Aksesibilitas Kemampuan Literasi......(Anna Sylvia, dkk) 1 JPPD, 6, (1), hlm. 1 - 10 Vol. 6, No. 1, Juli 2019 PROFESI PENDIDIKAN DASAR e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 DOI: 10.23917/ppd.v1i1.7787 AKSESIBILITAS KEMAMPUAN LITERASI MEDIA SISWA SEKOLAH Anna Sylvia Dian Wijaya1), Suhardi2), Ali Mustadi3) 1,3) Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta; 2)Fakultas Bahasa dan Seni, UNY 1annasylvia.2017@student.uny.ac.id; 2suhardi@uny.ac.id; 3ali_mustadi@uny.ac.id PENDAHULUAN Perkembangan teknologi di Indonesia semakin maju. Kecenderungan global ini menyebabkan adanya perubahan di hampir segala aspek, salah satunya adalah aspek penyebaran informasi melalui media massa. Gejala ini membuat informasi atau pesan dari media menjadi semakin mudah didapatkan. Kemudahan tersebut menjadikan semua pihak dapat mengakses apa yang ingin diketahui kapan pun dan dimana pun. Tanpa memiliki kemampuan untuk menangkap pesan dari media, dapat menjerumuskan anak ke dalam budaya yang tidak sesuai dengan karakteristik anak. Tidak jarang kasus tersebut sampai menjadikan anak harus berhadapan dengan hukum. Hal tersebut tercantum dalam laporan di KPAI bahwa ada pengaduan di bidang anak terhadap hukum sebanyak 8.470 sepanjang tahun 2015-2016. Hal ini merupakan pengaduan tertinggi terhadap anak dibandingkan dengan kasus pengaduan yang lain. Pihak yang paling rentan terkena pengaruh dari media salah satunya adalah anak-anak. Berdasarkan suevey Nielsen Consumer Media View tahun 2017 yang dilakukan di 11 kota di Indonesia, pengaksesan media televisi masih memimpin penggunaannya sebanyak 96%, disusun Abstract: In Indonesia Gerakan Literasi Sekolah (GLS) launched by the government, has aim to make learners become literary generation. One of the literacy skills that should be developed nowadays is media literacy. Information can be more accessible to children through their ability to use information technology and media. This research aimed to determine the needs of media literacy of elementary school students. The purpose of this research is to know students' accessibility the most to media, media influence, and the importance of media literacy ability to be owned by grade V elementary school students. Through a survey approach that has been conducted on 83 students of Class V primary schools in Purworejo, Central Java, The results of this study describe that students of grade V elementary school in Purworejo have been familiar with media technology. Most of them can access the media especially television. Therefore, it is necessary media literacy ability to increase students' awareness of various content in the media information, so that students can be wise in choosing the appropriate content with his age. The development of media literacy can be implemented in GLS Keywords: GLS, Media Accesibility, Media Literacy http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.7787 mailto:annasylvia.2017@student.uny.ac.id mailto:suhardi@uny.ac.id mailto:ali_mustadi@uny.ac.id Aksesibilitas Kemampuan Literasi......(Anna Sylvia, dkk) 2 JPPD, 6, (1), hlm. 1 - 10 oleh media luar ruang 53%, internet 44%, selanjutnya untuk media radio 37%, media massa koran 7%, tabloid serta majalah 3%. Masyarakat dalam generasi milinial sudah sangat familiar dengan berbagai media. Pentingnya sebuah media literasi dapat digarisbawahin degnan melihat kemajuan modernisasi masyarakat yang dipengaruhi oleh media (Nijboer & Hammelburg, 2010: 37). Anak-anak memerlukan suatu perhatian yang lebih besar. Anak usia sekolah dasar belum sepenuhnya dapat menyaring informasi dengan kritis dari media. Mereka cenderung lebih senang melihat tontonan menghibur dan dapat diimitasi. Penikmat media dari usia anak mungkin belum dapat menemukan realitas bahwa apa yang disajikan oleh media massa merupakan hal yang sudah direkayasa. Seperti pada contoh kasus Hilarius Christian yang merupakan peajar, tewas dalam duet gladiator di Bogor pada tanggal 29 Januari 2016. Selain itu pada contoh kasus di Banyumas dimana ada 7 siswa sekolah dasar yang mengalami gangguan mental karena kecanduan game online (Aziz, 2018). Kasus ini menunjukkan bahwa anak sangat mudah mengakses game online yang berakibat pada kecanduan. Pada akhirnya kecanduan tersebut membuat anak mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan. Kejadian ini merupakan salah satu bentuk karena adanya pengaruh media yang tidak dapat disaring dengan baik oleh para penonton sajian. Kemampuan menyaring informasi dari media secara kritis disebut literasi media. Penumbuhan generasi literat pada usia sekolah yang melek terhadap media dapat disisipkan dalam kurikulum pendidikan. Yayasan TIFA (2016) menyebutkan bahwa tujuan akhir dari pendidikan literasi ini sebenarnya adalah mendidik masyarakat agar kritis terhadap media. Literasi media perlu dikembangkan dalam dunia pendidikan saat ini untuk menciptakan para generasi literat yang memiliki kemampuan dalam memahami pesan atau informasi dari media. Salah satu jalan yang dapat digunakan guna menumbuhkan kemampuan literasi media ini adalah melalui gerakan literasi sekolah yang telah mulai gencar dilaksanakan di kurikulum 2013. Literasi merupakan terjemahan darikata dalam bahasa Inggris yaitu literacy, yang merupakan adopsi dari bahasa Latin yakni littera (huruf) yang pengertiannya melibatkan penguasaan sistem-sistem tulisan dan bagaimana cara memperoleh informasi. Kress (2003: 17) mengemukakan, “literacy is the term to use when we make messages using letters as the means of recording that message.” Literasi merupakan istilah yang digunakan ketika kita membuat pesan atau informasi menggunakan huruf sebagai alat untuk merekam pesan tersebut. Konteks ini menunjukkan bahwa literasi tidak lepas dari bahasa, mengingat bahwa huruf merupakan penyusun kata sebagai bagian dari bahasa. Literasi media dalam bahasa indonesia sering diartikan sebagai melek media. Untuk menjadi seorang yang melek media atau memiliki kemampuan literasi media, membutuhkan kemampuan dalam memahami pesan atau informasi. Literasi media menjadi penting di tengah terpaan informasi di media. (Buckingham, Burn, & Cranmer, n.d, 2004:18) menyimpulkan bahwa media literacy adalah, “the ability to access, understand, and create communications in a variety contexts.” Media literasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menciptakan komunikasi dalam berbagai konteks. Perovic (2015: 93) mengklasifikasikan kemampuan dalam berliterasi media mencakup: 1) access, 2) critical thinking, 3)creative media production, 4) media awareness, dan 5) civic participation. Kemampuan ini dirangkum dalam sebuah peta konsep yang berisikan beberapa indikator yang mendukung aspek kemampuan literasi tersebut. Kemampuan awal adalah kemampuan mengakses media melalui aktivitas membaca dan menulis via media. Istilah lain disebutkan oleh Lin, Li, Deng, & Lee (2011: 164) sebagai consuming skill atau kemampuan seseorang dalam mengoperasikan media, mendapatkan informasi, dan menggunakan teknologi informasi. Banyak aktivitas yang dapat menunjukkan bahwa siswa telah memiliki keterampilan Aksesibilitas Kemampuan Literasi......(Anna Sylvia, dkk) 3 JPPD, 6, (1), hlm. 1 - 10 ini antara lain dapat merespon atau memberi tanggapan sebuah teks yang tertampil dari media, memahami bahasa sosial yang digunakan, yang terakhir siswa dapat mengantisipasi pesan atau informasi yang terkandung di dalam media tersebut. Berdasarkan survei aksesibilitas siswa terhadap media, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana aksesibilitas siswa terhadap media, pengaruh media, serta pentingnya kemampuan literasi media untuk dimiliki oleh siswa kelas V sekolah dasar. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mix-method, yaitu penggabungan dari pendekatan kualiatif dan kuantitatif. Sugiyono (2011: 404) menyatakan bahwa penelitian kombinasi (mixed methods) merupakan suatu metode penelitian yang menggabungkan antara metode kuantitatif dengan metode kualitatif untuk digunakan secara bersama-sama dalam suatu kegiatan penelitian, sehingga diperoleh data yang lebih komperehensif, valid, reliabel, dan obyektif. Penelitian ini mendeskripsikan angket hasil survey yang telah disebarkan oleh peneliti. Proses kualitatif terjadi saat peneliti melakukan wawancara kepada guru dan siswa mengenai accessing media informasi. Kemudian data dikuatkan dengan penelitian kuantitatif dengan diadakannya metode survey melalui angket. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Purworejo dengan tiga sekolah sampel yaitu SD Negeri Kledungkradenan, SD Negeri Lugosobo 1, dan SD Negeri Salam. Responden merupakan siswa kelas V sekolah dasar. Jumlah keseluruhan responden ada 83 siswa. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2018. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aksesibilitas siswa terhadap media, pengaruh media, serta pentingnya kemampuan literasi media untuk dimiliki oleh siswa kelas V sekolah dasar. Selain menggunakan teknik survei, penelitian juga dilengkapi dengan data kualitatif pertanyaan terhadap guru dan siswa sebagai data pendukung. Data disajikan dalam tabel presentase yang menunjukkan jumlah siswa yang memiliki kategori berdasarkan pernyataan yang ada. HASIL DAN PEMBAHASAN Data diperoleh melalui survey terhadap siswa kelas V di beberapa sekolah dasar di Kabupaten Purworejo. Jumlah responden adalah 83 siswa yang berasal dari SD Negeri Kledungkradenan, SD Negeri Salam, dan SD Negeri Lugosobo 1. Jika dibagi menurut jenis kelamin, responden memiliki jumlah yang seimbang, seperti yang ditunjukkan dalam tabel 1: Tabel 1. Data Responden No Jenis Kelamin Jumlah 1 Perempuan 42 2 Laki-laki 41 Jumlah Total 83 Peneliti memberikan pertanyaan survey sebagai upaya untuk mengetahui mengenai kemampuan literasi media siswa. Kebutuhan kemampuan literasi media berdasarkan Aksesibilitas Kemampuan Literasi......(Anna Sylvia, dkk) 4 JPPD, 6, (1), hlm. 1 - 10 tingkat aksesibilitas siswa dengan media. Berikut merupakan hasil dari temuan berdasarkan analisis kebutuhan dalam survei yang telah dilakukan. Tabel 2. Hasil Kalkulasi Angket Pernyataan Ya Kadang Tidak P1 81 (9,76/10) 1 (0,12/10) 1 (0,12/10) P2 66 (7,95/10) 7 (0,84/10) 10 (1,2/10) P3 32 (3,86/10) 33 (3,98/10) 18 (2,17/10) P4 18 (2,17/10) 39 (4,70/10) 26 (3,13/10) P5 38 (4,58/10) 25 (3,01/10) 20 (2,41/10) P6 27 (3,25/10) 26 (3,13/10) 30 (3,61/10) P7 21 (2,53/10) 14 (1,69/10) 48 (5,78/10) P8 54 (6,51/10) 25 (3,01/10) 4 (0,48/10) P9 55 (6,63/10) 21 (2,53/10) 7(0,84/10) Indikator Pernyataan: P1 = Saya tahu cara menggunakan televisi P2= Saya tahu cara menggunakan handphone P3 = Saya selalu paham dengan informasi di televisi P4 = Saya selalu paham dengan informasi terbaru P5 = Saya melihat adegan perkelahian di televisi P6 = Saya melihat acara yang tidak cocok untuk anak-anak P7 = Saya pernah mencontoh perbuatan yang ada di televisi (ucapan, perbuatan, dll) P8 = Saya menonton televisi ditemani orang tua atau keluarga P9 = Saya lebih suka acara kartun untuk anak-anak Untuk mengetahui sebaran data dari jawaban sampel di setiap pernyataan ditunjukkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 3. Sebaran Data N Min Max Mean Std. Dev P1 83 1.00 3.00 2.9639 .24424 P2 83 1.00 3.00 2.6747 .68269 P3 83 1.00 3.00 2.1687 .76221 P4 83 1.00 3.00 1.9036 .72607 P5 83 1.00 3.00 2.2169 .81223 P6 83 1.00 3.00 1.9639 .83295 P7 83 1.00 3.00 1.6747 .85694 P8 83 1.00 3.00 2.6024 .58309 P9 83 1.00 3.00 2.5783 .64620 Valid N (listwise) 83 Aksesibilitas Kemampuan Literasi......(Anna Sylvia, dkk) 5 JPPD, 6, (1), hlm. 1 - 10 Aksesibilitas Penjabaran hasil angket tersebut pada pernyataan pertama menunjukkan bahwa peserta didik mudah untuk mengakses televisi. 81 (97,6) responden sudah bisa mengakses televisi secara mandiri. Selain itu, pada pertanyaan kedua dimana siswa ditanya apakah siswa paham penggnaan smartphone, siswa juga sebagian besar 79,5% menjawab dapat menggunakan handphone dengan baik. Dimensi literasi media terdiri dari lima elemen yaitu 1) access, 2) analyze, 3) create, 4) reflect, dan 5) act. Penjelasan pengertian dari access cenderung kepada bagaimana mencari dan membagi informasi relevan menggunakan media dan teknologi yang sesuai (Hobbs, 2011). Hasil ini mengindikasikan bahwa saat ini media memang mudah untuk diakses oleh siswa. Televisi dan handphone menjadi dua media elektronik yang mudah diakses oleh siswa. Dari kedua hal tersebut televisilah yang menjadi media paling mudah diakses. Hal ini sesuai dengan penelitian dari suevey Nielsen Consumer Media View tahun 2017 yang dilakukan di 11 kota di Indonesia, pengaksesan media televisi masih memimpin penggunaannya sebanyak 96%, disusun oleh media luar ruang 53%, internet 44%, radio 37%, koran 7%, tabloid dan majalah 3%. Perkembangan perseprual-kognitif yang diungkapkan oleh Allen & Marrotz (2010) yang mengungkapkan bahwa anak memang lebih senang mencari informasi dari berbagai media seperti internet, radio, ataupun televisi. Tabel 4. P1 Pengaksesan Media Televisi F % Valid % Cum % Valid 1 1 1.2 1.2 1.2 2 1 1.2 1.2 2.4 3 81 97.6 97.6 100.0 Total 83 100.0 100.0 Tabel 5. P2. Pengaksesan Smartphone F % Valid % Cum % Valid 1 10 12.0 12.0 12.0 2 7 8.4 8.4 20.5 3 66 79.5 79.5 100.0 Total 83 100.0 100.0 Pendampingan dalam pengaksesan media dalam survei menunjukkan bahwa sekitar 55 (66,3%) responden menonton televisi dengan ditemani oleh orang tua mereka, namun pada survei mengenai pemahaman informasi yang dinikmati oleh mereka, siswa yang merasa paham dengan informasi yang ada terdapat sekitar 32 (38,6%) atau hampir setengah lebih dari responden. Aksesibilitas Kemampuan Literasi......(Anna Sylvia, dkk) 6 JPPD, 6, (1), hlm. 1 - 10 Tabel 6. P8. Pendampingan Pengaksesan Media F % Valid % Cum % Valid 1 4 4.8 4.8 4.8 2 25 30.1 30.1 34.9 3 54 65.1 65.1 100.0 Total 83 100.0 100.0 Tabel 7. P3. Pemahaman Informasi Konten F % Valid % Cum % Valid 1 18 21.7 21.7 21.7 2 33 39.8 39.8 61.4 3 32 38.6 38.6 100.0 Total 83 100.0 100.0 Pendampingan orang tua menjadi hal yang penting dalam pengaksesan media terutama untuk siswa yang sudah tumbuh dan berkembang. (Allen & Marrotz, 2010) Siswa kelas V sekolah dasar dalam perkembangannya membutuhkan pendampingan dalam mengakses media. Menurut psikologi belajar dari Albert Bandura yang mengungkapkan bahwa proses belajar dipengaruhi lingkungan dengan pengalaman. Oleh karena itu, dalam perkembangan siswa, proses melihat dapat mempengaruhi perilaku siswa. Siswa mudah untuk mengimitasi apa yang telah ia lihat, dengar, dan rasakan. Namun, ternyata semakin tinggi usia semakin siwa dapat mengatur mengenai egonya, seperti pada penjelasan Sigmund Freud. Tabel 8. P7. Peniruan Konten (Verbal and Action) F % Valid % Cum % Valid 1 48 57.8 57.8 57.8 2 14 16.9 16.9 74.7 3 21 25.3 25.3 100.0 Total 83 100.0 100.0 Tabel 9. P5. Pengaksesan Tayangan Kekerasan F % Valid % Cum % Valid 1 48 57.8 57.8 57.8 2 14 16.9 16.9 74.7 3 21 25.3 25.3 100.0 Total 83 100.0 100.0 Pertanyaan kelima menunjukkan akses siswa terhadap tayangan yang mengandung kekerasan atau perkelahian. Hasil menunjukkan bahwa 57,8% siswa pernah melihat Aksesibilitas Kemampuan Literasi......(Anna Sylvia, dkk) 7 JPPD, 6, (1), hlm. 1 - 10 tayangan mengenai perkelahian di media. Melalui kajian mengenai proses peniruan siswa, terdapat kemungkinan mereka dapat meniru adegan tersebut kembali ke dalam kehidupannya sehari-hari. Namun ternyata, pada hasil pertanyaan ketujuh, siswa yang mencontoh perbuatan pada televisi (verbal atau tindakan) hanya sebesar 25,3% dengan jawaban ya, 16,9 % kadang, dan 57,8% tidak. Jika dihubungkan dengan karakteristik siswa usia kelas V sekolah dasar, anak kelas V usia sekolah dasar memang mampu untuk mulai meniru kaa-kata populer yang ia pernah dengar di media (Allen & Marrotz, 2010). Demikian, tidak memungkiri bahwa pengaksesan tayangan yang mengandung kekerasan atau konten negatif dapat ditiru oleh siswa. Salah satu dampak dari tayangan televisi, dijelaskan oleh hasil wawancara terhadap guru. Salah satu guru mengaku bahwa media televisi memang memberi pengaruh besar terhadap siswa. Siswa dapat meniru adegan-adegan yang sebenarnya belum cocok dengan usianya. Selain itu, pengaksesan media yang tidak mendapat pendampingan dengan baik sangat mempengaruhi cara berkomunikasi dan bertindak siswa dalam kehidupan sehari- hari di sekolah. Media literasi dimaknai sebagai kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menciptakan komunikasi dalam berbagai konteks. Kemampuan untuk mengakses ini mengacu pada penentuan konten media yang sesuai dengan kebutuhan (Buckingham et al., n.d., 2004: 18). Namun, hasil survey menunjukkan bahwa data tersebar heterogen dimana kemampuan siswa dalam memahami media yang diakses di televisi hampir seimbang yaitu 38,6%, 39,8%, dan 21,7%. Hasil kalkulasi yang hampir sama ini menandakan kurangnya pandangan aktif dari siswa dalam memahami konten media dan belum sesuai dengan pengertian literasi media sendiri yang merupakan cara pandang aktif dalam mengakses dan media yang mengintepretasikan pesan yang disajikan (Potter, 2014). Literasi media merupakan hal yang berkelanjutan sehingga perlu dimiliki oleh siswa sejak dinI sehingga siswa dapat menyaring konten yang bersifat reaktif, agresif, apatis, dan juga masa bodoh. Hasil survei menunjukkan bahwa hampir separuh siswa yaitu sebesar 45,8% pernah melihat adegan mengenai perkelahian di televisi, sehingga kemampuan menyaring konten ini diperlukan oleh siswa. Pemahaman mengenai informasi yang didapatkan oleh individu dalam membentuk persepsi terhadap informasi adalah berbeda (Tamburaka, 2013). Hal ini sesuai dengan hasil survey yang menunjukkan keberagaman siswa dalam kemampuan memahami informasi terbaru, yang ditunjukkan dengan angka 21,7%, 39%, 26%. Siswa lebih banyak tidak paham dan terkadang paham dalam memaknai informasi yang ia terima. (Livingstone, 2009) mengungkapkan bahwa kemampuan analisis dalam literasi media seperti analisis struktur pesan dengan mendayagunakan konsep dasar ilmu pengetahuan dapat meningkatkan kemampuan sisswa dalam memahami pesan pada media tertentu. Salah satu manfaat dari literasi media adalah adalah membantu siswa semakin waspada terhadap informasi yang menyebar secara bebas (Ramsey, 2017). Sebelumnya, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai literasi. Literasi merupakan istilah yang digunakan ketika membuat pesan atau informasi menggunakan huruf untuk merekam pesan (Kress, 2003). Selain itu, istilah umum untuk literasi adalah melek huruf. Pengertian tersebut dapat diperluas sebagai “words that name the use of the resources in Aksesibilitas Kemampuan Literasi......(Anna Sylvia, dkk) 8 JPPD, 6, (1), hlm. 1 - 10 the production of the message or words that name the use of the resources in the production of the message” (Lewandowski, Co-investigator, & Lewandowski, 2015). Tahap literasi media yang sedang dijalani oleh siswa usia sekolah dasar adalah perkembangan dari tahap intensif ke tahap exploring (Potter, 2014). Pada tahap ini apabila siswa dimaksimalkan dalam memiliki kemampuan literasi media, maka siswa dapat semakin berkembang dan melek huruf terhadap segala informasi yang ia terima.Oleh karena itu ia membutuhkan kemampuan untuk mencerna informasi. Tahap ini diperlukan untuk perkembangannya menuju kedewasaan. Lebih-lebih untuk anak usia sekolah dasar kelas V merupakan usia siswa yang mulai dapat terpengaruh media (Allen & Marrotz, 2010). Selain itu siswa memerlukan pedampingan terhadap media yang diakses oleh siswa. Siswa yang mendapat pendampingan baik dari orang tua atau orang yang lebih paham akan terhindar dari peniruan konten-konten negatif yang ada di konten media. Untuk kalangan peserta didik, salah satu manfaat dari literasi media adalah dapat membantu siswa untuk lebih waspada terdahap pesan yang diterima dari media serta membangun persepsi yang akan membantu mengarahkan mereka untuk memberikan aksi terhadap media baik politik, ekonomi, maupun masalah sosial (Ramsey, 2017). Perkembangan informasi yang semakin luas, serta kemudahan akses informasi sangat jelas membutuhkan kemampuan literasi media dalam pengaksesannya. “Children and teenagers spend more time engaded in various media than they do in any other activity except fo sleeping (Council on Cummunication Media, 2010). Pandangan mengenai pembelajaran literasi media dalam anak-anak disampaikan oleh Strasburger, Wilson, & Jordan (2014) yang mengungkapkan bahwa pengajaran media literasi ditekankan pada membaca, mendengar, melihat, dan menulis secara komprehensif untuk memahami sudut pandang, mengkonstruksi tekni, tujuan, target khalayak dan pro-kontranya. “Media literacy requires the skill to realize that the messages taken from media are reconstructed in the media” (Sur, 2014). Kemampuan literasi media dibutuhkan untuk membangun kemampuan memaknai pesan yang terkadung dan tersebar dalam media masa. Hobbs & Moore (2013) menjelaskan berbagai kemampuan literasi media yang harus dikuasai oleh anak yaitu terdiri dari kompetensi (1) the acces dimension :using, finding, and comprehending, (2) analyze: The critical thinking dimension, (3) communicate : tehe expressive dimension, (4) reflect : the social responsibility dimension, and (5) act : make difference in the world. Kelima kemampuan literasi ini merupakan kemampuan yang sebaiknya dapat dikuasai oleh siswa dan bertahap sesuai dengan tahap perkembangannya. Melalui pemahaman kompetensinya, dapat menjadikan seorang siswa semakin melek terhadap informasi, menganalisis, dan merefleksikannya sehingga pada akhirnya dapat digunakan untuk berkomunikasi. Selain itu, diharapkan dapat memunculkan sikap kreatif siswa dalam menciptakan suatu media. SIMPULAN Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa siswa kelas V sekolah dasar di Purworejo telah terbiasa dengan teknologi media. Kebanyakan dari mereka dapat mengakses media terutama televisi. Namun, hanya sedikit yang dapat memahami informasinya. Tanpa kemampuan literasi media, siswa mungkin terpengaruh oleh konten Aksesibilitas Kemampuan Literasi......(Anna Sylvia, dkk) 9 JPPD, 6, (1), hlm. 1 - 10 yang mungkin tidak sesuai dengan usia mereka. Kemampuan literasi media diperlukan untuk meningkatkan kesadaran siswa akan berbagai konten dalam informasi media, sehingga siswa dapat bijak dalam memilih konten yang sesuai dengan usianya. Bentuk literasi di sekolah dapat dimasukkan ke dalam kegiatan literasi sekolah yang telah diterapkan. Selain itu, bentuk bantuan dari orang tua atau orang dewasa dalam mengakses konten yang dinikmati dari media juga merupakan faktor utama dalam perkembangan siswa di media. Oleh karena itu, kemampuan literasi media menjadi hal penting yang harus dikuasai oleh siswa kelas V sekolah dasar. DAFTAR PUSTAKA Allen, K. E., & Marrotz, L. R. (2010). Profil Perkembangan Anak; Prakelahiran hingga usia 12 Edisi 5. Clifton Park: Thomson Delmar learning. Aziz, Abdul. (2018). Kecanduan game online, 10 Anak di Banyumas alami gangguan mental diakses 13 Februari 2019. https://www.merdeka.com/peristiwa/kecanduan- game-online-10-anak-di-banyumas-alami-gangguan-mental.html. Buckingham, D., Burn, A., & Cranmer, S. (n.d.). (2004). The Media Literacy of Children and Young People. Hobbs, R. (2011). Digital and Media Literacy: Connecting Culture and Classroom. USA: Corwin. Hobbs, R., & Moore, D. C. (2013). Discovering Media Literacy. California: SAGE Publications. Nielsen. (2017). Tren Baru di Kalangan Pengguna INternet di Indonesia diakses 14 Mei 2018. http://www.nielsen.com/id/en/press-room/ 2017/TREN-BARU-DI- KALANGAN-PENGGUNA -INTERNET-DI-INDONESIA.html Kress, G. (2015). Literacy in the New Media Age. London: Routledge. Lin, Tzu-B., Li, Yen-Yi, Deng, F., & Lee, Lin. (2013). Understanding new media literacy: an explorative theoretical framework. Journal of Educational Technolgy & Society. Vol. 16. No.4. Pp. 160-170. Lewandowski, C. M., Co-investigator, N., & Lewandowski, C. M. (2015). Literacy in the New Media Age. The effects of brief mindfulness intervention on acute pain experience: An examination of individual difference (Vol. 1). https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004 Livingstone, S. (2009). What is media literacy ?. Brussel : EAVI. Nijboer, Jelke & Hammelburg, Esther. (2010). Extending media literacyL a new direction for libraries. New Library World. Vol. 111. No1/2. Pp. 36-45. Potter, W. J. (2014). Media Literacy (7th Editio). California: SAGE Publications. https://www.merdeka.com/peristiwa/kecanduan-game-online-10-anak-di-banyumas-alami-gangguan-mental.html https://www.merdeka.com/peristiwa/kecanduan-game-online-10-anak-di-banyumas-alami-gangguan-mental.html http://www.nielsen.com/id/en/press-room/ https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004 Aksesibilitas Kemampuan Literasi......(Anna Sylvia, dkk) 10 JPPD, 6, (1), hlm. 1 - 10 Perovic, Jelena. (2015). Media Literacy in Montenegro. Media and Communication. Vol 3. Iss 4. Pp. 91-105. Ramsey, E. M. (2017). Voices in the Field The Basic Course in Communication , Media Literacy , and the College Curriculum, 9(1), 116–128. Strasburger, V. ., Wilson, B. ., & Jordan, A. . (2014). Children, Adolencents, and The Media (Third Edit). USA: SAGE Publications. Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan : pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sur, E., Unal, E., & Iseri, K. (2014). “Primary School Grade Teachers’ and Students’ Opinions on Media Literacy”. Media Education Research Journal, Vol XX1, 119- 127. Tamburaka, A. (2013). Literasi Media; Cerdas Bermedia Khalayak Media Massa. Jakarta: Rajawali Pers. Tim Peneliti PKMBP. (2013). Model-Model Gerakan Literasi Media & Pemantauan Media di Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Tifa & PKMBP