Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 127 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 Vol. 5, No. 2, Desember 2018 PROFESI PENDIDIKAN DASAR e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 DOI: https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.6458 IMPLEMENTASI TEORI BEHAVIORISME DALAM MEMBENTUK DISIPLIN SISWA SDN CIPINANG BESAR UTARA 04 PETANG JATINEGARA JAKARTA TIMUR Sugi Harni1); Indina Tarjiah2) Program Studi Pendidikan Dasar1); Program Studi Pendidikan Khusus2) Universitas Negeri Jakarta 1)anielisabeth20@gmail.com; 2)indina.tarjiah@gmail.com PENDAHULUAN Program pendidikan anak wajib belajar 9 tahun, merupakan salah satu upaya pemerintah dalam membentuk generasi bangsa menjadi lebih baik di masa mendatang. Sehubungan dengan hal tersebut pendidikan dasar merupakan usaha untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menjelaskan fungsi pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan tujuan pendidikan nasional untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Implikasi dari undang-undang tersebut adalah pendidikan haruslah memiliki program mengenai pembentukan karakter yang benar-benar nyata dan diterapkan di setiap jenjang pendidikan baik pendidikan dasar, menengah, dan atas, agar tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Undang-undang Sisdiknas pasal 1 tahun 2003 juga menyatakan di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi Abstrak: The objective of this research is to know the extent of the behaviorism theory has an impact in forming discipline in elementary school students, especially at SDN Cipinang Besar Utara 04 Petang in Kelurahan Cipinang Besar Utara Jatinegara Sub-district, East Jakarta. This research adopted qualitative approach with descriptive method. This research was obtained by using several assessment in the form of observation, interview, and documentation. Analysis techniques data used by collecting information from the data that has been obtained from the assessment that has been used, provides data, and concluded the data. The results of this research showed that the implementation of consistent behaviorism theory can form discipline to their students. Keywords: behaviorism theory, the formation of discipline, character https://doi.org/10.23917/ppd.v1i2.6458 mailto:anielisabeth20@gmail.com Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 128 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Melihat kedua undang-undang ini dapat kita tentukan garis besar dari tujuan nasional adalah selain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa juga menciptrakan karakter siswa yang beriman, mandiri, dan berakhlak mulia. Dengan demikian dengan melihat kondisi siswa di Indonesia bisa dikatakan sistem pendidikan nasional sudah gagal memenuhi tujuan undang-undang. Kurangnya pendidikan karakter telah membuat peserta didik dan juga adalah bagian dari bangsa seakan-akan kehilangan martabatnya. Memang dari satu sisi pendidikan nasional berhasil mencerdaskan anak bangsa, akan tetapi hal itu tidak cukup, mengingat keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari kecerdasanya, tetapi juga sikap dan karakternya. Membangun karakter yang mandiri, disiplin, dan bijaksana harus melibatkan kerja sama dan dukungan dari semua pihak, dan dalam hal ini dunia pendidikan memiliki peranan yang besar menjadi promotor untuk menyosialisasikan pendidikan karakter tersebut, dan didukung dengan segenap upaya sekolah agar memasukkan nilai-nilai moral dalam setiap pembelajarannya. Serta kita membutuhkan cara yang tepat untuk mendidik para anak bangsa agar memiliki karakter disiplin yang kuat. Teori belajar yang paling tua dan primitif ialah behaviorisme dimana teori ini berpendapat tentang perubahan perilaku dapat ditentukan melalui sejumlah stimulus. Dengan menggunakan teori behaviorisme ini peneliti berharap dapat membentuk karakter peserta didik di SDN Cipinang Besar Utara 04 Petang menjadi lebih baik. Teori behavior ini menekankan bahwa tingkah laku yang ditunjukkan pada seseorang merupakan akibat dari stimulus (rangsangan) dan respon (balikan). Stimulus yang diberikan berupa sejumlah peraturan yang harus ditaati oleh peserta didik, ada hukuman (punishment) jika peserta didik melanggar aturan tersebut, selain hukuman ada pula hadiah (reward) apabila peserta didik dapat menunjukkan perilaku lebih dari yang diharapkan oleh peneliti. Teori ini dikenalkan oleh beberapa ahli psikologi. Para ahli yang menganut paham behaviorisme ini adalah Ivan Pavlov, B.F Skinner, Edward Lee Thorndike, Robert Gagne, dan Albert Bandura. Mereka melakukan sejumlah percobaan pada hewan peliharaan, karena hewan peliharaan ini dianggap dapat mewakili sifat manusia. Mereka memperhatikan dan mencatat setiap respon yang muncul akibat adanya stimulus yang telah diberikan. Ternyata lama kelamaan hewan percobaan itu, menunjukkan bahwa setiap stimulus yang diberikan tepat dan berulang dapat memunculkan perilaku yang diinginkan. Berangkat dari percobaan para ahli ini, peneliti ingin membuktikan apakah teori behaviorisme ini benar dapat diterapkan di dunia pendidikan, khususnya untuk membentuk karakter peserta didik sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pendidik. Kedisiplinan sangat penting diajarkan sedini mungkin kepada seseorang, oleh karenanya selain rumah, sekolah adalah tempat terpenting kedua untuk mengajarkan perilaku disiplin. Seseorang yang memiliki sikap disiplin pasti dapat mengatur rutinitas dan dapat menggunakan waktu dengan baik. Budaya disiplin yang dibawa sejak masa kanak-kanak yaitu berawal dari keluarga juga akan tercermin di sekolah. Jika peserta didik menunjukkan perilaku disiplin dapat menggambarkan insan muda yang bermoral, sehingga generasi penerus bangsa tentunya akan memiliki moral dan martabat yang tinggi di dunia internasional. Menurut Tu'u (2004:34-35) disiplin penting diadakan di sekolah Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 129 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 karena orang yang memiliki sikap disiplin akan mengoptimalkan prestasinya dan sebaliknya jika tidak mempunyai sikap disiplin akan menghambat prestasi, dapat dikatakan sikap disiplin ini dapat menjadikan seseorang sukses di masa mendatang, dan dengan dibangunnya sikap disiplin di sekolah menjadikan suasana belajar mengajar menjadi nyaman, dan kondusif, karena para peserta didik mengikuti semua peraturan yang berlaku. Dalam melakukan kebiasaan disiplin di sekolah ini tentunya tidak hanya berfokus pada karakter peserta didiknya saja, namun juga para warga sekolah lainnya seperti para guru, kepala sekolah, penjaga sekolah, staf administrasi (operator sekolah), dan juga orang tua murid. Para warga sekolah haruslah terlebih dahulu memberikan contoh nyata sikap disiplin dalam keseharian, dengan adanya sikap nyata ini sesuai dnegan teori behaviorisme oleh Albert Bandura teori ini merupakan proses mengamati kemudian meniru perilaku, sikap, dan emosi. Peserta didik usia sekolah dasar yang masih dalam masa kanak-kanak, dan remaja awal sangat rentan dalam mengamati dan meniru perilaku orang dewasa. Sebaiknya para orang dewasa khususnya pendidik memberikan teladan dan contoh sikap disiplin yang baik dan nyata pada peserta didiknya. Selain itu memang tugas pendidik adalah membimbing, mendidik, dan mengajar peserta didik menjadi lebih baik lagi baik dalam ilmu, maupun karakternya. Pembenukan disiplin dalam penelitian dilakukan pada kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler sekolah. Dengan melibatkan ketiga aktifitas ini diharapkan sikap disiplin dapat melekat dalam diri tiap peserta didik. Misalnya pada kegiatan intrakurikuler pendidik dapat menghubungkan materi pelajaran dengan sikap- sikap disiplin, pada aktifitas kokurikuler pendidik dapat memberikan soal atau projek di rumah maupun di sekolah yang melibatkan sikap disiplin, dan aktifitas ektrakurikuler peserta didik dapat bekerja sama dengan pelatih untuk lebih menekankan aktifitas ektrakurikuler dengan sikap disiplin contohnya pramuka yang banyak melatih sikap disiplin dalam tiap kegiatannya. Penelitian awal dilakukan dengan mengobservasi para peserta didik dari kelas satu sampai dengan kelas enam. Hasil observasi menunjukkan banyak peserta didik yang tidak memakai dasi atau atribut lengkap, beberapa peserta didik mengeluarkan baju sehingga terlihat tidak rapi, dalam 1 minggu didapatkan 23 peserta didik membolos, dan 19 peserta didik terlambat masuk sekolah. Berdasarkan permasalahan yang telah dibahas di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana upaya membentuk disiplin peserta didik melalui implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa di SDN Cipinang Besar Utara 04 Petang Jatinegara, jakarta Timur dan hambatan apa yang dialami melalui implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa di SDN Cipinang Besar Utara 04 Petang Jatinegara, jakarta Timur. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini betujuan untuk menjelaskan pembentukan disiplin melalui implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa di SDN Cipinang Besar Utara 04 Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 130 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 Petang Jatinegara, Jakarta Timur. Pengumpulan Penelitian ini dilakukan dengan obeservasi langsung dan wawancara oleh pihak-pihak yang terkait seperti pendidik, kepala sekolah, dan peserta didik sendiri. Waktu penelitian dilakukan kurang lebih sekitar 3 bulan yaitu bulan April 2018 sampai awal Juni 2018. (Moleong, Lexy J.2014; 186-208) menyatakan teknik wawancara dilakukan untuk mendapatkan hasil yang akurat mengenai kondisi di lapangan dan kondisi yang sebenarnya. Sebelum melakukan wawancara peneliti membuat daftar pertanyaan sebagai pedoman dalam menanyakan kepada informan atau narasumber. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat yang berhubungan dengan pembentukan, kebiasaan, karakter dalam membentuk sikap disiplin. Selain wawancara peneliti juga melakukan observasi mandiri dengan membuat daftar cheklist. Dalam daftar terdapat beberapa kriteria disiplin pada anak usia sekolah dasar. Untuk menguatkan observasi ini peneliti juga melakukan dokumentasi sebagai bukti nyata dan real. Dokumentasi disini bukan hanya melulu berupa foto atau video, Dokumentasi dapat berupa catatan penting, agenda harian guru, agenda harian siswa, transkrip nilai peserta didik, portofolio peserta didik, dan sebagainya. Teknik analisis data. Analisa data dalam penelitian ini mengacu pada model analisis interaktif yang diajukan Huberman dan Miles. Huberman dan Miles (dalam Sugiyono,2011: 246) mengemukakan bahwa langkah pertama model analisis interaktif adalah reduksi data yaitu merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dan mencari tema serta polanya. Reduksi data dalam penelitian ini dilakukan setelah diperoleh data dari hasil pengamatan, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dipilih data-data pokok dan difokuskan pada hal-hal yang penting, sehingga data menjadi jelas dan sistematis. Langkah kedua dalam model analisis interaktif adalah penyajian data Miles (dalam Dewi Puspitaningrum, 2014: 343-357) mengemukakan bahwa penyajian data merupakan analisis merancang deretan dan kolom-kolom dalam sebuah matriks untuk data kualitatif dan menentukan jenis dan bentuk data yang dimasukkan dalam kotak-kotak matriks. Dalam penelitian ini, data disajikan berupa teks naratif yang mendeskripsikan mengenai subjek penelitian yaitu menggambarkan tentang implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa di SDN Cipinang Besar Utara 04 Petang Jatinegara, Jakarta Timur. Langkah ketiga dalam model analisis interaktif adalah verifikasi data (data verification). Dalam penelitian ini, verifikasi data dilakukan dengan menghubungkan data dengan teori B.F Skinner dan Albert Bandura dalam menarik kesimpulan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN SDN Cipinang Besar Utara 04 Petang adalah sekolah negeri milik pemerintah. Sekolah ini berdiri di Jl.Bekasi Timur IV No.1, Kelurahan Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Kota Jakarta Timur. Gambar 1 adalah denah SDN Cipinang Besar Utara 04 Petang: Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 131 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 Gambar 1. Denah Lokasi Sekolah Melihat denah di atas, sekolah ini berada di pusat kota, sebelah barat sekolah terdapat stasiun Kereta Api Jatinegara, Sebelah utara pasar tradisional "pasar enjo", sebelah timur laut pasar induk cipinang jaya, sebelah barat terdapat Lembaga Permasyarakatan Cipinang, juga terdapat Kantor Imigrasi Jakarta Timur, dan sebelah selatan terdapat Kejaksaan Negeri Jakarta Timur. Karena letaknya berada di daerah padat penduduk, dan rata-rata yang tinggal di daerah ini adalah pedagang kecil. Oleh karena itu, lingkungan seperti ini sangat mungkin jika mereka memiliki sikap kurang disiplin, sikap kurang disiplin itu dilatarbelakangi oleh banyak hal. Salah satunya ada yang ikut membantu orang tua berjualan, sehingga tidak bisa datang tepat waktu ke sekolah, dan masih banyak lagi. Tak hanya masalah datang tepat waktu, namun banyak hal lain yang menuntut kedisiplinan peserta didik. Tepat waktu dalam mengumpulkan tugas, disiplin dalam mengikuti upacara bendera, disiplin dalam mengantre, dan juga disiplin dalam belajar. Sikap disiplin sangat penting dikenalkan sejak dini, dengan memiiki sikap ini seseorang dapat ditentukan kepribadiannya, dan juga kesuksesannya kelak. Pembentukan sikap disiplin melalui teori behaviorisme menurut B.F Skinner pembentukan perilaku dapat dikontrol melalui operant conditioning (penguatan perilaku positif atau negatif). Dalam hal ini, segala perilaku yang muncul oleh peserta didik baik positif dan negatif dalam menunjukkan sikap displin harus segera diberi penguatan. Penguatan dapat positif dapat pula negatif. Contoh seorang peserta didik datang terlambat, pendidik harus memberi penguatan negatif, dengan menegur, menanyakan alasan dia terlambat, dan apapun alasannya harus diberi sanksi yang tegas agar peserta didik paham letak kesalahannya. Demikian pula bila seorang peserta didik menunjukkan sikap disiplin dengan mengikuti upacara bendera dengan atribut lengkap, pendidik juga harus memberikan penguatan postif berupa pujian. Hal ini tergambar lewat penuturan dari Ibu Suryani, M.Pd sebagai berikut: "Ibu berikan apresiasi bagi para peserta didik yang memakai atribut lengkap pada upacara kali ini, dengan kalian beratribut lengkap kalian menunjukkan citra diri seorang pelajar sejati, dan bagi yang belum beratribut lengkap, minggu depan segera dilengkapi." Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 132 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 Rupanya penuturan dari Ibu Suryani, M.Pd selaku Kepala Sekolah ini memberikan dampak psikologi yang baik bagi beberapa peserta didik, berikut penuturannya: Bima kelas 1 mengatakan, "saya bangga beratribut lengkap, saya tampak ganteng memakai topi dan dasi, juga kepala sekolah memperhatikan saya. Saya lebih baik dari kakak kelas 5 yang nggak pakai topi." Dewi kelas 4 mengatakan, "saya merasa bangga dipuji oleh kepala sekolah, dan saya menjadi pelajar teladan." Selain menggunakan teori B.F Skinner penelitian ini menggunakan teori Albert Bandura yakni pembentukan perilaku di peroleh dari proses mengamati, dan meniru. Dengan ini untuk mengantisipasi proses meniru yang tidak tepat, maka Ibu Suryani, M.Pd berkata; "Untuk membangun iklim budaya disiplin sekolah diperlukan kesadaran pendidik dan para orang dewasa yang berada di sekolah, memberikan contoh nyata disiplin dengan datang tepat waktu, dan selalu mencitrakan perilaku disiplin dalam segala hal." Hal serupa juga dikatakan oleh Ibu Ida Fauziah, S.Pd; "Rumah saya berada paling jauh dari lokasi sekolah, dan saya memiliki penyakit sendi di bagian lutut, tapi saya selalu berusaha datang lebih dahulu. Dengan begitu saya dapat mengerjakan banyak hal sebelum memulai pekerjaan." Ibu Apriyani Rotua, S.Pd juga berkata hal serupa; "Saya memiliki dua anak kecil, satu sudah memasuki TK, dan satu lagi balita, ditambah dengan kondisi rumah saya yang jauh kira-kira menempuh 2 jam perjalanan, namun saya selalu hadir lebih awal agar dapat mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, dan dapat mengecek segala hal." Selain sikap yang harus dimiliki oleh para pendidik, pendidik juga harus memiliki kesadaran diri untuk selalu menganggap dirinya sebagai teladan yang ditiru oleh anak didiknya. Hal ini dikatakan oleh Ibu Siti Nursuyati Asih, S.Pdi; "Selain karena tuntutan kita sebagai Aparatur Sipil Negara yang tidak boleh datang telat, karena adanya sanksi dari pemerintah. Kita juga memiliki tanggung jawab moril untuk dijadikan contoh oleh para peserta didik." Dengan demikian, jelaslah sikap disiplin sudah melekat pada sanubari para pendidik di SDN Cipinang Besar Utara 04 Petang. Mereka tahu segala tindakannya di gugu dan ditiru oleh para peserat didik. Berikut penjelasan mengenai disiplin oleh Ibu Siti Nursuyati Asih, S.Pd; "Disiplin adalah kesadaran diri yang berasal dari hati. Dengan disiplin pada diri maka seseorang akan disiplin pada segala hal." Juga seorang peserta didik kelas 6 Athifah Putri berkata; "Disiplin sangat penting untuk para pelajar agar dapat meraih prestasi yang lebih baik, dengan melatih diri agar disiplin dalam belajar di rumah saya dapat menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh bu Apri." Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 133 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 Pernyataan dari Athifah tersebut menunjukkan bahwa disiplin yang berasal dari dalam diri pesera diri memberikan dampak yang lebih besar dalam meraih kesuksesan. Dibandingkan yang bersal dari luar diri peserta didik. Namun lingkungan sekolah dan figur para peserta didik yang mendukung dapat menularkan perilaku baik ini, karena dengan lingkungan dimana biasa peserta didik tumbuh, lama kelamaan akan memberikan dampak dari dalam diri yang bisa saja melekat hingga akhir hayat. Disamping itu, perlu pula ada peraturan yang jelas agar peserta didik paham rambu- rambu atau aturan yang harus mereka lakukan dan mengetahui dengan jelas hal-hal apa saja yang harus dilaksanakan selama berada di sekolah agar dapat membentuk sikap disiplin peserta didik. Dalam membuat peraturan sekolah ini kepala sekolah melibatkan peran serta guru, komite sekolah, dan juga siswa. Mekanisme dalam membuat aturan sekolah, pertama pendidik membuat kesepakatan bersama para peserta didik, pendidik mendengarkan kesan-kesan peserta didik ketika membuat kesepakatan yang akan ditaati bersama dan membuat konsekuensi jika melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Kemudian kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat itu dibicarakan bersama kepala sekolah, komite, dan orang tua murid dalam kesempatan ini kepala sekolah dan para pendidik menyampaikan hal-hal atau perilaku yang akan dibentuk dengan menjalankan peraturan yang telah dibuat. Para orang tua pun didengarkan segala apa yang mereka inginkan untuk terlaksananya peraturan ini dengan baik. Setelah semuanya telah sepakat dan juga memberikan konsekuensi yang telah dibuat maka, peraturan tersebut disahkan dengan ditandatangani oleh kepala sekolah. Setelah membuat kesepakatan yang telah disahkan tugas pendidik adalah memberikan sosialisasi kepada semua warga sekolah. Berikut penuturan Ibu Suryani, M.Pd; "Dalam membuat kesepakatan atau peraturan dilakukan dengan melibatkan para warga sekolah mulai dari peserta didik, pendidik, saya, komite, dan para orang tua, tentunya hal tersebut dilakukan secara bertahap, tidak langsung sekali jadi." Hal ini selaras dengan pernyataan salah seorang komite sekolah ibu Dedeh Kosasih; "Ketika itu, akhir bulan Maret 2018 kami komite sekolah diundang hadir oleh kepala sekolah dalam rangka membicarakan peningkatan sikap disiplin pada peserta didik, juga membicarakan program sekolah jangka panjang mengenai literasi yang menjadi fokus program sekolah." Salah seorang peserta didik kelas 5 Maya Audia juga berkata; "Bu Ani mengajak teman-teman dan saya membicarakan masalah disiplin di sekolah, dan kami banyak membuat kesepakatan, yang sebenarnya juga saya takut jika melanggar saya akan malu karena dalam kesepakatan itu, saya juga menyumbang saran hukuman yang diberikan jika melanggar kesepakatan yang telah dibuat." Diana Mutiah (2012: 87-88) mengatakan “melalui interaksi dan komunikasi antara orang tua dan anak, maka akan berkembang berbagai aspek kepribadian anak termasuk aspek kesadaran terhadap tanggung jawab....Mengasuh, membina dan mendidik anak di rumah merupakan kewajiban setiap orang tua dalam usaha membentuk pribadi anak." arti dalam kalimat ini adalah selain pihak sekolah peran orang tua dalam membentuk karakter anak Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 134 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 di rumah juga sangat penting. Oleh karena itu peneliti melakukan wawancara dengan beberapa orang tua murid. Berikut hasil wawancaranya, Ibu Neneng salah satu orang tua kelas 6 mengatakan; "Setelah pertemuan guru dan orang tua murid, saya membuat kesepakatan di rumah bersama anak saya dan anggota rumah untu mengadakan jam belajar, dan juga waktu bermain. saya ingin melihat perubahan dalam anak saya menjadi lebih baik dan disiplin." Ibu Sari salah satu orang tua kelas 2 berkata; "Sebelum diadakan pertemuan itu, saya memang sudah menerapkan disiplin dengan aturan jam main sampai jam berapa anak harus pulang ke rumah, juga waktu anak saya tidur malam, mengaji, dan menonton tv. Alhamdulilah anak saya menurut dan memiliki nilai yang bagus serta tidak pernah membolos sekolah." Penuturan lain juga berasal dari Bapak Hendra salah satu orang tua murid kelas 4 berkata; "Anak saya sangat susah di atur, bertindak semaunya memang sih itu juga kesalahan saya dan istri karena saya dan istri berdagang sehingga kami kurang memperhatikan kebutuhan sekolah anak kami. Dengan adanya program ini disekolah saya harap anak saya mempunyai perilaku yang lebih displin, sehingga nilai-nilainya menjadi bagus." Salah satu contoh budaya disiplin di SDN Cipinang Besar Utara 04 petang dan juga mendukung program literasi adalah kegiatan membaca 15 menit sebelum memulai kegiatan belajar. Berikut wawancara dengan salah seorang informan; "Di sekolah ini sudah mulai mengenal budaya membaca semenjak sekolah ini dijadikan model sekolah literasi, hal tersebut sangat bagus dengan anak-anak disiplin membaca paling tidak 15 menit sebelum mulainya pelajaran, siswa dibimbing untuk aktif mencari informasi, juga memiliki hobi yang baik, dengan adanya sikap disiplin guru yang membiasakan kegiatan ini, lama kelamaan para murid akan tahu banyak karena banyak membaca, kalau bagi siswa kelas rendah sisi baiknya mereka yang tadinya belum lancar membaca jadi berkeinginan agar lancar membaca. Banyak sekali sisi positif dari budaya membaca ini." Berdasarkan pemaparan informan diatas pembiasaan budaya membaca 15 menit sebelum belajar, memberikan banyak dampak postif, baik dari bertambahnya ilmu, juga menimbulkan keinginan agar lancar membaca bagi kelas rendah. Tentunya budaya ini perlu disiplin dari para pendidik, tidak hanya 1 bulan atau 2 bulan selanjutnya tidak dilaksanakan justru akan membuat peserta didik tidak disiplin melakukan kegiatan ini. Kegiatan ini juga dapat melihat keaktifan peserta didik, kegemaran peserta didik dilihat dari bahan bacaan yang ia sukai, dan tentunya sikap disiplin peserta didik yakni tekun dalam mengikuti kegiatan ini. Beberapa paparan diatas merupakan contoh-contoh budaya membentuk disiplin yang telah dilakukan oleh SDN Cipinang Besar Utara 04 Petang, dalam penerapannya itu sekolah juga mengalami beberapa hambatan yakni dari faktor internal yakni pendidik yang tidak tegas dalam memberikan konsekuensi terhadap peserta didik yang sering kali melanggar kesepakatan, entah karena sudah jenuh atau menyerah, tapi hal itu tentunya perlu dilakukan evaluasi dan dibicarakan dengan kepala sekolah dan orang tua murid Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 135 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 yang bersangkutan. Sedangkan faktor eksternal berasal dari peserta didik dan orang tua peserta didik. Para peserta didik kurang sadar akan pentingnya sikap displin ini dalam menentukan kesuksesannya di masa mendatang, juga peran orang tua yang tidak peduli dengan kondisi anaknya karena sibuk mencari nafkah. Banyak ditemui para orang tua yang sibuk namun memiliki waktu luang untuk berkomunikasi dengan anaknya menghasilkan anak yang berkarakter disiplin, sukses, dan mandiri. Berikut hasil wawancara dengan Ibu Ida Fauziah, S.Pd; "Faktor ekonomi yang menjadi fokus di lingkungan sekolah kami, karena sekolah ini terletak di pusat kota, banyak orang tua murid ini yang merupakan pendatang dari desa mengadu nasib dengan berdagang, mereka tidak mempunyai waktu memperhatikan anaknya. Anaknya itu tidak ada yang mnegawasi dalam kesehariannya, mereka dibiarkan mandiri. Namun namanya juga anak usia SD biar bagaimanapun perlu figur orang dewasa dalam membimbing mereka. Jadi anak-anak yang seperti inilah yang menjadi hambatan sekolah kami dalam menerapkan disiplin." Berikut penuturan Ibu Nikhen Lukitawati, S.Pd mengenai hambatan sekolah selanjutnya; "Saya melihat ada guru yang jengkel dan merasa jenuh memberikan hukuman kepada peserta didiknya karena selalu mengulangi kesalahan yang sama yaitu datang terlambat ke sekolah. Tentunya hal ini tidak baik karena dengan memberikan kelonggaran pada salah satu peserta didik akan membuat peserta didik merasa hal tersebut maklum. Dan akan berdampak tidak baik kedepannya." Beberapa temuan di lapangan tentunya merupakan beberapa hambatan yang dialami oleh sekolah dalam mengimplementasikan teori behaviorisme B.F Skinner dan Bandura dalam membentuk disiplin peserta didik. Implementasi teori behaviorisme melalui teori Operant Condotioning ini difokuskan adanya penguatan baik penguatan postif maupun penguatan negatif. Berdasarkan temuan dari hasil penelitian di atas didapatkan dalam membentuk sikap disiplin ini diperlukan kerja sama antara pihak sekolah dan orang tua. Langkah awal yang dibentuk sudah sangat bagus dengan membuat kesepakatan tidak dari satu pihak tapi dari beberapa pihak yang melibatkan para warga sekolah. Baik kepala sekolah, para pendidik, staff administrasi (operator sekolah), penjaga sekolah, pelayan sekolah, komite sekolah, peserta didik, serta orang tua peserta didik. Dengan melakukan kesepakatan yang melibatkan banyak pihak, dapat memberikan kontribusi yang besar guna berhasilnya kegiatan pembentukan sikap disiplin pada peserta didik. Pembentukan disiplin pada peserta didik, dimaksudkan agar kelak para peserta didik dapat mampu mengatur segala kegiatannya sehingga ketika dewasa tidak merasa banyak membuang waktu untuk hal yang tidak berguna. Dan juga untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yakni menjadikan generasi penerus bangsa yang memiliki karakter yang kuat, mandiri, displin, dan dapat bersaing di dunia Internasional. Pembentukan disiplin ini penting dimulai sejak dini, pihak sekolah sangat konsentrasi dengan program ini, karena selain menginginkan peserta didik yang berkualitas, juga agar kegiatan pembelajaran berjalan dengan kondusif dan nyaman. Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 136 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 Teori lain dari Albert Bandura tentang mengamati dan meniru, hal ini sangat dipahami betul oleh pemangku pendidikan, oleh karena nya diperlukan kesadaran penuh, dari hati untuk memposisikan diri pendidik menjadi teladan bagi para peserta didiknya. Para pendidik menunjukkan sikap disiplin dengan hadir sebelum kelas dimulai walaupun kondisi rumah yang jauh dari sekolah, mereka (pendidik dan peserta didik) menunjukkan sikap keseriusan dalam melaksanakan kegiatan membaca 15 menit sebelum kegiatan belajar dimulai. Dengan melihat contoh nyata yakni guru mereka, maka peserta didik menurut teori Bandura ini diharapkan meniru sikap tersebut. Kebiasan terlambat yang dimiliki oleh beberapa siswa segera ditinjak lanjuti oleh pendidik dengan memberi teguran, jika terlambat diulang lagi dalam minggu yang sama diberikan penguatan negatif berupa hukuman, dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan apabila kali ketiga dalam waktu 1 minggu mengulang hal yang sama tentunya akan diberikan penguatan negatif (hukuman) yang lebih berat lagi misalnya dengan menugaskan peserta didik menghafal nama menteri, dan juga bisa hal lain. Hukuman yang diberikan disesuaikan oleh usia mereka, kelas mereka, dan juga perlu diingat pendidik tidak boleh memberikan hukuman fisik, karena akan lebih merugikan si peserta didik. Selain berkurangnya waktu belajar, juga keletihan fisik dapat mengakibatkan kurangnya konsentrasi ketika peserta didik mengikuti pelajaran, juga apabila hukuman fisik terlalu berat berdampak peserta didik menjadi sakit, dan malah tidak masuk, mereka akan lebih jauh tertinggal. Karena adanya beberapa pelanggaran dalam menjalani kesepakatan sekolah membuat buku penghubung antara sekolah dengan pihak oarang tua, buku penghubung ini dibuat agar menjadi penghubung antara pihak sekolah dan orang tua murid dalam memberikan informasi perkembangan anaknya di sekolah. Buku penghubung ini merupakan dokumentasi yang penting dalam melaksanakan program displin peserta didik. Jika orang tua memiliki buku penghubung, pihak sekolah juga memiliki buku konseling didalamnya memuat berbagai perilaku peserta didik yang melanggar kesepakatan yang telah dibuat, dan juga dalam buku konseling ini merekam kejadian yang peserta didik lakukan, mulai dari hari, tanggal, tahun, waktu kejadian, jenis pelanggaran, hukuman yang diberikan, dan tindak lanjut yang dilakukan. Sehingga jelas buku konseling yang merupakan salah satu dokumentasi sekolah dapat memperlihatkan gambaran kondisi peserta didiknya sampai sejauh mana kesalahan itu dapat diperbaiki. Buku Konseling ini juga berguna bagi berbagai pihak jika ditemukan ada peserta didik yang mengalami hambatan dalam belajar, dan cenderung menjadi anak berisiko. Karena dalam menangani anak berisiko diperlukan keahlian khusus, jika pendidik masih dapat menanggulangi keberisikoan peserta didik akan bagus berdampak pada anak tersebut menjadi lebih baik, namun apabila pendidik tidak dapat menangani keberisikoan peserta didik diperlukan pihak lain seperti terapis, psikolog, polisi, pemuka agama, dan sebagainya. (Riana Bagaskorowati, 2010: 69) mengatakan "...dengan menghimpun informasi sebanyak-banyaknya terhadap faktor berisiko...informasi yang terhimpun diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai anak tersebut, sehingga selanjutnya dapat dilakukan suatu tindakan ataupun intervensi secara dini, tepat, dan Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 137 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 akurat." Menurut pendapat tersebut buku konseling sangat penting dan harus ada pada tiap sekolah, dan lebih khusus setiap pendidik memiliki buku konseling kelas. Penguatan postitif dan negatif teori Skinner ini telah memberikan hasil yang cukup memuaskan mengingat baru sedikitnya waktu penelitian yakni 3 bulan, Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan tingkah laku peserta didik yang semula sering membolos dengan diberikan penguatan negatif berupa hukuman. Peserta didik tersebut menurunkan tingkat membolosnya dari 3 kali dalam seminggu kini, 1 bulan sekali dibulan terakhir yakni Mei dan Juni 2018, mungkin lama kelamaan kondisi ini akan menghilang, dan malah peserta didik menjadi rajin. Hasil lain yang berhubungan dengan pemakaian atribut sekolah lengkap, berdasarkan penelitaian sudah mulai jarang peserta didik yang tidak beratribut lengkap. Mereka mulai memiliki rasa malu jika tidak beratribut lengkap. Hal ini tentunya di dukung oleh konsistennya pendidik dalam menghukum atau memberi penguatan negatif pada para peserta didik yang melanggar aturan tersebut. Pada sisi lain dalam teori Bandura terdapat kegiatan mengamati dan meniru, jika kedua teori Skinner dan Bandura dikolaborisakan dan membentuk pribadi seseorang sesuai dengan apa yang diharapkan. Kedua teori ini membiasakan peserta didik melihat contoh disiplin yang nyata, membiasakan peserta didik mematuhi kesepakatan yang telah ditetapkan bersama, dan pendidik segera memberikan respon penguatan baik penguatan positif (hadiah, pujian, rasa bangga, dll) maupun penguatan negatif (hukuman, teguran). Semua pendidik hendaknya bersikap tegas dan konsisten dalam menerapkan operant conditioning ini. Selain penguatan juga pendidik diharpakan selalu memebrikan dukungan atau memotivasi peserta didik agar kesadaraan akan pentingnya perilaku disiplin dan mengikuti kesepakatan ini berasal dari dalam diri. Bukan karena takut dihukum. Awalnya mungkin menghadirkan efek seperti itu, namun kedepannya diharapkan tidak hanya untuk menhindari hukuman tapi juga karena adanya kesadaran diri untuk bersikap disiplin. Beberapa hambatan yakni hambatan internal yakni pendidik yang tidak konsisten dalam memberikan penguatan. Sehingga adanya celah yang dapat menimbulkan asumsi peserta didik untuk tidak mematuhi kesepakatan yang telah dibuat. Hambatan selajutnya bersifat ekternal dari peserta didik yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya sikap disiplin ini dalam membentuk karakter mereka kelak. Jika mereka memiliki sikap disiplin mereka akan meraih sukses, karena mereka dapat mengatur waktu, dan segala hal yang mereka inginkan. Selain itu orang tua juga menjadi hambatan. Beberapa orang tua yang berpenghasilan rendah menjadikan pembentukan disiplin anak dari rumah kurang kuat, dikarenakan kondisi orang tua yang sibuk mencari nafkah, sehingga mengabaikan anaknya. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh maka dapat disimpulkan implementasi teori behaviorisme dalam membentuk disiplin siswa di SDN Cipinang Besar Utara 04 Petang, Jatinegara, Jakarta Timur diperoleh dengan menggabungkan dua teori dari B.F Skinner operant conditioning (pemberian penguatan baik positif maupun negatif) dan teori dari Albert Bandura proses mengamati dan meniru Implementasi Teori Behaviorisme.....(Sugi Harni & Indina T) 138 JPPD, 5, (2), hlm. 127-138 dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Dengan kolaborasi dua teori ini selama 3 bulan yakni bulan April 2018 sampai Juni 2018 menunjukkan perubahan perilaku peserta didik yang semula bertindak kurang disiplin, menjadi lebih disiplin. Dalam prosesnya ini ditemui pula hambatan yang berasal dari pendidik yang tidak konsisten dalam memberikan penguatan dan kurangnya kesadaran peserta didik akan pentingnya sikap disiplin ini, serta kurangnya perhatian orang tua yang sibuk mencari nafkah sehingga membiarkan anaknya dirumah seorang diri. Dengan telah dibuatnya kesepakatan dan adanya penguatan diharapkan penguatan positif tidak hanya dalam bentuk ucapan, pujian, namun juga dapat berupa hadiah yang bersifat akademis, dengan adanya poin peserta didik yang peling sedikit melanggar kesepakatan diberikan hadiah berupa voucer membeli buku di toko buku, atau jalan-jalan ke museum, dan bisa hal lain yang memancing perilaku peserta didik untuk memunculkan rasa disiplin dalam diri. Namun hal ini harus bekerja sama dengan berbagai pihak, disini lah tantangan bagi sekolah agar dapat menrealisasikannya. Juga sekolah selalu melakukan evaluasi terhadap pendidik guna menghindari adanya celah yang dapat membuat kesepakatan yang telah dibuat terlihat tidak bermakna. Perlu adanya komunikasi yang berkelanjutan dengan para orang tua murid agar mereka mengetahui perkembangan anaknya di sekolah. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: PT Asdi Mahasetya Bagaskorowati, Riana. 2010. Anak Berisiko: Identifikasi, Asesmen, dan Intervensi Dini. Bogor : Ghalia Indonesia. Moleong, Lexy J. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mutiah, Diana. 2012. Psikologi Bermain Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta. Tu'u, Tulus. 2004. Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta: Grasindo UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional UU Sisdiknas pasal 1 tahun 2003 tentang Tujuan Pendidikan Nasional