e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 30 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 1, Juli 2016: 30 - 41 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN NILAI (LIVING VALUES EDUCATION) DALAM PEMBELAJARAN IPS (STUDI TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DI TINGKAT SEKOLAH DASAR) Tri Sukitman1), M. Ridwan2) PGSD STKIP PGRI Sumenep 1tri.sukitman@gmail.com; 2ridwan_esto@yahoo.co.id Abstract Information and communication technologies that facilitate the service of the man, in fact also accelerate the negative effects for the existence of values that has evolved in this masyarakat. Pernyataan evidenced by the spread of violence committed on school-age children, sexual abuse, a lack of values of decency against the old, free sex, abortion, and others. The spread of this phenomenon is inseparable from the development of information and communication technology that has now become the primary needs of a person. This research is categorized into field research (field research) were designed using qualitative approach with case study method (case study). The data collection techniques were used in this research through interviews, observation, field notes (field notes), study the documentation, and literature. Results of research conducted in SDN Batang-Batang Power I declare that there is some development programs educational value, including the value of education is integrated into the curriculum in 2013 (K-13) and the development of value by maximizing the role of parents in monitoring every activity of children in the home environment through liaison book. The book serves for monitoring the activities of children at home every day ranging from learning, prayer, reading the Koran, refined language (Enggi Bunten), and helping the elderly. Keywords: educational values (values education), social studies learning, character PENDAHULUAN Teknologi informasi dan komunikasi yang memudahkan pelayanan terhadap manusia pada sisi yang lain juga mempercepat pengaruh negatif bagi eksistensi nilai-nilai yang telah berkembang di suatu masyarakat. Berbagai macam fenomena pada masa lalu dianggap tabu, kini dianggap biasa dan bisa menjadi sebuah tren dikalangan masyarakat. Pernyataan ini dibuktikan dengan tersebarnya kekerasan yang dilakukan anak usia sekolah, pelecehan seksual, kurangnnya nilai-nilai kesopanan terhadap orang tua, free sex, aborsi, dan lain-lainnya. Tersebarnya fenomena tersebut tidak terlepas dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kini sudah menjadi kebutuhan primer seseorang untuk terus mengikuti perkembangannya. Sebagian besar kesalahan yang dilakukan para remaja dan pelajar padadasarnya disadari oleh mereka sebagai sesuatu yang melanggar nilai dan norma. Pembelajaran di kelas sangat berpengaruh terhadap cara pandang dan bagaimana bersikap seorang remaja/ pelajar. Pembelajaran idealnya tidak hanya mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga harus menekankan proses pengembangan afektif peserta didik. Pendidikan nilaibukan hanya tugas guru agama dan pendidikan kewarganegaraan, tetapi semua bidang studi memiliki tanggungjawab yang sama (Lubis 2009). Pendidikan adalah proses pembudayaan, proses kultural, atau proses kultivasi untuk mengembangkan semua bakat dan potensi manusia guna mengangkat diri sendiri dan mailto:1tri.sukitman@gmail.com p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Implementasi Pendidikan Nilai......(Tri Sukitman, dan M. Ridwan) 31 dunia sekitarnya pada taraf human (Kartono, 1992: 22). Taraf human yang terkandung dalam pengertian tersebut adalah bagaimana pendidikan bisa mengangkat derajat manusia kearah yang bermoral, bermartabat, berkarakter baik, mempunyai nilai (values) serta sikap yang mencerminkan bahwa manusia adalah insan kamil yang seutuhnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan tidak hanya menciptakan insan berakal, insan yang kompeten dan berguna, insan agent of change, insan yang bertakwa, melainkan insan kamil yang seutuhnya. Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi untuk pendidikan dasar dan menengah, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikanmulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warganegaraIndonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta wargadunia yangcinta damai (BSNP, 2006: 18). Berdasarkan tuntutan aturan pemerintah tersebut sangat jelas bahwa IPS merupakanmata pelajaran yang berorientasi tidak hanya pengembangan intelektual, tetapi juga sikap dan keterampilan pada peserta didik (Bertens, 2007; Mulyana, 2004). Dari permasalahan tersebut maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengembangkan pembelajaran di sekolah sesuai dengan tujuan dan amanah daripada permendiknas dengan mengoptimalkan peran dari pendidikan nilai (Living Values Education) sebagai salah satu solusi dalam mengatasi masalah pendidikan karakter anak. METODE PENELITIAN Lokasi penelitian yang menjadi kajian dalam latar penelitian ini adalah di SDN Batang-Batang Daya I. Sedangkan, subjek penelitian menurut Moleong (2010: 26) menyatakan bahwa “....pada penelitian kualitatif tidak ada sampel acak, tetapi sampel bertujuan (purposive sample)”. Berdasarkan uraian ini, maka yang dijadikan subjek penelitian ini: 1) Kepala Sekolah, yaitu para kepala sekolah yang terkait. 2) Guru, yaitu khususnya guru mata pelajaran IPS dan guru kelas sebagai pengarah dan pembimbing siswa di Sekolah terkait. 3) Siswa Sekolah Dasar terkait sebagai subjek penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dipilihnya pendekatan kualitatif dalam penelitian ini didasarkan pada permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian. Oleh karena, hakikat penelitian kualitatif adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya (Nasution, 2003: 5). Peneliti ingin mengetahui bagaimana implementasi pendidikan nilai (Values Education) dalam pembelajaran IPS dalam upaya membentuk karakter anak di Sekolah Dasar yang ada di Sumenep, sehingga peneliti memperoleh gambaran dari permasalahan yang terjadi secara mendalam (berupa kata-kata, gambar, perilaku) dan tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistik, melainkan dalam bentuk data kualitatif. Penelitian ini juga dapat dikategorikan ke dalam penelitian lapangan (Field research) yang dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif dengan ide pentingnya ke yaitu berangkat ke e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 32 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 1, Juli 2016: 30 - 41 lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang fenomena dalam suatu keadaan alamiah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus (case study). Menurut Nasution (2003: 27) mengemukakan mengenai metode studi kasus sebagai berikut: Case Study adalah bentuk penelitian yang mendalam tentang sesuatu aspek lingkungan sosial termasuk manusia di dalamnya. Case Study dapat dilakukan terhadap seseorang individu, sekelompok individu, segolongan manusia, lingkungan hidup manusia atau lembaga sosial. Case Study dapat mengenai perkembangan sesuatu, dapat pula memberi gambaran tentang keadaan yang ada. Penulis menganggap bahwa metode studi kasus dengan fokus penelitian ini yaitu tentang implementasi pendidikan nilai yang dilaksanakan di sekolah mampu menghimpun data berkenaan dengan sesuatu kasus berupa pembentukan karakter yang terkandung dalam model tersebut. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Wawancara, merupakan percakapan yang menimbulkan komunikasi dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang bertindak untuk mengajukan pertanyaan dan narasumber sebagai pihak yang diwawancarai. 2. Observasi, merupakan alat pengumpul data yang dilakukan untuk memperoleh gambaran lebih jelas tentang kehidupan sosial dan diusahakan mengamati keadaan yang wajar dan yang sebenarnya tanpa usaha disengaja untuk mempengaruhi, mengatur, atau memanipulasinya (Nasution, 2003: 106). Dengan observasi diharapkan bisa memperoleh data secara langsung dan gambaran yang lebih jelas mengenai implementasi pendidikan nilai (Living Values Education) dalam pembelajaran IPS sebagai upaya pembentukan karakter anak di Sekolah Dasar yang ada di Sumenep. 3. Catatan lapangan (field note), merupakan catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualitatif. Proses itu dilakukan setiap kali selesai mengadakan wawancara dan tidak boleh bercampur dengan informasi lainnya (Moleong, 2010: 209). Studi dokumentasi, adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkip, buku-buku, surat kabar, majalah, internet dan sebagainya untuk kepentingan penelitian. 4. Studi literatur adalah teknik penelitian yang dapat berupa informasi data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti yang dapat diambil dari buku- buku, majalah, naskah-naskah, kisah sejarah, dokumentasi-dokumentasi, dan lain-lainnya (Karono, 1996: 33). Dalam penelitian ini peneliti bertindak membaca dan mempelajari bahan-bahan atau sumber-sumber informasi yang ada hubungannya dengan pendidikan nilai yang diterapkan untuk mengembangkan karakter anak di sekolah. Teknik analisis data Menurut Bogdan & Biklen, analisis data kualitatif didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensikannya, mencari dan p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Implementasi Pendidikan Nilai......(Tri Sukitman, dan M. Ridwan) 33 menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Teknik pengolahan data dilakukan setelah data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data kualitatif ini dinyatakan dalam bentuk non angka atau non numerik atau biasa disebut atribut. Analisi data secara kualitatif dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: 1. Menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yang diproleh dari hasil pengumpulan data 2. Mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan rangkuman yang inti, proses dengan pernyataan- pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya; 3. Penyusunan dalam satuan-satuan dan dikategorikan pada langkah berikutnya yang kemudian kategori-kategori itu dibuat sambil melakukan koding. 4. Mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Setelah tahap ini mulailah tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementara menjadi teori substantif dengan menggunakan metode tertentu (Furchan, 2004: 34). HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Pendidikan Nilai di SDN Batang-Batang Daya I Untuk menciptakan peserta didik yang mempunyai nilai karakter yang kuat, maka perlu dukungan yang kuat dari pihak sekolah yang mempunyai peran sentral untuk perkembangan anak (Somantri, 2001). Tidak sebatas itu saja, Character Building bisa dibangun juga apabila peran serta dari orang tua bisa dimanfaatkan sebagai kontrol dan memonitoring kegiatan anak ketika mereka ada di rumah sehingga setiap yang dilakukan oleh anak dapat diamati dan diarahkan. SDN Batang-Batang Daya I merupakan sekolah yang mampu menerapkan dan memnafaatkan peran serta orang tua dalam mengembangkan nilai karakter anak yang kemudian diimplementasikan ke dalam kurikulum 2013 (K-13).Sehingga semua yang dilakukan oleh anak baik di sekolah maupun di rumah dapat terintegrasi ke dalam pembelajaran dan kurikulum yang diberlakukan di sekolah. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa ada 3 hal yang dilakukan SDN Batang-Batang Daya I dalam menanamkan nilai karakter, diantaranya: a. Pembiasaan Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disusun oleh SDN Batang-Batang Daya I. Kegiatan tersebut meliputi: 1) Upacara bendera yang dilakukan setiap hari senin pagi. Gambar 1. Kegiatan Upacara Bendera 2) Senam pagi dan menyanyikan lagu- lagu kebangsaan yang dilakukan setiap hari kecuali hari senin. Kegiatan ini dilakukan atas dasar untuk memelihara kesehatan peserta didik dan menjelaskan betapa pentingnya hidup sehat. Sedangkan kegiatan menyanyikan lagu-lagu e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 34 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 1, Juli 2016: 30 - 41 kebangsaan dilakukan atas dasar untuk mengenang jasa para pahlawan dan menanamkan jiwa cinta tanah air serta budaya bangsa Indonesia. 3) Doa bersama yang dilakukan setiap hari sebelum pelajaran dimulai. Doa ini tidak hanya doa sebelumbelajar akan tetapi membaca surat pendek dan dihafalkan yang setiap saat ditagih oleh guru untuk dibacakan satu persatu sebagai bentuk evaluasi dari hafalan doa tersebut. 4) Ketertiban, kegiatan ini dilakukan setiap pagi setelah senam bersama dilakukan kemudian para peserta didik diatur dari mulai kelas I bergiliran masuk kelas sampai kelas VI sambil bersalaman kepada kepala sekolah dan guru. 5) Pemeliharaan kebersihan (Jumat Bersih) dilakukan rutin setiap hari Jumat untuk membersihkan seluruh lingkungan sekolah, sedangkan untuk setiap harinya peserta didik diarahkan untuk membersihkan kelas saja. b. Pembiasaan Spontan, yaitu kegiatan tidak terjadwal dalam kejadian khusus, kegiatan ini meliputi:Pembentukan perilaku memberi senyum, salam, sapa (S3), dan membuang sampah pada tempatnya, budaya antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran), saling mengingatkan ketika melihat pelanggaran tata tertib sekolah, kunjungan rumah, kesetiakawanan sosial, kerjasama. Hal ini ditunjukkan oleh para guru yang dilakukan guru sebagai teladan kepada peserta didik. Guru setiap pagi bergantian berjaga di pintu masuk dan menyalami peserta didik sambil memberikan sapaan dan senyuman. Pembiasaan inilah yang kemudian dapat memberikan efek positif secara psikologis bahwa setiap guru yang memberikan sapaan dan senyuman akan membawa kenyamanan mereka di Sekolah. c. Pembiasaan keteladanan, dalam bentuk perilaku sehari-hari, meliputi: berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan keberhasilan orang lain, datang tepat waktu. Pembiasaan ini hampir sama dengan pembiasaan spontan, guru yang memberikan teladan dan contoh baik kepada peserta didik sebagai bekal mereka untuk kehidupan masa depan kelak. Sedangkan untuk implementasi Pembelajaran Pendidikan IPS di SDN Batang- Batang Daya I teritegrasi ke dalam semua materi pembelajaran (terpadu) karena sudah menerapkan kurikulum yang baru yaitu kurikulum 2013 (K-13) dengan diperkuat sebelumnya dengan tenaga guru yang sudah mendapatkan pelatihan tentang K-13 tersebut. Di dalam implementasi K-13 khususnya Pembelajaran IPS merupakan materi ilmu sosial yang dikembangkan melalui penanaman nilai karakter dengan cara semua peserta didik harus bisa menerapkan nilai- nilai karakter tersebut dalam kehidupannya sehari-hari baik di rumah maupun di sekolah yang tentunya juga didukung oleh orang tua wali dalam memonitoring setiap kegiatan anak. Hal ini tentunya akan memberikan dampak positif untuk perkembangan peserta didik. Sehingga, perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik akan seimbang dan maksimal perkembangannya atau dengan kata p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Implementasi Pendidikan Nilai......(Tri Sukitman, dan M. Ridwan) 35 lain perkembangan emosional, spiritual, dan intelektualnya akan menjadi tolak ukur pertama yang harus dikembangkan dan dimaksimalkan. Kegiatan yang dilakukan oleh SDN Batang-Batang Daya I merupakan kegiatan sekolah yang perlu mendapatkan apresiasi dan dukungan dari semua pihak, karena kegiatan ini adalah kegiatan penting dalam pembelajaran di sekolah mengingat usia anak sekolah dasar adalah usia produktif untuk diarahkan ke arah yang positif sebagai pondasi mereka untuk kehidupan yang akan datang. Hal ini, akan sama terjadi kepada setiap anak yang diajarkan dengan nilai-nilai yang baik, yaitu; Religius, Jujur, Toleran, Disiplin,Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/ Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab, yang selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan karakter dengan baik pula maka mereka tidak akan mudah terpengaruh terhadap nilai-nilai negatif. Hal ini tentunya juga berbanding lurus dengan tujuan pembelajaran IPS menurut Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan (BSNP, 2006:181). Tujuan IPS dibagi dalam empat kategoti, yaitu: a. Pengetahuan Pengetahuan adalah kemahiran dan pemahaman terhadap sejumlah informasi dan ide-ide.Tujuan pengetahuan ini membantu siswa untuk belajar lebih banyak tentang dirinya, fisik dan dunia sosial. Pengembangan pengetahuan yang dilakukan oleh SDN Batang-Batang Daya I tentunya mengekplorasikan pengalaman sehari-hari peserta didik yang dituangkan dalam pembelajaran di kelas, sehingga peserta didik akan berbagi pengalaman terhadap pengalaman peserta didik yang lainnya. Karena, setiap yang dilakukan anak pasti berbeda setiap harinya dan perlu untuk kemudian dikembangkan dan diarahkan sesuai dengan pendidikan nilai karakter bangsa. b. Keterampilan Keterampilan adalah pengembangan kemampuan-kemampuan tertentu sehingga digunakan pengetahuan yang diperolehnya. Beberapa keterampilan yang ada dalam IPS adalah: 1) Keterampilan berpikir yaitu kemampuan untuk mendeskripsikan, mendefinisikan, mengklasifikasi, membuat hipotesis, membuat generalisasi, memprediksi, membandingkan, mengkontraskan, dan melahirkan ide-ide baru. 2) Keterampilan akademik yaitu kemampuan membaca, menelaah, menulis, berbicara, mendengarkan, membaca dan meninterpretasi peta, membuat garis besar, membuat grafik dan membuat catatan. 3) Keterampilan penelitian yaitu mendefinisikan masalah, merumuskan suatu hipotesis, menemukan dan e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 36 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 1, Juli 2016: 30 - 41 mengambil data yang berhubungan dengan masalah, menganlisis data, mengevaluasi hipotesis dan menarik kesimpulan, menerima, menolak atau memodifikasi hipotesis dengan tepat. 4) Keterampilan sosial yaitu kemampuan bekerjasama, memberikan kontribusi dalam tugas dan diskusi kelompok mengerti tanda-tanda non-verbal yang disampaikan oleh orang lain, memberikan penguatan terhadap kelebihan orang lain, dan mempertunjukkan kepemimpinan yang tepat. Keterampilan-keterampilan inilah yang kemudian dikembangkan di SDN Batang-Batang Daya I sesuai dengan kemampuan para peserta didik untuk mengembangkan potensi keterampilannya. c. Sikap Sikap adalah kemahiran mengembangkan dan menerima keyakinan-keyakinan, interes, pandangan-pandangan, dan kecenderungan tertentu. Pengembangan sikap dalam pembelajaran di SDN Batang-Batang Daya I, melalui penanaman sikap yang sesuai dengan 10 pilar pendidikan karakter (Character Building) yang menjadi acuan dan pedoman dalam pembelajaran menuju pembelajaran yang berbasis karakter dan nilai. d. Nilai Sedangkan nilai adalah kemahiran memegang sejumlah komitmen yang mendalam, mendukung ketika sesuatu dinggap penting dan dengan tindakan yang tepat. Pembelajaran dan pengembangan nilai ini sama dengan pembelajaran dan pengembangan sikap (Diknas, 2007: 15). Melalui penanaman nilai sesuai dengan Living Values Education (LVE) yang memuat ada 12 nilai-nilai universal yang sudah disepakati UNICEF dan para praktisi pendidikan didunia, yaitu: kedamaian, pengahargaan, cinta, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, kerjasama, kebahagiaan, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, dan persatuan (Tillman, 2004: xx-xxi). Strategi Pengembangan Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran untuk Menciptakan Budaya yang Berkarakter Seperti paparan diatas terkait dengan Implementasi Pendidikan Nilai di SDN Batang-Batang Daya I baik implementasi dalam pembelajaran ada 2 strategi pengembangan pendidikan untuk menciptakan budaya yang berkarakter. Pertama, pengembangan nilai ke dalam implementasi Kurikulum 2013 (K-13). Kedua, pengembangan nilai melalui memaksimalkan peran orang tua dalam memonitoring setiap kegiatan anak dilingkungan rumah. Pertama, pengembangan nilai ke dalam implementasi Kurikulum 2013 (K-13). Strategi ini dikembangkan melalui penerapan K-13 disemua mata pelajaran karena K-13 menuntut untuk melakukan pembelajaran berbasis tematik (terpadu) sehingga memungkinkan akan sangat membantu dalam proses pengembangan nilai tersebut. Pengembangan nilai melalui K-13 ini dilakukan dengan cara setiap yang dilakukan peserta didik baik di rumah maupun di sekolah akan diintegrasikan dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga pembelajaran tersebut akan memberikan pengalaman baru kepada setiap peserta didik mengingat setiap p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Implementasi Pendidikan Nilai......(Tri Sukitman, dan M. Ridwan) 37 yang mereka lakukan pasti berbeda dengan peserta didik yang lain. Hasil wawancara dengan kepala sekolah tentang kurikulum yang dikembangkan menyatakan bahwa: “Kurikulum 2013 sangat membantu program dan strategi yang dikembangkan oleh sekolah mengingat betapa pentingnya kemudian implementasi pendidikan nilai yang membentuk budaya karakter bangsa.Anak jaman sekarang sudah tidak mengenal yang namanya etika, nilai sopan, tata karma, dan nilai- nilai yang terkandung di dalam peraturan pemerintah terkait dengan pendidikan karakter. Tentunya program yang dikembangkan oleh sekolah perlu dukungan dan dari semua pihak agar anak kita sebagai generasi penerus bangsa menjadi anak yang berkarakter sesuai dengan harapan dan cita-cita Bangsa dan Negara (Hidayatullah, 2010). Untuk mendukung program pemerintah tersebut SDN Batang-Batang Daya I juga menuangkan hasil evaluasi belajar peserta didik ke dalam Laporan Hasil Capaian Kompetensi Peserta Didik sesuai dengan tuntutan K-13 dan aturan yang berlaku, sehingga antara kompetensi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap dan nilai), psikomotorik (keterampilan) akan seimbang dan akan ketahuan kompetensi mana yang menonjol dan yang kurang (Wawancara dengan Kepala Sekolah SDN Batang-Batang Daya I, pada tanggal 16 Februari 2015) Gambar 2. Implementasi Pendidikan Nilai dalam K-13 Dari gambar diatas jelas bahwa pengembangan nilai melalui K-13 dituangkan dalam hasil evaluasi semester yang merupakan hasil akhir dari pembelajaran untuk menentukan siswa berhasil apa tidak sesuai dengan kriteria ketuntasan yang berlaku di sekolah. Dalam K-13 dituntut peran aktif sekolah untuk mengembangkan pembelajaran berbasis tematik, jadi program yang dilakukan oleh sekolah sangat mendukung atas program K-13 yang dikembangkan oleh pemerintah. Kedua, pengembangan nilai melalui memaksimalkan peran orang tua dalam memonitoring setiap kegiatan anak di lingkungan rumah. Pengembangan nilai ini e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 38 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 1, Juli 2016: 30 - 41 sangat penting untuk dilakukan mengingat kegiatan peserta didik tidak hanya di sekolah melainkan juga di rumah, sehingga peserta didik baik di rumah maupun di sekolah akan terpantau segala kegiatannya yang dapat membantu perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Gambar 3. Buku Penghubung antara Orang Tua dengan Pihak Sekolah Gambar 5. Isi Buku Penghubung Strategi yang dikembangkan oleh SDN Batang-Batang Daya I dalam mengimplementasikan pendidikan nilai ini melalui strategi buku penghubung. Buku tersebut berfungsi untuk memonitoring kegiatan anak di rumah setiap hari mulai dari kegiatan belajar, sholat, membaca al-Qur’an, berbahasa halus (enggi bunten), dan membantu orang tua. Hasil wawancara dengan kepala sekolah terkait dengan strategi pengembangan pendidikan nilai di SDN Batang-Batang Daya I menyebutkan bahwa: “Strategi yang dikembangkan oleh SDN Batang-Batang Daya I melalui peran serta dari pihak orang tua wali untuk mendukung dan membantu program sekolah. Adapun program yang p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Implementasi Pendidikan Nilai......(Tri Sukitman, dan M. Ridwan) 39 dikembangkan adalah dengan menggunakan buku penghubung.Buku penghubung sangat penting sekali untuk dikembangkan agar setiap kegiatan peserta didik di rumah dapat dimonitoring oleh orang tua mereka masing-masing.Sehingga kegiatan mereka dapat diarahkan jika kemudian itu tidak sesuai dengan tuntutan sekolah dan harapan para orang tua. Peran orang tua sangat dibutuhkan mengingat kegiatan para peserta didik tidak hanya di sekolah melainkan juga mereka pasti akan bermain dengan teman-temannya dan punya kegiatan yang lain di rumah sehingga sangat penting kegiatan dan waktu bermain anak ketika di rumah bisa dimonitoring oleh orang tua wali mereka masing-masing. Maka dari itu, strategi ini perlu dukungan dari semua pihak agar kelak anak-anak menjadi warga Negara yang baik, berkhlak mulia, dan mempunyai wawasan yang luas menyongsong masa depan (Wawancara dengan Kepala Sekolah SDN Batang-Batang Daya I, pada tanggal 16 Februari 2015). Berdasarkan hasil wawancara tersebut maka sangat penting peran orang tua dalam mengembangkan potensi anak. Peran serta orang tua wali akan pentingnya memonitoring semua kegiatan anak akan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan anak. Peran orang tua wali itu tidak hanya memonitoring dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan kognitif anak, melainkan bagaimana anak juga diberikan wawasan dan pelajaran mengenai bagaimana anak bisa menyikapi kehidupan bermasyarakat dan hidup bersama (sosial) dengan baik, berbakti kepada Bangsa dan Negara, mampu mengaplikasikan pendidikan agama ke dalam kehidupannya, serta bisa menyesuaikan diri (adaptasi) dengan lingkungan sekitarnya (Nadhifah, 2012). Intelektualitas bukan menjadi satu- satunya indikator keberhasilan anak, melainkan yang menjadi indikator keberhasilan anak adalah jika seorang anak mempunyai spiritual, intelektual, emosional yang seimbang dalam dirinya (Muslich: 2011). Jika yang menjadi ukuran keberhasilan anak adalah inteletual maka pasti banyak anak yang tidak mementingkan yang namanya akhlak, etika, kesopanan, taat beragama kepada Tuhan. Apalagi ditambah dengan perkembangan jaman yang semakin pesat anak sudah banyak yang menggunakan fasilitas gadget, HP, computer, dan internet tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan apabila salah menggunakan fasilitas tersebut. Anak dituntut mampu berbahasa Inggris yang bagus akan tetapi disisi lain anak sudah tidak bisa berbahasa Indonesia yang baik, lebih- lebih sudah tidak bisa menggunakan bahasa daerah yang menjadi kebanggaan suatu daerah dan identitas daerah dengan baik. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka ada beberapa simpulan yang dapat dipaparkan dalam penelitian ini, diantaranya: a. Pendidikan Nilai sangat penting diterapkan untuk menciptakan Character Building (Budaya Karakter) mengingat perkembangan anak jaman sekarang sudah banyak yang tidak mementingkan nilai-nilai etika, moral, sopan santun, taat beragama, dan lain-lain. b. Untuk implementasi Pendidikan Nilai agar tercipta dan memelihara Character Building (Budaya Karakter) SDN Batang-Batang Daya I mempunyai beberapa program, diantaranya: 1) Pembiasaan Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan jadwal yang e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 40 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 1, Juli 2016: 30 - 41 telah disusun oleh SDN Batang- Batang Daya I. Kegiatan tersebut meliputi: a) Upacara bendera yang dilakukan setiap hari senin pagi. b) Senam pagi dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan yang dilakukan setiap hari kecuali hari senin. c) Doa bersama yang dilakukan setiap hari sebelum pelajaran dimulai. d) Ketertiban. e) Pemeliharaan kebersihan (Jumat Bersih). 2) Pembiasaan Spontan, kegiatan ini meliputi:Pembentukan perilaku memberi senyum, salam, sapa, membuang sampah pada tempatnya, budaya antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran), saling mengingatkan ketika melihat pelanggaran tata tertib sekolah, kunjungan rumah, kesetiakawanan sosial, kerjasama. 3) Pembiasaan Keteladanan, dalam bentuk perilaku sehari-hari, meliputi: berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan keberhasilan orang lain, datang tepat waktu. c. Untuk mendukung implementasi Pendidikan Nilai agar tercipta dan memelihara Character Building (Budaya Karakter) SDN Batang-Batang Daya I mempunyai beberapa strategi, diantaranya: 1) Pengembangan nilai ke dalam implementasi Kurikulum 2013 (K-13). Strategi ini dikembangkan melalui penerapan K-13 disemua mata pelajaran karena K-13 menuntut untuk melakukan pembelajaran berbasis tematik (terpadu) sehingga memungkinkan akan sangat membantu dalam proses pengembangan nilai tersebut. Pengembangan nilai melalui K-13 ini dilakukan dengan cara setiap yang dilakukan peserta didik baik di rumah maupun di sekolah akan diintegrasikan dalam proses pembelajaran di kelas, sehingga pembelajaran tersebut akan memberikan pengalaman baru kepada setiap peserta didik mengingat setiap yang mereka lakukan pasti berbeda dengan peserta didik yang lain. Kemudian dievaluasi dan evaluasi tersebut akan dituangkan setiap ujian semester dengan mengikuti kaidah penilaian K-13. 2) Pengembangan nilai melalui memaksimalkan peran orang tua dalam memonitoring setiap kegiatan anak di lingkungan rumah. Pengembangan nilai ini sangat penting untuk dilakukan mengingat kegiatan peserta didik tidak hanya di sekolah melainkan juga di rumah, sehingga peserta didik baik di rumah maupun di sekolah akan terpantau segala kegiatannya dan diarahkan kearah yang positif yang dapat membantu perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik anak. Buku tersebut berfungsi untuk memonitoring kegiatan anak di rumah setiap hari mulai dari kegiatan belajar, sholat, membaca al-Qur’an, berbahasa halus (enggi bunten), dan membantu orang tua. p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Implementasi Pendidikan Nilai......(Tri Sukitman, dan M. Ridwan) 41 Daftar Pustaka Bertens, K..(2007). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum. BSNP. 2006. Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional.(2007). Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum. Furchan, A. (2004). Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Hidayatullah, Furqon. (2010). Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Semarang: Yuma Pustaka UNS Press. Kartono, Kartini. (1992). Pengantar Ilmu Mendidik Teoritis (Apakah Pendidikan masih Diperlukan).Bandung. Penerbit Mandar Maju. Lubis, Mawardi. (2009). Evaluasi Pendidikan Nilai: Perkembangan Moral Keagamaan Mahasiswa PTAIN. Cet.II. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Bekerjasama dengan STAIN Bengkulu. Moleong, Lexy J. (2010).Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mulyana, Rohmat. (2004). Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta. Muslich, Masnur. (2011). Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara. Nasution.(2003). Metode Researce (Penelitian Ilmiah). Jakarta: PT. Bumi Aksara. Nadhifah, Ismun Nisa. (2012). Penerapan Nilai-Nilai Budi Pekerti yang Terintegrasi Dalam Pembelajaran Sains Terpadu Melalui Living Values Educational Program (LVEP).Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA,Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta. Somantri, Numan. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Rosda Karya. Tillman, Diane. (2004). Living Values Activities for Young Adults (Pendidikan Nilai untuk Kaum Dewasa-Muda) terj.Risa Praptono dan Ellen Sirait. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia.No. 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.