p-ISSN: 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 180 Manajemen Adaptasi Pembelajaran........(Wahdan Najib Habiby, dkk) MANAJEMEN ADAPTASI PEMBELAJARAN KURIKULUM 2013 KE KURIKULUM 2006 (KTSP) SDN SONDAKAN SURAKARTA Wahdan Najib Habiby1, Nita Arum S2, Myshell Nuraini3, Firnie Zonna AS4, Dwinita S5 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammdiyah Surakarta 1WN.Habiby@ums.ac.id; 2Nita.AS@student.ums.ac.id; 3Myshell.N@student.ums.ac.id; 4Firnie.ZAS@student.ums.ac.id; 5Dwinita.Sari@student.ums.ac.id Abstract Education is one of the most important things in determining the progress of a nation. Indonesian government always strives to develop education, such as the curriculum which always developed and change. Recently in Indonesia has experienced a shift from a curriculum of 2006 (KTSP) to Curriculum 2013. Both of the curriculum has a lot of significant differences. Unfortunately when the materials of the new curriculum for elemantary school uncomplate, the goverment took decision to implementation in the school. So there is two kind of curriculum implementing in one school, and its terrible. The problem in implementing of this new curriculum saw in the SDN Sondakan 11 Surakarta where grade 1 and 4 using curriculum 2013 and other grade using curriculum 2006. When the student grade 1 moving to second grade they got problem and need adaptation in teaching learning proces. With the management of curriculum adaptation is expected that students can follow the learning activities with two different curriculum well. The purpose of the curriculum adaptation management is that students can easily adapt to the implementation of the 2013 curriculum in class I and the implementation of the KTSP curriculum in class II.It can be concluded that the management of adaptation of curriculum 2013 to KTSP in the first grade students of SDN Sondakan Surakarta effectively enables students to adjust the curriculum changes that have been implemented by the school. Keywords: Learning Adaptation, Learning Management, Curriculum PENDAHULUAN Pengembangan terhadap suatu kurikulum perlu dilakukan mengingat adanya berbagai tantangan yang sedang dan akan dihadapi, baik tantangan internal maupun tantangan eksternal. Tantangan internal terkait dengan kondisi tuntutan kebutuhan pendidikan yang mengacu pada 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan sebagaimana tertuang dalam Bab 2 Pasal 2 Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan meliputi: standar pengelolaan, standar biaya, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar isi, standar proses, standar penilaian, dan standar kompetensi lulusan. Selain itu, terdapat tantangan yang berasal dari kehidupan sosial kemasyarakatan suatu bangsa akibat perkembangan penduduk usia produktif. Hal-hal yang dapat dikembangkan dalam standar pengelolaan antara lain Manajemen Berbasis Sekolah. Rehabilitasi gedung sekolah dan penyediaan laboratorium serta perpustakaan sekolah. Dalam mencapai Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, upaya yang dilakukan antara lain adalah peningkatan kualifikasi dan sertifikasi guru, pembayaran tunjangan sertifikasi, serta uji kompetensi dan pengukuran kinerja guru. Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, dan Standar Kompetensi Lulusan merupakan standar yang terkait dengan kurikulum yang mailto:WN.Habiby@ums.ac.id mailto:Nita.AS@student.ums.ac.id mailto:Myshell.N@student.ums.ac.id mailto:Firnie.ZAS@student.ums.ac.id mailto:Dwinita.Sari@student.ums.ac.id e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 4, No. 2, Desember 2017: 180 – 189 181 perlu secara terus menerus dikaji agar peserta didik yang melalui proses pendidikan dapat memiliki kompetensi yang telah ditetapkan. Terkait dengan perkembangan penduduk, saat ini jumlah penduduk Indonesia usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia tidak produktif (anak-anak berusia 0-14 tahun dan orang tua berusia 65 tahun ke atas). Jumlah penduduk usia produktif ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70% (Slameto, 2015: 1-9). Artinya, pada tahun 2020-2035 sumber daya manusia (SDM) Indonesia usia produktif akan melimpah. SDM yang melimpah, dan apabila memiliki kompetensi dan keterampilan dapat menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya. Namun apabila tidak memiliki kompetensi dan keterampilan tentunya akan menjadi beban pembangunan. Oleh sebab itu tantangan besar yang dihadapi adalah bagaimana mengupayakan agar SDM usia produktif yang melimpah dapat ditransformasikan menjadi SDM yang memiliki kompetensi dan keterampilan melalui pendidikan agar tidak menjadi beban. Tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan antara lain berkaitan dengan tantangan masa depan, kompetensi yang diperlukan di masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan pedagogi, serta berbagai fenomena ocialt yang mengemuka. Tantangan masa depan antara lain terkait dengan arus globalisasi dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi dan informasi, kebangkitan industri kreatif dan budaya, dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional. Perubahan kurikulum yang diterapkan dalam sistem pendidikan nasional Indonesia mengalami perjalanan yang unik, salah satunya dapat dirasakan dalam proses pergantian kurikulum KTSP (2006) menjadi kurikulum 2013 yang menggunakan konsep tematik integratif untuk jenjang sekolah dasar. Melalui Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 secara resmi pemerintah menetapkan implementasi kurikulum 2013, dan dipertegas lagi melalui Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah dan Permendikbud Nomor 67 Tahun 2013. Padahal kurikulum KTSP baru dilaksanakan kurang dari tujuh tahun, dan belum dapat diukur tingkat keberhasilan maupun kegagalannya. Implementasi kurikulum 2013 melalui peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan tersebut menimbulkan pro dan kontra dikalangan akademisi, praktisi, maupun masyarakat pendidikan di Indonesia. Risminawati dan Nurul Fadilah (2016: 53) menyatakan bahwa pada umumnya implementasi kurikulum 2013 memiliki banyak permasalahan, diantaranya adalah (1). Kurangnya pelatihan tentang kurikulum 2013. (2) Pada saat pelatihan, penjelasan Kurikulum 2013 yang diberikan oleh pembimbing satu dengan yang lain berbeda-beda sehingga menimbulkan kebingungan. (3) Distribusi buku yang terlambat (4) Materi dalam buku siswa terlalu dangkal, sehingga perlu adanya buku pendamping lain atau sumber belajar lain untuk menunjang pembelajaran. Permasalahan yang lain dapat terlihat dari laporan Hidayati, YM dan Titik Septiyani (2015: 56-57) bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 di Sekolah Dasar se-Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar diimplementasikan untuk kelas 1, 2, 4, dan 5. Meskipun para guru sudah memiliki pemahaman dan persiapan melaksanakan kurikulum baru, namun mereka masih kesulitan dalam melakukan penilaian otentik p-ISSN: 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 182 Manajemen Adaptasi Pembelajaran........(Wahdan Najib Habiby, dkk) yang memiliki varibel sangat banyak. Berdasarkan observasi di SDN Sondakan Surakarta menerapkan kurikulum 2013 hanya pada siswa kelas 1 dan 4 saja. Hal tersebut dilakukan mengingat SDM yang faham tentang imlementasi kurikulum 2013 terbatas dan belum lengkapnya instrumen pembelajaran yang disusun pemerintah. Minimnya pemahaman dari SDM yang dimiliki sebuah sekolah juga tercermin dalam penelitian Abduh (2015: 123) di SDN Pujokusumo 1 Yogyakarta karen amayoritas guru masih berorientasi terhadap aspek pengetahuan dibandingkan dengan aspek holistik sebagaimana konsep yang terdapat dalam kurikulum 2013. Apabila ditelusuri lebih jauh, nampaknya hampir seluruh sekolah dasar di Indonesia belum sepenuhnya menerapkan kurikulum 2013 pada tiap tingkatan kelas. Fenomena ini menjelaskan bahwa sesungguhnya sejak tahun 2013 mayoritas sekolah dasar di Indonesia menerapkan kurikulum ganda. Tentunya permasalahan-permasalahan teknis akan muncul seiring dengan perubahan kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran siswa. Misalkan kelas 1 menggunakan kurikulum 2013, kemudian naik kelas 2 menggunakan kurikulum KTSP. Hal tersebut memerlukan adaptasi tersendiri khususnya bagi siswa yang menjalaninya. Secara konseptual Andriani (2015:89-90) mengatakan bahwa kurikulum 2013 dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) memiliki perbedaan dalam sistem pembelajaran. Dimana Kurikulum Satuan Pendidikan pembelajarannya dilaksanakan masih terpisah-pisah, belum mengaktifkan siswa serta lebih menekankan hasil daripada proses pembelajaran. Sedangkan kurikulum 2013 dilaksanakan secara tematik integratif dengan menggunakan pendekatan saintifik dan penilaian otentik. Kegiatan belajar dengan pendekatan saintifik, guru mengajak siswa mengamati, menanya, mengumpulkan Informasi, mengasosiasi/ mengolah informasi dan mengkomunikasikan terkait dengan materi yang dipelajari. Adapun penilaian autentik, guru menilai proses dan hasil belajar siswa. Hasil penilaian tersebut, kemudian dideskripsikan berbentuk uraian. Dengan demikian jika dilihat dari sisi kuantitas jam dan mata pelajaran pembelajaran, jumlah jam belajar pada kurikulum KTSP lebih sedikit yaitu 6 jam pelajaran dengan mata pelajaran lebih banyak yaitu 12 mata pelajaran. Sedangkan pada Kurikulum 2013 jumlah jam belajar lebih banyak yaitu 10 jam pelajaran dengan mata pelajaran lebih sedikit yaitu 8 mata pelajaran. Dilihat dari sisi pendekatan pembeljarannya, pada kurikulum KTSP menggunakan pendekatan mata pelajaran sedangkan untuk kurikulum 2013 pendekatan inquiry. Dilihat dari sisi proses pembelajaran, dalam kurikulum 2013 proses pembelajarannya lebih berpusat pada siswa, sedangkan kurikulum KTSP proses pembelajarannya lebih berpusat pada guru. Sedangkan jika dilihat dari sisi penilaian, penilaian Kurikulum 2013 lebih spesifik yaitu menekankan pada tiga aspek ranah kompetensi yaitukompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta sistem pensekoran dengan angka 1-4, sedangkan Kurikulum KTSP lebih menekankan pada aspek pengetahuan saja dengan system pensekoran 1-100. Perbedaan-perbedaan konseptual antara kurikulum KTSP dengan kurikulum 2013 yang demikian mencolok jelas dapat menimbulkan kebingungan dan kekagetan siswa apabila kedua konsep tersebut diberikan secara bergantian setelah naik kelas, apalagi jika yang mengalami adalah siswa kelas satu e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 4, No. 2, Desember 2017: 180 – 189 183 sekolah dasar. Siswa kelas satu mempunyai tahap berpikir konkrit, tahap berpikir konkrit merupakan tahap berpikir pada tingkat paling sederhana di Sekolah Dasar. Pada tahap ini siswa kelas 1 perlu mendapatkan pembimbingan guru tahap demi tahap secara terus menerus. Siswa kelas 1 masih tergantung pada kehadiran benda-benda konkrit sebagai alat peraga dan media pembelajaran, serta perlu adanya aktivitas bermain sambil belajar di kegiatan belajar mengajar setiap harinya. Banyaknya perbedaan yang spesifik membuat siswa sulit menyesuaikan diri terhadap perubahan kurikulum yang mereka rasakan. Oleh karena itu dibutuhkan manajemen yang terencana dari pihak sekolah, agar kendala-kendala yang akan muncul dapat diminimalisir tanpa melanggar ketentuan pemerintah terkait pemberlakuan kurikulum nasional. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini ditujukan untuk mengetahui sistem managemen adaptasi pembelajaran dari kurikulum 2013 ke kurikulum KTSP pada siswa kelas 1 di SDN Sondakan Surakarta. Mengingat SDN Sondakan Surakarta merupakan salah satu dari 4 sekolah yang dijadikan pilot project pendidikan dasar di Surakarta yang selama ini memiliki prestasi yang cukup baik. METODE PENELITIAN Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode observasi dan wawancara. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung dan wawancara kepada pimpinan sekolah maupun guru kelas 1 dan 2 sebagai pihak-pihak yang terlibat secara langsung terhadap perubahan implementasi kurikukum. Observasi dilakukan untuk menggali informasi dalam bentuk data-data mengenai penerapan dua kurikulum (kurikulum 2013 dan KTSP) berserta manajemen adaptasi kurikulumnya. Penelitian ini dilakukan di SDN Sondakan no. 11 Laweyan Kota Surakarta. selama dua bulan yaitu pada bulan Agustus dan September 2017. HASIL DAN PEMBAHASAN Penerapan kurikulum 2013 di SDN Sondakan Surakarta hanya kepada siswa kelas 1 dan siswa kelas 4. Sedangkan siswa kelas 2, 3, 5, dan 6 diberlakukan kurikulum KTSP. Perbedaan kurikulum KTSP dengan Kurikulum 2013 terletak pada: 1) jumlah jam belajar dan jumlah mata pelajaran Jumlah jam belajar pada kurikulum KTSP lebih sedikit yaitu 6 jam pelajaran dan mata pelajaran lebih banyak yaitu 12 mata pelajaran, sedangkan pada Kurikulum 2013 jumlah jam belajar lebih banyak yaitu 10 jam pelajarn sedangkan mata pelajaran lebih sedikit yaitu 8 mata pelajaran; 2) Pendekatan pembelajaran, Pendekatan pembelajaran pada kurikulum KTSP menggunakan pendekatan mata pelajaran sedangkan untuk kurikulum 2013 pendekatan inquiry 3) proses pembelajaran, dalam kurikulum 2013 proses pembelajarannya lebih berpusat pada siswa, sedangkan kurikulum KTSP proses pembelajarannya lebih berpusat pada guru dan 4) Penilaian, perbedaan paling mencolok diantara kurikulum 2013 dan KTSP adalah dibagian penilaiannya. Penilaian Kurikulum 2013 lebih spesifik yaitu menekankan pada tiga aspek ranah kompetensi diantaranya kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta system pensekoran dengan angka 1-4, p-ISSN: 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 184 Manajemen Adaptasi Pembelajaran........(Wahdan Najib Habiby, dkk) sedangkan Kurikulum KTSP lebih menekankan pada aspek pengetahuan saja dengan sistem pensekoran 1-100. Khususnya siswa kelas 1 yang naik ke kelas 2. Masih berada pada tahap berpikir konkrit. Pembelajaran menggunakan kurikulum 2013 lebih pas diberikan kepada siswa kelas 1 dan 2, karena mereka sangat membutuhkan alat peraga dan bimbingan guru secara agar pembelajaran menyenangkan / belajar sambil bermain. Pada kenyataannya, ketika naik kelas 2, mereka hasrus mengalami perubahan kurikulum ke KTSP. Perubahan yang sangat signifikan dirasakan disini, yang menekankan pada pengetahuan anak, guru di dalam pembelajaran selalu memberikan materi dengan kompetensi dasar yang harus dipenuhi setiap pertemuannya. Jelas sangat berbeda sekali penerapan dalam praktek pembelajaran. Menurut James A.F Stoner (2008) Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumua sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Mulayu S.P Hasibuan (2000) manajemen adalah proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai satu tujuan. Menurut Soeharto Heerdjan (1987), Adaptasi adalah usaha atau perilaku yang tujuannya mengatasi kesulitan dan hambatan. Menurut Mustofa Fahmi Adaptasi adalah proses dinamika yang bertujuan untuk menggubah kelakuan seseorang agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara dirinya dan perubahan di sekitarnya. Gerungan (1996) menyebutkan bahwa “Penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri)”. Jadi dapat disimpulkan bahwa adaptasi adalah suatu perilaku untuk mengatasi kesulitan dan hambatan serta bertujuan untuk mengatasi dinamika perubahan yang terjadi di sekitar juga mengubah situasi sekitar menjadi seperti yang diinginkan. Menurut UU No. 20 Tahun 2003 Kurikulum merupakan seperangkat rencana & sebuah pengaturan berkaitan dengan tujuan, isi, bahan ajar & cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan nasional. Sudjana (2005) mengatakan, kurikulum merupakan niat & harapan yang dituangkan kedalam bentuk rencana maupun program pendidikan yang dilaksanakan oleh para pendidik di sekolah. Kurikulum sebagai niat & rencana, sedangkan pelaksaannya adalah proses belajar mengajar. Yang terlibat didalam proses tersebut yaitu pendidik dan peserta didik. Harsono (2005) Mengungkapkan bahwa kurikulum ialah suatu gagasan pendidikan yang diekpresikan melalui praktik. Pengertian kurikulum saat ini semakin berkembang, sehingga yang dimaksud dengan kurikulum itu tidak hanya sebagai gagasan pendidikan, namun seluruh program pembelajaran yang terencana dari institusi pendidikan nasional. Jadi dapat disimpulkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang tujuan, isi, bahan ajar, serta cara penyelenggaraan dalam bentuk praktik kegiatan belajar yang dilaksanakan pendidik di sekolah. Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen adaptasi kurikulum adalah suatu proses perencanaan, pengendalian, dan pengorganisasian, SDM e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 4, No. 2, Desember 2017: 180 – 189 185 demi tujuan mengatasi dinamika perubahan yang terjadi di sekitar yang berupa seperangkat rencana dan pengaturan tentang tujuan, isi, bahan ajar, serta cara penyelenggaraan dalam bentuk praktik kegiatan belajar yang dilaksanakan pendidik di sekolah. Manajemen/pengelolaan adaptasi pelaksanaan pembelajaran menggunakna kurikulum 2013 ke kurikulum KTSP di SDN Sondakan Surakarta dilakukan dengan beberapa tahap diantaranya perencanaan, pengorganisasian, pengendalian sumber daya manusia (kepala sekolah, guru, staff/karyawan dan siswa). Penerapan manajemen adaptasi pada implementasinya kurikulum 2013 ke KTSP mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihan manajemen adaptasi kurikulum: 1. Dapat membuat kepala sekolah menyiapkan berbagai strategi pengelolaan sumber daya sekolah dengan memanfaatkan penerapan adaptasi kurikulum ini guna menciptakan iklim belajar yang kondusif sehingga tercipta sekolah yang berkualitas dan unggul 2. Dapat membuat guru semakin inisiatif dan kreatif di dalam pembelajaran hal ini tercermin lewat inovasi guru dalam menerapkan metode, model, pemdekatan, maupun strategi pembelajaran tidak hanya itu saja guru juga dapat termotivasi dalam menciptakan sebuah alat peraga / media baru yang bermanfaat bagi peserta didik 3. Dapat membuat peserta didik memiliki pengalaman belajar yang lebih dengan merasakan dua kegiatan belajar mengajar yang sangat berbeda karakteristiknya, serta meningkatkan pola pikir siswa yang berbeda karena adanya kombinasi dari dua system belajar yang berbeda 4. Dapat membuat orangtua siswa lebih mengapresiasi pihak sekolah, sehingga muncul kepercayaan lebih dari orang tua untuk mempercayakan anaknya pada pihak sekolah karena menganggap sekolah dapat membuat anak mereka menjadi pribadi yang berkualitas tinggi 5. Dapat membuat masyarakat memiliki pemahaman lebih tentang pentingnya sekolah bagi anak karena masyarakat sudah mengetahui bahwa sekolah mempunyai sebuah system penerapan kebijakan pendidikan yang menjadi terobosan baru untuk meningkatkan kualitas diri pada anak mereka setelah lulus nantinya. Kelemahan manajemen adaptasi kurikulum: 1. Pada beberapa guru yang belum sepenuhnya memahami kurikulum baru dapat membuat guru seutuhnya tidak dapat mengoptmalkan perannya sebagai fasilitator dalam pembelajaran. 2. Perubahan pada sistem penilaian yang awalnya bertumpu pada tiga ranah kompetensi menjadi ranah kompetensi pengetahuan saja ataupun sebaliknya menjadikan guru sedikit kesulitan dalam penerapannya. 3. Kesulitan pada dana serta waktu yang digunakan guru dalam menerapkan strategi, metode, pendekatan atau model maupun waktu yang digunakan guru untuk membuat alat peraga / media Maka dapat disimpulkan bahwa kelebihan manajemen adaptasi lebih banyak dibandingkan dengan kelemahannya. Tujuan manajemen adaptasi kurikulum sangat tepat p-ISSN: 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 186 Manajemen Adaptasi Pembelajaran........(Wahdan Najib Habiby, dkk) karena siswa kelas rendah dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan penerapan dua kurikulum dengan karakteristik yang sangat berbeda sehingga manajemen adaptasi kurikulum sangatlah cocok diterapkan pada sekolah dasar khususnya pada siswa kelas I SDN Sondakan Surakarta. Penerapan Manajemen Adaptasi Kurikulum 2013 Ke KTSP Pada Siswa Kelas I SDN Sondakan Surakarta. Memperhatikan situasi di SDN Sondakan Surakarta, maka implementasi manajemen adaptasi kurikulum dilaksankan melalui tga tahapan 1. Tahap Perencanaan Kepala sekolah sangat berperan penting dalam mengatur perencanaan ini. Berikut beberapa upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah SDN Sondakan pada tahap perencanaan manajemen adaptasi sekolah: a. Kepala sekolah merencanakan pengadaan rapat dengan guru-guru terkait dengan penerapan dua kurikulum di SDN Sondakan Surakarta guna memperkuat pemahaman guru dalam menerapkan kurikulum yang berbeda pada kelas tertentu khususnya kelas I dan kelas II b. Kepala sekolah merencanakan pengadaan rapat bersama guru beserta wali murid tentang diadakannya penerapan dua kurikulum di SDN Surakarta, dalam rapat tersebut wali murid diberi pemahaman akan karakteristik dua kurikulum yang berbeda serta kelebihan yang dimiliki tiap-tiap kurikulum juga pengaruhnya pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap anak. c. Kepala sekolah juga merencanakan pemberian penyuluhan pada masyarakat sekitar melalui tokoh masyarakat bahwa sekolah akan menggunakan dua kurikulum yang berbeda. Sehingga tokoh masyarakat dapat mensosialisasikan kepada warganya untuk mengupayakan persiapan anak mereka dalam menempuh dua kurikulum berbeda di Sekolah Dasar kelak. d. Kepala sekolah juga merencanakan program pada akhir semester genap bagi para siswa khusunya kelas I untuk menghadapi kurikulum baru yang notabennya memiliki karakteristik berbeda pada setiap aspeknya. Program ini berupa pengenalan mata pelajaran baru, buku modul baru, serta cara pengajaran baru oleh guru. 2. Tahap Pengorganisasian Tahap pengorganisasian merupakan tahap dimana pengelompokan berbagai sumber daya sekolah secara benar guna mendukung kelancaran dalam program manajemen adaptasi kurikulum 2013 ke KTSP pada siswa kelas I SDN Sondakan Surakarta. Misalnya kepala sekolah beserta guru mengelola dana dari pemerintah dan dana sekolah sendiri guna membuat media / alat peraga yang diterapkan pada masing-masing kelas yang mempunyai kurikulum yang berbeda. 3. Tahap Pengendalian Sumber Daya Manusia Tahap pengendalian sumber daya manusia ini berupa upaya pengarahan guru, siswa, beserta warga sekolah untuk bersama- sama bekerjasama untuk mendukung upaya pengelolaan adaptasi dari penerapan kurikulum di SDN Sondakan. Upaya tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam memperkuat perencanaan serta pengorganisasian yang e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 4, No. 2, Desember 2017: 180 – 189 187 telah diterapkan. Pengendalian Sumber Daya Manusia sendiri terdiri dari beberapa tahap antara lain sebagai berikut: a. Pengendalian terhadap Guru Pengendalian terhadap guru disini, guru diarahkan untuk mengelola kelas dengan baik. Pengelolaan kelas yang dilakukan oleh guru dikembangkan melalui inisiatif dan inovasi gruru sendiri. Apalagi kita tahu siswa kelas I masih dalam tahap berpikir konkret. Dalam mengelola kelas guru diharapkan mampu menerapkan kurikulum 2013 dengan baik dalam pembelajaran sehari-hari dengan tidak lupa memberikan sebuah inovasi metode maupun strategi pembelajaran yang baru untuk meningkatkan antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran, kemudian guru juga diharapkan membuat media / alat peraga yang menarik dan bermanfaat agar dalam menerima materi siswa lebih cepat paham serta melekat dalam daya ingat siswa secara terus menerus. Guru diharapkan agar selalu memprioritaskan pembelajaran berpusat pada siswa walaupun untuk kelas I lebih sederhana Dalam pembelajaran guru diarahkan untuk lebih menyisipkan karakter-karakter bagi siswa lewat pembelajaran menyenangkan misalnya saja dari dongeng yang dibacakan oleh guru, siswa dapat memetik pembelajaran dari dongeng tersebut dan belajar karakter mana yang dapat mereka tiru. Penerapan nyanyian di sela-sela pemberian materi juga sangat diperlukan untuk menambah keceriaan dan antusias siswa juga mencegah kebosanan dalam mengikuti pembelajaran. Tidak hanya sampai disitu guru juga diharapkan dapat memperkenalkan pembelajaran berbasis kurikulum KTSP sebagai upaya mempersiapkan siswa menghadapi kurikulum baru dikelas selanjutnya (kelas II) b. Pengendalian terhadap siswa Pengendalian terhadap siswa berupa kegiatan pengarahan dan pembimbingan kepada siswa dalam penyesuaian kurikulum baru. Kegiatan ini dilakukan di sela-sela pembelajaran dan pada semester dua akhir. Guru membimbing siswa dalam beberapa pertemuan, guru mencoba menerapkan pembelajaran berbasis KTSP dengan mengutamakan pada pengetahuannya.Dengan diadakan pembekalan dalam kegiatan ini otomatis siswa kelas I dapat dengan mudah menyesuaikan diri terhadap penerapan dua kurikulum di sekolah. c. Pengendalian terhadap warga sekolah Pengendalian terhadap warga sekolah merupakan pengarahan kepada segenap warga sekolah termasuk staff dan karyawan untuk ikut andil dalam mensukseskan program manajemen adaptasi kurikulum 2013 ke KTSP. Demi kesuksesan program ini maka semua warga sekolah harus bekerja secara optmal sehingga hasil yang didapatpun bisa maksimal. Contoh partisipasi warga sekolah salah satunya adalah kepala sekolah, guru, selalu aktif dalam menyelenggarakan rapat dan sosialisasi kepada wali murid dan warga sekitar sekolah, staff beserta karyawan ikut andil dalam menyiapkan berbagai keperluan dalam menyelenggarakan rapat tersebut. Pengaruh Penerapan Manajemen Adaptasi Kurikulum di Sekolah Pada penerapan manajemen Adaptasi Kurikulum 2013 ke KTSP pada siswa kelas I p-ISSN: 2406-8012 e-ISSN: 2503-3530 188 Manajemen Adaptasi Pembelajaran........(Wahdan Najib Habiby, dkk) yang telah diterapkan di SDN Sondakan no. 11 Surakarta, tedapat dampak / pengaruhn yang signifikan. Pengaruh tersebut dapat dijabarkan antara lain: a. Pola pikir siswa selalu berkembang karena adanya kombinasi dari pembelajaran yang berbeda karakteristik. Tidak hanya itu siswa menjadi lebih kritis, pengetahuan siswa bertambah luas, penanaman karakter lebih kuat karena adanya penanaman karakter di sela-sela pembelajaran yang dilakukan oleh guru. b. Hasil belajar dan prestasi siswa meningkat baik pada akademik maupun non akademiknya. c. Dalam penilaian guru lebih spesifik dalam menilai dari ketigaranah tersebut baik ranah pengetahuan, sikap, maupun keterampilan siswa. d. Peningkatan kompetensi guru baik kompetensi social, professional, maupun pedagogic. e. Kepala sekolah semakin termotivasi untuk terus memajukan dan mengembangkan sekolah lewat perencanaan strategi memanajemenkan sumber daya sekolah. f. Meningkatkan kerjasama antar warga sekolah karena mempunyai tujuan yang sama yaitu membuat sekolah menjadi unggul. g. Membuat siswa mudah menyesuaikan diri apabila ada pergantian kurikulum yang baru yang telah dicanangkan pemerintah h. Membuat orangtua selalu termotivasi untuk bekerjasama dengan guru dalam tujuan mengembangkan potensi siswa baik akademik maupun non akademik i. Dapat mencetak generasi yang cerdas, berprestasi, kreatif, inovatif, dan cemerlang j. Menciptakan sekolah yang nyaman, berkualitas, dan eksis dipandang masyarakat luas Dari uraian diatas dapat terlihat bahwa penerapan kurikulum ganda di sekolah tidak selalu memberikan efek negatif. Selama pengelolaan pelaksanaan kurikulum dikelola dengan baik maka dapat berimplikasi positif bagi pembelajaran maupun bagi siswa. SIMPULAN DAN SARAN Penerapan dua kurikulum di sekolah mempunyai berbagai manfaat serta kelebihan tersendiri. Akan tetapi penerapan dua kurikulum di sekolah ini tidak serta merta mudah untuk dijalankan oleh siswa. SDN Sondakan Surakarta yang telah menerapkan manajemen adaptasi kurikulum 2013 ke KTSP pada siswa kelas I dengan tujuan agar siswa dapat dengan mudah beradaptasi dengan penerapan kurikulum 2013 di kelas I dan penerapan kurikulum KTSP di kelas II. Dalam menjalankan program manajemen adaptasi kurikulum ini perlu adanya tahapan / proses sehingga dapat berjalan dengan baik, tahap itu dibedakan menjadi tahap perencanaan, pengorganisasian, dan tahap pengendalian. Tahapan-tahapan tersebut perlu keterlibatan dan kerjasama antara kepala sekolah, guru, siswa, staff dan karyawan beserta seluruh warga sekolah. Secara umum manajemen adaptasi kurikulum 2013 ke KTSP pada siswa kelas I yang diterapkan SDN Sondakan Surakarta secara efektif membuat siswa dapat menyesuaikan perubahan kurikulum yang telah diterapkan sekolah. e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 4, No. 2, Desember 2017: 180 – 189 189 DAFTAR PUSTAKA Abduh, Muhammad. 2015. Pengembangan Media Pembelajaran Tematik-Integratif Berbasis Sosiokultural Bagi Siswa Kelas IV Sekolah Dasar”. Jurnal Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 2, No. 2, Desember 2015. hlm.87 – 94. hlm. 121-132. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/1647 Hidayati, Yulia Maftuhah dan Titik Septiyani. 2015. “Studi Kesiapan Guru Melaksanakan Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran Berbasis Tematik Integratif Di Sekolah Dasar Se-Kecamatan Colomadu Tahun Ajaran 2014/2015”. Jurnal Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 2, No. 1, Juli 2015, hlm. 49 – 58. journals.ums.ac.id/index.php/ppd/ article/view/1494 Indriani, Fitri. 2015. “Kompetensi Pedagogik Mahasiswa Dalam Mengelola Pembelajaran Tematik Integratif Kurikulum 2013 Pada Pengajaran Micro di PGSD Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta”. Jurnal Profesi Pendidikan Dasar, Vol. 2, No. 2, Desember 2015. hlm.87 – 94. http://journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/1643 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 67, Tahun 2013, tentang Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah. Kementrian Pendidikan dan Kebudayan. (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65, Tahun 2013, tentang Standar Proses Pendidikan dasar dan Menengah. Risminawati dan Nurul Fadhila. 2016. “Persepsi Guru Terhadap Implementasi Pembelajaran Tematik Integratif Kurikulum 2013 di SD Muhammadiyah 24 Surakarta”. Profesi Pendidikan Dasar Vol. 3, No. 1, Juli 2016 : 52 – 58. http://journals.ums.ac.id/ index.php/ppd/article/view/2604 Suryanto, Slamet, (Nov 2016). “Adaptasi Kurikulum Inklusif Siswa Dengan Hambatan Sosial Emosional Di Sekolah Dasar”. Ilmu Pendidikan, Volume 30, No.1. Diakses 12 November 2017. http://webcache.googleusercontent. com/search?q=cache:e-naselbRTUJ: journal.unj.ac.id/unj/index.php/pip/ article/view/2620+&cd=5&hl=id&ct=clnk&gl=id. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, 2005. Nomor 19 Tentang Standar Nasional Pendidikan Yuli, Erviana, Agustus 2016, “ Kesiapan Guru Sekolah Dasar dalam Pelaksanaan Pembelajaran Tematik-Integratif pada Kurikulum 2013 di Kota Yogyakarta”. Volume 2, No. 2, Tahun 2016. http://journal.uad.ac.id/index.php /JPSD/article/download/5560/pdf_26. Slameto, 2015, “Rasional dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013”. Jurnal Schoolaria, Volume 5, No. 1 Tahun 2015, hlm. 1-121. http://ejournal.uksw.edu/scholaria/ article/download/2/2 http://journals.ums.ac.id/ http://journal.uad.ac.id/index.php%20/JPSD/article/download/5560/pdf_26 http://ejournal.uksw.edu/scholaria/%20article/download/2/2 http://ejournal.uksw.edu/scholaria/%20article/download/2/2