e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 112 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 112 - 121 PENERAPAN MENGARANG TERBIMBING MODEL KWL (KNOW, WANT, LEARNED) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN NARASI Nana Sutarna STKIP Muhammadiyah Kuningan nana@upmk.ac.id Abstract Skill of student writing narrative essay in class IV Elementary School Cengal III, District Kuningan, yet reached at the expected level. One of the ways that deems appropriate to solve the problem was through the application of learning guided writing by KWL model with picture media. This research used classroom action research with using of qualitative approach. Classroom action research design used refers to Kemmis and Mc Taggart model started with planning, action, observation, and reflection. The research instrument used were the student activity observation guidelines, interview, field notes, and questions. Then the collected data were processed and analyzed. While checking the validity of the data using triangulation techniques, member checks, and expert opinion. Through the application of learning guided writing by KWL model with picture media in narrative essay, student learning outcomes class IV elementary school Cengal III can increase. This was evidenced by the increasing number of students who were otherwised completed on each cycle, started from preliminary data as many as three students or 15%, the first cycle increased to 9 people or 45%, on the second cycle increased to 18 people or 90%. Keywords: KWL model, writing essay, picture media PENDAHULUAN Menulis merupakan salah satu bentuk keterampilan berbahasa, yang merupakan hal penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar. Suriamiharja (dalam Djuanda, 2007: 180) mengatakan bahwa “menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan”. Dengan demikian menulis adalah berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Tinggi rendahnya kemampuan menulis dipengaruhi oleh intensitas pembinaan dan latihan yang dilakukan. Dengan kata lain, kemampuan menulis tidak mungkin timbul secara alami, tetapi memerlukan latihan dan pembinaan. Salah satu kemampuan menulis yang menjadi perhatian adalah menulis karangan narasi. Sebagaimana yang digariskan dalam kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD, siswa harus mempunyai perbendaharaan kata yang cukup kaya dengan diperkenalkan banyak kosakata. Sejalan pula dengan pelajaran Bahasa Indonesia, kosakata mulai diperkenalkan sejak kelas 3 SD. Semakin tinggi tingkatan kelas, kosakata yang harus dimiliki siswa harus semakin bertambah. Untuk memperkaya kosakata pada siswa, pembelajaran mengarang merupakan salah satu kegiatan yang cukup efektif. Dengan membuat suatu karangan siswa akan mencari dan memilih kata-kata yang sesuai untuk karangannya. Kata-kata yang disusun menjadi kalimat-kalimat yang utuh, padu dan jelas akan mudah dipahami oleh para pembaca. Rumaningsih (2012: 21) berpendapat bahwa mengarang adalah suatu penyampaian mailto:nana@upmk.ac.id mailto:nana@upmk.ac.id p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Penerapan Mengarang Terbimbing.....(Nana Sutarna) 113 pikiran secara resmi dan teratur melalui ucapan/tulisan atau suatu usaha penyajian pembicaraan yang luas tentang suatu pokok persoalan secara lisan atau tulisan. Karangan selalu berbentuk uraian atau paparan, suatu bentuk yang dengan sendirinya merupakan hasil rancangan pembicaraan atau penulisan dengan kegunaan tertentu. Sulaiman (2013:210) mengatakan bahwa agar kita mengarang dengan baik, persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah penguasaan kalimat, pilihan kata, logika, efektivitas, dari ketetapan penulisannya. Berdasarkan cara-cara penyampaian gagasan, pesan yang sesuai dengan tujuan mengarang, pada umumnya tulisan dapat dikelompokan atas empat macam jenis karangan, yaitu narasi, deskripsi, eksposisi, dan argumentasi. Narasi adalah suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalani dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu kesatuan waktu. Atau suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan yang sejelas- jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi. Tujuan keterampilan narasi secara khusus juga terdapat pada jenis narasi yang ada. Jenis tulisan narasi berdasarkan tujuannya terdiri dari narasi ekspositoris dan narasi sugestif. Gorys (2010: 136-137) menyatakan bahwa narasi ekpositoris bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan, sedangkan narasi sugestif bertujuan untuk memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu sebagai suatu pengalaman. Keterampilan menulis narasi pada setiap jenjang pendidikan memiliki tujuan yang berbeda-beda. Rini Kristiantari (2010: 106), membagi tujuan pembelajaran menulis di SD menjadi tujuan menulis permulaan dan menulis lanjut. Tujuan menulis permulaan adalah agar siswa mampu mentranskripsikan lambang bunyi bahasa lisan ke dalam bahasa tertulis. Tujuan menulis lanjut adalah membina para siswa agar mampu mengekspresikan perasaan dan pikirannya ke dalam bahasa tulis. Namun kenyataan di lapangan dalam proses pembelajaran menulis karangan, masih ditemukan adanya beberapa kendala dan hambatan. Kendala dan hambatan yang muncul selain bersumber dari keterbatasan kemampuan siswa, juga dipengaruhi oleh kemampuan guru terutama dalam pemilihan bahan ajar. Biasanya yang dilakukan guru dalam memilih bahan ajar tidak disesuaikan dengan taraf perkembangan dan kemampuan siswa dan tidak menggunakan media sehingga tidak dapat menarik dan merangsang aktivitas siswa. Berdasarkan hasil penelitian awal yang dilakukan melalui pengamatan terhadap proses pembelajaran dan pelaksanaan tes menulis karangan terlihat bahwa pembelajaran mengarang yang dilaksanakan di SD Negeri Cengal III tahun pelajaran 2015/2016 perlu mendapatkan perhatian melalui pengorganisasian pembelajaran yang matang. Dari komponen pembelajaran yang meliputi siswa, guru, tujuan, materi/ bahan ajar, metode, media, dan evaluasi; yang dapat menjembatani hubungan guru dan siswa adalah komponen metode/ teknik pembelajaran. Metode pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode pembelajaran yang ditetapkan guru memungkinkan siswa untuk belajar proses, bukan hanya belajar produk. Belajar produk pada umumnya hanya menekankan pada segi kognitif. Sedangkan e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 114 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 112 - 121 belajar proses dapat memungkinkan tercapainya tujuan belajar baik segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dalam hal ini guru dituntut agar mampu memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Untuk melaksanakan proses pembelajaran perlu dipikirkan metode pembelajaran yang tepat. Menurut Sumiati dan Asra (2009: 92) ketepatan penggunaan metode pembelajaran tergantung pada kesesuaian metode pembelajaran materi pembelajaran, kemampuan guru, kondisi siswa, sumber atau fasilitas, situasi dan kondisi dan waktu. Kenyataan tersebut perlu mendapat perhatian berupa suatu upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan. Maka diambil salah satu alternatif yang dapat dilaksanakan untuk meningkatkan kemapuan mengarang siswa kelas IV SD Negeri Cengal III, yaitu melalui penerapan mengarang terbimbing model KWL. Kaitannya dengan hal tersebut, pembelajaran mengarang terbimbing model KWL dianggap dapat 1) menarik perhatian siswa sehingga termotivasi untuk mengungkapkan perasaannya ke dalam bentuk tulisan; 2) mudah didapat, murah, dan tidak sulit untuk mempergunakannya; 3) tidak bersifat abstrak; 4) membantu membangkitkan minat siswa untuk mengarang. Bahan yang akan dapat dijadikan stimulus dalam pembelajaran mengarang terbimbing lebih disukai. Menurut Thorndike dalam Karwono (2010: 50) bahwa yang menjadi dasar terjadinya belajar adalah adanya asosiasi atau menghubungkan antara kesan indera (stimulus) dengan dorongan yang muncul untuk bertindak (respon) yang disebut dengan connecting. Stimulus yang terjadi setelah sebuah perilaku terjadi akan mempengaruhi perilaku selanjutnya. Perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu yang dapat diamati, yang terjadi karena hubungan stimulus dan respon. Perilaku itu dapat diperkuat, dibiasakan dengan memberikan penguatan”. Model KWL ditujukan untuk meningkatkanketerampilansiswamenuliskan ide, kata-kata kunci atau fase yang berkaitan dengan suatu topik dalam kegiatan curah pendapat (brainstorming), kemudian pesan yang didapat dituliskannya ke dalam tabel KWL. Model KWL memberikan kepada siswa tujuan membaca dan memberikan peran aktif siswa sebelum, saat, dan sesudah membaca. Model ini membantu mereka memikirkan informasi baru yang diterimanya dan juga bisa memperkuat kemampuan siswa mengembangkan pertanyaan tentang berbagai topik. Model KWL dikembangkan oleh Ogle (1986) untuk membantu guru menghidupkan latar belakang pengetahuan dan minat siswa pada suatu topik. Model KWL melibatkan tiga langkah dasar yang menuntun siswa dalam memberikan suatu jalan tentang apa yang telah mereka ketahui, menentukan apa yang ingin mereka ketahui, dan mengingat kembali apa yang mereka pelajari dari membaca suatu topik. Model know want learned menurut Blachowicz dan Ogle (2008: 113-114) memiliki beberapa karakteristik yang meliputi: (1) KWL merupakan sebuah proses yang menempatkan guru sebagai model dan terlibat aktif pada teks; (2) pembelajaran model KWL dilakukan menggunakan format k-w-l; (3) guru dan siswa memulai proses belajar bersama dengan brainstorming terkait apa yang mereka tahu (know) pada kolom k-w-l tentang suatu topik; (5) peran guru bukan untuk mengevaluasi atau p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Penerapan Mengarang Terbimbing.....(Nana Sutarna) 115 memperbaiki tetapi merangsang siswa untuk berpikir secara luas tentang apa yang mereka pelajari; (6) guru juga berperan dalam membantu siswa mengaktifkan pengetahuan dan mengembangkan minat pada topik. Menurut Rahim (2009: 41) model know want learned (KWL) memiliki tiga langkah yang mendasar, di antaranya sebagai berikut: (1) Know (Apa yang Diketahui) merupakan kegiatan menggali pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki terkait topik; (2) Want to Learned (Apa yang Ingin Dipelajari) merupakan langkah dimana guru mengajak siswa menyusun tujuan. (3) What I have Learned merupakan tahap setelah membaca. Langkah ini merupakan langkah untuk menemukan tujuan. Adapun media yang digunakan dalam penerapan model ini yaitu menggunakan media gambar. Menurut Arsyad (2011) media gambar termasuk dalam bentuk visual berupa gambar representasi seperti gambar, lukisan, atau foto yang menunjukkan bagaimana tampaknya suatu benda.. Gambar ini dapat dipergunakan oleh guru untuk memberikan gambaran tentang manusia, tempat, atau segala sesuatu sehingga penjelasan guru lebih konkret. Kelebihan gambar menurut Hastuti adalah: (1) dapat menterjemahkan ide-ide abstrak ke dalam bentuk yang lebih nyata, (2) banyak tersedia dalam buku-buku, majalah, koran, katalog, atau kalender, (3)gambar sangat mudah dipakai karena tak membutuhkan peralatan, (4) gambar relatif tidak mahal, (5) dapat digunakan untuk semua tingkat pengajaran dan bidang studi. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan memilih permasalahan tentang keterampilan menulis karangan narasi dengan menerapkan model KWL (Know, Want, Learned) menggunakan media gambar pada siswa kelas IV Sekolah Dasar. METODE PENELITIAN Penerapan Mengarang Terbimbing Model Know Want Learned dalam penelitian ini dilakukan melalui penelitian tindakan kelas. Menurut Arikunto (2006: 3), “...penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap tindakan kelas berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan”. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Cengal III, yang terdiri dari 11 siswa laki-laki, 9 siswa perempuan dan seluruhnya berjumlah 20 siswa. Latar belakang kehidupan ekonomi orang tua siswa, rata-rata kelas menengah ke bawah dan sebagian besar mata pencahariannya adalah wiraswasta. Sedangkan latar belakang pendidikan orang tua siswa, sebagian besar lulusan SMA. Prosedur penelitian berbentuk siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model Spiral Kemmis dan Taggart (dalam Wiraatmaja, 2005: 6), yaitu model siklus yang dilakukan secara berulang dan berkelanjutan. Seperti tampak pada gambar 1. Gambar 1. Adaptasi Model Spiral Kemmis dan Taggart (Wiriaatmadja, 2005: 66) e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 116 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 112 - 121 Arikunto (2006: 20) mengungkapkan bahwa dalam penelitian tindakan kelas ada empat tahapan penting, yaitu (1) menyusun rancangan tindakan (planning), (2) pelaksanaan tindakan (acting), (3) pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Secara lebih rinci prosedur penelitian tindakan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut. Pada tahap menyusun rancangan, dilaksanakan dengan menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Tahap-tahap kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan tindakan adalah: Penetapan Bukti Keberhasilan Tindakan, Penetapan Jenis Tindakan, Pemilihan Metode dan Alat Pengumpul Data dan Perencanaan Teknik Pengolahan Data. Setelah data-data terkumpul langkah berikutnya dari data tersebut segera dianalisis. Teknik analisis data yang digunakan bersifat kualitatif. Yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kata-kata. Tahap pelaksanaan tindakan merupakan tahap implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu melaksanakan tindakan di kelas. Kegiatan observasi dilakukan secara bersamaan dengan pelaksanaan tindakan, karena pada dasarnya kegiatan observasi adalah mengamati segala sesuatu kegiatan yang sedang berlangsung ketika guru melaksanakan tindakan yang telah direncanakan pada tahap sebelumnya, ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kinerja guru dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran menulis karangan serta untuk mengumpulkan atau merekam data dan membuat catatan lapangan yang lengkap mengenai hal-hal yang terjadi selama proses pembelajaran menulis karangan berlangsung. Observasi merupakan teknik yang paling tepat untuk mengumpulkan data tentang proses kegiatan. Penelitian tindakan kelas ini lebih cenderung mengikuti paradigma kualitatif (disebut fenomenologi), sehingga datangnya cenderung dinominasi data kualitatif. Tahap refleksi merupakan tahap kegiatan untuk menganalisis, interprestasi dan ekplanasi (penjelasan) terhadap semua informasi yang diperoleh selama pelaksanaan tindakan (Kasbolah, 1998: 74). Informasi yang berhasil didokumentasikan, selanjutnya perlu diurai, diuji dan dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya, kemudian dikaitkan dengan teori tertentu atau hasil penelitian yang relevan. Hasil informasi atau data yang sudah dianalisis, sintesis, kemudian melalui proses refleksi akan ditarik kesimpulan. Pada penelitian ini, tahap refleksi sangat penting untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai hasil tindakan yang telah dilakukan dalam pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan Mengarang Terbimbing Model Know Want Learned. Refleksi juga bermanfaat bagi peneliti dalam melakukan tindakan berikutnya sebagai umpan balik bagi tindakan berikutnya. Dalam kegiatan ini, peneliti menggunakan instrumen penelitian yakni berupa lembar wawancara, lembar observasi, catatan lapangan, lembar kerja siswa, dan lembar tes. Lembar wawancara berisi sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh data yang dapat diungkapkan secara lisan. Dalam hal ini kegiatan wawancara dilakukan baik kepada siswa untuk mengetahui minat dan tingkat kemampuan siswa kelas IV SDN Cengal III dalam menulis p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Penerapan Mengarang Terbimbing.....(Nana Sutarna) 117 karangan. Melalui kegiatan wawancara ini dapat diketahui hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dan guru dalam proses pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan pembelajaran Mengarang Terbimbing Model Know Want Learned. Lembar observasi adalah sebuah format yang telah disusun dan berisi item- item tentang kejadian-kejadian yang menggambarkan tingkah laku guru dan siswa kelas IV SDN Cengal III ketika berlangsungnya proses pembelajaran menulis karangan. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kinerja guru dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran menulis karangan. Catatan lapangan dalam penelitian ini adalah suatu catatan yang digunakan selama kegiatan pelaksanaan pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan pembelajaran Mengarang Terbimbing Model Know Want Learned berlangsung, yang berisi deskripsi mengenai proses pembelajaran menulis karangan, intepretasi, koreksi dan saran-saran yang perlu diberikan kepada praktisi untuk dilakukan perbaikan- perbaikan. Catatan lapangan digunakan untuk mencatat data kualitatif, untuk melukis suatu proses dan kejadian-kejadian yang terjadi dalam pembelajaran menulis karangan. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang digunakan dalam penelitian ini berisi sebuah gambar seri dilengkapi dengan tabel KWL. Tugas siswa adalah menyusun gambar seri tersebut kemudian menuliskan ide/kata kunci yang sesuai dengan gambar ke dalam tabel KWL kemudian siswa mengembangkan kata kunci tersebut menjadi sebuah karangan yang padu dengan memperhatikan penggunaan huruf kapital dan tanda baca. Lembar tes yang dimaksud dalam penelitian ini adalah alat berupa hasil karangan siswa. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai tingkat keberhasilan siswa dalam menulis karangan dengan menggunakan Pembelajaran Mengarang Terbimbing Model Know Want Learned. Selanjutnya penulis memvalidasi data yang terkumpul. Teknik validasi data menurut Hopkins (dalam Wiriaatmadja, 2005: 167- 171) adalah: “Triangulasi, member chek, audit trial, expert opinion, eksplanasi saingan, dan key respondent review”. Triangulasi, “dilakukan untuk memeriksa kebenaran hipotesis, kontruk, atau analisis yang anda sendiri timbulkan dengan membandingkan dengan hasil orang lain, misalnya mitra peneliti lain, yang hadir dan menyaksikan situasi yang sama” (Wiriaatmadja, 2005: 168). Bahkan menurut Elliot (dalam Wiriaatmadja, 2005: 169) “triangulasi dilakukan berdasarkan tiga sudut pandang, yakni sudut pandang guru, sudut pandang siswa, dan sudut pandang yang melakukan pengamatan atau observasi”. Member chek, “yakni memeriksa kembali keterangan-keterangan atau informasi data yang diperoleh selama observasi atau wawancara dari nara sumber (Wiriaatmadja, 2005: 168). Dalam kegiatan member chek, peneliti mengkonfirmasikan data temuan yang diperoleh baik kepada guru maupun siswa melalui kegiatan reflektif-kolaboratif pada setiap akhir kegiatan pembelajaran. Expert Opinion, dilakukan dengan cara meminta nasehat kepada pakar (Wiriaatmadja, 2005: 171). Melalui expert opinion pakar atau pembimbing akan memeriksa semua tahapan kegiatan penelitian dan memberikan arahan atau judgements terhadap masalah-masalah penelitian yang dikemukakan. e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 118 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 112 - 121 HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian awal proses pembelajaran menulis karangan yang dilakukan di kelas IV SDN Cengal III berlangsung sebagai berikut: Pertama, guru menginformasikan bahwa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia hari ini siswa akan belajar tentang menulis karangan berdasarkan rangkaian gambar seri. Kedua, guru menyajikan materi pembelajaran guru tidak menggunakan media gambar seri yang dapat memperjelas materi tentang mengarang, tetapi hanya menggunakan rangkaian gambar yang terdapat pada buku paket siswa. Buku sumber yang digunakan dalam pembelajaran menulis karangan adalah buku Belajar Bahasa Indonesia karangan Dra. Ninu Murliani, terbitan PT. Sarana Panca Karya Nusa. Ketiga, guru kurang memperhatikan kesulitan siswa dalam mengungkapkan ide, gagasan yang sesuai dengan maksud gambar seri serta penggunaan huruf kapital dan tanda baca dalam sebuah karangan. Tes awal mengenai kemampuan siswa dalam menulis karangan berdasarkan rangkaian gambar seri yang dilakukan peneliti diperoleh data bahwa 3 orang (15%) siswa yang dikatagorikan tuntas sesuai KKM yang telah di tentukan. Dalam mengarang dari penggunaan huruf kapital sudah sesuai dengan kaidah EYD meskipun dalam penggunaan tanda baca masih ada beberapa yang kurang sesuai, dalam struktur kalimat masih ada pengulangan kata yang sama, penempatan kata penghubung kurang tepat dan beberapa kalimat tidak memiliki kepaduan, kesesuaian dengan tema dan gambar tidak relevan. 17 orang (85%) siswa dikatagorikan belum tuntas yaitu Penggunaan huruf kapital tidak sesuai dengan kaidah EYD, penggunaan tanda baca tidak tepat, dan struktur kalimat banyak pengulangan kata yang sama, penempatan kata penghubung tidak tepat, dan kesesuaian dengan tema dan gambar tidak relevan. Berdasarkan data awal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kemampuan siswa dalam menulis karangan berdasarkan gambar seri masih tergolong rendah sehingga diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkannya. Data awal yang diperoleh dalam menulis karangan ini adalah adanya kesulitan yang dihadapi siswa kelas IV SDN Cengal III dalam mengungkapkan ide, gagasan ke dalam bentuk karangan sesuai dengan maksud gambar serta penggunaan huruf kapital dan tanda baca pada karangan. Secara keseluruhan, penelitian mengenai penerapan pembelajaran mengarang terbimbing model KWL dalam pembelajaran menulis karangan siswa kelas IV SDN Cengal III memberikan hasil yang positif berupa terjadinya peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan. Hal tersebut didasarkan pada hasil-hasil yang diperoleh dari tiga siklus pelaksanaan tindakan. Pelaksanaan beberapa siklus tersebut merupakan tahapan tertentu dengan menerapkan rencana pembelajaran yang telah disusun berdasarkan model KWL. Aspek yang peneliti observasi ketika proses pembelajaran berlangsung yaitu aspek kesungguhan, ketelitian, dan keberanian. Ketiga indikator itu merupakan tolok ukur dalam menilai sikap siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan menggunakan pedoman observasi yang telah dibuat sebelumnya. Pada siklus pertama sebagian besar siswa belum menunjukkan sikap kesungguhan, ketelitian, dan keberanian sesuai dengan yang diharapkan. Selanjutnya pada pelaksanaan siklus kedua telah tampak peningkatan yang cukup berarti 5 orang siswa (15%) yang p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Penerapan Mengarang Terbimbing.....(Nana Sutarna) 119 dikatagorikan tuntas dan sisanya 6 orang siswa (55%) yang dikatagorikan cukup dan tidak ada lagi siswa yang dikatagorikan kurang dilihat dari perolehan jumlah skor ketiga aspek yang dinilai. Pada pelaksanaan Siklus II sebagian besar siswa sudah menunjukkan sikap kesungguhan, ketelitian, dan keberanian dengan baik. Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya prosentase sikap siswa pada pelaksanaan siklus II, yaitu jumlah siswa yang dikatagorikan baik dari 8 orang siswa bertambah menjadi 18 orang siswa artinya terjadi peningkatan sebesar 50% dan sisanya 2 orang siswa atau 10% masih dikatagorikan cukup. Analisis data yang merupakan hasil dari post-tes yang dilaksanakan dalam menulis karangan memberikan gambaran adanya perbaikan dan peningkatan hasil dari data awal sebelum diterapkannya pembelajaran mengarang terbimbing model KWL tingkat kemampuan siswa dalam menulis karangan hanya mencapai 15%. Setelah diterapkannya pembelajaran mengarang terbimbing model KWL melalui pelaksanaan tindakan dari mulai siklus I sampai dengan siklus II, diperoleh peningkatan hasil yaitu mencapai 35% pada siklus I, dan meningkat menjadi 90% pada siklus II. Peningkatan ini terjadi pada setiap siklus tindakan melalui peningkatan aspek- aspek sebagai indikator kemampuan menulis karangan, yakni meningkatnya kemampuan menggunakan huruf kapital, menggunakan tanda baca, struktur kalimat dan kesesuaian dengan tema dan gambar. Secara keseluruhan, peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan mencapai 11% dari kondisi kemampuan awal sebelum diterapkannya pembelajaran mengarang terbimbing model KWL. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran tersebut telah memberikan pengaruh positif yang cukup besar terhadap peningkatan kemampuan siswa kelas IV SDN Cengal III dalam menulis karangan. Perencanaan dalam siklus I sampai siklus II sudah dibuat yang lebih mengarah pada tahap-tahap dalam pembelajaran model KWL, namun dalam siklus I ditemukan sebuah perencanaan yang berhubungan dengan waktu dan gambar yaitu mulai waktu jam pembelajaran yang dilakukan 2x pertemuan dalam satu siklus, dan ketika kegiatan pembelajaran yang dilakukan memakan waktu melebihi batas yang telah ditentukan, hal ini disebabkan karena lamanya proses penyusunan Gambar yang dilakukan siswa hampir semua siswa dalam kelompok lebih pokus terhadap gambar dan menyampingkan soal berikutnya, Pada rencana pelaksanaan pembelajaran berikutnya, untuk waktu pertemuan dalam satu siklus tetap dua kali pertemuan melainkan satu kali pertemuan dengan alokasi waktu ( 4x 35 menit). Dalam penelitian awal yang dilakukan melalui pengamatan terhadap proses pembelajaran dan pelaksanaan tes kemampuan menulis karangan kepada siswa kelas IV SDN Cengal III diperoleh data yang menggambarkan masih rendahnya atau belum memadainya kemampuan siswa kelas IV SDN Cengal III dalam menulis karangan, sebagaimana tersurat dalam kurikulum SD tahun 2006 yaitu siswa harus mampu menyusun karangan tentang berbagai topik sederhana dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta memperhatikan ejaan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Akhadiah, bahwa: “Siswa sekolah dasar sudah dituntut mampu menggunakan ejaan, kosa kata dan mampu membuat kalimat dengan menghubung- hubungkan kalimat yang runtut dan padu e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 120 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 112 - 121 dalam satu paragraf sesuai dengan tingkat kemampuan siswa SD”. (Akhadiah, 1993: 61). Berdasarkan data hasil tes awal kemampuan menulis karangan dengan menggunakan empat indikator sebagai tolok ukur, yakni penggunaan huruf kapital, penggunaan tanda baca, struktur kalimat, dan kesesuaian dengan tema dan gambar, diperoleh data bahwa tingkat kemampuan siswa dalam menulis karangan sebelum dilaksanakannya tindakan dengan menerapkan pembelajaran mengarang terbimbing model KWL mencapai 15%. Kemampuan tersebut meliputi empat indikator, yakni: penggunaan huruf kapital mencapai, penggunaan tanda baca mencapai, struktur kalimat mencapai, dan kesesuaian dengan tema dan gambar mencapai. Setelah dilaksanakannya tindakan siklus I dengan menerapkan pembelajaran mengarang terbimbing model KWL, maka terjadi perubahan yang positif dengan adanya peningkatan melalui indikator-indikator kemampuan menulis karangan. Dari data hasil pelaksanaan tindakan siklus I, diperoleh prosentase kenaikan tingkat kemampuan menulis karangan siswa yang di bandingkan dengan data awal yaitu, yang sebelum dilakukan tindakan siswa yang dikatagorikan baik hanya mencapai 15%, namun setelah dilakukan tindakan siklus I mencapai 40%. Secara umum dari keempat indikator yang digunakan maka tingkat kemampuan menulis karangan siswa mengalami peningkatan sekitar 25% dari hasil data awal yang hanya mencapai 15% menjadi 40% menurut data hasil pelaksanaan tindakan siklus I. Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan siklus I, diperoleh beberapa temuan penting sebagai evaluasi terhadap penerapan rencana pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. Pada kegiatan inti pembelajaran khususnya yang berhubungan dengan pengembangan aspek kesungguhan, ketelitian, dan keberanian belum sesuai dengan harapan. Dalam hal ini dapat dilihat dalam aspek kesungguhan, setiap siswa cenderung kurang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas, perilaku tersebut terlihat pada saat pengerjaan tugas banyak siswa yang mengerjakannya dengan santai, banyak ngobrol dengan teman sehingga tugas terselesaikan dengan tidak tepat waktu. Dalam aspek ketelitian banyak siswa yang mengerjakan tugas dengan asal-asalan, banyak coretan dan tulisannya tidak dapat dimengerti oleh guru. Untuk aspek yang berhubungan dengan keberanian juga masih jauh dengan harapan, karena para siswa cenderung tidak mau maju ke depan untuk membacakan hasil karangannya karena malu sehingga mengganggu proses pembelajaran. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan upaya optimalisasi kemampuan guru dalam memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa ketika proses pembelajaran berlangsung agar selalu mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh tidak banyak ngobrol dengan teman, teliti dan harus rapih dalam menulis, dan harus berani tampil ke depan. Temuan lain yang diperoleh dalam pelaksanaan tindakan siklus I, berkaitan dengan pemberian penghargaan. Ternyata siswa yang mampu skor paling kecil ingin memiliki penghargaan tersebut siswa tersebut merasa kecewa kepada guru yang hanya memberikan penghargaan kepada temannya yang skornya paling tinggi. Upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka pada siklus selanjutnya penghargaan akan diberikan kepada siswa yang skornya paling tinggu dan paling kecil, sehingga siswa yang skornya paling kecil akan lebih bersemangat lagi dalam belajarnya. Hal p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Penerapan Mengarang Terbimbing.....(Nana Sutarna) 121 ini sesuai dengan pendapat Skinner (dalam Syah, 2003: 89) bahwa “...belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung progresif, proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila diberi penguatan.” Berdasarkan data hasil pelaksanaan siklus II, untuk indikator penggunaan huruf kapital mengalami peningkatan dari siklus sebelumnya yang mencapai 45% menjadi 90%. Artinya terjadi peningkatan kemampuan menulis karangan siswa berdasarkan data hasil tindakan siklus mencapai 45%. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat dari Gambar 2. Gambar 2 Perbandingan hasil belajar dari data awal, siklus I dan siklus II Pada pelaksanaan siklus II, ini guru terus memberikan bimbingan dan arahan pada siswa tentang pengungkapan ide/gagasan sesuai dengan ciri model KWL. Sehingga mampu merangsang dan menggugah potensi siswa secara optimal dalam hal penggunaan huruf kapital, penggunaan tanda baca, struktur kalimat dan kesesuaian dengan tema dan gambar dalam proses pembelajaran yang pada akhirnya mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan. Dengan disertakannya gambar seri yang berbeda-beda pada setiap siklus proses pembelajaran terasa lebih variatif sehingga tidak membosankan bagi siswa dan siswa menjadi lebih tertarik pada pembelajaran. Berdasarkan temuan-temuan penelitian sebagaimanadipaparkandiatas,menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran mengarang terbimbing model KWL dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan, hal ini dapat dilihat dari prosentase kenaikan tingkat pencapaian dari setiap indikator yang menunjukkan bahwa setelah diterapkannya pembelajaran mengarang terbimbing model KWL dalam pembelajaran menulis karangan, maka kemampuan siswa kelas IV SDN Cengal III dalam menulis karangan menjadi meningkat. SIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan yang dilakukan terhadap data hasil pelaksanaan dengan menerapkan pembelajaran mengarang dengan menggunakan Model KWL dengan menggunakan media gambar untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi pada siswa kelas IV SD Negeri Cengal III Kecamatan Japara Kabupaten Kuningan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yakni sebagai berikut: (1) Proses penerapan pembelajaran mengarang dengan menggunakan model KWL telah mampu memperbaiki praktek pembelajaran menulis karangan khususnya kemampuan dalam mengembangkan ide/ gagasan menjadi sebuah karang yang padu. Hal ini dapat dilihat dari data hasil pelaksanaan tindakan yang meningkat. Model KWL melibatkan tiga langkah dasar yang menuntun siswa dalam memberikan suatu jalan tentang apa yang sudah mereka ketahui, menentukan apa yang ingin mereka ketahui dan mengingatkan kembali apa yang telah mereka palajari. Penerapan model KWL tersebut dilakukan melalui langkah-langkah, yaitu: mengaktifkan e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN 2406-8012 122 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 3, No. 2, Desember 2016: 112 - 121 skemata awal siswa dengan membuat pernyataan- pernyataan tentang apa yang diketahui siswa tentang suatu topik yang sedang dipelajari; membuat pernyataan- pernyataan tentang apa yang ingin diketahui siswa dari suatu topik yang sedang dipelajari; membuat pernyataan-pernyataan tentang apa yang telah mereka pelajari dengan memadukan skemata awal siswa dengan informasi baru yang didapat dari topik tersebut. Melalui penerapan model KWL tersebut dapat memberikan kemampuan kepada siswa untuk memiliki pengetahuan dan pengalaman berkaitan dengan topik yang diberikan, dapat membantu siswa dalam menemukan ide/ gagasan pokok dari sebuah topik, sehingga mereka mampu mengembangkan ide/ gagasan menjadi sebuah karangan yang padu; (2) Hasil penerapan pembelajaran mengarang dengan menggunakan model KWL dengan menggunakan media gambar untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan narasi pada Siswa Kelas IV SD Negeri Cengal III Kecamatan Japara Kabupaten Kuningan, telah menunjukkan perubahan yang positif. Artinya ada perubahan yang signifikan pada setiap pelaksanaan tindakan (I sampai dengan II). Dengan demikian, pembelajaran menulis karangan dengan model KWL dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karangan narasi, dengan peningaktan hasil belajar dari data awal sebelum tindakan 15% siswa yang tuntas dan 85% siswa yang belum tuntas, siklus I yaitu 45 % siswa yang tuntas dan 55% siswa yang belum tuntas dan pada pelaksanaan siklus II yaitu 90% siswa yang tuntas dan 10% siswa belum tuntas. Sehingga dari data tersebut dapat di simpulkan bahwa pelasanaan penelitian tindakan kelas di akhiri sampai siklus II karena telah mencapai target yang telah di tentukan DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Arsyad, Azhar. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawalli Pers. Blachowicz, Camilledan Ogle, Donna. (2008). Reading Comprehension. New York: The Guilford Press. Djuanda, Dadan, dkk. (2006). Pembinaan dan Pengembangan Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: UPI PRESS. Gorys, Keraf. (2010). Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia. Karwono dan Mularsih, Heni. (2010). Belajar dan pembelajaran serta pemanfaatan sumber belajar. Jakarta: Cerdas Jaya Kristiantari, Rini. (2010). Pembelajaran Menulis di Sekolah Dasar: Menulis Deskripsi dan Narasi. Surabaya: Media Ilmu. p-ISSN 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 Penerapan Mengarang Terbimbing.....(Nana Sutarna) 121 Rahim, Farida. (2009). Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara. Rumaningsih, Endang. (2012). Cermat dan Terampil Berbahasa Indonesia. Semarang: Rasail Media Group. Sulaiman, Al-Kumai. (2013). Bahasa Indonesia Bahasa Bangsaku. Pusat Pengembangan Bahasa: UIN Walisongo. Sumiati & Asra. (2009). Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima. Syah. Wiriaatmadja, Rochiati. (2005). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda Karya.