Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 2, No. 1, Desember 2014: 132-140132 MODEL PEMBELAJARAN PEER-TEACHING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN VERBAL MAHASISWA PGSD FKIP UMS Rubino Rubiyanto Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP, Universitas Muhammadyah Surakarta ABSTRACT The problems of lecturing in Primary Education are lowering the ability of verbal com- munication. The student seldom gives good respond in the form of question, expostula- tion and or criticism. For the developed of verbal capacity, researcher applied the strat- egy of peer-teaching. Peer-Teaching is a lecturing model by functioned the student are learning friend each other. There are six models, one of them is Jigsaw learning. The implementation of Jigsaw model is by counting six times, and each is observed by assis- tant. The general conclusion of the research is that it can improve the student’s verbal capacity until significant number (92,5 %). In detail it can be elaborated: a) The enthu- siasm of the student in working task, getting better by the end of meeting counted 42 students. b) The student activity of instruction of the material rounding into 43 students , c) The student of enough question and answer capacity rounding into the goodness are 37 student, d) The interaction of student of good verbal remain to be good are 43 stu- dents. From final test also told that the final achievement of the students amount B. Keywords: verbal capacity – peer- teaching – jigsaw learning PENDAHULUAN Sebagai pekerja professional guru melak- sanakan proses pembelajaran yang bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlaq mulia, sehat jasmani rohani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga Negara yang bertangung jawab atas dirinya sendiri, masyarakat serta bangsanya (Ketentuan Umum UU RI No. 20 Tahun 2003). Dalam UUSPN tahun 2003 di- sebutkan bahwa guru adalah tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, melakukan pembimbingan, serta melakukan berbagai pelatihan bagi peserta didiknya. Dalam kaitan ini salah satu kompetensi yang dituntut untuk dimiliki para guru ialah kompetensi pribadi, satu diantaranya ialah ke- mampuan komunikasi verbal. Kemampuan verbal guru SD memiliki peran sangat penting dalam melaksanakan tugas pembelajaran sehari-hari. Kemampuan verbal guru diperoleh dan dipersiapkan sejak mereka masih menjadi mahasiswa karena kemampuan ini bukan given, tetapi melalui pengembangan potensi maupun latihan sehari-hari dengan kesa- daran diri yang tinggi. Berdasarkan pemikiran ini maka mahasiswa PGSD harus dipersiapkan untuk memiliki kemampuan verbal yang baik agar Model Pembelajaran Peer-Teaching untuk Meningkatkan ... (Rubino Rubiyanto) 133 setelah menjadi guru dapat melaksanakan pembelajaran secara optimal. Uzer Usman (2001:88) memberikan menjelaskan, kemampuan verbal ialah kemam- puan untuk menyajikan informasi secara lisan yang diorganisir secara sistematis untuk menunjukkan hubungan yang satu dengan yang lain. Model pembelajaran yang mengembangkan kemam- puan verbal hendaknya tidak selalu dikono- tasikan dengan model ceramah, tetapi setiap me- tode yang dalam prosesnya memberikan kebe- basan kepada mahasiswa (peserta didik) agar mengelola kemampuan verbal, sehingga akhirnya ia memiliki suatu ketrampilan komunikasi secara lisan kepada peserta didiknya. Model pembelajaran inovatif yang sekarang sedang dikembangkan oleh para praktisi pendidikan (guru) kemampuan verbal para guru semakin tergeser dari sebagai sumber penge- tahuan ke fasilitator. Artinya guru yang semula difungsikan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang selalu menggunakan metode ceramah (kemampuaan verbalnya) semakin dibatasi. Secara tersirat ini berarti bahwa model pembe- lajaran inovatif peran guru untuk menerangkan materi ajar semakin berkurang. Sebaliknya aktivitas calon guru (mahasiswa) untuk menguasai materi semakin dikembangkan. Hal ini bisa berarti bahwa dengan pembelajaran inovatif komunikasi verbal calon guru kurang optimal dalam pengem- bangnnya. tetapi bukan berarti kemampuan ver- bal calon guru tidak dikembangkan. Atau dapat dikatakan pengembangan komunikasi sciencenya lebih besar daripada komunikasi verbalnya Tuntutan kompetensi ini dapat dipahami mengingat sebagian besar komunikasi guru dengan peserta didiknya melalui komunikasi lisan (verbal). Dengan komunikasi verbal yang tinggi diharapkan pembelajaran aktif interaktif dapat terwujud sehingga murid memiliki hasil belajar yang tinggi. Mahasiswa adalah sosok manusia yang sedang mengalami perubahan, yaitu transisi psikologis, intelektual, dan sosial (Amin Abdullah, 2006 : viii). Secara psikologis mereka mengalami perubahan dari ciri kejiwaan yang belum sepenuh- nya mandiri kepada kejiwaan orang dewasa yang mandiri. Secara intelektual mereka berubah dari model pembelajaran instruktif dan reseptif yang berpusat pada guru di sekolah menuju model pembelajaran di perguruan tinggi (PT) yang merepresentasikan pembelajaran self directed yang bertumpu pada kemampuan self untuk mengakses dan mengolah sumber informasi belajar, mengevaluasi secara kritis menjadikan panduan riil dalam kehidupan di kampus. Dikaitkan dengan fungsi PGSD FKIP sebagai salah satu LPTK penghasil calon guru di tingkat dasar maka out-put (lulusan) hendaknya memiliki salah satu kompetensi yang disyaratkan sebagai guru yaitu kemahiran berkomunikasi ver- bal /lisan dalam konteks pembelajaran. Akibat dari pembelajaran yang instruktif dan reseptif dan memperlakukan siswa sebagai objek di atas sangat dirasakan di PT pada kelas-kelas pemula (semester 1) mereka sangat pasif dalam meres- pon materi ajar, mereka memiliki kemampuaan verbal yang rendah. Lebih 5 tahun peneliti mengampu mata kuliah Landasan Kependidikan (semester 1) Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah (semester 2) pada mahasiswa S1 Pendidikan Matematika, serta akhir-akhir ini ter- libat pada program studi PGSD ternyata aktivitas mahasiswa dalam merespon materi kuliah, dalam meningkatkan kemampuan verbalnya sangat rendah. Rendahnya respon ini ditunjukkan misalnya: “dalam perkuliahan mahasiswa jarang bertanya, jika diberi kesempatan bertanya sering tidak digunakan, jarang terjadi komunikasi intructional secara lisan antar mahasiswa, kecenderungan mencatat materi (bukan mema- hami) masih sangat tinggi”. Dengan tidak menaruh rasa suudzon pada guru – guru SMA fenomena rendahnya respon maupun partisipasi mahasiswa ini antara lain disebabkan karena proses pem- belajaran di SMA banyak menggunakan strategi reseptif, banyak ceramah, memperlakukan siswa Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 2, No. 1, Desember 2014: 132-140134 sebagai objek. Para guru kurang melatih siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam pem- belajaran. Untuk mengatasi permasalahan di atas serta meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa S1 PGSD peneliti mengajukan suatu solusi dengan menerapkan model pembelajaran peer-teaching. Peer-teaching adalah model pembelajaran sesama teman, artinya salah satu temannya sendiri berfungsi menyampaikan materi ajar kepada teman yang lain. Dalam peer-teach- ing mahasiswa akan aktif belajar dalam kelompok kecil. Bersama teman kelompoknya masing- masing mahasiswa mengembangkan diri melalui interaksi kelompok kecil. Ada beberapa model peer-teaching, antara lain, a) Group-to group Exchange, b) Jigsaw, c) Everyone is a Teacher here, d) Peer-lesson, e) Student-Created Case Study, f) In the New, g) Poster Session (Mel Silberman, 2005). Peer- teaching adalah suatu model pem- belajaran dimana antar mahasiswa saling mem- belajarkan temannya sendiri, mereka terlibat dalam suatu interaksi edukatif, diskusi untuk menguasai materi kuliah, menyampaikan kepada kelompoknya, menjawab pertanyaan dari teman sekelompoknya. Aktivitas pembelajaran teletak pada mahasiswa, peran dosen dalam hal ini sekedar sebagai fasilitator / mengatur bagaimana kondisi ini dapat berlangsung. Lie (2005:28) menyebut model pembel- ajaran yang demikian sebagai model pembe- lajaran kooperatif atau gotong royong. Model ini memiliki landasan filosofis manusia sebagai homo homini lupus, dimana kerja sama merupakan kebutuhan yang sangat penting demi keberlang- sungan kehidupannya. Tanpa kerja sama dengan orang lain / teman maka setiap tujuan tidak akan dapat terwujud. Mel Silberman (2005:175) mengatakan “teaching is the highest form of understanding. They believe that a subject is truly mastered when a learner is able to teach it to someone else. Peer teaching gives participans the opportunity to learn some- thing well and at the same time to become resources for one another”. Selanjutnya dijelas- kan juga bahwa model pembelajaran peer-teach- ing terdiri dari beberapa model, antara lain, “ Group-to group Exchange, Jigsaw learning, Everyone Is a Teacher Here, Peer Lessons, Participant Created Case Studies, Poster Ses- sion” (Silberman. 2005: 175-189). Asumsi yang melandasi adalah pertama, asumsi filosofis pendidikan. Pendidikan meru- pakan usaha sadar mengembangkan manusia menuju kedewasaan, baik dewasa intelektual, sosial maupun moral. Kedua, asumsi tentang peserta didik sebagai subjek didik, antara lain (a) peserta didik (mahasiswa) adalah individu yang mampu mengembangkan dirinya sendiri, (b) setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda, (c) individu pada dasarnya makluk aktif, kreatif, dinamik, (d) individu memiliki motivasi untuk memenuhi kebutuhannya. Asumsi ini menggambar- kan bahwa mahasiswa adalah subjek belajar, memiliki potensi berkembang. Ketiga, asumsi tentang proses pembelajaran, bahwa, (a) pembelajaran merupakan suatu system, (b) guru memiliki kemampuan professional dalam pembelajaran, (c) guru mempunyai kode etik, (d) guru berperan sebagai pemimpin / fasilitator dalam pembelajaran. Dalam pandangan psikologi modern belajar bukan hanya menghafal sejumlah materi atau informasi tetapi proses mental, proses ber- pengalaman, sehingga setiap pembelajaran menuntut keterlibatan intelektual-emosional untuk mengembangkan pengetahuan, tindakan, pengalaman langsung dalam membentuk ketrampilan (motorik, kognitif, afektif, sosial). Berdasar uraian di atas penelitian ini akan mengembangkan model pembelajaran peer- teaching dengan memilih pendekatan Jigsaw learning, dimana model ini 90 % proses aktivitas- nya terletak pada mahasiswa, sehingga diharap- kan dapat meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa. Model Pembelajaran Peer-Teaching untuk Meningkatkan ... (Rubino Rubiyanto) 135 Dipilihnya strategi pembelajaran Jigsaw karena strategi pembelajaran ini menekankan perilaku bersama di antara semua mahasiswa dan melatih setiap mahasiswa mampu membelajarkan diri sendiri dalam kelompok kecil dalam belajar berkomunikasi lisan sesama teman (peer-teach- ing). Beberapa unsur pembelajaran Jigsaw ialah: 1) adanya saling kerjasama, 2) adanya tanggung jawab secara perseorangan, 3) adanya tatap muka di antara anggota, 4) adanya komunikasi lisan melalui presentasi tugas semua anggota, 5) adanya saling evaluasi dalam proses kelompok (Anita Lie.2005:31). Dikemukakan oleh Zaini, dkk (2007: 59) strategi Jigsaw merupakan strategi yang dapat melibatkan seluruh mahasiswa dan sekaligus mengajarkannya kepada temannya sendiri. Dengan kata lain Jigsaw merupakan model peer- teaching dimana antar mahasiswa terlibat dalam pembicaraan materi kuliah. Mahasiswa Progdi PGSD adalah calon guru SD, mereka dituntut untuk mengembangkan kemampuan verbalnya, oleh karena itu dengan penerapan Jigsaw mahasiswa dilatih untuk belajar mengkomu- nikasikan materi ajar kepada sesama teman secara lisan. Ada beberapa penelitian yang pernah dilakukan para pendahulu, antara lain dari Suparno (1996) dalam Cakrawala Pendidikan, yang meneliti Kemahiran Komunikasi Lisan Dalam Konteks Instruksional guru SD Jawa Timur, menyimpulkan, 1) kemampuan komunikasi lisan guru SD di kota berbeda dengan Guru SD di desa, 2) Kemahiran komunikasi lisan guru SD khususnya di desa masih harus ditingkatkan melalui pelatihan khusus dalam wadah KKG. Penelitian Rubino Rubiyanto (2005) menyimpul- kan bahwa dengan implementasi motivasi dalam pembelajaran matematika SD kelas 5 dapat meningkatkan 60 % aktivitas bertanya para siswa. Pada putaran ketiga dari jumlah 20 siswa, mencapai 15 siswa yang bertanya, sedang jika dibarengi dengan pemberian hadiah maka aktivitas bertanya meningkat hampir 90 %. Penelitian Ning Setyaningsih (2006) menunjukkan bahwa dengan implementasi RME dalam pembelajaran matematika akan terjadi peningkatan partisipasi siswa SD dalam proses pembelajaran mate- matika. Rumusan masalah yang diajukan dalam penbelitian ini ialah: “Apakah penerapan model pembelajaran peer-teaching dapat meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa PGSD ?” Searah dengan rumusan masalah ini maka tujuan penelitian adalah: (1) Meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa dengan model pembelajaran peer-teaching, (2) Meningkatkan ketrampilan dosen dalam penguasaan strategi pembelajaran Peer-teaching, (3) Meningkatkan produktivitas penelitian dosen. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa PGSD FKIP UMS. Secara purposif random sampling dipilih kelas 5 B yang berjumlah 51 mahasiswa sebagai subjek penelitian. Objek penelitian nya adalah kemampuan verbal maha- siswa dalam mata kuliah Penelitian Pendidikan. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi, pedoman observasi. Dokumentasi untuk mem- peroleh nama mahasiswa, prestasi akhir maha- siswa. Pedoman observasi dipergunakan untuk mengetahui perkembangan aktivitas mahasiswa terutama dalam mengembangkan kemampuaan verbal (berdiskusi, presentasi tugas, keseriusan, komunikasi interaktif, cara menjawab perta- nyaan). Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif. Penelitian ini termasuk penelitian yang bertujuan memperbaiki dan mengembangkan kemampuan verbal mahasiswa. Penelitian yang bercorak demikian dapat dikategorikan jenis penelitian PTK walaupun tidak 100 % PTK, ada yang memberikan nama Penelitian Peningkatan Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 2, No. 1, Desember 2014: 132-140136 Mutu Pembelajaran (PPMP). Yang jelas penelitian ini dilaksanakan berdasarkan pada suatu permasalahan nyata di dalam kelas. Permasalahan tersebut digali secara analisis kritis berdasar pengalaman nyata dalam suatu proses pembelajaran. Prosedur pemecahan masalah dilakukan dengan implementasi suatu model / strategi pembelajaran yang telah direncanakan, dilakukan secara berulang, diobservasi secara teliti dan cermat oleh observer. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan secara kolegial, peneliti utama sebagai pelaksana tindakan, dibantu mahasiswa terpilih sebagai observer. Hasil observasi didiskusikan secara kolaboratif antara peneliti utama dan anggota. Model yang dipilih dilakukan secara berulang untuk meningkatkan dan memperbaiki perilaku dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Secara umum indikator kinerja dalam penelitian ini ialah diperoleh salah satu model pembelajaran peer-teaching yang secara opti- mal dapat meningkatkan kemampuan verbal mahasiswa khususnya dalam mata kuliah Penelitian Pendidikan. Secara khusus indikator kinerja dapat dilihat dari aspek dosen dan maha- siswa. Dari aspek dosen dapat dilihat dari terselenggaranya model pembelajaran peer- teaching, sedang dari aspek mahasiswa dapat dilihat dari peningkatan kemampuan verbal mahasiswa. Secara diagramatik dapat diilustrasi- kan pada tabel berikut: Tabel 1. Indikator Kinerja Keberhasilan No Indikator Kinerja pada aspek Awal penelitian Akhir penelitian 1 Kemampuan mahasiswa a. Antusiasisme mahasiswa dalam me- nyelesaikan tugas b. Aktivitas mahasiswa dalam menje- laskan materi terhadap teman c. Kelancaran mahasiswa dalam ber- tanya dan menjawab pertanyaan yang berasal dari sesama teman. d. Interaksi sesama mahasiswa dalam kelompoknya Belum ada data Belum ada data Belum ada data Belum ada data 70 % dari jumlah mahasiswa. 70 % dari jumlah mahasiswa 70 % dari jumlaah mahasiswa 70 % dari jumlah mahasiswa 2 Aktivitas dosen Belum ada data Terselenggaranya model pembelajaran peer-teaching dengan pendekatan Jigsaw yang baik. 3 Nilai ujian tengah semester mahasiswa Belum ada data Nilai ujian tengah se- mester, 70 % dari jumlah mahasiswa memperoleh nilai B HASIL DAN PEMBAHASAN Di dalam proses pembelajaran siswa / mahasiswa merupakan pihak yang akan berkembang, meraih cita-cita, siswa / mahasiswa menjadi faktor penentu yang harus mencapai tujuan pembelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran siswa / mahasiswa harus aktif, mahasiswa yang harus diutamakan untuk melakukan proses, untuk melakukan kegiatan- kegiatan pokok dalam menguasai materi ajar, pendek kata mahasiswa harus memiliki aktivitas Model Pembelajaran Peer-Teaching untuk Meningkatkan ... (Rubino Rubiyanto) 137 yang optimal. Guru (dosen) memiliki peran yang penting dalam menentukan tinggi rendahnya aktivitas siswa / mahasiswa dalam pembelajaran termasuk pengembangan kemampuan verbal sesama mahasiswa dalam konteks instruksional. Karena itu dosen harus menyusun teaching plan untuk meningkatkan berbagai aktivitas dan kemampuan mahasiswa termasuk satu di antaranya kemampuan verbal. Hasil penelitian dapat diringkas dalam tabel berikut: Tabel 2. Ringkasan hasil peningkatan kemampuan verbal mahasiswa No Aspek kemampuan verbal Putaran 1 Putaran 2 Putaran 3 1 Antusias mahasiswa dalam menye- lesaikan tugas Tinggi 2 Sedang 32 Rendah 17 Tinggi 6 Sedang 40 Rendah 5 Tinggi 9 Sdang 42 Rendah 0 2 Aktivitas mahasiswa dalam menje- laskan materi kuliah Tinggi 2 Sedang 42 Rendah 7 Tinggi 8 Sedang 38 Rendah 5 Tinggi 8 Sedang 43 Rendah 0 3 Kelancaran mahasiswa dalam ber- tanya daan menjawab Tinggi 3 Sedang 31 Rendah 17 Tinggi 10 Sedang 39 Rendah 2 Tinggi 14 Sedang 37 Rendah 0 4 Interaksi sesama mahasiswa dalam kelompok Tinggi 0 Sedang 47 Rendah 4 Tinggi 5 Sedang 45 Rendah 1 Tinggi 8 Sedang 43 Rendah 0 Dari tabel di atas dapat dikemukakan beberapa keterangan, antara lain; 1. Dalam perencanaan dosen telah menyusun RPP sebagai pedoman pembelajaran. Materi yang dipilih adalah (a) masalah, (b) sumber masalah, (c) teknik merumuskan masalah, (d) Bentuk rumusan masalah, (e) hakekat variabel, (f) hubungan antar variabel, (g) macam variabel, (h) variabel dalam pene- litian. 2. Berdasar ringkasan hasil pada tabel 1 di atas dapat dikemukakan, a. Pada aspek antusias mahasiswa dalam menyelesaikan tugas dari putaran pertama sampai putaran ketiga sudah tersebar dalam 3 tingkatan ialah tataran rendah 17 orang, menurun menjadi 5 orang, menurun lagi menjadi 0 orang. Kelompok sedang dari 32 orang men- jadi 40 orang, meningkat lagi menjadi 42 orang. Kelompok tinggi bermula hanya 2 orang meningkat menjadi 6 or- ang, meningkat lagi menjadi 9 orang mahasiswa. Peningkatan ini dapaat dipahami dari berkurangnya kelompok rendah bergeser ke sedang dan kelom- pok sedang bergeser kekelompok tinggi. Dari data ini berarti antusias mahasiswa dalam menyelesaikan tugas mengalami peningkatan yang signifikan. b. Pada aspek aktivitas menjelaskan materi sesama mahasiswa, dari putaran per- tama hingga putaran ketiga dapat dikemukakan bahwa kelompok rendah semula 7 orang mahasiswa, menurun menjadi 5 orang mahasiswa dan menu- run lagi menjadi nol (kosong). Pada kelompok sedang dari 42 orang menu- run menjadi 38 orang, bahkan bergeser lagi menjadi 43 orang karena adanya peningkatan dari kelompok rendah. Pada kelompok tinggi bermula 2 orang Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 2, No. 1, Desember 2014: 132-140138 bergeser menjadi 8 orang dan tetap pada posisi 8 orang mahasiswa. Hal ini nampak terjadinya peningkatan aktivitas mahasiswa dalam menjelaskan materi. c. Pada aspek kelancaran dalam bertanya dan menjawab pertanyaan dari putaran pertama hingga putaran ketiga dapat dikemukakan, bahwa pada kelompok rendah semula 17 orang, menurun men- jadi 12 orang menurun lagi menjadi 0 mahasiswa. Pada kelompok sedang bermula 31 orang, mengalami pening- katan menjadi 39 orang dan ada sebagian yang meningkat, tetapi pada posisi sedang tetap ada tambahan dari posisi rendah meningkat ke posisi sedang sehingga jumlahnya tetap 37 orang ma- hasiswa. Pada posisi tinggi dari 3 orang meningkat menjadi 10 orang, meningkat lagi menjadi 14 orang. Berarti aspek kelancaran menjawab dan bertanya mengalami peningkatan. d. Pada aspek interaksi sesama mahasiswa dalam kelompok, dari putaran pertama hingga putaran ketiga pada posisi rendah bermula 4 orang, menurun tinggal 1 or- ang dan terakhir menduduki posisi nol mahasiswa. Pada posisi sedang meng- alami pergeseran kurang berarti, dari angka 47 menurun ke 45 orang, ber- geser lagi ke angka 43. Pada posisi tinggi dari 0 mahasiswa meningkat menjadi 5 orang mahasiswa, meningkat lagi men- jadi 8 mahasiswa. Hal ini dapat dipahami bahwa aspek interaksi sesama maha- siswa terjadi peningkatan. e. Dari keempat aspek keberanian bertanya semuanya mengalami pergeseran kearah meningkat. Hal ini berarti kemampuan verbal mahasiswa terjadi peningkatan. Dari keempat peningkatan tersebut dapat didiagramkan sebagai berikut; f. Untuk mengetahui lebih jelas perubahan dari siklus ke siklus diagram di atas dapat diperjelas lagi dalaam tabel di bawah ini: 0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 m otivasi m enjelas bertanya interaksi siklus 1 siklus 1 siklus 2 siklus 3 Tabel 3. Hasil Pengamatan Kegiatan Mahasiswa pada saat proses Pembelajaran No Aspek yg diamati Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 1 Antusias mahasiswa dalam menyele- saikan tugas Rendah sedang Baik 2 Aktivitas mahasiswa dalam menjelas- kan materi Sedang baik Baik 3 Kelancaran mahasiswa dalam bertanya dan menjawab Rendah baik Baik sekali 4 Interaksi sesama mahasiswa Baik baik Baik sekali 3. Hasil evaluasi ujian tengah semester. Sebagai keberhasilan peningkatan verbal diharapkan skore perolehan ujian tengah semester memperoleh skor B = 70 %. Berdasar hasil koreksi ujian tengah se- mester diperoleh sebaran skor mahasiswa seperti di bawah ini: Model Pembelajaran Peer-Teaching untuk Meningkatkan ... (Rubino Rubiyanto) 139 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Simpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini antara lain; 1. Pembelajaran peer-teaching dapat mening- katkan kemampuan verbal mahasiswa dari 14 % pada putaran 1 menjadi 44 % pada putaran 2 dan menjadi 78 % pada putaran 3. 2. Seiring dengan peningkatan tersebut jika ditinjau dari kondisi rendahnya kemampuan verbal mahasiswa mengalami penurunan dari 90 % (putaran 1) menurun menjadi 32 % (putaran 2) dan menurun lagi menjadi 0 % (putaran 3) 3. Pembelajaran peer-teaching dapat mem- pengaruhi kenaikan skor ujian tengah semes- ter (nilai 70 dapat dicapai.) Saran Dari kesimpulan di atas dapat dikemuka- kan saran kepada para dosen, dalam pembe- lajaran hendaknya menggunakan model pem- belajaran peer-teaching, karena peer-teaching ada beberapa model maka dosen harus memilih strategi yang cocok / tepat, sesuai dengan materi yang akan dibahas. Tabel 4. Skor perolehan nilai ujian tengah semester 2009 Skore Jumlah mahasiswa Prosentasi 4 2 3,92 % 3 38 74,51 % 2 10 19,61 % 1 1 1,96 % DAFTAR PUSTAKA Amin Abdulah. 2006. Sosialisasi Pembelajaran Bagi Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga. Anita Lie. 2005. Cooperative Learning. Edisi ke 4. Jakarta: Grasindo. Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani. 2007. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD UIN Sunan Kalijaga. Mel Silberman-2nd ed. 2005. 101 Ways To Make Training Active. Printed in The United States of America. Rubino,R dan Tugiyat Budiyono. 2005. Penerapan Motivasi dan Pujian Pada Pembelajaran Matematika Untuk Mengembangkan Keberanian Bertanya Murid Kelas 5 SD Muhammadiyah Gendol VII Klangkapan. (Laporan PTK, tidak diterbitkan) LPPM UMS. Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 2, No. 1, Desember 2014: 132-140140 Suparno. 1996. Tingkat Kemahiran Berkomunikasi Lisan Dalam Konteks Instruksional Guru SD di Jawa Timur. Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar.No.1 Th, ke 1.1996. p. 63-75. Yogyakarta. IKIP Yogyakarta. Uzer Usman.2001.Menjadi Guru Profesional (edisi 2). Bandung: Remaja Rosda Karya.