Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 79 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 Vol. 5, No. 1, Juli 2018 PROFESI PENDIDIKAN DASAR e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 DOI: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.5397 PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR TERHADAP KEBERHASILAN IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 Apri Damai Sagita Krissandi PGSD FKIP Universitas Sanata Dharma apridamai@gmail.com PENDAHULUAN Salah satu dimensi yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan dunia pendidikan nasional di masa depan adalah kebijakan mengenai kurikulum. Kurikulum merupakan jantungnya dunia pendidikan. Untuk itu, kurikulum di masa depan perlu dirancang dan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional dan meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia (Puskur, 2007). Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (UU No.20 Tahun 2003). Agar senantiasa sesuai dengan perkembangan zaman, kurikulum senantiasa berubah. Sejak zaman Indonesia merdeka, kurikulum sudah mengalami 11 kali perubahan. Terakhir kurikulum berubah dari kurikulum KTSP menjadi Kurikulum 2013. Idealnya perubahan kurikulum direncanakan secara matang. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam perubahan kurikulum Abstract: This study aimed to describe the perception of elementary school teachers Kanisius Branch of Central Java and Yogyakarta about the success in implementing the curriculum 2013. This study was descriptive research. The subjects were 65 teachers in Central Java and Yogyakarta under the Kanisius Foundation. The data were collected through questionares and interviews. The instrument validity was assessed by triangulation methods. The data were analyzed using the descriptive analysis technique. The results of the study show that the succes in 2013th curriculum implementation were government, institution, teacher, parent and student. The success that comes from the teacher has a percentage of 27.5%. Student- generated success has a percentage of 31.2%. Successes from the government have a percentage of 15.9%. The success that comes from the institution has a percentage of 10.9%. Finally, the success that comes from parents has a percentage of 14.5%. Keywords: Perception, Implementation, Curriculum 2013, Success https://doi.org/10.23917/ppd.v1i1.5397 Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 80 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 misalnya evaluasi menyeluruh terhadap kurikulum lama, analisis kebutuhan terhadap tantangan zaman, penyusunan perangkat kurikulum, dan sosialisasi secara optimal. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Titik beratnya, bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan keterampilan proses. Permendikbud Nomor 65 tahun 2013 menyatakan bahwa pembelajaran pada jenjang sekolah dasar berdasarkan kurikulum 2013 mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. Sejalan dengan karakteristik dan cara belajar anak usia Sekolah Dasar usia 6 - 8 tahun, maka pembelajaran di Sekolah Dasar hendaknya mengusahakan suatu suasana yang aktif dan menyenangkan. Untuk itu, beberapa prinsip perlu diperhatikan oleh guru, antara lain: prinsip latar, prinsip belajar sambil bekerja, prinsip belajar sambil bermain, dan prinsip keterpaduan (Ardini, 2012: 2). Sasaran pembelajaran dalam kurikulum 2013 mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dielaborasi untuk setiap satuan pendidikan (Permendikbud Nomor 54 tahun 2013). Di dalam kurikulum 2013 dinyatakan juga bahwa penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah (Permendikbud Nomor 66/2013). Pada awal diimplementasikannya kurikulum 2013 telah menuai banyak kontroversi. Penyiapan kurikulum 2013 dinilai terlalu terburu-buru dan tidak mengacu pada hasil kajian yang sudah matang berdasarkan hasil KTSP, dan kurang memperhatikan kesiapan satuan pendidikan dan guru. Padahal kurikulum ini mencakup beberapa perubahan penting baik dari sisi substansi, implementasi, sampai evaluasi. Meskipun demikian, kurikulum 2013 tetap dilaksanakan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2013/2014. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjelaskan bahwa pada tahun 2010-2035 adalah bonus demografi bagi Indonesia dalam mempersiapkan generasi emas karena jumlah penduduk dengan usia sekolah sangat tinggi (Tim Penyusun Modul PLPG, 2013). Dalam konteks Indonesia rencana mempunyai sumbangan sebesar 20% terhadap keberhasilan suatu kebijakan, implementasi mempunyai sumbangan sebesar 60%, sisanya 20% adalah bagaimana mengendalikan implementasi (Tilaar dan Rian Nugroho, 2008: 211). Oleh karena itu, implementasi merupakan hal yang paling berat dalam keberhasilan suatu kebijakan. Hal ini dikarenakan masalah yang tidak dijumpai secara teoritis dapat muncul dalam implementasi di lapangan. Setelah satu tahun berjalan secara bertahap, kurikulum yang baru dilaksanakan secara serentak di semua satuan pendidikan mulai tahun ajaran baru 2014/2015. Sejumlah kendala Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 81 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 yang dapat ditemui dalam pelaksanaannya, antara lain terkait dengan anggaran, kesiapan pemerintah dalam menyiapkan perangkat kurikulum, kesiapan guru, sosialisasi, dan distribusi buku Risminawati dan Nurul Fadilah (2016: 53). Di antara semua daftar di atas, masalah utama yang sangat menghambat adalah kesiapan guru sebagai kunci keberhasilan implementasi kurikulum ini. Kunci keberhasilan kurikulum ini juga dipengaruhi oleh persepsi guru tentang keberhasilan implementasi kurikulum 2013. Menurut Rakhmat (2004: 14) persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan- hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan melampirkan pesan. Jadi persepsi dalam arti umum adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang akan membuat respon bagaimana dan dengan apa seseorang akan bertindak. Guru merupakan sumber daya manusia dalam implementasi kurikulum 2013. Sumberdaya manusia yang digunakan akan menentukan implementasi dan keberhasilan kebijakan. Hal ini kiranya sejalan dengan pendapat Van Meter dan Van Horn dalam Hill dan Hupe (2009: 46- 47) yang memformulasikan enam variabel yang mempengaruhi proses dan penampilan implementasi yaitu: (1) standar dan tujuan, (2) sumber daya, (3) komunikasi antar organisasi, (4) karakteristik lembaga pelaksana, (5) kondisi sosial, ekonomi, dan politik, (6) disposisi pelaksana. Kurikulum 2013 membawa perubahan mendasar peran guru dalam pembelajaran. Secara administratif, pemerintah pusat telah menyiapkan perangkat pelaksanaan pembelajaran yang tidak perlu lagi disiapkan oleh guru. Namun demikian, guru dituntut berperan secara aktif sebagai motivator dan fasilitator pembelajaran sehingga siswa akan menjadi pusat belajar. Hal ini menjadi kendala tersendiri bagi para guru karena tidak semua guru memiliki kompetensi tersebut. Selain itu, guru dituntut kesiapannya untuk melaksanakan kurikulum dalam waktu yang relatif singkat sementara perangkatnya belum disiapkan secara matang. Oleh karena itu diperlukan kerjasama seluruh stakeholder serta beberapa tahapan agar implementasi kurikulum dapat berjalan dengan baik, yaitu tahap perencanaan, tahap pengorganisasian, dan tahap pengendalian (Habiby, dkk, 2017: 180) Atas dasar uraian di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah apasaja keberhasilan yang didapatkan guru SD di Yayasan Kanisius Cabang Jawa Tengah dan Yogyakarta dalam mengimplementasikan kurikulum 2013? METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan mendeskripsikan secara luas keberhasilan guru SD Yayasan Kanisius Cabang Jawa Tengah dan Yogyakarta dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Penelitian ini dilaksanakan di Yayasan Kanisius Cabang Jawa Tengah dan Yogyakarta. Guru yayasan tersebut menjadi subyek penelitian karena sepanjang pengetahuan peneliti belum banyak penelitian berkaitan dengan keberhasilan implementasi pelaksanaan kurikulum 2013. Subyek penelitian ini terdiri atas 65 Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 82 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 orang guru SD. Obyek penelitian ini meliputi keberhasilan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan angket. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan kuesioner. Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan kriteria pemeriksaan data berupa kriteria derajat kepercayaan. Hal ini dilakukan untuk menjaga kredibilitas hasil penelitian yang dilakukan. Validasi yang digunakan untuk menjaga kredibilitas ini adalah trianggulasi. Triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Denzim dalam Moleong (2002:178), membedakan empat (4) macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan, sumber, metode, penyidik, dan teori. Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik triangulasi dengan metode, yang berarti membandingkan dan mengecek suatu informasi yang diperoleh melalui metode yang berbeda. Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari tiga jalur kegiatan yang berjalan secara simultan. Ketiga jalur tersebut meliputi: (1) reduksi data, yakni proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan- catatan tertulis di lapangan; (2) penyajian data, yakni penyajian informasi yang telah tersusun yang kemungkinan memberikan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan; dan (3) penarikan kesimpulan/verifikasi, dalam kegiatan ini peneliti mencari arti benda-benda, mencatat urutan, dan pola-pola dari permulaan pengumpulan data. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan keberhasilan guru-guru SD Kanisius dalam mengimplementasikan kurikulum 2013. Keberhasilan guru-guru SD Kanisius dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dideskripsikan dengan melihat persepsi para guru terhadap keberhasilan implementasi kurikulum 2013. Agar data survai penelitian ini mendalam secara substansial dan kontekstual maka digunakan cara analisis dari respon- respon pertanyaan terbuka yang hasilnya diinterpretasi dengan konsep-konsep yang sesuai dengan latar belakang sekolah dan guru-guru SD Kanisius. Bentuk survai berupa pertanyaan terbuka, menjadikan jawaban bervariasi. Data tentang keberhasilan-keberhasilan yang diperoleh melalui wawancara dan penyebaran angket terhadap responden menunjukkan bahwa keberhasilan yang dihadapi 65 guru-guru SD Kanisius dapat diklasifikasikan menjadi lima ranah. Pertama, keberhasilan yang berasal dari guru. Kedua, keberhasilan yang berasal siswa. Ketiga, keberhasilan yang berasal dari pemerintah. Keempat adalah keberhasilan yang berasal dari institusi. Kelima adalah keberhasilan yang berasal dari orang tua. Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 83 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 Jawaban responden mengenai sumber keberhasilan dalam setiap klasifikasi. Keberhasilan yang berasal dari guru dikatakan responden sebanyak 38 kali. Keberhasilan yang berasal dari siswa dikatakan responden sebanyak 43 kali. Keberhasilan yang berasal dari pemerintah dikatakan responden sebanyak 22 kali. Keberhasilan yang berasal dari institusi dikatakan responden sebanyak 15 kali. Terakhir, keberhasilan yang berasal dari orang tua dikatakan responden sebanyak 20 kali. Persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan pada Gambar 1. Gambar 1 memperlihatkan persentase jawaban responden pada setiap klasifikasi sumber keberhasilan. Keberhasilan yang berasal dari guru mempunyai persentase sebesar 27.5%. Keberhasilan yang berasal dari siswa mempunyai persentase sebesar 31.2%. Keberhasilan yang berasal dari pemerintah mempunyai persentase sebesar 15.9%. Keberhasilan yang berasal dari institusi mempunyai persentase sebesar 10.9%. Terakhir, keberhasilan yang berasal dari orang tua mempunyai persentase sebesar 14.5%. Berdasarkan lima klasifikasi sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 di atas, dapat diperinci kembali sebagai berikut. Pertama, keberhasilan yang berasal dari guru dapat diperinci menjadi dua klasifikasi, yaitu: 1) motivasi belajar guru; 2) koordinasi antar guru. Kedua, keberhasilan yang berasal dari siswa dapat diperinci menjadi lima klasifikasi, yaitu: 1) keaktifan siswa; 2) karakter siswa; 3) keterampilan siswa; 4) kreativitas siswa; dan 5) beban buku siswa. Ketiga, keberhasilan yang berasal dari pemerintah dapat diperinci menjadi tiga klasifikasi, yaitu: 1) variasi metode dan media pembelajaran; 2) pendekatan saintifik; dan 3) materi yang kontekstual. Keempat, keberhasilan yang berasal dari institusi dapat diperinci menjadi empat klasifikasi, yaitu: 1) penambahan jam belajar; 2) sarana dan prasarana; 3) keaktifan kepala sekolah; dan 4) lokakarya. Kelima, keberhasilan yang berasal dari orang tua dapat diperinci menjadi dua klasifikasi, yaitu: 1) komunikasi orang tua dengan sekolah; dan 2) keaktifan orang tua. 27,5 31,2 15,9 10,9 14,5 Gambar 1. Diagram Presentase Sumber-sumber Keberhasilan Kurikulum 2013 Guru Siswa Pemerintah Institusi Orang Tua Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 84 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 Jumlah jawaban responden mengenai sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari guru. Motivasi belajar guru yang semakin meningkat dikatakan responden sebanyak 27 kali. Koordinasi antar guru yang semakin efektif dikatakan responden sebanyak 11 kali. Persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan dalam gambar 2. Gambar 2 memperlihatkan persentase sumber keberhasilan yang berasal dari guru. Motivasi belajar guru yang semakin meningkat mempunyai persentase sebesar 71,1%. Koordinasi antar guru yang semakin efektif mempunyai persentase sebesar 28,9%. Jumlah jawaban responden mengenai sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari siswa. Keaktifan siswa yang semakin meningkat dikatakan responden sebanyak 28 kali. Karakter siswa yang semakin baik dikatakan responden sebanyak 5 kali. Keterampilan siswa yang semakin baik dikatakan responden sebanyak 5 kali. Kreativitas siswa dikatakan responden sebanyak 3 kali. Terakhir, beban buku yang dibawa oleh siswa semakin ringan dikatakan oleh responden sebanyak 2 kali. Persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan dalam gambar 3. 71,1 28,9 Gambar 2. Diagram Persentase Sumber-sumber Keberhasilan Dari Guru Motivasi belajar guru koordinasi antar guru 65,1 11,6 11,6 7 4,7 Gambar 3. Diagram Persentase Sumber-sumber Keberhasilan Dari Siswa Keaktifan siswa Karakter siswa Keterampilan siswa Kreativitas siswa Beban buku siswa Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 85 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 Gambar 3 memperlihatkan persentase sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari siswa. Keaktifan siswa yang semakin meningkat mempunyai persentase sebesar 65,1%. Karakter siswa yang semakin baik mempunyai persentase sebesar 11,6%. Keterampilan siswa yang semakin baik mempunyai persentase sebesar 11,6%. Kreativitas siswa mempunyai persentase sebesar 7%. Terakhir, beban buku yang dibawa oleh siswa semakin ringan dikatakan mempunyai persentase sebesar 4,7%. Jumlah jawaban responden mengenai sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari pemerintah. Variasi metode dan media pembelajaran dikatakan responden sebanyak 12 kali. Pendekatan saintifik yang menarik dikatakan responden sebanyak 3 kali. Materi pembelajaran yang kontekstual dikatakan responden sebanyak 7 kali. Persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan dalam gambar 4. Gambar 4 memperlihatkan persentase sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari pemerintah. Variasi metode dan media pembelajaran mempunyai persentase sebesar 54,5%. Pendekatan saintifik yang menarik mempunyai persentase sebesar 13,6%. Materi pembelajaran yang kontekstual mempunyai persentase sebesar 31,8%. Jumlah jawaban responden mengenai sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari institusi. Kebijakan yayasan untuk menambah jam belajar anak dikatakan responden sebanyak 1 kali. Penyediaan sarana dan prasarana dikatakan responden sebanyak 9 kali. Peran aktif kepala sekolah dikatakan responden sebanyak 2 kali. Lokakarya yang diadakan oleh institusi dikatakan responden sebanyak 3 kali. Persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan dalam gambar 5. 54,5 13,6 31,8 Gambar 4. Diagram Persentase Sumber-sumber Keberhasilan Pemerintah Variasi metode dan media pembelajaran Pendekatan saintifik Materi kontekstual Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 86 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 Gambar 5 memperlihatkan persentase sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari institusi. Kebijakan yayasan untuk menambah jam belajar anak mempunyai persentase sebesar 6,7%. Penyediaan sarana dan prasarana mempunyai persentase sebesar 60%. Peran aktif kepala sekolah mempunyai persentase sebesar 13,3%. Lokakarya yang diadakan oleh institusi mempunyai persentase sebesar 20%. Jumlah jawaban responden mengenai sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari orang tua. Komunikasi orang tua dengan sekolah yang semakin efektif dikatakan responden sebanyak 16 kali. Peran aktif orang tua dikatakan responden sebanyak 4 kali. Persentase sumber keberhasilan di atas dapat disajikan dalam gambar 6. Gambar 6 memperlihatkan persentase sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 yang berasal dari orang tua. Komunikasi orang tua dengan sekolah yang semakin efektif mempunyai persentase sebesar 80%. Peran aktif orang tua mempunyai persentase sebesar 20%. Kurikulum 2013 yang telah empat tahun diimplementasikan memiliki berbagai permasalahan. Akan tetapi, permasalahan-permasalahan tersebut sesungguhnya telah 6,7 60 13,3 20 Gambar 5. Diagram Persentase Sumber-sumber Keberhasilan Institusi Penambahan jam belajar Sarana dan prasarana Peran kepala sekolah Lokakarya 80 20 Gambar 6. Diagram Persentase Sumber-sumber Keberhasilan Orang Tua Komunikasi orang tua dengan sekolah Peran aktif orang tua Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 87 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 diupayakan solusi dari berbagai pihak. Salah satu penentu keberhasilan implementasi kurikulum 2013 adalah kesiapan guru. Kesiapan para guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dapat dilihat dari persepsi guru terhadap hambatan dan dukungan implementasi tersebut. Menurut Syaodih, (Rusman, 2009: 75) untuk mengimplementasikan kurikulum berdasarkan rancangan, dibutuhkan beberapa kesiapan, terutama kesiapan pelaksana. Sebagus apapun desain dan rancangan kurikulum yang dimiliki, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada guru. Kurikulum yang sederhana pun, apabila gurunya memiliki kemampuan, semangat, dan dedikasi yang tinggi, hasilnya akan lebih baik dari desain kurikulum yang hebat. Kotler (2000: 12) menjelaskan persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran obyek, penerimaan stimulus (input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap. Oleh karena itu, persepsi seseorang terhadap suatu hal dapat mempengaruhi sikap maupun perilakunya. Persepsi guru terhadap implementasi kurikulum 2013 merupakan cerminan kesiapan para guru menyongsong dan melaksanakan kurikulum 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 berasal dari guru, siswa, pemerintah, institusi, dan oran tua. Hal ini kiranya sesuai dengan pendapat Rusman (2009: 74) bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum sebagai berikut: dukungan dari instansi dan kepala sekolah, dukungan dari rekan sejawat guru, dukungan dari siswa dan orang tua, dan dukungan dari dalam diri guru merupakan unsur yang utama. Ketika unsur-unsur di atas menghadapi kendala dapat dipastikan akan menghambat proses implementasi suatu kurikulum. Guru sebagai ujung tombak pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam keberhasilan sebuah kurikulum. Pemerintah perlu memberikan perhatian terhadap kesiapan guru dalam implementasi kurikulum 2013. Berdasarkan hasil wawancara juga ditemukan beberapa guru yang mulai memiliki persepsi negatif terhadap implementasi kurikulum 2013, mereka memilih untuk kembali menerapkan kurikulum 2006 karena diangap lebih mudah diimplementasikan. Persepsi demikian muncul setelah pemerintah memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk lanjut pada kurikulum 2013 atau kembali pada kurikulum 2006. Hal ini menjadi polemik karena terdapat dua kurikulum yang berjalan secara bersamaan. Pemerintah perlu segera mengambil sikap atas fenomena tersebut. Persepsi guru yang positif perlu dibangun agar optimisme majunya pendidikan di Indonesia dapat dimiliki bersama. Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 88 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 SIMPULAN Persepsi guru terhadap keberhasilan implementasi kurikulum 2013 dipengaruhi faktor guru, siswa, pemerintah, institusi, dan orang tua. Berdasarkan lima klasifikasi sumber keberhasilan implementasi kurikulum 2013 di atas, dapat diperinci kembali sebagai berikut. Pertama, keberhasilan yang berasal dari guru dapat diperinci menjadi dua klasifikasi, yaitu: 1) motivasi belajar guru; 2) koordinasi antar guru. Kedua, keberhasilan yang berasal dari siswa dapat diperinci menjadi lima klasifikasi, yaitu: 1) keaktifan siswa; 2) karakter siswa; 3) keterampilan siswa; 4) kreativitas siswa; dan 5) beban buku siswa. Ketiga, keberhasilan yang berasal dari pemerintah dapat diperinci menjadi tiga klasifikasi, yaitu: 1) variasi metode dan media pembelajaran; 2) pendekatan saintifik; dan 3) materi yang kontekstual. Keempat, keberhasilan yang berasal dari institusi dapat diperinci menjadi empat klasifikasi, yaitu: 1) penambahan jam belajar; 2) sarana dan prasarana; 3) keaktifan kepala sekolah; dan 4) lokakarya. Kelima, keberhasilan yang berasal dari orang tua dapat diperinci menjadi dua klasifikasi, yaitu: 1) komunikasi orang tua dengan sekolah; dan 2) keaktifan orang tua. DAFTAR PUSTAKA Ardini, Pupung Puspa. 2012. “Pengaruh Dongeng dan komunikasi Terhadap Perkembangan Moral Anak Usia 7-8 Tahun”. Jurnal Pendidikan Anak, Vol. 1, No. 1. https://journal.uny.ac.id/index.php/jpa/article/view/2905https://journal.uny.ac.id/ind ex.php/jpa/article/view/2905 Habiby, Wahdan Najib, dkk. 2017. “Manajemen Adaptasi Pembelajaran Kurikulum 2013 Ke Kurikulum 2006 (KTSP) SDN Sondakan Surakarta. Jurnal Profesi Pendidikan Dasar. Vol. 4, No. 2, Desember, hlm 180-189. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article /view/5555/3669 Hill, M. and Hupe P. (2009). Implementing Public Policy. California: Sage Publication. Inc. Kotler, Philip. (2000). Marketing Management: Edisi Milenium, International Edition. New Jersey: Prentice Hall. International, Inc. Kristiansari, Rini. (2014). “Analisis Kesiapan Guru Sekolah Dasar dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Tematik Integratif Menyongsong Kurikulum 2013”. Jurnal Pendidikan Indonesia, Universitas Pendidikan Ganesha, Vol. 3, No. 2 Moleong, L.J. (2002). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya http://journals.ums.ac.id/index.php/ Persepsi Guru Sekolah......(Apri Damai SK) 89 JPPD, 5, (1), hlm. 79 - 89 Murwati, Hesti. (2013). “Pengaruh Sertifikasi Profesi Guru Terhadap Motivasi Kerja Dan Kinerja Guru Di Smk Negeri Se-Surakarta”. Jurnal Pendidikan Bisnis dan Ekonomi (BISE), 1 (1). hlm. 1-10. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Pendidik. Permendikbud Nomor 54 tahun 2013 Tentang Standar Kompetensi Lulusan. Permendikbud Nomor 65 tahun 2013 Tentang Standar Proses. Permendikbud Nomor 66 tahun 2013 Tentang Penilalian. Permendikbud Nomor 67 tahun 2013 tentang struktur kurikulum SD-MI. Puskur. (2007). Gagasan kurikulum masa depan. Jakarta: Balitbang Puskur Depdiknas. Rakhmat, D. 2004. Psikologi Komunikasi. Yogyakarta: Kanisius Risminawati dan Nurul Fadhila. 2016. “Persepsi Guru Terhadap Implementasi Pembelajaran Tematik Integratif Kurikulum 2013 di SD Muhammadiyah 24 Surakarta”. Profesi Pendidikan Dasar Vol. 3, No. 1, Juli 2016 : 52 – 58. http://journals.ums.ac.id/ index.php/ppd/article/view/2604 Rusman, (2009). Manajemen Kurikulum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Sanjaya, Wina. (2010). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana. Sari, Nengah Cipta. (2015). “Persepsi Guru terhadap Pelaksanaan Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran Sejarah”. Widya Winayata: Jurnal Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha, Vol. 3, No. 1 Supianto, Anton. (2014). “Persepsi Guru IPS Terhadap Kurikulum 2013 (Studi Kasus Pada SMP Negeri 10 Pontianak)”. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, Vol. 3, No. 8 Tilaar& Riant Nugroho. (2008). Kebijakan Pendidikan: Pengantar Untuk Memahami Kebijakan Pendidikan Sebagai Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tim Pengembang Modul PLPG. (2013). Modul PLPG. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. UU No.20 Tahun 2003. (2003). Sistem Pendidikan Nasional. Yamin, Moh. (2012). Panduan Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan. Yogyakarta: Diva Press. http://journals.ums.ac.id/