PROFESI PENDIDIKAN DASAR http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd © Universitas Muhammadiyah Surakarta 121 Strategi Think Pair Share dan Jigsaw: Manakah yang Lebih Efektif untuk Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa? Arief Cahyo Utomo 1* , Zaenal Abidin 2 , & Henry Aditia Rigianti 3 1,2 Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta, Indonesia 3 Universitas PGRI Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia *Email & Phone: acu234@ums.ac.id; +628994547808 Submitted: 2020-07-06 DOI: 10.23917/ppd.v7i2.11404 Accepted: 2020-12-02 Published: 2020-12-20 Keywords: Abstract Think pair share Jigsaw Problem solving This study aimed to find out the different of efectiveness of Think Pair Share (TPS) dan Jigsaw learning model on problem solving ability of 6 th grade students. This study compared which has a greater effect on problem solving ability of 6 th grade students. This study was a quasy experiment. The subjects of this study were 6 th grade elementary school students in Ngadirojo Kidul, Wonogiri, Indonesia. Data collection used were pretest dan post test technique. Data analysis used was Anova with T-test where previously preceded by prerequisite test (homogenity test dan normality test). The result of this study is there is difference between TPS learning model dan Jigsaw learning model. TPS learning model has a greater influence in improving problem solving ability of 6 th grade elementary school students. PENDAHULUAN Kemampuan pemecahan masalah merupakan kecakapan atau ketrampilan menerapkan pengetahuan yang didapatkan sebelumnya untuk menghadapi situasi yang belum dikenalnya atau memecahkan masalah. Pemecahan masalah merupakan sebuah proses yang dimulai dari tingkatan yang rendah (memahami) hingga merancang pelaksanaan dan penyelesesaian (Schoenfeld, 2016). Pemecahan masalah merupakan kemampuan yang dimiliki oleh semua orang dan terdapat tingkatan-tingkatan dari tingkatan yang rendah yaitu memahami hingga tingkatan merancang penyelesaian. Oleh karena itu kemampuan pemecahan masalah sangat penting bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya. Hal itu dikarenakan siswa pada akhirnya akan menghadapi berbagai permasalahan dalam dirinya dan mereka tidak dapat bergantung pada orang lain selain pada dirinya sendiri. Siswa akan berusaha sendiri untuk memecahkan permasalahan serta memahami dan memaknai pentingnya pengetahuan yang didapatkannya sebelum maupun sesudah mengatasi permasalahnnya. Siswa yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah, akan dapat mengatasi permasalahan yang sama bahkan membantu siswa lainnya dalam menghadapi masalah Selain itu, siswa akan mampu mengembangkan pengetahuannya untuk mendapatkan pemecahan masalah yang baru (Trianto, 2007). Utomo 1 , Abidin 2 & Rigianti 3 – Strategi Think Pair Share ... PRINTED ISSN 2406-8012 122 Pembelajaran dengan menggunakan strategi tipe Jigsaw merupakan pembelajaran yang bersifat kooperatif dan fleksibel. Terdapat lima poin utama yang mendukung pelaksanaan pembelajaran kooperatif yaitu; sikap saling ketergantungan yang positif, interaksi siswa terjadi secara langsung, tanggungjawab setiap siswa, keterampilan interpersonal dan kelompok kecil, serta pemrosesan informasi dalam kelompok (Johnson dan Johnson 1999). Poin utama di dalam pembelajaran tipe Jigsaw adalah pembelajaran yang dilakukan menggunakan model kelompok-kelompok sehingga dalam pembelajaran ini jumlah peserta yang digunakan harus dalam jumlah yang banyak. Pengelompokkan di dalam pembelajaran tipe Jigsaw bersifat heterogen sehingga siswa yang berkelompok berasal dari individu yang berbeda (pengetahuan dan pola pikir). Masing-masing siswa nantinya akan membantu siswa lainnya dalam memahami materi yang diberikan. Denagn demikian, setiap kelompok akan bertanggung jawab dalam topik atau materi yang ditugaskan oleh guru. Dalam pembelajaran Jigsaw, siswa dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasinya dan saling membantu. Sesuai dengan hasil peelitian Novi (2008) dimana penggunaan pembelajaran tipe Jigsaw akan mampu meningkatkan kemampuan bertanggung jawab serta meningkatkan sikap kerja sama antar anggota kelompok. Penelitian-peneltian yang berkaitan dengan pembelajaran tipe Jigsaw telah banyak dilakukan di dunia pendidikan diantaranya penelitian yang dilakukan untuk membuktikan bahwa pembelajaran tipe Jigsaw dapat digukan untuk meningkatkan kemampuan akademis siswa (Carol, 1989). Pembelajaran tipe Jigsaw sangat sesuai apabila materi-materi yang diberikan oleh guru tidak terlalu banyak menggunakan rumus-rumus ataupun persamaan. Pembelajaran tipe Jigsaw ini sangat cocok digunakan untuk pembelajaran yang banyak mengandung teori. Dengan banyak menggunakan teori, siswa akan semakin banyak membaca sebelum pembelajaran di kelas dilakukan. Siswa akan mendapatkkan pengetahuan sebelumnya sebagai syarat untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Hal tersebut sangat sesuai dengan penerapan pembelajaran tipe Jigsaw karena mengutamakan pengalaman siswa untuk saling berbagi informasi maupun saling membantu dalam kelompok. Berdasarkan langkah-langkah pembelajaran tipe jigsaw dalam Hedeen (2003), Jigsaw menitikberatkan pada hubungan timbal balik antar siswa dalam sebuah kelompok guna pencapaian tujuan (Mattingly dan Vansickle 1991). Selain itu, kegiatan yang dilakukan pada pembelajaran tipe jigsaw terbutkti dapat meningkatkan self-esteem siswa jika dibandingkan dengan tipe kooperatif lainnya (Aronson dan Bridgeman 1979). Strategi tipe kooperatif lainnya adalah pembelajaran tipe Think Pair Share (TPS). Mulyadi dan Risminawati (2012) berpendaat bahwa pembelajaran TPS adalah pembelajaran dimana menekankan pada prinsip kerja sama dan saling berbagi dengan siswa lainnya. Kothiyal (2013) menjelaskan bahwa pemebelajaran tipe TPS memiliki beberapa ciri khas yaitu keterlibatan yang interaktif dari siswa, pembelajaran kooperatif dan waktu tunggu. TPS merupakan kegiatan yang mendorong siswa untuk memikirkan sebuah masalah yang kemudian dibagi dengan siswa lain. Dalam strategi ini, siswa diminta untuk mengembangkan pemahaman konseptual yang mereka miliki tentang sebuah masalah dan mengembangkan opini (Tint dan Nyunt, 2015). Pembelajaran TPS ini memiliki sintak dimana guru menyajikan materi seperti biasa kemudian guru memberikan permassalahan kepada siswa. Siswa diminta untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan dengan bekerja sama dengan siswa terdekatnya atau sebangkunya. Kemudian diakhir pembelajaran siswa berpasang pasangan menyajikan hasil pemecahan persoalan yang diberikan tadi di depan kelas. Ciri-ciri utama pembelajran TPS adalah berpasang pasangan dan pemberian materi nya bersifat klasikan atau sekelas sama bukan perkelompok beda permasalahan (Martha, Emmanuel, dan Seraphina 2015). Sesuai Vol. 7 No. 2, 2020 ONLINE ISSN 2503-3530 123 dengan sintak tersebut jika dikembangkan lagi akan terbentuk pembelajaran yang efektif dan efisien. Jika sudah terbentuk pembelajaran yang kondusif maka tujuan pembelajaran pun akan tercapai dengan lancar. Setiap tipe pembelajaran yang digunakan tentunya akan ada yang namanya kelebihan suatu tipe maupun juga kekurangannya. Kelebihan dari strategi TPS yaitu sebagai berikut: (1) Dengan adanya kegiatan didalam pembelajarajan TPS maka akan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam pembelajaran. (2) Dalam berkelompok siswa juga diberikan waktu untuk lebih banyak berpikir mengenai permasalahan maupun topik yang diberikan sehingga akan ada interaksi saling membantu antar pasangan, (3) Dengan berpasangan maka akan meningkatkan juga kemampuan kerja sama antar siswa sehingga menumbuhkan sikap toleransi. (4) Dengan adanya kerja sama dan saling membantu maka siswa akan dipermudah dalam pemahaman siswa dan saling mengoreksi atau mengevaluasi ketika terjadi kesalahan. Untuk kelemahan pembelajaran TPS yaitu: (1) Pembelajaran ini dimaksudkan bukan untuk kelas dalam skala besar sehingga jika diterapkan untuk kelas yang berskala besar maka guru akan mengalami kesulitan dalam membimbing setiap pasangan kelompok. (2) Penambahan waktu yang cukup banyak jika kelompok pasangan terbentuk juga banyak dan juga setiap kelompok akan mendapatkan evaluasi dari guru sehingga membutuhkan tambahan waktu juga. (3) Guru tidak akan dapat mengkoordinasi setiap siswa sehingga akan ada siswa yang menggantungkan pekerjaannya kepada siswa lain atau bergantung pada pasangannya. (4) Kesulitan membentuk kelompok jika jumlah siswanya ganjil sehingga tipe pembelajaran ini akan berjalan jika jumlah anggotanya genap. Pada saat penelitian pendahuluan di kelas VI SD Negeri 3 dan 4 Ngadirojo, masih terlihat guru meminta siswa mengerjakan soal-soal saja tanpa mengetahui tujuan untuk apa mengerjakan soal-soal tersebut. Akibatnya para siswa tersebut merasa bosan dan kurang termotivasi. Selain itu, siswa-siswa yang kurang mampu dalam mengerjakan soal tersebut akan merasa semakin tertekan dan tidak peduli lagi dengan pembelajaran. Pada akhirnya pembelajaran kurang kondusif, siswa tidak aktif, dan enggan menyampaikan pendapatnya. Hal-hal semacam itu akan terjadi kembali apabila dalam pembelajaran di dalam kelas hanya menggunakan metode diskusi, ceramah dan penugasan. Tipe pembelajaran yang dapat digunakan untuk menciptakan suasana yang kondusif dan mampu untuk meningkatkan pemecahan masalah pada siswa diantarnya adalah TPS dan Jigsaw. Menurut Gok (2018) TPS berkaitan erat dengan kemampuan konseptual siswa, kemampuan ini membantu siswa untuk menemukan konsep dalam upaya pemecahan masalah. Sedang pembelajaran Jigsaw juga menitikberatkan pada penemuan konsep secara sistematis melalui kegiatan kelompok (Kusuma, 2018). Kedua tipe pembelajaran tersebut merupakan contoh dari pembelajaran yang bersifat kooperatif yaitu saling membutuhnkan antar siswa dan saling membantu antar siswa. Tipe pembelajaran kooperatif sangat mengedepankan kegiatan pembelajaran secara berkelompok, sehingga guru bukan merupakan narasumber tunggal dalam kelas (Martalena, 2016). Dengan begitu pembelajaran yang berorientasi pada guru maka akan berubah menjadi berpusat pada siswa an siswa juga menjadi aktif berdiskusi menyampaikan pendapatnya (Tamah 2007). Dengan adanya diskusi makan kelas menjadi mudah untuk diatur dan dikendalikan dan siswa nantinya akan merasakan bahwa meraka diberikan waktu yang cukup untuk berpikir dan merespon serta saling bantu membantu Penelitian terkait pembelajran TPS dan Jigsaw beberapa kali dilakukan. Namun begitu penelitian banyak berfokus pada kemampuan kognitif secara umum. Penelitian pembelajaran TPS dan Jigsaw terkait kemampuan pemecahan masalah siswa bisa dikatakan masih sangat minim. Terlebih lagi penelitian komparasi keefektifan di antara kedua pembelajaran tersebut. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk Utomo 1 , Abidin 2 & Rigianti 3 – Strategi Think Pair Share ... PRINTED ISSN 2406-8012 124 membandingkan keefektifan dari TPS dan Jigsaw dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa sekolah dasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitiian quasi eksperimen karena memberikan perlakuan tertentu terhadap sampel penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 3 Ngadirojo sebagai kelas eksperimen 1 dengan tipe pembelajaran TPS dan SD Negeri 4 Ngadirojo sebagai kelas ekspeimen 2 dengan tipe pembelajaran Jigsaw. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan dari bulan Januari sampai maret 2020. Subjek yang digunakan adalah siswa SD kelas 6 sebanyak 64 siswa. Dalam penelitian ini kemampuan pemecahan masalah siswa merupakan variabel terikatnya. Kemudian pembelajaran TPS dan pembelajaran Jigsaw merupakan variabel bebas atau perlakuan yang diterapkan. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan metode observasi dan test. Instrumen penelitian yang digunakan adalah berbentuk lembar observasi yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai terlaksananya secara benar tipe pembelajaran TPS dan Jigsaw. Kemudian instrumen pretest dan postest soal-soal pilihan ganda untuk mengumpulkan data tentang hasil pemecahan masalah siswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah Anova dengan menggunakan uji T dengan bantuan SPSS. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian eksperimen terdapat uji prasyarat yang dilakukan terlebih dahulu. Untuk membuktikan bahwa kedua kelas bersifat sama atau homogen maka dilaksanakan uji homogenitas dengan bantuan program SPSS. Uji homogenitas dilakukan dengan metode uji F. Berikut rangkuman uji homogenitas untuk kedua kelas eksperimen : Tabel 1. Uji homogenitas eksperimen 1 dan eksperimen 2 Kelas N Mean s Fhitung F0,05; 14,22 Keterangan Eksperimen I 30 57 65,84 1,135 2,128 Seimbang Eksperimen II 34 55,201 13,676 Berdasarkan Tabel 1 maka diketahui nilai rata-rata kedua kelas untuk kemampuan awalnya sebelum diberikan perlakuan yaitu 57 dan 55,201. Untuk dikatakan homogen maka hasil dari f hitung harus lebih kecil dibandingkan f tabel. Diketahui bahwa nilai F hitung < F tabel, yaitu 1,135 < 2,128, maka kesimpulannya adalah kedua kelas eksperimen tersebut bersifat homogen atau memiliki kemampuan yang sama sehingga kemampuan pemecahan siswa antara kelas eksperimen 1 dan eksperimen 2 rata rata memiliki kemampuan yang sama. Kemudian untuk uji prasyarat yang kedua adalah uji normalitas. Yaitu digunakan sebelum dilaksanakan pembelajaran TPS maupun Jigsaw untuk mengetahui bahwa kemampuan pemecahan masalah untuk kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 bersifat normal. Untuk melakukan uji normalitas menggunakan metode Liliefors dengan bantuan program SPSS. Untuk mengetahui apakah normal atau tidak maka L hitung harus lebih kecil dari pada L tabel. Rangkuman hasil uji normalitas adalah sebagai berikut : Tabel 2. Hasil Uji Normalitas kelas eksperimen 1 dan 2 Kelas Lhitung Ltabel Keterangan Eksperimen I 0,174 0,229 Normal Eksperimen II 0,183 0,185 Normal Vol. 7 No. 2, 2020 ONLINE ISSN 2503-3530 125 Berdasarkan hasil uji normalitas dengan metode Liliefors didapatkan bahwa L hitung dari kelas eksperimen 1 dan 2 lebih kecil dari pada L tabel. Oleh karena itu disimpulkan bahwa kelas eksperimen 1 dan 2 bersifat normal kemampuan pemecahan masalah siswa kelas eksperimen 1 dan 2 bersifat normal. Berdasarkan hasil pos test atau setelah dilakukan perlakuan untuk kedua subjek penelitian diperoleh untuk hasil skor dari instrumen pemecahan masalah yang dikerjakan diperoleh sebagai berikut ini (lihat Tabel 3 dan 4): Tabel 3. Hasil pemecahan masalah untuk kelas eksperimen 1 Interval Xi Fi Fk Pesentase 71-76 73,5 6 6 20 % 77-82 76 7 13 23,33 % 83-88 83 11 24 36,67 % 89-94 90,5 6 30 20 % Jumlah 30 100 % Tabel 4. Hasil pemecahan masalah pada kelas eksperimen 2 Interval Xi Fi Fk presentase 71-76 74,5 7 7 20,59 % 77-82 80 9 16 26,47% 83-88 87,5 14 30 41,18 % 89-94 93 4 34 11,76 % Jumlah 34 100 % Setelah uji prasyarat terpenuhi dan juga sudah mendapatkan data pemecahan masalah siswa setelah perlakuan maka selanjutnya adalah melakukan analisis data. Analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan Anova. Uji anova menggunakan uji t utuk mencari perbedaan dari kedua tipe pembelajaran. Berikut hasil rangkuman dari analisis data menggunakan uji anova dengan bantuan program SPSS. Tabel 5 Hasil uji hipotesis Kelas Rata-rata thitung t0,025;36 Keterangan Eksperimen I 87,067 2,653 2,399 H0 ditolak Eksperimen II 81,783 Dari Tabel 5 didapatkan rata rata dari kedua kelas eksperimen dengan tipe pembelajaran TPS dan Jigsaw. Dari data tersebut diperoleh t hitung keduanya adalah 2,653 dimana jiaka dibandingkan deng t tabel maka lebih besar. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan dari kedua tipe pembelajaran yang digunakan. Sedangkan seberapa besar perbedaan diantara keduanya dapat dilihat dari kedua rata rata. Rata-rata kelas eksperimen I lebih besar daripada rata-rata kelas eksperimen II, yaitu 87,067 > 81,783. Maka dengan begitu pembelajaran dengan menggunakan tipe pembelajaran TPS lebih besar dari pada pembelajaran yang mengggunakan tipe jigsaw. Pada dasarnya tipe pembelajaran TPS dan Jigsaw memiliki prinsip yang sama yaitu keduanya menekankan pembelajaran yang kooperatif. Kedua tipe pembelajaran tersebut sama mementingkan kerja sama di dalam proses pembelajarannya. Selain itu kedua pembelajaran juga memberikan materi yang sama pula dimana didalam kedua tipe pembelajaran tersebut sama sama menyajikan permasalah yang harus dipecahkan siswa. Pada kedua pembelajaran tersebut siswa diminta untuk aktif berdiskusi dengan siswa Utomo 1 , Abidin 2 & Rigianti 3 – Strategi Think Pair Share ... PRINTED ISSN 2406-8012 126 lainnya dan membahas permasalah yang diberikan oleh guru secara bersama-sama tipe pembelajaran TPS merupakan pembelajaran yang dilakukan dengan berpasang-pasangan dengan teman sebangkunya. Kemudian berdiskusi memecahkan masalah yang diberikan hingga akhirnya menyampaikan hasil diskusi dengan teman sebangku didepan kelas. Dalam tipe ini ada pula dibagian akhir pembelajaran dibuatkan suatu hadiah bagi yang maju kedepan (Risminawati dan Kamulyan, 2012; Zaini, 2007). Tipe pembelajaran jigsaw adalah pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Hal tersebut dikarenakan dalam pembelajaran tipe jigsaw didalamnya guru dapat menyediakan masalah yang otentik sesuai dengan kehidupan siswa sehingga siswa dapat berpikir untuk menyelesaikan permasalahan. (Risminawati dan Kamulyan, 2012; Zaini, 2007). Hal itu sejalan dengan hasil penelitian di atas, di mana kemampuan awal dengan kemampuan setelah diberikan perlakuan yaitu tipe pembelajaran jigsaw berbeda. Di dalam pembelajaran diperlukan guru yang dapat menyediakan ataupun memberikan suasana didalam kelas suasana menyenangkan oleh sebab itu guru sebaiknya menyediakan berbagai tipe pembelajaran untuk memfasilitasi siswa agar suasana menyenangkan tersebut dapat dilakukan. Guru juga perlu mempertimbangkan kondisi dan perilaku yang ada pada diri siswa untuk memodifikasi pelaksanaan pembelajaran. (Dimyati, 2013). Hal tersebut sesuai dengan hasil di atas dimana dengan tipe pembelajaran TPS dan Jigsaw sangat memberikan bantuan kepada guru untuk menciptakan pembelajaran efektif dan efisien. Berdasarkan uraian tersebut dan nilai yang didapatkan, hasil pemecahan masalah dengan menggunakan strategi TPS mampu menumbuhkan partisipasi aktif siswa selama pembelajaran. Siswa harus berpikir cepat, berpikir kritis dan tepat. Setelah dibandingkan ternyata penerapan strategi TPS di SD Negeri 3 ngadirojo lebih baik daripada penerapan strategi Jigsaw di SD Negeri 4 ngadirojo. Hasil penelitian ini sesuai dengan (Umam, 2019) menjelaskan bahwa TPS efektif dalam kemampuan pemecahan masalah. Jika dibandingkan dengan Jigsaw, maka jigsaw lebih banyak memerlukan persiapan dan dan koordinasi kelas yang baik agar dapat mengarahkan keterlibatan siswa secara maksimal (Liao, Griswold, dan Porter 2018). Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata kelas IV SD Negeri 3 Ngadirojo lebih besar daripada kelas IV SD Negeri 4 ngadirojo. Pembelajaran yang menggunakan strategi TPS dapat meningkatkan ketrampilan pemecahan masalah matematika dan keterampilan komunikasi matematika siswa (Husna et al., 2013) hal tersebut juga membuktikan bahwa strategi TPS juag memiliki kelebihan didalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada peserta didik. Selain kemampuan pemecahan masalah didalam penelitian tersebut juga diungkapkan bahwa strategi TPS juga dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika juga. Kemudian untuk hasil dari penelitian yang lainnya juga menyebutkan bahwa kelompok yang menggunakan TPS dalam pembelajaran tradisional memiliki efek positif serta strategi TPS memiliki efek yang lebih signifikan terhadap kepercayaan diri dan keterampilan pemecahan masalah siswa (Rifa’i dan Lestari 2018) SIMPULAN Ada perbedaan pengaruh pembelajaran menggunakan strategi TPS dengan strategi Jigsaw terhadap kemampuan pemecahan masalah kelas VI SD Negeri 3 Ngadirojo dan SD Negeri 4 Ngadirojo. Pada pembelajaran dengan menggunakan startegi TPS memperoleh skor rata rata sebesar 87,067 sedangkan pada pembelajaran dengan menggunakan Jigsaw memperoleh skor rata rata sebesar 81,783. Oleh karena itu maka Strategi TPS lebih besar pengaruhnya dibanding strategi Jigsaw terhadap kemampuan pemecahan masalah kelas VI SD Negeri 3 Ngadirojo dan SD Negeri 4 Ngadirojo. Vol. 7 No. 2, 2020 ONLINE ISSN 2503-3530 127 DAFTAR PUSTAKA Aronson, Elliot, dan Diane Bridgeman. (1979). “Jigsaw Groups dan The Desegregated Classroom: In Pursuit of Common Goals.” Personality dan Social Psychology Bulletin 5(4): 438–46. http://journals.sagepub.com/doi/10.1177/014616727900500405. Dimyati dan Mudjiono. (2013). Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Gok, Tolga. (2018). “The Evaluation of Conceptual Learning dan Epistemological Beliefs on Physics Learning by Think-Pair-Share.” Journal of Education in Science, Environment dan Health 4(1): 69–80.DOI: 10.21891/jeseh.387489 Hedeen, Timothy. (2003). “The Reverse Jigsaw: A Process of Cooperative Learning dan Discussion.” Teaching Sociology 31(3): 325–32.DOI 10.2307/3211330 Husna et al. (2013). “Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (Tps) Magister Pendidikan Matematika Program Pascasarjana Unsyiah Banda Aceh 2).” Jurnal Peluang. http://jurnal.unsyiah.ac.id/peluang/article/view/1061/997 Johnson, David W., dan Roger T. Johnson. (1999). “Making Cooperative Learning Work.” Theory into Practice 38(2): 67–73. DOI: 10.1080/00405849909543834 Kothiyal, Aditi, Rwitajit Majumdar, Sahana Murthy, dan Sridhar Iyer. (2013). “Effect of Think-Pair-Share in a Large CS1 Class: 83% Sustained Engagement.” ICER 2013 - Proceedings of the 2013 ACM Conference on International Computing Education Research: 137–44.DOI: 10.1145/2493394.2493408 Kusuma, Ardi Wira. (2018). “Meningkatkan Kerjasama Siswa Dengan Metode Jigsaw.” Konselor 7(1): 26–30. DOI: 10.24036/02018718458-0-00 Liao, Soohyun Nam, William G. Griswold, dan Leo Porter. (2018). “Classroom Experience Report on Jigsaw Learning.” Annual Conference on Innovation dan Technology in Computer Science Education, ITiCSE: 302–7.DOI: 10.1145/3197091.3197118 Martalena. (2016). “Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Siswa Kelas V Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.” Jurnal Educatio 2(1): 52– 58.DOI: 10.29210/12016232 Martha, Chianson, O’kwu Emmanuel, dan Kurumeh Seraphina. (2015). “Effect of Think- Pair-Share Strategy on Secondary School Mathematics Students’ Achievement dan Academic Self-Esteem in Fractions.” Aijcsr 2(2): 141– 47.http://www.aijcsr.com/index.php/aij/article/view/71 Mattingly, Robert M, dan Ronald L Vansickle. (1991). “The Attainment Of Social Studies With A Jigsaw Type Cooperative Learning Model.” Journal Resume 22(33): 348– 267.http://eric.ed.gov/?id=ED348267 Rifa’i, A., dan H. P. Lestari. (2018). “The Effect of Think Pair Share (TPS) Using Scientific Approach on Students’ Self-Confidence dan Mathematical Problem-Solving.” In Journal of Physics: Conference Series,.DOI: 10.1088/1742-6596/9983/1/012084 Schoenfeld, Alan H. (2016). “Learning to Think Mathematically: Problem Solving, Metacognition, dan Sense Making in Mathematics (Reprint).” Journal of Education 196(2): 1–38.DOI: 10.1177/002205741619600202 Tamah, Siti Mina. (2007). “Jigsaw Technique In Reading Class Of Young Learners: Revealing Students’ Interaction.” Online Submission. http://repository.uksw.edu/handle/123456789/107 Tint, San San, dan Ei Ei Nyunt. (2015). “Collaborative Learning with Think-Pair -Share Technique.” Computer Applications: An International Journal 2(1): 1–11.DOI: 10.5121/caij.2015.2101 Umam, Syaiful Rohim dan Khoerul. (2019). “The Effect Of Problem-Posing dan Think-Pair- Share Learning Models On Students’ Mathematical Problem-Solving Skills dan Mathematical Communication Skills.” 4(3): 287–91.DOI: 10.26737/jetl.v4i2.803 Utomo 1 , Abidin 2 & Rigianti 3 – Strategi Think Pair Share ... PRINTED ISSN 2406-8012 128 Mulyadi dan Risminawati. (2012). Model – model Pembelajaran Inovatif di Sekolah Dasar. Surakarta : BP – FKIP UMS. Surtikanti dan Joko Santoso. (2009). Strategi Belajar Mengajar. Surakarta: BP-FKIP UMS. Yanti. (2014). “Peningkatan Keaktifan Dalam Hasil pemecahan masalah Materi Lingkungan Alam Dan Buatan Melalui Metode Problem Based Intruction (PBI) Pada Siswa Kelas III Semester I SDN 3 Grobogan Tahun Pelajaran 2013/2014”. Skripsi. Surakarta:FKIP UMS (tidak diterbitkan). Zaini dkk. (2007). Staretgi Pembelajaran. Yogyakarta: CTSD (Center for Teaching Staff Development).