e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 102 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 102 - 111 ANALISIS KELAYAKAN BAHASA DALAM BUKU TEKS TEMA 1 KELAS I SEKOLAH DASAR KURIKULUM 2013 Arif Wiyat Purnanto 1) dan Ali Mustadi 2) 1) Prodi PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah Magelang; 2) Prodi S2 Pendidikan Dasar Pascasarjana UNY 1arifwiyatumm@gmail.com; 2aly_uny@yahoo.com Abstract This research aimed to describe language appropriateness of 2013 Curriculum text book for 1st Grade’s 1st Theme.This research was conducted with qualitative approach by document analysis method. The document utilized in this research was 1st Grade’s 1st Theme of text book which was not published by Ministry of Education and Culture. The research data was collected through content analysis utilizing validated instuments. The data was analyzed with Krippendof quantitatie analysis techniqe including data collection, sample determination, data recording, data reduction, conclusion drawing and recount. The results show that 1st book of non Ministry of Education and Culture publication has fulfilled all the determined criteria achieving good grade with 82.69% of Language Appropriateness. The weakness of this book is inappropriate materials sequence order, utilization of inappropriate words for children development, and utilization of inconsistent icons/symbols. The 2nd book of non Ministry of Education and Culture publication had fulfilled all the determined criteria achieving fair grade with 78.36% of Language Adbisability. The weakness of this book was utilization of inappropriate words for children development, and material suitability to intelectual development of the students. Keywords: Textbook, Language appropriateness, Curriculum2013 PENDAHULUAN Kurikulum 2013 adalah kurikulum terbaru yang diterapkan di dunia pendidikan Indonesia saat ini. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, dalam kurikulum pembelajaran sudah difasilitasi dengan sebuah buku teks tematik. Buku teks tersebut mencakup seluruh mata pelajaran yang akan diajarkan dalam satu semester. Siswa tentunya akan banyak terbantu untuk mengembangkan pengetahuannya dengan adanya buku teks. Di samping itu, guru juga lebih efisien dalam menyampaikan materi pembelajaran. Ada berbagai macam buku teks yang beredar di pasaran, beberapa di antaranya adalah buku terbitan Erlangga, Intan Pariwara, Ganesa, Tiga Serangkai, Yudhistira. Banyaknya buku teks yang beredar di pasaran membuat guru, orang tua, dan siswa sulit membedakan dan memilih buku teks yang berkualitas baik. Kajian terhadap kelayakan bahasa buku teks Bahasa Indonesia Sekolah Dasar diperlukan untuk dapat memberikan gambaran kepada guru, orang tua, dan siswa tentang kualitas buku teks kurikulum 2013. Adapun buku yang kami analisis adalah buku terbitan Yudhistira dan buku terbitan Erlangga. Adapun alasan kami menggunakan buku teks ini karena buku teks ini merupakan buku teks yang paling banyak digunakan di Sekolah Dasar yang menerapkan Kurikulum 2013. Selain itu buku teks ini juga buku paling banyak beredar di pasaran. Untuk selanjutnya buku terbitan Yudhistira disebut sebagai buku teks Non-Kemdikbud 1 dan buku terbitan Erlangga akan disebut sebagai buku teks Non- Kemdikbud 2. mailto:1arifwiyatumm@gmail.com p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Analisis Kelayakan Bahasa......(Arif Wiyat Purnanto dan Ali Mustadi) 103 Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan penelitian tentang: Bagaimanakah kelayakan bahasa dalam buku teks Non- Kemdikbud 1 Tema 1 Kelas I Sekolah Dasar Kurikulum 2013? Bagaimanakah kelayakan bahasa dalam buku teks Non-Kemdikbud 2 Tema 1 Kelas I Sekolah Dasar Kurikulum 2013? Kualitas buku teks salah satunya dapat dilihat dari kelayakan bahasa. Kelayakan penggunaan bahasa dalam materi buku teks dapat ditinjau dari beberapa aspek. 1. Lugas Materi dinilai lugas ditinjau dari tiga aspek yaitu keefektifan kalimat, ketepatan kata, kebakuan istilah (Urip Purwono, 2008:16-18). Berikut adalah penjelasan dari masing-masing aspek. 2. Keefektifan kalimat Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan bahan ajar yang mampu membuat siswa untuk belajar mandiri dan memperoleh ketuntasan dalam proses pembelajaran adalah dengan penggunaan bahasa yang digunakan cukup sederhana karena siswa hanya berhadapan dengan bahan ajar ketika belajar secara mandiri (Ika Lestari, 2013: 3). Sesuai dengan uraian tersebut Tarigan (2009: 23) menyebutkan bahwa bahasa dalam buku teks haruslah sesuai dengan bahasa siswa, kalimat- kalimatnya efektif, terhindar dari makna ganda, serta sederhana, sopan dan menarik. Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis. Untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antar bagiannya logis, dan ejaannya pun harus benar. 3. Ketepatan kata Ketepatan pemilihan kata untuk mengungkapkan sebuah gagasan, hal atau barang yang akan diamanatkan, dan ke6sesuaian atau kecocokan dalam menggunakan kata. Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan- gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca atau pendengar seperti apa yang dipikirkan oleh penulis. 4. Kebakuan istilah Kebakuan adalah kesesuaian dengan kaidah ejaan, lafal, struktur, dan pemakaiannya. Istilah yang digunakan sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah istilah teknis yang telah baku digunakan dalam bahasa. 5. Komunikatif Selain lugas bahasa dalam buku teks juga harus komunikatif. Komunikatif dapat dinilai dari aspek yaitu pemahaman terhadap pesan atau informasi dan kesantunan bahasa.Maksudnya adalah pesan atau informasi disampaikan dengan bahasa yang menarik dan lazim dalam komunikasi tulis bahasa Indonesia. Selain itu bahasa yang digunakan memiliki nilai kehalusan, baik, sopan, sesuai adat atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Tarigan (2009: 23) menjelaskan bahwa buku teks yang baik berusaha untuk memantapkan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. 6. Dialogis dan Interaktif Bahasa yang digunakan dalam penyajian materi harus dialogis dan interaktif. Syarat untuk itu adalah sebagai berikut. e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 104 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 102 - 111 7. Kemampuan memotivasi peserta didik Bahasa dalam buku teks harus mampu memotivasi peserta didik, artinya bahasa yang digunakan membangkitkan rasa senang ketika peserta didik membacanya dan mendorong mereka untuk mempelajari buku tersebut secara tuntas. Sebagaimana pendapat Tarigan (2009: 22) “Buku teks yang baik ialah buku teks yang dapat membuat siswa ingin, mau, dan senang mengerjakan apa yang diinstruksikan dalam buku teks”. Sejalan dengan hal itu Zhuomin Sun (2010: 891) mengungkapkan “many factors affect student’s motivation towards teaching materials: interest in the subject matter, level of difficulty, relevance to existing knowledge, perception of usefulness.” Selain dapat membbangkitkan rasa senang, bahasa yang digunakan harus mampu merangsang peserta didik untuk mempertanyakan suatu hal lebih jauh, dan mencari jawabnya secara mandiri dari buku teks atau sumber informasi lain. Penggunaan bahasa dapat meningkakan daya nalar dan daya cipta siswa (Depdiknas, 2006: 39). Sebagaimana pendapat Solchan (2014: 546) bahwa buku teks harus menantang dan merangsang siswa untuk terus mempelajari buku tersebut. Perlu diperhatikan juga terkait penggunaan struktur kalimat. Penggunaan struktur kalimat harus sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa dan tingkat perkembangan kognisi siswa (Depdiknas, 2006: 39). Artinya penggunaan kalimat mempertimbangkan gradasi kerumitan kalimat. Gradasi ini dapat dilihat dari prinsip yang mudah ke yang baru, dari sederhana ke rumit, mudah ke sulit, lama ke baru, dan sebagainya. Department of education and childern’s service (2004: 10) memaparkan bahwa: “Teaching and learning materials, whether purchased or donated, should be selected and accessed in ways which ensure relevant for the age of the children or students for whom they are selected and for their emotional, intellectual, social and cultural development. Solchan (2014: 546) menjelaskan bahwa bahasa dalam buku teks harus menggunakan kalimat yang sesuai dengan tingkat kematangan siswa. Tingkat kematangan meliputi kematangan intelektual (kognitif) maupun emosional peserta didik. Menurut Piaget anak usia antara 5-7 tahun memasuki tahap operasi konkret (concrete operations) yaitu pada waktu anak dapat berpikir secara logik. Sedangkan perkembangan emosional siswa pada usia SD yaitu mulai mengalami ketidaksenangan, rasa malu, cemas, dan kecewa. Oleh karena itu, buku teks harus dapat mendukung dan membantu guru. Sebagaimana pendapat Allan Cunningsworth (1995: 15-17) “books should reflect the uses which learners will make of the language”. 8. Kesesuaian dengan Kaidah Bahasa Depdiknas (2006: 39) menyebutkan bahwa dalam penyusunan materi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kesesuaian meliputi ketepatan tata bahasa dan ketepatan ejaan. Maksudnya adalah tata kalimat yang digunakan untuk menyampaikan pesan mengacu kepada kaidah tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta ejaan yang digunakan mengacu kepada pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Solchan (2014: 546) menjelaskan bahwa p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Analisis Kelayakan Bahasa......(Arif Wiyat Purnanto dan Ali Mustadi) 105 bahasa dalam buku teks harus menggunakan bahasa yang benar dan baku, serta menggunakan transliterasi yang telah dibakukan. Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi (2009: 92) menyebutkan bahwa ejaan ikut menentukan kebakuan dan ketidakbakuan kalimat. Hastuti (2003: 84) mengatakan bahwa ejaan yang disempurnakan harus diterapkan untuk pembakuan bahasa Indonesia. 9. Penggunaan Istilah, Simbol, dan Ikon Penggunaan istilah yang menggambarkan suatu konsep harus konsisten serta penggambaran simbol atau ikon harus konsisten antar- bagian dalam buku. Karena dengan penggunaan istilah yang konsisten dapat mempermudah siswa memahami isi buku. Sebagaimana pendapat Solchan (2014: 546) bahwa buku teks harus menggunakan istilah, kosakata, dan simbol-simbol yang mempermudah pemahaman isi buku teks. Di atas telah diuraikan beberapa aspek yang digunakan untuk menilai kelayakan suatu materi dalam pembelajaran. Selain materi pembelajaran yang layak kita juga perlu memahami karakteristik siswa untuk membantu keberhasilan dalam penyampaian materi pembelajaran. Sub berikutnya akan disampaikan terkait karakteristik siswa kelas 1 sekolah dasar. Selain beberapa komponen terkait kelayakan penggunaan bahasa dalam buku teks, yang perlu diperhatikan dalam penyusunan buku teks yaitu penilaian Metode Pembelajaran.Pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan pada masing-masing kelas pasti berbeda-beda. Materi disesuaikan dengan tahap perkembangan bahasa siswa agar mampu mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor siswa. Sumardi (2012: 3) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa beberapa masalah pada awal membaca yaitu lebih terkait kesulitan dalam menggunakan kata-kata dan kalimat daripada penggunaan huruf dan suku kata. Untuk mengajarkan materi dasar bahasa untuk siswa kelas 1 metode yang yang paling sering digunakan yaitu MMP (Membaca Menulis Permulaan). Membaca dan menulis permulaan pada tahap keberwacanaan dan bersifat teknis. Tahap-tahap keberwacanaan ini merupakan tujuan pembelajaran di SD kelas-kelas awal, yaitu kelas 1 dan 2. Menurut Solchan (2014: 66) “Kemampuan membaca permulaan lebih diorientasikan pada kemampuan membaca tingkat dasar yaitu kemampuan melek huruf”. Maksudnya adalah kegiatan membaca lebih mengarahkan anak agar dapat mengubah dan melafalkan lambang-lambang tulis menjadi bunyi bermakna. Tetapi terkadang anak juga dapat melafalkan lambang huruf yang dibaca tanpa diikuti oleh pemahaman terhadap lambang bunyi tersebut. Salah satu kegiatan membaca yang di kelas 1 yaitu kegiatan membaca nyaring. Membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan suara keras dan jernih, tetapi bukan berteiak. Tahap ini merupakan tahap awal belajar membaca. Suku kata yang dipilih diusahakan suku kata yang bentuknya mirip atau berdekatan agar siswa dapat membedakan huruf satu dengan huruf lain. Adapun yang dimaksud dengan lafal adalah pengucapan. Lafal atau cara pengucapan setiap suku kata haruslah tepat. Biasanya suku kata yang sedaeah artikulasi bunyinya hampir sama. Cara pengucapan harus dicontohkan berulang-ulang agar dapat dibedakan dengan e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 106 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 102 - 111 jelas bunyi dan cara pengucapannya (Depdiknas, 2009: 6). Dalam kegiatan membaca nyaring kalimat yang digunakan kalimat yang sedehana. Kalimat sederhana adalah kalimat yang pendek, yaitu kalimat yang tediri atas 2-5 kata. Namun, untuk kelas 1 semester 1 satu dikenalkan pada kalimat yang terdiri dari 2 - 3 kata (Depdikbud, 2009: 6). Dalam pembicaraan tentang kalimat sedehana, selain jumlah kata pada kalimat, pilihan katanya pun perlu dipertimbangkan, yaitu harus kata-kata yang mudah diucapkan dan kata-kata yang dekat atau akrab dengan dunia siswa kelas 1. Sebagai contoh, pilihlah kata-kata yang berkaitan dengan keluarga, sekolah, atau kegiatan yang biasa dilakukan siswa dalam aktivitas kesehariannya. Setelah siswa melek huruf dilanjutkan dengan kemampuan tingkat lanjut yaitu melek wacana. Menurut Solchan (2014: 66) “Melek wacana yaitu kemampuan membaca yang sesungguhnya, yakni kemampuan mengubah lambang-lambang tulis menjadi bunyi disertai pemahaman akan lambang- lambang tersebut”. Sedangkan menulis permulaan yaitu pembelajaran yang lebih diorientasikan pada kemampuan yang bersifat mekanik. Anak-anak dilatih untuk dapat menuliskan lambang-lambang tulis yang jika dirangkaikan dalam sebuah struktur maka lambang itu akan menjadi bermakna. Selanjutnya anak secara perlahan- lahan mulai digiring pada kemampuan menuangkan gagasan, pikiran, perasaan dalam bentuk bahasa tulis. Dalam penelitian ini metode MMP perlu dijelaskan karena merupakan program pembelajaran yang diorientasikan kepada kemampuan membaca dan menulis permulaan di kelas-kelas awal. Pada tahap awal anak memasuki bangku sekolah kelas 1 sekolah dasar, MMP merupakan menu utama. Hal ini penting karena kemampuan dasar yang di maksud akan landasan keterampilan- keterampilan lain baik dalam kehidupan di sekolah maupun di masyarakat. Pada pembelajaran MMP terdapat beberapa metode yang dapat digunakan yaitu metode eja, metode bunyi, metode suku kata, metode kata, metode global, dan metode SAS. Berikut adalah paparan masing-masing metode tersebut (Solchan, 2013: 616-623). METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam peneltian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian analisis konten (content analysis). Sumber data penelitian ini adalah dua buku teks terbitan Non- Kemdikbud tema 1 kelas I Sekolah Dasar Kurikulum 2013. Untuk selanjutnya buku teks terbitan Yudhistira disebut sebagai Buku Teks Non-Kemdikbud 1 dan buku teks terbitan Erlangga disebut sebagai Buku Teks Non- Kemdikbud 2. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu teknik analisis dokumen melalui pengamatan dan pencatatanyang cermat terhadap buku teks Kurikulum 2013. Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri (human instrument). Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah skema analisis konten menurut Krippendorf (2004: 83) yang meliputi beberapa tahapan Pengumpulan data (Unitizing), Penentuan Sampel (Sampling), Reduksi (Reducing), Penarikan Kesimpulan (Inferring), Menceritakan (Narrating). p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Analisis Kelayakan Bahasa......(Arif Wiyat Purnanto dan Ali Mustadi) 107 HASIL DAN PEMBAHASAN Buku Teks Non-Kemdikbud 1 a. Lugas Buku teks harus memiliki standar kelugasan yang baik. Lugas dapat ditinjau dari 3 aspek yaitu kefektifan kalimat, ketepatan kata dan kebakuan istilah. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan ditemukan bahwa tingkat kebakuan istilah sudah masuk dalam kategori baik. Namun, dalam buku teks ini ditemukan beberapa kalimat yang tidak efektif. Selain itu masih terdapat pula penggunaan kata yang kurang tepat. Misalnya saja pada halaman 23 ditemukan kata “niat”. Untuk siswa kelas 1 kata “niat” adalah kata yang cukup sulit diucapkan karena kata niat diakhiri dengan huruf konsonan sehingga sulit untuk diucapkan. Selain itu makna dari kata niat sendiri adalah suatu yang abstrak atau tidak dapat dilihat sehingga untuk memahami kata “niat” cukup sulit.Seharusnya bisa memilih kata lain yang masih terdapat dalam teks bacaan. Seperti kata luka, jala, mata. b. Komunikatif Bahasa yang digunakan dalam buku teks haruslah bahasa yang komunikatif. Dengan bahasa yang komunikatif maka buku dapat lebih nyaman dibaca. Dalam buku teks ini sudah menyajikanpesan- pesan yang bisa memotivasi siswa. Contohnya adalah ayo bermain, ayo membaca, ayo menulis, dll. Dengan bahasa-bahasa seperti itu dapat menarik minat siswa dalam membaca. Selain menarik, bahasa yang digunakan juga sudah mencerminkan nilai kesantunan dalam berbahasa. c. Dialogis dan interaktif Penggunaan bahasa harus dapat memotivasi peserta didik dan mampu mendorong peserta didik untuk berpikir kritis terhadap materi yang disajikan. Bahasa dalam buku teks hendaknya mampu membangkitkan rasa senang ketika peserta didik membacanya dan mendorong mereka untuk mempelajari buku tersebut secara tuntas. Dari hasil analisis ditemukan bahwa bahasa yang digunakan sudah menarik dan mampu memotivasi siswa untuk mempelajari buku teks tersebut. Hal itu dapat terlihat dari kegiatan-kegiatan yang menantang siswa untuk berbuat lebih dari apa yang telah diajarkan. Selain memotivasi peserta didik, bahasa yang digunakan juga harus mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis dapat diciptakan dengan menggunakan bahasa yang merangsang peserta didik untuk mempertanyakan suatu hal lebih jauh dan mencari jawabannya secara mandiri dari buku teks atau sumber lain. Hal ini juga sering dijumpai dalam kegiatan belajar dalam buku teks. Contohnya adalah pada kegiatan subtema 4 pembelajaran 2 halaman 100 disana ditemukan kegiatan mengukur badan. Dengan pertanyaan “Berapa tinggi badan teman-temanmu?” maka siswa akan termotivasi untuk mencari tahu informasi tersebut secara mandiri. d. Kesesuaian dengan perkembangan peserta didik Kesesuaian materi dengan perkembangan intelektual peserta didik dapat dilihat dari bahasa yang digunakan. Bahasa yang digunakan dalam menjelaskan suatu konsep haruslah sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Bahasa disini meliputi huruf yang digunakan, kata yang digunakan, serta tanda baca yang digunakan. Penyajian materi sudah menggunakan kalimat yang sesuai dengan perkembangan siswa secara kognitif. e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 108 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 102 - 111 Kesesuaian materi terkait dengan tingkat perkembangan emosional siswa sudah baik. Materi terkait tingkat perkembangan emosional peserta didik dapat dilihat dari penggunaan bahasa yang sesuai dengan tingkat kematangan emosional siswa. Sebagai contoh adalah kegiatan pada halaman 45 terkait dengan kegiatan mengenal bagian tubuh. Materi penganalan bagian tubuh di kemas secara sederhana namun mudah dipahami oleh siswa karena materi didukung dengan ilustrasi yang berwarna-warni sehingga mampu menarik minat siswa. Secara keseluruhan materi sudah sesuai dengan tahap perkembangan emosional siswa. Hal itu bisa dilihat dari ilustrasi yang menarik, kombinasi warna teks yang disajikan, serta beberapa faktor lain yang menarik minat siswa untuk belajar. e. Kesesuaian dengan kaidah Bahasa. Dalam kesesuaian dengan kaidah bahasa ada dua hal utama yang perlu diperhatikan yaitu ketepatan tata bahasa dan keteparan ejaan. Sebagaimana disampaikan oleh Solchan (2014: 546) yang menjelaskan bahwa syarat yang dipenuhi dalam buku teks adalah benar ditinjau dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan baku. Tata bahasa yang digunakan dalam buku teks ini sudah sesuai dengan ilmu bahasa. Sedangkan apabila ditinjau dari segi ejaan materi-materi yang disampaikan sudah menunjukkan ejaan yang baku sesuai dengan perkembangan bahasa. f. Penggunaan istilah, simbol, atau ikon. Penggunaan istilah dalam buku teks sebaiknya konsisten dari awal sampai akhir sehingga dapat membantu siswa dalam memahami isi dari buku teks tersebut. Istilah, kosakata, dan simbol-simbol hendaknya mempermudah pemahaman isi buku teks. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa istilah- istilah yang digunakan dalam buku teks sudah sesuai dan konsisten dari awal sampai akhir. Istilah-istilah yang digunakan juga istilah yang umum dan sering dijumpai siswa sehingga istilah dalam materi buku teks masuk dalam kategori yang baik. Namun masih ditemukan beberapa penggunaan simbol dan ikon yang tidak konsisten, yaitu pada subtema 2. Pada materi subtema 1 pembelajaran 2 sudah diperkenalkan masing-masing nama ikon. Salah satu ikon namanya adalah Badi. Sedangkan pada subtema 2 pembelajaran 5 ditemukan nama ikon yang sama tetapi dengan nama yang berbeda yaitu Putu. Seharusnya ikon tersebut bukan bernama Putu melainkan Badi. Dengan penggunaan ikon yang tidak konsisten seperti di atas maka dapat menghambat siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Siswa menjadi sulit menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Selain ikon di atas, pada halaman 42-43 juga terdapat ilustrasi yang tidak konsisten. Berikut adalah ilustrasi dalam buku teks. Pada halaman 42 terdapat sebuah gambar dengan keterangan bahwa gambar tersebut adalah gambar alis. Sedangkan pada halaman 43 terdapat gambar yang sama tetapi dengan pengertian yang berbeda yaitu mata. Materi ini tentunya menjadi sulit bagi siswa, karena deskripsi yang mereka pelajari tidak sesuai dengan deskripsi yang disampaikan pada bagian lain. Berdasarkan rekapitulasi hasil analisis kelayakan penggunaan bahasa yang telah kami lakukan terhadap buku teks Non-Kemdikbud 1 dengan merujuk pada beberapa pendapat ahli diperoleh skor yaitu: p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Analisis Kelayakan Bahasa......(Arif Wiyat Purnanto dan Ali Mustadi) 109 Tabel 1. Skor Buku Teks 1 Subtema 1 2 3 4 Rata-rata Skor 43 41 44 44 43 Dengan tingkat kelayakan bahasa sebesar 82,69% maka dapat disimpulkan bahwa kelayakan penggunaan bahasa di dalam buku teks ini termasuk dalam kategori baik. Buku Teks Non-Kemdikbud 2 a. Lugas Hasil analisis yang telah dilakukan masih ditemukan beberapa kalimat yang kurang efektif ditinjau dari jumlah kata dalam satu kalimat dan panjang kalimat dalam paragaf. Padahal siswa kelas 1 hanya mampu menyerap kalimat yang terdiri kurang dari 6 suku kata. Selain itu masih terdapat ketidaksesuaian pemilihan kata pada subtema 1. Sebagai contoh pada halaman 75 ditemukan teks bacaan yang cukup panjang dan kalimat yang dipakai juga terlalu panjang yaitu “tubuh yang bersih terhindar dari penyakit kulit”. Dalam satu kalimat terdapat lebih dari 4 kata. Hal ini tentunya akan berdampak pada kemampuan siswa memahami isi/pesan yang disampaikan dalam buku teks. b. Komunikatif Pesan atau informasi yang disajikan dalam buku teks ini sudah mampu membantu siswa untuk memahami materi yang disajikan. Siswa akan lebih mudah memahami materi apabila buku teks menyajikan materi dengan bahasa yang menarik dan lazim. Selain itu bahasa yang digunakan mencerminkan nilai kesantunan. Sesuai dengan pendapat Tarigan (2009: 23) bahwa kesantunan tersebut tercermian melalui pemilihan bahasa yang halus, baik, sopan, dan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. c. Dialogis dan interaktif Bahasa dalam buku teks hendaknya mampu membangkitkan rasa senang ketika peserta didik membacanya dan mendorong mereka untuk mempelajari buku tersebut secara tuntas. Hasil analisis menemukan bahwa bahasa yang digunakan sudah menarik dan mampu memotivasi siswa untuk mempelajari buku teks tersebut. Hal itu dapat terlihat dari kegiatan-kegiatan yang menantang siswa untuk berbuat lebih dari apa yang telah diajarkan. Selain itu, Bahasa yang digunakan dalam penyajian materi sudah mampu mendorong siswa untuk berpikir kritis. Sebagai contoh pada halaman 43, disana terdapat kegiatan refleksi yang berbunyi “Apakah aku bisa berteman dengan siapa saja?” dengan kalimat seperti itu maka akan memberikan tantangan anak untuk melakukan sesuatu hal yang lebih. Kemampuan berpikir kritis dapat diciptakan dengan menggunakan bahasa yang merangsang peserta didik untuk mempertanyakan suatu hal lebih jauh dan mencari jawabannya secara mandiri dari buku teks atau sumber lain. d. Kesesuaian dengan perkembangan peserta didik Hasil analisis menemukan bahwa materi yang disampaikan sudah sesuai dengan tingkat perkembangan emosional. Hal itu bisa dilihat dari ilustrasi yang menarik, kombinasi warna teks, pemilihan style yang mampu menggugah minat siswa untuk belajar. Tetapi e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 110 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 102 - 111 masih terdapat beberapa kesalahan dalam penggunaan bahasa. Penggunaan bahasa dalam buku teks ini masih kurang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual dan tingkat kematangan siswa. Sebagai contoh adalah penggunaan tanda baca dan penggunaan huruf kapital. Hal ini ditemukan hampir di semua halaman dalam buku teks. Siswa kelas 1 belum bisa dikenalkan tanda baca maupun huruf kapital. Siswa kelas satu masih dalam masa tahap membaca permulaan dimana seharusnya materi masih terkait pengenalan huruf dan suku kata. e. Kesesuaian dengan kaidah bahasa Hasil analisis menunjukkan bahwa tata bahasa yang digunakan sudah sesuai dengan ilmu bahasa, menggunakan ejaan yang baku. Dengan tata bahasa yang baik dan ejaan yang baku akan memberikan fondasi yang tepat kepada siswa. f. Penggunaan istilah, simbol, atau ikon Penggunaan istilah, simbol, dan ikon dalam materi haruslah konsisten dari awal sampai akhir sehingga dapat membantu siswa dalam memahami isi dari buku teks tersebut. Hasil analisis menemukan bahwa penggunaan istilah dalam buku teks ini sudah baik dan konsisten antar bagian- bagian buku. Seperti istilah mengamati, menanya, membaca, dan lain-lain. Istilah- istilah tersebut juga digunakan pada kegiatan yang tepat pula. Selain konsisten dalam penggunaan istilah, suatu buku teks juga harus konsistens dalam penggunaan simbol atau ikon. Dalam buku teks ini ikon yang sering digunakan adalah ikon siswa. Seperti pada halaman 23, terdapat beberapa ikon seperti Nina, Lani, Deli, Made, Toni, dan Joni. Masing-masing ikon digunakan secara konsisten dan tidak pernah berubah ataupun tertukar. Ikon yang digunakan juga merujuk pada lingkungan belajar siswa di sekolah. Berdasarkan rekapitulasi hasil analisis kelayakan penggunan bahasa diperoleh skor yaitu: Tabel 2. Skor Buku Teks 2 Subtema 1 2 3 4 Rata-rata Skor 41 40 41 41 40,75 Dengan tingkat kelayakan bahasa sebesar 78,36% maka dapat disimpulkan bahwa kelayakan materi di dalam buku teks ini termasuk dalam kategori cukup. SIMPULAN Berdasarkan analisis buku teks yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. a. Buku teks Non-Kemdikbud 1 memenuhi aspek kelayakan penggunaan bahasa dengan persentase sebesar 82,69%. Kelayakan penggunaan bahasa di dalam buku teks ini termasuk dalam kategori baik. Kekurangan pada buku teks ini terletak pada penggunaan ilustrasi yang tidak konsisten dan pemilihan beberapa kata yang kurang sesuai dengan tahap perkembangan siswa. b. Buku teks Non-Kemdikbud 2 memenuhi aspek kelayakan penggunaan bahasa dengan persentase sebesar 78,36%. Kelayakan materi di dalam buku teks ini termasuk dalam kategori cukup. Kekurangan dalam buku teks ini yaitu penggunaan tanda baca yang kurang sesuai dengan tahap perkembangan siswa dan konsistensi penggunaan ikon p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Analisis Kelayakan Bahasa......(Arif Wiyat Purnanto dan Ali Mustadi) 111 DAFTAR PUSTAKA Cunningsworth, A. (1995). Choosing your course book. Oxford: Heinemann Publishers Ltd Department of Education and Children’s Service. (2004). Choose and using teaching and learning materials. Hindmarsh: DECS Publishing. Depdiknas. (2006). Pedoman penulisan buku pelajaran. Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas. (2009). Panduan untuk guru: Membaca dan menulis permulaan untuk sekolah dasar kelas 1, 2, 3. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Hastuti, Sri. (1985). Permasalahan dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Intan Pariwara. Lestari, Ika. (2013). Pengembagan bahan ajar berbasis kompetensi. Padang: Akademia Nasucha, Y., Rohmadi, dan Wahyudi. (2009). Bahasa Indonesia: untuk penulisan karya tulis ilmiah. Surakarta: Media Perkasa. Solchan, dkk. (2014). Pendidikan Bahasa indonesia di SD. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka. Sumardi, H. B. (2012). Berbagai permasalahan pembelajaran membaca permulaan pada sekolah dasar negeri di kecamatan bantul. Jurnal Didaktika, 3, 3-5. Tarigan, H.G dan Tarigan, D. (2009). Telaah buku teks bahasa indonesia. Bandung: Angkasa. Purwono, Urip. (2008). Standar Penilaian Buku Pelajaran. Diakses pada tanggal 24 November 2015 dari http://telaga.cs.ui.ac.id/. Sun, Zhoumin. (2010). “Language teaching material and learner motivation”. Academy Publisher, Vol. 1, 889-892 http://telaga.cs.ui.ac.id/