Kecerdasan Emosional......(Imanuel S.A, dkk) 41 JPPD, 6, (1), hlm. 41 - 50 Vol. 6, No. 1, Juli 2019 PROFESI PENDIDIKAN DASAR e-ISSN: 2503-3530 p-ISSN: 2406-8012 DOI: 10.23917/ppd.v1i1.7946 KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR Imanuel Sairo Awang 1), Metah Merpirah 2), Yohanes Berkhmas Mulyadi3) Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persada Khatulistiwa Sintang 12iman.saiaw@gmail.com; 2metamarvira@gmail.com; 3yohanes@gmail.com PENDAHULUAN Pendidikan merupakan sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan perkembangannya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dengan tegas menuliskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya. Pendidikan penting untuk memajukan pengetahuan, budi pekerti, karakter, dan tubuh anak. Hal ini penting dan tidak dapat dipisahkan karena manusia harus bertumbuh secara holistik. Dengan demikian, proses pendidikan bagi anak haruslah sesuai dengan tumbuh kembang seorang anak tersebut dalam melakukan proses pembelajaran. Pendidikan dapat diartikan sebagai pengajaran karena pendidikan pada umumnya selalu membutuhkan pengajaran. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh Peserta didik merupakan suatu pengalaman menerima, mendengar, serta melihat apa yang disampaikan oleh guru. Dalam hal ini yang terpenting adalah bagaimana Peserta didik dapat mengolah kemapuan yang ada dalam dirinya. Kemampuan Peserta didik tersebut tercermin dalam segenap kecerdasan yang dimilikinya. Abstract: This study aimed to describe emotional intelligence of Grade IV Students of elementary school. This study used descriptive method with a qualitative approach. The data collection using emotional intelligence questionnaires and interview. Based on the results the students’ emotional intelligence charactheristic was variated. The student ability to recognize and manage emotions was lacked. In addition, the ability to motivate oneself, recognize the emotions of others and the ability to develop relationships was good. Nevertheless there was tendency for the characteristics of good emotional intelligence to contribute to the learning achievements of students. This is indicated by 63.64% of students characterized by good emotional intelligence also supported by learning outcomes with 54.55% of students whose learning outcomes are complete. Keywords: Emotional Intelligence, Student, Elementary School http://dx.doi.org/10.23917/ppd.v1i1.7946 mailto:metamarvira@gmail.com mailto:yohanes@gmail.com Kecerdasan Emosional......(Imanuel S.A, dkk) 42 JPPD, 6, (1), hlm. 41 - 50 Woolfolk (Yusuf, 2010: 106) mengemukakan bahwa, “Intelegensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan.” Kecerdasan merupakan serangkaian kemampuan peribadi, emosi, dan sosial yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil. Goleman (Khoerunnisa 2011: 32) menyatakan bahwa, “Kecerdasan umum semata-mata hanya dapat memprediksi kesuksesan hidup seseorang sebanyak 20% saja, sedangkan 80% yang lain adalah yang di sebutnya Emotional Intelligence.” Ini memberikan penjelasan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual melainkan adanya kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional juga memungkinkan individu untuk dapat merasakan dan memahami dengan benar. Kecerdasan emosional menjadi daya dan kepekaan emosional yang membangkitkan energi untuk memperoleh informasi serta mempengaruhi hasil belajar. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk memotivasi diri sendiri, dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa. Kosasih (Rahma 2017: 14), menuliskan “Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh manusiawi.” Bagi pemilik kecerdasan emosional informasi tidak hanya didapat melalui panca indra saja namun ada sumber lain, yakni suara hati. Pernyatan ini hendak menjelaskan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan yng dimiliki seseorang untuk mengelola pikiran, sikap, dan tindakan dirinya agar permasalahan yang dihadapi dapat terpecahkan. Salovey & Mayer seperti dikutip Guntersdorfer & Golubeva (2018: 55), menuliskan pengertian kecerdasan emosional sebagai,”the subset of social intelligence that involves the ability to monitor one’s own and others’ feelings and emotions, to discriminate among them and to use this information to guide one’s thinking and actions.” Hal ini mengindikasikan bahwa kecerdasan emosional merupakan pengatur dan pengawas dalam membimbing pikiran dan prilaku pada kelima kemampuan dasar yakni penghargaan diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan ketrampilan sosial. Dengan demikian, kecerdasan emosional selalu berhubungan dengan pikiran dan prilaku diri sendiri terhadap orang lain. Kecerdasan emosional pada hakikatnya merupakan kemammpuan untuk mencari tahu serta mengelola emosi dalam diri. Sejalan dengan pendapat tersebut, Goleman seperti dikutip Ibrahim (2012: 53), menyatakan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.” Lebih lanjut Goleman (Uno dkk, 2009: 15), menjelaskan terdapat lima wilayah dari kecerdasan emosional yakni kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan. Kelima domain kecerdasan emosional tersebut, harus ditumbuhkan dalam diri anak, terutama Kecerdasan Emosional......(Imanuel S.A, dkk) 43 JPPD, 6, (1), hlm. 41 - 50 pada usia awal sekolah yakni di sekolah dasar. sehingga, apabila pada usia dini sudah diberikan pengetahuan maupun pengalaman mengelola emosi, niscaya kelak pada usia dewasa anak tersebut mampu menaklukan berbagai tantangan dalam hidupnya. Penumbuhan dan pengembangan emosi anak sangat penting dilakukan karena betapa banyak dijumpai anak-anak yang begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, tetapi ia mudah marah, mudah putus asa atau bersikap angkuh dan arogan. Temuan hasil observasi yang dilakukan di kelas IV Sekolah Dasar Negeri 03 Nanga Ngeri, Kapuas Hulu, didapati fakta bahwa peserta didik mudah marah bila ditegur gurunya, suka berkelahi dengan teman sekelasnya, malas belajar serta kurang dalam keterampilan sosial. Terdapat peserta didik yang mampu memotivasi dirinya sendiri misalnya dengan tidak bermain dikelas dan mau menolong teman sekelasnya, namun ada juga yang melakukan hal sebaliknya. Kemudian terdapat juga peserta didik yang benar-benar memperhatikan gurunya saat menjelaskan materi pelajaran dan ada juga yang tidak. Berdasarkan uraian tersebut akan diteliti lebih lanjut karakteristik kecerdasan emosional yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik sehingga dapat memudahkan guru dalam menyampaikan pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didiknya. Dalam penelitian ini peneliti ingin meneliti tentang kecerdasan emosional untuk mencoba membantu permasalahan yang sering terjadi yakni kemampuan untuk mengenali emosinya sendiri, mengolah emosinya sendiri, memotivasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain (teman) dan membina hubungan dengan teman diwaktu yang tepat. Berdasarkan masalah tersebut penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul kecerdasan emosional peserta didik kelas IV sekolah dasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakn dengan metode deskriptif. Menurut Best (Sukardi, 2003: 157), “Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya. Lebih lanjut Nawawi (Portanata dkk 2017: 341), menegaskan “Metode deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan objek-subjek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat dan lainya) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya.” Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif sebagai usaha analisis berdasarkan kata-kata yang disusun menjadi kalimat sehingga membentuk sebuah pernyataan yang diperlukan. Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan semua gejala yang ditemukan pada saat penelitian ini dilaksanakan secara apa adanya. Subyek dari penelitian ini adalah peserta didik kelas IV Sekolah Dasar Negeri 03 Nanga Ngeri, Kapuas Hulu yang berjumlah 22 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan angket kecerdasan emosional yang kemudian dilanjutkan dengan wawancara untuk mendapatkan data yang valid mengenai karakteristik kecerdasan emosionalnya. Analisis data hasil angket dilakukan dengan metode perhitungan persentase yang akan menentukan responden yang akan diwawancarai. Selanjutnya data hasil wawancara akan dianalisis dengan strategi kualitatif-verifikatif. Analisis data Kecerdasan Emosional......(Imanuel S.A, dkk) 44 JPPD, 6, (1), hlm. 41 - 50 dengan strategi kualiatif-verifikatif merupakan sebuah upaya analisis induktif terhadap data penelitian yang dilakukan pada seluruh proses penelitian yang dilakukan (Bungin, 2007: 151). Model analisis ini lebih mengutamakan data yang dikumpulkan dibandingkan dengan bangunan teori pendukung. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengumpulkan data menggunakan angket untuk membantu mengetahui kecerdasan emosional yang ada pada peserta didik. Berdasarkan hasil analisis angket dari 22 orang peserta didik, delapan orang peserta didik berada pada kecerdasan emosional berkategori kurang dengan jumlah 40-55, tujuh peserta didik dengan jumlah 56-65 kecerdasan emosional cukup, delapan peserta didik dengan jumlah 66-79 kecerdasan emosional baik dan satu orang dengan jumlah 80-100 kecerdasan emosional sangat baik. Dari hasil angket tersebut menjadi data pendukung dan mempermudah peneliti dalam memilih responden dengan melanjutkan proses wawancara sebagai data utama. Rekapitulasi hasil angket dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Analisis Angket Kecerdasan Emosional Interval Peserta didik Keterangan 80-100 ZK Baik sekali 66-79 SR,ZN,PC,DS,AK,AP Baik 56-65 DH,RS,DL,AL,TM,FI,DA Cukup 40-55 RF,AR,CV,DC,KA,WY,ZH,VU Kurang Setelah diperoleh data angket tentang kecerdasan emosional peserta didik kelas IV sekolah dasar, selanjutnya dilakukan wawancara untuk mendalami karakteristik kecerdasan emosional peserta didik meliputi kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan. 1. Kemampuan Mengenali Emosi Diri Peserta didik yang diwawancarai rata-rata peserta didik yang sering terlihat cemas dan gelisah jika sedang belajar. Terdapat peserta didik yang menjawab bahwa tetap gugup dalam mengerkakan soal meskipun peserta didik tersebut sudah belajar untuk mempersiapkan diri dalam ulangan.“ Saya sangat gelisah dan cemas saat ulangan walau saya sudah belajar di rumah” demikian disampaikan DS. Terdapat pula peserta didik yang santai saat dinasehati gurunya dan tidak merasa takut jika nilai Peserta didik kurang baik diantara teman sekelasnya DC mengatakan “Kadang saya santai kalau dinasehati guru ada juga bosan dengar guru ceramah terus”. Sedangkan Peserta didik berinisial AR mengatakan bahwa ia sering marah dan merasa jengkel dengan temannya walaupun temannya tersebut tidak mengganggu dan mengusik dirinya. “Kadang saya tidak tahu mengapa marah dan jengkel dengan kawan padahal dia tidak ganggu”. Demikian diungkan AR. Pendapat ini mengidentifikasi bahwa kemarahan dan jengkel yang timbul dalam hati Peserta didik tidak mengetahui penyebab tidak suka kepada temannya tersebut melainkan perasaan tersebut muncul dengan sendiri. Kecerdasan Emosional......(Imanuel S.A, dkk) 45 JPPD, 6, (1), hlm. 41 - 50 Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa kurangnya kemampuan mengenali emosi diri ditunjukan dengan peserta didik yang sering merasa gugup dan cemas, peserta didik yang santai saat dinasehati gurunya dan peserta didik yang tidak mengetahui penyebab kemarahan dan rasa jengkel yang timbul secara tiba- tiba. 2. Kemampuan Mengelola Emosi Kemampuan mengelola emosi peserta didik ditunjukan dengan sikap dan prilaku peserta didik dalam sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara rata-rata peserta didik marah jika ada teman meminjam barang kesayangannya. Saat diwawancara apakah jika ada teman yang mengejek kamu akan membalas ejekan tersebut? RF dengan jelas mengatakan “Harus membalas ejekan teman dan ingin meninjunya”. Demikian pula yang disampaikan Peserta didik AR saat marah biasanya selelau berteriak-teriak dan biasanya membanting barang-barang yang ada di sekitarnya “Saya berteriak-teriak kalau marah dan membanting barang”. AR juga sering datang terlambat ke sekolah karena bosan mengikuti pelajaran kadang juga mengikuti teman untuk membolos sekolah dan memilih bermain. Dari hasil wawancara yang didapatkan Peserta didik menunjukan prilaku marah tak terkendali dan suka membanting barang-barang yang ada di sekitarnya, suka membolos sekolah karena merasa bosan dengan pelajaran yang diberikan guru maka dapat disimpulkan bahwa kurangnya kemampuan mengelola emosi pada Peserta didik tersebut. 3. Kemampuan memotivasi diri Peserta didik yang kurang kemampuan memotivasi dirinya tidak berkeinginan untuk mencapai target belajar sehingga peserta didik tersebut mengalami hasil belajar yang kurang memuaskan. Berdasarkan temuan saat wawancara, peserta didik tidak mempunyai target belajar dan jadwal pelajaran mereka belajar hanya pada saat ada ulangan saja. Alasannya mereka bosan saat disuruh belajar dan memilih untuk bermain dengan temanya. Ketika ditanya apakah kamu bertekad mencapai target belajar yang sudah ditetapkan? DC menjawab “Saya tidak mempunyai target dalam belajar”. Selain itu DC juga tidak berkeinginan untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka dan olahraga. Hal ini juga dinyatakan oleh Peserta didik yang berinisial DS yang menyatakan dirinya tidak mempunyai target dalam belajar asalkan bisa naik kelas seperti temanya yang lain “Tidak asalkan saya naik kelas”. Pernyatan tersebut juga dikatakan oleh KA mengatakan tidak ada target belajar asal naik kelas walaupun nilai yang didapatkannya tergolong rendah. Berdasarkan temuan tersebut, jelaslah bahwa Peserta didik kurang kemampuan memotivasi diri hal ini ditunjukan Peserta didik yang tidak mempunyai target belajar dan tidak ada kemauan dalam diri Peserta didik untuk terdorong mencapai hasil belajar yang maksimal. 4. Mengenali Emosi Orang Lain Hasil wawancara peserta didik mengenali kecerdasan emosional terdapat beberapa Peserta didik yang acuh dengan temannya dan asik dengan kesibukan sendiri.Peserta didik yang berinisial WY termasuk peserta didik yang acuh dengan Kecerdasan Emosional......(Imanuel S.A, dkk) 46 JPPD, 6, (1), hlm. 41 - 50 teman sekelasnya saat temanya bercerita tidak bisa menjadi pendengar dengan baik dan malas untuk mendengar keluh kesah teman. Saat ditanya jawaban dari WY sanyat jelas “Saya tidak bersedia mendengar keluh kesah teman dan malas mendengarkannya”. Hal ini juga dinyatakan oleh AR “Saya merasa jenuh mendengar cerita dan keluh kesah teman” AR juga kurang bisa mengenali emosi orang lain dan juga sedikit cuek dengan orang lain. Terdapat pula peserta didik yang tidak suka dan bahagia bila temannya mendapat prestasi alasannya karena yang mendapat prestasi temannya bukan dia jadi mengapa dia harus bahagia sedangkan teman yang mendapat prestasi tersebut “Saya tidak bahagia ketika teman saya berprestasi karena dia bukan saya” demikian yang disampaikan oleh VU. Pada saat ditanya apakah kamu merasa sedih ketika melihat berita bencana di TV? VU menjawab “Saya tidak merasa sedih ketika melihat bencana di TV. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa kurangnya kemampuan mengenali emosi diri di tunjukan melalui sikap acuh dengan teman sekelasnya dan tidak merasa terharu dan sedih bila orang lain tertimpa musibah serta tidak bisa merasakan kebahagian yang orang lain rasakan. 5. Kemampuan Membina Hubungan ZH adalah peserta didik yang pemalu dan pendiam di kelas sehinga selalu menyendiri dan jarang bergaul dengan kawannya. Prestasi belajar ZH termasuk dalam kategori tidak tuntas. Pada saat ditanya apakah pada hari pertama masuk sekolah kamu dapat beradaptasi dengan cepat dengan temanmu? ZH menjawab “Saya sulit mendapat teman kadang saya memilih sendiri”. ZH juga sulit memahami pemikiran orang lain yang berbeda pendapat dengan dirinya dan juga kurang disukai oleh teman sekelasnya “Saya tidak disukai mereka” demikian pernyataan dari ZH. Ada juga peserta didik yang yang lebih suka mengerjakan tugas sendiri dari pada berdiskusi dengan temannya hal ini yang dinyatakan oleh WY “Saya suka mengerjakan tugas sendiri dari pada dengan teman”. WY juga mengatakan dirinya kadang bersikap acuh tak acuh bila mendengar pengumuman kegiatan gotong-royong membersihkan lingkungan di sekitar rumahnya. Pernyataan tersebut juga dikatakan oleh RF “Saya tidak suka kegitan gotong-royong”. Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan membina hubungan yang kurang baik di tunjukan dengan Peserta didik yang pendiam dan kurang bisa bergaul dengan temannya dan juga kurang bisa bekerja sama dengan baik dengan temannya dan lebih memilih mengerjakan pekerjaan sendiri. Pada aspek kemampuan mengenali emosi diri, beberapa peserta didik kurang mampu mengenali emosi diri. Kenyataan ini didapatkan melalui observasi, angket dan wawancara. Dalam tahap observasi, peneliti melihat sebagian siswa yang malas belajar pada saat jam pelajaran, siswa terlihat murung, dan siswa hanya diam saja ketika tidak memahami materi yang di sampaikan guru. Hal ini juga didukung hasil analisis angket yang didapatkan bahwa beberapa dari siswa menunjukan kecerdasan emosional yang kurang. Kecerdasan Emosional......(Imanuel S.A, dkk) 47 JPPD, 6, (1), hlm. 41 - 50 Hasil wawancara membuktikan demikian, ketika ditanya yang berkaitan dengan aspek kemampuan mengenali emosi diri, siswa menjawab sering terlihat gugup dan cemas yang berlebihan saat belajar dan mengerjakan soal yang diberikan oleh guru meskipun siswa tersebut sudah belajar di rumah. terdapat juga jawaban siswa yang santai saat dinasehati guru karena siswa merasan bosan selalu dinasehati dan juga siswa yang sering merasa marah dan jengkel terhadap temanya tanpa tahu penyebab kearahan yang dirasakannya. Pada aspek kemampuan mengelola emosi berdasarkan hasil observasi, beberapa siswa asik bermain saat guru menjelaskan materi, siswa yang berkelahi dan ada juga siswa yang sering mengejek temannya. Hal ini juga didukung hasil analisis angket yang didapatkan bahwa beberapa dari siswa menunjukan kecerdasan emosional yang kurang baik. Hasil wawancara juga menguatkan data yang didapatkan ketika ditanya aspek kemampuan mengelola emosi siswa menjawab dengan jelas jika siswa marah tak terkendali seperti berteriak-teriak, melempar barang yang ada di sekitarnya dan suka berkelahi dengan teman-temannya ketika ada teman yang megejeknya dia harus membalas ejekan tersebut bahkan siswa tersebut ada rasa keinginan untuk meninju temannya ketika merasakan sakit hati. Kemampuan memotivasi diri adalah kemampuan memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat.Padaaspek kemampuan memotivasi diri berdasarkan observasi,terdapat bahwa siswa kurang motivasi untuk mendapat pringkat yang baik di kelasnya, beberapa siswa yang sering mendapat nilai yang rendah dan sulit untuk menerima pendapat temannya. Salovey (Manizar 2016: 9) berpendapat bahwa kemampuan memotivasi diri merupakan kemampuan untuk menguasi diri dan untuk berkreasi. Hasil wawancara juga sangat menguatkan data yang didapatkan ketika ditanya tentang aspek kemampuan memotivasi diri, jawaban sesuai dengan apa yang didapatkan saat pengamatan. Siswa tidak berkeinginan untuk mencapai target belajar asalkan naik kelas seperti temannya sehingga siswa tersebut mengalami hasil belajar yang kurang memuaskan mereka belajar hanya pada saat ada ulangan saja. Alasannya mereka bosan saat disuruh belajar dan memilih untuk bermain dengan temanya. Selain itu juga tidak berkeinginan untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka dan olahraga. Berdasarkan hasil amatan aspek kemampuan mengenali emosi, beberapa siswa yang sulit menerima pendapat temannya, ada siswa yang selalu diam dan jarang bermain dengan kawannya pada saat teman terkena musibah siswa bersikap acuh. Hal ini juga didukung hasil analisis angket yang didapatkan bahwa beberapa dari siswa menunjukan kecerdasan emosional yang kurang baik. Hasil wawancara juga menguatkan data tersebut, ketika diwawancara yang berkaitan dengan aspek kemampuan mengenali emosi orang lain, jawaban yang diberikan sesuai dengan hasil amatan. Siswa acuh dan asik dengan kesibukan sendiri saat temanya bercerita tidak bisa menjadi pendengar dengan baik dan malas untuk mendengar keluh kesah teman, siswa yang tidak suka dan bahagia bila temannya mendapat prestasi alasannya karena yang mendapat prestasi temannya bukan dia jadi mengapa dia harus bahagia sedangkan teman yang mendapat prestasi tersebut siswa dan tidak merasa sedih ketika melihat berita bencana di TV. Kecerdasan Emosional......(Imanuel S.A, dkk) 48 JPPD, 6, (1), hlm. 41 - 50 Kemampuan membina hubungan dengan orang adalah kemampuan untuk mengelola emosi orang lain sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi leih luas. Salovey (Manizar 2016: 9) Seni membina hubungan yang sebagian besar berkaitan dengan ketrampilan mengelola emosi orang lain. Kemampuan membina hubungan yang didapatkan berdasarkan hasil temuan terdapat siswa yang pemalu dan pendiam dikelas selalu menyendiri dan jarang bergaul dengan kawannya sehingga siswa tersebut sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru, siswa yang yang lebih suka mengerjakan tugas sendiri dari pada berdiskusi dengan temannya hal ini menyebabkan tidak tercipta komunikasi yang baik. Terdapat siswa yang kadang bersikap acuh tak acuh bila mendengar pengumuman kegiatan gotong-royong membersihkan lingkungan di sekitar rumahnya. Hasil angket memperlihatkan bahwa sebanyak 8 peserta didik atau 36,36% mempunyai karakteristik kecerdasan emosional yang kurang. Karakteristik yang kurang ini sejalan dengan hasil belajar yang juga tidak memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dimana sebanyak 10 peserta didik atau 45,45% berada dibawah KKM. Sebagian peserta didik mendapatkan prestasi yang baik di sekolah adalah yang mempunyai karakteristik kecerdasan emosional yang baik pula. Hal ini sesuai dengan penelitian Agustian, dkk. (2014: 1) yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional mempunyai kontribusi terhadap hasil belajar siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan meskipun tidak terdapat olarisasi yang nyata, namun bila peserta didik mempunyai karakteristik kecerdasan emosional yang cukup baik, maka prestasi belajar juga cenderung berhasil pula. SIMPULAN Berdasarkan temuan dan analisis data dapat disimpulkan bahwa terdapat kecendrungan karakteristik kecerdasan emosional yang baik akan berkontribusi pada prestasi belajar peserta didik. Hal ini ditunjukkan dengan sebanyak 63,64% peserta didik berkarakteristik kecerdasan emosional cukup baik juga ditunjang dengan hasil belajar dengan persentase 54,55% peserta didik yang hasil belajarnya tuntas. Meskipun demikian karakteristik kecerdasan emosional peserta didik kelas IV Sekolah Dasar berbeda-beda. Kecerdasan Emosional......(Imanuel S.A, dkk) 49 JPPD, 6, (1), hlm. 41 - 50 DAFTAR PUSTAKA Agustian, D., Suarjana,Md., & Riastini, Pt. N. (2014). Kontribusi Kebiasaan Belajar dan Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar Matematika Kelas IV SDN Di Gugus X Kecamatan Buleleng. Jurnal Mimbar PGSD, 2(1) 1-11. Bungin, B. (2007). Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Public, Dan Ilmu Social Lainnya, (edisi kedua). Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Guntersdorfer, I. & Golubeva, I. (2018). Emotional Intelligence and Intercultural Competence: Theoretical Questions and Pedagogical Possibilities. Intercultural Communication Education, 1(2), 54-63. Ibrahim. (2012). Pembelajaran Matematika Berbasis-Masalah Yang Menghadirkan Kecerdasan Emosional. Jurnal Infinity, 1(1), 45-61. Khoerunnisa. (2011). “Pengaruh Kecerdasan Emosional Peserta Didik Terhadap Akhlak Peserta didik”. Jurnal Pendidikan Universitas Garut.Volume 5. hlm 30-43. Manizar, E. (2016). “Mengelola Kecerdasan Emosional”. Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(2), 1-16. Portanata, L., Lisa, Y. dan Awang, I. S. (2017). “Analisis Pemanfaatan Media Pembelajaran IPA SD”.Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa. 3(1) 337-348. Rahma, F. W. (2017). “Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SD Negeri 4Metro Pusat 2016/2017”. Skripsi. Lampung. Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Uno, H. B., dan Umar, M. K. (2009). Mengelola Kecerdasan dalam Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Yusuf, S. 2010. Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya. Kecerdasan Emosional......(Imanuel S.A, dkk) 50 JPPD, 6, (1), hlm. 41 - 50