabupaten/kota layak anak. keseriusan negara dalam memenuhi hakhak anak juga dilakukan oleh skotlandia, pada tahun 2008 telah menerbitkan buku panduan pemenuhan hak-hak anak secara nasional dengan judul “a guide to getting it right for every chil: how to implementing” dan disusul dengan penerbitan buku kedua pada tahun 2010 yang berjudul “ a guide to implementing child right in scotland” yang berisi tentang panduan secara sistematis pemenuhan hak-hak anak didunia pendidikan yang meliputi: changing system; changing; practice; implementing change; and changing culture (the scottish goverment, 2010). swedia melalui sida dan lund university sejak tahun 2001 secara konsisten membangun sekolah ramah anak dengan empat prinsip dasar, yaitu: nondiscrimination; the best interest of the child; right to participation; and right to life and development. keempat prinsip dasar e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 74 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 71 83 tersebut harus diimplementasikan dalam sekolah ramah anak dengan: a) merubah arah proses pengajaran dan pembelajaran dari konsep top down (kebijakan sekolah/pemerintah/guru untuk siswa) menjadi konsep button up (dari siswa untuk dilakukan bersama-sama); b) merubah pendekatan pengajaran dan pembelajaran dari teacher centre menjadi student centre. sehingga posisi guru bukan lagi sebagai sumber informasi tetapi sebagai fasilitator pendidikan; c) kelas bukan hanya sebagai tempat pengajaran teoritis, tetapi harus menampakkan potret kehidupan sosial sesungguhnya yang dialami oleh manusia; d) konsep transfer pengetahuan yang dijalankan harus mengandung interaksi yang hangat antar sesama siswa, guru, dan kondisi dunia yang sesungguhnya secara luas (leo ulf, at all, 2014: 18-20). konsep sekolah ramah anak yang ditawarkan oleh beberapa negara pada dasarnya sesuai dengan pandangan aliran konstruktivisme, yang menyatakan bahwa pembelajaran yang baik perlu dilaksanakan dengan melibatkan interaksi banyak pihak dan harus mampu menjadikan kelas pembelajaran sebagai micro social system. vygotsky (1978) menyebutkan empat hal yang wajib dilakukan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, yaitu eksperience, understanding, skill, and facts. desain pembelajaran di kelas yang menghadirkan konsep micro social system dan mengandung kegiatan eksperience, understanding, skill, and facts sesungguhnya sudah terakomodir dalam konsep kurikulum 2013 untuk sekolah dasar di indonesia dengan pendekatan tematik integratif. penerapan pendekatan tematik integratif telah memberikan peluang bagi guru untuk memenuhi empat konten yang disarankan oleh vygotsky, namun sukses dan tidaknya pelaksanaan pembelajaran dikelas dalam kurikulum 2013 terletak pada bagaimana guru mengimplementasikannya, dan bagaimana konten bahan ajar disusun serta disampaikan secara sistematis. konstruk kurikulum 2013 untuk sekolah dasar yang telah disusun pemerintah indonesia tersebut tentunya juga harus memperhatikan hak-hak anak baik dalam pelaksanaannya maupun dalam konten bahan ajarnya. merujuk pada dokumen konvensi hak anak pbb tahun 1989, undang-undang no. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang perlindungan anak, dan peraturan menteri negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak nomor 8 tahun 2014 tentang kebijakan sekolah ramah anak, ada beberapa hal yang berkaitan secara langsung dengan pembelajaran di sekolah, yaitu: konsep sekolah ramah anak, pembelajaran, dan evaluasi. secara sederhana konsep pembelajaran ramah anak yang terkandung dalam crc tahun 1989, undang-undang dan peraturan perundang-undangan di indonesia disajikan dalam tabel 1. pada poin 4 konsep sekolah ramah anak menyebutkan bahwa hak anak untuk pendidikan tidak hanya masalah akses, namun juga masalah konten. konten yang dimaksud adalah materi pelajaran yang di ajarkan kepada siswa, yaitu susunan materi yang ada dalam buku/bahan ajar siswa. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pemenuhan hak anak dalam.....(wahdan najib habiby, dan ika candra sayekti) 75 tabel 1. konsep pembelajaran ramah anak dalam crc 1989, undang-undang dan peraturan perundang-undangan di indonesia. konsep sekolah ramah anak pembelajaran pemantauan dan evaluasi 1. pendidikan berpusat pada anak, penegakan disiplin dengan memperhatikan martabat dan harga diri anak, dan pengembangan kapasitas anak. 1. proses dan suasana pembelajaran inklusif dan dilaksanakan non-diskriminatif di dalam dan di luar kelas 1. penilaian dan evaluasi pembelajaran dilakukan berbasis proses dan mengedepankan penilaian otentik 2. pengembangan keterampilan , pembelajaran, kemampuan lainnya, martabat manusia, harga diri, dan kepercayaan diri. 2. suasana belajar dan proses pembelajaran mengembangkan keragaman karakter dan potensi anak. 2. penerapan ragam model penilaian dan evaluasi hasil belajar peserta didik yang mengukur kemampuan tanpa membandingkan satu dengan yang lain 3. pengembangan kepribadian, bakat, dan kemampuan untuk hidup dalam kehidupan di masyarakat. 3. proses pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. 4. hak anak untuk pendidikan tidak hanya masalah akses, tetapi juga konten. 4. pengembangan minat dan bakat anak melalui kegiatan ekstrakulikuler dilaksanakan secara individu maupun kelompok 5. hak anak untuk pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya. 5. peserta didik terlibat dalam kegiatan bermain 6. peserta didik turut serta dalam kehidupan budaya dan seni 7. materi pembelajaran memuat penghormatan terhadap hak asasi manusia, penghormatan terhadap tradisi dan budaya, penghormatan terhadap sesama anak baik laki-laki maupun perempuan serta anak yang memerlukan perlindungan khusus. berdasarkan hasil kajian kepustakaan, indikator pemenuhan hak anak yang terdapat dalam buku ajar dapat dijabarkan sebagai berikut: 1) provison: bebas berpendapat sesuai dengan hasil telaah siswa dari berbagai sumber belajar; bebas berekspresi; bebas mengakses media dan sumber pembelajaran; pembelajaran inklusif dan non diskriminatif; penilaian dan evaluasi dilaksanakan berbasis proses dan mengedepankan penilaian otentik. 2) proteksion: berpusat pada siswa, disiplin dengan memberikan perhatian hargadiri anak, mengembangkan kapasitas siswa; materi pembelajaran memuat penghormatan terhadap agama dan hak asasi manusia; materi pembelajaran e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 76 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 71 83 memuat penghormatan kepada sesama anak (termasuk anak-anak yang berkebutuhan khusus); materi pembelajaran memuat penghormatan terhadap tradisi dan budaya bangsa. 3) partisipation: learning by doing; keterlibatan aktif siswa dalam belajar dan bermain; pengembangan kepribadian, bakat, dan kemampuan untuk hidup dimasyarakat; pengembangan keterampilan (menyelesaikan masalah, berpikir, belajar mandiri); menghargai martabat manusia, harga diri; dan membangun kepercayaan diri. dalam rintisan implementasi kurikulum 2013 pemerintah menyediakan dua jenis buku yaitu buku untuk guru dan buku untuk siswa. masing-masing buku digunakan sebagai acuan pembelajaran dalam pelaksanaan pendidikkan nasional yang harus digunakan secara penuh, baik oleh siswa maupun oleh guru. keberadaan buku ajar tersebut menarik untuk dikaji apakah bahan ajar yang disusun pemerintah sudah mengandung konten-konten yang ramah terhadap anak. hal tersebut penting dilakukan untuk melihat keseriusan dan konsistensi pemerintah dalam membangun sistem pendidikan di indonesia yang ramah terhadap anak sesuai amanah undangundang dan peraturan perundang undangan yang berlaku di indonesia. oleh karena itu, makalah ini mencoba mencari konten hakhak anak pada buku siswa dengan batasan buku siswa kelas 5 sekolah dasar dengan tema “benda-benda dilingkungan sekitar”. metode penelitian penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitan kepustakaan (library research) dan menggunakan metode deskriptif-analitis (bakker dan anton zubair 1990: 53), sehingga fakta-fakta yang diperoleh dari kajian kepustakaan akan disajikan secara teratur dan sistematis sebagaimana konsep yang dibangun dalam buku siswa kelas lima sd, sehingga dengan mudah dapat dipahami. sedangkan analitis adalah melakukan pemeriksaan secara konsepsional atas makna yang dikandung oleh istilah yang digunakan dan pernyataan yang dibuat (kattsoff, 1987: 18), dalam hal ini peneliti akan menganalisis (memahami dan menjelaskan) konten buku siswa kelas lima sd pada kurikulum 2013 yang dihubungkan dengan hak-hak anak yang tercantum dalam konvensi pbb, undang-undang, dan peraturan perundang-undangan di indonesia. penelitian ini tidak bermaksud untuk menghasilkan pemahaman baru (inventif) tentang konten hak-hak anak pada buku siswa kelas 5 dengan tema “benda-benda disekitar siswa”, akan tetapi memberikan penjelasan secara teratur dan sistematis tentang konten yang berkaitan dengan hak-hak anak pada buku siswa kelas lima (anton bakker dan achmad charis zubair 1990: 16-17), sehingga penelitian ini akan menampilkan konten buku apa adanya secara objektif. objek formal dari penelitian ini adalah berbagai pandangan tentang konsep dan konten bahan ajar yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak anak di lingkup sekolah, sedangkan objek materialnya adalah buku siswa kelas lima kurikulum 2013 dengan tema benda-benda dilingkungan sekitar siswa (anton bakker dan achmad charis zubair 1990: 35-36). dalam penelitian ini tidak akan memberikan pembahasan secara mendalam tentang konsep sekolah ramah anak, melainkan pembahasan secara spesifik tentang konten buku siswa kelas lima sekolah dasar secara ringkas. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pemenuhan hak anak dalam.....(wahdan najib habiby, dan ika candra sayekti) 77 hasil dan pembahasan materi pembelajaran dalam buku siswa kelas lima sd pada semester satu memuat 5 tema (lima buku siswa dan lima buku guru). tiap tema terdiri atas 3 subtema yang diuraikan ke dalam 6 pembelajaran. satu pembelajaran dialokasikan untuk 1 hari. tiga subtema yang ada direncanakan selesai dalam jangka waktu 3 minggu. pada minggu ke-4 diisi dengan berbagai kegiatan yang dirancang sebagai aplikasi dari keterpaduan gagasan pada subtema 1-3. kegiatan pada minggu terakhir diarahkan untuk mengasah daya nalar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi. penelitian ini hanya dilakukan pada tema satu buku siswa kelas lima sekolah dasar yaitu “benda-benda di lingkungan sekitar”. buku siswa ini disusun dengan huruf baar metanoia, menggunakan ukuran 12 pt dan memuat rencana pembelajaran berbasis aktivitas. capaian kompetensi diharapkan secara terpadu yaitu mempelajari semua mata pelajaran secara terpadu melalui tema-tema kehidupan yang dijumpai peserta didik seharihari. siswa diajak mengikuti proses pembelajaran transdisipliner yang menempatkan kompetensi yang diajarkan dikaitkan dengan konteks peserta didik dan lingkungan. materi-materi berbagai mata pelajaran dikaitkan satu sama lain sebagai satu kesatuan, membentuk pembelajaran multidisipliner dan interdisipliner. buku ini merupakan penjabaran hal-hal yang harus dilakukan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. sesuai dengan pendekatan kurikulum 2013, peserta didik diajak berani untuk mencari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. peran guru dalam meningkatkan dan menyesuaikan daya serap peserta didik dengan ketersediaan kegiatan pada buku ini. buku ini hanya sebagai panduan aktivitas pembelajaran, dan guru dapat memperkaya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan alam, sosial, dan budaya di lingkungannya. struktur penulisan buku nampaknya dimaksudkan untuk memfasilitasi pengalaman belajar bermakna yang diterjemahkan melalui subjudul ayo cari tahu, ayo belajar, ayo ceritakan, ayo bekerja sama, ayo berlatih, ayo amati, ayo lakukan, ayo simpulkan, ayo renungkan, ayo kerjakan, ayo mencoba, ayo diskusikan, ayo bandingkan, ayo menulis, ayo temukan jawabannya, ayo menaksir, ayo berkreasi, ayo analisis, ayo kelompokkan, ayo bernyanyi, ayo berpetualang, tahukah kamu, dan belajar di rumah. setiap awal subtema, terdapat lembar untuk orangtua yang berjudul belajar di rumah. halaman ini berisi materi yang akan dipelajari, aktivitas belajar yang dilakukan anak bersama orangtua di rumah, serta saran agar anak dan orangtua bisa belajar dari lingkungan. orangtua diharapkan berdiskusi dan terlibat dalam aktivitas belajar siswa. saran-saran untuk kegiatan bersama antara siswa dan orangtua dicantumkan juga pada setiap akhir pembelajaran. konten hak-hak anak dalam buku siswa kelas lima sekolah dasar dengan tema “benda-benda dilingkungan sekitar” konten hak-hak anak pada buku siswa kelas lima dengan tema “mengenal bendabenda di lingkungan sekitar” akan disajikan sesuai dengan struktur buku, yaitu dimulai dengan subtema 1 sampai 3 secara berurutan dengan masing-masing subtema mengandung enam pembelajaran disajikan didalam gambar 1. e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 78 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 71 83 gambar 1. prosentase konten hak-hak anak pada sub-tema satu hak provision anak dalam berekspresi sudah diakomodasi pada seluruh kegiatan pembelajaran. kebebasan berekspresi sangat terlihat dalam sub judul ayo mencoba, ayo eksplorasi, ayo berlatih, dan ayo simpulkan. indikator bebas mencari sumber pembelajaran hanya terlihat pada sub judul 2, 4, dan 5 dimana siswa diminta mencari contoh lain perubahan wujud benda dan mencari cara melakukan kegiatan fisik menangkap, menendang, dan melempar bola. indikator penilaian otentik berdasarkan proses pembelajaran sangat terlihat pada setiap pembelajaran terutama pada sub judul ayo renungkan. indikator pembelajaran inklusif tanpa diskriminasi hanya nampak pada pembelajaran 1, 5, dan 6 terutama pada sub judul ayo diskusikan. indikator keterlibatan siswa dalam berkreasi sesuai minat, bakat dan tingkat kecerdasannya terlihat pada pembelajaran 1, 2, dan 6 dalam sub judul ayo bacalah, dan ayo eksplorasi. hak anak yang berkaitan dengan proteksi lebih cenderung hanya berbentuk pembelajaran yang berpusat pada anak dan pembelajaran dilakukan secara menyenangkan. sedangkan penerapan kedisiplinan dengan memperhatikan harga diri anak terlihat pada materi pembelajaran yang memuat penghormatan terhadap agama dan hak asasi manusia terlihat pada subbab 1. indikator materi pembelajaran yang memuat penghormatan kepada sesama anak, termasuk anak berkebutuhan khusus terlihat pada sub judul ayo diskusikan dalam pembelajaran 1,2,5,dan 6 yang memberikan proporsi yang sama pada setiap siswa terlibat akttif dalam diskusi tentang tema yang sedang di ajarkan. indikator materi pembelajaran yang memuat penghormatan terhadap tradisi dan budaya bangsa terlihat dalam pembelajaran 1, 2, 4, dan 6 dimana siswa diminta membuat ronce, mencari gambar beberapa kerajinan daerah, dan mengidentifikasi kerajinan daerah-daerah di indonesia. hak anak yang berkaitan dengan partisipasi keseluruhan indikator terpenuhi dalam setiap kegiatan pembelajaran siswa. pemenuhan hak anak dalam berpartisipasi ini membuktikan bahwa buku siswa ini secara konsisten berbasis aktivitas yang sepenuhnya 27 38 35 23 20 57 34 27 39 20 32 48 25 28 47 16 41 43 0 10 20 30 40 50 60 provision proteksion partisipation pembelajaran 1 pembelajaran 2 pembelajaran 3 pembelajaran 4 pembelajaran 5 pembelajaran 6 p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pemenuhan hak anak dalam.....(wahdan najib habiby, dan ika candra sayekti) 79 dilakukan siswa dengan guru sebagai fasilitator sebagaimana tercantum dalam kata pengantar buku. pada sub tema kedua hak provision anak dalam berekspresi terdapat pada seluruh kegiatan pembelajaran. kebebasan berekspresi sangat terlihat dalam sub judul ayo eksplorasi, ayo berlatih, dan ayo simpulkan. indikator kebebasan mengakses media belajar dan informasi terlihat pada sub judul 2, 3, 4, dan 6 dimana siswa diminta mengidentifikasi kebutuhan masyarakat di daerah tempat tinggalnya yang meliputi kebutuhan ekonomi, sosial, budaya, dan keamanan. siswa juga diminta untuk mengidentifikasi barang-barang kebutuhan keluarga yang didatangkan dari daerah lain, dan barang-barang khas daerahnya. disamping itu siswa juga diminta melakukan studi pustaka dan wawancara tentang pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat akibat kemajuan teknologi. indikator penilaian otentik berdasarkan proses pembelajaran terlihat pada setiap pembelajaran terutama pada sub judul ayo renungkan. indikator pembelajaran inklusi tanpa diskriminasi hanya nampak pada pembelajaran 1, 2, dan 3 pada sub judul ayo diskusikan. indikator keterlibatan siswa dalam berkreasi sesuai minat, bakat dan tingkat kecerdasannya terlihat pada pembelajaran 2, 4, 5 dan 6 dalam sub judul ayo bacalah, ayo berlatih, dan praktek membuat topeng maupun praktek berenang. gambar 2. prosentase konten hak-hak anak pada sub-tema dua hak anak yang berkaitan dengan proteksi terlihat pada indikator pembelajaran yang berpusat pada anak dan pembelajaran dilakukan secara menyenangkan. sedangkan penerapan disiplin dengan memperhatikan harga diri anak sama sekali tidak terlihat. indikator materi pembelajaran yang memuat penghormatan terhadap agama dan hak asasi manusia hanya terdapat dalam pembelajaran 1 dan 3 yaitu pada pembahasan tentang dampak perubahan lingkungan akibat ulah manusia dan kegiatan mengidentifikasi kebutuhan manusia yang tidak dapat dipenuhi sendiri. indikator materi pembelajaran yang memuat penghormatan kepada sesama anak, termasuk anak berkebutuhan khusus terlihat pada sub judul ayo diskusikan dalam pembelajaran 1 dan 4 yang memberikan proporsi yang sama pada setiap siswa terlibat aktif dalam diskusi tentang tema yang sedang di ajarkan. indikator materi pembelajaran yang memuat penghormatan terhadap tradisi dan budaya 28 22 50 34 20 46 30 30 40 35 18 47 32 15 53 40 10 50 0 10 20 30 40 50 60 provision proteksion partisipation pembelajaran 1 pembelajaran 2 pembelajaran 3 pembelajaran 4 pembelajaran 5 pembelajaran 6 e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 80 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 71 83 bangsa termuat dalam pembelajaran 2, 3, 4, dan 6 yaitu siswa melakukan diskusi, eksplorasi, membaca, dan praktek membuat topeng berkarakter nasional, produk khas daerah, dampak positif dan negatif perkembangan teknologi, dan mendata nilainilai luhur pada masyarakat indonesia. hak anak yang berkaitan dengan partisipasi terpenuhi dalam setiap kegiatan pembelajaran siswa. pemenuhan hak anak dalam berpartisipasi ini membuktikan bahwa buku siswa ini secara konsisten berbasis aktivitas yang sepenuhnya dilakukan siswa dengan guru sebagai fasilitator sebagaimana tercantum dalam kata pengantar buku. dalam sub judul ayo amati, ayo eksplorasi, ayo diskusikan, ayo bacalah, ayo renungkan, ayo berlatih, dan kerjasama dengan orang tua memberikan peluang sebesar-besarnya pada siswa untuk aktif dan senang belajar untuk mengembangkan kepribadian, bakat, kemampuan menyelesaikan masalah, menghadrgai manusia dan dirinya, dan berpikir objektif. gambar 3. prosentase konten hak-hak anak pada sub-tema tiga pada sub tema ketiga hak provision anak dalam berekspresi terdapat pada seluruh kegiatan pembelajaran. kebebasan berekspresi sangat terlihat dalam sub judul ayo diskusikan, ayo berlatih, dan ayo lakukan. indikator kebebasan mencari sumber belajar dan informasi juga terdapat pada seluruh pembelajaran dimana siswa diminta mencari perbedaan dan ciri-ciri sair dan pantun; mencari kosa kata yang sulit; perbedaan antara gambar dekorasi, karikatur, dan ilustrasi; mengidentifikasi permainan tradisional, makanan tradisional,dan produk budaya lokal. indikator otentik assessment and evaluation base learning process terlihat pada setiap pembelajaran terutama pada sub judul ayo renungkan. indikator inclusive learning and non diskrimination hanya nampak pada pembelajaran 1, 2, dan 3 pada sub judul ayo diskusikan. indikator keterlibatan siswa dalam berkreasi sesuai minat, bakat dan tingkat kecerdasannya terlihat pada pembelajaran 4 dalam sub judul ayo membaca tentang cara pandang manusia dan lingkungan yang dinamis. hak anak yang berkaitan dengan proteksi sangat terlihat pada indikator pembelajaran yang berpusat pada anak, pembelajaran 36 30 3432 28 40 30 25 45 32 37 31 44 28 28 35 27 38 0 10 20 30 40 50 provision proteksion partisipation pembelajaran 1 pembelajaran 2 pembelajaran 3 pembelajaran 4 pembelajaran 5 pembelajaran 6 p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pemenuhan hak anak dalam.....(wahdan najib habiby, dan ika candra sayekti) 81 dilakukan secara menyenangkan, dan materi yang memuat penghormatan terhadap tradisi dan budaya. pada setiap pembelajaran mengandung materi yang berkaitan dengan mencintai budaya indonesia seperti syair, pantun, permainan tradisional, karakter punakawan, identifikasi, produk budaya lokal, pertunjukan wayang kulit, dan bangga menggunakan produk indonesia. sedangkan penerapan disiplin denga memperhatikan harga diri anak hanya terdapat dalam pembelajaran 2 dan 5 yaitu dalam sub judul ayo lakukan menggambar sesuai dengan langkah-langkah yang ditentukan (membuat sketsa, gambar konkrit, dan mewarnai) dan sub judul berlatih bermain kasti serta berlari tumi kedepan-kebelakang. indikator materi pembelajaran yang memuat penghormatan terhadap agama dan hak asasi manusia terdapat dalam pembelajaran 1 dan 4 yaitu pada pembahasan tentang berempati pada korban banjir dengan menyumbangkan sebagian harta, dan materi menghargai, menghormati, rukun dan kebebasan berpendapat tentang manusia dan lingkungan yang bersifat dinamis. indikator materi pembelajaran yang memuat penghormatan kepada sesama anak, termasuk anak berkebutuhan khusus terlihat pada sub judul ayo diskusikan dalam pembelajaran 1, 3, 4 dan 6 yang memberikan proporsi yang sama pada setiap siswa terlibat aktif dalam diskusi dan berlatih. indikator materi pembelajaran yang memuat penghormatan terhadap tradisi dan budaya bangsa termuat dalam seluruh pembelajaran, karena pada subtema ketiga ini materi ke indonesian sangat dominan. hak anak yang berkaitan dengan partisipasi keseluruhan indikator terpenuhi dalam setiap kegiatan pembelajaran siswa. pemenuhan hak anak dalam berpartisipasi ini membuktikan bahwa buku siswa ini secara konsisten berbasis aktivitas yang sepenuhnya dilakukan siswa dengan guru sebagai fasilitator sebagaimana tercantum dalam kata pengantar buku. dalam sub judul ayo amati, ayo eksplorasi, ayo diskusikan, ayo bacalah, ayo renungkan, ayo berlatih, dan kerjasama dengan orang tua memberikan peluang sebesar-besarnya pada siswa untuk aktif dan senang belajar untuk mengembangkan kepribadian, bakat, kemempuan menyelesaikan masalah, menghadrgai manusia dan dirinya, dan berpikir objektif. merujuk pada kompetensi yang diharapkan dari lulusan sd/mi dalam kurikulum 2013 yaitu siswa memiliki kemampuan berpikir dan tindak yang produktif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret, maka konstruk buku siswa ini sudah didesain sesuai dengan tujuan tersebut. materi dalam buku dirancang melalui proses pembelajaran tematik integratif berbasis discovery learning, project based learning, dan problem solving. melalui pengetahuan tentang desain dan konstruk buku siswa kelas lima tema 1 ini, maka dapat diperoleh informasi mengenai pemenuhan hak-hak anak dalam konten bahan ajar siswa. tiga hak utama anak menurut crc adalah provision, protektion, dan participation yang terkandung dalam buku siswa kelas lima tema 1 pada kurikulum 2013 secara keseluruhan dapat dikatakan sudah terkandung dalam materi pembelajaran siswa. proses pembelajaran transdisipliner dengan menggabungkan materi berbagai mata pelajaran sebagai satu kesatuan yang membentuk pembelajaran multidisipliner dan interdisipliner pada kurikulum 2013 secara tidak langsung membutuhkan konsep pembelajaran yang memberikan jaminan kebebasan berekspresi, kebebasan untuk mengakses media dan sumber informasi, e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 82 profesi pendidikan dasar, vol. 3, no. 2, desember 2016: 71 83 penilaian otentik dan evaluasi proses pembelajaran dasar, student center. pembelajaran dilaksanakan secara menyenangkan, belajar dengan melakukan, pembelajaran aktif dan bermain aktif, dan kebebasan beropini dan hak untuk didengar dalam semua hal pribadi. indikator-indikator yang jarang mendapatkan porsi dalam buku siswa kelas lima tema 1 ini adalah pembelajaran inklusif dan non diskriminasi; kedisiplinan dengan memperhatikan martabat dan harga diri; materi pembelajaran memuat penghormatan terhadap agama dan hak asasi manusia; materi pembelajaran memuat penghormatan kepada sesama anak; termasuk anak-anak yang berkebutuhan khusus; dan keterlibatan siswa dalam berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya. memang cukup rumit ketika harus dimasukkan dalam materi ajar. indikator-indikator tersebut dapat diberikan kepada siswa dalam praktik pembelajaran, namun hal tersebut membutuhkan kesadaran dan pemahaman yang kuat dari guru kelas tentang hak-hak anak sehingga konten hak anak yang belum tercover buku teks dapat dilengkapi dalam praktek pembelajaran. sebaran muatan hak-anak pada buku siswa ini secara langsung memberikan gambaran bahwa desain pendidikan nasional yang dirancang pemeritah sejalan dengan empat prinsip dasar tersebut harus diimplementasikan dalam sekolah ramah anak yang direkomendasikan oleh pbb maupun pemerintah swedia, yaitu: merubah arah proses pengajaran dan pembelajaran dari konsep top down menjadi botton up; merubah pendekatan pengajaran dan pembelajaran dari teacher centre menjadi student centre; kelas bukan hanya sebagai tempat pengajaran teoritis, tetapi harus menampakkan potret kehidupan sosial sesungguhnya yang dialami oleh manusia; konsep transfer pengetahuan yang dijalankan harus mengandung interaksi yang hangat antar sesama siswa, guru, dan kondisi dunia yang sesungguhnya secara luas (leo ulf, at all, 2014: 18-20). simpulan simpul yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah pemerintah indonesia secara konsisten telah menjalankan hasil konvensi hak anak pbb tahun 1989, baik secara yuridis maupun aplikatif. tiga hak utama anak menurut crc adalah provision, protektion, dan participation yang terkandung dalam buku siswa kelas lima tema 1 pada kurikulum 2013 secara keseluruhan dapat dikatakan sudah terkandung dalam materi pembelajaran siswa. proses pembelajaran transdisipliner dengan menggabungkan materi berbagai mata pelajaran sebagai satu kesatuan yang membentuk pembelajaran multidisipliner dan interdisipliner pada kurikulum 2013 secara tidak langsung membutuhkan konsep pembelajaran yang memberikan jaminan kebebasan berekspresi, kebebasan untuk mengakses media dan sumber informasi, penilaian otentik dan evaluasi proses pembelajaran dasar, student center. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 pemenuhan hak anak dalam.....(wahdan najib habiby, dan ika candra sayekti) 83 daftar pustaka bakker, anton dan achmad charis zubair. 1990. metodologi penelitian filsafat, yogyakarta: kanisius. kattsoff, lois o.1987, pengantar filsafat, terj. soejono sumargono, yogyakarta: tiara wacana. the scottish government. 2010. a guide to implementing getting it right for every child: messages from path finders and learning partner. the scottish government, edinburgh. vygotsky, l. s. 1978. mind and society: the development of higher psychological processes. cambridge, ma: harvard university press. leo, ulf, at all. 2014). enforcing child right globally: experiences and reflections from the international trainingprograme on child right, classroom and school management. sweden: media-tryck, lund university. kementerian pendidikan dan kebudayaan. 2014. benda-benda di lingkungan sekitar. buku tematik terpadu buku siswa kelas v sd/mi tema 1. jakarta: kementerian pendidikan dan kebudayaan. united nations convention on the right of the child/crc) november, 20, 1989 undang-undang no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. undang-undang no. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang perlindungan anak no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. peraturan menteri negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak nomor 8 tahun 2014 peraturan menteri negara pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak nomor 12 tahun 2011 tentang indikator kabupaten/kota layak anak habiby, wahdan najib. (2012). “efektivitas pelatihan motivasi untuk menurunkan tingkat stres siswa kelas vi sdn tahunan dalam menghadapi ujian nasional”. jurnal prima edukasia, vol. 1, no. 2, tahun 2013. yogyakarta: pasca sarjana universitas negeri yogyakarta. https://journal.uny.ac.id/index.php/jpe/article/view/2637. profesi pendidikan dasar, vol. 2, no. 1, desember 2014: 132-140132 model pembelajaran peer-teaching untuk meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa pgsd fkip ums rubino rubiyanto pendidikan guru sekolah dasar fkip, universitas muhammadyah surakarta abstract the problems of lecturing in primary education are lowering the ability of verbal communication. the student seldom gives good respond in the form of question, expostulation and or criticism. for the developed of verbal capacity, researcher applied the strategy of peer-teaching. peer-teaching is a lecturing model by functioned the student are learning friend each other. there are six models, one of them is jigsaw learning. the implementation of jigsaw model is by counting six times, and each is observed by assistant. the general conclusion of the research is that it can improve the student’s verbal capacity until significant number (92,5 %). in detail it can be elaborated: a) the enthusiasm of the student in working task, getting better by the end of meeting counted 42 students. b) the student activity of instruction of the material rounding into 43 students , c) the student of enough question and answer capacity rounding into the goodness are 37 student, d) the interaction of student of good verbal remain to be good are 43 students. from final test also told that the final achievement of the students amount b. keywords: verbal capacity – peerteaching – jigsaw learning pendahuluan sebagai pekerja professional guru melaksanakan proses pembelajaran yang bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yme, berakhlaq mulia, sehat jasmani rohani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang bertangung jawab atas dirinya sendiri, masyarakat serta bangsanya (ketentuan umum uu ri no. 20 tahun 2003). dalam uuspn tahun 2003 disebutkan bahwa guru adalah tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, melakukan pembimbingan, serta melakukan berbagai pelatihan bagi peserta didiknya. dalam kaitan ini salah satu kompetensi yang dituntut untuk dimiliki para guru ialah kompetensi pribadi, satu diantaranya ialah kemampuan komunikasi verbal. kemampuan verbal guru sd memiliki peran sangat penting dalam melaksanakan tugas pembelajaran sehari-hari. kemampuan verbal guru diperoleh dan dipersiapkan sejak mereka masih menjadi mahasiswa karena kemampuan ini bukan given, tetapi melalui pengembangan potensi maupun latihan sehari-hari dengan kesadaran diri yang tinggi. berdasarkan pemikiran ini maka mahasiswa pgsd harus dipersiapkan untuk memiliki kemampuan verbal yang baik agar model pembelajaran peer-teaching untuk meningkatkan ... (rubino rubiyanto) 133 setelah menjadi guru dapat melaksanakan pembelajaran secara optimal. uzer usman (2001:88) memberikan menjelaskan, kemampuan verbal ialah kemampuan untuk menyajikan informasi secara lisan yang diorganisir secara sistematis untuk menunjukkan hubungan yang satu dengan yang lain. model pembelajaran yang mengembangkan kemampuan verbal hendaknya tidak selalu dikonotasikan dengan model ceramah, tetapi setiap metode yang dalam prosesnya memberikan kebebasan kepada mahasiswa (peserta didik) agar mengelola kemampuan verbal, sehingga akhirnya ia memiliki suatu ketrampilan komunikasi secara lisan kepada peserta didiknya. model pembelajaran inovatif yang sekarang sedang dikembangkan oleh para praktisi pendidikan (guru) kemampuan verbal para guru semakin tergeser dari sebagai sumber pengetahuan ke fasilitator. artinya guru yang semula difungsikan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang selalu menggunakan metode ceramah (kemampuaan verbalnya) semakin dibatasi. secara tersirat ini berarti bahwa model pembelajaran inovatif peran guru untuk menerangkan materi ajar semakin berkurang. sebaliknya aktivitas calon guru (mahasiswa) untuk menguasai materi semakin dikembangkan. hal ini bisa berarti bahwa dengan pembelajaran inovatif komunikasi verbal calon guru kurang optimal dalam pengembangnnya. tetapi bukan berarti kemampuan verbal calon guru tidak dikembangkan. atau dapat dikatakan pengembangan komunikasi sciencenya lebih besar daripada komunikasi verbalnya tuntutan kompetensi ini dapat dipahami mengingat sebagian besar komunikasi guru dengan peserta didiknya melalui komunikasi lisan (verbal). dengan komunikasi verbal yang tinggi diharapkan pembelajaran aktif interaktif dapat terwujud sehingga murid memiliki hasil belajar yang tinggi. mahasiswa adalah sosok manusia yang sedang mengalami perubahan, yaitu transisi psikologis, intelektual, dan sosial (amin abdullah, 2006 : viii). secara psikologis mereka mengalami perubahan dari ciri kejiwaan yang belum sepenuhnya mandiri kepada kejiwaan orang dewasa yang mandiri. secara intelektual mereka berubah dari model pembelajaran instruktif dan reseptif yang berpusat pada guru di sekolah menuju model pembelajaran di perguruan tinggi (pt) yang merepresentasikan pembelajaran self directed yang bertumpu pada kemampuan self untuk mengakses dan mengolah sumber informasi belajar, mengevaluasi secara kritis menjadikan panduan riil dalam kehidupan di kampus. dikaitkan dengan fungsi pgsd fkip sebagai salah satu lptk penghasil calon guru di tingkat dasar maka out-put (lulusan) hendaknya memiliki salah satu kompetensi yang disyaratkan sebagai guru yaitu kemahiran berkomunikasi verbal /lisan dalam konteks pembelajaran. akibat dari pembelajaran yang instruktif dan reseptif dan memperlakukan siswa sebagai objek di atas sangat dirasakan di pt pada kelas-kelas pemula (semester 1) mereka sangat pasif dalam merespon materi ajar, mereka memiliki kemampuaan verbal yang rendah. lebih 5 tahun peneliti mengampu mata kuliah landasan kependidikan (semester 1) layanan bimbingan konseling di sekolah (semester 2) pada mahasiswa s1 pendidikan matematika, serta akhir-akhir ini terlibat pada program studi pgsd ternyata aktivitas mahasiswa dalam merespon materi kuliah, dalam meningkatkan kemampuan verbalnya sangat rendah. rendahnya respon ini ditunjukkan misalnya: “dalam perkuliahan mahasiswa jarang bertanya, jika diberi kesempatan bertanya sering tidak digunakan, jarang terjadi komunikasi intructional secara lisan antar mahasiswa, kecenderungan mencatat materi (bukan memahami) masih sangat tinggi”. dengan tidak menaruh rasa suudzon pada guru – guru sma fenomena rendahnya respon maupun partisipasi mahasiswa ini antara lain disebabkan karena proses pembelajaran di sma banyak menggunakan strategi reseptif, banyak ceramah, memperlakukan siswa profesi pendidikan dasar, vol. 2, no. 1, desember 2014: 132-140134 sebagai objek. para guru kurang melatih siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. untuk mengatasi permasalahan di atas serta meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa s1 pgsd peneliti mengajukan suatu solusi dengan menerapkan model pembelajaran peer-teaching. peer-teaching adalah model pembelajaran sesama teman, artinya salah satu temannya sendiri berfungsi menyampaikan materi ajar kepada teman yang lain. dalam peer-teaching mahasiswa akan aktif belajar dalam kelompok kecil. bersama teman kelompoknya masingmasing mahasiswa mengembangkan diri melalui interaksi kelompok kecil. ada beberapa model peer-teaching, antara lain, a) group-to group exchange, b) jigsaw, c) everyone is a teacher here, d) peer-lesson, e) student-created case study, f) in the new, g) poster session (mel silberman, 2005). peerteaching adalah suatu model pembelajaran dimana antar mahasiswa saling membelajarkan temannya sendiri, mereka terlibat dalam suatu interaksi edukatif, diskusi untuk menguasai materi kuliah, menyampaikan kepada kelompoknya, menjawab pertanyaan dari teman sekelompoknya. aktivitas pembelajaran teletak pada mahasiswa, peran dosen dalam hal ini sekedar sebagai fasilitator / mengatur bagaimana kondisi ini dapat berlangsung. lie (2005:28) menyebut model pembelajaran yang demikian sebagai model pembelajaran kooperatif atau gotong royong. model ini memiliki landasan filosofis manusia sebagai homo homini lupus, dimana kerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting demi keberlangsungan kehidupannya. tanpa kerja sama dengan orang lain / teman maka setiap tujuan tidak akan dapat terwujud. mel silberman (2005:175) mengatakan “teaching is the highest form of understanding. they believe that a subject is truly mastered when a learner is able to teach it to someone else. peer teaching gives participans the opportunity to learn something well and at the same time to become resources for one another”. selanjutnya dijelaskan juga bahwa model pembelajaran peer-teaching terdiri dari beberapa model, antara lain, “ group-to group exchange, jigsaw learning, everyone is a teacher here, peer lessons, participant created case studies, poster session” (silberman. 2005: 175-189). asumsi yang melandasi adalah pertama, asumsi filosofis pendidikan. pendidikan merupakan usaha sadar mengembangkan manusia menuju kedewasaan, baik dewasa intelektual, sosial maupun moral. kedua, asumsi tentang peserta didik sebagai subjek didik, antara lain (a) peserta didik (mahasiswa) adalah individu yang mampu mengembangkan dirinya sendiri, (b) setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda, (c) individu pada dasarnya makluk aktif, kreatif, dinamik, (d) individu memiliki motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. asumsi ini menggambarkan bahwa mahasiswa adalah subjek belajar, memiliki potensi berkembang. ketiga, asumsi tentang proses pembelajaran, bahwa, (a) pembelajaran merupakan suatu system, (b) guru memiliki kemampuan professional dalam pembelajaran, (c) guru mempunyai kode etik, (d) guru berperan sebagai pemimpin / fasilitator dalam pembelajaran. dalam pandangan psikologi modern belajar bukan hanya menghafal sejumlah materi atau informasi tetapi proses mental, proses berpengalaman, sehingga setiap pembelajaran menuntut keterlibatan intelektual-emosional untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, pengalaman langsung dalam membentuk ketrampilan (motorik, kognitif, afektif, sosial). berdasar uraian di atas penelitian ini akan mengembangkan model pembelajaran peerteaching dengan memilih pendekatan jigsaw learning, dimana model ini 90 % proses aktivitasnya terletak pada mahasiswa, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa. model pembelajaran peer-teaching untuk meningkatkan ... (rubino rubiyanto) 135 dipilihnya strategi pembelajaran jigsaw karena strategi pembelajaran ini menekankan perilaku bersama di antara semua mahasiswa dan melatih setiap mahasiswa mampu membelajarkan diri sendiri dalam kelompok kecil dalam belajar berkomunikasi lisan sesama teman (peer-teaching). beberapa unsur pembelajaran jigsaw ialah: 1) adanya saling kerjasama, 2) adanya tanggung jawab secara perseorangan, 3) adanya tatap muka di antara anggota, 4) adanya komunikasi lisan melalui presentasi tugas semua anggota, 5) adanya saling evaluasi dalam proses kelompok (anita lie.2005:31). dikemukakan oleh zaini, dkk (2007: 59) strategi jigsaw merupakan strategi yang dapat melibatkan seluruh mahasiswa dan sekaligus mengajarkannya kepada temannya sendiri. dengan kata lain jigsaw merupakan model peerteaching dimana antar mahasiswa terlibat dalam pembicaraan materi kuliah. mahasiswa progdi pgsd adalah calon guru sd, mereka dituntut untuk mengembangkan kemampuan verbalnya, oleh karena itu dengan penerapan jigsaw mahasiswa dilatih untuk belajar mengkomunikasikan materi ajar kepada sesama teman secara lisan. ada beberapa penelitian yang pernah dilakukan para pendahulu, antara lain dari suparno (1996) dalam cakrawala pendidikan, yang meneliti kemahiran komunikasi lisan dalam konteks instruksional guru sd jawa timur, menyimpulkan, 1) kemampuan komunikasi lisan guru sd di kota berbeda dengan guru sd di desa, 2) kemahiran komunikasi lisan guru sd khususnya di desa masih harus ditingkatkan melalui pelatihan khusus dalam wadah kkg. penelitian rubino rubiyanto (2005) menyimpulkan bahwa dengan implementasi motivasi dalam pembelajaran matematika sd kelas 5 dapat meningkatkan 60 % aktivitas bertanya para siswa. pada putaran ketiga dari jumlah 20 siswa, mencapai 15 siswa yang bertanya, sedang jika dibarengi dengan pemberian hadiah maka aktivitas bertanya meningkat hampir 90 %. penelitian ning setyaningsih (2006) menunjukkan bahwa dengan implementasi rme dalam pembelajaran matematika akan terjadi peningkatan partisipasi siswa sd dalam proses pembelajaran matematika. rumusan masalah yang diajukan dalam penbelitian ini ialah: “apakah penerapan model pembelajaran peer-teaching dapat meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa pgsd ?” searah dengan rumusan masalah ini maka tujuan penelitian adalah: (1) meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa dengan model pembelajaran peer-teaching, (2) meningkatkan ketrampilan dosen dalam penguasaan strategi pembelajaran peer-teaching, (3) meningkatkan produktivitas penelitian dosen. metode penelitian penelitian ini dilakukan pada mahasiswa pgsd fkip ums. secara purposif random sampling dipilih kelas 5 b yang berjumlah 51 mahasiswa sebagai subjek penelitian. objek penelitian nya adalah kemampuan verbal mahasiswa dalam mata kuliah penelitian pendidikan. data dikumpulkan dengan metode dokumentasi, pedoman observasi. dokumentasi untuk memperoleh nama mahasiswa, prestasi akhir mahasiswa. pedoman observasi dipergunakan untuk mengetahui perkembangan aktivitas mahasiswa terutama dalam mengembangkan kemampuaan verbal (berdiskusi, presentasi tugas, keseriusan, komunikasi interaktif, cara menjawab pertanyaan). data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif. penelitian ini termasuk penelitian yang bertujuan memperbaiki dan mengembangkan kemampuan verbal mahasiswa. penelitian yang bercorak demikian dapat dikategorikan jenis penelitian ptk walaupun tidak 100 % ptk, ada yang memberikan nama penelitian peningkatan profesi pendidikan dasar, vol. 2, no. 1, desember 2014: 132-140136 mutu pembelajaran (ppmp). yang jelas penelitian ini dilaksanakan berdasarkan pada suatu permasalahan nyata di dalam kelas. permasalahan tersebut digali secara analisis kritis berdasar pengalaman nyata dalam suatu proses pembelajaran. prosedur pemecahan masalah dilakukan dengan implementasi suatu model / strategi pembelajaran yang telah direncanakan, dilakukan secara berulang, diobservasi secara teliti dan cermat oleh observer. oleh karena itu penelitian ini dilakukan secara kolegial, peneliti utama sebagai pelaksana tindakan, dibantu mahasiswa terpilih sebagai observer. hasil observasi didiskusikan secara kolaboratif antara peneliti utama dan anggota. model yang dipilih dilakukan secara berulang untuk meningkatkan dan memperbaiki perilaku dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran. secara umum indikator kinerja dalam penelitian ini ialah diperoleh salah satu model pembelajaran peer-teaching yang secara optimal dapat meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa khususnya dalam mata kuliah penelitian pendidikan. secara khusus indikator kinerja dapat dilihat dari aspek dosen dan mahasiswa. dari aspek dosen dapat dilihat dari terselenggaranya model pembelajaran peerteaching, sedang dari aspek mahasiswa dapat dilihat dari peningkatan kemampuan verbal mahasiswa. secara diagramatik dapat diilustrasikan pada tabel berikut: tabel 1. indikator kinerja keberhasilan no indikator kinerja pada aspek awal penelitian akhir penelitian 1 kemampuan mahasiswa a. antusiasisme mahasiswa dalam menyelesaikan tugas b. aktivitas mahasiswa dalam menjelaskan materi terhadap teman c. kelancaran mahasiswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan yang berasal dari sesama teman. d. interaksi sesama mahasiswa dalam kelompoknya belum ada data belum ada data belum ada data belum ada data 70 % dari jumlah mahasiswa. 70 % dari jumlah mahasiswa 70 % dari jumlaah mahasiswa 70 % dari jumlah mahasiswa 2 aktivitas dosen belum ada data terselenggaranya model pembelajaran peer-teaching dengan pendekatan jigsaw yang baik. 3 nilai ujian tengah semester mahasiswa belum ada data nilai ujian tengah semester, 70 % dari jumlah mahasiswa memperoleh nilai b hasil dan pembahasan di dalam proses pembelajaran siswa / mahasiswa merupakan pihak yang akan berkembang, meraih cita-cita, siswa / mahasiswa menjadi faktor penentu yang harus mencapai tujuan pembelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran siswa / mahasiswa harus aktif, mahasiswa yang harus diutamakan untuk melakukan proses, untuk melakukan kegiatankegiatan pokok dalam menguasai materi ajar, pendek kata mahasiswa harus memiliki aktivitas model pembelajaran peer-teaching untuk meningkatkan ... (rubino rubiyanto) 137 yang optimal. guru (dosen) memiliki peran yang penting dalam menentukan tinggi rendahnya aktivitas siswa / mahasiswa dalam pembelajaran termasuk pengembangan kemampuan verbal sesama mahasiswa dalam konteks instruksional. karena itu dosen harus menyusun teaching plan untuk meningkatkan berbagai aktivitas dan kemampuan mahasiswa termasuk satu di antaranya kemampuan verbal. hasil penelitian dapat diringkas dalam tabel berikut: tabel 2. ringkasan hasil peningkatan kemampuan verbal mahasiswa no aspek kemampuan verbal putaran 1 putaran 2 putaran 3 1 antusias mahasiswa dalam menyelesaikan tugas tinggi 2 sedang 32 rendah 17 tinggi 6 sedang 40 rendah 5 tinggi 9 sdang 42 rendah 0 2 aktivitas mahasiswa dalam menjelaskan materi kuliah tinggi 2 sedang 42 rendah 7 tinggi 8 sedang 38 rendah 5 tinggi 8 sedang 43 rendah 0 3 kelancaran mahasiswa dalam bertanya daan menjawab tinggi 3 sedang 31 rendah 17 tinggi 10 sedang 39 rendah 2 tinggi 14 sedang 37 rendah 0 4 interaksi sesama mahasiswa dalam kelompok tinggi 0 sedang 47 rendah 4 tinggi 5 sedang 45 rendah 1 tinggi 8 sedang 43 rendah 0 dari tabel di atas dapat dikemukakan beberapa keterangan, antara lain; 1. dalam perencanaan dosen telah menyusun rpp sebagai pedoman pembelajaran. materi yang dipilih adalah (a) masalah, (b) sumber masalah, (c) teknik merumuskan masalah, (d) bentuk rumusan masalah, (e) hakekat variabel, (f) hubungan antar variabel, (g) macam variabel, (h) variabel dalam penelitian. 2. berdasar ringkasan hasil pada tabel 1 di atas dapat dikemukakan, a. pada aspek antusias mahasiswa dalam menyelesaikan tugas dari putaran pertama sampai putaran ketiga sudah tersebar dalam 3 tingkatan ialah tataran rendah 17 orang, menurun menjadi 5 orang, menurun lagi menjadi 0 orang. kelompok sedang dari 32 orang menjadi 40 orang, meningkat lagi menjadi 42 orang. kelompok tinggi bermula hanya 2 orang meningkat menjadi 6 orang, meningkat lagi menjadi 9 orang mahasiswa. peningkatan ini dapaat dipahami dari berkurangnya kelompok rendah bergeser ke sedang dan kelompok sedang bergeser kekelompok tinggi. dari data ini berarti antusias mahasiswa dalam menyelesaikan tugas mengalami peningkatan yang signifikan. b. pada aspek aktivitas menjelaskan materi sesama mahasiswa, dari putaran pertama hingga putaran ketiga dapat dikemukakan bahwa kelompok rendah semula 7 orang mahasiswa, menurun menjadi 5 orang mahasiswa dan menurun lagi menjadi nol (kosong). pada kelompok sedang dari 42 orang menurun menjadi 38 orang, bahkan bergeser lagi menjadi 43 orang karena adanya peningkatan dari kelompok rendah. pada kelompok tinggi bermula 2 orang profesi pendidikan dasar, vol. 2, no. 1, desember 2014: 132-140138 bergeser menjadi 8 orang dan tetap pada posisi 8 orang mahasiswa. hal ini nampak terjadinya peningkatan aktivitas mahasiswa dalam menjelaskan materi. c. pada aspek kelancaran dalam bertanya dan menjawab pertanyaan dari putaran pertama hingga putaran ketiga dapat dikemukakan, bahwa pada kelompok rendah semula 17 orang, menurun menjadi 12 orang menurun lagi menjadi 0 mahasiswa. pada kelompok sedang bermula 31 orang, mengalami peningkatan menjadi 39 orang dan ada sebagian yang meningkat, tetapi pada posisi sedang tetap ada tambahan dari posisi rendah meningkat ke posisi sedang sehingga jumlahnya tetap 37 orang mahasiswa. pada posisi tinggi dari 3 orang meningkat menjadi 10 orang, meningkat lagi menjadi 14 orang. berarti aspek kelancaran menjawab dan bertanya mengalami peningkatan. d. pada aspek interaksi sesama mahasiswa dalam kelompok, dari putaran pertama hingga putaran ketiga pada posisi rendah bermula 4 orang, menurun tinggal 1 orang dan terakhir menduduki posisi nol mahasiswa. pada posisi sedang mengalami pergeseran kurang berarti, dari angka 47 menurun ke 45 orang, bergeser lagi ke angka 43. pada posisi tinggi dari 0 mahasiswa meningkat menjadi 5 orang mahasiswa, meningkat lagi menjadi 8 mahasiswa. hal ini dapat dipahami bahwa aspek interaksi sesama mahasiswa terjadi peningkatan. e. dari keempat aspek keberanian bertanya semuanya mengalami pergeseran kearah meningkat. hal ini berarti kemampuan verbal mahasiswa terjadi peningkatan. dari keempat peningkatan tersebut dapat didiagramkan sebagai berikut; f. untuk mengetahui lebih jelas perubahan dari siklus ke siklus diagram di atas dapat diperjelas lagi dalaam tabel di bawah ini: 0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 m otivasi m enjelas bertanya interaksi siklus 1 siklus 1 siklus 2 siklus 3 tabel 3. hasil pengamatan kegiatan mahasiswa pada saat proses pembelajaran no aspek yg diamati siklus 1 siklus 2 siklus 3 1 antusias mahasiswa dalam menyelesaikan tugas rendah sedang baik 2 aktivitas mahasiswa dalam menjelaskan materi sedang baik baik 3 kelancaran mahasiswa dalam bertanya dan menjawab rendah baik baik sekali 4 interaksi sesama mahasiswa baik baik baik sekali 3. hasil evaluasi ujian tengah semester. sebagai keberhasilan peningkatan verbal diharapkan skore perolehan ujian tengah semester memperoleh skor b = 70 %. berdasar hasil koreksi ujian tengah semester diperoleh sebaran skor mahasiswa seperti di bawah ini: model pembelajaran peer-teaching untuk meningkatkan ... (rubino rubiyanto) 139 simpulan dan saran simpulan simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini antara lain; 1. pembelajaran peer-teaching dapat meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa dari 14 % pada putaran 1 menjadi 44 % pada putaran 2 dan menjadi 78 % pada putaran 3. 2. seiring dengan peningkatan tersebut jika ditinjau dari kondisi rendahnya kemampuan verbal mahasiswa mengalami penurunan dari 90 % (putaran 1) menurun menjadi 32 % (putaran 2) dan menurun lagi menjadi 0 % (putaran 3) 3. pembelajaran peer-teaching dapat mempengaruhi kenaikan skor ujian tengah semester (nilai 70 dapat dicapai.) saran dari kesimpulan di atas dapat dikemukakan saran kepada para dosen, dalam pembelajaran hendaknya menggunakan model pembelajaran peer-teaching, karena peer-teaching ada beberapa model maka dosen harus memilih strategi yang cocok / tepat, sesuai dengan materi yang akan dibahas. tabel 4. skor perolehan nilai ujian tengah semester 2009 skore jumlah mahasiswa prosentasi 4 2 3,92 % 3 38 74,51 % 2 10 19,61 % 1 1 1,96 % daftar pustaka amin abdulah. 2006. sosialisasi pembelajaran bagi mahasiswa baru uin sunan kalijaga. yogyakarta: uin sunan kalijaga. anita lie. 2005. cooperative learning. edisi ke 4. jakarta: grasindo. hisyam zaini, bermawy munthe, sekar ayu aryani. 2007. strategi pembelajaran aktif. yogyakarta: ctsd uin sunan kalijaga. mel silberman-2nd ed. 2005. 101 ways to make training active. printed in the united states of america. rubino,r dan tugiyat budiyono. 2005. penerapan motivasi dan pujian pada pembelajaran matematika untuk mengembangkan keberanian bertanya murid kelas 5 sd muhammadiyah gendol vii klangkapan. (laporan ptk, tidak diterbitkan) lppm ums. profesi pendidikan dasar, vol. 2, no. 1, desember 2014: 132-140140 suparno. 1996. tingkat kemahiran berkomunikasi lisan dalam konteks instruksional guru sd di jawa timur. jurnal penelitian pendidikan dasar.no.1 th, ke 1.1996. p. 63-75. yogyakarta. ikip yogyakarta. uzer usman.2001.menjadi guru profesional (edisi 2). bandung: remaja rosda karya. paper title (use style: paper title) pengaruh metode tutor......(jumanto & ema) 28 jppd, 5, (1), hlm. 28 36 vol. 5, no. 1, juli 2018 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.5372 pengaruh metode tutor sebaya berbasis video youtube terhadap sikap kemandirian belajar mahasiswa pgsd unisri jumanto1), ema butsi prihatsari2) program studi pendidikan guru sekolah dasar universitas slamet riyadi surakarta 1antokarof@gmail.com; 2butsinegara@gmail.com pendahuluan kualitas pembelajaran yang baik dapat diupayakan dengan berbagai cara. diantaranya adalah dengan memilih metode pembelajaran yang tepat. pemilihan metode pembelajaran oleh pendidik tentunya berpengaruh pada setiap aspek pembelajaran. sesuai dengan permen no 44/2015 tentang sn-pt pembelajaran di perguruan tinggi harus lebih terpusat pada siswa atau student centered learning (scl). sehingga diperlukan pemilihan metode yang tepat agar dapat mengoptimalkan tingkat kemandirian mahasiswa dalam belajar. berdasarkan hasil pengamatan yang peneliti lakukan pada mahasiswa semester v pgsd fkip unisri di tahun ajaran 2016/2017, diketahui bahwa mahasiswa belum memiliki kemandirian belajar. hal ini terlihat dari ketidaksiapan mahasiswa dalam melanjutkan materi perkuliahan, karena mahasiswa belum mempelajari materi yang akan dibahas. bahkan penugasan yang diberikan peneliti untuk membaca dan mempelajari materi tidak dilakukan dengan baik. sebagian besar mahasiswa tidak mempelajarinya bahkan sebagian lupa dengan tugas tersebut. abstract: the aims of this research was to determine: (1) difference of attitude of self-reliance learning of pgsd unisri students between before and after using peer tutor based on youtube videos method and (2) effectiveness of using peer tutor based youtube videos method toward independence attitude of pgsd student of unisri. the data of this research are primary data, obtained from questionnaire and documentation. this research is an experimental research. this research used one group pretes posttes design. population in the study were all students of pgsd unisri academic year 2016/2017. sampling technique used in this research is purposive sampling. instrument validity is tested by means of construct validity. data were analyzed by t-test and ngain test. t test results obtained sig (2-tailed) of 0,000 whose value is less than 0.05. this means rejecting ho and it can be concluded that there is a significant difference in the attitude of learning independence before and after using peer tutor based youtube videos methods. result of calculation with n-gain that is equal to 0,734 which means effectiveness of using peer tutor based youtube videos method in improving attitude of independence learn at high criterion. keywords: peer tutor, video, attitudes of learning independence https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.5372 mailto:antokarof@gmail.com pengaruh metode tutor......(jumanto & ema) 29 jppd, 5, (1), hlm. 28 36 kemandirian mahasiswa untuk mempelajari materi perkuliahan secara individu sangat penting agar proses belajar berjalan dengan optimal. ahmadi dan uhbiyati (dalam husein, 2013: 12) kemandirian belajar adalah belajar mandiri, tidak menggantungkan diri kepada orang lain, siswa dituntut untuk memiliki keaktifan dan inisiatif sendiri dalam belajar, bersikap, berbangsa, maupun bernegara. sikap kemandirian belajar ini sangat dibutuhkan oleh setiap peserta didik dalam proses pembelajaran. sedangkan menurut brookfield (dalam husein, 2013: 13) kemandirian belajar merupakan kesadaran diri, digerakkan oleh diri sendiri, kemampuan belajar untuk mencapai tujuannya. peserta didik yang memiliki sikap kemandirian belajar, maka ia akan merencanakan proses belajarnya sendiri dan mengevaluasi belajarnya. pengembangan potensi diri siswa akan berjalan dengan efektif apabila seorang mampu menggunakan model dan media mengajar yang tepat (sulistyaningrum, 2017: 154). pengembangan potensi diri berupa kemandirian mahasiswa agar terlatih dan mempunyai kebiasaan melakukan tindakan yang baik serta dapat mengatur setiap tindakannya sehingga mahasiswa mempunyai kedisiplinan dalam proses belajar. dalam pembelajaran, kemandirian sangat dibutuhkan agar mahasiswa mempunyai tangungjawab dalam mengatur dan mendisiplinkan dirinya, selain itu dalam mengembangkan kemampuan belajar atas kemauan sendiri. kemandirian ini menekankan pada aktivitas dalam belajar yang penuh tanggungjawab sehingga mampu mencapai hasil belajar yang baik. kemandirian mahasiswa dapat dilatih menggunakan suatu model pembelajaran yang terencana dan terukur dengan baik, dan dalam penelitian ini akan diberikan model pembelajaran tutor sebaya. joyce dan weil (1980: 2) mendefinisikan model pembelajaran adalah sebagai suatu pola atau strategi yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran dan memberi petunjuk pada guru di dalam kelasnya. istilah model pembelajaran mencakup suatu pendekatan pembelajaran yang lebih luas dan menyeluruh. pendapat tersebut sejalan dengan chen (2010: 6) yang menyatakan bahwa “tutor sebaya merupakan bimbingan, bantuan belajar oleh teman sebaya kepada peserta didik yang kurang dalam pemahaman materi secara sistematis untuk memahami materi. menurut kusdiono (taswadi, 2012: 11) bahwa tutor adalah seorang/beberapa orang peserta didik yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar. model pembelajaran tutor sebaya dirasakan sangat bermanfaat sebagai alternatif pengganti pembelajaran konvensional dalam kelas besar di mana guru dapat memberikan bantuan secara maksimal kepada peserta didiknya dengan bantuan tutor selama proses pembelajaran berlangsung. hal ini sejalan dengan pendapat arjanggi dan suprihatin (2010: 92) yang menyatakan bahwa “metode pembelajaran tutor teman sebaya mempunyai kontribusi sebesar 17,4 persen dalam upaya meningkatkan hasil belajar berdasar regulasi diri pada mahasiswa”. selain itu penggunaan model pengaruh metode tutor......(jumanto & ema) 30 jppd, 5, (1), hlm. 28 36 pembelajaran tutor sebaya juga dapat meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar peserta didik. hal ini sejalan dengan pendapat maryani (2010: 23) yang menyatakan bahwa terdapat peningkatan keaktifan dan prestasi belajar akuntansi melalui penerapan metode pembelajaran tutor sebaya. penelitian yang dilakukan oleh lysynchuk, et al, 1992; palinsar & brown, 1984; rosenshine & meiser, 1992; slavin, 2008; (dalam wawan, 2012) secara umum menemukan pengaruh positif dari penggunaan metode tutor sebaya. demikian juga penelitian supardi, 2009; laila, 2009; sobarningsih, 2008; irawan, 2008; mulyati, 2007; suwanda, 2008; suyuti, 2008 (dalam wawan, 2012), yang secara umum menyimpulkan bahwa model tutor sebaya dapat meningkatkan pemahaman, penguasaan konsep, kreativitas, komunikasi dan gairah belajar siswa dibanding dengan pembelajaran konvensional. azhar (2011: 49) menyatakan bahwa video merupakan gambar-gambar dalam frame, di mana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar hidup. video merupakan salah satu jenis media audio-visual dan dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. video menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep, mengajarkan keterampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu, dan mempengaruhi sikap. youtube adalah situs berbagai video yang paling popular saat ini. tentu saja video tidak dengan sendirinya menjadi bahan pembelajaran yang siap pakai. perencanaan yang matang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan pengintegrasian video-video yang tersedia di youtube sebagai sarana pendukung akan mengoptimalkan capaian pembelajaran karena sesuai dengan gaya belajar dan minat generasi digital. menurut sebuah survey, sekitar 100.000 video ditonton setiap harinya di youtube. setiap 24 jam ada 65.000 video baru diunggah ke youtube. setiap bulannya youtube dikunjungi 20 juta penonton dengan mayoritas kisaran usia antara 12-17 tahun (burke, snyder, & rager, 2009). youtube bisa menjadi sumber belajar dan media pembelajaran yang bisa memenuhi tuntutan kebutuhan generasi digital. youtube bisa meningkatkan minat dan mendukung gaya belajar generasi digital. youtube juga menawarkan pengalaman pembelajaran dengan teknologi yang baru yang akan berguna saat mereka lulus (burke, snyder, & rager, 2009). selain itu youtube juga menyediakan ratusan ribu video dengan berbagai ragam topic yang bisa diintegrasikan dalam pembelajaran di kelas. youtube juga akan menjadi perpustakaan video gratis yang sangat luas bagi pembelajar yang akan mendorong mereka menjadi pembelajar yang mandiri. terkait berbagai masalah di atas, maka diperlukan adanya penelitian lebih lanjut untuk menguji pengaruh suatu metode pembelajaran terhadap sikap kemandirian belajar mahasiswa. dalam hal ini peneliti akan menguji pengaruh metode pembelajaran tutor pengaruh metode tutor......(jumanto & ema) 31 jppd, 5, (1), hlm. 28 36 sebaya berbasis video youtube terhadap sikap kemandirian mahasiswa dalam belajar. metode tutor sebaya berbasis video youtube yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah mahasiswa ditugaskan untuk menjadi tutor melalui media internet atau dengan kata lain mahasiswa berperan sebagai tutor yang menjelaskan salah satu materi perkuliahan dalam bentuk video dan selanjutnya diunggah di internet dan mahasiswa yang lain memberikan tanggapan maupun pertanyaan yang terkait materi tersebut. metode penelitian penelitian ini berjenis quasi eksperimen menggunakan pretest postes design. populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa pgsd fkip unisri tahun akademik 2016/2017 yang berjumlah 114 mahasiswa, dan kemudian dilakukan simple random sampling dihasilkan sampel berjumlah 30 mahasiswa. teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket dan dokumentasi. teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah mengunakan uji-t dengan taraf signifikansi 5% yang dilakukan menggunakan aplikasi spss versi 21.00. sedangkan untuk menguji efektivitas tutor sebaya berbasis video youtube diuji menggunakan uji n-gain. hasil dan pembahasan data dalam penelitian ini diperoleh dari mahasiswa prodi s1 pgsd unisri semester ii kelas 01 dengan jumlah 30 mahasiswa. data yang diperoleh meliputi: nilai sikap kemandirian belajar mahasiswa pgsd unisri antara sebelum dan sesudah menggunakan pembelajaran dengan metode tutor sebaya berbasis video youtube. perbandingan hasil antara sebelum dan sesudah menggunakan pembelajaran dengan metode tutor sebaya berbasis video youtube, disajikan dalam tabel 1 dan gambar 1. tabel 1. distribusi frekuensi sikap kemandirian belajar mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan metode tutor sebaya berbasis video youtube. interval sebelum ukuran pemusatan penyebaran sesudah ukuran pemusatan penyebaran fi frek. relatif fi frek. relatif 91-120 0 00,00 x =59,9 me = 58,5 mo = 58 s = 5,58 29 97,00 x =104,03 me=104,5 mo = 103 s = 5,70 61-90 14 47,00 1 3,00 31-60 16 53,00 0 00,00 0-30 0 00,00 0 00,00 jumlah 30 100,00 30 100,00 pengaruh metode tutor......(jumanto & ema) 32 jppd, 5, (1), hlm. 28 36 data sikap kemandirian belajar mahasiswa diperoleh dari instrumen yang dibuat berupa angket yang digunakan untuk mengukur sikap kemandirian belajar mahasiswa. gambar 1. grafik sikap kemandirian belajar mahasiswa sebelum menggunakan pembelajaran dengan metode tutor sebaya berbasis video youtube gambar 2. grafik sikap kemandirian belajar mahasiswa sesudah menggunakan pembelajaran dengan metode tutor sebaya berbasis video youtube hipotesis pertama menyatakan “ada perbedaan sikap kemandirian belajar mahasiswa pgsd unisri antara sebelum dan sesudah menggunakan pembelajaran dengan metode tutor sebaya berbasis video youtube”. untuk mengujinya menggunakan uji paired sample t-test dengan bantuan program spss versi 21. hasil dari uji t berpasangan terlihat bahwa rata-rata perbedaan sikap kemandirian belajar sebelum dan sesudah menggunakan metode tutor sebaya berbasis video youtube adalah sebesar 49,01. artinya ada peningkatan sikap kemandirian belajar. hasil perhitungan nilai ”t” adalah sebesar – 49,01 dengan sig (2-tailed) sebesar 0,000 yang nilainya kurang dari 0,05. hal ini berarti menolak h0 dan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan sikap kemandirian belajar sebelum dan sesudah menggunakan metode tutor sebaya berbasis video youtube. pengaruh metode tutor......(jumanto & ema) 33 jppd, 5, (1), hlm. 28 36 hipotesis kedua tentang efektifitas metode tutor sebaya yang dianalisis menggunakan rumus n-gain diperoleh angka sebesar 0,734 yang artinya keefektifan dari penggunaan metode tutor sebaya berbasis video youtube dalam peningkatan sikap kemandirian belajar pada kriteria tinggi. berdasarkan hasil perhitungan di atas diketahui bahwa ada perbedaan signifikan mengenai kemandirian belajar mahasiswa antara sebelum dan sesudah menggunakan metode tutor sebaya berbasis video youtube. hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan fitriani (2013) yang mengkaji tentang peningkatan kemandirian dan hasil belajar matematika bagi siswa smp negeri 1 polanharjo kelas viib semester genap tahun ajaran 2012/2013 melalui strategi pembelajaran metakognitif berbasis tutor sebaya. penerapan metode tutor sebaya berbasis video youtube dalam pembelajaran menjadikan siswa lebih antusias mengikuti pelajaran, lebih terampil dalam mencari sumber belajar serta mengerjakan tugas dan sikap kemandirian belajar siswa meningkat secara signifikan. pembelajaran menggunakan metode tutor sebaya berbasis video youtube adalah salah satu cara yang dapat memicu sikap kemandirian belajar mahasiswa yang tidak hanya menerima materi dari dosen tetapi berinisiatif dalam pencarian materi-materi perkuliahan, melakukan diskusi ilmiah yang intensif dengan teman dan mempresentasikan hasilnya dalam sebuah video. hasil pembelajaran dengan nuansa diskusi kelompok dengan teman sebaya memiliki pengaruh yang positif untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa, sebagaimana hasil penelitian satrianawati (2015: 141-147) yang menguji metode diskusi kelompok menggunakan maindmap berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa.. kondisi sikap kemandirian belajar memang harus dibentuk, adapun yang menjadi faktor yang berpengaruh dalam kemandirian belajar seperti yang disampaikan syam (dalam husein, 2013: 19) ada dua faktor yang mempengaruhi kemandirian belajar yaitu: 1) faktor internal dengan indikator tumbuhnya kemandirian belajar yang terpancar, yang meliputi sikap bertanggung jawab untuk melaksanakan apa yang dipercayakan dan ditugaskan, kesadaran hak dan kewajiban siswa disiplin moral yaitu budi pekerti yang menjadi tingkah laku, kedewasaan diri mulai konsep diri, motivasi sampai berkembangnya pikiran, karsa, cipta, karya, kesadaran mengembangkan kesehatan rohani dan kekuatan jasmani dan disiplin diri dengan mematuhi tata tertib yang berlaku, sadar hak dan kewajiban. 2) faktor eksternal sebagai pendorong kedewasaan dan kemandirian belajar yang meliputi potensi jasmani rohani yaitu tubuh yang sehat dan kuat dan lingkungan hidup dan sumber daya alam. keefektifan penggunaan metode tutor sebaya berbasis video youtube dalam peningkatan kemandirian belajar masuk dalam kriteria tinggi. hal ini dikarenakan dalam pembelajaran menggunakan metode tutor sebaya berbasis video youtube pengaruh metode tutor......(jumanto & ema) 34 jppd, 5, (1), hlm. 28 36 menjadikan mahasiswa melakukan beberapa tahapan kegiatan yang dapt mengaktifkan dan membuat mereka mandiri. tahapan kegiatan itu adalah: 1. mahasiswa harus mengetahui materi yang menjadi tugasnya 2. mahasiswa harus mencari sumber belajar sendiri materi menjadi tugasnya 3. mahasiswa harus berusaha memahami materi yang menjadi tugasnya. 4. mahasiswa harus mempresentasikan materi tersebut tetapi dalam wujud video. dalam pembuatan video tersebut tentunya perlu persiapan dan pelaksanaan yang matang. 5. mahasiswa harus menanggapi pertanyaan dari teman-temannya terkait dengan materi yang menjadi tugasnya dari banyaknya tahapan yang harus dilakukan mahasiswa tersebut sehingga menjadikan mahasiswa lebih mandiri. dalam hal ini dosen hanya sebagai fasilitator yang fungsi utamanya menjamin kegiatan mahasiswa berjalan, memperbaiki kesalahan siswa dalam presentasinya, menambahkan jika presentasinya kurang lengkap, mengatur arus tanya jawab, dan mengevaluasi kegiatan mahasiswa. simpulan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. ada perbedaan sikap kemandirian belajar mahasiswa pgsd unisri antara sebelum dan sesudah menggunakan pembelajaran dengan metode tutor sebaya berbasis video youtube. dari hasil uji t didapat sig (2-tailed) sebesar 0,000 yang nilainya kurang dari 0,05. hal ini berarti menolak h0 dan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan sikap kemandirian belajar sebelum dan sesudah menggunakan metode tutor sebaya berbasis video youtube. 2. pembelajaran menggunakan metode tutor sebaya berbasis video youtube efektif dalam meningkatkan sikap kemandirian belajar mahasiswa pgsd unisri. hasil perhitungan dengan n-gain yaitu sebesar 0,734 yang artinya keefektifan dari penggunaan metode tutor sebaya berbasis video youtube dalam peningkatan sikap kemandirian belajar pada kriteria tinggi. daftar pustaka ali mohammad dan mohammad asrori. 2012. psikologi remaja: perkembangan peserta didik. jakarta: pt bumi aksara. anderson ronald. (1987). pemilihan dan pengembangan media untuk pembelajaran. jakarta: rajawali press. pengaruh metode tutor......(jumanto & ema) 35 jppd, 5, (1), hlm. 28 36 andi prastowo. (2012). panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. yogyakarta: diva press arjanggi, r. & suprihatin, t. (2010). “metode pembelajaran tutor teman sebaya meningkatkan hasil belajar berdasar regulasi diri”. jurnal makara, sosial humaniora, vol. 14, no. 2, hlm. 91 – 97. http://hubsasia.ui.ac.id/old/index.php/ hubsasia/article/view/666 arsyad, azhar (2011). media pembelajaran. bandung: rajawali press barnes, k., r. marateo, and s. ferris. 2007. teaching and learning with the net generation. innovate 3 (4). diakses pada 15 mei 2017 dari situs http://www.innovateonline.info/index.php?view=article&id=382 . basuki wibawa dan farida mukti. (1991). media pengajaran. jakarta: depdikbud. burke, s.c., snyder, s., rager, r.c. 2009. an assessment of faculty usage of youtube as a teaching resource. the internet journal of allied health sciences and practice. vol. 7 no. 1. http://ijahsp.nova.edu chen, c. & liu, c.c. (2010). “a case study of peer tutoring program in higher education”. research in higher education journal. clarkson, b. & luca, j. (2002). “promoting student learning through peer tutoring – a case study”. proceedings of world conference on educational multimedia, hypermedia and telecommunications. in p. barker & s. rebelsky (eds.). daryanto. (2011). media pembelajaran. bandung: pt. sarana tutorial nurani sejahtera. desmita. 2010. psikologi perkembangan peserta didik. bandung: pt remaja rosdakarya. fitriani. asri 2013. “peningkatan kemandirian dan hasil belajar matematika melalui strategi metakognitif berbasis tutor sebaya bagi siswa smp”. artikel publikasi program studi pendidikan matematika, universitas muhammadiyah surakarta. http://eprints.ums.ac.id/23452/ husein, ahmad. 2013. “implementasi model pembelajaran kooperatif berbasis lingkungan untuk meningkatkan kemandirian belajar dan hasil belajar siswa (studi pada mata pelajaran pkn di sd negeri kecamatan lunang silaut kabupaten pesisir selatan”.tesis. bengkulu. program studi pascasarjana (s2) tekhnologi pendidikan fkip universitas bengkulu. http://hubsasia.ui.ac.id/old/index.php/ http://ijahsp.nova.edu/ http://eprints.ums.ac.id/23452/ pengaruh metode tutor......(jumanto & ema) 36 jppd, 5, (1), hlm. 28 36 joyce, bruce and weil, marsha. 1980. models of teaching (second edition). englewood cliffs, new jersey: prentice-hall, inc. kemendiknas. 2010. pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. jakarta: kementrian pendidikan nasional badan penelitian dan pengembangan pusat kurikulum. maryani. (2010). penerapan metode pembelajaran tutor sebaya untuk meningkatkan prestasi belajar akuntansi pada siswa kelas x ak 1 smk batik 2 surakarta. skripsi pada fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. universitas sebelas maret surakarta: tidak diterbitkan. miranti kuku. 2011. peningkatan kemampuan menyimak cerita anak menggunakan media video siswa kelas iv sd n kotagede v yogyakarta. yogyakarta: uny satrianawati. 2015. “pengaruh metode diskusi kelompok dalam evaluasi hasil belajar mahasiswa menggunakan mindmap”. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 2, no. 2, desember, hlm. 141-147. http://journals.ums.ac.id/ index.php/ppd/article/view/1649 setiawan, y., akhdinirwanto, r.w., & maftuhkhin, a. (2013). “peningkatan kemandirian belajar melalui tutor sebaya pada siswa man purworejo tahun pelajaran 2011/2012”. jurnal radiasi, vol. 1, no. 1, http://ejournal.umpwr.ac.id/ index.php/radiasi/article/view/308 sugiyono. 2010. metode penelitian pendidikan: pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta. sukardi. 2010. metodologi penelitian pendidikan. jakarta:bumi aksara sukmadinata. 2008. metode penelitian pendidikan. bandung: pt remaja rosdakarya. sulistyaningrum, dewi ayu. 2017. ”pengembangan quantum teaching berbasis video pembelajaran camtasia pada materi permukaan bumi dan cuaca”. jurnal profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember, hlm 154-166. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/5067. taswadi. (2012). metode pembelajaran tutorial teman sebaya untuk meningkatkan keterampilan menggunakan komputer dalam mata kuliah komputer dan media pembelajaran. sekolah pasca sarjana upi bandung: tidak diterbitkan untuk umum. http://journals.ums.ac.id/ http://ejournal.umpwr.ac.id/ p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 62 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 62 74 pengembangan bahan ajar untuk menumbuhkan nilai karakter peduli lingkungan pada siswa kelas iv sekolah dasar henry januar saputra, nur isti faizah. fakultas ilmu pendidikan, universitas pgri semarang e-mail : cahsmandam@gmail.com abstract this study was conducted using addie method development procedures with steps include analysis, design, development, implementation and evaluation. the research was conducted in sdn sendangmulyo 03 semarang. the research subjects in this study were 34 fourth grade students. the data collected in this study is data and data media expert subject matter experts and product testing results data. the average results of students' prior to using ee teaching materials amounting to 64.12 while the average student learning outcomes after the use of teaching materials plh of 90.51. then, from the observation of environmental care character on the student obtained the result "very good" with an average score of 19. it shows a decent ee instructional materials used as teaching material because it can improve the character of environmental awareness in students. it can be concluded that plh instructional materials used for teaching in primary schools, especially the fourth grade. his suggestion that ee teaching materials for fourth grade students that have been developed to be implemented in a learning activity to determine the extent of the advantages and disadvantages of these learning products. keywords: teaching materials, character, environmental care. pendahuluan lingkungan merupkan bagian yang tidak terpisahkan dengan manusia. lingkungan merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. terjaganya kelangsungan di sekitar manusia menjadikan kualitas hidup yang lebih baik. oleh sebab itu manusia harus mampu untuk merawat dan menjaga kelangsungan lingkungan dengan baik. namun yang terjadi saat ini adalah kualitas lingkungan hidup yang semakin merosot. masalah lingkungan memang sudah terjadi sejak dahulu kala. namun dampak secara lebih luas mulai kita rasakan pada abad melinium 20an saat ini. hal tersebut selaras dengan perkembangan teknologi manusia. kerusakan alam yang terjadi juga berimbas pada kerusakan kehidpuan pada manusia. kualitas alam mempengaruhi kualitas hidup manusia. sebagai contoh asap (smoke) yang berasal dari asap kendaran bermotor, pabrik atau kebakaran hutan dapat menggangu sistem pernafasan manusia. selain itu asap yang ada juga dapat menyebabkan pemanasan global. pemanasan global adalah peningkatan suhu bumi. dikutip dari wikipedia bahwa suhu rata-rata global pada permukaan bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °c (1.33 ± 0.32 °f) selama seratus tahun terakhir. akibatnya banyak mempengaruhi hidup manusia seperti gunung es yang mencair sehingga tinggi permukaan laut meningat, curah hujan yang meningkat yang menyebabkan badai lebih sering terjadi, air tanah cepat menguap sehingga terjadi kekeringan, cuaca lebih sulit diprediksi dan cendrung lebih ekstrim sehingga menyebabkan kekeringan ekstrim atau curah hujan yang ekstrim. serta masih banyak dampak lain dari pemanasan global yang https://id.wikipedia.org/wiki/celsius https://id.wikipedia.org/wiki/fahrenheit e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan bahan ajar untuk.......(henry januar saputra dan nur isti faizah) 63 disebabkan oleh aktifitas dan perkembangan teknologi manusia. beberapa hal pokok yang menyebabkan timbulnya masalah lingkungan antara lain adalah tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, meningkatnya kualitas dan kuantitas limbah, adanya pencemaran lintas batas negara (tim mata kuliah plh. 2014: 26). meningkatnya jumlah pertumbuhan penduduk menyebabkan kepadatan manusia semakin meningkat sehingga aktifitas juga menignkat. aktifitas manusia banyak sekali yang mempengaruhi lingkungan tanpa mempedulikan akibatnya. sehingga miningkatnya jumlah penduduk juga menyebabkan meningkatnya aktifitas perusakan terhadap alam. hal tersebut juga selaras dengan meningkatnya kuantitas dan kualitas limbah. semakin banyak aktifitas dari manusia maka semakin banyak juga limbah yang dihasilkan baik secara kuantitas atau jumlahnya dan kualitas dari limbah tersebut. kondisi di atas menunjukan bahwa kepedulian manusia terhadap lingkungan berada pada tahap yang mengkawatirkan. kepedulian manusia terhadap lingkungan perlu ditingkatkan. sehingga masalah-salah seperti yang dikemukakan di atas tidak terjadi lagi. untuk itu perlu adanya peran pendidikan dalam hal ini. pendidikan dituntut untuk bisa menanamkan karakter peduli lingkungan sejak atau sedari dini mungkin. keluarga dan sekolah sebagai tempat anak sejak dini diajarkan tentang nilai-nilai kepedulian harus dapat mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan. sejak dini anak atau siswa di sekolah perlu dikenalkan dengan krisis lingkungan, dampak dari kerusakan lingkungan dan cara mencintai lingkungan sehingga karakter peduli terhadap lingkungan dapat tumbuh pada diri anak. pengajaran tersebut dapat dilakukan dan diintegrasikan pada mata pelajaran yang ada. hal tersebut berdasarkan surat keputusan bersama mentri lingkungan hidup dan mentri pendidikan nasional no. kep.07/menlh/06/2005 dan n0. 05/vi/kb/2005 tentang pembinan dan pengembangan pendidikan lingkungan hidup. dari penjelasan di atas maka pendidikan memegang peran yang penting dalam perke bangan suatu bangsa. dengan pendidikan diharapkan suatu bangsa berkembang menjadi bangsa yang bermartabat. bermartabat adalah mempunyai martabat, sementara martabat dalam kbbi (2013) adalah tingkat harkat kemanusiaan, harga diri. sebuah bangsa dikatakan bermartabat ketika manusai pada bangsa itu sendiri mampu untuk menunjukan perilaku atau sikap yang tertanam nilai-nilai kemanusia. peduli pada sesama manusia, pada hewan, dan pada lingkungan merupakan beberapa bentuk dari harkat kemanusiaan. tercapainya tujuan pendidikan tidak hanya dilihat dari perkembangan pengetahuan atau kognitif peserta didik. namun juga dilihat dari perkembangan afektif atau sikap peserta didik terhadap lingkungan. hal diatas sesuai dengan fungsi pendidikan yang jelas dituangkan dalam undang-undang republik indonesia nomor 20 tahun 2003, pasal 3 yang menyebutkan bahwa. “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (sisdiknas no 20 tahun 2003)”. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 64 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 62 74 uu ri no. 20 pasal 3 menjelaskan bahwa tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi peserta didik. potensi peserta didik yang dimaksud adalah agar peserta didik tumbuh menjadi manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. berakhlak mulia adalah sikap untuk berprilaku baik. sikap peduli terhadap segala sesuatu yang ada lingkungannya. oleh sebab itu pendidikan harus diselenggarakan dengan baik sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. melalui pendidikan diharapkan bangsa indonesia dapat berkembang menjadi bangsa yang bermartabat, dengan manusianya yang cerdas dan peduli terhadap lingkungannya. namun kondisi pendidikan di sekolah khusunya sekolah dasar belum mampu menumbuhkan karakter peduli lingkungan pada siswa. dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis, diperoleh data yang menunjukan bahwa prilaku siswa yang menunjukan karakter peduli terhadap lingkungan masih kurang. berikut ini disajikan tabel hasil observasi perilaku kepedulian terhadap lingkungan siswa kelas iv sd sendangmulyo 03 semarang. dari data pada tabel 1 terlihat bahwa sebagian besar siswa masih kurang memiliki perilaku atau karakter peduli terhadap lingkungan. selanjutnya dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan ibu puji ningtyas, s.pd guru sd n sendangmulyo 03 semarang. diketahui bahwa guru kurang terfokus menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan, karena lebih terfokus pada penanaman ilmu pengetahuan siswa. hal tersebut juga dikarenakan guru tidak mempunyai buku pedoman yang dapat digunakan guru untuk membantu dalam menamankan karakter peduli lingkungan. tabel 1. observasi perilaku kepedulian lingkungan siswa kelas iv sd n sendangmulyo 03 semarang no aktifitas siswa siswa peduli seluruh siswa present ase % 1 mematikan lampu yang tidak digunakan 15 32 45% 2 membuang sampah pada tempatnya 16 32 50% 3 merawat tanaman sekolah 9 32 15% 4 memisahkan sampah organik dan anorganik 5 32 20% kondisi menunjukan terjadinya ketimpangan antara harapan dan kondisi nyata. pendidikan diharapkan selain juga menumbuh kembangkan pengetahuan siswa juga menumbuhkan karakter peduli terhadap lingkungan. namun kondisi nyata yang ada di lapangan menunjukan bahwa pendidikan tidak dapat sepenuhnya menanamkan nilai karakter peduli terhadap lingkungan. kondisi sedemikian selanjutnya disebut sebagai masalah. masalah adalah ketimpangan antara harapan dan keadaan. masalah harus segera diatasi dan diselesaikan. oleh sebab itu dalam hal ini penulis memberikan solusi sebagai pemecahan masalah adalah mengembangkan bahan ajar plh (pendidikan lingkungan hidup). dengan adanya bahan ajar plh diharapkan mampu menumbuhkan karakter siswa untuk peduli terhadap lingkungan. menurut panner (2001) dalam prastowo (2012: 17) bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan bahan ajar untuk.......(henry januar saputra dan nur isti faizah) 65 sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. bahan ajar adalah materi yang telah tersusun secara sistematis. materi yang terdapat dalam bahan ajar digunakan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran. bahan ajar yang terdapat saat ini tidak banyak yang dirangcang untuk menanamkan karakter peduli terhadap lingkungan. akibatnya karakter kepedulian lingkungan siswa masih rendah. diperlukan inovasi, kreatifitas dalam membuat bahan ajar yang dapat menanamkan karakter. prastowo (2012: 19) menyampaikan bahwa mutu pembelajaran menjadi rendah ketika pendidik hanya terpaku pada bahan-bahan ajar yang konvensioanl tanpa ada kreatifitas untuk mengembangkan bahan ajar tersebut secara inovatif. pendapat tersebut menekankan bahwa jika tidak ada inovasi dan kreatifitas dalam membuat bahan ajar maka mutu pembelajaran menjadi rendah. termasuk proses penanaman karakter peduli lingkungan akan menjadi rendah. sehingga diperlukan kreatifitas dalam pembuaatan bahan ajar. salah satunya yaitu membuat bahan ajar plh yang diharapkan yang bertujuan untuk menumbuhkan karakter peduli lingkungan pada siswa. pendidikan lingkungan hidup mempelajari tentang lingkungan khsusunya tentang pencemaran lingkungan, kerusakan alam, sumber daya alam dan konservasi. pendidikan lingkungan hidup (plh) merupakan upaya mengubah prilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk dapat berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. (tim penyususn plh. 2010 :2). bahan ajar plh selanjunya diharapkan mampu menggerakkan siswa untuk mempunyai pengetahuan, keteramapilan dan kesadaran tentang kepedulian terhadap lingkungan. melalui bahan ajar plh proses pembelajaran dapat terarah untuk membekali diri siswa menjadi manusia yang peduli terhadap lingkungan. kepedulian tersebut selanjutnya tumbuh menjadi karakter. kbbi (2013) menyebutkan bahwa karakter ialah tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, watak. berkarakter diartikan sebagai mempunyai sifat-sifat yang khusus. karakter peduli pada lingkungan adalah sifat-sifat peduli terhadap lingkungan. peduli lingkungan dapat ditunjukan dengan sikap-sikap pelestarian lingkungan dan menjaga lingkungan. karakter dibentuk dengan melalui pendidikan karakter. pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat dan warga negara yang baik (tim ikip pgri semarang :11). penelitian tetang penggunaan bahan ajar telah banyak dilakukan, salah satunya yaitu penelitian dari ilmiwan, dkk (2013) dengan judul pengaruh penerapan bahan ajar bermuatan nilai nilai karakter dalam model pembelajaranlangsung terhadap hasil belajar siswa kelas xi sma n 1 bukittinggi. dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa hasil dari nilai rata-rata dari kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. penerapan bahan ajar bermuatan nilai-nilai karakter memberikan efek pada hasil belajar yang siknifikan. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 66 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 62 74 bahan ajar plh telah ada sebelumnya, namun bahan ajar bahan ajar tersebut belum terdapat nilai-nilai karakter yang nampak jelas dipaparkan dalam bentuk gambar, cerita yang menarik. oleh sebab itu bahan ajar plh berbasis karakter dikembangkan yang bertujuan untuk menumbuhkankan karakter peduli lingkungan pada siswa. selanjutnya berdasarkan pembahasan di atas maka peneliti berusaha untuk melakukan penelitian berupa pengembangan bahan ajar. penelitian ini selanjutnya berjudul “pengembangan bahan ajar pendidikan lingkungan hidup untuk menumbuhkan nilai karakter peduli lingkungan pada siswa kelas iv sekolah dasar”. menurut pannen (dalam andi prastowo, 2012: 17), mengungkapkan bahwa bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. sedangkan menurut national centre for competency based training (dalam andi prastowo, 2012:16) bahan ajar adalah segala bentuk yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. berdasarkan beberapa pandangan mengenai pengertian bahan ajar tersebut, dapat kita pahami bahwa bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. misalnya, buku pelajaran, modul, handout, lks, model atau maket, bahan ajar audio, bahan ajar interaktif, dan sebaginya (andi prastowo, 2012:17). menurut nana supriatna dkk (2007: 3), pendidikan mengandung pengertian suatu perbuatan yang disengaja untuk menjadikan manusia memiliki kualitas yang lebih baik. dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan sebagainya. definisi pendidikan dalam buku pedoman pendidikan karakter ikip pgri semarang (sekarang universitas pgri semarang), sebagai berikut. pendidikan adalah suatu proses enkulturasi, berfungsi mewariskan nilai-niai dan prestasi masa lalu ke generasi mendatang. nilai-nilai dan prestasi itu merupakan kebanggaan bangsa dan menjadikan bangsa itu dikenal oleh bangsa-bangsa lain. selain mewariskan, pendidikan juga memiliki fungsintuk mengembangkan nilai-nilai budaya dan prestasi masa lalu itu menjadi nilai-nilai budaya bangsa yang sesuai dengan kehidupan masa kini dan masa yang akan datang, serta mengembangkan prestasi baru yang menjadi karakter baru bangsa. oleh karena itu, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan inti dari suatu proses pendidikan. pendidikan lingkungan hidup (selanjutnya disingkat dengan plh) adalah mengubah pandangan dan perilaku seseorang terhadap lingkungan. orang tadinya masa bodoh dengan lingkungan diharapkan berubah menjadi peduli dengan lingkungannya. orang tadinya hanya menjadi pemerhati (sudjoko, 2011: 1.1). dalam buku ajar mku plh universitas negeri semarang (tim mata kuliah plh, 2014: 1), plh merupakan upaya mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan bahan ajar untuk.......(henry januar saputra dan nur isti faizah) 67 permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. pendidikan lingkungan hidup mempelajari permasalahan lingkungan khususnya masalah dan pengelolaan pencemaran, kerusakan lingkungan serta sumberdaya dan konservasi. menurut thomas lickona (dalam agus wibowo, 2012: 32), karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespon sesuatu secara bermoral. pengertian yang dikemukakan lickona ini, mirip dengan apa yang diungkapkan oleh aristoteles, bahwa karakter itu erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dilakukan. pengertian karakter dalam buku pedoman pendidikan karakter ikip pgri semarang (sekarang universitas pgri semarang) adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak”. sedangkan menurut simon philips dalam buku pendidikan karakter menjawab tantangan krisis multidimensional (2011: 10), karakter adalah kumpulan tata nilai yang mengacu pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. sedangkan menurut kemendiknas (dalam agus wibowo, 2010:35), karakter adalah tabiat akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebijakan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. deskripsi nilai karakter peduli lingkungan yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi (dalam buku pedoman pendidikan karakter ikip pgri semarang:70). banyak temuan-temuan para peneliti terdahulu yang membuktikan bahwa penggunaan modul sebagai sarana pembelajaran memiliki nilai efektivitas yang tinggi, seperti penelitian yang dilakukan oleh nurani dkk (2014) dalam penelitiannya tentang pengembangan modul pendidikan lingkungan hidup (plh) berbasis karakter untuk menumbuhkan wawasan dan karakter peduli lingkungan menunjukkan bahwa modul plh berbasis karakter efektif digunakan untuk mengajak siswa peduli terhadap kondisi di sekitarnya. semntara itu ilmiwan dkk (2013) dalam penelitiaannya yang tentang pengaruh penerapan bahan ajar bermuatan nilai-nilai karakter dalam model pembelajaran langsung terhadap hasil belajar siswa kelas xi sman 1 bukittinggi menunjukkan bahwa bahan ajar berhasil meningkatkan karakter peduli lingkungan kepada siswa dan sangat layak digunakan menjadi bahan ajar. metode penelitian metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan (reseacrch and development/r&d). pemilihan metode penelitian tersebut dikarenakan peneliti hendak mengembangkan bahan ajar. hal ini sesuai dengan pendapat dari borg dan gall (1988) dalam sugiyono (2009: 4) yang menyatakan bahwa, penelitian dan pengembangan (research and development) merupakan metode penelitian yang digunakan untuk mengembangkan atau p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 68 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 62 74 memvalidasi produk-produk yang digunakan dalam pendidikan dan pembelajaran (zainal, 2014). menurut gall and borg (putra 2015: 84) research and development dalam pendidikan adalah sebuah model pengembangan berbasis kriteria dimana temuan penelitian digunakan untuk merancang produk dan prosedur baru, yang kemudian secara sistematis diuji di lapangan, dievaluasi, dan disempurnakan sampai memenuhi kriteria tertentu yaitu efektivitas, dan berkulitas. menurut national science board dalam “research and development: essential foundation for u.s competitiveness in a global economy” (2008: endnotes) dalam putra (2015: 70). penelitian didefinisikan sebagai studi sistematis terhadap pengetahuan ilmiah yang lengkap atau pemahaman tentang subjek yang diteliti. penelitian ini diklasifikasikan sebagai dasar atau terapan sesuai dengan tujuan sponsor. pengembangan didefinisikan sebagai aplikasi sistematis dari pengetahuan atau pemahaman, diarahkan pada produksi bahan yang bermanfaat, perangkat, dan sistem atau metode, termasuk desain, pengembangan dan peningkatan prioritas, serta proses baru untuk memenuhi persyaratan tertentu. secara sederhana r&d bisa didefinisikan sebagai metode penelitian yang secara sengaja, sistematis, bertujuan/diarahkan untuk mencari temukan, merumuskan, memperbaiki, mengembangkan, menghasilkan, menguji keefektifan produk, model, metode/strategi/cara, jasa prosedur tertentu yang lebih unggul, baru, efektif, efisien, produktif, dan bermakna (putra, 2015: 67) riset dan pengembangan merupakan suatu proses pengembangan perangkat pendidikan yang dilakukan melalui serangkaian riset yang menggunakan berbagai metode dalam suatu siklus yang melewati berbagai tahapan (amile dan reenes dalam ali dan asrori, 2014: 105). berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa research and development atau penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan dan mengembangkan produk tertentu dengan inovasi baru yang didahului oleh tahap pengujian atau validasi. penulis berusaha untuk mengembangkan sebuah bahan ajar. untuk itu diperlukan validasi terhadap bahan ajar tersebut. r&d merupakan metode penelitian yang dapat digunakan untuk memvalidasi bahan ajar tersebut. hal tersebut sesuai ungkapan borg dan gall di awal paragraf tadi yang menyatakan bahwa r&d juga digunakan untuk memvalidasi produk yang dikembangkan. dalam hal ini penulis mengembangkan sebuah bahan ajar. merupakan inovasi dari bahan ajar terdahulu. pengembangan bahan ajar ini diharapkan membawa kebaharuan, keunggulan, efektifitas, efisiensi dan produktifitas. alasan tersebutlah yang juga mendasari penulis menggunakan metode r&d. hal ini sesuai dengan pendapat dari putra (2015: 67) r&d memang diarahkan untuk mencari temukan kebaharuan dan keunggulan dalam rangka efektifitas, efisiensi, dan produktifitas. selanjutnya, prosedur dalam penelitian pengembangan ini menerapkan prosedur addie . model ini, terdiri dari sepuluh tahap utama, yaitu (a)nalysis, (d)esain, (d)evelopment, (i)mplementation, dan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan bahan ajar untuk.......(henry januar saputra dan nur isti faizah) 69 (e)valuation (pribadi, 2010:125). metode penelitian dan pengembangan adalah metode yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu. analysis analisis merupakan langkah atau tahap pertama dalam prosedur addie. analisis digunakan guna menemukan ide, dan tujuan yang hendak dicapai. analisis dilakukan penulis mengumpulkan informasi melalui kajian pustaka, pengamatan dan wawancara. dalam prosesnya penulis terfokus untuk menemukan potensi dan masalah yang terdapat dalam pendidikan di indonesia. pertama penulis mencoba untuk menganalisis potensi, penulis melihat bahan ajar yang sudah ada namun belum memuat nilai karakter peduli lingkungan juga masalah yang ada di negara dimuat oleh tim mata kuliah plh unnes bahwa timbulnya masalah lingkungan antara lain tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, meningkatnya kualitas dan kuantitas limbah dan adanya pencemaran lintas batas negara. kedua penulis menganalisis masalah yang terjadi dalam pendidikan. dari hasil wawancara dengan ibu pujiningtyas, s.pd guru kelas iv sd n sendangmulyo 03 semarang disampaikan bahwa guru kurang terfokus menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan, karena lebih terfokus pada penanaman ilmu pengetahuan siswa. hal tersebut juga dikarenakan guru tidak mempunyai buku pedoman yang dapat digunakan guru untuk membantu dalam menanamkan karakter peduli lingkungan. juga karakter peduli lingkungan siswa masih rendah. selanjutnya yaitu analisis pada kajian pustaka, yaitu teori-teori yang dapat digunakan untuk melandasi penyelesaian masalah tersebut, diantaranya yaitu definisi bahan ajar. definisi plh, penelitian terdahulu tentang penggunaan bahan ajar. dari potensi, masalah dan kajian pustaka yang penulis kumpulkan, maka dapat digunakan sebagai landasan penulis mengembangkan bahan ajar plh dalam pembelajaran di sekolah dasar. desain hasil analisis diatas dapat digunakan penulis guna merancang sebuah bahan ajar. alternatif desain bahan ajar yang dikembangkan oleh peneliti adalah sebuah bahan ajar yang disebut bahan ajar plh. bahan ajar tersebut didesain guna meningkatkan karakter peduli lingkungan siswa. lebih lanjut bahan ajar tersebut sekaligus menjawab keinginan guru untuk dapat memperoleh bahan ajar. sekaligus bahan ajar ini didesain untuk memberikan kemudahan kepada siswa dalam memahami materi-materi pembelajaran. bahan ajar plh merupakan bahan ajar untuk menumbuhkan karakter peduli lingkungan siswa. bahan ajar ini berbentuk buku. materi dalam bahan ajar ini berisikan materi-materi pembelajaran dan nilai-nilai karakter peduli lingkungan, sehingga meningkatkan minat siswa untuk dapat memahami materi pelajaran dan menumbuhkan karakter peduli lingkungan siswa. development (pengembangan) produk bahan ajar plh dibuat berdasarkan hasil analisis terhadap potensi, masalah di sekolah, kajian pustaka, analisis terhadap kompetensi materi, dan analisis terhadap tujuan intruksional. dari dasar analisis tersebut selanjutnya disusun atau dirumuskan dalam bentuk desain bahan ajar p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 70 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 62 74 plh. untuk selanjutnya menjadi dasar pengembangan bahan ajar plh. langkah-langkah dalam pembuatan bahan ajar plh, yaitu: a. membuat bahan ajar plh langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk membuat bahan ajar plh terdiri dari beberapa langkah, diantaranya: 1) menentukan materi atau isi buku, 2) menggambar dan mendesain cover, 3) menulis isi buku, 4) memasukan detail gambar dan nilai-nilai karakter dalam bahan ajar, 5) mencetak bahan ajar plh. b. pembimbingan dan penilaian dengan validator. bahan ajar plh yang telah dibuat, selanjutnya dibimbingkan dan dinilai oleh dosen pembimbing. dalam prosesnya bahan ajar plh akan mendapatkan saran-saran oleh dosen pembimbing untuk diperbaiki, atau dinyatakan layak. jika bahan ajar plh telah dinyatakan layak, maka dapat dilanjutkan untuk divalidasi oleh ahli media dan ahli materi. c. validasi oleh ahli media dan ahli materi. ahli media adalah seseorang yang berkompentensi dalam bidang media pembelajaran, sementara ahli materi adalah seseorang yang mempunyai kompetensi dalam bidang materi pembelajaran. setelah bahan ajar plh dinyatakan layak oleh dosen pembimbing, maka bahan ajar tersebut selanjutnya dilakukan validasi oleh validator yaitu ahli media dan ahli materi. ahli media akan menilai bahan ajar plh dengan cara memberikan nilai sesuai dengan rubrik penilaian, begitupun dengan ahli materi akan memberikan nilai sesuai dengan rubrik penilaian. selanjutnya kedua ahli tersebut juga memberikan saran untuk perbaikan bahan ajar. saran dari kedua ahli tersebut harus ditindak lanjuti, sehingga bahan ajar dinyatakan layak. implementation penerapan bahan ajar plh dilaksanakan di kelas iv sd negeri sendangmulyo 03 semarang dengan siswa pembelajaran dengan menggunaka bahan ajar plh. lebih lanjut penerapan bahan ajar ini juga ditujukan untuk menumbuhkan nilai karakter peduli lingkungan pada siswa siswa. sebelum diujicobakan bahan ajar sudah divalidasi terlebih dahulu. uji validasi yang dilakukan oleh peneliti meliputi validasi ahli media pembelajaran dan validasi ahli materi pembelajaran. setelah media tersebut divalidasi oleh ahli media dan ahli materi. langkah selanjutnya adalah merevisi jika terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki. pada tahapan implementasi, bertujuan untuk mendapatkan desain bahan ajar plh yang valid dan baik. revisi produk dilakukan oleh peneliti secara berkala apabila desain belum mencapai tingkatan valid yang diharapkan. pihak yang berperan penting pada tahap ini adalah ahli media dan ahli materi pembelajaran yang menentukan apakah desain perlu direvisi atau sudah sesuai. bahan ajar plh yang sudah direvisi atau diperbaiki selanjutnya diterapkan pada kelas uji coba. evaluation evaluasi yang dilakukan untuk bahan ajar plh bertujuan menyempurnakan produk setelah melalui tahap implementasi. evaluasi meliputi perbaikan produk yang didapat dari saran pada angket yang diberikan kepada ahli media dan ahli materi (guru kelas), e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan bahan ajar untuk.......(henry januar saputra dan nur isti faizah) 71 selanjutnya peneliti dapat memperbaikinya. efektif atau tidaknya bahan ajar plh serta minat siswa terhadap bahan tersebut dapat dilihat dari angket tanggapan siswa dan lembar observasi karakter siswa untuk mengetahui tumbuhnya karakter kepedulian lingkungan pada siswa. pada penelitian pengembangan, subjek penelitian kualitas bahan ajar plh kelas iv sekolah dasar adalah tiga pakar ahli media dan materi serta dari respon siswa kelas iv sekolah dasar. hasil dan pembahasan penelitian ini adalah penelitian pengembangan (research and development) dengan menghasilkan produk berupa media pembelajaran yang akan di ujicoba pada ujicoba secara terbatas. pengembangan dilaksanakan setelah melakukan observasi terlebih dahulu, untuk mengetahui karakter kepedulian lingkungan siswa di kelas iv. observasi berlangsung dengan wawancara tidak terstruktur kepada guru dan angket tanggapan siswa, wawancara tidak terstruktur ini hanya memberikan pertanyaan yang tanpa mempersiapkan jawaban dan angket tanggapan siswa berisi beberapa pertanyaan kepada siswa dengan jawaban iya atau tidak. jadi dalam observasi ini hanya mendengarkan cerita yang diperoleh dari guru dan hasil angket tanggapan siswa, sedangkan untuk penelitian selanjutnya mengambil kesimpulan sendiri apa yang dihasilkan dari observasi yang dilakukan. pada observasi hanya mengambil sample 20 siswa. sasaran dari pengembangan bahan ajar plh ini adalah guru dan siswa kelas iv sd sendangmulyo 03 semarang dengan jumlah 20 siswa, yang berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas iv bahwa guru kurang terfokus menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan karena lebih terfokus pada penanaman ilmu pengetahuan kepada siswa, guru tidak mempunyai buku pedoman yang digunakan guru untuk membantu dalam menanamkan karakter peduli lingkungan. hal ini di ketahui juga dari hasil angket tanggapan siswa bahwa sebagian besar siswa masih kurang memiliki karakter peduli lingkungan. hasil wawancara dan tanggapan siswa, penelitian ini bermaksud menumbuhkan karakter peduli lingkungan siswa melalui bahan aja plh. prastowo (2012:19) mengatakan bahwa mutu pembelajaran menjadi rendah ketika pendidik hanya terpaku pada bahan-bahan ajar yang konvensional tanpa ada kreatifitas untuk mengembangkan bahan tersebut secara inovatif. penggunaan bahan ajar diperlukan guru dalam pembelajaran, karena bahan ajar merupakan bagian dari sumber belajar. hal ini disampaikan panner, bahan ajar adalah bahanbahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. maka dari itu perlu adanya pengembangan produk bahan ajar yang menarik agar siswa tertarik dan menumbuhkan karakter peduli lingkungan siswa. penelitian ini memilih mengembangkan bahan ajar plh. menurut tim mata kuliah plh unnes, plh merupakan upaya mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 72 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 62 74 bahan ajar plh selanjutnya dikembangkan berdasarkan analisis kesesuaian dengan prinsip-prinsip pendidikan lingkungan hidup. selanjutnya didasarkan atas standar kompetensi dan kompetensi dasar. serta dianalis sesuai dengan indikator yang dikembangkan dari kompetensi dasar. hasil analisis kemudian digunakan peneliti untuk merancang desain dari bahan ajar plh. desain atau perancangan bahan ajar plh meliputi beberapa hal diantaranya: konsep desain dari bahan ajar plh ini terdiri dari tujuh langkah yaitu: 1) menentukan sk, kd, dan indikator, 2) cover dan icon cover, 3) merancang isi, 4) meentukan materi, 5) menyusun bahan ajar, 6) menyisipkan karakter peduli lingkungan. dari hasil rancangan konsep tersebut, selanjutnya bahan ajar dikembangan dengan memperhatikan konsep, materi, sistematika penulisan, dan penyisipan karakter sehingga tercipta bahan yang menarik bagi siswa dan dapat membantu proses belajar mengajar menjadi lebih maksimal. dalam pengembangannya, bahan ajar perlu divalidasi oleh ahli sebelum diuji cobakan untuk mengetahui kelayakannya. validasi terdiri dari dua pakar yaitu validasi media dan validasi materi. setelah bahan ajar divalidasi dan dinyatakan layak digunakan dalam proses pembelajaran. kemudian bahan ajar plh diujicobakan di sekolah dasar untuk melihat respon dari siswa. pengujian ini dilakukan di sd n sendangmulyo 03 semarang. pengujian dilakukan uji satu kelas yaitu kepada siswa kelas iv sd n sendangmulyo 03 semarang. hasil validasi dengan ahli media, diperoleh data sebagai berikut 1) pada validasi i tingkat keidealan bahan ajar plh adalah 90% dengan masukan dari ahli media yaitu gambar di dalam bahan ajar bisa disesuaikan dengan kebutuhan tidak terlalu besar atau terlalu kecil dan bahan ajar sudah layak diujicobakan di lapangan tanpa ada revisi. hasil validasi ahli materi, diperoleh data sebagai berikut 1) pada validasi i tingkat keidealan bahan ajar plh adalah 58% dengan masukan dari ahli materi yaitu bahan ajar belum sistematis dan urut sesuai dengan kesesuaian bahan ajar sehingga harus ada beberapa revisi materi dan gambar serta kegiatan siswa. oleh sebab itu dilakukan revisi dan validasi kedua, 2) pada validasi ii tingkat keidealan bahan ajar plh yang telah direvisi mencapai 71% dengan masukan dari ahli materi yaitu beberapa maeri yang diulas bisa lebih dirampingkan dan beberapa gambar penyakit akibat bakteri atau virus ditambahkan keterangan. oleh sebab itu dilakukan revisi dan validasi ketiga, 2) pada validasi iii tingkat keidealan bahan ajar plh yang telah direvisi mencapai 75%. sehingga bahan ajar sudah layak digunakan. sementara hasil validasi ahli media dari guru, diperoleh data dimana tingkat keidealan bahan ajar plh adalah 85%. sedangkan hasil validasi materi dari guru, diperoleh data dimana tingkat keidealan bahan ajar plh adalah 95% dengan komentar yaitu bahan ajar sudah baik dan tersusun secara sistematis dan dapat diujicobakan. setelah dilakukan validasi dan revisi bahan ajar maka didapatkan bahan ajar plh yang layak digunakan untuk menumbuhkan karakter peduli lingkungan.selanjutnya adalah uji coba soal pre test dan post test saat pembelajaran. uji soal menggunakan rumus n-gain. hasil analisis gain menunjukkan bahwa gain dengan kriteria tinggi atau interval gain ≥ 0,7 sebanyak 22 siswa. kriteria gain sedang atau interval gain 0,3 ≤ g < 0,7 sebanyak 12 siswa. jadi secara keseluruhan e-issn: 2503-3530 p-issn 2406-8012 pengembangan bahan ajar untuk.......(henry januar saputra dan nur isti faizah) 73 penelitian ini menunjukkan gain dengan kriteria tinggi. berdasarkan hasil respon 34 siswa kelas iv sd n sendangmulyo 03 semarang terhadap bahan ajar diperoleh hasil nilai ratarata persentas respon siswa yaitu 99%, ternyata pembelajaran yang memanfaatkan bahan ajar plh dapat memudahkan pemahaman siswa, meningkatkan kemandirian belajar, memudahkan siswa, minat, dan keaktifan dalam proses pembelajaran. hal ini sesuai dengan pendapat pannen (dalam andi prastowo, 2012:17), mengungkapkan bahwa bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. nilai karakter peduli lingkungan yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi (dalam buku pedoman pendidikan karakter ikip pgri semarang: 70). hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dan ahli diperoleh skor rata-rata 19 dengan kriteria “amat baik” dan skor ratarata 18,9 dengan kriteria “amat baik”. dasar bagi pengembangan bahan ajar pendidikan lingkungan hidup yaitu teori belajar behavioristik atau aliran tingkh laku, belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. belajar tidaknya seseorang tergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikn lingkungan. dengan demikian, perubahan perilaku juga merupakan hasil belajar seseorang terhadap lingkungannya dengan belajar menggunakan bahan ajar plh. simpulan berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan bahan ajar plh yang telah dilakukan di sd n sendangmulyo 03 semarang, diperoleh data yang menunjukan bahwa bahan ajar plh layak digunakan. data-data tersebut diperoleh dari validasi oleh ahli materi dan media, data dari tanggapan atau respon siswa, dan observasi karakter peduli lingkungan siswa. sehingga dapat sisimpulkan secara umum bahwa bahan ajar plh layak digunakan sebagai bahan ajar di kelas iv sekolah dasar. setelah bahan ajar plh dinyatakan layak sebagai bahan ajar bagi siswa kelas iv sekolah dasar maka bahan ajar plh dapat dipasarkan dan menjadi bahan ajar yang menumbuhkan karakter peduli lingkungan siswa. penelitian pengembangan yang dilakukan memiliki keterbatasan yaitu belum dilakukannya analisis keefektifan bahan ajar plh secara mendalam dalam proses pembelajaran di kelas. slanjutnya keterbatasan lainnya yaitu bahan ajar plh hanya diberi penilaian oleh 3 reviewer yaitu ahli bahan ajar bapak singgih adhi p, ssn., m.pd, ahli materi ibu filia arthaprima, s.pd., m.pd dan ahli media sekaligus ahli materi dari guru yaitu ibu puji ningtyas, s.pd serta hanya diuji cobakan pada siswa di 1 sekolah yaitu sd n sendangmulyo 03 semarang. p-issn 2406-8012 e-issn: 2503-3530 74 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 1, juli 2017: 62 74 daftar pustaka ali, mohammad dan asrori, mohammad. 2014. metodologi dan aplikasi riset pendidikan. jakarta. cahaya prima sentosa. departemen pendidikan nasional. 2013. kamus besar bahasa indonesia. jakarta: pt gramedia pustaka utama. ilmiwan, et al. 2013. “pengaruh penerapan bahan ajar bermuatan nilai nilai karakter dalam model pembelajaranlangsung terhadap hasil belajar siswa kelas xi sman 1 bukittinggi” jurnal pillar of physics of education volume 2 no. halaman 153-160. http://fisika.fmipa.unp.ac.id/wp-content/uploads/2014/12/file5.pdf. . nurani, dkk. 2014. “pengembangan modul pendidikan lingkungan hidup (plh) berbasis karakter untuk menumbuhkan wawasan dan karakter peduli lingkungan” unnes journal of biology education 3 (1) (2014) file:///c:/users/user%20pc/downloads/4155-8500-2-pb.pdf. prastowo, andi. 2012. panduan kreatif membuat bahan ajar inovatif. jogjakarta: diva press. pribadi, benny a. 2010. model desain sistem pembelajaran. jakarta : dian rakyat. putra. nusa. 2012. research and development. jakarta : pt grafindo persada sudjoko. 2011. pendidikan lingkungan hidup: jakarta alfabeta. supriatna, nana, dkk. 2007. pendidikan ips sd. bandung: upi press. tim ikip pgri semarang. 2011. pedoman pendidikan karakter. semarang: ikip prgri semarang. tim mku plh. 2010. pendidikan lingkungan hidup. semarang: universitas negri semarang. . 2014. pendidikan lingkungan hidup. semarang: universitas negri semarang. undang-undang republik indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. jakarta: pt. rineka cipta wibowo, agus. 2012. pendidikan karakter. yogyakarta: pustaka pelajar. wikipedia. pemanasan global. https://id.wikipedia.org/wiki/pemanasan_global. diakses pada 25 juni 2016. zainal, arifin. 2014. penelitian pendidikan. bandung: pt remaja rosdakarya. http://fisika.fmipa.unp.ac.id/wp-content/uploads/2014/12/file5.pdf file:///c:/users/user%20pc/downloads/4155-8500-2-pb.pdf https://id.wikipedia.org/wiki/pemanasan_global model pengelolaan program pengalaman lapangan ... (muhroji dan catur budi setyanto) 149 model pengelolaan program pengalaman lapangan program studi guru sekolah dasar fkip ums muhroji dan catur budi setyanto program studi pgsd fakultas keguruan dan ilmu pendidikan universitas muhammadiyah surakarta simuhroji@yahoo.com abstract the purposes of this study are threefolds: a. describe the management of ppl of pgsd fkip-ums conducted so far. b. formulate the management of model pgsd fkip pplums in accordance with the demands of competence. c. describe the policies that should be done so that the ppl management of pgsd fkip-ums match with the needs of stakeholders. the type of the research is qualitative research with design phenomenology. the experiment is conducted in the faculty of teacher trainning of ums, school of partners/where ppl isconducted and associated institutions. the sources of the data are in the form of guidelines for the implementation of pgsd ppl and ppl documents and resource activities. the data collection techniques using the techniques of documentation, observation, and interviews as well as a forum group discussion (fgd). the data are analyzed critically. critical analysis is conducted are a flow includes the steps of data reduction, data display and conclusion. the validity of the data is done by triangulation of methods and sources and do forum group discussion (fgd). the results of the study can be stated as follows : 1. ppl pgsd management : a. implemented by the management unit of ppl, b. ppl management of model of fkip pgsd-ums can be broadly grouped into two, namely : 1). ppl programmed, and 2). ppl independent. c. ppl program is intended for regular students, implemented in semester vii, and ppl independent of pskgj for students/students who have become teachers, implemented according to the needs. d. ppl in the curriculum of pgsd fkip-ums is an integral part in preparing the prospective students as professional teachers. e. ppl pgsd fkip-ums is more emphasied on the practice of schooling and learning practices. 2. ppl pgsd model was promoted “model pengelolaan terpadu/kolaboratif”, pgsd fkip-ums relationship with partner school not only in implement ppl stage. but since pgsd curriculum development, implementation ppl to reporting stage. 3. policies that should be done pgsd fkip-ums are : a. it has “laboratorium school”; b. ppl financing should include comprehensive activities; c. election partner school with more emphasis on teacher competence oficials than school acreditation. keywords: ppl programmed. ppl independent, integrated management model / collaborative. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 149-161150 pendahuluan pemerintah indonesia menunjukkan perhatian yang cukup besar terhadap peningkatan mutu pendidikan. hal ini dapat dilihat dari adanya peraturan standardisasi nasional penddikan yang selalu disesuaikan dengan kebutuhan, standar kelulusan yang semakin meningkat, pengawasan penyelenggaraan/pengelolaan lembaga pendidikan yang semakin intensif, seperti adanya akreditasi dan persyaratan guru yang semakin tinggi. dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan peran guru sangat penting. hal ini dapat dilihat adanya regulasi yang berkaitan dengan guru. undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, undangundang nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, peraturan pemerintah no. 74 tahun 2008 tentang guru, serta peraturan menteri pendidikan nasional no. 8 tahun 2009 tentang program pendidikan profesi guru pra jabatan, menegaskan peranan strategis guru dan dosen dalam peningkatan mutu pendidikan. guru merupakan jabatan profesional yang menuntut agar guru memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. terkait dengan hal tersebut di atas, dalam upaya meningkatkan mutu guru sebagaimana diamanahkan uu no. 14 tahun 2005 dan pp 74 tahun 2008, menyebutkan bahwa guru harus berpendidikan minimal s1/d-iv dan wajib memiliki sertifikat pendidik yang diperoleh melalui pendidikan profesi. mengacu pada uu no. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 6 yang menyatakan bahwa guru dan dosen wajib memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran yang sehat jasmani dan rohani, memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, maka fkip-ums sebagai lptk pencetak guru ikut bertanggungjawab untuk mengawal amanah uu tersebut. pelaksanaan ppl yang diselenggarakan fkip-ums sampai saat ini kurang efektif. hal ini disebabkan rasio sekolah mitra yang dilibatkan dalam pelaksanaan ppl dengan mahasiswa peserta ppl kurang ideal. rata-rata setiap sekolah mitra membina 30-35 mahasiswa non pgsd dan pgpaud, sedangkan mahasiswa pgsd dan pgpaud antara 10-12 mahasiswa setiap sekolah mitra. akibatnya frekuensi praktek mengajar dan pembimbingan mahasiswa ppl dirasakan masih kurang maksimal. rasio dosen pembimbing lapangan dengan mahasiswa peserta ppl juga masih kurang ideal. di mana untuk tahun akademik 2011/2012 rasio dosen mahasiswa ppl untuk pgsd satu dosen membimbing 20/24 mahasiswa. di samping itu dosen di kampus tidak saja mengajar tetapi juga membimbing skripsi dan tugas tri darma perguruan tinggi yang lain, sehingga pelaksanaan pembimbingan ppl kurang maksimal, artinya belum terlibat dalam proses perencanaan, pembimbingan mengajar dan penilain uji kompetensi belum maksimal. pelaksanaan pembimbingan mahasiswa dalam ppl selama ini didominasi oleh guru pamong, akibatnya peran dosen pembimbing lapangan (dpl) masih kurang. disamping itu, berdasarkan pengamatan sementara menunjukan bahwa sebagian besar dari guru pamong belum memenuhi sebagai guru profesional sebagaimana diamanatkan dalam uu no. 14 tahun 2005. guru pamong dalam pelaksanaan pembelajaran masih banyak menggunakan pendekatan yang konvesional. padahal tuntutan ke depan pembelajaran harus menggunakan pembelajaran tematik integratif (depdiknas 2013) yang aktif dan inovatif pembekalan yang diterima mahasiswa sebelum terjun di sekolah masih belum memadai. pembekalan yang diberikan lebih banyak model pengelolaan program pengalaman lapangan ... (muhroji dan catur budi setyanto) 151 berkaitan dengan proses pembelajaran, sementara tugas profesional harus didukung dengan berbagai ilmu pengetahuan, seperti psikologi, sosiologi, dan komunikasi. materi-materi tersebut sebenarnya sudah diberikan kepada mahasiswa, tetapi perlu refresing mendekati pelaksanaan ppl. pembelajaran mikro yang berbasis pembelajaran tematik integratif dan pembelajaran aktif (active learning) bagi mahasiswa pgsd akan berdampak pada tingginya tingkat kebermaknaan belajar dan ketuntasan belajar (mastery learning). dari sinilah akhirnya penguasaan kompetensi calon guru sd akan meningkat. kompetensi profesional pembelajaran tematik integratif dan pembelajaran aktif yang memadai memudahkan calon guru sd dalam melaksanakan tugas profesionalnya sebagai guru. oleh karena itu, pembelajaran mikro bagi mahasisw pgsd lebih dititik beratkan pembelajaran tematik. untuk mencapai tujuan dan outcomes sebagaimana dikemukakan di atas, program pengalaman lapangan(ppl) perlu dikelola dengan baik. thesis ini akan mendeskripsikan pengelolaan ppl pgsd fkip-ums yang selama ini dilakukan, dan bagaimana model pengelolaan ppl pgsd fkip-ums yang sebaiknya dilakukan agar tujuan program studi pgsd fkip-ums menghasilkan guru profesional dapat tercapai. dalam rangka menghasilkan guru yang profesional tersebut fkip-ums harus berbenah diri. salah satu aspek yang harus dibenahi agar menghasilkan guru yang profesional adalah pemberian bekal pengalaman mengajar yang optimal sebelum mahasiswa terjun di masyarakat, mengamalkan ilmunya sebagai guru. program pengalaman lapangan (ppl) merupakan salah satu kegiatan kurikuler yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa fkip–ums untuk mencapai derajat gelar sarjana pendidikan. program pengalaman lapangan akan dapat mengahasilkan hasil yang maksimal perlu pengelolaan yang baik, dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pelaksaaan dan pengawasan. program s1 pgsd merupakan program baru, karena sebelumnya untuk menjadi guru sd cukup luusan slta (spg), lahirnya uu no. 14 tahun 2005 mensyaratkan untuk menjadi guru sd harus minimal s1/d4. program studi pgsd fkipums mulai dibuka tahun 2007, artinya pelaksanaan ppl bagi program studi pgsd baru dilaksanakan empat angkatan. setiap diadakan evaluasi pelaksanaan ppl banyak sekali masukan baik dari guru pamong, dosen pembimbing maupun mahasiswa untuk perbaikan pengelolaan ppl. oleh karena itu, dalam penelitian ini akan menjawab pertanyaan bagaimana pelaksanaan ppl pgsd fkip-ums seharusnya dilaksanakan. tujuan penelitian ini ada tiga: a. mendeskripsikan pengelolaan ppl pgsd fkipums yang dilakukan selama ini. b. merumuskan model pengelolaan ppl pgsd fkip-ums yang sesuai dengan tuntutan kompetensi. dan c. mendeskripsikan kebijakan yang sebaiknya dilakukan agar pengelolaan ppl pgsd fkipums sesuai dengan kebutuhan stake holder. fakultas keguruan dan ilmu pendidikan ums merupakan lembaga pendidikan tenaga kependidikan yang menyelenggarakan pendidikan calon guru. sejak tahun 2009 diberi kepercayaan pemerintah untuk melaksanakan sertifikasi guru dalam jabatan dan pada ahun 2012 diberi kepercayaan untuk menyelenggarakan pendidikan profesi guru (ppg) dalam jabatan. sesuai dengan uu guru dan dosen no. 14 tahun 2005 seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan mewujudkan tujuan nasional. pendidikan calon guru sd (pgsd) di fkip ums mengacu pada uu tersebut. lulusan pgsd fkip-ums diarahkan kepada penguasaan kompetensi sebagai tenaga professional di bidang pendidikan seolah dasar. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 149-161152 kompetensi guru (uu no 14 tahun 2005, pasal 10) meliputi; kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi sosial,. hal ini berarti bahwa seorang guru atau termasuk calon guru dituntut memiliki sejumlah kompetensi sebagai bekal untuk melaksanakan tugas secara profesional (pp no. 74 tahun 2008, pasal 3). dalam melaksanakan tugas keprofesionalan (uu no 14 tahun 2005, pasal 20), guru berkewajiban: a. merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; b. meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; c. bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; d. menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan e. memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa. tugas guru sebenarnya cukup banyak, tetapi yang menjadi perhatian utama masyarakat pada umumnya adalah pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah. oleh karena itu, semua mahasiswa pgsd fkip-ums selama megikuti pendidikan di kampus diberi “pengalaman belajar” secara teortik dan praktik sesuai dengan tuntutan profesi diatas. pengalaman belajar secara teoritik diselenggarakan dalam perkuliahan, sedangkan pengalaman praktik diberikan di laboratorium dan di sekolah mitra. praktik di sekolah lebih menekankan pada praktek persekolahan dan praktik yang menekankan kemampuan melaksanakan pembelajaran, tanpa mengesampingkan kompetensi kepribadian maupun sosial. ppl merupakan puncak dari pembekalan yang diberikan kepada mahasiswa dalam kaitannya dengan kompetensi yang harus dikuasai dan inti dari pendidikan guru itu sendiri. program pengalaman lapangan merupakan kegiatan kurikuler dengan bobot 4 sks dan dilaksanakan pada semester ke enam. mahasiswa bisa melaksanakan ppl setelah mengambil mata kuliah kependidikan, pembelajaran, dan microteachig. ppl bertujuan agar mahasiswa program studi s1 pgsd fkip ums memiliki kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. pelaksanaan ppl program studi pgsd fkip-ums melibatkan berbagai pihak, baik fkip-ums maupun pihak luar. oleh karena itu, perlu adanya perencanaan dan persiapan yang matang, baik yang berhubungan dengan mahasiswa, dosen pembimbing, sekolah mitra, dinas pendidikan dan kebudayaan maupun yayasan yang membawahi sekolah mitra. untuk menyamakan persepsi semua yang terlibat dalam pelaksanaan ppl dbuatkan pedoman ppl. pengelolaan pada dasarnya sama dengan manajemen, yang secara umum diartikan sebagai rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. manajemen berasal dari bahasa inggris to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan dan mengelola (echols, j. m. dan hasan shadily, 1987: 372). apa yang dimaksud dengan manajemen, manajemen seperti istilah lain yang berhubungan dengan aktivitas manusia sulit definisikan secara tepat. dalam kenyataannya tak ada definisi manajemen yang telah diterima secara umum. mary parker follett menefinisikan manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain (t. hani handoko, 2000: 10). definisi ini mengandung arti bahwa para manajer dalam mencapai tujuan organisasi melalui pengaturan orang lain untuk melakukan tugas-tugas yang mungkin diperlukan, jadi manajer tidak bekerja sendirian. model pengelolaan program pengalaman lapangan ... (muhroji dan catur budi setyanto) 153 definisi tersebut bisa saja digunakan, tetapi dalam kenyataannya manajemen pengertiannya bisa sangat luas, sehingga tidak ada definisi yang digunakan secara konsisten oleh semua orang. definisi yang lebih kompleks dikemukakan oleh stoner yang dikutip hadari nawawi (2000: 36) “manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan kegiatan anggota organisasi dan menggunakan sumber-sumber daya organisasi lainnya, agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”. mengartikan manajemen sebagai seni berarti manajemen itu merupakan kemampuan dan ketrampilan pribadi seseorang. sedang mengartikan manajemen sebagai proses menunjukkan bahwa manajemen itu merupakan cara yang sistematis dalam melakukan pekerjaan. manajemen merupakan proses karena semua manajer, siapapun orangnya, apakah punya atau tidak kecakapan dan ketrampilan khusus harus melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang saling berkaitan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. proses kegiatan-kegiatan manajemen, seperti perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan para ahli juga tidak ada kesepakatan mengenai kegiatan ini. perencanaan, bararti bahwa para manajer memikirkan kegiatan mereka sebelum melaksanakan. rencana ini disusun berdasarkan data, metode dan logika tertentu bukan berdasarkan pada dugaan atau pera-saan tertentu. pengorganisasian, berarti bahwa para manajer mengkoordinasikan sumua sumber daya baik personal maupun material. kemampuan manajer terletak pada kemampuan mengkoordinasikan semua sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. pengkoordinasian merupakan bagian vital dari tugas manajer. pengarahan, artinya manajer atau pemimpin mengarahkan, memimpin dan mempengaruhi bawahan untuk melakukan pekerjaan dalam rangka mencapai tujuan. pengawasan, artinya manajer berupaya untuk menjamin bahwa organisasi bergerak kearah tujuan yang telah ditentukan. pengelolaan ppl dalam penelitian ini artinya bagaimana program/kegiatan ppl di pgsd fkip-ums direncanakan, diorganisir, dilaksanakan dan bagaimana pengawasannya. pengelolaan ppl progam studi pgsd fkipums secara garis besar dibagi dua, yaitu a. terprogram, dan b. mandiri. ppl terprogram artinya tempat pelaksanaan ppl ditentukan oleh unit pelaksana ppl dan diperuntukkan bagi mahasiswa reguler, sedangkan ppl mandiri tempat ppl ditentukan oleh mahasiswa, diperuntukkan bagi mahasiswa yang sudah menjadi guru. metode penelitian jenis penelitian ini penelitian kualitatif dengan desain phenomenologis. artinya penelitian yang hasilnya menggambarkan fenomena yang terjadi pada pengelolaan ppl pgsd fkipums. penelitian dilaksanakan di fkip ums, sekolah mitra/tempat ppl dan lembaga yang terkait. penelitian dilaksanakan mulai juli 20136 januari 2014. data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder berkaitan dengan kegiatan ppl. data yang dikumpukan meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi ppl, yang mencakup tempat, waktu, personal dan proses pengelolaan ppl. data primer berasal dari nara sumber dan data sekunder diperoleh dari dokumen kegiatan ppl. sumber data berupa pedoman pelaksanaan ppl pgsd, dan dokumen kegiatan ppl. nara sumber dalam penelitian ini pimpinan fakultas, pimpinan program studi, kepala laboratorium microteaching dan ppl, dosen pembimbing lapangan, kepala sekolah, guru pamong/pembimbing dan mahasiswa. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 149-161154 peneliti bertindak sebagai instrumen penelitian dan siswa. teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi, observasi, dan wawancara serta forum group discussion (fgd). dokumentasi untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan pelaksanaan ppl. teknik dokumentasi penting dalam penelitian ini, karena penelitian ini diperuntukkan kejadian yang telah lalu atau pelaksanaan ppl tahun 2012 dan sebagian tahun 2013. sedangkan teknik interview digunakan untuk mengetahui kebijakan pengelolaan ppl dan mengecek data dokumen yang ada. sedangkan teknik observasi untuk mencocokkan data dokumen dan hasil interview dengan kondisi yang sebenarnya. instrumen yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan standar prosedur operasional ppl yang berlaku di buku pedoman maupun pelaksanaan yang dilakukan dibeberapa perguruan tinggi lain. wawancara dilakukan kepada pimpinan fakultas, pimpinan program studi, pengelola ppl, dosen pembimbing dan wakil guru pembimbing. fgd dilakukan untuk mendapatkan masukan bagaimana model pengelolaan ppl yang sesuai dengan tuntutan kompetensi. data dianalisis secara kritis. analisis kritis dilakukan dengan metode alir yang langkahlangkahnya meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. analisis kritis untuk mencari kelebihan dan kelemahan model pengelolaan ppl pgsd fkip-ums tahun 2012 dan membandingkan pelaksanaan dengan buku pedoman maupun membandingkan dengan tuntutan masyarakat sesuai dengan kompetensi. sumber data berupa pedoman pelaksanaan ppl, dan dokumen kegiatan ppl. nara sumber dalam penelitian ini pimpinan fakults, pimpinan program studi, kepala laboratorium microteaching dan ppl, dosen pembimbing lapangan, kepala sekolah, guru pamong dan mahasiswa. validitas data dilakukan dengan triangulasi metode maupun sumber serta dilakukan forum group discussion (fgd). hasil penelitian dan pembahasan ppl merupakan salah satu kegiatan kurikuler yang wajib dilaksanakan oleh mahasiswa agar memiliki empat kompetensi yang dipersyaratkan untuk menjadi guru professional, yaitu: kompetensi paedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. di australia dibagi menjadi 3, yaitu: profesional knowledge, profesional practice, dan profesional engagement (standards for graduating teachers, 2014). ppl merupakan kegiatan mengimplementasikan pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang telah dilakukan mahasiswa selama tiga tahun di bangku kuliah (pedoman, 2013; 1). penelitian yang dilakukan oleh edith samuel nayimuli (2009) dengan judul teaching practice: a make or break phase for studen teachers, menunjukkan bahwa praktek mengajar di sekolah memberikan pengalaman yang positif bagi mahasiswa, tetapi juga mengalami tantangan yang mempengaruhi persepsi mahasiswa terhadap profesi guru. oleh karena itu ppl harus dikelola dengan baik dan profesional. artinya ppl harus direncanakan, diorganisir, dilaksanakan dan di kontrol/diawasi dengan baik. pengelolaan ppl mencakup semua kegiatan yang berkaitan dengan ppl. kegiatan diawali dengan rapat koordinasi pengelola ppl dengan pimpinan program studi, pimpinan fakultas, dan pskgj, rapat akan lebih baik apabila tidak hanya dilaksanakan menjelang pelaksanaan ppl, tetapi sebelumnya sudah diadakan rapat dengan dosen microteaching yang diharapkan memberikan bekal kepada mahasiswa dalam pelaksanaan ppl. model pengelolaan program pengalaman lapangan ... (muhroji dan catur budi setyanto) 155 model pengelolaan ppl pgsd-fkip ums secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu: 1. ppl terprogram, dan 2. ppl mandiri. model pengelolaan terprogram adalah model pengelolaan dimana dari perencanaan sampai dengan evaluasi yang berperan aktif adalah unit pengelola ppl, sedangkan mahasiswa pasif. mahasiswa melaksanakan apa yang sudah diprogramkan oleh unit pengelola ppl. model pengelolaan terprogram diperuntukkan bagi mahasiswa reguler s1. model pengelolaan mandiri adalah model pengelolaan dimana mahasiswa berperan aktif dalam menentukan lokasi dan guru pembimbing. model pengelolaan mandiri diperuntukkan bagi mahasiswa yang sudah mengajar atau menjadi guru. program ini merupakan kerjasama dengan dinas pendidikan untuk meningkatkan kompetensi guru yang belum sarjana. perencanaan kegiatan ppl dilakukan oleh unit pengelola ppl pada laboratorium microteaching dan ppl fkip-ums. perencanaan kegiatan ppl terprogram dilaksanakan pada bulan mei-juni tahun berjalan sedangkan ppl mandiri dapat dilakukan setiap saat. perencanaan meliputi penentuan lokasi/tempat pelaksanaan ppl, program/kegiatan ppl dan rencana anggaran ppl. tempat atau sekolah yang dipakai pelaksanaan ppl harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. sekolah harus berakreditasi minimal b, b. lokasi disekitar kampus ums (kurang dari 10 km). c. jumlah murid cukup, d. memiliki minimal seorang guru yang profesional(s1 atau sertifikat pendidik), e. bersedia menjalin kerjasama dengan fkip-ums. untuk ppl mandiri tidak memperhatikan syarat-syarat tersebut. pada tahun 2013 mahasiswa pgsd fkip-ums yang mengikuti ppl terprogram ada 263 orang, ditempatkan di 25 sekolah dasar. kegiatan ppl yang direncanakan meliputi: 1). rapat koordinasi pimpinan program, pimpinan fakultas dan pengelola ppl. 2). rapat koordinasi antara pimpinan fakultas dengan pimpinan sekolah mitra. 3). penggandaan buku pedoman ppl pgsd fkip ums. 4). penyelesaian persyaratan akademik dan administrasi. 5). pembekalan dosen pembimbing lapangan. 6). pembekalan guru pamong. 7). pendistribusian mahasiswa ke sekolah/lembaga mitra. 8). penyerahan mahasiswa ke sekolah mitra. 9). pelaksanaan ppl di sekolah mitra. 10). monitoring pelaksanaan ppl di sekolah mitra. 11). evaluasi pelaksanaan ppl dengan sekolah mitra. 12). penarikan mahasiswa dari sekolah mitra. 13). penyusunan laporan pelaksanaan ppl. 14). penyerahan laporan pelaksanaan ppl. 15). penilaian peseta. 16). sertifikat dan yudicium(pedoman ppl, 2013; 4). kegiatan ppl mandiri lebih sederhana, karena peserta sudah menjadi guru, tujuannya lebih menekankan pada peningkatan kompetensi paedagogik dan kompetensi profesional. perencanaan ppl ditunjukkan adanya buku pedoman, standar operasional prosedur (sop), dan angaran kegiatan ppl. pedoman dan sop akan dapat dilaksanakan apabila didukung dengan anggaran yang memadai. secara umum buku pedoman yang ada sudah dapat mendukung tercapainya tujuan ppl, tetapi dalam operasionalnya perlu pedoman yang lebih detail. misalnya di sd yang dikembangkan 5 mata pelajaran, belum ada ketentuan mata pelajaran yang harus dipraktikkan mahasiswa, pedoman baru menunjuk pada frekuensi praktik pembelajaran. pedoman akan dapat dilaksanakan dengan baik apabila didukung dengan angaran yang memadai. pengorganisasian pelaksanaan ppl pgsd fkip-ums tidak ditangani oleh ketua program studi, tetapi dilaksanakan oleh unit laboratorium microteaching dan ppl sebagai unit pelaksana teknis fkip-ums. pengorganisasian pengelola ppl program studi pgsd fkip-ums sudah tepat tidak dikelola oleh program studi, karena beban program studi yang sudah berat untuk mengelola kegiatan kurikuler yang rutin. kegiatan profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 149-161156 ppl melibatkan banyak pihak, ekternal maupun internal oleh karena itu perlu pengelola yang memang hanya menangani ppl ( danny meirawan, 2004 dan uny, 2007). pelaksanaan ppl di sekolah mitra selama 2 bulan bagi sd biasa dan satu setengah bulan di sd yang melaksanakan pembelajaran fullday, ppl mandiri dilaksanakan selama satu bulan. apabila ada libur selain hari mingggu dan libur resmi tidak diperhitungkan. waktu pelaksanaan ini sudah termasuk pelaksanaan ujian ppl. observasi biasanya memakan waktu selama sekitar satu minggu. mahasiswa selama dua bulan akan melaksanakan kegiatan persekolahan dan pembelajaran. praktik persekolahan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan mahasiswa program studi s1 pgsd fkip ums dalam bidang yang berkaitan dengan manajemen sekolah dan kegiatan ekstra kurikuler. kegiatan praktik persekolahan yang dilakukan oleh mahasiswa antara lain: 1). mengikuti rapat guru. 2). membimbing kegiatan pramuka. 3). mengikuti kegiatan uks. 4). mengerjakan administrasi sekolah,4). membimbing ekstra kurikuler. 5). mengikuti upacara bendera. 6). tugas piket dan kegiatan lain yang menunjang wawasan keguruan. praktik pembelajaran dilakukan secara terbimbing dan mandiri, hal ini merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh mahasiswa program studi s1 pgsd fkip ums. mahasiswa melaksanakan praktik pembelajaran 10 sampai 20 kali sampai dinyatakan cakap dan trampil dalam melaksankan proses pembelajaran oleh guru pamong. mahasiswa prppl mandiri hanya melaksanakan praktik pembelajaran aktif dengan membuat rpp terbimbing minimal 5. frekuensi praktik pembelajaran dan praktik perskolahan ditiap sekolah sangat beragam, sehingga sering menimbulkan kecemburuan diantara mahasiswa. praktik pembelajaran meliputi kegiatan: a). membuat persiapan pembelajaran (rpp); b). melaksanakan proses pembelajaran; c. menyiapkan media pembelajaran; dan d). membuat evaluasi pembelajaran. koordinasi dengan sekolah mitra tahun 2013 dilaksanakan bersamaan dengan koordinasi dengan sekolah mitra sltp dan slta, pelaksanaan kurang efektif, karena pertama, jumlah sekolah mitra sd 25, tk 10 dan sekolah menengah lebih dari 30. kedua, materi ppl di sekolah dasar berbeda dengan ppl di sekolah menengah. ketiga, waktu koordinasi dengan sekolah mitra terbatas, keempat, dosen pembimbing tidak hanya membimbing di satu sekolah, tetapi rata-rata dua sekolah. koordinasi dengan sekolah mitra sebaiknya dipisahkan antara mitra sekolah dasar dengan mitra sekolah menengah maupun tk. pembimbingan mahasiswa perlu perbaikan, baik pembimbingan dari dosen maupun dari guru pamong. pembimbingan dari dosen kurang efektif, karena jumlah dosen pgsd fkip-ums jumlahnya terbatas, rasio pembimbingan 1 : 24, hal ini bisa diatasi dengan pelaksanaan ppl diadakan pada semester gasal dan semester genap atau lebih baik dibuat 3 gelombang/angkatan. setiap dosen hanya membimbing 12 atau 8 mahasiswa setiap kegiatan ppl. dengan konsekuensi membengkaknya anggaran ppl. pembimbingan daro guru pamong sangat beragam, kualifikasi guru pamong harus jelas, sesuai dengan standar guru profesional (uu no. 15 tahun 2005). pembimbingan dari guru pamong perlu spesifikasi yang jelas. misalnya pembimbingan dalam pembelajaran kelas rendah, dan kelas tinggi, pembimbingan untuk mata pelajaran ipa, matematika, bahasa indonesia, ips dan ppkn (uny, 2007). pembimbingan berkaitan dengan media pembelajaran maupun evaluasi pembelajaran. penunjukan pembimbing sepenuhnya diserahkan kepada kepala sekolah, sementara kondisi guru yang ada di sekolah mitra belum model pengelolaan program pengalaman lapangan ... (muhroji dan catur budi setyanto) 157 semua guru memenuhi guru profesional, baik pendidikan maupun kompetensinya. pengelola ppl dalam menentukan sekolah mitra harus memilih sekolah mitra yang dapat membimbing mahasiswa sesuai dengan tujuan ppl. syarat sekolah dasar bisa dipakai untuk ppl tidak hanya dilihat dari akreditasi sekolah tatapi di lihat sumber daya manusia/ guru yang dimiliki. pembekalan kepada mahasiswa sebenarnya sudah dilaksanakan jauh hari sebelum pelaksanaan ppl. secara akademik sejak mahasiswa masuk semester satu. pembekalan yang dilaksanakan di kampus dipandang masih kurang (fgd, 7 nopember 2013), terutama berkaitan dengan: pengelolaan kelas, media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, bahasa indonesia dan psikologi pendidikan. pembekalan di kampus disamping mata kuliah dan microteaching pada semester genap(semester 6) perlu di lengkapi dengan observasi di sekolah yang dilaksanakan secara terstruktur. pembekalan mahasiswa menjadi tanggung jawab semua dosen program studi, tidak bisa hanya dilaksanakan menjelang pelaksanaan ppl. penelitian yang dilakukan oleh magdalena kubanyiova (2006) menunjukkka bahwa pelatihan terhadap guru yang dilakukan selama 20 jam tidak mengubah pengetahuan dan perilaku guru dalam proses pembelajaran penelitian yang dilakukan oleh azeem, muhammad (2011) sebagian besar mahasiswa tidak diberitahu tentang aturan dan peraturan sekolah tempat praktik. pembimbingan mahasiswa sangat beragam, ada yang mendapatkan bimbingan yang maksimal baik didalam kelas maupun di luar kelas(persiapan maupun refleksi) tetapi ada yang lebih banyak bimbingan diluar kelas, sementara di kelas guru terlalu percaya kepada mahasiswa. pembimbingan pada awal pelaksanaan lebih intensif dibanding setelah satu bulan di lapangan. penelitian yang dilakukan oleh azeem, muhammad (2011) menemukan bahwa mahasiswa praktikan tidak diberikan pelatihan praktis metode yang beraneka ragam untuk mengajar sebelum mereka dikirim untuk praktik mengajar. pembimbingan masih lebih bersifat umum, tetapi kurang detail (fgd, 7 nopember 2013). misalnya pembibingan dalam strategi pembelajaran yang beraneka ragam (hisyam zaini, 2002), pembimbingan media pembelajaran atau pembimbingan dalam evaluasi pembelajaran. pembimbingan yang bersifat umum terjadi karena beragamnya guru pamong yang ada, baik ditinjau dari latar belakang pendidikan, maupun pengalaman serta pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru. dosen berkunjung ke sekolah untuk memberikan konsultasi 4-6 kali, dengan durasi waktu antara 1-2 jam(monev, 2013). pembimbingan lebih banyak bersifat umum, setelah bertemu kepala sekolah atau guru, bertemu dengan mahasiswa. dosen pembimbing perlu mengagendakan pertemuan antara guru pamong dan mahasiswa duduk bersama (rapat supervisi) mengevaluasi pelaksanaan ppl setelah berjalan sekitar satu bulan. laporan kegiatan sebaiknya dibuat setiap kegiatan dan bersifat akademik, misalnya kegiatan pembelajaran yang dilakukan dievaluasi dari beragai segi apa yang sudah baik dan apa yang kurang dan mengapa hal ini terjadi, kemudian diperbaiki pada aktivitas selanjutnya. penilaian dalam ujian ppl harus menggunakan penilaian acuan patokan (pap), tidak menggunakan penilaian acuan norma (pan). karena untuk melaksanakan tugas profesional calon guru harus memiliki kemampuan dan kecakapan serta ketrampilan minimal yang harus dimiliki guru. dalam kegiatan profesionalnya, guru harus mempunyai kemampuan untuk merencanakan program pembelajaran(rpp) dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan proses pembelajaran kedua kemampuan ini diperoleh melalui latihan yang berkesinambungan (depdiknas, 2012). profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 149-161158 pengawasan ppl dilakukan sejak perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi. pengawasan dilaksanakan dengan membuat pedoman ppl, penyusunan program kerja ppl yang mengacu kepada kurikulum yang berlaku dan perkembangan pendidikan dan iptek pada umumnya serta mengadakan monitoring dan evaluasi. pengawasan pelaksanaan ppl dilaksanakan dengan monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan pimpinan program studi dan pimpinan fakultas. monitoring ppl mandiri dilaksanakan dengan cara inspeksi mendadak yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. rapat evaluasi ppl tahun 2013 dilaksanakan pada tanggal 6 januari 2014. rapat evaluasi dilaksanakan secara menyeluruh pelaksanaan ppl mahasiswa fkip, sehingga evaluasi ppl pgsd kurang maksimal. sebaiknya rapat evaluasi ppl pgsd dilakukan terpisah dengan ppl program studi lain, karena mempunyai karakteristik yang berbeda dngan yang lain. memperhatikan pembahasan diatas penulis berpendapat pengelolaan ppl pgsd fkipums sebaiknya dilaksanakan terpadu. pengelolaan ppl terpadu dimaksudkan pengelolaan ppl yang memadukan antara harapan dengan kenyataan, tugas dan tanggung jawab dengan hak, kepentingan pgsd fkip-ums dengan sekolah mitra, kegiatan dan anggaran serta pelaksanaan pembelajaran dan persekolahan yang varatif dan terstruktur. sd-mitrapgsd-fkip 1. identifikasi dan analisis masalah, 2. perencanaan ppl, 3. pelaksanaan ppl, 4. pemantauan ppl, 5. penilaian dan 6. pelaporan ppl. pengelolaan terpadu dapat juga disebut model pengelolaan kolaboratif, pgsd fkipums dengan sekolah mitra terlibat dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari identifikasi dan analisis masalah, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, penilaian dan pelaporan ppl. pengelolaan ppl terpadu/kolaboratif dapat dikemukakan sebagai berikut: a. pengelolaan ppl pgsd dilaksanakan oleh unit pengelola ppl. b. kemitraan pgsd fkip-ums dengan sekolah mitra tidak hanya pada tahap implementasi ppl, tetapi sejak penyusuan kurikulum pgsd, pelaksanan ppl sampai tahap pelaporan. c. pgsd fkip-ums memiliki “sekolah laboratorium” d. pembekalan mahasiswa dilaksanakan secara terpadu. tanggung jawab pembekalan menjadi tanggung jawab program studi, artinya semua dosen pengampu mata kuliah, tidak hanya menjadi dosen microteaching dan dosen pembimbing. model pengelolaan program pengalaman lapangan ... (muhroji dan catur budi setyanto) 159 e. materi pembekalan dosen pembimbing dan guru pamong sama, sehingga persepsi terhadap pelaksanaan ppl sama. f. pelaksanaan ppl dapat dilakukan pada setiap semester. mahasiswa boleh memilih akan melaksanakan ppl pada semester gasal atau semester genap, dengan memperhatikan syarat-syarat yang ditentukan. g. ppl dilaksanakan sesuai dengan kalender sekolah. mahasiswa mulai melaksanakan ppl bersamaan dengan mulainya tahun ajaran/awal semester sekolah. h. mahasiswa dapat melaksanakan ppl terprogram maupun mandiri. ppl ter-program dilaksanakan di sekitar kampus den ppl mandiri dilaksanakan di sekolah dasar di daerah dimana mahasiswa bertempat tinggal/berasal. i. pelaksanaan pembelajaran dan persekolahan yang variatif dan terstruktur. pembelajaran yang dilaksanakan mahasiswa dengan menggunakan berbagai pendekatan, model dan strategi serta media pembelajaran. praktik persekolahan dengan materi yang beraneka ragam. kebijakan yang harus dilakukan oleh fkip-ums agar pengelolaan ppl terpadu dapat dilaksanakan adalah sebagai berikut: a. pgsd fkip-ums perlu memiliki “sekolah laboratorium”. artinyan pgsd fkip-ums bekerjasama dengan majlis pendidikan dasar dan menengah daerah, cabang atau ranting muhammadiyah yang ada di daerah sekitar ums untuk menjadikan sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah muhammadiyah menjadi sekolah laboratorium. manajemen personalia, siswaan, keuangan dan sarana tetap menjadi kewenangan majlis pendidikan dasar dan menengah muhammadiyah, tetapi manajemen kurikulum menjadi kewenangan pgsd fkip-ums b. kemitraan pgsd dengan sekolah tidak bisa hanya berkaitan dengan pelaksanaan ppl, tetapi harus lebih luas. mencakup pendidikan, penelitian dan pengembangan. sekolah dilibatkan dalam penyusunan kurikulum pgsd, dan kegiatan akademik lainnya c. pembiayaan ppl harus mencakup kegiatan yang komprehensif, pembiayaan tidak hanya dihitung pada pelaksanaan ppl, tetapi termasuk berbagai kegiatan yang mendukung pelaksanaan ppl d. penunjukan sekolah mitra lebih menekankan pada kompetensi guru pamong dibanding akreditasi sekolah. pgsd fkip-ums perlu memiliki data base sekolah mitra. data guru dan karyawan, sarana prasarana dan data siswa. simpulan dan saran dari uraian dan pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. pengelolaan ppl pgsd : a. dilaksanakan oleh unit pengelola ppl; b. model pengelolaan ppl pgsd-fkip ums secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu: 1). ppl terprogram, dan 1). ppl mandiri; c. ppl teprogram diperuntukkan bagi mahasiswa reguler, dilaksanakan pada semester vii, dan ppl mandiri untuk mahasiswa pskgj/mahasiswa yang sudah menjadi guru, dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan; d. ppl dalam kurikulum pgsd fkip-ums merupakan bagian integral dalam menyiapkan mahasiswa sebagai calon guru profesional; e. ppl pgsd fkip-ums masih lebih menekankan pada praktik persekolahan dan praktik pembelajaran. 2. model ppl pgsd yang diusulkan “model pengelolaan terpadu/kolaboratif”, kemitraan pgsd fkip-ums dengan sekolah mitra tidak hanya pada tahap implementasi ppl, tetapi sejak penyusuan kurikulum profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 149-161160 pgsd, pelaksanan ppl sampai tahap pelaporan. 3. kebijakan yang seharusnya dilakukan pgsd fkip-ums adalah: a. perlu memiliki “sekolah laboratorium”; b. pembiayaan ppl harus mencakup kegiatan yang komprehensif; c. penunjukan sekolah mitra lebih menekankan pada kompetensi guru pamong dibanding akreditasi sekolah. daftar pustaka depdikbud, 2012. kebijakan pengembangan profesi guru, jakarta: pusbangprogdi. echols j. m. dan hassan shadily, 1987, kamus inggris indonesia, jakarta: gramedia. edith kiggundu, and samuel nayimuli, 2009, teaching practice: a make or break phase for student teachers, south african journal of education,copyright © 2009 easa vol 29: p. 345-358 fkip-ums, 2012. program pengalaman lapangan, surakarta: laboratorium fakultas. fkip-ums,2013. buku pedoman fkip, surakarta: fkip-ums. helena orrje, tt, the incidence of of on-the-job training, an empirical study using swedish data, sweden: swedish institute for social research stockholm university s-106 91 stockholm p. 1-25. hisyam zaini dkk., 2002. desain pembelajaran, yogyakarta: ctsd iain yogyakarta. kathleen stassen berger theory and practice: teachingin the real world the nea higher education journal 107,p. 107-116 marie tejero hughes & diana martinez valle riestra, 2012 , early childhood special education: insights from educators and families, international journal of education, issn 19485476 2012, vol. 4, no. 2 p. 59-73. mamduh m. hanafi, 1997, manajemen, yogyakarta: upp amp ykpn. mulyadi dan johny setyawan, 2001, sistem perencanaan dan pengendalian manajemen, jakarta: salemba empat. peraturan pemerintah republik indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. peraturan pemerintah republik indonesia nomor 74 tahun 2008 tetang guru. suharsimi arikunto, 2008, manajemen pendidikan, yogyakarta: aditya media. t. hani handoko, 1994, manajemen, yogyakarta: bpfe. undang-undang republik indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. undang-undang republik indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen. model pengelolaan program pengalaman lapangan ... (muhroji dan catur budi setyanto) 161 uny, 2007. panduan praktik pengalaman lapangan, yogyakarta: fip-uny upi,tt. panduan praktek kependidikan(ppk), bandung: upt ppl. victorian institute of teaching, 2013. standards for graduating teachers. w. qazi, k. j. rawat, m. y sharjeel, and ms shila devii, 2009, teacher perception about implementation strategy of b.ed teaching practice in real school classrooms: issues and challenges, the s.u. jour. of ed. vol. xxxviii, 2008-09, pp. 54-76. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 162-17482162 peningkatan hasil belajar matematika pada soal cerita melalui strategi think talk write (ttw) siswa kelas v sd negeri 02 gemantar mulyadi s.k dan santi ermawati pgsd fkip universitas muhammadiyah surakarta abstract classroom action research is one of the efforts of teachers in teaching skills upgrading and simultaneously improve the ability to manage learning in the classroom. in mathematics learning has become one of the subject is regarded as the benchmark performance of other maple, require attention before another subject. therefore, this research is also about “the increase in the mathematics learning outcomes through the story about learning strategies think talk write (ttw). this type of research is the ptk (classroom action research. subject receiver is action elementary school fifth grade students 02 gemantar totaling 22 students. data were collected using observations at the beginning of the study remedy find problems in class, documentation to record the traces of mathematics learning outcome , a test to determine the achievement of learning outcomes after a given action . data analysis was performed with data reduction step, the presentation of the data, drawing conclusions and verification. this study was conducted in several cycles, the final study showed an increase in learning outcomes in mathematics story problems with strategies think talk write. it can be seen from the results obtained studying pre cycle 7 students reach kkm with an average 52.727, and 31.819 % mastery learning. in the first cycle obtained by 12 students who achieve kkm with the average value of 71.59%, and mastery learning 54.55 %. in the second cycle obtained by 19 students reach kkm with an average value of 81.25%, and 86.364 % mastery learning. the results of this study can be concluded that the implementation of strategies think talk write (ttw) can improve learning outcomes in math word problems . keywords: learning outcomes , think talk write , about the story. pendahuluan penenerapan strategi pembelajaran harus dilakukan guru ketika mengajar di kelas. pemilihan strategi perlu mempertimbangkan tujuan, penilaian, dan bahan ajar. dengan mengubah cara berpikir yang konkret dan praktis, pembelajaran dapat mengubah peserta didik dari tidak tahu menjadi tahu dan yang sudah tahu akan menjadi lebih paham. pembelajaran merupakan suatu proses yang bertujuan menumbuhkembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang lebih dewasa, beradab, dan normal. potensi merupakan bawaan sejak lahir. guru bertugas mengembangkan potensi siswa semaksimal mungkin, peningkatan hasil belajar matematika pada soal cerita ... (mulyadi s.k dan santi ermawati) 163 agar tercipta peserta didik yang berkompeten. pendidikan formal merupakan salah satu tempat untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang baru. di sekolah formal, kompetensi yang harus dikuasai peserta didik telah ditentukan. demikian juga pendidikan nonformal, baik di rumah maupun lingkungan, seperti les privat yang dikelola lembaga swadaya masyarakat juga membantu siswa menambah ilmu pengetahuan siswa. pada umumnya, matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit. hal ini terjadi karena faktor intern dan faktor ekstern. faktor intern berupa motivasi, bakat, intelegen, kesehatan, dan kemampuan yang dimiliki peserta didik. sedangkan faktor ekstern berupa fasilitas belajar, sarana dan prasarana sekolah, guru, orang tua, media pembelajaran, metode, dan strategi pembelajaran. matematika sebagai ilmu hitung, menggunakan jenis soal-soal berangka dan soal cerita. soal cerita membutuhkan pemahaman yang lebih untuk menganalisis cerita dari pada soal yang tersusun dari angka-angka saja. oleh sebab itu, diperlukan model dan strategi pembelajaran yang sesuai dan inovatif agar siswa mudah mengerjakan soal cerita tersebut. salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan untuk tujuan tersebut yaitu strategi pembelajaran think talk write (ttw). penggunaan model strategi pembelajaran think talk write (ttw) akan memudahkan siswa memahami soal cerita dalam pelajaran matematika karena strategi pembelajaran ini menerapkan dan menindak dengan cermat masalah matematika melalui kegiatan berpikir (think), berbicara/berdiskusi, dan bertukar pendapat (talk), dan menulis hasil diskusi (write), sehingga dalam pengerjaannya akan lebih cepat dan hasilnya akan lebih baik. hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. pengertian hasil menunjukkan pada suatu perolehan akibat dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. gunarso memberi pengertian hasil belajar merupakan keluaran (output) dari suatu sistem pemprosesan masukan (input) (dalam samino dan saring marsudi, 2012:48). faktor-faktor yang menentukan hasil belajar, meliputi faktor internal dan ekstenal. 1) faktor intenal, meliputi: (a) faktor fisiologia, terletak pada kondisi fisik peserta didik, misalnya kesehatan badan sedang prima atau lelah, gizi makanan sedang terpenuhi atau kekurangan gizi, badan sedang kurang sehat atau sakit, kondisi sedang terganggu dan lain sebagainya, (b) faktor psikologis, meliputi kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat, dengan klasifikasi dalam belajar, yaitu: perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berpikir, bakat, dan motivasi. 2) faktor eksternal, meliputi: (a) faktor lingkungan sosial yaitu lingkungan sosial sekolah, masyarakat dan keluarga. lingkungan sosial sekolah, antara lain: guru, para staf administrasi, dan teman-teman sekelas yang dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. lingkungan sosial masyarakat adalah tetangga, teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa tersebut. lingkungan sosial keluarga yaitu orang tua dan keluarga siswa, (b) faktor lingkungan nonsosial, meliputi: lingkungan alamiah, lingkungan instrumental, dan lingkungan materi pelajaran. domain hasil belajar dalam usman dan lilis setiawati (1993:111-118) terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. berikut ini penjelasan tentang aspek-aspek di atas. 1) aspek kognitif terbagi menjadi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintetis, dan evaluasi. pengetahuan merupakan ingatan terhadap materi-materi atau bahan yang telah dipelajari sebelumnya. ingatan mencangkup profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 162-17482164 mengingat semua hal, dari fakta-fakta yang sangat khusus sampai teori yang kompleks. pengetahuan merupakan hasil belajar yang sangat rendah tingkatanya. pemahaman merupakan kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajari. ini dapat ditunjukkan dengan menerjemahkan materi dari satu bentuk yang lain (dari katakata kepada angka-angka), menginterprestasikan materi (menjelaskan, meringkas), meramalkan akibat dari sesuatu. hasil belajar ini satu tingkat lebih tinggi dari yang pertama tetapi masih merupakan pemahaman tingkat rendah. aplikasi merupakan kemampuan untuk menggunakan apa yang telah dipelajari dam situasi kongret yang baru. ini mencangkup penggunaan hal seperti peraturan, metode, konsep-konsep, hukum, dan teori. hasil belajar dalam bidang ini memerlukan tingkat pengertian yang lebih tinggi dari pemahaman. analisis merupakan kemampuan untuk menguraikan sesuatu materi atau bahan kedalam bagianbagiannya sehingga struktur organisasinya dapat dipahami. ini mencakup identifikasi bagian, analisis hubungan antar bagian, dan pengenalan prinsip-prinsip organisasi yang digunakan. hasil belajar disini lebih menunjukkan tingkat intelektual yang tinggi dari pada pemahaman dan aplikasi karena hasil belajar itu menghendaki pengertian dari isi dan bentuk struktur dari materi. sintetis merupakan kemampuan untuk menggabungkan bagian-bangian untuk membentuk keseluruhn yang baru. ini mencangkup produksi dari satu komunikasi yang unit, suatu rencana pelaksanaan (research proposal) atau susunan hubungan yang abstrak (skema mengklarifikasikan informasi). hasil belajar disini ditekankan pada tingkah laku yang kreatif dengan penekanan utama pada formulasi pola atau struktur yang baru. evaluuasi merupakan kemampuan untuk mempertimbangkan nilai suatu materi (pernyataan, novel, puisi, laporan dan penelitian), untuk tujuan-tujuan yang telah ditentukan. hasil belajar dalam bidang ini adalah yang tertinggi dalam hirarki kognitif karena hasil belajar ini menyangkut elemen atau bagian dari domain yang lain. 2) aspek afektif aspek afektif terdiri dari penerimaan, pemberian respon, penilaian, pengorganisasian, dan pengkarakterisasian. penerimaan merupakan kemampuan dan kesukarelaan memperhatikan dalam memberikan respon terhadap stimulasiyang tepat. hasil belajar ini merupakan tingkat paling rendah pada domain afektif. pemberian respon merupakan kemampuan untuk dapat memberikan respon secara aktif, menjadi peserta yang tertarik.hasil belajar ini satu tingkat lebih tinggi dari pada penerimaan. penilaian merupakan kemampuan untuk dapat memberikan penilaian atau pertimbangan dan pentingnya keterikatan pada suatu objek atau kejadian tertentu dengan reaksi seperti menerima, menolak, tidak menghiraukan, acuh atau tak acuh. perilaku tersebut dapat diklarifikasikan mejadi sikap dan apresiasi. pengorganisasian merupakan kemampuan yang mengacu pada pernyataan dari nilai sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflikkonflik internal dan membentuk suatu system nilai internal mencangkup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup. pengkarakterisasian merupakan kemampuan yang mengacu pada karakter dan gaya hidup seseorang. nilai-nilai sangat berkembang teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. tujuan dalam kategori ini bisa ada hubungan dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi siswa. peningkatan hasil belajar matematika pada soal cerita ... (mulyadi s.k dan santi ermawati) 165 3) aspek psikomotorik aspek psikomotorik terbagi menjadi lima, yakni: peniruan, manipulasi, ketetapan, artikulasi, dan pengalamiahan. peniruan terjadi ketika mengamati suatu gerakan. peniruan ini umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna. manipulasi, menekankan pada perkembangan kemempuan mengikuti pengarahan penempilan gerakangerakan pilihan, dan menerapkan suatu penampilan melalui latihan. pada tingkat ini menampilkan sesuatu menurut petunjukpetunjuk, tidak hanya meniru tingkah laku saja. ketetapan, memerlukan kecermatan, proporsi, dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum. artikulasi, menekankan pada koordinasi suatu rangkaian dengan gerakan membuat urutan tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal antara gerakan-gerakan yang berbeda. pengalamiahan, menurut tingkah laku yang ditampilkan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. gerakan dilakukan secara rutin. menurut nana sudjana (2006:35) penilaian hasil belajar terdiri dari tes, baik tes uraian (esai) maupun tes objektif. tes merupakan alat penilaian berupa pertanyaan-pertanyaan yang diberikan kepada siswa untuk dijawab dalam bentuk tes lisan, tulis, dan perbuatan. tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar siswa terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. model pembelajaran sering dimaknai sama dengan pendekatan pembelajaran. sebenarnya model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada makna pendekatan, strategi, metode, dan teknik. model pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau pola yang dapat digunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap muka di dalam kelas dan menentukan material/perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, media (film-film), tipetipe, program-program media komputer, dan kurikulum (sebagai kursus untuk belajar). fungsi model pembelajaran yakni sebagai pedoman perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. oleh karena itu, pemilihan model sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan dibelajarkan, tujuan (kompetensi) yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, serta tingkat kemampuan peserta didik. model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pendekatan, strategi, metode, dan teknik. suatu model pembelajaran akan memuat antara lain: (a) deskripsi lingkungan belajar, (b) pendekatan, metode, teknik, dan strategi, (c) manfaat pembelajaran, (d) materi pembelajaran (kurikulum), (e) media, dan (f) desain pembelajaran. suatu rancangan pembelajaran atau rencana pembelajaran disebut menggunakan model pembelajaran apabila mempunyai empat ciri khusus, yaitu: (a) rasional teoretik yang logis yang disusun oleh penciptanya atau pengembangnya, (b) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai), (c) tingkah laku yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil, dan (d) lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai (kardi dan nur dalam trianto, 2007). model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajaran, sintaknya (langkah-langkahnya), dan sifat lingkungan belajarnya. arends (1997) menyebutkan enam model pembelajaran yang sering dan praktis digunakan guru dalam pembelajaran, yaitu: presentasi, pengajaran langsung (direct instruction), pengajaran konsep, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berdasarkan masalah profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 162-17482166 (problem base instruction), dan diskusi kelas. ada banyak model pembelajaran yang dapat digunakan dalam implementasi pembelajaran di antaranya sebagai berikut (karli dan yuliariatiningsih 2002): (a) model pembelajaran kontekstual (ctl), (b) model pembelajaran berdasarkan masalah, (c) model pembelajaran konstruktivisme, (d) model dengan pendekatan lingkungan, (e) model pengajaran langsung, (f) model pembelajaran terpadu, dan (g) model pembelajaran interaktif. dalam pembelajaran suatu materi (tujuan/ kompetensi) tertentu, tidak ada satu model pembelajaran yang lebih baik dari model pembelajaran lainnya, artinya setiap model pembelajaran harus disesuaikan dengan konsep yang lebih cocok dan dapat dipadukan dengan model pembelajaran yang lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa. oleh karena itu, dalam memilih suatu model pembelajaran harus mempertimbangkan, antara lain: materi pelajaran, jam pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa, lingkungan belajar, dan fasilitas penunjang yang tersedia. dengan cara tersebut, tujuan (kompetensi) pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. hal itu sejalan dengan pemikiran arends (1997:7) yaitu model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahapkegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. hal itu dengan harapan bahwa setiap model pembelajaran dapat mengarahkan kita mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam pemilihan model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh: 1) sifat dari materi yang akan diajarkan, 2) tujuan akan dicapai dalam pengajaran, 3) tingkat kemampuan peserta didik, 4) jam pelajaran (waktu pelajaran), 5) lingkungan belajar, dan 6) fasilitas penunjang yang tersedia. kualitas model pembelajaran dapat dilihat dari dua aspek, yaitu proses dan produk. aspek proses mengacu apakah pembelajaran mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan (joyfull learning) serta mendorong siswa untuk aktif belajar dan berpikir kreatif. aspek produk mengacu apakah pembelajaran mampu mencapai tujuan (kompetensi) yaitu meningkatkan kemampuan siswa sesuai dengan standar kemampuan atau kompetensi yang ditentukan. dalam hal ini sebelum melihat hasilnya, terlebih dahulu aspek proses sudah dapat dipastikan berlangsung baik. oleh karena itu, setiap model memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda. setiap model memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan pada sistem sosial kelas. sifat materi dari sistem saraf (penerimaan/proses berpikir) banyak konsep dan informasi-informasi dari teks buku bacaan materi ajar siswa, di samping banyak kegiatan pengamatan gambar-gambar. tujuan yang akan dicapai meliputi aspek kognitif (produk dan proses) dari kegiatan pemahaman bacaan dan lembar kegiatan siswa (trianto 2007:5-6). strategi think talk write (ttw) diperkenalkan oleh huinker dan laughin dalam ansari (2008: 84) ini pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara, dan menulis. alur ttw dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. suasana seperti ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen antara 3-5 orang siswa. dalam kelompok ini siswa diminta membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengarkan, dan membagi ide bersama teman, kemudian mengungkapkannya melalui tulisan. menurut halmaheri dalam move (2012:1), langkah-langkah pembelajaran dengan strategi think talk write (ttw) sebagai berikut: peningkatan hasil belajar matematika pada soal cerita ... (mulyadi s.k dan santi ermawati) 167 1) pendahuluan. kegiatan ini dilakukan oleh guru, antara lain: menginformasikan materi yang akan dipelajari dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai; menjelaskan tentang teknik pembelajaran dengan strategi ttw serta tugas-tugas dan aktivitas siswa; melakukan apersepsi; memberi motivasi agar siswa berperan aktif dalam pembelajaran; membagi siswa dalam kelompok kecil (3-5 siswa). 2) kegiatan inti. kegiatan ini dilakukan guru. guru membagi lembar kerja siswa (lks) kepada siswa; siswa secara individu diminta untuk menuangkan ide-idenya mengenai kemungkinan jawaban dan langkah penyelesaian atas masalah yang diberikan serta hal-hal apa saja yang diketahui dan atau yang belum diketahui yang ditulis dalam bentuk catatan kecil yang akan menjadi bahan untuk melakukan diskusi kelompok (think); siswa mendiskusikan hasil catatannya (saling menukar ide) agar diperoleh kesepakatan-kesepakatan dalam kelompok (talk); guru berkeliling kelas untuk memonitor jalannya; diskusi dan jika sangat diperlukan guru dapat membantu seperlunya; secara individu, siswa menuliskan semua jawaban atas permasalahan yang diberikan secara lengkap, jelas dan mudah dibaca (write); e) beberapa perwakilan kelompok dipilih secara acak untuk mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas, sedangkan kelompok yang tidak terpilih memberi tanggapan atau pendapatnya. 3) penutup guru bersama siswa membuat kesimpulan dari materi yang telah dipelajari. menurut silver dan smith dalam anshari (2008:40), peranan dan tugas guru dalam mengefektifkan penggunaan teknik ttw adalah: 1) mengajukan pertanyaan dan tugas yang mendatangkan keterlibatan dan menantang setiap siswa untuk berpikir; 2) mendengarkan secara hati-hati ide siswa; 3) menyuruh siswa menuangkan ide-ide secara lisan dan tulisan; 4) memutuskan apa yang digali dan dibawa siswa dalam diskusi; 5) memutuskan kapan memberi informasi, mengklarifikasi persoalanpersoalan, menggunakan model, membimbing dan membiarkan siswa berjuang dengan kesulitan; 6) memonitoring dan menilai pertisipasi siswa dalam diskusi dan memutuskan kapan dan bagaimana mendorong setiap siswa untuk berpartisipasi. menurut eva ratnawati (2012:37) penggunaan strategi think talk write memiliki kelebihan dan kelemahan. adapun kelebihan dari strategi think talk write, antara lain: dapat membantu siswa mengontruksikan pengetahuannya sendiri sehingga pemahaman konsepnya menjadi lebih baik; dapat mengkomunikasikan dan mendiskusikan pemikirannya dengan temannya sehingga siswa lebih memahami materi yang diajarkan; dapat melatih siswa untuk menuliskan hasil diskusinya kedalam bentuk tulisan; membantu siswa untuk mengkomunikasikan ide-idenya secara lisan maupun tulis dalam rangka memecahkan suatu masalah. kelemahan dari strategi think talk write, antara lain: pada awalnya mungkin terdapat siswa yang segan mengeluarkan ide/pendapatnya baik secara tertulis maupun lisan; memerlukan waktu cakup banyak untuk siswa membaca dan mendiskusikan materi yang dipelajari; siswa bekerja dalam kelompok, sehingga penilaian individu menjadi sulit karena tersembunyi dalam kelompok. menurut ruseffendi (dalam heruman, 2007:1) matematika adalah bahasa simbol, ilmu dedukatif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan ke unsur yang didefinisikan, profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 162-17482168 ke aksinoma atau postulat, dan akhirnya ke dalil. ada enam pandangan terhadap hakikat matematika menurut ibrahim dan suparni (2012:2-12), yaitu: (1) matematika sebagai ilmu dedukatif. matematika disebut ilmu dedukatif sebab matematika tidak menerima generalisasi yang berdasarkan pada observasi eksperimen coba-coba (induktif) seperti halnya ilmu pengetahuan alam dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, (2) matematika sebagai ilmu tentang pola dan hubungan. matematika adalah ilmu tentang pola dan hubungan sebab dalam matematika sering dicari keseragaman seperti keturutan, dan keterkaitan pola dari sekumpulan konsep-konsep tertentu atau model-model yang merupakan representasinya, sehingga dapat dibuat generalisasinya untuk selanjutnya dibuktikan kebenarannya secara deduktif, (3) matematika sebagai bahasa. matematika adalah bahasa, sebab matematika merupakan sekumpulan simbol yang memiliki makna atau dikatakan sebagai bahasa simbol. bahasa simbolnya ini bahkan berlaku secarauniversal dan sangat padat makna dari pernyataan yang ingin disampaikan, (4) matematika sebagai ilmu tentang struktur yang terorganisasi. matematika adalah ilmu tentang struktur yang terorganisasi, sebab matematika terdiri dari beberapa komponen yang membentuk sistem yang saling berhubungan dan terorganisir dengan baik, (5) matematika sebagai seni. matematika adalah seni, sebab dalam matematika terlihat adanya unsur keteraturan, keterurutan, dan konsisten, (6) matematika sebagai aktifitas manusia. matematika merupaka hasil karya manusia sehingga bisa dikatakan merupakan kebudayaan manusia. soal cerita menurut winarni dan sri harmini (2011:122) adalah soal matematika yang diungkapkan atau dinyatakan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat dalam bentuk cerita yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, atau soal matematika yang dinyatakan dengan serangkaian kalimat. menurut abidin dalam syamrilaode, 2010:1) mengemukakan bahwa soal cerita adalah soal yang disajikan dalam bentuk cerita pendek. cerita yang diungkapkan dapat merupakan masalah kehidupan sehari-hari atau masalah lainnya. bobot masalah yang diungkapkan akan mpengaruhi panjang pendeknya ceritatersebut. makin besar bobot masalah yang diungkapkan memungkinkan panjang cerita yang disajikan. menurut haji (dalam syamrilaode, 2010:1) mengungkapkan bahwa untuk menyelesaikan soal cerita dengan benar diperlukan kemampuan awal, yaitu kemampuan untuk: (1) menentukan hal yang diketahui dalam soal; (2) menentukan hal yang ditanyakan; (3) membuat model matematika; (4) melakukan perhitungan; dan (5) menginterpretasikan jawaban model ke permasalahan semula. hal ini sejalan dengan langkah-langkah penyelesaian soal cerita sebagaimana dituangkan dalam pedoman umum matematika sekolah dasar (1983), yaitu: (1) membaca soal dan memikirkan hubungan antara bilangan-bilangan yang ada dalam soal; (2) menuliskan kalimat matematika; (3) menyelesaikan kalimat matematika; dan (4) menggunakan penyelesaian untuk menjawab pertanyaan. menurut apiqquantum (2010:1) tips dan cara membuat soal latihan matematika yang mudah, asyik, dan kreatif, antara lain: rencanakan tujuan utama dari soal latihan matematika, susun soal latihan secara bertahap, dan pastikan bahwa solusi soal latihan tersebut sesuai dengan tingkat kematangan siswa. winarni dan sri harmini (2011:123) menyajikan langkah-langkah yang dapat dijadikan pedoman untuk menyelesaikan soal cerita, yaitu: temukan/cari apa yang ditanyakan oleh soal cerita itu, cari informasi/keterangan yang esensial, pilih operasi/pengerjaan yang sesuai, tulis kalimat matematikanya, selesaikan kalimat matematikanya, nyatakan jawaban dari soal cerita itu dalam bahasa indonesias ehingga menjawab dari soal cerita tersebut. peningkatan hasil belajar matematika pada soal cerita ... (mulyadi s.k dan santi ermawati) 169 menurut soedjadi dalam makmunhidayat (2010:1) untuk menyelesaikan soal matematika dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: membaca soal dengan cermat untuk menangkap tiap makna kalimat, memisahkan dan mengungkapkan apa yang diketahui dalam soal, apa yang ditanyakan dalam soal, operasi pengerjaan apa yang diperlukan, membuat model matematika dari soal, menyelesaikan model menurut aturan-aturan matematika, sehingga mendapatkan jawaban dari model tersebut, mengembalikan jawaban soal kepada jawaban asal. metode penelitian tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. bertempat di sd negeri 02 gemantar, kecamatan jumantono, kabupaten karanganyar, tahun ajaran 2012/2013. penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas. prosedur penelitian yakni mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodelogi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat unutk meningkatkan mutu kualitas proses pemeblajaran guru di kelas. upaya peningkatan mutu proses tersebut dilakukan meliputi; kegiatan perencanaan, pelaksanaan kegiatan, observasi, refleksi dan evaluasi, serta penyimpulan. pengumpulan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi,tes, dan wawancara. teknik analisis data dilakukan dengan langkah reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus dilaksanakan dengan dua kali pertemuan. indikator yang harus dicapai adalah adanya peningkatan hasil belajar matematika pada soal cerita dengan kriteria ketuntasan minimum (kkm) sekurangkurangnya 75% siswa kelas v sd negeri 02 gemantar, mendapatkan nilai ketuntasan belajar individu sebesar e” 70 dalam menyelesaikan soal cerita pada mata pelajaran matematika. hasil dan pembahasan hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar matematika pada soal cerita dengan model think talk write. setelelah peneliti berkolaborasi dengan guru kelas sejak pembuatan rpp, perumusan sintaks dan langkah strategi inivatif yang di pilih, sampai pelaksanaan pembelajarannya melalalui beberapa kali pertemuan, dimana setiap pertemuan diadakan tes dan pengamatan tndak belajar siswa dengan observasi dan tindak mengajar dengan merefleksi setiapkali akhir petemuan. apabila dilihat hasil belajar saat prasiklus diperoleh 7 siswa (31,819%) mencapai kkm (e”70)dengan ratarata kelas 52,727, ternyata ada peningkatan hasil belajar sebgaimana pada tabel 1. pada capaian hasil belajar pra siklus, ini dikarenakan guru masih kurang memperhatikan bagaimana dan apa yang harus ajarkan pada siswanya tanpa memikirkan hasil blajar yang di capai siswa, sebagaimana hasil tes sebebelum dilakukan tindakan perbaikan pembelajaran, sebgaimana tampak pada grafik, yang diolah berdasarkan data mentah diatas tampaklah pada grafik 1. berangkat dari hasil beljar yang demikian peneliti merasa perlu ada sentuhan strategi pembelajran yang inovatif dan kratifitas dari guru. tetapi setelah dilakukan perbaikan proses pembelajran sebagaimana yang peneliti lakukan, maka dapatlah diamati perubahan atau penngkatannya. pada siklus i diperoleh 12 siswa (54,55%)yang mencapai kkm (e”70) dengan nilai rata-rata kelas 71,591. pada siklus ii diperoleh 19 siswa (86,364%) mencapai kkm (e”70) dengan nilai rata-rata kelas 81,25. berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model think talk write profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 162-17482170 n kkm prasiklus sikulus i siklus ii pert i pert ii rata-rata pert i pert ii rata-rata 1 70 50 75 75 62,5 75 100 87,5 2 70 25 50 50 37,5 50 50 50 3 70 100 100 100 100 100 100 100 4 70 50 50 50 50 75 75 75 5 70 50 75 75 62,5 75 75 75 6 70 25 75 75 50 50 100 75 7 70 100 75 75 87,5 75 75 75 8 70 100 75 75 87,5 50 100 75 9 70 100 75 75 87,5 75 75 75 10 70 25 75 75 50 50 100 75 11 70 75 75 75 75 75 75 75 12 70 100 75 75 87,5 100 100 100 13 70 50 75 75 62,5 75 75 75 14 70 75 75 75 75 75 100 87,5 15 70 50 50 50 50 75 100 87,5 16 70 25 75 75 50 50 75 62,5 17 70 100 50 50 75 75 100 87,5 18 70 75 75 75 75 75 100 87,5 19 70 100 75 75 87,5 100 100 100 20 70 100 100 100 100 100 100 100 21 70 100 100 100 100 100 100 100 22 70 40 50 75 62,5 75 50 62,5 tabel 1. hasil belajar pra siklus, siklus i, siklus ii dan rerata. gambar 1. diagram pencapaian nilai pra siklus peningkatan hasil belajar matematika pada soal cerita ... (mulyadi s.k dan santi ermawati) 171 (ttw) dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran matematika pada soal cerita siswa kelas v sd negeri 02 gemantar. berdasarkan observasi prasiklus, dominasi guru tinggi dan menjadikan siswa kurang aktif, metode pembelajaran konvensional yang berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu dilakukan inovasi strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi soal cerita matematika, salah satunya adalah strategi think talk write (ttw). pembelajaran dengan menggunakan strategi think talk write (ttw) menekankan siswa untuk aktif, yaitu dengan berpikir secara individu, berdiskusi kelompok dan mengerjakan secara mandiri. metode ttw dapat meningkatkan pamahaman siswa mengenai soal cerita pada matematika, ditunjukkan adanya peningkatan nilai evaluasi siswa tiap siklus. dengan demikian siswa menjadi lebih bersemangat untuk belajar matematika khususnya pada soal cerita. gambar 2. diagram pencapaian nilai siklus i gambar 3. diagram pencapaian nilai siklus ii profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 162-17482172 terbukti hasil yang dicapai melalui penelitian ini benar-benar meningkat hasil belajar pada siswa dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. kondisi awal (pra siklus). pra siklus dilakukan untuk mengetahui hasilbelajar siswa sebelum dilakukan tindakan. pra siklus dilaksanakan pada hari rabu, 2 januari 2013. dari hasil evaluasi pra siklus dapat diperoleh hasil belajar siswa yang mencapai kkm adalah 7 siswa dari 22 siswa, dan ratarata nilai kelas 52,727. dengan prosentase siswa yang melampaui kkm 31,819%. 2. siklus i. hasil belajar pada siklus i mengalami peningkatan dari pada pra siklus. dari data akumulasi siklus i pada pertemuan i dan pertemuan ii,diperoleh rata-rata nilai 71,591, dengan banyak siswa yang melampaui kkm ada 12 siswa. prosentase siswa yang mencapai diatas kkm adalah 54, 55%. 3. siklus ii hasil belajar pada siklus ii mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus i. dari data akumulasi siklus ii pada pertemuan i dan pertemuan ii, diperoleh nilai rata-rata 81,25 dengan banyak siswa yang melapaui kkm ada 19 siswa. prosentase siswa yang diatas kkm 86,374%. jadi, pada siklus i pertemuan i hasil belajar mata pelajaran matematika pada soal cerita dengan nilai rata-rata kelas 69,318 dengan 12 siswa (54,55%). pertemuan ii hasil belajar mengalami peningkatan dengan ditunjukkan peningkatan rata-rata kelas menjadi 73,86 dengan 18 siswa (81,82%). pada siklus ii pertemuan i hasil belajar mata pelajaran matematika pada soal cerita dengan nilai ratarata kelas 75 dengan 17 siswa (77,27%). pertemuan ii hasil belajar mengalami peningkatan dengan ditunjukkan peningkatan rata-rata kelas menjadi 87,5 dengan 20 siswa (90,91%). rata-rata nilai kelas adalah 81,25 dengan 19 siswa yang mencapai kkm dengan prosentase 86,364%. sedangakan pada siklus i nilai ratarata yang dicapai 71,591 dengan 12 siswa yang mencapai kkm dengan prosentase 54,55%. kesimpulannya bahwa pada siklus ii terjadi peningkatan hasil belajar matematika pada soal cerita, siswa telah mencapai kkm. simpulan berdasarkan analisis hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan dalam dua siklus yangberkelanjutan, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi pembelajaran think talk write dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada soal cerita siswa kelas v sd negeri 02 gemantar. peningkatan ini dapat dilihat dari hasil observasi pembelajaran yang dilakukan, terbukti dari hasil tindakan yang menunjukkan peninggkatan hasil belajar dari 7 siswa menjadi 19 siswa dari 22 siswa mencapai kkm (e”70) atau dengan prosentase dari 31,819% menjadi 86,364%. hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa “penerapan strategi pembelajaran think talk write (ttw) dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada soal cerita siswa kelas v sd negeri 02 gemantar tahun ajaran 2012/2013” dapat diterima. peningkatan hasil belajar matematika pada soal cerita ... (mulyadi s.k dan santi ermawati) 173 daftar pustaka arikunto, suharsimi. 2010. prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. jakarta: rineka cipta. fathurrohman dan sulistyorini. 2012. belajar & pembelajaran; meningkatkan mutu pembelajaran sesuai standar nasional. yogyakarta: teras. harmini, sri dan ending setyo winarni. 2011. matematika untuk pgsd. bandung. rosda. heruman. 2007. model pembelajaran matematika di sekolah dasar. bandung: remaja rosdakarya. ibrahim dan suparni. 2012. pembelajaran matematika teori dan aplikasinya. yogyakarta: suka-press ratnawati, eva. 2012. “meningkatkan keaktifan dan hasil belajar ipa melalui strategi think talk write (ttw) pada siswa kelas ivb mi negeri andong tahun ajaran 2011/2012”. skripsi. surakarta: ums rosyidah, nikmah. 2011. “peningkatan hasil belajar melalui penerapan stategi pembelajaran kooperetif think talk write (ttw) pada siswa kelas iv di sd negeri mpjpwetan 2 banjarejo blora tahun ajaran 2011/2012.” skripsi. surakarta: ums rubiyanto, rubino dkk. 2009. landasan pendidikan. surakarta: universitas muhammadiyah surakarta perss. ______. 2011. metode penelitian pendidikan. surakarta: pgsd fkip ums. samino dan saring marsudi. 2012. layanan bimbingan belajar. surakarta: fairus media. sardiman. 2001. interaksi dan motivasi belajar mengajar. jakarta: raja grafindo persada. setiawati, lilis dan moh uzer usman. 1993. upaya optimalisasi kegiatan belajar menegajar. bandung. remaja rosdakarya. kamulyan, mulyadi sri. 2012. pembelajaran aktif: penerapan strategi pembelajaran yang inovatif. surakarta: fkip ums. subagyo, joko p. 1997. metode penelitian dalam teori dan praktik. jakarta: rineka cipta sudjana, nana. 2006. penilaian hasil proses belajar mengajar. bandung: remaja rosdakarya sufanti, main. 2010. strategi pengajaran bahasa dab sastra indonesia. surakarta: yuma pustaka sugiyono. 2005. memahami penelitian kualitatif. bandung: alfabeta _____. 2010. metode penelitian kuantitatif kualitatif dan r&d. bandung: alfabeta. s u h e r m a n , e r m a n , d k k . 2 0 0 3 . strategi pembelajaran matematika kontemporer. bandung: universitas pendidikan indonesia profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 162-17482174 suprijono, agus. 2012. cooperative learning teori & aplikasi paikem. yogyakarta: pustaka pelajar wiyada, ariyadi. 2012. pendidikan matematika realistik; suatu alternatif pendekatan pembeajaran matematika. yogyakarta: graha ilmu. wulandari, septika. 2012. “peningkatan hasil belajar mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan melalui strategi pembelajaran think talk write pada siswa kelas iv sd negeri 01 ngemplak kecamatan karangpandang tahun ajaran 2011/2012.” skripsi. surakarta: ums yamin martinis dan ansari, bansu i. 2008. taktik mengembangkan kemampuan individual siswa. jakarta: gaung persada press. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 190 pengembangan bahan ajar elektronik.......(rusnilawati, dan eva gustiana) pengembangan bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook berbasis keterampilan pemecahan masalah dengan pendekatan ctl pada pembelajaran matematika kelas v sekolah dasar rusnilawati 1), eva gustiana2) 1pgsd, fkip, universitas muhammadiyah surakarta jawa tengah; 2pgpaud, stkip muhammadiyah kuningan jawa barat email: 1rus874@ums.ac.id; 2evagustiana84@yahoo.com abstract the aim of this research is to produce flipbook-based electronic teaching materials based on problem solving skills with ctl approach in elementary school class v that was valid, practical, and effective. the type of research is development research. this research developed flipbookassisted electronic teaching materials on the mathematics learning of class v elementary school by using the 4-d, the model was developed by thiagarajan, semmel, and semmel. the validation result indicated that the electronic teaching materials developed was feasible to be used with good minimum category. the results of the field trial showed that the electronic teaching material developed was practical and effective. the practicality was assessed by the students and reached 62.5 with good category. the practicality assessed by the teacher reached 25.5 (very good) on material aspect; 13.5 (very good) on the language aspect; and 35 (very good) on aspects of interest and influence. the student's problem solving skill on posttest is 92.9%. there was an increase in scores obtained by the students in steps that were understanding the problem, planning, implementing the plan, and looking back. the percentage of student attitudes toward mathematics with very good category increased 42,8%, the percentage of student attitudes toward mathematics with good category increased 31,25%. keywords: electronics, teaching, materials, mathematics, class v pendahuluan guru perlu menggunakan bahan ajar yang menarik agar dapat memotivasi siswa dalam belajar matematika. peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 pasal 19 ayat 1 tentang standar nasional pendidikan menjelaskan bahwa proses pembelajaran harus dilaksanakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik (pp no. 19 tahun 2005: 17). oleh karena itu dalam pembelajaran matematika agar siswa tidak merasa jenuh atau takut, maka guru perlu menggunakan bahan ajar yang menarik dan dapat memotivasi siswa. menurut hosnan (2014: 209) pembelajaran aktif (active learning) adalah kegiatan belajar dengan menggunakan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik secara optimal, dengan tujuan agar mereka dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik kepribadian yang dimiliki oleh siswa. hal tersebut sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 58 tahun 2013 tentang proses pembelajaran yang mengubah pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran aktif-mencari dimana siswa aktif membangun pengetahuannya yang diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan saintifik (mendikbud, 2014: 2). saat ini perkembangan teknologi di dunia sudah semakin maju, begitu juga perkembangan it dalam dunia pendidikan. mailto:1rus874@ums.ac.id e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 190 – 202 191 menurut surjono (2010) teknologi pembelajaran yang dewasa ini aplikasinya berupa pemanfaatan proses dan produk teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology/ict) untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran, memiliki banyak manfaat atau keuntungan. salah satu teknologi yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran adalah flipbook. program ini biasa digunakan untuk mendesain buku elektronik. selain itu, program ini juga bisa menampilkan video, gambar, animasi, tulisan, dan lain sebagainya. program ini juga bisa dibuka pada hp android. dengan menggunakan flipbook guru dapat menampilkan bahan ajar yang akan disampaikan dalam bentuk yang lebih menarik.. namun di sekolah dasar program flipbook masih jarang digunakan. hal tersebut dikarenakan para guru masih awam dalam penggunaan it khususnya pada pembelajaran matematika. berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh anwariningsih (2014) mengenai kesiapan penggunaan ict pada sekolah dasar menunjukkan bahwa 70% guru-guru kelas belum memiliki kemampuan dalam mengoperasikan komputer. sedangkan 30% guru sudah mampu mengoperasikan komputer akan tetapi hanya sebatas untuk mengetik saja/keperluan administrasi sekolah. selain iti, penilaian siswa dalam pembelajaran matematika sering berfokus pada hasil belajar kognitif saja. seperti yang dijelaskan guan, et al (2011: 257) bahwa “student assessment in the mathematics classroom often focuses on cognitive learning outcomes”. program flipbook dapat digunakan untuk mendesain bahan ajar elektronik (bae) sebagai sebuah inovasi dalam bentuk multimedia pembelajaran. munir (2013: 51) menjelaskan bahwa multimedia mempercayakan pada model pembelajaran contextual teaching and learning (ctl) yang berpusat pada berbagai aspek yang mendukung pembelajaran, lingkungan belajar, kelas, laboratorium, komputer, websites, maupun worksite. sesuai dengan pendapat tersebut mayer (2009: 4) menjelaskan bahwa multimedia merujuk pada teknologi untuk menyajikan materi dalam bentuk verbal dan visual. berdasarkan hasil pra-penelitian yang diperoleh dan didukung dengan pendapat para pakar yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka penting untuk mengembangkan bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook berbasis keterampilan pemecahan masalah dengan pendekatan ctl pada pembelajaran matematika kelas v sekolah dasar. permasalahan yang diteliti yaitu bagaimana mengembangkan perangkat pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif. metode penelitian penelitian ini bertujuan menghasilkan suatu produk yaitu bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook berbasis keterampilan pemecahan masalah dengan pendekatan contextual teaching and learning (ctl) pada pembelajaran matematika kelas v sekolah dasar. penelitian ini dirancang dengan menggunakan model pendekatan penelitian dan pengembangan. penelitian ini menggunakan model pengembangan yang dikemukakan oleh thiagarajan, dorothy s. semmel, dan melvyn i. semmel yang dikenal dengan model pengembangan 4d. model pengembangan tersebut terdiri dari empat tahap yaitu tahap mendefinisikan (define), tahap merancang (design), tahap mengembangkan (develop), dan tahap p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 192 pengembangan bahan ajar elektronik.......(rusnilawati, dan eva gustiana) mendesiminasikan (disseminate) (thiagarajan, et.al, 1974: 5). pengembangan produk dilakukan mulai bulan januari 2017. validasi bahan ajar elektronik dilaksanakan pada bulan mei 2017. uji coba terbatas dilaksanakan pada bulan juli. uji coba lapangan dilaksanakan pada bulan agustus dan september 2017. uji coba bahan ajar elektronik yang dikembangkan sudah dilaksanakan di kelas v sd negeri 17 kuningan. desiminasi produk dilaksanakan pada bulan desember 2017. subjek penelitian subjek uji coba terbatas adalah kelas v yang terdiri dari 18 siswa dengan kategori kemampuan matematika cukup, baik, dan sangat baik. kelas v terdiri dari 5 (lima) kelas. selanjutnya dipilih secara acak 1 (satu) kelas sebagai kelas uji coba lapangan yaitu kelas vb (35 siswa). prosedur prosedur pengembangan penelitian terdiri dari empat tahap yaitu tahap mendefinisikan (define), tahap merancang (design), tahap mengembangkan (develop), dan tahap mendesiminasikan (disseminate) (hobri, 2010: 16). tahap pendefinisian dilaksanakan sebelum mengembangkan bahan ajar dengan menentukan tujuan dan permasalahan sebagai patokan dalam penyusunan bahan ajar elektronik. tahap pendefinisian terdiri dari lima langkah yaitu analisis awal-akhir, analisis siswa, analisis konsep, analisis tugas, dan spesifikasi tujuan pembelajaran. tahap merancang (design) bertujuan untuk menyusun bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook berbasis keterampilan pemecahan masalah dengan pendekatan ctl pada pembelajaran matematika kelas v sekolah dasar, sehingga diperoleh prototipe (contoh bahan ajar elektronik) dalam upaya meningkatkan hasil belajar meliputi: kemampuan pemecahan masalah dan sikap terhadap matematika. tahap perancangan terdiri dari empat langkah yaitu penyusunan tes, pemilihan media, pemilihan format, dan perancangan awal (desain awal). tahap mengembangkan (develop) bertujuan untuk menghasilkan draf bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook yang telah direvisi berdasarkan masukan para ahli dan data yang diperoleh dari uji coba. kegiatan pada tahap ini adalah penilaian para ahli, uji coba terbatas, dan uji coba lapangan. tahap desiminasi (disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas, misalnya di kelas lain, sekolah lain, oleh guru lain. instrumen dan teknik pengumpulan data kelayakan bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook yang telah dikembangkan dinilai dengan mengukur kevalidan bahan ajar, kepraktisan, dan keefektifan penggunaannya di kelas. instrumen pengumpulan data yang digunakan meliputi: lembar validasi bahan ajar, angket respon siswa, angket penilaian guru, tes kemampuan pemecahan masalah, dan angket sikap terhadap matematika. teknik analisis data data yang berupa komentar, saran, revisi, dan hasil observasi dianalisis secara deskriptif kualitatif. data tersebut digunakan sebagai masukan untuk merevisi produk yang dikembangkan. data yang diperoleh melalui lembar validasi bahan ajar elektronik, angket e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 190 – 202 193 respon siswa, angket penilaian guru, tes kemampuan pemecahan masalah, dan angket sikap siswa terhadap matematika dianalisis secara statistika deskripsitf. data yang berupa rating dengan skala 5 dikonversikan menajdi data kualitatif yang juga berskala 5. kriteria konversi data tersebut dilakukan berdasarkan kriteria yang disajikan dalam tabel 1 (widoyoko, 2009: 238). tabel 1. kriteria konversi data kuantitatif ke data kualitatif nilai interval skor kategori a 𝑋 > �̅�𝑖 + 1,8 𝑠𝑏𝑖 sangat baik b �̅�𝑖 + 0,6 𝑠𝑏𝑖 < 𝑋 ≤ �̅�𝑖 + 1,8 𝑠𝑏𝑖 baik c �̅�𝑖 − 0,6 𝑠𝑏𝑖 < 𝑋 ≤ �̅�𝑖 + 0,6 𝑠𝑏𝑖 cukup d �̅�𝑖 − 1,8 𝑠𝑏𝑖 < 𝑋 ≤ �̅�𝑖 − 0,6 𝑠𝑏𝑖 kurang e 𝑋 ≤ �̅�𝑖 − 1,8 𝑠𝑏𝑖 sangat kurang keterangan: �̅�𝑖 = rerata skor ideal = 1 2 (skor maksimum + skor minimum) 𝑠𝑏𝑖 = simpangan baku ideal = 1 6 (skor maksimum – skor minimum) 𝑋 = skor aktual adapun tabel penilaian skala likert untuk analisis kevalidan bahan ajar elektronik disajikan pada tabel 2. sedangkan analisis data kepraktisan diperoleh dari angket respon siswa dan penilaian guru disajikan pada tabel 3 dan tabel 4. keefektifan bahan ajar elektronik dinilai berdasarkan angket sikap terhadap matematika. data tersebut berdasar pada kategori yang terdiri atas 5 pilihan respon. tabel penilaian skala likert untuk sikap terhadap matematika disajikan pada tabel 5. selain itu, keefektifan bahan ajar elektronik juga dinilai berdasar pada tes kemampuan pemecahan masalah. tahap pemecahan masalah yang dinilai yaitu kemampuan memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana, dan mengoreksi jawaban. tabel 2. kevalidan bahan ajar aspek isi nilai interval skor kategori a 𝑋 > 33,6 sangat baik b 27,2 < 𝑋 ≤ 33,6 baik c 20,8 < 𝑋 ≤ 27,2 cukup d 14,4 < 𝑋 ≤ 20,8 kurang e 𝑋 ≤ 14,4 sangat kurang aspek bahasa nilai interval skor kategori a 𝑋 > 8,4 sangat baik b 6,8 < 𝑋 ≤ 8,4 baik c 5,2 < 𝑋 ≤ 6,8 cukup d 3,6 < 𝑋 ≤ 5,2 kurang e 𝑋 ≤ 3,6 sangat kurang aspek tampilan nilai interval skor kategori a 𝑋 > 16,8 sangat baik b 13,6 < 𝑋 ≤ 16,8 baik c 10,4 < 𝑋 ≤ 13,6 cukup d 7,2 < 𝑋 ≤ 10,4 kurang e 𝑋 ≤ 7,2 sangat kurang dampak penggunaan nilai interval skor kategori a 𝑋 > 8,4 sangat baik b 6,8 < 𝑋 ≤ 8,4 baik c 5,2 < 𝑋 ≤ 6,8 cukup d 3,6 < 𝑋 ≤ 5,2 kurang e 𝑋 ≤ 3,6 sangat kurang p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 194 pengembangan bahan ajar elektronik.......(rusnilawati, dan eva gustiana) tabel 3. angket respon siswa nilai interval skor kategori a 𝑋 > 63 sangat baik b 51 < 𝑋 ≤ 63 baik c 39 < 𝑋 ≤ 51 cukup d 27 < 𝑋 ≤ 39 kurang e 𝑋 ≤ 27 sangat kurang tabel 4. kriteria penialian sikap siswa terhadap matematika nilai interval skor kategori a 𝑋 > 134,4 sangat baik b 108,8 < 𝑋 ≤ 134,4 baik c 83,2 < 𝑋 ≤ 108,8 cukup d 57,6 < 𝑋 ≤ 83,2 kurang e 𝑋 ≤ 57,6 sangat kurang tabel 5. angket penilaian guru nilai interval skor kategori materi bahasa ketertarikan dan pengaruh a 𝑋 > 25,2 𝑋 > 12,6 𝑋 > 33,54 sangat baik b 20,4 < 𝑋 ≤ 25,2 10,2 < 𝑋 ≤ 12,6 27.18 < 𝑋 ≤ 33,54 baik c 15,6 < 𝑋 ≤ 20,4 7,8 < 𝑋 ≤ 10,2 20,82 < 𝑋 ≤ 27,18 cukup d 10,8 < 𝑋 ≤ 15,6 5,4 < 𝑋 ≤ 7,8 14,46 < 𝑋 ≤ 20,82 kurang e 𝑋 ≤ 10,8 𝑋 ≤ 5,4 𝑋 ≤ 14,46 sangat kurang bahan ajar elektronik yang dikembangkan dikatakan valid, jika minimal tingkat validitas yang dicapai adalah kategori baik. bahan ajar elektronik dikatakan praktis berdasarkan angket respon siswa dan penilaian guru jika minimal kategori yang dicapai adalah baik. selain itu keefektifan dari bahan ajar elektronik yang dikembangkan ditinjau dari dua aspek yaitu kemampuan pemecahan masalah dan sikap terhadap matematika. bahan ajar elektronik dikatakan efektif jika: a) terdapat peningkatan kemampuan pemecahan masalah berdasarkan hasil pretest dan posttest; b) persentase jumlah siswa pada tes kemampuan pemecahan masalah yang memenuhi kkm adalah ≥ 80%; c) terdapat peningkatan jumlah siswa yang memiliki sikap positif terhadap matematika. hasil dan pembahasan produk yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook berbasis keterampilan pemecahan masalah dengan pendekatan contextual teaching and learning (ctl) pada pembelajaran matematika kelas v sekolah dasar. aspek kualitas produk pengembangan berdasarkan kualitas produk nieveen (1999: 127) yang terdiri dari 3 aspek, yaitu valid, praktis, dan efektif. materi yang diujicobakan pada uji coba lapangan adalah volume bangun ruang serta jaring-jaring bangun ruang.. hasil pengembangan produk awal pada tahap pendefinisian akan dideskripsikan lima tahap kegiatan yang dilakukan yaitu analisis awal-akhir, analisis siswa, analisis konsep, analisis tugas, dan spesifikasi tujuan pembelajaran. analisis awal-akhir adalah studi tentang permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran matematika di sd kelas v. analisis tersebut dilaksanakan pada saat pra-penelitian melalui kegiatan observasi pembelajaran, wawancara guru, dan pemberian angket pada siswa. prapenelitian dilaksanakan di kelas va sd negeri 17 kuningan pada bulan februari 2017. pada analisis awal-akhir ditemui beberapa permasalahan dalam pembelajaran matematika di kelas v sd. berdasarkan hasil observasi, bahan ajar yang digunakan guru masih dalam bentuk buku ajar cetak dan lks sehingga masih belum menggunakan bahan e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 190 – 201 195 ajar berbasis multimedia khususnya flipbook. penilaian guru masih cenderung pada kognitif dan jarang menggunakan soal-soal pemecahan masalah. selain itu, nilai prestasi belajar siswa juga masih rendah (55% siswa belum mencapai nilai ketuntasan belajar). analisis karakteristik peserta didik dilaksanakan sebagai tahap awal dalam pengembangan perangkat pembelajaran. penelitian pengembangan ini diujicobakan pada siswa sd kelas v. pemilihan materi yang dirancang dalam perangkat pembelajaran perlu disesuaikan dengan karakteristik siswa sd kelas v. berdasarkan kajian teori anak usia sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret. hal tersebut harus dipertimbangkan dalam pembelajaran, bahwa belajar akan bermakna jika materi pelajaran sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. karakteristik yang dilihat oleh peneliti adalah bahwa anak sd menyukai gambar berwarna, kalimat yang digunakan tidak terlalu rumit, permasalahan yang disajikan hendaknya sesuai dengan permasalahan yang dialami sehari-hari oleh siswa. adanya ilustrasi gambar akan lebih mempermudah siswa dalam belajar. setelah melakukan analisis karakteristik peserta didik, peneliti melakukan analisis konsep yaitu meninjau materi yang dikembangkan dan menyusun materi apa saja yang akan dimasukkan dalam bahan ajar elektronik. materi matematika yang dikembangkan yaitu bangun ruang dan pecahan. teori bruner menjelaskan bahwa peroses belajar matematika terdiri dari tahap enaktif, ikonik, dan simbolik. sesuai dengan pendapat tersebut chambers (2008: 9) menjelaskan bahwa matematika adalah studi tentang pola, hubungan, dan kaya akan ide-ide yang saling terhubung, serta alat yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam konteks yang luas. selain itu, dengan pengamatan terhadap contoh-contoh dan bukan contoh diharapkan peserta didik mampu menangkap pengertian suatu konsep (suherman, et al, 2003: 57). hasil dari analisis tugas yaitu menggunakan cerita dalam kehidupan seharihari dalam membuat soal. sesuai dengan pendapat jonassen (2011: 365) bahwa dengan menggunakan masalah cerita, peserta didik didorong untuk memahami sifat dari masalah, memilih formula yang tepat untuk memecahkan masalah, memasukkan nilainilai dari masalah ke dalam rumus, dan untuk memecahkan rumus untuk nilai tertentu. siswa diberikan soal cerita kemudian diarahkan untuk memecahkan masalah dengan tahap pemecahan masalah. hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan lee (2006: 52) bahwa matematika adalah proses pencarian pola secara sistematis yang dapat digunakan untuk memodelkan dunia secara singkat dan jelas. hasil analisis tujuan pembelajaran yang dicantumkan dalam bahan ajar elektronik adalah mengarahkan siswa untuk lebih menyukai matematika dan memperkenalkan tahap proses pemecahan masalah agar siswa bisa berpikir kritis. menurut haylock (2007: 3) kegiatan pembelajaran matematika bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir logis, keterampilan memecahkan masalah, serta kemampuan berpikir abstrak. setelah melakukan tahap pendefinisian, peneliti melakukan tahap perancangan. hasil uji coba produk uji coba produk bertujuan untuk menyempurnakan bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook yang dikembangkan. tahap uji coba yang dilaksanakan meliputi: validasi bahan ajar p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 196 pengembangan bahan ajar elektronik.......(rusnilawati, dan eva gustiana) elektronik, uji coba terbatas, dan uji coba lapangan. analisis hasil validasi bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook kegiatan validasi dilakukan dengan cara menyerahkan produk awal beserta komponen pendukungnya kepada ahli untuk diberikan skor berkaitan dengan kevalidan hasil pengembangan berupa bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook. secara umum hasil penilaian dari tiga validator ahli menyatakan bahwa instrumen sudah layak dan siap dipergunakan untuk penelitian. skor hasil validasi bahan ajar elektronik diperoleh dengan menggunakan lembar validasi yaitu: lembar validasi bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook. secara ringkas disajikan pada tabel berikut. tabel 6. skor hasil validasi ahli terhadap bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook validator skor pada masing-masing aspek isi bahasa tampilan kegunaan validator 1 35 8 18 8 validator 2 37 7 18 6 validator 3 36 8 17 8 rata-rata skor 36 7,7 17,7 7,3 kriteria sangat baik baik sangat baik baik berdasarkan kriteria penilaian yang telah dijelaskan, diperoleh hasil validasi ahli. ratarata skor aktual aspek isi untuk bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook adalah 36 (sangat baik) dengan rentang skor 8 – 40. rata-rata skor aktual untuk aspek bahasa adalah 7,7 (baik) dengan rentang skor 2 – 10. rata-rata skor aktual untuk aspek tampilan adalah 17,7 (sangat baik) dengan rentang skor 4 – 20. rata-rata skor aktual untuk aspek kegunaan adalah 7,3 (baik) dengan rentang skor 2 – 10. selain memberikan penilaian terhadap produk yang berupa draf 1, validator juga memberikan masukan dan saran perbaikan terhadap produk bahan ajar elektronik (bae). beberapa saran yang diberikan dari validator yaitu untuk memperbaiki bahasa agar lebih mudah dipahami oleh siswa, lebih menata tampilan (layout) agar lebih rapi, ukuran file yang digunakan dalam bahan ajar elektronik sebaiknya tidak terlalu besar, desain warna hendaknya lebih bervariasi. peneliti kemudian melakukan revisi produk berdasarkan saran dari para validator. berdasarkan hasil validasi, produk bahan ajar elektronik sudah memenuhi kriteria valid, berdasarkan 4 aspek yaitu isi, bahasa, tampilan, dan kegunaan sudah memenuhi kriteria minimal baik. hasil tersebut didukung oleh pendapat siddiq dkk (2008: 2-4) bahwa bahan pembelajaran sekolah dasar merupakan seperangkat bahan yang memuat materi atau isi pembelajaran sekolah dasar (sesuai kurikulum sd) yang “didesain” dalam bentuk bahan yang digunakan siswa dan guru dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran di sekolah dasar. analisis hasil uji coba terbatas pelaksanaan uji coba terbatas dilaksanakan pada bulan juli 2017. pada uji coba terbatas diperoleh data mengenai respon e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 190 – 201 197 siswa dan respon guru terhadap bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook. hasil penilaian kepraktisan siswa skor hasil uji coba terbatas untuk penilaian bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook diperoleh dari siswa dengan kemampuan biasa, sedang, dan tinggi. tabel 7. skor hasil penilaian bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook oleh siswa pada uji coba terbatas pernyataan total skor tiap tingkatan biasa sedang tinggi jenis tulisan dan ukuran huruf dalam bae mudah saya baca 28 30 30 gambar yang digunakan dalam bae memudahkan saya dalam memahami materi 24 26 25 bae menggunakan gambar dan ilustrasi yang menarik 26 24 26 bahasa dalam bae mudah saya pahami 26 27 26 tampilan lks menarik 26 22 21 penjelasan langkah-langkah kegiatan dalam bae mudah untuk saya pahami 25 26 25 materi yang disajikan dalam bae mudah saya pahami 26 25 25 bae ini mendorong keingintahuan saya untuk mencari informasi lebih jauh tentang materi yang diajarkan 25 27 24 bae ini menjelaskan suatu materi menggunakan ilustrasi dalam kehidupan sehari-hari 25 23 25 saya senang dengan materi dalam bae yang diajarkan di kelas 25 27 26 materi yang ada dalam bae menjadikan saya semangat untuk belajar 24 25 25 saya menginginkan agar guru menggunakan bahan ajar elektronik (bae) 22 25 24 saya bersemangat untuk berdiskusi dengan teman satu kelompok 24 24 24 saya merasa lebih mudah memahami materi pelajaran dengan menggunakan bae 21 21 24 saya merasa lebih semangat untuk berbagi pengetahuan dengan teman 26 25 25 jumlah skor tiap tingkatan 373 377 375 rata-rata skor tiap tingkatan 62,2 62,8 62,5 skor total 1125 rata-rata skor total 62,5 kategori baik uji coba terbatas bertujuan untuk mengetahui kepraktisan bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook. rentang rata-rata skor untuk penilaian bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook oleh siswa pada masing-masing tingkat kemampuan yaitu 15 – 75. rata-rata skor untuk penilaian bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook oleh siswa dengan kemampuan biasa yaitu 62,2 (baik); rata-rata skor siswa dengan kemampuan sedang yaitu 62,8 (baik) ; dan rata-rata skor siswa dengan kemampuan tinggi yaitu 62,5 (baik). ratarata skor total untuk penilaian bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook pada uji coba terbatas yaitu 62,5 (baik). berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat diketahui bahwa siswa antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan siswa tertarik mengunakan bahan ajar elektronik (bae) yang dikembangkan. p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 198 pengembangan bahan ajar elektronik.......(rusnilawati, dan eva gustiana) hasil penilaian kepraktisan guru skor uji coba terbatas untuk perangkat pembelajaran diperoleh dari dua orang guru matematika yang mengajar di kelas v sd negeri 17 kuningan sebagai berikut. tabel 8. skor kepraktisan uji coba terbatas dari guru guru mata pelajaran aspek bae materi bahasa ketertarikan dan pengaruh guru 1 26 14 34 guru 2 25 13 36 rata-rata 25,5 13,5 35 kriteria sangat baik sangat baik sangat baik pengambilan data dilakukan sebelum pelaksanaan uji coba lapangan, hal ini dilakukan agar diperoleh gambaran awal perangkat pembelajaran yang dikembangkan sehingga memperoleh masukan dari guru untuk bahan revisi. rata-rata skor aktual untuk materi adalah 25,5 (sangat baik) dengan rentang skor 6 – 30. rata-rata skor untuk bahasa adalah 13,5 (sangat baik) dengan rentang skor 3 – 15. rata-rata skor untuk ketertarikan dan pengaruh adalah 35 (sangat baik) dengan rentang skor 8 – 40. berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat diketahui bahwa guru tertarik mengunakan bahan ajar elektronik yang dikembangkan. analisis hasil uji coba lapangan analisis hasil tes kemampuan pemecahan masalah. skor diperoleh dengan menggunakan instrumen tes kemampuan pemecahan masalah yang telah dirancang dan divalidasi. kemampuan memahami masalah siswa naik 4 poin, kemampuan menyusun rencana naik 114 poin, kemampuan melaksanakan rencana 181 poin, kemampuan melihat kembali naik 130 poin. gambar 1. hasil analisis kemampuan pemecahan masalah pada posttest pertama nilai kemampuan pemecahan masalah kelas vb rentang nilai yang dicapai siswa adalah nilai terendah 67,9 dan tertinggi 92,9. ketuntasan hasil tes kemampuan pemecahan masalah siswa pada posttest mencapai 92,9%. berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa bahan ajar elektronik dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. schroeder & lester (nctm, 2000: 182) memahami masalah menyusun rencana melaksanaka n rencana melihat kembali pretest 108 106 5 0 posttest 112 220 186 130 0 50 100 150 200 250 pretest posttest e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 190 – 201 199 menyatakan bahwa pemecahan masalah merupakan sarana mempelajari ide matematika dan keterampilan matematika. sesuai dengan hal tersebut pimta (2009: 381) menyatakan bahwa masalah matematika adalah alat yang digunakan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir mereka. analisis hasil angket sikap terhadap matematika skor diperoleh dengan menggunakan instrumen angket sikap terhadap matematika yang telah dirancang dan divalidasi. reliabilitas instrumen angket sikap diperoleh dengan melakukan uji coba angket di kelas va. berdasarkan hasil yang didapat, koefisien alpha untuk angket sikap terhadap matematika sebesar 0,92. gambar 2. hasil analisis sikap siswa terhadap matematika data hasil angket sikap terhadap matematika diambil sebelum dan sesudah pembelajaran pada tahap uji coba lapangan. persentase siswa dengan kategori sangat baik meningkat 42,8%, persentase siswa dengan kategori baik meningkat 31,25%. berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa bahan ajar elektronik dapat meningkatkan sikap positif siswa terhadap matematika. menurut kunandar (2014: 103) sikap bermula dari dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu atau objek. agar siswa aktif dalam pembelajaran matematika maka diperlukan sikap positif terhadap matematika. leder (1992: 1) mengemukakan bahwa tujuan penting dari pendidikan matematika adalah untuk mengembangkan sikap positif siswa terhadap matematika. hal tersebut sesuai dengan pendapat manoah, indoshi, & othuon (2011: 965) bahwa sebaiknya sikap siswa ditingkatkan dalam pembelajaran matematika karena hal ini dapat meningkatkan prestasi akademik. selain itu, menurut mohamed & waheed (2011: 277) sikap terhadap matematika merupakan faktor yang mempengaruhi prestasi belajar matematika. simpulan bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook berbasis keterampilan pemecahan masalah dengan pendekatan ctl pada pembelajaran matematika kelas v sekolah dasar yang diujicobakan di sd negeri 17 kuningan dikategorikan valid. bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook masuk kategori valid. rata-rata skor aktual aspek isi untuk bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook adalah 36 (sangat baik) dengan rentang skor 8 – 40. rata-rata skor sangat baik baik cukup kurang sangat kurang sebelum 7 16 12 0 0 sesudah 10 21 4 0 0 0 5 10 15 20 25 sebelum sesudah p-issn: 2406-8012 e-issn: 2503-3530 200 pengembangan bahan ajar elektronik.......(rusnilawati, dan eva gustiana) aktual untuk aspek bahasa adalah 7,7 (baik) dengan rentang skor 2 – 10. rata-rata skor aktual untuk aspek tampilan adalah 17,7 (sangat baik) dengan rentang skor 4 – 20. rata-rata skor aktual untuk aspek kegunaan adalah 7,3 (baik) dengan rentang skor 2 – 10. berdasarkan hasil tersebut maka bahan ajar elektronik (bae) berbantuan flipbook berbasis keterampilan pemecahan masalah dengan pendekatan ctl pada pembelajaran matematika kelas v sekolah dasar layak digunakan sebagai sumber belajar. hasil uji coba menunjukkan bahwa bahan ajar elektronik yang dikembangkan praktis dan efektif. kepraktisan bae yang dinilai oleh siswa mencapai 62,5 dengan kategori baik dan kepraktisan bae yang dinilai oleh guru mencapai 25,5 (sangat baik) pada aspek materi; 13,5 (sangat baik) pada aspek bahasa; serta 35 (sangat baik) pada aspek ketertarikan dan pengaruh. ketuntasan hasil tes kemampuan pemecahan masalah siswa pada posttest mencapai 92,9%. terjadi peningkatan skor yang diperoleh siswa pada tahap memahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana, dan melihat kembali. persentase sikap siswa terhadap matematika dengan kategori sangat baik meningkat 42,8%, persentase sikap siswa terhadap matematika dengan kategori baik meningkat 31,25%. daftar pustaka anwariningsih, huning sri. (2014). kesiapan penggunaan ict pada sekolah dasar di daerah rural dalam perubahan paradigma pembelajaran. seminar nasional dan call for papers uniba. chambers, p. (2008). teaching mathematics: developing as a reflective secondary teacher. london: sage publications. guan, eng tay, et al. (2011). assessment in the mathematics classroom (affective assessment in the mathematics classroom: a quick start). singapore: world scientific publishing. haylock, d. & tangatha, f. (2007). key concepts in teaching primary mathematics. london: sage publications. hobri, h. (2010). metodologi penelitian pengembangan (aplikasi pada penelitian pendidikan matematika). jember: pena salsabila. hosnan, m. (2014). pendekatan saintifik dan kontekstual dalam pembelajaran abad 21 kunci sukses implementasi kurikulum 2013. bogor: ghalia indonesia. jonassen, d. h. (2011). learning to solve problems, a handbook for designing problem-solving learning environments. new york: routledge. kunandar. (2014). penilaian autentik (penilaian hasil belajar peserta didik berdasarkan kurikulum 2013) suatu pendekatan praktis. jakarta: rajagrafindo persada. e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 profesi pendidikan dasar, vol. 4, no. 2, desember 2017: 190 – 201 201 leder, g. (1992). attitude to mathematics. mathematics education research journal, vol 4, no. 3, 1-7. lee, c. (2006). language for learning mathematics: assessment for learning in practice. new york: open university press. mendikbud. (2014). lampiran i peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 58, tahun 2014, tentang kurikulum 2013 sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah. manoah, s.a., indoshi, f.c., & othuon, l.o.a. (2011) influence of attitude on performance of students in mathematics curriculum. educational research, 2(3), 965-981. mayer. (2009). mutimedia learning, prinsip-prinsip dan aplikasi. yogyakarta: pustaka pelajar. mohamed, l. & waheed, h. (2011). secondary students’ attitude towards mathematics in a selected school of maldives. international journal of humanities and social science, 1, 277-281. munir. (2013). multimedia konsep dan aplikasi dalam pendidikan. bandung: alfabeta. nctm. (2000). principles and standars for school mathematics. reston: the national council of teacher of mathematics, inc. nieveen, n. (1999). prototyping to reach product quality. dalam j. van den akker, et al (eds.), design approaches and tools in education and training. london, uk: kluwer academic publisaher. pimta, s; tayruakham, s., & nuangchalerm, p. (2009). factors influencing mathematics problem-solving ability of sixth grade students. journal of social sciences, 5(4), 381-385. peraturan pemerintah republik indonesia nomor 19, tahun 2005, tentang standar nasional pendidikan. suherman, e., et al. (2001). strategi pembelajaran matematika kontemporer. bandung: jica. surjono, herman dwi. (2010). pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam peningkatan kualitas pembelajaran. makalah. disajikan dalam seminar mgmp terpadu smp/mts kota magelang. siddiq, djauhar m; isniatun munawaroh; sungkono. (2008). pengembangan bahan pembelajaran sd. jakarta: dikti. thiagarajan, et al. (1974). instructional development for training teachers of exceptional children: a sourcebook. bloomington: indiana university. widoyoko, e, p. (2009). evaluasi program pembelajaran panduan praktis bagi pendidik dan calon pendidik. yogyakarta: pustaka pelajar. 1. gusti yarmi.pmd meningkatkan kemampuan membaca melalui ... (gusti yarmi dan resty widyastuti) 87 meningkatkan kemampuan membaca melalui permainan komputer pada siswa kelas i di sdn kalibata 03 pagi jakarta timur gusti yarmi dan resty widyastuti program studi pendidikan guru dekolah dasar fakultas ilmu pendidikan universitas negeri jakarta gustiyarmi@ymail.com abstract in general, this study aims to improve the reading skills of students in grade 1 sdn kalibata 03 pagimelalui learning to apply computer games. the results of the analysis of the data shows computer games can improve students’ reading class i, especially reading the sentence correctly, read the sentence without eliminating one of the words in the sentence, read the sentence without adding a word, read the sentences with the right intonation, read by observing a pause (for stop, breathe), read with the firm, loud volume, the volume of the sound heard is stable in the first grade students of sdn 03 pagi kalibata. it is characterized by an increase in the value of reading skills of students in each cycle. keywords: ability to read, read the beginning, in computer games pendahuluan latar belakang masalah bahasa sangat berperan dalam kehidupan manusia. tanpa bahasa, manusia akan sulit menjalankan kehidupannya. manusia membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi dan menghubungkan apa yang ada dalam pikirannya. demikian pula pada siswa-siswa, bahasa dibutuhkan untuk mengungkapkan imajinasinya. pentingnya bahasa membawa dapak pada eksistensi pembelajaran bahasa di sekolah. pembelajaran bahasa memiliki posisi yang strategis. ada dua posisi penting pembelajaran bahasa indonesia.pertama, sebagai wahana untuk mengembangkan intelektual, sosial, dan emosional siswa. kedua, sebagai penunjang keberhasilan belajar. melalui pembelajaran bahasa, perkembangan intelektual atau kemampuan berpikir siswa, perkembangan sosial, dan emosional siswa dapat dikembangkan. kemampuan berpikir siswa dapat dikembangkan melalui kegiatan berbahasa seperti membaca, menulis, meyimak, dan berbicara. kemampuan sosial siswa dapat dikembangkan melalui kegiatan berbicara atau bersastra seperti melalui metode bermain peran atau dramatisasi. demikian pula halnya dengan aspek emosi siswa. pengembangan emosi siswa dapat dilatih atau distimulasi melaluikegiatan apresiasi sastra seperti membaca puisi, menulis puisi, membaca cerita, bermain drama, dan lain-lain. salah satu kemampuan berbahasa adalah membaca. dengan membaca, siswa dapat memahami berbagai ilmu pengetahuan dan inforprofesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 87-9888 masi.membaca merupakan suatu keterampilan khusus selama di sekolah dasar. membaca menjadi komponen prioritas utama karena kemampuan membaca merupakan pintu gerbang untuk memahami berbagai konsep keilumuan di sekolah. artinya, dengan kemampuan membaca, siswa akan dapat memahami konsep ipa, ips, matematika, dan lain-lain.. hal lain yang terjadi ketika siswa tidak berkompeten membaca, siswa sangat rugi di dalam pergaulan dengan teman sebayanya. dalam pergaulan siswa akan saling bertukar informasi yang dapat menambah ilmu pengetahuan dan memperluas pandangan siswa. pembelajaran membaca merupakan proses yang alami, holistik, dan harus sesuai dengan perkembangan siswa. proses membaca merupakan rangkaian awal yang harus dilalui menuju tingkat kesiapan membaca. seseorang yang tidak mengikuti proses secara kronologis biasanya tidak terlalu bergairah untuk belajar membaca. hal ini disebabkan karena kematangan fisik, mental, dan sosial akan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan kemampuan membaca awal. pengembangan kemampuan membaca sangat penting bagi siswa. oleh sebab itu, perlu adanya kondisi yang diciptakan untuk mengembangkan kemampuan membaca. salah satunya dengan menerapkan berbagai pendekatan, misalnya pendekatan belajar aktif. pendekatan belajar aktif merupakan strategi belajar-mengajar yang menekankan keaktifan siswa dalam kegiatan belajar-mengajar baik secara fisik, mental, intelektual, maupun emosional guna terciptanya hasil belajar yang optimal dan mampu mengubah siswa didik, baik tingkah laku, cara berpikir maupun bersikap secara lebih efektif dan efisien. selain penciptaan kondisi lingkungan yang baik, kegiatan pembelajaran membaca ini dapat dilakukan sambil bermain. bermain menimbulkan rasa senang pada siswa yang mengakibatkan pertumbuhan otaknya semakin sempurna, sehingga semakin mudah siswa mengadakan proses pembelajaran. salah satu permainan yang mengembangkan kemampuan membaca yang menggunakan teknologi modern dan sedang diminati saat ini adalah komputer. komputer merupakan alat permainan edukatif yang dirancang secara khusus sebagai alat bantu belajar. dalam komputer terdapat bermacammacam permainan yang dapat dibedakan berdasarkan tema dan sifatnya. permainan komputer yang diperuntukan bagi pendidikan atau pembelajaran sering disebut edu-game. dengan permainan ini diharapkan siswa belajar menggunakan panca inderanya, memunculkan motivasi, membentuk konsep diri yang positif, adanya kerja sama, adanya unsur penemuan sendiri, perolehan kesempatan untuk mengeksplorasi, ada rasa keberhasilan dan interaksi dengan orang dewasa. kenyataan yang berkembang, kemampuan dan minat membaca kurang optimal. hal ini dapat dilihat dari beberapa fenomena. salah satunya, ketika di kelas i sd siswa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca. lebih tepatnya lagi masih banyak yang belum tertarik membaca. konsep membaca sering kali membingungkan bagi siswa. berdasarkan hasil wawancara terdapat beberapa fenomena yang tampak di sdn kalibata 03 pagi yang menyebabkan kurang optimalnya siswa dalam memahami bacaan. sdn kalibata 03 pagi telah berupaya mengembangkan model pembelajaran yang berpusat pada siswa, namun berkaitan dengan kemampuan dan minat membaca siswa masih belum optimal. guru masih belum puas dengan kemampuan membaca yang dimiliki siswa. fenomena lainnya, kencenderungan yang terjadi di lapangan adalah kegiatan membaca permulaan di kelas 1 sekolah dasar kurang memperhatikan aspek psikologis siswa. kegiatan belajar yang lebih mengedepankan aspek kognitif dan mengesampingkan kebutuhan bermain meningkatkan kemampuan membaca melalui ... (gusti yarmi dan resty widyastuti) 89 siswa.kegiatan pembelajaran membaca permulaan hanya menggunakan modul yang telah disiapkan guru dan dilakukan secara individual atau klasikal dengan harapan siswa dapat menguasai membaca permulaan secara instan. kegiatan yang demikian pada akhirnya akan membawa kejenuhan bagi siswa didik serta keengganan untuk belajar membaca dan pada akhirnya akan menghilangkan minat siswa untuk membaca. tidak hanya itu, orang tua juga memperkeruh keadaan dengan menganggap bermain dan belajar adalah sebuah hal yang saling bertentangan sehingga ada anggapan yang salah ketika sekolah berusaha menerapkan permainan dalam kegiatan membaca permulaan bagi siswasiswa didiknya, orang tua menganggap bahwa hal tersebut akan memperlambat kemampuan siswa dalam belajar membaca permulaan. bagi sebagian orang tua atau bahkan pendidik sendiri menganggap bahwa sekolah adalah tempat menuntut ilmu dan belajar sedangkan jika ingin bermain tempat yang tepat adalah rumah atau di luar jam sekolah. dilatarbelakangi dengan alasan tersebut, bahwa pentingnya menerapkan kegiatan yang sesuai dalam mengembangkan kemampuan membaca permulaan di kelas 1 sekolah dasar dengan tetap memperhatikan stimulasi dan pembelajaran yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa, maka penelitian mengenai kemampuan membaca di sekolah dasar (sd) kelas 1 penting dan perlu dilakukan guna menyikapi pemahaman tentang pengaruh permainan komputer bagi perkembangan kemampuan membaca permulaan siswa kelas 1 sekolah dasar. hal lain yang terlupakan oleh guru sekolah ini adalah ketertarikan siswa pada suatu kegiatan melalui permainan. guru jarang menggunakan permainan dan alat permainan edukatif dalam pembelajaran sehari-hari. tidak hanya guru, orangtua dan masyarakat sering kali kurang memperhatikan pentingnya pengembangan kemampuan membaca yang tepat bagi siswa. padahal orangtua mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengembangkan kemampuan membaca siswa. melalui penelitian tindakan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam peningkatan kemampuan membaca siswa kelas i melalui permainan komputer di sdn kalibata 03. kajian pustaka kemampuan merupakan suatu kesanggupan atau kekuatan dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu yang disesuaikan dengan kondisi yang ada.hal ini sejalan dengan pendapat gafur bahwa kemampuan adalah keterampilan utuh dalam menguasai sesuatu (gafar, 2000: 57). membaca merupakan salahsatu keterampilan berbahasa. membaca sangat diperlukan siswa pada masa sekolahnya karena membaca merupakan alat yang diperlukan siswa untuk dapat menyimak berbagai pengetahuan yang dituliskan. membaca merupakan suatu aktivitas kompleks yang meliputi aktivitas fisik dan mental. aktivitas fisik meliputi gerakan otot mata dalam melihat simbol-simbol grafis atau huruf yang tertulis dalam bacaaan dan mengikuti perpindahan baris dari atas ke bawah, serta gerakan bibir pada saat membaca bersuara. aktivitas mental dalam membaca adalah proses berfikir untuk menafsirkan arti atau memahami makna dari rangkaian simbol simbol grafis atau huruf. kerjasama aktivitas fisik dan mental ini, akan membantu siswa mempelajari berbagai bidang studi. membaca adalah suatu cara untuk membina daya nalar. pada saat membaca tulisan, maka proses kognitif atau penalaran yang utama bekerja. ini sesuai dengan pendapat (bromley, profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 87-9890 1992: 200) bahwa “reading is an active process of interacting with print and monitoring comprehension to estabilish meaning”. membaca adalah proses kognitif yang melibatkan bacaan dan membutuhkan pemahaman untuk memperoleh maksud dari bacaan tersebut. ketika siswa membaca, siswa akan memperoleh berbagai informasi yang dapat menambah ilmu pengetahuan dan memotivasi siswa untuk berfikir secara kritis. kegiatan membaca untuk memahami maksud yang tertuang dalam tulisan dapat dikatakan sebagai bentuk komunikasi. adanya komunikasi antara penulis dan pembaca merupakan hasil dari kegiatan membaca. ini sesuai dengan pendapat burns bahwa “the product of reading is communication, the readers understanding of ideas that have been put in the print by writer”(burn, 1984: 3) produk dari membaca adalah komunikasi dimana pembaca mencoba memahami ide yang tertulis dalam bacaan yang ditulis oleh penulis. membaca memiliki beberapa teknik, salah satunya membaca bersuara atau disebut juga membaca nyaring. rubin menjelaskan bahwa kegiatan yang paling penting untuk membangun pengetahuan dan keterampilan berbahasa siswa memerlukan membaca nyaring. program yang kaya dengan membaca nyaring dibutuhkan untuk siswa karena membantu siswa memperoleh fasilitas menyimak, memerhatikan sesuatu secara lebih baik, memahami cerita, mengingat secara terus-menerus pengungkapan kata-kata, serta mengenali kata-kata baru yang muncul dalam konteks lain. maka dapat dikatakan bahwa membaca nyaring atau membaca bersuara dapat mengembangkan seluruh aspek kemampuan berbahasa siswa. menurut farida rahim (2005: 123), ada beberapa aspek yang yang harus diperhatikan dalam membaca bersuara, yaitu pelafalan, intonasi,pemahaman tenang frase, dan kelompok kata, kelancaran, dan kejelasan. artinya pada kegiatan membaca bersuara ini belum mengutamakan pemahaman siswa terhadap bacaan, namun lebih menekankan pada bagaimana siswa menyuarakan tulisa secara lisan dengan lafal dan intonasi yang tepat. pada usia ini, siswa masih masuk pada tahap pra operasional (2-7 tahun). pada tahap ini siswa secara berangsur dapat memikirkan lebih dari satu benda pada saat yang bersamaan. mereka mulai menguasai lambang-lambang yang memungkinkan manipulasi secara mental. tetapi penalaran siswa masih sangat dipengaruhi oleh persepsi. pemakaian bahasanya pun masih egosentris, kata-kata yang diucapkan mempunyai makna yang khas. karena itu kemampuan mereka untuk memandang pendapat orang lain masih terbatas.akan tetapi, perkembangannya semakin baik menuju tahap operasional konkret. menurut hurlock, pada masa awal sekolah siswa menyukai penggunaan bahasa rahasia (bahasa kelompok) untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya. ketika siswa memasuki sekolah, perbendaharaan kata siswa bertambah dengan cepat.(1999: 178). siswa pada usia 6-7 tahun senang berbicara dan bermain dengan kata-kata. pada usia ini mereka mulai tertarik untuk membaca. siswa pada usia 6-7 tahun memasuki periode persiapan membaca. periode sering disebut juga tahap membaca permulaan. pada tahap ini siswa mulai siap dalam program pembelajaran membaca. namun perlu diperhatikan kematangan mental, penyesuaian emosi dan latarbelakang pengalaman siswa. membaca permulaan diberikan pada siswa usia 6-7 tahun karena pada usia ini siswa sudah mampu mempersiapkan diri untuk dapat mendengarkan bunyi suara dalam bentuk huruf, membaca huruf dari kiri ke kanan serta siswa sudah mulai mengenal konsep dan mampu memahami suatu benda dapat digambarkan bentuk tanda-tanda atau simbol tertentu. meningkatkan kemampuan membaca melalui ... (gusti yarmi dan resty widyastuti) 91 permainan merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi siswa. ini sesuai dengan pendapat badudu & zain dalam mark bahwa permainan adalah sesuatu yang dilakukan untuk kegiatan atau untuk bersenang-senang atau suatu pertunjukan.(2001: 344) buhler & danziger menambahkan dalam mark menyatakan, “bermain adalah kegiatan yang menimbulkan kenikmatan”.(2001: 14). kenikmatan yang ditimbulkan dapat menjadi rangsangan bagi perilaku lainnya. disini terlihat bahwa bermain dapat memberikan suatu kenikmatan tersendiri bagi siswa, mengingat sebagian besar waktu siswa diperuntukan untuk bermain. komputer berasal dari bahasa latin “computare” atau dalam bahasa inggris “to compute” yang artinya menghitung. komputer merupakan benda elektronik yang mempunyai manfaat untuk menghitung atau mengolah data secara cermat dan memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan kita. komputer bermanfaat untuk menghitung atau mengolah data secara cermat dan memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan kita. selain itu komputer memberikan dampak yang baik dalam pemberian informasi yang tepat. hal ini sesuai dengan pendapat percival dan elington bahwa komputer adalah alat yang dapat menerima informasi, diterapkan untuk prosedur pemrosesan informasi dan memberikan hasil informasi baru dalam bentuk yang mudah digunakan pemakai.(fred percival & hendry elington, 2001: 137) pada komputer terdapat kode-kode yang dapat digunakan sesuai dengan informasi atau penggunaan yang kita inginkan. ini diterangkan lebih lanjut oleh arsyad bahwa komputer adalah mesin yang dirancang khusus untuk memanipulasi informasi yang diberi kode, mesin elektronik yang otomatis melakukan pekerjaan dan perhitungan sederhana dan rumit.(azhar, 2004: 3) komputer menjadi sangat penting penggunaannya dalam pembelajaran. pengunaan komputer sebagai media pembelajaran secara umum mengikuti proses instruksional, yaitu: 1) merencsiswaan, mengatur dan mengkoordinasikan, dan menjadwalkan pengajaran; 2) mengevaluasi siswa (tes); 3) mengumpulkan data mengenai siswa 4) melakukan analisis statistik mengenai data pembelajaran; 5) membuat catatan perkembangan pembelajaran (kelompok atau perorangan).(azhar, 2004: 158). dengan adanya fungsi-fungsi tersebut akan memudahkan guru dalam melakukan pembelajaran. pemanfaatan komputer untuk pendidikan sering dinamakan pengajaran dengan bantuan komputer (cai). cai dikembangkan dalam beberapa format, diantaranya: (1) model tutorial, (2) model praktek dan latihan, (3) model penemuan, (4) model simulasi, (5) model permainan.(sudjana, 2001:139). dalam model tutorial, komputer akan menyajikan informasi berupa materi pelajaran yang disajikan di layar komputer dengan teks atau gambar seperi halnya guru atau instruktur. terdapat pertanyaan yang diajukan setelah siswa membaca dan menyerap materi pelajaran. model praktek dan latihan digunakan untuk mempermahir keterampilan atau memperkuat penguasaan materi yang dapat dilakukan dengan modus drill andpractice. latihan ini dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa. model penemuan digunakan agar siswa dapat menemukan atau mengkaji suatu masalah. model simulasi mencoba menyerupai proses dinamis yang terjadi di dunia nyata, sehingga memungkinkan siswa untuk mengambil suatu keputusan tanpa mengalami kerugian seperti dalam ilmu alam dan ilmu komputer. adapun mainan akan menggabungkan aksi-aksi permainan dalam bentuk animasi dan keterampilan menggunakan perangkat komputer yang dapat menimbulkan rangsangan akan suatu konsep yang sedang dipelajari. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 87-9892 sebuah permainan mengandung kemampuan yang akan dikembangkan masing-masing. dalam membaca kemampuan yang dikembangkan seperti, membaca kata; membaca kalimat sederhana; mengenal kosa kata kesehatan, makanan, mainan dan hal sehari-hari lainnya; membaca teks pendek; menyusun kalimat yang terdiri dari 3-5 kata, dan lain sebagainya. dari uraian yang telah dipaparkan dapat dideskripsikan bahwa permainan komputer adalah kegiatan menyenangkan dengan menggunakan media komputer yang mempunyai aturanaturan, cermat dan logis. metodologi penelitian penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas 1 sdn kalibata 03 melalui pembelajaran yang menerapkan permainan komputer. penelitian tindakan dilakukan di sd sdn kalibata 03 pagijakarta timur. penelitian dilaksanakan pada pada bulan april juni 2012. jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research).mengingat penelitian ini merupakan penelitian tindakan, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (classroom action research). pada metode ini, penelitian dilakukan oleh partisipan melalui penerapan di dalam kelas dengan mengembangkan pendekatan baru melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kemampuan membaca siswa agar meningkat. subjek dalam penelitian ini adalah siswa usia 6-7 tahun yang merupakan siswa kelas i sdn kalibata 03 pagi yang berjumlah 21 siswa. sementara partisipan dalam penelitian ini adalah peneliti , guru kelas i selaku kolaborator. adapun teknik yang digunakan dalam menjaring data tentang pemantauan tindakan adalah nontes, yakni dengan menggunakan pengamatan (observasi). sebagaimana telah dikemukakan bahwa pengamatan dilakukan oleh kolaborator. pengamatan dilakukan secara langsung dengan dibantu menggunakan camera dan handycam. teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menjaring data penelitian (research) adalah tes keterampilan membaca permulaan. tes digunakan untuk menjaring data tentang kemampuan membaca permulaan. untuk menguji keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. triangulasi dilakukan dengan sumber, yaitu membandingkan apa yang dilakukan informan dengan pendapat orang lain analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan analisis sebagaimana dikemukakan miles dan huberman, yakni melalui tahapan: (1) reduksi data, (2) display data, serta (3) kesimpulan, verifikasi, dan refleksi. pada tahap reduksi data, data-data yang telah terkumpul dideskripsikan, dipilah-pilah berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, menyeleksi data yang relevan dan data yang tidak relevan. pada tahap display data, data-data yang relevan disajikan dalam bentuk tabel atau diagram. hasil penelitian dan pembahasan hasil sebelum dilakukan tindakan penelitian, terlebih dahulu dilakukan kegiatan prapenelitian dengan melakukan tes kemampuan membaca permulaan siswa kelas i b. adapun hasil kemampuan awal dari siswa kelas 1b terlihat dalam tabel berikut: meningkatkan kemampuan membaca melalui ... (gusti yarmi dan resty widyastuti) 93 tabel 1. deskripsi data pra penelitian keterangan pretest rata-rata kelas 22, 048 median 21 modus 18 varians 11, 748 simpangan baku 3,428 skor maksimum 27 skor minimum 17 jumlah responden 21 jumlah skor data mentah 463 setelah dilakukan tes kemampuan membaca pada pertemuan pertama dilanjutan pertemuan kedua dengan melakukan tindakan menerapkan permainan komputer pada pembelajaran membaca permulaan. siswa diminta masuk ke ruang komputer dan diminta untuk duduk didepan komputer dengan kelompoknya masingmasing. siswa diinstruksikan untuk membuka program permainan komputer akal siswa juara “petualangan ke pulau hodob”. kemudian siswa mencoba untuk memilih permainan yang ada. permainan ini berisi tentang kata-kata yang harus dituliskan sesuai dengan gambar yang harus dijawab dengan menggunakan keyboard. pada pertemuan selanjutnya permainan yang akan dilakukan adalah “mangga merana”, dimana siswa diminta untuk mencari kata-kata yang sesuai dengan gambarnya. permainan ini membutuhkan konsentrasi dan ketelitian dalam mengingat letak gambar dan kata-kata yang sesuai dan menghindari mangga pemangsa. kerjasama dalam kelompok sangat diperlukan. permainan ini menggunakan keyboard tanda naik, turun, kiri dan kanan. permainan pada pertemuan selajutnya bernama tebing batu, permainan tersebut berisi tentang kalimat yang belum lengkap. siswa harus membaca kalimat untuk dilengkapi degan gambar yang ada disampingnya. permainan ini menggunakan mouse. permainan ini terdiri dari 5 bentuk cerita yang harus diselesaikan oleh siswa. setelah selesai melakukan tindakan melalui beberapa pertemuan dilakukan analisis dan refleksi. berdasarkan hasil analisis dan refleksi yang dilakukan pada data siklus satu diperoleh data sebagai berikut: keterangan posttest rata-rata kelas 24,571 median 25 modus 25 varians 6,757 simpangan baku 2,599 skor maksimum 29 skor minimum 21 jumlah responden 21 jumlah skor data mentah 516 tabel 2. deskripsi data siklus i profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 87-9894 berdasarkan dari data yang diperoleh, kemampuan membaca siswa setelah diberikan tindakan pada siklus i rata-rata kelas posttest adalah 24,571 mengalami peningkatan yang cukup berarti jika dibandingkan dengan rata-rata kelas saat pretest yaitu 22, 048. berdasarkan perbandingan rata-rata kelas pretest dengan posttest, maka didapatkan prosentasi kenaikan sebesar 11, 443 %. tidakan pada siklus ke-2 dilakukan sebanyak lima pertemuan. pada pertemuan pertama guru menjelaskan materi permainan yang akan dilaksankan siswa. permainan pada pertemuan ini bernama tangkap ulat, permainan tersebut berisi tentang kalimat yang belum tersusun. para siswa harus menyusun kalimat dari 3-4 kata yang ada. permainan ini menggunakan mouse. permainan ini terdiri dari 2 level, dalam setiap levelnya ada 10 kalimat yang harus disusun oleh siswa. permainan pada pertemuan selanjutnya ini bernama pohon ngomong, permainan tersebut berisi tentang kalimat yang harus dituliskan sesuai dengan apa yang didengar. para siswa harus mengetik kalimat sesuai dengan suara yang keluar ketika mereka meng-klik sebuah pohon. permainan ini menggunakan mouse untuk mengklik pohon dan keyboard untuk menuliskan kata-kata. permainan pada pertemuan ini bernama tukar telur, permainan tersebut berisi tentang huruf-huruf yang yang harus ditukar ataupun dituliskan untuk menjawab pertanyaan. permainan ini terdiri dari 4 level. siswa harus menukar huruf ataupun mengetik kata untuk menjawab pertanyaan. ini disesuaikan dengan level nya. permainan ini menggunakan mouse untuk mengklik untuk menukar dan keyboard untuk menuliskan kata-kata. guru komputer tetap mengingatkan siswa untuk pergantian waktu bermain dengan sesama teman dalam satu kelompoknya. setelah semua siswa selesai melakukan permainan tersebut, guru komputer meminta siswa untuk mematikan program permainan komputernya. kemudian guru komputer bertanya tentang kegiatan yang telah dilakukan dan bertanya kata-atau kalimat yang ada dalam permainan tersebut. setelah itu, guru komputer menjelaskan sedikit tentang materi kegiatan yang akan dilakukan esok harinya. setelah semua siswa paham akan penjelasan dari guru komputer, lalu ketua kelas memimpin temantemannya yang lain untuk berdoa bersama-sama sebagai tanda bahwa kegiatan telah berakhir. guru komputer menjelaskan materi permainan yang akan dilaksanakan oleh siswa. nama permainan dalam kegiatan ini yaitu jembatan batu, permainan ini berisi tentang melengkapi kalimat, jawabannya dalam bentuk batu yang harus diambil dan dapat dijadikan jembatan agar ajo dapat melewatinya. didalam permainan ini siswa menggerakkan tokoh ajo dengan menggunakan keyboard untuk mengambil batu dan menempatkan jawaban yang sesuai. pertemuan kelima pada siklus ini dilakukan tes kemampuan membaca siswa. hasil dari pengamatan tersebut memperlihatkan adanya perubahan kemampuan membaca yang lebih baik dibandingkan dengan data siklus i. meningkatkan kemampuan membaca melalui ... (gusti yarmi dan resty widyastuti) 95 tabel 3. deskripsi data siklus ii keterangan posttest rata-rata kelas 27 median 28 modus 24 varians 6,5 simpangan baku 2,549 skor maksimum 30 skor minimum 23 jumlah responden 21 jumlah skor data mentah 567 jika dilihat dari data yang diperoleh, kemampuan membaca siswa setelah diberikan tindakan pada siklus ii rata-rata kelas posttest adalah 27 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan rata-rata kelas saat posttest siklus ii yaitu 24,571. berdasarkan perbandingan rata-rata kelas pretest dengan posttest, maka didapatkan prosentasi kenaikan sebesar 10, 524 %. serangkaian pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada siklus i dan siklus ii memperlihatkan tercapainya hasil intervensi tindakan yang diharapkan dari penelitian tindakan ini, yaitu meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas i. pembahasan setelah dilakukan berbagai kegiatan mulai dari kegiatan pra penelitian sampai diberikan tindakan berupa program latihan pada siklus i diperoleh data – data dari hasil observasi. selama kegiatan permainan komputer berlangsung, peneliti dan kolaborator mengamati jalannya kegiatan untuk melihat tindakan-tindakan yang diberikan sesuai dengan yang direncsiswaan. hasil pengamatan peneliti dan olaborator menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan yang dilakukan sudah sesuai dengan rencana. walaupun sempat terjadi beberapa hambatan yang disebabkan oleh perilaku siswa yang menyebabkan kegiatan agak tersendat, namun hal tersebut dapat ditangani oleh peneliti, kolaborator dan laboran. kemampuan membaca siswa khususnya dengan membaca kalimat dengan benar, membaca kalimat tanpa menghilangkan salah satu kata dalam kalimat, membaca kalimat tanpa menambahkan kata, membaca kalimat dengan intonasi yang tepat, membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti, menarik napas), membaca dengan tegas, volume suara terdengar keras, volume suara terdengar stabil cenderung meningkat, walaupun peningkatan tersebut belum maksimal. berdasarkan hasil analisis data siklus i dengan melihat prosentase kenaikan yaitu 11,443% dan menggunakan rumus uji-t pada siklus i diperoleh bahwa thitung adalah 2,701 dan ttabel pada taraf signifikansi α = 0,05 dengan n = 21 yaitu 1,73.kemudian hasil analisis data siklus ii dengan melihat prosentase kenaikan yaitu 10,524 % dan menggunakan rumus uji-t pada siklus ii diperoleh bahwa thitung adalah 3,254 dan ttabel pada taraf signifikansi α = 0,05 dengan n = 21 yaitu 1,73. sebagaimana disampaikan pada interpretasi hasil analisis bahwa hipotesis tindakan diterima jika thitung> ttabel, maka berdasarkan hasil analisis data pada siklus i dengan menggunakan rumus rumus uji –t diperoleh bahwa thitung = profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 87-9896 2,701 dan ttabel pada taraf signifikansi 0,05 dengan n = 21 yaitu 1,73. dari data tersebut dapat disimpulkan thitung ( 2,701 ) > ttabel (1,73), dengan demikian hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa permainan komputer dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa usia 6-7 tahun, khususnya membaca kalimat dengan benar, membaca kalimat tanpa menghilangkan salah satu kata dalam kalimat, membaca kalimat tanpa menambahkan kata, membaca kalimat dengan intonasi yang tepat, membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti, menarik napas), membaca dengan tegas, volume suara terdengar keras, volume suara terdengar stabil diterima. hasil analisis data ini dinilai cukup baik, namun peneliti dan kolaborator masih melihat belum opimalnya kemampuan membaca beberapa siswa sehingga tindakan ini dilanjutkan pada siklus ii. berdasarkan hasil analisis data pada siklus ii dengan menggunakan rumus rumus uji –t diperoleh bahwa thitung = 3,254 dan ttabel pada taraf signifikansi 0,05 dengan n = 21 yaitu 1,73. dari data tersebut dapat disimpulkan thitung ( 3,254 ) > ttabel (1,73), dengan demikian hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa permainan komputer dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa usia 6-7 tahun khususnya membaca kalimat dengan benar, membaca kalimat tanpa menghilangkan salah satu kata dalam kalimat, membaca kalimat tanpa menambahkan kata, membaca kalimat tanpa melakukan penggantian kata dengan makna berbeda, membaca kalimat dengan intonasi yang tepat, membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti, menarik napas), membaca dengan tegas, volume suara terdengar keras, volume suara terdengar stabil diterima. berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan rumus uji-t diketahui bahwa analisis data pada siklus i diperoleh thitung (2,701) > ttabel (1,73). hasil tersebut menunjukkan kesesuaian dengan hipotesis tindakan yaitu thitung> ttabel maka hipotesis diterima. dengan demikian dapat dinyatakan bahwa permainan komputer dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa usia 6-7 tahun, membaca kalimat dengan benar, membaca kalimat tanpa menghilangkan salah satu kata dalam kalimat, membaca kalimat tanpa menambahkan kata, membaca kalimat dengan intonasi yang tepat, membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti, menarik napas), membaca dengan tegas, volume suara terdengar keras, volume suara terdengar stabil. untuk melengkapi penyempurnaan hasil penelitian berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan rumus uji-t diketahui bahwa analisis data pada siklus ii diperoleh thitung (3,254) > ttabel (1,73). hasil tersebut menunjukkan kesesuaian dengan hipotesis tindakan yaitu thitung> ttabel maka hipotesis diterima. dengan demikian dapat dinyatakan bahwa permainan komputer dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa usia 6-7 tahun, membaca kalimat dengan benar, membaca kalimat tanpa menghilangkan salah satu kata dalam kalimat, membaca kalimat tanpa menambahkan kata, membaca kalimat tanpa melakukan penggantian kata dengan makna berbeda, membaca kalimat dengan intonasi yang tepat, membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti, menarik napas), membaca dengan tegas, volume suara terdengar keras, volume suara terdengar stabil. hasil analisis data membuktikan pemberian tindakan melalui permainan komputer dapat meningkatkan kemampuan membaca, khususnya membaca kalimat dengan benar, membaca kalimat tanpa menghilangkan salah satu kata dalam kalimat, membaca kalimat tanpa menambahkan kata, membaca tanpa melakukan penggantian kata dengan makna berbeda, membaca kalimat dengan intonasi yang tepat, membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti, menarik napas), membaca dengan tegas, volume suara terdengar keras, volume suara terdengar stabil. meningkatkan kemampuan membaca melalui ... (gusti yarmi dan resty widyastuti) 97 simpulan dan saran hasil analisis data dengan menggunakan rumus uji-t diketahui bahwa analisis data pada siklus i diperoleh thitung (2,701) > ttabel (1,73). hasil tersebut menunjukkan kesesuaian dengan hipotesis tindakan yaitu thitung> ttabel maka hipotesis diterima. dengan demikian dapat dinyatakan bahwa permainan komputer dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa usia 6-7 tahun, khususnya membaca kalimat dengan benar, membaca kalimat tanpa menghilangkan salah satu kata dalam kalimat, membaca kalimat tanpa menambahkan kata, membaca kalimat dengan intonasi yang tepat, membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti, menarik nafas), membaca dengan tegas, volume suara terdengar keras, volume suara terdengar stabil pada siswa kelas i sdn kalibata no 03 pagi. untuk melengkapi penyempurnaan hasil penelitian, peneliti melaksanakan siklus ii dan berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan rumus uji-t diketahui bahwa analisis data pada siklus ii diperoleh thitung (3,254) > ttabel (1,73). hasil tersebut menunjukkan kesesuaian dengan hipotesis tindakan yaitu thitung> ttabel maka hipotesis diterima. dengan demikian dapat dinyatakan bahwa permainan komputer dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa usia 6-7 tahun, khususnya membaca kalimat dengan benar, membaca kalimat tanpa menghilangkan salah satu kata dalam kalimat, membaca kalimat tanpa menambahkan kata, membaca kalimat tanpa melakukan penggantian kata dengan makna berbeda, membaca kalimat dengan intonasi yang tepat, membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti, menarik nafas), membaca dengan tegas, volume suara terdengar keras, volume suara terdengar stabil pada siswa kelas sd n no 03 kalibata pagi. dalam melakukan penelitian ini, peneliti mengalami berbagai hambatan-hambatan sehingga peneliti mencoba memberikan beberapa saran yang diharapkan berguna untuk penelitian selanjutnya. 1. pihak sekolah, agar dalam laboratorim komputer disediakan sarana dan prasarana laboratorium yang lebih bagus, misalnya komputer dengan perangkat hardware dan penyediaan software cd interaktif siswayang dapat menunjang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. 2. pendidik, agar dapat mengembangkan dan menerapkan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan dikemas dalam konsep bermain supaya siswa tidak merasa bosan dan dapat memahami materi pelajaran dengan lebih mudah. 3. peneliti selanjutnya, agar mengembangkan aspek-aspek yang diteliti sehingga diperoleh hasil penelitian yang lebih optimal dari peningkatan kemampuan membaca siswa. daftar pustaka arikunto, suharsimi. 2002. prosedur penelitian. jakarta: pt. rineka cipta, azhar, arsyad. 2004. media pembelajaran. jakarta: pt. raja grafindo,. bromley, karen d’angelo. 1992. language arts second edition: exploring connections. newyork: allyn and bacon. profesi pendidikan dasar, vol. 1, no. 2, desember 2014: 87-9898 brewer, jo ann. 1992. introduction to early childhood education preschool throught primary grades introduction. boston: allyn and bacon of simon and schuster, inc. depdikbud. 2001. membaca menulis permulaan. jakarta. rahim, farida. 2005. pengajaran membaca di sekolah dasar. jakarta: pt bumi aksara, rose. burns.roe. 1984. teaching reading in today’s elementary schools,. usa: houghton mifflin company, sudjana, nana. rivai, ahmad. teknologi pengajaran. bandung: sinar baru algensindo, 2001. tedjasaputra, mayke s. 2001. bermain, mainan dan permainan. jakarta : pt. grasindo, tim pelatih penelitian tindakan kelas universitas negeri yogyakarta, 1999. kumpulan materi penelitian tindakan (action research) (yogyakarta: direktorat menengah umum dan lembaga penelitian universitas negeri jakarta. wardani, dkk. 2004. penelitian tindakan kelas. jakarta: universitas terbuka. wilkinson, gene l. 2000. media dalam pembelajaran. jakarta: cv. rajawali. pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 25 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 vol. 7, no. 1, juli 2020 profesi pendidikan dasar e-issn: 2503-3530 p-issn: 2406-8012 doi: doi.org/10.23917/ppd.v1i1.10559 pengembangan modul berbasis problem based learning materi perpindahan kalor mata pelajaran ipa ani khoirunnisa1), lukman nulhakim2), ahmad syachruroji3) 1,2) fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, universitas sultan ageng tirtayasa 1anikhoirunnisa41@gmail.com; 2lukman9479@gmail.com; 3ahmadsyachruroji@untirta.ac.id pendahuluan pendidikan adalah proses yang harus dilewati untuk mengembangkan kemampuan dalam diri seseorang agar menjadi manusia berkualitas yang mencakup keterampilan, pengetahuan, serta karakter. dalam prosesnya pendidikan melibatkan guru dan siswa, rancangan pembelajaran dibuat oleh guru dan disesuaikan dengan kurikulum yang digunakan. kurikulum 2013 yang saat ini digunakan menuntut siswa untuk kritis dan aktif dalam setiap proses pembelajaran. guru hanya berperan sebagai pembimbing dan mengarahkan siswa. kurikulum 2013 menuntut siswa untuk mencari dan mendapatkan pengalaman belajarnya sendiri melalui berbagai kegiatan seperti menanya, mencoba, menalar, mengamati dan mengkomunikasikan. kegiatan tersebut sering juga kita jumpai saat pembelajaran ipa. salah satu mata pelajaran yang membentuk pengalaman belajar secara langsung adalah mata pelajaran ipa, dengan adanya pengalaman belajar secara langsung maka akan membuat siswa lebih mudah memahami materi terutama materi ipa yang bukan hanya berisi teori melainkan terdapat konsep dan prinsip. ipa merupakan pengetahuan abstract: the purpose of this research was to develop a module based on problem based learning. this research was conducted at public elementary school pegadingan 1 in the 5th grade on natural sciences subject of heat transfer material contained. the method used in this research was a research and development method using research and development steps. based on the feasibility test that had been conducted by a team of material experts, design experts, and education experts, an overall average score of 89.06% was obtained which included in the "very feasible" interpretation criteria, the average score of the material expert team's worth 89.20% which is included in the "very feasible" interpretation criteria, the design expert team's score was 79.48% which was included in the "feasible" interpretation criteria, and the average score of education expert eligibility was 98.50% which was included in the "very feasible" interpretation criteria. the average percentage of results of validation of student responses by 93.75% with the category of interpretation criteria "very eligible". keywords: module, problem base learning mailto:anikhoirunnisa41@gmail.com mailto:lukman9479@gmail.com mailto:ahmadsyachruroji@untirta.ac.id pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 26 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 yang berhubungan dengan cara kerja, cara memecahkan masalah, dan cara berpikir. ipa bukan hanya pengetahuan yang berasal dari berbagai fakta dan teori. ipa merupakan salah satu mata pelajaran wajib dalam tingkat sekolah dasar, ipa juga masuk dalam mata pelajaran yang ada dalam ujian nasional sehingga dapat disimpulkan bahwa ipa merupakan pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari. selain itu, mata pelajaran ipa terdapat pada setiap jenjang pendidikan. namun pada implementasi pembelajaran di sekolah dasar masih terdapat sekolah yang belum mampu memenuhi kebutuhan belajar siswa, salah satunya masih banyak sekolah di daerah atau di desa yang memiliki keterbatasan dalam menyediakan buku pelajaran sebagai salah satu sumber belajar. pada saat proses pembelajaran berlangsung sumber belajar merupakan hal yang sangat penting, karena salah satu fungsi sumber belajar adalah menambah pengetahuan siswa, hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan suhirman (2018: 159) bahwa sumber belajar dapat mengembangkan berbagai potensi yang beragam dan bervariasi. fakta, benda, ide, data maupun orang dan lingkungan sekitar dapat disebut sebagai sumber belajar. berbagai sumber belajar dapat disatukan manjadi suatu bahan ajar, bahan ajar merupakan kumpulan dari materi-materi pembelajaran yang disusun dan dikemas secara sistematis baik berupa cetak maupun non cetak yang dapat digunakan dalam belajar dan pembelajaran (jamaludin, 2017: 253). berdasarkan jenisnya bahan ajar dilihat dari dua aspek, yakni bahan ajar printed materials dan electronic materials. buku pelajaran, bahan ajar, handout dan modul termasuk dalam printed materials. sedangkan radio, cd interaktive dan tv termasuk dalam electronic materials. proses pembelajaran bahan ajar memiliki peranan yang penting, salah satunya sebagai acuan yang digunakan oleh guru dan siswa dalam mencapai kompetensi suatu pembelajaran. hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh indrawini dkk (2016: 1) bahwa salah satu peranan penting dengan adanya bahan ajar adalah untuk mencapai kompetensi yang harus dicapai siswa. akan tetapi berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di sdn pegadingan 1 bahan ajar yang tersedia belum memadai. saat proses pembelajaran berlangsung guru hanya menggunakan buku siswa kurikulum 2013 saja. sehingga pada saat proses pembelajaran berlangsung siswa cenderung pasif. maka diperlukan upaya yang dapat memperbaiki masalah tersebut, yaitu dengan mengembangkan modul berbasis problem based learning yang tidak hanya berisi materi saja, tetapi terdapat tahapan model pembelajaran yang membuat proses pembelajaran lebih aktif dan menarik. modul berbasis pbl merupakan modul yang dirancang berdasarkan langkahlangkah model pembelajaran pbl yaitu, orientasi siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual dan kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan menganalisis serta mengevaluasi proses pemecahan masalah. langkah-langkah tersebut disatukan dengan materi pembelajaran yang bertujuan agar proses pembelajaran yang menggunakan modul berbasis pbl dapat lebih menarik dan bervariasi. keunggulan di dalam modul berbasis pbl ini adalah terdapat permasalahan sebagai orientasi pembelajaran, permasalahan yang disajikan merupakan peristiwa pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 27 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 kehidupan sehari-hari yang dikemas dalam bentuk sebuah cerita serta pertanyaan sederhana, terdapat pula gambar ilustrasi yang menarik sehingga dapat membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran. modul berbasis pbl erat hubungannya dengan kemampuan berpikiri kritis siswa. hal ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh selviani (2019: 52) bahwa kemampuan berpikir kritis siswa meningkat dengan menggunakan modul berbasis pbl. selain itu hasil penelitian yang dilakukan oleh rokhim dkk (2018: 147) menyatakan bahwa modul berbasis pbl dapat membentuk kemampuan berpikir kritis siswa untuk memecahkan masalah. dilihat dari karakteristiknya, modul berbasis pbl cocok diterapkan pada materi perpindahan kalor. hal tersebut dikarenakan materi perpindahan kalor dapat menjalankan sintak model pembelajaran pbl. materi perpindahan kalor juga sering ditemui dalam kehidupan siswa, sehigga mudah dikaitkan dengan model pembelajaran pbl. oleh karena itu penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan modul berbasis problem based learning pada materi perpindahan kalor kelas v pada mata pelajaran ipa, di dalam modul tersebut terdiri dari identitas modul, petunjuk penggunaan, langkah-langkah pbl, percobaan sederhana, materi perpindahan kalor, rangkuman, glosarium, dan tes formatif. metode penelitian penelitian ini menggunakan metode research and development. metode penelitian dan pengembangan merupakan metode yang mengahasilkan sebuah produk serta menguji produk tersebut sehingga diketahui kelayakannya. penelitian ini menggunakan langkah-langkah yang telah dimodifikasi menurut sugiyono (2015: 409), terdapat 8 langkah penelitian dan pengembangan namun dalam penelitian ini hanya sampai pada tahapan ke 6 yaitu ujicoba secara terbatas karena keterbatasan waktu dan biaya. tahapan pertama yaitu analisis masalah, tahapan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui kebutuhan atau masalah yang ada di sekolah karena suatu penelitian berawal dari adanya masalah atau potensi. tahapan kedua yaitu pengumpulan data, tahapan ini bertujuan untuk memperoleh data yang akan memperkuat dasar penelitian. pengumpulan data yang dilakukan berupa observasi. observasi dilakukan untuk mengetahui proses pembelajaran yang berlangsung di tempat yang akan menjadi tempat penelitian, tujuannya untuk mengetahui kebutuhan dan permasalahan yang terjadi saat proses pembelajaran. tahapan ketiga yaitu desain produk, setelah ditemukan permasalahan yang ada maka dibuat media atau bahan ajar yang dapat meyelesaikan permasalahan tersebut. dalam penelitian ini akan dibuat modul berbasis pbl, kemudian dibuat story board untuk memudahkan dalam penyusunan modul. tahapan keempat yaitu validasi ahli, modul yang telah dibuat selanjutnya dilakukan validasi ahli yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan kelemahan modul berbasis pbl. validasi ahli dalam penelitian ini dilakukan oleh ahli materi, ahli desain, dan ahli pendidikan. pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 28 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 tahapan kelima yaitu revisi produk, tahapan ini dilakukan sesuai dengan saran dari tim ahli setelah dilakukan validasi agar dapat digunakan dalam proses uji coba secara terbatas. tahapan terakhir yaitu ujicoba produk secara terbatas. ujicoba dilakukan pada kelas vb sdn pegadingan 1 yang berjumlah 20 siswa, tujuan dari ujicoba secara terbatas adalah untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan modul serta mengetahui perbedaan yang terjadi saat proses pembelajaran setelah menggunakan modul berbasis pbl. teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu observasi dan angket, observasi bertujuan untuk mengetahui permasalahan di sekolah khususnya saat proses pembelajaran. sedangkan angket digunakan untuk mengetahui kelayakan modul. angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket validasi ahli materi, angket validasi ahli desain, angket validasi ahli pendidikan, dan angket respon peserta didik. teknik analisis data dilakukan dengan cara validasi oleh tim ahli menggunakan angket validasi sesuai dengan kriteria validasi instrumen. penghitungan skor angket dihitung menggunakan rumus menurut purwanto (2014: 207). kelayakan modul berbasis pbl ditentukan berdasarkan kriteria kategori interpretasi yang telah dimodifikasi oleh riduwan (2015: 41) dalam table 1: tabel 1. kriteria kategori interprestasi persentase pencapaian interprestasi 0–20% sangat tidak layak 21-40% tidak layak 41-50% cukup layak 61-80% layak 81-100% sangat layak hasil dan pembahasan tahap analisis masalah dilakukan melalui tiga acara yaitu analisis kurikulum, analisis materi, dan analisis kebutuhan. tahap analisis kurikulum yang dilakukan ialah mengidentifikasi kompetensi dasar kurikulum 2013 serta memahami kedalaman dan keluasan kompetensi yang akan digunakan dalam modul berbasis pbl. kompetensi inti yang digunakan adalah kompetensi yang berhubungan dengan materi perpindahan kalor terdapat pada pada ki 3 dengan kd 3.6 menerapkan konsep perpindahan kalor dalam kehidupan sehari-hari dan kd 4.6 melaporkan hasil pengamatan tentang perpindahan kalor. selanjutnya tahap analisis materi dilakukan dengan cara menyesuaikan materi dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar yang termuat dalam kurikulum 2013. analisis materi dilakukan agar materi dalam modul berbasis pbl sesuai dengan kompetensi dasar dalam tema 6 panas dan perpindahannya pada mata pelajaran ipa di kelas v. sedangkan analisis kebutuhan yang didapatkan dari hasil observasi yaitu dibutuhkannya modul agar siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 29 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 setelah didapatkan analisis masalah bahwa dibutuhkan modul berbasis pbl maka akan dibuat modul, untuk membuat modul berbasis pbl tersebut selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data dari berbagai informasi. data yang dikumpulkan yaitu, pengumpulan materi perpindahan kalor dan gambar-gambar yang mendukung pembuatan modul berbasis pbl. kemudian data tersebut digunakan sebagai refrensi dalam mengembangkan modul berbasis pbl. selanjutnya adalah tahap desain produk, desain yang dibuat berupa story board dengan langkah-langkah berikut 1) penentuan kompetensi inti, kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran, 2) menentukan isi materi modul dan sub judul serta alat evaluasi yang digunakan, 3) menyesuaikan isi materi dengan langkah-langkah pbl, 4) mendesain sampul depan dan belakang, 5) mendesain layout setiap halaman. tahap selanjutnya yaitu validasi produk bertujuan untuk mengetahui kelayakan modul berbasis pbl yang telah dikembangkan. pada penelitian ini validasi dilakukan oleh 3 tim ahli yaitu ahli materi, ahli desain, dan ahli pendidikan. aspek penilaian dalam validasi ahli materi meliputi aspek kelayakan isi, aspek kelayakan penyajian, dan aspek langkah-langkah pbl. validator pada ahli materi berjumlah dua ahli. berikut adalah hasil validasi tim ahli materi terhadap modul berbasis pbl pada materi perpindahan kalor. tabel 2. hasil validasi ahli materi aspek penilaian skor np (%) total ahli materi i ahli materi ii aspek kelayakan isi 87,05% 88,23% 87,64% aspek kelayakan penyajian 84,44% 95,55% 89,99% penilaian problem based learning 85,71% 94,28% 89,99% np (%) 85,73% 92,68% ∑rata-rata 89,20% kategori kualitas materi sangat layak berdasarkan tabel nilai rata-rata validasi tim ahli materi tersebut maka modul berbasis pbl termasuk kedalam kategori interpretasi “sangat layak”. selanjutnya adalah hasil validasi tim ahli desain yang merujuk pada aspek kelayakan kegrafikan dan aspek kelayakan bahasa. pada validasi ahli desain juga divalidasi oleh dua validator yang bertujuan sebagai pembanding hasil penilaian. berikut adalah tabel 3 hasil validasi ahli desain. pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 30 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 tabel 3. hasil validasi ahli desain aspek penilaian skor np (%) total ahli desain i ahli desain ii aspek kelayakan kegrafikan 79,31% 78,62% 78,96% aspek kelayakan bahasa 80% 80% 80% np (%) 79.65% 79.31% ∑rata-rata 79.48% kategori kualitas desain layak berdasarkan tabel nilai rata-rata validasi tim ahli desain tersebut maka modul berbasis pbl termasuk kedalam kategori interpretasi “layak”. sedangkan hasil validasi tim ahli pendidikan yang merujuk pada aspek ketepatan isi materi, aspek tampilan, dan aspek bahasa. pada validasi ahli pendidikan juga dilakukan oleh dua validator yang merupakan guru kelas v. berikut adalah tabel hasil validasi ahli pendidikan. tabel 4. hasil validasi ahli pendidikan berdasarkan tabel nilai rata-rata validasi tim ahli pendidikan tersebut maka modul berbasis pbl termasuk kedalam kategori interpretasi “sangat layak”. hasil keseluruhan dari persentase rata-rata validasi tim ahli dapat dilihat pada gambar 1. 89,20% 79,48% 98,50% 0% 20% 40% 60% 80% 100% nilai rata-rata p e rs e n ta se k e la y a k a n ( % ) nilai rata-rata hasil validasi ahli ahli materi ahli desain ahli pendidikan gambar 1. nilai rata-rata hasil validasi ahli aspek penilaian skor np (%) total ahli pend i ahli pend ii isi materi 97,50% 97,50% 97,50% tampilan 96% 100% 98% bahasa 100% 100% 100% np (%) 97,83% 99,16% ∑rata-rata 98,50% kategori kualitas pendidikan sangat layak pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 31 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 setelah divalidasi oleh para tim ahli dan mendapatkan kritik serta saran yang dapat digunakan untuk memperbaiki modul berbasis pbl maka selanjutnya dilakukan revisi terhadap modul berbasis pbl sesuai dengan kritik dan saran tersebut. berikut adalah tabel 5 kritik dan saran para tim ahli. tabel 5. kritik dan saran tim ahli validasi tim ahli kritik dan saran ahli materi 1. menambahkan judul dan halaman pada langkah mengorganisasikan siswa untuk belajar agar siswa tidak bingung saat menggunakan modul. 2. mengganti alternatif jawaban tes formatif pada soal pilihan ganda nomor 8. 3. menambah prolog orientasi masalah agar siswa lebih memahami inti permasalahan yang disajikan. ahli desain 1. menambahkan nama pembimbing di bawah nama penulis. 2. menambahkan 1 halaman baru berisi identitas dan deskripsi modul bebasis problem based learning. 3. desain layout pada setiap sub judul harus berbeda agar lebih menarik dan tidak membosankan. ahli pendidik 1. menambahkan cara menghitung skor tes formatif agar siswa mandiri dalam mengerjakan tes formatif. 2. memperbaiki desain layout setiap halaman agar tidak terlalu ramai setelah mendapatkan kritik dan saran dari tim ahli mengenai modul berbasis pbl maka selanjutnya dilakukan revisi sesuai dengan kritik dan saran tersebut. setelah modul direvisi sesuai dengan kritik dan saran tim ahli validasi maka selanjutnya modul diujicobakan secara terbatas, uji coba dilakukan di kelas vb sdn pegadingan 1 yang berjumlah 20 siswa. saat uji coba modul digunakan dalam proses pembelajaran, setelah pembelajaran selesai siswa diberikan angket respon peserta didik. hasil angket respon peserta didik dapat dilihat pada gambar 2. hasil validasi aspek isi materi sebesar 100%, hasil validasi aspek bahasa sebesar 87,50%, hasil validasi aspek penyajian sebesar 100%, dan hasil validasi aspek kegrafikan sebesar 87,50%. dengan demikian rata-rata persentase hasil validasi respon siswa sebesar 93,75% dengan kategori kriteria interpretasi “sangat layak”. dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa memberikan respon yang sangat baik terhadap penggunaan modul dan saat proses pembelajaran siswa terlihat lebih aktif. pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 32 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 [] 87,50% [] 87,50% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% p e rs e n ta se k e la y a k a n ( % ) nilai rata-rata hasil angket respon peserta didik isi materi bahasa penyajian kegrafikan gambar 2. hasil angket respon peserta didik penilaian kelayakan dan kualitas dari modul berbasis pbl ini sesuai dengan karakteristik modul yang baik dan menarik menurut depdiknas (2008) dalam asyhar (2012:155) yaitu, self intructional, self contained, stand alone, adaptive, dan user friendly. karakteristik pertama yaitu, self instructional merupakan karakteristik yang menjelaskan bahwa modul yang baik harus membuat siswa mampu belajar secara mandiri, karena tujuan utama dari modul adalah membuat siswa mandiri dalam proses pembelajaran. maka di dalam sebuah modul harus terdapat tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara jelas, materi dalam bentuk spesifik yang akan memudahkan siswa, terdapat contoh serta ilustrasi gambar yang mudah dipahami, soal-soal dan tes formatif yang dapat mengukur tingkat pengusaan materi, materi yang disajikan berhubungan dengan lingkungan atau kehidupan siswa, dan terdapat penjelasan menghitung ketercapaain siswa terhadap materi. karakteristik kedua yaitu, self contained artinya di dalam modul terdapat satu kompetensi dan sub kompetensi secara utuh, sehingga siswa dapat mempelajari materi secara utuh hanya dalam satu modul. karakteristik ketiga yaitu, stand alone artinya modul yang baik dapat digunakan tanpa menggunakan media pembelajaran, sehingga saat siswa belajar menggunakan modul tidak perlu mencari sumber belajar lain. karakteristik keempat yaitu, adaptive artinya modul yang dibuat dapat mengikuti perkembangan teknologi, dan dapat digunakan dalam kurung waktu tertentu. maka kebanyakan modul saat ini dibuat menggunakan perkembangan teknologi serta tidak hanya dalam bentuk cetak namun juga dalam bentuk digital berupa ebook. karakteristik terakhir yaitu, user friendly yang berarti modul dapat digunakan dengan mudah oleh siswa. maka modul harus menggunakan bahasa dan petunjuk penggunaan yang mudah dipahami siswa. pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 33 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 ketercapaian karakteristik self instructional dan self contained dengan modul berbasis pbl pada materi perpindahan kalor dibuktikan dari hasil validasi ahli materi pembelajara ipa yang memperoleh skor 142 dan 151 dari jumlah skor maksimal 165, dengan presentase sebesar 85,735 dan 92,68%. adapun skor tidak maksimal dari ahli materi i sebesar 14,27% karena belum mencukupi untuk memperoleh skor maksimal pada keluasan materi, kedalaman materi, rangkuman belum mencakup seluruh materi dan belum sepenuhnya mengorganisasikan siswa untuk belajar. sedangkan skor tidak maksimal dari ahli materi ii sebesar 7,32%, karena belum mencukupi untuk memperoleh skor maksimal pada kesesuaian materi dengan sk dan kd, keakuratan simbol dan acuan pustaka, kesesuaian materi dengan konsep perpindahan kalor, gambar dan contoh dengan kehidupan sehari-hari, serta teknik penyajian yang belum sepenuhnya baik. berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa modul berbasis pbl pada materi perpindahan kalor menurut tim ahli materi termasuk dalam kriteria interpretasi sangat layak, dan modul tersebut layak diuji cobakan pada proses pembelajaran dengan mengikuti saran dan perbaikan yang telah diberikan ahli materi. ketercapaian karakteristik stand alone, adaptive, dan user friendly dibuktikan dari hasil validasi ahli desain yang memperoleh skor 162 dan 163 dari jumlah skor maksimal 205, dengan persentase sebesar 79,65% dan 79,31%. adapun skor tidak maksimal dari ahli desain i sebesar 20,36%, karena belum mencukupi untuk memperoleh skor maksimal pada desain sampul, desain isi modul, dan kelayakan bahasa. sedangkan skor tidak maksimal dari ahli desain ii sebesar 20,69%, karena belum mencukupi untuk memperoleh skor maksimal pada kesesuaian ukuran dengan isi modul, warna dan unsur tata letak, desain isi modul, dan kelayakan bahasa. ketercapaian karakteristik self instructional dan self contained dengan modul berbasis pbl pada materi perpindahan kalor dibuktikan dari hasil validasi ahli materi pembelajara ipa yang memperoleh skor 142 dan 151 dari jumlah skor maksimal 165, dengan presentase sebesar 85,73% dan 92,68%. adapun skor tidak maksimal dari ahli materi i sebesar 14,27% karena belum mencukupi untuk memperoleh skor maksimal pada keluasan materi, kedalaman materi, rangkuman belum mencakup seluruh materi dan belum sepenuhnya mengorganisasikan siswa untuk belajar. sedangkan skor tidak maksimal dari ahli materi ii sebesar 7,32%, karena belum mencukupi untuk memperoleh skor maksimal pada kesesuaian materi dengan sk dan kd, keakuratan simbol dan acuan pustaka, kesesuaian materi dengan konsep perpindahan kalor, gambar dan contoh dengan kehidupan sehari-hari, serta teknik penyajian yang belum sepenuhnya baik. berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa modul berbasis pbl pada materi perpindahan kalor menurut tim ahli materi termasuk dalam kriteria interpretasi sangat layak, dan modul tersebut layak diuji cobakan pada proses pembelajaran dengan mengikuti saran dan perbaikan yang telah diberikan ahli materi. ketercapaian karakteristik stand alone, adaptive, dan user friendly dibuktikan dari hasil validasi ahli desain yang memperoleh skor 162 dan 163 dari jumlah skor maksimal 205, dengan persentase sebesar 79,65% dan 79,31%. adapun skor tidak pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 34 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 maksimal dari ahli desain i sebesar 20,36%, karena belum mencukupi untuk memperoleh skor maksimal pada desain sampul, desain isi modul, dan kelayakan bahasa. sedangkan skor tidak maksimal dari ahli desain ii sebesar 20,69%, karena belum mencukupi untuk memperoleh skor maksimal pada kesesuaian ukuran dengan isi modul, warna dan unsur tata letak, desain isi modul, dan kelayakan bahasa. berdasarkan hasil pengembangan modul berbasis pbl pada materi perpindahan kalor, maka bahan ajar berupa modul berbasis pbl pada materi perpindahan kalor telah dianggap berhasil dikembangkan menjadi bahan ajar yang baik karena disusun berdasarkan 5 karakteristik modul yang baik dan menarik menurut depdiknas. selain itu modul berbasis pbl yang telah dikembangkan mampu membuat siswa lebih aktif, antusias, dan mandiri dalam proses pembelajaran. sesuai dengan yang dikemukakan oleh hamid (2013:130) bahwa salah satu manfaat dari penggunaan modul adalah melatih siswa untuk belajar mandiri. simpulan berdasarkan hasil analisis data serta penelitian yang telah dilakukan di sdn pegadingan 1 maka dapat disimpulkan modul berbasis pbl yang dikembangkan memperoleh nilai rata-rata validasi tim ahli materi sebesar 89,20% dengan kriteria interpretasi sangat layak, nilai rata-rata validasi tim ahli desain sebesar 79.48% dengan kriteria interpretasi layak, nilai-rata-rata validasi tim ahli pendidikan sebesar 98,50% dengan kriteria interpretasi sangat layak. modul berbasis pbl pada materi perpindahan kalor yang telah dikembangkan dan menjadi produk akhir telah diuji coba secara terbatas pada siswa kelas vb sdn pegadingan 1 yang berjumlah 20 siswa dengan perolehan nilai rata-rata respon peserta didik sebesar 93,75% dengan kriteria interpretasi sangat layak. pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 35 jppd, 7, (1), hlm. 25 36 daftar pustaka asyhar, r. (2012). kreatif mengembangkan media pembelajaran. jakarta: referensi jakarta. indrawini, t., amirudin, a., & widiati, u. (2016). pentingnya pengembangan bahan ajar tematik untuk mencapai pembelajaran bermakna bagi siswa sekolah dasar. seminar nasional pengembangan profesionalisme pendidikan untuk membangun karakter bangsa,, vol.2 no. 1, hlm. 1-7. jamaludin, u. (2017). pembelajaran pendidikan ips teori konsep dan aplikasi bagi guru dan mahasiswa. bekasi: nurani. purwanto. (2014). evaluasi hasil belajar. yogyakarta: pustaka pelajar. riduwan. (2015). dasar-dasar statistika. bandung: alfabeta. rokhim, a.r., suparmi., & prayitno, b.a. (2018). pengembangan modul ipa berbasis problem based learning pada materi kalor dan perpindahan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa smp kelas vii. jurnal inkuiri,, vol.7 no. 1, hlm. 143-150. selviani, i. (2019) pengembangan modul biologi problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. indonesian journal of integrated science education, vol.1 no. 2, hlm 52-63. sugiyono. (2015). metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan r&d. bandung: alfabeta. suhirman. (2018). pengelolaan sumber belajar dalam meningkatkan pemahaman peserta didik. al fitrah journal of early childhood islamic education, vol.2 no.1, hlm. 159-173. pengembangan modul......(anisa khorunnisa, dkk) 36 jppd, 7, (1), hlm. 25 36